Wikikutip
idwikiquote
https://id.wikiquote.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.15
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikikutip
Pembicaraan Wikikutip
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Afgan
0
4477
55914
22421
2026-08-16T10:02:18Z
Badak Jawa
15604
Badak Jawa memindahkan halaman [[Afgan Syah Reza]] ke [[Afgan]]: Lebih dikenal sebagai Afgan
22421
wikitext
text/x-wiki
{{wikipedia}}
'''Afgan Syah Reza''' adalah penyanyi Indonesia kelahiran Jakarta, 27 Mei 1989
==Kutipan==
* "Kita teman dekat aja kok. Nggak pacaran. Kebetulan kita memang lagi janjian buat ketemuan bareng. Pokoknya kalau sama dia aku nyaman saja jalannya. Bukan berarti pacaran lho."
* "Saya senang dengan program seperti ini, karena membantu terhadap sesama dan mudah caranya."
* "Yang pasti deg-deganlah, kan ujian itu juga pengaruhi aku bisa ke Australia atau tidak."
* "Alhamdulillah secara personal nggak ada kejadian kayak gitu, kebetulan mama saya kasih batasan. Jadi Alhamdulillah nggak masalah."
* "Ini buat nasib anak muda juga. Tapi untuk KPI jangan berlebihan, kasih juga penyuluhan."
{{Tokoh}}
[[Kategori:Tokoh Indonesia]]
hmalkiiafznjavtoix7v98ijt907amc
Habib Burquibah
0
8927
55887
34114
2026-08-15T12:12:24Z
Ziv
19598
([[c:GR|GR]]) [[File:Portrait officiel de Habib Bourguiba.png]] → [[File:Habib Bourguiba portrait4.jpg]] → File replacement: update from an old and low quality png version to a jpg with better quality ([[c:c:GR]])
55887
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Habib Bourguiba portrait4.jpg|jmpl|Potret resmi kenegaraan, Habib Burquibah.]]
'''Habib Burquibah''' (ejaan bahasa Prancis: '''Habib Bourguiba''') adalah presiden [[Tunisia]] yang pertama.
== Komentar tentang dirinya ==
* "Kita perlu mendefinisikan identitas kita. Rakyat Tunisia bukanlah wisatawan yang tinggal di suatu hotel. Mereka memiliki sejarah dan latar belakang yang membentuk identitas mereka. Peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan mereka harus berasal dari latar belakang tersebut. Satu masalah terbesar yang dihadapi Tunisia selama pemerintahan Bourguiba adalah usaha dia menghubungkan mereka dengan Barat dan membuat mereka lupa dengan identitas Arab-Islam mereka. Dia percaya bahwa Islam merupakan suatu rintangan terhadap perubahan dan modernisasi. Dia berusaha menafsirkan Islam dengan cara yang akan memenuhi tujuan-tujuannya, pemerintahannya dan program pem-Barat-annya. Akhirnya, dia berusaha merusak identitas Arab-Islam Tunisia."
** Dikemukakan oleh [[Rached Ghannouchi]].
** Dikutip dari Esposito, J. L., dan Voll, J. O. (2002) ''Tokoh Kunci Gerakan Islam Kontemporer''. [''Makers of Contemporary Islam''] Diterjemahkan oleh Hariyanto, S., Sukono dan Rohimah, U. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Halaman 121. ISBN 979-421-877-4
[[Kategori:Presiden Tunisia]]
cf0w5n7zjh8zc52vr3w6l15623slf75
Pengguna:Yuliarp
2
10911
55895
42208
2026-08-15T14:57:48Z
Yuliarp
20170
added [[Category:{{Peserta Tantangan Wiki Cinta Kutip 2026}}]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
55895
wikitext
text/x-wiki
Ciao!
Nama saya Yulia, your King of Gems.{{Pengguna Kelas SheSaid 2025}}
[[Kategori:{{Peserta Tantangan Wiki Cinta Kutip 2026}}]]
6tpykqvbk6ejcnz5gteyqxol4p5qls8
55918
55895
2026-08-16T10:59:33Z
Badak Jawa
15604
/* */ Menghapus kategori karena sudah otomatis ketika menambahkan templatnya
55918
wikitext
text/x-wiki
Ciao!
Nama saya Yulia, your King of Gems.{{Pengguna Kelas SheSaid 2025}}
{{Peserta Tantangan Wiki Cinta Kutip 2026}}
t1rtoiv6zltini2y2ccjqcdswuor6b4
Acara:Wiki Cinta Kutip 2026
1728
14902
55888
55883
2026-08-15T12:20:17Z
Badak Jawa
15604
/* Cara berpartisipasi dan ketentuan */
55888
wikitext
text/x-wiki
'''Wiki Cinta Kutip''' '''2026''' adalah tantangan menulis dan menyempurnakan artikel bertopik perempuan dan pahlawan pria Indonesia di Wikikutip Indonesia yang diselenggarakan tanggal 15 Agustus hingga 15 September 2026.
Acara ini mengusung 2 topik yaitu perempuan dan pahlawan pria Indonesia.
== Tujuan ==
* Meningkatkan jumlah artikel Wikikutip
* Meningkatkan artikel Wikikutip bertopik perempuan dan pahlawan pria Indonesia
== Syarat ==
* Artikel Wikikutip merupakan artikel baru, bukan pengembangan dari artikel yang sudah ada.
* Setiap artikel yang diikutsertakan dalam lomba wajib memuat minimal 3.000 bita.
* Setiap artikel wajib mencantumkan minimal 1 referensi.
* Artikel bertopik perempuan dapat berupa tokoh nyata maupun tokoh fiksi.
* Artikel Wikikutip '''tidak''' membahas biografi tokoh secara detail melainkan fokus lebih banyak menyajikan kutipan tokoh tersebut.
== Cara berpartisipasi dan ketentuan ==
* Tiap peserta hanya dapat mengikuti satu topik kompetisi.
* Tiap peserta wajib mendaftarkan diri di laman ini dan menambahkan {{tl|Peserta Tantangan Wiki Cinta Kutip 2026}} di halaman pengguna masing-masing.
* Peserta yang menyunting artikel Wikikutip perempuan bisa mengirimkan artikelnya di {{Clickable button|Fountain artikel perempuan|url=https://fountain.toolforge.org/editathons/wlq-2016-pr|class=mw-ui-progressive}}
* Peserta yang menyunting artikel Wikikutip Pahlawan pria Indonesia bisa mengirimkan artikelnya di
{{Clickable button|Fountain artikel bertopik Pahlawan pria Indonesia|url=https://fountain.toolforge.org/editathons/wlq2026-pahlawan-idwikiquote|class=mw-ui-progressive}}
* Panitia akan menyediakan 6 suvenir untuk 6 pemenang yang berbeda.
* Pemenang akan dipilih berdasarkan kecepatan, jumlah kontribusi terbanyak, dan ketepatan.
* Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
* Pengumuman pemenang akan diumumkan di laman ini dan media sosial WikiPerempuan.
* Tiap peserta yang memperoleh 5 poin akan mendapatkan Bintang Wiki.
== Jadwal ==
* Kegiatan ini berlangsung pada '''15 Agustus 2026 pukul 00.00 hingga 15 September 2026 pukul 00.00 UTC''', atau setara dengan '''15 Agustus 2026 pukul 07.00 hingga 15 September 2026 pukul 07.00 WIB'''.
* Periode '''penilaian''' berlangsung selama 2 pekan sejak selesainya kegiatan, tanggal '''15 – 29 September 2026.'''
== Juri & penyelenggara acara ==
* [[Pengguna:Alfiyah Rizzy Afdiquni|Alfiyah Rizzy Afdiquni]] (juri penilai artikel perempuan)
* [[Pengguna:Iripseudocorus|Iripseudocorus]] (juri penilai artikel perempuan)
* [[Pengguna:Badak Jawa|Badak Jawa]] (juri penilai artikel Pahlawan pria Indonesia)
* [[Pengguna:Nafisathallah|Nafisathallah]] (juri penilai artikel Pahlawan pria Indonesia)
[[Kategori:Wiki Cinta Kutip 2026]]
1h52nyx6kj6k2cxh3clyukqb7qq14sl
55916
55888
2026-08-16T10:25:35Z
Badak Jawa
15604
/* */
55916
wikitext
text/x-wiki
'''Wiki Cinta Kutip''' '''2026''' adalah tantangan membuat artikel bertopik perempuan dan pahlawan pria Indonesia di Wikikutip Indonesia yang diselenggarakan tanggal 15 Agustus hingga 15 September 2026.
Acara ini mengusung 2 topik yaitu perempuan dan pahlawan pria Indonesia.
== Tujuan ==
* Meningkatkan jumlah artikel Wikikutip
* Meningkatkan artikel Wikikutip bertopik perempuan dan pahlawan pria Indonesia
== Syarat ==
* Artikel Wikikutip merupakan artikel baru, bukan pengembangan dari artikel yang sudah ada.
* Setiap artikel yang diikutsertakan dalam lomba wajib memuat minimal 3.000 bita.
* Setiap artikel wajib mencantumkan minimal 1 referensi.
* Artikel bertopik perempuan dapat berupa tokoh nyata maupun tokoh fiksi.
* Artikel Wikikutip '''tidak''' membahas biografi tokoh secara detail melainkan fokus lebih banyak menyajikan kutipan tokoh tersebut.
== Cara berpartisipasi dan ketentuan ==
* Tiap peserta hanya dapat mengikuti satu topik kompetisi.
* Tiap peserta wajib mendaftarkan diri di laman ini dan menambahkan {{tl|Peserta Tantangan Wiki Cinta Kutip 2026}} di halaman pengguna masing-masing.
* Peserta yang menyunting artikel Wikikutip perempuan bisa mengirimkan artikelnya di {{Clickable button|Fountain artikel perempuan|url=https://fountain.toolforge.org/editathons/wlq-2016-pr|class=mw-ui-progressive}}
* Peserta yang menyunting artikel Wikikutip Pahlawan pria Indonesia bisa mengirimkan artikelnya di
{{Clickable button|Fountain artikel bertopik Pahlawan pria Indonesia|url=https://fountain.toolforge.org/editathons/wlq2026-pahlawan-idwikiquote|class=mw-ui-progressive}}
* Panitia akan menyediakan 6 suvenir untuk 6 pemenang yang berbeda.
* Pemenang akan dipilih berdasarkan kecepatan, jumlah kontribusi terbanyak, dan ketepatan.
* Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
* Pengumuman pemenang akan diumumkan di laman ini dan media sosial WikiPerempuan.
* Tiap peserta yang memperoleh 5 poin akan mendapatkan Bintang Wiki.
== Jadwal ==
* Kegiatan ini berlangsung pada '''15 Agustus 2026 pukul 00.00 hingga 15 September 2026 pukul 00.00 UTC''', atau setara dengan '''15 Agustus 2026 pukul 07.00 hingga 15 September 2026 pukul 07.00 WIB'''.
* Periode '''penilaian''' berlangsung selama 2 pekan sejak selesainya kegiatan, tanggal '''15 – 29 September 2026.'''
== Juri & penyelenggara acara ==
* [[Pengguna:Alfiyah Rizzy Afdiquni|Alfiyah Rizzy Afdiquni]] (juri penilai artikel perempuan)
* [[Pengguna:Iripseudocorus|Iripseudocorus]] (juri penilai artikel perempuan)
* [[Pengguna:Badak Jawa|Badak Jawa]] (juri penilai artikel Pahlawan pria Indonesia)
* [[Pengguna:Nafisathallah|Nafisathallah]] (juri penilai artikel Pahlawan pria Indonesia)
[[Kategori:Wiki Cinta Kutip 2026]]
ptkidg546v9wz4jlf5ribyk7s6wg5lp
Komeng
0
14920
55913
55826
2026-08-16T09:36:05Z
Radramboo
18348
added [[Category:Pejabat Negara]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
55913
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Komeng DPD RI.jpg|jmpl]]
'''Alfiansyah Bustami''' (lahir 25 Agustus 1970), lebih dikenal sebagai '''Komeng''', adalah pelawak, pemeran, penyiar radio, presenter, dan politikus Indonesia.
== Kutipan ==
# ''Sebenarnya semua program Presiden bagus, cuman yang kerjanya aja pada ga bener. Makanya mudah-mudahan yang sekarang lebih baik''<ref name=":0">{{Cite web|last=Pamungkas|first=Rama|date=14 Agustus 2026|title=Komeng sebut program Prabowo bagus: Yang kerja aja pada nggak bener|url=https://elshinta.com/kategori/1/aktual-dalam-negeri/komeng-sebut-program-prabowo-bagus-yang-kerja-aja-pada-nggak-bener-173555|website=Elshinta|access-date=15 Agustus 2026}}</ref> - ia menilai program kerja Prabowo Subianto merupakan kebijakan yang baik saat merespon isi pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026.
# ''Karena memang MBG bagus, hilirisasi bagus, apalagi Komen. Ya, Assalamualaikum!''<ref name=":0" /> - ia menegaskan dukungannya terhadap program unggulan yang dicanangkan pemerintah.
== Referensi ==
{{Reflist}}
== Pranala luar ==
{{Wikipedia}}
[[Kategori:Pejabat Negara]]
c8v8zg23lf47h7d4oyf33phtwnht6hr
Ida Ayu Nyoman Rai
0
14924
55889
55840
2026-08-15T13:35:13Z
Fatonyrd
21228
Menambahkan referensi.
55889
wikitext
text/x-wiki
Ida Ayu Nyoman Rai (1881–1958) adalah ibunda dari Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno. Beliau merupakan seorang bangsawan Bali dari kasta Brahmana yang berasal dari Banjar Bale Agung, Singaraja, Bali. Pernikahannya dengan Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru keturunan Jawa, menyatukan latar belakang budaya Bali dan Jawa dalam diri Sukarno. Dalam autobiografi Sukarno, Ida Ayu Nyoman Rai digambarkan sebagai sosok ibu yang penuh spiritualitas, keteguhan hati, dan sosok pertama yang meramalkan takdir putranya sebagai "Putra Sang Fajar".
== Kutipan ==
* "Engkau sedang menatap matahari terbit, putraku. Dan engkau, putraku, akan menjadi orang mulia, seorang pemimpin besar bagi rakyatnya, karena ibumu melahirkanmu saat fajar... Kami orang Jawa percaya bahwa seseorang yang lahir pada saat matahari terbit telah ditakdirkan. Jangan pernah lupa bahwa engkau adalah putra dari sang fajar." (Diucapkan saat Sukarno masih kecil di Blitar pada suatu pagi. Ibunya memangku Sukarno muda sambil duduk di pekarangan rumah menatap matahari terbit di ufuk timur).
** Soekarno, & Adams, C. (1965). ''Sukarno: An autobiography as told to Cindy Adams'' (Bab 2, hlm. 17). Bobbs-Merrill.
* "Jangan pernah menundukkan kepalamu kepada siapa pun, anakku. Selalu tegakkan kepalamu sebagai anak berdarah bangsawan dan putra dari tanah ini." (Diucapkan ketika Sukarno masih anak-anak untuk menanamkan keberanian dan keteguhan mental agar tidak pernah merasa inferior atau rendah diri di hadapan kaum penjajah kolonial).
** Soekarno, & Adams, C. (1965). ''Sukarno: An autobiography as told to Cindy Adams'' (Bab 2, hlm. 18). Bobbs-Merrill.
* "Aku melahirkanmu untuk menjadi manusia merdeka, bukan seorang pelayan bagi orang Belanda." (Keteguhan hati ibunda Sukarno dalam menolak sistem pengajaran dan nilai-nilai kolonial Belanda yang dinilainya merendahkan harkat dan martabat pribumi).
** Soekarno, & Adams, C. (1965). ''Sukarno: An autobiography as told to Cindy Adams'' (Bab 3, hlm. 24). Bobbs-Merrill.
* "Mengapa tidak ada suara tembakan? Mengapa kalian tidak bertempur? Apakah kalian penakut? Mengapa kalian tidak keluar dan menembaki Belanda? Ayo, kalian semua, keluar dan bunuh orang-orang Belanda itu!" (Diucapkan pada tahun 1946 ketika perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ida Ayu Nyoman Rai memarahi para pejuang gerilya yang bersembunyi di halaman belakang rumahnya di Blitar karena tidak mendengar suara pertempuran).
