Wikibuku idwikibooks https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.46.0-wmf.24 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikibuku Pembicaraan Wikibuku Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Resep Pembicaraan Resep Wisata Pembicaraan Wisata TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Harvest Moon:Back To Nature/Bercocok tanam 0 17463 114926 99512 2026-04-19T05:27:05Z ~2026-23891-06 42969 Penambahan konten yaitu menambahkan keuntungan bersih sekali panen dan per musim. Hal ini akan memudahkan player untuk menentukan jenis tanaman apa yang lebih menguntungkan pada saat musim tersebut. 114926 wikitext text/x-wiki '''''SPRING''''' '''TURNIP''' (Panen sekali) Harga 1 bibit: 120G Harga jual panen (1 buah): 60G Waktu tumbuh: 5 hari Waktu tumbuh kembali: - Maksimal panen selama 1 musim: 6 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 480G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 360G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 2160G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 540G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 420G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 2520G '''POTATO''' (Panen sekali) Harga 1 bibit: 150G Harga jual panen (1 buah): 80G Waktu tumbuh: 8 hari Waktu tumbuh kembali: - Maksimal panen selama 1 musim: 3 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 640G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 490G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 1470G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 720G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 570G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 1710G '''CUCUMBER''' (Panen lebih dari sekali) Harga 1 bibit: 200G Harga jual panen (1 buah): 60G Waktu tumbuh: 10 hari Waktu tumbuh kembali: 6 hari Maksimal panen selama 1 musim: 4 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 480G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 1720G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 540G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 1960G '''CABBAGE''' (Panen sekali) Harga 1 bibit: 500G Harga jual panen (1 buah): 250G Waktu tumbuh: 15 hari Waktu tumbuh kembali: - Maksimal panen selama 1 musim: 2 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 2000G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 1500G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 3000G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 2250G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 1750G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 3500G '''STRAWBERRY''' (Panen lebih dari sekali) Harga 1 bibit: 150G Harga jual panen (1 buah): 30G Waktu tumbuh: 9 hari Waktu tumbuh kembali: 6 hari Maksimal panen selama 1 musim: 4 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 240G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 810G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 270G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 930G '''''SUMMER''''' '''TOMATO''' (Panen lebih dari sekali) Harga 1 bibit: 200G Harga jual panen (1 buah): 60G Waktu tumbuh: 10 hari Waktu tumbuh kembali: 4 hari Maksimal panen selama 1 musim: 6 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 480G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): (2680G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 540G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 3040G '''CORN''' (Panen lebih dari sekali) Harga 1 bibit: 300G Harga jual panen (1 buah): 100G Waktu tumbuh: 15 hari Waktu tumbuh kembali: 4 hari Maksimal panen selama 1 musim: 4 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 800G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 2900G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 900G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 3300G '''ONION''' (Panen sekali) Harga 1 bibit: 150G Harga jual panen (1 buah): 80G Waktu tumbuh: 9 hari Waktu tumbuh kembali: - Maksimal panen selama 1 musim: 3 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 640G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 490G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 1470G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 720G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 570G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 1710G '''PINEAPPLE''' (Panen lebih dari sekali) Harga 1 bibit: 1000G Harga jual panen (1 buah): 500G Waktu tumbuh: 21 hari Waktu tumbuh kembali: 6 hari Maksimal panen selama 1 musim: 2 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 4000G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 7000G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 4500G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 8000G '''PUMPKIN''' (Panen sekali) Harga 1 bibit: 500G Harga jual panen (1 buah): 250G Waktu tumbuh: 15 hari Waktu tumbuh kembali: - Maksimal panen selama 1 musim: 2 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 2000G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 1500G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 3000G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 2250G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 1750G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 3500G '''''FALL''''' '''EGGPLANT''' (Panen lebih dari sekali) Harga 1 bibit: 120G Harga jual panen (1 buah): 80G Waktu tumbuh: 9 hari Waktu tumbuh kembali: 4 hari Maksimal panen selama 1 musim: 6 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 640G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 3720G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 720G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 4200G '''CARROT''' (Panen sekali) Harga 1 bibit: 300G Harga jual panen (1 buah): 120G Waktu tumbuh: 7 hari Waktu tumbuh kembali: - Maksimal panen selama 1 musim: 3 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 960G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 660G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 1980G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 1080G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 780G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 2340G '''SWEET POTATO''' (Panen lebih dari sekali) Harga 1 bibit: 300G Harga jual panen (1 buah): 120G Waktu tumbuh: 5 hari Waktu tumbuh kembali: 3 hari Maksimal panen selama 1 musim: 9 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 960G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 8340G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 1080G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 9420G '''GREEN PEPPER''' (Panen lebih dari sekali) Harga 1 bibit: 150G Harga jual panen (1 buah): 40G Waktu tumbuh: 7 hari Waktu tumbuh kembali: 3 hari Maksimal panen selama 1 musim: 8 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 320G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 2410G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 360G sekali panen Keuntungan bersih per musim (keuntungan panen × maksimal panen - harga bibit): 2730G '''SPINACH''' (Panen sekali) Harga 1 bibit: 200G Harga jual panen (1 buah): 80G Waktu tumbuh: 6 hari Waktu tumbuh kembali: - Maksimal panen selama 1 musim: 5 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): 640G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 440G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 2200G Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): 720G sekali panen Keuntungan bersih (keuntungan panen - harga bibit): 520G sekali panen Keuntungan per musim (keuntungan bersih × maksimal panen ): 2600G '''''LAIN-LAIN''''' '''ORANGECUP FRUIT''' (Panen sekali) Harga 1 bibit: 1000G Harga jual panen (1 buah): 60G Waktu tumbuh: 9 hari Waktu tumbuh kembali: - Maksimal panen selama 1 musim: 3 kali Keuntungan panen (pemakaian 8 petak tanah): rugi 520G sekali panen Keuntungan panen (pemakaian 9 petak tanah): rugi 440 G sekali panen '''GRASS''' Harga 1 bibit: 500G Waktu tumbuh: 11 hari Waktu tumbuh kembali: 7 hari Maksimal panen selama 1 musim: 4 kali bunga dari menyemai sampai mekar sekitar 6 hari apyprjqslq69ows7nireji6h7c02twp Kumpulan Dongeng-Dongeng Unik 0 26739 114923 113283 2026-04-19T04:26:26Z Deepturquoise 32400 /* Catatan */ 114923 wikitext text/x-wiki {{c|KITAB DONGÉNG-DONGÉNG NU ARANÉH Dipindahkeun tina basa Malayu kana basa Sunda Ku<br> Radén Haji Muhamad Musa<br> Hup Panghulu Kabupatén<br> Limbangan Ieu buku<br> dicitak di kantor citak kangjeng gubernemén<br> dina tahun 1866}} {{page break|label=}} {{c|KUMPULAN DONGENG-DONGENG UNIK Diterjemahkan dari bahasa Melayu ke bahasa Sunda Oleh<br> Raden Haji Muhamad Musa<br> Penghulu Besar Kabupaten<br> Limbangan Buku ini<br> dicetak di kantor pemerintah<br> pada tahun 1866}} {{page break|label=}} ;Daftar isi ;Bagian 1 : ''[[/Santri Gagal/]]'' ;Bagian 2 : ''[[/Kisah Hakim Pintar/]]'' ;Bagian 3 : ''[[/Padagang yang Jujur/]]'' ;Bagian 4 : ''[[/Kakek-Kakek Sengsara/]]'' ;Bagian 5 : ''[[/Tiada yang Paling Berkuasa Kecuali Allah/]]'' ;Bagian 6 : ''[[/Tuhan Akan Membalas Orang yang Suka Menyiksa Hewan/]]'' ;Bagian 7 : ''[[/Cerita Kapal Kebakaran/]]'' ;Bagian 8 : ''[[/Adat Bangsawan di Negara Istanbul, Cara Menerapkan Hukuman/]]'' ;Bagian 9 : ''[[/Anak yang Kejam kepada Ayahnya/]]'' ;Bagian 10 : ''[[/Hibah/]]'' ==Catatan== Diterjemahkan dari [[incubator:Wb/su/Kitab Dongéng-Dongéng nu Aranéh|Wikibuku bahasa Sunda]]. [[kategori:fiksi]] am0ksvz1i8xif7inslkeb782baru0j4 Aturan Mengurus Narapidana di Hindia Belanda 0 26743 114921 113282 2026-04-19T04:26:11Z Deepturquoise 32400 /* Catatan */ 114921 wikitext text/x-wiki {{c|ATURAN MENGURUS NARAPIDANA DI HINDIA BELANDA (''Staatsblad'' 1871 Nomor 78) Diperintahkan untuk dicetak di percetakan<br> pemerintah di Batavia<br> 1882 }} {{page break|label=}} ;Daftar isi ;Bagian 1 : [[/Bab 1/|Ketentuan Dasar]] ;Bagian 2 : [[/Bab 2/|Ketentuan Mengenai Jenis-Jenis Narapidana]] ;Bagian 3 : [[/Bab 3/|Mengenai Pengurusan Penjara]] ;Bagian 4 : [[/Bab 4/|Mengenai Hukuman]] ;Bagian 5 : [[/Bab 5/|Ketentuan Tambahan]] ==Catatan== Diterjemahkan dari [[incubator:Wb/su/Aturan Ngurus Sakitan-Sakitan di Hindia-Néderlan|Wikibuku bahasa Sunda]]. as5t6vzaru3z5vphwcee2xk2p8jtmqo Kategori:WikiPrestasi 14 26746 114919 112682 2026-04-19T04:20:59Z Deepturquoise 32400 114919 wikitext text/x-wiki __HIDDENCAT__ Bagian dari [[meta:Grants:Programs/Wikimedia Community Fund/Rapid Fund/WikiPRESTASI:Preservasi Literatur Sunda Melalui Transliterasi dan Edukasi (ID: 23091398)|proyek transliterasi naskah Cacarakan ke aksara Latin]]. tpl6azr3cz88ieky2ol8j0jb0w2xe0q Mitra Petani (Jilid 3) 0 26780 114925 114148 2026-04-19T04:26:38Z Deepturquoise 32400 /* Catatan */ 114925 wikitext text/x-wiki {{c| MITRA PETANI {{small|''Karangan''}} ''K. F. Holle''<br> {{small|Penasihat honorer}} Diterjemahkan dari bahasa Belanda ke bahasa Sunda ''Oleh'' ''Raden Kartawinata''<br> {{small|Alih bahasa}} Jilid No. 3 Diperintahkan untuk dicetak oleh pemerintah di kantor percetakan Betawi Tahun<br> 1877 }} {{page break|label=}} ;Daftar isi ;Bab 1 :: ''[[/Tentang Kacang Tanah/]]'' ;Bab 2 :: ''[[/Peralatan Pengangkut Barang/|Perkakas Pengangkut Barang]]'' ;Bab 3 :: ''[[/Perangkat Pengusir Burung/]]'' ;Bab 4 :: ''[[/Untung Rugi Belanja ke Pasar/]]'' ;Bab 5 :: ''[[/Tentang Cangkul dan Penggunaannya di Kebun Tanaman Perdu/]]'' ==Catatan== Diterjemahkan dari [[incubator:Wb/su/Mitra nu Tani (Jilid 3)|Wikibuku bahasa Sunda]] . 1z8100k79ommlaystlc5bodd2owo5hg Wawacan Wulang Tani 0 26996 114920 114193 2026-04-19T04:25:59Z Deepturquoise 32400 114920 wikitext text/x-wiki <center> WAWACAN<br><br> WULANG TANI<br><br> Diperintahkan dicetak<br> oleh pemerintah<br><br> Pada tahun<br> 1862 </center> == Daftar isi == ;Pertama : ''[[/Pupuh Asmarandana/]]'' ;Kedua : ''[[/Pupuh Kinanti/]]'' ;Ketiga : ''[[/Pupuh Pangkur/]]'' ;Keempat : ''[[/Pupuh Sinom/]]'' ;Kelima : ''[[/Pupuh Dangdanggula/]]'' ;Keenam : ''[[/Pupuh Magatru/]]'' ;Ketujuh : ''[[/Pupuh Asmarandana (2)/]]'' == Catatan == Diterjemahkan dari [[incubator:Wb/su/Wawacan Wulang Tani|Wikibuku bahasa Sunda]]. egzh82yixlq94x98edb0sqfh95tspr3 Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pematang Reba 0 27112 114914 114887 2026-04-18T14:37:08Z Luthfiana Muthoffifin 1A 42662 aturan hukum tidak tertulis (aturan adat) di Desa Pematang Reba 114914 wikitext text/x-wiki Desa Pematang Reba adalah salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Sebagian besar masyarakat di desa ini bekerja di bidang pertanian atau memiliki kebun seperti kebun kelapa sawit, karet, maupun tanaman buah. Kehidupan masyarakatnya masih sangat menjunjung tinggi kebersamaan dan saling menghargai antar sesama warga. Salah satu perilaku masyarakat yang sering dilakukan adalah saling tukar bibit tanaman. Biasanya jika ada warga yang memiliki bibit tanaman seperti cabai, sayur, atau tanaman buah, mereka akan memberikan atau menukar bibit tersebut dengan tetangga. Misalnya ada yang memiliki bibit cabai atau bibit pepaya yang banyak, maka sebagian akan diberikan kepada tetangga untuk ditanam juga di kebunnya atau di pekarangan rumah. Selain itu, masyarakat yang bertempat tinggal di dekat aliran sungai mereka biasanya sering kali melakukan kegiatan pertanian dengan bercocok tanaman buah seperti buah rambutan,buah durian maupun buah matoa. Ketika hasil panen buah melimpah maka, sisa hasil panen buah akan diberikan pada orang lain atas bentuk rasa syukur mereka para petani atas hasil pertanian yang melimpah. Ada juga istilah perilaku masyarakat didesa ini seperti ketika hasil panen melimpah yaitu " ''numpang ambek"'' yang artinya ketika ada orang yang ingin meminta izin untuk mengambil tanaman buah yang ingin dimakan dan sang pemilik pun akan mengatakan "''ambek aje"'' yang berarti sang pemilik pun akan memberikan izin untuk mengambil tananaman buah secukupnya. Nilai adat maupun tradisi yang masih melekat dan terjaga pada masyarakat di desa ini berupa tradisi " ''numpang tanam"'' yaitu kebiasaan meminta bibit tanaman berupa bibit sayuran maupun buah-buahan kepada para tetangga atau kerabat dengan sikap yang sopan dan santun, biasanya para pemberi akan memberikan tanaman bibit secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Salah satu tradisi " ''numpang tanam"'' ini masih mencerminkan nilai gotong royong,solidaritas dan menumbuhkan kepercayaan antar warga sekitar. Selain itu , kebiasaan ini juga mendukung kegiatan agribisnis secara sederhana, karena dapat membantu masyarakat untuk memperoleh bibit tanpa biaya yang besar. Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga berperan dalam menjaga keberlanjutan usaha pertanian yang berada di lingkungan masyarakat. Salah satu aturan hukum tidak tertulis yang merupakan aturan adat dan masih berlaku sampai sekarang di Desa Pematang Reba, yaitu berupa larangan mengambil hasil kebun atau hasil pertanian milik orang lain tanpa izin pemiliknya. Masyarakat setempat sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran serta saling menghormati, sehingga setiap orang yang ingin mengambil buah, sayur, atau tanaman harus terlebih dahulu meminta izin pemiliknya. Apabila aturan ini dilanggar, maka para pelaku biasanya akan mendapatkan teguran sosial dari masyarakat dan dianggap tidak menghargai norma serta adat yang berlaku di tempat itu. Aturan ini bertujuan untuk menjaga ketertiban, kepercayaan dan keharmonisan hubungan antarwarga khususnya dalam kegiatan pertanian dan kehidupan sehari-hari. 59khmkmmzy2y6ceh7s90mvt00zf23p9 Mitra Petani (Jilid 1)/Tata Cara Membuat Sengked 0 27142 114915 114908 2026-04-18T23:40:48Z Deepturquoise 32400 + 114915 wikitext text/x-wiki {{c|“Bagaimana caranya supaya tanaman kokoh di lahan miring, tidak kering tanahnya, atau supaya tidak mudah pindah ke lahan lain.”<br> {{rule|5em}} <small>Pepatah mengatakan: ''Ayakan tara meunang kancra''.</small>}} Jika ada anak kecil mencomot nasi sekaligus dan menjatuhkan remah-remahnya, maka oleh ibunya sering ditegur sambil berkata: “Ih! Jangan begitu, pantang (''pamali'')”. Begitu juga apabila ada perempuan menemukan sisir di jalan, kemudian diambilnya, lalu diselipkan ke rambut, ucapnya: “Khawatir dibiarkan di jalan.” Demi Allah sudah menciptakan tanah supaya bisa ditanami, ratusan ribuan tahun lamanya, tetapi oleh manusia yang kurang pengetahuan hanya terpakai 1 atau 3 tahun saja, setelah itu habis lahan suburnya, lalu ditinggalkan begitu saja, pindah ke lahan lain, sebab tanaman tidak bisa tumbuh di lahan yang sudah rusak. Apakah yang seperti itu bukan pantangan? Saya rasa lebih pantang daripada anak yang mencomot nasi tadi, sebab terbentuknya tanah subur itu tidak sebentar. Asalnya adalah batu cadas, kemudian karena bertahun-tahun terkena panas, embun, hujan, batu cadas tersebut rapuh dan melunak, jadilah pasir halus, kemudian tumbuh lumut-lumut. Sesudah itu lumut menjadi busuk bercampur dengan butiran-butiran cadas tadi, lama-kelamaan tumbuh rumput, setelah itu bertahun-tahun lagi terkena panas, embun, dan hujan, batu dan cadas tadi semakin hancur, kembali tumbuh rumput bercampur dengan pasir, barulah jadi tanaman-tanaman kecil, kemudian bertahun-tahun selanjutnya batu cadas makin hancur, daun tanaman-tanaman tadi berguguran, bercampur lagi dengan butiran-butiran batu cadas tersebut, bertahun-tahun lagi barulah jadi hutan yang besar. Daun-daunnya setiap hari berguguran, banyak pohon yang roboh jadi busuk lalu jadi tanah, barulah jadi tanah hitam yang digarap oleh manusia. Coba dipikirkan, berapa lamanya tanah itu dari mulai ada lumut sampai menjadi ;ahan yang siap tanam? Bukan satu-dua tahun saja, tetapi ratusan bahkan ribuan tahun. Tidak usah terlalu jauh mencari perbandingannya. Coba lihat saja gunung Papandayan sudah berapa tahun lamanya terbentuk, sekarang baru ada banyak pepohonan tumbuh. Hal itu oleh manusia yang sedikit pengetahuannya sama sekali tidak dipikirkan atau dipedulikan. Tanah yag digarap habis tanpa aturan, paling lama hanya terpakai 3 tahun, bahkan ada peribahasa mengatakan: ''dua tahun katilu cul'' (dua tahun, ketiga ditinggal), tidak ada yang mengingatkan untuk membuat tata kelola supaya terpakai lama, setidaknya 10 sampai 20 tahun. Tampaknya hal ini dibiarkan saja, yang penting kerjaannya gampang, tidak masalah anak cucunya kelak kekurangan lahan garapan, tidak apa-apa keturunannya paceklik karena sudah tidak ada lagi yang bisa ditanami, yang penting saya hidup enak. Mungkin pikirnya: Buat apa mikir soal ratusan ribuan tahun tadi, buat apa juga memikirkan anak cucu. Ah! tapi menurut saya, tidak mungkin kalau tidak peduli pada anugerah Allah yang sudah diberikan kepada kita untuk hidup, tidak mungkin tidak ingat kepada anak cucu. Kemungkinan itu karena tidak terpikirkan saja, yang membuat segitu gegabahnya. ''Seolah tidak menyayangi anak cucunya dan mungkin dihinakan oleh Allah Taala yang membiarkan kegabahannya terhadap tanah miliknya.'' Makanya Allah sudah menjadikan tanah itu sekian lamanya hingga bisa ditanami, supaya manusia bisa mengambil hasilnya. Bukankah jadi pantangan, jika tanah yang bagus dari hasil yang mudah dalam waktu ⅔ tahun diisi hanya menjadi tanah kosong atau rumput liar, tidak ada tujuannya? Coba dipikir, berapa banyak tangkai padi yang keluar dari tanah itu, berapa banyak orang yang mendapat bekal dari tanah itu, jika tidak digegabahkan. Yang seperti itu sama sekali tidak dipikirkan, dan oleh sebab tidak dipikirkan akhirnya dimaafkan. Namun, karena sekarang sudah diberi tahu, seperti seorang ibu melarang anaknya butiran-butiran nasi, maka sekarang sangat pantang jika ada orang tetap meneruskan menggarap kebunnya menurut aturan kuno serta tidak mengikuti pengelolaan yang lebih baik, supaya tanah yang subur tidak terbawa hanyut oleh aliran air. Adapun aturannya gampang sekali supaya tanahnya tidak hanyut seta akans saya ceritakan di bawah ini: Jika ingin supaya tanah yang subur dan gembur di lahan miring tidak hanyut, maka itu harus dibuat sengkedan serta lebih mudah mengerjakannya daripada pekerjaan lain yang banyak. : Kata para petani: sulit untuk memulainya, tetapi menurut saya tidak, sebab sudah terbukti, bila membuat kebun sepetak dengan aturan lama dikerjakannya 37 hari, jika dibuat sengkedan jadi 44 hari, nah! hanya menambah tujuh hari. Coba pikirkan dengan teliti, jika membuat kebun dengan aturan lama dalam 2 tahun paling lama 3 tahun, tanahnya yang subur sudah hanyut, sehingga harus pindah lahan lagi. Sangat berbeda dengan kebun yang dibuat sengkedan, meskipun hasilnya pada tahun pertama sengkedan kurang, tetap sama saja dengan hasil sawah tadah hujan, itu tidak menjadi kekurangan bagi sengkedan, karenanya pada sengkedan, tanahnya setiap tahun makin subur, sebab tanah lapisan atasnya yang baik tidak hanyut terbawa aliran air, bahkan bercampur dengan tanah kerasnya yang merah, apalagi jika akan subur tidak dibuang, yaitu sampah ditimbunkan atau dikubur. Jadi tanah semakin baik dan semakin gembur mudahnya pasir semakin lengket, serta hasil panenannya lebih banyak daripada kebun yang dibiarkan begitu saja. Kesimpulannya: sengkedan itu lebih mudah serta lebih sedikit pekerjaannya dibanding aturan yang lama, sebab tidak perlu repot pindah-pindah serta setiap kali mulai membuka kebun harus lagi membuat pagar dan parit, itu pun menambah pekerjaan. Pada tahun 1871 ada seorang tuan amtenar bernama van Hall bersama Bupati Banyumas, diutus oleh pemerintah untuk melakukan peninjauan, untuk memeriksa kebun yang dibuat sengkedan, yang ditanami padi, jagung, tembakau, kacang, dan sebagainya. Waktu itu diketahui benar bahwa hampir semua pemilik kebun di lahan miring sudah membuat sengkedan di kebunnya, serta kemudian diperiksa: “Bagaimana pendapatnya tentang aturan sengked itu!” Semua menjawab: “Banyak untungnya.” Sebab sekarang mereka sudah mengerti bahwa pekerjaannya lebih sedikit tetapi hasilnya bertambah. Bahkan waktu itu sempat memeriksa seorang nenek-nenek dari Panembong: :“Bagaimana nek, bukankah lebih baik berkebun dengan aturan lama saja?” :Nenek itu menjawab: “Maaf saja juragan, ini aturan terasa lebih tambah mudah.” :Ditanya lagi: “Mudah bagaimana?” :Kata nenek: “Tanahnya jadi gembur serta tanamannya semakin lama semakin baik.” :“Mengapa bisa begitu?” :“Sebab tanahnya tidak hanyut seperti dalu, sekarang bisa dicangkul dalam.” :“Bagaimana dengan tanamannya?” :“Silakan saja lihat sendiri tembakau saya ini, dulu saya tidak pernah punya tembakau sebagus ini, ada pun yang bagus hanya di lembah saja yang tertimbun dari atas, dari atas dulu deras sekali, tetapi sekarang semuanya rata gemuk sekali. Dan sekarang mudah berjalan, tidak seperti dalu sulit melangkah di lahan miring apalagi sambil membawa barang. Dan sekarang pun ada tanda batas yang jelas bahwa oleh saya sudah dimiliki, sekarang tidak akan ada yang merebut.” :“Jadi tidak tetap milik nenek?” :“Betul sekali Juragan, yang penting tidak lebih dari itu saja.” Selain dari itu, van Hall juga mendengar cerita dari seorang warga Wanakerta, bahwa dirinyaa sudah mencoba dua kali menanam padi di kebun tanpa sengkedan. Pada tahun pertama dapat 10 pikul, tahun kedua hanya 3 pikul. Ada seorang lagi bernama Bapa Rai, warga Desa Ciela dan seorang tetua dari Desa Nangoh, dari dulu dalam 3 tahun ia hanya bisa panen satu kali, dengan tanah yang sama. Namun, setelah diganti pengelolaannya, dibuat sengkedan, jadi tambah banyak hasil panennya. Kata Bapa Rai hasil panen dari kebunnya seperti berkut: <center> {| class="wikitable" |+ | style="text-align: center;" |Di tahun | style="text-align: center;" |1865 | style="text-align: center;" |padinya | style="text-align: center;" |100 | style="text-align: center;" |ikat | style="text-align: center;" |tembakaunya | style="text-align: center;" |80 | style="text-align: center;" |''lémpéng'' |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1866 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |104 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |90 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1867 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |105 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |98 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1868 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |108 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |104 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1869 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |114 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |108 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1870 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |111 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |110 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |187 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |113 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |111 |style="text-align: center;" |" |} </center> Adapun Bapa Rai bukanlah petani yang terkenal pandai, sebab jika tanahnya lebih dalam dicangkul dan diberi pupuk, tentu saja hasilnya bisa berkali lipat, apalagi jika oleh yang pandai. Tetapi meskipun begitu tetap terlihat jelas, bahwa caranya itu baik, sebab sekarang sudah tujuh tahun setiap musim kebun itu ditanami, dan pemiliknya belum pernah terpikir pindah lahan. Dan lagi jika ditambah baik perawatannya, rumput-rumputnya, sampah-sampahnya tidak dibuang, tetapi dikumpulkan, setelah busuk ditaruh, dicangkul yang dalam, kira-kira sedalam 1 kaki serta dijadikan pupuk. Tentu 100 tahun lagi pun tanah itu masih bisa ditanami, tidak perlu mencari lahan baru. Bukankah itu suatu keuntungan besar? Bahkan Bapa Rai sambil menunggu hasil tanaman tidak berhenti membenahi pagar, ditanami pohon-pohon buah di sisi pagar, sisi bagian dalamnya ditanami kopi, membuat saung kecil serta rapi, sebagai tempat istirahat. Bahkan jika sedang banyak pekerjaan digunakan untuk bermalam. Intinya, Bapa Rai memiliki kebun yang baik, serta kebun tersebut memberikan dampaknya berupa penghasilannya. Banyangkan jika seluruh petani di Pulau Jawa menggunakan cara seperti itu dalam mengolah kebunnya, tentu akan sangat bagus hasilnya. Pengelolaan kebunnya teratur, pagarnya rapi dan indah, dibuat jalan setapak, saung yang bagus dan rapi, di sekelilingnya ditanam pohon yang buahnya lezat, seperti nangka, mangga, durian, jeruk, sawo, manila, duku, manggis dan sebagainya, serta ditanami labu atau ''kukuk'' (sejejnis labu) yang merambat di saung, sebagai tambahan atap untuk terasnya. Bagaimana kalau begitu penerapannya, bukankah lebih bagus dibandingkan kebun yang kotor, ''setengah hutan dan yang sering ditinggalkannya''. Pertama karena betah kenyamanan, kedua ada hasilnya, karena buahnya laku di pasar, lumayan untuk membeli garam dan terasi. Ada orang yang tidak mau menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah, di Sunda disebutnya ''jelema manuk'' atau ''jelema hejo tihang''. Semua mungkin sudah mengerti maksudnya, kenapa disebut ''hejo tihang'' karena belum rusak tempat tinggalnya sudah pindah lagi. Begitu juga dengan ''manuk'' (burung) tidak selalu menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah saja. Manusia yang memiliki perangai seperti itu sangat menyusahkan lurahnya, karena hari ini dirinya ada di sini, hari berikutnya sudah pindah lagi ke sana. Selamanya tidak bisa dijangkau. Pakaianya juga compang-camping, bisa disebut setengah manusia hutan. Tidak ada lagi yang dipikirkannya kecuali makan. Selain persoalan makanan tidak pernah dipikirkan. Perkara-perkara hukum adat yang baik tidak pernah tahu karena kurang bergaul dengan warga lainnya. Di Sunda, orang seperti itu tidak tahu adat tata krama, dinamakan ''jalma jauh ka bedug'', artinya manusia yang jauh dari tempat tinggal dan dari adat. Semuanya itu sebenarnya masih bisa diperbaiki, agar para petani semakin bagus merawat ladangnya, agar para ketua menjaga para petani tidak mengerjakan ladangnya semaunya saja, tapi harus menetap berkebunnya. Serta harus banyak embuat jalan, agar yang berkebun mudah untuk mobilisasi dan oleh ketua mudah untuk diawasi. Kalau seperti itu membuat senang, kepala desa (lurah) dan para pemangku di atasnya mudah memberitahu petani, apabila salah mengerjakannya. Dan orang-orang yang suka membeli tembakau, ''suuk'', kacang pasti banyak berdatangan, jadi para pertani tidak kesusahan menjualnya. Bagaimana bukankah itu lebih bagus dibandingkan penerapan yang dilakukan saat ini? Sekarang orang yang sedikit pengetahuannya sering disebut ''urang gunung''. Banyangkan kalau ''urang gunung'' semakin rajin, tentu penamaan ''gunung'' bukan untuk jadi bahan ejekan. ---- {{c|Sekarang simpan dulu cerita sengkedan, kita ceritakan hal tentang mengganti tanaman.}} Petani di sini baru sedikit-sedikit mulai paham. Kalau di Eropa sudah dari dulu tahu kalau tidak baik menanam tanaman yang sama terus menerus tanpa diselang-seling dengan tanaman lain. Jika ada petani menanam tembakau kedua kalinya, dan ada temannya yang setelah panen tembakau lanjut menananm kacang, lalu padi, lalu tembakau lagi, itu yang menanamnya tidak berselang-seling, hanya tembakau, panen yang kedua kalinya tidak ada sama sekali hasilnya. Berbeda dengan temannya yang menanamnya berselang-seling, tembakaunya untung dan yang lainnya juga tetap untung, yaitu dari kacang dan padi. Kenapa bisa begitu? Kalau mau tahu penjelasannya harus bertanya ke ilmu tani, yang bisa menjelaskan alasannya. Rahasianya seperti ini: <blockquote>Setiap tanaman tidak sama perawatannya, kondisinya, atau nutrisinya. Tanaman besar yang berbeda jenisnya, nutrisnya terkadang jauh berbeda juga. Ada tanaman yang cocok dengan tanah x tapi tidak cocok dengan tanah y. Ada yang cocok dengan tanah berpasir, ada yang cocok dengan tanah yang banyak kandungan kapurnya, begitu sebaliknya. Jika ada tanah yang ditanami satu jenis tanamannya, tapi kandungan tanahnya tidak cocok dengan jenis makanan/nutrisi untuk tanaman tersebut, tentu tanahnya harus disesuaikan dulu, agar cocok dengan pemenuhan nutrisi tanaman tersebut. Karena pada dasarnya, tanaman juga sama seperti manusia. Berasnya harus dimasak, ikannya harus digoreng atau dipanggang dulu. Begitu juga tanah, harus diolah dulu, supaya kandungan nutrisinya bisa disirap oleh berbagai jenis tanaman. Supaya tanahnya bagus untuk tanaman yang hendak ditanam, perlu ada air dan udara. Air dan udara itu masuk ke dalam tanah, jika sudah digemburkan tanahnya. Itu sebabnya sangat perlu dibajak dan dicangkul, bukan supaya akarnya bisa menjalar, tapi agar tanamannya bisa menyerap nutrisi tanahnya dengan baik.</blockquote> Toh buktinya kalau ada tanah yang sudah jadi hasil garapan petani sering disebut ''asak'' (masak), sama seperti saat menyebut makanan yang siap dihidangkan. Adapun padi tidak sama kebutuhan nutrisinya dengan tembakau, bentuknya, karakteristiknya berbeda. Ketika ditanami padi, kemungkinan tanah untuk nutrisi tembakau tidak diserap oleh padi. Itu nantinya jadi cadangan untuk nutrisi tembakau. Begitu juga sebaliknya kalau ditanami tembakau dulu, nutrisi tanah untuk padi tidak diserap. Coba bayangkan, jika tidak dibuat sengkedan di mana tempat menumpuknya tanah untuk tembakau atau untuk padi tersebut? Tentu tanah tersebut tergerus ke bawah oleh genangan air. Diibaratkan seperti menyimpan uang di dalam saku yang bolong, lepas jahitannya. Atau seperti Si Sakadang Kunyuk menyimpan pisang di dalam kantong (''koja''), sedangkan tasnya oleh Si Sakadang Kuya sudah dibolongi. Barangkali smuanya mengetahui dongeng tersebut. ---- Apabila ada yang menyela: “Itu kan monyet, binatang yang tidak bisa berpikir.” Jawab saja: ''“Kumaha ari juru tani urang dieu pinter batan éta monyét, da sok miceunan taneuh alus tina kebona?”'' ---- Ada sebuah cerita yang cocok dijadikan teladan. <blockquote>Jaman dahulu ada seseorang yang memiliki 3 anak, yang mungkin karena malas, tidak mau menggarap kebunnya. Bapaknya jadi kesusahan. Lalu muncul 1 ide. Saat akan mendekati ajal, sang bapak berwasiat kepada anak-anaknya. Bahwa di kebun mereka ada harta yang terpendam. Setelah sang bapak dikuburkan. Maka ketiga anaknya tadi mulai mencangkuli kebunnya, bolak-balik, tapi hasilnya nihil, tidak menemukan apa-apa, membuat mereka semakin penasaran. Karena lelah mencangkul tapi tetap tidak mendapatkan yang diinginkan, akhirnya ditanami tanaman sambil lalu. Tidak lama setelah itu, tanamannya tumbuh dan berbuah. Dapat keuntungan berlimpah, yang tidak disangak oleh ketiganya. Dari sana, ketiganya baru mengerti bahwa harta yang diwariskan oleh bapak mereka, adalah hasil panen dari kebun mereka sendiri.</blockquote> ---- Sudah menjadi perbincangan di kalangan para petani, kacang bisa membuat padi menjadi bagus. Karena apabila menanam padi di lahan bekas menanam kacang, padinya akan bagus. Tapi ternyata anggapan ini salah. Karena kacang sangat menghabiskan nutrisi tanah, Yang bagus itu padinya saja, karena tanahnya sudah gembur dari sananya. <!--coba mun dina teu rassan sarua hadé maculna dipelakan paré tangtu leuwih alus paréna batan dina urut suuk téa.--> Namun bagaimana caranya mencangkul di lahan miring kalau tidak dibiuat sengkedan? Oleh karena itu harus menuruti aturan ini: <!--SEDANG DIKERJAKAN || Agar bagus hasil menanam, tanahnya harus dalam dan campurkan menjadi satu pekerjaannya, agar tanah bagus tidak [...] dalam tanah yang miring, harus dibuatkan sengked terlebih dahulu. || Bagaimana jika ada yang tidak cocok dengan aturan tersebut? ada juga satu orang yang mengatakan: “Saya tidak cocok, karena jika membuat sengked dipotong bagian dasarnya tanah, dari atas suka datang ter lihat tanah yang berwarna merah, di situ tanaman menjadi buruk. || Itu benar seperti itu, dalam hal jika tera sering terlalu luas dalam tanah yang sangat miring, dan hal kedua jika sudah selesai sengked tidak dicangkul di satukan kembali. || karena luasnya sengked tersebut harus diperhitungkan dalam hal kemiringan lahan, jika lahan terlalu miring, sengked tersebut harus terlalu singkatnya. || jika lahan paling miring yang masih ada kemungkinan masih bisa ditanam, di tera sering luasnya dua kaki, itu bagian dasar ta nah hanya sedikit saja yang tumbuh ke luar, apalagi jika langsung dicangkul lagi da lamnya 1 kaki (satuan) atau sekurang-kurangnya tiga perempat kaki, jadi tanah yang subur bercampur baur dengan tanah yang kurang subur, sudah pasti tanah jadi lebih subur dibandingkan tanah yang tidak diatur menggunakan aturan tersebut. || Tapi bagaimana bisa tanah tersebut bercampur jika tidak menggunakan sengked?--> ---- Sebelum menjelaskan cara membuat sengked, berikut manfaat sengked di lahan miring: # Sebagai tanda kepemilikan lahan. Karena sengked sama halnya petak-petak sawah, menjadi tanda alami bahwa lahan tersebut sudah ada pemiliknya. #Tidak perlu berpindah-pindah lahan selama 2-3 tahun, tapi ini bisa ditanami selama beberapa tahun tanpa berselang-seling. Tidak perlu berpindah-pindah dan ''teu pati kudu dijamikeun'', apalagi kalau mau menggunakan pupuk. #Meskipun proses persiapan cukup berat ketimbang cara biasa pada umumnya, pekerjaan setelahnya bisa lebih rileks, karena rumput-rumput liar seperti ilalang, <!--teki-->tidak ada, digantikan dengan rumput-rumput seperti sintrong, jelantir, bandotan, yang jika tanaman tersebut membusuk di situ tanahnya semakin lama semakin subur. Begitu pula tidak perlu sering-sering membuat pagar dan saluran irigasi. #Tanahnya tidak hanya subur, tetapi jika sampah-sampah dan jeraminya tidak dibuang, dibiarkan saja, tanahnya menjadi semakin bagus, apalagi jika mau diberi pupuk. Jika tidak memakai sengked, mungkin saat turun hujan akan langsung terbawa air. #Karena tanahnya gembur, menyebabkan banyak tempat resapan air hujan, sehingga tidak terlalu banyak genanangan. Malah genangannya karena setiap sengked mengalirnya pelan, jadi tidak terlalu deres yang membawa tanahnya hanyut. #Jika lahan miring sudah memakai sengked, genangan air jadi pelan mengalirnya. Malah tidak semuanya mengalir sampai ke bawah karena tertahan oleh sengked dan terserap di sana. Sebagian lagi yang engalirnya pelan, tentu jika terjadi banjir tidak akan terlalu merusak. Serta sungai-sungai kecil ''mayeung ngocorna'' karena banyak air hujan yang terserap oleh tanah. Dari sana perlahan-lahan merembes ke bawah ''maraban walungan téa''. Adapaun lahan miring yang tidak disengked airnya langusung mengalir ke sungai, besar luapan airnya dan kerusakannya akan parah. Di Distrik Panembong contohnya, danah-danau di sana sekarang tidak terlalu dangkal/tertimbun. Kalau dulu sebelum disengked setiap tahun harus selalu dikeruk. ==Cara membuat sengked== Karena yang paling sering dijadikan kebun adalah tanah miring (tanah lereng) dan tidak banyak yang membuka ladang di hutan besar, jadi yang akan dijelaskan sekarang adalah ketentuan-ketentuan umum dalam membuat sengked di perbukitan semak belukar dan pepohonan kecil saja. # Yang paling pertama dikerjakan yaitu membabat semak atau kayu-kayuan kecil menggunakan parang, dan membabatnya sebisa mungkin dipotong pendek. Begitu pula dengan rerumputannya juga dibabat.<br>Kayu yang sudah dibabat tadi dikumpulkan, bagusnya digunakan untuk suluh, sebagiannya lagi digunakan untuk pembuatan pagar yang mengelilingi kebun. #Jika sampah rumputnya terlalu banyak, sebaiknya sebagian dibakar, setelahnya sebagiannya lagi digunakan untuk membuat pematang ''lebak'' di tempat yang akan dibuat sengked.<br>Membuat pematang sawahnya harus: a. Seperti membuat parit, jangan ''nyanglandeh'' jangan menanjak, kalau ada cekungannya atau sungai, harus menyiku, seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop).jpg|center|thumb|277x277px]]Kalau ada bukit atau pasir, harus seperti ''ngais'' seperti ini: <br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop)-2.jpg|center|thumb|277x277px]]Sama persis seperti parit, tapi jangan seperti jalan naik turun. Kalau seperti itu masih sama seperti lereng saja. #Jarak antara pematang harus berdasarkan miringnya (lerengnya) lahan. Sebisanya harus dijaga supaya timbangannya bagian atas tidak lebih dari satu kaki dalamnya.<br>Jika ada lahan yang tidak sama lerengnya (kemiringannya}, sebidang tanah tidak terlalu terasa sebidang tanah lagi terasa lerengnya itu luasnya sengked harus dimodifikasi. Tepat di dalam lerengnya ''disingkat'' dibagian yang datar diperluas, karena jika tidak seperti itu tentu datar sengkednya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 35 crop)-H.jpg|center|thumb|290x290px|''a.'' Lahan yang terlalu miring; ''b.'' lahan yang tidak terlalu ''lembah''.]] #Jika sudah selesai membuat pematang dari rumput tadi, barulah mulai dicangkul. Mulai dari yang paling bawah kira-kira satu kaki antara sisi atasnya dari pematang tersebut, juga tanahnya harus dibalik agar menutupi sampah rumput pematang tadi, agar kuat pematanghnya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 36 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px]]Begini rupanya yang mencangkul dari bawah ke atas, tanah yang dicangkul agak ''dikembing'' dan dilempar ke belakang. Begitu seterusnya sampai mencangkul pematang kedua.<br>Dari sana ulangi memlagi buat sengked sedalam satu kaki di atas pematang kedua, serta caranya masih sama hingga selesai.<br>Hasil sengked seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 37 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' pematang/tanggul, ''b.'' tanah pembuanga bekas dicangkul, ''c.'' ''teuras'']] #Dari sina cangkul ke depan, apalagi tanah yang keras disebelah dari atas harus dipipihkan dan dilemparkan tanah yang masih miring. Adapun Rumput-rumputnya jangan diambil pusing karena sudah pada mati (layu) ketika pertama kali tanahnya dicangkul tadi. Jadi bentuk sengkednya seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 38 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Tanah gembur yang akan ditanami, ''b.'' tanah pembuangan bekas dicangkul, ''c.'' gusi]] #Sewaktu bekerja, rumput yang ditimbun di tanggul tadi kemungkinan akan tumbuh kembali, apalagi kalau alang-alang dan yang sejenisnya, oleh karena itu, tanggulnya harus dibersihkan dan harus di ''sina mayat'' sedikit supaya tidak terlalu curam. Nah sekarang sudah selesai tinggal menanam. #Dan juga harus ingat sengked tidak bisa dibatas seperti sawah, menggunakan tanggul yang tinggi, sebab jika menggunakan tanggul tentu membuat semakin mudah tanah terbawa arus, sebab terasa sekali, selain dari itu akan menjadi jelek untuk tanaman karena air yang mengalirnya malam hari mengendap membawa tanah longsor.<br>Meyebabkan tanaman rusak: Jika tanaman bukan tanaman rawa seperti padi, karena tanahnya terlalu basah. #Karena itu juga, ketika mencangkul tanahnya jangan dikorek-korek ke samping sengked, karena jika sisi sengked dibuat tinggi, tentu sengked akan tinggi tidak merata, jadi selokan atau pindah lereng.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 39 crop).jpg|center|thumb|277x277px]] #Begitu juga harus selalu ingat, sisi sengked bagian luar jangan dicangkul, biarkan utuh saja kira kira selebar telapak tangan (''satampah''), berperan sebagai gusi, dan agar mempermudah ketika dikerjakan, yang mencangkul harus menghadap ke ''lebak'' serta cangkulnya sedikit dicondongkan seperti contoh berikut:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 40 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Bagian ini jangan dicangkul]]Jadi ada sisi yang keras yang berfungsi sebagai gusinya. #Ketika membersihkan kebun sampah-sampahnya harus ''dikirab-kirab'' dan diletakkan di gusi. Itu besar sekali gunanata sebab air hujan tidak tersendat.<br>Jika sampah itu tumbuh kembali, harus ''disasar'' saja, serta rumput-rumput setelah ''dikirab'' diletakkan lagi di ujung sengked. #Jika tanahnya yang keras atau lengket kerkena air hujan tidak bisa menyerap jadi cepat tergenang serta tanahnya mudah terbawa arus, di situ harus membuat parit atau tampungan air per 20 atau 30 sengked, dalamnya serta luasnya 1 - 1 ½ kaki, tergantung padatnya tanah dan seringnya hujan di sana.<br>Selokan tersebut jangan terlalu miring, tetapi harus rata mengikuti ''turunan'' sengeked.<br>Tanah hasil menggali dari selokan tersebut, harus ditumpuk di sebelah sisi ''lebak'', yaitu untuk meninggikan sengked.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 41 crop).jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Saluran air, ''b.'' tanah hasil mtumpukan yang dipakai untuk meninggikan sengked.]] <!-- || Sekarang tidak terganggu, susah untuk terbawa air tanahnya. || Jika selokan dari lama kelamaan jadi dangkal berlumpur, itu harus digali, ta nahnya digunakan untuk menaikkan sengked sebe lah dari bawah. Ketika ada yang mena nam tanaman awet seperti kopi jangan dibereskan galengannya serta harus segera membuat sengked yang luasnya cukup. Jika ada yang menanam bertahun-tahun seper ti: padi, tembakau, dan yang sejenisnya baiknya sengkednya setopa berganti tanaman nya diluaskan sekitar ¼ kaki. || Itu bekas kotoran menjadi tanah baru serta bagus, dan sengkednya pelan pelan ja di sangat luas, serta bekas pekerjaannya tidak berat sama sekali dan tidak terlalu mengha silkan tanah keras. || Perasaan saya sekarang sudah habis menerangkan hal sengked, tinggal menceritakan Perkara Cangkul Perkara alat membuat aliran air yang murah Pagar yang mudah tapi besar manfaatnya || Sebelum menceritakan hal yang tiga perkara di atas, kita menceritakan dahu lu hal sengked lagi sedikit. || Di Apdeling Limbangan sudah bertahun-tahun menerapkan aturan sengked dalam segala jenis kebun, bukan di kebun\ kopi baru saja, yang dahulu juga yang tadinya diisengked sekarang dicicil disengked, bergitu juga kebun palawija dan ribuan hutan, serta dikerjakan dengan hati-hati dan pikiran, semua itu hasilnya menguntungkan. || Oleh karena itu jangan risau lagi, men cari jalan yang lain, lebih ba gus sering mencoba coba saja, karena sudah mengetahui bagusnya aturan tersebut. || Ada juga yang mencoba-coba gaga l, itu jangan disalahkan terhadap aturan nnya, hanya mencoba-coba saja tidak dengan pikira n dan tidak mengetahui keseluran aturan tersebut. || Dan lagi sangat pantas diperjuangkan oleh rasa lelah juga, agar seluruh perkara seluruh aturan yang mengakibatkan keuntungan serta yang ujung-ujungnya memakmurkan pulau Jawa, Jadi sangat pantas diperjuangkan oleh hanya rugi yang tidak menguntungkan sekali dua kali saja, karena semua perkala memulainya suka su sah dan harus ada kerugian juga. || Dari pengalaman yang sudah-sudah, tanah dicangkul dipipihkan dahulu, rumputnya disisi nya hilang, dibakar, dibuah, ketika tanahnya sudah gembur tanah baru memulai membuat sengked, tindakan seperti itu tentu sudah jelas pasti gagal, karena tentu tanahnya pasti terbawa air. || Dari situ dengan cepat yang salah menger jakan menyalahkan aturan, katanaya: “Tuh ternyata tidak bagus, sengked longsor terus” || Tapi tidak dipikirkan penyebab gagalnya kare na kesalahan dirinya, sama saja dalam perkara menabur biji, mengikuti aturan tabur oleh biji padi jatuh dari tangkainya, tapi menaburnya terlau dekat, dari situ mudah menyimpulkan tidak bagus; nah be gitu gagal! bijinya sangat layu, segera potong dicabut. ||Tapi tidak dipikir, jika yang menyebabkan gagal adalah karena tidak dikerjekan dengan semestinya dan tidak dipikir kenapa penyebabnya yang menyebabkan harus diurut/dirawat yaitu supaya renggang. || Saya pribadi sudah menemukan satu tukang tembak masih belajar jadi belum bisa menembak, tapi menembak tidak tepat sasaran, suka marah-marah, menyalahkan kepada tem bakan katanya: kenapa ada pistol yang bodoh, sialan!” serta itu pistol jika digunakan oleh tukang tembak yang mahir pasti nyaring sekali. || Yang salah membuat sengked mungkin begitu juga, jika menya lahkan kepada sengked padahal kesalah diri sendiri saja. --> ==Cangkul== Supaya pekerjaan yang dilakukan bisa lebih mudah maka harus menggunakan peralatan yang sesuai. Cangkul yang digunakan di Jawa itu bagaimana bisa disebut peralatan yang memudahkan pekerjaan. Ada tiga jenis cangkul: [[File:Mitra nu Tani (page 46 crop).jpg|center|thumb|290x290px|Cangkul Belanda atau cangkul kampak (kiri)<br>Cangkul Jawa (tengah)<br>Cangkul Sunda (kanan)]] Yang kurang direkomendasikan adalah cangkul Jawa, di atasnya adalah cangkul Sunda, dan yang lebih direkomendasikan adalah cangkul Belanda. Bukan hanya karena buatan luar negeri, melainkan karena gagangnya nyaman saat digunakan, lebih bertenaga saat mencangkulkannya ke tanah. Kalau cangkul Sunda cukup susah karena ''cangkulnya cenderung terlalu bengkok'', sehingga yang mencangkul harus merunduk agar bisa mencangkul dalam dan benar. Adapun cangkul Jawa ''ngulangkenana supaya bisa jero lain dikieuna héséna''. Pertama gagangnya terlalu pendek, dan kedua cangkul lebih bengkok dari cangkul Sunda. Oleh karena itu, pemakainya harus benar-benar merunduk saat membuat galian tanah. Sehingga membuat cepat lelah. Ditambah, cangkul Jawa ini terlalu berat yang membuat pekerjaan semakin berat juga. Ketimbang cangkul, itu lebih mirip alat pembajak sawah, karena jika digunakan terlihat seperti orang yang sedang menekan dan menarik alat pembajak tradisional (wuluku). <!--tapi upama prak diteelkeun sarta dikenyang tangtu hésé serta berat batan diulangkeun téya.