Wikisumber
idwikisource
https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.46.0-wmf.21
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikisumber
Pembicaraan Wikisumber
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Pengarang
Pembicaraan Pengarang
Indeks
Pembicaraan Indeks
Halaman
Pembicaraan Halaman
Portal
Pembicaraan Portal
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Halaman:Macao Po.pdf/61
104
90124
267064
258319
2026-03-30T02:41:11Z
On Risanti
23075
/* Tervalidasi */
267064
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="On Risanti" />{{rh|''''{{sp|MACAO-PO}}''''||'''59'''}}</noinclude>diboeat poekoelin padanja telah berbajang di depan matanja. Ia laloe oeroengken tindakannja.
Tida lama Kuang-hong laloe tinggalken itoe roeangan, dan itoe sekalian prempoean telah samperin pada A-moay boeat diadjak bitjara. Antaranja ada djoega jang dari Hongkong, tapi sebagian besar dari marika ada dari poelo Macao, kerna semoea rata-rata bisa bahasa Kong-fu, jang tentoe sadja apa jang dibitjaraken dan ditanjaken oleh marika bisa dimengerti semoeanja oleh A-moay. Tapi A-moay tinggal diam sadja, ia tida ada nafsoe boeat bitjara apa-apa pada itoe prempoean-prempoean moeda, tjoema kadang-kadang sadja ia djawab dengen satoe atawa doea patah perkata'an, kaloe antaranja ada madjoeken pertanja'an ini-itoe padanja.
Tida lama kemoedian terdenger soearanja klonengan dari seblah dalem dan dengen sekedjaban sadja semoea prempoean-prempoean itoe laloe berlaloe tinggalken itoe roeangan.
A-moay jang masih asing sekali dengen tjara-tjaranja di dalem itoe roemah, tida taoe moesti berboeat apa. Ia menoleh kekanan dan kekiri dan tida dapetken orang lagi di sekiternja, tjoema ia liat pintoe depan dari itoe roeangan jang menemboes ka bagian loear, tida tertoetoep dan tida ada jang djaga.
„”Ach, kaloe sadja akoe bisa kloear dari itoe pintoe............” berpikir A-moay.
Begitoe berpikir........ begitoe berboeat........
Dengen koeatken tenaganja ia laloe berdjalan dengen tjepet menjamperi itoe pintoe boeat kemoedian kloear dari sitoe............
Tapi.......... baroe sadja ia bertindak kloear dari itoe pintoe ia telah dibikin terprandjat dengen soeara<noinclude></noinclude>
04xwj50hjj2h5rcs9mqo2k8evggyd3i
Halaman:Macao Po.pdf/69
104
90126
267065
258330
2026-03-30T02:48:19Z
On Risanti
23075
/* Tervalidasi */
267065
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="On Risanti" />{{rh|''''{{sp|MACAO-PO}}''''||'''67'''}}</noinclude>kloearken kaoe dari ini kamar, djangan kaoe koeatir nona," berkata itoe pemoeda lagi dengen napasnja kliatan naek toeroen seperti orang jang lagi marah besar. ”Tapi........ tapi tjara bagimana kaoe soedah bisa di masoeken dalem ini roemah?”
A-moay laloe silahken itoe pemoeda ambil tempat doedoek dan ia laloe tjeritaken tjara bagimana orang soedah tipoe padanja dari bermoela sampe ia bisa masoek dalem ini roemah. Sambil riwajatken itoe tjerita'an iapoenja aer-mata toeroen dengen tida brentinja.
„Terlaloe............” menggrendeng itoe pemoeda. „Apakah di ini doenia masih ada itoe orang-orang jang begitoe kedjem melebihin dari binatang?”
„O, bawa akoe kloear........ akoe ingin kombali pada iboe-bapakoe........”
Pemoeda itoe tida berkata apa-apa, ia pandeng pada paras moekanja itoe gadis sekoetika lamanja dan waktoe A-moay angkat kepalanja dan pandeng pada itoe pemoeda............ iapoenja mata telah kebentrok dengen itoe sinaran mata jang tadjem dari itoe pemoeda, jang seolah-olah sebagi tadjem itoe panah Amor menoesoek dalem hatinja.
Dengen tjepet A-moay toendoekken poela kepalanja dan rasaken badannja sedikit goemeter dan dingin. Satoe perasa'an aneh telah dateng. Ia tida taoe apa sebabnja itoe semoea.