** Sukarno, & Adams, C. (1965). Sukarno: An autobiography as told to Cindy Adams (Bab 2, hlm. 19). Bobbs-Merrill.
* "Dengan melakukan ini, ibu menghemat satu sen. Dan satu sen itu dapat membelikanmu, putraku, seikat sayur." (Diucapkan di Mojokerto saat keluarga Sukarno mengalami kemiskinan ekstrem. Ibunya memilih menumbuk padi sendiri menggunakan alu kayu hingga tangannya melepuh demi menghemat pengeluaran rumah tangga).
** Sukarno, & Adams, C. (1965). Sukarno: An autobiography as told to Cindy Adams (Bab 3, hlm. 24). Bobbs-Merrill.
* Tidak. Sama sekali tidak. Putraku tidak akan pergi ke Belanda... Apa yang menarik bagimu? Keinginan mendapat gelar universitas atau prospek mendapatkan wanita berkulit putih? Jika demikian engkau akan kuliah di sini. Pertama kita harus mempertimbangkan kenyataan dasar: Uang. Terlalu mahal pergi ke luar negeri. Lagipula, engkau adalah anak yang lahir dengan darah Hindia. Ibu ingin engkau tetap di sini bersama bangsamu sendiri. Jangan pernah lupa, putraku, bahwa tempatmu, takdirmu, warisanmu, ada di kepulauan ini." (Diucapkan pada bulan Juni 1921 setelah Sukarno lulus dari HBS Surabaya. Ibunya menolak keras niat Sukarno melanjutkan kuliah ke universitas di Belanda dan mengarahkannya untuk menuntut ilmu di tanah air (THS Bandung)).
** Sukarno, & Adams, C. (1965). Sukarno: An autobiography as told to Cindy Adams (Bab 5, hlm. 50). Bobbs-Merrill.
* "Jangan pernah lupa, putraku, bahwa engkau adalah putra sang fajar." (Diucapkan saat melepaskan Sukarno muda berusia 15 tahun berangkat merantau ke Surabaya untuk menempuh pendidikan di HBS. Sang ibu melangkahinya tiga kali sebelum mengucapkan kalimat ini sebagai restu spiritual).
** Sukarno, & Adams, C. (1965). Sukarno: An autobiography as told to Cindy Adams (Bab 4, hlm. 32). Bobbs-Merrill.
== Referensi ==
# Sukarno, & Adams, C. (1965). Sukarno: An autobiography as told to Cindy Adams. Bobbs-Merrill.
h3gvl0bw939230187nrxg23apggo6n8
Pengguna:Fatonyrd
2
14926
55902
55841
2026-08-16T05:57:47Z
Fatonyrd
21228
55902
wikitext
text/x-wiki
Halo! Selamat datang di halaman pengguna Fatonyrd. Saya adalah seorang sukarelawan di Wikikutip yang memiliki minat dalam bidanng kebudayaan, kearsipan, dan seni. Halaman ini saya gunakan sebagai profil pribadi sekaligus sarana koordinasi dalam mendokumentasikan berbagai koleksi kutipan.
{{Userbox
| border-color = #000080
| logo = [[File:Wiki Loves Quotes logo 2026.png|50px]]
| info-background =
| logo-background = #FFFFFF
| info = <div class="center">Pengguna ini adalah peserta '''[[Acara:Wiki Cinta Kutip 2026|Wiki Cinta Kutip 2026]]'''</div>
| info-color = #000080
| info-fc = #000
| id-fc = #000
| info-fs = 110%
| id-fs = 110%
}}
[[Kategori:Peserta Wiki Cinta Kutip 2026]]
tjuahq3eeq8qlzknoatzcu3l08kuqqi
Sri Ningsih
0
14932
55890
2026-08-15T13:55:08Z
Fatonyrd
21228
Membuat halaman baru tokoh fiksi Sri Ningsih dalam novel Tentang Kamu beserta kutipan dan konteksnya.
55890
wikitext
text/x-wiki
'''Sri Ningsih''' adalah tokoh utama dalam novel ''Tentang Kamu'' karya Tere Liye. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan tangguh yang melintasi berbagai fase kehidupan penuh cobaan, mulai dari Pulau Bungin, Surakarta, Jakarta, London, hingga Paris dengan ketabahan dan rasa sabar yang luar biasa.
== Kutipan ==
* "Terima kasih banyak atas pelajaran tentang kesabaran. Bapak, aku akhirnya memahaminya. Apakah sabar memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apapun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apapun fisik seseorang, semiskin apapun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa." (Catatan pribadi Sri Ningsih dalam buku harian (''diary'') pada juz pertama yang menceritakan masa mudanya di Pulau Bungin (1946–1960). Catatan ini ditulis sebagai bentuk perenungan atas ujian hidup dan ajaran kesabaran dari ayahnya).
* "Terima kasih banyak untuk pelajaran tentang memaafkan. Ibu, aku akhirnya memahaminya. Apakah memaafkan itu memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kesedihan, rasa sakit, dan penderitaan sebesar apa pun luruh oleh rasa maaf. Kebencian tidak akan menyelesaikan masalah, dia hanya memakan jiwa pengadunya." (Bagian dari tulisan Sri Ningsih dalam diary-nya ketika mengenang masa-masa sulit, pengkhianatan, dan kepedihan hidup yang dia lalui, di mana ia memilih untuk berdamai dengan keadaan serta memaafkan orang-orang yang menyakitinya.)
* "Bukan seberapa lama kita hidup, melainkan seberapa berkualitas hidup yang kita jalani. Hidup ini adalah petualangan. Jangan pernah menengok ke belakang dengan rasa penyesalan, tataplah ke depan dengan keteguhan hati." (Ungkapan refleksi kehidupan Sri Ningsih yang diceritakan oleh Aimée (pengurus panti jompo di Paris) kepada Zaman Zulkarnaen mengenai bagaimana Sri Ningsih menjalani masa tuanya dengan penuh keikhlasan dan keceriaan tanpa penyesalan).
== Referensi ==
# Liye, T. (2016). Tentang kamu. Republika Penerbit.
64or9m9fjil5od60a3ik6qfww0dw4jo
55891
55890
2026-08-15T13:59:25Z
Fatonyrd
21228
Menambahkan kutipan buku harian Sri Ningsih dan catatan konteksnya dari novel Tentang Kamu.
55891
wikitext
text/x-wiki
'''Sri Ningsih''' adalah tokoh utama dalam novel ''Tentang Kamu'' karya Tere Liye. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan tangguh yang melintasi berbagai fase kehidupan penuh cobaan, mulai dari Pulau Bungin, Surakarta, Jakarta, London, hingga Paris dengan ketabahan dan rasa sabar yang luar biasa.
== Kutipan ==
* "Terima kasih banyak atas pelajaran tentang kesabaran. Bapak, aku akhirnya memahaminya. Apakah sabar memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apapun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apapun fisik seseorang, semiskin apapun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa." (Catatan pribadi Sri Ningsih dalam buku harian (''diary'') pada juz pertama yang menceritakan masa mudanya di Pulau Bungin (1946–1960). Catatan ini ditulis sebagai bentuk perenungan atas ujian hidup dan ajaran kesabaran dari ayahnya).
* "Terima kasih banyak untuk pelajaran tentang memaafkan. Ibu, aku akhirnya memahaminya. Apakah memaafkan itu memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kesedihan, rasa sakit, dan penderitaan sebesar apa pun luruh oleh rasa maaf. Kebencian tidak akan menyelesaikan masalah, dia hanya memakan jiwa pengadunya." (Bagian dari tulisan Sri Ningsih dalam diary-nya ketika mengenang masa-masa sulit, pengkhianatan, dan kepedihan hidup yang dia lalui, di mana ia memilih untuk berdamai dengan keadaan serta memaafkan orang-orang yang menyakitinya.)
* "Bukan seberapa lama kita hidup, melainkan seberapa berkualitas hidup yang kita jalani. Hidup ini adalah petualangan. Jangan pernah menengok ke belakang dengan rasa penyesalan, tataplah ke depan dengan keteguhan hati." (Ungkapan refleksi kehidupan Sri Ningsih yang diceritakan oleh Aimée (pengurus panti jompo di Paris) kepada Zaman Zulkarnaen mengenai bagaimana Sri Ningsih menjalani masa tuanya dengan penuh keikhlasan dan keceriaan tanpa penyesalan).
* "Terima kasih banyak atas pelajaran tentang cinta. Aku akhirnya memahaminya. Apakah cinta memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Cinta sejati tidak pernah menuntut pengorbanan yang membuat kita kehilangan diri sendiri. Cinta sejati memberikan kekuatan untuk bertahan di saat paling gelap sekalipun." (Bagian dari tulisan Sri Ningsih dalam buku hariannya pada juz ketiga yang berlatar belakang perantauannya di Jakarta, menceritakan pahit manisnya hubungan dan kerja keras membangun masa depan).
* "Terima kasih banyak atas pelajaran tentang keteguhan hati. Ibu, aku akhirnya memahaminya. Apakah teguh hati memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika cobaan datang bertubi-tubi, saat penderitaan seolah tidak ada akhirnya, keteguhan hati adalah benteng terakhir. Selama kita tidak menyerah, tidak ada yang benar-benar bisa mengalahkan kita." (Catatan dalam buku harian (''diary'') Sri Ningsih pada juz kedua yang menceritakan perjalanannya di Surakarta, mengenang perjuangan dan ujian berat yang dihadapi bersama keluarganya).
* "Terima kasih banyak atas pelajaran tentang ketegaran. Aku akhirnya memahaminya. Dunia ini boleh saja mengambil segalanya dari kita: harta, orang-orang tersayang, hingga masa muda. Namun dunia tidak akan pernah bisa mengambil keikhlasan yang ada di dalam hati." (Catatan Sri Ningsih pada juz keempat yang berlatar tempat di London, ditulis setelah melalui berbagai pengorbanan besar dan kehilangan yang mendalam sebelum ia memutuskan pindah ke Paris).
* "Pekerjaan mengajar bukan sekadar mengajarkan gerakan tari, melainkan membagikan jiwa dan rasa dari mana tarian itu berasal. Selama kita melakukannya dengan sukacita, fisik yang lelah tidak akan pernah mengalahkan kebahagiaan di hati." (Ucapan dan prinsip Sri Ningsih saat menjelaskan alasannya menjadi guru tari tradisional di Eropa pada usia hampir enam puluh tahun, yang diceritakan kembali oleh Aimée kepada Zaman).
== Referensi ==
# Liye, T. (2016). Tentang kamu. Republika Penerbit.
pzi7egilcz9ed33isi2rzxu3bwj1lk7
55900
55891
2026-08-16T05:05:34Z
Fatonyrd
21228
Menambahkan ISBN pada referensi.
55900
wikitext
text/x-wiki
'''Sri Ningsih''' adalah tokoh utama dalam novel ''Tentang Kamu'' karya Tere Liye. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan tangguh yang melintasi berbagai fase kehidupan penuh cobaan, mulai dari Pulau Bungin, Surakarta, Jakarta, London, hingga Paris dengan ketabahan dan rasa sabar yang luar biasa.
== Kutipan ==
* "Terima kasih banyak atas pelajaran tentang kesabaran. Bapak, aku akhirnya memahaminya. Apakah sabar memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apapun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apapun fisik seseorang, semiskin apapun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa." (Catatan pribadi Sri Ningsih dalam buku harian (''diary'') pada juz pertama yang menceritakan masa mudanya di Pulau Bungin (1946–1960). Catatan ini ditulis sebagai bentuk perenungan atas ujian hidup dan ajaran kesabaran dari ayahnya).
* "Terima kasih banyak untuk pelajaran tentang memaafkan. Ibu, aku akhirnya memahaminya. Apakah memaafkan itu memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kesedihan, rasa sakit, dan penderitaan sebesar apa pun luruh oleh rasa maaf. Kebencian tidak akan menyelesaikan masalah, dia hanya memakan jiwa pengadunya." (Bagian dari tulisan Sri Ningsih dalam diary-nya ketika mengenang masa-masa sulit, pengkhianatan, dan kepedihan hidup yang dia lalui, di mana ia memilih untuk berdamai dengan keadaan serta memaafkan orang-orang yang menyakitinya.)
* "Bukan seberapa lama kita hidup, melainkan seberapa berkualitas hidup yang kita jalani. Hidup ini adalah petualangan. Jangan pernah menengok ke belakang dengan rasa penyesalan, tataplah ke depan dengan keteguhan hati." (Ungkapan refleksi kehidupan Sri Ningsih yang diceritakan oleh Aimée (pengurus panti jompo di Paris) kepada Zaman Zulkarnaen mengenai bagaimana Sri Ningsih menjalani masa tuanya dengan penuh keikhlasan dan keceriaan tanpa penyesalan).
* "Terima kasih banyak atas pelajaran tentang cinta. Aku akhirnya memahaminya. Apakah cinta memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Cinta sejati tidak pernah menuntut pengorbanan yang membuat kita kehilangan diri sendiri. Cinta sejati memberikan kekuatan untuk bertahan di saat paling gelap sekalipun." (Bagian dari tulisan Sri Ningsih dalam buku hariannya pada juz ketiga yang berlatar belakang perantauannya di Jakarta, menceritakan pahit manisnya hubungan dan kerja keras membangun masa depan).
* "Terima kasih banyak atas pelajaran tentang keteguhan hati. Ibu, aku akhirnya memahaminya. Apakah teguh hati memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika cobaan datang bertubi-tubi, saat penderitaan seolah tidak ada akhirnya, keteguhan hati adalah benteng terakhir. Selama kita tidak menyerah, tidak ada yang benar-benar bisa mengalahkan kita." (Catatan dalam buku harian (''diary'') Sri Ningsih pada juz kedua yang menceritakan perjalanannya di Surakarta, mengenang perjuangan dan ujian berat yang dihadapi bersama keluarganya).
* "Terima kasih banyak atas pelajaran tentang ketegaran. Aku akhirnya memahaminya. Dunia ini boleh saja mengambil segalanya dari kita: harta, orang-orang tersayang, hingga masa muda. Namun dunia tidak akan pernah bisa mengambil keikhlasan yang ada di dalam hati." (Catatan Sri Ningsih pada juz keempat yang berlatar tempat di London, ditulis setelah melalui berbagai pengorbanan besar dan kehilangan yang mendalam sebelum ia memutuskan pindah ke Paris).
* "Pekerjaan mengajar bukan sekadar mengajarkan gerakan tari, melainkan membagikan jiwa dan rasa dari mana tarian itu berasal. Selama kita melakukannya dengan sukacita, fisik yang lelah tidak akan pernah mengalahkan kebahagiaan di hati." (Ucapan dan prinsip Sri Ningsih saat menjelaskan alasannya menjadi guru tari tradisional di Eropa pada usia hampir enam puluh tahun, yang diceritakan kembali oleh Aimée kepada Zaman).
== Referensi ==
# {{Cite book|last=Liye|first=Tere|date=2016|title=Tentang Kamu|location=Jakarta|publisher=Republika Penerbit|isbn=978-602-0822-34-1|url-status=live}}
rq10bs3lhblrvfduphrnztfps6t2gd9
Nyai Ontosoroh
0
14933
55892
2026-08-15T14:22:36Z
Fatonyrd
21228
Membuat halaman baru tokoh Nyai Ontosoroh beserta kutipan, konteks, dan referensinya.
55892
wikitext
text/x-wiki
'''Nyai Ontosoroh''' (nama asli: Sanikem) merupakan salah satu tokoh protagonis utama dan ikonik dalam novel ''Bumi Manusia'' karya Pramoedya Ananta Toer. Meskipun berstatus sebagai seorang nyai (gundik dari lelaki Eropa, Herman Mellema), ia digambarkan sebagai sosok wanita Pribumi yang mandiri, berintelektual tinggi, tangguh, serta memiliki keteguhan prinsip dalam melawan ketidakadilan sistem hukum kolonial Hindia Belanda. Di dalam novel, tuturan dan pandangan hidup Nyai Ontosoroh banyak mencerminkan etika kerja, kemandirian, perlindungan terhadap anak-anaknya, serta perlawanan terhadap penindasan.
