Wikibuku
idwikibooks
https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.46.0-wmf.24
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikibuku
Pembicaraan Wikibuku
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Resep
Pembicaraan Resep
Wisata
Pembicaraan Wisata
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Resep:Urap
100
26529
114888
111573
2026-04-16T03:42:33Z
Diahasy
35152
114888
wikitext
text/x-wiki
Urap merupakan salah satu hidangan tradisional indonesia yang terkenal sebagai lauk pendamping nasi. Hidangan ini berupa campuran berbagai sayuran rebus yang disajikan dengan kelapa parut berbumbu.
== Bahan ==
# Daun sawi hijau 1 ikat
# Daun selada 2 ikat
# Taoge 1 ons
# Kelapa setengah tua 1/3 butir
== Bumbu ==
# Bawang Merah 2 buah
# Terasi 1 sendok makan
# Kencur 1 rajang
# Gula Merah 1 sendok makan
# Garam 1 sendok makan
== Cara Membuat ==
# Air 3 gelas dijarangkan.
# Semua sayuran dibersihkan, sawi dipotong-potong.
# Taoge disiram dengan air mendidih, sayuran direbus, selada air dimasak dulu, baru sawi. Sayuran diangkat lalu ditiriskan.
# Kelapa diparut.
# Bumbu-bumbu dihaluskan, dicampur dengan kelapa parut
== Referensi ==
# Kementerian Pertanian. 1967. ''Mustikarasa: Buku Masakan Indonesia.'' Jakarta: Kementerian Pertanian.
[[Kategori:WikiCitaRasa-Bandar Lampung]]
[[Kategori:WikiCitaRasa]]
6vjcjsgkak9avfvvp2d41nbc09tlmuj
Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pematang Reba
0
27112
114887
114602
2026-04-15T12:02:36Z
Luthfiana Muthoffifin 1A
42662
Nilai adat dan tradisi dalam meminta bibit tanaman yang ada pada masyarakat Pematang Reba
114887
wikitext
text/x-wiki
Desa Pematang Reba adalah salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Sebagian besar masyarakat di desa ini bekerja di bidang pertanian atau memiliki kebun seperti kebun kelapa sawit, karet, maupun tanaman buah. Kehidupan masyarakatnya masih sangat menjunjung tinggi kebersamaan dan saling menghargai antar sesama warga. Salah satu perilaku masyarakat yang sering dilakukan adalah saling tukar bibit tanaman. Biasanya jika ada warga yang memiliki bibit tanaman seperti cabai, sayur, atau tanaman buah, mereka akan memberikan atau menukar bibit tersebut dengan tetangga. Misalnya ada yang memiliki bibit cabai atau bibit pepaya yang banyak, maka sebagian akan diberikan kepada tetangga untuk ditanam juga di kebunnya atau di pekarangan rumah.
Selain itu, masyarakat yang bertempat tinggal di dekat aliran sungai mereka biasanya sering kali melakukan kegiatan pertanian dengan bercocok tanaman buah seperti buah rambutan,buah durian maupun buah matoa. Ketika hasil panen buah melimpah maka, sisa hasil panen buah akan diberikan pada orang lain atas bentuk rasa syukur mereka para petani atas hasil pertanian yang melimpah. Ada juga istilah perilaku masyarakat didesa ini seperti ketika hasil panen melimpah yaitu " ''numpang ambek"'' yang artinya ketika ada orang yang ingin meminta izin untuk mengambil tanaman buah yang ingin dimakan dan sang pemilik pun akan mengatakan "''ambek aje"'' yang berarti sang pemilik pun akan memberikan izin untuk mengambil tananaman buah secukupnya.
Nilai adat maupun tradisi yang masih melekat dan terjaga pada masyarakat di desa ini berupa tradisi " ''numpang tanam"'' yaitu kebiasaan meminta bibit tanaman berupa bibit sayuran maupun buah-buahan kepada para tetangga atau kerabat dengan sikap yang sopan dan santun, biasanya para pemberi akan memberikan tanaman bibit secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Salah satu tradisi " ''numpang tanam"'' ini masih mencerminkan nilai gotong royong,solidaritas dan menumbuhkan kepercayaan antar warga sekitar. Selain itu , kebiasaan ini juga mendukung kegiatan agribisnis secara sederhana, karena dapat membantu masyarakat untuk memperoleh bibit tanpa biaya yang besar. Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga berperan dalam menjaga keberlanjutan usaha pertanian yang berda di lingkungan masyarakat.
cmq7004dfgwtuayj719dalhjfljch89
Cerita Kapten Bontekoe/Gunung Biru
0
27193
114889
2026-04-16T08:16:43Z
Deepturquoise
32400
+
114889
wikitext
text/x-wiki
{{c|'''Bab 5<br>Gunung Biru'''}}
Setelah si pembuat roti meninggal, Bontekoe dan yang lainnya merasa sangat sedih. Meski begitu Bontekoe tidak lupa bertawakal ikhtiar dalam musibah atau kesedihannya. Ia lalu memeriksa perbekalan. Ketika diinspeksi ternyata tersisa sangat sedikit. Apalagi persediaan air, sudah habis.
