Wikisumber idwikisource https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.46.0-wmf.24 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikisumber Pembicaraan Wikisumber Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Pengarang Pembicaraan Pengarang Indeks Pembicaraan Indeks Halaman Pembicaraan Halaman Portal Pembicaraan Portal TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Pengguna:Masruroh Febriyanti 2 38135 268238 207099 2026-04-23T03:34:05Z Masruroh Febriyanti 21625 ←Mengosongkan halaman 268238 wikitext text/x-wiki phoiac9h4m842xq45sp7s6u21eteeq1 Halaman:Pola-Pola Kebudajaan.pdf/17 104 41936 268285 126269 2026-04-23T11:25:40Z Iripseudocorus 23824 saltik 268285 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Mrifqis713" />{{rh|18|POLA-POLA KEBUDAJAAN}}</noinclude>manusia jang tak begitu tjotjok satu sama lain itu oléh évolusi dipertalikan dengan binatang, maka semangkin besar perbédaan jang bisa dibuktikan antara kita dan meréka dan lebih terang dan njata keistiméwaan serta keunggulan lembaga² kita. Peradaban ''kita'' dan lembaga² ''kita'' mémanglah istimewa; peradaban² dan lembaga² kita itu termasuk djenis jang chusus, lain watak dan sifatnja dengan peradaban dan lembaga² djenisbangsa² jang rendah, dan oléh karena itu harus dipertahankan mati²an. Sehingga sekarangpun kita - apakah jang demikian ini disebabkan oléh imperialisme atau prasangka djenisbangsa atau karena mem-banding²kan agama Kristen dengan perbégu - masih selalu dikuasai oléh rasa keistiméwaan, bukannja karena lembaga² manusia didunia ini pada umumnja, jang mémang tak ada jang menghiraukannja, akan tetapi karena keistiméwaan lembaga² kita sendiri dan karena hasil² jang kita tjapai sendiri, karena peradaban kita sendiri. Oléh karena kedjadian² sedjarah jang bersifat kebetulan, peradaban Barat lebih luas tersebar dibandingkan dengan kelompokan setempat manapun djuga jang pernah diketahui sampai sekarang. Peradaban Barat telah mendesakkan ukuran²nja hampir diseluruh dunia, dan oléh karena itu kita mendjadi pertjaja akan keseragaman kelakuan manusia, padahal dalam keadaan lain pasti tak akan seperti demikian, Bahkan bangsa² jang sangat primitif kadang² djauh lebih sadar mengenai peranan adatkebiasaan dan gedjala² kebudajaan daripada kita. Meréka telah mempunjai pengalaman jang njata dengan berbagai bentuk kebudajaan. Meréka telah melihat, bagaimana agamanja, susunan ékonominja, datperkawinannja telah dikalahkan oléh agama, ékonomi dan adatperkawinan bangsa kulitputih. Meréka telah menjisihkan jang satu dan menerima jang lainnja, sering tanpa mengerti mengapa, akan tetapi meréka mengetahui benar², bahwa ada berbagai tjara untuk mengatur hidup ini. Kadang² meréka itu menganggap sifat² utama si Kulitputih adalah semangat-saingannja dalam perdagangan atau tjaranja berperang, hal mana sangat mirip dengan anggapan ahli antropologi. Si Kulitputih mendapat pengalaman² lain lagi. Memang barangkali ia belum pernah melihat orang dari kebudajaan lain, ketjuali jang sudah keras dipengaruhi oléh kebudajaan Eropah. Ia misalnja banjak bepergian, mungkin telah mengelilingi dunia dan menginap dalam hotél² besar. Ia mengetahui sedikit sekali tentang tjara hidup jang lain. ketjuali tjara hidupnja sendiri, Keseragaman adatkebiasaan jang dilihat disekelilingnja, tjukup memberi kejakinan kepadanja, sehingga ia tak mengetahui bahwa hal ini hanja kebetulan sedjarah se-mata², Ia menerima tanpa banjak komentar bahwa sifat manusia pada umumnja sesuai dengan ukuran² kebudajaannja sendiri.<noinclude></noinclude> qylyocfzmuggg3qw0r3y6vq7hxobenz 268286 268285 2026-04-23T11:29:49Z Iripseudocorus 23824 saltik 268286 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Mrifqis713" />{{rh|18|POLA-POLA KEBUDAJAAN}}</noinclude>manusia jang tak begitu tjotjok satu sama lain itu oléh évolusi dipertalikan dengan binatang, maka semangkin besar perbédaan jang bisa dibuktikan antara kita dan meréka dan lebih terang dan njata keistiméwaan serta keunggulan lembaga² kita. Peradaban ''kita'' dan lembaga² ''kita'' mémanglah istimewa; peradaban² dan lembaga² kita itu termasuk djenis jang chusus, lain watak dan sifatnja dengan peradaban dan lembaga² djenisbangsa² jang rendah, dan oléh karena itu harus dipertahankan mati²an. Sehingga sekarangpun kita - apakah jang demikian ini disebabkan oléh imperialisme atau prasangka djenisbangsa atau karena mem-banding²kan agama Kristen dengan perbégu - masih selalu dikuasai oléh rasa keistiméwaan, bukannja karena lembaga² manusia didunia ini pada umumnja, jang mémang tak ada jang menghiraukannja, akan tetapi karena keistiméwaan lembaga² kita sendiri dan karena hasil² jang kita tjapai sendiri, karena peradaban kita sendiri. Oléh karena kedjadian² sedjarah jang bersifat kebetulan, peradaban Barat lebih luas tersebar dibandingkan dengan kelompokan setempat manapun djuga jang pernah diketahui sampai sekarang. Peradaban Barat telah mendesakkan ukuran²nja hampir diseluruh dunia, dan oléh karena itu kita mendjadi pertjaja akan keseragaman kelakuan manusia, padahal dalam keadaan lain pasti tak akan seperti demikian, Bahkan bangsa² jang sangat primitif kadang² djauh lebih sadar mengenai peranan adatkebiasaan dan gedjala² kebudajaan daripada kita. Meréka telah mempunjai pengalaman jang njata dengan berbagai bentuk kebudajaan. Meréka telah melihat, bagaimana agamanja, susunan ékonominja, datperkawinannja telah dikalahkan oléh agama, ékonomi dan adatperkawinan bangsa kulitputih. Meréka telah menjisihkan jang satu dan menerima jang lainnja, sering tanpa mengerti mengapa, akan tetapi meréka mengetahui benar², bahwa ada berbagai tjara untuk mengatur hidup ini. Kadang² meréka itu menganggap sifat² utama si Kulitputih adalah semangat-saingannja dalam perdagangan atau tjaranja berperang, hal mana sangat mirip dengan anggapan ahli antropologi. Si Kulitputih mendapat pengalaman² lain lagi. Memang barangkali ia belum pernah melihat orang dari kebudajaan lain, ketjuali jang sudah keras dipengaruhi oléh kebudajaan Eropah. Ia misalnja banjak bepergian, mungkin telah mengelilingi dunia dan menginap dalam hotél² besar. Ia mengetahui sedikit sekali tentang tjara hidup jang lain. ketjuali tjara hidupnja sendiri, Keseragaman adatkebiasaan jang dilihat disekelilingnja, tjukup memberi kejakinan kepadanja, sehingga ia tak mengetahui bahwa hal ini hanja kebetulan sedjarah se-mata². Ia menerima tanpa banjak komentar bahwa sifat manusia pada umumnja sesuai dengan ukuran² kebudajaannja sendiri.<noinclude></noinclude> fsktcado504dmmc3fjq0gbnmpaqyenw Halaman:Pola-Pola Kebudajaan.pdf/18 104 41957 268287 122880 2026-04-23T11:57:33Z Iripseudocorus 23824 saltik 268287 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Muhamad Izzul Fiqih" /></noinclude>{{c|ILMUPENGETAHUAN ADATKEBIASAAN}} Akan tetapi meluasnja peradaban bangsa² kulit putih bukanlah suatu suatu kenjataan sedjarah yang berdiri sendiri. Kelompok Polynesia belum lama berselang telah meluas dari Ontong di Djawa kepulau Pasa, dari Hawai ke Selandia Baru, sedangkan suku² jang berbahasa Bantu meluas dari Sahara sampai di Afrika Selatan. Akan tetapi dalam hal ini kita anggap bangsa² itu se-mata² adalah variasi setempat dari djenis manusia jang terlalu tjepat berkembangnja. Peradaban Barat memiliki segala alat² hasil penemuan² dilapangan pengangkutan dan memilikj pula lembaga² perdagangan jang tjabang²nja meluas di-mana2, sehingga mempermudah meluasnja. Tidaklah sukar, untuk memahami perkembangan ini dalam hubungan sedjarah. Akibat² psikologis peluasan kebudajaan bangsa2 kulitputih ini sama sekali tak sesuai dengan akibat² kebendaannja. Peluasan kebudajaan kita diseluruh dunia telah membuat kita tak setjara sungguh² mengenal peradaban bangsa² lain. Hal seperti ini belum pernah terdjadi sebelumnja. Karena itu, kebudajaan kita telah mentjapai bentuk universil massif, dan tak lagi kita anggap sebagai suatu gedjala sedjarah, tetapi sebaliknja telah kita anggap sebagai hal jang mesti kita terima sebagai suatu kenjataan jang mutlak. Arti mahapenting persaingan ekonomi dalam masjarakat kita, kita anggap sebagai bukti bahwa memang inilah motif terutama sifat alami manusia dan kita anggap kelakuana anakketjil dalam peradaban kita dan di-klinik² anak, sebagai ilmudjiwa anak² pada umumnja, jakni sebagai tjara satu²nja seorang anak manusia harus berkelakuan. Jang demikian itupun berlaku pada kita tentang moral dan organisasi keluarga. Kita membéla dan mempertahankan sifat mutlak setiap motif, jang lajak bagi kita dan dengan demikian selalu menganggap tjara perbuatan kita setempat sebagai „kelakuan manusia pada umumnja” dan menganggap kebiasaan² dimasjarakat kita sebagai „sifat manusia pada umumnja”. Manusia modérn telah mengangkat thésis ini sebagai salah satu asas jang terpenting bagi alampikirannja dan perbuatan²nja se-hari². Asal-usul sikap ini nampaknja—djika kita bandingkan dengan sikap jang hampir umum ada pada bangsa² primitif—merupaka salah satu djenis pembédaan asasi jang dibuat manusia, jakni pembédaan antara „golonganku sendiri” jang bersifat chusus dan tersendiri dan „golongan lain.” Semua suku² primitif tidak ketjualinja mempunjai anggapan jang sama mengenai golongan lain atau pihak luar ini; jakni dengan menempatkan golongan² lain itu diluar kodé moral jang berlaku dalam batas² kesukuannja sendiri, bahkan menempatkan meréka itu sama sekali diluar bidang kemanusiaan. Banjak diantara suku², jang kita dapati misalnja : Zuni, Déné, Kiowa dan lain²nja, adalah nama² untuk menjebut dirinja sendiri, akan tetapi dalam pada itupun merupakan pula<noinclude></noinclude> 1o346adlo5pxdbrx2pag1pqucy0idox Halaman:Sarinah.pdf/250 104 96066 268264 268091 2026-04-23T04:29:48Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268264 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Afdhal Sy" /></noinclude>Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara,- pasal-pasal itu menghilangkan sifat yang “sama sekali burgerlijk” itu. Di dalam pasal-pasa1 itu dibuat '''permulaan''' daripada usaha membanteras kapitalisme. Pasal-pasal itu adalah pasal-pasal yang mengatur '''permulaan''' daripada usaha menyelenggarakan sosialisme. Undang-undang Dasar kita adalah undang-undang dasar satu Negara yang sifatnya di tengah-tengah kapitalisme dan sosialisme, undang-undang dasar satu Negara yang benar dengan kakinya masih berdiri di bumi yang burgerlijk, tetapi di dalam kandungannya telah hamil dengan kandungan masyarakat sosialisme, undangundang dasarnya satu Negara dus yang tidak “diam”, tidak “statis”, melainkan '''dinamis''', yaitu bergerak menuju ke susunan baru, berjoang menuju ke susunan baru. Negara kita adalah satu “negara peralihan”, satu negara yang dengan sedar memperjoangkan peralihan, -satu negara yang '''revolusioner'''. Memang segenap jiwanya adalah jiwa yang revolusioner. Nasionalismenya adalah nasionalisme yang revolusioner, nasionalisme yang sekarang pun telah dengan langsung mengemukakan perhubungannya dengan kemanusiaan, nasionalisme yang biasa saya namakan socio-nasionalisme. Demokrasinya adalah demokrasi yang revolusioner, demokrasi rakyat sepenuh-penuhnya yang sedar akan kekurangan-kekurangannya demokrasi politik a l a Barat, dan oleh karenanya berusaha menjelmakan demokrasi politik dan ekonomi, (yang hanya sempurna dalam alam sosialisme), demokrasi yang biasa saya namakan sosio-demokrasi. Ketuhanannya bukan ketuhanan dari satu agama saja, tetapi ketuhanan yang memberi tempat kepada semua orang yang ber-Tuhan. Jiwa revolusioner ini, -terutama sekali sosionasionalismenya dan sosio-demokrasinya- adalah terang satu “pembawaan” daripada sifat peralihan (sifat '''transisi''') daripada Negara kita itu, terang satu “jembatan” antara ideologi-ideologi burgerlijk dan ideologi-ideologi sosialis. Menjadi nyatalah: Negara Nasional yang kita dirikan, bukan negara burgerlijk, bukan pula negara sosialis. Revolusi 250<noinclude>{{rh|||250}}</noinclude> fxfczzj9ure9u1w8cwqio75v68lvta8 Halaman:Sarinah.pdf/128 104 96087 268243 267975 2026-04-23T03:49:23Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268243 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude><math display="inline">BAB V WANITA BERGERAK</math> Keadaan wanita yang ditindas oleh fihak laki-laki itu akhir-nya, tidak boleh tidak, niscaya membangunkan dan membangkit-kan satu pergerakan yang berusaha meniadakan segala tindasan-tindasan itu. Itu memang sudah hukum alam. Tetapi adalah hukum alam juga, bahwa kesedaran dan kegiatan sesuatu pergerakan bertingkat-tingkat. “Ber-evolusi’. Pergerakan perempuan ber-evolusi. Buat mengarti tingkat-tingkat evolusi pergerakan perempuan itu, pembaca lebih dulu dengan singkat saya ajak meninjau lagi keadaan masyarakat perempuan di dunia Barat seratus lima puluh tahun yang lalu. Barangkali pembaca menanya: kenapa “dunia Barat”? Jawab atas pertanyaan itu adalah mudah dan singkat: oleh karena di dunia Baratlah lahirnya pergerakan wanita mula-mula. Di dunia Baratlah pertama-tama terdengar semboyan “perempuan, bersatulah”! Di dunia Baratlah berkembangnya contoh untuk kaum wanita di dunia lain. Malahan dari mulut wanita dunia Barat, dari mulut Katharina Brechkovskaya, pertama-tama terdengar seruan: “Hai wanita Asia, sedar dan melawanlah!”. Tatkala perempuan di dunia Barat sudah sedar, sudah bergerak, sudah melawan, maka perempuan di dunia Timur masih saja diam-diam menderita pingitan dan penindasan dengan tiada protes sedikit pun juga. Tidak diketahui, tidak dikira-kirakan, oleh perempuan di dunia Timur itu, bahwa '''ada''' kemungkinan menghilangkan tindasan dan pingitan itu, bahwa '''ada''' jalan untuk memerdekakan diri. Dikiranya, bahwa tindasan dan pingitan itu memang sudah kehendaknya alam. Tetapi sebagaimana faham-faham politik yang timbul di dunia Barat lambat-laun menular pula ke dunia Timur, demikian pula maka semboyan-semboyan kemerdekaan wanita yang didengung-dengungkan di dunia Barat itu akhirnya mengumandang dan menggaung juga di tepi-tepi sungai Nil, 128<noinclude>{{rh|||128}}</noinclude> qc6gteo2hjmw0s0nibs2yb4l58l76cu 268244 268243 2026-04-23T03:50:28Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268244 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude><math display="inline">BAB V</math> <math display="inline">WANITA BERGERAK</math> Keadaan wanita yang ditindas oleh fihak laki-laki itu akhir-nya, tidak boleh tidak, niscaya membangunkan dan membangkit-kan satu pergerakan yang berusaha meniadakan segala tindasan-tindasan itu. Itu memang sudah hukum alam. Tetapi adalah hukum alam juga, bahwa kesedaran dan kegiatan sesuatu pergerakan bertingkat-tingkat. “Ber-evolusi’. Pergerakan perempuan ber-evolusi. Buat mengarti tingkat-tingkat evolusi pergerakan perempuan itu, pembaca lebih dulu dengan singkat saya ajak meninjau lagi keadaan masyarakat perempuan di dunia Barat seratus lima puluh tahun yang lalu. Barangkali pembaca menanya: kenapa “dunia Barat”? Jawab atas pertanyaan itu adalah mudah dan singkat: oleh karena di dunia Baratlah lahirnya pergerakan wanita mula-mula. Di dunia Baratlah pertama-tama terdengar semboyan “perempuan, bersatulah”! Di dunia Baratlah berkembangnya contoh untuk kaum wanita di dunia lain. Malahan dari mulut wanita dunia Barat, dari mulut Katharina Brechkovskaya, pertama-tama terdengar seruan: “Hai wanita Asia, sedar dan melawanlah!”