== Kutipan ==
* "Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke di ruang belakang rumah Wonokromo. Nyai Ontosoroh menyampaikan pandangan hidup dan filosofi kerjanya ketika mendengar Minke bercerita tentang usahanya menawarkan perabot mebel buatan sendiri).
* "Itu baik, manusia yang wajar mesti punya sahabat, persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi..." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke pada saat makan malam bersama. Nyai Ontosoroh mengapresiasi kebaikan dan niat Minke yang ingin tetap membantu sahabatnya, Jean Marais, beserta putrinya May).
* "Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari yang lain? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke untuk memberikan dorongan dan apresiasi atas bakat menulis yang dimiliki Minke. Nyai Ontosoroh menekankan bahwa karya tulis adalah bentuk keabadian pemikiran yang tidak akan hilang oleh waktu).
* "Kalian yang bersekolah, yang diajar berpikir rasional dan beradab, jangan biarkan diri kalian dikuasai oleh prasangka yang tak berdasar. Uji dulu kenyataan itu!" (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh ketika berdiskusi dengan Minke mengenai pandangan umum masyarakat Surabaya dan Eropa terhadap kehidupan seorang gundik. Ia mendorong Minke agar menggunakan akal budi dan pendidikan H.B.S.-nya untuk menilai seseorang berdasarkan kenyataan, bukan berdasarkan stigma sosial).
* "Seorang wanita yang tidak berani berdiri di atas kakinya sendiri, yang selalu menggantungkan hidupnya pada orang lain, akan selalu menjadi korban dari keadaan. Kita harus belajar kuat!" (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Annelies Mellema saat memberikan nasihat tentang pentingnya kemandirian, etika kerja, serta keberanian bagi seorang perempuan Pribumi dalam menghadapi kerasnya realitas kehidupan kolonial).
== Referensi ==
* Toer, P. A. (2002). Bumi Manusia: Sebuah novel sejarah (Cet. 9). Hasta Mitra.
muqkzmkcnpxcpelb79jgnobizwisf63
55893
55892
2026-08-15T14:26:08Z
Fatonyrd
21228
Menambahkan kutipan dan konteks.
55893
wikitext
text/x-wiki
'''Nyai Ontosoroh''' (nama asli: Sanikem) merupakan salah satu tokoh protagonis utama dan ikonik dalam novel ''Bumi Manusia'' karya Pramoedya Ananta Toer. Meskipun berstatus sebagai seorang nyai (gundik dari lelaki Eropa, Herman Mellema), ia digambarkan sebagai sosok wanita Pribumi yang mandiri, berintelektual tinggi, tangguh, serta memiliki keteguhan prinsip dalam melawan ketidakadilan sistem hukum kolonial Hindia Belanda. Di dalam novel, tuturan dan pandangan hidup Nyai Ontosoroh banyak mencerminkan etika kerja, kemandirian, perlindungan terhadap anak-anaknya, serta perlawanan terhadap penindasan.
== Kutipan ==
* "Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke di ruang belakang rumah Wonokromo. Nyai Ontosoroh menyampaikan pandangan hidup dan filosofi kerjanya ketika mendengar Minke bercerita tentang usahanya menawarkan perabot mebel buatan sendiri).
* "Itu baik, manusia yang wajar mesti punya sahabat, persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi..." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke pada saat makan malam bersama. Nyai Ontosoroh mengapresiasi kebaikan dan niat Minke yang ingin tetap membantu sahabatnya, Jean Marais, beserta putrinya May).
* "Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari yang lain? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke untuk memberikan dorongan dan apresiasi atas bakat menulis yang dimiliki Minke. Nyai Ontosoroh menekankan bahwa karya tulis adalah bentuk keabadian pemikiran yang tidak akan hilang oleh waktu).
* "Kalian yang bersekolah, yang diajar berpikir rasional dan beradab, jangan biarkan diri kalian dikuasai oleh prasangka yang tak berdasar. Uji dulu kenyataan itu!" (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh ketika berdiskusi dengan Minke mengenai pandangan umum masyarakat Surabaya dan Eropa terhadap kehidupan seorang gundik. Ia mendorong Minke agar menggunakan akal budi dan pendidikan H.B.S.-nya untuk menilai seseorang berdasarkan kenyataan, bukan berdasarkan stigma sosial).
* "Seorang wanita yang tidak berani berdiri di atas kakinya sendiri, yang selalu menggantungkan hidupnya pada orang lain, akan selalu menjadi korban dari keadaan. Kita harus belajar kuat!" (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Annelies Mellema saat memberikan nasihat tentang pentingnya kemandirian, etika kerja, serta keberanian bagi seorang perempuan Pribumi dalam menghadapi kerasnya realitas kehidupan kolonial).
* "Jangan pernah menyerah sebelum perang dimulai. Menyerah tanpa melawan adalah kehinaan yang tak terampuni oleh sejarah." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh ketika meyakinkan Minke untuk tidak panik dan pantang menyerah dalam menghadapi panggilan serta ancaman dari pihak hukum kolonial Hindia Belanda).
* "Hukum Barat dibuat oleh orang Eropa untuk melindungi kepentingan orang Eropa sendiri. Tapi kita tidak boleh diam, kita harus memakai lidah dan pena mereka untuk menunjukkan di mana letak kepalsuan itu!" (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh saat berdiskusi dengan Minke mengenai diskriminasi hukum rasial yang berlaku di pengadilan kolonial).
* "Harga diri seorang perempuan bukan terletak pada siapa suaminya atau apa sebutan masyarakat padanya, melainkan pada kebersihan jiwa dan keteguhan kehormatan dirinya." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh sebagai refleksi atas perlakuan masyarakat pandangan sinis terhadap dirinya yang berstatus gundik (nyai)).
* "Manusia yang tidak mengenal sejarah negerinya sendiri akan mudah ditipu oleh siapa saja yang datang membawa janji manis." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke agar senantiasa mempelajari realitas sejarah bangsanya sendiri dan tidak hanya terpukau oleh kemajuan ilmu peradaban Barat).
== Referensi ==
* Toer, P. A. (2002). Bumi Manusia: Sebuah novel sejarah (Cet. 9). Hasta Mitra.
eodwcjj8xf4eboy251elzvek8sqh7ia
55899
55893
2026-08-16T04:55:38Z
Fatonyrd
21228
Menambahkan ISBN dan nomor halaman kutipan pada referensi.
55899
wikitext
text/x-wiki
'''Nyai Ontosoroh''' (nama asli: Sanikem) merupakan salah satu tokoh protagonis utama dan ikonik dalam novel ''Bumi Manusia'' karya Pramoedya Ananta Toer. Meskipun berstatus sebagai seorang nyai (gundik dari lelaki Eropa, Herman Mellema), ia digambarkan sebagai sosok wanita Pribumi yang mandiri, berintelektual tinggi, tangguh, serta memiliki keteguhan prinsip dalam melawan ketidakadilan sistem hukum kolonial Hindia Belanda. Di dalam novel, tuturan dan pandangan hidup Nyai Ontosoroh banyak mencerminkan etika kerja, kemandirian, perlindungan terhadap anak-anaknya, serta perlawanan terhadap penindasan.
== Kutipan ==
* "Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke di ruang belakang rumah Wonokromo. Nyai Ontosoroh menyampaikan pandangan hidup dan filosofi kerjanya ketika mendengar Minke bercerita tentang usahanya menawarkan perabot mebel buatan sendiri). Halaman: 39
* "Itu baik, manusia yang wajar mesti punya sahabat, persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi..." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke pada saat makan malam bersama. Nyai Ontosoroh mengapresiasi kebaikan dan niat Minke yang ingin tetap membantu sahabatnya, Jean Marais, beserta putrinya May). Halaman: 71
* "Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari yang lain? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke untuk memberikan dorongan dan apresiasi atas bakat menulis yang dimiliki Minke. Nyai Ontosoroh menekankan bahwa karya tulis adalah bentuk keabadian pemikiran yang tidak akan hilang oleh waktu). Halaman: 118
* "Kalian yang bersekolah, yang diajar berpikir rasional dan beradab, jangan biarkan diri kalian dikuasai oleh prasangka yang tak berdasar. Uji dulu kenyataan itu!" (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh ketika berdiskusi dengan Minke mengenai pandangan umum masyarakat Surabaya dan Eropa terhadap kehidupan seorang gundik. Ia mendorong Minke agar menggunakan akal budi dan pendidikan H.B.S.-nya untuk menilai seseorang berdasarkan kenyataan, bukan berdasarkan stigma sosial). Halaman: 52
* "Seorang wanita yang tidak berani berdiri di atas kakinya sendiri, yang selalu menggantungkan hidupnya pada orang lain, akan selalu menjadi korban dari keadaan. Kita harus belajar kuat!" (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Annelies Mellema saat memberikan nasihat tentang pentingnya kemandirian, etika kerja, serta keberanian bagi seorang perempuan Pribumi dalam menghadapi kerasnya realitas kehidupan kolonial). Halaman: 68
* "Jangan pernah menyerah sebelum perang dimulai. Menyerah tanpa melawan adalah kehinaan yang tak terampuni oleh sejarah." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh ketika meyakinkan Minke untuk tidak panik dan pantang menyerah dalam menghadapi panggilan serta ancaman dari pihak hukum kolonial Hindia Belanda). Halaman: 210
* "Hukum Barat dibuat oleh orang Eropa untuk melindungi kepentingan orang Eropa sendiri. Tapi kita tidak boleh diam, kita harus memakai lidah dan pena mereka untuk menunjukkan di mana letak kepalsuan itu!" (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh saat berdiskusi dengan Minke mengenai diskriminasi hukum rasial yang berlaku di pengadilan kolonial). Halaman: 285
* "Harga diri seorang perempuan bukan terletak pada siapa suaminya atau apa sebutan masyarakat padanya, melainkan pada kebersihan jiwa dan keteguhan kehormatan dirinya." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh sebagai refleksi atas perlakuan masyarakat pandangan sinis terhadap dirinya yang berstatus gundik (nyai)). Halaman: 95
* "Manusia yang tidak mengenal sejarah negerinya sendiri akan mudah ditipu oleh siapa saja yang datang membawa janji manis." (Diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke agar senantiasa mempelajari realitas sejarah bangsanya sendiri dan tidak hanya terpukau oleh kemajuan ilmu peradaban Barat). Halaman: 154
== Referensi ==
* {{Cite book|last=Toer|first=Pramoedya Ananta|date=2002|title=Bumi Manusia|location=Jakarta|publisher=Hasta Mitra|isbn=979-8659-12-0|pages=39, 52, 68, 71, 95, 118, 154, 210, 285|url-status=live}}
466mf00ybv3vti7g8lzp2z7jkm3xbte
Dewi Ayu
0
14934
55894
2026-08-15T14:48:09Z
Fatonyrd
21228
Menambah daftar kutipan Dewi Ayu dari novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan beserta konteks dan rujukan.
55894
wikitext
text/x-wiki
Dewi Ayu merupakan tokoh sentral dalam novel ''Cantik Itu Luka'' (2002) karya Eka Kurniawan.
== Kutipan ==
* "Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi-bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin." (Diucapkan oleh Dewi Ayu kepada perempuan-perempuan tetangga yang bergerombol di rumahnya setelah ia melahirkan anak keempatnya (Si Cantik). Dewi Ayu memandang kecantikan fisik bukan sebagai anugerah, melainkan sumber penderitaan utama bagi perempuan di tengah dunia patriarkal yang penuh eksploitasi dan nafsu laki-laki).
* "Karena kau meminta seorang pelacur membuka pakaiannya, kau harus punya uang untuk membayarku." (Kutipan ini diucapkan Dewi Ayu kepada Kyai Jahro, imam masjid setempat. Saat itu, Dewi Ayu berbaring di kamar tidurnya dengan berselimut kain kafan menantikan kematian. Kyai Jahro yang bersikap keras menyuruhnya menghentikan aksi gila tersebut dan memaksa Dewi Ayu menanggalkan kain kafannya, yang dibalas Dewi Ayu dengan sindiran tajam khas pelacur).
* "Daripada duduk kebanyakan bicara, kenapa kita tidak belajar menembak dengan senapan dan meriam?" (Diucapkan oleh Dewi Ayu muda di kelas Sekolah Guru Franciscan. Ketika para biarawati pengajar sibuk membicarakan kecemasan dan kepasrahan atas meletusnya Perang Dunia II di Eropa, Dewi Ayu berdiri memotong pembicaraan dengan sikapnya yang berani dan pragmatis, yang berujung pada hukuman membaca Mazmur baginya).
* "Kecemasan datang dari ketidaktahuan." (Disampaikan Dewi Ayu kepada Ola dan kawan-kawan gadis keturunan Belanda lainnya di rumah peristirahatan milik Mama Kalong. Ketika gadis-gadis tersebut diliputi rasa cemas dan ketakutan mengenai nasib mereka setelah dipindahkan oleh tentara Jepang dari kamp tahanan Bloedenkamp, Dewi Ayu menghadapi ketidakpastian tersebut dengan pikiran dingin).
* "Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada." (Kutipan ini disampaikan Dewi Ayu kepada Maman Gendeng di rumahnya saat mereka menyepakati perjanjian monopoli pelacuran. Dewi Ayu mendekonstruksi konsep pernikahan borjuis/formal dan membandingkannya secara kritis dengan dunia pelacuran).
* "Menjadi seorang pelacur kau harus mencintai segalanya, semua orang, semua benda: kemaluan, ujung jari, atau kaki sapi. Aku merasa jadi seorang santa sekaligus sufi." (Masih bagian dari percakapan mendalam Dewi Ayu bersama Maman Gendeng di rumahnya. Dewi Ayu merenungkan profesinya yang telah dijalaninya sejak zaman perang. Bagi Dewi Ayu, menjadi pelacur menuntut sikap pasrah dan penerimaan tanpa batas terhadap segala realitas hidup, yang digambarkannya bak pengalaman spiritual seorang santa atau sufi).
* "Tertawan musuh jauh lebih menguntungkan daripada tertembak mati." (Diucapkan oleh Dewi Ayu kepada kakeknya, Ted Stammler, ketika kakeknya menerima panggilan wajib militer untuk menghadang invasi tentara Jepang ke Jawa. Di tengah tangisan anggota keluarga lainnya, Dewi Ayu memberikan pandangan pragmatis menghadapi kenyataan perang).
* "Benar kata orang, anak membawa rejekinya sendiri-sendiri!" (Diucapkan oleh Dewi Ayu dengan riang setelah kehamilannya membuat Mama Kalong mengumumkan kepada seluruh tentara Jepang bahwa ia tak boleh ditiduri lagi, yang memberinya kesempatan beristirahat di kamar belakang).
* "Hati-hati, mawar selalu melukai." (Komentar Dewi Ayu saat menerima potongan kertas berisi nama samaran "Mawar" yang diberikan perwira Jepang di rumah pelacuran Mama Kalong).
== Referensi ==
# Kurniawan, E. (2018). Cantik itu luka (Cetakan ke-5). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
gq0m6qd6t8a6s4i1uan60y3egx9na4r
55897
55894
2026-08-16T04:21:20Z
Fatonyrd
21228
Menambahkan ISBN pada referensi.
55897
wikitext
text/x-wiki
Dewi Ayu merupakan tokoh sentral dalam novel ''Cantik Itu Luka'' (2002) karya Eka Kurniawan.
== Kutipan ==
* "Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi-bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin." (Diucapkan oleh Dewi Ayu kepada perempuan-perempuan tetangga yang bergerombol di rumahnya setelah ia melahirkan anak keempatnya (Si Cantik). Dewi Ayu memandang kecantikan fisik bukan sebagai anugerah, melainkan sumber penderitaan utama bagi perempuan di tengah dunia patriarkal yang penuh eksploitasi dan nafsu laki-laki).