Perasaan Bontekoe tidak tentu melihat perbekalan yang begitu sedikit untuk orang sebanyak itu. Mereka juga sedang dalam keadaan pemulihan, karena 14 hari lamanya tidak makan. Hanya makan saat di pulau itu saja. Itu pun belum terlalu puas karena waktu itu pencernaannya masih belum ''terkondisikan'' <!--sunda: barantak-->.
Karena saat ini rasa lapar mereka sedang tinggi-tingginya, maka Bontekoe memerintahkan kembali lagi ke pulau tadi, untuk mengambil air minum dahulu.
Pesisirnya tampak hitam dipenuhi oleh orang-orang. Namun, mereka semua langsung sembunyi masuk ke dalam hutan begitu melihat Bontekoe kembali lagi ke pantai, Begitu sampan menepi di pesisir pantai, para awak kapal segera turun untuk mengisi air ke dalam wadah-wadah mereka. Setelah semuanya sudah penuh, para awak kapal langsung naik lagi ke sampan, dan langsung berlayar lagi ke tengah.
Karena laut itu jarang dilintas, jadi para awak kapal serba tidak tahu dimana saja patokannya. Berlayar mengikuti kemana sampan melaju saja. Tidak tentu tujuannya, entah kemana terpautnya saja. Namun, Bontekoe tak henti-hentinya memohon semoga segera mendapat pertolongan, menemukan pulau yang sepi dan banyak buah-buahan yang enak dimakan, serta banyak hewan yang enak dagingnya untuk perbekalan.
Siang menjadi malam silih berganti, bulan gelap, keheningan sangat pekat, sehingga membuat sulit untuk berpikir. Bontekoe dan rekan-rekannya makin khawatir akan nasib mereka.
Ketika matahari terbit, dengan pertolongan Tuhan, awak kapal melihat di depannya tampak ada tiga pulau yang ''hijau'' <!--sunda: lembut--> tak berpenghuni. Kapten Bontekoe sangat gembira karena doanya dikabulkan. para awak kapal sangat senang, dan dengan cepat mengarahkan sampannya ke pulau terbesar. Kapten dan semua awak kapal langsung turun ke darat. Di sana mereka menemukan air bersih dan sebuah gunung. Di sekelilingnya terdapat hutan bambu, delima, dan pohon bebuahan lainnya.
Para awak kapal lalu minum dan memetik buah, memakannya di sana dan membawanya ke sampan. Lalu mereka mengisi kendi air dan juga memotong bambu sebagai wadah, sebab bambu-bambunya sangat besar. Dibuat jadi banyak wadah, lalu disusun di sampan bersama wadah buah-buahan, dedaunan yang enak dimakan.
Setelah itu para awak kapal pergi ke tepi pantai memancing ikan dan berburu hewan darat yang dagingnya enak. Hasil tangkapan mereka diangkut ke dalam sampan.
Saat para awak kapal mencari makanan, Bontekoe naik ke atas gunung. Sepanjang jalan ia mengenang kembali perjalanannya. Berkali-kali pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Berkali-kali diselamatkan dari ''bahaya'' <!--balai-->. Dihindari dari bencana, sampai hampir pada titik kematian.
Setelah sampai di puncak gunung ia lalu berdoa. Kedua tangannya diangkat ke atas memuji syukur kepada Tuhan atas rahmat-Nya, yang telah menyelamatkannya dari banyak bahaya.
Setelah selesai berdoa, ia memandang ke selatan, barat, dan timur, tidak ada yang terlihat selain langit dan laut yang membentang luas. Hanya menyisakan dua bayangan biru samar.
Saat itu Bontekoe teringat masa-masanya di Kota Hoorn. Ia pernah diceritakan oleh sahabatnya, *Willem Sekoten* yang sering berlayar ke Hindia. Bahwa di Pulau Jawa ada dua gunung besar. Dari kejauhan tampak berwarna biru. Oleh karena itu disebutnya Gunung Biru. Sementara orang Jawa menyebutnya [[w:Gunung Gede|Gunung Gede]], yang merupakan gunung yang berada di Cianjur.
Dari sana ia lalu turun ke pantai menemui rekan-rekannya, untuk menceritakan ingatannya tadi pada mereka dengan sangat gembira.
Setelah rekan-rekannya mendengar kabar itu, kegembiraannya tak terkira. Mereka bergegas menuju sampan dan mengangkut wadah air, buah-buahan serta ikan, lalu semuanya dimuat ke dalam sampan.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kemudian layar-layar dibentangkan serta dikayuh ke arah gunung itu. Tak lama kemudian matahari terbenam, digantikan oleh bintang-bintang yang bersinar. Kebetulan langitnya cerah, tidak ada awan yang terlihat.
