Wikibuku
idwikibooks
https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.6
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikibuku
Pembicaraan Wikibuku
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Resep
Pembicaraan Resep
Wisata
Pembicaraan Wisata
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Puisi-Puisi Takuboku Ishikawa
0
27548
116913
116697
2026-06-15T05:39:19Z
Sibiru45
35568
/* Untuk Adikku */
116913
wikitext
text/x-wiki
'''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref>
Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref>
== Mari Bernyanyi ==
Mari bernyanyi.
<br>Ketika tubuh kita letih
<br>oleh pertempuran yang tak selesai-selesai,
<br>ketika kesedihan datang
<br>dan duduk lama di samping kita,
<br>ketika anak kita
<br>menemui kematian sebelum sempat tumbuh,
<br>ketika kita melihat seorang pengemis
<br>yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu,
<br>ketika cinta
<br>menghabiskan seluruh isi hati kita—
<br>mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu.
<br>Sambil menatap langit
<br>yang tak mengatakan apa-apa.
<br>Wahai kawan-kawanku
<br>yang lapar.
== Sebuah Pesawat ==
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
Seorang anak pengantar koran,
<br>pada satu dari sedikit hari Minggu
<br>yang tidak dirampas pekerjaannya,
<br>di rumah yang sunyi
<br>bersama ibunya yang sakit paru-paru,
<br>dengan mata lelah
<br>karena terlalu lama membaca
<br>buku-buku pelajaran sendirian . . .
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
== Kepada Seekor Kepiting ==
Kau, kepiting cerdik
<br>di pantai timur itu,
<br>bersembunyi di liangmu
<br>saat air pasang,
<br>keluar lagi
<br>saat air surut,
<br>selalu berjalan menyamping—
<br>tahukah kau,
<br>atau mungkin tidak,
<br>ada seorang anak yang letih
<br>melintas di dekatmu,
<br>terbawa arus
<br>yang tak memberinya kesempatan,
<br>mengikuti seberkas cahaya
<br>yang bahkan lebih kecil
<br>daripada matamu?
== Aku Akan Pergi Sendiri ==
Hari telah selesai.
<br>(hidup yang menyedihkan)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
Segala bunyi meredup.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan kenangan
<br>diguyur melodi yang begitu halus.
<br>(pikiran tentang malam,
<br>pikiran tentang hidup)
Kisah cinta itu selesai.
<br>(hidup yang dibangun khayalan)
<br>Ke dalam hutan
<br>yang membuatku lupa pada diriku sendiri
<br>aku melangkah sendiri.
Wangi bunga popi
<br>perlahan memudar.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan tempat napasku
<br>mengambang seperti kabut hijau yang tipis.
<br>(aroma malam,
<br>aroma cinta)
Kisah cinta itu hancur.
<br>(hidup yang penuh nestapa)
<br>Ke dalam hutan doa
<br>aku melangkah sendiri.
Wajahnya muncul
<br>setiap kali aku berdoa.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan cinta
<br>yang disegarkan seorang muse dari langit.
<br>(doa malam,
<br>doa kehidupan)
Bulan bersinar.
<br>(hidup yang berwarna-warni)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
<br>Cahaya bulan yang lembut
<br>di antara pepohonan
<br>(oh, hidupku)
<br>menerangi hamparan bunga-bunga keemasan
<br>di kampung halamanku.
<br>(hidup di malam hari,
<br>oh, hidupku)
==Untuk Adikku==
—''Untuk Takaka Horiai''
Apakah angin dingin sedang bertiup?
<br>Bulan September.
<br>Aroma daun-daun muda
<br>membersihkan mimpiku
<br>di pondok yang sunyi ini.
Seusai sarapan,
ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah,
tempat pembakar dupa hijauku retak,
dan angin membawa udara yang baru.
Aku mencuci tangan,
lalu menyalakan dupa.
Kau bertanya dari mana datangnya harum itu.
Aku masih mengingat
senyummu yang tenang.
Di bawah langit kota yang kelabu,
di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar,
kau menunjuk merpati-merpati putih
yang terbang rendah
di atas atap.
Aku mengikuti arah jarimu.
Dan untuk sesaat,
hatiku menjadi sangat tenang.
Kau mengangguk perlahan.
Dengan mata yang jernih.
Lalu aku teringat:
pernah ada seorang bayi
yang bersandar di lutut lembut kakaknya.
Bayi itu adalah dirimu.
Kau tersenyum
pada getaran bayang-bayang pohon ara.
Kau membawa kebahagiaan
ke dalam rumah.
Juga kepadaku,
yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga
untuk puisi dan buku-buku.
Perjalanan hidupku kasar.
Dayung-dayungku patah.
Aku hanyut
seperti perahu yang kehilangan tujuan.
Tetapi di dada seseorang yang menunggu,
aku mendengar suara mata air
yang tak pernah kering.
Kini musim panas datang.
Rumah ini sederhana.
Namun aku masih berharap
kebahagiaan suatu hari
mengalahkan nasib.
Aku masih berharap
hari-hari yang membanggakan itu tiba.
Karena itulah
aku bernyanyi
melewati kemarin
dan hari ini.
Barangkali sulit menulis puisi terbaik.
Tetapi kebahagiaan sendiri
sudah cukup menjadi penghiburan.
Meski suatu hari
aku tersesat di tengah keramaian,
duniaku tetap sebuah hutan cinta
yang luas.
Bukan ibu kota
dengan penjara-penjara berkarat.
Aku ingin melihat bunga matahariku.
Bunga-bunga harapan yang tumbuh.
Anak-anak yatim
yang berjalan di tanah berbatu,
yang memuntahkan darah
di depan lagu-lagu duka,
tetap bermimpi
awan sedang bermain-main,
tetap bermimpi
angin memberkati ranting-ranting.
Di kamar berjendela rendah ini,
jiwaku dipeluk perlahan
oleh aroma dupa yang terbakar.
Di altar kecil yang sunyi ini,
aku bangga
menjadi seorang rahib muda.
Adikku yang kusayangi,
jika suatu hari nanti
kau hidup cukup lama
untuk melihat hutan-hutan besar menua,
hutan yang mulia,
ranting-ranting cinta itu,
ingatlah:
di dalam nyanyianku yang tenang
selalu ada mimpi
yang damai.
Kelak,
saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa,
menyisir rambutmu dengan wewangian,
memasang perhiasan keemasan
di sisir kerangmu,
lalu berjalan
di atas rumput yang hijau,
jangan lupakan kebahagiaan sederhana
yang pernah kita miliki
bersama lelaki kurus itu:
penyair
yang tak pernah miskin hati,
di pondok terpencil ini.
Kita pernah memiliki kebahagiaan
yang lebih kuat daripada nasib.
Kita pernah percaya
pada hari-hari yang suci.
Dengan tempat dupa yang retak,
kita bernyanyi.
Dan merasa cukup.
Meski musim panas itu
hanya bernada pelan,
aku menuliskannya
dengan hati yang gembira.
Aku menulis
tentang kebahagiaan kita.
Seluruh hatiku
kutitipkan pada baris-baris ini.
Karena hatiku tersenyum,
terimalah puisi ini
dengan senyummu juga.
==Wajah Putih==
Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian.
Angin barat
di penghujung Oktober
mengaum di antara ranting-ranting.
Ratusan pohon sakura
serentak menggugurkan daun.
Daun-daun itu jatuh
seperti hujan.
Dari balik hujan daun itu,
ke seberang sana—
ah,
hanya satu lirikan
yang diarahkan kepadaku,
seorang gadis berlalu
begitu cepat.
Empat tahun yang lalu,
di penghujung musim gugur,
di hutan Ueno'''''¹''''' ,
pada suatu senja yang sunyi,
dari balik hujan daun-daun yang jatuh,
ah,
satu lirikan,
sebuah wajah putih.
'''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.''
==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). ''A Handful of Sand''. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>==
1.
<br>Aku telah bekerja
<br>lebih keras daripada kerja yang paling keras,
<br>namun hidupku tak juga menjadi lebih baik.
Aku hanya menunduk
<br>menatap kedua tanganku
<br>yang tinggal tulang.
2.
<br>Berbaring di pasir bukit pasir,
<br>hari ini aku mengenang,
<br>dari kejauhan,
<br>dukacita cinta pertamaku.
3.
<br>Dokter berkata,
<br>"Bagaimana? Sudah lelah hidup?"
<br>Aku tetap diam.
<br>Aku menutup mulutku rapat-rapat.
== Referensi ==
[[Kategori:Sastra Jepang]]
[[Kategori:Puisi Jepang]]
[[Kategori:Jepang]]
duofb4lbveyr2m4cu132b92j2239b19
116914
116913
2026-06-15T05:39:32Z
Sibiru45
35568
/* Untuk Adikku */
116914
wikitext
text/x-wiki
'''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref>
Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref>
== Mari Bernyanyi ==
Mari bernyanyi.
<br>Ketika tubuh kita letih
<br>oleh pertempuran yang tak selesai-selesai,
<br>ketika kesedihan datang
<br>dan duduk lama di samping kita,
<br>ketika anak kita
<br>menemui kematian sebelum sempat tumbuh,
<br>ketika kita melihat seorang pengemis
<br>yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu,
<br>ketika cinta
<br>menghabiskan seluruh isi hati kita—
<br>mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu.
<br>Sambil menatap langit
<br>yang tak mengatakan apa-apa.
<br>Wahai kawan-kawanku
<br>yang lapar.
== Sebuah Pesawat ==
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
Seorang anak pengantar koran,
<br>pada satu dari sedikit hari Minggu
<br>yang tidak dirampas pekerjaannya,
<br>di rumah yang sunyi
<br>bersama ibunya yang sakit paru-paru,
<br>dengan mata lelah
<br>karena terlalu lama membaca
<br>buku-buku pelajaran sendirian . . .
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
== Kepada Seekor Kepiting ==
Kau, kepiting cerdik
<br>di pantai timur itu,
<br>bersembunyi di liangmu
<br>saat air pasang,
<br>keluar lagi
<br>saat air surut,
<br>selalu berjalan menyamping—
<br>tahukah kau,
<br>atau mungkin tidak,
<br>ada seorang anak yang letih
<br>melintas di dekatmu,
<br>terbawa arus
<br>yang tak memberinya kesempatan,
<br>mengikuti seberkas cahaya
<br>yang bahkan lebih kecil
<br>daripada matamu?
== Aku Akan Pergi Sendiri ==
Hari telah selesai.
<br>(hidup yang menyedihkan)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
Segala bunyi meredup.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan kenangan
<br>diguyur melodi yang begitu halus.
<br>(pikiran tentang malam,
<br>pikiran tentang hidup)
Kisah cinta itu selesai.
<br>(hidup yang dibangun khayalan)
<br>Ke dalam hutan
<br>yang membuatku lupa pada diriku sendiri
<br>aku melangkah sendiri.
Wangi bunga popi
<br>perlahan memudar.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan tempat napasku
<br>mengambang seperti kabut hijau yang tipis.
<br>(aroma malam,
<br>aroma cinta)
Kisah cinta itu hancur.
<br>(hidup yang penuh nestapa)
<br>Ke dalam hutan doa
<br>aku melangkah sendiri.
Wajahnya muncul
<br>setiap kali aku berdoa.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan cinta
<br>yang disegarkan seorang muse dari langit.
<br>(doa malam,
<br>doa kehidupan)
Bulan bersinar.
<br>(hidup yang berwarna-warni)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
<br>Cahaya bulan yang lembut
<br>di antara pepohonan
<br>(oh, hidupku)
<br>menerangi hamparan bunga-bunga keemasan
<br>di kampung halamanku.
<br>(hidup di malam hari,
<br>oh, hidupku)
==Untuk Adikku==
—''Untuk Takaka Horiai''
Apakah angin dingin sedang bertiup?
<br>Bulan September.
<br>Aroma daun-daun muda
<br>membersihkan mimpiku
<br>di pondok yang sunyi ini.
Seusai sarapan,
<br>ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah,
<br>tempat pembakar dupa hijauku retak,
<br>dan angin membawa udara yang baru.
Aku mencuci tangan,
lalu menyalakan dupa.
Kau bertanya dari mana datangnya harum itu.
Aku masih mengingat
senyummu yang tenang.
Di bawah langit kota yang kelabu,
di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar,
kau menunjuk merpati-merpati putih
yang terbang rendah
di atas atap.
Aku mengikuti arah jarimu.
Dan untuk sesaat,
hatiku menjadi sangat tenang.
Kau mengangguk perlahan.
Dengan mata yang jernih.
Lalu aku teringat:
pernah ada seorang bayi
yang bersandar di lutut lembut kakaknya.
Bayi itu adalah dirimu.
Kau tersenyum
pada getaran bayang-bayang pohon ara.
Kau membawa kebahagiaan
ke dalam rumah.
Juga kepadaku,
yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga
untuk puisi dan buku-buku.
Perjalanan hidupku kasar.
Dayung-dayungku patah.
Aku hanyut
seperti perahu yang kehilangan tujuan.
Tetapi di dada seseorang yang menunggu,
aku mendengar suara mata air
yang tak pernah kering.
Kini musim panas datang.
Rumah ini sederhana.
Namun aku masih berharap
kebahagiaan suatu hari
mengalahkan nasib.
Aku masih berharap
hari-hari yang membanggakan itu tiba.
Karena itulah
aku bernyanyi
melewati kemarin
dan hari ini.
Barangkali sulit menulis puisi terbaik.
Tetapi kebahagiaan sendiri
sudah cukup menjadi penghiburan.
Meski suatu hari
aku tersesat di tengah keramaian,
duniaku tetap sebuah hutan cinta
yang luas.
Bukan ibu kota
dengan penjara-penjara berkarat.
Aku ingin melihat bunga matahariku.
Bunga-bunga harapan yang tumbuh.
Anak-anak yatim
yang berjalan di tanah berbatu,
yang memuntahkan darah
di depan lagu-lagu duka,
tetap bermimpi
awan sedang bermain-main,
tetap bermimpi
angin memberkati ranting-ranting.
Di kamar berjendela rendah ini,
jiwaku dipeluk perlahan
oleh aroma dupa yang terbakar.
Di altar kecil yang sunyi ini,
aku bangga
menjadi seorang rahib muda.
Adikku yang kusayangi,
jika suatu hari nanti
kau hidup cukup lama
untuk melihat hutan-hutan besar menua,
hutan yang mulia,
ranting-ranting cinta itu,
ingatlah:
di dalam nyanyianku yang tenang
selalu ada mimpi
yang damai.
Kelak,
saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa,
menyisir rambutmu dengan wewangian,
memasang perhiasan keemasan
di sisir kerangmu,
lalu berjalan
di atas rumput yang hijau,
jangan lupakan kebahagiaan sederhana
yang pernah kita miliki
bersama lelaki kurus itu:
penyair
yang tak pernah miskin hati,
di pondok terpencil ini.
Kita pernah memiliki kebahagiaan
yang lebih kuat daripada nasib.
Kita pernah percaya
pada hari-hari yang suci.
Dengan tempat dupa yang retak,
kita bernyanyi.
Dan merasa cukup.
Meski musim panas itu
hanya bernada pelan,
aku menuliskannya
dengan hati yang gembira.
Aku menulis
tentang kebahagiaan kita.
Seluruh hatiku
kutitipkan pada baris-baris ini.
Karena hatiku tersenyum,
terimalah puisi ini
dengan senyummu juga.
==Wajah Putih==
Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian.
Angin barat
di penghujung Oktober
mengaum di antara ranting-ranting.
Ratusan pohon sakura
serentak menggugurkan daun.
Daun-daun itu jatuh
seperti hujan.
Dari balik hujan daun itu,
ke seberang sana—
ah,
hanya satu lirikan
yang diarahkan kepadaku,
seorang gadis berlalu
begitu cepat.
Empat tahun yang lalu,
di penghujung musim gugur,
di hutan Ueno'''''¹''''' ,
pada suatu senja yang sunyi,
dari balik hujan daun-daun yang jatuh,
ah,
satu lirikan,
sebuah wajah putih.
'''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.''
==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). ''A Handful of Sand''. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>==
1.
<br>Aku telah bekerja
<br>lebih keras daripada kerja yang paling keras,
<br>namun hidupku tak juga menjadi lebih baik.
Aku hanya menunduk
<br>menatap kedua tanganku
<br>yang tinggal tulang.
2.
<br>Berbaring di pasir bukit pasir,
<br>hari ini aku mengenang,
<br>dari kejauhan,
<br>dukacita cinta pertamaku.
3.
<br>Dokter berkata,
<br>"Bagaimana? Sudah lelah hidup?"
<br>Aku tetap diam.
<br>Aku menutup mulutku rapat-rapat.
== Referensi ==
[[Kategori:Sastra Jepang]]
[[Kategori:Puisi Jepang]]
[[Kategori:Jepang]]
q364d830p54d3el7ealyx5tocvt1zw9
116915
116914
2026-06-15T05:39:53Z
Sibiru45
35568
/* Untuk Adikku */
116915
wikitext
text/x-wiki
'''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref>
Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref>
== Mari Bernyanyi ==
Mari bernyanyi.
<br>Ketika tubuh kita letih
<br>oleh pertempuran yang tak selesai-selesai,
<br>ketika kesedihan datang
<br>dan duduk lama di samping kita,
<br>ketika anak kita
<br>menemui kematian sebelum sempat tumbuh,
<br>ketika kita melihat seorang pengemis
<br>yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu,
<br>ketika cinta
<br>menghabiskan seluruh isi hati kita—
<br>mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu.
<br>Sambil menatap langit
<br>yang tak mengatakan apa-apa.
<br>Wahai kawan-kawanku
<br>yang lapar.
== Sebuah Pesawat ==
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
Seorang anak pengantar koran,
<br>pada satu dari sedikit hari Minggu
<br>yang tidak dirampas pekerjaannya,
<br>di rumah yang sunyi
<br>bersama ibunya yang sakit paru-paru,
<br>dengan mata lelah
<br>karena terlalu lama membaca
<br>buku-buku pelajaran sendirian . . .
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
== Kepada Seekor Kepiting ==
Kau, kepiting cerdik
<br>di pantai timur itu,
<br>bersembunyi di liangmu
<br>saat air pasang,
<br>keluar lagi
<br>saat air surut,
<br>selalu berjalan menyamping—
<br>tahukah kau,
<br>atau mungkin tidak,
<br>ada seorang anak yang letih
<br>melintas di dekatmu,
<br>terbawa arus
<br>yang tak memberinya kesempatan,
<br>mengikuti seberkas cahaya
<br>yang bahkan lebih kecil
<br>daripada matamu?
== Aku Akan Pergi Sendiri ==
Hari telah selesai.
<br>(hidup yang menyedihkan)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
Segala bunyi meredup.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan kenangan
<br>diguyur melodi yang begitu halus.
<br>(pikiran tentang malam,
<br>pikiran tentang hidup)
Kisah cinta itu selesai.
<br>(hidup yang dibangun khayalan)
<br>Ke dalam hutan
<br>yang membuatku lupa pada diriku sendiri
<br>aku melangkah sendiri.
Wangi bunga popi
<br>perlahan memudar.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan tempat napasku
<br>mengambang seperti kabut hijau yang tipis.
<br>(aroma malam,
<br>aroma cinta)
Kisah cinta itu hancur.
<br>(hidup yang penuh nestapa)
<br>Ke dalam hutan doa
<br>aku melangkah sendiri.
Wajahnya muncul
<br>setiap kali aku berdoa.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan cinta
<br>yang disegarkan seorang muse dari langit.
<br>(doa malam,
<br>doa kehidupan)
Bulan bersinar.
<br>(hidup yang berwarna-warni)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
<br>Cahaya bulan yang lembut
<br>di antara pepohonan
<br>(oh, hidupku)
<br>menerangi hamparan bunga-bunga keemasan
<br>di kampung halamanku.
<br>(hidup di malam hari,
<br>oh, hidupku)
==Untuk Adikku==
—''Untuk Takaka Horiai''
Apakah angin dingin sedang bertiup?
<br>Bulan September.
<br>Aroma daun-daun muda
<br>membersihkan mimpiku
<br>di pondok yang sunyi ini.
Seusai sarapan,
<br>ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah,
<br>tempat pembakar dupa hijauku retak,
<br>dan angin membawa udara yang baru.
Aku mencuci tangan,
<br>lalu menyalakan dupa.
Kau bertanya dari mana datangnya harum itu.
Aku masih mengingat
<br>senyummu yang tenang.
Di bawah langit kota yang kelabu,
di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar,
kau menunjuk merpati-merpati putih
yang terbang rendah
di atas atap.
Aku mengikuti arah jarimu.
Dan untuk sesaat,
hatiku menjadi sangat tenang.
Kau mengangguk perlahan.
Dengan mata yang jernih.
Lalu aku teringat:
pernah ada seorang bayi
yang bersandar di lutut lembut kakaknya.
Bayi itu adalah dirimu.
Kau tersenyum
pada getaran bayang-bayang pohon ara.
Kau membawa kebahagiaan
ke dalam rumah.
Juga kepadaku,
yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga
untuk puisi dan buku-buku.
Perjalanan hidupku kasar.
Dayung-dayungku patah.
Aku hanyut
seperti perahu yang kehilangan tujuan.
Tetapi di dada seseorang yang menunggu,
aku mendengar suara mata air
yang tak pernah kering.
Kini musim panas datang.
Rumah ini sederhana.
Namun aku masih berharap
kebahagiaan suatu hari
mengalahkan nasib.
Aku masih berharap
hari-hari yang membanggakan itu tiba.
Karena itulah
aku bernyanyi
melewati kemarin
dan hari ini.
Barangkali sulit menulis puisi terbaik.
Tetapi kebahagiaan sendiri
sudah cukup menjadi penghiburan.
Meski suatu hari
aku tersesat di tengah keramaian,
duniaku tetap sebuah hutan cinta
yang luas.
Bukan ibu kota
dengan penjara-penjara berkarat.
Aku ingin melihat bunga matahariku.
Bunga-bunga harapan yang tumbuh.
Anak-anak yatim
yang berjalan di tanah berbatu,
yang memuntahkan darah
di depan lagu-lagu duka,
tetap bermimpi
awan sedang bermain-main,
tetap bermimpi
angin memberkati ranting-ranting.
Di kamar berjendela rendah ini,
jiwaku dipeluk perlahan
oleh aroma dupa yang terbakar.
Di altar kecil yang sunyi ini,
aku bangga
menjadi seorang rahib muda.
Adikku yang kusayangi,
jika suatu hari nanti
kau hidup cukup lama
untuk melihat hutan-hutan besar menua,
hutan yang mulia,
ranting-ranting cinta itu,
ingatlah:
di dalam nyanyianku yang tenang
selalu ada mimpi
yang damai.
Kelak,
saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa,
menyisir rambutmu dengan wewangian,
memasang perhiasan keemasan
di sisir kerangmu,
lalu berjalan
di atas rumput yang hijau,
jangan lupakan kebahagiaan sederhana
yang pernah kita miliki
bersama lelaki kurus itu:
penyair
yang tak pernah miskin hati,
di pondok terpencil ini.
Kita pernah memiliki kebahagiaan
yang lebih kuat daripada nasib.
Kita pernah percaya
pada hari-hari yang suci.
Dengan tempat dupa yang retak,
kita bernyanyi.
Dan merasa cukup.
Meski musim panas itu
hanya bernada pelan,
aku menuliskannya
dengan hati yang gembira.
Aku menulis
tentang kebahagiaan kita.
Seluruh hatiku
kutitipkan pada baris-baris ini.
Karena hatiku tersenyum,
terimalah puisi ini
dengan senyummu juga.
==Wajah Putih==
Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian.
Angin barat
di penghujung Oktober
mengaum di antara ranting-ranting.
Ratusan pohon sakura
serentak menggugurkan daun.
Daun-daun itu jatuh
seperti hujan.
Dari balik hujan daun itu,
ke seberang sana—
ah,
hanya satu lirikan
yang diarahkan kepadaku,
seorang gadis berlalu
begitu cepat.
Empat tahun yang lalu,
di penghujung musim gugur,
di hutan Ueno'''''¹''''' ,
pada suatu senja yang sunyi,
dari balik hujan daun-daun yang jatuh,
ah,
satu lirikan,
sebuah wajah putih.
'''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.''
==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). ''A Handful of Sand''. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>==
1.
<br>Aku telah bekerja
<br>lebih keras daripada kerja yang paling keras,
<br>namun hidupku tak juga menjadi lebih baik.
Aku hanya menunduk
<br>menatap kedua tanganku
<br>yang tinggal tulang.
2.
<br>Berbaring di pasir bukit pasir,
<br>hari ini aku mengenang,
<br>dari kejauhan,
<br>dukacita cinta pertamaku.
3.
<br>Dokter berkata,
<br>"Bagaimana? Sudah lelah hidup?"
<br>Aku tetap diam.
<br>Aku menutup mulutku rapat-rapat.
== Referensi ==
[[Kategori:Sastra Jepang]]
[[Kategori:Puisi Jepang]]
[[Kategori:Jepang]]
o33vz79n991x39noqgnb1tj9i35wbjj
116916
116915
2026-06-15T05:40:12Z
Sibiru45
35568
/* Untuk Adikku */
116916
wikitext
text/x-wiki
'''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref>
Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref>
== Mari Bernyanyi ==
Mari bernyanyi.
<br>Ketika tubuh kita letih
<br>oleh pertempuran yang tak selesai-selesai,
<br>ketika kesedihan datang
<br>dan duduk lama di samping kita,
<br>ketika anak kita
<br>menemui kematian sebelum sempat tumbuh,
<br>ketika kita melihat seorang pengemis
<br>yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu,
<br>ketika cinta
<br>menghabiskan seluruh isi hati kita—
<br>mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu.
<br>Sambil menatap langit
<br>yang tak mengatakan apa-apa.
<br>Wahai kawan-kawanku
<br>yang lapar.
== Sebuah Pesawat ==
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
Seorang anak pengantar koran,
<br>pada satu dari sedikit hari Minggu
<br>yang tidak dirampas pekerjaannya,
<br>di rumah yang sunyi
<br>bersama ibunya yang sakit paru-paru,
<br>dengan mata lelah
<br>karena terlalu lama membaca
<br>buku-buku pelajaran sendirian . . .
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
== Kepada Seekor Kepiting ==
Kau, kepiting cerdik
<br>di pantai timur itu,
<br>bersembunyi di liangmu
<br>saat air pasang,
<br>keluar lagi
<br>saat air surut,
<br>selalu berjalan menyamping—
<br>tahukah kau,
<br>atau mungkin tidak,
<br>ada seorang anak yang letih
<br>melintas di dekatmu,
<br>terbawa arus
<br>yang tak memberinya kesempatan,
<br>mengikuti seberkas cahaya
<br>yang bahkan lebih kecil
<br>daripada matamu?
== Aku Akan Pergi Sendiri ==
Hari telah selesai.
<br>(hidup yang menyedihkan)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
Segala bunyi meredup.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan kenangan
<br>diguyur melodi yang begitu halus.
<br>(pikiran tentang malam,
<br>pikiran tentang hidup)
Kisah cinta itu selesai.
<br>(hidup yang dibangun khayalan)
<br>Ke dalam hutan
<br>yang membuatku lupa pada diriku sendiri
<br>aku melangkah sendiri.
Wangi bunga popi
<br>perlahan memudar.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan tempat napasku
<br>mengambang seperti kabut hijau yang tipis.
<br>(aroma malam,
<br>aroma cinta)
Kisah cinta itu hancur.
<br>(hidup yang penuh nestapa)
<br>Ke dalam hutan doa
<br>aku melangkah sendiri.
Wajahnya muncul
<br>setiap kali aku berdoa.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan cinta
<br>yang disegarkan seorang muse dari langit.
<br>(doa malam,
<br>doa kehidupan)
Bulan bersinar.
<br>(hidup yang berwarna-warni)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
<br>Cahaya bulan yang lembut
<br>di antara pepohonan
<br>(oh, hidupku)
<br>menerangi hamparan bunga-bunga keemasan
<br>di kampung halamanku.
<br>(hidup di malam hari,
<br>oh, hidupku)
==Untuk Adikku==
—''Untuk Takaka Horiai''
Apakah angin dingin sedang bertiup?
<br>Bulan September.
<br>Aroma daun-daun muda
<br>membersihkan mimpiku
<br>di pondok yang sunyi ini.
Seusai sarapan,
<br>ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah,
<br>tempat pembakar dupa hijauku retak,
<br>dan angin membawa udara yang baru.
Aku mencuci tangan,
<br>lalu menyalakan dupa.
Kau bertanya dari mana datangnya harum itu.
Aku masih mengingat
<br>senyummu yang tenang.
Di bawah langit kota yang kelabu,
<br>di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar,
<br>kau menunjuk merpati-merpati putih
<br>yang terbang rendah
<br>di atas atap.
Aku mengikuti arah jarimu.
Dan untuk sesaat,
hatiku menjadi sangat tenang.
Kau mengangguk perlahan.
Dengan mata yang jernih.
Lalu aku teringat:
pernah ada seorang bayi
yang bersandar di lutut lembut kakaknya.
Bayi itu adalah dirimu.
Kau tersenyum
pada getaran bayang-bayang pohon ara.
Kau membawa kebahagiaan
ke dalam rumah.
Juga kepadaku,
yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga
untuk puisi dan buku-buku.
Perjalanan hidupku kasar.
Dayung-dayungku patah.
Aku hanyut
seperti perahu yang kehilangan tujuan.
Tetapi di dada seseorang yang menunggu,
aku mendengar suara mata air
yang tak pernah kering.
Kini musim panas datang.
Rumah ini sederhana.
Namun aku masih berharap
kebahagiaan suatu hari
mengalahkan nasib.
Aku masih berharap
hari-hari yang membanggakan itu tiba.
Karena itulah
aku bernyanyi
melewati kemarin
dan hari ini.
Barangkali sulit menulis puisi terbaik.
Tetapi kebahagiaan sendiri
sudah cukup menjadi penghiburan.
Meski suatu hari
aku tersesat di tengah keramaian,
duniaku tetap sebuah hutan cinta
yang luas.
Bukan ibu kota
dengan penjara-penjara berkarat.
Aku ingin melihat bunga matahariku.
Bunga-bunga harapan yang tumbuh.
Anak-anak yatim
yang berjalan di tanah berbatu,
yang memuntahkan darah
di depan lagu-lagu duka,
tetap bermimpi
awan sedang bermain-main,
tetap bermimpi
angin memberkati ranting-ranting.
Di kamar berjendela rendah ini,
jiwaku dipeluk perlahan
oleh aroma dupa yang terbakar.
Di altar kecil yang sunyi ini,
aku bangga
menjadi seorang rahib muda.
Adikku yang kusayangi,
jika suatu hari nanti
kau hidup cukup lama
untuk melihat hutan-hutan besar menua,
hutan yang mulia,
ranting-ranting cinta itu,
ingatlah:
di dalam nyanyianku yang tenang
selalu ada mimpi
yang damai.
Kelak,
saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa,
menyisir rambutmu dengan wewangian,
memasang perhiasan keemasan
di sisir kerangmu,
lalu berjalan
di atas rumput yang hijau,
jangan lupakan kebahagiaan sederhana
yang pernah kita miliki
bersama lelaki kurus itu:
penyair
yang tak pernah miskin hati,
di pondok terpencil ini.
Kita pernah memiliki kebahagiaan
yang lebih kuat daripada nasib.
Kita pernah percaya
pada hari-hari yang suci.
Dengan tempat dupa yang retak,
kita bernyanyi.
Dan merasa cukup.
Meski musim panas itu
hanya bernada pelan,
aku menuliskannya
dengan hati yang gembira.
Aku menulis
tentang kebahagiaan kita.
Seluruh hatiku
kutitipkan pada baris-baris ini.
Karena hatiku tersenyum,
terimalah puisi ini
dengan senyummu juga.
==Wajah Putih==
Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian.
Angin barat
di penghujung Oktober
mengaum di antara ranting-ranting.
Ratusan pohon sakura
serentak menggugurkan daun.
Daun-daun itu jatuh
seperti hujan.
Dari balik hujan daun itu,
ke seberang sana—
ah,
hanya satu lirikan
yang diarahkan kepadaku,
seorang gadis berlalu
begitu cepat.
Empat tahun yang lalu,
di penghujung musim gugur,
di hutan Ueno'''''¹''''' ,
pada suatu senja yang sunyi,
dari balik hujan daun-daun yang jatuh,
ah,
satu lirikan,
sebuah wajah putih.
'''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.''
==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). ''A Handful of Sand''. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>==
1.
<br>Aku telah bekerja
<br>lebih keras daripada kerja yang paling keras,
<br>namun hidupku tak juga menjadi lebih baik.
Aku hanya menunduk
<br>menatap kedua tanganku
<br>yang tinggal tulang.
2.
<br>Berbaring di pasir bukit pasir,
<br>hari ini aku mengenang,
<br>dari kejauhan,
<br>dukacita cinta pertamaku.
3.
<br>Dokter berkata,
<br>"Bagaimana? Sudah lelah hidup?"
<br>Aku tetap diam.
<br>Aku menutup mulutku rapat-rapat.
== Referensi ==
[[Kategori:Sastra Jepang]]
[[Kategori:Puisi Jepang]]
[[Kategori:Jepang]]
t7vcwpzo3nm45s3el057wzgsa8acm54
116917
116916
2026-06-15T05:40:32Z
Sibiru45
35568
/* Untuk Adikku */
116917
wikitext
text/x-wiki
'''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref>
Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref>
== Mari Bernyanyi ==
Mari bernyanyi.
<br>Ketika tubuh kita letih
<br>oleh pertempuran yang tak selesai-selesai,
<br>ketika kesedihan datang
<br>dan duduk lama di samping kita,
<br>ketika anak kita
<br>menemui kematian sebelum sempat tumbuh,
<br>ketika kita melihat seorang pengemis
<br>yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu,
<br>ketika cinta
<br>menghabiskan seluruh isi hati kita—
<br>mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu.