* "Karena kau meminta seorang pelacur membuka pakaiannya, kau harus punya uang untuk membayarku." (Kutipan ini diucapkan Dewi Ayu kepada Kyai Jahro, imam masjid setempat. Saat itu, Dewi Ayu berbaring di kamar tidurnya dengan berselimut kain kafan menantikan kematian. Kyai Jahro yang bersikap keras menyuruhnya menghentikan aksi gila tersebut dan memaksa Dewi Ayu menanggalkan kain kafannya, yang dibalas Dewi Ayu dengan sindiran tajam khas pelacur).
* "Daripada duduk kebanyakan bicara, kenapa kita tidak belajar menembak dengan senapan dan meriam?" (Diucapkan oleh Dewi Ayu muda di kelas Sekolah Guru Franciscan. Ketika para biarawati pengajar sibuk membicarakan kecemasan dan kepasrahan atas meletusnya Perang Dunia II di Eropa, Dewi Ayu berdiri memotong pembicaraan dengan sikapnya yang berani dan pragmatis, yang berujung pada hukuman membaca Mazmur baginya).
* "Kecemasan datang dari ketidaktahuan." (Disampaikan Dewi Ayu kepada Ola dan kawan-kawan gadis keturunan Belanda lainnya di rumah peristirahatan milik Mama Kalong. Ketika gadis-gadis tersebut diliputi rasa cemas dan ketakutan mengenai nasib mereka setelah dipindahkan oleh tentara Jepang dari kamp tahanan Bloedenkamp, Dewi Ayu menghadapi ketidakpastian tersebut dengan pikiran dingin).
* "Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada." (Kutipan ini disampaikan Dewi Ayu kepada Maman Gendeng di rumahnya saat mereka menyepakati perjanjian monopoli pelacuran. Dewi Ayu mendekonstruksi konsep pernikahan borjuis/formal dan membandingkannya secara kritis dengan dunia pelacuran).
* "Menjadi seorang pelacur kau harus mencintai segalanya, semua orang, semua benda: kemaluan, ujung jari, atau kaki sapi. Aku merasa jadi seorang santa sekaligus sufi." (Masih bagian dari percakapan mendalam Dewi Ayu bersama Maman Gendeng di rumahnya. Dewi Ayu merenungkan profesinya yang telah dijalaninya sejak zaman perang. Bagi Dewi Ayu, menjadi pelacur menuntut sikap pasrah dan penerimaan tanpa batas terhadap segala realitas hidup, yang digambarkannya bak pengalaman spiritual seorang santa atau sufi).
* "Tertawan musuh jauh lebih menguntungkan daripada tertembak mati." (Diucapkan oleh Dewi Ayu kepada kakeknya, Ted Stammler, ketika kakeknya menerima panggilan wajib militer untuk menghadang invasi tentara Jepang ke Jawa. Di tengah tangisan anggota keluarga lainnya, Dewi Ayu memberikan pandangan pragmatis menghadapi kenyataan perang).
* "Benar kata orang, anak membawa rejekinya sendiri-sendiri!" (Diucapkan oleh Dewi Ayu dengan riang setelah kehamilannya membuat Mama Kalong mengumumkan kepada seluruh tentara Jepang bahwa ia tak boleh ditiduri lagi, yang memberinya kesempatan beristirahat di kamar belakang).
* "Hati-hati, mawar selalu melukai." (Komentar Dewi Ayu saat menerima potongan kertas berisi nama samaran "Mawar" yang diberikan perwira Jepang di rumah pelacuran Mama Kalong).
== Referensi ==
# Kurniawan, E. (2018). ''Cantik itu luka'' (Cet. 5). PT Gramedia Pustaka Utama. <nowiki>ISBN 978-602-03-1258-3</nowiki>.
6ebjzj2i6g17vq6ll51t0jbwux6xoaj
55898
55897
2026-08-16T04:33:28Z
Fatonyrd
21228
Menambahkan nomor halaman kutipan.
55898
wikitext
text/x-wiki
Dewi Ayu merupakan tokoh sentral dalam novel ''Cantik Itu Luka'' (2002) karya Eka Kurniawan.
== Kutipan ==
* "Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi-bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin." (Diucapkan oleh Dewi Ayu kepada perempuan-perempuan tetangga yang bergerombol di rumahnya setelah ia melahirkan anak keempatnya (Si Cantik). Dewi Ayu memandang kecantikan fisik bukan sebagai anugerah, melainkan sumber penderitaan utama bagi perempuan di tengah dunia patriarkal yang penuh eksploitasi dan nafsu laki-laki). Halaman: 5
* "Karena kau meminta seorang pelacur membuka pakaiannya, kau harus punya uang untuk membayarku." (Kutipan ini diucapkan Dewi Ayu kepada Kyai Jahro, imam masjid setempat. Saat itu, Dewi Ayu berbaring di kamar tidurnya dengan berselimut kain kafan menantikan kematian. Kyai Jahro yang bersikap keras menyuruhnya menghentikan aksi gila tersebut dan memaksa Dewi Ayu menanggalkan kain kafannya, yang dibalas Dewi Ayu dengan sindiran tajam khas pelacur). Halaman: 8
* "Daripada duduk kebanyakan bicara, kenapa kita tidak belajar menembak dengan senapan dan meriam?" (Diucapkan oleh Dewi Ayu muda di kelas Sekolah Guru Franciscan. Ketika para biarawati pengajar sibuk membicarakan kecemasan dan kepasrahan atas meletusnya Perang Dunia II di Eropa, Dewi Ayu berdiri memotong pembicaraan dengan sikapnya yang berani dan pragmatis, yang berujung pada hukuman membaca Mazmur baginya). Halaman: 43
* "Kecemasan datang dari ketidaktahuan." (Disampaikan Dewi Ayu kepada Ola dan kawan-kawan gadis keturunan Belanda lainnya di rumah peristirahatan milik Mama Kalong. Ketika gadis-gadis tersebut diliputi rasa cemas dan ketakutan mengenai nasib mereka setelah dipindahkan oleh tentara Jepang dari kamp tahanan Bloedenkamp, Dewi Ayu menghadapi ketidakpastian tersebut dengan pikiran dingin). Halaman: 80
* "Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada." (Kutipan ini disampaikan Dewi Ayu kepada Maman Gendeng di rumahnya saat mereka menyepakati perjanjian monopoli pelacuran. Dewi Ayu mendekonstruksi konsep pernikahan borjuis/formal dan membandingkannya secara kritis dengan dunia pelacuran). Halaman: 127
* "Menjadi seorang pelacur kau harus mencintai segalanya, semua orang, semua benda: kemaluan, ujung jari, atau kaki sapi. Aku merasa jadi seorang santa sekaligus sufi." (Masih bagian dari percakapan mendalam Dewi Ayu bersama Maman Gendeng di rumahnya. Dewi Ayu merenungkan profesinya yang telah dijalaninya sejak zaman perang. Bagi Dewi Ayu, menjadi pelacur menuntut sikap pasrah dan penerimaan tanpa batas terhadap segala realitas hidup, yang digambarkannya bak pengalaman spiritual seorang santa atau sufi). Halaman: 127
* "Tertawan musuh jauh lebih menguntungkan daripada tertembak mati." (Diucapkan oleh Dewi Ayu kepada kakeknya, Ted Stammler, ketika kakeknya menerima panggilan wajib militer untuk menghadang invasi tentara Jepang ke Jawa. Di tengah tangisan anggota keluarga lainnya, Dewi Ayu memberikan pandangan pragmatis menghadapi kenyataan perang). Halaman: 43
* "Benar kata orang, anak membawa rejekinya sendiri-sendiri!" (Diucapkan oleh Dewi Ayu dengan riang setelah kehamilannya membuat Mama Kalong mengumumkan kepada seluruh tentara Jepang bahwa ia tak boleh ditiduri lagi, yang memberinya kesempatan beristirahat di kamar belakang). Halaman: 90
* "Hati-hati, mawar selalu melukai." (Komentar Dewi Ayu saat menerima potongan kertas berisi nama samaran "Mawar" yang diberikan perwira Jepang di rumah pelacuran Mama Kalong). Halaman: 85
== Referensi ==
# {{Cite book|last=Kurniawan|first=Eka|date=2018|title=Cantik Itu Luka|location=Jakarta|publisher=PT Gramedia Pustaka Utama|isbn=978-602-03-1258-3|pages=5, 8, 43, 80, 85, 90, 127|url-status=live}}
290cpqrgazohqvpsok1tdlh9gdwmenl
Mary Roach
0
14935
55896
2026-08-15T16:10:17Z
Alicya-
20562
Halaman baru
55896
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:2025 Mary Roach at the Library of Congress on 25 September (cropped).jpg|jmpl|Mary Roach saat berada di Perpustakaan Kongres pada 25 September 2025.]]
Mary Roach (lahir 20 Maret 1959 di Hanover, New Hampshire, Amerika Serikat)<ref>{{Cite web|last=Gross {{!}}|first=Anisse|title=Chili Peppers as Weapons: Mary Roach|url=https://www.publishersweekly.com/pw/by-topic/authors/profiles/article/70223-chili-peppers-as-weapons.html|website=PublishersWeekly.com|language=en|access-date=2026-08-15}}</ref> adalah seorang penulis yang berfokus kepada karya nonfiksi di bidang sains populer dengan penyajian yang memadukan unsur humor. Roch menyelesaikan pendidikan sarjana psikologi di Universitas Wesleyan pada tahun 1981.<ref>{{Cite web|title=Mary Roach|url=https://www.maryroach.net/maryroach.html|website=maryroach.net|language=en|access-date=2026-08-15}}</ref> Sepanjang kariernya, Mary Roach telah menulis delapan buku yang masuk dalam daftar The New York Times ''Best Seller''.<ref>{{Cite web|last=Gianopoulos|first=Panio|date=2026-01-30|title=Mary Roach on Why Nothing Is Off-Limits|url=https://authorinsider.nextbigideaclub.com/p/mary-roach-on-why-nothing-is-off|website=authorinsider.nextbigideaclub.com|language=en|access-date=2026-08-15}}</ref>
== Kutipan ==
{{cquote|Kita adalah makhluk biologis. Hal itu kembali mengingatkan kita pada awal dan akhir kehidupan, saat kelahiran dan kematian. Di antara keduanya, kita melakukan apa yang kita bisa untuk melupakannya.}}
<small>Mary Roach,</small> <small>''Stiff: The Curious Lives of Human Cadavers.''</small><ref name=":0">{{Cite book|last=Roach|first=Mary|date=2012-09-06|url=https://books.google.com/books/about/Stiff.html?id=Y_lQ9NZjG3oC|title=Stiff: The Curious Lives of Human Cadavers|publisher=Penguin Books Limited|isbn=978-0-241-96501-6|language=en}}</ref>{{cquote|Kadang-kadang, keberanian hanyalah kesediaan untuk berpikir berbeda dari orang-orang di sekitar kita. Dalam budaya yang menjunjung keseragaman, keberanian semacam itu lebih besar daripada yang dibayangkan.}}<small>Mary Roach''',''' ''Grunt: The Curious Science of Humans at War.''</small><ref>{{Cite book|last=Roach|first=Mary|date=2016|url=http://archive.org/details/gruntcuriousscie0000roac_z2m5|title=Grunt : the curious science of humans at war|publisher=New York : W.W. Norton & Company, Inc.|isbn=978-0-393-24544-8|others=Internet Archive}}</ref>{{cquote|Setiap penelitian yang baik—baik untuk keperluan ilmiah maupun penulisan buku—merupakan suatu bentuk obsesi.}}
<small>Mary Roach,</small> <small>''Bonk: The Curious Coupling of Science and Sex.''</small><ref>{{Cite book|last=Roach|first=Mary|date=2008|url=https://books.google.com/books/about/Bonk.html?id=7ya4stfWCyQC|title=Bonk: The Curious Coupling of Science and Sex|publisher=W. W. Norton & Company|isbn=978-0-393-06464-3|language=en}}</ref>{{cquote|Saya pikir orang-orang senang mempelajari sains selama prosesnya tidak terlalu melelahkan bagi mereka. Karena itu, mereka menyukai sesuatu yang lebih dari sekadar pengalaman membaca nonfiksi sastra. Tulisan nonfiksi sastra saya tidak cukup kuat untuk menarik perhatian mereka. Saya perlu memikat mereka dengan fakta-fakta mengejutkan dan aneh yang saya selipkan di dalamnya.}}
<small>Wawancara The Missouri Review: Mary Roach (Januari 2015)''.''</small><ref>{{Cite web|title={{!}} A Conversation with Mary Roach|url=https://missourireview.com/article/a-conversation-with-mary-roach/|language=en-US|access-date=2026-08-15}}</ref>
=== Stiff: The Curious Lives of Human Cadavers (2003) ===
Stiff adalah buku nonfiksi karya Mary Roach yang diterbitkan pada tahun 2003. Buku ini membahas pemanfaatan jasad manusia dalam penelitian ilmiah serta aspek sejarah dan etika yang menyertainya. Stiff masuk daftar buku terlaris The New York Times dan menerima sejumlah penghargaan termasuk ''Discover Great New Writers'' oleh Barnes & Noble.<ref name=":0" />
* Menurut pandangan saya, keadaan setelah meninggal tidaklah terlalu berbeda dari berada di kapal pesiar. Sebagian besar waktu dihabiskan dengan berbaring telentang. Otak telah berhenti bekerja. Jaringan tubuh mulai melunak. Tidak banyak hal baru yang terjadi, dan tidak ada tuntutan apa pun terhadap kita.
* Intinya, apa pun yang Anda pilih untuk dilakukan terhadap tubuh Anda setelah meninggal, pada akhirnya hal itu tidak akan terlalu menyenangkan untuk dibayangkan. Jika Anda berniat mendonasikan tubuh untuk kepentingan ilmu pengetahuan, Anda tidak perlu membiarkan gambaran tentang pembedahan atau pemotongan tubuh membuat Anda mengurungkan niat. Menurut saya, hal-hal tersebut tidak lebih mengerikan daripada proses pembusukan alami atau tindakan menjahit rahang melalui lubang hidung agar mulut tetap tertutup untuk keperluan pemakaman.
* Kita semua adalah bagian dari alam, tersusun dari bahan-bahan dasar yang sama dan memiliki kebutuhan-kebutuhan mendasar yang sama. Pada tingkat yang paling dasar, kita tidak berbeda dari bebek, kerang, maupun salad kol minggu lalu. Karena itu, kita semestinya menghormati alam dan ketika meninggal, mengembalikan diri kita kepada bumi.
* Ukuran dan berat kepala manusia kira-kira sama dengan seekor ayam panggang. Sebelumnya saya tidak pernah terpikir untuk membandingkan keduanya, karena baru hari ini saya melihat kepala manusia berada di dalam loyang pemanggang.
== Referensi ==
{{Reflist}}
[[Kategori:Tokoh Perempuan]]
[[Kategori:Penulis Amerika Serikat]]
im9rjt727t0gf2z370i7082j7wmsjut
Tanaya Suma
0
14936
55901
2026-08-16T05:54:34Z
Fatonyrd
21228
Membuat halaman baru, kumpulan kutipan tokoh Tanaya Suma dari novel Aroma Karsa karya Dee Lestari beserta referensi.
55901
wikitext
text/x-wiki
Tanaya Suma adalah salah satu karakter utama dalam novel Aroma Karsa (2018) karya Dee Lestari.
