Wikibuku idwikibooks https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.46.0-wmf.22 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikibuku Pembicaraan Wikibuku Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Resep Pembicaraan Resep Wisata Pembicaraan Wisata TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Beringin Rengat 0 27100 114729 114511 2026-04-03T11:58:42Z Silvabunga 42731 114729 wikitext text/x-wiki '''Sungai Beringin''' adalah nama sebuah desa yang terdapat pada Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kasus Pencurian di Desa Sungai Beringin( tetangga saya) Kejadian di bulan puasa ramadhan tahun 2026 Kronologi Kejadian,Pada suatu malam, terjadi pencurian di salah satu rumah warga di Desa Sungai Beringin. Pelaku masuk ke rumah saat pemilik rumah sedang tidur. Beberapa barang berharga seperti seng dan kayu di rumah kosong,dilaporkan hilang. Setelah kejadian tersebut, warga melaporkan peristiwa itu kepada aparat desa. Melakukan penyelidikan untuk mencari pelaku pencurian tersebut. Kejadian ini membuat masyarakat menjadi lebih waspada dan berhati-hati. Warga mulai meningkatkan keamanan lingkungan dengan mengadakan ronda malam dan saling menjaga satu sama lain agar kejadian serupa tidak terulang. Sebagian generasi/remaja mengetahui kejadian ini dari cerita orang tua dan masyarakat sekitar. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi masyarakat agar selalu menjaga keamanan lingkungan dan meningkatkan rasa kebersamaan dalam menjaga desa. Tanggapan warga desa sungai beringin demokrasi sudah berjalan cukup baik, dengan partisipasi masyarakat yang tinggi, proses yang transparan, serta kondisi yang aman dan tertib. Ke depan, perlu adanya peningkatan edukasi politik agar kualitas demokrasi semakin baik. Dalam setiap proses pemilihan, masyarakat Desa Sungai Beringin diberikan kebebasan untuk menggunakan hak pilihnya secara langsung, umum, bebas, dan rahasia. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai demokrasi seperti keadilan, keterbukaan, dan kesetaraan telah diterapkan dengan cukup baik. Panitia penyelenggara juga berupaya menjalankan tugasnya secara profesional dan transparan, sehingga proses pemungutan dan penghitungan suara dapat berlangsung jujur dan adil. py87970iasyyjtu92zuajdzku50962u Mitra Petani (Jilid 1)/Tata Cara Membuat Sengked 0 27142 114728 114727 2026-04-03T08:45:47Z Deepturquoise 32400 114728 wikitext text/x-wiki {{c|“Bagaimana caranya supaya tanaman kokoh di lahan miring, tidak kering tanahnya, atau supaya tidak mudah pindah ke lahan lain.”<br> {{rule|5em}} <small>Pepatah mengatakan: ''Ayakan tara meunang kancra''.</small>}} Jika ada anak kecil mencomot nasi sekaligus dan menjatuhkan remah-remahnya, maka oleh ibunya sering ditegur sambil berkata: “Ih! Jangan begitu, pantang (''pamali'')”. Begitu juga apabila ada perempuan menemukan sisir di jalan, kemudian diambilnya, lalu diselipkan ke rambut, ucapnya: “Khawatir dibiarkan di jalan.” Demi Allah sudah menciptakan tanah supaya bisa ditanami, ratusan ribuan tahun lamanya, tetapi oleh manusia yang kurang pengetahuan hanya terpakai 1 atau 3 tahun saja, setelah itu habis lahan suburnya, lalu ditinggalkan begitu saja, pindah ke lahan lain, sebab tanaman tidak bisa tumbuh di lahan yang sudah rusak. Apakah yang seperti itu bukan pantangan? Saya rasa lebih pantang daripada anak yang mencomot nasi tadi, sebab terbentuknya tanah subur itu tidak sebentar. Asalnya adalah batu cadas, kemudian karena bertahun-tahun terkena panas, embun, hujan, batu cadas tersebut rapuh dan melunak, jadilah pasir halus, kemudian tumbuh lumut-lumut. Sesudah itu lumut menjadi busuk bercampur dengan butiran-butiran cadas tadi, lama-kelamaan tumbuh rumput, setelah itu bertahun-tahun lagi terkena panas, embun, dan hujan, batu dan cadas tadi semakin hancur, kembali tumbuh rumput bercampur dengan pasir, barulah jadi tanaman-tanaman kecil, kemudian bertahun-tahun selanjutnya batu cadas makin hancur, daun tanaman-tanaman tadi berguguran, bercampur lagi dengan butiran-butiran batu cadas tersebut, bertahun-tahun lagi barulah jadi hutan yang besar. Daun-daunnya setiap hari berguguran, banyak pohon yang roboh jadi busuk lalu jadi tanah, barulah jadi tanah hitam yang digarap oleh manusia. Coba dipikirkan, berapa lamanya tanah itu dari mulai ada lumut sampai menjadi ;ahan yang siap tanam? Bukan satu-dua tahun saja, tetapi ratusan bahkan ribuan tahun. Tidak usah terlalu jauh mencari perbandingannya. Coba lihat saja gunung Papandayan sudah berapa tahun lamanya terbentuk, sekarang baru ada banyak pepohonan tumbuh. Hal itu oleh manusia yang sedikit pengetahuannya sama sekali tidak dipikirkan atau dipedulikan. Tanah yag digarap habis tanpa aturan, paling lama hanya terpakai 3 tahun, bahkan ada peribahasa mengatakan: ''dua tahun katilu cul'' (dua tahun, ketiga ditinggal), tidak ada yang mengingatkan untuk membuat tata kelola supaya terpakai lama, setidaknya 10 sampai 20 tahun. Tampaknya hal ini dibiarkan saja, yang penting kerjaannya