<br>Sambil menatap langit
<br>yang tak mengatakan apa-apa.
<br>Wahai kawan-kawanku
<br>yang lapar.
== Sebuah Pesawat ==
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
Seorang anak pengantar koran,
<br>pada satu dari sedikit hari Minggu
<br>yang tidak dirampas pekerjaannya,
<br>di rumah yang sunyi
<br>bersama ibunya yang sakit paru-paru,
<br>dengan mata lelah
<br>karena terlalu lama membaca
<br>buku-buku pelajaran sendirian . . .
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
== Kepada Seekor Kepiting ==
Kau, kepiting cerdik
<br>di pantai timur itu,
<br>bersembunyi di liangmu
<br>saat air pasang,
<br>keluar lagi
<br>saat air surut,
<br>selalu berjalan menyamping—
<br>tahukah kau,
<br>atau mungkin tidak,
<br>ada seorang anak yang letih
<br>melintas di dekatmu,
<br>terbawa arus
<br>yang tak memberinya kesempatan,
<br>mengikuti seberkas cahaya
<br>yang bahkan lebih kecil
<br>daripada matamu?
== Aku Akan Pergi Sendiri ==
Hari telah selesai.
<br>(hidup yang menyedihkan)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
Segala bunyi meredup.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan kenangan
<br>diguyur melodi yang begitu halus.
<br>(pikiran tentang malam,
<br>pikiran tentang hidup)
Kisah cinta itu selesai.
<br>(hidup yang dibangun khayalan)
<br>Ke dalam hutan
<br>yang membuatku lupa pada diriku sendiri
<br>aku melangkah sendiri.
Wangi bunga popi
<br>perlahan memudar.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan tempat napasku
<br>mengambang seperti kabut hijau yang tipis.
<br>(aroma malam,
<br>aroma cinta)
Kisah cinta itu hancur.
<br>(hidup yang penuh nestapa)
<br>Ke dalam hutan doa
<br>aku melangkah sendiri.
Wajahnya muncul
<br>setiap kali aku berdoa.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan cinta
<br>yang disegarkan seorang muse dari langit.
<br>(doa malam,
<br>doa kehidupan)
Bulan bersinar.
<br>(hidup yang berwarna-warni)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
<br>Cahaya bulan yang lembut
<br>di antara pepohonan
<br>(oh, hidupku)
<br>menerangi hamparan bunga-bunga keemasan
<br>di kampung halamanku.
<br>(hidup di malam hari,
<br>oh, hidupku)
==Untuk Adikku==
—''Untuk Takaka Horiai''
Apakah angin dingin sedang bertiup?
<br>Bulan September.
<br>Aroma daun-daun muda
<br>membersihkan mimpiku
<br>di pondok yang sunyi ini.
Seusai sarapan,
<br>ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah,
<br>tempat pembakar dupa hijauku retak,
<br>dan angin membawa udara yang baru.
Aku mencuci tangan,
<br>lalu menyalakan dupa.
Kau bertanya dari mana datangnya harum itu.
Aku masih mengingat
<br>senyummu yang tenang.
Di bawah langit kota yang kelabu,
<br>di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar,
<br>kau menunjuk merpati-merpati putih
<br>yang terbang rendah
<br>di atas atap.
Aku mengikuti arah jarimu.
Dan untuk sesaat,
<br>hatiku menjadi sangat tenang.
Kau mengangguk perlahan.
Dengan mata yang jernih.
Lalu aku teringat:
pernah ada seorang bayi
<br>yang bersandar di lutut lembut kakaknya.
Bayi itu adalah dirimu.
Kau tersenyum
<br>pada getaran bayang-bayang pohon ara.
Kau membawa kebahagiaan
ke dalam rumah.
Juga kepadaku,
yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga
<br>untuk puisi dan buku-buku.
Perjalanan hidupku kasar.
Dayung-dayungku patah.
Aku hanyut
seperti perahu yang kehilangan tujuan.
Tetapi di dada seseorang yang menunggu,
aku mendengar suara mata air
yang tak pernah kering.
Kini musim panas datang.
Rumah ini sederhana.
Namun aku masih berharap
kebahagiaan suatu hari
mengalahkan nasib.
Aku masih berharap
hari-hari yang membanggakan itu tiba.
Karena itulah
aku bernyanyi
melewati kemarin
dan hari ini.
Barangkali sulit menulis puisi terbaik.
Tetapi kebahagiaan sendiri
sudah cukup menjadi penghiburan.
Meski suatu hari
aku tersesat di tengah keramaian,
duniaku tetap sebuah hutan cinta
yang luas.
Bukan ibu kota
dengan penjara-penjara berkarat.
Aku ingin melihat bunga matahariku.
Bunga-bunga harapan yang tumbuh.
Anak-anak yatim
yang berjalan di tanah berbatu,
yang memuntahkan darah
di depan lagu-lagu duka,
tetap bermimpi
awan sedang bermain-main,
tetap bermimpi
angin memberkati ranting-ranting.
Di kamar berjendela rendah ini,
jiwaku dipeluk perlahan
oleh aroma dupa yang terbakar.
Di altar kecil yang sunyi ini,
aku bangga
menjadi seorang rahib muda.
Adikku yang kusayangi,
jika suatu hari nanti
kau hidup cukup lama
untuk melihat hutan-hutan besar menua,
hutan yang mulia,
ranting-ranting cinta itu,
ingatlah:
di dalam nyanyianku yang tenang
selalu ada mimpi
yang damai.
Kelak,
saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa,
menyisir rambutmu dengan wewangian,
memasang perhiasan keemasan
di sisir kerangmu,
lalu berjalan
di atas rumput yang hijau,
jangan lupakan kebahagiaan sederhana
yang pernah kita miliki
bersama lelaki kurus itu:
penyair
yang tak pernah miskin hati,
di pondok terpencil ini.
Kita pernah memiliki kebahagiaan
yang lebih kuat daripada nasib.
Kita pernah percaya
pada hari-hari yang suci.
Dengan tempat dupa yang retak,
kita bernyanyi.
Dan merasa cukup.
Meski musim panas itu
hanya bernada pelan,
aku menuliskannya
dengan hati yang gembira.
Aku menulis
tentang kebahagiaan kita.
Seluruh hatiku
kutitipkan pada baris-baris ini.
Karena hatiku tersenyum,
terimalah puisi ini
dengan senyummu juga.
==Wajah Putih==
Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian.
Angin barat
di penghujung Oktober
mengaum di antara ranting-ranting.
Ratusan pohon sakura
serentak menggugurkan daun.
Daun-daun itu jatuh
seperti hujan.
Dari balik hujan daun itu,
ke seberang sana—
ah,
hanya satu lirikan
yang diarahkan kepadaku,
seorang gadis berlalu
begitu cepat.
Empat tahun yang lalu,
di penghujung musim gugur,
di hutan Ueno'''''¹''''' ,
pada suatu senja yang sunyi,
dari balik hujan daun-daun yang jatuh,
ah,
satu lirikan,
sebuah wajah putih.
'''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.''
==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). ''A Handful of Sand''. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>==
1.
<br>Aku telah bekerja
<br>lebih keras daripada kerja yang paling keras,
<br>namun hidupku tak juga menjadi lebih baik.
Aku hanya menunduk
<br>menatap kedua tanganku
<br>yang tinggal tulang.
2.
<br>Berbaring di pasir bukit pasir,
<br>hari ini aku mengenang,
<br>dari kejauhan,
<br>dukacita cinta pertamaku.
3.
<br>Dokter berkata,
<br>"Bagaimana? Sudah lelah hidup?"
<br>Aku tetap diam.
<br>Aku menutup mulutku rapat-rapat.
== Referensi ==
[[Kategori:Sastra Jepang]]
[[Kategori:Puisi Jepang]]
[[Kategori:Jepang]]
nmozxgqbfmcv0dxkajdkt3qf17bajwb
116918
116917
2026-06-15T05:40:59Z
Sibiru45
35568
/* Untuk Adikku */
116918
wikitext
text/x-wiki
'''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref>
Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref>
== Mari Bernyanyi ==
Mari bernyanyi.
<br>Ketika tubuh kita letih
<br>oleh pertempuran yang tak selesai-selesai,
<br>ketika kesedihan datang
<br>dan duduk lama di samping kita,
<br>ketika anak kita
<br>menemui kematian sebelum sempat tumbuh,
<br>ketika kita melihat seorang pengemis
<br>yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu,
<br>ketika cinta
<br>menghabiskan seluruh isi hati kita—
<br>mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu.
<br>Sambil menatap langit
<br>yang tak mengatakan apa-apa.
<br>Wahai kawan-kawanku
<br>yang lapar.
== Sebuah Pesawat ==
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
Seorang anak pengantar koran,
<br>pada satu dari sedikit hari Minggu
<br>yang tidak dirampas pekerjaannya,
<br>di rumah yang sunyi
<br>bersama ibunya yang sakit paru-paru,
<br>dengan mata lelah
<br>karena terlalu lama membaca
<br>buku-buku pelajaran sendirian . . .
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
== Kepada Seekor Kepiting ==
Kau, kepiting cerdik
<br>di pantai timur itu,
<br>bersembunyi di liangmu
<br>saat air pasang,
<br>keluar lagi
<br>saat air surut,
<br>selalu berjalan menyamping—
<br>tahukah kau,
<br>atau mungkin tidak,
<br>ada seorang anak yang letih
<br>melintas di dekatmu,
<br>terbawa arus
<br>yang tak memberinya kesempatan,
<br>mengikuti seberkas cahaya
<br>yang bahkan lebih kecil
<br>daripada matamu?
== Aku Akan Pergi Sendiri ==
Hari telah selesai.
<br>(hidup yang menyedihkan)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
Segala bunyi meredup.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan kenangan
<br>diguyur melodi yang begitu halus.
<br>(pikiran tentang malam,
<br>pikiran tentang hidup)
Kisah cinta itu selesai.
<br>(hidup yang dibangun khayalan)
<br>Ke dalam hutan
<br>yang membuatku lupa pada diriku sendiri
<br>aku melangkah sendiri.
Wangi bunga popi
<br>perlahan memudar.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan tempat napasku
<br>mengambang seperti kabut hijau yang tipis.
<br>(aroma malam,
<br>aroma cinta)
Kisah cinta itu hancur.
<br>(hidup yang penuh nestapa)
<br>Ke dalam hutan doa
<br>aku melangkah sendiri.
Wajahnya muncul
<br>setiap kali aku berdoa.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan cinta
<br>yang disegarkan seorang muse dari langit.
<br>(doa malam,
<br>doa kehidupan)
Bulan bersinar.
<br>(hidup yang berwarna-warni)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
<br>Cahaya bulan yang lembut
<br>di antara pepohonan
<br>(oh, hidupku)
<br>menerangi hamparan bunga-bunga keemasan
<br>di kampung halamanku.
<br>(hidup di malam hari,
<br>oh, hidupku)
==Untuk Adikku==
—''Untuk Takaka Horiai''
Apakah angin dingin sedang bertiup?
<br>Bulan September.
<br>Aroma daun-daun muda
<br>membersihkan mimpiku
<br>di pondok yang sunyi ini.
Seusai sarapan,
<br>ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah,
<br>tempat pembakar dupa hijauku retak,
<br>dan angin membawa udara yang baru.
Aku mencuci tangan,
<br>lalu menyalakan dupa.
Kau bertanya dari mana datangnya harum itu.
Aku masih mengingat
<br>senyummu yang tenang.
Di bawah langit kota yang kelabu,
<br>di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar,
<br>kau menunjuk merpati-merpati putih
<br>yang terbang rendah
<br>di atas atap.
Aku mengikuti arah jarimu.
Dan untuk sesaat,
<br>hatiku menjadi sangat tenang.
Kau mengangguk perlahan.
Dengan mata yang jernih.
Lalu aku teringat:
pernah ada seorang bayi
<br>yang bersandar di lutut lembut kakaknya.
Bayi itu adalah dirimu.
Kau tersenyum
<br>pada getaran bayang-bayang pohon ara.
Kau membawa kebahagiaan
ke dalam rumah.
Juga kepadaku,
yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga
<br>untuk puisi dan buku-buku.
Perjalanan hidupku kasar.
Dayung-dayungku patah.
Aku hanyut
<br>seperti perahu yang kehilangan tujuan.
Tetapi di dada seseorang yang menunggu,
<br>aku mendengar suara mata air
<br>yang tak pernah kering.
Kini musim panas datang.
Rumah ini sederhana.
Namun aku masih berharap
kebahagiaan suatu hari
mengalahkan nasib.
Aku masih berharap
hari-hari yang membanggakan itu tiba.
Karena itulah
aku bernyanyi
melewati kemarin
dan hari ini.
Barangkali sulit menulis puisi terbaik.
Tetapi kebahagiaan sendiri
sudah cukup menjadi penghiburan.
Meski suatu hari
aku tersesat di tengah keramaian,
duniaku tetap sebuah hutan cinta
yang luas.
Bukan ibu kota
dengan penjara-penjara berkarat.
Aku ingin melihat bunga matahariku.
Bunga-bunga harapan yang tumbuh.
Anak-anak yatim
yang berjalan di tanah berbatu,
yang memuntahkan darah
di depan lagu-lagu duka,
tetap bermimpi
awan sedang bermain-main,
tetap bermimpi
angin memberkati ranting-ranting.
Di kamar berjendela rendah ini,
jiwaku dipeluk perlahan
oleh aroma dupa yang terbakar.
Di altar kecil yang sunyi ini,
aku bangga
menjadi seorang rahib muda.
Adikku yang kusayangi,
jika suatu hari nanti
kau hidup cukup lama
untuk melihat hutan-hutan besar menua,
hutan yang mulia,
ranting-ranting cinta itu,
ingatlah:
di dalam nyanyianku yang tenang
selalu ada mimpi
yang damai.
Kelak,
saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa,
menyisir rambutmu dengan wewangian,
memasang perhiasan keemasan
di sisir kerangmu,
lalu berjalan
di atas rumput yang hijau,
jangan lupakan kebahagiaan sederhana
yang pernah kita miliki
bersama lelaki kurus itu:
penyair
yang tak pernah miskin hati,
di pondok terpencil ini.
Kita pernah memiliki kebahagiaan
yang lebih kuat daripada nasib.
Kita pernah percaya
pada hari-hari yang suci.
Dengan tempat dupa yang retak,
kita bernyanyi.
Dan merasa cukup.
Meski musim panas itu
hanya bernada pelan,
aku menuliskannya
dengan hati yang gembira.
Aku menulis
tentang kebahagiaan kita.
Seluruh hatiku
kutitipkan pada baris-baris ini.
Karena hatiku tersenyum,
terimalah puisi ini
dengan senyummu juga.
==Wajah Putih==
Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian.
Angin barat
di penghujung Oktober
mengaum di antara ranting-ranting.
Ratusan pohon sakura
serentak menggugurkan daun.
Daun-daun itu jatuh
seperti hujan.
Dari balik hujan daun itu,
ke seberang sana—
ah,
hanya satu lirikan
yang diarahkan kepadaku,
seorang gadis berlalu
begitu cepat.
Empat tahun yang lalu,
di penghujung musim gugur,
di hutan Ueno'''''¹''''' ,
pada suatu senja yang sunyi,
dari balik hujan daun-daun yang jatuh,
ah,
satu lirikan,
sebuah wajah putih.
'''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.''
==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). ''A Handful of Sand''. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>==
1.
<br>Aku telah bekerja
<br>lebih keras daripada kerja yang paling keras,
<br>namun hidupku tak juga menjadi lebih baik.
Aku hanya menunduk
<br>menatap kedua tanganku
<br>yang tinggal tulang.
2.
<br>Berbaring di pasir bukit pasir,
<br>hari ini aku mengenang,
<br>dari kejauhan,
<br>dukacita cinta pertamaku.
3.
<br>Dokter berkata,
<br>"Bagaimana? Sudah lelah hidup?"
<br>Aku tetap diam.
<br>Aku menutup mulutku rapat-rapat.
== Referensi ==
[[Kategori:Sastra Jepang]]
[[Kategori:Puisi Jepang]]
[[Kategori:Jepang]]
oe3d0nbry221mjutm13n2x9yg6yu3z3
116919
116918
2026-06-15T05:41:24Z
Sibiru45
35568
/* Untuk Adikku */
116919
wikitext
text/x-wiki
'''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref>
Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref>
== Mari Bernyanyi ==
Mari bernyanyi.
<br>Ketika tubuh kita letih
<br>oleh pertempuran yang tak selesai-selesai,
<br>ketika kesedihan datang
<br>dan duduk lama di samping kita,
<br>ketika anak kita
<br>menemui kematian sebelum sempat tumbuh,
<br>ketika kita melihat seorang pengemis
<br>yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu,
<br>ketika cinta
<br>menghabiskan seluruh isi hati kita—
<br>mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu.
<br>Sambil menatap langit
<br>yang tak mengatakan apa-apa.
<br>Wahai kawan-kawanku
<br>yang lapar.
== Sebuah Pesawat ==
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
Seorang anak pengantar koran,
<br>pada satu dari sedikit hari Minggu
<br>yang tidak dirampas pekerjaannya,
<br>di rumah yang sunyi
<br>bersama ibunya yang sakit paru-paru,
<br>dengan mata lelah
<br>karena terlalu lama membaca
<br>buku-buku pelajaran sendirian . . .
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
== Kepada Seekor Kepiting ==
Kau, kepiting cerdik
<br>di pantai timur itu,
<br>bersembunyi di liangmu
<br>saat air pasang,
<br>keluar lagi
<br>saat air surut,
<br>selalu berjalan menyamping—
<br>tahukah kau,
<br>atau mungkin tidak,
<br>ada seorang anak yang letih
<br>melintas di dekatmu,
<br>terbawa arus
<br>yang tak memberinya kesempatan,
<br>mengikuti seberkas cahaya
<br>yang bahkan lebih kecil
<br>daripada matamu?
== Aku Akan Pergi Sendiri ==
Hari telah selesai.
<br>(hidup yang menyedihkan)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
Segala bunyi meredup.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan kenangan
<br>diguyur melodi yang begitu halus.
<br>(pikiran tentang malam,
<br>pikiran tentang hidup)
Kisah cinta itu selesai.
<br>(hidup yang dibangun khayalan)
<br>Ke dalam hutan
<br>yang membuatku lupa pada diriku sendiri
<br>aku melangkah sendiri.
Wangi bunga popi
<br>perlahan memudar.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan tempat napasku
<br>mengambang seperti kabut hijau yang tipis.
<br>(aroma malam,
<br>aroma cinta)
Kisah cinta itu hancur.
<br>(hidup yang penuh nestapa)
<br>Ke dalam hutan doa
<br>aku melangkah sendiri.
Wajahnya muncul
<br>setiap kali aku berdoa.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan cinta
<br>yang disegarkan seorang muse dari langit.
<br>(doa malam,
<br>doa kehidupan)
Bulan bersinar.
<br>(hidup yang berwarna-warni)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
<br>Cahaya bulan yang lembut
<br>di antara pepohonan
<br>(oh, hidupku)
<br>menerangi hamparan bunga-bunga keemasan
<br>di kampung halamanku.
<br>(hidup di malam hari,
<br>oh, hidupku)
==Untuk Adikku==
—''Untuk Takaka Horiai''
Apakah angin dingin sedang bertiup?
<br>Bulan September.
<br>Aroma daun-daun muda
<br>membersihkan mimpiku
<br>di pondok yang sunyi ini.
Seusai sarapan,
<br>ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah,
<br>tempat pembakar dupa hijauku retak,
<br>dan angin membawa udara yang baru.
Aku mencuci tangan,
<br>lalu menyalakan dupa.
Kau bertanya dari mana datangnya harum itu.
Aku masih mengingat
<br>senyummu yang tenang.
Di bawah langit kota yang kelabu,
<br>di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar,
<br>kau menunjuk merpati-merpati putih
<br>yang terbang rendah
<br>di atas atap.
Aku mengikuti arah jarimu.
Dan untuk sesaat,
<br>hatiku menjadi sangat tenang.
Kau mengangguk perlahan.
Dengan mata yang jernih.
Lalu aku teringat:
pernah ada seorang bayi
<br>yang bersandar di lutut lembut kakaknya.
Bayi itu adalah dirimu.
Kau tersenyum
<br>pada getaran bayang-bayang pohon ara.
Kau membawa kebahagiaan
<br>ke dalam rumah.
Juga kepadaku,
yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga
<br>untuk puisi dan buku-buku.
Perjalanan hidupku kasar.
Dayung-dayungku patah.
Aku hanyut
<br>seperti perahu yang kehilangan tujuan.
Tetapi di dada seseorang yang menunggu,
<br>aku mendengar suara mata air
<br>yang tak pernah kering.
Kini musim panas datang.
Rumah ini sederhana.
Namun aku masih berharap
<br>kebahagiaan suatu hari
<br>mengalahkan nasib.
Aku masih berharap
<br>hari-hari yang membanggakan itu tiba.
Karena itulah
<br>aku bernyanyi
<br>melewati kemarin
<br>dan hari ini.
Barangkali sulit menulis puisi terbaik.
Tetapi kebahagiaan sendiri
sudah cukup menjadi penghiburan.
Meski suatu hari
aku tersesat di tengah keramaian,
duniaku tetap sebuah hutan cinta
yang luas.
Bukan ibu kota
dengan penjara-penjara berkarat.
Aku ingin melihat bunga matahariku.
Bunga-bunga harapan yang tumbuh.
Anak-anak yatim
yang berjalan di tanah berbatu,
yang memuntahkan darah
di depan lagu-lagu duka,
tetap bermimpi
awan sedang bermain-main,
tetap bermimpi
angin memberkati ranting-ranting.
Di kamar berjendela rendah ini,
jiwaku dipeluk perlahan
oleh aroma dupa yang terbakar.
Di altar kecil yang sunyi ini,
aku bangga
menjadi seorang rahib muda.
Adikku yang kusayangi,
jika suatu hari nanti
kau hidup cukup lama
untuk melihat hutan-hutan besar menua,
hutan yang mulia,
ranting-ranting cinta itu,
ingatlah:
di dalam nyanyianku yang tenang
selalu ada mimpi
yang damai.
Kelak,
saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa,
menyisir rambutmu dengan wewangian,
memasang perhiasan keemasan
di sisir kerangmu,
lalu berjalan
di atas rumput yang hijau,
jangan lupakan kebahagiaan sederhana
yang pernah kita miliki
bersama lelaki kurus itu:
penyair
yang tak pernah miskin hati,
di pondok terpencil ini.
Kita pernah memiliki kebahagiaan
yang lebih kuat daripada nasib.
Kita pernah percaya
pada hari-hari yang suci.
Dengan tempat dupa yang retak,
kita bernyanyi.
Dan merasa cukup.
Meski musim panas itu
hanya bernada pelan,
aku menuliskannya
dengan hati yang gembira.
Aku menulis
tentang kebahagiaan kita.
Seluruh hatiku
kutitipkan pada baris-baris ini.
Karena hatiku tersenyum,
terimalah puisi ini
dengan senyummu juga.
==Wajah Putih==
Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian.
Angin barat
di penghujung Oktober
mengaum di antara ranting-ranting.
Ratusan pohon sakura
serentak menggugurkan daun.
Daun-daun itu jatuh
seperti hujan.
Dari balik hujan daun itu,
ke seberang sana—
ah,
hanya satu lirikan
yang diarahkan kepadaku,
seorang gadis berlalu
begitu cepat.
Empat tahun yang lalu,
di penghujung musim gugur,
di hutan Ueno'''''¹''''' ,
pada suatu senja yang sunyi,
dari balik hujan daun-daun yang jatuh,
ah,
satu lirikan,
sebuah wajah putih.
'''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.''
==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). ''A Handful of Sand''. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>==
1.
<br>Aku telah bekerja
<br>lebih keras daripada kerja yang paling keras,
<br>namun hidupku tak juga menjadi lebih baik.
Aku hanya menunduk
<br>menatap kedua tanganku
<br>yang tinggal tulang.
2.
<br>Berbaring di pasir bukit pasir,
<br>hari ini aku mengenang,
<br>dari kejauhan,
<br>dukacita cinta pertamaku.
3.
<br>Dokter berkata,
<br>"Bagaimana? Sudah lelah hidup?"
<br>Aku tetap diam.
<br>Aku menutup mulutku rapat-rapat.
== Referensi ==
[[Kategori:Sastra Jepang]]
[[Kategori:Puisi Jepang]]
[[Kategori:Jepang]]
ig6ekvcc76wl7udtgnlhzef6oeh4e6g
116920
116919
2026-06-15T05:42:41Z
Sibiru45
35568
/* Untuk Adikku */
116920
wikitext
text/x-wiki
'''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref>
Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref>
== Mari Bernyanyi ==
Mari bernyanyi.
<br>Ketika tubuh kita letih
<br>oleh pertempuran yang tak selesai-selesai,
<br>ketika kesedihan datang
<br>dan duduk lama di samping kita,
<br>ketika anak kita
<br>menemui kematian sebelum sempat tumbuh,
<br>ketika kita melihat seorang pengemis
<br>yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu,
<br>ketika cinta
<br>menghabiskan seluruh isi hati kita—
<br>mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu.
<br>Sambil menatap langit
<br>yang tak mengatakan apa-apa.
<br>Wahai kawan-kawanku
<br>yang lapar.
== Sebuah Pesawat ==
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
Seorang anak pengantar koran,
<br>pada satu dari sedikit hari Minggu
<br>yang tidak dirampas pekerjaannya,
<br>di rumah yang sunyi
<br>bersama ibunya yang sakit paru-paru,
<br>dengan mata lelah
<br>karena terlalu lama membaca
<br>buku-buku pelajaran sendirian . . .
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
== Kepada Seekor Kepiting ==
Kau, kepiting cerdik
<br>di pantai timur itu,
<br>bersembunyi di liangmu
<br>saat air pasang,
<br>keluar lagi
<br>saat air surut,
<br>selalu berjalan menyamping—
<br>tahukah kau,
<br>atau mungkin tidak,
<br>ada seorang anak yang letih
<br>melintas di dekatmu,
<br>terbawa arus
<br>yang tak memberinya kesempatan,
<br>mengikuti seberkas cahaya
<br>yang bahkan lebih kecil
<br>daripada matamu?
== Aku Akan Pergi Sendiri ==
Hari telah selesai.
<br>(hidup yang menyedihkan)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
Segala bunyi meredup.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan kenangan
<br>diguyur melodi yang begitu halus.
<br>(pikiran tentang malam,
<br>pikiran tentang hidup)
Kisah cinta itu selesai.
<br>(hidup yang dibangun khayalan)
<br>Ke dalam hutan
<br>yang membuatku lupa pada diriku sendiri
<br>aku melangkah sendiri.
Wangi bunga popi
<br>perlahan memudar.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan tempat napasku
<br>mengambang seperti kabut hijau yang tipis.
<br>(aroma malam,
<br>aroma cinta)
Kisah cinta itu hancur.
<br>(hidup yang penuh nestapa)
<br>Ke dalam hutan doa
<br>aku melangkah sendiri.
Wajahnya muncul
<br>setiap kali aku berdoa.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan cinta
<br>yang disegarkan seorang muse dari langit.
<br>(doa malam,
<br>doa kehidupan)
Bulan bersinar.
<br>(hidup yang berwarna-warni)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
<br>Cahaya bulan yang lembut
<br>di antara pepohonan
<br>(oh, hidupku)
<br>menerangi hamparan bunga-bunga keemasan
<br>di kampung halamanku.
<br>(hidup di malam hari,
<br>oh, hidupku)
==Untuk Adikku==
—''Untuk Takaka Horiai''
Apakah angin dingin sedang bertiup?
<br>Bulan September.
<br>Aroma daun-daun muda
<br>membersihkan mimpiku
<br>di pondok yang sunyi ini.
Seusai sarapan,
<br>ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah,
<br>tempat pembakar dupa hijauku retak,
<br>dan angin membawa udara yang baru.
Aku mencuci tangan,
<br>lalu menyalakan dupa.
Kau bertanya dari mana datangnya harum itu.
Aku masih mengingat
<br>senyummu yang tenang.
Di bawah langit kota yang kelabu,
<br>di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar,
<br>kau menunjuk merpati-merpati putih
<br>yang terbang rendah
<br>di atas atap.
Aku mengikuti arah jarimu.
Dan untuk sesaat,
<br>hatiku menjadi sangat tenang.
Kau mengangguk perlahan.
Dengan mata yang jernih.
Lalu aku teringat:
pernah ada seorang bayi
<br>yang bersandar di lutut lembut kakaknya.
Bayi itu adalah dirimu.
Kau tersenyum
<br>pada getaran bayang-bayang pohon ara.
Kau membawa kebahagiaan
<br>ke dalam rumah.
Juga kepadaku,
yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga
<br>untuk puisi dan buku-buku.
Perjalanan hidupku kasar.
Dayung-dayungku patah.
Aku hanyut
<br>seperti perahu yang kehilangan tujuan.
Tetapi di dada seseorang yang menunggu,
<br>aku mendengar suara mata air
<br>yang tak pernah kering.
Kini musim panas datang.
Rumah ini sederhana.
Namun aku masih berharap
<br>kebahagiaan suatu hari
<br>mengalahkan nasib.
Aku masih berharap
<br>hari-hari yang membanggakan itu tiba.
Karena itulah
<br>aku bernyanyi
<br>melewati kemarin
<br>dan hari ini.
Barangkali sulit menulis puisi terbaik.
Tetapi kebahagiaan sendiri
<br>sudah cukup menjadi penghiburan.
Meski suatu hari
<br>aku tersesat di tengah keramaian,
duniaku tetap sebuah hutan cinta
<br>yang luas.
Bukan ibu kota
<br>dengan penjara-penjara berkarat.
Aku ingin melihat bunga matahariku.
Bunga-bunga harapan yang tumbuh.
Anak-anak yatim
<br>yang berjalan di tanah berbatu,
yang memuntahkan darah
<br>di depan lagu-lagu duka,
tetap bermimpi
<br>awan sedang bermain-main,
tetap bermimpi
<br>angin memberkati ranting-ranting.
Di kamar berjendela rendah ini,
jiwaku dipeluk perlahan
<br>oleh aroma dupa yang terbakar.
Di altar kecil yang sunyi ini,
aku bangga
<br>menjadi seorang rahib muda.
Adikku yang kusayangi,
jika suatu hari nanti
<br>kau hidup cukup lama
<br>untuk melihat hutan-hutan besar menua,
hutan yang mulia,
<br>ranting-ranting cinta itu,
ingatlah:
di dalam nyanyianku yang tenang
selalu ada mimpi
<br>yang damai.
Kelak,
<br>saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa,
menyisir rambutmu dengan wewangian,
memasang perhiasan keemasan
<br>di sisir kerangmu,
lalu berjalan
<br>di atas rumput yang hijau,
jangan lupakan kebahagiaan sederhana
yang pernah kita miliki
<br>bersama lelaki kurus itu:
penyair
<br>yang tak pernah miskin hati,
di pondok terpencil ini.
Kita pernah memiliki kebahagiaan
<br>yang lebih kuat daripada nasib.
Kita pernah percaya
<br>pada hari-hari yang suci.
Dengan tempat dupa yang retak,
kita bernyanyi.
Dan merasa cukup.
Meski musim panas itu
<br>hanya bernada pelan,
aku menuliskannya
<br>dengan hati yang gembira.
Aku menulis
<br>tentang kebahagiaan kita.
Seluruh hatiku
<br>kutitipkan pada baris-baris ini.
Karena hatiku tersenyum,
terimalah puisi ini
dengan senyummu juga.
==Wajah Putih==
Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian.
Angin barat
di penghujung Oktober
mengaum di antara ranting-ranting.
Ratusan pohon sakura
serentak menggugurkan daun.
Daun-daun itu jatuh
seperti hujan.
Dari balik hujan daun itu,
ke seberang sana—
ah,
hanya satu lirikan
yang diarahkan kepadaku,
seorang gadis berlalu
begitu cepat.
Empat tahun yang lalu,
di penghujung musim gugur,
di hutan Ueno'''''¹''''' ,
pada suatu senja yang sunyi,
dari balik hujan daun-daun yang jatuh,
ah,
satu lirikan,
sebuah wajah putih.
'''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.''
==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). ''A Handful of Sand''. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>==
1.
<br>Aku telah bekerja
<br>lebih keras daripada kerja yang paling keras,
<br>namun hidupku tak juga menjadi lebih baik.
Aku hanya menunduk
<br>menatap kedua tanganku
<br>yang tinggal tulang.
2.
<br>Berbaring di pasir bukit pasir,
<br>hari ini aku mengenang,
<br>dari kejauhan,
<br>dukacita cinta pertamaku.
3.
<br>Dokter berkata,
<br>"Bagaimana? Sudah lelah hidup?"
<br>Aku tetap diam.
<br>Aku menutup mulutku rapat-rapat.
== Referensi ==
[[Kategori:Sastra Jepang]]
[[Kategori:Puisi Jepang]]
[[Kategori:Jepang]]
d9r77dj1bla4lpra3e2o90yraci6f9y
116921
116920
2026-06-15T05:43:43Z
Sibiru45
35568
/* Wajah Putih */
116921
wikitext
text/x-wiki
'''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref>
Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref>
== Mari Bernyanyi ==
Mari bernyanyi.
<br>Ketika tubuh kita letih
<br>oleh pertempuran yang tak selesai-selesai,
<br>ketika kesedihan datang
<br>dan duduk lama di samping kita,
<br>ketika anak kita
<br>menemui kematian sebelum sempat tumbuh,
<br>ketika kita melihat seorang pengemis
<br>yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu,
<br>ketika cinta
<br>menghabiskan seluruh isi hati kita—
<br>mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu.
<br>Sambil menatap langit
<br>yang tak mengatakan apa-apa.
<br>Wahai kawan-kawanku
<br>yang lapar.