--> Adapun cangkul Belanda hampir sepenuhnya baja dan tipis, ringan dan lebih mudah dibandingkan cangkul setengah besi setengah kayu, yang semakin ke atas semakin tebal. Pada [[c:File:Mitra nu Tani (page 49 crop).jpg|halaman 43] Ada ilustrasi penggunaan tiga jenis cangkul: [[File:Mitra nu Tani (page 49 crop)-H.jpg|center|thumb|450x450px|Cangkul Jawa (kiri), cangkul Sunda (tengah), cangkul Belanda (kanan)]] Bagaimana dengan gambar ini, setuju cangkul Belanda yang lebih direkomendasikan? ---- Pekerja di perkebunan teh Waspada bekerjanya memakai cangkul Belanda. Tentu banyak keuntungannya dibanding pekerja Jawa yang membawa cangkulnya sendiri dari rumah. Memang betul, di Waspada tanahnya gembur. Tapi pekerja yang mencangkul sedalam 1 kaki dari pukul 06.30 pagi sampai 14.30 siang bisa menghasilkan 40 ''tumbak'' ☐. Atau semisal lebih dangkal kira-kira sedalam 3 ''dim'', bisa menghasilkan 55 atau 60 ''tumbak'' ☐. Lalu dilanjutkan dengan menjemur rumput dan ditumpukkan di atas sengked. Oleh karena itu, harapannya, orang Jawa yang masih menggunakan cangkulnya seperti pada gabar di atas, bisa segera berganti ke cangkul yang lebih bagus. Semisal mereka tidak mau menggunakan cangkul Belanda meskipun harganya sangat murah karena baja semua, ya mau bagaimana lagi. Tapi, setidaknya harus mengikuti contoh cangkul Sunda. Itu masih lebih ringan gampang dibandingkan cangkul yang mirip wuluku itu. Buat apa susah-susah jongkok sebegitunya kalau tidak diperlukan, kan. ==Alat ''Water pass''== Mungkin banyak yang merasa sulit memperbaiki sungai oleh sampah yang banyak, agar landai lurusnya. Sebenarnya ada alatnya, sangat mudah, siapa pun bisa membuatnya, serta ongkosnya hanya terbilang sangat murah. Hal yang harus dibuat: Pertama, tongkat. Panjangnya harus seukuran dengan tinggi batas mata orang yang akan menggunakan alatnya. Di atas tongkat tadi pasang paku kayu seperti di ''e''. Selanjutnya pasang papan kecil, gantungkan supaya terayun-ayun ke paku kayu ''b''. Dari situ pasang lagi papan kecil ''e'', simpan di papan tadi, atur sampai lurus agar terlihat seperti menyiku. Kemudian gunakan bambu kecil tipis atau kaso diberi lubang oleh lidi ''d''. Agar bisa digunakan untuk membidik, ikat dengan tali rotan ke papan tersebut yang lurus tadi. [[File:Mitra nu Tani (page 52 crop).jpg|center|thumb|290x290px|Kayu ''b'' harus lebih berat dibandingkan kayu ''c'']] Alat satunya lagi yaitu tongkat kedua, panjangnya sama dengan yang pertama. Selanjutnya pasang papan kecil, beri warna putih menggunakan kapur. Panjangnya 4 lebarnya 2 dim. Papan ini posisinya posisinya di atas tongkat kedua, agar kaso atau bambu yang dilubangi tadi (di tongkat pertama) akur posisinya dengan tengah-tengahnya itu papan. [[File:Mitra nu Tani (page 53 crop).jpg|center|thumb|290x290px]]<br> Cara mengoperasikan alatnya seperti berikut: Satu orang memegang tongkat dan papannya tegak lurus ke tanah, jangan ditancapkan ke tanah, cukup dipegang saja, seperti ''a.'' [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|di halaman 49]]. Satu orang lagi memegang alat yang disebut paling awal (tongkat pertama), yang diberi nama teropong (kékér), sambil jalan mundur ke belakang 15 atau 20 langkah. Dari sana bidik bambu atau kaso yang sudah dilubangi tadi ke arah papan putih. Teropongnya pindah ke atas atau ke bawah sambil supaya pas dengan tengah-tengahnya papan. Setelah itu berikan tanda, orang yang memegang papan putih pindah ke tempat yang sudah diberi tanda tadi, sementara yang membawa teropong mundur lagi 15 atau 20 langkah ke belakang, begitu seterusnya. Alat ini bukan sekadar menunjukkan cara membuat sengked saja, tapi jika lahan tidak terlalu rata lerengnya, bisa untuk mengukur luas sengked. Di [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|halaman 49]] ada contoh cara menggunakan alat ''Water pass'' ini. [[File:Mitra nu Tani (page 55 crop)-H.jpg|394x394px|center]] Tidak perlu setiap sengked Diukur dengan ''water pass''. Hanya untuk menjaga saja serta agar lerengnya rata. Mungkin cukup per 5 atau 10 sengked diukur dengan ''water pass''. Di sini, di Garut, para petani sudah biasa membuat sengked. Sengked ''lempeng'' saja, mengikuti lahan, tidak harus menggunakan alat yang sudah dijelaskan tadi, penyebabnya yaitu kebiasannya, jarang yang salah sengked. Namun, bagi yang baru, alat tadi mungkin akan sangat berguna. ==Pagar== Di sini pagar yang digunakan untuk mengelilingi kebun kebanyak dari pohon waru (kapas-kapasan), dibariskan dengan jarak kira-kira 2 atau 3 kaki, serta tiap jaraknya ditanami pohon jarak atau murbei, diselipkan dengan bambu. Tangkai waru yang ditebang bisa dijadikan suluh, daunnya sebaga pembungkus. Agar nanti sudah tumbuh sangat besar, kain bagus untuk dijadikan perabotan, untuk roda karet untuk membawa rempah-rempah dan sebagainya. Jika banyak kebun yang bertemu batas, itu bagus untuk kompromi yang punya kebun dalam merawatnya, yaitu syaratnya agar kebunnya subur, jangan setiap kebun dipagar disekelilingnya oleh pagar permanen. Lebih bagus pagar yang bisa untuk menjaga hewan kuda, sapi, atau kerbau beradu saja daripada mengeluarkan ongkosnya, bersama-sama saja, keuntungannya, kerugiannya, dari pagar tersebut memiliki bagiannya masing-masing. Untuk pagar yang menjadi tanda kepemilikan seseorang sebaiknya menggunakan tanaman kecil saja, lebih baik lagi menggunakan tanaman yang ada buahnya seperti mengkudu atau kopi, jaraknya 4 kaki, dan selain dari itu. Tentu ada juga hasilnya walau sedikit. Bagaimana perasaannya setelah diberikan pembelajaran ini, bagus atau buruk? Semoga pengarang tidak sia-sia membuatnya. Jangan sampai memberi nasihat yang tidak bisa diterapkan. [[Kategori:WikiPrestasi]] k07ba72xrlf7h9nsjpeigaij3si9hr7 114916 114915 2026-04-19T02:41:30Z Deepturquoise 32400 114916 wikitext text/x-wiki {{c|“Bagaimana caranya supaya tanaman kokoh di lahan miring, tidak kering tanahnya, atau supaya tidak mudah pindah ke lahan lain.”<br> {{rule|5em}} <small>Pepatah mengatakan: ''Ayakan tara meunang kancra''.</small>}} Jika ada anak kecil mencomot nasi sekaligus dan menjatuhkan remah-remahnya, maka oleh ibunya sering ditegur sambil berkata: “Ih! Jangan begitu, pantang (''pamali'')”. Begitu juga apabila ada perempuan menemukan sisir di jalan, kemudian diambilnya, lalu diselipkan ke rambut, ucapnya: “Khawatir dibiarkan di jalan.” Demi Allah sudah menciptakan tanah supaya bisa ditanami, ratusan ribuan tahun lamanya, tetapi oleh manusia yang kurang pengetahuan hanya terpakai 1 atau 3 tahun saja, setelah itu habis lahan suburnya, lalu ditinggalkan begitu saja, pindah ke lahan lain, sebab tanaman tidak bisa tumbuh di lahan yang sudah rusak. Apakah yang seperti itu bukan pantangan? Saya rasa lebih pantang daripada anak yang mencomot nasi tadi, sebab terbentuknya tanah subur itu tidak sebentar. Asalnya adalah batu cadas, kemudian karena bertahun-tahun terkena panas, embun, hujan, batu cadas tersebut rapuh dan melunak, jadilah pasir halus, kemudian tumbuh lumut-lumut. Sesudah itu lumut menjadi busuk bercampur dengan butiran-butiran cadas tadi, lama-kelamaan tumbuh rumput, setelah itu bertahun-tahun lagi terkena panas, embun, dan hujan, batu dan cadas tadi semakin hancur, kembali tumbuh rumput bercampur dengan pasir, barulah jadi tanaman-tanaman kecil, kemudian bertahun-tahun selanjutnya batu cadas makin hancur, daun tanaman-tanaman tadi berguguran, bercampur lagi dengan butiran-butiran batu cadas tersebut, bertahun-tahun lagi barulah jadi hutan yang besar. Daun-daunnya setiap hari berguguran, banyak pohon yang roboh jadi busuk lalu jadi tanah, barulah jadi tanah hitam yang digarap oleh manusia. Coba dipikirkan, berapa lamanya tanah itu dari mulai ada lumut sampai menjadi ;ahan yang siap tanam? Bukan satu-dua tahun saja, tetapi ratusan bahkan ribuan tahun. Tidak usah terlalu jauh mencari perbandingannya. Coba lihat saja gunung Papandayan sudah berapa tahun lamanya terbentuk, sekarang baru ada banyak pepohonan tumbuh. Hal itu oleh manusia yang sedikit pengetahuannya sama sekali tidak dipikirkan atau dipedulikan. Tanah yag digarap habis tanpa aturan, paling lama hanya terpakai 3 tahun, bahkan ada peribahasa mengatakan: ''dua tahun katilu cul'' (dua tahun, ketiga ditinggal), tidak ada yang mengingatkan untuk membuat tata kelola supaya terpakai lama, setidaknya 10 sampai 20 tahun. Tampaknya hal ini dibiarkan saja, yang penting kerjaannya gampang, tidak masalah anak cucunya kelak kekurangan lahan garapan, tidak apa-apa keturunannya paceklik karena sudah tidak ada lagi yang bisa ditanami, yang penting saya hidup enak. Mungkin pikirnya: Buat apa mikir soal ratusan ribuan tahun tadi, buat apa juga memikirkan anak cucu. Ah! tapi menurut saya, tidak mungkin kalau tidak peduli pada anugerah Allah yang sudah diberikan kepada kita untuk hidup, tidak mungkin tidak ingat kepada anak cucu. Kemungkinan itu karena tidak terpikirkan saja, yang membuat segitu gegabahnya. ''Seolah tidak menyayangi anak cucunya dan mungkin dihinakan oleh Allah Taala yang membiarkan kegabahannya terhadap tanah miliknya.'' Makanya Allah sudah menjadikan tanah itu sekian lamanya hingga bisa ditanami, supaya manusia bisa mengambil hasilnya. Bukankah jadi pantangan, jika tanah yang bagus dari hasil yang mudah dalam waktu ⅔ tahun diisi hanya menjadi tanah kosong atau rumput liar, tidak ada tujuannya? Coba dipikir, berapa banyak tangkai padi yang keluar dari tanah itu, berapa banyak orang yang mendapat bekal dari tanah itu, jika tidak digegabahkan. Yang seperti itu sama sekali tidak dipikirkan, dan oleh sebab tidak dipikirkan akhirnya dimaafkan. Namun, karena sekarang sudah diberi tahu, seperti seorang ibu melarang anaknya butiran-butiran nasi, maka sekarang sangat pantang jika ada orang tetap meneruskan menggarap kebunnya menurut aturan kuno serta tidak mengikuti pengelolaan yang lebih baik, supaya tanah yang subur tidak terbawa hanyut oleh aliran air. Adapun aturannya gampang sekali supaya tanahnya tidak hanyut seta akans saya ceritakan di bawah ini: Jika ingin supaya tanah yang subur dan gembur di lahan miring tidak hanyut, maka itu harus dibuat sengkedan serta lebih mudah mengerjakannya daripada pekerjaan lain yang banyak. : Kata para petani: sulit untuk memulainya, tetapi menurut saya tidak, sebab sudah terbukti, bila membuat kebun sepetak dengan aturan lama dikerjakannya 37 hari, jika dibuat sengkedan jadi 44 hari, nah! hanya menambah tujuh hari. Coba pikirkan dengan teliti, jika membuat kebun dengan aturan lama dalam 2 tahun paling lama 3 tahun, tanahnya yang subur sudah hanyut, sehingga harus pindah lahan lagi. Sangat berbeda dengan kebun yang dibuat sengkedan, meskipun hasilnya pada tahun pertama sengkedan kurang, tetap sama saja dengan hasil sawah tadah hujan, itu tidak menjadi kekurangan bagi sengkedan, karenanya pada sengkedan, tanahnya setiap tahun makin subur, sebab tanah lapisan atasnya yang baik tidak hanyut terbawa aliran air, bahkan bercampur dengan tanah kerasnya yang merah, apalagi jika akan subur tidak dibuang, yaitu sampah ditimbunkan atau dikubur. Jadi tanah semakin baik dan semakin gembur mudahnya pasir semakin lengket, serta hasil panenannya lebih banyak daripada kebun yang dibiarkan begitu saja. Kesimpulannya: sengkedan itu lebih mudah serta lebih sedikit pekerjaannya dibanding aturan yang lama, sebab tidak perlu repot pindah-pindah serta setiap kali mulai membuka kebun harus lagi membuat pagar dan parit, itu pun menambah pekerjaan. Pada tahun 1871 ada seorang tuan amtenar bernama van Hall bersama Bupati Banyumas, diutus oleh pemerintah untuk melakukan peninjauan, untuk memeriksa kebun yang dibuat sengkedan, yang ditanami padi, jagung, tembakau, kacang, dan sebagainya. Waktu itu diketahui benar bahwa hampir semua pemilik kebun di lahan miring sudah membuat sengkedan di kebunnya, serta kemudian diperiksa: “Bagaimana pendapatnya tentang aturan sengked itu!” Semua menjawab: “Banyak untungnya.” Sebab sekarang mereka sudah mengerti bahwa pekerjaannya lebih sedikit tetapi hasilnya bertambah. Bahkan waktu itu sempat memeriksa seorang nenek-nenek dari Panembong: :“Bagaimana nek, bukankah lebih baik berkebun dengan aturan lama saja?” :Nenek itu menjawab: “Maaf saja juragan, ini aturan terasa lebih tambah mudah.” :Ditanya lagi: “Mudah bagaimana?” :Kata nenek: “Tanahnya jadi gembur serta tanamannya semakin lama semakin baik.” :“Mengapa bisa begitu?” :“Sebab tanahnya tidak hanyut seperti dalu, sekarang bisa dicangkul dalam.” :“Bagaimana dengan tanamannya?” :“Silakan saja lihat sendiri tembakau saya ini, dulu saya tidak pernah punya tembakau sebagus ini, ada pun yang bagus hanya di lembah saja yang tertimbun dari atas, dari atas dulu deras sekali, tetapi sekarang semuanya rata gemuk sekali. Dan sekarang mudah berjalan, tidak seperti dalu sulit melangkah di lahan miring apalagi sambil membawa barang. Dan sekarang pun ada tanda batas yang jelas bahwa oleh saya sudah dimiliki, sekarang tidak akan ada yang merebut.” :“Jadi tidak tetap milik nenek?” :“Betul sekali Juragan, yang penting tidak lebih dari itu saja.” Selain dari itu, van Hall juga mendengar cerita dari seorang warga Wanakerta, bahwa dirinyaa sudah mencoba dua kali menanam padi di kebun tanpa sengkedan. Pada tahun pertama dapat 10 pikul, tahun kedua hanya 3 pikul. Ada seorang lagi bernama Bapa Rai, warga Desa Ciela dan seorang tetua dari Desa Nangoh, dari dulu dalam 3 tahun ia hanya bisa panen satu kali, dengan tanah yang sama. Namun, setelah diganti pengelolaannya, dibuat sengkedan, jadi tambah banyak hasil panennya. Kata Bapa Rai hasil panen dari kebunnya seperti berkut: <center> {| class="wikitable" |+ | style="text-align: center;" |Di tahun | style="text-align: center;" |1865 | style="text-align: center;" |padinya | style="text-align: center;" |100 | style="text-align: center;" |ikat | style="text-align: center;" |tembakaunya | style="text-align: center;" |80 | style="text-align: center;" |''lémpéng'' |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1866 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |104 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |90 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1867 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |105 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |98 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1868 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |108 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |104 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1869 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |114 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |108 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1870 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |111 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |110 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |187 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |113 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |111 |style="text-align: center;" |" |} </center> Adapun Bapa Rai bukanlah petani yang terkenal pandai, sebab jika tanahnya lebih dalam dicangkul dan diberi pupuk, tentu saja hasilnya bisa berkali lipat, apalagi jika oleh yang pandai. Tetapi meskipun begitu tetap terlihat jelas, bahwa caranya itu baik, sebab sekarang sudah tujuh tahun setiap musim kebun itu ditanami, dan pemiliknya belum pernah terpikir pindah lahan. Dan lagi jika ditambah baik perawatannya, rumput-rumputnya, sampah-sampahnya tidak dibuang, tetapi dikumpulkan, setelah busuk ditaruh, dicangkul yang dalam, kira-kira sedalam 1 kaki serta dijadikan pupuk. Tentu 100 tahun lagi pun tanah itu masih bisa ditanami, tidak perlu mencari lahan baru. Bukankah itu suatu keuntungan besar? Bahkan Bapa Rai sambil menunggu hasil tanaman tidak berhenti membenahi pagar, ditanami pohon-pohon buah di sisi pagar, sisi bagian dalamnya ditanami kopi, membuat saung kecil serta rapi, sebagai tempat istirahat. Bahkan jika sedang banyak pekerjaan digunakan untuk bermalam. Intinya, Bapa Rai memiliki kebun yang baik, serta kebun tersebut memberikan dampaknya berupa penghasilannya. Banyangkan jika seluruh petani di Pulau Jawa menggunakan cara seperti itu dalam mengolah kebunnya, tentu akan sangat bagus hasilnya. Pengelolaan kebunnya teratur, pagarnya rapi dan indah, dibuat jalan setapak, saung yang bagus dan rapi, di sekelilingnya ditanam pohon yang buahnya lezat, seperti nangka, mangga, durian, jeruk, sawo, manila, duku, manggis dan sebagainya, serta ditanami labu atau ''kukuk'' (sejejnis labu) yang merambat di saung, sebagai tambahan atap untuk terasnya. Bagaimana kalau begitu penerapannya, bukankah lebih bagus dibandingkan kebun yang kotor, ''setengah hutan dan yang sering ditinggalkannya''. Pertama karena betah kenyamanan, kedua ada hasilnya, karena buahnya laku di pasar, lumayan untuk membeli garam dan terasi. Ada orang yang tidak mau menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah, di Sunda disebutnya ''jelema manuk'' atau ''jelema hejo tihang''. Semua mungkin sudah mengerti maksudnya, kenapa disebut ''hejo tihang'' karena belum rusak tempat tinggalnya sudah pindah lagi. Begitu juga dengan ''manuk'' (burung) tidak selalu menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah saja. Manusia yang memiliki perangai seperti itu sangat menyusahkan lurahnya, karena hari ini dirinya ada di sini, hari berikutnya sudah pindah lagi ke sana. Selamanya tidak bisa dijangkau. Pakaianya juga compang-camping, bisa disebut setengah manusia hutan. Tidak ada lagi yang dipikirkannya kecuali makan. Selain persoalan makanan tidak pernah dipikirkan. Perkara-perkara hukum adat yang baik tidak pernah tahu karena kurang bergaul dengan warga lainnya. Di Sunda, orang seperti itu tidak tahu adat tata krama, dinamakan ''jalma jauh ka bedug'', artinya manusia yang jauh dari tempat tinggal dan dari adat. Semuanya itu sebenarnya masih bisa diperbaiki, agar para petani semakin bagus merawat ladangnya, agar para ketua menjaga para petani tidak mengerjakan ladangnya semaunya saja, tapi harus menetap berkebunnya. Serta harus banyak embuat jalan, agar yang berkebun mudah untuk mobilisasi dan oleh ketua mudah untuk diawasi. Kalau seperti itu membuat senang, kepala desa (lurah) dan para pemangku di atasnya mudah memberitahu petani, apabila salah mengerjakannya. Dan orang-orang yang suka membeli tembakau, ''suuk'', kacang pasti banyak berdatangan, jadi para pertani tidak kesusahan menjualnya. Bagaimana bukankah itu lebih bagus dibandingkan penerapan yang dilakukan saat ini? Sekarang orang yang sedikit pengetahuannya sering disebut ''urang gunung''. Banyangkan kalau ''urang gunung'' semakin rajin, tentu penamaan ''gunung'' bukan untuk jadi bahan ejekan. ---- {{c|Sekarang simpan dulu cerita sengkedan, kita ceritakan hal tentang mengganti tanaman.}} Petani di sini baru sedikit-sedikit mulai paham. Kalau di Eropa sudah dari dulu tahu kalau tidak baik menanam tanaman yang sama terus menerus tanpa diselang-seling dengan tanaman lain. Jika ada petani menanam tembakau kedua kalinya, dan ada temannya yang setelah panen tembakau lanjut menananm kacang, lalu padi, lalu tembakau lagi, itu yang menanamnya tidak berselang-seling, hanya tembakau, panen yang kedua kalinya tidak ada sama sekali hasilnya. Berbeda dengan temannya yang menanamnya berselang-seling, tembakaunya untung dan yang lainnya juga tetap untung, yaitu dari kacang dan padi. Kenapa bisa begitu? Kalau mau tahu penjelasannya harus bertanya ke ilmu tani, yang bisa menjelaskan alasannya. Rahasianya seperti ini: <blockquote>Setiap tanaman tidak sama perawatannya, kondisinya, atau nutrisinya. Tanaman besar yang berbeda jenisnya, nutrisnya terkadang jauh berbeda juga. Ada tanaman yang cocok dengan tanah x tapi tidak cocok dengan tanah y. Ada yang cocok dengan tanah berpasir, ada yang cocok dengan tanah yang banyak kandungan kapurnya, begitu sebaliknya. Jika ada tanah yang ditanami satu jenis tanamannya, tapi kandungan tanahnya tidak cocok dengan jenis makanan/nutrisi untuk tanaman tersebut, tentu tanahnya harus disesuaikan dulu, agar cocok dengan pemenuhan nutrisi tanaman tersebut. Karena pada dasarnya, tanaman juga sama seperti manusia. Berasnya harus dimasak, ikannya harus digoreng atau dipanggang dulu. Begitu juga tanah, harus diolah dulu, supaya kandungan nutrisinya bisa disirap oleh berbagai jenis tanaman. Supaya tanahnya bagus untuk tanaman yang hendak ditanam, perlu ada air dan udara. Air dan udara itu masuk ke dalam tanah, jika sudah digemburkan tanahnya. Itu sebabnya sangat perlu dibajak dan dicangkul, bukan supaya akarnya bisa menjalar, tapi agar tanamannya bisa menyerap nutrisi tanahnya dengan baik.</blockquote> Toh buktinya kalau ada tanah yang sudah jadi hasil garapan petani sering disebut ''asak'' (masak), sama seperti saat menyebut makanan yang siap dihidangkan. Adapun padi tidak sama kebutuhan nutrisinya dengan tembakau, bentuknya, karakteristiknya berbeda. Ketika ditanami padi, kemungkinan tanah untuk nutrisi tembakau tidak diserap oleh padi. Itu nantinya jadi cadangan untuk nutrisi tembakau. Begitu juga sebaliknya kalau ditanami tembakau dulu, nutrisi tanah untuk padi tidak diserap. Coba bayangkan, jika tidak dibuat sengkedan di mana tempat menumpuknya tanah untuk tembakau atau untuk padi tersebut? Tentu tanah tersebut tergerus ke bawah oleh genangan air. Diibaratkan seperti menyimpan uang di dalam saku yang bolong, lepas jahitannya. Atau seperti Si Sakadang Kunyuk menyimpan pisang di dalam kantong (''koja''), sedangkan tasnya oleh Si Sakadang Kuya sudah dibolongi. Barangkali smuanya mengetahui dongeng tersebut. ---- Apabila ada yang menyela: :“Éta mah da monyét bangsa sato meureun baé bodo-bodo kitu ogé.” Tinggal jawab: :"''“Kumaha ari juru tani urang dieu pinter batan éta monyét, da sok miceunan taneuh alus tina kebona?”'' ---- Ada sebuah cerita yang cocok dijadikan teladan. <blockquote>Jaman dahulu ada seseorang yang memiliki 3 anak, yang mungkin karena malas, tidak mau menggarap kebunnya. Bapaknya jadi kesusahan. Lalu muncul 1 ide. Saat akan mendekati ajal, sang bapak berwasiat kepada anak-anaknya. Bahwa di kebun mereka ada harta yang terpendam. Setelah sang bapak dikuburkan. Maka ketiga anaknya tadi mulai mencangkuli kebunnya, bolak-balik, tapi hasilnya nihil, tidak menemukan apa-apa, membuat mereka semakin penasaran. Karena lelah mencangkul tapi tetap tidak mendapatkan yang diinginkan, akhirnya ditanami tanaman sambil lalu. Tidak lama setelah itu, tanamannya tumbuh dan berbuah. Dapat keuntungan berlimpah, yang tidak disangak oleh ketiganya. Dari sana, ketiganya baru mengerti bahwa harta yang diwariskan oleh bapak mereka, adalah hasil panen dari kebun mereka sendiri.</blockquote> ---- Sudah menjadi perbincangan di kalangan para petani, kacang bisa membuat padi menjadi bagus. Karena apabila menanam padi di lahan bekas menanam kacang, padinya akan bagus. Tapi ternyata anggapan ini salah. Karena kacang sangat menghabiskan nutrisi tanah, Yang bagus itu padinya saja, karena tanahnya sudah gembur dari sananya. <!--coba mun dina teu rassan sarua hadé maculna dipelakan paré tangtu leuwih alus paréna batan dina urut suuk téa.--> Namun bagaimana caranya mencangkul di lahan miring kalau tidak dibiuat sengkedan? Oleh karena itu harus menuruti aturan ini: <blockquote>''Supaya tanamannya bagus, tanah yang dipakai harus tanah yang dalam dan diaduk. Supaya tanah tidak gampang longsor di lahan miring maka harus dibuat sengked.''