Wikisumber idwikisource https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.47.0-wmf.1 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikisumber Pembicaraan Wikisumber Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Pengarang Pembicaraan Pengarang Indeks Pembicaraan Indeks Halaman Pembicaraan Halaman Portal Pembicaraan Portal TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Wikisumber:Warung kopi 4 49 290818 290439 2026-05-10T12:07:56Z Mnam23 12152 /* Templat pemformatan undang-undang */ Balas 290818 wikitext text/x-wiki {{process header |title=Warung kopi |previous=[[Wikisource:Indeks/Komunitas|Halaman komunitas]] |next=[[Wikisource:Warung kopi/Arsip|Arsip]]/[[Wikisource:Warung kopi/Pesan global|Pesan global]] }} {{introkopi}} == Apa konten seperti ini layak di Wikisource? == * [[Manifesto Partai Gerakan Perubahan]] * [[Manuskrip Partai Gerakan Perubahan]] * [[11 Pilar Demokrasi - Partai Gerakan Perubahan]] * [[14 Prinsip Demokrasi - Partai Gerakan Perubahan]] * [[Manifesto Perjuangan Partai Gerakan Indonesia Raya]] Mohon untuk memberikan komentar. --[[Pengguna:Empat Tilda|Empat Tilda]] ([[Pembicaraan Pengguna:Empat Tilda|bicara]]) 4 Januari 2026 16.38 (UTC) :Menimbang [[Wikisumber:Kebijakan hak cipta|kebijakan hak cipta]] dan [[Wikisumber:Kebijakan inklusi]] yang masih belum lengkap, saya izin berpendapat menggunakan versi Inggris baik untuk [[:en:Wikisource:Copyright policy|kebijakan hak cipta]] maupun [[:en:Wikisource:What Wikisource includes|kebijakan inklusi]] tersebut. :'''Sudut pandang kebijakan hak cipta''' :Secara garis besar, Wikisource bahkan tidak menerima penggunaan wajar (fair use). Wikisource menghendaki bebas hak cipta, entah itu dilepas dengan lisensi CC BY-SA maupun sudah berada dalam domain publik. Wikisource sendiri peladennya berada di Amerika Serikat yang mematuhi perundang-undangan di sana, tetapi karena menggunakan bahasa Indonesia, saya merasa undang-undang Indonesia juga berlaku. :Di Indonesia, undang-undang tentang hak cipta adalah [[Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014]]. Berikut pandangan saya: Pasal 43 "Perbuatan yang tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta meliputi:" huruf d "pembuatan dan penyebarluasan konten Hak Cipta melalui media teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat tidak komersial dan/atau menguntungkan Pencipta atau pihak terkait, atau Pencipta tersebut menyatakan tidak keberatan atas pembuatan dan penyebarluasan tersebut." :Melalui ini, harus ada pernyataan tertulis dari pihak terkait atas tidak keberatan akan penyebarluasan tersebut. Bagaimana caranya? Untuk ini, saya belum memikirkan. :'''Sudut pandang kebijakan inklusi''' :Konten bebas dinyatakan memerlukan "atribusi" dan "memperbolehkan karya turunan". Kalau diterjemahkan ke lisensi Creative Commons, maka akan menjadi CC BY, CC BY-SA, dan CC0. :Meski secara otomatis segala konten di dalam Wikisource dilepas dalam lisensi CC BY-SA, lagi-lagi, alangkah baiknya ada pernyataan tertulis dari pihak terkait bahwa mereka berkenan atas hal itu. :Situs web resmi dari pihak terkait <u>tidak menyatakan teks mereka dilepas dalam lisensi tersebut</u>, sehingga alih-alih masuk Pasal 43 huruf d UU 28/2014, saya rasa rawan masuk Pasal 40 Ayat (1) huruf a yang dilindungi Pasal 58 Ayat (1) dan pidananya sudah ditentukan Pasal 113. :Demikian pendapat saya. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 5 Januari 2026 10.39 (UTC) ::berarti dapat disimpulkan bahwa konten tersebut menyalahi aturan hak cipta kan mas? di sisi lain pembuat juga tidak menyebutkan pencipta dan sumbernya. ::terimakasih atas komentarnya. @[[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] [[Pengguna:Empat Tilda|Empat Tilda]] ([[Pembicaraan Pengguna:Empat Tilda|bicara]]) 13 Januari 2026 16.17 (UTC) :Saya setuju dengan [[Wikisumber:Warung_kopi#c-Mnam23-20260105103900-Empat_Tilda-20260104163800|komentar]] bung @[[Pengguna:Mnam23|Mnam23]]. Sejujurnya, saya belum melihat pernyataan bahwa naskah-naskah di atas adalah naskah yang memiliki lisensi yang sesuai dengan Wikisumber. Kontributornya pun hanya akun sementara. Artinya, sepertinya naskah tidak (atau setidaknya belum) layak masuk Wikisumber. Terima kasih —[[Pengguna:NikolasKHF|NikolasKHF]] ([[Pembicaraan Pengguna:NikolasKHF|🗪]]) 14 Januari 2026 06.36 (UTC) == Terjemahan Al-Qur'an == Berkaca dari [[:en:Qur'an]] dan contoh [[:en:The Holy Qur'an (Maulana Muhammad Ali)/1. The Opening]], saya merasa naskah [[Al-Qur'an]] di Wikisumber perlu penyesuaian. Terjemahan yang sudah ada menurut saya bersumber dari edisi 1971 dan sudah saya unggah indeksnya di Wikisumber. Terjemahan terkini dari edisi 2019 juga saya unggah. Saya pun menyiapkan {{tl|Parallel}} untuk memudahkan nantinya. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 5 Januari 2026 12.58 (UTC) :Terima kasih bung @[[Pengguna:Mnam23|Mnam23]]. Saya rasa apa yang bung lakukan sangat baik. Untuk judul di Wikisumber, apakah menurut bung lebih baik judul pada halaman transklusi ditambahkan tahun untuk memastikan pembaca tahu perbedaan tahun terbit naskah? Misalnya, [[Al Qur'an dan Terjemahnya|Al Qur'an dan Terjemahnya (edisi 1971)]] dan [[Al-Qur'an dan Terjemahannya|Al Qur'an dan Terjemahannya (edisi 2019)]]. Terima kasih sebelumnya —[[Pengguna:NikolasKHF|NikolasKHF]] ([[Pembicaraan Pengguna:NikolasKHF|🗪]]) 14 Januari 2026 06.29 (UTC) ::Waduh. Kasus pertama beda judul beda edisi nih. Setuju, tapi tanpa kata "edisi". Penamaannya samakan seperti [[Sengsara Membawa Nikmat]] saja. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 14 Januari 2026 06.51 (UTC) :::Baik, setuju. Untuk yg pertama, apakah ada kemungkinan salah ketik pada naskah? Atau kita biarkan saja judulnya seperti sekarang (tanpa -an pada "terjemahnya" dan tidak tanbahkan tahun)? —[[Pengguna:NikolasKHF|NikolasKHF]] ([[Pembicaraan Pengguna:NikolasKHF|🗪]]) 14 Januari 2026 06.59 (UTC) ::::Nah itu sih, jadi alasan saya. Kenapa tidak dikasih tahun? Ya, karena judulnya sendiri beda. Untuk yang pertama memang dari sumbernya pakai "Terjemahnya". [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 14 Januari 2026 08.24 (UTC) :::::Baik, paham. Untuk selanjutnya, kalau judulnya sama baru kita tambahkan tahun, ya? —[[Pengguna:NikolasKHF|NikolasKHF]] ([[Pembicaraan Pengguna:NikolasKHF|🗪]]) 14 Januari 2026 08.30 (UTC) ::::::Betul. [[Bantuan:Disambiguasi]] sebenarnya bisa diberi contoh kasus, tapi di Wikisumber Indonesia masih terbatas. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 14 Januari 2026 13.06 (UTC) == [[KUHP]] dan [[KUHAP]] versi baru == To-do list: https://nasional.kompas.com/read/2026/01/02/06344221/kuhap-dan-kuhp-versi-terbaru-berlaku-perdana-hari-ini * KUHP: [[Indeks:UU 1 2023.pdf]] * KUHAP: https://jdih.setneg.go.id/downloadFile/Salinan%20UU%20Nomor%2020%20Tahun%202025.pdf (belum diunggah ke Commons) <small><br />[[Pembicaraan Pengguna:Bennylin|&#x2712;]] [[Pengguna:Bennylin|Bennylin]]</small> 10 Januari 2026 21.08 (UTC) :Juga UU 1/2026 tentang Penyesuaian Pidana, yang bisa dimasukkan di Konsolidasi UU 1/2023. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 11 Januari 2026 00.05 (UTC) ::Sudah saya unggah. [[Indeks:UU 20 2025.pdf]] & [[Indeks:UU 1 2026.pdf]]. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 11 Januari 2026 00.22 (UTC) == Thank You for Last Year – Join Wiki Loves Ramadan 2026 == Dear Wikimedia communities, We hope you are doing well, and we wish you a happy New Year. ''Last year, we captured light. This year, we’ll capture legacy.'' In 2025, communities around the world shared the glow of Ramadan nights and the warmth of collective iftars. In 2026, ''Wiki Loves Ramadan'' is expanding, bringing more stories, more cultures, and deeper global connections across Wikimedia projects. We invite you to explore the ''Wiki Loves Ramadan 2026'' [[m:Special:MyLanguage/Wiki Loves Ramadan 2026|Meta page]] to learn how you can participate and [[m:Special:MyLanguage/Wiki Loves Ramadan 2026/Participating communities|sign up]] your community. 📷 ''Photo campaign on '' [[c:Special:MyLanguage/Commons:Wiki Loves Ramadan 2026|Wikimedia Commons]] If you have questions about the project, please refer to the FAQs: * [[m:Special:MyLanguage/Wiki Loves Ramadan/FAQ/|Meta-Wiki]] * [[c:Special:MyLanguage/Commons:Wiki Loves Ramadan/FAQ|Wikimedia Commons]] ''Early registration for updates is now open via the '''[[m:Special:RegisterForEvent/2710|Event page]]''''' ''Stay connected and receive updates:'' * [https://t.me/WikiLovesRamadan Telegram channel] * [https://lists.wikimedia.org/postorius/lists/wikilovesramadan.lists.wikimedia.org/ Mailing list] We look forward to collaborating with you and your community. '''The Wiki Loves Ramadan 2026 Organizing Team''' 16 Januari 2026 19.45 (UTC) <!-- Pesan dikirim oleh Pengguna:ZI Jony@metawiki dengan menggunakan daftar di https://meta.wikimedia.org/w/index.php?title=Distribution_list/Non-Technical_Village_Pumps_distribution_list&oldid=29879549 --> == Pengalihan == Jujur, saya senang dengan kontribusi terkini dari OrophinBot. Akan tetapi, andai bisa juga membantu dalam beberapa hal. Seperti memudahkan suntingan-suntingan [https://id.wikisource.org/w/index.php?title=Wikisumber:Kompetisi_Wikisource_2025/Daftar_buku&oldid=259741 259741], [https://id.wikisource.org/w/index.php?title=Indeks:Menggunakan_Wikipedia_dalam_Pembelajaran-Modul_1.pdf&oldid=257452 257452], [https://id.wikisource.org/w/index.php?title=Indeks:Menggunakan_Wikipedia_dalam_Pembelajaran-Modul_2.pdf&oldid=257455 257455], dan [https://id.wikisource.org/w/index.php?title=Indeks:Menggunakan_Wikipedia_dalam_Pembelajaran-Modul_3.pdf&oldid=257458 257458] yang mengalih indeks tetapi tidak beserta halamannya padahal ada yang sudah diuji-baca. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 17 Januari 2026 11.39 (UTC) :Mungkin bisa dicoba untuk menghubungi pemilik bot tersebut. Barangkali dia bisa membantu. [[Pengguna:Devi 4340|Devi 4340]] ([[Pembicaraan Pengguna:Devi 4340|bicara]]) 19 Januari 2026 07.07 (UTC) == Tinjauan tahunan untuk Kode Etik Universal dan Panduan Penegakan == <section begin="announcement-content" /> Saya ingin menyampaikan bahwa periode peninjauan tahunan Kode Etik Universal dan Pedoman Penegakannya saat ini telah dibuka. Usulan perubahan dapat diajukan hingga 9 Februari 2026. Tahap ini merupakan langkah awal dari rangkaian proses peninjauan tahunan yang akan dilakukan.[[m:Special:MyLanguage/Universal Code of Conduct/Annual review/2026|Informasi lengkap dan ruang diskusi tersedia di halaman UCoC di Meta]]. [[m:Special:MyLanguage/Universal Code of Conduct/Coordinating Committee|Komite Pengarah Kode Etik Universal]] (U4C) adalah grup global yang didedikasikan untuk memberikan implementasi yang adil dan konsisten dari UCoC. Tinjauan tahunan ini telah direncanakan dan diimplementasikan oleh U4C. Untuk informasi dan tanggung jawab U4C lebih lanjut, [[m:Special:MyLanguage/Universal Code of Conduct/Coordinating Committee/Charter|Anda dapat meninjaunya pada piagam U4C]]. Mohon bagikan informasi ini pada anggota lain di komunitas Anda di mana pun yang mungkin sesuai. -- Bekerja sama dengan U4C, [[m:User:Keegan (WMF)|Keegan (WMF)]] ([[m:User talk:Keegan (WMF)|bicara]])<section end="announcement-content" /> 19 Januari 2026 21.02 (UTC) <!-- Pesan dikirim oleh Pengguna:Keegan (WMF)@metawiki dengan menggunakan daftar di https://meta.wikimedia.org/w/index.php?title=Distribution_list/Global_message_delivery&oldid=29905753 --> == Penafsiran Pasal 58 [[Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014]] == [[Sengsara Membawa Nikmat]] menjadi contoh. Ada dua cetakan. Berdasarkan ayat 1, karya itu sendiri sudah berada dalam domain publik karena penulisnya meninggal lebih dari 70 tahun yang lalu. Namun, berdasarkan ayat 3, "Pelindungan Hak Cipta atas Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) yang dimiliki atau dipegang oleh badan hukum berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali dilakukan Pengumuman." Apakah dihitung dari tahun cetakan pertama, atau dihitung dari cetakan terkini? Jika dihitung dari cetakan terkini, jelas [[Sengsara Membawa Nikmat (2010)]] tidak lolos hak cipta. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 25 Januari 2026 03.01 (UTC) :Sejujurnya saya tidak pernah setuju terkait karya tersebut. Saya menyarankan untuk dihapus. Tapi mungkin ada yang berpendapat lain @[[Pengguna:Bennylin|Bennylin]] [[Pengguna:Agus Damanik|Agus Damanik]] ([[Pembicaraan Pengguna:Agus Damanik|bicara]]) 1 Februari 2026 09.40 (UTC) ::Saya berpendapat dari ayat 1 sih. Toh kan, sudah domain publik. Cetakan versi apapun sepertinya aman-aman saja. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 8 Mei 2026 21.45 (UTC) :Apabila kita punya yang ori, yang baru dihapus tidak apa-apa menurut saya. <small><br />[[Pembicaraan Pengguna:Bennylin|&#x2712;]] [[Pengguna:Bennylin|Bennylin]]</small> 2 Februari 2026 08.35 (UTC) ::Karena sudah ada yang versi 1972. Sepertinya boleh kita hapus. [[Pengguna:Agus Damanik|Agus Damanik]] ([[Pembicaraan Pengguna:Agus Damanik|bicara]]) 7 Februari 2026 03.21 (UTC) == Ide Menambahkan Audio di Laman Wikisumber == Halo, Saya mempunyai ide untuk membuat versi lisan suatu halaman yang sudah ditransklusi di Wikisumber, terutama untuk novel agar bisa jadi semacam audiobook. Contohnya mungkin bisa seperti [https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:WikiGalir WikiGalir] Apakah ada Wikisource edisi bahasa lain yang sudah melakukan hal semacam itu? Saya juga ingin meminta pendapat dari teman-teman mengenai ide ini - [[Pengguna:Mrifqis713|Mrifqis713]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mrifqis713|bicara]]) 19 Februari 2026 13.50 (UTC) :Saya ingin mencari templat yang sesuai untuk ide ini. Sejauh ini baru menemukan templat audio di [https://id.wikipedia.org/wiki/Templat:Wikipedia_Lisan Wikipedia] dan [https://id.wiktionary.org/wiki/Templat:suara Wiktionary]] [[Pengguna:Mrifqis713|Mrifqis713]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mrifqis713|bicara]]) 19 Februari 2026 13.53 (UTC) ::Saya membuat [[Templat:Dengar]] sebagai terjemahkan dari [https://en.wikisource.org/wiki/Template:Listen Template:Listen] dari en.wikisource.org sebagai awalan untuk ide ini [[Pengguna:Mrifqis713|Mrifqis713]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mrifqis713|bicara]]) 19 Februari 2026 23.58 (UTC) :Ini proyek menarik, kalo mau dijadikan proyek rapid/dana wiki bisa sepertinya wehehehe [[Pengguna:Radramboo|Radramboo]] ([[Pembicaraan Pengguna:Radramboo|bicara]]) 19 Februari 2026 14.01 (UTC) :ini [https://id.wikibooks.org/wiki/Gajah_Kecil_Mengunjungi_Peternakan contoh karya terjemahan yang dilengkapi audiobooks (di proyek Wikibuku bahasa Indonesia).] :Kurang tahu kalau di wikisource bahasa daerah di Indonesia, tapi ini contoh di [https://bn.wikisource.org/wiki/%E0%A6%97%E0%A6%B2%E0%A7%8D%E0%A6%AA%E0%A6%97%E0%A7%81%E0%A6%9A%E0%A7%8D%E0%A6%9B_(%E0%A6%AA%E0%A7%8D%E0%A6%B0%E0%A6%A5%E0%A6%AE_%E0%A6%96%E0%A6%A3%E0%A7%8D%E0%A6%A1)/%E0%A6%8F%E0%A6%95%E0%A6%B0%E0%A6%BE%E0%A6%A4%E0%A7%8D%E0%A6%B0%E0%A6%BF bangla wikisource] dan [https://en.wikisource.org/wiki/Winnie-the-Pooh_(1961)/Chapter_3 English wikisource.] :[[Pengguna:Quraeni|mojumoya]] ([[Pembicaraan Pengguna:Quraeni|bicara]]) 19 Februari 2026 14.08 (UTC) :Sangat menarik sebenarnya. Bisa jadi awal ''audiobook'' di Wikisumber dan meningkatkan inklusifitas. Menarik menjadi proyek selanjutnya setelah Transklusi Film. —[[Pengguna:NikolasKHF|NikolasKHF]] ([[Pembicaraan Pengguna:NikolasKHF|🗪]]) 19 Februari 2026 16.25 (UTC) :menarik mas, kalau jenisnya buku cerita bisa dipakai buat dongengin anakku sebelum tidur. [[Pengguna:Empat Tilda|Empat Tilda]] ([[Pembicaraan Pengguna:Empat Tilda|bicara]]) 6 Maret 2026 17.17 (UTC) == Konsensus untuk pemasangan spanduk == Apakah komunitas Wikisumber bahasa Indonesia memutuskan ingin memasang spanduk terkait pembatasan akses wiki di Indonesia? (Untuk pembahasan isu ini selengkapnya dapat disimak/berpartisipasi secara anonim di https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Permohonan_pendapat/Pembatasan_akses_wiki_di_Indonesia_(Februari_2026)#Konsensus_untuk_isi_spanduk Apabila mencapai konsensus, kita akan membawa hasil ini ke Meta untuk meminta supaya spanduk dipasang di situs-situs wiki bahasa-bahasa di Indonesia, untuk pembaca dari Indonesia, tanggal (tentatif) 23 Maret 2026, selama 31 hari (durasi paling lama), hingga 24 April 2026. Setelah itu, bisa diperpanjang melalui konsensus yang baru. # <small><br />[[Pembicaraan Pengguna:Bennylin|&#x2712;]] [[Pengguna:Bennylin|Bennylin]]</small> 2 Maret 2026 19.48 (UTC) sebagai inisiator. # {{setuju}} [[Pengguna:Quraeni|mojumoya]] ([[Pembicaraan Pengguna:Quraeni|bicara]]) 3 Maret 2026 12.26 (UTC) # {{setuju}} [[Pengguna:Alfiyah Rizzy Afdiquni|Alfiyah Rizzy Afdiquni]] ([[Pembicaraan Pengguna:Alfiyah Rizzy Afdiquni|bicara]]) 4 Maret 2026 01.34 (UTC) # {{setuju}} karena pemblokiran auth.wikimedia.org itu tidak hanya berpengaruh pada situs Wikipedia (alasan yang sama yang saya gunakan di Wikikamus). —[[Pengguna:NikolasKHF|NikolasKHF]] ([[Pembicaraan Pengguna:NikolasKHF|🗪]]) 4 Maret 2026 07.29 (UTC) # {{setuju}} Turut mengajak seluruh pengguna aktif di berbagai proyek wiki untuk mengusulkan hal yang sama -- [[Pengguna:Empat Tilda|Empat Tilda]] ([[Pembicaraan Pengguna:Empat Tilda|bicara]]) 6 Maret 2026 17.03 (UTC) # {{setuju}} jangan membatasi publik untuk berbagi pengetahuan menggunakan akun pribadi dan jangan mengusik data privasi kontributor wiki — [[Pengguna:Thersetya2021|Thersetya2021]] ([[Pembicaraan Pengguna:Thersetya2021|bicara]]) 9 Maret 2026 13.03 (UTC) == Manifesto Mippedia == Saya menemukan dua halaman berikut: [[Manifesto Rumi Haitami mengenai Mippedia]] dan [[Manifesto Proyek Mippedia dan Komunitas Mippedia]] yang saya rasa tidak begitu berhubungan dengan visi Wikisumber bahasa Indonesia. Bagaimana menurut teman-teman? —[[Pengguna:NikolasKHF|NikolasKHF]] ([[Pembicaraan Pengguna:NikolasKHF|🗪]]) 11 Maret 2026 04.25 (UTC) :{{vote|delete}} Lebih ke arah promosi, mirip dengan konten [[Wikisumber:Warung kopi#Apa konten seperti ini layak di Wikisource?|di sini]]. Dan sepertinya kita sepakat untuk menghapus koten sejenis. [[Pengguna:Empat Tilda|Empat Tilda]] ([[Pembicaraan Pengguna:Empat Tilda|bicara]]) 14 Maret 2026 16.38 (UTC) ::Baik, terima kasih banyak untuk komentarnya. —[[Pengguna:NikolasKHF|NikolasKHF]] ([[Pembicaraan Pengguna:NikolasKHF|🗪]]) 15 Maret 2026 00.47 (UTC) == Permohonan hak akses == Halo, Saya Riiiv. Saya ingin membuat halaman pendaftaran acara di Wikisumber bahasa Indonesia. Mohon bantuannya kepada pengurus ([[Pengguna:Mrifqis713|Mrifqis713]]) untuk memberikan akses. Terima kasih. [[Pengguna:Riiiv|Riiiv]] ([[Pembicaraan Pengguna:Riiiv|bicara]]) 11 Maret 2026 11.56 (UTC) :{{done}}. Selamat berkegiatan! Hak akses diberikan karena @[[Pengguna:Riiiv|Riiiv]] merupakan Panitia Kompetisi Wikisource Bahasa Indonesia tahun 2026. Akses diberikan selama 3 bulan dan akan dievaluasi secara berkala. Silakan kabari kembali jika ada hal lain yang dapat dibantu. [[Pengguna:Mrifqis713|Mrifqis713]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mrifqis713|bicara]]) 11 Maret 2026 12.09 (UTC) == Permohonan Hak Akses == Halo, Saya Happywu, ingin membuat halaman pendaftaran acara di Wikisumber bahasa Indonesia. Mohon bantuannya kepada pengurus ([[Pengguna:Mrifqis713|Mrifqis713]]) untuk memberikan akses. Terima kasih. [[Pengguna:Happywu|Happywu]] ([[Pembicaraan Pengguna:Happywu|bicara]]) 13 Maret 2026 23.29 (UTC) :{{done}}. Selamat berkegiatan! Hak akses diberikan karena @[[Pengguna:Happywu|Happywu]] merupakan Panitia Kompetisi Wikisource Bahasa Indonesia tahun 2026. Akses diberikan selama 3 bulan dan akan dievaluasi secara berkala. Silakan kabari kembali jika ada hal lain yang dapat dibantu. [[Pengguna:Mrifqis713|Mrifqis713]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mrifqis713|bicara]]) 19 Maret 2026 06.46 (UTC) == Perlukah menyimpan RUU jika UU-nya sudah jadi? == Contoh: [[Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008]] (masih teks mentah) * [[Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Anti Pornografi (2003)]] * [[Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Anti Pornografi dan Pornoaksi (2006)]] * [[Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Pornografi (2008)]] dan [https://id.wikisource.org/w/index.php?title=Istimewa:Pencarian&search=rancangan+undang-undang&go=Lanjut&ns0=1&ns100=1&ns102=1&ns104=1 rancangan-rancangan] yang lain. <small><br />[[Pembicaraan Pengguna:Bennylin|&#x2712;]] [[Pengguna:Bennylin|Bennylin]]</small> 25 Maret 2026 09.47 (UTC) :Saya berpendapat untuk tetap mempertahankannya. Tambahan koleksi naskah juga di Wikisumber. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 26 Maret 2026 09.17 (UTC) :Simpan saja. Boleh jadi perbandingan mana yang diubah andai ada. [[Pengguna:Hadithfajri|Hadithfajri]] ([[Pembicaraan Pengguna:Hadithfajri|bicara]]) 26 Maret 2026 10.48 (UTC) :Saya rasa bisa disimpan, seperti yang disebutkan di atas. —[[Pengguna:NikolasKHF|NikolasKHF]] ([[Pembicaraan Pengguna:NikolasKHF|🗪]]) 31 Maret 2026 09.55 (UTC) :Saya berberbeda pendapat dengan teman-teman sebelumnya, saya menilai RUU adalah sebuah naskah yang tidak/belum sah. Ibarat buku, RUU ini masih naskah buku yang tidak diterbitkan dan tidak ada penerbitnya. Sehingga lebih baik dihapus saja. :Kecuali jika kita mengijinkan naskah buku juga disimpan di WSID. Dan menurut saya ini juga salah, karena naskah buku yang belum terbit sebaiknya disiman di Wikibuku. [[Pengguna:Empat Tilda|Empat Tilda]] ([[Pembicaraan Pengguna:Empat Tilda|bicara]]) 2 April 2026 15.18 (UTC) ::Sependapat dengan Anda. <small><br />[[Pembicaraan Pengguna:Bennylin|&#x2712;]] [[Pengguna:Bennylin|Bennylin]]</small> 18 April 2026 14.28 (UTC) :Melanjutkan diskusi ini. Setelah melihat beberapa pendapat, bagaimana jika halamannya dibiarkan, tetapi berisi semacam pengalihan menuju UU yang sudah jadi? Jika UU nya belum ada, maka RUU nya tetap dapat dimasukkan ke Wikisumber sebagai sejarah atau sebagai referensi. Tetapi jika dirasa terlalu banyak pekerjaan yang perlu dibuat (mengingat penyunting di WSID juga tidak sebanyak itu), maka kita bisa membuat konsensus untuk tidak menerima RUU sama sekali dan menunggu UU-nya selesai dan disahkan. [[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] ([[Pembicaraan Pengguna:OwlyKnight|bicara]]) 10 Mei 2026 08.21 (UTC) == Puisi-puisi Chairil Anwar == Terdapat beberapa buku yang memuat puisi Chairil Anwar, seperti [[Kerikil_Tadjam_dan_Jang_Terampas_dan_Jang_Putus/Kerikil_Tadjam|Kerikil Tadjam]] dan [[Aku Ini Binatang Jalang]]. Sayangnya, terdapat beberapa puisi yang sama yang dimuat di dua buku tersebut, misalnya [[Nisan]]. Apakah lebih baik untuk membuat halaman untuk masing-masing buku, misalnya [[Kerikil Tajam/Nisan]] dan [[Aku Ini Binatang Jalang/Nisan]] atau dibuat menjadi satu halaman utama, seperti yang ada sekarang? Namun, jika dibuat menjadi satu halaman utama seperti sekarang, agaknya sedikit sulit untuk memastikan sumber atau kualitas uji baca karena halaman tersebut tidak merujuk pada halaman uji bacanya (misalnya menggunakan <code><nowiki><pages /></nowiki></code>). —[[Pengguna:NikolasKHF|NikolasKHF]] ([[Pembicaraan Pengguna:NikolasKHF|🗪]]) 31 Maret 2026 09.54 (UTC) :Saya senang dengan pilihan membuat halaman untuk masing-masing buku, misalnya [[Kerikil Tajam/Nisan]] dan [[Aku Ini Binatang Jalang/Nisan]]. Nanti "[[Nisan]]" dijadikan halaman disambiguasi (yang ketentuannya bisa dicek di [[WS:STYLE]]). [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 2 April 2026 10.58 (UTC) ::Benar juga, saya baru terpikir tentang halaman disambiguasi itu. Terima kasih banyak, bung, idenya!—[[Pengguna:NikolasKHF|NikolasKHF]] ([[Pembicaraan Pengguna:NikolasKHF|🗪]]) 2 April 2026 11.55 (UTC) :{{setuju}} [[Pengguna:Empat Tilda|Empat Tilda]] ([[Pembicaraan Pengguna:Empat Tilda|bicara]]) 2 April 2026 15.22 (UTC) == Action Required: Update templates/modules for electoral maps (Migrating from P1846 to P14226) == Hello everyone, This is a notice regarding an ongoing data migration on Wikidata that may affect your election-related templates and Lua modules (such as <code>Module:Itemgroup/list</code>). '''The Change:'''<br /> Currently, many templates pull electoral maps from Wikidata using the property [[:d:Property:P1846|P1846]], combined with the qualifier [[:d:Property:P180|P180]]: [[:d:Q19571328|Q19571328]]. We are migrating this data (across roughly 4,000 items) to a newly created, dedicated property: '''[[:d:Property:P14226|P14226]]'''. '''What You Need To Do:'''<br /> To ensure your templates and infoboxes do not break or lose their maps, please update your local code to fetch data from [[:d:Property:P14226|P14226]] instead of the old [[:d:Property:P1846|P1846]] + [[:d:Property:P180|P180]] structure. A [[m:Wikidata/Property Migration: P1846 to P14226/List|list of pages]] was generated using Wikimedia Global Search. '''Deadline:'''<br /> We are temporarily retaining the old data on [[:d:Property:P1846|P1846]] to allow for a smooth transition. However, to complete the data cleanup on Wikidata, the old [[:d:Property:P1846|P1846]] statements will be removed after '''May 1, 2026'''. Please update your modules and templates before this date to prevent any disruption to your wiki's election articles. Let us know if you have any questions or need assistance with the query logic. Thank you for your help! [[User:ZI Jony|ZI Jony]] using [[Pengguna:MediaWiki message delivery|MediaWiki message delivery]] ([[Pembicaraan Pengguna:MediaWiki message delivery|bicara]]) 3 April 2026 17.11 (UTC) <!-- Pesan dikirim oleh Pengguna:ZI Jony@metawiki dengan menggunakan daftar di https://meta.wikimedia.org/w/index.php?title=Distribution_list/Non-Technical_Village_Pumps_distribution_list&oldid=29941252 --> == Templat baru == [[Templat:Rak buku]] untuk halaman pengguna Anda (menampilkan buku-buku favorit Anda di Wikisumber, atau buku-buku yang Anda kerjakan/uji-baca). Silakan dicek. <small><br />[[Pembicaraan Pengguna:Bennylin|&#x2712;]] [[Pengguna:Bennylin|Bennylin]]</small> 18 April 2026 14.28 (UTC) :Menarik, mas @[[Pengguna:Bennylin|Bennylin]], terima kasih [[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] ([[Pembicaraan Pengguna:OwlyKnight|bicara]]) 8 Mei 2026 11.36 (UTC) == Request for comment (global AI policy) == <bdi lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr"> Apologies for writing in English. {{int:Please-translate}} A [[:m:Requests for comment/Artificial intelligence policy|request for comment]] is currently being held to decide on a global AI policy. {{int:Feedback-thanks-title}} [[Pengguna:MediaWiki message delivery|MediaWiki message delivery]] ([[Pembicaraan Pengguna:MediaWiki message delivery|bicara]]) 26 April 2026 00.58 (UTC) </bdi> <!-- Pesan dikirim oleh Pengguna:Codename Noreste@metawiki dengan menggunakan daftar di https://meta.wikimedia.org/w/index.php?title=Distribution_list/Global_message_delivery&oldid=30424282 --> == Permohonan hak akses [[pengguna:Quraeni]]== Halo, Saya Qure. Saya ingin membuat halaman pendaftaran acara di Wikisumber bahasa Indonesia untuk keperluan WikiLatih Mahir Wikisumber (10 Mei 2026) dan Kompetisi [https://meta.wikimedia.org/wiki/Event:WikiPandu WikiPandu] (Agustus 2026). Mohon bantuannya kepada pengurus. Terima kasih. [[Pengguna:Quraeni|mojumoya]] ([[Pembicaraan Pengguna:Quraeni|bicara]]) 2 Mei 2026 10.20 (UTC) :Mohon informasinya, apakah permintaan yang dimaksud adalah permintaan hak akses "event-organizer"? '''&middot;&middot;&middot;''' <span title="Bunga sakura">🌸</span> [[User:Rachmat04|'''Rachmat04''']] '''&middot;''' [[User talk:Rachmat04|<span title="Ayo diskusi!">☕️</span>]] 2 Mei 2026 11.11 (UTC) ::iya Mas @[[Pengguna:Rachmat04|Rachmat04]], maksudnya hak akses "event-organizer" 🙏🏼😁 [[Pengguna:Quraeni|mojumoya]] ([[Pembicaraan Pengguna:Quraeni|bicara]]) 2 Mei 2026 11.58 (UTC) :::{{done}}. Terima kasih untuk penjelasannya. Hak akses sudah diberikan. Semoga sukses! '''&middot;&middot;&middot;''' <span title="Bunga sakura">🌸</span> [[User:Rachmat04|'''Rachmat04''']] '''&middot;''' [[User talk:Rachmat04|<span title="Ayo diskusi!">☕️</span>]] 2 Mei 2026 12.04 (UTC) ::::Siap, terima kasih banyak! [[Pengguna:Quraeni|mojumoya]] ([[Pembicaraan Pengguna:Quraeni|bicara]]) 5 Mei 2026 11.49 (UTC) == Templat pemformatan undang-undang == Singkatnya, ada [[Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011]] yang menjadi ketentuan teknis penyusunan perundang-undangan. Lampiran II menjelaskan secara detail. Sebagaimana pada [[Halaman:UU-12 TAHUN 2011.pdf/114]], penulisan judul pasal tidak ditebalkan, begitu pula penulisan bab sebagaimana di [[Halaman:UU-12 TAHUN 2011.pdf/116]]. Saya menduga kemungkinan penebalan tersebut berpatokan pada ketentuan teknis penyusunan perundang-undangan yang lama, dan memang bisa dilihat pada undang-undang terdahulu. Saya sebenarnya ingin mengusul agar tampilan bawaan (''default'') dari bab dan pasal itu tidaklah tebal. Mungkin ada parameter khusus untuk mengaktifkan mode tebal. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 8 Mei 2026 10.28 (UTC) :Saya lihat ada perubahan UU, tetapi tidak begitu berbeda untuk bagian tata letaknya. Saya setuju untuk membuat tampilan bawaan menjadi tidak tebal. Untuk tebal, mungkin bisa ditambahkan parameter <code>|tebal=ya</code> atau <code>|ket=lama</code> (seperti {{tl|Perpres/Head}}) atau semacamnya. Saya juga lihat bung @[[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] membuat templat {{tl|PUU-ayat/kepala}}, {{tl|PUU-ayat/badan}}, {{tl|PUU-ayat/kaki}} dan juga untuk Pasal, yang saya rasa dapat digunakan untuk beberapa kasus ayat atau pasal yang terputus. Saya akan coba cek kembali templat-templat tersebut. Terima kasih banyak, bung! [[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] ([[Pembicaraan Pengguna:OwlyKnight|bicara]]) 10 Mei 2026 08.15 (UTC) ::Terima kasih pendapatnya. Bab dan Pasal ini sekadar contoh saja. Mungkin bisa diterapkan pada seluruh tempat pemformatan undang-undang termasuk {{tl|Perpres/Head}}. ::Adapun untuk {{tl|PUU-pasal}}, saya juga ingin mencoba versi terpisah juga, mengingat {{tl|PUU-ayat}} dan {{tl|PUU-nomor}} sendiri harus masuk ke templat {{tl|PUU-pasal}} terlebih dahulu. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 10 Mei 2026 12.07 (UTC) 65tf0mymker8ar15jdvyu3m57ysj7ki Pengguna:Arymuslichudin 2 54306 291267 268905 2026-05-10T15:42:52Z Arymuslichudin 24021 291267 wikitext text/x-wiki Saya merupakan mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jakarta {{Peserta Kompetisi Wikisource 2024}} {{Peserta Kompetisi Wikisource 2026}} mi821xtk6rw0zq9woh2x6twttjbybd4 291268 291267 2026-05-10T15:44:40Z Arymuslichudin 24021 291268 wikitext text/x-wiki Salam Ilmiah, Salam Pengetahuan. Membebaskan pengetahuan, mengasah kemampuan. Nama saya Arie Muslichudin, dari Jawa Barat dan domisili di Jakarta. {{Peserta Kompetisi Wikisource 2024}} {{Peserta Kompetisi Wikisource 2026}} 5lmt5qfdrxe78ckicxf31g23u41k46h Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/493 104 70226 291352 275446 2026-05-10T17:28:08Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ gunakan template untuk angka dan hurufnya 291352 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>1. Pengerahan perang sabil terhadap tentera Belanda, Allah dan musuh kita. 2. Hukum perang sekarang adalah fardhu'Ain atas tiap-tiap Mukallaf laki-laki dan perempuan. 3. Untuk melantjarkan perang sabil ini, para ulama dan muballighin telah menentukan tugas sebagai berikut: a. Mempererat persatuan untuk mentjapai kemenangan . b. Mengobar-ngobarkan semangat Djihad dan Sjahid. c. Memperhebat rasa pengorbanan rakjat, darah, djiwa, harta benda, tenaga dan fikiran. d. Turut mengumpulkan pengorbanan rakjat bersama-sama badan jang telah ditetapkan atau diberi kuasa oleh Pemerintah, umpamanja mengumpulkan emas, padi, lumbung-perang dan lain-lain. e. Membawa rakjat thaat kepada agama, karena menurut paham agama, bahwa meninggalkan segala jang dilarang oleh Allah dan mengerdjakan suruhannja dalam masa perang, adalah mendjadi suatu sjarat kemenangan. f. Membawa rakjat patuh kepada pemerintah dan Negara Republik Indonesia. g. Mengandjurkan supaja seluruh kaum Muslimin dan Muslimat Indonesia laki-laki dan perempuan siap sedia dan waspada dengan segala matjam sendjata apapun djuga. Umpamanja : Tombak, lembing, pisau, kampak dan lain-lain, untuk menjambut segala kemungkinan dan untuk menghantjurkan musuh Allah dan musuh kita (tentera Belanda). Kesatuan dan perpetjahan didalam kalangan partai-partai politik Islam di Sumatera Tengah berdjalan menurut apa jang ditentukan oleh suasana jang dihadapi. Sebagai djuga mereka tidak dapat mempersatukan paham mengenai prinsip mereka masing-masing, maka kebulatan tenaga dalam menjusun penglaksanaan detail-detail tuntutan tidak dapat dirampungkannja. Tapi dalam merampungkan suatu masaalah mengenai kepentingan seluruh ummat, mereka sama memeras tenaga dan fikiran agar didalamnja terdapat suatu paduan adjaran dan fatwah. Demikianlah Partai-partai Politik Islam di Sumatera Tengah. '''Partai-partai Politik selama menghadapi clash ke- II.''' Sebelum penjerangan tentera Belanda jang kedua kalinja pada achir tahun 1948, suasana politik di Sumatera Tengah tidaklah dapat dikatakan tenang dan djernih . Bibit perpetjahan sudah lama tumbuh, jaitu semendjak lahirnja Persetudjuan Linggardjati. Kalau perpetjahan karena Linggardjati itu hampir dapat disatukan kembali, maka peristiwa jang timbul karena „Renville" dan „Peristiwa Madiun"<noinclude>{{rh|||487}}</noinclude> 3olbz64x8ppfszdp3w2iahtwr3c446s 291395 291352 2026-05-10T23:27:10Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291395 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>{{ol|list_style_type=decimal |Pengerahan perang sabil terhadap tentera Belanda, Allah dan musuh kita. |Hukum perang sekarang adalah fardhu'Ain atas tiap-tiap Mukallaf laki-laki dan perempuan. |Untuk melantjarkan perang sabil ini, para ulama dan muballighin telah menentukan tugas sebagai berikut: {{ol|list_style_type=lower-alpha |Mempererat persatuan untuk mentjapai kemenangan. |Mengobar-ngobarkan semangat Djihad dan Sjahid. |Memperhebat rasa pengorbanan rakjat, darah, djiwa, harta benda, tenaga dan fikiran. |Turut mengumpulkan pengorbanan rakjat bersama-sama badan jang telah ditetapkan atau diberi kuasa oleh Pemerintah, umpamanja mengumpulkan emas, padi, lumbung-perang dan lain-lain. |Membawa rakjat thaat kepada agama, karena menurut paham agama, bahwa meninggalkan segala jang dilarang oleh Allah dan mengerdjakan suruhannja dalam masa perang, adalah mendjadi suatu sjarat kemenangan. |Membawa rakjat patuh kepada pemerintah dan Negara Republik Indonesia. |Mengandjurkan supaja seluruh kaum Muslimin dan Muslimat Indonesia laki-laki dan perempuan siap sedia dan waspada dengan segala matjam sendjata apapun djuga.<br>Umpamanja : Tombak, lembing, pisau, kampak dan lain-lain, untuk menjambut segala kemungkinan dan untuk menghantjurkan musuh Allah dan musuh kita (tentera Belanda).}}}} Kesatuan dan perpetjahan didalam kalangan partai-partai politik Islam di Sumatera Tengah berdjalan menurut apa jang ditentukan oleh suasana jang dihadapi. Sebagai djuga mereka tidak dapat mempersatukan paham mengenai prinsip mereka masing-masing, maka kebulatan tenaga dalam menjusun penglaksanaan detail-detail tuntutan tidak dapat dirampungkannja. Tapi dalam merampungkan suatu masaalah mengenai kepentingan seluruh ummat, mereka sama memeras tenaga dan fikiran agar didalamnja terdapat suatu paduan adjaran dan fatwah. Demikianlah Partai-partai Politik Islam di Sumatera Tengah. '''Partai-partai Politik selama menghadapi clash ke- II.''' Sebelum penjerangan tentera Belanda jang kedua kalinja pada achir tahun 1948, suasana politik di Sumatera Tengah tidaklah dapat dikatakan tenang dan djernih. Bibit perpetjahan sudah lama tumbuh, jaitu semendjak lahirnja Persetudjuan Linggardjati. Kalau perpetjahan karena Linggardjati itu hampir dapat disatukan kembali, maka peristiwa jang timbul karena „Renville” dan „Peristiwa {{hws|Mad|Madiun}}<noinclude>{{rh|||487}}</noinclude> nb83ob632o57uesxn4xwuwzssjetmmq Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/276 104 70257 291119 202444 2026-05-10T14:16:15Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291119 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Maret 1946. Ketua Muda: Sjamsulbahrun Anggota-anggota: H. Ali Hamzah. Jang Tjik. M. Chatib. Dr. Sjagaf Jahja Djuni 1946. Ketua Muda Sjamsulbahrun. Anggota-anggota: H. Ali Hamzah. Jang Tjik. M. Chatib. Rd. Hamzah. A. Sjarnubi. Septemeber 1946. Ketua Muda: Sjamsulbahrun. Anggota-anggota: H. Ali Hamzah A. Sjarnubi Rd. Hamzah. Salim. Ibrahim Bangko. Djuli 1947. Ketua Muda: A. Sjarnubi. Anggota-anggota: Rd. Hamzah. Salim. F. Silaen. A. Chatib Suleman. {{rh||'''PEMUNGUTAN FONDS DAKOTA DAERAH DJAMBI SEHARGA 4 DAKOTA.'''}} Dengan adanja rantjangan Pemerintah N.R.I. Daerah Djambi untuk membeli 4 (empat) Dakota, ternjata setingkat demi setingkat perlengkapan Negara kita dapat disiapkan dengan hasil Indonesia jang kaja-raja itu, tegasnja Djambi dengan hasil getahnja. 4 Dakota adalah seharga 1500 ton getah kering. Usaha Pemerintah dalam mentjiptakan djumlah harga tersebut adalah: a. Dengan djalan menarik 5% dari hasil penjadapan getah, dan hasil pertanian jang bersesuaian dengan djumlah getah jang ditetapkan di kewedanaan jang tidak menghasilkan getah. b. Pertama kali untuk pembeli sebagian dari djumlah 4 Dakota Pemerintah Daerah Djambi dapat memindjam dari saudagar-saudagar dikota Djambi sedjumlah $ 120.000, dengan djalan menarik 30% dari djumlah harga barang-barang jang dikeluarkan, djumlah ini mesti telah tersedia sebelum bulan Agustus 1948. 50% dari djumlah harga 4 Dakota dipandang sebagai bakti 50 % dari djumlah harga 4 Dakota dipandang sebagai andeel. Dengan kesanggupan rakjat Djambi untuk membeli 4 Dakota dengan kebidjaksanaan Pemerintah Djambi, kita bisa {{hws|membangga|membanggakan}}<noinclude>{{rh|270}}</noinclude> s9epkcex3dareg0bnb17ocwwcxlqojx Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/401 104 70258 291079 202445 2026-05-10T14:04:55Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291079 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{hwe|sung|langsung}} mengurus pemerintahan, maka dalam bulan November 1949 Badan Executief D.P.R.S.T. ini diperbantukan kepada Gubernur Militer Sumatera Tengah. Sesudah pemulihan dan dihapuskannja pemerintahan militer, maka terhitung mulai tanggal 1 Djanuari 1950 Propinsi Sumatera Tengah kembali dibangunkan dan D.P.R.S.T. bersidang kembali. '''Sidang Pleno ke-III.''' Sidang ini berlangsung di Bukittinggi dari tanggal 3 sampai 12 April 1950 jang mempunjai sedjarah pandjang. Dalam sidang ini terdjadi beberapa perubahan dalam keanggotaan dan Executief. Karena Saudara Chatib Soeleman meninggal dalam peristiwa Situdjuh tanggal 15 Djanuari 1949, maka kedudukannja dalam D.P.R.S.T. digantikan oleh Saudara Thaher Samad, begitu djuga Saudara H. Siradjudin Abbas karena mendjadi anggota Parlemen R.I.S., digantikan oleh Saudara H. Rusli A. Wahid. Dalam Executief karena saudara Abdoellah berada di Djawa dan saudara Dr. Sagaf Jahja mendjadi pegawai R.I.S. di Padang, maka kedudukan saudara itu digantikan buat sementara oleh Ketua dan wakil Ketua D.P.R.S.T. jaitu saudara H. Iljas Jacoeb dan Gulmat Siregar, tetapi beberapa waktu sebelum sidang berlangsung., Saudara Abdoellah mengirim telegram minta meletakkan djabatan dan saudara Dr. Sagaf Jahja belum bisa hadir, sedang Ketua dan wakil Ketua D.P.R.S.T. tidak dapat seterusnja mendjadi Executief, maka ditundjuklah saudara R. S. Suria Pradja dan Marzoeki Jatim mendjadi acting anggota Executief. Sidang ini diadakan pada waktu masjarakat Sumatera Tengah merupakan letusan perasaan jang telah lama mengepundan sedjak masa sesudah agressi. Dari berbagai-bagai djurusan terdjadi gelombang perasaan jang membajangkan kepentingan bersilangsiur dari pelbagai golongan. Pertentangan Federal dengan Republikein, dan pertentangan diantara para pemimpin Republikein sendiri dalam persoalan beranting banjak tentang siapa jang paling berdjasa dizaman darurat, serta ditambah sentimen jang meluap dari kalangan rakjat menderita, terhadap mereka jang telah menduduki kursi pemerintahan jang tampaknja telah berangsur baik kehidupannja. Tak mengherankan djika bajangan masjarakat ini ditjerminkan oleh para anggota dalam pembitjaraannja, diantaranja dengan menuntut pertanggungan djawab dari Pemerintahan Sumatera Tengah jang baru sadja mendapat waktu 3 bulan buat menjusun dirinja. Pemandangan Umum dari anggota atas lapuran usaha Pemerintah, diachiri dengan sebuah mosi jang terkenal dengan nama<noinclude>{{rh|||395}}</noinclude> oo7idplff8n68znmdcjpoa2ye6cnvcm Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/270 104 70265 291123 202452 2026-05-10T14:16:30Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291123 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{rh||'''BANGKO.'''}} Dikewedanaan Bangko, seperti djuga ditempat- tempat lain Angkatan Pemuda Republik Indonesia (A.P.R.I.), memegang peranan jang penting, diketuai oleh Bahar Mahjudin jang kemudian gugur dalam T.N.I. sewaktu pertempuran clash ke-II di Badjubang . Komite Nasional tjabang kewedanaan Bangko berdiri dengan susunan pengurusnja : 1. Ketua : Dokter R. Perwadi - kemudian pindah kekota Djambi, memimpin P.R.I. 2. Wk. Kerua : Marah Ismail. 3. Sekretaris I : Mhd. Samin. 4. Sekretaris II : Mh. Saidi. 5. Anggota-anggota : I. Mohd. Saidi. II. Ali Sudir. III. Abi Hasan. IV. Rukman Hadi. V. Ismail. VI. Satro. 6. Bhg. Perekonomian : Nung Tjik 7. Penasehat : R. Soedarjo. {{rh||'''SAROLANGUN.'''} Di Sarolangun sesudah proklamasi , Organisasi jang mulai berdiri ialah: „Badan Keamanan Masjarakat" atau singkatnja B.K.M. jang kemudian mendjelma mendjadi A.P.I. dan P.R.I. Komite Nasional Indonesia tjabang mempunjai susunan Pengurus : 1. Ketua : Sjamsulbahrun. 2. Wk. Kerua : Ahmad Sjarnubi. 3. Sekretaris : Teleng. 4. Anggota : I. Abu Tohid. II. Aminuddin. '''Raden Inu Kertapati menggantikan Sjagaf Jahja.''' Djepang masih mempunjai kedudukan jang kuat dikota Djambi. Dalam bulan Desember 1945 Dokter Sjagaf Jahja ditangkap oleh Djepang. Djuga beberapa orang Pemimpin turut tertangkap. Maksud Djepang hendak menangkap lagi beberapa Pemimpin lain,<noinclude>{{rh|264}}</noinclude> pfflcwxynq8ji0ogphhblcmiexntqit Halaman:Dongeng Monjet dengen Koera-Koera.pdf/13 104 84112 291359 244189 2026-05-10T17:32:31Z Bibazi 25578 /* Tervalidasi */ 291359 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Bibazi" /></noinclude>{{c|{{x-larger|{{sp|'''DONGENG MONJET'''}}}}<br>{{sc|dengen}}<br>{{xx-larger|{{sp|'''KOERA-KOERA'''}}.}}}} Ada satoe Monjet, sanget djahatnja, dan tingka lakoenja kepada temen-temennja keliwat boesoeknja, sampe temen-temennja itoe semoewanja menbalikin belakang kepadanja, tida maoe kenal lagi sama dija, satoe monjet poen tida maoe bertjampoer lagi dengen sidjahat itoe. Beberapa djoega ditjoba-tjobanja maoe bertjampoer dengen temennja itoe, tida djoega dapet, segala monjet menoendjoekin moeka asem, sebab koeliling soeda kesohor djahatnja sidjahat itoe. Djadi tinggalla sendirian sadja monjet itoe. Maka berkata monjet itoe dengen dirinja sendiri sambil menarik napas pandjang: „Apa akal sekarang?” Serenta soeda berpikir sebentar, maka katanja: „Goewa tida perdoeli temen goewa mara, goewa tjari temen laen!” lantas pergila ija berdjalan. Beberapa lamanja ija berdjalan, berpoeter-poeter kesana kemari, kebetoelan ketemoe ija dengen satoe koera-koera lagi berdjemoer dipanas. Lantas Monjet itoe berpikir dalem hatinja: „Si Koera-koera ini baik goewa bikin temen” {{--}} laloe berdjalan ija menemoein si Koera-koera. Serenta soeda bertabe-tabean, lantas doedoek si Monjet deket si Koera-koera, sambil ija bertanja: „Abang Koera-koera, apa abang bikin disini?” Kata Koera-koera: „Tida, ade Monjet, saja berdjemoer dipanas sadja, sebab hari terang; tetapi ade Monjet kemari, mentjari apa?” Kata si Monjet: „Saja ini tjoema melantjong sadja, sebab iseng; tetapi kaloe ada, saja maoe mentjari sobat.” Kata Koera-koera: „Apa sebab mentjari sobat?<noinclude></noinclude> axn6dbv3tlvw05849woc52hf63y1go1 Halaman:Dongeng Monjet dengen Koera-Koera.pdf/14 104 86174 291360 249327 2026-05-10T17:33:22Z Bibazi 25578 /* Tervalidasi */ 291360 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Bibazi" />{{rh||{{--}} 2 {{--}}|}}</noinclude>apa temen-temen ade semoewanja soeda mati?” Kata si Monjet: „Tida, semoewanja masi hidoep, tetapi saja tida maoe perdoeli lagi sama temen-temen saja, sebab djahat semoewanja! Tetapi begimana pikiran abang, kaloe kita berdoewa bersobat?” Serenta Koera-koera denger per-kataän si Monjet itoe, lantas ija menjaoet: „Baikla, kaloe ade soeka, sebab saja ini djoega sebatang kara didalem doenija ini, dan lagi penoedjoe betoel saja sama ade; saja harep sopaja kita bole rempoek dan kekel kita bersobat-sobatan.” Serenta soeda berdjandji-djandjian sebela-menjebela, lantas kedoewanja pasang omong. Sebentar lagi si Monjet bertanja kepada si Koera-koera: „Abang Koera-koera, bagila saja makanan sedikit, sebab peroet saja keliwat lapar, sampe menggeroedoek boenjinja.” Kata si Koera-koera: „Ja ade, saja ini tida poenja makanan, apa djoega.” Kata si Monjet: „Manjola kita pergi mentjari apa-apa makanan!” Kata si Koera-koera: „Baikla” {{--}} lantas berdjalan berdoewa sobat itoe. Kata si Koera-koera. „Ade Monjet, djaganla terlaloe tjepet ade berdjalan, sebab saja ketinggalan.” Kata si Monjet: „Baikla, nanti saja berdjalan perlahanan sedikit” {{--}} sambil ija tjerangas-tjeringis, tetapi tida kelihatan tingkanja itoe kepada si Koera-koera. Berapa lamanja berdjalan itoe, sampe kedoewanja disatoe tegalan ditenga hoetan. Tegalan itoe ditanemin djagoeng dan ditenga kebon djagoeng itoe ada satoe roema, koelilingnja ditanemin pisang; dalem antara poehoen pisang itoe ada sepoehoen jang boewanja soeda mateng. Serenta si Monjet melihat tandanan pisang mateng itoe lantas sadja ija mengiler. Serenta soeda dilijat-lijatnja tida ada orang didalem roema itoe mendjaga kebonnja, lantas si Monjet pandjat poehoen pisang itoe, ditjoerinja beberapa bidji, lantas dimakannja bersama-sama dengen si Koera-koera. Tetapi si Monjet jang makan paling banjak, dan apa bila ija soeda kenjang, lantas ija isi gelondongannja seberapa bole masoek sadja, sampe melemboeng<noinclude></noinclude> nwx8kmpz9xb3wul2dp82dq2jhat839f Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/11 104 96579 290813 290699 2026-05-10T12:06:21Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 290813 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>{{c|'''{{xxx-larger|PASUKAN KOMANDO'''}}}} {{c|'''Oleh: Maj. Inf. MOCH. IDJON DJANBI'''}} {{c|III}} {{ol|list_style_type=decimal|start=17|'''SUSUNAN (Formaties).'''<br>Pada umumnja dalam medan datar atau medan jang ta' begitu banjak tumbuh²-annja digunakan susunan² jang telah ditetapkan dalam Ki. Senapan ROI-2, jang disesuaikan dengan kekuatan TOP dari suatu Kompanji Senapan Komando.<br>Dalam hutan² dan medan tertutup digunakan susunan² PPPT jang djuga disesuaikan dengan kekuatan TOP dari suatu Ki-Senapan Komando.<br>Selain dari itu dapat djuga disusun Kelompok² tertentu untuk gerakan² jang tertentu pula, dan Kelompok² ini akan bergerak dalam susunan jang taktis dapat dipertanggung djawabkan dalam keadaan jang terdapat sewaktu itu.<br>Kmd. Ki. Senapan Komando menentukan susunan jang akan digunakan dan setiap anggauta dari Ki. tersebut mengetahui tugasnja masing² dalam susunannya. Disebabkan keadaan medan di Indonesia dan tugas² jang diberikan kepada Pasukan Komando sangatlah tidak tepat dan tidak effisien untuk berpegang teguh pada satu susunan jang tertentu. Dalam Latihan² dari Pasukan ini diadjukan ber-matjam² susunan jang akan digunakan atas inisiatip dari Komandannja sesuai dengan keadaan. |'''Pengamanan:'''<br>Pengamanan jang terbesar dari Pasukan Komando terletak dalam daja-geraknja (mobiliteit), jaitu muntjul dengan tiba² lalu menghilang lagi sebelum daja-penembakan musuh jang terpusat (geconcentreerd) dapat menghantjurkan mereka dan kesemuanja ini diikuti oleh tindakan²/gerakan² jang tidak di-sangka² oleh}} {{missing image}} {{smaller|''Pasukan Komando tugasnja tidak hanja terbatas didaratan sadja, djuga dilaut dan udara. Disini nampak anggota² pasukan pajung dari R.P.K.A.D. sedang menudju kepesawat terbang untuk berlatih terdjun dari udara. <br>{{right|(Foto Idj. P.L.).''}}}} {{missing image}} {{smaller|''Pesawat terbang telah diudara dan pintu pesawatnya telah dibuka. Maka sampailah saatnja mereka bersiap² untuk melompat.<br> {{right|(Foto Idj. P.P.).''}}}}<noinclude>{{right|3}}</noinclude> r7qxtolsjgz0gn104getrg1tpk4anre 290920 290813 2026-05-10T13:16:30Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290920 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{c|'''{{xxx-larger|PASUKAN KOMANDO'''}}}} {{c|'''Oleh: Maj. Inf. MOCH. IDJON DJANBI'''}} {{c|III}} {{ol|list_style_type=decimal|start=17|'''SUSUNAN (Formaties).'''<br>Pada umumnja dalam medan datar atau medan jang ta' begitu banjak tumbuh²-annja digunakan susunan² jang telah ditetapkan dalam Ki. Senapan ROI-2, jang disesuaikan dengan kekuatan TOP dari suatu Kompanji Senapan Komando.<br>Dalam hutan² dan medan tertutup digunakan susunan² PPPT jang djuga disesuaikan dengan kekuatan TOP dari suatu Ki-Senapan Komando.<br>Selain dari itu dapat djuga disusun Kelompok² tertentu untuk gerakan² jang tertentu pula, dan Kelompok² ini akan bergerak dalam susunan jang taktis dapat dipertanggung djawabkan dalam keadaan jang terdapat sewaktu itu.<br>Kmd. Ki. Senapan Komando menentukan susunan jang akan digunakan dan setiap anggauta dari Ki. tersebut mengetahui tugasnja masing² dalam susunannya. Disebabkan keadaan medan di Indonesia dan tugas² jang diberikan kepada Pasukan Komando sangatlah tidak tepat dan tidak effisien untuk berpegang teguh pada satu susunan jang tertentu. Dalam Latihan² dari Pasukan ini diadjukan ber-matjam² susunan jang akan digunakan atas inisiatip dari Komandannja sesuai dengan keadaan. |'''Pengamanan:'''<br>Pengamanan jang terbesar dari Pasukan Komando terletak dalam daja-geraknja (mobiliteit), jaitu muntjul dengan tiba² lalu menghilang lagi sebelum daja-penembakan musuh jang terpusat (geconcentreerd) dapat menghantjurkan mereka dan kesemuanja ini diikuti oleh tindakan²/gerakan² jang tidak di-sangka² oleh}} {{missing image}} {{smaller|''Pasukan Komando tugasnja tidak hanja terbatas didaratan sadja, djuga dilaut dan udara. Disini nampak anggota² pasukan pajung dari R.P.K.A.D. sedang menudju kepesawat terbang untuk berlatih terdjun dari udara. <br>{{right|(Foto Idj. P.L.).''}}}} {{missing image}} {{smaller|''Pesawat terbang telah diudara dan pintu pesawatnya telah dibuka. Maka sampailah saatnja mereka bersiap² untuk melompat.<br> {{right|(Foto Idj. P.P.).''}}}}<noinclude>{{right|3}}</noinclude> 167jjhxbj3gmhsqef3v8j4isvxrvmxa Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/9 104 96581 290801 290705 2026-05-10T11:59:53Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 290801 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>{{Center|{{x-larger|'''Angkatan Darat No. 2-3 th VII Pebruari-Maret 1957'''}}}} {{rule}}{{rule}} '''dari medja Redaksi:''' {{Center|{{larger|'''PENGANTAR NOMOR 2-3-1957'''}}}} '''Kata Redaksi :''' Kembali, Madjalah jang selalu di-tunggu<sup>2</sup>, kini berkundjung lagi kehadapan Saudara<sup>2</sup> sekalian, dan sebelum Saudara2 membuka '''isi halaman''' ini selandjutnja, maka baiklah disini. kami utjapkan selamat membatja terlebih dahulu. Setelah halaman isi ini Saudara periksa dengan teliti, maka barangkali dengan spontan Saudara<sup>2</sup> sekalian akan bertanja<sup>2</sup>: Mengapa Madjalahnja digandakan lagi nomer penerbitannja ? ; Mengapa isinja padat dengan artikel<sup>2</sup> berat, seperti Pasukan Komando, Intellegence, Tugas & Tata Kerdja, Panic Dan Mob-Action, Pertempuran Di-rawa<sup>2</sup>, dan lain<sup>2</sup> artikel jang seragam dengan itu? Memang, untuk mengatasi kelambatan Madjalah kita ini, jang disebabkan beberapa faktor, jang mana faktor<sup>2</sup> tsb. sukar dipetjahkan. Dus, satu-satunja Way-out untuk mengatasinja hanjalah dengan menggandakan penerbitan ini, dan dengan digandakannja nomer ini, semoga Madjalah jang kita sajangi ini ta'kan terlambat lagi dalam menunaikan kewadjibannja untuk menemani saudara di-waktu<sup>2</sup> jang sedang luang, sehingga kebutuhan akan batjaan<sup>2</sup> jang aktuil dapat kami hidangkan setjukupnja. (Walau sebenarnja Madjalah kita ini djuga aktuil isinja, jang terlambat hanja nomernja sadja). Dan mengenai padatnja artikel<sup>2</sup> berat jang kami sadjikan sekarang ini, dapat kami paparkan disini, bahwa pada penerbitan j.a.d. jaitu mulai No. 4 bulan April '57, Madjalah Angkatan Darat akan mengalami perobahan isi. Ja, akan dirubah 90°, kalau pada penerbitan jang lalu isinja ditekankan pada artikel<sup>2</sup> ilmu Perang, maka penerbitan jang dimaksud diatas akan kami titik beratkan pada batjaan<sup>2</sup> ringan bermutu jang berupa: Reportage, Tjeritera pendek mengenai penghidupan kita, Peristiwa<sup>2</sup> dimedan operasi, Kisah pradjurit kita di-masa<sup>2</sup> jang selam, sadjak<sup>2</sup> dan apa-apa jang sematjam itu. Tetapi ini semua djangan diartikan bahwa kami sudah tidak menghidangkan artikel ilmu Perang, kami masih tetap akan menghidangkannja, hanja tidak sebanjak seperti jang sudah<sup>2</sup>. Dengan demikian dapat difahami bahwa maksud Redaksi memuat batjaan<sup>2</sup> berat begitu banjak, dengan tudjuan menghabiskan naskah<sup>2</sup> jang masih tertinggal dimedja kami. Tetapi pembatja djangan takut, kalau pada nomer ini hendak kami pompa batjaan berat terus-menerus, karena dihalaman 45, sudah kami sediakan batjaan enteng jaitu '''„Kisah seorang Letnan Muda, mendjadi Letnan Kolonel selama 10 hari.”''' Dan pelaku<sup>2</sup> utama dari kisah ini masih mendjadi saksi hidup jang dapat, ditanjakan kebenarannja akan apa jang kami sadjikan ini. Nah, untuk itu, saudara<sup>2</sup> kami harap sabar menanti kundjungan Madjalah kita j.a.d. jang barangkali saudara sekalian belum pernah mendjumpai apa<sup>2</sup> jang akan kami hidangkan nanti. Sjahdan, tak lupa kami utjapkan selamat membatja, mempeladjari dan menikmati Madjalah ini. {{Custom rule|fy4|50}} {{Border| {{center|'''ISI'''}} {{TOCstyle|model=D.P |1. Pasukan Komando — Major Inf. Moch. Idjon Djambi|15—12/49 |2. Intellegence — Major Inf. Pandusujoso|12—17/50 |3. Tugas & Tata Kerdja Dalam Staf Res./Bn. Inf. — Major Inf. S. Surjosukanto|20—23/50 |4. Panic Dan Mob-Action — Kapten Sukmadi Wiriadibrata|24—32 |5. Pertempuran di-rawa2— Raoul Ravon|33—40/50 |6. Lapangan Randjau — Ltd. Jusuf Purbosutedjo|41—44 |7. Seorang Letnan Muda mendjadi Letnan Kolonel selama 10 hari — Lts, Saudin Sagiman|45—46.}} }}<noinclude>{{rh| | |3}}</noinclude> a4gulqvq12kk972lkxfxwunjulzcn3b Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/611 104 96587 290894 268987 2026-05-10T13:03:02Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290894 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Pembangunan Perumahan Rakjat seluruh Djawa-Timur. RENTJANA Inspeksi Perumahan Rakjat Djawa-Timur tahun 1951 dalam tahun meliputi 426 rumah tersebar diseluruh Djawa-Timur. Biaja jang dikeluarkan untuk pembuatan 426 buah rumah tersebut berdjumlah Rp. 5.788.104,--. Dari rentjana tahun 1952 jang akan dikerdjakan dalam tahun 1953 itu diharapkan akan dapat dibuat lagi 527 buah rumah. Uang untuk keperluan itu telah dibagi-bagikan ke Daerah. Biaja semuanja adalah Rp. 6.323.600,-. Apabila ditindjau, maka soal Perumahan Rakjat tidak sadja di-Desa-Desa, diplosok-plosok, ditepi hutan rimba, dilereng gunung-gunung, akan tetapi terutama dalam Kota-Kota-Besar, seperti umpamanja sadja Surabaja, dimana masih banjak, malahan sebagian besar dari Rakjat Indonesia jang telah 7 tahun merdeka ini, bertempat-tinggal dalam rumah jang merupakan kalau dipandang dari sudut tehnis, ataupun hygiënis mendekati kandang hewan. Hal jang demikian ini Pemerintah tentu tidak dapat membiarkan begitu sadja. Perbaikan dalam perumahannja harus didaja-upajakan. Lambat-laun Rakjat harus dibimbing ke-arah kebersihan, bertempat-tinggal dalam rumah jang sehat dengan halamannja jang bersih dan mempunjai pemandangan jang baik, karena dalam rumah jang sehat dapat membangun djiwa Rakjat jang sudah. merdeka ini. Tidak sadja dalam rumah jang sehat tumbuh tubuh manusia jang sehat, akan tetapi djiwa kanak-kanak dalam rumah demikian ini dididik sehat pula, jang kelak merupakan Bangsa jang kuat dalam bathin maupun lahir untuk mempertegakkan Negara. Selain dari pada jang tersebut diatas, djuga kekurangan perumahan setelah perang dunia ke-II amat terasa. Sudah tidak asing lagi, bahwa banjak keluarga jang bertempat-tinggal dalam kandang-mobil, dua keluarga atau lebih bertempat-tinggal dalam satu rumah ketjil, padat dan sesak. Kekurangan perumahan ini tidak hanja terdjadi disebabkan kerusakan rumah-rumah selama perang atau revolusi, akan tetapi djuga karena terus bertambahnja penduduk dan dengan kurangnja pembangunan perumahan dalam 10 tahun jang terachir ini. Keadaan perumahan, terlebih-lebih di Kota-Kota, jang djuga harus menerima beribu-ribu pengungsi dari pedalaman selama revolusi<noinclude>{{rh|||577}}</noinclude> skzq2knrrqx97htngejrb5qz26qv8ju Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/613 104 96591 290895 269010 2026-05-10T13:04:00Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290895 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Dengan demikian akan dapat tertjapai tudjuan Pemerintah untuk membantu Rakjat jang penghasilannja rendah, jang dengan tidak adanja bantuan itu, Rakjat golongan tersebut tak akan dapat mendirikan rumah sendiri. Baru pada bulan Djuli tahun 1952 dalam Propinsi Djawa-Tengah dan Daerah Istimewa Jogjakarta bouwkas-bouwkas dibentuk, tetapi baru sebagian ketjil sadja; ada jang telah mempunjai kekuatan materiil, ada pula jang belum, sehingga kredit dari Pemerintah untuk pembikinan Perumahan Rakjat masih belum dapat diberikan langsung kepada bouwkas-bouwkas tersebut, tetapi diberikan kepada Kepala-Kepala Daerah. Tindakan ini didjalankan supaja dapat memulainja dengan pembikinan Perumahan Rakjat jang kebutuhannja telah mendesak itu. Maksud pembentukan bouwkas-bouwkas ialah supaja badan-badan ini mengumpulkan penabung-penabung jang banjak, dengan demikian olehnja dapat dibikinkan rumah-rumah untuk para penabung. Tudjuan bouwkas ialah untuk menarik hasrat menabung untuk perumahan dari masjarakat. Disamping uang tabungan itu Pemerintah akan memberikan kepada bouwkas-bouwkas, djika ini dibutuhkan, pindjaman sebagat „injectie”, sehingga badan tersebut dapat segera memulai dengan pembangunan. Pindjaman dari Pemerintah ini dapat ditjitjil oleh bouwkas dalam waktu 25 tahun. Pembikinan rumah untuk Rakjat tidak atau sukar dilakukan, hanja dengan uang „injectie” dari Pemerintah, karena pada sesuatu waktu akan matjet djalannja. Ini dapat diraba-rabakan karena: a. Pemberian,,injectie" dari Pemerintah tentu tidak akan dapat terus-menerus diselenggarakan; b. Bouwkas tidak akan dapat bergerak dengan lantjar, dan pembikinan rumah-rumah akan terhenti, ketjuali apabila dari Rakjat timbul autoactiviteit (banjak jang mendjadi penabung dengan semangat menabung jang menjala-njala; c. Pembikinan rumah-rumah dengan uang „injectie” dari Pemerintah, tiap-tiap tahunnja tidak dapat dipastikan, dan tjara pendjualan rumah-rumah dengan tunai tidak akan dapat didjalankan, disebabkan tidak adanja kemampuan sebagian besar dari Rakjat untuk membeli rumah dengan tunai. Sebab-sebab lain dari sub c djuga dapat dikemukakan: # Belum adanja imbangan antara pembikinan dan perhitungan rentabiliteit. # Djika ada orang jang mempunjai uang, umpamanja Rp. 25.000,- ia tidak akan mempergunakan uangnja untuk membeli rumah, akan tetapi diputarkan, untuk mendapat laba jang lebih banjak. d. Menjewa-belikan rumah-rumah itu dengan pembajaran uang muka 20% ditambah dengan biaja administrasi dan lain sebagainja, selandjutnja dengan pembajaran berangsur-angsur, tidak akan dapat menarik perhatian Rakjat, disebabkan umumnja Rakjat Indonesia ekonomis amat lemah.<noinclude>{{rh|||579}}</noinclude> ev73achqhvh1jgscppfmfw5gdllukol Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/614 104 96602 290896 269022 2026-05-10T13:04:27Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290896 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>e. Djika ada jang mampu untuk membajar uang muka 20% maka inilah berarti, bahwa hanja / dari uang bouwkas jang akan kembali, dan hanja dari uang itu sadjalah dapat dipergunakan untuk mendirikan rumah-rumah baru, sehingga pada suatu saat pembikinan rumah-rumah baru itu akan terhenti; f. Setelah rumah-rumah selesai dibikin, dan oleh karena tidak ada animo berhubung dengan tidak adanja uang untuk membajar 20% tersebut, maka rumah-rumah itu akan kosong, jang membutuhkan pemeliharaan dan lain-lainnja, jang semuanja itu mendjadi suatu risiko jang harus dipikul oleh bouwkas. Maka sebaiknja rumah-rumah jang tidak dapat disewa-belikan itu didjual dengan bebas, atau dengan djalan undian, hal mana membutuhkan idjin dari Kementerian Sosial; g. Untuk disewakan rumah-rumah jang tidak dapat disewa-belikan itupun merugikan bouwkas, karena uang sewa tak mungkin dapat menutup pengeluaran periodik jang harus dikeluarkan, umpamanja untuk pemeliharaan, pembajaran gadji Pegawal, pembajaran iuran assuransi kebakaran dan lain sebagainja. Pula pembikinan rumah-rumah baru akan terhenti karenanja. Inilah jang harus dihindarkan, keinginan Pemerintah jang baik itu akan kandas ditengah djalan, dan tjita-tjitanja agar tiap-tiap penduduk dalam Negara Indonesia mempunjal rumah sendiri jang sehat tidak dapat dilaksanakan. '''Mentjiptakan autoactiviteit.''' Autoactiviteit harus nampak dimana-mana, baik pada para penabung maupun pada perusahaan, misalnja pada Perusahaan Rokok di Surabaja, Malang, Kediri, Madiun dan lain sebagainja, Perusahaan Minjak Kelapa di Banjuwangi, Onderneming-Onderneming, Anemer-Anemer, pendek kata di Perusahaan-Perusahaan jang mempunjal Buruh jang banjak, di Desa-Desa atau di Kampung-Kampung. Telah lama nampak dalam beberapa Kabupaten dan Kotapradja terbentuknja suatu lapangan baru, ialah Bank Pasar. Bank Pasar ini di Djawa-Tengah umpamanja ada jang telah berdjalan beberapa bulan, ada jang baru didirikan, adapula jang telah berdjalan walaupun belum lantjar, karena menunggu stoot-modal. Akan tetapi buah usaha tersebut pada umumnja sangat memuaskan dan boleh dikatakan, bahwa risiko tidak ada, sehingga dapat diharapkan, bahwa Bank Pasar tersebut dapat langsung berdjalan. Setjara hukum sebetulnja Bank Pasar itu belum ada. Berhubung dengan itu seharusnjalah pihak Propinsi mengadakan suatu peraturan untuk Kabupaten-Kabupaten dan Kotapradja jang sifatnja sama, umpamanja Peraturan Bank Pasar jang setjara hukum dapat dipertanggung-djawabkan. Dengan menentukan status Bank Pasar tersebut akan bermanfaat untuk Perumahan Rakjat serta dapat membantu dan atau bekerdja-sama dengan bouwkas.<noinclude>{{rh|580||}}</noinclude> p7k785i5oxfn3djd292w00cnfe9le6h Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/615 104 96604 290897 269021 2026-05-10T13:05:05Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290897 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Oleh karena penghasilan Bank Pasar itu berasal dari Rakjat berupa bunga dari pindjaman dan uang tabungannja, sedang kalau Rakjat tidak mengetahui dan atau tidak mengerti seluk-beluknja hasil-hasil tersebut, maka ada baiknja sebagai tegenprestatie” ialah umpamanja hasil-hasil itu sebagian besar dipergunakan untuk mendirikan rumah-rumah buat kepentingan Rakjat djelata. Pembikinan rumah-rumah tersebut dikerdjakan oleh bouwkas dan setelah selesai diserahkan kepada Bank Pasar, sehingga kekajaan Bank Pasar tersebut sebagian akan terdiri atas rumah-rumah tersebut (onroerende goederen), atau Bank Pasar dapat mendjual rumah-rumah itu lewat bouwkas kepada Rakjat menurut pedoman bouwkas. Djikalau pendirian rumah-rumah oleh bouwkas, baik dari keuangan Pemerintah maupun dari modal pihak lain telah nampak, maka dirasa, bahwa dari pihak penabung akan tidak segan-segan mengikutinja. Dengan demikian nampak autoactiviteit jang njata. '''Sampai dimana pembikinan Perumahan untuk Rakjat?''' Djawatan Perumahan Rakjat bekerdja aktif baru pada bulan Djull 1951, sedang dari bulan September 1951 sampai Desember 1951 kepada tiap-tiap Kabupaten dan Kotapradja diberikan stoot-modal dari Pemerintah. Melihat tambahnja djiwa penduduk di Djawa-Timur, mestinja tambahan pembikinan rumah-rumah tiap-tiap tahun harus ada kurang lebih 10.000 buah. Meskipun sudah dimulai mendirikan tambahan Perumahan Rakjat, tetapi tambahan tersebut masih belum mentjukupl kebutuhan. Maka soal Pembangunan Perumahan untuk Rakjat, adalah salah-satu faktor jang sangat penting. Pembikinan rumah dalam tahun 1951 mulai bulan September sampai bulan Mei 1952, sebagian besar telah selesai, dan akan dimulai lagi dengan pembikinan selandjutnja. Tjepat atau lambatnja pembikinan ini bergantung dari masing-masing Daerah Kabupaten atau Kotapradja tentang pengiriman projek-projek dan rentjana-rentjana blaja kepada Djawatan Perumahan Rakjat. Sekarang sudah nampak hasil pembuatan rumah-rumah itu di tiap-tiap Kotapradja atau Daerah, ketjuali di beberapa Kabupaten. Diakui, bahwa rumah-rumah jang telah djadi itu bentuknja merupakan suatu,,Villa ketjil” jang sebetulnja bukan itu jang dimaksudkan oleh Pemerintah. Beberapa Anggauta Parlemen memadjukan beberapa kritik, dan kritik itu diakui ada betulnja, akan tetapi tidak mudah untuk membuat type jang sekaligus dapat diterima oleh Rakjat. Boleh dikatakan jang tidak mudah ialah membuat suatu type Perumahan Rakjat untuk Rakjat jang sifatnja agraris, sebab-sebabnja pada Rakjat golongan tersebut masih terletak kebiasaan, adat dan lain-lain sebagainja. Faktor jang penting pula ialah soal kekuatan (duurzaamheid) dari pada rumah-rumah itu. Andai kata rumah-rumah Rakjat ini dibikin dari bambu dan gedek atau balungan kap dari kaju tahun, djika diambil<noinclude>{{rh|||581}}</noinclude> el3eycec3hxad0yfq4wtuzoxwl0glr7 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/616 104 96606 290899 269032 2026-05-10T13:05:40Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290899 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>ukuran harga-harga sebelum perang, harga rumah itu per m²-nja kurang-lebih Rp. 75,- sampai Rp. 100,-. Djadi rumah jang konstruksinja sebagai tersebut diatas itu dengan bouwoppervlak misalnja 60 m² sudah menelan biaja Rp. 6.000,- atau dengan tanah-tanahnja kurang-lebih Rp. 7.500,- Rumah-rumah jang demikian itu hanja dapat tahan kurang-lebih 5-10 tahun. Inilah satu-satunja faktor jang sulit pula untuk Djawatan Perumahan Rakjat bagaimana mendapat sesuatu pemetjahan soalnja jang tepat. Jang mudah: ialah bikin rumah-rumah untuk Rakjat jang murah harganja, dengan bouwtype jang disukai oleh Rakjat, tidak boleh berharga tinggi (ini batasnja tidak dapat ditentukan) dan dapat bertahan lama dan sebagainja. Tetapi pemetjahannja tidak mudah. Maka Djawatan Perumahan Rakjat harus mengadakan pertjobaan, oleh karena soal ini berhubungan dengan belum stabilnja keuangan. Salah-satunja pemetjahan ialah merubah konstruksi jang sekarang sudah mendalam dan mendjadi kebiasaan, dengan konstruksi-konstruksi baru dan harus melepaskan kebiasaan memakai kaju djati jang sekarang sangat tinggi harganja, agar Rakjat dapat mendirikan rumahnja sendiri jang sehat dan kuat dengan biaja jang murah. Djawatan Perumahan Rakjat sudah memulai dengan tjara „revolusi dalam konstruksi” tersebut diatas dan djuga dipraktekkan, pula sekarang sudah nampak pembikinan kap-kap jang bukan dari kaju djati dengan konstruksi baru jang dilihat dari sudut ketehnikan kekuatannja hampir sama dengan adat biasa jang telah mendalam itu. Akan tetapi harga- harga itu djuga masih tinggi, tidak dapat kurang dari Rp. 175,- per m² (dengan sjarat-sjarat kesehatan dan lain sebagainja). Sjarat-sjarat jang paling penting untuk Perumahan Rakjat, baik untuk Rakjat jang agraris maupun golongan Buruh, kaum pertengahan dan rendahan, ialah: # Diharuskan adanja lobang-lobang untuk pertukaran hawa jang tjukup, sinar matahari harus dapat masuk; # Diharuskan adanja lantai plesteran jang dapat setiap hari dibersihkan dan ditjutji. Menurut pengalaman sjarat-sjarat jang terpenting untuk rumah- rumah adalah masuknja tjahaja dan hawa dengan leluasa dan keringnja lantai rumah, Rumah-rumah jang tidak memenuhi sjarat-sjarat ini mengganggu kesehatan. Didalam iklim jang tropis harus diperhatikan panas hawa, basah hawa dan angin. Adanja lantai plesteran atau ubin perlu sekali untuk kebersihan didalam rumah. Djika mungkin dari ubin, setidak-tidaknja dengan plesteran. '''Bagaimana tjara menghemat pembikinan rumah-rumah jang dengan sjarat-sjarat tehnis dapat dipertanggung-djawabkan.''' Bahwa tiap-tiap rumah diharuskan mempunjai pandemen jang kuat itu dapat dimengerti, sebab dari sinilah ukuran umur rumah-rumah tersebut. Rumah-Rumah dari gedek tidak perlu memakai pandemen jang<noinclude>{{rh|582||}}</noinclude> dm5vettn5voe0p43g6ughkrj9tsktqc Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/617 104 96614 290900 269041 2026-05-10T13:06:57Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290900 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>dalam, tetapi rumah-rumah gedung dari batu, harus memakai pandemen jang kuat menurut keadaan struktur tanahnja. Dengan membuat pandemen jang kuat tentu perongkosannja djuga lebih besar daripada pandemen jang ringan. Maka harus ditjari bahan-bahan dinding kaju jang kekuatannja sama dan jang enteng. Kini Djawatan Perumahan Rakjat sudah mengadakan beberapa tjontoh dengan membikin batu tjetak dari beberapa matjam bahan jang dinamakan „tuftsteen”. Bahan ini sangat ringan dan harganja lebih murah daripada batu merah. Menghemat plesteran pula, dan karena ringannja bahan tersebut dapat menghemat pandemen, dengan sendirinja djuga meringankan biaja pendirian rumah. Kepala-Kepala Daerah Kabupaten/Kotapradja telah diberi andjuran oleh Djawatan Perumahan Rakjat akan hal tersebut. '''Kuda-kuda (kapspant).''' Karena kaju djati pada waktu ini hampir tidak dapat dibeli oleh Rakjat karena sangat mahalnja, maka terpaksa harus diadakan penindjauan tentang kaju balungan-balungan (kapwerk) rumah. Lazimnja balungan rumah itu terdiri atas kuda-kuda dengan gording”, „spantbeen” dan lain-lain sebagainja. Dengan setjara demikian sudah tentu rumah itu akan memakan kaju banjak dan akan banjak pula mengeluarkan uang untuk pembelian kaju, ongkos-ongkos tukang dan pekerdja. Konstruksi demikian harus dirubah dan sekarang djuga sudah dimulai pembikinan-pembikinan balungan rumah jang sangat enteng, sangat sederhana dan tidak perlu memakai tukang jang ahli. Konstruksi jang terbaru itu terdiri atas kombinasi kuda-kuda dan usuk. Kuda-kuda dalam konstruksi baru itu terdiri dari papan-papan sadja, dengan hanja dipaku. Djarak antara satu dan lain „kapspant” ada 1 m sampai 1,20 m, kapspant serupa ini djuga merupakan usuk. Oleh karena usuk dan kuda-kuda mendjadi satu, maka hanja membutuhkan reng sadja, biasanja dengan ukuran 2 x 3 cm, untuk balungan ini memerlukan reng jang lebih besar ialah 3½ x 3 cm. Keterangan ini perlu sekali untuk memberi gambaran, bahwa tidak perlu terikat kepada sleur adat kebiasaan, dan harus mentjari djalan lain jang lebih efficient, financieel ringan, tehnis dan hygiënis tepat dan benar, berdasar pengetahuan dan pengalaman.<noinclude>{{rh|||583}}</noinclude> a87mz8bc2lyj18q4yn7n60xqeljwtwq Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/603 104 96650 290879 269114 2026-05-10T12:55:38Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290879 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Setidak-tidaknja orang harus dapat mengatur dirinja sendiri buat mengurangi kesulitan-kesulitan kehidupan jang serba sukar ini. Sukur kalau dapat mengatur keluarganja djuga dan lebih sukur lagi kalau dapat ikut serta mengatur peri-kehidupan di Desanja dan sebaginja. Pendidikan auto-activiteit ini menudju ke-arah otonomi. Masing-masing daerah harus dapat mengatur daerahnja sendiri, dengan kekuatan jang ada pada daerah itu. Masing-masing harus menjingsingkan lengan badju, tidak boleh hanja mendjadi penonton belaka. Masing-masing Warga- Negara harus ekonomis kuat. Supaja ekonomis kuat, harus kuat pula djasmani dan rochaninja. Badan sehat, pikiran sehat, berani berusaha tidak mengenal pajah, dan djangan mendjadi orang jang hanja menjerahkan nasib, itulah djalan ke-arah kebahagiaan hidup. '''Tjatatan pada waktu 17 Agustus 1952.''' Pekerjaan pembangunan djiwa oleh Inspeksi Djawatan Sosial Djawa-Timur didjalankan dengan mengadakan kursus-kursus, tjeramah- tjeramah, jang dibantu oleh ,,Panitia Pembantu Sosial" jang berdiri dan tumbuh di tiap-tiap Ketjamatan di seluruh Djawa-Timur. Usaha ini termasuk bagian preventif, bagian pendjagaan, bagian pentjegahan. Disamping itu, didjalankan djuga usaha perbaikan, usaha repressif. Dalam hal ini termasuk pekerdjaan pertolongan, jang mempunjai sifat djuga pembangunan djasmani dan rochan. Pertolongan diberikan kepada fakir-miskin, orang-orang terlantar, jatim-piatu, anak-anak terlantar, termasuk djuga usaha-usaha jang berhubungan dengan penjakit masjarakat, antara lain pelatjuran. Jang paling hangat pada waktu itu ialah pekerjaan jang bertalian dengan orang-orang bambungan. Djumlah mereka tidak sedikit. Dalam taksiran paling rendah 100 orang ditiap Kabupaten, maka di Djawa-Timur ada 29 kali 100 orang 2.900 orang. Ditambah jang ada di Kota Surabaja kira-kira 9.000 orang. Djumlah taksiran 11.900 orang. Ini jang masih berkeliaran. Jang sudah dirawat didalam rumah-rumah perawatan di seluruh Djawa-Timur ada 7.565 orang, ditambah pengumpulan baru 1.500 orang. Djumlah semuanja 11.900 +9.065 20.965, dibulatkan 21.000 orang. Ini djumlah menurut taksiran jang paling rendah. Chusus buat Djawa-Timur telah mulai diusahakan adanja pemindahan orang-orang terlantar jang baru ditampung itu ke Pulau Kangean (Madura). Untuk sementara akan dikirimkan sedjumlah 175 orang, jang terdiri dari para Tukang dan Petani. Djika usaha ini berhasil, maka akan disusul dengan jang lain-lainnja. Suatu matjam pekerdjaan lagi jang menarik perhatian umum ialah pekerdjaan jang berhubungan dengan pelatjuran. Menurut tjatatan djumlah paling sedikit di Djawa-Timur ada 647 germo dan 4.228 orang pelatjur. Djumlah ini adalah jang masuk dalam daftar instansi sosial. Dapat dikirakan, bahwa djumlah jang sebenarnja djauh lebih besar. Didalam Kota Surabaja sadja sudah melebihi djumlah seluruhnja itu.<noinclude>{{rh|||569}}</noinclude> siwmflrx33937zvecipnwoclamrh78w Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/604 104 96652 290880 269493 2026-05-10T12:56:13Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290880 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Usaha untuk menolong para pelatjur ini bermatjam-matjam, semuanja masih bersifat experiment, berhubung dengan sulitnja perkara itu sendiri dan kekurangan keahlian didalam menghadapi persoalan tersebut. Dari kalangan masjarakat sendiri banjak timbul hasrat untuk ikut serta memperhatikan soal ini. Badan-Badan berdiri, seperti: Badan Pemberantasan Pelatjuran; Badan Perbaikan Masjarakat; Badan Pemberantasan Penjakit Masjarakat: Badan Penjelenggaraan Sosial; Panitia Perbaikan Budi Pekerti; Panitia Perbaikan Masjarakat; Jajasan Budi Utami; dan lain sebagainja tersebar diseluruh Djawa-Timur. Pekerdjaan jang tidak kurang pentingnja ialah merawat anak-anak jatim-piatu dan anak-anak terlantar. Mereka ini merupakan harapan Bangsa, sebagai halnja anak-anak lainnja. Setjara kebetulan mereka tidak mempunjai Bapak-Ibu lagi, atau setjara kebetulan keadaan orang-tuanja begitu rupa, sehingga tidak mungkin memberikan pendidikan dan pengadjaran sebagaimana mestinja bagi mereka. Djumlah Rumah-Perawatan di seluruh Djawa Timur ada 75 buah. Djumlah anak jang dirawat: anak lelaki ada 2.345 orang, anak perempuan ada 1.314 orang. Jang bersekolah: anak lelaki ada 1.691 orang. anak perempuan ada 834 orang. Diantara mereka ada jang meneruskan sekolahnja pada Sekolah Pendidikan Kemasjarakatan Negeri di Surakarta 3 orang, pada Sekolah Guru Puteri di Blitar 2 orang, jang lainnja pada Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Guru Atas dan sebagainja. Jang demikian ini membuktikan, bahwa diantara mereka tidak sedikit jang mempunjai kemampuan berpikir, sehingga dapat membawa dirinja ke-arah kemadjuan, asal kesempatan ada padanja. Oleh karena itu, maka tepat sekali kalau dikatakan, bahwa mereka adalah harapan. Bangsa. tidak bedanja dengan anak-anak lainnja. '''Kesimpulan untuk menghadapi tahun 1953.''' Apa jang tersebut diatas, adalah sebagian daripada lukisan sedjarah pekerjaan sosial selama 8 tahun, diambil jang pokok pada tiap-tiap masa. Kesimpulan jang dapat diambil ialah: # Bentuk pekerdjaan sosial makin njata, jaitu menudju ke-arah pembangunan moril dan materiil, sesuai dengan usaha pembangunan Negara kita pada umumnja, hal mana sudah logis, sebab pekerdjaan sosial adalah sebagian dari pada pekerdjaan pembangunan Negara jang berpedoman Pantja-Sila. Sebagai Bangsa jang telah merdeka dan berdaulat. Bangsa Indonesia ingin hidup dengan pegangan dua matjam filsafat jang dipersatukan, jaitu jang disebut filsafat Timur dan filsafat Barat. Filsafat Timur menudju<noinclude>{{rh|370||}}</noinclude> lxnh6y7sihiad1oyijyqpw6sc7i6m4z Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/605 104 96798 290885 269470 2026-05-10T13:00:19Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290885 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>ke-arah kebathinan, sedang filsafat Barat menudju ke-arah kenjataan. Kebenaran menurut Timur adalah sudah terudji dengan perasaan bathin, sedang menurut Barat kalau sudah terudji dengar. kenjataan. Padahal kebenaran hanja ada satu, baik dilihat dari sudut Timur maupun dari sudut Barat. Untuk mendapat satu kebenaran, maka persoalan-persoalan harus dilihat dari dua sudut dengan dasar pertjaja kepada kekuatan bathin, disamping pertjaja pula kepada kekuatan lahir. Sila jang '''pertama''' dan '''kedua: Ke-Tuhanan dan peri-kemanusiaan, adalah pedoman Timur'''. Pedoman ini menudju kedalam ke-arah bathin, ialah pertjaja akan adanja Tuhan jang maha Esa, dan harus selalu ingat akan kepentingan sesama manusia. Kalangan agama telah memberikan tuntunan bathin kepada ummatnja dengan kata-kata: sajangilah sesamamu (hebt Uw naasten Lief)! Pedoman ini sangat penting bagi manusia sebagai machluk sosial, sebagai machluk jang ditakdirkan hidup bergerombol, karena memberikan petundjuk supaja manusia selalu ingat akan kepentingan bergotong-rojong dalam mentjapai kebutuhan hidupnja. Djangan hendaknja dipergunakan sembojan jang bermakna manusia selalu sebaliknja, jaitu „homo homini lupus”, jang berarti memandang lain sebagai serigala. Adanja hanja keinginan menerkam dan memusnakan, dengan sembojan siapa kuat dialah jang menang. Bagi pekerjaan sosial pedoman tersebut djuga sangat penting, sebab jang diperlukan ialah adanja kerdja-sama antara sesama manusia dan bukan adanja saling membunuh. Kerdja-sama in groepsverband” adalah sangat dibutuhkan, dan oleh karenanja maka selalu diandjurkan dan dipupuk adanja semangat gotong-rojong. Dalam sedjarah pekerjaan sosial sampai sekarang ini diusahakan adanja organisasi jang baik didalam Djawatan dan diluarnja. Didalam Djawatan senantiasa diusahakan terbentuknja groep jang homogeen, dimana pada seluruh tenaganja terdapat perasaan saling mengerti dan saling membantu. Diluarnja tetap diusahakan adanja organisasi-organisasi masjarakat jang dapat memikirkan kebutuhan masjarakatnja setjara collectivistis. Dalam hal ini adanja „Panitia Pembantu Sosial” dan terpeliharanja,,Rukun Kampung dan „Rukun Tetangga” adalah suatu sumbangan jang tidak ketjil bagi usaha-usaha sosial pada umumnja. Sila jang '''ke-empat dan kelima: Kedaulatan Rakjat dan Keadilan Sosial, adalah pedoman Barat.''' Pedoman ini menudju keluar-ke-arah kebutuhan hidup djasmani, jang dengan pendek boleh disebut kebutuhan sandang-pangan. Kedaulatan Rakjat atau Demokrasi, bagi Indonesia tidak hanja mengenai Demokrasi Politik, pun djuga mengenai Demokrasi Sosial dan Ekonomi. Demokrasi Politik, menghendaki adanja pemerintahan jang berdasarkan Perwakilan Rakjat. Demokrasi Sosial atau djuga disebut Keadilan Sosial, menghendaki adanja kesempatan jang sama bagi seluruh lapisan Warga-Negara untuk mendapatkan kemadjuan dalam peri-kehidupannja.<noinclude>{{rh|||571}}</noinclude> ebph58mtsvufwck34fx3ukwxuxa4591 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/908 104 96819 291819 284973 2026-05-11T07:06:05Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291819 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>Disini akan dibitjarakan hanja Sekolah dan Kursus Kesehatan jang dibuka sesudah Pengakuan Kedaulatan oleh Belanda, terhadap negara kita. Sebelum itu usaha Pemerintah untuk membuka sekolah atau kursus tersebut hanja terbatas dengan menerima beberapa pemuda/pemudi kita sebagai murid-murid pendjaga orang sakit dibeberapa Rumah Sakit, djuru-rawat di Sawah Lunto, bidan di Bukittinggi, dengan alat-alat jang serba kurang ketika itu, karena blokade Belanda. Matjam-matjam Sekolah atau Kursus Kesehatan jang sampai achir tahun 1952 telah dibuka oleh Pemerintah dan diselenggarakan oleh Djawatan Kesehatan Sumatera Tengah adalah sebagai berikut: 1. Sekolah Bidan chusus bagi pemudi-pemudi kita jang telah tamat dengan baik dari S.M.P. atau djuru-rawat wanita berdiploma dan telah berpraktek pula sekurang-kurangnja dua tahun. Lama sekolah 3 tahun. Buat Sumatera Tengah Sekolah Bidan ini baru ada 1 buah, bertempat di Rumah Sakit Umum Bukittinggi . 2. Sekolah Djuru-rawat untuk pemuda (i) kita jang telah menamatkan Sekolah Rakjat dengan beridjazah. Lama sekolah 4 tahun. Sekolah djuru-rawat ini ada di Sawah Lunto, Bukittingi dan di Padang. Dus baru 3 untuk Sumatera Tengah. 3. Pada tanggal 22 Desember 1952, bertepatan dengan Hari Ibu, di Bukittinggi telah dibuka pula Kursus Pengundjung Rumah, tertentu bagi pemudi-pemudi jang lepasan Sekolah Rakjat dengan beridjazah, lamanja kursus ini tjuma satu tahun. Setamatnja mereka dari kursus, kepada mereka jang kebanjakan diambil dan datang dari wilajah-wilajah, diberi tugas untuk memberi pengertian kepada orang-orang dikampung, tentang kesehatan dan mendjaganja, mengundjungi rumah orang sakit dan sebagainja, dalam usaha untuk mendekatkan orang -orang kampung tersebut kepada Balai-balai Pengobatan dan Rumah-rumah Sakit jang disediakan oleh negara untuk mereka. Dengan maksud jang sama dalam tahun 1953 ini, insjaallah, akan dibuka pula beberapa tempat Kursus Penolong Bersalin, satu kursus jang dalam tugasnja tak berbeda banjak dengan Kursus Pengundjung Rumah diatas, dan kini sedang diminta pula perhatian Pusat untuk mendirikan djuga Sekolah '''Asisten Apotheker''' di Padang. Itulah sekolah-sekolah dan kursus-kursus kesehatan jang telah ada dan jang akan dibuka oleh Djawatan Kesehatan Inspeksi Propinsi Sumatera Tengah, dalam usahanja untuk mendjaga Kesehatan Rakjat. Disekolah dan dikursus itulah anak-anak kita dididik setjara bteori dan praktek, bagaimana merawat orang sakit, memeriksa dan<noinclude>{{rh|900}}</noinclude> nqbege51lyqrjq662imdkgda0fkoblz Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/606 104 96821 290887 269490 2026-05-10T13:00:51Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290887 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>kesempatan jang sama memasuki tiap-tiap perguruan dari jang rendah sampai jang tinggi, kesempatan jang sama buat mendjabat pangkat kepegawalan dari jang rendah sampai jang tinggi dan sebagainja. Demokrasi Ekonomi menghendaki adanja pembagian rezeki antara segenap Warga-Negara djangan sampai ada jang menganggur dan djangan sampai ada jang terlantar, struktur ekonomi harus ditudjukan ke-arah kemakmuran dan kebahagiaan bagi semua Warga-Negara. Sila jang ketiga telah menjebutkan sendiri, ialah: Kebangsaan, jang berarti, bahwa sebagai Bangsa jang merdeka harus dapat menjelenggarakan kehidupan dengan kedua pedoman tersebut. Masing-masing orang wadjib menggunakan pedoman-pedoman tadi, jang achirnja dengan sendirinja akan mewudjudkan kekuatan kehidupan seluruh Bangsa. Ikatan Bangsa ini hendaknja djangan dilupakan sebagai halnja pula dengan ikatan-keluarga, ikatan- kampung, ikatan-Desa. Melupakan ikatan ini akan berarti kehilangan kekuatan-kekuatan jang djustru hanja terdapat dalam suatu golongan jang terikat erat. Demikianlah, maka pekerjaan sosial tidak lagi boleh hanja sekedar memberikan pertolongan, dan sama sekali tidak boleh pertolongan itu berlangsung terus dengan tiada berhentinja. Pertolongan jang diberikan terus-menerus akan mendidik Bangsa Indonesia mendjadi Bangsa jang hanja njadong pemberian orang lain. Sebagai Bangsa jang merdeka dan berdaulat, maka tabeat njadong pemberian harus dihapuskan dan dihindari sehingga dapat mendjadi Bangsa jang berpribadi kuat, berani hidup dan berani berusaha. 2. Pekerdjaan sosial, demikianpun matjam pekerdjaan jang lain-lain dapat berhasil dengan baik, kalau didjalankan dengan tjara jang teratur dalam organisasi. Kalau tudjuannja sudah terang, maka organisasinja tinggal menjesuaikan diri dengan tudjuan tersebut. Maksud organisasi ialah mempersatukan tenaga dan membagi tenaga. Pekerdjaan harus menurut rentjana jang ditentukan. Rentjana harus ditetapkan oleh Pusat Organisasi. Bahan-bahannja dapat diambil dari Tjabang-Tjabang Organisasi. Dengan adanja,,Panitia Pembantu Sosial" ditiap-tiap Ketjamatan dimaksudkan djuga supaja pekerjaan sosial dapat dilakukan setjara georganiseerd. Perasaan sosial sudah ada pada tiap-tiap manusia. Perasaan sosial jang terdapat pada Bangsa Indonesia sudah tidak asing lagi, bahkan sudah terkenal pula diseluruh dunia. Wudjud perasaan sosial itu tampak dalam bermatjam-matjam bentuk, misalnja gotong-rojong mendirikan rumah di Desa-Desa, gugur-gunung membendung sungai buat pengairan kesawah-sawah, menjediakan kendi (tempat air- minum) di-tepi djalan buat memberi minum kepada jang haus dalam perdjalanan dan sebagainja. Tapi semuanja ini sifatnja sewaktu- waktu bila diperlukan dan jang terachir itu sifatnja tidak georganiseerd, melainkan bersifat perseorangan, menurut kehendak masing-masing.<noinclude>{{rh|572||}}</noinclude> 5qe0t1pkux745c8qckfmodfc19rm6fb Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/607 104 96829 290890 269512 2026-05-10T13:01:42Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290890 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Jang diperlukan sekarang ialah pekerjaan sosial jang teratur menurut rentjana. Tudjuannja pembangunan Nasional dalam lapang moril dan materiil. Pekerdjaan tersebut akan berhasil baik, mengingat dasar jang sudah ada pada Bangsa Indonesia tadi, jaitu perasaan sosial jang sangat mendalam. Bolehlah hal ini dianggap sebagai kekuatan Nasional jang masih tersimpan, jang akan dapat memberikan kemungkinan-kemungkinan lebih landjut buat mengembangkan kemadjuan Bangsa. Dengan gotong-rojong dapat diadakan usaha memperbaiki ekonomi dan kehidupan Bangsa guna meringankan penderitaan, sehingga mendjadi Bangsa jang kuat dan djaja. Hanja dengan persatuan, dapat ditjapai kemadjuan, karena segala perpetjahan dan benih perpetjahan akan membawa kemunduran. Ikatan Nasional harus selalu teguh. Menghadapi tahun 1953 serta dengan pengalaman-pengalaman jang sudah-sudah, maka mengingat politik penghematan Pemerintah seolah-olah masa depan tampak suram. Adakah kemungkinan-kemungkinan guna mentjapai hasil jang memuaskan, dengan anggaran belandja jang banjak dikurangi daripada tahun-tahun jang sudah? Sesudah dapat ditentukan besarnja anggaran belandja, maka dapat dikira-kirakan akan luasnja pekerjaan jang dapat didahulukan Dengan adanja anggaran belandja maka dapat diukur berapa besar pekerdjaan jang perlu diselesaikan. Selain dari pada itu, mengingat akan pengalaman jang sudah, maka dalam keadaan bagaimanapun harus didjalankan pekerdjaan sosial itu dengan sebaik-baiknja, dengan menggunakan tjara berorganisasi jang setepat-tepatnja. Djanganlah mendahulukan kepentingan golongan atau mementingkan kehendak sendiri. Semangat kerdja-sama, saling mengerti, harus dipelihara sebaik- baiknja guna mendjamin terlaksananja pekerjaan dengan sempurna. Sebaliknja kalau diantara Pegawai tidak ada kesatuan tudjuan, kalau masing-masing nanja ingin memaksakan ideologi politiknja, kiranja akan membawa akibat jang sebaliknja. Walaupun disediakan anggaran belandja jang berlipat-kali banjaknja, namun tidak akan tertjapai suatu hasil jang gilang-gemilang, bahkan sebaliknja, hanja akan didapati keadaan jang katjau belaka. Potensi Nasional jang masih menjellp itu perlu senantiasa dipupuk dan dipelihara, jaitu jang merupakan perasaan sosial jang kuat. Perasaan itu harus dapat diwudjudkan setjara georganiseerd. Jang dimaksud dengan perasaan sosial disini terutama ialah perasaan menggolong jang akrab, jaitu perasaan menggolong mendjadi keluarga, perasaan menggolong dalam suatu kelompok Desa, perasaan menggolong sebagai suatu Bangsa jang ber-Negara. {{rule|width=4em}}<noinclude>{{rh|||573}}</noinclude> qjgbfq7ds7seh1wu7wzu7kpootffvi1 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/609 104 96842 290891 269522 2026-05-10T13:02:20Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290891 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{C|PERUMAHAN RAKJAT}}<noinclude></noinclude> hck8evpp2f75yen1zrpvuc8wlmf0nnx 290892 290891 2026-05-10T13:02:35Z Lutfiyatun 26681 290892 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{C|'''PERUMAHAN RAKJAT'''}}<noinclude></noinclude> 4k93i83cfqer3teri2ssi7qfx5vl6a5 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/757 104 96913 291001 269872 2026-05-10T13:35:07Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ 291001 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>dan sebagainja. Pembangunan Perkebunan Kopi itu sesudah hantjur akibat pembumihangusan dan sebagainja, berkat usaha-usaha dan perbaikan jang diadakan mulai tahun 1949, telah mulai membawa hasil. Menurut tjatatan, produksi kopi dalam tahun 1951 sebesar 43 ton dan disamping itu sedjak bulan Nopember 1951 dimulai djuga penanaman bibit tebu sebanjak 2,50 ha jang kemudian dapat diusahakan mendjadi tanaman tebu seluas 35 ha dan tanaman baru seluas 25 ha. Untuk keperluan itu, direntjanakan djuga untuk mendirikan instalasi guna membikin gula tandjung dengan alat-alat jang modern, jang akan memakan biaja sedjumlah Rp. 100.000,-. Usaha ke-2 jang diadakan ialah rentjana 5 tahun jang meliputi perluasan tanaman kopi di Karangredjo dan penanaman randu Australia sebanjak 10.000 pohon. Jang ikut membangun perkebunan itu, selain 21 orang Angauta C.T.N. djuga Anggauta-Anggauta Bekas Pedjuang dan Pegawai Sipil jang berasal dari Reg. 33 serta penduduk dan Rakjat Perkebunan jang seluruhnja berdjumlah 700 djiwa. Dengan adanja pengluasan tanaman berupa kopi, tebu, djagung, randu dan sebagainja, diharapkan produksi „'''Usaha Nasional Demobilisan Karangnongko'''" itu pada achir tahun 1957 akan bertambah dengan produksi tjampuran, jang berlipat 3 kali. '''Objek-objek di-daerah Malang.''' Latihan Pertanian djuga diselenggarakan oleh Cie. 5 TA 12 di B.P.M.D. Kepandjen, jang mendidik 31 orang Anggauta C.T.N. dalam lapangan Pertanian. Di Kota Malang, terdapat perbengkelan auto „Merapi” jang dipimpin oleh Perwira Pert. I Soekadi dan terdiri dari 31 orang Anggauta C.T.N. Perbengkelan ini terutama memperbaiki onderdeel- onderdeel auto kepunjaan umum dan Pemerintah. Selain itu djuga menjelenggarakan usaha pengangkutan dengan 9 truk jang mempunjai trajek seluruh Karesidenan Malang dan Malang - Surabaja. Di Batu ada '''Perkebunan Kopi/Sajur-Majur''' jang diusahakan oleh 32 Anggauta C.T.N. jang dinamakan „blijvers”. Cie. 5 TA 13 di Lawang jang terdiri 276 Anggauta mempunjai 4 pesawat tenun atas usaha mereka sendiri, jang ketjuali dipergunakan untuk mendidik 11 orang Anggautanja sebagai ahli-ahli Pertenunan djuga telah dapat menghasilkan sarung, pelangi, kain-kain , woletta dan sebagainja. Untuk sementara produksinja baru mentjapai 4 sarung, 3 pelangi, 5 meter woletta tiap hari, sedang hasil itu baru dipergunakan untuk keperluan anggauta sendiri. Disamping itu, Kompi tersebut djuga mempunjai anggauta jang mempunjai ke-ahlian membuat alat-alat musik dengan usaha sendiri seperti guitaar, cello, stringbas, viool, dan lain sebagainja. Adapun usaha pembuatan alat-alat musik itu ada dibawah pimpinan Anggauta C.T.N. jang bernama Bakat. Selain itu ia djuga mendjadi Pemimpin Orkes dari Kompi jang terdiri dari 14 orang pemain dengan alat- alat musik buatan sendiri jang disamping usaha-usaha untuk menghibur kawan-kawan sendiri di Kompi, djuga sering diminta {{right|647}}<noinclude></noinclude> iu5qx8o7o78mzi8la4ng74a4fwxc3nd 291013 291001 2026-05-10T13:37:35Z Lutfiyatun 26681 /* Telah diuji baca */ 291013 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>dan sebagainja. Pembangunan Perkebunan Kopi itu sesudah hantjur akibat pembumihangusan dan sebagainja, berkat usaha-usaha dan perbaikan jang diadakan mulai tahun 1949, telah mulai membawa hasil. Menurut tjatatan, produksi kopi dalam tahun 1951 sebesar 43 ton dan disamping itu sedjak bulan Nopember 1951 dimulai djuga penanaman bibit tebu sebanjak 2,50 ha jang kemudian dapat diusahakan mendjadi tanaman tebu seluas 35 ha dan tanaman baru seluas 25 ha. Untuk keperluan itu, direntjanakan djuga untuk mendirikan instalasi guna membikin gula tandjung dengan alat-alat jang modern, jang akan memakan biaja sedjumlah Rp.100.000,-. Usaha ke-2 jang diadakan ialah rentjana 5 tahun jang meliputi perluasan tanaman kopi di Karangredjo dan penanaman randu Australia sebanjak 10.000 pohon. Jang ikut membangun perkebunan itu, selain 21 orang Angauta C.T.N. djuga Anggauta-Anggauta Bekas Pedjuang dan Pegawai Sipil jang berasal dari Reg. 33 serta penduduk dan Rakjat Perkebunan jang seluruhnja berdjumlah 700 djiwa. Dengan adanja pengluasan tanaman berupa kopi, tebu, djagung, randu dan sebagainja, diharapkan produksi „'''Usaha Nasional Demobilisan Karangnongko'''" itu pada achir tahun 1957 akan bertambah dengan produksi tjampuran, jang berlipat 3 kali. '''Objek-objek di-daerah Malang.''' Latihan Pertanian djuga diselenggarakan oleh Cie. 5 TA 12 di B.P.M.D. Kepandjen, jang mendidik 31 orang Anggauta C.T.N. dalam lapangan Pertanian. Di Kota Malang, terdapat perbengkelan auto „Merapi” jang dipimpin oleh Perwira Pert. I Soekadi dan terdiri dari 31 orang Anggauta C.T.N. Perbengkelan ini terutama memperbaiki onderdeel-onderdeel auto kepunjaan umum dan Pemerintah. Selain itu djuga menjelenggarakan usaha pengangkutan dengan 9 truk jang mempunjai trajek seluruh Karesidenan Malang dan Malang - Surabaja. Di Batu ada '''Perkebunan Kopi/Sajur-Majur''' jang diusahakan oleh 32 Anggauta C.T.N. jang dinamakan „blijvers”. Cie. 5 TA 13 di Lawang jang terdiri 276 Anggauta mempunjai 4 pesawat tenun atas usaha mereka sendiri, jang ketjuali dipergunakan untuk mendidik 11 orang Anggautanja sebagai ahli-ahli Pertenunan djuga telah dapat menghasilkan sarung, pelangi, kain-kain , woletta dan sebagainja. Untuk sementara produksinja baru mentjapai 4 sarung, 3 pelangi, 5 meter woletta tiap hari, sedang hasil itu baru dipergunakan untuk keperluan anggauta sendiri. Disamping itu, Kompi tersebut djuga mempunjai anggauta jang mempunjai ke-ahlian membuat alat-alat musik dengan usaha sendiri seperti guitaar, cello, stringbas, viool, dan lain sebagainja. Adapun usaha pembuatan alat-alat musik itu ada dibawah pimpinan Anggauta C.T.N. jang bernama Bakat. Selain itu ia djuga mendjadi Pemimpin Orkes dari Kompi jang terdiri dari 14 orang pemain dengan alat-alat musik buatan sendiri jang disamping usaha-usaha untuk menghibur kawan-kawan sendiri di Kompi, djuga sering diminta<noinclude>{{rh|||647}}</noinclude> gzmjiamkghzra7kd48kmh8wjx87px4i Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/652 104 97188 290908 288826 2026-05-10T13:09:41Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290908 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>masjarakat dengan tjara jang berentjana dan sistimatis, sehingga masih dapat diharapkan bangkitnja kembali djiwa Pahlawan mereka, bila umpamanja Kedaulatan Negara kita diperkosa oleh Negara manapun djuga. Djustru untuk mendapat sesuatu terapi jang tepat, berdasarkan diagnose jang tjermat, dan berdasar beberapa pengetahuan terutama ilmu djiwa jang djitu, selandjutnja untuk dapat mentjiptakan proses pemulihan mereka kembali ke-asal mulanja, ke-masjarakat, dibentuklah oleh Kabinet Halim dengan Peraturan Pemerintah No. 8, suatu Kementerian Pembangunan Masjarakat, kementerian mana dalam urgensi programnja ditegaskan, bahwa para Bekas Pedjuang dan Tentara sebagai korban rasionalisasi harus mendapat pemeliharaan dari Pemerintah jang tertib dan tjermat, agar hendaknja sifat destruktif dalam menghadapi musuh, tidak pula terus mendjadi sifat jang tidak dapat diubah mendjadi sifat konstruktif terutama dalam masa Negara sedang menghadapi konsolidasi dalam lapangan ekonomi, sosial dan politik. Tegasnja, setelah mereka merasa dapat menundjukkan kepahlawanannja dalam pertempuran, hendaknja dapat pula mereka itu mendjadi Pahlawan dalam lapangan pembangunan. '''Organisasi Biro Rekonstruksi Nasional.''' Di Daerah Djawa-Timur pada waktu itu terdapat Kantor Kementerian Pembangunan Masjarakat di tiap-tiap Daerah Karesidenan. Setelah dalam masa peralihan dan berturut-turut keluarnja Peraturan Pemerintah jang diusahakan oleh Pemerintah jang telah berganti-ganti, maka mendjelmalah „Biro Rekonstruksi Nasional” (B.R.N.) dan mengambil oper tugas dari Kementerian Pembangunan Masjarakat pada waktu itu. Di Djawa-Timur di Ibu-Kota Propinsi diadakanlah Kantor Tjabang Biro Rekonstruksi Nasional Djawa- Timur, dengan Kantor-Kantor Perwakilannja antara lain: {{PUU-nomor|n=1|m=1 |Kantor Perwakilan B.R.N. Daerah Karesidenan Madiun di Madiun |{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} B.R.N.{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Bodjonegoro di Bodjonegoro. |{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} B.R.N. {{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Kediri di Kediri. |{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} B.R.N. {{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Malang di Malang. |{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} B.R.N. {{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Besuki di Bondowoso. }} Bagi Karesidenan Madura diadakanlah Anak-Tjabang jang berkedudukan di Pamekasan dan langsung dalam pengawasan B.R.N. di Djakarta. Sudah barang tentu, berdasarkan Peraturan Pemerintah jang ada, maka di Daerah Propinsi Djawa-Timur terdapat pula „Badan Penjelenggara Urusan Rekonstruksi” (B.P.U.R.) jang antara lain terdapat di:<noinclude>{{rh|'''618'''}}</noinclude> 88n2fh2dz0q0prsuhg60vl3sx9zxsoj Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/653 104 97214 290909 288831 2026-05-10T13:10:02Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290909 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{PUU-nomor|n=1|m=1 |Propinsi jang diketuai oleh Gubernur Djawa- Timur |Karesidenan Surabaja {{gap}}"{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Residen Surabaja |Kabupaten Surabaja {{gap}}"{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Bupati Surabaja |Kotapradja Surabaja {{gap}}"{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Walikota Surabaja |Kabupaten Sidoardjo {{gap}}"{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Bupati Sidoardjo |Karesidenan Besuki {{gap}}"{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Residen Besuki |Karesidenan Bodjonegoro {{gap}}"{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Residen Bodjonegoro |Karesidenan Malang {{gap}}"{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Residen Malang |Kabupaten Malang {{gap}}"{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Bupati Malang |Karesidenan Madiun {{gap}}"{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Residen Madiun |Karesidenan Kediri {{gap}}"{{gap}}"{{gap}}"{{gap}} Residen Kediri. }} Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1952, maka pimpinan tertinggi dari Organisasi di Propinsi ialah „Badan Penjelenggara Urusan Rekonstruksi” (B.P.U.R.) dengan segala urusan rekonstruksi di daerah daerah bawahan dalam lingkungan Propinsi. Hal mana dapat dianggap, bahwa B.P.U.R. Propinsi jang lebih mengetahui dari dekat struktur politik dan sosial ekonomi dari daerah -daerah dalam lingkungannja . Tata-usaha dari Organisasi B.R.N. mulai dari Pusat sampai pada Tjabang dan Anak-Tjabangnja didasarkan pada putusan Perdana Menteri No. 112/P.M./1951. '''Usaha-usaha Biro Rekonstruksi Nasional.''' '''Pendidikan.''' {{PUU-nomor|n=1|m=1 |Tugas Pendidikan:}} Bagian Pendidikan Biro Rekonstruksi Nasional berkewadjiban untuk mengadakan mentale omschakeling, jaitu perubahan achlak serta rochani pada para Bekas Pedjuang bersendjata, serta disamping itu memberikan pendidikan vak kepada mereka, agar supaja ada bekal untuk menghadapi hidup dalam masjarakat. Soal mengadakan mentale omschakeling belum dapat dipetjahkan setjara memuaskan. Pendidikan untuk mengubah achlak dan rochani menuntut sjarat-sjarat jang tidak mudah dipenuhi. Sjarat-sjarat itu berhubungan dengan soal keuangan, pendidikan -pendidikan ahli dan tempat pendidikan diberikan, dimana dilakukan tata-tertib seperlunja, tata-tertib jang bersifat dan menghidupkan djiwa disiplin pada mereka jang perlu dididik itu. Tentu tidak perlu diterangkan lagi, bahwa soal mentale onmschakeling ini amat penting artinja dan pengaruhnja dalam melantjarkan usaha pendidikan vak. Dalam keadaan demikian ada masa ini, sukar diberikan sesuatu pedoman jang tertentu bagi badan -badan di-daerah, tjara memetjahkan soal ini. Jang dapat diberikan petundjuk-petundjuk jang tegas adalah bagian kedua dari pada tugas diatas, ialah pendidikan-pendidikan vak. Dan pendidikan vak inilah sebenarnja terpenting dari Bagian Pendidikan jang mendjadi usaha-usaha B.R.N.<noinclude>{{rh|'''619'''}}</noinclude> rf811k0qna4eoi6yyy5lz05kxelb9b5 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/547 104 97216 290852 270375 2026-05-10T12:34:51Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290852 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Umum: {{dropinitial|B}}ERABAD-ABAD lamanja Bangsa Indonesia telah mengalami djaman pendjadjahan. Didalam masjarakat pendjadjahan itu susunan ketata-negaraan dan peraturan-peraturan semata-mata ialah untuk mentjapai keuntungan jang sebesar-besarnja dari kaum pendjadjah terhadap kaum jang didjadjah. Ada hal-hal jang dapat dikenjam dari usaha-usaha kaum pendjadjah, tetapi kesemuanja itu apabila dibandingkan dengan keuntungan jang dikeruk oleh kaum pendjadjah hampir tidak berarti, dan pada dasarnja dan kenjataannja Rakjat terdjadjah tetap merupakan Rakjat jang dieksploitir tenaganja dan dieksploitir kekajaannja. Dimasa pendjadjahan (Belanda, Djepang) seluruh masjarakat Indonesia dalam keadaan onderhorigheid" terutama kaum Buruh Indonesia mengalami gentjatan kaum modal asing untuk kepentingan sendiri. Indonesia dipandang sebagai tempat penanaman modal, tempat gudangnja hasil bumi (kekajaan alam), tempat penjebaran dan pendjualan (pasar) barang-barang jang dihasilkan kaum pendjadjah, tempat tenaga manusia jang mudah. dan murah. Dengan demikian Tanah-Air kita ini dipandang sebagai gudang kekajaan dan gudang tenaga Rakjat bagi kaum pendjadjah. Kekajaan dan tenaga Rakjat Indonesia dieksploitir untuk kepentingan dan kebahagiaan Negara dan Rakjat kaum pendjadjah. Karena itulah perdjuangan Bangsa Indonesia termasuk kaum Buruh Indonesia bersifat perdjuangan pembebasan dan mentjapal Kemerdekaan Negara dan Rakjat dari kaum pendjadjah Belanda dan Djepang pada chususnja dan dari imperialisme pada umumnja. Di Daerah Djawa-Timur pekerdjaan bagi Buruh meliputi bermatjam- matjam lapangan: Perindustrian, Perkebunan, Perusahaan, disamping Buruh jang mendjadi Pegawai Pemerintah. Letaknja tersebar di Kota- Kota Besar, disini berdiri industri agak berat, ringan, sedangkan lapangan perkebunan, perusahaan dibangunkan di daerah-daerah jang agak djauh dari Kota, misalnja di pegunungan-pegunungan. Diwaktu pendjadjahan Belanda Djepang. kaum Buruh hidup dalam tekanan peraturan- peraturan pendjadjah, tetapi berkat kesadaran, mereka dapat mengorganisir dirinja, baik setjara terang-terangan (legaal), maupun setjara illegaal, guna memperdjuangkan nasibnja. Dalam sedjarah<noinclude>{{rh|||513}}</noinclude> 8okfewz7n4b59ngxg2g356uqvzes5nr Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/550 104 97225 290854 286846 2026-05-10T12:35:50Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290854 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>tangani, diliputi oleh suasana pertentangan-pertentangan politik didalam negeri, pertentangan antara jang pro kaum kiri dan pro kaum kanan serta memuntjaknja tekanan peri-kehidupan Rakjat, sebagai akibat blokkade ekonomi siasat Belanda. Soal-soal ini membawa djuga pengaruh jang besar didalam kalangan pergerakan Buruh. Dimana semula ada suatu persesuaian-faham antara sebagian besar dari golongan kaum Buruh dan fihak Pemerintah didalam menghadapi pelaksanaan persetudjuan Renville, jang persesuaian itu kemudian retak oleh adanja pertentangan politik didalam negeri. Semua ini mempunjai pengaruh di Daerah dan nampak pula di Daerah pertentangan-pertentangan politik itu. Pergerakan Buruh pun petjah mendjadi 3 golongan jang besar: {{Ol|start=5|list_style_type=lower-alpha |Golongan jang tergabung dalam S.O.B.S.I. jang semula menjetudjui Persetudjuan Renville, kemudian menolaknja; |Golongan jang tergabung didalam G.A.S.B.R.I. jang sesuai dengan sikapnja terhadap naskah Linggadjati menolak djuga Persetudjuan Renville; |Golongan jang tidak tergabung, baik didalam S.O.B.S.I. maupun G.A.S.B.R.I. dan jang tidak membitjarakan persoalan „pro”-„anti” dalam kalangannja. }} Sementara itu akibat-akibat blokkade Belanda, baik politis maupun ekonomis menambah runtjingnja pertentangan didalam negeri. Penduduk Daerah Republik jang berdjedjal-djedjal akibat pengungsian, membawa pengaruh psychologis jang lebih buruk akibatnja daripada tekanan ekonomi. Disamping itu memuntjaknja inflasi membawa pula pengaruh korupsi. Kaum Buruh merasa hidupnja terdjepit dan tidak berdaja melihat kegandjilan-kegandjilan itu. Perasaan tertekan achirnja meletus dengan rupa-rupa tuntutan-tuntutan antaranja mengenai: kenaikan upah, perlakuan jang dianggapnja menjinggung kehormatan-Buruh, pemberantasan-korupsi. Tidak djarang tuntutan-tuntutan itu disertai pula dengan aksi-aksi pemogokan dan didalam fase ini Indonesia mengalami pemogokan-pemogokan jang pertama. Sementara itu pertentangan politik didalam negeri makin meruntjing dan mentjapai puntjaknja dengan meletusnja '''„Peristiwa Madiun”'''. Dengan peristiwa ini organisasi-organisasi Buruhpun mengalami kerusakan dan kehantjuran. Kemudian disusul dengan clash ke-II dan dengan demikian seolah-olah terhenti pula segala dinamika-pergerakan kaum Buruh setjara organisatoris. Sebagai pembela kemerdekaan, kaum Buruh kembali menggalang kekuatannja untuk menghadapi musuh, mereka turut djuga bergerilja dan lain sebagainja. Semua pertentangan pada waktu itu seolah-olah lenjap diliputi oleh tekad dan hadjat ke-arah persatuan kembali. Akan tetapi pertentangan-pertentangan tersebut sesudah penjerahan kedaulatan ternjata tampak kembali jang hingga kini masih sukar untuk diatasi.