„O........ O............ toeloenglah........ padakoe.......” Itoe perkata'an telah kloear dari satoe moeloet jang bergoemeteran dan terpoetoes-poetoes........ dan sanget terharoe kedengerannja.
Pemoeda itoe poen rasaken hatinja sanget tertoesoek, boekan meloeloe lantaran itoe keloehan dan<noinclude></noinclude>
doq8fryfexitzubr3c1m2s997cgtiie
267066
267065
2026-03-30T02:48:49Z
On Risanti
23075
267066
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="On Risanti" />{{rh|''''{{sp|MACAO-PO}}''''||'''67'''}}</noinclude>kloearken kaoe dari ini kamar, djangan kaoe koeatir nona," berkata itoe pemoeda lagi dengen napasnja kliatan naek toeroen seperti orang jang lagi marah besar. ”Tapi........ tapi tjara bagimana kaoe soedah bisa di masoeken dalem ini roemah?”
A-moay laloe silahken itoe pemoeda ambil tempat doedoek dan ia laloe tjeritaken tjara bagimana orang soedah tipoe padanja dari bermoela sampe ia bisa masoek dalem ini roemah. Sambil riwajatken itoe tjerita'an iapoenja aer-mata toeroen dengen tida brentinja.
„Terlaloe............” menggrendeng itoe pemoeda. „Apakah di ini doenia masih ada itoe orang-orang jang begitoe kedjem melebihin dari binatang?”
„O, bawa akoe kloear........ akoe ingin kombali pada iboe-bapakoe........”
Pemoeda itoe tida berkata apa-apa, ia pandeng pada paras moekanja itoe gadis sekoetika lamanja dan waktoe A-moay angkat kepalanja dan pandeng pada itoe pemoeda............ iapoenja mata telah kebentrok dengen itoe sinaran mata jang tadjem dari itoe pemoeda, jang seolah-olah sebagi tadjem itoe panah Amor menoesoek dalem hatinja.
Dengen tjepet A-moay toendoekken poela kepalanja dan rasaken badannja sedikit goemeter dan dingin. Satoe perasa'an aneh telah dateng. Ia tida taoe apa sebabnja itoe semoea.
„O........ O............ toeloenglah........ padakoe.......” Itoe perkata'an telah kloear dari satoe moeloet jang bergoemeteran dan terpoetoes-poetoes........ dan sanget terharoe kedengerannja.
Pemoeda itoe poen rasaken hatinja sanget tertoesoek, boekan meloeloe lantaran itoe keloehan dan<noinclude></noinclude>
nmzt9en15quwdce08t0mi5tpi660he7
Halaman:Horison 07 1986.pdf/48
104
95573
267061
2026-03-29T17:38:33Z
Hadithfajri
15274
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Antara Kebudayaan Dan Kesenian Dengan Undang-Undang Dasar A.A. NAVIS 20 Di negeri kita sekarang sudah ban- yak orang pandai, ahli. yang mam- pu merumuskan serta menganalisa berbagai masalah serta menyusun rencana jangka pendek dan jangka HORISON panjang. Yang jarang ditemukan ialah pikiran yang konsepsional yang sesuai dengan filosofi yang esensial bagi bangsa Indonesia sebagai manusia yang hadir di tengah-tengah bangsa lain nya. Apa yang dikemu...
267061
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Hadithfajri" /></noinclude>Antara Kebudayaan Dan Kesenian
Dengan Undang-Undang Dasar
A.A. NAVIS
20
Di negeri kita sekarang sudah ban-
yak orang pandai, ahli. yang mam-
pu merumuskan serta menganalisa
berbagai masalah serta menyusun
rencana jangka pendek dan jangka
HORISON panjang. Yang jarang ditemukan
ialah pikiran yang konsepsional yang sesuai dengan
filosofi yang esensial bagi bangsa Indonesia sebagai
manusia yang hadir di tengah-tengah bangsa lain
nya.
Apa yang dikemukakan oleh para ahli seperti
yang dimuat dalam Sinar Harapan tanggal 15 Maret
dan Kompas tanggal 16 Maret 1986, dalam membi-
carakan masalah kebudayaan telah merupakan pe-
mikiran yang maksimal, tapi juga sempit apabila
mereka mengartikan kebudayaan sama dengan ke-
senian.
