Wikibuku
idwikibooks
https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.2
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikibuku
Pembicaraan Wikibuku
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Resep
Pembicaraan Resep
Wisata
Pembicaraan Wisata
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Praktik Pertanian Organik dan Pengolahan Limbah di Pedesaan/Tantangan dan Peluang Pengembangan ke Depan
0
26835
115225
115224
2026-05-12T12:49:31Z
Badak Ironman
40113
/* 4. Tantangan Struktural: Minimnya Kebijakan yang Mendukung */
115225
wikitext
text/x-wiki
Meskipun berbagai kendala masih dihadapi dalam pengelolaan limbah organik di pedesaan, upaya yang dilakukan para ibu dan komunitas lokal menunjukkan bahwa praktik ini memiliki potensi besar untuk berkembang.
Tantangan teknis, keterbatasan akses informasi, hingga hambatan sosial yang melekat pada pekerjaan perempuan bukanlah penghalang mutlak, justru menjadi titik awal untuk melihat peluang baru. Ketika praktik-praktik ini mulai mendapatkan dukungan, ruang kolaborasi dan inovasi terbuka semakin lebar, memberikan harapan bahwa upaya lingkungan berbasis komunitas dapat tumbuh menjadi gerakan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
==Tantangan Teknis dan Sosial==
Meski berbagai inisiatif pengelolaan limbah organik di pedesaan telah menunjukkan hasil yang menjanjikan, realitas di lapangan masih menyimpan sejumlah tantangan mendasar. Tantangan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial dan struktural, sehingga memengaruhi keberlanjutan program serta kapasitas perempuan dalam memimpin perubahan.
===1. Keterbatasan Fasilitas dan Peralatan Dasar===
Banyak kelompok perempuan di desa mengandalkan alat seadanya untuk mengolah limbah seperti sisa dapur, limbah ikan, atau limbah pertanian.
Peralatan sederhana, misalnya wadah fermentasi yang higienis, alat pencacah limbah manual, timbangan, atau ruang penyimpanan, sering kali belum tersedia.
Akibatnya, proses fermentasi tidak berjalan optimal, kualitas produk seperti kompos cair, pupuk padat, atau pakan fermentasi menjadi tidak konsisten, sebagian perempuan harus mengolah limbah secara manual, yang memakan waktu dan tenaga.
Padahal, investasi kecil pada fasilitas dasar dapat meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas hasil secara signifikan.
===2. Keterbatasan Akses Informasi Digital===
Selain tantangan teknis, hambatan digital juga menjadi masalah penting. Banyak perempuan pengelola limbah di desa belum memiliki akses internet stabil, perangkat memadai, atau keterampilan digital dasar.
Dampaknya, praktik lokal sulit terdokumentasikan dan tidak terdistribusi ke platform terbuka seperti Wikimedia Commons, pengetahuan tradisional yang bernilai tinggi tidak tercatat sebagai sumber belajar global, dan inovasi berbasis komunitas sulit terlihat dan sulit didukung oleh pihak eksternal.
Akses pengetahuan dan kemampuan berbagi secara daring merupakan kunci agar praktik lokal dapat diakui, dipelajari, dan direplikasi di wilayah lain.
===3. Stigma Sosial terhadap Perempuan dan Pekerjaan Pengelolaan Limbah===
Di banyak desa, pekerjaan terkait limbah, terutama yang melibatkan bau, kotoran, dan aktivitas fisik, masih dianggap pekerjaan rendah dan “tidak produktif”.
[[Berkas:Pengolahan limbah makanan oleh ibu-ibu Desa Padomasan.jpg|center|al=Pengolahan limbah makanan oleh ibu-ibu Desa Padomasan|Pengolahan limbah makanan oleh ibu-ibu Desa Padomasan]]
Ketika perempuan memimpin atau terlibat dalam kegiatan ini, sering muncul stigma seperti:
“bukan pekerjaan yang menghasilkan uang,”
“kurang layak bagi perempuan,”
“tidak penting dibanding pekerjaan rumah tangga.”
Stigma ini membuat sebagian perempuan ragu mengekspresikan kompetensinya atau merasa kurang dihargai, meskipun kontribusi mereka sangat besar dalam menjaga kebersihan, kesehatan lingkungan, dan ekonomi keluarga.
===4. Tantangan Struktural: Minimnya Kebijakan yang Mendukung===
Meskipun banyak desa memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi sirkular berbasis limbah organik, dukungan struktural dari pemerintah desa sering kali masih minim.
Beberapa bentuk kekurangan yang umum terjadi:
tidak adanya anggaran khusus untuk inovasi lingkungan,
tidak adanya regulasi atau program desa yang menfasilitasi pelatihan,
kurangnya pendampingan teknis bagi kelompok perempuan,
belum adanya rencana jangka panjang terkait pengolahan limbah skala komunitas.
Padahal, dengan sedikit dukungan kebijakan, seperti dana operasional rutin, pelatihan berkelanjutan, atau penyediaan fasilitas dasar, model pengelolaan limbah berbasis perempuan dapat berkembang menjadi prototipe ekonomi sirkular pedesaan yang inklusif dan mandiri.
==Peluang Kolaborasi dan Inovasi==
Di balik berbagai keterbatasan yang masih dihadapi, ruang untuk mengembangkan pengelolaan limbah organik di pedesaan justru semakin terbuka lebar. Setiap praktik sederhana yang dilakukan oleh perempuan desa memiliki potensi besar untuk bertumbuh menjadi inovasi sosial apabila difasilitasi melalui kolaborasi yang tepat.
Salah satu peluang terbesar adalah integrasinya dengan program pertanian organik. Berbagai jenis pupuk cair, kompos padat, maupun pakan fermentasi yang dihasilkan dari aktivitas pengolahan limbah sebenarnya dapat berkembang menjadi produk unggulan desa. Jika kualitasnya dijaga dan proses produksinya terdokumentasi dengan baik, hasil olahan tersebut bisa menjadi bagian dari rantai pasok pertanian lokal, sekaligus menjadi identitas ekonomi desa itu sendiri.
Di sisi lain, hadirnya platform pengetahuan terbuka seperti Wikimedia memberikan peluang baru yang sebelumnya tidak terbayangkan. Praktik-praktik lokal yang selama ini hanya hidup dari mulut ke mulut dapat terdokumentasi secara digital dan diakses secara global. Ini bukan hanya soal menyimpan teknik fermentasi atau metode pengomposan, tetapi juga tentang mengakui perempuan desa sebagai produsen pengetahuan. Ketika dokumentasi mereka muncul di ruang publik global, posisi mereka tidak lagi semata pelaku lapangan, melainkan kontributor penting dalam ekosistem sains dan budaya yang lebih luas.
Peluang berikutnya terletak pada pendidikan generasi muda. Ketika kegiatan pengelolaan limbah dikemas dalam bentuk “Sekolah Kompos”, “Kelas Hijau”, atau ruang belajar informal lainnya, anak-anak desa dapat terlibat langsung dan belajar dari pengalaman nyata. Interaksi antargenerasi ini membuka jalan bagi transfer pengetahuan yang lebih hidup: sains modern mengenai mikroba, fermentasi, dan ekologi bertemu dengan praktik tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Anak-anak melihat ibunya bukan hanya sebagai pengelola rumah, tetapi juga sebagai ilmuwan lokal yang memahami proses biologis penting bagi keberlanjutan desa.