gampang, tidak masalah anak cucunya kelak kekurangan lahan garapan, tidak apa-apa keturunannya paceklik karena sudah tidak ada lagi yang bisa ditanami, yang penting saya hidup enak. Mungkin pikirnya: Buat apa mikir soal ratusan ribuan tahun tadi, buat apa juga memikirkan anak cucu. Ah! tapi menurut saya, tidak mungkin kalau tidak peduli pada anugerah Allah yang sudah diberikan kepada kita untuk hidup, tidak mungkin tidak ingat kepada anak cucu. Kemungkinan itu karena tidak terpikirkan saja, yang membuat segitu gegabahnya. ''Seolah tidak menyayangi anak cucunya dan mungkin dihinakan oleh Allah Taala yang membiarkan kegabahannya terhadap tanah miliknya.'' Makanya Allah sudah menjadikan tanah itu sekian lamanya hingga bisa ditanami, supaya manusia bisa mengambil hasilnya. Bukankah jadi pantangan, jika tanah yang bagus dari hasil yang mudah dalam waktu ⅔ tahun diisi hanya menjadi tanah kosong atau rumput liar, tidak ada tujuannya? Coba dipikir, berapa banyak tangkai padi yang keluar dari tanah itu, berapa banyak orang yang mendapat bekal dari tanah itu, jika tidak digegabahkan. Yang seperti itu sama sekali tidak dipikirkan, dan oleh sebab tidak dipikirkan akhirnya dimaafkan. Namun, karena sekarang sudah diberi tahu, seperti seorang ibu melarang anaknya butiran-butiran nasi, maka sekarang sangat pantang jika ada orang tetap meneruskan menggarap kebunnya menurut aturan kuno serta tidak mengikuti pengelolaan yang lebih baik, supaya tanah yang subur tidak terbawa hanyut oleh aliran air. Adapun aturannya gampang sekali supaya tanahnya tidak hanyut seta akans saya ceritakan di bawah ini: Jika ingin supaya tanah yang subur dan gembur di lahan miring tidak hanyut, maka itu harus dibuat sengkedan serta lebih mudah mengerjakannya daripada pekerjaan lain yang banyak. : Kata para petani: sulit untuk memulainya, tetapi menurut saya tidak, sebab sudah terbukti, bila membuat kebun sepetak dengan aturan lama dikerjakannya 37 hari, jika dibuat sengkedan jadi 44 hari, nah! hanya menambah tujuh hari. Coba pikirkan dengan teliti, jika membuat kebun dengan aturan lama dalam 2 tahun paling lama 3 tahun, tanahnya yang subur sudah hanyut, sehingga harus pindah lahan lagi. Sangat berbeda dengan kebun yang dibuat sengkedan, meskipun hasilnya pada tahun pertama sengkedan kurang, tetap sama saja dengan hasil sawah tadah hujan, itu tidak menjadi kekurangan bagi sengkedan, karenanya pada sengkedan, tanahnya setiap tahun makin subur, sebab tanah lapisan atasnya yang baik tidak hanyut terbawa aliran air, bahkan bercampur dengan tanah kerasnya yang merah, apalagi jika akan subur tidak dibuang, yaitu sampah ditimbunkan atau dikubur. Jadi tanah semakin baik dan semakin gembur mudahnya pasir semakin lengket, serta hasil panenannya lebih banyak daripada kebun yang dibiarkan begitu saja. Kesimpulannya: sengkedan itu lebih mudah serta lebih sedikit pekerjaannya dibanding aturan yang lama, sebab tidak perlu repot pindah-pindah serta setiap kali mulai membuka kebun harus lagi membuat pagar dan parit, itu pun menambah pekerjaan. Pada tahun 1871 ada seorang tuan amtenar bernama van Hall bersama Bupati Banyumas, diutus oleh pemerintah untuk melakukan peninjauan, untuk memeriksa kebun yang dibuat sengkedan, yang ditanami padi, jagung, tembakau, kacang, dan sebagainya. Waktu itu diketahui benar bahwa hampir semua pemilik kebun di lahan miring sudah membuat sengkedan di kebunnya, serta kemudian diperiksa: “Bagaimana pendapatnya tentang aturan sengked itu!” Semua menjawab: “Banyak untungnya.” Sebab sekarang mereka sudah mengerti bahwa pekerjaannya lebih sedikit tetapi hasilnya bertambah. Bahkan waktu itu sempat memeriksa seorang nenek-nenek dari Panembong: :“Bagaimana nek, bukankah lebih baik berkebun dengan aturan lama saja?” :Nenek itu menjawab: “Maaf saja juragan, ini aturan terasa lebih tambah mudah.” :Ditanya lagi: “Mudah bagaimana?” :Kata nenek: “Tanahnya jadi gembur serta tanamannya semakin lama semakin baik.” :“Mengapa bisa begitu?” :“Sebab tanahnya tidak hanyut seperti dalu, sekarang bisa dicangkul dalam.” :“Bagaimana dengan tanamannya?” :“Silakan saja lihat sendiri tembakau saya ini, dulu saya tidak pernah punya tembakau sebagus ini, ada pun yang bagus hanya di lembah saja yang tertimbun dari atas, dari atas dulu deras sekali, tetapi sekarang semuanya rata gemuk sekali. Dan sekarang mudah berjalan, tidak seperti dalu sulit melangkah di lahan miring apalagi sambil membawa barang. Dan sekarang pun ada tanda batas yang jelas bahwa oleh saya sudah dimiliki, sekarang tidak akan ada yang merebut.” :“Jadi tidak tetap milik nenek?” :“Betul sekali Juragan, yang penting tidak lebih dari itu saja.” Selain dari itu, van Hall juga mendengar cerita dari seorang warga Wanakerta, bahwa dirinyaa sudah mencoba dua kali menanam padi di kebun tanpa sengkedan. Pada tahun pertama dapat 10 pikul, tahun kedua hanya 3 pikul. Ada seorang lagi bernama Bapa Rai, warga Desa Ciela dan seorang tetua dari Desa Nangoh, dari dulu dalam 3 tahun ia hanya bisa panen satu kali, dengan