<noinclude>{{rh|516||}}</noinclude> jtlnig50j2e1zf9fjvp0b4s2gsh16ks 290855 290854 2026-05-10T12:36:04Z Lutfiyatun 26681 290855 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>tangani, diliputi oleh suasana pertentangan-pertentangan politik didalam negeri, pertentangan antara jang pro kaum kiri dan pro kaum kanan serta memuntjaknja tekanan peri-kehidupan Rakjat, sebagai akibat blokkade ekonomi siasat Belanda. Soal-soal ini membawa djuga pengaruh jang besar didalam kalangan pergerakan Buruh. Dimana semula ada suatu persesuaian-faham antara sebagian besar dari golongan kaum Buruh dan fihak Pemerintah didalam menghadapi pelaksanaan persetudjuan Renville, jang persesuaian itu kemudian retak oleh adanja pertentangan politik didalam negeri. Semua ini mempunjai pengaruh di Daerah dan nampak pula di Daerah pertentangan-pertentangan politik itu. Pergerakan Buruh pun petjah mendjadi 3 golongan jang besar: {{Ol|start=1|list_style_type=lower-alpha |Golongan jang tergabung dalam S.O.B.S.I. jang semula menjetudjui Persetudjuan Renville, kemudian menolaknja; |Golongan jang tergabung didalam G.A.S.B.R.I. jang sesuai dengan sikapnja terhadap naskah Linggadjati menolak djuga Persetudjuan Renville; |Golongan jang tidak tergabung, baik didalam S.O.B.S.I. maupun G.A.S.B.R.I. dan jang tidak membitjarakan persoalan „pro”-„anti” dalam kalangannja. }} Sementara itu akibat-akibat blokkade Belanda, baik politis maupun ekonomis menambah runtjingnja pertentangan didalam negeri. Penduduk Daerah Republik jang berdjedjal-djedjal akibat pengungsian, membawa pengaruh psychologis jang lebih buruk akibatnja daripada tekanan ekonomi. Disamping itu memuntjaknja inflasi membawa pula pengaruh korupsi. Kaum Buruh merasa hidupnja terdjepit dan tidak berdaja melihat kegandjilan-kegandjilan itu. Perasaan tertekan achirnja meletus dengan rupa-rupa tuntutan-tuntutan antaranja mengenai: kenaikan upah, perlakuan jang dianggapnja menjinggung kehormatan-Buruh, pemberantasan-korupsi. Tidak djarang tuntutan-tuntutan itu disertai pula dengan aksi-aksi pemogokan dan didalam fase ini Indonesia mengalami pemogokan-pemogokan jang pertama. Sementara itu pertentangan politik didalam negeri makin meruntjing dan mentjapai puntjaknja dengan meletusnja '''„Peristiwa Madiun”'''. Dengan peristiwa ini organisasi-organisasi Buruhpun mengalami kerusakan dan kehantjuran. Kemudian disusul dengan clash ke-II dan dengan demikian seolah-olah terhenti pula segala dinamika-pergerakan kaum Buruh setjara organisatoris. Sebagai pembela kemerdekaan, kaum Buruh kembali menggalang kekuatannja untuk menghadapi musuh, mereka turut djuga bergerilja dan lain sebagainja. Semua pertentangan pada waktu itu seolah-olah lenjap diliputi oleh tekad dan hadjat ke-arah persatuan kembali. Akan tetapi pertentangan-pertentangan tersebut sesudah penjerahan kedaulatan ternjata tampak kembali jang hingga kini masih sukar untuk diatasi.<noinclude>{{rh|516||}}</noinclude> hp3sot63w2bokqnu7yh64jhrr1smhjt Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/656 104 97261 290910 270748 2026-05-10T13:10:31Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290910 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Adapun rentjana peladjaran untuk tjalon transmigran dibuat sedemikian, ialah teori setjukupnja, sedang praktek diberikan sebanjak-banjaknja. Biro Rekonstrusi Nasional Djawa-Timur telah mengadakan dua matjam pendidikan sebagai berikut: {{PUU-nomor|n=1|m=1 |Pendidikan Perikanan Laut jang diadakan di Panarukan, Besuki. |Pendidikan Peternakan jang diadakan di:}} Wonotjolo Karesidenan Surabaja<br> Tuban {{gap}}"{{gap}} Bodjonegoro<br> Prampelan {{gap}}"{{gap}} Madiun<br> Ngadiluwih {{gap}}"{{gap}} Kediri<br> Batu {{gap}}"{{gap}} Malang<br> Djember {{gap}}"{{gap}} Besuki<br> Pamekasan {{gap}}"{{gap}} Madura<br> Djumlah semua Kader adalah :<br> Pendidikan Perikanan Laut . . . . . . 40 orang.<br> Pendidikan Peternakan . . . . . . . . 75 orang.<br> Tjara untuk menjelenggarakan pendidikan-pendidikan tersebut diatur sebagai berikut : Administrasi dan Organisasi dipegang sepenuhnja oleh B.R.N. sedang pertanggungan tehnik bersangkutan dilakukan oleh masing-masing Djawatan jang (Djawatan Perikanan Laut dan Djawatan Kehewanan) dengan tidak meninggalkan Koordinasi Kepala Daerah setempat. Para Kader diharuskan menanda-tangani surat perdjandjian. Lamanja pendidikan pada umumnja 6 bulan, jang selalu diatur dengan tjara sepraktis-praktisnja, dalam arti menghindari peladjaran teori jang berat, supaja dapat menerima peladjaran praktek sebanjak-banjaknja. '''Transmigrasi Bekas Pedjuang bersendjata.''' Pemetjahan masaalah Bekas Pedjuang bersendjata setelah waktu jang lampau dikerdjakan oleh beberapa Instansi Pemerintah, antara lain Kementerian Pembangunan Masjarakat, Biro Demobilisasi Nasional, pada waktu ini dibebankan pada Dewan dan Biro Rekonstruksi Nasional jang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1952. Dewan Rekonstruksi Nasional dalam sidangnja tanggal 17 Mei 1951 memutuskan garis-garis besar tjara pemetjahan masaalah ini. Salah satu djalan jang kemudian dipandang djalan jang terpenting adalah transmigrasi. '''Dasar Transmigrasi:''' {{PUU-nomor|n=a|m=1 | Transmigrasi Bekas Pedjuang bersendjata, biarpun dalam melaksanakannja perlu dan penting sekali diperhatikan faktor-faktor psychologis berkenaan dengan subjek-subjek (Bekas Pedjuang bersendjata), pada dasarnja mempunjai tudjuan pokok jang sama dengan transmigrasi umum, jaitu mempertinggi kemakmuran dan kesedjahteraan Rakjat jang merata; }}<noinclude>{{rh|'''622'''}}</noinclude> 4b8cj8gt5gpls81nijy9ra6lf6haojc Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/499 104 97268 291349 271466 2026-05-10T17:24:37Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ tanda petik, line break 291349 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>sebagai ,,masa peralihan kembali", dimana ruangan hanja dipakai untuk penjusunan organisasi kedalam sadja. Perdjuangan jang dikerahkan dari hutan-hutan dan rimba-rimba selama berbulan-bulan jang lampau, amat banjak meminta tenaga pemimpin-pemimpin itu, karena selain dari mereka sekian lama harus memberikan pengertian kepada pengikut-pengikutnja, djuga mereka harus pula memberikan tenaga jang banjak dalam memutar roda Pemerintahan Darurat, karena walau betapapun djuga suasana jang tengah dihadapi, kekosongan-kekosongan dalam setiap bahagian instansi pemerintahan sebolehnja tidak dibiarkan. Dari itu tidak djarang bila sebahagian diantara pentolan-pentolan partai itu disaat kembalinja kekota, merupakan seorang pegawai pemerintah, pegawai jang ,,non". Dalam perkisaran antara suasana R.I.S. dengan akan dimasuki kembali Negara Kesatuan, kegiatan-kegiatan politik di Sumatera Tengah masih belum memperlihatkan bentuk jang njata, selain dari pada tuntutan-tuntutan untuk perbaikan didalam daerah sendiri, dan kesatuan paham masih dapat dipertahankan. Meskipun Dewan Perwakilan Rakjat sementara Sumatera Tengah sudah dapat dilangsungkan kembali, dan perlainan-perlainan pendapat didalamnja sudah mulai pula kelihatan, tapi pertentangan-pertentangan jang meruntjing masih dapat dihindarkan. Tapi hal ini bukanlah menundjukan sepinja pertjaturan antara partai-partai politik itu sendiri. Pertentangan-pertentangan pendirian mengenai pembaharuan susunan dalam segala lapangan alat pemerintahan daerah, tetap berdjalan dalam suasana jang tenang. Dibekukannja D.P.R.S.T. oleh Pemerintah Pusat pada awal tahun 1951, merupakan puntjak ketegangan-ketegangan jang timbul karena adanja pertentangan-pertentangan pendirian dan pendapat antara D.P.R.S.T. dan pemerintah. Pembekuan Dewan Perwakilan Rakjat Daerah ini merupakan suatu pemangkasan putjuk-putjuk perdjuangan partai-partai politik jang sedianja akan berkembang. Dari itu tidaklah mengherankan bila karena itu timbul reaksi-reaksi atas tindakan Pemerintah itu, lebih-lebih dari partai-partai jang pada masa itu memandang bahwa tindakan Pemerintah ini sangat merugikan kepada perdjuangan tjita-tjitanja. Tertutupnja ruangan Dewan Perwakilan untuk menjatakan kehendak rakjat jang disalurkan oleh partai-partai politik di Sumatera Tengah itu, menjebabkan timbulnja musim dan zaman ,,beresolusi".<noinclude>{{rh|||493}}</noinclude> eqhr085s0iygwfggmruij6nk36rou5y 291430 291349 2026-05-11T00:40:35Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291430 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>sebagai „masa peralihan kembali”, dimana ruangan hanja dipakai untuk penjusunan organisasi kedalam sadja. Perdjuangan jang dikerahkan dari hutan-hutan dan rimba-rimba selama berbulan-bulan jang lampau, amat banjak meminta tenaga pemimpin-pemimpin itu, karena selain dari mereka sekian lama harus memberikan pengertian kepada pengikut-pengikutnja, djuga mereka harus pula memberikan tenaga jang banjak dalam memutar roda Pemerintahan Darurat, karena walau betapapun djuga suasana jang tengah dihadapi, kekosongan-kekosongan dalam setiap bahagian instansi pemerintahan sebolehnja tidak dibiarkan. Dari itu tidak djarang bila sebahagian diantara pentolan-pentolan partai itu disaat kembalinja kekota, merupakan seorang pegawai pemerintah, pegawai jang „non”. Dalam perkisaran antara suasana R.I.S. dengan akan dimasuki kembali Negara Kesatuan, kegiatan-kegiatan politik di Sumatera Tengah masih belum memperlihatkan bentuk jang njata, selain dari pada tuntutan-tuntutan untuk perbaikan didalam daerah sendiri, dan kesatuan paham masih dapat dipertahankan. Meskipun Dewan Perwakilan Rakjat sementara Sumatera Tengah sudah dapat dilangsungkan kembali, dan perlainan-perlainan pendapat didalamnja sudah mulai pula kelihatan, tapi pertentangan-pertentangan jang meruntjing masih dapat dihindarkan. Tapi hal ini bukanlah menundjukan sepinja pertjaturan antara partai-partai politik itu sendiri. Pertentangan-pertentangan pendirian mengenai pembaharuan susunan dalam segala lapangan alat pemerintahan daerah, tetap berdjalan dalam suasana jang tenang. Dibekukannja D.P.R.S.T. oleh Pemerintah Pusat pada awal tahun 1951, merupakan puntjak ketegangan-ketegangan jang timbul karena adanja pertentangan-pertentangan pendirian dan pendapat antara D.P.R.S.T. dan pemerintah. Pembekuan Dewan Perwakilan Rakjat Daerah ini merupakan suatu pemangkasan putjuk-putjuk perdjuangan partai-partai politik jang sedianja akan berkembang. Dari itu tidaklah mengherankan bila karena itu timbul reaksi-reaksi atas tindakan Pemerintah itu, lebih-lebih dari partai-partai jang pada masa itu memandang bahwa tindakan Pemerintah ini sangat merugikan kepada perdjuangan tjita-tjitanja. Tertutupnja ruangan Dewan Perwakilan untuk menjatakan kehendak rakjat jang disalurkan oleh partai-partai politik di Sumatera Tengah itu, menjebabkan timbulnja musim dan zaman „beresolusi”.<noinclude>{{rh|||493}}</noinclude> 5q2d379dgdaht1vwiu0q1e3nr49iwqu Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/658 104 97288 290911 270751 2026-05-10T13:12:04Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290911 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{PUU-nomor|n=a|m=2 |Penjelesaian hak tanah; |Pengukuran; |Penjusunan plan dan projek dalam garis-garis ketjil; |Pembuatan djalan, pembangunan-pembangunan umum saluran-saluran air, pembukaan tanah; |Persiapan penerimaan dan pengiriman transmigran; |Fourageering ; |Perawatan sosial, pendidikan, kesehatan; |Pertumbuhan usaha; |Penumbuhan dan pemeliharaan organisasi perekonomian dan organisasi ke-masjarakatan lain-lain.}} Pekerdjaan -pekerdjaan diatas dikerdjakan oleh masing -masing Djawatan jang bersangkutan dalam hubungan B.P.U.R. Penjelidikan tehnik ini adalah terutama kewadjiban Djawatan Pertanian Rakjat, Balai Penjelidikan Tanah dan Djawatan Pekerdjaan Umum. Berdasarkan hasil penjelidikan itu semua disusunlah oleh B.P.U.R. (Djawatan-Djawatan jang bersangkutan), sebuah rentjana projek dalam garis-garis ketjilnja. Pembuatan garis-garis ketjil ini adalah suatu pekerdjaan jang banjak seluk-beluknja, bermatjam-matjam faktor jang perlu diperhatikan. Setelah sesuatu daerah ditentukan dapat dan akan didjadikan daerah transmigrasi, maka Pamong-Pradja menjelesaikan sekitar soal-soal hak tanah dengan Rakjat dan instansi-instansi jang bersangkutan di daerah itu. Permusjawaratan-permusjawaratan dengan Rakjat ditempat tjalon daerah transmigrasi sangat perlu dikerdjakan sebelum dimulainja penjelenggaraan pekerdjaan-pekerdjaan lain untuk menghindari kesulitan-kesulitan dikemudian hari. Dalam pada itu, sebagai dinjatakan diatas, jang perlu dikemukakan dan diperhatikan ialah: pembukaan dan pembangunan tjalon daerah transmigrasi itu sendiri, dan bukannja semata-mata pemindahan penduduk dari lain daerah ke-daerah itu. Berdasarkan hasil permusjawaratan jang diambil liwat Badan-Badan jang ada dan memang berhak, umpamanja Dewan Marga, maka Pamong Pradja (Residen, Gubernur), membuat suatu keputusan jang menjatakan, bahwa suatu daerah jang tertentu didjadikan daerah transmigrasi. Dalam hal ini di Daerah Propinsi Djawa-Timur telah ada daerah transmigrasi, ialah di Pulau Kangean (Madura). Pelaksanaan ini diselenggarakan oleh Anak-Tjabang B.R.N. Madura. B.R.N. Tjabang Djawa-Timur dalam usahanja transmigrasi telah memberangkatkan: Bekas Pedjuang bersendjata bukan C.T.N. ke Perkebunan Sindang Dataran di Sumatera-Selatan pada bulan Desember 1952, sedjumlah 451 orang beserta keluarganja dari Karesidenan Malang. Anggauta-Anggauta C.T.N. beserta keluarganja ke Pontianak, Sumatera-Selatan dan Singkawang pada bulan Djanuari, April, Mei, Djuni dan Nopember 1952 sedjumlah 861 orang. Djumlah semuanja 1.312 orang.<noinclude>{{rh|'''624'''}}</noinclude> olx4y75o85yt6yfpv4a2ez7zhq9numz 290912 290911 2026-05-10T13:12:30Z Lutfiyatun 26681 290912 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{PUU-nomor|n=a|m=2 |Penjelesaian hak tanah; |Pengukuran; |Penjusunan plan dan projek dalam garis-garis ketjil; |Pembuatan djalan, pembangunan-pembangunan umum saluran-saluran air, pembukaan tanah; |Persiapan penerimaan dan pengiriman transmigran; |Fourageering ; |Perawatan sosial, pendidikan, kesehatan; |Pertumbuhan usaha; |Penumbuhan dan pemeliharaan organisasi perekonomian dan organisasi ke-masjarakatan lain-lain.}} Pekerdjaan-pekerdjaan diatas dikerdjakan oleh masing -masing Djawatan jang bersangkutan dalam hubungan B.P.U.R. Penjelidikan tehnik ini adalah terutama kewadjiban Djawatan Pertanian Rakjat, Balai Penjelidikan Tanah dan Djawatan Pekerdjaan Umum. Berdasarkan hasil penjelidikan itu semua disusunlah oleh B.P.U.R. (Djawatan-Djawatan jang bersangkutan), sebuah rentjana projek dalam garis-garis ketjilnja. Pembuatan garis-garis ketjil ini adalah suatu pekerdjaan jang banjak seluk-beluknja, bermatjam-matjam faktor jang perlu diperhatikan. Setelah sesuatu daerah ditentukan dapat dan akan didjadikan daerah transmigrasi, maka Pamong-Pradja menjelesaikan sekitar soal-soal hak tanah dengan Rakjat dan instansi-instansi jang bersangkutan di daerah itu. Permusjawaratan-permusjawaratan dengan Rakjat ditempat tjalon daerah transmigrasi sangat perlu dikerdjakan sebelum dimulainja penjelenggaraan pekerdjaan-pekerdjaan lain untuk menghindari kesulitan-kesulitan dikemudian hari. Dalam pada itu, sebagai dinjatakan diatas, jang perlu dikemukakan dan diperhatikan ialah: pembukaan dan pembangunan tjalon daerah transmigrasi itu sendiri, dan bukannja semata-mata pemindahan penduduk dari lain daerah ke-daerah itu. Berdasarkan hasil permusjawaratan jang diambil liwat Badan-Badan jang ada dan memang berhak, umpamanja Dewan Marga, maka Pamong Pradja (Residen, Gubernur), membuat suatu keputusan jang menjatakan, bahwa suatu daerah jang tertentu didjadikan daerah transmigrasi. Dalam hal ini di Daerah Propinsi Djawa-Timur telah ada daerah transmigrasi, ialah di Pulau Kangean (Madura). Pelaksanaan ini diselenggarakan oleh Anak-Tjabang B.R.N. Madura. B.R.N. Tjabang Djawa-Timur dalam usahanja transmigrasi telah memberangkatkan: Bekas Pedjuang bersendjata bukan C.T.N. ke Perkebunan Sindang Dataran di Sumatera-Selatan pada bulan Desember 1952, sedjumlah 451 orang beserta keluarganja dari Karesidenan Malang. Anggauta-Anggauta C.T.N. beserta keluarganja ke Pontianak, Sumatera-Selatan dan Singkawang pada bulan Djanuari, April, Mei, Djuni dan Nopember 1952 sedjumlah 861 orang. Djumlah semuanja 1.312 orang.<noinclude>{{rh|'''624'''}}</noinclude> 049hxoq6ueb9ey3idklrktv7d3wmtai Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/659 104 97298 290913 270603 2026-05-10T13:13:23Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290913 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>'''Perusahaan Rekonstruksi.''' Perusahaan Rekonstruksi jang didirikan akan mengalami impasse apabila sesuatu pemberian kredit tidak dapat dipertanggung-djawabkan berhubung para peminta kredit tidak atau belum mempunjai keahlian dan atau pengalaman dalam mengemudikan sesuatu perusahaan. Sebab itu untuk hal ini terlebih dahulu melihat „analisa suatu perusahaan”. Disini diberikan beberapa gambaran dari pekerdjaan-pekerdjaan jang harus dilakukan untuk merentjanakan, menjelenggarakan pendiriannja sesuatu perusahaan sampai phase produksinja. Dalam melakukan pekerdjaan-pekerdjaan itu, akan timbul kesulitan-kesulitan dan untuk mengatasi ini, diberikan tjara-tjara penjelesaiannja: {{PUU-nomor|n=1|m=1 |Perusahaan Rekonstruksi ini direntjanakan bersama oleh: Ketua B.P.U.R., Inspektur Perindustrian, Bank Rakjat dan Kepala B.R.N. Tjabang. Rentjana tersebut sesudah diterima dalam rapat B.P.U.R. diadjukan keuangannja; |Tenaga-tenaga pimpinan perusahaan: jaitu tenaga-tenaga pokok untuk mengemudikan perusahaan dipilih oleh B.P.U.R. dengan bimbingan seperlunja, agar perusahaan tersebut dapat berdjalan menurut rentjana. Tenaga-tenaga tersebut dapat diambil dari kaum partikulir, asalkan mereka itu dapat dianggap dapat menjesuaikan diri dengan para Bekas Pedjuang jang akan bekerdja. Tenaga-tenaga pokok dalam hal ini antara lain: Pimpinan Umum, Pimpinan Tehnik, Administrasi dan Pembukuan; |Selama sesuatu perusahaan belum dapat diserahkan kepada Badan Hukum, perusahaan itu adalah tetap milik Pemerintah (B.R.N.). Segala untung rugi adalah kepunjaan dan tanggungan perusahaan jang bersangkutan, statusnja „proefbedrijf” . Supaja dapat mengikuti madju mundurnja perusahaan itu, harus diadakan peperiksaan periodik. Untuk hal itu disediakan „tjatatan pemeriksaan perusahaan”.}} '''Waktu peralihan.''' Dalam waktu sependek- pendeknja oleh B.P.U.R. diusahakan agar antara tenaga-tenaga pokok dan tenaga Bekas Pedjuang terdapat satuan jang akan didjadikan pokok pangkal pembentukan Badan-Hukum. Sesudah Badan-Hukum itu terbentuk, maka atas perusahaan tersebut dibuat taksiran mengenai gedung, tanah, mesin-mesin, alat-alat, bahan-bahan dan sebagainja. Atas perkiraan itu, dan apabila sjarat-sjarat untuk melandjutkan perusahaan dengan pimpinan dan pertanggungan- djawab sendiri sudah dipenuhi, maka perusahaan tersebut dapat diserahkan kepada Badan Hukum jang telah terbentuk, sebagai kredit, dalam hal mana B.P.U.R./B.R.N. merupakan sebagai supervisi, selama kredit belum lunas. Hal-hal jang mengenai untung rugi jang tidak dapat ditanggung oleh perusahaan pada waktu penjerahan milik akan diadakan proses-verbal seperlunja dengan diketahui oleh Djawatan Accountancy Negara.<noinclude>{{rh|'''625'''}}</noinclude> 3kfehecdr3gbe86deayqwg6hmkg8llq Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/637 104 97318 290904 272133 2026-05-10T13:08:08Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290904 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Madiun, dimana ada tempat Pendidikan Djururawat buat 52 orang murid. Selain jang tersebut diatas telah diberikan idjin Pendidikan Djururawat kepada Rumah Sakit „William Booth” Surabaja buat 15 orang murid dan Rumah Sakit Tulungredjo di Pare (Kediri) buat 12 orang murid. '''Pendidikan Penjelidik Malaria.''' Berhubung dengan amat kurangnja tenaga, tempat dan alat-alat Pendidikan Penjelidik Malaria tidak dapat lekas dimulai lagi. Pada tahun 1951 dimulai dengan pemberian Kursus-Ulangan kepada para penjelidik malaria jang lulus dalam waktu pendudukan Djepang untuk menambah pengetahuannja setjara giliran rata-rata dalam waktu 3 bulan dan dalam rombongan 6 orang. Kursus-Ulangan ini telah selesai dalam bulan Djuni 1952. Pada bulan Djuli 1952 dapat dimulai dengan Pendidikan Penjelidik Malaria, mengingat adanja tenaga dan keperluan lain-lain, hanja dapat menerima untuk klas I sebanjak 12 orang murid. '''I. Adanja Tenaga Kesehatan wilajah Djawa-Timur.''' '''Keadaan ultimo 1952.''' Dokter Pemrintah . . . . . . . . . . . . . . 144<br> {{gap}} " Partikulir . . . . . . . . . . . . .99<br> Bidan Pemerintah . . . . . . . . . . . . . . 142<br> {{gap}} " Partikulir . . . . . . . . . . . . 129<br> Djururawat . . . . . . . . . . . . . . . . . 796<br> Perawat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 25<br> Pendidik Hygiëne . . . . . . . . . . . . . . .88<br> Penjelidik Malaria . . . . . . . . . . . . . .60<br> Mantri Tjatjar . . . . . . . . . . . . . . . 107<br> Penjelidik Pes . . . . . . . . . . . . . . . .47<br> Pegawai Statistik Kelahiran /Kematian . . . . 36<br> '''II . Adanja Rumah -Rumah Sakit.''' Rumah Sakit Pemerintah . . . . . . . . . . . . . . . .51<br> Rumah Sakit Partikulir . . . . . . . . . . . . . . . .16<br> Balai Pengobatan Pemerintah . . . . . . . . . . . . .339<br> Balai Pengobatan Partikulir . . . . . . . . . . . . . 30<br><noinclude>{{rh|'''603'''}}</noinclude> tonky5bh0nmqij0of6my7pzxvmarqn2 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/638 104 97333 290906 272172 2026-05-10T13:08:42Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290906 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>'''III. Usaha Hygiëne dan Pendidikan Kesehatan Rakjat jang dikerdjakan oleh para Pendidik Hygiëne.''' <ol type="a"> <li>'''Penerangan dan Pendidikan tentang:'''</li> <ol type="1"> <li>Kebersihan;</li> <li>Makanan;</li> <li>Air minum;</li> <li>Bahaja lalat;</li> <li>Bahaja penjakit perut;</li> <li>Bahaja penjakit kulit;</li> <li>Bahaja penjakit mata;</li> <li>Pembikinan kakus;</li> <li>Kehamilan;</li> <li>Pemeliharaan Baji;</li> <li>Penerangan pada Dukun Baji.</li> </ol> <li>'''Peperiksaan dan pengawasan:'''</li> <ol type="1"> <li>Mengawasi tempat pembikinan makanan;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} " {{gap}} minuman;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} rumah makan /warung;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} " {{gap}} penginapan;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} pembikinan rokok;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} " {{gap}} dan pendjualan obat-obatan;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} asrama -asrama;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} pasar-pasar dan tempat pembuangan kotoran;</li> <li>Memeriksa kandang-kandang binatang.</li> </ol> </ol> '''Keterangan:''' Penerangan dan pendidikan Hygiëne pada Rakjat diberikan dengan tjara : {{PUU-nomor|n=1|m=1 |Kundjungan pada tiap rumah (huisbezoek); |Tjeramah dimuka umum (openbare lezing); |Kundjungan pada sekolahan-sekolahan.}} '''IV . Daerah-daerah pertjontohan.''' Dalam wilajah Djawa-Timur telah dapat diusahakan tiga tempat Hygiëne Ketjamatan jaitu: {{PUU-nomor|n=1|m=1 |Di Ketjamatan Buduran (Sidoardjo); |Genteng (Banjuwangi); |Tamanan (Bondowoso).}}<noinclude>{{rh|'''604'''}}</noinclude> 99rdsj2ub77tvtzorrr0d88903nmucb Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/639 104 97343 290907 270737 2026-05-10T13:09:01Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290907 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>'''V. Pemutaran Bioskoop Penerangan Kesehatan sumbangan UNICEF jang diselenggarakan oleh Inspeksi Djawatan Kesehatan Djawa-Timur.''' <ol type="a"> <li>'''Pemutaran film telah berdjalan 78 kali;'''</li> <li>'''Daerah-daerah jang telah didatangi oleh rombongan film Kesehatan:'''</li> <ol type="1"> <li>Daerah Karesidenan Surabaja;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} Kota Besar Surabaja;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} Malang;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} Besuki;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} Madura.</li> </ol> <li>'''Film-film jang dipertundjukkan:'''</li> <ol type="1"> <li>Tentang penjakit gudig;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} frambusia;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} perut;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} mata;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} telinga;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} " {{gap}} malaria;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} pemeliharaan gigi;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} air minum;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} kehamilan;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} pemeliharaan anak baji;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} penjakit t.b.c.</li> </ol> </ol> '''VI. M.C.H. Care = Usaha Kesehatan Ibu dan Anak.''' Dalam wilajah Djawa-Timur telah dapat dibuka: <ol type="1"> <li>Balai Kesehatan Ibu dan Anak. . . . . . . . . . . 49 tempat</li> <li>Klinik Bersalin. . . . . . . . . . . . . . . . . . 3 {{gap}} " {{gap}}</li> <li>Sekolah Pendidikan Bidan dalam wilajah Djawa-Timur 3 {{gap}} " {{gap}}</li> </ol> ialah : 1 di Surabaja, 2. di Malang, 3 . di Madiun. '''VII . Djawatan Pemberantasan Malaria.''' <ol type="1"> <li>Di Surabaja telah diadakan Sekolah Tjalon Penjelidik Malaria;</li> <li>Penjemprotan D.D.T. dapat dikerdjakan pada rumah penduduk di-tepi pantai Daerah:</li> <ol type="1"> <li>Karesidenan Surabaja;</li> <li>{{gap}} " {{gap}} Bodjonegoro;</li> <li>Sebagian dari pantai Daerah Karesidenan Madura.</li> </ol> </ol><noinclude>{{rh|'''605'''}}</noinclude> o5hkcbon2df3i1qkem6yfj89pvb38e5 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/660 104 97358 290919 270789 2026-05-10T13:16:24Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290919 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Sesudah ada penjerahan sebagai kredit kepada mereka jang berkepentingan, maka terhadap usaha itu selandjutnja berlaku peraturan peraturan kredit. Demikianlah, B.R.N. Tjabang Djawa-Timur dalam hal ini telah mengusahakan berdirinja 17 Perusahaan Rekonstruksi dan 4 Perusahaan jang masih dalam persiapan di seluruh Djawa-Timur sebagai berikut: '''Perusahaan-perusahaan Rekonstruksi B.R.N. Tjabang Djawa-Timur jang telah berdjalan, ialah:''' '''Karesidenan Besuki:''' <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Perusahaan batu merah dan genteng di Baratan, Djember.</li> <li>Perusahaan genteng di Patrang, Djember.</li> <li>Perusahaan gamping di Grenden, Djember.</li> <li>Perbengkelan besi di Tanggul, Djember.</li> </ul> '''Karesidenan Bodjonegoro:''' <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Perbengkelan besi di Bodjonegoro.</li> <li>Penggergadjian dan pertukangan kaju di Kelangon, Bodjonegoro.</li> <li>Perkapalan di Gadon, Tuban.</li> </ul> '''Karesidenan Madiun:''' <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Perusahaan tegel basah di Madiun.</li> </ul> '''Karesidenan Kediri:''' <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Penggergadjian dan pertukangan kaju di Kampung-Dalem, Kediri.</li> <li>Perbengkelan besi di Tulungagung.</li> </ul> '''Karesidenan Malang:''' <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Perusahaan genteng di Wendit, Malang.</li> </ul> '''Karcsidenan Surabaja:''' <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Pertukangan kaju di Ngagel, Surabaja.</li> <li>Perusahaan batu merah dan genteng di Karangpilang, Sepandjang.</li> <li>Penggergadjian dan pertukangan kaju di Sepandjang.</li> <li>Penggergadjian dan pertukangan kaju di Ploso, Djombang.</li> <li>Perusahaan permainan anak-anak di Kranggan, Surabaja.</li> <li>Perusahaan sepeda dan penggilingan kopi di Kranggan, Surabaja.</li> </ul> '''Perusahaan-Perusahaan Rekonstruksi jang masih dalam persiapan:''' '''Karesidenan Madiun:''' <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Penggergadjian dan pertukangan kaju di Madiun, serta perbengkelan besi di Madiun.</li> </ul> '''Karesidenan Malang:''' <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Penggergadjian dan pertukangan kaju di Kepandjen.</li> </ul> '''Karesidenan Surabaja:''' <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Pertjetakan di Gresik.</li> </ul> '''Karesidenan Madura:''' <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Perusahaan minjak kelapa.</li> </ul><noinclude>{{rh|'''626'''}}</noinclude> kbhzkcmgqegw7dav51yhtoifnm7unkr Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/661 104 97364 290922 270803 2026-05-10T13:17:26Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290922 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Mereka Bekas Pedjuang bersendjata jang telah ditempatkan di perusahaan-perusahaan jang telah berdjalan berdjumlah 396 orang, dan perlengkapan perusahaan-perusahaan tersebut jang telah berdjalan adalah modern (sebagian besar). Berhubung dengan perusahaan B.R.N. masih dalam pertumbuhan, maka setelah ternjata perusahaan itu dapat membuat barang-barang jang dapat diperdagangkan, perlu sekali barang -barang tersebut diperkenalkan kepada masjarakat. Perusahaan-Perusahaan Rekonstruksi tersebut diatas jang sudah lengkap peralatannja dan jang sudah menerima uang modalnja dari B.R.N. Tjabang Djawa-Timur pada umumnja sudah dapat berdjalan dengan penghasilan jang tjukup. '''Perkebunan jang diduduki oleh Bekas Pedjuang.''' '''Prinsip daripada rentjana pemetjahan probleem perkebunan milik Asing jang diduduki oleh tenaga-tenaga Bekas Pedjuang bersendjata:''' Masalah ini dapat ditindjau sebagai berikut: Sifat bekerdjanja para Bekas Pedjuang di perkebunan-perkebunan. Perkebunan-perkebunan jang ada didalam keadaan demikian menurut sifat usaha jang dilakukan oleh tenaga-tenaga Bekas Pedjuang dapat dibagi sebagai berikut: {{PUU-nomor|n=1|m=1 |Tidak sedikit kebun jang menurut pendengaran „di-eksploitir” oleh tenaga Bekas Pedjuang bersendjata, tetapi setelah ditindjau sedalam-dalamnja keadaannja tidak demikian. Tenaga Bekas Pedjuang itu hanja mendjadi „pendjaga kebun” melulu untuk mempekerdjakan tenaga-tenaga Buruh atau penduduk kebun, sedang hasil dari Buruh/Rakjat itu didjual oleh mereka dengan perantaraan pemimpinnja jang biasanja tinggal di Kota dan mempunjai hubungan langsung dengan pedagang-pedagang Asing. Kadang-kadang pemimpinnja ini menerima persekot terlebih dahulu, tetapi pembajaran kepada Rakjat tidak dilakukan tepat pada waktunja. |Ada djuga jang sifatnja pengusahaan kebun hanja semata-mata „uitbuiten”, hasil setjara sebaik-baiknja hingga mendjadi hasil export boleh dikatakan sama sekali tidak mendapat perhatian. Didalam hal ini akibatnja ialah, kebun mendjadi rusak dan funksi sebagai produksi-apparaat untuk kemadjuan ekonomi Negara mendjadi musna. |Ada pula kebun-kebun jang sungguh-sungguh diusahakan sebaik baiknja oleh tenaga-tenaga Bekas Pedjuang bersama Rakjat dan Buruh dengan pengetahuan dan kekuatan jang ada padanja. Hasilnja biasanja dapat dipandang tidak djelek. Perkebunan dapat dibangun kembali mendjadi seperti keadaan semula. }}<noinclude>{{rh|'''627'''}}</noinclude> luncqg170nx8303xf68qwzysgz88t62 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/662 104 97371 290923 270820 2026-05-10T13:18:24Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290923 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>'''Rechts-status.''' Bila ditindjau dari sudut rechts-status, maka tjara pengusahaan perkebunan jang berada didalam keadaan „diduduki” seperti tersebut diatas, ialah dapat dibeda -bedakan sebagai berikut: {{PUU-nomor|n=1|m=1 |Pendudukan tidak dengan idjin pemilik.<br> Kebun tersebut ada jang diduduki oleh tenaga-tenaga Bekas Pedjuang dengan idjin dari pemilik. Sewaktu clash ke-1 dan ke-II banjak perkebunan milik Asing mendjadi pangkalan dari Barisan-Barisan Gerilja Pedjuang Kemerdekaan guna melakukan serangan-serangan terhadap musuh. Setelah Kemerdekaan tertjapai, banjak Anggauta Bekas Gerilja itu belum dapat terdjamin kehidupannja. Sebagian dari mereka tetap menduduki kebun-kebun itu atau bahkan dengan adanja pengembalian anggauta Tentara boven-formasi ke-masjarakat, mereka oleh instansi jang berwadjib disalurkan ke-perkebunan perkebunan itu guna mendapat nafkahnja.<br> Terutama dalam waktu harga karet meningkat, tidak sedikit para Bekas Pedjuang jang mengalir ke-perkebunan-perkebunan karet jang memang belum dapat diusahakan kembali oleh pemiliknja semula. Tjara bekerdjanja tenaga Bekas Pedjuang itu seperti tersebut dimuka. |Perkebunan-perkebunan jang telah ge-expireerd hak erfpachtnja.<br> Adapula perkebunan-perkebunan jang diduduki oleh tenaga-tenaga Bekas Pedjuang itu memang telah ge-expireerd hak erfpachtnja (artinja kontrak erfpacht sudah habis waktunja). |Persil-persil perkebunan ketjil.<br> Ada lagi perkebunan jang diusahakan atas tanah persil perkebunan ketjil jang diduduki oleh Bekas Pedjuang. |Pendudukan dengan idjin pemilik. Adapula perkebunan jang di-eksploitir oleh tenaga-tenaga Bekas Pedjuang bersendjata itu sudah se-idjin dari pemiliknja, entah dengan perdjandjian sesuatu entah tidak.}} '''Konsekwensi dari perdjandjian K.M.B.''' Dengan adanja perdjandjian K.M.B. Pemerintah mengakui adanja hak milik Asing jang ada di Negara kita. Kini sedang dilakukan usaha-usaha ke-arah pemulihan dari hak milik Asing itu. Dalam pada itu rentjana Pemerintah menghadapi kesukaran rupa-rupa, antara lain kesukaran jang besar ialah menghadapi perkebunan -perkebunan jang diduduki tenaga-tenaga Bekas Pedjuang . Hingga dewasa ini pengembalian perkebunan jang ada didalam keadaan demikian masih tetap tidak lantjar-djalannja. '''Rentjana Kemakmuran dari Pemerintah.''' Pemerintah berkehendak mengembalikan kekuatan alat-alat produksi seperti keadaan sebelum perang. Begitu pula terhadap perkebunan jang<noinclude>{{rh|'''628'''}}</noinclude> juokwdensd5arggno8gbinogmhapoee Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/663 104 97374 290924 289531 2026-05-10T13:19:25Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290924 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>karena akibat pendudukan Djepang, clash ke-I dan ke-II mengalami kerusakan dan kemunduran sehebat-hebatnja. Untuk mengembalikan kekuatan produksi dari perkebunan-perkebunan itu, djalan jang ditempuh oleh Pemerintah ialah memberi kesempatan kepada pemilik semula dari perkebunan-perkebunan itu untuk mengeksploitirnja, sehingga objek itu dapat diaktivir kembali mendjadi alat produksi jang sangat penting bagi penghasilan untuk deviezen Negara. Pelaksanaan rentjana tersebut menghadapi kesukaran rupa-rupa, diantaranja karena beberapa perkebunan-perkebunan masih diduduki oleh tenaga-tenaga Bekas Pedjuang bersendjata. '''Rentjana penjelesaian masaalah Bekas Pedjuang jang''' '''menduduki perkebunan-perkebunan.''' Usaha-usaha Bekas Pedjuang diperkebunan-perkebunan jang memang sehat dasarnja, artinja para tenaga Bekas Pedjuang itu benar-benar mempunjai kehendak membangun alat produksi itu sesuai dengan maksud Pemerintah, perlu mendapat sambutan baik. Djikalau perkebunan jang diusahakan itu belum beres statusnja, artinja pengusahaan objek itu belum se-idjin pemilik, sedapat mungkin Pemerintah membantu agar dapat ditjari djalan penjelesaian, misalnja: {{ol|list_style_type=lower-alpha |Supaja ada perundingan antara pengusaha dan pemilik, sehingga pengusahaan perkebunan itu dapat berdjalan terus, tetapi tidak merugikan fihak satu dan lainnja; |Djika dari pemilik tidak bersedia membantu ke-arah penjelesaian seperti tersebut diatas, oleh karena ia ingin mengusahakan perkebunan itu sendiri, maka sedapat mungkin para tenaga Bekas Pedjuang itu disalurkan ke-objek lain menurut bakatnja masing masing, misalnja ke-lapangan Transmigrasi, Perindustrian, Pertanian Umum, Peternakan, Perikanan Laut, Perikanan Darat, perkebunan perkebunan jang dibeli oleh Pemerintah diluar Djawa atau jang dapat dilegalisir di Djawa sendiri dan lain-lain. Untuk itu semua, Pemerintah perlu menjediakan Badan penampung jang barang tentu tidak sedikit biajanja. Didalam hal ini jang patut mendapat perhatian istimewa ialah objek Transmigrasi, mengingat sangat padatnja penduduk di Djawa. Transmigrasi-lah jang perlu dipropagandakan sehebat-hebatnja guna mengisi kepulauan jang masih djarang penduduknja, tanahnja subur dan jang memang belum diusahakan. Bahkan, bilamana Bekas Pedjuang itu tetap berhasrat akan mentjeburkan diri dalam usaha perkebunan, maka Sumatera-lah masih tetap merupakan pulau harapan jang mempunjai objek-objek perkebunan jang sangat membutuhkan tenaga manusia. Disanalah mereka akan dapat menuntut penghidupan jang lajak, asal mau bekerdja dengan giat. Djika di Djawa sendiri dapat diusahakan}}<noinclude>{{rh|'''629'''}}</noinclude> 5b3e4tg0uel2ihlp3vwc71ejy9wpsil Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/297 104 97409 291792 270943 2026-05-11T06:45:09Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291792 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>Bukittinggi pada bulan Agustus dan September 1949 tidaklah menelurkan suatu putusan jang dapat dipegang. Masalah-masalah jang dibitjarakan harus dimintakan pertimbangan dan putusan-putusan dari C.J.B. lebih dahulu. C.J.B.-lah jang akan menetapkan dan menundjukkan pasal-pasal jang harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Dalam pada itu Mr. St. M. Rasjid berangkat ke Djakarta untuk mendjadi anggota delegasi Indonesia dalam C.J.B. dan kedudukannja digantikan oleh Mr. M. Nasrun. Dalam suatu pertemuan istimewa L.J.C. jang diadakan di Padang pada tanggal 12 Nopember 1949 antara delegasi tentera Belanda jang dikepalai oleh Kolonel Van Erp, dan delegasi Republik Indonesia jang dikepalai oleh Gubernur Militer Mr. M. Nasrun didapat persetudjuan sebagai dibawah ini: Sebelum semua tentera Belanda ditarik dari tempat-tempat jang didudukinja semendjak tanggal 19 Desember 1948, Pemerintah Republik sudah dapat memasuki daerah-daerah itu dengan alat-alat perlengkapannja guna mendjaga djangan sampai terdjadi kekosongan (vacuum) pemerintahan. {{rh|'''Pembentukan P.P.C.'''}} Berdasarkan pada hasil perundingan tersebut diatas, maka oleh Pemerintah R.I. di Sum. Tengah dibentuklah suatu badan jang diberi nama Penghubung Pemerintah Sipil, jang pada waktu itu disingkat dengan „P.P.C". P.P.C. ini merupakan suatu badan jang akan menerima dan mengambil pengoperan pemerintahan jang harus diserahkan oleh tentera dan militer Belanda dalam waktu jang tidak lama lagi dikota-kota jang didudukinja semendjak aksinja ke-II. Dengan demikian, maka P.P.C. dibentuk dibanjak tempat, terutama dibekas-bekas ibu tempat kewedanaan lama, dimana tentera dan Pemerintah Militer Belanda sudah berkuasa. Pembentukan dan penundjukan orang-orang jang akan mengambil over pemerintahan dari Pemerintah dan tentera Belanda itu terasa harus lebih teliti dan diperkuat, karena berlainan dengan tjara jang dilakukannja ditempat-tempat lain diseluruh kepulauan Indonesia, disamping menarik alat pemerintahan dan tenteranja dari tempattempat dan kota-kota jang harus segera diserahkannja, pembesar militer Belanda djuga menarik semua alat-alat dan tenaga-tenaga kepolisian dari tempat-tempat dan kota-kota jang didudukinja di Sumatera Tengah. Selain dari menundjuk P.P.C. diberbagai tempat, Pemerintah R.I. di Sum. Tengah djuga menundjuk tenaga-tenaga jang akan mendjadi badan penghubung antara kedua belah pihak dikota Padang dan daerahnja, jaitu daerah jang mendapat sebutan Daerah Istimewa jang dipisahkan dari R.I." semendjak tentera Belanda menaklukannja.<noinclude>{{rh|||291}}</noinclude> fwqqirfadixwa7u7topvimqfsxzlzsg Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/298 104 97415 291798 270950 2026-05-11T06:51:41Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291798 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>Penundjukan badan penghubung dikota Padang dimaksudkan djuga untuk berusaha agar dalam waktu jang sesingkat-singkatnja sesudah Belanda menjerahkan kedaulatannja, Daerah Istimewa itu kembali mendjadi daerah R.I. Njatalah betapa kesibukan-kesibukan dalam kalangan Pemerintahan di Sumatera Tengah dalam menjusun tenaga-tenaga dan alat-alat untuk menampung Penjerahan Kedaulatan jang segera akan dilakukan oleh Pemerintah Keradjaan Belanda, dan pemulian tempat-tempat dan kota-kota semendjak sekian lama diduduki oleh tenteranja. Kesibukan-kesibukan demikian memuntjak dan mendjadi-djadi dalam bulan dimana segenap upatjara dilakukan (Desember 1949). {{rh|'''14 Desember 1949 upatjara pemulihan ibu kota Propinsi.'''}} Pemulihan kota Bukittinggi kepada Pemerintah R.I., merupakan salah satu puntjak peristiwa leburnja semua kekuasaan Keradjaan Belanda dari seluruh kepulauan Nusantara, karena kota ini dalam waktu belakangan ini mentjatat sedjarah jang tersendiri dalam perkembangannja. Meskipun kota Padang merupakan kota perdagangan dan perhubungan lalu-lintas jang mentjukupi sjarat-sjarat perhubungan modern, tapi Bukittinggi beroleh tjorak dan bentuk baru jang sama lahir dan sama besar dengan sedjarah revolusi bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaannja. Dalam masa kurang dari 10 tahun sadja, kota Bukittinggi pernah mengalami peristiwa-peristiwa besar, jaitu dalam zaman pendudukan dan penaklukan Djepang dia pernah didjadikan ibu-kota seluruh kepulauan Sumatera; dizaman permulaan kemerdekaan dia djuga pernah ditundjuk dan ditentukan sebagai ibu-kota seluruh Propinsi Sumatera. Disaat pulau Sumatera dibagi mendjadi 3 propinsi. Bukittinggilah jang mendjadi ibu-kota propinsi Sumatera Tengah jang sampai pada saat ini masih dapat dipertahankannja. Pemudjapemudja romantis dan naturalis tidak akan kehabisan bahan untuk mendjadikan kota Bukittinggi mendjadi sebutan. Dari itu, peristiwa pemulihannja jang diupatjarakan pada tgl. 14 Desember 1949 harus dipandang sebagai suatu peristiwa istimewa peristiwa kenang-kenangan. Lama sebelum upatjara pemulihan itu berlangsung, dari segenap golongan dan lapisan masjarakat sudah tampak kegiatan-kegiatan untuk menjambut peristiwa demikian. Dalam hal ini kalangan Pemerintah amat banjak beroleh bantuan, baik dari rakjat jang diam dan bertempat tinggal disekeliling kota itu, apalagi dari orang-orang jang selama pendudukan tentera Belanda terpaksa harus tetap tinggal didalam kota untuk kepentingan perdjuangan dan kepentingan keluarganja.<noinclude>{{rh|292}}</noinclude> glb41ej5hd3xzkq3otlmhpeg97zqvyc Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/299 104 97416 291799 270965 2026-05-11T06:52:19Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291799 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>Kemasukan rombongan pertama dari pegawai-pegawai Pemerintah R.I. kekota Bukittinggi pada tanggal 7 Desember 1949, jang terdiri dari pegawai-pegawai Djawatan Penerangan Gubernur Militer Prop. Sum. Tengah disambut dengan sangat gembira dan meriah oleh penduduk kota. Kembalinja rombongan-rombongan lain sesudah itu djuga mendapat perhatian dan bantuan jang tjukup besar. Pengaruh-pengaruh dan kesan-kesan jang berbekas pada djiwa rakjat kota selama perpisahan setahun kurang itu, membajangkan kembali hasrat jang sangat besar untuk kembali hidup sebagai rakjat jang bebas dari segala matjam tekanan dan ketakutan sebagai jang dialaminja sebelum tentera Belanda menduduki kota mereka. Lain pula keadaannja dengan pegawai-pegawai jang baru kembali itu. Djiwa dan semangat jang sekian lama ditempa dalam alam gerilja dan berimba-raja jang sangat berlainan dengan apa jang ditemui mereka dikota, menjungguhkan pandangan hidup. Dari itu, timbullah kegiatan-kegiatan baru dalam menunaikan kewadjibankewadjiban jang harus dibajarkan dalam melaksanakan tugas-tugas masing-masing. Uang harian jang dibajarkan kepada mereka sebanjak Rp. 3.― sehari terhitung dari hari pertama mereka ,,kembali ke Bukittinggi", agaknja pada pandangan dan rasa mereka sudah lebih dari mentjukupi, karena selama bergerilja mereka tidak pernah menerima uang jang sebanjak itu. Meskipun besar djuga bantuan dari penduduk kota jang mereka terima pada waktu itu, tapi tidak bertambah ringan pekerdjaan jang harus mereka hadapi dalam melakukan pekerdjaannja. Selain dari mempersiapkan segala sesuatu jang harus dihadapi oleh djawatan mereka masing -masing bila semua sudah berada dalam kota, pada beberapa bagian mereka haruslah memulai pekerjaannja dan usahanja dari permulaan benar. Kantor dan alat-alat jang mereka tinggalkan sebelum bergerilja dulu, kini mereka dapati hantjur dan musnah, kadang-kadang tidak meninggalkan djedjak apa-apa. Sungguh bukanlah pekerdjaan jang mudah untuk mengembalikan separuh sadja keadaan sebagai jang ditinggalkan dulu untuk memulai pekerdjaan baru sekarang. Meskipun sudah kembali berada ditempat jang lama, tapi kerap kali pekerdjaan haruslah dikerdjakan dengan tjara jang baru. Beberapa bulan lamanja, pekerdjaan tulis-menulis sebagian dikerdjakan dengan tangan karena ketiadaan dan kehilangan mesin tulis. Sungguhpun demikian, semangat untuk bekerdja tidaklah berkurang karenanja, bahkan lebih giat lagi. Karena perputaran roda pemerintahan pada waktu itu sangat tergantung kepada fonds jang diperoleh Pemerintah Daerah dari Pemerintah Pusat, maka sangat sederhanalah keadaannja pada<noinclude>{{rh|||293}}</noinclude> a056pmsjva0p3176n15u8b2trfxfzxv Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/301 104 97432 291796 271010 2026-05-11T06:49:25Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291796 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>1949 (kota Pajakumbuh), diachiri pada tanggal 27 Desember 1949 (penjerahan kota Padang dan daerah sekitarnja). Berlainan sifat dan keadaannja dengan pemulihan, timbang terima kekuasaan dikota Padang merupakan suatu upatjara negara, karena daerah ini sebelum clash ke-II sudah mempunjai susunan dan status sendiri, jaitu status jang dipaksakan oleh pemerintah Belanda baginja. Dalam usahanja untuk mewudjudkan „tata-tertib baru” untuk Indonesia dizaman jang akan datang, daerah kota Padang oleh van Mook cs didjadikan sebagai suatu „daerah istimewa”. Disamping mendjadi markas besar tentera Keradjaan Belanda, kota Padang selama pendudukan tentera Belanda djuga didjadikan mendjadi pusat „Tijdelijk Bestuursambtenaren” untuk seluruh daerah Sum. Barat. Mengingat kedudukannja itu, maka pengoperan kota Padang oleh pembesar Belanda haruslah melalui Pemerintah Pusat R.I. Dengan kawatnja tertanggal 25 Desember 1949, wakil ketua P.P.N. (Panitia Persiapan Nasional) Anak Agung Gde Agung mewadjibkan kepada Gubernur Militer Sum. Tengah melakukan pengambilan over kekuasaan atas kota Padang dan daerahnja dari Residen H.T.B. Padang pada tanggal 27 Desember 1949. Dengan demikian, maka pada tanggal 27 Desember itu dilangsungkanlah upatjara pengambilan over dengan baik. Mulai dari hari itu, disamping tugasnja jang lama, Gubernur Militer Sum. Tengah djuga mendjadi Kepala Pemerintahan R.I.S. buat kota Padang dan sekitarnja. °●°<noinclude>{{rh|||295}}</noinclude> atsm655hv87ygiusnhx8ul7jk91xz4o Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/306 104 97448 291811 271080 2026-05-11T07:01:26Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291811 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>Tapi untung djuga, hal demikian tidak lama berlaku. Berkat kesanggupan jang diperlihatkan oleh beberapa djawatan jang bersangkutan, kepada rakjat desa bekas daerah gerilja itu dapat kembali dimasukkan pengertian dan pendjelasan serta penerangan bagaimana dan betapa kedudukan soal jang sebenarnja. Dengan demikian, maka perhubungan baik sekian lama, sekarang dapat dihidupkan dan berdjalan lantjar kembali. {{rh|'''Demonstrasi di Bukittinggi.'''}} Salah satu peristiwa jang tidak akan mudah dapat dilupakan jang terdjadi pada permulaan tahun 1950 (beberapa lama sesudah kota Bukittinggi dipulihkan kembali), ialah suatu demonstrasi jang biasa disebut dengan demonstrasi ,,nasi bungkus”. Lebih kurang 10.000 rakjat dari daerah-daerah sekeliling kota Bukittinggi ikut serta dalam demonstrasi jang bersedjarah ini, dan dibawah naungan berpuluh spandoekken mereka berbaris menudju ke Kantor Gubernur Sumatera Tengah untuk mengadjukan beberapa tuntutan. Untuk mengetahui „geest" demonstrasi itu selandjutnja orang harus kembali kepada masa sebelum kota Bukittinggi diduduki oleh tentara Belanda. Asal mula kedjadian itu adalah sebagai berikut: Setelah njata bahwa kota Bukittinggi tidak dapat dipertahankan lagi dan guna kepentingan perdjoangan selandjutnja kota haruslah dibumi hanguskan, maka oleh pembesar kota Bukittinggi diandjurkanlah kepada seluruh pedagang-pedagang jang bertempat dipasar kota untuk meninggalkan kedai-kedai dan toko-toko mereka. Andjuran itu diterima oleh pedagang-pedagang dan saudagar-saudagar menengah jang berkedai bertempat tetap didaerah pasar Bukittinggi dengan patuh dan dengan kesadaran. Mereka berpendapat, bahwa dengan djalan demikian mereka djuga ikut serta memberikan tenaganja untuk kemenangan perdjoangan selandjutnja. Pun dalam bulan Djanuari 1949 Komando Militer Agam memerintahkan pula agar kota Bukittinggi ditinggalkan oleh para pedagang. Selama diduduki, oleh pembesar-pembesar tentera dan pemerintahan Belanda di Bukittinggi dilakukan berbagai-bagai tjara untuk kembali meramaikan kota sebagai keadaannja sebelum perang. Diantara siasat jang didjalankan guna meramaikan kembali kota Bukittinggi ini oleh tentera Belanda dipaksakan agar semua kedai-kedai dan toko-toko harus dibuka kembali, kalau tidak maka kedaikedai itu diserahkan kepada orang lain. Karena antjaman-antjaman itu, maka sebahagian diantara kedai-kedai dan toko-toko jang ditinggalkan itu dibuka kembali oleh pemilik atau penjewanja jang karena suatu hal tidak dapat meninggalkan kota. Pemilik-pemilik dan penjewa-penjewa jang mengungsi keluar kota terpaksa menjerahkan keselamatan toko-toko dan kedai-kedai kepada orang-<noinclude>{{rh|300}}</noinclude> ktoshziaqg7aguvlpffzeqv7yeipl2m Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/562 104 97526 290863 271265 2026-05-10T12:46:09Z Lutfiyatun 26681 290863 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>tot staking bv. drie weken van te voren aan deze commissie kennis te geven ? Er wordt dan reeds dadelijk een „Zeef” geschapen, in drie weken kan heel wat worden besproken en heel wat advies worden verstrekt en men vermijdt het verwijt ondemocratisch te hebben gehandeld. Men vermijdt ook dat er gestaakt wordt tijdens de onderhandelingen of dat de werknemersorganisaties hun eisen tijdens de discussie telkens opschroeven. Constateert deze commissie een absolute dead-lock, zonder dat zij een van beide partijen in gemoede van onredelijkheid kan betichten, dan kan de regering in hoogste instantie altijd nog een beslissing nemen. Maar dan moet dit gelden voor ieder hedrijf en moet niet de discriminerende bepaling worden ingelast over vitaal en niet vitaal. Tenslotte: deze verordening vraagt om een aanvulling. In deze zin dat er andere verordeningen dienen te worden geschapen welke tegen gaan dat de prijzen steeds weer omhoog gaan. De stakingen hebben hier welzeker schuld aan, maar niet alleen. Zolang dergelijke maatregelen ontbreken, zal men voedsel aan stakingen blijven geven en helpen geen noodverordeningen en beslechtingscommissies. {{rule|width=4em}}<noinclude>{{rh|528}}</noinclude> 9oqotonigpo7e26nt1c2gfry2731hno Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/668 104 97585 290926 288849 2026-05-10T13:20:16Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290926 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Pada umumnja tanah-tanah jang diusahakan oleh B.R.N. adalah tanah-tanah jang sudah ditinggalkan oleh pemiliknja dan jang belum pernah mengadjukan permintaan kepada jang berwadjib untuk mengusahakan kembali. Tetapi meskipun demikian dalam memperoleh tanah-tanah itu B.R.N. Tjabang Djawa-Timur tidak melupakan tjara-tjara jang dapat dipertanggung-djawabkan, baik dengan mengusahakan idjin dari Kepala Daerah setempat, maupun dengan tjara penggantian kerugian kepada pemiliknja jang sah. Hak tanah jang didapat oleh B.R.N. adalah matjam-matjam, ialah: Erfpacht ketjil, Erfpacht besar, sewaan, tanah jasan dibeli dari Rakjat Desa dan hak opstal. Faktor jang menjulitkan sekali atas lantjarnja usaha B.R.N. mengenai objek perkebunan jang sesungguhnja adalah status tanah. Menurut peraturan jang tertjantum dalam Agrarische Grondwet-Regeling untuk mendapatkan sebuah kebun jang sudah terang habis temponja (geëxpireerd), melalui djalan jang berliku-liku, dan sangat membutuhkan waktu jang lama. Dalam hubungan dengan usaha perkebunan ini B.R.N. Tjabang Djawa-Timur telah menempatkan dalam Latihan-Kerdja 303 orang dan dalam Bedrijfsobjecten 292 orang, jang semuanja terdiri atas Bekas Pedjuang bersendjata. Dalam hubungan inilah usaha B.R.N. selalu tidak menjampingkan kepentingan Rakjat dan Buruh sekitarnja, terbukti dengan adanja pemberian pekerdjaan, baik kepada Rakjat sebagai tenaga bantuan (pekerdja kebun), maupun kepada tenaga Buruh P.P.N. non aktif. Sebagai akibat daripada kedjadian-kedjadian pada masa revolusi, pada umumnja keadaan paberik dari kebun-kebun jang telah diusahakan oleh B.R.N. telah hantjur, ketjuali paberik dari kebun Sukosawah di-daerah Karesidenan Besuki jang dengan perbaikan sedikit dan menambahnja dengan mesin motor dapat berdjalan lagi. Lain daripada itu bangunan-bangunan jang biasanja terdapat pada emplasemen paberik, djuga hanja tinggal bekas-bekasnja sadja .B.R.N. Tjabang Djawa-Timur dalam hal ini telah merentjanakan pembikinan paberik modern dengan alat-alat mesin jang diperlukan, jang mana telah dilakukan pemesanan pada Paberik Mesin „Sumbermas” di Malang dan diharap akan selesai pada achir kwartal pertama tahun 1953. Rehabilitasi kebun terutama ditudjukan pada kebun-kebun: Balesari Maguan dan Sumbermandjing di-daerah Malang, Sumberdodi di-daerah Kediri, Gunung Lantung dan Sukosawah di-daerah Besuki. {{rule|width=4em}}<noinclude>{{rh|'''634'''}}</noinclude> ttv9bzvfwx8wqu8v856pbe2p51vh7p4 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/676 104 97642 290931 271576 2026-05-10T13:21:27Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290931 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>'''Karesidenan Bodjonegoro:''' <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Tuban . . . . 1½ Kompi</li> </ul> '''Karesidenan Madura:''' <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Pamekasan . . 1 Kompi</li> <li>Sumenep . . . ½ Kompi</li> </ul> <hr style="border: 1px solid black; width: 50%; margin-top: 10px;"> Djumlah: 20 Kompi atau +- 6.000 orang. <hr style="border: 1px solid black; width: 50%; margin-top: 10px;"> Fersiapan-persiapan administratif sudah 75 % selesai dikerdjakan. Saluran-saluran tersebut tidak hanja chusus diperuntukkan bagi keperluan-keperluan C.T.N. atau sekedar guna memenuhi sjarat-sjarat untuk pemberian materiil dan financiil sadja, tetapi djuga dimaksud guna mempermudah administrasi Pamong-Pradja setempat dalam hal pentjatatan tjatjah-djiwa penduduk dalam wilajah masing-masing di Djawa sebagai tempat asalnja, maupun ditempat baru nanti. Disamping itu usaha untuk mengadakan pendidikan-pendidikan guna Tetapi mengingat belum djelasnja fonds pendidikan pada waktu itu, maka pendidikan dalam tri-bulan pertama dan kedua kandas ditengah djalan. Pada waktu itu pendidikan bagi Anggauta-Anggauta C.T.N. seharusnja jang menjelenggarakan adalah B.R.N. Tjabang Djawa-Timur. Djuga ada beberapa Anggauta-Anggauta C.T.N. jang mendapat pendidikan pada staatsproefbedrijven B.R.N. Pada umumnja mereka jang mengikuti pendidikan dalam staatsproefbedrijf adalah Anggauta C.T.N. jang tidak sedia untuk ditransmigrasikan dan lazimnja disebut anggauta blijvers. Sebab mereka mempunjai pengharapan bahwa setelah lulus dalam pendidikan mereka akan mendapat kesempatan untuk menguasai bedrijf tersebut setjara kolektif. Kemudian dengan adanja perubahan peralihan biaja pendidikan dari B.R.N. ke-saluran Kementerian Pertahanan, maka dalam tri-bulan ketiga dan ke-empat usaha pendidikan ini dapat dilaksanakan dengan sedikit lantjar. Dengan danja fonds pendidikan tersebut, maka dapat diadakan pendidikan pengetahuan vak setjara elementer dan permanen. Pemberian pendidikan-pendidikan ini chusus ditudjukan kepada Anggauta-Anggauta C.T.N. jang bersedia ditransmigrasikan. Untuk mendapat satu uniformiteit dalam penjelenggaraan pendidikan-pendidikan di daerah-daerah, maka telah dikeluarkan instruksi chusus No. 144/23/VI-B.9 tanggal 25 Nopember 1952 jang berisi 20 matjam pengetahuan misalnja: dalam soal-soal Pertanian, Peternakan, Pertukangan dan lain-lain pokok jang mengandung arti vak. Dalam instruksi tersebut diuraikan dengan djelas bagaimana tjara mengadakan pendidikan, hubungannja dengan Djawatan-Djawatan Sipil/Militer, lamanja pendidikan, mata-peladjaran jang harus diberikan dan tjara pemakaian biaja pendidikan. Selain pend.dikan usahanja B.R.N. ada djuga pendidikan-pendidikan jang langsung diberikan oleh Direktorat C.T.N. di Djakarta antara lain pendidikan tjara bongkar-pasang rumah aluminium, mengendarai traktor dan buldozer dan tjara mempergunakan alat-alat mesin besar.<noinclude>{{rh|'''642'''}}</noinclude> 43fmm71vri5pty7ajmx1n3y7ykc7a82 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/561 104 97681 290862 271681 2026-05-10T12:45:15Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290862 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>minimisering van door stakingen veroorzaakte verliezen in zijn millioenennota heeft hij er bittere woorden over gesproken tot deze vergelijking met Rusland en het fascisme kan komen, is ons niet helemaal duidelijk. Er moet hier wel iets aan de coördinatie hebben gehaperd. We willen echter aan deze slechte introductie van het stakingsverbod niet te veel aandacht besteden. We zijn blij dat de regering eindelijk tot deze maatregel heeft durven besluiten en nu het mes zet in een euvel, dat de economische positie van dit land reeds een jaar ondergraaft. Het ontbrak tot dusver vaak aan integrale maatregelen, die de problemen in de kern aantasten. Zo'n maatregel is er nu wel en dit is zeker een gelukwens waard. Absoluut tevreden zijn we echter nog niet. De diverse soortgelijke maatregelen, die onder de druk der omstandigheden krachtens de staat van beleg door enkele Militaire Gouverneurs waren genomen, zijn thans gecoördineerd en dit is een belangrijke stap vooruit. Dat de nieuwe verordening misschien niet geheel te verenigen is met artikel 23 van de Grondwet, dat het recht tot staken uitdrukkelijk garandeert, is een zaak van Kabinet en Parlement. Bijzondere tijden eisen bijzondere maatregelen en in een land, dat voorlopig nog een democratische traditie mist en daardoor eerder geneigd is alleen te kijken naar rechten en weinig aandacht te hebben voor plichten, zijn dergelijke remmende maatregelen zeker op hun plaats. Wij vragen ons echter af of tussen ongebreideld staken en dit verbod geen tussenweg denkbaar was geweest. Thans moet ieder arbeidsgeschil in een vitale onderneming onmiddelijk worden gerapporteerd aan een „commissie voor de beslechting van arbeidsgeschillen”. Deze commissie zal árbitreren en haar beslissingen zijn voor beide partijen bindend. Bij niet vitale ondernemingen enz. moeten de arbeidersgeschillen onmiddellijk worden gerapporteerd aan de plaatselijke instanties, die een verzoeningspoging zullen ondernemen en bij falen van hun streven de zaak zullen doorgeven naar de commissie voor de beslechting van arbeidsgeschillen”. Deze commissie zal dan haar aanbevelingen doen. De „commissie voor de beslechting van arbeidsgeschillen” zal ongetwijfeld trachten met de grootste onpartijdigheid haar werk te doen. Het feit, dat zij is samengesteld uit een aantal Ministers staat borg voor. Deze Ministers hebben echter ook nog wel iets anders te doen, om het land te regeren. Zoals de zaken thans liggen, is het dus niet onmogelijk, dat de commissie al spoedig overkropt zal zijn met werk, waardoor stagnatie ontstaat in de afwikkeling der gevallen, hetgeen weer zijn terugslag zal hebben op het vertrouwen dat. men in deze commissie stelt. Bovendien is het, ongeacht naar samenstelling, wel zeer dictatoriaal om aan een commissie dadelijk dergelijke grote volmachten te verlenen. Ook dit kan ernstige moeilijkheden veroorzaken, wanneer een der beide partijen zich door een arbitraire uitspraak tekort gedaan voelt. Ware het derhalve niet beter geweest een commissie in het leven te roepen, bestaande uit vertegenwoordigers der betrokken departementen, uitgebreid met vertegenwoordigers van de voornaamste werkgevers-en werknemersorganisaties en dan de verplichting te stellen van voornemers<noinclude>{{rh|||527}}</noinclude> mbmzuqw8euyigrjdyrpcbd6a85lvkhj Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/565 104 97684 290866 271688 2026-05-10T12:48:56Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290866 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{larger|USAHA PENJELESAIAN PERSELISIHAN PERBURUHAN.}} Proces-Verbaal. {{dropinitial|P}} ADA hari ini, tanggal dua puluh delapan, bulan Pebruari tahun seribu sembilan ratus lima puluh satu, kami jang bertanda-tangan dibawah ini: SAMADIKOEN. Gubernur Kepala Daerah Propinsi Djawa-Timur berdasarkan kawat Menteri Perburuhan tanggal 20 Pebruari 1951, No. 1164/51 dan mengingat surat putusan Menteri Perburuhan Djakarta tanggal 17 Pebruari 1951 No. 1166/51 serta Peraturan Kekuasaan Militer (Pusat) No. 1/1951, pasal 4 ajat 1, telah melantik Instansi Penjelesaian Perselisihan Perburuhan (I.P3) Djawa-Timur jang tersusun sebagai berikut: Ketua {{gap}}: Kepala Kantor Penjuluh Perburuhan Djawa-Timur atau wakiinja. Anggauta-Anggauta: # Kepala Djawatan Pekerdjaan Umun Propinsi Djawa-Timur atau wakilnja. # Kepala Inspeksi Keuangan (Kantor Padjak) Djawa-Timur atau wakilnja. # Kepala Inspeksi Djawatan Perindustrian dan Keradjinan Djawa-Timur atau wakilnja. # Kepala Eksploitasi Timur Djawatan Kereta Api atau wakilnja. # Kepala Urusan Perekonomian dari Kantor Propinsi Djawa-Timur atau wakilnja. Kemudian dibuatnja proces-verbaal ini guna dipakai sebagaimana mestinja. {{Center|Surabaja, 28 Pebruari 1951. <br>GUBERNUR, KEPALA DAERAH PROPINSI <br>DJAWA TIMUR, <br>t.t.d. <br>(SAMADIKOEN).<br>}}<noinclude>{{rh|||581}}</noinclude> l2586qkhijjuk8muu5b0crpthvfloa1 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/955 104 97693 291331 277147 2026-05-10T17:03:21Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ br hapus, ganti enter 291331 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>Pada hal masjarakat Indonesia sebagian besar terdiri dari orang-orang jang masih buta-huruf dan kurang madju tjara berfikirnja. Pun pula masih banjak sekali tempat-tempat jang sukar sekali untuk dapat ditjapai oleh surat-surat kabar, surat-surat selebaran dan lain-lain.<br> Walaupun demikian oleh karena penerangan itu perlu dan harus diberikan kepada seluruh masjarakat, dalam segala golongan, lapisan dan aliran, dan oleh karena hakekatnja titik-berat dari penerangan harus ditudjukan kepada Rakjat djelata, maka sudah selajaknja djika orang-orang jang berpengalaman dan berpengetahuan berdaja-upaja dengan sekuat tenaga mentjari djalan untuk mengatasi segala kesukaran agar penerangan dapat meliputi seluruh masjarakat.<br> Bermatjam-matjam djalan telah ditempuh, bermatjam-matjam alat telah diketemukan, ditjoba dan didjalankan. Achirnja terdapatlah suatu alat penerangan baru jang sederhana, tetapi tjukup praktis untuk menjerbu kepelosok-pelosok, menjampaikan penerangan dan pendjelasan kepada lapisan masjarakat jang paling rendah, jang mana masjarakat tersebut dapat mudah menerima dan menarik perhatiannja. Alat tersebut ialah „Wajang Suluh”, jang ditjiptakan oleh Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia.<br><br> '''Wajang Suluh tidak melanggar kebudajaan aseli.'''<br> Walaupun wudjud dari pada Wajang Suluh mirip dengan wudjud wajang Purwa, tetapi jang dipergunakan bukannja arti jang dalam dari pada wudjud wajang itu, hanjalah „tjorak lahir" jang dipergunakan untuk menjatakan suatu figuur („bleger") guna mewudjudkan dan menggambarkan penerangan-penerangan dan pendjelasan-pendjelasan jang diberikan dari aneka-warna kedjadian di Tanah Air. Dengan sendirinja oleh karena wudjud Wajang Suluh mirip dengan wudjud „Wajang" maka mempergunakan djuga „lajar" (kelir) dan mendjalankannja Wajang Suluh memakai djuga gamelan, karena „suara" dari gamelan itu jang dibutuhkan sebagai daja penarik kepada Rakjat, ialah suatu suara dari bunji-bunjian jang sedjak dahulu kala digemari oleh masjarakat Djawa. Maka dari itu dalam keadaan jang memaksa, umpamanja di-daerah „Perdikan" jang disitu Rakjat dilarang menabuh gamelan, Wajang Suluh dapat di-iringi oleh terbang, „kentrung", atau alat lainnja.<br> Djika Wajang Suluh diselenggarakan dihadapan masjarakat Bangsa Asing (Belanda, Indo, Tionghoa, Arab dan sebagainja) dapat di-iringi oleh musik. Dan ditempat-tempat (dipelosok-pelosok) dimana sukar didapatkan gamelan atau bunji-bunjian lainnja, Wajang Suluh dapat diselenggarakan tanpa dengan di-iringi bunji-bunjian suatupun. Perlu diketahui kiranja, bahwa hal-hal sematjam ini telah beberapa kalidiselenggarakan dengan hasil jang memuaskan.<br> Wudjud Wajang Suluh dengan alat-alatnja jang dipakai, hanjalah suatu alat belaka jang dipakai sebagai daja penarik perhatian dan mengundang Rakjat dalam penjelenggaraan penerangan-penerangan dan pendjelasan-pendjelasan. Semua bagian jang diwudjudkan dengan barang dan/atau gambar, isinja lebih mudah ditangkap dan dimengerti oleh<noinclude>{{rh|||'''843'''}}</noinclude> qjdt6ijbacp4qlkx6b1sevrtpg99ijj 291465 291331 2026-05-11T01:28:45Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291465 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>Pada hal masjarakat Indonesia sebagian besar terdiri dari orang-orang jang masih buta-huruf dan kurang madju tjara berfikirnja. Pun pula masih banjak sekali tempat-tempat jang sukar sekali untuk dapat ditjapai oleh surat-surat kabar, surat-surat selebaran dan lain-lain. Walaupun demikian oleh karena penerangan itu perlu dan harus diberikan kepada seluruh masjarakat, dalam segala golongan, lapisan dan aliran, dan oleh karena hakekatnja titik-berat dari penerangan harus ditudjukan kepada Rakjat djelata, maka sudah selajaknja djika orang-orang jang berpengalaman dan berpengetahuan berdaja-upaja dengan sekuat tenaga mentjari djalan untuk mengatasi segala kesukaran agar penerangan dapat meliputi seluruh masjarakat. Bermatjam-matjam djalan telah ditempuh, bermatjam-matjam alat telah diketemukan, ditjoba dan didjalankan. Achirnja terdapatlah suatu alat penerangan baru jang sederhana, tetapi tjukup praktis untuk menjerbu kepelosok-pelosok, menjampaikan penerangan dan pendjelasan kepada lapisan masjarakat jang paling rendah, jang mana masjarakat tersebut dapat mudah menerima dan menarik perhatiannja. Alat tersebut ialah „Wajang Suluh”, jang ditjiptakan oleh Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia. '''Wajang Suluh tidak melanggar kebudajaan aseli.''' Walaupun wudjud dari pada Wajang Suluh mirip dengan wudjud wajang Purwa, tetapi jang dipergunakan bukannja arti jang dalam dari pada wudjud wajang itu, hanjalah „tjorak lahir” jang dipergunakan untuk menjatakan suatu figuur („bleger”) guna mewudjudkan dan menggambarkan penerangan-penerangan dan pendjelasan-pendjelasan jang diberikan dari aneka-warna kedjadian di Tanah Air. Dengan sendirinja oleh karena wudjud Wajang Suluh mirip dengan wudjud „Wajang” maka mempergunakan djuga „lajar” (kelir) dan mendjalankannja Wajang Suluh memakai djuga gamelan, karena „suara” dari gamelan itu jang dibutuhkan sebagai daja penarik kepada Rakjat, ialah suatu suara dari bunji-bunjian jang sedjak dahulu kala digemari oleh masjarakat Djawa. Maka dari itu dalam keadaan jang memaksa, umpamanja di-daerah „Perdikan” jang disitu Rakjat dilarang menabuh gamelan, Wajang Suluh dapat di-iringi oleh terbang, „kentrung”, atau alat lainnja. Djika Wajang Suluh diselenggarakan dihadapan masjarakat Bangsa Asing (Belanda, Indo, Tionghoa, Arab dan sebagainja) dapat di-iringi oleh musik. Dan ditempat-tempat (dipelosok-pelosok) dimana sukar didapatkan gamelan atau bunji-bunjian lainnja, Wajang Suluh dapat diselenggarakan tanpa dengan di-iringi bunji-bunjian suatupun. Perlu diketahui kiranja, bahwa hal-hal sematjam ini telah beberapa kali diselenggarakan dengan hasil jang memuaskan. Wudjud Wajang Suluh dengan alat-alatnja jang dipakai, hanjalah suatu alat belaka jang dipakai sebagai daja penarik perhatian dan mengundang Rakjat dalam penjelenggaraan penerangan-penerangan dan pendjelasan-pendjelasan. Semua bagian jang diwudjudkan dengan barang dan/atau gambar, isinja lebih mudah ditangkap dan dimengerti oleh<noinclude>{{rh|||'''843'''}}</noinclude> qem82056pnsbkoik0s0eszvnmxczvqf Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/956 104 97721 291330 277149 2026-05-10T17:02:44Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */br hapus 291330 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>Rakjat, pengertian jang didapatnja tidak mudah lekas hilang, sehingga hasil penerangan lebih djitu dari pada dengan tjara lain.<br> Dengan keterangan diatas itu teranglah, bahwa Wajang Suluh tidak melanggar dan tidak merubah akan inti dari pada kebudajaan Indonesia.<br><br> '''Wajang Suluh tidak melanggar agama.'''<br> Wajang Suluh adalah alat penerangan. Terhadap Wajang Suluh jang dipergunakan oleh Djawatan Penerangan Pemerintah, tidak dapat dilemparkan tuduhan-tuduhan, bahwa Wajang Suluh melanggar agama, terutama karena bunji-bunjian jang dipakainja dilaraskan dengan aliran dan keadaan masjarakat setempat, serta didalamnja di- isikan penerangan-penerangan jang bersifat mendidik atas dasar agama dengan peraturan-peraturannja jang telah tertentu.<br><br> '''Gamelan Wajang Suluh.'''<br> Sebagai jang telah diterangkan dimuka, bahwa alat bunji-bunjian (instrumenten) bagi Wajang Purwa atau musik dari sandiwara atau koncert. Tetapi apabila memang tersedia atau memang ada dengan alat bunji-bunjian jang lengkap akan dapat menambah menarik dan gajanja Wajang Suluh.<br> Biasanja bagi Bangsa Indonesia di Djawa djika ada penjelenggaraan wajang atau pertundjukan Rakjat lainnja dengan memakai gamelan, menurut kepertjajaan (naluri) sebelumnja untuk itu diadakan „pasadjian" dengan sadjèn-sadjèn disertai pembakaran menjan dan sebagainja. Untuk Wajang Suluh tentang hal itu tidak akan menolak karena telah mendjadi kepertjajaan Rakjat, tetapi djuga tidak akan mengharuskan atau minta supaja diadakan, apabila jang bersangkutan tidak mengadakan.<br> Biasanja, djikalau keadaan tidak memaksa, Wajang Suluh mempergunakan gamelan seléndro, karena mudah dapat disesuaikan dengan laras gamelan, tetapi djika terpaksa dapat dimainkan dengan gamelan jang ber-laras lain.<br><br> '''Dalang Wajang Suluh.'''<br> Oleh karena perkataan „wajang" dipakai, dengan sendirinja perkataan „dalang" dipergunakan bagi orang jang mendjalankan „wajang” tersebut. „Dalang" asalnja dari kata-kata „ngudhal piwulang" (Ind. = menguraikan peladjaran), bukannja „kadhal lan walang”. Oleh karena Wajang Suluh adalah wajang luar biasa, maka dalam Wajang Suluh perlu seorang dalang luar biasa djuga. Artinja, tidak begitu dalam mengerti atas dasar kebudajaan tetapi dalam atas dasar pengertian.<br> Tjeritera-tjeritera dalam Wajang Suluh banjak sekali jang bersangkutan dengan „politiek beleid” Pemerintah, keadaan dan perubahan-perubahan didalam dan diluar negeri, perekonomian, perburuhan, ketentaraan dan sebagainja, maka dalang Wajang Suluh seharusnjalah selalu mengikuti keadaan-keadaan tersebut, serta<noinclude>{{rh|'''844'''}}</noinclude> 33js7l23f0re07g4xd14cpdq607i1nk Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/957 104 97730 291325 277150 2026-05-10T17:00:46Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ br hapus, ganti enter; tanda petik teliti lagi 291325 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>mempeladjarinja. Lebih tepat apabila jang mendjadi dalang tersebut adalah anggauta penerangan sendiri, jang lebih mudah guna mentjari bahan-bahan untuk itu.<br> Disamping itu dalang Wajang Suluh mengerti akan sifat-sifat penerangan, karena hal ini berhubungan erat dengan hasil pekerdjaannja. Sifat-sifat penerangan harus dilaraskan dengan keadaan Rakjat jang diberinja. Sifat agitasi, jang sebelum agresi Belanda ke-II sering dipakai, sudah tidak pada tempatnja untuk dipakai diwaktu sekarang, haruslah diganti dengan sifat-organisasi, dalam arti konstruktif (membangun). Begitu pula dari teori-teori dirubah mendjadi kenjataan, dari sifat propaganda ke pendidikan, pendjelasan dan bimbingan.<br> Sebelum dalang Wajang Suluh mendjalankan wajangnja (penerangan) harus mengetahui keadaan Rakjat setempat guna melaraskan isi penerangannja. Didaerah-daerah dimana bahasa sehari-hari dari Rakjat disitu bukan bahasa Djawa, pada hal dalang tidak faham akan bahasa daerah itu, baiklah memakai bahasa persatuan ialah bahasa „Indonesia". Begitu halnja djika berhadapan dengan masjarakat Bangsa Asing. Tentang gending dapat djuga dilaraskan dengan keadaan hadirin. Di Djawa-Tengah dan Djawa- Timur sebelah Barat, dipakai umumnja: waktu „djedjera ” gending ajak-ajak, sandung, pangkur dan sebagainja; di Daerah Surabaja dan sekitarnja umpamanja dengan gending djola-djoli, pangkur Surabaja dan sebagainja. Bila dengan musik untuk djedjeran umpama dipakai lagu Silabintana, Pasir Putih dan sebagainja; untuk suasana gembira dipakai lagu-lagu Mars Pemuda, Sorak-sorak bergembira dan sebagainja; sedang untuk waktu sedih dipakai lagu-lagu jang sesuai. Ketjuali memakai terbang atau kentrung jang dapat dikata hanja berlagu satu, tidak dapat berubah.<br> Barang siapa (ingin) mendjadi dalang seharusnjalah mempunjai dasar-dasar sebagai berikut: #<li>Gemar akan kebudajaan (gamelan, tari-tarian, tembang dan sebagainja); #Pandai berbitjara dan bertjeritera; #Gemar dan pandai menjusun kata-kata jang indah; #Suka bergaul (untuk menambah bahan sehari-hari); #Mempunjai dasar untuk melawak. </li> Sebagai dalang biasa harus pandai dalam bermatjam-matjam gending, gerongan dan tembang, tetapi sebagai dalang Wajang Suluht jukup mengerti akan gending-gending jang sederhana tetapi baku. (pokok). Umpama gending awun-awun atau manjar srawa (untuk berangkatan pasukan) gending sampak (untuk pertempuran). Pula harus mengerti akan pathet-pathet dari gending, ialah pathet 6 (diwaktu sore), pathet 9 (diwaktu malam) dan pathet manjura (diwaktu hampir pagi), tetapi untuk pertundjukan Wajang Suluh jang biasanja hanja memakan waktu 3 atau 4 djam (kadang-kadang hanja 2 djam ) soal pathet tersebut dapat diatur menurut keadaan dan keperluan.<br> Untuk menambah sempurnanja pekerdjaan dan untuk menambah pengertian sebagai dalang, perlulah hal-hal dan pengertian dibawah ini dipeladjari dan difahami.<noinclude></noinclude> nlbe38fmrdoulwec7nu58rgqjgwed0c 291462 291325 2026-05-11T01:25:56Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291462 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>mempeladjarinja. Lebih tepat apabila jang mendjadi dalang tersebut adalah anggauta penerangan sendiri, jang lebih mudah guna mentjari bahan-bahan untuk itu. Disamping itu dalang Wajang Suluh mengerti akan sifat-sifat penerangan, karena hal ini berhubungan erat dengan hasil pekerdjaannja. Sifat-sifat penerangan harus dilaraskan dengan keadaan Rakjat jang diberinja. Sifat agitasi, jang sebelum agresi Belanda ke-II sering dipakai, sudah tidak pada tempatnja untuk dipakai diwaktu sekarang, haruslah diganti dengan sifat-organisasi, dalam arti konstruktif (membangun). Begitu pula dari teori-teori dirubah mendjadi kenjataan, dari sifat propaganda ke pendidikan, pendjelasan dan bimbingan. Sebelum dalang Wajang Suluh mendjalankan wajangnja (penerangan) harus mengetahui keadaan Rakjat setempat guna melaraskan isi penerangannja. Didaerah-daerah dimana bahasa sehari-hari dari Rakjat disitu bukan bahasa Djawa, pada hal dalang tidak faham akan bahasa daerah itu, baiklah memakai bahasa persatuan ialah bahasa „Indonesia”. Begitu halnja djika berhadapan dengan masjarakat Bangsa Asing. Tentang gending dapat djuga dilaraskan dengan keadaan hadirin. Di Djawa-Tengah dan Djawa-Timur sebelah Barat, dipakai umumnja: waktu „djedjera” gending ajak-ajak, sandung, pangkur dan sebagainja; di Daerah Surabaja dan sekitarnja umpamanja dengan gending djola-djoli, pangkur Surabaja dan sebagainja. Bila dengan musik untuk djedjeran umpama dipakai lagu Silabintana, Pasir Putih dan sebagainja; untuk suasana gembira dipakai lagu-lagu Mars Pemuda, Sorak-sorak bergembira dan sebagainja; sedang untuk waktu sedih dipakai lagu-lagu jang sesuai. Ketjuali memakai terbang atau kentrung jang dapat dikata hanja berlagu satu, tidak dapat berubah. Barang siapa (ingin) mendjadi dalang seharusnjalah mempunjai dasar-dasar sebagai berikut: {{ol|list_style_type=decimal |Gemar akan kebudajaan (gamelan, tari-tarian, tembang dan sebagainja); |Pandai berbitjara dan bertjeritera; |Gemar dan pandai menjusun kata-kata jang indah; |Suka bergaul (untuk menambah bahan sehari-hari); |Mempunjai dasar untuk melawak.}} Sebagai dalang biasa harus pandai dalam bermatjam-matjam gending, gerongan dan tembang, tetapi sebagai dalang Wajang Suluht jukup mengerti akan gending-gending jang sederhana tetapi baku. (pokok). Umpama gending awun-awun atau manjar srawa (untuk berangkatan pasukan) gending sampak (untuk pertempuran). Pula harus mengerti akan pathet-pathet dari gending, ialah pathet 6 (diwaktu sore), pathet 9 (diwaktu malam) dan pathet manjura (diwaktu hampir pagi), tetapi untuk pertundjukan Wajang Suluh jang biasanja hanja memakan waktu 3 atau 4 djam (kadang-kadang hanja 2 djam) soal pathet tersebut dapat diatur menurut keadaan dan keperluan. Untuk menambah sempurnanja pekerdjaan dan untuk menambah pengertian sebagai dalang, perlulah hal-hal dan pengertian dibawah ini dipeladjari dan difahami.<noinclude>{{rh|||'''845'''}}</noinclude> 8qydukyr5x94kjt7oc7kc2qe6wmj0eq Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/807 104 97838 291297 272015 2026-05-10T16:29:50Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ paragraf tidak rapi harus di-backspace 291297 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /></noinclude>ditambahkan, bahwa Kursus-Kursus K.P.U. dan P.B.H. ini ada jang masih bersifat partikulir djuga. Tetapi tiap kali djumlah kursus-kursus partikulir sematjam itu selalu berkurang, karena tiap kali djuga Djawatan Pendidikan Masjarakat menambah djumlah kursus kursus jang diberi subsidi. Panti-Panti Pemuda jang termasuk atau boleh dikata mendjadi bagian dari Djawatan Pendidikan Masjarakat selandjutnja mempunjai hak-hak otonoom sendiri, sehingga achirnja Pendidikan Masjarakat hanja berkewadjiban memberi subsidi sadja. Dalam tahun 1952 diseluruh Djawa-Timur ada 23 buah Panti Pemuda. Djumlah ini dalam tahun 1953 tidak akan ditambah, berkenaan dengan penghematan lagi, meskipun sebenarnja menurut rentjana semula akan ditambah mendjadi 33. Maksud Djawatan Pendidikan Masjarakat dengan pendirian Panti-Panti Pemuda ini antara lain ialah agar dengan demikian Organisasi-Organisasi Pemuda dapat mempergunakannja sebagai tempat pertemuan, mengadakan tjeramah-tjeramah, mengadakan sematjam debating club dan lain sebagainja jang bermanfaat, baik bagi Organisasi-Organisasi Pemuda sendiri maupun masjarakat umumnja. Berhubung dengan keadaan sebagian-sebagian Panti Pemuda pada dewasa ini nampak passif sadja dalam usaha pendidikan masjarkat, dan bahkan ada jang seolah-olah dikuasai oleh sesuatu golongan sadja, dan ada djuga jang dipergunakan melulu untuk kepentingan sendiri, pokoknja menjimpang dari tudjuan-tudjuan semula, maka oleh Djawatan Pendidikan Masjarakat akan diusahakan agar dalam hubungan Panti Pemuda itu Organisasi-Organisasi Pemuda ikut aktif dalam usaha-usaha pendidikan masjarakat, seperti misalnja Pemberantasan Buta Huruf dan sebagainja. Djuga dikandung maksud untuk memberi pekerdjaan kepada Pemuda-Pemuda tersebut sebagai sematjam pengantar, misalnja pada waktu ada rombongan darmawisata dari Desa-Desa. Dengan demikian kepada rombongan tadi dapat diberikan keterangan-keterangan sekedarnja, mengenai apa-apa jang dilihat, sehingga darmawisata jang biasanja hanja bersifat bersenang-senang belaka lalu mempunjai sifat-sifat pendidikan pula, jang berarti djuga menambah pengetahuan umum. Dalam hal ini tentu sadja sebelumnja diadakan hubungan dengan perusahaan-perusahaan jang penting dan perlu diketahui objek-objek jang patut dilihat. Hal ini terserah kepada kebidjaksanaan Panti Pemuda. Djuga giliran siapa-siapa jang mendjadi gids tadi dapat diatur sendiri oleh Panti Pemuda. Dasar terutama jang dikehendaki oleh Djawatan Pendidikan Masjarakat ialah agar Panti Pemuda tidak passif dalam usaha memadjukan masjarakat Indonesia. Djawatan Pendidikan Masjarakat djuga memberikan bantuan jang berupa alat-alat keolah-ragaan seperti kaju-kaju untuk gawang, bola dan sebagainja kepada Desa-Desa dimana nampak ada perhatian terhadap keolah-ragaan itu. Djawatan Pendidikan Masjarakat Djawa-Timur sudah mempunjai 3 orang instruktur untuk keperluan itu, sedang alat-alatpun telah banjak disediakan, sehingga keberatan-keberatan semula telah dapat diatasi.<noinclude>{{rh|||697}}</noinclude> rpkonvwiw6mc8qbgbx7qiszdoy9bxyl 291477 291297 2026-05-11T01:38:18Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291477 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>ditambahkan, bahwa Kursus-Kursus K.P.U. dan P.B.H. ini ada jang masih bersifat partikulir djuga. Tetapi tiap kali djumlah kursus-kursus partikulir sematjam itu selalu berkurang, karena tiap kali djuga Djawatan Pendidikan Masjarakat menambah djumlah kursus-kursus jang diberi subsidi. Panti-Panti Pemuda jang termasuk atau boleh dikata mendjadi bagian dari Djawatan Pendidikan Masjarakat selandjutnja mempunjai hak-hak otonoom sendiri, sehingga achirnja Pendidikan Masjarakat hanja berkewadjiban memberi subsidi sadja. Dalam tahun 1952 diseluruh Djawa-Timur ada 23 buah Panti Pemuda. Djumlah ini dalam tahun 1953 tidak akan ditambah, berkenaan dengan penghematan lagi, meskipun sebenarnja menurut rentjana semula akan ditambah mendjadi 33. Maksud Djawatan Pendidikan Masjarakat dengan pendirian Panti-Panti Pemuda ini antara lain ialah agar dengan demikian Organisasi-Organisasi Pemuda dapat mempergunakannja sebagai tempat pertemuan, mengadakan tjeramah-tjeramah, mengadakan sematjam debating club dan lain sebagainja jang bermanfaat, baik bagi Organisasi-Organisasi Pemuda sendiri maupun masjarakat umumnja. Berhubung dengan keadaan sebagian-sebagian Panti Pemuda pada dewasa ini nampak passif sadja dalam usaha pendidikan masjarkat, dan bahkan ada jang seolah-olah dikuasai oleh sesuatu golongan sadja, dan ada djuga jang dipergunakan melulu untuk kepentingan sendiri, pokoknja menjimpang dari tudjuan-tudjuan semula, maka oleh Djawatan Pendidikan Masjarakat akan diusahakan agar dalam hubungan Panti Pemuda itu Organisasi-Organisasi Pemuda ikut aktif dalam usaha-usaha pendidikan masjarakat, seperti misalnja Pemberantasan Buta Huruf dan sebagainja. Djuga dikandung maksud untuk memberi pekerdjaan kepada Pemuda-Pemuda tersebut sebagai sematjam pengantar, misalnja pada waktu ada rombongan darmawisata dari Desa-Desa. Dengan demikian kepada rombongan tadi dapat diberikan keterangan-keterangan sekedarnja, mengenai apa-apa jang dilihat, sehingga darmawisata jang biasanja hanja bersifat bersenang-senang belaka lalu mempunjai sifat-sifat pendidikan pula, jang berarti djuga menambah pengetahuan umum. Dalam hal ini tentu sadja sebelumnja diadakan hubungan dengan perusahaan-perusahaan jang penting dan perlu diketahui objek-objek jang patut dilihat. Hal ini terserah kepada kebidjaksanaan Panti Pemuda. Djuga giliran siapa-siapa jang mendjadi gids tadi dapat diatur sendiri oleh Panti Pemuda. Dasar terutama jang dikehendaki oleh Djawatan Pendidikan Masjarakat ialah agar Panti Pemuda tidak passif dalam usaha memadjukan masjarakat Indonesia. Djawatan Pendidikan Masjarakat djuga memberikan bantuan jang berupa alat-alat keolah-ragaan seperti kaju-kaju untuk gawang, bola dan sebagainja kepada Desa-Desa dimana nampak ada perhatian terhadap keolah-ragaan itu. Djawatan Pendidikan Masjarakat Djawa-Timur sudah mempunjai 3 orang instruktur untuk keperluan itu, sedang alat-alatpun telah banjak disediakan, sehingga keberatan-keberatan semula telah dapat diatasi.<noinclude>{{rh|||697}}</noinclude> 5qt3jcvdw8plcoauwe531wul7zkljyn Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/404 104 97858 291076 272067 2026-05-10T14:04:47Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291076 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{gap}}Dalam kata pembukaannja saudara H. Iljas Jacoub ketua D.P.R.S.T. menegaskan bahwa udjud jang terpenting dari suatu persidangan D.P.R. ialah memperundingkan segala soal- soal kemasjarakatan dan kenegaraan dengan seluas-luasnja, sehingga dapat diambil satu ketentuan jang akan dilaksanakan oleh pemerintah sebagai tugas jang tertentu dalam memenuhi kehendak dan tjita-tjita rakjat. Beliau menegaskan lagi bahwa disamping pembangunan jang sedang kita usahakan didaerah Sumatera Tengah ini, kita, semua bangsa Indonesia, kini sedang menghadapi satu pembangunan jang maha besar, maha hebat, dan dilaksanakan dengan tenaga besar-besaran dari seluruh bangsa. Indonesia jang tudjuh puluh djuta. Pembangunan jang maha besar itu ialah pembentukan Negara Kesatuan untuk seluruh kepulauan Indonesia dalam arti kata jang seluas-luasnja, sesuai dengan tjita -tjita dan djiwa proklamasi 17 Agustus 1945. {{gap}} Kemudian Sekretaris membatjakan lapuran Dewan Pemerintah jang baru, jang mana timbang terima dengan Dewan Pemerintah jang lama telah berlangsung pada tanggal 18 April 1950, dan mendjelaskan program jang akan dilaksanakannja sebagai berikut; #<li value="1">Mendudukkan dan membagi-bagi pegawai selekas mungkin. #<li value="2">Menghidupkan auto activiteit dari badan otonomi dan badanbadan lain dari masjarakat. #<li value="3">Mendjalankan urusan Desentralisasi serta memberi isi kepada badan-badan otonom dan melaksanakan jang termaktub dalam undang-undang No. 22, diantaranja mengadakan pemilihan umum jang harus diselesaikan dalam tempo 4 bulan. #<li value="4">Menjusun begroting djawatan-djawatan jang harus selesai dalam tempo 2 bulan. #<li value="5">Melakukan pekerdjaan setjara kollegial antara Dewan Pemerintah dengan Kepala-kepala Djawatan Sumatera Tengah. {{gap}}Lalu didjelaskan bahwa daerah kepulauan Riau telah selesai diambil over dari kekuasaan militer, dan dimasukkan kedalam daerah Sumatera Tengah sesuai dengan ketetapan Menteri Dalam Negeri. Timbang terima telah dilakukan oleh suatu delegasi Pemerintah Sumatera Tengah jang dipimpin oleh Saudara R.M. Utojo pada tanggal 1 Mei 1950. {{gap}}Tentang status Djambi jang dalam masa perang dimasukkan kedalam daerah Gubernur Militer Sumatera Selatan, dan sekarang dari pihak rakjat Djambi ada suara-suara untuk tetap masuk Sumatera Selatan, diputuskan bahwa karena Pemerintah Pusat belum mengambil putusan tentang Djambi, maka selama belum ada putusan status Djambi tetap dalam lingkungan Propinsi Sumatera Tengah, hal mana kemudian disetudjui oleh Menteri Dalam Negeri dengan kawatnja tanggal 10 Djuni 1950.<noinclude>{{rh|198}}</noinclude> a0miutoeuflhmeurhmtom4d47a4flf9 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1007 104 97904 291155 272900 2026-05-10T14:39:28Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291155 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} {{c|{{smaller|'''''Rest Buddha Djawi (Buddha-Wishnu) di Ketjamatan Paron. Kabupaten Nauit'''''}}}} {{c|{{smaller|'''''gagung menijari Ratu Adil'''''}}}}<noinclude></noinclude> ezjugc299c91jmy72b481bwnx2j3na0 291158 291155 2026-05-10T14:39:54Z Lutfiyatun 26681 291158 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} {{smaller|'''''Rest Buddha Djawi (Buddha-Wishnu) di Ketjamatan Paron. Kabupaten Nauit'''''}} {{smaller|'''''gagung menijari Ratu Adil'''''}}<noinclude></noinclude> r108zthievjvi88v3vvjnbw2jrnwbk3 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/406 104 97915 291083 272226 2026-05-10T14:08:06Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291083 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>pinnja dipropinsi dinamakan hak medebewind, jang selama ini berada ditangan Gubernur. Maka D.P.R.S.T. menuntut supaja dengan tjutinja Gubernur, hak medebewind atas djawatandjawatan centraal ini diserahkan kepada Dewan Pemerintahan Sumatera Tengah, hal mana disetudjui oleh Menteri Dalam Negeri dengan kawatnja tanggal 3 Djuni 1950. Tetapi kemudian dengan kawatnja tanggal 8 Djuni, hak medebewind ini ditjabut kembali dari tangan Dewan Pemerintahan dan diserahkan kepada Residen Utojo. Inilah jang menimbulkan kesulitan. {{gap}}Memang sedjak masuknja mosi Tan Tuah boleh dikatakan konflik antara Gubernur Nasroen dan D.P.R.S.T. telah mulai, dan semakin lama masa berdjalan, konflik ini semakin meruntjing. {{gap}}Pendirian Dewan Pemerintah Sumatera Tengah didjelaskan oleh Saudara Thaher Samad anggota D.P., jang mendjadi spokesman dari Dewan tersebut, sebagai berikut: {{gap}}..Berhubung dengan mosi Tan Tuah. cs., jang mengenai kepindahan Gubernur sampai sekarang dan sampai pada saat timbul kesulitan ini belum djuga selesai, maka oleh Dewan Pemerintah telah dikirim missi untuk minta pendjelasan, dalam mana dinjatakan oleh Menteri Dalam Negeri pada missi, pendiriannja bahwa itu telah dilakukan, maka tanggung djawab seluruhnja dalam Pemerintahan akan diberikan kepada Dewan Pemerintah. Ketika lapuran missi ini dibitjarakan dalam sidang informeel pada tanggal 4 Mei, dan tatkala disampaikan kepada Gubernur, maka Gubernur berpendirian bahwa beliau sesudah tjuti dahulu, tidak sanggup bekerdja sama dengan D.P.R.S.T. dan Dewan Pemerintah, karena kenjataan bagi beliau, bahwa isi lapuran dari Jogja itu, baik Dewan Pemerintah ataupun Dewan Perwakilan tidak pertjaja lagi kepada beliau. Dan segera pada saat itu djuga beliau menjatakan, bahwa beliau mengambil tjuti 1 bulan lamanja. Hanja karena hal jang demikian ini, ialah karena conflik jang ditimbulkan, maka tjuti ini, tidak bisa diterima. Dengan menarik dirinja Gubernur dalam keadaan konflik jang ditimbulkan ini dengan berupakan tjuti, maka dengan sendirinja timbullah dalam Dewan Pemerintahan splitsing dari pada propinsi diensten dan medebewind. Sebab menurut pendapat Dewan Pemerintah, Gubernur adalah sebagai koordinator dalam kedua diensten itu. {{gap}}Dengan pendirian Gubernur oleh karena bersangkut dengan konflik ini, maka ada bajangan, bahwa ada pemisahan antara medebewind dan Provincie diensten. Ini tidak djadi apa-apa kalau pemisahan ini terdjadi dalam keadaan normaal, tetapi dalam conflict jang telah terdjadi itu, mungkin menjulitkan kepada Pemerintah Sumatera Tengah. Berkenaan dengan jang dipertanggung djawabkan dalam pelaksanaan seterusnja. Hal ini telah dibitjarakan pandjang lebar dalam rapat Dewan Pemerintah<noinclude>{{rh|400}}</noinclude> owyzx0x5nyychqgdgd23d156lw3h1pi Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/409 104 97926 291086 272249 2026-05-10T14:09:05Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291086 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>'''Sidang kilat D.P.S.T. 25 Djuni 1950.''' {{gap}}Dan sekembalinja missie D.P.R.S.T. dari Djogja jang tersebut diatas, maka pada hari Minggu tanggal 25 Djuni 1950 diadakan suatu sidang kilat D.P.R.S.T. jang sifatnja tertutup bertempat dirumah Ketua H. Iljas Jacoub di Bukittinggi. Rapat ini diadakan untuk membulatkan fikiran tentang soal-soal jang dihadapi sesudahnja missie ke Djogja itu memberikan keterangannja. Apalagi Menteri Dalam Negeri Susanto akan datang pula ke Sumatera Tengah. '''Susanto ke Sumatera Tengah 7 Djuli 1950.''' {{gap}}Pada tanggal 7 Djuli sampailah Menteri Susanto di Sumatera Tengah dimana pada tanggal 8 diadakan pertemuan antara Menteri dengan para anggota D.P.R.S.T. bertempat di Gedung Nasional Bukittinggi. Dengan tegas Menteri Susanto mengatakan bahwa udjud kundjungannja kedaerah ini ialah supaja didapat suatu penjelesaian jang sebaik-baiknja dalam konflik D.P.R.S.T. dan Gubernur Nasroen, sedangkan Pemerintah Pusat sendiri belumlah mengambil suatu keputusan. Dalam rapat itu tegas bahwa para anggota D.P.R.S.T. tidak dapat lagi mengelakkan prinsip-prinsipnja jang telah ditegaskan dalam mosi Tan Tuah c.s. Anggota-anggota Dr. Rahim Usman, Ahmad Su'ib, Dt. Mangku, Damanhuri Djamil, Gaffar Djambek dan Dr. Sjagaf Jahja menjatakan bahwa tidak akan terdapat lagi satu kerdja sama dengan Gubernur Nasroen. Setelah Menteri mendengarkan beberapa suara dari anggota-anggota D.P.R.S.T., Menteri menaruh pengharapan lagi untuk mengadakan penjelesaian dengan mengemukakan beberapa sjarat2 jang didasarkan kepada peraturan-peraturan perwakilan dan sebagainja dan sesudah itu Menteri meninggalkan pertemuan itu. '''Dr. Djamil dan Dr Rahim Usman ditjalonkan 8 Djuli 1950.''' {{gap}}D.P.R.S.T. meneruskan sidangnja (sidang istimewa) dengan 2/3 anggota jang hadir itu, dengan atjara pembahasan soal-soal jang dikemukakan Menteri dan dengan dasar peraturan-peraturan pula D.P.R.S.T. bertahan pada prinsip-prinsip jang telah dipegangnja, hingga dalam sidang itu dimadjukan tjalon Gubernur sebagai tambahan dari tjalon-tjalon jang dikemukakan dalam sidang pleno ke III dahulu, terdiri dari Dr. Djamil dan Dr. Rahim Usman. {{gap}}Pada pukul 2.00 malam rapat (sidang) D.P.R.S.T. baru ditutup. Berhubung dengan pentjalonan Dr. Djamil untuk mendjadi Gubernur Propinsi Sumatera Tengah ini , Dr. Djamil menjatakan; bahwa pada saat terdjadi perkembangan politik didalam dan diluar negeri dan melihat adanja persengketaan sendjata disatu negara<noinclude>{{rh|||403}}</noinclude> acfs7986w64mfhw4sqy19l0lxeqh6zs Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/410 104 97929 291085 272442 2026-05-10T14:09:01Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291085 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>jang djauh dari kita , saja harus tidak menolak djika saja diberi satu beban berupa tanggung djawab, akan tetapi saja akan memadjukan terlebih dahulu pertimbangan-pertimbangan. {{gap}}Petang hari rombongan kembali dengan melalui Lb. Selasih ke Padang. Pada tanggal 11 Djuli 1950 Menteri Susanto terbang kembali ke Djogja. '''Sebelum 1 Agustus telah ada ketentuan.''' {{gap}}Dalam suatu pernjataannja sebelum berangkat, Susanto menegaskan: Saja telah datang kemari dengan pengharapan penuh, dapat mendekatkan kembali pertentangan jang timbul antara Gubernur Nasroen dan D.P.R.S.T. Tetapi sajang, ternjata usaha saja itu tidak berhasil. D.P.S.T. tetap mempertahankan pendiriannja jang tempo hari telah dilahirkan dalam sidang plenonja. Dalam pada itu ternjata djuga sekarang Gubernur Nasroen tidak bersedia lagi untuk mendjadi Kepala Daerah kembali, kalau ia tidak disokong sepenuhnja oleh Dewan Pemerintahan. Sedangkan untuk gantinja oleh D.P.R.S.T. telah ditjalonkan 4 orang jaitu saudara-saudara H. Iljas Jacoub, Mr. St. M. Rasjid, Dr. M. Djamil, dan Dr. A. Rahim Usman. Seterusnja Susanto menerangkan sebelum tanggal 1 Agustus 1950, pemerintah akan memberi ketentuan tentang pengangkatan Gubernur baru. {{gap}}Sementara itu masa berdjalan djuga, dan konflik antara D.P.R.S.T. dan Gubernur Nasroen ini sudah menduri dalam daging dalam masjarakat Sumatera Tengah. {{gap}}Dan sebagai seorang pegawai negara, jang bertanggung djawab, maka sehabis tjutinja jaitu sesudah hari raja, Gubernur Nasroen mulai masuk bekerdja kembali mengatur pemerintahan. '''M. Nasroen kembali bekerdja selesai tjuti.''' {{gap}}Langkah pertama ialah berusaha setjepatnja melaksanakan peraturan pemerintah pengganti Undang-undang No. 2 tahun 1950, tentang pembentukan D.P.R. Daerah Sementara dan D.P.-nja agar pemerintahan berdjalan dengan lebih lantjar. Berdasarkan Undang-undang itu maka D.P.R. Daerah Propinsi, Kabupaten, Kota Besar, Kota Ketjil, dan daerah-daerah jang setingkat dengan daerah jang tersebut, untuk seluruh daerah R.I. dilakukan oleh sebuah panitia jang terdiri dari sedikit-dikitnja 3 orang dan sebanjak-banjaknja 4 orang dimasing-masing daerah itu, dan panitia ini diketuai oleh kepala daerah sendiri. '''Panitia D.P.R. Daerah Sementara 24 Djuli 1950.''' {{gap}}Oleh Gubernur Nasroen dibentuklah satu panitia jang diketuai oleh Gubernur dan anggota-anggotanja Saudara-saudara Sultani<noinclude>{{rh|404}}</noinclude> gops0e860vuzrbpa8vkaktj7xir1o4e Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/387 104 97972 291063 272670 2026-05-10T13:59:44Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291063 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>#<li value="3">Badan Keamanan Rakjat (B.K.R.): Saudara-saudara Ismael Lengah, Ahmaddin Dt. Berbangso, Sulaiman, dan Raden Suleiman. #<li value="4">Kesedjahteraan rakjat: Saudara-saudara Dt. Madjo Urang, Umar Marah Alamsjah, Dr. Athos Ausri, dan Mr. Nazaruddin. #<li value="5">Kaum ibu dan puteri: Saudari Rkj. Dt. Temenggung, Sjamsidar Jahja, Zubeidah Munaf, Hapipah Lanjunin. {{gap}}Kemudian dalam rapatnja pada tanggal 2-9-1945 karena keadaan keamanan sangat genting, maka pengurus B.K.R. disusun sebagai berikut: {{gap}}Penasehat: Saudara-saudara A. Dt. Berbangso dan Rd. Suleiman. {{gap}}Pengurus: Saudara-saudara Djamalus Jahja (Ketua), Marah M. Taher, Ismael Lengah, S. J. St. Mangkuto, dan H. Siradjuddin Abbas. {{gap}}Dan anggota-anggota selandjutnja ialah: {{gap}}Saudara-saudara Mr. S. Harun Alrasjid, Bassa Bandaro, Darwis, Dr. Madjolelo, Abdullah, Sjaif Usman, Dr. Akkmam, Dt. Temenggung Gadang, Agus Sastra Dipradja, Dt. Palimo Kajo, A. Gaffar Djambek, Mr. Abu Bakar Djaar, Dr. Rasjidin, Amir Hakim Siregar, Ismail Karim, Bariun A.S., Aziz Latif, Abd. Malik, St. Usman Karim, M. Suib, Mustaffa St. Maradjo, St. Ahmad, A. Fattah St. Malano, dan Dt. Simaradjo. '''Sidang Pleno ke-II.''' {{gap}}Sidang ini diadakan di Pasar Gedang -Padang pada tanggal 4 dan 5 Oktober 1945. Oleh karena derasnja gelora revolusi rakjat, maka ternjata bagian-bagian jang diadakan pada K.N.I. itu belum dapat memenuhi kebutuhan perdjuangan meskipun para pengurus telah bekerdja keras, maka diputuskanlah dalam rapat ini bahwa segala aliran dan golongan dalam masjarakat harus mempunjai wakil dalam K.N.I. {{gap}}Untuk ini ditanam satu Komisi jang terdiri dari 5 orang jaitu saudara-saudara Dt. Madjo Urang, Abdullah Kamil, Anas St. Masa Bumi, Azizchan dan Ismail Lengah. {{gap}}Komisi ini diberi tugas untuk mendaftarkan orang-orang jang patut duduk dalam K.N.I. daerah Sumatera Barat agar K.N.I. akan dapat mentjerminkan seluruh masjarakat Minangkabau pada waktu itu. Tambahan anggota jang dimaksud akan berdjumlah 39 orang sehingga seluruh anggota K.N.I. berdjumlah 80 orang. {{gap}}Selesailah Pleno ini maka pada tanggal 16 Oktober 1945 keluarlah Maklumat Pemerintah No. 10 tahun 1945 jang menegaskan antara lain bahwa Komite Nasional Pusat sebelumnja terbentuk Madjelis Permusjawaratan Rakjat dan D.P.R. diserahi kekuasaan<noinclude>{{rh|||381}}</noinclude> 6ytbgc4ymnf815xz2virl2koakwf6qs Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/388 104 97973 291061 272696 2026-05-10T13:59:40Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291061 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Legislatif dan ikut menetapkan garis-garis besar haluan Negara serta menjetudjui bahwa pekerdjaan K.N.I. Pusat sehari-hari berhubung dengan gentingnja keadaan didjalankan oleh sebuah Badan Pekerdja jang dipilih diantara mereka dan bertanggungdjawab kepada K.N.I. Pusat. {{gap}}Sebagai kelandjutan dari Maklumat ini untuk menegaskan kedudukan K.N.I. Daerah dikeluarkan pula Undang2 No. 1 tahun 1945 tentang Komite Nasional Daerah mendjadi badan Perwakilan Rakjat Daerah jang bersama-sama dengan dan dipimpin oleh Kepala Daerah mendjalankan pekerdjaan dan mengatur rumah tangga daerahnja, asal tidak bertentangan dengan peraturan Pemerintah Daerah jang lebih luas dari padanja. Seterusnja dinjatakan bahwa oleh Komite Nasional Daerah dipilih beberapa orang sebanjak-banjaknja 5 orang sebagai Badan Executief jang bersama-sama dengan dan dipimpin oleh Kepala Daerah mendjalankan pemerintahan sehari-hari dalam daerah itu, dan peraturan itu dipertegas lagi buat daerah-daerah di Sumatera dengan Maklumat Gubernur Sumatera No. 8/MGS tanggal 12 April 1946. '''Sidang Pleno ke-III.''' {{gap}}Sidang ini bertempat di Padang dalam suasana jang semakin panas berhubung dengan pendaratan tentara Sekutu tanggal 10-10-1945. {{gap}}Dan untuk melaksanakan Instruksi Gubernur Sumatera jang telah diuraikan dibagian lain, maka sidang Pleno memutuskan bahwa Ketua M. Sjafei jang memangku djabatan Residen diganti dengan Dr. Djamil. Selandjutnja Pleno djuga memutuskan bahwa agar K.N.I. dapat memikul kewadjiban sebagai perwakilan rakjat jang membantu pekerdjaan Pemerintah, anggotanja ditambah seperti jang dikemukakan oleh Komisi dengan beberapa perubahan dan banjaknja didjadikan 107 orang jang nama-namanja sebagai berikut: {{gap}}Ketua dipegang oleh Dr. Djamil, Mr. Rasjid dan Mr. Nasrun masing-masing mendjadi Ketua 1 dan 2. {{gap}}Dewan harian: Bachtaruddin, Sjarif Usman, Darwis Thaib Usman Keadilan, Abdullah Kamil, Chatib Suleiman, S. J. St. Mangkuto. {{gap}}Sesudah perobahan dan penambahan ini , maka para anggota K.N.I. Sumatera Barat selain dari jang telah disebutkan itu, adalah Saudara-saudara: 1. p.t. Bariun A.S. 2. Mr. Nazaruddin 3. Bagindo Tahar 4. Jacob Jahja 5. Zainuddin P.S. 6. Dt . Simaradjo 7. Sjarifah Arif 8. Suleiman 9. A. Gaffar 10. Abd. Fatah St. Malano 11. Bgd. Darwis 12. R.S. Surjapradja 13. Rkj. Dt. Temenggung 14. Dt. Bagindo 15. R. O. Ganto Suaro 16. Dt. Bareno 17. Suleiman Effendi 18. Iskandar Tedjasukmana 19. Dr. Ali<noinclude>{{rh|382}}</noinclude> 9aa28hptndqi56k1lggj4qf82kl7alc Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/389 104 97975 291058 272725 2026-05-10T13:59:03Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291058 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Akbar 20. Basjrah Lubis 21. Ahmad Basjah 22. Sidi Bakaruddin 23. Dt. Maruhum 24. Darwis Maruf 25. Ahmad Sjuib 26. Aziz Chan (meninggal 20-7-1947) 27. Abdullah 28. Tamimi Usman 29. Gani Sjarif 30. Dr. Rifai 31. Chatib Salim 32. Dt. Kodoh 33. Dt. Maradjo 34. H. Siradjuddin Abbas 35. A. Gaffar Djambek 36. Anwar St. Saidi 37. Tan Tuah Bgd. Ratu 38. Thaher Marah Sutan 39. Marzuki Jatim 40. Rkj . Rasuna Said 41. S. M. Latif 42. H. Mahmud Junus 43. Saaduddin Djambek 44. G. Silitonga 45. Rkj. Chamsanah 46. Sjamsu Anwar 47. Mr. Zainal Zainul 48. Leon Salim 49. Bahar Dt. Mangkuto Alam 50. Anas St. Masa Bumi 51. Marah Abdul Munit 52. Sjarif Said 53. Jacob Rasjid 54. Mahjuddin Dt. R. Sampono 55. M. Sjarif St. Bandaharo 56. Abu Katar 57. H. A. Adnan Thaib 58. Abd. Rachman Dajah 59. Rustam (diganti dengan pt. Dr. A. Rahim Usman) 60. Arif St. Nagari 61. Raden Sadikin Adi Kusumah (diganti dengan Bgd. Muslim Nur) 62. S. D. M. Iljas (diganti dengan A. Rahim Munaf) 63. A. Sjuib (diganti dengan Basjaruddin Ahmad) 64. H. Usman Sjuib (diganti dengan Sjamsuddin Dt. B. M. Lelo) 67. Sofjan (meninggal 21-3-'47 sebagai anggota axecutief) 68. Djuir Muhammad 69. Mhd. Din Jatim (diganti dengan M. Nur St. Maruf) 70. Talib Radjo Nan Sutan (diganti dengan Sirin) 71. Rustam 72. B. St. Larangan 73. Maalip 74. Mansur Isa 75. H. A. Latif 76. H. Bakri Suleman 77. Dt. Tumenggung (diganti dengan Dt. Maradjo Diradjo) 78. Dt. Madjo Indo (diganti dengan Nazaruddin Thaha) 79. Dt. Tunggak Besar 80. Damanhuri Djamil (diganti dengan Zamzami Kimin) 81. Basir Latif 82. Nurdin Muhammad 83. H. Abd. Malik Idris (diganti dengan Marah Adin Dt. Penghulu Sati) 84. Sultani St. Malako 85. Ibrahim (diganti dengan Rustam Thaib dan sekali lagi digantikan oleh Raimin Dt. Sinaro Kajo) 86. H. Sjafei 87. Marzuki Bakri 88. Taher By 89. Rustam Dt. Gedang Kajo Basa 90. Rustam Jusuf Dt. R. Nan Peta 91. S. D. M. Iljas 92. Dt. R. Basa 93. Sjafri Musa 94. A. St. Saleh 95. Dt. Madjo Lelo 96. Mahmud Marzuki 97. Nursuhud (sebagai wakil pemuda). {{gap}}Anggota-anggota ini adalah mewakili golongan Pamong Pradja, Kepolisian, Pegawai-pegawai, Serikat Sekerdja, Badan-badan Koperasi, Partai-partai Politik, Kaum Adat, Golongan Agama, Badan Perekonomian, Kaum Ibu, Kaum Tani, Para Guru, Kaum Wanita, Kaum Pelaut, Pemuda, Pekerdja Umbilin, Pekerdja S.S., dan 40 orang anggota jang mewakili Kewedanaan-kewedanaan. {{gap}}Dengan susunan ini dapatlah dikatakan bahwa K.N.I. Sumatera Barat telah merupakan satu Badan Perwakilan jang terdiri dari segala lapisan dan golongan serta wakil dari tiap-tiap kewedanaan.<noinclude>{{rh|||383}}</noinclude> pnx46smwbyc0rgkszomk50aub53rziv Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/390 104 97976 291057 272752 2026-05-10T13:58:49Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291057 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>'''Sidang Pleno ke-IV.''' {{gap}}Sidang ini diadakan tanggal 4 dan 5 Desember tahun 1945 dengan mengambil putusan seperti berikut: 1. Mengadakan susunan pengurus baru dari K.N.I. sesuai dengan isi kawat dari Djawa jang mengandjurkan mengadakan Dewan Harian dan Dewan Executief, jang mana Dewan Harian itu terdiri dari saudara Dr. M. Djamil (Ketua) dan anggotaanggotanja S. J. St. Mangkuto, Usman Keadilan, Bachtaruddin, Darwis Thaib, Marzuki Jatim, Sjarif Usman dan Abdoellah Kamil. Sedang Dewan Executief terdiri dari Residen Sumatera Barat, sebagai Ketua , Dr. M. Djamil, Wakil Ketua beserta anggota-anggota Mr. St. M. Rasjid, Mr. Nasroen, Chatib Soeleman, Anwar St. Saidi dan Abdoellah. 2. Memilih diantara mereka 20 orang untuk mendjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera, sesuai dengan Instruksi Gubernur Sumatera dan untuk ini terpilihlah saudara-saudara Chatib Soeleman, S. J. St. Mangkoeto, Anwar St. Saidi , Rasuna Said, Mr. St. M. Rasjid, Barioen A.S., Dr. M. Djamil, Abdoellah, Dt. Simaradjo, Bachtaroeddin, Mr. M. Nasroen, A. Sjoeib, Sultani St. Malako, Mr. Nazaroeddin, H. Mahmud Junus, Sjarif Usman, Marzoeki Jatim, Saadoeddin Djambek, dan A. Gafar Djambek. 3. Memilih anggota Mr. M. Nasroen untuk duduk dalam Badan Pekerdja K.N.I. Pusat di Djakarta, memenuhi permintaan K.N.I.P. Selandjutnja dalam rapat Executief dan Dewan Harian diadakan dalam K.N.I. beberapa bagian untuk malantjarkan djalan perdjuangan jaitu, Fonds Kemerdekaan diketuai oleh saudara Marzoeki Jatim, bagian Pendidikan diketuai oleh saudara Saaduddin Djambek, bahagian Penerangan diketuai oleh saudara Darwis Thaib, bagian jang mengurus penjelesaian insiden-insiden diketuai oleh Usman Keadilan dan bagian organisasi. Perobahan susunan Dewan Harian terdjadi lagi, disebabkan diangkatnja saudara-saudara Usman Keadilan, S. J. St. Mangkuto dan Saadoeddin Djambek mendjadi pegawai Pemerintah jang mana saudara-saudara itu kedudukannja dalam Dewan Harian digantikan oleh saudara B. M. Thahar,bSjamsoe Anwar dan Barioen A.S. 4. Mengingat gentingnja keadaan, Pleno mengusulkan kepada Pemerintah antara lain, supaja mengatur distribusi bahan makanan, terutama beras, membentuk Pedjabat Penerangan dan Pedjabat Sosial, mengatur pungutan bakti-bakti dari rakjat, mengatur perbelandjaan T.R.I. dan mengusahakan memasukkan<noinclude>{{rh|384}}</noinclude> kp9e1y1snouvqluxur66at7ihnm72i1 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/703 104 98033 290933 272558 2026-05-10T13:22:07Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290933 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>kedua usaha itu sudah melewati perbatasan daerah Negara kita dengan melalui lukisan-lukisannja (gambaran-gambaran film), kata-kata tertulis (publikasi) dan kata-kata jang diutjapkan menembus aether (radio). Pertentangan propaganda inipun dapat diperiksa dalam perdebatan dalam Komisi P.B.B. waktu dibitjarakan „Draft convention on Freedom of Information” pada bulan Pebruari jang lalu, draft mana sedikit-banjak akan menjangkut pula soal-soal politik penerangan di Tanah-Air kita”. Demikianlah keterangan-keterangan jang tegas mengenai funksi penerangan Pemerintah didalam masjarakat Indonesia dewasa ini. Tentu sadja Kementerian Penerangan tidak menutup mata terhadap kekurangan-kekurangan jang ada padanja. Pemerintah tjukup menjadari, bahwa sesuai dengan program Kabinet Wilopo untuk menjederhanakan organisasi Pemerintah Pusat, perlu djuga didjalankan usaha-usaha untuk menambah effisiensi daripada pekerdjaan Kementerian Penerangan. Dalam arti inilah, mulai tanggal 28 sampai 31 Djuli 1952 di Djakarta diselenggarakan Konperensi Penerangan seluruh Indonesia untuk: <ol type="a"> <li>Memetjahkan persoalan penjederhanaan susunan Kementerian Penerangan/Djawatan Penerangan, dengan mengingat pengurangan tenaga administrasi dan usaha mempertinggi mobiliteit penerangan, termasuk merentjanakan pembaharuan Organisasi/Formasi Djawatan-Djawatan Penerangan Daerah;</li> <li>Mentjari djalan dan tjara bekerdja baru untuk mengaktivir dan mengintensivir usaha-usaha „penerangan daerah" dengan mengingat batas-batas biaja, termasuk usaha mempertinggi mutu djuru-djuru penerangan dengan pendidikan Pegawai jang teratur.</li> </ol> '''Menoleh ke belakang, menghadapi masa depan.''' Dalam tahun 1952 telah terdjadi bermatjam-matjam peristiwa di-lapangan politik dan di-lain lapangan kehidupan masjarakat jang selalu berpengaruh atas public opinion, baik didalam maupun diluar negeri. Kedjadian-kedjadian itu, serta berbagai-bagai tindakan politik Pemerintah pasti ikut memberikan tjorak kepada pertumbuhan public opinion, dan dimana public opinion itu tergerakkan, disitulah mau tidak mau „penerangan" harus bergerak. Ada dua kedjadian pokok jang terdjadi di Pusat, kedjadian-kedjadian mana membawa reflexie-nja pula di Daerah-Daerah, ialah: Pertama : Djatuhnja Kabinet Soekiman-Suwirjo jang kemudian disusul dengan terbentuknja Kabinet Wilopo dan Kedua : Sekitar peristiwa 17 Oktober. Kedua kedjadian ini sungguh-sungguh menggontjangkan dan sangat berpengaruh dikalangan masjarakat ramai didalam maupun diluar negeri.