. Tatkala perempuan di dunia Barat sudah sedar, sudah bergerak, sudah melawan, maka perempuan di dunia Timur masih saja diam-diam menderita pingitan dan penindasan dengan tiada protes sedikit pun juga. Tidak diketahui, tidak dikira-kirakan, oleh perempuan di dunia Timur itu, bahwa '''ada''' kemungkinan menghilangkan tindasan dan pingitan itu, bahwa '''ada''' jalan untuk memerdekakan diri. Dikiranya, bahwa tindasan dan pingitan itu memang sudah kehendaknya alam. Tetapi sebagaimana faham-faham politik yang timbul di dunia Barat lambat-laun menular pula ke dunia Timur, demikian pula maka semboyan-semboyan kemerdekaan wanita yang didengung-dengungkan di dunia Barat itu akhirnya mengumandang dan menggaung juga di tepi-tepi sungai Nil, 128<noinclude>{{rh|||128}}</noinclude> 8sv53y5f3hdpmcqxqprox7q741yl5na 268245 268244 2026-04-23T03:51:56Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268245 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>== BAB V == === WANITA BERGERAK === Keadaan wanita yang ditindas oleh fihak laki-laki itu akhir-nya, tidak boleh tidak, niscaya membangunkan dan membangkit-kan satu pergerakan yang berusaha meniadakan segala tindasan-tindasan itu. Itu memang sudah hukum alam. Tetapi adalah hukum alam juga, bahwa kesedaran dan kegiatan sesuatu pergerakan bertingkat-tingkat. “Ber-evolusi’. Pergerakan perempuan ber-evolusi. Buat mengarti tingkat-tingkat evolusi pergerakan perempuan itu, pembaca lebih dulu dengan singkat saya ajak meninjau lagi keadaan masyarakat perempuan di dunia Barat seratus lima puluh tahun yang lalu. Barangkali pembaca menanya: kenapa “dunia Barat”? Jawab atas pertanyaan itu adalah mudah dan singkat: oleh karena di dunia Baratlah lahirnya pergerakan wanita mula-mula. Di dunia Baratlah pertama-tama terdengar semboyan “perempuan, bersatulah”! Di dunia Baratlah berkembangnya contoh untuk kaum wanita di dunia lain. Malahan dari mulut wanita dunia Barat, dari mulut Katharina Brechkovskaya, pertama-tama terdengar seruan: “Hai wanita Asia, sedar dan melawanlah!”. Tatkala perempuan di dunia Barat sudah sedar, sudah bergerak, sudah melawan, maka perempuan di dunia Timur masih saja diam-diam menderita pingitan dan penindasan dengan tiada protes sedikit pun juga. Tidak diketahui, tidak dikira-kirakan, oleh perempuan di dunia Timur itu, bahwa '''ada''' kemungkinan menghilangkan tindasan dan pingitan itu, bahwa '''ada''' jalan untuk memerdekakan diri. Dikiranya, bahwa tindasan dan pingitan itu memang sudah kehendaknya alam. Tetapi sebagaimana faham-faham politik yang timbul di dunia Barat lambat-laun menular pula ke dunia Timur, demikian pula maka semboyan-semboyan kemerdekaan wanita yang didengung-dengungkan di dunia Barat itu akhirnya mengumandang dan menggaung juga di tepi-tepi sungai Nil, 128<noinclude>{{rh|||128}}</noinclude> ao0tbmssexq4iz07zxt7sochtd7ua3x 268246 268245 2026-04-23T03:52:33Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268246 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>== BAB V == === WANITA BERGERAK ===<br> Keadaan wanita yang ditindas oleh fihak laki-laki itu akhir-nya, tidak boleh tidak, niscaya membangunkan dan membangkit-kan satu pergerakan yang berusaha meniadakan segala tindasan-tindasan itu. Itu memang sudah hukum alam. Tetapi adalah hukum alam juga, bahwa kesedaran dan kegiatan sesuatu pergerakan bertingkat-tingkat. “Ber-evolusi’. Pergerakan perempuan ber-evolusi. Buat mengarti tingkat-tingkat evolusi pergerakan perempuan itu, pembaca lebih dulu dengan singkat saya ajak meninjau lagi keadaan masyarakat perempuan di dunia Barat seratus lima puluh tahun yang lalu. Barangkali pembaca menanya: kenapa “dunia Barat”? Jawab atas pertanyaan itu adalah mudah dan singkat: oleh karena di dunia Baratlah lahirnya pergerakan wanita mula-mula. Di dunia Baratlah pertama-tama terdengar semboyan “perempuan, bersatulah”! Di dunia Baratlah berkembangnya contoh untuk kaum wanita di dunia lain. Malahan dari mulut wanita dunia Barat, dari mulut Katharina Brechkovskaya, pertama-tama terdengar seruan: “Hai wanita Asia, sedar dan melawanlah!”. Tatkala perempuan di dunia Barat sudah sedar, sudah bergerak, sudah melawan, maka perempuan di dunia Timur masih saja diam-diam menderita pingitan dan penindasan dengan tiada protes sedikit pun juga. Tidak diketahui, tidak dikira-kirakan, oleh perempuan di dunia Timur itu, bahwa '''ada''' kemungkinan menghilangkan tindasan dan pingitan itu, bahwa '''ada''' jalan untuk memerdekakan diri. Dikiranya, bahwa tindasan dan pingitan itu memang sudah kehendaknya alam. Tetapi sebagaimana faham-faham politik yang timbul di dunia Barat lambat-laun menular pula ke dunia Timur, demikian pula maka semboyan-semboyan kemerdekaan wanita yang didengung-dengungkan di dunia Barat itu akhirnya mengumandang dan menggaung juga di tepi-tepi sungai Nil, 128<noinclude>{{rh|||128}}</noinclude> eqhouhrm5tiphetbazq2evet7f7b0hm 268247 268246 2026-04-23T03:53:11Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268247 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>== BAB V == === WANITA BERGERAK === Keadaan wanita yang ditindas oleh fihak laki-laki itu akhir-nya, tidak boleh tidak, niscaya membangunkan dan membangkit-kan satu pergerakan yang berusaha meniadakan segala tindasan-tindasan itu. Itu memang sudah hukum alam. Tetapi adalah hukum alam juga, bahwa kesedaran dan kegiatan sesuatu pergerakan bertingkat-tingkat. “Ber-evolusi’. Pergerakan perempuan ber-evolusi. Buat mengarti tingkat-tingkat evolusi pergerakan perempuan itu, pembaca lebih dulu dengan singkat saya ajak meninjau lagi keadaan masyarakat perempuan di dunia Barat seratus lima puluh tahun yang lalu. Barangkali pembaca menanya: kenapa “dunia Barat”? Jawab atas pertanyaan itu adalah mudah dan singkat: oleh karena di dunia Baratlah lahirnya pergerakan wanita mula-mula. Di dunia Baratlah pertama-tama terdengar semboyan “perempuan, bersatulah”! Di dunia Baratlah berkembangnya contoh untuk kaum wanita di dunia lain. Malahan dari mulut wanita dunia Barat, dari mulut Katharina Brechkovskaya, pertama-tama terdengar seruan: “Hai wanita Asia, sedar dan melawanlah!”. Tatkala perempuan di dunia Barat sudah sedar, sudah bergerak, sudah melawan, maka perempuan di dunia Timur masih saja diam-diam menderita pingitan dan penindasan dengan tiada protes sedikit pun juga. Tidak diketahui, tidak dikira-kirakan, oleh perempuan di dunia Timur itu, bahwa '''ada''' kemungkinan menghilangkan tindasan dan pingitan itu, bahwa '''ada''' jalan untuk memerdekakan diri. Dikiranya, bahwa tindasan dan pingitan itu memang sudah kehendaknya alam. Tetapi sebagaimana faham-faham politik yang timbul di dunia Barat lambat-laun menular pula ke dunia Timur, demikian pula maka semboyan-semboyan kemerdekaan wanita yang didengung-dengungkan di dunia Barat itu akhirnya mengumandang dan menggaung juga di tepi-tepi sungai Nil, 128<noinclude>{{rh|||128}}</noinclude> ig7t5u6li2sjlve7lghdfecm31t1mbk Halaman:Sarinah.pdf/133 104 96093 268250 267996 2026-04-23T03:58:56Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268250 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>terdahulu, maka pada hakekatnya '''perobahan dalam masyarakatlah''' yang menjadi asal segala perobahan-perobahan ideologi. Sebagaimana perobahan dalam proses produksi merobah anggapan-anggapan di dalam masyarakat itu, merobah moral, merobah adat, merobah isme-isme, maka perobahan dalam proses produksi itu juga merobah ideologi- ideologi perempuan tentang caranya mencari perbaikan nasib. Dulu mereka mengira, bahwa nasib mereka itu dapat diperbaiki dengan jalan menyempurnakan keperempuanannya, -“om den man te bekoren”!-, dengan menambah kecakapan bersolek, memasak, memegang rumah tangga, memelihara anak, kejuitaan dalam pergaulan, -dulu mereka mengira, bahwa keburukan nasib mereka itu melulu hanya akibat daripada '''kekurangan kekurangan pada diri mereka sendiri saja,''' - kini mereka berganti kepada anggapan, bahwa sebagian besar daripada keburukan nasib itu ialah akibat daripada '''ketiadaan hak-hak perempuan di dalam masyarakat yang sekarang.''' Selama masyarakat itu masih masyarakat kuno, masyarakat yang proses produksinya belum secara baru, maka belum terasa oleh mereka akan ketiadaan hak-hak dalam masyarakat itu. Tetapi sesudah industrialisme berkembang biak, sesudah proses produksi bercorak lain, keadaan menjadi lain. Terasalah oleh mereka, bahwa untuk memperbaiki nasib mereka, '''mereka juga''' harus masuk ke dalam alam industrialisme itu. Memang industrialisme '''menarik''' mereka, '''membutuhkan''' mereka, ke dalam alamnya! Baik kaum perempuan proletar, maupun kaum perempuan kelas pertengahan dan kelas atasan, merasa bahwa harus diadakan aksi membanteras ketiadaan hak itu. Dan walaupun pada hakekatnya ketidaksenangan di golongan-golongan perempuan atasan dan bawahan ini berlainan sifat yang satu dari yang lain, -lihatlah perbedaan akibat industrialisme kepada kaum perempuan atasan dan kepada kaum perempuan bawahan, di Bab IIIl-, maka di atas lapangan ketiadaan hak itu mereka menemui satu sama lain. Terutama sekali kaum perempuan pertengahan dan atasan, yang sudah tentu lebih cerdas daripada perempuan bawahan, siang-siang telah mulai dengan aksi semacam itu. 133<noinclude>{{rh|||133}}</noinclude> ndj548g52mrvzgniqd7x17113xqemnb 268251 268250 2026-04-23T04:00:01Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268251 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>terdahulu, maka pada hakekatnya '''perobahan dalam masyarakatlah''' yang menjadi asal segala perobahan-perobahan ideologi. Sebagaimana perobahan dalam proses produksi merobah anggapan-anggapan di dalam masyarakat itu, merobah moral, merobah adat, merobah isme-isme, maka perobahan dalam proses produksi itu juga merobah ideologi- ideologi perempuan tentang caranya mencari perbaikan nasib. Dulu mereka mengira, bahwa nasib mereka itu dapat diperbaiki dengan jalan menyempurnakan keperempuanannya, -“om den man te bekoren”!-, dengan menambah kecakapan bersolek, memasak, memegang rumah tangga, memelihara anak, kejuitaan dalam pergaulan, -dulu mereka mengira, bahwa keburukan nasib mereka itu melulu hanya akibat daripada '''kekurangan kekurangan pada diri mereka sendiri saja,''' - kini mereka berganti kepada anggapan, bahwa sebagian besar daripada keburukan nasib itu ialah akibat daripada '''ketiadaan hak-hak perempuan di dalam masyarakat yang sekarang'''. Selama masyarakat itu masih masyarakat kuno, masyarakat yang proses produksinya belum secara baru, maka belum terasa oleh mereka akan ketiadaan hak-hak dalam masyarakat itu. Tetapi sesudah industrialisme berkembang biak, sesudah proses produksi bercorak lain, keadaan menjadi lain. Terasalah oleh mereka, bahwa untuk memperbaiki nasib mereka, '''mereka juga''' harus masuk ke dalam alam industrialisme itu. Memang industrialisme '''menarik''' mereka, '''membutuhkan''' mereka, ke dalam alamnya! Baik kaum perempuan proletar, maupun kaum perempuan kelas pertengahan dan kelas atasan, merasa bahwa harus diadakan aksi membanteras ketiadaan hak itu. Dan walaupun pada hakekatnya ketidaksenangan di golongan-golongan perempuan atasan dan bawahan ini berlainan sifat yang satu dari yang lain, -lihatlah perbedaan akibat industrialisme kepada kaum perempuan atasan dan kepada kaum perempuan bawahan, di Bab IIIl-, maka di atas lapangan ketiadaan hak itu mereka menemui satu sama lain. Terutama sekali kaum perempuan pertengahan dan atasan, yang sudah tentu lebih cerdas daripada perempuan bawahan, siang-siang telah mulai dengan aksi semacam itu. 133<noinclude>{{rh|||133}}</noinclude> 4q8zjyss40o1gusp4mycq6s9d1kliqe 268252 268251 2026-04-23T04:00:37Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268252 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>terdahulu, maka pada hakekatnya '''perobahan dalam masyarakatlah''' yang menjadi asal segala perobahan-perobahan ideologi. Sebagaimana perobahan dalam proses produksi merobah anggapan-anggapan di dalam masyarakat itu, merobah moral, merobah adat, merobah isme-isme, maka perobahan dalam proses produksi itu juga merobah ideologi- ideologi perempuan tentang caranya mencari perbaikan nasib. Dulu mereka mengira, bahwa nasib mereka itu dapat diperbaiki dengan jalan menyempurnakan keperempuanannya, -“om den man te bekoren”!-, dengan menambah kecakapan bersolek, memasak, memegang rumah tangga, memelihara anak, kejuitaan dalam pergaulan, -dulu mereka mengira, bahwa keburukan nasib mereka itu melulu hanya akibat daripada '''kekurangan kekurangan pada diri mereka sendiri saja,''' - kini mereka berganti kepada anggapan, bahwa sebagian besar daripada keburukan nasib itu ialah akibat daripada '''ketiadaan hak-hak perempuan di dalam masyarakat yang sekarang. ''' Selama masyarakat itu masih masyarakat kuno, masyarakat yang proses produksinya belum secara baru, maka belum terasa oleh mereka akan ketiadaan hak-hak dalam masyarakat itu. Tetapi sesudah industrialisme berkembang biak, sesudah proses produksi bercorak lain, keadaan menjadi lain. Terasalah oleh mereka, bahwa untuk memperbaiki nasib mereka, '''mereka juga''' harus masuk ke dalam alam industrialisme itu. Memang industrialisme '''menarik''' mereka, '''membutuhkan''' mereka, ke dalam alamnya! Baik kaum perempuan proletar, maupun kaum perempuan kelas pertengahan dan kelas atasan, merasa bahwa harus diadakan aksi membanteras ketiadaan hak itu. Dan walaupun pada hakekatnya ketidaksenangan di golongan-golongan perempuan atasan dan bawahan ini berlainan sifat yang satu dari yang lain, -lihatlah perbedaan akibat industrialisme kepada kaum perempuan atasan dan kepada kaum perempuan bawahan, di Bab IIIl-, maka di atas lapangan ketiadaan hak itu mereka menemui satu sama lain. Terutama sekali kaum perempuan pertengahan dan atasan, yang sudah tentu lebih cerdas daripada perempuan bawahan, siang-siang telah mulai dengan aksi semacam itu. 133<noinclude>{{rh|||133}}</noinclude> r3cxedw70w6vertcpqcaja8k3sxoue4 268253 268252 2026-04-23T04:02:24Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268253 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>terdahulu, maka pada hakekatnya '''perobahan dalam masyarakatlah''' yang menjadi asal segala perobahan-perobahan ideologi. Sebagaimana perobahan dalam proses produksi merobah anggapan-anggapan di dalam masyarakat itu, merobah moral, merobah adat, merobah isme-isme, maka perobahan dalam proses produksi itu juga merobah ideologi- ideologi perempuan tentang caranya mencari perbaikan nasib. Dulu mereka mengira, bahwa nasib mereka itu dapat diperbaiki dengan jalan menyempurnakan keperempuanannya, -“om den man te bekoren”!