Bontekoe diam di depan sampan, ''hatinya berat'' <!--kagagas manahna-->, mengenang negerinya dan perjalanan yang telah ia tempuh sejauh ini, serta memuji kebesaran langit ciptaan Tuhan. ketika melihat ke tengah laut yang tampak berombak kemari, Bontekoe meneteskan air mata karena rasa haru dalam hatinya.
Namun para awak kapal saat itu tidak tahui bahwa mereka sudah dekat dengan pantai Pulau Jawa. Ketika sudah siang, seorang awak kapal memanjat tiang layar sampan, menoleh ke ke selatan dan melihat 23 kapal.
Saya tidak bisa menggambarrkan betapa bahagianya awak kapal itu.
Ketika semuanya sudah terlihat, ia berteriak:
:"Keberkahan! Keberkahan! Keberkahan!"
Orang-orang kapal yang mendengar teriakan itu terkejut bertanya kepada matros yang berteriak itu:
:"Ada apa! Ada apa?"
Dijawablah bahwa dia melihat 23 kapal. Semua awak kapal gembira sehingga mereka melompat-lompat di atas sampan. Ingin segera menghampiri kapal-kapal itu. Sebagian mengambil dayung, lalu didayung sekuat-kuatnya.
Adapun kapal-kapal yang terlihat adalah kapal Belanda yang hendak berlabuh di Jakarta, yang dipimpin oleh laksamana bernama *Frederik Hotman van Alekmar.* Saat itu ia sedang duduk di kapal mengamati laut dengan teropongnya. Ketika diarahkan ke arah sampan Bontekoe, terlihat ada satu orang di atas sana. Dan jika diperhatikan dari lajunya, dapat dipastikan yang menumpangi sampan itu mengalami musibah besar. Admiral Hotman langsung memerintahkan awak kapal untuk menghampiri Bontekoe.
Saat para awak kapal di sampan Bontekoe melihat ada kapal yang mendekat, betapa gembiranya mereka, sambil bersorak-sorak dari kejauhan.
Ketika sudah mendekat, mereka saling bertanya asalnya dari mana. Orang-orang kapal yang menghampiri Bontekoe ternyata juga berasal dari kota Texel.
Kapten Bontekoe dan saudagar Rol menghadap Admiral Hotman, yang sedang menunggu di kapalnya, ingin segera bertemu dengan Kapten Bontekoe.
Setelah penyambutan selamat datang, tanpa berlama-lama Admiral Hotman lekas memerintah untuk menjamu Bontekoe ke meja makan dengan serba-serbi hidangan makanan dan buah-buahan. mereka semua lalu duduk di meja perjamuan.
Kapten Bontekoe dan saudagar Rol tampak sangat lahap, karena sudah berhari-hari tidak merasakan makanan lezat, karena kini sudah kenyang atas makana yang lezat, ia dan saudagar Rol saling memandang, teringat akan pelayarannya.
Saking bahagia serta bersyukurnya diselamatkan dari musibah, Kapten Bontekoe dan saudagar Rol terharu bahagia. Setelah masuk ruangan, Bontekoe melanjutkan ceritanya, bergantian dengan saudagar Rol. Admiral Hotman merasa kasihan terutama mengenai musibah. Ia pun merinding campur kaget mendengar cerita mereka, apalagi saat kapal terbakar. Saat terdapar di Sumatra dan mendapat pertolongan ia turut senang.
Adapun rekan-rekan Bontekoe diperintahkan untuk dirawat oleh Admiral hotman oleh anak buahnya agar bisa mengistirahatkan badannya.
Keesokan harinya kapal-kapal sudah tiba di pelabuhan Jakarta untuk berlabuh di sana.
Keesokannya lagi, Bontekoe dan Heinrol berpakaian lengkap, dengan pakaian resmi pemberian sang Admiral, untuk menghadap penguasa yang memerintah di Pulau Jawa. Dia adalah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, yang disebut dalam babad sebagai [[w:Jan_Pieterszoon_Coen#:~:text=pribumi%20melafalkannya%20sebagai-,Mur%20Jangkung,-.%5B4|Kapten Mur Jangkung]].
Sang Gubernur merasa terhormat saat bertemu dengan Bontekoe dan saudagar Rol, sebagaimana bertemu dengan admiral.
Di sana Kapten Bontekoe menceritakan kembali kisahnya dari awal sampai akhir, sang gubernur turut bersenang hati mendengar kisah mereka.
Lalu gubernur jenderal mengizinkan Bontekoe dan saudagar rol menginap di kediamannya selama 8 malam. Saat menginap di kapalnya Admiral Hotman mereka hanya menghabiskan waktu selama 24 jam.
Adapun Bontekoe dan saudagar Rol selama berada di tempat gubernur jendral, setiap waktu makan mereka diajak berkumpul, dan setiap selesai makan disambut dengan obrolan tentang perjalanan mereka. Sang gubernur jendral berbaik hati melayani mereka. Kemudian Bontekoe diankat menjadi kapten di Kapal *Bargerbot.*
Adapun saudagar Rol diangkat lagi menjadi saudagar di kapal yang sama, tetap bekerja bersama-sama dengan Kapten Bontekoe. Sementara rekan-rekannya terpencar di kapal-kapal yang lain.