<noinclude>{{rh|'''669'''}}</noinclude> 3q946unazmcf1dlmqsld67o6jjkyo3d Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1027 104 98068 291306 286238 2026-05-10T16:43:23Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */ line break, huruf tebal 291306 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>{{r|MELAWAN TENTARA SERIKAT.}} {{Dropinitial|P}}ADA tanggal 29 September 1945, mendaratlah Tentara Serikat (Inggeris) di Djakarta, dipimpin Djenderal Christison. Pendaratan ini pada mulanja dirasakan berlawanan dengan kedudukan dan kemerdekaan Negara Republik Indonesia jang sudah diproklamirkan itu. Akan tetapi karena kewadjiban jang hendak dilakukan oleh Tentara Serikat itu menurut keterangan Lord Louis Mountbatten, Pemimpin Tentara Inggeris di Asia Tenggara, ialah melutjuti Tentara Djepang, melepaskan tawanan Sekutu dan mendjaga ketenteraman, maka Pemerintah tidak keberatan atas kewadjiban itu. Tetapi apakah jang terdjadi dibelakangnja pendaratan ini? Bangsa Indonesia terutama penduduk Surabaja, masih ingat dan akan selalu ingat, bahwa fihak Belanda dengan memakai nama „Nica" (Netherlands Indies Civil Administration), membawa pula kekuatan -kekuatan tentara serta uang kertas baru. Apa jang mereka namakan Barisan Red Cross dan Rapwi itu katanja adalah badan-badan sutji, akan tetapi fihak Belanda ketika itu sudah mempunjai rentjana untuk mempersendjatai orang-orang bekas tawanan, supaja dapat dipergunakan guna menakut nakuti Bangsa Indonesia. Dalam hal ini rupanja mereka salah dugaan. Mereka tidak mengetahui perubahan jang dialami oleh Bangsa Indonesia setelah djatuhnja Pemerintahan Hindia-Belanda dan selama dibawah Pemerintahan Balatentara Djepang. Anggapan mereka Bangsa Indonesia itu masih mempunjai djiwa seperti jang dahulu sadja. Mereka tidak mengerti dan mungkin pura-pura tidak mengerti, bahwa setelah keluar dari penderitaan selama pendudukan Djepang, Bangsa Indonesia telah sadar dan mengetahui apa jang akan menimpa dirinja kalau dioperkan sadja sebagai barang dari satu tangan kepada tangan jang lain. Keadaan keamanan dibeberapa bagian Kota Djakarta tidak dapat diatasi lagi. Tembak-menembak sering terdjadi. Pertempuran tidak dapat dielakkan. Timbullah waktu itu kekatjauan dan terror. Rakjat Djakarta dan Rakjat Indonesia pada umumnja tetap bersikap waspada. Sesudah melihat dan mengalami keadaan di Djakarta jang begitu rupa, jang bagi Bangsa Indonesia merupakan peladjaran apa arti daripada keadaan itu semua, maka apakah dibiarkan sadja kedjadian-kedjadian itu bersimaharadjalela pula di KotaSurabaja dan lain-lainnja? Rakjat berpendirian: „Kota-kota lain harus dipertahankan, bagaimanapun djuga tjobaan jang akan ditempuh".<noinclude>{{rh|||915}}</noinclude> h6uz433ryfq6llrat790heal1gduvq9 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/188 104 98073 291114 272664 2026-05-10T14:14:54Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291114 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>diambil tindakan dengan tepat dengan mengadakan '''Mahkamah Militer terpentjar''' jang tempatnja akan ditentukan oleh Gubernur Militer. Dan dengan dibentuknja daerah militer ini, hak-hak dan milik rakjat tidaklah akan terganggu , malahan lebih mendapat djaminan perlindungan dari pemerintah, tetapi sebaliknja diharapkan agar rakjat lebih lagi dari waktu jang lampau memenuhi kewadjibannja untuk negara dan mematuhi tiap-tiap peraturan jang dikeluarkan mengenai beban rakjat menurut kesanggupan masing-masing. {{gap}}Pendjelasan itu diachiri dengan seruan bahwa hanja dengan kesatuan dan persatuan jang bulat, satu pimpinan dan satu komando, rakjat berdjuang akan mendapat kemenangan. {{gap}}Dan pendjelasan ini rasanja telah tjukup djelas ! Perdjuangan berdjalan dengan sengitnja , sedangkan uang kertas tidak ditjetak lagi , agar inflasi djangan memuntjak. Dari manakah diambilkan bekal dan belandja untuk perdjuangan ? '''Iuran Perang.''' {{gap}}Perbelandjaan ditutup dengan mengadakan sematjam padjak jang dinamakan '''Iuran Perang Negara''', atau lebih populer dengan sebutan I.N.P. ( Iuran Negara dalam Perang ) , jang meliputi akan sepersepuluh dari apa jang dihasilkan dan dipunjai oleh rakjat, ketjuali rumah dan barang -barang perhiasan . I.N.P. ini adalah satu udjian maha berat tetapi sangat tepat untuk mengukur sampai dimana besarnja hasrat rakjat untuk merdeka karena pada masa segala sumber kehidupan dan perekonomian terkandas dan tertutup mati, pada masa seluruh rakjat menderita kemelaratan jang sebesar-besarnja , akibat dari tiga setengah tahun pendudukan Djepang dihimpit lagi oleh beban tiga setengah tahun perdjuangan kemerdekaan , maka sekarang dalam masa jang sesulit- sulitnja ini, dimana hampir setiap orang tidak mempunjai apa - apa lagi , dia masih harus menjerahkan lagi sepuluh persen dari harta- benda dan hasil sawah ladangnja beserta ternaknja untuk Negara. Tetapi masjarakat Sumatera Barat jang ekonominja berpangkal kepada pertanian itu masih dapat memikul beban ini , dan Pemerintah dapat meneruskan memimpin perdjuangan dengan tak usah mengeluarkan uang kertas baru , sedangkan segala belandja dipikul oleh rakjat. {{gap}}Untuk mengatur tjara pemungutan I.N.P. ini maka D.P.D. Sumatera Barat pada tanggal 28 Desember 1948 mengeluarkan Peraturan No. 2/DPD/P- Ist tentang pemungutan Iuran Perang Negara dimana dinjatakan bahwa untuk memperkuat tenaga perdjuangan dan untuk mentjegah pengambilan hak milik rakjat dengan setjara tak teratur, maka pemungutan resmi dipusatkan dalam satu tangan . Maka ditetapkan bahwa disetiap kawedanaan dan negeri haruslah dibentuk satu panitia pemungutan jang diketuai oleh Wedana , dan anggotanja terdiri dari Kepala Polisi, ang-<noinclude>{{rh|182}}</noinclude> 963vrqknwwe6nqg1el6ez9g9xm2t492 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1021 104 98076 291309 286220 2026-05-10T16:44:42Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */ huruf tebal 291309 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>{{r|PEREBUTAN SENDJATA DJEPANG.}}<br> {{Dropinitial|P}}ROKLAMSI 17 Agustus 1945.Berita proklamasi kemerdekaan agak terlambat diterima di Surabaja. Segera setelah diketahui, mulailah timbul kesukaran dan perselisihan dengan fihak Djepang, terutama dengan alat-alat kekuasaan pemerintahan tentaranja, jaitu Kenpetai. Pengibaran bendera kebangsaan disana-sini mendjadi perselisihan dan pertengkaran. Fihak Djepang mentjoba menghalang-halangi kemauan Rakjat dengan berbagai matjam tjara, tetapi semua tidak dihiraukan oleh Rakjat, jang sudah bersatu tekad akan mempertahankan kemerdekaan Negaranja, jang baru sadja dimiliki. Pada tanggal 27 Agustus 1945 diterima kawat dari Djakarta, bahwa untuk merajakan sidang pertama dari Komite Nasional Indonesia Pusat, seluruh penduduk diharapkan mengibarkan Sang Merah Putih pada tanggal 29 dan 30 Agustus 1945. Maka untuk itu telah dikeluarkan pengumuman, supaja Rakjat diseluruh Daerah Surabaja mengibarkan bendera Sang Merah Putih mulai tanggal 29 Agustus sampai tanggal 1 September 1945. Selain itu dikeluarkan maklumat, bahwa untuk mendjaga tata-tertib selain bendera Sang Merah Putih tidak boleh dikibarkan lain bendera. Belum semua kantor Djepang ketika itu mengibarkan bendera Merah Putih, tetapi berkat ketangkasan Pemuda-pemuda pengibaran bendera Sang Merah Putih dapat merata. Tiap-tiap rumah, baik didalam kampung, maupun didjalan raja, semua mengibarkan Sang Merah Putih. Mulai saat itu djuga dipakainja lentjana Merah Putih. Pada malam hari tanggal 3 September 1945 dengan bantuan bekas Tentara Peta, Daerah „Surabaja Syuu" diumumkan sebagai „Karesidenan Surabaja". masuk wilajah Republik Indonesia. Setelah ada pengumuman ini, makin tampak kegelisahan fihak Djepang, jang mentjoba meniadakan tindakan tersebut. Fihak Kenpetai mengeluarkan pengumuman, bahwa semua kekuasaan masih ada dalam tangan Tentara Djepang dan penduduk harus tunduk kepada perintah perintah Tentara hingga Tentara Serikat datang. Pengumuman fihak Djepang ini tidak di-indahkan oleh Rakjat. Pengumuman masuknja Pemerintah Republik Karesidenan Surabaja sebagai Daerah Indonesia dikerdjakan dengan tjepat ke-seluruh<noinclude>{{rh|||909}}</noinclude> qmchkkzcc5cwijlicgkha15dx755k18 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/196 104 98097 290840 272777 2026-05-10T12:27:10Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290840 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>[[File:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur (page 196 crop).jpg|Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur (page 196 crop)|pus]] Ketika tentara Inggeris telah terdjepit kedudukannja menghadapi Rakjat di Surabaja, dimintalah oleh mereka kedatangan pemimpin-pemimpin Indonesia dari Djakarta untuk mentjegah meluasnja pertempuran. Dan pada tanggal 29 Oktober 1945 Bung Karno Bung Hatta dan Mr. Amir Sjarifuddin tiba di Surabaja guna menghentikan pertempuran Kalau Kantor Gubernur Djawa-Timur di Surabaja ini dapat berkata, nistjaja ia akan dapat mentjeriterakan betapa memuntjaknja api revolusi di Surabaja pada tahun 1945 (Cliche H.U.). [[File:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur II (page 196 crop).jpg|Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur II (page 196 crop)|pus]]<noinclude></noinclude> lg391f94owkoj6tj7al09kvi1w2j2mq Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/464 104 98267 292021 273483 2026-05-11T11:49:12Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ gunakan : untuk menjorokkan 3 kalimat; perhatikan penempatan koma; tanda petik 292021 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>Kemudian diandjurkan gerakan „Tiga A ” jang berarti: Tjahaja Asia Nippon. Pelindung Asia Nippon. Pemimpin Asia Nippon. jang tidak begitu berkembang di Sumatera Tengah . „Dai Toa Senso" jang oleh Djepang dinamakan sebagai „perang total seluruh bangsa Indonesia untuk membebaskan Asia dari tekanan kekuasaan bangsa asing" haruslah merupakan satu-satunja objek perudjudan tjita-tjita. Dari itu segenap tenaga dan perdjuangan haruslah dikerahkan kesana. Perkumpulan-perkumpulan dan gerakan-gerakan jang dibangunkan haruslah berlambangkan „untuk kemenangan perang". Dari itu, tidak politik jang harus dikemukakan, tapi bakti jang sebesar-besarnja harus diberikan. Saudara mendjadi salah seorang saksi jang masih tertinggal atas peratjunan djiwa dan semangat jang pernah dilakukan oleh kekuasaan tentera Djepang dizaman pendudukannja di Indonesia. Apa jang terdjadi di Sumatera Barat Tengah selama 31½ tahun serupa dengan jang terdjadi didaerah lain pada waktu itu. Perkumpulan-perkumpulan jang diizinkan berdiri, hanjalah perkumpulan-perkumpulan jang sengadja diandjurkan mendirikannja guna „memperbesar produksi tenaga-tenaga dan bahan-bahan jang harus dikorbankan rakjat dalam lapangan kebaktian". Lapangan-lapangan kebaktian ini, sesuai dengan mereka jang berkepentingan atasnja, hanja merupakan bermatjam-matjam „Kai", seperti „Hoko Kai", „Fudjin Kai", „Ko En Kai" dan entah apa namanja lagi. Benar '''Muhammadijah''' masih dapat berdiri terus, dan Perti masih diizinkan tegak, tapi kedua badan ini tidak dibenarkan untuk bergerak menurut iradahnja masing-masing. Kesempatan untuk tidak dikuburkan bagi keduanja itu hanja karena kebetulan mereka tidak ikut mentjampuri urusan-urusan politik. Memang '''Madjelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau''' (M.T.K.A.A.M.) tidak ditumpaskan, tapi kepadanja tidak diberikan keluasan untuk bergerak menurut tjara jang direntjanakannja semula. Dan kesempatan untuk hidup bagi badan kebudajaan setempat ini hanja karena kebetulan didalam programnja tidak tertjantum urusan politik. Benar, '''Madjelis Islam Tinggi''' (M.I.T.), diizinkan bangun dan berdiri, tapi badan ini hanja merupakan suatu badan permusjawaratan dan tepatan dari para alim-ulama di Sumatera Barat (kemudian untuk seluruh pulau Sumatera), dimana hanja diperbintjangkan masalah-masalah jang menjangkut dengan urusan<noinclude>{{rh|458}}</noinclude> 3hqj1r41tgqveih9ly12d03pi50l6m3 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/779 104 98280 291027 277025 2026-05-10T13:44:12Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ 291027 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>{{indent|kedua usaha itu sudah melewati perbatasan daerah Negara kita dengan melalui lukisan - lukisannja(gambaran -gambaran film), kata-kata tertulis (publikasi) dan kata-kata jang diutjapkan menembus aether (radio). Pertentangan propaganda inipun dapat diperiksa dalam perdebatan dalam Komisi P . B . B . waktu dibitjarakan „ Draft convention on Freedom of Information ” pada bulan Pebruari jang lalu , draft sedikit - banjak akan menjangkut pula soal-soal politik penerangan di Tanah - Air kita " .}} Demikianlah keterangan -keterangan jang tegas mengenai funksi penerangan Pemerintah didalam masjarakat Indonesia dewasa ini. Tentu sadja Kementerian Penerangan tidak menutup mata terhadap kekurangan -kekurangan jang ada padanja.Pemerintah tjukup menjadari, bahwa sesuai dengan program Kabinet Wilopo untuk menjederhanakan organisasi Pemerintah Pusat, perlu djuga didjalankan usaha -usaha untuk menambah effisiensi daripada pekerdjaan Kementerian Penerangan. Dalam arti inilah, mulai tanggal 28 sampai 31 Djuli 1952 di Djakarta diselenggarakan Konperensi Penerangan seluruh Indonesia untuk : {{indent| a. Memetjahkan persoalan penjederhanaan susunan Kementerian Penerangan/Djawatan Penerangan, dengan mengingat pengurangan tenaga administrasi dan usaha mempertinggi mobiliteit penerangan termasuk merentjanakan pembaharuan Organisasi /Formasi Djawatan-Djawatan Penerangan Daerah; b. Mentjari djalan dan tjara bekerdja baru untuk mengaktivir dan mengintensivir usaha -usaha „penerangan daerah" mengingat batas -batas biaja, termasuk usaha mempertinggi mutu djuru -djuru penerangan dengan pendidikan Pegawai jang teratur.}} '''Menoleh ke belakang, menghadapi masa depan . ''' Dalam tahun 1952 telah terdjadi bermatjam -matjam peristiwa di-lapangan politik dan di- lain lapangan kehidupan masjarakat jang selalu berpengaruh atas public opinion, baik didalam maupun diluar negeri. Kedjadian -kedjadian itu, serta berbagai-bagai tindakan politik Pemerintah pasti ikut memberikan tjorak kepada pertumbuhan public opinion , dan dimana public opinion itu tergerakkan , disitulah mau tidak mau „p e n e r a n g a n " harus bergerak . Ada dua kedjadian pokok jang terdjadi di Pusat, kedjadian kedjadian mana membawa reflexie-nja pula di Daerah -Daerah, ialah : {{indent|'''Pertama''' : Djatuhnja Kabinet Soekiman - Suwirjo jang kemudian disusul dengan terbentuknja Kabinet Wilopo dan '''Kedua''' : Sekitar peristiwa 17 Oktober .}} Kedua kedjadian ini sungguh -sungguh menggontjangkan dan sangat berpengaruh dikalangan masjarakat ramai didalam maupun diluar negeri. 669<noinclude></noinclude> 0ks92t0rcld2tq3khxkclzb9iotkxfw 291030 291027 2026-05-10T13:45:11Z Lutfiyatun 26681 /* Telah diuji baca */ 291030 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{indent|kedua usaha itu sudah melewati perbatasan daerah Negara kita dengan melalui lukisan - lukisannja(gambaran -gambaran film), kata-kata tertulis (publikasi) dan kata-kata jang diutjapkan menembus aether (radio). Pertentangan propaganda inipun dapat diperiksa dalam perdebatan dalam Komisi P . B . B . waktu dibitjarakan „ Draft convention on Freedom of Information ” pada bulan Pebruari jang lalu , draft sedikit - banjak akan menjangkut pula soal-soal politik penerangan di Tanah - Air kita " .}} Demikianlah keterangan -keterangan jang tegas mengenai funksi penerangan Pemerintah didalam masjarakat Indonesia dewasa ini. Tentu sadja Kementerian Penerangan tidak menutup mata terhadap kekurangan -kekurangan jang ada padanja.Pemerintah tjukup menjadari, bahwa sesuai dengan program Kabinet Wilopo untuk menjederhanakan organisasi Pemerintah Pusat, perlu djuga didjalankan usaha -usaha untuk menambah effisiensi daripada pekerdjaan Kementerian Penerangan. Dalam arti inilah, mulai tanggal 28 sampai 31 Djuli 1952 di Djakarta diselenggarakan Konperensi Penerangan seluruh Indonesia untuk : {{indent| a. Memetjahkan persoalan penjederhanaan susunan Kementerian Penerangan/Djawatan Penerangan, dengan mengingat pengurangan tenaga administrasi dan usaha mempertinggi mobiliteit penerangan termasuk merentjanakan pembaharuan Organisasi /Formasi Djawatan-Djawatan Penerangan Daerah; b. Mentjari djalan dan tjara bekerdja baru untuk mengaktivir dan mengintensivir usaha -usaha „penerangan daerah" mengingat batas -batas biaja, termasuk usaha mempertinggi mutu djuru -djuru penerangan dengan pendidikan Pegawai jang teratur.}} '''Menoleh ke belakang, menghadapi masa depan . ''' Dalam tahun 1952 telah terdjadi bermatjam -matjam peristiwa di-lapangan politik dan di- lain lapangan kehidupan masjarakat jang selalu berpengaruh atas public opinion, baik didalam maupun diluar negeri. Kedjadian -kedjadian itu, serta berbagai-bagai tindakan politik Pemerintah pasti ikut memberikan tjorak kepada pertumbuhan public opinion , dan dimana public opinion itu tergerakkan , disitulah mau tidak mau „p e n e r a n g a n " harus bergerak . Ada dua kedjadian pokok jang terdjadi di Pusat, kedjadian kedjadian mana membawa reflexie-nja pula di Daerah -Daerah, ialah : {{indent|'''Pertama''' : Djatuhnja Kabinet Soekiman - Suwirjo jang kemudian disusul dengan terbentuknja Kabinet Wilopo dan '''Kedua''' : Sekitar peristiwa 17 Oktober .}} Kedua kedjadian ini sungguh -sungguh menggontjangkan dan sangat berpengaruh dikalangan masjarakat ramai didalam maupun diluar negeri. 669<noinclude></noinclude> 57c1i7rtum2k51sxk5qgj2qwv650ziq 291045 291030 2026-05-10T13:51:36Z Lutfiyatun 26681 291045 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{indent|kedua usaha itu sudah melewati perbatasan daerah Negara kita dengan melalui lukisan-lukisannja(gambaran-gambaran film), kata-kata tertulis (publikasi) dan kata-kata jang diutjapkan menembus aether (radio). Pertentangan propaganda inipun dapat diperiksa dalam perdebatan dalam Komisi P.B.B. waktu dibitjarakan „Draft convention on Freedom of Information” pada bulan Pebruari jang lalu, draft sedikit-banjak akan menjangkut pula soal-soal politik penerangan di Tanah-Air kita”.}} Demikianlah keterangan-keterangan jang tegas mengenai funksi penerangan Pemerintah didalam masjarakat Indonesia dewasa ini. Tentu sadja Kementerian Penerangan tidak menutup mata terhadap kekurangan -kekurangan jang ada padanja.Pemerintah tjukup menjadari, bahwa sesuai dengan program Kabinet Wilopo untuk menjederhanakan organisasi Pemerintah Pusat, perlu djuga didjalankan usaha-usaha untuk menambah effisiensi daripada pekerdjaan Kementerian Penerangan. Dalam arti inilah, mulai tanggal 28 sampai 31 Djuli 1952 di Djakarta diselenggarakan Konperensi Penerangan seluruh Indonesia untuk: {{indent| a. Memetjahkan persoalan penjederhanaan susunan Kementerian Penerangan/Djawatan Penerangan, dengan mengingat pengurangan tenaga administrasi dan usaha mempertinggi mobiliteit penerangan termasuk merentjanakan pembaharuan Organisasi /Formasi Djawatan-Djawatan Penerangan Daerah; b. Mentjari djalan dan tjara bekerdja baru untuk mengaktivir dan mengintensivir usaha -usaha „penerangan daerah" mengingat batas -batas biaja, termasuk usaha mempertinggi mutu djuru -djuru penerangan dengan pendidikan Pegawai jang teratur.}} '''Menoleh ke belakang, menghadapi masa depan.''' Dalam tahun 1952 telah terdjadi bermatjam-matjam peristiwa di-lapangan politik dan di-lain lapangan kehidupan masjarakat jang selalu berpengaruh atas public opinion, baik didalam maupun diluar negeri. Kedjadian-kedjadian itu, serta berbagai-bagai tindakan politik Pemerintah pasti ikut memberikan tjorak kepada pertumbuhan public opinion, dan dimana public opinion itu tergerakkan, disitulah mau tidak mau „{{sp:|penerangan}}” harus bergerak. Ada dua kedjadian pokok jang terdjadi di Pusat, kedjadian kedjadian mana membawa reflexie-nja pula di Daerah -Daerah, ialah: {{indent|'''Pertama''': Djatuhnja Kabinet Soekiman-Suwirjo jang kemudian disusul dengan terbentuknja Kabinet Wilopo dan '''Kedua''' : Sekitar peristiwa 17 Oktober.}} Kedua kedjadian ini sungguh-sungguh menggontjangkan dan sangat berpengaruh dikalangan masjarakat ramai didalam maupun diluar negeri.<noinclude>{{rh|||669}}</noinclude> o9i6z5awkubb8jyo5dyhx4eidydn7m7 291050 291045 2026-05-10T13:54:03Z Lutfiyatun 26681 291050 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{indent|kedua usaha itu sudah melewati perbatasan daerah Negara kita dengan melalui lukisan-lukisannja(gambaran-gambaran film), kata-kata tertulis (publikasi) dan kata-kata jang diutjapkan menembus aether (radio). Pertentangan propaganda inipun dapat diperiksa dalam perdebatan dalam Komisi P.B.B. waktu dibitjarakan „Draft convention on Freedom of Information” pada bulan Pebruari jang lalu, draft sedikit-banjak akan menjangkut pula soal-soal politik penerangan di Tanah-Air kita”.}} Demikianlah keterangan-keterangan jang tegas mengenai funksi penerangan Pemerintah didalam masjarakat Indonesia dewasa ini. Tentu sadja Kementerian Penerangan tidak menutup mata terhadap kekurangan -kekurangan jang ada padanja.Pemerintah tjukup menjadari, bahwa sesuai dengan program Kabinet Wilopo untuk menjederhanakan organisasi Pemerintah Pusat, perlu djuga didjalankan usaha-usaha untuk menambah effisiensi daripada pekerdjaan Kementerian Penerangan. Dalam arti inilah, mulai tanggal 28 sampai 31 Djuli 1952 di Djakarta diselenggarakan Konperensi Penerangan seluruh Indonesia untuk: {{ol|list_style_type=lower-alpha |Memetjahkan persoalan penjederhanaan susunan Kementerian Penerangan/Djawatan Penerangan, dengan mengingat pengurangan tenaga administrasi dan usaha mempertinggi mobiliteit penerangan termasuk merentjanakan pembaharuan Organisasi /Formasi Djawatan-Djawatan Penerangan Daerah; |Mentjari djalan dan tjara bekerdja baru untuk mengaktivir dan mengintensivir usaha -usaha „penerangan daerah" mengingat batas -batas biaja, termasuk usaha mempertinggi mutu djuru -djuru penerangan dengan pendidikan Pegawai jang teratur.}} '''Menoleh ke belakang, menghadapi masa depan.''' Dalam tahun 1952 telah terdjadi bermatjam-matjam peristiwa di-lapangan politik dan di-lain lapangan kehidupan masjarakat jang selalu berpengaruh atas public opinion, baik didalam maupun diluar negeri. Kedjadian-kedjadian itu, serta berbagai-bagai tindakan politik Pemerintah pasti ikut memberikan tjorak kepada pertumbuhan public opinion, dan dimana public opinion itu tergerakkan, disitulah mau tidak mau „{{sp:|penerangan}}” harus bergerak. Ada dua kedjadian pokok jang terdjadi di Pusat, kedjadian kedjadian mana membawa reflexie-nja pula di Daerah-Daerah, ialah: {{indent|'''Pertama''': Djatuhnja Kabinet Soekiman-Suwirjo jang kemudian disusul dengan terbentuknja Kabinet Wilopo dan '''Kedua''' : Sekitar peristiwa 17 Oktober.}} '''Kedua''' kedjadian ini sungguh-sungguh menggontjangkan dan sangat berpengaruh dikalangan masjarakat ramai didalam maupun diluar negeri.<noinclude>{{rh|||669}}</noinclude> 0ddny2bzqy89r2sp3nib5377fq9sbqk 291051 291050 2026-05-10T13:54:29Z Lutfiyatun 26681 291051 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{indent|kedua usaha itu sudah melewati perbatasan daerah Negara kita dengan melalui lukisan-lukisannja(gambaran-gambaran film), kata-kata tertulis (publikasi) dan kata-kata jang diutjapkan menembus aether (radio). Pertentangan propaganda inipun dapat diperiksa dalam perdebatan dalam Komisi P.B.B. waktu dibitjarakan „Draft convention on Freedom of Information” pada bulan Pebruari jang lalu, draft sedikit-banjak akan menjangkut pula soal-soal politik penerangan di Tanah-Air kita”.}} Demikianlah keterangan-keterangan jang tegas mengenai funksi penerangan Pemerintah didalam masjarakat Indonesia dewasa ini. Tentu sadja Kementerian Penerangan tidak menutup mata terhadap kekurangan-kekurangan jang ada padanja.Pemerintah tjukup menjadari, bahwa sesuai dengan program Kabinet Wilopo untuk menjederhanakan organisasi Pemerintah Pusat, perlu djuga didjalankan usaha-usaha untuk menambah effisiensi daripada pekerdjaan Kementerian Penerangan. Dalam arti inilah, mulai tanggal 28 sampai 31 Djuli 1952 di Djakarta diselenggarakan Konperensi Penerangan seluruh Indonesia untuk: {{ol|list_style_type=lower-alpha |Memetjahkan persoalan penjederhanaan susunan Kementerian Penerangan/Djawatan Penerangan, dengan mengingat pengurangan tenaga administrasi dan usaha mempertinggi mobiliteit penerangan termasuk merentjanakan pembaharuan Organisasi /Formasi Djawatan-Djawatan Penerangan Daerah; |Mentjari djalan dan tjara bekerdja baru untuk mengaktivir dan mengintensivir usaha -usaha „penerangan daerah" mengingat batas -batas biaja, termasuk usaha mempertinggi mutu djuru -djuru penerangan dengan pendidikan Pegawai jang teratur.}} '''Menoleh ke belakang, menghadapi masa depan.''' Dalam tahun 1952 telah terdjadi bermatjam-matjam peristiwa di-lapangan politik dan di-lain lapangan kehidupan masjarakat jang selalu berpengaruh atas public opinion, baik didalam maupun diluar negeri. Kedjadian-kedjadian itu, serta berbagai-bagai tindakan politik Pemerintah pasti ikut memberikan tjorak kepada pertumbuhan public opinion, dan dimana public opinion itu tergerakkan, disitulah mau tidak mau „{{sp:|penerangan}}” harus bergerak. Ada dua kedjadian pokok jang terdjadi di Pusat, kedjadian kedjadian mana membawa reflexie-nja pula di Daerah-Daerah, ialah: {{indent|'''Pertama''': Djatuhnja Kabinet Soekiman-Suwirjo jang kemudian disusul dengan terbentuknja Kabinet Wilopo dan '''Kedua''' : Sekitar peristiwa 17 Oktober.}} '''Kedua''' kedjadian ini sungguh-sungguh menggontjangkan dan sangat berpengaruh dikalangan masjarakat ramai didalam maupun diluar negeri.<noinclude>{{rh|||669}}</noinclude> imgu2i51m31upbhcw9y43de92p1sbb3 291053 291051 2026-05-10T13:54:59Z Lutfiyatun 26681 291053 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{indent|kedua usaha itu sudah melewati perbatasan daerah Negara kita dengan melalui lukisan-lukisannja(gambaran-gambaran film), kata-kata tertulis (publikasi) dan kata-kata jang diutjapkan menembus aether (radio). Pertentangan propaganda inipun dapat diperiksa dalam perdebatan dalam Komisi P.B.B. waktu dibitjarakan „Draft convention on Freedom of Information” pada bulan Pebruari jang lalu, draft sedikit-banjak akan menjangkut pula soal-soal politik penerangan di Tanah-Air kita”.}} Demikianlah keterangan-keterangan jang tegas mengenai funksi penerangan Pemerintah didalam masjarakat Indonesia dewasa ini. Tentu sadja Kementerian Penerangan tidak menutup mata terhadap kekurangan-kekurangan jang ada padanja.Pemerintah tjukup menjadari, bahwa sesuai dengan program Kabinet Wilopo untuk menjederhanakan organisasi Pemerintah Pusat, perlu djuga didjalankan usaha-usaha untuk menambah effisiensi daripada pekerdjaan Kementerian Penerangan. Dalam arti inilah, mulai tanggal 28 sampai 31 Djuli 1952 di Djakarta diselenggarakan Konperensi Penerangan seluruh Indonesia untuk: {{ol|list_style_type=lower-alpha |Memetjahkan persoalan penjederhanaan susunan Kementerian Penerangan/Djawatan Penerangan, dengan mengingat pengurangan tenaga administrasi dan usaha mempertinggi mobiliteit penerangan termasuk merentjanakan pembaharuan Organisasi /Formasi Djawatan-Djawatan Penerangan Daerah; |Mentjari djalan dan tjara bekerdja baru untuk mengaktivir dan mengintensivir usaha -usaha „penerangan daerah" mengingat batas -batas biaja, termasuk usaha mempertinggi mutu djuru -djuru penerangan dengan pendidikan Pegawai jang teratur.}} '''Menoleh ke belakang, menghadapi masa depan.''' Dalam tahun 1952 telah terdjadi bermatjam-matjam peristiwa di-lapangan politik dan di-lain lapangan kehidupan masjarakat jang selalu berpengaruh atas public opinion, baik didalam maupun diluar negeri. Kedjadian-kedjadian itu, serta berbagai-bagai tindakan politik Pemerintah pasti ikut memberikan tjorak kepada pertumbuhan public opinion, dan dimana public opinion itu tergerakkan, disitulah mau tidak mau „{{sp|penerangan}}” harus bergerak. Ada dua kedjadian pokok jang terdjadi di Pusat, kedjadian kedjadian mana membawa reflexie-nja pula di Daerah-Daerah, ialah: {{indent|'''Pertama''': Djatuhnja Kabinet Soekiman-Suwirjo jang kemudian disusul dengan terbentuknja Kabinet Wilopo dan '''Kedua''' : Sekitar peristiwa 17 Oktober.}} '''Kedua''' kedjadian ini sungguh-sungguh menggontjangkan dan sangat berpengaruh dikalangan masjarakat ramai didalam maupun diluar negeri.<noinclude>{{rh|||669}}</noinclude> q14ydyicurwxgcwuplmu6kdv7knpau2 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1044 104 98351 291304 286319 2026-05-10T16:37:19Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */ line break 291304 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>dari Menteri Pertahanan tentang penghapusan Staf Pertahanan Djawa-Timur dan Perintah untuk menjusun Divisi. Staf Divisi I tidak lama kemudian dapat tersusun. Mula-mula sebagai Kepala Staf ditundjuk oleh atasan Letnan Kolonel Abimanjoe akan tetapi berhubung dengan keadaan beliau ditarik kembali dan diganti oleh Letnan Kolonel Soewondo. Pada tanggal 1 Nopember 1948 Kolonel Soengkono, Gubernur Militer Djawa-Timur dilantik sebagai panglima Divisi I. Consolidatie kesatuan-kesatuan berhubung dengan pembubaran kesatuan-kesatuan jang memberontak pada Pemerintah, didjalankan lagi, pekerdjaan mana selesai dalam bulan Desember 1948 dan ditutup dengan upatjara peresmian Divisi I pada tanggal 17 Desember 1948 dilapangan Kuwak dalam Kota Kediri. Pada tanggal 19 Desember 1948 diterimalah berita pertama dan pos-pos terdepan, bahwa Tentara Belanda melalui garis status quo dan menjerbu ke Daerah Republik serta pendaratan2 di Glondong, jang berarti petjahnja agressi ke-II jang sebetulnja telah dapat diperhitungkan dengan gagalnja perundingan di Kaliurang pada tanggal 10 Desember 1948. Kesatuan-kesatuan T.N.I. mendjalankan perlawanan menurut siasat jang ditentukan sebelumnja. Brigade III dengan Bataljon-Bataljonnja bergerak masuk ke Daerah Besuki daerah jang mereka tinggalkan akibat persetudjuan Renville. Didjalan sambil bergerak kedaerah tudjuannja mengadakan pertempuran dengan pasukan Belanda jang didjumpainja. Dalam salah suatu pertempuran jang sengit didekat Kota Djember djatuhlah sebagai korban. Komandan Brigade III Letnan Kolonel Soeroedji dan Dokter Soebandi, dokter Brigade jarg mengikuti gerakan Brigadenja. Bataljon-Bataljon dibawah pimpinan S.T.M. Surabaja mengadakan Wingate action menudju ke Surabaja dan berhasil menduduki daerah sekitar Gresik dan Sidoardjo. Brigade IV sebagian mengadakan pertahanan Wehrkreisse di Daerah Malang, sebagian menjusup keseberang garis Renville dan berhasil menduduki Daerah Probolinggo dan Lumadjang. Serangan-serangan Belanda didaerah ini sangat hebatnja diantaranja mengakibatkan habis gugurnja sebagian besar Kompi Sabar Soetopo dan gugurnja Komandan Bataljon Majoor Hamid Roesdi. Brigade I mengadakan Wehrkreisse di Daerah Bodjonegoro dan dapat membumi-hanguskan pabrik minjak Tjepu sehingga Belanda disitu hanja menemukan puing belaka. Brigade II dan Brigade „S" mengadakan pertahanan Gerilja di Daerah Madiun dan Kediri, sifat pertahanan mana kemudian berubah mendjadi serangan-serangan besar-besaran terhadap kedudukan-kedudukan Belanda. Pembumi-hangusan dimana-mana boleh dikatakan memuaskan. Bantuan Rakjat terhadap Tentara dimana-mana sangat besarnja, bantuan<noinclude>{{rh|932}}</noinclude> 39jk0ng7kktvb5njcv5u28hhazr9gpg Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/128 104 98390 291098 273638 2026-05-10T14:11:40Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291098 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Berbagai-bagai soal pemerintahan dan ketenteraan diselenggarakan oleh rombongan ini, dan sesudah itu keluarlah Maklumat Gubernur Sumatera No. 8/MGS jang memutuskan membentuk K.N.I. di Propinsi, Keresidenan, Kota berotonomi dan lain-lain daerah jang dianggap perlu di Sumatera, dimana K.N.I. Daerah didjadikan Badan Perwakilan Rakjat Daerah, dan bersama-sama dengan dan dipimpin oleh Kepala Daerah mendjalankan pekerdjaan mengatur rumah tangga daerahnja, asal tidak bertentangan dengan peraturan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah jang lebih tinggi dari padanja. Selandjutnja dalam pasal 3 didjelaskan bahwa oleh K.N.I. dipilih beberapa orang, sebanjak-banjaknja 5 orang sebagai Badan Executief dan bersama-sama dengan dan dipimpin oleh Kepala Daerah mendjalankan pemerintahan sehari-hari dalam daerah itu. Selandjutnja Ketua K.N.I. jang lama harus diangkat sebagai Wakil Ketua Badan Perwakilan ini dan djika tidak ada Ketua lama, maka Wakil Ketua harus dipilih oleh rapat K.N.I. sendiri. Dan dengan dihadiri rombongan, berlangsunglah beberapa peristiwa besar jang bersifat Sumatera di Bukittinggi, jaitu : {{multicol}} <ol> <li> Sidang Dewan Perwakilan Rakjat Sumatera</li> <li> Konperensi Persatuan Perdjuangan se Sumatera.</li> <li> Rapat para Residen se Sumatera.</li> {{multicol-end}} </ol> {{rh|'''Pembentukan Dewan Perwakilan Sumatera (D.P.S.) 17 April 1946.'''}} Marilah kita djeladjah satu persatu!<br> D.P.S. (Dewan Perwakilan Rakjat Sumatera) bersidang semendjak tanggal 17 April, dimana dilantik 100 orang anggotanja jang terdiri dari Saudara-saudara :<br> '''Atjeh :''' Sutikno Padmosumarto, T. Ismail Jacoub, Amelz, Afan Daulay, Mhd. Ibrahim Daud, Karim Mhd. Doerdjat, H. Mustafa Salim, Abd. Mukti, Mdh. Abduh Sjam. '''Sumatera Timur :''' St. Seri Mulia, Amin Soetardjo, Lokot Batubara, Usman Effendi, Usman, Njonja Munar S. H., Abdullah Jusuf, Tama Ginting, Natar Zainuddin, Saleh Umar, S. M. Tarigan, Jusuf Abdullah, Kario Siregar, Nolong Sirait, Dr. Gindo Siregar, M. Hutasoit, S.M. Simatupang, Dr. R. Soenario, Hadji Abd. Rahmansjihab, Bachtiar Junus. '''Tapanuli :''' Patuan Radja Natigor, S. M. Simandjuntak, Mr. R. L. Tobing, Radja Djundjungan, St. Mangaradja Muda, Sutan Naga, Bagindo Kalidjundjungan, Radja Barita Sinambela, S. Silitonga, Abd. Hakim, Washington Hutagalung. '''Sumatera Barat :''' Chatib Suleiman, Aziz Chan, Darwis Ma'roef, Rangkajo Rasuna Said, Bariun A.S., Sidi Bakaruddin, Bagindo M. Tahir, Abdullah, Dt. Simaradjo, Bachtaruddin, Mr. M. Nasroen,<noinclude>{{rh|122}}</noinclude> ldvz032aydhg4kp0ahvqy03fpih08aj Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/129 104 98391 291099 273675 2026-05-10T14:11:44Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291099 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Jacoeb Rasjid, Sjarif Said, Sultani St. Malako, Mr. Nazaruddin, Marzuki Jatim, H. M. Joenoes, Roestam Thaib, A. Gafar Djambek. '''Riau :''' Agus Ramadan, Amatsuka, Dt . Mangku, Rangkajo Azir, Burhanuddin. '''Djambi :''' Abdul Chatab, Dr. Sjagaf Jahja, Sjamsul Bahroen, H. Nawawi. '''Palembang :''' Josodipuro, A. Wahab, A. Gathmyr, Dr Isa, R. M. Utojo, Noeng Tjik, H. Tjik Wan, K. H. Malian Djaman, K. Hutabarat, A. Hamid Kemang, Basri, Pangeran Tjik Mat, Ir. Ibrahim, Agoes Rohcman, R. Sudamadi. '''Lampung :'''Wan Abd. Rachman, Raden Abdoel Rasjid, H. Mhd. Toha. Ismail, Bermawi. '''Bengkulu :''' Mhd. Ali Hanafiah, Rasjid Talib, Djadil Abdoellah, Raden Abdullah. '''Bangka-Beliton :''' Suriaman, Ali Asgar. {{rh|'''Susunan Badan Pekerdja D.P.S.'''}} D.P.S. ini diketuai oleh Gubernur Sumatera sendiri, dan dalam rapat-rapat jang berikutnja dipilihlah mendjadi Wakil Ketua Dr. Gindo Siregar (Sumatera Timur), dan untuk Executief terpilih: Dr. Soenario (Sumatera Timur), Soetikno Padmosumarto (Atjeh), Mr. R. L. Tobing (Tapanuli), Mr. Mhd. Nasroen, (Sumatera Barat) dan H. Tjik Wan (Palembang). {{rh|'''Sumatera dibagi 3 Daerah Propinsi.'''}} Tentangan Pemerintahan Sumatera, berhubungan dengan daerahnja terlalu luas maka didalam pembagian administratiefnja dibagi atas tiga daerah sub Gubernur, jaitu : {{multicol}} <ol> <li> Sumatera Utara jang melingkungi keresidenan Atjeh, Sumatera Timur dan Tapanuli.</li> <li>Sumatera Tengah jang meliputi Sumatera Barat, Riau dan Djambi.</li> <li> Sumatera Selatan terdiri dari Palembang, Lampung, Bangkahulu dan Bangka Beliton.</li> {{multicol-end}} </ol> Lalu ditentukan nama-nama daerah pemerintahan serta kepala-kepalanja jaitu, propinsi Sumatera dikepalai oleh Gubernur, Keresidenan dikepalai oleh Residen, Kabupaten (sekarang Luhak) oleh Bupati, Kewedanaan dikepalai oleh Wedana, Ketjamatan (Demang Muda) dikepalai oleh Tjamat, sedangkan tentang Negeri (Desa) akan diatur lebih djauh nanti dan buat sementara berdjalan seperti biasa. {{rh|'''Keuangan dipimpin oleh Fonds Kemerdekaan.'''}} Tentang keuangan diputuskan, bahwa pemungutan bakti dari rakjat diselenggarakan dibawah satu pimpinan jaitu Fonds Kemerdekaan jang dipimpin oleh D.P.R. buat seluruh Sumatera.<noinclude>{{rh|||123}}</noinclude> 113tid34sefwaslintapdspjjg6nc00 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/467 104 98394 292019 273681 2026-05-11T11:46:39Z Riiiv 22458 292019 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Muhamad Fahrizal Leo Pratama" /></noinclude>bagi keduanja. Persetudjuan segera diperoleh. Hari itu dipandang sebagai hari pertama dari berdirinja dan dibangunkannja kembali Partai Komunis Indonesia di Sumatera Barat, meskipun peresmiannja terdjadi beberapa hari sesudah itu . '''Partai Serikat Islam Indonesia (P.S.I.I.)''' menjusul beberapa hari sesudah itu, jaitu pada tanggal 18 Nopember 1945, jang peresmiannja djuga dilakukan di Bukittinggi. Pembentukan kembali Partai Djago Tua ini tidak memakan waktu jang lama, karena dia tidak terlalu lama dibekukan oleh pihak jang berkuasa . Bulan April tahun 1942 gerakan dari partai ini buat sementara dihentikan sama sekali. Karena itu, pemimpin-pemimpin dan anggota- anggotanja tidaklah harus melalui waktu jang pandjang untuk kembali bergerak. Tidak lama sesudah peresmian dilakukan segera djuga partai ini dapat digerakan oleh para pemimpinnja ditempat-tempat jang selama ini pernah digerakkan. Tanggal 26 Nopember 1945, dipandang sebagai hari didjadikannja gerakan '''Persatuan Tarbiah Islamijah (Perti)''' mendjadi partai politik Islam dengan nama P.P.I. PERTI. Pemutaran haluan ini djuga dilakukan di Bukittinggi dalam suatu pertemuan jang dihadapi oleh sebahagian besar diantara pemimpin-pemimpinnja. PERTI jang semendjak dia dibangunkan hanja merupakan suatu badan jang bergerak dalam lapangan sosial, agama dan pendidikan, dirasakan harus ikut serta menempati kedudukan baru dalam alam merdeka. Disamping kebaktiannja terhadap agama dan masjarakat daerahnja , dia harus pula membaktikan dharma terhadap tanah air seluruhnja. Dari itu, maka segera sesudah disusun anggaran dasarnja jang baru, gerakan inipun didjelmakan mendjadi suatu partai politik, jang djuga bergerak aktip dalam lapangan pendidikan dan amal. '''Partai Kristen Nasional Indonesia ( P.K.N.I.)''' didjelmakan di Pakan Baru oleh beberapa orang pemuda Kristen ditempat itu pada tanggal 16 Desember 1945. Meskipun pembentukan Partai ini dilakukan didalam suasana kedaerahan, tetapi pada achirnja dia merupakan suatu partai Kristen jang banjak mendapat penganut djuga. Bakti-bakti jang diberikannja terhadap perdjuangan untuk mempertahankan tanah air dari serangan tentera Belanda, djuga tidak boleh dilupakan. '''Madjelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (M.T.K. A.A.M.)''', gerakan untuk mempertinggi kebudajaan alam Minangkabau jang menduduki tempat dalam lapisan penghulu-penghulu dan datuk-datuk di Sumatera Barat semendjak dia mula dibangunkan, pada tanggal 21 Desember 1945 diresmikan pula mendjadi Partai Politik di Padang Pandjang. Kemudian pada tanggal 24<noinclude>{{rh|||461}}</noinclude> 6sm45iigl4hyf0txqnn7no996qill12 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/467 104 98396 290850 273737 2026-05-10T12:34:23Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290850 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>hal ini pembeli jang kebanjakan terdiri dari Bangsa Indonesia mendjadi korban. Bekas pemegang hak jang sudah mengetahui, bahwa pembaharuan tidak akan mungkin karena tidak memenuhi sjarat-sjarat, lalu lekas-lekas mendjual 'hak pendahuluannja, kadang-kadang dengan harga tinggi. Pun sesudah diketahui, bahwa pembeli bukan warga-negara tidak dapat diberi pembaharuan, Bangsa Indonesialah jang diumpankan. Hingga achir tahun 1952 banjaknja permohonan pembaharuan hak opstal jang telah diterima oleh Kantor Gubernur Djawa-Timur berdjumlah 1.238, diantaranja : :Ditolak {{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}} 26, :Dimintakan surat-ukur baru kepada Kantor Pendaftaran Tanah (memenuhi sjarat-sjarat pembaharuan) {{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}} 15, :Ditjabut kembali permohonannja karena telah diserahkan kepada Negara /didjual hak pendahuluannja dan sebagainja {{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}.{{gap}}. {{gap}}.{{gap}} 22. Hingga tahun 1952 di Djawa- Timur masih banjak terdapat hak opstal dengan waktu tidak terbatas (Recht van Opstal voor onbepaalde tijd). Hak ini umumnja diberikan sebelum tahun 1872. Stelsel tersebut dewasa ini tidak dapat dipertahankan lagi dan seharusnja dihapuskan. Pasal 719 B.W. memberi kemungkinan menghentikan hak opstal dengan waktutidak terbatas itu dengan djalan opzegging. Surat putusan Kementerian Dalam Negeri tanggal 9 Djanuari 1953 No. Agr./11/42 menjatakan, bahwa membatalkan dan menghentikan (vervallenverklaring dan opzegging) hak opstal diserahkan antara lain kepada Gubernur, jang berarti, bahwa tentang R.v.O. voor onbepaalde tijd diserahkan kepada kebidjaksanaan Daerah. '''Persewaan tanah untuk tanaman tebu.''' Daerah Djawa - Timur adalah daerah jang menghasilkan 75 % dari produksi gula seluruh Indonesia. Dengan demikian maka persewaan tanah untuk tanaman tebu paberik adalah merupakan salah satu persoalan jang penting. Pelaksanaan persewaan tanah untuk tanaman tebu tahun 1952/1953 menurut Peraturan Menteri Agraria tanggal 7 Djanuari 1952 No.1/KA/52 tidak menemui kesulitan, karena pada prinsipnja peraturan tersebut tidak berbeda dengan peraturan jang telah berdjalan untuk tanaman 1951/ 1952, hanjalah di-idjinkan perbedaan atas beberapa djenis letaknja (matjamnja) tanah, dimana diadakan pula perbedaan tentang uang persewaan. Dibandingkan dengan luasnja tanaman tebu tahun 1951/ 1952, maka untuk tahun 1952 /1953 telah dapat ditjapai hasil jang memuaskan berupa tambahan tanaman seluas 2.000 ha.<noinclude>{{rvh|435}}</noinclude> th1hr5pew5vhc4l9ppprl162ipypxq7 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/543 104 98402 291347 277620 2026-05-10T17:14:11Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */ line break, tanda petik 291347 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>{{center|'''Pasal 14.'''}} {{center|'''DJIWA PERDJUANGAN DASAR TENTERA.'''}} {{dropinitial|U}}NTUK menguraikan riwajat kebangunan dan perkembangan ketentaraan di Sumatera Tengah, kita harus mendahuluinja dengan riwajat kebangunan semangat perdjuangan pedjuang-pedjuang kemerdekaan kita, jang mendjadi pegangan semangat ketenteraan jang dibangunkan di Sumatera Tengah dizaman kemerdekaan. Untuk mendjelaskan ini, maka bagi masa kebangunan semangat perdjuangan dari pedjuang-pedjuang bangsa itu sebelum T.N.I. terbentuk dalam tiga masa jaitu : <ol type="1"> <li>Masa dalam pendjadjahan Belanda.</li> <li>Masa dalam pendjadjahan Djepang.</li> <li>Masa Proklamasi.</li></ol> '''Dalam masa pendjadjahan Belanda, di Sumatera Tengah, bergelora djiwa perdjuangan:''' Walaupun pemerintah Nederlandsch Indië dalam tenteranja banjak memakai bangsa Indonesia, tetapi pemuda-pemuda Sumatera Tengah djarang sekali diterima, karena dipandang ongeschikt untuk didjadikan tentera kolonial, demikianlah pendapat pemerintah pendjadjahan Belanda. Pada umumnja kita lihat didalam sedjarah perdjuangan rakjat di Sumatera Tengah dizaman pendjadjahan Belanda, baikpun dizaman radja-radja dahulu kala, alat diplomasi lebih banjak dipakai, dibanding dengan alat sendjata dalam pertempuran langsung. Ingatlah riwajat Minangkabau menghadapi kedatangan Aditiawarman, dari riwajat mana didapat nama Menang-Kerbau begitu pula dalam menghadapi kemasukan pendjadjah Belanda dan sebagainja. Sering pula kita menderita kekalahan, karena musuh berkeras dengan sendjatanja. Sedapat-dapatnja segala ragam ichtiar diplomasi didjalankan untuk menolak pemerintahan djadjahan itu, tapi achirnja tak mempan djuga karena sendjata Belanda jang terachir jaitu ,,pelor"<noinclude>{{rh|||537}}</noinclude> gbkzne8oxpb8yhtctbh11ma9f7qy4k7 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/544 104 98414 291346 277629 2026-05-10T17:13:31Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */ tanda petik gunakan di karakter khusus 291346 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>memaksa lahirnja '''„Pelakat Pandjang"''' jang tak pernah didjalankan buat keradjaan Minangkabau, dan pelakat-pelakat pendek buat kerajaan-keradjaan Siak Sri Inderapura, Inderagiri, dan Djambi. Dalam suasana tekanan-tekanan pemerintah djadjahan Belanda itu, masih tetaplah berkobar didjantung rakjat semangat anti Belanda, dan djiwa perdjuangan tetap bersemi menanti kesempatan menepatkan „pukulan" kembali. {{center|'''PERDJUANGAN JANG „PATAH" TAK MEMADAMKAN API PERDJUANGAN'''}} „Pukulan" kembali dari rakjat itu mendjelma berupa „pemberontakan-pemberontakan" terhadap pemerintah Belanda, diantaranja sebagai jang tersebut dibawah ini: <ol type="1"> <li>Perang Padri Sumatera Barat tahun 1821-1837.</li> <li>Perang Djambi I tahun 1858.</li> <li>Perang Djambi II tahun 1901-1907 dan tahun 1917.</li> <li>Perang belasting dibeberapa tempat di Sumatera Barat, dan berpusat di Kamang tahun 1908.</li> <li>Pemberontakan P.K.I. di Silungkang dan tiap-tiap pelosok tahun 1926.</li></ol> Pemberontakan-pemberontakan demikian itu dengan mudah dapat dipatahkan oleh pendjadjah Belanda, karena hanja berlaku setempat-setempat tidak setjara perlawanan total atau serentak. Sungguhpun demikian djiwa perdjuangan tidak pernah padam, melainkan terus hidup ibarat api dalam sekam. Ia mendjelma kealiran lain, kelapangan jang lebih legaal dimasa itu, jaitu kelapangan pergerakan politik, ekonomi dan sosial. Demikianlah pedjuang-pedjuang bangsa, jang pada ketika itu biasa disebut ,,orang -orang pergerakan" langsung memimpin organisasi-organisasi politik, ekonomi, sosial dan pendidikan. Djuga mereka berdjuang dilapangan persurat-kabaran. Pada umumnja mereka tidak bekerdja sama dengan pemerintah djadjahan. '''Aksi Kontra Reaksi.''' Tiap-tiap aksi dari orang-orang pergerakan itu walaupun dilaksanakan setjara legaal menurut undang-undang pemerintah djadjahan pada ketika itu, namun selalu sadja ada reaksinja, berupa halangan dan rintangan, jang sumbernja dari Pemerintah djadjahan Belanda itu sendiri. Berbagai akal dan siasat didjalankannja untuk sebisa-bisanja membasmi ,,orang-orang pergerakan" itu. Muslihat dipakai pula oleh orang ,,orang-orang pergerakan" untuk mempertahankan gerakannja. Dengan begitu, dapatlah<noinclude>{{rh|538}}</noinclude> g6evyl621byrmb5e756m5mb5w4st51i Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/485 104 98416 291358 275377 2026-05-10T17:32:26Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */ line break, tanda petik 291358 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>Rakjat murba mesti memberontak terhadap pendjadjahan kembali, bertahan dan mempertahankan. Djikalau diambil perbandingannja adalah pemerintah dan badan-badan jang lain dalam masjarakat kita hanja sebagai buih-buih dari gelombang, dan jang sebenarnja bergerak adalah air jang tenang dibawahnja, jaitu rakjat murba tadi .........." Setelah melalui pertukaran fikiran dengan menerima petundjuk-petundjuk, pada hari itu djuga diresmikanlah berdirinja Persatuan Perdjuangan itu di Sumatera Barat. Dalam merentjanakan usaha perkerdjaannja, badan ini menjusun dirinja, dengan organisasinja dipimpin oleh suatu Dewan Pimpinan dan pekerdjaan sehari-hari dibantu oleh Dewan- dewannja, jaitu Dewan Perdjuangan (Siasat dan Lasjkar), Dewan Pembangunan, Dewan Penjelidik, Dewan Pengadilan dan Sekretariat jang dengan susunan kira-kira seperti ini, tersebar pula tjabang dan antingnja ditiap-tiap Kabupaten, Kewedanaan, Ketjamatan dan negeri. Selaras dengan suasana daerah, maka sebahagian diantara sepak terdjang dan usaha lainnja dari Volksfront di Sumatera Barat ini agak menjimpang dari apa jang dilakukan oleh badan itu di Pemerintahan Pusat. Dalam waktu jang singkat, langkahnja madju dengan pesat dan pengaruhnja terasa dalam berbagai lapangan politik dan pemerintahan, bahkan dalam lapangan perekonomian. Dibawah pimpinan saudara-saudara Chatib Sulaiman, Bariun A. S., Bachtaruddin, Iskandar Tedjasukmana, Sulaiman, Basjrah Lubis dan beberapa orang lainnja, werkprogram Volksfront Sumatera Barat ini disusun mentjerminkan keadaan jang tengah dan akan berlaku didaerah ini. Untuk mengetahui betapa tjepat berkembang dan mendalamnja pengaruh dari Volksfront ini, dapat diketahui dari maklumat-maklumat jang pernah dikeluarkannja semendjak bulan pertama dia dibangunkan, diantaranja maklumat sebagai berikut: ,,Segala matjam bakti, derma dan lain-lain jang datangnja dari rakjat umum, tidak boleh diminta atau dipungut oleh partai-partai, perkumpulan-perkumpulan, barisan-barisan manapun djuga di Sumatera Barat. Jang berhak menerima bakti, derma dan lain-lain dari rakjat umum hanjalah Volksfront sadja, bahagian pura Nasional. Segala perbelandjaan dari badan-badan perdjuangan rakjat diichtiarkan oleh Volksfront, dengan tidak mengetjualikan badan perdjuangan manapun djuga". Tudjuan dari maklumat tersebut diatas segera djuga dilaksanakan, jaitu dengan digiatkannja Pura Nasional memungut bakti dari rakjat, baik dengan djalan langsung, maupun tidak langsung.<noinclude>{{rh|||479}}</noinclude> biuw80jot3akpeeh9bhb7pqhesiy4hz 291361 291358 2026-05-10T17:33:59Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ tanda petik 291361 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>Rakjat murba mesti memberontak terhadap pendjadjahan kembali, bertahan dan mempertahankan. Djikalau diambil perbandingannja adalah pemerintah dan badan-badan jang lain dalam masjarakat kita hanja sebagai buih-buih dari gelombang, dan jang sebenarnja bergerak adalah air jang tenang dibawahnja, jaitu rakjat murba tadi .........." Setelah melalui pertukaran fikiran dengan menerima petundjuk-petundjuk, pada hari itu djuga diresmikanlah berdirinja Persatuan Perdjuangan itu di Sumatera Barat. Dalam merentjanakan usaha perkerdjaannja, badan ini menjusun dirinja, dengan organisasinja dipimpin oleh suatu Dewan Pimpinan dan pekerdjaan sehari-hari dibantu oleh Dewan- dewannja, jaitu Dewan Perdjuangan (Siasat dan Lasjkar), Dewan Pembangunan, Dewan Penjelidik, Dewan Pengadilan dan Sekretariat jang dengan susunan kira-kira seperti ini, tersebar pula tjabang dan antingnja ditiap-tiap Kabupaten, Kewedanaan, Ketjamatan dan negeri. Selaras dengan suasana daerah, maka sebahagian diantara sepak terdjang dan usaha lainnja dari Volksfront di Sumatera Barat ini agak menjimpang dari apa jang dilakukan oleh badan itu di Pemerintahan Pusat. Dalam waktu jang singkat, langkahnja madju dengan pesat dan pengaruhnja terasa dalam berbagai lapangan politik dan pemerintahan, bahkan dalam lapangan perekonomian. Dibawah pimpinan saudara-saudara Chatib Sulaiman, Bariun A. S., Bachtaruddin, Iskandar Tedjasukmana, Sulaiman, Basjrah Lubis dan beberapa orang lainnja, werkprogram Volksfront Sumatera Barat ini disusun mentjerminkan keadaan jang tengah dan akan berlaku didaerah ini. Untuk mengetahui betapa tjepat berkembang dan mendalamnja pengaruh dari Volksfront ini, dapat diketahui dari maklumat-maklumat jang pernah dikeluarkannja semendjak bulan pertama dia dibangunkan, diantaranja maklumat sebagai berikut: ,,Segala matjam bakti, derma dan lain-lain jang datangnja dari rakjat umum, tidak boleh diminta atau dipungut oleh partai-partai, perkumpulan-perkumpulan, barisan-barisan manapun djuga di Sumatera Barat. Jang berhak menerima bakti, derma dan lain-lain dari rakjat umum hanjalah Volksfront sadja, bahagian pura Nasional. Segala perbelandjaan dari badan-badan perdjuangan rakjat diichtiarkan oleh Volksfront, dengan tidak mengetjualikan badan perdjuangan manapun djuga". Tudjuan dari maklumat tersebut diatas segera djuga dilaksanakan, jaitu dengan digiatkannja Pura Nasional memungut bakti dari rakjat, baik dengan djalan langsung, maupun tidak langsung.<noinclude>{{rh|||479}}</noinclude> c8cre7kjhvzhjxvexactz84jhmo2jme 291390 291361 2026-05-10T23:20:15Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291390 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>Rakjat murba mesti memberontak terhadap pendjadjahan kembali, bertahan dan mempertahankan. Djikalau diambil perbandingannja adalah pemerintah dan badan-badan jang lain dalam masjarakat kita hanja sebagai buih-buih dari gelombang, dan jang sebenarnja bergerak adalah air jang tenang dibawahnja, jaitu rakjat murba tadi ..........” Setelah melalui pertukaran fikiran dengan menerima petundjuk-petundjuk, pada hari itu djuga diresmikanlah berdirinja Persatuan Perdjuangan itu di Sumatera Barat. Dalam merentjanakan usaha perkerdjaannja, badan ini menjusun dirinja, dengan organisasinja dipimpin oleh suatu Dewan Pimpinan dan pekerdjaan sehari-hari dibantu oleh Dewan-dewannja, jaitu Dewan Perdjuangan (Siasat dan Lasjkar), Dewan Pembangunan, Dewan Penjelidik, Dewan Pengadilan dan Sekretariat jang dengan susunan kira-kira seperti ini, tersebar pula tjabang dan antingnja ditiap-tiap Kabupaten, Kewedanaan, Ketjamatan dan negeri. Selaras dengan suasana daerah, maka sebahagian diantara sepak terdjang dan usaha lainnja dari Volksfront di Sumatera Barat ini agak menjimpang dari apa jang dilakukan oleh badan itu di Pemerintahan Pusat. Dalam waktu jang singkat, langkahnja madju dengan pesat dan pengaruhnja terasa dalam berbagai lapangan politik dan pemerintahan, bahkan dalam lapangan perekonomian. Dibawah pimpinan saudara-saudara Chatib Sulaiman, Bariun A. S., Bachtaruddin, Iskandar Tedjasukmana, Sulaiman, Basjrah Lubis dan beberapa orang lainnja, werkprogram Volksfront Sumatera Barat ini disusun mentjerminkan keadaan jang tengah dan akan berlaku didaerah ini. Untuk mengetahui betapa tjepat berkembang dan mendalamnja pengaruh dari Volksfront ini, dapat diketahui dari maklumat-maklumat jang pernah dikeluarkannja semendjak bulan pertama dia dibangunkan, diantaranja maklumat sebagai berikut: „Segala matjam bakti, derma dan lain-lain jang datangnja dari rakjat umum, tidak boleh diminta atau dipungut oleh partai-partai, perkumpulan-perkumpulan, barisan-barisan manapun djuga di Sumatera Barat. Jang berhak menerima bakti, derma dan lain-lain dari rakjat umum hanjalah Volksfront sadja, bahagian pura Nasional. Segala perbelandjaan dari badan-badan perdjuangan rakjat diichtiarkan oleh Volksfront, dengan tidak mengetjualikan badan perdjuangan manapun djuga”. Tudjuan dari maklumat tersebut diatas segera djuga dilaksanakan, jaitu dengan digiatkannja Pura Nasional memungut bakti dari rakjat, baik dengan djalan langsung, maupun tidak langsung.<noinclude>{{rh|||479}}</noinclude> ftj1j15xhddt1nxut7dsg34fy5me3sc Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/486 104 98418 291357 275379 2026-05-10T17:31:42Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */ line break 291357 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>Dalam maklumatnja sesudah itu, Volksfront memberikan instruksi-instruksi kepada semua partai-partai dan barisan-barisan untuk memperhatikan hal-hal jang tersebut dibawah ini: # Untuk mendjaga nama baiknja tiap-tiap partai dan barisan-barisan hendaklah tiap-tiap partai dan barisan-barisan mengontrol sekalian anggota--anggotanja jang dengan sengadja akan membuat propakasi atau perpetjahan. # Mengambil tindakan-tindakan jang tepat kepada anggota-anggota Warga-Negara jang sengadja memakaikan nama partai atau barisan untuk merugikan negara. # Mengambil tindakan jang tepat kepada siapa sadja jang memakaikan topeng partai atau barisan untuk kepentingan diri sendiri. Karena banjak dan lebarnja lapangan usaha jang dimasukinja maka pengaruh dari Volksfront ini tidak hanja dirasakan dalam lapangan politik dan Barisan-barisan semata, tapi djuga ikut berpengaruh dalam lapangan perekonomian rakjat. Kekuasaan-kekuasaan jang diberikan kepadanja untuk kontrole ekonomi serta memungut bakti guna perbelandjaan Barisan-barisan Rakjat jang banjak itu, menjebabkan badan ini dalam pandangan rakjat mendjadi sebagai instansi pemerintahan Sumatera Barat jang semi-resmi. Dalam pertengahan tahun 1946, Volksfront di Sumatera Barat hampir dapat menguasai semua lapangan kemasjarakatan didaerah itu, bila tidak dengan tiba-tiba beberapa orang pemimpinnja harus dihadapkan kepada peristiwa jang meminta pertanggungan djawab mereka. Hal ini terdjadi pada tanggal 24 April 1946, jaitu pada hari timbulnja kegontjangan dalam kalangan masjarakat di Sumatera Barat berkenaan dengan suatu maklumat jang dikeluarkan oleh Volksfront mengenai tidak dibenarkannja beredar lagi uang kertas Djepang harga 100 Rupiah. Andjuran pembekuan uang kertas Djepang harga 100 Rupiah dalam peredaran di Sumatera Barat ini didasarkan oleh Volksfront kepada berita-berita jang menjatakan banjaknja uang kertas demikian jang diimport oleh tentera Nica (Belanda) dari pulau Djawa, jaitu dari tempat-tempat jang didudukinja. Pemasukan uang itu dari Djawa dan diedarkannja dikota Padang dan sekitarnja oleh tentera Belanda, menjebabkan timbulnja inflasi di Sumatera Barat jang pada saat itu tengah menghadapi krisis perekonomian jang tegang. Dari itu Volksfront berpendapat, bahwa salah satu djalan jang dapat ditempuh untuk membendung bahaja inflasi itu pada taraf pertama, jalah dengan djalan membekukan uang kertas itu dalam peredaran.<noinclude>{{rh|480}}</noinclude> dyhuqsjkklznzs9go9equ9eb6jibn3i Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/545 104 98425 291345 277636 2026-05-10T17:12:31Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */ tanda petik 291345 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>dipastikan, bahwa orang-orang pergerakan di Sumatera Tengah itu sudah banjak menempuh latihan berdjuang setjara ,,halus" Sungguhpun demikian tidak sedikit pula diantara mereka jang terdjebak oleh djaring pendjadjah Belanda, sehingga meringkuk dipembuangan dan dipendjara. Diwaktu dimadjukan Petisi Sutardjo di Volksraad, tentang hak milisi supaja diberikan kepada rakjat Indonesia, maka petisi ini disambut dengan baik oleh orang-orang pergerakan di Sumatera Tengah. Mereka mengharap, semoga pemuda-pemuda di Sumatera Tengah mendapat ,,kepandaian" berperang setjara ketenteraan jang sebenarnja, dan dengan begitu semangat merdeka dapat dipimpin dikemudian hari untuk menghadapi pendjadjah. Rupanja maksud isi hati jang terpendam demikian itu dimaklumi djuga oleh Belanda, sehingga hak milisi tersebut tidaklah diberikannja. Keinginan mereka untuk mempunjai pemuda-pemuda jang berkepandaian tentera dan berdisiplin ketenteraan dialirkan kepada gerakan kepanduan, sehingga ditahun-tahun 1930-'35 sebagai tjendawan tumbuh meluaslah gerakan kepanduan diseluruh Sumatera Tengah dibawah pimpinan orang-orang pergerakan. '''Tindakan Belanda Jang Terlambat.''' Disaat Djepang telah mulai mendjatuhkan pukulannja terhadap Hindia Belanda pada achir tahun 1941 dan awal tahun 1942, terasalah oleh pendjadjah Belanda kelemahannja, dan dengan setjara terburu-buru ia membentuk barisan-barisan L.B.D., Stadswacht dan Roode Kruis. Latihan-latihan jang bersifat ketenteraan itu diberikan hanja terbatas pula untuk pegawai-pegawai dan untuk orang-orang jang dianggapnja tidak berbahaja buat kekuasaannja. Itulah latihan-latihan jang mirip dengan latihan ketenteraan, jang pertama kalinja diterima oleh sebagian sangat ketjil sekali pemuda-pemuda Sumatera Tengah. Sungguhpun demikian, bandjir serangan Djepang taklah bisa ditangkis oleh angkatan perang Hindia Belanda, dan tgl 17 Maret 1942 masuklah tentera Djepang di Padang dan pada tgl 23 Maret 1942 hantjurlah kekuasaan Belanda diseluruh Sumatera Tengah dan pulau Sumatera. Pada awal tahun 1942 sebelum Belanda menjerah pada tentera Djepang, dengan dipelopori oleh almarhum '''Chatib Suleiman cs'''. diadakan gerakan rahasia berpusat di Padangpandjang jang maksudnja mempertjepat kehantjuran pendjadjah Belanda. Djepang mempropagandakan bahwa kedatangannja disini ialah untuk memerdekakan rakjat dari djadjahan bangsa Barat itu. Ini mendapat sambutan hangat dari orang-orang pergerakan kita, dan dimana-mana mereka mengadakan badan-badan penjambutan tentera Dai Nippon, terkenal pada masa itu gerakan letter F.<noinclude>{{rh|||539}}</noinclude> 8nr9gpj2f5r5nozsrem0g53n7vhfkgz Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/566 104 98427 291334 283749 2026-05-10T17:04:43Z Riiiv 22458 291334 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>'''Hizbullah, Sabililah dan Mudjahidin disatukan Komandonja.''' Dalam bulan Djuni '46 Hizbullah Sumatera Tengah berkonperensi di Padang Pandjang, dimana sesudah itu pimpinan dipegang oleh saudara Agus Salim sebagai Komandan Divisi VIII Hizbullah Tuanku Imam Bondjol. Kemudian dalam bulan Nopember '46 pimpinan Hizbullah, Sabilillah dan Mudjahidin se Sumatera berkonperensi di Bukittinggi, dimana pada 26 Nopember diambil putusan bahwa dengan persetudjuan P.B. Masjumi Djokja dan Markas Tertinggi Hizbullah di Malang, ditetapkan satu komando untuk Hizbullah, Sabilillah dan Mudjahidin serta Barisan Wanitanja untuk seluruh Sumatera jang dipimpin oleh saudara Bachtiar Junus. Dengan ini tertjapailah kesatuan komando dari Hizbullah, Sabilillah dan Mudjahidin di Sumatera. {{rule|5em}}<noinclude>{{rh|560}}</noinclude> fej0jelbqags902e894byft8505yfmk Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/469 104 98428 291218 273816 2026-05-10T15:11:03Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291218 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Persewaan tanah untuk tanaman tebu paberik berdasar pertimbangandari Djawatan Perkebunan telah diubah sehingga mendjadi „kepentingan bersama” antara pemilik tanah dan paberik gula. Para pemilik tanah ketjuali menerima uang sewa jang sudah ditentukan djumlahnja, djuga akan menerima „premi” bila hasil tanaman tebu diatas tanahnja melebihi sesuatu djumlah hasil jang tertentu. Untuk tanaman tebu tahun 1951 / 1952 penetapan persewaan tiap-tiap ha adalah sebagai berikut: :Uang sewa pasti. . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp.1.500,- :Tambahan diatas hasil tebu 750 kwintal per ha, :tiap kwintal tebu. . . . . . . . . .. . . . . . . . . ,, 2,- Untuk tanaman tebu 1952/1953: :Uang sewa pasti. . . . . . . . . .. . . . . . . . ,, 2.000,- :Tambahan diatas hasil tebu 850 kwintal per ha, tiap kwintal tebu . . . . . . . . . . . . . ,, 3.- :idem diatasnja 1.100 kwintal, tiap kwintal . . .. . ,, 3.30 :idem diatasnja 1.350 kwintal, tiap kwintal . . . . . . ,, 4.- Untuk tanaman tebu 1953/1954 persewaan ditetapkan sama dengan untuk tahun 1952/1953. Pemeriksaan maupun pengesahan dari surat-surat perdjandjian (contracten) berdjalan dengan seksama, hanjalah pada permulaan timbul dibeberapa tempat keragu-raguan tentang bentuk dari kontrak tersebut. Meskipun pengesahan dari Kementerian Dalam Negeri masih dinanti nantikan, akan tetapi untuk Djawa-Timur hal ini telah berdjalan dengan prinsip, bahwa persewaan harus dikerdjakan atas dasar persetudjuan dari kedua fihak, dan dimana ada hal-hal jang menjimpang atau tidak ditjantumkan dalam tjontoh dari Kementerian Dalam Negeri dapat ditambah atau/dan dikurangi. Disamping memperhatikan adanja persewaan, soal jang agaknja masih harus dipertimbangkan lagi dan diselidiki ialah adanja uang susulan. Walaupun sudah ditegaskan, bahwa hal itu semata-mata untuk menanam hasrat kepentingan bersama (belangen gemeenschap), akan tetapi pada umumnja hal ini masih tipis dimengerti oleh masjarakat. Uang susulan jang didasarkan atas kelebihan hasil tebu atau gula, pada umumnja belum dapat dirasakan manfaatnja oleh para petani, disebabkan belum adanja pengawasan jang intensif. Bagaimana seharusnja hal ini dilaksanakan, memerlukan penjelidikan jang lebih sempurna, satu dan lain sebagaimana djuga telah diadjukan ke Kementerian Dalam Negeri. Kesediaan dari Pemerintah untuk memberi idjin penanaman tebu tunas oleh para ondernemers, dipergunakan sebaik-baiknja dan dimana ada kemungkinan tidak segan-segan paberik memadjukan surat permohonan. Dengan adanja kesadaran dari para petani untuk memperhatikan keperluan bahan (produksi) gula, di sekitar paberik-paberik penduduk berusaha untuk memperluas tanaman tebu Rakjat, jang pada permulaan<noinclude>{{rvh|437}}</noinclude> akue3krfowkhqap08r1s4rksfd1huwo Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/492 104 98466 291353 275441 2026-05-10T17:29:27Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ gunakan template untuk nomer, line break, tanda petik, nggak perlu br atau gap untuk menjorokkan paragraf 291353 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>1. M.I.T. Sumatera akan membentuk barisan '''Sabilillah''' jang akan mendapat latihan dari T.K.R. dan mempanjai hubungan dengan badan ketenteraan. <br> 2. Menetapkan bahwa perdjuangan mengusir musuh dari tanah air kita atau menghantjurkannja, adalah fardhu'Ain hukumnja. <br> 3. Menetapkan bahwa siapa jang tiwas dalam perdjuangan ini adalah '''mati sjahid dunia dan achirat'''; majatnja tidak dimandikan, dikapani hanja dengan pakaian jang dipakainja sadja, dan tidak disembahjangkan. <br> 4. Penghianat bangsa dinasehati dan diawasi, manakala sikapnja tidak berobah djuga, maka halal-lah darahnja (boleh dibunuh). <br> 5. Barisan Palang Merah Puteri, dituntut oleh Agama Islam . <br> {{gap}}Disamping kelima putusan penting jang mentjetuskan semangat perdjuangan kepada tiap-tiap pemuda Islam di Sumatera, dalam kongresnja itu M.I.T. djuga mengambil suatu resolusi jang antara lain menjatakan: <br> {{gap}},,Keprtjajaan kepada Kabinet Sutan Sjahrir, menjanggah pemboman jang dilakukan oleh Tentera Sekutu di Surabaja, Bandung, Semarang dan diberbagai kota lainnja dipulau Djawa, begitupun menjanggah dilutjutinja sendjata-sendjata pemuda Indonesia di Surabaja oleh tentera Inggeris. Djuga dituntutnja agar perlutjutan sendjata balatentera Djepang harus dilaksanakan setjepatnja dan mereka haruslah segera dikeluarkan dari Indonesia, serta agar selesai perlutjutan itu, Tentera Sekutu harus selekasnja meninggalkan Indonesia. Achirnja ditjela tindakan-tindakan tentera Inggeris jang mempergunakan kaki tangannja menghalangi tjita-tjita rakjat Indonesia dalam mempertahankan dan menegakkan kemerdekaannja". <br> {{gap}}Kelima buah putusan diatas merupakan patokan jang diambil over oleh Partai Politik Islam M.I.T. sebelum dia bergabung mendjadi satu dengan Masjumi. {{gap}}Dalam perkembangannja selandjutnja, Masjumi sudah dapat mengisi tempat-tempat jang sekian lama diduduki oleh M.I.T. baik dalam politik, maupun pembelaan/pertahanan dan lain-lainnja. <br> {{gap}}Walaupun para alim ulama di Sumatera Tengah dalam lapangan politik mempunjai pendirian jang tidak sama, tapi dalam banjak soal terutama dalam soal pembelaan dan pertahanan negara, mereka sama serentak bangkit berdiri dan mengambil putusan-putusan jang harus mendjadi pegangan semua ummat, walaupun siapapun djuga ummat itu asal dia manusia Indonesia beragama Islam. Kesatuan paham dan pendapat para alim ulama itu dinjatakan mereka lagi dalam suatu pertemuan antara para alim ulama dan muballighmubaligh Islam Sumatera Barat di Bukittinggi pada tanggal 26 Djuli 1947, jaitu disaat bangsa Indonesia menghadapi agressi Belanda jang pertama . Putusan-putusan itu menetapkan:<noinclude>{{rh|486}}</noinclude> hiygikx95djvxradsv4i301frxo6utw 291393 291353 2026-05-10T23:23:12Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291393 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>{{ol|list_style_type=decimal |M.I.T. Sumatera akan membentuk barisan '''Sabilillah''' jang akan mendapat latihan dari T.K.R. dan mempanjai hubungan dengan badan ketenteraan. |Menetapkan bahwa perdjuangan mengusir musuh dari tanah air kita atau menghantjurkannja, adalah fardhu'Ain hukumnja. |Menetapkan bahwa siapa jang tiwas dalam perdjuangan ini adalah '''mati sjahid dunia dan achirat'''; majatnja tidak dimandikan, dikapani hanja dengan pakaian jang dipakainja sadja, dan tidak disembahjangkan. |Penghianat bangsa dinasehati dan diawasi, manakala sikapnja tidak berobah djuga, maka halal-lah darahnja (boleh dibunuh). |Barisan Palang Merah Puteri, dituntut oleh Agama Islam.}} Disamping kelima putusan penting jang mentjetuskan semangat perdjuangan kepada tiap-tiap pemuda Islam di Sumatera, dalam kongresnja itu M.I.T. djuga mengambil suatu resolusi jang antara lain menjatakan: „Keprtjajaan kepada Kabinet Sutan Sjahrir, menjanggah pemboman jang dilakukan oleh Tentera Sekutu di Surabaja, Bandung, Semarang dan diberbagai kota lainnja dipulau Djawa, begitupun menjanggah dilutjutinja sendjata-sendjata pemuda Indonesia di Surabaja oleh tentera Inggeris. Djuga dituntutnja agar perlutjutan sendjata balatentera Djepang harus dilaksanakan setjepatnja dan mereka haruslah segera dikeluarkan dari Indonesia, serta agar selesai perlutjutan itu, Tentera Sekutu harus selekasnja meninggalkan Indonesia. Achirnja ditjela tindakan-tindakan tentera Inggeris jang mempergunakan kaki tangannja menghalangi tjita-tjita rakjat Indonesia dalam mempertahankan dan menegakkan kemerdekaannja”. Kelima buah putusan diatas merupakan patokan jang diambil over oleh Partai Politik Islam M.I.T. sebelum dia bergabung mendjadi satu dengan Masjumi. Dalam perkembangannja selandjutnja, Masjumi sudah dapat mengisi tempat-tempat jang sekian lama diduduki oleh M.I.T. baik dalam politik, maupun pembelaan/pertahanan dan lain-lainnja. Walaupun para alim ulama di Sumatera Tengah dalam lapangan politik mempunjai pendirian jang tidak sama, tapi dalam banjak soal terutama dalam soal pembelaan dan pertahanan negara, mereka sama serentak bangkit berdiri dan mengambil putusan-putusan jang harus mendjadi pegangan semua ummat, walaupun siapapun djuga ummat itu asal dia manusia Indonesia beragama Islam. Kesatuan paham dan pendapat para alim ulama itu dinjatakan mereka lagi dalam suatu pertemuan antara para alim ulama dan muballigh-mubaligh Islam Sumatera Barat di Bukittinggi pada tanggal 26 Djuli 1947, jaitu disaat bangsa Indonesia menghadapi agressi Belanda jang pertama . Putusan-putusan itu menetapkan:<noinclude>{{rh|486}}</noinclude> j45fwxty6lmo064har9jdq1yzw7lmgq Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/233 104 98517 291112 276251 2026-05-10T14:14:46Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291112 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude><ol>banjak menghendaki waktu, tenaga dan fikiran. Tetapi semuanja ini rupanja tidaklah pertjuma, sebab sekarang telah ternjata daerah Padang dan sekitarnja telah dimasukkan kedaerah R.I. chususnja kedalam Propinsi Sumatera Tengah.</ol> {{ol|type=1|start=10 |Kepegawaian pun disusun, berdasarkan desentralisasi dan berdasarkan formatie. |Me-inpassen pegawai dalam kedudukan dan gadji pun banjak menghendaki waktu dan penjelidikan, tetapi telah dikerdjakan dan berdjalan baik dan tjepat. }} '''Pedoman Pemerintah.''' Pada garis besarnja dan umumnja , jang didjadikan pedoman oleh Pemerintah tentulah politik program kabinet jang ada sekarang, jaitu; {{ol|type=1 |Meneruskan perdjuangan untuk negara kesatuan. |Melaksanakan Undang-undang No. 22 dan Undang-undang Dasar fasal 33. |Mendemokratiseer Pemerintah; mengadakan pemilihan Umum dan memperbaharui D.P.R. |Pemulihan tenaga-tenaga perdjuangan jang dimobiliseer kedalam masjarakat. |Pemangunan budi dan djiwa keagamaan. |Pendidikan masjarakat. }} Selain dari itu, maka tindakan jang akan diambil oleh Pemerintah di Propinsi adalah ditentukan oleh keadaan jang njata dari Propinsi dan keinginan jang njata dari rakjat dalam Propinsi. Realisatie dari tudjuan Pemerintah ini adalah ditentukan oleh kesanggupan Pemerintah jang pada saat sekarang ini telah kita maklumi, jaitu amat terbatas. Terhadap pada pembangunan dan pelaksanaan tjita-tjita kesosialan, belumlah dapat dengan sepenuhnja dihadapi pemerintah. Pemerintah baru bisa menghadapi pembajaran gadji pokok dari pegawai-pegawainja sadja baru. Berhubung dengan keadaan Pemerintah seperti ini, maka untuk mentjiptakan hasil jang njata dalam lapangan masjarakat dan sesuatunja jang kita tjita-tjitakan, ialah '''auto activiteit''', tenaga sendiri dari tiap-tiap badan otonom, jaitu propinsi, kabupaten dan wilajah. Auto activiteit otonomie ini tentulah berarti auto activiteit dari rakjat sendiri. Disinilah terletaknja membuktikan sembojan, dari rakjat, untuk rakjat dan oleh rakjat. Dalam menjempurnakan otonomi dan demokrasi itu, adalah dua sjarat jang harus dipenuhi, jaitu:<noinclude>{{rh|||227}}</noinclude> ryueavhbwueph9apdobkw4acyu9tsy1 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1015 104 98601 291173 274270 2026-05-10T14:44:06Z Lutfiyatun 26681 291173 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Makam Wagé Rudolf Soepratman (Pentjipta Lagu „Indonesia Raja”) di Djalan Kendjeran (pemakaman Kapas Kota Surabaja<noinclude>{{rh|||903}}</noinclude> d41ctoxp46buynp6khy9ie3n1uias9q Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1014 104 98607 291172 274276 2026-05-10T14:43:45Z Lutfiyatun 26681 291172 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Djaman dahulu telah ada beberapa djenis uwajang, diantaranja ialah Wajang Purwa, Wajang Golek, Wajang Thengul. Dalam masa revolusi Nasional lahirlah wajang „tjiptaan baru” jang bentuk anak-wajangnja seperti gambar diatas disebut „Wajang Suluh”. Beberapa djenis bentuk anak-wajang „Wajang Suluh”.<noinclude>{{rh|902}}</noinclude> 8qczge0z2q1di8ynrkwa6iihwx9mkvd Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1013 104 98610 291170 274279 2026-05-10T14:43:10Z Lutfiyatun 26681 291170 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} „Penganten Sunat” jang masih memakai upatjara kuna di Desa-Desa daerah Kabupaten Probolinggo.<noinclude>{{rh|||901}}</noinclude> r56e7yqn5ya1w37q2lyyfjgdmm6npzn Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1012 104 98611 291168 274284 2026-05-10T14:42:51Z Lutfiyatun 26681 291168 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} tari Penghormatan di tengger (Kabupaten probolinggo). Gong, Kenong, Kethuk, gendang dan Seruling, gamelan jang terpakai ada waktu „{{sp|Kesada}}” Tengger (Kabupaten probolinggo). berdujun-dujun penduduk rawas memikul antjak Pendapa Kelurahan ada upatjara sedekah (Kabupaten Modjoerto).<noinclude></noinclude> 7najakn2b3ff20gnuvqpnzj3uw5h7ur Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1010 104 98615 291167 274294 2026-05-10T14:42:30Z Lutfiyatun 26681 291167 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Geredja „Roma Katholik” di Djalan Kepandjen, surabaja. Jeredja „Protestan” di Djalan Bubutan, surabaja. Geredja „Pantekosta” di Djalan Ardjuna, Surabaja.<noinclude></noinclude> d5h5cifqawtany9yfu7jmx25hy36gfr Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1009 104 98616 291166 274298 2026-05-10T14:42:15Z Lutfiyatun 26681 291166 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Seorang Hwee Sto (Pendeta), Kepala dari Klenteng „Hok An Kiong” Malang, Sedang berdiri disamping Medja Sembahjang dengan Pakaian Kebesaran. Diseluruh Djawa-Timur hanja „Hok An Kiong” sadja jang mempunjai Hwee Sio (Pendeta). Ruangan Tengah dari „Kwan Im Tong” Malang. „Kwan Im Tong” ini merupakan Klenteng Wanita, karena memang selain jang disudjud seorang Dewi djuga jang datang hampir melulu kaum wanita. Pengurus/Kepala Klenteng inipun adalah Tjayko (wanita jang dapat membatja do'a-do'a Sembah jangan dan memimpin Upatjara-upatjara Sembahjangan, serta melakukan pantangan makan daging).<noinclude></noinclude> 1al0eli79opudkeajvj2gvdweezlert Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1008 104 98617 291161 274303 2026-05-10T14:40:38Z Lutfiyatun 26681 291161 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Mohd. Zuhdi Fadzli H.A. Utusan Djema'at Ahmadijah Indonesia Tjabang Surabaja. F.G. van Gessel. Pemimpin Kerochanian „{{sp|Bethel}}”. Lahir di Blitar pada tanggal 19 Desember 1892.<noinclude></noinclude> 1fb4y49b90o3op19h5zedd3tab2bkgu Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1006 104 98620 291154 274308 2026-05-10T14:38:44Z Lutfiyatun 26681 291154 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} R. Prawirosoedarso Guru „Ilmu Sedjati” di Desa Sukaredja, Ketjamatan Saradan, Kabupaten Madiun.<noinclude></noinclude> 7n9c78inlgs5dv6zlf9hzjoj2chbbqq Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1004 104 98623 291153 274316 2026-05-10T14:38:15Z Lutfiyatun 26681 291153 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Pusaka „Keris” Sunan Giri jang disimpan dalam peti dekat makamnja (±3 km sebelah Selatan Kota {{sp|Gresik}}).<noinclude>{{rh|892}}</noinclude> niylnr11ayji6kl78cnlrne3qr56c33 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1003 104 98626 291148 274321 2026-05-10T14:28:52Z Lutfiyatun 26681 291148 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Makam „{{sp|Susuhunan Bedjagung}}” 1 km sebelah Selatan Kota Tuban. Rakjat sedang Nepi (bersemedi) pada malam Djum'at Legi Wekasan (terachir) di Makam „Puteri Tjempa” di Desa Trolojo Ketjamatan Trowulan, Kabupaten Modjokerto. Makam „Sunan Mangkurat” di Sentonogedong dalam Kota Kediri, dianggap oleh orang-orang baik dari luar daerah Kediri sebagai Makam jang berkeramat.<noinclude></noinclude> jrwf039tdia7vud83go79xxod249je4 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1002 104 98628 291147 274328 2026-05-10T14:28:28Z Lutfiyatun 26681 291147 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Pasarean Kawi (mbah nDjuga) di-daerah Kabupaten Malang. Pengundjung terdiri dari semua lapisan masjarakat:1. Pedagang; 2 Petani; 3. Buruh/Pegawai; 4. Dan jang werbanjak Bangsa Tionghoa. Tiap hari tidak kurang dari 500 orang jang mengundjungi dan teristimewa pada hari malam Djum'at Legi, djumlah pengundjung dapat mentjapai 1000 orang. Kalau didalam gedung penuh sesak, orang-orang tidur di halaman dan jang terbanjak dibawah Pohon Keramat jang di namakan „Dewa-Daru”.(Gunung Kawi, Malang). Makam „mbah nDjuga” dalam gedung. Sehari semalam orang-orang berbaring menunggu „Wangsit”.<noinclude></noinclude> k27dl8ajzzbq02tmk24upw0fz5sd55y Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1001 104 98629 291145 274331 2026-05-10T14:27:43Z Lutfiyatun 26681 291145 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Gua „Selamangleng” di Bukit Klotok dekat Kota kediri. Didalam gua terdapat lukisan sedjarah hidup Dewi Kilisutji. di daerah Kabupaten Malang.<noinclude></noinclude> r73vwq07sc8zz4sf0b8f0mgq10quzcb Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1000 104 98630 291144 274335 2026-05-10T14:27:27Z Lutfiyatun 26681 291144 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} „Umpak Sanga” dari Kraton Blambangan, letaknja di Ketjamatan Muntjar Kabupaten Banjuwangi. Pemandian „Ken Dedes”<noinclude></noinclude> ao4zh9b3nbvqc8novy9jvs0wfjkmcry Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/999 104 98631 291143 274337 2026-05-10T14:27:09Z Lutfiyatun 26681 291143 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Sebuah gong jang disebut „mBah Pradhah” di Kejamatan Lodojo (±18 km sebelah Selatan Kota Blitar).<noinclude>{{rh|||887}}</noinclude> rurf9essm80tiqgdbq51x6i2ozj3a2i Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/997 104 98633 291142 274343 2026-05-10T14:26:43Z Lutfiyatun 26681 291142 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Arlja „Buta” (raksasa) adalah salah satu artja Tjandi Singosari di-daerah Kabupaten Malang. Tjandi „Panataran” letaknja ± 10 km disebelah Utara Kota Blitar.<noinclude>{{rh|||885}}</noinclude> m832v94nson7pdxn01dpaew5kwggyj2 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/996 104 98634 291141 274346 2026-05-10T14:26:26Z Lutfiyatun 26681 291141 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Tjandi „Djabon” di Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.<noinclude>{{rh|884}}</noinclude> jph9m0zhko4jszd0z05eymm989wrw2z Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/995 104 98636 291140 274351 2026-05-10T14:26:07Z Lutfiyatun 26681 291140 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{missing image}} Artja „Sri Erlangga” sebagai Wishnu menaiki Garuda Jaksa (di Gedung Artia-Modjokerto).<noinclude>{{rh|||883}}</noinclude> 25o5j9wbhdxge4y5x7pd4viz4aoibic Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/448 104 98829 291214 274714 2026-05-10T15:10:28Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291214 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{Center|'''BANJAKNJA TERNAK SELURUH DJAWA-TIMUR.'''}} {|class="wikitable" width="100%" |- !Djenis ternak !1942 !1944 !1952 |- |Kuda||88.584||69.967||67.633 |- |Sapi||2.585.152||2.272.964||2.386.413 |- |Kerbau||342.870||282.600||339.184 |- |Kambing||1.777.418||1.519.423||1.547.141 |- |Domba||260.436||261.111||434.618 |} Hasil jang begitu bagus dalam waktu beberapa tahun sadja adalah terutama buah beberapa usaha dari Djawatan Kehewanan, antara lain dengan penempatan hewan-hewan pematjek di daerah-daerah jang masih kekurangan pematjek, jang djumlahnja untuk seluruh Djawa-Timur pada achir tahun 1952 ada ± 4.900 ekor. Djumlah tersebut sudah hampir mendekati keadaan sebelum perang, tetapi mengingat banjaknja ternak sapi jang ada di Djawa-Timur djumlah tersebut masih harus dinaikkan hingga mendjadi' ± 12.000 ekor. Usaha menambah djumlah ternak djuga didjalankan dengan djalan penempatan ternak/sapi bibitan betina, jang djumlahnja sebelum perang di Djawa-Timur adalah ± 850 ekor, tetapi dalam tahun 1952 telah djauh meningkat mendjadi ± 3.000 ekor. Diantara objek-objek R.K.I. (Rentjana Kesedjahteraan Istimewa) mengenai peternakan di Djawa-Timur antara lain jang terpenting adalah Induk fokstation sapi perahan di Rembangan (Daerah Besuki), melkcentrale Grati dan tempat perkawinan tiruan di Grati dan Pakong (Madura). Untuk keperluan penjelenggaraan objek-objek peternakan dalam lingkungan R.K.I. dari tahun 1950 sampai dengan tahun 1952 telah dikeluarkan biaja ± 6 djuta rupiah. '''Perkreditan.''' Dalam soal modal sebagai faktor jang penting sekali bagi usaha-usaha penambahan produksi, Pemerintah djuga telah memberikan bantuan-bantuan jang njata, antaranja dengan memberikan pindjainan pindjaman modal berupa uang, melalui berbagai Djawatan Pemerintah jang masing-masing menjelenggarakan pemberian kredit itu sesuai dengan lapangan atau tugasnja masing-masing. Pada tahun-tahun 1950, 1951 dan permulaan tahun 1952 kaum pengusaha dapat memperoleh pindjaman uang melalui Djawatan-Djawatan Perindustrian, Gerakan Tani, Penempatan Tenaga, Koperasi, Djawatan Organisasi Usaha Rakjat dan lain-lainnja lagi. Perkembangan selama tahun-tahun tersebut menundjukkan kurang effisiennja tjara pemberian pindjaman jang terpisah-pisah itu, karena dipandang dari sjarat-sjarat ekonomi memang perlu sekali pemberian sesuatu kredit ditindjau atas dasar-dasar ekonomi perusahaan, sosial, pendidikan dan lain sebagainja.<noinclude>{{rvh|416}}</noinclude> 5rrks7yt2x5dc8xyw6fyzr1g4fwj3bv Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/560 104 98847 291335 277708 2026-05-10T17:07:02Z Riiiv 22458 291335 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Wiwil13" /></noinclude>umum, Anwar Bey menghadapi urusan kedalam, dan Agus Salim memegang urusan kemiliteran dan latihan. Pada 12 Pebruari '46, setelah para tjalon perwira tamat dari latihannja, maka dilantiklah Opsir-opsir Hizbullah oleh Gubernur T. M. Hasan dengan susunan sebagai berikut: Saudara-saudara Sjamsuddin Ahmad Komandan Divisi Hizbullah Sumatera Tengah, Anwar Bey Kepala Staf, Agus Salim Komandan Resimen I, Sou'ib Ibrahim Komandan Resimen II, Abu Bakar Komandan Resimen III dan Muhammad Anwar Komandan Resimen IV jang dilantik bersama 32 orang perwira lainnja. '''Barisan Sabillah dibentuk:''' Dalam zaman Djepang didirikan M.I.T. (Madjelis Islam Tinggi) jang segera sesudah proklamasi menjusun diri sebagai partai politik. Atas initiatif M.I.T. inilah dibentuk Barisan Sabilillah sebagai pernjataan hasrat kaum Muslimin untuk melakukan perang sabil dalam mempertahankan kemerdekaan jang telah diproklamirkan. Setelah lengkap berdiri tjabang-tjabangnja, dan selesai pula latihan para perwiranja, maka pada hari jang bersedjarah jaitu tanggal 16 Maret '46, bertepatan dengan kundjungan utusan Pemerintah Agung ke Sumatera Barat, dilakukanlah pelantikan para Opsir Barisan Sabililah seluruh Minangkabau dengan disaksikan oleh ribuan rakjat bertempat ditanah lapang Atas Ngarai Bukittinggi. Dalam pelantikan ini hadir dan memberikan wedjangan Menteri Penerangan M. Natsir, Djenderal Major Suhardjo dan Djenderal Major Sukarnen. Pemimpin M.I.T. saudara A. Gafar Djambek menegaskan bahwa Markas Besar Sabililah Sumatera. bertempat di Bukittinggi, dibawah pimpinan 15 orang Opsir jang dilantik pada hari itu. '''Berdirinja Lasjmi dan Lasjkar Muslimat.''' Bersamaan waktu dengan M.I.T., maka Partai Islam PERTI menjusun dirinja sebagai suatu partai politik, dan membentuk Lasjkar Muslimin Indonesia (Lasjmi), serta Barisan puterinja jang bernama Lasjkar Muslimat, pada 24 Desember 1945. Segera barisan ini tersusun disetiap tjabang dan ranting PERTI, dan pada tanggal 23 Djuni 1946 dilakukanlah pelantikan Lasjkar Muslimat ini diBukittinggi jang dihadiri oleh para pembesar Pemerintah dan Tentera serta ribuan rakjat. Pun sebelum ini telah berlangsung pula upatjara jang lebih meriah lagi pada pelantikan Lasjmi, dimana Sjech Suleiman Arrasuli melantik para opsirnja.<noinclude>{{rh|554}}</noinclude> a441ctsddh46snhtbdugi93rxlnb86t Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/469 104 98893 292018 275197 2026-05-11T11:41:33Z Riiiv 22458 292018 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Muhamad Fahrizal Leo Pratama" /></noinclude>Sekeluarnja Sutan Sjahrir c.s. dari partai Sosialis dan membangunkan '''Partai Sosialis Indonesia (P.S.I.)''' pada 12 Pebruari 1947, karena perbedaan tindjauan mengenai isi persetudjuan „Renville”, perpetjahan ini tidak menjebabkan timbulnja suatu keretakan dalam kalangan pemimpin-pemimpinnja di Sumatera Tengah. Dalam sedjarah perkembangan Partai Sosialis sebagai diketahui waktu sebelum terdjadinja „'''Peristiwa Madiun'''” dalam tahun 1948, Partai Sosialis dipulau Djawa segera menggabungkan dirinja dengan P.K.I. jang sebelum itu bersatu dalam Front Demokrasi Rakjat". Perpetjahan partai ini di Sumatera Tengah berlangsung pada tanggal 12 Pebruari 1948, jaitu pada hari diumumkan berdirinja Partai Sosialis Indonesia di Sumatera Tengah. Dengan lahirnja Partai Sosialis Indonesia ini, maka sebahagian diantara anggota-anggotanja jang masih tetap menganut Partai Sosialis tidaklah lantas meleburkan dirinja mendjadi F.D.R. atau P.K.I. tapi masih mempertahankan partainja sampai beberapa waktu lamanja. Achirnja, karena kelemahan-kelemahan dalam tenaga pimpinan, maka dengan djalan berangsur-angsur mereka sama menggabungkan diri mendjadi anggota P.S.I. Dengan demikian, maka bolehlah dikatakan, bahwa di Sumatera Tengah tidak terdjadi perpetjahan dalam Partai Sosialis ini, tapi jang terdjadi hanjalah perobahan dasar dari partai itu. Jaitu perpindahan dari Partai Sosialis ke Partai Sosialis Indonesia. Mendjelang pertengahan tahun 194, lahir pula di Manindjau sebuah partai jang dasarnja diletakkan untuk mempraktekkan adjaran-adjaran Islam digabungkan dengan adjaran Marx mendjadi satu, jaitu Partai Politik jang dinamakan dengan '''„Partai Komunis Indonesia Lokal Islami” (P.K.I. Lokal Islami)'''. Pada pendengaran dan pandangan setengah orang, mungkin partai ini merupakan „peralihan” antara kedua matjam paham jang satu sama lain sangat berlainan itu, atau sebagai suatu „gabungan” dari keduanja. Tapi walau bagaimanapun djuga, partai ini dalam lingkungan daerahnja mempunjai pengikut jang tjukup banjak dan pengaruhnja djuga tjukup besar. '''Partai Nasional Indonesia (P.N.I.)''' dibangunkan kembali dekat pada permulaan tahun 1947, jang djuga kedudukan Dewan Pimpinannja ditempatkan di Bukittinggi. Dibandingkan dengan berdiri dan lahirnja partai-partai lainnja, maka kelahiran kembali P.N.I. dipandang sedikit terlambat. Tapi lapangan untuk berkembang masih luas baginja. Dalam daerah Sumatera Barat P.N.I. mungkin tidak terlalu berkembang sebagai partai-partai jang lahir sebelumnja. Tapi dia mendapat pengikut jang banjak didaerah-daerah keresidenan Djambi dan Riau. Hal ini disebabkan karena letak daerah Djambi ini lebih berhampiran dengan Propinsi Sumatera Selatan, dimana P.N.I. berkembang dengan baik.<noinclude>{{rh|||463}}</noinclude> mk5mbpjj1jq1lwosrvomekviov1tyx0 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/470 104 98918 292016 275202 2026-05-11T11:40:37Z Riiiv 22458 292016 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Muhamad Fahrizal Leo Pratama" /></noinclude>Mendjelang penutup tahun 1947, berturut-turut lahir di Sumatera Tengah partai-partai politik sedaerah, seperti '''Partai Islam Indonesia (P.I.I.) Partai Politik Tharikat Islam (P.P.T.I.) Partai Muslimin Sjatrijah Indonesia (Pemsji)'''. Semua partai jang tersebut diatas, dalam perdjuangan menegakkan tjita-tjita negara djuga memberikan sumbangan jang besar. '''Partai Kristen Indonesia (Parkindo)''' dibukanja tjabangnja di Bukittinggi djuga diwaktu hampir penutup tahun 1947 ini djuga. Dalam tahun 1948, daerah Sumatera Tengah merupakan daerah jang „Sepi” bagi pembentukan partai-partai politik jang baru. Kegiatan-kegiatan dalam tahun itu banjak ditumpahkan kepada memperkuat organisasi partai-partai jang sudah ada, dan djuga pada beberapa partai kekuatan-kekuatan dikerahkan kepada menjempurnakan pemberian pengorbanan serta bakti. Clash pertama memaksa seluruh partai-partai buat mengerahkan barisan-barisan pemuda untuk bertempur ke front Padang, menjebabkan terbendungnja kekuatan-kekuatan untuk memperlihatkan kegiatan kegiatan dalam lapangan politik, jang meningkat hebat sesudah Tetapi setelah penanda tanganan Linggardjati ditanda tangani. Renville, kegiatan berupa pertentangan tadjam memuntjak kembali, jang hanja diachiri oleh agressi ke-II. Pada tahun 1948 itu hanja tertjatat '''Partai Murba''' satu-satunja jang dibangunkan di Bukittinggi. Pembangunan Partai baru ini dengan segera djuga disambut oleh beberapa daerah dengan tjukup „hangat”. '''Perkembangan partai-partai itu''' : Sedjarah perkembangan Partai-partai Politik di Sumatera Tengah dalam permulaan alam kemerdekaan ini tidak akan lengkap, bila kita tidak membentangkan '''aksi serentak''' jang mereka lakukan didalam berusaha menjempurnakan perkembangan-perkembangan politik didaerah ini. Sebagai kita masih ingat, dalam perkembangan „ketjerdasan berpolitik” didalam sedjarah kemerdekaan tanah air kita, kita pernah mengalami phase „ber-blok” dan „ber-front”. Blok dan front ini tidak hanja terdjadi dipusat pemerintahan sadja, tapi djuga berbiak didaerah-daerah. Puntjak dari blok dan front ini berkisar sekitar tahun 1947 dan 1948, jaitu dalam periode „Linggardjati” dan „Renville”. Dalam tahun-tahun ini pulalah memuntjaknja keruntjingan-keruntjingan disamping terudjudnja kesatuankesatuan tekad didalam menghadapi perdjuangan politik selandjutnja. Sedjarah „'''Volksfront'''”, „'''Sajap Kiri'''” dan „'''Benteng Republik'''” di Djokjakarta, banjak sedikitnja tentu mempengaruhi djuga perkembangan-perkembangan ini ditempat lain, djuga didaerah<noinclude>{{rh|464||}}</noinclude> iushpl9wfu12f1jjli7mhsc4xsu4ilt Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/824 104 98922 291134 274866 2026-05-10T14:20:44Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291134 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Oleh karena dari penjelidikan Sub Panitia Keuangan ternjata pula, bahwa soal keuangan dapat dipetjahkan, dan mengumpulkan uang guna perbelandjaan Sekolah tadi bukan suatu kemustahilan, maka Panitia memutuskan untuk berusaha mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum di Surabaja. Pada rapat jang kedua dari Panitia Persiapan, dengan mempergunakan bahan-bahan pertimbangan, andjuran dari Sub-Panitia-Sub-Panitia, ditetapkan sebagai kesimpulan: <ol type="1"> <li>Pendirian sesuatu Perguruan Tinggi di Surabaja adalah perlu, atas pertimbangan-pertimbangan: <ol type="a"> <li>Hasrat para Pemuda jang njata;</li> <li>Penjaluran sesuatu kebutuhan, untuk mentjegah terlantarnja para Pemuda jang ingin menuntut ilmu;</li> <li>Turut serta dalam pembangunan Negara;</li> <li>Kebutuhan Negara dan Bangsa akan tenaga jang tjakap;</li> <li>Kurangnja Perguruan Tinggi bagi Indonesia;</li> <li>Penambahan djumlah Perguruan Tinggi membuka djalan pertukaran, pergeseran faham dalam ilmu jang akan menguntungkan penuntutan ilmu (wetenschaps-beoefening).</li> </ol> </li> <li>Berhubung dengan soal tenaga pengajar, dimulai dengan bagian peladjaran jang sederhana, ialah: <ol type="a"> <li>Membuka Bagian Ilmu Hukum sadja;</li> <li>Merentjanakannja untuk peladjaran candidaat sadja;</li> <li>Memulai dengan peladjaran tahun ke I dulu;</li> <li>Memakai rentjana Fakultet Ilmu Hukum Pemerintah sebagai rentjana peladjarannja.</li> </ol> </li> <li>Pengeluasan atau pengembangan dikemudian hari diadakan menurut kemungkinan dan kesanggupan;</li> <li> Pengakuan oleh Pemerintah dan effek sipil harus diusahakan, agar supaja tidak menimbulkan keketjewaan pada para mahasiswa dikemudian hari;</li> <li>Penjelenggaraan Perguruan Tinggi Ilmu Hukum harus diserahkan kepada suatu Panitia Penjelenggara;</li> <li>Soal Perguruan Tinggi adalah urusan masjarakat, dan karena itu tergantung kepada kesanggupan dan kekuatan masjarakat;</li> <li>Berdasarkan bab 6 maka wakil-wakil dari masjarakat harus diadjak serta dan karenanja Panitia Penjelenggara harus disusun dan ditetapkan oleh wakil-wakil masjarakat tadi;</li> <li>Menjediakan bahan-bahan jang telah dikumpulkan bagi Panitia Penjelenggara.</li> </ol> Berdasarkan atas kesimpulan-kesimpulan itu, maka Panitia Persiapan pada hari Rebo malam tanggal 11 Oktober 1950, dirumah kediaman Ketua Kehormatan mengadakan pertemuan dengan 50 orang, jang dipandang dapat mewakili lapisan masjarakat, untuk memberi pendjelasan tentang djalan usaha Panitia Persiapan dan mengemukakan kepada mereka itu sanggup atau tidaknja menjelenggarakan Perguruan Tinggi tersebut.<noinclude>{{rh|714}}</noinclude> t6ujr3ftp4cfu788ozjf9b37u4rkmmx Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/579 104 98932 290870 274937 2026-05-10T12:50:01Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290870 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Permintaan tenaga dari dunia perusahaan sebagian besar berkisar pada tenaga jang terlatih, atau setidak-tidaknja mempunjai tjukup Pengalaman dajam suatu pekerdjaan jang tertentu, Pada umumnja jang mendaftarkan pada Kantor-Kantor Penempatan Tenaga jalah tenaga Jang tidak terlatih, artinja, tenaga jang setinggi-tingginja berpendidikan Sekolah Rakjat, sehingga dapat diduga betapa sukarnja memberikan atau mengusahakan lapang pekerdjaan bagi mereka ini, kalau tidak dilatih lebih dulu. Kalau diselidiki lebih dalam maka angka tersebut djatas masih djauh mendekati kenjataan, untuk didjadikan bahan menjusun suatu anggaran tenaga manusia (man-power-budget) menentukan suatu structuur kemakmuran Negara. Dalam menjelenggarakan pekerdjaan, mengikuti dan mempeladjari tentang kemungkinan-kemungkinan keadaan tenaga di Djawa-Timur dapat diutarakan beberapa tjontoh sebagai berlkut: Tidak sedikit tenaga jang tiap-tiap tahunnja menduduki bangku kelas tertinggi dari sekolah-sekolah vak atau landjutan dan tak sedikit pula diantara mereka jang tak dapat meneruskan sekolah atau mendapat pekerdjaan dengan akibat menganggur, sedangkan pendaftaran tenaga terlatih sematjam ini djarang sekali didjumpai pada Kantor-Kantor Penempatan Tenaga. Disamping ini dapat pula dipahamt adanja beribu-ribu tenaga di daerah pertanian jang pada hakekatnja tidak memiliki pekerdjaan penuh (full-time job) dan dalam keadaan setengah menganggur (underemployed), sedangkan di sekitar daerah itu tidak ada sama sekali pekerdjaan sampingan bagi mereka. Djuga keadaan penduduk mempunjai pengaruh besar dalam susunan pasar-kerdja. Didasarkan pada taksiran sebelum perang, make tiap-tiap tahunnja penduduk pulau Djawa bertambah dengan 1,5% atau 650.000 djiwa. Djika ditaksir, bahwa 35% dari penduduk mempunjai pekerdjaan (beroepsbecefenaren), maka tiap-tiap tahunnja djumlah kaum pekerdja bertambah dengan 230.000 orang, jang berarti, bahwa Djawa-Timur sadja tiap-tiap tahunnja harus ditambah lapang pekerdjaennja untuk kurang lebih 25% dari 230.000 atau 57.500 orang. Dalam pada ini harus diselenggarakan penempatan tenaga dalam arti seluas-luasnja. Usaha-usaha ini pada pokoknja harus ditudjuken untuk mentjapai full-employment, sehingga tiap-tiap orang bisa mendapat pekerdjaan dan diselenggaraken tidak hanja oleh Pemerintah tetapi sebagian besar oleh masjarakat umumnja. Pemerintah dengan usaha-usahanja dilapang ekonomi, pekerdjaan umum dan kepentingan umum, misalnja kesehatan, pendidikan, pemberian kredit, pembikinan djalan-djalan dan djembatan-djembatan, pengairan dan lain sebagainja haruslah didasarkan suatu rentjana jang djuga memperhatikan pelaksanaan full-employment. Usaha migrasi atau pemindahan tenaga ke luar Djawa/Madura ialah sebagian besar ke Sumatera-Timur jang didjalankan oleh Djawatan Penempatan Tenaga melalui wervingsorganisatie-V.E.D.A. tertjatat:<noinclude>{{rh|||545}}</noinclude> t5hhfs6d2883x1xjkpr3rzvp1r62euy Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/457 104 98935 291211 280559 2026-05-10T15:10:02Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291211 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{r|'''PERSOALAN TANAH DAN PERUSAHAAN ASING.'''}} {{dropinitial|B}}AGI Daerah Propinsi Djawa-Timur persoalan mengenai tanah untuk perusahaan-perusahaan Asing adalah sudah sedjak dahulu kala, baik jang berupa erfpacht untuk perusahaan-perusahaan perkebunan pegunungan maupun mengenai persewaan tanah dari Rakjat untuk penanaman tebu paberik. Setelah penjerahan kedaulatan, maka salah satu dari persoalanpersoalan jang dihadapi Pemerintah, baik di Pusat maupun di Propinsi Djawa-Timur ialah mengenai pelaksanaan pengembalian perkebunan perkebunan kepunjaan orang Asing. Menurut persetudjuan K.M.B., perkebunan-perkebunan tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknja. Persoalan pengembalian milik Asing di Djawa-Timur terutama mengenai perkebunan-perkebunan pegunungan, karena perkebunan tanah datar dengan paberik-paberik gula boleh dikata telah dapat diduduki kembali oleh pemiliknja pada masa clash ke-II pada tahun 1949. Dalam soal pengembalian milik-milik Asing di Djawa-Timur, terutama jang mengenai perusahaan-perusahaan perkebunan, kesulitan-kesulitan jang dihadapi antara lain ialah soal penggantian kerugian jang diminta oleh para pengusaha jang menduduki kebun-kebun tersebut kepada pemilik jang meminta kembali kebunnja itu. '''Erfpacht pertanian besar.''' Dari persil-persil erfpacht pertanian besar di Propinsi Djawa-Timur beberapa sudah dikembalikan kepada pemiliknja, sebagian oleh Recomba dan T.B.A. dan sebagian mendapat idjin sementara dari Gubernur. Djumlah perkebunan milik Asing jang sudah dikembalikan oleh Pemerintah Recomba dan T.B.A. Djawa-Timur di Karesidenan-Karesidenan: {| |colspan=3| |- | | |Surabaya |....... |16 |- | | |Madiun |....... |6 |- | | |Kediri |....... |16 |- | | |Malang |....... |81 |- | | |Besuki |....... |128 |- | | |Madura |....... |—— |- | | |Bodjonegoro |..... |—— |- | | | |—————————————— | |- | | | |Djumlah |247 |- | | | |—————————————— |}<noinclude>{{rh|||425}}</noinclude> kg3cjlnmzc9qxt0kf9qym0ohdrf5dz4 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/583 104 98950 290871 274998 2026-05-10T12:50:29Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290871 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude><ol type="a"> <li>Mempertinggi beroepenkennis dari para Pegawai antar-kerdja (bemiddelaars), sehingga pekerdjaan antar-kerdja dapat mendjadi tambah sempurna;</li> <li>Memperlengkapi bahan-bahan penjuluh pemilihan djabatan;</li> <li> Menghimpun material dokumentasi guna menjusun dan menjempurnakan penggolongan djabatan;</li> <li> Dipakai dalam memberi visum kepada Bangsa Asing jang akan bekerdja di Indonesia;</li> <li> Dipakai sebagai pedoman dalam memberikan kebebasan (vrijatelling) masuk Dinas Militer;</li> <li> Dipakai sebagai pedoman untuk menjelenggarakan kursus-kursus vak.</li> </ol> Analisa-analisa djabatan jang telah dibuat di Djawa-Timur ialah mengenai djebatan: Sorteerder (P.T.T.), Loketbeamte, Kassier, Kelasi Pandjarwala dan Tukang tjutji pakaian. Djabatan-djabatan jang akan dianalisir selandjutnja ialah djabatan-djabatan jang banjak terdapat atau digunakan bagi kepentingan pembangunan masjarakat dewasa ini. '''Usaha Latihan Kerdja.''' Dalam waktu jang singkat telah dapat diselenggarakan Kursus-Kursus/Latihan-Latihan vak untuk para penganggur chususnja dan kaum Buruh umumnja, dengan djalan mengadakan „Scholing”, „herscholing” dan „omscholing” dengan maksud: #<li value="1">Mempermudah usaha para penganggur untuk dapetnja lapang pekerdjaan mengingat akan kurangnja tenaga terdidik (skilled labour) den tenaga vak pada waktu ini: #Memberi kesempatan pada kaum Buruh agar dapat menambah ketjakapannja sesuai dengan bakatnja, sehingga dapat mentjapai dan menempati kedudukan jang lajak dan tepat dalam masjarakat (the right man in the right place). Kursus baru dapat dimulai setelah ada Surat Keputusan dari Pusat Djawatan Penempatan Tenaga, berdasarkan usul dari Kantor Perwakilan jang diambil dari analisa Pasar-Kerdja, artinja menurut kebutuhan tenaga-tenaga terdidik disuatu daerah pada waktu itu. Mengingat akan hal ini maka pada dasarnja tiap Daerah (dalam hal ini Djawa-Timur), hanja menjelenggarakan kursus-kursus untuk daerahnja sendiri serta pengikutnja (peladjar) diambil dari daerah masing-masing djuga. Tetapi berhubung sesuatu hal (terutama karena Djawa-Timur dapat mengusahakan tempat serta guru-gurunja), maka Kursus Instruktur Tehnik jang pengikutnja terdiri dari penganggur-penganggur seluruh Djawa (Angkatan ke-I) dan dari Indonesia (angkatan ke-II) terpaksa diadakan di Surabaja jang seharusnja atau menurut rentjananja di Djakarta. Adapun lamanja tiap-tiap Kursus tersebut pada umumnja satu tahun. Kursus-kursus jang telah diadakan di Djawa-Timur selama tahun 1950, 1951 dan 1952 serta bagaimena hasil udjian-udjian achir (jang lulus) dapat dilihat dalam daftar sebagai berikut:<noinclude>{{rvh|549}}</noinclude> pcsncqxegpa35di65c5tfz4b10b5bta Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/585 104 98975 290873 275216 2026-05-10T12:51:55Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290873 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Peladjar jang dapat diterima mengikuti kursus harus mentjukup! sjarat-sjarat sebagai berikut: #<li value="1">Penganggur jang telah terdaftar di K.P-T.; #Berumur antara 18 - 30 tahun; #Berbadan sehat dengan keterangan tabib; #Lulus udjian masuk (udjian masuk ini berupa psychotechnische testing, jang diselenggarakan oleh Penjuluh Djawatan). Adapun dasar pendidikan sebelumnja (vooropleiding) tidak sama. tetapi menurut tingkatan dari kursus jang akan diikutinja. Perlu kiranja diterangkan disini, bahwa selain diikuti oleh para penganggur, Kursus Instruktur Teknik angkatan ke-II djuga di-ikut! oleh para Peladjar Bekas Pedjuang (Demobilisan Peladjar). Selama mengikuti kursus selain mendapat pakaian kerdja, para Peladjar djuga diberi uang-saku (ketjuali Kursus Memegang Buku). Jang besar ketjilnja berdasarkan: <ol type="a"> <li>Tingkatan kursus;</li> <li>Tempat dimana kursus diselenggarakan (Kota-Ketjil atau Kota Besar);</li> <li>Tanggungan keluarga (kawin/tidak).</li> </ol> Adapun uang-uang-saku ini jang semula berupa sokongan penganggur dan diberikan sebulan sekali, mulai bulan Djuni 1952 diganti dengan tundjangan latihan menurut Peraturan Kementerian Perburuhan No. 35 tahun 1952, Hal ini disebabkan karena tjara pemberian uang-saku jang pertama dianggap tidak praktis, disebabkan karena ada peladjar-peladjar jang mengikuti kursus hanja karena uang-sokongannja sadja. Tundjangan latihan ini diberikan hanja tiap-tiap hari sipenganggur mengikuti latihan (masuk beladjar) dan pada hari-hari mereka tidak mengikuti latihan dengan tiada keterangan jang sah, maka uang-tundjangan tidak dibajarkan. Dengan tjara ini agar dapat ditjegah maksud para peladjar jang kurang hasratnja beladjar dan hanja mementingkan uangnja sadja. Tenaga pengadjar terdiri dari orang-orang luar Djawaten jang bekwaam/bevoegd, diangkat oleh Kepala Djawatan Penempatan Tenaga Pusat dengan mendapat honorarium sesuai Peraturan Kementerian Pendidikan Pengadjaran dan Kebudajaan. Mengingat, bahwa tenaga-tenaga pengadjar tersebut masih merupakan tenaga honorair jang sangat terpengaruh/terikat oleh mutasi-mutasi serta peraturan-peraturan dari Instansi/Djawatannja masing-masing, sehingga banjak sedikit mempengaruhi djuga kelantjaran kursus Jang diadjarkannja, maka dikandung maksud oleh Djawatan Penempatan Tenaga akan berusaha dan atau mendidik tenaga-tenaga jang nantinja dapat didjadikan pengadjar tetap pada kursus tersebut.