Wikibuku
idwikibooks
https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.46.0-wmf.24
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikibuku
Pembicaraan Wikibuku
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Resep
Pembicaraan Resep
Wisata
Pembicaraan Wisata
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Peninggalan Kerajaan Singosari di Jawa Timur/Kitab Pararaton
0
26280
114900
111251
2026-04-18T05:46:56Z
Kanzcech
39204
114900
wikitext
text/x-wiki
Kitab Pararaton adalah sebuah naskah yang menceritakan sejarah Kerajaan Singosari dan Majapahit pada sekitar abad ke-13 hingga abad ke-15 Masehi. Istilah ''Pararaton'' berasal dari bahasa Jawa yang berarti "Para Raja" atau "Para Penguasa". Naskah ini berisi 32 halaman dan sekitar 1126 baris yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan aksara Bali. Naskah ini adalah salah satu contoh historiografi tradisional Jawa yang memadukan unsur mitos dengan fakta. Pararaton merupakan contoh kesustraaan tradisional Nusantara yang berbentuk gancaran atau prosa. Diperkirakan Pararaton awalnya berasal dari tradisi lisan yang bertahan selama 200 tahun, kemudian mengalami proses literalisasi dan ditekstualisasikan dalam bentuk tulisan di atas daun lontar.<ref name=":3">Saputra, A. W. (2020). REFLEKSI KONDISI EKO-SOSIO-KULTURA KOTA MALANG MELALUI KITAB PARARATON. ''Waskita: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter'', ''4''(1), 13-26.</ref>
Meski tidak diketahui dengan pasti siapa penulis asli Pararaton, namun sejarawan berpendapat bahwa kitab ini digubah oleh kalangan agamawan dan menjadi bacaan wajib bagi kaum bangsawan dan pendeta pada era kerajaan Hindu-Buddha. Hal ini dapat dilihat dari isi naskah yang menunjukkan perkawinan antara Ken Arok sebagai penganut Hindu Siwa dan Ken Dedes sebagai penganut Buddha Mahayana.<ref name=":2" /> Pararaton diperkirakan ditulis pada masa Prabu Girindrawardhana yang diyakini sebagai raja terakhir Majapahit. Hal ini menunjukkan tujuan dibuatnya Pararaton, yakni memberikan legitimasi bagi penguasa Majapahit sebagai penerus Dinasti Rajasa (Singasari) sekaligus memperkenalkan leluhur raja-raja Majapahit.<ref name=":3" /> Gaya penulisan Pararaton yang cenderung mencampuradukkan mitos dan fakta dan melebih-lebihkan keunggulan Ken Arok ditengarai sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa raja merupakan orang sakti keturunan dewa. Hal ini penting agar rakyat tetap taat pada penguasanya yang dianggap mendapat legitimasi langsung dari para dewa.<ref name=":3" />
Kitab Pararaton awalnya diteliti oleh sejarawan asing asal Jerman bernama R Friedrich pada 1849. Naskah ini kemudian diteliti dan diterjemahkan oleh sejarawan Belanda, J.L.A Brandes pada sekitar 1888 hingga 1896. Brandes-lah yang kemudian dikenal sebagai penyusun Pararaton dari naskah-naskah lontar Bali. Sekitar dua dekade kemudian, N.J. Krom menyempurnakan terjemahan Brandes, dibantu oleh dua asistennya bersama Poerbatjaraka, seorang ahli Jawa Kuno.<ref name=":0">Kelik, Y. 2022. Pararaton: Kitab Rekayasa Belanda? https://www.ullensentalu.com/kajian/pararaton-kitab-rekayasa-belanda</ref><ref name=":1">Mei, Y. 2023. Kitab Pararaton Karya Seni Sastra Tinggi. ''Epoch Times Indonesia.'' https://etindonesia.com/2023/01/26/kitab-pararaton-karya-seni-sastra-tinggi/</ref>
Menurut Wayan Jarrah Sastrawan, salinan naskah Pararaton di Bali berasal dari tahun 1613 M dan 1638 M. Hingga saat ini, salinan Pararaton dalam bentuk lontar masih disimpan di rumah bangsawan dan pendeta di Bali. Hal ini memperkuat teori sejarawan bahwa naskah Pararaton diselamatkan oleh sisa-sisa penduduk Majapahit yang mengungsi ke Bali ketika kerajaan tersebut runtuh. Adanya salinan naskah lontar di Bali juga menolak argumen bahwa Pararaton adalah karangan Belanda, bukan naskah asli Nusantara. Perpustakaan Nasional RI menyimpan tiga salinan dari hasil penerjemahan Brandes, sementara Perpusatakaan Universitas Leiden menyimpan salinan dalam bahasa Belanda.<ref name=":0" /><ref name=":1" />
[[Berkas:Serat Pararaton Ken Arok 1.pdf|jmpl|Salinan Serat Pararaton terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1979]]
== Isi Kitab Pararaton ==
Kitab Pararaton menceritakan asal usul Ken Arok (atau Ken Angrok) sebagai pendiri Kerajaan Singosari, kemudian awal mula berdirinya kerajaan ini sebagai salah satu kerajaan penting di Jawa Timur hingga kehancurannya, dan berdirinya Kerajaan Majapahit hingga masa kejayaannya.
Bagian awal kitab Pararaton didominasi oleh cerita Ken Arok. Diceritakan Ken Arok merupakan anak orang biasa yang pernah menjadi pencuri (maling) dan begal. Nasib Ken Arok berubah ketika ia membunuh Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung, dan menikahi Ken Dedes. Ken Arok akhirnya menjadi penguasa pertama Kerajaan Singosari, bergelar Sri Ranggah Rajasa atau Kertarajasa. Namun, ia kemudian meninggal dibunuh anak Tunggul Ametung yang bernama Anusapati dengan keris Mpu Gandring. Kerajaan Singosari silih berganti diperintah oleh keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung yang saling membalas dendam dan berambisi untuk merebut kekuasaan. Kerajaan ini akhirnya runtuh setelah serangan Jayakatwang dari Kediri.
Di bagian selanjutnya diceritakan awal mula Kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang melarikan diri dari Singosari. Bagian-bagian selanjutnya berupa narasi pendek tentang masa pemerintahan penguasa Majapahit, yakni Raden Wijaya, Jayanegara, Tribhuwana Tunggadewi, Hayam Wuruk, hingga Girindrawardhana.<ref name=":2">Alfian, S. Y. (2019). Pararaton Sebagai Sumber Sejarah Pemanfaatannya Dalam Pembelajaran Di era Digital. ''Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia'', ''2''(1), 38-48.</ref>
Cerita dalam Kitab Pararaton berakhir pada tahun 1403 Saka atau 1481 M. Namun, penulisan kitab ini ditulis pada tahun 1535 Saka atau 1613 M, pada masa kekuasaan Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam di sebuah desa bernama ''Sela Penek,'' yang dapat diartikan sebagai "tempat yang dihimpit batu", sehingga kemungkinan ditulis di daerah pegunungan cadas.<ref name=":2" />
== Referensi ==
sxdcyw5m5dz3swdng2reanuk77v02mq
Peninggalan Sejarah di Wilayah Malang Raya/Prasasti Dinoyo
0
27124
114902
114581
2026-04-18T06:06:03Z
Kanzcech
39204
114902
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Prasasti Dinoyo Kanjuruhan.jpg|jmpl|Prasasti Dinoyo yang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.]]
'''Prasasti Dinoyo''' atau disebut juga '''Prasasti Kanjuruhan''' adalah salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur. Prasasti ini berangka tahun 760 Masehi. Prasasti ini merupakan bukti sejarah tertua adanya kerajaan Hindu di Jawa Timur, yaitu Kanjuruhan.<ref name=":0">Firdawati, L. U. (2022). Pusat Peradaban Masa Hindu-Budha di Kawasan Dataran Tinggi Malang. ''Jurnal Budaya Etnika'', ''6''(2), 91-102. https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/article/view/2336</ref> Prasasti ini berbentuk lempengan batu berukir yang berisi beberapa baris tulisan. Ketika ditemukan, prasasti ini terdiri atas beberapa bagian. Bagian tengah ditemukan di Desa Dinoyo, sementara bagian atas dan bawah ditemukan di Desa Merjosari yang sekarang merupakan wilayah Kota Malang. Di prasasti ini juga memuat nama ibu kota Kanjuruhan atau Kanjuruan. J.G de Casparis berargumen bahwa ada kemungkinan Kampung Kejuron—yang berada di wilayah Sukun, Kota Malang—merupakan bentuk perubahan bunyi dari Kanjuruan, mengingat lokasinya yang berdekatan dengan Sungai Metro dan kemungkinan wilayah kerajaan berdekatan dengan sumber air.<ref name=":0" /><ref>Sampurno, Mardi. 2022. ''Sejarah Nama Kejuron Punya Tiga Versi''. (Radar Malang). https://radarmalang.jawapos.com/kabupaten-malang/811089518/sejarah-nama-kejuron-punya-tiga-versi</ref>
Berdasarkan bukti-bukti arkeologis dan pendapat para ahli, disebutkan bahwa prasasti tersebut mengungkapkan tentang adanya kerajaan bercorak Hindu yang berpusat di Kanjuruhan atau Kanjuruan. Kerajaan ini diperintah oleh raja bernama Dewa Simha. Pada masa pemerintahannya, Dewa Simha memerintahkan tempat pemujaan untuk Agastya dari kayu cendana. Kemudian, pada masa pemerintahan penerusnya, yakni Raja Gajayana, dibangun tempat pemujaan untuk penghormatan kepada Agastya dari batu hitam (''basalt''). Arca Maharsi Agastya ini terletak di Candi Badut yang berada di Kabupaten Malang.<ref name=":1">RAHADI, D. G. B. G. B. (2013). Konsistensi Raja Airlangga Dalam Menjalankan Dharma Di Jawa Timur Abad X-XI M. ''Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah'', ''1''(1), 34-43. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/1099</ref> Namun, ada pendapat lain dari Sri Soejatmi Satari bahwa Dewa Simha dan penerusnya menganut ''Weda'' karena adanya kemiripan dengan upacara dan simbol-simbol yang digunakan di India. Selain itu, Satari juga berpendapat bahwa Candi Badut bukanlah peninggalan Kerajaan Kanjuruhan, mengingat candi ini bercorak Hindu, sementara penduduk Kanjuruhan menganut Weda.<ref>Satari, S. S. (2009). Upacara Weda di Jawa Timur: Telaah Baru Prasasti Dinoyo. ''AMERTA'', ''27''(1), 34-43. https://ejournal.brin.go.id/amerta/article/view/3936/2782</ref>
Dari Prasasti Dinoyo diketahui pola hidup, budaya, dan adat istiadat masyarakat Kerajaan Kanjuruhan pada masa itu. Di masa itu, penguasa sering mengadakan upacara dan jamuan makan sebagai bentuk penghormatan kepada dewa. Selain itu, prasasti ini juga menjadi bukti bahwa agama Hindu-Buddha, bahwa ajaran Weda dari India telah memasuki Jawa Timur setidaknya sejak abad ke-7 Masehi karena prasasti ini menceritakan kejadian-kejadian pada tahun-tahun sebelum prasasti ini dibuat dan dikemukakan bahwa masyarakatnya telah menjalankan agama tersebut.<ref name=":1" />
== Referensi ==
<references />
5ndudmzu7mcvilwqpzf0361pksccrh0
Mitra Petani (Jilid 1)/Bibit Jagung dan Tembakau
0
27141
114897
114725
2026-04-17T12:59:08Z
Deepturquoise
32400
/* Jagung */
114897
wikitext
text/x-wiki
{{c|'''II<br>Agar tanaman unggul harus menggunakan bibit yang bagus'''}}
Bagaimana bisa petani tidak mengetahui bahwa kuda, sapi atau kerbau yang besar dan gemuk beranak, anaknya juga besar dan gemuk. Lebih besar atau lebih gemuk dibandingkan anakan yang induknya kecil dan kurus.
Begitu juga jika bertanya ke orang desa: "Mana yang bagus dijadikan bibit, kuda yang bagus potongannya, yang tajam hatinya atau yang jelek dan suka tidur atau buruk perilakunya? Sapi yang besarnya sebesar kancil atau sapi yang besar serta tebal dandanannya?" Tentu saja jawabnya: "Lebih baik hewan yang bagus, karena jika orang tuanya pintar anaknya juga turut pintar. Seperti peribahasa, "uyah tara miis ka luhur." (sifat baik buruk seseorang diwariskan dari orang tua).
Pandai memilih bibit tentu akan bagus keturunannya. Memangnya hanya berlaku untuk manusia saja aturan tersebut? Apakah perlu dijelaskan? Anggaplah dalam hal hewan
semuanya sudah mengetahui aturannya, tapi bagaimana dengan tanam-tanaman, sama atau tidak?
Perasaan saya di bab tanaman langka juga ada yang memiliki ide kalau harus bagus
sumber bibitnya serta harus matang perhitungannya, agar bisa bagus tumbuhnya sekurang-kurangnya tidak berbeda dari bibitnya, malah kalau makin baik perawatannya, mungkin akan semakin bagus dan banyak hasilnya.
Bo, masih jauh para petani pemikiran seperti itu.
Ada seseorang yang mengatakan: “Anak-anak! Besok ayo kita jual jagung yang besar itu, tentu di pasar bakal laku satunya seduit, kalau yang ukurannya kecil mending untuk bibit saja.”
Jawab seorang lagi: Kenapa pemikiran anda itu tembakau pertama yang tingginya mulus serta besar daunnya itu dijadikan untuk bibit? Pemborosan sekali jika seperti itu, nanti tunasnya saja yang diambil bibitnya. Bo, sayang sekali jika pohon tembakau tersebut yang bagus dan besar daunnya digunakan untuk bibit.
Sedangkan di negara Belanda yang bertani tidak seperti itu, jika ada yang menanam kentang tentu akan ditanami yang paling bagus dan paling besar, tidak seperti di sini, yang tidak laku dijual yang sebesar biji jarak malah digunakan untuk bibit. Sama sekali tidak diberitahu kalau bibit yang kecil keuntungannya juga kecil. Ujung-ujungnya dari sebab takut rugi kecil malah jadi rugi besar.
Coba, saya mau nanya, “Bukannya untung jika memiliki buah atau pohon yang besar gemuk, berisi, dijualnya ke pasar laku mahal, atau lebih untung yang kerdil saja yang tidak ada keuntungannya? Lebih pilih mana, jagung yang semakin lama semakin kecil atau yang setiap tahun semakin rata besarnya? Coba dipikir!”
Yang sebenarnya dialami saat ini, bibit yang jelek dan kurang ranum di pohonnya yang dipakai. Ada juga bibit yang lebih bagus dari Belanda tidak lama sama saja nasibnya seperti yang di sini. Orang-orang beralasan: Di sini udaranya jelek atau tanamannya belum beradaptasi.
Tapi tidak dipikirkan bahwa akibat dari petani yang menjadikannya kecil, karena suka menjalankan semua syarat-syarat supaya tanamannya menjadi jelek.
Kalau di Belanda sama gegabahnya terhadap bibit seperti di sini tentu mungkin hasil jagungnya kecil seperti di sini.
Tapi para petani di Belanda lebih pintar dibadingkan di sini, dam sudah dibekali apa gunanya bibit bagus, pula tidak akan pendek seperti di sini.
Tanaman lainnya selain jagung dan tembakau juga di Jawa masih seperti itu, lebih-lebih padi yang dijadikan bibit kebanyakan diambil dari padi yang baru setengah ranum. Coba bagaimana hasilnya bisa bagus?
Petani di Belanda yang memiliki lahan yang luas, ada yang menggunakan bibit pilihan rentetan terigu yang paling bagus. Hasilnya ya tidak tentu. Dalam lima tahun juga tangkainya bisa dua kali besarnya serta bagus dan berisi. Bahkan dari berbagai tempat dan dari yang jauh semuanya datang untuk membeli bibit di sana. Dijualn oleh petani sangat mahal, serta bukan untuk menguntungkan penjual saja karena yang membeli pun juga ikut untung.
Oleh karena itu para petani di Belanda tidak lagi banyak pekerjaannya kecuali: Agar bagus tumbuhnya harus memilih bibit yang paling bagus dan yang sudah matang di pohonnya dan rata matangnya. Untuk menjadi gambaran hal ini untuk jagung dan tembakau akan dibahas di bawah ini.
==Jagung==
Untuk pembibitan, pilih tanaman jagung yang paling baik tumbuhnya. Jika rambut jagung sudah coklat kekuningan (layu) itu menandakan jagung sudah siap panen serta di bunga jantan (yang merumbai ke atas) sudah tidak ada lagi serbuknya. Tangkainya harus dipotong dengan pisau tajam kira-kira 2 dim (± 2 inci) di atas ''jantung''. Daun-daunnya yang terpotong bisa digunakan sebagai pakan ternak.
Caranya sama seperti proses penyerbukan.
Serbuk sari yang akan menjadi bibit, harus jatuh tepat di rambut jagung. Dari sana biji akan terbentuk. Hal ini terbukti. Jika tanaman jagung tertiup angin kencang atau tersenggol oleh orang yang lewat, serbuk sarinya akan berjatuhan. Lalu, bagian rambut yang tidak terkena serbuk tentu tidak akan muncul bijinya. Tanda jagung sudah siap panen/matang adalah rambutnya berwarna kecoklatan.
<!-- SEDANG DIKERJAKAN
----
Ada petani yang buru-buru menebas bunga jantan ketika tumbuh bakal buahnya. Ketika diperiksa terkejut ada bijinya yang kosong, ada yang kosong sebagian. Ada yang menyalahkan karena bunga jantannya dipangkas. Namun, penyebabnya karena ada satu aturan yang dilewatkan, yaitu dipotong sebelum jagungnya berbuah, mungkin saja jagungnya akan menjadi benar hasilnya.-->
Adapun manfaat memangkas bunga jantan adalah:
<ol type="a>
<li>batangnya lebih kuat. Nutrisi di dalam tanaman menyebar ke bagian atas. Kalau dipangkas, tentu akan fokus tersalur ke buah saja sehingga membuat buahnya lebih besar.</li>
<li>Panas matahari akan langsung menyinari jagungnya sehingga bisa lebih cepat ranum.</li>
<li>Batangnya tidak akan terlalu goyah ketika diterpa angin.</li></ol>
Jagung yang layak konsumsi bida dipetik ketika masih muda. Sementara untuk bibit harus jagung yang sudah tua dan lebih bagus lagi saat dipetik sekaligus dicabut batangnya. Keringkan di langit-langit rumah jika sudah biji-biijnya sudah tampak kelihatan matang.
Untuk bibit jangan menggunakan biji yang letaknya paling atas. Kira-kira enam baris dari atas harus dibuang. Begitu juga biji yang tampak kurang matang sebaiknya dibuang.
Dari sana simpan di tempat yang kering, lebih bagus ''didiamkan'' di dekat perapian, agar terkena asap serta tidak dimakan oleh (''toko'') dan yang serupa dengan itu.
Bibit tersebut jangan terlalu lama disimpan, seperti yang sudah diketahui oleh semuanya. Kemudian untuk menghasilkan jagung berkualitas, menanamnya janga terlalu dekat jaraknya dan jangan terlalu banyak bijinya dalam 1 lubang.
----
Tata cara penanaman yang paling direkomendasikan adalah cukup 2 biji dalam 1 lubang. Jarak antar lubang kisaran 1½-2 kaki. Jarak antar barisnya ksiaran 3-4 kaki, diatur berdasarkan bentuknya, jagung kecil atau jagung besar.
Dengan begitu, masing-masing batang memiliki area yang cukup luas, mudah untuk tumbuh. Batangnya semakin kuat dan buahnya semakin besar. Begitu pula apabila menanam tanaman yang sejenis, paling bagus dengan aturan seperti ini (''diturihwajitkeun atawa dihuntukalakeun'').
Apabila tinggi batangnya sudah mencapai 2 kaki, lahannya sudah dibersihkan dan ditimbun (''saeur''), lahan yang kosongnya sebaiknya ditanam tanaman perdu, seperti: kacang polong, mentimun, terong dan sebagainya. Serta lebih cepat tumbuhnya apabila jagung yang sedang proses berbuah dipangkas bunga jantannya seperti yang sudah dijelaskan di atas.
----
Apabila waktu menanam jagungnya bersamaan dengan tanaman lain, bukan hanya jagungnya saja yang gagal tumbuh, tetapi tanaman lain yang bersamanya ikut rusak.
Coba saja misalnya menanam padi bersamaan dengan jagung di lahan yang sama dan terlalu dekat.
Itu sudah pasti keduanya tidak akan mendapatkan hasil yang bagus. Meskipun jagungnya dipetik sebelum ranum, tetap saja padinya akan menghasilkan kualitas yang jelek, dan jarang terjadi padinya akan tumbuh lagi.
----
Satu hal lainnya, hindari menanam jagung dalam varietas yang terlalu beragam, karena akan menghasilkan peranakan yang terlalu beragam juga.
Tampaknya sudah menjadi rahasia umum, apabila mencampurkan bibit jagung putih dan jelek saat pembuahan, akan menghasilkan biji jagung putih dan jelek.
Pencampuran bibit bisa menjadi bagus jika memakai aturannya. Tapi akan gagal jika tidak diurus oleh ahlinya. Dipilih yang baik-baik bibit yang akan dicampur supaya menghasilkan perankan yang bagus.
----
Sekarang akan menceritakan satu cara yang digunakan orang Amerika untuk menangani (hama) burung gagak.
Semua sudah mengetahui kalau burung gagak adalah hama besar bagi tanaman jagung. Cerdik ditambah genit kelakuannya sehingga membuat kesal bagi pemilik kebun. Cara mengatasi hal ini ialah tangki di bawah buahnya yang sedang ranum dipotong dengan hati-hati dan pelan-pelana, cara memotongnya ke bawah seperti gambar berikut:
[[File:Mitra nu Tani (page 69 crop).jpg|233x233px|center]]
Nah! Sekarang jika sudah begitu gagak akan kesulitan bertengger, dan jagung bisa matang tanpa ada gangguan.
Tetapi aturan ini tidak untuk jagung yang akan dijadikan bibit.
==Tembakau==
Tangkai yang paling bagus dipisahkan untuk bibit jangan dikastrasi, serta tunasnya harus sering dipangkas.
Apabila bunganya sudah muncul, harus dijaga agar tidak muncul bunga yang lain lagi. Apabila muncul lagi harus segera dibuang. Jika ada buah yang tumbuh di tembakau yang akan dijadikan bibit, segera buang, sisakan yang paling bagus saja. Sebab dalam buah yang kurus tentu bijinya kecil dan apabila tumbuh hasilnya akan sama saja.
Nah begitu ketentuannya jika ingin memiliki bibit yang bagus. Lebih bagus dari pada bibit yang tidak terawat seperti ini.
Bibit yang dicarii itu harus yang matang dalam pohonnya serta buahnya yang sudah
ranum harus dipetik dengan hati-hati. Jika buahnya bersamaan matangnya lebih bagus pohonnya dipotong [....], serta diletakkan di atas rumah (''para'') supaya terkena angin dan semakin matang. Setelah itu bibit harus disimpan di tempat yang kering seperti yang sudah disebutkan di atas tadi dalam perkara jagung.
Tangkai tembakau yang berasal dari bibit yang terawat seperti tadi lebih kuat dan lebih besar, serta lebih tahan dalam musim panas dibandingkan dengan yang berasal dari bibit jelek, tidak bisa tumbuh besar dan setengah matang.
Kalu kenyataannya menanam tembakau teralu berdekatan, seperti halnya menanam padi, dimana-mana terlalu dekat, hal tersebut akan berdampak pada pertumbuhan tanamannya menjadi kurang bagus.
Coba, misalkan kambing-kambing yang sehat ditempatkan di kandang yang kecil, tentu nantinya mereka akan cepat sakit serta ujung-ujungnya akan habis, mati semua.
Begitu juga dengan tanaman harus ada lahan untuk "bernapas". Namun tidak ada satu pun manusia yang berpikir seperti itu, di mana-mana ada hama karena menanam terlaku dekat.
Tanaman bebuah yang proses penanamannya terlaku dekat akan tumbuh tegak saja ke atas, perambatannya kurang mekar serta tidak akan berbuah, contohnya seperti kopi, padi, juga begitu, serta menanamnya secara heterogen, hingga tidak ada sela-sela. pada akhir tidak ada hasil apa pun.
Nah begitu akhirnya manusia yang terlalu banyak keinginan, akhirnya tidak menghasilkan apa pun dari sana sini.
----
Terakhir, menceritan perihal tembakau:
Barangkali semuanya sudah mengetahui bahwa antara (spesies) padi satu dengan yang lain pasti memiliki perbedaan. Begitu pun dengan jagung. Ada yang bagus ada yang jelek. Begitu juga tembakau, kalau merawatnya sama saja tapi hasilnya sangat besar berbedanya.
Penyebabnya karena tidak cukup hanya memilih bibit yang bagus dan matang saja, tetapi juga harus memilih dari jenis yang bagus, mudah dirawatnya serta banyak hasilnya.
Nah, apabila sudah begitu, nanti para petani di Jawa akan mudah menambah penghasilanyya tanpa harus memberatkan pekerjaannya.
Bagaimana nasihat ini apakah tidak membekas sama sekali, tidak dampaknya atau ada manfaatnya?