Di samping itu pun ditemui pulakonsep kebuda-
yaan yang dipahami oleh para birokrat di kalangan
pemerintah, yang polanya merupakan kemauan
dari rasa cemas yang terselubung oleh pemahaman
demi stabilitas nasional karena kita sedang mem-
bangun. Sehingga pengiriman tim kesenian keluar
negeri pun perlu diserahkan kepada Bakin, seolah-
olah orang Bakin itu sangat memahami masalah ke-
senian atau kesenian merupakan urat nadi kekacau-
an yang akan merusak stabilitas nasional itu.
Dalam membicarakan "Kebudayaan nasional"
terdapat keracunan awal dari pemikiran itu. Misal-
nya :
an yang kreatif di Indonesia telah berwajah kosmo-
polit.
Di samping itu para birokrat yang telah menjadi
politisi atau pemegangan kekuasaan, yang seharus-
nya berorientasi pada UUD, membuat konsep ke-
budayaan sebagaimana bunyi Penjelasan Pasal dari
UUD, bahwa "kebudayaan nasional adalah puncak-
puncak kebudayaan daerah". Analogi pemikiran
itu ialah kebijaksanaan dan program kebudayaan
yang dituangkan dalam GBHN serta didukung
oleh milyaran anggaran belanja membuat konsep
itu dengan program "pelestarian kebudayaan
daerah",
Sehingga sekolah kesenian tradisional
di dirikan sanggar-sanggarnya diberi subsidi. Hasil-
nya ialah "mencengangkan orang asing dan mem-
banjirnya turis". serta "saratnya acara TVRI yang
tidak ditonton pembayar pajak dan iuran".
Tidak ada orang pernah berpikir apalagi berniat
melakukan penelitian buat apakah bagi bangsa In-
donesia sebagai manusia yang hidup di tengah-
tengah bangsa lainnya, program dan hasil pelestari-
an kesenian atau kebudayaan daerah itu? Apakah
sekedar menyenangkan hati orang tua-tua? Atau-
kah berfungsi meningkat harkat manusia Indonesia
di masa datang? Ataukah sekadar berfungsi politik
untuk mengalih-alihkan perhatian anak-anak muda
agar berkelakuan baik-baik, tidak merusak, tidak
mengganggu pikiran bapak-bapaknya yang sedang
lagi membangun?
Tidak ada orang berpikir lagi bahwa kebudayaan
(1) Kebudayaan selalu dikecilkan artinya sebagai itu bukan hanya kesenian, tapi juga sikap hidup,
kesenian tok,
(2) Indonesia selalu dipahamkan sebagai suatu ke-
satuan bangsa yang lain dari yang lain, lain dari
barat, lain dari Timur, tidak melayu, tidak ja-
wa, tidak cina atau arab.
Dengan pola pemikiran demikian, maka alam pi-
kiran para cendikiawan Indonesia dalam membica-
rakan "kebudayaan nasional" atau "kebudayaan
Indonesia" selalu teracu dalam memikirkan kese-
nian Indonesia itu ialah, tidak timur, tidak barat,
tidak melayu, tidak jawa, tidak cina dan berbagai
tidak lainnya. Padahal dalam kenyataannya keseni-
filosofi, sistempolitik, sistem sosial dan juga sistem
ekonomi. Andaikata kita setuju bahwa pengertian
kebudayaan itu adalah mencakup seluruh gerak
liku hidup manusia, dalam hal ini manusia Indone.
sia, maka sebagai Warga Negara Indonesia, konsep
kebudayaan itu haruslah berorientasi kepada UUD.
Apakah UUD itu konsisten dalam fasal demi fasal-
nya, bahwa isinya sesuai dengan "Kebudayaan
nasional adalah puncak-puncak kebudayaan dae-
rah". Saya kira mungkin, oleh karena ada fasal-
fasal yang demokratis berdasarkan musyawarah
(Bersambung ke hal. 39).