Kapten Bontekoe menerima banyak anugerah dari yang maha esa, atas banyak perbuatan baiknya kepada perusahaannya, penyelamatan rekan-rekannya, serta atas keberaniannya.
Pada 6 Januari 1625 Kapten Bontekoe berlayar ke Eropa. Lalu pada 15 November di tahun yang sama, ia tiba di [[w:Eindhoven|Kota Hopen]]. Di sana ia menyelesaikan perjalanannya.
Setelah cukup beristirahat, ia mulai menulis perjalanan panjangnya tersebut. Inilah bukunya yang telah disalin oleh saya.
Adapun Saudagar HeinRol tidak beberapa lama sejak saat itu, diangkat menjadi jenderal di benteng Ambon atas kehendak ''penguasa'', karena keberanian, ketekunan, kecerdasan, sopan santunnya yang tampak jelas. Dan ia meninggal di sana.
[[File:Tjarita Toewan Kapitan Wilĕm Esbranson Bontekoe (page 99 crop).jpg|331x331px|center|thumb]]
==Catatan==
<nowiki>*</nowiki><small>Istilah masih dalam bahasa Sunda/belum menemukan padanan bahasa Indonesia yang tepat.</small>
d8i5f14oaekxj7dy1ot6ldxgyjml5jh
114890
114889
2026-04-16T08:17:50Z
Deepturquoise
32400
114890
wikitext
text/x-wiki
{{c|'''Bab 5<br>Gunung Biru'''}}
Setelah si pembuat roti meninggal, Bontekoe dan yang lainnya merasa sangat sedih. Meski begitu Bontekoe tidak lupa bertawakal ikhtiar dalam musibah atau kesedihannya. Ia lalu memeriksa perbekalan. Ketika diinspeksi ternyata tersisa sangat sedikit. Apalagi persediaan air, sudah habis.
Perasaan Bontekoe tidak tentu melihat perbekalan yang begitu sedikit untuk orang sebanyak itu. Mereka juga sedang dalam keadaan pemulihan, karena 14 hari lamanya tidak makan. Hanya makan saat di pulau itu saja. Itu pun belum terlalu puas karena waktu itu pencernaannya masih belum ''terkondisikan'' <!--sunda: barantak-->.
Karena saat ini rasa lapar mereka sedang tinggi-tingginya, maka Bontekoe memerintahkan kembali lagi ke pulau tadi, untuk mengambil air minum dahulu.
Pesisirnya tampak hitam dipenuhi oleh orang-orang. Namun, mereka semua langsung sembunyi masuk ke dalam hutan begitu melihat Bontekoe kembali lagi ke pantai, Begitu sampan menepi di pesisir pantai, para awak kapal segera turun untuk mengisi air ke dalam wadah-wadah mereka. Setelah semuanya sudah penuh, para awak kapal langsung naik lagi ke sampan, dan langsung berlayar lagi ke tengah.
Karena laut itu jarang dilintas, jadi para awak kapal serba tidak tahu dimana saja patokannya. Berlayar mengikuti kemana sampan melaju saja. Tidak tentu tujuannya, entah kemana terpautnya saja. Namun, Bontekoe tak henti-hentinya memohon semoga segera mendapat pertolongan, menemukan pulau yang sepi dan banyak buah-buahan yang enak dimakan, serta banyak hewan yang enak dagingnya untuk perbekalan.
Siang menjadi malam silih berganti, bulan gelap, keheningan sangat pekat, sehingga membuat sulit untuk berpikir. Bontekoe dan rekan-rekannya makin khawatir akan nasib mereka.
Ketika matahari terbit, dengan pertolongan Tuhan, awak kapal melihat di depannya tampak ada tiga pulau yang ''hijau'' <!--sunda: lembut--> tak berpenghuni. Kapten Bontekoe sangat gembira karena doanya dikabulkan. para awak kapal sangat senang, dan dengan cepat mengarahkan sampannya ke pulau terbesar. Kapten dan semua awak kapal langsung turun ke darat. Di sana mereka menemukan air bersih dan sebuah gunung. Di sekelilingnya terdapat hutan bambu, delima, dan pohon bebuahan lainnya.
Para awak kapal lalu minum dan memetik buah, memakannya di sana dan membawanya ke sampan. Lalu mereka mengisi kendi air dan juga memotong bambu sebagai wadah, sebab bambu-bambunya sangat besar. Dibuat jadi banyak wadah, lalu disusun di sampan bersama wadah buah-buahan, dedaunan yang enak dimakan.
Setelah itu para awak kapal pergi ke tepi pantai memancing ikan dan berburu hewan darat yang dagingnya enak. Hasil tangkapan mereka diangkut ke dalam sampan.
Saat para awak kapal mencari makanan, Bontekoe naik ke atas gunung. Sepanjang jalan ia mengenang kembali perjalanannya. Berkali-kali pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Berkali-kali diselamatkan dari ''bahaya'' <!--balai-->. Dihindari dari bencana, sampai hampir pada titik kematian.