<noinclude>{{rh|||551}}</noinclude> pr8b4iqvkay4h633chek6kmy5a4qyvc Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/890 104 98976 291301 277807 2026-05-10T16:32:18Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ 291301 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>penghormatan maka tempat pertapaan Sang Pendeta tersebut didirik: sebuah tjandi. Pengaruhnja besar hingga sekarang dan pada tiap-ti hari malam Djum'at tidak sedikit penduduk jang datang untuk memoh agar tjita-tjitanja dapat terkabul sambil membakar dupa. Para penduduk disitu memberi nama pada artja tersebut mirip ă aselinja: Nama Dewi Sri diganti mbok Rara Godrak (roch halus ja membantu dan mendjaga hasil tani), sedang Dewi Sri adalah Dev pertanian dan rumah-tangga. Satu lagi artja Aria diganti nama D Bagus Kliwon (roch halua jang mendjaga daerah sekitar Kelud, menuz bentuk dan ukir-ukirannja sederhana). Sebelah selatan dari temp tjandi tersebut ± 100 m terdapat sebuah tjandi jang terpendam diteng sawah. Penjelidikan mengenai sedjarah tjandi-tjandi dan artja-artja ini b dihubungkan dengan pendapat perseorangan, akan mendapat kesulit antara lain karena pemberian nama dan tempat jang tidak terten Di Desa Purwosari Ketjamatan Gandusari oleh salah seorang berna: R. Santosa telah diketemukan sebuah artja (menurut keterang sebelum menemukannja orang tersebut menerima wangsit terlel dahulu) dan bangunan lainnja ditepi kali dengan disaksikan oleh Weds Gandusari. Sebagai penghormatan telah diadakan perajaan deng mengadakan pertundjukan djaranan, sambil memberi nama pada ar tersebut ialah Raden Kastuba (nama ini didapat dari bisikan roch ja ada dalam artja). Menilik dari tanda-tanda gambaran, artja tersel alah patung Bathara Baju (Angin). Di tjandi Sumberdjati Ketjamatan Kademangan bentuknja ukil besar (kasar), gambarnja merupakan Buta (raksasa) dan Naga (ul jang seolah-olah didalamnja terdapat roch kasar. Sebaliknja di tjar tjandi lainnja terdapat ukiran jang halus, dan gambarannja menjeru ranting dari pohon-pohonan atau bunga-bungaan Djamang, Mahkota lain-lain. Jang terukir di tjandi Penataran misalnja, adalah gamb gambar binatang jang dianggap keramat jaitu ular, kuda, lembu sebagainja. Adapun tjandi lain-lain jang terdapat di Karesidenan Kediri is Tjandi Ngetos di Ngandjuk, tjandi-tjandi Bojolangu, Selomangleng (bi ketjil merupakan bentuk mulutnja Singa jang didalamnja terda gambar-gambar), dan tjandi Djadi diatas bukit di Kabupa Tulungagung, tjandi-tjandi Tegawangi dan Surawana di Ketjama Pare. Selain itu terdapat djuga patung Betara Gana berkepala gad di Desa Guda dan sebuah batu dengan tulisan sandi di Peterongan. Di Kabupaten Malang terdapat tjandi-tjandi Djago, Kidal, Ba Songgoriti dan Singosari. Didalam tjandi Singosari terdapat artja ET Gandring jang termashur membikin keris Empu Gandring. Keris ters telah membunuh Radja-Radja Singosari: Ken Arok, Sang Anusa Sang Prabu Tohdjaja, Tunggulametung dan Empu Gandring sendi! Di Kabupaten Pasuruan di Desa Gunung Gangsir Kawedanan Ba ada tjandi Gunung Gangsir. Tjandi tersebut dibuat dari batu me dengan ukuran rata-rata 25 x 30 x 8 cm, luas dan tinggi tj<noinclude>{{rh|780||}}</noinclude> tlhf2bmdhjskb0iesqlwr3wl55sbcoz 291473 291301 2026-05-11T01:36:21Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291473 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>penghormatan maka tempat pertapaan Sang Pendeta tersebut didirikan sebuah tjandi. Pengaruhnja besar hingga sekarang dan pada tiap-tiap hari malam Djum'at tidak sedikit penduduk jang datang untuk memohon agar tjita-tjitanja dapat terkabul sambil membakar dupa. Para penduduk disitu memberi nama pada artja tersebut mirip {{Illegible}} aselinja: Nama Dewi Sri diganti mbok Rara Godrak (roch halus jang membantu dan mendjaga hasil tani), sedang Dewi Sri adalah Dewi pertanian dan rumah-tangga. Satu lagi artja Aria diganti nama Dewi Bagus Kliwon (roch halua jang mendjaga daerah sekitar Kelud, menurur bentuk dan ukir-ukirannja sederhana). Sebelah selatan dari tempat tjandi tersebut ± 100 m terdapat sebuah tjandi jang terpendam ditengah sawah. Penjelidikan mengenai sedjarah tjandi-tjandi dan artja-artja ini {{Illegible}} dihubungkan dengan pendapat perseorangan, akan mendapat kesulitan antara lain karena pemberian nama dan tempat jang tidak tertentu Di Desa Purwosari Ketjamatan Gandusari oleh salah seorang bernama R. Santosa telah diketemukan sebuah artja (menurut keterangan sebelum menemukannja orang tersebut menerima wangsit terlebih dahulu) dan bangunan lainnja ditepi kali dengan disaksikan oleh Weda{{Illegible}} Gandusari. Sebagai penghormatan telah diadakan perajaan dengan mengadakan pertundjukan djaranan, sambil memberi nama pada arca tersebut ialah Raden Kastuba (nama ini didapat dari bisikan roch jang ada dalam artja). Menilik dari tanda-tanda gambaran, artja tersebut ialah patung Bathara Baju (Angin). Di tjandi Sumberdjati Ketjamatan Kademangan bentuknja ukiran besar (kasar), gambarnja merupakan Buta (raksasa) dan Naga (ular) jang seolah-olah didalamnja terdapat roch kasar. Sebaliknja di tjandi-tjandi lainnja terdapat ukiran jang halus, dan gambarannja menjerupai ranting dari pohon-pohonan atau bunga-bungaan Djamang, Mahkota dan lain-lain. Jang terukir di tjandi Penataran misalnja, adalah gambar-gambar binatang jang dianggap keramat jaitu ular, kuda, lembu, dan sebagainja. Adapun tjandi lain-lain jang terdapat di Karesidenan Kediri ialah Tjandi Ngetos di Ngandjuk, tjandi-tjandi Bojolangu, Selomangleng (bu{{Illegible}} ketjil merupakan bentuk mulutnja Singa jang didalamnja terdapat gambar-gambar), dan tjandi Djadi diatas bukit di Kabupaten Tulungagung, tjandi-tjandi Tegawangi dan Surawana di Ketjamatan Pare. Selain itu terdapat djuga patung Betara Gana berkepala gad{{Illegible}} di Desa Guda dan sebuah batu dengan tulisan sandi di Peterongan. Di Kabupaten Malang terdapat tjandi-tjandi Djago, Kidal, Ba{{Illegible}} Songgoriti dan Singosari. Didalam tjandi Singosari terdapat artja Empu Gandring jang termashur membikin keris Empu Gandring. Keris tersbut telah membunuh Radja-Radja Singosari: Ken Arok, Sang Anusapati, Sang Prabu Tohdjaja, Tunggulametung dan Empu Gandring sendiri Di Kabupaten Pasuruan di Desa Gunung Gangsir Kawedanan Ba{{Illegible}} ada tjandi Gunung Gangsir. Tjandi tersebut dibuat dari batu me{{Illegible}} dengan ukuran rata-rata 25 x 30 x 8 cm, luas dan tinggi tj{{Illegible}}<noinclude>{{rh|780||}}</noinclude> mgpz8x1zbsktb5hy7bpmbpjcd36vout Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/473 104 98978 292010 275061 2026-05-11T11:34:25Z Riiiv 22458 292010 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Muhamad Fahrizal Leo Pratama" /></noinclude>Dan dia djuga membajangkan kesatuan tekad dalam melaksanakan suatu tjita-tjita bagi kesedjahteraan Nusa dan Bangsa dalam tingkat pertama. Dia djuga sebagai pembukaan bagi suatu djalan lurus untuk mendjundjung tjita-tjita persatuan jang sudah diperdjuangkan sedjak sekian lama. Tekad bersama jang diambil dalam pertemuan di Padang Pandjang pada tanggal 18 Nopember 1945 itu segera diikuti dengan pembentukan-pembentukan partai politik sebagai diterangkan diatas tadi, meskipun sebelum itu beberapa buah partai di Sumatera Barat sudah terbentuk. Bila perkembangan tjita-tjita partai politik itu dibentangkan satu-persatu, maka suatu tjatatan jang amat pandjang akan menghiasi lembaran sedjarah perkembangan ini, apalagi bila diketahui, bahwa tidak hanja partai-partai politik sadja jang memperlihatkan kegiatan-kegiatan dalam lapangan kemasjarakatan. Kesatuan-kesatuan tekad dan pendirian dari berbagai golongan, golongan tani, buruh, serikat sekerdja dan lain-lain sebagainja merupakan kesibukan-kesibukan jang meminta perhatian besar. Gerakan-gerakan sosial, pemuda, wanita jang tidak berbau politik dan tidak merupakan suatu aliran paham jang tertentu, djuga merupakan suatu kesibukan-kesibukan jang tidak boleh diluputkan dari ingatan begitu sadja, dan semuanja itu harus dibitjarakan dalam lapangannja sendiri-sendiri. Untuk mendalami pandangan sekitar perkembangan-perkembangan organisasi-organisasi perdjuangan di Sumatera Tengah, baiklah buat sementara kita tinggalkan dulu membitjarakan perkembangan partai-partai politik, dan kita alih pembitjaraan kearah: '''Organisasi Massa.''' Jang dimaksud dengan ini ialah, organisasi jang didalam melaksanakan programnja tidak mentjampuri urusan-urusan politik, tapi perdjuangannja diarahkan kepada memperkokoh tegak-teguhnja N.R.I. Dan bila dalam hal ini kita harus membagi-baginja dalam beberapa golongan, maka organisasi massa di Sumatera Tengah meliputi semua golongan masjarakat rakjat. Pandangan pertama kita tudjukan kelapangan organisasi Pemuda, salah satu organisasi jang paling banjak menumpahkan perhatiannja terhadap perdjuangan pada waktu itu, dan seterusnja pada waktu sekarang serta untuk masa jang akan datang. Sebagian besar diantara organisasi-organisasi pemuda ini didjelmakan oleh dan dari partai-partai politik jang ada. Dan bila<noinclude>{{rh|||467}}</noinclude> egfwhme1dyq6azwtskp8qqu95j4btct Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/476 104 99005 291967 275123 2026-05-11T10:40:36Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ nomer halaman di kaki, nomer menggunakan template 291967 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>berdiri sebagai mengimbangi langkah dan gerak jang diajun oleh M.T.K.A.A.M. Tidak pula dapat dipandang sepi peranan jang dimainkan oleh bahagian-bahagian wanita dari partai-partai kiri, seperti P.K.I., Partai Sosialis dan sebagainja. Lapangan jang terbuka untuk kebebasan bergerak mentjapai tjita-tjita semula, oleh Aisjiah tidak dibiarkan berlalu dengan tidak ikut serta mengukir sedjarah baru didalam kebangkitannja didaerah Sumatera Tengah. Sumbangan-sumbangan dan bakti-bakti jang diberikannja disamping jang diundjukkan oleh Muhammadijah selama menghadapi perdjuangan, merupakan persembahan jang tidak dapat dinilai. '''Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia)''', '''Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar)''', '''P.P.I. (Pemuda Puteri Indonesia)''' dan '''Wanita Sedar''' merupakan beberapa organisasi wanita jang djuga mengambil lapangan jang tjukup besar dan mengembangkan sajap jang lebar diberbagai daerah di Sumatera Tengah. Berlainan dengan sedjarah pembentukan organisasi-organisasi lainnja, terbentuknja Perwari merupakan suatu dukungan dari dia sudah ada sebelum organisasi-organisasi wanita jang sudah ada sebelum dia dibangunkan. Dibangunkannja organisasi ini, merupakan dorongan dan kehendak guna mempersatukan tenaga-tenaga jang berserak-serak dan bertjerai-berai pada waktu itu. Selain dari merupakan kebulatan tekad untuk bersatu, Perwari pada mulanja djuga merupakan perlambangan tjita-tjita wanita Indonesia. Di Sumatera Barat dia dilahirkan pada tanggal '''10 Maret 1946''' dalam suatu konperensi para wanita se Minangkabau di Bukittinggi. Salah satu putusan jang diambil dalam konperensi itu, ialah dibangunkan Perwari jang merupakan satuan dari semua organisasi-organisasi wanita dengan tidak memandang bentuk dan tjoraknja. Sebagai langkah pertama, dihari kebangunannja, Perwari sudah mengambil suatu mosi bersama, jaitu dengan djalan mengirim telegram kepada Pemerintah Pusat di Djakarta (P.M. Sutan Sjahrir) jang menerangkan, bahwa Perwari mempunjai kejakinan jang sangat penuh kepada Tuhan Jang Maha Esa bahwa kemerdekaan Indonesia akan merupakan kemerdekaan penuh (100%), dan mendjandjikan akan terus memperdjuangkannja selaras dengan tjita-tjita untuk kebesaran tanah air dan bangsa jang merdeka. Langkah-langkah selandjutnja jang diambil Perwari ini, ialah : 1. Menjatakan kepada Pemerintah, bahwa Perwari menjanggupi menjediakan guru - guru agama jang akan memberikan peladjaran agama disekolah- sekolah Pemerintah. 470<noinclude></noinclude> mq29lymw29nn5ukikcjmnu2b2ynxutj Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/558 104 99011 291336 276213 2026-05-10T17:07:41Z Riiiv 22458 /* Tanpa teks */ 291336 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Riiiv" /></noinclude><noinclude></noinclude> 0sp5uypiuf787s8e1712b10hzyau2xj Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/478 104 99016 291367 275243 2026-05-10T17:41:25Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */ line break 291367 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>kan diri mereka untuk sewaktu-waktu dapat madju ketengah-tengah medan pertempuran dengan mempergunakan alat-alat sendjata jang ada pada masa itu. Mereka djuga berlatih bergerilja, sebagai latihan jang djuga diterima oleh '''Puteri Kesjatrya''', '''Lasjkar Muslimat''' dan '''Sabil Muslimat'''. Nama dari kesatuan-kesatuan puteri pedjuang ini didalam sedjarah barisan rakjat djuga banjak disebut-sebut. Sebelum kita pindah memperkatakan peranan jang pernah dimainkan oleh Barisan Rakjat di Sumatera Tengah, haruslah lebih dahulu tjatatan ini kita hubungkan dengan perkembangan berbagai organisasi dan serikat-serikat sekerdja, karena didalam menegakkan tjita-tjita perdjuangan negara, sumbangan-sumbangan jang pernah diberikannja djuga sangat besar. '''Serikat-Serikat Sekerdja dan Serikat-Serikat Buruh.''' Pertumbuhan Serikat-serikat Sekerdja dan Serikat-serikat Buruh di Sumatera Tengah pada permulaan tahun proklamasi Kemerdekaan Indonesia, djuga berlangsung dengan pesat. Meskipun lapangan-lapangan pekerdjaan dan usaha-usaha dari mereka jang menggabungkan diri dalam suatu organisasi jang setjorak itu tidak terbuka lurus sebagaimana seharusnja, tapi kesadaran berorganisasi lebih terasa. Buruh-buruh kendaraan bermotor jang pada zaman pendjadjahan Belanda bergabung didalam B.I.C. (Bond der Indonesise Chauffeurs) jang pada permulaan proklamasi mendjadi P.S.I. (Persatuan Supir Indonesia) mendjelma mendjadi Serikat Buruh Mobil Indonesia (S.B.I.M.). Achirnja nama itu ditukar dengan '''Serikat Buruh Kendaraan Bermotor (S.B.K.B.)'''. Selaras dengan perkembangan kendaraan -kendaraan bermotor sesudah perang Dunia ke-II, perkembangan-perkembangan S.B.K.B. djuga berdjalan setjara berangsur-angsur tapi tentu. Tjabangtjabangnja kedapatan pada hampir tiap tempat, dimana kendaraan bermotor mendjadi alat penghubung lalu-lintas. Dari itu, maka Serikat Buruh ini mendjadi salah satu organisasi buruh jang berpengaruh. Pun kita tjatat pula adanja '''Serikat Buruh Harian Indonesia (S.B.H.I.)''' jang anggotanja terdiri dari mereka jang sumber penghidupannja bergantung kepada pengambilan upah-upah jang mereka peroleh dari mengangkat barang-barang orang lain, baik pengangkutan jang merupakan pikulan, ataupun jang dibawa-bawa dengan gerobak-gerobak sorong. Dengan tersusunnja organisasi pekerdja-pekerdja harian ini, maka upah dan sewa dapat ditentukan menurut tarif jang tidak merugikan kedua belah pihak, jaitu: pekerdja dan masjarakat.<noinclude>{{rh|472||}}</noinclude> 3ubr0aszli8q4y4vlp2sfz46iqbmalx Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/480 104 99039 291366 275166 2026-05-10T17:40:46Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ teliti lagi, tanda baca, line break 291366 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>Banjak diantara serikat- serikat sekerdja ini jang tidak kita tuliskan namanja diatas. Hal ini bukanlah menjatakan, bahwa mereka menduduki tempat jang kurang penting dalam menjumbangkan tenaga dan fikiran-fikirannja untuk tjita negara. '''Partai-Partai Politik dengan Barisan-Barisan Rakjat.''' Sesuai dengan putusan bersama jang diambil dalam pertemuan antara para pemuka dan pembangun-pembangun Partai Politik se Sumatera Barat pada bulan Nopember 1945 itu, dan sesuai pula dengan suasana jang tengah dan akan dihadapi selandjutnja, perdjuangan dari tiap -tiap Partai Politik pada permulaannja lebih banjak diarahkan kepada mempertahankan kemerdekaan negara dengan setjara langsung. Pada permulaan didirikan dan dibangunkannja partai-partai itu dia tidak akan mendapat sambutan dan lapangan bergerak bila bersamanja tidak dibangunkan pula bahagian pemudanja. Bahagian pemuda dari tiap-tiap partai ialah jang akan merupakan pendukung keluar perdjuangan partai-partai itu sendiri dimasa itu. Berlangsungnja perebutan kekuasaan" dari tangan pembesarpembesar balatentera Djepang pada saat tentera Sekutu akan memulai perlutjutan sendjata ,,saudara tua" ini; mendaratnja serdadu Inggeris dan Gurkha jang bertugas melutjuti sendjatasendjata serdadu-serdadu Dai Nippon diseluruh daerah kepulauan Indonesia; dibontjengkannja serdadu-serdadu Nica dalam pendaratan tentera-tentera Sekutu itu dan berlakunja berbagai matjam terror oleh tentera jang membontjeng ini, membajangkan adanja suatu kemelut jang akan terdjadi. Tindakan-tindakan serdadu dan tentera Sekutu jang sangat merugikan perdjuangan bangsa Indonesia dikota- kota jang mereka duduki, menimbulkan kegontjangan didalam djiwa rakjat. Keruh dan mendungnja suasana didalam negeri disebabkan karena terdjadinja berbagai keributan dan bentrokan antara Barisan Keamanan Rakjat jang bertugas untuk memelihara keamanan dengan tentera Sekutu jang terang-terangan membantu dikembalikannja pendjadjahan Belanda ke Indonesia ini, menjebabkan perdjuangan politik didalam negeri harus dikerahkan kepada pengusiran " tentera pengatjau-pengatjau itu keluar perairan Indonesia. Karena demikian, maka atas inisiatip sendiri, oleh berbagai partai dibangunkanlah Barisan-barisan Rakjat untuk membela dan membersihkan kembali suasana jang sudah keruh itu. Dan sudah tentu tiap-tiap barisan itu menganut paham partaipartai jang membangunkannja, dan anggota-anggotanja terdiri dari pemuda-pemuda jang sebelumnja telah menggabungkan diri mereka<noinclude>{{rh|474}}</noinclude> 3ixqb8kdza46bxevz0maezf3zpd91bd 291385 291366 2026-05-10T23:05:59Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291385 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>Banjak diantara serikat-serikat sekerdja ini jang tidak kita tuliskan namanja diatas. Hal ini bukanlah menjatakan, bahwa mereka menduduki tempat jang kurang penting dalam menjumbangkan tenaga dan fikiran-fikirannja untuk tjita-tjita negara. '''Partai-Partai Politik dengan Barisan-Barisan Rakjat.''' Sesuai dengan putusan bersama jang diambil dalam pertemuan antara para pemuka dan pembangun-pembangun Partai Politik se Sumatera Barat pada bulan Nopember 1945 itu, dan sesuai pula dengan suasana jang tengah dan akan dihadapi selandjutnja, perdjuangan dari tiap-tiap Partai Politik pada permulaannja lebih banjak diarahkan kepada mempertahankan kemerdekaan negara dengan setjara langsung. Pada permulaan didirikan dan dibangunkannja partai-partai itu dia tidak akan mendapat sambutan dan lapangan bergerak bila bersamanja tidak dibangunkan pula bahagian pemudanja. Bahagian pemuda dari tiap-tiap partai ialah jang akan merupakan pendukung keluar perdjuangan partai-partai itu sendiri dimasa itu. Berlangsungnja „perebutan kekuasaan” dari tangan pembesar-pembesar balatentera Djepang pada saat tentera Sekutu akan memulai perlutjutan sendjata „saudara tua” ini; mendaratnja serdadu Inggeris dan Gurkha jang bertugas melutjuti sendjata-sendjata serdadu-serdadu Dai Nippon diseluruh daerah kepulauan Indonesia; dibontjengkannja serdadu-serdadu Nica dalam pendaratan tentera-tentera Sekutu itu dan berlakunja berbagai matjam terror oleh tentera jang membontjeng ini, membajangkan adanja suatu kemelut jang akan terdjadi. Tindakan-tindakan serdadu dan tentera Sekutu jang sangat merugikan perdjuangan bangsa Indonesia dikota-kota jang mereka duduki, menimbulkan kegontjangan didalam djiwa rakjat. Keruh dan mendungnja suasana didalam negeri disebabkan karena terdjadinja berbagai keributan dan bentrokan antara Barisan Keamanan Rakjat jang bertugas untuk memelihara keamanan dengan tentera Sekutu jang terang-terangan membantu dikembalikannja pendjadjahan Belanda ke Indonesia ini, menjebabkan perdjuangan politik didalam negeri harus dikerahkan kepada „pengusiran” tentera pengatjau-pengatjau itu keluar perairan Indonesia. Karena demikian, maka atas inisiatip sendiri, oleh berbagai partai dibangunkanlah Barisan-barisan Rakjat untuk membela dan membersihkan kembali suasana jang sudah keruh itu. Dan sudah tentu tiap-tiap barisan itu menganut paham partaipartai jang membangunkannja, dan anggota-anggotanja terdiri dari pemuda-pemuda jang sebelumnja telah menggabungkan diri mereka<noinclude>{{rh|474}}</noinclude> q0ddsl15cepix590wjvg2jyxmctdxyw Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/481 104 99068 291363 275240 2026-05-10T17:36:07Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ line break 291363 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>mendjadi anggota bahagian pemuda dari tiap-tiap partai tersebut, atau mereka jang menjetudjui tjita-tjita perdjuangan partai itu. Hizbullah tertjatat sebagai barisan rakjat jang pertama jang dibentuk untuk mengembalikan keselamatan umum itu, dan akan memberikan bantuan tenaga jang sebesar-besarnja kepada T.K.R. Pembentukan dan pelantikannja dilangsungkan di Padang Pandjang pada tanggal 25 Nopember 1945 oleh organisasi Muhammadijah Sumatera Tengah. Diakuinja Masjumi sebagai satu satunja Partai Politik Islam oleh Muhammadijah pada tahun berikutnja, menjebabkan barisan Hizbullah ini harus pindah pengasuh kepada Masjumi. Untuk mengimbangi Hizbullah, barisan pemuda Islam bertempur itu, dibangunkan pula Sabil Muslimat, barisan Puteri Islam jang ditugaskan untuk memberikan pertolongan pertama dimedan pertempuran termuka. Kedua barisan tersebut banjak mengukir sedjarah pertempuran jang mengagumkan diberbagai front di Sumatera Tengah sampai kepada pertengahan tahun 1948. Djuga dengan mengambil tempat di Padang Pandjang, P.K.I. melantik dan meresmikan berdirinja Tentera Merah Indonesia, pada tanggal 7 Desember 1945. Dalam pengerahan tenaga-tenaga pedjuang keberbagai medan pertempuran pada tahun-tahun berikutnja, Tentera Merah Indonesia ini djuga banjak mentjatat keperwiraannja. Beriringan dengan itu, P.K.I. Lokal Islami membangun pula barisan rakjatnja jang diberi nama dengan Sjaifullah. Pelantikan barisan ini berlangsung di Bukittinggi dekat pada achir tahun 1945. Pembentukan dan pembangunan barisan-barisan pada tahun berikutnja dimulai oleh Madjelis Islam Tinggi Sumatera Barat jaitu: dengan dibentuknja Barisan Sabillillah di Bukittinggi. Upatjara pelantikan ini mendapat perhatian jang sangat besar dari berbagai kalangan dan lapisan rakjat. Sebagai djuga dengan Hizbullah, Barisan Sabilillah ini pada achirnja mendjadi suatu barisan rakjat dibawah asuhan Masjumi, jaitu: sesudah M.I.T. berfusi dengan Masjumi. Dengan demikian, maka Masjumi mempunjai dua perangkatan barisan mudanja jang keduanja mempunjai tjara kerdja jang berlainan, meskipun mempunjai tugas jang sama. Dalam hal ini, Hizbullah merupakan barisan jang dipersendjatai dan dilatih sebagai latihan jang diterima oleh Tentera Keselamatan Rakjat, sementara Sabilillah. selain dari beberapa pasukan teratur, merupakan barisan rakjat biasa. Keduanja banjak memberikan sjuhadak-sjuhadak" untuk tanah air. Kemudian menjusul Lasjkar Muslimin Indonesia (Lasjmi) jang digerakkan oleh Perti. Pelantikan Lasjmi ini dilangsungkan di<noinclude>{{rh|||475}}</noinclude> 1ip7ht92su38m3yckeao7dyy05g70ay 291387 291363 2026-05-10T23:10:47Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291387 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>mendjadi anggota bahagian pemuda dari tiap-tiap partai tersebut, atau mereka jang menjetudjui tjita-tjita perdjuangan partai itu. Hizbullah tertjatat sebagai barisan rakjat jang pertama jang dibentuk untuk mengembalikan keselamatan umum itu, dan akan memberikan bantuan tenaga jang sebesar-besarnja kepada T.K.R. Pembentukan dan pelantikannja dilangsungkan di Padang Pandjang pada tanggal 25 Nopember 1945 oleh organisasi Muhammadijah Sumatera Tengah. Diakuinja Masjumi sebagai satu-satunja Partai Politik Islam oleh Muhammadijah pada tahun berikutnja, menjebabkan barisan Hizbullah ini harus pindah pengasuh kepada Masjumi. Untuk mengimbangi Hizbullah, barisan pemuda Islam bertempur itu, dibangunkan pula Sabil Muslimat, barisan Puteri Islam jang ditugaskan untuk memberikan pertolongan pertama dimedan pertempuran termuka. Kedua barisan tersebut banjak mengukir sedjarah pertempuran jang mengagumkan diberbagai front di Sumatera Tengah sampai kepada pertengahan tahun 1948. Djuga dengan mengambil tempat di Padang Pandjang, P.K.I. melantik dan meresmikan berdirinja Tentera Merah Indonesia, pada tanggal 7 Desember 1945. Dalam pengerahan tenaga-tenaga pedjuang keberbagai medan pertempuran pada tahun-tahun berikutnja, Tentera Merah Indonesia ini djuga banjak mentjatat keperwiraannja. Beriringan dengan itu, P.K.I. Lokal Islami membangun pula barisan rakjatnja jang diberi nama dengan Sjaifullah. Pelantikan barisan ini berlangsung di Bukittinggi dekat pada achir tahun 1945. Pembentukan dan pembangunan barisan-barisan pada tahun berikutnja dimulai oleh Madjelis Islam Tinggi Sumatera Barat jaitu: dengan dibentuknja Barisan Sabillillah di Bukittinggi. Upatjara pelantikan ini mendapat perhatian jang sangat besar dari berbagai kalangan dan lapisan rakjat. Sebagai djuga dengan Hizbullah, Barisan Sabilillah ini pada achirnja mendjadi suatu barisan rakjat dibawah asuhan Masjumi, jaitu: sesudah M.I.T. berfusi dengan Masjumi. Dengan demikian, maka Masjumi mempunjai dua perangkatan barisan mudanja jang keduanja mempunjai tjara kerdja jang berlainan, meskipun mempunjai tugas jang sama. Dalam hal ini, Hizbullah merupakan barisan jang dipersendjatai dan dilatih sebagai latihan jang diterima oleh Tentera Keselamatan Rakjat, sementara Sabilillah. selain dari beberapa pasukan teratur, merupakan barisan rakjat biasa. Keduanja banjak memberikan „sjuhadak-sjuhadak” untuk tanah air. Kemudian menjusul Lasjkar Muslimin Indonesia (Lasjmi) jang digerakkan oleh Perti. Pelantikan Lasjmi ini dilangsungkan di<noinclude>{{rh|||475}}</noinclude> 2tz0xnri0qgpcaya20ytq0e9nr9dhqe Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/397 104 99071 291068 275238 2026-05-10T14:00:55Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291068 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Dewan Perwakilan Rakjat jang baru terpilih, Partai-partai, Tentara, Pamongpradja, Polisi, Alim Ulama dan Ninik mamak, sehingga sidang merupakan satu Konperensi Rakjat Sumatera Barat. Adapun sebabnja sidang ini diadakan ialah karena tidak ada alasan lagi untuk meneruskan Dewan Perwakilan Rakjat Daerah Sumatera Barat, setelah keluarnja Undang-undang No. 10 tahun 1948 tanggal 29 Mei '48 tentangan pembagian Sumatera mendjadi 3 Propinsi, dan diiringi dengan Undang-undang No. 22 tahun 1948, tentang Pemerintahan Daerah Autonom, dimana dinjatakan dalam fasal 1 bab 1-nja bahwa: Daerah N.R.I. tersusun dalam 3 tingkatan ialah Propinsi, Kabupaten, (Kota Besar) dan Desa ( Kota Ketjil ). Dalam Undang-undang No. 22 itu dalam fasal 46 ( Aturan Peralihan ) ada ditegaskan bahwa daerah-daerah jang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganja sendiri, jang telah berdiri menurut Undang-undang No. 1 tertanggal 23 Nopember 1945 ( Pembentukan K.N.I. Keresidenan, Red.) dan lain-lain penetapan Pemerintah berdjalan terus, sehingga diadakan pembentukan Pemerintahan baru untuk daerah-daerah itu menurut Undang-undang ini atau dihapuskan atau diubah. Tetapi karena persediaan-persediaan telah ada untuk membentuk dengan selekasnja pemerintahan. jang baru menurut rentjana Panitia Desentralisasi Sumatera Barat jang kemudian diluaskan mendjadi P.D. Sumatera Tengah, maka dirasa tidak perlu lagi diteruskannja K.N.I. dan Dewan Perwakilan Rakjat Sumatera Barat. Djuga tak perlu rasanja lagi mengadakan satu sidang Pleno jang semata-mata untuk pembubaran K.N.I. dan D.P.R. baru. Maka untuk menghemat waktu dan tenaga, dianggaplah Konperensi Rakjat Sumatera Barat bulan Nopember 1948 ini, sebagai pemberitahuan Subarnja K.N.I. Sumatera Barat dan Dewan Perwakilan Rakjat Sumatera Barat jang baru terpilih itu. Demikianlah perdjalanan K.N.I. Sumatra Barat selama 3 tahun ia memikul tugasnja dalam pelaksanaan Revolusi Indonesia, sebagai lambang demokrasi dalam masa pergolakan politik dan militer jang sesengit-sengitnja. Dan iapun bubarlah diambang pintu agressi kedua. {{rule|width=4em}}<noinclude>{{rh|||391}}</noinclude> 677f0trywtqgok0oimxh8x73ylgngqe Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/482 104 99079 291362 275271 2026-05-10T17:35:37Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ tanda petik, tanda baca 291362 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>Bukittinggi pada bulan Maret 1946 dalam suatu upatjara besar ditanah lapang Atas Ngarai jang dihadiri oleh Menteri Penerangan Natsir dari kabinet Sjahrir. Hari pelantikan barisan ini merupakan salah satu upatjara keramaian jang besar pula. Sumbangan tenaga dan djiwa jang diberikan oleh Lasjmi diberbagai medan pertempuran djuga tidak ternilai. Lasjkar Muslimat merupakan barisan puteri-puteri Islam jang dibangunkan oleh Perti bahagian wanita, jang didalam tugas dan kewadjibannja banjak memberikan pertolongan jang langsung dibeberapa medan pertempuran di Sumatera Barat, disamping Lasjmi . Achirnja menjusul pula pembentukan Tentera Allah, barisan rakjat jang dibangunkan oleh Partai Politik Tharikat Islam, jang dilantik di Bukittinggi dalam tahun 1946 djuga. ''Barisan Djanggut'' jang terdiri dari barisan istimewa jang dikenal selama menghadapi serangan tentera Belanda ke I dalam tahun 1947. Mereka mempersendjatai diri tidak hanja dengan alat-alat perang jang sudah lama harus dimasukkan kedalam gedung -artja, tapi lebih banjak jang memakai sendjata jang dalam mempergunakannja hanja diperlukan kebulatan iktikad (tekad) sambil mengutjapkan beberapa baris doa (mentera) berupa djampi. Lebah dan tawon dan machluk menjengat jang tidak membinasakan djiwa karena bisanja, djuga merupakan sendjata- sendjata jang mereka angkut didalam karung-karung jang istimewa untuk itu kemedan-medan pertempuran. Djuga tidak urung tjampuran tjabe-rawit dipipis dengan abu didapur jang mereka pergunakan untuk mengalahkan musuh mereka. Mengenai taktik jang mereka pakaikan didalam berbagai pertempuran, orang akan banjak mendengar ,, tjerita-tjerita jang lutju " tapi banjak pula jang meneteskan air mata. Tapi walaupun betapa djuga, mereka jang sudah landjut usianja itu, merupakan suatu lambang kebulatan tekad seluruh rakjat di Sumatera Tengah dalam mempertahankan tanah air kita dari pendjadjahan. Usaha M.T.K.A.A.M. merupakan suatu barisan „ kaum adat ” jang diberi nama dengan Barisan Hulubalang . Sendjata- sendjata jang sekian lama hanja dapat didengar namanja karena sangat djarang keluar dari simpanannja, sekarang mendjadi alat-alat jang dipergunakan oleh barisan ini disamping sendjata-sendjata jang biasa dipergunakan oleh barisan-barisan lain. „ Uniform" hitam seluruhnja, keris dan ,, kerambit" jang tersisip dipinggang, pedang dan kelewang bahari , arit dan tombak serta ,, sikati-muno " merupakan pandangan-pandangan jang ,,mengagumkan" dan mengesankan kepahlawanan dari anggota-anggota barisan itu. Zaman perkembangan bagi barisan -barisan rakjat di Sumatera Tengah selama menghadapi agressi tentera Nica jang pertama,<noinclude>{{rh|476}}</noinclude> dn4s71eb4nlkm7b0qqywmi9csxe63l4 291389 291362 2026-05-10T23:17:24Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291389 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>Bukittinggi pada bulan Maret 1946 dalam suatu upatjara besar ditanah lapang Atas Ngarai jang dihadiri oleh Menteri Penerangan Natsir dari kabinet Sjahrir. Hari pelantikan barisan ini merupakan salah satu upatjara keramaian jang besar pula. Sumbangan tenaga dan djiwa jang diberikan oleh Lasjmi diberbagai medan pertempuran djuga tidak ternilai. Lasjkar Muslimat merupakan barisan puteri-puteri Islam jang dibangunkan oleh Perti bahagian wanita, jang didalam tugas dan kewadjibannja banjak memberikan pertolongan jang langsung dibeberapa medan pertempuran di Sumatera Barat, disamping Lasjmi. Achirnja menjusul pula pembentukan Tentera Allah, barisan rakjat jang dibangunkan oleh Partai Politik Tharikat Islam, jang dilantik di Bukittinggi dalam tahun 1946 djuga. ''Barisan Djanggut'' jang terdiri dari barisan istimewa jang dikenal selama menghadapi serangan tentera Belanda ke I dalam tahun 1947. Mereka mempersendjatai diri tidak hanja dengan alat-alat perang jang sudah lama harus dimasukkan kedalam gedung-artja, tapi lebih banjak jang memakai sendjata jang dalam mempergunakannja hanja diperlukan kebulatan iktikad (tekad) sambil mengutjapkan beberapa baris doa (mentera) berupa djampi. Lebah dan tawon dan machluk menjengat jang tidak membinasakan djiwa karena bisanja, djuga merupakan sendjata-sendjata jang mereka angkut didalam karung-karung jang istimewa untuk itu kemedan-medan pertempuran. Djuga tidak urung tjampuran tjabe-rawit dipipis dengan abu didapur jang mereka pergunakan untuk mengalahkan musuh mereka. Mengenai taktik jang mereka pakaikan didalam berbagai pertempuran, orang akan banjak mendengar „tjerita-tjerita jang lutju” tapi banjak pula jang meneteskan air mata. Tapi walaupun betapa djuga, mereka jang sudah landjut usianja itu, merupakan suatu lambang kebulatan tekad seluruh rakjat di Sumatera Tengah dalam mempertahankan tanah air kita dari pendjadjahan. Usaha M.T.K.A.A.M. merupakan suatu barisan „kaum adat” jang diberi nama dengan Barisan Hulubalang. Sendjata- sendjata jang sekian lama hanja dapat didengar namanja karena sangat djarang keluar dari simpanannja, sekarang mendjadi alat-alat jang dipergunakan oleh barisan ini disamping sendjata-sendjata jang biasa dipergunakan oleh barisan-barisan lain. „Uniform” hitam seluruhnja, keris dan „kerambit” jang tersisip dipinggang, pedang dan kelewang bahari, arit dan tombak serta „sikati-muno” merupakan pandangan-pandangan jang „mengagumkan” dan mengesankan kepahlawanan dari anggota-anggota barisan itu. Zaman perkembangan bagi barisan-barisan rakjat di Sumatera Tengah selama menghadapi agressi tentera Nica jang pertama,<noinclude>{{rh|476}}</noinclude> 2s8kt2x2vi0clgs8pkjrseqfrdvqpt9 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/1106 104 99082 291805 275283 2026-05-11T06:55:28Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291805 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>mulai beladjar, sehingga 4 orang pada tahun 1951 telah dipermandikan oleh pendeta M. Siregar jang datang dari Palembang. Sekarang anggota geredja Advent di Sumatera Tengah ini berdjumlah 90 orang. {{c|TJATATAN GEREDJA DAN PENGANUT KRISTEN PROTESTANT DISELURUH SUM. TENGAH.}} {| class="wikitable" |- | No. | Tempat | Geredja | Pendeta | Penganut | Djumlah | Keterangan |- | 1. | Pulau-pulau Pagai (Mentawai) | 48 | 4 | 6.500 | | rowspan=4|Seluruh Geredja Seluruh Geredja di S. Tengah dikemudikan oleh Pendeta Distrik jang bertempat di Pakan Baru. |- | 2. | Keresidenan S. Barat jang lama. | 9 | 1 | 2.500 | |- | 3. | Keresidenan Riau jg. lama. | 9 | 2 | 3.500 | |- | 4. | Keresidenan Djambi jang lama. | 2 | - | 350 | 12.850 |}<noinclude>{{rh|1198}}</noinclude> o8hy6ax9hfht27nisljkx0se92zk7xy Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/250 104 99083 291108 275281 2026-05-10T14:14:18Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291108 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Di Kabupaten Bengkalis terdapat sebuah swapradja jaitu: Siak Sri-Indrapura jang kemudian mendjadi Ketjamatan Siak. Dan didaerah Kabupaten Inderagiri terdapat pula dua buah daerah Swapradja jaitu: {{ol|list_style_type=decimal |Svapradja Inderagiri, masuk Ketjamatan Rengat dan Ketjamatan Siberida. |Swapradja Singingi masuk Wilajah Singingi.}} Kedudukan Kepala-kepala Swapradja itu dizaman Djepang dan permulaan agressi adalah sbb.: {{ol|list_style_type=decimal |Siak non actief dizaman Djepang, dan permulaan proklamasi mengirimkan kawat setia kepada Presiden Republik Indonesia menjatakan berdiri teguh dibelakang Presiden dan setia kepada Negara Republik Indonesia. |Tembusai mendjadi Ku Tyo ditempat kedudukannja dan setingkat dengan Kepala Daerah Ketjamatan (Tjamat). |Rambah berhenti. |Kunto, dibekukan oleh Djepang karena tak mau kerdja sama. |Rokan, dipendjarakan oleh Djepang dan meninggal dunia dalam tahanan |Kepenuhan ditahan Djepang dan meninggal dalam tahanan. |Inderagiri non actief. |Singingi mendjadi Ku Tyo. |Gunung Sailan (Kampar Kir ), mendjadi Ku Tyo dan permulaan proklamasi mengirim kawat kepada Presiden seperti Siak.}} {{asterism}}<noinclude>{{rh|244}}</noinclude> so1mo5ips2pl7kveo5lil7d0nkv76us Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/95 104 99088 291088 281214 2026-05-10T14:11:06Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291088 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>dengan keheranan oleh Djepang dan pada beberapa tempat dihalanginja, karena kekuasaan pemerintahan masih ditangan Djepang. '''Rapat pengoperan September 1945.''' <br> {{gap}}Maka para pemuda tersebut jang berapat di Padang pada pertengahan September dengan dihadiri djuga oleh pemimpin-pemimpin K.N.I. Sumatera Barat, diantaranja M. Sjafe'i , Dr. Djamil dan Rasuna Said, diadakan perundingan untuk mengover pemerintahan bertempat dibekas rumah Mr. Egon Djalan Belantung Ketjil. Dalam perundingan tersebut diadjukan Saudara M. Sjafe'i untuk mendjadi residen Kepala Daerah Sumatera Barat. {{gap}}Sesudahnja rapat, maka putusan ini dirembukkan penglaksanaannja dengan Syu Tyokan, karena hubungan dipihak pemimpin dengan pembesar Djepang masih ada . {{gap}}Tetapi hal ini ditolak oleh Djepang dan Saudara M. Sjafe'i hanja diakuinja sebagai pembantu Tyokan sadja. {{gap}}Kemudian dalam rapat pleno K.N.I. Sumatera Barat pada tanggal 1 Oktober tahun 1945 dipilihlah Saudara M. Sjafe'i untuk memangku djabatan residen/Kepala Daerah Sumatera Barat, jang ditetapkan kemudian oleh Gubernur Sumatera sementara menanti pengesahan dari Pemerintah Pusat. '''M. Sjafe'i Residen ke- I, 1 Oktober 1945.''' <br> {{gap}}Dengan sokongan dari pemuda dan bantuan jang penuh daripara pegawai Indonesia dalam segala tjabang djawatan pemerintahan, maka penjusunan Pemerintah dapatlah didjalankan denganlantjar. Jang terlebih dahulu disusun ialah Kantor Keresidenan dengan djawatannja sekalian , begitu djuga kepala- kepala Kabupaten jang pada masa itu dinamai Kepala Luhak, jang selama zaman Djepang dan Belanda belum pernah dipegang oleh bangsa Indonesia. Empat tindakan jang bersedjarah ini dilaksanakan dengan beslit tanggal 8 Oktober 1945 nomor R.I.-I jang kita terakan dibawah ini dengan selengkapnja: {{hii}} No. R.I./I Petikan dari Daftar beslit-beslit Kepala<br> Pemerintah Republik Indonesia Daerah Sumatera Barat.{{div end}} {{Right|Padang, pada 8 Oktober 1945.}} <br> {{C|RESIDEN SUMATERA BARAT:}} <br> {{gap}}Menimbang,bahwa perlu menetapkan Kepala- kepala Pedjabatdan Kepala Luhak jang akan bertanggung -djawab menjelenggarakan pekerdjaan-pekerdjaan dalam pedjabat dan daerah masingmasing. <br> {{gap}}Menimbang lagi bahwa perlu menentukan Kepala-kepala Pemerintahan didaerah.<noinclude>{{rh|||89}}</noinclude> fszjqqqpwo3nbcyo9h8ab17zomitv98 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/964 104 99124 291320 286164 2026-05-10T16:57:11Z Riiiv 22458 291320 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>pemain Ludruk Besutan jang pandai melawak dan pandai menambah tari-tariannja dengan beraneka fantasi baru jang sangat mengagumkan penontonnja. Disamping itu, djuga ada pemain Ludruk Besutan jang namanja terkenal, tetapi tidak ada tanda-tanda kepandaiannja jang luar biasa. Jaitu antara lain Tjak Daoek alias Hadji Doelatib (almarhum), Tjak Koesèn (almarhum) dan kini jang masih hidup Pak Doel, Satari, Kasijan dan masih banjak lagi. '''Ludruk mendjadi sandiwara.''' Pada tahun 1931 djustru bersamaan dengan usaha berdirinja Gedung Nasional Indonesia di Bubutan Surabaja, diwaktu ada pasar-malam Nasional jang diadakan dihalaman Gedung Nasional Indonesia diantara tontonan jang ikut meramaikan pasar-malam tersebut terdapat djuga tontonan Ludruk Besutan jang dipimpin oleh almarhum Tjak Gondo Doerasim, mengadakan perubahan jang pertama kali. Kakang Besut jang tadinja memakai kopiah merah (kopiah Turki tidak memakai kuntjir), berkain putih dan memakai ikat pinggang dari lawe, tidak berbadju, dirubahnja memakai badju rompi. Perubahan jang seketjil itu, seakan-akan membawa suatu kemadjuan kesenian Ludruk Besutan melangkah mendekati kesopanan. Kakang Besut jang tadinja tidak berbadju itu, setelah memakai badju rompi, dipandang oleh mata penontonnja tampaklah tata kesopanan selaras dengan keadaan djaman masa itu (hal pemain diatas panggung jang tidak berbadju itu, tidak boleh disamakan dengan pemain Wajang Orang, atau tontonan jang sematjam itu, karena memang diharuskan tidak berbadju). Lain dari pada itu, Marsaid almarhum dan mendiang Pamoedji Residen Surabaja, pada waktu itu memberi nasehat kepada almarhum Tjak Gondo, supaja merubah sama sekali sifat Ludruk Besutan. Disamping itu, perubahan tersebut terdorong pula oleh keadaan jang mendesak, berhubung dengan terdjadinja suatu peristiwa, ialah pada waktu rombongan Tjak Doerasim main di Sidoardjo mendapat saingan dari rombongan dari Tjak Malang, sehingga rombongan dari Tjak Doerasim kurang mendapat perhatian dari penontonnja. Mulai pada saat itulah, Ludruk Besutan jang dipimpin oleh Tjak Doerasim almarhum, mengadakan perubahan besar-besaran. Tidak sadja merubah sifat Ludruk Besutan mendjadi sifat Sandiwara, djuga tjeritera-tjeritera jang dimainkan pun mengalami perubahan. Lakon-lakon jang dimainkan tidak lagi mengambil tjeritera jang bersifat Novelle, melainkan mengambil lakon-lakon jang bersifat tjeritera „roman” atau „drama”, antara lain mengambil dari buku-buku tjeritera roman. Selandjutnja „evolusi” dikalangan Ludruk Besutan, ternjata tidak sampai bulanan lamanja mengalami perubahan seluruhnja, sehingga kesenian Ludruk Besutan tidak lagi dapat tempat untuk dipertundjukkan kepada umum, achirnja Ludruk Besutan enjahlah sama sekali dari perhatian chalajak ramai.<noinclude>{{rh|852}}</noinclude> 8nauj6em7a8n62agljbk70ddd95tj7w Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/547 104 99135 291343 277675 2026-05-10T17:11:36Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */ tanda petik 291343 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>''',,Hei Ho"''' ini tak berapa berbeda dengan Romusha, dan hanja menguntungkan Djepang sadja. Sebab itu para pemimpin mengandjurkan kepada Djepang supaja diadakan tentera rakjat jang langsung dipimpin, dilambuk dan disusun oleh rakjat sendiri. Usul ini mendapat sambutan baik dari Pemerintah Militer Djepang. Sebagai pelatih tentera rakjat ini adalah opsir-opsir Djepang sendiri. Demikianlah pada waktu telah dekat awal tahun 1943, tentara rakjat ini dibentuk dengan diberi nama Gyu Gun, atau Lasjkar Rakjat. Selain itu tak kurang pula pentingnja, latihan-latihan ketenteraan jang diperoleh oleh pemuda-pemuda jang mengikuti sekolah administrasi dan pamongpradja di B. Sangkar, dan latihan pemuda dalam organisasi Sei Nen Dan dan Bo Go Dan. '''Lalu Pendjahit Lalu Kelindan.''' Maka dimulailah latihan para opsir dan tentera Gyu Gun. Disetiap kewedanaan diseluruh daerah S. Barat berdirilah Badan Pengurus Gyu Gun, Lasjkar Rakjat. Disetiap Kabupaten dan kota didirikan tempat-tempat latihan Gyu Gun. Kantor untuk menjelenggarakan dan memupuk Gyu Gun '''(Lasjkar Rakjat)''' ini diberi nama Gyu Gun Ko En Kai, jang setelah berdirinja Hoko Kai S. Barat, mendjadi sebagian dari Hoko Kai ini dengan nama Gyu Gun Ko En Bu. Pusat Badan ini di Padang dibawah pimpinan alm. Chatib Suleiman. Sajap kiri dari Gyu Gun Ko En Bu ini diberi nama Ha Ha No Kai. '''(Perkumpulan Wanita)''' Dalam Gyu Gun Ko En Bu dan Ha Ha No Kai inilah berhimpun sebagian besar pemimpin-pemimpin rakjat di Sumatera Tengah pada waktu itu. Diseluruh daerah diadakan penerangan pembentukan Lasjkar Rakjat ini, dengan menondjolkan kemuka tjita-tjita bangsa kita selama ini, jaitu suatu ketenteraan untuk menudju kemerdekaan Nusa dan Bangsa dari tindakan bangsa Barat. Pun didaerah keresidenan, Riau dan Djambi, latihan ketenteraan dalam Gyu Gun ini, djuga dihebatkan. Ada kira-kira 44.000 pemuda-pemuda dari seluruh pelosok Sum. Tengah mendaftarkan namanja untuk ikut latihan Gyu Gun. Antara tahun 1943 sampai tahun 1945 inilah masa dan kesempatan jang dipakai oleh pemimpin-pemimpin Sumatera Tengah dengan sebaik-baiknja untuk melatih pemuda-pemuda kita sehebat mungkin dalam pengetahuan dan ketjakapan ketenteraan. Latihan-latihan technis ketenteraan diberikan oleh opsir-opsir Djepang, sedang latihan semangat ketenteraan untuk perdjuangan nasional,<noinclude>{{rh|||541}}</noinclude> m63qyc40fqrgdnsj6oghxldqngtc8x1 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/548 104 99146 291342 277678 2026-05-10T17:10:59Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */ tanda petik 291342 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>oleh para pemimpin kita dengan kedok anti Barat dan membantu usaha perang Djepang. Berhubung dengan adanja pembatasan penerimaan anggota Lasjkar Rakjat ini, maka supaja latihan '''ketentaraan ini''' DAPAT merata diterima oleh seluruh pemuda, pemimpin-pemimpin kitapun mengandjurkan didirikannja badan-badan lain, dimana pemuda-pemuda kita jang tidak masuk Lasjkar Rakjat itu beroleh kesempatan pula berlatih menurut disiplin ketenteraan. Demikianlah berdiri '''Zi Kei Dan''' dan '''Bo Go Dan''' dikampung-kampung dan dikota-kota, jang bertugas mendjaga keamanan dikampung masing-masing. Sebagian barisan belakang dari Gyu Gun, diadakan pula gerakan pemuda angkatan baru, bernama Sei Nen Dan. Semua pengikut organisasi-organisasi mendapat latihan ketenteraan jang pada umumnja diberikan oleh opsir-opsir Lasjkar Rakjat kita sendiri, dan disamping itu sebagai sesuatu jang diutamakan, diberikan latihan rohani bersemangat nasional, dipimpin oleh pemukapemuka bangsa kita. Pusat latihan Sei Nen Dan ini ialah di Pelabuhan dilapangan perguruan I.N.S. Kaju Tanam. Oleh sebab itu, seluruh kaum bapak dan kaum ibu, demikianpun pemuda dan pemudi, pada masa achir pendudukan Djepang itu sudah bersemangat ,,bertempur" jang djiwanja tidak lepas dari sifat Nasional, untuk kebahagiaan Nusa dan Bangsa Indonesia dikemudian hari. Tak dapat disangkal lagi, bahwa Gyu Gun atau Lasjkar Rakjat dengan segala organisasi-organisasi jang ada disampingnja itulah jang mendjadi inti dari ,,pemuda-pemuda 17 Agustus 1945". Demikianlah persiapan latihan ketenteraan didalam masa pendudukan Djepang. Bertepatan dengan tanggal menjerah kekuasaan tentera Djepang tanggal 14 Agustus 1945 di Teluk Tokio, maka selesailah pula Djepang melutjuti segala sendjata Gyu Gun dan mereka dilepas kembali dengan begitu sadja kedalam masjarakat. '''Modal Hanja Semangat Bekerdja.''' Tanggal 17 Agustus 1945 diterimalah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan perantaraan pegawai-pegawai P.T.T. dan Domei. Dimana sadja ada station radiotelegrafie dari P.T.T. seperti di Padang, Bukittinggi, Pakanbaru, Tembilahan dan Selat Pandjang, dapatlah ditangkap siaran proklamasi itu. Berita Proklamasi ini diterima dengan perasaan penuh harapan, tetapi dalam suasana jang diliputi kebingungan. Pemerintah Militer Djepang kelihatannja masih berkuasa penuh, lengkap dengan alat sendjatanja. Sedangkan pemuda kita terutama golongan Gyu Gun, satu-satunja golongan jang diharapkan untuk mempertahankan proklamasi itu tidak bersendjata lagi sama<noinclude>{{rh|542||}}</noinclude> rsajeb34ol5x8xyfmrgzrghssigrl9v Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/496 104 99157 291351 276037 2026-05-10T17:26:57Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ gunakan template ol untuk nomer 291351 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>1. Dasar perdjuangan jang dilakukan sekarang, adalah perdjuangan kebangsaan jang sebulat-bulatnja. Dia harus merupakan perdjuangan rakjat semesta. Dalam melantjarkan perdjuangan rakjat semesta ini, haruslah disendikan kepada tenaga rakjat semesta pula, dengan tidak ada rasa retaknja baik sedikitpun djuga. Tenaga dan perdjuangan rakjat semesta itu harus terudjud lahir dan bathin. Untuk mentjapai ini, haruslah dapat diudjudkan persatuan rakjat jang kokoh, persatuan berfikir dan bertindak. Sjarat jang utama melaksanakan ini, adalah menjingkirkan segala sesuatu jang mungkin menimbulkan retak dalam masjarakat, walaupun retak dalam tjara berfikir, untuk melaksanakan tiap-tiap sesuatu kewadjiban jang harus dipikul oleh tiap -tiap diri ataupun golongan. 2. Dalam menghadapi dan mewudjudkan peperangan semesta ini haruslah diinsjafi benar-benar, bahwa kita kembali menghadapi suatu musuh jang kembali mentjengkamkan kuku pendjadjahannja dan memusnahkan sendi-sendi bangsa dan negara kita. Dalam perdjuangan menentang pendjadjahan, maka tudjuan satu-satunja jang harus ditjapai oleh seluruh masjarakat adalah mematahkan segala usaha musuh. Sendjata jang paling tadjam untuk ini, adalah hanja sendjata persatuan jang bulat. Kemadjuan dan kemenangan ideologie hanja dapat berkembang dalam negara jang merdeka. Oleh karena itu setiap pertentangan politik dalam masjarakat harus dapat dihindarkan, karena pertentangan paham itu mungkin dapat membawa ketegangan tjara berpikir dan tjara mewudjudkan perdjuangan kebangsaan kita. Kita sekarang hania menghadapi dan mempunjai satu kepentingan, jaitu: KEPENTINGAN NEGARA. 3. Dalam gerakannja jang sekarang ini, Belanda memakai usaha memetjah-metjah masjarakat. Tiap-tiap ketegangan dalam masjarakat, bagi Belanda adalah suatu kemenangan dan keuntungan. Kerenggangan itu dipergunakannja, ditiup-tiup dan dibesar-besarkan, sehingga kita tidak dapat mewudjudkan tenaga rakjat semesta tadi. Musuh selalu berusaha dalam propagandanja untuk memetjahkan persatuan kita. Pertentangan golongan dihidupkannja. Kaki tangannja menjebarkan ratjun-ratjun permusuhan dikalangan pemerintahan, angkatan perang, rakjat berdjuang dan pemimpin-pemimpin, sehingga satu dengan jang lain diadu-dombakan, tjuriga-mentjurigai, sehingga kita sama kita berlaga. 4. Dalam rapat pemimpin-pemimpin partai politik se-Sumatera Barat tanggal 23-3-49 jang lalu, hal-hal ini diinsjafi benar. Dari beberapa kedjadian seakan-akan tampak ratjun permusuhan dan pertentangan ini mulai masuk masjarakat kita.<noinclude>{{rh|490}}</noinclude> i2azss3125nk615rwnc5qh4wly55xi0 291422 291351 2026-05-11T00:34:22Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291422 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>„{{ol|list_style_type=decimal|Dasar perdjuangan jang dilakukan sekarang, adalah perdjuangan kebangsaan jang sebulat-bulatnja. Dia harus merupakan perdjuangan rakjat semesta. Dalam melantjarkan perdjuangan rakjat semesta ini, haruslah disendikan kepada tenaga rakjat semesta pula, dengan tidak ada rasa retaknja baik sedikitpun djuga. Tenaga dan perdjuangan rakjat semesta itu harus terudjud lahir dan bathin. Untuk mentjapai ini, haruslah dapat diudjudkan persatuan rakjat jang kokoh, persatuan berfikir dan bertindak. Sjarat jang utama melaksanakan ini, adalah menjingkirkan segala sesuatu jang mungkin menimbulkan retak dalam masjarakat, walaupun retak dalam tjara berfikir, untuk melaksanakan tiap-tiap sesuatu kewadjiban jang harus dipikul oleh tiap-tiap diri ataupun golongan. |Dalam menghadapi dan mewudjudkan peperangan semesta ini haruslah diinsjafi benar-benar, bahwa kita kembali menghadapi suatu musuh jang kembali mentjengkamkan kuku pendjadjahannja dan memusnahkan sendi-sendi bangsa dan negara kita.<br>Dalam perdjuangan menentang pendjadjahan, maka tudjuan satu-satunja jang harus ditjapai oleh seluruh masjarakat adalah mematahkan segala usaha musuh. Sendjata jang paling tadjam untuk ini, adalah hanja sendjata persatuan jang bulat. Kemadjuan dan kemenangan ideologie hanja dapat berkembang dalam negara jang merdeka. Oleh karena itu setiap pertentangan politik dalam masjarakat harus dapat dihindarkan, karena pertentangan paham itu mungkin dapat membawa ketegangan tjara berpikir dan tjara mewudjudkan perdjuangan kebangsaan kita. Kita sekarang hania menghadapi dan mempunjai satu kepentingan, jaitu: KEPENTINGAN NEGARA. |Dalam gerakannja jang sekarang ini, Belanda memakai usaha memetjah-metjah masjarakat. Tiap-tiap ketegangan dalam masjarakat, bagi Belanda adalah suatu kemenangan dan keuntungan. Kerenggangan itu dipergunakannja, ditiup-tiup dan dibesar-besarkan, sehingga kita tidak dapat mewudjudkan tenaga rakjat semesta tadi. Musuh selalu berusaha dalam propagandanja untuk memetjahkan persatuan kita. Pertentangan golongan dihidupkannja. Kaki tangannja menjebarkan ratjun-ratjun permusuhan dikalangan pemerintahan, angkatan perang, rakjat berdjuang dan pemimpin-pemimpin, sehingga satu dengan jang lain diadu-dombakan, tjuriga-mentjurigai, sehingga kita sama kita berlaga. |Dalam rapat pemimpin-pemimpin partai politik se-Sumatera Barat tanggal 23-3-49 jang lalu, hal-hal ini diinsjafi benar. Dari beberapa kedjadian seakan-akan tampak ratjun permusuhan dan pertentangan ini mulai masuk masjarakat kita.}}<noinclude>{{rh|490}}</noinclude> iybx6cpo90c1kslo52djku5o6m2005p Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/1047 104 99163 291303 286335 2026-05-10T16:35:58Z Riiiv 22458 /* Telah diuji baca */ line break 291303 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Riiiv" /></noinclude>{| style="background:transparent; line-height:1.5em;" | Kompi || Asinga. |- | style="text-align:center;" | „ || Tunis. |- | style="text-align:center;" | „ || Muller. |- | style="text-align:center;" | „ || Obelafoe. |} Dari Kesatuan tersebut, maka Komando Brigade XVIII, Bataljon Magenda, Bataljon Moedjajin, Bataljon Abdullah, Bataljon Wachman jang kemudian Komandannja diganti oleh Kapten Soekartijo dan ke-empat Kompi tadi dipindahkan untuk tetap di Indonesia-Timur. Setelah Pemerintah Militer dihapuskan dan pendjagaan keamanan diserahkan kepada Kepolisian dalam bulan September 1950 maka Divisi I mulai mengalihkan perhatiannja pada soal pendidikan. Akan tetapi tidak lama kemudian timbullah kembali gangguan-gangguan terhadap keamanan jang dilakukan oleh gerombolan-gerombolan bersendjata. Pada saat itu dalam bulan Nopember 1950 keluarlah maklumat dari Menteri Pertahanan dan Koordinator Keamanan jang memberi kesempatan kepada tenaga pedjuang diluar Angkatan Perang untuk melapurkan diri dan siapa jang mau, dapat dimasukkan mendjadi Anggauta Angkatan Perang. Di Djawa-Timur ada tenaga sedjumlah lebih kurang 800 orang jang melapurkan diri langsung pada Tentara dan menjatakan ingin mendjadi Anggauta Tentara. Tenaga ini sekarang dihimpun mendjadi suatu Bataljon dan telah menerima status Tentara. Setelah waktu untuk melapurkan diri habis, maka Divisi bertindak keras terhadap gerombolan bersendjata diluar, jang senantiasa mengganggu keamanan dengan operasi jang diberi nama „operasi merdeka”. Pada tahun 1951 keadaan keamanan di Djawa-Timur sudah boleh dikatakan memuaskan dan hari ulang tahun ke-3 Divisi I dapat dirajakan dalam suasana tenteram dan gembira, merata diseluruh Territorium V. Berkenaan dengan hari ulang tahun ketiga ini, sebagai lambang persatuan, Pemerintah berkehendak memberi nama kepada Divisi I, ialah „Brawidjaja” suatu nama jang tepat bagi kesatuan jang dilahirkan di Djawa-Timur. '''{{larger|Pandji Divisi Brawidjaja.}}''' Warna-warna jang dipergunakan pada pandji, disandarkan pada 5 matjam warna jang boleh disebut „Warna-Warna Dasar Indonesia” (de vijf Indonesische grondkleuren) jaitu: putih-kuning-hidjau-merah dan hitam. Bukan maksud untuk statisch memegang teguh warna-warna itu sadja, tetapi djustru sebaliknja, dengan dasar warna-warna Indonesia aseli itu kita menudju ke-alam modern. '''Dasar kuning.''' Warna kuning mengandung arti „Keluhuran” jang biasanja dipakai oleh orang-orang jang tinggi deradjatnja dan patut dihormati oleh orang-orang lain. Demikian pula pandji sebagai lambang Kesatuan jang<noinclude>{{rh|||935}}</noinclude> cm5masnvj21kzwb4pmx8ansczv5spki Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/247 104 99216 291109 275602 2026-05-10T14:14:28Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291109 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Penjerangan ini kemudiannja disusul dengan pembunuhan-pembunuhan kedjam serta berbagai-bagai matjam penganiajaan pehak musuh jang telah menimbulkan korban beribu orang penduduk jang tidak bersalah. Untuk memperingati korban pembunuhan 5 Djanuari '49 ini, didirikan Tugu peringatan di Rengat. Dalam clash ke-2 seperti disebutkan tadi, Pemerintah darurat dikendalikan oleh saudara Umar Usman jang sebelum agressi ke-2 mendjadi wakil Ketua D.P.R. Kresidenan Riau dan Koordinator perdjuangan untuk kepulauan Riau dengan saudara-saudara Umar Amin Husin (penasehat Pemerintah darurat), Amir Hamzah dan H. A. Rauf. Pemerintah Militer Inderagiri Hilir dipegang oleh Jamal Lako Sutan. Dipertengahan bulan Pebruari 1949 bergeraklah seluruh Pemerintahan guerilja dari 12 buah Pangkalan-pangkalan dibawah kendali masing-masing Staf K.P.F. (Komandan-komandan Pangkalan guerilja) di seluruh Indragiri. 75% hutan jang meliputi daerah Inderagiri mendjadi benteng pertahanan peradjurit-peradjurit guerilja. Ďari tempat-tempat itu pertempuran melantjar ke kota-kota hangus jang diduduki Belanda. Dalam pertempuran-pertempuran selama tersebut tidak dilupakan nama-nama seperti saudara-saudara alm. Let. I Bojak alias Singa Perairan Inderagiri, Let. I H. Mohd. Amin alias Harimau Logas Riau Selatan, Let. II Ahmad Jusuf, Sersan Major Lego dan Let. Muda Wijono. Mereka adalah pemimpin-pemimpin pertempuran jang senantiasa memukul kekuatan-kekuatan Belanda. Achirnja tanggal 19 Desember 1949 diadakan timbang terima kembali daerah Kabupaten Inderagiri antara pihak Belanda dengan Pemerintahan guerilja Inderagiri. Pihak Belanda diwakili oleh Kapten Knil Eddy King dengan stafnja, sedang dari pihak Pemerintahan Inderagiri hadir Kapten A.F. Langkay. Wakil K.D.M. Pemerintah Militer Inderagiri Hulu Kampar Selatan, Umar Usman dan Bupati Militer Djalaluddin. '''Perkembangan Dewan Perwakilan Rakjat di Riau.''' Pada tanggal 16 September 1945 di Keresidenan Riau telah dibentuk K.N.I. dan pembagian tugas pekerdjaan para anggota menurut bakat dan ketjakapan masing-masing. Dan semendjak itulah dibentuk K.N.I. Kewedanaan, Ketjamatan dan Negeri-negeri dengan setjara permufakatan diantara pemimpin-pemimpin. Tjara jang demikian dirasakan kurang demokratis, apa lagi K.N.I. itu kebanjakannja melaksanakan djalannja Pemerintah lebih-lebih<noinclude>{{rh|||241}}</noinclude> nindsplc2x1o6y1ndtaejdas2m1mcjb Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/248 104 99222 291110 275617 2026-05-10T14:14:32Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291110 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>dengan keluarnja Undang-undang No. 1-1945 jang menegaskan bahwa K.N.I. itu, haruslah mendjadi Badan Perwakilan Daerah jang bersama-sama dengan dan dipimpin oleh Kepala Daerah, mendjalankan pekerdjaan dan mengatur Rumah Tangga Daerahnja, asal tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah jang lebih tinggi dari padanja. Seterusnja dinjatakan bahwa oleh K.N.I. Daerah dipilih beberapa orang, sebanjak-banjaknja 5 orang, sebagai badan executief jang bersama-sama dengan dan dipimpin oleh Kepala Daerah, mendjalankan Pemerintahan sehari-hari dalam Pemerintahan itu. Karena itu pada bulan Djanuari 1946 diadakanlah rapat anggota K.N.I. jang telah terbentuk pada bulan September jang lalu jang mengambil tempat di Pakanbaru. Diantara putusan jang diambil ialah: membubarkan K.N.I. jang lama dan membentuk K.N.I. daerah jang baru dengan tjara pemilihan jang agak demokratis. Pemilihan ini dilakukan tjara bertingkat jaitu tiap-tiap 200 orang penduduk, satu pemilih. Pemilih-pemilih ini memilih anggota jang mewakili Kawedanaan. Dalam rapat jang pertama dari K.N.I. jang agak demokratis ini ditetapkan anggota executief untuk Keresidenan Riau sbb.. <ol> <li>A. Malik Res. Riau sebagai Ketua Executief dan Ketua Pleno K.N.I.</li> <li>R. Jusuf Suriaatmadja Wk. Ketua Executief merangkap Wk. Ketua Pleno.</li> <li>Agus Ramadhan anggota Executief.</li> <li>Umar Usman anggota Executief.</li> <li>Dt. Mangku anggota Executief.</li> <li>Arifin Lubis anggota Executief.</li> <li>Umar Amin Husin anggota Executief.</li> <li>Jamal Lako Sutan anggota Executief.</li> <li>Raden Selamat anggota Executief.</li> </ol> Pada achir tahun 1946, K.N.I. ini jang sudah berkali-kali pula mengalami perubahan susunan, bertukar nama mendjadi Dewan Perwakilan Rakjat dengan menggabungkan antara Ketua Executief dan Ketua Legislatief jang dirangkap oleh Residen, dan tersusunlah Badan Executief sbb.: <ol> <li>Ketua. Residen</li> <li>Wk. Ketua. Raden Jusuf Suriaatmadja</li> <li>Anggota-anggota executief:</li> </ol> <ol> <ol> <li>Umar Usman</li> <li>Umar Amir Husin</li> <li>Dt. Mangku</li> <li>Gulmat Siregar</li> <li>Raden Selamat.</li> <ol><noinclude></noinclude> ql6cdguhny4f0nl426lvvc0zme7n01r Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/253 104 99227 291107 276286 2026-05-10T14:14:14Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291107 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude><ol type="1" start="7"> <li>Djawatan Penerangan</li> <li>Keuangan Daerah</li> </ol> Jang tidak diserahkan dalam pedjabat-pedjabat jang bersifat centraal seperti: <ol> <li>P.T.T.</li> <li>Kantor Pendaftaran Tanah</li> <li>Pengadilan Negeri</li> <li>Justitie & Gevangeniswezen</li> <li>Pandhuisdienst</li> <li>Pelajaran</li> <li>Immigrasi</li> <li>Polisi</li> <li>Kantor Padjak.</li> </ol> Dalam tahun 1948 Daerah Kepulauan Riau, Bangka dan Billiton mengadakan Ikatan Federatie jang dengan ringkas disebut Babiri '''(Bangka, Billiton dan Riau)'''. (Stbld. 1948 No. 123, Installatie dilakukan di Tg. Pinang pada tanggal 5/7-48). Ikatan ini diadakan, katanja ialah mengingat kepentingan bersama dan dasar-dasar persamaan jang terdapat didalam ketiga daerah tersebut seperti: <ol> <li>Banjaknja penduduk Tionghoa</li> <li>Banyaknja bahan-bahan logam</li> <li>Perikanan, mata pentjaharian rakjat jang terpenting</li> <li>genealogis, economis dan geografis.</li> </ol> Formil federasi ini telah diikat dan diadakan peraturan-peraturannja. Akan tetapi didalam praktek federasi ini tidak bisa berdjalan. '''Tahun 1949.''' Pada tanggal 27 Desember 1949 pada hari pemulihan Kedaulatan Negara Republik Indonesia, maka Resident (Belanda) atas perintah dari Pemerintah Pusat (R.I.S.) di Djakarta menjerahkan pemerintahan Daerah kepulauan Riau (Riau-Raad) untuk sementara waktu kepada Ketua Dewan Riau. Dan daerah kepulauan Riau mendjadi daerah Bahagian (Istimewa) menurut kamus K.M.B. Dalam pada itu oleh Riouw-Raad ditundjuk: <ol> <li>Sdr. Mahmud (sekarang Komis Kepala pada Kantor Bupati di Tandjung Pinang) mendjadi anggota Senat R.I.S., dan</li> <li>Sdr. Muhammad Nur (Tjamat, telah meninggal dunia dalam tahun 1950).</li> <li>Sdr. Tengku Achmad (Wedana Karimun sekarang mendapat studieopdracht di Universiteit Negeri „Gadjah Mada“ di Djokja) mendjadi anggota parlemen R.I.S.</li> </ol><noinclude>{{rh|||247}}</noinclude> 9iyrncmlqoekuef3sooq101go4w37vb Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/895 104 99292 291234 275828 2026-05-10T15:19:19Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291234 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Tukang perahu turun ke darat lalu melapurkan diri pada sjahbandar (pegawai pelabuhan) jang mendjaga muara itu. Djuragan perahu melapurkan, bahwa ia tidak memuat barang apapun, melainkan seorang Pendeta Islam dari Seberang. Sjahbandar meneruskan pelapuran ini kepada Radja. Setelah pelapuran diterima, Radja memerintahkan kepada Sjahbandar supaja Pendeta tersebut suka datang di Pesanggrahan Radja diatas gunung Petukangan untuk memberi pertolongan mengobati puteranja jang masih sakit. Maulana Iskak mau mengobati puteri Radja, asalkan suka masuk agama Islam. Permohonan Pendeta disampaikan kepada Radja dan diterima dengan kesanggupan. Kemudian puteri diobati dan atas kehendak Tuhan, sembuhlah puteri itu. Puteri di-Islamkan dan seterusnja dikawinkan dengan Pendeta tersebut. Pada suatu waktu Radja Blambangan bersenewaka dengan dihadap olet. Maulana Iskak. Maksud Maulana hendak memohon dengan hormat pada Iskak menghadap itu Radja, hendaknja ialah Radja memenuhi perdjandjian jang telah disabdakan pada waktu Maulana Iskak akan menjembuhkan puteri Radja, jakni akan masuk agama Islam bila putera-puterinja dapat sembuh. Radja marah terhadap tuntutan ini sehingga Sang Pendeta akan dianiaja. Sang Pendeta kembali ke-rumah dan kepada isterinja jang pada waktu itu sedang hamil ia memberikan tahu, bahwa ia akan pergi meneruskan perdjalanannja sambil berpesan supaja isterinja memegang teguh Agama Islam jang telah diterima, dan tetap tinggal di Blambangan. Sang Pendeta pergi menudju Negeri Malaka, mendjadi Pendeta bernama Awalul Islam. Pada suatu waktu di Blambangan ada wabah (epidemie) hebat. Radja berpendapat, bahwa jang menjebabkan kekeruhan itu adalah anak jang ada dalam kandungan Puteri Radja. Maka Radja memerintahkan pada Menteri-Menteri, supaja tjutjunja jang keturunan dari Pendeta (Ulama) Islam itu djika sudah lahir dibawa ke Keradjaan. Kemudian, setelah anak tersebut lahir, segera para Menteri menghaturkan pada Radja. Baji dimasukkan dalam peti tertutup dengan diberi pakaian indah-indah seterusnja dibuang ke laut. Ditjeriterakan, bahwa di Gresik ada seorang djanda isteri dari Patih Negeri Kambodja jang oleh Prabu Brawidjaja ditetapkan mendjadi Sjahbandar di Gresik. Namanja Njai Gede Pinatih, dan pekerdjaannja selain Sjahbandar djuga djuragan perahu-perahu lajar. Pada suatu hari Njai Gede mengirimkan dagangannja ke Sukadana (Bali) dengan perahunja sendiri. Djuragan perahu setibanja di dekat selat Bali menemukan peti jang berisi anak jaitu tjutju Radja Blambangan. Sedatangnja dari Bali, peti isi anak tersebut diberikan pada Njai Gede Pinatih dan diterima dengan sangat gembira karena ia tak mempunjai anak sendiri. Njai Gede Pinatih memberikan nama Raden Samudera (Samudera = disuruh mengadji di laut). Setelah umur 12 tahun, Raden Samudera Ampel-Dento oleh Kjahi Susuhunan Makdum, Raden Samudera diganti nama Raden Paku, karena ia adalah seorang murid jang ketjerdasannja melebihi dari pada segenap santri-santri lainnja.<noinclude>{{rh|||785}}</noinclude> jlgbw1e0xb5ufpwl7eblvaj6fxr6vi9 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/214 104 99298 291113 275869 2026-05-10T14:14:50Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291113 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Dalam instruksi itu antara lain ditegaskan bahwa pasukan Mobil Teras B.P.N.K. ( dengan singkatnja P.M.T. B.P.N.K. ) ini didirikan dan dipusatkan pimpinannja dalam Ketjamatan dan merupakan bahagian dari M.P.R.K. pertempuran. P.M.T. merupakan persatuan dan kemadjuan tenaga rakjat , diluar organisasi Angkatan Perang, jang titik berat tugas kewadjibannja terletak dalam pertempuran dalam hubungan besar adalah bagian gerakan Angkatan Perang ; dalam melakukan tindakan gangguan dan sabotage ( gerilja taktik ) setempat- setempat mempunjai initiatief sendiri. P.M.T. tidak bersifat tetap atau stationair dan menanti , tetapi sebaliknja mobiel dan offensief. Selain dari menghadapi musuh, baik dalam daerahnja maupun dibelakang garis pertahanan musuh ataupun dalam daerah pendudukan musuh, turut actief mendjaga stabiliteit pemerintahan didaerahnja. Sesuai dengan sifat dan persendjataannja P.M.T. dalam pertempuran menghadapi musuh, akan menerima instruksi-instruksi dan perintah-perintah lebih landjut dari M.P.R.K. bagian pertempuran jang akan diturunkan setjara rahasia dari atas. Anggota- anggota P.M.T. diambil dari anggota pilihan B.P.N.K. atau teras dalam Ketjamatan. Sjarat- sjarat untuk mendjadi anggota : a.ketjakapan, ketangkasan , kedjudjuran dan keberanian . b. ukuran persendjataan, upm. karaben, stengun, senapang mesin, brengun, pistol, senapang berlansa, granat tangan dsb. (perbanperdjuangan kebangsaan kita. Kita sekarang hanja menghadapi dan mempunjai satu kepentingan jaitu kepentingan negara. Kemudian ditegaskan bahwa pertentangan ideologie dan golongan dalam masa peperangan semesta sekarang, harus dihentikan. Tetapi karena faham politik itu dan faham susunan hidup masjarakat berdasarkan demokrasi sudah tumbuh dalam masjarakat kita bukanlah dimaksud mematikan partai- partai. Terutama di Sum. Barat ini susunan masjarakat ada sedemikian rupa hingga activiteit partai itu dapat dipergunakan sebaik-baiknja untuk mentjapai kesatuan, dan kemadjuan tenaga rakjat seluruhnja dalam menghadapi dan melaksanakan perdjuangan sekarang ini melawan agresi Belanda, dan menjatukan langkah dan diri serta tiap golongan dalam masjarakat hingga seluruh bangsa mendjadi satu, bulat dan padu. Achirnja para pemimpin partai itu menjerahkan kepada pemerintah kekuasaan sepenuhnja, untuk mengambil sikap dan tindakan jang tegas keras untuk membasmi tiap diri , tiap individu dan apabila perlu tiap - tiap golongan jang bertindak menghalangi terlaksananja persatuan tenaga rakjat dan persatuan tenaga perdjuangan menentang aksi kolonial dari musuh bangsa dan Negara sekarang ini. Sekianlah pendjelasan dari Maklumat Bersama itu !<noinclude>{{rh|208}}</noinclude> rp9oiogi2rml7v4t51i7gghsacouz58 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/899 104 99300 291237 275872 2026-05-10T15:20:46Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291237 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>supaja menangkap ikan dari sebuah tambak (empang). Permintaan tersebut oleh Panembahan Ronggo dilaksanakan dan diperintahkannja kepada para Menteri supaja pergi menangkap ikan dari tambak dan djuga kepada para Menteri Panembahan Arosbaja. Sewaktu para Menteri Pamekasan diperintahkan untuk terdjun kedalam air untuk menangkap ikan, maka mereka tiada memikir pandjang, keris, badju serta tjelana dan lain-lainnja sebelumnja tiada dilepaskan (uitkleden), tetapi terus melompat, berenang dan menjelamkan diri kedalam air, dengan perasaan jang sangat riang sambil berteriak-teriak. Tetapi dengan Menteri Arosbaja tiada demikian halnja, masih repot melepaskan badju serta lain-lainnja jang sedang dipakainja, sampai memakan waktu lama masih djuga belum turun didalam tambak (empang), hal ini hingga mendjadikan Panembahan Lemahduwur merasa sangat malu, seraja bertitah: „Aduh, hina sangat saja ini, saja seorang Radja besar, dan karena hanja disuruh menangkap ikan, semua bala para Menteri hingga mentjemarkan nama serta keradjaan saja!” Dari sebab terlalu malu dan mempunjai perasaan iri hati, maka sewaktu dalam keadaan repot dan ramai dan para Menteri berteriak teriak sambil menangkap ikan, dalam saat itu pula Panembahan Arosbaja dengan tiada meminta diri segera mendahului dan menghilang dan terus menunggang kudanja. Setelah tindakannja dikatahui oleh Panembahan Ronggo, segera diadakan pemeriksaan dan seorang Menteri berkata, bahwa Panembahan Arosbaja dengan mengendarai kudanja menudju ke-arah Barat dan setelah itu Baginda segera mengadakan pengedjaran. Setibanja di-daerah Larangan termasuk daerah Sampang kelihatan banjak orang-orang berkumpul dan berdujun-dujun melihat tontonan keramaian orang mengadakan pesta. Panembahan Ronggo lalu menanjakan kepada orang-orang banjak tadi, titahnja: „Apakah djalan ini dilalui oleh orang jang menunggang kuda !” Pertanjaan itu lalu mendapat djawaban, bahwa memang tiada lama dari saat itu ada orang dengan berpakaian radja dengan menunggang se-ekor kuda abu-abu, berhenti sebentar menjandar dibawah kaju sebelah Barat itu, dan tidak lama kemudian segera meneruskan perdjalanannja menudju ke-arah Barat. Sewaktu Baginda mendengar djawaban itu, merasa sangat heran dan tjemas, segera mengeluarkan keris Djokopiturun dari rangkanja dan ditusukkan kedalam sebatang pohon waru seraja bersabda: „Djika Panembahan Arosbaja mempunjai maksud baik semoga dapat kembali ke Pamekasan dan djuga sebaliknja djika mempunjai maksud jang tidak baik semoga mendapat tanda-tanda”. Sesudah Panembahan Ronggo bertitah demikian segera kembali ke-keraton di Pamekasan. Setelah para Menteri Arosbaja mengetahui, bahwa radjanja meloloskan diri dari Pamekasan, mereka segera pulang kembali ke Arosbaja. Setibanja disana lalu mendapat perintah dari Panembahan Arosbaja, supaja memperlengkapi alat-alat perang guna menghantam Negara Pamekasan. Tetapi hal ini tiada sampai terdjadi, karena radja Arosbaja lalu menderita sakit wudun diarah punggung belakang badan jang berliang sembilan buah. Karena radja sangat berat penjakitnja, balu segera mendatangkan puteranja Pangeran Adipati Anom (Pangeran<noinclude>{{rh|||789}}</noinclude> es6yyogc5gbu4wgt5gicsuhxw836l3r Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/102 104 99323 291251 276010 2026-05-10T15:28:21Z Sarieffe 26994 /* Tervalidasi */ 291251 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>'''Marathon''', (Samb. hal, 12). dipegangnja dalam pertjaturan pimpinan dunia. Dan meskipun sesudah Marathon terdapat lagi pertempuran² jang lebih dahsjat lagi seperti di Artemisium, Salamis, Platea dan Eurymedon, tetapi tidak akan melebihi pentingnja. Karena dengan kalahnja Persia di Marathon berarti terhentinja keunggulan jang selama itu dimilikinja. {{c|—————}} '''Saja ditugaskan ke Mesir.''' (Samb. hal. 21). perhubungan surat dengan keluarga diurus kelantjarannja, sedangkan patroli tidak susah² kita berdjalan. Kendaraan harus dipergunakan dan kechawatiran tidak perlu ada. Welfare terdjamin pula. Tiap minggu kita datangkan barang² Cantine berupa rokok, bier, coca cola, bon-bons dan keperluan sehari-hari lainnja dengan harga jang murah. Film djuga diputarkan sampai ke pos² Pn. Mengenai welfare lain akan kami tjeriterakan dalam surat jad., apa jang disebut ,,singhtseeing tour” dan UNEF trip. Sekarang soal uang saku teman², Dulu sebelum kami berangkat dari Tanah-Air mungkin Sdr. djuga mendengar chabar bahwa kita Polisi PBB akan menerima uang saku 4 pound setiap harinja. Haduuuh Tuaaan, kalau memang sekian menerimanja, bisa tiap pradjurit membeli Bell Air setelah setahun bertugas di Mesir. Itu djumlah jang tidak sedikit Rp. 400,— sehari!!! Dan sekarang kenjataan teman². Kita menerima uang saku 30 piasters (PT/30) per hari dari UNEF. Bolehlah dipersamakan dengan Rp. 30,— kita. Diberikannja tiap 10 hari sekali tetapi tak pernah ada kelambatan dan tidak ada potongan ini itu. Baik bagi jang berkeluarga, jang budjangan, bagi pradjurit sampai Djendralnja sama jaitu: PT. 30,— sehari. Wah tetapi itu untuk kita sudah tjukup Tuan. Ja asal tidak berkelebih-lebihan sadja. Tidak memimpikan Bell Air²-an, tidak usah gagah²-an, asal keluarga jang ditinggalkan terurus dengan baik, anak-anaknja sehat dan nanti kembali dengan selamat sambil dapat membawakan sekedar oleh-oleh untuk Isteri dan anak² sudahlah puas dan senang hati saja. Teman², Sdr.² sekalian, tjukup sekian dahulu surat kami jang untuk pertama kali ini. Nanti dalam surat kami jang berikutnja ingin kami mentjeriterakan soal : {{Bulleted list|list_style=list-style-type:'— '; |Ketentaraan jang tergabung dalam UNEF jang saja kenal. |Mengikuti sightseeing tour UNEF, keadaan Mozeum, piramyde², kota-kota Cairo, Ismaillia, Suez dlsb. |Orang? Mesir dan orang² Badoein jang saja ketahui. |Keadaan tugas Bn. Garuda I dan lain² sebagainja.}} Sudah barang tentu kesemuanja ini hanja terbatas kepada kemampuan pandangan saja sendiri dan pula harus bisa kami membatasi diri kepada soal² ketentaraan. Salam erat dari kami untuk teman², Sdr.² sekalian di Tanah Air. {{c|—————}} '''Rahasia dipos depan.''' (Samb. hal. 27). Apa semuanja ini Pral, ia minta keterangan. Baiknja mari kita bawa sadja sekarang ini ke pos komandan peleton pral, Sersan Sutedjo melandjutkan. Malam itu djuga mereka digiring ke Komandan Peleton dan setelah selesai Sersan Sutedjo dan kawan²nja kembali keposnja semula. Hari itu pembitjaraan berkisar pada kedjadian² jang aneh itu, tetapi Sudarmi kelihatannja agak malu², karena ternjata tjeriteranja tak benar. Dua hari kemudian Regu Sutedjo mendapat perintah untuk membawa beberapa orang dari kampung itu kemarkas kompie, antaranja termasuk Pak Hardjo dengan puterinja. Alangkah terkedjutnja bertjampur heran Sersan Sutedjo setelah melihat daftar orang² jang harus dibawa kemarkas kompie, karena didalamnja terdapat nama Pak Hardjo dengan puterinja. Dalam hati ketjilnja ber-bisik², benarkah Sudarmi kekasihnja dan Pak Hardjo, bakal mertuanja jang dimaksudkan itu ? Walaupun bagaimana, mulai hari itu Sersan Sutedjo harus berpisah dengan Sudarmi. Ia heran tak habis²nja dan tampak sangat sedih. Sudahlah San, djangan susah² hantunja sudah tertangkap, udjar kopral Sanusi mengedjek kepada Sersan Sutedjo. Pral, aku tak menduga semula mengapa Sudarmi turut membantu gerombolan jang tidak bertanggung djawab. Pantas ia begitu murah, Sersan Sutedjo menjela kembali dengan ke-heran²an dan tunduk tanda kesedihan karena bertjerai dengan kekasihnja. Aku sudah menduga semula San, mulai ia mengatakan tiap malam Djum'at pergi mengadji kerumah Kijai Chodori katanja, sedang menurut tjeriteranja tak seorangpun jang berani mendekati rumah itu. Ja, didalam tubuh jang molek itu mengapa tersimpan djiwa jang djelek, djuga ini kita termasuk<noinclude>{{rh|36}}</noinclude> an18w1v0c9fa8v714hruorukckv3l4s Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/124 104 99331 291094 276020 2026-05-10T14:11:23Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291094 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>oleh maklumat Kantor Wakil Pemerintah Urusan Umum No. 2-46 jang dikeluarkan sehari sudah itu. Gara-gara uang kertas f 100,- Djepang ini belum berachir sehingga ini sadja, bahkan dimasukkan pula oleh musuh uang kertas Djepang jang berbahasa Inggeris, sehingga Residen Sumatera Barat mengeluarkan maklumat pula pada tanggal 11 Maret 1946 berbunji sebagai berikut: '''Maklumat Residen tentang uang f 100,-, 11 Maret 1946.''' {{rh||PERINGATAN}} <ol> Kepada rakjat umum, bahwa sekarang mungkin ada dimasukkan kedaerah ini uang kertas Djepang harga f 100. (seratus rupiah) jang sepintas lalu serupa dengan uang kertas jang laku sekarang, tetapi memakai perkataan dalam bahasa Inggeris. Uang kertas itu tidak laku, artinja palsu. </ol> {{rh|||Padang, 11 Maret 1946}} {{rh|||Residen Sumatera Barat.}} '''Volksfront bertindak, 1 April 1946.''' Dengan begini maka desas-desus tentang uang kertas f 100.-tidak laku itu makin mendjalar, dan dalam pada itu Nica semakin hebat djuga menghambur-hamburkan uang Djepang f 100,- ini. Keadaan semakin sulit, dan karena Volksfront telah diserahi kontrole ekonomi, maka tanggung-djawab dalam hal ini dirasakan oleh Volksfront terletak dipundaknja. Sebagai satu organisasi revolusioner maka Volksfront lalu bertindak tegas dengan mengeluarkan maklumat jang bersedjarah itu pada tanggal 1 April 1946 jang berbunji: {{rh||}} {{rh||VOLKSFRONT SUMATERA BARAT}} {{rh||'''Andjuran menjimpan uang kertas Djepang f 100,- di Bank.'''}} <ol> Mengandjurkan kepada sekalian warganegara di Sumatera Barat untuk menjimpan uang kertas Djepang f 100.- (seratus rupiah) pada Bank Pemerintah atau Bank jang ditundjukkan Pemerintah dalam tempo satu bulan ini, mulai tanggal 1 April 1946 sampai 30 April 1946. Sesudah tanggal 30 April 1946 perputaran uang kertas Djepang f 100,- (seratus rupiah) tidak disjahkan lagi. Semua tjabang-tjabang dan anak-anak tjabang Volksfront harap mendjalankan maklumat ini. </ol> {{rh|||1 April 1946.}} {{rh|||Dewan Pimpinan}} {{rh|||Volksfront}} {{rh|||Sumatera Barat.}}<noinclude>{{rh|118}}</noinclude> 1db08akefrxwud3v39dvxiwwati06n6 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/497 104 99340 291350 276043 2026-05-10T17:26:29Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ gunakan template ol untuk nomer 291350 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>Oleh karena itu bahaja jang akan membawa akibat jang besar ini dalam perdjuangan kita haruslah dibasmi lekas-lekas. 5. Pertentangan ideologie dan golongan dalam masa peperangan semesta sekarang ini harus dihentikan. Tetapi karena paham. politik dan paham susunan masjarakat jang berdasarkan demokrasi jang sudah tumbuh dalam masjarakat kita, bukanlah dimaksud mematikan partai-partai. Terutama di Sumatera Barat ini susunan masjarakat adalah sedemikian rupa hingga aktiviteit partai-partai itu dapat dipergunakan sebaik-baiknja untuk mentjapai kesatuan dan kemadjuan tenaga rakjat seluruhnja dalam menghadapi dan melaksanakan perdjuangan sekarang ini melawan agressi Belanda dan menjatukan langkah dan diri serta tiap-tiap golongan dalam masjarakat hingga seluruh bangsa mendjadi satu, bulat dan padu. 6. Berdasar akan pendirian ini, maka pemimpin-pemimpin partai di Sumatera Barat, jaitu H. Iljas Jacoub, H. Udin Rahmani dan Din Jatim dari Masjumi, Bachtaruddin dari P.K.I., H. Siradjuddin Abas Dt. Bandaro dari Perti, Harun Junus dan Deradjat Daud dari P.S.I.I., Djuir Muhammad dan Hamdani dari Partai Sosialis Indonesia, Dt. Simaradjo dan Dt. Bagindo Basa nan Kuning dari M.T.K.A.A.M., Iljas Dt. Madjo Indo dari G.P.I.I. dan Baharuddin dari Pesindo, semuanja seiasekata dengan suara bulat memutuskan, mendjalankan koreksi dan akan mendjalankan tindakan dalam partai masing-masing bila ada kenjataan atau ada anasir-anasir jang mungkin memetjah dan membawa retak persatuan bangsa dan tenaga rakjat semesta. Oleh karena perdjuangan jang kita lakukan sekarang ini adalah perdjuangan jang akan menentukan tegak dan runtuhnja bangsa dan negara kita seluruhnja, maka putjuk pimpinan partai-partai tersebut tidak akan ragu-ragu membasmi segala anasir-anasir jang berbahaja itu dalam kalangan dan golongan masing-masing. {{gap}}Selandjutnja, putusan-putusan jang diambil oleh dan dalam pertemuan antara pimpinan-pimpinan partai tersebut dalam kenjataannja sehari-hari selama menghadapi serangan-serangan tentera Belanda dalam semua lapangan, berdjalan dengan lantjar. Karena itu dapatlah dikatakan, bahwa selama Pemerintahan Darurat masih berdiri, selama itu pula kesatuan pendirian diantara partai-partai itu dapat berudjud mendjadi satu. {{gap}}Partai-partai politiklah jang telah berdjasa besar dalam menanam dan memperdalam rasa pertanggungan djawab rakjat terhadap pertahanan negaranja. Dan mereka pulalah jang pada hakekatnja mempersendjatai djiwa dan moraal rakjat selama menghadapi serangan tentera Belanda jang berdjalan hampir setahun penuh lamanja itu. Dimana kesempatan jang ada, pemimpin-pemimpin partai-partai itu selalu mengadakan kontak dengan para pengikut-<noinclude>{{rh|||491}}</noinclude> 8uzkfthdhk4nz9e3tfcdbj1hqvbxk3e 291426 291350 2026-05-11T00:37:02Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291426 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude><ol>Oleh karena itu bahaja jang akan membawa akibat jang besar ini dalam perdjuangan kita haruslah dibasmi lekas-lekas.</ol> {{ol|list_style_type=decimal|start=5 |Pertentangan ideologie dan golongan dalam masa peperangan semesta sekarang ini harus dihentikan. Tetapi karena paham. politik dan paham susunan masjarakat jang berdasarkan demokrasi jang sudah tumbuh dalam masjarakat kita, bukanlah dimaksud mematikan partai-partai. Terutama di Sumatera Barat ini susunan masjarakat adalah sedemikian rupa hingga aktiviteit partai-partai itu dapat dipergunakan sebaik-baiknja untuk mentjapai kesatuan dan kemadjuan tenaga rakjat seluruhnja dalam menghadapi dan melaksanakan perdjuangan sekarang ini melawan agressi Belanda dan menjatukan langkah dan diri serta tiap-tiap golongan dalam masjarakat hingga seluruh bangsa mendjadi satu, bulat dan padu. |Berdasar akan pendirian ini, maka pemimpin-pemimpin partai di Sumatera Barat, jaitu H. Iljas Jacoub, H. Udin Rahmani dan Din Jatim dari Masjumi, Bachtaruddin dari P.K.I., H. Siradjuddin Abas Dt. Bandaro dari Perti, Harun Junus dan Deradjat Daud dari P.S.I.I., Djuir Muhammad dan Hamdani dari Partai Sosialis Indonesia, Dt. Simaradjo dan Dt. Bagindo Basa nan Kuning dari M.T.K.A.A.M., Iljas Dt. Madjo Indo dari G.P.I.I. dan Baharuddin dari Pesindo, semuanja seiasekata dengan suara bulat memutuskan, mendjalankan koreksi dan akan mendjalankan tindakan dalam partai masing-masing bila ada kenjataan atau ada anasir-anasir jang mungkin memetjah dan membawa retak persatuan bangsa dan tenaga rakjat semesta. Oleh karena perdjuangan jang kita lakukan sekarang ini adalah perdjuangan jang akan menentukan tegak dan runtuhnja bangsa dan negara kita seluruhnja, maka putjuk pimpinan partai-partai tersebut tidak akan ragu-ragu membasmi segala anasir-anasir jang berbahaja itu dalam kalangan dan golongan masing-masing.}} Selandjutnja, putusan-putusan jang diambil oleh dan dalam pertemuan antara pimpinan-pimpinan partai tersebut dalam kenjataannja sehari-hari selama menghadapi serangan-serangan tentera Belanda dalam semua lapangan, berdjalan dengan lantjar. Karena itu dapatlah dikatakan, bahwa selama Pemerintahan Darurat masih berdiri, selama itu pula kesatuan pendirian diantara partai-partai itu dapat berudjud mendjadi satu. Partai-partai politiklah jang telah berdjasa besar dalam menanam dan memperdalam rasa pertanggungan djawab rakjat terhadap pertahanan negaranja. Dan mereka pulalah jang pada hakekatnja mempersendjatai djiwa dan moraal rakjat selama menghadapi serangan tentera Belanda jang berdjalan hampir setahun penuh lamanja itu. Dimana kesempatan jang ada, pemimpin-pemimpin partai-partai itu selalu mengadakan kontak dengan para {{hws|pengikut|pengikutnja}}<noinclude>{{rh|||491}}</noinclude> 5skjlaogpgieubrdnepbb2louzwcdij Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/391 104 99347 291069 276188 2026-05-10T14:01:10Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291069 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude><ol>barisan-barisan kedalam T.R.I., dan mengatur pengangkutan bermotor.</ol> '''Sidang pleno ke-V.''' Sidang ini dilangsungkan di Bukittinggi pada tanggal 16, 17 dan 18 Maret tahun 1946, dimana buat pertama kalinja diberi kesempatan seluas-luasnja kepada anggota untuk memadjukan pertanjaan dan mengadakan sambutan atas keterangan Pemerintah. Dalam rapat ini antara lain diputuskan : {{ol|type=1 |Menanam satu Komisi untuk menjusun rentjana peraturan rumah tangga dan tjara pemilihan dari Dewan Perwakilan Negeri, Dewan Perwakilan Kota, dan Dewan Perwakilan Daerah Sumatera Barat, jang terdiri dari Saudara² Adi Negoro, Djamin Dt. Bagindo, A. Gafar Djambek, Anwar St. Saidi, Iskandar Tedjasoekmana , Azis Chan dan Basjrah Loebis. Ini adalah satu langkah penting untuk mendemokrasikan pemerintahan di Sumatera Barat. |Mengusulkan Saudara Dr. M. Djamil mendjadi Residen Sumatera Barat buat menggantikan Residen Dt. Perpatih Baringek jang diperbantukan kepada Gubernur Sumatera di Medan. |Merobah susunan Dewan Executief dan Dewan Harian sehingga mendjadi sbb.: Dewan Executief tetap diketuai oleh Residen Sumatera Barat, wakil Ketua Mr. M. Nasroen , dan anggota-anggota saudarasaudara Marzoeki Jatim, Sjarif Said, B.M. Thahar, Aziz Chan dan Sidi Bakaroeddin. Dewan Harian diketuai oleh Mr. M. Nasroen dan Wakil Ketua Roestam Thaib dan anggota-anggota saudara-saudara H. Mahmoed Junus dan Abdoellah bagian Kebudajaan, Rasoena Said bahagian Perdjuangan, Jacoeb Rasjid dan Darwis Makroef bahagian Sosial, Sultani St. Malako dan Sjamsoe Anwar bahagian Perekonomian, Jacob Jahja bahagian Perdjuangan, sedang kepada Dewan Harian dan Dewan Executief diberi hak initiatief. |Untuk berurusan dengan tentera Sekutu ditetapkan Residen Sumatera Barat dan wakil Ketua K.N.I. Sumatera Barat jang boleh membawa pembantu-pembantunja seberapa diperlukan. Sesudah Pleno ini berlangsung dan Komisi Dewan-dewan Perwakilan telah menjerahkan rentjana, maka untuk melaksanakan rentjana ini oleh Dewan Harian dan Executief K.N.I. dibentuk sebuah Panitia jang terdiri dari saudara-saudara Marah A. Munit, St. Maradjo , H. Mahmud Junus, Sjamsu Anwar, Darwis Ma'roef, Sultani St. Malako , Rasuna Said, Roestam Thaib, Sjarifah Arif dan Jacoeb Rasjid, Panitia mana diketuai oleh saudara Marah A. Munit. }}<noinclude>{{rh|||385}}</noinclude> q49gyjtg45ytt2281v934i5wh0nuv4q Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/392 104 99353 291070 276117 2026-05-10T14:01:13Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291070 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Pada rapat gabungan Dewan Executief dan Dewan Harian K.N.I. Sumatera Barat tanggal 27 April 1946 ditetapkanlah, bahwa terhitung mulai hari itu Dewan Harian dimatikan, sedangkan Dewan Executief dirobah susunannja sebagai berikut: Ketua Dr. M. Djamil Residen Sumatera Barat, wakil Ketua saudara Marzoeki Jatim, dan anggota-anggota saudara Aziz Chan, Sjarif Said dan B.M. Thahar. '''Sidang pleno ke-VI.''' Sidang ini diadakan di Padang Pandjang tanggal 2 Djuni 1946, jang dalam rapat ini diputuskan: {{ol|type=1 |Supaja Pemerintah membebaskan dari penahanan, pemimpinpemimpin Volksfront Sumatera Barat, jaitu saudara Bachtaruddin, Barioen A.S., Iskandar Tedjasoekmana, Chatib Soeleman, Basjrah Loebis dan Suleman (penangkapan pada tanggal ...... karena mengeluarkan maklumat tentang tidak berlakunja uang kertas Djepang 100 rupiah). |Supaja pendjualan obligasi jang dilakukan oleh Perseroan Bank Sumatera dipindahkan pendjualannja kepada Bank Rakjat Indonesia, dan mendjadikan B.R.I. mendjadi filial Bank Negara Indonesia. |Memperbaiki perhubungan dengan bangsa Timur Asing, dan menolak andjuran untuk membedakan status Djawa dan Sumatera. |Kontrol ekonomi jang dulu diserahkan oleh K.N.I. kepada Volksfront ditjabut kembali oleh Pemerintah. Pura Nasional diadakan dan diselenggarakan oleh satu badan dibawah pengawasan Pemerintah. }} '''Sidang pleno ke- VII.''' Sidang ini diadakan di Padang Pandjang pada tanggal 20 dan 21 Djuli 1946 dengan mengambil putusan sbb.: {{ol|type=1 |Mengusulkan Mr. St. M. Rasjid untuk mendjadi Residen pengganti Dr. M. Djamil jang sudah diangkat mendjadi Gubernur Muda Sumatera Tengah. |Mengganti anggota Executief jang dalam sidang ini meletakkan djabatannja, dengan Executief jang baru dengan tjorak Koalisi jaitu : }} {{ol|type=1 |Marzoeki Jatim wakil Ketua K.N.I. Sumatera Barat. |I. Tedjasoekmana dari fraksi Sosialis. | Aziz Chan dari fraksi Agam. |R.O. Ganto Suaro dari fraksi Nasionalis. | Sofjan dari golongan Ekonomi. |Sidi Bakaroeddin dari golongan Pemuda dan Tehnik. }}<noinclude>{{rh|386}}</noinclude> 971c4nauwii8v5ap77yjuvo13kjeb28 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/393 104 99362 291071 276141 2026-05-10T14:01:17Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291071 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{ol|type=1|start=3 |Mengusulkan untuk Dewan Pertahanan Sumatera Saudara A. Gafar Djambek, Zainal Abidin Ahmad dan Chatib Soeleman. |Mengangkat satu Komisi Keuangan untuk membuat rantjangan keuangan jang berdasarkan sentralisasi seluruh Sumatera Barat jang diketuai oleh Zainoeddin P.S. Kepala Pedjabat Keuangan. |Mengadakan Mingguan Obligasi jaitu dari tanggal 10 sampai 17 Agustus 1946. |Mengadakan larangan pengeluaran beras keluar Daerah Sumatera Barat, ketjuali dengan izin Pemerintah, mengandjurkan tanaman muda sebanjak-banjaknja, dan mengeluarkan beras dari kewedanaan-kewedanaan lain-lain diizinkan selain dari djalan laut. |Mengubah dan mengganti beberapa orang wakil untuk Dewan Perwakilan Rakjat Sumatera, jang karena djabatannja tidak dapat lagi memenuhi kewadjibannja sebagai anggota Dewan sebagaimana mestinja, jaitu saudara-saudara Mr. St. M. Rasjid, Dr. M. Djamil, Mr. Nazaroeddin dan Sjarief Usman , diganti dengan Dr. Rahim Usman, Zainal Zainoer, R.S. Suriapradja dan Aziz Chan. |Membubarkan K.N.I. ranting di Negeri-negeri, karena semendjak bulan Djuli 1946 Dewan Perwakilan Negeri sudah berdiri sehingga Pleno menganggap K.N.I. ranting tidak diperlukan lagi, dan selama Dewan Perwakilan Daerah belum terbentuk, maka K.N.I. Tjabang ( di kewedanaan ) tetap berdiri, tapi }} Dewan Hariannja dibubarkan. {{ol|type=1|start=9 |Menetapkan bahwa banjaknja D.P.N. di Daerah Sumatera Barat adalah menurut banjaknja negeri pada tanggal 17 Agustus 1945. }} Sidang ini berlangsung dalam udara politik jang amat suram dan sesudah itupun keadaan mendjadi semakin genting dan perhubungan dengan Belanda semakin bertambah buruk, sehingga semendjak bulan April tahun 1946 kantor Residen dan Pedjabat-pedjabat telah hampir semuanja dipindahkan ke Bukittinggi dan rakjat telah banjak mengungsi kedaerah pedalaman. Dalam bulan Agustus 1946, maka kantor K.N.I. atas kebidjaksanaan pegawai-pegawainja berangsur-angsur dipindahkan ke Kaju Tanam beserta dokumen-dokumennja. Keadaan penghidupan dalam pengungsian telah memaksa beberapa orang pegawai K.N.I. untuk pulang kekampungnja masing-masing sehingga dalam hakekatnja segala pekerdjaan K.N.I. diwaktu itu diselenggarakan oleh Dewan Executief di Bukittinggi dengan dibantu oleh Sekertariatnja. '''Sidang pleno ke-VIII.''' Sidang ini dilangsungkan di Bukittinggi pada tanggal 4, 5 dan 6 Djanuari 1947 dimana dibitjarakan anggaran belandja Sumatera Barat tahun 1947 berkenaan dengan sebentar lagi akan keluarnja<noinclude>{{rh|||387}}</noinclude> dzyv1swlxcmyty0ehg5ztfzrlwtfa33 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/394 104 99369 291072 276158 2026-05-10T14:01:21Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291072 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Uang Republik. Sidang mempertjajakan kepada Residen beserta Dewan Executief K.N.I. untuk mendjalankan rentjana perbelandjaan 1947 dengan dasar pengeluaran setjara hemat dan tjermat. Untuk ini ditanam sebuah Komisi terdiri dari 10 orang untuk membuat rentjana perbelandjaan baru berdasarkan perhitungan uang ORI. {{ol|type=1|start=2 |Diputuskan bahwa Sumatera tetap merupakan 1 Propinsi dengan mempunjai 3 tingkatan autonomi jaitu, diatas sekali Propinsi, dibawah sekali Negeri dan diantara kedua itu satu tingkat lagi jang merupakan Keresidenan atau Kabupaten. |Menetapkan 15 tjalon anggota, untuk K.N.I. Pusat jang terdiri dari Saudara-saudara Iskandar Tedjasoekmana, Marzoeki Jatim, Dr. A. Rahim Usman, Bachtaroeddin Chatib Soeleman, Darwis Thaib, Basjrah Loebis , Rasoena Said, Barioen A.S., Anwar St. Saidi , H. Mahmud Junus, Sidi Bakaroeddin, A. Gafar Djambek, Djuir Muhammad dan H. Siradjuddin Abbas. }} Dari tjalon jang dimadjukan ini untuk mewakili K.N.I. Sumatera Barat diangkat oleh Presiden Saudara-saudara Iskandar Tedjasoekmana, Marzoeki Jatim Dr. A. Rahim Usman, Bachtaroeddin dan Chatib Soeleman, sedangkan dari pemimpin² rakjat di Sumatera Barat jang diangkat oleh Presiden ada jang dari tjalon² K.N.I. Sumatera Barat dan ada jang tidak jaitu Saudara-saudara Djuir Moehammad, H. Siradjuddin Abbas, Darwis Thaib, Udin, Rasoena Said, A.R. St. Mansoer, dan H. Dt. Batuah. {{ol|type=1|start=4 |Diputuskan pula bahwa tidak dibenarkan adanja D.P.N. dalam Kota, dan D.P.N.-D.P.N. jang masih berpetjah mesti telah diselesaikan pada bulan Maret 1947, serta Dewan Perwakilan Rakjat Daerah Sumatera Barat mesti telah berdiri pada bulan Djuni 1947. |Djuga diputuskan membawa orang-orang terkemuka dan para saudagar untuk menindjau Front pertempuran agar dengan mempersaksikan sendiri keadaan perdjuangan menambah kegiatan dalam menggembléng tenaga rakjat dan mengatur perbekalan buat perdjuangan. Untuk mengkoordinir soal perbekalan ini, maka segala badan-badan jang mengaturnja digabungkan mendjadi satu jaitu B.P.K.K.P. }} Sesudah Pleno ke-VIII terdjadi pula beberapa perubahan dalam Executief K.N.I. disebabkan meninggalnja saudara Sofjan dan diangkatnja Saudara Iskandar Tedjasoekmana mendjadi wakil Ketua K.N.I.P. dan saudara Aziz Chan mendjadi Wali Kota Padang serta saudara Sjamsoe Anwar mendjadi wakil Kepala Bank Negara, sehingga susunan Executief mendjadi sbb.: Ketua Mr. St. M. Rasjid, wakil Ketua Marzoeki Jatim, dan anggota-anggota, A. Gafar Djambek, R. O. Gunto Suaro dan Djuir Moehammad.<noinclude>{{rh|388}}</noinclude> 1mbdg1s9mrunim0se6wmohvw5msrzk4 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/395 104 99370 291073 276171 2026-05-10T14:01:25Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291073 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>'''Sidang pleno ke-IX.''' Sidang ini diadakan dalam suasana kemelut dan sangat genting jaitu pada tanggal 12, 13 dan 14 Djanuari 1948, berdekatan dengan persetudjuan Renville dan sesudah aksi polisionil Belanda jang pertama bulan 7 tahun 1947, djuga sidang ini bertepatan dengan sidang Dewan Menteri di Djokja jang boleh dikatakan akan memberi ketentuan bagi nasib rakjat Indonesia. Sebelum pembukaan sidang, atas usul saudara Hamka selaku Ketua Front Persatuan Nasional, maka Pleno menjetudjui, bahwa waktu pembukaan dari sidang dikirimkan sebuah kawat ke Djokja jang isinja: '''Menjokong sepenuhnja akan usaha Pemerintah Pusat mempertahankan Kedaulatan N.R.I. dan setia berdiri dibelakang Pemerintah Pusat memperdjuangankan Kemerdekaan bulat tunggal dan penuh dari Negara Kita.''' Putusan-putusan dalam sidang Pleno ini adalah: {{ol|type=1 |Menjetudjui pembubaran K.N.I. jang sekarang dan pembubaran itu automatis berlaku waktu telah terbentuknja Dewan Perwakilan Rakjat Sumatera Barat. Dan sebagai dasar pemilihan untuk Dewan Perwakilan Rakjat jang baru itu dipakai rentjana jang dibuat Pleno Maret 1946 dengan beberapa amendemen jaitu, bahwa anggotanja akan berdjumlah 100 orang jakni 1 orang dalam tiap-tiap 25.000 penduduk, dan terdiri dari 3 bagian, jaitu anggota jang mewakili kewedanaan, jang mewakili partai-partai dan anggota angkatan, dengan ketentuan bahwa setiap kewedanaan diwakili oleh 2 orang anggota, dan tentang menetapkan peraturan-peraturan pemilihan djumlah anggota perwakilan partai dan pelaksanaan selandjutnja dari pembentukan Dewan Perwakilan Rakjat itu diserahkan kepada Dewan Executief. |Mengadakan perobahan dan sisipan dalam Dewan Executief berhubung dengan banjaknja pekerdjaan jang dihadapi, hingga susunannja sebagai berikut: Ketua Mr. St. M. Rasjid, wakil Ketua Marzoeki Jatim dan anggota-anggota ialah: Saudara-saudara R.O. Ganto Suaro, Zamzami Kimin menggantikan A. Gafar Djambek jang telah mendjadi Executief Dewan Perwakilan Sumatera, Tan Tuah Bagindo Ratu menggantikan Djuir Moehammad, Dr. Ali Akbar menggantikan Sofjan dan Noersuhud mewakili Pemuda. |Menghapuskan Executief Kewedanaan terhitung mulai 15 Djanuari 1948, dan inventarisnja diserahkan kepada Wedana ditempat masing-masing. |Untuk menjatukan D.P.N.-D.P.N. jang masih berpetjah djuga, diserahkan kepada kebidjaksanaan Executief, begitu djuga }}<noinclude>{{rh|||389}}</noinclude> 5x01wdjx6t0vochzndl7hzyd2s9ev22 Pengguna:Khusna Safira 2 99388 291476 276197 2026-05-11T01:37:35Z Khusna Safira 26423 291476 wikitext text/x-wiki Saya Safira, saya merupakan peserta kompetisi wikisource 2026 {{Peserta Kompetisi Wikisource 2026}} miuhhlmog36oqwdhkce8e3law80a007 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/399 104 99411 291081 276279 2026-05-10T14:05:41Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291081 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{c|'''Pasal 12.'''}} {{c|'''DI PROPINSI.'''}} {{c|'''Dewan Perwakilan Rakjat Propinsi Sumatera Tengah.'''}} {{dropinitial|O}}tonomi di Sumatera Tengah barulah bermula semendjak keluarnja. Undang-undang No. 10 tanggal 15 April 1948, tentang Sumatera dibagi mendjadi 3 Propinsi. Sebelum itu semendjak Proklamasi, Sumatera seluruhnja adalah merupakan satu daerah otonomi dengan Dewan Perwakilan jang dinamai dengan Dewan Perwakilan Sumatera jang beranggota 100 orang terdiri dari wakil-wakil Keresidenan jang dipilih oleh dan dari K.N.I. Keresidenan. Djumlah anggota dari masing-masing Keresidenan disesuaikan perbandingannja menurut djumlah djiwa dalam keresidenan itu. Rapat pleno jang pertama dari D.P.S. dilangsungkan di Bukit tinggi pada tanggal 17-20 April 1946, dimana 100 orang anggotanja dilantik. Rapat pleno jang kedua dari D.P.S. ini dilangsungkan di Bukit tinggi djuga pada tahun 1947 jang djuga dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri Mr. M. Roem, Menteri Keuangan Mr. Sjafroeddin Prawiranegara, Menteri Sosial Mr. Maria Ulfah Santoso dan Menteri Pekerdjaan Umum, Ir. Putuhena dari Kabinet Sjahrir. Rapatnja jang ke III dilangsungkan di Pematang Siantar dan tak lama sesudah itu Siantar djatuh dalam agressi I, dan kedudukan Pemerintahan Sumatera dipindahkan ke Bukittinggi. Dan setelah keluar Undang-undang No. 10 tahun 1948 dimana ditegaskan bahwa Dewan Perwakilan Rakjat Propinsi terdiri dari anggota-anggota jang djumlah dan pemilihannja seperti Dewan Perwakilan Sumatera pada saat berlakunja Undang-undang ini, disesuaikan dengan pembagian Sumatera mendjadi 3 Propinsi, atau dengan kata-kata lain D.P.S. jang beranggota 100 itu membagi tiga badannja sendiri menurut asal daerah anggotanja. Maka anggota jang mewakili Sumatra Tengah menurut Undang-undang ini, dengan sendirinja mendjadi anggota Dewan Perwakilan Rakjat Sumatera Tengah. Dengan beberapa perubahan nama-nama anggota D.P.S. jang mewakili Sumatera Barat jang telah disebutkan sebelum ini, karena disebabkan saudara Mr. Nasroen mendjadi Gubernur Sumatera Tengah, saudara Aziz Chan meninggal, saudara Rasuna<noinclude>{{rh|||393}}</noinclude> lm52o6onhtf0ucj70eqyqjfhfyp2pbp Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/271 104 99415 291122 276296 2026-05-10T14:16:27Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291122 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>jang tenaga-tenaganja sangat dibutuhi bagi memelopori mempertahankan proklamasi. Atas andjuran K.N.I. Djambi, diusulkan kepada Gubernur Sumatera, supaja Raden Inu Kertapati, salah satu dari keturunan- keturunan Sultan Djambi diangkat mendjadi Residen. Usul ini kemudian diterima oleh Gubernur, dan R. Inu Kertapati menggantikan kedudukan Dokter Sjagaf Jahja memegang pemerintahan Daerah Djambi. Djanuari 1946: terdjadilah insiden antara pemuda-pemuda kota Djambi, Muara Bungo, Bangko dan Sarolangun dengan Djepang. Banjak sendjata tentera Djepang jang dapat dirampas dan diserahkan kepada Pemerintah. Tapi sajang dan sangat disedihkan pula pemuda-pemuda jang telah mengorbankan tenaganja untuk Negara itu, lantas ditjurigai pula. Dituduh membikin kekatjauan terhadap Djepang, sedangkan Djepang telah menduduki kembali kantor Post dan Keuangan. Satu hal jang sangat menjedihkan ketika itu, ialah muntjulnja satu komplotan jang bernama „Barisan Tengkorak”, memusuhi pemuda-pemuda jang dengan penuh semangat memperdjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tetapi untunglah semuanja itu dapat diatasi. Di Sarolangun diadakan rapat dari empat tjabang Komite Nasional jaitu: {{ol|type=1 |K.N.I. Muara Bungo diwakili oleh H. B. Yahya. |K.N.I. Muara Tebo diwakili oleh Dokter Sjahriar Rahman, Salamuddin dan H. Nawawi. |K.N.I. Bangko diwakili oleh R. Soedargo. |K.N.I. Sarolangun diwakili oleh, Sjamsulbahrun, A. Sjarnubi Amiruddin dan Mahjuddin. }} Keputusan jang diambil dalam rapat tersebut: {{ol|type=1 |Mengandjurkan akan mengambil tindakan menjimpan mereka jang dianggap menghalang-halangi djalannja kemerdekaan Indonesia. |Memohonkan kehadapan Gubernur Sumatera, agar Gubernur menempatkan seorang dari luar keresidenan Djambi, dikota Djambi untuk mendjadi anggota Staf Residen, jaitu seorang sardjana hukum jang berpolitik, dan berpengalaman, jang berguna untuk mendjadi orang perantara antara Residen dan Sekutu dan akan mendjadi Adviseur Pemerintah; sebab dalam Daerah Djambi sendiri seorang jang sebagai dimaksud belum ada. |Tempat kedudukan Residen Djambi tetap dikota Djambi dan harus turne ketempat-tempat jang diaggap penting, bersamasama dengan Penghulu Kepala untuk kepentingan peneranganpenerangan bagi rakjat. }}<noinclude>{{rh|||265}}</noinclude> r3ow20ce8tidrxpynjtt3p7unqmx38f Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/272 104 99418 291121 277010 2026-05-10T14:16:22Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291121 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{ol|type=1|start=4 |Dalam tiap-tiap kedemangan hendaklah selekas mungkin diadakan rombongan-rombongan jang terdiri dari Badan Komite Nasional, Pemerintah dan Alim Ulama; rombongan mana berdjalan kedusun-dusun segenap pelosok untuk mengadakan pertemuan dengan rakjat guna memberikan peneranganpenerangan dan keinsjafan tentang pertahanan kemerdekaan, persatuan, keagamaan dan lain -lain jang perlu. |Meminta kepada Penghulu Kepala dan Residen, supaja mengirim surat kepada Demang-demang, Hakim-hakim dan Alim Ulama di Marga-marga jang dimaksudkan sebagai perintah untuk mengadakan propaganda dan penerangan-penerangan dikewedanaan-kewedanaan. |Mengusulkan kepada Pemerintah, agar Pemerintah dapat mempersatukan segala tenaga bagi kepentingan pertahanan kemerdekaan dengan djalan: }} {{Ol|list_style_type=lower-alpha |Memasukkan pemuda -pemuda mendjadi Tentera Keamanan Rakjat (T.K.R.). |Mengadakan organisasi Alim Ulama, supaja mereka dapat bekerdja sama bergerak untuk menginsjafkan rakjat dikampung-kampung dan didaerah-daerah tentang maksud kemerdekaan dengan berdasarkan Agama Islam. }} {{C|'''PEMBENTUKAN TENTARA KEAMANAN RAKJAT (T.K.R.).'''}} <ol>Di Sarolangun, pembentukan T.K.R. ini dipelopori oleh H. Teguh dan anggota-anggota K.N.I.</ol> <ol>Di Bangko oleh H. Ibrahim dan R. Abdurrahman.</ol> <ol>Di Muara Bungo oleh Ramli dan L. Hasan.</ol> <ol>Di Djambi oleh Abundjani.</ol> Boleh dikatakan seluruh Angkatan Pemuda Indonesia (A.P.I.) dan P.R.I. djuga dari lepasan Gyu Gun, masuk kedalam T.K.R. Untuk keperluan pembentukan T.K.R. tersebut, dikota Djambi telah diserahkan uang dan kain jang sangat dibutuhkan sekali oleh pemuda, terutama untuk melandjutkan latihan -latihan kepada Makalam, Ketua K.N.I. Dalam masa pembentukan T.K.R. ini, diutuslah oleh Pemerintah Djambi sdr. H. B. Yahya ke Palembang untuk menindjau-nindjau keadaan dan situasi, dan untuk mengadakan pertemuan dengan Dr. A. K. Gani, Residen Palembang. Sesudah Markas Besar T.K.R. pindah dari kota Djambi ke Sarolangun , tentera Djepang di Djambi kembali mengganggu keamanan. Abundjani, Kepala Markas Besar T.K.R. Daerah Djambi, mengutus sdr. H. B. Yahya sekali lagi sekembalinja dari<noinclude>[[rh|266}}</noinclude> 3xffxw8gtrmdh45ltrjevhn0osfx75k Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/747 104 99447 290938 276599 2026-05-10T13:23:25Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290938 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>mahasiswa tidak seluruhnja dapat beladjar pada Universiteit jang telah ada, berhubung dengan kesulitan tentang perumahan jang pantas ditempati untuk itu dan mengingat biaja-biaja jang dibutuhkannja. Harus di-ingat djuga, bahwa banjak diantara tjalon-tjalon mahasiswa tak dapat meninggalkan Surabaja oleh karena mereka telah bekerdja dan pasti akan kehilangan sumber penghidupannja, djika terpaksa harus pindah ketempat lain. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itu dan setelah ternjata kehendak itu timbul dari beratus-ratus orang, maka oleh para peminat lalu disusun sebuah Panitia untuk membuka djalan dalam usaha ini. Panitia ini mula-mula terdiri dari 13 orang jang diketuai oleh Mr. R.I. Gondowardojo. Rapat jang pertama kali diadakan oleh Panitia dilangsungkan pada hari Senen malam tanggal 11 September 1950 mulai djam 19.00 dirumah kediaman Ketua Kehormatan, Walikota Surabaja Doel Arnowo. Sedar akan sukarnja mendirikan Sekolah Tinggi, Panitia memutuskan sementara akan menetapkan sebagai tugasnja: menjelidiki dan mengumpulkan bahan-bahan keterangan tentang kemungkinan mengadakan Sekolah Tinggi itu dan memberikan sifat pada dirinja sebagai Panitia Persiapan. Oleh Panitia lalu dibentuk 2 Sub Panitia: {{PUU-nomor|n=I|m=1 |Sub Panitia Tehnis, untuk mengadakan penjelidikan dalam lapangan tersebut diatas mengenai segala-galanja jang berhubungan dengan peladjaran; |Sub Panitia Keuangan, untuk mengadakan penjelidikan mengenai keuangannja.}} Selandjutnja oleh Panitia ditetapkan 3 orang utusan untuk mengadakan hubungan dengan dunia Perguruan Tinggi di Djakarta, untuk menjelami sikap fihak resmi tentang usaha pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Hukum di Surabaja. Oleh Panitia antara lain diadakan pembitjaraan-pembitjaraan dengan J.M. Menteri Pendidikan Pengadjaran dan Kebudajaan, baik selaku Menteri maupun sebagai Bapak Akademi Nasional Djakarta, dengan Ir. R.P. Soerahman, Presiden Universiteit Indonesia, Prof. Mr. R.M. Djokosoetono dan Mr. R. Koesoemadi dari Bagian Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan Pengadjaran dan Kebudajaan. Pertimbangan-pertimbangan, andjuran-andjuran, nasehat-nasehat diberikan oleh mereka itu, diantaranja djuga oleh Ki Hadjar Dewantoro. Dengan diperolehnja pertimbangan, andjuran dan nasehat itu Panitia merasa mendapat bahan-bahan tjukup. Teristimewa harus disebut andjuran, nasehat dan sikap Jang Mulia Menteri Pengadjaran Pendidikan dan Kebudajaan jang semuanja itu apabila semula masih ada keragu raguan dari Panitia, merupakan bantuan moril jang besar bagi Panitia untuk melandjutkan langkahnja. Dalam babak pertama telah didapat kesanggupan dari Kementerian, bahwa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Surabaja akan mendapat boeken certificaten, hal mana merupakan tundjangan materiil jang tak ternilai.<noinclude>{{rvh|'''713'''}}</noinclude> t8j1c5x9yv15f04rjj50m3ydbr3t9y0 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/748 104 99448 290947 276612 2026-05-10T13:24:51Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290947 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Oleh karena dari penjelidikan Sub Panitia Keuangan ternjata pula, bahwa soal keuangan dapat dipetjahkan, dan mengumpulkan uang guna perbelandjaan Sekolah tadi bukan suatu kemustahilan, maka Panitia memutuskan untuk berusaha mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum di Surabaja. Pada rapat jang kedua dari Panitia Persiapan, dengan mempergunakan bahan-bahan pertimbangan, andjuran dari Sub-Panitia Sub-Panitia, ditetapkan sebagai kesimpulan: <ol type="1"> <li>Pendirian sesuatu Perguruan Tinggi di Surabaja adalah perlu, atas pertimbangan-pertimbangan:</li> <ol type="a"> <li>Hasrat para Pemuda jang njata;</li> <li>Penjaluran sesuatu kebutuhan, untuk mentjegah terlantarnja para Pemuda jang ingin menuntut ilmu;</li> <li>Turut serta dalam pembangunan Negara;</li> <li>Kebutuhan Negara dan Bangsa akan tenaga jang tjakap;</li> <li>Kurangnja Perguruan Tinggi bagi Indonesia;</li> <li>Penambahan djumlah Perguruan Tinggi membuka djalan pertukaran, pergeseran faham dalam ilmu jang akan menguntungkan penuntutan ilmu (wetenschaps-beoefening).</li> </ol> <li>Berhubung dengan soal tenaga pengadjar, dimulai dengan bagian peladjaran jang sederhana, ialah:</li> <ol type="a"> <li>Membuka Bagian Ilmu Hukum sadja;</li> <li>Merentjanakannja untuk peladjaran candidaat sadja;</li> <li>Memulai dengan peladjaran tahun ke I dulu;</li> <li>Memakai rentjana Fakultet Ilmu Hukum Pemerintah sebagai rentjana peladjarannja.</li> </ol> <li>Pengeluasan atau pengembangan dikemudian hari diadakan menurut kemungkinan dan kesanggupan;</li> <li>Pengakuan oleh Pemerintah dan effek sipil harus diusahakan, agar supaja tidak menimbulkan keketjewaan pada para mahasiswa dikemudian hari;</li> <li>Penjelenggaraan Perguruan Tinggi Ilmu Hukum harus diserahkan kepada suatu Panitia Penjelenggara;</li> <li>Soal Perguruan Tinggi adalah urusan masjarakat, dan karena itu tergantung kepada kesanggupan dan kekuatan masjarakat;</li> <li>Berdasarkan bab 6 maka wakil-wakil dari masjarakat harus diadjak serta dan karenanja Panitia Penjelenggara harus disusun dan ditetapkan oleh wakil-wakil masjarakat tadi;</li> <li>Menjediakan bahan-bahan jang telah dikumpulkan bagi Panitia Penjelenggara.</li> </ol> Berdasarkan atas kesimpulan-kesimpulan itu, maka Panitia Persiapan pada hari Rebo malam tanggal 11 Oktober 1950, dirumah kediaman Ketua Kehormatan mengadakan pertemuan dengan 50 orang, jang dipandang dapat mewakili lapisan masjarakat, untuk memberi pendjelasan tentang djalan usaha Panitia Persiapan dan mengemukakan kepada mereka itu sanggup atau tidaknja menjelenggarakan Perguruan Tinggi tersebut.