</blockquote> Apakah ada yang kurang berkenan dengan cara di atas? Pasti ada. Ada satu orang yang bilang: :“Saya tidak setuju. Soalnya kalau buka lahan di area bawah, tanah di area atasnya sering muncul yang berwarna merah, tanamannya seringkali jadi jelek.” Memang betul, kalau sengkednya terlalu lebar di lahan yang sangat miring. Dan kedua, kalau setelah disengked tanahnya tidak diaduk lagi. Karena lebar tidaknya sengked tergantung dari curam tidaknya kemiringan lahan. Apabila lahan terlalu miring, maka sengkednya jangan terlalu lebar. kalau masih ada lahan sisa yang masih bisa ditanami, mestinya disengked selebar 2 kaki. Bagian dasar tanahnya hanya sedikit yang keluar. Apalagi jika terus dicangkul sedalam kira-kira ¾ - 1 kaki. Jadi tanah yang subur bercampur dengan tanah yang kurang subur. Tentu tanahnya akan jadi lebih bagus dibandingkan tanah yang tidak diatur seperti ini. Lantas bagaimana tanahnya bisa tercampur seperti itu jika tidak disengked? ---- Sebelum menjelaskan cara membuat sengked, berikut manfaat sengked di lahan miring: # Sebagai tanda kepemilikan lahan. Karena sengked sama halnya petak-petak sawah, menjadi tanda alami bahwa lahan tersebut sudah ada pemiliknya. #Tidak perlu berpindah-pindah lahan selama 2-3 tahun, tapi ini bisa ditanami selama beberapa tahun tanpa berselang-seling. Tidak perlu berpindah-pindah dan ''teu pati kudu dijamikeun'', apalagi kalau mau menggunakan pupuk. #Meskipun proses persiapan cukup berat ketimbang cara biasa pada umumnya, pekerjaan setelahnya bisa lebih rileks, karena rumput-rumput liar seperti ilalang, <!--teki-->tidak ada, digantikan dengan rumput-rumput seperti sintrong, jelantir, bandotan, yang jika tanaman tersebut membusuk di situ tanahnya semakin lama semakin subur. Begitu pula tidak perlu sering-sering membuat pagar dan saluran irigasi. #Tanahnya tidak hanya subur, tetapi jika sampah-sampah dan jeraminya tidak dibuang, dibiarkan saja, tanahnya menjadi semakin bagus, apalagi jika mau diberi pupuk. Jika tidak memakai sengked, mungkin saat turun hujan akan langsung terbawa air. #Karena tanahnya gembur, menyebabkan banyak tempat resapan air hujan, sehingga tidak terlalu banyak genanangan. Malah genangannya karena setiap sengked mengalirnya pelan, jadi tidak terlalu deres yang membawa tanahnya hanyut. #Jika lahan miring sudah memakai sengked, genangan air jadi pelan mengalirnya. Malah tidak semuanya mengalir sampai ke bawah karena tertahan oleh sengked dan terserap di sana. Sebagian lagi yang engalirnya pelan, tentu jika terjadi banjir tidak akan terlalu merusak. Serta sungai-sungai kecil ''mayeung ngocorna'' karena banyak air hujan yang terserap oleh tanah. Dari sana perlahan-lahan merembes ke bawah ''maraban walungan téa''. Adapaun lahan miring yang tidak disengked airnya langusung mengalir ke sungai, besar luapan airnya dan kerusakannya akan parah. Di Distrik Panembong contohnya, danah-danau di sana sekarang tidak terlalu dangkal/tertimbun. Kalau dulu sebelum disengked setiap tahun harus selalu dikeruk. ==Cara membuat sengked== Karena yang paling sering dijadikan kebun adalah tanah miring (tanah lereng) dan tidak banyak yang membuka ladang di hutan besar, jadi yang akan dijelaskan sekarang adalah ketentuan-ketentuan umum dalam membuat sengked di perbukitan semak belukar dan pepohonan kecil saja. # Yang paling pertama dikerjakan yaitu membabat semak atau kayu-kayuan kecil menggunakan parang, dan membabatnya sebisa mungkin dipotong pendek. Begitu pula dengan rerumputannya juga dibabat.<br>Kayu yang sudah dibabat tadi dikumpulkan, bagusnya digunakan untuk suluh, sebagiannya lagi digunakan untuk pembuatan pagar yang mengelilingi kebun. #Jika sampah rumputnya terlalu banyak, sebaiknya sebagian dibakar, setelahnya sebagiannya lagi digunakan untuk membuat pematang ''lebak'' di tempat yang akan dibuat sengked.<br>Membuat pematang sawahnya harus: a. Seperti membuat parit, jangan ''nyanglandeh'' jangan menanjak, kalau ada cekungannya atau sungai, harus menyiku, seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop).jpg|center|thumb|277x277px]]Kalau ada bukit atau pasir, harus seperti ''ngais'' seperti ini: <br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop)-2.jpg|center|thumb|277x277px]]Sama persis seperti parit, tapi jangan seperti jalan naik turun. Kalau seperti itu masih sama seperti lereng saja. #Jarak antara pematang harus berdasarkan miringnya (lerengnya) lahan. Sebisanya harus dijaga supaya timbangannya bagian atas tidak lebih dari satu kaki dalamnya.<br>Jika ada lahan yang tidak sama lerengnya (kemiringannya}, sebidang tanah tidak terlalu terasa sebidang tanah lagi terasa lerengnya itu luasnya sengked harus dimodifikasi. Tepat di dalam lerengnya ''disingkat'' dibagian yang datar diperluas, karena jika tidak seperti itu tentu datar sengkednya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 35 crop)-H.jpg|center|thumb|290x290px|''a.'' Lahan yang terlalu miring; ''b.'' lahan yang tidak terlalu ''lembah''.]] #Jika sudah selesai membuat pematang dari rumput tadi, barulah mulai dicangkul. Mulai dari yang paling bawah kira-kira satu kaki antara sisi atasnya dari pematang tersebut, juga tanahnya harus dibalik agar menutupi sampah rumput pematang tadi, agar kuat pematanghnya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 36 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px]]Begini rupanya yang mencangkul dari bawah ke atas, tanah yang dicangkul agak ''dikembing'' dan dilempar ke belakang. Begitu seterusnya sampai mencangkul pematang kedua.<br>Dari sana ulangi memlagi buat sengked sedalam satu kaki di atas pematang kedua, serta caranya masih sama hingga selesai.<br>Hasil sengked seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 37 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' pematang/tanggul, ''b.'' tanah pembuanga bekas dicangkul, ''c.'' ''teuras'']] #Dari sina cangkul ke depan, apalagi tanah yang keras disebelah dari atas harus dipipihkan dan dilemparkan tanah yang masih miring. Adapun Rumput-rumputnya jangan diambil pusing karena sudah pada mati (layu) ketika pertama kali tanahnya dicangkul tadi. Jadi bentuk sengkednya seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 38 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Tanah gembur yang akan ditanami, ''b.'' tanah pembuangan bekas dicangkul, ''c.'' gusi]] #Sewaktu bekerja, rumput yang ditimbun di tanggul tadi kemungkinan akan tumbuh kembali, apalagi kalau alang-alang dan yang sejenisnya, oleh karena itu, tanggulnya harus dibersihkan dan harus di ''sina mayat'' sedikit supaya tidak terlalu curam. Nah sekarang sudah selesai tinggal menanam. #Dan juga harus ingat sengked tidak bisa dibatas seperti sawah, menggunakan tanggul yang tinggi, sebab jika menggunakan tanggul tentu membuat semakin mudah tanah terbawa arus, sebab terasa sekali, selain dari itu akan menjadi jelek untuk tanaman karena air yang mengalirnya malam hari mengendap membawa tanah longsor.<br>Meyebabkan tanaman rusak: Jika tanaman bukan tanaman rawa seperti padi, karena tanahnya terlalu basah. #Karena itu juga, ketika mencangkul tanahnya jangan dikorek-korek ke samping sengked, karena jika sisi sengked dibuat tinggi, tentu sengked akan tinggi tidak merata, jadi selokan atau pindah lereng.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 39 crop).jpg|center|thumb|277x277px]] #Begitu juga harus selalu ingat, sisi sengked bagian luar jangan dicangkul, biarkan utuh saja kira kira selebar telapak tangan (''satampah''), berperan sebagai gusi, dan agar mempermudah ketika dikerjakan, yang mencangkul harus menghadap ke ''lebak'' serta cangkulnya sedikit dicondongkan seperti contoh berikut:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 40 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Bagian ini jangan dicangkul]]Jadi ada sisi yang keras yang berfungsi sebagai gusinya. #Ketika membersihkan kebun sampah-sampahnya harus ''dikirab-kirab'' dan diletakkan di gusi. Itu besar sekali gunanata sebab air hujan tidak tersendat.<br>Jika sampah itu tumbuh kembali, harus ''disasar'' saja, serta rumput-rumput setelah ''dikirab'' diletakkan lagi di ujung sengked. #Jika tanahnya yang keras atau lengket kerkena air hujan tidak bisa menyerap jadi cepat tergenang serta tanahnya mudah terbawa arus, di situ harus membuat parit atau tampungan air per 20 atau 30 sengked, dalamnya serta luasnya 1 - 1 ½ kaki, tergantung padatnya tanah dan seringnya hujan di sana.<br>Selokan tersebut jangan terlalu miring, tetapi harus rata mengikuti ''turunan'' sengeked.<br>Tanah hasil menggali dari selokan tersebut, harus ditumpuk di sebelah sisi ''lebak'', yaitu untuk meninggikan sengked.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 41 crop).jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Saluran air, ''b.'' tanah hasil mtumpukan yang dipakai untuk meninggikan sengked.]] <!-- || Sekarang tidak terganggu, susah untuk terbawa air tanahnya. || Jika selokan dari lama kelamaan jadi dangkal berlumpur, itu harus digali, ta nahnya digunakan untuk menaikkan sengked sebe lah dari bawah. Ketika ada yang mena nam tanaman awet seperti kopi jangan dibereskan galengannya serta harus segera membuat sengked yang luasnya cukup. Jika ada yang menanam bertahun-tahun seper ti: padi, tembakau, dan yang sejenisnya baiknya sengkednya setopa berganti tanaman nya diluaskan sekitar ¼ kaki. || Itu bekas kotoran menjadi tanah baru serta bagus, dan sengkednya pelan pelan ja di sangat luas, serta bekas pekerjaannya tidak berat sama sekali dan tidak terlalu mengha silkan tanah keras. || Perasaan saya sekarang sudah habis menerangkan hal sengked, tinggal menceritakan Perkara Cangkul Perkara alat membuat aliran air yang murah Pagar yang mudah tapi besar manfaatnya || Sebelum menceritakan hal yang tiga perkara di atas, kita menceritakan dahu lu hal sengked lagi sedikit. || Di Apdeling Limbangan sudah bertahun-tahun menerapkan aturan sengked dalam segala jenis kebun, bukan di kebun\ kopi baru saja, yang dahulu juga yang tadinya diisengked sekarang dicicil disengked, bergitu juga kebun palawija dan ribuan hutan, serta dikerjakan dengan hati-hati dan pikiran, semua itu hasilnya menguntungkan. || Oleh karena itu jangan risau lagi, men cari jalan yang lain, lebih ba gus sering mencoba coba saja, karena sudah mengetahui bagusnya aturan tersebut. || Ada juga yang mencoba-coba gaga l, itu jangan disalahkan terhadap aturan nnya, hanya mencoba-coba saja tidak dengan pikira n dan tidak mengetahui keseluran aturan tersebut. || Dan lagi sangat pantas diperjuangkan oleh rasa lelah juga, agar seluruh perkara seluruh aturan yang mengakibatkan keuntungan serta yang ujung-ujungnya memakmurkan pulau Jawa, Jadi sangat pantas diperjuangkan oleh hanya rugi yang tidak menguntungkan sekali dua kali saja, karena semua perkala memulainya suka su sah dan harus ada kerugian juga. || Dari pengalaman yang sudah-sudah, tanah dicangkul dipipihkan dahulu, rumputnya disisi nya hilang, dibakar, dibuah, ketika tanahnya sudah gembur tanah baru memulai membuat sengked, tindakan seperti itu tentu sudah jelas pasti gagal, karena tentu tanahnya pasti terbawa air. || Dari situ dengan cepat yang salah menger jakan menyalahkan aturan, katanaya: “Tuh ternyata tidak bagus, sengked longsor terus” || Tapi tidak dipikirkan penyebab gagalnya kare na kesalahan dirinya, sama saja dalam perkara menabur biji, mengikuti aturan tabur oleh biji padi jatuh dari tangkainya, tapi menaburnya terlau dekat, dari situ mudah menyimpulkan tidak bagus; nah be gitu gagal! bijinya sangat layu, segera potong dicabut. ||Tapi tidak dipikir, jika yang menyebabkan gagal adalah karena tidak dikerjekan dengan semestinya dan tidak dipikir kenapa penyebabnya yang menyebabkan harus diurut/dirawat yaitu supaya renggang. || Saya pribadi sudah menemukan satu tukang tembak masih belajar jadi belum bisa menembak, tapi menembak tidak tepat sasaran, suka marah-marah, menyalahkan kepada tem bakan katanya: kenapa ada pistol yang bodoh, sialan!” serta itu pistol jika digunakan oleh tukang tembak yang mahir pasti nyaring sekali. || Yang salah membuat sengked mungkin begitu juga, jika menya lahkan kepada sengked padahal kesalah diri sendiri saja. --> ==Cangkul== Supaya pekerjaan yang dilakukan bisa lebih mudah maka harus menggunakan peralatan yang sesuai. Cangkul yang digunakan di Jawa itu bagaimana bisa disebut peralatan yang memudahkan pekerjaan. Ada tiga jenis cangkul: [[File:Mitra nu Tani (page 46 crop).jpg|center|thumb|290x290px|Cangkul Belanda atau cangkul kampak (kiri)<br>Cangkul Jawa (tengah)<br>Cangkul Sunda (kanan)]] Yang kurang direkomendasikan adalah cangkul Jawa, di atasnya adalah cangkul Sunda, dan yang lebih direkomendasikan adalah cangkul Belanda. Bukan hanya karena buatan luar negeri, melainkan karena gagangnya nyaman saat digunakan, lebih bertenaga saat mencangkulkannya ke tanah. Kalau cangkul Sunda cukup susah karena ''cangkulnya cenderung terlalu bengkok'', sehingga yang mencangkul harus merunduk agar bisa mencangkul dalam dan benar. Adapun cangkul Jawa ''ngulangkenana supaya bisa jero lain dikieuna héséna''. Pertama gagangnya terlalu pendek, dan kedua cangkul lebih bengkok dari cangkul Sunda. Oleh karena itu, pemakainya harus benar-benar merunduk saat membuat galian tanah. Sehingga membuat cepat lelah. Ditambah, cangkul Jawa ini terlalu berat yang membuat pekerjaan semakin berat juga. Ketimbang cangkul, itu lebih mirip alat pembajak sawah, karena jika digunakan terlihat seperti orang yang sedang menekan dan menarik alat pembajak tradisional (wuluku). <!--tapi upama prak diteelkeun sarta dikenyang tangtu hésé serta berat batan diulangkeun téya.--> Adapun cangkul Belanda hampir sepenuhnya baja dan tipis, ringan dan lebih mudah dibandingkan cangkul setengah besi setengah kayu, yang semakin ke atas semakin tebal. Pada [[c:File:Mitra nu Tani (page 49 crop).jpg|halaman 43] Ada ilustrasi penggunaan tiga jenis cangkul: [[File:Mitra nu Tani (page 49 crop)-H.jpg|center|thumb|450x450px|Cangkul Jawa (kiri), cangkul Sunda (tengah), cangkul Belanda (kanan)]] Bagaimana dengan gambar ini, setuju cangkul Belanda yang lebih direkomendasikan? ---- Pekerja di perkebunan teh Waspada bekerjanya memakai cangkul Belanda. Tentu banyak keuntungannya dibanding pekerja Jawa yang membawa cangkulnya sendiri dari rumah. Memang betul, di Waspada tanahnya gembur. Tapi pekerja yang mencangkul sedalam 1 kaki dari pukul 06.30 pagi sampai 14.30 siang bisa menghasilkan 40 ''tumbak'' ☐. Atau semisal lebih dangkal kira-kira sedalam 3 ''dim'', bisa menghasilkan 55 atau 60 ''tumbak'' ☐. Lalu dilanjutkan dengan menjemur rumput dan ditumpukkan di atas sengked. Oleh karena itu, harapannya, orang Jawa yang masih menggunakan cangkulnya seperti pada gabar di atas, bisa segera berganti ke cangkul yang lebih bagus. Semisal mereka tidak mau menggunakan cangkul Belanda meskipun harganya sangat murah karena baja semua, ya mau bagaimana lagi. Tapi, setidaknya harus mengikuti contoh cangkul Sunda. Itu masih lebih ringan gampang dibandingkan cangkul yang mirip wuluku itu. Buat apa susah-susah jongkok sebegitunya kalau tidak diperlukan, kan. ==Alat ''Water pass''== Mungkin banyak yang merasa sulit memperbaiki sungai oleh sampah yang banyak, agar landai lurusnya. Sebenarnya ada alatnya, sangat mudah, siapa pun bisa membuatnya, serta ongkosnya hanya terbilang sangat murah. Hal yang harus dibuat: Pertama, tongkat. Panjangnya harus seukuran dengan tinggi batas mata orang yang akan menggunakan alatnya. Di atas tongkat tadi pasang paku kayu seperti di ''e''. Selanjutnya pasang papan kecil, gantungkan supaya terayun-ayun ke paku kayu ''b''. Dari situ pasang lagi papan kecil ''e'', simpan di papan tadi, atur sampai lurus agar terlihat seperti menyiku. Kemudian gunakan bambu kecil tipis atau kaso diberi lubang oleh lidi ''d''. Agar bisa digunakan untuk membidik, ikat dengan tali rotan ke papan tersebut yang lurus tadi. [[File:Mitra nu Tani (page 52 crop).jpg|center|thumb|290x290px|Kayu ''b'' harus lebih berat dibandingkan kayu ''c'']] Alat satunya lagi yaitu tongkat kedua, panjangnya sama dengan yang pertama. Selanjutnya pasang papan kecil, beri warna putih menggunakan kapur. Panjangnya 4 lebarnya 2 dim. Papan ini posisinya posisinya di atas tongkat kedua, agar kaso atau bambu yang dilubangi tadi (di tongkat pertama) akur posisinya dengan tengah-tengahnya itu papan. [[File:Mitra nu Tani (page 53 crop).jpg|center|thumb|290x290px]]<br> Cara mengoperasikan alatnya seperti berikut: Satu orang memegang tongkat dan papannya tegak lurus ke tanah, jangan ditancapkan ke tanah, cukup dipegang saja, seperti ''a.'' [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|di halaman 49]]. Satu orang lagi memegang alat yang disebut paling awal (tongkat pertama), yang diberi nama teropong (kékér), sambil jalan mundur ke belakang 15 atau 20 langkah. Dari sana bidik bambu atau kaso yang sudah dilubangi tadi ke arah papan putih. Teropongnya pindah ke atas atau ke bawah sambil supaya pas dengan tengah-tengahnya papan. Setelah itu berikan tanda, orang yang memegang papan putih pindah ke tempat yang sudah diberi tanda tadi, sementara yang membawa teropong mundur lagi 15 atau 20 langkah ke belakang, begitu seterusnya. Alat ini bukan sekadar menunjukkan cara membuat sengked saja, tapi jika lahan tidak terlalu rata lerengnya, bisa untuk mengukur luas sengked. Di [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|halaman 49]] ada contoh cara menggunakan alat ''Water pass'' ini. [[File:Mitra nu Tani (page 55 crop)-H.jpg|394x394px|center]] Tidak perlu setiap sengked Diukur dengan ''water pass''. Hanya untuk menjaga saja serta agar lerengnya rata. Mungkin cukup per 5 atau 10 sengked diukur dengan ''water pass''. Di sini, di Garut, para petani sudah biasa membuat sengked. Sengked ''lempeng'' saja, mengikuti lahan, tidak harus menggunakan alat yang sudah dijelaskan tadi, penyebabnya yaitu kebiasannya, jarang yang salah sengked. Namun, bagi yang baru, alat tadi mungkin akan sangat berguna. ==Pagar== Di sini pagar yang digunakan untuk mengelilingi kebun kebanyak dari pohon waru (kapas-kapasan), dibariskan dengan jarak kira-kira 2 atau 3 kaki, serta tiap jaraknya ditanami pohon jarak atau murbei, diselipkan dengan bambu. Tangkai waru yang ditebang bisa dijadikan suluh, daunnya sebaga pembungkus. Agar nanti sudah tumbuh sangat besar, kain bagus untuk dijadikan perabotan, untuk roda karet untuk membawa rempah-rempah dan sebagainya. Jika banyak kebun yang bertemu batas, itu bagus untuk kompromi yang punya kebun dalam merawatnya, yaitu syaratnya agar kebunnya subur, jangan setiap kebun dipagar disekelilingnya oleh pagar permanen. Lebih bagus pagar yang bisa untuk menjaga hewan kuda, sapi, atau kerbau beradu saja daripada mengeluarkan ongkosnya, bersama-sama saja, keuntungannya, kerugiannya, dari pagar tersebut memiliki bagiannya masing-masing. Untuk pagar yang menjadi tanda kepemilikan seseorang sebaiknya menggunakan tanaman kecil saja, lebih baik lagi menggunakan tanaman yang ada buahnya seperti mengkudu atau kopi, jaraknya 4 kaki, dan selain dari itu. Tentu ada juga hasilnya walau sedikit. Bagaimana perasaannya setelah diberikan pembelajaran ini, bagus atau buruk? Semoga pengarang tidak sia-sia membuatnya. Jangan sampai memberi nasihat yang tidak bisa diterapkan. [[Kategori:WikiPrestasi]] 3i7a40xcr9845f6sd9mig3xl9y9tcsy 114917 114916 2026-04-19T03:53:23Z Deepturquoise 32400 /* Cara membuat sengked */ 114917 wikitext text/x-wiki {{c|“Bagaimana caranya supaya tanaman kokoh di lahan miring, tidak kering tanahnya, atau supaya tidak mudah pindah ke lahan lain.”<br> {{rule|5em}} <small>Pepatah mengatakan: ''Ayakan tara meunang kancra''.</small>}} Jika ada anak kecil mencomot nasi sekaligus dan menjatuhkan remah-remahnya, maka oleh ibunya sering ditegur sambil berkata: “Ih! Jangan begitu, pantang (''pamali'')”. Begitu juga apabila ada perempuan menemukan sisir di jalan, kemudian diambilnya, lalu diselipkan ke rambut, ucapnya: “Khawatir dibiarkan di jalan.” Demi Allah sudah menciptakan tanah supaya bisa ditanami, ratusan ribuan tahun lamanya, tetapi oleh manusia yang kurang pengetahuan hanya terpakai 1 atau 3 tahun saja, setelah itu habis lahan suburnya, lalu ditinggalkan begitu saja, pindah ke lahan lain, sebab tanaman tidak bisa tumbuh di lahan yang sudah rusak. Apakah yang seperti itu bukan pantangan? Saya rasa lebih pantang daripada anak yang mencomot nasi tadi, sebab terbentuknya tanah subur itu tidak sebentar. Asalnya adalah batu cadas, kemudian karena bertahun-tahun terkena panas, embun, hujan, batu cadas tersebut rapuh dan melunak, jadilah pasir halus, kemudian tumbuh lumut-lumut. Sesudah itu lumut menjadi busuk bercampur dengan butiran-butiran cadas tadi, lama-kelamaan tumbuh rumput, setelah itu bertahun-tahun lagi terkena panas, embun, dan hujan, batu dan cadas tadi semakin hancur, kembali tumbuh rumput bercampur dengan pasir, barulah jadi tanaman-tanaman kecil, kemudian bertahun-tahun selanjutnya batu cadas makin hancur, daun tanaman-tanaman tadi berguguran, bercampur lagi dengan butiran-butiran batu cadas tersebut, bertahun-tahun lagi barulah jadi hutan yang besar. Daun-daunnya setiap hari berguguran, banyak pohon yang roboh jadi busuk lalu jadi tanah, barulah jadi tanah hitam yang digarap oleh manusia. Coba dipikirkan, berapa lamanya tanah itu dari mulai ada lumut sampai menjadi ;ahan yang siap tanam? Bukan satu-dua tahun saja, tetapi ratusan bahkan ribuan tahun. Tidak usah terlalu jauh mencari perbandingannya. Coba lihat saja gunung Papandayan sudah berapa tahun lamanya terbentuk, sekarang baru ada banyak pepohonan tumbuh. Hal itu oleh manusia yang sedikit pengetahuannya sama sekali tidak dipikirkan atau dipedulikan. Tanah yag digarap habis tanpa aturan, paling lama hanya terpakai 3 tahun, bahkan ada peribahasa mengatakan: ''dua tahun katilu cul'' (dua tahun, ketiga ditinggal), tidak ada yang mengingatkan untuk membuat tata kelola supaya terpakai lama, setidaknya 10 sampai 20 tahun. Tampaknya hal ini dibiarkan saja, yang penting kerjaannya gampang, tidak masalah anak cucunya kelak kekurangan lahan garapan, tidak apa-apa keturunannya paceklik karena sudah tidak ada lagi yang bisa ditanami, yang penting saya hidup enak. Mungkin pikirnya: Buat apa mikir soal ratusan ribuan tahun tadi, buat apa juga memikirkan anak cucu. Ah! tapi menurut saya, tidak mungkin kalau tidak peduli pada anugerah Allah yang sudah diberikan kepada kita untuk hidup, tidak mungkin tidak ingat kepada anak cucu. Kemungkinan itu karena tidak terpikirkan saja, yang membuat segitu gegabahnya. ''Seolah tidak menyayangi anak cucunya dan mungkin dihinakan oleh Allah Taala yang membiarkan kegabahannya terhadap tanah miliknya.'' Makanya Allah sudah menjadikan tanah itu sekian lamanya hingga bisa ditanami, supaya manusia bisa mengambil hasilnya. Bukankah jadi pantangan, jika tanah yang bagus dari hasil yang mudah dalam waktu ⅔ tahun diisi hanya menjadi tanah kosong atau rumput liar, tidak ada tujuannya? Coba dipikir, berapa banyak tangkai padi yang keluar dari tanah itu, berapa banyak orang yang mendapat bekal dari tanah itu, jika tidak digegabahkan. Yang seperti itu sama sekali tidak dipikirkan, dan oleh sebab tidak dipikirkan akhirnya dimaafkan. Namun, karena sekarang sudah diberi tahu, seperti seorang ibu melarang anaknya butiran-butiran nasi, maka sekarang sangat pantang jika ada orang tetap meneruskan menggarap kebunnya menurut aturan kuno serta tidak mengikuti pengelolaan yang lebih baik, supaya tanah yang subur tidak terbawa hanyut oleh aliran air. Adapun aturannya gampang sekali supaya tanahnya tidak hanyut seta akans saya ceritakan di bawah ini: Jika ingin supaya tanah yang subur dan gembur di lahan miring tidak hanyut, maka itu harus dibuat sengkedan serta lebih mudah mengerjakannya daripada pekerjaan lain yang banyak. Kata