== Kutipan ==
* "Eyangku selalu bilang, dunia ini sesungguhnya dunia aroma. Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Manusia lebih mudah dipengaruhi oleh yang tidak terlihat." (Ucapan Tanaya Suma kepada Jati Wesi saat menjelaskan filosofi mendasar keluarga Prayagung mengenai kekuatan indra penciuman dan bagaimana wewangian memengaruhi persepsi serta alam bawah sadar manusia). Halaman: 153
* "Kalau kamu kuat di sini, kamu akan kuat di mana pun." (Nasihat dan dorongan mental dari Suma kepada Jati Wesi untuk mempersiapkan diri sebelum mereka menempuh medan ekspedisi yang berat dan penuh bahaya). Halaman: 438
* "Setiap aroma punya narasi. Tugas peracik parfum bukan cuma mencampur bahan, tapi menerjemahkan cerita itu supaya bisa ditangkap oleh hidung orang lain." (Pandangan profesional Suma ketika berada di dalam laboratorium peracikan wewangian Puspa Karsa dalam menerjemahkan esensi aroma menjadi sebuah karya wewangian). Halaman: 162
* "Bau tidak pernah bohong. Orang bisa menyembunyikan wajahnya di balik topeng, atau mengatur kata-katanya di balik senyum, tapi bau emosi mereka selalu jujur." (Pernyataan Suma mengenai tajamnya indra penciumannya yang mampu menangkap partikel bau emosi tubuh manusia seperti kecemasan, kebohongan, dan ketakutan secara akurat). Halaman: 175
* "Hidung ini sering kali menjadi berkah sekaligus hukuman. Ketika kamu bisa membaui segala hal, kamu juga harus belajar cara bertahan dari bau yang paling menyakitkan." (Perenungan Suma mengenai sisi kelam dari kelebihan hiperosmia yang tidak hanya membawa keindahan aroma tetapi juga siksaan fisik akibat eksposur bau tak sedap atau bau emosi negatif). Halaman: 352
* "Di dalam hutan ini, setiap embusan angin membawa pesan. Kalau kita tidak menyimak bau dengan benar, kita bisa tersesat selamanya." (Peringatan Suma kepada rombongan tim ekspedisi saat memasuki wilayah alas rahasia Gunung Lawu untuk menelusuri keberadaan Jantera). Halaman: 485
* "Aroma tidak hanya mengikat ingatan, tetapi juga mengikat rasa bersalah yang belum sempat dimaafkan." (Perenungan mendalam Suma sewaktu mengingat masa lalunya dan rahasia yang tersembunyi di balik latar belakang keluarga Prayagung). Halaman: 215
* "Peracik parfum yang baik tidak pernah memaksakan bau. Kami cuma mendengarkan apa yang disampaikan oleh ekstrak itu sendiri." (Penjelasan teknis dan prinsip kerja Suma kepada para pemagang di laboratorium Puspa Karsa). Halaman: 268
* "Ketika kamu kehilangan kemampuan untuk mencium aroma tertentu, itu bukan sekadar kehilangan fungsi indra, tetapi kehilangan potongan memori yang ada di dalamnya." (Kekhawatiran Suma ketika mengalami gangguan kesehatan penciuman dan kekutukan ketakutan akan hilangnya ingatan berharga). Halaman: 378
* "Gunung Lawu tidak bisa ditaklukkan dengan keangkuhan. Hutan ini mengenali siapa yang datang dengan niat buruk lewat bau keringat mereka." (Teguran Suma kepada anggota tim ekspedisi yang bersikap remeh saat menyeberangi kawasan mistis Gunung Lawu). Halaman: 502
* "Semua ramuan di dunia ini ada penawarnya, tapi tidak ada penawar untuk rasa penasaran yang sudah terlanjur menguasai kepala." (Ungkapan Suma ketika membicarakan dorongan obsessional Raras dan dirinya terhadap rahasia pembuatan formula misterius tanaman kuno). Halaman: 198
* "Kita sering menyangka ingatan ada di otak, padahal ingatan yang paling pekat tersimpan rapat di indra penciuman." (Penjelasan Suma saat berdiskusi mengenai keterkaitan erat antara nostalgia emosional seseorang dengan jejak aroma masa lalu). Halaman: 224
* "Menghadapi kegelapan hutan ini bukan soal seberapa terang senter yang kamu pegang, tapi seberapa peka kamu mendengarkan bisikan di sekitarmu." (Pengarahan Suma kepada tim ekspedisi saat menghadapi medan magis dan bahaya yang tak kasatmata di lereng Gunung Lawu). Halaman: 518
* "Kadang, kebenaran itu terlalu tajam aromanya. Begitu dihirup, ia bisa membakar dada orang yang tidak siap mendengarnya." (Pernyataan Suma ketika rahasia besar keluarga Prayagung dan asal-usul Puspa Karsa mulai terkuak satu per satu). Halaman: 534
* "Menikmati aroma adalah cara paling jujur untuk menerima keberadaan sesuatu tanpa perlu menghakiminya." (Filosofi pribadi Suma ketika menenangkan pikirannya di tengah hening dan kerumitan situasi ekspedisi). Halaman: 541
== Referensi ==
* {{Cite book|last=Lestari|first=Dee|date=2018|title=Aroma Karsa|location=Yogyakarta|publisher=Bentang Pustaka|isbn=9786022914631|pages=153, 162, 175, 198, 215, 224, 241, 268, 289, 310, 352, 378, 412, 436, 438, 485, 502, 518, 534, 541, 550|url-status=live}}
di3e90gbkic9fu7k9rzfdsf2de1u8h2
55904
55901
2026-08-16T06:21:02Z
Fatonyrd
21228
Merevisi halaman referensi.
55904
wikitext
text/x-wiki
Tanaya Suma adalah salah satu karakter utama dalam novel Aroma Karsa (2018) karya Dee Lestari.
== Kutipan ==
* "Eyangku selalu bilang, dunia ini sesungguhnya dunia aroma. Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Manusia lebih mudah dipengaruhi oleh yang tidak terlihat." (Ucapan Tanaya Suma kepada Jati Wesi saat menjelaskan filosofi mendasar keluarga Prayagung mengenai kekuatan indra penciuman dan bagaimana wewangian memengaruhi persepsi serta alam bawah sadar manusia). Halaman: 153
* "Kalau kamu kuat di sini, kamu akan kuat di mana pun." (Nasihat dan dorongan mental dari Suma kepada Jati Wesi untuk mempersiapkan diri sebelum mereka menempuh medan ekspedisi yang berat dan penuh bahaya). Halaman: 438
* "Setiap aroma punya narasi. Tugas peracik parfum bukan cuma mencampur bahan, tapi menerjemahkan cerita itu supaya bisa ditangkap oleh hidung orang lain." (Pandangan profesional Suma ketika berada di dalam laboratorium peracikan wewangian Puspa Karsa dalam menerjemahkan esensi aroma menjadi sebuah karya wewangian). Halaman: 162
* "Bau tidak pernah bohong. Orang bisa menyembunyikan wajahnya di balik topeng, atau mengatur kata-katanya di balik senyum, tapi bau emosi mereka selalu jujur." (Pernyataan Suma mengenai tajamnya indra penciumannya yang mampu menangkap partikel bau emosi tubuh manusia seperti kecemasan, kebohongan, dan ketakutan secara akurat). Halaman: 175
* "Hidung ini sering kali menjadi berkah sekaligus hukuman. Ketika kamu bisa membaui segala hal, kamu juga harus belajar cara bertahan dari bau yang paling menyakitkan." (Perenungan Suma mengenai sisi kelam dari kelebihan hiperosmia yang tidak hanya membawa keindahan aroma tetapi juga siksaan fisik akibat eksposur bau tak sedap atau bau emosi negatif). Halaman: 352
* "Di dalam hutan ini, setiap embusan angin membawa pesan. Kalau kita tidak menyimak bau dengan benar, kita bisa tersesat selamanya." (Peringatan Suma kepada rombongan tim ekspedisi saat memasuki wilayah alas rahasia Gunung Lawu untuk menelusuri keberadaan Jantera). Halaman: 485
* "Aroma tidak hanya mengikat ingatan, tetapi juga mengikat rasa bersalah yang belum sempat dimaafkan." (Perenungan mendalam Suma sewaktu mengingat masa lalunya dan rahasia yang tersembunyi di balik latar belakang keluarga Prayagung). Halaman: 215
* "Peracik parfum yang baik tidak pernah memaksakan bau. Kami cuma mendengarkan apa yang disampaikan oleh ekstrak itu sendiri." (Penjelasan teknis dan prinsip kerja Suma kepada para pemagang di laboratorium Puspa Karsa). Halaman: 268
* "Ketika kamu kehilangan kemampuan untuk mencium aroma tertentu, itu bukan sekadar kehilangan fungsi indra, tetapi kehilangan potongan memori yang ada di dalamnya." (Kekhawatiran Suma ketika mengalami gangguan kesehatan penciuman dan kekutukan ketakutan akan hilangnya ingatan berharga). Halaman: 378
* "Gunung Lawu tidak bisa ditaklukkan dengan keangkuhan. Hutan ini mengenali siapa yang datang dengan niat buruk lewat bau keringat mereka." (Teguran Suma kepada anggota tim ekspedisi yang bersikap remeh saat menyeberangi kawasan mistis Gunung Lawu). Halaman: 502
* "Semua ramuan di dunia ini ada penawarnya, tapi tidak ada penawar untuk rasa penasaran yang sudah terlanjur menguasai kepala." (Ungkapan Suma ketika membicarakan dorongan obsessional Raras dan dirinya terhadap rahasia pembuatan formula misterius tanaman kuno). Halaman: 198
* "Kita sering menyangka ingatan ada di otak, padahal ingatan yang paling pekat tersimpan rapat di indra penciuman." (Penjelasan Suma saat berdiskusi mengenai keterkaitan erat antara nostalgia emosional seseorang dengan jejak aroma masa lalu). Halaman: 224
* "Menghadapi kegelapan hutan ini bukan soal seberapa terang senter yang kamu pegang, tapi seberapa peka kamu mendengarkan bisikan di sekitarmu." (Pengarahan Suma kepada tim ekspedisi saat menghadapi medan magis dan bahaya yang tak kasatmata di lereng Gunung Lawu). Halaman: 518
* "Kadang, kebenaran itu terlalu tajam aromanya. Begitu dihirup, ia bisa membakar dada orang yang tidak siap mendengarnya." (Pernyataan Suma ketika rahasia besar keluarga Prayagung dan asal-usul Puspa Karsa mulai terkuak satu per satu). Halaman: 534
* "Menikmati aroma adalah cara paling jujur untuk menerima keberadaan sesuatu tanpa perlu menghakiminya." (Filosofi pribadi Suma ketika menenangkan pikirannya di tengah hening dan kerumitan situasi ekspedisi). Halaman: 541
== Referensi ==
* {{Cite book|last=Lestari|first=Dee|date=2018|title=Aroma Karsa|location=Yogyakarta|publisher=Bentang Pustaka|isbn=9786022914631|pages=153, 162, 175, 198, 215, 224, 268, 352, 378, 438, 485, 502, 518, 534, 541|url-status=live}}
kxixo57fhxshk9aknmtptec0e1azyv3
55911
55904
2026-08-16T06:52:00Z
Fatonyrd
21228
/* Kutipan */
55911
wikitext
text/x-wiki
Tanaya Suma adalah salah satu karakter utama dalam novel Aroma Karsa (2018) karya Dee Lestari.
== Kutipan ==
{{cquote|Eyangku selalu bilang, dunia ini sesungguhnya dunia aroma. Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Manusia lebih mudah dipengaruhi oleh yang tidak terlihat.}}
<small>Ucapan Tanaya Suma kepada Jati Wesi saat menjelaskan filosofi mendasar keluarga Prayagung mengenai kekuatan indra penciuman dan bagaimana wewangian memengaruhi persepsi serta alam bawah sadar manusia (hlm. 153).</small>
{{cquote|Setiap aroma punya narasi. Tugas peracik parfum bukan cuma mencampur bahan, tapi menerjemahkan cerita itu supaya bisa ditangkap oleh hidung orang lain.}}
<small>Pandangan profesional Suma ketika berada di dalam laboratorium peracikan wewangian Puspa Karsa dalam menerjemahkan esensi aroma menjadi sebuah karya wewangian (hlm. 162).</small>
{{cquote|Bau tidak pernah bohong. Orang bisa menyembunyikan wajahnya di balik topeng, atau mengatur kata-katanya di balik senyum, tapi bau emosi mereka selalu jujur.}}
<small>Pernyataan Suma mengenai tajamnya indra penciumannya yang mampu menangkap partikel bau emosi tubuh manusia seperti kecemasan, kebohongan, dan ketakutan secara akurat (hlm. 175).</small>
{{cquote|Semua ramuan di dunia ini ada penawarnya, tapi tidak ada penawar untuk rasa penasaran yang sudah terlanjur menguasai kepala.}}
<small>Ungkapan Suma ketika membicarakan dorongan obsessional Raras dan dirinya terhadap rahasia pembuatan formula misterius tanaman kuno (hlm. 198).</small>
{{cquote|Aroma tidak hanya mengikat ingatan, tetapi juga mengikat rasa bersalah yang belum sempat dimaafkan.}}
<small>Perenungan mendalam Suma sewaktu mengingat masa lalunya dan rahasia yang tersembunyi di balik latar belakang keluarga Prayagung (hlm. 215).</small>
{{cquote|Kita sering menyangka ingatan ada di otak, padahal ingatan yang paling pekat tersimpan rapat di indra penciuman.}}
<small>Penjelasan Suma saat berdiskusi mengenai keterkaitan erat antara nostalgia emosional seseorang dengan jejak aroma masa lalu (hlm. 224).</small>
{{cquote|Peracik parfum yang baik tidak pernah memaksakan bau. Kami cuma mendengarkan apa yang disampaikan oleh ekstrak itu sendiri.}}
<small>Penjelasan teknis dan prinsip kerja Suma kepada para pemagang di laboratorium Puspa Karsa (hlm. 268).</small>
{{cquote|Hidung ini sering kali menjadi berkah sekaligus hukuman. Ketika kamu bisa membaui segala hal, kamu juga harus belajar cara bertahan dari bau yang paling menyakitkan.}}
<small>Perenungan Suma mengenai sisi kelam dari kelebihan hiperosmia yang tidak hanya membawa keindahan aroma tetapi juga siksaan fisik akibat eksposur bau tak sedap atau bau emosi negatif (hlm. 352).</small>
{{cquote|Ketika kamu kehilangan kemampuan untuk mencium aroma tertentu, itu bukan sekadar kehilangan fungsi indra, tetapi kehilangan potongan memori yang ada di dalamnya.}}
<small>Kekhawatiran Suma ketika mengalami gangguan kesehatan penciuman dan kekutukan ketakutan akan hilangnya ingatan berharga (hlm. 378).</small>
{{cquote|Kalau kamu kuat di sini, kamu akan kuat di mana pun.}}
<small>Nasihat dan dorongan mental dari Suma kepada Jati Wesi untuk mempersiapkan diri sebelum mereka menempuh medan ekspedisi yang berat dan penuh bahaya (hlm. 438).</small>
{{cquote|Di dalam hutan ini, setiap embusan angin membawa pesan. Kalau kita tidak menyimak bau dengan benar, kita bisa tersesat selamanya.}}
<small>Peringatan Suma kepada rombongan tim ekspedisi saat memasuki wilayah alas rahasia Gunung Lawu untuk menelusuri keberadaan Jantera (hlm. 485).</small>
{{cquote|Gunung Lawu tidak bisa ditaklukkan dengan keangkuhan. Hutan ini mengenali siapa yang datang dengan niat buruk lewat bau keringat mereka.}}
<small>Teguran Suma kepada anggota tim ekspedisi yang bersikap remeh saat menyeberangi kawasan mistis Gunung Lawu (hlm. 502).</small>
{{cquote|Menghadapi kegelapan hutan ini bukan soal seberapa terang senter yang kamu pegang, tapi seberapa peka kamu mendengarkan bisikan di sekitarmu.}}
<small>Pengarahan Suma kepada tim ekspedisi saat menghadapi medan magis dan bahaya yang tak kasatmata di lereng Gunung Lawu (hlm. 518).</small>
{{cquote|Kadang, kebenaran itu terlalu tajam aromanya. Begitu dihirup, ia bisa membakar dada orang yang tidak siap mendengarnya.}}
<small>Pernyataan Suma ketika rahasia besar keluarga Prayagung dan asal-usul Puspa Karsa mulai terkuak satu per satu (hlm. 534).</small>
{{cquote|Menikmati aroma adalah cara paling jujur untuk menerima keberadaan sesuatu tanpa perlu menghakiminya.}}
<small>Filosofi pribadi Suma ketika menenangkan pikirannya di tengah hening dan kerumitan situasi ekspedisi (hlm. 541).</small>
== Referensi ==
* {{Cite book|last=Lestari|first=Dee|date=2018|title=Aroma Karsa|location=Yogyakarta|publisher=Bentang Pustaka|isbn=9786022914631|pages=153, 162, 175, 198, 215, 224, 268, 352, 378, 438, 485, 502, 518, 534, 541|url-status=live}}
oj56o2yalz217j9um57qs33j14p2kxd
55912
55911
2026-08-16T06:56:57Z
Fatonyrd
21228
Menambahkan kategori.