<noinclude>{{rvh|'''714'''}}</noinclude> 2bvpid2311gguf2oykmjfz0z1rw3n7a Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/760 104 99450 290974 276635 2026-05-10T13:32:10Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290974 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>„{{sp|Radio Republik Indonesia Djawa-Timur}}” dengan gelombang 63, 80 dan 113 meter. Semua pemantjar dipusatkan di Kediri, dengan satu programa. Pemantjar 113 di Sawahan dengan pemantjar Témpé. Blitar tidak menjiarkan sendiri, sementara melajani telegrafie berita dari Malang, sambil menunggu peralatan guna mendjadi relay station. Dalam koordinasi ini sebagian besar dari anggauta tehnik R.R.I. Kediri tidak menjetudjui beleid pimpinannja. Sebagai konsekwensinja maka semua alat-alat tehnik ditjabut kembali, sebab R.R.I. Kediri didirikan atas alat-alat prive. Dengan ini berachirlah sedjarah R.R.I. Kediri jang semula. Untuk mengganti pemantjar Kediri, pemantjar jang semula ditudjukan pada Djombang, dipakai untuk gelombang 80 meter, ini karena Djombang belum siap menerima R.R.I. Surabaja. Beberapa waktu telah liwat, tekanan dari fihak Belanda agak reda. Pusat tidak lagi dapat membelandjai nood uitval basis. Sawahan disuruh mematikan. Oleh pimpinan di Djawa-Timur diputuskan Sawahan diteruskan, mengingat pengalaman di Djombang, sedangkan bezetting dikurangi dan alat-alat persediaan jang dititipkan di Ponorogo diambil kembali. Dengan gabungan ketiga Studio tidak tertjapai kerdja-sama jang baik antara beberapa anggauta pimpinan. Sementara itu datanglah kawan-kawan dari Djember jang sudah kehilangan alat perdjuangannja. Beberapa hari sebelum peristiwa Madiun, suasana di Kediri hangat sekali. Untuk mendjaga kemungkinan jang tidak diharapkan maka pemantjar R.C.A. 63 meter dipindahkan dari Djalan Kowak 19 ke Kantor Karesidenan, disebelah barat dari kali Brantas, berdekatan dengan Kantor Pemerintahan dan Kemiliteran. Waktu Peristiwa Madiun, ternjata pemantjar R.R.I. Madiun jang dipakai oleh golongan Moeso tidak mengalami kerusakan (utuh), dan hanja pegawainja dipaksa untuk melajani pemantjar. Tekanan Belanda semakin besar. Rentjana pada waktu itu hendak mendirikan pemantjar di Bodjonegoro, menghidupkan kembali Sawahan, mendirikan nood uitval basis II di Penampian. Sawahan didirikan kembali dengan gelombang 80 meter, pemantjar Témpé merelay siaran dari 63 meter. Sesudah Sawahan berdiri, gelombang 63 meter dimatikan dan diganti dengan pemantjar ketjil. Clash ke-II meletus. Rentjana belum selesai didjalankan, Kediri diduduki Belanda. Untung semalam sebelum Belanda masuk di Kediri, pemantjar 63 dan alat perlengkapannja dapat dikeluarkan dari Kota dan dibawa ke Desa Karangredjo untuk selandjutnja diteruskan ke Penampian. Tetapi ternjata rentjana ini gagal, karena putusnja hubungan dan Penampian telah dihantjurkan oleh Belanda. Kemudian pemantjar dibawa ke Sendang dan selandjutnja ke Djambuwok. Pada waktu Kediri diduduki Belanda staf untuk Penampian meninggalkan Kota; Pemerintahan Sipil pada saat itu ada disekitar Sawahan. Djambuwok dapat di-instalir dan pertjobaan-pertjobaan dilakukan dengan gelombang 63. Beberapa hari kemudian Djambuwok- Sumberpandan dihudjani bom oleh Belanda. Pada tanggal 17 Djanuari 1949. Pemantjar sudah siap diudara. Untuk menipu Belanda seakan-akan pemantjar R.R.I.<noinclude>{{rh|'''726'''}}</noinclude> ja4a2feasxe1k392gggd0fyinwedx9b Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/762 104 99451 290982 276638 2026-05-10T13:33:18Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290982 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Pada tanggal 27 Desember 1949 berlangsunglah penjerahan kedaulatan oleh Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat. Kemudian daripada itu perdjuangan politik dari Rakjat Indonesia dapat menjatukan kembali daerah-daerah dan Negara-Negara Bagian, sehingga terbentuklah kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia, pada tanggal 15 Agustus 1950. Dari Negara-Negara Bagian dioper kekuasaan-kekuasaan, demikian djuga R.R.I. mengambil oper kekuasaan dari R.O.I.O. dan terbentuklah kembali ,,Radio Republik Indonesia” dalam Negara Kesatuan. Pada saat itu R.R.I. dalam siarannja, masih ada jang diambilkan dari program R.O.I.O., tetapi pada bulan bulan pertama dari tahun 1951 sudah dihapuskan. Dalam hal ini Radio Surabaja jang dengan setjara tjepat mengadakan perubahan programa jang sesuai dengan djiwa dari Rakjat Indonesia. R.R.I. Kediri dihapuskan pada tahun 1950 dan staf Pegawainja digabungkan dalam formasi Surabaja, sedangkan R.R.I. Djember dapat didirikan pada bulan Desember tahun 1950. Usaha-usaha jang dapat dinjatakan, ialah dengan terbentuknja Studio Orkes Surabaja pada tahun 1951, reportage-reportage mengenai matjam-matjam upatjara-upatjara dan kedjadian-kedjadian, perlombaan perlombaan (pelajaran, tindju, sepak bola), terselenggaranja pertundjukan musik dari Gabungan Studio Orkes Solo, Jogja, Surabaja. Dalam tahun 1950-1952 R.R.I. dapat menjiarkan lagu-lagu jang sifatnja lebih madju dari krontjong, jang dapat menimbulkan perhatian chalajak ramai. Siaran Panggung Radio dan Masjarakat ternjata djuga sangat menarik perhatian para pendengar dan penggemar kesenian, dan dengan usaha demikian hubungan antara radio dan masjarakat dapat lebih di-eratkan. Hingga tahun 1952 R.R.I. Surabaja, Djember dan Madiun bekerdja dengan alat-alat jang terbatas. Ada pula tambahan-tambahan sedikit mengenai alat-alat, begroting guna membangun kembali gedung Studio Simpang (Surabaja). Ada rentjana-rentjana guna membangun pemantjar jang lebih besar lagi, hal ini masih tergantung kepada kekuatan bantuan jang disanggupkan dari Pusat. Dalam tahun 1952 R.R.I. Surabaja bekerdja dengan pemantjar dari 5 Kilowatt, 1,5 Kilowatt dan 300 Watt, dengan gelombang 75,37 m, 89,41 m dan 121,6 m; sedangkan Djember mempergunakan gelombang 128,75 m dan Madiun sebagai relaystation memakai gelombang 92 m. {{rule|width=4em}}<noinclude>{{rh|'''723'''}}</noinclude> 3dk9s8g56i8reqrlw4me8h2cykatmpq Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/769 104 99452 291000 276653 2026-05-10T13:34:56Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291000 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{r|'''SEKITAR PEKERDJAAN DJAWATAN PENERANGAN.'''}}<br> '''{{Dropinitial|S}}'''EDJAK Proklamasi Kemerdekaan, Pemerintah Republik Indonesia menganggap perlu adanja suatu Kementerian Penerangan dengan Tjabang-Tjabangnja jang lengkap sampai di Daerah-Daerah, jang chusus mempunjai tugas untuk memberi penerangan kepada Rakjat, terutama penerangan mengenai politik jang didjalankan oleh Pemerintah. Djikalau Kementerian Pertahanan berkewadjiban membimbing dan mengatur perdjuangan kemerdekaan dalam lapangan Militer, maka Kementerian Penerangan tugasnja memberi pengertian kepada Bangsa Indonesia tentang perdjuangan revolusi jang maha dahsjat, guna mempertahankan kemerdekaan jang memang sudah mendjadi hak dari pada tiap-tiap Bangsa. Tugas penerangan adalah suatu kewadjiban sulit jang kadang kadang bersifat contradictio, oleh karena disamping membimbing Rakjat dalam perdjuangan revolusioner, jang membutuhkan penerangan setjara agitasi dan demagogie, merubah sifat Rakjat jang statis mendjadi dinamis, harus pula mendidik Rakjat memakai common sense, sjarat perlu untuk pertumbuhan demokrasi jang sehat. Dalam pada itu Kementerian Penerangan Dinas Propinsi Djawa Timur jang pada waktu permulaan dipimpin oleh Njonoprawoto, berkedudukan di Kota Malang, jang belum mempunjai Bagian Pewartaan dan Tjabang-Tjabang di Daerah-Daerah, kemudian mendapat pimpinan baru, ialah Roeslan Abdulgani. Oleh pimpinan dirasa perlu untuk mengadakan pembagian pekerdjaan jang tegas dalam Djawatan Penerangan. Pada saat itu Kementerian Penerangan Dinas Propinsi Djawa Timur dibagi dalam lima bagian, ialah: Bagian Umum, Bagian Sekretariat, Bagian Dokumentasi, Bagian Pers dan Bagian Hidangan Sosial. Dalam bahan-bahan Bagian Hidangan Sosial inilah direntjanakan dan di-olah penerangan Rakjat lewat gambar-gambar, sandiwara, radio dan pedato-pedato dengan tudjuan mengadjak Rakjat ikut serta dalam perdjuangan Bangsa melawan kaum pendjadjah. Waktu itu Kementerian Penerangan masih dalam taraf pertumbuhan, sehingga kadang-kadang dalam melakukan kewadjiban seringkali terdjadi kesalahan -kesalahan, antara lain dalam tjara-tjara bekerdja, misalnja<noinclude>{{rh|'''659'''}}</noinclude> 5rqunzxvpejjwa6a969ivn7hc6zyx48 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/770 104 99453 291007 276660 2026-05-10T13:35:29Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291007 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>dalam mempertundjukkan sesuatu pertundjukan kepada Rakjat lebih mengutamakan keseniannja daripada mendidik Rakjat ke-arah kesadaran politik, kesadaran ber-Bangsa dan kesadaran ber-Pemerintah. Djuga bagi Bagian Pers belum lagi diketemukan asas bekerdja untuk mendjadikan pers Nasional sebagai pembantu jang terpenting bagi usaha-usaha penerangan untuk menjalurkan pimpinan dan bimbingan Pemerintah kepada Rakjat. Kementerian Penerangan Dinas Propinsi Djawa-Timur ketika itu masih niempunjaibagian sekretariat, jang dapatmemperhatikan soal-soal kedalam dan dipimpin oleh seorang sekretaris jang mempunjai hak penuh sebagai sekretaris, sehingga penerangan pimpinan politik dapat langsung didjalankan oleh Pemimpin Umum (Roeslan Abdulgani) sendiri. Kementerian Penerangan Dinas Propinsi Djawa-Timur waktu itu telah dapat membagi-bagikan brochures jang didapat dari Kementerian Penerangan Pusat kepada Djawatan Penerangan di Daerah-Daerah. Baru dalam permulaan tahun 1947, dirasakan oleh Kementerian Penerangan Pusat akan kebutuhan adanja suatu Bagian Penerangan dalam Kementerian Penerangan, jang chusus akan mengurus dan mengatur pekerdjaan penerangan, diluar segala sesuatu jang mengenai hal administrasi, keuangan atau urusan Pegawai, ialah Bagian Publiciteit. Setelah aksi Militer Belanda pertama, Kementerian Penerangan memindahkan Dinas Propinsi Djawa-Timur terpaksa tempat kedudukannja, dari Malang ke Blitar, seterusnja ke Kediri dan Madiun dan Pemimpin Umum Roeslan Abdulgani diganti oleh Soemarmo. Sementara itu bagi Bagian Publiciteit belum ada ketegasan tentang tugas kewadjibannja antara lain disebabkan berubahnja kedudukan hak dan kewadjiban Kementerian Penerangan Dinas Propinsi Djawa- Timur sebagai suatu Djawatan tingkat Propinsi jang dipimpin langsung oleh Kementerian Penerangan Pusat, mendjadi Djawatan Penilikan atau Inspeksi jang kehilangan hak pimpinan penuh atas Djawatan Djawatannja di Daerah-Daerah. Keadaan demikian ini berlangsung dalam suasana bekerdja setjara proefondervindelijk. Sementara itu Pemimpin Umum Soemarmo diganti oleh Pamoedji (Residen Surabaja almarhum). Kemudian dengan pimpinan baru, jang dipegang oleh Soetomo Djauhar Arifin, di- ichtiarkanlah untuk menemukan ketentuan-ketentuan bekerdja bagi Bagian Publiciteit, dengan djalan sering mengadakan rapat-rapat, setjara bertukar fikiran dengan Kepala-Kepala Bagian lainnja. Sementara itu status Inspeksi diganti dan kembali mendjadi Kementerian Penerangan Dinas Propinsi Djawa-Timur. Pada Konperensi Penerangan seluruh Djawa dan Sumatera jang dimulai pada tanggal 1 April 1948, Kementerian Penerangan Pusat menjatakan, bahwa perlu diadakan tiga Bagian jang besar dalam Kementerian Penerangan Dinas Propinsi Djawa-Timur supaja dapat bekerdja setjara tehnis dan sistimatis. Bagian -Bagian tersebut masing masing dibagi lagi mendjadi beberapa Sub-Bagian atau Urusan-Urusan.<noinclude>{{rvh|'''660'''}}</noinclude> cffiy00vyvci38ohxvtwp83gbft59o0 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/771 104 99455 291023 276666 2026-05-10T13:40:58Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291023 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Djawatan Penerangan Daerah akan chusus mengurus djalannja penerangan untuk menjalurkan politik beleid Pemerintah Pusat dan Daerah kepada Rakjat. Waktu itu sedang diadakan perundingan dengan fihak Belanda dan wakil-wakil P.B.B. jang menjebabkan lebih sulit dan berat lagi kewadjiban Penerangan jang penjelenggaraannja berpusat pada Bagian Publiciteit. Rakjat jang telah mulai critisch harus diberi pengertian, bahwa perdjuangan revolusi menentang pendjadjahan masih tetap dilandjutkan, hanja dengan tjara jang lain. Kesalahan-kesalahan publikasi dalam Djawatan-Djawatan Penerangan di Daerah-Dacrah tidak terdjadi oleh suatu opzet politis jang bewust untuk mentjapai sesuatu tudjuan, melainkan adalah disebabkan kurang pengalaman dalam hal publiciteit, dita mba h dengan keruhnja suasana politik dewasa itu, disebabkan oleh karena Kabinet jang telah menjetudjui persetudjuan Renville, kemudian mengundurkan diri. Dengan meningkatnja critische zin dari Rakjat, maka tjara memberi penerangan harus lebih berhati-hati sesuai sjarat-sjarat pokok ilmu pewartaan, supaja tudjuan penerangan jang telah direntjanakan amat lama dan sulit serta memerlukan biaja-biaja jang besar itu dapat tertjapai. Pekerdjaan memberi penerangan dan pengertian kepada Rakjat memerlukan ketjakapan dan keradjinan, karena sesuatu jang belum dimengerti oleh Rakjat, terus-menerus harus diusahakan sampai dapat dimengerti oleh Rakjat. Untuk itu Kementerian Penerangan Pusat menjediakan fonds-fonds guna membiajai usaha-usaha memasukkan pengertian itu kedalam alam untuk dapat fikiran Rakjat, misalnja: Bahwa Irian-Barat adalah bagian Daerah Republik Indonesia; Bahwa „Proklamasi Republik Maluku-Selatan” {{sp|tidak}} sama dengan Proklamasi Bung Karno pada 17 Agustus 1945. Bahwa tindakan sanering keuangan Pemerintah tidak bermaksud untuk menimbulkan kemelaratan dikalangan Rakjat, djustru kebalikannja, bertudjuan menjesedjahterakan Rakjat. Sebelum mengadakan penerangan, Bagian Pewartaan menerima bahan-bahan dari seksi pelapuran, misalnja, lapuran lengkap dari mana - bilamana - dalam keadaan apa - timbul politieke - militaire - sociale - dan morele onrust, sehingga dapat diadakan usaha-usaha untuk mentjegah atau memberantasnja dengan tjara memberi pengertian jang memungkinkan berubahnja pangkal fikiran jang salah. Sedjalan dengan kemadjuan masjarakat, maka oleh Kementerian Penerangan Pusat diadakan tindakan-tindakan untuk menjempurnakan organisasi Kementerian Penerangan, dengan membagi bagian-bagian mendjadi pelbagai seksi-seksi. Dengan diadakannja bagian-bagian baru, antara lain Bagian Visueel, maka pekerdjaan memberi penerangan kepada Rakjat jang buta huruf sangat dipermudah. Penjempurnaan bagian-bagian didalam Djawatan-Djawatan Penerangan di Daerah adalah amat penting, guna dapat menimbulkan<noinclude>{{rvh|'''661'''}}</noinclude> do6lrcf8ynthi6kxtf9lr5xac6cq80s 291135 291023 2026-05-10T14:22:18Z Lutfiyatun 26681 291135 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Djawatan Penerangan Daerah akan chusus mengurus djalannja penerangan untuk menjalurkan politik beleid Pemerintah Pusat dan Daerah kepada Rakjat. Waktu itu sedang diadakan perundingan dengan fihak Belanda dan wakil-wakil P.B.B. jang menjebabkan lebih sulit dan berat lagi kewadjiban Penerangan jang penjelenggaraannja berpusat pada Bagian Publiciteit. Rakjat jang telah mulai critisch harus diberi pengertian, bahwa perdjuangan revolusi menentang pendjadjahan masih tetap dilandjutkan, {{sp|hanja}} dengan {{sp|tjara}} jang lain. Kesalahan-kesalahan publikasi dalam Djawatan-Djawatan Penerangan di Daerah-Dacrah tidak terdjadi oleh suatu opzet politis jang bewust untuk mentjapai sesuatu tudjuan, melainkan adalah disebabkan kurang pengalaman dalam hal publiciteit, {{sp|ditambah}} dengan keruhnja suasana politik dewasa itu, disebabkan oleh karena Kabinet jang telah menjetudjui persetudjuan Renville, kemudian mengundurkan diri. Dengan meningkatnja critische zin dari Rakjat, maka tjara memberi penerangan harus lebih berhati-hati sesuai sjarat-sjarat pokok ilmu pewartaan, supaja tudjuan penerangan jang telah direntjanakan amat lama dan sulit serta memerlukan biaja-biaja jang besar itu dapat tertjapai. Pekerdjaan memberi penerangan dan pengertian kepada Rakjat memerlukan ketjakapan dan keradjinan, karena sesuatu jang belum dimengerti oleh Rakjat, terus-menerus harus diusahakan sampai dapat dimengerti oleh Rakjat. Untuk itu Kementerian Penerangan Pusat menjediakan fonds-fonds guna membiajai usaha-usaha memasukkan pengertian itu kedalam alam untuk dapat fikiran Rakjat, misalnja: Bahwa Irian-Barat adalah bagian Daerah Republik Indonesia; Bahwa „Proklamasi Republik Maluku-Selatan” {{sp|tidak}} sama dengan Proklamasi Bung Karno pada 17 Agustus 1945. Bahwa tindakan sanering keuangan Pemerintah tidak bermaksud untuk menimbulkan kemelaratan dikalangan Rakjat, djustru kebalikannja, bertudjuan menjesedjahterakan Rakjat. Sebelum mengadakan penerangan, Bagian Pewartaan menerima bahan-bahan dari seksi pelapuran, misalnja, lapuran lengkap dari mana - bilamana - dalam keadaan apa - timbul politieke - militaire - sociale - dan morele onrust, sehingga dapat diadakan usaha-usaha untuk mentjegah atau memberantasnja dengan tjara memberi pengertian jang memungkinkan berubahnja pangkal fikiran jang salah. Sedjalan dengan kemadjuan masjarakat, maka oleh Kementerian Penerangan Pusat diadakan tindakan-tindakan untuk menjempurnakan organisasi Kementerian Penerangan, dengan membagi bagian-bagian mendjadi pelbagai seksi-seksi. Dengan diadakannja bagian-bagian baru, antara lain Bagian Visueel, maka pekerdjaan memberi penerangan kepada Rakjat jang buta huruf sangat dipermudah. Penjempurnaan bagian-bagian didalam Djawatan-Djawatan Penerangan di Daerah adalah amat penting, guna dapat menimbulkan<noinclude>{{rvh|'''661'''}}</noinclude> egc0qfs49ch5dkeiy2o4aq5fp64wl0c Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/781 104 99457 291055 276691 2026-05-10T13:55:52Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291055 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>terutama dengan Djawatan-Djawatan di Sektor Kemakmuran setelah Konperensi Gabungan tadi, tambah diper-erat dan disempurnakan. Dalam mentjapai hubungan jang erat dan kerdja-sama jang baik itu, sangat dihargai langkah Gubernur Djawa-Timur Samadikoen jang selalu mengadjak Djawatan Penerangan untuk ikut serta didalam Konperensi-Konperensi Dinas Djawatan-Djawatan Kemakmuran dan membawa Djawatan Penerangan serta kedalam berbagai-bagai „ Panitia" jang dibentuk di Propinsi sampai di Kabupaten-Kabupaten. Dalam hubungan kerdja -sama dengan lain-lain Djawatan ini dapat disebutkan lapangan-lapangan usaha sebagai berikut: <ol type="1"> <li>Panitia Desa-Desa Pertjontohan;</li> <li>Panitia Reboisasi dan Karangkitri;</li> <li>Perkreditan Desa (Lumbung-Desa, Bank-Desa) dan Jajasan Kredit;</li> <li>Usaha Pertanian, Perikanan dan lain sebagainja;</li> <li>Perindustrian;</li> <li>Perkebunan;</li> <li>Koperasi;</li> <li>Pembelian padi oleh Pemerintah.</li> </ol> Sangat diharapkan agar hubungan jang baik ini dapat lebih disempurnakan dimasa-masa jang akan datang. Sedikit banjak hubungan baik ini bergantung daripada hubungan persoonlijk setjara kollegiaal antara Kepala-Kepala Djawatan jang bersangkutan beserta Pegawai-Pegawai jang ditugaskan untuk keperluan hubungan pekerdjaan hingga tidak terlalu terikat oleh itu, formaliteit dinas-resmi. Dengan tertjapainja hubungan kerdja jang demikian itu maka didalam usaha usaha pelaksanaan usaha-usaha Pemerintah di Sektor Kemakmuran itu, Djawatan Penerangan tidak akan dilupakan untuk diadjak ikut serta. Didalam usaha-usaha penerangan di Sektor Kemakmuran ini tidak boleh sekali-kali disadjikan hal-hal jang indah-indah kepada Rakjat jang kiranja tidak dapat dilaksanakan oleh Pemerintah, oleh karena penerangan sematjam itu pasti hanja akan menimbulkan rasa ketjewa belaka dikalangan Rakjat jang achirnja mudah digunakan oleh golongan golongan tertentu untuk menghantam Pemerintah. Di-lapangan Keamanan, Djawatan Penerangan pun tidak ketinggalan untuk ikut serta memberikan dan terpeliharanja keamanan. sumbangan tenaganja bagi tertjapainja Keadaan keamanan Djawa-Timur pada tahun 1952 umumnja lebih baik daripada tahun-tahun jang lalu, sekalipun adakalanja pada sesuatu waktu masih terdapat gangguan keamanan di-beberapa Daerah, misalnja akibat terdjadinja peristiwa bataljon 426 di Djawa-Tengah, hingga menimbulkan beberapa infiltrasi di Daerah Ngawi, gangguan gerombolan-gerombolan Amiruddin dan Sirad di Daerah Djember dan beberapa perampokan-perampokan di Daerah Blitar/Tulungagung. Lambat laun gangguan-gangguan itu dapat diatasi, berkat kegiatan kegiatan dari pada alat-alat kekuasaan Negara. Didalam usaha penerangan preventif maupun repressif di-lapangan keamanan ini,<noinclude>{{rvh|'''671'''}}</noinclude> lmzgm8vc2vwfzfy7y78bjqu1wpeobpm Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/782 104 99459 291056 276706 2026-05-10T13:56:40Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291056 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Djawatan Penerangan selalu berkerdja-sama serta erat dengan fihak-fihak Polisi, Tentara dan Pamong-Pradja. Oleh karena Kementerian Penerangan adalah bij uitstek apparaat c.q. Djawatan Penerangan Pemerintah, maka politik soal-soal politik selalu mendapat perhatian istimewa. Kiranja bukan mendjadi rahasia, bahwa Djawa-Timur daerah kegiatan-kegiatan politik merupakan daerah dimana selalu memuntjak. Kegiatan-kegiatan politik ini nampak lebih njata setelah terdjadi peristiwa 17 Oktober di Djakarta. Didalam menghadapi simpang-siurnja aliran-aliran politik jang saling berebutan pengaruh sebagai konsekwensi dari pada dasar Negara funksi Djawatan Indonesia jang Demokratis, maka Republik Penerangan dalam hal ini adalah menjalurkan aliran-aliran itu ke-arab kehidupan demokrasi jang sportief dan sehat untuk mentjegah bentrokan bentrokan jang hebat antara „kita sama kita”. Selain kegiatan-kegiatan politik, daerah Djawa-Timur terkenal pula dengan adanja perselisihan-perselisihan perburuhan jang hebat, hingga tidak djarang pula disertai dengan antjaman-antjaman pemogokan. Oleh „Panitia Penjelesaian Pertikaian Perburuhan Daerah” Djawa-Timur atau disingkat P4D dalam tahun 1952, telah diterima 243 perselisihan perburuhan untuk dimintakan penjelesaiannja. Ini berarti, bahwa tiap-tiap seminggu rata-rata P4D sidang 4 atau 5 kali. Oleh karena Djawatan Penerangan Propinsi Djawa-Timur duduk didalam P4D sebagai Anggauta Penasehat itu, maka Djawatan Penerangan ikut serta memberikan sumbangan bagi tertjapainja penjelesaian perselisihan perburuhan itu. Di-lapangan pendidikan-masa (mass-education) kerdja-sama diantara Djawatan Penerangan dengan Djawatan Pendidikan Masjarakat terutama di-lingkungan P.P.M. (Panitia Pendidikan Masjarakat) di Ketjamatan-Ketjamatan, dimana selalu duduk seorang Anggauta Djawatan Penerangan didalam usaha-usaha Pemberantasan Buta Huruf, Kursus Kursus Pengetahuan Umum dan Taman-Taman Pembatjaan/Perpustakaan. Didalam usaha-usaha penerangan disekitar kewarga-negaraan dan persiapan-persiapan guna menghadapi pemilihan-pemilihan umum untuk Konstituante dan Dewan Perwakilan Rakjat, Djawatan Penerangan Propinsi selalu saling berhubungan dan tukar-menukar bahan-bahan penerangan dengan Kantor Gubernur Bagian U.P.B.A. (Urusan Peranakan dan Bangsa Asing) dan Kantor Pemilihan Umum di Propinsi. Disamping itu pada umumnja telah ada hubungan jang baik dengan fihak persurat-kabaran dan Radio Republik Indonesia (R.R.I.) sebagai Djawatan jang autonoom di-lingkungan Kementerian Penerangan. Didalam mendjalankan tugas penerangan bagi terlaksananja usaha usaha Pemerintah sebagai jang disebutkan diatas, dapatlah dikemukakan „usaha-usaha penerangan” seluruh Djawa-Timur sebagai berikut (menurut statistik globaal jang disusun untuk tahun 1952): {{PUU-nomor|n=1|m=1|Usaha penerangan lisan, tjeramah -tjeramah penerangan, melalui rapat-rapat konperensi-konperensi mulai di Ibukota Propinsi, Karesidenan, Kabupaten, Kawedanan, Ketjamatan sampai di Desa-Desa;}}<noinclude>{{rvh|'''672'''}}</noinclude> amswp1lfu746dibl62lpw9v3zgrezlg Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/787 104 99460 291082 276711 2026-05-10T14:07:30Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291082 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>'''Lampiran Penerangan:''' '''Tugas kewadjiban Kementerian Penerangan Republik Indonesia:''' <ol type="1"> <li>Memberi penerangan kepada segenap lapisan rakjat tentang politik jang didjalankan oleh Pemerintah (Kabinet) serta memberi penerangan tentang peraturan-peraturan jang dikeluarkan dan tindakan-tindakan jang dilakukan, baik oleh Pemerintah Pusat maupun oleh Pemerintah Daerah.</li> <li>Memberi penerangan dan memperdalam pengertian tentang ideologie Negara (Pantja-Sila) seperti termaktub dalam Undang Undang Dasar.</li> <li>Memperdalam kesadaran politik dan ketjerdasan membanding (critische zin) dari rakjat sebagaimana jang harus ada pada tiap-tiap warga negara jang mendjundjung tinggi dasar-dasar demokrasi.</li> <li>Memelihara dan menjuburkan djiwa dan roch perdjuangan rakjat untuk melaksanakan tjita-tjita negara.</li> <li>Memperkenalkan keluar negeri tjita-tjita, kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan negara dan kebudajaan bangsa Indonesia.</li> </ol> {{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}Diumumkan pada tanggal 7 Mei 1948<br> {{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}di Kaliurang, Jogjakarta . '''Tri-Prasetya Penerangan:''' <ol type="1"> <li>Djuru-penerang adalah pendukung tjita-tjita Negara.</li> <li>Djuru-penerang adalah penggerak rakjat melaksanakan tjita-tjita Negara.</li> <li>Djuru-penerang adalah pembimbing public opinion.</li> </ol> '''Sila Kehormatan Penerangan:''' Berdasarkan Tri-prasetya Penerangan diatas ditetapkan code d'honneur (sila kehormatan) bagi tiap-tiap Djuru-penerang, sebagai berikut: <ol type="1"> <li>Djuru-penerang jakin akan kebenaran Pantja-Sila Negara;</li> <li>Djuru-penerang setia dan tulus ichlas melaksanakan politik Pemerintah;</li> <li>Djuru-penerang militant didalam djiwa, fikiran dan geraknja;</li> <li>Djuru-penerang djudjur dalam perkataan dan perbuatannja;</li> <li>Djuru-penerang tabah dalam menghadapi tiap kesulitan dalam pekerdjaannja;</li> <li>Djuru-penerang bidjaksana dalam pergaulan hidupnja dan mendjadi tjontoh dan tauladan bagi sekelilingnja;</li> <li>Djuru-penerang adalah patriot sedjati.</li> </ol> {{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}(Diumumkan oleh Sekretaris Djenderal<br> {{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}Kementerian Penerangan dalam pembukaan<br> {{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}Kursus Dinas Kementerian Penerangan<br> {{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}pada tanggal 8 Oktober 1951 di Djakarta).<noinclude>{{rh|'''677'''}}</noinclude> 1669oswjvw9ii26s5t4en5liu1he5vn Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/791 104 99462 291127 276714 2026-05-10T14:17:03Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291127 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{r|'''PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA.'''}}<br> {{Dropinitial|S}}EDJAK „Persatuan Wartawan Indonesia” didirikan di Solo dalam tahun 1946, maka para Wartawan di Surabaja jang pada waktu itu sedang mengungsi di Modjokerto, di Malang dan di Kediri telah membentuk Tjabang-Tjabang djuga di tempat-tempat pengungsian itu. Pada rapat pendirian di Solo itu, hadir para Wartawan dari Djakarta, diantaranja rekan -rekan jang telah mengungsi ke Jogja, dari Solo sendiri dan dari Djawa-Timur. Jang mengambil inisiatip untuk mendirikan Persatuan Wartawan itu ialah Adam Malik dari „Antara”, Soemantoro dari „Kedaulatan Rakjat”, Sutan Makmur dari „Harian Rakjat”, Mr. Soemanang dan lain-lain. Dalam rapat itu telah dipilih sebagai Ketua Soedarjo Tjokrosisworo dibantu oleh beberapa Wartawan lainnja. Oleh karena para Wartawan pada waktu itu sibuk memikirkan keadaan-keadaan politik, maka mereka tak sempat untuk mengatur peraturan dan djuga pekerdjaan-pekerdjaan perhimpunan. Tambahan pula beberapa rekan antaranja Adam Malik dan Soemantoro, tidak lama sesudah „Persatuan Wartawan Indonesia” didirikan, telah ditangkap berhubungan dengan „peristiwa Djuli" di Jogjakarta. Sesuai dengan putusan kongres di Solo itu, maka nama „Persatuan Wartawan Indonesia” itu tak boleh disebut dengan nama singkatan, misalnja P.W.I. tetapi harus disebut dan ditulis dengan lengkap „Persatuan Wartawan Indonesia”. Ternjata putusan itu kalah dengan kebiasaan dan orang lalu menjebut dengan singkatan P.W.I. dan dalam buku peraturannja pun nama singkatan itu dipakainja djuga. Asas dan tudjuannja: berasas Kebangsaan dan tudjuannja ialah mempertahankan hak-kemerdekaan-informasi dan menjatakan pendapat serta berichtiar mentjapai pelaksanaannja jang sempurna. '''Kring Surabaja.''' Pada djaman pendudukan dan semasa Pemerintah Republik Indonesia berkedudukan di Jogjakarta, di Surabaja sendiri tidak ada kring, karena para Wartawan hampir semuanja mengungsi ke-pedalaman. Oleh Wartawan-Wartawan dari Surabaja jang mengungsi di Modjokerto didirikan sebuah Kring jang diketuai oleh Bintarti, di Malang diketuai oleh Sofwanhadi.<noinclude>{{rh|'''681'''}}</noinclude> nzuluo7tb12vxgdncaateidz7mmm10u Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/804 104 99467 291128 276738 2026-05-10T14:17:39Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291128 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>peladjaran-peladjaran dengan saksama, karena sudah terlalu tua dan lain sebagainja. Berdasar pengalaman-pengalaman itu, maka kemudian tidak djarang Kursus-kursus P.B.H. menolak murid, terutaina djika dipandang telah tua, karena jang didahulukan adalah orang-orang jang berumur antara 15–35 tahun. Dengan demikian, meskipun djumlah murid jang mengikuti kịrsus-kursus sama, biaja-biaja jang dikeluarkan sama djuga, tetapi hasilnja lebih memuaskan, artinja dalam udjian lebih banjak jang lulus. Dengan djalan sematjam itu, diharapkan, bahwa hasil udjian pada achir tahun 1952 akan dapat mentjapai angka lebih dari 300.000 orang. '''Sistim harus dirubah.''' Menurut perhitungan, sebenarnja hasil-hasil P.B.H. belum memuaskan. Sebagai telah direntjanakan pada tahun 1952 dalam tempo 10 tahun (djadi hingga 1962) untuk Djawa-Timur harus sudah dapat dilaksanakan Pemberantasan Buta Huruf terhadap 7 à 8 djuta orang buta huruf jang berumur antara 13 sampai 45 tahun. Djika untuk seterusnja dipergunakan sistim jang dipakai seperti sekarang ini, tidak mungkin rentjana tadi diselesaikan dalam waktu 10 tahun, karena tiap tahun itu djumlah orang jang lulus udjian P.B.H. tidak lebih dari 200.000 orang. Oleh karena itu, agar dapat melaksanakan rentjana tersebut perlu diperhatikan soal-soal: <ol type="1"> <li>Tambahan biaja;</li> <li>Perubahan sistim dan</li> <li>Memperbesar perhatian masjarakat terhadap usaha ini, sehingga masjarakat sanggup pula ikut memikul biaja-biaja jang dikeluarkan untuk keperluan itu.</li> </ol> '''Jang perlu batja.''' Mengenai soal perubahan sistim ini memang sudah direntjanakan dan telah mulai dikerdjakan. Perubahan akan dititik-beratkan kepada methode peladjaran sehingga waktu 6 bulan dapat dipersingkat mendjadi 3 bulan sadja. Untuk ini antara lain methode peladjaran klasikal akan diganti dengan suatu methode baru jang diperintji mendjadi 2 bagian, ialah : <ol type="1"> <li>Mengenal huruf, dan sesudah itu baru</li> <li>Peladjaran bersama.</li> </ol> Untuk methode ini sudah barang tentu diperlukan banjak sekali kitab-kitab ketjil jang berisi huruf-huruf dan rangkaiannja, jang dibagi bagikan kepada tiap-tiap pengikut kursus. Dan dalam methode ini peladjaran menulis tidak dipentingkan. '''Pengadjar P.B.H. dilatih.''' Pada tahun 1952 diseluruh Djawa-Timur diadakan latihan-latihan untuk guru-guru P.B.H. Latihan-latihan tersebut diselenggarakan di Ketjamatan, Kawedanan dan di Ibu-Kota Kabupaten,menurut keadaan dan<noinclude>{{rh|'''694'''}}</noinclude> reb6gzab5fhakxh7lf9dn8wgkz2cm0p Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/805 104 99468 291129 276739 2026-05-10T14:18:11Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291129 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>kebidjaksanaan masing-masing daerah. Untuk latihan jang lamanja 5 a 6 hari itu, disediakan uang Rp. 25,- bagi tiap-tiap pengikut. Mengingat terbatasnja anggaran belandja, maka hingga tahun 1952 baru dapat dilatih sedjumlah 8.500 orang guru, sedang djumlah guru P.B.H. seluruhnja lebih-kurang ada 17.286 orang. Dalam hal ini sudah nampak pula bantuan dari masjarakat. Misalnja dalam pengiriman guru-guru itu dari Desanja ke-tempat latihan (kadang-kadang djauh, terutama kalau daerahnja terdiri dari kepulauan) ongkos-ongkos perdjalanan dipikul oleh Desanja masing-masing, sehingga tidak perlu mengurangi uang Rp. 25,-tadi. Dalam hal ini ada kesanggupan masjarakat untuk membiajai kursus-kursus jang ada di Daerahnja (misalnja Malang), djika ternjata, bahwa Djawatan Pendidikan Masjarakat sudah mengeluarkan biaja maximum untuk daerah tersebut. Untuk menambah pengetahuan guru-guru P.B.H. jang umumnja hanja keluaran Sekolah Rakjat, maka oleh Djawatan Pendidikan Masjarakat diadakan pula peladjaran-peladjaran tertulis jang merupakan madjalah jang terbit 2 kali sebulan ialah „Duta Muda”, sedang untuk menjelidiki apakah isi kursus-tertulis itu diperhatikan atau tidak, pada tiap kali diadakan sematjam sajembara sebagai gantinja udjian. '''Soal batjaan.''' Kesukaran-kesukaran jang terasa terutama ialah mengenai kitab-kitab batjaan jang dapat diberikan kepada orang-orang tersebut atau mereka jang baru lulus udjiannja P.B.H. Sebenarnja ada djuga batjaan-batjaan jang baik bagi mereka itu, isinja baik dan menarik, bahasa mudah dimengerti, dan ditulis dalam bahasa daerah, misalnja seperti buku-buku mengenai kehidupan Presiden Soekarno, Sultan Hamengku Buwono IX karangan Imam Soepardi, tetapi sajang buku-buku itu ditulis dengan huruf-huruf jang ketjil, sehingga terlalu sukar bagi orang-orang jang baru sadja selesai beladjar membatja itu. Dan umumnja penerbit-penerbit kita tidak sanggup menerbitkan buku dengan huruf-huruf jang terlalu besar, karena harus memandang soal-soal itu dari sudut komersiil pula. Dari pihak Pemerintah sendiri, rupanja belum ada kesanggupan untuk mengadakan penerbitan guna keperluan tersebut. Hal inilah jang kemudian merupakan suatu kesempatan bagi sesuatu pihak jang ingin mengembangkan sesuatu aliran tertentu, dengan mengeluarkan brosur-brosur ketjil dengan huruf besar, dengan bahasa jang mudah sekali dimengerti dan kalimat jang pendek-pendek, sedang harganja tidak sampai 50 sen. Dengan sendirinja orang-orang jang baru dapat membatja, jang ingin mempraktekkan kepandaiannja, tidak keberatan membeli brosur-brosur tersebut untuk batjaan. Dengan tidak disadari, maka sambil beladjar membatja itu, termakan djuga olehnja peladjaran-peladjaran jang disengadja dimasukkan kedalam batjaan-batjaan tersebut. Usaha satu-satunja dari Pemerintah untuk memberikan batjaan kepada Rakjat ialah dengan mengadakan Perpustakaan Rakjat. Perpustakaan ini dibagi mendjadi 4 matjam, ialah: <ol type="1"> <li>Perpustakaan Pengantar jang terdapat di Desa-Desa dan kitabnja terdiri dari kitab ketjil-ketjil jang baru sedikit sekali djumlahnja;</li> </ol><noinclude>{{rh|'''695'''}}</noinclude> 1qas4gs5ifllo9rc1lwr70mcm0ccemq Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/806 104 99471 291131 276749 2026-05-10T14:19:12Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291131 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{PUU-nomor|n=1|m=2 |Perpustakaan A jang dapat di Ibu-Kota Ketjamatan; |Perpustakaan B di Ibu-Kota Kabupaten dan |Perpustakaan C di Ibu-Kota Propinsi.}} '''Kursus Pengetahuan Umum (K.P.U.).''' Kursus-Kursus Pengetahuan Umum ada tiga matjam, ialah: <ol type="1"> <li>K.P.U. „A” didirikan di Ibu-Kota Ketjamatan-Ketjamatan dan dapat di-ikuti oleh murid -murid tamatan Sekolah Rakjat;</li> <li>K.P.U. „B” terdapat di Ibu-Kota Kabupaten dan dapat di-ikuti oleh orang-orang tamatan Sekolah Landjutan;</li> <li>K.P.U. „C” jang menurut rentjana didirikan di tiap-tiap Ibu-Kota Propinsi, tetapi berhubung kurangnja perhatian, ternjata hanja diadakan di tiga tempat sadja, ialah di Medan, Makasar dan Jogjakarta. Mungkin tidak adanja perhatian ini disebabkan, karena umumnja murid-murid keluaran Sekolah Menengah Atas lebih suka meneruskan ke Perguruan Tinggi, dimana ia dapat mengedjar sesuatu gelar, sedang di K.P.U. itu boleh dikata tidak ada tanda penghargaan jang dapat diterimanja. Dalam tahun 1951 djumlah K.P.U. „B” seluruh Djawa-Timur hanja ada tiga buah sadja, dan dalam tahun 1952 tambah mendjadi 9. Menurut rentjana semula, dalam tahun 1953 djumlah tadi akan ditambah lagi hingga mendjadi 33, tetapi karena anggaran belandja untuk keperluan tersebut dikurangi, maka djumlah 33 K.P.U. „B” tersebut tidak dapat ditjapai, dan hanja disediakan untuk sedjumlah 13 buah sadja. Kursus-Kursus Pengetahuan Umum „A” jang direntjanakan akan dibuka dalam tahun 1953 ada 520 buah, tetapi berhubung dengan penghematan, dalam anggaran belandja tahun 1953 hanja disediakan biaja untuk 250 buah sadja. Sebenarnja kursus-kursus inilah jang agak mendapat banjak pengikut. Untuk Kursus-Kursus „A” ini dalam tahun 1951 tertjatat ada 7.169 orang murid, diantaranja jang pada achir tahun kursus jang lamanja 1 tahun itu mengikuti udjian ada 4.407 orang sedang 1952 pernah jang lulus adalah djumlah murid 3.037 orang. Dalam tertjatat 10.834 orang, tahun tetapi kemudian djumlah tersebut lalu menurun lagi. Djumlah murid sekian tadi terdapat dalam bulan Djuni dan Djuli 1952. Kemudian djumlah murid mulai menurun. Dalam bulan Agustus lebih-kurang mendjadi 9.500, September turun lagi mendjadi 8.500 dan djuga dalam bulan-bulan Oktober dan Nopember berturut-turut djumlah tersebut mendjadi berkurang. Berkurangnja djumlah murid ini antara lain disebabkan karena umumnja di Desa-Desa waktu peladjaran 1 tahun itu dianggap terlalu pandjang, dan disamping itu banjak djuga jang mempunjai sifat gemar atau senang hanja pada permulaan sadja dan kemudian mendjadi bosan. Perlu</li> </ol><noinclude>{{rvh|...696...}}</noinclude> cg39zo95w3zm2iek8ply5a62mj1lnqv 291132 291131 2026-05-10T14:19:36Z Lutfiyatun 26681 291132 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{PUU-nomor|n=1|m=2 |Perpustakaan A jang dapat di Ibu-Kota Ketjamatan; |Perpustakaan B di Ibu-Kota Kabupaten dan |Perpustakaan C di Ibu-Kota Propinsi.}} '''Kursus Pengetahuan Umum (K.P.U.).''' Kursus-Kursus Pengetahuan Umum ada tiga matjam, ialah: <ol type="1"> <li>K.P.U. „A” didirikan di Ibu-Kota Ketjamatan-Ketjamatan dan dapat di-ikuti oleh murid -murid tamatan Sekolah Rakjat;</li> <li>K.P.U. „B” terdapat di Ibu-Kota Kabupaten dan dapat di-ikuti oleh orang-orang tamatan Sekolah Landjutan;</li> <li>K.P.U. „C” jang menurut rentjana didirikan di tiap-tiap Ibu-Kota Propinsi, tetapi berhubung kurangnja perhatian, ternjata hanja diadakan di tiga tempat sadja, ialah di Medan, Makasar dan Jogjakarta. Mungkin tidak adanja perhatian ini disebabkan, karena umumnja murid-murid keluaran Sekolah Menengah Atas lebih suka meneruskan ke Perguruan Tinggi, dimana ia dapat mengedjar sesuatu gelar, sedang di K.P.U. itu boleh dikata tidak ada tanda penghargaan jang dapat diterimanja. Dalam tahun 1951 djumlah K.P.U. „B” seluruh Djawa-Timur hanja ada tiga buah sadja, dan dalam tahun 1952 tambah mendjadi 9. Menurut rentjana semula, dalam tahun 1953 djumlah tadi akan ditambah lagi hingga mendjadi 33, tetapi karena anggaran belandja untuk keperluan tersebut dikurangi, maka djumlah 33 K.P.U. „B” tersebut tidak dapat ditjapai, dan hanja disediakan untuk sedjumlah 13 buah sadja. Kursus-Kursus Pengetahuan Umum „A” jang direntjanakan akan dibuka dalam tahun 1953 ada 520 buah, tetapi berhubung dengan penghematan, dalam anggaran belandja tahun 1953 hanja disediakan biaja untuk 250 buah sadja. Sebenarnja kursus-kursus inilah jang agak mendapat banjak pengikut. Untuk Kursus-Kursus „A” ini dalam tahun 1951 tertjatat ada 7.169 orang murid, diantaranja jang pada achir tahun kursus jang lamanja 1 tahun itu mengikuti udjian ada 4.407 orang sedang 1952 pernah jang lulus adalah djumlah murid 3.037 orang. Dalam tertjatat 10.834 orang, tahun tetapi kemudian djumlah tersebut lalu menurun lagi. Djumlah murid sekian tadi terdapat dalam bulan Djuni dan Djuli 1952. Kemudian djumlah murid mulai menurun. Dalam bulan Agustus lebih-kurang mendjadi 9.500, September turun lagi mendjadi 8.500 dan djuga dalam bulan-bulan Oktober dan Nopember berturut-turut djumlah tersebut mendjadi berkurang. Berkurangnja djumlah murid ini antara lain disebabkan karena umumnja di Desa-Desa waktu peladjaran 1 tahun itu dianggap terlalu pandjang, dan disamping itu banjak djuga jang mempunjai sifat gemar atau senang hanja pada permulaan sadja dan kemudian mendjadi bosan. Perlu</li> </ol><noinclude>{{rh|69}}</noinclude> 9qmvlr1n4cywjn8ddo0pkjk64ejt3xh Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/746 104 99476 290936 276774 2026-05-10T13:23:01Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290936 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Tahun peladjaran 1949-1950 menerima untuk pertama 28 mahasiswa, tahun II - 22 orang, tahun III - 28 orang, dan tahun IV - 10 orang. Tahun peladjaran 1950-1951 tahun I - 41 mahasiswa, tahun II - 28 mahasiswa, tahun III - 22 mahasiswa, dan tahun IV - 28 mahasiswa, djumlah 119 mahasiswa. Tahun peladjaran 1951-1952 untuk tahun I -- 79 mahasiswa, selandjutnja untuk tahun II, III dan IV, masing-masing 39, 27 dan 22 mahasiswa, djumlah 167 mahasiswa. Lembaga I.K.G. ini seperti Fakultet Kedokteran Surabaja pun banjak mengalami kesukaran-kesukaran tentang segala-galanja. Keadaan ini lambat-laun mendapat perhatian, sehingga sampai sekarang keadaan adalah memuaskan, keadaan mana dapat dipastikan dengan hasil-hasilnja. Diploma dokter gigi jang telah diberikan adalah sebagai berikut: Tahun 1948 pada 8 orang semua asal dari S.T.O.V.I.T dahulu<br> {{gap}} " {{gap}} 1949 {{gap}} " {{gap}} 5 {{gap}} " {{gap}}<br> {{gap}} " {{gap}} 1950 {{gap}} " {{gap}} 9 {{gap}} " {{gap}}<br> {{gap}} " {{gap}} 1951 {{gap}} " {{gap}} 27 {{gap}} " {{gap}}<br> Melihat perkembangan, maka kira-kira dalam tahun 1950 telah diusulkan supaja Lembaga ini didjadikan Fakultet Kedokteran Gigi, berhubung dengan telah tersedia tempat untuk mendirikan sebuah gedung melulu untuk peladjaran ilmu kedokteran gigi, dan rentjana untuknja telah dapat disetudjui. '''Perguruan Tinggi Ilmu Hukum Surabaja.''' Bahwa pada djaman pembangunan ini orang tidak boleh ketinggalan, maka penduduk Kota Surabaja dengan hasrat jang menjala ingin menjumbangkan tenaga dan hartanja untuk mentjapai tjita-tjita jang murni. Oleh beberapa Pemuda jang berhasrat meneruskan peladjaran pada Perguruan Tinggi dan karena beberapa hal tidak dapat tertjapai tjita-tjitanja, diadakan desakan pada beberapa orang terkemuka untuk mengadakan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum di Surabaja. Mula-mula desakan ini tidak diterima berat; pun djuga dari beberapa kalangan masjarakat terdengarlah suara-suara, bahwa Kota Besar Surabaja jang terkenal sebagai Kota dagang tidak boleh bersikap menunggu dalam soal jang penting ini. Dalam pada itu diharapkan tindakan jang njata dan tegas, bermanfaat bagi seluruh Bangsa Indonesia pada umumnja. Perhatian masjarakat ditudjukan terutama pada Perguruan Tinggi, oleh karena dalam pekerdjaan sehari-hari dirasakan kekurangan tenaga-tenaga jang tjerdik pandai keluaran Perguruan Tinggi jang sanggup dan dapat memberi pimpinan dalam berdjenis-djenis lapangan jang merupakan sendi Negara Indonesia, baik di lapangan Pemerintahan maupun di lapangan Partikulir. Terlebih dahulu dirasakan perlunja mengadakan kesempatan mengikuti peladjaran tinggi ini setempat oleh karena mahasiswa<noinclude>{{rh|'''712'''}}</noinclude> gxqinxbx4211gorfegcj7g19hzjxlsp Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/749 104 99478 290950 276781 2026-05-10T13:25:27Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290950 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Sambutan dari mereka itu menggembirakan dan menundjukkan adanja kesediaan mereka untuk memberi bantuan moril dan materiil Atas usul dari Wakil P.P.I. maka disetudjui untuk mendjilmakan Panitia Persiapan mendjadi Panitia Penjelenggara dengan tambahan beberapa orang jang ditundjuk oleh mereka. Pada malam itu djuga dapat dibentuk Panitia Penjelenggara jang terdiri dari: :{| |Ketua Kehormatan || : || Walikota Surabaja Doel Arnowo |- |Ketua || : || Mr. R . I. Gondowardojo |- |Wakil Ketua || : || Mr. R . Boedisoesetyo |- |Penulis I || : || Poediono |- |Penulis II || :|| Soeratno |- |Bendahara || : || So Tik Hok |- |Anggauta-Anggauta || : || Mr. Dr. R .M . Soeripto |- | || || Soejoedi Kertoprodjo |- | || || Mr. Koo Siok Hie |- | || || Amartiwi |- | || || R. Soedarsono |- | || || M. Soetadji |- | || || Mr. M. S. Hidajat |- | || || Shieh Kuo Chen (C.H.T.H. Surabaja) |- | || || Han Kang Hoen (C.H.T.H. Malang ) |- | || || Ir. Tan Boen Aan |- | || || A. Martak |- | || || Go Ping Hwie (Siang Hwee) |- | || || Kundan |} :Panitia Penjelenggara dalam rapatnja memutuskan: Membentuk 4 Sub-Panitia, jakni: <ol type="a"> <li>Sub-Panitia Keuangan, diketuai oleh Mr. M.S. Hidajat; <li>Sub-Pantia Perlengkapan, diketuai oleh Poediono, Wakil Ketua Ir. Tan Boen Aan; <li>Sub-Panitia Tehnis, diketuai oleh Mr. R. Boedisoesetyo; <li>Sub-Panitia jang bertugas memberi bantuan moril dan materiil kepada para mahasiswa. Berhubung dengan sulit dan luasnja tugas Sub-Panitia ini, maka kepada Mr. M.S. Hidajat diserahi tugas untuk menjusunnja.</li></ol> Selandjutnja andjuran-andjuran dari Panitia-Persiapan dioper oleh Panitia Penjelenggara, diantaranja jang penting: #Membentuk Badan Jajasan sebagai induk dari Perguruan Tinggi ini; #Penetapan dosen-dosen dan Ketua Dewan Dosen; #Memakai tanggal 1 Nopember 1950 sebagai richtdatum pembukaan; #Mengadakan Pengurus Jajasan, Badan Pengawas (Curatorium); #Menundjuk seorang jang tertentu sebagai djuru-bitjara.<noinclude>{{rh||||'''715'''}}</noinclude> nr4b6mn6rkmg35x7bwbcm6src7af2yk Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/750 104 99479 290955 276787 2026-05-10T13:26:13Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290955 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Berkat usaha Panitia dan setelah penjelenggaraan dapat didjalankan sampai selesai, maka pada hari Saptu tanggal 4 Nopember tahun 1950 Perguruan Tinggi dapat dibuka setjara resmi dengan dibubarkannja Panitia Penjelenggara dan diserahkannja Perguruan Tinggi Ilmu Hukum kepada Ketua Dewan Dosen. Susunan Dewan Dosen pada saat itu terdiri dari: :{| |Ketua || : || Mr. R. Boedisoesetyo |- |Anggauta-Anggauta || : || Mr. Dr. R. M. Soeripto |- | || || Mr. R. I. Gondowardojo |- | || || Mr. Ko Siok Hie |} Pembukaan dilakukan di aula Fakultet Kedokteran Surabaja, sedang kuliah-kuliahnja jang dimulai tanggal 6 Nopember 1950 diselenggarakan diruangan kuliah propaedeuse dari Fakultet Kedokteran Surabaja. Rentjana peladjaran (akan) disamakan dengan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Pemerintah. Dari pembitjaraan-pembitjaraan dan penjelidikan di Djakarta ternjata, bahwa rentjana peladjaran sebagai termuat dalam Hoger Onderwijs-ordonnantie dan Universiteitsreglement tidak akan dipertahankan begitu sadja. Dan penjelidikan itu dapat disimpulkan, bahwa untuk tahun ke-I jang direntjanakan dengan pasti, Pengantar Ilmu Hukum, Ilmu Ketatanegaraan, Pengantar Ilmu Ekonomi dan Pengantar Ilmu Sosiologi. Oleh karena menunda permulaan kuliah-kuliah lebih lama akan merugikan peladjaran, maka sementara mata-peladjaran empat djenis itu akan diberikan dengan clausule, bahwa setiap waktu rentjana peladjaran Pemerintah sudah tertentu, diadakan perubahan jang sesuai. Berhubung dengan itu maka buku-buku jang ditentukan untuk dibatja para mahasiswa belum djuga ditetapkan dengan pasti. Karena peladjaran di Sekolah Tinggi tidak dapat luput dari adanja buku-buku peladjaran, maka oleh para dosen diandjurkan untuk dibatja, jakni buku-buku: <br> :'''Pengantar Ilmu Hukum:''' :{| |1. || J. van Kan || : || Inleiding tot de rechtswetenschap; |- |2. || van Apeldoorn || : || Inleiding tot de studie van het Nederlandsche Recht; |- |3. || J.H. Carpentier-Alting || : || Grondslagen der Rechtsbedeling; |- |4. || Ph. Kleintjes || : || Staatsinstellingen van Nederlandsch Indië. |} <br> :'''Ilmu Ketatanegaraan:''' :{| |1. || Mr. R. Kranenburg || : || Algemene Staatsleer; |- |2. || Dr. M. L. Bodkaender || : || Politeia: beberapa tulisan jang masih akan ditentukan; |- |3. ||J. J. von Schmid || : || Grote denkers over staat en recht. |}<noinclude>{{rvh|'''716'''}}</noinclude> osz3t0qcsuwgoyjli9pm1armpb7e4sl Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/833 104 99482 291222 276827 2026-05-10T15:13:50Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291222 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{r|'''RADIO REPUBLIK INDONESIA.'''}}<br> '''{{Dropinitial|P}}'''ADA bulan Agustus 1945 diadakan rapat Pegawai „Surabaja Hosokyoku” dibawah pimpinan Soekirman, untuk mendapat kata sepakat mengenai tjara pengoperan kekuasaan Radio dari tangan Djepang. Pada waktu itu jang dikuatirkan ialah kekuasaan Kenpeitai Djepang. Pembagian pekerdjaan segera dilakukan untuk memblokir Djepang dari segala perhubungan dengan luar, jaitu dengan memutuskan perhubungan tilpun dan perhubungan dengan kendaraan. Kemudian fase kedua memaksa Djepang untuk menanda-tangani Naskah Penjerahan Radio kepada Pemerintah Republik Indonesia. Usaha tersebut berhasil dengan baik, dan Radio dapat dikuasainja. Suara Radio mendengung lagi diangkasa sesudah beberapa waktu dibungkem, dengan nama „Radio Surabaja”. Suara inilah jang mendjadi tanda permulaan bagi Surabaja, untuk memulai dengan perebutan kekuasaan atas alat-alat pemerintahan lainnja. :Pimpinan „Radio Surabaja” pada waktu itu terdiri dari: :Kepala Umum{{gap}}{{gap}} - Soekirman, :Kepala Siaran{{gap}}{{gap}} - S.M. Muchtar. :Kepala Tehnik{{gap}}{{gap}} - Moertamadji. :Kepala Tata-Usaha{{gap}} - Moenadji. Rentjana selandjutnja dapat banjak bantuan dari Doel Arnowo, tokoh jang banjak memberi bantuan terhadap berdirinja Radio Surabaja. Pemantjar-pemantjar disebar sekeliling Kota Surabaja. Tempat jang terpenting ialah Embong-Malang. Di tempat itu ada. 2 pemantjar dari 500 Watt jang sudah tidak dapat dipakai dan sebuah pemantjar dari 200 Watt. Pemantjar 200 Watt inilah jang membawa suara „Radio Surabaja” dalam pertempuran kemana-mana. Tempat-tempat jang dirahasiakan ialah: <ol type="1"> <li>Patemon {{gap}} - siarannja mengambil dari Embong-Malang;</li> <li>Sepandjang - siaran dalam bahasa asing (Inggeris-Belanda);</li> <li>Balungbendo - (merelay Sepan djang);</li> <li>Bus-zender jang mobil. Pemantjar ini kemudian dipindjamkan kepada Badan Keamanan Rakjat untuk menjerbu ie Bandung (Djawa-Barat) dibawah pimpinan Suhud. Pegawai Radio jang mengikuti ialah Soetohadi.</li> </ol><noinclude>{{rvh|723}}</noinclude> pwan0fsrw84bah5g5xscia1uo2ru4st Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/407 104 99483 291084 276889 2026-05-10T14:08:16Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291084 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>dengan Gubernur jang djuga dihadiri oleh Ketua dan Wakil Ketua D.P.R. Pembitjaraan disekitar ini dengan Saudara Gubernur tidak mendapat persetudjuan. Gubernur Nasroen menjatakan, bahwa Undang-undang No. 22 baru dipergunakan, hanja sebagai pedoman, belum lagi peraturan, dan medebewind, tidaklah masuk kepada urusan Dewan Pemerintah, tetapi menurut hierarchie jang ada sekarang djatuh, kata beliau, kepada Residen jang diperbantukan. Pendirian jang sematjam ini, tentu tidak dapat disetudjui oleh Dewan Pemerintah jang achirnja menjerahkan hal ini kepada Menteri Dalam Negeri dan dengan kawat dari Dewan Pemerintah dan Dewan Perwakilan diminta ketegasan kepada Menteri Dalam Negeri jang balasannja telah diterima pada tanggal 3 Djuni bahwa jang mewakili Gubernur buat sementara ialah wakil ketua Dewan Dewan Pemerintah. Hal ini pada tanggal 7 Djuli telah disampaikan kepada Kepalakepala Djawatan, kepada partai-partai dan pun kepada pers. Tetapi kemudian pada tanggal 10 kemarin, datang lagi kawat, dengan ketegasan, bahwa jang dulu telah ditentukan dalam satu tangan jaitu kepada Dewan Pemerintah, sekarang dipetjah kembali. Hal ini dirasakan oleh Dewan Pemerintah, bukan hal jang biasa, tetapi sekali ini terikat dan tergabung sebagai aliran dari pada mosi Tan Tuah c.s. jaitu supaja Gubernur dipindahkan. Dalam keadaan ini konflik itu masih dalam hangende. Dewan Pemerintah dalam hal ini membawa kepada sidang pleno IV supaja dapat memberikan pemandangan dan pendirian untuk sikap jang seterusnja". Sesudahnja uraian saudara Taher Samad ini maka terdjadilah perdebatan sengit jang achirnja disimpulkan kepada pendirian bahwa D.P.R.S.T. tidak menerima atau menolak tudjuan kawat Menteri Dalam Negeri tanggal 8 Djuni , dalam arti selama Gubernur dalam tjuti, saudara wakil Ketua Dewan Pemerintahan ditetapkan mewakili Gubernur, berpegang dengan kawat tanggal 3 Djuni. Dan diputuskan bahwa pada hari itu mengirim seputjuk kawat ke Pemerintah Pusat jang berbunji sbb: {{c|menteri dalam negeri}} {{c|djokjakarta}} No. 483/pln dpr propinsi sumatera tengah dalam sidang pleno tanggal 11 bi setelah memperhatikan kwt2 dari menteri dalam negeri tanggal 3 dan tanggal 8 bi dan mengingat djawaban menteri dalam negeri kepada missi, dpr ste koma dengan suara bulat menjatakan pendiriannja bahwa hak medebewind dan hak otonomie tidak repeat tidak dapat dipisahkan dan mesti dipegang seluruh oleh dewan pemerintah<noinclude>{{rh|||401}}</noinclude> 5x0fxz1ueotr9i8tzo01370izxbe4a3 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/834 104 99485 291224 276854 2026-05-10T15:14:17Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291224 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Semula tempat Studio Radio Surabaja tetap di Djalan Simpang. Dalam pertempuran dengan Tentara Inggeris, gedung Radio diduduki oleh Tentara Ghurka, maka untuk mengusir mereka itu Studio itu terpaksa dibakar. Sisa pengeras suara dari Simpang dipindahkan ke Embong-Malang. Dari sini beberapa pedato jang bersedjarah disiarkan antara lain : <ul style="list-style-type: '- '; padding-left: 20px;"> <li>Pedato Gubernur Djawa- Timur Soerjo (almarhum) jang dengan tegas menentang Tentara Inggeris.</li> <li>Pedato Menteri Penerangan Republik Indonesia Mr. Amir Sjariffudin (almarhum).</li> </ul> Untuk membantu usaha agitasi, Radio Surabaja menjediakan waktu jang chusus untuk pedato Bung Tomo dan Dr. Moestopo. Markas Dr. Moestopo pada waktu itu di H.V.A. Di tempat itu disediakan pre-amplifier dengan 4 Pegawai jang diperbantukan. Dengan menjiarkan suara pemberontakan dari Bung Tomo Radio Surabaja terkenal dan disajangi oleh Rakjat, didengar oleh Rakjat di-seluruh Daerah Indonesia. Tanggal 21 Oktober 1945. Desakan fihak Tentara Inggeris tidak dapat ditahan lagi. Radio Surabaja terpaksa dipindahkan; pemantjar 200 Watt dipindahkan ke Modjokerto, lengkap dengan peralatannja. Pemantjar ini dikenal dengan nama Pemantjar Témpé. Sementara itu ada perselisihan antara pimpinan umum dan pimpinan tehnik. Pimpinan tehnik berkehendak pembelaan dengan Negara kemiliteran, djika perlu Pegawai harus dimiliterisir; pimpinan umuin berpendapat, bahwa „Radio Surabaja” adalah alat Sipil, maka Radio haruslah Pemerintah Sipil. Sebagian besar dari berdekatan dengan alat-alat radio dan semua pemantjar ketjuali pemantjar di Balungbendo diangkut ke Lawang, oleh pimpinan tehnik. Perbuatan ini dipersalahkan oleh D.P.R.I. berkedudukan (Dewan Perdjuangan Rakjat Indonesia) Surabaja jang di Modjokerto. Akibatnja ialah penahanan 4 orang dari Lawang. Dengan penangkapan ini alat-alat Radio Surabaja diangkut ke beberapa tempat. Pemantjar dari Patemon diangkut ke Bondowoso untuk didjadikan tjabang dari Radio Surabaja. Pemantjar Sepandjang R.C.A. 350 Watt diangkut ke Modjokerto dan selandjutnja ke Djombang untuk mendjadi nood uitval basis. Pemantjar Balungbendo N.S.F. 250 Watt dan R.C.A. 100 Watt dibawa ke Madiun dengan maksud mendirikan tjabang di Kota itu seperti di Bondowoso. Maksud ini supaja seluruh Djawa-Timur dapat diliputi dengan Radio, menghubungkan centraal gezag di Modjokerto. Usaha di Madiun gagal karena ada pendapat, bahwa pemantjar jang sudah terlandjur dibawa ke Madiun itu tidak dikehendaki. Radio Surabaja berkehendak menipiskan alat dari garis pertempuran, dan pemantjar tersebut dititipkan pada Badan Kongres Pemuda. Lama kelamaan pemantjar tersebut dipergunakan dengan nama „Gelora Pemuda" dengan pimpinan Goni sebagai Pegawai Radio Surabaja jang diperbantukan. Bus-zender sesudah penjerbuan ke Bandung disimpan oleh Angkatan Perang diKediri. Dengan susah pajah pemantjar tersebut dapat diminta kembali dan kemudian diserahkan pada Radio Purwokerto jang mempunjai pemantjar baik.<noinclude>{{rvh|'''724'''}}</noinclude> 0kxgs4z6ytzz0gcmwwiqpx0jbefvujo Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/835 104 99489 291226 276877 2026-05-10T15:15:39Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291226 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Nama „Radio Republik Indonesia” Surabaja mulai dipakai di Modjokerto sesudah ada konperensi di Solo. Usaha-usaha di Modjokerto ialah mengadakan „perang radio” dengan Radio Resmi (Belanda) di Surabaja dengan gelombang 64 dan 68. Menjiarkan dengan gelombang 68 sesudah siaran R.R.I. (Radio Republik Indonesia) selesai. Siarannja kontra penerangan Belanda. Usaha ini berdasar bahan-bahan keterangan, bahwa di Surabaja masih banjak radio umum di Djalan-Djalan. Bahasa jang dipakai bahasa Indonesia, Belanda dan Inggeris. Djombang didjadikan nood uitval basis, dengan siaran bahasa asing (Belanda, Inggeris). Berhubung Pusat tidak dapat membelandjai pengeluaran di Djombang, maka Djombang dihapuskan. Pemantjar R.C.A. disimpan di Ngandjuk, diserahkan pada Bupati, dibawah pengawasan Pekerdjaan Umum. Beberapa waktu kemudian, ada suara, bahwa ketentaraan di Kediri berniat memakai pemantjar jang disimpan itu. Maka sebelum niat itu terlaksana, pemantjar diangkut kembali ke Modjokerto dan di-instalir untuk pemantjar tjadangan di Modjokerto dan guna perhubungan dengan Pusat dan Bondowoso. Sementara itu ada tambahan pemantjar Djepang telegrafie. Sewaktu Modjokerto agak genting pemantjar Témpé dimatikan, diangkut ke Kediri bersama dengan pemantjar Djepang dan alat-alat lainnja. Penjimpanan ini dirahasiakan di-sesuatu tempat. Pada tanggal 17 Maret 1947 Modjokerto diduduki Belanda. Pemerintah pindah ke Djombang. Untuk R.R.I. sudah tidak ada tempat lagi, pemindahan dari Modjokerto ke Djombang sukar sekali. Di Djombang diputuskan untuk sementara pemantjar dipindahkan dulu ke Kediri. menunggu perkembangan selandjutnja. Di Kediri R.R.I. Surabaja mendapat ruangan dari R.R.I. Kediri. Siaran dengan R.R.I. Kediri tetap terpisah. R.R.I. Surabaja tetap melajani Daerah Surabaja, dengan hubungan langsung dengan Djombang. Beberapa waktu kemudian R.R.I. Surabaja mendapat tempat sendiri di Djalan Kowak 19. Semua peralatan dipindahkan ketempat baru, ketjuali versterker tetap. Di tempat itu disiapkan Pemantjar untuk Djombang. Pemantjar telegrafie Djepang dari 350 Watt dipindjamkan pada Pusat R.R.I. di Surakarta untuk alat hubungan jang kuat dengan daerah-daerah. Pada waktu pembukaan (sidang) K.N.I.P. Pemantjar Témpé dipindjamkan pada R.R.I. Malang untuk menjiarkan berita-berita dari sidang K.N.I.P. Waktu Malang diserbu, R.R.I. Malang pindah ke Blitar. Pimpinan berada ditangan Bambang Soemantri. Dalam pada itu ada perintah dari Pusat untuk mendirikan nood uitval basis dan ternjata dapat didirikan di Sawahan. Pemantjar jang di-instalir di Sawahan itu ialah pemantjar Témpé jang diserahkan kembali oleh R.R.I. Malang di Blitar. Nood uitval basis ke-II berada di Ponorogo, dan tempat ini dipergunakan untuk penjimpanan alat-alat. Tanggal 1 Maret 1948. Dengan adanja 3 Studio R.R.I. di-satu Karesidenan maka dirasa tidak effektif untuk perdjuangan R.R.I., maka diusahakan untuk digabungkannja ketiga pemantjar dengan satu nama:<noinclude>{{rvh|'''725'''}}</noinclude> 7daaekpxmm0dp4y9bxut1i5fqie0ffp Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/836 104 99492 291139 276886 2026-05-10T14:24:31Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291139 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>„{{sp|Radio Republik Indonesia Djawa-Timur}}" dengan gelombang 63, 80 dan 113 meter. Semua pemantjar dipusatkan di Kediri, dengan satu programa. Pemantjar 113 di Sawahan dengan pemantjar Témpé. Blitar tidak menjiarkan sendiri, sementara melajani telegrafie berita dari Malang, sambil menunggu peralatan guna mendjadi relay station. Dalam koordinasi ini sebagian besar dari anggauta tehnik R.R.I. Kediri tidak menjetudjui beleid pimpinannja. Sebagai konsekwensinja maka semua alat-alat tehnik ditjabut kembali, sebab R.R.I. Kediri didirikan atas alat-alat prive. Dengan ini berachirlah sedjarah R.R.I. Kediri jang semula. Untuk mengganti pemantjar Kediri, pemantjar jang semula ditudjukan pada Djombang, dipakai untuk gelombang 80 meter, ini karena Djombang belum siap menerima R.R.I. Surabaja. Beberapa waktu telah liwat, tekanan dari fihak Belanda agak reda. Pusat tidak lagi dapat membelandjai nood uitval basis. Sawahan disuruh mematikan. Oleh pimpinan di Djawa- Timur diputuskan Sawahan diteruskan, mengingat pengalaman di Djombang, sedangkan bezetting dikurangi dan alat-alat persediaan jang dititipkan di Ponorogo diambil kembali. Dengan gabungan ketiga Studio tidak tertjapai kerdja-sama jang baik antara beberapa anggauta pimpinan. Sementara itu datanglah kawan-kawan dari Djember jang sudah kehilangan alat perdjuangannja. Beberapa hari sebelum peristiwa Madiun, suasana di Kediri hangat sekali. Untuk mendjaga kemungkinan jang tidak diharapkan maka pemantjar R.C.A. 63 meter dipindahkan dari Djalan Kowak 19 ke Kantor Karesidenan, disebelah barat dari kali Brantas, berdekatan dengan Kantor Pemerintahan dan Kemiliteran. Waktu '''Peristiwa Madiun''', ternjata pemantjar R.R.I. Madiun jang dipakai oleh golongan Moeso tidak mengalami kerusakan (utuh), dan hanja pegawainja dipaksa untuk melajani pemantjar. Tekanan Belanda semakin besar. Rentjana pada waktu itu hendak mendirikan pemantjar di Bodjonegoro, menghidupkan kembali Sawahan, mendirikan nood uitval basis II di Penampian. Sawahan didirikan kembali dengan gelombang 80 meter, pemantjar Témpé merelay siaran dari 63 meter. Sesudah Sawahan berdiri, gelombang 63 meter dimatikan dan diganti dengan pemantjar ketjil. '''Clash kc-II meletus.''' Rentjana belum selesai didjalankan, Kediri diduduki Belanda. Untung semalam sebelum Belanda masuk di Kediri, pemantjar 63 dan alat perlengkapannja dapat dikeluarkan dari Kota dan dibawa ke Desa Karangredjo untuk selandjutnja diteruskan ke Penampian. Tetapi ternjata rentjana ini gagal, karena putusnja hubungan dan Penampian tulah dihantjurkan oleh Belanda. Kemudian pemantjar dibawa ke Sendang dan selandjutnja ke Djambuwok. Pada waktu Kediri diduduki Belanda staf untuk Penampian meninggalkan Kota; Pemerintahan Sipil pada saat itu ada disekitar Sawahan. Djambuwok dapat di-instalir dan pertjobaan-pertjobaan dilakukan dengan gelombang 63. Beberapa hari kemudian Djambuwok - Sumberpandan dihudjani bom oleh Belanda. Pada tanggal 17 Djanuari 1949. Pemantjar sudah siap diudara. Untuk menipu Belanda seakan -akan pemantjar R.R.L<noinclude>{{rh|726}}</noinclude> jobrtzf42x8idt1dhym8iwizknh4h99 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/893 104 99501 291230 276927 2026-05-10T15:18:10Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291230 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Maka dengan usaha beliau jang tidak mengenal djerih pajah itu, Ampel mendjadi sumber peladjaran Agama Islam di Djawa-Timur. Murid-murid Sunan Ngampel jang ternama dan mendjadi tangan kanannja dalam mengembangkan Agama Islam ialah: Sunan Bungkul, Raden Paku, Embah Salih, Embah Asngari, Embah Durahman, Embah Brondong, Embah Kapas (Abu Hurairah) dan Maling Tjluring. '''Riwajat Susuhunan Makdum di dukuh Ampel-Dento dalam Kota Surabaja.''' Nabi Mohammad s.a.w. mempunjai isteri Dewi Fatimah, kemudian menurunkan anak tjutju sebagai berikut: <ol type="I"> <li>Sajidina Kusen;</li> <li>Zainal Abidin;</li> <li>Zainal Alim;</li> <li>Zainal Kubra;</li> <li>Zainal Kusen;</li> <li>Sech Djumadil Kubra;</li> <li> <ol type="a"> <li>Maulana Ibrahim (Makdum Brahim Asmara);</li> <li>Maulana Iskak (saudara muda dari Maulana Ibrahim).</li> </ol></li> </ol> Maulana Ibrahim (Makdum Brahim Asmara) pergi meninggalkan Negeri Arab, dan menudju ke Negeri Tjempa jang pada masa itu penduduknja Negeri Tjempa belum beragama Islam. Sedatangnja Brahim Asmara didalam sampai Radja Negeri itu, berkembanglah peladjaran dan segenap penduduk dalam Agama Islam Negeri taat pada Agama Islam. Ditjeriterakan, bahwa Radja Tjempa mempunjai 3 anak (dua perempuan dan satu laki-laki). <ol type="I"> <li>Seorang anak perempuan jang tua dikawin oleh Prabu Brawidjaja, Radja Madjapahit jang terachir. Permaisuri ini disebut Puteri Dwarawati dan mempunjai 3 orang putera:</li> <ol type="1"> <li>Perempuan, dikawin oleh Kjahi Ageng Pengging Handajaningrat;</li> <li>Laki-laki, bernama Raden Lembupeteng, dan</li> <li>Laki-laki, bernama Raden Gugur.</li> </ol> <li>Putera puteri jang muda dari Radja Tjempa dikawin cleh Maulana Ibrahim dan mempunjai 2 orang anak laki-laki:</li> <ol type="1"> <li>Raden Santri dan</li> <li>Raden Rachmad.</li> </ol> <li>Putera laki-laki dari Radja Tjempa, setelah ajahnja wafat, mengganti mendjadi Radja bernama Raden Alim dan mempunjai putera laki-laki Aburairah.</li> </ol><noinclude>{{rvh|'''783'''}}</noinclude> grwj7o2viai95dloqzfog1eg3yeupnz Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/897 104 99503 291235 276949 2026-05-10T15:19:59Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291235 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>'''Bangsal.''' Bangsal jang masih dipudja hingga sekarang itu sedjarahnja adalah sebagai berikut: Pada djaman Keradjaan Madjapahit, apabila Pangeran Tjakraningrat berkundjung ke Kamal dari Arosbaja (keraton lama di Arosbaja) senantiasa melihat perahu -perahu Nelajan jang sedang beristirahat dan mendjemur djaring-djaringnja, sambil duduk diatas sebuah batu jang agak miring letaknja dan menjerupai bangku duduk memakai sandaran. Melihat nasib para Nelajan tadi, Pangeran Tjakraningrat menitahkan membuat „bangsal” untuk tempat beristirahat bagi para Nelajan jang sedang menangkap ikan di-pantai Kamal, karena para Nelajan itu tidak sadja terdiri dari penduduk disekitar pantai Kamal, tetapi dari Gresik, Mangarai. Sedaju dan lain-lain sering djuga menangkap ikan di-pantai Kamal. Pada tiap-tiap rokat pantai diadakan pertundjukan wajang, tandakan dan penjembelihan lembu, sedang kepala lembu tadi harus dihanjutkan kedalam laut. Oleh karena salah seorang jang diberi kepertjajaan oleh Sang Radja masih djaka (Madura: Lantjeng) dan pada suatu ketika menghilang, maka salah seorang pembantunja bermimpi, menerangkan, bahwa si-djaka telah mendapat perintah dari jang kuasa, harus mendjaga lautan sekitar pantai Barat-Madura. Ia semasa hidupnja senang kepada tjeritera djaman kuno, tajuban dan memelihara se-ekor lembu berbulu langsat. Pada satu ketika ada orang mentjari ikan jang hendak diganggu oleh se-ekor buaja, lalu si-Lantjeng tadi berupa buaja dan bertempur dengan buaja jang mengganggu penangkap ikan tersebut sehingga buaja musuh tadi tewas di Karang Misa sebelah barat Bangsal, diantara Tadjungan dan Gresik. '''Hikajat Keris Pusaka.''' Panembahan Lemahduwur di Arosbaja (Bangkalan) jang tersohor adil semendjak dinobatkan mendjadi Radja dan terus menjebarkan Agama Islam diseluruh Pulau Madura pada tahun 1450. Dikala sendja kerap kali Panembahan Lemahduwur berdjalan-djalan ditempat-tempat jang sunji senjap, dan kalau Baginda mendjumpai orang-orang jang mempunjai maksud djahat lalu ditangkapnja sendiri. Karenanja tiada mengherankan djika pada saat itu keadaan keradjaannja mendjadi aman, tenteram dan makmur. Didalam tjeritera disebutkan, bahwa saudara sepupu jang lebih tua dari Panembahan Arosbaja bernama Pangeran Negara atau biasa disebut Pangeran Bonorogo bertachta mendjadi Radja di Pamekasan dengan gelar Panembahan Ronggo Sukawati. Panembahan Ronggo tadi memperoleh sebilah keris pusaka dari Ajahanda Kjai Adipati Pramono di Madegan Sampang. Sebelum mangkat, Ajahanda menamakan sebilah keris itu Kjai Djimat. Besar ke-inginan Panembahan Ronggo tadi tiada terhingga, ialah ingin mempunjai keris „kembar” Kjai Djimat, terbukti dengan perintah Baginda kepada beberapa ahli pandai besi diseluruh<noinclude>{{rvh|'''787'''}}</noinclude> bgfi9o837eh1sk1umbs6w8t394u23om Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/907 104 99505 291238 276976 2026-05-10T15:21:01Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291238 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{c|'''PERKEMBANGAN AGAMA'''}}<noinclude></noinclude> 8isrygqatyu66rh4a94padny9p4ke9j Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/242 104 99525 291111 277074 2026-05-10T14:14:42Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291111 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Delegasi itu terdiri dari: {{ol|list_style_type=decimal|H. Muhd. Amin|Dt. Madjolelo}} Berdasarkan tugas tentera Sekutu di Indonesia untuk mengembalikan tawanan perang dan mendjamin keamanan umum, delegasi mendesak supaja Majoor Lankly sebagai orang jang bertanggungdjawab terhadap tentera Sekutu, hendaklah mengembalikan orang-orang Belanda ke Kamp mereka, karena keamanan djiwa mereka tidak bisa didjamin, kalau mereka masih berkeliaran diluar dengan menghalang-halangi tindakan-tindakan dan usaha-usaha Kemedekaan bangsa Indonesia. Desakan ini diterima oleh Majoor Lankly. '''Pemerintah Keresidenan Riau.''' Sesudah dilangsungkan rapat Umum di Pakan Baru, rakjat menjatakan kesetiaannja kepada Negara dan berdiri dibelakang Pemerintah jang sjah. Kemudian atas inisiatief suatu panitia jang dipelopori dan diketuai oleh sdr. Raden Sumpeno dari Djawatan Pelajaran, diadakanlah sebuah rapat dengan seluruh pemimpinpemimpin rakjat guna membentuk K.N.I. daerah Riau dan membitjarakan kedudukan Residen Aminuddin jang diangkat oleh Gubernur Sumatera sebagai Residen Riau. Dalam rapat tersebut dipilihlah sdr. Raden Jusuf Suriaatmadja sebagai Ketua K.N.I. daerah, dan kepada beliau diserahkan memilih kawan-kawannja jang akan ditetapkan sebagai Dewan Harian dan anggota K.N.I. Sesudah sdr. Jusuf menundjukkan nama-nama jang akan duduk dalam K.N.I. disusunlah oleh rapat bentukan K.N.I. Daerah Riau sebagai berikut: {| |- |1. ||Ketua|| : || R.J. Suriaatmadja |- |2. ||Wk . Ketua I|| : || Agus Ramadhan |- |3. ||Wk. Ketua II|| : || Raden Selamat |- |4. ||Secretaris I|| : || Amat Suka |- |5. ||Secretaris II|| : || Amir Hamzah |- |6. ||Bendahari|| : || Akasah |- |valign="top"|7. ||valign="top"|Anggota||valign="top"| : ||{{ol|list_style_type=decimal|Dt. Mangku|Arifin Lubis|DII.}} |} Kemudian oleh K.N.I. jang sudah tersusun lengkap itu dipilihlah sdr. A. Malik Kepala Pabean Riau, mendjadi Residen untuk menggantikan sdr. Aminuddin jang tiada dapat mempergunakan ketetapannja sebagai Residen untuk melandjutkan perdjuangan {{|hws|kemerdeka|kemerdekaan}}<noinclude></noinclude> et2wbu40lyro2eouzywc80w1muz7row Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/336 104 99540 291809 277159 2026-05-11T06:57:57Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291809 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>Putusan K.N.I. pleno ini mendapat sambutan jang baik dan meriah dari seluruh golongan dalam masjarakat , karena dengan demikian rakjat dinegeri-negeri akan dapat ikut menjumbangkan tenaga dan pikirannja dalam pemerintahan, ketjuali dari golongan ninik mamak jang menginginkan tetap haknja untuk duduk dalam kerapatan negeri seperti jang diatur dalam Inlandsche Gemeente Ordonnantie Buitengewesten (I.G.O.B.). Begitulah pada tanggal 15 April 1946, golongan ninik mamak jang tergabung dalam Madjelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (M.T.K.A.A.M.) dalam kongresnja memutuskan sebagai berikut: <ol type="1"> <li>Menolak keputusan rapat pleno Komite Nasional Pusat S. Barat di Bukittinggi tanggal 18 Maret 1946 jang berhubung dengan pembentukan susunan Badan Perwakilan Rakjat dinegeri-negeri, karena:</li> {{Ol|list_style_type=lower-alpha |Badan Perwakilan Rakjat jang ada sekarang (Kerapatan Negeri) telah bersifat kedaulatan rakjat sedjati, Penghulu-penghulu dan orang-orang jang 4 djenis wakil rakjat menurut adat ditanam atau diangkat oleh rakjat laki-laki dan perempuan, tua dan muda.<br/> | |Untuk memuaskan supaja Badan Perwakilan Rakjat itu sesuai dengan masjarakat sekarang, diputuskan supaja kerapatan negeri jang lama ditambah dengan wakil-wakil partai jang ada dalam negeri itu.}} Putusan atau mosi itu disampaikan oleh M.T.K.A.A.M. kepada Pemerintahan Keresidenan Sum. Barat. Oleh Pemerintah mosi tersebut didjawab, dengan suratnja kepada M.T.K.A.A.M. jang menegaskan, bahwa Pemerintah tetap menjetudjui garis-garis jang telah ditetapkan oleh K.N.I. Sumatera Barat itu. Antara lain ditegaskan bahwa dengan usul M.T.K.A.A.M. dalam bahagian 1 (lihat diatas) belum dirasa tjukup tertjapainja kedaulatan rakjat jang mendjadi dasar dan tudjuan perdjuangan kemerdekaan segala lapisan rakjat. Seterusnja dikemukakan bahwa Dewan Perwakilan Rakjat ini tidaklah akan memasuki lapangan adat, jang akan tetap tinggal dalam lapangan kerapatan adat atau kerapatan Penghulu-penghulu. Demikianlah reaksi dari M.T.K.A.A.M. dan djawaban Pemerintah tentang hal itu . Sebenarnja tugas Komisi jang diserahi untuk menjiapkan rantjangan pembentukan Dewan Perwakilan Negeri pada rapat pleno K.N.I. tanggal 17-19 Maret dan mesti menjerahkannja pada Pemerintah tanggal 1 April (tjuma 10 hari) itu, tidak begitu berat lagi, disebabkan pada sidang pleno tersebut, sudah diberikan rantjangan dari saudara Anwar St. Saidi, jang dalam garis besarnja<noinclude>{{rh|330}}</noinclude> ejuyxng0urpr3gsgtdddxzevlz4daw0 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/337 104 99543 291808 277174 2026-05-11T06:56:49Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291808 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>diterima baik oleh K.N.I. dan untuk penjesuaiannja lebih djauh mendjadi peraturan, itulah tugas Komisi jang dibentuk itu. Pada tanggal 21 Mei 1946 oleh Residen S. Barat, Dr. M. Djamil, dikeluarkan satu Maklumat No. 20-21-46 jaitu peraturan tentang susunan pemerintahan negeri, rumah tangga negeri dan tjara memilih anggota Dewan Perwakilan dan Badan Pemerintahannja. Maklumat tersebut membawa perobahan dalam negeri-negeri di Minangkabau, jaitu dari sistim pemerintahan jang telah dipakainja semendjak beberapa zaman, jaitu demokrasi Minangkabau, untuk memakai satu sistim pemerintahan baru, jaitu sistim demokrasi Barat. Maklumat itu berbunji selengkapnja sebagai berikut: MAKLUMAT No. 20/46. {{c|RESIDEN SUMATERA BARAT.}} Menimbang bahwa perlu mengadakan Dewan Perwakilan ditiap-tiap negeri dalam daerah Sumatera Barat. Setelah membatja, Rantjangan Undang² Dewan Perwakilan Negeri² jang disusun oleh Komisi jang ditanam oleh Dewan Perwakilan Daerah Sumatera Barat menurut dasar² jang ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Daerah itu dalam rapatnja tanggal 17 Maret 1946. Dengan berpedoman kepada Undang-undang No. 1 serta kepada keputusan jang diambil oleh Dewan Perwakilan Sumatera dalam rapatnja tanggal 17,18 dan 19 April 1946 seberapa jang berkenaan dengan Dewan Perwakilan Negeri. {{c|Menetapkan,}} Peraturan Dewan Perwakilan Negeri dalam daerah Sumatera Barat seperti berikut: I. '''Pimpinan Negeri.''' {{c|Pasal 1.}} {{Ol |Pimpinan Pemerintahan Negeri terdiri dari: {{Ol|list_style_type=lower-alpha |Dewan Perwakilan Negeri (D.P.N.)<br/> |Dewan Harian Negeri (D.H.N.) |Wali Negeri (W.N.) }} |Wali Negeri mendjadi Ketua Dewan Perwakilan Negeri dan mendjadi Ketua Dewan Harian Negeri. }}<noinclude>{{rh|||331}}</noinclude> 06nttj6ln6t3jaub08ip9q3hflz7f7v Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/985 104 99548 291315 286177 2026-05-10T16:49:32Z Riiiv 22458 291315 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol> „saudara“ daripada anak jang baru lahir). Ari-ari tersebut dimasukkan dalam periuk dengan diberi polowidjo atau bunga (kembang borèh) dan kertas bertulis jang mempunjai maksud agar si-anak pandai. Ari-ari ditanam oleh ajahnja dengan berpakaian lengkap. Di-lain daerah periuk itu tempo-tempo dibuang di-kali atau laut (dilarung). Bilamana si-baji itu sudah bersih maka dibawa oleh ajahnja kehalaman rumah dengan membatja adzan dan iqomah didekat telinga si-baji dengan maksud agar si-anak mempunjai ketebalan rasa Ke-Tuhanan. Dipintu halaman diberi „djanur kuning“, dibawahnja diberi potongan daun pisang. Dihalaman rumah tiap malam dinjalakan api unggun untuk menolak balak dengan disediakan air supaja para pengundjung membasuh kakinja. Tiap malam bergiliran tetangga datang mengundjungi dengan membawa kuwé-kuwé atau lain-lain kebutuhan rumah tangga jang melahirkan. Hal ini dilakukan sampai sisa tali pusat si-baji terlepas (puput puser=bahasa Djawa). Waktu itu si-baji diberi nama di-iringi dengan selamatan. Bilamana si-baji mentjapai umur ± 10 hari maka diadakan selamatan (bantjakan) nasi dengan lauk pauk, jang dihadiri oleh anak-anak. Baji masih belum dapat diturunkan ditanah. Baru pada umur 7 bulan si-baji dapat diturunkan tanah jang diperingati dengan selamatan. Di Bangkalan,ndinamakan „toron-tana “kalau di Djawa „tudun“. Pada waktu „toron tana“ (tudun) pertama kali si-anak diletakkan diabu tungku, kemudian diturunkan ditempat dimana telah disediakan bermatjam-matjam benda seperti: mata uang, padi djagung, ketela, pakaian dan sebagainja. Dalam ramalan, apa jang di-indjak si-anak pertama-tama itulah menandakan bakatnja. Dipedalaman (Desa) untuk tangkal penggoda-penggoda halus, selama 40 hari pertama itu dikamar ibu dan baji dibawah tempat tidur disediakan bunga rampai dan ditempat tidurnja disediakan tulang ikan ju, atau periuk jang diberi gambar seperti kepala manusia dengan kapur. </ol> <ol type="1" start="2"> '''<li>Chitanan.</li>''' Di Bangkalan dan di Djawa-Timur pada umumnja chitanan mendjadi upatjara hidup perseorangan didaerah, karena chitanan adalah salah-satu sjarat agama Islam, dinamakan „sunnat“. Bagi anak perempuan chitan itu tidak demikian dipentingkan. Anak perempuan ini ada kalanja dichitan sesudah umur 40 hari atau 7 hari, atau sesudah berumur 1 sampai 4 tahun, dan tiada sampai lebih dari 5 tahun dengan tanpa upatjara. Pada umumnja dilakukan oleh seorang wanita tua jang biasa melakukan soal itu. </ol><noinclude>{{rh|||873}}</noinclude> 8j8done57sqrhk10g7h46wmz9iabwtq Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/267 104 99573 291125 277455 2026-05-10T14:16:38Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291125 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Organisasi ini dibenarkan dan dilindungi oleh Pemerintah jang seketika itu sudah diserahkan oleh Djepang untuk memimpin pimpinan pemerintahan kepada Kepala Pemerintahan Gun Tjo Bachsan, Kepala Polisi untuk Keamanan Hei Bu Abd. Manap. Demikianlah pada tanggal 16 Agustus 1945, berdirilah „Badan Pendjaga Keamanan” (B.P.K.) jang beranggota 35 orang anggota Angkatan Muda dan diketuai oleh H.B. Yahya. B.P.K. disusun demikian rupa dan terdiri dari 5 bahagian, jaitu: <ol type="I"> <li>Pendjaga Keamanan terbagi pula kepada 3 pasukan, ialah:</li> <ol type="a"> <li> Pasukan I, diketuai oleh Ali R. Medan.</li> <li> Pasukan II, dikepalai oleh Ramli H. Umar.</li> <li> Pasukan III, dikepalai oleh Sjarifuddin.</li> </ol> <li> Pasukan Istimewa, dikepalai oleh H. B. Yahya.</li> <li> Urusan keuangan.</li> <li> Urusan perbekalan.</li> <li> Urusan dapur Umum. </li> </ol> Bendera Merah Putih jang berkibar dihadapan kantor B.P.K. didjalan Centraal Muara Bungo, adalah lambang kemerdekaan jang pertama sekali berkibar diangkasa Daerah Djambi. Didjaga dan dipertahankan kibaran dan lambaiannja oleh Pemuda-pemuda pasukan B.P.K. Muara Bungo terletak pada djalan raja jang memperhubungkan Bukittinggi dengan Lubuk Linggau-Palembang, terus ke Tandjung Karang. Semua Pemimpin-pemimpin rakjat jang bepergian melalui djalan darat dari Bukittinggi hendak ke Djawa ataupun sebaliknia, tentu melalui Muara Bungo dan bermalam disini. Pemuda-pemuda bekas Gyu Gun. jang sudah bertempur dalam Perang Dunia II di Ternate, Halmahera, Amboina atau ditempat lain-lain, pulang ke Sumatera Barat dan Sumatera Timur, beberapa malam beristirahat di Muara Bungo. Sebab itu tidak heran djika di Muara Bungo lebih dahulu mengetahui situasi, dibandingkan dengan beberapa kewedanan-kewedanan lain didaerah Djambi. Semangat pemuda-pemuda djadi tambah berkobar-kobar, dan berapi-api dan B.P.K. melajani setiap peristiwa penting jang terdjadi di Muara Bungo ketika itu. Dengan tersiarnia proklamasi jang diutjapkan atas nama Rakjat Indonesia oleh Sukarno-Hatta, ditambah lagi dengan berita-berita dan pengalaman-pengalaman jang dibawa oleh Pemimpin-pemimpin dan Pemuda-pemuda progressief jang meliwati Muara Bungo dari beberapa kepulauan di Indonesia ini hendak ke Bukittinggi, Padang dan Medan, maka semangat dan djiwa para pemuda di Muara Bungo mendjadi bertambah panas dan bergelora.<noinclude>{{rh|||261}}</noinclude> ei4f8lll2x2bz7asbjf2zzjdrmureg1 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/274 104 99595 291120 277540 2026-05-10T14:16:18Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291120 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>in facto, maka segala executief jang dapat diserahkan kepada badan lain atau diotonomikan dilepaskan dari K.N.I. <ol type="a"> <li>'''Pimpinan Organisasi''' masih mungkin dilakukan oleh suatu permanen komite ( Komite tetap ) dalam Komite Nasional.</li> <li>'''Badan Kemasjarakatan''' (Perhimpunan Fakir Miskin dan Jatim Piatu) dapat diserahkan kepada Pemerintah menurut tuntutan Dasar Negara Republik Indonesia.</li> <li>'''Badan Perekonomian Rakjat''' (Perkumpulan Koperasi Rakjat) dapat diserahkan kepada Pedjabat Pemerintah, menurut tuntutan Dasar Partai Nasional Indonesia, jang selama ini digabungkan dengan Dasar Komite Nasional dalam pembentukan Komite Nasional Djambi.</li> <li>'''Balai Penerangan''' diserahkan kepada Pemerintah.</li> <li>'''Fonds Kemerdekaan''' dapat diurus oleh Permanen Komite dalam Komite Nasional.</li></ol> 6. Dalam Komite Nasional diadakan „Dewan Harian“ (Standing Committee terdiri dari 5 sampai 7 orang, jang gunanja: <ol type="a"> <li>Pengurus perkara harian.</li> <li>Badan pertimbangan Residen.</li> <li>Badan perantaraan Rakjat dengan Pemerintah.</li> <li>Badan perantaraan Residen dengan Sekutu.</li></ol> 7. Persidangan sewaktu-waktu diadakan dengan hadirnja sekurang-kurangnja ⅔ dari djumlah anggota semua. 8.Kewadjiban anggota Komite Nasional: <ol type="a"> <li>Mendjadi pelopor rakjat.</li> <li>mendjadi organisator gerakan rakjat Republik.</li> <li>Mempertahankan kedaulatan Rakjat.</li> <li>Mengoreksi para Pegawai-pegawai Negeri.</li> <li>Mendjaga ketenteraman '''Umum'''.</li></ol> 9. Mengurangi Dasar Partai Nasional dari Dasar jang sedang dipakai mendjadi patokan Komite Nasional Djambi (Dasar jang dipakai selama ini ialah assimilasi Dasar P.N.I. dan K.N.I.). Komite Nasional dikewedanaan mendjadi badan Konsultatief dari tubuh Pemerintahan kewedanaan. Diseluruh Marga-marga hendaknja diadakan Komite Nasional Marga jang merupakan Balai Penimbang, dengan perwakilan selengkap mungkin. Begitu djuga didusun-dusun jang besar (Balai Desa). Kemudian pada bulan April 1946, tersiarlah Maklumat Gubernur Sumatera No. 8/M.G.S. jang isinja: Kita Gubernur Sumatera Negara Republik Indonesia.<noinclude>{{rh|268}}</noinclude> h2gttzmnodk51znbd8og9mr7li5v46d Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/967 104 99604 291433 284355 2026-05-11T00:51:39Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291433 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>Untuk bekal pergaulan sehari-hari, dipesankan agar: {{hii|4|0}}Berlajar bernachoda,<br>Berdjalan ber-jang tua,<br>Berbitjara ber-jang pandai,<br>Tuah sekata, tjelaka bersilang.{{Div end}} Agar selalu memakaikan kebidjaksanaan dalam semua lapangan, maka kepada seluruh putera Minangkabau itu dipesankan supaja mereka dapat segera membedakan sesuatu, Adjaran ini dinjatakan dengan: {{ol|list_style_type=decimal |Terkilat ikan didalam air, lah tentu djantan betinanja. |Belum berkilat lah berkelam, bulan disangka tiga puluh. |Melenguh sapi didalam badjak (luku),<br>Berkotat ajam didalam telur,<br>Berkata anak didalam tian (rahim),<br>Lah tentu siupik sibujungnja. |Putjuk sidjawi-djawi lontas,<br>Putjuk sidjawi-djawi muda,<br>Dilangit dia lah melintas,<br>Kami dibalik itu pula.}} Untuk mendorong agar giat bekerdja dan berusaha, dipetaruhkan agar: {{hii|4|0}}Lebihkan tegak dari duduk,<br>Lebihkan sabar dari bebal,<br>Lebihkan radjin dari segan,<br>Lebihkan baik dari djahat.{{Div end}} {{hii|6|0}}Ketika ada djangan dimakan,<br>Lah tidak ada baru dimakan.{{Div end}} {{hii|4|0}}Hemat pangkal kaja,<br>Sia-sia utang tumbuh,<br>Sediakan pajung sebelum hudjan,{{Div end}} {{hii|6|0}}Hendak kaja berdikit-dikit,<br>Hendak tua bertabur urai.{{Div end}} {{hii|4|0}}Hilang bangsa tak beruang,<br>Hilang warna karena penjakit.{{Div end}} Etiquete dalam pergaulan sehari-hari jang akan membajangkan budi pekerti seseorang didjaga dengan baik dan seksama, Beberapa adjaran berkenaan dengan itu menjatakan, bahwa: {{ol|list_style_type=decimal |Jang tua harus dimuliakan,<br>Jang ketjil harus dikasthi,<br>Sesama besar lawan bergurau,<br>Elok dipakai, buruk dibuang.}}<noinclude>{{rh|||959}}</noinclude> 74gmn9l0wn8wd2vihbspscqxnq7m28h Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/621 104 99626 290901 277799 2026-05-10T13:07:27Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290901 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{right|'''KESEHATAN RAKJAT.'''}} '''Penjakit pes.''' {{dropinitial|P}}ADA umumnja daerah-daerah jang terkenal sebagai sarang pes nampaknja tenteram. Jang agak hebat hanja di Pulung dan Donorodjo, Patjitan, jang berbatasan dengan sarang pes Wonogiri, Surakarta. Sebagai usaha untuk menudju ke-pemberantasan pes dengan hasil jang tetap, maka sedjak tribulan III tahun 1952 diusahakan perbaikan rumah-rumah di daerah itu; sebagai langkah pertama sedang diusahakan perbaikan 200 rumah dengan ongkos ± Rp. 3.000,―/rumah ≈ Rp. 600.000,―. Mulai awal Djuli 1952 sama sekali sudah tidak ada pes lagi. Pada perdjangkitan -perdjangkitan pes, jang biasanja hanja ketjil-ketjilan di Daerah Modjosari, Kabupaten Modjokerto tahun 1950 dan Daerah Singosari, Kabupaten Malang dan Kota Malang, dan agak berarti di Daerah Patjitan, maka selain dari pembersihan umum, pengobatan penderita, pengasingan sementara dari jang dianggap „contacts”, pembunuhan tikus dan sebagainja, maka djuga dilakukan suntikan, dan suntikan-ulangan 6 bulan lagi dengan vaccine-pes, jang berasal dari Lembaga Pasteur Bandung. {{c|'''Djumlah adanja orang-orang jang ditjatjar penolakan-pes pertama dan ulangan (Vaccinatie + Revaccinatie) wilajah Djawa-Timur.'''}} {| class="wikitable" style="text-align:right; margin:auto;" |- | style="text-align:center;" | Tahun | style="text-align:center;" | Vaccinatie | style="text-align:center;" | Revaccinatie | style="text-align:center;" | Djumlah |- | style="text-align:center;" | 1950 | 37.026 | | 37.026 |- | style="text-align:center;" | 1951 | 56.650 | 103.076 | 159.726 |- | style="text-align:center;" | 1952 | 265 | 36.481 | 36.746 |- style="border-top: 2px solid black; border-bottom: 3px double black;" | style="text-align:left;" | Djumlah | 93.941 | 139.557 | 233.498 |} '''Malaria.''' Sebagai acute opflikkering dari keadaan '''endemie malaria''' menghebat dimasa 1950 - 1952 di Ketjamatan Djangkar, Kabupaten Panarukan (3 Desa di pantai; disebabkan tertjampurnja air tawar dan asin jang tidak mudah mengalir hilang).<noinclude>{{rvh|587}}</noinclude> tun7tj1fk5han32iujhczxzzk8jcbs2 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/269 104 99628 291124 277840 2026-05-10T14:16:34Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291124 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude><ol type="III"> <li>P.S.I. (Persatuan Sopir Indonesia) berdiri tanggal 23-10-1945.</li> <li>P.D.I. (Persatuan Dagang Indonesia) berdiri tanggal 14-11-1945.</li> <li>Petir — berdiri tanggal 8-11-1945.</li> <li>Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia) berdiri tanggal 12-10-1945.</li> <li>P.P.R.I. berdiri tanggal 11-11-1945.</li> <li>Satu partai politik, jaitu Partai Komunis Indonesia (P.K.I.) berdiri tanggal 6-3-1946.</li> </ol> Komite Nasional Indonesia diperluas dan diperlengkapi lagi. Susunan jang kedua kali ini, mendapat tambahan tenaga dari persatuan-persatuan dan organisasi jang ada. Susunannja adalah: {| |- |1.||Ketua||:|| H.B.Yahya. |- |2.||Ketua Muda||:|| R. Sudarjo. |- |3.||Panitera||:|| Muhd. Zein, A. Rauf, Hasan Thaher |- |4.||Bendahara||:|| Munawar, Abd. Kadir Hamzah. |- |5.||Penerangan||:|| Ludin, Muchtar Ismail, Ibrahim Gr. |- |6.||Pemeriksa||:|| Muhd. Zahari, Muhd. Sjarif, Sudarsono. |- |7.||Balai Umum||:|| Muhd. Zahari, Muhd. Sjarif, Sudarsono. |- | ||I. Ketua||:|| Abdul Manaf. |- | ||II. Ketua Muda||:|| Ibrahim Yahya. |- | ||Anggota-anggota dari||:|| |- |colspan="4" style="text-align:center"|Pasirah-pasirah (Kepala Marga) sedjumlah 8 Pasirah. |- | ||P.S.I.||:|| H. Abd. Roni, Husin Ali. |- | ||P.R.I.||:|| Victor Simatupang, Anwar S.S. |- | ||Perwari||:|| Chadijah, Raimin. |- | ||B.P.K||:|| Sjarifuddin, Abd. Rahman. |- | ||P.D.I.||:|| Muchtar Ismail. |- | ||Fonds Kemerdekaan||:|| Ali R.M. |- | ||Petir||:|| Iljas Njanaib, Mahmud Bendaro |- | ||P.B.I.||:|| Bachsan, Zainal Abidin. |- | ||Tentera||:|| Muhd. Thaib, Said Abdullah. |- |} Patut ditjatat disini, bahwa untuk memupuk keuangan K.N.I., banjak diterima bantuan dari perkumpulan-perkumpulan organisasi-organisasi, dan lain-lain. Dari keuangan inilah dibantu T.R.I. dan dilantjarkan perdjuangan kemerdekaan Indonesia .<noinclude>{{rh|||263}}</noinclude> 518kb48itivo2dk41lo3sq6udvsogtm Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/904 104 99629 291823 277794 2026-05-11T07:13:56Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291823 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>'''Sesudah Pemulihan Kota-kota.''' '''a) Curatief — Pengobatan.''' Sesudah penjerahan kedaulatan kepada Negara Republik Indonesia, Djawatan Kesehatan banjak sekali menemui kesulitankesulitan dan mengalami kerusakan-kerusakan disegala bagianbagiannja, terutama kerusakan-kerusakan jang ditimbulkan oleh pertempuran dengan Belanda, sehingga mengakibatkan banjaknja kerusakan Rumah-rumah Sakit dan Balai-balai Pengobatan, jang menjebabkan sebahagian besar dari rakjat, tidak mendapat pertolongan jang sewadjarnja. Apabila ditahun itu perhubungan-perhubungan banjak jang terputus, oleh karena obat-obat dan alatalat serta tenaga-tenaga jang diperlukan amat sukar didatangkan ketempat-tempat jang dianggap perlu; begitu pula dengan susunan pegawai-pegawai dan perlengkapan materil, belum lagi tersusun sebagai jang diharapkan. Dalam keadaan jang sedemikian timbullah perubahan-perubahan besar disegala lapangan, begitu djuga anggaran Djawatan Kesehatan tidak pula luput dari padanja, sehingga lebih menjulitkan lagi bagi segala lapisan rakjat, untuk melantjarkan dan melaksanakan tjara-tjara hidup jang kita katakan sehat. Beralasan dari apa jang tersebut diatas tadi, maka timbullah dikalangan rakjat kita bermatjam-matjam penjakit. Jang terbanjak kelihatan diantara penjakit-penjakit ini sampai sekarang, ialah: <ol start="1"> <li>''Malaria.'' Di Sumatera Barat sadja tidak kurang dari 15 % jang menderita penjakit malaria ini. Dilain-lain Daerah, kita berkejakinan akan lebih tinggi lagi dari ini, sebab daerah ini lebih dekat pada pesisir dan lebih banjak mempunjai tanahtanah jang berawa-rawa. Pada achir tahun 1950 di Kabupaten Padang Pariaman (daerah Sumatera Barat) sudah dimulai mengadakan pemberantasan penjakit malaria. Pun didaerah lain djuga sudah dimulai pula dengan tjara berangsur-angsur satu demi satu daerah, mana jang dianggap perlu. RIAU. Dalam tahun 1951 di Kabupaten Inderagiri (Rengat) sudah mulai pula diadakan pemberantasan penjakit malaria, dengan mempergunakan minjak solar dengan menempatkan ketempat-tempat jang kedapatan uget-uget (bahan malaria), serta menimbun tempat-tempat jang airnja tidak mengalir. Djuga membikin parit-parit baru dimana-mana jang dianggap perlu.</li> </ol><noinclude>{{rh|896}}</noinclude> i0w4jd7ktaqhuwok1dc5yyu2138fyib Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/386 104 99656 291064 277914 2026-05-10T13:59:48Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291064 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Para anggota Syu Sangi Kai jang berbitjara dibawah dagu Kempetai jang menghantu itu, tentu sadja tak dapat berbuat selain dari pada berusaha buat mengobati sedikit-sedikit luka-luka jang dalam jang ditimbulkan oleh tindakan-tindakan Djepang. Semakin gentingnja keadaan perang bagi Djepang, semakin menjebabkan mereka berusaha keras buat menjatukan tenaga rakjat buat membantunja. Setelah PUTERA di Djawa jang dipimpin Bung Karno mendjadi HOKOKAI atau Badan Kebaktian Rakjat, maka sistim partai satu ini diadakan pula didaerah-daerah di Sumatera, karena seperti diketahui, semasuknja Djepang segala partai dan gerakan rakjat dibubarkan. Maka disusunlah Hokokai Sumatera Barat jang didalamnja tergabung orang-orang jang terkemuka pada waktu itu dari berbagai golongan masjarakat. Baru sadja Hokokai ini tersusun dan memulai usahanja, maka djatuhlah bom atom dan Djepang menjerah dengan tak bersjarat. Segera sesampainja siaran Proklamasi Kemerdekaan di Sumatera Barat, maka para pemimpin Hokokai, mengadakan rapat di Kantor Pusatnja di Padang pada tanggal 27, 28 dan 29 Agustus 1945, dimana diambil putusan antara lain: '''Pembentukan K.N.I.''' '''Membubarkan Kokokai dan menjerahkan harta-bendanja kepada Pergerakan Nasional, membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah Sumatera Barat selaras dengan pengumuman Presiden pada 22 Agustus, dengan ketentuan bahwa buat sementara waktu anggotanja terdiri dari anggota pengurus Hokokai lama sebanjak 41 orang.''' Sesudahnja terbentuk, maka diadakanlah Rapat Pleno K.N.I. daerah Sumatera Barat jang pada tanggal 31 Agustus 1945 bertempat di Alang Lawas, dimana telah ditetapkan susunan anggota pengurus beserta kepala dan anggota bagian-bagiannja sebagai berikut: Ketua Saudara M. Sjafe'i. Ketua Muda I: Saudara Dt. Perpatih Baringek, Ketua Muda II: Dr. M. Djamil, Setia Usaha-Bendahari , Mr. St. Mohd Rasjid. Sedangkan anggota-anggota dibagi kepada beberapa bahagian, sebagai berikut : #Bahagian Persatuan dan Pendidikan: Saudara- saudara Mr. M. Nasrun dan Saaduddin Djambek. #Badan Penolong Keluarga Korban Perang (B.P.K.K.P.): Saudara-saudara Chatib Suleiman, Ismael Lengah, Suleiman, H. A. Wahab Amin, Dr. Nazaruddin, dan Burhanuddin.<noinclude>{{rh|380}}</noinclude> e6g2gz4npc9vqqyoy9b4ako0kj316ks Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/145 104 99688 291414 278164 2026-05-10T23:51:04Z N.imaema 22481 /* Tervalidasi */ 291414 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="N.imaema" /></noinclude>Sedjak tanggal 1 Agustus 1952, kesatuanku telah berubah namanja. Bukan lagi Batalion 119 Badak Hitam jang administratief dan organisatoris termasuk T.T. I. Tapi sudah mendjadi Batalion 712 Terr. VII. Dan pada tanggal 20 November 1952, Panglima T.T. VII Kolonel Gatot Subroto datang menindjau kesatuanku di Posso dengan daerah tugasnja. Dalam wedjangannja jang ditudjukan kepada seluruh anggota Kie Staf, Kie "B" dan umumnja kepada seluruh anggota Batalion 712 dari djam 15.30 sampai djam 17.30 ws, Pak Gatot antara lain mengatakan : Patut saja pudjikan kepada anak<small><sup>2</sup></small> dari Kapten Alamsjah jang dahulu disebut Batalion Badak Hitam. Sesuai dengan orangnja jang hitam<small><sup>2</sup></small> serta nampaknja bandel<small><sup>2</sup></small>, jang menjebabkan selalu tahan didaerah operasi, digunung<small><sup>2</sup></small> serta dihutan<small><sup>2</sup></small>, jg. sesuai pula dengan djiwa badaknja jang tidak mengenal lelah ataupun mengeluh. Patut djuga saja selaku Bapak atau Panglima T.T. VII jang sekarang ini berada dimuka anak<small><sup>2</sup></small>ku memberikan penghargaan serta mengutjapkan terima kasihku atas ketaatan hati anak<small><sup>2</sup></small>ku para perwira, bentara dan bawahannja, jang boleh dibilang sedjak keluar dari T.T, I. pada bulan Oktober 1950 hingga kini selalu mengikuti operasi<small><sup>2</sup></small> jang djauh dari kota serta hiburan<small><sup>2</sup></small>. Siapa dapat menduga, bahwa anak<small><sup>2</sup></small>ku ini dapat mendjalankan tugasnja dihutan<small><sup>2</sup></small> sampai begitu lama, pada hal asalnja adalah dari Medan, kota jang terkenal nomor satu diseluruh Indonesia. Tetapi dengan dasar keinsjafan dan djiwa perdjuangan jang tidak menghiraukan akan kemewahan<small><sup>2</sup></small> dan kesenangan diri sendiri, tetap setia melakukan tugasnja sekalipun belum pernah ditempatkan dalam kota jang penuh hiburan atau jang agak aman keadaannja. Dan sekali lagi saja utjapkan penghargaan saja selaku Bapak dan Panglima T.T. VII serta terima kasih pula atas pimpinan Batalion ini jang selalu menundjukkan kedisiplinir serta keutuhan kesatuan. Demikian singkatnja isi wedjangan Pak Gatot jang disampaikan kepada kesatuanku. Pada bulan April 1953, kesatuanku diperintahkan pula untuk mengadakan gerakan operasi. Kali ini disebut operasi Merdeka. Sektornja meliputi daerah : Bungku, Pasangkaju, Kulawi, Badangkaja, Badak dan lain<small><sup>2</sup></small>, didaerah Sulawesi Selatan Tengah. {{hws|Ber|berkat|}} [[Berkas:Madjalah Angkatan Darat (page 145 crop).jpg|jmpl|450px|pus|''Untuk mengobrak-abrik dan mengotjar-ngatjirkan musuh, selalu djuga disertai dengan tembakan<small><sup>2</sup></small> meriam. Djuga untuk melindungi pasukan sendiri jang sedang bergerak dari penglihatan musuh, disertakan tembakan tabung asap.'' ]]<noinclude>{{rh|||27}}</noinclude> e2zfk2r0owzwokodxz4qam6y3kyjwgp Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/125 104 99699 291095 278191 2026-05-10T14:11:27Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291095 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Rakjat ribut dan partai-partai tampil mengusahakan penjelesaian menurut tjara masing-masing pula. Umpamanja P.K.I. bertindak menetapkan harga barang-barang dipasaran Bukittinggi. Sesudah itu Volksfront bertindak pula melandjutkan kontrole ekonominja tentang uang ketjil dan dibawah f 100,- (seratus rupiah Djepang) dengan maklumatnja pada tanggal 4 bulan April 1946, karena setelah uang kertas f 100,- (seratus rupiah) dibekukan, uang ketjil mendjadi sangat sukar sedangkan harga barangbarang naik. Maklumat itu berbunji sebagai berikut: {{C|MAKLUMAT VOLKSFRONT SUMATERA BARAT}} {{C|'''Tidak boleh menjimpan lebih dari ƒ 500,—}}''' Barangsiapa menjimpan uang kertas ketjil (dibawah uang kertas seratus rupiah) lebih dari ƒ 500,- (lima ratus rupiah) hendaklah memberitahukan pada Bank Rakjat Indonesia. Barangsiapa menahan (menumpuk) uang kertas ketjil tersebut dengan tidak ada surat keterangan dari bank uang itu boleh disita. Setelah utusan Volksfront Sumatera Barat dan utusan Divisi T.R.I. kembali dari Tapanuli maka dimaklumkan jang berikut ini: {{ol|type=1 |Segala oto Sumatera Barat djangan berangkat dulu ke Tapanuli, menunggu datangnja utusan dari Tapanuli kemari. |Segala oto Tapanuli jang masih ada didaerah Sumatera Barat hendaklah selekasnja pulang ke Tapanuli. }} {{Block right|{{c|Merdeka Bukittinggi, 4 April 1946 Dewan Pimpinan Volksfront Sumatera Barat.}}}} Maklumat ini djatuh bergegar laksana sebuah bom dalam masjarakat Sumatera Barat. Menimbulkan pro dan contra jang hebat sekali, tetapi dalam kenjataan uang kertas f 100,- Djepang itu tidak diterima lagi oleh masjarakat. Oleh karena itu timbullah berbagai-bagai pendirian tentang maklumat Volksfront ini. Tudjuannja jang baik untuk mematahkan usaha Nica itu telah menimbulkan kekalutan dalam ekonomi rakjat, terutama disebabkan hanja Sumatera Barat jang tidak menganggap laku, sehingga uang kertas f 100,- itu mengalir keluar, dan diperdjual belikan setjara speculasi sehingga sampai separo harga, dan tidak banjak jang masuk di bank. Uang ketjil mendjadi sulit, sedangkan harga barang-barang naik karena dikontrole, lenjap dari pasaran dan diperdjual-belikan setjara gelap. Memang pada tanggal 1 April<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude> jtoma5yrf8rg3uuqbsieq35l0lebgnm Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/126 104 99700 291096 278194 2026-05-10T14:11:32Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291096 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Residen Sumatera Barat telah mengeluarkan Maklumat No. 7-46 bahwa uang jang sudah robek- robekpun harus diterima asal direkat, tetapi oleh karena sulitnja uang ketjil, biarpun tak ada maklumat ini toch akan diterima orang djuga biarpun robek-robek. '''Maklumat Residen. Uang ƒ 100,- tetap berlaku, 5 April 1946.''' Oleh karena sulitnja keadaan ekonomi akibat dari maklumat Volksfront ini, maka Pemerintah Sumatera Barat terpaksa bertindak dengan mengeluarkan maklumat lain besok harinja (tanggal 5 April 1946) jang menegaskan bahwa maklumat Volksfront itu hanjalah andjuran semata-mata, dan uang kertas ƒ 100,- Djepang tetap laku, sedangkan kontrole ekonomi jang tadinja diserahkan kepada Volksfront diambil kembali oleh Pemerintah. Maklumat Pemerintah itu selengkapnja berbunji sebagai berikut : {{C|MAKLUMAT 10/46 KEPALA PEMERINTAHAN SUMATERA BARAT. }} Diberitahukan bahwa andjuran dalam maklumat Volksfront tanggal 1 April 1946 jang bunjinja seperti berikut: {{C|'''Maklumat Volksfront.}}''' Andjuran menjimpan uang kertas Djepang ƒ 100,- di Bank. Mengandjurkan kepada sekalian warganegara di Sumatera Barat untuk menjimpan uang kertas ƒ 100 (seratus rupiah) pada bank Pemerintah atau bank jang diundjukkan Pemerintah dalam tempo 1 bulan ini, mulai tanggal 1 April 1946 sampai 30 April 1946. Sesudah tanggal 30 April 1946 perputaran uang kertas Djepang ƒ 100 (seratus rupiah) tidak disahkan lagi. Semua tjabang-tjabang dan anak tjabang-tjabang Volksfront harap mendjalankan maklumat ini . {{Block right|{{c|1 April 1946. Dewan Pimpinan Volksfront Sumatera Barat.}}}} hanja semata-mata andjuran sadja dan bukanlah berarti undang-undang Pemerintah, demikian djuga andjuran tentang menghilangan uang kertas ƒ 100, - dari masjarakat jang dimaksud dalam Permakluman Volksfront No. 1 tanggal 19 Maret 1946. KESIMPULAN : Uang kertas ƒ 100,- (seratus rupiah) laku terus. {{Block right|{{c|Padang , 5 April 1946. Residen Sumatera Barat, Dr. Moh. Djamil glr. Dt. Rangkajo Tuo.}}}}<noinclude>{{rh|120}}</noinclude> 68qpcsqyf8im5jmle1aor3a6v4eej3w Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/127 104 99701 291097 278197 2026-05-10T14:11:36Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291097 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{C|UANG KERTAS SERATUS SJAH LAKU! MAKLUMAT No. 11/46 KEPALA PEMERINTAHAN SUMATERA BARAT.}} Menjambung maklumat kita tanggal 5 April 1946 No. 10/46 dengan ini diberitahukan, bahwa barangsiapa jang menolak pembajaran atau tidak mau menerima uang kertas ƒ 100,- jang dinjatakan laku oleh Pemerintah selama ini, ataupun mengatakan bahwa uang kertas itu tidak laku atau tidak akan dilakukan, akan ditangkap dan dihukum. {{Block right|{{c|Padang, 6 April 1946. Residen Sumatera Barat, Dr. Moh. Djamil glr. Dt . Rangkajo Tuo.}}}} '''Penjerahan kembali oleh Volksfront pada Pemerintah, 5 April 1946.''' {{C|MAKLUMAT BERSAMA}} Dalam permusjawaratan antara Pemerintah dengan Dewan Pimpinan Volksfront Sumatera Barat pada hari ini telah diperoleh kesepakatan seperti berikut: {{ol|type=1 |Hak jang diberikan kepada Volksfront dalam rapat K.N.I. Sumatera Barat tanggal 18-3-1946 tentang melaksanakan kontrole ekonomi diserahkan kembali kepada Pemerintah. |Pemerintah akan membentuk satu Dewan Ekonomi Pamerintah jang diperserahi memikirkan dan melaksanakan kontrole ekonomi. }} Dalam badan itu akan duduk ahli-ahli ekonomi dari kalangan rakjat dan partai-partai terutama orang-orang jang telah mengurus hal itu dalam Volksfront. {{Block right|{{C|Bukittinggi, 5 April 1946. Dewan Pimpinan Volksfront Sumatera Barat, Residen Sumatera Barat.}}}} '''Rombongan Pemerintah Pusat di Sumatera Barat, 17 April 1946.''' Dalam pada itu sampailah di Sumatera Barat rombongan utusan Pemerintah Pusat jang terdiri dari Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin, Menteri Penerangan M. Natsir, Menteri Agama H. Rasjidi, beserta rombongan jang disambut di Bukittinggi dengan satu rapat raksasa tepat pada peringatan ulang bulan Kemerdekaan jang ke-8 tanggal 17 April 1946, dimana sehari sebelumnja, rombongan Menteri menghadiri pelantikan Opsir Sabilillah se Sumatera.<noinclude>{{rh|||121}}</noinclude> 71znu71yb86bfi3koswqemfe7xcg5mc Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/96 104 99702 291089 278201 2026-05-10T14:11:09Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291089 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{C|{{sp|Menetapkan}}:}} '''Pertama:''' Ditentukan untuk mengepalai: {{ol|type=1 |Urusan Umum dikantor Residen Sumatera Barat Mohammad Rusjad gelar Dt. Perpatih Baringek. Urusan surat-menjurat dikantor itu D. Dt. Djundjung M. |Kantor Kesedjahteraan Minangkabau Ahmad Arif gelar Dt. Madjo Urang. |Pedjabat Pengadilan : Mr. Harun Al Rasjid. |{{gap}}”{{gap}} Kedjaksaan: Mr. Sutan Mohd. Rasjid dan A. Rezak gelar Sutan Malelo. |{{gap}}”{{gap}} Polisi: Raden Suleman. |{{gap}}”{{gap}} Kesehatan: Dr. Mohammad Djamil. |{{gap}}”{{gap}} Pengadjaran: A. Muluk. |{{gap}}”{{gap}} Urusan Pekerdjaan Umum : Mohd. Jasin Dt. Kajo. |{{gap}}”{{gap}} Pertanian: Mohammad Said. |{{gap}}”{{gap}} Urusan Ternak: A. H. Endamora. |{{gap}}”{{gap}} Urusan Kehutanan : Amir Hakim Siregar. |{{gap}}”{{gap}} Perhitungan uang negara : R. M. Sanjojo Sastraningrat. |{{gap}}”{{gap}} Administrasi Kas Negara: Agus Sastradipradja. |{{gap}}”{{gap}} Kas Negara : Setti Heran gelar Soetan Namora |{{gap}}”{{gap}} Padjak: R. Supardi Pawirodiredja. |{{gap}}”{{gap}} Pegadaian: Mohamad Jakim. |{{gap}}”{{gap}} Duane: Abu Nawas. |{{gap}}”{{gap}} Tjukai dan Perhubungan Laut: Sjamsuddin. |{{gap}}”{{gap}} Tjandu Garam: Burhanuddin gelar Dt. Madjo Besar. |{{gap}}”{{gap}} Tera: M. Sutono. |{{gap}}”{{gap}} Pos, Kawat, Telepon dan Radio: Sudibio. |{{gap}}”{{gap}} Kereta Api: Marah Badaruddin. |{{gap}}”{{gap}} Umbilin: Rusli. }} '''Kedua:''' Diperserahi buat sementara mewakili pekerdjaan Kepala Luhak : {{ol|type=1 |Padang dan kelilingnja: Djamalus Jahja gelar St. Pamuntjak. |Painan: Mohd. Sjarif gelar Sutan Bandaro. |Kerintji Indrapura: M. Djardjis Bebastani. |Tanah Datar: Palin gelar Sutan Alamsjah. |Agam: St. Muhammad Djosan gelar St. Bidjo Radjo. |Lima Puluh kota: Sjahfiri gelar St. Pangeran. |Solok: Sutan Diatas gelar Dt. Bagindo Radjo. |Luhak Ketjil Talu: Abdul Rahman gelar St. Larangan. }} '''Ketiga:''' Ditentukan mendjadi Demang dan Demang Muda segala Demang dan Demang Muda jang ada sekarang masing-masing untuk mengepalai pemerintahan dalam daerahmasing-masing.<noinclude>{{rh|90}}</noinclude> evnoerecfpy19ncfdo6rnjl6h5ghdfa Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/911 104 99708 291522 284979 2026-05-11T02:29:43Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291522 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>{| |- |valign="top"|9.||valign="top"|Kabupaten Kampar{{ol|list_style_type=decimal|Dr. Iljas.}}||{{ol|list_style_type=decimal|" Pk. Baru.| " Bangkinang|" Pasir Pangaraian.}}||<br><br>3 Balai Pengobatan. |- |valign="top"|10.||valign="top"|Kab. Kep. Riau.{{ol|list_style_type=decimal|Dr. Tjia Soe Piau.|Dr Mas Hardadi.|Dr. Haryono Hardjokoesoemo.}}||{{ol|list_style_type=decimal|R.S.U. Tg. Pinang.| " Tg. Balai.| " Penuba.}}||<br>12 Balai Pengobatan. |- |valign="top"|11.||valign="top"|Kab. Inderagiri{{ol|list_style_type=decimal|Dr. Sutjipto.}}||{{ol|list_style_type=decimal|" Rengat| " Taluk.| " Tembilahan.}}||9 Balai Pengobatan. |- |valign="top"|12.||valign="top"| Kabupaten Bengkalis{{ol|list_style_type=decimal|Dr. O. Weidinger.}}||{{ol|list_style_type=decimal|" Slt. Pandjang.| " Bagan Siapi-api.| " Siak Seri Inderapura.| " Bengkalis.| " Sei.<br>Pakning.}}||valign="center"|tidak ada. |- |valign="top"|13.||valign="top"|Kabupaten Merangin{{ol|list_style_type=decimal|Dr. Med. J.W. Lut kemeyer.}}||{{ol|list_style_type=decimal| " M. Tebo.