[[Kategori:WikiPrestasi]]
jv5oaop7pv5etc1fsxokpxoattox3bd
Mitra Petani (Jilid 1)/Tata Cara Membuat Sengked
0
27142
114898
114728
2026-04-17T13:03:54Z
Deepturquoise
32400
114898
wikitext
text/x-wiki
{{c|“Bagaimana caranya supaya tanaman kokoh di lahan miring, tidak kering tanahnya, atau supaya tidak mudah pindah ke lahan lain.”<br>
{{rule|5em}}
<small>Pepatah mengatakan: ''Ayakan tara meunang kancra''.</small>}}
Jika ada anak kecil mencomot nasi sekaligus dan menjatuhkan remah-remahnya, maka oleh ibunya sering ditegur sambil berkata: “Ih! Jangan begitu, pantang (''pamali'')”.
Begitu juga apabila ada perempuan menemukan sisir di jalan, kemudian diambilnya, lalu diselipkan ke rambut, ucapnya: “Khawatir dibiarkan di jalan.”
Demi Allah sudah menciptakan tanah supaya bisa ditanami, ratusan ribuan tahun lamanya, tetapi oleh manusia yang kurang pengetahuan hanya terpakai 1 atau 3 tahun saja, setelah itu habis lahan suburnya, lalu ditinggalkan begitu saja, pindah ke lahan lain, sebab tanaman tidak bisa tumbuh di lahan yang sudah rusak.
Apakah yang seperti itu bukan pantangan? Saya rasa lebih pantang daripada anak yang mencomot nasi tadi, sebab terbentuknya tanah subur itu tidak sebentar.
Asalnya adalah batu cadas, kemudian karena bertahun-tahun terkena panas, embun, hujan, batu cadas tersebut rapuh dan melunak, jadilah pasir halus, kemudian tumbuh lumut-lumut.
Sesudah itu lumut menjadi busuk bercampur dengan butiran-butiran cadas tadi, lama-kelamaan tumbuh rumput, setelah itu bertahun-tahun lagi terkena panas, embun, dan hujan, batu dan cadas tadi semakin hancur, kembali tumbuh rumput bercampur dengan pasir, barulah jadi tanaman-tanaman kecil, kemudian bertahun-tahun selanjutnya batu cadas makin hancur, daun tanaman-tanaman tadi berguguran, bercampur lagi dengan butiran-butiran batu cadas tersebut, bertahun-tahun lagi barulah jadi hutan yang besar. Daun-daunnya setiap hari berguguran, banyak pohon yang roboh jadi busuk lalu jadi tanah, barulah jadi tanah hitam yang digarap oleh manusia.
Coba dipikirkan, berapa lamanya tanah itu dari mulai ada lumut sampai menjadi ;ahan yang siap tanam? Bukan satu-dua tahun saja, tetapi ratusan bahkan ribuan tahun. Tidak usah terlalu jauh mencari perbandingannya. Coba lihat saja gunung Papandayan sudah berapa tahun lamanya terbentuk, sekarang baru ada banyak pepohonan tumbuh.
Hal itu oleh manusia yang sedikit pengetahuannya sama sekali tidak dipikirkan atau dipedulikan.
Tanah yag digarap habis tanpa aturan, paling lama hanya terpakai 3 tahun, bahkan ada peribahasa mengatakan: ''dua tahun katilu cul'' (dua tahun, ketiga ditinggal), tidak ada yang mengingatkan untuk membuat tata kelola supaya terpakai lama, setidaknya 10 sampai 20 tahun.
Tampaknya hal ini dibiarkan saja, yang penting kerjaannya gampang, tidak masalah anak cucunya kelak kekurangan lahan garapan, tidak apa-apa keturunannya paceklik karena sudah tidak ada lagi yang bisa ditanami, yang penting saya hidup enak. Mungkin pikirnya: Buat apa mikir soal ratusan ribuan tahun tadi, buat apa juga memikirkan anak cucu.
Ah! tapi menurut saya, tidak mungkin kalau tidak peduli pada anugerah Allah yang sudah diberikan kepada kita untuk hidup, tidak mungkin tidak ingat kepada anak cucu. Kemungkinan itu karena tidak terpikirkan saja, yang membuat segitu gegabahnya. ''Seolah tidak menyayangi anak cucunya dan mungkin dihinakan oleh Allah Taala yang membiarkan kegabahannya terhadap tanah miliknya.'' Makanya Allah sudah menjadikan tanah itu sekian lamanya hingga bisa ditanami, supaya manusia bisa mengambil hasilnya. Bukankah jadi pantangan, jika tanah yang bagus dari hasil yang mudah dalam waktu ⅔ tahun diisi hanya menjadi tanah kosong atau rumput liar, tidak ada tujuannya? Coba dipikir, berapa banyak tangkai padi yang keluar dari tanah itu, berapa banyak orang yang mendapat bekal dari tanah itu, jika tidak digegabahkan.
Yang seperti itu sama sekali tidak dipikirkan, dan oleh sebab tidak dipikirkan akhirnya dimaafkan. Namun, karena sekarang sudah diberi tahu, seperti seorang ibu melarang anaknya butiran-butiran nasi, maka sekarang sangat pantang jika ada orang tetap meneruskan menggarap kebunnya menurut aturan kuno serta tidak mengikuti pengelolaan yang lebih baik, supaya tanah yang subur tidak terbawa hanyut oleh aliran air.
Adapun aturannya gampang sekali supaya tanahnya tidak hanyut seta akans saya ceritakan di bawah ini:
Jika ingin supaya tanah yang subur dan gembur di lahan miring tidak hanyut, maka itu harus dibuat sengkedan serta lebih mudah mengerjakannya daripada pekerjaan lain yang banyak.
: Kata para petani: sulit untuk memulainya, tetapi menurut saya tidak, sebab sudah terbukti, bila membuat kebun sepetak dengan aturan lama dikerjakannya 37 hari, jika dibuat sengkedan jadi 44 hari, nah! hanya menambah tujuh hari.
Coba pikirkan dengan teliti, jika membuat kebun dengan aturan lama dalam 2 tahun paling lama 3 tahun, tanahnya yang subur sudah hanyut, sehingga harus pindah lahan lagi. Sangat berbeda dengan kebun yang dibuat sengkedan, meskipun hasilnya pada tahun pertama sengkedan kurang, tetap sama saja dengan hasil sawah tadah hujan, itu tidak menjadi kekurangan bagi sengkedan, karenanya pada sengkedan, tanahnya setiap tahun makin subur, sebab tanah lapisan atasnya yang baik tidak hanyut terbawa aliran air, bahkan bercampur dengan tanah kerasnya yang merah, apalagi jika akan subur tidak dibuang, yaitu sampah ditimbunkan atau dikubur.
Jadi tanah semakin baik dan semakin gembur mudahnya pasir semakin lengket, serta hasil panenannya lebih banyak daripada kebun yang dibiarkan begitu saja. Kesimpulannya: sengkedan itu lebih mudah serta lebih sedikit pekerjaannya dibanding aturan yang lama, sebab tidak perlu repot pindah-pindah serta setiap kali mulai membuka kebun harus lagi membuat pagar dan parit, itu pun menambah pekerjaan.
Pada tahun 1871 ada seorang tuan amtenar bernama van Hall bersama Bupati Banyumas, diutus oleh pemerintah untuk melakukan peninjauan, untuk memeriksa kebun yang dibuat sengkedan, yang ditanami padi, jagung, tembakau, kacang, dan sebagainya.
Waktu itu diketahui benar bahwa hampir semua pemilik kebun di lahan miring sudah membuat sengkedan di kebunnya, serta kemudian diperiksa: “Bagaimana pendapatnya tentang aturan sengked itu!” Semua menjawab: “Banyak untungnya.” Sebab sekarang mereka sudah mengerti bahwa pekerjaannya lebih sedikit tetapi hasilnya bertambah.
Bahkan waktu itu sempat memeriksa seorang nenek-nenek dari Panembong:
:“Bagaimana nek, bukankah lebih baik berkebun dengan aturan lama saja?”
:Nenek itu menjawab: “Maaf saja juragan, ini aturan terasa lebih tambah mudah.”
:Ditanya lagi: “Mudah bagaimana?”
:Kata nenek: “Tanahnya jadi gembur serta tanamannya semakin lama semakin baik.”
:“Mengapa bisa begitu?”
:“Sebab tanahnya tidak hanyut seperti dalu, sekarang bisa dicangkul dalam.”
:“Bagaimana dengan tanamannya?”
:“Silakan saja lihat sendiri tembakau saya ini, dulu saya tidak pernah punya tembakau sebagus ini, ada pun yang bagus hanya di lembah saja yang tertimbun dari atas, dari atas dulu deras sekali, tetapi sekarang semuanya rata gemuk sekali. Dan sekarang mudah berjalan, tidak seperti dalu sulit melangkah di lahan miring apalagi sambil membawa barang. Dan sekarang pun ada tanda batas yang jelas bahwa oleh saya sudah dimiliki, sekarang tidak akan ada yang merebut.”
:“Jadi tidak tetap milik nenek?”
:“Betul sekali Juragan, yang penting tidak lebih dari itu saja.”
Selain dari itu, van Hall juga mendengar cerita dari seorang warga Wanakerta, bahwa dirinyaa sudah mencoba dua kali menanam padi di kebun tanpa sengkedan. Pada tahun pertama dapat 10 pikul, tahun kedua hanya 3 pikul.
Ada seorang lagi bernama Bapa Rai, warga Desa Ciela dan seorang tetua dari Desa Nangoh, dari dulu dalam 3 tahun ia hanya bisa panen satu kali, dengan tanah yang sama. Namun, setelah diganti pengelolaannya, dibuat sengkedan, jadi tambah banyak hasil panennya.
Kata Bapa Rai hasil panen dari kebunnya seperti berkut:
<center>
{| class="wikitable"
|+
| style="text-align: center;" |Di tahun
| style="text-align: center;" |1865
| style="text-align: center;" |padinya
| style="text-align: center;" |100
| style="text-align: center;" |ikat
| style="text-align: center;" |tembakaunya
| style="text-align: center;" |80
| style="text-align: center;" |''lémpéng''
|-
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |1866
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |104
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |90
|style="text-align: center;" |"
|-
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |1867
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |105
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |98
|style="text-align: center;" |"
|-
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |1868
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |108
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |104
|style="text-align: center;" |"
|-
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |1869
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |114
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |108
|style="text-align: center;" |"
|-
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |1870
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |111
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |110
|style="text-align: center;" |"
|-
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |187
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |113
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |111
|style="text-align: center;" |"
|}
</center>
Adapun Bapa Rai bukanlah petani yang terkenal pandai, sebab jika tanahnya lebih dalam dicangkul dan diberi pupuk, tentu saja hasilnya bisa berkali lipat, apalagi jika oleh yang pandai.
Tetapi meskipun begitu tetap terlihat jelas, bahwa caranya itu baik, sebab sekarang sudah tujuh tahun setiap musim kebun itu ditanami, dan pemiliknya belum pernah terpikir pindah lahan. Dan lagi jika ditambah baik perawatannya, rumput-rumputnya, sampah-sampahnya tidak dibuang, tetapi dikumpulkan, setelah busuk ditaruh, dicangkul yang dalam, kira-kira sedalam 1 kaki serta dijadikan pupuk. Tentu 100 tahun lagi pun tanah itu masih bisa ditanami, tidak perlu mencari lahan baru.
Bukankah itu suatu keuntungan besar?
Bahkan Bapa Rai sambil menunggu hasil tanaman tidak berhenti membenahi pagar, ditanami pohon-pohon buah di sisi pagar, sisi bagian dalamnya ditanami kopi, membuat saung kecil serta rapi, sebagai tempat istirahat. Bahkan jika sedang banyak pekerjaan digunakan untuk bermalam. Intinya, Bapa Rai memiliki kebun yang baik, serta kebun tersebut memberikan dampaknya berupa penghasilannya.
Banyangkan jika seluruh petani di Pulau Jawa menggunakan cara seperti itu dalam mengolah kebunnya, tentu akan sangat bagus hasilnya.
Pengelolaan kebunnya teratur, pagarnya rapi dan indah, dibuat jalan setapak, saung yang bagus dan rapi, di sekelilingnya ditanam pohon yang buahnya lezat, seperti nangka, mangga, durian, jeruk, sawo, manila, duku, manggis dan sebagainya, serta ditanami labu atau ''kukuk'' (sejejnis labu) yang merambat di saung, sebagai tambahan atap untuk terasnya.
Bagaimana kalau begitu penerapannya, bukankah lebih bagus dibandingkan kebun yang kotor, ''setengah hutan dan yang sering ditinggalkannya''. Pertama karena betah
kenyamanan, kedua ada hasilnya, karena buahnya laku di pasar, lumayan untuk membeli garam dan terasi.
Ada orang yang tidak mau menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah, di Sunda disebutnya ''jelema manuk'' atau ''jelema hejo tihang''. Semua mungkin sudah mengerti maksudnya, kenapa disebut ''hejo tihang'' karena belum rusak tempat tinggalnya sudah pindah lagi. Begitu juga dengan ''manuk'' (burung) tidak selalu menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah saja.
Manusia yang memiliki perangai seperti itu sangat menyusahkan lurahnya, karena hari ini dirinya ada di sini, hari berikutnya sudah pindah lagi ke sana. Selamanya tidak bisa dijangkau. Pakaianya juga compang-camping, bisa disebut setengah manusia
hutan. Tidak ada lagi yang dipikirkannya kecuali makan. Selain persoalan makanan tidak pernah dipikirkan. Perkara-perkara hukum adat yang baik tidak pernah tahu karena kurang bergaul dengan warga lainnya.
Di Sunda, orang seperti itu tidak tahu adat tata krama, dinamakan ''jalma jauh ka bedug'', artinya manusia yang jauh dari tempat tinggal dan dari adat.
Semuanya itu sebenarnya masih bisa diperbaiki, agar para petani semakin bagus merawat ladangnya, agar para ketua menjaga para petani tidak mengerjakan ladangnya
semaunya saja, tapi harus menetap berkebunnya. Serta harus banyak embuat jalan, agar yang berkebun mudah untuk mobilisasi dan oleh ketua mudah untuk diawasi.
Kalau seperti itu membuat senang, kepala desa (lurah) dan para pemangku di atasnya mudah memberitahu petani, apabila salah mengerjakannya. Dan orang-orang yang suka membeli tembakau, ''suuk'', kacang pasti banyak berdatangan, jadi para pertani tidak kesusahan menjualnya.
Bagaimana bukankah itu lebih bagus dibandingkan penerapan yang dilakukan saat ini?
Sekarang orang yang sedikit pengetahuannya sering disebut ''urang gunung''. Banyangkan kalau ''urang gunung'' semakin rajin, tentu penamaan ''gunung'' bukan untuk jadi bahan ejekan.
----
{{c|Sekarang simpan dulu cerita sengkedan, kita ceritakan hal tentang mengganti tanaman.}}
...
<!--SEDANG DIKERJAKAN
|| Petani di sini baru berangkat untuk me
mahami, kalau di Eropa sudah lama di
temukannya, kalau tidak bagus penanamannya se
rupa juga panjangnya tidak satu rupa.
|| apabila ada manusia menanam tembakau kedua
kalinya, kalau temannya lagi setelah dipetik
tembakaunya menanam kacang, setelah itu padi, dari
situ tembakau lagi, itu yang menanamnya tidak
dirubah-rubah hanya tembakau lagi, kedua kali
nya tidak ada lagi hasilnya, tidak
seperti temannya yang menanam diganti-ganti
tembakaunya untung serta dari situ masih banyak
lagi keuntungannya dari kacang dan dari
padi.
|| Apa alasannya mengapa jadi begitu?
|| Apabila ingin tahu lebih lanjut harus bertanya
ke ilmu tani, yaitu yang bisa menerangkan ala
sannya.
|| Rahasianya seperti ini:
|| Segala penanamannya tidak sama pera
watannya kodisi segarnya atau makanannya dari tanah
kalau tanamannya besar beda
jenisnya, itu makanannya tanah juga su
ka gede lagi dari yang sudah-sudah. Dari kegiatan
penanamannya suka ke tanah ini tapi tidak suka
ke tanah itu, ada yang lebih suka ke tanah
yang ada pasirnya, ada juga yang suka
ke tanah yang banyak kapurnya atau gampingnya
ada juga yang tidak cocok kepada kapur
yang banyak. Jika ada tanah yang ditanamnya
satu jenis tanamannya, tapi tanahnya
bukan jenis makana tanaman tersebut
Tapi tanahnya harus diperbaiki terlebih dahulu.
agar bisa dimakan oleh tanaman
nya, karena tanaman juga seperti
manusia juga, berasnya juga harus diberi makan juga
lauknya harus digoreng juga atau dipang
gang dahulu, begitu juga tanahnya harus
ada yang mengelolanya, supaya tepungnya
bisa dimakan oleh rupa-rupa tanaman.
|| Supaya tanahnya bagus ke tanamannya yang
mau diberi pakan tersebut, perlu ada air
dan udara, udara dan air tersebut, masuk
ke dalam tanah, tapi jika sudah dipacul
tanahnya.
|| Itu sebabnya yang perlu harus diba
jak dan dipacul, bukan agar akar
bisa membentang di dalam tanah saja, tapi agar
tanamannya bisa menyerap air tanah yang
bagus.
|| Ternyata jika tanahnya bagus dikerjakan
oleh petani suka ditanaman asak, sa
ma dengan menyebut makanannya yang harus mendapatkan
apa yang dinamakan.
|| Kalau padi tidak sama dengan makanannya dengan tem
bakau, bentuknya berbeda, sifatnya berbeda, serta
waktu ditanamnya padi itu mungkin
tanah barus makanannya tembakau tidak dimakan oleh
padi, itu jadi bekal baris makanan
nya tembakau, begitu juga jika dita
nam tembakau dulu, tepung tersebut seperti
padi tidak dimakan.
|| Coba bayangkan, jika tidak menggunakan tangga
bagaimana cara membentangkan tanah seperti
tembakau atau seperti padi juga?
|| Tentu tanah tersebut oleh tanah terbawa ke
bawah, diibaratkan sama seperti menyimpan uang
ke dalam saku yang robek, lepas kaputa
nnya, atau seperti sisa tempat kura-kura
menyimpan pisang di dalam tas, sedangkan tasnya
oleh sisa kura-kura sudah dibolongi mungkin
semuanya mengetahui di dalam dongeng tersebut
Apabila ada yang menjawab: itu hanya
monyet jenis binatang mungkin juga bodoh-bodoh
jadi begitu”, kemungkinan dijawab kembali: bagai
mana jika juru tani masyarakat di sini lebih pintar dibandingkan dengan i
tu monyet, karena suka membuang tanah bag
us dari kebunnya?”
|| ada satu cerita lumayan untuk dijadikan
contoh
|| Jaman dahulu ada satu manusia memiliki tiga
anak, mungkin karena malas, tidak ma
u bekerja dengan baik untuk kebunnya, bapaknya menjadi
kesusahan, dari hal tersebut menghasilkan
sebuah ide.
|| Dalam waktu akan mendekati kepada ajal, lalu
memberikan wasiat kepada anak-anaknya, jika di
dalam kebunnya ada harta karun (tersimpan sesuatu yang besar)
|| Setelah bapaknya dikuburkan, lalu ketiga
anak tersebut mulai memencangkul kebunnya, bolak
balik, tapi hasilnya nihil kebun
nnya tidak menemukan apa-apa, mereka
sangat penasaran, tapi dari
hasil kegiatan yang telah mereka kerjakan tidak juga
membuahkan hasil, lalu dampaknya jadi ditanami tanaman
yang pasti ada hasilnya, tidak lama dari kejadian tersebut
tanaman tersebut tumbuh dengan baik, hasilnya sangat
menguntungkan, ketiga anak tersebut
terkejut.
|| Dari kejadian tersebut akhirnya mereka mengerti macam
macam hal yang tersimpan yang ditunjukkan oleh bapaknya,
yaitu hasilnya berupa kebun.
|| Hingga menjadi topik bagi juru tani (petani), kacang
menjadi bagus untuk tanah, karena jika menanam
padi dari bekas kacang hasilnya menjadi
bagus, tapi ternya salah dugaan juru
tani, karena kacang sangat menghabiskan
tepung yang ada di dalam tanah, yang menjadi bagus itu
padinya saja. dari tanah yang sudah gembur tanahnya, bayangkan jika
dalam hasilnya sama bagus kegiatan mencangkulnya
ditanam padi tentu lebih bagus padinya
dibandingkan dengan dari bekas kacangnya itu.
Tapi bagaimana bisa mencangkul di dalam
lahan lereng namun tidak menggunakan
sengked?
|| Oleh karena itu harus menuruti ini
aturan:
|| Agar bagus hasil menanam, tanahnya harus dalam
dan campurkan menjadi satu pekerjaannya, agar tanah bagus tidak [...]
dalam tanah yang miring, harus dibuatkan sengked terlebih dahulu.
|| Bagaimana jika ada yang tidak cocok dengan
aturan tersebut? ada juga satu
orang yang mengatakan: “Saya tidak cocok, karena jika
membuat sengked dipotong bagian dasarnya
tanah, dari atas suka datang ter
lihat tanah yang berwarna merah, di situ tanaman
menjadi buruk.
|| Itu benar seperti itu, dalam hal jika tera
sering terlalu luas dalam tanah yang sangat
miring, dan hal kedua jika sudah
selesai sengked tidak dicangkul di
satukan kembali.
|| karena luasnya sengked tersebut
harus diperhitungkan dalam hal kemiringan lahan, jika
lahan terlalu miring, sengked tersebut harus
terlalu singkatnya.
|| jika lahan paling miring yang masih ada
kemungkinan masih bisa ditanam, di tera
sering luasnya dua kaki, itu bagian dasar ta
nah hanya sedikit saja yang tumbuh
ke luar, apalagi jika langsung dicangkul lagi da
lamnya 1 kaki (satuan) atau sekurang-kurangnya tiga
perempat kaki, jadi tanah yang subur bercampur
baur dengan tanah yang kurang subur, sudah pasti
tanah jadi lebih subur dibandingkan tanah
yang tidak diatur menggunakan aturan tersebut.
|| Tapi bagaimana bisa tanah
tersebut bercampur jika tidak menggunakan sengked?
|| sebelum diceritakan tentang sengked
mari kita sebutkan keuntungan
nya tanah miring menggunakan sengked ya
itu:
|| Hal pertama, menambah kekuatan
tanda kepemilikan, karena sengked sama dengan
kotak dalam sawah, menjadi ciri pertahanan,
sebuah tanda jika tanah tersebut sudah ada
pemiliknya.
|| Hal kedua, tidak perlu berpindah-pindah ber
kebun di dalam hutan atau terbatas waktu selama tiga tahun, tapi
hal dengan menggunakan cara sengked bisa ditanami berbagai macam tidak
ada batasnya, tidak perlu berpindah-pindah dan tidak ter
lalu harus dijaminkan, lebih bagus lagi kalau mau
menggunakan bibit.
|| Hal ketiga, meskipun pekerjaan untuk memulainya
terlalu berat, dibandingkan dengan aturan
yang seperti biasanya, tapi ke depannya tidak terlalu banyak
pekerjaan, karena rumput-rumput
yang jelek seperti ilalang jadi hilang dan digantikan
dengan rumput yang bagus seperti lalapan, gulma
bandotan (wedusan), jika tanaman tersebut membusuk di situ
tanahnya semakin lama menjadi subur (mudah ditanami), begitu pula dengan
tidak perlu sering membuat pagar baru dan membuat
saluran air yang besar.
|| Hal keempat, tanah yang lain menjadi mudah ditanami
tetapi jika sampah-sampahnya dan jeraminya
tidak dibuang, yaitu dibiarkan saja, tanahnya
semakin menjadi bagus, apalagi jika mau
ditambahkan pupuk, jika tidak menggunakan sengked
mungkiin satu kali hujan saja sudah terbawa
air.
|| Hal kelima, karena tanahnya mudah ditanami
jadi banyak meyerap air hujan yang menyebabkan
tidak terlalu banyak genanangannya, malah genangannya
disebabkan karena setiap sengked posisinya terlalu naik me
ngalirnya, jadi tidak terlalu deras juga tanah tidak ter
bawa.
|| Hal keenam, jika posisi kebun miring di luarnya
sudah menggunakan sengked air genangan menjadi pelan
mengalirnya, dan sebagian tidak terbawa arus air
ke bagian bawah, terhalang sengked tersebut.
lalu menyerap di sana, lalu sebagian
lagi pelan-pelan mengalirnya, itu
tentu jika air meluap tidak terlalu
rusaknya, serta sungai-sungai yang kecil
terus mengalir dikarenakan banyaknya air hujan
terserap oleh tanah, dari situ perlahan-lahan rembes
ke bagian bawah mengalir ke sungai itu, kalau
dalam tanah yang tidak menggunakan sengked
waktu itu juga cepat mengalir menuju sungai, besar
luapan airnya dan banyak sekali kerusakan.
|| Itu di distrik panembong sudah jelas sekali
danau danau di sana sekarang tidak terlalu banyak
tersiram, kalau dahulu sebelum menggunakan sengked
setiap tahun harus selalu dikeruk.
-->
==Cara membuat sengked==
Karena yang paling sering dijadikan kebun adalah tanah miring (tanah lereng) dan
tidak banyak yang membuka ladang di hutan besar, jadi yang akan dijelaskan sekarang adalah ketentuan-ketentuan umum dalam membuat sengked di perbukitan semak belukar dan pepohonan kecil saja.
# Yang paling pertama dikerjakan yaitu membabat semak atau kayu-kayuan kecil menggunakan parang, dan membabatnya sebisa mungkin dipotong pendek. Begitu pula dengan rerumputannya juga dibabat.<br>Kayu yang sudah dibabat tadi dikumpulkan, bagusnya digunakan untuk suluh, sebagiannya lagi digunakan untuk pembuatan pagar yang mengelilingi kebun.