== Sebuah Pesawat ==
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
Seorang anak pengantar koran,
<br>pada satu dari sedikit hari Minggu
<br>yang tidak dirampas pekerjaannya,
<br>di rumah yang sunyi
<br>bersama ibunya yang sakit paru-paru,
<br>dengan mata lelah
<br>karena terlalu lama membaca
<br>buku-buku pelajaran sendirian . . .
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
== Kepada Seekor Kepiting ==
Kau, kepiting cerdik
<br>di pantai timur itu,
<br>bersembunyi di liangmu
<br>saat air pasang,
<br>keluar lagi
<br>saat air surut,
<br>selalu berjalan menyamping—
<br>tahukah kau,
<br>atau mungkin tidak,
<br>ada seorang anak yang letih
<br>melintas di dekatmu,
<br>terbawa arus
<br>yang tak memberinya kesempatan,
<br>mengikuti seberkas cahaya
<br>yang bahkan lebih kecil
<br>daripada matamu?
== Aku Akan Pergi Sendiri ==
Hari telah selesai.
<br>(hidup yang menyedihkan)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
Segala bunyi meredup.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan kenangan
<br>diguyur melodi yang begitu halus.
<br>(pikiran tentang malam,
<br>pikiran tentang hidup)
Kisah cinta itu selesai.
<br>(hidup yang dibangun khayalan)
<br>Ke dalam hutan
<br>yang membuatku lupa pada diriku sendiri
<br>aku melangkah sendiri.
Wangi bunga popi
<br>perlahan memudar.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan tempat napasku
<br>mengambang seperti kabut hijau yang tipis.
<br>(aroma malam,
<br>aroma cinta)
Kisah cinta itu hancur.
<br>(hidup yang penuh nestapa)
<br>Ke dalam hutan doa
<br>aku melangkah sendiri.
Wajahnya muncul
<br>setiap kali aku berdoa.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan cinta
<br>yang disegarkan seorang muse dari langit.
<br>(doa malam,
<br>doa kehidupan)
Bulan bersinar.
<br>(hidup yang berwarna-warni)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
<br>Cahaya bulan yang lembut
<br>di antara pepohonan
<br>(oh, hidupku)
<br>menerangi hamparan bunga-bunga keemasan
<br>di kampung halamanku.
<br>(hidup di malam hari,
<br>oh, hidupku)
==Untuk Adikku==
—''Untuk Takaka Horiai''
Apakah angin dingin sedang bertiup?
<br>Bulan September.
<br>Aroma daun-daun muda
<br>membersihkan mimpiku
<br>di pondok yang sunyi ini.
Seusai sarapan,
<br>ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah,
<br>tempat pembakar dupa hijauku retak,
<br>dan angin membawa udara yang baru.
Aku mencuci tangan,
<br>lalu menyalakan dupa.
Kau bertanya dari mana datangnya harum itu.
Aku masih mengingat
<br>senyummu yang tenang.
Di bawah langit kota yang kelabu,
<br>di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar,
<br>kau menunjuk merpati-merpati putih
<br>yang terbang rendah
<br>di atas atap.
Aku mengikuti arah jarimu.
Dan untuk sesaat,
<br>hatiku menjadi sangat tenang.
Kau mengangguk perlahan.
Dengan mata yang jernih.
Lalu aku teringat:
pernah ada seorang bayi
<br>yang bersandar di lutut lembut kakaknya.
Bayi itu adalah dirimu.
Kau tersenyum
<br>pada getaran bayang-bayang pohon ara.
Kau membawa kebahagiaan
<br>ke dalam rumah.
Juga kepadaku,
yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga
<br>untuk puisi dan buku-buku.
Perjalanan hidupku kasar.
Dayung-dayungku patah.
Aku hanyut
<br>seperti perahu yang kehilangan tujuan.
Tetapi di dada seseorang yang menunggu,
<br>aku mendengar suara mata air
<br>yang tak pernah kering.
Kini musim panas datang.
Rumah ini sederhana.
Namun aku masih berharap
<br>kebahagiaan suatu hari
<br>mengalahkan nasib.
Aku masih berharap
<br>hari-hari yang membanggakan itu tiba.
Karena itulah
<br>aku bernyanyi
<br>melewati kemarin
<br>dan hari ini.
Barangkali sulit menulis puisi terbaik.
Tetapi kebahagiaan sendiri
<br>sudah cukup menjadi penghiburan.
Meski suatu hari
<br>aku tersesat di tengah keramaian,
duniaku tetap sebuah hutan cinta
<br>yang luas.
Bukan ibu kota
<br>dengan penjara-penjara berkarat.
Aku ingin melihat bunga matahariku.
Bunga-bunga harapan yang tumbuh.
Anak-anak yatim
<br>yang berjalan di tanah berbatu,
yang memuntahkan darah
<br>di depan lagu-lagu duka,
tetap bermimpi
<br>awan sedang bermain-main,
tetap bermimpi
<br>angin memberkati ranting-ranting.
Di kamar berjendela rendah ini,
jiwaku dipeluk perlahan
<br>oleh aroma dupa yang terbakar.
Di altar kecil yang sunyi ini,
aku bangga
<br>menjadi seorang rahib muda.
Adikku yang kusayangi,
jika suatu hari nanti
<br>kau hidup cukup lama
<br>untuk melihat hutan-hutan besar menua,
hutan yang mulia,
<br>ranting-ranting cinta itu,
ingatlah:
di dalam nyanyianku yang tenang
selalu ada mimpi
<br>yang damai.
Kelak,
<br>saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa,
menyisir rambutmu dengan wewangian,
memasang perhiasan keemasan
<br>di sisir kerangmu,
lalu berjalan
<br>di atas rumput yang hijau,
jangan lupakan kebahagiaan sederhana
yang pernah kita miliki
<br>bersama lelaki kurus itu:
penyair
<br>yang tak pernah miskin hati,
di pondok terpencil ini.
Kita pernah memiliki kebahagiaan
<br>yang lebih kuat daripada nasib.
Kita pernah percaya
<br>pada hari-hari yang suci.
Dengan tempat dupa yang retak,
kita bernyanyi.
Dan merasa cukup.
Meski musim panas itu
<br>hanya bernada pelan,
aku menuliskannya
<br>dengan hati yang gembira.
Aku menulis
<br>tentang kebahagiaan kita.
Seluruh hatiku
<br>kutitipkan pada baris-baris ini.
Karena hatiku tersenyum,
terimalah puisi ini
dengan senyummu juga.
==Wajah Putih==
Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian.
<br>Angin barat
<br>di penghujung Oktober
<br>mengaum di antara ranting-ranting.
Ratusan pohon sakura
serentak menggugurkan daun.
Daun-daun itu jatuh
seperti hujan.
Dari balik hujan daun itu,
ke seberang sana—
ah,
hanya satu lirikan
yang diarahkan kepadaku,
seorang gadis berlalu
begitu cepat.
Empat tahun yang lalu,
di penghujung musim gugur,
di hutan Ueno'''''¹''''' ,
pada suatu senja yang sunyi,
dari balik hujan daun-daun yang jatuh,
ah,
satu lirikan,
sebuah wajah putih.
'''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.''
==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). ''A Handful of Sand''. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>==
1.
<br>Aku telah bekerja
<br>lebih keras daripada kerja yang paling keras,
<br>namun hidupku tak juga menjadi lebih baik.
Aku hanya menunduk
<br>menatap kedua tanganku
<br>yang tinggal tulang.
2.
<br>Berbaring di pasir bukit pasir,
<br>hari ini aku mengenang,
<br>dari kejauhan,
<br>dukacita cinta pertamaku.
3.
<br>Dokter berkata,
<br>"Bagaimana? Sudah lelah hidup?"
<br>Aku tetap diam.
<br>Aku menutup mulutku rapat-rapat.
== Referensi ==
[[Kategori:Sastra Jepang]]
[[Kategori:Puisi Jepang]]
[[Kategori:Jepang]]
szsg4l2cqy2eam8r060gknjmrl1tmuc
116922
116921
2026-06-15T05:44:19Z
Sibiru45
35568
/* Wajah Putih */
116922
wikitext
text/x-wiki
'''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref>
Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref>
== Mari Bernyanyi ==
Mari bernyanyi.
<br>Ketika tubuh kita letih
<br>oleh pertempuran yang tak selesai-selesai,
<br>ketika kesedihan datang
<br>dan duduk lama di samping kita,
<br>ketika anak kita
<br>menemui kematian sebelum sempat tumbuh,
<br>ketika kita melihat seorang pengemis
<br>yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu,
<br>ketika cinta
<br>menghabiskan seluruh isi hati kita—
<br>mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu.
<br>Sambil menatap langit
<br>yang tak mengatakan apa-apa.
<br>Wahai kawan-kawanku
<br>yang lapar.
== Sebuah Pesawat ==
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
Seorang anak pengantar koran,
<br>pada satu dari sedikit hari Minggu
<br>yang tidak dirampas pekerjaannya,
<br>di rumah yang sunyi
<br>bersama ibunya yang sakit paru-paru,
<br>dengan mata lelah
<br>karena terlalu lama membaca
<br>buku-buku pelajaran sendirian . . .
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
== Kepada Seekor Kepiting ==
Kau, kepiting cerdik
<br>di pantai timur itu,
<br>bersembunyi di liangmu
<br>saat air pasang,
<br>keluar lagi
<br>saat air surut,
<br>selalu berjalan menyamping—
<br>tahukah kau,
<br>atau mungkin tidak,
<br>ada seorang anak yang letih
<br>melintas di dekatmu,
<br>terbawa arus
<br>yang tak memberinya kesempatan,
<br>mengikuti seberkas cahaya
<br>yang bahkan lebih kecil
<br>daripada matamu?
== Aku Akan Pergi Sendiri ==
Hari telah selesai.
<br>(hidup yang menyedihkan)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
Segala bunyi meredup.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan kenangan
<br>diguyur melodi yang begitu halus.
<br>(pikiran tentang malam,
<br>pikiran tentang hidup)
Kisah cinta itu selesai.
<br>(hidup yang dibangun khayalan)
<br>Ke dalam hutan
<br>yang membuatku lupa pada diriku sendiri
<br>aku melangkah sendiri.
Wangi bunga popi
<br>perlahan memudar.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan tempat napasku
<br>mengambang seperti kabut hijau yang tipis.
<br>(aroma malam,
<br>aroma cinta)
Kisah cinta itu hancur.
<br>(hidup yang penuh nestapa)
<br>Ke dalam hutan doa
<br>aku melangkah sendiri.
Wajahnya muncul
<br>setiap kali aku berdoa.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan cinta
<br>yang disegarkan seorang muse dari langit.
<br>(doa malam,
<br>doa kehidupan)
Bulan bersinar.
<br>(hidup yang berwarna-warni)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
<br>Cahaya bulan yang lembut
<br>di antara pepohonan
<br>(oh, hidupku)
<br>menerangi hamparan bunga-bunga keemasan
<br>di kampung halamanku.
<br>(hidup di malam hari,
<br>oh, hidupku)
==Untuk Adikku==
—''Untuk Takaka Horiai''
Apakah angin dingin sedang bertiup?
<br>Bulan September.
<br>Aroma daun-daun muda
<br>membersihkan mimpiku
<br>di pondok yang sunyi ini.
Seusai sarapan,
<br>ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah,
<br>tempat pembakar dupa hijauku retak,
<br>dan angin membawa udara yang baru.
Aku mencuci tangan,
<br>lalu menyalakan dupa.
Kau bertanya dari mana datangnya harum itu.
Aku masih mengingat
<br>senyummu yang tenang.
Di bawah langit kota yang kelabu,
<br>di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar,
<br>kau menunjuk merpati-merpati putih
<br>yang terbang rendah
<br>di atas atap.
Aku mengikuti arah jarimu.
Dan untuk sesaat,
<br>hatiku menjadi sangat tenang.
Kau mengangguk perlahan.
Dengan mata yang jernih.
Lalu aku teringat:
pernah ada seorang bayi
<br>yang bersandar di lutut lembut kakaknya.
Bayi itu adalah dirimu.
Kau tersenyum
<br>pada getaran bayang-bayang pohon ara.
Kau membawa kebahagiaan
<br>ke dalam rumah.
Juga kepadaku,
yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga
<br>untuk puisi dan buku-buku.
Perjalanan hidupku kasar.
Dayung-dayungku patah.
Aku hanyut
<br>seperti perahu yang kehilangan tujuan.
Tetapi di dada seseorang yang menunggu,
<br>aku mendengar suara mata air
<br>yang tak pernah kering.
Kini musim panas datang.
Rumah ini sederhana.
Namun aku masih berharap
<br>kebahagiaan suatu hari
<br>mengalahkan nasib.
Aku masih berharap
<br>hari-hari yang membanggakan itu tiba.
Karena itulah
<br>aku bernyanyi
<br>melewati kemarin
<br>dan hari ini.
Barangkali sulit menulis puisi terbaik.
Tetapi kebahagiaan sendiri
<br>sudah cukup menjadi penghiburan.
Meski suatu hari
<br>aku tersesat di tengah keramaian,
duniaku tetap sebuah hutan cinta
<br>yang luas.
Bukan ibu kota
<br>dengan penjara-penjara berkarat.
Aku ingin melihat bunga matahariku.
Bunga-bunga harapan yang tumbuh.
Anak-anak yatim
<br>yang berjalan di tanah berbatu,
yang memuntahkan darah
<br>di depan lagu-lagu duka,
tetap bermimpi
<br>awan sedang bermain-main,
tetap bermimpi
<br>angin memberkati ranting-ranting.
Di kamar berjendela rendah ini,
jiwaku dipeluk perlahan
<br>oleh aroma dupa yang terbakar.
Di altar kecil yang sunyi ini,
aku bangga
<br>menjadi seorang rahib muda.
Adikku yang kusayangi,
jika suatu hari nanti
<br>kau hidup cukup lama
<br>untuk melihat hutan-hutan besar menua,
hutan yang mulia,
<br>ranting-ranting cinta itu,
ingatlah:
di dalam nyanyianku yang tenang
selalu ada mimpi
<br>yang damai.
Kelak,
<br>saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa,
menyisir rambutmu dengan wewangian,
memasang perhiasan keemasan
<br>di sisir kerangmu,
lalu berjalan
<br>di atas rumput yang hijau,
jangan lupakan kebahagiaan sederhana
yang pernah kita miliki
<br>bersama lelaki kurus itu:
penyair
<br>yang tak pernah miskin hati,
di pondok terpencil ini.
Kita pernah memiliki kebahagiaan
<br>yang lebih kuat daripada nasib.
Kita pernah percaya
<br>pada hari-hari yang suci.
Dengan tempat dupa yang retak,
kita bernyanyi.
Dan merasa cukup.
Meski musim panas itu
<br>hanya bernada pelan,
aku menuliskannya
<br>dengan hati yang gembira.
Aku menulis
<br>tentang kebahagiaan kita.
Seluruh hatiku
<br>kutitipkan pada baris-baris ini.
Karena hatiku tersenyum,
terimalah puisi ini
dengan senyummu juga.
==Wajah Putih==
Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian.
<br>Angin barat
<br>di penghujung Oktober
<br>mengaum di antara ranting-ranting.
Ratusan pohon sakura
<br>serentak menggugurkan daun.
Daun-daun itu jatuh
<br>seperti hujan.
Dari balik hujan daun itu,
<br>ke seberang sana—
<br>ah,
<br>hanya satu lirikan
<br>yang diarahkan kepadaku,
<br>seorang gadis berlalu
<br>begitu cepat.
Empat tahun yang lalu,
di penghujung musim gugur,
di hutan Ueno'''''¹''''' ,
pada suatu senja yang sunyi,
dari balik hujan daun-daun yang jatuh,
ah,
satu lirikan,
sebuah wajah putih.
'''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.''
==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). ''A Handful of Sand''. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>==
1.
<br>Aku telah bekerja
<br>lebih keras daripada kerja yang paling keras,
<br>namun hidupku tak juga menjadi lebih baik.
Aku hanya menunduk
<br>menatap kedua tanganku
<br>yang tinggal tulang.
2.
<br>Berbaring di pasir bukit pasir,
<br>hari ini aku mengenang,
<br>dari kejauhan,
<br>dukacita cinta pertamaku.
3.
<br>Dokter berkata,
<br>"Bagaimana? Sudah lelah hidup?"
<br>Aku tetap diam.
<br>Aku menutup mulutku rapat-rapat.
== Referensi ==
[[Kategori:Sastra Jepang]]
[[Kategori:Puisi Jepang]]
[[Kategori:Jepang]]
p625qmgj672dlgelokyrun1y49yhxsm
116923
116922
2026-06-15T05:44:50Z
Sibiru45
35568
/* Wajah Putih */
116923
wikitext
text/x-wiki
'''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref>
Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref>
== Mari Bernyanyi ==
Mari bernyanyi.
<br>Ketika tubuh kita letih
<br>oleh pertempuran yang tak selesai-selesai,
<br>ketika kesedihan datang
<br>dan duduk lama di samping kita,
<br>ketika anak kita
<br>menemui kematian sebelum sempat tumbuh,
<br>ketika kita melihat seorang pengemis
<br>yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu,
<br>ketika cinta
<br>menghabiskan seluruh isi hati kita—
<br>mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu.
<br>Sambil menatap langit
<br>yang tak mengatakan apa-apa.
<br>Wahai kawan-kawanku
<br>yang lapar.
== Sebuah Pesawat ==
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
Seorang anak pengantar koran,
<br>pada satu dari sedikit hari Minggu
<br>yang tidak dirampas pekerjaannya,
<br>di rumah yang sunyi
<br>bersama ibunya yang sakit paru-paru,
<br>dengan mata lelah
<br>karena terlalu lama membaca
<br>buku-buku pelajaran sendirian . . .
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
== Kepada Seekor Kepiting ==
Kau, kepiting cerdik
<br>di pantai timur itu,
<br>bersembunyi di liangmu
<br>saat air pasang,
<br>keluar lagi
<br>saat air surut,
<br>selalu berjalan menyamping—
<br>tahukah kau,
<br>atau mungkin tidak,
<br>ada seorang anak yang letih
<br>melintas di dekatmu,
<br>terbawa arus
<br>yang tak memberinya kesempatan,
<br>mengikuti seberkas cahaya
<br>yang bahkan lebih kecil
<br>daripada matamu?
== Aku Akan Pergi Sendiri ==
Hari telah selesai.
<br>(hidup yang menyedihkan)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
Segala bunyi meredup.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan kenangan
<br>diguyur melodi yang begitu halus.
<br>(pikiran tentang malam,
<br>pikiran tentang hidup)
Kisah cinta itu selesai.
<br>(hidup yang dibangun khayalan)
<br>Ke dalam hutan
<br>yang membuatku lupa pada diriku sendiri
<br>aku melangkah sendiri.
Wangi bunga popi
<br>perlahan memudar.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan tempat napasku
<br>mengambang seperti kabut hijau yang tipis.
<br>(aroma malam,
<br>aroma cinta)
Kisah cinta itu hancur.
<br>(hidup yang penuh nestapa)
<br>Ke dalam hutan doa
<br>aku melangkah sendiri.
Wajahnya muncul
<br>setiap kali aku berdoa.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan cinta
<br>yang disegarkan seorang muse dari langit.
<br>(doa malam,
<br>doa kehidupan)
Bulan bersinar.
<br>(hidup yang berwarna-warni)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
<br>Cahaya bulan yang lembut
<br>di antara pepohonan
<br>(oh, hidupku)
<br>menerangi hamparan bunga-bunga keemasan
<br>di kampung halamanku.
<br>(hidup di malam hari,
<br>oh, hidupku)
==Untuk Adikku==
—''Untuk Takaka Horiai''
Apakah angin dingin sedang bertiup?
<br>Bulan September.
<br>Aroma daun-daun muda
<br>membersihkan mimpiku
<br>di pondok yang sunyi ini.
Seusai sarapan,
<br>ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah,
<br>tempat pembakar dupa hijauku retak,
<br>dan angin membawa udara yang baru.
Aku mencuci tangan,
<br>lalu menyalakan dupa.
Kau bertanya dari mana datangnya harum itu.
Aku masih mengingat
<br>senyummu yang tenang.
Di bawah langit kota yang kelabu,
<br>di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar,
<br>kau menunjuk merpati-merpati putih
<br>yang terbang rendah
<br>di atas atap.
Aku mengikuti arah jarimu.
Dan untuk sesaat,
<br>hatiku menjadi sangat tenang.
Kau mengangguk perlahan.
Dengan mata yang jernih.
Lalu aku teringat:
pernah ada seorang bayi
<br>yang bersandar di lutut lembut kakaknya.
Bayi itu adalah dirimu.
Kau tersenyum
<br>pada getaran bayang-bayang pohon ara.
Kau membawa kebahagiaan
<br>ke dalam rumah.
Juga kepadaku,
yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga
<br>untuk puisi dan buku-buku.
Perjalanan hidupku kasar.
Dayung-dayungku patah.
Aku hanyut
<br>seperti perahu yang kehilangan tujuan.
Tetapi di dada seseorang yang menunggu,
<br>aku mendengar suara mata air
<br>yang tak pernah kering.
Kini musim panas datang.
Rumah ini sederhana.
Namun aku masih berharap
<br>kebahagiaan suatu hari
<br>mengalahkan nasib.
Aku masih berharap
<br>hari-hari yang membanggakan itu tiba.
Karena itulah
<br>aku bernyanyi
<br>melewati kemarin
<br>dan hari ini.
Barangkali sulit menulis puisi terbaik.
Tetapi kebahagiaan sendiri
<br>sudah cukup menjadi penghiburan.
Meski suatu hari
<br>aku tersesat di tengah keramaian,
duniaku tetap sebuah hutan cinta
<br>yang luas.
Bukan ibu kota
<br>dengan penjara-penjara berkarat.
Aku ingin melihat bunga matahariku.
Bunga-bunga harapan yang tumbuh.
Anak-anak yatim
<br>yang berjalan di tanah berbatu,
yang memuntahkan darah
<br>di depan lagu-lagu duka,
tetap bermimpi
<br>awan sedang bermain-main,
tetap bermimpi
<br>angin memberkati ranting-ranting.
Di kamar berjendela rendah ini,
jiwaku dipeluk perlahan
<br>oleh aroma dupa yang terbakar.
Di altar kecil yang sunyi ini,
aku bangga
<br>menjadi seorang rahib muda.
Adikku yang kusayangi,
jika suatu hari nanti
<br>kau hidup cukup lama
<br>untuk melihat hutan-hutan besar menua,
hutan yang mulia,
<br>ranting-ranting cinta itu,
ingatlah:
di dalam nyanyianku yang tenang
selalu ada mimpi
<br>yang damai.
Kelak,
<br>saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa,
menyisir rambutmu dengan wewangian,
memasang perhiasan keemasan
<br>di sisir kerangmu,
lalu berjalan
<br>di atas rumput yang hijau,
jangan lupakan kebahagiaan sederhana
yang pernah kita miliki
<br>bersama lelaki kurus itu:
penyair
<br>yang tak pernah miskin hati,
di pondok terpencil ini.
Kita pernah memiliki kebahagiaan
<br>yang lebih kuat daripada nasib.
Kita pernah percaya
<br>pada hari-hari yang suci.
Dengan tempat dupa yang retak,
kita bernyanyi.
Dan merasa cukup.
Meski musim panas itu
<br>hanya bernada pelan,
aku menuliskannya
<br>dengan hati yang gembira.
Aku menulis
<br>tentang kebahagiaan kita.
Seluruh hatiku
<br>kutitipkan pada baris-baris ini.
Karena hatiku tersenyum,
terimalah puisi ini
dengan senyummu juga.
==Wajah Putih==
Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian.
<br>Angin barat
<br>di penghujung Oktober
<br>mengaum di antara ranting-ranting.
Ratusan pohon sakura
<br>serentak menggugurkan daun.
Daun-daun itu jatuh
<br>seperti hujan.
Dari balik hujan daun itu,
<br>ke seberang sana—
<br>ah,
<br>hanya satu lirikan
<br>yang diarahkan kepadaku,
<br>seorang gadis berlalu
<br>begitu cepat.
Empat tahun yang lalu,
<br>di penghujung musim gugur,
<br>di hutan Ueno'''''¹''''' ,
<br>pada suatu senja yang sunyi,
<br>dari balik hujan daun-daun yang jatuh,
<br>ah,
<br>satu lirikan,
<br>sebuah wajah putih.
'''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.''
==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). ''A Handful of Sand''. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>==
1.
<br>Aku telah bekerja
<br>lebih keras daripada kerja yang paling keras,
<br>namun hidupku tak juga menjadi lebih baik.
Aku hanya menunduk
<br>menatap kedua tanganku
<br>yang tinggal tulang.
2.
<br>Berbaring di pasir bukit pasir,
<br>hari ini aku mengenang,
<br>dari kejauhan,
<br>dukacita cinta pertamaku.
3.
<br>Dokter berkata,
<br>"Bagaimana? Sudah lelah hidup?"
<br>Aku tetap diam.
<br>Aku menutup mulutku rapat-rapat.
== Referensi ==
[[Kategori:Sastra Jepang]]
[[Kategori:Puisi Jepang]]
[[Kategori:Jepang]]
nimsc7q95wy75ujmk1v8zsdqfs63qxu
116924
116923
2026-06-15T05:46:04Z
Sibiru45
35568
116924
wikitext
text/x-wiki
'''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref>
Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>Ishikawa. T (2010)''. On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref>
== Mari Bernyanyi ==
Mari bernyanyi.
<br>Ketika tubuh kita letih
<br>oleh pertempuran yang tak selesai-selesai,
<br>ketika kesedihan datang
<br>dan duduk lama di samping kita,
<br>ketika anak kita
<br>menemui kematian sebelum sempat tumbuh,
<br>ketika kita melihat seorang pengemis
<br>yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu,
<br>ketika cinta
<br>menghabiskan seluruh isi hati kita—
<br>mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu.
<br>Sambil menatap langit
<br>yang tak mengatakan apa-apa.
<br>Wahai kawan-kawanku
<br>yang lapar.
== Sebuah Pesawat ==
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
Seorang anak pengantar koran,
<br>pada satu dari sedikit hari Minggu
<br>yang tidak dirampas pekerjaannya,
<br>di rumah yang sunyi
<br>bersama ibunya yang sakit paru-paru,
<br>dengan mata lelah
<br>karena terlalu lama membaca
<br>buku-buku pelajaran sendirian . . .
Lihatlah, hari ini lagi,
<br>pesawat itu
<br>tinggi sekali di langit biru.
== Kepada Seekor Kepiting ==
Kau, kepiting cerdik
<br>di pantai timur itu,
<br>bersembunyi di liangmu
<br>saat air pasang,
<br>keluar lagi
<br>saat air surut,
<br>selalu berjalan menyamping—
<br>tahukah kau,
<br>atau mungkin tidak,
<br>ada seorang anak yang letih
<br>melintas di dekatmu,
<br>terbawa arus
<br>yang tak memberinya kesempatan,
<br>mengikuti seberkas cahaya
<br>yang bahkan lebih kecil
<br>daripada matamu?
== Aku Akan Pergi Sendiri ==
Hari telah selesai.
<br>(hidup yang menyedihkan)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
Segala bunyi meredup.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan kenangan
<br>diguyur melodi yang begitu halus.
<br>(pikiran tentang malam,
<br>pikiran tentang hidup)
Kisah cinta itu selesai.
<br>(hidup yang dibangun khayalan)
<br>Ke dalam hutan
<br>yang membuatku lupa pada diriku sendiri
<br>aku melangkah sendiri.
Wangi bunga popi
<br>perlahan memudar.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan tempat napasku
<br>mengambang seperti kabut hijau yang tipis.
<br>(aroma malam,
<br>aroma cinta)
Kisah cinta itu hancur.
<br>(hidup yang penuh nestapa)
<br>Ke dalam hutan doa
<br>aku melangkah sendiri.
Wajahnya muncul
<br>setiap kali aku berdoa.
<br>(oh, hidupku)
<br>Hutan cinta
<br>yang disegarkan seorang muse dari langit.
<br>(doa malam,
<br>doa kehidupan)
Bulan bersinar.
<br>(hidup yang berwarna-warni)
<br>Ke dalam hutan ilusi
<br>aku melangkah sendiri.
<br>Cahaya bulan yang lembut
<br>di antara pepohonan
<br>(oh, hidupku)
<br>menerangi hamparan bunga-bunga keemasan
<br>di kampung halamanku.
<br>(hidup di malam hari,
<br>oh, hidupku)
==Untuk Adikku==
—''Untuk Takaka Horiai''
Apakah angin dingin sedang bertiup?
<br>Bulan September.
<br>Aroma daun-daun muda
<br>membersihkan mimpiku
<br>di pondok yang sunyi ini.
Seusai sarapan,
<br>ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah,
<br>tempat pembakar dupa hijauku retak,
<br>dan angin membawa udara yang baru.
Aku mencuci tangan,
<br>lalu menyalakan dupa.
Kau bertanya dari mana datangnya harum itu.
Aku masih mengingat
<br>senyummu yang tenang.
Di bawah langit kota yang kelabu,
<br>di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar,
<br>kau menunjuk merpati-merpati putih
<br>yang terbang rendah
<br>di atas atap.
Aku mengikuti arah jarimu.
Dan untuk sesaat,
<br>hatiku menjadi sangat tenang.
Kau mengangguk perlahan.
Dengan mata yang jernih.
Lalu aku teringat:
pernah ada seorang bayi
<br>yang bersandar di lutut lembut kakaknya.
Bayi itu adalah dirimu.
Kau tersenyum
<br>pada getaran bayang-bayang pohon ara.
Kau membawa kebahagiaan
<br>ke dalam rumah.
Juga kepadaku,
yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga
<br>untuk puisi dan buku-buku.
Perjalanan hidupku kasar.
Dayung-dayungku patah.
Aku hanyut
<br>seperti perahu yang kehilangan tujuan.
Tetapi di dada seseorang yang menunggu,
<br>aku mendengar suara mata air
<br>yang tak pernah kering.
Kini musim panas datang.
Rumah ini sederhana.
Namun aku masih berharap
<br>kebahagiaan suatu hari
<br>mengalahkan nasib.
Aku masih berharap
<br>hari-hari yang membanggakan itu tiba.
Karena itulah
<br>aku bernyanyi
<br>melewati kemarin
<br>dan hari ini.
Barangkali sulit menulis puisi terbaik.
Tetapi kebahagiaan sendiri
<br>sudah cukup menjadi penghiburan.
Meski suatu hari
<br>aku tersesat di tengah keramaian,
duniaku tetap sebuah hutan cinta
<br>yang luas.
Bukan ibu kota
<br>dengan penjara-penjara berkarat.
Aku ingin melihat bunga matahariku.
Bunga-bunga harapan yang tumbuh.
Anak-anak yatim
<br>yang berjalan di tanah berbatu,
yang memuntahkan darah
<br>di depan lagu-lagu duka,
tetap bermimpi
<br>awan sedang bermain-main,
tetap bermimpi
<br>angin memberkati ranting-ranting.
Di kamar berjendela rendah ini,
jiwaku dipeluk perlahan
<br>oleh aroma dupa yang terbakar.
Di altar kecil yang sunyi ini,
aku bangga
<br>menjadi seorang rahib muda.
Adikku yang kusayangi,
jika suatu hari nanti
<br>kau hidup cukup lama
<br>untuk melihat hutan-hutan besar menua,
hutan yang mulia,
<br>ranting-ranting cinta itu,
ingatlah:
di dalam nyanyianku yang tenang
selalu ada mimpi
<br>yang damai.
Kelak,
<br>saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa,
menyisir rambutmu dengan wewangian,
memasang perhiasan keemasan
<br>di sisir kerangmu,
lalu berjalan
<br>di atas rumput yang hijau,
jangan lupakan kebahagiaan sederhana
yang pernah kita miliki
<br>bersama lelaki kurus itu:
penyair
<br>yang tak pernah miskin hati,
di pondok terpencil ini.
Kita pernah memiliki kebahagiaan
<br>yang lebih kuat daripada nasib.
Kita pernah percaya
<br>pada hari-hari yang suci.
Dengan tempat dupa yang retak,
kita bernyanyi.
Dan merasa cukup.
Meski musim panas itu
<br>hanya bernada pelan,
aku menuliskannya
<br>dengan hati yang gembira.
Aku menulis
<br>tentang kebahagiaan kita.
Seluruh hatiku
<br>kutitipkan pada baris-baris ini.
Karena hatiku tersenyum,
terimalah puisi ini
dengan senyummu juga.
==Wajah Putih==
Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian.
<br>Angin barat
<br>di penghujung Oktober
<br>mengaum di antara ranting-ranting.
Ratusan pohon sakura
<br>serentak menggugurkan daun.
Daun-daun itu jatuh
<br>seperti hujan.
Dari balik hujan daun itu,
<br>ke seberang sana—
<br>ah,
<br>hanya satu lirikan
<br>yang diarahkan kepadaku,
<br>seorang gadis berlalu
<br>begitu cepat.
Empat tahun yang lalu,
<br>di penghujung musim gugur,
<br>di hutan Ueno'''''¹''''' ,
<br>pada suatu senja yang sunyi,
<br>dari balik hujan daun-daun yang jatuh,
<br>ah,
<br>satu lirikan,
<br>sebuah wajah putih.
'''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.''
==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). ''A Handful of Sand''. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>==
1.
<br>Aku telah bekerja
<br>lebih keras daripada kerja yang paling keras,
<br>namun hidupku tak juga menjadi lebih baik.
Aku hanya menunduk
<br>menatap kedua tanganku
<br>yang tinggal tulang.
2.
<br>Berbaring di pasir bukit pasir,
<br>hari ini aku mengenang,
<br>dari kejauhan,
<br>dukacita cinta pertamaku.
3.
<br>Dokter berkata,
<br>"Bagaimana? Sudah lelah hidup?"
<br>Aku tetap diam.
<br>Aku menutup mulutku rapat-rapat.