}}||10 Balai Pengobatan. |- |valign="top"|14.||valign="top"|Kabupaten Batang Hari {{ol|list_style_type=decimal|Dr. Amir Siagian.|Dr. F.Y.L. Dhomen.}}||valign="top"|{{ol|list_style_type=decimal|R.S.U. Djambi.}}||valign="top"|7 Balai Pengobatan. |} {| |valign="top"|R.S.U. Painan||valign="top"|=||{{ol|list_style_type=decimal|Dr. E.A. Zimmermann.|Dr. M. Zimmermann Matzenauer.}} | |- | " Bagan Siapi-api||=||{{ol|list_style_type=decimal|Dr. G.E.R. de Smet.}} |- | " Selat Pandjang||=||{{ol|list_style_type=decimal|Dr. W.R.O. Ertel.}} |- | " Lb. Sikaping]||=||{{ol|list_style_type=decimal|Dr. T. Severin Nielsen t/b. di Bt. Sangkar.}} |- |valign="top"| " Bukittinggi||valign="top"|=||{{ol|list_style_type=decimal|Dr. Med. H.D. Huang, t/b. di Sawah Lunto.|Dr. M.E.J. Thomas.}} |- |Djawatan Frambusia Sumatera Tengah.||=||{{ol|list_style_type=decimal|Dr. B. Basjaruddin.}} |- |Inspektur Kesehatan Sumatera Tengah.||=||{{gap}}Dr. J. Datuk Moedo. |} {| |valign="top"|Keterangan|| ||30 buah R.S.U. Pemerintah.<br>129{{gap}}"{{gap}}Balai Pengobatan Pemerintah.<br>1{{gap}}"{{gap}}"{{gap}}"{{gap}}Maskapai (di Pulau Sambu). |}<noinclude>{{rh|||903}}</noinclude> nyvkv6hut0xrvvajvyf8qf7d4dj0rqg Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/910 104 99709 291506 284977 2026-05-11T02:12:33Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291506 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude><center> Djumlah Dokter-dokter Pemerintah, bidan, perawat/djuru-rawat, mantri tjatjar dan mantri malaria se Sumatera Tengah. {| |- |1.||Dokter||=||33 orang. |- |2.||Bidan||=||50 " |- |3.||Perawat/Dj. Rawat||=||203 " |- |4.||Manteri Tjatjar||=||52 " |- |5.||Manteri Malaria||=||27 " |} </center> <center> Djumlah Rumah-rumah Sakit/Balai-balai Pengobatan + Dokter-dokter. </center> {| |- |valign="top"|1.||valign="top"|Kabupaten Agam||valign="top"|{{ol|list_style_type=decimal|R.S.U. B. Tinggi}}||10 Balai Pengobatan.{{ol|list_style_type=decimal|Dr. Nizar| " Riva'i.| " Anakarani.| " Sjahrial.| " Tan King Swie.}} |- |valign="top"|2.||valign="top"|Kab. Tanah Datar||{{ol|list_style_type=decimal|R.S.U. Bt. Sangkar|R.S.U. Padang Pandjang.}}{{ol|list_style_type=decimal|R.S.U. Pajakumbuh}}||<br>12 Balai Pengobatan.<br>10 Balai Pengobatan. |- |valign="top"|3.||valign="top"|Kabupaten Lp. Kota||{{ol|list_style_type=decimal|R.S.U.P. Pajakumbuh}}{{ol|list_style_type=decimal|Dr. Moezbar.}} |- |valign="top"|4.||valign="top"|Kab. Padang/Pariaman||valign="top"|{{ol|list_style_type=decimal|Megawati.|Djambak.| Pariaman.}}||<br>17 Balai Pengobatan.<br>{{ol|list_style_type=decimal|Dr. Ansevetto Ricchu(di Pariaman).| " Akam.| " S. Athos Ausrie.| " Roemawi.| " Giovam Garbarino.}} |- |valign="top"|5.||Kabupaten Pasaman|| ||10 Balai Pengobatan. |- |valign="top"|6.||valign="top"|Kab. Solok/M. Labuh{{ol|list_style_type=decimal|Dr. Alvredo Salvago}}||valign="top"|{{ol|list_style_type=decimal|R.S.U. Solok.| " M. Labuh}}||<br>8 Balai Pengobatan. |- |valign="top"|7.||Kab. Swl./Sidjundjung{{ol|list_style_type=decimal|Dr. H. Basri Saanin.}}||valign="top"|{{ol|list_style_type=decimal| " Swl./Sidjundjung.}}||11 Balai Pengobatan. |- |valign="top"|8.||Kabupaten P.S.K.{{ol|list_style_type=decimal|Dr. Roezin.}}||valign="top"|{{ol|list_style_type=decimal| " Sei. Penuh.}}||15 Balai Pengobatan. |}<noinclude>{{rh||902}}</noinclude> e0skjvlwahnzia8kd0ngw60mvqmulc4 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/402 104 99710 291078 278358 2026-05-10T14:04:52Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291078 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>'''Mosi Tan Tuah c.s.''' jang ditanda tangani oleh 15 orang anggota jang merupakan lebih dari seperdua anggota jang hadir. Dalam konsiderans mosi ini ditegaskan bahwa lapuran Pemerintah sifatnja kabur, dan keadaannja membajangkan kelemahan, serta pimpinan dan tuntunannja politis dan juridis tak dapat dipertanggung-djawabkan, sehingga para anggota serta Ketua Dewan Pemerintah Propinsi Sumatera Tengah sekarang dirasa tidak dapat menghadapi keadaan dan masa jang akan datang. Oleh karena itu memutuskan: <ol type="a"> <li>Memadjukan usul kepada Pemerintah Pusat R.I. di Djokjakarta, agar Kepala Daerah Propinsi Sumatera Tengah dipindahkan.</li> <li>Memadjukan tjalon untuk mendjadi Kepala Daerah merangkap Ketua Dewan Pemerintah Daerah, jaitu seperti dimaksud oleh Undang -undang No. 22.</li> <li>Menuntut pembubaran susunan Dewan Pemerintah Propinsi Sumatera Tengah jang sekarang (Ketua + anggota).</li> <li>Memilih anggota Dewan Pemerintah Propinsi Sumatera Tengah jang baru.</li> </ol> Mosi ini diterima oleh sidang dengan 16 suara setudju, 7 tidak setudju, 1 blanco, dalam sidangnja ke-3 tanggal 11 April pagi. Laksana bunji sebuah bom, mosi ini mengguntur ditengah-tengah opini umum diseluruh Sumatera Tengah, dan mendjadi permulaan dari suatu hikajat demokrasi jang uniek diseluruh Indonesia! Dalam sidang ini antara lain djuga diputuskan ; <ol type="1> <li>Mentjalonkan saudara H. Iljas Jacoub mendjadi Gubernur Sumatera Tengah, walaupun pentjalonan atas dirinja ini ditolak oleh Saudara H. Iljas Jacoub sendiri.</li> <li>Memilih anggota Dewan Pemerintahan jang baru, terdiri dari Saudara S.J. Sutan Mangkuto, Sultani Sutan Malako, Thaher Samad, Dt. Mangku, dan sebuah kursi dalam Dewan Pemerintahan disediakan untuk daerah Djambi jang belum dapat diisi pada waktu itu.</li> <li>Menanam suatu komisi buat menjusun rentjana Distribusi jang tepat, terdiri dari saudara-saudara Bachtaruddin, Bahsiar Rahman dan Dt. Simaradjo.</li> <li>Melarang pemakaian kendaraan betja jang didjalankan dengan tenaga manusia dalam daerah Sumatera Tengah.</li> <li>Meresmikan dibubarkannja D.P.R. ketiga keresidenan, Sumatera Barat, Djambi dan Riau.<noinclude>{{rh|396}}</noinclude> 8pv2tznqq3e8kg2vjp5g25lfsn31l5i Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/901 104 99711 291824 278352 2026-05-11T07:14:41Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291824 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>Kesimpulan: Banjak sekolah Landjutan Atas, pada tiap-tiap Kabupaten dalam daerah Propinsi Sumatera Tengah tahun 1952 (sampai 1 Djuli 1952). {| class="wikitable" style="text-align:right; width:100%;" |- ! rowspan="2" style="text-align:left;" | No. ! rowspan="2" style="text-align:left;" | Kabupaten ! colspan="3" style="text-align:center;" | Matjam Perguruan |- ! Sekolah !! Murid !! Guru |- | 1. || style="text-align:left;" | Agam || 2 || 210 || 16 |- | 2. || style="text-align:left;" | Tanah Datar || 5 || 500 || 30 |- | 3. || style="text-align:left;" | L. Kota || 1 || 128 || 14 |- | 4. || style="text-align:left;" | Pasaman || — || — || — |- | 5. || style="text-align:left;" | Swl. Sidjundjung || — || — || — |- | 6. || style="text-align:left;" | Solok || — || — || — |- | 7. || style="text-align:left;" | Padang Pariaman || — || — || — |- | 8. || style="text-align:left;" | Ps. Kerintji || — || — || — |- | 9. || style="text-align:left;" | Kampar || — || — || — |- | 10. || style="text-align:left;" | Inderagiri || — || — || — |- | 11. || style="text-align:left;" | Bengkalis || — || — || — |- | 12. || style="text-align:left;" | Kepulauan Riau || — || — || — |- | 13. || style="text-align:left;" | Merangin || — || — || — |- | 14. || style="text-align:left;" | Batang Hari || — || — || — |- ! colspan="2" style="text-align:left;" | D j u m l a h !! 8 !! 838 !! 60 |} '''Kesimpulan''' Banyak Perguruan Quran, Madrasah-madrasah, serta Murid-murid dan guru guru rendah/landjutan pertama pada tia-tiap Kabupaten dalam daerah Sumatera Tengah tahun 1952 (sampai 1 Djuli 1952) {| class="wikitable" style="text-align:right; width:100%;" |- ! rowspan="2" style="text-align:left;" | No. ! rowspan="2" style="text-align:left;" | Kabupaten ! colspan="3" style="text-align:center;" | Perguruan Quran |- ! Guru !! Murid !! Sekolah |- | 1. || style="text-align:left;" | Perguruan Quran || 3.644 || 133.299 || 3.585 |- | 2. || style="text-align:left;" | Sekolah Rendah || 575 || 47.441 || 1.762 |- | 3. || style="text-align:left;" | Sekolah Landjutan Pertama || 221 || 18.820 || 1.041 |- | 4. || style="text-align:left;" | Sekolah Landjutan Atas || 8 || 838 || 60 |- ! colspan="2" style="text-align:left;" | D j u m l a h !! 4.448 !! 200.398 !! 6.448 |}<noinclude>{{rh|||893}}</noinclude> 6eefasc1cmgahh0eqipba0w7nzcl68x Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/900 104 99712 291850 278370 2026-05-11T08:05:06Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291850 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>'''Kesimpulan:''' '''Banjak sekolah Rendah.''' {| class="wikitable" style="text-align:right; width:100%;" |- ! rowspan="2" "style=text-align:left;" | No. ! rowspan="2" style="text-align:left;" | Kabupaten ! colspan="3" style="text-align:center;" | Sekolah Rendah |- ! Sekolah !! Murid !! Guru |- | 1. || style="text-align:left;" | Agam || 45 || 2.100 || 100 |- | 2. || style="text-align:left;" | Tanah Datar || 36 || 2.528 || 250 |- | 3. || style="text-align:left;" | L. Kota || 18 || 1.141 || 49 |- | 4. || style="text-align:left;" | Pasaman || 39 || 6.460 || 367 |- | 5. || style="text-align:left;" | Swl. Sidjundjung || 62 || 4.410 || 32 |- | 6. || style="text-align:left;" | Solok || 29 || 4.763 || 102 |- | 7. || style="text-align:left;" | Padang Pariaman || 59 || 4.392 || 177 |- | 8. || style="text-align:left;" | Ps. Kurintji || 37 || 1.756 || 78 |- | 9. || style="text-align:left;" | Kampar || 80 || 6.936 || 207 |- | 10. || style="text-align:left;" | Inderagiri || 51 || 3.917 || 112 |- | 11. || style="text-align:left;" | Bengkalis || 50 || 3.164 || 65 |- | 12. || style="text-align:left;" | Kepulauan Riau || 19 || 1.551 || 33 |- | 13. || style="text-align:left;" | Merangin || 19 || 790 || 68 |- | 14. || style="text-align:left;" | Batang Hari || 31 || 3.533 || 122 |- ! colspan="2" style="text-align:left;" | D j u m l a h !! 575 !! 47.441 !! 1.762 |} '''Kesimpulan:''' '''Banjak Sekolah Landjutan Pertama.''' {| class="wikitable" style="text-align:right; width:100%;" |- ! rowspan="2" style="text-align:left;" | No. ! rowspan="2" style="text-align:left;" | Kabupaten ! colspan="3" style="text-align:center;" | Sekolah Landjutan Pertama |- ! Sekolah !! Murid !! Guru |- | 1. || style="text-align:left;" | Agam || 42 || 2.234 || 196 |- | 2. || style="text-align:left;" | Tanah Datar || 47 || 5.416 || 243 |- | 3. || style="text-align:left;" | L. Kota || 27 || 2.998 || 191 |- | 4. || style="text-align:left;" | Pasaman || 10 || 463 || 25 |- | 5. || style="text-align:left;" | Swl. Sidjundjung || 9 || 529 || 32 |- | 6. || style="text-align:left;" | Solok || 26 || 1.772 || 78 |- | 7. || style="text-align:left;" | Padang Pariaman || 16 || 1.310 || 64 |- | 8. || style="text-align:left;" | Ps. Kerintji || 22 || 1.095 || 82 |- | 9. || style="text-align:left;" | Kampar || 4 || 251 || 12 |- | 10. || style="text-align:left;" | Inderagiri || 9 || 702 || 29 |- | 11. || style="text-align:left;" | Bengkalis || 3 || 509 || 13 |- | 12. || style="text-align:left;" | Kepulauan Riau || 2 || 208 || 6 |- | 13. || style="text-align:left;" | Merangin || 1 || 348 || 11 |- | 14. || style="text-align:left;" | Batang Hari || 3 || 976 || 59 |- ! colspan="2" style="text-align:left;" | D j u m l a h !! 2.221 !! 18.820 !! 1.041 |}<noinclude>{{rh|892}}</noinclude> cc4zfuqxcw69q9azntp880koq1v1u68 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/899 104 99714 291826 278450 2026-05-11T07:15:23Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291826 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>P.G.A. Tandjung Pinang untuk murid-murid dari Keresidenan Riau dibuka mulai tanggal 1 Desember 1951 dikepalai oleh Imam Sujono. Sedang P.G.A. untuk Keresidenan Djambi tengah dalam persiapan. Dan S.G.R.A. di Bukittinggi adalah pendjelmaan dari S.M.I. terhitung mulai tanggal 1 Djanuari 1951 dengan Direkturnja H. Bustami Abd. Gani. {{tab}} {{rule|width=4em}} {{tab}} '''Kesimpulan:''' Banjak perguruan Quran, murid-murid dan guru-guru jang sudah belum dapat bantuan pada tiap-tiap Kabupaten dalam Propinsi S. Tengah tahun 1952 (sampai 1 Djuli 1952). {| class="wikitable" style="text-align:right; width:100%;" |- ! rowspan="2" style="text-align:left;" | No. ! rowspan="2" style="text-align:left;" | Kabupaten ! colspan="3" style="text-align:center;" | Perguruan Quran |- ! Sekolah !! Murid !! Guru |- | 1. || style="text-align:left;" | Agam || 2.181 || 11.838 || 365 |- | 2. || style="text-align:left;" | Tanah Datar || 771 || 25.456 || 670 |- | 3. || style="text-align:left;" | L. Kota || 125 || 5.782 || 253 |- | 4. || style="text-align:left;" | Pasaman || 384 || 2.384 || 84 |- | 5. || style="text-align:left;" | Swl. Sidjundjung || 235 || 8.945 || 289 |- | 6. || style="text-align:left;" | Solok || 610 || 21.385 || 579 |- | 7. || style="text-align:left;" | Padang Pariaman || 347 || 15.543 || 417 |- | 8. || style="text-align:left;" | Ps. Kurintji || 328 || 7.930 || 328 |- | 9. || style="text-align:left;" | Kampar || 200 || 10.541 || 237 |- | 10. || style="text-align:left;" | Inderagiri || 34 || 1.575 || 46 |- | 11. || style="text-align:left;" | Bengkalis || 56 || 703 || 56 |- | 12. || style="text-align:left;" | Kepulauan Riau || 261 || 21.337 || 261 |- | 13. || style="text-align:left;" | Merangin || 75 || — || — |- | 14. || style="text-align:left;" | Batang Hari || — || — || — |- ! colspan="2" style="text-align:left;" | D j u m l a h !! 3.644 !! 133.299 !! 3.585 |}<noinclude>{{rh|||891}}</noinclude> 2mabgkpx61fbcvp3a91yfziiicbq6r1 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/879 104 99736 291816 278523 2026-05-11T07:04:29Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291816 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>chabar atau madjallah. Madjallah-madjallah itu memuat da'wah, ilmu pengetahuan keagamaan dan soal-soal kemasjarakatan, terutama dipandang dari segi agama. Jang terpenting ialah lowongan tanja djawab. Dalam lowongan itu didjawab masalah agama jang ditanjakan oleh pembatja. Penerbitan surat-surat chabar ini kemudian mendjadi sangat meriah, karena adanja perlombaan antara pemuda-pemuda jang beladjar pada madrasah-madrasah itu. Dibawah ini diterangkan nama madjallah itu dan para pengasuhnja jang mula-mula: {| class="wikitable" style="width:100%;" |- ! No. !! Madjallah/Terbit !! Tempat terbit !! Pengasuh dan lain-lain |- | 1. || Almunir, th. 1911 || Padang Pandjang || H. Abdullah Ahmad |- | 2. || Almunir, th. 1911 || Padang || H. Abdullah Ahmad |- | 3. || Almunir, th. 1919 || Padang Pandjang || 1. Zainuddin Labai<br />2. Hasjim Husaini |- | 4. || Al Bajan, th. 1919 || Parabek B. Tinggi || 1. Djamain A. Murad<br />2. H. Abd. Muin Sianok |- | 5. || Al Basjir, th. 1920 || Sungajang || Muhammad Junus |- | 6. || Al Imam, th. 1920 || Padang Pandjang || Nuruddin Ismail |- | 7. || Al Ittifaq wal iftiraq th. 1919 || Padang || H. Abdullah Ahmad |- | 8. || Al Ittiqan, th. 1920 || Manindjau || H. Muhammad Rais |- | 9. || Al Mizan, th. 1918 || Manindjau || H. Hasan Basri |- | 10. || Ar Radd wal Mardud th. 1920 || Ladang Lawas || H. Siradjuddin Abbas |- | 11. || dan lain-lain || || |} Madjallah ini semuanja adalah madjallah bulanan dengan tulisan Arab atau huruf Melayu. Tetapi beberapa orang pemuda telah djuga merasa perlunja satu madjallah berdjiwa agama jang diterbitkan dengan huruf latin, mengingat telah banjaknja tersiar huruf itu dengan perantaraan sekolah-sekolah Pemerintah, apalagi lapisan atas jang berkuasa dan intelek terdiri dari golongan itu. Maka untuk menjampaikan seruan agama kepada golongan itu, perlulah diadakan madjallah dengan memakai huruf Latin. Madjallah agama memakai huruf Latin jang mula terbit di Sumatera Barat adalah Pewarta Islam, terbit tahun 1923 di Bukittinggi, dipimpin oleh Djamaan A. Murad dan H.A. Latif Sjukur. ''Madrasah-madrasah membaharui diri:'' Melihat baiknja hasil pengadjaran dengan sistem baru jang dipakaikan oleh Dinijah School Padang Pandjang dan tjabang-tjabangnja, maka madrasah-madrasah besar jang dipimpin oleh ulama-<noinclude>{{rh|||871}}</noinclude> lmk79kg1qdr8g74styl1mk2f3y06o55 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/45 104 99852 290941 283644 2026-05-10T13:23:59Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290941 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c||1001 MALAM}}</noinclude>membrihken ka-adilan, maka polisie bawa satoe kawan orang perampok, Barang itoe rampok sampe di hadepan radja maka dia orang mintaken ampoen seriboe ampoen boewat sekalian perboewatannja, abis marika itoe toenggoe poetoesan radja.. Aboe Sabar pandang orang-orang itoe maka dia lantas kenalin anaknja doewa orang Radja lantas tanja pada rampok itoe: »Siapakah ini doewa anak moeda?” Djawabnja kepala rampok: »Doeli sjahalam ini doewa anak moeda kita dapet rampas doeloe dari orang toewanja di tengah djalan, aken tetapi bagimana djoega kita paksaken sama dia aken toeroet merampok, itoe doewa anak moeda tiada djoega maoe toeroet-toeroet berboewat itoe kadjahatan. Doeli sjahalam bole pertjaija betoel sama itoe doewa anak moeda aken djadiken penggawe negri; maski kita orang poen sekarang soeda tobat berboewat djahat dan hendak mengola sama doeli sjahalam, kendati harta kekaja-an hamba sekalian hamba hendak serahken kabawa doeli sjahalam. Kapan lambanja semoewa di ampoenin maka hambanja hendak masoek djadi laskar balatentara dan harta hamba sekalian jang hamba koempoelken telah hamba serahken pada doeli sjahalam. Dengan sabar radja dengarken tjeritanja itoe rampok, abis ia titahken itoe doewa anak moeda di bawa masoek ka astananja. Dan rampok itoe di titahkennja kasi masoek dalem pendjara, sasoedahnja dia orang oendjoekin tempat simpenan harta bandanja. Perboewatan radja demikian membikin orang semoewa djadi heran sekali sampe dia orang pada berkata: „Aai adjaib soenggoe kapada doewa orang rampok itoe radja oendjoekin ka saijangannja sampe njata orang bole liat jang ianja perbedahkеn rampok ka doewa itoe sama jang laen-laen. Abis jang laen dia soeroeh hoekoem sa-abisnja dia orang bribken harta bandanja kapada radja.” Setelah Aboe Sabar soeda poelang kadalem astananja maka ia boeka rahasianja pada itoe kadoewa anaknja serta di tjeritahkennja bagimana ianja sampe djadi radja. Tetapi itoe doewa anak menangis sanget keras koetika di dengar iboenja tida ada. Hata maka tiada sebrapa hari kamoedian, ada sa-orang laki-laki menjèrèt sa-orang perampoewan jang di oelengnja dari ramboet; itoe laki-laki memang hendak bawa perampoewan itoe mengadep radja, dia bawa kaberatan bahoewa perampoewan itoe isterinja tiada maoe toeroet kahendaknja. Radja boekan kasi adjaran sama itoe perampoewan jang bersalah, padahal radja soeroeh tangkep itoe laki-laki dan di soeroeh masoekin di pendjara, abis di soeroeh boenoeh. Kabanjakan rajat negri pada koerang enak ati melijat radjanja begini koerang adil, semoewa moelai menjomel dan ampir timboel roesoeh. Maka<noinclude>{{rh||1318|}}</noinclude> q6kiey4i8s34eyiwos8v3gdu10az8eh Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/91 104 99897 290956 278822 2026-05-10T13:26:46Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290956 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{Missing image}} Sabermoela di tjeritahken bahoewa di negri Habessie ada sa-orang radja amat hartawan, banjak astananja, dan orang rajatnja. Adapoen dari sebab terlaloe senang kahidoepannja maka ia loepahken ka-ada-an laskar balatentaranja hingga sekalian marika itoe amat melarat. Gadjinja bebrapa lama tiada dapet di bajar, maskipoen makanannja ampir tiada dapet. Koetika dia orang tiada bisa tahan lagi kamalarat-annja maka dia orang kirim bebrapa orang mengadap ferdana manteri aken kasi taoe kaberatannja serta aken minta pertoeloengan. Ferdana manteri dengar segala kaberat-an itoe abis dia adjarken padanja aken tinggal sabar sadja doeloe sampe dianja nanti tjari akal aken kasi ingat radja boewat fikirin hainja laskar balatentara. Kerna bitjaranja ferdana manteri. saka dia orang djali sabar laloe poelang lagi ka inasing-masing poenja tempat. Sekarang ferdana manteri memikirken akal aken bikin radja memper. doeliken hal Jaskarnja, maka dia tiada bisa djalanken laen akal melaenken djalan perang sadja kaloe djadi perang maka radja misti ingat laskarnja dan nistjaija radja nanti bajar itoe gadji. Adapoen dari sebab radja berhati moerali dan sabar maka akanja itoe aken bikin perang tiada memakan. Kamoedian dia ambil laen akal, dia bilang dalem atinja: Radja Parsi ada poenja satoe anak perampoewan jang terlaloe amat elok dan tjantik. Akoe poenja toewan memang akoe kenal atinja, kapan akoe poedji poeteri Parsi di hadepannja, nistjaija radjakoe bakalan djadi birahi dan tentoe dia kepingin bikin isterinja. Maka sekarang ada kabar jang radja Parsi keliwat sanget saijang anaknja, biar sebagimana poen dia tiada maoe anaknja berpisahan pada dia kerna itoepoen dia nistjaija tiada nanti maoe kasi anaknja djadi isterinja radja Habessie. Kapan peminangannja radja Habessie di tolak nistjaija marah radja Habessie dan tentoe di peranginnja radja Parsi. Djika djadi sabegini maka radja misti ingat aken bajar gadji soldadoe soldadoenja sebab kapan tiada di bajar tentoe soesah ia<noinclude>{{rh||1341|}}</noinclude> lu4akq6vhyak1pi7o4s8c0h68v9fwty Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/403 104 99931 291077 278993 2026-05-10T14:04:48Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291077 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>#<li value="6"> Membentuk satu. Panitia yang akan mengurus soal-soal tawanan perang. # Menetapkan zittingsgeld sebanjak Rp. 25,- buat anggota D.P.R.S.T. # Menanam satu panitia untuk pembentukan seksi-seksi dalam D.P.R.S.T. # Memilih saudara M. Rakana Daljan untuk mendjadi Sekretaris Propinsi Sumatera Tengah. # Mengirimkan seputjuk kawat kepada Pemerintah Pusat dalam mana didesak agar segera dikirimkan peraturan pemilihan buat D.P.R. Daerah. # Memutuskan bahwa kota Bukittinggi tetap mendjadi ibu kota propinsi Sumatera Tengah dan menjerahkan kepada Dewan Pemerintah tentang menempatkan Djawatan-djawatan dikota Padang jang tidak berhubungan erat dengan Gubernur. # Menjampaikan kepada Pemerintah Pusat R.I. supaja mendesak Pemerintah R.I.S. untuk memperdjuangkan masalah Irian, sehingga sebelum waktu jang ditetapkan oleh K.M.B., Irian telah masuk daerah R.I.S. # Menerima dengan suara bulat usul untuk membubarkan Dewan Pemerintah Sumatera Tengah. # Mengadakan perubahan dalam tata-tertib D.P.R.S.T., sehingga tiap-tiap anggota diluar sidang djuga berhak bertanja (interpellasirecht) langsung kepada Dewan Pemerintah dengan lisan atau tulisan. </li> Demikianlah sidang D.P.R.S.T. jang ke-III itu diachiri pada tanggal 12 April 1950 dengan meninggalkan suatu kesan jang akan mendjadi sedjarah pandjang dalam perkembangan demokrasi di Sumatera Tengah. Dan beberapa hari sesudah sidang ini berachir, maka Gubernur Mr. M. Nasroen oleh karena kesehatannja terganggu mendapat tjuti 1 bulan lamanja. Dan diawal Djuni 1950 datanglah ketetapan dari Menteri Dalam Negeri bahwa selama Gubernur Nasroen dalam tjuti sakit, beliau diwakili oleh wakil ketua Dewan Pemerintahan S.J. St. Mangkuto. Pada tanggal 7 Djuni 1950 tanggung djawab pemerintahan Propinsi Sumatera Tengah dipikul penuh oleh Dewan Pemerintah Sumatera Tengah. {{left|'''Sidang Pleno ke-IV.'''}} Sidang ini dilangsungkan pada tanggal 10 sampai 14 Djuni 1950 dengan dihadiri oleh 20 orang anggota dimana termasuk saudara H.Zamzami Kimin pengganti saudara H. Mahmud Junus.<noinclude>{{rh|||397}}</noinclude> gedm0xhea5ee8da0qa26yhzswq7mv4f Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/101 104 99994 290958 288515 2026-05-10T13:27:17Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290958 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh|hh<br> 203}}</noinclude> <big>{{c|{{xx-large|'''HIKAJAT'''}}}}</big> <big><big>{{c|{{xx-large|1001 MALAM}}}}</big></big> <small><small>{{c|JA-ITOE}}</small></small> <big>{{c|—o '''TJERITERA-TJERITERA ARAB,''' o—}}</big> {{c|DISALIN KEPADA BEHASA MELAJOE}} <small>{{c|DENGAN MENOEROET KARANGAN TOEAN}}</small> <big>{{c|{{sp|GERARD KELLER,}}}}</big> {{c|di dalam behasa Olanda.}} {{c|————————}} {{c|Boekoe ini nanti disalin hingga datang kepada tamatnja.}} <big>{{c|DJILID JANG KATIGA.}}</big> {{c|{{xx-large|'''—28—'''}}}} <small>{{C|Boleh dapat beli pada toko boekoe toean-toean}}</small> <big>{{c|'''ALBRECHT & C".'''}}<big> {{C|{{sp|BATAWI,}}}} <big>{{c|'''1899.'''}}</big><noinclude></noinclude> t1tz1br657znyj5lkntgu4swt95ehja Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/586 104 100033 290874 279197 2026-05-10T12:52:32Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290874 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Walaupun waktu kursus sangat singkat, tetapi selalu diusahakan agar dengan waktu sesingkat itu dapat ditjapai nilai jang tjukup dapat dipertanggung-djawabkan. Peladjaran-peladjaran jang diberikan setjara teori dan praktek, kita pilih hanja jang perlu dan praktis sadja, jang dibutuhkan dalam masjarakat. Udjian achir diselenggarakan pada tiap-tiap akan berachirnja kursus, dengan besluit dari Djawatan. Panitia Udjian terdiri antara lain dari wakil kaum Pengusaha, Djawatan-Djawatan, Kementerian Pendidikan Pengadjaran dan Kebudajaan dan Instansi serta Badan-Badan lainnja jang sekiranja dianggap perlu dan berhubungan dengan matjamnja kursus. Bagaimana hasil dari udjian-udjian achir (jang lulus) dapat dilihat djuga dalam daftar dimuka (halaman 550). Penempatan dari para bekas pengikut kursus tersebut belum dapat dikatakan memuaskan dan sesuai seperti apa jang diharap-harapkan, disebabkan antara lain: <ol type="a"> <li>Belum stabilnja keadaan perekonomian pada waktu ini, sehingga sangat mempengaruhi kehidupan serta madju-mundurnja perusahaan serta perkebunan jang sangat conjuctuur-gevoelig, jang sebetulnja dapat merupakan werkverschaffingsobject;</li> <li>Belum adanja penghargaan dari fihak Kementerian Pendidikan Pengadjaran dan Kebudajaan mengenai Idjazah dari kursus-kursus jang diselenggarakan, sehingga menjukarkan inpassingnja (P.G.P.).<br>(Sampai achir tahun 1952 baru Idjazah dari Kursus Instruktur Tehnik jang telah ada penghargaan, lain-lainnja masih dalam taraf pembitjaraan);</li> <li>Kurang beraninja berdiri sendiri dan atau kurangnja (batja: tidak ada) modal para bekas Peladjar, sehingga selalu menggantungkan diri pada pemberian kerdja (memburuh).</li> </ol> Usaha untuk sekedar mempermudah penempatan tersebut, maka pada tiap-tiap akan berachirnja kursus, para Peladjar diadjak berdarmawisata ke perusahaan-perusahaan, bengkel-bengkel dan perkebunan-perkebunan, dengan maksud agar sebelumnja ada kontak dengan para pengusaha perusahaan dan pengusaha-pengusaha perkebunan. Sebagai tambahan dapat djuga diutarakan disini, bahwa dalam permulaan Mei 1952 telah datang beberapa mesin baru dari negeri Belanda untuk dipergunakan pada kursus-kursus, tetapi sajang berhubung dengan belum mempunjai gedung sendiri untuk menjelenggarakan kursus-kursus tersebut maka mesin-mesin tadi masih disimpan digudang Firma „Java-staal”. {{rule|5em}}<noinclude>{{rh|552}}</noinclude> op9f7wetd14qa7cmjg76ovzlvyxcsb3 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/29 104 100036 290925 283724 2026-05-10T13:19:50Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290925 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Dia begitoe bagoes sampe lama roepanja tiada bisa kami loepah, tinggal berbajang-bajang di mata.” Tjerita ini membikin birahi anak radja. Abis berkata poela soedagar itoe: »Esokan paginja kami toeroen dari poehoen, teroes berdjalan ka kota Di sitoe kami dengar jang namanja kota itoe, kota Roem, iboe kota keradja-an besar. Koetika kami tanja-tanja dari halnja perampoewan moeda itoe jang kami katemoe-in di djalan maka katanja orang, ia itoelah poeteri anak radja Roem jang berna na poeteri Nicarina. Dia kabetoelan dari roemah kebonnja di mana dia biasa pègi satoe taon sekali aken dapat angin jang baik.” Setelah soedagar itoe abis bertjerita hingga Bebezad mendjadi terlaloe birahi, maka pegilah ia ketemoein sa-orang wasir ajandanja laloe berkata padanja bahoewa ia sa-orang pangeran soeda sampe oemoer boewat kawin maka itoe sekarang dia hendak beristeri. Maka djawabnja itoe wasir: »Kaloe toewan pangeran soeda pilih sa-orang bakal isterinja, ia itoe sa-orang poeteri jang pantes djadi isteri pangeran tentoe sri Baginda ajahanda toewankoe tiada nanti ada poenja raberatan satoe apa.” »Na, kaloe begitoe maka baiklah kami kataken namanja poeteri jang kami hendak djadiken kami poenja isteri, namanja poeteri itoe Nicarina anak dari radja Roem. Kami harep sekali ajahanda kami lekas kirim oetoesan kanegri itoe aken lamar itoe poeteri," demikian katanja Bebezad. Apabila wasir mengadap radja aken kasi taoe kahendak toewan pangeran, maka djawab sri Baginda, barang moestahil sekali, kami tentoe tiada bisa toeroet sebagimana kahendakannja. Katanja sri Baginda: »Radja Roem selama-lamanja tiada nanti maoe kasi anaknja di lamar orang radja jang negrinja ketjl dan lagi pada radja jang berlaenan sekali igamanja.” Koetika Bebezad dapat dengar djawab ajahandanja demikian maka dia ilang pengharepan dari itoelah katanja kapan ajahandanja masih tinggal keras memperkenanken seperti di kataken tadi oleh radja, maka Behezad sendiri pegi melamar itoe poeteri. Ajahandanja kaget mendengar anaknja bitjara demikian, djadi maoe tida maoe kepaksa ia aken kirim oetoesan kapada radja Roem. Radja ini trimah oetoesan radja Halep dengan segala patoet dan manis bahasa adapoen tersangat herannja barang di dengarnja apa lantaran membikin marika itoe dateng mengadap padanja. Hata maka radja Roem berkata bahoewa dia soeka brihken poeteri Nicarina djadi isterinja pangeran dari Halep anak radja Sjam, kapan ada oewang emas kawin banjaknja seratoes lak <ref>Seratoes lak dinar ia-itoe sepoeloe melijoen dinar maka satoe dinar ampir sama harganja seperti lima roepia.</ref>oewang dinar. _______ {{smallrefs}}<noinclude>{{rh||1310|}}</noinclude> 6uuthr763mvnx3zz1gmmn28h0harne5 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/589 104 100042 290875 279418 2026-05-10T12:53:03Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290875 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{right|'''MASAALAH SOSIAL.'''}} {{tab}} {{tab}} '''Umum :''' {{dropinitial|M}}ENURUT sedjarah, Bangsa Indonesia terkenal dengan semangat kesosialannja. Semangat gotong-rojong adalah merupakan suatu tabiat jang biasa didalam hidup ke-keluargaan dari Bangsa Indonesia. Semangat demikian tadi boleh dikata tersebar di seluruh Daerah Indonesia dari pelosok-pelosok sampai ke Kota-Kota-Besar, seakan-akan sudah mendjadi suatu adat kebiasaan jang mendarah mendaging dalam kalbu Bangsa Indonesia seluruhnja, dan Djawa-Timur pun tidak ketinggalan. Apakah dalam hal ini bersangkutan dengan perkataan jang menjatakan, bahwa Bangsa Indonesia mendjadi Bangsa jang terlunak di dunia ini (het zachtste volk der aarde). Kiranja didalam perkataan itu terselip pengertian jang mengandung kebenarannja, karena semangat ke-keluargaan dan semangat gotong-rojong itulah Bangsa Indonesia mendjadi Bangsa jang sabar dan tjinta kepada sesama manusia dan tjinta kepada keamanan dan ketenteraman. Tetapi segala sesuatunja tentu ada batas-batasnja, dan djuga mengingat perkembangan-perkembangan jang berdjalan di-sekelilingnja jang banjak mempengaruhi kehidupan mereka sehari-harinja. Apabila ditindjau agak djauh, maka dapatlah masjarakat Bangsa Indonesia dan dalam hal ini djuga berlaku bagi Daerah Djawa-Timur, dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan. : '''Pertama:''' „Masjarakat Desa" dengan keadaan alamnja jang masih serba sederhana, sifat dan djiwa penduduknja jang dapat dikata statis (tetap), dan dengan sendirinja alamnja tidak banjak menghadapi perubahan-perubahan djaman jang menudju ke-arah kemadjuan-kemadjuan jang besar. Kurang nampak adanja perubahan-perubahan dalam kehidupan Rakjat di Desa-Desa tetapi semangat gotong-rojongnja masih melekat kuat pada darah-dagingnja, rasa persatuannja lebih erat, seakan-akan merupakan satu keluarga jang mengenjam nasib dan hidup jang sama. : '''Kedua:''' „Masjarakat di Kota-Kota-Ketjil" umpama di Ketjamatan-Ketjamatan, Kawedanan, dimana penduduknja sudah agak madju dan sedikit banjak mengenjam perubahan-perubahan djaman dan bergaul dengan soal-soal jang membawa kemadjuan bagi hidupnja. Disini sudah<noinclude>{{rh|||555}}</noinclude> e38to1xil4wlcex1oqfzn7hkikq1xi3 290876 290875 2026-05-10T12:53:23Z Lutfiyatun 26681 290876 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{right|'''MASAALAH SOSIAL.'''}} {{tab}} {{tab}} '''Umum :''' {{dropinitial|M}}ENURUT sedjarah, Bangsa Indonesia terkenal dengan semangat kesosialannja. Semangat gotong-rojong adalah merupakan suatu tabiat jang biasa didalam hidup ke-keluargaan dari Bangsa Indonesia. Semangat demikian tadi boleh dikata tersebar di seluruh Daerah Indonesia dari pelosok-pelosok sampai ke Kota-Kota-Besar, seakan-akan sudah mendjadi suatu adat kebiasaan jang mendarah mendaging dalam kalbu Bangsa Indonesia seluruhnja, dan Djawa-Timur pun tidak ketinggalan. Apakah dalam hal ini bersangkutan dengan perkataan jang menjatakan, bahwa Bangsa Indonesia mendjadi Bangsa jang terlunak di dunia ini (het zachtste volk der aarde). Kiranja didalam perkataan itu terselip pengertian jang mengandung kebenarannja, karena semangat ke-keluargaan dan semangat gotong-rojong itulah Bangsa Indonesia mendjadi Bangsa jang sabar dan tjinta kepada sesama manusia dan tjinta kepada keamanan dan ketenteraman. Tetapi segala sesuatunja tentu ada batas-batasnja, dan djuga mengingat perkembangan-perkembangan jang berdjalan di-sekelilingnja jang banjak mempengaruhi kehidupan mereka sehari-harinja. Apabila ditindjau agak djauh, maka dapatlah masjarakat Bangsa Indonesia dan dalam hal ini djuga berlaku bagi Daerah Djawa-Timur, dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan. : '''Pertama:''' „Masjarakat Desa" dengan keadaan alamnja jang masih serba sederhana, sifat dan djiwa penduduknja jang dapat dikata statis (tetap), dan dengan sendirinja alamnja tidak banjak menghadapi perubahan-perubahan djaman jang menudju ke-arah kemadjuan-kemadjuan jang besar. Kurang nampak adanja perubahan-perubahan dalam kehidupan Rakjat di Desa-Desa tetapi semangat gotong-rojongnja masih melekat kuat pada darah-dagingnja, rasa persatuannja lebih erat, seakan-akan merupakan satu keluarga jang mengenjam nasib dan hidup jang sama. : '''Kedua:''' „Masjarakat di Kota-Kota-Ketjil" umpama di Ketjamatan-Ketjamatan, Kawedanan, dimana penduduknja sudah agak madju dan sedikit banjak mengenjam perubahan-perubahan djaman dan bergaul dengan soal-soal jang membawa kemadjuan bagi hidupnja. Disini sudah<noinclude>{{rh|||555}}</noinclude> hb4jlkmx03s0ofjqe4pzr7e03hj5dx6 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/33 104 100045 290916 283731 2026-05-10T13:15:38Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290916 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>{{hwe|temoe|bertemoe}} radja, aken bitjara dan aken persembahken itoe oewang ampat poeloe lak jang masih koerang. Sri Baginda maha radja Roem trima toewan pangeran dengan sepertinja, serta di trima baik poela permoehoenan pangeran itoe aken meminang toewan poeteri Nicarina, aken tetapi sri baginda minta padanja aken bernanti barang sepoeloe ari, aken radja bikin persediahan boewat kawin itoe. Maka Behezad berkata: Doeli sjah alam hambanja begitoe sanget keras birahi sama toewan poeteri sampe hamha tiada bisa tahan lagi aken bernanti lagi sepoeloe hari. Oleh kerna hamba harep doeli sjah alam djangan goesar jang hamba minta aken djangan bernanti lagi.” Radja Roem berkata: »Benarlah apa katamoe aken tetapi biarlah kita toenggoe lagi tiga hari sadja, ia iloe adat habiasa-an negri ini.” Adapoen Behezad tiada sabaran lagi maskipoen satoe hari dia tiada bisa toenggoe djadi maoe tiada maoe radja Roem kapaksa aken toeroet sebagimana permoehoenannja Behazad, kerna itoe maka radja Roem titahken aken sediahken segala boewat kerame-ramejannja toewan poetri kawin. Hata maka Behezad masih djoega keboeroe nafsoe. Soedah di toeroet oleh Radja Room aken kasi kawin di itoe bari, adapoen dia tiada senang meliat rame-ramejan hari festa itoe, dia kepingin djoega liat bakal istrinja kerna itoe dia djalan kaloewar diam-diam dan masoek kadalem astana aken tjari tempat perdiamannja poeteri Nicarina jang di rihasin djadi penganten. Dia dapet liat itoe kamar di mana kemarennja poeteri Niçarina berdjalan masoek abis barang di liatnja sinar api dari lobang tembok maka dia maoe mengitip kadalem aken liat bakal isterinja di rihasin. Poeteri Nicarina kabetoelan memandang ka itoe lobang di tembok abis dia liat ada matanja orang mengintip, dari itoelah dia titahken dajang-dajangnja aken bakar toesoek kondenja dan kaloe soeda panas maka lekas dia orang misti tjolok kadoewa mata jang mengintip itoe. Itoe dajang-dajang pada bakar toesoek kondenja abis soeda panas dia orang tjolok itoe doewa mata jang mengintip. Baroe dia orang tjolok maka kedengaranlah soewara orang djato sembaring mendjerit merintih bahna sanget sakitnja. Dengan sigrah orang lari kaloewar aken toeloeng orang itoe. maka di liatnja Behezad jang terletak di tanah, soeda boeta kadoewa matanja, tiada bisa katoeloengan. Baroelah di rasanja jang dia kena tjilaka ini dari sebab tiada sabarnja dan kaboeroe nafsoe. Setelah radja dengar Behezad boeta kadoewa matanja maka radja lantas bilang jang ianja tiada hendak kasi kawin anaknja sama orang laki jang boeta, djadi Behezad kapaksa poelang lagi ka negri ajahandanja di mana dia idoep tiada dengan orang jang di tjintanja. Kamoedian koetika ajahandanja wafat maka orang negri tiada maoe ada radja boeta. Njatalah sekarang bahoewa Behezad ilang toenangan dan ilang karadja-an tjoema dari sebab dia tiada<noinclude>{{rh||1312|}}</noinclude> 16yiadtjt93gsyayeybt9vy1ehw2m3a Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/35 104 100049 290927 283733 2026-05-10T13:20:39Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290927 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>sabar dan terlaloe kaboeroe nafsoe aken menjampeken nijatnja. Maka berkata poela Bachtijar: „Doeli toewan hamba liat sendiri, bagimana tjilakanja orang jang tiada sabar dan jang keboeroe nafsoe. Tjoba Behezad ada sampe sabar boewat bernanti sampe pada besokan pagi, maka dia djadi pangeran jang paling beroentoeng di doenia. Dia dapet isteri orang jang elok dan tjantik serta mendjadi radja besar dan poeteri Nicarina poela, tjoba dia ada poenja pandjang pikiran maka tiada dia nanti terbitken ketjilaka-an begitoe keras. Ini tjonto menggeraken soenggoe atinja Asad Bacht, sampe dia oendoerken lagi waktoe mendjalanken kapoetoesan hoekoemannja Bachtijar. Alkaesah maka pada kaesokan hari sri baginda pagi-pagi soeda ada di atas sanggasananja di hadepin oleh sekalian wasirnja. Maka wasir nommer ampat mengadap sembahnja: „Doeli sjahalam, ada kabar dari perboewatannja Bachtijar sampe di astana radja-radja negri asing, maka sekarang doeli sjahalam tiada bisa oendoerken lagi aken mendjalanken hoekoemnja Bachtijar. Sekalian orang sa-isi negri pada heran, mengapa doeli sjahalam begitoe ajal aken kasi djalan titah boewat menghoekoem sa-orang jang telah membrihken maloe begitoe besar pada doeli sjahalam. Ingatlah kahormatan radja tiada dapet di boewat memaen nistjaija mendjadi binasa negri.” Radja Asad Bacht titahken lagi Bachtijar di bawa di hadepannja maka di kasi taoe padanja ini hari ianja misti mati di boenoeh. Maka bersembah Bachtijar: „Doeli sjahalam, hambanja bermoehoen sanget biarlah doeli sjahalam oendoerken doeloe sedikit aken mendjalanken hamba poenja hoekoeman, sebab sering kali kamoedian orang girang jang dianja berfikir pandjang dahoeloe sabelonnja berboewat apa-apa, dan sabar itoe sering baik adanja. Sebab kerna sabar itoe maka Aboe Sabar sampe bisa kaloewar dari soemoer mendjadi radja.” Asad Bacht bertanja: »bagimana bole djadi?” Laloe djawab Bachtijar nanti hamba tjeritahken itoe pada doeli sjahalam. {{c|_________}}<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1313|{{smaller|83}}}}</noinclude> 2s9a6cc6u2zydeh4ek0bmzqb7watlgl Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/37 104 100052 290928 283735 2026-05-10T13:20:46Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290928 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /><center>{{sp|'''HIKAJATNJA'''<br>'''ABOE SABAR'''}}<br>{{smaller|(malem ka 494 sampe ka 496.)}} </center></noinclude>Aboe Sabar ja-itoe namanja sa-osang tani jang hartawan. Banjak orang pada bekerdja sama dia aken bernjawah dan menandoer dan dia bikin banjak kabaikan pada pendoedoek kampoengnja hingga sekalian marika itoe saijang sama dia. Sekali pada soewatoe hari datenglah sa-orang gombalanja sengal-sengal masoek kadalem roemah membawa kabar bahoewa ada kaliatan sa-ekor singa djantan berdjalan-djalan di ampir-ampir tempat angon kambing dan soeda ada bebrapa kambing kena di terkam dan di makannja. Sahari-hari itoe singa meroesakin bebrapa ekor kambing jang di makannja sampe isterinja Aboe Sabar moelain koewatir kaloe lama begini nistjaija abislah sekalian itoe kawan kambing. Dari itoe isterinja maoe bikin soepaja Aboe Sabar pegi memboeroe itoe singa teroes di boenoebnja, sebab soeda meroesakin begitoe banjak kam- bingnja. Aken tetapi Aboe Sabar berkata: »Sabar, sabar, biar apa djoega kedjadian, paling baik orang bernanti dengan sabar. Itoe singa jang bikin karoegian kita memang binatang boewas dan djahat; besok noesa dia kena di bales Allah aken kadjahatannja, djangan selempang, itoe binatang nanti trimah hoekoemannja sendiri, biar kita bernanti sadja dengan sabar.” Bitjaranja Aboe Sabar benar adanja, tiada sabrapa lama maka itoe singa mati di boenoeh radja koetika radja pegi memboeroe. Maka berkata Aboe Sabar pada isterinja: »Adinda liat sekarang, betoel apa tida bitjara kanda? soeda memang mistinja, kadjahatan misti di hoekoem Allah. Tjoba andenja akoe pegi sendiri memboeroe itoè singa barang kali akoe jang mati dan itoe singa enak-enakan. Sedang radja begitoe soesah memboenoeh binatang itoe. Djadi engkau liat sendiri bahoewa baik adanja aken bernanti dengan sabar. Kamoedian maka di dalem kampoeng itoe ada doewa orang mati di boenoeh. Abis dari sebab orang-orang kampoeng tiada bisa ondjoekin si pendjahat,<noinclude>{{rh||1314|}}</noinclude> kqpeby0czarc5pihg6jvu6hihlew1fc Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/39 104 100057 290929 283746 2026-05-10T13:20:58Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290929 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>maka sekalian orang kampoeng di hoekoem, aken barang-barang roemah tangganja semoewa misti di rampas, dan roemahinja di bongkar. Aboe Sabar di itoe waktoe banjak roegi. Maka kata isterinja: »kita misti lekas bawa kita poenja kaberatan pada radja, sebab sekalian penggawe astana taoe jang kita tiada salah; minta kombali sama radja apa jang engkau ilang di rampas orang, tentoe radja nanti poelangin.” Djawabnja Aboe Sabar: »Adinda baik sabar, radja telah berboewat demikian pada kita sedang kita tiada bersalah, nanti radja sendiri poen kena balesannja. Siapa djoega mengambil barang saka-oemnja, nistjaija di blakang kali poen dia djoega ilang barangnja.” Tetangganja Aboe Sebar dapet dengar ini perkata-an, maka memang dia sakit ati sama Aboe Sabar, djadi aken bales sakit ati maka sitetangga itoe pegi kasi taoe radja apa bitjaranja Aboe Sabar. Sri baginda sanget marah mendengar perkataan itoe, dari itoe radja titahken aken rampas semoewa Aboe Sabar poenja harta banda jang masih katinggalan dan dia sama anak istrinja poen di oesir dari roemah. Maka berkata istrinja: »Liatlah sekarang, apa akoe tiada bilang: »djangan ajal?” aken tetapi engkau soeroe sabar, sabar sampe kita semoewa tjilaka tiada ada barang soewatoe apa aken kita idoep. Djawabnja Aboe Sabar: »Adinda djangan koewatir, tinggal sabar sadja sebab sabar itoe besok noesa misti dapat oepahnja.” Baroe dia berkata begini maka dia dapet liat ada kepala rampok dateng di ikoetin oleh brapa kawannja. Dia orang itoe ambil segala barang berbarga jang ada di badannja abis anaknja doewa orang poen di bawanja pegi. Abis maka istrinja Aboe Sabar berkata: »Bismillah al rachman al rachim, ja kakanda sampe ati sekali, engkau liat kita poenja anak di bawa rampok, engkau tinggal diam sadja, pegilah engkau boeroe dia orang, tiadalah engkau kasian anakmoe?” Katanja Aboe Sabar: »Sabarlah, isterikoe jang tertjinta, orang jang berboewat djahat tentoe katimpah djahat, kapan akoe boeroe itoe rampok abis dia orang boenoeh sama akoe, apakah bakalan djadi sama istrikoe? Maka itoe sabarlah, dia itoelah perlindoengan kita sekarang ini.” Dengan keras berdoeka tjita maka ka doewa orang laki istri itoe sampe kadalem kota Kerman di pinggir kali. Aboe Sabar bilang pada isterinja aken toenggoe sebentaran disini, sebab dia maoe dengar-dengar kabar doeloe di kota soepaja ia bole lekas dapet tempat pemondok-an. Selagi Aboe Sabar pegi ka kota mentjari tempat pemondokan, maka ada dateng sa-orang berkoeda sampe di pinggir soengi aken kasi minoem koedanja. Maka dia dapet li t sa-orang perampoewan, abis dari sebab ianja masih penoedjoe orang itoe maka dia paksa itoe perampoewan aken toeroet padanja. Si perampoewan melawan aken tetapi pertjoema sadja, kendati dia bilang jang dia ada poenja soewami, itoe orang tiada perdoeli-in, pada hal dia tjaboet pedangnja dan bilang sama itoe {{hws|peramp|perampoewan}}<noinclude>{{rh||1315|}}</noinclude> 2lbkh1lxdcjkzik86idmsqq0rk11t8l Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/591 104 100097 290877 279451 2026-05-10T12:54:08Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290877 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>pekerdjaan sosial mulai bertumpuk-tumpuk. Pergantian „alam pendjadjahan” ke „alam kemerdekaan” belum berarti lenjapnja kemiskinan, kemelaratan, kesulitan-kesulitan, bahkan di „alam merdeka” masih harus diperdjuangkan terus, merubah susunan masjarakat jang membawa kemiskinan dan kemelaratan ke-arah tertjapainja keadilan dan kemakmuran. Ini semuanja dimulai dalam alam-revolusi. Maka pekerdjaan sosial mengingat faktor-faktor demikian itu bertambah banjak dan sedjak tahun 1945 hingga 1952, keadaannja ialah sebagai berikut: : '''Fase I:''' Dalam tahun 1945 usaha-usaha sosial banjak ditudjukan kepada usaha-usaha untuk mengurusi korban-korban perdjuangan, akibat pertempuran-pertempuran jang menimbulkan banjak korban djiwa dan benda bagi Rakjat di Djawa-Timur. Disamping itu soal pengungsian dari daerah pertempuran ke daerah jang aman di daerah pedalaman perlu mendapat perhatian sepenuhnja, tetapi meskipun demikian, usaha menampung orang-orang terlantar, mengurusi anak jatim-piatu tidak dilupakan. Kesemuanja itu dikerdjakan dengan djalan memberi bantuan, baik dari fihak Pemerintah maupun dari Badan-Badan, guna sekedar memperbaiki hidupnja Rakjat jang menderita, dan djuga dengan tudjuan guna meneruskan perdjuangan melawan pendjadjahan. : '''Fase II:''' Tahun 1946 dilandjutkan dengan konsolidasi dari usaha-usaha kesosialan. Ketjuali memberikan bantuan jang bersifat materiil, maka dimulailah dengan pendidikan djiwa, mengurangi penderitaan djasmani maupun rochani dengan mengembalikan kepada semangat berdjuang. : '''Fase III:''' Tahun 1947 dengan adanja Perdjandjian Linggadjati dan meletusnja clash ke-I, serta penjerbuan Tentara Belanda ke Daerah Modjokerto, Besuki dan Malang, berarti meluasnja usaha-usaha sosial, karena tambahnja pengungsian ke daerah pedalaman. Djuga berpindah-pindahnja tempat kedudukan instansi-instansi pemerintahan baik Sipil maupun Militer, jang berarti makin sukarnja mentjari hubungan dan kelantjaran pekerdjaan. Meskipun demikian usaha-usaha kesosialan berdjalan terus. : '''Fase IV:''' Tahun 1948 dengan adanja Perdjandjian Renville. Saat ini banjak menambah kesulitan akibat pertentangan-pertentangan politik dan timbulnja clash ke-II. Usaha-usaha sosial terpertjah-belah dan boleh dikata lenjap karena pendudukan Belanda. : '''Fase V:''' Penjerahan kedaulatan tanggal 27 Desember 1949 disusul perubahan-perubahan dari alam federalisme ke alam unitarisme hingga tahun 1952 dan seterusnja. Dalam saat ini, nampak adanja usaha untuk menjusun kembali dan menjempurnakan usaha-usaha sosial, jang selandjutnja dimaksudkan untuk menghapuskan sifat-sifat dan sisa-sisa pendjadjahan, menudju susunan masjarakat jang teratur.<noinclude>{{rh|||'''557'''}}</noinclude> avto8fqztle7iu7fofxng0n5gc94s32 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/282 104 100100 291118 279496 2026-05-10T14:16:10Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291118 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{c|SURAT KUASA.}} Diberi kuasa pada M. Kamil Bupati Djambi Ilir untuk mewakili saja didalam Daerah Republik Indonesia. Padanja diperbantukan Noeskam, Komisaris II Polisi, dan Sjarnubi, Ketua Muda D.P.R. sebagai Wakil Sekretaris. {{rh|||Sengeti tgl. 1 Djanuari 1949.<br> Residen jang diperbantukan pada Gubernur<br> Sumatera Tengah<br> tertanda<br> RADEN INU KERTAPATI.}} Setempel Keresidenan. Selesai rapat dan permusjawaratan tersebut, Bupati Diambi Ilir, M. Kamil (R. Kamil) beserta A. Sjarnubi Ketua Muda D.P.R. Noeskam Komisaris Polisi dan beberapa orang temannja, bersiap untuk meneruskan perdjalanan menudju Muara Tebo. Sedang Residen R. Inu Kertapati beserta beberapa orang pengikutnja, kembali kekota Djambi dengan mempergunakan perahu. {{C|'''Sidang Pemerintahan di Muara Tebo.'''}} Dalam bulan Djanuari 1949, di Muara Tebo diadakan rapat kilat untuk membitjarakan pengangkatan Bachsan sebagai Residen R.I. Daerah Djambi, menggantikan Residen R. Inu Kertapati. Jang hadir dalam rapat itu antara lain: #Bachsan {{gap}} {{gap}} : {{gap}} Residen. #Abundjani {{gap}} {{gap}}: {{gap}} Letnan Kolonel. #Achmad Bastari {{gap}} :{{gap}}Kepala Polisi Keresidenan. #A. Sjarnubi {{gap}} {{gap}}: {{gap}} Dewan Pertahanan Daerah. #M. Kamil {{gap}} {{gap}} : {{gap}} Bupati. #Hasjim {{gap}} {{gap}} {{gap}}: {{gap}} Letnan. #Noeskam {{gap}} {{gap}}{{gap}}: {{gap}} Komisaris Polisi. Pengangkatan Bachsan sebagai Residen itu, dimaksudkan untuk menghadapkan Belanda kepada suatu kenjataan, bahwa pusat Pemerintah R.I. Daerah Djambi, masih tetap ada. Pemerintahan diatur dengan dibagi-bagi rombongannja, apabila satu rombongan tertangkap maka jang lain bisa meneruskan kewadjibannja. Daerah Pemerintah dibagi tiga:<noinclude>{{rh|276}}</noinclude> lzxpdldbjbwjn3ed3txk81jbcnsukm4 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/283 104 100128 291116 279563 2026-05-10T14:16:05Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291116 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude><p style="margin-bottom: 0.5em;">a. Muara Tebo, dengan susunan Pemerintahnja:</p> <table style="margin-left: 2em; border-collapse: collapse; line-height: 1.3; font-size: 0.95em;"> <tr><td style="width: 25px; vertical-align: top;">1.</td><td style="width: 160px;">Residen</td><td style="width: 20px;"></td><td>Bachsan.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">2.</td><td>Komisaris Polisi</td><td>:</td><td>Achmad Bastari.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">3.</td><td>Anggota Dewan Per-tahanan Daerah</td><td>:</td><td>A. Sjarnubi.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">4.</td><td>Letnan T.N.I.</td><td>:</td><td>Hasjim.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">5.</td><td>Inspecteur Polisi</td><td>:</td><td>Noeskam.</td></tr> </table> <p style="margin-top: 1em; margin-bottom: 0.5em;">b. Bangko, dengan susunan Pemerintahnja:</p> <table style="margin-left: 2em; border-collapse: collapse; line-height: 1.3; font-size: 0.95em;"> <tr><td style="width: 25px; vertical-align: top;">1.</td><td style="width: 160px;">Bupati</td><td style="width: 20px;">:</td><td>M. Kamil (R. Kamil).</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">2.</td><td>Letnan Kolonel (Ko-mandan S.T.D.)</td><td>:</td><td>Abundjani.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">3.</td><td>Inspektur Polisi</td><td>:</td><td>Darwis.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">4.</td><td>Wedana</td><td>:</td><td>M. Keras &mdash; d.l.l.</td></tr> </table> <p style="margin-top: 1em; margin-bottom: 0.5em;">c. Kuala Tungkal, dengan susunan Pemerintahnja:</p> <table style="margin-left: 2em; border-collapse: collapse; line-height: 1.3; font-size: 0.95em;"> <tr><td style="width: 25px; vertical-align: top;">1.</td><td style="width: 160px;">Wedana</td><td style="width: 20px;">:</td><td>Nurdin.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">2.</td><td>Major</td><td>:</td><td>Zainul Rifai.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">3.</td><td>Inspektur Polisi</td><td>:</td><td>Mahjuddin &mdash; d.l.l.</td></tr> </table> Dengan ketetapan P.D.R.I. jang ditanda tangani oleh Sjafruddin Prawiranegara. No. 3/UP/PDRI tanggal 20 Pebruari 1949, diangkatlah Bachsan sebagai Residen Daerah Djambi. Ketetapan ini datangnja dengan perantaraan radio tentera (T.N.I.) di Muara Siau Bangko. <p style="margin-top: 1.5em; margin-bottom: 0.5em;"><b>Perdjuangan Rakjat Kuala Tungkal.</b></p> Tgl. 2 Pebruari 1949: salah satu perdjuangan rakjat melawan Belanda, jang terhebat di Daerah Djambi, adalah perdjuangan rakjat Kuala Tungkal. Satu organisasi rakjat jang bernama Selempang Merah mempunjai 3000 anggota jang dipimpin oleh 1 Bataljon T.N.I. Penekan ini memperlihatkan keuletan mereka menghadapi penjerbuan tentera Belanda. "Selempang Merah" diketuai oleh H. Saman dan Komandan Bataljon T.N.I. adalah Kapten Rivai. Front jang terbesar di Kuala Tungkal, jaitu Tungkal Ilir, mendjadi sasaran penjerbuan Belanda. Pimpinan pertempuran di Tungkal Ilir ini dipegang oleh Letnan Abd. Fatah. Selama pertempuran, telah gugur dari pihak "Selempang Merah" 300 orang, dan dari pihak Belanda tewas 40 orang. Banjak rumah-rumah rakjat dihantjur dan dibakar Belanda, sedjumllah 400 buah. Organisasi "Selempang Merah" ini, sekarang telah dilebur mendjadi satu organisasi jang bernama "Pantjasila", berpusat di Djatinegara Djakarta.<noinclude>{{rh|||277|||}}</noinclude> 105y6p8749ff5zcsrz4ihznnjcvptyw Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/284 104 100129 291115 279584 2026-05-10T14:16:00Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291115 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude><p style="margin-bottom: 0.5em;"><b>Kedudukan Residen pindah dari Muara Tebo.</b></p> Pada bulan Maret 1949, utusan-utusan dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia tiba ke Muara Tebo. Mereka mengandjurkan supaja Residen beserta stafnja pindah ke Muara Bungo. Utusan P.D. R.I. itu terdiri dari: 1. Mr. Lukman Hakim, 2. Ir. Indera Tjaja, 3. Mr. Karim, 4. Dan lain-lain. Dari Muara Tebo mereka mengadakan rapat umum di Muara Bungo, dan dari sini pulang kepangkalan dengan melalui Tanah Tumbuh. Di Muara Bungopun dibentuklah staf jang kuat jang dapat menghadapi segala kemungkinan. Kedudukan Residen beserta staf pindahlah dari Muara Tebo ke Muara Bungo. <p style="margin-bottom: 0.5em;"><b>Pertjetakan Uang Urips.</b></p> Pada permulaan April 1949, diselenggarakanlah pemasangan mesin tjetak untuk mentjetak uang „Urips" (Uang Republik Indonesia Propinsi Sumatera), jaitu sebagian dari sisa-sisa mesin Pertjetakan Negara di Djambi jang dapat disingkirkan lebih dahulu. Negara dalam mempertahankan kemerdekaannja dari serangan-serangan Belanda sangat memerlukan keuangan. Pertjetakan ini didirikan di "Pulau Pekan", satu dusun jang djauhnja ± 3½ Km dari Muara Bungo, mempunjai pegawai 12 orang jang dikepalai oleh H. B. Yahya. Alat-alat jang ada untuk keperluan mentjetak Urips itu, ialah: <table style="border-collapse: collapse; line-height: 1.3; font-size: 0.95em; margin-bottom: 1em;"> <tr><td style="width: 25px; vertical-align: top;">1.</td><td>Mesin tjetak besar, 5 peti huruf-huruf ukuran 40 × 15, 5 × 11 Cm.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">2.</td><td>Motor Chevrolet model 1943 No. 4015838 untuk mendjalankan mesin tjetak tersebut.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">1.</td><td>Mesin charge (hulpagegraat 4 tact merk Norman No. 403 dari 1,75 P.K. model 1940.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">1.</td><td>Homelight 4 tact nomor 63536.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">1.</td><td>Motor Chevrolet No. Tr. 513088 model 1941.</td></tr> <tr><td style="vertical-align: top;">1.</td><td>Alat pemotong kertas, 235 liter tinta hitam dll.</td></tr> </table> Instruksi-instruksi jang datang dari P.D.R.I. mengenai pertjetakan dan pembikinan uang itu, sebagai berikut disalinkan: ::Code {{gap}} {{gap}} {{gap}} Zender djangan melalui Bangko, ::D.P.D. Djambi — No. 273/pdri tanggal 18/3-'49. Minta dichabarkan tentang pertjetakan, dan kapan dapat mulai djalan. Nummerrator sedang diambil dari satu tempat nanti akan diteruskan ke Djambi. Sebelum nummerrator datang, seperti telah dibitjarakan, pakailah tjara lain. Pengeluaran uang dari pertjetakan perlu sekali dihematkan, sedapat-<noinclude>{{rh|||278|||}}</noinclude> qsi2aq37qgvmnq8uexrk97ixbkz2iis Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/176 104 100166 291104 279604 2026-05-10T14:12:57Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291104 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Lama sesudah itu barulah sumber-sumber R.I. sendiri jang menerangkan duduk perkara jang sebenarnja, tetapi maksud jang ditudju dengan bulletin itu telah tertjapai jaitu hilangnja kegelisahan pada waktu permulaan penjerangan. Dan pada tanggal 19 Desember itu djuga diistana Bukittinggi diadakan rapat jang diketuai oleh Menteri Keuangan R.I. Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan dihadiri oleh Ketua Komisariat Pemerintah Pusat untuk Sumatera Teuku Moh. Hassan, P.T.T.S. Kolonel Hidajat, Gubernur Sumatera Tengah Mr. M. Nasrun dan beberapa pegawai tinggi jang lain, dimana diambil ketetapan bahwa Propinsi Sumatera Tengah sementara dibekukan dan D.P.D. Keresidenan dihidupkan kembali dan diberi kekuasaan penuh untuk melantjarkan pemerintahan dan perdjuangan dalam keresidenan masing-masing. Dalam hal ini Gubernur Propinsi Sumatera Tengah ditetapkan sebagai koordinator dari D.P.D.-D.P.D. dalam Propinsi Sumatera Tengah. Instruksi dan pendjelasan dalam hal ini untuk Riau dibawa oleh Saudara Gulmat Siregar dan Umar Usman, sedangkan untuk Djambi instruksi ini dapat diteruskan dengan perantaraan anggota D.P.R. dari Djambi jang pada waktu itu tidak sampai ke Bukittinggi, tetapi hanja sampai di Batusangkar. Setelah itu Gubernur beserta Ketua D.P.R. H. Iljas Jacoub, atas andjuran dan nasehat kepolisian Sumatera Tengah dan ketenteraan pergi menjingkir ke Lubuk Sikaping tanggal 20/21 Desember. Dalam rombongan ini turut Suska, Kepala Penerangan Sumatera Tengah dan beberapa orang pegawai tinggi.</p> <p style="margin-bottom: 1em;"><b>Pembentukan P.D.R.I., 22 Desember 1948.</b></p> Pada tanggal 22 Desember 1948, setelah mendengar berita jang resmi bahwa Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia ditawan oleh Belanda, dibentuklah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (P.D.R.I.) dengan susunan sebagai berikut : <table style="margin-left: 2em; border-collapse: collapse; line-height: 1.4; font-size: 0.95em; width: 95%;"> <tr> <td style="width: 25px; vertical-align: top;">1.</td> <td style="width: 180px; vertical-align: top;">Mr. Sjafruddin Prawiranegara</td> <td style="width: 20px; vertical-align: top;">:</td> <td style="vertical-align: top;">Ketua, merangkap Pertahanan, Penerangan dan mewakili urusan Luar Negeri.</td> </tr> <tr> <td style="vertical-align: top;">2.</td> <td style="vertical-align: top;">Mr. A. A. Maramis</td> <td style="vertical-align: top;">:</td> <td style="vertical-align: top;">Menteri Luar Negeri.</td> </tr> <tr> <td style="vertical-align: top;">3.</td> <td style="vertical-align: top;">Mr. Teuku Moh. Hassan</td> <td style="vertical-align: top;">:</td> <td style="vertical-align: top;">Pengadjaran, Pendidikan dan Kebudajaan mewakili urusan Dalam Negeri dan Agama.</td> </tr> <tr> <td style="vertical-align: top;">4.</td> <td style="vertical-align: top;">Mr. Lukman Hakim</td> <td style="vertical-align: top;">:</td> <td style="vertical-align: top;">Keuangan dan mewakili Kehakiman.</td> </tr> <tr> <td style="vertical-align: top;">5.</td> <td style="vertical-align: top;">Mr. Sutan M. Rasjid</td> <td style="vertical-align: top;">:</td> <td style="vertical-align: top;">Perburuhan dan Sosial, Pembangunan dan Pemuda, serta keamanan.</td> </tr> </table><noinclude>{{rh|170|}}</noinclude> gd2nmqmp5l93hj7gy7wee0gumxlnz5i Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/177 104 100167 291103 279615 2026-05-10T14:12:54Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291103 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude><table style="margin-left: 2em; border-collapse: collapse; line-height: 1.4; font-size: 0.95em; width: 95%;"> <tr> <td style="width: 25px; vertical-align: top;">6.</td> <td style="width: 180px; vertical-align: top;">Ir. Sitompul</td> <td style="width: 20px; vertical-align: top;">:</td> <td style="vertical-align: top;">Pekerdjaan umum dan mewakili Kesehatan.</td> </tr> <tr> <td style="vertical-align: top;">7.</td> <td style="vertical-align: top;">Ir. Inderatjaja</td> <td style="vertical-align: top;">:</td> <td style="vertical-align: top;">Perhubungan dan mewakili Kemakmuran.</td> </tr> </table> Pada tanggal 16 Mei 1949, maka dibentuk Komisariat P.D.R.I. di Djawa, jang terdiri dari : <table style="margin-left: 2em; border-collapse: collapse; line-height: 1.4; font-size: 0.95em; width: 95%;"> <tr> <td style="width: 25px; vertical-align: top;">1.</td> <td style="width: 180px; vertical-align: top;">Menteri Kehakiman</td> <td style="width: 20px; vertical-align: top;">:</td> <td style="vertical-align: top;">Mr. Susanto Tirtoprodjo.</td> </tr> <tr> <td style="vertical-align: top;">2.</td> <td style="vertical-align: top;">Menteri P.M.R.</td> <td style="vertical-align: top;">:</td> <td style="vertical-align: top;">I. Kasimo.</td> </tr> <tr> <td style="vertical-align: top;">3.</td> <td style="vertical-align: top;">Menteri Agama</td> <td style="vertical-align: top;">:</td> <td style="vertical-align: top;">K. H. Masjkur, dan R. P. Suroso untuk Urusan Dalam Negeri.</td> </tr> </table> Maka D.P.D. Sumatera Barat dibawah pimpinan ketuanja Mr. St. Mohd. Rasjid lalu menjingkir ke Koto Tinggi bersama pegawai-pegawai lain, dan dari situlah diteruskan pemerintahan keseluruh Sumatera Barat. Dalam instruksi kilatnja jang pertama D.P.D. Sumatera Barat meng-instruksikan kepada seluruh Bupati dan Wedana di Sumatera Barat bahwa kedudukan Pemerintah adalah bersifat mobil dan bergerak kemana-mana. Anggota-anggota D.P.D. Sumatera Barat, Badan Executief dan beberapa pemimpin rakjat ikut bersama serta. Segala berita-berita dan instruksi disampaikan dengan perantaraan kurier dan diminta supaja tiap-tiap Wedana jang menerimanja akan menjampaikannja kepada Wedana jang terdekat dengan tjepat dan demikianlah seterusnja. Ditegaskan lagi bahwa dengan ini diulangi lagi instruksi jang lalu bahwa para Wedana mengetuai M.P.R.K. dikewedanaannja dan dalam keadaan perhubungan terputus <b>mempunjai kekuasaan D.P.D. Sumatera Barat.</b> Sebagai biasanja pada instruksi-instruksi gerilja itu dibawah-nja dikatakan : <div style="text-align: center; width: 60%; margin-left: 40%; line-height: 1.3;"> <p>Dikeluarkan disatu tempat di Sumatera Barat pada tanggal 23 Desember 1948.</p> <p style="margin-top: 1em;">Dewan Pertahanan Daerah<br>Sumatera Barat<br>Ketua<br>dto.</p> <p style="margin-top: 1em;"><b>Mr. St. MOHD RASJID.</b></p> </div> Instruksi jang dikeluarkan "disatu tempat di Sumatera Barat" ini, mempunjai kekuatan jang sanggup menggenggam semangat perdjuangan rakjat pada masa itu, walaupun dalam keadaan sesulit-sulitnja moreel dan materieel, toch rakjat masih dapat melihat adanja pimpinan perdjuangan berupa Pemerintah jang mengatur dan memerintah menudju kemenangan peperangan kemerdekaan. Segelap-gelapnja hari, sekelam-kelamnja alam perdjuangan, toch masih ada satu bintang jang bertjahaja, jang pimpinannja dapat dipedomani oleh rakjat !<noinclude>{{rh|||171|||}}</noinclude> 0xmh63g0zyj93ybft6cs8x432lueg3v Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/41 104 100212 290930 283851 2026-05-10T13:21:07Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290930 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>{{hwe|poewan|perampoewan}} kaloe dia tiada lekas naik di koeda matilah ia di tabas. Itoe perampoewan betoel masih ada tempo aken toelis di pasir demikian boenjinja: »Aboe Sabar, engkau ilang barang, ilang anak, sekarang engkau ilang isteri jang tertjinta. Apakah engkau nanti bikin. Baiklah, akoe liat apakah goenanja orang sabar seperti engkau ini.” Koetika Aboe Sabar poelang ka pinggir kali, maka di liatnja isterinja soeda tida ada, tjoema dia dapet batja toelisan isterinja di pasir. Setelah di batjanja itoe maka dia terlaloe sanget sedih, ampir ilang pengharepannja maka tiada lama lagi dia ingat serta berkata dalem ati: »Ini sekali akoe misti tabain atikoe, tiada bole tace barangkali apa jang nanti dateng bakalan menimpah akoe terlebi keras lagi dari jang soeda-soeda.” Dia djalan sadjalan-jalannja seperti orang jang tiada ada ingatanrja. Begitoe dengan begitoe dia dapet liat ada beberapa banjak orang bekerdja, kerdja koempenian 'aken diriken astana radja. Apabila mandor koeli dapet liat sama dia maka dia lantas di tangkep oleh opas. Abis orang bilang padanja dia misti bantoe bekerdja kaloe tiada maka dia di hoekoem pendjara sa-oemoer idoep Dia lantas di soeroe, toeroet bekerdja sama jang laen-laen. Dia orang bekerdja tiada dapet bajaran, melainken roti djewawoet di brihkennja aken djadi makanan, tetapi itoe roti ketjil sekali tiada tjoekoep boewat satoe orang. Soeda ada tiga boelan Aboe sabar bekerdja begitoe. Pada soewatoe hari maka ada satoe toekang djoto dari atas, patah kakinja. Itoe orang mendjerit keras minta-minta toeloeng. Maka berkata Aboe Sabar padanja: Sabar teman, sabar!” Itoe orang djadi keliwat marah koetika di dengarnja Aboe Sabar berkata demikian, ratanja itoe orang: »Bagoes betoel aken adjarin akoe sabar di waktoe ini, sedeng akoe kesakitan seperti orang maoe mati, brapa lamanja lagi akoe misti sabar?” Djawabaja Aboe Sabar: »Selama-lamanja, sebab ingat, dengan sabar itoe maka orang dari dalem soemoer sekalipoen bisa naik mendjadi radja.” Perkata.annja Aboe Sabar ini telah di sampeken lagi kapada radja hingga radja mendjadi marah boekan alang kapalang. Dia bilang Aboe Sabar sa-orang djahat hendak membikin roesoeh dalem negri. Dari itoepoen radja titahken pada sa-orang toekang akeu tangkep orang jang berkata demikian dan teroes boewang dia ka dalem soemoer jang memang kadang-kadang dipake djadi pendjara. Aken kasi dia rasa katjilaka-anuja maka saben pagi ada orang bediri di pinggir soemoer itoe aken berseroe kadalem soemoer: Ajo, orang sabar, kapankah engkau naik mendjadi radja?” Hata maka orang tiada nanti njanah bahoewa memang soedah dekat dianja naik dari soemoer itoe mendjadi radja. Itoe soemoer di mana orang lepas sama Aboe Sabar, memang ada bersamboengan sama roemah-roemah di dalem tanah. Di dalem salah satoe roemah itoe maka soedara<noinclude>{{rh||1316}}</noinclude> 7v9n6bol1zbd7mkpx0hz1icpoc6ozrl Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/47 104 100253 290942 283864 2026-05-10T13:24:06Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290942 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>pada soewatoe hari radja titahken sekalian wasir pembesar negri samoewa misti berhadlir aken bermasjawarat. Di masjawarat itoe maka bertitah sri baginda: »Kamoe sekalian wasir, manteri hoeloebalang dan pembesar negri, sekaranglah haroes kami boeka rahasia kami jang kami telah pikir baik aken simpan doeloe, adapoen sekarang misti kami kasi taoe itoe pada kamoe sekalian. Ia itoe soepaija kamoe bole taoe poela sebabnja pemberihan pengadilan kami jang laen-laen ini. Kami taoe bahoewa kamoe sekalian tjela pengadilan demikian. Maka ketahoeilah olehmoe sekalian bahoewa kami ini boekan soedara radja jang doeloe di pendjara di dalem soemoer, aken tetapi kami poen telah tjilaka djoega seperti pangeran itoe kena di langgar dalimnja radja. Koetika kami kataken pada sa-orang temen kami bekerdja bahoewa sabar itoepoen sanggoep aken membikin orang dari soemoer naik mendjadi radja, ia-itoe kami bilang padanja aken menghiboerken atinja, maka sekoenjoeng-koenjoeng kami di hoekoem di boewang ka dalem soemoer, ia itoelah soernoer jang bersamboengan sama roemah-roemah di dalem tanah tempat pendjara toewan pangeran, dimana engkau telah dapetin pada akoe. Maka sekarang gampanglah kamoe sekalian dapet mengarti sekalian perboewatan kami. Itoe radja jang lari masoek ka dalem ini negri, ia itoelah doeloe kami poenja radja, dengan samaoe-maoenja sendiri ianja soeroe orang-orang rampas sekalian harta banda kami dan roemah kami di rombak, serta kami bersama-sama anak isteri dioesirnja sampe kami kapaksa pegi ka laen negri. Soeda barang tentoe kami misti hoekoem sekarang kabengissan dan dalimnja itoe radja. Itoe rampok-rampok jaug kami soeroeh kasi masoek di dalem peadjara, ia itoelah jang rampok kami di djalan dan jang bawa lari kami poenja doewa anak. Ini doewa anak kami dapetin lagi di antara itoe rampok. Dari itoe kami ampoenin itoe doewa orang dan itoe rampok jang laen misti kami hoekoem sebab perboewatannja jang sanget djahat. Itoe harta kekaja-an jang dia orang serahken pada kami ia-itoe semoewa barang rampasan dan kami radja negri jang berkawasa ada hak akeu mempoenjai itoe harta. Kamoedian engkau sekalian heran kenapa kami hoekoemken sa-orang laki-laki jang mengadoe isterinja bersalah tiada dengar moeloetnja. Ketahoewilah olehmoe sekalian bahoewa perampoewan itoe kamni poenja isteri, dan itoe laki-laki, ia itoelah orang jang bawa lari sama dia; sekarang kami rasa teranglah kamoe sekalian dapat mengarti betoel perboewatan kami dan tentoe kamoe kasi betoel pada kami aken berboewat sademikian.” Abis marika itoe dengar radja berkata demikian maka sekalian bersoerak aken mengoendjoekin kagirangannja dan kasenangan atinja dan masing-masing pada minta ampoen sama radja jang dia orang ambil kabranian ati aken oendjoek padanja bahoewa dia orang ada ketjil ati. Maka radja Aboe<noinclude>{{rh||1319}}</noinclude> e5yddwsir22ime109hwapvmfxpoaw7y Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/49 104 100256 290943 283879 2026-05-10T13:24:13Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290943 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>sabar memarentahken masih lama lagi negri itoe dengan adil dan arif hingga bertambah-tambah moelija dan mamoer negri itoe. Maka berkata Bachtijar: »Liatlah doeli sjahalam, bagimana besar goenanja sabar itoe dan bagimana djahat adanja kaboeroe nafsoe. Ingatlah titah doeli sjahalam jang tadi doeli toewan hamba brihken, nistjaija tiada dapet di oeroengin, dan kaloe kamoedian kataoewan hamba tiada bersalah maka tiada ada pertoeloengan soewatoe apa lagi melaenken doeli sjah alam dendem kesel di ati jang doeli toewan hamba menghoekoemken orang tiada bersalah.” Ini tjerita geraken soenggoe toewan radja poenja ati maka di prentahken hoekoeman Bachtijar nanti di djalanken pada ka esokan hari. Pada ka esokan harinja maka wasir nommor lima dateng mengadap radja serta sembahnja: »Doeli sjah alam haroes mengatahoewi bahoewa perboewatan doeli sjah alam aken oeroengken mendjalanin hoekoemnja Bachtijar itoe bole djadi binasanja karadja-an doeli sjahalam. Sekarang, maskipoen perampok, begal dan laen-laen pendjabat soedah mendjadi terlampau brani tiada mengendahi polisie, semoea, itoe dari lantaran hoekoemannja Bachtijar tiada di djalanken. Dia orang pada bilang satoe sama laen sampe orang poen bole dengar katanja: »Sekarang ini kita bole berboewat djahat apa djoega tiada di hoekoem. Kapan orang jang telah perboewat kadjahatan jang paling berat sekalipoen, ia-itoe masoek kadalem haram sri baginda, tiada djoega terhoekoem, istimewa poela kadjahatan kita nistjaja djoega tiada terhoekoem. Kita pake akal sadja aken tjerita hikajat saban sari kapada radja maka kita bakalan bebas seperti Bachtijar.” Bitjara wasir ini membikin atinja Asad Bacht mendjadi tiada enak. Djadi di titahkennja Bachtijar di bawa kahadapannja. Setelah Bachtijar sampe di hadapannja maka radja bertitah: „Djanganlah engkau kira jang hoekoemanmoe loepoet tiada di djalanni oleh kerna hikajat-moe jang engkau tjeritahken padakoe, ini sekali engkau misti mati, sebab tiada ada pengharepanmoe aken menerangkan jang engkau tiada bersalah. Kapan tiada lekas kami djalani hoekoemmoe nistjaja binasa negri kami.” Maka djawabnja Bachtijar: »Doeli sjahalam, djikaloe doeli sjahalam masih maoe kasi permissie hambanja bitjara sedikit maka doeli sjahalam di berkatken Allah ta-Allah. Ja doeli sjahalam jang amat berkoewasa dan termasjoer arif, adil dan bidjaksana; masakah sebab hambanja sa-orang sendiri-diri bole mendjadi lantaran negri bakalan roesak dan doeli sjahalam tiada dihormati orang? Hambanja jang tiada bersalah, sebab hambanja ambil saksi Allah jang Maha Besar jang mengatahoewi segala apa jang kedjadian di doenia?” Radja roopanja memikirin bitjaranja Bachtijar maka ia ini teroes berkata: »Hambanja bermoehoen sanget pada doeli sjahalam kasi tempo pada hamba<noinclude>{{rh||1320}}</noinclude> 3yyja1n2rl918byjh42cft59x8u3avn Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/65 104 100264 290953 284088 2026-05-10T13:26:05Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290953 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1OO1 MALAM|}}</noinclude>jang ianja telah menghoekoemken orang jang tiada bersalah koetika pemboenoeh jang benar-benar itoe kena ketangkep. Dari itoepoen hambanja bermoehoen sanget kabawa doeli sjahalam aken oeroengken doeloe hoekoem hamba lagi doewa tiga ari soepaja bole ketaoewan njata bahoewa hamba tiada sekali bersalah. Ingatlah rahmat itoelah soewatoe penoendjang besar bagei tachta keradja-an radja-radja,” Asad Bacht dengar ini tjerita dengan soeka ati maka di titahkennja Bachtijar di bawa konbali ka dalem, pendjara b'on di hoekoem. Pada ka esokan hari maka datenglah wasir nommor anam mengadap radja laloe bersembah: „Doeli sjahalam, kawadjiban radja, ia itoe aken membinasa-in moesoehnja sebab orang misti ati-ati sekali, djangan menghinaken moesoenja, biar dia bagimana lemas djoega. Oleh kerna itoe, siapa djoega mendjadi kita poenja moesoeh ia itoelah misti kita binasa-in apa bila dia djato di dalem kita poenja tangan. Djadi djanganlah doeli sjahalam goesar pada hambanja ini jang laif djika ianja dateng atas namanja sekalian wasir aken minta pada doeli sjahalam, djangan doeli sjahalam menoenggoe lamahan aken kasi djalan hoekoemannja Bachtijar jang haroes sekali di brihken padanja. Sri Baginda soeroe bawa mengadap Bachtijar. Barang ia sampe di hadepan radja maka berkatalah radja Asad Bacht: „Sampe sekarang pertjoema sadja kami toenggoe aken dapet ka-saksian jang engkau tiada bersalah, maka sekarang soedah sampe lamah kami bernanti, kerna itoe, ini harilah sampe adjalmoe.” Sembahnja Bachitijar: „Tadinja hamba soeda kira hamba bole bernanti diam-diam hamba poenja naçib, aken tetapi djikaloe hamba fikirken bahoewa doeli sjahalam poenja moesoeh sekalian bakalan girang sanget jang doeli sjahalam nanti berboewat barang jang tiada adil, dari itoelah hamba berfikir baik aken bitjara lagi. Laen dari itoe poen hambanja tiada bisa meloepoetken diri hamba dari pada hoekoem doeli sjahalam. Tiada loepoet, hamba misti mati djikaloe hamba tiada bisa kasi katerangan jang hamba tiada salah. Hamba kataken sabenarnja, Toehan jang Maha Moelija nanti kasi katerangan bagimana orang hendak tipoe pada hamba. Kapan sekarang hamba mati di boenoehi, bole djadi jang doeli sjahalam nanti menjesal sanget betoel seperti radja Dabdijn menjesal sekali jang ianja boenoeh wasirnja jang bernama Kamkar, dari sebab radja terlaloe dengar bitjaranja wasir Kardar.” Radja Asad Bacht poenja ati tergerak sebab mendengar bitjaranja Bachtijar dengan sabarnja, djadi radja titahken padanja aken tjeritahken itoe hikajat. Maka ianja tjeritahken hikajatnja, {{rule|6em}}<noinclude>{{rh||1328}}</noinclude> 2lp3ciuy0v3jsp1fzjcno1lmq4e0bw2 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/53 104 100281 290944 283893 2026-05-10T13:24:20Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290944 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{C|{{sp|HIKAJAT<br>PANGERAN ZANZIBAR.}}<br>{{smaller|malem ka 497 sampe malem ka 499.}}}}</noinclude>Sabermoela maka di tjeritahken di benoewa Arab adalah soewatoe radja jang di bentji sanget oleh rajatnja bahna dia terlaloe bengis, dan tlalim serta tiada sekali adil. Di antara boedak-boedaknja adalah sa-orang moedah jang di bawa lari dari negri Zanzibar. Dia itoe anaknja radja Zanzibar, adapoen dianja pegang rahazia jang dia sa-orang pangeran jang bernama Abrahah dari itoe satoe orang poen tiada taoe asalnja. Maka dia di soeka sekali oleh radja, sampe radja soeroe dia djadi radja poenja djoeroe pendjaga sendjata dan dia bole toeroet kamana radja pegi. Sekali pada soewatoe hari maka radja pegi memboeroe bersama-sama panggawe astananja, dan Abrahah toeroet sama radja. Orang soeda berboeroe bebrapa djam lamanja maka sama sekali ada dateng sa-ekor mandjangan Sri baginda lantas petjoet koedanja teroes boeroe itoe mandjangan (roesa), Abrahah dengan laen-laen penggawe pada toeroet. Bebrapa kali radja soeda lepasken anak panahnja tiada djoega mengenaken itoe mandjangan lari. Maka Abrahah poen djoega melepasken panahnja, aken tetapi tjilaka soenggoe, anak panahnja kena langgar radja poenja koeping sampe poetoes sama sekali. Daranja bermantjoer dan tambahan lagi koedanja radja tersandoeng teroes djatoh bersama-sama radja. Abrahah terlampau kaget meliat barang jang kedjadian itoe dia lantas lompat dari koeda aken toeloeng toewannja jang telah djato kalengar; laen-laen penggawe poen pada dateng djoega danmarika itoe semoewa pada marah dan kata-in sama Abrahah. Masing-masing pada jakinin aken bikin radja inget kombali dan aken tahan darah jang bermantjoer itoe. Lama kelama-an maka radja inget kombali. Setelah loekanja radja soedah di iket maka sanget marahnja, sebab di kiranja boedaknja itoe sengadja memanahkеn dia dengan nijat aken boenoeh radja, kerna itoe maka radja titahken Abrahah poenja leher misti di penggel. Maka Abrahah lantas bersoedjoed di hadepan radja abis sembahoja: »Doeli sjah-alam taoe djoega bahoewa hamba poenja panah tiada terdjoedjoe kapada toewan, adapoen bahna hambanja poenja kabodowan tiada bisa maen panah, itoelah mendjadi sebab kadjadian ini. Hambanja moehoen ampoen beriboe<noinclude>{{rh||1322}}</noinclude> 6q06j9eurw4mh5lqiczfvoh0q88ok1v Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/408 104 100298 291087 280085 2026-05-10T14:09:08Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291087 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>karena dpr ste dari dahulu telah berpegang pada undangundang No. 22 apalagi melihat keadaan suasana politik di ste sekarang ttk sebab itu dpr mendesak segera penglaksanaan djandji menteri kepada missie dpr dan dpr ste tidak dapat menjetudjui isi kwt menteri dl negeri tanggal 8 No. 11/14/3 karena isi kwt menteri tanggal 3 no. 13 16 telah diumumkan kepada kepala-kepala djawatan dan party dan pers ttk karena kedua kwt menteri tsb berlawanan isinja koma diharap supaja kwt tanggal 3 dikuatkan dan tidak ditjabut kembali ttk {{block right| dpr ste }} {{block right| ketua }} {{block right| h. iljas jacoub. }} Selandjutnja tentang Djambi jang soalnja dibitjarakan dalam suatu rapat tertutup pada tanggal 12 Djuni 1950, dikeluarkan pengumuman bahwa diserahkan kepada beleid Dewan Pemerintah untuk mendjalankan usul-usul dan sugesti-sugesti para anggota untuk kemadjuan Djambi dalam soal-soal politik, ekonomi dan sosial. Disetudjui djuga dalam sidang ke IV ini pentjabutan status M.P.R.K. dan M.P.R.N. sebagai badan Pemerintahan. Djuga rapat menerima rentjana peraturan pemilihan anggota D.P.R.W., D.P.R.K., dan D.P.R.S.T. dengan 12 suara setudju dan 6 contra. Saudara Marzoeki Jatim selaku anggota komisi penjelidik anggota pedjuang jang ditawan Belanda, melapurkan bahwa diantara mereka ini sudah dibebaskan 274 orang dan kini sudah diusulkan untuk dibebaskan lagi 10 orang . Demikianlah sidang ke IV ini berachir sesudah 10 kali mengadakan rapat pada hari Rabu tanggal 14 Djuni 1950. '''Mengirim utusan ke Djokja 17 Djuni 1950.''' Dan pada tanggal 17 Djuni D.P.R.S.T. mengirim utusannja ke Djogja untuk memperdjuangkan keputusan dari pleno D.P.R. S.T. jang baru sudah berachir itu. Utusan ini terdiri dari saudara-saudara A. Gaffar Djambek, Dt. Mangku dan Abdullah. Pun djuga Gubernur Nasroen dipanggil pula ke Djogja dan berangkat pada tanggal 18 Djuni 1950. Dalam Nasroen suatu keterangannja menegaskan atas sebelum pertanjaan berangkat mengenai Gubernur mosi jang mengusulkan kepindahannja, bahwa; hal itu bagi saja tidak mendjadi soal benar, dan saja merasa puas dapat membawa daerah ini melalui zaman perlintasan jang paling sulit waktu penjerahan kedaulatan oleh Belanda.<noinclude>{{rh|402}}</noinclude> codr131hpf0an00nedeqzjw24letxoo Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/55 104 100303 290945 283903 2026-05-10T13:24:27Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290945 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{center|1001 MALAM|}}</noinclude>ampoen boewat kasalahannja ini. Ingatlah perboewatan baik saben di bales baik oleh Allah ta-allahb, dan kaloe orang mengampoeni orang maka ianja poen bakalan di ampoeni djoega.” Radja Arab itoe mendjadi kasian sama Abrahah jang memang di saijang oleh radja. Djadi radja tahan hawa nafsoe marahnja abis dia ampoenin sama itoe boedak. Abrahah sanget girang, dia soedjoed, pelok tjioem kakinja radja aken tanda trima kasinja, abis poelanglah sekalian ka kota. Alkaesah maka di jeritahiken radja Zanzibar bebrapa lama soeroeh tjariken anaknja jang telah di bawa lari orang. Koeliling dia soeroeh tjar tetapi pertjoema sadja. Kamoedian dia dapet dengar jang anaknja ada di astananja radja Arab; dia di sana djadi boedak. Kendati begitoe poen maka radja Zanzibar tiada djoega maoe kasi taoe bahoewa boedak itoe anaknja sebab dia koewatir nanti radja Arab minta oewang peneboes jang terlaloe tinggi. Oleh kerna itoe dia pilih sa-orang manterinja jang paling tjeredik maka pada itoe manteri dia kasi taoe segala perkara ini serta dia adjarkan aken berhati-ati priksa ini hal soepaja orang laen djangan taoe. Itoe manteri lantas brangkat pegi ka iboe kota negri Arah, apa jang di kiranja perloe aken di pake di sana ia itoe banjak di bawanja dan di ketahoeinja poela bahoewa dia misti berati-ati sekali. Apabila itoe wasir sampe di negri Arab maka dia lantas menjamarken dirinja seperti satoe soedagar, abis dia menoempang di pasangrahan. Di negri Arab, dia djalan koeliling meliat di sana di sini serta ia tjari akal aken bole dapet masoek di dalem radja poenja goedang sendjata, sebab itoe goedang amat termasjoer di antero doenia balina bagoesnja dan roepa-roepanja sendjata. Memang jang djaga itoe goedang ia itoe Abrahah, pangeran Zanzibar, djadi tiada soesa aken bitjara sama dia. Manteri itoe bitjara dari negri toempahandaranja serta di poedjinja kabaikan dan kamoaralian ati orang toewanja sampe Abrahah menangis dari amat sedihnja Setelah soeda maka manteri itoe tiada merasa ada kaberatan apa boewat tjeritahken sekarang dengan teroes terang bahoewa ia di titahken oleh ajahandanja Abrahah aken soeroe bawa lari sama dia. Abrahah girang betoel jang sekarang dia soeda ampir katoeloengan, djadi marika itoe berdoewa djandjiken aken bertemoe di soewatoe tempat jang soedah di tetapken lebi doeloe. Di waktoe malem maka orang kadoewa itoe lari dengen menjamarken dirinja mendjadi soedagar, dan tiada brapa lama marika itoe sampe di wates bilangan radja Zanzibar, dan dari sitoe dia-orang kirim soeroehan boewat kasi taoe sama radja. Apabila radja dapet dengar anaknja soeda ampir dateng maka ia kirim bebrapa banjak soldadoe aken samboet anaknja dan di soeroehnja sediah-sediah rame-ramejan hingga sanget rioeh sekali koetika pangeran Abralah masoek kadalem negri. Di negri Arab di dalem astana radja berbedahan sekali kedjadiannja<noinclude>{{rh||1323}}</noinclude> 0if74411s2hem9joihr1qxwn6o8hr6r Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/400 104 100319 291080 280124 2026-05-10T14:05:21Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291080 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Said mendjadi anggota Badan Pekerdja K.N.I.P. dan saudara Barioen A.S. meninggalkan daerah Sumatra Tengah, maka susunan anggotanja adalah sbb.: Dari Sumatera Barat saudara H. Iljas Jacoeb (Masjumi), Marzoeki Jatim (Masjumi), Sultani St. Malako (Murba), A. Gafar Djambek (Tidak berpartai), Saadoeddin Djambek (Tak berpartai), Usman Keadilan (P.K.I.), Anwar St. Saidi (tak berpartai), Dt.Simaradjo (M.T.K.A.A.M.), S.J. St. Mangkuto (Masjumi), Ahmad Sjuib (Murba), Abdullah (Murba), Bachtaroeddin (P.K.I.)R.S.Suriapradja (P.K.I.), Zainal Zainur (Pemuda), Dr. A. RahimUsman (PartaiSosialis), Damanhoeri Djamil (P.S.I.I.), Tan Tuah Bagindo Ratu (P.B.I.), H. Siradjudin Abbas (Perti), Chatib Suleman (P.S.I.) dan H. Mahmud Junus (tak berpartai). Dari Riau saudara-saudara Gulmat Siregar (P.N.I.), Amat Suka (P.N.I.), Dt. Mangku (P.K.I.) rkj Azir Jahja (Perwari), dan Umar Usman (Masjumi). Dari Djambi saudara Dr. Sjagaf Jahja (P.B.I.), Dr. R. Purwadi (tak berpartai), Dr. Sjahrial Rahman (tak berpartai), dan Sjamsu Bahroem. Rapatnja jang pertama dipermulaan tahun dipimpin oleh Gubernur Sumatera Tengah, Mr. M. Nasroen, menurut Undang-undang No. 10 dan anggota-anggota Executiefnja jang pertama ialah; saudara Dt. Mangku, Dr. A. Rahim Usman, S.J. St. Mangkuto. Abdoellah dan Dr.Sjagaf Jahja. Dalam sidangnja jang ke-II jang berlangsung dalam udara politik sangat tegang antara Republik Indonesia dan Belanda dipilih saudara H. Iljas Jacoeb mendjadi Ketua, dimana diterima baik rentjana Panitia Desentralisasi Sumatera Tengah, mengenai luasnja otonomi Wilajah dan Kabupaten se Sumatera Tengah dengan berarti penghapusan status Kewedanaan dan Keresidenan. Dan sehari sesudah sidang pleno ke-II ini berachir, maka Belanda telah melantjarkan agressinja jang ke-II, dan kebanjakan anggota lalu meninggalkan kota buat menghebatkan perdjuangan didaerah Gerilja. '''Kedudukan D.P.R.S.T. dalam Darurat.''' Maka dalam rapat jang dipimpin oleh Mr. Sjafroeddin tanggal 19 Desember 1948 sebelum meninggalkan kota, diputuskan bahwa Propinsi Sumatera Tengah dibekukan bersama D.P.R.-nja, dan D.P.D. Keresidenan dihidupkan kembali. Gubernur mendjadi koordinator dari ketiga D.P.D. Keresidenan itu. Dalam bulan Agustus 1949 Executief D.P.R.S.T. didjadikan penasehat Komisaris Pemerintah Sumatera Tengah oleh P.D.R.I., dan karena Komisaris Pemerintah Sumatera Tengah tidak lang-<noinclude>{{rh|394}}</noinclude> 6izwb8xfmwsw1tjcq12ai8p3u5gkyg8 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/143 104 100454 291105 280470 2026-05-10T14:13:00Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291105 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>10 sampai 15 %, tulag kemahalan 10%, tulag keluarga Rp . 2,- setiap anggota keluarga, tulag perang 20% pun diadakan pula tulag luar biasa. Dalam lapangan ketenteraan di Sumatera Tengah berlangsung pertukaran Divisi Komandan dari Kol.bDahlan Djambek kepada Kol. Ismael Lengah, dan Kol. Dahlan Djambek diangkat mendjadi Kepala Sub Komandemen Seksi II. Dalam lapangan perdjuangan rakjat diadakan pula aturan-aturan mobilisasi dan kordinasi perdjuangan oleh Dewan Perdjuangan jang didirikan disetiap keresidenan, bertjabang dikabupaten/kota, dan beranting dinegeri. <center><big>PERDJUANGAN DI PADANG MENINGKAT LAGI.</big></center> <center>'''Belanda mentjoba menanamkan kekuasaan, 6 September 1946.'''</center> Dengan pengumuman resmi dari London pada bulan September, bahwa tentera Inggeris-India akan ditarik dari Indonesia pada tanggal 30/11-1946, maka mereka berangsur-angsur menjerahkan kekuasaannja kepada tentera Belanda dan Pemerintah Sipil Belanda <big>(N.I.C.A.).</big> Keadaan di Padang menghebat pula kembali berupa pertempuran-pertempuran dan perampokan-perampokan, jang diprotes oleh rakjat Sumatera Barat dengan perantaraan Persatuan Perdjuangan Sumatera Barat, terutama tentang tindakan Sekutu hendak menjerahkan pemeriksaan orang tahanannja kepada Pemerintah Belanda, jang mana dinjatakan dengan surat kepada tuan Aziz Chan Walikota Padang sebagai berikut : ::::Kepada tuan Aziz Chan. ::::Beberapa orang Indonesia jang dipendjarakan (Sekutu) dihadapkan kedepan pengadilan Belanda pekan ini (6-9-'46). ::::Adakah tuan bermaksud untuk memberi mereka hakim pembela ? {{UU/TTD-1|isi= <br /> dto.<br /> <big>COOPER.</big>}} ::::Walikota membalas surat sebagai berikut: ::::Tuan Cooper HQ Padang B.B.E. ::::Pemerintahan Republik saja tidak mengizinkan pemeriksaan perkara matjam manapun oleh Belanda. Putjuk pimpinan tentara Sekutu sepatutnja menjerahkan perkara itu kepada Pengadilan Indonesia. Sesungguhnja saja bersama ini memprotes. Kemudian atas usaha Kepala Polisi Kota Padang, hanja dibolehkan mengantarkan makanan buat orang tahanan Sekutu itu. {{left|'''Poh An Tui Organisasi Tionghoa'''}} {{left|'''Rombongan Pemerintah dan Persatuan Perdjuangan ke Padang Luar Kota, 8 Oktober 1946'''}}<noinclude>{{rh|||137}}</noinclude> 3qbrrqmm4m7gc0sffryuhu85z4ucaux Halaman:Awas!.pdf/134 104 100458 291016 280392 2026-05-10T13:39:17Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291016 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{hii}}M O D E L IV. Sluiting voor motorrijtuigen op meer dan twee wielen boven zekere afmetingen of gewicht.<br>Ditoetoep bagi kendaraan motor jang beroda lebih dari doea, jang besarnja atau beratnja lebih dari pada jang ditentoekan.{{div end}} {{rh|A. Boven zekere<br> afmetingen.<br>Ditoetoep bagi kendaraan jang besarnja<br>lebih dari pada jang ditentoekan.}} {{raw image|Awas!.pdf/134}} {{rh|B.Boven zeker<br> gewicht.<br> Ditoetoep bagi kendaraan jang beratnja lebih dari pada jang ditentoekan.}}<noinclude></noinclude> fq07y46pasv7ucyx9fsn2dgxtu9gu3u Halaman:Awas!.pdf/136 104 100468 291018 280431 2026-05-10T13:39:25Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291018 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||134}}</noinclude>{{hii}}M O D E L V I . Sluiting voor alle motorrijtuigen in een bepaalde richting v a n den te berijden weg.<br> Ditoetoep bagi segala kendaraan motor menoedjoe salah satoe arah jang hendak dilaloei.{{div end}} {{rh|A. Voortdurend.<br> Ditoetoep boeat selamanja.}} {{missing image}} {{rhB. Tijdïlijk.<br> Ditoetoep boeat sementara.}} {{missing image}}<noinclude></noinclude> jhv6o7gpx5e71xr6vx1vxrewof0rb9t Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/98 104 100565 291090 280917 2026-05-10T14:11:13Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291090 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>::::Perdjandjian saja ini dengan hati jang sutji djikalau saja tidak memenuhi sepandjang perdjandjian saja ini, boleh saja dimakan kutuk kalamullah. ::::Diperbuat surat sumpah ini 5 lembar untuk dipergunakan dimana perlu. {{right|Tanda tangan jang bersumpah :}} ::Dimuka saja: <center>Saksi</center> {{right|Kadi jang menjumpah:}} Pada waktu itu pemerintahan berpusat dalam tangan residen. Sekalian Djawatan sampai kepada ketenteraan, urusan perdjuangan dan kehakiman udjung talinja terdapat dikantor Residen dimana beliau memerintah bersama badan exekutief K.N.I. Sumatera Barat dan penasehat-penasehatnja . '''K.N.I. Sumatera Barat diperkuat.''' '''Ketua K.N.I. harus terpisah.''' Oleh karena semakin beratnja urusan perdjuangan, dan diterimanja kawat dari Gubernur Sumatera, maka K.N.I. ditambah anggotanja. Isi kawat itu antara lain sebagai berikut : <ol type="1"> <li>Ketua K.N.I. tidak boleh orang jang memimpin pemerintahan dalam daerahnja.</li> <li>Dimana-mana K.N.I. harus diperkuat sebagai badan pendjelmaan keamanan rakjat.</li> <li>Dalam K.N.I. mesti lengkap masuk segala lapisan dan golongan rakjat dengan bersatu hati dan dalam K.N.I. mesti ada wakil-wakil dari Pamongpradja, Polisi dan pegawai-pegawai lainnja, serikat sekerdja, kooperasi dan orang-orang politik jang terkemuka.</li> <li>Buat sementara K.N.I. harus merupakan Badan Perwakilan Rakjat jang membantu pekerdjaan Pemerintah.</li></ol> Dengan demikian disusunlah anggota-anggota K.N.I. jang terdiri dari wakil golongan-golongan organisasi, partai dan pemuda. '''Terbentuknja T.K.R.''' Sesudahnja Proklamasi Kemerdekaan diteruskan di Sumatera oleh Saudara M. Sjafe'i, maka segera terasa perlunja suatu badan bersendjata untuk mendukung repolusi seperti jang dimaksud dalam instruksi dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pasal II jang berbunji sebagai berikut: Memelihara keselamatan masjarakat dan keamanan itu adalah satu, maka itu di <big>„BADAN PENOLONG KELUARGA KORBAN PERANG”</big> diadakan satu bagian jang bernama <big>BADAN KEAMANAN RAKJAT.</big> Maka seiring dengan tersiarnja proklamasi, berdirilah disetiap tempat utamanja diibu tempat kewedanaan Badan Keamanan<noinclude>{{rh|92}}</noinclude> pu0bcz276197fc329rt3bb2aqxzkd7m Halaman:Awas!.pdf/131 104 100600 291011 280854 2026-05-10T13:37:24Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291011 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{missing image}} Sluiting voor alle motorrijtuigen op meer dan twee wielen in elke richting van den te berijden weg. Ditoetoep bagi segala kendaraan motor jang beroda lebih dari doea menoedjoe segala arah dari djalan jang dilaloei itoe. A. Voortdurend. Ditoetoep boeat selamanja. B. Tijdelijk. Ditoetoep boeat sementara.<noinclude></noinclude> 2yrwpnzyqu4ethzkw1jyefzj0to8f0w Halaman:Awas!.pdf/132 104 100611 291012 280878 2026-05-10T13:37:34Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291012 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{missing image}} MODEL II. Sluiting voor alle motorrijtuigen in elke richting van den te berijden weg. Ditoetoep bagi segala kendaraan motor jang menoedjoe segala arah dari jalan jang hendak dilaloei. A. Voortdurend. Ditoetoep boeat selamanja. B. Tijdelijk. Ditoetoep boeat sementara.<noinclude></noinclude> pq3hkp0c9g0tfxzaj460ek9fl4gf5ut Halaman:Awas!.pdf/135 104 100618 291017 280889 2026-05-10T13:39:21Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291017 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||133}}</noinclude>{{missing image}} MODEL V. Sluiting voor alle motorrijtuigen op meer dan twee wielen in een bepaalde richting van den te berijden weg. Ditoetoep bagi segala kendaraan motor jang rodanja lebih dari doea menoedjoe salah satoe arah dari djalan jang hendak dilaloei. A. Voortdurend. Ditoetoep boeat selamanja Ditoetoep boeat sementara.<noinclude></noinclude> de5jnd1t58yxrkzul1iezgzdq4ni75a Halaman:Awas!.pdf/137 104 100622 291019 280895 2026-05-10T13:39:29Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291019 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||135}}</noinclude>{{missing image}} MODEL VII. Sluiting voor motorrijtuigen op twee wielen in een bepaalde richting van den te berijden weg. Ditoetoep bagi kendaraan motor jang beroda doea menoedjoe salah satoe arah djalan jang hendak dilaloei itoe. A. Voortdurend. Ditoetoep boeat selamanja. B. Tijdelijk. Ditoetoep boeat sementara.<noinclude></noinclude> rpddnnqci8lzt5co9qmyzkoni9vd2pr Halaman:Awas!.pdf/138 104 100624 291020 280899 2026-05-10T13:39:33Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291020 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh|136}}</noinclude>{{missing image}} MODEL VIII. Snelheidsbeperking binnen bebouwde kommen. Tjepat jang ditentoekan ditempat jang ramai.<noinclude></noinclude> b49plsdn6j6kpkqoft0ljgq42t3nwtv Halaman:Awas!.pdf/139 104 100626 291021 282049 2026-05-10T13:39:38Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291021 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||137}}</noinclude>MODELLEN van nummers en letters voor de nummerplaten van automobielen en motorrijwielen. (Zie bijlage II). {{Centered Box|text={{font-size|2em|{{sp|12345}}}}}} {{Centered Box|text={{font-size|2em|{{sp|67890}}}}}} {{Centered Box|text={{font-size|2em|A-324}}}} {{Centered Box|text={{font-size|2em|A<br>{{sp|324}}}}}} TJONTOH nomor dan hoeroef oentoek kendaraan motor.(Lihat lampiran II).<noinclude></noinclude> cl9x1tglufgtchv9fwz5p230ji8rpw8 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/59 104 100632 290946 284018 2026-05-10T13:24:33Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290946 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>romannja keliwat doesoen sebab dia tiada ada pakejan laen dari itoe jang di pakenja koetika kapalnja karem. Oleh kerna itoe maka orang doega keras dia itoelah sa-orang temannja perampok jang telah memboenoeh orang-orang di waroeng itoe. Orang lantas bawa dia mengadep radja, dengan di kasi taoe apa kasalahannja. Radja Zanzibar sanget marah serta berkata: „Hei bangsat, apakah engkau kira ini negri tiada di prentahken radja jang bisa perlindoenken dan toeloeng anak negrinja, sampe engkau begitoe brani aken membinasa-in begitoe banjak orang dan membawa lari orang poenja barang, abis engkau masih tinggal poela di itoe roemah seperti aken menantangin polisie? Nanti kami adjarpadamoe aken kabranianmoe. Ajo l lekas seboetken sekalian kawanmoe dan di mana engkau semboeniken itoe barang-barang. Djawabnja radja Arab, jang keliwat maloe seboetken namanja, katanja: „Doeli sjahalam, kami poen sa-orang asal radja maka kami naik kapal belaijar aken tjari soewatoe barang kami, aken tetapi kami poenja kapal kena ke-langgar angin riboet, sampe karem di toedjoenja pante negri ini. Ombak dan aroes damparken kami di ini negri dan baroe tadi malem kami sampe di ini negri. Bahna kami tiada kenal satoe orang serta poela soedah malem roemah-roemah pada katoetoep, maka itoe kami kepaksa aken bermalem di tjeratjapan itoe waroeng. Kami poeles keras dan besokan paginja kami mendoessin lantas orang tangkep sama kami teroes di bawa kemari.” Maka djawab radja Zanzibar katanja: „OI orang tjerdik, djangan kina engkau dapet bohongin kami dengan tjeritahmoe jang adjaib ini, tempatnja di mana orang soeda dapetin padamoe, ia itoelah soedah sampe terang aken menjaksiken kasalahanmoe. Hikajatmoe baik di tjeritahken sama anak-anak, dia-orang bole pertjaija karanganmoe, aken tetapi kami tiada nanti bisa di bohongin. Hoekoemanmoe bakalan terlebi bengis lagi soepaja teman-temanmoe sekalipaen bakalan djadi takoet.” Radja Arab berkata poela: „Doeli sjahalam, kami berkata soenggoe sebenarnja, kami ini sa-orang asal radja sama seperti doeli sjahalam, dari itoe timbangkenlah hal ini jang benar djangan terlaloe bengis. Doeli sjah alam tiada taoe jang kami tiada salah soewatoe apa, aken tetapi Allah ta-allah jang Maha koewasa, ialah taoe bahoewa kami tiada bersalah, malahan kami berhati poeti bresi. Radja Zanzibar poenja ati tergerak djoega koetika di liatnja orang jang di kasi salah itoe menjaoet dengan sabar dan dengan tingka seperti sa-orang bangsawan jang toelen, djadi radja merasa bahoewa ini orang doeloenja dapet peladjaran aloes sekali. Bahna radja koewatir djangan ia menghoekoemken orang jang soenggoe tiada salah kaloe dia menghoekoem dengan menoeroet hawa nafsoe maranja maka itoe dia soeroeh bawa orang itoe {{hws|ka|kadalem}}<noinclude>{{rh||1325|}}</noinclude> qs0pwia2j79mkxun5tjsiz4s0g5nw43 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/99 104 100635 291091 281763 2026-05-10T14:11:17Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291091 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Rakjat jang dipelopori terutama oleh para pemuda bekas Gyu Gun, Seinendan dan Heiho, jang segera setelah berdirinja mempersendjatai dirinja dengan apa sadja sendjata jang ada, dan semakin rapi organisasinja. Dalam melantjarkan repolusi, B.K.R. berdjalan berdampingan dengan P.R.I., dan sementara P.R.I. bertindak sebagai pemuda sipil dalam melandjutkan perdjuangan rakjat, maka B.K.R. makin lama makin menjusun dirinja dalam susunan ketenteraan. Pada tanggal 5 Oktober 1945 keluarlah maklumat dari pemerintah jang berbunji sebagai berikut : {{center|'''MAKLUMAT PEMERINTAH'''}} {{center|'''TENTANG PEMBENTUKAN TENTERA KEAMANAN RAKJAT.'''}} ::Untuk memperkuat perasaan keamanan umum, maka diadakan satu Tentera Keamanan Rakjat. {{block right| {{c|Djakarta, 5 Oktober 1945. Presiden Republik Indonesia, '''<big>SOEKARNO.</big>'''}} }} '''T.K.R. di Padang dan Bukittinggi 10 dan 14 Oktober 1945.''' Sekeluarnja decreet Presiden ini, maka B.K.R. jang telah terbentuk disetiap ibu tempat Kewedanaan diseluruh Sumatera Tengah itu, lalu menjusun dirinja mendjadi Tentera Keamanan Rakjat (T.K.R.), umpamanja di Padang disusun pada tanggal 10 Oktober 1945 dan di Bukittinggi pada tanggal 14 Oktober. Pembentukan di Padang dan di Bukittinggi ini disegerakan oleh berita-berita mendaratnja Tentera Sekutu di Djawa, dan akan mendaratnja pula di Sumatera. Panglima Tentera Sekutu jang telah mendarat di Djakarta bulan September 1945 jaitu Djenderal Christison menegaskan bahwa tugas jang harus dilaksanakannja di Indonesia ialah melutjuti sendjata Djepang, mengurus tawanan perang Sekutu, dan mendjaga keamanan. Tetapi amat besar ketjurigaan umum bahwa Tentera Sekutu ini akan membawa pula Tentera Belanda, — jang memang salah satu negara Sekutu pula, apalagi mendengar suara-suara Belanda di Australia, dalam mana ternjata bahwa Belanda tetap tidak mengakui Republik Indonesia, dan menganggap Indonesia diadjahannja jang harus diterimanja kembali sebagai inventaris dari Djepang via Sekutu. Semua hal ini mendorong melekaskan terbentuknja T.K.R. didaerah sesudahnja keluar decreet Presiden ini.<noinclude>{{rh|||93}}</noinclude> dvu9wt5nvpn6cdxh8s4292xwf0ohrl1 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/61 104 100637 290951 283666 2026-05-10T13:25:45Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290951 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>dalem boei. Di sini dianja di anijaja sanget oleh pendjaga boei maka ianja tiada perdoeliken, dia tinggal sabar dan tiada brentinja dia bersambajang minta doa sama Allah. Di blakang boei ada kebon bagoes, enak tedoeh dan ada kali ketjil. Di sitoe orang-orang toetoepan dapet permissie boleh djalan djalan. Pada soewatoe hari maka radja Arab jang terpendjara itoe berdjalan-djalan di itoe kebon maka di liatnja ada sa ekor boeroeng gagak meniarap di atas tembok. Lentas radja itoe berpikir begini: „tjobalah kami sambit boerneng itoe dengan toelang jang kami pegang ini, kaloe kami, kena sambit itoe boeroeng ia itoelah soewatoe alamat jang baik bagi kami nistjaija kami terlepas, aken tetapi kloe kami tiada kena sambit ia itoelah alamat djahat, nistjaija kami mati di boenoeh radja Zanzibar.“ Radja arab itoe lantas sambit itoe boeroeng aken tetapi salah, tiada kena. Maka kabetoelan djoestoe di waktoo itoe anak radja Zanzibar lagi bediri di blakang tembok itoe aken liat soldadoenja baris dan itoe toelang jang di pake aken njambil oleh radja arab, kena koepingnja itoe anak radja sampe keras loekanja. Barang pangeran Abrahah liat koepingnja itoe bertjoetjoeran darah maka dia lantas berseroeh, serta di titahkennja aken tjari taoe siapa telah soedah menjambit dengan itoe toelang. Orang masoek dalem itoe kebon dan lantas kedapetan radja arab jang menjambit, oleh kerna itoe dianja di bawa lagi mengadep radja Zanzibar. Abrahah tiada kenalin bekas toewannja sebab pakejannja begitoe doesoen. Boedak jang doeloe soeda djadi pangeran dan radja jang doeloe roepanja sekarang kaja boedak, djadi orang tiada kenalin satoe sama laen. Barang radja Zanzibar dapet liat anaknja berloemoeran darah, maka berkatalah ia pada orang jang di pendjara itoe: „Hei tjilaka, apakah engkau bikin sama anak kami jang tertjinta? Ini sekali tiada ada ampoenja, engkau misti mati, tadinja kami ada djoega nijat boewat kasi ampoen perboewatanmoe jang pertama, dan kami hendak pertjaija jang engkau tiada bersalah, aken tetapi sekarang telah njata jang engkau soenggoe sa-orang pemboenoeh. Apa engkau masih maoe menjangkal? jang engkau tiada sala? “ Djawabaja radja Arab: „Doeli sjahalam jang termasjhoer di antero doenia mendjadi radja adil, dan bijaksana, apakah doeli sjahalam hendak melanggar oendang-oendang jang Maha tinggi, tiadakah doeli sjalalam taoe hoekoem kisas? Kami meloekaken toewan pangeran poenja koeping kanan hingga ampir poetoes, djadi haroes di potong djoega kami poenja koeping jang kanan ia itoelah kisas namanja.“ Radja Zanzibar lantas berkata: „Baiklah di toeroet seperti bitjaramoe potong korpingnja orang itoe jang kanan.“<noinclude>{{rh||1338}}</noinclude> trjud1y7cjxb8snkov7dqxr1q5u4ucx Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/63 104 100640 290952 284025 2026-05-10T13:25:57Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290952 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Algodjo di soeroeh dateng. Aken tetapi koetika ia hendak djalanin hoekoeman itoe maka orang itoe tiada ada poenja koeping jang kanan tjoema bekas sadja. Radja Zanzibar lantas berkata: »Na, apakah tiada njata sekarang bahoewa engkau soenggoe sa-orang djahat? boekanlah itoe soewatoe tanda benar jang engkau soeda taoe dapet hoekoeman aken kadjahatanmoe? Kaloe tida, dimanalah engkau poenja koeping jang satoe itoe? Memang tentoe engkau biasa membangsat. Apabila radja Arah dengar bitjara radja Zanzibar demikian, hingga dianja tiada menahan maloenja, maka radja Arab lantas berkata: »Engkau salah sekali, aken berfikir dan aken berkata seperti tadi, kami ini boekan rampok, boekan pemboenoeh. Kami sekarang ini kapaksa aken mengakoe bahoewa karadja-an benoewa Arab, ia itoelah negri pemarentahan kami, dan dengan pendek kami bisa tjeritahken hal ichwal kami poenja koeping aken menjaksiken kabaran kami. Dianja lantas tjerita bagimana dia soeda brangkat belajar dari negrinja boewat tjari satoe boedak jang lari dari astananja. Dia pegi tjari boedak itoe sebab dia terlaloe tjinta sama itoe orang, abis dia tjerita bagimana kapalnja karem dan dianja sampe di ini negri Zanzibar, »Adapoen kami poenja koeping jang kanan,” katanja poela radja Arab, »poetoes sebab kami dapet tjilaka di waktoe memboeroe mendjangan. Itoe boedak jang kami tjari sekarang, dianja lah soedah kena panah kami poenja koeping sampe poetoes, aken tetapi kami soeda lama ampoenin kasalahannja jang tiada di sengadjanja.” Srenta abis tjerita ini maka Abrahah lantas bersoedjoǝd di hadepan toewannja jang lama, baroelah dia kenalin, itoe soewatoe tanda besar jang radja Arab tjerita sabenarnja. Radja Zanzibar lantas mengakoe salah, dan minta ma-af beriboe riboe kali dan di jakininja dari sekarang aken bikin segala roepa soepaja radja Arab bole bisa loepahken segala apa jang telah di perboewat bageinja. Ianja di bawa masoek kadalem astana, dia di brihken persalinan jang bagoes-bagoes dengan bebrapa ekor koeda dan bebrapa orang boedak. Sasoedahnja radja Arab tinggal bebrapa ari lamanja di kota Zanzibar, dan radja Zanzibar bikin rame-ramejan maka radja Arab brangkat poelang ka negrinja dengan di iring oleh bebrapa banjak pengiring. Maka perampoknja jang benar telah ketangkep dan di hoekoem. Bachtijar laloe berkata lagi: „Doeli sjahalam liat sendiri, kapan radja Arab doeloe tiada ampoenin boedaknja Abrahah, maka si boedak itoe poen tiada bisa kasi katerangan jang benar, aken toewannja djadi bebas dari pertoedoehan jang menjalahken padanja. Serta poela ka'oe radja Zanzibar telah djalani hoekoemannja radja Arab itoe sebab dia di doega djadi pemboepoehnja itoe toekang waroeng, maka selama-lamanja ia nanti dendem seselan di ati<noinclude>{{rh||1327|}}</noinclude> qvtrju7xpnywfqczsaxsnwazign4m35 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/151 104 100689 290960 285283 2026-05-10T13:28:47Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290960 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>Djawabnja Farek Serwar: »Ia doeli sjahalam hamba lantas bole oendjeekin itoe kapada doeli sjahalam sebab itoe kaloeng hambanja pake selama lamanja aken djadi soewatoe tanda peringatan bagi hamba poenja anak piara. Srenta ia bitjara begitoe maka ia lantas brihken itoe kaloeng kapada radja. Tiada salah, itoe kaloeng lantas di kenalin radja, ia itoelah kaloeng anaknja jang doeloe kapaksa ia tinggalin di pinggir kali. Radja serahken itoe kapada Mesrour aken di oendjoeken kapada ratoe, dan di titahkennja djoega Bachtijar misti di bawa di hadepannja. Apabila Bachtijar dateng maka radja lantas berlompat boeroe anaknja teroes di pelok di tjioemnja sembaring menangis. Bachtijar djadi heran tiada taoe apa artinja hal ini, ianja bersoedjoed tiada bisa berkata kata. Radja sendiri boeka rante rantenja jang djadi pengikat anak itoe abis Bachtijar di pake-innja pakejan karadja-an. Mesrour seraken itoe kaloeng kapada iatoe maka ratoe poen lantas kenalin ia itoelah kaloeng anaknja jang dia pake-in koetika ia terboeroe boeroe misti lari bersama sama soewaminja. Dengan amat sedinja ia bertanja pada Mesrour, pendjaga harem, siapakah brihken dia ini kaloeng. Koetika Mesrour bilang bahoewa radja sendiri brihken dia kaloeng itoe, maka lantas ratoe pegi ketemoe-in soewaminja. Barang sampe di hadepan radja maka katanja: Doeli sjahalam inilah kaloengaja kita poenja anak, kabar apakah doeli sjahalam dapet dari dia?” Djawabnja Asad Bacht: »Apa itoe dia sendiri,” sambil di toentoennja Bachtijar mengadap permeisoeri radja. Maka Bachtijar djadi terlebi heran koetika di dengarnja radja berkata kapada isterinja: »Ini dialah kita poenja anak jang kapaksa kita tinggalin di oetan balantara Kerman!” Ratoe tjioem sama Bachtijar sembari menangis, dan di peloknja seperti tiada hendak di lepasnja lagi. Itoe sepoeloe wasir jang dateng sebentar bentar memboedjoek radja aken boenoeh sama Bachtijar lantas di gantoeng. Asad Bacht tiada sebrapa lama lagi brenti djadi radja dan anaknja di angkat djadi gantinja. Sekalian pembesar negri padą dateng bersoempah kasatija-an di tangan radja baroe dan bebrapa hari lamanja orang berame rame-an. Farek Serwar di angkat djadi ferdana manteri maka ia djalanken kawadjibannja sebagimana misti. Teman-temannja poen di brihken oepahan. Maka Bachtijar memarentahken negri bebrapa taon lamanja dengan adil, arif dan bidjaksana serta besar kasiannja pada fakir dan miskin. {{c|______}}<noinclude>{{rh||1369}}</noinclude> 8500j79eh3d7jxqcehsbr3ke0qjdqkf Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/269 104 100700 290966 281247 2026-05-10T13:31:13Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290966 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM||}}</noinclude>{{hwe|garan|kedeugaran}} soewara orang menggetok pintoe maka Ala Eddin lantas terprandjat sambil berkata pada isterinja: ,Ja isteri jang sanget koe tjinta, kanda rasa, tiada bole orang laen dateng menggetok pintoe di ini waktoe, malaenken adinda poenja orang toewa bersama penggawe hoekoem jang di adjaknja dateng ke. mari boewat paksaken kakanda bertjere dari pada adinda Zobaida." Katanja Zobaida : ,Tjobalah kanda pegi liat siapa itoe.” Dengan ati berat ia berdjalan kaloewar memboeka pintoe roemah. Maka sanget keras berannja koetika di liatnja mertoewanja berdjalan kaki bersama sama satoe boedak orang Habesi jang toenggang kalde. Adapoen terlebi sanget keras poela kagetnja barang di liatnja boedak itoe berlompat toeroen dari kandarannja apabila si boedak dapet liat sama Ala Eddin, abis si boedak teroes dateng bersoedjoed pegang tangannja Ala Eddin laloe di tjioemnja. Ala Eddin teroes tanja padanja : ,Apa engkau maoe?" Djawabnja itoe boedak : ,Toewan, hamba ini sabaijanja toewan Ala Eddin Aboe Chamat, anaknja Schemseddin kepala soedagar dari Kairo . Ajandanja hamba poenja toewan titahken hamba aken serahken soerat ini kapada toewan hamba Ala Eddin Aboe Chamat." Sambil bersembah demikian maka boedak itoe trimahken satoe soerat kapada Ala Eddin, maka ia ini boeka laloe di batjanja itoe soerat: ''Soerat Schemseddin, kepala soedagar di Kairo kapada anaknja Ala Eddin Aboe chamat jang sanget tertjinta.'' {{c|''SALAM ALAIKOEM!''