#Jika sampah rumputnya terlalu banyak, sebaiknya sebagian dibakar, setelahnya sebagiannya lagi digunakan untuk membuat pematang ''lebak'' di tempat yang akan dibuat sengked.<br>Membuat pematang sawahnya harus: a. Seperti membuat parit, jangan ''nyanglandeh'' jangan menanjak, kalau ada cekungannya atau sungai, harus menyiku, seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop).jpg|center|thumb|277x277px]]Kalau ada bukit atau pasir, harus seperti ''ngais'' seperti ini: <br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop)-2.jpg|center|thumb|277x277px]]Sama persis seperti parit, tapi jangan seperti jalan naik turun. Kalau seperti itu masih sama seperti lereng saja.
#Jarak antara pematang harus berdasarkan miringnya (lerengnya) lahan. Sebisanya harus dijaga supaya timbangannya bagian atas tidak lebih dari satu kaki dalamnya.<br>Jika ada lahan yang tidak sama lerengnya (kemiringannya}, sebidang tanah tidak terlalu terasa sebidang tanah lagi terasa lerengnya itu luasnya sengked harus dimodifikasi. Tepat di dalam lerengnya ''disingkat'' dibagian yang datar diperluas, karena jika tidak seperti itu tentu datar sengkednya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 35 crop)-H.jpg|center|thumb|290x290px|''a.'' Lahan yang terlalu miring; ''b.'' lahan yang tidak terlalu ''lembah''.]]
#Jika sudah selesai membuat pematang dari rumput tadi, barulah mulai dicangkul. Mulai dari yang paling bawah kira-kira satu kaki antara sisi atasnya dari pematang tersebut, juga tanahnya harus dibalik agar menutupi sampah rumput pematang tadi, agar kuat pematanghnya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 36 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px]]Begini rupanya yang mencangkul dari bawah ke atas, tanah yang dicangkul agak ''dikembing'' dan dilempar ke belakang. Begitu seterusnya sampai mencangkul pematang kedua.<br>Dari sana ulangi memlagi buat sengked sedalam satu kaki di atas pematang kedua, serta caranya masih sama hingga selesai.<br>Hasil sengked seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 37 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' pematang/tanggul, ''b.'' tanah pembuanga bekas dicangkul, ''c.'' ''teuras'']]
#Dari sina cangkul ke depan, apalagi tanah yang keras disebelah dari atas harus dipipihkan dan dilemparkan tanah yang masih miring. Adapun Rumput-rumputnya jangan diambil pusing karena sudah pada mati (layu) ketika pertama kali tanahnya dicangkul tadi. Jadi bentuk sengkednya seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 38 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Tanah gembur yang akan ditanami, ''b.'' tanah pembuangan bekas dicangkul, ''c.'' gusi]]
#Sewaktu bekerja, rumput yang ditimbun di tanggul tadi kemungkinan akan tumbuh kembali, apalagi kalau alang-alang dan yang sejenisnya, oleh karena itu, tanggulnya harus dibersihkan dan harus di ''sina mayat'' sedikit supaya tidak terlalu curam. Nah sekarang sudah selesai tinggal menanam.
#Dan juga harus ingat sengked tidak bisa dibatas seperti sawah, menggunakan tanggul yang tinggi, sebab jika menggunakan tanggul tentu membuat semakin mudah tanah terbawa arus, sebab terasa sekali, selain dari itu akan menjadi jelek untuk tanaman karena air yang mengalirnya malam hari mengendap membawa tanah longsor.<br>Meyebabkan tanaman rusak: Jika tanaman bukan tanaman rawa seperti padi, karena tanahnya terlalu basah.
#Karena itu juga, ketika mencangkul tanahnya jangan dikorek-korek ke samping sengked, karena jika sisi sengked dibuat tinggi, tentu sengked akan tinggi tidak merata, jadi selokan atau pindah lereng.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 39 crop).jpg|center|thumb|277x277px]]
#Begitu juga harus selalu ingat, sisi sengked bagian luar jangan dicangkul, biarkan utuh saja kira kira selebar telapak tangan (''satampah''), berperan sebagai gusi, dan agar mempermudah ketika dikerjakan, yang mencangkul harus menghadap ke ''lebak'' serta cangkulnya sedikit dicondongkan seperti contoh berikut:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 40 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Bagian ini jangan dicangkul]]Jadi ada sisi yang keras yang berfungsi sebagai gusinya.
#Ketika membersihkan kebun sampah-sampahnya harus ''dikirab-kirab'' dan diletakkan di gusi. Itu besar sekali gunanata sebab air hujan tidak tersendat.<br>Jika sampah itu tumbuh kembali, harus ''disasar'' saja, serta rumput-rumput setelah ''dikirab'' diletakkan lagi di ujung sengked.
#Jika tanahnya yang keras atau lengket kerkena air hujan tidak bisa menyerap jadi cepat tergenang serta tanahnya mudah terbawa arus, di situ harus membuat parit atau tampungan air per 20 atau 30 sengked, dalamnya serta luasnya 1 - 1 ½ kaki, tergantung padatnya tanah dan seringnya hujan di sana.<br>Selokan tersebut jangan terlalu miring, tetapi harus rata mengikuti ''turunan'' sengeked.<br>Tanah hasil menggali dari selokan tersebut, harus ditumpuk di sebelah sisi ''lebak'', yaitu untuk meninggikan sengked.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 41 crop).jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Saluran air, ''b.'' tanah hasil mtumpukan yang dipakai untuk meninggikan sengked.]]
<!--
|| Sekarang tidak terganggu, susah
untuk terbawa air tanahnya.
|| Jika selokan dari lama
kelamaan jadi dangkal berlumpur, itu harus digali, ta
nahnya digunakan untuk menaikkan sengked sebe
lah dari bawah. Ketika ada yang mena
nam tanaman awet seperti kopi jangan
dibereskan galengannya serta harus segera membuat
sengked yang luasnya cukup. Jika
ada yang menanam bertahun-tahun seper
ti: padi, tembakau, dan yang sejenisnya
baiknya sengkednya setopa berganti tanaman
nya diluaskan sekitar ¼ kaki.
|| Itu bekas kotoran menjadi tanah baru
serta bagus, dan sengkednya pelan pelan ja
di sangat luas, serta bekas pekerjaannya tidak
berat sama sekali dan tidak terlalu mengha
silkan tanah keras.
|| Perasaan saya sekarang sudah habis menerangkan
hal sengked, tinggal menceritakan
Perkara Cangkul
Perkara alat membuat aliran air yang murah
Pagar yang mudah tapi besar manfaatnya
|| Sebelum menceritakan hal yang tiga
perkara di atas, kita menceritakan dahu
lu hal sengked lagi sedikit.
|| Di Apdeling Limbangan sudah bertahun-tahun
menerapkan aturan sengked
dalam segala jenis kebun, bukan di kebun\
kopi baru saja, yang dahulu juga
yang tadinya diisengked sekarang dicicil
disengked, bergitu juga kebun
palawija dan ribuan hutan, serta dikerjakan
dengan hati-hati dan pikiran, semua
itu hasilnya menguntungkan.
|| Oleh karena itu jangan risau lagi, men
cari jalan yang lain, lebih ba
gus sering mencoba coba saja, karena sudah mengetahui
bagusnya aturan tersebut.
|| Ada juga yang mencoba-coba gaga
l, itu jangan disalahkan terhadap aturan
nnya, hanya mencoba-coba saja tidak dengan pikira
n dan tidak mengetahui keseluran aturan
tersebut.
|| Dan lagi sangat pantas diperjuangkan oleh
rasa lelah juga, agar seluruh
perkara seluruh aturan yang mengakibatkan
keuntungan serta yang ujung-ujungnya memakmurkan pulau Jawa,
Jadi sangat pantas diperjuangkan oleh hanya rugi
yang tidak menguntungkan sekali dua kali saja, karena
semua perkala memulainya suka su
sah dan harus ada kerugian juga.
|| Dari pengalaman yang sudah-sudah, tanah
dicangkul dipipihkan dahulu, rumputnya disisi
nya hilang, dibakar, dibuah, ketika
tanahnya sudah gembur tanah baru memulai
membuat sengked, tindakan seperti itu
tentu sudah jelas pasti gagal, karena tentu
tanahnya pasti terbawa air.
|| Dari situ dengan cepat yang salah menger
jakan menyalahkan aturan, katanaya: “Tuh
ternyata tidak bagus, sengked longsor terus”
|| Tapi tidak dipikirkan penyebab gagalnya kare
na kesalahan dirinya, sama saja dalam perkara menabur biji,
mengikuti aturan tabur oleh biji padi jatuh dari
tangkainya, tapi menaburnya terlau dekat, dari
situ mudah menyimpulkan tidak bagus; nah be
gitu gagal! bijinya sangat layu, segera potong
dicabut.
||Tapi tidak dipikir, jika yang menyebabkan gagal
adalah karena tidak dikerjekan dengan semestinya dan tidak dipikir
kenapa penyebabnya yang menyebabkan harus diurut/dirawat
yaitu supaya renggang.
|| Saya pribadi sudah menemukan satu tukang tembak masih
belajar jadi belum bisa
menembak, tapi menembak tidak tepat sasaran,
suka marah-marah, menyalahkan kepada tem
bakan katanya: kenapa ada pistol yang bodoh,
sialan!” serta itu pistol jika
digunakan oleh tukang tembak yang mahir pasti nyaring
sekali.
|| Yang salah membuat sengked mungkin
begitu juga, jika menya
lahkan kepada sengked padahal kesalah diri
sendiri saja.
|| Perkara Cangkul
|| Agar bisa bagus dan memudahkan dalam
bekerja harus memiliki alat yang bagus, jika
cangkul yang digunakan di tanah Jawa itu
bagaimana termasuk ke alat bagus dan
memudahkan pekerjaan.
|| Ada tiga jenis cangkul, jadi
harus disebut cangkul-cangkul, yaitu:
Cangkul Belanda atau - Cangkul Jawa Cangkul Sunda
cangkul kampak
[[gambar]]
|| yang paling jelek yaitu cangkul Jawa, setelahnya
cangkul Sunda, kalau yang paling bagus
cangkul Belanda, bukan karena
buatan negeri Belanda, tapi karena gagangnya
enak untuk digerakkan, bisa keras ketika
terkena tanah, kalau cangkul Sunda sedikit
sulit karena bagian telingan cangkul/cincin cangkul (bawak) terlalu besar/terlalu renggang, jadi yang mencangkul harus merunduk agar bisa
mencangkul dalam dan bagus, kalau pavul jawa
digunakannya agar bisa dalam bukan seperti itu
susahnya, hal terlalu pendek gagangnya
dan hal kedua cangkulnya terlalu besar/ terlalu renggang dibandingkan
cangkul Sunda.
|| Oleh karena itu menggunakan pacul Jawa
jika ingin dalam mencangkulnya harus merunduk
jadi mudah lelah, dan lagi cang
kul Jawa sangat berat, hal itu juga
membuat menambah berat terhadap pekerja
an, sebenernya itu bukan cang
kul, bisa juga disebut alat membajak sawah.
karena jika orang Jawa sedang mencangkul
terlihat bukan seperti mencangkul, terlihat seperti
yang sedang menekah dan menarik alat membajak sawah (wuluku) ke
dalam tanah, tapi ketika sedang ditekankan
serta ditarik tentu susah dan berat dibandingkan
dengan diayunkan.
|| dan pacul jenis Belanda semmuanya baja dan
tipis, ringan dan lebih mudah dibandingkan
pacul setengah besi setengah lagi
kayu, yang semakin atas semakin tebal.
|| di lembaran ke 43 ada contoh gambaran
manusia sedang mencangkul dalam, menggunakan pacul
tiga jenis:
[gambar]
|| bagaimana itu
gambar tidak
tahu bahwa pacul
Belanda paling
bagus?
|| Pemuda teliti
bekerjanya
menggunakan pacul Be
landa, ditambah ba
nyak sekali hasilnya
dibandingkan pemuda
Jawa menggunakan pa
culnya sendi
ri.
|| Iya teliti
tanah
nya lembut, tapi
pemuda yang mencang
kul dalamnya
1 kaki dari jam
setengah tu
juh pagi-pago
hingga pu
kul dua tengah hari menghasilkan 40 tumbah
atau jika landai mencangkulnya 3 dim dalam
nya mendapatkan 55 atau 60 tumbak, dan dilanjutkan
dengan menjemur rumput dan disimpan di
sengked.
|| Dikarenakan itu kemauan orang Jawa
yang sering menggunakan pacul seperti
gambar ketiga, mengganti paculnya
dengan pacul yang lebih bagus. Jika
mereka tidak mau menggunakan pacul Belanda mes
kipun harganya sangat muran karena baha
semuanya, yaitu harus bagaimana, tapi sebutuh
nya harus mengikuti contoh pacul su
nda, itu lebih ringan dan lebih mudah
menggunakannya dibandingkan pacul yang menyerupai
wuluku.
|| untuk apa berlelah-lelah jongkok
melengkung jika tidak perlu.
-->
==Alat ''Water pass''==
Mungkin banyak yang merasa sulit memperbaiki sungai oleh sampah yang banyak, agar landai lurusnya. Sebenarnya ada alatnya, sangat mudah, siapa pun bisa membuatnya,
serta ongkosnya hanya terbilang sangat murah.
Hal yang harus dibuat: Pertama, tongkat. Panjangnya harus seukuran dengan tinggi batas mata orang yang akan menggunakan alatnya. Di atas tongkat tadi pasang paku kayu seperti di ''e''. Selanjutnya pasang papan kecil, gantungkan supaya terayun-ayun ke paku kayu ''b''. Dari situ pasang lagi papan kecil ''e'', simpan di papan tadi, atur sampai lurus agar terlihat seperti menyiku. Kemudian gunakan bambu kecil tipis atau kaso diberi lubang oleh lidi ''d''. Agar bisa digunakan untuk membidik, ikat dengan tali rotan ke papan tersebut yang lurus tadi.
[[File:Mitra nu Tani (page 52 crop).jpg|center|thumb|290x290px|Kayu ''b'' harus lebih berat dibandingkan kayu ''c'']]
Alat satunya lagi yaitu tongkat kedua, panjangnya sama dengan yang pertama. Selanjutnya pasang papan kecil, beri warna putih menggunakan kapur. Panjangnya 4 lebarnya 2 dim. Papan ini posisinya posisinya di atas tongkat kedua, agar kaso atau bambu yang dilubangi tadi (di tongkat pertama) akur posisinya dengan tengah-tengahnya itu papan.
[[File:Mitra nu Tani (page 53 crop).jpg|center|thumb|290x290px]]<br>
Cara mengoperasikan alatnya seperti berikut:
Satu orang memegang tongkat dan papannya tegak lurus ke tanah, jangan ditancapkan ke tanah, cukup dipegang saja, seperti ''a.'' [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|di halaman 49]].
Satu orang lagi memegang alat yang disebut paling awal (tongkat pertama), yang
diberi nama teropong (kékér), sambil jalan mundur ke belakang 15 atau 20 langkah. Dari sana bidik bambu atau kaso yang sudah dilubangi tadi ke arah papan putih. Teropongnya pindah ke atas atau ke bawah sambil supaya pas dengan tengah-tengahnya papan. Setelah itu berikan tanda, orang yang memegang papan putih pindah ke tempat yang sudah diberi tanda tadi, sementara yang membawa teropong mundur lagi 15 atau 20 langkah ke belakang, begitu seterusnya.
Alat ini bukan sekadar menunjukkan cara membuat sengked saja, tapi jika lahan
tidak terlalu rata lerengnya, bisa untuk mengukur luas sengked.
Di [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|halaman 49]] ada contoh cara menggunakan alat ''Water pass'' ini.
[[File:Mitra nu Tani (page 55 crop)-H.jpg|394x394px|center]]
Tidak perlu setiap sengked Diukur dengan ''water pass''. Hanya untuk menjaga saja serta agar lerengnya rata. Mungkin cukup per 5 atau 10 sengked diukur dengan ''water pass''.
Di sini, di Garut, para petani sudah biasa membuat sengked. Sengked ''lempeng'' saja, mengikuti lahan, tidak harus menggunakan alat yang sudah dijelaskan tadi, penyebabnya yaitu kebiasannya, jarang yang salah sengked. Namun, bagi yang baru, alat tadi mungkin akan sangat berguna.
==Pagar==
Di sini pagar yang digunakan untuk mengelilingi kebun kebanyak dari pohon waru (kapas-kapasan), dibariskan dengan jarak kira-kira 2 atau 3 kaki, serta tiap jaraknya ditanami pohon jarak atau murbei, diselipkan dengan bambu.
Tangkai waru yang ditebang bisa dijadikan suluh, daunnya sebaga pembungkus. Agar nanti sudah tumbuh sangat besar, kain bagus untuk dijadikan perabotan, untuk roda karet untuk membawa rempah-rempah dan sebagainya.
Jika banyak kebun yang bertemu batas, itu bagus untuk kompromi yang punya kebun dalam merawatnya, yaitu syaratnya agar kebunnya subur, jangan setiap kebun dipagar disekelilingnya oleh pagar permanen.
Lebih bagus pagar yang bisa untuk menjaga hewan kuda, sapi, atau kerbau beradu saja daripada mengeluarkan ongkosnya, bersama-sama saja, keuntungannya, kerugiannya, dari pagar tersebut memiliki bagiannya masing-masing. Untuk pagar yang menjadi tanda kepemilikan seseorang sebaiknya menggunakan tanaman kecil saja, lebih baik lagi menggunakan tanaman yang ada buahnya seperti mengkudu atau kopi, jaraknya 4 kaki, dan selain dari itu. Tentu ada juga hasilnya walau sedikit.
Bagaimana perasaannya setelah diberikan pembelajaran ini, bagus atau buruk?
Semoga pengarang tidak sia-sia membuatnya. Jangan sampai memberi nasihat yang tidak bisa diterapkan.
[[Kategori:WikiPrestasi]]
p5gp1mi88io3c1n4gx1ekdbqf6rxw48
114908
114898
2026-04-18T07:21:24Z
Deepturquoise
32400
114908
wikitext
text/x-wiki
{{c|“Bagaimana caranya supaya tanaman kokoh di lahan miring, tidak kering tanahnya, atau supaya tidak mudah pindah ke lahan lain.”<br>
{{rule|5em}}
<small>Pepatah mengatakan: ''Ayakan tara meunang kancra''.</small>}}
Jika ada anak kecil mencomot nasi sekaligus dan menjatuhkan remah-remahnya, maka oleh ibunya sering ditegur sambil berkata: “Ih! Jangan begitu, pantang (''pamali'')”.
Begitu juga apabila ada perempuan menemukan sisir di jalan, kemudian diambilnya, lalu diselipkan ke rambut, ucapnya: “Khawatir dibiarkan di jalan.”
Demi Allah sudah menciptakan tanah supaya bisa ditanami, ratusan ribuan tahun lamanya, tetapi oleh manusia yang kurang pengetahuan hanya terpakai 1 atau 3 tahun saja, setelah itu habis lahan suburnya, lalu ditinggalkan begitu saja, pindah ke lahan lain, sebab tanaman tidak bisa tumbuh di lahan yang sudah rusak.
Apakah yang seperti itu bukan pantangan? Saya rasa lebih pantang daripada anak yang mencomot nasi tadi, sebab terbentuknya tanah subur itu tidak sebentar.
Asalnya adalah batu cadas, kemudian karena bertahun-tahun terkena panas, embun, hujan, batu cadas tersebut rapuh dan melunak, jadilah pasir halus, kemudian tumbuh lumut-lumut.
Sesudah itu lumut menjadi busuk bercampur dengan butiran-butiran cadas tadi, lama-kelamaan tumbuh rumput, setelah itu bertahun-tahun lagi terkena panas, embun, dan hujan, batu dan cadas tadi semakin hancur, kembali tumbuh rumput bercampur dengan pasir, barulah jadi tanaman-tanaman kecil, kemudian bertahun-tahun selanjutnya batu cadas makin hancur, daun tanaman-tanaman tadi berguguran, bercampur lagi dengan butiran-butiran batu cadas tersebut, bertahun-tahun lagi barulah jadi hutan yang besar. Daun-daunnya setiap hari berguguran, banyak pohon yang roboh jadi busuk lalu jadi tanah, barulah jadi tanah hitam yang digarap oleh manusia.
Coba dipikirkan, berapa lamanya tanah itu dari mulai ada lumut sampai menjadi ;ahan yang siap tanam? Bukan satu-dua tahun saja, tetapi ratusan bahkan ribuan tahun. Tidak usah terlalu jauh mencari perbandingannya. Coba lihat saja gunung Papandayan sudah berapa tahun lamanya terbentuk, sekarang baru ada banyak pepohonan tumbuh.
Hal itu oleh manusia yang sedikit pengetahuannya sama sekali tidak dipikirkan atau dipedulikan.
Tanah yag digarap habis tanpa aturan, paling lama hanya terpakai 3 tahun, bahkan ada peribahasa mengatakan: ''dua tahun katilu cul'' (dua tahun, ketiga ditinggal), tidak ada yang mengingatkan untuk membuat tata kelola supaya terpakai lama, setidaknya 10 sampai 20 tahun.
Tampaknya hal ini dibiarkan saja, yang penting kerjaannya gampang, tidak masalah anak cucunya kelak kekurangan lahan garapan, tidak apa-apa keturunannya paceklik karena sudah tidak ada lagi yang bisa ditanami, yang penting saya hidup enak. Mungkin pikirnya: Buat apa mikir soal ratusan ribuan tahun tadi, buat apa juga memikirkan anak cucu.
Ah! tapi menurut saya, tidak mungkin kalau tidak peduli pada anugerah Allah yang sudah diberikan kepada kita untuk hidup, tidak mungkin tidak ingat kepada anak cucu. Kemungkinan itu karena tidak terpikirkan saja, yang membuat segitu gegabahnya. ''Seolah tidak menyayangi anak cucunya dan mungkin dihinakan oleh Allah Taala yang membiarkan kegabahannya terhadap tanah miliknya.'' Makanya Allah sudah menjadikan tanah itu sekian lamanya hingga bisa ditanami, supaya manusia bisa mengambil hasilnya. Bukankah jadi pantangan, jika tanah yang bagus dari hasil yang mudah dalam waktu ⅔ tahun diisi hanya menjadi tanah kosong atau rumput liar, tidak ada tujuannya? Coba dipikir, berapa banyak tangkai padi yang keluar dari tanah itu, berapa banyak orang yang mendapat bekal dari tanah itu, jika tidak digegabahkan.
Yang seperti itu sama sekali tidak dipikirkan, dan oleh sebab tidak dipikirkan akhirnya dimaafkan. Namun, karena sekarang sudah diberi tahu, seperti seorang ibu melarang anaknya butiran-butiran nasi, maka sekarang sangat pantang jika ada orang tetap meneruskan menggarap kebunnya menurut aturan kuno serta tidak mengikuti pengelolaan yang lebih baik, supaya tanah yang subur tidak terbawa hanyut oleh aliran air.
Adapun aturannya gampang sekali supaya tanahnya tidak hanyut seta akans saya ceritakan di bawah ini:
Jika ingin supaya tanah yang subur dan gembur di lahan miring tidak hanyut, maka itu harus dibuat sengkedan serta lebih mudah mengerjakannya daripada pekerjaan lain yang banyak.
: Kata para petani: sulit untuk memulainya, tetapi menurut saya tidak, sebab sudah terbukti, bila membuat kebun sepetak dengan aturan lama dikerjakannya 37 hari, jika dibuat sengkedan jadi 44 hari, nah! hanya menambah tujuh hari.
Coba pikirkan dengan teliti, jika membuat kebun dengan aturan lama dalam 2 tahun paling lama 3 tahun, tanahnya yang subur sudah hanyut, sehingga harus pindah lahan lagi. Sangat berbeda dengan kebun yang dibuat sengkedan, meskipun hasilnya pada tahun pertama sengkedan kurang, tetap sama saja dengan hasil sawah tadah hujan, itu tidak menjadi kekurangan bagi sengkedan, karenanya pada sengkedan, tanahnya setiap tahun makin subur, sebab tanah lapisan atasnya yang baik tidak hanyut terbawa aliran air, bahkan bercampur dengan tanah kerasnya yang merah, apalagi jika akan subur tidak dibuang, yaitu sampah ditimbunkan atau dikubur.
Jadi tanah semakin baik dan semakin gembur mudahnya pasir semakin lengket, serta hasil panenannya lebih banyak daripada kebun yang dibiarkan begitu saja. Kesimpulannya: sengkedan itu lebih mudah serta lebih sedikit pekerjaannya dibanding aturan yang lama, sebab tidak perlu repot pindah-pindah serta setiap kali mulai membuka kebun harus lagi membuat pagar dan parit, itu pun menambah pekerjaan.
Pada tahun 1871 ada seorang tuan amtenar bernama van Hall bersama Bupati Banyumas, diutus oleh pemerintah untuk melakukan peninjauan, untuk memeriksa kebun yang dibuat sengkedan, yang ditanami padi, jagung, tembakau, kacang, dan sebagainya.
Waktu itu diketahui benar bahwa hampir semua pemilik kebun di lahan miring sudah membuat sengkedan di kebunnya, serta kemudian diperiksa: “Bagaimana pendapatnya tentang aturan sengked itu!” Semua menjawab: “Banyak untungnya.” Sebab sekarang mereka sudah mengerti bahwa pekerjaannya lebih sedikit tetapi hasilnya bertambah.
Bahkan waktu itu sempat memeriksa seorang nenek-nenek dari Panembong:
:“Bagaimana nek, bukankah lebih baik berkebun dengan aturan lama saja?”
:Nenek itu menjawab: “Maaf saja juragan, ini aturan terasa lebih tambah mudah.”
:Ditanya lagi: “Mudah bagaimana?”