-BONUS HORISON/XXI/30<noinclude></noinclude>
0jeiwtlq95r8nhmavl62ed76svjb46t
Halaman:Horison 06 1970.pdf/13
104
95574
267062
2026-03-29T17:55:30Z
Hadithfajri
15274
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'KARNA DAN KUNTI RABINDRANAT TAGORE Karna : Aku adalah Karna, putera pahlawan mandala Adhirata, dan aku duduk disiai, ditepi bengawan Gangga jang sutji untuk menjembab matahari terbenam. Katakan padaku siapa engkau. Kunti: Aku adalah perempuan jang membawa perkenalanmu jang pertama pada tjahaja jang sedang kausembah. Karna : Au tak mengerti. Tapi sotjamu mentjair kan hatiku bagaikan tjiuman matahari pagi, melelehkan saldju dipuntjak gunung dan su...
267062
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Hadithfajri" /></noinclude>KARNA DAN KUNTI
RABINDRANAT TAGORE
Karna :
Aku adalah Karna, putera pahlawan
mandala Adhirata, dan aku duduk disiai,
ditepi bengawan Gangga jang sutji untuk
menjembab matahari terbenam. Katakan
padaku siapa engkau.
Kunti:
Aku adalah perempuan jang membawa
perkenalanmu jang pertama pada tjahaja
jang sedang kausembah.
Karna :
Au tak mengerti. Tapi sotjamu mentjair
kan hatiku bagaikan tjiuman matahari
pagi, melelehkan saldju dipuntjak gunung
dan suaramu menumbuhkan duka bitam
dalam diriku, noktah diudjung kenangan
jang tak terdjangkau oleh ingatanku. Ka-
takan perempuan asing, tahasia apakah
jang menalikan kelahiranku padamu ?
Kunti:
Sabar anakku. Aku akan mendjawab pa
bila selubung gelap telah mulai turun me
liputi kelopak sang rina. Tapi sementara
itu kukatakan padamu bahwa aku adalah
Kunti.
Karna:
Kunti Bunda Ardjuna!
Xpoti:
Ja, sesungguhnjalah. Akulah bunda dari
Ardjuna, seterumu. Tapi dengan demikian,
djangan bentji daku. Masih kuingat dalam
simpanan kenanganku, betapa dihari gla-
dian perang dipadang Hastina, engkau, se
prang botjah jang tak dikenal, menapak de-
ngan berani ketengah arena, bagaikan dju-
raian fadjar jang pertama diantara bin-
tang dilangit malam.
Ab! Siapakah gerangan perempuan jang
tak berbahagia itu, jang kedua matanja
mengirimkan tjium mendjilati tubuhmu
jang ramping dan telandjang lewat ham-
buran air mats jang merestu padamu, se
dang ia duduk diantara puteri kerajaan
dibelakang singgasana? Mengapa ia bunda
dari Ardjuna?
Kemudian sang Brahmin jang tangkas
memainkan sendjata, menapak kemuka se-
raja berkata,,Tak ada pemuda jang ma-
sih bidjau muda jang patut menantang
Ardjuna dalam perang tanding adu te-
naga"..
Engkau teDang tak berkata. Bagai se-
gumpal mega mendung kala mentari ter-
benam, melampiaskan tjahaja kelam oleh
rasa terhina.
Tapi siapakah itu, perempuan jang hati-
nja terbakar oleh rasa malu dan amarah,
menjala-njala dalam kediamannja? Bunda
dari Ardjuna!
Segala pudji bugi Duryudhana, jang me
ngetahui betapa nilaimu dan kemudian
menganugerahimu mahkota Radja keradja
an Anga. Keperwiraanmu mendjuarai Re-
lurub Kurawa
Dipenuhi rasa bangga karena nasib jang
membawa keberuntungan, Adhirata sang
pablawan mandala menerobos dari gerom
bolan manusia dan engkau seketika itu
djuga menghambur kemuka dan meletak-
kan mabkotamu dikakinja, sementara ter-
dengar riuh rendah suara para Pendawa
tertawa ber-sama kawan mereka.
Tapi adalah seorang perempuan dari
golongan Pandawa jang hatinja menggelom
bang oleh rasa bahagia, karena ia dapat
melihat tentang kebanggaan seorang pab
lawan ditengah suara penghinaan. Bubkan
perempuan itu Bunda dari Ardjuna!
Катол
Tapi apakah jang membawamu, maka
engkau datang kemari, wahai Bunda dari
para radja?
Kunt! :
Aku datang untuk membawa pinta.