tanah yang sama. Namun, setelah diganti pengelolaannya, dibuat sengkedan, jadi tambah banyak hasil panennya. Kata Bapa Rai hasil panen dari kebunnya seperti berkut: <center> {| class="wikitable" |+ | style="text-align: center;" |Di tahun | style="text-align: center;" |1865 | style="text-align: center;" |padinya | style="text-align: center;" |100 | style="text-align: center;" |ikat | style="text-align: center;" |tembakaunya | style="text-align: center;" |80 | style="text-align: center;" |''lémpéng'' |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1866 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |104 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |90 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1867 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |105 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |98 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1868 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |108 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |104 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1869 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |114 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |108 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1870 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |111 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |110 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |187 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |113 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |111 |style="text-align: center;" |" |} </center> Adapun Bapa Rai bukanlah petani yang terkenal pandai, sebab jika tanahnya lebih dalam dicangkul dan diberi pupuk, tentu saja hasilnya bisa berkali lipat, apalagi jika oleh yang pandai. Tetapi meskipun begitu tetap terlihat jelas, bahwa caranya itu baik, sebab sekarang sudah tujuh tahun setiap musim kebun itu ditanami, dan pemiliknya belum pernah terpikir pindah lahan. Dan lagi jika ditambah baik perawatannya, rumput-rumputnya, sampah-sampahnya tidak dibuang, tetapi dikumpulkan, setelah busuk ditaruh, dicangkul yang dalam, kira-kira sedalam 1 kaki serta dijadikan pupuk. Tentu 100 tahun lagi pun tanah itu masih bisa ditanami, tidak perlu mencari lahan baru. Bukankah itu suatu keuntungan besar? Bahkan Bapa Rai sambil menunggu hasil tanaman tidak berhenti membenahi pagar, ditanami pohon-pohon buah di sisi pagar, sisi bagian dalamnya ditanami kopi, membuat saung kecil serta rapi, sebagai tempat istirahat. Bahkan jika sedang banyak pekerjaan digunakan untuk bermalam. Intinya, Bapa Rai memiliki kebun yang baik, serta kebun tersebut memberikan dampaknya berupa penghasilannya. Banyangkan jika seluruh petani di Pulau Jawa menggunakan cara seperti itu dalam mengolah kebunnya, tentu akan sangat bagus hasilnya. Pengelolaan kebunnya teratur, pagarnya rapi dan indah, dibuat jalan setapak, saung yang bagus dan rapi, di sekelilingnya ditanam pohon yang buahnya lezat, seperti nangka, mangga, durian, jeruk, sawo, manila, duku, manggis dan sebagainya, serta ditanami labu atau ''kukuk'' (sejejnis labu) yang merambat di saung, sebagai tambahan atap untuk terasnya. Bagaimana kalau begitu penerapannya, bukankah lebih bagus dibandingkan kebun yang kotor, ''setengah hutan dan yang sering ditinggalkannya''. Pertama karena betah kenyamanan, kedua ada hasilnya, karena buahnya laku di pasar, lumayan untuk membeli garam dan terasi. Ada orang yang tidak mau menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah, di Sunda disebutnya ''jelema manuk'' atau ''jelema hejo tihang''. Semua mungkin sudah mengerti maksudnya, kenapa disebut ''hejo tihang'' karena belum rusak tempat tinggalnya sudah pindah lagi. Begitu juga dengan ''manuk'' (burung) tidak selalu menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah saja. Manusia yang memiliki perangai seperti itu sangat menyusahkan lurahnya, karena hari ini dirinya ada di sini, hari berikutnya sudah pindah lagi ke sana. Selamanya tidak bisa dijangkau. Pakaianya juga compang-camping, bisa disebut setengah manusia hutan. Tidak ada lagi yang dipikirkannya kecuali makan. Selain persoalan makanan tidak pernah dipikirkan. Perkara-perkara hukum adat yang baik tidak pernah tahu karena kurang bergaul dengan warga lainnya. Di Sunda, orang seperti itu tidak tahu adat tata krama, dinamakan ''jalma jauh ka bedug'', artinya manusia yang jauh dari tempat tinggal dan dari adat. Semuanya itu sebenarnya masih bisa diperbaiki, agar para petani semakin bagus merawat ladangnya, agar para ketua menjaga para petani tidak mengerjakan ladangnya semaunya saja, tapi harus menetap berkebunnya. Serta harus banyak embuat jalan, agar yang berkebun mudah untuk mobilisasi dan oleh ketua mudah untuk diawasi. Kalau seperti itu membuat senang, kepala desa (lurah) dan para pemangku di atasnya mudah memberitahu petani, apabila salah mengerjakannya. Dan orang-orang yang suka membeli tembakau, ''suuk'', kacang pasti banyak berdatangan, jadi para pertani tidak kesusahan menjualnya. Bagaimana bukankah itu lebih bagus dibandingkan penerapan yang dilakukan saat ini? Sekarang orang yang sedikit pengetahuannya sering disebut ''urang gunung''. Banyangkan kalau ''urang gunung'' semakin rajin, tentu penamaan ''gunung'' bukan untuk jadi bahan ejekan. ---- {{c|Sekarang simpan dulu cerita sengkedan, kita ceritakan hal tentang mengganti tanaman.