Wikisumber idwikisource https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.46.0-wmf.22 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikisumber Pembicaraan Wikisumber Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Pengarang Pembicaraan Pengarang Indeks Pembicaraan Indeks Halaman Pembicaraan Halaman Portal Pembicaraan Portal TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Halaman:Antologi Cerpen Remaja Sumatera Barat Perahu Tulis.pdf/135 104 37622 267154 139275 2026-04-05T01:03:16Z Iripseudocorus 23824 267154 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Kadek Ayu Sulastri" /></noinclude>tangan Saogo lalu ia duduk bersila. Kayu itu diletakkannya di atas kedua pahanya, lalu berkata, “Seperti ini menggunakannya.” Sababalat berakting seperti orang menulis. Ia menjepitkan angin dengan jempol dan telunjuk lalu diliuk-liukkannya di atas papan. “Wah, meja belajar!” seru Pitoha. Ia duduk bersila di samping Sababalat dan memindahkan kayu itu ke atas pahanya. Ia pun berakting seperti orang menulis. “Ini meja belajar terunik yang pernah saya lihat, Bajak! Di rumah saya juga punya meja belajar. Ada gambar ''mickey mouse'' di atasnya. Tapi memakainya tak senyaman meja ini,” terang Pitoha. Ia tersenyum-senyum. Lalu bertanya lagi, “Bajak beri apa papan ini sehingga nyaman sekali digunakan?” Sebelum Sababalat menjawab pertanyaannya, Pitoha membalikkan ‘meja belajar’ itu. Sekarang dia paham. Selain kayu itu diraut dengan amat sangat halus, bagian bawahnya dilampisi benen, seperti karet benen yang disewakan orang-orang di tepi pantai pada pengujung yang tak pandai berenang. Karet itu yang membuat ‘meja belajar’ tetap konsisten di atas paha, tidak ikut bergerak jika sedang menulis di atasnya. Saogo memeluk ayahnya. Meski ia sendiri belum mencoba ‘meja belajar’ itu, tapi ia percaya pada perkataan Pitoha bahwa meja itu nyaman. Sababalat menyambut pagutan Saogo. “Kemarin ukui melihatmu belajar di teras atas. Punggungmu pasti sakit saat menulis karena menangkup-nangkup. Makanya ukui ingin membelikanmu sebuah meja belajar. Tapi akhir-akhir ini ikan tak banyak Ukui dapatkan. Jadi, Ukui tak punya uang banyak untuk membelikannya. Untunglah kemarin Bajak Sikarebeu yang punya sewa benen di tepi pantai itu, meminta ukui untuk membantunya membuat perahu. Padanya ukui minta sisa kayu itu pembuatan kapal itu. Ketika ia bertanya untuk apa, maka ukui jelaskan semua padanya. Dengan senang hati ia<noinclude>{{rh||123|}}</noinclude> aahlzquxttj6dil0u9h19t1b4khoygz Halaman:Antologi Cerpen Remaja Sumatera Barat Perahu Tulis.pdf/137 104 37646 267155 139355 2026-04-05T01:32:06Z Iripseudocorus 23824 267155 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Copyofamedicine" /></noinclude>''Aku sayang ukui, Sinanalep, dan Pitoha.'' Ketika membaca kembali tulisan itu, Saogo menggeleng-geleng. Pena itu kembali ditekannya untuk mengukir tanda panah sesudah kata 'ukui', saat terkenang pada mendiang ibunya. Lalu dibubuhinya satu kata lagi, ''Ina'' Senyumnya kembali mengambang. Selanjutnya menerawang kembali. Agaknya ia tengah berpikir keras nama siapa lagi yang akan diukirnya dan mendapat predikat sebagai orang yang dicintainya. Tiba-tiba tubuhnya didorong sesuatu hingga terpental tak jauh dari tempat duduknya semula. Ia berusaha untuk bangkit, namun kembali didorong. Ia menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang mendorongnya sekeras itu. Namun tak