Selain itu, model ekonomi sosial berbasis komunitas juga semakin relevan untuk dikembangkan. Hasil olahan limbah dapat diperdagangkan melalui skema bank sampah organik, di mana masyarakat memperoleh insentif berupa poin, tabungan, atau bahkan sistem barter hasil panen. Pendekatan ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga menumbuhkan solidaritas sosial dan memperkuat keberlanjutan program. Ketika masyarakat merasakan manfaat langsung, praktik pengolahan limbah tidak lagi dilihat sebagai aktivitas tambahan, melainkan sebagai bagian dari ekonomi desa yang produktif.
Jika peluang-peluang ini dirajut dalam strategi kolaboratif yang berkelanjutan, praktik lokal yang sederhana dapat berkembang menjadi gerakan sosial-ekologis yang lebih kuat. Pengelolaan limbah tidak hanya bertahan sebagai aktivitas rumah tangga atau komunitas kecil, tetapi menjadi fondasi bagi ekonomi sirkular desa yang berdaya, inklusif, dan diakui di tingkat nasional maupun global.
37x9lckd7w3a38d7hd6en1n6k9w5vrz
115226
115225
2026-05-12T12:50:12Z
Badak Ironman
40113
/* 4. Tantangan Struktural: Minimnya Kebijakan yang Mendukung */
115226
wikitext
text/x-wiki
Meskipun berbagai kendala masih dihadapi dalam pengelolaan limbah organik di pedesaan, upaya yang dilakukan para ibu dan komunitas lokal menunjukkan bahwa praktik ini memiliki potensi besar untuk berkembang.
Tantangan teknis, keterbatasan akses informasi, hingga hambatan sosial yang melekat pada pekerjaan perempuan bukanlah penghalang mutlak, justru menjadi titik awal untuk melihat peluang baru. Ketika praktik-praktik ini mulai mendapatkan dukungan, ruang kolaborasi dan inovasi terbuka semakin lebar, memberikan harapan bahwa upaya lingkungan berbasis komunitas dapat tumbuh menjadi gerakan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
==Tantangan Teknis dan Sosial==
Meski berbagai inisiatif pengelolaan limbah organik di pedesaan telah menunjukkan hasil yang menjanjikan, realitas di lapangan masih menyimpan sejumlah tantangan mendasar. Tantangan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial dan struktural, sehingga memengaruhi keberlanjutan program serta kapasitas perempuan dalam memimpin perubahan.
===1. Keterbatasan Fasilitas dan Peralatan Dasar===
Banyak kelompok perempuan di desa mengandalkan alat seadanya untuk mengolah limbah seperti sisa dapur, limbah ikan, atau limbah pertanian.
Peralatan sederhana, misalnya wadah fermentasi yang higienis, alat pencacah limbah manual, timbangan, atau ruang penyimpanan, sering kali belum tersedia.
Akibatnya, proses fermentasi tidak berjalan optimal, kualitas produk seperti kompos cair, pupuk padat, atau pakan fermentasi menjadi tidak konsisten, sebagian perempuan harus mengolah limbah secara manual, yang memakan waktu dan tenaga.
Padahal, investasi kecil pada fasilitas dasar dapat meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas hasil secara signifikan.
===2. Keterbatasan Akses Informasi Digital===
Selain tantangan teknis, hambatan digital juga menjadi masalah penting. Banyak perempuan pengelola limbah di desa belum memiliki akses internet stabil, perangkat memadai, atau keterampilan digital dasar.
Dampaknya, praktik lokal sulit terdokumentasikan dan tidak terdistribusi ke platform terbuka seperti Wikimedia Commons, pengetahuan tradisional yang bernilai tinggi tidak tercatat sebagai sumber belajar global, dan inovasi berbasis komunitas sulit terlihat dan sulit didukung oleh pihak eksternal.
Akses pengetahuan dan kemampuan berbagi secara daring merupakan kunci agar praktik lokal dapat diakui, dipelajari, dan direplikasi di wilayah lain.
===3. Stigma Sosial terhadap Perempuan dan Pekerjaan Pengelolaan Limbah===
Di banyak desa, pekerjaan terkait limbah, terutama yang melibatkan bau, kotoran, dan aktivitas fisik, masih dianggap pekerjaan rendah dan “tidak produktif”.
[[Berkas:Pengolahan limbah makanan oleh ibu-ibu Desa Padomasan.jpg|center|al=Pengolahan limbah makanan oleh ibu-ibu Desa Padomasan|Pengolahan limbah makanan oleh ibu-ibu Desa Padomasan]]
Ketika perempuan memimpin atau terlibat dalam kegiatan ini, sering muncul stigma seperti:
“bukan pekerjaan yang menghasilkan uang,”
“kurang layak bagi perempuan,”
“tidak penting dibanding pekerjaan rumah tangga.”
Stigma ini membuat sebagian perempuan ragu mengekspresikan kompetensinya atau merasa kurang dihargai, meskipun kontribusi mereka sangat besar dalam menjaga kebersihan, kesehatan lingkungan, dan ekonomi keluarga.
===4. Tantangan Struktural: Minimnya Kebijakan yang Mendukung===
Meskipun banyak desa memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi sirkular berbasis limbah organik, dukungan struktural dari pemerintah desa sering kali masih minim.
Beberapa bentuk kekurangan yang umum terjadi:
*tidak adanya anggaran khusus untuk inovasi lingkungan,
*tidak adanya regulasi atau program desa yang menfasilitasi pelatihan,
*kurangnya pendampingan teknis bagi kelompok perempuan,
*belum adanya rencana jangka panjang terkait pengolahan limbah skala komunitas.
Padahal, dengan sedikit dukungan kebijakan, seperti dana operasional rutin, pelatihan berkelanjutan, atau penyediaan fasilitas dasar, model pengelolaan limbah berbasis perempuan dapat berkembang menjadi prototipe ekonomi sirkular pedesaan yang inklusif dan mandiri.
==Peluang Kolaborasi dan Inovasi==
Di balik berbagai keterbatasan yang masih dihadapi, ruang untuk mengembangkan pengelolaan limbah organik di pedesaan justru semakin terbuka lebar. Setiap praktik sederhana yang dilakukan oleh perempuan desa memiliki potensi besar untuk bertumbuh menjadi inovasi sosial apabila difasilitasi melalui kolaborasi yang tepat.
Salah satu peluang terbesar adalah integrasinya dengan program pertanian organik. Berbagai jenis pupuk cair, kompos padat, maupun pakan fermentasi yang dihasilkan dari aktivitas pengolahan limbah sebenarnya dapat berkembang menjadi produk unggulan desa. Jika kualitasnya dijaga dan proses produksinya terdokumentasi dengan baik, hasil olahan tersebut bisa menjadi bagian dari rantai pasok pertanian lokal, sekaligus menjadi identitas ekonomi desa itu sendiri.