}} ... <!--SEDANG DIKERJAKAN || Petani di sini baru berangkat untuk me mahami, kalau di Eropa sudah lama di temukannya, kalau tidak bagus penanamannya se rupa juga panjangnya tidak satu rupa. || apabila ada manusia menanam tembakau kedua kalinya, kalau temannya lagi setelah dipetik tembakaunya menanam kacang, setelah itu padi, dari situ tembakau lagi, itu yang menanamnya tidak dirubah-rubah hanya tembakau lagi, kedua kali nya tidak ada lagi hasilnya, tidak seperti temannya yang menanam diganti-ganti tembakaunya untung serta dari situ masih banyak lagi keuntungannya dari kacang dan dari padi. || Apa alasannya mengapa jadi begitu? || Apabila ingin tahu lebih lanjut harus bertanya ke ilmu tani, yaitu yang bisa menerangkan ala sannya. || Rahasianya seperti ini: || Segala penanamannya tidak sama pera watannya kodisi segarnya atau makanannya dari tanah kalau tanamannya besar beda jenisnya, itu makanannya tanah juga su ka gede lagi dari yang sudah-sudah. Dari kegiatan penanamannya suka ke tanah ini tapi tidak suka ke tanah itu, ada yang lebih suka ke tanah yang ada pasirnya, ada juga yang suka ke tanah yang banyak kapurnya atau gampingnya ada juga yang tidak cocok kepada kapur yang banyak. Jika ada tanah yang ditanamnya satu jenis tanamannya, tapi tanahnya bukan jenis makana tanaman tersebut Tapi tanahnya harus diperbaiki terlebih dahulu. agar bisa dimakan oleh tanaman nya, karena tanaman juga seperti manusia juga, berasnya juga harus diberi makan juga lauknya harus digoreng juga atau dipang gang dahulu, begitu juga tanahnya harus ada yang mengelolanya, supaya tepungnya bisa dimakan oleh rupa-rupa tanaman. || Supaya tanahnya bagus ke tanamannya yang mau diberi pakan tersebut, perlu ada air dan udara, udara dan air tersebut, masuk ke dalam tanah, tapi jika sudah dipacul tanahnya. || Itu sebabnya yang perlu harus diba jak dan dipacul, bukan agar akar bisa membentang di dalam tanah saja, tapi agar tanamannya bisa menyerap air tanah yang bagus. || Ternyata jika tanahnya bagus dikerjakan oleh petani suka ditanaman asak, sa ma dengan menyebut makanannya yang harus mendapatkan apa yang dinamakan. || Kalau padi tidak sama dengan makanannya dengan tem bakau, bentuknya berbeda, sifatnya berbeda, serta waktu ditanamnya padi itu mungkin tanah barus makanannya tembakau tidak dimakan oleh padi, itu jadi bekal baris makanan nya tembakau, begitu juga jika dita nam tembakau dulu, tepung tersebut seperti padi tidak dimakan. || Coba bayangkan, jika tidak menggunakan tangga bagaimana cara membentangkan tanah seperti tembakau atau seperti padi juga? || Tentu tanah tersebut oleh tanah terbawa ke bawah, diibaratkan sama seperti menyimpan uang ke dalam saku yang robek, lepas kaputa nnya, atau seperti sisa tempat kura-kura menyimpan pisang di dalam tas, sedangkan tasnya oleh sisa kura-kura sudah dibolongi mungkin semuanya mengetahui di dalam dongeng tersebut Apabila ada yang menjawab: itu hanya monyet jenis binatang mungkin juga bodoh-bodoh jadi begitu”, kemungkinan dijawab kembali: bagai mana jika juru tani masyarakat di sini lebih pintar dibandingkan dengan i tu monyet, karena suka membuang tanah bag us dari kebunnya?” || ada satu cerita lumayan untuk dijadikan contoh || Jaman dahulu ada satu manusia memiliki tiga anak, mungkin karena malas, tidak ma u bekerja dengan baik untuk kebunnya, bapaknya menjadi kesusahan, dari hal tersebut menghasilkan sebuah ide. || Dalam waktu akan mendekati kepada ajal, lalu memberikan wasiat kepada anak-anaknya, jika di dalam kebunnya ada harta karun (tersimpan sesuatu yang besar) || Setelah bapaknya dikuburkan, lalu ketiga anak tersebut mulai memencangkul kebunnya, bolak balik, tapi hasilnya nihil kebun nnya tidak menemukan apa-apa, mereka sangat penasaran, tapi dari hasil kegiatan yang telah mereka kerjakan tidak juga membuahkan hasil, lalu dampaknya jadi ditanami tanaman yang pasti ada hasilnya, tidak lama dari kejadian tersebut tanaman tersebut tumbuh dengan baik, hasilnya sangat menguntungkan, ketiga anak tersebut terkejut. || Dari kejadian tersebut akhirnya mereka mengerti macam macam hal yang tersimpan yang ditunjukkan oleh bapaknya, yaitu hasilnya berupa kebun. || Hingga menjadi topik bagi juru tani (petani), kacang menjadi bagus untuk tanah, karena jika menanam padi dari bekas kacang hasilnya menjadi bagus, tapi ternya salah dugaan juru tani, karena kacang sangat menghabiskan tepung yang ada di dalam tanah, yang menjadi bagus itu padinya saja. dari tanah yang sudah gembur tanahnya, bayangkan jika dalam hasilnya sama bagus kegiatan mencangkulnya ditanam padi tentu lebih bagus padinya dibandingkan dengan dari bekas kacangnya