Wikisumber
idwikisource
https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.46.0-wmf.23
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikisumber
Pembicaraan Wikisumber
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Pengarang
Pembicaraan Pengarang
Indeks
Pembicaraan Indeks
Halaman
Pembicaraan Halaman
Portal
Pembicaraan Portal
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Pengguna:Hddty./
2
17821
267391
54009
2026-04-10T12:21:26Z
Hddty
8963
Menghapus pengalihan ke [[Pengguna:Hddty/]]
267391
wikitext
text/x-wiki
{{hapusc|permintaan sendiri (username lama)}}
7stnty6jev95am5gva021pon8iywxhm
Halaman:Horison 11 1985.pdf/20
104
89058
267392
267008
2026-04-10T19:36:06Z
Hadithfajri
15274
267392
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude><section begin="bertanya" />{{Block center|
<big><big><big>'''''BERTANYA KERBAU<br>PADA PEDATI'''''</big></big></big>
A. A. NAVIS
}}
Kerbau pernah punya arti spesial
dalam hidupku pada suatu masa.
Tapi bukan karena jadi mitos
dalam cerita "Cindur Mato" yang
mengisahkan seekor kerbau keramat
yang bernama Binuang, yang
dalam telinganya bersarang lebah
berbisa yang bila dikehendaki Cindur
Mato lebah-lebah itu akan memantak
penyamun yang menghadang
perjalanan tuannya.
Bukan, bukan karena itu yang
menyebabkan kerbau pernah punya
arti spesial dalam hidupku.
Bukan karena mitos lain yang
mengisahkan tentang kalah perangnya
panglima Jawa melawan
Datuk nan Baduo, oleh sebab kalah
taruhan adu kerbau. Taruhan
mereka bukan main-main. Kalau
panglima Jawa menang, ia boleh menjajah
negeri Datuk nan Baduo. Tapi
kalau kalah, ia harus angkat
kaki dengan seluruh pasukannya.
Dalam aduan itu, panglima Jawa
menampilkan kerbau yang berdepa
panjang tanduknya, karena
sangking besarnya. Datuk nan Baduo
menampilkan anak kerbau
yang lagi syarat menyusu. Ketika
aduan mulai, masing-masing kerbau
dilepas ke tengah padang. Maka
anak kerbau yang telah tiga hari
tidak menyusu itu, serta merta
menyerbu ke kerampang kerbau
besar, itu untuk menyusu. Karena
di moncong anak kerbau itu telah
dipasang taji besar yang tajam sekali,
tak urung terbusai-busailah isi
perut kerbau besar ditusuk-tusuk
oleh taji itu. Setelah lari ke mana-mana,
akhirnya nafasnya habis bersama
jiwanya yang melayang.
Maka kalahlah taruhan panglima
Jawa itu. Lalu kembalilah ia pulang
dengan tangan hampa. Sedang
kan Datuk nan Baduo, yaitu
Datuk Ketumanggungan dan Datuk
Perpatih nan Sebatang yang menang
karena banyak akalnya, akhir
nya menamakan negerinya dengan
memakai peristiwa itu. Yaitu
Manang Kabau, yang lambat laun
menjadi Minangkabau. Dan semenjak
itu, konon, kerbau yang dalam
bahasa setempat disebut kabau,
menjadi binatang yang dikeramatkan.
Kepala kerbau panglima
Jawa itu ditanam di tanah sebagai
penangkal agar panglima Jawa tidak
akan datang-datang lagi dengan
maksud untuk menjarah.
Kepala kerbau pun ditanam pada
pangkal setiap bangunan agar
bangunan itu selamat dari bencana.
Atau digantungkan di bagian rumah,
agar rumah itu selamat pula
dari mara bahaya. Rumah gadang
diberi beratap melengkung seperti
tanduk kerbau. Dan pemilik rumah
itu, perempuan melipat selendang
kebesarannya hingga berbentuk
tanduk, dan selendang itu
dinamakan tengkuluk tanduk. Bila
terjadi musibah, misalnya terlanggar
pantang adat, si pelanggar
didenda dengan sebuah kepala
kerbau, atau menjamu orang sebagai
tanda tobat dengan menyembelih
seekor kerbau. Untuk kenduri sebuah
pesta besar, misalnya menobatkan
penghulu, perlu seekor
kerbau direbahkan dan dagingnya
dilapah. Pihak bako, yaitu kerabat
ayah, dari seorang penganten akan
memberikan seekor kerbau sebagai
suatu tanda kebesaran, dan kerbau
itu diarak dengan telempong setelah
diberi pakaian serba kuning.
Meski mitos itu dipercaya dan
diagung-agungkan sampai kini, namun
kalau aku dimaki orang sebagai
kerbau, rasanya aku mau jadi
macan supaya bisa menerkam
orang itu. Berbeda dengan mitos,
binatang kerbau dipandang sebagai
binatang bodoh. Binatang yang
rendah mutunya. Meski tenaganya
kuat untuk membajak dan menarik
pedati, daya tahannya segera
turun disengat matahari. Jadi kalah
dari sapi. Isteri-isteri lebih suka
menggulai daging sapi ketimbang
daging kerbau untuk suami tersayang.
Dan restoran akan segera
bangkrut kalau menggunakan daging
kerbau. Dan kulit kerbau tidak
dipakai untuk sepatu, selain
untuk solnya. Dan kalau dibuat
kerupuk, tak laku dijual. Namun
susunya, Allahurabbi enaknya, apabila
diasamkan. Lebih enak dari
<section end="bertanya" /><noinclude>{{rule}}
HORISON/XX/428</noinclude>
sa8ff7urwntenxncb8jr6xh4hjcy1r4