para petani: :“Sulit untuk memulainya, tetapi menurut saya tidak, sebab sudah terbukti, bila membuat kebun sepetak dengan aturan lama dikerjakannya 37 hari, jika dibuat sengkedan jadi 44 hari, nah! hanya menambah tujuh hari.” Coba pikirkan dengan teliti, jika membuat kebun dengan aturan lama dalam 2 tahun paling lama 3 tahun, tanahnya yang subur sudah hanyut, sehingga harus pindah lahan lagi. Sangat berbeda dengan kebun yang dibuat sengkedan, meskipun hasilnya pada tahun pertama sengkedan kurang, tetap sama saja dengan hasil sawah tadah hujan, itu tidak menjadi kekurangan bagi sengkedan, karenanya pada sengkedan, tanahnya setiap tahun makin subur, sebab tanah lapisan atasnya yang baik tidak hanyut terbawa aliran air, bahkan bercampur dengan tanah kerasnya yang merah, apalagi jika akan subur tidak dibuang, yaitu sampah ditimbunkan atau dikubur. Jadi tanah semakin baik dan semakin gembur mudahnya pasir semakin lengket, serta hasil panenannya lebih banyak daripada kebun yang dibiarkan begitu saja. Kesimpulannya: sengkedan itu lebih mudah serta lebih sedikit pekerjaannya dibanding aturan yang lama, sebab tidak perlu repot pindah-pindah serta setiap kali mulai membuka kebun harus lagi membuat pagar dan parit, itu pun menambah pekerjaan. Pada tahun 1871 ada seorang tuan amtenar bernama van Hall bersama Bupati Banyumas, diutus oleh pemerintah untuk melakukan peninjauan, untuk memeriksa kebun yang dibuat sengkedan, yang ditanami padi, jagung, tembakau, kacang, dan sebagainya. Waktu itu diketahui benar bahwa hampir semua pemilik kebun di lahan miring sudah membuat sengkedan di kebunnya, serta kemudian diperiksa: :“Bagaimana pendapatnya tentang aturan sengked itu!” Semua menjawab: :“Banyak untungnya.” Sebab sekarang mereka sudah mengerti bahwa pekerjaannya lebih sedikit tetapi hasilnya bertambah. ---- Bahkan waktu itu sempat memeriksa seorang nenek-nenek dari Panembong: :“Bagaimana nek, bukankah lebih baik berkebun dengan aturan lama saja?” Nenek itu menjawab: :“Maaf saja juragan, ini aturan terasa lebih tambah mudah.” Ditanya lagi :“Mudah bagaimana?” Kata nenek :“Tanahnya jadi gembur serta tanamannya semakin lama semakin baik.” :“Mengapa bisa begitu?” :“Sebab tanahnya tidak hanyut seperti dalu, sekarang bisa dicangkul dalam.” :“Bagaimana dengan tanamannya?” :“Silakan saja lihat sendiri tembakau saya ini, dulu saya tidak pernah punya tembakau sebagus ini, ada pun yang bagus hanya di lembah saja yang tertimbun dari atas, dari atas dulu deras sekali, tetapi sekarang semuanya rata gemuk sekali. Dan sekarang mudah berjalan, tidak seperti dalu sulit melangkah di lahan miring apalagi sambil membawa barang. Dan sekarang pun ada tanda batas yang jelas bahwa oleh saya sudah dimiliki, sekarang tidak akan ada yang merebut.” :“Jadi tidak tetap milik nenek?” :“Betul sekali Juragan, yang penting tidak lebih dari itu saja.” ---- Selain dari itu, van Hall juga mendengar cerita dari seorang warga Wanakerta, bahwa dirinyaa sudah mencoba dua kali menanam padi di kebun tanpa sengkedan. Pada tahun pertama dapat 10 pikul, tahun kedua hanya 3 pikul. Ada seorang lagi bernama Bapa Rai, warga Desa Ciela dan seorang tetua dari Desa Nangoh, dari dulu dalam 3 tahun ia hanya bisa panen satu kali, dengan tanah yang sama. Namun, setelah diganti pengelolaannya, dibuat sengkedan, jadi tambah banyak hasil panennya. Kata Bapa Rai hasil panen dari kebunnya seperti berkut: <center> {| class="wikitable" |+ | style="text-align: center;" |Di tahun | style="text-align: center;" |1865 | style="text-align: center;" |padinya | style="text-align: center;" |100 | style="text-align: center;" |ikat | style="text-align: center;" |tembakaunya | style="text-align: center;" |80 | style="text-align: center;" |''lémpéng'' |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1866 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |104 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |90 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1867 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |105 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |98 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1868 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |108 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |104 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1869 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |114 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |108 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1870 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |111 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |110 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |187 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |113 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |111 |style="text-align: center;" |" |} </center> Adapun Bapa Rai bukanlah petani yang terkenal pandai, sebab jika tanahnya lebih dalam dicangkul dan diberi pupuk, tentu saja hasilnya bisa berkali lipat, apalagi jika oleh yang pandai. Tetapi meskipun begitu tetap terlihat jelas, bahwa caranya itu baik, sebab sekarang sudah tujuh tahun setiap musim kebun itu ditanami, dan pemiliknya belum pernah terpikir pindah lahan. Dan lagi jika ditambah baik perawatannya, rumput-rumputnya, sampah-sampahnya tidak dibuang, tetapi dikumpulkan, setelah busuk ditaruh, dicangkul yang dalam, kira-kira sedalam 1 kaki serta dijadikan pupuk. Tentu 100 tahun lagi pun tanah itu masih bisa ditanami, tidak perlu mencari lahan baru. Bukankah itu suatu keuntungan besar? Bahkan Bapa Rai sambil menunggu hasil tanaman tidak berhenti membenahi pagar, ditanami pohon-pohon buah di sisi pagar, sisi bagian dalamnya ditanami kopi, membuat saung kecil serta rapi, sebagai tempat istirahat. Bahkan jika sedang banyak pekerjaan digunakan untuk bermalam. Intinya, Bapa Rai memiliki kebun yang baik, serta kebun tersebut memberikan dampaknya berupa penghasilannya. Banyangkan jika seluruh petani di Pulau Jawa menggunakan cara seperti itu dalam mengolah kebunnya, tentu akan sangat bagus hasilnya. Pengelolaan kebunnya teratur, pagarnya rapi dan indah, dibuat jalan setapak, saung yang bagus dan rapi, di sekelilingnya ditanam pohon yang buahnya lezat, seperti nangka, mangga, durian, jeruk, sawo, manila, duku, manggis dan sebagainya, serta ditanami labu atau ''kukuk'' (sejejnis labu) yang merambat di saung, sebagai tambahan atap untuk terasnya. Bagaimana kalau begitu penerapannya, bukankah lebih bagus dibandingkan kebun yang kotor, ''setengah hutan dan yang sering ditinggalkannya''. Pertama karena betah kenyamanan, kedua ada hasilnya, karena buahnya laku di pasar, lumayan untuk membeli garam dan terasi. Ada orang yang tidak mau menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah, di Sunda disebutnya ''jelema manuk'' atau ''jelema hejo tihang''. Semua mungkin sudah mengerti maksudnya, kenapa disebut ''hejo tihang'' karena belum rusak tempat tinggalnya sudah pindah lagi. Begitu juga dengan ''manuk'' (burung) tidak selalu menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah saja. Manusia yang memiliki perangai seperti itu sangat menyusahkan lurahnya, karena hari ini dirinya ada di sini, hari berikutnya sudah pindah lagi ke sana. Selamanya tidak bisa dijangkau. Pakaianya juga compang-camping, bisa disebut setengah manusia hutan. Tidak ada lagi yang dipikirkannya kecuali makan. Selain persoalan makanan tidak pernah dipikirkan. Perkara-perkara hukum adat yang baik tidak pernah tahu karena kurang bergaul dengan warga lainnya. Di Sunda, orang seperti itu tidak tahu adat tata krama, dinamakan ''jalma jauh ka bedug'', artinya manusia yang jauh dari tempat tinggal dan dari adat. Semuanya itu sebenarnya masih bisa diperbaiki, agar para petani semakin bagus merawat ladangnya, agar para ketua menjaga para petani tidak mengerjakan ladangnya semaunya saja, tapi harus menetap berkebunnya. Serta harus banyak embuat jalan, agar yang berkebun mudah untuk mobilisasi dan oleh ketua mudah untuk diawasi. Kalau seperti itu membuat senang, kepala desa (lurah) dan para pemangku di atasnya mudah memberitahu petani, apabila salah mengerjakannya. Dan orang-orang yang suka membeli tembakau, ''suuk'', kacang pasti banyak berdatangan, jadi para pertani tidak kesusahan menjualnya. Bagaimana bukankah itu lebih bagus dibandingkan penerapan yang dilakukan saat ini? Sekarang orang yang sedikit pengetahuannya sering disebut ''urang gunung''. Banyangkan kalau ''urang gunung'' semakin rajin, tentu penamaan ''gunung'' bukan untuk jadi bahan ejekan. ---- {{c|Sekarang simpan dulu cerita sengkedan, kita ceritakan hal tentang mengganti tanaman.}} Petani di sini baru sedikit-sedikit mulai paham. Kalau di Eropa sudah dari dulu tahu kalau tidak baik menanam tanaman yang sama terus menerus tanpa diselang-seling dengan tanaman lain. Jika ada petani menanam tembakau kedua kalinya, dan ada temannya yang setelah panen tembakau lanjut menananm kacang, lalu padi, lalu tembakau lagi, itu yang menanamnya tidak berselang-seling, hanya tembakau, panen yang kedua kalinya tidak ada sama sekali hasilnya. Berbeda dengan temannya yang menanamnya berselang-seling, tembakaunya untung dan yang lainnya juga tetap untung, yaitu dari kacang dan padi. Kenapa bisa begitu? Kalau mau tahu penjelasannya harus bertanya ke ilmu tani, yang bisa menjelaskan alasannya. Rahasianya seperti ini: <blockquote>Setiap tanaman tidak sama perawatannya, kondisinya, atau nutrisinya. Tanaman besar yang berbeda jenisnya, nutrisnya terkadang jauh berbeda juga. Ada tanaman yang cocok dengan tanah x tapi tidak cocok dengan tanah y. Ada yang cocok dengan tanah berpasir, ada yang cocok dengan tanah yang banyak kandungan kapurnya, begitu sebaliknya. Jika ada tanah yang ditanami satu jenis tanamannya, tapi kandungan tanahnya tidak cocok dengan jenis makanan/nutrisi untuk tanaman tersebut, tentu tanahnya harus disesuaikan dulu, agar cocok dengan pemenuhan nutrisi tanaman tersebut. Karena pada dasarnya, tanaman juga sama seperti manusia. Berasnya harus dimasak, ikannya harus digoreng atau dipanggang dulu. Begitu juga tanah, harus diolah dulu, supaya kandungan nutrisinya bisa disirap oleh berbagai jenis tanaman. Supaya tanahnya bagus untuk tanaman yang hendak ditanam, perlu ada air dan udara. Air dan udara itu masuk ke dalam tanah, jika sudah digemburkan tanahnya. Itu sebabnya sangat perlu dibajak dan dicangkul, bukan supaya akarnya bisa menjalar, tapi agar tanamannya bisa menyerap nutrisi tanahnya dengan baik.</blockquote> Toh buktinya kalau ada tanah yang sudah jadi hasil garapan petani sering disebut ''asak'' (masak), sama seperti saat menyebut makanan yang siap dihidangkan. Adapun padi tidak sama kebutuhan nutrisinya dengan tembakau, bentuknya, karakteristiknya berbeda. Ketika ditanami padi, kemungkinan tanah untuk nutrisi tembakau tidak diserap oleh padi. Itu nantinya jadi cadangan untuk nutrisi tembakau. Begitu juga sebaliknya kalau ditanami tembakau dulu, nutrisi tanah untuk padi tidak diserap. Coba bayangkan, jika tidak dibuat sengkedan di mana tempat menumpuknya tanah untuk tembakau atau untuk padi tersebut? Tentu tanah tersebut tergerus ke bawah oleh genangan air. Diibaratkan seperti menyimpan uang di dalam saku yang bolong, lepas jahitannya. Atau seperti Si Sakadang Kunyuk menyimpan pisang di dalam kantong (''koja''), sedangkan tasnya oleh Si Sakadang Kuya sudah dibolongi. Barangkali smuanya mengetahui dongeng tersebut. ---- Apabila ada yang menyela: :“Éta mah da monyét bangsa sato meureun baé bodo-bodo kitu ogé.” Tinggal jawab: :"''“Kumaha ari juru tani urang dieu pinter batan éta monyét, da sok miceunan taneuh alus tina kebona?”'' ---- Ada sebuah cerita yang cocok dijadikan teladan. <blockquote>Jaman dahulu ada seseorang yang memiliki 3 anak, yang mungkin karena malas, tidak mau menggarap kebunnya. Bapaknya jadi kesusahan. Lalu muncul 1 ide. Saat akan mendekati ajal, sang bapak berwasiat kepada anak-anaknya. Bahwa di kebun mereka ada harta yang terpendam. Setelah sang bapak dikuburkan. Maka ketiga anaknya tadi mulai mencangkuli kebunnya, bolak-balik, tapi hasilnya nihil, tidak menemukan apa-apa, membuat mereka semakin penasaran. Karena lelah mencangkul tapi tetap tidak mendapatkan yang diinginkan, akhirnya ditanami tanaman sambil lalu. Tidak lama setelah itu, tanamannya tumbuh dan berbuah. Dapat keuntungan berlimpah, yang tidak disangak oleh ketiganya. Dari sana, ketiganya baru mengerti bahwa harta yang diwariskan oleh bapak mereka, adalah hasil panen dari kebun mereka sendiri.</blockquote> ---- Sudah menjadi perbincangan di kalangan para petani, kacang bisa membuat padi menjadi bagus. Karena apabila menanam padi di lahan bekas menanam kacang, padinya akan bagus. Tapi ternyata anggapan ini salah. Karena kacang sangat menghabiskan nutrisi tanah, Yang bagus itu padinya saja, karena tanahnya sudah gembur dari sananya. <!--coba mun dina teu rassan sarua hadé maculna dipelakan paré tangtu leuwih alus paréna batan dina urut suuk téa.--> Namun bagaimana caranya mencangkul di lahan miring kalau tidak dibiuat sengkedan? Oleh karena itu harus menuruti aturan ini: <blockquote>''Supaya tanamannya bagus, tanah yang dipakai harus tanah yang dalam dan diaduk. Supaya tanah tidak gampang longsor di lahan miring maka harus dibuat sengked.''</blockquote> Apakah ada yang kurang berkenan dengan cara di atas? Pasti ada. Ada satu orang yang bilang: :“Saya tidak setuju. Soalnya kalau buka lahan di area bawah, tanah di area atasnya sering muncul yang berwarna merah, tanamannya seringkali jadi jelek.” Memang betul, kalau sengkednya terlalu lebar di lahan yang sangat miring. Dan kedua, kalau setelah disengked tanahnya tidak diaduk lagi. Karena lebar tidaknya sengked tergantung dari curam tidaknya kemiringan lahan. Apabila lahan terlalu miring, maka sengkednya jangan terlalu lebar. kalau masih ada lahan sisa yang masih bisa ditanami, mestinya disengked selebar 2 kaki. Bagian dasar tanahnya hanya sedikit yang keluar. Apalagi jika terus dicangkul sedalam kira-kira ¾ - 1 kaki. Jadi tanah yang subur bercampur dengan tanah yang kurang subur. Tentu tanahnya akan jadi lebih bagus dibandingkan tanah yang tidak diatur seperti ini. Lantas bagaimana tanahnya bisa tercampur seperti itu jika tidak disengked? ---- Sebelum menjelaskan cara membuat sengked, berikut manfaat sengked di lahan miring: # Sebagai tanda kepemilikan lahan. Karena sengked sama halnya petak-petak sawah, menjadi tanda alami bahwa lahan tersebut sudah ada pemiliknya. #Tidak perlu berpindah-pindah lahan selama 2-3 tahun, tapi ini bisa ditanami selama beberapa tahun tanpa berselang-seling. Tidak perlu berpindah-pindah dan ''teu pati kudu dijamikeun'', apalagi kalau mau menggunakan pupuk. #Meskipun proses persiapan cukup berat ketimbang cara biasa pada umumnya, pekerjaan setelahnya bisa lebih rileks, karena rumput-rumput liar seperti ilalang, <!--teki-->tidak ada, digantikan dengan rumput-rumput seperti sintrong, jelantir, bandotan, yang jika tanaman tersebut membusuk di situ tanahnya semakin lama semakin subur. Begitu pula tidak perlu sering-sering membuat pagar dan saluran irigasi. #Tanahnya tidak hanya subur, tetapi jika sampah-sampah dan jeraminya tidak dibuang, dibiarkan saja, tanahnya menjadi semakin bagus, apalagi jika mau diberi pupuk. Jika tidak memakai sengked, mungkin saat turun hujan akan langsung terbawa air. #Karena tanahnya gembur, menyebabkan banyak tempat resapan air hujan, sehingga tidak terlalu banyak genanangan. Malah genangannya karena setiap sengked mengalirnya pelan, jadi tidak terlalu deres yang membawa tanahnya hanyut. #Jika lahan miring sudah memakai sengked, genangan air jadi pelan mengalirnya. Malah tidak semuanya mengalir sampai ke bawah karena tertahan oleh sengked dan terserap di sana. Sebagian lagi yang engalirnya pelan, tentu jika terjadi banjir tidak akan terlalu merusak. Serta sungai-sungai kecil ''mayeung ngocorna'' karena banyak air hujan yang terserap oleh tanah. Dari sana perlahan-lahan merembes ke bawah ''maraban walungan téa''. Adapaun lahan miring yang tidak disengked airnya langusung mengalir ke sungai, besar luapan airnya dan kerusakannya akan parah. Di Distrik Panembong contohnya, danah-danau di sana sekarang tidak terlalu dangkal/tertimbun. Kalau dulu sebelum disengked setiap tahun harus selalu dikeruk. ==Cara membuat sengked== Karena yang paling sering dijadikan kebun adalah tanah miring (tanah lereng) dan tidak banyak yang membuka ladang di hutan besar, jadi yang akan dijelaskan sekarang adalah ketentuan-ketentuan umum dalam membuat sengked di perbukitan semak belukar dan pepohonan kecil saja. # Yang paling pertama dikerjakan yaitu membabat semak atau kayu-kayuan kecil menggunakan parang, dan membabatnya sebisa mungkin dipotong pendek. Begitu pula dengan rerumputannya juga dibabat.<br>Kayu yang sudah dibabat tadi dikumpulkan, bagusnya digunakan untuk suluh, sebagiannya lagi digunakan untuk pembuatan pagar yang mengelilingi kebun. #Jika sampah rumputnya terlalu banyak, sebaiknya sebagian dibakar, setelahnya sebagiannya lagi digunakan untuk membuat pematang ''lebak'' di tempat yang akan dibuat sengked.<br>Membuat pematang sawahnya harus: a. Seperti membuat parit, jangan ''nyanglandeh'' jangan menanjak, kalau ada cekungannya atau sungai, harus menyiku, seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop).jpg|center|thumb|277x277px]]Kalau ada bukit atau pasir, harus seperti ''ngais'' seperti ini: <br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop)-2.jpg|center|thumb|277x277px]]Sama persis seperti parit, tapi jangan seperti jalan naik turun. Kalau seperti itu masih sama seperti lereng saja. #Jarak antara pematang harus berdasarkan miringnya (lerengnya) lahan. Sebisanya harus dijaga supaya timbangannya bagian atas tidak lebih dari satu kaki dalamnya.<br>Jika ada lahan yang tidak sama lerengnya (kemiringannya}, sebidang tanah tidak terlalu terasa sebidang tanah lagi terasa lerengnya itu luasnya sengked harus dimodifikasi. Tepat di dalam lerengnya ''disingkat'' dibagian yang datar diperluas, karena jika tidak seperti itu tentu datar sengkednya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 35 crop)-H.jpg|center|thumb|290x290px|''a.'' Lahan yang terlalu miring; ''b.'' lahan yang tidak terlalu ''lembah''.]] #Jika sudah selesai membuat pematang dari rumput tadi, barulah mulai dicangkul. Mulai dari yang paling bawah kira-kira satu kaki antara sisi atasnya dari pematang tersebut, juga tanahnya harus dibalik agar menutupi sampah rumput pematang tadi, agar kuat pematanghnya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 36 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px]]Begini rupanya yang mencangkul dari bawah ke atas, tanah yang dicangkul agak ''dikembing'' dan dilempar ke belakang. Begitu seterusnya sampai mencangkul pematang kedua.<br>Dari sana ulangi memlagi buat sengked sedalam satu kaki di atas pematang kedua, serta caranya masih sama hingga selesai.<br>Hasil sengked seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 37 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' pematang/tanggul, ''b.'' tanah pembuanga bekas dicangkul, ''c.'' ''teuras'']] #Dari sina cangkul ke depan, apalagi tanah yang keras disebelah dari atas harus dipipihkan dan dilemparkan tanah yang masih miring. Adapun Rumput-rumputnya jangan diambil pusing karena sudah pada mati (layu) ketika pertama kali tanahnya dicangkul tadi. Jadi bentuk sengkednya seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 38 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Tanah gembur yang akan ditanami, ''b.'' tanah pembuangan bekas dicangkul, ''c.'' gusi]] #Sewaktu bekerja, rumput yang ditimbun di tanggul tadi kemungkinan akan tumbuh kembali, apalagi kalau alang-alang dan yang sejenisnya, oleh karena itu, tanggulnya harus dibersihkan dan harus di ''sina mayat'' sedikit supaya tidak terlalu curam. Nah sekarang sudah selesai tinggal menanam. #Dan juga harus ingat sengked tidak bisa dibatas seperti sawah, menggunakan tanggul yang tinggi, sebab jika menggunakan tanggul tentu membuat semakin mudah tanah terbawa arus, sebab terasa sekali, selain dari itu akan menjadi jelek untuk tanaman karena air yang mengalirnya malam hari mengendap membawa tanah longsor.<br>Meyebabkan tanaman rusak: Jika tanaman bukan tanaman rawa seperti padi, karena tanahnya terlalu basah. #Karena itu juga, ketika mencangkul tanahnya jangan dikorek-korek ke samping sengked, karena jika sisi sengked dibuat tinggi, tentu sengked akan tinggi tidak merata, jadi selokan atau pindah lereng.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 39 crop).jpg|center|thumb|277x277px]] #Begitu juga harus selalu ingat, sisi sengked bagian luar jangan dicangkul, biarkan utuh saja kira kira selebar telapak tangan (''satampah''), berperan sebagai gusi, dan agar mempermudah ketika dikerjakan, yang mencangkul harus menghadap ke ''lebak'' serta cangkulnya sedikit dicondongkan seperti contoh berikut:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 40 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Bagian ini jangan dicangkul]]Jadi ada sisi yang keras yang berfungsi sebagai gusinya. #Ketika membersihkan kebun sampah-sampahnya harus ''dikirab-kirab'' dan diletakkan di gusi. Itu besar sekali gunanata sebab air hujan tidak tersendat.<br>Jika sampah itu tumbuh kembali, harus ''disasar'' saja, serta rumput-rumput setelah ''dikirab'' diletakkan lagi di ujung sengked. #Jika tanahnya yang keras atau lengket kerkena air hujan tidak bisa menyerap jadi cepat tergenang serta tanahnya mudah terbawa arus, di situ harus membuat parit atau tampungan air per 20 atau 30 sengked, dalamnya serta luasnya 1 - 1 ½ kaki, tergantung padatnya tanah dan seringnya hujan di sana.<br>Selokan tersebut jangan terlalu miring, tetapi harus rata mengikuti ''turunan'' sengeked.<br>Tanah hasil menggali dari selokan tersebut, harus ditumpuk di sebelah sisi ''lebak'', yaitu untuk meninggikan sengked.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 41 crop).jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Saluran air, ''b.'' tanah hasil mtumpukan yang dipakai untuk meninggikan sengked.]] ---- Sekarang tampak bukan masalah lagi, tanahnya tidak akan gampang erosi. Apabila saluran air mulai tertimbun dari waktu ke waktu, maka harus dikeruk. Tanahnya gunakan untuk meninggikan sengked bagian bawah. Di lokasi tanaman awet seperti kopi, jangan ''ditamping'', sebaiknya segera buat sengkedan yang luasnya cukup. Di tempat tanaman tahunan seperti: padi, tembakau, dan sejenisnya, lebih baik melebarkan sengkedan sekitar ¼ kaki setiap kali menggant tanaman. Tanah bekas ''ditamping'' tadi akan jadi tanah baru dan gembur, dan sengkedannya perlahan akan menjadi sangat lebar, <!--tur tapa gawéanana teu berat sama sakali jeung teu pati matak ngabijilkeun taneuh teuras.