== Referensi ==
[[Kategori:Sastra Jepang]]
[[Kategori:Puisi Jepang]]
[[Kategori:Jepang]]
5g6w6e7k9ndp80kfnx6bw47ppr2jlok
Putri Kembang Remigo
0
27555
116899
116361
2026-06-14T15:05:35Z
Ismaaatull
42809
116899
wikitext
text/x-wiki
[[File:Putri Kembang Remigo.ogg|thumb|Menceritakan seorang Puteri yang bernama Puteri Kembang Remigo yang menikah dengan Raja Naga]]
''Adolah Rajo ngan Penatia, nikah la lamo tapi anak lum jugo ado.''
(Ada sebuah cerita, seorang raja dan istrinya, Penatia. Mereka sudah lama menikah, tapi belum kunjung dianugerahi seorang anak.)
''Suatu aghi pegilah Rajo ni ke tepi laut, pantai namo o. Nginaklah ke arah laut cak diinaki banyak tegalau awan batan ujan di langit arah laut. "Mo ku ado anak kelo, jadia ku namo i Puteri Kembang Remigo. La besak ku enjuak ngan Rajo Nago," kato Rajo.''
(Suatu hari, Raja berjalan ke tepi pantai. Dia melihat ke arah laut. Ternyata di langit ada banyak awan hitam yang mengarah ke laut. "Kalau nanti aku punya anak, ku beri nama Puteri Kembang Remigo. Jika sudah besar nanti, akan ku berikan dengan Raja Naga.")
[[File:Putri Kembang Remigo.png|thumb|Seorang Puteri raja yang bernama Puteri Kembang Remigo]]
''Lum lamo itu ado nian anak o, dinamoi lah Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lair, nido diajung o keluagh guma. Jemo dusun nido diajung o bemuni. Jangan ado nyo berkebar ngan jemo-jemo dusun seberang.
''
(Belum lama setelah itu, Raja dan Penatia dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lahir, Raja tidak mengizinkan untuk Puteri keluar rumah. Bahkan penduduk desa diperintahkan untuk tutup mulut, jangan sampai didengar dengan orang di desa seberang tentang keberadaan Puteri)
''La sebulan, duo bulan. La setahun, duo tahun kini la besak pulo Putri Kembang Remigo ni. Kato Rajo Nago, "Cubo, Kawan, ngiciakkah anak Bilis. Cubo kaba jaruakah kuday Puteri Kembang Remigo anak Rajo Ulu Sungai."''
(Sudah satu bulan, dua bulan. Satu tahun, dua tahun dan sekarang Puteri Kembang Remigo sudah besar. Raja Naga dari laut memerintahkan ikan kecil. "Teman, aku minta tolong coba kamu datang ke rumah Puteri Kembang Remigo anak Raja Ulu Sungai.")
''"Siap," kate o.''
("Siap," jawabnya.)
''Pegilah ikan Bilis ke ulu sungai, dikinaki ado la gegebay gi ngambiak aiak pakai gerigiak. Dimasuaki nyo ikan Bilis ke dalam gerigiak gegebay. Kebetulan gegebay tu ngambiak aiak batak ke guma Rajo, pas itu Puteri Kembang Remigo ndak nerimo lemang.''
(Setelah itu, ikan kecil pergi ke ulu sungai. Ternyata ada ibu-ibu sedang mengambil air menggunakan tempat air dari bambu. Ikan Bilis melompat masuk ke dalam tempat air tersebut dan kebetulan ibu-ibu mengambil air untuk dibawa ke rumah Raja karena Puteri Kembang Remigo akan menerima hantaran lemang (nasi dalam bambu).)
''Cak masuak ikan Bilis ke dalam guma Rajo, nengagh kicikan Rajo, "Nah kapo kaba ni begangan la di guma ni kareno Puteri Kembang Remigo ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung di berang sano laut, janji cuman tujuah malam. Jangan sampai keruan ngan Rajo Nago". "Ngapo pulo gerigiak bada ikan Bilis ni tadi tekibagh, nepecit melenting-melenting ngulang begilighan ke laut. Ikan Bilis ni tadi matak kabar batan Rajo Nago."''
(Di saat ikan kecil ini masuk ke rumah, ia mendengar perkataan Raja. "Nah, kalian silakan memasak jamuan di rumah ini, karena Puteri Kembang Remigo akan menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut dan waktu hanya tinggal 7 malam dan ingat jangan sampai berita ini terdengar dengan Raja Naga". Tiba-tiba tempat air yang di dalamnya ada ikan kecil tidak sengaja tumpah sehingga ikan kecil mengikuti tumpahan air dan kembali ke laut membawa kabar untuk Raja Naga).
''Sesampai o di bada Rajo Nago, "Rajo Nago kalu ndak Puteri Kembang Remigo, waktu cuman tujuah malam, jemo kini la mulai begangan," Ikan Bilis ngadu ke Rajo Nago.''
(Sesampainya di tempat Raja Naga. "Raja Naga, kalau mau Puteri Kembang Remigo waktu cuman 7 malam. Sekarang orang-orang sudah mulai menyiapkan jamuan untuk acara lamaran Puteri Kembang Remigo," lapor Ikan Bilis.)
''Nengagh aduan ikan Bilis, ngangat Rajo Nago ni. Diajung o la ikan besak batan nyampaikah pesan ke Rajo Ulu Sungai. Ikan besak langsung pegi nyampaikah pesan Rajo Nago. Cak sampai o, ketemulah ngan jemo tuo mpay ndak mandi. "Ui pindo, Kawan. Aku ni matak kabar jak di Rajo Nago. Puteri Kembang Remigo uji ndak nunak janji tujuah malam. Ini la tinggal empat malam." Perintah Rajo Nago minta antatkah Puteri Kembang Remigo ke tepi mandian. Mo la siap ajung Puteri mantau Rajo Nago, pacak Rajo Nago napatkahnyo (Ikan besak bepesan ngan jemo tuo). Datangan Jemo tuo ni tadi, disampaikah pesan rajo Nago ngan Rajo Ulu Sungai.''
(Mendengar kabar dari ikan kecil, membuat Raja Naga marah. Lalu Raja Naga memerintahkan ikan besar untuk menyampaikan pesan untuk Raja Ulu Sungai. Sesampainya di sana, ikan besar bertemu dengan orang tua yang ingin mandi. "Wahai Saudara, aku membawa kabar dari Raja Naga untuk Raja Ulu Sungai. Apakah benar Puteri Kembang Remigo akan menikah dalam waktu tujuh malam ke depan? Sedangkan ini sudah malam keempat, Raja Naga untuk berpesan untuk membawakan Puteri Kembang Remigo ke tepi pemandian dan jika sudah siap, Puteri Kembang Remigo silakan memanggil Raja Naga, Raja Naga sendiri yang akan menjemputnya," kata ikan besar. Akhirnya, orang tua ini tadi langsung menyampaikan pesan dari Raja Naga ke Raja Ulu Sungai.)
''Nengagh pesan jak Rajo Nago, nyo mintak antatkah Puteri Kembang Remigo. Rajo Ulu Sungai ni masang akal disiuak i lah Degenam batan nggantikah Puteri Kembang Remigo. Sampai ke tepi aiak, mantau la Degenam nyamar jadi Puteri, "Uy si Rajo Nago, dapat ka aku di tepi laman mandian," gaikan Degenam. Mangko ditimbalinyo jugo ngan Rajo Nago. Kato Rajo Nago, "Kalu lembagh sampai ke aiak, tintingkan tanggai menungkat langit." Udim itu diuraika nian gumbak ngan Degenam tapi nido sampai ke aiak, ditintingkan tanggai nido pulo bemuni.''
(Mendengar pesan dari Raja Naga, dia meminta diantarkan Puteri Kembang Remigo. Raja Ulu Sungai mencari akal. Ia mendandani Degenam untuk menggantikan Puteri Kembang Remigo. Sesampainya di tepi air, Puteri Kembang Remigo mencoba memanggil Raja Naga. "Wahai Kakak si Raja Naga, jemput aku di tepi sungai ini," Teriak Degenam. Mendengar panggilan tersebut, Raja Naga menjawab, "Kalau kamu memang Puteri Kembang Remigo, coba uraikan rambutmu sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu menghadap langit." Lalu Degenam mencoba menguraikan rambutnya, akan tetapi tidak sampai ke air, hanya sebatas pundak. Dijentikkan kuku panjangnya menghadap ke langit akan tetapi tidak ada bunyi terdengar.)
''"Nido, nido cak itu kaba Puteri Kembang remigo," Rajo Nago ngangat. Datang Rajo Nago diajung o la anak bua o ngeruanka Puteri Kembang Remigo apo nido. Pas dikinaki nyegui Degenam. Datang anak bua Rajo Nago disampaikah ngan Rajo Nago.''
(Bukan, tidak seperti itu Puteri Kembang Remigo," Raja Naga memanas. Datang Raja Naga dan disuruhnyalah anak buahnya untuk mengetahui Puteri Kembang Remigo apa bukan. Saat dilihat ternyata Degenam dengan tampilan berantakan. Datanglah anak buah Raja Naga disampaikanlah dengan Raja Naga.)
''"Nido Puteri Kembang Remigo, tapi Degenam, nyo nunggu di tepi mandian tu Rajo Nago."''
(Bukan Puteri Kembang Remigo, tetapi Degenam. Dia menunggu di tepi mandian, Raja Naga)
''"Bantingka di situa, Degenam," perintah Rajo. Datang anak bua Rajo Nago dibanting o nggut nyangsai Degenam ni tadi. La nangsai mangko dipesankah nyo batan Rajo Ulu Sungai lewat Degenam. "Kalu nido diantatka dalam duo aghi mangko dusun ni dighendam o ngan aiak," pesan Rajo Nago.''
("Banting di situ, Degenam," perintah Raja. Datang anak buah Raja Naga, dibantingnya Degenam hingga jera. Kemudian Degenam diperintahkan menyampaikan pesan untuk disampaikan ke Raja Ulu Sungai yaitu kalau Puteri Kembang Remigo dalam dua hari ini tidak diantarkan ke Raja Naga, maka Desa Ulu Sungai akan terkena banjir yang teramat besar)
''Degenam tadi baliak nyampaikah pesan Rajo Nago. Nengagh itu bukan o nurut malah Rajo melawan, Puteri Kembang Remigo nido diantatkah. Rajo Nago ngangat meraso diremehka, dilantak kah nyo ujan deghas teghendam la galo guma sedusun. Mangko jemo sedusun banyak tu datang la ke guma Rajo, kato jemo tu.''
(Degenam langsung menyampaikan pesan Raja Naga. Mendengar itu bukannya nurut, malah Raja Naga melawan, Puteri Kembang Remigo tidak diantarkan. Raja Naga memanas merasa diremehkan, diturunkannya hujan deras dan terendam semua rumah-rumah. Jadi, orang sedesa yang banyak itu datang ke rumah Raja, kata orang itu).
''"Luak mano kito ni, Mamak? aiak ni makin lamo makin besak bae, ingunan la mati galo."''
(Kita harus bagaimana ini, Bu? Air ini semakin lama semakin besar aja, hewan peliharaan sudah mati semua)
''Bemuni la Puteri Kembang Remigo, "Bapak, antatkah la aku ni ke tepi mandian."''
(Bilanglah Puteri Kembang Remigo ke bapaknya, "Bapak, antarkan aku ini ke tepi mandian.")
''"Luak mano kaba ru akap kaba ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung jak berang sano laut."''
("Bagaimana kamu ini, pagi-pagi kamu itu mau menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut.")
''Dijawab o ngan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kito mati galo, ajung la Rajo Nago tu susut kan la aiak, panas kan la aghi gancang akap-akap, mangko antatkah la aku ke tepi aiak."''
(Dijawabnya dengan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kita meninggal semua, suruhlah Raja Naga itu untuk menyusutkan air dan esok pagi panaskan cuaca dengan suhu tinggi dan jemput aku di tepi mandian)
''Disampaika la ke Rajo Nago pesan Puteri ni, mangko disusutkan o aiak, akap-akap o panas.''
(Disampaikan pesan Puteri dengan Raja Naga dan kemudian dia menyusutkan air, paginya biar cuacanya panas)
''"Aku agam ngan kaba, Nak, tapi janji harus ditepati. Mo nido nyelah ni jadia, Nak," kato Rajo.''
(Aku sayang dengan kamu, Nak. Tetapi janji harus ditepati. Kalau tidak benar seperti ini ya apa boleh buat, Nak," kata Raja.
''Puteri Kembang Remigo akap o diantatkah ke tepi mandian ngan batak jamuan. Mangko datangan Puteri Kembang Remigo dipanggil o la Rajo Nago.''
(Pada suatu pagi, Puteri Kembang Remigo diantarkan ke tepi mandian dengan membawa perjamuan. Kemudian, datanglah Puteri Kembang Remigo ketika dipanggil oleh Raja Naga)
''"Nago belang, Nago brandi iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu perang kuday nian aku la benamo Puteri Kembang Remigo, dapat ka aku di tepi mandian."''
("Nago Belang, Nago brandi, iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu prang dulu sekali aku la bernamo Puteri Kembang Remigo, jemputlah aku di tepi mandian")[Puteri Kembang Remigo membaca mantra]
''Kato Rajo Nago, "Ngapo luak suaro Puteri Kembang Remigo manggilku?"''
(Kata Raja Naga, "Kenapa kok seperti suara Puteri Kembang Remigo memanggil aku?")
''"Tando Putri Kembang Remigo nian uraika gumbak panjang 16 helai nggut sampai ke aiak, tintingkan tanggai munio nerungkat langit."''
(Jika kamu benar-benar Puteri Kembang Remigo, uraikan rambut sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu hingga bersuara dan menghadap ke langit)
''Diuraika nyo gumbak dengan Puteri Kembang Remigo. Yak nyampai nian ke aiak, mangko ditintingkan nyo tanggai nerungkat langit, bemuni.''
(Rambut Puteri Kembang Remigo diuraikan dan benar saja rambutnya sampai menyentuh ke air dan ketika dijentikkan kukunya ke langit, ada suaranya)
''Na nyela nian Putri Kembang Remigo, di ajak o kawan kawan o ngan Rajo Nago batak njemput Puteri Kembang Remigo ni tadi.''
(Nah, benar sekali kalau itu Puteri Kembang Remigo. Diajaknya semua teman Raja Naga tadi untuk membawa Puteri Kembang Remigo)
''La betenga pejalanan aiak tu nganyut ke ulu. Na kato Puteri Kembang Remigo, "la ndak sampai, Rajo Nago. Jemo la siap galo nunggu kedatangan Rajo Nago."''
(Sudah di tengah perjalanan, air terlihat mengalir ke ulu. "Kita mau sampai. Orang-orang siap menunggu kedatangan Raja Naga," kata Putri Kembang Remigo)
''Lum lamo datang nian Rajo Nago tujuah ikuak tando Rajo Nago nian calai tanduak emas besisiak emas, sampai la Rajo Nago. Sampai tu dalam wujud manusio, rupo budak bujang besak tinggi putiah. Disalami nyo jemo banyak u, dipamitkahnyo dengan rajo, "Aku ni nemuni janji Rajo Ulu Sungai, saghini aku ndak mataki Puteri Kembang Remigo ke seberang laut batan jadi bini ku,"''
(Belum lama datang, Raja Naga pun tiba dengan menunjukkan ciri khasnya memakai tanduk emas dan bersisik emas. Namun, ketika sampai, ia berubah dalam wujud manusia, seperti lelaki muda berbadan besar, tinggi dan putih. Ia menyalami banyak orang, berpamitan kepada Raja, "Aku datang menagih janji Raja Ulu Sungai. Hari ini aku akan membawa Puteri Kembang Remigo ke seberang laut untuk menjadi istriku.")
''Rajo nido pacak mantah, akhiro dibataklah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut ngan Rajo Nago.''
(Raja tidak bisa membantah. Akhirnya, dibawalah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut dengan Raja Naga)
''Lum lamo itu, Rajo Nago dianugerahi anak tino lagi. Dienjuak namo Puteri Kembang Melugh''
(Belum lama itu, Raja Naga dianugerahi anak perempuan lagi. Kemudian, dikasih nama Puteri Kembang Melugh)
4b99sz8f6sh0dmhhdrltno44rp35267
116900
116899
2026-06-14T15:31:02Z
Ismaaatull
42809
116900
wikitext
text/x-wiki
[[File:Putri Kembang Remigo.ogg|thumb|Menceritakan seorang Puteri yang bernama Puteri Kembang Remigo yang menikah dengan Raja Naga]]
''Adolah Rajo ngan Penatia, nikah la lamo tapi anak lum jugo ado.''
(Ada sebuah cerita, seorang raja dan istrinya, Penatia. Mereka sudah lama menikah, tapi belum kunjung dianugerahi seorang anak.)
''Suatu aghi pegilah Rajo ni ke tepi laut, pantai namo o. Nginaklah ke arah laut cak diinaki banyak tegalau awan batan ujan di langit arah laut. "Mo ku ado anak kelo, jadia ku namo i Puteri Kembang Remigo. La besak ku enjuak ngan Rajo Nago," kato Rajo.''
(Suatu hari, Raja berjalan ke tepi pantai. Dia melihat ke arah laut. Ternyata di langit ada banyak awan hitam yang mengarah ke laut. "Kalau nanti aku punya anak, ku beri nama Puteri Kembang Remigo. Jika sudah besar nanti, akan ku berikan dengan Raja Naga.")
[[File:Desain puteri kembang remigo.png|thumb|Seorang raja dan istrinya melihat awan hitam di pantai dan menginginkan anak yang bernama Puteri kembang Remigo]]
''Lum lamo itu ado nian anak o, dinamoi lah Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lair, nido diajung o keluagh guma. Jemo dusun nido diajung o bemuni. Jangan ado nyo berkebar ngan jemo-jemo dusun seberang.
''
(Belum lama setelah itu, Raja dan Penatia dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lahir, Raja tidak mengizinkan untuk Puteri keluar rumah. Bahkan penduduk desa diperintahkan untuk tutup mulut, jangan sampai didengar dengan orang di desa seberang tentang keberadaan Puteri)
''La sebulan, duo bulan. La setahun, duo tahun kini la besak pulo Putri Kembang Remigo ni. Kato Rajo Nago, "Cubo, Kawan, ngiciakkah anak Bilis. Cubo kaba jaruakah kuday Puteri Kembang Remigo anak Rajo Ulu Sungai."''
(Sudah satu bulan, dua bulan. Satu tahun, dua tahun dan sekarang Puteri Kembang Remigo sudah besar. Raja Naga dari laut memerintahkan ikan kecil. "Teman, aku minta tolong coba kamu datang ke rumah Puteri Kembang Remigo anak Raja Ulu Sungai.")
''"Siap," kate o.''
("Siap," jawabnya.)
''Pegilah ikan Bilis ke ulu sungai, dikinaki ado la gegebay gi ngambiak aiak pakai gerigiak. Dimasuaki nyo ikan Bilis ke dalam gerigiak gegebay. Kebetulan gegebay tu ngambiak aiak batak ke guma Rajo, pas itu Puteri Kembang Remigo ndak nerimo lemang.''
(Setelah itu, ikan kecil pergi ke ulu sungai. Ternyata ada ibu-ibu sedang mengambil air menggunakan tempat air dari bambu. Ikan Bilis melompat masuk ke dalam tempat air tersebut dan kebetulan ibu-ibu mengambil air untuk dibawa ke rumah Raja karena Puteri Kembang Remigo akan menerima hantaran lemang (nasi dalam bambu).)
''Cak masuak ikan Bilis ke dalam guma Rajo, nengagh kicikan Rajo, "Nah kapo kaba ni begangan la di guma ni kareno Puteri Kembang Remigo ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung di berang sano laut, janji cuman tujuah malam. Jangan sampai keruan ngan Rajo Nago". "Ngapo pulo gerigiak bada ikan Bilis ni tadi tekibagh, nepecit melenting-melenting ngulang begilighan ke laut. Ikan Bilis ni tadi matak kabar batan Rajo Nago."''
(Di saat ikan kecil ini masuk ke rumah, ia mendengar perkataan Raja. "Nah, kalian silakan memasak jamuan di rumah ini, karena Puteri Kembang Remigo akan menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut dan waktu hanya tinggal 7 malam dan ingat jangan sampai berita ini terdengar dengan Raja Naga". Tiba-tiba tempat air yang di dalamnya ada ikan kecil tidak sengaja tumpah sehingga ikan kecil mengikuti tumpahan air dan kembali ke laut membawa kabar untuk Raja Naga).
''Sesampai o di bada Rajo Nago, "Rajo Nago kalu ndak Puteri Kembang Remigo, waktu cuman tujuah malam, jemo kini la mulai begangan," Ikan Bilis ngadu ke Rajo Nago.''
(Sesampainya di tempat Raja Naga. "Raja Naga, kalau mau Puteri Kembang Remigo waktu cuman 7 malam. Sekarang orang-orang sudah mulai menyiapkan jamuan untuk acara lamaran Puteri Kembang Remigo," lapor Ikan Bilis.)
''Nengagh aduan ikan Bilis, ngangat Rajo Nago ni. Diajung o la ikan besak batan nyampaikah pesan ke Rajo Ulu Sungai. Ikan besak langsung pegi nyampaikah pesan Rajo Nago. Cak sampai o, ketemulah ngan jemo tuo mpay ndak mandi. "Ui pindo, Kawan. Aku ni matak kabar jak di Rajo Nago. Puteri Kembang Remigo uji ndak nunak janji tujuah malam. Ini la tinggal empat malam." Perintah Rajo Nago minta antatkah Puteri Kembang Remigo ke tepi mandian. Mo la siap ajung Puteri mantau Rajo Nago, pacak Rajo Nago napatkahnyo (Ikan besak bepesan ngan jemo tuo). Datangan Jemo tuo ni tadi, disampaikah pesan rajo Nago ngan Rajo Ulu Sungai.''
(Mendengar kabar dari ikan kecil, membuat Raja Naga marah. Lalu Raja Naga memerintahkan ikan besar untuk menyampaikan pesan untuk Raja Ulu Sungai. Sesampainya di sana, ikan besar bertemu dengan orang tua yang ingin mandi. "Wahai Saudara, aku membawa kabar dari Raja Naga untuk Raja Ulu Sungai. Apakah benar Puteri Kembang Remigo akan menikah dalam waktu tujuh malam ke depan? Sedangkan ini sudah malam keempat, Raja Naga untuk berpesan untuk membawakan Puteri Kembang Remigo ke tepi pemandian dan jika sudah siap, Puteri Kembang Remigo silakan memanggil Raja Naga, Raja Naga sendiri yang akan menjemputnya," kata ikan besar. Akhirnya, orang tua ini tadi langsung menyampaikan pesan dari Raja Naga ke Raja Ulu Sungai.)
''Nengagh pesan jak Rajo Nago, nyo mintak antatkah Puteri Kembang Remigo. Rajo Ulu Sungai ni masang akal disiuak i lah Degenam batan nggantikah Puteri Kembang Remigo. Sampai ke tepi aiak, mantau la Degenam nyamar jadi Puteri, "Uy si Rajo Nago, dapat ka aku di tepi laman mandian," gaikan Degenam. Mangko ditimbalinyo jugo ngan Rajo Nago. Kato Rajo Nago, "Kalu lembagh sampai ke aiak, tintingkan tanggai menungkat langit." Udim itu diuraika nian gumbak ngan Degenam tapi nido sampai ke aiak, ditintingkan tanggai nido pulo bemuni.''
(Mendengar pesan dari Raja Naga, dia meminta diantarkan Puteri Kembang Remigo. Raja Ulu Sungai mencari akal. Ia mendandani Degenam untuk menggantikan Puteri Kembang Remigo. Sesampainya di tepi air, Puteri Kembang Remigo mencoba memanggil Raja Naga. "Wahai Kakak si Raja Naga, jemput aku di tepi sungai ini," Teriak Degenam. Mendengar panggilan tersebut, Raja Naga menjawab, "Kalau kamu memang Puteri Kembang Remigo, coba uraikan rambutmu sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu menghadap langit." Lalu Degenam mencoba menguraikan rambutnya, akan tetapi tidak sampai ke air, hanya sebatas pundak. Dijentikkan kuku panjangnya menghadap ke langit akan tetapi tidak ada bunyi terdengar.)
''"Nido, nido cak itu kaba Puteri Kembang remigo," Rajo Nago ngangat. Datang Rajo Nago diajung o la anak bua o ngeruanka Puteri Kembang Remigo apo nido. Pas dikinaki nyegui Degenam. Datang anak bua Rajo Nago disampaikah ngan Rajo Nago.''
(Bukan, tidak seperti itu Puteri Kembang Remigo," Raja Naga memanas. Datang Raja Naga dan disuruhnyalah anak buahnya untuk mengetahui Puteri Kembang Remigo apa bukan. Saat dilihat ternyata Degenam dengan tampilan berantakan. Datanglah anak buah Raja Naga disampaikanlah dengan Raja Naga.)
''"Nido Puteri Kembang Remigo, tapi Degenam, nyo nunggu di tepi mandian tu Rajo Nago."''
(Bukan Puteri Kembang Remigo, tetapi Degenam. Dia menunggu di tepi mandian, Raja Naga)
''"Bantingka di situa, Degenam," perintah Rajo. Datang anak bua Rajo Nago dibanting o nggut nyangsai Degenam ni tadi. La nangsai mangko dipesankah nyo batan Rajo Ulu Sungai lewat Degenam. "Kalu nido diantatka dalam duo aghi mangko dusun ni dighendam o ngan aiak," pesan Rajo Nago.''
("Banting di situ, Degenam," perintah Raja. Datang anak buah Raja Naga, dibantingnya Degenam hingga jera. Kemudian Degenam diperintahkan menyampaikan pesan untuk disampaikan ke Raja Ulu Sungai yaitu kalau Puteri Kembang Remigo dalam dua hari ini tidak diantarkan ke Raja Naga, maka Desa Ulu Sungai akan terkena banjir yang teramat besar)
''Degenam tadi baliak nyampaikah pesan Rajo Nago. Nengagh itu bukan o nurut malah Rajo melawan, Puteri Kembang Remigo nido diantatkah. Rajo Nago ngangat meraso diremehka, dilantak kah nyo ujan deghas teghendam la galo guma sedusun. Mangko jemo sedusun banyak tu datang la ke guma Rajo, kato jemo tu.''
(Degenam langsung menyampaikan pesan Raja Naga. Mendengar itu bukannya nurut, malah Raja Naga melawan, Puteri Kembang Remigo tidak diantarkan. Raja Naga memanas merasa diremehkan, diturunkannya hujan deras dan terendam semua rumah-rumah. Jadi, orang sedesa yang banyak itu datang ke rumah Raja, kata orang itu).
''"Luak mano kito ni, Mamak? aiak ni makin lamo makin besak bae, ingunan la mati galo."''
(Kita harus bagaimana ini, Bu? Air ini semakin lama semakin besar aja, hewan peliharaan sudah mati semua)
''Bemuni la Puteri Kembang Remigo, "Bapak, antatkah la aku ni ke tepi mandian."''
(Bilanglah Puteri Kembang Remigo ke bapaknya, "Bapak, antarkan aku ini ke tepi mandian.")
''"Luak mano kaba ru akap kaba ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung jak berang sano laut."''
("Bagaimana kamu ini, pagi-pagi kamu itu mau menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut.")
''Dijawab o ngan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kito mati galo, ajung la Rajo Nago tu susut kan la aiak, panas kan la aghi gancang akap-akap, mangko antatkah la aku ke tepi aiak."''
(Dijawabnya dengan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kita meninggal semua, suruhlah Raja Naga itu untuk menyusutkan air dan esok pagi panaskan cuaca dengan suhu tinggi dan jemput aku di tepi mandian)
''Disampaika la ke Rajo Nago pesan Puteri ni, mangko disusutkan o aiak, akap-akap o panas.''
(Disampaikan pesan Puteri dengan Raja Naga dan kemudian dia menyusutkan air, paginya biar cuacanya panas)
''"Aku agam ngan kaba, Nak, tapi janji harus ditepati. Mo nido nyelah ni jadia, Nak," kato Rajo.''
(Aku sayang dengan kamu, Nak. Tetapi janji harus ditepati. Kalau tidak benar seperti ini ya apa boleh buat, Nak," kata Raja.
''Puteri Kembang Remigo akap o diantatkah ke tepi mandian ngan batak jamuan. Mangko datangan Puteri Kembang Remigo dipanggil o la Rajo Nago.''
(Pada suatu pagi, Puteri Kembang Remigo diantarkan ke tepi mandian dengan membawa perjamuan. Kemudian, datanglah Puteri Kembang Remigo ketika dipanggil oleh Raja Naga)
''"Nago belang, Nago brandi iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu perang kuday nian aku la benamo Puteri Kembang Remigo, dapat ka aku di tepi mandian."''
("Nago Belang, Nago brandi, iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu prang dulu sekali aku la bernamo Puteri Kembang Remigo, jemputlah aku di tepi mandian")[Puteri Kembang Remigo membaca mantra]
''Kato Rajo Nago, "Ngapo luak suaro Puteri Kembang Remigo manggilku?"''
(Kata Raja Naga, "Kenapa kok seperti suara Puteri Kembang Remigo memanggil aku?")
''"Tando Putri Kembang Remigo nian uraika gumbak panjang 16 helai nggut sampai ke aiak, tintingkan tanggai munio nerungkat langit."''
(Jika kamu benar-benar Puteri Kembang Remigo, uraikan rambut sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu hingga bersuara dan menghadap ke langit)
''Diuraika nyo gumbak dengan Puteri Kembang Remigo. Yak nyampai nian ke aiak, mangko ditintingkan nyo tanggai nerungkat langit, bemuni.''
(Rambut Puteri Kembang Remigo diuraikan dan benar saja rambutnya sampai menyentuh ke air dan ketika dijentikkan kukunya ke langit, ada suaranya)
''Na nyela nian Putri Kembang Remigo, di ajak o kawan kawan o ngan Rajo Nago batak njemput Puteri Kembang Remigo ni tadi.''
(Nah, benar sekali kalau itu Puteri Kembang Remigo. Diajaknya semua teman Raja Naga tadi untuk membawa Puteri Kembang Remigo)
''La betenga pejalanan aiak tu nganyut ke ulu. Na kato Puteri Kembang Remigo, "la ndak sampai, Rajo Nago. Jemo la siap galo nunggu kedatangan Rajo Nago."''
(Sudah di tengah perjalanan, air terlihat mengalir ke ulu. "Kita mau sampai. Orang-orang siap menunggu kedatangan Raja Naga," kata Putri Kembang Remigo)
''Lum lamo datang nian Rajo Nago tujuah ikuak tando Rajo Nago nian calai tanduak emas besisiak emas, sampai la Rajo Nago. Sampai tu dalam wujud manusio, rupo budak bujang besak tinggi putiah. Disalami nyo jemo banyak u, dipamitkahnyo dengan rajo, "Aku ni nemuni janji Rajo Ulu Sungai, saghini aku ndak mataki Puteri Kembang Remigo ke seberang laut batan jadi bini ku,"''
(Belum lama datang, Raja Naga pun tiba dengan menunjukkan ciri khasnya memakai tanduk emas dan bersisik emas. Namun, ketika sampai, ia berubah dalam wujud manusia, seperti lelaki muda berbadan besar, tinggi dan putih. Ia menyalami banyak orang, berpamitan kepada Raja, "Aku datang menagih janji Raja Ulu Sungai. Hari ini aku akan membawa Puteri Kembang Remigo ke seberang laut untuk menjadi istriku.")
''Rajo nido pacak mantah, akhiro dibataklah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut ngan Rajo Nago.''
(Raja tidak bisa membantah. Akhirnya, dibawalah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut dengan Raja Naga)
''Lum lamo itu, Rajo Nago dianugerahi anak tino lagi. Dienjuak namo Puteri Kembang Melugh''
(Belum lama itu, Raja Naga dianugerahi anak perempuan lagi. Kemudian, dikasih nama Puteri Kembang Melugh)
k7jvwuhryo09y7a47qt7ic4dl55q1t3
116907
116900
2026-06-15T03:26:57Z
Ismaaatull
42809
116907
wikitext
text/x-wiki
[[File:Putri Kembang Remigo.ogg|thumb|Menceritakan seorang Puteri yang bernama Puteri Kembang Remigo yang menikah dengan Raja Naga]]
''Adolah Rajo ngan Penatia, nikah la lamo tapi anak lum jugo ado.''
(Ada sebuah cerita, seorang raja dan istrinya, Penatia. Mereka sudah lama menikah, tapi belum kunjung dianugerahi seorang anak.)
''Suatu aghi pegilah Rajo ni ke tepi laut, pantai namo o. Nginaklah ke arah laut cak diinaki banyak tegalau awan batan ujan di langit arah laut. "Mo ku ado anak kelo, jadia ku namo i Puteri Kembang Remigo. La besak ku enjuak ngan Rajo Nago," kato Rajo.''
(Suatu hari, Raja berjalan ke tepi pantai. Dia melihat ke arah laut. Ternyata di langit ada banyak awan hitam yang mengarah ke laut. "Kalau nanti aku punya anak, ku beri nama Puteri Kembang Remigo. Jika sudah besar nanti, akan ku berikan dengan Raja Naga.")
[[File:Desain puteri kembang remigo.png|thumb|Seorang raja dan istrinya melihat awan hitam di pantai dan menginginkan anak yang bernama Puteri kembang Remigo]]
''Lum lamo itu ado nian anak o, dinamoi lah Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lair, nido diajung o keluagh guma. Jemo dusun nido diajung o bemuni. Jangan ado nyo berkebar ngan jemo-jemo dusun seberang.
''
(Belum lama setelah itu, Raja dan Penatia dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lahir, Raja tidak mengizinkan untuk Puteri keluar rumah. Bahkan penduduk desa diperintahkan untuk tutup mulut, jangan sampai didengar dengan orang di desa seberang tentang keberadaan Puteri)
''La sebulan, duo bulan. La setahun, duo tahun kini la besak pulo Putri Kembang Remigo ni. Kato Rajo Nago, "Cubo, Kawan, ngiciakkah anak Bilis. Cubo kaba jaruakah kuday Puteri Kembang Remigo anak Rajo Ulu Sungai."''