HORISON / 173
Karua :
Perintahkan daku. Bahkan apa sadja, ke
lakian dan kehormatan sebagai ksatria
jang harus kupersembahkan kebawah duli
kakimu.
Kunti:
Aku datang kemari untuk membawamu
pergi.
Karna :
Kemana?
Kunti :
Kedalam dadaku jang dabaga akan tjin-
tamu, anakku.
Karna :
Beruntunglah daku, wahai Bunda dari
lima radja perkasa Tapi dimanakah di-
kau bisa menemukan tempat bagiku, se-
orang ketjil keturunan orang jang paling
рара.
Kunti :
Tempatmu adalah dimuka semua putera*
ku jang lain.
Karna :
Tapi karena hak apakah maka aku ha-
rus mengambil anugerah itu?
Kunti :
Hak Dewa kepadamu sendiri, karena ia
adalah tjinta seorang bunda.
Karna :
Selubung sendja jang belum meliputi
bumi. Keheningan menggelombang diatas
air. Dan suaramu menuntun daku kedunia
hotjah jang kabur dalam himbauan kena-
nganku. Betapapun, apakah ini banja su-
atu mimpi, atau sebagian dari kenjataan
jang dilupakan. Dekatlab, merapatlah ko-
hadiratku, letakkan tangan kananmu di-
atas keningku. Orang pernah kudengar
berkata bahwa dahulunja aku adalah se
orang botjah jang ditinggalkan oleh bua-
danju kala haji. Mulam, ketika itu aku<noinclude></noinclude>
a91uz5vce97ruwmtoahtsi81rd1w81a
Halaman:030,107 Wandesi or Windesi.djvu/5
104
95575
267063
2026-03-30T00:40:22Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
267063
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
256. sinjäni <24><br>
257/<br>
258. mararia baba, madjawi<br>
261. aantum muän<br>
262. aantum bwabwien<br>
263. tapü/tapun<br>
264. tapu<br>
265. tapu<br>
266. tapu<br>
267. papönsi<br>
268. raärwo muan<br>
269. raärwo bwabwien<br>
270/<br>
271. babä<br>
272/<br>
273. madjäwi<br>
274. maräria tapu<br>
276. amäan<br>
277-<br>
280. amaan<br>
281-<br>
286. sumön<br>
289. anoh<br>
290. anoh<br>
293. anoh<br>
294. anoh<br>
299. nio<br>
300. nio<br>
305. <25><br>
310-<br>
314. dǐro<br>
315. üsapui<br>
317. sawäni<br>
318. <26><br>
326. utan<br>
330. kawassa<br>
331. indërri<br>
332. aimamün<br>
337. karwaar<br>
338. <27><br>
339. manawaan<br>
341. manawaan<br>
343/<br>
344. rwanünum
{{multicol-break}}
345. Allah <28><br>
346. sanetiaär<br>
347. nadi/benadi<br>
351. surat <29><br>
352. letter <30><br>
353. surat<br>
354. surat<br>
355. surat<br>
356. toppan pisiri <31><br>
357. toppan pisiri <31><br>
358. ränu<br>
359. <32><br>
360. röia <33><br>
361. addǐa worroi<br>
362. surüga <34><br>
363. ütan<br>
364. röra<br>
365. kawässa<br>
366. tënam worroi worroi<br>
367. rǐna<br>
368. <35><br>
369. worriäsi<br>
370. worriäsi<br>
374. <36><br>
375. <37><br>
376. aniosëpai<br>
378. radja <38><br>
382. <39><br>
386. itoe dia<br>
389. mananiërsi <40><br>
390. <41><br>
391. piwesjeen, piditeen<br>
392. pi ena ba <piwesjeen ba?><br>
393. sjen<br>
394. women<br>
396. adat<br>
397. sienjoontu kariria<br>
400. bait<br>
402. <42><br>
404. rosíj <sosíj?><br>
407/<br>
408. rioot / riaut
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
fv96gsttlngb5a9hy8q3aygndnxph6m
Halaman:Lima Jagoan vol.22.pdf/59
104
95576
267067
2026-03-30T07:15:09Z
Mbee-wiki
5975
/* Telah diuji baca */
267067
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Mbee-wiki" /></noinclude>Air mukanya berubah merah padam. matanya ber sorot merah dan dengan napas sengal² Bang hong menghardik sang istri.