seorang pun di teras atas kecuali dia. Tetangganya berhamburan ke luar rumah. Mereka berteriak," Gempa... gempa... gempa...." Saogo berniat turun dari teras atas, namun lampu telah padam seketika. Dipeluknya erat-erat meja belajar dari ayahnya. Dalam kelam ia terus meraba-raba hingga sampai pada tempat pertama kali ia naik. Namun tangga bambu itu juga telah jatuh. Kini ia benar-benar tidak bisa turun lagi. Bocah kecil itu duduk tempat ia tadi menulis. Meja tulis itu didekapnya erat-erat sambil meraung-raung memanggil ayahnya. Namun raungannya kalah dengan ratusan anak yang serentak memekik-menangis di tempo yang sama. Beberapa saat kemudian, air menghantam perkampungannya, menghanyutkan orang kampungnya, meluluh-lantakkan semua. Tubuh kurus-masai Saogo pun terseret arus. Entah rencana apa yang ada dalam otak bocah itu untuk menyelamatkan dirinya. Tapi yang jelas, ia tak mau berpisah dengan meja pemberian ayahnya. Maka dipegang-eratnyalah meja itu. Meja itu terapung, Saogo pun ikut serta. Meja belajar yang terbuat dari cinta seketika berubah menjadi perahu yang menyelamatkan orang yang dicinta<noinclude>{{rh||125|}}</noinclude> 9p9wymvg3d8zo75myaz8nnutbsw37b3 267156 267155 2026-04-05T01:36:14Z Iripseudocorus 23824 267156 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Copyofamedicine" /></noinclude>''Aku sayang ukui, Sinanalep, dan Pitoha.'' Ketika membaca kembali tulisan itu, Saogo menggeleng-geleng. Pena itu kembali ditekannya untuk mengukir tanda panah sesudah kata 'ukui', saat terkenang pada mendiang ibunya. Lalu dibubuhinya satu kata lagi, ''Ina'' Senyumnya kembali mengambang. Selanjutnya menerawang kembali. Agaknya ia tengah berpikir keras nama siapa lagi yang akan diukirnya dan mendapat predikat sebagai orang yang dicintainya. Tiba-tiba tubuhnya didorong sesuatu hingga terpental tak jauh dari tempat duduknya semula. Ia berusaha untuk bangkit, namun kembali didorong. Ia menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang mendorongnya sekeras itu. Namun tak seorang pun di teras atas kecuali dia. Tetangganya berhamburan ke luar rumah. Mereka berteriak," Gempa... gempa... gempa...." Saogo berniat turun dari teras atas, namun lampu telah padam seketika. Dipeluknya erat-erat meja belajar dari ayahnya. Dalam kelam ia terus meraba-raba hingga sampai pada tempat pertama kali ia naik. Namun tangga bambu itu juga telah jatuh. Kini ia benar-benar tidak bisa turun lagi. Bocah kecil itu duduk tempat ia tadi menulis. Meja tulis itu didekapnya erat-erat sambil meraung-raung memanggil ayahnya. Namun raungannya kalah dengan ratusan anak yang serentak memekik-menangis di tempo yang sama. Beberapa saat kemudian, air menghantam perkampungannya, menghanyutkan orang kampungnya, meluluh-lantakkan semua. Tubuh kurus-masai Saogo pun terseret arus. Entah rencana apa yang ada dalam otak bocah itu untuk menyelamatkan dirinya. Tapi yang jelas, ia tak mau berpisah dengan meja pemberian ayahnya. Maka dipegang-eratnyalah meja itu. Meja itu terapung, Saogo pun ikut serta. Meja belajar yang terbuat dari cinta seketika berubah menjadi perahu yang menyelamatkan orang yang dicinta<noinclude>{{rh||125|}}</noinclude> 0s7g1jhkur62dbq79xie274u39r49gq Halaman:Mustikarasa.pdf/56 104 50036 267153 144192 2026-04-04T19:47:04Z Alfiyah Rizzy Afdiquni 20781 267153 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Thersetya2021" /></noinclude>Tiap telur terbalut oleh lapisan mucin