itu. Tapi bagaimana bisa mencangkul di dalam lahan lereng namun tidak menggunakan sengked? || Oleh karena itu harus menuruti ini aturan: || Agar bagus hasil menanam, tanahnya harus dalam dan campurkan menjadi satu pekerjaannya, agar tanah bagus tidak [...] dalam tanah yang miring, harus dibuatkan sengked terlebih dahulu. || Bagaimana jika ada yang tidak cocok dengan aturan tersebut? ada juga satu orang yang mengatakan: “Saya tidak cocok, karena jika membuat sengked dipotong bagian dasarnya tanah, dari atas suka datang ter lihat tanah yang berwarna merah, di situ tanaman menjadi buruk. || Itu benar seperti itu, dalam hal jika tera sering terlalu luas dalam tanah yang sangat miring, dan hal kedua jika sudah selesai sengked tidak dicangkul di satukan kembali. || karena luasnya sengked tersebut harus diperhitungkan dalam hal kemiringan lahan, jika lahan terlalu miring, sengked tersebut harus terlalu singkatnya. || jika lahan paling miring yang masih ada kemungkinan masih bisa ditanam, di tera sering luasnya dua kaki, itu bagian dasar ta nah hanya sedikit saja yang tumbuh ke luar, apalagi jika langsung dicangkul lagi da lamnya 1 kaki (satuan) atau sekurang-kurangnya tiga perempat kaki, jadi tanah yang subur bercampur baur dengan tanah yang kurang subur, sudah pasti tanah jadi lebih subur dibandingkan tanah yang tidak diatur menggunakan aturan tersebut. || Tapi bagaimana bisa tanah tersebut bercampur jika tidak menggunakan sengked? || sebelum diceritakan tentang sengked mari kita sebutkan keuntungan nya tanah miring menggunakan sengked ya itu: || Hal pertama, menambah kekuatan tanda kepemilikan, karena sengked sama dengan kotak dalam sawah, menjadi ciri pertahanan, sebuah tanda jika tanah tersebut sudah ada pemiliknya. || Hal kedua, tidak perlu berpindah-pindah ber kebun di dalam hutan atau terbatas waktu selama tiga tahun, tapi hal dengan menggunakan cara sengked bisa ditanami berbagai macam tidak ada batasnya, tidak perlu berpindah-pindah dan tidak ter lalu harus dijaminkan, lebih bagus lagi kalau mau menggunakan bibit. || Hal ketiga, meskipun pekerjaan untuk memulainya terlalu berat, dibandingkan dengan aturan yang seperti biasanya, tapi ke depannya tidak terlalu banyak pekerjaan, karena rumput-rumput yang jelek seperti ilalang jadi hilang dan digantikan dengan rumput yang bagus seperti lalapan, gulma bandotan (wedusan), jika tanaman tersebut membusuk di situ tanahnya semakin lama menjadi subur (mudah ditanami), begitu pula dengan tidak perlu sering membuat pagar baru dan membuat saluran air yang besar. || Hal keempat, tanah yang lain menjadi mudah ditanami tetapi jika sampah-sampahnya dan jeraminya tidak dibuang, yaitu dibiarkan saja, tanahnya semakin menjadi bagus, apalagi jika mau ditambahkan pupuk, jika tidak menggunakan sengked mungkiin satu kali hujan saja sudah terbawa air. || Hal kelima, karena tanahnya mudah ditanami jadi banyak meyerap air hujan yang menyebabkan tidak terlalu banyak genanangannya, malah genangannya disebabkan karena setiap sengked posisinya terlalu naik me ngalirnya, jadi tidak terlalu deras juga tanah tidak ter bawa. || Hal keenam, jika posisi kebun miring di luarnya sudah menggunakan sengked air genangan menjadi pelan mengalirnya, dan sebagian tidak terbawa arus air ke bagian bawah, terhalang sengked tersebut. lalu menyerap di sana, lalu sebagian lagi pelan-pelan mengalirnya, itu tentu jika air meluap tidak terlalu rusaknya, serta sungai-sungai yang kecil terus mengalir dikarenakan banyaknya air hujan terserap oleh tanah, dari situ perlahan-lahan rembes ke bagian bawah mengalir ke sungai itu, kalau dalam tanah yang tidak menggunakan sengked waktu itu juga cepat mengalir menuju sungai, besar luapan airnya dan banyak sekali kerusakan. || Itu di distrik panembong sudah jelas sekali danau danau di sana sekarang tidak terlalu banyak tersiram, kalau dahulu sebelum menggunakan sengked setiap tahun harus selalu dikeruk. --> ==Cara membuat sengked== Karena yang paling sering dijadikan kebun adalah tanah miring (tanah lereng) dan tidak banyak yang membuka ladang di hutan besar, jadi yang akan dijelaskan sekarang adalah ketentuan-ketentuan umum dalam membuat sengked di perbukitan semak belukar dan pepohonan kecil saja. # Yang paling pertama dikerjakan yaitu membabat semak atau kayu-kayuan kecil menggunakan parang, dan membabatnya sebisa mungkin dipotong pendek. Begitu pula dengan rerumputannya juga dibabat.<br>Kayu yang sudah dibabat tadi dikumpulkan, bagusnya digunakan untuk suluh, sebagiannya lagi digunakan untuk pembuatan pagar yang mengelilingi kebun. #Jika sampah rumputnya terlalu banyak, sebaiknya sebagian dibakar, setelahnya sebagiannya lagi digunakan untuk membuat pematang ''lebak'' di tempat yang akan dibuat sengked.