Di sisi lain, hadirnya platform pengetahuan terbuka seperti Wikimedia memberikan peluang baru yang sebelumnya tidak terbayangkan. Praktik-praktik lokal yang selama ini hanya hidup dari mulut ke mulut dapat terdokumentasi secara digital dan diakses secara global. Ini bukan hanya soal menyimpan teknik fermentasi atau metode pengomposan, tetapi juga tentang mengakui perempuan desa sebagai produsen pengetahuan. Ketika dokumentasi mereka muncul di ruang publik global, posisi mereka tidak lagi semata pelaku lapangan, melainkan kontributor penting dalam ekosistem sains dan budaya yang lebih luas.
Peluang berikutnya terletak pada pendidikan generasi muda. Ketika kegiatan pengelolaan limbah dikemas dalam bentuk “Sekolah Kompos”, “Kelas Hijau”, atau ruang belajar informal lainnya, anak-anak desa dapat terlibat langsung dan belajar dari pengalaman nyata. Interaksi antargenerasi ini membuka jalan bagi transfer pengetahuan yang lebih hidup: sains modern mengenai mikroba, fermentasi, dan ekologi bertemu dengan praktik tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Anak-anak melihat ibunya bukan hanya sebagai pengelola rumah, tetapi juga sebagai ilmuwan lokal yang memahami proses biologis penting bagi keberlanjutan desa.
Selain itu, model ekonomi sosial berbasis komunitas juga semakin relevan untuk dikembangkan. Hasil olahan limbah dapat diperdagangkan melalui skema bank sampah organik, di mana masyarakat memperoleh insentif berupa poin, tabungan, atau bahkan sistem barter hasil panen. Pendekatan ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga menumbuhkan solidaritas sosial dan memperkuat keberlanjutan program. Ketika masyarakat merasakan manfaat langsung, praktik pengolahan limbah tidak lagi dilihat sebagai aktivitas tambahan, melainkan sebagai bagian dari ekonomi desa yang produktif.
Jika peluang-peluang ini dirajut dalam strategi kolaboratif yang berkelanjutan, praktik lokal yang sederhana dapat berkembang menjadi gerakan sosial-ekologis yang lebih kuat. Pengelolaan limbah tidak hanya bertahan sebagai aktivitas rumah tangga atau komunitas kecil, tetapi menjadi fondasi bagi ekonomi sirkular desa yang berdaya, inklusif, dan diakui di tingkat nasional maupun global.
2jt5zemat4970zelp0b3f4slmwvqb8z
Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pematang jaya
0
27106
115233
114961
2026-05-13T01:32:21Z
BAYU SRI SETIAJI 1A
42668
/* */ Demokrasi dan system pemerintahan Indonesia
115233
wikitext
text/x-wiki
Pematang jaya adalah sebuah desa yang terdapat dalam Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau.
Di desa ini terdapat istilah pertanian seperti (ngasak) ini merupakan kebiasaan petani memperbolehkan warga lain (yang kurang mampu) untuk mengambil sisa sisa hasil panen yang tertinggal seperti (berondolan dan semangka).
Tradisi meminta bibit tanaman Biasanya dilakukan saat berkunjung (sowan), saat mengobrol santai di sore hari, atau ketika melintas di depan rumah tetangga yang sedang berkebun.
Pendekatan "Muji" (Memuji) tanaman terlebih dahulu sebelum meminta.
Terdapat Hukum tidak tertulis berupa kesepakatan adat dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun yaitu PRANATA MANGSA (PENATAAN MUSIM).
Isi nya adalah sistem kalender pertanian yang mengatur waktu yang tepat untuk menanam, merawat, hingga memanen berdasarkan tanda-tanda alam dan perubahan cuaca (mangsa). Pranata Mangsa adalah strategi adaptasi petani tradisional untuk "membaca" alam agar aktivitas pertanian tetap produktif dan berkelanjutan.
Gotong Royong/Sambatan: Kegiatan bekerja sama untuk membantu tetangga atau perbaikan fasilitas desa.
Siskamling/Ronda: upaya masyarakat menjaga keamanan desa secara tradisional untuk menjaga ketertiban lingkungan.
Di desa ini pemerintahnya membuat peraturan(penegakan hukum) dengan mengadakan musyawarah dengan warga dan membuat kesepakatan tentang hewan ternak dilarang merusak tanaman warga, sehingga hal itu juga dapat menciptakan kebersihan lingkungan. Dan bagi yang hewan ternak nnya merusak tanaman atau mengotori halaman tetangga maka akan di kenakan sanksi berupa denda.
ljrqnaemlq8yexc121d8izbt6rq3b5z
Pengguna:HanahA2
2
27108
115234
114541
2026-05-13T01:48:58Z
HanahA2
42812
Pertama
115234
wikitext
text/x-wiki
phoiac9h4m842xq45sp7s6u21eteeq1
Kisah Alexander dari Makedonia
0
27233
115232
115139
2026-05-12T17:16:54Z
Tiru Zendrato
42218
115232
wikitext
text/x-wiki
Pada suatu masa dahulu kala, hiduplah di dunia seorang raja bernama Alexander dari Makedonia. Masa itu begitu lampau, hingga bukan hanya kakek buyut kita, bahkan leluhur yang jauh sekalipun tidak lagi mengingatnya.
Raja ini adalah salah satu ksatria terbesar di antara semua ksatria yang pernah ada. Tidak ada seorang pun di dunia yang mampu menaklukkannya. Ia mencintai peperangan, dan seluruh pasukannya terdiri dari para ksatria. Ke mana pun Tsar Alexander dari Makedonia berperang, ia selalu menang, hingga akhirnya hampir semua raja di dunia berada di bawah kekuasaannya.
Suatu ketika, ia mencapai batas dunia dan menemukan bangsa-bangsa yang begitu aneh hingga bahkan dirinya yang pemberani pun merasa gentar. Ada manusia-manusia buas yang lebih ganas daripada binatang liar dan memakan sesamanya; ada makhluk bermata satu di dahi; ada yang memiliki tiga mata; ada yang hanya berkaki satu; ada pula yang berkaki tiga dan berlari secepat anak panah yang dilepaskan dari busur. Bangsa-bangsa itu dikenal sebagai Gog dan Magog.
Namun, Tsar Alexander tidak kehilangan keberaniannya. Ia pun memerangi mereka. Entah berapa lama peperangan itu berlangsung tak seorang pun tahu. Yang jelas, bangsa-bangsa liar itu akhirnya tercerai-berai dan melarikan diri. Alexander mengejar mereka hingga ke hutan lebat, jurang dalam, dan pegunungan yang tak terlukiskan oleh kata maupun tulisan.
Akhirnya, mereka berhasil bersembunyi dari kejarannya. Lalu apa yang dilakukan Alexander dari Makedonia? Ia menggulingkan sebuah gunung untuk menutup mereka, lalu menimpanya lagi dengan gunung lain seperti atap. Di atas lengkungan itu, ia memasang terompet-terompet, lalu kembali ke negerinya.