(Sudah satu bulan, dua bulan. Satu tahun, dua tahun dan sekarang Puteri Kembang Remigo sudah besar. Raja Naga dari laut memerintahkan ikan kecil. "Teman, aku minta tolong coba kamu datang ke rumah Puteri Kembang Remigo anak Raja Ulu Sungai.")
''"Siap," kate o.''
("Siap," jawabnya.)
''Pegilah ikan Bilis ke ulu sungai, dikinaki ado la gegebay gi ngambiak aiak pakai gerigiak. Dimasuaki nyo ikan Bilis ke dalam gerigiak gegebay. Kebetulan gegebay tu ngambiak aiak batak ke guma Rajo, pas itu Puteri Kembang Remigo ndak nerimo lemang.''
(Setelah itu, ikan kecil pergi ke ulu sungai. Ternyata ada ibu-ibu sedang mengambil air menggunakan tempat air dari bambu. Ikan Bilis melompat masuk ke dalam tempat air tersebut dan kebetulan ibu-ibu mengambil air untuk dibawa ke rumah Raja karena Puteri Kembang Remigo akan menerima hantaran lemang (nasi dalam bambu).)
''Cak masuak ikan Bilis ke dalam guma Rajo, nengagh kicikan Rajo, "Nah kapo kaba ni begangan la di guma ni kareno Puteri Kembang Remigo ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung di berang sano laut, janji cuman tujuah malam. Jangan sampai keruan ngan Rajo Nago". "Ngapo pulo gerigiak bada ikan Bilis ni tadi tekibagh, nepecit melenting-melenting ngulang begilighan ke laut. Ikan Bilis ni tadi matak kabar batan Rajo Nago."''
(Di saat ikan kecil ini masuk ke rumah, ia mendengar perkataan Raja. "Nah, kalian silakan memasak jamuan di rumah ini, karena Puteri Kembang Remigo akan menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut dan waktu hanya tinggal 7 malam dan ingat jangan sampai berita ini terdengar dengan Raja Naga". Tiba-tiba tempat air yang di dalamnya ada ikan kecil tidak sengaja tumpah sehingga ikan kecil mengikuti tumpahan air dan kembali ke laut membawa kabar untuk Raja Naga).
''Sesampai o di bada Rajo Nago, "Rajo Nago kalu ndak Puteri Kembang Remigo, waktu cuman tujuah malam, jemo kini la mulai begangan," Ikan Bilis ngadu ke Rajo Nago.''
(Sesampainya di tempat Raja Naga. "Raja Naga, kalau mau Puteri Kembang Remigo waktu cuman 7 malam. Sekarang orang-orang sudah mulai menyiapkan jamuan untuk acara lamaran Puteri Kembang Remigo," lapor Ikan Bilis.)
''Nengagh aduan ikan Bilis, ngangat Rajo Nago ni. Diajung o la ikan besak batan nyampaikah pesan ke Rajo Ulu Sungai. Ikan besak langsung pegi nyampaikah pesan Rajo Nago. Cak sampai o, ketemulah ngan jemo tuo mpay ndak mandi. "Ui pindo, Kawan. Aku ni matak kabar jak di Rajo Nago. Puteri Kembang Remigo uji ndak nunak janji tujuah malam. Ini la tinggal empat malam." Perintah Rajo Nago minta antatkah Puteri Kembang Remigo ke tepi mandian. Mo la siap ajung Puteri mantau Rajo Nago, pacak Rajo Nago napatkahnyo (Ikan besak bepesan ngan jemo tuo). Datangan Jemo tuo ni tadi, disampaikah pesan rajo Nago ngan Rajo Ulu Sungai.''
(Mendengar kabar dari ikan kecil, membuat Raja Naga marah. Lalu Raja Naga memerintahkan ikan besar untuk menyampaikan pesan untuk Raja Ulu Sungai. Sesampainya di sana, ikan besar bertemu dengan orang tua yang ingin mandi. "Wahai Saudara, aku membawa kabar dari Raja Naga untuk Raja Ulu Sungai. Apakah benar Puteri Kembang Remigo akan menikah dalam waktu tujuh malam ke depan? Sedangkan ini sudah malam keempat, Raja Naga untuk berpesan untuk membawakan Puteri Kembang Remigo ke tepi pemandian dan jika sudah siap, Puteri Kembang Remigo silakan memanggil Raja Naga, Raja Naga sendiri yang akan menjemputnya," kata ikan besar. Akhirnya, orang tua ini tadi langsung menyampaikan pesan dari Raja Naga ke Raja Ulu Sungai.)
''Nengagh pesan jak Rajo Nago, nyo mintak antatkah Puteri Kembang Remigo. Rajo Ulu Sungai ni masang akal disiuak i lah Degenam batan nggantikah Puteri Kembang Remigo. Sampai ke tepi aiak, mantau la Degenam nyamar jadi Puteri, "Uy si Rajo Nago, dapat ka aku di tepi laman mandian," gaikan Degenam. Mangko ditimbalinyo jugo ngan Rajo Nago. Kato Rajo Nago, "Kalu lembagh sampai ke aiak, tintingkan tanggai menungkat langit." Udim itu diuraika nian gumbak ngan Degenam tapi nido sampai ke aiak, ditintingkan tanggai nido pulo bemuni.''
(Mendengar pesan dari Raja Naga, dia meminta diantarkan Puteri Kembang Remigo. Raja Ulu Sungai mencari akal. Ia mendandani Degenam untuk menggantikan Puteri Kembang Remigo. Sesampainya di tepi air, Puteri Kembang Remigo mencoba memanggil Raja Naga. "Wahai Kakak si Raja Naga, jemput aku di tepi sungai ini," Teriak Degenam. Mendengar panggilan tersebut, Raja Naga menjawab, "Kalau kamu memang Puteri Kembang Remigo, coba uraikan rambutmu sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu menghadap langit." Lalu Degenam mencoba menguraikan rambutnya, akan tetapi tidak sampai ke air, hanya sebatas pundak. Dijentikkan kuku panjangnya menghadap ke langit akan tetapi tidak ada bunyi terdengar.)
''"Nido, nido cak itu kaba Puteri Kembang remigo," Rajo Nago ngangat. Datang Rajo Nago diajung o la anak bua o ngeruanka Puteri Kembang Remigo apo nido. Pas dikinaki nyegui Degenam. Datang anak bua Rajo Nago disampaikah ngan Rajo Nago.''
(Bukan, tidak seperti itu Puteri Kembang Remigo," Raja Naga memanas. Datang Raja Naga dan disuruhnyalah anak buahnya untuk mengetahui Puteri Kembang Remigo apa bukan. Saat dilihat ternyata Degenam dengan tampilan berantakan. Datanglah anak buah Raja Naga disampaikanlah dengan Raja Naga.)
''"Nido Puteri Kembang Remigo, tapi Degenam, nyo nunggu di tepi mandian tu Rajo Nago."''
(Bukan Puteri Kembang Remigo, tetapi Degenam. Dia menunggu di tepi mandian, Raja Naga)
''"Bantingka di situa, Degenam," perintah Rajo. Datang anak bua Rajo Nago dibanting o nggut nyangsai Degenam ni tadi. La nangsai mangko dipesankah nyo batan Rajo Ulu Sungai lewat Degenam. "Kalu nido diantatka dalam duo aghi mangko dusun ni dighendam o ngan aiak," pesan Rajo Nago.''
("Banting di situ, Degenam," perintah Raja. Datang anak buah Raja Naga, dibantingnya Degenam hingga jera. Kemudian Degenam diperintahkan menyampaikan pesan untuk disampaikan ke Raja Ulu Sungai yaitu kalau Puteri Kembang Remigo dalam dua hari ini tidak diantarkan ke Raja Naga, maka Desa Ulu Sungai akan terkena banjir yang teramat besar)
''Degenam tadi baliak nyampaikah pesan Rajo Nago. Nengagh itu bukan o nurut malah Rajo melawan, Puteri Kembang Remigo nido diantatkah. Rajo Nago ngangat meraso diremehka, dilantak kah nyo ujan deghas teghendam la galo guma sedusun. Mangko jemo sedusun banyak tu datang la ke guma Rajo, kato jemo tu.''
(Degenam langsung menyampaikan pesan Raja Naga. Mendengar itu bukannya nurut, malah Raja Naga melawan, Puteri Kembang Remigo tidak diantarkan. Raja Naga memanas merasa diremehkan, diturunkannya hujan deras dan terendam semua rumah-rumah. Jadi, orang sedesa yang banyak itu datang ke rumah Raja, kata orang itu).
''"Luak mano kito ni, Mamak? aiak ni makin lamo makin besak bae, ingunan la mati galo."''
(Kita harus bagaimana ini, Bu? Air ini semakin lama semakin besar aja, hewan peliharaan sudah mati semua)
''Bemuni la Puteri Kembang Remigo, "Bapak, antatkah la aku ni ke tepi mandian."''
(Bilanglah Puteri Kembang Remigo ke bapaknya, "Bapak, antarkan aku ini ke tepi mandian.")
''"Luak mano kaba ru akap kaba ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung jak berang sano laut."''
("Bagaimana kamu ini, pagi-pagi kamu itu mau menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut.")
''Dijawab o ngan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kito mati galo, ajung la Rajo Nago tu susut kan la aiak, panas kan la aghi gancang akap-akap, mangko antatkah la aku ke tepi aiak."''
(Dijawabnya dengan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kita meninggal semua, suruhlah Raja Naga itu untuk menyusutkan air dan esok pagi panaskan cuaca dengan suhu tinggi dan jemput aku di tepi mandian)
''Disampaika la ke Rajo Nago pesan Puteri ni, mangko disusutkan o aiak, akap-akap o panas.''
(Disampaikan pesan Puteri dengan Raja Naga dan kemudian dia menyusutkan air, paginya biar cuacanya panas)
''"Aku agam ngan kaba, Nak, tapi janji harus ditepati. Mo nido nyelah ni jadia, Nak," kato Rajo.''
(Aku sayang dengan kamu, Nak. Tetapi janji harus ditepati. Kalau tidak benar seperti ini ya apa boleh buat, Nak," kata Raja.
''Puteri Kembang Remigo akap o diantatkah ke tepi mandian ngan batak jamuan. Mangko datangan Puteri Kembang Remigo dipanggil o la Rajo Nago.''
(Pada suatu pagi, Puteri Kembang Remigo diantarkan ke tepi mandian dengan membawa perjamuan. Kemudian, datanglah Puteri Kembang Remigo ketika dipanggil oleh Raja Naga)
''"Nago belang, Nago brandi iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu perang kuday nian aku la benamo Puteri Kembang Remigo, dapat ka aku di tepi mandian."''
("Nago Belang, Nago brandi, iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu prang dulu sekali aku la bernamo Puteri Kembang Remigo, jemputlah aku di tepi mandian")[Puteri Kembang Remigo membaca mantra]
''Kato Rajo Nago, "Ngapo luak suaro Puteri Kembang Remigo manggilku?"''
(Kata Raja Naga, "Kenapa kok seperti suara Puteri Kembang Remigo memanggil aku?")
''"Tando Putri Kembang Remigo nian uraika gumbak panjang 16 helai nggut sampai ke aiak, tintingkan tanggai munio nerungkat langit."''
(Jika kamu benar-benar Puteri Kembang Remigo, uraikan rambut sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu hingga bersuara sampai ke langit)
''Diuraika nyo gumbak dengan Puteri Kembang Remigo. Yak nyampai nian ke aiak, mangko ditintingkan nyo tanggai nerungkat langit, bemuni.''
(Rambut Puteri Kembang Remigo diuraikan dan benar saja rambutnya sampai menyentuh ke air dan ketika dijentikkan kukunya ke langit, ada suaranya)
''Na nyela nian Putri Kembang Remigo, di ajak o kawan kawan o ngan Rajo Nago batak njemput Puteri Kembang Remigo ni tadi.''
(Nah, benar sekali kalau itu Puteri Kembang Remigo. Diajaknya semua teman Raja Naga tadi untuk membawa Puteri Kembang Remigo)
''La betenga pejalanan aiak tu nganyut ke ulu. Na kato Puteri Kembang Remigo, "la ndak sampai, Rajo Nago. Jemo la siap galo nunggu kedatangan Rajo Nago."''
(Sudah di tengah perjalanan, air terlihat mengalir ke ulu. "Kita mau sampai. Orang-orang siap menunggu kedatangan Raja Naga," kata Putri Kembang Remigo)
''Lum lamo datang nian Rajo Nago tujuah ikuak tando Rajo Nago nian calai tanduak emas besisiak emas, sampai la Rajo Nago. Sampai tu dalam wujud manusio, rupo budak bujang besak tinggi putiah. Disalami nyo jemo banyak u, dipamitkahnyo dengan rajo, "Aku ni nemuni janji Rajo Ulu Sungai, saghini aku ndak mataki Puteri Kembang Remigo ke seberang laut batan jadi bini ku,"''
(Belum lama datang, Raja Naga pun tiba dengan menunjukkan ciri khasnya memakai tanduk emas dan bersisik emas. Namun, ketika sampai, ia berubah dalam wujud manusia, seperti lelaki muda berbadan besar, tinggi dan putih. Ia menyalami banyak orang, berpamitan kepada Raja, "Aku datang menagih janji Raja Ulu Sungai. Hari ini aku akan membawa Puteri Kembang Remigo ke seberang laut untuk menjadi istriku.")
''Rajo nido pacak mantah, akhiro dibataklah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut ngan Rajo Nago.''
(Raja tidak bisa membantah. Akhirnya, dibawalah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut dengan Raja Naga)
''Lum lamo itu, Rajo Nago dianugerahi anak tino lagi. Dienjuak namo Puteri Kembang Melugh''
(Belum lama itu, Raja Naga dianugerahi anak perempuan lagi. Kemudian, dikasih nama Puteri Kembang Melugh)
7duxpjl0ldyfup5tzlkh1wgcmwoahv0
116912
116907
2026-06-15T05:06:46Z
Ismaaatull
42809
116912
wikitext
text/x-wiki
== Dongeng Putri Kembang Remigo ==
[[File:Putri Kembang Remigo.ogg|thumb|Menceritakan seorang Puteri yang bernama Puteri Kembang Remigo yang menikah dengan Raja Naga]]
''Adolah Rajo ngan Penatia, nikah la lamo tapi anak lum jugo ado.''
'''Ada sebuah cerita, seorang raja dan istrinya, Penatia. Mereka sudah lama menikah, tapi belum kunjung dianugerahi seorang anak.'''
''Suatu aghi pegilah Rajo ni ke tepi laut, pantai namo o. Nginaklah ke arah laut, ak diinaki banyak tegalau awan batan ujan di langit arah laut. "Mo ku ado anak kelo, jadia ku namo i Puteri Kembang Remigo. La besak ku enjuak ngan Rajo Nago," kato Rajo.''
'''Suatu hari, Raja berjalan ke tepi pantai. Dia melihat ke arah laut. Ternyata di langit ada banyak awan hitam yang mengarah ke laut. "Kalau nanti aku punya anak, ku beri nama Puteri Kembang Remigo. Jika sudah besar nanti, akan ku berikan dengan Raja Naga," kata Raja.'''
[[File:Desain puteri kembang remigo.png|thumb|Seorang raja dan istrinya melihat awan hitam di pantai dan menginginkan anak yang bernama Puteri kembang Remigo]]
''Lum lamo tu ado nian anak o, dinamoi lah Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lair, nido diajung o keluagh ghumah. Jemo dusun nido diajung o bemuni. Jangan ado nyo bekebar ngan jemo-jemo dusun seberang.
''
'''Belum lama setelah itu, Raja dan Penatia dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lahir, Raja tidak mengizinkan untuk Puteri keluar rumah. Bahkan penduduk desa diperintahkan untuk tutup mulut, jangan sampai didengar dengan orang di desa seberang tentang keberadaan Puteri'''
''La sebulan, duo bulan. La setahun, duo tahun kini la besak pulo Puteri Kembang Remigo ni. Kato Rajo Nago, "Cubo, Kawan, ngiciakkah anak Bilis. Cubo kaba jaruakah kuday Puteri Kembang Remigo anak Rajo Ulu Sungai."''
'''Sudah satu bulan, dua bulan. Satu tahun, dua tahun dan sekarang Puteri Kembang Remigo sudah besar. Raja Naga dari laut memerintahkan ikan kecil. "Teman, aku minta tolong coba kamu datang ke rumah Puteri Kembang Remigo anak Raja Ulu Sungai.'''"
''"Siap," kate o.''
'''"Siap," jawabnya'''.
''Pegilah ikan Bilis ke ulu sungai, dikinaki ado la gegebay gi ngambiak aiak pakai gerigiak. Dimasuaki nyo ikan Bilis ke dalam gerigiak gegebay. Kebetulan gegebay tu ngambiak aiak batak ke ghumah Rajo. Pas itu Puteri Kembang Remigo ndak nerimo lemang.''
'''Setelah itu, ikan kecil pergi ke ulu sungai. Ternyata ada ibu-ibu sedang mengambil air menggunakan tempat air dari bambu. Ikan Bilis melompat masuk ke dalam tempat air tersebut dan kebetulan ibu-ibu mengambil air untuk dibawa ke rumah Raja karena Puteri Kembang Remigo akan menerima hantaran lemang (nasi dalam bambu).'''
''Cak masuak ikan Bilis ke dalam ghumah Rajo. Nengagh kicikan Rajo, "Nah kapo kaba ni begangan la di ghumah ni karno Puteri Kembang Remigo ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung di berang sano laut, janji cuman tujuah malam. Jangan sampai keruan ngan Rajo Nago". Tetibo gerigiak bada ikan Bilis ni tadi tekibagh, nepecit melenting-melenting ngulang begilighan ke laut. (Ikan Bilis ni tadi matak kabar batan Rajo Nago)."''
'''Di saat ikan kecil ini masuk ke rumah, ia mendengar perkataan Raja. "Nah, kalian silakan memasak jamuan di rumah ini, karena Puteri Kembang Remigo akan menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut dan waktu hanya tinggal 7 malam dan ingat jangan sampai berita ini terdengar dengan Raja Naga". Tiba-tiba tempat air yang di dalamnya ada ikan kecil tidak sengaja tumpah sehingga ikan kecil mengikuti tumpahan air dan kembali ke laut membawa kabar untuk Raja Naga.'''
''Sesampai o di bada Rajo Nago, "Rajo Nago kalu ndak Puteri Kembang Remigo, waktu cuman tujuah malam, jemo kini la mulai begangan," Ikan Bilis ngadu ke Rajo Nago.''
'''Sesampainya di tempat Raja Naga. "Raja Naga, kalau mau Puteri Kembang Remigo waktu cuman 7 malam. Sekarang orang-orang sudah mulai menyiapkan jamuan untuk acara lamaran Puteri Kembang Remigo," lapor Ikan Bilis.'''
''Nengagh aduan ikan Bilis, ngangat Rajo Nago ni. Diajung o la ikan besak batan nyampaikah pesan ke Rajo Ulu Sungai. Ikan besak langsung pegi nyampaikah pesan Rajo Nago. Cak sampai o, ketemulah ngan jemo tuo mpay ndak mandi. "Ui pindo, Kawan. Aku ni matak kabar jak di Rajo Nago. Puteri Kembang Remigo uji ndak nunak janji tujuah malam. Ini la tinggal empat malam." Perintah Rajo Nago minta antatkah Puteri Kembang Remigo ke tepi mandian. Mo la siap ajung Puteri mantau Rajo Nago, pacak Rajo Nago napatkahnyo (Ikan besak bepesan ngan jemo tuo). Datangan Jemo tuo ni tadi, disampaikah pesan rajo Nago ngan Rajo Ulu Sungai.''
'''Mendengar kabar dari ikan kecil, membuat Raja Naga marah. Lalu Raja Naga memerintahkan ikan besar untuk menyampaikan pesan untuk Raja Ulu Sungai. Sesampainya di sana, ikan besar bertemu dengan orang tua yang ingin mandi. "Wahai Saudara, aku membawa kabar dari Raja Naga untuk Raja Ulu Sungai. Apakah benar Puteri Kembang Remigo akan menikah dalam waktu tujuh malam ke depan? Sedangkan ini sudah malam keempat, Raja Naga untuk berpesan untuk membawakan Puteri Kembang Remigo ke tepi pemandian dan jika sudah siap, Puteri Kembang Remigo silakan memanggil Raja Naga, Raja Naga sendiri yang akan menjemputnya," kata ikan besar. Akhirnya, orang tua ini tadi langsung menyampaikan pesan dari Raja Naga ke Raja Ulu Sungai.'''
''Nengagh pesan jak Rajo Nago, nyo mintak antatkah Puteri Kembang Remigo. Rajo Ulu Sungai ni masang akal disiuak i lah Degenam batan nggantikah Puteri Kembang Remigo. Sampai ke tepi aiak, mantau la Degenam nyamar jadi Puteri, "Uy si Rajo Nago, dapat ka aku di tepi laman mandian," gaikan Degenam. Mangko ditimbalinyo jugo ngan Rajo Nago. Kato Rajo Nago, "Kalu lembagh sampai ke aiak, tintingkan tanggai menungkat langit." Udim itu diuraika nian gumbak ngan Degenam tapi nido sampai ke aiak, ditintingkan tanggai nido pulo bemuni.''
'''Mendengar pesan dari Raja Naga, dia meminta diantarkan Puteri Kembang Remigo. Raja Ulu Sungai mencari akal. Ia mendandani Degenam untuk menggantikan Puteri Kembang Remigo. Sesampainya di tepi air, Puteri Kembang Remigo mencoba memanggil Raja Naga. "Wahai Kakak si Raja Naga, jemput aku di tepi sungai ini," Teriak Degenam. Mendengar panggilan tersebut, Raja Naga menjawab, "Kalau kamu memang Puteri Kembang Remigo, coba uraikan rambutmu sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu menghadap langit." Lalu Degenam mencoba menguraikan rambutnya, akan tetapi tidak sampai ke air, hanya sebatas pundak. Dijentikkan kuku panjangnya menghadap ke langit akan tetapi tidak ada bunyi terdengar.'''
''"Nido, nido cak itu kaba Puteri Kembang Remigo," Rajo Nago ngangat. Datang Rajo Nago diajung o la anak bua o ngeruanka Puteri Kembang Remigo apo nido. Pas dikinaki nyegui Degenam. Datang anak bua Rajo Nago disampaikah ngan Rajo Nago.''
'''Bukan, tidak seperti itu Puteri Kembang Remigo," Raja Naga memanas. Datang Raja Naga dan disuruhnyalah anak buahnya untuk mengetahui Puteri Kembang Remigo apa bukan. Saat dilihat ternyata Degenam dengan tampilan berantakan. Datanglah anak buah Raja Naga disampaikanlah dengan Raja Naga.'''
''"Nido Puteri Kembang Remigo, tapi Degenam, nyo nunggu di tepi mandian tu Rajo Nago."''
'''Bukan Puteri Kembang Remigo, tetapi Degenam. Dia menunggu di tepi mandian, Raja Naga.'''
''"Bantingka di situa, Degenam," perintah Rajo. Datang anak bua Rajo Nago dibanting o nggut nyangsai Degenam ni tadi. La nangsai mangko dipesankah nyo batan Rajo Ulu Sungai lewat Degenam. "Kalu nido diantatka dalam duo aghi mangko dusun ni dighendam o ngan aiak," pesan Rajo Nago.''
'''"Banting di situ, Degenam," perintah Raja. Datang anak buah Raja Naga, dibantingnya Degenam hingga jera. Kemudian Degenam diperintahkan menyampaikan pesan untuk disampaikan ke Raja Ulu Sungai yaitu kalau Puteri Kembang Remigo dalam dua hari ini tidak diantarkan ke Raja Naga, maka Desa Ulu Sungai akan terkena banjir yang teramat besar.'''
''Degenam tadi baliak nyampaikah pesan Rajo Nago. Nengagh itu bukan o nurut malah Rajo melawan, Puteri Kembang Remigo nido diantatkah. Rajo Nago ngangat meraso diremehka, dilantak kah nyo ujan deghas teghendam la galo guma sedusun. Mangko jemo sedusun banyak tu datang la ke guma Rajo, kato jemo tu.''
'''Degenam langsung menyampaikan pesan Raja Naga. Mendengar itu bukannya nurut, malah Raja Naga melawan, Puteri Kembang Remigo tidak diantarkan. Raja Naga memanas merasa diremehkan, diturunkannya hujan deras dan terendam semua rumah-rumah. Jadi, orang sedesa yang banyak itu datang ke rumah Raja, kata orang itu.'''
''"Luak mano kito ni, Mamak? aiak ni makin lamo makin besak bae, ingunan la mati galo."''
'''Kita harus bagaimana ini, Bu? Air ini semakin lama semakin besar aja, hewan peliharaan sudah mati semua.'''
''Bemuni la Puteri Kembang Remigo, "Bapak, antatkah la aku ni ke tepi mandian."''
'''Bilanglah Puteri Kembang Remigo ke bapaknya, "Bapak, antarkan aku ini ke tepi mandian."'''
''"Luak mano kaba ru akap kaba ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung jak berang sano laut."''
'''"Bagaimana kamu ini, pagi-pagi kamu itu mau menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut."'''
''Dijawab o ngan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kito mati galo, ajung la Rajo Nago tu susut kan la aiak, panas kan la aghi gancang akap-akap, mangko antatkah la aku ke tepi aiak."''
'''Dijawabnya dengan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kita meninggal semua, suruhlah Raja Naga itu untuk menyusutkan air dan esok pagi panaskan cuaca dengan suhu tinggi dan jemput aku di tepi mandian.'''
''Disampaika la ke Rajo Nago pesan Puteri ni, mangko disusutkan o aiak, akap-akap o panas.''
'''Disampaikan pesan Puteri dengan Raja Naga dan kemudian dia menyusutkan air, paginya biar cuacanya panas.'''
''"Aku agam ngan kaba, Nak, tapi janji harus ditepati. Mo nido nyelah ni jadia, Nak," kato Rajo.''
'''Aku sayang dengan kamu, Nak. Tetapi janji harus ditepati. Kalau tidak benar seperti ini ya apa boleh buat, Nak," kata Raja.'''
''Puteri Kembang Remigo akap o diantatkah ke tepi mandian ngan batak jamuan. Mangko datangan Puteri Kembang Remigo dipanggil o la Rajo Nago.''
'''Pada suatu pagi, Puteri Kembang Remigo diantarkan ke tepi mandian dengan membawa perjamuan. Kemudian, datanglah Puteri Kembang Remigo ketika dipanggil oleh Raja Naga.'''
''"Nago belang, Nago brandi iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu perang kuday nian aku la benamo Puteri Kembang Remigo, dapat ka aku di tepi mandian."''
'''"Nago Belang, Nago brandi, iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu prang dulu sekali aku la bernamo Puteri Kembang Remigo, jemputlah aku di tepi mandian."[Puteri Kembang Remigo membaca mantra]'''
''Kato Rajo Nago, "Ngapo luak suaro Puteri Kembang Remigo manggilku?"''
'''Kata Raja Naga, "Kenapa kok seperti suara Puteri Kembang Remigo memanggil aku?"'''
''"Tando Putri Kembang Remigo nian uraika gumbak panjang 16 helai nggut sampai ke aiak, tintingkan tanggai munio nerungkat langit."''
'''Jika kamu benar-benar Puteri Kembang Remigo, uraikan rambut sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu hingga bersuara sampai ke langit.'''
''Diuraika nyo gumbak dengan Puteri Kembang Remigo. Yak nyampai nian ke aiak, mangko ditintingkan nyo tanggai nerungkat langit, bemuni.''
'''Rambut Puteri Kembang Remigo diuraikan dan benar saja rambutnya sampai menyentuh ke air dan ketika dijentikkan kukunya ke langit, ada suaranya.'''
''Na nyela nian Putri Kembang Remigo, di ajak o kawan kawan o ngan Rajo Nago batak njemput Puteri Kembang Remigo ni tadi.''
'''Nah, benar sekali kalau itu Puteri Kembang Remigo. Diajaknya semua teman Raja Naga tadi untuk membawa Puteri Kembang Remigo.'''
''La betenga pejalanan aiak tu nganyut ke ulu. Na kato Puteri Kembang Remigo, "la ndak sampai, Rajo Nago. Jemo la siap galo nunggu kedatangan Rajo Nago."''
'''Sudah di tengah perjalanan, air terlihat mengalir ke ulu. "Kita mau sampai. Orang-orang siap menunggu kedatangan Raja Naga," kata Putri Kembang Remigo.'''
''Lum lamo datang nian Rajo Nago tujuah ikuak tando Rajo Nago nian calai tanduak emas besisiak emas, sampai la Rajo Nago. Sampai tu dalam wujud manusio, rupo budak bujang besak tinggi putiah. Disalami nyo jemo banyak u, dipamitkahnyo dengan rajo, "Aku ni nemuni janji Rajo Ulu Sungai, saghini aku ndak mataki Puteri Kembang Remigo ke seberang laut batan jadi bini ku,"''
'''Belum lama datang, Raja Naga pun tiba dengan menunjukkan ciri khasnya memakai tanduk emas dan bersisik emas. Namun, ketika sampai, ia berubah dalam wujud manusia, seperti lelaki muda berbadan besar, tinggi dan putih. Ia menyalami banyak orang, berpamitan kepada Raja, "Aku datang menagih janji Raja Ulu Sungai. Hari ini aku akan membawa Puteri Kembang Remigo ke seberang laut untuk menjadi istriku."'''
''Rajo nido pacak mantah, akhiro dibataklah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut ngan Rajo Nago.''
'''Raja tidak bisa membantah. Akhirnya, dibawalah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut dengan Raja Naga.'''
''Lum lamo itu, Rajo Nago dianugerahi anak tino lagi. Dienjuak namo Puteri Kembang Melugh''
'''Belum lama itu, Raja Naga dianugerahi anak perempuan lagi. Kemudian, dikasih nama Puteri Kembang Melugh.'''
iqv7157qo6t6slwo6x2lfhtb6vh959j
116927
116912
2026-06-15T08:55:43Z
Ismaaatull
42809
116927
wikitext
text/x-wiki
== Dongeng Putri Kembang Remigo ==
[[File:Putri Kembang Remigo.ogg|thumb|Menceritakan seorang Puteri yang bernama Puteri Kembang Remigo yang menikah dengan Raja Naga]]
''Adolah Rajo ngan Penatia, nikah la lamo tapi anak lum jugo ado.''
'''Ada sebuah cerita, seorang raja dan istrinya, Penatia. Mereka sudah lama menikah, tapi belum kunjung dianugerahi seorang anak.'''
''Suatu aghi pegilah Rajo ni ke tepi laut, pantai namo o. Nginaklah ke arah laut, ak diinaki banyak tegalau awan batan ujan di langit arah laut. "Mo ku ado anak kelo, jadia ku namo i Puteri Kembang Remigo. La besak ku enjuak ngan Rajo Nago," kato Rajo.''
'''Suatu hari, Raja berjalan ke tepi pantai. Dia melihat ke arah laut. Ternyata di langit ada banyak awan hitam yang mengarah ke laut. "Kalau nanti aku punya anak, ku beri nama Puteri Kembang Remigo. Jika sudah besar nanti, akan ku berikan dengan Raja Naga," kata Raja.'''
[[File:Desain puteri kembang remigo.png|thumb|Seorang raja dan istrinya melihat awan hitam di pantai dan menginginkan anak yang bernama Puteri kembang Remigo]]
''Lum lamo tu ado nian anak o, dinamoi lah Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lair, nido diajung o keluagh ghumah. Jemo dusun nido diajung o bemuni. Jangan ado nyo bekebar ngan jemo-jemo dusun seberang.
''
'''Belum lama setelah itu, Raja dan Penatia dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lahir, Raja tidak mengizinkan untuk Puteri keluar rumah. Bahkan penduduk desa diperintahkan untuk tutup mulut, jangan sampai didengar dengan orang di desa seberang tentang keberadaan Puteri'''
''La sebulan, duo bulan. La setahun, duo tahun kini la besak pulo Puteri Kembang Remigo ni. Kato Rajo Nago, "Cubo, Kawan, ngiciakkah anak Bilis. Cubo kaba jaruakah kuday Puteri Kembang Remigo anak Rajo Ulu Sungai."''
'''Sudah satu bulan, dua bulan. Satu tahun, dua tahun dan sekarang Puteri Kembang Remigo sudah besar. Raja Naga dari laut memerintahkan ikan kecil. "Teman, aku minta tolong coba kamu datang ke rumah Puteri Kembang Remigo anak Raja Ulu Sungai.'''"
''"Siap," kate o.''
'''"Siap," jawabnya'''.
''Pegilah ikan Bilis ke ulu sungai, dikinaki ado la gegebay gi ngambiak aiak pakai gerigiak. Dimasuaki nyo ikan Bilis ke dalam gerigiak gegebay. Kebetulan gegebay tu ngambiak aiak batak ke ghumah Rajo. Pas itu Puteri Kembang Remigo ndak nerimo lemang.''
'''Setelah itu, ikan kecil pergi ke ulu sungai. Ternyata ada ibu-ibu sedang mengambil air menggunakan tempat air dari bambu. Ikan Bilis melompat masuk ke dalam tempat air tersebut dan kebetulan ibu-ibu mengambil air untuk dibawa ke rumah Raja karena Puteri Kembang Remigo akan menerima hantaran lemang (nasi dalam bambu).'''
''Cak masuak ikan Bilis ke dalam ghumah Rajo. Nengagh kicikan Rajo, "Nah kapo kaba ni begangan la di ghumah ni karno Puteri Kembang Remigo ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung di berang sano laut, janji cuman tujuah malam. Jangan sampai keruan ngan Rajo Nago". Tetibo gerigiak bada ikan Bilis ni tadi tekibagh, nepecit melenting-melenting ngulang begilighan ke laut. (Ikan Bilis ni tadi matak kabar batan Rajo Nago)."''