jang sangat tipis, jang menutupi poria tadi. Djika lapisan ini dibuang dengan djalan ditjutji, maka isi telur lalu tidak ada lagi jang melindunginja terhadap bakteria. Djika meneliti telur, hendaklah diperiksa benar apakah telur itu bekas ditjutji ataupun tidak. Kalau kelihatan masih kotor, mucin belum hilang dan kemungkinan benar telur masih baik. Memilih telur jang paling baik ialah menerawangkan telur itu pada tjahaja. Djika kelihatan djernih, menandakan bahwa telur itu masih baik. Kalau ada guratan² merah menandakan bahwa telur itu sudah mulai tumbuh. Warna hitam menandakan bahwa itu sudah rusak sama sekali. Dapat djuga telur direndam air sebentar. Kalau tenggelam berarti telur itu masih baik, kalau mengambang djelek. Telur jang baik, djika dipetjah tjangkangnja lalu dituangkan pada piring, memperlihatkan kuningnja dengan tegas dan menondjol keatas. Djika penondjolan ini kurang tegas, telur tergolong kurang baik, lebih² kalau kuningnja lalu petjah dan tjampur dengan putihnja. Letak dari kuning telur harus tepat di-tengah² jang putih, dinamakan sentris. Kalau tidak, maka kwalitas dari telur tergolong kurang baik. Telur dapat disimpan lama dengan diasin. Telur asin rasanja baik sekali. Kuningnja masir dan banjak mengeluarkan minjak. Semakin lama disimpan dalam keadaan asin, semakin warna dari kuningnja telur mendjadi kelabu atau hitam. Djika telur terlalu lama direbus, kuningnja terbalut oleh warna hidjau, Ini disebabkan oleh belerang jang keluar dari persenjawaannja dan menempel pada dinding kuning telur tersebut. Telur sematjam ini masih baik sekali ; lazim terdapat pada telur jang dipindang. '''Golongan X : Ikan.''' Jang dimaksud dengan ikan adalah semua bahan makanan asal dari hewan jang hidup dalam air. Meskipun setjara biologis penggolongan ini kurang tepat, namun para pemasak suka menjebut segala rupa hewan jang hidup dalam air itu dengan nama '''ikan'''. Ikan ada jang diambil dari laut, dinamakan '''ikan laut''' dan ada pula jang diambil dari empang, rawa, kali, danau, pendek kata segala matjam perairan jang terdapat di daratan. Jang belakangan ini kami beri nama '''ikan darat''' sadja. Ikan laut umumnja punja daging jang padat, enak rasanja, tak berduri diantara daging dan menimbulkan bau dan rasa jang sedap. Sedang ikan<noinclude>{{rh|48{{gap}}{{asc|Mustikarasa}}}}</noinclude> 0y96bdyjbxiq0ojguvc6riyfrvp2szs Halaman:Cerita Rakyat Johar Manik dari Salatiga.pdf/4 104 95633 267152 2026-04-04T13:06:35Z Uzlifatull 26778 /* Telah diuji baca */ 267152 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Uzlifatull" /></noinclude>SAMBUTAN PENERBIT Upaya untuk menginventarisasikan pemikiran-pemikiran seseorang dalam wujud buku merupakan upaya serius yang perlu dikembangkan, sebab pemikiran seseorang tidak akan dapat diwariskan secara otomatis. Salah satu upaya pewarisan pemikiran yang efektif dan memiliki daya jangkau yang luas adalah melalui buku. Berdasarkan pemikiran di depan, maka penerbit Widya Sari Salatiga, berusaha untuk menghimpun buah pikir yang layak diinventarisasikan dalam wujud buku. Penerbit Widya Sari Salatiga (Anggota ISBN Perpustakaan Nasional), menerima sumbangan pemikiran dari para pembaca untuk diproses menjadi buku. Kiranya upaya sederhana ini dapat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni untuk kesejahteraan manusia. Salatiga, Januari 2023 Widya Sari Press<noinclude></noinclude> iwy18v8qg3yonsz6tjiisn0b2173c4y