Angin bertiup melalui terompet-terompet itu, menimbulkan suara gemuruh yang mengerikan hingga mengguncang langit. Mendengar suara itu, Gog dan Magog yang terkurung di dalamnya berseru, "Ah, rupanya Alexander dari Makedonia masih hidup!"
Konon, hingga kini Gog dan Magog masih hidup dan tetap takut kepada Alexander. Namun, menjelang akhir zaman, mereka akan terbebas dari kurungan mereka.
rln4te6zh9kizajc7jma1pote35mpfi
Berkat Tuhan Meliputi Segala Sesuatu
0
27245
115231
115204
2026-05-12T17:14:39Z
Tiru Zendrato
42218
115231
wikitext
text/x-wiki
Pada suatu masa, di sebuah negeri dan kerajaan, hiduplah dua orang petani bernama Ivan dan Naum. Mereka bersekutu dan pergi bersama mencari pekerjaan. Setelah mengembara cukup lama, mereka tiba di sebuah desa yang makmur dan bekerja pada majikan yang berbeda. Selama seminggu mereka bekerja, dan baru bertemu kembali pada hari Minggu.
"Saudara, berapa yang kau peroleh?" tanya Ivan.
"Tuhan memberiku lima rubel," jawab Naum.
"Tuhan memberimu? Ia tidak memberi tanpa usaha. Itu hasil kerja kerasmu sendiri."
"Tidak, Saudara. Tanpa berkat Tuhan, manusia tak dapat berbuat apa-apa bahkan memperoleh sekeping uang pun tidak," jawab Naum
Mereka pun berdebat, hingga akhirnya sepakat, "Kita akan berpisah jalan. Orang pertama yang kita temui akan menentukan siapa yang benar. Yang kalah harus menyerahkan seluruh penghasilannya."
Mereka berjalan beberapa langkah, lalu bertemu seseorang yang ternyata adalah roh jahat yang menyamar sebagai manusia. Mereka meminta pendapatnya.
"Apa yang kau peroleh dengan usahamu sendiri itulah yang benar. Jangan bergantung pada Tuhan!" katanya.
Naum pun menyerahkan uangnya kepada Ivan dan kembali bekerja dengan tangan hampa. Seminggu kemudian, mereka bertemu lagi dan kembali berdebat. Naum berkata, "Walaupun minggu lalu kau mengambil uangku, minggu ini Tuhan kembali memberiku lebih banyak."
"Kalau begitu, kita bertanya lagi kepada orang pertama yang kita temui. Kali ini, yang kalah bukan hanya kehilangan uang, tetapi juga tangan kanannya," kata Ivan. Naum pun menyetujui.
Di jalan, mereka kembali bertemu dengan sosok yang sama roh jahat itu yang memberi jawaban serupa. Maka Ivan menyerahkan uangnya kepada Naum, lalu memotong tangan kanan Naum dan meninggalkannya. Naum pun termenung lama. Tanpa tangan kanan, bagaimana ia bisa mencari makan? Namun Tuhan Maha Pengasih. Ia pergi ke tepi sungai dan berbaring di sebuah perahu di pinggirnya.
"Aku akan beristirahat di sini. Besok pagi, mungkin aku akan menemukan jalan keluar. Bukankah pagi lebih bijaksana daripada malam?"
Tepat tengah malam, banyak iblis berkumpul di perahu itu dan mulai membanggakan tipu daya mereka. Iblis pertama berkata,
"Aku telah menimbulkan pertengkaran antara dua petani dan membela yang salah. Yang benar kini kehilangan tangannya."
"Itu bukanlah prestasi besar," kata iblis kedua. "Jika ia mengibaskan tangannya tiga kali di atas embun, tangannya akan tumbuh kembali."
Iblis ketiga berkata, "Aku telah menguras tenaga putri seorang bangsawan hingga ia hampir tak bisa bergerak."
"Itu pun mudah diatasi," kata iblis lain. "Ambillah ramuan itu (ia menunjuk tumbuhan di tepi sungai). Rebuslah, lalu gunakan untuk mengobatinya, ia akan sembuh."
Iblis berikutnya berkata, "Ada seorang petani yang membangun kincir air di sebuah kolam. Bertahun-tahun ia mencoba mengoperasikannya, tetapi setiap kali air dialirkan, aku membuat lubang sehingga airnya bocor."
"Betapa bodohnya petani itu," ujar iblis lain. "Ia hanya perlu menambalnya dengan baik, dan saat air mulai bocor, masukkan seikat jerami semua usahamu akan sia-sia."
Naum mendengarkan semua itu dengan saksama. Keesokan harinya, ia mengibaskan tangannya di atas embun dan tangannya pun tumbuh kembali. Ia lalu memperbaiki bendungan petani, serta menyembuhkan putri bangsawan dengan ramuan tersebut. Baik petani maupun bangsawan memberinya imbalan besar, hingga ia hidup makmur. Suatu hari, ia bertemu kembali dengan Ivan, yang terkejut melihat keadaannya.
"Bagaimana engkau bisa menjadi kaya? Dan bagaimana tanganmu kembali seperti semula?" tanya Ivan. Naum menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan apa pun. Ivan mendengarkan dengan penuh perhatian dan berpikir, "Aku akan melakukan hal yang sama bahkan akan menjadi lebih kaya darinya."
Ia pun pergi ke sungai dan berbaring di perahu itu. Namun pada tengah malam, ketika para iblis berkumpul, mereka berkata, "Saudara-saudara, pasti ada yang menguping kita! Lihat saja tangan petani itu tumbuh kembali, putri bangsawan sembuh, dan kincir air berfungsi."
Mereka pun menyerbu perahu itu, menemukan Ivan, dan mencabik-cabiknya menjadi potongan kecil.
qkz3kfmhiayv9ip9jzy9j084obqb6m4
JANDA MISKIN
0
27249
115227
2026-05-12T13:28:45Z
Mystique5
43080
←Membuat halaman berisi 'Pada zaman dahulu kala, Kristus dan kedua belas rasul-Nya berjalan di bumi. Mereka berkelana seperti orang-orang biasa sehingga tak seorang pun mengetahui bahwa mereka adalah Kristus dan para rasul. Suatu hari, mereka tiba di sebuah desa dan meminta tumpangan bermalam kepada seorang petani kaya. Namun, petani itu menolak mereka dan berkata, “Di sana ada seorang janda yang biasa menerima pengemis; pergilah ke rumahnya.” Maka mereka pun pergi ke rumah janda...'
115227
wikitext
text/x-wiki
Pada zaman dahulu kala, Kristus dan kedua belas rasul-Nya berjalan di bumi. Mereka berkelana seperti orang-orang biasa sehingga tak seorang pun mengetahui bahwa mereka adalah Kristus dan para rasul.
Suatu hari, mereka tiba di sebuah desa dan meminta tumpangan bermalam kepada seorang petani kaya. Namun, petani itu menolak mereka dan berkata,
“Di sana ada seorang janda yang biasa menerima pengemis; pergilah ke rumahnya.”