-, dengan menambah kecakapan bersolek, memasak, memegang rumah tangga, memelihara anak, kejuitaan dalam pergaulan, -dulu mereka mengira, bahwa keburukan nasib mereka itu melulu hanya akibat daripada '''kekurangan kekurangan pada diri mereka sendiri saja,''' - kini mereka berganti kepada anggapan, bahwa sebagian besar daripada keburukan nasib itu ialah akibat daripada '''ketiadaan hak-hak perempuan di dalam masyarakat yang sekarang''' . Selama masyarakat itu masih masyarakat kuno, masyarakat yang proses produksinya belum secara baru, maka belum terasa oleh mereka akan ketiadaan hak-hak dalam masyarakat itu. Tetapi sesudah industrialisme berkembang biak, sesudah proses produksi bercorak lain, keadaan menjadi lain. Terasalah oleh mereka, bahwa untuk memperbaiki nasib mereka, '''mereka juga''' harus masuk ke dalam alam industrialisme itu. Memang industrialisme '''menarik''' mereka, '''membutuhkan''' mereka, ke dalam alamnya! Baik kaum perempuan proletar, maupun kaum perempuan kelas pertengahan dan kelas atasan, merasa bahwa harus diadakan aksi membanteras ketiadaan hak itu. Dan walaupun pada hakekatnya ketidaksenangan di golongan-golongan perempuan atasan dan bawahan ini berlainan sifat yang satu dari yang lain, -lihatlah perbedaan akibat industrialisme kepada kaum perempuan atasan dan kepada kaum perempuan bawahan, di Bab IIIl-, maka di atas lapangan ketiadaan hak itu mereka menemui satu sama lain. Terutama sekali kaum perempuan pertengahan dan atasan, yang sudah tentu lebih cerdas daripada perempuan bawahan, siang-siang telah mulai dengan aksi semacam itu. 133<noinclude>{{rh|||133}}</noinclude> dyioyhcdprpr1olk85dc65zi45cfhvx 268254 268253 2026-04-23T04:02:51Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268254 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>terdahulu, maka pada hakekatnya '''perobahan dalam masyarakatlah''' yang menjadi asal segala perobahan-perobahan ideologi. Sebagaimana perobahan dalam proses produksi merobah anggapan-anggapan di dalam masyarakat itu, merobah moral, merobah adat, merobah isme-isme, maka perobahan dalam proses produksi itu juga merobah ideologi- ideologi perempuan tentang caranya mencari perbaikan nasib. Dulu mereka mengira, bahwa nasib mereka itu dapat diperbaiki dengan jalan menyempurnakan keperempuanannya, -“om den man te bekoren”!-, dengan menambah kecakapan bersolek, memasak, memegang rumah tangga, memelihara anak, kejuitaan dalam pergaulan, -dulu mereka mengira, bahwa keburukan nasib mereka itu melulu hanya akibat daripada '''kekurangan kekurangan pada diri mereka sendiri saja,''' - kini mereka berganti kepada anggapan, bahwa sebagian besar daripada keburukan nasib itu ialah akibat daripada '''ketiadaan hak-hak perempuan di dalam masyarakat yang sekarang'''. Selama masyarakat itu masih masyarakat kuno, masyarakat yang proses produksinya belum secara baru, maka belum terasa oleh mereka akan ketiadaan hak-hak dalam masyarakat itu. Tetapi sesudah industrialisme berkembang biak, sesudah proses produksi bercorak lain, keadaan menjadi lain. Terasalah oleh mereka, bahwa untuk memperbaiki nasib mereka, '''mereka juga''' harus masuk ke dalam alam industrialisme itu. Memang industrialisme '''menarik''' mereka, '''membutuhkan''' mereka, ke dalam alamnya! Baik kaum perempuan proletar, maupun kaum perempuan kelas pertengahan dan kelas atasan, merasa bahwa harus diadakan aksi membanteras ketiadaan hak itu. Dan walaupun pada hakekatnya ketidaksenangan di golongan-golongan perempuan atasan dan bawahan ini berlainan sifat yang satu dari yang lain, -lihatlah perbedaan akibat industrialisme kepada kaum perempuan atasan dan kepada kaum perempuan bawahan, di Bab IIIl-, maka di atas lapangan ketiadaan hak itu mereka menemui satu sama lain. Terutama sekali kaum perempuan pertengahan dan atasan, yang sudah tentu lebih cerdas daripada perempuan bawahan, siang-siang telah mulai dengan aksi semacam itu. 133<noinclude>{{rh|||133}}</noinclude> 67ppo24964z7ijuw8tap3kcxm9dwrq5 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006⁠ 0 96226 268230 2026-04-22T13:33:22Z ~2026-24523-40 26954 ←Membuat halaman berisi 'yyuuuu' 268230 wikitext text/x-wiki yyuuuu 9b7ggqgzeyjckurwfoqxfra81qgifm9 268231 268230 2026-04-22T13:33:44Z MrJaroslavik 14833 Requesting deletion 268231 wikitext text/x-wiki {{delete|Nonsense}}yyuuuu 6ky7c9ivcz1uimu6qxdrs2wt2aq5q1b Halaman:046 Solor (Adonare).djvu/10 104 96227 268232 2026-04-23T02:56:41Z Thersetya2021 15831 /* Tanpa teks */ 268232 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Thersetya2021" /></noinclude><noinclude></noinclude> 30jx1lygruprj5alacv96idkwiji99b Halaman:046 Solor (Adonare).djvu/9 104 96228 268233 2026-04-23T03:04:26Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 268233 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''3. NOTES''' # kēo ?, loetoe, lottor<br> # matan kaboelon (with closed eyes)<br> matan kawisoen (with open eyes)<br> # hama, sokka, bēkoe<br> # kĕpē: betel-box used by women<br> # kawattěk : woman's cloth<br>sěnawě: man's cloth<br> # koda, bisarě, toetoer<br> # sakēǐ : 100.000<br>sěkěla : a million<br> # lĕro'n, noelan (in the morning)<br>lĕra' gliki (1 p.m.)<br>lĕra' baun (5 p.m.)<br> # (east monsoon)<br> # take, hala (after a verb)<noinclude></noinclude> d2huj4a6xn2mubz8j8bumhbqbo50oqr 268234 268233 2026-04-23T03:04:47Z Thersetya2021 15831 268234 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''3. NOTES''' # kēo ?, loetoe, lottor<br> # matan kaboelon (with closed eyes)<br>matan kawisoen (with open eyes)<br> # hama, sokka, bēkoe<br> # kĕpē: betel-box used by women<br> # kawattěk : woman's cloth<br>sěnawě: man's cloth<br> # koda, bisarě, toetoer<br> # sakēǐ : 100.000<br>sěkěla : a million<br> # lĕro'n, noelan (in the morning)<br>lĕra' gliki (1 p.m.)<br>lĕra' baun (5 p.m.)<br> # (east monsoon)<br> # take, hala (after a verb)<noinclude></noinclude> azjj1zbj96koq8ph2bhisrqk7dvq3p6 Halaman:046 Solor (Adonare).djvu/8 104 96229 268235 2026-04-23T03:11:23Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 268235 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 1323. ratoes<br> 1324. riboe<br> 1325. sǎkěti <7><br> 1326. lola<br> 1328. woean toöe<br> 1329. woean roewa<br> 1330/<br> 1331. wěroein<br> 1338. pira<br> 1339. aja<br> 1340. oesi, broea<br> 1347/<br> 1348. aja moeri<br> 1349. koerang<br> 1350. waǒkai<br> 1356. to to<br> 1357. go<br> 1359. mo<br> 1360. mio<br> 1362. mio<br> 1363. naè<br> 1366. titē, kamē<br> 1364/<br> 1367/<br> 1368. raè<br> 1369. goën<br> 1373. moën<br> 1374. mion<br> 1375/<br> 1376. raën<br> 1378. naën<br> 1379. hēgē<br> 1380. a<br> 1383. pi<br> 1385. pi<br> 1386. pê<br> 1388. pia, těpi<br> 1389. těpê, wěli<br> 1394. <8><br> 1398. padoe<br> 1402. nokkon, rěman<br> 1406. soen<br> 1407. kolien <9> {{multicol-break}} 1408. pali pi<br> 1410. pali<br> 1411. nōlō<br> 1414. nōlō faān<br> 1416. nēkoe<br> 1418. wia<br> 1419. ara ia<br> 1420. lěro'n pi<br> 1422. bangoelan, ban <bau ?><br> 1423. ara roewa<br> 1427. ara pira<br> 1428. kai<br> 1429. děra<br> 1433. timoe<br> 1434. warat<br> 1435. pappa nēkīn<br> 1436. pappa wana<br> 1437. teti<br> 1440. lali<br> 1444. lali<br> 1447. sěgan<br> 1452. dǎhè'<br> 1453. doan<br> 1454. gōlē<br> 1459. aja<br> 1460. těga'<br> 1461. nanēga<br> 1462. nopi<br> 1465. poekan a<br> 1466. moeran<br> 1469. non<br> 1470. non<br> 1471. také<br> 1473-<br> 1475. take, hala <10><br> 1477. henna<br> 1479. někoe {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> hbci7lvph7v4u9zzza3tdml4pks2ai1 Halaman:046 Solor (Adonare).djvu/7 104 96230 268236 2026-04-23T03:17:24Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 268236 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 1115. katěkěl<br> 1118. hěpoek<br> 1125. maran<br> 1127. děman<br> 1130. sarē<br> 1131. datan, auwěda'<br> 1135. mai<br> 1142. amoe<br> 1143. měnoe<br> 1150. toewa<br> 1152. měnoerīn<br> 1153. woeoen, woen<br> 1159. bodon<br> 1161. kěmi, klěmi<br> 1162. gilo<br> 1166. prò<br> 1167. boeran<br> 1168. mitěn<br> 1169. mēan<br> 1171. koeman<br> 1172. pahělěn<br> 1174. sěba<br> 1175. ait<br> 1176. nēǐn<br> 1179. goetē<br> 1180. goetē<br> 1193. rōǐ<br> 1195. rōi<br> 1196. pettan<br> 1197. gloepa<br> 1200. měra'n<br> 1202. <6><br> 1203. liang<br> 1206. madjan<br> 1208. rěwang<br> 1210. ola<br> 1211. baan, kowaloe ?<br> 1213. dētǐn<br> 1214. bottē<br> 1220. lēba<br> 1225. hēwa ?<br> 1238. hoe pettan ? {{multicol-break}} 1243. tor<br> 1245. boeka<br> 1246. lětoe<br> 1251. těka'<br> 1253. bola<br> 1254. gěto<br> 1260/<br> 1261. poerat<br> 1264. poeĭn<br> 1266. horon<br> 1267. gěta<br> 1268. hônīk<br> 1269. lěta<br> 1277. poetoe<br> 1278. goeĭt<br> 1291. bĕrīn<br> 1293. toöe<br> 1294. roewa<br> 1295. tělo<br> 1296. pa<br> 1297. lēma<br> 1298. němoe<br> 1299. pito<br> 1300. boeto<br> 1301. hiwa<br> 1302. poelo<br> 1303. poelo non toöe<br> 1304. poelo non roewa<br> 1305. poelo non tělo'<br> 1306. peolo non pa<br> 1307. poelo non lēma<br> 1308. poelo non němoe<br> 1309. poelo non pito<br> 1310. poelo non boeto<br> 1311. poelo non hiwa<br> 1312. poelo roewa<br> 1313. poelo roewa non toöe<br> 1315. poelo roewa non lēma<br> 1316. poelo tělo'<br> 1317. poelo pa<br> 1318. poelo lēma<br> 1319. poelo němoe {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> gdrgpcmhmd81qh0rs6e1k90dnnz2k91 Halaman:046 Solor (Adonare).djvu/6 104 96231 268237 2026-04-23T03:28:01Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 268237 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 900. koboe<br> 902. kēa<br> 904. kělěn<br> 906. lĕra'<br> 907. lěra' mata<br> 908. woelan<br> 910. woelan<br> 911. woelan mata<br> 912. patala<br> 917. tana ēkan<br> 919. oeran<br> 921. kowan<br> 924. plědě<br> 927. brēro<br> 928. ang-īn<br> 929. ang-īn blěkoe<br> 930. wai<br> 931. tahi'(k)<br> 932. olē<br> 934. woera<br> 935. odjo<br> 937. rai ôna<br> 938. watan<br> 941. mětīn<br> 942/<br> 943. rai<br> 946. woetoen<br> 947. kiwan<br> 948. wolor<br> 952. plenga<br> 955. kajo ôna <kojo ?><br> 958. waliran<br> 959. laran bēlĭn<br> 962. noa<br> 963. loen, loeng-o<br> 969. wato<br> 970. tana<br> 971. wěra<br> 973. ôlak<br> 974. lodjang<br> 976. pêra<br> 978. emmar {{multicol-break}} 998. klottē<br> 999. ata dorē<br> 1102. woelan<br> 1003. doen hoppē<br> 1007. wēlīn<br> 1008. oentoe<br> 1009. roegi<br> 1010. hoppē<br> 1011. wēlīn aja<br> 1013. ělē<br> 1014. tion ĕlē<br> 1015. patè<br> 1016. doeoen, doen<br> 1019. gēloe<br> 1029/<br> 1030. djon<br> 1031. djon apē<br> 1033. tenna<br> 1035. poean<br> 1037. boeat<br> 1040. wadjan<br> 1043. badjan<br> 1049. niwan<br> 1051. oeli nēbon<br> 1053. ata serang<br> 1061. bēlǐn<br> 1062. kěsīn<br> 1063. blah'an<br> 1064. lēla<br> 1065. kěro'en<br> 1070. bloe<br> 1083/<br> 1084. blomon<br> 1087. blola<br> 1088. kêrē<br> 1096. klēa<br> 1101. taä<br> 1102. blěman<br> 1104/<br> 1105. platè<br> 1106/<br> 1107. glětěn<br> 1109/<br> 1110. blopor {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> d8bh6l8z1mbh2ssnam8dz6wee4sbxxy Halaman:Sarinah.pdf/85 104 96232 268239 2026-04-23T03:34:42Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268239 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>peribuan suku Nair di India beberapa abad yang lalu, karena ia mempelajari catatan-catatan pengembara bangsa Arab, Partugis, Belanda, Italia, Perancis, Inggeris dan Jerman, yang mengunjungi daerah Nair itu beberapa abad yang lalu. Boleh dikatakan, di mana-mana saja dulu ada hukum peribuan. Malahan Bachofen mengatakan, bahwa semua bangsa-bangsa yang primitif adalah berhukum peribuan. Friederich Engels pun berkata, bahwa hukum peribuan itu satu fase masyarakat yang umum. Pada bangsa Israil, pada bangsa Mesir, pada bangsa Phunicia, bangsa Etruska, bangsa Lykia, di semenanjung Iberia, bangsa Inggeris, bangsa Germania tua, bangsa Indian di Amerika, dan pada semua bangsa-bangsa di benua Asia serta kepulauan Asia dan Oceania, -di semua tempat itu di zaman purbakala berlaku hukum peribuan itu. Memang, kalau difikirkan dengan sebentar saja, maka tiap-tiap orang mengerti apa sebabnya hukum peribuanlah yang menjadi hukumnya orang di zaman itu, tidak ada hukum lain yang begitu mudah menetapkan dengan pasti keturunan seseorang manusia, melainkan hukum peribuan ini. “'''Ibunya si anu ialah si anu'''”. Sebab, pada waktu itu keluarga belum bersifat somah seperti sekarang, pada waktu itu satu '''gelombolan''' laki-laki kawin dengan satu '''gerombolan''' perempuan: inilah yang dinamakan ‘“kawin gerombolan’. “Siapa bapa” di situ tidak terang. Karena itu hukum peribuan menjadi hukumnya orang di waktu itu. Kemudian daripada kawin gerombolan ini, datanglah kawin pasangan, di mana perempuan menjadi isterinya '''satu''' orang laki-laki saja. Di dalam fase kawin pasangan inilah (di dalam waktu timbulnya faham milik perseorangan), di dalam kawin pasangan inilah diadakan hukum perbapaan. Sebagai satu “perpindahan” antara kawin gerombolan ke kawin pasangan itu, adalah satu) zaman yang membolehkan atau mengharuskan seseorang perempuan sebelum ia mempunyai suami satu, bergaul merdeka dengan laki-laki mana saja. Inilah yang oleh setengah ahli di dalam hal ini dinamakan “heaerisme”, “persundalan”, yang sebenarnya berlainan sekali dengan persundalan yang biasa. Di dalam matriarchat itu perempuan dianggap sebagai “ibu sekalian manusia”, yang mengasih hidup kepada semua orang. Tetapi kini ia akan memelihara satu orang laki-laki saja! Ia musti “dapat 85<noinclude>{{rh|||85}}</noinclude> 8lz20924mtfzst5h5ihtemym39zl5ut 268240 268239 2026-04-23T03:35:36Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268240 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>peribuan suku Nair di India beberapa abad yang lalu, karena ia mempelajari catatan-catatan pengembara bangsa Arab, Partugis, Belanda, Italia, Perancis, Inggeris dan Jerman, yang mengunjungi daerah Nair itu beberapa abad yang lalu. Boleh dikatakan, di mana-mana saja dulu ada hukum peribuan. Malahan Bachofen mengatakan, bahwa semua bangsa-bangsa yang primitif adalah berhukum peribuan. Friederich Engels pun berkata, bahwa hukum peribuan itu satu fase masyarakat yang umum. Pada bangsa Israil, pada bangsa Mesir, pada bangsa Phunicia, bangsa Etruska, bangsa Lykia, di semenanjung Iberia, bangsa Inggeris, bangsa Germania tua, bangsa Indian di Amerika, dan pada semua bangsa-bangsa di benua Asia serta kepulauan Asia dan Oceania, -di semua tempat itu di zaman purbakala berlaku hukum peribuan itu. Memang, kalau difikirkan dengan sebentar saja, maka tiap-tiap orang mengerti apa sebabnya hukum peribuanlah yang menjadi hukumnya orang di zaman itu, tidak ada hukum lain yang begitu mudah menetapkan dengan pasti keturunan seseorang manusia, melainkan hukum peribuan ini. “ '''Ibunya si anu ialah si anu''' ”. Sebab, pada waktu itu keluarga belum bersifat somah seperti sekarang, pada waktu itu satu '''gelombolan''' laki-laki kawin dengan satu '''gerombolan''' perempuan: inilah yang dinamakan ‘“kawin gerombolan’. “Siapa bapa” di situ tidak terang. Karena itu hukum peribuan menjadi hukumnya orang di waktu itu. Kemudian daripada kawin gerombolan ini, datanglah kawin pasangan, di mana perempuan menjadi isterinya '''satu''' orang