--> Saya rasa sudah cukup penjelasan tentang sengkedan. Sisanya menjelaskan tentang: :a. Cangkul :b. Alat ''waterpass'' :c. pagar yang praktis tapi banyak menfaatnya Sebelum menjelaskan 3 hal di atas, ada sedikit tambahan untuk pembuatan sengked. Di Apdeling Limbangan sudah bertahun-tahun menerapkan aturan sengked pada setiap jenis perkebunan. Tidak hanya di lahan baru untuk kopi saja. Di lahan lama juga, yang tidak disengked sekarang mulai disengked. Begitu juga perkebunan palawija dan berpetak-petak lahan lainnya. Dikerjakan dengan hati-hati dan teliti. Semua itu hasilnya menguntungkan. Oleh karena itu jangan ragu lagi, mencari jalan yang lain, lebih bagus dipraktikan dulu, karena hasilnya sudah terbukti dengan cara seperti ini. Ada juga yang pernah mencoba namun gagal. Itu jangan menyalahkan aturannya. Yang mencobanya belum teliti dan belum paham secara keseluran aturan tersebut. Dan lagi, sangat pantas diperjuangkan oleh rasa lelah juga, agar menjadi hal yang menguntungkan dan pada akhirnya bisa memakmurkan Pulau Jawa. Malah tidak mengapa rugi di awal, sekali dua kali belum terlihat keuntungannya, sebab setiap perkara pasti sulit saat memulainya dan terkadang ada ruginya. Dari pengalaman yang sudah-sudah, tanah dicangkul ''dikeprék'' dahulu. Rumputnya dicabuti, dibakar, dibuang. Ketika tanahnya sudah gembur, baru mulai membuat sengked. Yang seprti ini sudah pasti gagal, karena tentu tanahnya pasti akan terbawa arus air. Kalau sudah seperti itu pasti yang disalahkan aturannya. Ucapnya: :“Tuh ternyata tidak bagus, sengked longsor terus.” Tapi tidak dipikirkan penyebab gagalnya karena kesalahan dirinya. Sama seperti perkara menabur biji. ''pada nurutkeun sebar ku bangsal tetebar ranggeyan, tapi ngawurkeunana kerep teuing, tidinya gancang deui nyebutna teu hadé:'' :''“Tah geuning gagal! Bibitna leles kacida, sok potong ana dibabutan.”'' Tapi tidak dipikir, kalau yang menyebabkan gagal adalah karena tidak dikerjekan dengan semestinya dan tidak dipikir ''kunaon sababna nu matak kudu ku bangsal, nyaéta supaya carang.'' Saya pribadi sudah pernah bertemu dengan salah satu pemburu yang masih belajar jadi belum bisa menembak. Tapi ketika tembakannya tidak mengenai sasaran, sering marah-marah, menyalahkan senapan. Ucapnya : “Kenapa sih senapan ini tidak berguna. Sialan!” Tapi kalau senapan itu dipakai oleh orang lain yang lebih mahir pasti gampang sekali. Yang salah membuat sengked mungkin seperti itu juga, ''ari nyalahkeunana kana séngkéd tur bongan sorangan baé.'' ==Cangkul== Supaya pekerjaan yang dilakukan bisa lebih mudah maka harus menggunakan peralatan yang sesuai. Cangkul yang digunakan di Jawa itu bagaimana bisa disebut peralatan yang memudahkan pekerjaan. Ada tiga jenis cangkul: [[File:Mitra nu Tani (page 46 crop).jpg|center|thumb|290x290px|Cangkul Belanda atau cangkul kampak (kiri)<br>Cangkul Jawa (tengah)<br>Cangkul Sunda (kanan)]] Yang kurang direkomendasikan adalah cangkul Jawa, di atasnya adalah cangkul Sunda, dan yang lebih direkomendasikan adalah cangkul Belanda. Bukan hanya karena buatan luar negeri, melainkan karena gagangnya nyaman saat digunakan, lebih bertenaga saat mencangkulkannya ke tanah. Kalau cangkul Sunda cukup susah karena ''cangkulnya cenderung terlalu bengkok'', sehingga yang mencangkul harus merunduk agar bisa mencangkul dalam dan benar. Adapun cangkul Jawa ''ngulangkenana supaya bisa jero lain dikieuna héséna''. Pertama gagangnya terlalu pendek, dan kedua cangkul lebih bengkok dari cangkul Sunda. Oleh karena itu, pemakainya harus benar-benar merunduk saat membuat galian tanah. Sehingga membuat cepat lelah. Ditambah, cangkul Jawa ini terlalu berat yang membuat pekerjaan semakin berat juga. Ketimbang cangkul, itu lebih mirip alat pembajak sawah, karena jika digunakan terlihat seperti orang yang sedang menekan dan menarik alat pembajak tradisional (wuluku). <!--tapi upama prak diteelkeun sarta dikenyang tangtu hésé serta berat batan diulangkeun téya.--> Adapun cangkul Belanda hampir sepenuhnya baja dan tipis, ringan dan lebih mudah dibandingkan cangkul setengah besi setengah kayu, yang semakin ke atas semakin tebal. Pada [[c:File:Mitra nu Tani (page 49 crop).jpg|halaman 43] Ada ilustrasi penggunaan tiga jenis cangkul: [[File:Mitra nu Tani (page 49 crop)-H.jpg|center|thumb|450x450px|Cangkul Jawa (kiri), cangkul Sunda (tengah), cangkul Belanda (kanan)]] Bagaimana dengan gambar ini, setuju cangkul Belanda yang lebih direkomendasikan? ---- Pekerja di perkebunan teh Waspada bekerjanya memakai cangkul Belanda. Tentu banyak keuntungannya dibanding pekerja Jawa yang membawa cangkulnya sendiri dari rumah. Memang betul, di Waspada tanahnya gembur. Tapi pekerja yang mencangkul sedalam 1 kaki dari pukul 06.30 pagi sampai 14.30 siang bisa menghasilkan 40 ''tumbak'' ☐. Atau semisal lebih dangkal kira-kira sedalam 3 ''dim'', bisa menghasilkan 55 atau 60 ''tumbak'' ☐. Lalu dilanjutkan dengan menjemur rumput dan ditumpukkan di atas sengked. Oleh karena itu, harapannya, orang Jawa yang masih menggunakan cangkulnya seperti pada gabar di atas, bisa segera berganti ke cangkul yang lebih bagus. Semisal mereka tidak mau menggunakan cangkul Belanda meskipun harganya sangat murah karena baja semua, ya mau bagaimana lagi. Tapi, setidaknya harus mengikuti contoh cangkul Sunda. Itu masih lebih ringan gampang dibandingkan cangkul yang mirip wuluku itu. Buat apa susah-susah jongkok sebegitunya kalau tidak diperlukan, kan. ==Alat ''Water pass''== Mungkin banyak yang merasa sulit memperbaiki sungai oleh sampah yang banyak, agar landai lurusnya. Sebenarnya ada alatnya, sangat mudah, siapa pun bisa membuatnya, serta ongkosnya hanya terbilang sangat murah. Hal yang harus dibuat: Pertama, tongkat. Panjangnya harus seukuran dengan tinggi batas mata orang yang akan menggunakan alatnya. Di atas tongkat tadi pasang paku kayu seperti di ''e''. Selanjutnya pasang papan kecil, gantungkan supaya terayun-ayun ke paku kayu ''b''. Dari situ pasang lagi papan kecil ''e'', simpan di papan tadi, atur sampai lurus agar terlihat seperti menyiku. Kemudian gunakan bambu kecil tipis atau kaso diberi lubang oleh lidi ''d''. Agar bisa digunakan untuk membidik, ikat dengan tali rotan ke papan tersebut yang lurus tadi. [[File:Mitra nu Tani (page 52 crop).jpg|center|thumb|290x290px|Kayu ''b'' harus lebih berat dibandingkan kayu ''c'']] Alat satunya lagi yaitu tongkat kedua, panjangnya sama dengan yang pertama. Selanjutnya pasang papan kecil, beri warna putih menggunakan kapur. Panjangnya 4 lebarnya 2 dim. Papan ini posisinya posisinya di atas tongkat kedua, agar kaso atau bambu yang dilubangi tadi (di tongkat pertama) akur posisinya dengan tengah-tengahnya itu papan. [[File:Mitra nu Tani (page 53 crop).jpg|center|thumb|290x290px]]<br> Cara mengoperasikan alatnya seperti berikut: Satu orang memegang tongkat dan papannya tegak lurus ke tanah, jangan ditancapkan ke tanah, cukup dipegang saja, seperti ''a.'' [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|di halaman 49]]. Satu orang lagi memegang alat yang disebut paling awal (tongkat pertama), yang diberi nama teropong (kékér), sambil jalan mundur ke belakang 15 atau 20 langkah. Dari sana bidik bambu atau kaso yang sudah dilubangi tadi ke arah papan putih. Teropongnya pindah ke atas atau ke bawah sambil supaya pas dengan tengah-tengahnya papan. Setelah itu berikan tanda, orang yang memegang papan putih pindah ke tempat yang sudah diberi tanda tadi, sementara yang membawa teropong mundur lagi 15 atau 20 langkah ke belakang, begitu seterusnya. Alat ini bukan sekadar menunjukkan cara membuat sengked saja, tapi jika lahan tidak terlalu rata lerengnya, bisa untuk mengukur luas sengked. Di [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|halaman 49]] ada contoh cara menggunakan alat ''Water pass'' ini. [[File:Mitra nu Tani (page 55 crop)-H.jpg|394x394px|center]] Tidak perlu setiap sengked Diukur dengan ''water pass''. Hanya untuk menjaga saja serta agar lerengnya rata. Mungkin cukup per 5 atau 10 sengked diukur dengan ''water pass''. Di sini, di Garut, para petani sudah biasa membuat sengked. Sengked ''lempeng'' saja, mengikuti lahan, tidak harus menggunakan alat yang sudah dijelaskan tadi, penyebabnya yaitu kebiasannya, jarang yang salah sengked. Namun, bagi yang baru, alat tadi mungkin akan sangat berguna. ==Pagar== Di sini pagar yang digunakan untuk mengelilingi kebun kebanyak dari pohon waru (kapas-kapasan), dibariskan dengan jarak kira-kira 2 atau 3 kaki, serta tiap jaraknya ditanami pohon jarak atau murbei, diselipkan dengan bambu. Tangkai waru yang ditebang bisa dijadikan suluh, daunnya sebaga pembungkus. Agar nanti sudah tumbuh sangat besar, kain bagus untuk dijadikan perabotan, untuk roda karet untuk membawa rempah-rempah dan sebagainya. Jika banyak kebun yang bertemu batas, itu bagus untuk kompromi yang punya kebun dalam merawatnya, yaitu syaratnya agar kebunnya subur, jangan setiap kebun dipagar disekelilingnya oleh pagar permanen. Lebih bagus pagar yang bisa untuk menjaga hewan kuda, sapi, atau kerbau beradu saja daripada mengeluarkan ongkosnya, bersama-sama saja, keuntungannya, kerugiannya, dari pagar tersebut memiliki bagiannya masing-masing. Untuk pagar yang menjadi tanda kepemilikan seseorang sebaiknya menggunakan tanaman kecil saja, lebih baik lagi menggunakan tanaman yang ada buahnya seperti mengkudu atau kopi, jaraknya 4 kaki, dan selain dari itu. Tentu ada juga hasilnya walau sedikit. Bagaimana perasaannya setelah diberikan pembelajaran ini, bagus atau buruk? Semoga pengarang tidak sia-sia membuatnya. Jangan sampai memberi nasihat yang tidak bisa diterapkan. [[Kategori:WikiPrestasi]] 79t4g6r9ym72icd1wvl2xnmt63g2p77 114918 114917 2026-04-19T04:19:08Z Deepturquoise 32400 /* Alat Water pass */ 114918 wikitext text/x-wiki {{c|“Bagaimana caranya supaya tanaman kokoh di lahan miring, tidak kering tanahnya, atau supaya tidak mudah pindah ke lahan lain.”<br> {{rule|5em}} <small>Pepatah mengatakan: ''Ayakan tara meunang kancra''.</small>}} Jika ada anak kecil mencomot nasi sekaligus dan menjatuhkan remah-remahnya, maka oleh ibunya sering ditegur sambil berkata: “Ih! Jangan begitu, pantang (''pamali'')”. Begitu juga apabila ada perempuan menemukan sisir di jalan, kemudian diambilnya, lalu diselipkan ke rambut, ucapnya: “Khawatir dibiarkan di jalan.” Demi Allah sudah menciptakan tanah supaya bisa ditanami, ratusan ribuan tahun lamanya, tetapi oleh manusia yang kurang pengetahuan hanya terpakai 1 atau 3 tahun saja, setelah itu habis lahan suburnya, lalu ditinggalkan begitu saja, pindah ke lahan lain, sebab tanaman tidak bisa tumbuh di lahan yang sudah rusak. Apakah yang seperti itu bukan pantangan? Saya rasa lebih pantang daripada anak yang mencomot nasi tadi, sebab terbentuknya tanah subur itu tidak sebentar. Asalnya adalah batu cadas, kemudian karena bertahun-tahun terkena panas, embun, hujan, batu cadas tersebut rapuh dan melunak, jadilah pasir halus, kemudian tumbuh lumut-lumut. Sesudah itu lumut menjadi busuk bercampur dengan butiran-butiran cadas tadi, lama-kelamaan tumbuh rumput, setelah itu bertahun-tahun lagi terkena panas, embun, dan hujan, batu dan cadas tadi semakin hancur, kembali tumbuh rumput bercampur dengan pasir, barulah jadi tanaman-tanaman kecil, kemudian bertahun-tahun selanjutnya batu cadas makin hancur, daun tanaman-tanaman tadi berguguran, bercampur lagi dengan butiran-butiran batu cadas tersebut, bertahun-tahun lagi barulah jadi hutan yang besar. Daun-daunnya setiap hari berguguran, banyak pohon yang roboh jadi busuk lalu jadi tanah, barulah jadi tanah hitam yang digarap oleh manusia. Coba dipikirkan, berapa lamanya tanah itu dari mulai ada lumut sampai menjadi ;ahan yang siap tanam? Bukan satu-dua tahun saja, tetapi ratusan bahkan ribuan tahun. Tidak usah terlalu jauh mencari perbandingannya. Coba lihat saja gunung Papandayan sudah berapa tahun lamanya terbentuk, sekarang baru ada banyak pepohonan tumbuh. Hal itu oleh manusia yang sedikit pengetahuannya sama sekali tidak dipikirkan atau dipedulikan. Tanah yag digarap habis tanpa aturan, paling lama hanya terpakai 3 tahun, bahkan ada peribahasa mengatakan: ''dua tahun katilu cul'' (dua tahun, ketiga ditinggal), tidak ada yang mengingatkan untuk membuat tata kelola supaya terpakai lama, setidaknya 10 sampai 20 tahun. Tampaknya hal ini dibiarkan saja, yang penting kerjaannya gampang, tidak masalah anak cucunya kelak kekurangan lahan garapan, tidak apa-apa keturunannya paceklik karena sudah tidak ada lagi yang bisa ditanami, yang penting saya hidup enak. Mungkin pikirnya: Buat apa mikir soal ratusan ribuan tahun tadi, buat apa juga memikirkan anak cucu. Ah! tapi menurut saya, tidak mungkin kalau tidak peduli pada anugerah Allah yang sudah diberikan kepada kita untuk hidup, tidak mungkin tidak ingat kepada anak cucu. Kemungkinan itu karena tidak terpikirkan saja, yang membuat segitu gegabahnya. ''Seolah tidak menyayangi anak cucunya dan mungkin dihinakan oleh Allah Taala yang membiarkan kegabahannya terhadap tanah miliknya.'' Makanya Allah sudah menjadikan tanah itu sekian lamanya hingga bisa ditanami, supaya manusia bisa mengambil hasilnya. Bukankah jadi pantangan, jika tanah yang bagus dari hasil yang mudah dalam waktu ⅔ tahun diisi hanya menjadi tanah kosong atau rumput liar, tidak ada tujuannya? Coba dipikir, berapa banyak tangkai padi yang keluar dari tanah itu, berapa banyak orang yang mendapat bekal dari tanah itu, jika tidak digegabahkan. Yang seperti itu sama sekali tidak dipikirkan, dan oleh sebab tidak dipikirkan akhirnya dimaafkan. Namun, karena sekarang sudah diberi tahu, seperti seorang ibu melarang anaknya butiran-butiran nasi, maka sekarang sangat pantang jika ada orang tetap meneruskan menggarap kebunnya menurut aturan kuno serta tidak mengikuti pengelolaan yang lebih baik, supaya tanah yang subur tidak terbawa hanyut oleh aliran air. Adapun aturannya gampang sekali supaya tanahnya tidak hanyut seta akans saya ceritakan di bawah ini: Jika ingin supaya tanah yang subur dan gembur di lahan miring tidak hanyut, maka itu harus dibuat sengkedan serta lebih mudah mengerjakannya daripada pekerjaan lain yang banyak. Kata para petani: :“Sulit untuk memulainya, tetapi menurut saya tidak, sebab sudah terbukti, bila membuat kebun sepetak dengan aturan lama dikerjakannya 37 hari, jika dibuat sengkedan jadi 44 hari, nah! hanya menambah tujuh hari.” Coba pikirkan dengan teliti, jika membuat kebun dengan aturan lama dalam 2 tahun paling lama 3 tahun, tanahnya yang subur sudah hanyut, sehingga harus pindah lahan lagi. Sangat berbeda dengan kebun yang dibuat sengkedan, meskipun hasilnya pada tahun pertama sengkedan kurang, tetap sama saja dengan hasil sawah tadah hujan, itu tidak menjadi kekurangan bagi sengkedan, karenanya pada sengkedan, tanahnya setiap tahun makin subur, sebab tanah lapisan atasnya yang baik tidak hanyut terbawa aliran air, bahkan bercampur dengan tanah kerasnya yang merah, apalagi jika akan subur tidak dibuang, yaitu sampah ditimbunkan atau dikubur. Jadi tanah semakin baik dan semakin gembur mudahnya pasir semakin lengket, serta hasil panenannya lebih banyak daripada kebun yang dibiarkan begitu saja. Kesimpulannya: sengkedan itu lebih mudah serta lebih sedikit pekerjaannya dibanding aturan yang lama, sebab tidak perlu repot pindah-pindah serta setiap kali mulai membuka kebun harus lagi membuat pagar dan parit, itu pun menambah pekerjaan. Pada tahun 1871 ada seorang tuan amtenar bernama van Hall bersama Bupati Banyumas, diutus oleh pemerintah untuk melakukan peninjauan, untuk memeriksa kebun yang dibuat sengkedan, yang ditanami padi, jagung, tembakau, kacang, dan sebagainya. Waktu itu diketahui benar bahwa hampir semua pemilik kebun di lahan miring sudah membuat sengkedan di kebunnya, serta kemudian diperiksa: :“Bagaimana pendapatnya tentang aturan sengked itu!” Semua menjawab: :“Banyak untungnya.” Sebab sekarang mereka sudah mengerti bahwa pekerjaannya lebih sedikit tetapi hasilnya bertambah. ---- Bahkan waktu itu sempat memeriksa seorang nenek-nenek dari Panembong: :“Bagaimana nek, bukankah lebih baik berkebun dengan aturan lama saja?” Nenek itu menjawab: :“Maaf saja juragan, ini aturan terasa lebih tambah mudah.” Ditanya lagi :“Mudah bagaimana?” Kata nenek :“Tanahnya jadi gembur serta tanamannya semakin lama semakin baik.” :“Mengapa bisa begitu?” :“Sebab tanahnya tidak hanyut seperti dalu, sekarang bisa dicangkul dalam.” :“Bagaimana dengan tanamannya?” :“Silakan saja lihat sendiri tembakau saya ini, dulu saya tidak pernah punya tembakau sebagus ini, ada pun yang bagus hanya di lembah saja yang tertimbun dari atas, dari atas dulu deras sekali, tetapi sekarang semuanya rata gemuk sekali. Dan sekarang mudah berjalan, tidak seperti dalu sulit melangkah di lahan miring apalagi sambil membawa barang. Dan sekarang pun ada tanda batas yang jelas bahwa oleh saya sudah dimiliki, sekarang tidak akan ada yang merebut.” :“Jadi tidak tetap milik nenek?” :“Betul sekali Juragan, yang penting tidak lebih dari itu saja.” ---- Selain dari itu, van Hall juga mendengar cerita dari seorang warga Wanakerta, bahwa dirinyaa sudah mencoba dua kali menanam padi di kebun tanpa sengkedan. Pada tahun pertama dapat 10 pikul, tahun kedua hanya 3 pikul. Ada seorang lagi bernama Bapa Rai, warga Desa Ciela dan seorang tetua dari Desa Nangoh, dari dulu dalam 3 tahun ia hanya bisa panen satu kali, dengan tanah yang sama. Namun, setelah diganti pengelolaannya, dibuat sengkedan, jadi tambah banyak hasil panennya. Kata Bapa Rai hasil panen dari kebunnya seperti berkut: <center> {| class="wikitable" |+ | style="text-align: center;" |Di tahun | style="text-align: center;" |1865 | style="text-align: center;" |padinya | style="text-align: center;" |100 | style="text-align: center;" |ikat | style="text-align: center;" |tembakaunya | style="text-align: center;" |80 | style="text-align: center;" |''lémpéng'' |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1866 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |104 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |90 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1867 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |105 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |98 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1868 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |108 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |104 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1869 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |114 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |108 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |1870 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |111 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |110 |style="text-align: center;" |" |- |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |187 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |113 |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |" |style="text-align: center;" |111 |style="text-align: center;" |" |} </center> Adapun Bapa Rai bukanlah petani yang terkenal pandai, sebab jika tanahnya lebih dalam dicangkul dan diberi pupuk, tentu saja hasilnya bisa berkali lipat, apalagi jika oleh yang pandai. Tetapi meskipun begitu tetap terlihat jelas, bahwa caranya itu baik, sebab sekarang sudah tujuh tahun setiap musim kebun itu ditanami, dan pemiliknya belum pernah terpikir pindah lahan. Dan lagi jika ditambah baik perawatannya, rumput-rumputnya, sampah-sampahnya tidak dibuang, tetapi dikumpulkan, setelah busuk ditaruh, dicangkul yang dalam, kira-kira sedalam 1 kaki serta dijadikan pupuk. Tentu 100 tahun lagi pun tanah itu masih bisa ditanami, tidak perlu mencari lahan baru. Bukankah itu suatu keuntungan besar? Bahkan Bapa Rai sambil menunggu hasil tanaman tidak berhenti membenahi pagar, ditanami pohon-pohon buah di sisi pagar, sisi bagian dalamnya ditanami kopi, membuat saung kecil serta rapi, sebagai tempat istirahat. Bahkan jika sedang banyak pekerjaan digunakan untuk bermalam. Intinya, Bapa Rai memiliki kebun yang baik, serta kebun tersebut memberikan dampaknya berupa penghasilannya. Banyangkan jika seluruh petani di Pulau Jawa menggunakan cara seperti itu dalam mengolah kebunnya, tentu akan sangat bagus hasilnya. Pengelolaan kebunnya teratur, pagarnya rapi dan indah, dibuat jalan setapak, saung yang bagus dan rapi, di sekelilingnya ditanam pohon yang buahnya lezat, seperti nangka, mangga, durian, jeruk, sawo, manila, duku, manggis dan sebagainya, serta ditanami labu atau ''kukuk'' (sejejnis labu) yang merambat di saung, sebagai tambahan atap untuk terasnya. Bagaimana kalau begitu penerapannya, bukankah lebih bagus dibandingkan kebun yang kotor, ''setengah hutan dan yang sering ditinggalkannya''. Pertama karena betah kenyamanan, kedua ada hasilnya, karena buahnya laku di pasar, lumayan untuk membeli garam dan terasi. Ada orang yang tidak mau menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah, di Sunda disebutnya ''jelema manuk'' atau ''jelema hejo tihang''. Semua mungkin sudah mengerti maksudnya, kenapa disebut ''hejo tihang'' karena belum rusak tempat tinggalnya sudah pindah lagi. Begitu juga dengan ''manuk'' (burung) tidak selalu menetap, pekerjaannya hanya berpindah-pindah saja. Manusia yang memiliki perangai seperti itu sangat menyusahkan lurahnya, karena hari ini dirinya ada di sini, hari berikutnya sudah pindah lagi ke sana. Selamanya tidak bisa dijangkau. Pakaianya juga compang-camping, bisa disebut setengah manusia hutan. Tidak ada lagi yang dipikirkannya kecuali makan. Selain persoalan makanan tidak pernah dipikirkan. Perkara-perkara hukum adat yang baik tidak pernah tahu karena kurang bergaul dengan warga lainnya. Di Sunda, orang seperti itu tidak tahu adat tata krama, dinamakan ''jalma jauh ka bedug'', artinya manusia yang jauh dari tempat tinggal dan dari adat. Semuanya itu sebenarnya masih bisa diperbaiki, agar para petani semakin bagus merawat ladangnya, agar para ketua menjaga para petani tidak mengerjakan ladangnya semaunya saja, tapi harus menetap berkebunnya. Serta harus banyak embuat jalan, agar yang berkebun mudah untuk mobilisasi dan oleh ketua mudah untuk diawasi. Kalau seperti itu membuat senang, kepala desa (lurah) dan para pemangku di atasnya mudah memberitahu petani, apabila salah mengerjakannya. Dan orang-orang yang suka membeli tembakau, ''suuk'', kacang pasti banyak berdatangan, jadi para pertani tidak kesusahan menjualnya. Bagaimana bukankah itu lebih bagus dibandingkan penerapan yang dilakukan saat ini? Sekarang orang yang sedikit pengetahuannya sering disebut ''urang gunung''. Banyangkan kalau ''urang gunung'' semakin rajin, tentu penamaan ''gunung'' bukan untuk jadi bahan ejekan. ---- {{c|Sekarang simpan dulu cerita sengkedan, kita ceritakan hal tentang mengganti tanaman.}} Petani di sini baru sedikit-sedikit mulai paham. Kalau di Eropa sudah dari dulu tahu kalau tidak baik menanam tanaman yang sama terus menerus tanpa diselang-seling dengan tanaman lain. Jika ada petani menanam tembakau kedua kalinya, dan ada temannya yang setelah panen tembakau lanjut menananm kacang, lalu padi, lalu tembakau lagi, itu yang menanamnya tidak berselang-seling, hanya tembakau, panen yang kedua kalinya tidak ada sama sekali hasilnya. Berbeda dengan temannya yang menanamnya berselang-seling, tembakaunya untung dan yang lainnya juga tetap untung, yaitu dari kacang dan padi. Kenapa bisa begitu? Kalau mau tahu penjelasannya harus bertanya ke ilmu tani, yang bisa menjelaskan alasannya. Rahasianya seperti ini: <blockquote>Setiap tanaman tidak sama perawatannya, kondisinya, atau nutrisinya. Tanaman besar yang berbeda jenisnya, nutrisnya terkadang jauh berbeda juga. Ada tanaman yang cocok dengan tanah x tapi tidak cocok dengan tanah y. Ada yang cocok dengan tanah berpasir, ada yang cocok dengan tanah yang banyak kandungan kapurnya, begitu sebaliknya. Jika ada tanah yang ditanami satu jenis tanamannya, tapi kandungan tanahnya tidak cocok dengan jenis makanan/nutrisi untuk tanaman tersebut, tentu tanahnya harus disesuaikan dulu, agar cocok dengan pemenuhan nutrisi tanaman tersebut. Karena pada dasarnya, tanaman juga sama seperti manusia. Berasnya harus dimasak, ikannya harus digoreng atau dipanggang dulu. Begitu juga tanah, harus diolah dulu, supaya kandungan nutrisinya bisa disirap oleh berbagai jenis tanaman. Supaya tanahnya bagus untuk tanaman yang hendak ditanam, perlu ada air dan udara. Air dan udara itu masuk ke dalam tanah, jika sudah digemburkan tanahnya. Itu sebabnya sangat perlu dibajak dan dicangkul, bukan supaya akarnya bisa menjalar, tapi agar tanamannya bisa menyerap nutrisi tanahnya dengan baik.