Seorang perempuan tahunya apakah? Bukankab engkau kuhidupi? Begitu berani kau pontang mulut untuk mengoceh yg tak karuan huh dasar perempuan!
– Siangkong, dengan baik² aku memperingatkan kepadamu. Peristiwa yg baru saja terjadi ini, – andaikata tak ada ongji yg menolong niscaya jiwa seluruh keluarga kita akan mati. Eh masih juga kau tidak menjadi sadar dan merasa kapok (bertobat)?
– Apaaa? Perempuan keparat! Tahumu hanya makan, pakaian, perhiasan, tidur dan mélayani lelaki. Kini telah belajar dari siapa {{sic|uka|kau}} {{sic|sebingga|sehingga}} berani membantah dan menggurui lakimu?
Tidak sadarkah kau bahwa lelaki adalah GURU dari seorang istri, busyet, berani pentang bacot mêmberikan kuliah huh, tak tahu malu!
– Siangkong {{ellipsis|3}} siangkong, ingat akan segala akibat akibatnya, jangan hanya kau pikirkan keenakannya Akibat dari perbuatan jahat ini akan beres sekali.
Oleh karena itu sebagai seorang istri yang setia dan<noinclude>{{rh|||59}}</noinclude>
7dfse2t7ox7wyb1sbfwyvo5pbpmc1cx
Halaman:Lima Jagoan vol.22.pdf/49
104
95577
267068
2026-03-30T07:17:38Z
Mbee-wiki
5975
/* Telah diuji baca */
267068
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Mbee-wiki" /></noinclude>{{hwe|nyapun|Bicaranyapun}} sukar ditangkap, cecet cait tidak karuan. Budak² itu berlompatan bangun dan membantu kawannya menyediakan hidangan utk perjamuan.
Tiada antara lama budak² itu berjalan beriringan dengan membawa nenampan yg penuh dengan segala macam hidangan, anggur, arak, buah²an dan lain sebagainya.
Di ruang buku loya telah diatur dua buah meja untuk berjamu. Sebuah di pergunakan loya dan Tut liong gie. Sebuah yg lain untuk dua pengawal Tut liong gie.
Setelah budak² itu mengatur rapi, Bang hong lalu menggusahnya.
– Kalian cepat mundur dan tidurlah!
– Baik loya, baik loya! Budak budak itu memberi hormat dengan membongkok bongkok. Setelah berada diluar mereka saling pandang dan mengerutkan jidat.
– Benar tidak kataku? Tamu² itu bukan dari Sam koan. Penduduk Sam koan tak berbeda
jauh dengan suku kita Tamu² itu pasti datang dari negeri asing.<noinclude>{{rh|||49}}</noinclude>
gd6jx02qu5k36l33hyoz1k3wmv3yd15
Halaman:Horison 06 1970.pdf/15
104
95578
267069
2026-03-30T11:10:40Z
Hadithfajri
15274
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'gutku dari tjinta kasih bundaku! Hanja katakan padaku mengapa engkau telab datang sendja ini untuk memanggilku kem bali pada reruntuban langit jang telah han tjur oleh tanganmu sendiri? Kunti: Daku di-kedjar kutuk jang djauh lebih dahsjat dari rasa hinamu, karena meski lima orang putera mengelilingiku, tapi batiku mengalum seperti hati seorang pe- rempuan jang terenggut sebab kehilangan anaknja. Lewat kojak-mojak karena keeng karan terhadap kela...
267069
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Hadithfajri" /></noinclude>gutku dari tjinta kasih bundaku! Hanja
katakan padaku mengapa engkau telab
datang sendja ini untuk memanggilku kem
bali pada reruntuban langit jang telah han
tjur oleh tanganmu sendiri?
Kunti:
Daku di-kedjar kutuk jang djauh lebih
dahsjat dari rasa hinamu, karena meski
lima orang putera mengelilingiku, tapi
batiku mengalum seperti hati seorang pe-
rempuan jang terenggut sebab kehilangan
anaknja. Lewat kojak-mojak karena keeng
karan terhadap kelahiran anakku jang per
tama, seluruh kesenangan hidupku hilang
lenjap tak memberi arti. Pada hari terku-
tuk itu, ketika aku mengengkari keibuan-
ku, engkau belum bisa mengeluarkan se.
patah katapun, dan hari ini bundamu jang
chianat memohon akan kata'mu. Biarkan
permaafanmu membakar hatinja bagai api
jang mendjilati segala dosa'nja.