Maka mereka pun pergi ke rumah janda itu dan meminta izin untuk bermalam. Janda tersebut sangat miskin—bahkan yang termiskin di antara yang miskin. Ia hampir tidak memiliki apa-apa, hanya sepotong kecil roti dan segenggam tepung. Ia juga memiliki seekor sapi, tetapi sapi itu belum menghasilkan susu.
“Wahai Bapak-bapak,” kata janda itu, “rumahku sangat kecil, dan hampir tak ada tempat untuk beristirahat.”
“Tidak apa-apa, kami akan menyesuaikan diri,” jawab mereka.
Janda itu pun menerima para tamu itu meskipun ia bingung bagaimana memberi mereka makan.
“Bagaimana aku dapat menjamu kalian?” katanya. “Aku hanya punya sedikit roti dan segenggam tepung, dan sapiku belum menghasilkan susu. Kalian tentu tidak bisa mengharapkan jamuan yang layak di sini.”
Namun Sang Juruselamat berkata,
“Jangan takut, semuanya akan cukup. Berikan saja apa yang engkau miliki. Kita akan makan roti itu. Segala sesuatu berasal dari Tuhan.”
Mereka pun duduk dan makan bersama, dan semua orang kenyang hanya dengan sepotong roti kecil itu—bahkan masih tersisa remah-remahnya.
“Lihatlah,” kata Sang Juruselamat, “engkau berkata tidak ada yang bisa dimakan, tetapi kita semua telah kenyang, bahkan masih ada sisa. Segala sesuatu berasal dari Tuhan.”
Mereka pun bermalam di rumah janda itu.
Keesokan paginya, janda itu berkata kepada saudarinya,
“Pergilah, kumpulkan sisa tepung yang ada di lumbung. Mungkin kita bisa membuat sedikit panekuk untuk para tamu.”
Saudarinya pergi dan kembali membawa sepanci penuh tepung. Janda itu tidak terkejut, seolah menerima saja anugerah itu. Ia pun membuat panekuk dan menyajikannya kepada Kristus dan para rasul.
“Marilah makan hidangan sederhana ini, yang Tuhan karuniakan,” katanya.
Setelah makan, mereka berpamitan dan melanjutkan perjalanan.
Di tengah jalan, mereka bertemu seekor serigala abu-abu yang membungkuk hormat kepada Kristus dan memohon makanan.
“Tuhan, aku lapar. Izinkan aku makan,” katanya.
Kristus menjawab,
“Pergilah ke rumah janda tua itu dan makanlah sapi beserta anaknya.”
Para rasul terkejut mendengarnya.
“Tuhan, mengapa Engkau memerintahkan hal itu? Janda itu telah menerima kami dengan baik dan memberi kami makan. Ia berharap sapinya akan segera beranak dan memberinya susu.”
Namun Sang Juruselamat menjawab,
“Memang demikianlah seharusnya.”
Serigala itu pun pergi dan memangsa sapi janda tersebut. Ketika janda itu melihatnya, ia berkata dengan pasrah,
“Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil. Terpujilah kehendak-Nya.”
Perjalanan pun berlanjut. Di jalan, mereka menemukan sebuah tong berisi uang. Sang Juruselamat berkata,
“Wahai tong, bergulinglah menuju rumah petani kaya itu.”
Para rasul kembali terheran-heran.
“Tuhan, bukankah lebih baik jika uang itu diberikan kepada janda miskin? Petani itu sudah memiliki segalanya.”
Namun Sang Juruselamat tetap berkata,
“Memang demikianlah seharusnya.”
Tong itu pun berguling ke rumah petani kaya. Ia mengambil uang itu dan menyimpannya, tetapi tetap merasa tidak puas.
“Seharusnya Tuhan memberiku lebih banyak lagi,” pikirnya.
Kristus dan para rasul melanjutkan perjalanan. Saat siang hari yang panas, para rasul merasa haus.
“Tuhan, kami ingin minum,” kata mereka.
“Pergilah ke jalan itu, di sana ada sebuah sumur. Minumlah sepuasnya,” jawab-Nya.
Mereka pergi dan menemukan sumur itu. Namun, ketika melihat ke dalamnya, mereka mendapati air yang kotor, penuh lumpur, katak, ular, dan segala yang menjijikkan. Mereka tidak mau meminumnya dan kembali kepada Sang Juruselamat.
“Mengapa kalian tidak minum?” tanya-Nya.
“Sumur itu ada, tetapi begitu menjijikkan hingga kami tak sanggup memandangnya, apalagi meminumnya,” jawab mereka.
Sang Juruselamat tidak berkata apa-apa.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, para rasul kembali merasa haus.
Kali ini, Sang Juruselamat menunjukkan jalan lain.
“Di sana kalian akan menemukan sumur. Pergilah dan minumlah.”
Mereka pun pergi dan menemukan sumur yang indah luar biasa—dikelilingi pepohonan yang menawan dan burung-burung yang merdu. Airnya jernih, sejuk, dan sangat menyegarkan. Mereka minum dengan puas dan hampir tak ingin meninggalkan tempat itu.
Ketika kembali, Sang Juruselamat bertanya,
“Mengapa kalian begitu lama?”
“Kami hanya minum sebentar, tidak lebih dari beberapa menit,” jawab mereka.
Namun Sang Juruselamat berkata,
“Kalian tidak berada di sana beberapa menit, tetapi tiga tahun lamanya. Seperti sumur pertama itulah nasib petani kaya di kehidupan kelak; dan seperti sumur kedua itulah kebahagiaan yang akan diterima janda miskin.”
kds7uto8ngjurdo0xh7x6nt7gprxr6w
Sang Pembuat Gerabah
0
27250
115228
2026-05-12T16:59:38Z
Tiru Zendrato
42218
←Membuat halaman berisi 'Pada suatu hari, seorang pembuat gerabah berjalan di sepanjang jalan sambil membawa dagangannya. Di tengah perjalanan, ia tertidur sejenak. Tak lama kemudian, Tsar Ivan Vasilyevich melintas dengan keretanya dan berkata, ''Damai sejahtera bagimu.'' Si pembuat gerabah terbangun, lalu menjawab, ''Terima kasih banyak, dan semoga damai juga menyertai Paduka.'' ''Apakah engkau tadi tertidur?'' tanya sang Tsar. ''Benar, Tuanku. Janganlah takut pada orang yang bernyan...'
115228
wikitext
text/x-wiki
Pada suatu hari, seorang pembuat gerabah berjalan di sepanjang jalan sambil membawa dagangannya. Di tengah perjalanan, ia tertidur sejenak. Tak lama kemudian, Tsar Ivan Vasilyevich melintas dengan keretanya dan berkata, ''Damai sejahtera bagimu.''
Si pembuat gerabah terbangun, lalu menjawab, ''Terima kasih banyak, dan semoga damai juga menyertai Paduka.''
''Apakah engkau tadi tertidur?'' tanya sang Tsar.
''Benar, Tuanku. Janganlah takut pada orang yang bernyanyi; takutlah pada orang yang terlelap'' jawabnya.
Tsar tersenyum. ''Engkau orang yang berani, wahai pembuat gerabah. Jarang aku bertemu orang seperti dirimu, dan aku menyukainya. Kusir, perlambat laju! Katakan padaku, sudah berapa lama engkau menekuni pekerjaan ini''
''Sejak masa muda, dan kini aku telah memasuki usia paruh baya.''