</blockquote> Toh buktinya kalau ada tanah yang sudah jadi hasil garapan petani sering disebut ''asak'' (masak), sama seperti saat menyebut makanan yang siap dihidangkan. Adapun padi tidak sama kebutuhan nutrisinya dengan tembakau, bentuknya, karakteristiknya berbeda. Ketika ditanami padi, kemungkinan tanah untuk nutrisi tembakau tidak diserap oleh padi. Itu nantinya jadi cadangan untuk nutrisi tembakau. Begitu juga sebaliknya kalau ditanami tembakau dulu, nutrisi tanah untuk padi tidak diserap. Coba bayangkan, jika tidak dibuat sengkedan di mana tempat menumpuknya tanah untuk tembakau atau untuk padi tersebut? Tentu tanah tersebut tergerus ke bawah oleh genangan air. Diibaratkan seperti menyimpan uang di dalam saku yang bolong, lepas jahitannya. Atau seperti Si Sakadang Kunyuk menyimpan pisang di dalam kantong (''koja''), sedangkan tasnya oleh Si Sakadang Kuya sudah dibolongi. Barangkali smuanya mengetahui dongeng tersebut. ---- Apabila ada yang menyela: :“Éta mah da monyét bangsa sato meureun baé bodo-bodo kitu ogé.” Tinggal jawab: :"''“Kumaha ari juru tani urang dieu pinter batan éta monyét, da sok miceunan taneuh alus tina kebona?”'' ---- Ada sebuah cerita yang cocok dijadikan teladan. <blockquote>Jaman dahulu ada seseorang yang memiliki 3 anak, yang mungkin karena malas, tidak mau menggarap kebunnya. Bapaknya jadi kesusahan. Lalu muncul 1 ide. Saat akan mendekati ajal, sang bapak berwasiat kepada anak-anaknya. Bahwa di kebun mereka ada harta yang terpendam. Setelah sang bapak dikuburkan. Maka ketiga anaknya tadi mulai mencangkuli kebunnya, bolak-balik, tapi hasilnya nihil, tidak menemukan apa-apa, membuat mereka semakin penasaran. Karena lelah mencangkul tapi tetap tidak mendapatkan yang diinginkan, akhirnya ditanami tanaman sambil lalu. Tidak lama setelah itu, tanamannya tumbuh dan berbuah. Dapat keuntungan berlimpah, yang tidak disangak oleh ketiganya. Dari sana, ketiganya baru mengerti bahwa harta yang diwariskan oleh bapak mereka, adalah hasil panen dari kebun mereka sendiri.</blockquote> ---- Sudah menjadi perbincangan di kalangan para petani, kacang bisa membuat padi menjadi bagus. Karena apabila menanam padi di lahan bekas menanam kacang, padinya akan bagus. Tapi ternyata anggapan ini salah. Karena kacang sangat menghabiskan nutrisi tanah, Yang bagus itu padinya saja, karena tanahnya sudah gembur dari sananya. <!--coba mun dina teu rassan sarua hadé maculna dipelakan paré tangtu leuwih alus paréna batan dina urut suuk téa.--> Namun bagaimana caranya mencangkul di lahan miring kalau tidak dibiuat sengkedan? Oleh karena itu harus menuruti aturan ini: <blockquote>''Supaya tanamannya bagus, tanah yang dipakai harus tanah yang dalam dan diaduk. Supaya tanah tidak gampang longsor di lahan miring maka harus dibuat sengked.''</blockquote> Apakah ada yang kurang berkenan dengan cara di atas? Pasti ada. Ada satu orang yang bilang: :“Saya tidak setuju. Soalnya kalau buka lahan di area bawah, tanah di area atasnya sering muncul yang berwarna merah, tanamannya seringkali jadi jelek.” Memang betul, kalau sengkednya terlalu lebar di lahan yang sangat miring. Dan kedua, kalau setelah disengked tanahnya tidak diaduk lagi. Karena lebar tidaknya sengked tergantung dari curam tidaknya kemiringan lahan. Apabila lahan terlalu miring, maka sengkednya jangan terlalu lebar. kalau masih ada lahan sisa yang masih bisa ditanami, mestinya disengked selebar 2 kaki. Bagian dasar tanahnya hanya sedikit yang keluar. Apalagi jika terus dicangkul sedalam kira-kira ¾ - 1 kaki. Jadi tanah yang subur bercampur dengan tanah yang kurang subur. Tentu tanahnya akan jadi lebih bagus dibandingkan tanah yang tidak diatur seperti ini. Lantas bagaimana tanahnya bisa tercampur seperti itu jika tidak disengked? ---- Sebelum menjelaskan cara membuat sengked, berikut manfaat sengked di lahan miring: # Sebagai tanda kepemilikan lahan. Karena sengked sama halnya petak-petak sawah, menjadi tanda alami bahwa lahan tersebut sudah ada pemiliknya. #Tidak perlu berpindah-pindah lahan selama 2-3 tahun, tapi ini bisa ditanami selama beberapa tahun tanpa berselang-seling. Tidak perlu berpindah-pindah dan ''teu pati kudu dijamikeun'', apalagi kalau mau menggunakan pupuk. #Meskipun proses persiapan cukup berat ketimbang cara biasa pada umumnya, pekerjaan setelahnya bisa lebih rileks, karena rumput-rumput liar seperti ilalang, <!--teki-->tidak ada, digantikan dengan rumput-rumput seperti sintrong, jelantir, bandotan, yang jika tanaman tersebut membusuk di situ tanahnya semakin lama semakin subur. Begitu pula tidak perlu sering-sering membuat pagar dan saluran irigasi. #Tanahnya tidak hanya subur, tetapi jika sampah-sampah dan jeraminya tidak dibuang, dibiarkan saja, tanahnya menjadi semakin bagus, apalagi jika mau diberi pupuk. Jika tidak memakai sengked, mungkin saat turun hujan akan langsung terbawa air. #Karena tanahnya gembur, menyebabkan banyak tempat resapan air hujan, sehingga tidak terlalu banyak genanangan. Malah genangannya karena setiap sengked mengalirnya pelan, jadi tidak terlalu deres yang membawa tanahnya hanyut. #Jika lahan miring sudah memakai sengked, genangan air jadi pelan mengalirnya. Malah tidak semuanya mengalir sampai ke bawah karena tertahan oleh sengked dan terserap di sana. Sebagian lagi yang engalirnya pelan, tentu jika terjadi banjir tidak akan terlalu merusak. Serta sungai-sungai kecil ''mayeung ngocorna'' karena banyak air hujan yang terserap oleh tanah. Dari sana perlahan-lahan merembes ke bawah ''maraban walungan téa''. Adapaun lahan miring yang tidak disengked airnya langusung mengalir ke sungai, besar luapan airnya dan kerusakannya akan parah. Di Distrik Panembong contohnya, danah-danau di sana sekarang tidak terlalu dangkal/tertimbun. Kalau dulu sebelum disengked setiap tahun harus selalu dikeruk. ==Cara membuat sengked== Karena yang paling sering dijadikan kebun adalah tanah miring (tanah lereng) dan tidak banyak yang membuka ladang di hutan besar, jadi yang akan dijelaskan sekarang adalah ketentuan-ketentuan umum dalam membuat sengked di perbukitan semak belukar dan pepohonan kecil saja. # Yang paling pertama dikerjakan yaitu membabat semak atau kayu-kayuan kecil menggunakan parang, dan membabatnya sebisa mungkin dipotong pendek. Begitu pula dengan rerumputannya juga dibabat.<br>Kayu yang sudah dibabat tadi dikumpulkan, bagusnya digunakan untuk suluh, sebagiannya lagi digunakan untuk pembuatan pagar yang mengelilingi kebun. #Jika sampah rumputnya terlalu banyak, sebaiknya sebagian dibakar, setelahnya sebagiannya lagi digunakan untuk membuat pematang ''lebak'' di tempat yang akan dibuat sengked.<br>Membuat pematang sawahnya harus: a. Seperti membuat parit, jangan ''nyanglandeh'' jangan menanjak, kalau ada cekungannya atau sungai, harus menyiku, seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop).jpg|center|thumb|277x277px]]Kalau ada bukit atau pasir, harus seperti ''ngais'' seperti ini: <br>[[File:Mitra nu Tani (page 34 crop)-2.jpg|center|thumb|277x277px]]Sama persis seperti parit, tapi jangan seperti jalan naik turun. Kalau seperti itu masih sama seperti lereng saja. #Jarak antara pematang harus berdasarkan miringnya (lerengnya) lahan. Sebisanya harus dijaga supaya timbangannya bagian atas tidak lebih dari satu kaki dalamnya.<br>Jika ada lahan yang tidak sama lerengnya (kemiringannya}, sebidang tanah tidak terlalu terasa sebidang tanah lagi terasa lerengnya itu luasnya sengked harus dimodifikasi. Tepat di dalam lerengnya ''disingkat'' dibagian yang datar diperluas, karena jika tidak seperti itu tentu datar sengkednya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 35 crop)-H.jpg|center|thumb|290x290px|''a.'' Lahan yang terlalu miring; ''b.'' lahan yang tidak terlalu ''lembah''.]] #Jika sudah selesai membuat pematang dari rumput tadi, barulah mulai dicangkul. Mulai dari yang paling bawah kira-kira satu kaki antara sisi atasnya dari pematang tersebut, juga tanahnya harus dibalik agar menutupi sampah rumput pematang tadi, agar kuat pematanghnya.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 36 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px]]Begini rupanya yang mencangkul dari bawah ke atas, tanah yang dicangkul agak ''dikembing'' dan dilempar ke belakang. Begitu seterusnya sampai mencangkul pematang kedua.<br>Dari sana ulangi memlagi buat sengked sedalam satu kaki di atas pematang kedua, serta caranya masih sama hingga selesai.<br>Hasil sengked seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 37 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' pematang/tanggul, ''b.'' tanah pembuanga bekas dicangkul, ''c.'' ''teuras'']] #Dari sina cangkul ke depan, apalagi tanah yang keras disebelah dari atas harus dipipihkan dan dilemparkan tanah yang masih miring. Adapun Rumput-rumputnya jangan diambil pusing karena sudah pada mati (layu) ketika pertama kali tanahnya dicangkul tadi. Jadi bentuk sengkednya seperti ini:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 38 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Tanah gembur yang akan ditanami, ''b.'' tanah pembuangan bekas dicangkul, ''c.'' gusi]] #Sewaktu bekerja, rumput yang ditimbun di tanggul tadi kemungkinan akan tumbuh kembali, apalagi kalau alang-alang dan yang sejenisnya, oleh karena itu, tanggulnya harus dibersihkan dan harus di ''sina mayat'' sedikit supaya tidak terlalu curam. Nah sekarang sudah selesai tinggal menanam. #Dan juga harus ingat sengked tidak bisa dibatas seperti sawah, menggunakan tanggul yang tinggi, sebab jika menggunakan tanggul tentu membuat semakin mudah tanah terbawa arus, sebab terasa sekali, selain dari itu akan menjadi jelek untuk tanaman karena air yang mengalirnya malam hari mengendap membawa tanah longsor.<br>Meyebabkan tanaman rusak: Jika tanaman bukan tanaman rawa seperti padi, karena tanahnya terlalu basah. #Karena itu juga, ketika mencangkul tanahnya jangan dikorek-korek ke samping sengked, karena jika sisi sengked dibuat tinggi, tentu sengked akan tinggi tidak merata, jadi selokan atau pindah lereng.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 39 crop).jpg|center|thumb|277x277px]] #Begitu juga harus selalu ingat, sisi sengked bagian luar jangan dicangkul, biarkan utuh saja kira kira selebar telapak tangan (''satampah''), berperan sebagai gusi, dan agar mempermudah ketika dikerjakan, yang mencangkul harus menghadap ke ''lebak'' serta cangkulnya sedikit dicondongkan seperti contoh berikut:<br>[[File:Mitra nu Tani (page 40 crop)-H.jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Bagian ini jangan dicangkul]]Jadi ada sisi yang keras yang berfungsi sebagai gusinya. #Ketika membersihkan kebun sampah-sampahnya harus ''dikirab-kirab'' dan diletakkan di gusi. Itu besar sekali gunanata sebab air hujan tidak tersendat.<br>Jika sampah itu tumbuh kembali, harus ''disasar'' saja, serta rumput-rumput setelah ''dikirab'' diletakkan lagi di ujung sengked. #Jika tanahnya yang keras atau lengket kerkena air hujan tidak bisa menyerap jadi cepat tergenang serta tanahnya mudah terbawa arus, di situ harus membuat parit atau tampungan air per 20 atau 30 sengked, dalamnya serta luasnya 1 - 1 ½ kaki, tergantung padatnya tanah dan seringnya hujan di sana.<br>Selokan tersebut jangan terlalu miring, tetapi harus rata mengikuti ''turunan'' sengeked.<br>Tanah hasil menggali dari selokan tersebut, harus ditumpuk di sebelah sisi ''lebak'', yaitu untuk meninggikan sengked.<br>[[File:Mitra nu Tani (page 41 crop).jpg|center|thumb|277x277px|''a.'' Saluran air, ''b.'' tanah hasil mtumpukan yang dipakai untuk meninggikan sengked.]] ---- Sekarang tampak bukan masalah lagi, tanahnya tidak akan gampang erosi. Apabila saluran air mulai tertimbun dari waktu ke waktu, maka harus dikeruk. Tanahnya gunakan untuk meninggikan sengked bagian bawah. Di lokasi tanaman awet seperti kopi, jangan ''ditamping'', sebaiknya segera buat sengkedan yang luasnya cukup. Di tempat tanaman tahunan seperti: padi, tembakau, dan sejenisnya, lebih baik melebarkan sengkedan sekitar ¼ kaki setiap kali menggant tanaman. Tanah bekas ''ditamping'' tadi akan jadi tanah baru dan gembur, dan sengkedannya perlahan akan menjadi sangat lebar, <!--tur tapa gawéanana teu berat sama sakali jeung teu pati matak ngabijilkeun taneuh teuras.--> Saya rasa sudah cukup penjelasan tentang sengkedan. Sisanya menjelaskan tentang: :a. Cangkul :b. Alat ''waterpass'' :c. pagar yang praktis tapi banyak menfaatnya Sebelum menjelaskan 3 hal di atas, ada sedikit tambahan untuk pembuatan sengked. Di Apdeling Limbangan sudah bertahun-tahun menerapkan aturan sengked pada setiap jenis perkebunan. Tidak hanya di lahan baru untuk kopi saja. Di lahan lama juga, yang tidak disengked sekarang mulai disengked. Begitu juga perkebunan palawija dan berpetak-petak lahan lainnya. Dikerjakan dengan hati-hati dan teliti. Semua itu hasilnya menguntungkan. Oleh karena itu jangan ragu lagi, mencari jalan yang lain, lebih bagus dipraktikan dulu, karena hasilnya sudah terbukti dengan cara seperti ini. Ada juga yang pernah mencoba namun gagal. Itu jangan menyalahkan aturannya. Yang mencobanya belum teliti dan belum paham secara keseluran aturan tersebut. Dan lagi, sangat pantas diperjuangkan oleh rasa lelah juga, agar menjadi hal yang menguntungkan dan pada akhirnya bisa memakmurkan Pulau Jawa. Malah tidak mengapa rugi di awal, sekali dua kali belum terlihat keuntungannya, sebab setiap perkara pasti sulit saat memulainya dan terkadang ada ruginya. Dari pengalaman yang sudah-sudah, tanah dicangkul ''dikeprék'' dahulu. Rumputnya dicabuti, dibakar, dibuang. Ketika tanahnya sudah gembur, baru mulai membuat sengked. Yang seprti ini sudah pasti gagal, karena tentu tanahnya pasti akan terbawa arus air. Kalau sudah seperti itu pasti yang disalahkan aturannya. Ucapnya: :“Tuh ternyata tidak bagus, sengked longsor terus.” Tapi tidak dipikirkan penyebab gagalnya karena kesalahan dirinya. Sama seperti perkara menabur biji. ''pada nurutkeun sebar ku bangsal tetebar ranggeyan, tapi ngawurkeunana kerep teuing, tidinya gancang deui nyebutna teu hadé:'' :''“Tah geuning gagal! Bibitna leles kacida, sok potong ana dibabutan.”'' Tapi tidak dipikir, kalau yang menyebabkan gagal adalah karena tidak dikerjekan dengan semestinya dan tidak dipikir ''kunaon sababna nu matak kudu ku bangsal, nyaéta supaya carang.'' Saya pribadi sudah pernah bertemu dengan salah satu pemburu yang masih belajar jadi belum bisa menembak. Tapi ketika tembakannya tidak mengenai sasaran, sering marah-marah, menyalahkan senapan. Ucapnya : “Kenapa sih senapan ini tidak berguna. Sialan!” Tapi kalau senapan itu dipakai oleh orang lain yang lebih mahir pasti gampang sekali. Yang salah membuat sengked mungkin seperti itu juga, ''ari nyalahkeunana kana séngkéd tur bongan sorangan baé.'' ==Cangkul== Supaya pekerjaan yang dilakukan bisa lebih mudah maka harus menggunakan peralatan yang sesuai. Cangkul yang digunakan di Jawa itu bagaimana bisa disebut peralatan yang memudahkan pekerjaan. Ada tiga jenis cangkul: [[File:Mitra nu Tani (page 46 crop).jpg|center|thumb|290x290px|Cangkul Belanda atau cangkul kampak (kiri)<br>Cangkul Jawa (tengah)<br>Cangkul Sunda (kanan)]] Yang kurang direkomendasikan adalah cangkul Jawa, di atasnya adalah cangkul Sunda, dan yang lebih direkomendasikan adalah cangkul Belanda. Bukan hanya karena buatan luar negeri, melainkan karena gagangnya nyaman saat digunakan, lebih bertenaga saat mencangkulkannya ke tanah. Kalau cangkul Sunda cukup susah karena ''cangkulnya cenderung terlalu bengkok'', sehingga yang mencangkul harus merunduk agar bisa mencangkul dalam dan benar. Adapun cangkul Jawa ''ngulangkenana supaya bisa jero lain dikieuna héséna''. Pertama gagangnya terlalu pendek, dan kedua cangkul lebih bengkok dari cangkul Sunda. Oleh karena itu, pemakainya harus benar-benar merunduk saat membuat galian tanah. Sehingga membuat cepat lelah. Ditambah, cangkul Jawa ini terlalu berat yang membuat pekerjaan semakin berat juga. Ketimbang cangkul, itu lebih mirip alat pembajak sawah, karena jika digunakan terlihat seperti orang yang sedang menekan dan menarik alat pembajak tradisional (wuluku). <!--tapi upama prak diteelkeun sarta dikenyang tangtu hésé serta berat batan diulangkeun téya.--> Adapun cangkul Belanda hampir sepenuhnya baja dan tipis, ringan dan lebih mudah dibandingkan cangkul setengah besi setengah kayu, yang semakin ke atas semakin tebal. Pada [[c:File:Mitra nu Tani (page 49 crop).jpg|halaman 43] Ada ilustrasi penggunaan tiga jenis cangkul: [[File:Mitra nu Tani (page 49 crop)-H.jpg|center|thumb|450x450px|Cangkul Jawa (kiri), cangkul Sunda (tengah), cangkul Belanda (kanan)]] Bagaimana dengan gambar ini, setuju cangkul Belanda yang lebih direkomendasikan? ---- Pekerja di perkebunan teh Waspada bekerjanya memakai cangkul Belanda. Tentu banyak keuntungannya dibanding pekerja Jawa yang membawa cangkulnya sendiri dari rumah. Memang betul, di Waspada tanahnya gembur. Tapi pekerja yang mencangkul sedalam 1 kaki dari pukul 06.30 pagi sampai 14.30 siang bisa menghasilkan 40 ''tumbak'' ☐. Atau semisal lebih dangkal kira-kira sedalam 3 ''dim'', bisa menghasilkan 55 atau 60 ''tumbak'' ☐. Lalu dilanjutkan dengan menjemur rumput dan ditumpukkan di atas sengked. Oleh karena itu, harapannya, orang Jawa yang masih menggunakan cangkulnya seperti pada gabar di atas, bisa segera berganti ke cangkul yang lebih bagus. Semisal mereka tidak mau menggunakan cangkul Belanda meskipun harganya sangat murah karena baja semua, ya mau bagaimana lagi. Tapi, setidaknya harus mengikuti contoh cangkul Sunda. Itu masih lebih ringan gampang dibandingkan cangkul yang mirip wuluku itu. Buat apa susah-susah jongkok sebegitunya kalau tidak diperlukan, kan. ==Alat ''water pass''== Mungkin banyak yang merasa sulit memperbaiki sungai oleh sampah yang banyak, agar landai lurusnya. Sebenarnya ada alatnya, sangat mudah, siapa pun bisa membuatnya, serta ongkosnya hanya terbilang sangat murah. Hal yang harus dibuat: Pertama, tongkat. Panjangnya harus seukuran dengan tinggi batas mata orang yang akan menggunakan alatnya. Di atas tongkat tadi pasang paku kayu seperti di ''e''. Selanjutnya pasang papan kecil, gantungkan supaya terayun-ayun ke paku kayu ''b''. Dari situ pasang lagi papan kecil ''e'', simpan di papan tadi, atur sampai lurus agar terlihat seperti menyiku. Kemudian gunakan bambu kecil tipis atau kaso diberi lubang oleh lidi ''d''. Agar bisa digunakan untuk membidik, ikat dengan tali rotan ke papan tersebut yang lurus tadi. [[File:Mitra nu Tani (page 52 crop).jpg|center|thumb|290x290px|Kayu ''b'' harus lebih berat dibandingkan kayu ''c'']] Alat satunya lagi yaitu tongkat kedua, panjangnya sama dengan yang pertama. Selanjutnya pasang papan kecil, beri warna putih menggunakan kapur. Panjangnya 4 lebarnya 2 dim. Papan ini posisinya posisinya di atas tongkat kedua, agar kaso atau bambu yang dilubangi tadi (di tongkat pertama) akur posisinya dengan tengah-tengahnya itu papan. [[File:Mitra nu Tani (page 53 crop).jpg|center|thumb|290x290px]]<br> Cara mengoperasikan alatnya seperti berikut: Satu orang memegang tongkat dan papannya tegak lurus ke tanah, jangan ditancapkan ke tanah, cukup dipegang saja, seperti ''a.'' [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|di halaman 49]]. Satu orang lagi memegang alat yang disebut paling awal (tongkat pertama), yang diberi nama teropong (kékér), sambil jalan mundur ke belakang 15 atau 20 langkah. Dari sana bidik bambu atau kaso yang sudah dilubangi tadi ke arah papan putih. Teropongnya pindah ke atas atau ke bawah sambil supaya pas dengan tengah-tengahnya papan. Setelah itu berikan tanda, orang yang memegang papan putih pindah ke tempat yang sudah diberi tanda tadi, sementara yang membawa teropong mundur lagi 15 atau 20 langkah ke belakang, begitu seterusnya. Alat ini bukan sekadar menunjukkan cara membuat sengked saja, tapi jika lahan tidak terlalu rata lerengnya, bisa untuk mengukur luas sengked. Di [[c:File:Mitra%20nu%20Tani%20(page%2055%20crop).jpg|halaman 49]] ada contoh cara menggunakan alat ''Water pass'' ini. [[File:Mitra nu Tani (page 55 crop)-H.jpg|394x394px|center]] Tidak perlu setiap sengked Diukur dengan ''water pass''. Hanya untuk menjaga saja serta agar lerengnya rata. Mungkin cukup per 5 atau 10 sengked diukur dengan ''water pass''. Di sini, di Garut, para petani sudah biasa membuat sengked. Sengked ''lempeng'' saja, mengikuti lahan, tidak harus menggunakan alat yang sudah dijelaskan tadi, penyebabnya yaitu kebiasannya, jarang yang salah sengked. Namun, bagi yang baru, alat tadi mungkin akan sangat berguna. ==Pagar== Di sini pagar yang digunakan untuk mengelilingi kebun kebanyak dari pohon waru (kapas-kapasan), dibariskan dengan jarak kira-kira 2 atau 3 kaki, serta tiap jaraknya ditanami pohon jarak atau murbei, diselipkan dengan bambu. Tangkai waru yang ditebang bisa dijadikan suluh, daunnya sebaga pembungkus. Agar nanti sudah tumbuh sangat besar, kain bagus untuk dijadikan perabotan, untuk roda karet untuk membawa rempah-rempah dan sebagainya. Jika banyak kebun yang bertemu batas, itu bagus untuk kompromi yang punya kebun dalam merawatnya, yaitu syaratnya agar kebunnya subur, jangan setiap kebun dipagar disekelilingnya oleh pagar permanen. Lebih bagus pagar yang bisa untuk menjaga hewan kuda, sapi, atau kerbau beradu saja daripada mengeluarkan ongkosnya, bersama-sama saja, keuntungannya, kerugiannya, dari pagar tersebut memiliki bagiannya masing-masing. Untuk pagar yang menjadi tanda kepemilikan seseorang sebaiknya menggunakan tanaman kecil saja, lebih baik lagi menggunakan tanaman yang ada buahnya seperti mengkudu atau kopi, jaraknya 4 kaki, dan selain dari itu. Tentu ada juga hasilnya walau sedikit. Bagaimana perasaannya setelah diberikan pembelajaran ini, bagus atau buruk? Semoga pengarang tidak sia-sia membuatnya. Jangan sampai memberi nasihat yang tidak bisa diterapkan. [[Kategori:WikiPrestasi]] fgrikypvg5ayz53kbwzhb4b6jzq1i53 Mitra Petani (Jilid 1) 0 27143 114924 114702 2026-04-19T04:26:33Z Deepturquoise 32400 /* Catatan */ 114924 wikitext text/x-wiki {{c| MITRA PETANI {{small|''Karangan''}} ''K. F. Holle''<br> {{small|Penasihat honorer}} Diterjemahkan dari bahasa Belanda ke bahasa Sunda ''Oleh'' ''Raden Kartawinata''<br> {{small|Alih bahasa}} Jilid No. 1 Diperintahkan untuk dicetak oleh pemerintah di kantor percetakan Betawi Tahun<br> 1874 }} {{page break|label=}} ;Daftar isi ;Bab 1 :: ''[[/Tata Cara Membuat Sengked/]]'' ;Bab 2 :: ''[[/Bibit Jagung dan Tembakau/]]'' ;Bab 3 :: ''[[/Mentega/]]'' ;Bab 4 :: ''[[/Hama Ulat dan Sejenisnya/]]'' ==Catatan== Diterjemahkan dari [[incubator:Wb/su/Mitra nu Tani (Jilid 1)|Wikibuku bahasa Sunda]]. k34o8606c76ew1hz0sk565dayseks8n Cerita Kapten Bontekoe/Pendahuluan 0 27149 114928 114746 2026-04-19T07:15:53Z Deepturquoise 32400 added [[Category:WikiPrestasi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 114928 wikitext text/x-wiki {{c|'''Cerita Kapten Bonteku'''<br><br>Pendahuluan<br><br>{{rule|5em}}<br>Asmarandana}} : Saya menulis ini, disalin dari bahasa Belanda, disebut cerita ajaib, tapi benar-benar terjadi, tidak mengandung fiktif, jelas cerita seaslinya, tidak ditambahi bualan. : Oleh kekebalan atau kesaktian, maksudnya benar-benar terjadi, tapi menggugah hati, baik bentukannya, pantas susunannya, bukan karangan orang lain, melainkan dikarang oleh pelakunya. : Bukan cerita masa kini, cerita zaman dulu sekali, itu menjadi tanda juga, dulu dan sekarang, tidak beda manusianya, sekarang tidak bisa terbang, begitu juga dulu. :Yang membuat senang, saya pada cerita ini, menjadi teladan yang menguatkan hati, tidak lekas habis dalam pikiran, tawakal dan ikhtiar, tidak terkejut tidak gugup, seketika menjadi pengingat. : Adapun keajaibannya itu nyata, dari keberaniannya, karena sejauh itu pergi, berangkat dari negeri Belanda, berlayar ke Pulau Jawa, dan saat itu belum terkenal, jalan pun belum ''dilalui''. : Adapun yang membuat berani, hanya mengandalkan ilmunya, serta perlengkapannya saja, yaitu ''kompas'' dan pedoman, yang menjadi panduan, perlahan-lahan tujuannya dapat, terlepas dari malapetaka. : Meskipun tidak dengan kesaktian, dan tidak dengan aji-ajian, tetapi silakan baca saja, isinya cerita ini, pasti lebih menyenangkan, melebihi cerita tentang kekebalan, dan kekebalan itu biasanya bualan. : Tapi tidak berbentuk tembang, bukan karena sulit menggubah, memang disengaja saja, hanya diatur kalimatnya, memakai bentuk ujaran, dalam membaca harus menyelami, masuk ke dalam maknanya. : Baris melengkung seperti ''arig'', memakai tanda koma di bawahnya, ( ? ) fungsinya untuk kalimat tanya, yang seperti alif, memakai ''wecek'' di bawahnya, ( ! ) yaitu kalimat seru, atau ujaran tegas. : Ada lagi ''bentuk baris'', berjejer dua berhadapan, ( ”„ ) ya itu fungsinya, menunjukkan ucapannya, yang diceritakan itu, ada pula tanda bundar, yang bulat seperti bola, ( : ). : Itu artinya adalah tanda, petunjuk bahwa di depannya, ada perkataan yang lain, atau ucapan dari pengarang. Yang pasti nanti akan ditemukan, di dalam buku ini, cara membacanya. : Kalau sudah dipahami, penataannya per baris itu, harus menyelami membacanya, yang tegas harus tegas, dalam baris pertanyaan, caranya seperti orang bertanya ke orang lain, seolah-olah seperti sedang berbicara. : Kalau sudah begitu pasti menyenangkan, terbukti lebih enak dari tembang, membacanya jangan ramai-ramai, tidak jelas nada bicaranya, sebab ini bahasa Sunda, harus menyelami seperti pantun, hanya saja jangan memakai nyanyian. {{right|GARUT, JANUARI 1871}} [[Kategori:WikiPrestasi]] o2ufrodcbaomdj2ddcqk6dkkujab6t2 Cerita Kapten Bontekoe 0 27150 114922 114805 2026-04-19T04:26:17Z Deepturquoise 32400 /* Catatan */ 114922 wikitext text/x-wiki {{c|Cerita <small>''Tuan''</small><br><br> <big>''Kapten Willem Esbranson Bontekoe''</big><br><br> Dari bahasa Belanda diterjemahkan ke bahasa Sunda<br><br> <small>''Oleh''</small><br><br> <small>''Radén Kartawinata''</small><br><br> <small>''Di''</small><br><br> <big>Garut</big><br><br> <big>Diperintahkan dicetak</big><br> ''Di kantor cetak pemerintah di negara Betawi pada tahun''<br> 1874 }} <!