'''Di saat ikan kecil ini masuk ke rumah, ia mendengar perkataan Raja. "Nah, kalian silakan memasak jamuan di rumah ini, karena Puteri Kembang Remigo akan menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut dan waktu hanya tinggal 7 malam dan ingat jangan sampai berita ini terdengar dengan Raja Naga". Tiba-tiba tempat air yang di dalamnya ada ikan kecil tidak sengaja tumpah sehingga ikan kecil mengikuti tumpahan air dan kembali ke laut membawa kabar untuk Raja Naga.'''
''Sesampai o di bada Rajo Nago, "Rajo Nago kalu ndak Puteri Kembang Remigo, waktu cuman tujuah malam, jemo kini la mulai begangan," Ikan Bilis ngadu ke Rajo Nago.''
'''Sesampainya di tempat Raja Naga. "Raja Naga, kalau mau Puteri Kembang Remigo waktu cuman 7 malam. Sekarang orang-orang sudah mulai menyiapkan jamuan untuk acara lamaran Puteri Kembang Remigo," lapor Ikan Bilis.'''
''Nengagh aduan ikan Bilis, ngangat Rajo Nago ni. Diajung o la ikan besak batan nyampaikah pesan ke Rajo Ulu Sungai. Ikan besak langsung pegi nyampaikah pesan Rajo Nago. Cak sampai o, ketemulah ngan jemo tuo mpay ndak mandi. "Ui pindo, Kawan. Aku ni matak kabar jak di Rajo Nago. Puteri Kembang Remigo uji ndak nunak janji tujuah malam. Ini la tinggal empat malam." Perintah Rajo Nago minta antatkah Puteri Kembang Remigo ke tepi mandian. Mo la siap ajung Puteri mantau Rajo Nago, pacak Rajo Nago napatkahnyo (Ikan besak bepesan ngan jemo tuo). Datangan Jemo tuo ni tadi, disampaikah pesan rajo Nago ngan Rajo Ulu Sungai.''
'''Mendengar kabar dari ikan kecil, membuat Raja Naga marah. Lalu Raja Naga memerintahkan ikan besar untuk menyampaikan pesan untuk Raja Ulu Sungai. Sesampainya di sana, ikan besar bertemu dengan orang tua yang ingin mandi. "Wahai Saudara, aku membawa kabar dari Raja Naga untuk Raja Ulu Sungai. Apakah benar Puteri Kembang Remigo akan menikah dalam waktu tujuh malam ke depan? Sedangkan ini sudah malam keempat, Raja Naga untuk berpesan untuk membawakan Puteri Kembang Remigo ke tepi pemandian dan jika sudah siap, Puteri Kembang Remigo silakan memanggil Raja Naga, Raja Naga sendiri yang akan menjemputnya," kata ikan besar. Akhirnya, orang tua ini tadi langsung menyampaikan pesan dari Raja Naga ke Raja Ulu Sungai.'''
''Nengagh pesan jak Rajo Nago, nyo mintak antatkah Puteri Kembang Remigo. Rajo Ulu Sungai ni masang akal disiuak i lah Degenam batan nggantikah Puteri Kembang Remigo. Sampai ke tepi aiak, mantau la Degenam nyamar jadi Puteri, "Uy si Rajo Nago, dapat ka aku di tepi laman mandian," gaikan Degenam. Mangko ditimbalinyo jugo ngan Rajo Nago. Kato Rajo Nago, "Kalu lembagh sampai ke aiak, tintingkan tanggai menungkat langit." Udim itu diuraika nian gumbak ngan Degenam tapi nido sampai ke aiak, ditintingkan tanggai nido pulo bemuni.''
'''Mendengar pesan dari Raja Naga, dia meminta diantarkan Puteri Kembang Remigo. Raja Ulu Sungai mencari akal. Ia mendandani Degenam untuk menggantikan Puteri Kembang Remigo. Sesampainya di tepi air, Puteri Kembang Remigo mencoba memanggil Raja Naga. "Wahai Kakak si Raja Naga, jemput aku di tepi sungai ini," Teriak Degenam. Mendengar panggilan tersebut, Raja Naga menjawab, "Kalau kamu memang Puteri Kembang Remigo, coba uraikan rambutmu sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu menghadap langit." Lalu Degenam mencoba menguraikan rambutnya, akan tetapi tidak sampai ke air, hanya sebatas pundak. Dijentikkan kuku panjangnya menghadap ke langit akan tetapi tidak ada bunyi terdengar.'''
''"Nido, nido cak itu kaba Puteri Kembang Remigo," Rajo Nago ngangat. Datang Rajo Nago diajung o la anak bua o ngeruanka Puteri Kembang Remigo apo nido. Pas dikinaki nyegui Degenam. Datang anak bua Rajo Nago disampaikah ngan Rajo Nago.''
'''Bukan, tidak seperti itu Puteri Kembang Remigo," Raja Naga memanas. Datang Raja Naga dan disuruhnyalah anak buahnya untuk mengetahui Puteri Kembang Remigo apa bukan. Saat dilihat ternyata Degenam dengan tampilan berantakan. Datanglah anak buah Raja Naga disampaikanlah dengan Raja Naga.'''
''"Nido Puteri Kembang Remigo, tapi Degenam, nyo nunggu di tepi mandian tu Rajo Nago."''
'''Bukan Puteri Kembang Remigo, tetapi Degenam. Dia menunggu di tepi mandian, Raja Naga.'''
''"Bantingka di situa, Degenam," perintah Rajo. Datang anak bua Rajo Nago dibanting o nggut nyangsai Degenam ni tadi. La nangsai mangko dipesankah nyo batan Rajo Ulu Sungai lewat Degenam. "Kalu nido diantatka dalam duo aghi mangko dusun ni dighendam o ngan aiak," pesan Rajo Nago.''
'''"Banting di situ, Degenam," perintah Raja. Datang anak buah Raja Naga, dibantingnya Degenam hingga jera. Kemudian Degenam diperintahkan menyampaikan pesan untuk disampaikan ke Raja Ulu Sungai yaitu kalau Puteri Kembang Remigo dalam dua hari ini tidak diantarkan ke Raja Naga, maka Desa Ulu Sungai akan terkena banjir yang teramat besar.'''
''Degenam tadi baliak nyampaikah pesan Rajo Nago. Nengagh itu bukan o nurut malah Rajo melawan, Puteri Kembang Remigo nido diantatkah. Rajo Nago ngangat meraso diremehka, dilantak kah nyo ujan deghas teghendam la galo guma sedusun. Mangko jemo sedusun banyak tu datang la ke guma Rajo, kato jemo tu.''
'''Degenam langsung menyampaikan pesan Raja Naga. Mendengar itu bukannya nurut, malah Raja Naga melawan, Puteri Kembang Remigo tidak diantarkan. Raja Naga memanas merasa diremehkan, diturunkannya hujan deras dan terendam semua rumah-rumah. Jadi, orang sedesa yang banyak itu datang ke rumah Raja, kata orang itu.'''
''"Luak mano kito ni, Mamak? aiak ni makin lamo makin besak bae, ingunan la mati galo."''
'''Kita harus bagaimana ini, Bu? Air ini semakin lama semakin besar aja, hewan peliharaan sudah mati semua.'''
''Bemuni la Puteri Kembang Remigo, "Bapak, antatkah la aku ni ke tepi mandian."''
'''Bilanglah Puteri Kembang Remigo ke bapaknya, "Bapak, antarkan aku ini ke tepi mandian."'''
''"Luak mano kaba ru akap kaba ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung jak berang sano laut."''
'''"Bagaimana kamu ini, pagi-pagi kamu itu mau menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut."'''
''Dijawab o ngan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kito mati galo, ajung la Rajo Nago tu susut kan la aiak, panas kan la aghi gancang akap-akap, mangko antatkah la aku ke tepi aiak."''
'''Dijawabnya dengan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kita meninggal semua, suruhlah Raja Naga itu untuk menyusutkan air dan esok pagi panaskan cuaca dengan suhu tinggi dan jemput aku di tepi mandian.'''
''Disampaika la ke Rajo Nago pesan Puteri ni, mangko disusutkan o aiak, akap-akap o panas.''
'''Disampaikan pesan Puteri dengan Raja Naga dan kemudian dia menyusutkan air, paginya biar cuacanya panas.'''
''"Aku agam ngan kaba, Nak, tapi janji harus ditepati. Mo nido nyelah ni jadia, Nak," kato Rajo.''
'''Aku sayang dengan kamu, Nak. Tetapi janji harus ditepati. Kalau tidak benar seperti ini ya apa boleh buat, Nak," kata Raja.'''
''Puteri Kembang Remigo akap o diantatkah ke tepi mandian ngan batak jamuan. Mangko datangan Puteri Kembang Remigo dipanggil o la Rajo Nago.''
'''Pada suatu pagi, Puteri Kembang Remigo diantarkan ke tepi mandian dengan membawa perjamuan. Kemudian, datanglah Puteri Kembang Remigo ketika dipanggil oleh Raja Naga.'''
''"Nago belang, Nago brandi iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu perang kuday nian aku la benamo Puteri Kembang Remigo, dapat ka aku di tepi mandian."''
'''"Nago Belang, Nago brandi, iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu prang dulu sekali aku la bernamo Puteri Kembang Remigo, jemputlah aku di tepi mandian."[Puteri Kembang Remigo membaca mantra]'''
''Kato Rajo Nago, "Ngapo luak suaro Puteri Kembang Remigo manggilku?"''
'''Kata Raja Naga, "Kenapa kok seperti suara Puteri Kembang Remigo memanggil aku?"'''
''"Tando Putri Kembang Remigo nian uraika gumbak panjang 16 helai nggut sampai ke aiak, tintingkan tanggai munio nerungkat langit."''
'''Jika kamu benar-benar Puteri Kembang Remigo, uraikan rambut sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu hingga bersuara sampai ke langit.'''
''Diuraika nyo gumbak dengan Puteri Kembang Remigo. Yak nyampai nian ke aiak, mangko ditintingkan nyo tanggai nerungkat langit, bemuni.''
'''Rambut Puteri Kembang Remigo diuraikan dan benar saja rambutnya sampai menyentuh ke air dan ketika dijentikkan kukunya ke langit, ada suaranya.'''
''Na nyela nian Putri Kembang Remigo, di ajak o kawan kawan o ngan Rajo Nago batak njemput Puteri Kembang Remigo ni tadi.''
'''Nah, benar sekali kalau itu Puteri Kembang Remigo. Diajaknya semua teman Raja Naga tadi untuk membawa Puteri Kembang Remigo.'''
''La betenga pejalanan aiak tu nganyut ke ulu. Na kato Puteri Kembang Remigo, "la ndak sampai, Rajo Nago. Jemo la siap galo nunggu kedatangan Rajo Nago."''
'''Sudah di tengah perjalanan, air terlihat mengalir ke ulu. "Kita mau sampai. Orang-orang siap menunggu kedatangan Raja Naga," kata Putri Kembang Remigo.'''
''Lum lamo datang nian Rajo Nago tujuah ikuak tando Rajo Nago nian calai tanduak emas besisiak emas, sampai la Rajo Nago. Sampai tu dalam wujud manusio, rupo budak bujang besak tinggi putiah. Disalami nyo jemo banyak u, dipamitkahnyo dengan rajo, "Aku ni nemuni janji Rajo Ulu Sungai, saghini aku ndak mataki Puteri Kembang Remigo ke seberang laut batan jadi bini ku,"''
'''Belum lama datang, Raja Naga pun tiba dengan menunjukkan ciri khasnya memakai tanduk emas dan bersisik emas. Namun, ketika sampai, ia berubah dalam wujud manusia, seperti lelaki muda berbadan besar, tinggi dan putih. Ia menyalami banyak orang, berpamitan kepada Raja, "Aku datang menagih janji Raja Ulu Sungai. Hari ini aku akan membawa Puteri Kembang Remigo ke seberang laut untuk menjadi istriku."'''
''Rajo nido pacak mantah, akhiro dibataklah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut ngan Rajo Nago.''
'''Raja tidak bisa membantah. Akhirnya, dibawalah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut dengan Raja Naga.'''
''Lum lamo itu, Rajo Nago dianugerahi anak tino lagi. Dienjuak namo Puteri Kembang Melugh''
'''Belum lama itu, Raja Naga dianugerahi anak perempuan lagi. Kemudian, dikasih nama Puteri Kembang Melugh.'''
''Dongeng didapat dari penuturan Sajid, 30 tahun, pengisi suara''
tu0diammzkha08ql4pe4ck8qh2rwxzp
Asal Usul Desa Masmambang
0
27558
116901
116780
2026-06-14T16:20:11Z
Ismaaatull
42809
116901
wikitext
text/x-wiki
[[File:Asal Usul Desa Masmambang.ogg|thumb|Bercerita asal usul Desa Masmambang,Talo, Seluma yang bermula dari pengembaraan]]
Sekitar taun 1817, waktu itu Kerajaan Majapahit hancur di Jawa kerno kompeni Belanda masuak, Agama Islam masuak. Akhir o ado sutiak keluargo dan rumbungannyo keluagh jak di Kerajaan Majapahit dan merantau ke sekitar Selat Sunda. Udim tu rumbungan kompeni tu bekiciak ndak nyemerang ke Sumatera mbuat rakit jak di batang kayu. Bebulan-bulan akhir o tekapung-kapung di tengah laut. Akhir o sampailah rumbungan tu ke Semenanjung Sumatera. Rumbungan tu ndaghat waktu itu di Lampung. Waktu itu bada rumbungan tu di sekitar Nusakambangan bada o di Way Kambas.
(Pada sekitar tahun 1817, waktu itu Kerajaan Majapahit hancur di Jawa akibat kompeni Belanda masuk, Agama Islam masuk. Akhirnya ada satu keluarga dan pengikut-pengikutnya keluar dari Kerajaan Majapahit dan merantau ke sekitar Selat Sunda. Lalu mereka berkompromi untuk menyeberang ke Sumatera membuat rakit dari batang kayu. Berbulan-bulan akhirnya terombang-ambing ke tengah lautan sampailah mereka ke Semenanjung Sumatera. Mereka mendarat waktu itu di Lampung. Waktu itu tempat mereka di sekitar Nusakambangan di daerah Way Kambas)
[[File:Desain Desa Masmambang.png|thumb|Seorang Raja dan anaknya yang tengah melihat pelangi dan disertai dengan emas yang berhamburan]]
Setelah beminggu-minggu netap di Way Kambas. Waktu itu lum ado dusun, ado sutiak jak di keluargo nyo pegi ke aiak sungai. Diinaki di aiak sungai tu ado sutiak buah pinang nyo anyut ke aiak sungai, udim itu dio melapor ngan sang Rajo, namonyo Si Baka. Rajo o Si baka, bini o namo o Si Biki. Rumbungan ni melaporkah bahwa ado buah anyut, dulu o kito la ado manusio. “Kito pegi jak di sini,” kato Baka. Kerno ndak ndalak bada lain, mangko ditinggalka sutiak keluargo. Nah, Ditinggal kela di Way Kambas. Rumbungan bejalan lagi nelusugh bukit barisan di Sumatera ini. Sampailah di Kikim, Sumatera Selatan.
(Setelah berminggu-minggu menetap di Way Kambas. Waktu itu belum ada dusun, ada seorang dari keluarganya pergi ke sungai. Ditengoklah di sungai itu ada sebuah buah pinang hanyut ke sungai, lalu dia melapor kepada sang raja yang bernama Si Baka. Rajanya Si baka, istrinya bernama Si Biki. Mereka melaporkan bahwa ada buah hanyut, yang menyatakan bahwa dulu telah ada manusia. “Kita pergi dari sini,” kata Baka. Dikarenakan mau mencari tempat lain, makanya di situ meninggalkan seorang keluarga dan ditinggalkan di Way Kambas. Mereka berjalan lagi menelusuri bukit barisan di Sumatera ini sampailah di daerah Kikim, Sumatera Selatan)
Kalu la di situ ado jemo, nah jemo yang ado di situ ganas-ganas galo. Mangko, rumbungan itu bemusuhan. Akhir o ditinggal kela bada itu. Udim itu pegi agi ke utara, bejalan lagi bebulan-bulan, sampailah ke bada Dusun Minangkabau. Mangko sampai mbak kini, silek Minangkabau Padang itu ampir samo ngan silek nyo ado di Provinsi Bengkulu atau di Seluma ini.
(Kalau di situ sudah ada orang, nah orang yang ada di situ kejam-kejam semua. Jadi, mereka bermusuhan dan akhirnya ditinggalkan daerahnya itu. Pergi lagi ke arah utara, berjalan lagi berbulan-bulan sampailah ke daerah Minangkabau. Makanya sampai sekarang, pencak silat Minangkabau Padang itu hampir sama dengan pencak silat yang ada di Provinsi Bengkulu atau di Seluma ini)
Jak di situ ditinggal kela sutiak keluargo, rumbungan ngulang lagi merantau. Akhir o sampai jugo di bada Dusun Pagar Gading, namo o mbak kini Pino. Sampai di Pino ado anak o sughang bidapan. Selamo di situ, rumbungan tu ke kebon jagung, kerno dandanan la banyak abis. Udim itu rumbungan bejalan lagi sampai ke bada ini (Dusun Masmambang) dulu o Dusun Pamah Rambutan. Kerno di Pamah Rambutan ini rumbungan itu ado kepercayaan rumbungan ado penyakit, kerno di situ ado pupuran keling. Aiak keluagh jak di tanah, itu penyakit. “Kito pindah jak di sini,” kato Baka. Baka pegi ke aiak besak, namo o Sungai Talo. Beghendamlah rumbungan tu di situ, mbuat dusun. Namo dusun o waktu itu Kuto Tanah, kerno dikandangi ngan tanah sebagai pertahanan.
(Dari sana ditinggalkan satu keluarga juga, mereka kembali lagi melalangbuana. Akhirnya sampai lagi di daerah Pagar Gading, sekarang di Pino. Sampai di situ ada anak yang sedang sakit. Selama di situ, mereka pergi ke kebun jagung, dikarenakan perbekalan sudah habis. Setelah itu mereka berjalan lagi sampailah mereka ke daerah ini (Masmambang) yang dulu namanya Dusun Pamah Rambutan. Karena di Pamah Rambutan ini mereka ada kepercayaan mereka ada penyakit, karena di situ ada yang namanya pupuran keling (nama penyakit kulit). Air keluar dari tanah itu penyakit. “Kita pindah dari sini,” kata Baka. Baka pergi ke sungai besar, namanya Aiak Talo. Berendamlah mereka di situ, untuk membuat dusun. Nama dusun waktu itu adalah “Kuto Tanah” karena dipagari dengan tanah agar sebagai pertahanan)
Udim tu, waktu udim mandi ado jemo di aiak lagi berakit. Sutiak entakan rakit, ado jemo lengit. Kelo ado jemo ngelipat, kito sindang. Dio ngelipat kelo kito sindang. Belago lah, nido ndak bekalaan. Akhir o si Baka ngambiak kebijakan, dio pegi ke istana udim tu dibujuk, batan ditunak ka ngan anak si Baka. Dio dijadika Mangkubumi, caro Rajo.
(Lalu, waktu setelah mandi ada orang yang ada di sungai itu sedang berakit. Satu sentakan rakit ada orang yang hilang. Kalau ada orang pulang, kita hadang. Dia pulang kita hadang. Berantemlah mereka, tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya si Baka mengambil kebijakan, dia pergi ke istana lalu dibujuk untuk dinikahkanlah dengan anak si Baka. Dia dijadikan Mangkubumi, cara raja.)
Kelangan seminggu, datang agi sughang lagi ke dusun ini. Ditanyoka jak di mano, belago kate o. Waktu itu di Aiak Talo keghua kerno jemo belago, saling capak ka pakai batu, ngundalka 3 batu serempak. Besak o ampir sebesak gajah, batu nyo digundalka tu lengit. Nah udim tu di Masmambang ni kedapatan lah 3 batu itu di Ulu Pering sini, betumpuak 3 buah batu itu.
(Selang satu minggu, datang lagi seseorang lagi ke dusun ini. Ditanyakannlah, “dari mana?” dan jawabannya, “berantem”. Waktu itu di sungai Talo itu keruh akibat orang berantem, saling lempar pakai batu, melempar 3 batu sekaligus, besarnya hampir sebesar gajah. Nah setelah Dusun Masmambang itu kedapatan 3 batu itu di Ulu Pering sini bertumpuk 3 buah itu).
Nah dio ni ahli dalam pedukunan, sementaro anak si Baka ini masiah bidapan. Udim tu diubati anak si Baka ni namonyo Ranggawuni. Nah, kerno diubati, baduh, lalu kato si Baka, “Kaba betunakan be ngan anakku ni.”
(Nah dia ini ahli dalam perdukunan, sementara anak si Baka ini masih sakit. Lalu diobati anak si Baka ini namanya Ranggawuni. Akibat diobati, sembuh, lalu kata si Baka, “Kaba menikah saja dengan anakku ini.” )
Jadi betunak an lah ngan anak o tu. Udim itu dibuatlah sebagai dukun kesehatannyo. Udim itu beberapo waktu, datang agi. Kerno di Dusun Kuto Tanah ni memang jemo-jemo alap, udim itu datang agi. Nah nyo mpai datang ni namo o Puyang Magawan. Nyo tukang ngubati tadi namoyo Puyang Alam. Nyo pertamonyo tadi Puyang Tuan. Nah nyo puyang Magawan ini, dio ni galak cukuk an atau galak meribut, kulaghan dio ni.
(Jadi nikahlah dengan anaknya itu. Lalu dia dibuatlah sebagai menteri kesehatannya. Kemudian beberapa bulan lagi datang lagi. Dikarenakan di Dusun Kuto Tanah ini memang orang-orang baik, lalu datang lagi. Nah yang datang ini namanya Puyang Magawan. Tukang mengobati tadi namanya Puyang Alam. Pertama tadi Puyang tuan. Nah ini yang puyang Magawan, dia suka berantem, pekerjaannya seharo-sehari).
Kerno Puyang Megawan ni melawan, mangko dipanggilah oleh si Baka, “Kaba jangan ribut agi, kaba aku jadika anak aku be, betunak an be ngan anak aku, kaba ku jadika panglimo”. Keturunan Puyang Magawan tukang ribut tu, masia ado di masmambang ini, tapi dio ni nido kebal agi. Nah udim itu datang agi Puyang Singolayang. Puyang Singolayang ni keturunan jak di Rejang. Dio ni punyo ikuak emas, nyo ni pacak ngiciak. Jadi ado rapat, ado sidang, dio diutus sebagai juru bicara oleh si Baka ni, tapi dio beikuak emas. Kerno dio ni beikuak emas, dio nido pacak duduak di dasagh, dio harus duduak dianggung-anggung kerno ikuak o ni panjang, ikuak o emas.
(Dikarenakan Puyang Megawan ini melawan, lalu dipanggilah oleh si Baka, “Kamu jangan ribut lagi, kamu aku jadikan anak aku saja, menikahlah saja dengan anak aku, akan aku jadikan kamu panglima.” Keturunan Puyang Magawan itu sekarang tukang ribut, masih ada di Dusun masmambang ini. Tetapi, dia sekarang tidak kebal lagi. Nah setelah itu datang lagi Puyang Singolayang, yang dari keturunan Rejang. Dia ini mempunyai ekor emas, yang pintar berbicara. Jadi ada rapat, ada sidang, dia diutus sebagai juru bicara oleh si Baka ini, tetapi dia berekor emas. Dia tidak bisa duduk di lantai, dia harus duduk di bangku bambu karena ekornya panjang, ekor emas.)
Waktu rapat di Kembang Seri, oleh Puyang Kembang Seri diambiak ikuak o akhir o putus ikuak o tu. Nah udim tu dio mati di Kembang Seri dan Puyang Singolayang nido pacak agi jadi manusio kerno bersumpah njadi ulagh palak 7. Puyang nyo tengah ulagh emas, ikuak jak di Puyang Singolayang tadi. Keturunan Puyang Singolayang nido ado yang kayo, kerno kekayoannyo la diambiak.
(Waktu rapat di Kembang seri oleh Puyang Kembang seri diambilnya ekornya itu dan akhirnya putus ekornya. Nah lalu dia meninggal di Kembang Seri dan Puyang Singolayang tadi tidak bisa lagi menjadi manusia, dikarenakan telah bersumpah menjadi ular berkepala 7. Yang posisinya di tengah ular emas, ekor dari Puyang Singolayang tadi. Keturunan Puyang Singolayang tidak ada yang kaya, karena kekayaannya udah diambil. )
Udim tu datang agi, Puyang Ratu Barus. Puyang ini jemo terpelajagh. Jadi dio ni sampai di Dusun Kuto Tanah, dio ngajagh nulis baco, ngajagh besawah, ngajagh caro nanam bungo. Tiap ghuma itu ado taman bunga. Nah beghubahlah namo Kuto Tanah ini jadi Dusun Tanjung Bunga.
(Kemudian datang lagi, Puyang Ratu Barus. Puyang ini orang terpelajar. Jadi dia begitu sampai di Dusun Kuto Tanah, dia mengajar tulis baca, mengajar bercocok tanam, mengajar cara menanam bunga. Setiap rumah itu ada taman bunga. Nah berubahlah nama Kuto Tanah ini menjadi Dusun Tanjung bunga.)
Puyang Ratu Barus ini dijadika guru di Dusun Tanjung Bunga tu. Sementaro nyo sughang lagi nanyo Kemalobumi. Kemalobumi anak bungsu jak di Puyang si Baka. Kerno dio anak bungsu, ditegak kela ghumah di Dusun Palak Tanah. Dio mbuat ghumah di Dusun Palak Tanah batan jago di Dusun Palak Tanah. Nah anak o yang Kemalobumi nih ado sughang gadis namo o Rubiyah. Mpai ndak nganjak gadis, sekitar 15 tahun umur o, dio mandi. Nah waktu itu badah o mandi di lesung yang tebuat jak di kayu besak. Setiap jam 9 akap dio ado pelayan jemo o 6, ado yang bawa sabun, handuk, langigh. Udim mandi, datanglah ghuniah. Udim itu dio mekiak “AAAAAAAAAAAAAAA”, kedengaghan ngan Puyang Kemalobumi di belakang. Datanglah dayang ke Kemalobumi, “bada mandi putri ado ghuniah,” kate o. Berangkatlah Kemalobumi nyabut pedang, lasung ngan dibacakan mantra-mantra. Lalu dihempaskan pedangnya ke ghuniah tadi. Serto merto ghuniah tu lengit, di aiak bada mandi tadi ado kemambang emas. Oleh puyang Kemalobumi diambiak, diancak kah ngan Rubiyah. Kato dio, “ini tuapo?”, “Emas” jawab Rubiyah. Udim tu kato dayang “Mambang” yang ternyata namo dewa. Nah saat itu Dusun Tanjung Bunga beghubah njadi Dusun Masmambang.
(Puyang Ratu Barus ini dijadikan guru di Dusun Tanjung Bunga itu. Sementara yang satu lagi menanyakan Kemalobungi. Kemalobungi anak bungsu dari Puyang si baka. Dikarenakan dia anak bungsu, didirikannya rumah di dusun Palak Tanah. Dia membuat rumah di Palak Tanah untuk menjaga di Dusun Palak Tanah. Nah, anaknya dari Kemalobumi ini ada seorang yang gadis namanya Rubiyah. Pada saat menginjak gadis, sekitar 15 tahun, dia sedang mandi. Nah, waktu itu tempat mandinya di lesung yang terbuat dari kayu besar. Setiap jam 9 pagi, dia ada yang melayani 6 orang, ada yang membawa sabun, ada yang membawa handuk, dan sampo. Setelah mandi, datanglah pelangi. Setelah itu, dia berteriak “AAAAAAAAAAAAAA” dan kedengaran dengan Puyang Kemalobumi di belakang. Datanglah dayang ke Kemalobumi, “tempat mandi putri ada pelangi,” katanya. Berangkatlah Kemalobumi untuk mencabut pedang dan langsung membacakan mantra-mantra. Lalu dihempaskan pedangnya ke pelangi tadi yang diiringi hilangnya pelangi. Di air tempat mandi tadi ada kemambang emas. Oleh Puyang Kemalobumi tadi diambilnya, diperlihatkan dengan Rubiyah. Kata dia, “ini apa?”, “emas,” jawab Rubiyah. Setelah itu kata dayang, “Mambang” yang ternyata nama dari dewa. Nah saat itu Dusun Tanjung Bunga berubah menjadi Dusun Masmambang.
q6px3j0hzcv9x27isguyxnkycfpnitz
116926
116901
2026-06-15T08:53:02Z
Ismaaatull
42809
116926
wikitext
text/x-wiki
== Legenda Desa Masmambang ==
[[File:Asal Usul Desa Masmambang.ogg|thumb|Bercerita asal usul Desa Masmambang,Talo, Seluma yang bermula dari pengembaraan]]
''Sekitar taun 1817, waktu itu Kerajaan Majapahit hancur di Jawa kerno kompeni Belanda masuak, Agama Islam masuak. Akhir o ado sutiak keluargo dan rumbungannyo keluagh jak di Kerajaan Majapahit dan merantau ke sekitar Selat Sunda. Udim tu rumbungan kompeni tu bekiciak ndak nyemerang ke Sumatera mbuat rakit jak di batang kayu. Bebulan-bulan akhir o tekapung-kapung di tengah laut. Akhir o sampailah rumbungan tu ke Semenanjung Sumatera. Rumbungan tu ndaghat waktu itu di Lampung. Waktu itu bada rumbungan tu di sekitar Nusakambangan bada o di Way Kambas.''
'''Pada sekitar tahun 1817, waktu itu Kerajaan Majapahit hancur di Jawa akibat kompeni Belanda masuk, Agama Islam masuk. Akhirnya ada satu keluarga dan pengikut-pengikutnya keluar dari Kerajaan Majapahit dan merantau ke sekitar Selat Sunda. Lalu mereka berkompromi untuk menyeberang ke Sumatera membuat rakit dari batang kayu. Berbulan-bulan akhirnya terombang-ambing ke tengah lautan sampailah mereka ke Semenanjung Sumatera. Mereka mendarat waktu itu di Lampung. Waktu itu tempat mereka di sekitar Nusakambangan di daerah Way Kambas.'''
[[File:Desain Desa Masmambang.png|thumb|Seorang Raja dan anaknya yang tengah melihat pelangi dan disertai dengan emas yang berhamburan]]
''Setelah beminggu-minggu netap di Way Kambas. Waktu itu lum ado dusun, ado sutiak jak di keluargo nyo pegi ke aiak sungai. Diinaki di aiak sungai tu ado sutiak buah pinang nyo anyut ke aiak sungai, udim itu dio melapor ngan sang Rajo, namonyo Si Baka. Rajo o Si baka, bini o namo o Si Biki. Rumbungan ni melaporkah bahwa ado buah anyut, dulu o kito la ado manusio. “Kito pegi jak di sini,” kato Baka. Kerno ndak ndalak bada lain, mangko ditinggalka sutiak keluargo. Nah, Ditinggal kela di Way Kambas. Rumbungan bejalan lagi nelusugh bukit barisan di Sumatera ini. Sampailah di Kikim, Sumatera Selatan.''
'''Setelah berminggu-minggu menetap di Way Kambas. Waktu itu belum ada dusun, ada seorang dari keluarganya pergi ke sungai. Ditengoklah di sungai itu ada sebuah buah pinang hanyut ke sungai, lalu dia melapor kepada sang raja yang bernama Si Baka. Rajanya Si baka, istrinya bernama Si Biki. Mereka melaporkan bahwa ada buah hanyut, yang menyatakan bahwa dulu telah ada manusia. “Kita pergi dari sini,” kata Baka. Dikarenakan mau mencari tempat lain, makanya di situ meninggalkan seorang keluarga dan ditinggalkan di Way Kambas. Mereka berjalan lagi menelusuri bukit barisan di Sumatera ini sampailah di daerah Kikim, Sumatera Selatan.'''
''Kalu la di situ ado jemo, nah jemo yang ado di situ ganas-ganas galo. Mangko, rumbungan itu bemusuhan. Akhir o ditinggal kela bada itu. Udim itu pegi agi ke utara, bejalan lagi bebulan-bulan, sampailah ke bada Dusun Minangkabau. Mangko sampai mbak kini, silek Minangkabau Padang itu ampir samo ngan silek nyo ado di Provinsi Bengkulu atau di Seluma ini.''
'''Kalau di situ sudah ada orang, nah orang yang ada di situ kejam-kejam semua. Jadi, mereka bermusuhan dan akhirnya ditinggalkan daerahnya itu. Pergi lagi ke arah utara, berjalan lagi berbulan-bulan sampailah ke daerah Minangkabau. Makanya sampai sekarang, pencak silat Minangkabau Padang itu hampir sama dengan pencak silat yang ada di Provinsi Bengkulu atau di Seluma ini.'''
''Jak di situ ditinggal kela sutiak keluargo, rumbungan ngulang lagi merantau. Akhir o sampai jugo di bada Dusun Pagar Gading, namo o mbak kini Pino. Sampai di Pino ado anak o sughang bidapan. Selamo di situ, rumbungan tu ke kebon jagung, kerno dandanan la banyak abis. Udim itu rumbungan bejalan lagi sampai ke bada ini (Dusun Masmambang) dulu o Dusun Pamah Rambutan. Kerno di Pamah Rambutan ini rumbungan itu ado kepercayaan rumbungan ado penyakit, kerno di situ ado pupuran keling. Aiak keluagh jak di tanah, itu penyakit. “Kito pindah jak di sini,” kato Baka. Baka pegi ke aiak besak, namo o Sungai Talo. Beghendamlah rumbungan tu di situ, mbuat dusun. Namo dusun o waktu itu Kuto Tanah, kerno dikandangi ngan tanah sebagai pertahanan.''