Setelah sampai di puncak gunung ia lalu berdoa. Kedua tangannya diangkat ke atas memuji syukur kepada Tuhan atas rahmat-Nya, yang telah menyelamatkannya dari banyak bahaya.
Setelah selesai berdoa, ia memandang ke selatan, barat, dan timur, tidak ada yang terlihat selain langit dan laut yang membentang luas. Hanya menyisakan dua bayangan biru samar.
Saat itu Bontekoe teringat masa-masanya di Kota Hoorn. Ia pernah diceritakan oleh sahabatnya, *Willem Sekoten* yang sering berlayar ke Hindia. Bahwa di Pulau Jawa ada dua gunung besar. Dari kejauhan tampak berwarna biru. Oleh karena itu disebutnya Gunung Biru. Sementara orang Jawa menyebutnya [[w:Gunung Gede|Gunung Gede]], yang merupakan gunung yang berada di Cianjur.
Dari sana ia lalu turun ke pantai menemui rekan-rekannya, untuk menceritakan ingatannya tadi pada mereka dengan sangat gembira.
Setelah rekan-rekannya mendengar kabar itu, kegembiraannya tak terkira. Mereka bergegas menuju sampan dan mengangkut wadah air, buah-buahan serta ikan, lalu semuanya dimuat ke dalam sampan.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kemudian layar-layar dibentangkan serta dikayuh ke arah gunung itu. Tak lama kemudian matahari terbenam, digantikan oleh bintang-bintang yang bersinar. Kebetulan langitnya cerah, tidak ada awan yang terlihat.
Bontekoe diam di depan sampan, ''hatinya berat'' <!--kagagas manahna-->, mengenang negerinya dan perjalanan yang telah ia tempuh sejauh ini, serta memuji kebesaran langit ciptaan Tuhan. ketika melihat ke tengah laut yang tampak berombak kemari, Bontekoe meneteskan air mata karena rasa haru dalam hatinya.
Namun para awak kapal saat itu tidak tahui bahwa mereka sudah dekat dengan pantai Pulau Jawa. Ketika sudah siang, seorang awak kapal memanjat tiang layar sampan, menoleh ke ke selatan dan melihat 23 kapal.
Saya tidak bisa menggambarrkan betapa bahagianya awak kapal itu.
Ketika semuanya sudah terlihat, ia berteriak:
:"Keberkahan! Keberkahan! Keberkahan!"
Orang-orang kapal yang mendengar teriakan itu terkejut bertanya kepada matros yang berteriak itu:
:"Ada apa! Ada apa?"
Dijawablah bahwa dia melihat 23 kapal. Semua awak kapal gembira sehingga mereka melompat-lompat di atas sampan. Ingin segera menghampiri kapal-kapal itu. Sebagian mengambil dayung, lalu didayung sekuat-kuatnya.
Adapun kapal-kapal yang terlihat adalah kapal Belanda yang hendak berlabuh di Jakarta, yang dipimpin oleh laksamana bernama *Frederik Hotman van Alekmar.* Saat itu ia sedang duduk di kapal mengamati laut dengan teropongnya. Ketika diarahkan ke arah sampan Bontekoe, terlihat ada satu orang di atas sana. Dan jika diperhatikan dari lajunya, dapat dipastikan yang menumpangi sampan itu mengalami musibah besar. Admiral Hotman langsung memerintahkan awak kapal untuk menghampiri Bontekoe.
Saat para awak kapal di sampan Bontekoe melihat ada kapal yang mendekat, betapa gembiranya mereka, sambil bersorak-sorak dari kejauhan.
Ketika sudah mendekat, mereka saling bertanya asalnya dari mana. Orang-orang kapal yang menghampiri Bontekoe ternyata juga berasal dari kota Texel.
Kapten Bontekoe dan saudagar Rol menghadap Admiral Hotman, yang sedang menunggu di kapalnya, ingin segera bertemu dengan Kapten Bontekoe.
Setelah penyambutan selamat datang, tanpa berlama-lama Admiral Hotman lekas memerintah untuk menjamu Bontekoe ke meja makan dengan serba-serbi hidangan makanan dan buah-buahan. mereka semua lalu duduk di meja perjamuan.
Kapten Bontekoe dan saudagar Rol tampak sangat lahap, karena sudah berhari-hari tidak merasakan makanan lezat, karena kini sudah kenyang atas makana yang lezat, ia dan saudagar Rol saling memandang, teringat akan pelayarannya.
Saking bahagia serta bersyukurnya diselamatkan dari musibah, Kapten Bontekoe dan saudagar Rol terharu bahagia. Setelah masuk ruangan, Bontekoe melanjutkan ceritanya, bergantian dengan saudagar Rol. Admiral Hotman merasa kasihan terutama mengenai musibah. Ia pun merinding campur kaget mendengar cerita mereka, apalagi saat kapal terbakar. Saat terdapar di Sumatra dan mendapat pertolongan ia turut senang.