''Apakah pekerjaan itu cukup untuk menghidupi anak-anakmu?''
''Ya. Aku tidak menabur, tidak membajak, tidak memotong rumput, dan tidak pula menuai. Bahkan embun beku pun tak dapat merugikanku.''
''Benar juga,” kata Tsar, “namun di dunia ini masih ada berbagai kemalangan.''
''Ya, aku tahu ada tiga,'' jawab si pembuat gerabah.
''Apa saja tiga itu?''
''Pertama, tetangga yang jahat; kedua, istri yang jahat; dan ketiga, akal yang lemah.''
''Lalu, menurutmu, mana yang paling buruk di antara ketiganya?''
'Dari tetangga jahat kita bisa menjauh. Dari istri jahat pun bisa berpisah, jika anak-anak sudah cukup banyak. Tetapi akal yang lemah—itu tak akan pernah bisa disingkirkan.''
“Benar sekali,” kata Tsar. “Engkau orang yang bijaksana. Dengarkan! Jika ada angsa terbang melintasi Rusia, apakah engkau akan mencabuti bulunya atau membiarkannya terbang dengan damai?”
“Jika menguntungkanku, akan kubiarkan mereka terbang sebagaimana mestinya; tetapi jika tidak, akan kucabuti bulunya hingga habis.”
“Berhentilah sebentar, wahai pembuat gerabah. Aku ingin melihat barang daganganmu.”
Si pembuat gerabah pun berhenti dan memperlihatkan barang-barangnya.
“Bisakah engkau membuat barang seperti ini untukku?”
“Berapa banyak, Tuanku?”
“Sepuluh muatan kereta.”
“Berapa lama waktu yang Paduka butuhkan?”
“Sebulan.”
“Dalam dua minggu aku bisa membawanya ke kota. Paduka cocok denganku, dan aku pun cocok dengan Paduka.”
“Baiklah. Terima kasih, wahai pembuat gerabah.”
“Apakah Paduka akan berada di kota saat aku membawa barang-barang itu?”
“Ya, aku akan berada di sana sebagai tamu seorang saudagar.”
Maka Tsar pun melanjutkan perjalanan ke kota dan memerintahkan agar dalam setiap perjamuan, piring yang digunakan bukan dari perak, bukan dari timah, bukan dari tembaga, dan bukan pula dari kayu, melainkan hanya dari tanah liat.
Si pembuat gerabah memenuhi pesanan itu dan membawa barang-barangnya ke kota. Seorang boyar (bangsawan) mendekatinya dan berkata, “Tuhan menyertaimu, wahai pembuat gerabah.”
“Terima kasih, Tuan.”
“Juallah semua barangmu kepadaku.”
“Aku tidak bisa, semuanya sudah terjual.”
“Tak mengapa. Terimalah uangku. Engkau tidak bersalah, karena belum ada perjanjian resmi. Apa yang engkau inginkan sebagai harga?”
“Aku ingin setiap piring diisi dengan uang.”
“Itu terlalu banyak!” seru sang boyar.
“Baiklah. Kalau begitu, satu piring diisi uang, dua piring dibiarkan kosong. Setuju?”
Akhirnya mereka sepakat. “Engkau cocok denganku, dan aku pun cocok denganmu.”
Mereka mulai mengisi piring-piring dengan uang, lalu mengosongkannya, lalu mengisinya kembali. Begitu terus-menerus, hingga uang mereka hampir habis, tetapi piring-piring masih banyak tersisa. Sang boyar mulai menyadari bahwa ia dirugikan, lalu menyuruh mengambil lebih banyak uang dari rumahnya.
Piring-piring pun ditumpuk semakin tinggi, tetapi semua uang habis, sementara barang dagangan si pembuat gerabah belum juga habis.
“Apa yang harus dilakukan sekarang?” kata boyar itu. “Mengapa engkau begitu serakah?”
“Tidak ada yang bisa dilakukan,” jawab si pembuat gerabah tenang.
“Aku sangat menghormatimu,” kata boyar itu, “tetapi tahukah engkau?”
“Ada satu cara,” jawab si pembuat gerabah. “Antarkan aku ke halaman istana, maka akan kukembalikan barang dan uangmu.”
Boyar itu ragu. Ia sangat menyesal kehilangan uangnya, tetapi tak punya pilihan lain. Akhirnya mereka setuju. Kuda dilepas dari kereta, si pembuat gerabah duduk di dalamnya, dan boyar itu menarik kereta tersebut.
Sambil duduk, si pembuat gerabah bernyanyi riang, sementara sang boyar menarik kereta itu dengan susah payah.
“Seberapa jauh aku harus menarikmu?” tanya boyar itu.
Si pembuat gerabah tetap bernyanyi dengan gembira dan berkata, “Sampai ke depan rumah itu, hingga ke tempat tertinggi dari kereta ini.”
Ketika mereka tiba di istana, ia berdiri tegak di atas kereta sambil terus bernyanyi dengan penuh kegembiraan.
Tsar mendengar nyanyiannya, bergegas keluar, dan mengenali si pembuat gerabah. “Ah! Selamat datang, wahai pembuat gerabah!”
“Terima kasih, Tuanku.”
“Apa yang engkau bawa dalam perjalanan ini?”
“Kebodohan,” jawabnya.
Tsar tertawa kecil, lalu berkata, “Wahai pembuat gerabah yang cerdik, engkau tahu bagaimana menjual barangmu. Boyar, lepaskan pakaian kebesaranmu dan sepatu botmu! Dan engkau, pembuat gerabah, lepaskan kaftanmu dan sandal anyamanmu. Kenakan pakaian petani itu, wahai boyar; dan engkau, pembuat gerabah, kenakan jubah bangsawan ini.”
Tsar melanjutkan, “Engkau telah menjual barangmu dengan sangat baik. Engkau bekerja sedikit, tetapi memperoleh banyak. Sedangkan engkau, boyar, tidak mampu mempertahankan kedudukanmu.”
Kemudian Tsar bertanya, “Wahai pembuat gerabah, apakah ada angsa yang terbang melintasi Rusia? Apakah engkau mencabuti bulunya, atau membiarkannya terbang dengan damai?”
Si pembuat gerabah tersenyum dan menjawab, “Tidak, Tuanku. Aku mencabuti bulunya hingga habis.”
2a4fslk03fhmkjyzc5l2jiowlmzpl9l
115229
115228
2026-05-12T17:09:15Z
Tiru Zendrato
42218
115229
wikitext
text/x-wiki
Pada suatu hari, seorang pembuat gerabah berjalan di sepanjang jalan sambil membawa dagangannya. Di tengah perjalanan, ia tertidur sejenak. Tak lama kemudian, Tsar Ivan Vasilyevich melintas dengan keretanya dan berkata, ''Damai sejahtera bagimu.''
Si pembuat gerabah terbangun, lalu menjawab, "Terima kasih banyak, dan semoga damai juga menyertai Paduka."