laki-laki saja. Di dalam fase kawin pasangan inilah (di dalam waktu timbulnya faham milik perseorangan), di dalam kawin pasangan inilah diadakan hukum perbapaan. Sebagai satu “perpindahan” antara kawin gerombolan ke kawin pasangan itu, adalah satu) zaman yang membolehkan atau mengharuskan seseorang perempuan sebelum ia mempunyai suami satu, bergaul merdeka dengan laki-laki mana saja. Inilah yang oleh setengah ahli di dalam hal ini dinamakan “heaerisme”, “persundalan”, yang sebenarnya berlainan sekali dengan persundalan yang biasa. Di dalam matriarchat itu perempuan dianggap sebagai “ibu sekalian manusia”, yang mengasih hidup kepada semua orang. Tetapi kini ia akan memelihara satu orang laki-laki saja! Ia musti “dapat 85<noinclude>{{rh|||85}}</noinclude> pken88070qaebzpaqxmi7ibslwe8alt 268241 268240 2026-04-23T03:36:45Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268241 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>peribuan suku Nair di India beberapa abad yang lalu, karena ia mempelajari catatan-catatan pengembara bangsa Arab, Partugis, Belanda, Italia, Perancis, Inggeris dan Jerman, yang mengunjungi daerah Nair itu beberapa abad yang lalu. Boleh dikatakan, di mana-mana saja dulu ada hukum peribuan. Malahan Bachofen mengatakan, bahwa semua bangsa-bangsa yang primitif adalah berhukum peribuan. Friederich Engels pun berkata, bahwa hukum peribuan itu satu fase masyarakat yang umum. Pada bangsa Israil, pada bangsa Mesir, pada bangsa Phunicia, bangsa Etruska, bangsa Lykia, di semenanjung Iberia, bangsa Inggeris, bangsa Germania tua, bangsa Indian di Amerika, dan pada semua bangsa-bangsa di benua Asia serta kepulauan Asia dan Oceania, -di semua tempat itu di zaman purbakala berlaku hukum peribuan itu. Memang, kalau difikirkan dengan sebentar saja, maka tiap-tiap orang mengerti apa sebabnya hukum peribuanlah yang menjadi hukumnya orang di zaman itu, tidak ada hukum lain yang begitu mudah menetapkan dengan pasti keturunan seseorang manusia, melainkan hukum peribuan ini. '''“Ibunya si anu ialah si anu”'''. Sebab, pada waktu itu keluarga belum bersifat somah seperti sekarang, pada waktu itu satu '''gelombolan''' laki-laki kawin dengan satu '''gerombolan''' perempuan: inilah yang dinamakan ‘“kawin gerombolan’. “Siapa bapa” di situ tidak terang. Karena itu hukum peribuan menjadi hukumnya orang di waktu itu. Kemudian daripada kawin gerombolan ini, datanglah kawin pasangan, di mana perempuan menjadi isterinya '''satu''' orang laki-laki saja. Di dalam fase kawin pasangan inilah (di dalam waktu timbulnya faham milik perseorangan), di dalam kawin pasangan inilah diadakan hukum perbapaan. Sebagai satu “perpindahan” antara kawin gerombolan ke kawin pasangan itu, adalah satu) zaman yang membolehkan atau mengharuskan seseorang perempuan sebelum ia mempunyai suami satu, bergaul merdeka dengan laki-laki mana saja. Inilah yang oleh setengah ahli di dalam hal ini dinamakan “heaerisme”, “persundalan”, yang sebenarnya berlainan sekali dengan persundalan yang biasa. Di dalam matriarchat itu perempuan dianggap sebagai “ibu sekalian manusia”, yang mengasih hidup kepada semua orang. Tetapi kini ia akan memelihara satu orang laki-laki saja! Ia musti “dapat 85<noinclude>{{rh|||85}}</noinclude> 1m7xqcbye8lg2iwi1ojljdnthsq8u1g Halaman:Sarinah.pdf/86 104 96233 268242 2026-04-23T03:42:54Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268242 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>kerugian” lebih dulu, atau “bayar kerugian” lebih dulu! Ia lantas dibolehkan menjalankan “persundalan” pada waktu gadis, atau ia musti mengorbankan kegadisannya kepada umum sebelum ia kawin resmi kepada satu orang laki-laki saja. Menurut agama di Babylon, dulu seorang anak dara kalau ia hendak menikah, diwajibkan lebih dulu pergi ke kuil Mylitta, dan di situ ia musti mengorbankan kegadisannya kepada banyak laki-laki. Begitu pula keadaan di Memphis, di Cyprus, di Tyrus, di Sydonia, di dalam perayaan-perayaan Dewi Isis di Mesir, di Asia Depan di dalam kuil Anaitis. Engels berkata: “Adat kebiasaan yang semacam itu dikerjakan oleh hampir semua bangsa Asia di antara Laut Tengah dan sungai Gangga”. Perempuan ibu umum! Sebelum ia bersuami satu orang saja, ia musti memuaskan semua orang lebih dahulu! Sebelum ia memuaskan satu orang saja, ia musti bayar dulu upeti kepada dewa-dewa. “Sebab bukan supaya menjadi layu di dalam tangannya satu orang laki saja, maka perempuan itu dikaruniai keelokan dan kecantikan oleh alam. Hukum jasmani menolak semua pembatasan, benci kepada semua perikatan, dan memandang tiap-tiap perkhususan sebagai satu dosa kepada sifat kedewaan perempuan itu”, begitulah Bachofen menulis di dalam kitabnya “Mutterrecht”. Sampai zaman sekarangpun, misalnya di Flores, di mana saya berdiam hampir lima tahun, ada satu daerah (Keo), di mana gadis-gadis boleh bergaul dengan laki-laki mana saja yang mereka sukai, dan yang paling “jempol” di antara “gadis-gadis” itu, -jempol memuaskan laki-laki-, itulah yang nanti paling lekas laku mendapat suami. Di kepulauan Mariana, di uluuluan Philipina, di kepulauan Polynesia, di beberapa suku di Afrika, sampai sekarang masih berlaku pula adat ini. Di kepulauan Baleara, maka belum selang berapa lamanya masih ada adat, yang pada “malam pernikahan”, semua keluarga laki-laki dari pengantin lelaki meniduri pengantin perempuan itu berganti-ganti. Di Malabar, di uluan India Belakang, di beberapa pulau lautan Teduh, kepala-kepala 86<noinclude>{{rh|||86}}</noinclude> plhehuu1hebf07ph2f62wesiwx9r8jl Halaman:046 Solor (Adonare).djvu/5 104 96234 268248 2026-04-23T03:53:18Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 268248 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 668. tǎnaha'<br> 669. tanaēn, tang-a<br> 671. oroe, gěta<br> 674. wata<br> 677. oetan<br> 678. oetan<br> 681. kabako<br> 682. těwo<br> 683. oetan tana<br> 686. oewē<br> 688. běsi<br> 691-<br> 693. tapô<br> 700. tǎnassoe<br> 708. pau<br> 716-<br> 718. moekô<br> 722. moeda<br> 728. apoe<br> 729. koema<br> 731. oewa<br> 732. auw<br> 734. poekan<br> 739/<br> 740. karang-īn<br> 742-<br> 744. amoet<br> 746. lolon<br> 748. kama<br> 752. woea<br> 753. maloe<br> 755. padoe<br> 757. ěboen<br> 758. poehoen<br> 759. woean<br> 761. kama<br> 763. kanoeloen<br> 766. hěla'n<br> 770. loeô<br> 774. binatang<br> 776. mè<br> 778. ikoen<br> 779. lēǐn {{multicol-break}} 786. kěpīn<br> 787. rawoenk<br> 789. kawok<br> 790. telloek<br> 794. wawē<br> 797. kabo'on<br> 798. loeba<br> 803/<br> 804. sapi<br> 805. mè<br> 807. koeda, djaran<br> 809. roeka<br> 811. ahò<br> 812. bôwô<br> 813. koesīn<br> 818. toetoen, katoetoen<br> 825. kaa<br> 827. manoek ana<br> 828. manoek ina<br> 830. manoek laloen<br> 826-<br> 831. manoe(k)<br> 843. loesi<br> 844. kōlon<br> 846. pamikē<br> 851. kromē<br> 852. kromē bēlǐn, kabêhê<br> 854. moenak<br> 861. ala<br> 865. kĕwô<br> 870. těměla<br> 871. kòbok<br> 872. kaněpoen<br> 881. kadoeo<br> 884. tamihê<br> 886. oela<br> 891. oela<br> 892. koedjang<br> 893. kětan<br> 894. kadenna<br> 896. měto, kòdò<br> 898. klittan<br> 899. ottē {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> 4fykznlzd89mrt2b2hpvfoqx298zq7v Halaman:046 Solor (Adonare).djvu/4 104 96235 268249 2026-04-23T03:58:20Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 268249 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 418. boboe<br> 424. gong<br> 428. <3><br> 437. lang-ô<br> 439. oen<br> 449. kěnawe<br> 453. kědaan<br> 454. kědaan<br> 458. aran<br> 459. auw<br> 458/<br> 459. kěněbi<br> 461. riē<br> 468. ōhan<br> 469. blonē kottan<br> 470. těnidi, sĕrigan<br> 472/<br> 473. maga<br> 474. loeran<br> 475. apē<br> 477. toetoen<br> 478. sěpoe<br> 483. kaāwoek<br> 485. toetoen padoe<br> 486. sěpoe padoe<br> 487. wowa ôna, wowěl<br> 493. kwali<br> 494. kaloeba<br> 497. pigang<br> 498. makok<br> 499. nēa<br> 505. hēpē<br> 506. pēda, kěnoebě<br> 510. noero<br> 514. kara <4><br> 517. koen<br> 525-<br> 527. bihô<br> 528. sēok<br> 530. toeno<br> 535. kaniki<br> 537. woeloen {{multicol-break}} 539/<br> 540. měta'n<br> 541. ikan<br> 544. tahan lôho'n<br> 545. lamak<br> 544/<br> 545. tahan<br> 546. tahan kama<br> 548. kěnamoe<br> 549. kēban<br> 550. noehoen<br> 551. alo<br> 560. bolo<br> 561. lala<br> 563. sia<br> 565. kawattěk, sěnawě <5><br> 568. laboe<br> 573. kiri<br> 576. kila<br> 579. kala<br> 580. sěnaka<br> 602. talē<br> 603. kapěk<br> 611. gala<br> 613. woehoe<br> 614. lihan<br> 615. hoepě<br> 617. doppi<br> 620. bědi<br> 621. oeba<br> 622. pěloroe<br> 623. passak<br> 625. raän bliwan<br> 626. bliwan<br> 627. ata bliwan<br> 630. sarē<br> 631. atoe<br> 637. arědjate <aredjati ?><br> 653. maan<br> 659. niha<br> 664. koeloen<br> 665. moela {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> 8pekya3r68qj85pr0hy0o1n8te7mfeq Halaman:Sarinah.pdf/87 104 96236 268255 2026-04-23T04:07:45Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268255 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>agamalah yang menyelesai-kan pekerjaan ini. Dan mungkin juga hak “malam pertama” yang dulu diberikan kepada raja-raja di Indonesia dan di Eropa, -di beberapa negeri Eropa sampai silamnya zaman pertengahan masih ada hak “jus primae noctis” itu-, pada asalnya haruslah dianggap sebagai “belian” kepada dewa-dewa. (kalau-kalau dewa-dewa ini marah karena perempuan menjadi isteri '''satu''' orang laki-laki saja!) Dan tahukah tuan, bahwa sampai di dalam abad ke-15 di Nederland pun menurut keterangan Murner, tamu-tamu di “suguh” nyonya rumah atau puteri rumah pada malam hari? Ya, perempuan ibu umum! Tidakkah pada hakekatnya ini suatu anggapan tinggi kepada perempuan itu? Tetapi tidakkah pula terang kepada kita, bahwa aturan yang demikian ini tidak baik kita pakai? Maka oleh karena itu, meskipun ada kalanya hukum peribuan itu di dalam bentuk matriarchatnya mengasih kedudukan yang mulia kepada perempuan, meskipun di bebe-rapa tempat di dunia sampai sekarang masih ada restan-restan matriarchat itu di mana perempuan seperti berkedudukan mulia, maka janganlah matriarchat itu menjadi cita-cita kita dan pedoman kita. Kalau hukum peribuan itu sampai sekarang belum lenyap sama sekali, itu belumlah menjadi satu bukti, bahwa dus hukum peribuan itu dapat tegak terus di masyarakat sekarang, dan '''dus''' boleh dipakai sebagai cita-cita dan pedoman di masyarakat sekarang. Tidak! Kalau sekarang masih ada hukum-peribuan, maka buat sekian kalinya saya katakan: itu hanyalah sisa-sisa dan runtuhan-runtuhan belaka dari satu gedung adat yang telah gugur. Itu hanyalah satu “kematian yang terlambat”. Hukum peribuan '''pasti''' mati, '''pasti''' gugur, '''pasti''' lenyap dari masyarakat industrialisme dan masyarakat hak milik pribadi sebagai yang sekarang ini, '''walaupun''' ia ulet nyawa. (Misalnya sampai di zamannya August Bebel (permulaan abad ini) masih ada hukum peribuan itu di negeri modern, seperti Jermania (di propinsi Westfalen) di mana si anak mewaris dari ibu, dan tidak dari bapa). Pembaca barangkali ada yang ingin tahu, apakah adat satu orang perempuan bersuami banyak (poliandri) juga disebabkan oleh hukum peribuan? Susah menjawab 87<noinclude>{{rh|||87}}</noinclude> 4tr8lwb320xw5xdvemqyfnh6ezd48am Halaman:046 Solor (Adonare).djvu/3 104 96237 268256 2026-04-23T04:09:51Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 268256 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 149. tobo<br> 153. nang-ē<br> 154. hěbo<br> 158. raan<br> 161. gêka<br> 163. gaka<br> 167. prino<br> 169. dapoe<br> 170. mēkěr<br> 177. nadon<br> 182. mârin <môrīn ?><br> 183. mata<br> 185. maten<br> 188. maten<br> 191. broba<br> 192. raän mata<br> 193. kěněna<br> 194. ěpan kěněna<br> 196. oeng-ar<br> 197. oekan<br> 198. oeng-ar tadan<br> 199. blara<br> 200. blara<br> 202. wěkīn sarē<br> 205. platè brīng-īn<br> 207. alen blara<br> 209. hēpat<br> 219. kottan<br> 222. blara mēkěr<br> 227. měkoe<br> 228. kabēkīn<br> 229. matan kaboelon, matan kawisoen <2><br> 231. matan io<br> 232. sarē kai, wěkīn sarē kai<br> 233. plēa<br> 236. ata dikan<br> 239. narang<br> 241. ata blakīn<br> 242. ata barawa’in<br> 250. ana blakin<br> 252. ana barawa'in {{multicol-break}} 255. bapa<br> 256. ina(k)<br> 257/<br> 258. ana<br> 261. ana ama lakè<br> 267. pakokko mojang<br> 270/<br> 271. kaka<br> 272/<br> 273. arīn<br> 305. ana paoe<br> 306/<br> 309. opoe<br> 315. binē<br> 317. lakǐn<br> 318. kōwai<br> 327. lěwo nama<br> 328. lěw'o<br> 329. rian<br> 341. měnakkan<br> 343/<br> 344. toeber-nawa ?<br> 345. Lêra-woelan<br> 353. soera<br> 354. soera<br> 355. soera<br> 360. sorga<br> 361. apē bēlǐn<br> 365. ata dīkan waokai lěo’<br> 366. môrīn pěnain hala<br> 367. ôna sarē<br> 368. ôna anwěda', dosa<br> 370. glaran<br> 378. radja<br> 386. kǎlakke<br> 388. ata belǐn<br> 391. sarē<br> 392. sělaka<br> 394. koena<br> 398. hoekoen<br> 401. sassi<br> 407/<br> 408. kawin<br> 413. djadi {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> rxvdlc6z9ca311orsep9vde4quaicn2 Halaman:Sarinah.pdf/88 104 96238 268257 2026-04-23T04:12:38Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268257 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>pertanyaan ini! Mungkin disebabkan oleh hukum peribuan, mungkin tidak disebabkan oleh hukum peribuan. Eisler mengatakan, bahwa poliandri itu “bukan satu perkembangan yang umum” (bukan satu tingkat perubahan yang umum). Engels menamakan dia “perkecualian”, serta, “hasil-hasil yang mewah daripada sejarah”. Dan Bebel berkata, bahwa “belum diketahui orang benar-benar, perbandingan-perbandingan apakah yang menjadi sebab-sebabnya poliandri itu”. Tetapi ada hal-hal yang dapat dipakai buat penunjuk jalan di dalam hal mencari sebab-sebabnya poliandri itu; poliandri didapatkan terutama sekali hanya di negeri-negeri '''pegunungan yang tinggi''' saja; seperti di Tibet. Di negeri-negeri pegunungan yang tinggi-tinggi ini, di mana hampir tiada tumbuh-tumbuhan sama sekali, sudah barang tentu sangat berat struggle for life. Maka poliandri atau persuamian banyak itu, menjadi satu jalan buat mencegah '''terlalu bertambahnya jumlah keturunan''', dengan tidak merugikan dan menghalangi kepada syahwat laki-laki. Benarkah keterangan ini? Entah. Ada lain keterangan lagi, yakni yang berikut: menurut seorang penjelidik yang bernama Tarnowsky, maka udara yang terlalu dingin berakibat melemahkan kepada syahwat. (Dikatakan: orang-orang yang naik ke puncak-puncak gunung yang terlalu tinggi, menjadi lemah syahwatnya, dan syahwatnya ini sekonyong-konyong menjadi keras kembali manakala mereka turun ke tempat-tempat yang lebih rendah. Orang-orang di kutub Utara tidak begitu keras syahwatnya seperti orang-orang di negeri-negeri kanan-kiri khatulistiwa. Orang-orang perempuan di negeri-negeri dingin kadang-kadang baru pada umur 18 atau 19 tahun mendapat haid, tapi gadis-gadis di negeri Arabia kadang-kadang pada umur sepuluh atau sebelas tahun sudah mendapat haid), Maka oleh karena syahwat, terutama sekali syahwat laki-laki, di negeri-negeri dingin ada kurang, maka tidak merusak kesehatan perempuan manakala di negeri seperti