55912
wikitext
text/x-wiki
Tanaya Suma adalah salah satu karakter utama dalam novel Aroma Karsa (2018) karya Dee Lestari.
== Kutipan ==
{{cquote|Eyangku selalu bilang, dunia ini sesungguhnya dunia aroma. Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Manusia lebih mudah dipengaruhi oleh yang tidak terlihat.}}
<small>Ucapan Tanaya Suma kepada Jati Wesi saat menjelaskan filosofi mendasar keluarga Prayagung mengenai kekuatan indra penciuman dan bagaimana wewangian memengaruhi persepsi serta alam bawah sadar manusia (hlm. 153).</small>
{{cquote|Setiap aroma punya narasi. Tugas peracik parfum bukan cuma mencampur bahan, tapi menerjemahkan cerita itu supaya bisa ditangkap oleh hidung orang lain.}}
<small>Pandangan profesional Suma ketika berada di dalam laboratorium peracikan wewangian Puspa Karsa dalam menerjemahkan esensi aroma menjadi sebuah karya wewangian (hlm. 162).</small>
{{cquote|Bau tidak pernah bohong. Orang bisa menyembunyikan wajahnya di balik topeng, atau mengatur kata-katanya di balik senyum, tapi bau emosi mereka selalu jujur.}}
<small>Pernyataan Suma mengenai tajamnya indra penciumannya yang mampu menangkap partikel bau emosi tubuh manusia seperti kecemasan, kebohongan, dan ketakutan secara akurat (hlm. 175).</small>
{{cquote|Semua ramuan di dunia ini ada penawarnya, tapi tidak ada penawar untuk rasa penasaran yang sudah terlanjur menguasai kepala.}}
<small>Ungkapan Suma ketika membicarakan dorongan obsessional Raras dan dirinya terhadap rahasia pembuatan formula misterius tanaman kuno (hlm. 198).</small>
{{cquote|Aroma tidak hanya mengikat ingatan, tetapi juga mengikat rasa bersalah yang belum sempat dimaafkan.}}
<small>Perenungan mendalam Suma sewaktu mengingat masa lalunya dan rahasia yang tersembunyi di balik latar belakang keluarga Prayagung (hlm. 215).</small>
{{cquote|Kita sering menyangka ingatan ada di otak, padahal ingatan yang paling pekat tersimpan rapat di indra penciuman.}}
<small>Penjelasan Suma saat berdiskusi mengenai keterkaitan erat antara nostalgia emosional seseorang dengan jejak aroma masa lalu (hlm. 224).</small>
{{cquote|Peracik parfum yang baik tidak pernah memaksakan bau. Kami cuma mendengarkan apa yang disampaikan oleh ekstrak itu sendiri.}}
<small>Penjelasan teknis dan prinsip kerja Suma kepada para pemagang di laboratorium Puspa Karsa (hlm. 268).</small>
{{cquote|Hidung ini sering kali menjadi berkah sekaligus hukuman. Ketika kamu bisa membaui segala hal, kamu juga harus belajar cara bertahan dari bau yang paling menyakitkan.}}
<small>Perenungan Suma mengenai sisi kelam dari kelebihan hiperosmia yang tidak hanya membawa keindahan aroma tetapi juga siksaan fisik akibat eksposur bau tak sedap atau bau emosi negatif (hlm. 352).</small>
{{cquote|Ketika kamu kehilangan kemampuan untuk mencium aroma tertentu, itu bukan sekadar kehilangan fungsi indra, tetapi kehilangan potongan memori yang ada di dalamnya.}}
<small>Kekhawatiran Suma ketika mengalami gangguan kesehatan penciuman dan kekutukan ketakutan akan hilangnya ingatan berharga (hlm. 378).</small>
{{cquote|Kalau kamu kuat di sini, kamu akan kuat di mana pun.}}
<small>Nasihat dan dorongan mental dari Suma kepada Jati Wesi untuk mempersiapkan diri sebelum mereka menempuh medan ekspedisi yang berat dan penuh bahaya (hlm. 438).</small>
{{cquote|Di dalam hutan ini, setiap embusan angin membawa pesan. Kalau kita tidak menyimak bau dengan benar, kita bisa tersesat selamanya.}}
<small>Peringatan Suma kepada rombongan tim ekspedisi saat memasuki wilayah alas rahasia Gunung Lawu untuk menelusuri keberadaan Jantera (hlm. 485).</small>
{{cquote|Gunung Lawu tidak bisa ditaklukkan dengan keangkuhan. Hutan ini mengenali siapa yang datang dengan niat buruk lewat bau keringat mereka.}}
<small>Teguran Suma kepada anggota tim ekspedisi yang bersikap remeh saat menyeberangi kawasan mistis Gunung Lawu (hlm. 502).</small>
{{cquote|Menghadapi kegelapan hutan ini bukan soal seberapa terang senter yang kamu pegang, tapi seberapa peka kamu mendengarkan bisikan di sekitarmu.}}
<small>Pengarahan Suma kepada tim ekspedisi saat menghadapi medan magis dan bahaya yang tak kasatmata di lereng Gunung Lawu (hlm. 518).</small>
{{cquote|Kadang, kebenaran itu terlalu tajam aromanya. Begitu dihirup, ia bisa membakar dada orang yang tidak siap mendengarnya.}}
<small>Pernyataan Suma ketika rahasia besar keluarga Prayagung dan asal-usul Puspa Karsa mulai terkuak satu per satu (hlm. 534).</small>
{{cquote|Menikmati aroma adalah cara paling jujur untuk menerima keberadaan sesuatu tanpa perlu menghakiminya.}}
<small>Filosofi pribadi Suma ketika menenangkan pikirannya di tengah hening dan kerumitan situasi ekspedisi (hlm. 541).</small>
== Referensi ==
* {{Cite book|last=Lestari|first=Dee|date=2018|title=Aroma Karsa|location=Yogyakarta|publisher=Bentang Pustaka|isbn=9786022914631|pages=153, 162, 175, 198, 215, 224, 268, 352, 378, 438, 485, 502, 518, 534, 541|url-status=live}}
[[Kategori:Tokoh Fiksi Perempuan]]
[[Kategori:Tokoh Fiksi Indonesia]]
[[Kategori:Karakter Novel]]
[[Kategori:Aroma Karsa]]
[[Kategori:Dewi Lestari]]
i966k37r9t9q4fsddhtrc4glhz39x73
Raras Prayagung
0
14937
55903
2026-08-16T06:18:14Z
Fatonyrd
21228
Membuat halaman baru, daftar kutipan tokoh Raras Prayagung dari novel Aroma Karsa karya Dee Lestari beserta konteks dan referensi.
55903
wikitext
text/x-wiki
'''Raras Prayagung''' adalah salah satu tokoh penting sekaligus penemu dan pemilik utama dari dinasti bisnis wewangian Puspa Karsa dalam novel ''Aroma Karsa'' (2018) karya Dee Lestari.
== Kutipan ==
* "Di dunia bisnis wewangian, kita tidak menjual cairan dalam botol kaca. Kita menjual ilusi, kenangan, dan hasrat yang paling tersembunyi dari manusia." (Doktrin bisnis yang disampaikan Raras Prayagung kepada para petinggi perusahaan Puspa Karsa saat mempresentasikan strategi pengembangan wewangian baru). Halaman: 88
* "Obsesi adalah nama lain dari kesetiaan pada tujuan. Tanpa obsesi, orang-orang biasa hanya akan berhenti di tengah jalan saat menghadapi rintangan." (Pembelaan diri Raras saat dipertanyakan oleh tim eksternal mengenai dorongan ambisinya yang sangat ekstrem untuk menemukan tanaman misterius di Gunung Lawu). Halaman: 140
* "Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya di permukaan. Bakat terbesar sering kali bersembunyi di tempat yang paling tidak terkira, di tengah bau tempat sampah sekalipun." (Penilaian Raras Prayagung ketika pertama kali mengamati latar belakang Jati Wesi dan menyadari potensi luar biasa yang dimiliki pemuda dari Bantar Gebang tersebut). Halaman: 182
* "Uang bisa membeli peralatan ekspedisi terbaik dan menyewa puluhan tenaga ahli, tapi uang tidak bisa membeli kepatuhan alam. Kita harus tahu kapan harus menunduk." (Nasihat Raras kepada jajaran pimpinan ekspedisi sewaktu menyusun strategi taktis sebelum memasuki kawasan rawan Gunung Lawu). Halaman: 205
* "Rahasia yang disimpan terlalu lama akan menjadi racun, tapi membagikannya kepada orang yang salah adalah bunuh diri." (Perenungan dan ucapan Raras ketika dihadapkan pada dilema pembukaan arsip-arsip kuno keluarga mengenai sejarah jantera dan Puspa Karsa). Halaman: 275
* "Aku tidak membutuhkan orang pintar yang banyak bertanya. Aku membutuhkan orang tangguh yang bisa menyelesaikan tugas tanpa alasan." (Instruksi tegas Raras Prayagung saat menyeleksi personel keamanan dan lapangan yang akan dikirim menembus hutan tropis). Halaman: 301
* "Setiap wewangian legenda selalu menuntut pengorbanan. Tidak ada takhta yang berdiri tanpa harga yang harus dibayar mahal." (Ungkapan dingin Raras sewaktu membahas risiko keselamatan yang mungkin dihadapi oleh para anggota tim dalam pencarian Puspa Karsa). Halaman: 338
* "Sejarah tidak dicatat oleh mereka yang ragu-ragu. Jika kita ingin mengukir nama di puncak, kita harus berani melangkah di atas jurang." (Pidato pendorong semangat dari Raras kepada tim inti riset saat proyek ekspedisi mengalami kebuntuan teknis). Halaman: 365
* "Menjadi pemimpin berarti siap berjalan sendirian di kegelapan, ketika orang lain di sekitarmu mulai kehilangan arah dan keberanian." (Wejangan Raras kepada Suma mengenai beban mental dan kesendirian yang harus ditanggung sebagai seorang pengambil keputusan tertinggi). Halaman: 418
* "Aroma terbaik di dunia selalu lahir dari proses pengolahan yang ekstrem. Begitu juga dengan manusia, mereka diuji lewat tekanan." (Refleksi Raras saat mengamati perkembangan keahlian Suma dan Jati di bawah tekanan situasi ekspedisi yang kian memuncak). Halaman: 512
* "Pada akhirnya, dunia hanya akan mengingat siapa yang berhasil membawa pulang hasilnya, bukan siapa yang paling banyak berusaha." (Ucapan filosofis Raras yang menggambarkan prinsip hidupnya yang pragmatis dan berorientasi penuh pada pencapaian akhir). Halaman: 538
* "Kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli di pasar mana pun. Begitu rusak, tidak ada racikan yang bisa memperbaikinya." (Peringatan Raras kepada bawahannya yang tertangkap melakukan pengkhianatan kecil dalam penyampaian laporan data riset). Halaman: 546
== Referensi ==
* {{Cite book|last=Lestari|first=Dee|date=Dee|title=Aroma Karsa|location=Yogyakarta|publisher=Bentang Pustaka|isbn=9786022914631|pages=88, 140, 182, 205, 275, 301, 338, 365, 418, 512, 538, 546|url-status=live}}
ggtj4c4yg46sib6osdntpl8gmellk7i
55905
55903
2026-08-16T06:37:32Z
Fatonyrd
21228
/* Kutipan */
55905
wikitext
text/x-wiki
'''Raras Prayagung''' adalah salah satu tokoh penting sekaligus penemu dan pemilik utama dari dinasti bisnis wewangian Puspa Karsa dalam novel ''Aroma Karsa'' (2018) karya Dee Lestari.
== Kutipan ==
{{cquote|Di dunia bisnis wewangian, kita tidak menjual cairan dalam botol kaca. Kita menjual ilusi, kenangan, dan hasrat yang paling tersembunyi dari manusia.}}
<small>Doktrin bisnis yang disampaikan Raras Prayagung kepada para petinggi perusahaan Puspa Karsa saat mempresentasikan strategi pengembangan wewangian baru (hlm. 88).</small>
{{cquote|Obsesi adalah nama lain dari kesetiaan pada tujuan. Tanpa obsesi, orang-orang biasa hanya akan berhenti di tengah jalan saat menghadapi rintangan.}}
<small>Pembelaan diri Raras saat dipertanyakan oleh tim eksternal mengenai dorongan ambisinya yang sangat ekstrem untuk menemukan tanaman misterius di Gunung Lawu (hlm. 140).</small>
{{cquote|Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya di permukaan. Bakat terbesar sering kali bersembunyi di tempat yang paling tidak terkira, di tengah bau tempat sampah sekalipun.}}
<small>Penilaian Raras Prayagung ketika pertama kali mengamati latar belakang Jati Wesi dan menyadari potensi luar biasa yang dimiliki pemuda dari Bantar Gebang tersebut (hlm. 182).</small>
{{cquote|Uang bisa membeli peralatan ekspedisi terbaik dan menyewa puluhan tenaga ahli, tapi uang tidak bisa membeli kepatuhan alam. Kita harus tahu kapan harus menunduk.}}
<small>Nasihat Raras kepada jajaran pimpinan ekspedisi sewaktu menyusun strategi taktis sebelum memasuki kawasan rawan Gunung Lawu (hlm. 205).</small>
{{cquote|Rahasia yang disimpan terlalu lama akan menjadi racun, tapi membagikannya kepada orang yang salah adalah bunuh diri.}}
<small>Perenungan dan ucapan Raras ketika dihadapkan pada dilema pembukaan arsip-arsip kuno keluarga mengenai sejarah jantera dan Puspa Karsa (hlm. 275).</small>
{{cquote|Aku tidak membutuhkan orang pintar yang banyak bertanya. Aku membutuhkan orang tangguh yang bisa menyelesaikan tugas tanpa alasan.}}
<small>Instruksi tegas Raras Prayagung saat menyeleksi personel keamanan dan lapangan yang akan dikirim menembus hutan tropis (hlm. 301).</small>
{{cquote|Setiap wewangian legenda selalu menuntut pengorbanan. Tidak ada takhta yang berdiri tanpa harga yang harus dibayar mahal.}}
<small>Ungkapan dingin Raras sewaktu membahas risiko keselamatan yang mungkin dihadapi oleh para anggota tim dalam pencarian Puspa Karsa (hlm. 338).</small>
{{cquote|Sejarah tidak dicatat oleh mereka yang ragu-ragu. Jika kita ingin mengukir nama di puncak, kita harus berani melangkah di atas jurang.}}
<small>Pidato pendorong semangat dari Raras kepada tim inti riset saat proyek ekspedisi mengalami kebuntuan teknis (hlm. 365).</small>
{{cquote|Menjadi pemimpin berarti siap berjalan sendirian di kegelapan, ketika orang lain di sekitarmu mulai kehilangan arah dan keberanian.}}
<small>Wejangan Raras kepada Suma mengenai beban mental dan kesendirian yang harus ditanggung sebagai seorang pengambil keputusan tertinggi (hlm. 418).</small>
{{cquote|Aroma terbaik di dunia selalu lahir dari proses pengolahan yang ekstrem. Begitu juga dengan manusia, mereka diuji lewat tekanan.}}
<small>Refleksi Raras saat mengamati perkembangan keahlian Suma dan Jati di bawah tekanan situasi ekspedisi yang kian memuncak (hlm. 512).</small>
{{cquote|Pada akhirnya, dunia hanya akan mengingat siapa yang berhasil membawa pulang hasilnya, bukan siapa yang paling banyak berusaha.}}
<small>Ucapan filosofis Raras yang menggambarkan prinsip hidupnya yang pragmatis dan berorientasi penuh pada pencapaian akhir (hlm. 538).</small>
{{cquote|Kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli di pasar mana pun. Begitu rusak, tidak ada racikan yang bisa memperbaikinya.}}
<small>Peringatan Raras kepada bawahannya yang tertangkap melakukan pengkhianatan kecil dalam penyampaian laporan data riset (hlm. 546).</small>
== Referensi ==
* {{Cite book|last=Lestari|first=Dee|date=Dee|title=Aroma Karsa|location=Yogyakarta|publisher=Bentang Pustaka|isbn=9786022914631|pages=88, 140, 182, 205, 275, 301, 338, 365, 418, 512, 538, 546|url-status=live}}
pj66zfr3icd5dj9zbxtt7khwz6gzqx2
55906
55905
2026-08-16T06:43:07Z
Fatonyrd
21228
Menambahkan kategori.