"Apakah engkau tadi tertidur?" tanya sang Tsar.
"Benar, Tuanku. Janganlah takut pada orang yang bernyanyi, takutlah pada orang yang terlelap," jawabnya.
Tsar tersenyum. "Engkau orang yang berani, wahai pembuat gerabah. Jarang aku bertemu orang seperti dirimu, dan aku menyukainya. Kusir, perlambat laju! Katakan padaku, sudah berapa lama engkau menekuni pekerjaan ini?"
"Sejak masa muda, dan kini aku telah memasuki usia paruh baya."
"Apakah pekerjaan itu cukup untuk menghidupi anak-anakmu?"
"Ya. Aku tidak menabur, tidak membajak, tidak memotong rumput, dan tidak pula menuai. Bahkan embun beku pun tak dapat merugikanku."
"Benar juga,” kata Tsar. "Namun di dunia ini masih ada berbagai kemalangan."
"Ya, aku tahu ada tiga," jawab si pembuat gerabah.
"Apa saja tiga itu?"
"Pertama, tetangga yang jahat, kedua, istri yang jahat, dan ketiga, akal yang lemah."
"Lalu, menurutmu, mana yang paling buruk di antara ketiganya?"
"Dari tetangga jahat kita bisa menjauh. Dari istri jahat pun bisa berpisah, jika anak-anak sudah cukup banyak. Tetapi akal yang lemah itu tak akan pernah bisa disingkirkan."
"Benar sekali," kata Tsar. "Engkau orang yang bijaksana. Dengarkan! Jika ada angsa terbang melintasi Rusia, apakah engkau akan mencabuti bulunya atau membiarkannya terbang dengan damai?"
"Jika menguntungkanku, akan kubiarkan mereka terbang sebagaimana mestinya. Tetapi jika tidak, akan kucabuti bulunya hingga habis."
"Berhentilah sebentar, wahai pembuat gerabah. Aku ingin melihat barang daganganmu." Si pembuat gerabah pun berhenti dan memperlihatkan barang-barangnya.
"Bisakah engkau membuat barang seperti ini untukku?"
"Berapa banyak, Tuanku?"
"Sepuluh muatan kereta."
"Berapa lama waktu yang Paduka butuhkan?"
"Sebulan."
"Dalam dua minggu aku bisa membawanya ke kota. Paduka cocok denganku, dan aku pun cocok dengan Paduka."
"Baiklah. Terima kasih, wahai pembuat gerabah."
"Apakah Paduka akan berada di kota saat aku membawa barang-barang itu?"
"Ya, aku akan berada di sana sebagai tamu seorang saudagar."
Maka Tsar pun melanjutkan perjalanan ke kota dan memerintahkan agar dalam setiap perjamuan, piring yang digunakan bukan dari perak, bukan dari timah, bukan dari tembaga, dan bukan pula dari kayu, melainkan hanya dari tanah liat. Si pembuat gerabah memenuhi pesanan itu dan membawa barang-barangnya ke kota. Seorang boyar (bangsawan) mendekatinya dan berkata, "Tuhan menyertaimu, wahai pembuat gerabah."
"Terima kasih, Tuan."
"Juallah semua barangmu kepadaku."
"Aku tidak bisa, semuanya sudah terjual."
"Tak mengapa. Terimalah uangku. Engkau tidak bersalah, karena belum ada perjanjian resmi. Apa yang engkau inginkan sebagai harga?"
"Aku ingin setiap piring diisi dengan uang."
"Itu terlalu banyak!" seru sang boyar.
"Baiklah. Kalau begitu, satu piring diisi uang, dua piring dibiarkan kosong. Setuju?"
Akhirnya mereka sepakat. "Engkau cocok denganku, dan aku pun cocok denganmu."
Mereka mulai mengisi piring-piring dengan uang, lalu mengosongkannya, lalu mengisinya kembali. Begitu terus-menerus, hingga uang mereka hampir habis, tetapi piring-piring masih banyak tersisa. Sang boyar mulai menyadari bahwa ia dirugikan, lalu menyuruh mengambil lebih banyak uang dari rumahnya. Piring-piring pun ditumpuk semakin tinggi, tetapi semua uang habis, sementara barang dagangan si pembuat gerabah belum juga habis.
"Apa yang harus dilakukan sekarang?" kata boyar itu. "Mengapa engkau begitu serakah?"
"Tidak ada yang bisa dilakukan," jawab si pembuat gerabah tenang.
"Aku sangat menghormatimu," kata boyar itu, "Tetapi tahukah engkau?"
"Ada satu cara," jawab si pembuat gerabah. "Antarkan aku ke halaman istana, maka akan kukembalikan barang dan uangmu."
Boyar itu ragu. Ia sangat menyesal kehilangan uangnya, tetapi tak punya pilihan lain. Akhirnya mereka setuju. Kuda dilepas dari kereta, si pembuat gerabah duduk di dalamnya, dan boyar itu menarik kereta tersebut. Sambil duduk, si pembuat gerabah bernyanyi riang, sementara sang boyar menarik kereta itu dengan susah payah.
"Seberapa jauh aku harus menarikmu?" tanya boyar itu.
Si pembuat gerabah tetap bernyanyi dengan gembira dan berkata, "Sampai ke depan rumah itu, hingga ke tempat tertinggi dari kereta ini."
Ketika mereka tiba di istana, ia berdiri tegak di atas kereta sambil terus bernyanyi dengan penuh kegembiraan. Tsar mendengar nyanyiannya, bergegas keluar, dan mengenali si pembuat gerabah. "Ah! Selamat datang, wahai pembuat gerabah!"
"Terima kasih, Tuanku."
"Apa yang engkau bawa dalam perjalanan ini?"
"Kebodohan," jawabnya.
Tsar tertawa kecil, lalu berkata, "Wahai pembuat gerabah yang cerdik, engkau tahu bagaimana menjual barangmu. Boyar, lepaskan pakaian kebesaranmu dan sepatu botmu! Dan engkau, pembuat gerabah, lepaskan kaftanmu dan sandal anyamanmu. Kenakan pakaian petani itu, wahai boyar; dan engkau, pembuat gerabah, kenakan jubah bangsawan ini."
Tsar melanjutkan, "Engkau telah menjual barangmu dengan sangat baik. Engkau bekerja sedikit, tetapi memperoleh banyak. Sedangkan engkau, boyar, tidak mampu mempertahankan kedudukanmu."
Kemudian Tsar bertanya, "Wahai pembuat gerabah, apakah ada angsa yang terbang melintasi Rusia? Apakah engkau mencabuti bulunya, atau membiarkannya terbang dengan damai?"
Si pembuat gerabah tersenyum dan menjawab, "Tidak, Tuanku. Aku mencabuti bulunya hingga habis."
13izgv9nm21hxwbttwhwpan5gtrm3zk
115230
115229
2026-05-12T17:10:23Z
Tiru Zendrato
42218
115230
wikitext
text/x-wiki
Pada suatu hari, seorang pembuat gerabah berjalan di sepanjang jalan sambil membawa dagangannya. Di tengah perjalanan, ia tertidur sejenak. Tak lama kemudian, Tsar Ivan Vasilyevich melintas dengan keretanya dan berkata, "Damai sejahtera bagimu."