Tibet itu satu perempuan bersuamikan dua, tiga, empat, lima orang laki-laki. Jadi di negeri yang sangat dingin tidak heran kita melihat poliandri, dan di negeri-negeri panas tak heran kita melihat poligami. Lagi pula, bukan barang yang tidak diketahui umum, bahwa perempuan yang banyak laki-lakinya itu kurang menjadi hamil daripada perempuan yang bersuami hanya seorang saja. Lihatlah misalnya kepada sundal. Sundal 88<noinclude>{{rh|||88}}</noinclude> 7fkgymelshkevsow39547jrfe0lx7ix Halaman:Sarinah.pdf/89 104 96239 268258 2026-04-23T04:16:27Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268258 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>yang saban hari menerima syahwat laki-laki sampai lima, enam, sepuluh kali, jarang menjadi hamil, meski ia tidak minum obat-obatan pencegah hamil atau tidak mengambil ikhtiar satu juapun untuk mencegah bertumbuhnya benih. Dengan sebab-sebab yang demikian itu, maka poliandri di negeri-negeri pegunungan tinggi itu bukan saja_ tidak merusakkan kesehatan perempuan, tetapi ada juga berakibat mengurangi jumlah turunan, yang sangat susah memeliharanya di negeri yang kurang rezeki itu. Bersangkutan atau tidak bersangkutan poliandri itu dengan hukum peribuan belum terang kepada kita. Tetapi ternyatalah di sini sekali lagi kebenaran teori, bahwa moral, anggapan-anggapan tentang sopan dan tidak sopan, adat lembaga, etik, recht, dan lain-lain sebagainya itu, bukanlah hasil pekerjaan budi pekerti manusia, tetapi adalah tergantung dan ditetapkan oleh perbandingan-perbandingan sosial dan materiil. Di manakah di negeri tumpah darah kita ini, kecuali Minangkabau, masih ada sisa-sisa hukum peribuan? Pertama, boleh dikatakan semua daerah-daerah yang berdekatan dengan Minangkabau itu masih memakai hukum peribuan bagian-bagian dari keresidenan Bengkulu, bagian-bagian dari Jambi, bagian-bagian dari Palembang. Sudah barang tentu semuanya itu tidak murni lagi, tidak asli hukum peribuan lagi, melainkan sudah tereampur bawur dengan hukum-hukum lain, terutama sekali tercampur dengan syariat Islam. Sebagaimana di Minangkabau hukum peribuan bukan asli hukum peribuan lagi, maka begitu juga di daerah-daerah ini hukum peribuan bukan asli hukum-peribuan lagi. Hanya kadang-kadang saya heran melihat “uletnya” hukum peribuan itu, seakan-akan syariat Islam tak mudah melenyapkannya. Di negeri Aceh, misalnya, yang penduduknya begitu teguhnya memeluk agama Islam, masih ada sisa-sisa hukum peribuan yang belum lenyap! Di situ masih ada daerah-daerah yang perempuan, sesudah nikah, masih tetap saja menjadi “haknya” rumah orang tuanya, sedang suaminya, kalau ia tidak ikut diam di rumah isterinya itu, datang kepadanya hanya kalau ada keperluan saja. Anak-anak dari perkawinannya itu tetap di rumah ibunya, “gampung” anak-anak itu adalah -“gampung” ibunya! Adat hukum peribuan inilah yang di daerah Semendo dan lain-lain daerah di 89<noinclude>{{rh|||89}}</noinclude> ovfgyyrjdidxppvuyj250r3xvh243i6 Halaman:046 Solor (Adonare).djvu/2 104 96240 268259 2026-04-23T04:17:04Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 268259 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''2. SOLOR LIST''' {{multicol}} 1. wěkīn<br> 2. kottan<br> 3. ain<br> 4. kaniton<br> 5. kēong<br> 6. rata<br> 8. klěwoeng<br> 9. tiloen<br> 11. matan<br> 17. matan loon<br> 18. iroen<br> 21. kalipīn<br> 22. wowan<br> 25. noehoen<br> 27. koemīn<br> 29. kôren<br> 30. koemīt, koemīn<br> 31. wêwel<br> 32. aär wowan<br> 33/<br> 35. ipěn<br> 37. kěwokkor<br> 38. woelīn<br> 41. toeho<br> 42. toehoen<br> 45. toehoen woetoen<br> 46. toeho wain<br> 47. toeho wain<br> 48. isěk<br> 50. kěnawang<br> 52. woean?<br> 53. kabottīn<br> 54. alen<br> 56. aten<br> 61. kapoehoer<br> 63. kolan<br> 68. ělan<br> 69. oewan, oewě<br> 70. boeban<br> 72. pana tai<br> 73. tai {{multicol-break}} 75. paho?<br> 77. oetīn<br> 78. měna<br> 82. mēkē<br> 83. wai mēkē<br> 84. leǐn<br> 86. lēǐn<br> 88. leǐn rioenk<br> 90. lĕngan<br> 91. <1><br> 95. liman<br> 97. liman<br> 99. kěli<br> 100. hikoen<br> 102. liman ôna<br> 105. liman ana<br> 107. tamoehoe<br> 108. liman ina(k)<br> 112. liman ana<br> 115. rioenk<br> 116. mēĭ<br> 117. měta'n<br> 121. kama<br> 122/<br> 123. rawoenk<br> 124. ěwo'en<br> 125. iloe<br> 127. gēhan nain<br> 128. gaan, rěkan<br> 129. alen maloe<br> 130. rēnoe<br> 132. mara<br> 133. alen bohoe<br> 137. tělěn<br> 138. toeroe<br> 139/<br> 140. toeran<br> 144. dēĭn<br> 145. pana<br> 146. hērīn?<br> 147. děpa<br> {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> hhrzf39kgoaeer6wtf9axx9d0rpth3p Halaman:Sarinah.pdf/248 104 96241 268260 2026-04-23T04:22:39Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268260 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>cinta kepada kemerdekaan dan rasa benci kepada penjajahan, rasa ingin hidup sejahtera dan tak mau hidup terhisap, rasa bukan lagi orang Jawa atau orang Sumatera atau orang Sulawesi, tetapi orang bangsa Indonesia saja, -semua rasa- rasa itu mendidih menggelora di dalam satu kancah, menyala-nyala berkobar-kobar di dalam satu kawah yang bernama kancah dan kawahnya Nasionalisme Indonesia. Nasionalisme Indonesia itu. mempunyai sumber-sumber, mempunyai “penghidup-penghidup”, dan _ penghidup-penghidupnya itu ialah tenaga-tenaga masyarakat ('''sociale krachten''') yang hebat dan kuasa, dinamis dan revolusioner, - tidak tertahan oleh tenaga apapun juga, meski tenaga imperialisme yang bersenjatakan tentara dan armada sekalipun. Apakah tenaga-tenaga masyarakat itu? '''Pertama''' tenaga masyarakat yang timbul dari kalangan '''rakyat jelata''' yang bermilyun-milyun, buruh dan tani, yang oleh imperialisme turun-temurun dihisap ditindas, dieksploatir laksana ternak, dan kini jiwanya menjadi jiwa rebelli mau cukup bekal hidup, mau sejahtera, mau aman, '''-kedua''' tenaga masyarakat yang timbul dari kalangan '''kaum perusahaan''' Indonesia yang oleh adanya imperialisme sama sekali kehilangan alam, dan kini mau mempunyai alam. Kedua-dua tenaga masyarakat ini memberontak kepada: imperialisme itu, yang satu memberontak ingin hidup, yang lain memberontak ingin berkembang: Tujuh puluh milyun manusia tua muda laki-laki perempuan -boleh dikatakan tidak ada satu orang pun yang terkecuali- jiwanya dalam rebelli, benci kepada penjajahan dan rindu kepada kemerdekaan, berpuluh-puluh milyun dari antara mereka itu bangkit aktif, mengambil bambu runcing dan golok dan senapan untuk menyerang dan melawan, -berpuluh-puluh milyun lagi mengambil pacul dan martil dan tangkai pena untuk menyusun, mencipta, membangun. Destruksi dan Konstruksi sedang berlaku simultan dalam satu simfoni yang maha dahsyat. Itulah Nasionalisme Indonesia yang sedang menjalankan Revolusi Nasional. Yang sedang '''meneruskan''' Revolusi Nasional, -yang memang belum selesai, karena memang belum 248<noinclude>{{rh|||248}}</noinclude> d3clc3jls2ef44dlpt1q7hjb2e2rq2p Halaman:Sarinah.pdf/249 104 96242 268261 2026-04-23T04:27:12Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268261 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>terbangun satu Negara Nasional. Apakah ini berarti, bahwa tujuannya Revolusi Nasional kita itu dus sekedar satu Negara Nasional di dalam arti biasa, seperti Jerman, seperti Italia, seperti Jepang, seperti Perancis? Satu Negara Nasional yang '''burgerlijk''', yang “borjuis”, - oleh karena belum tiba saatnya untuk mengadakan sosialisme? '''Tidak!''' Sekarang memang belum tiba saatnya buat kita untuk mengadakan sosialisme, -belum tiba '''kemungkinannya''' buat kita untuk mengadakan sosialisme- , sekarang Revolusi kita masih Revolusi Nasional, tetapi itu '''tidak''' berarti, bahwa Negara Nasional yang hendak kita dirikan '''dus''' satu negara yang burgerlijk. Sebagaimana telah saya katakan, bahwa batas antara Revolusi Nasional dan Revolusi Sosial tidak tajam seperti batas antara bilik yang satu dan bilik yang lain, sebagaimana tiap-tiap proses melalui beberapa fase, yang fase-fase ini juga tidak terpisah tajam antara satu sama lain, maka Negara Nasional Indonesia yang hendak kita dirikan itupun tidak bersifat burgerlijk dan juga belum bersifat sosialis, melainkan bolehlah diibaratkan satu “fase-peralihan” '''antara''' fase burgerlijk dan fase sosialis. Lihatlah Undang-undang Dasar Republik kita, Jikalau dikatakan, bahwa Undang-undang Dasar Republik kita itu satu undang-undang dasar yang sama sekali sosialistis, maka itu tidak benar. Tetapi juga, jikalau dikatakan, bahwa ia satu undang-undang dasar yang sema sekali burgerlijk, itupun tidak benar. Pasal 33 yang berbunyi: 1) # Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasaratas azas kekeluargaan; 2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; 3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. dan Pasal 34 yang berbunyi: 249<noinclude>{{rh|||249}}</noinclude> ix207jhh0canks4kte1bmdkco2zw4tp 268263 268261 2026-04-23T04:28:39Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268263 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>terbangun satu Negara Nasional. Apakah ini berarti, bahwa tujuannya Revolusi Nasional kita itu dus sekedar satu Negara Nasional di dalam arti biasa, seperti Jerman, seperti Italia, seperti Jepang, seperti Perancis? Satu Negara Nasional yang '''burgerlijk''', yang “borjuis”, - oleh karena belum tiba saatnya untuk mengadakan sosialisme? '''Tidak!''' Sekarang memang belum tiba saatnya buat kita untuk mengadakan sosialisme, -belum tiba '''kemungkinannya''' buat kita untuk mengadakan sosialisme- , sekarang Revolusi kita masih Revolusi Nasional, tetapi itu '''tidak''' berarti, bahwa Negara Nasional yang hendak kita dirikan '''dus''' satu negara yang burgerlijk. Sebagaimana telah saya katakan, bahwa batas antara Revolusi Nasional dan Revolusi Sosial tidak tajam seperti batas antara bilik yang satu dan bilik yang lain, sebagaimana tiap-tiap proses melalui beberapa fase, yang fase-fase ini juga tidak terpisah tajam antara satu sama lain, maka Negara Nasional Indonesia yang hendak kita dirikan itupun tidak bersifat burgerlijk dan juga belum bersifat sosialis, melainkan bolehlah diibaratkan satu “fase-peralihan” '''antara''' fase burgerlijk dan fase sosialis. Lihatlah Undang-undang Dasar Republik kita, Jikalau dikatakan, bahwa Undang-undang Dasar Republik kita itu satu undang-undang dasar yang sama sekali sosialistis, maka itu tidak benar. Tetapi juga, jikalau dikatakan, bahwa ia satu undang-undang dasar yang sema sekali burgerlijk, itupun tidak benar. Pasal 33 yang berbunyi: # Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasaratas azas kekeluargaan; # Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; # Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. dan Pasal 34 yang berbunyi: 249<noinclude>{{rh|||249}}</noinclude> ifc0aa9s801grp19a0o9t61rfeale87 Halaman:045 Indrapura.djvu/3 104 96243 268262 2026-04-23T04:28:07Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 268262 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 130. minoem<br> 132. kahaoesan<br> 133. kakenjangan<br> 137. měnělan/tělan, měněgoek/tegoek<br> 138. tidoer<br> 139/<br> 140. mimpie<br> 144. berdiri<br> 145. berdjalan<br> 146. todoer menalantang<br> 147. tidoer menaloengkoep<br> 148. tidoer sambarangan<br> 149. doedoek<br> 150. doedoek berselå<br> 151. doedoek bersimpoeh<br> 152. mentjangkoeng<br> 153. berĕnang<br> 154. mandie<br> 156. gagok<br> 158. soeara<br> 160. memakik makik, bersorak <7><br> 161. ketawa<br> 163. nangis<br> 165. senjoem<br> 166. mengeloeh<br> 167. meloedah, melijoe<br> 169. berzin<br> 170. batok<br> 176. koeok, koeap<br> 182. hidoep, kahidoepan (hidoep)<br> 183. mati<br> 184. maut<br> 185. mati<br> 188. mait, bangkai <8><br> 191. koeboer<br> 192. memboenoeh<br> 193. mendapat poesakå<br> 194. poesakå, harta poesakå<br> 196. loeka<br> 197. bengkak<br> 198. paroet loekå<br> 199. sakit {{multicol-break}} 200. sakit <9><br> 201. sakit<br> 202. sehat<br> 203. bisoel<br> 205. děměm<br> 207. sakit peroet<br> 209. boeroes/gĕtjar<br> 210. ketoemboehan<br> 211. api tjampak<br> 214. biring api<br> 219. pěning kapala/sakit kapala<br> 220. sakit toelang<br> 222. penjakit seléma<br> 223. mengantoek<br> 224. moelas moelas<br> 225. loempoeh, lajoeh <10><br> 227. bisoe<br> 228. pekak/toeli<br> 229. boetå, raboen<br> 231. mata sela/djoeling<br> 232. semboeh/betah, sěnang<br> 233. obat<br> 235. doekoen<br> 236. manoesia, orang<br> 237. orang<br> 238. orang<br> 239. namå<br> 240. galar<br> 241. laki laki<br> 243. laki laki<br> 242. padoesie<br> 244. djantan<br> 245. padoesie<br> 246. betinå<br> 248/<br> 249. gadis<br> 250. boedag laki laki<br> 252. boedag padoesie<br> 255. bapa<br> 256. indoeg, mak<br> 257. anak toewå<br> 258. anak moeda/boengsoe {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> 3pvz27vra651n0b3ry29b0mb3wtky7k Halaman:045 Indrapura.djvu/2 104 96244 268265 2026-04-23T04:30:37Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 268265 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''2. THE INDRAPURA LIST''' {{multicol}} 1. badan<br> 2. kapala<br> 3. moekå<br> 4. kĕning<br> 5. tangkoerag<br> 6. ramboet<br> 8. poesar poesar<br> 9. talingå<br> 11. matå<br> 15. boeloe mědoe<br> 17. ajèr matå<br> 18. hidoeng<br> 21. pipi<br> 22. moeloet, moentjoeng<br> 25. bibir<br> 27. soengoet<br> 28. djanggoet<br> 29. dagoeg<br> 30. grambàg, tali toedoeng<br> 31. lidah<br> 32. langit langit<br> 33. gigi<br> 34. kraman<br> 35. isang gigi<br> 37. lèhèr<br> 38. lèhèr<br> 41/<br> 42. soesoe<br> 45. mata soesoe<br> 46. dadih <1><br> 47. ajèr soesoe <2><br> 48. menoesoe<br> 50. toelang dadå<br> 52. hati, djantoeng<br> 53. paroeh gedang<br> 54. paroet<br> 56. limpå<br> 61. poesat <3><br> 62. tali poesat<br> 63. poenggoeng<br> 66. belikat <4> {{multicol-break}} 68. pahå<br> 69. pantat, ekoer<br> 70. toelang tonggèng<br> 72. mentjirit<br> 83. tjirit<br> 75. berkĕntoet<br> 77. balam<br> 78. gandèk<br> 82. boeang ajèr kentjing<br> 83. kentjing<br> 84. toelang<br> 86. kaki<br> 88. <5><br> 90. pahå<br> 91. loetoet<br> 93. boewah betih<br> 94. toelang kering<br> 95. tangan<br> 97. poenggoeng tangan<br> 99. kiag<br> 100. sikoe<br> 102. tapak tangan<br> 105. djarí<br> 107. koekoe<br> 108. indoek tangan<br> 109. djari mati<br> 110. djari mati<br> 111. djari manis<br> 112. kalèngkèng<br> 115. toelang toelang<br> 116. darah<br> 117. daging<br> 118. oerat <6><br> 121. djangèk<br> 122. boeloe ramang<br> 123. boeloe<br> 124. ajèr pěloeh/peloeh<br> 125. ajèr lijoer<br> 127. meangog <meangok?