}} ''Baroesan ini kami dapet dengar kabar jang amat sedih, ia itoe anakda telah di pegal rampok. Di koetika itoe sekalian orang jang anterken pada anakda telah mati terboenoeh rampok, maka anakda abis di rampas sekalian barang dan oewangnja. Aken telapi djanganlah soesah' baik hiboerken atimoe, bersama sama ini ajanda kirimken lima poeloe peti barang jang laen dari pada ajanda poenja goedang, termoewat atas lima poeloe koeda bagal dan onta serta saloe pakejan baroe, satoe doelang emas dan satoe djambangan ketjil; barang moe telah di rampas itoe baiklah di sama - in seperti oewang pembeli djiwa anakda. Bondamoe dan sekalian orang di dalem roemah ada dalem sehat walafiat serta di sampeken djoega salam doanja pada anaknja. Laen dari pada itoe, maka kami dapet dengar djoega bahoewa anakda telah soeda di nikahken kapada sa-orang perampoewan moeda jang bernama Zobaida, maka dengan djandji aken tlalak poela padanja, serta aken kepaksa boewat bertjere itoe maka engkau soeda di soeroeh bikin soerat perdjandjian aken membajar oewang mahr (mas kawin ) sepoeloe riboe dinar emas banjaknja. Kami serahken ini lima poeloe riboe dinar emas kapada boedakmoe Selim jang dapet di pertjaija maka ia itoelah bakalan terima-in Gewang itoe kapada moe, anak, bersama -sama sekalian barang perniaga - an'' {{block right|align=center|SCHEMSEDDIN.}}<noinclude>{{rh||1426||}}</noinclude> 3ikkg2jsvyu1znsehuzxaowlyv3ckcl Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/271 104 100702 290967 281271 2026-05-10T13:31:17Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290967 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM||}}</noinclude>Apabila Ala Eddin soeda abis batja ini soerat, maka ia berbalik memandang mertoewanja sambil berkata : ,Trimalah oewang sepoeloe riboe dinar emas itoe aken djadi emas kawinnja Zobaida menoeroet perdjandjian abis djoewal sekalian barang-barang jang ada di bawa itoe maka pendapetannja toewankoe bole ambil bagi toewan sendiri.” Ajandanja Zobaida merasa banjak trima kasih bagi mantoenja adapoen ianja tiada maoe sia-sia kamoerahan ati mantoenja dari itoe ianja berkata : ,Ala Eddin, kami ini tiada bole trima pengasih moe adapoen kami sanget girang meliat besar begitoe pengasihmoe pada kami. Mas kawin itoe, Zobaida jang poenja, dialah haroes trima maka engkau berdoewa bole pake oewang itoe sakahendakmoe berdoewa laki isteri. Sedang Ala Eddin bersama- sama mertoewanja lagi simpan barang-barang jang baroe di trima ini, maka bertanja Zobaida pada ajandanja siapa poenja barang-barang ini. Djawab ajandanja: ,Sekalian itoe Ala Eddin, soewamimoe jang ampoenja. Dia poenja orang toeah kirimken itoe padanja aken djadi soewatoe pengganti karoegiannja koetika ianja di rampok orang Badoei. Laen dari barang -barang itoe maka ia di kirimi oewang lima poeloe riboe dinar emas beserta pakejan satoe prangkat, doelang emas dengan djambangan ketjil. Engkaulah berdoewa laki isteri bole pake sekalian itoe sebagimana di kahendaki oleh moe.” Koetika barang-barang lima poeloe bandalan itoe soeda di simpan baik-baik maka Ala Eddin boeka itoe peti jang terisi oewang lima poeloe riboe dinar emas jang di serahkennja sama sekali kapada Zobaida. Misannannja Zobaida jang doeloe djadi soewaminja mendjadi bingoeng tiada taoe apa aken di bikin. Dia dapet dengar segala halnja Ala Eddin dengan oewang dan barang -barang sebegitoe banjak, maka ilanglah sekalian pengharepannja aken dapet kombali Zobaida djadi isterinja , ia pegi tanja pada bekas mertoewanja bagimana halnja apa masih bole dia dapet Zobaida djadi isterinja apa tida, boleh Ala Eddin di paksa aken bertjeree. Maka djawaboja bekas mertoewanja: ,Sekarang soeda tida bole sama sekali, sebab oendang-oendang sekalipoen memperlindoengken sama Ala Eddin jang telah sampeken djandjinja menoeroet soerat jang di bikinnja.” Oleh kerna djawabpja ajanda Zobaida sademikian ini maka di rasanja bekas soewaminja Zobaida itoe seperti atinja tertjaboet dari dalem dada. Ianja poelang karoemah dan tiada sebrapa lama lagi ia meninggal bahna terlaloe sakit atinja . Abis mertoewanja poelang karoemah maka Ala Eddin pegi ka pasar aken beli apa-apa jang perloe di pakenja boewat makan minoem seperti semalem. Barang ia sampe di roemah maka katanja pada Zobaida: ,Apa jang kami rasa soenggoe benarlah djadinja, tiada salah soewatoe apa. Derwisj jang dateng-dateng itoe tjoema pembohong dan pendjoesta besar, jang soeda<noinclude>{{rh||1427}}</noinclude> k0vsdn98oi3jwmta9ltjwnk5vdv64s7 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/277 104 100729 290969 281526 2026-05-10T13:31:28Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290969 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM||}}</noinclude>Wasir Giafar berkata : »Nah kaloe maoe taoe dari mana itoe barang-barang dateng, nanti kami jang bilang. Itoe semoewa di soeroeh kirimi pada toewankoe, oleh toewan Kalief sendiri. Emir al moeminin sendiri telah titahken aken bawa barang-barang dan oewang itoe kapada toewankoe. ianja terlaloe soeka sama toewankoe.” Koetika kalief masoek kombali, sasoedahuja Ala Eddin dapet taoe betoel doedoeknja ini perkara, maka ianja lantas bersoedjoed pelok kakinja Kalief Haroen al Rasjid aken mengoedjoeki terimah kasinja. Kalief soeroeh Ala Eddin bediri, maka di mintanja poela pada Ala Eddin biar Zobaida kasi dengar lagi sekali soewaranja seperti balesnja atas kaba ikan jang telah di oendjoekin oleh kalief pada kadoewa laki istrinja. Zobaida jakinin sabole-bole aken toeroet sebagimana di permoehoennja toewan Kalief. Isterinja Alah Eddin lantas ambil ketjapinja laloe ia bernjanji dengan soewara jang amat merdoe terlebi sedap dari jang soeda-soeda. Toewan Kalief tiada poeas dengarin soewaranja Zobaida begitoe. Ampir antero malem toewan kalief tinggal di roemahnja Ala Eddin maka pada waktoe ia poelang maka toewan kalief titabken Ala Eddin dateng ka astana kalief pada esokan hari . Besok pagi Ala Eddin lantas pegi ka baleiroeng astana kalief, dengan berpakejan endah-endah dan teriring oleh doewa belas boedak jang membawa masing- masing soewatoe bingkisan. Setelah ia masoek maka Ala Eddin bersoedjoed menjioem boemi, koetika ia bangoen berdiri maka ia seboetken bebrapa poedjian pada Kalief jang di hadapi oleh sekalian penggawei, pembesar astana. Katanja : » Biar apalah kiranja Allah jang Maha Koewasa memberkatken kamadjoewan dan kama.moeran pada doeli toewankoe, soepaja bertamba-tamba poela kamashoeran doeli sjah alam dari masjrik sampe pada magrib. Maka siapa djoega jang tiada mentjintai doeli sjah alam biarlah ia tiada berselamat. Biar apalah kiranja doeli sjah alam beroentoeng, fikirannja terang selama lamanja, adapoen moesoeh doeli toewankoe biar katimpah malang tiada selamat." Setelah soeda berkata demikian maka Ala Eddin moehoenken toewan Kalief kaloe soedi aken trima persembahan boedaknja jang laif. Toewan Kalief trima sama Ala Eddin dengan manis bahasa dan sekalian persembahan Ala Eddin poen di trima dengan segala soeka ati, abis Kalief titahken Ala Eddin di pake-i pakejan kahormat-an serta di angkat dia djadi kepala soedagar di Bagdad maka kerna pangkat itoe ianja misti toeroet doedoek di divan masjawarat besar. Di koetika itoepoen Ala Eddin poenja mertoewa dateng. Sampe pada ini waktoe maka ia itoe djadi kepala dari soedagar adapoen koetika ia {{hws|ma|masoek}}<noinclude>{{rh||1430||}}</noinclude> p1zae4agsfh4cxk1v8fyrlzuqyyirjh Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/279 104 100742 290970 281513 2026-05-10T13:31:34Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290970 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM||}}</noinclude>{{hwe|soek|masoek}} maka di liatnja dia poenja mantoe soeda tempati kadoedoekan jang biasa di doedoeki kepala soedagar serta lagi mantoenja berpake pakejan kahormatan. Djadi mertoewanja Ala Eddin itoe bermoehoen menanja pada toewan Kalief, apakah artinja Ala Eddin tempati tempat doedoeknja kepala soedagar. Djawabnja Kalief : »Baroesan ini kami telah angkat Ala Eddin djadi kepala soedagar. Sebab pangkat itoe tiada di brihken boewat sa-oemoer idoep kapada sa -orang penggawei, maka sekarang kami fikir baik engkau di lepas dari pada pangkatmoe!" Katanja orang toewa jang soeda beroeban itoe : » Sjoekoer, benarlah dan adil perboewatan doeli sjah alam . Kahormatan jang telah di peroleh hambanja poenja mantoe tentoe djato djoega di atas badan hambanja. Pilihan doeli jang di pertoewan telah di oendjoeki oleh jang Maha Koewasa. Biar bagimana hina poen, djikaloe di kahendaki jang Maha Moelia maka ia itoelah berpangkat tinggi. Brapa kali telah kedjadian bahoewa orang jang kemaren di hinaken, dapet di hormati pada ka esokannja!" Kalief memang soeroeh bikin firman sendirian aken pembrihan pang. katnja Ala Eddin, maka di titahken sekarang olehnja aken maloemken firman itoe di koeliling negri oleh hakim. Maka hakim ini serabken firman jang aken di maloemken itoe kapada orang pengawe jang ketjilan. Ini pengawe moelai berseroe di madjelis divan masjawarat baboewa sekarang ini Ala Eddin Aboe chamat soedah di angkat djadi kapala soedagar di Bagdad dan siapa djoega wadjib dengar dan kenal serta hormati padanja sebagimana patoet menoeroet pangkatnja. Di waktoe malem koetika abis bermasjawarat maka kepala hakim berdjalan koeliling dengan di doeloei oleh toekang poekoel bende dan di iring oleh bebrapa orang. Di mana podjok-podjokan djalau toekang poekoel bende itoe berseroe aken kasi taoe titah radja bahoewa toewan Kalief telah angkat Ala Eddin Aboechamat djadi kepala soedagar di Bagdad maka dari ini waktoe barang siapa djoega wadjib akoeken dia dan hormati dianja itoe sebagi mana patoet menoeroet pangkatnja. Pada ka esokan hari maka Ala Eddin boeka satoe toko besar dan sa-orang boedaknja di djadiken toekang djaga toko itoe. Ia sendiri tjoema misti toeroet berhadlir di madjelis masjawarat besar. Sekali prestiwa pada soewatoe hari, kabeloelan di waktoe ia pegi ka madjelis masjawarat maka dateng sa-orang pengawe astana kasi taoe pada radja bahoewa sa -orang kepala bitjara karadja-an telah mati mendadak. Toewan Kalief lantas soeroeh Ala Eddin dateng menghadap abis di soeroeh dia itoe pake kaftan serta di brihkennja pangkat itoe jang baroe terboeka sebab kamatiannja penggawe itoe. Blandjanja satoe boelan seriboe dinar emas banjaknja. Ala Eddin semangkin naik pangkat dan semangkin di soekai oleh Kalief. Pada soewatoe hari sedang Ala Eddin ada di madjelis {{hws|masja|masjawarat}}<noinclude>{{rh||1431||}}</noinclude> 1xr6khb93fc2km92khjccwuog22re9p Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/287 104 100750 290973 281343 2026-05-10T13:31:53Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290973 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{rh||1001 MALAM}} di kasi ingat pada isterinja dan ianja koewatir sekali dari sebab Besasa orang amat djelek lagi bodo, nistjaija tiada ada satoe orang jang maoe ambil mantoe padanja lagi satoe perampoewau moeda poen tentoe tiada hendak bersoewami orang seperti Besasa. Chatoun berkata bahoewa soenggoe benarlah seperti bitjara soewaininja, dari itoe baiklah aken tjariken satoe boedak perampoewan sadja aken djadi isterinja Besasa. Kabetoelan sekali di bari ferdana manteri bersama-sama Ala Eddin pegi ka pasar boedak aken membeli satoe boedak perampoewan, maka Emir Chalid bersama-sama anaknja poen djoega ada di pasar itoe dengan ingat aken membeli boedak. Koetika marika itoe sampe maka djoestoe sa-orang toekang djoewal boedak lagi berseroe aken memoedjiken boedakuja jang hendak di djoewalnja. Itoe boedak terlampau elok dan tjantik, langsing dan lemes serta moeda. Setelah wasir Giafar dapet liat ini boedak anak perampoewan maka di fikirnja inilah baik boewat Ala Eddin, dari itoe Giafar lantas tawarken seriboe dinar emas boewat itoe boedak. Koetika Emir Chalid liwat di sitoe bersama-sama anaknja Habdaloem Besasa, maka Besasa ini lantas djato tjinta sanget pada itoe perampoewan Ianja minta keras pada ajandanja aken beliken itoe boedak boewat dianja. Emir Chalid lantas tanja pada si tengkoelak boedak siapakah namanja ini boedak. Orang itoe bilang bahoewa namanja boedak itoe si Menoer dan soeda ada orang jang tawarken seriboe dinar emas. Setelah Chalid dapet dengar ini maka ia berpaling memandang anaknja serta berkata kaloe engkau soeka maoe beli ini boedak perampoewan baiklah engkau tawarken lebi tinggi sebab ia soeda di tawar orang seriboe dinar emas. Habdaloem lantas tawar lima pocloe dinar emas lebi tinggi. Ferdana manteri Giafar tawarken doewa riboe dinar emas maka Habdaloem Besasa naikin lagi lima poeloe dinar emas. Tiap-tiap kali Besasa naikin tawarannja maka Giafar djoega tawarken lebi tinggi lagi. Habdaloem Besasa sanget marah jang ada orang laen brani tawar lebi tinggi dari tawarannja maka itoe dia kepingin taoe namanja orang jang melawan tawarannja. Tengkoelak toekang djoewal boedak itoe laloe berkata: ,,Jang menawar, ia itoe ferdana manteri Giafar, ia maoe beli ini boedak boewat Ala Eddin Aboechamat." Giafar di itoe waktoe tawarken sepoeloe riboe dinar emas djadi ialah jang dapet laloe harga itoe di bajar pada jang poenja boedak. Apabila Ala Eddin dapet ini boedak maka lantas ia bikin merdika serta di nikahnja di bawa ka dalem roemah. Sasoedahnja tengkoelak toekang djoewal boedak itoe dapet oepahannja maka ia pegi ketemoei-in Emir Chalid serta di kasi taoe padanja bahoewa boedak itoe soedah di beli oleh Giafar boewat Ala Eddin, dengan harga<noinclude>{{rh||1435}}</noinclude> 5frwdhq1ba776tb2posz9e6qzbz2we4 Halaman:Awas!.pdf/78 104 100820 291010 283114 2026-05-10T13:37:20Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291010 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||76}}</noinclude>te doen stilhouden en de in artikelen 6 sub 2e en 3e bedoelde nummer~ en rijbewijzen of het in artikel 9 bedoeld rijbewijs te vertoonen.<br> <br>'''Idem tot het verleenen<br>van toegang tot het rijtuig.''' (2) Op gelijke wijze is de eigenaar, houder of bestuurder van een motorrijtuig verplicht aan bedoelde ambtenaren of beambten toegang tot het rijtuig te verschaffen, hun bewijs te leveren van de deugdelijkheid van stuur~, rem~ en geluidtoestellen, hem in te lichten omtrent het gewicht en te gedoogen dat zij gewicht en afmetingen, alsmede nummer en letter of buitenlandsch kenteeken onderzoeken.<br> {{right|Het in het rijtuig plaats nemen tot verder onderzoek is feitelijk het werk van technisch<br> onderlegd personeel. Slechts in de uiterste gevallen zal zulks voor den politieman noodig zijn.<br> In het belang van een onbelemmerd verkeer dient hier de politie tactvol op te treden.<br>Omgekeerd zal de automobilist de optredende politie prompt in de gelegenheid hebben te stellen<br>haar plicht te doen, doch hij zal zich, alvorens hij toestaat, dat de politie-ambtenaar of- beambte<br>voor dit onderzoek het motorrijtuig zelf bestuurt, ervan dienen te overtuigen,<br>dat deze ambtenaar of beambte in het bezit is van een rijbewijs als bedoeld in artikel 6 sub 3e.}} {{c|'''Artikel 26.'''}} '''Aansprakelijkheid voor de overtredingen.'''<br> Voor overtreding van eenig gebod of verbod gesteld bij of krachtens de artikelen 3, 5, 6, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21 ,22, 23, 24 en 25 zijn aansprakelijk de bestuurders der motorrijtuigen en <ol style="list-style-type: lower-alpha; font-style: italic; margin-left:1em"> <li><span style="font-style: normal;">voor zooveel betreft de artikelen 3, 5, 6, onder le en 2e, 13, 19, 20, 2 1 , lid 2, 23, 24 en 25, tweede lid, de eigenaar of houder die in strijd met eenig bij of krachtens deze bepalingen gesteld gebod of verbod doet of laat handelen;</span></li> <li><span style="font-style: normal;">voorzooveel betreft artikel 21 , lid 1, de eigenaar of houder die in strijd met deze bepaling het motorrijtuig zich opeen weg doet of laat bevinden.</span></li> </ol><noinclude></noinclude> 5gvug41yi0vmdv8uhbhedwwi77k4b05 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/509 104 100821 291434 282052 2026-05-11T00:52:02Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ ada lebih dari 3 kesalahan ejaan 291434 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" />{{rh||1001 MALAM||}}</noinclude>Setelah ianja sampe lagi di benoewa Persie, maka ia soeroe panggil poelang sekalian orang-orang itoe jang soeroeh pegi tjari radja Beder, pada marika itoe Gulnare kataken, bahoewa ia soeda taoe kamana radja Beder pegi nanti tiada sebrapa lama lagi radja Beder poelang kombali. Selamanja radja Beder tida ada, maka Gulnare jang memerentahken negri bersama-sama ferdana manteri dan di antero negri di maloemkennja, bahoewa radja Beder pegi boewat sedikit tempo. Begitoelah benoewa Persie di prentah oleh Gulnare dengan senang dan tiada koerang apa-apa, betoel sama sadja seperti masih ada radja. Alkaesah, maka di tjeritahken, bahoewa radja Beder sanget masgoel meliat dirinja di tjipla djadi boeroeng. Maka ia terlebi bersakit ati lagi, sebab dia tiada taoe dimana poen dia ada dan kamana djoeroesannja aken pegi ka negri Persie. Lagipoen kendati dia taoe dimana toedjoenja benoewa Persie, apakah dia sanggoep terbang begitoe djaoe melanggar laoetan aken sampe di Persie, maka kaloe ia sampe di sana sekalipoen, masih tiada goenanja, sebab orang nistjaija tiada nanti kira, bahoewa boeroeng itoe sabetoelnja manoesia, istimewa poela orang bisa doega ia itoelah radja Persie. Kerna itoe, maka ianja kapaksa aken tinggal berdiam di mana dia ada sekarang, dan lagi dia kapaksa djoega boewat toeroet idoep, seperti boeroeng-boeroeng laen di atas poehoen dan makanannja poen seperti boeroeng di oetan. Hata maka bebrapa hari radja Beder seperti boeroeng bajan poeti idoep di dalem oetan. Abis ada sa-orang pendjirat boeroeng dateng di itoe tempat aken pasang djiratoja. Setelah orang itoe dapet liat ini bajan poeti, maka sanget birahinja aken dapet menangkep boeroeng itoe. Djadi dia jakinin betoel aken pasang djiratnja, soepaija misti kena di tangkepnja boeroeng itoe. Beroentoeng soenggoelah ia kena tangkep itoe bajan poeti jaug begitoe bagoesnja, nistjaija ka oentoengannja terlebi banjak lagi dari mendjoewal boeroeng-boeroeng jang sari-sari, dari itoe dia bikinin koeroengan jang endah-endah, aken di boewat tempatnja itoe boeroeng bajan. Pada soewatoe hari ia bawa boeroeng itoe ka kota dengan koenoengannja. Satelah sampe di pasar, maka ada sa orang tani dateng menanja dia, brapa hendaknja mendjoewal boeroeng itoe. Boekannja si toekang boeroeng bilang sebrapa dia maoe djoewal boeroeng itoe, hanja dia tanja orang itoe apa engkau maoe bikin sama ini boeroeng, kaloe soeda dia dapet beli. Djawabnja orang jang hendak membeli: Sobatkoe, apakah laen goenanja membeli boeroeng, djikaloe boekan boewat di makan. Kapan akoe dapet beli boeroeng itoe, maka akoe soeroe potong boewat di goreng dan di makan." Wah! kaloe engkau maoe beli boewat di makan, masa engkau brani beli mahal, tentoe doewa-tiga keping engkau maoe bajarken, sebab-kaloe engkau beli mahal-mahal boewat di makan sama djoega engkau makan<noinclude>{{rh||1539}}</noinclude> 2hxmwdzrajpzcu2pbcxy306f1acic6j 291982 291434 2026-05-11T10:55:51Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 291982 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" />{{rh||1001 MALAM||}}</noinclude>Setelah ianja sampe lagi di benoewa Persie, maka ia soeroe panggil poelang sekalian orang-orang itoe jang soeroeh pegi tjari radja Beder, pada marika itoe Gulnare kataken, bahoewa ia soeda taoe kamana radja Beder pegi nanti tiada sebrapa lama lagi radja Beder poelang kombali. Selamanja radja Beder tida ada, maka Gulnare jang memerentahken negri bersama-sama ferdana manteri dan di antero negri di maloemkennja, bahoewa radja Beder pegi boewat sedikit tempo. Begitoelah benoewa Persie di prentah oleh Gulnare dengan senang dan tiada koerang apa-apa, betoel sama sadja seperti masih ada radja. Alkaesah, maka di tjeritahken, bahoewa radja Beder sanget masgoel meliat dirinja di tjipla djadi boeroeng. Maka ia terlebi bersakit ati lagi, sebab dia tiada taoe dimana poen dia ada dan kamana djoeroesannja aken pegi ka negri Persie. Lagipoen kendati dia taoe dimana toedjoenja benoewa Persie, apakah dia sanggoep terbang begitoe djaoe melanggar laoetan aken sampe di Persie, maka kaloe ia sampe di sana sekalipoen, masih tiada goenanja, sebab orang nistjaija tiada nanti kira, bahoewa boeroeng itoe sabetoelnja manoesia, istimewa poela orang bisa doega ia itoelah radja Persie. Kerna itoe, maka ianja kapaksa aken tinggal berdiam di mana dia ada sekarang, dan lagi dia kapaksa djoega boewat toeroet idoep, seperti boeroeng-boeroeng laen di atas poehoen dan makanannja poen seperti boeroeng di oetan. Hata maka bebrapa hari radja Beder seperti boeroeng bajan poeti idoep di dalem oetan. Abis ada sa-orang pendjirat boeroeng dateng di itoe tempat aken pasang djiratnja. Setelah orang itoe dapet liat ini bajan poeti, maka sanget birahinja aken dapet menangkep boeroeng itoe. Djadi dia jakinin betoel aken pasang djiratnja, soepaija misti kena di tangkepnja boeroeng itoe. Beroentoeng soenggoelah ia kena tangkep itoe bajan poeti jaug begitoe bagoesnja, nistjaija ka oentoengannja terlebi banjak lagi dari mendjoewal boeroeng-boeroeng jang sari-sari, dari itoe dia bikinin koeroengan jang endah-endah, aken di boewat tempatnja itoe boeroeng bajan. Pada soewatoe hari ia bawa boeroeng itoe ka kota dengan koeroengannja. Satelah sampe di pasar, maka ada sa orang tani dateng menanja dia, brapa hendaknja mendjoewal boeroeng itoe. Boekannja si toekang boeroeng bilang sebrapa dia maoe djoewal boeroeng itoe, hanja dia tanja orang itoe apa engkau maoe bikin sama ini boeroeng, kaloe soeda dia dapet beli. Djawabnja orang jang hendak membeli: »Sobatkoe, apakah laen goenanja membeli boeroeng, djikaloe boekan boewat di makan. Kapan akoe dapet beli boeroeng itoe, maka akoe soeroe potong boewat di goreng dan di makan.” »Wah! kaloe engkau maoe beli boewat di makan, masa engkau brani beli mahal, tentoe doewa-tiga keping engkau maoe bajarken, sebab-kaloe engkau beli mahal-mahal boewat di makan sama djoega engkau makan<noinclude>{{rh||1539}}</noinclude> b3m6p6zd3o5tnlkr737f3as708jnlv4 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/513 104 100826 291439 283513 2026-05-11T01:01:17Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291439 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Barang permeisoeri dapet liat itoe boeroeng, maka ratoe lantas toetoep moekanja sama kaen toetoep moekanja dan ia maoe pegi lagi. Radja baginda meliat sademikian mendjadi sanget heran, sebab tiada laen, melaeken perampoewan-perampoewan sadja di sitoe, mengapa ratoe misti toetoepin moekanja. Radja laloe bertanja kenapa begitoe. Maka djawanja permeisoeri ratoe: »Doeli sjah alam tentoe tiada nanti heran, djikaloe doeli sjah alam taoe, bahoewa boeroeng itoe boekannja boeroeng soenggoe, seperti di kira oleh sjah alam, adapoen boeroeng itoe manoesia adanja.” Radja mendjadi terlebi heran lagi, maka katanja: »Adinda, djanganlah memaen-maen; bagimana bole djadi satoe boeroeng bole djadi manesia?” Ratoe berkata: »Demi Allah, kami minta maaf pada doeli sjah alam, kami ini tiada sekali-kali ada bernijat aken memaen. Apa jang kami kataken soenggoe benar adanja; ini boeroeng boekan orang laen, ia itoe lah radja Persie jang bernama Beder. Dia itoe anaknja poeteri Gulnare, jang termashoer anak posteri dari keradja-an di dalem laoet, jang paling besar, nini andanja radja Beder, ia itoelah ratoe Farasche, iboeoja Galuare, dan ralja Saleh. Jang membikin radja Beder djadi roepa boeroeng, ia itoe posteri Gisuhare anaknja radja Samandal.” Soepaja radja bagioda djangan koerang pertjaija lagi, maka ratoe tjeritahken segala hal ichwal kenapa dan apa sebabnja poeteri Giauhare sam pemembales begitoe djabat pada radja Beder, tjoema aken membales perboewatan djahat jang telah di bikin oleh radja Saleh kapada radja Samandal. Radja lantas perjaija apa jang isterinja itoe tjerita, sebab radja taoe, bahoewa isterinja itoe pande sekali dalem ilmoe sahir dan tiada ada barang rabasia terdjadi, jang ianja tiada taoe, sahingga radja sakalipoen sering dapet toeloengan dari isterinja, aken mentjegah nijat djabatnja dia poenja moesoeh, sebab apabila radja radja di batas ada nijat jang tiada baik, maka isterinja lantas dapet taoe lebi doeloe, dan ia adjari soewaminja bagimana mentjegah hal itoe. Maka radja berkasian soenggoe sama radja Beder, dari itoe ianja minta isterinja toeloeng bikin radja Persie beroepa manoesia lagi; »Baiklah,” berkata ratoe, tetapi doeli sjah alam bawa doeloe ini boeroeng ka dalem kamar, nanti tiada sebrapa lama lagi, maka kami djadiken dia manoesia poela, ia itoe radja jang haroes di hormati. Radja tiada oesah soesah-soesah menangkep itoe boeroeng, sebab bajan itoe terbang sendiri ka dalem kamar. Kamoedian ratoe dateng dengan membawa djambangan terisi aer. Lantes ratoe batja-in aer di dalem djam bangan itoe, hingga mendidi seperti di masak. Setelah soeda, maka di tjiprattin aer itoe pada itoe boeroeng sambil ratoe berkata: »Dengan kodrat koewasa-in aer penawar biarlah boeroeng poelang asalnja dan manoesia beroepa manoesia, sebagimana roepamoe di brihken oleh Allah jang maha koewasa.”<noinclude>{{rh||1541|}}</noinclude> ei39g03t2rn7xds2v3f35lzcl7rwir2 291453 291439 2026-05-11T01:16:33Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291453 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Barang permeisoeri dapet liat itoe boeroeng, maka ratoe lantas toetoep moekanja sama kaen toetoep moekanja dan ia maoe pegi lagi. Radja baginda meliat sademikian mendjadi sanget heran, sebab tiada laen, melaeken perampoewan-perampoewan sadja di sitoe, mengapa ratoe misti toetoepin moekanja. Radja laloe bertanja kenapa begitoe. Maka djawanja permeisoeri ratoe: »Doeli sjah alam tentoe tiada nanti heran, djikaloe doeli sjah alam taoe, bahoewa boeroeng itoe boekannja boeroeng soenggoe, seperti di kira oleh sjah alam, adapoen boeroeng itoe manoesia adanja.” Radja mendjadi terlebi heran lagi, maka katanja: »Adinda, djanganlah memaen-maen; bagimana bole djadi satoe boeroeng bole djadi manesia?” Ratoe berkata: »Demi Allah, kami minta maaf pada doeli sjah alam, kami ini tiada sekali-kali ada bernijat aken memaen. Apa jang kami kataken soenggoe benar adanja; ini boeroeng boekan orang laen, ia itoe lah radja Persie jang bernama Beder. Dia itoe anaknja poeteri Gulnare, jang termashoer anak posteri dari keradja-an di dalem laoet, jang paling besar, nini andanja radja Beder, ia itoelah ratoe Farasche, iboeoja Galuare, dan ralja Saleh. Jang membikin radja Beder djadi roepa boeroeng, ia itoe posteri Gisuhare anaknja radja Samandal.” Soepaja radja bagioda djangan koerang pertjaija lagi, maka ratoe tjeritahken segala hal ichwal kenapa dan apa sebabnja poeteri Giauhare sam pemembales begitoe djabat pada radja Beder, tjoema aken membales perboewatan djahat jang telah di bikin oleh radja Saleh kapada radja Samandal. Radja lantas perjaija apa jang isterinja itoe tjerita, sebab radja taoe, bahoewa isterinja itoe pande sekali dalem ilmoe sahir dan tiada ada barang rabasia terdjadi, jang ianja tiada taoe, sahingga radja sakalipoen sering dapet toeloengan dari isterinja, aken mentjegah nijat djabatnja dia poenja moesoeh, sebab apabila radja radja di batas ada nijat jang tiada baik, maka isterinja lantas dapet taoe lebi doeloe, dan ia adjari soewaminja bagimana mentjegah hal itoe. Maka radja berkasian soenggoe sama radja Beder, dari itoe ianja minta isterinja toeloeng bikin radja Persie beroepa manoesia lagi; »Baiklah,” berkata ratoe, tetapi doeli sjah alam bawa doeloe ini boeroeng ka dalem kamar, nanti tiada sebrapa lama lagi, maka kami djadiken dia manoesia poela, ia itoe radja jang haroes di hormati. Radja tiada oesah soesah-soesah menangkep itoe boeroeng, sebab bajan itoe terbang sendiri ka dalem kamar. Kamoedian ratoe dateng dengan membawa djambangan terisi aer. Lantes ratoe batja-in aer di dalem djam bangan itoe, hingga mendidi seperti di masak. Setelah soeda, maka di tjiprattin aer itoe pada itoe boeroeng sambil ratoe berkata: »Dengan kodrat koewasa-in aer penawar biarlah boeroeng poelang asalnja dan manoesia beroepa manoesia, sebagimana roepamoe di brihken oleh Allah jang maha koewasa.”<noinclude>{{rh||1541|}}</noinclude> 3bj09k7p3sctionrm32me47dn1yaku1 291461 291453 2026-05-11T01:25:00Z Aeia aai 24023 291461 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Barang permeisoeri dapet liat itoe boeroeng, maka ratoe lantas toetoep moekanja sama kaen toetoep moekanja dan ia maoe pegi lagi. Radja baginda meliat sademikian mendjadi sanget heran, sebab tiada laen, melaeken perampoewan-perampoewan sadja di sitoe, mengapa ratoe misti toetoepin moekanja. Radja laloe bertanja kenapa begitoe. Maka djawabnja permeisoeri ratoe: »Doeli sjah alam tentoe tiada nanti heran, djikaloe doeli sjah alam taoe, bahoewa boeroeng itoe boekannja boeroeng soenggoe, seperti di kira oleh sjah alam, adapoen boeroeng itoe manoesia adanja.” Radja mendjadi terlebi heran lagi, maka katanja: »Adinda, djanganlah memaen-maen; bagimana bole djadi satoe boeroeng bole djadi manesia?” Ratoe berkata: »Demi Allah, kami minta ma-af pada doeli sjah alam, kami ini tiada sekali-kali ada bernijat aken memaen. Apa jang kami kataken soenggoe benar adanja; ini boeroeng boekan orang laen, ia itoe lah radja Persie jang bernama Beder. Dia itoe anaknja poeteri Gulnare, jang termashoer anak poeteri dari keradja-an di dalem laoet, jang paling besar, nini andanja radja Beder, ia itoelah ratoe Farasche, iboenja Gulnare, dan ralja Saleh. Jang membikin radja Beder djadi roepa boeroeng, ia itoe poeteri Giauhare anaknja radja Samandal.” Soepaija radja baginda djangan koerang pertjaija lagi, maka ratoe tjeritahken segala hal ichwal kenapa dan apa sebabnja poeteri Giauhare sampemembales begitoe djahat pada radja Beder, tjoema aken membales perboewatan djahat jang telah di bikin oleh radja Saleh kapada rad a Samandal. Radja lantas perjaija apa jang isterinja itoe tjerita, sebab radja taoe, bahoewa isterinja itoe pande sekali dalem ilmoe sahir dan tiada ada barang rahasia terdjadi, jang ianja tiada taoe, sahingga radja sakalipoen sering dapet toeloengan dari isterinja, aken mentjegah nijat djahatnja dia poenja moesoeh, sebab apabila radja- radja di batas ada nijat jang tiada baik, maka isterinja lantas dapet taoe lebi doeloe, dan ia adjari soewaminja bagimana mentjegah hal itoe. Maka radja berkasian soenggoe sama radja Beder, dari itoe ianja minta isterinja toeloeng bikin radja Persie beroepa manoesia lagi; »Baiklah,” berkata ratoe, tetapi doeli sjah alam bawa doeloe ini boeroeng ka dalem kamar, nanti tiada sebrapa lama lagi, maka kami djadiken dia manoesia poela, ia itoe radja jang haroes di hormati. Radja tiada oesah soesah-soesah menangkep itoe boeroeng, sebab hajan itoe terbang sendiri ka dalem kamar. Kamoedian ratoe dateng dengan membawa djambangan terisi aer. Lantes ratoe batja-in aer di dalem djambangan itoe, hingga mendidi seperti di masak. Setelah soeda, maka di tjiprattin aer itoe pada itoe boeroeng sambil ratoe berkata: »Dengan kodrat koewasa-in aer penawar biarlah boeroeng poelang asalnja dan manoesia beroepa manoesia, sebagimana roepamoe di brihken oleh Allah jang maha koewasa.”<noinclude>{{rh||1541|}}</noinclude> emclpwpf7k6pcm8rzvk8zqtpu7jwtci Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/281 104 100828 290971 281554 2026-05-10T13:31:41Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290971 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>warat, maka sa-orang Emir dateng mengadep Kalief aken kasi taoe bahoewa kepala dari pada persidangan masjawarat anempoeloe anggota telah meninggal Emir itoe dateng dengan pake pedang terhoenoes. Apabila Kalief dapet dengar ini kabar maka lantas ianja soeroeh panggil Ala Eddin mengadap dan di brihken poela padanja satoe kaptan jang terlampau bagoes serta ia poen di angkat djadi gantinja penggawe jang baroe meninggal. Laen dari pada itoe oleh kerna penggawe jang baroe meninggal itoe tida ada poenja ahli waris maka segala poesaka peninggalannja di brihken dengan titah Kalief kapada Ala Eddin. Seperti boedak-boedak dan harta banda semoewa di briken pada Ala Eddin tjoema diperdjsudjiken ia ini misti oeroes dan rawat-in oepatjara koeboeranja jang meninggal. Abis Kalief kasi tanda bahoewa masjawarat soeda boebar. Di loewar madjelis masjawarat itoe ada ampat poeloe orang kawal toewan Kalief jang semoewa maoe toeroet sama Ala Eddin aken membrihken hormat padanja. Kepala dari pada itoe kawal bernama Achmid Aldanaf lantas bediri di sebelahnja Ala Eddin. Oleh kerna Achmid Aldanaf di pertjaija sekali oleh Kalief dan lagi oleh kerna ia itoe berpengaroe djoega moeloetnja pada Kalief, maka Ala Eddin bersachbatan keras dengan dia. Di itoe waktoe djoega Ala Eddin moehoenken pada Achmid Aldauaf aken pandang padanja seperti soewatoe anak. Achmid Aldanaf dari moela ia dapet liat sama Ala Eddin maka memang ianja soeda soeka padanja, maka sekarang Ala Eddin moehoenken sademikian seperti di permoehoennja tadi tentoe sadja Achmid Aldanaf bersoeka ati sekali maka di djandjikennja pada Ala Eddin aken mengoendjoek ka soeka-an atinja dan saijangnja pada Ala Eddin, nanti tiap-tiap kali Ala Eddin pegi ka persidangan masjawarat besar atawa tiap-tiap kali ianja poelang dari sitoe maka Achmid Aldanaf bakalan maoe anter padanja dengan soldadoenja. Ala Eddin terlebi lagi di hormati di astana Kalief, saben sari ia mengadep toewannja, maka ia sanget di saijang dan di soekai oleh Kalief. Pada soewatoe malem, kabetoelan dia poelang sampe di roemah, dan soldadoe-soldadoe ampat poeloe orang itoe dari pada Achmid Aldanaf pada poelang kombali, maka Ala Eddin doedoek di medja bersama-sama isterinja makan malem. Makanan itoe disediahken oleh sa-orang boedak toewa. Abis Zobaida bediri kaloewar katanja lekas djoega aken balik kombali. Belon lama Zobaida berdjalan kaloewar maka kadengaran soewara orang mendjerit seperti katja antjoer di djoebin. Dengan sigrah Ala Eddia berlari kaloewar pintoe aken meliat siapa jang mendjerit itoe. Barang ia kaloewar dari kamar makan maka dapet di liatnja Zobaida rebah terletak di djoebin. Ala Eddin lari aken angkat isterinja jang tertjinta aken tetapi pertjoema sadja, Zobaida soeda tiada bernjawa lagi. Ala Eddin poenja kaget dan sedih ati boekan alang kapalang.<noinclude>{{rh||1432}}</noinclude> cvbxt8z1jktwlxsepgaq0dfulfhjyq6 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/515 104 100830 291442 283517 2026-05-11T01:04:04Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291442 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Baroe sadja ratoe berkata begitoe maka linjaplab itoe boeroeng dan radja dapet liat sa-orang djedjaka moeda, paugeran jang amat elok dan tjakep, serta manis roepa boedi bahasanja sampe radja mendjadi beran. Radja Beder laloe bersoedjoed mendjoendjoeng sepoeloe djarinja pada Allah ta-allah, aken mengotjap soekoer alhamdo-lila. Abis dia bediri, pegang tangan radja laloe di tjioemnja, aken mengoendjoeken bales trima kasiujs, kemoedian dari itoe ianja maoe bilang trima kasi pada ratoe, aken tetapi, ratoe soeda pegi tiada ada lagi di sitoe. Radja poen toeroet bersoeka ati bersama-sama Beder; dia pelok sama Beder dan dia bilang djoega sebagimana besar girangnia, jang ianja bisa dapet liat roepanja Beder. Soedah itoe, maka radja doedoek makan bersama-sama Beder, dan abis makan, radja minta Beder tjerita bagimana poeteri Giauhare bole begitoe sampe ati, sama orang sampe dia djadiken boeroeng. Radja Persie tjerita-in semoewa, maka radja doeka tjita sekali dari perboewatannja poeteri Giaubare, kadang kadengaran radja kata-in poeteri itoe. Maka radja itoe berkata pada Beder; »Benar sekali, baroes di poedji perboewatannja poeteri Giaubare aken ingat membales kadjahatan jang di perboewatken pada ajandanja, aken tetapi, jang dia sampe ati boewat anijaja setoe pangeran jang begini bagoes dengan tiada bersalah, ia itoelah jang tiada haroes sekali. Tetapi apa jang soeda, biarken soedah, lebi baik engkau tjerita, anak, bagimana sekarang kami dapet toeloeng padamoe.” Djawabnja radja Beder: »Kami ini memikoel boedi doeli sjah alam sanget beratnja, baroes kami ini tinggal berdiam mendjadi boedak pada doeli sjah alam, aken kami mengoedjoeki trima kasi kami, aken tetapi, kami liat bahoewa kalimpaan dan moerah ati doeli sjah alam ada terlebi lagi, oleh kerna itoe, djika ada kasian doeli sjah alam bagi bambanja, baiklah doeli ajah alam pindjemken saboewah kapalnja pada hamba, soepaja bambanja dapet poelang lagi ka negri hamba di benoewa Persie, sebab hambanja rasa sanget koewatir, djangan negri itoe terlantar, roesoeh, tiada ada jang perentah, barangkali djoega hamba poenja iboe telah soedah mati mereras makan ati, jang hamba tiada poelang-poelang, sedang peginja hamba tiada di ketaboewinja. Radja dengan segala soeka ati toeloeng sama radja Beder, maka dengan sigrah di titahkennja sa orang wasir, aken lengkepken saboewah kapal jang paling koewat dan jang paling ladjoe belajar. Tiada brapa lamanja, maka itoe kapal soeda tersedia dengan lengkep apa jang perloe di pake di djalan. Barang angin baik, maka radja Beder brangkat dengan itoe kapal, sasoedahnja ambil selamat tinggal dari radja dan abis membilang trima kasi bagi pertoeloengannja. Alksesah, maka di tjeriterahken di itoe hari djoega kapal brangkat, maka angin itoe semangkin keras sampe mendjadi angin toufan angin riboet,<noinclude>{{rh||1542|}}</noinclude> 04jsiq3f3356ia4zyjqaflqfe2pq3x8 291452 291442 2026-05-11T01:16:16Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291452 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Baroe sadja ratoe berkata begitoe maka linjaplab itoe boeroeng dan radja dapet liat sa-orang djedjaka moeda, paugeran jang amat elok dan tjakep, serta manis roepa boedi bahasanja sampe radja mendjadi beran. Radja Beder laloe bersoedjoed mendjoendjoeng sepoeloe djarinja pada Allah ta-allah, aken mengotjap soekoer alhamdo-lila. Abis dia bediri, pegang tangan radja laloe di tjioemnja, aken mengoendjoeken bales trima kasiujs, kemoedian dari itoe ianja maoe bilang trima kasi pada ratoe, aken tetapi, ratoe soeda pegi tiada ada lagi di sitoe. Radja poen toeroet bersoeka ati bersama-sama Beder; dia pelok sama Beder dan dia bilang djoega sebagimana besar girangnia, jang ianja bisa dapet liat roepanja Beder. Soedah itoe, maka radja doedoek makan bersama-sama Beder, dan abis makan, radja minta Beder tjerita bagimana poeteri Giauhare bole begitoe sampe ati, sama orang sampe dia djadiken boeroeng. Radja Persie tjerita-in semoewa, maka radja doeka tjita sekali dari perboewatannja poeteri Giaubare, kadang kadengaran radja kata-in poeteri itoe. Maka radja itoe berkata pada Beder; »Benar sekali, baroes di poedji perboewatannja poeteri Giaubare aken ingat membales kadjahatan jang di perboewatken pada ajandanja, aken tetapi, jang dia sampe ati boewat anijaja setoe pangeran jang begini bagoes dengan tiada bersalah, ia itoelah jang tiada haroes sekali. Tetapi apa jang soeda, biarken soedah, lebi baik engkau tjerita, anak, bagimana sekarang kami dapet toeloeng padamoe.” Djawabnja radja Beder: »Kami ini memikoel boedi doeli sjah alam sanget beratnja, baroes kami ini tinggal berdiam mendjadi boedak pada doeli sjah alam, aken kami mengoedjoeki trima kasi kami, aken tetapi, kami liat bahoewa kalimpaan dan moerah ati doeli sjah alam ada terlebi lagi, oleh kerna itoe, djika ada kasian doeli sjah alam bagi bambanja, baiklah doeli ajah alam pindjemken saboewah kapalnja pada hamba, soepaja bambanja dapet poelang lagi ka negri hamba di benoewa Persie, sebab hambanja rasa sanget koewatir, djangan negri itoe terlantar, roesoeh, tiada ada jang perentah, barangkali djoega hamba poenja iboe telah soedah mati mereras makan ati, jang hamba tiada poelang-poelang, sedang peginja hamba tiada di ketaboewinja. Radja dengan segala soeka ati toeloeng sama radja Beder, maka dengan sigrah di titahkennja sa orang wasir, aken lengkepken saboewah kapal jang paling koewat dan jang paling ladjoe belajar. Tiada brapa lamanja, maka itoe kapal soeda tersedia dengan lengkep apa jang perloe di pake di djalan. Barang angin baik, maka radja Beder brangkat dengan itoe kapal, sasoedahnja ambil selamat tinggal dari radja dan abis membilang trima kasi bagi pertoeloengannja. Alksesah, maka di tjeriterahken di itoe hari djoega kapal brangkat, maka angin itoe semangkin keras sampe mendjadi angin toufan angin riboet,<noinclude>{{rh||1542|}}</noinclude> koanj8oqem22vav0fonwh187rlhixj2 291467 291452 2026-05-11T01:29:44Z Aeia aai 24023 291467 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Baroe sadja ratoe berkata begitoe maka linjaplah itoe boeroeng dan radja dapet liat sa-orang djedjaka moeda, paugeran jang amat elok dan tjakep, serta manis roepa boedi bahasanja sampe radja mendjadi heran. Radja Beder laloe bersoedjoed mendjoendjoeng sepoeloe djarinja pada Allah ta-allah, aken mengotjap soekoer alhamdo-lila. Abis dia bediri, pegang tangan radja laloe di tjioemnja, aken mengoendjoeken bales trima kasinja, kemoedian dari itoe ianja maoe bilang trima kasi pada ratoe, aken tetapi, ratoe so da pegi tiada ada lagi di sitoe. Radja poen toeroet bersoeka ati bersama-sama Beder; dia pelok sama Beder dan dia bilang djoega sebagimana besar girangnia, jang ianja bisa dapet liat roepanja Beder. Soedah itoe, maka radja doedoek makan bersama-sama Beder, dan abis makan, radja minta Beder tjerita bagimana poeteri Giauhare bole begitoe sampe ati, sama orang sampe dia djadiken boeroeng. Radja Persie tjerita-in semoewa, maka radja doeka tjita sekali dari perboewatannja poeteri Giauhare, kadang kadengaran radja kata-in poeteri itoe. Maka radja itoe berkata pada Beder; »Benar sekali, haroes di poedji perboewatannja poeteri Giaubare aken ingat membales kadjahatan jang di perboewatken pada ajandanja, aken tetapi, jang dia sampe ati boewat anijaja satoe pangeran jang begini bagoes dengan tiada bersalah, ia itoelah jang tiada haroes sekali. Tetapi apa jang soeda, biarken soedah, lebi baik engkau tjerita, anak, bagimana sekarang kami dapet toeloeng padamoe.” Djawabnja radja Beder: »Kami ini memikoel boedi doeli sjah alam sanget beratnja, haroes kami ini tinggal berdiam mendjadi boedak pada doeli sjah alam, aken kami mengoedjoeki trima kasi kami, aken tetapi, kami liat bahoewa kalimpaan dan moerah ati doeli sjah alam ada terlebi lagi, oleh kerna itoe, djika ada kasian doeli sjah alam bagi hambanja, baiklah doeli ajah alam pindjemken saboewah kapalnja pada hamba, soepaja hambanja dapet poelang lagi ka negri hamba di benoewa Persie, sebab hambanja rasa sanget koewatir, djangan negri itoe terlantar, roesoeh, tiada ada jang perentah, barangkali djoega hamba poenja iboe telah soedah mati mereras makan ati, jang hamba tiada poelang-poelang, sedang peginja hamba tiada di ketahoewinja. Radja dengan segala soeka ati toeloeng sama radja Beder, maka dengan sigrah di titahkennja sa orang wasir, aken lengkepken saboewah kapal jang paling koewat dan jang paling ladjoe belajar. Tiada brapa lamanja, maka toe i kapal soeda tersedia dengan lengkep apa jang perloe di pake di djalan. Barang angin baik, maka radja Beder brangkat dengan itoe kapal, sasoedahnja ambil selamat tinggal dari radja dan abis membilang trima kasi bagi pertoeloengannja. Alkaesah, maka di tjeriterahken di itoe hari djoega kapal brangkat, maka angin itoe semangkin keras sampe mendjadi angin toufan angin riboet,<noinclude>{{rh||1542|}}</noinclude> 4ouz4wvn0bv6w7hkbuz4vcegjwumznr Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/517 104 100833 291445 283520 2026-05-11T01:07:39Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ ada lebih dari 3 kesalahan ejaan 291445 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>ombak saboekit dan kapal itoe kepoekoel kesana, kepoekoel kemari, soedah tiada dengar kemoedi lagi. Tiang kapal patah, tali-tali temberang lajar abis poetoes. Begitoelah kapal itoe kena di maenin ombak sampe terbentoer karang teroea karem. Anak kapal kabanjakan jang anjoet mati lemas dan ada djoega jang kena pegang kajoe-kajoe jang termawang. Radja Beder poen kena pegang sepotong kajoe aken di boewat pelampoeng. Ianja di bawa aroes dan bebrapa djam lamanja ia di antara idoep dan mati adanja. Achir-achirnja dia dapet liat, bahoewa ia soeda dekat daratan, djadi sabole-bole ianja bikin koewat dirinja aken sampe ka darat. Beroentoenglah, radja Beder kena indjak tanah, dia teroes djalan minggir sampe di pantei di mana dia bernanti doeloe aken memboewang tjapè. Abis dia maoe berdjalan lebi djaoe, masoek kadalem negri. Aken tetapi sanget herannja, koetika di liatnja ada koeda, kalde, onta, gadja dan laen-laen binatang pada dateng samperin dia, seperti aken mentjegah dia djangan masoek ka dalem negri. Dengan amat soesahnja ia berdjalan teroes, maka di liatnja tiada sebrapa djaoe ada roemah-roemah bediri. Sasoedahnja ia bernanti memboewang tjapé, maka ia bediri lagi maoe djalan pegi ka roemah-roemah itoe, adapoen itoe binatang-binatang lagi-lagi dateng mengalangin dia, seperti binatang itoe henbak kasi taoe padanja, baboewa berbahaija sanget, aken masoek ka dalem ini negri, lebi baik balik poelang sadja. Radja Beder tiada perdoeli-in, dia djalan djoega masoek ka dalem kota, maka di liatnja banjak djalan-djalanan besar lebar dan bagoes, aken tetapi ia sanget heran, tiada bertemoe orang-orang. Bahna sepinja tempat ini, maka baroelah radja Beder doega, bahoewa soenggos benarlah alamatnja binatang itoe, makanja binatang itoe hendak menahan padanja. Kendati begitoe, ianja masih djoega berdjalan teroes, maka di liatnja ada bebrapa kedei terboeka. Ia laloe mengampiri satoe kedei, di mana ada teratoer roepa-roepa beboewahan, di sitoe ada satoe orang toewa lagi doedoek djaga kedei-nja. Radja Beder kasi tabè padanja. Si orang dengar dia di kasi tabé, maka dia angkat moekanja kaliatan ada Batoe orang djedjaka moeda, jang amat tjakep, serta dandanannja orang bangsawan. Ianja lantas bertanja dengan keras heran, dari mana dia dateng dan bagimana dia bisa sampe di sini. Dengan pendek radja eder tjeritaken hal ichwalnja. Abis itoe orang toewa tanja padanja, apa dianja ada ketemoe orang di djalan. Djawabnja radja Beder: »Belon satoe orang, melaenken bapa inilah jang pertama kami ketemoe, maka itoe kami heran betoel, kenapa negri begini bagoes bolehnja kosong dan sepi tiada ada orangnja.” Kiai itoe laloe berkata: »Marilah masoek, djangan terlaloe lama bediri di loewar pintoe, kaloe tiada, barangkali engkau bole dapet tjilaka. Kami hendak<noinclude>{{rh||1543|}}</noinclude> a7fycj1by9ep8gcy7ugxgg1qjrq957l 291985 291445 2026-05-11T11:01:08Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 291985 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>ombak saboekit dan kapal itoe kepoekoel kesana, kepoekoel kemari, soedah tiada dengar kemoedi lagi. Tiang kapal patah, tali-tali temberang lajar abis poetoes. Begitoelah kapal itoe kena di maenin ombak sampe terbentoer karang teroes karem. Anak kapal kabanjakan jang anjoet mati lemas dan ada djoega jang kena pegang kajoe-kajoe jang termawang. Radja Beder poen kena pegang sepotong kajoe aken di boewat pelampoeng. Ianja di bawa aroes dan bebrapa djam lamanja ia di antara idoep dan mati adanja. Achir-achirnja dia dapet liat, bahoewa ia soeda dekat daratan, djadi sabole-bole ianja bikin koewat dirinja aken sampe ka darat. Beroentoenglah, radja Beder kena indjak tanah, dia teroes djalan minggir sampe di pantei di mana dia bernanti doeloe aken memboewang tjapè. Abis dia maoe berdjalan lebi djaoe, masoek kadalem negri. Aken tetapi sanget herannja, koetika di liatnja ada koeda, kalde, onta, gadja dan laen-laen binatang pada dateng samperin dia, seperti aken mentjegah dia djangan masoek ka dalem negri. Dengan amat soesahnja ia berdjalan teroes, maka di liatnja tiada sebrapa djaoe ada roemah-roemah bediri. Sasoedahnja ia bernanti memboewang tjapé, maka ia bediri lagi maoe djalan pegi ka roemah-roemah itoe, adapoen itoe binatang-binatang lagi-lagi dateng mengalangin dia, seperti binatang itoe henbak kasi taoe padanja, bahoewa berbahaija sanget, aken masoek ka dalem ini negri, lebi baik balik poelang sadja. Radja Beder tiada perdoeli-in, dia djalan djoega masoek ka dalem kota, maka di liatnja banjak djalan-djalanan besar lebar dan bagoes, aken tetapi ia sanget heran, tiada bertemoe orang-orang. Bahna sepinja tempat ini, maka baroelah radja Beder doega, bahoewa soenggoe benarlah alamatnja binatang itoe, makanja binatang itoe hendak menahan padanja. Kendati begitoe, ianja masih djoega berdjalan teroes, maka di liatnja ada bebrapa kedei terboeka. Ia laloe mengampiri satoe kedei, di mana ada teratoer roepa-roepa beboewahan, di sitoe ada satoe orang toewa lagi doedoek djaga kedeinja. Radja Beder kasi tabè padanja. Si orang dengar dia di kasi tabé, maka dia angkat moekanja kaliatan ada satoe orang djedjaka moeda, jang amat tjakep, serta dandanannja orang bangsawan. Ianja lantas bertanja dengan keras heran, dari mana dia dateng dan bagimana dia bisa sampe di sini. Dengan pendek radja eder tjeritaken hal ichwalnja. Abis itoe orang toewa tanja padanja, apa dianja ada ketemoe orang di djalan. Djawabnja radja Beder: »Belon satoe orang, melaenken bapa inilah jang pertama kami ketemoe, maka itoe kami heran betoel, kenapa negri begini bagoes bolehnja kosong dan sepi tiada ada orangnja.” Kiai itoe laloe berkata: »Marilah masoek, djangan terlaloe lama bediri di loewar p'ntoe, kaloe tiada, barangkali engkau bole dapet tjilaka. Kami hendak<noinclude>{{rh||1543|}}</noinclude> 5cud2zeud0qcchxiaabaquio7wwn3xf Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/285 104 100835 290972 281573 2026-05-10T13:31:47Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290972 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM||}}</noinclude>toeroet-in atimoe berdoeka tjita, ingatlah bahoewa segala apa jang kedjadian ini telah soedah di takdirken Alla ta-alla. Aer matamoe pertjoema sadja di milihken, tiada bisa lagi aer mata itoe memanggil poelang lagi isterimoe jang telah meninggal.” Katanja Ala Eddin: »Patik rasa tiada bisa brenti tangisin Zobaida jang begitoe di tjinta, melaenken mati patik djoega, kapan patik dapet di koeboer di sebelahnja Zobaida maka baroelah patik dapet senang." Toewan Kalief minta poelang dan sembaring berdja'an kaloewar maka Kalief kasi ingat lagi padanja aken dateng lagi berhadlir di madjelis masjawarat besar, seperti biasa. Ala Eddin poenja ati tergerak merasai kabaikan toewannja maka pada esokan hari ia soeroeh pasang koedanja laloe pegi ka astana radja berhadlir di masjawarat besar. Barang ia masoek maka ia bersoedjoed . Apabila Kalief dapet liat padanja maka ia toeroen dari sanggasananja dateng mengampiri Ala Eddin aken pegang tangannja soeroeh berdiri. Ia di samboet oleh Kalief dengan manis bahasa abis ia di soeroeh doedoek di tempatnja jang biasa serta Kalief berkata: »Ala Eddin kami harep ini malem engkau tinggal di sini.” Sa-soedahnja abis bermasjawarat maka Ala Eddin tinggal seperti bitjara toewan Kalief. Ia tinggal di astana antero malem. Besokan pagi Kalief titahken pendjaga perbandaharan dateng mengadep serta di titahkennja aken serahken oewang sepoeloe riboe dinar emas pada ferdana manteri Giafar maka pada Giafar in Kalief berkata : » Hei Giafar pegilah engkau di pekan tempat orang djoewal boedak perampoewan waka di sitoe engkau belihken sa-orang boedak perampoewan jang elok dan tjantik boewat Ala Eddin, itoe sepoeloe riboe dinar bole engkau pake semoewa. Ferdana manteri lantas bersediaken aken brangkat maka ia pegi kapasar boedak itoe bersama Ala Eddin. Alkaesah maka di tjeriterakenlab walie dari negri Bagdad di itoe waktoe, kepala dari pada hakim-hakim maka namanja Emir Chalid. Ia ini beristeri, maka isterinja bernama Chatoun adapoen anaknja sa-orang laki- laki keliwat dari misti djelekuja, Habdaloem Besasa namanja, Ini anak kendati poen oemoernja soeda doewa poeloe taon maka masih keliwat bodo sanget. Biasanja anak-anak djidjaka seperti dia soeda misti bisa toenggang koeda dan laen-laen kapandean, adapoen dia ini tiada bisa soewatoe apa. Maskipoen bertoenggang koeda ia tiada bisa sedang orang toewanja termasjhoer pande bertoenggang koeda dan pande dalem segala ilmoe kapinteran serta sanget brani. Oleh kerna Besasa soeda djadi djidjaka besar maka iboenja kapingin kasi dia kawin, djadi si iboe itoe kasi taoe nijatoja kapada soewaminja. Ia ini taoe betoel segala katjela-an anaknja, maka segala ini di bilangken dan<noinclude>{{rh||1434||}}</noinclude> bc1yd83yyhtii6iftn6xl3bkftxaei3 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/75 104 100854 290954 284110 2026-05-10T13:26:11Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290954 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>lantas ambil dindinja laloe di maennja sembari bernjanji dengan soewara jang lemah lemboet. Barang perampoewan itoe dengar soewara orang menjanji maka dia angkat moekanja abis dia ketemoe matanja Kardar jang memandang dia seperti hendak di telannja; perampoewan itoe lantas toendoek. Apabila Kardar liat dia itoe tinggal doedoek, maka dia ambil boenga sa bentok laloe di lemparnja ka itoe perampoewan; ia ini angkat lagi moekanja bermanggoet aken kasi tabik. Wah, lantas Kardar djadi terlebi birahi dan atinja poen djadi brani maka ia berkata: »Ja hati djiwakoe, engkau tiada taoe bagimana keras tjinta koe, hingga siang ari malem atikoe tiada bersenang, roepamoe terbajang bajang di matakoe. Djika tida bersama sama djantoeng atikoe maka boekan panghidoepan lagi di doenia, lebi baik mati. Biarapalah kiranja poeterikoe jang moelija bidji mata intan djambroetkoe dengarkenlah bitjarakoe sakedap. Kapan ada sedikit saijang moe pad koe marilah kita minggat djaoe dari sini aken idoep senang kita berdoewa, kaloe tiada maoe berlari, akoe poen sanggoep singkirin orang jang memalangken peroentoengan tjinta kita; dengan ratjoen sedikit maka linjaplah soewami itoe jang djadi alangan boewat kita beroentoeng berkasih kasihan.” Isteri sultan terlaloe amat heran dan marah sanget, katanja: »Hei, engkau lah itoe Kardar jang brani melanggar kahendak Allah dan manoesia? engkau begitoe brani aken adjakin kami berboewat dosa demikian? Engkau tiada takoet aken masoek ka dalem harem sultan serta membawa nijat jang amat djahat itoe?” Djawabnja Kardar: »Ja, memang kami tiada tokoet, bahna sanget tjinta kami, biar siapa sekali poen tiada kami takoetken, ingatlah poeterikoe jang manis, boekankah soewamie toewan poeteri jang telah boenoeh ajahanda toewan poeteri dengan tiada ada sebabnja? Apakah tiada wadjib bagi satoe anak aken membales kamatian orang toewanja jang di boevoeh tiada bersalah? Djikaloe orang toewanja poeterikoe dapet di boenoeh sultan dengan tiada bersalah, nanti pada soewatoe waktoe poeteri sendiri kena di boenoehnja. Djika soeda kasèp maka pertjoema-lah aken ingat apa bitjara kami sekarang. Poeteri itoe berkata: »Kami tiada taoe apa jang telah di takdirken Allah maka tiada patoet sekali manoesia melawan kahendak Allah ta-allah. Djika telah di takdirken allah, jang ajahanda kami misti mati begitoe, maka kami wadjib trima kahendak jang Maha Moelija. Begitoe poen kami ini trimah segala apa jang telah di takdirken Allah. Oleh kerna itoe wasir Kardar, biar bagimana bengis sekalipoen nacib kami adanja, tiadanja kami nanti menjommel aken pikoel nacib itoe.” djalan masoek kadalem harem. Abis bitjara begini maka toewan poeteri bediri masoek kadalem harem. Djawab ini menetapken fikirannja Kardar bahoewa poeteri itoe bentji padanja, kapan dia tiada berati ati nistjaija ia sendiri binasa djika poeteri<noinclude>{{rh||1333}}</noinclude> qvku1py7nu455lff98s7ue5iukyqrmz Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/421 104 100878 291500 283313 2026-05-11T02:09:06Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291500 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>lahirken anak laki-laki. Orang bawaken perampoewan-perampoewan itoe kapada radja dari koeliling negri, kaloe ada jang radja penoedjoe, maka ia tiada pandang harga lagi, maka laen dari harga belinja perampoc wan itoe, seringkali radja poen brilken soewatoe oepah Jagi kapada jaug dateng membawa itoe perampoewan, soepaja bule dateng terlebi banjak lagi orang membawa perampoewan, kaloe-kaloe di antara perampoewan jang di belinja itoe, ada jang bisa berpoetera sa orang anak laki-laki, Laen dari pada itoe, naka keras ia beramal, membrib dermah dan sedekah pada miskin, fakir dan jatim, tjoema aken di berkatken Allah, soepaja ia bole dapet poetera sa-orang anak laki-laki. Sekali pada soewatoe hari, maharadja berasjawarat besar bersama-sama orang-orang pembesar negrinja, boekan, aken membitjara-in bal pemarentahan, aken tetapi boewat membitjara-in segala inoe-ilmoe kapinteran, sebagimana biasa di perhimpoeuken oleh toewa-toewanja. Sedang lagi bermasjawarat itoe, maka dateng mengadap sa-orang pembesar djaga barem radja membrih taoe, baboewa ada sa-orang soedagar dari negri-negri jang amat djaoelioja, telah sampe di benoewa Persie membawa sa-orang boedak perampoewan, maka itoe soedagar bermochoen ketemoe bitjura sama sri mabaradja. Maka titah radja baginda biarlah orang itoe di bawa mengadap, maka di oendjoekin padanja soewatoe tempat doedoek." Orang bawa masock pada soedagar itoe, abis ia di kasi doedoek di soewatoe tempat dari mana dia gampang bisa dapet liat bagimana maharadja beromong-omoug sama pembesar negrinja, serta poela biar dia itoe bisa dengar bitjaranja radja. Adat jang sademikian, memang di toeroet oleh radja boewat orang-orang Asing jang dateng hendak mengadep padanja, soepaja marika itoe poenja ati mendjadi senang, biasa meliat roepanja radja, dan marika itoe poen terlebi taba ati tiada goegoep, tiada takoet atawa koewatir. sebab kaloe dateng dateng sadja, maka orang jang tida biasa itoo, nistjaija terkedjoet seperti orang kesima meliat kabesaran di ampirnja radja. Demikian poela perboewatannja dengan oetoesan-oetoesan dari negri-negri laen. Bermoela ia perdjamoeken oetoesan itoe, sembaring makan itoe bersama-sama, maka radja bitjara padanja barang sahari-hari, di tanjanja bagimana kawarasannja apa baik, bagimana ia di perdjalanannja tiada koerang apa-apa, dan laeu-laen sebaginja. Oleh perboewatanuja radja sademikian, maka orang itoe poenja ati djadi taha, senang dan dapet ia bijara dengan tiada bergoegoep. Koetika sekalian penggawa astana semoewa pada moendoer, hingga katinggalan soedagar itoe sendirian bersama-sama radja, maka lantas soedagar itoe madjoe teroes bersoedjoed di hadapan kaki sanggasana radja laloe di poehoeukennja, aken dengar sembahnja. Setelah ia seda bango en bediri, maka bertanja sri baginda apakah benar adanja ianja bawaken sa-orang boe<noinclude>{{rh||1497}}</noinclude> dvi4wtc8l18cpoqx0b9c37oja11rfwv 291584 291500 2026-05-11T03:17:46Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291584 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>{{hwe|lahirken|melahirken}} anak laki-laki. Orang bawaken perampoewan-perampoewan itoe kapada radja dari koeliling negri, kaloe ada jang radja penoedjoe, maka ia tiada pandang harga lagi, maka laen dari harga belinja perampoewan itoe, seringkali radja poen brihken soewatoe oepah lagi kapada jang dateng membawa itoe perampoewan, soepaja bule dateng terlebi banjak lagi orang membawa perampoewan, kaloe-kaloe di antara perampoewan jang di belinja itoe, ada jang bisa berpoetera sa-orang anak laki-laki. Laen dari pada itoe, maka keras ia beramal, membrih dermah dan sedekah pada miskin, fakir dan jatim, tjoema aken di berkatken Allah, soepaja ia bole dapet poetera sa-orang anak laki-laki. Sekali pada soewatoe hari, maharadja bermasjawarat besar bersama-sama orang-orang pembesar negrinja, boekan, aken membitjara-in hal pemarentahan, aken tetapi boewat membitjara-in segala ilmoe-ilmoe kapinteran, sebagimana biasa di perhimpoenken oleh toewa-toewanja. Sedang lagi bermasjawarat itoe, maka dateng mengadap sa-orang pembesar djaga harem radja membrih taoe, bahoewa ada sa-orang soedagar dari negri-negri jang amat djaoehnja, telah sampe di benoewa Persie membawa sa-orang boedak perampoewan, maka itoe soedagar bermoehoen ketemoe bitjara sama sri maharadja. Maka titah radja baginda biarlah orang itoe di bawa mengadap, maka di oendjoekin padanja soewatoe tempat doedoek." Orang bawa masoek pada soedagar itoe, abis ia di kasi doedoek di soewatoe tempat dari mana dia gampang bisa dapet liat bagimana maharadja beromong-omoug sama pembesar negrinja, serta poela biar dia itoe bisa dengar bitjaranja radja. Adat jang sademikian, memang di toeroet oleh radja boewat orang-orang Asing jang dateng hendak mengadep padanja, soepaja marika itoe poenja ati mendjadi senang, biasa meliat roepanja radja, dan marika itoe poen terlebi taba ati tiada goegoep, tiada takoet atawa koewatir. sebab kaloe dateng dateng sadja, maka orang jang tida biasa itoo, nistjaija terkedjoet seperti orang kesima meliat kabesaran di ampirnja radja. Demikian poela perboewatannja dengan oetoesan-oetoesan dari negri-negri laen. Bermoela ia perdjamoeken oetoesan itoe, sembaring makan itoe bersama-sama, maka radja bitjara padanja barang sahari-hari, di tanjanja bagimana kawarasannja apa baik, bagimana ia di perdjalanannja tiada koerang apa-apa, dan laen-laen sebaginja. Oleh perboewatannja radja sademikian, maka orang itoe poenja ati djadi taba, senang dan dapet ia bijara dengan tiada bergoegoep. Koetika sekalian penggawa astana semoewa pada moendoer, hingga katinggalan soedagar itoe sendirian bersama-sama radja, maka lantas soedagar itoe madjoe teroes bersoedjoed di hadapan kaki sanggasana radja laloe di poehoeukennja, aken dengar sembahnja. Setelah ia soeda bangoen bediri, maka bertanja sri baginda apakah benar adanja ianja bawaken sa-orang {{hws|boe|boedak}}<noinclude>{{rh||1497}}</noinclude> scrpd8w8locvg1khwywvm2fgbvyr4ps Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/597 104 100892 291009 289314 2026-05-10T13:35:40Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291009 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>soedah mendapetin bal jang demikian. Dia lantas pegang itoe lampoe, seraija menjahoet kapada djin itoe: »Peroetkoe lapar, tjarikenlah dakoe makanan. Setelah di dengar oleh djin perkata-an Aladin itoe, maka linjaplah djin itoe, aken tetapi sakoetika lagi dateng poela ia membawa doelang perak, jang di djoendjoengnja. Maka di atas doelang perak itoe ada pinggan mangkok doewa belas bidji djoega dari pada perak, maka pinggan mangkok itoe berisi makanan dan beboewahan jang ledzat-ledzat bersama-sama ada lagi doewa bottol anggoer jang baik dengan doewa tjawan dari perak. Sekalian itoe di taronja, di sadjikennja abis djin itoepoen linjaplah poela. Sekalian ini telah terdjadi begitoe lekas, hingga iboe Aladin tiada dapet taoe soewatoe apa dari perboewatan djin itoe. Setelah iboe Aladin sedar dari pada pangsannja, maka oleh anaknja di adjaknjalah makan, katanja: »Iboe soedalah tiada mengapa, baik bangoen makan. Makanan jang tersadji ini djanganlah kita tinggal sampe dingin.” Iboe Aladin sanget adjaib tida berhingga meliat doelang perak bersama-sama pinggan dan mangkok dari perak dengan botol anggoer bersama-sama tjawan dari perak, semoewanja terisi makanan jang sedap dan haroem baoehnja. Maka katanja pada Aladin: »Hei anakkoe dari manakah engkau dapet kiriman makanan dan minoeman dan beboewahban dengan serenta tempatnja jang endah-endah ini. Apakah Soeltan soedah dapet dengar dari pada ka-papa-an kita sampe dia mendjadi kasian dan mengirim barang-barang ini pada kita? Djawabnja Aladin : »Iboe marilah kita makan doeloe, nanti sebentar kaloe kita soeda kenjang makan, baroelah sanda bilangken dari mana dateng nja kiriman makanan ini.” Maka orang berdoewa itoe pada makan sampe kenjang betoel, dan sisah makanan masih banjak, maka sisah ini di simpan lagi boewat malem dan boewat besok. Koetika soeda abis makan, maka iboe Aladin angkat simpan makanan itoe, kamoedian ianja doedoek di bangkoe di sebelah anaknja seraija berkata: »Hei anakkoe, tjeriterakenlah sekarang bagimana datengnja makan makanan ini.” Hata, maka Aladin tjeriteraken sekalian bagimana makan-makanan itoe dateng, selagi iboe Aladin ada dalem pangsan di bawa oleh djin. Maka iboe Aladin terlebi lagi adjaibnja mendengar kata anaknja demikian, maka katanja si iboe: »Apakah maksoed tjeritamoe? Sa-oemoer idoepkoe belon pernah akoe liat djin mana dengar tjeritanja dari kenal-kenalan dan sachbat poen belon akoe taoe. Bagimanakah bole djadi djin, jang roepanja begitoe menakoetin orang, telah menampak djoestroe di hadepankoe? Kenapa ia bitjara pada akoe, dan tida dia bitjara padamoe, sebab dia soeda kenal padamoe di lejang jang engkau tjeritaken dahoeloe, maka sahoet {{hws|anak|anak-anak}}<noinclude>{{rh||1583}}</noinclude> 393eifyxh8samirtolsdvm1xssic5pm Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/413 104 100894 290977 287451 2026-05-10T13:32:50Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290977 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>sa-oemoer idoepnja belon taoe di indjak manoesia. Achir-achirnja hamba sampe di kota tembaga, jang di tjerita-in djin itoe. Temboknja itoe kota sanget tingginja sampe di awan idjo. Hamba ampirin kota itoe, hamba koelilingi dengan nijat, aken dapet satoe tempat djalan boewat masoek, aken tetapi pertjoema sadja, hamba tiada bisa dapet djalanan. Di itoe waktoe, maka kabetoelan soedaranja oelar poeti itoe dateng kombali, maka dia brihken pada hamba satoe pedang wacijat katanja dengan itoe pedang hamba bisa masoek ka dalem ini kota tiada orang atawa djin bisa dapet liat. Hamba ambil itoe pedang abis itoe djin linjap sampe hamba tiada ada tempo boewat bilang trima kasi. Tida brapa lama, maka kadengaran rintjoe soewara orang, hamba berpaling kablakang, maka hamba dapet liat satoe koempoelan orang jang adjaib sekali, matanja orang-orang itoe boekannja di kepala, hanja di dadanja. Apabila marika itoe dapet liat pada hamba, marika itoe dateng dekat teroes menanja hamba siapa, dan hendak pegi kamana. Hamba saoetin sekalian pertanja-annja dan tjerita segala hamba poenja hal ichwal. Orang-orang itoe laloe bilang pada hamba, bahoewa soenggoelah perampoewan moeda, jang hamba tjeritahken tadi, memang ada di dalem ini kota tembaga bersama-sama itoe djin doerhaka, tetapi marika itoe tiada bisa kasi taoe bagimana perampoewan itoe di pliarahnja, baik atawa tida. Maka marika itoe poen bilang djoega hamba djangan koewatir bagi marika itoe, sebab dia orang rajatnja soedaranja oelar poeti. Kaloe maoe masoek ka dalem ini kota, maka hamba misti pegi ka soewatoe anak soengei, hamba misti toeroet anak soengei itoe, tetapi hamba misti djalan moedik, nanti taoe-taoe soeda ada di dalem itoe kota. Ia itoelah djalan sendiri-diri tiada ada djalanan jang laen. Hamba toeroet satoe per satoe apa katanja itoe orang-orang dan hamba dapet liat anak soedgei di pinggirnja ada djalanan ketjil. Hamba berdjalan sapandjang djalan ini sampe masoek ka dalem kota. Hamba berdjalan teroes ka pinggir tanah lapang, maka di sitoe hamba dapet liat sa-orang perampoewan berpakejan kaen toetoep moeka, lagi doedoek di atas kasoer dari bloedroe tersoelam emas. Hamba ampirin perampoowan itoe. Apabila dia dengar soewara orang berdjalan, maka ia angkat kaen to stop moekanja, soepaja dia bisa liat siapa jang berdjalan itoe. Koetika hamba dapet liat itoe moeka, maka keliwat keras girang ati hamba, sebab ia itoelah hamba poenja isteri, jang lagi doedoek terpekoer. Barang perampoewan itoe dapet liat sama hamba, maka ia poen sanget terprandjat, ia berlompat sembari mendjerit, bahna sanget girang atinja. Ia pelok, tjioem, gigit hamba poenja bibir sembaring menanja pada hamba siapa telah oendjoekin djalan kemari di soewatoe tempat jang tiada dapet di datengi manoesia.<noinclude>{{rh||1493|}}</noinclude> aqmfbb7l3eupnq67ahgdtooe5hphssr Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/415 104 100895 290978 287462 2026-05-10T13:32:53Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290978 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Hamba kaget dan heran sampe tiada bisa hamba berkata-kata, maka kamoedian hamba poenja ati moelai senang, baroe hamba tjeritahken segala hamba poenja hal ichwal dari bermoela-moela hamba terpisah dari isteri hamba itoe sampe sekarang. Adapoen hamba djoega kepingin taoe apa hal ichwal, djadi hamba minta dia tjeritahkеn itoe lagi dan hamba bermoehoen akalnja, aken dapet kaloewar bersama-sama dari ini tempat. Hata maka hamba poenja isteri berkata: »Dari sebab djin doerhaka itoe terlaloe sanget keras birahinja sama adinda, maka itoe tiada ada satoe rahasianja jang baik atawa djahat, kakanda, semoewa dia kasi taoe sama adinada adinda poen dengar dari moeloetnja djin itoe sendiri, bahoewa di dekat-dekat sini ada satoe djimatnja jang paling berkoewasa dari jang laen-laen, dengan ini djimat, maka apa djoega di kahendaki nistjaija djadilah.” Hamba lantas bertanja: »Di manakah djimat itoe di simpen.” Djawab hamba poenja isteri: »Djimat itoe saekor boeroeng Radja wali di tjoetjoeknja dan di kakinja ada teruekir bebrapa rapal-an. Boeroeng itoe meniarap di atas itoe tiang dari batoe, aken tetapi tjinta djiwakoe djangan terlaloe brani berdekat, sebab boeroeng itoe sakti sekali, lagi koewat, kapan kakanda bisa dapet pegang itoe boeroeng, maka oekoeplah dia dengen doepa dan dedes, kaloe di bikin sademikian, maka sekalian djin pri dan mambang pada dateng, aken menarima prentah dari kakanda. Dengen sigrah hamba dateng ampirin itoe tiang dari batoe, maka hamba tida oesah takoet jang boeroeng itoe nanti liat sama hamba, sebab hamba ada pegang pedang wasijat itoe, jang membikin hamba tiada kaliatan oleh djin djahat. Oleh kerna pedang wasijat ini, maka hamba dapet lawan boeroeng itoe, adapoen keras soenggoe berkelai-an itoe3. Apabila hamba dapet pegang padanja, maka lantas hamba tjoba koewasanja. Sekalian djin pri dan mambang lantas dateng bersoedjoed di hadepan hamba, aken menoenggoe prentah, maka hamba titahken marika itoe poelang lagi ka masing-masing poenja tempat, tetapi marika itoe semoewa misti tinggal bernanti prenta dan titah dari hamba. Hamba laloe poelang kombali ketemoe-in hamba poenja isteri, maka hamba tanja, apa dia soeka toeroet sama hamba. Dia bilang baik, maka itoe lantas hamba berdjalan lagi bersama hamba poenja isteri ka djalanan ketjil itoe jang sepandjang itoe soengei. Begitoe kita berdoewa sampe lagi di tempat orang-orang adjaib itoe, jang matanja ada di dada. Marika itoe sediahkеn boeat hamba satoe binatang jang bisa beterbang, maka ia ioilah bawa kita berdoewa poelang lagi ka Balsora. Emir dari itoe negri samboet sama kita orang dengen segala soeka ati, sebab dia depetin kombali anaknja perampoewan jang di sangkanja soeda ilang. Sasoedahpja hamba bernanti bebrapa bari lamanja, aken mengilangken<noinclude>{{rh||1494|}}</noinclude> 5hzbl6xshm1ibv1pzyx6umde8zftzw1 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/239 104 100899 290965 288871 2026-05-10T13:31:09Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290965 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>ianja doedoek di medjă di atas loteng; maka engkau misti samboet soedagar anak-anak moeda jang dateng dan engkau kasi marika itoe doedoek dimedja jang di bawah.” Ala Eddin berkata: »Ach, kenapa ajanda sediaken doewa medja jang satoe boewat soedagar jang toewa-toewa dan jang laen boewat anak-anaknja.” Djawab Schemseddin: »kami berboewat demikian soepaija kamoe sekalian petoeroe moe anak moeda tiada oesah kikoek berkoempoel sama orang toewa-toewa dan orang toewa-toewa ini poen tida oesah tertjengang oleh ka-adaan-nja anak-anaknja.” <ref>Adat kabiasa-an orang-orang arab memang begitoe, anak-anak moeda jang belon bertjambang tiada pantes doedoek makan berkoempoel sama orang toewa-toewa.</ref> Ala Eddin senang mendengar djawab ajandanja sedemikiaan, djadi ia jakinin soenggoe-soenggoe aken toeroet sebagimana titah orang toewanja. Sasoedanja orang soedagar toewa toewa itoe abis makan dan abis minoem serbat, maka marika itoe bitjaraken segala roepa hal. dan berkata maen-maen aken ketawahan. Adapoen anak-anak moeda itoe sekalian pada doedoek di medja di bawah loteng serta Ala Eddin doedoek di kepala medja. Abis sa-orang anak moeda menanja pada sa-orang ampirnja katanja: »Hassan bilangkenlah pada koe bagimana engkau telah peroleh oewang sekejan banjaknja hingga engkau bisa djoewal beli apa jang di kehendakmoe.” Maka djawablah jang di tanja itoe: »Koetika akoe ini soeda sampe oemoer maka akoe minta barang dagangan pada ajahanda koe. Adapoen ajahkoe bilang bahoewa ia tiada ada poenja barang-barang dagangan melaenken ia adjarin pada koe aken minta pindjem oewang kapada orang laen soepaija akoe bisa berniaga beladjar mendjoewal beli. Kerna itoe maka akoe pegi pada sa-orang soedagar memindjem oewang seriboe dinar emas. Dengan oewang itoe akoe beliken bebrapa banjak barang-barang dagangan laloe akoe pegi ka benoewa Sjam. Di sitoe barang-barangkoe telah terdjoewal dengen harga doewa kali lebi tinggi dari modal koe beli. Abis di negri Sjam ini akoe blandja lagi membeli barang-barang dagangan jang akoe bawa pegi ka Bagdad. Di sini akoe djoewalken barang-barang itoe dengen oentoeng. »Begitoelah perboewatankoe hingga lama kalama-an akoe dapet ka-oentoengan sampe sepoeloe riboe dinar emas banjaknja.” Sekalian anak-anak moeda itoe masing-masing pada tjeritaken apa-apa dari hal dirinja sendiri sampe pada Ala Eddin aken hikajatken hal dirinja. Maka ia berkata: »Akoe ini di piarah di dalem roemah di bawah tanah maka baroe di minggoe inilah akoe dapet keloewar dari sitoe. Saben sari akoe pegi ka kedeinja orang toewakoe dan dari sitoepoen akoe poelang _____ {{smallrefs}}<noinclude>{{rh||1411}}</noinclude> tfzc0cjb69w9dzkmie77z7hxi0rnwa5 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/324 104 100902 290846 281768 2026-05-10T12:31:16Z Lutfiyatun 26681 290846 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>[[File:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur (page 324 crop).jpg|center|frameless|upright=2]]<noinclude></noinclude> cyobz15nwlmar54bz89wqdat2dvkyj0 290847 290846 2026-05-10T12:31:43Z Lutfiyatun 26681 290847 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Lutfiyatun" /></noinclude>[[File:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur (page 324 crop).jpg|center|frameless|upright=2]] {{missing image}}<noinclude></noinclude> 6xcayrocccv1wuw4b4y5nwn3nw8nbql Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/595 104 100910 291008 289318 2026-05-10T13:35:29Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291008 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>Abis ia keloewarkenlah segala isi kantong dari ikat pinggangnja di brihkennja pada iboenja. Aken tetapi, si iboe tiada begitoe ferdoeli-in itoe batoe-batoe permata, maskipoen mahal harganja. Tjoba marika itoe biasa meliat batoe mahal-mahal, maka dapetlah di taksir besar harganja, sebab di terang lampoe sekalipoen batoe itoe bernjala, memaen seperti sinar bintang. Aken tetapi orang-orang itoe orang saderhana, belon perna meliat batoe permata jang berharga, djadi sekalian batoe jang bagoes-bagoes dan besar-besar jang di bawa oleh Aladin itoe, tiada sekali di ferdoeli-in. Setelah soedah Aladin abis tjeritaken sekalian hal ichwalnja, maka iboenja sanget marah, mendengar tjerita perboewatannja itoe orang toewa jang doerbaka, ianja kata-in dan soempa-in orang toewa itoe seraija berkata: »Ja anakkoe memang orang sahir itoe keliwat djahat. Maka terpoedjilah Allah ta-Allah jang melepasken dikau dari pada bahaija besar itoe.” Iboe Aladin masi maoe bitjara lagi pandjang-pandjang, aken tetapi matanja Aladin terlaloe mengantoek, sebab tiga hari―tiga malem lamanja, ianja tiada tidoer. Djadi si iboe bawa anaknja itoe ka tempat tidoer dan ia sendiri poen pegi tidoer djoega. Sj hdan, maka Aladin poen tidoerlah dengan njenjak djoega, hata maka setelah Aladin bangoen dari pada tidoernja itoe, maka matahari soedah tinggi. Ianja merasa-in peroetnja lapar, maka ia poen mintalah makan poela kapada iboenja. Aken tetapi si iboe berkata: »Ach anakkoe, mana nasi saboetir poen tiada ada di roemah, sebab abis kemaren akoe makan, tetapi sabarlah sedikit nanti akoe tjariken makanan. Kabetoelan masih ada benang jang belon akoe djoewalken, akoe nanti pegi djoewal benang itoe dan dengan pendapetan doewit itoe akoe beli-in makanan boewat dikau.” Djawabnja Aladin: »Iboe, baik djoewal benangnja di laen ari, sekarang baik bawa itoe pelita padakoe, jang kemaren sanda bawa dari itoe lejang, nanti sanda djoewalken, doewit nja tentoe sampe boewat kita makan ini hari dan barangkali masih ada katinggalan lagi boewat kita makan malem.” Si iboe pegi ambil itoe pelita abis katanja: »Apa inilah pelita itoe tetapi roepanja terlaloe amat kotor, kaloe akoe bresih-in doeloe bole djadi naik harganja.” Djadi si iboe bawa aer dengan pasir boewat gosok itoe pelita. Aken tetapi barang di gosoknja, maka tampaklah soewatoe djin berdiri di hadapan iboe Aladin itoe entah dari mana datengnja, tiada dapet di ketahoeinja, adapoen djin itoe berkata seperti djin jang dahoeloe dengan soewaranja seperti goentoer: »Apakah di kahendaki toewan hamba? Apa djoega titah prentah toewan hamba, nistjaija hamba bersama-sama kawan hamba djoendjoengken, biar siapa djoega jang menarah pelita ini !” Iboe Aladin poen sangetlah terkedjoet, hingga djato tiada sedar aken dirinja, maka Aladin melihat djin itoe tiadalah takoetnja, karana ia doeloe<noinclude>{{rh||1582}}</noinclude> 90k0ys3w279kth5gldrdrckexy34hc8 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/529 104 100915 291305 282063 2026-05-10T16:37:21Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan tanda petik belakang serta ada paragraf yang tidak rapi 291305 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{rh|1001 MALAM}}</noinclude>Abdallah bersoedjoed, maka se-abisnja ratoe bitjara, lantas Abdallah badiri laloe berkata dengan plahan-plahan, sebab ia tiada maoe orang dengar bitjaranja, katanja: >Doeli toewankoe jang berkoewasa, hambanja taoe, jang doeli toewankoe tiada sekali-kali goesar ati, jang kemaren hambanja ada kaberani-in sedikit, aken tida serahken hamba poenja kaponakan kapada doeli toewankoe, sebab doelí toewankoe sendiri bole pikir, bagimana berat adanja, aken serahken anak kapada orang laen. Adapoen hambanja telah djandjiken, aken serahken dia pada doeli toewankoe, tetapi hambanja bermoehoen keras pada doeli toewankoe, djanganlah doeli toewankoe kenaken dia di langgar ilmoenja doeli toewankoe. Anak itoe betoel hamba poenja kaponakan, maka hamba bikin dia seperti anak sendiri, dari itoe, maka doeli toewankoe, nistjaija bikin hamba mendjadi nekat, djikaloe doeli toewankoe tiada pegang tegoeh doeli toewankoe poenja djandji, seperti kemaren di kataken oleh doeli toewankoe." Maka djawab ratoe Labe: >Lagi sekali kami djandjiken aken tegoehken djandji kami, serta soempah kami jang kemaren. Kami taoeh, bahoewa engkau belon kenal betoel pada kami. Selama-lamanja engkau liat kami pake kaen toetoep moeka, adapoen dari sebab kami soeka bersahbat-an sama kaponakanmoe, maka kami hendak oendjoeken padamoe, bahoewa roepa kami poen patoet dan sembabat dengan roepanja kaponakanmoe." Sambil berkata demikian, maka ratoe Labe angkat kaen toetoep moskauja, hingga roepanja dapet di pandang oleh Beder dan oleh Abdallah. Roepanja terlaloe amat elok, aken tetapi atinja Abdallah tiada tergerak, sebab ia berkata dalem dirinja: >Belon sampe, kapan orang ijoema bagoes dan elok roepa sadja; tingka kelakoeannja dan atinja poen misti baik djoega, ia itoelah baroe membikin sampe elokuja orang perampoewan." Radja Beder poen berpikir demikian djoega, sambil memandang roepanja ratoe Labe. Maka Abdallah laloe pegang tangannja Beder abis di bawanja mengadap ratoe. Katanja Abdallah: >Doeli toewankoe, inilah hamba serahken hamba poenja kaponakan; hamba bermoehoen keras, biar doeli toewankoe ingat betoel, bahoewa dia kami poenja kaponakan dan hambanja harep djangan dia di larang aken sering dateng tengok-in hamba." Rato Labe djandjiken baik; Beder boleh dateng tengokin kiai sakabendaknja, abis ratoe bribken satoe kantong terisi oewang seriboe dinar emas pada itoe kiai, maka kiai ia itoe kepaksa aken trima, kendati bebrapa kali ia tampik anoegrahnja ratoe. Laen dari itoe, maka ratoe poen soeda sediahken djoega satoe koeda jang di ribasin tjakep-tjakep boewat toenggangannja Beder. Sedang Beder lagi naik koeda itoe, maka ratoe berkata pada kiai katanja: >Abdallah kami loepaken sekali menanja siapakah namanja anak ini." Barang Abdallah menjaoet, bahoewa anak itoe namanja Beder, maka ratoe berkata: >Ach<noinclude>{{rh||1549}}</noinclude> 9arr1fbz9ajdte969mgrczcxt39wjrp 291381 291305 2026-05-10T22:18:47Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291381 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{rh|1001 MALAM}}</noinclude>Abdallah bersoedjoed, maka se-abisnja ratoe bitjara, lantas Abdallah badiri laloe berkata dengan plahan-plahan, sebab ia tiada maoe orang dengar bitjaranja, katanja: >Doeli toewankoe jang berkoewasa, hambanja taoe, jang doeli toewankoe tiada sekali-kali goesar ati, jang kemaren hambanja ada kaberani-in sedikit, aken tida serahken hamba poenja kaponakan kapada doeli toewankoe, sebab doelí toewankoe sendiri bole pikir, bagimana berat adanja, aken serahken anak kapada orang laen. Adapoen hambanja telah djandjiken, aken serahken dia pada doeli toewankoe, tetapi hambanja bermoehoen keras pada doeli toewankoe, djanganlah doeli toewankoe kenaken dia di langgar ilmoenja doeli toewankoe. Anak itoe betoel hamba poenja kaponakan, maka hamba bikin dia seperti anak sendiri, dari itoe, maka doeli toewankoe, nistjaija bikin hamba mendjadi nekat, djikaloe doeli toewankoe tiada pegang tegoeh doeli toewankoe poenja djandji, seperti kemaren di kataken oleh doeli toewankoe." Maka djawab ratoe Labe: >Lagi sekali kami djandjiken aken tegoehken djandji kami, serta soempah kami jang kemaren. Kami taoeh, bahoewa engkau belon kenal betoel pada kami. Selama-lamanja engkau liat kami pake kaen toetoep moeka, adapoen dari sebab kami soeka bersahbat-an sama kaponakanmoe, maka kami hendak oendjoeken padamoe, bahoewa roepa kami poen patoet dan sembabat dengan roepanja kaponakanmoe." Sambil berkata demikian, maka ratoe Labe angkat kaen toetoep moskauja, hingga roepanja dapet di pandang oleh Beder dan oleh Abdallah. Roepanja terlaloe amat elok, aken tetapi atinja Abdallah tiada tergerak, sebab ia berkata dalem dirinja: >Belon sampe, kapan orang ijoema bagoes dan elok roepa sadja; tingka kelakoeannja dan atinja poen misti baik djoega, ia itoelah baroe membikin sampe elokuja orang perampoewan." Radja Beder poen berpikir demikian djoega, sambil memandang roepanja ratoe Labe. Maka Abdallah laloe pegang tangannja Beder abis di bawanja mengadap ratoe. Katanja Abdallah: >Doeli toewankoe, inilah hamba serahken hamba poenja kaponakan; hamba bermoehoen keras, biar doeli toewankoe ingat betoel, bahoewa dia kami poenja kaponakan dan hambanja harep djangan dia di larang aken sering dateng tengok-in hamba." Rato Labe djandjiken baik; Beder boleh dateng tengokin kiai sakabendaknja, abis ratoe bribken satoe kantong terisi oewang seriboe dinar emas pada itoe kiai, maka kiai ia itoe kepaksa aken trima, kendati bebrapa kali ia tampik anoegrahnja ratoe. Laen dari itoe, maka ratoe poen soeda sediahken djoega satoe koeda jang di ribasin tjakep-tjakep boewat toenggangannja Beder. Sedang Beder lagi naik koeda itoe, maka ratoe berkata pada kiai katanja: >Abdallah kami loepaken sekali menanja siapakah namanja anak ini." Barang Abdallah menjaoet, bahoewa anak itoe namanja Beder, maka ratoe berkata: >Ach<noinclude>{{rh||1549}}</noinclude> e6ohdp546i1oap6xceax74g7uxktj25 291394 291381 2026-05-10T23:24:17Z Aeia aai 24023 291394 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{rh|1001 MALAM}}</noinclude>Abdallah bersoedjoed, maka se-abisnja ratoe bitjara, lantas Abdallah badiri laloe berkata dengan plahan-plahan, sebab ia tiada maoe orang dengar bitjaranja, katanja: »Doeli toewankoe jang berkoewasa, hambanja taoe, jang doeli toewankoe tiada sekali-kali goesar ati, jang kemaren hambanja ada kaberani-in sedikit, aken tida serahken hamba poenja kaponakan kapada doeli toewankoe, sebab doelí toewankoe sendiri bole pikir, bagimana berat adanja, aken serahken anak kapada orang laen. Adapoen hambanja telah djandjiken, aken serahken dia pada doeli toewankoe, tetapi hambanja bermoehoen keras pada doeli toewankoe, djanganlah doeli toewankoe kenaken dia di langgar ilmoenja doeli toewankoe. Anak itoe betoel hamba poenja kaponakan, maka hamba bikin dia seperti anak sendiri, dari itoe, maka doeli toewankoe, nistjaija bikin hamba mendjadi nekat, djikaloe doeli toewankoe tiada pegang tegoeh doeli toewankoe poenja djandji, seperti kemaren di kataken oleh doeli toewankoe.” Maka djawab ratoe Labe: »Lagi sekali kami djandjiken aken tegoehken djandji kami, serta soempah kami jang kemaren. Kami taoeh, bahoewa engkau belon kenal betoel pada kami. Selama-lamanja engkau liat kami pake kaen toetoep moeka, adapoen dari sebab kami soeka bersahbat-an sama kaponakanmoe, maka kami hendak oendjoeken padamoe, bahoewa roepa kami poen patoet dan sembabat dengan roepanja kaponakanmoe.” Sambil berkata demikian, maka ratoe Labe angkat kaen toetoep moekanja, hingga roepanja dapet di pandang oleh Beder dan oleh Abdallah. Roepanja terlaloe amat elok, aken tetapi atinja Abdallah tiada tergerak, sebab ia berkata dalem dirinja: »Belon sampe, kapan orang tjoema bagoes dan elok roepa sadja; tingka kelakoeannja dan atinja poen misti baik djoega, ia itoelah baroe membikin sampe eloknja orang perampoewan.” Radja Beder poen berpikir demikian djoega, sambil memandang roepanja ratoe Labe. Maka Abdallah laloe pegang tangannja Beder abis di bawanja mengadap ratoe. Katanja Abdallah: »Doeli toewankoe, inilah hamba serahken hamba poenja kaponakan; hamba bermoehoen keras, biar doeli toewankoe ingat betoel, bahoewa dia kami poenja kaponakan dan hambanja harep djangan dia di larang aken sering dateng tengok-in hamba.” Rato Labe djandjiken baik; Beder boleh dateng tengokin kiai sakahendaknja, abis ratoe brihken satoe kantong terisi oewang seriboe dinar emas pada itoe kiai, maka kiai ia itoe kepaksa aken trima, kendati bebrapa kali ia tampik anoegrahnja ratoe. Laen dari itoe, maka ratoe poen soeda sediahken djoega satoe koeda jang di rihasin tjakep-tjakep boewat toenggangannja Beder. Sedang Beder lagi naik koeda itoe, maka ratoe berkata pada kiai katanja: »Abdallah kami loepaken sekali menanja siapakah namanja anak ini.” Barang Abdallah menjaoet, bahoewa anak itoe namanja Beder, maka ratoe berkata: »Ach<noinclude>{{rh||1549}}</noinclude> qgyfxm5lxxlmrnc8s4umnp2x66b66ii Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/151 104 100916 290837 281883 2026-05-10T12:24:53Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290837 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{| style="width:100%; line-height:1.5;" | 18. || Persatuan Penghulu dan Pegawainja<br>(P.P.D.P.) Djawa-Timur || — tgl. 7 Djanuari 1950 |- | 19. || Persatuan Rakjat Djawa-Timur || — tgl. 8 Djanuari 1950 |- | 20. || Rakjat Pasuruan || — tgl. 9 Djanuari 1950 |- | 21. || Sarekat Sekerdja Pamong Pradja<br>Banjuwangi || — tgl. 20 Djanuari 1950 |- | 22. || Rakjat Sidoardjo || — tgl. 23 Djanuari 1950 |} Selain dari berpuluh-puluh mosi dan resolusi tersebut, maka terdapat pula berpuluh- puluh organisasi-organisasi, partai-partai dan golongan rakjat lainnja diseluruh Djawa-Timur telah menjatakan pendapatnja agar supaja dengan setjepat-tjepatnja Negara Djawa-Timur dibubarkan dan dikembalikan kepada Republik Indonesia. Sebagai akibat tidak sabarnja rakjat menanti bubarnja Negara Djawa-Timur setjepat-tjepatnja sesuai dengan tuntutannja, maka adakalanja terdjadi suasana panas disana-sini antara lain di Probolinggo, Sidoardjo, Lawang, Pasuruan dan lain-lain dimana rakjat serta Djawatan-Djawatan dan Partai seluruhnja dengan serempak bersama-sama memutuskan hubungan dengan Pemerintah Negara Djawa-Timur dan menjatakan daerahnja sebagai wilajah Republik Indonesia. Selain dari itu, dari seluruh pelosok dengan tidak putus-putusnja membandjir desakan-desakan rakjat, demonstrasi-demonstrasi, rapat-rapat samodra, resolusi dan mosi-mosi jang kesemuanja menjatakan taat kepada Pemerintah Republik Indonesia dan tidak mengakui lagi Negara dan Pemerintah Djawa-Timur. Terhadap desakan-desakan rakjat jang bertambah hangat dan panas itu, mulailah terasa, bahwa kedudukan Negara Djawa-Timur jang telah rapuh dan gontjang itu, tak dapat dipertahankan lagi. Sekalipun dengan alasan-alasan politik dinjatakan oleh Pemerintah Negara Djawa-Timur, bahwa Negara Djawa-Timur akan tunduk kepada kehendak rakjat sesuai dengan fatsal 43, 44 dan 187 dari Undang-Undang Dasar Sementara R.I.S. dimana dalam Sidang Kabinet R.I.S. jang ke-4 telah diputuskan untuk mengadjukan rentjana Undang-Undang Federal tentang pembubaran Daerah sesuatu Negara Bagian, namun keinginan rakjat supaja Negara Djawa-Timur selekas mungkin dibubarkan tak dapat dipertangguhkan lagi. Demikianlah didalam berusaha kedjurusan penjelesaian tjepat itu, oleh Pemerintah Negara Djawa-Timur diputuskan mengirim suatu perutusan kepada Pemerintah R.I.S. jang terdiri dari R.T.M. Soedarmo, Mr. Indra kusuma dan Mr. Iskaq Tjokrohadisoerjo pada tanggal 3 Djanuari 1950 guna merundingkan tindakan-tindakan jang diperlukan guna mempertjepat terlaksananja pembubaran Negara Djawa-Timur. Kemudian setelah oleh Dewan Menteri dianggap, bahwa keadaan dan keinginan rakjat di Djawa Timur sudah sedemikian hangatnja, sehingga menunggu pembubaran Negara Djawa-Timur menurut pasal 43 dan 44 U.U.D. Sementara R.I.S. jang masih akan ditetapkan dalam Undang-Undang Federal inengenai perobahan status sesuatu Negara Bagian dapat menimbulkan ketidak puasan rakjat jang sudah haus daerahnja selekas mungkin digabungkan dengan Republik Indonesia, maka pada tanggal 13 Djanuari 1950 Pemerintah Negara Djawa-Timur telah mengadjukan permintaan kepada<noinclude>{{rvh|||'''119'''}}</noinclude> fv23g2rnpjzps9jks25ipv6tv1narhl Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/463 104 100920 291463 283370 2026-05-11T01:26:07Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291463 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>dan dia bisa djoega idoep di dalem aer. Sekaraug iui kapan djoega dia maoe bole dia masoek ka dalem laoet aken liat negri-negri di sana. Abis bitjara sademikian, maka radja Saleh serabken lagi anak itoe kapada baboenja, dan ia kaloewarken satoe peti ketjil dari kantong badjoenja. Itoe peti ketjil telah di ambiloja dari astana di dalem laoet, koetika ia poelang tadi. Ianja boeka itoe peti, maka kaliatan penoeh dengan intan, ada tiga ratoes jang sabesar-besarnja telor boeroeng merpati, sedemikian poen banjaknja batoe merah jang besar-besar dan batang batang batoe djambroet jang pandjangnja setengah kaki, lagi ada tiga poeloe kaloeng moetiara, satoe satoenja ada sepoeloe moetiara. Ini semoewa di persembabkennja pada radja Persie sambil berkata: »Doeli sjab alam, koetika kami di panggil oleh kami poenja soedara, maka kami tiada taoe di mana ianja berdiam, tiada sekali kami dvega, bahoewa ia djadi permeisoeri radja jang begitoe berkoewasa dan besar karadja-andja, oleh kerpa itoe, maka kami ini dateng dengan tangan kosong Hata, maka bahna kami hendak mengoendjoeken kami poenja bales triunah kasi pada doeli sjah alam, dari itoe kami bermoeboen pada toewankoe biar apakah kiranja doeli toewankoe trimabken ini persembahan kami jang ketjil sadja. Wah; radja Persie tertjengang meliat barang begitoe bagoes dan begitoe mahal, maka katanja: Astaga, apakah persembahan ini toewan kataken ketjil sadja, sedang harganja ampir tiada tepermanai, itoekah toewan nama-in sedikit pembales trimah kasi toewau boewat kabaikan dan tjinta kami pada Gulnare. Soenggoe kami bilang lagi sekali, kaloe ada orang jang wadjib bilang trima kasinja, maka kamilah haroes mengotjap soekoer, mengangkat sepoeloe djari pada Allah ta- alla, aken mengoendjoekin kagirangan kami, baboewa toewankoe sa-ka-oem kaloewarga ridlaken kami beristeri sama Gulnare. Maka pada isterinja sri baginda maharadja demikian katanja: »Adinda jang tertjinta, kami ini sanget maloe meliat persembahan adinda poenja soe dara radja Saleh, maka kami poen keras maloe djoega, aken bribken padanja soewatoe pembales, barangkali ianju nanti djadi goesar, kerna itoelah adinda jang djadi gantinja kami aken mengoendjoek kagirangan dan kasenangan kami." Djawabnja radja Saleh: »Kami tiada mendjadi heran jang doeli sjah alam kira sekalian persembaban kami begitoe besar harganja, sebab memang di darat tiada ada batoe permata sabegitoe bagoes-bagoes dan begitoe banjak, aken tetapi kaloe toewan taoe, bahoewa tempat-tempat di mana barang-barang itoe ada telah di ketahoeinja semoewa oleh kami, maka toewankoe tentoe tiada beran lagi bagimana gampangoja kami bisa koempoelken semoewa barang barang itoe. Lagi kita orang minta pada doeli sjah alam, djanganlab doeli toewankoe tolak kami poenja persembahan. Djadi maoe tida maoe, radja ke<noinclude>{{rh||1518}}</noinclude> 1xk69wru0chu6jnoqubnmv8irj99vux 291540 291463 2026-05-11T02:44:52Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291540 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>dan dia bisa djoega idoep di dalem aer. Sekaraug ini kapan djoega dia maoe bole dia masoek ka dalem laoet aken liat negri-negri di sana. Abis bitjara sademikian, maka radja Saleh serahken lagi anak itoe kapada baboenja, dan ia kaloewarken satoe peti ketjil dari kantong badjoenja. Itoe peti ketjil telah di ambilnja dari astana di dalem laoet, koetika ia poelang tadi. Ianja boeka itoe peti, maka kaliatan penoeh dengan intan, ada tiga ratoes jang sabesar-besarnja telor boeroeng merpati, sedemikian poen banjaknja batoe merah jang besar-besar dan batang-batang batoe djambroet jang pandjangnja setengah kaki, lagi ada tiga poeloe kaloeng moetiara, satoe satoenja ada sepoeloe moetiara. Ini semoewa di persembabkennja pada radja Persie sambil berkata: »Doeli sjahalam, koetika kami di panggil oleh kami poenja soedara, maka kami tiada taoe di mana ianja berdiam, tiada sekali kami doega, bahoewa ia djadi permeisoeri radja jang begitoe berkoewasa dan besar karadja-andja, oleh kerna itoe, maka kami ini dateng dengan tangan kosong. Hata, maka bahna kami hendak mengoendjoeken kami poenja bales trimah kasi pada doeli sjah alam, dari itoe kami bermoeboen pada toewankoe biar apakah kiranja doeli toewankoe trimahken ini persembahan kami jang ketjil sadja. Wah; radja Persie tertjengang meliat barang begitoe bagoes dan begitoe mahal, maka katanja: Astaga, apakah persembahan ini toewan kataken ketjil sadja, sedang harganja ampir tiada tepermanai, itoekah toewan nama-in sedikit pembales trimah kasi toewan boewat kabaikan dan tjinta kami pada Gulnare. Soenggoe kami bilang lagi sekali, kaloe ada orang jang wadjib bilang trima kasinja, maka kamilah haroes mengotjap soekoer, mengangkat sepoeloe djari pada Allah ta-alla, aken mengoendjoekin kagirangan kami, bahoewa toewankoe sa-ka-oem kaloewarga ridlaken kami beristeri sama Gulnare. Maka pada isterinja sri baginda maharadja demikian katanja: »Adinda jang tertjinta, kami ini sanget maloe meliat persembahan adinda poenja soedara radja Saleh, maka kami poen keras maloe djoega, aken brihken padanja soewatoe pembales, barangkali ianja nanti djadi goesar, kerna itoelah adinda jang djadi gantinja kami aken mengoendjoek kagirangan dan kasenangan kami.” Djawabnja radja Saleh: »Kami tiada mendjadi heran jang doeli sjah alam kira sekalian persembahan kami begitoe besar harganja, sebab memang di darat tiada ada batoe permata sabegitoe bagoes-bagoes dan begitoe banjak, aken tetapi kaloe toewan taoe, bahoewa tempat-tempat di mana barang-barang itoe ada telah di ketahoeinja semoewa oleh kami, maka toewankoe tentoe tiada beran lagi bagimana gampangnja kami bisa koempoelken semoewa barang-barang itoe. Lagi kita orang minta pada doeli sjah alam, djanganlah doeli toewankoe tolak kami poenja persembahan. Djadi maoe tida maoe, radja {{hws|ke|kepaksa}}<noinclude>{{rh||1518}}</noinclude> g5926zzfe46tmoxkhl41slw7oj2y3bc Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/593 104 100921 291006 289313 2026-05-10T13:35:25Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291006 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>anaknja itoe soedah mati, maka kata iboenja dengan tangis jang amat sedih, ia anakkoe, kamana djoega engkau di bawa mamandamoe itoe, di delem tiga hari―tiga malem ini engkau tiada poelang-poelang, terlaloe doeka tjita hatikoe mengenangken dikau tiada laen di dalem atikoe, melaenken matilah engkau, maka di pelok, di tjioemnja poela anaknja jang sabidji mata itoe jang terletak seperti majit. Achir-achirnja, maka Aladin mendoesin lagi dari pada pangsannja, maka kata Aladin: »Ia iboekoe, peroet sanda ini terlaloe amat laparnja, kepingin sekali makan, sebab tiga hari―tiga malem lamanja mana sabidji nasi atau aer sadikit tiada dapet sanda rasaken, hendaklah kiranja iboe mentjariken makanan aken sanda.” Apabila di dengar oleh iboe Aladin perkataan itoe, maka iboe Aladin poen pegilah mengambil makanan laloe di sadiakennja makanan itoe di hadepan anaknja maka katanja: »Hei anakkoe, djantoeng ati, tjahija matakoe makanlah, aken tetapi djangan banjak-banjak dahoeloe, kerna pertama sanget kosongnja proetmoe, djikaloe engkau toeroetken nafsoemoe, nistjaija binasa badanmoe di langgar penjakit, dan lagi djangan engkau berkata-kata daboeloe, karana toeboehmoe lagi lelah, djika toeboehmoe soedah segar, bahroelah engkau tjeritahken sekalian hal ichwalmoe di dalem tiga hari―tiga malem itoe, soepaija hatikoe jang terlaloe berkoewatir dari hari Djoemahat sampe sekarang bole mendjadi terlebi senang. Hata, maka Aladin toeroet seperti bitjara iboenja; ianja makan perlahan-perlahan dan minoemnja poen sedikit-sedikit. Sjahdan Aladin, serta dirasai-nja dirinja soedah ilang lelahnja, maka katanja: »Ja iboekoe, menoeroet sabetoelnja, maka haroes sanda marah sekali pada iboe, sebab iboe terlaloe lekas pertjaija moeloet orang dan serahken sanda kapada orang toewa itoe, jang tiada laen nijatnja tjoema aken membinasa-in sanda, maka sanda rasa jang itoe orang toewa tentoe kira, bahoewa sanda sekarang, nistjaija matilah. Adapoen kita sanget bersesat, iboe kira orang toewa itoe sasoenggoe-soenggoenja abang dari pada bapa, dan sanda kira sabenarnjalah ia mamandakoe. Maka siapa tiada nanti pertjaija soenggoe, orang begitoe manies boedi bahasanja, serta moerah atinja? Aken tetapi, sasoenggoenja dia itoe bangsat besar, orang doerhaka. Ia sengadja mengoendjoekin boedi babasa manies, soepaija gampang ia kaboelken niatnja aken membinasa-in sanda. Maka sanda tiada sekali-kali membrihken sebab atawa lantaran padanja, aken dia bikin begini pada sanda. Djika sanda tjeritahken sekalian hal ichwalnja sauda, nistjaija iboe mengarti betoel, bahoewa boekan sanda poenja salah sampe boleh djadi begini. Maka Aladin tjerihtankenlah segala hal ichwalnja pada iboenja, dan tiada di loepakennja, aken mentjeriterahken dari pada pelita dan boewah-boewah batoe reta moetoe menikam.