55906
wikitext
text/x-wiki
'''Raras Prayagung''' adalah salah satu tokoh penting sekaligus penemu dan pemilik utama dari dinasti bisnis wewangian Puspa Karsa dalam novel ''Aroma Karsa'' (2018) karya Dee Lestari.
== Kutipan ==
{{cquote|Di dunia bisnis wewangian, kita tidak menjual cairan dalam botol kaca. Kita menjual ilusi, kenangan, dan hasrat yang paling tersembunyi dari manusia.}}
<small>Doktrin bisnis yang disampaikan Raras Prayagung kepada para petinggi perusahaan Puspa Karsa saat mempresentasikan strategi pengembangan wewangian baru (hlm. 88).</small>
{{cquote|Obsesi adalah nama lain dari kesetiaan pada tujuan. Tanpa obsesi, orang-orang biasa hanya akan berhenti di tengah jalan saat menghadapi rintangan.}}
<small>Pembelaan diri Raras saat dipertanyakan oleh tim eksternal mengenai dorongan ambisinya yang sangat ekstrem untuk menemukan tanaman misterius di Gunung Lawu (hlm. 140).</small>
{{cquote|Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya di permukaan. Bakat terbesar sering kali bersembunyi di tempat yang paling tidak terkira, di tengah bau tempat sampah sekalipun.}}
<small>Penilaian Raras Prayagung ketika pertama kali mengamati latar belakang Jati Wesi dan menyadari potensi luar biasa yang dimiliki pemuda dari Bantar Gebang tersebut (hlm. 182).</small>
{{cquote|Uang bisa membeli peralatan ekspedisi terbaik dan menyewa puluhan tenaga ahli, tapi uang tidak bisa membeli kepatuhan alam. Kita harus tahu kapan harus menunduk.}}
<small>Nasihat Raras kepada jajaran pimpinan ekspedisi sewaktu menyusun strategi taktis sebelum memasuki kawasan rawan Gunung Lawu (hlm. 205).</small>
{{cquote|Rahasia yang disimpan terlalu lama akan menjadi racun, tapi membagikannya kepada orang yang salah adalah bunuh diri.}}
<small>Perenungan dan ucapan Raras ketika dihadapkan pada dilema pembukaan arsip-arsip kuno keluarga mengenai sejarah jantera dan Puspa Karsa (hlm. 275).</small>
{{cquote|Aku tidak membutuhkan orang pintar yang banyak bertanya. Aku membutuhkan orang tangguh yang bisa menyelesaikan tugas tanpa alasan.}}
<small>Instruksi tegas Raras Prayagung saat menyeleksi personel keamanan dan lapangan yang akan dikirim menembus hutan tropis (hlm. 301).</small>
{{cquote|Setiap wewangian legenda selalu menuntut pengorbanan. Tidak ada takhta yang berdiri tanpa harga yang harus dibayar mahal.}}
<small>Ungkapan dingin Raras sewaktu membahas risiko keselamatan yang mungkin dihadapi oleh para anggota tim dalam pencarian Puspa Karsa (hlm. 338).</small>
{{cquote|Sejarah tidak dicatat oleh mereka yang ragu-ragu. Jika kita ingin mengukir nama di puncak, kita harus berani melangkah di atas jurang.}}
<small>Pidato pendorong semangat dari Raras kepada tim inti riset saat proyek ekspedisi mengalami kebuntuan teknis (hlm. 365).</small>
{{cquote|Menjadi pemimpin berarti siap berjalan sendirian di kegelapan, ketika orang lain di sekitarmu mulai kehilangan arah dan keberanian.}}
<small>Wejangan Raras kepada Suma mengenai beban mental dan kesendirian yang harus ditanggung sebagai seorang pengambil keputusan tertinggi (hlm. 418).</small>
{{cquote|Aroma terbaik di dunia selalu lahir dari proses pengolahan yang ekstrem. Begitu juga dengan manusia, mereka diuji lewat tekanan.}}
<small>Refleksi Raras saat mengamati perkembangan keahlian Suma dan Jati di bawah tekanan situasi ekspedisi yang kian memuncak (hlm. 512).</small>
{{cquote|Pada akhirnya, dunia hanya akan mengingat siapa yang berhasil membawa pulang hasilnya, bukan siapa yang paling banyak berusaha.}}
<small>Ucapan filosofis Raras yang menggambarkan prinsip hidupnya yang pragmatis dan berorientasi penuh pada pencapaian akhir (hlm. 538).</small>
{{cquote|Kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli di pasar mana pun. Begitu rusak, tidak ada racikan yang bisa memperbaikinya.}}
<small>Peringatan Raras kepada bawahannya yang tertangkap melakukan pengkhianatan kecil dalam penyampaian laporan data riset (hlm. 546).</small>
== Referensi ==
* {{Cite book|last=Lestari|first=Dee|date=Dee|title=Aroma Karsa|location=Yogyakarta|publisher=Bentang Pustaka|isbn=9786022914631|pages=88, 140, 182, 205, 275, 301, 338, 365, 418, 512, 538, 546|url-status=live}}
[[Kategori:Tokoh fiksi Indonesia]]
[[Kategori:Karakter novel]]
[[Kategori:Aroma Karsa]]
[[Kategori:Tokoh fiksi perempuan]]
ce2hg61mhntubeqzxfo4xvox5xx5dbs
55907
55906
2026-08-16T06:45:37Z
Fatonyrd
21228
Merevisi tahun referensi.
55907
wikitext
text/x-wiki
'''Raras Prayagung''' adalah salah satu tokoh penting sekaligus penemu dan pemilik utama dari dinasti bisnis wewangian Puspa Karsa dalam novel ''Aroma Karsa'' (2018) karya Dee Lestari.
== Kutipan ==
{{cquote|Di dunia bisnis wewangian, kita tidak menjual cairan dalam botol kaca. Kita menjual ilusi, kenangan, dan hasrat yang paling tersembunyi dari manusia.}}
<small>Doktrin bisnis yang disampaikan Raras Prayagung kepada para petinggi perusahaan Puspa Karsa saat mempresentasikan strategi pengembangan wewangian baru (hlm. 88).</small>
{{cquote|Obsesi adalah nama lain dari kesetiaan pada tujuan. Tanpa obsesi, orang-orang biasa hanya akan berhenti di tengah jalan saat menghadapi rintangan.}}
<small>Pembelaan diri Raras saat dipertanyakan oleh tim eksternal mengenai dorongan ambisinya yang sangat ekstrem untuk menemukan tanaman misterius di Gunung Lawu (hlm. 140).</small>
{{cquote|Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya di permukaan. Bakat terbesar sering kali bersembunyi di tempat yang paling tidak terkira, di tengah bau tempat sampah sekalipun.}}
<small>Penilaian Raras Prayagung ketika pertama kali mengamati latar belakang Jati Wesi dan menyadari potensi luar biasa yang dimiliki pemuda dari Bantar Gebang tersebut (hlm. 182).</small>
{{cquote|Uang bisa membeli peralatan ekspedisi terbaik dan menyewa puluhan tenaga ahli, tapi uang tidak bisa membeli kepatuhan alam. Kita harus tahu kapan harus menunduk.}}
<small>Nasihat Raras kepada jajaran pimpinan ekspedisi sewaktu menyusun strategi taktis sebelum memasuki kawasan rawan Gunung Lawu (hlm. 205).</small>
{{cquote|Rahasia yang disimpan terlalu lama akan menjadi racun, tapi membagikannya kepada orang yang salah adalah bunuh diri.}}
<small>Perenungan dan ucapan Raras ketika dihadapkan pada dilema pembukaan arsip-arsip kuno keluarga mengenai sejarah jantera dan Puspa Karsa (hlm. 275).</small>
{{cquote|Aku tidak membutuhkan orang pintar yang banyak bertanya. Aku membutuhkan orang tangguh yang bisa menyelesaikan tugas tanpa alasan.}}
<small>Instruksi tegas Raras Prayagung saat menyeleksi personel keamanan dan lapangan yang akan dikirim menembus hutan tropis (hlm. 301).</small>
{{cquote|Setiap wewangian legenda selalu menuntut pengorbanan. Tidak ada takhta yang berdiri tanpa harga yang harus dibayar mahal.}}
<small>Ungkapan dingin Raras sewaktu membahas risiko keselamatan yang mungkin dihadapi oleh para anggota tim dalam pencarian Puspa Karsa (hlm. 338).</small>
{{cquote|Sejarah tidak dicatat oleh mereka yang ragu-ragu. Jika kita ingin mengukir nama di puncak, kita harus berani melangkah di atas jurang.}}
<small>Pidato pendorong semangat dari Raras kepada tim inti riset saat proyek ekspedisi mengalami kebuntuan teknis (hlm. 365).</small>
{{cquote|Menjadi pemimpin berarti siap berjalan sendirian di kegelapan, ketika orang lain di sekitarmu mulai kehilangan arah dan keberanian.}}
<small>Wejangan Raras kepada Suma mengenai beban mental dan kesendirian yang harus ditanggung sebagai seorang pengambil keputusan tertinggi (hlm. 418).</small>
{{cquote|Aroma terbaik di dunia selalu lahir dari proses pengolahan yang ekstrem. Begitu juga dengan manusia, mereka diuji lewat tekanan.}}
<small>Refleksi Raras saat mengamati perkembangan keahlian Suma dan Jati di bawah tekanan situasi ekspedisi yang kian memuncak (hlm. 512).</small>
{{cquote|Pada akhirnya, dunia hanya akan mengingat siapa yang berhasil membawa pulang hasilnya, bukan siapa yang paling banyak berusaha.}}
<small>Ucapan filosofis Raras yang menggambarkan prinsip hidupnya yang pragmatis dan berorientasi penuh pada pencapaian akhir (hlm. 538).</small>
{{cquote|Kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli di pasar mana pun. Begitu rusak, tidak ada racikan yang bisa memperbaikinya.}}
<small>Peringatan Raras kepada bawahannya yang tertangkap melakukan pengkhianatan kecil dalam penyampaian laporan data riset (hlm. 546).</small>
== Referensi ==
* {{Cite book|last=Lestari|first=Dee|date=2018|title=Aroma Karsa|location=Yogyakarta|publisher=Bentang Pustaka|isbn=9786022914631|pages=88, 140, 182, 205, 275, 301, 338, 365, 418, 512, 538, 546|url-status=live}}
[[Kategori:Tokoh fiksi Indonesia]]
[[Kategori:Karakter novel]]
[[Kategori:Aroma Karsa]]
[[Kategori:Tokoh fiksi perempuan]]
c0tanxrfr4eyoykwx4mc5r5yppvqf27
55908
55907
2026-08-16T06:46:45Z
Fatonyrd
21228
Merubah kategori.
55908
wikitext
text/x-wiki
'''Raras Prayagung''' adalah salah satu tokoh penting sekaligus penemu dan pemilik utama dari dinasti bisnis wewangian Puspa Karsa dalam novel ''Aroma Karsa'' (2018) karya Dee Lestari.
== Kutipan ==
{{cquote|Di dunia bisnis wewangian, kita tidak menjual cairan dalam botol kaca. Kita menjual ilusi, kenangan, dan hasrat yang paling tersembunyi dari manusia.}}
<small>Doktrin bisnis yang disampaikan Raras Prayagung kepada para petinggi perusahaan Puspa Karsa saat mempresentasikan strategi pengembangan wewangian baru (hlm. 88).</small>
{{cquote|Obsesi adalah nama lain dari kesetiaan pada tujuan. Tanpa obsesi, orang-orang biasa hanya akan berhenti di tengah jalan saat menghadapi rintangan.}}
<small>Pembelaan diri Raras saat dipertanyakan oleh tim eksternal mengenai dorongan ambisinya yang sangat ekstrem untuk menemukan tanaman misterius di Gunung Lawu (hlm. 140).</small>
{{cquote|Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya di permukaan. Bakat terbesar sering kali bersembunyi di tempat yang paling tidak terkira, di tengah bau tempat sampah sekalipun.}}
<small>Penilaian Raras Prayagung ketika pertama kali mengamati latar belakang Jati Wesi dan menyadari potensi luar biasa yang dimiliki pemuda dari Bantar Gebang tersebut (hlm. 182).</small>
{{cquote|Uang bisa membeli peralatan ekspedisi terbaik dan menyewa puluhan tenaga ahli, tapi uang tidak bisa membeli kepatuhan alam. Kita harus tahu kapan harus menunduk.}}
<small>Nasihat Raras kepada jajaran pimpinan ekspedisi sewaktu menyusun strategi taktis sebelum memasuki kawasan rawan Gunung Lawu (hlm. 205).</small>
{{cquote|Rahasia yang disimpan terlalu lama akan menjadi racun, tapi membagikannya kepada orang yang salah adalah bunuh diri.}}
<small>Perenungan dan ucapan Raras ketika dihadapkan pada dilema pembukaan arsip-arsip kuno keluarga mengenai sejarah jantera dan Puspa Karsa (hlm. 275).</small>
{{cquote|Aku tidak membutuhkan orang pintar yang banyak bertanya. Aku membutuhkan orang tangguh yang bisa menyelesaikan tugas tanpa alasan.}}
<small>Instruksi tegas Raras Prayagung saat menyeleksi personel keamanan dan lapangan yang akan dikirim menembus hutan tropis (hlm. 301).</small>
{{cquote|Setiap wewangian legenda selalu menuntut pengorbanan. Tidak ada takhta yang berdiri tanpa harga yang harus dibayar mahal.}}
<small>Ungkapan dingin Raras sewaktu membahas risiko keselamatan yang mungkin dihadapi oleh para anggota tim dalam pencarian Puspa Karsa (hlm. 338).</small>
{{cquote|Sejarah tidak dicatat oleh mereka yang ragu-ragu. Jika kita ingin mengukir nama di puncak, kita harus berani melangkah di atas jurang.}}
<small>Pidato pendorong semangat dari Raras kepada tim inti riset saat proyek ekspedisi mengalami kebuntuan teknis (hlm. 365).</small>
{{cquote|Menjadi pemimpin berarti siap berjalan sendirian di kegelapan, ketika orang lain di sekitarmu mulai kehilangan arah dan keberanian.}}
<small>Wejangan Raras kepada Suma mengenai beban mental dan kesendirian yang harus ditanggung sebagai seorang pengambil keputusan tertinggi (hlm. 418).</small>
{{cquote|Aroma terbaik di dunia selalu lahir dari proses pengolahan yang ekstrem. Begitu juga dengan manusia, mereka diuji lewat tekanan.}}
<small>Refleksi Raras saat mengamati perkembangan keahlian Suma dan Jati di bawah tekanan situasi ekspedisi yang kian memuncak (hlm. 512).</small>
{{cquote|Pada akhirnya, dunia hanya akan mengingat siapa yang berhasil membawa pulang hasilnya, bukan siapa yang paling banyak berusaha.}}
<small>Ucapan filosofis Raras yang menggambarkan prinsip hidupnya yang pragmatis dan berorientasi penuh pada pencapaian akhir (hlm. 538).</small>
{{cquote|Kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli di pasar mana pun. Begitu rusak, tidak ada racikan yang bisa memperbaikinya.}}
<small>Peringatan Raras kepada bawahannya yang tertangkap melakukan pengkhianatan kecil dalam penyampaian laporan data riset (hlm. 546).</small>
== Referensi ==
* {{Cite book|last=Lestari|first=Dee|date=2018|title=Aroma Karsa|location=Yogyakarta|publisher=Bentang Pustaka|isbn=9786022914631|pages=88, 140, 182, 205, 275, 301, 338, 365, 418, 512, 538, 546|url-status=live}}
[[Kategori:Tokoh fiksi perempuan]]
[[Kategori:Tokoh fiksi Indonesia]]
[[Kategori:Karakter novel]]
[[Kategori:Aroma Karsa]]
jskpdubafc9r0r8waqdrxn7f1e8d6r7
55909
55908
2026-08-16T06:48:00Z
Fatonyrd
21228
Merevisi kategori.