><br> 128. makan<br> 129. kalaparan {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> hng4vjpx99bnkt0v8123s39xjnren69 Halaman:Sarinah.pdf/163 104 96245 268266 2026-04-23T04:43:00Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268266 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>pokok pikiran emansipasi itu telah lahir lebih dahulu, tetapi perjoangan untuk menjelmakan idee, teori, faham, serta pokok fikiran itu) masih menunggu panggilan. perbandingan-perbandingan sosial ekonomis yang akan menggerakkan perjoangan itu. Idee memang selalu mendahului pergerakan. Misalnya ide atau faham sosialisme pun telah lahir dan di teorikan dalam kitab-kitab di zamannya Fourier, Proudhon, Marx dan Engels, tetapi pergerakan sosialisme barulah berkobar betul-betul sesudah kapitalisme modern memekar dan menghebat pada akhir abad kesembilan belas. Ide dan faham fascisme telah menelur dalam kitab-kitab Machiavelli dan Nietzsche, tetapi pergerakan fasisme barulah mengamuk betul-betul sesudah kapitalisme itu “im Niedergang” dan memerlukan pembelaan yang tak kenal kasihan. Maka demikian juga halnya dengan pergerakan emansipasi wanita, Badan nyonya-nyonya Otis Warren dan Smith Adams telah lama menjadi debu, Olympe de Gouges dan Condorcet telah lama pulang kerakhmatullah, Wollstonecraft -dan von Hippel telah lama masuk ke alam barzah, -barulah, pada permulaan bagian kedua daripada abad kesembilan belas, pergerakan emansipasi subur dan menggelora. Sudah barang tentu terutama sekali mula-mula di Amerika dan di Inggeris. Apa sebab justru mula-mula di dua negeri itu? Oleh sebab di Amerika dan di Inggerislah perbandingan-perbandingan sosial ekonomis lebih dulu menjadi masak untuk melahirkan pergerakan emansipasi itu: Termasuknya barang-barang buatan paberik dalam rumah tangga, membuat kaum wanita dari golongan pertengahan dan atasan banyak menganggur. Hidup-nya terserang penyakit kesal karena menganggur. Hidupnya menjadi kosong. Mereka ingin bekerja, ingin “hidup”. Mereka lantas bergerak, menuntut “hak untuk bekerja” dan hak-hak politik yang sama dengan kaum laki-laki. (Lihatlah uraian dalam bab III). Di dalam tahun 1851 di Inggeris diadakan satu rapat besar oleh kaum wanita atasan untuk menuntut hak perwakilan (buat wanita atasan saja!), dan diambilnya satu mosi yang mereka kirimkan ke Majelis Rendah. Di dalam tahun 1866 mereka itu mempersembahkan satu surat permohonan lagi kepada pemerintah dengan 1499 tandatangan, juga untuk 163<noinclude>{{rh|||163}}</noinclude> cy7x0vugdflhik6o4sb4m18h5q33yy6 Halaman:Sarinah.pdf/164 104 96246 268267 2026-04-23T04:46:00Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268267 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>meminta hak perwakilan. Baru setahun kemudian daripada itu, jadi dalam tahun 1867, parlemen mulai membicarakan hak perwakilan wanita itu. Tetapi putusannya ialah menolak hak perwakilan wanita itu, dengan 196 suara lawan 73 suara. Suara yang terbanyak berpendapat bahwa wanita tak perlu dan tak harus ikut politik! Tempat wanita ialah di rumah tangga, di samping buaian anak! Tetapi fihak wanita tidak putus asa. Mereka beraksi terus. Demonstrasi-demonstrasi, rapat-rapat besar, surat-surat kabar, pamflet-pamflet diadakan. Opini publik terus dikocok. Akhirnya perhatian khalayak itu mulai ada yang condong juga kepada tuntutan wanita. Pemimpin-pemimpin wanita Inggeris di waktu itu memang tangkas-tangkas. Mereka umumnya gagah berani, pandai benar berpidato, cakap menyusun organisasi. Tetapi reaksi kaum laki-laki pun bukan kepalang. Sebagai tembok yang amat tinggi, reaksi laki-laki itu masih menghalang-halangi berhasilnya aksi wanita. Sampai silamnya abad kesembilan belas aksinya kaum feminis Inggeris itu tetap sia-sia, atau lebih tegas: hasilnya belum sepadan dengan energie yang telah dikeluarkan. Benar sebagian dari tuntutannya, yaitu “hak untuk melakukan sesuatu pekerjaan di masyarakat’, telah diluluskan, benar mereka telah diizinkan masuk bekerja di beberapa cabang pekerjaan, benar mereka telah dibolehkan mengunjungi sekolah tinggi, tetapi tuntutannya yang terpenting -hak perwakilan- belumlah terkabul. Padahal hak perwakilan ini amat penting sekali untuk mendapat persamaan hak di semua lapangan, ekonomis, yuridis, sosial! Karena itu, aksi kaum feminis itupun tidak menjadi kendor, sebaliknya malah menghebat, mengeras, menyengit. Tidak ada satu negeri di Eropah, sesudah Revolusi Perancis, yang aksi feminis begitu sengit seperti di Inggeris. Mereka tak berhenti-henti mengadakan demonstrasi-demonstrasi umum yang gegap-gempita, melawan perintah-perintah polisi, sehingga diseret di muka hakim, dilemparkan ke dalam penjara. Di dalam penjara itupun mereka beraksi terus dengan mengadakan pemogokan makan. Pemogokan-pemogokan makan ini menggoncangkan opini publik di seluruh dunia, menggetarkan perasaan-perasaan pro dan kontra sehebat-hebatnya. Terutama sekali 164<noinclude>{{rh|||164}}</noinclude> hshnmt80tcqmv6jsk4pxx4url8b5kyi Halaman:Sarinah.pdf/165 104 96247 268268 2026-04-23T04:50:45Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268268 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>partai feminis yang bernama “Women’s social and political Union” -lebih terkenal lagi dengan nama partai '''suffragettes'''-, sangat tajam dalam ucapan-ucapannya dan tindakan-tindakannya. Partai suffragettes inilah yang paling sering bertabrakan dengan polisi, paling banyak pemimpinnya diseret di muka hakim, paling banyak mengalami hukuman penjara. Nama-nama '''Emmeline Pankhurst''', dan tiga anak-puterinya: '''Christabel Pankhurst, Sylvia Pankhurst, Adele Pankhurst,''' serta pula '''Mrs. Fawcett''' dan '''Mrs. Despard,''' tidak asing lagi bagi khalayak umum dan ... hakim kriminil. Emmeline Pankhurst pernah dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, karena mencoba membakar rumah menteri Lloyd George, yang menolak tuntutan-tuntutan kaum suffragettes itu! Dengarkanlah cerita Dr. Aletta Jacobs (seorang feminis Belanda) tatkala menceritakan pergerakan feminis suffragette itu: “Pada hari Sabtu 9 Pebruari 1907 diadakan satu arak-arakan besar, tetapi tenang, oleh beribu-ribu wanita dari segala lapisan masyarakat. Wanita-wanita dari lapisan yang berdekatan dengan keluarga raja, dari lapisan yang berdekatan dengan pemerintah, -wanita-wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk pekerjaan sosial-, wanita-wanita ini berjalan bersama-sama dengan wanita-wanita yang seumur hidupnya bekerja berat serta menderita kemiskinan. Tenang dan tenteram, dengan tidak merusak keamanan, wanita-wanita ini berjalan melalui jalan-jalan London yang berlumpur, dengan memikul tulisan-tulisan yang menunjukkan kepada pemerintah, bahwa wanita-wanita dari tingkatan masyarakat yang paling tinggi sampai tingkatan masyarakat yang paling rendah semuanya menuntut adanya hak perwakilan ... Sesudah arak-arakan ini berakhir, maka pada hari Rebo 13 Pebruari 1907 diadakan pula arak-arakan oleh “Women’s social and political Union” yang lebih terkenal dengan nama suffragettes. Di bawah pimpinan Nyonya Despard yang tua tetapi angker itu, 800 wanita menuju kegedung parlemen, untuk menyerahkan kepada pemerintah satu resolusi yang menuntut hak perwakilan wanita. Di dalam perkelahian yang terjadi karena arak-arakan ini, banyak sekali perempuan yang luka. Dan 57 perempuan ditangkap oleh polisi. Itu malam, banyak sekali surat-surat kabar besar 165<noinclude>{{rh|||165}}</noinclude> 5sox34bv30zc0pa4yu3mxc3esv9jkw6 Halaman:Sarinah.pdf/166 104 96248 268269 2026-04-23T04:55:29Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268269 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>keluar hingga tiga kali, dengan nomor-nomor ekstra. Dari hal itu dapat kita kenangkan, betapa hebatnya kejadian itu”. Demikianlah salah satu gambaran keuletan wanita Inggeris. Bermacam-macamlah cara protes mereka terhadap keadaan-keadaan yang merendahkan kedudukan wanita. Hal-hal yang dilarang oleh hukum, tidak segan-segan mereka jalankan, asal untuk kepentingan derajat wanita. Tadi telah saya ceritakan, bahwa Emmeline Pankhurst mencoba membakar rumah Lloyd George. Sering kali kaum feminis itu mencuri gambar-gambar lukisan dari dalam musium National Gallery, kalau gambar-gambar itu dianggapnya menghina sekse wanita. Pernah buat beberapa waktu National Gallery itu ditutup buat semua wanita yang datangnya tidak dibarengi seorang laki-laki yang baik nama. Sylvia Pankhurst pernah mengadakan pemogokan duduk, -sitdown-staking-, di tangga gedung parlemen untuk memaksa anggota-anggota parlemen itu supaya meluluskan tuntutan hak pemilihan wanita, berhari-hari lamanya, dengan tidak makan, tidak minum, tidak mengindahkan polisi yang hendak mengusir kepadanya, dengan tekad lebih baik mati daripada takluk dalam perjoangan. Tetapi fihak laki-laki pun berkeras kepala! Mereka di Inggeris seperti berhati batu. Padahal di Australia pergerakan feminisme sudah lebih dulu mendapat kemenangan: di sana sejak permulaan abad kedua puluh telah diadakan hak-perwakilan wanita yang terbatas, -terbatas kepada wanita-wanita atasan saja. Dan pada tanggal 12 Nopember 1910 parlemen Australia merasa perlu menerima baik satu pernyataan, bahwa hak perwakilan wanita itu tidak merugikan kepada parlemen dan balai-balai kota, tetapi sebaliknya memanfaatkan! Kaum wanita ternyata rajin, -lebih rajin daripada kaum laki-laki! Sebab, di Australia jumlah suara yang dikeluarkan oleh kaum wanita, '''prosentuil''' lebih besar dari pada jumlah suara yang dikeluarkan oleh kaum laki-laki. Oleh karena itu, parlemen Australia mengusulkan kepada parlemen Inggeris, supaya tuntutan kaum feminis itu hendaknya dikabulkanlah saja! Tetapi parlemen Inggeris belum juga mau menurut. Lebih dulu harus datang perang-dunia 1914-1918 yang mengadakan 166<noinclude>{{rh|||166}}</noinclude> 6ouhg6rfdladlhhmy9i8da6vn1zs2la Halaman:Sarinah.pdf/167 104 96249 268270 2026-04-23T05:03:05Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268270 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>perobahan besar dalam kedudukan wanita sebagai produsen masyarakat. Apakah perobahan ini? Puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan milyunan kaum laki-laki terpaksa memanggul bedil dibarisan tentara, dan tempat-tempat di dalam paberik dan di cabang pekerjaan lain-lain yang ditinggalkan oleh mereka itu, harus segera diisi, jangan lama-lama lowong, agar supaya produksi buat garis muka dan garis belakang bertambah besar. Maka pekerjaan yang tadinya dikerjakan oleh tenaga laki-laki itu, kini diserahkan kepada tenaga wanita. Menyopir mobil, menjalankan tram, mengurus pekerjaan pos, merawat orang-orang di rumah sakit, membuat amunisi, mengatur administrasi, menyelenggarakan pembahagian makanan, dan lain-lain sebagai-nya, -semua itu buat sebagian besar, diserahkan kepada wanita. Dan ... dasar kaum suffragette kaum idealis yang bercita-cita! Mereka yang dulunya begitu sengit melawan pemerintah dan melawan lakilaki, kini menjadi pembantu yang paling setia dari pemerintah dan laki-laki dalam marabahaya. Dulu mereka menggembleng senjata untuk menghantam sitadelnya kekolotan bangsa sendiri, kini mereka menggembleng senjata untuk menghancur-leburkan sitadel kebuasan bangsa, musuh. Dan segeralah pemerintah juga menjadi “lunak hati”. Pemerintah berputar huluan. Sebab ternyata kaum wanita di dalam peperangan total menjadi satu tenaga vital, satu tenaga yang tak dapat diabaikan. Ternyata mereka bukan “sekse yang lemah”. Ternyata jika tak ada mereka produksi alat perang tak akan mencukupi keperluan. Ternyata jika tak ada mereka Britania akan patah tenaga di tengah-tengah pertempuran. Ternyata mereka ikut menjadi satu faktor yang menentukan dalam perjoangan mati atau hidupnya negara. Ada keberatan apa lagi untuk meluluskan tuntutan mereka tentang hak perwakilan? Maka hak perwakilan itu diberikan, meskipun dengan terbatas. Perjoangan yang telah lebih satu seperempat abad lamanya, akhirnya mula mencapai kemenangan. Atau lebih tegas lagi: bertambahnya arti perempuan sebagai produsen masyarakat dalam masa peperangan memberi permulaan kemenangan kepada mereka itu. 167<noinclude>{{rh|||167}}</noinclude> 68mdekqah01c8r8s33ugh3kxmm0yqug Halaman:Sarinah.pdf/168 104 96250 268271 2026-04-23T05:07:47Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268271 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>Ya, hak perwakilan yang terbatas, seperti di Australia. Tiap-tiap orang laki-laki dewasa, tua atau muda, pandai atau bodoh, kaya atau miskin, boleh memilih dan dipilih buat parlemen, tetapi perempuan barulah boleh menjalankan hak itu kalau ia sedikit-dikitnya berumur 30 tahun, dan kekayaannya pun harus memenuhi satu syarat minimum pula. Dengan pembatasan ini, hanya 6.000.000 perempuan Inggeris dapat menjalankan hak memilih dan dipilih itu. Tetapi kemenangan sudah mulai tercapai, dan kegembiraan bukan kepalang. Pada. tanggal 9 Desember 1918 kaum wanita mengadakan rapat raksasa digedung Queen’s Hall yang amat luas itu, rapat pemilihan mereka yang pertama. Kecuali gembong-gembong wanita, maka juga berpidato disitu ... Lloyd George! Lloyd George, yang dulu menentang hak pemilihan bagi wanita, -dan yang dulu rumahnya hampir-hampir saja terbakar habis oleh apinya Emmeline Pankhurst! Dengan disambut tampik sorak serta tepuk tangan gegap-gempita dari kalangan hadlirat yang beribu-ribu itu, ia menyatakan kegembiraan hatinya bahwa kaum wanita kini telah mendapat hak perwakilan, serta pula menyampaikan kekagumannya atas jasa wanita di dalam masa peperangan. “Jika tiada bantuan wanita, kita tidak mungkin menang di dalam peperangan ini.” Kalimat ini diucapkannya dengan penuh keyakinan. Demikianlah keadaan di negeri Inggeris. Bagaimana keadaan di negeri-negeri lain? Telah saya ceritakan, bahwa pergerakan wanita tingkatan kedua itu dalam bahagian kedua dari abad kesembilan belas terutama di Inggeris dan di Amerika berkobar lagi. Di negara New York di dalam tahun 1849 adalah satu kejadian yang luar biasa: seorang wanita yang bernama '''Elisabeth Blackwell''' mencapai titel doktor ketabiban. Ini sebenarnya adalah satu kejadian yang menggembirakan, tetapi orang-orang laki-laki Amerika yang “cinta kemerdekaan” itu, menjadi ribut oleh karena kejadian ini! Mereka anggap kejadian itu satu bahaya bagi masjarakat. Perempuan tak pantas menjadi tabib! Sebagai akibat keributan mereka itu, maka sekolah-sekolah tinggi menutupkan pintunya bagi mahasiswa wanita, sehingga di dalam tahun 1857 di seluruh Amerika hanya ada tiga orang tabib perempuan saja. 168<noinclude>{{rh|||168}}</noinclude> 8psonijndybl5f4ucxcxv75mfu8n1z4 Halaman:Sarinah.pdf/158 104 96251 268272 2026-04-23T05:13:32Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268272 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>membaca kitab itu dengan penuh minat. Malah orang menerbitkan salinannya dalam bahasa Perancis dan bahasa Jerman. Di mana-mana ia disambut oleh kaum wanita sebagai obor penunjuk jalan. En toh, ia sebenarnya kurang radikal, jika dibandingkan dengan Condorcet atau Olympe de Gouges. Sebab, benar ia menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, menuntut persamaan hak-hak kewarga negaraan, menyatakan bahwa pada azasnya antara laki-laki dan perempuan tidak boleh ada perbedaan, - tetapi ia masih mengemukakan '''syarat-syarat''' bagi kaum wanita untuk diberi hak-hak warga negara itu: la meminta supaya kaum wanita diberi pendidikan lebih dahulu. Nyata berlainan dengan Condorcet! Sebab Condorcet menuntut supaya wanita segera diberi hak-hak warga negara; ia tidak mau menerima bahwa kebodohan dipakai