Wikibuku
idwikibooks
https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.46.0-wmf.26
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikibuku
Pembicaraan Wikibuku
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Resep
Pembicaraan Resep
Wisata
Pembicaraan Wisata
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Kategori:Pelajaran
14
3796
115134
115089
2026-05-02T07:30:48Z
~2026-26713-79
43079
115134
wikitext
text/x-wiki
Soal Mata pelajaran ekonomi kls 10 dan 11 yang biasa di pakai uuntuk osn
rplcmfvga9wqzr2hr3d72zumxk3z4io
Ayam Ajaib
0
27231
115133
2026-05-01T23:19:20Z
Laseapollo
32836
Diterjemahkan dari Dongeng Rusia.
115133
wikitext
text/x-wiki
Di seberang tiga kali sembilan negeri, di kerajaan yang kesepuluh—bukan di negeri kita—hiduplah dahulu seorang lelaki tua dan istrinya dalam kemiskinan dan kekurangan yang besar. Mereka memiliki dua orang anak laki-laki yang masih sangat kecil dan belum mampu membantu pekerjaan di ladang. Maka si lelaki tua sendirilah yang bekerja keras; ia keluar mengawasi para buruh, namun semua itu hanya memberinya upah yang sangat sedikit.
Suatu hari, dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan seorang pemabuk yang menyedihkan, yang membawa seekor ayam di tangannya.
“Maukah kau membeli ayamku, Pak Tua?” tanyanya.
“Berapa harganya?”
“Berikan aku lima puluh kopek.”
“Ah, tidak, kawan. Terimalah uang receh ini saja—cukup untukmu. Kau bisa membeli minuman dan meneguknya dalam perjalanan pulang lalu tertidur.”
Si pemabuk menerima uang itu dan memberikan ayamnya kepada lelaki tua tersebut.
Ketika lelaki tua itu tiba di rumah, keadaan sangat memprihatinkan—tak ada sepotong roti pun.
“Ini,” katanya kepada istrinya, “aku membelikanmu seekor ayam.”
Namun istrinya memarahinya dengan keras.
“Betapa bodohnya engkau! Apakah akalmu sudah hilang? Anak-anak kita kelaparan, dan engkau malah membeli ayam yang harus kita beri makan!”
“Diamlah, wahai perempuan,” jawabnya. “Ayam tidak makan banyak. Ia akan bertelur, lalu menghasilkan anak ayam; kita bisa menjualnya dan membeli roti.”
Maka lelaki tua itu membuat sarang kecil dan menaruh ayam itu di dekat tungku. Keesokan paginya, ia melihat bahwa ayam itu telah bertelur—namun bukan telur biasa, melainkan sebuah permata yang berkilauan dengan warna alami yang indah.
“Wahai istriku,” katanya, “ayam orang lain bertelur biasa, tetapi ayam kita bertelur permata. Apa yang harus kita lakukan?”
“Bawalah ke kota; mungkin ada yang mau membelinya.”
Ia pun pergi ke kota, berkeliling dari satu penginapan ke penginapan lain, memperlihatkan batu permata itu. Para saudagar berkumpul, menilai dan menawar, hingga akhirnya permata itu terjual seharga lima ratus rubel.
Sejak saat itu, lelaki tua itu berdagang batu permata hasil telur ayamnya. Dalam waktu singkat, ia menjadi kaya raya, masuk ke dalam serikat saudagar, membuka toko, mempekerjakan para pembantu, bahkan mengirim kapal dagang ke negeri-negeri jauh.
Suatu hari, ketika hendak bepergian ke luar negeri, ia berpesan kepada istrinya, “Jagalah ayam itu lebih dari matamu sendiri. Jika ia hilang, nyawamu sebagai gantinya.”
Namun begitu ia pergi, sang istri mulai menyimpan niat buruk. Ia sangat akrab dengan seorang pembantu muda.
“Dari mana kalian mendapat permata-permata itu?” tanya pemuda itu.
“Itu dari ayam kami,” jawabnya.
Pemuda itu pun memeriksa ayam tersebut, dan di bawah sayap kanannya ia melihat tulisan emas:
“Barang siapa memakan kepala ayam ini akan menjadi raja, dan siapa yang memakan hatinya akan mengeluarkan emas dari mulutnya.”
Ia pun berkata, “Masakkan ayam ini untuk makan malamku.”
“Bagaimana mungkin?” jawab perempuan itu. “Suamiku akan kembali dan menghukumku.”
Namun pemuda itu bersikeras.
Keesokan harinya, perempuan itu memerintahkan ayam tersebut disembelih dan dimasak, lengkap dengan kepala dan hatinya. Ketika juru masak pergi sebentar, kedua anak lelaki mereka pulang dari sekolah, melihat hidangan itu, dan diam-diam mencicipinya. Anak sulung memakan kepala ayam, dan si bungsu memakan hatinya.
Saat makan malam, ketika kepala dan hati ayam tidak ditemukan, pemuda itu marah besar dan pergi. Ia kemudian menuntut sesuatu yang keji: agar anak-anak itu dibunuh dan bagian tubuh mereka dihidangkan.
Dengan hati gelap, perempuan itu menyuruh juru masak membawa anak-anaknya ke hutan dan membunuh mereka. Namun di hutan, anak-anak itu memohon belas kasihan dan memberi juru masak emas. Ia pun melepaskan mereka, lalu menggantinya dengan anak anjing untuk disajikan.
Pemuda itu memakan hidangan tersebut, tetapi bukannya menjadi raja, ia justru menjadi bodoh.
Sementara itu, kedua anak itu mengembara hingga tiba di persimpangan jalan dengan sebuah tiang bertuliskan:
“Ke kanan akan memperoleh kerajaan.
Ke kiri akan menemui banyak kesusahan, namun akan menikahi putri cantik.”
Mereka pun berpisah: si sulung ke kanan, si bungsu ke kiri.
Anak sulung akhirnya tiba di sebuah negeri yang sedang berduka karena rajanya wafat. Di sana diadakan ujian: siapa pun yang lilinnya menyala dengan sendirinya di katedral akan menjadi raja. Lilin miliknya menyala terang, dan ia pun diangkat menjadi raja.
Sementara itu, si bungsu menuju negeri seorang putri yang sangat cantik namun penuh tipu daya. Ia hanya mau menikah dengan pria yang mampu memberi makan pasukannya selama tiga tahun. Berkat kemampuan mengeluarkan emas dari mulutnya, pemuda itu berhasil memenuhi syarat tersebut.
Namun sang putri berkhianat. Ia memperdayanya hingga kehilangan kekuatannya, lalu berusaha membunuhnya. Pemuda itu melarikan diri, bertekad untuk membalas.
Dalam perjalanannya, ia memperoleh tiga benda ajaib: tong yang mengeluarkan tentara, karpet terbang, dan cambuk yang dapat mengubah perempuan menjadi kuda. Dengan kekuatan itu, ia kembali, menaklukkan negeri sang putri, dan mengubahnya menjadi kuda.
Ia kemudian pergi menemui kakaknya, sang raja. Setelah berbagai peristiwa, mereka kembali ke rumah orang tua mereka dan mengungkap kebenaran. Sang ibu yang jahat dihukum, dan keadilan ditegakkan.
Akhirnya, si bungsu mengubah sang putri kembali menjadi manusia. Mereka berdamai, saling memahami, dan menikah dalam sebuah perayaan yang megah.
Dan seperti dalam kisah lama, aku pun hadir di sana, meminum madu yang mengalir hingga ke janggutku—namun setetes pun tidak sampai ke mulutku.
ec7ii7bwkmdpruqid7v75gfflhb55v7