Si pembuat gerabah terbangun, lalu menjawab, "Terima kasih banyak, dan semoga damai juga menyertai Paduka."
"Apakah engkau tadi tertidur?" tanya sang Tsar.
"Benar, Tuanku. Janganlah takut pada orang yang bernyanyi, takutlah pada orang yang terlelap," jawabnya.
Tsar tersenyum. "Engkau orang yang berani, wahai pembuat gerabah. Jarang aku bertemu orang seperti dirimu, dan aku menyukainya. Kusir, perlambat laju! Katakan padaku, sudah berapa lama engkau menekuni pekerjaan ini?"
"Sejak masa muda, dan kini aku telah memasuki usia paruh baya."
"Apakah pekerjaan itu cukup untuk menghidupi anak-anakmu?"
"Ya. Aku tidak menabur, tidak membajak, tidak memotong rumput, dan tidak pula menuai. Bahkan embun beku pun tak dapat merugikanku."
"Benar juga,” kata Tsar. "Namun di dunia ini masih ada berbagai kemalangan."
"Ya, aku tahu ada tiga," jawab si pembuat gerabah.
"Apa saja tiga itu?"
"Pertama, tetangga yang jahat, kedua, istri yang jahat, dan ketiga, akal yang lemah."
"Lalu, menurutmu, mana yang paling buruk di antara ketiganya?"
"Dari tetangga jahat kita bisa menjauh. Dari istri jahat pun bisa berpisah, jika anak-anak sudah cukup banyak. Tetapi akal yang lemah itu tak akan pernah bisa disingkirkan."
"Benar sekali," kata Tsar. "Engkau orang yang bijaksana. Dengarkan! Jika ada angsa terbang melintasi Rusia, apakah engkau akan mencabuti bulunya atau membiarkannya terbang dengan damai?"
"Jika menguntungkanku, akan kubiarkan mereka terbang sebagaimana mestinya. Tetapi jika tidak, akan kucabuti bulunya hingga habis."
"Berhentilah sebentar, wahai pembuat gerabah. Aku ingin melihat barang daganganmu." Si pembuat gerabah pun berhenti dan memperlihatkan barang-barangnya.
"Bisakah engkau membuat barang seperti ini untukku?"
"Berapa banyak, Tuanku?"
"Sepuluh muatan kereta."
"Berapa lama waktu yang Paduka butuhkan?"
"Sebulan."
"Dalam dua minggu aku bisa membawanya ke kota. Paduka cocok denganku, dan aku pun cocok dengan Paduka."
"Baiklah. Terima kasih, wahai pembuat gerabah."
"Apakah Paduka akan berada di kota saat aku membawa barang-barang itu?"
"Ya, aku akan berada di sana sebagai tamu seorang saudagar."
Maka Tsar pun melanjutkan perjalanan ke kota dan memerintahkan agar dalam setiap perjamuan, piring yang digunakan bukan dari perak, bukan dari timah, bukan dari tembaga, dan bukan pula dari kayu, melainkan hanya dari tanah liat. Si pembuat gerabah memenuhi pesanan itu dan membawa barang-barangnya ke kota. Seorang boyar (bangsawan) mendekatinya dan berkata, "Tuhan menyertaimu, wahai pembuat gerabah."
"Terima kasih, Tuan."
"Juallah semua barangmu kepadaku."
"Aku tidak bisa, semuanya sudah terjual."
"Tak mengapa. Terimalah uangku. Engkau tidak bersalah, karena belum ada perjanjian resmi. Apa yang engkau inginkan sebagai harga?"
"Aku ingin setiap piring diisi dengan uang."
"Itu terlalu banyak!" seru sang boyar.
"Baiklah. Kalau begitu, satu piring diisi uang, dua piring dibiarkan kosong. Setuju?"
Akhirnya mereka sepakat. "Engkau cocok denganku, dan aku pun cocok denganmu."
Mereka mulai mengisi piring-piring dengan uang, lalu mengosongkannya, lalu mengisinya kembali. Begitu terus-menerus, hingga uang mereka hampir habis, tetapi piring-piring masih banyak tersisa. Sang boyar mulai menyadari bahwa ia dirugikan, lalu menyuruh mengambil lebih banyak uang dari rumahnya. Piring-piring pun ditumpuk semakin tinggi, tetapi semua uang habis, sementara barang dagangan si pembuat gerabah belum juga habis.
"Apa yang harus dilakukan sekarang?" kata boyar itu. "Mengapa engkau begitu serakah?"
"Tidak ada yang bisa dilakukan," jawab si pembuat gerabah tenang.
"Aku sangat menghormatimu," kata boyar itu, "Tetapi tahukah engkau?"
"Ada satu cara," jawab si pembuat gerabah. "Antarkan aku ke halaman istana, maka akan kukembalikan barang dan uangmu."
Boyar itu ragu. Ia sangat menyesal kehilangan uangnya, tetapi tak punya pilihan lain. Akhirnya mereka setuju. Kuda dilepas dari kereta, si pembuat gerabah duduk di dalamnya, dan boyar itu menarik kereta tersebut. Sambil duduk, si pembuat gerabah bernyanyi riang, sementara sang boyar menarik kereta itu dengan susah payah.
"Seberapa jauh aku harus menarikmu?" tanya boyar itu.
Si pembuat gerabah tetap bernyanyi dengan gembira dan berkata, "Sampai ke depan rumah itu, hingga ke tempat tertinggi dari kereta ini."
Ketika mereka tiba di istana, ia berdiri tegak di atas kereta sambil terus bernyanyi dengan penuh kegembiraan. Tsar mendengar nyanyiannya, bergegas keluar, dan mengenali si pembuat gerabah. "Ah! Selamat datang, wahai pembuat gerabah!"
"Terima kasih, Tuanku."
"Apa yang engkau bawa dalam perjalanan ini?"
"Kebodohan," jawabnya.
Tsar tertawa kecil, lalu berkata, "Wahai pembuat gerabah yang cerdik, engkau tahu bagaimana menjual barangmu. Boyar, lepaskan pakaian kebesaranmu dan sepatu botmu! Dan engkau, pembuat gerabah, lepaskan kaftanmu dan sandal anyamanmu. Kenakan pakaian petani itu, wahai boyar; dan engkau, pembuat gerabah, kenakan jubah bangsawan ini."
Tsar melanjutkan, "Engkau telah menjual barangmu dengan sangat baik. Engkau bekerja sedikit, tetapi memperoleh banyak. Sedangkan engkau, boyar, tidak mampu mempertahankan kedudukanmu."
Kemudian Tsar bertanya, "Wahai pembuat gerabah, apakah ada angsa yang terbang melintasi Rusia? Apakah engkau mencabuti bulunya, atau membiarkannya terbang dengan damai?"
Si pembuat gerabah tersenyum dan menjawab, "Tidak, Tuanku. Aku mencabuti bulunya hingga habis."
{{Dongeng}}
[[Kategori:Dongeng]]
t974xyecrr507th3jqe683yomtpc6ta