:Kata nenek: “Tanahnya jadi gembur serta tanamannya semakin lama semakin baik.”
:“Mengapa bisa begitu?”
:“Sebab tanahnya tidak hanyut seperti dalu, sekarang bisa dicangkul dalam.”
:“Bagaimana dengan tanamannya?”
:“Silakan saja lihat sendiri tembakau saya ini, dulu saya tidak pernah punya tembakau sebagus ini, ada pun yang bagus hanya di lembah saja yang tertimbun dari atas, dari atas dulu deras sekali, tetapi sekarang semuanya rata gemuk sekali. Dan sekarang mudah berjalan, tidak seperti dalu sulit melangkah di lahan miring apalagi sambil membawa barang. Dan sekarang pun ada tanda batas yang jelas bahwa oleh saya sudah dimiliki, sekarang tidak akan ada yang merebut.”
:“Jadi tidak tetap milik nenek?”
:“Betul sekali Juragan, yang penting tidak lebih dari itu saja.”
Selain dari itu, van Hall juga mendengar cerita dari seorang warga Wanakerta, bahwa dirinyaa sudah mencoba dua kali menanam padi di kebun tanpa sengkedan. Pada tahun pertama dapat 10 pikul, tahun kedua hanya 3 pikul.
Ada seorang lagi bernama Bapa Rai, warga Desa Ciela dan seorang tetua dari Desa Nangoh, dari dulu dalam 3 tahun ia hanya bisa panen satu kali, dengan tanah yang sama. Namun, setelah diganti pengelolaannya, dibuat sengkedan, jadi tambah banyak hasil panennya.
Kata Bapa Rai hasil panen dari kebunnya seperti berkut:
<center>
{| class="wikitable"
|+
| style="text-align: center;" |Di tahun
| style="text-align: center;" |1865
| style="text-align: center;" |padinya
| style="text-align: center;" |100
| style="text-align: center;" |ikat
| style="text-align: center;" |tembakaunya
| style="text-align: center;" |80
| style="text-align: center;" |''lémpéng''
|-
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |1866
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |104
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |90
|style="text-align: center;" |"
|-
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |1867
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |105
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |98
|style="text-align: center;" |"
|-
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |1868
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |108
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |104
|style="text-align: center;" |"
|-
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |1869
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |114
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |108
|style="text-align: center;" |"
|-
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |1870
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |111
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |110
|style="text-align: center;" |"
|-
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |187
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |113
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |"
|style="text-align: center;" |111
|style="text-align: center;" |"
|}
</center>
Adapun Bapa Rai bukanlah petani yang terkenal pandai, sebab jika tanahnya lebih dalam dicangkul dan diberi pupuk, tentu saja hasilnya bisa berkali lipat, apalagi jika oleh yang pandai.
Tetapi meskipun begitu tetap terlihat jelas, bahwa caranya itu baik, sebab sekarang sudah tujuh tahun setiap musim kebun itu ditanami, dan pemiliknya belum pernah terpikir pindah lahan. Dan lagi jika ditambah baik perawatannya, rumput-rumputnya, sampah-sampahnya tidak dibuang, tetapi dikumpulkan, setelah busuk ditaruh, dicangkul yang dalam, kira-kira sedalam 1 kaki serta dijadikan pupuk. Tentu 100 tahun lagi pun tanah itu masih bisa ditanami, tidak perlu mencari lahan baru.
Bukankah itu suatu keuntungan besar?
Bahkan Bapa Rai sambil menunggu hasil tanaman tidak berhenti membenahi pagar, ditanami pohon-pohon buah di sisi pagar, sisi bagian dalamnya ditanami kopi, membuat saung kecil serta rapi, sebagai tempat istirahat. Bahkan jika sedang banyak pekerjaan digunakan untuk bermalam. Intinya, Bapa Rai memiliki kebun yang baik, serta kebun tersebut memberikan dampaknya berupa penghasilannya.
Banyangkan jika seluruh petani di Pulau Jawa menggunakan cara seperti itu dalam mengolah kebunnya, tentu akan sangat bagus hasilnya.
Pengelolaan kebunnya teratur, pagarnya rapi dan indah, dibuat jalan setapak, saung yang bagus dan rapi, di sekelilingnya ditanam pohon yang buahnya lezat, seperti nangka, mangga, durian, jeruk, sawo, manila, duku, manggis dan sebagainya, serta ditanami labu atau ''kukuk'' (sejejnis labu) yang merambat di saung, sebagai tambahan atap untuk terasnya.
Bagaimana kalau begitu penerapannya, bukankah lebih bagus dibandingkan kebun yang kotor, ''setengah hutan dan yang sering ditinggalkannya''. Pertama karena betah
kenyamanan, kedua ada hasilnya, karena buahnya laku di pasar, lumayan untuk membeli garam dan terasi.
Ada orang yang tidak mau menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah, di Sunda disebutnya ''jelema manuk'' atau ''jelema hejo tihang''. Semua mungkin sudah mengerti maksudnya, kenapa disebut ''hejo tihang'' karena belum rusak tempat tinggalnya sudah pindah lagi. Begitu juga dengan ''manuk'' (burung) tidak selalu menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah saja.
Manusia yang memiliki perangai seperti itu sangat menyusahkan lurahnya, karena hari ini dirinya ada di sini, hari berikutnya sudah pindah lagi ke sana. Selamanya tidak bisa dijangkau. Pakaianya juga compang-camping, bisa disebut setengah manusia
hutan. Tidak ada lagi yang dipikirkannya kecuali makan. Selain persoalan makanan tidak pernah dipikirkan. Perkara-perkara hukum adat yang baik tidak pernah tahu karena kurang bergaul dengan warga lainnya.
Di Sunda, orang seperti itu tidak tahu adat tata krama, dinamakan ''jalma jauh ka bedug'', artinya manusia yang jauh dari tempat tinggal dan dari adat.
Semuanya itu sebenarnya masih bisa diperbaiki, agar para petani semakin bagus merawat ladangnya, agar para ketua menjaga para petani tidak mengerjakan ladangnya
semaunya saja, tapi harus menetap berkebunnya. Serta harus banyak embuat jalan, agar yang berkebun mudah untuk mobilisasi dan oleh ketua mudah untuk diawasi.
Kalau seperti itu membuat senang, kepala desa (lurah) dan para pemangku di atasnya mudah memberitahu petani, apabila salah mengerjakannya. Dan orang-orang yang suka membeli tembakau, ''suuk'', kacang pasti banyak berdatangan, jadi para pertani tidak kesusahan menjualnya.
Bagaimana bukankah itu lebih bagus dibandingkan penerapan yang dilakukan saat ini?
Sekarang orang yang sedikit pengetahuannya sering disebut ''urang gunung''. Banyangkan kalau ''urang gunung'' semakin rajin, tentu penamaan ''gunung'' bukan untuk jadi bahan ejekan.
----
{{c|Sekarang simpan dulu cerita sengkedan, kita ceritakan hal tentang mengganti tanaman.}}
...
<!--SEDANG DIKERJAKAN
|| Petani di sini baru berangkat untuk me
mahami, kalau di Eropa sudah lama di
temukannya, kalau tidak bagus penanamannya se
rupa juga panjangnya tidak satu rupa.
|| apabila ada manusia menanam tembakau kedua
kalinya, kalau temannya lagi setelah dipetik
tembakaunya menanam kacang, setelah itu padi, dari
situ tembakau lagi, itu yang menanamnya tidak
dirubah-rubah hanya tembakau lagi, kedua kali
nya tidak ada lagi hasilnya, tidak
seperti temannya yang menanam diganti-ganti
tembakaunya untung serta dari situ masih banyak
lagi keuntungannya dari kacang dan dari
padi.
|| Apa alasannya mengapa jadi begitu?
|| Apabila ingin tahu lebih lanjut harus bertanya
ke ilmu tani, yaitu yang bisa menerangkan ala
sannya.
|| Rahasianya seperti ini:
|| Segala penanamannya tidak sama pera
watannya kodisi segarnya atau makanannya dari tanah
kalau tanamannya besar beda
jenisnya, itu makanannya tanah juga su
ka gede lagi dari yang sudah-sudah. Dari kegiatan
penanamannya suka ke tanah ini tapi tidak suka
ke tanah itu, ada yang lebih suka ke tanah
yang ada pasirnya, ada juga yang suka
ke tanah yang banyak kapurnya atau gampingnya
ada juga yang tidak cocok kepada kapur
yang banyak. Jika ada tanah yang ditanamnya
satu jenis tanamannya, tapi tanahnya
bukan jenis makana tanaman tersebut
Tapi tanahnya harus diperbaiki terlebih dahulu.
agar bisa dimakan oleh tanaman
nya, karena tanaman juga seperti
manusia juga, berasnya juga harus diberi makan juga
lauknya harus digoreng juga atau dipang
gang dahulu, begitu juga tanahnya harus
ada yang mengelolanya, supaya tepungnya
bisa dimakan oleh rupa-rupa tanaman.
|| Supaya tanahnya bagus ke tanamannya yang
mau diberi pakan tersebut, perlu ada air
dan udara, udara dan air tersebut, masuk
ke dalam tanah, tapi jika sudah dipacul
tanahnya.
|| Itu sebabnya yang perlu harus diba
jak dan dipacul, bukan agar akar
bisa membentang di dalam tanah saja, tapi agar
tanamannya bisa menyerap air tanah yang
bagus.
|| Ternyata jika tanahnya bagus dikerjakan
oleh petani suka ditanaman asak, sa
ma dengan menyebut makanannya yang harus mendapatkan
apa yang dinamakan.
|| Kalau padi tidak sama dengan makanannya dengan tem
bakau, bentuknya berbeda, sifatnya berbeda, serta
waktu ditanamnya padi itu mungkin
tanah barus makanannya tembakau tidak dimakan oleh
padi, itu jadi bekal baris makanan
nya tembakau, begitu juga jika dita
nam tembakau dulu, tepung tersebut seperti
padi tidak dimakan.
|| Coba bayangkan, jika tidak menggunakan tangga
bagaimana cara membentangkan tanah seperti
tembakau atau seperti padi juga?
|| Tentu tanah tersebut oleh tanah terbawa ke
bawah, diibaratkan sama seperti menyimpan uang
ke dalam saku yang robek, lepas kaputa
nnya, atau seperti sisa tempat kura-kura
menyimpan pisang di dalam tas, sedangkan tasnya
oleh sisa kura-kura sudah dibolongi mungkin
semuanya mengetahui di dalam dongeng tersebut
Apabila ada yang menjawab: itu hanya
monyet jenis binatang mungkin juga bodoh-bodoh
jadi begitu”, kemungkinan dijawab kembali: bagai
mana jika juru tani masyarakat di sini lebih pintar dibandingkan dengan i
tu monyet, karena suka membuang tanah bag
us dari kebunnya?”
|| ada satu cerita lumayan untuk dijadikan
contoh
|| Jaman dahulu ada satu manusia memiliki tiga
anak, mungkin karena malas, tidak ma
u bekerja dengan baik untuk kebunnya, bapaknya menjadi
kesusahan, dari hal tersebut menghasilkan
sebuah ide.
|| Dalam waktu akan mendekati kepada ajal, lalu
memberikan wasiat kepada anak-anaknya, jika di
dalam kebunnya ada harta karun (tersimpan sesuatu yang besar)
|| Setelah bapaknya dikuburkan, lalu ketiga
anak tersebut mulai memencangkul kebunnya, bolak
balik, tapi hasilnya nihil kebun
nnya tidak menemukan apa-apa, mereka
sangat penasaran, tapi dari
hasil kegiatan yang telah mereka kerjakan tidak juga
membuahkan hasil, lalu dampaknya jadi ditanami tanaman
yang pasti ada hasilnya, tidak lama dari kejadian tersebut
tanaman tersebut tumbuh dengan baik, hasilnya sangat
menguntungkan, ketiga anak tersebut
terkejut.
|| Dari kejadian tersebut akhirnya mereka mengerti macam
macam hal yang tersimpan yang ditunjukkan oleh bapaknya,
yaitu hasilnya berupa kebun.
|| Hingga menjadi topik bagi juru tani (petani), kacang
menjadi bagus untuk tanah, karena jika menanam
padi dari bekas kacang hasilnya menjadi
bagus, tapi ternya salah dugaan juru
tani, karena kacang sangat menghabiskan
tepung yang ada di dalam tanah, yang menjadi bagus itu
padinya saja. dari tanah yang sudah gembur tanahnya, bayangkan jika
dalam hasilnya sama bagus kegiatan mencangkulnya
ditanam padi tentu lebih bagus padinya
dibandingkan dengan dari bekas kacangnya itu.
Tapi bagaimana bisa mencangkul di dalam
lahan lereng namun tidak menggunakan
sengked?
|| Oleh karena itu harus menuruti ini
aturan:
|| Agar bagus hasil menanam, tanahnya harus dalam
dan campurkan menjadi satu pekerjaannya, agar tanah bagus tidak [...]
dalam tanah yang miring, harus dibuatkan sengked terlebih dahulu.
|| Bagaimana jika ada yang tidak cocok dengan
aturan tersebut? ada juga satu
orang yang mengatakan: “Saya tidak cocok, karena jika
membuat sengked dipotong bagian dasarnya
tanah, dari atas suka datang ter
lihat tanah yang berwarna merah, di situ tanaman
menjadi buruk.
|| Itu benar seperti itu, dalam hal jika tera
sering terlalu luas dalam tanah yang sangat
miring, dan hal kedua jika sudah
selesai sengked tidak dicangkul di
satukan kembali.
|| karena luasnya sengked tersebut
harus diperhitungkan dalam hal kemiringan lahan, jika
lahan terlalu miring, sengked tersebut harus
terlalu singkatnya.
|| jika lahan paling miring yang masih ada
kemungkinan masih bisa ditanam, di tera
sering luasnya dua kaki, itu bagian dasar ta
nah hanya sedikit saja yang tumbuh
ke luar, apalagi jika langsung dicangkul lagi da
lamnya 1 kaki (satuan) atau sekurang-kurangnya tiga
perempat kaki, jadi tanah yang subur bercampur
baur dengan tanah yang kurang subur, sudah pasti
tanah jadi lebih subur dibandingkan tanah
yang tidak diatur menggunakan aturan tersebut.
|| Tapi bagaimana bisa tanah
tersebut bercampur jika tidak menggunakan sengked?
|| sebelum diceritakan tentang sengked
mari kita sebutkan keuntungan
nya tanah miring menggunakan sengked ya
itu:
|| Hal pertama, menambah kekuatan
tanda kepemilikan, karena sengked sama dengan
kotak dalam sawah, menjadi ciri pertahanan,
sebuah tanda jika tanah tersebut sudah ada
pemiliknya.
|| Hal kedua, tidak perlu berpindah-pindah ber
kebun di dalam hutan atau terbatas waktu selama tiga tahun, tapi
hal dengan menggunakan cara sengked bisa ditanami berbagai macam tidak
ada batasnya, tidak perlu berpindah-pindah dan tidak ter
lalu harus dijaminkan, lebih bagus lagi kalau mau
menggunakan bibit.
|| Hal ketiga, meskipun pekerjaan untuk memulainya
terlalu berat, dibandingkan dengan aturan
yang seperti biasanya, tapi ke depannya tidak terlalu banyak
pekerjaan, karena rumput-rumput
yang jelek seperti ilalang jadi hilang dan digantikan
dengan rumput yang bagus seperti lalapan, gulma
bandotan (wedusan), jika tanaman tersebut membusuk di situ
tanahnya semakin lama menjadi subur (mudah ditanami), begitu pula dengan
tidak perlu sering membuat pagar baru dan membuat
saluran air yang besar.
|| Hal keempat, tanah yang lain menjadi mudah ditanami
tetapi jika sampah-sampahnya dan jeraminya
tidak dibuang, yaitu dibiarkan saja, tanahnya
semakin menjadi bagus, apalagi jika mau
ditambahkan pupuk, jika tidak menggunakan sengked
mungkiin satu kali hujan saja sudah terbawa
air.
|| Hal kelima, karena tanahnya mudah ditanami
jadi banyak meyerap air hujan yang menyebabkan
tidak terlalu banyak genanangannya, malah genangannya
disebabkan karena setiap sengked posisinya terlalu naik me
ngalirnya, jadi tidak terlalu deras juga tanah tidak ter
bawa.
|| Hal keenam, jika posisi kebun miring di luarnya
sudah menggunakan sengked air genangan menjadi pelan
mengalirnya, dan sebagian tidak terbawa arus air
ke bagian bawah, terhalang sengked tersebut.
lalu menyerap di sana, lalu sebagian
lagi pelan-pelan mengalirnya, itu
tentu jika air meluap tidak terlalu
rusaknya, serta sungai-sungai yang kecil
terus mengalir dikarenakan banyaknya air hujan
terserap oleh tanah, dari situ perlahan-lahan rembes
ke bagian bawah mengalir ke sungai itu, kalau
dalam tanah yang tidak menggunakan sengked
waktu itu juga cepat mengalir menuju sungai, besar
luapan airnya dan banyak sekali kerusakan.
|| Itu di distrik panembong sudah jelas sekali
danau danau di sana sekarang tidak terlalu banyak
tersiram, kalau dahulu sebelum menggunakan sengked
setiap tahun harus selalu dikeruk.
-->
==Cara membuat sengked==
Karena yang paling sering dijadikan kebun adalah tanah miring (tanah lereng) dan
tidak banyak yang membuka ladang di hutan besar, jadi yang akan dijelaskan sekarang adalah ketentuan-ketentuan umum dalam membuat sengked di perbukitan semak belukar dan pepohonan kecil saja.
# Yang paling pertama dikerjakan yaitu membabat semak atau kayu-kayuan kecil menggunakan parang, dan membabatnya sebisa mungkin dipotong pendek. Begitu pula dengan rerumputannya juga dibabat.<br>Kayu yang sudah dibabat tadi dikumpulkan, bagusnya digunakan untuk suluh, sebagiannya lagi digunakan untuk pembuatan pagar yang mengelilingi kebun.
#Jika sampah rumputnya terlalu banyak, sebaiknya sebagian dibakar, setelahnya sebagiannya lagi digunakan untuk membuat pematang ''lebak'' di tempat yang akan dibuat sengked.<br>Membuat pematang sawahnya harus: a. Seperti membuat parit, jangan ''nyanglandeh'' jangan menanjak, kalau ada cekungannya atau sungai, harus menyiku, seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop).jpg|center|thumb|277x277px]]Kalau ada bukit atau pasir, harus seperti ''ngais'' seperti ini: <br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop)-2.jpg|center|thumb|277x277px]]Sama persis seperti parit, tapi jangan seperti jalan naik turun. Kalau seperti itu masih sama seperti lereng saja.
#Jarak antara pematang harus berdasarkan miringnya (lerengnya) lahan. Sebisanya harus dijaga supaya timbangannya bagian atas tidak lebih dari satu kaki dalamnya.<br>Jika ada lahan yang tidak sama lerengnya (kemiringannya}, sebidang tanah tidak terlalu terasa sebidang tanah lagi terasa lerengnya itu luasnya sengked harus dimodifikasi. Tepat di dalam lerengnya ''disingkat'' dibagian yang datar diperluas, karena jika tidak seperti itu tentu datar sengkednya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 35 crop)-H.jpg|center|thumb|290x290px|''a.'' Lahan yang terlalu miring; ''b.'' lahan yang tidak terlalu ''lembah''.]]
#Jika sudah selesai membuat pematang dari rumput tadi, barulah mulai dicangkul. Mulai dari yang paling bawah kira-kira satu kaki antara sisi atasnya dari pematang tersebut, juga tanahnya harus dibalik agar menutupi sampah rumput pematang tadi, agar kuat pematanghnya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 36 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px]]Begini rupanya yang mencangkul dari bawah ke atas, tanah yang dicangkul agak ''dikembing'' dan dilempar ke belakang. Begitu seterusnya sampai mencangkul pematang kedua.<br>Dari sana ulangi memlagi buat sengked sedalam satu kaki di atas pematang kedua, serta caranya masih sama hingga selesai.<br>Hasil sengked seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 37 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' pematang/tanggul, ''b.'' tanah pembuanga bekas dicangkul, ''c.'' ''teuras'']]
#Dari sina cangkul ke depan, apalagi tanah yang keras disebelah dari atas harus dipipihkan dan dilemparkan tanah yang masih miring. Adapun Rumput-rumputnya jangan diambil pusing karena sudah pada mati (layu) ketika pertama kali tanahnya dicangkul tadi. Jadi bentuk sengkednya seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 38 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Tanah gembur yang akan ditanami, ''b.'' tanah pembuangan bekas dicangkul, ''c.'' gusi]]
#Sewaktu bekerja, rumput yang ditimbun di tanggul tadi kemungkinan akan tumbuh kembali, apalagi kalau alang-alang dan yang sejenisnya, oleh karena itu, tanggulnya harus dibersihkan dan harus di ''sina mayat'' sedikit supaya tidak terlalu curam. Nah sekarang sudah selesai tinggal menanam.
#Dan juga harus ingat sengked tidak bisa dibatas seperti sawah, menggunakan tanggul yang tinggi, sebab jika menggunakan tanggul tentu membuat semakin mudah tanah terbawa arus, sebab terasa sekali, selain dari itu akan menjadi jelek untuk tanaman karena air yang mengalirnya malam hari mengendap membawa tanah longsor.<br>Meyebabkan tanaman rusak: Jika tanaman bukan tanaman rawa seperti padi, karena tanahnya terlalu basah.
#Karena itu juga, ketika mencangkul tanahnya jangan dikorek-korek ke samping sengked, karena jika sisi sengked dibuat tinggi, tentu sengked akan tinggi tidak merata, jadi selokan atau pindah lereng.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 39 crop).jpg|center|thumb|277x277px]]
#Begitu juga harus selalu ingat, sisi sengked bagian luar jangan dicangkul, biarkan utuh saja kira kira selebar telapak tangan (''satampah''), berperan sebagai gusi, dan agar mempermudah ketika dikerjakan, yang mencangkul harus menghadap ke ''lebak'' serta cangkulnya sedikit dicondongkan seperti contoh berikut:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 40 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Bagian ini jangan dicangkul]]Jadi ada sisi yang keras yang berfungsi sebagai gusinya.
#Ketika membersihkan kebun sampah-sampahnya harus ''dikirab-kirab'' dan diletakkan di gusi. Itu besar sekali gunanata sebab air hujan tidak tersendat.<br>Jika sampah itu tumbuh kembali, harus ''disasar'' saja, serta rumput-rumput setelah ''dikirab'' diletakkan lagi di ujung sengked.
#Jika tanahnya yang keras atau lengket kerkena air hujan tidak bisa menyerap jadi cepat tergenang serta tanahnya mudah terbawa arus, di situ harus membuat parit atau tampungan air per 20 atau 30 sengked, dalamnya serta luasnya 1 - 1 ½ kaki, tergantung padatnya tanah dan seringnya hujan di sana.<br>Selokan tersebut jangan terlalu miring, tetapi harus rata mengikuti ''turunan'' sengeked.<br>Tanah hasil menggali dari selokan tersebut, harus ditumpuk di sebelah sisi ''lebak'', yaitu untuk meninggikan sengked.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 41 crop).jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Saluran air, ''b.'' tanah hasil mtumpukan yang dipakai untuk meninggikan sengked.]]
<!--
|| Sekarang tidak terganggu, susah
untuk terbawa air tanahnya.
|| Jika selokan dari lama
kelamaan jadi dangkal berlumpur, itu harus digali, ta
nahnya digunakan untuk menaikkan sengked sebe
lah dari bawah. Ketika ada yang mena
nam tanaman awet seperti kopi jangan
dibereskan galengannya serta harus segera membuat
sengked yang luasnya cukup. Jika
ada yang menanam bertahun-tahun seper
ti: padi, tembakau, dan yang sejenisnya
baiknya sengkednya setopa berganti tanaman
nya diluaskan sekitar ¼ kaki.
|| Itu bekas kotoran menjadi tanah baru
serta bagus, dan sengkednya pelan pelan ja
di sangat luas, serta bekas pekerjaannya tidak
berat sama sekali dan tidak terlalu mengha
silkan tanah keras.
|| Perasaan saya sekarang sudah habis menerangkan
hal sengked, tinggal menceritakan
Perkara Cangkul
Perkara alat membuat aliran air yang murah
Pagar yang mudah tapi besar manfaatnya
|| Sebelum menceritakan hal yang tiga
perkara di atas, kita menceritakan dahu
lu hal sengked lagi sedikit.
|| Di Apdeling Limbangan sudah bertahun-tahun
menerapkan aturan sengked
dalam segala jenis kebun, bukan di kebun\
kopi baru saja, yang dahulu juga
yang tadinya diisengked sekarang dicicil
disengked, bergitu juga kebun
palawija dan ribuan hutan, serta dikerjakan
dengan hati-hati dan pikiran, semua
itu hasilnya menguntungkan.
|| Oleh karena itu jangan risau lagi, men
cari jalan yang lain, lebih ba
gus sering mencoba coba saja, karena sudah mengetahui
bagusnya aturan tersebut.
|| Ada juga yang mencoba-coba gaga
l, itu jangan disalahkan terhadap aturan
nnya, hanya mencoba-coba saja tidak dengan pikira
n dan tidak mengetahui keseluran aturan
tersebut.
|| Dan lagi sangat pantas diperjuangkan oleh
rasa lelah juga, agar seluruh
perkara seluruh aturan yang mengakibatkan
keuntungan serta yang ujung-ujungnya memakmurkan pulau Jawa,
Jadi sangat pantas diperjuangkan oleh hanya rugi
yang tidak menguntungkan sekali dua kali saja, karena
semua perkala memulainya suka su
sah dan harus ada kerugian juga.
|| Dari pengalaman yang sudah-sudah, tanah
dicangkul dipipihkan dahulu, rumputnya disisi
nya hilang, dibakar, dibuah, ketika
tanahnya sudah gembur tanah baru memulai
membuat sengked, tindakan seperti itu
tentu sudah jelas pasti gagal, karena tentu
tanahnya pasti terbawa air.
|| Dari situ dengan cepat yang salah menger
jakan menyalahkan aturan, katanaya: “Tuh
ternyata tidak bagus, sengked longsor terus”
|| Tapi tidak dipikirkan penyebab gagalnya kare
na kesalahan dirinya, sama saja dalam perkara menabur biji,
mengikuti aturan tabur oleh biji padi jatuh dari
tangkainya, tapi menaburnya terlau dekat, dari
situ mudah menyimpulkan tidak bagus; nah be
gitu gagal! bijinya sangat layu, segera potong
dicabut.
||Tapi tidak dipikir, jika yang menyebabkan gagal
adalah karena tidak dikerjekan dengan semestinya dan tidak dipikir
kenapa penyebabnya yang menyebabkan harus diurut/dirawat
yaitu supaya renggang.
|| Saya pribadi sudah menemukan satu tukang tembak masih
belajar jadi belum bisa
menembak, tapi menembak tidak tepat sasaran,
suka marah-marah, menyalahkan kepada tem
bakan katanya: kenapa ada pistol yang bodoh,
sialan!” serta itu pistol jika
digunakan oleh tukang tembak yang mahir pasti nyaring
sekali.
|| Yang salah membuat sengked mungkin
begitu juga, jika menya
lahkan kepada sengked padahal kesalah diri
sendiri saja.