'''Dari sana ditinggalkan satu keluarga juga, mereka kembali lagi melalangbuana. Akhirnya sampai lagi di daerah Pagar Gading, sekarang di Pino. Sampai di situ ada anak yang sedang sakit. Selama di situ, mereka pergi ke kebun jagung, dikarenakan perbekalan sudah habis. Setelah itu mereka berjalan lagi sampailah mereka ke daerah ini (Masmambang) yang dulu namanya Dusun Pamah Rambutan. Karena di Pamah Rambutan ini mereka ada kepercayaan mereka ada penyakit, karena di situ ada yang namanya pupuran keling (nama penyakit kulit). Air keluar dari tanah itu penyakit. “Kita pindah dari sini,” kata Baka. Baka pergi ke sungai besar, namanya Aiak Talo. Berendamlah mereka di situ, untuk membuat dusun. Nama dusun waktu itu adalah “Kuto Tanah” karena dipagari dengan tanah agar sebagai pertahanan'''
''Udim tu, waktu udim mandi ado jemo di aiak lagi berakit. Sutiak entakan rakit, ado jemo lengit. Kelo ado jemo ngelipat, kito sindang. Dio ngelipat kelo kito sindang. Belago lah, nido ndak bekalaan. Akhir o si Baka ngambiak kebijakan, dio pegi ke istana udim tu dibujuk, batan ditunak ka ngan anak si Baka. Dio dijadika Mangkubumi, caro Rajo.''
'''Lalu, waktu setelah mandi ada orang yang ada di sungai itu sedang berakit. Satu sentakan rakit ada orang yang hilang. Kalau ada orang pulang, kita hadang. Dia pulang kita hadang. Berantemlah mereka, tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya si Baka mengambil kebijakan, dia pergi ke istana lalu dibujuk untuk dinikahkanlah dengan anak si Baka. Dia dijadikan Mangkubumi, cara raja.'''
''Kelangan seminggu, datang agi sughang lagi ke dusun ini. Ditanyoka jak di mano, belago kate o. Waktu itu di Aiak Talo keghua kerno jemo belago, saling capak ka pakai batu, ngundalka 3 batu serempak. Besak o ampir sebesak gajah, batu nyo digundalka tu lengit. Nah udim tu di Masmambang ni kedapatan lah 3 batu itu di Ulu Pering sini, betumpuak 3 buah batu itu.''
'''Selang satu minggu, datang lagi seseorang lagi ke dusun ini. Ditanyakannlah, “dari mana?” dan jawabannya, “berantem”. Waktu itu di sungai Talo itu keruh akibat orang berantem, saling lempar pakai batu, melempar 3 batu sekaligus, besarnya hampir sebesar gajah. Nah setelah Dusun Masmambang itu kedapatan 3 batu itu di Ulu Pering sini bertumpuk 3 buah itu.'''
''Nah dio ni ahli dalam pedukunan, sementaro anak si Baka ini masiah bidapan. Udim tu diubati anak si Baka ni namonyo Ranggawuni. Nah, kerno diubati, baduh, lalu kato si Baka, “Kaba betunakan be ngan anakku ni.”''
'''Nah dia ini ahli dalam perdukunan, sementara anak si Baka ini masih sakit. Lalu diobati anak si Baka ini namanya Ranggawuni. Akibat diobati, sembuh, lalu kata si Baka, “Kaba menikah saja dengan anakku ini.”'''
''Jadi betunak an lah ngan anak o tu. Udim itu dibuatlah sebagai dukun kesehatannyo. Udim itu beberapo waktu, datang agi. Kerno di Dusun Kuto Tanah ni memang jemo-jemo alap, udim itu datang agi. Nah nyo mpai datang ni namo o Puyang Magawan. Nyo tukang ngubati tadi namoyo Puyang Alam. Nyo pertamonyo tadi Puyang Tuan. Nah nyo puyang Magawan ini, dio ni galak cukuk an atau galak meribut, kulaghan dio ni.''
'''Jadi menikahlah dengan anaknya itu. Lalu dia dibuatlah sebagai menteri kesehatannya. Kemudian beberapa bulan lagi datang lagi. Dikarenakan di Dusun Kuto Tanah ini memang orang-orang baik, lalu datang lagi. Nah yang datang ini namanya Puyang Magawan. Tukang mengobati tadi namanya Puyang Alam. Pertama tadi Puyang tuan. Nah ini yang puyang Magawan, dia suka berantem, pekerjaannya seharo-sehari.'''
''Kerno Puyang Megawan ni melawan, mangko dipanggilah oleh si Baka, “Kaba jangan ribut agi, kaba aku jadika anak aku be, betunak an be ngan anak aku, kaba ku jadika panglimo”. Keturunan Puyang Magawan tukang ribut tu, masia ado di masmambang ini, tapi dio ni nido kebal agi. Nah udim itu datang agi Puyang Singolayang. Puyang Singolayang ni keturunan jak di Rejang. Dio ni punyo ikuak emas, nyo ni pacak ngiciak. Jadi ado rapat, ado sidang, dio diutus sebagai juru bicara oleh si Baka ni, tapi dio beikuak emas. Kerno dio ni beikuak emas, dio nido pacak duduak di dasagh, dio harus duduak dianggung-anggung kerno ikuak o ni panjang, ikuak o emas.''
'''Dikarenakan Puyang Megawan ini melawan, lalu dipanggilah oleh si Baka, “Kamu jangan ribut lagi, kamu aku jadikan anak aku saja, menikahlah saja dengan anak aku, akan aku jadikan kamu panglima.” Keturunan Puyang Magawan itu sekarang tukang ribut, masih ada di Dusun masmambang ini. Tetapi, dia sekarang tidak kebal lagi. Nah setelah itu datang lagi Puyang Singolayang, yang dari keturunan Rejang. Dia ini mempunyai ekor emas, yang pintar berbicara. Jadi ada rapat, ada sidang, dia diutus sebagai juru bicara oleh si Baka ini, tetapi dia berekor emas. Dia tidak bisa duduk di lantai, dia harus duduk di bangku bambu karena ekornya panjang, ekor emas.
'''
''Waktu rapat di Kembang Seri, oleh Puyang Kembang Seri diambiak ikuak o akhir o putus ikuak o tu. Nah udim tu dio mati di Kembang Seri dan Puyang Singolayang nido pacak agi jadi manusio kerno bersumpah njadi ulagh palak 7. Puyang nyo tengah ulagh emas, ikuak jak di Puyang Singolayang tadi. Keturunan Puyang Singolayang nido ado yang kayo, kerno kekayoannyo la diambiak.''
W'''aktu rapat di Kembang seri oleh Puyang Kembang seri diambilnya ekornya itu dan akhirnya putus ekornya. Nah lalu dia meninggal di Kembang Seri dan Puyang Singolayang tadi tidak bisa lagi menjadi manusia, dikarenakan telah bersumpah menjadi ular berkepala 7. Yang posisinya di tengah ular emas, ekor dari Puyang Singolayang tadi. Keturunan Puyang Singolayang tidak ada yang kaya, karena kekayaannya udah diambil.'''
''Udim tu datang agi, Puyang Ratu Barus. Puyang ini jemo terpelajagh. Jadi dio ni sampai di Dusun Kuto Tanah, dio ngajagh nulis baco, ngajagh besawah, ngajagh caro nanam bungo. Tiap ghuma itu ado taman bunga. Nah beghubahlah namo Kuto Tanah ini jadi Dusun Tanjung Bunga.''
'''Kemudian datang lagi, Puyang Ratu Barus. Puyang ini orang terpelajar. Jadi dia begitu sampai di Dusun Kuto Tanah, dia mengajar tulis baca, mengajar bercocok tanam, mengajar cara menanam bunga. Setiap rumah itu ada taman bunga. Nah berubahlah nama Kuto Tanah ini menjadi Dusun Tanjung bunga.'''
''Puyang Ratu Barus ini dijadika guru di Dusun Tanjung Bunga tu. Sementaro nyo sughang lagi nanyo Kemalobumi. Kemalobumi anak bungsu jak di Puyang si Baka. Kerno dio anak bungsu, ditegak kela ghumah di Dusun Palak Tanah. Dio mbuat ghumah di Dusun Palak Tanah batan jago di Dusun Palak Tanah. Nah anak o yang Kemalobumi nih ado sughang gadis namo o Rubiyah. Mpai ndak nganjak gadis, sekitar 15 tahun umur o, dio mandi. Nah waktu itu badah o mandi di lesung yang tebuat jak di kayu besak. Setiap jam 9 akap dio ado pelayan jemo o 6, ado yang bawa sabun, handuk, langigh. Udim mandi, datanglah ghuniah. Udim itu dio mekiak “AAAAAAAAAAAAAAA”, kedengaghan ngan Puyang Kemalobumi di belakang. Datanglah dayang ke Kemalobumi, “bada mandi putri ado ghuniah,” kate o. Berangkatlah Kemalobumi nyabut pedang, lasung ngan dibacakan mantra-mantra. Lalu dihempaskan pedangnya ke ghuniah tadi. Serto merto ghuniah tu lengit, di aiak bada mandi tadi ado kemambang emas. Oleh puyang Kemalobumi diambiak, diancak kah ngan Rubiyah. Kato dio, “ini tuapo?”, “Emas” jawab Rubiyah. Udim tu kato dayang “Mambang” yang ternyata namo dewa. Nah saat itu Dusun Tanjung Bunga beghubah njadi Dusun Masmambang.''
'''Puyang Ratu Barus ini dijadikan guru di Dusun Tanjung Bunga itu. Sementara yang satu lagi menanyakan Kemalobungi. Kemalobungi anak bungsu dari Puyang si baka. Dikarenakan dia anak bungsu, didirikannya rumah di dusun Palak Tanah. Dia membuat rumah di Palak Tanah untuk menjaga di Dusun Palak Tanah. Nah, anaknya dari Kemalobumi ini ada seorang yang gadis namanya Rubiyah. Pada saat menginjak gadis, sekitar 15 tahun, dia sedang mandi. Nah, waktu itu tempat mandinya di lesung yang terbuat dari kayu besar. Setiap jam 9 pagi, dia ada yang melayani 6 orang, ada yang membawa sabun, ada yang membawa handuk, dan sampo. Setelah mandi, datanglah pelangi. Setelah itu, dia berteriak “AAAAAAAAAAAAAA” dan kedengaran dengan Puyang Kemalobumi di belakang. Datanglah dayang ke Kemalobumi, “tempat mandi putri ada pelangi,” katanya. Berangkatlah Kemalobumi untuk mencabut pedang dan langsung membacakan mantra-mantra. Lalu dihempaskan pedangnya ke pelangi tadi yang diiringi hilangnya pelangi. Di air tempat mandi tadi ada kemambang emas. Oleh Puyang Kemalobumi tadi diambilnya, diperlihatkan dengan Rubiyah. Kata dia, “ini apa?”, “emas,” jawab Rubiyah. Setelah itu kata dayang, “Mambang” yang ternyata nama dari dewa. Nah saat itu Dusun Tanjung Bunga berubah menjadi Dusun Masmambang.'''
''Legenda didapat dari penuturan Zubirman, 74 tahun, budayawan dari Kabupaten Seluma''
chkbz71imos9d4bf5kb46f5urq40s2g
Alun-Alun Jember: Jantung Kota yang Menyimpan Kenangan
0
27588
116906
116456
2026-06-14T20:42:17Z
Astari28
36197
116906
wikitext
text/x-wiki
Di tengah hiruk pikuk Kabupaten Jember, terdapat satu ruang terbuka yang menjadi pusat kehidupan warga sejak puluhan tahun silam. Ia adalah Alun-Alun Jember. Lebih dari sekadar taman kota, tempat ini menjadi saksi perjalanan waktu, pertemuan berbagai kalangan, serta cerminan budaya dan keseharian masyarakat Jember. Sebagai ruang publik yang paling dikenal, alun-alun ini memiliki makna mendalam bagi siapa saja yang pernah menginjakkan kaki di dalamnya.
'''Keberadaan dan Sejarah Singkat'''
Alun-Alun Jember terletak tepat di pusat kota, berhadapan dengan Kantor Bupati dan Masjid Agung Jember — susunan yang umum ditemukan pada tata ruang kota di Jawa sejak masa lampau. Berdasarkan catatan sejarah, pembangunannya berbarengan dengan ditetapkannya Jember sebagai kabupaten pada tahun 1853 oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada masa itu, alun-alun difungsikan sebagai ruang pertemuan warga, tempat upacara kenegaraan, serta ruang terbuka yang menjadi tanda identitas daerah.
Seiring berjalannya waktu, alun-alun ini mengalami berbagai perbaikan dan penyempurnaan. Dahulu hanya berupa lapangan luas dengan rumput dan pohon rindang, kini ia dilengkapi dengan jalan setapak, taman bunga, tempat duduk, serta lampu penerangan yang membuatnya tetap nyaman dikunjungi hingga malam hari. Namun esensinya tetap sama: tetap menjadi jantung kehidupan kota. Bahkan saat diadakan nya kejuaraan di kota jember, para atlet selalu ingin mengunjungi alun alun jember untuk berjalan serta joging bersama. Event tersebut adalah Pandhalungan Champhionship. <ref>Pemerintah Kabupaten Jember. (2022). Rencana Induk Ruang Terbuka Hijau Kabupaten Jember. Bagian Pembangunan Setda Kabupaten Jember. Diakses pada tanggal 13 juni 2026</ref>
'''Suasana dan Kehidupan di Sekitarnya'''
Setiap harinya, Alun-Alun Jember tak pernah sepi pengunjung. Pagi hari dimulai dengan semaraknya warga yang berolahraga — berjalan santai, lari, hingga bersenam bersama. Udara yang sejuk berpadu dengan rindangnya pohon-pohon tua menciptakan suasana yang menenangkan. Di sisi pinggirnya, mulai bermunculan pedagang makanan ringan khas, seperti rujak, kacang rebus, hingga es kelapa muda yang menjadi favorit pengunjung.
Siang hari suasananya lebih tenang, namun tetap ada orang yang duduk bersantai sambil berbincang atau sekadar melepas penat. Menjelang sore hingga malam hari, alun-alun kembali ramai. Keluarga membawa anak-anak bermain, pemuda berkumpul, hingga pedagang kaki lima mulai berdatangan menawarkan berbagai jajanan dan mainan. Di sudut tertentu, sering terdengar suara musik atau pertunjukan seni rakyat yang menambah semarak suasana.
'''Makna dan Peran bagi Masyarakat'''
Alun-Alun Jember bukan hanya tempat rekreasi, melainkan juga ruang pemersatu. Di sini, orang dari berbagai latar belakang suku, agama, dan pekerjaan berkumpul tanpa sekat. Ia menjadi saksi berbagai peristiwa penting: mulai dari perayaan hari besar nasional, kegiatan keagamaan, pameran daerah, hingga penyelenggaraan acara pendukung Jember Fashion Carnaval yang terkenal itu. Tempat ini juga menyimpan banyak kenangan bagi warga. Bagi yang sudah tua, ia mengingatkan pada masa muda; bagi anak muda, ia menjadi tempat berkumpul dan mengenal lingkungan kota mereka. Keberadaannya yang terawat mencerminkan kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap ruang publik yang menjaga nilai-nilai kebersamaan.<ref>- Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember. (2024). Potensi dan Daya Tarik Wisata Kabupaten Jember. Jember: Disparbud Jember. Diakses 13 Juni 2026</ref>
Alun-Alun Jember adalah cerminan jiwa kota ini sederhana, ramah, dan tetap lestari mengikuti perkembangan zaman. Ia berdiri kokoh sebagai tempat yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, serta menjadi ruang di mana setiap orang dapat merasa memiliki. Selama ia tetap terbuka dan terawat, Alun-Alun Jember akan terus menjadi jantung kota yang hidup, menyimpan cerita dan kenangan bagi generasi demi generasi.
== Referensi ==
4uq4hhazyzdqp4shz9crm4mb2kibqf9
Penggerak Ekonomi Masyarakat Jember/Aktivitas Perdagangan dan Ragam Komoditas Pasar
0
27634
116905
116644
2026-06-14T20:40:21Z
Astari28
36197
116905
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Pedagang menjual ikan di Pasar Tanjung.jpg|kiri|jmpl]]
Pasar Tanjung merupakan pusat perdagangan tradisional yang menjadi tempat berlangsungnya berbagai aktivitas ekonomi masyarakat Kabupaten Jember. Sejak dini hari hingga sore hari, pasar ini selalu dipadati oleh pedagang dan pembeli yang melakukan transaksi jual beli berbagai kebutuhan pokok. Aktivitas perdagangan yang berlangsung setiap hari menunjukkan bahwa Pasar Tanjung masih menjadi salah satu pusat distribusi barang yang penting bagi masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ragam komoditas yang diperjualbelikan di Pasar Tanjung sangat beragam, mulai dari sayuran, buah-buahan, ikan, daging, rempah-rempah, sembako, pakaian, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga. Keberagaman barang dagangan tersebut menjadikan Pasar Tanjung sebagai pasar yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat dalam satu lokasi. Kondisi ini juga menunjukkan peran pasar sebagai penghubung antara produsen, distributor, dan konsumen dalam rantai distribusi barang di Kabupaten Jember.<ref>Musyarrofah, I. L., Sedyati, R. N., & Kantun, S. (2018). Retribusi Pasar dan Penyediaan Fasilitas untuk Pedagang Pasar di Pasar Tanjung Jember. Jurnal Pendidikan Ekonomi: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial, 11(2), 126–132. <nowiki>https://doi.org/10.19184/jpe.v11i2.6459</nowiki></ref>
Aktivitas perdagangan di Pasar Tanjung tidak hanya ditandai dengan proses jual beli, tetapi juga dengan adanya interaksi sosial yang intens antara pedagang dan pembeli. Proses tawar-menawar menjadi ciri khas yang membedakan pasar tradisional dengan pasar modern. Melalui interaksi tersebut, terjalin hubungan sosial yang erat sehingga pasar tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekonomi, tetapi juga sebagai ruang komunikasi dan pertukaran informasi antaranggota masyarakat.<ref>Febrianti, N. U., Zahrafani, S. A. W., & Afifah, W. (2023). Pengaruh Tiktok Shop terhadap Pedagang Pasar Tradisional di Pasar Tanjung dan Ambulu Kabupaten Jember. TUTURAN: Jurnal Ilmu Komunikasi, Sosial dan Humaniora, 1(4), 211–220. <nowiki>https://doi.org/10.47861/tuturan.v1i4.571</nowiki></ref>
Keberlangsungan aktivitas perdagangan di Pasar Tanjung didukung oleh berbagai fasilitas yang disediakan oleh pengelola pasar. Fasilitas seperti kios, los, area parkir, tempat pembuangan sampah, mushola, serta sarana sanitasi menjadi faktor penting dalam menunjang kenyamanan pedagang dan pembeli. Ketersediaan fasilitas tersebut berpengaruh terhadap kelancaran proses perdagangan serta meningkatkan daya tarik pasar bagi masyarakat yang berkunjung.
Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas perdagangan di Pasar Tanjung menghadapi tantangan akibat perkembangan teknologi digital dan munculnya platform perdagangan daring. Sebagian masyarakat mulai beralih berbelanja secara online karena dianggap lebih praktis dan efisien. Meskipun demikian, Pasar Tanjung tetap memiliki keunggulan berupa interaksi langsung antara penjual dan pembeli, kesempatan untuk melihat kualitas barang secara langsung, serta adanya proses tawar-menawar yang tidak ditemukan dalam sebagian besar transaksi daring. Oleh karena itu, Pasar Tanjung masih mempertahankan perannya sebagai salah satu pusat perdagangan tradisional yang penting di Kabupaten Jember.
== Referensi ==
l570m5q16b1ykxvqgmfhym0uk4mp0ih
Penggerak Ekonomi Masyarakat Jember/Perdagangan sebagai Penggerak Ekonomi Pasar
0
27636
116904
116645
2026-06-14T20:39:36Z
Astari28
36197
116904
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Bumbu dapur di pasar.jpg|jmpl|Bumbu Dapur Di Pasar]]
Pedagang Pasar Tanjung berperan sebagai jembatan antara petani, pengusaha perkebunan, dan konsumen. Beras, sayur, buah, tembakau, kopi, ikan dari pesisir seperti Puger, serta rempah khas Jember dikumpulkan di sini sebelum disalurkan ke berbagai wilayah. Ada yang bergerak sebagai pedagang grosir memasok toko-toko desa, dan ada pula yang melayani pembeli eceran. Aktivitas ini memastikan hasil bumi tidak menumpuk dan pendapatan petani tetap terjaga.
Lebih dari 2.000 pedagang aktif berusaha di Pasar Tanjung, menyerap tenaga kerja keluarga, kuli angkut, hingga pengemudi angkutan. Kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB Jember mencapai sekitar 14,82% pada tahun 2024, dengan pasar tradisional menjadi penyumbang terbesar. Keberlangsungan usaha mereka menjaga perputaran uang tetap mengalir di tingkat masyarakat bawah.
Tanpa kehadiran dan kerja keras para pedagang, Pasar Tanjung tidak akan menjadi denyut nadi ekonomi Jember seperti sekarang. Mereka adalah penggerak utama yang menjaga kelangsungan roda perekonomian kerakyatan, sekaligus melestarikan budaya berdagang yang adil dan akrab. Dukungan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar mereka tetap kokoh melayani masyarakat di masa mendatang.<ref>https://radarjember.jawapos.com/jember/2501170013/lapak-pedagang-banyak-tak-ditempati-kondisi-lantai-dua-pasar-tanjung-jember-kian-memprihatinkan, dikutip 15 Juni 2026.</ref><ref>https://radarjember.jawapos.com/jember/2211070021/pertegas-jam-berjualan-di-pasar-sore-pasar-tanjung, dikutip 15 Juni 2026.</ref>
== Referensi ==
<references />
h5u9w80xv4wdwiv3izwafx9egg6mi19
Asal Usul Desa Tangga Batu
0
27643
116902
116814
2026-06-14T16:30:19Z
Ismaaatull
42809
116902
wikitext
text/x-wiki
[[File:Desain Masjid Tangga Batu.png|thumb|Dulu, berdiri sebuah masjid dan disertai dengan berdirinya sebuah tangga menuju ke masjid]]
[[File:Asal Usul Desa Tangga Batu.ogg|thumb|Menceritakan asal usul Desa Tangga Batu yang ada di Kecamatan Seluma Selatan. Ada sebuah tangga yang disusun atas tumpukan batu dan menuju ke arah masjid]]
''Dusun Tanggo Batu ini agak bebeda di Kabupaten Seluma, karno banyak nyo berayak nanyoka masalah tentang Dusun Tanggo Batu. Jadi Tanggo Batu ini sebenaro bukan buatan manusio, tapi buatan jak di alam. Jadi Tanggo Batu itu tu sebenaro ado tigo jungku diimpit pinggir aiak Seluma. Jadi iduplah jemo tigo jungku itu. Nyo pertamo, jungku o itu Rentanin puyang kami, nyo keduo Jungku Kuris, dan jungku ketigo namo o Jungku Reguak dan jadilah tigo punduk. Nyo bekehidupan di situ, naiak tughun ke aiak Seluma, itu tu memang la ado tanggo, nyo la disebut Tanggo Batu. Tanggo itu nuju ke pagha masjid. Udim itu bekembanglah. Akhir o la ado kiro-kiro 30 keluargo. Jadilah tigo jungku tadi bekeendak an muat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dio ngusulka ke pemerintahan ngan didukung pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulka lum pacak nyadi dusun, karno wargo o lum banyak nian atau lum memenuhi syarat nian jadi dusun. Aturan o waktu dulu ado 40 tetanggo atau 40 ghumah. Jadi behubung bedampingan Dusun Tanggo Batu ngan Dusun Padang Genting, akhir o masyarakat bemusyawarah mufakat di situ.''
(Tangga Batu ini agak unik di Kabupaten Seluma, dikarenakan banyak yang datang menanyakan masalah tentang Desa Tangga Batu. Jadi Tangga Batu ini sebenarnya bukan buatan manusia, tapi buatan alam. Jadi Tangga Batu itu berdirinya ada 3 jungku di dekat pinggir air Seluma. Jadi berkembanglah hidup orang 3 jungku itu. Yang pertama, jungkunya itu Rentanin puyang kami, yang kedua Jungku Kuris, dan yang ketiga Jungku Reguak dan jadilah 3 pondok. Berkehidupanlah di situ, naik turun ke air Seluma itu memang sudah ada tangga, Tangga Batu. Tangga itu menuju ke arah masjid. Nah setelah itu dusunnya berkembang. Akhirnya sudah ada kira-kira ada 30 keluarga. Jadi 3 jungku tadi berkeinginan membuat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dia mengusulkan ke pemerintahan dengan dipandu oleh pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulkan belum bisa jadi dusun, karena warganya belum cukup banyak atau belum cukup memenuhi syarat jadi dusun. Aturan waktu itu ada 40 tetangga atau 40 rumah. Jadi berhubung berdekatan Desa tanggo Batu dengan Desa Padang Genting, akhirnya masyarakat bermusyawarah mufakat di sana itu).
''Jadi, nginduklah ke Dusun Padang Genting. Dusun Padang Genting besatu ngan Dusun Tanggo Batu waktu itu, sebenar o yang lahir duluan tu Dusun Tanggo Batu dibandingka ngan Dusun Padang Genting. Tapi Padang Genting itu memang la di pinggir jalan, akhir o besatulah ngan Dusun Padang Genting. Mangko o pacak diakui oleh pemerintahan waktu itu, yaitu pesirah.''
(Jadi, menginduklah ke Desa Padang Genting. Desa Padang Genting bersatu dengan Desa Tangga Batu pada saat itu, yang sebenarnya lahir duluan itu Desa Tangga Batu daripada Desa Padang Genting. Tapi Padang Genting itu sudah di pinggir jalan, akhirnya bersatulah dengan Desa Padang Genting. Dapatlah diakui oleh pemerintahan pada saat itu, yaitu pesirah).
''Mangko itu tahun 1974, diresmika ngan Bupati Bengkulu Selatan tejadilah Dusun Padang Genting. Nah akhir o karno zaman ni bekembang terus, gaek-gaek nyo idup saat itu, di pinggir aiak itu, aiak itu digunoka untuk jalan. Nah waktu nalak itu kan gunoka rakit, digunoka untuk minum dan segalo bagai o, itua mako o milia di pinggir aiak.''
(Jadi, pada tahun 1974, diresmikan oleh Bupati Bengkulu Selatan terjadilah Desa Padang Genting. Nah akhirnya dikarenakan perkembangan zaman, bapak-bapak yang hidup pada saat itu, di pinggir air itu, air itu dipakai untuk jalan. Nah waktu mencari itu kan pakai rakit, pakai ini untuk minum segala macam itu, itulah makanya memilih di pinggir air).
''Jadi akhir o bekembang terus sampai bemusuhan agi. Tanggo Batu ni sebenar o memang ndak munco sughang, nido ndak begabung. Akhir o bejanjilah ngan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri ndak dipiliah agi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan agi kan? Jadi kalu tepiliah katoyo Tanggo Batu buliah dimekarka jak di Dusun Padang Genting. Dulu o, tahun 1974, dibuliahka ngan pesirah itu, dijadika pemekaran. Jadi asli o namo Dusun Tanggo Batu, sampai iluak kini ni.''
(Jadi akhirnya mengalami perkembangan sampai mereka bermusuhan lagi. Tangga Batu ini sebenarnya memang mau berdiri sendiri, tidak mau bergabung. Jadi berjanjilah dengan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri mau dipilih lagi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan lagi kan? Jadi kalau terpilih katanya Tangga Batu boleh dimekarkan dari Desa Padang Genting. Pada tahun 1974, diizinkan oleh pesirah itu, jadi pemekaran. Jadi asli lah nama Desa Tangga Batu, sampai sekarang).
''Jadi, la 8 kali pemilihan kepala desa. Kalu dulu tu pemilihan depati, udim itu pemilihan langsung jak kepala desa. Udim itu barulah diakui Dusun Tanggo Batu tahun 1974.
''
(Jadi, sudah 8 kali pemilihan kepala desa. Kalau dulu pemilihan depati, kemudian pemilihan langsung pemilihan kepala desa. Sesudah itu baru diakui Desa Tangga Batu tahun 1974).
''Jadi saat tahun 1974 tu persyaratan o harus didirika sebuah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tanggo Batu sepakat. Jadi, Tangga Batu tu memang la betul-betul tanggo, la udim dikinaki masyarakat tanggo tu la didirika, masjid la udim didirika pulo.''
(Jadi pada tahun 1974 itu persyaratannya harus berdiri satu buah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tangga Batu sepakat. Jadi, Tangga Batu itu memang betul-betul tangga, sudah dilihat oleh masyarakat tangga itu sudah berdiri, masjid sudah berdiri).
n393461cgpp40ynhhi7knhy4ed09lxt
116903
116902
2026-06-14T16:37:13Z
Ismaaatull
42809
116903
wikitext
text/x-wiki
[[File:Asal Usul Desa Tangga Batu.ogg|thumb|Menceritakan asal usul Desa Tangga Batu yang ada di Kecamatan Seluma Selatan. Ada sebuah tangga yang disusun atas tumpukan batu dan menuju ke arah masjid]]
[[File:Desain Masjid Tangga Batu.png|thumb|Dulu, berdiri sebuah masjid dan disertai dengan berdirinya sebuah tangga menuju ke masjid]]
''Dusun Tanggo Batu ini agak bebeda di Kabupaten Seluma, karno banyak nyo berayak nanyoka masalah tentang Dusun Tanggo Batu. Jadi Tanggo Batu ini sebenaro bukan buatan manusio, tapi buatan jak di alam. Jadi Tanggo Batu itu tu sebenaro ado tigo jungku diimpit pinggir aiak Seluma. Jadi iduplah jemo tigo jungku itu. Nyo pertamo, jungku o itu Rentanin puyang kami, nyo keduo Jungku Kuris, dan jungku ketigo namo o Jungku Reguak dan jadilah tigo punduk. Nyo bekehidupan di situ, naiak tughun ke aiak Seluma, itu tu memang la ado tanggo, nyo la disebut Tanggo Batu. Tanggo itu nuju ke pagha masjid. Udim itu bekembanglah. Akhir o la ado kiro-kiro 30 keluargo. Jadilah tigo jungku tadi bekeendak an muat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dio ngusulka ke pemerintahan ngan didukung pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulka lum pacak nyadi dusun, karno wargo o lum banyak nian atau lum memenuhi syarat nian jadi dusun. Aturan o waktu dulu ado 40 tetanggo atau 40 ghumah. Jadi behubung bedampingan Dusun Tanggo Batu ngan Dusun Padang Genting, akhir o masyarakat bemusyawarah mufakat di situ.''
(Tangga Batu ini agak unik di Kabupaten Seluma, dikarenakan banyak yang datang menanyakan masalah tentang Desa Tangga Batu. Jadi Tangga Batu ini sebenarnya bukan buatan manusia, tapi buatan alam. Jadi Tangga Batu itu berdirinya ada 3 jungku di dekat pinggir air Seluma. Jadi berkembanglah hidup orang 3 jungku itu. Yang pertama, jungkunya itu Rentanin puyang kami, yang kedua Jungku Kuris, dan yang ketiga Jungku Reguak dan jadilah 3 pondok. Berkehidupanlah di situ, naik turun ke air Seluma itu memang sudah ada tangga, Tangga Batu. Tangga itu menuju ke arah masjid. Nah setelah itu dusunnya berkembang. Akhirnya sudah ada kira-kira ada 30 keluarga. Jadi 3 jungku tadi berkeinginan membuat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dia mengusulkan ke pemerintahan dengan dipandu oleh pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulkan belum bisa jadi dusun, karena warganya belum cukup banyak atau belum cukup memenuhi syarat jadi dusun. Aturan waktu itu ada 40 tetangga atau 40 rumah. Jadi berhubung berdekatan Desa tanggo Batu dengan Desa Padang Genting, akhirnya masyarakat bermusyawarah mufakat di sana itu).
''Jadi, nginduklah ke Dusun Padang Genting. Dusun Padang Genting besatu ngan Dusun Tanggo Batu waktu itu, sebenar o yang lahir duluan tu Dusun Tanggo Batu dibandingka ngan Dusun Padang Genting. Tapi Padang Genting itu memang la di pinggir jalan, akhir o besatulah ngan Dusun Padang Genting. Mangko o pacak diakui oleh pemerintahan waktu itu, yaitu pesirah.''
(Jadi, menginduklah ke Desa Padang Genting. Desa Padang Genting bersatu dengan Desa Tangga Batu pada saat itu, yang sebenarnya lahir duluan itu Desa Tangga Batu daripada Desa Padang Genting. Tapi Padang Genting itu sudah di pinggir jalan, akhirnya bersatulah dengan Desa Padang Genting. Dapatlah diakui oleh pemerintahan pada saat itu, yaitu pesirah).
''Mangko itu tahun 1974, diresmika ngan Bupati Bengkulu Selatan tejadilah Dusun Padang Genting. Nah akhir o karno zaman ni bekembang terus, gaek-gaek nyo idup saat itu, di pinggir aiak itu, aiak itu digunoka untuk jalan. Nah waktu nalak itu kan gunoka rakit, digunoka untuk minum dan segalo bagai o, itua mako o milia di pinggir aiak.''
(Jadi, pada tahun 1974, diresmikan oleh Bupati Bengkulu Selatan terjadilah Desa Padang Genting. Nah akhirnya dikarenakan perkembangan zaman, bapak-bapak yang hidup pada saat itu, di pinggir air itu, air itu dipakai untuk jalan. Nah waktu mencari itu kan pakai rakit, pakai ini untuk minum segala macam itu, itulah makanya memilih di pinggir air).