<br>Membuat pematang sawahnya harus: a. Seperti membuat parit, jangan ''nyanglandeh'' jangan menanjak, kalau ada cekungannya atau sungai, harus menyiku, seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop).jpg|center|thumb|277x277px]]Kalau ada bukit atau pasir, harus seperti ''ngais'' seperti ini: <br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop)-2.jpg|center|thumb|277x277px]]Sama persis seperti parit, tapi jangan seperti jalan naik turun. Kalau seperti itu masih sama seperti lereng saja. #Jarak antara pematang harus berdasarkan miringnya (lerengnya) lahan. Sebisanya harus dijaga supaya timbangannya bagian atas tidak lebih dari satu kaki dalamnya.<br>Jika ada lahan yang tidak sama lerengnya (kemiringannya}, sebidang tanah tidak terlalu terasa sebidang tanah lagi terasa lerengnya itu luasnya sengked harus dimodifikasi. Tepat di dalam lerengnya ''disingkat'' dibagian yang datar diperluas, karena jika tidak seperti itu tentu datar sengkednya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 35 crop)-H.jpg|center|thumb|290x290px|''a.'' Lahan yang terlalu miring; ''b.'' lahan yang tidak terlalu ''lembah''.]] #Jika sudah selesai membuat pematang dari rumput tadi, barulah mulai dicangkul. Mulai dari yang paling bawah kira-kira satu kaki antara sisi atasnya dari pematang tersebut, juga tanahnya harus dibalik agar menutupi sampah rumput pematang tadi, agar kuat pematanghnya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 36 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px]]Begini rupanya yang mencangkul dari bawah ke atas, tanah yang dicangkul agak ''dikembing'' dan dilempar ke belakang. Begitu seterusnya sampai mencangkul pematang kedua.<br>Dari sana ulangi memlagi buat sengked sedalam satu kaki di atas pematang kedua, serta caranya masih sama hingga selesai.<br>Hasil sengked seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 37 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' pematang/tanggul, ''b.'' tanah pembuanga bekas dicangkul, ''c.'' ''teuras'']] #Dari sina cangkul ke depan, apalagi tanah yang keras disebelah dari atas harus dipipihkan dan dilemparkan tanah yang masih miring. Adapun Rumput-rumputnya jangan diambil pusing karena sudah pada mati (layu) ketika pertama kali tanahnya dicangkul tadi. Jadi bentuk sengkednya seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 38 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Tanah gembur yang akan ditanami, ''b.'' tanah pembuangan bekas dicangkul, ''c.'' gusi]] #Sewaktu bekerja, rumput yang ditimbun di tanggul tadi kemungkinan akan tumbuh kembali, apalagi kalau alang-alang dan yang sejenisnya, oleh karena itu, tanggulnya harus dibersihkan dan harus di ''sina mayat'' sedikit supaya tidak terlalu curam. Nah sekarang sudah selesai tinggal menanam. #Dan juga harus ingat sengked tidak bisa dibatas seperti sawah, menggunakan tanggul yang tinggi, sebab jika menggunakan tanggul tentu membuat semakin mudah tanah terbawa arus, sebab terasa sekali, selain dari itu akan menjadi jelek untuk tanaman karena air yang mengalirnya malam hari mengendap membawa tanah longsor.<br>Meyebabkan tanaman rusak: Jika tanaman bukan tanaman rawa seperti padi, karena tanahnya terlalu basah. #Karena itu juga, ketika mencangkul tanahnya jangan dikorek-korek ke samping sengked, karena jika sisi sengked dibuat tinggi, tentu sengked akan tinggi tidak merata, jadi selokan atau pindah lereng.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 39 crop).jpg|center|thumb|277x277px]] #Begitu juga harus selalu ingat, sisi sengked bagian luar jangan dicangkul, biarkan utuh saja kira kira selebar telapak tangan (''satampah''), berperan sebagai gusi, dan agar mempermudah ketika dikerjakan, yang mencangkul harus menghadap ke ''lebak'' serta cangkulnya sedikit dicondongkan seperti contoh berikut:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 40 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Bagian ini jangan dicangkul]]Jadi ada sisi yang keras yang berfungsi sebagai gusinya. #Ketika membersihkan kebun sampah-sampahnya harus ''dikirab-kirab'' dan diletakkan di gusi. Itu besar sekali gunanata sebab air hujan tidak tersendat.<br>Jika sampah itu tumbuh kembali, harus ''disasar'' saja, serta rumput-rumput setelah ''dikirab'' diletakkan lagi di ujung sengked. #Jika tanahnya yang keras atau lengket kerkena air hujan tidak bisa menyerap jadi cepat tergenang serta tanahnya mudah terbawa arus, di situ harus membuat parit atau tampungan air per 20 atau 30 sengked, dalamnya serta luasnya 1 - 1 ½ kaki, tergantung padatnya tanah dan seringnya hujan di sana.<br>Selokan tersebut jangan terlalu miring, tetapi harus rata mengikuti ''turunan'' sengeked.<br>Tanah hasil menggali dari selokan tersebut, harus ditumpuk di sebelah sisi ''lebak'', yaitu untuk meninggikan sengked.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 41 crop).jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Saluran air, ''b.'' tanah hasil mtumpukan yang dipakai untuk meninggikan sengked.]] <!