Adapun rekan-rekan Bontekoe diperintahkan untuk dirawat oleh Admiral hotman oleh anak buahnya agar bisa mengistirahatkan badannya.
Keesokan harinya kapal-kapal sudah tiba di pelabuhan Jakarta untuk berlabuh di sana.
Keesokannya lagi, Bontekoe dan Heinrol berpakaian lengkap, dengan pakaian resmi pemberian sang Admiral, untuk menghadap penguasa yang memerintah di Pulau Jawa. Dia adalah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, yang disebut dalam babad sebagai [[w:Jan_Pieterszoon_Coen#:~:text=pribumi%20melafalkannya%20sebagai-,Mur%20Jangkung|Kapten Mur Jangkung]].
Sang Gubernur merasa terhormat saat bertemu dengan Bontekoe dan saudagar Rol, sebagaimana bertemu dengan admiral.
Di sana Kapten Bontekoe menceritakan kembali kisahnya dari awal sampai akhir, sang gubernur turut bersenang hati mendengar kisah mereka.
Lalu gubernur jenderal mengizinkan Bontekoe dan saudagar rol menginap di kediamannya selama 8 malam. Saat menginap di kapalnya Admiral Hotman mereka hanya menghabiskan waktu selama 24 jam.
Adapun Bontekoe dan saudagar Rol selama berada di tempat gubernur jendral, setiap waktu makan mereka diajak berkumpul, dan setiap selesai makan disambut dengan obrolan tentang perjalanan mereka. Sang gubernur jendral berbaik hati melayani mereka. Kemudian Bontekoe diankat menjadi kapten di Kapal *Bargerbot.*
Adapun saudagar Rol diangkat lagi menjadi saudagar di kapal yang sama, tetap bekerja bersama-sama dengan Kapten Bontekoe. Sementara rekan-rekannya terpencar di kapal-kapal yang lain.
Kapten Bontekoe menerima banyak anugerah dari yang maha esa, atas banyak perbuatan baiknya kepada perusahaannya, penyelamatan rekan-rekannya, serta atas keberaniannya.
Pada 6 Januari 1625 Kapten Bontekoe berlayar ke Eropa. Lalu pada 15 November di tahun yang sama, ia tiba di [[w:Eindhoven|Kota Hopen]]. Di sana ia menyelesaikan perjalanannya.
Setelah cukup beristirahat, ia mulai menulis perjalanan panjangnya tersebut. Inilah bukunya yang telah disalin oleh saya.
Adapun Saudagar HeinRol tidak beberapa lama sejak saat itu, diangkat menjadi jenderal di benteng Ambon atas kehendak ''penguasa'', karena keberanian, ketekunan, kecerdasan, sopan santunnya yang tampak jelas. Dan ia meninggal di sana.
[[File:Tjarita Toewan Kapitan Wilĕm Esbranson Bontekoe (page 99 crop).jpg|331x331px|center|thumb]]
==Catatan==
<nowiki>*</nowiki><small>Istilah masih dalam bahasa Sunda/belum menemukan padanan bahasa Indonesia yang tepat.</small>
nmwsytshlhgub0va54vioeqqyx8kx47
114891
114890
2026-04-16T08:20:37Z
Deepturquoise
32400
114891
wikitext
text/x-wiki
{{c|'''Bab 5<br>Gunung Biru'''}}
Setelah si pembuat roti meninggal, Bontekoe dan yang lainnya merasa sangat sedih. Meski begitu Bontekoe tidak lupa bertawakal ikhtiar dalam musibah atau kesedihannya. Ia lalu memeriksa perbekalan. Ketika diinspeksi ternyata tersisa sangat sedikit. Apalagi persediaan air, sudah habis.
Perasaan Bontekoe tidak tentu melihat perbekalan yang begitu sedikit untuk orang sebanyak itu. Mereka juga sedang dalam keadaan pemulihan, karena 14 hari lamanya tidak makan. Hanya makan saat di pulau itu saja. Itu pun belum terlalu puas karena waktu itu pencernaannya masih belum ''terkondisikan'' <!--sunda: barantak-->.
Karena saat ini rasa lapar mereka sedang tinggi-tingginya, maka Bontekoe memerintahkan kembali lagi ke pulau tadi, untuk mengambil air minum dahulu.
Pesisirnya tampak hitam dipenuhi oleh orang-orang. Namun, mereka semua langsung sembunyi masuk ke dalam hutan begitu melihat Bontekoe kembali lagi ke pantai, Begitu sampan menepi di pesisir pantai, para awak kapal segera turun untuk mengisi air ke dalam wadah-wadah mereka. Setelah semuanya sudah penuh, para awak kapal langsung naik lagi ke sampan, dan langsung berlayar lagi ke tengah.