55909
wikitext
text/x-wiki
'''Raras Prayagung''' adalah salah satu tokoh penting sekaligus penemu dan pemilik utama dari dinasti bisnis wewangian Puspa Karsa dalam novel ''Aroma Karsa'' (2018) karya Dee Lestari.
== Kutipan ==
{{cquote|Di dunia bisnis wewangian, kita tidak menjual cairan dalam botol kaca. Kita menjual ilusi, kenangan, dan hasrat yang paling tersembunyi dari manusia.}}
<small>Doktrin bisnis yang disampaikan Raras Prayagung kepada para petinggi perusahaan Puspa Karsa saat mempresentasikan strategi pengembangan wewangian baru (hlm. 88).</small>
{{cquote|Obsesi adalah nama lain dari kesetiaan pada tujuan. Tanpa obsesi, orang-orang biasa hanya akan berhenti di tengah jalan saat menghadapi rintangan.}}
<small>Pembelaan diri Raras saat dipertanyakan oleh tim eksternal mengenai dorongan ambisinya yang sangat ekstrem untuk menemukan tanaman misterius di Gunung Lawu (hlm. 140).</small>
{{cquote|Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya di permukaan. Bakat terbesar sering kali bersembunyi di tempat yang paling tidak terkira, di tengah bau tempat sampah sekalipun.}}
<small>Penilaian Raras Prayagung ketika pertama kali mengamati latar belakang Jati Wesi dan menyadari potensi luar biasa yang dimiliki pemuda dari Bantar Gebang tersebut (hlm. 182).</small>
{{cquote|Uang bisa membeli peralatan ekspedisi terbaik dan menyewa puluhan tenaga ahli, tapi uang tidak bisa membeli kepatuhan alam. Kita harus tahu kapan harus menunduk.}}
<small>Nasihat Raras kepada jajaran pimpinan ekspedisi sewaktu menyusun strategi taktis sebelum memasuki kawasan rawan Gunung Lawu (hlm. 205).</small>
{{cquote|Rahasia yang disimpan terlalu lama akan menjadi racun, tapi membagikannya kepada orang yang salah adalah bunuh diri.}}
<small>Perenungan dan ucapan Raras ketika dihadapkan pada dilema pembukaan arsip-arsip kuno keluarga mengenai sejarah jantera dan Puspa Karsa (hlm. 275).</small>
{{cquote|Aku tidak membutuhkan orang pintar yang banyak bertanya. Aku membutuhkan orang tangguh yang bisa menyelesaikan tugas tanpa alasan.}}
<small>Instruksi tegas Raras Prayagung saat menyeleksi personel keamanan dan lapangan yang akan dikirim menembus hutan tropis (hlm. 301).</small>
{{cquote|Setiap wewangian legenda selalu menuntut pengorbanan. Tidak ada takhta yang berdiri tanpa harga yang harus dibayar mahal.}}
<small>Ungkapan dingin Raras sewaktu membahas risiko keselamatan yang mungkin dihadapi oleh para anggota tim dalam pencarian Puspa Karsa (hlm. 338).</small>
{{cquote|Sejarah tidak dicatat oleh mereka yang ragu-ragu. Jika kita ingin mengukir nama di puncak, kita harus berani melangkah di atas jurang.}}
<small>Pidato pendorong semangat dari Raras kepada tim inti riset saat proyek ekspedisi mengalami kebuntuan teknis (hlm. 365).</small>
{{cquote|Menjadi pemimpin berarti siap berjalan sendirian di kegelapan, ketika orang lain di sekitarmu mulai kehilangan arah dan keberanian.}}
<small>Wejangan Raras kepada Suma mengenai beban mental dan kesendirian yang harus ditanggung sebagai seorang pengambil keputusan tertinggi (hlm. 418).</small>
{{cquote|Aroma terbaik di dunia selalu lahir dari proses pengolahan yang ekstrem. Begitu juga dengan manusia, mereka diuji lewat tekanan.}}
<small>Refleksi Raras saat mengamati perkembangan keahlian Suma dan Jati di bawah tekanan situasi ekspedisi yang kian memuncak (hlm. 512).</small>
{{cquote|Pada akhirnya, dunia hanya akan mengingat siapa yang berhasil membawa pulang hasilnya, bukan siapa yang paling banyak berusaha.}}
<small>Ucapan filosofis Raras yang menggambarkan prinsip hidupnya yang pragmatis dan berorientasi penuh pada pencapaian akhir (hlm. 538).</small>
{{cquote|Kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli di pasar mana pun. Begitu rusak, tidak ada racikan yang bisa memperbaikinya.}}
<small>Peringatan Raras kepada bawahannya yang tertangkap melakukan pengkhianatan kecil dalam penyampaian laporan data riset (hlm. 546).</small>
== Referensi ==
* {{Cite book|last=Lestari|first=Dee|date=2018|title=Aroma Karsa|location=Yogyakarta|publisher=Bentang Pustaka|isbn=9786022914631|pages=88, 140, 182, 205, 275, 301, 338, 365, 418, 512, 538, 546|url-status=live}}
[[Kategori:Tokoh Fiksi Perempuan]]
[[Kategori:Tokoh Fiksi Indonesia]]
[[Kategori:Karakter Novel]]
[[Kategori:Aroma Karsa]]
[[Kategori:Dee Lestari]]
70alfcl5bl241x61wixcign7qlubpnl
55910
55909
2026-08-16T06:49:15Z
Fatonyrd
21228
Menambahkan Dewi Lestari di kategori.
55910
wikitext
text/x-wiki
'''Raras Prayagung''' adalah salah satu tokoh penting sekaligus penemu dan pemilik utama dari dinasti bisnis wewangian Puspa Karsa dalam novel ''Aroma Karsa'' (2018) karya Dee Lestari.
== Kutipan ==
{{cquote|Di dunia bisnis wewangian, kita tidak menjual cairan dalam botol kaca. Kita menjual ilusi, kenangan, dan hasrat yang paling tersembunyi dari manusia.}}
<small>Doktrin bisnis yang disampaikan Raras Prayagung kepada para petinggi perusahaan Puspa Karsa saat mempresentasikan strategi pengembangan wewangian baru (hlm. 88).</small>
{{cquote|Obsesi adalah nama lain dari kesetiaan pada tujuan. Tanpa obsesi, orang-orang biasa hanya akan berhenti di tengah jalan saat menghadapi rintangan.}}
<small>Pembelaan diri Raras saat dipertanyakan oleh tim eksternal mengenai dorongan ambisinya yang sangat ekstrem untuk menemukan tanaman misterius di Gunung Lawu (hlm. 140).</small>
{{cquote|Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya di permukaan. Bakat terbesar sering kali bersembunyi di tempat yang paling tidak terkira, di tengah bau tempat sampah sekalipun.}}
<small>Penilaian Raras Prayagung ketika pertama kali mengamati latar belakang Jati Wesi dan menyadari potensi luar biasa yang dimiliki pemuda dari Bantar Gebang tersebut (hlm. 182).</small>
{{cquote|Uang bisa membeli peralatan ekspedisi terbaik dan menyewa puluhan tenaga ahli, tapi uang tidak bisa membeli kepatuhan alam. Kita harus tahu kapan harus menunduk.}}
<small>Nasihat Raras kepada jajaran pimpinan ekspedisi sewaktu menyusun strategi taktis sebelum memasuki kawasan rawan Gunung Lawu (hlm. 205).</small>
{{cquote|Rahasia yang disimpan terlalu lama akan menjadi racun, tapi membagikannya kepada orang yang salah adalah bunuh diri.}}
<small>Perenungan dan ucapan Raras ketika dihadapkan pada dilema pembukaan arsip-arsip kuno keluarga mengenai sejarah jantera dan Puspa Karsa (hlm. 275).</small>
{{cquote|Aku tidak membutuhkan orang pintar yang banyak bertanya. Aku membutuhkan orang tangguh yang bisa menyelesaikan tugas tanpa alasan.}}
<small>Instruksi tegas Raras Prayagung saat menyeleksi personel keamanan dan lapangan yang akan dikirim menembus hutan tropis (hlm. 301).</small>
{{cquote|Setiap wewangian legenda selalu menuntut pengorbanan. Tidak ada takhta yang berdiri tanpa harga yang harus dibayar mahal.}}
<small>Ungkapan dingin Raras sewaktu membahas risiko keselamatan yang mungkin dihadapi oleh para anggota tim dalam pencarian Puspa Karsa (hlm. 338).</small>
{{cquote|Sejarah tidak dicatat oleh mereka yang ragu-ragu. Jika kita ingin mengukir nama di puncak, kita harus berani melangkah di atas jurang.}}
<small>Pidato pendorong semangat dari Raras kepada tim inti riset saat proyek ekspedisi mengalami kebuntuan teknis (hlm. 365).</small>
{{cquote|Menjadi pemimpin berarti siap berjalan sendirian di kegelapan, ketika orang lain di sekitarmu mulai kehilangan arah dan keberanian.}}
<small>Wejangan Raras kepada Suma mengenai beban mental dan kesendirian yang harus ditanggung sebagai seorang pengambil keputusan tertinggi (hlm. 418).</small>
{{cquote|Aroma terbaik di dunia selalu lahir dari proses pengolahan yang ekstrem. Begitu juga dengan manusia, mereka diuji lewat tekanan.}}
<small>Refleksi Raras saat mengamati perkembangan keahlian Suma dan Jati di bawah tekanan situasi ekspedisi yang kian memuncak (hlm. 512).</small>
{{cquote|Pada akhirnya, dunia hanya akan mengingat siapa yang berhasil membawa pulang hasilnya, bukan siapa yang paling banyak berusaha.}}
<small>Ucapan filosofis Raras yang menggambarkan prinsip hidupnya yang pragmatis dan berorientasi penuh pada pencapaian akhir (hlm. 538).</small>
{{cquote|Kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli di pasar mana pun. Begitu rusak, tidak ada racikan yang bisa memperbaikinya.}}
<small>Peringatan Raras kepada bawahannya yang tertangkap melakukan pengkhianatan kecil dalam penyampaian laporan data riset (hlm. 546).</small>
== Referensi ==
* {{Cite book|last=Lestari|first=Dee|date=2018|title=Aroma Karsa|location=Yogyakarta|publisher=Bentang Pustaka|isbn=9786022914631|pages=88, 140, 182, 205, 275, 301, 338, 365, 418, 512, 538, 546|url-status=live}}
[[Kategori:Tokoh Fiksi Perempuan]]
[[Kategori:Tokoh Fiksi Indonesia]]
[[Kategori:Karakter Novel]]
[[Kategori:Aroma Karsa]]
[[Kategori:Dewi Lestari]]
hlk8eybc1vv2r62pu2gks16g1le4q2b
Afgan Syah Reza
0
14938
55915
2026-08-16T10:02:18Z
Badak Jawa
15604
Badak Jawa memindahkan halaman [[Afgan Syah Reza]] ke [[Afgan]]: Lebih dikenal sebagai Afgan
55915
wikitext
text/x-wiki
#ALIH [[Afgan]]
712s85sh4s025d0bmn27l6f1v1fn1az
Pembicaraan Pengguna:Yuliarp
3
14939
55917
2026-08-16T10:58:31Z
Badak Jawa
15604
/* */
55917
wikitext
text/x-wiki
{{Selamat datang}} [[Pengguna:Badak_Jawa|<font style="color:#fff; #000;font-size: 13px;border:2px solid #000;background:#000;box-shadow:-2px 2px #fe2c55;">𝄃𝄃𝄂Badak𝄂𝄀𝄁𝄃</font>]] [[Pembicaraan Pengguna:Badak_Jawa|<font style="color:#fff;background:#000;">📩</font>]] 16 Agustus 2026 10.58 (UTC)
89sa67q875hzd2ccvtbg7dnpaqzwprw
Pembicaraan Pengguna:Alicya-
3
14940
55919
2026-08-16T11:00:39Z
Badak Jawa
15604
/* */
55919
wikitext
text/x-wiki
{{Selamat datang}} [[Pengguna:Badak_Jawa|<font style="color:#fff; #000;font-size: 13px;border:2px solid #000;background:#000;box-shadow:-2px 2px #fe2c55;">𝄃𝄃𝄂Badak𝄂𝄀𝄁𝄃</font>]] [[Pembicaraan Pengguna:Badak_Jawa|<font style="color:#fff;background:#000;">📩</font>]] 16 Agustus 2026 11.00 (UTC)
oyayws1bujlmx0nj4insxianjy97x8w
Pembicaraan Pengguna:Hzu Hzu
3
14941
55920
2026-08-16T11:01:51Z
Badak Jawa
15604
/* */
55920
wikitext
text/x-wiki
{{Selamat datang}} [[Pengguna:Badak_Jawa|<font style="color:#fff; #000;font-size: 13px;border:2px solid #000;background:#000;box-shadow:-2px 2px #fe2c55;">𝄃𝄃𝄂Badak𝄂𝄀𝄁𝄃</font>]] [[Pembicaraan Pengguna:Badak_Jawa|<font style="color:#fff;background:#000;">📩</font>]] 16 Agustus 2026 11.01 (UTC)
cerl686d8wphlrmyipapp2jpeg160iy
Pembicaraan Pengguna:Nonatimur02
3
14942
55921
2026-08-16T11:02:17Z
Badak Jawa
15604
/* */
55921
wikitext
text/x-wiki
{{Selamat datang}} [[Pengguna:Badak_Jawa|<font style="color:#fff; #000;font-size: 13px;border:2px solid #000;background:#000;box-shadow:-2px 2px #fe2c55;">𝄃𝄃𝄂Badak𝄂𝄀𝄁𝄃</font>]] [[Pembicaraan Pengguna:Badak_Jawa|<font style="color:#fff;background:#000;">📩</font>]] 16 Agustus 2026 11.02 (UTC)
sw5n1jhibjunwa0xzv9cilzbxhgek35
Pembicaraan Pengguna:SilviaMamas
3
14943
55922
2026-08-16T11:02:40Z
Badak Jawa
15604
/* */
55922
wikitext
text/x-wiki
{{Selamat datang}} [[Pengguna:Badak_Jawa|<font style="color:#fff; #000;font-size: 13px;border:2px solid #000;background:#000;box-shadow:-2px 2px #fe2c55;">𝄃𝄃𝄂Badak𝄂𝄀𝄁𝄃</font>]] [[Pembicaraan Pengguna:Badak_Jawa|<font style="color:#fff;background:#000;">📩</font>]] 16 Agustus 2026 11.02 (UTC)
sw5n1jhibjunwa0xzv9cilzbxhgek35
Pembicaraan Pengguna:Sabil Khoer Al Munawar
3
14944
55923
2026-08-16T11:03:03Z
Badak Jawa
15604
/* */
55923
wikitext
text/x-wiki
{{Selamat datang}} [[Pengguna:Badak_Jawa|<font style="color:#fff; #000;font-size: 13px;border:2px solid #000;background:#000;box-shadow:-2px 2px #fe2c55;">𝄃𝄃𝄂Badak𝄂𝄀𝄁𝄃</font>]] [[Pembicaraan Pengguna:Badak_Jawa|<font style="color:#fff;background:#000;">📩</font>]] 16 Agustus 2026 11.03 (UTC)
15fafbkw2ivk2c0c5y1nkw0x257sxkc