-- || Sekarang tidak terganggu, susah untuk terbawa air tanahnya. || Jika selokan dari lama kelamaan jadi dangkal berlumpur, itu harus digali, ta nahnya digunakan untuk menaikkan sengked sebe lah dari bawah. Ketika ada yang mena nam tanaman awet seperti kopi jangan dibereskan galengannya serta harus segera membuat sengked yang luasnya cukup. Jika ada yang menanam bertahun-tahun seper ti: padi, tembakau, dan yang sejenisnya baiknya sengkednya setopa berganti tanaman nya diluaskan sekitar ¼ kaki. || Itu bekas kotoran menjadi tanah baru serta bagus, dan sengkednya pelan pelan ja di sangat luas, serta bekas pekerjaannya tidak berat sama sekali dan tidak terlalu mengha silkan tanah keras. || Perasaan saya sekarang sudah habis menerangkan hal sengked, tinggal menceritakan Perkara Cangkul Perkara alat membuat aliran air yang murah Pagar yang mudah tapi besar manfaatnya || Sebelum menceritakan hal yang tiga perkara di atas, kita menceritakan dahu lu hal sengked lagi sedikit. || Di Apdeling Limbangan sudah bertahun-tahun menerapkan aturan sengked dalam segala jenis kebun, bukan di kebun\ kopi baru saja, yang dahulu juga yang tadinya diisengked sekarang dicicil disengked, bergitu juga kebun palawija dan ribuan hutan, serta dikerjakan dengan hati-hati dan pikiran, semua itu hasilnya menguntungkan. || Oleh karena itu jangan risau lagi, men cari jalan yang lain, lebih ba gus sering mencoba coba saja, karena sudah mengetahui bagusnya aturan tersebut. || Ada juga yang mencoba-coba gaga l, itu jangan disalahkan terhadap aturan nnya, hanya mencoba-coba saja tidak dengan pikira n dan tidak mengetahui keseluran aturan tersebut. || Dan lagi sangat pantas diperjuangkan oleh rasa lelah juga, agar seluruh perkara seluruh aturan yang mengakibatkan keuntungan serta yang ujung-ujungnya memakmurkan pulau Jawa, Jadi sangat pantas diperjuangkan oleh hanya rugi yang tidak menguntungkan sekali dua kali saja, karena semua perkala memulainya suka su sah dan harus ada kerugian juga. || Dari pengalaman yang sudah-sudah, tanah dicangkul dipipihkan dahulu, rumputnya disisi nya hilang, dibakar, dibuah, ketika tanahnya sudah gembur tanah baru memulai membuat sengked, tindakan seperti itu tentu sudah jelas pasti gagal, karena tentu tanahnya pasti terbawa air. || Dari situ dengan cepat yang salah menger jakan menyalahkan aturan, katanaya: “Tuh ternyata tidak bagus, sengked longsor terus” || Tapi tidak dipikirkan penyebab gagalnya kare na kesalahan dirinya, sama saja dalam perkara menabur biji, mengikuti aturan tabur oleh biji padi jatuh dari tangkainya, tapi menaburnya terlau dekat, dari situ mudah menyimpulkan tidak bagus; nah be gitu gagal! bijinya sangat layu, segera potong dicabut. ||Tapi tidak dipikir, jika yang menyebabkan gagal adalah karena tidak dikerjekan dengan semestinya dan tidak dipikir kenapa penyebabnya yang menyebabkan harus diurut/dirawat yaitu supaya renggang. || Saya pribadi sudah menemukan satu tukang tembak masih belajar jadi belum bisa menembak, tapi menembak tidak tepat sasaran, suka marah-marah, menyalahkan kepada tem bakan katanya: kenapa ada pistol yang bodoh, sialan!” serta itu pistol jika digunakan oleh tukang tembak yang mahir pasti nyaring sekali. || Yang salah membuat sengked mungkin begitu juga, jika menya lahkan kepada sengked padahal kesalah diri sendiri saja. || Perkara Cangkul || Agar bisa bagus dan memudahkan dalam bekerja harus memiliki alat yang bagus, jika cangkul yang digunakan di tanah Jawa itu bagaimana termasuk ke alat bagus dan memudahkan pekerjaan. || Ada tiga jenis cangkul, jadi harus disebut cangkul-cangkul, yaitu: Cangkul Belanda atau - Cangkul Jawa Cangkul Sunda cangkul kampak [[gambar]] || yang paling jelek yaitu cangkul Jawa, setelahnya cangkul Sunda, kalau yang paling bagus cangkul Belanda, bukan karena buatan negeri Belanda, tapi karena gagangnya enak untuk digerakkan, bisa keras ketika terkena tanah, kalau cangkul Sunda sedikit sulit karena bagian telingan cangkul/cincin cangkul (bawak) terlalu besar/terlalu renggang, jadi yang mencangkul harus merunduk agar bisa mencangkul dalam dan bagus, kalau pavul jawa digunakannya agar bisa dalam bukan seperti itu susahnya, hal terlalu pendek gagangnya dan hal kedua cangkulnya terlalu besar/ terlalu renggang dibandingkan cangkul Sunda. || Oleh karena itu menggunakan pacul Jawa jika ingin dalam mencangkulnya harus merunduk jadi mudah lelah, dan lagi cang kul Jawa sangat berat, hal itu juga membuat menambah berat terhadap pekerja an, sebenernya itu bukan cang kul, bisa juga disebut alat membajak sawah. karena jika orang Jawa sedang mencangkul terlihat bukan seperti mencangkul, terlihat seperti yang sedang menekah dan menarik alat membajak sawah (wuluku) ke dalam tanah, tapi ketika sedang ditekankan serta ditarik tentu susah dan berat dibandingkan dengan diayunkan. || dan pacul jenis Belanda semmuanya baja dan tipis, ringan dan lebih mudah dibandingkan pacul setengah besi setengah lagi kayu, yang semakin atas semakin tebal. || di lembaran ke 43 ada contoh gambaran manusia sedang mencangkul dalam, menggunakan pacul tiga jenis: [gambar] || bagaimana itu gambar tidak tahu bahwa pacul Belanda paling bagus? || Pemuda teliti bekerjanya menggunakan pacul Be landa, ditambah ba nyak sekali hasilnya dibandingkan