Karna:
Bunda! Terimalah air mataku!
Kunti:
Aku datang bukanlah dengan harapan
untuk memenangkan engkau kembali keda
lam rangkuman lengan'ku, tapi aku da-
(Sambungan dari bal. 172)
,,Disebuah industri pidato. Aku adalah
anggota rombongan tamu agung jang ke-
Binj".
Ha? Pak guru tidak beda dengan
Greet 1"
Ja, kita adalah gambaran tentang ma
ausia negeri ini, manusia jang sangat te-
gang karena disatu pihak kita ditarik oleh
tang untuk memulihkan hakmu kembali
padamu. Datang dan terimalah djulukan
putera radja, tempat kedudukanmu dian-
tara saudara mu.
Karna:
Jang lebih benar ialah bahwa aku ada-
lah putera seorang pahlawan mandala dan
tiadalah aku menginginkan kemegahan asal
keturunan jang lebih luhur.
Kunti:
Djadilah engkau seperti jang seharusnja.
Datang dan menangkan kembali kerajaan
jang sudah mendjadi hakmu!
Karna:
Haruskah dikau, jang sekali telah me
nolak ku mendapatkan tjinta bundaku, se-
karang membudjuk dengan sebuah kera-
djaan? Ikatan darah jang telah
pupus
sampai akar'nja telah mati dan takkan
bakal kembali tumbuh. Malu akan mentjo
ret dikeningku pabila daku memanggil
ibunda dari radja sebagai ibuku dan me-
lepaskan ibuku jang tinggal dalam rumah
seorang pablawan!
Kunti:
Engkau sungguh agung anakku! Betapa
kemerdekaan, kebaikan, moral hati nurani
dan sebagainja dan dilain pihak di-tarik"
oleh kebutuhan kita".
Terus terang sadja batinku tjapek be-
nar menghadapi perwira buta ini. Aku ter
tidur diatas kursi didepan perwira itu dan
barulah terbangun ketika dikagetkan oleh
tepuk tangan jang ramai dalam gedung
nasional itu. Mataku terbuka. Aku turut
bukuman Dewa telah tumbuh dari sebe
sar bidji sawi mendjelma kedalam sebuab
kehidupan jang besar. Baji jang terlantar,
dibuang oleh ibunja sendiri, lalu mendjel-
ma mendjadi seorang lelaki jang melalui
segala kebalauan peristiwa, ditakdirkan
untuk menghantjurkan saudara'nja sendiri.
Karna:
Bunda, djangan takut! Aku tahu de-
ngan pasti bahwa kemenangan telah me-
nantikan kaum Pandawa. Meski tenang
dan damai suasana malam ini, tapi hatiku
penuh diliputi irama pertaruban tanpa ha
rap, meluntjur dalam djurang putus asa.
Mintalah padaku untuk tidak meninggalkan
mereka jang telah pinasti untuk kalab.
Biarlah Pandawa memenangkan mahkota
selama mereka harus begitu. Daku akan
tinggal disini, dalam putus asa dan keti-
adaan harapan.
Pada malam kelahiranku, engkau telah
meninggalkan ku dalam telandjang dan
tiada bernama, ditakdirkan untuk berdja-
lan menudju kekehinaan. Tinggalkan daku
sekali lagi dengan tiada kasihan dalam
kepastian harapan untuk kalah dan mati!
Terdjemahan:
M. Dawam Rahardjo
te, uk tangan dan menoleh kedepan, keka
nan dan kekiri, kepada orang jang ba-
ngun dari kursi. Massa dalam gedung itu
berdiri sambil menepuk tangan gemuruh
sementara rombongan keluar. Aku men-
djadi lebih sunji dalam keramaian tepuk
tangan. ***
Djakarta, Nop. 1968.
HORISON / 175
#<noinclude></noinclude>
883ves0uvo7pfon98y5euh0v8taa21a
Halaman:Horison 06 1970.pdf/14
104
95579
267070
2026-03-30T11:10:51Z
Hadithfajri
15274
/* Belum diuji baca */ Membuat halaman kosong
267070
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Hadithfajri" /></noinclude><noinclude></noinclude>
cj23s0g5xy12pec41ixmicu6tvufld8