sebagai alasan untuk tidak memberikan hak-hak warga negara kepada wanita, karena laki-laki pun tidak diperiksa lebih dahulu kecerdasannya sebelum menerima hak-hak itu. Condorcet tidak mengemukakan syarat-syarat; ia berdiri di atas pendirian yang prinsipiil. Tetapi di lain-lain bagian daripada kitab “Vindication of the Rights of Woman” itu, Mary Wollstonecraft benar-benar revolusioner. Bukan saja ia mencela ke-Rajaan, menyerang jiwa tentara, menggasak kaum bangsawan, ia mengeritik juga keadaan ekonomis yang menjadi pokok asalnya kemudlaratan dan kemiskinan di kalangan wanita. Kemudlaratan dan kemiskinan inilah tempat persemaiannya persundalan dan kejahatan. Maka oleh karena itu, ia menuntut supaya wanita itu ekonomis dimerdekakan dari kaum laki-laki. Janganlah wanita itu digantungkan kepada kaum laki-laki dalam urusan nafkah hidupnya. '''“Merdekakanlah wanita mencari makannya sendiri!”''' Inilah kalimat Mary Wollstonecraft yang benar-benar radikal, benar-benar revolusioner. Revolusioner buat zaman itu; revolusioner buat zaman sekarang, revolusioner buat zaman yang akan datang. Revolusioner buat 158<noinclude>{{rh|||158}}</noinclude> nutzi6issk1rxhi8ws3jc5q88j2geus Halaman:Sarinah.pdf/159 104 96252 268273 2026-04-23T05:19:30Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268273 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>semua zaman. Selama wanita ekonomis masih tergantung kepada laki-laki, selama itu maka sosial pun ia akan tetap tergantung kepada laki-laki. “Merdekakanlah wanita mencari makannya sendiri!” Mary Wollstonecraft adalah wanita pertama yang pertama-tama mengeluarkan dalil ini! Ia pun wanita pertama, -barangkali manusia pertama-, yang '''justru untuk menjaga kesusilaan''', menuntut supaya pendidikan pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi jangan dipisahkan dalam sekolah sendiri-sendiri. la menuntut '''ko-edukasi''', satu cara pendidikan pemuda-pemudi bersama-sama, yang sampai sekarang pun masih menjadi pertikaian faham. Dan ia pun wanita pertama, yang menuntut supaya wanita diberi latihan '''olah-raga'''. Sebab hanya wanita yang sehatlah dapat melahirkan anak-anak yang sehat. Hanya rakyat yang sehatlah dapat menjadi bangsa yang kuat. Hanya bilamana wanita sehat badannya dan sehat batinnya, maka wanita dapat memenuhi “panggilan alam” dengan sebaik-baiknya. Justru '''supaya''' wanita dapat memenuhi panggilan alam yang keramat itu, justru '''supaya''' ia dapat bertindak sebagai Ibu yang sejati, yang dari haribaannya akan lahir generasi baru yang sehat badaniah dan rohaniah, justru karena itulah wanita harus diberi hak-hak yang sama dengan laki-laki, dijadikan “warga negara merdeka” sebagai laki-laki, ditempatkan di samping laki-laki dan tidak di belakang laki-laki. Sebagai saya katakan tadi, bukan main kitab Mary Wollstonecraft itu menggoncangkan fikiran umum. la dibicara-kan orang di Inggeris, di Perancis, di Jerman, di negeri-negeri lain. la segera dijadikan bulan-bulanan serangan kaum laki- laki yang tidak setuju kepadanya. la, sebagai Olympe de Gouges, dinamakan sundal, dinamakan perempuan yang telah meleset dari rilnya, digambarkan dalam karikatur sebagai orang-banci yang jelek yang tidak tentu laki-laki tidak tentu perempuan. Padahal ia adalah seorang perempuan yang manis, dan halus budi, seorang perempuan yang dalam arti yang sebaik-baiknya adalah seorang Wanita yang Utama. Tetapi memang sudah kebiasaan sejarah juga, bahwa sesuatu orang yang mengeluarkan faham baru, dicerca, diejek, dimaki, ditertawakan, dihina, mungkin dihukum. Mary Wollstonecraft 159<noinclude>{{rh|||159}}</noinclude> 49tkp96tvlm37ne21xzy2oiqsohrgdx Halaman:Sarinah.pdf/113 104 96253 268274 2026-04-23T05:23:30Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268274 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>datanglah Pemimpin Besar Muhammad memerangi ekses-ekses patriarchat itu. Tetapi beberapa waktu sesudah Muhammad mangkat, datanglah lagi penindasan dan penghinaan. Sampai zaman sekarang, belum lenyap sama sekali pembudakan dan penindas-an itu di beberapa daerah umat Islam, baik di Barat maupun di Timur, di Afrika Tengah maupun di Sentral Asia. Dan dunia yang bukan Keristen dan bukan Islam? Keadaan setali tiga uang. Ekses-ekses patriarchat masih belum terhapus sama sekali. Ya, soal perempuan memang belum selesai, jauh daripada selesai! Ada negeri-negeri yang walaupun sudah berkemajuan tinggi, di situ ekses-ekses patriarchat masih mengamuk dengan cara yang mengerikan hati (Jepang). Ada negeri-negeri yang di situ tadinya ekses-ekses patriarchat luar biasa hebatnya, tetapi oleh karena negara dengan ulet dan saksama membanterasnya, kini sudah banyak kurangnya, meskipun belum lenyap sama sekali (Rusia Timur). Ada negeri-negeri yang di situ sudah banyak perbaikan nasib perempuan, tetapi masih ada soal “retak” atau “scheur” sebagai yang saya ceritakan di muka tadi (Eropa, Amerika). Dan ada pula negeri-negeri yang di situ keadaan perempuan masih saja seperti beberapa ribu tahun yang lalu, tatkala Nabi Ibrahim berjalan di padang pasir. (Hadramaut Dalam, Tibet, dlsb.). Maukah pembaca satu contoh ekses patriarchat di negeri yang sudah berteknik tinggi? Saya tidak mengenal lain contoh yang lebih “jitu” daripada di negeri Jepang. Umumnya orang-orang yang melihat keadaan perempuan di negeri Jepang, -apa lagi yang melihatnya secara pelancongan turis saja-, sangat tertarik oleh “kekulturan” perempuan di sana. Dan memang juga orang-orang yang sudah lama berdiam di Jepang semuanya tertarik oleh “kekulturan” mereka itu. Lafcadio Hearn, O’Conroy, van Kol, Griffis, Lederer, Alice M. Bacon, Weulersse, dan lain-lain pencinta negeri Nippon, semuanya memuji kehalusan dan kekulturan perempuan Jepang. Semua mereka itu umumnya menyebutkan perempuan Jepang “dewi-dewi kebaikan”, “puteri-puteri kehalusan”, -bahasa Belanda: engelen, bahasa Inggeris: angels. Tetapi mereka pun mengetahui sebab-sebab yang lebih dalam, yang menyebabkan 113<noinclude>{{rh|||113}}</noinclude> eycg6xyjquo3qlpj2e1ndenl22zvjm0 Halaman:Sarinah.pdf/114 104 96254 268275 2026-04-23T05:27:27Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268275 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>perempuan-perempuan Jepang itu menjadi dewi-dewi kebaikan dan puteri-puteri kehalusan. Mereka mengatakan, bahwa hidup perempuan Jepang adalah satu “kesedihan” (tragedi), satu “korbanan”, dan bukan sekali-kali satu “puisi’, satu syair, Salah seorang pemimpin Indonesia yang dulu ikut dengan delegasi Islam ke Tokyo menjadi kagum, tatkala ia melihat bahwa orang perempuan Jepang tidak mau duduk di kursi sebelum ia dipersilahkan duduk oleh suaminya yang telah duduk lebih dahulu. Kalau umpamanya saudara ini mengetahui sebab-sebab yang lebih dalam daripada kebaktian ini, kalau ia mengetahui dasar sosial daripada kebaktian ini, -niscaya ia tidak akan kagum, tetapi terharu! Sungguh, amat mengharukan nasib perempuan Nippon itu. Di muka telah saya katakan, bahwa dulu, ratusan tahun yang lalu, sebelum zaman feodal, ia adalah sangat merdeka. Dulu ia memimpin masyarakat, menjadi pemuka ilmu pengetahuan. Dulu ia menjadi pembuat hukum negara, bahkan sepuluh kali ia menjadi Raja Puteri di atas singgasana Negara. Dulu ia dinamakan “semennya masyarakat’, dan Nippon dinamakan “negeri wanita” atau “negeri raja-raja wanita”. Tetapi sekarang! Sekarang ia menurut pendapat salah seorang penulis yang telah berdiam di Nippon puluhan tahun (O’Conroy) tidak lebih dari “benda zaliman suaminya” dan “seorang pengurus-rumah yang tidak bergaji dan alat pelahirkan anak”. Dulu, menurut van Kol, ia tak pernah menekuk lututnya di hadapan orang laki-laki, tetapi sekarang ia harus memandang suaminya itu sebagai “Yang Dipertuan yang wajib ia berhamba dengan segala kehormatan, dan dengan segala pengagungan yang ia bisa berikan kepada-nya” (Weulersse). Sekarang ia tak boleh berjalan di muka sang suami, tetapi harus membuntut di belakang sang suami. Bahasa yang ia pakai terhadap sang suami adalah lain daripada bahasa yang ia pakai terhadap teman-temannya. Bahkan bahasa yang ia pakai terhadap kepada anaknya yang laki-laki, haruslah lain daripada bahasa yang ia pakai terhadap kepada anaknya jang perempuan! . Suaminya pergi melancong, pergi menonton, pergi ke rapat, pergi pelesir dengan sundal-sundal di rumah-rumah “joroya” atau “machiya’, tetapi ia tinggal di rumah, bekerja, bekerja, bekerja. Van Kol pemimpin Belanda yang cinta kepada negeri 114<noinclude>{{rh|||114}}</noinclude> hju8m73q2nf2yhe5ekb9wnbq5y7uxms Halaman:Sarinah.pdf/115 104 96255 268276 2026-04-23T05:31:34Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268276 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>Nippon itu menamakan perempuan Nippon satu “werkdier”, satu “kuda beban yang tiada berhentinya bekerja”. Van Kol pula yang menulis: “Perempuan (Nippon) tidak masuk hitungan. Hanya si “bapa” yang ada; ia (si bapa) adalah pusat segala hal; ia mewakili dan meneruskan keturunan. Perempuan dianggap sebagai boneka saja, tidak sebagai isteri, tidak pun sebagai orang yang dipercaya”. Seorang penulis lain menyebutkan dia “satu milik buat dipakai, satu benda yang musti selalu ada”. Kewajiban hidupnya yang terbesar, “devoir pourla vie”-nya, ialah '''menurut''', -'''menurut''' kehendak sang suami. Demikian Weulersse berkata. Dan seorang penulis Nippon pula, Shingoro Takaishi, mengatakan: “kewajiban orang perempuan yang terbesar, seumur hidup, ialah menurut”, -“the great lifelong duty of a woman is obedience”. Dan cobalah pembaca perhatikan kalimat yang berikut, terambil dari buku Nippon “Pengajaran Besar buat Perempuan”: “Segala apa saja yang diperintahkan suami, harus diturut oleh perempuan dengan penuh ketaatan. Ia musti menengadahkan muka kepada suami, seakan-akan suami itu setinggi langit. Ia musti selalu memikirkan apakah yang dapat menyenangkan hati sang suami. Ia musti bangun pagi-pagi, masuk tidur jauh malam, supaya rumah tangga selalu beres. Adat kita dari zaman dulu ialah bahwa bayi perempuan yang baru lahir, harus diletakkan tiga hari lamanya di atas tanah. Dari adat kita ini ternyata, bahwa laki-laki tinggi seperti langit, dan perempuan rendah seperti tanah”. Pada waktu orang perempuan Nippon menikah, ia harus memakai pakaian yang berwarna putih, sebab bagi orang Nippon warna putih adalah warnanja maut. Simbolik ini berarti, bahwa pada waktu ia menikah, ia telah mati bagi kehendak-kehendak dan keinginan-keinginan sendiri. Orang tuanya pun pada waktu itu membakar api, -membakar api seperti pada waktu kematian salah seorang keluarganya. Ia tinggal hidup bagi Dia yang Satu itu saja, -tinggal hidup bagi Sang Suami. Ia tidak boleh berkata apa-apa, kalau suaminya jauh-jauh malam belum pulang dari pelesir. Ia musti menunggu dengan 115<noinclude>{{rh|||115}}</noinclude> 4ks7v5wh6ldenk7n4yh7s6sc1junom4 Halaman:Sarinah.pdf/134 104 96256 268277 2026-04-23T05:39:22Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268277 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>Sebelum silamnya abad kedelapan belas, mereka sudah mulai bergerak. Yang paling dahulu ialah kaum perempuan Amerika. Di bawah pimpinan '''Mercy Otis Waren''' (dan juga '''Abigail Smith Adams'''), mereka berjoang. Di dalam tahun 1776, tatkala Amerika telah terlepas dari Inggeris dan hendak menyusun Undang-Undang Dasar sendiri, mereka menuntut supaya hak perempuan diakui pula. Mereka menuntut supaya perempuan dibolehkan ikut memilih anggota parlemen dan ikut menjadi anggota parlemen; supaya perempuan dibolehkan memasuki semua macam sekolahan; supaya Undang-undang yang sedang disusun itu benar-benar satu Undang-undang Dasar yang demokratis antara laki-laki dan perempuan. Aksi perempuan Amerika ini berpengaruh besar atas ideologi kaum perempuan di Eropah. Terutama sekali di Perancis dan Inggeris sambutan hangat sekali. Di dalam Revolusi Perancis yang besar itu, yang meledaknya memang sesudah Revolusi Amerika, mulai bergeraklah perempuan Perancis menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki. '''Madame Roland''' (pemimpin kaum perempuan atasan), '''Olympede Gouges, Rose Lacombe, Theroigne de Mericourt''', (pemimpin-pemimpin kaum perempuan bawahan), membakar hati pengikut-pengikutnya. Dengan gagah-berani, tidak takut maut, mereka menuntut persamaan hak itu. Dengan gagah berani mereka organisatoris mendirikan '''perserikatan-perserikatan wanita''', barangkali organisasi-organisasi wanita yang pertama di dalam sejarah kemanusiaan!-, yang anggotanya bukan berjumlah puluhan atau ratusan orang, tetapi ribuan orang! Boleh dikatakan merekalah yang mulamula benar-benar mengorganisir '''aksi perlawanan wanita''', mengorganisir '''gerakan perlawanan wanita''', yang tidak lagi meminta-minta. Korban yang mereka berikan susah dicari taranya di dalam sejarah wanita. Ratusan dari mereka memberikan darahnya dan memberikan jiwanya. Pemimpin mereka yang ulung, Olympe de Gouges, singa betina Revolusi Perancis, bersama dengan mereka dipenggal batang-lehernya oleh fihak laki-laki, di bawah guilyotin. Pengorbanan-pengorbanan mereka itu membuktikan elan revolusioner yang 134<noinclude>{{rh|||134}}</noinclude> oyye267a9exozzcq00uksn9dtyedt3n 268278 268277 2026-04-23T05:40:10Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268278 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>Sebelum silamnya abad kedelapan belas, mereka sudah mulai bergerak. Yang paling dahulu ialah kaum perempuan Amerika. Di bawah pimpinan '''Mercy Otis Waren''' (dan juga '''Abigail Smith Adams''' ), mereka berjoang. Di dalam tahun 1776, tatkala Amerika telah terlepas dari Inggeris dan hendak menyusun Undang-Undang Dasar sendiri, mereka menuntut supaya hak perempuan diakui pula. Mereka menuntut supaya perempuan dibolehkan ikut memilih anggota parlemen dan ikut menjadi anggota parlemen; supaya perempuan dibolehkan memasuki semua macam sekolahan; supaya Undang-undang yang sedang disusun itu benar-benar satu Undang-undang Dasar yang demokratis antara laki-laki dan perempuan. Aksi perempuan Amerika ini berpengaruh besar atas ideologi kaum perempuan di Eropah. Terutama sekali di Perancis dan Inggeris sambutan hangat sekali. Di dalam Revolusi Perancis yang besar itu, yang meledaknya memang sesudah Revolusi Amerika, mulai bergeraklah perempuan Perancis menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki. '''Madame Roland''' (pemimpin kaum perempuan atasan), '''Olympede Gouges, Rose Lacombe, Theroigne de Mericourt''', (pemimpin-pemimpin kaum perempuan bawahan), membakar hati pengikut-pengikutnya. Dengan gagah-berani, tidak takut maut, mereka menuntut persamaan hak itu. Dengan gagah berani mereka organisatoris mendirikan '''perserikatan-perserikatan wanita''', barangkali organisasi-organisasi wanita yang pertama di dalam sejarah kemanusiaan!