Karena laut itu jarang dilintas, jadi para awak kapal serba tidak tahu dimana saja patokannya. Berlayar mengikuti kemana sampan melaju saja. Tidak tentu tujuannya, entah kemana terpautnya saja. Namun, Bontekoe tak henti-hentinya memohon semoga segera mendapat pertolongan, menemukan pulau yang sepi dan banyak buah-buahan yang enak dimakan, serta banyak hewan yang enak dagingnya untuk perbekalan.
Siang menjadi malam silih berganti, bulan gelap, keheningan sangat pekat, sehingga membuat sulit untuk berpikir. Bontekoe dan rekan-rekannya makin khawatir akan nasib mereka.
Ketika matahari terbit, dengan pertolongan Tuhan, awak kapal melihat di depannya tampak ada tiga pulau yang ''hijau'' <!--sunda: lembut--> tak berpenghuni. Kapten Bontekoe sangat gembira karena doanya dikabulkan. para awak kapal sangat senang, dan dengan cepat mengarahkan sampannya ke pulau terbesar. Kapten dan semua awak kapal langsung turun ke darat. Di sana mereka menemukan air bersih dan sebuah gunung. Di sekelilingnya terdapat hutan bambu, delima, dan pohon bebuahan lainnya.
Para awak kapal lalu minum dan memetik buah, memakannya di sana dan membawanya ke sampan. Lalu mereka mengisi kendi air dan juga memotong bambu sebagai wadah, sebab bambu-bambunya sangat besar. Dibuat jadi banyak wadah, lalu disusun di sampan bersama wadah buah-buahan, dedaunan yang enak dimakan.
Setelah itu para awak kapal pergi ke tepi pantai memancing ikan dan berburu hewan darat yang dagingnya enak. Hasil tangkapan mereka diangkut ke dalam sampan.
Saat para awak kapal mencari makanan, Bontekoe naik ke atas gunung. Sepanjang jalan ia mengenang kembali perjalanannya. Berkali-kali pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Berkali-kali diselamatkan dari ''bahaya'' <!--balai-->. Dihindari dari bencana, sampai hampir pada titik kematian.
Setelah sampai di puncak gunung ia lalu berdoa. Kedua tangannya diangkat ke atas memuji syukur kepada Tuhan atas rahmat-Nya, yang telah menyelamatkannya dari banyak bahaya.
Setelah selesai berdoa, ia memandang ke selatan, barat, dan timur, tidak ada yang terlihat selain langit dan laut yang membentang luas. Hanya menyisakan dua bayangan biru samar.
Saat itu Bontekoe teringat masa-masanya di Kota Hoorn. Ia pernah diceritakan oleh sahabatnya, *Willem Sekoten* yang sering berlayar ke Hindia. Bahwa di Pulau Jawa ada dua gunung besar. Dari kejauhan tampak berwarna biru. Oleh karena itu disebutnya Gunung Biru. Sementara orang Jawa menyebutnya [[w:Gunung Gede|Gunung Gede]], yang merupakan gunung yang berada di Cianjur.
Dari sana ia lalu turun ke pantai menemui rekan-rekannya, untuk menceritakan ingatannya tadi pada mereka dengan sangat gembira.
Setelah rekan-rekannya mendengar kabar itu, kegembiraannya tak terkira. Mereka bergegas menuju sampan dan mengangkut wadah air, buah-buahan serta ikan, lalu semuanya dimuat ke dalam sampan.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kemudian layar-layar dibentangkan serta dikayuh ke arah gunung itu. Tak lama kemudian matahari terbenam, digantikan oleh bintang-bintang yang bersinar. Kebetulan langitnya cerah, tidak ada awan yang terlihat.
Bontekoe diam di depan sampan, ''hatinya berat'' <!--kagagas manahna-->, mengenang negerinya dan perjalanan yang telah ia tempuh sejauh ini, serta memuji kebesaran langit ciptaan Tuhan. ketika melihat ke tengah laut yang tampak berombak kemari, Bontekoe meneteskan air mata karena rasa haru dalam hatinya.
Namun para awak kapal saat itu tidak tahui bahwa mereka sudah dekat dengan pantai Pulau Jawa. Ketika sudah siang, seorang awak kapal memanjat tiang layar sampan, menoleh ke ke selatan dan melihat 23 kapal.
Saya tidak bisa menggambarrkan betapa bahagianya awak kapal itu.
Ketika semuanya sudah terlihat, ia berteriak:
:"Keberkahan! Keberkahan! Keberkahan!"
Orang-orang kapal yang mendengar teriakan itu terkejut bertanya kepada matros yang berteriak itu:
:"Ada apa! Ada apa?"
Dijawablah bahwa dia melihat 23 kapal. Semua awak kapal gembira sehingga mereka melompat-lompat di atas sampan. Ingin segera menghampiri kapal-kapal itu. Sebagian mengambil dayung, lalu didayung sekuat-kuatnya.
Adapun kapal-kapal yang terlihat adalah kapal Belanda yang hendak berlabuh di Jakarta, yang dipimpin oleh laksamana bernama *Frederik Hotman van Alekmar.* Saat itu ia sedang duduk di kapal mengamati laut dengan teropongnya. Ketika diarahkan ke arah sampan Bontekoe, terlihat ada satu orang di atas sana. Dan jika diperhatikan dari lajunya, dapat dipastikan yang menumpangi sampan itu mengalami musibah besar. Admiral Hotman langsung memerintahkan awak kapal untuk menghampiri Bontekoe.