-->
==Cangkul==
Supaya pekerjaan yang dilakukan bisa lebih mudah maka harus menggunakan peralatan yang sesuai. Cangkul yang digunakan di Jawa itu bagaimana bisa disebut peralatan yang memudahkan pekerjaan.
Ada tiga jenis cangkul:
[[File:Mitra nu Tani (page 46 crop).jpg|center|thumb|290x290px|Cangkul Belanda atau cangkul kampak (kiri)<br>Cangkul Jawa (tengah)<br>Cangkul Sunda (kanan)]]
Yang kurang direkomendasikan adalah cangkul Jawa, di atasnya adalah cangkul Sunda, dan yang lebih direkomendasikan adalah cangkul Belanda. Bukan hanya karena buatan luar negeri, melainkan karena gagangnya nyaman saat digunakan, lebih bertenaga saat mencangkulkannya ke tanah. Kalau cangkul Sunda cukup susah karena ''cangkulnya cenderung terlalu bengkok'', sehingga yang mencangkul harus merunduk agar bisa
mencangkul dalam dan benar. Adapun cangkul Jawa ''ngulangkenana supaya bisa jero lain dikieuna héséna''. Pertama gagangnya terlalu pendek, dan kedua cangkul lebih bengkok dari cangkul Sunda.
Oleh karena itu, pemakainya harus benar-benar merunduk saat membuat galian tanah. Sehingga membuat cepat lelah. Ditambah, cangkul Jawa ini terlalu berat yang membuat pekerjaan semakin berat juga. Ketimbang cangkul, itu lebih mirip alat pembajak sawah, karena jika digunakan terlihat seperti orang yang sedang menekan dan menarik alat pembajak tradisional (wuluku). <!--tapi upama prak diteelkeun sarta dikenyang tangtu hésé serta berat batan diulangkeun téya.-->
Adapun cangkul Belanda hampir sepenuhnya baja dan tipis, ringan dan lebih mudah dibandingkan cangkul setengah besi setengah kayu, yang semakin ke atas semakin tebal.
Pada [[c:File:Mitra nu Tani (page 49 crop).jpg|halaman 43] Ada ilustrasi penggunaan tiga jenis cangkul:
[[File:Mitra nu Tani (page 49 crop)-H.jpg|center|thumb|450x450px|Cangkul Jawa (kiri), cangkul Sunda (tengah), cangkul Belanda (kanan)]]
Bagaimana dengan gambar ini, setuju cangkul Belanda yang lebih direkomendasikan?
----
Pekerja di perkebunan teh Waspada bekerjanya memakai cangkul Belanda. Tentu banyak keuntungannya dibanding pekerja Jawa yang membawa cangkulnya sendiri dari rumah.
Memang betul, di Waspada tanahnya gembur. Tapi pekerja yang mencangkul sedalam 1 kaki dari pukul 06.30 pagi sampai 14.30 siang bisa menghasilkan 40 ''tumbak'' ☐. Atau semisal lebih dangkal kira-kira sedalam 3 ''dim'', bisa menghasilkan 55 atau 60 ''tumbak'' ☐. Lalu dilanjutkan dengan menjemur rumput dan ditumpukkan di atas sengked.
Oleh karena itu, harapannya, orang Jawa yang masih menggunakan cangkulnya seperti pada gabar di atas, bisa segera berganti ke cangkul yang lebih bagus. Semisal mereka tidak mau menggunakan cangkul Belanda meskipun harganya sangat murah karena baja semua, ya mau bagaimana lagi. Tapi, setidaknya harus mengikuti contoh cangkul Sunda. Itu masih lebih ringan gampang dibandingkan cangkul yang mirip wuluku itu.
Buat apa susah-susah jongkok sebegitunya kalau tidak diperlukan, kan.
==Alat ''Water pass''==
Mungkin banyak yang merasa sulit memperbaiki sungai oleh sampah yang banyak, agar landai lurusnya. Sebenarnya ada alatnya, sangat mudah, siapa pun bisa membuatnya,
serta ongkosnya hanya terbilang sangat murah.
Hal yang harus dibuat: Pertama, tongkat. Panjangnya harus seukuran dengan tinggi batas mata orang yang akan menggunakan alatnya. Di atas tongkat tadi pasang paku kayu seperti di ''e''. Selanjutnya pasang papan kecil, gantungkan supaya terayun-ayun ke paku kayu ''b''. Dari situ pasang lagi papan kecil ''e'', simpan di papan tadi, atur sampai lurus agar terlihat seperti menyiku. Kemudian gunakan bambu kecil tipis atau kaso diberi lubang oleh lidi ''d''. Agar bisa digunakan untuk membidik, ikat dengan tali rotan ke papan tersebut yang lurus tadi.
[[File:Mitra nu Tani (page 52 crop).jpg|center|thumb|290x290px|Kayu ''b'' harus lebih berat dibandingkan kayu ''c'']]
Alat satunya lagi yaitu tongkat kedua, panjangnya sama dengan yang pertama. Selanjutnya pasang papan kecil, beri warna putih menggunakan kapur. Panjangnya 4 lebarnya 2 dim. Papan ini posisinya posisinya di atas tongkat kedua, agar kaso atau bambu yang dilubangi tadi (di tongkat pertama) akur posisinya dengan tengah-tengahnya itu papan.
[[File:Mitra nu Tani (page 53 crop).jpg|center|thumb|290x290px]]<br>
Cara mengoperasikan alatnya seperti berikut:
Satu orang memegang tongkat dan papannya tegak lurus ke tanah, jangan ditancapkan ke tanah, cukup dipegang saja, seperti ''a.'' [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|di halaman 49]].
Satu orang lagi memegang alat yang disebut paling awal (tongkat pertama), yang
diberi nama teropong (kékér), sambil jalan mundur ke belakang 15 atau 20 langkah. Dari sana bidik bambu atau kaso yang sudah dilubangi tadi ke arah papan putih. Teropongnya pindah ke atas atau ke bawah sambil supaya pas dengan tengah-tengahnya papan. Setelah itu berikan tanda, orang yang memegang papan putih pindah ke tempat yang sudah diberi tanda tadi, sementara yang membawa teropong mundur lagi 15 atau 20 langkah ke belakang, begitu seterusnya.
Alat ini bukan sekadar menunjukkan cara membuat sengked saja, tapi jika lahan
tidak terlalu rata lerengnya, bisa untuk mengukur luas sengked.
Di [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|halaman 49]] ada contoh cara menggunakan alat ''Water pass'' ini.
[[File:Mitra nu Tani (page 55 crop)-H.jpg|394x394px|center]]
Tidak perlu setiap sengked Diukur dengan ''water pass''. Hanya untuk menjaga saja serta agar lerengnya rata. Mungkin cukup per 5 atau 10 sengked diukur dengan ''water pass''.
Di sini, di Garut, para petani sudah biasa membuat sengked. Sengked ''lempeng'' saja, mengikuti lahan, tidak harus menggunakan alat yang sudah dijelaskan tadi, penyebabnya yaitu kebiasannya, jarang yang salah sengked. Namun, bagi yang baru, alat tadi mungkin akan sangat berguna.
==Pagar==
Di sini pagar yang digunakan untuk mengelilingi kebun kebanyak dari pohon waru (kapas-kapasan), dibariskan dengan jarak kira-kira 2 atau 3 kaki, serta tiap jaraknya ditanami pohon jarak atau murbei, diselipkan dengan bambu.
Tangkai waru yang ditebang bisa dijadikan suluh, daunnya sebaga pembungkus. Agar nanti sudah tumbuh sangat besar, kain bagus untuk dijadikan perabotan, untuk roda karet untuk membawa rempah-rempah dan sebagainya.
Jika banyak kebun yang bertemu batas, itu bagus untuk kompromi yang punya kebun dalam merawatnya, yaitu syaratnya agar kebunnya subur, jangan setiap kebun dipagar disekelilingnya oleh pagar permanen.
Lebih bagus pagar yang bisa untuk menjaga hewan kuda, sapi, atau kerbau beradu saja daripada mengeluarkan ongkosnya, bersama-sama saja, keuntungannya, kerugiannya, dari pagar tersebut memiliki bagiannya masing-masing. Untuk pagar yang menjadi tanda kepemilikan seseorang sebaiknya menggunakan tanaman kecil saja, lebih baik lagi menggunakan tanaman yang ada buahnya seperti mengkudu atau kopi, jaraknya 4 kaki, dan selain dari itu. Tentu ada juga hasilnya walau sedikit.
Bagaimana perasaannya setelah diberikan pembelajaran ini, bagus atau buruk?
Semoga pengarang tidak sia-sia membuatnya. Jangan sampai memberi nasihat yang tidak bisa diterapkan.
[[Kategori:WikiPrestasi]]
558rnfj17l37rqi4v4kandlxz7y7a8o
Di Balik Topeng
0
27195
114896
2026-04-17T12:58:07Z
Wikythekid
42963
Membuat halaman baru
114896
wikitext
text/x-wiki
Kunjungan Wiki Seni Lokal (WikiSeKal) oleh KlubWiki Universitas Brawijaya ke [[Sanggar Asmorobangun]] memberikan pengetahuan baru bagiku terkait Topeng Malangan dan seni dibaliknya. Di balik ukiran dan warnanya yang bervariasi itu, tersembunyi kisah panjang tentang identitas, sejarah, dan bahkan karakteristik masyarakat Malang. Kisah yang diceritakan juga bukan kisah biasa, terdapat penafsiran nilai moral yang dipegang teguh hingga saat ini. Oleh karena itu, menurutku Seni Topeng Malangan bukan hanya sekadar pertunjukan tari.
[[Seni Topeng Malangan]] menjadi representasi nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun, yang mana saat ini telah mencapai generasi ke-lima. Tiap-tiap topeng memiliki pola ukiran yang membedakan antara perempuan dengan laki-laki dan antara hewan dengan manusia. Penggunaan warna juga dibedakan sesuai karakter dan penokohan dari topeng yang digunakan dalam cerita. Yang menarik bagiku adalah, setiap pementasan, selain penari harus mengenakan topeng, mereka juga hanyut dalam penokohan sesuai dengan topeng yang dikenakan. Sebagai penonton, aku merasakan bagaimana cerita-cerita klasik tersebut hidup kembali dan menghantarkan makna-makna filosofis.
Sejujurnya, aku tidak mengira bahwa kesenian ini masih ada. Tapi ternyata aku salah. Seni Topeng Malangan masih sangat ada dan sangat kental. Aku mulai menyadari seberapa pentingnya kesenian ini bagi para pegiat seni maupun Malang itu sendiri. Atau mungkin lebih luas lagi, untuk Indonesia. Aku bisa merasakan bagaimana para pegiat seni ini, salah satunya terutama dari Bapak Handoyo selaku Ketua Sanggar Asmorobangun, sangat menyayangi kesenian ini dan juga bagaimana kesenian ini berperan dan berharga dalam kehidupannya. Tentunya, sebagai suatu hal yang digemari sekaligus mata pencahariannya. Sedangkan bagi Malang, kesenian ini berharga sebagai identitas, yang sayangnya, ketahanannya mulai berkurang.
Menurut Pak Handoyo, seni bukan hanya sekedar instrumen ekspresif, melainkan menyimpan relasi erat antara manusia dengan budaya leluhurnya. Berbagai ritual juga perlu dilakukan dalam proses pembuatan topeng yang kemudian dilakukan dengan penuh ketelitian dan rasa hormat. Proses ini dilakukan dari semudah pemilihan kayu hingga penggoresan kuas dengan cat kepada topengnya yang penuh simbolisme. Yang masih sulit kupahami adalah, setiap topeng dipercaya memiliki ‘roh’ yang merepresentasikan karakter dari topeng-topeng tersebut. Maka dari itu, setiap pembuat topeng bekerja tidak hanya dengan jari jemari yang telaten, tetapi juga hati dan nurani yang penuh perasaan. Komunikasi ini memang sulit dipahami oleh sebagian orang, salah satunya aku, tetapi cukup bagiku untuk memahami bahwa hal ini merupakan salah satu keunikan dan identitas dari seni yang digemari.
[[Kategori:Wiki Seni Lokal]]
bila127l2ockpxvxslu8thoe6bj54p3
Jejak Seni Malang
0
27196
114899
2026-04-17T15:55:17Z
Deshinta Gita
42965
Buat Halaman baru Wiki Seni Lokal
114899
wikitext
text/x-wiki
Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang aku jalani di [[Kota Malang]], aku menemukan [[Sanggar Tari Sekar Kedoya]] yang hadir sebagai salah satu ruang yang menjaga denyut jantung tradisi agar tetap berdetak. Dari pandanganku, sanggar ini bukan hanya untuk berlatih tari, tetapi juga transfer ilmu dan wadah pembelajaran nilai-nilai budaya untuk generasi-generasi selanjutnya. Ternyata tidak sedikit dari para penari yang bergabung karena tidak memiliki wadah di luar sana, tetapi Sanggar Tari Sekar Kedoya mampu memenuhi itu.
Lucunya, setiap latihan disini dibagi menjadi dua kelompok, kelompok besar dan kecil. Kelompok besar ini mencakup penari-penari yang sudah dewasa dengan gerakan tarian yang lebih kompleks. Sedangkan kelompok kecil, seperti namanya, mencakup anak-anak kecil yang gigih untuk menjadi penari. Secara konsisten dan disiplin, mereka melakukan latihan dua kali dalam seminggu yang dipandu oleh pelatih, Kak Binti. Sanggar ini berupaya untuk mewariskan kegemaran dalam tari tradisional dan kurasa hal itu sudah lebih dari cukup untuk mempertahankan budaya Malang. Setidaknya, sanggar ini dapat memastikan generasi muda yang dibentuk untuk pelestarian seni tradisional.
Sayangnya, sanggar ini belum mendapatkan rekognisi yang cukup. Sejauh pengetahuanku, sanggar ini tampil di kegiatan-kegiatan desa maupun perayaan yang diadakan oleh pemerintah. Memang sudah ada pendataan dari pemerintah, tetapi menurutku hal tersebut tidak cukup untuk mendukung upaya sanggar dalam pelestarian tari daerah. Selain itu, peminat yang kian bertambah jumlahnya juga memerlukan dukungan yang lebih.
Menurutku, tantangan seni adalah modernisasi. Namun, sanggar ini kelihatannya mampu mengatasi tantangan tersebut dengan mudah. Sanggar ini dengan cerdik memadukan antara modernisasi dan seni tradisional yang menarik bagiku. Pendekatannya cukup unik, tetapi entah bagaimana, bekerja dengan baik. Nilai modern menjadi aspek yang menarik perhatian dan nilai tradisi yang ada digunakan sebagai fondasi. Jejak yang ditinggalkan kemudian bukan hanya sekedar tarian atau pertunjukan, tetapi inspirasi dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan di masa kini hingga masa mendatang tentunya.
[[Kategori:Wiki Seni Lokal]]
oqug2vbu77k89gdw93mpmkc9d42uvpu
Resep Mie Gomak
0
27197
114901
2026-04-18T05:59:06Z
Intannx6424
41827
Membuat halaman baru
114901
wikitext
text/x-wiki
== Gambaran Umum ==
Mie gomak adalah salah satu makanan khas medan sumatera utara yang terbuat dari bahan dasar mie lidi/mie kuning. Makanan ini biasanya disajikan dalam dua jenis, yaitu mie gomak dengan kuah santan dan tanpa kuah santan. Sebutan mie gomak ini berasal dari cara penyajiannya. Yang dimana dalam proses penyajian tersebut biasanya menggunakan cara tradisional yakni dengan cara di gomak atau diremas menggunakan tangan kemudian di sajikan di [https://blog.atourin.com/food/mie-gomak-dengan-rasa-pedasnya/#:~:text=Tentang%20Mi%20Gomak&text=Disebut%20mie%20gomak%20karena%20dahulu,atau%20sendok%20demi%20kebersihan%20makanan. piring]. Tekstur dari mei gomak ini kenyal dan sedikit berukuran lebih besar dibandingkan dengan mie pada umumnya. Masyarakat sumatera biasanya menambahkan remasan kerupuk berbahan dasar singkok berwarna merah putih sebagai pelengkap sekaligus ciri khas dari menu tersebut. Tak hanya itu bumbu andaliman dan ebi juga turut menambah aroma dan cita rasa khas tersendiri.
== Bahan ==
# 1/2 kg mie lidi (rebus)
# 3 siung bawang putih (Haluskan)
# 5 siung bawang merah (Haluskan)
# 1/4 ruas Jahe (Haluskan)
# Kerupuk Merah Putih (Secukupnya)
# 1/2 sendok teh garam
# 5 buah cabe merah (Haluskan)
# 3 buah cabe rawit (Haluskan)
# 2 buah Kemiri (Haluskan)
# 1/4 Kol (Dipotong setipis mungkin)
# 1 buah mentimun (dipotong oval)
# 800 gram santan
# 50 gram Ebi (Dihaluskan)
# 2 helai daun salam
# 1 ruas Serai
# 1 buah labu siam (dipotong dadu)
6zsi1l9sq6q5a5nsbq8grxw408jvrr1
114903
114901
2026-04-18T06:06:08Z
Intannx6424
41827
Menambahkan informasi
114903
wikitext
text/x-wiki
== Gambaran Umum ==
Mie gomak adalah salah satu makanan khas medan sumatera utara yang terbuat dari bahan dasar mie lidi/mie kuning. Makanan ini biasanya disajikan dalam dua jenis, yaitu mie gomak dengan kuah santan dan tanpa kuah santan. Sebutan mie gomak ini berasal dari cara penyajiannya. Yang dimana dalam proses penyajian tersebut biasanya menggunakan cara tradisional yakni dengan cara di gomak atau diremas menggunakan tangan kemudian di sajikan di [https://blog.atourin.com/food/mie-gomak-dengan-rasa-pedasnya/#:~:text=Tentang%20Mi%20Gomak&text=Disebut%20mie%20gomak%20karena%20dahulu,atau%20sendok%20demi%20kebersihan%20makanan. piring]. Tekstur dari mei gomak ini kenyal dan sedikit berukuran lebih besar dibandingkan dengan mie pada umumnya. Masyarakat sumatera biasanya menambahkan remasan kerupuk berbahan dasar singkok berwarna merah putih sebagai pelengkap sekaligus ciri khas dari menu tersebut. Tak hanya itu bumbu andaliman dan ebi juga turut menambah aroma dan cita rasa khas tersendiri.
== Bahan ==
# 1/2 kg mie lidi (rebus)
# 3 siung bawang putih (Haluskan)
# 5 siung bawang merah (Haluskan)
# 1/4 ruas Jahe (Haluskan)
# Kerupuk Merah Putih (Secukupnya)
# 1/2 sendok teh garam
# 5 buah cabe merah (Haluskan)
# 3 buah cabe rawit (Haluskan)
# 2 buah Kemiri (Haluskan)
# 1/4 Kol (Dipotong setipis mungkin)
# 1 buah mentimun (dipotong oval)
# 800 gram santan
# 50 gram Ebi (Dihaluskan)
# 2 helai daun salam
# 1 ruas Serai
# 1 buah labu siam (dipotong dadu)
== Cara Membuat Mie Gomak ==
# Rebus mie lidi sekitar 15-30 menit, kemudian tiriskan
# Haluskan bumbu yang telah disediakan (Bawang merah dan putih, kemiri, dan Jahe)
# Tumis bumbu tersebut hingga setengah matang, jika sudah masukkan Mie lidi yang telah di tiriskan
# Tambahkan garam dan penyedap rasa
# Aduk hingga matang
== Cara Membuat Kuah Santan ==
# Haluskan bumbu yang telah disiapkan ( Bawang merah dan putih, Jahe, Kunyit, Kemiri, Cabe dan Ebi)
ry3i7j09m4hpc0p5m0oosmwh5joop4l
Analisis Perjanjian Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) Melalui Game Theory Stag Hunt
0
27198
114904
2026-04-18T06:06:16Z
Veydearchie
42968
membuat artikel baru
114904
wikitext
text/x-wiki
== '''PENDAHULUAN''' ==
Pelaksanaan hubungan diplomatik yang dijalin oleh Indonesia dan Kanada sudah terbuka sejak tahun 1952. Indonesia dan Kanada membangun hubungan bilateral yang kuat dan bersahabat (Choirulina & Paryadi, 2022). Kedua negara memiliki sejarah keterlibatan yang cukup panjang dalam upaya perlindungan hak asasi manusia, demokrasi, dan tata kelola pemerintahan yang baik. Keduanya juga merupakan mitra dalam beberapa organisasi multilateral, salah satunya yaitu G20. Dengan latar belakang negara yang sering bertemu dalam satu organisasi multilateral, Indonesia dan Kanada akhirnya membuat kesepakatan untuk dapat meningkatkan hubungan bilateral mereka. Indonesia dan Kanada menyadari bahwa seiring dengan berkembangnya waktu, perekonomian merupakan sektor utama yang seringkali menjadi permasalahan global. Perekonomian merupakan faktor bagi negara-negara untuk bisa menjalin interaksi, kemudian interaksi yang terjalin dapat membentuk hubungan yang dapat dikembangkan melalui berbagai bidang (Waskito, 2018).
Salah satu hubungan bilateral penting antara kedua negara yang dibentuk yaitu melalui Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement atau yang dikenal dengan sebutan ICA-CEPA. Perjanjian yang dilakukan antara kedua negara menjadi landasan penting dalam memperkuat hubungan ekonomi bagi keduanya. Perjanjian ini tidak hanya berfokus pada kedua negara yang saling melakukan komitmen perdagangan bebas, namun perjanjian ini memberikan alasan bagi kedua negara untuk dapat meningkatkan integrasi ekonomi, hal ini dapat dilihat dari Indonesia yang merupakan salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara, dan Kanada, negara yang dipandang sebagai mitra dagang yang potensial untuk dapat dikembangkan oleh Indonesia (Ditjen PPI Kemendag, 2021).
Menteri Perdagangan yaitu Muhammad Lutfi dengan Menteri Perdagangan Internasional Kanada, Mary Ng melakukan peresmian perjanjian Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) yang dilakukan secara virtual pada Senin, 21 Juni 2021. Peresmian ini dikatakan sebagai pilar sejarah dalam hubungan bilateral yang telah berlangsung selama 69 tahun antara kedua negara. Kesepakatan yang dibentuk dilakukan sebagai upaya penguatan hubungan kerja sama Indonesia dan Kanada terutama di tengah-tengah perubahan geopolitikyang terjadi di dunia. Perjanjian ICA CEPA dibentuk berdasarkan kepentingan nasional untuk memperluas akses pasar dan mendukung pertumbuhan ekonomi, perdagangan, dan investasi antara kedua negara. Serta perjanjian ini dilakukan untuk meningkatkan dan menjalin hubungan bilateral yang lebih baik lagi. (Ditjen PPI Kemendag, 2021).
Hubungan antara Indonesia dengan Kanada tidak hanya dibentuk melalui perjanjian ICA CEPA, karena sebelumnya kedua negara sempat melakukan perdagangan ekspor dan impor. Berdasarkan data yang ada dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2020, Kanada bertempat di peringkat ke-32 sebagai negara tujuan ekspor yang dilakukan Indonesia, dan menempati peringkat ke-16 sebagai negara yang melakukan impor ke Indonesia. Ekspor yang dilakukan Indonesia ke Kanada pada saat itu mencapai USD 789,1 juta, sementara itu impor yang dilakukan Kanada mencapai hingga USD 1,6 miliar. Kemudian , pada tahun 2021, perdagangan yang dilakukan antara Indonesia dan Kanada mencapai jumlah USD 3,1 miliar. Komoditas ekspor utama yang dilakukan Indonesia kepada Kanada yaitu peralatan kendaraan bermotor, karet alam, ban, dan beberapa produk lainnya. Sementara itu, impor yang dilakukan Kanada kepada Indonesia meliputi pupuk, gandum, kedelai, dan bijih besi. Sehingga dengan adanya kegiatan perdagangan yang dilakukan, perjanjian ICA-CEPA diharapkan mampu membuka lebih banyak kesempatan dan meningkatkan hubungan bilateral antara kedua negara (DJBC FTA Knowledge Base, 2022).