''Jadi akhir o bekembang terus sampai bemusuhan agi. Tanggo Batu ni sebenar o memang ndak munco sughang, nido ndak begabung. Akhir o bejanjilah ngan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri ndak dipiliah agi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan agi kan? Jadi kalu tepiliah katoyo Tanggo Batu buliah dimekarka jak di Dusun Padang Genting. Dulu o, tahun 1974, dibuliahka ngan pesirah itu, dijadika pemekaran. Jadi asli o namo Dusun Tanggo Batu, sampai iluak kini ni.''
(Jadi akhirnya mengalami perkembangan sampai mereka bermusuhan lagi. Tangga Batu ini sebenarnya memang mau berdiri sendiri, tidak mau bergabung. Jadi berjanjilah dengan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri mau dipilih lagi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan lagi kan? Jadi kalau terpilih katanya Tangga Batu boleh dimekarkan dari Desa Padang Genting. Pada tahun 1974, diizinkan oleh pesirah itu, jadi pemekaran. Jadi asli lah nama Desa Tangga Batu, sampai sekarang).
''Jadi, la 8 kali pemilihan kepala desa. Kalu dulu tu pemilihan depati, udim itu pemilihan langsung jak kepala desa. Udim itu barulah diakui Dusun Tanggo Batu tahun 1974.
''
(Jadi, sudah 8 kali pemilihan kepala desa. Kalau dulu pemilihan depati, kemudian pemilihan langsung pemilihan kepala desa. Sesudah itu baru diakui Desa Tangga Batu tahun 1974).
''Jadi saat tahun 1974 tu persyaratan o harus didirika sebuah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tanggo Batu sepakat. Jadi, Tangga Batu tu memang la betul-betul tanggo, la udim dikinaki masyarakat tanggo tu la didirika, masjid la udim didirika pulo.''
(Jadi pada tahun 1974 itu persyaratannya harus berdiri satu buah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tangga Batu sepakat. Jadi, Tangga Batu itu memang betul-betul tangga, sudah dilihat oleh masyarakat tangga itu sudah berdiri, masjid sudah berdiri).
tfent8cylod23ez9478u4u33fevauay
116908
116903
2026-06-15T03:33:36Z
Ismaaatull
42809
116908
wikitext
text/x-wiki
[[File:Asal Usul Desa Tangga Batu.ogg|thumb|Menceritakan asal usul Desa Tangga Batu yang ada di Kecamatan Seluma Selatan. Ada sebuah tangga yang disusun atas tumpukan batu dan menuju ke arah masjid]]
[[File:Desain Masjid Tangga Batu.png|thumb|Dulu, berdiri sebuah masjid dan disertai dengan berdirinya sebuah tangga menuju ke masjid]]
''Dusun Tanggo Batu ini agak bebeda di Kabupaten Seluma, karno banyak nyo berayak nanyoka masalah tentang Dusun Tanggo Batu. Jadi Tanggo Batu ini sebenaro bukan buatan manusio, tapi buatan jak di alam. Jadi Tanggo Batu itu tu sebenaro ado tigo jungku diimpit pinggir aiak Seluma. Jadi iduplah jemo tigo jungku itu. Nyo pertamo, jungku o itu Rentanin puyang kami, nyo keduo Jungku Kuris, dan jungku ketigo namo o Jungku Reguak dan jadilah tigo punduk. Nyo bekehidupan di situ, naiak tughun ke aiak Seluma, itu tu memang la ado tanggo, nyo la disebut Tanggo Batu. Tanggo itu nuju ke pagha masjid. Udim itu bekembanglah. Akhir o la ado kiro-kiro 30 keluargo. Jadilah tigo jungku tadi bekeendak an muat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dio ngusulka ke pemerintahan ngan didukung pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulka lum pacak nyadi dusun, karno wargo o lum banyak nian atau lum memenuhi syarat nian jadi dusun. Aturan o waktu dulu ado 40 tetanggo atau 40 ghumah. Jadi behubung bedampingan Dusun Tanggo Batu ngan Dusun Padang Genting, akhir o masyarakat bemusyawarah mufakat di situ.''
(Tangga Batu ini agak unik di Kabupaten Seluma, dikarenakan banyak yang datang menanyakan masalah tentang Desa Tangga Batu. Jadi Tangga Batu ini sebenarnya bukan buatan manusia, tapi buatan alam. Jadi Tangga Batu itu berdirinya ada 3 jungku (garis keturunan) di dekat pinggir air Seluma. Jadi berkembanglah hidup orang 3 jungku itu. Yang pertama, jungkunya itu Rentanin puyang kami, yang kedua Jungku Kuris, dan yang ketiga Jungku Reguak dan jadilah 3 pondok. Berkehidupanlah di situ, naik turun ke air Seluma itu memang sudah ada tangga, Tangga Batu. Tangga itu menuju ke arah masjid. Nah setelah itu dusunnya berkembang. Akhirnya sudah ada kira-kira ada 30 keluarga. Jadi 3 jungku tadi berkeinginan membuat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dia mengusulkan ke pemerintahan dengan dipandu oleh pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulkan belum bisa jadi dusun, karena warganya belum cukup banyak atau belum cukup memenuhi syarat jadi dusun. Aturan waktu itu ada 40 tetangga atau 40 rumah. Jadi berhubung berdekatan Desa Tanggo Batu dengan Desa Padang Genting, akhirnya masyarakat bermusyawarah mufakat di sana itu).
''Jadi, nginduklah ke Dusun Padang Genting. Dusun Padang Genting besatu ngan Dusun Tanggo Batu waktu itu, sebenar o yang lahir duluan tu Dusun Tanggo Batu dibandingka ngan Dusun Padang Genting. Tapi Padang Genting itu memang la di pinggir jalan, akhir o besatulah ngan Dusun Padang Genting. Mangko o pacak diakui oleh pemerintahan waktu itu, yaitu pesirah.''
(Jadi, menginduklah ke Desa Padang Genting. Desa Padang Genting bersatu dengan Desa Tangga Batu pada saat itu, yang sebenarnya lahir duluan itu Desa Tangga Batu daripada Desa Padang Genting. Tapi Padang Genting itu sudah di pinggir jalan, akhirnya bersatulah dengan Desa Padang Genting. Dapatlah diakui oleh pemerintahan pada saat itu, yaitu pesirah).
''Mangko itu tahun 1974, diresmika ngan Bupati Bengkulu Selatan tejadilah Dusun Padang Genting. Nah akhir o karno zaman ni bekembang terus, gaek-gaek nyo idup saat itu, di pinggir aiak itu, aiak itu digunoka untuk jalan. Nah waktu nalak itu kan gunoka rakit, digunoka untuk minum dan segalo bagai o, itua mako o milia di pinggir aiak.''
(Jadi, pada tahun 1974, diresmikan oleh Bupati Bengkulu Selatan terjadilah Desa Padang Genting. Nah akhirnya dikarenakan perkembangan zaman, bapak-bapak yang hidup pada saat itu, di pinggir air itu, air itu dipakai untuk jalan. Nah waktu mencari itu kan pakai rakit, pakai ini untuk minum segala macam itu, itulah makanya memilih di pinggir air).
''Jadi akhir o bekembang terus sampai bemusuhan agi. Tanggo Batu ni sebenar o memang ndak munco sughang, nido ndak begabung. Akhir o bejanjilah ngan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri ndak dipiliah agi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan agi kan? Jadi kalu tepiliah katoyo Tanggo Batu buliah dimekarka jak di Dusun Padang Genting. Dulu o, tahun 1974, dibuliahka ngan pesirah itu, dijadika pemekaran. Jadi asli o namo Dusun Tanggo Batu, sampai iluak kini ni.''
(Jadi akhirnya mengalami perkembangan sampai mereka bermusuhan lagi. Tangga Batu ini sebenarnya memang mau berdiri sendiri, tidak mau bergabung. Jadi berjanjilah dengan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri mau dipilih lagi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan lagi kan? Jadi kalau terpilih katanya Tangga Batu boleh dimekarkan dari Desa Padang Genting. Pada tahun 1974, diizinkan oleh pesirah itu, jadi pemekaran. Jadi asli lah nama Desa Tangga Batu, sampai sekarang).
''Jadi, la 8 kali pemilihan kepala desa. Kalu dulu tu pemilihan depati, udim itu pemilihan langsung jak kepala desa. Udim itu barulah diakui Dusun Tanggo Batu tahun 1974.
''
(Jadi, sudah 8 kali pemilihan kepala desa. Kalau dulu pemilihan depati, kemudian pemilihan langsung pemilihan kepala desa. Sesudah itu baru diakui Desa Tangga Batu tahun 1974).
''Jadi saat tahun 1974 tu persyaratan o harus didirika sebuah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tanggo Batu sepakat. Jadi, Tangga Batu tu memang la betul-betul tanggo, la udim dikinaki masyarakat tanggo tu la didirika, masjid la udim didirika pulo.''
(Jadi pada tahun 1974 itu persyaratannya harus berdiri satu buah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tangga Batu sepakat. Jadi, Tangga Batu itu memang betul-betul tangga, sudah dilihat oleh masyarakat tangga itu sudah berdiri, masjid sudah berdiri).
i3au79gtpz5wocd8lszbcbtxthngmyw
116909
116908
2026-06-15T04:15:12Z
Ismaaatull
42809
116909
wikitext
text/x-wiki
== LEGENDA DESA TANGGA BATU ==
[[File:Asal Usul Desa Tangga Batu.ogg|thumb|Menceritakan asal usul Desa Tangga Batu yang ada di Kecamatan Seluma Selatan. Ada sebuah tangga yang disusun atas tumpukan batu dan menuju ke arah masjid]]
[[File:Desain Masjid Tangga Batu.png|thumb|Dulu, berdiri sebuah masjid dan disertai dengan berdirinya sebuah tangga menuju ke masjid]]
''Dusun Tanggo Batu ini agak bebeda di Kabupaten Seluma, karno banyak nyo berayak nanyoka masalah tentang Dusun Tanggo Batu. Jadi Tanggo Batu ni sebenaro bukan buatan manusio, tapi buatan jak di alam. Jadi Tanggo Batu itu tu sebenaro ado tigo jungku diimpit pinggir aiak Seluma. Jadi iduplah jemo tigo jungku itu. Nyo pertamo, jungku o itu Rentanin dio lah puyang kami, nyo keduo Jungku Kuris, dan jungku ketigo namo o Jungku Reguak dan jadilah tigo punduk. Nyo bekehidupan di situ, naiak tughun ke aiak Seluma, itu tu memang la ado tanggo, nyo la disebut Tanggo Batu. Tanggo itu nuju ke pagha masjid. Udim itu bekembanglah. Akhir o la ado kiro-kiro 30 keluargo. Jadilah tigo jungku tadi bekeendak an muat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dio ngusulka ke pemerintahan ngan didukung pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulka lum pacak nyadi dusun, karno wargo o lum banyak nian atau lum memenuhi syarat nian jadi dusun. Aturan o waktu dulu ado 40 tetanggo atau 40 ghumah. Jadi behubung bedampingan Dusun Tanggo Batu ngan Dusun Padang Genting, akhir o masyarakat bemusyawarah mufakat di situ.''
===== Tangga Batu ini agak unik di Kabupaten Seluma, dikarenakan banyak yang datang menanyakan masalah tentang Desa Tangga Batu. Jadi Tangga Batu ini sebenarnya bukan buatan manusia, tapi buatan alam. Jadi Tangga Batu itu berdirinya ada 3 jungku (garis keturunan) di dekat pinggir air Seluma. Jadi berkembanglah hidup orang 3 jungku itu. Yang pertama, jungkunya itu Rentanin puyang kami, yang kedua Jungku Kuris, dan yang ketiga Jungku Reguak dan jadilah 3 pondok. Berkehidupanlah di situ, naik turun ke air Seluma itu memang sudah ada tangga, Tangga Batu. Tangga itu menuju ke arah masjid. Nah setelah itu dusunnya berkembang. Akhirnya sudah ada kira-kira ada 30 keluarga. Jadi 3 jungku tadi berkeinginan membuat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dia mengusulkan ke pemerintahan dengan dipandu oleh pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulkan belum bisa jadi dusun, karena warganya belum cukup banyak atau belum cukup memenuhi syarat jadi dusun. Aturan waktu itu ada 40 tetangga atau 40 rumah. Jadi berhubung berdekatan Desa Tanggo Batu dengan Desa Padang Genting, akhirnya masyarakat bermusyawarah mufakat di sana itu. =====
''Jadi, nginduklah ke Dusun Padang Genting. Dusun Padang Genting besatu ngan Dusun Tanggo Batu waktu itu, sebenar o yang lair duluan tu Dusun Tanggo Batu dibandingka ngan Dusun Padang Genting. Tapi Padang Genting tu memang la di pinggir jalan, akhir o besatulah ngan Dusun Padang Genting. Mangko o pacak diakui oleh pemerintahan waktu itu, yaitu pesirah.''
===== Jadi, menginduklah ke Desa Padang Genting. Desa Padang Genting bersatu dengan Desa Tangga Batu pada saat itu, yang sebenarnya lahir duluan itu Desa Tangga Batu daripada Desa Padang Genting. Tetapi Padang Genting itu sudah di pinggir jalan, akhirnya bersatulah dengan Desa Padang Genting. Dapatlah diakui oleh pemerintahan pada saat itu, yaitu pesirah. =====
''Mangko itu tahun 1974, diresmika ngan Bupati Bengkulu Selatan tejadilah Dusun Padang Genting. Nah akhir o karno zaman ni bekembang terus, gaek-gaek nyo idup saat itu, di pinggir aiak itu, aiak itu digunoka untuk jalan. Nah waktu nalak itu kan gunoka rakit, digunoka untuk minum dan segalo bagai o, itua mako o milia di pinggir aiak.''
===== Jadi, pada tahun 1974, diresmikan oleh Bupati Bengkulu Selatan terjadilah Desa Padang Genting. Nah akhirnya dikarenakan perkembangan zaman, bapak-bapak yang hidup pada saat itu, di pinggir air, airnya dipakai untuk jalan. Nah waktu mencari itu kan pakai rakit, pakai ini untuk minum segala macam itu, itulah makanya memilih di pinggir air. =====
''Akhir o bekembang terus sampai bemusuhan agi. Tanggo Batu ni sebenar o memang ndak munco sughang, nido ndak begabung. Akhir o bejanjilah ngan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri ndak dipiliah agi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan agi kan? Kalu tepiliah katoyo Tanggo Batu buliah dimekarka jak di Dusun Padang Genting. Dulu o, tahun 1974, dibuliahka ngan pesirah itu, dijadika pemekaran. Mako o asli o namo Dusun Tanggo Batu, sampai iluak kini ni.''
===== Akhirnya mengalami perkembangan sampai mereka bermusuhan lagi. Tangga Batu ini sebenarnya memang mau berdiri sendiri, tidak mau bergabung. Berjanjilah dengan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri mau dipilih lagi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan lagi kan?Kalau terpilih katanya Tangga Batu boleh dimekarkan dari Desa Padang Genting. Pada tahun 1974, diizinkan oleh pesirah itu, jadi pemekaran. Makanya asli lah nama Desa Tangga Batu, sampai sekarang. =====
''Jadi, la 8 kali pemilihan kepala desa. Kalu dulu tu pemilihan depati, udim itu pemilihan langsung jak kepala desa. Udim itu barulah diakui Dusun Tanggo Batu tahun 1974.
''
===== Jadi, sudah 8 kali pemilihan kepala desa. Kalau dulu pemilihan depati, kemudian pemilihan langsung pemilihan kepala desa. Sesudah itu baru diakui Desa Tangga Batu tahun 1974. =====
''Saat tahun 1974 tu persyaratan o harus didirika sebuah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tanggo Batu sepakat. Tanggo Batu tu memang la betul-betul tanggo, la udim dikinaki masyarakat tanggo tu la didirika, masjid la udim didirika pulo.''
===== Pada tahun 1974 itu persyaratannya harus berdiri satu buah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tangga Batu sepakat. Tangga Batu itu memang betul-betul tangga, sudah dilihat oleh masyarakat tangga itu sudah berdiri, masjid sudah berdiri. =====
''Legenda didapat dari penuturan Dustan, 70 tahun, budayawan dari Kabupaten Seluma''
6tsxu3uedboz9pfxt26h8fuwfcg0cws
116910
116909
2026-06-15T04:43:25Z
Ismaaatull
42809
116910
wikitext
text/x-wiki
== LEGENDA DESA TANGGA BATU ==
[[File:Asal Usul Desa Tangga Batu.ogg|thumb|Menceritakan asal usul Desa Tangga Batu yang ada di Kecamatan Seluma Selatan. Ada sebuah tangga yang disusun atas tumpukan batu dan menuju ke arah masjid]]
[[File:Desain Masjid Tangga Batu.png|thumb|Dulu, berdiri sebuah masjid dan disertai dengan berdirinya sebuah tangga menuju ke masjid]]
''Dusun Tanggo Batu ini agak bebeda di Kabupaten Seluma, karno banyak nyo berayak nanyoka masalah tentang Dusun Tanggo Batu. Jadi Tanggo Batu ni sebenaro bukan buatan manusio, tapi buatan jak di alam. Jadi Tanggo Batu itu tu sebenaro ado tigo jungku diimpit pinggir aiak Seluma. Jadi iduplah jemo tigo jungku itu. Nyo pertamo, jungku o itu Rentanin dio lah puyang kami, nyo keduo Jungku Kuris, dan jungku ketigo namo o Jungku Reguak dan jadilah tigo punduk. Nyo bekehidupan di situ, naiak tughun ke aiak Seluma, itu tu memang la ado tanggo, nyo la disebut Tanggo Batu. Tanggo itu nuju ke pagha masjid. Udim itu bekembanglah. Akhir o la ado kiro-kiro 30 keluargo. Jadilah tigo jungku tadi bekeendak an muat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dio ngusulka ke pemerintahan ngan didukung pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulka lum pacak nyadi dusun, karno wargo o lum banyak nian atau lum memenuhi syarat nian jadi dusun. Aturan o waktu dulu ado 40 tetanggo atau 40 ghumah. Jadi behubung bedampingan Dusun Tanggo Batu ngan Dusun Padang Genting, akhir o masyarakat bemusyawarah mufakat di situ.''
'''Tangga Batu ini agak unik di Kabupaten Seluma, dikarenakan banyak yang datang menanyakan masalah tentang Desa Tangga Batu. Jadi Tangga Batu ini sebenarnya bukan buatan manusia, tapi buatan alam. Jadi Tangga Batu itu berdirinya ada 3 jungku (garis keturunan) di dekat pinggir air Seluma. Jadi berkembanglah hidup orang 3 jungku itu. Yang pertama, jungkunya itu Rentanin puyang kami, yang kedua Jungku Kuris, dan yang ketiga Jungku Reguak dan jadilah 3 pondok. Berkehidupanlah di situ, naik turun ke air Seluma itu memang sudah ada tangga, Tangga Batu. Tangga itu menuju ke arah masjid. Nah setelah itu dusunnya berkembang. Akhirnya sudah ada kira-kira ada 30 keluarga. Jadi 3 jungku tadi berkeinginan membuat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dia mengusulkan ke pemerintahan dengan dipandu oleh pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulkan belum bisa jadi dusun, karena warganya belum cukup banyak atau belum cukup memenuhi syarat jadi dusun. Aturan waktu itu ada 40 tetangga atau 40 rumah. Jadi berhubung berdekatan Desa Tanggo Batu dengan Desa Padang Genting, akhirnya masyarakat bermusyawarah mufakat di sana itu.'''
''Jadi, nginduklah ke Dusun Padang Genting. Dusun Padang Genting besatu ngan Dusun Tanggo Batu waktu itu, sebenar o yang lair duluan tu Dusun Tanggo Batu dibandingka ngan Dusun Padang Genting. Tapi Padang Genting tu memang la di pinggir jalan, akhir o besatulah ngan Dusun Padang Genting. Mangko o pacak diakui oleh pemerintahan waktu itu, yaitu pesirah.''
'''Jadi, menginduklah ke Desa Padang Genting. Desa Padang Genting bersatu dengan Desa Tangga Batu pada saat itu, yang sebenarnya lahir duluan itu Desa Tangga Batu daripada Desa Padang Genting. Tetapi Padang Genting itu sudah di pinggir jalan, akhirnya bersatulah dengan Desa Padang Genting. Dapatlah diakui oleh pemerintahan pada saat itu, yaitu pesirah.'''
''Mangko itu tahun 1974, diresmika ngan Bupati Bengkulu Selatan tejadilah Dusun Padang Genting. Nah akhir o karno zaman ni bekembang terus, gaek-gaek nyo idup saat itu, di pinggir aiak itu, aiak itu digunoka untuk jalan. Nah waktu nalak itu kan gunoka rakit, digunoka untuk minum dan segalo bagai o, itua mako o milia di pinggir aiak.''
'''Jadi, pada tahun 1974, diresmikan oleh Bupati Bengkulu Selatan terjadilah Desa Padang Genting. Nah akhirnya dikarenakan perkembangan zaman, bapak-bapak yang hidup pada saat itu, di pinggir air, airnya dipakai untuk jalan. Nah waktu mencari itu kan pakai rakit, pakai ini untuk minum segala macam itu, itulah makanya memilih di pinggir air.'''
''Akhir o bekembang terus sampai bemusuhan agi. Tanggo Batu ni sebenar o memang ndak munco sughang, nido ndak begabung. Akhir o bejanjilah ngan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri ndak dipiliah agi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan agi kan? Kalu tepiliah katoyo Tanggo Batu buliah dimekarka jak di Dusun Padang Genting. Dulu o, tahun 1974, dibuliahka ngan pesirah itu, dijadika pemekaran. Mako o asli o namo Dusun Tanggo Batu, sampai iluak kini ni.''
'''Akhirnya mengalami perkembangan sampai mereka bermusuhan lagi. Tangga Batu ini sebenarnya memang mau berdiri sendiri, tidak mau bergabung. Berjanjilah dengan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri mau dipilih lagi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan lagi kan?Kalau terpilih katanya Tangga Batu boleh dimekarkan dari Desa Padang Genting. Pada tahun 1974, diizinkan oleh pesirah itu, jadi pemekaran. Makanya asli lah nama Desa Tangga Batu, sampai sekarang.'''
''Jadi, la 8 kali pemilihan kepala desa. Kalu dulu tu pemilihan depati, udim itu pemilihan langsung jak kepala desa. Udim itu barulah diakui Dusun Tanggo Batu tahun 1974.
''
'''Jadi, sudah 8 kali pemilihan kepala desa. Kalau dulu pemilihan depati, kemudian pemilihan langsung pemilihan kepala desa. Sesudah itu baru diakui Desa Tangga Batu tahun 1974.'''
''Saat tahun 1974 tu persyaratan o harus didirika sebuah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tanggo Batu sepakat. Tanggo Batu tu memang la betul-betul tanggo, la udim dikinaki masyarakat tanggo tu la didirika, masjid la udim didirika pulo.''
===== Pada tahun 1974 itu persyaratannya harus berdiri satu buah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tangga Batu sepakat. Tangga Batu itu memang betul-betul tangga, sudah dilihat oleh masyarakat tangga itu sudah berdiri, masjid sudah berdiri. =====
''Legenda didapat dari penuturan Dustan, 70 tahun, budayawan dari Kabupaten Seluma''
ruvn475kmis29ycy266ap8mtwf83kfp
116911
116910
2026-06-15T04:44:10Z
Ismaaatull
42809
116911
wikitext
text/x-wiki
== LEGENDA DESA TANGGA BATU ==
[[File:Asal Usul Desa Tangga Batu.ogg|thumb|Menceritakan asal usul Desa Tangga Batu yang ada di Kecamatan Seluma Selatan. Ada sebuah tangga yang disusun atas tumpukan batu dan menuju ke arah masjid]]
[[File:Desain Masjid Tangga Batu.png|thumb|Dulu, berdiri sebuah masjid dan disertai dengan berdirinya sebuah tangga menuju ke masjid]]
''Dusun Tanggo Batu ini agak bebeda di Kabupaten Seluma, karno banyak nyo berayak nanyoka masalah tentang Dusun Tanggo Batu. Jadi Tanggo Batu ni sebenaro bukan buatan manusio, tapi buatan jak di alam. Jadi Tanggo Batu itu tu sebenaro ado tigo jungku diimpit pinggir aiak Seluma. Jadi iduplah jemo tigo jungku itu. Nyo pertamo, jungku o itu Rentanin dio lah puyang kami, nyo keduo Jungku Kuris, dan jungku ketigo namo o Jungku Reguak dan jadilah tigo punduk. Nyo bekehidupan di situ, naiak tughun ke aiak Seluma, itu tu memang la ado tanggo, nyo la disebut Tanggo Batu. Tanggo itu nuju ke pagha masjid. Udim itu bekembanglah. Akhir o la ado kiro-kiro 30 keluargo. Jadilah tigo jungku tadi bekeendak an muat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dio ngusulka ke pemerintahan ngan didukung pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulka lum pacak nyadi dusun, karno wargo o lum banyak nian atau lum memenuhi syarat nian jadi dusun. Aturan o waktu dulu ado 40 tetanggo atau 40 ghumah. Jadi behubung bedampingan Dusun Tanggo Batu ngan Dusun Padang Genting, akhir o masyarakat bemusyawarah mufakat di situ.''
'''Tangga Batu ini agak unik di Kabupaten Seluma, dikarenakan banyak yang datang menanyakan masalah tentang Desa Tangga Batu. Jadi Tangga Batu ini sebenarnya bukan buatan manusia, tapi buatan alam. Jadi Tangga Batu itu berdirinya ada 3 jungku (garis keturunan) di dekat pinggir air Seluma. Jadi berkembanglah hidup orang 3 jungku itu. Yang pertama, jungkunya itu Rentanin puyang kami, yang kedua Jungku Kuris, dan yang ketiga Jungku Reguak dan jadilah 3 pondok. Berkehidupanlah di situ, naik turun ke air Seluma itu memang sudah ada tangga, Tangga Batu. Tangga itu menuju ke arah masjid. Nah setelah itu dusunnya berkembang. Akhirnya sudah ada kira-kira ada 30 keluarga. Jadi 3 jungku tadi berkeinginan membuat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dia mengusulkan ke pemerintahan dengan dipandu oleh pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulkan belum bisa jadi dusun, karena warganya belum cukup banyak atau belum cukup memenuhi syarat jadi dusun. Aturan waktu itu ada 40 tetangga atau 40 rumah. Jadi berhubung berdekatan Desa Tanggo Batu dengan Desa Padang Genting, akhirnya masyarakat bermusyawarah mufakat di sana itu.'''
''Jadi, nginduklah ke Dusun Padang Genting. Dusun Padang Genting besatu ngan Dusun Tanggo Batu waktu itu, sebenar o yang lair duluan tu Dusun Tanggo Batu dibandingka ngan Dusun Padang Genting. Tapi Padang Genting tu memang la di pinggir jalan, akhir o besatulah ngan Dusun Padang Genting. Mangko o pacak diakui oleh pemerintahan waktu itu, yaitu pesirah.''
'''Jadi, menginduklah ke Desa Padang Genting. Desa Padang Genting bersatu dengan Desa Tangga Batu pada saat itu, yang sebenarnya lahir duluan itu Desa Tangga Batu daripada Desa Padang Genting. Tetapi Padang Genting itu sudah di pinggir jalan, akhirnya bersatulah dengan Desa Padang Genting. Dapatlah diakui oleh pemerintahan pada saat itu, yaitu pesirah.'''
''Mangko itu tahun 1974, diresmika ngan Bupati Bengkulu Selatan tejadilah Dusun Padang Genting. Nah akhir o karno zaman ni bekembang terus, gaek-gaek nyo idup saat itu, di pinggir aiak itu, aiak itu digunoka untuk jalan. Nah waktu nalak itu kan gunoka rakit, digunoka untuk minum dan segalo bagai o, itua mako o milia di pinggir aiak.''
'''Jadi, pada tahun 1974, diresmikan oleh Bupati Bengkulu Selatan terjadilah Desa Padang Genting. Nah akhirnya dikarenakan perkembangan zaman, bapak-bapak yang hidup pada saat itu, di pinggir air, airnya dipakai untuk jalan. Nah waktu mencari itu kan pakai rakit, pakai ini untuk minum segala macam itu, itulah makanya memilih di pinggir air.'''
''Akhir o bekembang terus sampai bemusuhan agi. Tanggo Batu ni sebenar o memang ndak munco sughang, nido ndak begabung. Akhir o bejanjilah ngan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri ndak dipiliah agi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan agi kan? Kalu tepiliah katoyo Tanggo Batu buliah dimekarka jak di Dusun Padang Genting. Dulu o, tahun 1974, dibuliahka ngan pesirah itu, dijadika pemekaran. Mako o asli o namo Dusun Tanggo Batu, sampai iluak kini ni.''
'''Akhirnya mengalami perkembangan sampai mereka bermusuhan lagi. Tangga Batu ini sebenarnya memang mau berdiri sendiri, tidak mau bergabung. Berjanjilah dengan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri mau dipilih lagi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan lagi kan?Kalau terpilih katanya Tangga Batu boleh dimekarkan dari Desa Padang Genting. Pada tahun 1974, diizinkan oleh pesirah itu, jadi pemekaran. Makanya asli lah nama Desa Tangga Batu, sampai sekarang.'''
''Jadi, la 8 kali pemilihan kepala desa. Kalu dulu tu pemilihan depati, udim itu pemilihan langsung jak kepala desa. Udim itu barulah diakui Dusun Tanggo Batu tahun 1974.
''
'''Jadi, sudah 8 kali pemilihan kepala desa. Kalau dulu pemilihan depati, kemudian pemilihan langsung pemilihan kepala desa. Sesudah itu baru diakui Desa Tangga Batu tahun 1974.'''
''Saat tahun 1974 tu persyaratan o harus didirika sebuah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tanggo Batu sepakat. Tanggo Batu tu memang la betul-betul tanggo, la udim dikinaki masyarakat tanggo tu la didirika, masjid la udim didirika pulo.''
'''Pada tahun 1974 itu persyaratannya harus berdiri satu buah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tangga Batu sepakat. Tangga Batu itu memang betul-betul tangga, sudah dilihat oleh masyarakat tangga itu sudah berdiri, masjid sudah berdiri.'''
''Legenda didapat dari penuturan Dustan, 70 tahun, budayawan dari Kabupaten Seluma''
5gz2ygo5hud6uh9h8ymi99292f03t4t
Seloka Bengkulu
0
27646
116925
116896
2026-06-15T07:33:43Z
Mutiaraaisyahh
43387
menambahkan daftar
116925
wikitext
text/x-wiki
Buku ini merupakan kumpulan seloka sastra lisan dari daerah Bengkulu. Hasil proyek WikiSeloka yang merupakan salah satu hibah Rapid Fund dari wikimedia Foundation.
== Seloka yang [[Seloka Bengkulu/Kampung Durian|didokumentasikan]] ==
# [[Seloka Bengkulu/Sangkan mbak mano kendak padi|Sangkan mbak mano kendak padi]]
# [[Seloka Bengkulu/Tiap-tiap Iselam laki-laki wahiman perempuan|Tiap-tiap Iselam laki-laki wahiman perempuan]]
# [[Seloka Bengkulu/Sikum nenek puyang|Sikum nenek puyang]]
# [[Seloka Bengkulu/Talang Bughuak|Talang Bughuak]]
# [[Seloka Bengkulu/Sumur tuo banyak airnyo|Sumur tuo banyak airnyo]]
# [[Seloka Bengkulu/Gemulunglah daun pandan tinggi|Gemulunglah daun pandan tinggi]]
# [[Seloka Bengkulu/Air mate banyak cucuran|Air mate banyak cucuran]]
# [[Seloka Bengkulu/Bukan selasih sembarang selasih|Bukan selasih sembarang selasih]]
# [[Seloka Bengkulu/Ketek bermanja-manja, gadang baparangai|Ketek bermanja-manja, gadang baparangai]]
# [[Seloka Bengkulu/Kampung Durian|Kampung Durian]]
# [[Wahai saudara handai dan tolan]]
# [[Seloka Bengkulu/Bederai daun nelapo|Bederai daun nelapo]]
# [[Pasar berkas dulu kampungnyo lengang]]
# [[Seloka Bengkulu/Jangan dicubo rantau panjang|Jangan dicubo rantau panjang]]
# [[Seloka Bengkulu/Petai Tinggi|Petai Tinggi]]
# [[Air mate banyak cucuran]]
# [[Anak raja memakai mahkota]]
# [[Seloka Bengkulu/Tapak padri di tengah kota|Tapak padri di tengah kota]]
[[Kategori:WikiSeloka]]
4cjohru40w9l4s3npeq0cy5wfomvage
Tape pasal sual urang kite
0
27701
116898
2026-06-14T13:55:25Z
Karolinia
43386
←Membuat halaman berisi 'Tape pasal sual urang kite Ade berape surahan orang mati Ade tujuh perekare Pertame mati kafir dan iselam Sekafir tetap sekafir, Iselam tetap iselame Kedue dimane badah mati adelah dalam kelimah laillahaillallah Ketige tape yang mati adelah nafsu Empat tape yang tinggal adelah dame Lime tape yang yang ilang adelah napas Enam tape ye dicari mati adelah maurifat Tujuh tape yang pulang adelah eroh Balek kekederat iradat Allah taalah Itulah orang suci ye...'
116898
wikitext
text/x-wiki
Tape pasal sual urang kite
Ade berape surahan orang mati
Ade tujuh perekare
Pertame mati kafir dan iselam
Sekafir tetap sekafir, Iselam tetap iselame
Kedue dimane badah mati adelah dalam kelimah laillahaillallah
Ketige tape yang mati adelah nafsu
Empat tape yang tinggal adelah dame
Lime tape yang yang ilang adelah napas
Enam tape ye dicari mati adelah maurifat
Tujuh tape yang pulang adelah eroh
Balek kekederat iradat Allah taalah
Itulah orang suci ye mulie tinggi
Tempat kite yang kekal selame lamenye
Lailahaillallah muhammadarasulullah
atgj7fzk4lyhh3digdmizkk4f1wzh6k