--SEDANG DIKERJAKAN--> == Daftar isi == ;[[/Pendahuluan/]] :: ;Bab pertama :: ''[[/Awal Petualangan Kapten Bontekoe/]]'' ;Bab kedua :: ''[[/Terbakarnya Kapal Kapten Bontekoe/]]'' ;Bab ketiga :: ''[[/Penderitaan Kapten Bontekoe/]]'' ;Bab keempat :: ''[[/Kapten Bontekoe Mendapat Pertolongan/]]'' ;Bab kelima :: ''[[/Gunung Biru/]]'' == Catatan == Diterjemahkan dari [[incubator:Wb/su/Carita Kapitan Bonteku|Wikibuku bahasa Sunda]]. 7f1ksjx4dze2u3rodnqv0je416npqmn Keluarga Juga Bagian dari Seni 0 27168 114912 114789 2026-04-18T14:33:56Z $erialkiller 41876 menambahkan isi 114912 wikitext text/x-wiki Hari pertama kami mengunjungi Padepokan Seni Topeng Asmorobangun, mengenal tidak hanya filosofi dan sejarah seni, tetapi juga tokoh di balik kesenian. Bertemu dengan Bapak Handoyo, kita disambut dengan senyum ramah dan kehangatan oleh anggota sanggar. Penjelasan mendalam mengenai Topeng Malangan tak terasa berat dan menggurui karena pembawaan santai dan lebih bersahabat sehingga memantik diskusi. Kami belajar mengenai jenis, simbol, hingga pembuatan topeng malangan yang tiap tahapnya sangat diperhatikan dan sentimental. Namun, dari kegiatan tersebut terdapat satu hal yang paling menarik bagi saya, yaitu keluarga di baliknya. Bapak Tri Handoyo sendiri menjadi pemimpin sejak tahun 2010, sudah lima generasi sanggar berlanjut sejak tahun 1900-an. Hal ini sangat menyentuh karena tidak hanya membutuhkan satu tokoh, tetapi juga dedikasi lima generasi untuk terus menghidupkan kesenian. Tekad, harmoni, dan kerukunan termasuk teknik seni sehingga keluarga yang kuat terbangun hingga saat ini adalah karya seni lintas generasi. Dibalik Asmorobangun tidak hanya Bapak Handoyo tetapi, leluhur Mbah Serun (1900-an), Mbah Kiman (1930-an), Mbah karimun (1940-an), dan Mbah Taslan (2000-an). Berganti hari, kami mengunjungi sanggar kedua yaitu Sanggar Tari Sekar Kedoya. Terdapat perbedaan kunjungan sanggar ini dari sebelumnya, apabila hari pertama kami hanya menyaksikan untuk kali ini kami langsung mempraktikan. Jenis tarian dan para anggota sanggar juga memiliki karakteristik tersendiri, di sini anggota terbagi menjadi dewasa dan anak-anak yang merupakan mayoritas. Namun dari segala perbedaan terdapat satu kesamaan, yaitu adalah kekeluargaan. Dalam aktivitasnya Sanggar Tari Seni Kedoya juga tidak dapat dipisahkan dari peran keluarga. Tidak hanya rasa kekeluargaan yang hangat dari hubungan para pelatih dan anggota namun juga adalah peran orang tua para anak-anak anggota sanggar yang turut mengantarkan, mengawasi, bahkan menunggu aktivitas sanggar yang diikuti para anaknya. Lagi-lagi kesenian hidup dari peran kerja sama antar keluarga dan tidak hanya perindividuan saja. Para keluarga ini sebagai masyarakat memiliki peran penting saling bergotong royong menghidupkan kesenian Indonesia dan juga memastikan generasi baru meneruskannya.<ref><nowiki>[[Kategori:Wiki Seni Lokal]]</nowiki></ref> q8nsztztn2lu254u1ui6ppzbsd2dvqr Pusaka dengan Rupa yang Kubawa Melanglang Buana 0 27170 114909 114859 2026-04-18T14:29:04Z Pommegrains 41828 114909 wikitext text/x-wiki Namanya rumah. Namun jendelanya enggan biarkan aku bernapas lega. Sudah kuterima nyawa tanpa kuamini, yang kudapat layaknya turuni anak tangga. Tanpa diterima pertanyaan pula hadir mengangkut harapan. Lenggak-lenggok yang elok ini adalah rupa jelmaannya. Layaknya doa yang lapang ‘tuk kepakkan sayap lebar, menembus ragam garis tak kasatmata yang membentang cakrawala. Melangkah dengan tapak-tapak kecil tanpa ragu menjajaki tingginya ancala. Melawan dengan tabah denting masa yang sukar berhenti detaknya. Diriku dihantam seribu ilusi palsu–gulana aku dibuatnya. Raga bertambah angka dengan tangkas, namun jiwa kuanggap terlalu belia. Tak mafhum membawa wujud jelita ini–tari, dansa, ronggeng–peduli apa dengan nama, bila harumnya tak pernah sampai untuk ku hidu. Anggap aku gadungan! Insan tanpa malu dengan topeng, yang bahkan sampai kubur tak patut terima pusaka. Takdir, katanya. Tapi ini nyata adanya. Mulai terbit hingga terbenamnya matahari, tiada makna yang sanggup aku mengerti. Ibarat rebah tanpa pejamkan mata. Konklusi menjadi bulat, mungkin Tuhan memang berikan tanpa syarat. Hingga, di antara arunika yang menjingga lembut dan bayu yang menari tanpa surut, hadir sosok dengan kilau yang tak pernah redup. Pada altar waktu yang terus berpendar, sayapnya bercahaya bagai serpihan nebula yang berhamburan—kadang selembut bisik samudra di ufuk fajar, kadang sekasar badai yang menolak pudar. Warna-warni fabrik yang berayun, telak buat aku terpikat. Semestinya tak perlu perintah jagat, sebab, jejakmu mengukir semesta, menjelma cahaya yang tak sirna—bukan sekadar kilau yang sementara, tetapi sinar yang menghangatkan sukma. Tiap batang kudapat dan kupahat. Instrumen demi instrumen kutabuh hasilkan kidung bintang, menggema dalam keheningan malam yang tak pernah usang. Mereka berayun melanglang buana yang bukan sekadar jelita, namun berwujud paradoks menawan yang seanggun senja, segemuruh samudra, seindah prahara yang merona. Membawa warna indah rupanya. Kiranya aku mampu mengantarmu melintasi ufuk yang tak terbatas; menuju puncak-puncak yang paling luas, tempat angin mendendangkan namamu lirih, dan bintang merawat cahayamu kasih. Barangkali ini jawaban, atas setiap fragmen kahuripan yang layak aku bawa kala semesta membuka lembar takdir yang baru, angin berbisik buat rupamu lebih syahdu, dengan gemintang bersinar tanpa lalu biru. {{Kategori acara wiki|kategori=Wiki Seni Lokal}} 9r9pqsvmviojbmgd7cp4jlwrwakuoj7 114910 114909 2026-04-18T14:29:59Z Pommegrains 41828 114910 wikitext text/x-wiki Namanya rumah. Namun jendelanya enggan biarkan aku bernapas lega. Sudah kuterima nyawa tanpa kuamini, yang kudapat layaknya turuni anak tangga. Tanpa diterima pertanyaan pula hadir mengangkut harapan. Lenggak-lenggok yang elok ini adalah rupa jelmaannya. Layaknya doa yang lapang ‘tuk kepakkan sayap lebar, menembus ragam garis tak kasatmata yang membentang cakrawala. Melangkah dengan tapak-tapak kecil tanpa ragu menjajaki tingginya ancala. Melawan dengan tabah denting masa yang sukar berhenti detaknya. Diriku dihantam seribu ilusi palsu–gulana aku dibuatnya. Raga bertambah angka dengan tangkas, namun jiwa kuanggap terlalu belia. Tak mafhum membawa wujud jelita ini–tari, dansa, ronggeng–peduli apa dengan nama, bila harumnya tak pernah sampai untuk ku hidu. Anggap aku gadungan! Insan tanpa malu dengan topeng, yang bahkan sampai kubur tak patut terima pusaka. Takdir, katanya. Tapi ini nyata adanya. Mulai terbit hingga terbenamnya matahari, tiada makna yang sanggup aku mengerti. Ibarat rebah tanpa pejamkan mata. Konklusi menjadi bulat, mungkin Tuhan memang berikan tanpa syarat. Hingga, di antara arunika yang menjingga lembut dan bayu yang menari tanpa surut, hadir sosok dengan kilau yang tak pernah redup. Pada altar waktu yang terus berpendar, sayapnya bercahaya bagai serpihan nebula yang berhamburan—kadang selembut bisik samudra di ufuk fajar, kadang sekasar badai yang menolak pudar. Warna-warni fabrik yang berayun, telak buat aku terpikat. Semestinya tak perlu perintah jagat, sebab, jejakmu mengukir semesta, menjelma cahaya yang tak sirna—bukan sekadar kilau yang sementara, tetapi sinar yang menghangatkan sukma. Tiap batang kudapat dan kupahat. Instrumen demi instrumen kutabuh hasilkan kidung bintang, menggema dalam keheningan malam yang tak pernah usang. Mereka berayun melanglang buana yang bukan sekadar jelita, namun berwujud paradoks menawan yang seanggun senja, segemuruh samudra, seindah prahara yang merona. Membawa warna indah rupanya. Kiranya aku mampu mengantarmu melintasi ufuk yang tak terbatas; menuju puncak-puncak yang paling luas, tempat angin mendendangkan namamu lirih, dan bintang merawat cahayamu kasih. Barangkali ini jawaban, atas setiap fragmen kahuripan yang layak aku bawa kala semesta membuka lembar takdir yang baru, angin berbisik buat rupamu lebih syahdu, dengan gemintang bersinar tanpa lalu biru. [[Kategori:Wiki Seni Lokal]] aoipyhaip7y3ip8ywxeeao1dd526qy4 114911 114910 2026-04-18T14:31:51Z Pommegrains 41828 114911 wikitext text/x-wiki Namanya rumah. Namun jendelanya enggan biarkan aku bernapas lega. Sudah kuterima nyawa tanpa kuamini, yang kudapat layaknya turuni anak tangga. Tanpa diterima pertanyaan pula hadir mengangkut harapan. Lenggak-lenggok yang elok ini adalah rupa jelmaannya. Layaknya doa yang lapang ‘tuk kepakkan sayap lebar, menembus ragam garis tak kasatmata yang membentang cakrawala. Melangkah dengan tapak-tapak kecil tanpa ragu menjajaki tingginya ancala. Melawan dengan tabah denting masa yang sukar berhenti detaknya. Diriku dihantam seribu ilusi palsu–gulana aku dibuatnya. Raga bertambah angka dengan tangkas, namun jiwa kuanggap terlalu belia. Tak mafhum membawa wujud jelita ini–tari, dansa, ronggeng–peduli apa dengan nama, bila harumnya tak pernah sampai untuk ku hidu. Anggap aku gadungan! Insan tanpa malu dengan topeng, yang bahkan sampai kubur tak patut terima pusaka. Takdir, katanya. Tapi ini nyata adanya. Mulai terbit hingga terbenamnya matahari, tiada makna yang sanggup aku mengerti. Ibarat rebah tanpa pejamkan mata. Konklusi menjadi bulat, mungkin Tuhan memang berikan tanpa syarat. Hingga, di antara arunika yang menjingga lembut dan bayu yang menari tanpa surut, hadir sosok dengan kilau yang tak pernah redup. Pada altar waktu yang terus berpendar, sayapnya bercahaya bagai serpihan nebula yang berhamburan—kadang selembut bisik samudra di ufuk fajar, kadang sekasar badai yang menolak pudar. Warna-warni fabrik yang berayun, telak buat aku terpikat. Semestinya tak perlu perintah jagat, sebab, jejakmu mengukir semesta, menjelma cahaya yang tak sirna—bukan sekadar kilau yang sementara, tetapi sinar yang menghangatkan sukma. Tiap batang kudapat dan kupahat. Instrumen demi instrumen kutabuh hasilkan kidung bintang, menggema dalam keheningan malam yang tak pernah usang. Mereka berayun melanglang buana yang bukan sekadar jelita, namun berwujud paradoks menawan yang seanggun senja, segemuruh samudra, seindah prahara yang merona. Membawa warna indah rupanya. Kiranya aku mampu mengantarmu melintasi ufuk yang tak terbatas; menuju puncak-puncak yang paling luas, tempat angin mendendangkan namamu lirih, dan bintang merawat cahayamu kasih. Barangkali ini jawaban, atas setiap fragmen kahuripan yang layak aku bawa. Kala semesta membuka lembar takdir yang baru, doaku agar angin berbisik tuk buat rupamu lebih syahdu, dengan gemintang bersinar tanpa lalu biru. [[Kategori:Wiki Seni Lokal]] 4falhcw9trna8in8ihm1tu2lh9504x1 114913 114911 2026-04-18T14:34:46Z Pommegrains 41828 114913 wikitext text/x-wiki Namanya rumah. Namun jendelanya enggan biarkan aku bernapas lega. Sudah kuterima nyawa tanpa kuamini, yang kudapat layaknya turuni anak tangga. Tanpa diterima pertanyaan pula hadir mengangkut harapan. Lenggak-lenggok yang elok ini adalah rupa jelmaannya. Layaknya doa yang lapang ‘tuk kepakkan sayap lebar, menembus ragam garis tak kasatmata yang membentang cakrawala. Melangkah dengan tapak-tapak kecil tanpa ragu menjajaki tingginya ancala. Melawan dengan tabah denting masa yang sukar berhenti detaknya. Diriku dihantam seribu ilusi palsu–gulana aku dibuatnya. Raga bertambah angka dengan tangkas, namun jiwa kuanggap terlalu belia. Tak mafhum membawa wujud jelita ini–tari, dansa, ronggeng–peduli apa dengan nama, bila harumnya tak pernah sampai untuk ku hidu. Anggap aku gadungan! Insan tanpa malu dengan topeng, yang bahkan sampai kubur tak patut terima pusaka. Takdir, katanya. Tapi ini nyata adanya. Mulai terbit hingga terbenamnya matahari, tiada makna yang sanggup aku mengerti. Ibarat rebah tanpa pejamkan mata. Konklusi menjadi bulat, mungkin Tuhan memang berikan tanpa syarat. [[File:Latihan Bersama di Sanggar Tari Sekar Kedoya (1).jpg|thumb|Latihan bersama di Sanggar Tari Sekar Kedoya (Kelompok Kecil).]] Hingga, di antara arunika yang menjingga lembut dan bayu yang menari tanpa surut, hadir sosok dengan kilau yang tak pernah redup. Pada altar waktu yang terus berpendar, sayapnya bercahaya bagai serpihan nebula yang berhamburan—kadang selembut bisik samudra di ufuk fajar, kadang sekasar badai yang menolak pudar. Warna-warni fabrik yang berayun, telak buat aku terpikat. Semestinya tak perlu perintah jagat, sebab, jejakmu mengukir semesta, menjelma cahaya yang tak sirna—bukan sekadar kilau yang sementara, tetapi sinar yang menghangatkan sukma. Tiap batang kudapat dan kupahat. Instrumen demi instrumen kutabuh hasilkan kidung bintang, menggema dalam keheningan malam yang tak pernah usang. Mereka berayun melanglang buana yang bukan sekadar jelita, namun berwujud paradoks menawan yang seanggun senja, segemuruh samudra, seindah prahara yang merona. Membawa warna indah rupanya. Kiranya aku mampu mengantarmu melintasi ufuk yang tak terbatas; menuju puncak-puncak yang paling luas, tempat angin mendendangkan namamu lirih, dan bintang merawat cahayamu kasih. Barangkali ini jawaban, atas setiap fragmen kahuripan yang layak aku bawa. Kala semesta membuka lembar takdir yang baru, doaku agar angin berbisik tuk buat rupamu lebih syahdu, dengan gemintang bersinar tanpa lalu biru. [[Kategori:Wiki Seni Lokal]] cu0m7ulqpmqujrzimwpfcgv8dyqpw2l Resep Mie Gomak 0 27197 114929 114903 2026-04-19T08:15:20Z Intannx6424 41827 Melengkapi informasi 114929 wikitext text/x-wiki == Gambaran Umum == Mie gomak adalah salah satu makanan khas medan sumatera utara yang terbuat dari bahan dasar mie lidi/mie kuning. Makanan ini biasanya disajikan dalam dua jenis, yaitu mie gomak dengan kuah santan dan tanpa kuah santan. Sebutan mie gomak ini berasal dari cara penyajiannya. Yang dimana dalam proses penyajian tersebut biasanya menggunakan cara tradisional yakni dengan cara di gomak atau diremas menggunakan tangan kemudian di sajikan di [https://blog.atourin.com/food/mie-gomak-dengan-rasa-pedasnya/#:~:text=Tentang%20Mi%20Gomak&text=Disebut%20mie%20gomak%20karena%20dahulu,atau%20sendok%20demi%20kebersihan%20makanan. piring]. Tekstur dari mei gomak ini kenyal dan sedikit berukuran lebih besar dibandingkan dengan mie pada umumnya. Masyarakat sumatera biasanya menambahkan remasan kerupuk berbahan dasar singkok berwarna merah putih sebagai pelengkap sekaligus ciri khas dari menu tersebut. Tak hanya itu bumbu andaliman dan ebi juga turut menambah aroma dan cita rasa khas tersendiri. == Bahan == # 1/2 kg mie lidi (rebus) # 6 siung bawang putih (Haluskan) # 9 siung bawang merah (Haluskan) # 1/4 ruas Jahe (Haluskan) # Kerupuk Merah Putih (Secukupnya) # 1/2 sendok teh garam # 5 buah cabe merah (Haluskan) # 3 buah cabe rawit (Haluskan) # 5 buah Kemiri (Haluskan) # 1/4 Kol (Dipotong setipis mungkin) # 1 buah mentimun (dipotong oval) # 800 gram santan # 50 gram Ebi (Dihaluskan) # 2 helai daun salam # 1 ruas Serai # 1 buah labu siam (dipotong dadu) == Cara Membuat Mie Gomak == # Rebus mie lidi sekitar 15-30 menit, kemudian tiriskan # Haluskan bumbu yang telah disediakan (4 Bawang merah dan 3putih, 2 kemiri, dan Jahe) # Tumis bumbu tersebut hingga setengah matang, jika sudah masukkan Mie lidi yang telah di tiriskan # Tambahkan garam dan penyedap rasa # Aduk hingga matang == Cara Membuat Kuah Santan == # Haluskan bumbu yang telah disiapkan ( 5 Bawang merah dan 3 putih, Jahe, Kunyit, 3 Kemiri, Cabe dan Ebi) # Setelah halus maka tumis bumbu tersebut hingga setengah matang # Jika sudah berwarna gold maka masukkan labu siam yang telah dipotong dadu # Tunggu hinga labu siamnya setengah matang # Jika sudah maka masukan santan yang telah disiapkan dan masukkan sereh yang telah di tumbuk beserta daun salam # Setelah itu tunggu hingga matang == Cara Penyajian == # Ambil 3 sendok mie yang telah matang terlebih dahulu ke pering (disesuaikan kebutuhan) # Selanjutnya berikan remasakn kerupuk diatasnya # Kemudian berikan potongan timun di pinggir # Dan terakhir siramkan kuah santan di atas mie tersebut # Mie gomak khas medan siap untuk di nikmati dj8ki0d6oao9espcqxm5133p7gnec5s Pengguna:Candramawa99 2 27202 114927 2026-04-19T07:12:10Z Candramawa99 40971 ←Membuat halaman berisi 'gaul' 114927 wikitext text/x-wiki gaul 0rrml4ka12eckken6xlk3yrkg0c4f6i Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya 0 27203 114930 2026-04-19T08:27:50Z Intannx6424 41827 Membuat halaman baru 114930 wikitext text/x-wiki Masjid Raden Patah ini atau biasa disebut dengan MRP terletak di dalam kampus Universitas Brawijaya. yang dimana masjid ini merupakan salah satu masjid yang dibangun pada tahun 1979 yang dimana awal pembangunannya masih relatif kecil dengan kapasitas kurang lebih sekitar 300 jamaah dengan jumlah ( satu lantai) saja. Di masa kepemimpinan rektor prof.Yogi kampus UB mulai di bangun lebih besar karena adanya peningkatan jumlah pendaftar universitas brawijaya. Pembangunan tersebut diikuti oleh renovasi gedung masjid yang dimana tahun 2010 masjid ini kemudian berhasil diperluas dan diresmikan pertama kali di tahun 2014 dan peresmian selanjutnya di tahun 2018 dengan pembentukan menara-menara sebagai ikon masjid. Nama dari Masjid ini diambil dari salah satu nama putra Raja brawijaya yang kelima yakni Raden Patah. Arsitektur masjid ini dibentuk menyerupai bangun di masa Majapahit yang memiliki 5 kubah (Menggambarkan Sholat 5 waktu) , 17 tiang ( Menggambarkan Jumlah rakaat shalat) serta memiliki ciri khas Joglo. Masjid ini adalah masjid yang berdiri di lembaga pendidikan yang dimana berdiri di atas semua golongan, sehingga tidak berfokus atau mengidentikkan satu golongan saja. Oleh karena itu para ustadz yang dihadirkan pun memiliki latar belakang berbeda baik NU ataupun Muhammadiyah. == Kegiatan == Nah di masjid ini terdapat beberapa agenda atau rutinitas kegiatan yaitu, Senin dan Kamis diisi dengan kajian ''Kismala'' yang berfokus pada penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian hari Selasa diisi dengan tema ''Penyucian Jiwa'' yang mengajak jamaah untuk memperdalam aspek tazkiyatun nafs, sementara hari Rabu menghadirkan kajian ''Tafsir Al-Fatihah'' sebagai upaya memahami makna mendalam dari surah pembuka dalam Al-Qur’an. Adapun hari Jumat diisi dengan ''Kajian Islam'' yang bersifat umum dan kontekstual terhadap isu-isu keumatan. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, masjid turut melibatkan mahasiswa, khususnya yang bergerak di bidang kreatif. Mereka berperan dalam mengelola dan mengoordinasikan publikasi melalui media massa, seperti desain konten, dokumentasi kegiatan, serta penyebaran informasi melalui platform digital. Keterlibatan ini tidak hanya mendukung kelancaran kegiatan, tetapi juga menjadi wadah pengembangan kapasitas mahasiswa dalam bidang komunikasi dan kreativitas dakwah. mz2bpuddbc07m6awj0lr6w8urwza9dj Langkah Tak Terlihat 0 27204 114931 2026-04-19T10:02:30Z Raihankakicak 41526 ←Membuat halaman berisi 'Dahulu, meja makan hanya sebagai batas dunia bagi Fatimah, tempat ia menyajikan kopi panas untuk suaminya sambil menelan rapat-rapat keinginannya melanjutkan sekolah. Setiap kali ia menatap ijazah SMA yang tersimpan rapi di balik tumpukan kain, ada sesak yang tak kunjung hilang, seolah-olah kodratnya hanyalah menjadi bayangan di dalam rumah. Baginya, ''emansipasi'' hanyalah kata mewah di koran bekas yang digunakan untuk alas memotong sayur, sebuah mimpi yang tera...' 114931 wikitext text/x-wiki Dahulu, meja makan hanya sebagai batas dunia bagi Fatimah, tempat ia menyajikan kopi panas untuk suaminya sambil menelan rapat-rapat keinginannya melanjutkan sekolah. Setiap kali ia menatap ijazah SMA yang tersimpan rapi di balik tumpukan kain, ada sesak yang tak kunjung hilang, seolah-olah kodratnya hanyalah menjadi bayangan di dalam rumah. Baginya, ''emansipasi'' hanyalah kata mewah di koran bekas yang digunakan untuk alas memotong sayur, sebuah mimpi yang terasa mustahil digapai oleh gadis desa sepertinya. Suatu sore, ia memberanikan diri menyodorkan brosur pelatihan wirausaha kepada suaminya, meski tangannya gemetar hebat karena takut dianggap membangkang. Di luar dugaan, suaminya justru tersenyum tenang dan berkata bahwa dapur bukanlah penjara, melainkan tempat berbagi peran yang seharusnya tidak membelenggu sayapnya. Dukungan sederhana itu terasa seperti gerbang yang terbuka lebar, meruntuhkan tembok keraguan yang selama bertahun-tahun dibangun oleh stigma lingkungan di sekitarnya. Kini, Fatimah tidak hanya menyeduh kopi di rumah, tetapi juga menjadi 'peneduh' kelompok perajin bambu di desanya yang sukses menembus pasar kota. Ia membuktikan bahwa ''emansipasi'' bukan tentang ingin mengungguli laki-laki, melainkan hak untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri dan memiliki suara atas hidupnya. Di bawah langit senja, ia menyadari bahwa kemerdekaan sejati seorang perempuan dimulai saat ia berani memilih jalannya sendiri tanpa kehilangan jati diri. -Kakicak to4501zl6a8d09ifzpj83y30dhl9e1j