Perjanjian ICA-CEPA yang dilakukan ini mengangkat topik penting dalam konteks pertumbuhan ekonomi antara Indonesia dan Kanada. Perjanjian ini diharapkan mampu membuka kesempatan lapangan pekerjaan lebih luas bagi kedua negara. Melalui perjanjian yang dibentuk, ICA CEPA membawa harapan besar dalam meningkatkan investasi dan perdagangan, hal ini dapat membuka ruang bagi pemerintah dan masyarakat mengenai pentingnya menjalin hubungan bilateral yang baik dengan negara lain. ICA CEPA memainkan peran strategis dalam membuka peluang pasar bagi kedua negara demi mencapai tujuan bersama. Apabila suatu negara telah mendapatkan kepercayaan dari negara lain dalam mengupayakan kerja sama, maka negara tersebut sudah seharusnya bisa menjaga kepercayaan yang diberikan. Perjanjian ini dapat dikatakan berhasil jika kedua negara saling memainkan peran satu sama lain dalam menopang kesuksesan ICA CEPA, oleh karena itu untuk mendapatkan keuntungan dan manfaat yang sama, kedua negara harus saling menjaga dan berkontribusi dengan baik dalam perjanjian ini. Hal ini sesuai dengan game theory stag hunt yang menekankan bahwa pemain dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan adanya kerja sama yang dilakukan.
== '''KERANGKA PEMIKIRAN''' ==
Game Theory Stag Hunt pertama kali dikenalkan oleh John von Neumann dan Oskar Morgenstern pada tahun 1944. Teori ini merupakan kerangka yang digunakan untuk menganalisis perhitungan mengenai bagaimana cara memahami interaksi strategis yang dilakukan antar pemain (Neuman et al., 1944). Teori ini menjelaskan mengenai bagaimana individu atau negara mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi hasil satu sama lain. Salah satu model permainan yang relevan untuk perjanjian ICA CEPA yaitu stag hunt atau permainan berburu rusa, teori ini memberikan pemahaman mengenai bagaimana pemain dapat mempertimbangkan keuntungan jangka panjang melalui kerja sama yang dilakukan secara bersama atau jangka pendek tanpa adanya kerja sama (Skyrms, 2004). Stag hunt relevan untuk digunakan dalam perjanjian ICA CEPA karena model ini memberikan gambaran mengenai bagaimana kerja sama yang efektif bagi kedua negara, Indonesia dan Kanada dapat mencapai hasil yang optimal dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi masing-masing negara. Dalam game theory stag hunt, kedua negara mempunyai pilihan seperti berikut: melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan yang besar melalui sinergi jangka panjang (berburu stag), atau melakukan tindakan individu dengan hasil yang lebih kecil dan berlandaskan pada jangka pendek (berburu hare).
Model permainan stag hunt ini menggambarkan skenario di mana pemain dapat memilih antara dua opsi yaitu saling bekerja sama untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar atau tidak bekerja sama dan mendapatkan hasil yang lebih cepat namun hasil yang diperoleh kecil. Dalam model ini, hare memang bisa didapatkan secara individu dan hasilnya pasti, tetapi stag dapat menghasilkan payoff optimal karena hanya dapat dicapai melalui kerja sama yang dilakukan secara optimal antar pemain. Kedua negara harus saling memberikan kepercayaan dan komitmen untuk melakukan kerja sama, sehingga dapat memberikan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan berlandaskan pada jangka panjang. Opsi yang disebutkan dalam model permainan ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
=== '''Kedua Negara Melakukan Kerja Sama (Stag, Stag)''' ===
Bagian ini mengilustrasikan kedua negara yang saling memilih untuk melakukan kerja sama secara penuh dan dikenal sebagai opsi payoff dominant. Melalui kerja sama yang dilakukan, masing-masing negara dapat mendapatkan hasil yang optimal dan jauh lebih besar dibandingkan dengan hasil yang diperoleh secara individu. Kerja sama yang dilakukan dapat membentuk sinergi yang memberikan kemungkinan pencapaian tujuan bersama disertai manfaat yang besar bagi kedua negara.
=== '''Kerja Sama Dilakukan oleh Satu Negara, Sementara Negara Lainnya Tidak Bekerja Sama (Stag, Hare atau Hare, Stag)''' ===
Bagian ini mengilustrasikan ketika satu pemain menunjukkan ketertarikannya untuk melakukan kerja sama, namun pemain lain memutuskan untuk tidak berkomitmen. Hasil yang diperoleh pada bagian ini adalah negara yang menolak untuk bekerja sama mendapatkan hasil yang lebih besar, sementara negara yang melakukan kerja sama tidak mendapatkan hasil yang sesuai dan lebih kecil. Hal ini disebabkan karena negara yang tidak ikut bekerja sama menghindari biaya kerja sama, namun tetap bisa menikmati keuntungan yang dihasilkan dari pihak yang memilih untuk melakukan kerja sama.
=== '''Kedua Negara Memilih Tidak Melakukan Kerja Sama''' ===
Bagian ini memberikan ilustrasi ketika kedua pemain memutuskan untuk tidak saling bekerja sama. Dalam model stag hunt, keputusan ini dikenal sebagai opsi risk dominant, di mana masing-masing pemain memutuskan melakukan tindakan yang lebih aman dan lebih pasti dalam memperoleh hasil meskipun hasil yang diperoleh adalah payoff yang paling rendah. Ketika kedua pemain memutuskan untuk tidak bekerja sama dan melakukan tindakan secara individu, hasil yang diperoleh bagi setiap pemain yaitu minimal dan dapat menghilangkan kesempatan untuk mencapai manfaat yang optimal.
Melalui kerangka yang telah dijelaskan, teori stag hunt menjelaskan situasi di mana keberhasilan kerja sama sangat bergantung terhadap kepercayaan dari masing-masing pemain. Tanpa adanya kepercayaan bahwa pemain lain akan berburu stag, dapat memungkinkan pemain lain untuk lebih memilih berburu hare dan mendapatkan hasil secara pasti. Hal ini dilakukan dengan upaya untuk menghindari resiko kehilangan semua hasil. Maka dari itu, model permainan stag hunt ini dapat dikatakan relevan untuk digunakan pada perjanjian ICA CEPA di mana kerja sama yang dilakukan kedua negara akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada tindakan yang dilakukan secara individual. Tetapi teori ini akan berhasil untuk dilakukan apabila kedua negara memberikan kepercayaan secara penuh untuk menghindari resiko kegagalan.
== '''HASIL DAN PEMBAHASAN''' ==
Pada bagian ini, akan dibahas lebih detail untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai analisis perjanjian yang dilakukan Indonesia dan Kanada dalam Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA CEPA) melalui kerangka model permainan stag hunt. Tahapan yang akan dijelaskan antara lain: 1) Melakukan identifikasi terhadap pemain yang terlibat, 2) Melakukan identifikasi terhadap opsi tindakan yang kemungkinan dapat diambil oleh setiap pemain, 3) Melakukan analisis payoff structure dari hubungan kerja sama para pemain yang terlibat.
=== '''Mengidentifikasi Pemain yang Terlibat dalam Permainan''' ===
==== Indonesia ====
# Indonesia merupakan salah satu negara dengan akses pasar terbesar di Asia Tenggara. Indonesia ingin membuka kesempatan penetrasi produk yang diekspor di kawasan Amerika, karena pada saat itu Indonesia hanya memiliki hubungan kerja sama dengan satu negara di Benua Amerika, yaitu Chile. Indonesia ingin mengupayakan agar peluang ekspor negaranya bisa semakin meningkat dengan negara-negara lain dalam pasar global. Berdasarkan nilai ekonomi makro, Indonesia masuk dalam kategori 20 negara dengan perekonomian terbesar yang direalisasikan melalui forum G20 (Choirulina & Paryadi, 2022). Sebagai negara yang termasuk dalam forum kerja sama multilateral, Indonesia memiliki beberapa kepentingan utama dalam meningkatkan pertumbuhan ekonominya, salah satunya yaitu dengan mengurangi tarif dan hambatan perdagangan. Dengan pengurangan tarif dan hambatan perdagangan, Indonesia dapat melakukan ekspor berbagai komoditas, termasuk produk manufaktur dan pertanian. Sehingga hal ini direalisasikan dan diimplementasikan dengan dibentuknya perjanjian ICA CEPA (Andira, 2024).
==== Kanada ====
# Kanada sebagai negara yang memiliki kepentingan untuk bekerja sama dengan Indonesia karena Indonesia dinilai memiliki potensi untuk meningkatkan petumbuhan ekonominya. Kanada melihat bahwa Indonesia merupakan negara yang besar serta memiliki kesempatan investasi di berbagai sektor. Kanada membutuhkan pasar baru untuk menyebarkan produknya sehingga dalam usaha ini Kanada menilai Indonesia sebagai negara yang paling sesuai. Keputusan yang dilakukan Kanada ini dilakukan dengan upaya untuk mengurangi ketergantungannya terhadap negara-negara besar seperti Amerika Serikat. Selain itu, sejumlah perusahaan di Kanada juga sempat melakukan investasi di Indonesia dan mempekerjakan tenaga lokal, dengan hubungan bilateral yang baik inilah yang menciptakan keinginan dari Kanada untuk melakukan kerja sama dengan Indonesia. (Andira, 2024).
=== '''Mengidentifikasi Opsi Tindakan yang Dapat Dipilih Setiap Pemain''' ===
Interaksi yang terjalin antara Indonesia dan Kanada dapat dilakukan melalui tiga opsi yang sesuai dalam kerangka model permainan stag hunt, antara lain: Pertama, kedua negara memilih untuk saling bekerja sama (stag hunt), Kedua, satu negara memilih untuk bekerja sama, sementara negara lainnya tidak (Stag, Hare atau Hare, Stag), dan yang terakhir yaitu kedua negara tidak saling bekerja sama dan memilih untuk bertindak secara individual (hare hunt).
=== '''Menganalisis Payoff Structure dari Hubungan Kerjasama Antara Pemain''' ===
Langkah selanjutnya setelah mengidentifikasi opsi yang dapat dipilih oleh pemain yaitu menentukan payoff structure yang akan diperoleh kedua negara dari setiap opsi tindakan yang mereka ambil, khususnya dalam konteks kerja sama Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement. Pada bagian ini menguraikan setiap opsi yang mungkin terjadi berdasarkan kombinasi pilihan yang diambil oleh Indonesia dan Kanada dalam kerangka perjanjian bilateral tersebut.
Penjelasan lebih lanjut mengenai payoff structure berdasarkan setiap opsi tindakan yang diambil diuraikan sebagai berikut.
==== '''a) Kedua Negara Bekerja Sama (Stag, Stag), Payoff (5,5)''' ====
Jika Indonesia dan Kanada memutuskan untuk melakukan kerja sama secara penuh dalam kerangka perjanjian ICA CEPA, yaitu keduanya memilih untuk berburu (stag, stag) maka kedua negara akan mendapatkan hasil dan keuntungan yang optimal. Kolaborasi penuh ini menghasilkan payoff (payoff dominant) tertinggi karena keduanya bisa mendapatkan manfaat maksimum dari kerja sama lintas negara yang dilakukan. Analisis dari payoff structure dalam bagian ini dijelaskan melalui manfaat yang dapat diperoleh apabila kedua negara bekerja sama. Perjanjian ICA CEPA akan memberikan berbagai manfaat dalam sudut pandang Indonesia, seperti pengurangan defisit perdagangan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing ekspor dan membuka peluang lebih besar terhadap sumber investasi. Dalam sudut pandang Kanada, ICA CEPA dinilai dapat memberikan peluang baru untuk dapat mengurangi atau menghapus tantangan tarif dan non tarif, selain itu perjanjian ini akan meningkatkan akses terhadap rantai pasokan di Asia Tenggara. Sehingga perjanjian ini dinilai sebagai langkah yang efektif untuk dapat membangun lingkup perdagangan yang lebih luas bagi kedua negara. Dengan terciptanya kerja sama yang baik, perjanjian ICA CEPA ini dapat membuka peluang baru bagi Indonesia dan Kanada dalam meningkatkan infrastruktur dan kualitas sumber daya manusianya. Aspek ini merupakan aspek yang penting karena kerja sama yang optimal tidak akan tercapai apabila sumber daya manusia dan infrastruktur tidak memadai. Sehingga potensi yang didapat apabila kedua negara melakukan kerja sama dapat memberikan keuntungan dan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat Indonesia dan Kanada (Andira, 2024).
==== '''b) Satu Negara Bekerja Sama, Sementara Negara Lainnya Tidak Bekerja Sama (Stag, Hare atau Hare, Stag), Payoff (0,4) atau (4,0)''' ====
Dalam bagian ini, dijelaskan bahwa hanya satu negara yang memilih untuk berkomitmen pada ICA CEPA, sementara negara lainnya memutuskan untuk tidak bekerja sama dan memilih jalur secara mandiri. Bagian ini menjelaskan bahwa negara yang memilih untuk tidak bekerja sama memperoleh hasil keuntungan yang lebih besar dalam jangka pendek, sementara negara yang bekerja sama justru tidak memperoleh keuntungan.
===== 1) Skenario (0,4): Kanada Bekerja Sama, Indonesia Tidak Bekerja Sama =====
Skenario ini membahas mengenai jika Kanada memilih untuk berkomitmen penuh pada ICA CEPA sementara Indonesia memilih jalur mandiri, maka Kanada akan dihadapkan pada resiko kehilangan manfaat dari kolaborasi karena tidak memperoleh dukungan dan kontribusi sama sekali dari Indonesia. Kanada mungkin masih bisa memperoleh sedikit keuntungan, namun tanpa dukungan dan kontribusi dari Indonesia, Kanada justru menghadapi kesulitan untuk bisa mencapai hasil yang optimal dan menguntungkan. Kanada juga akan mengalami kesulitan untuk bisa memperluas akses pasarnya ke Asia Tenggara.
===== 2) Skenario (4,0): Indonesia Bekerja Sama, Kanada Tidak Bekerja Sama =====
Skenario ini membahas mengenai jika Indonesia mengambil keputusan untuk berkomitmen secara penuh pada ICA CEPA, namun Kanada memilih untuk tidak bekerja sama. Keuntungan akan didapatkan oleh Kanada sementara Indonesia tidak memperoleh keuntungan tanpa adanya dukungan dan kontribusi dari Kanada. Kemungkinan keuntungan sebetulnya masih bisa didapatkan Indonesia namun hanya sedikit, sehingga Indonesia tidak bisa mencapai hasil yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperluas peluang ekspor.
==== '''c) Kedua Negara Tidak Bekerja Sama (Hare, Hare), Payoff (2,2)''' ====
Bagian ini menggambarkan jika Kanada atau Indonesia sama-sama memilih untuk tidak melakukan kerja sama dan memutuskan untuk mengambil langkah kebijakannya sendiri. Kedua negara masih bisa memperoleh keuntungan namun hasil yang diperoleh lebih rendah dan berlandaskan pada jangka pendek. Kedua negara tidak akan mencapai hasil yang optimal seperti skenario apabila kedua negara melakukan kerja sama. Namun bagian ini juga menjelaskan bahwa keinginan untuk tidak bekerja sama bertujuan untuk menghindari resiko ketergantungan yang dapat terjadi antara keduanya.
== '''KESIMPULAN''' ==
Berdasarkan pemaparan yang telah dijelaskan dan diuraikan sebelumnya, tulisan ini menghasilkan temuan bahwa analisis game theory stag hunt yang digunakan terhadap perjanjian bilateral Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA CEPA) sangat bergantung pada komitmen dan kepercayaan antara kedua negara. Indonesia dan Kanada dapat memperoleh manfaat dan keuntungan secara optimal dan sama rata dalam skenario stag, stag. Mereka dapat mencapai payoff optimal yang dapat memperkuat upaya mereka untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi masing-masing negara. Diperlukan adanya mutual trust antara kedua negara dan ketersediaan untuk bisa menanggung resiko dan kekurangan secara bersama, sehingga tidak ada negara yang dirugikan dalam perjanjian ini. Kepercayaan yang terjalin menjadi tonggak penting dalam strategi yang dibentuk kedua negara, di mana komitmen bersama dapat mendorong adanya mutual benefits yang maksimal. Kedua negara perlu meningkatkan kapasitas domestiknya untuk bisa melihat potensi yang diberikan terhadap satu sama lain dan mengurangi resiko ketergantungan pada mitra dagang lain.
Game theory stag hunt menganalisis dinamika dan dapat memahami adanya tantangan, potensi, serta implikasi yang didapatkan dari keputusan yang diambil oleh kedua negara. Game theory ini juga menekankan konsep bahwa diperlukan adanya komitmen politik yang stabil dan berkelanjutan, sehingga kerja sama bisa tetap dilakukan maupun dilanjutkan pada masa mendatang. Pemain yang bermain dalam model ini perlu menjaga konsep keberhasilan yang sama dan regulasi yang kuat sehingga dapat menjamin adanya kesinambungan komitmen dan peningkatan dari berbagai sektor oleh kedua negara. Perlu adanya transparansi dan evaluasi dalam perjanjian ini untuk mencegah munculnya rasa curiga terhadap masing-masing negara. Kedua negara perlu membangun mekanisme yang fleksibel dan mampu untuk menghadapi faktor eksternal yang mungkin hadir di masa depan. Kerja sama bilateral yang efektif tidak hanya berlandaskan pada manfaat jangka panjang yang akan diperoleh, namun juga membutuhkan kontribusi dan dukungan yang nyata yang dilakukan antar pemain untuk dapat mengurangi kecenderungan bertindak secara individual.
== '''REFERENSI''' ==
Adisthy, C. (2024). Analisis Kepentingan Indonesia Dalam Perundingan Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA–CEPA).
Andira, A. (2024). Perjanjian Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) Terhadap Potensi Peningkatan Ekonomi Indonesia Periode 2021-2023.
Choirulina, E., & Paryadi, D. (2022). Strategi Akses Pasar Kerjasama Perdagangan Indonesia Kanada Dalam Kerangka Comprehensive Economic Partnership Agreeement (CEPA). ''Cendekia Niaga'', ''6''(2), 110-128.
Ditjen PPI Kemendag. (2021). Indonesia-Kanada Luncurkan Perundingan Dagang ICA-CEPA. https://ditjenppi.kemendag.go.id/index.php/berita/detail/indonesia-kanada-luncurkanperundingan-dagang-ica-cepa.
DJBC FTA Knowledge Base. (2022, Maret 29). The 1st Round of Negotiations Indonesia – Canada CEPA, 14 – 19 Maret 2022. Retrieved from DJBC FTA 64 Knowledge Base: https://fta.beacukai.go.id/2022/03/29/the-1st-round-ofnegotiations-indonesia-canada-cepa-14-19-maret-2022/.
Skyrms, B. (2004). The stag hunt and the evolution of social structure. Cambridge University Press.
Von Neumann, J., Morgenstern, O., & Rubinstein, A. (1944). Theory of Games and Economic Behavior (60th Anniversary Commemorative Edition). Princeton University Press. http://www.jstor.org/stable/j.ctt1r2gkx.
Waskito, D. G. (2018). Penurunan Perdagangan Bilateral Indonesia-Kanada Periode 2015-2016. Jurnal Analisis Hubungan Internasional, 7(3), 84–94.
70i4rtkmktjrxs0vxwoxecbq5w927go
Dampak Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) dalam Mempengaruhi Perilaku Masyarakat, Perusahaan, hingga Pemerintah di Panggung Politik Internasional
0
27199
114905
2026-04-18T06:06:34Z
Fishynila
41127
←Membuat halaman berisi '''(Ditulis pada 17 April 2025)'' Di tengah Konflik Israel-Palestina yang berlangsung hingga saat ini, terdapat sebuah gerakan sosial signifikan yang mencuri perhatian khalayak umum—Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS). Dibentuk pada tahun 2005 dari seruan gabungan oleh lebih dari 170 organisasi masyarakat sipil Palestina (Barghouti, 2011), inisiatif ini telah berkembang menjadi jaringan transnasional yang merangkul serikat hingga kalangan ''grassroot''...'
114905
wikitext
text/x-wiki
''(Ditulis pada 17 April 2025)''
Di tengah Konflik Israel-Palestina yang berlangsung hingga saat ini, terdapat sebuah gerakan sosial signifikan yang mencuri perhatian khalayak umum—Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS). Dibentuk pada tahun 2005 dari seruan gabungan oleh lebih dari 170 organisasi masyarakat sipil Palestina (Barghouti, 2011), inisiatif ini telah berkembang menjadi jaringan transnasional yang merangkul serikat hingga kalangan ''grassroot'' untuk menantang relasi kuasa tradisional dalam hubungan internasional. Terlebih, sejak serangan 7 Oktober 2023, mata dunia yang semakin tertuju kepada Konflik Israel-Palestina membuat BDS semakin dikenal, sehingga menimbulkan perdebatan pro-kontra akan pergerakannya. Terdapat tiga tuntutan inti gerakan ini: mengakhiri pendudukan Israel atas wilayah di Palestina, memastikan hak kesetaraan penuh bagi warga Arab-Palestina di Israel, dan menghormati dan melindungi hak para pengungsi Palestina untuk kembali ke tanahnya.
Secara berkala, BDS mengeluarkan daftar perusahaan-perusahaan sasaran yang sebaiknya diboikot karena memiliki asosiasi dengan okupansi militer Israel di Palestina. Pada ''update'' terkini tanggal 9 April lalu, Gerakan BDS di Indonesia memasukkan Xbox yang merupakan bagian dari Microsoft serta Dell sebagai prioritas baru pemboikotan karena keterlibatan langsung mereka dalam pemasokan teknologi militer Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Perusahaan lain yang termasuk antara lain adalah Intel, Disney, McDonald’s, Reebok, dan lain-lain. Tentu saja, rilis BDS tadi tidak mencakup semua lembaga yang memiliki keterlibatan dalam pelanggaran HAM Israel kepada penduduk Palestina. Kalau iya, poster yang tersebar pasti akan memiliki jumlah logo yang tidak ada habisnya. Penargetan ini memberikan fokus untuk ‘menyerang’ target yang jumlahnya cenderung sedikit supaya kekuatan masyarakat dapat diarahkan secara terpusat dan tidak terpencar-pencar.
Bagaimana Gerakan BDS bekerja dan sebesar apa pengaruhnya terhadap kondisi sosial-politik global saat ini?
Tidak seperti diplomasi berbasis negara yang bersifat konvensional, BDS beroperasi melalui apa yang Margaret Keck dan Kathryn Sikkink (1998) sebut sebagai "jaringan advokasi transnasional" (''Transnational Advocative Network'') atau yang disingkat sebagai TAN. TAN adalah salah satu jenis ''pressure group'' yang memanfaatkan otoritas moral dan masyarakat sipil global untuk menekan pemerintah, perusahaan, hingga lembaga yang dinilai merugikan. Jaringan-jaringan ini, yang dicirikan oleh pola komunikasi dan interaksi yang bersifat sukarela, timbal balik, dan horizontal, semakin menunjukkan perannya dalam politik global. Karakteristik TAN yang dimiliki BDS terletak pada jembatan perhubungan yang terbangun antara kelompok masyarakat sipil Palestina dengan para pendukung ''cause'' mereka yang tersebar di seluruh dunia, melalui nilai-nilai bersama dan pertukaran informasi yang berbobot dan cepat.
Teori konstruktivis dalam hubungan internasional menjadi kacamata yang tepat untuk menganalisis karakteristik dan dampak yang dihasilkan Gerakan BDS. Perspektif konstruktivisme menekankan bagaimana ide, norma, dan identitas membentuk politik internasional (Mingst et al., 2019). Pada intinya, konstruktivisme menyatakan bahwa realitas dibangun secara sosial melalui proses interpretasi, interaksi, dan pelembagaan yang berkelanjutan. Perspektif ini sepadan dengan topik pembahasan kali ini, karena pengaruh BDS tidak berasal dari variabel materiil seperti kemampuan militer atau sumber daya ekonomi, tetapi dari kemampuannya untuk membentuk persepsi dan mengarahkan perilaku dalam sistem internasional.
Salah satu persepsi yang dibangun oleh Gerakan BDS adalah penggunaan analogi apartheid untuk memberi kaitan antara norma baru dengan norma internasional yang sudah berlaku dan lebih dikenal secara luas. Kesamaan keduanya terletak pada kecaman terhadap diskriminasi rasial dan penindasan kolonial. BDS sendiri secara eksplisit menyatakan bahwa mereka terinspirasi oleh Gerakan Anti-Apartheid Afrika Selatan dan telah berkoordinasi dengan veteran anti-apartheid untuk merancang strategi kampanye mereka (Hickey & Marfleet, 2010). BDS secara sistematis berupaya mendekonstruksi pemikiran yang mulanya dominan dalam masyarakat internasional bahwa Israel adalah negara demokrasi mungil yang imut dan ''harmless'' tetapi dikelilingi oleh negara tetangga jahat yang berusaha menyerang mereka—menggantikan ''branding'' tadi dengan narasi bahwa Israel adalah penjajah yang melanggar HAM penduduk Palestina. Israel diberi cap sebagai negara apartheid yang membangun pendudukan koloni di atas tanah milik Palestina. Persepsi negatif yang mereka bangun ini kemudian diberi kelanjutan dengan merancang aksi apa saja yang bisa orang-orang lakukan untuk mendukung rakyat Palestina dan melawan penindasan Israel.