Saat para awak kapal di sampan Bontekoe melihat ada kapal yang mendekat, betapa gembiranya mereka, sambil bersorak-sorak dari kejauhan.
Ketika sudah mendekat, mereka saling bertanya asalnya dari mana. Orang-orang kapal yang menghampiri Bontekoe ternyata juga berasal dari kota Texel.
Kapten Bontekoe dan saudagar Rol menghadap Admiral Hotman, yang sedang menunggu di kapalnya, ingin segera bertemu dengan Kapten Bontekoe.
Setelah penyambutan selamat datang, tanpa berlama-lama Admiral Hotman lekas memerintah untuk menjamu Bontekoe ke meja makan dengan serba-serbi hidangan makanan dan buah-buahan. mereka semua lalu duduk di meja perjamuan.
Kapten Bontekoe dan saudagar Rol tampak sangat lahap, karena sudah berhari-hari tidak merasakan makanan lezat, karena kini sudah kenyang atas makana yang lezat, ia dan saudagar Rol saling memandang, teringat akan pelayarannya.
Saking bahagia serta bersyukurnya diselamatkan dari musibah, Kapten Bontekoe dan saudagar Rol terharu bahagia. Setelah masuk ruangan, Bontekoe melanjutkan ceritanya, bergantian dengan saudagar Rol. Admiral Hotman merasa kasihan terutama mengenai musibah. Ia pun merinding campur kaget mendengar cerita mereka, apalagi saat kapal terbakar. Saat terdapar di Sumatra dan mendapat pertolongan ia turut senang.
Adapun rekan-rekan Bontekoe diperintahkan untuk dirawat oleh Admiral hotman oleh anak buahnya agar bisa mengistirahatkan badannya.
Keesokan harinya kapal-kapal sudah tiba di pelabuhan Jakarta untuk berlabuh di sana.
Keesokannya lagi, Bontekoe dan Heinrol berpakaian lengkap, dengan pakaian resmi pemberian sang Admiral, untuk menghadap penguasa yang memerintah di Pulau Jawa. Dia adalah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, yang disebut dalam babad sebagai [[w:Jan_Pieterszoon_Coen#:~:text=pribumi%20melafalkannya%20sebagai-,Mur%20Jangkung|Kapten Mur Jangkung]].
Sang Gubernur merasa terhormat saat bertemu dengan Bontekoe dan saudagar Rol, sebagaimana bertemu dengan admiral.
Di sana Kapten Bontekoe menceritakan kembali kisahnya dari awal sampai akhir, sang gubernur turut bersenang hati mendengar kisah mereka.
Lalu gubernur jenderal mengizinkan Bontekoe dan saudagar rol menginap di kediamannya selama 8 malam. Saat menginap di kapalnya Admiral Hotman mereka hanya menghabiskan waktu selama 24 jam.
Adapun Bontekoe dan saudagar Rol selama berada di tempat gubernur jendral, setiap waktu makan mereka diajak berkumpul, dan setiap selesai makan disambut dengan obrolan tentang perjalanan mereka. Sang gubernur jendral berbaik hati melayani mereka. Kemudian Bontekoe diankat menjadi kapten di Kapal *Bargerbot.*
Adapun saudagar Rol diangkat lagi menjadi saudagar di kapal yang sama, tetap bekerja bersama-sama dengan Kapten Bontekoe. Sementara rekan-rekannya terpencar di kapal-kapal yang lain.
Kapten Bontekoe menerima banyak anugerah dari yang maha esa, atas banyak perbuatan baiknya kepada perusahaannya, penyelamatan rekan-rekannya, serta atas keberaniannya.
Pada 6 Januari 1625 Kapten Bontekoe berlayar ke Eropa. Lalu pada 15 November di tahun yang sama, ia tiba di [[w:Eindhoven|Kota Hopen]]. Di sana ia menyelesaikan perjalanannya.
Setelah cukup beristirahat, ia mulai menulis perjalanan panjangnya tersebut. Inilah bukunya yang telah disalin oleh saya.
Adapun Saudagar HeinRol tidak beberapa lama sejak saat itu, diangkat menjadi jenderal di benteng Ambon atas kehendak ''penguasa'', karena keberanian, ketekunan, kecerdasan, sopan santunnya yang tampak jelas. Dan ia meninggal di sana.
[[File:Tjarita Toewan Kapitan Wilĕm Esbranson Bontekoe (page 99 crop).jpg|331x331px|center|thumb]]
==Catatan==
<nowiki>*</nowiki><small>Istilah masih dalam bahasa Sunda/belum menemukan padanan bahasa Indonesia yang tepat.</small>
[[Kategori:WikiPrestasi]]
gwr3vl7x34lfc525b3bc0ai81mmko14