pemuda Jawa menggunakan pa culnya sendi ri. || Iya teliti tanah nya lembut, tapi pemuda yang mencang kul dalamnya 1 kaki dari jam setengah tu juh pagi-pago hingga pu kul dua tengah hari menghasilkan 40 tumbah atau jika landai mencangkulnya 3 dim dalam nya mendapatkan 55 atau 60 tumbak, dan dilanjutkan dengan menjemur rumput dan disimpan di sengked. || Dikarenakan itu kemauan orang Jawa yang sering menggunakan pacul seperti gambar ketiga, mengganti paculnya dengan pacul yang lebih bagus. Jika mereka tidak mau menggunakan pacul Belanda mes kipun harganya sangat muran karena baha semuanya, yaitu harus bagaimana, tapi sebutuh nya harus mengikuti contoh pacul su nda, itu lebih ringan dan lebih mudah menggunakannya dibandingkan pacul yang menyerupai wuluku. || untuk apa berlelah-lelah jongkok melengkung jika tidak perlu. --> ==Alat ''Water pass''== Mungkin banyak yang merasa sulit memperbaiki sungai oleh sampah yang banyak, agar landai lurusnya. Sebenarnya ada alatnya, sangat mudah, siapa pun bisa membuatnya, serta ongkosnya hanya terbilang sangat murah. Hal yang harus dibuat: Pertama, tongkat. Panjangnya harus seukuran dengan tinggi batas mata orang yang akan menggunakan alatnya. Di atas tongkat tadi pasang paku kayu seperti di ''e''. Selanjutnya pasang papan kecil, gantungkan supaya terayun-ayun ke paku kayu ''b''. Dari situ pasang lagi papan kecil ''e'', simpan di papan tadi, atur sampai lurus agar terlihat seperti menyiku. Kemudian gunakan bambu kecil tipis atau kaso diberi lubang oleh lidi ''d''. Agar bisa digunakan untuk membidik, ikat dengan tali rotan ke papan tersebut yang lurus tadi. [[File:Mitra nu Tani (page 52 crop).jpg|center|thumb|290x290px|Kayu ''b'' harus lebih berat dibandingkan kayu ''c'']] Alat satunya lagi yaitu tongkat kedua, panjangnya sama dengan yang pertama. Selanjutnya pasang papan kecil, beri warna putih menggunakan kapur. Panjangnya 4 lebarnya 2 dim. Papan ini posisinya posisinya di atas tongkat kedua, agar kaso atau bambu yang dilubangi tadi (di tongkat pertama) akur posisinya dengan tengah-tengahnya itu papan. [[File:Mitra nu Tani (page 53 crop).jpg|center|thumb|290x290px]]<br> Cara mengoperasikan alatnya seperti berikut: Satu orang memegang tongkat dan papannya tegak lurus ke tanah, jangan ditancapkan ke tanah, cukup dipegang saja, seperti ''a.'' [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|di halaman 49]]. Satu orang lagi memegang alat yang disebut paling awal (tongkat pertama), yang diberi nama teropong (kékér), sambil jalan mundur ke belakang 15 atau 20 langkah. Dari sana bidik bambu atau kaso yang sudah dilubangi tadi ke arah papan putih. Teropongnya pindah ke atas atau ke bawah sambil supaya pas dengan tengah-tengahnya papan. Setelah itu berikan tanda, orang yang memegang papan putih pindah ke tempat yang sudah diberi tanda tadi, sementara yang membawa teropong mundur lagi 15 atau 20 langkah ke belakang, begitu seterusnya. Alat ini bukan sekadar menunjukkan cara membuat sengked saja, tapi jika lahan tidak terlalu rata lerengnya, bisa untuk mengukur luas sengked. Di [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|halaman 49]] ada contoh cara menggunakan alat ''Water pass'' ini. Tidak perlu setiap sengked Diukur dengan ''water pass''. Hanya untuk menjaga saja serta agar lerengnya rata. Mungkin cukup per 5 atau 10 sengked diukur dengan ''water pass''. Di sini, di Garut, para petani sudah biasa membuat sengked. Sengked ''lempeng'' saja, mengikuti lahan, tidak harus menggunakan alat yang sudah dijelaskan tadi, penyebabnya yaitu kebiasannya, jarang yang salah sengked. Namun, bagi yang baru, alat tadi mungkin akan sangat berguna. ==Pagar== Di sini pagar yang digunakan untuk mengelilingi kebun kebanyak dari pohon waru (kapas-kapasan), dibariskan dengan jarak kira-kira 2 atau 3 kaki, serta tiap jaraknya ditanami pohon jarak atau murbei, diselipkan dengan bambu. Tangkai waru yang ditebang bisa dijadikan suluh, daunnya sebaga pembungkus. Agar nanti sudah tumbuh sangat besar, kain bagus untuk dijadikan perabotan, untuk roda karet untuk membawa rempah-rempah dan sebagainya. Jika banyak kebun yang bertemu batas, itu bagus untuk kompromi yang punya kebun dalam merawatnya, yaitu syaratnya agar kebunnya subur, jangan setiap kebun dipagar disekelilingnya oleh pagar permanen. Lebih bagus pagar yang bisa untuk menjaga hewan kuda, sapi, atau kerbau beradu saja daripada mengeluarkan ongkosnya, bersama-sama saja, keuntungannya, kerugiannya, dari pagar tersebut memiliki bagiannya masing-masing. Untuk pagar yang menjadi tanda kepemilikan seseorang sebaiknya menggunakan tanaman kecil saja, lebih baik lagi menggunakan tanaman yang ada buahnya seperti mengkudu atau kopi, jaraknya 4 kaki, dan selain dari itu. Tentu ada juga hasilnya walau sedikit. Bagaimana perasaannya setelah diberikan pembelajaran ini, bagus atau buruk? Semoga pengarang tidak sia-sia membuatnya. Jangan sampai memberi nasihat yang tidak bisa diterapkan. [[Kategori:WikiPrestasi]] c3zj6b4mpa3xhu2nahegzmkycsgrnn9