Gerakan BDS merupakan model baru ''pressure group'' transnasional yang beroperasi secara serentak di seluruh bidang baik ekonomi, budaya, hingga politik. Tidak seperti kelompok lobi konvensional yang berfokus pada perubahan legislatif atau kampanye khusus industri, BDS telah mengembangkan strategi yang menyerang pendudukan Israel di berbagai bidang. Pendekatan yang multidimensi ini mencerminkan adaptasi terhadap perkembangan zaman, khususnya pemahaman tentang relasi kuasa kontemporer dan improvisasi atas kendala yang dihadapi oleh para perwakilan Palestina dan pro-Palestina di arena diplomatik konvensional.
Secara organisasional, BDS tetap mempertahankan struktur yang terpusat dan terhubung. Komite Nasional BDS Palestina (BNC) yang berpusat di Ramallah berfungsi sebagai pusat komando koordinasi, sementara ‘cabang’ kampanye nasional di puluhan negara lain beroperasi dengan otonomi masing-masing dan turut berperan vital—salah satunya adalah Gerakan BDS di Indonesia yang sempat disebut sekilas pada awal esai ini. Struktur ini memberikan kesatuan tujuan dan fleksibilitas dalam strategi memberi tekanan, sehingga memungkinkan aktivis lokal untuk menyesuaikan pendekatan dengan konteks negara mereka yang lebih spesifik. Kampanye BDS Eropa kerap kali menaruh fokus mereka pada undang-undang Uni Eropa untuk memberi label pada produk hasil penjajahan Israel. Sementara itu, kampanye BDS yang tersebar di kampus di Amerika Serikat menekankan divestasi universitas mereka dari perusahaan seperti Caterpillar, Boeing, dan lain sebagainya yang memasok peralatan militer yang digunakan dalam aksi pendudukan Israel.
Strategi tekanan ekonomi gerakan BDS menggunakan apa yang disebut sebagai ''targeted leverage'' yang menyasar perusahaan dan sektor tertentu. Alih-alih menyerukan boikot menyeluruh terhadap semua produk Israel, sebuah strategi yang amat sangat tidak praktis dan problematik secara hukum di banyak negara, BDS berfokus pada perusahaan yang secara langsung terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia. Daftar boikot yang dirilis dan diperbarui oleh BDS secara berkala telah melewati proses riset dan analisis terlebih dahulu sebelum disebarkan ke publik. Kampanye terhadap Veolia, perusahaan multinasional Prancis yang sempat terlibat dalam wacana Jerusalem Light Rail (proyek lintas rel terpadu atau kereta api ringan yang menghubungkan Yerusalem dengan wilayah pendudukan Israel), menjadi salah satu bukti efektivitas pendekatan ini. Setelah bertahun-tahun BDS beri tekanan, perusahaan tersebut melaporkan kerugian miliaran dolar terutama dalam bentuk pelepasan kontrak proyek-proyek di London hingga Stockholm. Veolia pun sepenuhnya menarik diri dari semua proyek pembangunan transportasi Israel pada tahun 2015. Demikian pula firma keamanan G4S yang mengumumkan pada tahun 2023 bahwa mereka akan mendivestasi atau mengakhiri semua kontrak dengan Israel setelah kampanye BDS terus menerus menaruh lampu sorot kepada keterlibatan mereka dalam pelanggaran hak asasi manusia.
Boikot budaya merupakan pilar penting lain dari strategi tekanan BDS. Terinspirasi oleh boikot budaya yang turut mempengaruhi Afrika Selatan di bawah kuasa apartheid, BDS telah membujuk banyak artis terkemuka untuk membatalkan pertunjukan mereka di Israel, termasuk musisi seperti Lauryn Hill dan Elvis Costello. Selain itu, beberapa musisi kondang juga menyuarakan dukungan mereka terhadap perlindungan HAM rakyat Palestina. Roger Waters, anggota band Pink Floyd, beberapa kali menyatakan dukungannya terhadap Gerakan BDS. Baru-baru ini, pada penampilan mereka di festival musik Coachella band kondang Green Day mengganti lirik lagu mereka dengan dukungan terhadap anak-anak Palestina. Gerakan BDS membingkai kegiatan boikot-memboikot bukan sebagai serangan terhadap budaya atau rakyat Israel, tetapi sebagai penolakan untuk menormalisasi dan memvalidasi kebijakan Israel yang menindas. Di bidang lain, ribuan figur literatur termasuk penulis terkenal Sally Rooney telah bergabung menyatakan diri tidak akan bekerja sama dengan perusahaan dan lembaga yang terlibat dalam pelanggaran HAM di Palestina.
BDS telah memperoleh dukungan signifikan di antara para akademisi lingkungan universitas. Kampanye kampus sering kali menggabungkan tuntutan divestasi dengan upaya edukasi tentang pelanggaran HAM Israel. BDS telah mempromosikan boikot terhadap universitas-universitas Israel yang dianggap terlibat dalam pendudukan ilegal dan diskriminasi HAM. Meskipun boikot akademis penuh masih dianggap kontroversial dan jarang diterapkan, gerakan tersebut telah berhasil membuat beberapa asosiasi akademis mendukung tindakan boikot. Resolusi American Studies Association tahun 2013 untuk memboikot lembaga akademis Israel, meskipun sebagian besar bersifat simbolis, menjadi pergerakan perkumpulan akademis pertama di Amerika Serikat yang secara terang-terangan menyatakan perlawanan terhadap okupansi Israel di Palestina. Hal tersebut menimbulkan perdebatan signifikan tentang kebebasan akademis dan keterlibatan politik. Lebih menunjukkan dampak yang besar adalah kampanye yang langsung menargetkan kemitraan dengan kelembagaan berafiliasi Israel tertentu, seperti upaya (yang akhirnya berhasil) untuk mengakhiri kemitraan antara Universitas Johannesburg dengan Universitas Ben-Gurion Israel pada tahun 2011. Akhir-akhir ini, civitas akademika pro-Palestina di Amerika Serikat menghadapi berbagai ancaman mulai dari ''drop out'' sampai deportasi karena terlibat dalam aksi-aksi aktivisme, salah satunya demonstrasi protes pro-Palestina. Namun, banyak dari mereka tetap berdiri pada pendiriannya dan mendukung kebijakan Gerakan BDS. Keberhasilan gerakan di bidang akademik ini mencerminkan bahwa kelompok muda-mudi, yang memiliki imej tidak tertarik terlibat dalam isu politik, bisa lebih peka terhadap keadilan sosial.
Tekanan politik BDS sendiri beroperasi melalui saluran langsung dan tidak langsung. Di badan legislatif nasional, khususnya di Eropa, kelompok yang berpihak pada BDS melobi untuk mengambil tindakan seperti embargo senjata dan pelabelan produk hasil pendudukan Israel. Di tingkat internasional, BDS mendukung upaya pembuatan basis data PBB yang berisi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah pendudukan Israel. Mungkin yang lebih penting, gerakan ini berupaya mengubah iklim politik yang lebih luas dengan cara yang membuat kritik terhadap Israel dapat lebih diterima. Di AS misalnya, BDS telah membantu menciptakan ruang bagi para Demokrat progresif untuk secara terbuka mengkritik kebijakan Israel tanpa konsekuensi politik buruk—sebuah kemajuan signifikan yang sulit dibayangkan satu dekade lalu. Langkah krusial lainnya ditandai oleh hasil studi menyeluruh yang dilakukan Amnesty International, organisasi HAM terbesar dunia, yang mengakui kebenaran akan adanya genosida di Gaza oleh Israel.
Namun, dampak paling besar BDS terletak pada keberhasilannya mempromosikan ''framing'' Israel sebagai penjajah kolonial apartheid pelanggar HAM dalam audiens masyarakat internasional. Strategi representasional ini, yang telah disinggung sedikit sebelumnya, telah mengubah pemahaman dasar banyak orang tentang Konflik Israel-Palestina secara masif. Melalui dokumentasi dan kampanye yang cermat, penyusunan kerangka strategis, dan kerja sama dengan organisasi hak asasi manusia, BDS telah mengubah apa yang dulunya merupakan pendapat marjinal menjadi subjek perdebatan utama. Persepsi terhadap Israel tersebut dibentuk melalui persamaan sistematis antara kebijakan Israel dan apartheid Afrika Selatan dalam beberapa aspek: kebijakan perumahan dan penggunaan lahan yang didiskriminasi, hak kewarganegaraan yang dibedakan, sistem hukum yang terpisah, dan pembatasan pergerakan masyarakat. Aktivis BDS dan sejumlah cendekiawan telah mengembangkan analisis terperinci untuk menunjukkan bagaimana Israel mempertahankan suatu "sistem diskriminasi yang dilembagakan" di wilayah pendudukan mereka (Dugard, 2013). Gerakan BDS berstrategi menghubungkan kebijakan-kebijakan mereka dengan konsep kolonialisme dan apartheid yang lebih menjangkau luas dan meninggalkan sentimen emosional, sehingga menyentil moral orang banyak.
Di sisi lain, penilaian dampak ekonomi dan politik konkret Gerakan BDS memerlukan analisis yang cermat. Gerakan ini beroperasi dalam lingkungan global yang kompleks, dimana banyak faktor memengaruhi perilaku perusahaan dan otoritas pemerintah. Sebab persisnya suatu lembaga atau perusahaan menghentikan kerja sama dengan Israel sulit untuk ditentukan. Meskipun demikian, beberapa dampak signifikan bisa dilihat di berbagai bidang baik ekonomi, budaya, dan politik.
Secara ekonomi, BDS telah mencetak kemenangan penting dalam divestasi perusahaan dari aktivitas terkait pendudukan Israel. Kasus Veolia dan G4S yang disebutkan sebelumnya merupakan keberhasilan besar, dengan kedua perusahaan multinasional tersebut menarik diri dari proyek-proyek kontroversial setelah tekanan BDS yang berkelanjutan. Orange SA, raksasa telekomunikasi Prancis, mengakhiri hubungannya dengan mitra Israel Partner Communications pada tahun 2016 setelah kampanye BDS yang menarget mereka digaungkan di Mesir dan Prancis. Meskipun perusahaan tersebut menggunakan alasan komersial, dokumen internal mengungkapkan adanya kekhawatiran perusahaan atas pencemaran reputasi mereka. Di sisi lain, badan dana pensiun swasta Norwegia KLP juga menghentikan investasi mereka ke Caterpillar karena perusahaan ikut andil dalam pelanggaran HAM Israel di Gaza.
Gerakan ini juga telah memengaruhi perilaku konsumen dalam berbagai cara yang terukur. Salah satu target utama boikot BDS, McDonald’s, melaporkan kerugian sebanyak 1,5% dalam penjualan global mereka di paruh bulan Juli–September 2024. Penurunan penjualan ini adalah yang terbesar dalam empat tahun terakhir dan melebihi ekspektasi prakiraan ahli ekonomi. Jika diperhatikan, memang gerai McDonald’s di Watugong sudah tidak seramai dulu. Alternatif restoran cepat saji dan ayam goreng pun ada banyak, sehingga konsumen pun banyak yang memilih untuk bergeser. BDS mengklaim hal ini sebagai pencapaian. Meskipun tidak mengancam ekonomi Israel secara totalitas, terbuktilah kemampuan BDS untuk menarget rantai pasokan global dan ‘mencederai’ citra merek perusahaan terkenal yang menjadi target boikot.
Secara politis, BDS telah membantu mengubah wacana dan kebijakan dalam beberapa cara yang signifikan. Di Eropa, kampanye BDS berkontribusi pada kebijakan Uni Eropa tahun 2015 yang mengharuskan pelabelan khusus untuk produk yang dihasilkan pendudukan ilegal Israel. Meskipun bukan sebuah larangan penuh, pedoman ini menetapkan preseden penting untuk mengisolasi produk Israel dan pemukimannya dalam perdagangan internasional. Beberapa negara Eropa malah mengambil langkah lebih jauh. Irlandia tengah meninjau RUU Larangan Impor dari Wilayah Pendudukan yang menaruh kekangan terhadap barang-barang dari wilayah pendudukan Israel. Di tingkat kota, banyak kota di Eropa telah mengadopsi berbagai bentuk tindakan boikot, yang sering kali mengikuti kampanye BDS yang gencar.
Di panggung politik Amerika Serikat, BDS menuai pro-kontra. Namun, tidak diragukan lagi mereka telah mengubah arah pembicaraan Konflik Israel–Palestina. Meskipun mayoritas negara bagian telah mengesahkan undang-undang anti-BDS, munculnya Demokrat progresif yang secara terbuka menyuarakan hak-hak Palestina menandai perubahan yang signifikan. Tokoh-tokoh seperti Perwakilan Rashida Tlaib dan Ilhan Omar yang membela visi misi BDS bisa dibilang belum pernah ada sebelumnya.
Di tingkat internasional, BDS telah berkontribusi terhadap meningkatnya isolasi Israel di forum-forum tertentu. Basis data Dewan Hak Asasi Manusia PBB tentang perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah pendudukan Israel, yang diluncurkan sejak tahun 2020, mencerminkan advokasi yang sejalan dengan seruan BDS selama bertahun-tahun. Meskipun basis data tersebut tidak memiliki mekanisme penegakan hukum, langkah ini menimbulkan risiko bagi reputasi perusahaan-perusahaan yang terdaftar. Hal ini juga termasuk ke dalam "internasionalisasi" konflik yang dipromosikan oleh BDS, yakni lewat membuat PBB terlibat dalam kegiatan advokasi menghadapi pelanggaran HAM Israel di Palestina.
Meskipun ada dampak-dampak tadi, BDS menghadapi tantangan-tantangan berat yang membatasi kemanjuran politiknya dan menimbulkan pertanyaan tentang keberlangsungan jangka panjangnya. Tantangan-tantangan ini berasal dari kendala-kendala struktural, dilema-dilema strategis, dan oposisi yang kuat yang telah mencegah gerakan tersebut mencapai tujuan-tujuan utamanya.
Tantangan struktural yang paling besar adalah dukungan AS yang berkelanjutan dan jor-joran bagi Israel, membuat posisi Israel di peta politik internasional begitu kuat. Meski BDS telah mendorong kebijakan-kebijakan yang menghadang Israel di Eropa dan belahan dunia lain, BDS memiliki PR besar untuk menggoyahkan konsensus Washington. AS tidak hanya memberi Israel bantuan militer tahunan sebesar $3,8 miliar, tetapi juga secara aktif membela ''stance'' mereka di kancah internasional, termasuk melalui undang-undang anti-BDS dan tekanan diplomatik ke negara yang tidak mendukung Israel. Dukungan AS ini memberi Israel perlindungan terhadap tekanan-tekanan ekonomi, sosial, dan politik BDS.
Penindasan hukum menimbulkan tantangan besar lainnya. Israel telah memimpin kampanye global untuk mengkriminalisasi aktivisme BDS, dengan keberhasilan yang tidak bisa dianggap remeh. Pada tahun 2017, Israel mengesahkan undang-undang yang melarang masuknya warga negara asing yang mendukung BDS. Yang lebih penting lagi, sebagian besar negara bagian AS telah mengesahkan undang-undang yang secara terang-terangan menargetkan BDS, terutama dengan mewajibkan kontraktor negara untuk berjanji tidak akan memboikot Israel. Di sisi lain beberapa negara Eropa telah menuntut aktivis BDS berdasarkan undang-undang ujaran kebencian, menyamakan kritik terhadap Israel dengan antisemitisme.
Pengalaman BDS menggarisbawahi bahwa meskipun perubahan normatif diperlukan untuk transformasi politik, ia tidak akan cukup apabila tanpa disertai pergeseran dalam kekuasaan dan ''power'' material. Mungkin ''last boss'' bagi BDS adalah apakah ia dapat mendorong katalisasi pergeseran tersebut di masa mendatang. Ke depannya, impak pergerakan BDS mungkin tidak akan bergantung pada perubahan kebijakan langsung oleh otoritas pemerintahan. Alih-alih fokus akan diarahkan kepada membina generasi aktivis baru yang berkomitmen pada hak-hak Palestina serta menetapkan tonggak untuk konsumerisme etis dan tanggung jawab kelembagaan dalam konflik internasional. Terlepas dari bagaimanapun hasil akhir Konflik Israel-Palestina (jika sungguh ada), BDS telah menunjukkan bagaimana jaringan masyarakat sipil yang gigih dapat menantang ketidakseimbangan kekuasaan. Sekilas tampaknya tidak dapat ditaklukkan, tetapi ternyata mungkin untuk diatasi melalui tekanan inovatif dan berkelanjutan di berbagai ranah masyarakat global.
== Daftar Pustaka ==
Barghouti, O. (2011). ''BDS: Boycott, Divestment, Sanctions : the Global Struggle for Palestinian Rights''. Haymarket Books.
Dugard, J., & Reynolds, J. (2013). Apartheid, International Law, and the Occupied Palestinian Territory. ''European Journal of International Law'', ''24''(3), 867–913. https://doi.org/10.1093/ejil/cht045
Mingst, K. A., McKibben, H. E., & Arreguín-Toft, I. M. (2019). ''Essentials of international relations'' (Eighth Edition). W.W. Norton & Company.
t08r8kcperw20uqq5qp32g0lbp109f2
Keberadaan PBB dalam Perspektif Realisme
0
27200
114906
2026-04-18T06:06:58Z
Finasals
42967
←Membuat halaman berisi 'Bayangkan di dunia internasional yang bersifat anarki ini, dimana negara-negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional nya masing-masing serta selalu mengupayakan kekuatan dan kekuasan negara nya sendiri. Kondisi ini sering menimbulkan konflik dan persaingan antarnegara untuk terus berjuang. Dunia pun merespon terhadap dinamika tersebut, dibentuklah organisasi internasional yang menjadi representasi kedamaian dan kerjasama dunia, lahirlah Perserikatan Bangsa-...'
114906
wikitext
text/x-wiki
Bayangkan di dunia internasional yang bersifat anarki ini, dimana negara-negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional nya masing-masing serta selalu mengupayakan kekuatan dan kekuasan negara nya sendiri. Kondisi ini sering menimbulkan konflik dan persaingan antarnegara untuk terus berjuang. Dunia pun merespon terhadap dinamika tersebut, dibentuklah organisasi internasional yang menjadi representasi kedamaian dan kerjasama dunia, lahirlah Perserikatan Bangsa-Bangsa pasca Perang Dunia II dengan tujuan keamanan internasional dan perdamaian. Akan tetapi, dalam perspektif Realisme keberadaan organisasi internasional seperti PBB sering dipertanyakan efektivitas dan kemandiriannya dalam menciptakan perdamaian abadi.
Kaum Realis memandang oraganisasi internasional sebagai instrument atau alat kepentingan negara-negara besar daripada otoritas independen yang bisa mengatur perilaku negara. Semua ini berasal dari akar kegagalan sejarah yang menumbuhkan skeptisitas. Pengalaman sejarah menunjukan bahwa Liga Bangsa-Bangsa terbukti mandul karena gagal mencegah agresi dan remiliterisasi jerman sebelum Perang Dunia II pecah. Carr mencatat bahwa kaum idealis sering kali menganggap standar moral internasional seperti tidak adanya kebohongan, kejahatan atau kelicikan berada diatas kepentingan negara, padahal kenyataanya negara tidak akan mengorbankan kepentingan nasionalnya demi ‘kepentingan dunia’ yang abstrak. Mengapa demikian?, karena Realis percaya sifat manusia (''human nature'') yang cenderung mencari kepentingan diri sendiri, kompetitif dan memiliki keinginan untuk mendominasi. Negara merupakan gambaran dari Kumpulan manusia, perilakunya pun mencerminkan dorongan biologis untuk mencari kekuasan demi keamanan mereka sendiri. Sedangkan ‘kepentingan dunia’ atau ‘moralitas internasional’ sebenarnya hanyalah bentukan dari negara-negara dominan. Negara domianan tersebut (seperti pemenang perang) membentuk organisasi<ref></ref> internasional untuk menjaga posisi kekuasan mereka. Organisasi ini digunakan untuk memberikan legitimasi moral pada kebijakan negara besar. Moralitas internasional sering kali hanyalah sebagai “produk dari kekuasaan”.
Jadi, PBB digunakan sebagai cara bagi negara kuat untuk mengatakan bahwa kepentingan mereka ialah “kepentingan dunia”. Misalnya, hak veto dalam PBB dianggap sebagai instrument negara besar. Negara (P5) diberikan hak veto oleh PBB untuk memastikan bahwa PBB tidak akan bisa mengambil tindakan merugikan kepentingan nasional mereka. Dalam ''Dialog Melos'', Thucydides menulis bahwa ''“yang kuat melakukan apa yang mereka mampu lakukan, dan yang lemah menerima apa yang harus mereka terima”.'' Hak veto adalah bentuk legalitas dari prinsip ini, dimana negara besar memiliki kekuatan untuk menolak atau membatalkan Keputusan penting Dewan keamanan PBB, sementara negara kecil harus menerima hasilnya karena tidak memiliki kekuatan yang sama. Realisme pun menekankan bahwa kondisi dalam politik internasional ialah anarki, yang berarti tidak ada “pemerintahan dunia” yang memiliki otoritas diatas negara berdaulat. Hobbes menjelaskan tanpa adanya kekuasan umum (''common power'') yang nyata untuk membuat semua orang takut, maka manusia atau negara tetap berada dalam kondisi perang. Meskipun PBB ada ia tidak memiliki kekuatan untuk mengikat. Karena PBB tidak memiliki “pedang” atau kekuasaan yang lebih tinggi untuk memaksa negara pemegang veto, maka organisasi tersebut tetap bersifat anarki di tingkat tertinggi.
b2cak3nlas2il3okaxslhy4j4lbejae
Kerja Sama Prancis–Algeria di Level Subnasional: Analisis Municipal Partnership Kota Mulhouse dengan Kota El Khroub
0
27201
114907
2026-04-18T07:18:02Z
Fishynila
41127
←Membuat halaman berisi '''(Ditulis pada 11 Desember 2025)'' == Abstrak == Artikel ini mendalami ''municipal partnership'' atau kemitraan kota antara Mulhouse, Prancis dengan El Khroub, Algeria. Kerja sama ini dianalisis menggunakan lensa ''stag hunt game theory'' untuk memahami lebih lanjut dinamika politik kerja sama internasional di level subnasional. ''Stag hunt'' dipilih sebagai kerangka analisis untuk memotret praktik kerja sama sekaligus tantangan yang datang menghadapi aktor sub...'
114907
wikitext
text/x-wiki
''(Ditulis pada 11 Desember 2025)''
== Abstrak ==
Artikel ini mendalami ''municipal partnership'' atau kemitraan kota antara Mulhouse, Prancis dengan El Khroub, Algeria. Kerja sama ini dianalisis menggunakan lensa ''stag hunt game theory'' untuk memahami lebih lanjut dinamika politik kerja sama internasional di level subnasional. ''Stag hunt'' dipilih sebagai kerangka analisis untuk memotret praktik kerja sama sekaligus tantangan yang datang menghadapi aktor subnasional yang terlibat dalam kerja sama lintas batas. Studi kasus Mulhouse dengan El Khroub menawarkan contoh relevan untuk kerja sama Prancis dengan Algeria yang sama-sama menerapkan desentralisasi. Bermula dari kota kembar yang bersifat seremonial, lama-lama kerja sama ini berkembang menjadi kemitraan substantif yang mendukung pembangunan level subnasional. Melalui analisis ''stag hunt'', artikel ini menggambarkan bagaimana tantangan utama dalam kerja sama subnasional bukan terletak di keinginan untuk mengundurkan diri dari kerja sama (''defect''), melainkan pada ketidakpastian kota mitra untuk membalas komitmen dengan seimbang dan melestarikan partisipasinya dalam hubungan kerja sama. Berdasarkan analisis terhadap kemitraan Mulhouse–El Khroub, artikel ini menemukan bahwa kerja sama yang sukses bergantung kepada mekanisme pembangunan kepercayaan (''trust-building''), kerangka kerja institusional yang bisa memberikan jaminan, dan strategi yang dirancang untuk mengurangi risiko yang ada.
'''Kata kunci''': Paradiplomasi, kerja sama subnasional, ''municipal partnership'', ''stag hunt'', Hubungan Prancis–Algeria
== Daftar isi ==
I. Pendahuluan
A. Perkembangan Aktivitas Internasional oleh Pemerintah Subnasional
B. Kerja Sama Desentralisasi Prancis dan Algeria
C. Kerja Sama Subnasional Mulhouse dan El Khroub
II. Kerangka Pemikiran
A. Stag Hunt sebagai Game Theory dalam Kerja Sama Internasional
III. Hasil dan Pembahasan
A. Struktur Payoff
B. Mekanisme Kerja Sama
a. Pendekatan Bertahap dan Pembentukan Kepercayaan
b. Pendekatan Partisipatif dan Kepemilikan Lokal
c. Fokus Tematik dan Proyek Konkret
d. Dukungan dan Fasilitasi Pihak Ketiga
e. Hubungan Pribadi dan Jaringan
C. Tantangan dan Ketidakpastian dalam Kerja Sama
a. Kapasitas Asimetris
b. Ketidakpastian Politik
c. Kerangka Hukum dan Institusional yang Lemah
d. Keterbatasan Sumber Daya
IV. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
== I. Pendahuluan ==
=== A. Perkembangan Aktivitas Internasional oleh Pemerintah Subnasional ===
Beberapa dekade ke belakang, studi hubungan internasional telah melihat adanya pergeseran signifikan dalam peran kota, daerah, dan entitas subnasional lainnya melalui meningkatnya partisipasi mereka dalam kerja sama lintas batas secara langsung dan independen dari perantara pemerintahan pusat (Lecours, 2008). Fenomena ini dikenal dengan berbagai nama seperti “diplomasi subnasional” atau “kerja sama desentralisasi”, tetapi paling sering disebut sebagai “paradiplomasi”. Paradiplomasi menantang mekanisme kerja sama internasional yang secara tradisional terpusat di aktor negara, sehingga menghadirkan aktor dan dinamika baru ke dalam arena global. Pemerintah subnasional berpartisipasi dengan berbagai macam motivasi, seperti pembangunan ekonomi, melebarkan pengaruh politik, pertukaran budaya, dan mengatasi permasalahan lintas batas seperti isu lingkungan dan imigrasi.