-, yang anggotanya bukan berjumlah puluhan atau ratusan orang, tetapi ribuan orang! Boleh dikatakan merekalah yang mulamula benar-benar mengorganisir '''aksi perlawanan wanita''', mengorganisir '''gerakan perlawanan wanita''', yang tidak lagi meminta-minta. Korban yang mereka berikan susah dicari taranya di dalam sejarah wanita. Ratusan dari mereka memberikan darahnya dan memberikan jiwanya. Pemimpin mereka yang ulung, Olympe de Gouges, singa betina Revolusi Perancis, bersama dengan mereka dipenggal batang-lehernya oleh fihak laki-laki, di bawah guilyotin. Pengorbanan-pengorbanan mereka itu membuktikan elan revolusioner yang 134<noinclude>{{rh|||134}}</noinclude> n6sv0erw4gw331xedvdarbuet5agqyp 268279 268278 2026-04-23T05:40:50Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268279 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>Sebelum silamnya abad kedelapan belas, mereka sudah mulai bergerak. Yang paling dahulu ialah kaum perempuan Amerika. Di bawah pimpinan '''Mercy Otis Waren''' (dan juga '''Abigail Smith Adams''' ), mereka berjoang. Di dalam tahun 1776, tatkala Amerika telah terlepas dari Inggeris dan hendak menyusun Undang-Undang Dasar sendiri, mereka menuntut supaya hak perempuan diakui pula. Mereka menuntut supaya perempuan dibolehkan ikut memilih anggota parlemen dan ikut menjadi anggota parlemen; supaya perempuan dibolehkan memasuki semua macam sekolahan; supaya Undang-undang yang sedang disusun itu benar-benar satu Undang-undang Dasar yang demokratis antara laki-laki dan perempuan. Aksi perempuan Amerika ini berpengaruh besar atas ideologi kaum perempuan di Eropah. Terutama sekali di Perancis dan Inggeris sambutan hangat sekali. Di dalam Revolusi Perancis yang besar itu, yang meledaknya memang sesudah Revolusi Amerika, mulai bergeraklah perempuan Perancis menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki. '''Madame Roland''' (pemimpin kaum perempuan atasan), '''Olympede Gouges, Rose Lacombe, Theroigne de Mericourt''', (pemimpin-pemimpin kaum perempuan bawahan), membakar hati pengikut-pengikutnya. Dengan gagah-berani, tidak takut maut, mereka menuntut persamaan hak itu. Dengan gagah berani mereka organisatoris mendirikan '''perserikatan-perserikatan wanita''', barangkali organisasi-organisasi wanita yang pertama di dalam sejarah kemanusiaan!-, yang anggotanya bukan berjumlah puluhan atau ratusan orang, tetapi ribuan orang! Boleh dikatakan merekalah yang mulamula benar-benar mengorganisir '''aksi perlawanan wanita''', mengorganisir '''gerakan perlawanan wanita''', yang tidak lagi meminta-minta. Korban yang mereka berikan susah dicari taranya di dalam sejarah wanita. Ratusan dari mereka memberikan darahnya dan memberikan jiwanya. Pemimpin mereka yang ulung, Olympe de Gouges, singa betina Revolusi Perancis, bersama dengan mereka dipenggal batang-lehernya oleh fihak laki-laki, di bawah guilyotin. Pengorbanan-pengorbanan mereka itu membuktikan elan revolusioner yang 134<noinclude>{{rh|||134}}</noinclude> p3952wo6gr1hd3zh66jmzeuhnwq87ve 268280 268279 2026-04-23T05:41:33Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268280 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>Sebelum silamnya abad kedelapan belas, mereka sudah mulai bergerak. Yang paling dahulu ialah kaum perempuan Amerika. Di bawah pimpinan '''Mercy Otis Waren''' (dan juga '''Abigail Smith Adams'''), mereka berjoang. Di dalam tahun 1776, tatkala Amerika telah terlepas dari Inggeris dan hendak menyusun Undang-Undang Dasar sendiri, mereka menuntut supaya hak perempuan diakui pula. Mereka menuntut supaya perempuan dibolehkan ikut memilih anggota parlemen dan ikut menjadi anggota parlemen; supaya perempuan dibolehkan memasuki semua macam sekolahan; supaya Undang-undang yang sedang disusun itu benar-benar satu Undang-undang Dasar yang demokratis antara laki-laki dan perempuan. Aksi perempuan Amerika ini berpengaruh besar atas ideologi kaum perempuan di Eropah. Terutama sekali di Perancis dan Inggeris sambutan hangat sekali. Di dalam Revolusi Perancis yang besar itu, yang meledaknya memang sesudah Revolusi Amerika, mulai bergeraklah perempuan Perancis menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki. '''Madame Roland''' (pemimpin kaum perempuan atasan), '''Olympede Gouges, Rose Lacombe, Theroigne de Mericourt''', (pemimpin-pemimpin kaum perempuan bawahan), membakar hati pengikut-pengikutnya. Dengan gagah-berani, tidak takut maut, mereka menuntut persamaan hak itu. Dengan gagah berani mereka organisatoris mendirikan '''perserikatan-perserikatan wanita''', barangkali organisasi-organisasi wanita yang pertama di dalam sejarah kemanusiaan!-, yang anggotanya bukan berjumlah puluhan atau ratusan orang, tetapi ribuan orang! Boleh dikatakan merekalah yang mulamula benar-benar mengorganisir '''aksi perlawanan wanita''', mengorganisir '''gerakan perlawanan wanita''', yang tidak lagi meminta-minta. Korban yang mereka berikan susah dicari taranya di dalam sejarah wanita. Ratusan dari mereka memberikan darahnya dan memberikan jiwanya. Pemimpin mereka yang ulung, Olympe de Gouges, singa betina Revolusi Perancis, bersama dengan mereka dipenggal batang-lehernya oleh fihak laki-laki, di bawah guilyotin. Pengorbanan-pengorbanan mereka itu membuktikan elan revolusioner yang 134<noinclude>{{rh|||134}}</noinclude> hon0ca8a2vufs7tztum4sy9gi5zkd7m Halaman:Sarinah.pdf/135 104 96257 268281 2026-04-23T05:46:50Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268281 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>maha-hebat di pihak wanita, tetapi pengorbanan-pengorbanan itu membuktikan pula, bahwa pada waktu itu fihak laki-laki mati-matian pula '''tidak mau''' memberikan persamaan hak kepada kaum wanita, -mati-matian '''tidak mau''' melepaskan kedudukan laki-laki '''di atas''' kaum wanita. Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Emerson bahwa “tiada korban yang tersia-sia”, maka pengorbanan-pengorbanan kaum wanita Perancis itu pun tidak tersia-sia. Pengorbanan mereka itu malah pantas tercatat dengan aksara emas bukan saja di dalam kitab sejarah perjoangan wanita, tetapi juga di dalam kitab sejarah evolusi kemanusiaan. Bukan hilang percuma pengorbanan-pengorbanan itu, terbuang hilang dalam kabutnya sejarah, tetapi api semangatnya mencetus ke dalam kalbu ideologinya perempuan-perempuan di negeri lain, Malah belum pula Revolusi Perancis itu berakhir, sudahlah pekik perjoangan Madame Roland dan Olympe de Gouges itu disambut oleh '''Mary Wollstonecraft''' di negeri Inggeris, yang dalam tahun 1792 menerbitkan bukunya yang bernam “Vindication of the Rights of Woman” (“Pembelaan hak-hak kaum wanita”). Dengan Mary Wollstonecraft mulailah kaum perempuan Inggeris memasuki gelanggang perjoangan menuntut hak-hak wanita. Dan faham-faham yang disebarkan oleh pemimpin-pemimpin wanita yang saya sebut namanya itu, -dibantu oleh sokongan beberapa orang pemimpin laki-laki seperti misalnya '''Condorcet''' di Perancis-, faham-faham mereka itu menjadi tetap tuntutan seluruh pergerakan perempuan “tingkatan kedua” di pelbagai negara, sampai kepada silamnya abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh. Umumnya tingkatan kedua ini terkenal dengan nama pergerakan '''feminisme'''. Persamaan hak dengan kaum laki-laki, dan terutama sekali hak memasuki segala macam pekerjaan masyarakat, persamaan hak itulah menjadi pokok tuntutannya. Dan oleh karena tuntutan hak memasuki segala macam pekerjaan itu terutama sekali datang dari golongan wanita '''atasan''' dan '''pertengahan''', maka pergerakan feminisme itu terutama sekali adalah satu pergerakan “kasta pertengahan” pula, -satu pergerakan burjuis, dan bukan satu 135<noinclude>{{rh|||135}}</noinclude> 4oss80ywyt3b5h7ivu075ctgxedze5z Halaman:Sarinah.pdf/136 104 96258 268282 2026-04-23T05:51:10Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268282 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>pergerakan yang pengikutnya kebanyakan dari kalangan rakyat-jelata. Sebab, sekali pun perempuan-perempuan rakyat jelata '''juga''' tidak senang bahwa banyak hak-hak dimonopoli oleh kaum laki-laki, dan '''juga''' berpendapat bahwa hak-hak itu harus direbut dan dituntut, maka toh “isi” tuntutan mereka itu ada '''lain''' daripada tuntutan perempuan atasan atau pertengahan. Apa sebab kaum wanita atasan dan pertengahan menuntut hak memasuki segala macam pekerjaan? Sebabnya harus dicari dalam akibat industrialisme. Industrialisme melahirkan produksi barang-barang dagangan. Barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari, yang dulu harus dibuat oleh wanita sendiri di rumah, sekarang dapat dibeli di toko-toko dengan murah, dan kwalitasnya pun lebih baik. Oleh karena itu, maka pekerjaan di rumah tangga menjadi makin kurang. Apa yang harus dikerjakan oleh wanita atasan dan pertengahan sekarang untuk mengisi waktu? Bekerja di kantor tak boleh, di lapangan politik tak boleh, di lapangan kemasyarakatan lain pun tak boleh. Adat tidak membolehkannya, dan fihak laki- laki pun memang tidak mau mendapat persaingan wanita. Oleh karena itulah, maka pokok-tuntutan wanita atasan dan pertengahan ialah: hak bekerja! Hak memasuki segala pekerjaan, yang akan membawa mereka keluar dari kurungan rumah, di mana mereka merasa diri hampir beku karena menganggur. Hampir beku karena “verveling”! Rasanya mereka akan puas, kalau mereka dibolehkan ikut masuk ke dalam masyarakat, dibolehkan ikut mengerjakan “pekerjaan masyarakat”, -di luar dari suasana kebekuan itu, “Pekerjaan rumah tangga” yang tinggal sedikit-sedikit itu, toh dapat mereka suruh kerjakan oleh pegawai dan pembantu, oleh si bujang dan si genduk. Mereka cukup uang untuk menggaji pelayan-pelayan itu. Tetapi bagaimana dengan perempuan dari kalangan rakyat-jelata? Hak bekerja sebenarnya '''sudah ada''' di tangan mereka, -'''sampahnya''' hak bekerja! Sejak timbulnya industrialisme, mereka telah berduyun-duyun masuk paberik-paberik dan perusahaan-perusahaan, menjualkan tenaga bekerja-nya 136<noinclude>{{rh|||136}}</noinclude> pn4xdou3rw9ululni9flqnvihi7nkw5 Halaman:Sarinah.pdf/137 104 96259 268283 2026-04-23T05:58:58Z F4hroro 26348 /* Telah diuji baca */ 268283 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="F4hroro" /></noinclude>kepada majikan-majikan pelbagai macam. Sejak timbulnya industrialisme itu, mereka telah terlepas dari kurungan rumah tangga, telah menceburkan diri dalam masyarakat sebagai kuli, sebagai budak, sebagai “proletar”. Sejak timbulnya industrial-isme itu mereka tiap-tiap hari malah lebih lama bertinggal di paberik daripada di samping api-dapur. Sejak timbulnya industri-alisme itu mereka malah melihat anak- anaknya hanya pada waktu malam saja, sesudah matahari terbenam, -sepulang mereka dari pekerjaan. Hak bekerja sudah ada pada mereka, -hanya “permanusiaannya” pekerjaan itu. yang belum ada pada mereka! Permanusiaannya pekerjaan, yang membuat pekerjaan itu) menjadi satu '''kebahagiaan''', satu '''pengangkatan jiwa''', satu '''pemerdeka''', satu '''pembebasan''', dan bukan satu) cambuk pedih yang membongkokkan tulang punggung, satu labrakan yang melabrak mereka dari saat fajar menyingsing sampai liwat petang hari. Permanusiaannya pekerjaan, yang memberi jaminan bahwa pekerjaan di dalam paberik itu tidak boleh lebih lama daripada delapan sembilan jam sehari. Permanusiaannya pekerjaan, yang membuka pintu ketingkat- tingkat yang lebih mulia, dan bukan hanya pekerjaan yang semacam sampah, yang tiap-tiap waktu dapat dibuang: Permanusiaannya pekerjaan, yang memberi juga hak-hak kepada mereka sebagai manusia dan sebagai warga-negara, yaitu hak-hak yang setingkat dengan hak-hak manusia laki- laki dan hak-hak warga negara laki-laki. Permanusiaannya pekerjaan, yang dapat memberi kepuasan kepada mereka sebagai produsen masyarakat '''dan''' sebagai ibu dan isteri di dalam rumah, permanusiaannya pekerjaan, yang menutup “retak” (scheur) di dalam jiwa mereka, sebagai yang telah saya uraikan dibab III buku ini. Maka inilah menjadi sebab, yang kaum perempuan bawahan itu akhirnya tidak puas dengan tuntutan-tuntutan feminisme '''saja'''. Ya, benar, juga mereka, kaum perempuan bawahan, hendak merebut persamaan hak dengan laki-laki, juga mereka hendak merebut hak memilih dan dipilih buat parlemen atau dewan-dewan lain, juga mereka hendak merebut hak memasuki semua macam pekerjaan di masyarakat yang sekarang masih banyak dimonopoli oleh laki-laki itu. Tidakkah, menurut perkataan salah seorang pemimpin 137<noinclude>{{rh|||137}}</noinclude> jnhjthvtmwocll06jafj5icp90n3rzh Halaman:045 Indrapura.djvu/4 104 96260 268284 2026-04-23T07:05:01Z On Risanti 23075 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{multicol}} 257/<br> 258. anak<br> 261. anak laki laki<br> 262. anak padoesie<br> 263. nènèg, andoeng 264. nènèg andoeng 265. pojang 266. pojang 267. nènèg pojang 268. soedara kandoeng laki laki 269. soedara kandoeng padoesie 270/ 271. kakag 272/ 273. adig 274. tjoet joeng 275. bapag 276. mamag 277/ 279. bapag toewå, mamak toewå 278/ 280. bapag moedå, mamak moedå 283- 286. mag 290/ 295. <11> {{multicol-break}} 330. isi negeri 331. toekang těnoe... 268284 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="On Risanti" /></noinclude>{{multicol}} 257/<br> 258. anak<br> 261. anak laki laki<br> 262. anak padoesie<br> 263. nènèg, andoeng 264. nènèg andoeng 265. pojang 266. pojang 267. nènèg pojang 268. soedara kandoeng laki laki 269. soedara kandoeng padoesie 270/ 271. kakag 272/ 273. adig 274. tjoet joeng 275. bapag 276. mamag 277/ 279. bapag toewå, mamak toewå 278/ 280. bapag moedå, mamak moedå 283- 286. mag 290/ 295. <11> {{multicol-break}} 330. isi negeri 331. toekang těnoeng 332. azimat 335. kitab 336. soerat koraän. 337. gambaran berhalå 338. alamat 339. hantoe 341. hantoe 342. hantoe <12> 343/ 344. njawa 345. Allah <13> 346. agamå 347. menjambah 351. soeratan 352. hoeroef 353. kertas 354. soerat 355. kitab, boekoe 356. tjěrita, chabar 357. hikajat 358. sair 359. lagoe 299. minantoe 300. minantoe 302/ 303. anak tirih 304. bapag tirih 305. anak angkat (angkè) 306- 309. bampajan 310. ipar 311- 314. ipar padoesie 315. bersanag 316. tidak bersanag 317. laki 318. bini 326. negeri 327. kota 328. iboe kampong 329. pondok, tandjong 360. langit 361. narakå 362. petalå boemi 363. petalå boemi 364. petala langit 365. boemi poetrå <14> 366. achirat 367. kebadjikan, boeat kebaikan 368. doså, berdoså 369. haram 370. larangan 371. Imam 372. Imam prampoean 374. mesigit, klènteng <15> 375. tampat jang soetji 376. dibawah perentah 377. roemah bitjara 378. radja {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> d79a43p9wm5dlvcb5re2wfxs14ytufc Indeks:050 Nusa Laut.djvu 102 96261 268288 2026-04-23T11:58:37Z Thersetya2021 15831 ←Membuat halaman berisi '' 268288 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Type=book |wikidata_item= |Title=050 Nusa Laut |Subtitle= |Language=id |Volume= |Edition= |Author=Karel Frederik Holle |Co-author1= |Co-author2= |Co-author3= |Translator= |Co-translator1= |Co-translator2= |Editor=Stokhof, W. A. L. |Co-editor1= |Co-editor2= |Illustrator= |Publisher= |Address= |Printer= |Year=1985 |Key= |ISBN= |Source=djvu |Image=1 |Progress=X |Pages=<pagelist /> |Volumes= |Remarks= |Notes= |Header= |Footer= }} lfjbd6gmarbeeufeo3hs6ksjm6ifobj