Signifikansi yang dimiliki paradiplomasi melampaui sekadar menambah aktor baru ke dalam panggung internasional, tetapi juga mempertanyakan asumsi mengenai kedaulatan, monopoli pemerintah akan perihal hubungan internasional, dan sifat kerja sama di dunia yang semakin hari semakin terinterkoneksi (Kuznetsov, 2014). Dalam bukunya, Kuznetsov berargumen bahwa paradiplomasi mewakili “elemen konstitutif dari sistem berlapis dalam pemerintahan global” alih-alih hanya suatu anomali atau pengecualian dalam praktik diplomasi yang berpusat di negara. Memahami bagaimana aktor subnasional menjalankan kerja sama internasional pun memerlukan kerangka analisis yang bisa memperhitungkan motivasi, kapasitas, dan hambatan mereka secara spesifik.
=== B. Kerja Sama Desentralisasi Prancis dan Algeria ===
Hubungan Prancis dan Algeria memiliki keunikan dan kompleksitasnya sendiri, dengan sejarah panjang kolonial yang diakhiri dengan kemerdekaan Algeria pada tahun 1962 setelah peperangan panjang selama delapan tahun. (Evans & Phillips, 2007) Hubungan pasca-kolonial keduanya mengandung kooperasi sekaligus ketegangan, dengan masa keakraban diplomatik yang beriringan dengan krisis atas isu politik, ekonomi, dan migrasi. Dalam konteks bilateral yang luas ini, kerja sama terdesentralisasi antara kota di Prancis dan Algeria timbul sebagai dimensi yang penting di dalam relasi antara kedua negara. Kebijakan paradiplomasi Prancis berakar secara historis, di mana muncul perkembangan “kota kembar” di seantero Eropa untuk mempererat hubungan antarnegara pasca-Perang Dunia II (Akerkar, 2022). Landasan hukum Prancis secara eksplisit mengakui hak otoritas lokal, atau disebut sebagai “komunitas teritorial” di Prancis, untuk turut ikut campur dalam urusan hubungan internasional, selama tetap sejalan dengan aturan dan koordinasi dengan kebijakan luar negeri nasional (Ksenicz, 2023). Sementara itu, landasan hukum Algeria tidak banyak mengalami perkembangan, meskipun terdapat perubahan akhir-akhir ini melalui pengakuan legal yang lebih jelas untuk hubungan otoritas lokal dengan entitas eksternal (Akerkar & Benabbas-Kaghouche, 2021).
Kemitraan kota Prancis dan Algeria umumnya memiliki fokus pengembangan pemerintahan, ''capacity-building'' teknis, dan pertukaran budaya. Proyek kerja sama ekonomi berskala besar jarang menjadi perbincangan. Kemitraan ini kerap kali lahir dari koneksi historis migrasi, berkat banyaknya kota di Prancis yang menjadi rumah bagi populasi keturunan Algeria yang jumlahnya signifikan (Akerkar, 2020). Namun, kerja sama subnasional keduanya mengalami tantangan besar termasuk sumber pemasukan finansial yang terbatas, kapasitas institusional yang lemah (terutama di pihak Algeria), gesekan politik bilateral yang sensitif, dan kerangka hukum yang kurang komprehensif.
=== C. Kerja Sama Subnasional Mulhouse dan El Khroub ===
Kerja sama antara Mulhouse, sebuah kota yang terletak di timur Prancis, dengan El Khroub, sebuah kota yang terletak di ''wilaya'' (provinsi) Constantine di timur laut Algeria, menggambarkan studi kasus kerja sama subnasional antara Prancis dengan Algeria (Akerkar, 2020). Kerja sama ini berawal dari inisiatif kemitraan seremonial pada awal tahun 2000-an, tetapi kini memiliki kerangka kooperasi yang terstruktur dengan fokus di pembangunan daerah berkelanjutan, perencanaan kota, pemerintahan dan administrasi lokal, dan ''capacity-building''.
Secara historis Mulhouse merupakan kota industrial yang mengalami restrukturisasi ekonomi secara besar-besaran sehingga telah memiliki keahlian yang mumpuni dalam peremajaan kota, pembangunan berkelanjutan, dan ''participatory governance''. Di sisi lain, El Khroub mengalami urbanisasi cepat dan menghadapi tantangan yang umum dijumpai kota-kota di Algeria: pengelolaan pertumbuhan urban, pembenahan layanan publik, penguatan kapasitas pemerintahan lokal, dan pembangunan ekonomi. Latar belakang kedua kota tersebut pun menjadi landasan fokus kerja sama subnasional mereka. Sejumlah bidang tematik yang menjadi fokus antara lain adalah perencanaan kota dan pengelolaan lahan, pengelolaan sampah dan penanganan lingkungan, peningkatan kapasitas administratif kota, serta mendorong pendekatan partisipati aktif warga dan aktor non-pemerintahan lain dalam pemerintahan lokal.
Kerja sama ini patut dianggap langkah yang signifikan karena kemitraan yang mulanya bersifat seremonial semata dapat berkembang menjadi ''approche territoriale durable'' atau suatu “pendekatan teritorial berkelanjutan”, di mana pembangunan kapasitas institusional dan metode partisipatif digunakan alih-alih hanya gimik proyek yang bersifat sebatas wacana. Evolusi ini mencerminkan tren dalam kerja sama subnasional baik secara teoritis maupun praktis, di mana model pemberi–penerima mulai digantikan oleh kemitraan yang berbasis pembelajaran mutual dan perkembangan daerah.
== II. Kerangka Pemikiran ==
=== A. Stag Hunt sebagai ''Game Theory'' dalam Kerja Sama Internasional ===
''Game theory'' telah menjadi instrumen analisis yang sangat berguna dalam memahami problematika kerja sama dalam hubungan internasional. Esensi fundamental dalam pendekatan ''game theory'' terletak di interaksi strategis, yakni situasi di mana pilihan paling optimal yang dapat diambil oleh satu aktor bergantung kepada ekspektasi yang ada terhadap perilaku aktor lawannya. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan kerja sama membutuhkan solusi tersendiri yang sesuai dengan struktur tersirat yang perlu dianalisis lebih dalam (Schelling, 1960).
Salah satu bentuk ''game theory'', yang juga akan digunakan sebagai kerangka analisis artikel ini, adalah ''stag hunt'' atau “perburuan rusa”. ''Stag hunt'' pertama kali dicetuskan dalam buku ''Discourse on Inequality'' milik Jean-Jacques Rousseau (1755), di mana dijelaskan bahwa pemburu-pemburu memiliki dua pilihan: bekerja sama satu sama lain untuk menangkap seekor rusa, atau bekerja sendiri-sendiri untuk menangkap ''hare'' (kelinci). Menangkap seekor rusa tidak bisa dilakukan sendiri, sementara menangkap kelinci bisa dilakukan secara individu. Menangkap seekor rusa bersama akan memberikan ''payoff'' atau keuntungan besar bagi semua pihak, sementara menangkap kelinci sendirian akan memberikan keuntungan yang kecil tetapi pasti. Konsep kunci di sini adalah bagaimana menangkap seekor rusa memerlukan upaya kooperatif, di mana jika salah satu pemburu membelot untuk mengejar kelinci, maka sang rusa akan kabur dan para pemburu yang mulanya bekerja sama justru tidak mendapat apapun. Teori ini mencerminkan suatu situasi di mana komunikasi antar aktor atau pemburu bersifat terbatas, sehingga penentuan keputusan bergantung kepada kesadaran diri dan perhitungan masing-masing akan untung dan rugi dari pilihan mereka.
Terdapat dua buah Nash equilibria yang muncul untuk menggambarkan dilema dari kerja sama internasional. Yang pertama adalah skenario di mana seluruh aktor atau pemburu memilih untuk bekerja sama dan memburu rusa, sehingga memeroleh ''payoff'' kolektif tertinggi tetapi memerlukan kepercayaan dan keterjaminan. Skenario ini disebut sebagai ''payoff dominant'' equilibrium karena menghasilkan keuntungan terbesar. Sementara itu di skenario kedua, kedua aktor atau pemburu melakukan ''defect'' (memilih keputusan sendiri tanpa mempertimbangkan aktor lawan) dan masing-masing memburu kelinci, sehingga menghasilkan keuntungan yang lebih kecil tetapi pasti. Skenario ini disebut sebagai ''risk dominant'' equilibrium, di mana risiko menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan. Dalam konteks hubungan internasional, hal ini mengilustrasikan bagaimana negara dan aktor lain menghadapi problematika kerja sama. Proyek kerja sama kolektif seperti perjanjian internasional, kooperasi perdagangan, hingga aliansi keamanan hanya bisa berhasil apabila tiap aktor percaya bahwa aktor lainnya akan komitmen. Jika tidak, mereka tentu akan lebih memilih untuk mundur dan menjalani strategi unilateral yang lebih aman dari risiko (Skyrms, 2004).
== III. Hasil dan Pembahasan ==
=== A. Struktur ''Payoff'' ===
Sebagai langkah pertama dalam menerapkan analisis ''stag hunt'' ke dalam kerja sama subnasional Mulhouse dan El Khroub, kita harus mengidentifikasi ''payoff'' yang relevan dan pilihan-pilihan strategis yang tersaji bagi masing-masing pemerintah subnasional. Pilihan fundamental bagi tiap aktor yang terlibat adalah antara berinvestasi secara signifikan dalam kerja samanya melalui mencurahkan waktu, sumber daya finansial, dan atensi dari agenda politik, atau hanya melakukan partisipasi seadanya sebagai bentuk formalitas. Tertera di bawah adalah gambaran penerapan ''game theory'' apabila dilihat dari langkah yang mungkin diambil oleh aktor terkait (Akerkar, 2020).
Bagi Mulhouse yang merupakan pihak yang relatif lebih kuat:
* Kerja sama timbal balik: Kemitraan yang sukses memberikan manfaat reputasi, memenuhi komitmen solidaritas internasional, memberikan kesempatan belajar dari pengalaman komparatif, dan memperkuat hubungan dengan komunitas diaspora Algeria di Mulhouse.
* Kerja sama unilateral: Mulhouse menginvestasikan sumber daya dan keahlian, namun El Khroub tidak membalas dengan keterlibatan atau implementasi yang berkelanjutan. Mulhouse menanggung biaya tanpa mencapai tujuan kemitraan, dan menghadapi kritik atas penggunaan sumber daya publik yang tidak efektif.
* Pengunduran (''defect'') sepihak oleh Mulhouse: Mulhouse mengurangi keterlibatan sementara El Khroub terus menginvestasikan sumber daya. Mulhouse menghemat sumber daya sambil mempertahankan status kemitraan nominal, meskipun skenario ini kurang mungkin mengingat peran inisiatif Mulhouse.
* Pengunduran diri mutual: Keduanya hanya mempertahankan hubungan seremonial tanpa kerja sama substansial. Tidak ada yang menanggung biaya signifikan, tetapi juga tidak mencapai manfaat kemitraan. Kemitraan menjadi “hidup enggan mati pun tak mau”. Secara formal ada, tetapi secara substansial tidak aktif.
Bagi El Khroub yang merupakan pihak yang relatif lebih lemah:
* Kerja sama timbal balik: Kemitraan ini memberikan pembangunan kapasitas, keahlian teknis, peningkatan layanan pemerintah kota, sistem administratif yang lebih baik, dan pengakuan internasional.
* Kerja sama unilateral: El Khroub mengalokasikan sumber daya yang terbatas dan modal politik untuk kegiatan kemitraan, namun Mulhouse tidak mempertahankan keterlibatan. El Khroub menanggung biaya kesempatan tanpa menerima manfaat yang diharapkan.
* Pengunduran diri sepihak oleh El Khroub: El Khroub mengurangi keterlibatan sementara Mulhouse terus berinvestasi. Namun, hal ini memberikan manfaat terbatas karena El Khroub membutuhkan keahlian dan sumber daya Mulhouse.
* Pengunduran diri bersama: Kemitraan seremonial tanpa keterlibatan substansial. El Khroub menghindari biaya kesempatan tetapi melewatkan manfaat pembangunan kapasitas.
=== B. Mekanisme Kerja Sama ===
==== a. Pendekatan Bertahap dan Pembentukan Kepercayaan ====
Kemitraan ini berkembang secara bertahap dari kontak awal hingga kerja sama yang lebih terstruktur, memungkinkan kedua pemerintah kota untuk membangun kepercayaan melalui langkah-langkah kolaboratif kecil sebelum berkomitmen pada inisiatif yang lebih besar. Pendekatan gradual ini sejalan dengan logika ''stag hunt'': memulai dengan tindakan kolaboratif berisiko rendah yang menunjukkan timbal balik dan membangun kepercayaan, lalu memperluas kerja sama seiring meningkatnya jaminan (Oye, 1986). Kemitraan ini awalnya berfokus pada pertukaran dan pembelajaran bersama sebelum beralih ke proyek-proyek pembangunan kapasitas yang lebih ambisius. Urutan ini memungkinkan kedua pemerintah kota untuk memperbarui keyakinan mereka tentang komitmen dan kapasitas pihak lain, mengurangi ketidakpastian strategis seiring waktu.
==== b. Pendekatan Partisipatif dan Kepemilikan Lokal ====
Kemitraan ini secara eksplisit menekankan metode partisipatif dan kepemilikan lokal daripada model pemberi-penerima (Akerkar, 2020). Pendekatan ini mengatasi masalah jaminan dengan memastikan bahwa pemangku kepentingan El Khroub secara aktif terlibat dalam menentukan prioritas dan melaksanakan kegiatan, sehingga meningkatkan kemungkinan komitmen lokal yang berkelanjutan. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lokal (pemerintahan kota, organisasi masyarakat sipil, warga) dalam kegiatan kemitraan, kerangka kerja kerja sama mengurangi ketergantungan pada pemimpin individu dan menciptakan basis dukungan yang lebih luas untuk mempertahankan keterlibatan. Institusionalisasi partisipasi ini memberikan jaminan lebih besar bagi Mulhouse bahwa kerja sama akan terus berlanjut meskipun individu tertentu meninggalkan jabatannya.
==== c. Fokus Tematik dan Proyek Konkret ====
Kemitraan berfokus pada bidang tematik spesifik—perencanaan kota, pengelolaan limbah, administrasi kota, tata kelola partisipatif—dengan proyek dan hasil konkret (Akerkar, 2020). Fokus ini memberikan kejelasan tentang tujuan kerja sama dan memudahkan pemantauan kemajuan serta penilaian timbal balik. Proyek konkret berfungsi sebagai alat koordinasi dalam situasi perburuan bertahap: mereka menciptakan titik fokus untuk kerja sama dan memberikan bukti nyata komitmen bersama. Ketika kedua pemerintah daerah dapat menunjuk pada pencapaian spesifik (program pelatihan yang selesai, rencana kota yang diterapkan, pengumpulan sampah yang ditingkatkan), hal ini memperkuat keyakinan terhadap kelayakan kemitraan dan keandalan pihak lain.
==== d. Dukungan dan Fasilitasi Pihak Ketiga ====
Kemitraan Mulhouse-El Khroub telah mendapat manfaat dari dukungan pihak eksternal, termasuk Kementerian Luar Negeri Prancis (melalui program kerja sama desentralisasinya), pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat sipil (Akerkar, 2020). Dukungan pihak ketiga ini memberikan beberapa manfaat koordinasi, seperti sumber daya keuangan yang mengurangi biaya kesempatan kerja sama bagi kedua pemerintah kota, bantuan teknis yang meningkatkan kapasitas dan meningkatkan kemungkinan implementasi yang sukses, koordinasi dan fasilitasi yang membantu menyelaraskan ekspektasi dan menyelesaikan kesalahpahaman, serta legitimasi yang memberikan perlindungan politik untuk kerja sama sehingga menandakan kepercayaan eksternal terhadap kemitraan. Dukungan eksternal secara efektif mensubsidi kerja sama, membuat ''payoff dominant'' equilibrium lebih menarik dibandingkan dengan ''risk dominant'' equilibrium dan mengurangi risiko yang terkait dengan kerja sama unilateral.
==== e. Hubungan Pribadi dan Jaringan ====
Hubungan pribadi antara pejabat pemerintah kota, staf teknis, dan aktor masyarakat sipil di Mulhouse dan El Khroub telah memainkan peran penting dalam mempertahankan kerja sama. Hubungan ini menyediakan mekanisme jaminan informal yang melengkapi perjanjian formal. Hubungan pribadi menciptakan konsekuensi reputasi yang meningkatkan biaya non-kooperasi dan menyediakan saluran komunikasi yang dapat mengatasi kesalahpahaman sebelum merusak kerjasama. Dalam konteks Prancis-Algeria, koneksi diaspora, khususnya penduduk Mulhouse asal Algeria yang memiliki hubungan keluarga atau sejarah dengan wilayah Constantine, kadang-kadang memfasilitasi jaringan pribadi ini (Ville de Mulhouse, 2018).
=== C. Tantangan dan Ketidakpastian dalam Kerja Sama ===
==== a. Kapasitas Asimetris ====
Kemitraan ini melibatkan ketidakseimbangan kapasitas yang signifikan. Mulhouse memiliki sumber daya keuangan, keahlian teknis, dan kapasitas administratif yang lebih besar daripada El Khroub (Akerkar, 2020). Ketidakseimbangan ini menimbulkan masalah kepercayaan di kedua belah pihak. Mulhouse mungkin meragukan apakah El Khroub memiliki kapasitas yang cukup untuk melaksanakan proyek bersama dan mempertahankan keterlibatan dalam jangka panjang. El Khroub mungkin khawatir bahwa Mulhouse akan kehilangan minat jika kemajuan lambat atau jika kemitraan memerlukan dukungan yang lebih intensif daripada yang diperkirakan semula. Kemitraan ini secara eksplisit mengadopsi pendekatan “berkelanjutan berbasis wilayah” untuk mengatasi ketidakseimbangan ini, dengan menekankan pembangunan kapasitas institusional jangka panjang daripada penyelesaian proyek jangka pendek. Pendekatan ini mengakui bahwa koordinasi memerlukan penyesuaian ekspektasi untuk memperhitungkan perbedaan kapasitas dan membangun fondasi institusional El Khroub secara bertahap.
==== b. Ketidakpastian Politik ====
Kedua kota tersebut menghadapi ketidakpastian politik domestik yang memengaruhi kemampuan mereka untuk berkomitmen secara kredibel terhadap kerja sama yang berkelanjutan (Akerkar, 2020). Di Mulhouse, pemilihan umum kota dan perubahan kepemimpinan politik dapat mengubah prioritas dan alokasi sumber daya. Kerja sama internasional dapat rentan terhadap pemotongan anggaran atau kritik politik yang menyatakan bahwa kerja sama tersebut mengalihkan sumber daya dari kebutuhan lokal. Di El Khroub, ketidakpastian politik diperparah oleh kerangka kerja yang kompleks dan terus berkembang dalam tata kelola kota dan tindakan internasional di Algeria. Perubahan dalam kebijakan nasional, administrasi ''wilaya'' (provinsi), atau kepemimpinan lokal dapat mengganggu kelangsungan kemitraan. Hubungan bilateral Prancis-Algeria yang lebih luas juga memperkenalkan risiko politik—ketegangan seputar politik ingatan, migrasi, atau isu lain dapat menciptakan tekanan politik untuk mengurangi kerja sama. Ketidakpastian politik ini membuat setiap pemerintah daerah kesulitan menilai apakah pihak lain akan mempertahankan komitmen selama jangka waktu multi-tahun yang diperlukan untuk kerja sama substansial, memperkuat masalah jaminan yang khas dalam situasi ''stag hunt''.
==== c. Kerangka Hukum dan Institusional yang Lemah ====
Kerangka hukum yang mengatur kerja sama desentralisasi Prancis-Algeria secara historis tidak lengkap dan ambigu, terutama di pihak Algeria (Akerkar & Benabbas-Kaghouche, 2021). Meskipun hukum Prancis secara eksplisit mengakui hak entitas teritorial untuk melakukan kerja sama internasional (dengan syarat koordinasi dengan kebijakan luar negeri nasional), hukum Algeria memberikan otorisasi dan panduan prosedural yang kurang jelas untuk tindakan internasional tingkat kota.
Ketidakjelasan hukum ini menciptakan ketidakpastian strategis. Mulhouse mungkin mempertanyakan apakah El Khroub memiliki wewenang hukum yang pasti untuk membuat komitmen mengikat dan mengalokasikan sumber daya untuk kegiatan kemitraan. El Khroub mungkin tidak yakin tentang status hukum perjanjian kerja sama dan apakah perjanjian tersebut akan diakui dan didukung oleh tingkat administrasi Algeria yang lebih tinggi. Reformasi terbaru di Algeria mulai mengklarifikasi kerangka hukum untuk kerja sama desentralisasi, tetapi celah tetap ada. Institusionalisasi yang kurang komprehensif ini meningkatkan risiko yang dirasakan dalam kerja sama dan mempersulit koordinasi.
==== d. Keterbatasan Sumber Daya ====
Kedua kota menghadapi keterbatasan sumber daya yang signifikan yang memengaruhi perhitungan kerja sama mereka. Bagi Mulhouse, kerja sama internasional bersaing dengan prioritas domestik dalam anggaran kota yang terbatas. Bagi El Khroub, kerja sama dengan Mulhouse bersaing dengan kebutuhan lokal yang mendesak dan prioritas pembangunan lainnya (Akerkar, 2020). Keterbatasan sumber daya ini menciptakan dinamika ''stag hunt'' klasik: kerja sama dapat menghasilkan manfaat tinggi jika kedua pihak berinvestasi secara memadai, tetapi biaya oportunitas dari investasi yang tidak dibalas sangat signifikan. Setiap pemerintah kota harus memutuskan apakah akan mengalokasikan sumber daya yang langka untuk kegiatan kerja sama tanpa kepastian bahwa pihak lain akan melakukan hal yang sama.
== IV. Kesimpulan ==
Analisis ini menunjukkan bahwa teori permainan ''stag hunt'' memberikan pandangan analitis yang berharga untuk memahami kerja sama internasional di tingkat subnasional. Kemitraan Mulhouse-El Khroub menunjukkan ciri khas situasi ''stag hunt'': kerja sama mutual lebih optimal dan disukai oleh kedua belah pihak daripada tindakan ''defect'' yang mutual. Namun, ketidakpastian strategis tentang kapasitas dan komitmen pihak lain menciptakan tantangan koordinasi yang dapat menjebak aktor dalam keseimbangan kerja sama rendah.
Kemitraan Mulhouse-El Khroub mewakili baik wacana maupun tantangan kerja sama internasional pada tingkat subnasional. Pada performa terbaiknya, kerja sama semacam ini memungkinkan kota-kota untuk berbagi keahlian, membangun kapasitas, dan menjalin hubungan yang melampaui batas negara dan ketegangan historis. Kemitraan ini telah mencapai hasil yang berarti dalam perencanaan kota, administrasi kota, dan tata kelola partisipatif, menunjukkan bahwa kerja sama Prancis-Algeria dimungkinkan meskipun adanya kompleksitas bilateral. Namun, kemitraan ini juga menunjukkan betapa sulitnya koordinasi yang berkelanjutan ketika para pemangku kepentingan dihadapkan pada ketidakpastian strategis, keterbatasan kapasitas, dan sensitivitas politik. Karakter “sederhana dan seadanya” dari kerja sama desentralisasi Prancis-Algeria tidak mencerminkan kurangnya niat baik atau kepentingan bersama, melainkan tantangan fundamental dalam mengoordinasikan ekspektasi dan mempertahankan komitmen mutual sepanjang waktu.
== Daftar Pustaka ==
Akerkar, A. (2020). Approche territoriale durable et coopération décentralisée franco-algérienne: Les effets du partenariat avec Mulhouse sur El Khroub. Politique africaine, 39, 77-100.
Akerkar, A., & Benabbas-Kaghouche, S. (2021). Recognition of the legal forms of international action of local authorities in France and Algeria. Vestnik RUDN. International Relations, 21(3), 565-577.
Akerkar, A. (2022). La coopération décentralisée franco-algérienne: une coopération modeste et inachevée. ''Politique africaine'', 165(1), 153-176.
Evans, M., & Phillips, J. (2007). ''Algeria: Anger of the dispossessed''. Yale University Press.
Ksenicz, I. (2023). Frameworks of Paradiplomacy. Cases of Selected Unitary States: France, the Netherlands and Czechia. ''Eastern European Journal of Transnational Relations'', ''7'', 59–75. <nowiki>https://doi.org/10.15290/eejtr.2023.07.02.07</nowiki>
Kuznetsov, A. (2014). ''Theory and practice of paradiplomacy: Subnational governments in international affairs''. Routledge.
Lecours, A. (2008). ''Political Issues of Paradiplomacy: Lessons from the Developed World''. Clingendael Institute. <nowiki>https://www.jstor.org/stable/resrep05373</nowiki>
Oye, K. A. (Ed.). (1986). ''Cooperation under anarchy''. Princeton University Press.
Rousseau, J.-J. (1755/1984). ''A discourse on inequality''. Penguin Classics.
Schelling, T. C. (1960). ''The strategy of conflict''. Harvard University Press.
Skyrms, B. (2004). ''The stag hunt and the evolution of social structure''. Cambridge University Press.
Ville de Mulhouse. (2018). ''Rapport d'activité: Coopération internationale et solidarité''. Mulhouse: Mairie de Mulhouse.
etdctta792rm9ejewxjvc4s2zchf5a0