<noinclude>{{rh||1581}}</noinclude> asoc3dfsr5h23qgkicw7mnn3jshe3fv Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/591 104 100922 291005 289312 2026-05-10T13:35:21Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291005 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>matilah dia di boenoeh lapar dan dahaga, maka ia djoendjoeng kadoewa tangannja, aken menjerahken djiwanja pada Allah sembaring mengotjap: »Allah hoe akbar, qodrat koewasa Allah, ia itoelah jang besar sendiri!” Maka selagi ia djoendjoeng kadoewa tanganja, kabetolan tjintjinnja jang di perolehnja dari itoe orang toewa tergesok oleh djari tangannja dan sakoetika itoe djoega, maka kaloewarlah satoe djin di hadepannja tiada ketahoewan dari mana datengnja, maka djin itoe roepanja sanget menakoetken orang, maka kata djin itoe: „Toewan ham a, apakah kahendak toewan hamba, maka toewan memanggil hamba, adapoen hamba ini dengan segala kawan hamba mendjoendjoeng kabakti-an kapada siapa jang menarah tjintjin ini.” Tjoba Aladin tiada ada dalem kasoekaran jang sanget keras ini, nistjaija takoetlah ia meliat djin sademikian heibat roepahnja, adapoen di dalem hal kasoekaran jang terlaloe sanget ini, maka Aladin poen tiadalah takoet, aken djin itoe, maka kata Aladin, maski siapa djo ga engkau, akoe tiada ferdoeli asal dapet sadja engkau melepasken dakoe dari pada kasoekaran ini, djika engkau sanggoep.” Serta soedah Aladin berkata demikian, maka tanah poen terbelah laloe terangkat Aladin kaloewar. Bahna begitoe lama Aledin ada tinggal di gelap, maka matanja soeda tiada bisa meliat terang matahari, hingga ia tiada bisa berboewat apa-apa. Dia tinggal berbaring-baring di atas roempoet, meliat ka kanan ka kiri, aken membikin matanja djadi biasa lagi, maka Aledin poen terlaloe amat adjaib tiada dapet di fikir kernja perboewatan apakah itoe, jang membikin dianja kaloewar sakoenjoeng-koenjeong dari dalem lobang itoe dengan tiada dapet di liatnja tanah atawa pintoe terbelah. Tjoema dari bekas-bekas api, aken pembakaran boeboek orang toewa itoe dapet djoega di kenalinnja tempat, jang di datenginja dia bersama-sama itoe orang toewa. Maka Aladin berdjalan poelang, dan di djalan ia kenalin kebon-ke on dan taman-taman, jang di liwatnja bersama-sama itoe orang toewa. Kamoedian ia kenalin djalanan jang di liwatnja bersama-sama itoe orangg toewa. Sembaring djalan, maka ia memoedjiken mengotjap soekoer pada Allah sebarahoe wata-Allah, sebab oleh kerna pertoeloengan Allah, maka ia depet kaloewar dari i'oe lobarg jang tertoetoep, siapa kira jang dia bisa kaloewar lagi. Ianja berdjalan sakoewat koewat ja arak jarg tiada makan, tiada minoem di dalem tiga hari-tiga malem, maka boewah-boewah ratna moetoe menikam jang telah di petiknja di taman malegei itoe peen di kandoengnja poelang. Setelah sampe di roemahnja, maka ia djato peng an, saperkara dari sebab terlaloe amat lelahnja, dan kadoewa perkara bahra keras girangnja dapet bertemoe lagi sama iboenja. Aladin pang an lama djo ga, maka iboenja tjioem dan pelok anaknja dan tada dipandangnja apa tjape dan soesah, asal anaknja bisa djadi segar kembali. Iboenja memang soedah kira, jang<noinclude>{{rh||1580}} {{rh|{{smaller|1001 MALAM}}||{{smaller|90}}}}</noinclude> izsgtrn1ksx4vqh1on4k6q48uqt0k02 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/531 104 100923 291307 282050 2026-05-10T16:44:04Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan tanda petik belakang serta tanda baca 291307 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>salah sekali kenapa namanja Beder, artinja Boelan poernama, sabetoelnja baik dia di nama-in Shems, artinja: Matahari, sebab tjabijanja terlebi bagoes dari pada boelan." Hata, maka Beder hendak kasi djalau koeda toenggangannja di blakang toewan ratoe, aken telapi toewan ratoe soeroeh dia djalan berkoeda di sabelah kirinja, demikianlah ratoe berdjalan poelang. Sembaring djalan dengan di iring di djalan djalan jang penoeh orang. maka Beder dapet liat, bahoewa sekalian orang-orang itoe, roepaija boekan girang atawa senang, pada hal di liatnja seperti orang-orang itoe berdengki ati menjoempah-in sama ratoe. Marika itoe pada berkata: ,,Ach, apa ini ratoe sahir soeda dapet korban lagi sa-orang aken di anijajanja. Apakah selama-lamanja ia bole mendjalanken demikian kadjahatannja tiada sekali di langgar morka Allah? Ja, anak moeda, kasian engkau soenggoe kena di boedjoek sjeitan, kasenangan dan oentoeng atimoe tiada sebrapa lamanja, engkau, orang sengadja angkat begitoe tinggi, soepaija kaloe engkau djato, dalem sanget djatohmoe." Dari bitjara orang ini, maka Beder merasa dengan njata, bahoewa soenggoe benar sekali apa jang di tjeritahken oleh Abdallah dari pada ratoe Labe, aken tetapi, dari sebab Beder tiada sanggoep melepaskan dirinja dari pada bahaija ini, maka ia serahken dirinja di dalem tangan Allah, jang maha koewasa. Apabila ratoe Labe sampe di astananja, maka ia toeroen dari koeda laloe ia kasi tangannja sama Beder, abis masoek sekalian ka dalem astana bersama-sama perampoewan-perampoewan pengiringnja ratoe dan kepala bhrem. Ianja sendiri djalan kasi oendjoek pada Beder sekalian kabagoesan kamar-kamar jang terhias dengan barang-barang dari emas blaka dan perak, serta intan bidoeri tiada ada jang djelek. Setelah sampe di kamar tempat perdiaman ratoe, maka ia bawa Beder ka atas loteng dari mana orang bole liat ka bawah ada soewatoe taman endah-endah sekali. Radja Beder poedjiken segala apa jang di liatnja, lagi bitjaranjapoen sademikian, hingga orang tiada bisa dapet taoe laen, bahoewa ianja djadi kaponakanaja Abdallah sadja dan boekan radja Persie. Maka kadoewa itoe beromong-omong dari segala roepa hal sampe ada orang dateng kasi taoe pada ratoe jang makanan soeda tersedia. Ratoe Labe berdiri pegang tangannja Beder, abis di bawanja ka kamar tempat makan, di sitoe ianja doedoek berhadep-hadepan sama Beder. Medja makan dari pada emas blaka, piring, doelang dan laen-laennja semoewa dari pada emas. Marika itoe kadoewa bersantapan, aken tetapi tiada minoem-minoem, kamoedian abis makan, maka baroelah ratoe Labe titahken tjawannja di penoehken dengan anggoer jang amat enak. Ratoe minoem<noinclude>{{rh||1550}}</noinclude> cv8q44nc618nqcincfh5q9llpj0wrl5 291396 291307 2026-05-10T23:28:45Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291396 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>salah sekali kenapa namanja Beder, artinja Boelan poernama, sabetoelnja baik dia di nama-in Shems, artinja: Matahari, sebab tjahijanja terlebi bagoes dari pada boelan.” Hata, maka Beder hendak kasi djalan koeda toenggangannja di blakang toewan ratoe, aken tetapi toewan ratoe soeroeh dia djalan berkoeda di sabelah kirinja, demikianlah ratoe berdjalan poelang. Sembaring djalan dengan di iring di djalan djalan jang penoeh orang. maka Beder dapet liat, bahoewa sekalian orang-orang itoe, roepaija boekan girang atawa senang, pada hal di liatnja seperti orang-orang itoe berdengki ati menjoempah-in sama ratoe. Marika itoe pada berkata: »Ach, apa ini ratoe sahir soeda dapet korban lagi sa-orang aken di anijajanja. Apakah selama-lamanja ia bole mendjalanken demikian kadjahatannja tiada sekali di langgar morka Allah? Ja, anak moeda, kasian engkau soenggoe kena di boedjoek sjeitan, kasenangan dan oentoeng atimoe tiada sebrapa lamanja, engkau, orang sengadja angkat begitoe tinggi, soepaija kaloe engkau djato, dalem sanget djatohmoe.” Dari bitjara orang ini, maka Beder merasa dengan njata, bahoewa soenggoe benar sekali apa jang di tjeritahken oleh Abdallah dari pada ratoe Labe, aken tetapi, dari sebab Beder tiada sanggoep melepaskan dirinja dari pada bahaija ini, maka ia serahken dirinja di dalem tangan Allah, jang maha koewasa. Apabila ratoe Labe sampe di astananja, maka ia toeroen dari koeda laloe ia kasi tangannja sama Beder, abis masoek sekalian ka dalem astana bersama-sama perampoewan-perampoewan pengiringnja ratoe dan kepala harem. Ianja sendiri djalan kasi oendjoek pada Beder sekalian kabagoesan kamar-kamar jang terhias dengan barang-barang dari emas blaka dan perak, serta intan bidoeri tiada ada jang djelek. Setelah sampe di kamar tempat perdiaman ratoe, maka ia bawa Beder ka atas loteng dari mana orang bole liat ka bawah ada soewatoe taman endah-endah sekali. Radja Beder poedjiken segala apa jang di liatnja, lagi bitjaranjapoen sademikian, hingga orang tiada bisa dapet taoe laen, bahoewa ianja djadi kaponakanaja Abdallah sadja dan boekan radja Persie. Maka kadoewa itoe beromong-omong dari segala roepa hal sampe ada orang dateng kasi taoe pada ratoe jang makanan soeda tersedia. Ratoe Labe berdiri pegang tangannja Beder, abis di bawanja ka kamar tempat makan, di sitoe ianja doedoek berhadep-hadepan sama Beder. Medja makan dari pada emas blaka, piring, doelang dan laen-laennja semoewa dari pada emas. Marika itoe kadoewa bersantapan, aken tetapi tiada minoem-minoem, kamoedian abis makan, maka baroelah ratoe Labe titahken tjawannja di penoehken dengan anggoer jang amat enak. Ratoe minoem<noinclude>{{rh||1550}}</noinclude> ap21e4qegxcp8c9eb5zjltw3swf5kmu Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/533 104 100927 291311 289308 2026-05-10T16:48:04Z Thersetya2021 15831 291311 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>lebi doeloe, aken selamatnja Beder, abis di soeroehnja penoehin lagi, maka ratoe sendiri soegoehi tjawan itoe pada Beder. Dengan segala hormat Beder memoelijaken ratoe Labe, abis dia trima tjawan itoe dari tangannja ratoe laloe di minoemnja aken selamatnja ratoe Labe. Setelah soeda, maka sepoeloe orang perampoewannja ratoe masoek membawa tetaboehannja, dindi, ketjapi dau gamboes. Marika itoe maenin tetaboewannja sembari menjanji dengan soewara jang amat merdoe. mendengar orang-orang menjanji, maka ratoe Labe bersama-sama Beder teroes minoem-minoem, sampe laat malam. Maka Beder minoem begitoe banjak, hingga ia loepa-in, bahoewa ia ada dekat pada perampoewan sahir; dianja tjoema ingat roepanja sa-orang jang amat elok dan tjantik. Pada ka-esokan harinja, Beder mandi berlimau, abis orang bawa-in padanja persalinan jang endah-endah, ia itoe ratoe sendiri jang soeroe bawa-in. Ratoe Labe djoega soeda mandi berlimau, dan di oekoep kajoe tjendana dan kastoeri, maka pakejannjapoen terlaloe rebo dan bagoes, abis ratoe dateng samboet sama Beder laloe di adjaknja pegi ka dalem biliknja ratoe. Di itoe bilik memang soeda ada di sediah-in sarap-an pagi, abis makan pagi, maka ratoe bersama-sama Beder djalan-djalan di taman dan bersoeka-soeka-an ati. Demikianlah perboewatannja ratoe Labe sama Beder amat poeloe hari lamanja, betoel seperti biasa di perboewatnja dengan orang-orang moeda jang laen. Pada ka-esokan harinja radja Beder bangoen mendoesin dari tidoernja, maka ratoe Labe tiada dateng seperti sari-sari aken adjak dianja pegi sarapan di dalem kamarnja, oleh kerna itoe, maka Beder berpikir dalem atinja apakah bole mendjadi sebabnja. Ianja mendjadi koewatir dan koerang senang ati, jang di koewatirken, ia itoe: dirinja sendiri, maka dari sebab terlaloe lama ianja bernanti toewan ratoe tida djoega dateng, maka Beder berdjalan pegi soesoel, aken tjari padanja. Ianja pake-pakejan, abis ia berdjalan ka dalem kebon. Maka di itoe kebon ada soengi ketjil, aernja bagoes bening, dan di pinggir soengi ada saekor boeroeng poeti. Djaoehan sedikit ada satoe poehoen besar, penoeh boeroeng roepa-roepa warnanja, adapoen ini boeroeng-boeroeng tiada dapet liat sama dia. Tida sebrapa lama, maka di liatnja ada sa-ekor boeroeng itam moeloes di panggil oleh itoe boeroeng jang poeti, abis soeda berdekatan, maka itoe kadoewa boeroeng adoe patoknja, betoel seperti doewa boeroeng merpati jang lagi kasi makan satoe sama laen. Kamoedian itoe boeroeng jang poeti kombali djadi beroepa manoesia, maka Beder kenalin ia, itoelah ratoe Labe. Srenta di liatnja demikian, maka dia dapet taoe sendiri, bahoewa boeroeng jang itam tadi, ia itoelah sa-orang laki laki moeda, jang di tjiptanja oleh<noinclude>{{rh||1551}}</noinclude> 7llxhvjuhage9gfqytht8en4edyp3zv Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/201 104 100935 290962 281988 2026-05-10T13:29:46Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290962 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>[[File:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf]]<noinclude></noinclude> o9curx6ow0dlpgwqam79x0eojj12mxe Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/537 104 100944 291318 289310 2026-05-10T16:54:58Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan paragraf tidak rapi 291318 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Koetika kadoewa orang itoe soedah doedoek, maka Abdallah bertanja pada radja: »Bagimana pendapetanmoe di roemahnja ratoe sahir?” Djawaboja Beder: „Sanda brani bilang, bahoewa sampe sekarang ini ratoe itoe jakinin sabole-bole, aken mengoendjoeken katijinta-annja pada sanda, jang tiada berkapoetossan, tjoema aken m njataken pada sanda. bahoewa soenggoe ia tji tahken sanda. Aken tetapi, tadi pagi sauda ada dapetin soewatoe hal jang menimboelken doega sanda, bahoewa segala apa jang di perboewat oleh ratoe tiada laen, tjoema aken memboedjok sanda.” Maka radja Beder tjeritahken sekarang segala hel jang di liatnja tadi di dalem kebon dengan itoe boeroeng poeti dan itam. Bider berka'a poe'a: »Soenggoe kiai, tadinja sabelon sanda dapet liat ini hal, maka ampir sanda loepaken pada kiai, dan ampir djoega sanda loepa-in segala kiei poenja nasehat dan adjaran, aken mengoendjoeken kadjahat-annja ratoe kapada sanda; adapoen hal jang telah sanda soeda dapet liat, mengoendjoeken njata, bahoewa ratoe tiada perdoeliken djandjinja, maski so ompahnja sekalip en tia a bergoen a. Srenta itoe, maka lantas sanda ingat sama kiai, dan sanda rasa dirinja beroentoeng, jang ratoe idinken san a, aken pegi berdjoempa pada kiai.” Abdallah berkata; »Itoe betoel sekali anak, jang engkau soeda dateng kemari, sebab memang engkau misti djaga ati-ati sekali sama itoe perampoewan. Ketahoewilah olehmoe anak, bahoewa sekalian boeroeng-boeroeng itoe jang engkau liat di poehoen besar, ia itoe semoewa orang-orang anak moeda, orapg-orang asing jang di saijangken olehnja, abis kamoedian di tjiptanja djad i boeroeng. I oe boeroeang jang itam, ia itoe ss-orang sida-sida jang amat di tjintanja oléh ratoe, aken tetapi sida-sida itoe po n manjintaken djoega sa-orang boedak prampoean, mendjali marahnja ratoe, maka la i-'aki itoe, lantas di tjiptanja djadi boeroeng itam. Tiap-tiap kali ianja hendak bitjara sama orang itoe, maka ratoe roepaken dirinja mendjadi boeroeng, sebab ratoe sampe sekarang tiada brenti tjinta-in itoe orang. Djikaloe toewan ratoe dapet taoe, jang engkau dapetin dia lagi bertjinta tjinta-an sama itoe boeroeng itam, nistjaija engkau di binasa-in, dari itoe djangan engkau terlaloe pertjaja katjinta-annja ratoe pada kamoe. Aken tetapi engkau tiada oesah koewatir, selamanja kami ma ih bediri aken djaga padamoe, tentoe ratoe tiada nanti bisa bikin djahat padamoe. Kami ini sa-orang Islam dan nama kami Abdallah, di ini waktoe tiada ada orang jang bisa melebihi dari kami di dalem ilmoe sahir. Aken tetapi, kami tiada pake ilmoe itoe, djika tiada perloe soenggoe. Sering kami telah membatalken ilmoe itoe prampoean dan seringkali djoega kami toeloengin orang-orang anak negri melawan kedjahatan ratoenja, dari itoe kami tida takoet, sebab dia tida bisa meroesaken kami. Pada hal ratoe takoet sekali pada kami sama djoega sekalian orang-orang di ini negri, semoewa takoet pada kami, jang taoe djoega ilmoe sahir. Marika<noinclude>{{rh||1553}}</noinclude> am6w3nnkii574t2mhwnjoee0rct55hj 291438 291318 2026-05-11T00:59:13Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291438 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Koetika kadoewa orang itoe soedah doedoek, maka Abdallah bertanja pada radja: „Bagimana pendapetanmoe di roemahnja ratoe sahir?” Djawaboja Beder: „Sanda brani bilang, bahoewa sampe sekarang ini ratoe itoe jakinin sabole-bole, aken mengoendjoeken katijinta-annja pada sanda, jang tiada berkapoetossan, tjoema aken menjataken pada sanda. bahoewa soenggoe ia tji tahken sanda. Aken tetapi, tadi pagi sauda ada dapetin soewatoe hal jang menimboelken doega sanda, bahoewa segala apa jang di perboewat oleh ratoe tiada laen, tjoema aken memboedjok sanda.” Maka radja Beder tjeritahken sekarang segala hal jang di liatnja tadi di dalem kebon dengan itoe boeroeng poeti dan itam. Beder berkata poela: „Soenggoe kiai, tadinja sabelon sanda dapet liat ini hal, maka ampir sanda loepaken pada kiai, dan ampir djoega sanda loepa-in segala kiei poenja nasehat dan adjaran, aken mengoendjoeken kadjahat-annja ratoe kapada sanda; adapoen hal jang telah sanda soeda dapet liat, mengoendjoeken njata, bahoewa ratoe tiada perdoeliken djandjinja, maski soempahnja sekalipoen tiada bergoena. Srenta itoe, maka lantas sanda ingat sama kiai, dan sanda rasa dirinja beroentoeng, jang ratoe idinken sanda, aken pegi berdjoempa pada kiai.” Abdallah berkata; „Itoe betoel sekali anak, jang engkau soeda dateng kemari, sebab memang engkau misti djaga ati-ati sekali sama itoe perampoewan. Ketahoewilah olehmoe anak, bahoewa sekalian boeroeng-boeroeng itoe jang engkau liat di poehoen besar, ia itoe semoewa orang-orang anak moeda, orapg-orang asing jang di saijangken olehnja, abis kamoedian di tjiptanja djadi boeroeng. Itoe boeroeang jang itam, ia itoe sa-orang sida-sida jang amat di tjintanja oleh ratoe, aken tetapi sida-sida itoe poen manjintaken djoega sa-orang boedak prampoean, mendjali marahnja ratoe, maka laki-laki itoe, lantas di tjiptanja djadi boeroeng itam. Tiap-tiap kali ianja hendak bitjara sama orang itoe, maka ratoe roepaken dirinja mendjadi boeroeng, sebab ratoe sampe sekarang tiada brenti tjinta-in itoe orang. Djikaloe toewan ratoe dapet taoe, jang engkau dapetin dia lagi bertjinta tjinta-an sama itoe boeroeng itam, nistjaija engkau di binasa-in, dari itoe djangan engkau terlaloe pertjaja katjinta-annja ratoe pada kamoe. Aken tetapi engkau tiada oesah koewatir, selamanja kami masih bediri aken djaga padamoe, tentoe ratoe tiada nanti bisa bikin djahat padamoe. Kami ini sa-orang Islam dan nama kami Abdallah, di ini waktoe tiada ada orang jang bisa melebihi dari kami di dalem ilmoe sahir. Aken tetapi, kami tiada pake ilmoe itoe, djika tiada perloe soenggoe. Sering kami telah membatalken ilmoe itoe prampoean dan seringkali djoega kami toeloengin orang-orang anak negri melawan kedjahatan ratoenja, dari itoe kami tida takoet, sebab dia tida bisa meroesaken kami. Pada hal ratoe takoet sekali pada kami sama djoega sekalian orang-orang di ini negri, semoewa takoet pada kami, jang taoe djoega ilmoe sahir. Marika<noinclude>{{rh||1553}}</noinclude> 3t904ppjsg6qcj4mvfj82owlep6w4c7 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/483 104 100945 291486 283463 2026-05-11T01:53:49Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan paragraf tidak rapi 291486 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Djikaloe betoel mamanda saijang sama kami seperti tjerita mamanda, maka sekarang djoega mamanda poelang ka negrinja dengan membawa kami.” Radja Saleh kepaksa soenggoe aken toeroet sebagimana bitjara kaponakkapnja. Ianja lantas tjaboet tjintjinnja dari djari manisnja. Di tjintjin itoepoen ada djoega teroekir rapal-rapallan wacijat jang ada di tjintjinnja nabi Soleiman. Abis radja Saleh serahken itoe pada kaponakkannja sambil berkata: "Ambillah ini tjintjin pake di djarimoe, maka tida oesah lagi engkau takoet aer di laoet, maski ombak dan geloembang brapa besar poela, kendatipoen binatang apa djoega di dalem laoet, tiada oesah di koewatirken." Radja Beder ambil laloe di pakenja itoe tjintjin, abis radja Saleh berkata: »Ajo toeroet sebagimana kami, maka kadoewa doewanja melajang laloe nerdjoen ka dalem laoetan. Boewat radja Saleh tiada soesah aken, membawa radja Beder kadalem astananja. Tida sebrapa lamanja, maka sampelah marika itoe teroes di bawa masoek ka dalem astana, tempat perdiamannja nini-andanja radja Beder. Koetika nini-anda radja Persie dapet liat tjoetjoenja, maka sanget girangnja, ia pelok, tjioem tjoetjoenja dengan soeka ati sekali, maka katanja: »Kami tiada oesah tanja padamoe tjoetjoe, apa engkau ada baik atawa tida, sebab roepamoe mengoendjoeken njata, bahoewa engkau ada dalem sehat walafiat, soenggoe kami girang ketemoe padamoe anak, aken tetapi sebagimana prika-ada-annja bondamoe, anak Gulnare?" Radja Beder takoet sekali, tiada dia maoe tjerita jang dianja pegi dari roemab tiada dengan ketemoe-in iboenja, djadi dianja bilang sadja bahoewa iboepja tiada koerang apa-apa dan iboenja soeroeh kirim sembah dan hormat pada nini-anda. Setelab soedah, maka ratoe kasi beladjar kenal tjoetjoenja sama poeteri-poeteri di dalem astana, abis sedang Beder lagi beromong-omong sama poeteri-poeteri itoe, maka ratoe pegi bersama-sama radja Saleh ka laen kamar. Di sinilah radja Saleh kasi taoe pada iboenja, bahoewa radja Beder terlaloe amat keras bertjinta sama poeteri Giauhare, tjoema dari mendengar sadja tjeritanja jang poeteri itoe amat eloknja. Maka radja Saleb poen tjerita djoega, bahoewa ia ada bawa radja Beder dateng kemari, dari sebab ianja tiada sanggoep boedjoek radja Beder aken djangan toeroet. Sekarang radja Saleh lagi fikirin akal aken bikin beroentoeng kapopakkannja. Kendatipoen radja Saleh tiada ada salah barang sedikit sampe radja Beder mendjadi tjinta keras sama poeteri Giauhare, masih djoega ia di salah-in oleh ratoe iboenja, sebab ianja telah begitoe koerang ati-ati, aken membitjara-in poeteri Giauhare sedang radja Beder ada bersama-sama. Katanja ratoe ibue: »Anak Saleh, kasalabanmoe itoe besar sekali, tiada dapet dima-afken. Apakah engkau kira bole berharep, jang radja Samandal<noinclude> {{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1528|{{smaller|77}}}}</noinclude> squag8mabsk5si8jlvew6t7nwfzoevj Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/391 104 100949 291511 283296 2026-05-11T02:18:33Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291511 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>hamba toeroet, sebab memang dalem ati soedah banjak berobah, tatkala hamba dapet liat oewang begitoe banjak. Alkaesah maka di tjeritabken kera itoe semangkin ari semangkin djinak dan semangkin roepanja sajang dan tjinta pada hamba. Ia saben doedoek di sofa di ampir hamba, maka ia makan, minoem bersama-sama hamba. Adapoen perboewatannja kera itoe terlaloe amat adjaib, sebab pagi hari dia ilang tiada ada dalem roemah, nanti kaloe sore baroe dia poelang kombali. Maka kaloe dia poelang, saben misti dia bawa satoe kantong oewang di tangannja, kapan dia sampe di dekat hamba, maka itoe kantong dia taroken di dekat kaki, abis dia doedoek di ampir hamba. Sahari-hari dimikianlah perboewatandja, sampe lama kelama-an hamba djadi orang hartawan besar. Hamba belihken tanah dan roemah, hamba soeroeh diribken astapa besar-besar, hamba soeroeh bikin kebon dan tanaman dan hamba belibken boedak lelaki dan perampoewan, hingga termasjhoerlah hamba orang berharta. Sekali peristiwa pada soewatoe hari, sedang kera itoe lagi doedoek di ampirnja hamba, maka njatalah dia seperti tiada senang, dia liat ka kanan, ka kiri, seperti aken mentjari taoe apakah tiada ada orang laen di ampirnja kita berdoowa itoe. Hamba fikir kenapa bole begitoe perboewatannja kera itoe. Adapoen doeli sjah alam jang maba moelija bole kira sendiri sebagimana kagetnja hamba, koetika dengan njata sekali hamba dengar soewara orang memanggil hamba poenja nama. Hamba pandang kera itoe, maka ia itoelah jang telah memanggil hamba. Babna terlaloe keras kaget hamba, maka hamba soeda maoe lari dari bilik itoe, aken tetapi kera itoe lantas dateng lebi dekat laloe ia berkata: „Kami ini boekan sembarang kera.” Hamba tanja padanja kaloe engkau boekan sembarang kera, maka siapaka engkau.” Djawabnja : „Kami ini soewatoe djin. Oleh kerna melaratnja kahidoepanmoe, maka kami dapet kesian padamoe, dari itoe poen kami dateng kemari aken brihken pertoeloengan. Engkau sekarang soeda bole dapet liat koewasa kami, sebab harta kekaja-apmoe itoe semoewa bole saksiken, adapoen itoe baroe sebagian jang amat ketjil dari pada antero koewasa kami. Maka sekarang kami hendak mengoendjoeken koewasa kami terlebi lagi dari jang kami telah kaloewarken; kami hendak kasi nikah padamoe dengan sa-orang perampoewan moeda jang bagoes seperti dewa.” Kami bertanja dengan nafsoe: „Begimanakah akoe bole dapet meminang perempoewan begitoe bagoes.” Katanja kera itoe: „Dengarin sadja doeloe baik-baik, apa jang kami bitjara padamoe.” Katanja poela: „Besok pagi engkau berpakejan jang tjakep sekali, abis engkau naik koeda bagal jang di ribasi bagoes-bagoes, pake selah jang<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1484|{{smaller|96}}}}</noinclude> sr7boqy7iyfl6v69p38whsxnl22yca6 291546 291511 2026-05-11T02:48:50Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291546 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>hamba toeroet, sebab memang dalem ati soedah banjak berobah, tatkala hamba dapet liat oewang begitoe banjak. Alkaesah maka di tjeritahken kera itoe semangkin ari semangkin djinak dan semangkin roepanja sajang dan tjinta pada hamba. Ia saben doedoek di sofa di ampir hamba, maka ia makan, minoem bersama-sama hamba. Adapoen perboewatannja kera itoe terlaloe amat adjaib, sebab pagi hari dia ilang tiada ada dalem roemah, nanti kaloe sore baroe dia poelang kombali. Maka kaloe dia poelang, saben misti dia bawa satoe kantong oewang di tangannja, kapan dia sampe di dekat hamba, maka itoe kantong dia taroken di dekat kaki, abis dia doedoek di ampir hamba. Sahari-hari dimikianlah perboewatannja, sampe lama kelama-an hamba djadi orang hartawan besar. Hamba belihken tanah dan roemah, hamba soeroeh dirihken astana besar-besar, hamba soeroeh bikin kebon dan tanaman dan hamba belihken boedak lelaki dan perampoewan, hingga termasjhoerlah hamba orang berharta. Sekali peristiwa pada soewatoe hari, sedang kera itoe lagi doedoek di ampirnja hamba, maka njatalah dia seperti tiada senang, dia liat ka kanan, ka kiri, seperti aken mentjari taoe apakah tiada ada orang laen di ampirnja kita berdoowa itoe. Hamba fikir kenapa bole begitoe perboewatannja kera itoe. Adapoen doeli sjah alam jang maha moelija bole kira sendiri sebagimana kagetnja hamba, koetika dengan njata sekali hamba dengar soewara orang memanggil hamba poenja nama. Hamba pandang kera itoe, maka ia itoelah jang telah memanggil hamba. Behna terlaloe keras kaget hamba, maka hamba soeda maoe lari dari bilik itoe, aken tetapi kera itoe lantas dateng lebi dekat laloe ia berkata: »Kami ini boekan sembarang kera.” Hamba tanja padanja kaloe engkau boekan sembarang kera, maka siapaka engkau.” Djawabnja : »Kami ini soewatoe djin. Oleh kerna melaratnja kahidoepanmoe, maka kami dapet kesian padamoe, dari itoe poen kami dateng kemari aken brihken pertoeloengan. Engkau sekarang soeda bole dapet liat koewasa kami, sebab harta kekaja-anmoe itoe semoewa bole saksiken, adapoen itoe baroe sebagian jang amat ketjil dari pada antero koewasa kami. Maka sekarang kami hendak mengoendjoeken koewasa kami terlebi lagi dari jang kami telah kaloewarken; kami hendak kasi nikah padamoe dengan sa-orang perampoewan moeda jang bagoes seperti dewa.” Kami bertanja dengan nafsoe: »Begimanakah akoe bole dapet meminang perempoewan begitoe bagoes.” Katanja kera itoe: »Dengarin sadja doeloe baik-baik, apa jang kami bitjara padamoe.” Katanja poela: »Besok pagi engkau berpakejan jang tjakep sekali, abis engkau naik koeda bagal jang di rihasi bagoes-bagoes, pake selah jang<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1484|{{smaller|96}}}}</noinclude> jpr15x6fbi28zuf3rdya40hgx2le32x 292012 291546 2026-05-11T11:36:03Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 292012 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>hamba toeroet, sebab memang dalem ati soedah banjak berobah, tatkala hamba dapet liat oewang begitoe banjak. Alkaesah maka di tjeritahken kera itoe semangkin ari semangkin djinak dan semangkin roepanja sajang dan tjinta pada hamba. Ia saben doedoek di sofa di ampir hamba, maka ia makan, minoem bersama-sama hamba. Adapoen perboewatannja kera itoe terlaloe amat adjaib, sebab pagi hari dia ilang tiada ada dalem roemah, nanti kaloe sore baroe dia poelang kombali. Maka kaloe dia poelang, saben misti dia bawa satoe kantong oewang di tangannja, kapan dia sampe di dekat hamba, maka itoe kantong dia taroken di dekat kaki, abis dia doedoek di ampir hamba. Sahari-hari dimikianlah perboewatannja, sampe lama kelama-an hamba djadi orang hartawan besar. Hamba belihken tanah dan roemah, hamba soeroeh dirihken astana besar-besar, hamba soeroeh bikin kebon dan tanaman dan hamba belihken boedak lelaki dan perampoewan, hingga termasjhoerlah hamba orang berharta. Sekali peristiwa pada soewatoe hari, sedang kera itoe lagi doedoek di ampirnja hamba, maka njatalah dia seperti tiada senang, dia liat ka kanan, ka kiri, seperti aken mentjari taoe apakah tiada ada orang laen di ampirnja kita berdoewa itoe. Hamba fikir kenapa bole begitoe perboewatannja kera itoe. Adapoen doeli sjah alam jang maha moelija bole kira sendiri sebagimana kagetnja hamba, koetika dengan njata sekali hamba dengar soewara orang memanggil hamba poenja nama. Hamba pandang kera itoe, maka ia itoelah jang telah memanggil hamba. Bahna terlaloe keras kaget hamba, maka hamba soeda maoe lari dari bilik itoe, aken tetapi kera itoe lantas dateng lebi dekat laloe ia berkata: »Kami ini boekan sembarang kera.” Hamba tanja padanja kaloe engkau boekan sembarang kera, maka siapaka engkau.” Djawabnja : »Kami ini soewatoe djin. Oleh kerna melaratnja kahidoepanmoe, maka kami dapet kesian padamoe, dari itoe poen kami dateng kemari aken brihken pertoeloengan. Engkau sekarang soeda bole dapet liat koewasa kami, sebab harta kekaja-anmoe itoe semoewa bole saksiken, adapoen itoe baroe sebagian jang amat ketjil dari pada antero koewasa kami. Maka sekarang kami hendak mengoendjoeken koewasa kami terlebi lagi dari jang kami telah kaloewarken; kami hendak kasi nikah padamoe dengan sa-orang perampoewan moeda jang bagoes seperti dewa.” Kami bertanja dengan nafsoe: »Begimanakah akoe bole dapet meminang perempoewan begitoe bagoes.” Katanja kera itoe: »Dengarin sadja doeloe baik-baik, apa jang kami bitjara padamoe.” Katanja poela: »Besok pagi engkau berpakejan jang tjakep sekali, abis engkau naik koeda bagal jang di rihasi bagoes-bagoes, pake selah jang<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1484|{{smaller|96}}}}</noinclude> e3nxzc9wpf05r3ymfzj4rxosoa40ml6 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/131 104 100953 290834 282084 2026-05-10T12:24:06Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290834 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>dikalangan pemerintahan Madura, bahwa untuk menentukan nasib Daerah Madura perlulah ditentukan bentuk dan status Madura sebagai satuan kenegaraan jang tidak terikat oleh kekuasaan Recomba. Oleh karenanja pada tanggal 14 Djanuari 1948 bertempat di Kabupaten Pamekasan oleh Pemerintah Madura diadakan pertemuan dengan orang orang jang „terkemuka” dari Kabupaten-Kabupaten diseluruh Madura jang kemudian berhasil membentuk suatu Panitia jang dinamakan „Komite Penentuan Kedudukan Madura” jang terdiri dari: {| style="width:100%; line-height:1.5;" | 1. || R . Soekaris Boedisudjono, || anggauta merangkap Ketua |- | 2. || R . Soediman || {{gap}} " {{gap}} |- | 3. || R . Bagioadi Mantjanegara || {{gap}} " {{gap}} |- | 4. || Moh. Mahfoed || {{gap}} " {{gap}} |- | 5. || H . Moenir Abisoedjak || {{gap}} " {{gap}} |- | 6. || R. Abd. Rachman Tirtoamidarmo || {{gap}} " {{gap}} |- | 7. || K. H. Hasjim Makki || {{gap}} " {{gap}} |- | 8. || Ach . Sjarif || {{gap}} " {{gap}} |- | 9. || Moh. Sjamsoe || {{gap}} " {{gap}} |- | 10. || Asmorojoedo || {{gap}} " {{gap}} |- | 11. || Moh. Rivai || {{gap}} " {{gap}} |- | || R. A. A. Tjakraningrat || sebagai penasehat. |- |} Selandjutnja dalam suatu rapat jang diadakan pada tanggal 16 Djanuari 1948 Komite tersebut jang dianggap oleh Pemerintah Madura selaku „wakil rakjat” seluruh Madura, telah menghasilkan sebuah resolusi jang akan dimintakan „persetudjuan” rakjat pada waktu jang ditentukan. Resolusi tersebut didalamnja memuat suatu pernjataan jang menjatakan, bahwa: <ol type="1"> <li>Perhubungan antara Madura dengan Pemerintah Pusat Republik Indonesia sedjak tanggal 11 Nopember 1947 telah terputus.</li> <li>Sedjak tanggal 21 Nopember 1947 Pemerintah Madura Semen tara diserahkan kepada R.A.A. Tjakraningrat.</li> <li>Pemerintahan tersebut berwudjut Pemerintahan sendiri jang bekerdja sama dengan Pemerintahan Pendudukan Belanda.</li> </ol> Demikianlah, berdasarkan pertimbangan, bahwa rakjat Madura mempunjai hak menentukan nasibnja sendiri sesuai dengan azas-azas umum dari persetudjuan Linggadjati, hingga boleh menetapkan kedudukan „Negara Madura”, maka dalam dictum resolusi tersebut ditetapkan sebagai berikut: <ol type="a"> <li>Perhubungan antara Madura dan Republik Indonesia telah terputus.</li> <li>Menentukan status Madura dalam tokoh sebuah Negara merdeka sebagai bahagian dari Negara Indonesia Serikat.</li> <li>Menundjuk R.A.M. Sis Tjakraningrat, Bupati Bangkalan sebagai utusan Madura dalam Dewan dari Pemerintah Peralihan.</li> <li>Meminta kepada R.A.A. Tjakraningrat untuk memegang pemerintahan Negara Madura. </li> <li>Memberi kekuasaan penuh kepada Wali Negara dan Panitia untuk menetapkan kedudukan Negara, supaja:</li> </ol><noinclude>{{rvh|||'''99'''}}</noinclude> 24jhwwq1r7s953v94ykjvd7lm80rkkx Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/511 104 100955 291406 283510 2026-05-10T23:39:42Z Moel81 25980 291406 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ichahahaha" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>perak boekan makan boeroeng. Akoe taksir engkau tentoe takoet bajarken oewang emas aken djadi pembelinja ini boeroeng. Maka akoe taoe tentoe jang akoe bisa dapet harga jang tinggi sekali buewat ini boeroeng, sebab brapa poeloe taon akoe djadi toekang boeroeng, belon pernah akoe liat boeroeng seperti ini endahnja, di antero doenia tiada ada kadoewanja, dari itoe akoe hendak persembahken boeroeng ini kapada radja, nistjaija akoe bakalan dapet oepah jang terlebi banjak lagi, dari harganja jang engkau brani bajar boewat ini boeroeng. Si toekang boeroeng tiada mampir di pasar, ianja teroes pegi ka astana radja. Sri baginda kabetoelan ada di depan djendela, maka di liatnja segala apa jang kedjadian di pasar. Apabila di liatnja oleh radja itoe boeroeng jang amat bagoes, maka radja lantas titahken orang-orang pendjaga harem aken beli itoe boeroeng. Orang-orang pendjaga harem sampe pada si toekang boeroeng abis di tanja harganja boeroeng bajan itoe. Djawabnja si toekang boeroeng: »Kaloe boewat sri maharadja, maka hambanja bermoehoen apalah kiranja aken persembahken boeroeng jang adjaib ini ka bawah doeli sjab alam.” Itoe orang pendjaga harem bawa boeroeng bajan itoe pada sri baginda, maka radja liat boeroeng itoe adjaib sekali, belon pernah di liatnja boeroeng sademikian, djadi ia brihken si toekang boeroeng sepoeloe ringgit emas, maka sanget girangnja si toekang boeroeng. Abis begitoe radja soeroe taro boeroeng itoe di dalem koeroengan jang bagoes, tempat makannja dari emas, dan tempat aer minoemnja dari batoe poewalam. Sri baginda laloe pegi memboeroe djadi ia tiada tempo aken liat lama-lama boeroeng jang baroe di belinja, tetapi koetika ia poelang memboeroe maka ia lekas soeroe bawa masoek boeroeng itoe kadalem. Aken meliat lebi gampang, maka radja boeka pintoe koeroengannja laloe di ambilnja di taro di tangan. Sembaring memandang boeroeng itoe, maka radja bertanja pada orang pendjaga harem, apa itoe boeroeng soeda makan atawa belon. Sembahnja toekang mendjaga harem: »Doeli sjah alam bole liat sendiri tempat makannja masih penoeh, dan hambanja tiada liat enggas itoe makan. Radja laloe titahken, aken kasi makan roepa-roepa makanan boeroeng, soepaija inggas ini bole pilih apa jang di kahendaknja. Dari sebab medja makan soeda di toetoep, maka dajang-dajang moela angkat makanan. Apabila bajan itoe dapet liat pinggan terisi makanan maka lantas ia berterbangan sampe terlepas dari tangannja radja, inggas itoe terbang ka atas medja laloe makan makanan jang enak-enak itoe. Radja meliat begini mendjadi heran, ianja titahken pendjaga harem pegi panggil permeisoeri radja, soepaija permeisoeri bisa dapet liat sendiri hal ini. Itoe pendjaga harem tjeritaken semoewa itoe pada permeisoeri,<noinclude>{{rh||1540}} {{rh|1001 Malam| |80}}</noinclude> knvxid9lagq1jgrfbckwxqih6jigy7h 291437 291406 2026-05-11T00:58:19Z Thersetya2021 15831 291437 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ichahahaha" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>perak boekan makan boeroeng. Akoe taksir engkau tentoe takoet bajarken oewang emas aken djadi pembelinja ini boeroeng. Maka akoe taoe tentoe jang akoe bisa dapet harga jang tinggi sekali boewat ini boeroeng, sebab brapa poeloe taon akoe djadi toekang boeroeng, belon pernah akoe liat boeroeng seperti ini endahnja, di antero doenia tiada ada kadoewanja, dari itoe akoe hendak persembahken boeroeng ini kapada radja, nistjaija akoe bakalan dapet oepah jang terlebi banjak lagi, dari harganja jang engkau brani bajar boewat ini boeroeng. Si toekang boeroeng tiada mampir di pasar, ianja teroes pegi ka astana radja. Sri baginda kabetoelan ada di depan djendela, maka di liatnja segala apa jang kedjadian di pasar. Apabila di liatnja oleh radja itoe boeroeng jang amat bagoes, maka radja lantas titahken orang-orang pendjaga harem aken beli itoe boeroeng. Orang-orang pendjaga harem sampe pada si toekang boeroeng abis di tanja harganja boeroeng bajan itoe. Djawabnja si toekang boeroeng: »Kaloe boewat sri maharadja, maka hambanja bermoehoen apalah kiranja aken persembahken boeroeng jang adjaib ini ka bawah doeli sjab alam.” Itoe orang pendjaga harem bawa boeroeng bajan itoe pada sri baginda, maka radja liat boeroeng itoe adjaib sekali, belon pernah di liatnja boeroeng sademikian, djadi ia brihken si toekang boeroeng sepoeloe ringgit emas, maka sanget girangnja si toekang boeroeng. Abis begitoe radja soeroe taro boeroeng itoe di dalem koeroengan jang bagoes, tempat makannja dari emas, dan tempat aer minoemnja dari batoe poewalam. Sri baginda laloe pegi memboeroe djadi ia tiada tempo aken liat lama-lama boeroeng jang baroe di belinja, tetapi koetika ia poelang memboeroe maka ia lekas soeroe bawa masoek boeroeng itoe kadalem. Aken meliat lebi gampang, maka radja boeka pintoe koeroengannja laloe di ambilnja di taro di tangan. Sembaring memandang boeroeng itoe, maka radja bertanja pada orang pendjaga harem, apa itoe boeroeng soeda makan atawa belon. Sembahnja toekang mendjaga harem: »Doeli sjah alam bole liat sendiri tempat makannja masih penoeh, dan hambanja tiada liat enggas itoe makan. Radja laloe titahken, aken kasi makan roepa-roepa makanan boeroeng, soepaija inggas ini bole pilih apa jang di kahendaknja. Dari sebab medja makan soeda di toetoep, maka dajang-dajang moela angkat makanan. Apabila bajan itoe dapet liat pinggan terisi makanan maka lantas ia berterbangan sampe terlepas dari tangannja radja, inggas itoe terbang ka atas medja laloe makan makanan jang enak-enak itoe. Radja meliat begini mendjadi heran, ianja titahken pendjaga harem pegi panggil permeisoeri radja, soepaija permeisoeri bisa dapet liat sendiri hal ini. Itoe pendjaga harem tjeritaken semoewa itoe pada permeisoeri,<noinclude>{{rh||1540}} {{rh|1001 Malam| |80}}</noinclude> 0jngh7a9zitn2zfkuioskdzz37bvh05 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/581 104 100958 291004 289317 2026-05-10T13:35:17Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291004 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Maka sakoetika itoe djoega boemi poen bergontjang bergoentoer, laloe terbelah di hadepan marika itoe kadoewa, maka di dalem belah tanah itoe di tampak batoe saboewah, besarnja doewa kaki ampat pesagi, dan tebalnja sa-kaki, maka pada sama tengahnja bertjap, serta ada tjintjin dari pada proenggoe, aken pemegang, djika orang berhak mengangkat. Sjahdan apabila di lihatnja oleh Aladin, aken hal jang demikian itoe, maka ia poen sanget terprandjat, serta heran dan takoet, hingga ia hendak berlari. Hata, maka itoe orang toewa memang perloe sekali aken penoeloengannja Aladin boewat kaboelken nijatnja jang rahasia itoe, oleh kerna itoe, maka Aladin di tahan dengan bengis laloe di marah-in, serta di tempelengnja poela, hingga Aladin terdjato ka tanah ampir patah giginja, maka moeloetnja berdara. Aladin mendjadi terlebi takoet lagi, dia gemetar seloeroeh toeboehnja, maka katanja sembari menangis: »Ja mamanda, apakah koe boewat, bingga membikin mamanda djadi begitoe marah sampe sanda di anijaja begini?” Djawabnja itoe orang toewa: »Diam, akoe tiada nanti memoekoel, djikaloe tiada ada sebabnja, ketahoewilah olehmoe, bahoewa akoe ini seperti ganti bapamoe. Maka djanganlah engkau takoet.” Soewaranja orang toewa itoe bitjara soeda tiada asran lagi pada hal manies seperti hendak memboedjoek: »Akoe maoe engkau toeroet dengan tatep, apa jang akoe kataken padamon, soepaja engkau boleh mendapet oentoeng besar itoe jang akoe hendak brihken padamoe.” Bitjaranja itoe orang toewa begitoe manies telah membikin ilang takoetnja Aladin, serta di pertjaijanja poela orang toewa itoe. Apabila Aladin poenja ati soeda senang lagi, maka berkata poela orang itoe pada Aladin: »Hei anak, engkau sendiri soeda liat sebagimana koewasakoe, engkau soeda liat apa jang akoe telah djadiken tjoema dengan boeboek jang akoe bakar itoe bersama-sama doakoe. Ketahoewilah olehmoe, bahoewa di bawah batoe ini ada harta jang terlaloe amat banjak, maka semoewa harta itoe engkaulah jang dikenanken Allah, soepaija engkau bole djadi terlebi hartawan dari pada radja-radja dan soltan-soltan di doenia ini. Di dalem doenia ini tiada sa-orang djoewa poen, melaenken engkau djoega jang bole mengangkat batoe ini, serta tiada ada orang laen poela jang telah di takdirken Allah, aken sanggoep memindahken batoe ini. Akoe sendiri tiada boleh merabah ini batoe, maskipoen masoek kadalem tempat harta itoe tersimpan akoe tiada boleh, maka djika hendak engkau mengangkatken ini batoe, kita peroleh harta itoe, maka kaja dan selamat kita berdoewa.” Aladin sanget herannja, sebab melihat barang jang soenggoe adjaib ini, serta terlebi poela tertjengang, koetika di dengarnja itoe orang toewa<noinclude>{{rh||1575}}</noinclude> hdtgek89im4xscw4dvr15n3cdkq6a43 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/346 104 100960 291838 282112 2026-05-11T07:33:27Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291838 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>'''Peternakan Unggas.''' Sebagai telah diutarakan, maka R .K .I. mengadakan usaha baru, artinja jang diwaktu sebelum perang belum pernah mendapat perhatian, ialah membangun Taman-Taman Peternakan (fokstation) jang istimewa ditudjukan kepada usaha memperkembangkan peternakan Unggas. Ditiap-tiap Karesidenan didirikan sebuah fokstation. Pekerdjaan ini dimulai pada tahun 1950 dan diharapkan dalam tahun 1953 berputar dengan lantjar, bahkan dengan pengharapan dapat embiajai sendiri(zelfbedruipen). Fokstation-fokstation ini bermaksud memberi bibit Unggas (in coöperatief-verband) dan disampingnja tudjuan memper banjak djiwa Unggas, pun djuga memperbaiki bentuk Unggas Indonesia kearah ajam Indonesia baru jang berbadan lebih besar dan/atau bertelur lebih banjak dari pada Unggas Indonesia lama. Daftar dibawah ini menggambarkan banjaknja ternak Unggas dalam tiap-tiap fokstation pada achir tahun 1952: {| class="wikitable" style="width: 100%; border-collapse: collapse; text-align: center; border: 1px solid black;" |- style="border-top: 3px double black; border-bottom: 1px solid black;" ! rowspan="2" style="letter-spacing: 0.0em; width: 25%;" | D a e r a h ! colspan="6" style="letter-spacing: 0.0em;" | A j a m |- style="border-bottom: 1px solid black;" ! colspan="2" | Tua !! colspan="2" | Muda !! Kutuk !! Djumlah |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Surabaja || 57 || 134 || — || — || 406 || 597 |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Malang || 21 || 76 || — || — || 331 || 428 |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Besuki || 78 || 101 || — || 102 || — || 281 |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Madura || 22 || 90 || 28 || 34 || 151 || 325 |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Bodjonegoro || 15 || 111 || 22 || 24 || 835 || 1.007 |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Kediri || 15 || 62 || 14 || 10 || — || 101 |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Madiun || 33 || 124 || 22 || 19 || 959 || 1.157 |- style="border-top: 1px dashed black; font-weight: bold;" | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Djawa-Timur || 241 || 698 || 86 || 189 || 2.682 || 3.896 |} {| class="wikitable" style="width: 100%; border-collapse: collapse; text-align: center; border: 1px solid black; margin-top: 20px;" |- style="border-top: 3px double black; border-bottom: 1px solid black;" ! rowspan="2" style="letter-spacing: 0.0em; width: 25%;" | D a e r a h ! colspan="6" style="letter-spacing: 0.0em;" | I t i k |- style="border-bottom: 1px solid black;" ! colspan="2" | Tua !! colspan="2" | Muda !! Meri !! Djumlah |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Surabaja || 4 || 5 || — || — || — || 9 |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Malang || 12 || 111 || — || — || 96 || 219 |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Besuki || 5 || 77 || 9 || 4 || 527 || 617 |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Madura || 5 || 20 || 10 || 55 || — || 90 |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Bodjonegoro || 7 || 36 || — || — || — || 43 |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Kediri || 2 || 26 || 72 || — || — || 100 |- | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Madiun || 13 || 144 || 1 || 4 || — || 162 |- style="border-top: 1px dashed black; font-weight: bold;" | style="text-align: left; padding-left: 5px;" | Djawa-Timur || 48 || 419 || 92 || 63 || 623 || 1.240 |}<noinclude>{{rh|314}}</noinclude> 3fuwj1d5u2o6uodrg5pfkz9nlto5ip8 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/579 104 100962 291003 289316 2026-05-10T13:35:13Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291003 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Koetika itoe orang toewa dapet liat jang Aladin soeda ilang tjapenja, maka ianja adjakin dia djalan lebi djaoe lagi liwat kebon-kebon. Itoe kebon-kebon tiada di pager, tjoema berwatesan solok-solokan sadja, sebab bahna orang-orang di sitoe tiada sekali-kali taoe apa artinja memaling, maka tiadalah perloe pekarangan atawa kebon itoe di pagerin. Begitoe dengan begitoe, orang kadoewa itoe berdjalan sampe soeda djaoe sekali dari kota dan taman-taman jang tadi, marika itoe tiada djoega brenti sampe lama-kelama-an marika itoe soeda ampir di pegoenoengan. Arkian, maka Aladin itoe sa-oemoer idoepnja belon taoe berdjalan begitoe djaoehnja, djadi ia keliwat merasa tjape maka katanja pada itoe orang toewa: »Mamanda, kita ini pegi kamana? Soeda lama kita liwat taman-taman di loewar kota, maka sekarang ampir kita sampe di pegoenoengan. Kaloe kita misti djalan djaoehan lagi, maka sanda rasa barangkali sanda tiada koewat, aken berdjalan poelang.” Djawabnja itoe orang toewa: »Aladin djangan koewatir, akoe maoe kasi oendjoek padamoe taman-taman jang laen jang terlebi bagoes lagi dari pada jang soeda-soeda, sekarang kita ampir sekali pada tempat-tempat itoe, djadi kaloe kita tiada teroes pegi sampe di sitoe, maka sajanglah kita berlelah pertjoema-tjoema,” Aladin kena di boedjoek, maka berdjalan poela orang kadoewa itoe lebi djaoe, sembaring djalan itoe orang toewa bertjerita roepa-roepa dongeng jang loetjoe, soepaija Aladin senang tiada terlaloe merasa tjapenja. Achir-achirnja marika itoe sampe di antara doewa boewah goenoeng jang amat tingginja, lagi tiada berdjaoehan dirinja satoe dari pada laen. Di sitoelah, di antara itoe doewa goenoeng, Aladin hendak di bawanja oleh itoe orang toewa, aken ia kaboelken nijatnja itoe jang membikin sampe dianja berdjalan begitoe djaoe dari negri Habesi ka bonoewa Tjina. Katanja itoe orang toewa: »Di sinilah baros kita sampe di tempat jang hendak akoe oendjoekin padamoe, nanti akoe kasi liat padamoe roepa-roepa barang jang belon pernah taoe di liat oleh sa-orang manoesia. Kapan engkau soeda liat itoe, maka baroelah engkau berasa banjak trima kasi pada akoe, sebab engkau bakalan liat barang jang adjaib soenggoe, belon pernah di liat orang. Selagi akoe bikin api, maka baiklah engkau koempoelken tjabang-tjabang kajoe kering, soepaija lekaslah api itoe besar. Memang di sitoe banjak tjabang kajoe kering, djadi lekas Aladin dapet koempoel kajoe, aken di bikin oempan. Itoe orang toewa geret apinja, lalos di soeloetnja taboenan kajoe kering itoe, setelah soeda, maka itoe orang toewa bakar boeboek jang ada di tangannja. Srenta di bakarnja itoe, maka moemboellah asepnja jang tebel, semantara itoe si orang toewa mengotjap doanja, jang tiada di artinja oleh Aladin.<noinclude>{{rh||1574}}</noinclude> 7ykoj4oet6zvwc1z42dqnotdl94r1ot Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/481 104 100964 291485 283461 2026-05-11T01:52:24Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ ada lebih dari 3 kesalahan ejaan 291485 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>perkata-an jang manda bitjara-in sama iboenda, maka betoel sekali sebagimana jang sanget di koewatirken oleh manda, kami sekarang soedah bertjinta lebi doeloe, sabelonnja katentoewan di trima atawa tida. Ia itoepoen sebabnja, mengapa kami adjakin mamanda pegi memboeroe, soepaija kami dapet bitjara dengan mamanda berdoewa-doewa, sahingga mamanda poelang, maka mamanda soeda dapet taoe, bahoewa kami sanget tjintahken poeteri Giauhare. Adapoen bebrapa kali kami berdoewa-doewa sama mamanda tiada djoega sanda brani bitjara-in hal itoe, sebab maloe djadi berat memboeka moeloet. Tetapi sekarang kami permoehoenken pada mamanda, biar apalah kiranja mamanda kasiani pada kami, soepaija kami tiada oesah toenggoe begitoe lama, aken ridlanja poeteri poenja orang toewa, sebab kami tentoe tiada bisa tahan dan mati kami, sabelonoja kami dapet kabar dari mamanda. Bitjaranja radja Beder sademikian membikin bingoeng pada radja Saleb, dia tiada taoe apa aken di bikin. Ia fikirken, bahoewa soesah sanget aken toeroet sebagimana bitjaranja Beder. Kaloe dia maoe lekas-in hal ini di dalem laoet, aken tetapi itoe tiada sekali-kali, sebab bagimana nanti djadinja di negri Persie, kaloe radja pegi tinggal-in karadja-annja. Oleh kerna jang sademikian itoe, maka radja Saleh boedjoek baik-baik sama kapopakannja lebi baik sabar doeloe, tahan nafsoe birabinja sampe radja Saleh dapet oeroesken hal itoe dengan betoel; lagi radja Saleh bilang, bahoewa ia nanti bikin soepaija lekas di perseleseken paminangan poeteri Giauhare. Hata maka radja Beder tida maoe dengar bitjara jang demikian. Katanja radja Beder: »Sampe ati sekali mamanda bikin begitoe pada kami, sekaranglah baroe njata, bahoewa mamanda saijang kami tjoema di bibir sadja tiada di ati, njatalah mamanda lebi soeka kami ini mati bersakit ati dari pada menoeroet permoehoenan kami, maka baroe ini sekali djoega kami taoe minta toeloengannja mamanda.” Radja Saleh bersakit ati mendengar kaponakkandja berkata begitoe, maka katanja radja Saleb : »Kaloe begitoe Beder, baiklah, dengan segala soeka ati kami hendak mengoendjoekin, bahoewa di dalem doenia tiada ada soewatoe barang apa djoega, jang kami tida maoe bikin, asal engkau boleh djadi beroentoeng, aken tetapi kami tiada brani bawa kamoe pegi dari sini dengan tiada kasi taoe doeloe pada iboemoe. Apakah ianja nanti kira dari kami? Djikaloe iboemoe tiada ada kaberatan soewatoe apa, maka kami toeroet sabagimana bitjaramoe, baiklah kami nanti toeloeng boedjoek iboemoe, soepaija ia tiada djadi goesar." Katanja Beder: »Kami taoe tentoe, bahoewa iboe tiada nanti kasi permissie kami tinggalken negri kami; soedah bitjara mamanda sademikian membikin terlebi njata lagi, bahoewa mamanda tiada saijang sama kami.<noinclude>{{rh||1527}}</noinclude> 79uhpbywll6fbuk49mlwx5thkqpkx4o 291979 291485 2026-05-11T10:49:37Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 291979 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>perkata-an jang manda bitjara-in sama iboenda, maka betoel sekali sebagimana jang sanget di koewatirken oleh manda, kami sekarang soedah bertjinta lebi doeloe, sabelonnja katentoewan di trima atawa tida. Ia itoepoen sebabnja, mengapa kami adjakin mamanda pegi memboeroe, soepaija kami dapet bitjara dengan mamanda berdoewa-doewa, sahingga mamanda poelang, maka mamanda soeda dapet taoe, bahoewa kami sanget tjintahken poeteri Giauhare. Adapoen bebrapa kali kami berdoewa-doewa sama mamanda tiada djoega sanda brani bitjara-in hal itoe, sebab maloe djadi berat memboeka moeloet. Tetapi sekarang kami permoehoenken pada mamanda, biar apalah kiranja mamanda kasiani pada kami, soepaija kami tiada oesah toenggoe begitoe lama, aken ridlanja poeteri poenja orang toewa, sebab kami tentoe tiada bisa tahan dan mati kami, sabelonnja kami dapet kabar dari mamanda. Bitjaranja radja Beder sademikian membikin bingoeng pada radja Saleh, dia tiada taoe apa aken di bikin. Ia fikirken, bahoewa soesah sanget aken toeroet sebagimana bitjaranja Beder. Kaloe dia maoe lekas-in hal ini di dalem laoet, aken tetapi itoe tiada sekali-kali, sebab bagimana nanti djadinja di negri Persie, kaloe radja pegi tinggal-in karadja-annja. Oleh kerna jang sademikian itoe, maka radja Saleh boedjoek baik-baik sama kaponakannja lebi baik sabar doeloe, tahan nafsoe birahinja sampe radja Saleh dapet oeroesken hal itoe dengan betoel; lagi radja Saleh bilang, bahoewa ia nanti bikin soepaija lekas di perseleseken paminangan poeteri Giauhare. Hata maka radja Beder tida maoe dengar bitjara jang demikian. Katanja radja Beder: »Sampe ati sekali mamanda bikin begitoe pada kami, sekaranglah baroe njata, bahoewa mamanda saijang kami tjoema di bibir sadja tiada di ati, njatalah mamanda lebi soeka kami ini mati bersakit ati dari pada menoeroet permoehoenan kami, maka baroe ini sekali djoega kami taoe minta toeloengannja mamanda.” Radja Saleh bersakit ati mendengar kaponakkandja berkata begitoe, maka katanja radja Saleb : »Kaloe begitoe Beder, baiklah, dengan segala soeka ati kami hendak mengoendjoekin, bahoewa di dalem doenia tiada ada soewatoe barang apa djoega, jang kami tida maoe bikin, asal engkau boleh djadi beroentoeng, aken tetapi kami tiada brani bawa kamoe pegi dari sini dengan tiada kasi taoe doeloe pada iboemoe. Apakah ianja nanti kira dari kami? Djikaloe iboemoe tiada ada kaberatan soewatoe apa, maka kami toeroet sabagimana bitjaramoe, baiklah kami nanti toeloeng boedjoek iboemoe, soepaija ia tiada djadi goesar.” Katanja Beder: »Kami taoe tentoe, bahoewa iboe tiada nanti kasi permissie kami tinggalken negri kami; soedah bitjara mamanda sademikian membikin terlebi nja'a lagi, bahoewa mamanda tiada saijang sama kami.<noinclude>{{rh||1527}}</noinclude> 4efh482diap759pe7tfi77ighzisbny Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/577 104 100966 291002 289315 2026-05-10T13:35:09Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291002 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c|1001 MALAM }}</noinclude>liat orang-orang, jang besar poenja ka-idoepan.” Setelah soedah, maka itoe orang toewa pegi. Hata, maka Aladin sanget girang soeda berpoenja pakejan jang endah-endah, serta lagi dia soeka tjita sekali, jang dia nanti bakalan djalan-djalan di taman taman di loewar kota. Sebab memang belon pernah dia pegi di loewar pintoe kota, maski di ampir-ampirnja itoepoen belon taoe di liatnja. Kerna itoe pada esokan arinja pagi-pagi sekali dia soeda bangoen berpake, aken toenggoe dateng mamandanja. Sebentar-bentar dia meliat kaloewar mamandanja belon djoega dateng achir-achirnja, maka datenglah itoe orang toewa dan dari djaoe Aladin soeda boeroe, aken ketemoe-in dia. Itoe orang toewa samboet padanja dengan manies bahasa, serta berkata sembari mésěm: »Na, ini harilah akoe nanti oendjoenken barang-barang padamoe jang belon pernah engkau liat.” Marika kadoewanja laloe berdjalanlah, maka Aladin di bawa kaloewar sato gerbang di djalanan, di mana ada bebrapa roemah besar-besar dan jang endah-endah dengan astana-astana. Maka satoe-satoenja ada tamannja dimana orang bole berdjalan djalan. Tiap-tiap kali Aladin liwatin satoe astana, maka orang toewa itoe tanja padanja bagoeskah atawa tida astana itoe, adapoen blakangkali sabelonnja ia di tanja lagi, maka Aladin soeda berseroe-seroe dengan girang, kaloe dia dapet liat roemah jang bagoes katanja: »Astaga mamanda ini astana lebi bagoes lagi dari jang tadi!” Begitoe dengan begitoe, kadoewa orang itoe berdjalan semangkin lama semangkin djaoe, maka si orang toewa itoe amat tjerdik, dia kepingin pegi lebi djaoe lagi, maka aken lakoeken maksoednja itoe dia adjak masoek Aladin di dalem taman. Ianja doedoek di ampirnja saboewah kolam, maka ini kolam dapet aernja dari pada pantjoran dan pantjoran itoe berkepala-kepalaan singa terbikin dari proenggoe, maka aer itoe bagoes dan bening. Itoe orang toewa melaga tjape soenggoe, soepaija Aladin djoega lantas nanti doedoek. Katanja itoe orang toewa pada Aladin: »Anak engkau tentoe tjape seperti akoe, marilah kita berdoedoek-doedoek di sini memboewang tjape, soepaija bole djadi segar lagi, dan kita bole berdjalan lebi djaoe.” Koetika orang kadoewa itoe soeda doedoek, maka itoe orang toewa keloewarin satoe boengkoesan jang ada tergantoeng di ikat pinggangnja, maka di dalem itoe boekoesan ada bebrapa roepa koewe, beboewahan dan laen-laen persantapan, abis dia gelarken itoe di pinggir kolam, laloe di adjaknja Aladin makan. Sembaring makan begitoe, maka itoe orang toewa membrihken nasehat pada kaponakannja, serta di adjarkennja blakangkali lebi baik bertjampoer gaoel sama orang-orang jang baik-baik dan bidjaksana, soepaija bole ia dapet peladjaran dan nasehat jang baik, katanja: »Ingatlah anak tiada sebrapa lama lagi, maka engkau soeda boekan anak-anak lagi, haroeslah engkau biasaken, aken membitjara-in hal dengan akal.”<noinclude>{{rh||1573}}</noinclude> 73m238ncgnscitnmotgcaesp37zc33e Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/768 104 100967 290999 282193 2026-05-10T13:34:32Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290999 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>[[File:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur (page 768 crop).jpg|600px]] [[File:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur (page 768 crop2).jpg|ka|400px|]] {{Block left|Guna mendidik tenaga ahli, telah dilangsungkan Kursus Tenaga Sosial dan di Kabupaten-Kabupaten diadakan kursus jang di-ikuti oleh tenaga-tenaga dari Panitia Pembantu Sosial. Gambar-gambar ini menundjukkan ''p e r h a t i a n'' terhadap kursus-kursus jang sedang diselenggarakan. Terlihat djuga kursus-kursus ''M a r t in S m i ts'' dari Bangsa-Bangsa jang sedang di Indonesia.}}<noinclude>{{rh|734}}</noinclude> sw0i463lat8y6c2oebo5fc1hfydjs1e Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/417 104 100968 290979 287478 2026-05-10T13:32:58Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290979 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>tjape, maka sekali pada soewatoe hari hamba toetoepi diri hamba di dalem satoe kamar sendirian. Abis hamba ambil itoe boeroeng Radja wali laloe hamba oekoep sebagimana mistinja. Dengan sigrah lantas sekalian djin pri dan mambang pada dateng bersoedjoed. Maka hamba titahken marika itoe, aken bawa segala harta banda, batoe permata intan, djambroet dan emas perak dari kota tembaga di pinda ka kota Balsora. Sebentaran djoega terdjadilah seperti titah hamba. Aken membales itoe djin doerhaka, jang menjaroe dirinja djadi kera, soepaja ia kena boedjoek sama hamba, maka hamba titahken sa-orang djin jang baik, aken tangkep itoe djin doerhaka di bawa kahadepan hamba. Ia dateng mengadap dengan minta-minta ampoen, aken tetapi hamba tida perdoeli-in sembahnja. Sasoedahnja hamba kataken padanja kadjahatannja itoe, maka hamba soeroeh masoekin dia di dalem satoe boeli-boeli dari tembaga, abis moeloet boeli-boeli itoe hamba koentji, koetika soeda terkontji betoel, baroe boeli-boeli itoe hamba prentahken lemparken ka dalem laoet. Sedari itoe waktoe hamba idoep senang sama hamba poenja isteri, tiada ada satoe kasoekaran melanggar kita. Apa kita soeka tentoe katrima, kekaja-an apa djoega jang hamba kahendaki nistjaija dapetlah. Ia itoelah berkatnja Allah bagi hamba jang tiada brenti memoedjiken kamoelija-annja.” Kalief Haroen al Rasjid senang sekali mendengar hikajatnja Aboe Mohamed Alkeslan, maka radja terlebi soeka lagi trima persembahannja Alkeslan itoe, sebab di antara intan-intan itoe ada bebrapa banjak jang setoedjoe sekali dengan kahendaknja Zobiada. Adapoen baginda Kalief poen bales djoega trima kasinja, serta di hormatinja pada Aboe Mohamed Alkeslan koetika ia poelang lagi ka Balsora. {{rule|5em}}<noinclude>{{rh||1465|}}</noinclude> qg8wpht52mqwkw1esjyie0byz429jv5 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/167 104 100976 290838 282201 2026-05-10T12:25:16Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290838 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{PUU-nomor|n=1|m=8 |Rapat Pembubaran D.P.R.D. Kabupaten/Kota dibekas Daerah Renville.<br> Notulen dari Rapat ini dikirimkan kepada Kepala Daerah Propinsi. |Sidang Pertama D.P.R.D.S. Kabupaten /Kotapradja dengan atjara:}} <ol type="a"> <li>Pelantikan.</li> <li>Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua D.P.R.D.S.</li> <li>Penetapan djumlah anggauta D.P.D. (Dewan Pemerintah Daerah)</li> <li>Pemilihan anggauta D.P.D.<br> Notulen rangkap dua dikirim pada Kepala Daerah Propinsi. </li> <li>Panitia BUBAR (pada saat terbentuknja D.P.R. baru).</li> </ol> Perlu diterangkan, bahwa Organisasi -Organisasi jang boleh ikut dalam pemilihan itu, ialah jang sudah berdiri pada tanggal 30 Djuni 1950. Artinja, jang diharuskan sudah berdiri pada tanggal 30 Djuni 1950 di Ketjamatan, ialah Ranting/Tjabang dari Partai/Organisasi, dengan pengertian, bahwa di Ketjamatan itu ada SECRETARIAAT dari Partai/Organisasi tersebut. Sesudah persiapan-persiapan ini, maka diadakan pembentukan D.P.R.D.S. diseluruh Daerah di Djawa-Timur, jang umumnja berlaku pada achir bulan Oktober. Untuk pembentukan D.P.R.D.S. ini perlu kiranja mengetahui setjara ringkas keadaan di Djawa-Timur dan hasil persiapannja <ol type="1"> <li>Didalam lingkungan Daerah Propinsi ada terdapat:</li> <ol type="a"> <li>Daerah Kabupaten 29 (duapuluh sembilan).</li> <li>Daerah Kota-Besar 4 (empat).</li> <li>Daerah Kota-Ketjil 4 (empat).</li> </ol> <li>Menurut ketetapan dalam Undang-Undang No. 12/1950, 16/1950 dan 17/1950 (Undang-Undang Pembentukan Daerah Otonoom Kabupaten Kota-Besar dan Kota-Ketjil) djumlah banjaknja kursi anggauta ada sebagai berikut:</li> </ol> {| style="border-collapse:collapse; background:transparent;" | Daerah-Daerah Kabupaten || = || style="text-align:right;" | 819 |- | Daerah-Daerah Kota-Besar || = || style="text-align:right;" | 75 |- | Daerah-Daerah Kota-Ketjil || = || style="text-align:right;" | 40 |- | colspan="2" | || style="border-top:1px solid black; text-align:right;" | '''934''' |}<noinclude>{{rvh|'''135'''}}</noinclude> 29hzaxe3ehu46puf3d2kwnsha1f590p Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/395 104 100977 291518 283298 2026-05-11T02:25:35Z Thersetya2021 15831 291518 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>»Dari orang janģ tjoema ada doewa dinar poen soedah di bitjara-in orang dalem segala bahasa: »Boekan sadja soedara, mana sobat sekali poen dateng berdesekan aken dengar bitjaranja, maka ia di pandang terlebi tinggi dari pada sesama-nja manoesia.” »Kaloe sa-orang kaja bitjara, maskipoen bohong tjeritanja, maka orang dengarin itoe, nistjaja berkata soenggoe, benarlah seperti bitjaranja.” »Adapoen kaloe si miskin bitjara, maskipoen benar tjeritanja, nistjaija orang kataken bohong.” »Oewang itoe, lida aken boewat orang jang hendak beromong, maka oewang itoe poen panah boewat orang jang hendak memboenoeh.” Apabila Emir dengar bitjara hamba demikian, maka ia berdiam, menoendoeken kepalanja aken memikir. Tiada sebrapa lama lagi katanja: »Apa bitjara toewankoe soenggoe benarlah, aken tetapi maäfken hamba, djikaoe hamba minta pada toewan lagi doewa riboe dinar emas.” Hamba menjaoet: „Baiklah, lantas engkau bole terima itoe oewang. Hamba lekas soeroeh sa-orang boedak poelang ka-roemah, aken ambil oewang doewa riboe dinar emas, tida berapa lama itoe boedak dateng membawa itoe oewang, maka hamba trimahken oewang itoe pada Emir. Srenta di liatnja dinar oewang emas itoe begitoe banjak, maka Emir itoe djadi girang sanget. Ia lantas bediri teroes titahken boedaknja, aken menoetoep itoe goedang. Sasoedahnja, ia soeroe panggil sanak soedaranja dengan sachbatnja, maka berkoempoelah sekalian marika itoe. Hamba ini di brihken hormat oleh sekalian itoe sebagimana patoet. Abis maka Emir soeroeh bikin soerat kawin, setelah terbikin, maka di djandjiken nikah-an itoe bakalan di rajahken nanti lagi sepoeloe ari, maka baroelah hamba soenggoe djadi soewaminja anak perampoewan itoe. Hamba laloe poelang karoemah dengan sanget girang, jang semoewa djalannja begini baik. Sampe di roemah, hamba tjeritabken hal ini pada kera itoe, adapoen soepaja djangan orang laen dapat dengar hamba poenja bitjara, maka hamba tinggal berdoewa kera itoe di dalem bilik. Sesoedahnja ia dapat tjerita itoe, maka ia brihken selamat pada hamba, serta di poedjinja perboewatan hamba. Liwat sambilan ari, maka sampelah waktoenja, aken merajahken nikah bamba seperti telah di tetapken oleh Emir. Hata maka pada sore dari malem jang mendoeloewi hari raja nikaban itoe, maka datenglah kera itoe di ampir hamba, serta tingka lakoenja seperti orang bendak bitjara, tetapi ia tiada maoe kasi kentara. Tetapi lama kelama-an ia bitjara, katanja: „Besok engkau poenja pengharepan bakalan di kaboelken, maka boewat kamoe tjoekoeplah segala<noinclude>{{rh||1486}}</noinclude> arm7wq2jwxow3au72b7d0sxuf2ve1nl Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/573 104 100979 290987 290776 2026-05-10T13:33:55Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290987 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Bitjaranja itoe orang toewa di penoedjoe-in soenggoe oleh Aladin, memang dianja tiada soeka djadi toekang, pada hal dia kepingin sekali djadi soedagar seperti bitjaranja itoe orang toewa, sebab Aladin taoe, bahoewa tokonja soedagar begitoe saben rapi dan bagoes atoeraanja, serta orangnja poen baik-baik pakejannja. Oleh kerna itos, maka katanja pada itoe orang toewa, bahoewa ia soeka djadi soedagar dan sa-oemoer idoepnja ia bakalan bertrima kasi pada itoe orang toewa, sebab pertoeloengannja itoe. Djawabnja itoe orang toewa: »Sebab engkau soeka mentjari oentoeng dengan berdagang, maka besok akoe nanti bawa engkau berdjalan dengan berpakejan jang endah-endah, seperti patoet di pake sa-orang soedagar dan nanti hari noesa akoe boekaken tokomoe.” Hata, serta di dengar bitjaranja itoe orang toewa sademikian, maka di fikir oleh iboenja Aladin, bahoewa sasoenggoenjala orang toewa itoe abang dari pada bapanja Aladin. Ia poen bilang banjak trima kasi, aken karoenija orang itoe, serta pada Aladin poen di pesannja tegoeh-tegoeb, aken djangan memberih maloe pada mamandanja. Abis begitoe, iboenja Aladin angkat makan di taronja di atas medja. Di waktoe makan itoepoen tiada laen di bitjaraken tjoema hal memboeka toko itoe djoega, hingga lama malem itoe orang toewa moehoen poelang ke roemahnja. Esokan harinja itoe orang toewa dateng berdjoempa lagi, seperti di djandjinja pada isterinja Moestafa. Ianja bawa Aladin pegi pada soedagar jang besar-besar, toekang mendjoewal barang kaen-kaen jang aloes boewat pakejan. Itoe orang toewa minta liat pakejan jang endah-endah boewat Aladin laloe di katakennja pada Aladin: »Hei anak, pilihkenlah olehmoe pakejan jang engkau penoedjoe dan pantes di pake olehmoe.” Aladin girang jang mamandanja begitoe baik ati, dia lantas pilihken satoe pakejan jang endah-endah, maka orang toewa itoe lekas bajar harganja pada orang jang mendjoewal. Koetika Aladin soeda berpake-pakejan jang endah-endah itoe, maka ia bilang banjak trima kasi pada itoe orang toewa, serta di djandjikennja oleh itoe orang selama-lamanja nanti tida di lepaskennja. Itoe orang toewa bawa sama Aladin pegi ka toko besar-besar di koeliling tempat di dalem kota, maka di dalem satoe toko kadoewa orang itoe masoek abis berkatalah itoe orang toewa pada Aladin: »Hei Aladin, oleh kerna engkau lagi sedikit ari bakalan djadi soedagar seperti ini orang jang ampoenja toko, maka baiklah kadang-kadang engkau pegi berdjoempa orang-orang itoe, soepaija marika itoe bole bladjar kenal padamoe.” Orang kadoewa itoe berdjalan lebi djaoe lagi, maka di oendjoekennja pada Aladin masdjid-masdjid jang bagoes-bagoes dan pasanggrahan-pasanggrahan tempat soedagar-sosdagar menoempang, serta di<noinclude>{{rh||1571}}</noinclude> 35blokcbw13zsf6zybwvssn4xw7teae Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/571 104 100985 290988 290773 2026-05-10T13:33:59Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290988 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Katanja: Sanda poenja nama Aladin.” Maka berkata poela itoe orang toewa: Hei Aladin apakah sekarang kerdjamo?” Pakerdja-an apakah engkau taoe?” Hata, serta di dengarnja perkataan ini, maka Aladin bertoendoek, merasa dirinja maloe. Maka iboenja lantas berkata: „Aladin saorang pemales sekali. Koetika bapanja masih idoep, maka bapanja soeda tjoba soeroe adjar padanja aken mendjahit, soepaija dia bole ganti teroesken pakerdja-an bapanja, aken tetapi pertjoema sadja, apa djoega di bikinnja sia-sia sadja. Sasoedahnja bapanja meninggal, maka moeloetkoe soeda tiada di endahkennja lagi. Biar akoe kata-in, akoe tjomel-in, akoe brihken nasehat padanja, aken djangan bermaen sama anak-anak jang djahat, Aladin tiada djoega maoe perdoeli-in, pada hal dia lebi-lebi lagi pegi djalan koeliling sama temannja jang djabat. Kaloe sekarang ini di hadepanmoe akoe tiada kasi ingat lagi padanja, dan djikaloe sekarang ini dia tiada simpan nasehatkoe di ati, maka keraslah koewatirkoe dia tiada bisa djadi beroentoeng. Dia taoe bapanja meninggal doenia tiada kasi tinggal oowang barang sedikit dan pendapetankoe menganteh sahari-hari tiada tjoekoep, aken kita idoep berdoewa. Kerna itoe, maka koe perkenanken, bahoewa sasoenggoenja akoe tiada nanti maoe kasi dia masoek lagi di roemahkoe, djikaloe dia poenja adat tiada berobah.” Iboenja Aladin bitjara ini sembaring menangis dengan sedih sanget tangisnja. Koetika abis si iboe bitjara begitoe, maka katanja itoe orang toewa pada Aladin: „Aai anak perboewatanmoe itoe tida baik sekali, engkau soeda sampe besar, misti fikir aken bekerdja mentjari oentoeng sendiri. Boekankah di doenia ada roepa-roepa pakerdja-an, aken djadi pengidoepan orang, masakah tida ada salah satoe jang engkau soeka kerdja-in? Barangkali engkau tjoema tiada soeka pakerdja-an bapamoe mendjadi toekang mendjahit, barangkali ada laen pakerdja-an jang engkau soeka kerdjaken; katakenlah padakoe, apa jang engkau hendak kataken, tida oesah maloe-maloe, sebab akoe poen tjoema ingat aken kabaikanmoe sendiri.” Koetika di liatnja jang Aladin tiada berdjawab, maka berkata poela itoe orang toewa. Barangkali engkau tiada soeka djadi toekang, baiklah engkau djadi soedagar sadja, nanti akoe sediahken satoe toko penoeh dengan barang djoewalan seperti kaen-kaen tjita, sochlat dan laen-laen, engkau jang djoewalken, maka dengan oewang pendjoewalan itoe engkau beli-in lagi barang dagangan jang baroe. Dengan perboewatan jang sademikian, maka baik djoegalah pengidoepanmoe. Fikirken hal ini dengan baik, tentoe akoe tiada nanti poetoesken djandjikoe apa djoega jang engkau kahendaki, nistjaija akoe kaboelken.”<noinclude>{{rh||1570}}</noinclude> tngp4slkyexl1p1z8fhso3ir8crj6bs Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/495 104 100986 291376 283484 2026-05-10T18:22:28Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan paragraf tidak rapi 291376 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>liatnja laki-laki itoe, maka katanja poela: „Sabenarnjalah toewan sebagimana bitjara toewankoe, saorang prempoewan seperti kami ini, nistjaja ada dalem soesah, kapan diauja brenti bersemboeni di tempat seperti ini. Kami poeteri Giauhare, anakda dari radja Samandal. Kami sedang lagi diam doedoek di kami poenja bilik, maka sekoenjoeng-koenjoeng kami dengar roesoeh-roesoeh. Orang dateng tjerita pada kami, bahoewa radja Saleh dateng masoek menerdjang astana karadja-an, dan ajanda kami kena ketangkep, sasoedahnja orang-orang pendjaganja semoewa di boenoeh oleh laskarnja radja Saleh. Satoe orang poen tiada taoe apa sebabnja. Kami betoel ada sampe tempo boewat lari kemari, kaloe tiada, kami poen binasa djoega. Setelah radja Beder dengar ini tjerita, maka sanget keras menjesalnja, kenapa dia misti tinggalin nini andanja begitoe lekas, dengan tiada menoenggoe kabar lebi djaoe. Adapoen is girang djoega, jang mamandanja tiada koerang apa-apa dan soedah dapet tangkep radja Samandal. Nistjaija sekarang dia maoe serahken anaknja, asal dia sendiri di bebasken. Djawabnja radja Beder: Toewankoe poeteri soedah mereras berdoeka tjita, betoel pantes djoega, jang toewankoe bersakit ati, aken tetapi gampang sadja mengilangin toewankoe poenja soesah bersama-sama soesahnja ajandanja toewan poeteri. Nistjaija toewankoe sendiri dapet rasa, baboewa benarlah bitjara kami, dj kaloe toewan poetri soeda taoe kami ini siapa. Kami inilah jang di namai Beder, radja dari benoewa Persie, maka radja Saleh, ia itoe kami poenja mamanda. Kami brani tanggoong, baboewa perboewatannja radja Saleh itoe tiada sekali-kali, aken merampas karadja-an ajanda toewan poeteri, atawa aken anijaja padanja. Perboewatannja itoe tiada laen, tjoema aken membikia kami beroentoeng djadi soewaminja toewan poeteri. Koetika sekali kami dengar kabarnja toewan poeteri sa-orang moeda jang amat tjantik, maka dengan sigrah kami lantas djato birahi sampe tiada bisa makan, tiada bisa minoem. Maka kami tiada menjesel jang kami soedah gila-in saorang poeteri, sabelonnja kami liat roepanja. Dari itoe kami harap soenggoe toewan poeteri djangan sampe ati aken menolak permoehoenan kami, sebab tandanja, jang kami tjinta soenggoe pada toewan poeteri, ia itoe kami, radja, tinggalken karadjaannja, tjoema aken mentjari posteri tjinta djiwanja. Biarlah kami bawa toean poeteri mengadap pada kami poenja mamanda. Apabila ajanda toewan poeteri kasi idin kita bernikah, maka lantas djoega ajanda toewan poeleri di angkat djadi radja lagi.” Koetika poeteri Giauhare dengar bitjaranja radja Beder, maka katanja dalem dirinja: Kaloa begitoe, sebab radja inilah sampe kedjadian begitoe banjak soesah, kami poenja ajahanda ketangkep, penggawe-penggawe astana dan kawal keradja-an abis mati di boenoeh, serta kami sendiri misti lari<noinclude>{{rh||1534}}</noinclude> d1ohrou13ufyno3ks1lsu3bf32ff2nv 291429 291376 2026-05-11T00:40:20Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291429 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>liatnja laki-laki itoe, maka katanja poela: „Sabenarnjalah toewan sebagimana bitjara toewankoe, saorang prempoewan seperti kami ini, nistjaja ada dalem soesah, kapan diauja brenti bersemboeni di tempat seperti ini. Kami poeteri Giauhare, anakda dari radja Samandal. Kami sedang lagi diam doedoek di kami poenja bilik, maka sekoenjoeng-koenjoeng kami dengar roesoeh-roesoeh. Orang dateng tjerita pada kami, bahoewa radja Saleh dateng masoek menerdjang astana karadja-an, dan ajanda kami kena ketangkep, sasoedahnja orang-orang pendjaganja semoewa di boenoeh oleh laskarnja radja Saleh. Satoe orang poen tiada taoe apa sebabnja. Kami betoel ada sampe tempo boewat lari kemari, kaloe tiada, kami poen binasa djoega. Setelah radja Beder dengar ini tjerita, maka sanget keras menjesalnja, kenapa dia misti tinggalin nini andanja begitoe lekas, dengan tiada menoenggoe kabar lebi djaoe. Adapoen is girang djoega, jang mamandanja tiada koerang apa-apa dan soedah dapet tangkep radja Samandal. Nistjaija sekarang dia maoe serahken anaknja, asal dia sendiri di bebasken. Djawabnja radja Beder: »Toewankoe poeteri soedah mereras berdoeka tjita, betoel pantes djoega, jang toewankoe bersakit ati, aken tetapi gampang sadja mengilangin toewankoe poenja soesah bersama-sama soesahnja ajandanja toewan poeteri. Nistjaija toewankoe sendiri dapet rasa, bahoewa benarlah bitjara kami, djikaloe toewan poetri soeda taoe kami ini siapa. Kami inilah jang di namai Beder, radja dari benoewa Persie, maka radja Saleh, ia itoe kami poenja mamanda. Kami brani tanggoeng, bahoewa perboewatannja radja Saleh itoe tiada sekali-kali, aken merampas karadja-an ajanda toewan poeteri, atawa aken anijaja padanja. Perboewatannja itoe tiada laen, tjoema aken membikin kami beroentoeng djadi soewaminja toewan poeteri. Koetika sekali kami dengar kabarnja toewan poeteri sa-orang moeda jang amat tjantik, maka dengan sigrah kami lantas djato birahi sampe tiada bisa makan, tiada bisa minoem. Maka kami tiada menjesel jang kami soedah gila-in saorang poeteri, sabelonnja kami liat roepanja. Dari itoe kami harap soenggoe toewan poeteri djangan sampe ati aken menolak permoehoenan kami, sebab tandanja, jang kami tjinta soenggoe pada toewan poeteri, ia itoe kami, radja, tinggalken karadjaannja, tjoema aken mentjari poeteri tjinta djiwanja. Biarlah kami bawa toean poeteri mengadap pada kami poenja mamanda. Apabila ajanda toewan poeteri kasi idin kita bernikah, maka lantas djoega ajanda toewan poeteri di angkat djadi radja lagi.” Koetika poeteri Giauhare dengar bitjaranja radja Beder, maka katanja dalem dirinja: »Kaloe begitoe, sebab radja inilah sampe kedjadian begitoe banjak soesah, kami poenja ajahanda ketangkep, penggawe-penggawe astana dan kawal keradja-an abis mati di boenoeh, serta kami sendiri misti lari<noinclude>{{rh||1534}}</noinclude> n0kut7wie9a2aags9qakk35otvrz0jw Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/569 104 100990 290964 290730 2026-05-10T13:30:45Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 290964 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>di hadapan itoe sofa, serta di tjioemnja beroelang-oelang tempat itoe dengan aer matanja bertjoetjoeran sambil berkata: Ach soedarakoe jang tertjinta, sampe ati sekali meninggalken akoe, sedang akoe tiada brenti berdjalan mentjari, padamoe dengan pengharepan, aken ketemoe-in pelok kamoe jang masih idoep!” Biar bagimana iboenja Aladin memaksaken dia, aken doedoek di tempat itoe, maka itoe orang toewa tida maoe doedoek di sitoe katanja: »Tiadanja akoe nanti doedoek di sitoe, akoe baik doedoek di hadepan itoe tempat, soepaja akoe bole dapet fikir seperti soedarakoe ada doedoek di hadepankoe di tempat jang paling di soekanja, djadi girang djoega akoe poenja ati, kendati akoe tiada dapet ketemoe padanja bajangannja bole akoe fikir seperti ada berdoedoek di hadepankoe.” Maka berkatalah ia: »Adinda djangan mendjadi heran engkau ini belon pernah ketemoe akoe selamanja engkau bersoewami pada akoe poenja soedara Moestafa. Sekarang soeda ada kira-kira lebi anem belas taon akoe pegi dari ini negri. Di itoe waktoe akoe pegi koeliling negri-negri di Hindia, di Persie, di benoewa Arab, di negri Sjam dan di Mitzer; akoe tinggal berdiam di kota besar-besar kamoedian akoe pegi di negri Habesi, di sanalah lama sekali akoe tinggal. Adapoen memang begitoelah adat dan peranginja manoesia biar brapa djaoe poen adanja dari negri tempat toempah darahnja, tiada dapet di loepahkennja sanak soedara, sachbat taulannja. Begitoepoen akoe, hingga tiada dapet koe tahan lagi atikoe kepingin sanget pegi liat negrikoe bersama-sama soedarakoe jang tertjinta. Djadi sedang akoe masih sampe koewat, aken berdjalan, maka pegilah akoe seperti lang-lang boewana berdjalan koeliling, aken ketemoe-in soedarakoe. Betapa akoe tjeritaken brapa lamanja akoe di djalan dan bagimana soekar perdjalanan itoe, serta soesah koe pikoel sabelonnja sampe di ini tempat. Adapoen sekalian soesah dan soekar itoepoen tiada koe rasaken, asal sadja akoe dapet liat soedarakoe masih idoep, tetapi jang paling berat menimpah akoe, ia itoe kabar jang akoe dengar di djalan, bahoewa soedarakoe soeda meninggal. Hata, maka akoe dapet liat Aladin, ia sedang bermaen-maen bersama-sama temannja akoe lantas kenalin roepanja, seperti pinang di belah doewa sama roepa bapanja. Anakmoe poen tentoe soeda tjeritaken djoega bagimana rasakoe, koetika ia kataken padakoe bapanja soeda meninggal. Aken tetapi ada djoega hiboer atikoe, sebab anaknja akoe poenja soedara sama roepa sekali padanja, djadi sama djoega seperti akoe masih liat soedarakoe ada di hadepankoe.” Srenta di dengar bitjara orang toewa itoe sademikian, maka iboenja Aladin berdoeka tjita sanget ingat lagi soewaminja. Itoe orang toewa dapet liat hal ini dari itoe ia berbalik memandang Aladin laloe di tanja padanja: „Siapa engkau poenja nama?”<noinclude>{{rh||1569}}</noinclude> g94ufq2frei4815injqjye7373pasi6 290968 290964 2026-05-10T13:31:26Z Aeia aai 24023 290968 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>di hadapan itoe sofa, serta di tjioemnja beroelang-oelang tempat itoe dengan aer matanja bertjoetjoeran sambil berkata: Ach soedarakoe jang tertjinta, sampe ati sekali meninggalken akoe, sedang akoe tiada brenti berdjalan mentjari, padamoe dengan pengharepan, aken ketemoe-in pelok kamoe jang masih idoep!” Biar bagimana iboenja Aladin memaksaken dia, aken doedoek di tempat itoe, maka itoe orang toewa tida maoe doedoek di sitoe katanja: »Tiadanja akoe nanti doedoek di sitoe, akoe baik doedoek di hadepan itoe tempat, soepaja akoe bole dapet fikir seperti soedarakoe ada doedoek di hadepankoe di tempat jang paling di soekanja, djadi girang djoega akoe poenja ati, kendati akoe tiada dapet ketemoe padanja bajangannja bole akoe fikir seperti ada berdoedoek di hadepankoe.” Maka berkatalah ia: »Adinda djangan mendjadi heran engkau ini belon pernah ketemoe akoe selamanja engkau bersoewami pada akoe poenja soedara Moestafa. Sekarang soeda ada kira-kira lebi anem belas taon akoe pegi dari ini negri. Di itoe waktoe akoe pegi koeliling negri-negri di Hindia, di Persie, di benoewa Arab, di negri Sjam dan di Mitzer; akoe tinggal berdiam di kota besar-besar kamoedian akoe pegi di negri Habesi, di sanalah lama sekali akoe tinggal. Adapoen memang begitoelah adat dan peranginja manoesia biar brapa djaoe poen adanja dari negri tempat toempah darahnja, tiada dapet di loepahkennja sanak soedara, sachbat taulannja. Begitoepoen akoe, hingga tiada dapet koe tahan lagi atikoe kepingin sanget pegi liat negrikoe bersama-sama soedarakoe jang tertjinta. Djadi sedang akoe masih sampe koewat, aken berdjalan, maka pegilah akoe seperti lang-lang boewana berdjalan koeliling, aken ketemoe-in soedarakoe. Betapa akoe tjeritaken brapa lamanja akoe di djalan dan bagimana soekar perdjalanan itoe, serta soesah koe pikoel sabelonnja sampe di ini tempat. Adapoen sekalian soesah dan soekar itoepoen tiada koe rasaken, asal sadja akoe dapet liat soedarakoe masih idoep, tetapi jang paling berat menimpah akoe, ia itoe kabar jang akoe dengar di djalan, bahoewa soedarakoe soeda meninggal. Hata, maka akoe dapet liat Aladin, ia sedang bermaen-maen bersama-sama temannja akoe lantas kenalin roepanja, seperti pinang di belah doewa sama roepa bapanja. Anakmoe poen tentoe soeda tjeritaken djoega bagimana rasakoe, koetika ia kataken padakoe bapanja soeda meninggal. Aken tetapi ada djoega hiboer atikoe, sebab anaknja akoe poenja soedara sama roepa sekali padanja, djadi sama djoega seperti akoe masih liat soedarakoe ada di hadepankoe.” Srenta di dengar bitjara orang toewa itoe sademikian, maka iboenja Aladin berdoeka tjita sanget ingat lagi soewaminja. Itoe orang toewa dapet liat hal ini dari itoe ia berbalik memandang Aladin laloe di tanja padanja: »Siapa engkau poenja nama?”<noinclude>{{rh||1569}}</noinclude> h0ts6kikdrl8qazlpngq5pp035emp6q Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/497 104 100991 291420 283492 2026-05-11T00:33:15Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291420 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>minggat bersemboeni di ini poelo, seperti sa-orang boewangan. Kaloe kami tiada poekoel akal begini, maka tentoe radja Beder nanti tangkep kami dengen paksa; aken bawa pegi kami, sebab ianja birahi sanget pada kami dan orang begitoe tiada memperdoeliken apa-apa lagi. Djadi poeteri Giauhare melaga meugoendjoeken tjinta pada radja Beder. Katanja dengan manis bahasa: »O! Toewankoe, ati djiwakoe, tjahija matakoe, djadi toewankoelah radja Beder, anaknja ratoe Gulnare?” Djawab radja Beder: »Ja, kamilah anaknja ratoe Gulnare!” Wa" berkata poela poeteri Giauhare »djika demikianlah adanja haroes ajanda kami kena kelanggar morkanja Allah, haroes ia di rampas sekalian negri-negri karadja-annja, biar dia tiada dapat di biboerken lagi dan ianja tiada bisa poelaug lagi dari tempat boewangannja, sebab dia tiada maoe trima sa-orang anak mantoe, seperti toewankoe, jaug begini hartawan dan boediman serta tjakep. Demi Allah, kalos soenggoe dia masih maoe ambil mantoe orang laen, maka njata iauja soeda tiada ada poenja ingatan lagi. Poeteri Giauhare bernanti sabentaran abis ia berkata poela: »Adoeh toewankoe jang berkoewasa, djanganlah doeli toewankoe memberihken salah pada ajanda ka ni atas perboewatannja; doeli toewankoe kataken tjintanja besar bagi kami, akea tetapi kalos di timbang dengen katjinta-an kami bagi doeli toewankoe, maka katjinta-an kami seribos kali lebi besar adanja. Kami lebi baik mati dari melepasken doeli toewankoe djadi soewaminja orang laen. Apabila kami dapat liat pada toewankoe, sabalonoja poela doel toewankoe seboetken nama dan pangkatnja, maka ati kami soeda sanget keras birahinja pada toewan.” Abis bitjara begitoe, aken melaga mengoendjoeken, bahoewa tjinta poeteri Giauhara soeggos besar adanja, maka posteri itoe laloe toebroek dan pelok tjioem, gigit bibirnja radja Beder. Ja itoelah akal jang paling mandjoer boewat perampoewan dengen mengoendjoekin tjinta jang di tiroe, maka perampoewan dapet perboewatken segala apa jang di kabendaknja sama orang laki-laki. Begitoepoen radja Beder. Barang di rasanja hawa nafasnja poeteri Giauhara jang haroem itoe melanggar pipinja, apabila di rasanja bibirnja poeteri itoe melanggar bibirnja sendiri, maka pertjajanja ia soenggoe, bahoewa poeteri Giauhara terlaloe sanget tjinta padanja. Diapoen beroelang oelang memelok tjioem moeloetnja dan matanja poeteri Giaubara. Sambil meneken poeteri itoe di dadanja, maka ia berkata: »Toewan poeteri, demi Allah, apa jang di tjeritaken oleh mamanda kami dari pada kabagoesannja toewan poeteri, belon separonja dari apa jang kami lihat dengen mata kami!” Hata maka toewan poeteri laloe doedoek di ampirnja radja Beder. Ianja pegang tangannja radja Bader, abis ia dapet liat tjintjin wacijat itoe di djarinja radja. Sebab poeteri Giauhara taoe djoega segala roepa ilmoe<noinclude>{{rh||1535|}}</noinclude> 9u7puoai9uqpk2gke6bmpf4dysvojxn 291435 291420 2026-05-11T00:54:19Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291435 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>minggat bersemboeni di ini poelo, seperti sa-orang boewangan. Kaloe kami tiada poekoel akal begini, maka tentoe radja Beder nanti tangkep kami dengen paksa; aken bawa pegi kami, sebab ianja birahi sanget pada kami dan orang begitoe tiada memperdoeliken apa-apa lagi. Djadi poeteri Giauhare melaga meugoendjoeken tjinta pada radja Beder. Katanja dengan manis bahasa: »O! Toewankoe, ati djiwakoe, tjahija matakoe, djadi toewankoelah radja Beder, anaknja ratoe Gulnare?” Djawab radja Beder: »Ja, kamilah anaknja ratoe Gulnare! Wa” berkata poela poeteri Giauhare »djika demikianlah adanja haroes ajanda kami kena kelanggar morkanja Allah, haroes ia di rampas sekalian negri-negri karadja-annja, biar dia tiada dapat di hiboerken lagi dan ianja tiada bisa poelang lagi dari tempat boewangannja, sebab dia tiada maoe trima sa-orang anak mantoe, seperti toewankoe, jang begini hartawan dan boediman serta tjakep. Demi Allah, kaloe soenggoe dia masih maoe ambil mantoe orang laen, maka njata ianja soeda tiada ada poenja ingatan lagi. Poeteri Giauhare bernanti sabentaran abis ia berkata poela: »Adoeh toewankoe jang berkoewasa, djanganlah doeli toewankoe memberihken salah pada ajanda kami atas perboewatannja; doeli toewankoe kataken tjintanja besar bagi kami, aken tetapi kaloe di timbang dengen katjinta-an kami bagi doeli toewankoe, maka katjinta-an kami seriboe kali lebi besar adanja. Kami lebi baik mati dari melepasken doeli toewankoe djadi soewaminja orang laen. Apabila kami dapat liat pada toewankoe, sabalonnja poela doel toewankoe seboetken nama dan pangkatnja, maka ati kami soeda sanget keras birahinja pada toewan.” Abis bitjara begitoe, aken melaga mengoendjoeken, bahoewa tjinta poeteri Giauhara soeggoe besar adanja, maka poeteri itoe laloe toebroek dan pelok tjioem, gigit bibirnja radja Beder. Ja itoelah akal jang paling mandjoer boewat perampoewan dengen mengoendjoekin tjinta jang di tiroe, maka perampoewan dapet perboewatken segala apa jang di kahendaknja sama orang laki-laki. Begitoepoen radja Beder. Barang di rasanja hawa nafasnja poeteri Giauhara jang haroem itoe melanggar pipinja, apabila di rasanja bibirnja poeteri itoe melanggar bibirnja sendiri, maka pertjajanja ia soenggoe, bahoewa poeteri Giauhara terlaloe sanget tjinta padanja. Diapoen beroelang oelang memelok tjioem moeloetnja dan matanja poeteri Giauhara. Sambil meneken poeteri itoe di dadanja, maka ia berkata: »Toewan poeteri, demi Allah, apa jang di tjeritaken oleh mamanda kami dari pada kabagoesannja toewan poeteri, belon separonja dari apa jang kami lihat dengen mata kami!” Hata maka toewan poeteri laloe doedoek di ampirnja radja Beder. Ianja pegang tangannja radja Bader, abis ia dapet liat tjintjin wacijat itoe di djarinja radja. Sebab poeteri Giauhara taoe djoega segala roepa ilmoe<noinclude>{{rh||1535}}</noinclude> axd0ff7u75lsc4vlztr6aq95k5ia5j9 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/505 104 100995 291431 283506 2026-05-11T00:47:06Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291431 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Samandal, barangkali soeda binasa di boenoeh moesoeb, maka sedang kami prentahken orang aken kirim toeloengan padamoe, maka gaiblah radja Beder. Pada fikir kami, tjoetjoe anda Beder itoe telah mendjadi kaget oleh kerna kabar itoe jang mewartaken kabinasa-anmoe, sahingga ianja rasa dirinja tiada senang di astana ini.” Kabar jang dengarnja dari si iboe, membikin radja Saleh bersoesah ati sanget, ia bersesalan keras, jang ia begitoe gampang kena di boedjoek oleh radja Beder, aken toeroet apa keponakannja itoe poenja maoe, dengen tiada membri taoe doeloe kapada Gulnare. Radja Saleh kirim orang ka koeliling pendjoeroe negri, aken tetapi sia-sia sadja, marika itoe semoewa tiada bisa kasi katerangan soewatos apa. Kagirangannja radja Saleh telah berobah, ianja telah kira soeggoe, bahoewa djadilah orang kadoswa itoe bernikah, aken tetapi sekarang katinggalan doeka jita, sebab jalannja bal ini begitoe boeroek adanja. Bahna ianja tiada dapet kabar tjerita dari kaponakannja, maka radja Saleh tinggal bernanti sadja, dan dari sebab radja Samandal masih di pendjaranja, dari itoe ia serahken pemarentah negrinja kapada iboenja, dan dia sendiri pegi memarentah karadja-an Samandal. Radja Samandal betoel ditawan, aken tetapi ia di hormati djoega sebagimana patoet adanja, tjoema ia tiada berkoewasa memarentah. Di itoe hari djoega, jang radja Saleh pegi ka negri Samandal, aken mendjalani pakerdaja-an radja, maka Gulnare, iboenja radja Beder, dateng ketemoein ratoe iboenini-andanja radja Persi. Gulnare tiada sekali heran, jang anaknja tida poelang di itoe hari, sebab ianja pegi memboeroe sama mamanda nja, sebab Gulnare kira anaknja tinggal lama-in di tempat perboeroe-an, lantaran kabanjakan kasenangan, sampe dia pegi lebi djaoe lagi ka dalem oetan. Aken tetapi, koetika doewa hari lamanja Gulnare tiada liat anaknja itoe poelang ka roemah, maka sanget keras koewatirnja, memang Gulnare keliwat amat tjinta anaknja jaag toenggal itoe. Koewatirnja Gulnare semangkin bertamba, koetika orang-orang jang toeroet memboeroe dateng kasi taoe padanja, bahoewa marika itoe soeda tjari selama-an radja Beder bersama radja Saleh, aken tetapi doewa doewanja tiada ketaoewan kemana peginja, ta dapet tiada, mistjajja kaloewa-doswanja misti kalanggar binasa, sebab koedanja do ewa-doewa masih ada tertjantjang di tempat, bekas radja doewa orang itoe doedoek berdiam, tetapi orangnja soeda tida ada. Soesah atinja Gulnare boekan alang kapalang, ia titahken orang-orang itoe aken pegi lagi tjari anaknja. Samantara orang-orang itoe pegi tjari radja Beder, maka Gulasce bilang pada dajang-dajangnja, aken tinggalin dianja sendiri, setelah soeda, maka Gulnare nerdjoen ka dalem laoet, aken<noinclude>{{rh||1537|}}</noinclude> ojtbz9ccc3ofae6npgc0bdum2zj63um 291444 291431 2026-05-11T01:06:29Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291444 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Samandal, barangkali soeda binasa di boenoeh moesoeh, maka sedang kami prentahken orang aken kirim toeloengan padamoe, maka gaiblah radja Beder. Pada fikir kami, tjoetjoe anda Beder itoe telah mendjadi kaget oleh kerna kabar itoe jang mewartaken kabinasa-anmoe, sahingga ianja rasa dirinja tiada senang di astana ini.” Kabar jang dengarnja dari si iboe, membikin radja Saleh bersoesah ati sanget, ia bersesalan keras, jang ia begitoe gampang kena di boedjoek oleh radja Beder, aken toeroet apa keponakannja itoe poenja maoe, dengen tiada membri taoe doeloe kapada Gulnare. Radja Saleh kirim orang ka koeliling pendjoeroe negri, aken tetapi sia-sia sadja, marika itoe semoewa tiada bisa kasi katerangan soewatoe apa. Kagirangannja radja Saleh telah berobah, ianja telah kira soeggoe, bahoewa djadilah orang kadoewa itoe bernikah, aken tetapi sekarang katinggalan doeka jita, sebab jalannja bal ini begitoe boeroek adanja. Bahna ianja tiada dapet kabar tjerita dari kaponakannja, maka radja Saleh tinggal bernanti sadja, dan dari sebab radja Samandal masih di pendjaranja, dari itoe ia serahken pemarentah negrinja kapada iboenja, dan dia sendiri pegi memarentah karadja-an Samandal. Radja Samandal betoel ditawan, aken tetapi ia di hormati djoega sebagimana patoet adanja, tjoema ia tiada berkoewasa memarentah. Di itoe hari djoega, jang radja Saleh pegi ka negri Samandal, aken mendjalani pakerdaja-an radja, maka Gulnare, iboenja radja Beder, dateng ketemoein ratoe iboenini-andanja radja Persi. Gulnare tiada sekali heran, jang anaknja tida poelang di itoe hari, sebab ianja pegi memboeroe sama mamanda nja, sebab Gulnare kira anaknja tinggal lama-in di tempat perboeroe-an, lantaran kabanjakan kasenangan, sampe dia pegi lebi djaoe lagi ka dalem oetan. Aken tetapi, koetika doewa hari lamanja Gulnare tiada liat anaknja itoe poelang ka roemah, maka sanget keras koewatirnja, memang Gulnare keliwat amat tjinta anaknja jaag toenggal itoe. Koewatirnja Gulnare semangkin bertamba, koetika orang-orang jang toeroet memboeroe dateng kasi taoe padanja, bahoewa marika itoe soeda tjari selama-an radja Beder bersama radja Saleh, aken tetapi doewa doewanja tiada ketaoewan kemana peginja, ta dapet tiada, mistjaija kadoewa-doewanja misti kalanggar binasa, sebab koedanja doewa-doewa masih ada tertjantjang di tempat, bekas radja doewa orang itoe doedoek berdiam, tetapi orangnja soeda tida ada. Soesah atinja Gulnare boekan alang kapalang, ia titahken orang-orang itoe aken pegi lagi tjari anaknja. Samantara orang-orang itoe pegi tjari radja Beder, maka Gulnare bilang pada dajang-dajangnja, aken tinggalin dianja sendiri, setelah soeda, maka Gulnare nerdjoen ka dalem laoet, aken<noinclude>{{rh||1537|}}</noinclude> 4utho5jb0uc4orxfnt4q998isogd5h3 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/567 104 100997 290989 289340 2026-05-10T13:34:04Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290989 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Djawabnja si iboe: »Tiada ada lagi, maski dari pada pihak akoe, maski dari pada pihak bapamoe soeda tiada ada mamandamoe.” Katanja Aladin: »Mana boleh, sebab tadi sanda dapet bitjara sama sa-orang toewa, jang seboetken dirinja abang dari pada bapa sanda, serta ia kataken dengan tegoeh, bahoewa ia sasoenggoenja sanda poenja mamanda. Liat sadja ini doewit, ianja brihken sanda, lagipoen dia pesan pada sanda, aken kasi taoe pada iboe, bahoewa besok ia hendak dateng berdjoempa kemari, aken liat bekas tempat perdiaman bapa di mana bapa telah meninggalken doenia.” Djawab si iboe: »Hei anak, betoel bapamoe ada poenja soedara sa-orang laki-laki, aken tetapi itoe soedara soeda lama mati, dan akoe belon pernah dengar bapamoe ada poenja soedara jang laen lagi.” Pada ka-esokan hari, sedang Aladin lagi bermaen-maen sama teman-temannja, maka dateng poela itoe orang toewa. Setelah ampir sama Aladin, maka ia pelok, ia tjioem anak itoe, serta di brihkennja doewa dinar emas sembaring katanja: »Hei anak bawa ini doewit pada iboemoe. kataken padanja ini malem akoe maoe dateng berdjoempa padanja. Biarlah iboemoe pake ini doewit, aken beli makanan sedikit, soopaija kita bole makan-makan malem, tetapi marilah engkau oendjoeken doeloe di mana roemahmoe.” Aladin adjak itoe orang toewa berdjalan laloe di oendjoeken roemahnja pada orang itoe, setelah soeda, maka itoe orang toewa berdjalan teroes, dan Aladin masoek ketemoe-in iboenja. Koetika dia soeda tjeritaken semoewa hal mamandanja jang hendak dateng berdjoempa, maka iboenja Aladin pegi ka kedei, aken blandja makanan dan minoeman. Abis persantapan itoe di bawa poelang, maka ia pegi mindjam-mindjam pekakas piring makok dan sebaginja pada tetangga-tetangganja, sebab dia sendiri tiada berpoenja barang sademikian, melaenken apa jang perloe sadja boewat dia sa-orang sama satoe anak ia itoelah ada. Demikianlah perboewatannja iboenja Aladin, serta antero hari ia sedia-sediaken makanan boewat makan malem. Waktoe malem, semoewa soeda tersedia, maka katanja si iboe pada Aladin: »Hei anak, engkau poenja mamanda barangkali tiada bisa ketemoe kita poenja roemah, baiklah engkau pegi djalan ketemoe-in dia bawa kemari.” Kabetoelan Aladin maoe keloewar, aken toeroet seperti bitjara iboenja, maka ada orang mengetok pintoe. Aladin boeka-in pintoe, maka lantas dia kenalin itoe orang toewa jang tadi dengan membawa anggoer dan beboewahan, aken di makan itoe malem. Barang-barang itoe di serahkennja pada Aladin, abis itoe orang toewa masoek kasi taoe iboenja Aladin, setelah soeda, maka di minta olehnja, aken oendjoekin padanja di bangkoe sofa tempat dimana soedaranja biasa berdoedoek di waktoe idoepnja. Iboenja Aladin oendjoekin itoe tempat. Barang soeda di oendjoekin, maka dia lantas bersoedjoed<noinclude> {{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1568|{{smaller|87}}}}</noinclude> druq88et6a5u1g3vljxw612o9uik1x4 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/507 104 100998 291432 283508 2026-05-11T00:49:40Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291432 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>mentjari keterangan barangkali radja Saleh soedah adjak kaponakannaja poelang ka negrinja. Ratoe iboe girang djoega meliat anakuja dateng, aken tetapi dari sebab ratoe iboe bisa doega apa jang mendjadi lantaran sampe Gulnare dateng sendiri di tempat perdiaman iboenja, maka ratoe iboe mendjadi soesah djoega atinja. Ianja berkata: ,»Anak, kami ini taoe betoel, bahoewa engkau ini dateng boekan boewat menengokin kami; engkau ini dateng menanja di mana anakmoe, radja Beder, ada. Apa jang kami bisa bilang padamoe, nistjaija aken menambahken doeka tjitamoe. Koetika kami dapet liat tjoetjoeanda dateng ketemoe-in kami, maka besarlah rasa kami poeuja ati, terlaloe amat kami girang, aken tetapi, koetika kami dapet dengar jang dia dateng tiada dengan permissienja Gulnare, maka lantas kami bisa rasa sendiri, bahoewa hal ini misti membikin anakkoe koerang senang.” Abis ratoe iboe tjerita sama Gulnara, bagimana radjinnja radja Saleb, aken pegi sendiri ka negri Samandal boewat meminang poeteri Giauhare djadi isterinja radja Beder, dan hingga pada waktoe radja Beder gaib. ”Kami soeda kirim bebrapa banjak orang aken mentjari dia, maski radja Saleh poen djoega soedah titahken orang-orangnja aken pegi tjari radja Beder, tetapi pertjoema sadja, masing-masing orang itoe poelang tida bisa kasi keterangan satoe apa. Sekarang radja Saleh soedah pegi ka negri Samandal aken pegang prentah karadja-an di sana.” Gulnare bertangisan, di kiranja binasalah anakuja, maka soedaranja, ia itoe radja Saleh dia kasi salah, jang mendjadi lantaran sampe djadi begini. Ratoe iboe kasi ingat sama Gulnare, aken sabar sedikit, soepaija djangan terlaloe makan ati. Katanja ratoe iboe: »Betoel bitjaramoe, soedaramoe itoe tiada bole begitoe alpa dan koerang ati-ati, aken membitjara-an hal kawin itoe sama poetrie Giaubare, lagipoen ia salah soenggoe, aken membawa tjoetjoeanda dengan tiada membrih tace padamos lebi doeloe. Adapoen, dari sebab belon katentoewan apa Beder mati, maka baiklah engkau poelang ka negri-moe, aken teroes memerentahken negri itoe, soepaija djangan telantar. Engkau perloe sekali ada di benoewa Persie, maka kami rasa tiada sebrapa soesah aken menjenangken rajat negrimoe, aken menjeboetken sebaboja mengapa radja Beder tiada ada di negri, maka engkau bilang sadja, jang janja pegi pesiar ka negri kami.” Tjoba ratos iboe tiada kasi ingat begitoe pada Gulnare, Distjaija Gulnare tiada maoe poelang, adapoen bahna keras adjarannja iboenja, djadi kepaksa Gulnare poelang djoega. Dengan sigrah ia ambil selamat tinggal dari iboenja, laloe ia poelang ka benoewa Persie, dan dia sampe lagi di dalem astana, sabelonnja orang-orang dajang-dajangaja taoe jang dianja soedah pegi ka negri iboenja.<noinclude>{{rh||1538}}</noinclude> nq3dh1y6nwnzik9cy67c1818nnqjiom 291449 291432 2026-05-11T01:13:12Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291449 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>mentjari keterangan barangkali radja Saleh soedah adjak kaponakannaja poelang ka negrinja. Ratoe iboe girang djoega meliat anakuja dateng, aken tetapi dari sebab ratoe iboe bisa doega apa jang mendjadi lantaran sampe Gulnare dateng sendiri di tempat perdiaman iboenja, maka ratoe iboe mendjadi soesah djoega atinja. Ianja berkata: „Anak, kami ini taoe betoel, bahoewa engkau ini dateng boekan boewat menengokin kami; engkau ini dateng menanja di mana anakmoe, radja Beder, ada. Apa jang kami bisa bilang padamoe, nistjaija aken menambahken doeka tjitamoe. Koetika kami dapet liat tjoetjoeanda dateng ketemoe-in kami, maka besarlah rasa kami poenja ati, terlaloe amat kami girang, aken tetapi, koetika kami dapet dengar jang dia dateng tiada dengan permissienja Gulnare, maka lantas kami bisa rasa sendiri, bahoewa hal ini misti membikin anakkoe koerang senang.” Abis ratoe iboe tjerita sama Gulnara, bagimana radjinnja radja Saleh; aken pegi sendiri ka negri Samandal boewat meminang poeteri Giauhare djadi isterinja radja Beder, dan hingga pada waktoe radja Beder gaib. „Kami soeda kirim bebrapa banjak orang aken mentjari dia, maski radja Saleh poen djoega soedah titahken orang-orangnja aken pegi tjari radja Beder, tetapi pertjoema sadja, masing-masing orang itoe poelang tida bisa kasi keterangan satoe apa. Sekarang radja Saleh soedah pegi ka negri Samandal aken pegang prentah karadja-an di sana.” Gulnare bertangisan, di kiranja binasalah anaknja, maka soedaranja, ia itoe radja Saleh dia kasi salah, jang mendjadi lantaran sampe djadi begini. Ratoe iboe kasi ingat sama Gulnare, aken sabar sedikit, soepaija djangan terlaloe makan ati. Katanja ratoe iboe: „Betoel bitjaramoe, soedaramoe itoe tiada bole begitoe alpa dan koerang ati-ati, aken membitjara-an hal kawin itoe sama poetrie Giauhare, lagipoen ia salah soenggoe, aken membawa tjoetjoeanda dengan tiada membrih taoe padamoe lebi doeloe. Adapoen, dari sebab belon katentoewan apa Beder mati, maka baiklah engkau poelang ka negrimoe, aken teroes memerentahken negri itoe, soepaija djangan telantar. Engkau perloe sekali ada di benoewa Persie, maka kami rasa tiada sebrapa soesah aken menjenangken rajat negrimoe, aken menjeboetken sebaboja mengapa radja Beder tiada ada di negri, maka engkau bilang sadja, jang janja pegi pesiar ka negri kami.” Tjoba ratos iboe tiada kasi ingat begitoe pada Gulnare, Distjaija Gulnare tiada maoe poelang, adapoen bahna keras adjarannja iboenja, djadi kepaksa Gulnare poelang djoega. Dengan sigrah ia ambil selamat tinggal dari iboenja, laloe ia poelang ka benoewa Persie, dan dia sampe lagi di dalem astana, sabelonnja orang-orang dajang-dajangaja taoe jang dianja soedah pegi ka negri iboenja.<noinclude>{{rh||1538}}</noinclude> 2kaicsjtv5rucrqtk9w3uidn6oybe55 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/565 104 100999 290991 289323 2026-05-10T13:34:07Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290991 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>Hata, maka Aladin semangkin djadi djahat, sebab dia taoe bapanja soeda meninggal dan iboenja tiada mampoe tegorin padanja. Dia maen antero ari bersama-sama teman-temannja jang sama pangkat oemoernja, dan dia tiada ferdoeli-in lagi soewatoe apa. Begitoelah idoepnja sampe Aladin beroesiah oemoer lima belas taon. Selamanja itoe dia tiada sekali-kali memikirken apa, aken djadi di hari kamoedian dia tiada ferdoeli-in. Arkian pada soewatoe hari ia sedang lagi bermaen-maen bersama-sama bebrapa anak-anak di aloen-aloen, maka ada sa-orang asing liwat, barang ini orang dapet liat pada Aladin, maka ia berdiamlah bediri memandang Aladin. Ia itoelah sa-orang kiai Sahir jang amat pande, dia di nama-in Kiai Sabir Habesi, sebab ia berasal dari benoewa Habesi. Di itoe waktoe ia betoel baroe doewa hari lamanja berdiam di tempat perdiamannja Aladin. Maka oleh orang toewa itoe di tanja pada hal asal oesoelnja Aladin, srenta soeda di ketahoewinja betoel Aladin poenja asal oesoel, maka katanja orang toewa itoe dengan tangis: Hei anakkoe apakah bapamoe, boekannja si Moestafa, toekang mendjahit?” Djawabnja Aladin: »Ja betoel Moestafa namanja sanda poenja bapa, tetapi ia soeda lama meninggal.” Barang di dengar oleh orang toewa bitjaranja Aladin demikian, maka ia pelok tjioem pada Aladin beroelang-oelang engan tangisnja amat sedih. Maka Aladin bertanja apa sebabnja kiai begitoe keras berdoeka hati. Djawabnja itoe kiai:” Ja anakkoe, bolehkah kami ini tiada menangis, sebab kami ini abang kapada bapamoe, djadi akoe ini pernah mamak kapadamoe. Akoe soeda berdjalan koeliling bebrapa taon lamanja, aken mentjari soedarakoe itoe, maka akoe harep sanget aken ketemoe-in dia lagi sekali, tetapi engkau kataken jang dia soeda mati. Adoeh, keras keliwat doeka tjita hatikoe mendengar kabar ini jang amat sedih. Adapoen kendati bagimana sedih djoega atikoe, masih ada girangnja sedikit, sebab roepamoe kaja pinang di belah doewa seperti bapamoe, kerna itoepoen lantas akoe bisa kenalin padamoe.” Kamoedian ia bertanja di mana roemah iboenja. Aladin kataken di mana iboenja tinggal. Abis itoe orang toewa ambil doewit dari kantongnja di brihkennja pada Aladin sambil berkata: »Anak, baiklah engkau lekas poelang, brihken salamkoe pada iboemoe, maka kataken padanja, bahoewa besok pagi akoe hendak berdjoempa padanja, soepaija akoe dapet hiboerken akoe poenja ati, akoe bole liat bekas tempat perdiaman soedarakoe jang sangetkoe tjinta-in.” Apabila orang toewa itoe soeda berdjalan lebi djaoe, maka Aladin berlari-lari poelang dengan sanget girangnja. Barang dia sampe di roema, maka katanja pada iboenja: »Iboe katakanlah pada sanda apakah sanda ada poenja mamanda?”<noinclude>{{rh||1567}}</noinclude> aamuby3jgdvltqkvp587v974l1xx4hl Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/563 104 101000 290992 282398 2026-05-10T13:34:11Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290992 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||HIKAJAT}} {{rh||ALADIN ATAWA HIKAYAT}} {{rh||PEL TA ADZIMAT}}</noinclude>Hata, maka di jeriteraken oleh jang ampoenja tjerita, katanja di soewatoe iboe kotanja negri di ampirnja benoewa Tjioa ada sa-orang toekang mendjabit, Moestafa namanja. Pakerdjahannja tiada laen mendjahit sadja, maka ia miskin sekali, sebab pakerdjahaonja demikian itoe tiada membrihken dia sebrapa banjak ka-oentoengan, ampir tiada tjoekoep, aken idoep bersama anak isterinja. Anaknja laki-laki, Aladin namanja, maka bahna miskin orang toewanja djadi paladjaran anaknja itoepoen tersia-sia djoega, oleh kerna itoelah, maka Aladin djadi djahat, tiada soeka dengar kata iboe bapanja. Koetika dia soeda besar, maka iboe bapanja tiada bisa pegang dia lagi di roema. Pagi hari dia soeda djalan kaloewar dan antero hari dia tiada poelang-poelang, dia pegi berdjalan di sana sini ka pasar dan ka aloen-aloen bersama-sama ande taulannja, serta poela bertengkaran dan berkelahi-an, ia itoelah kapandejannja. Koetika dia sampe besar aken bekerdja, maka bapanja bawa padanja di tempat ia mendjabit, aken adjar padanja menggoenting dan mendjabit pakejan. Adapoen sia-sia sadja bapanja adjarken padanja, kendati dengan lemah lemboet, kendati dengan keras poen, anak itoe soeda tiada dapet di adjar lagi, aken bekerdja jang tetap. Apabila bapanja berbalik blakang, maka Aladin teroes lari keloewar tiada poelang-poelang sampe waktoe malem. Bapanja sering sapoe blakangnja Aladin sama rotan pemoekoel, aken tetapi pertjoema sadja. Aladin soeda tiada bisa di tegorin lagi sampe lama kelama-an Moestafa kepaksa aken tinggalin anaknja bikin toeroet maoenja sendiri. Hal ini membikin sanget doeka jita ati Moestafa, hingga ia djato sakit, maka tida brapa boelan lamanja penjakit itoe membawa dia mati. Iboenja Aladin toetoep tempat peadjahitannja Moestafa, abis di djoewalnja segala pekakasnja itoe bersama-sama kaen-kaen aken bikin pakejan, sebab Aladin njatalah tiada maoe teroesken pakerdja-an bapanja. Oewang harga barang djoewalan itoe di pakenja blandja sari-sari oleh iboenja Aladin, maka ada djoege sedikit-sedikit di perolenja dengan menganteh (memintal). Begitoelah ka-ada-anoja itoe orang kadoewa.<noinclude>{{rh||1566}}</noinclude> 5hyn4j2mamwidz02iiwwe4pmtpqe7bu Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/405 104 101002 291643 283302 2026-05-11T04:42:22Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan, cek tanda », tanda petik belakang 291643 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Sebab kera itoe tiada poelang-poelaug. maka baroelah hamba dapet rasa, bahoewa hamba kena di tipoe olehnja, sebab dia itoelah sendiri, jang soeda bawa lari hamba poenja isteri, dia itoelah si doerhaka soeda adjarin hamba dengan pemboedjoek jang aloes, aken meroesakin djimat, jang perlindoengan hamba poenja isteri dari pada tjilaka. Hamba djadi marah sanget, jang hamba kena di tipoe djin doerhaka, Pakejan di badan hamba abis hamba robek-robek, maka hamba soedah tida maoe tinggal lama-an lagi di soewatoe tempat, di mana hamba ilang barang, jang paling hamba tjintaken di dalem doenia. Oleh kerna itoe, maka hamba pegi dari sitoe djalan meloenta kasana kemari meneroes oetan, padang balatantara, bingga malem masih djoega hamba maoe djalan. Aken tetapi bahna gelap, boelan ada goerem lamba tida taoe di mana ada, dan kemana aken pegi boewat bermalem. lata maka koetika boelan moelai terang, maka hamba dapet liat doewa ekor oelar teramat besar, jang satoe merah, jang laen poeti. Kadoewa-doewanja sedang keras berkelai-an. Hamba dapet kasian soenggoe sama itoe oelar poeti, dari itoe hamba poengoet satoe batoe besar bamba lontarken di kepalanja oelar jang merah itoe sampe antjoer. Apabila oelar poeti terlepas dari lilitnja jang merah, maka larilah jang poeti itoe. Tiada sebrapa lama lagi, maka itoe oelar poeti dateng kombali bersama-sama lagi sepoeloe ekor oelar poeti jang laen. Marika itoe dateng dekatin oelar jang bamba lontarken batoe di kepalanja, laloe marika itoe robek-robek badannja oelar merah itoe sampe ketinggalan kepala sadja, Soeda begiteo oelar poeti itoe pada lari lagi. Hamba liat hal ini mendjadi tertjengang soenggoe. Abis sedang hamba lagi fikirin hal ini, maka hamba dengar ada soewara orang bitjara di ampir hamba, tetapi bamba tiada bisa dapet liat roepanja. Koetika hamba dengar itoe soewara tida beroepa, maka hamba lantas menjeboet: Bismillah al rachman al rachim, Allah jang maha besar, jang memarentahken djin iblis, biarlah hamba dapet taoe siapa, jang bitjara ini. Barang abis hamba bitjara begitoe, maka hamba dapet liat soewatoe bajangan tinggi berbadjoe poeti jang pandjang laloe betjaranja: ,,Kami dapet dengar dari pada kamoerahan atimoe sa-orang dermawan. Sekalian djin pri dan mambang, jang ta-loek pada Allah dengan rasoel, pada bertrima kasi padamoe. Kapan engkau perloe pertoeloengan kami, maka bitjaralah nanti kami hendak menoeloeng padamoe dengan segala soeka ati, dan sabole-bole kami." Maka bamba berkata: ,,Ja, toewankoe tiada ada seorang jang terlebi perloe pada pertoeloengan toewankoe, melaenken hambalah, sebab tiada ada satoe orang jang begitoe merasa tjilaka seperti hamba." Djin itoe bertanja: ,,Apakah engkau ini, jang di nama-in Aboe Mobamed Alkeslan?"<noinclude>{{rh||1489}}</noinclude> hqsbfywjnlu8udqefofckys8rl23wda 292024 291643 2026-05-11T11:56:50Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 292024 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Sebab kera itoe tiada poelang-poelaug. maka baroelah hamba dapet rasa, bahoewa hamba kena di tipoe olehnja, sebab dia itoelah sendiri, jang soeda bawa lari hamba poenja isteri, dia itoelah si doerhaka soeda adjarin hamba dengan pemboedjoek jang aloes, aken meroesakin djimat, jang perlindoengan hamba poenja isteri dari pada tjilaka. Hamba djadi marah sanget, jang hamba kena di tipoe djin doerhaka. Pakejan di badan hamba abis hamba robek-robek, maka hamba soedah tida maoe tinggal lama-an lagi di soewatoe tempat, di mana hamba ilang barang, jang paling hamba tjintaken di dalem doenia. Oleh kerna itoe, maka hamba pegi dari sitoe djalan meloenta kasana kemari meneroes oetan, padang balatantara, bingga malem masih djoega hamba maoe djalan. Aken tetapi bahna gelap, boelan ada goerem hamba tida taoe di mana ada, dan kemana aken pegi boewat bermalem. Hata maka koetika boelan moelai terang, maka hamba dapet liat doewa ekor oelar teramat besar, jang satoe merah, jang laen poeti. Kadoewa-doewanja sedang keras berkelai-an. Hamba dapet kasian soenggoe sama itoe oelar poeti, dari itoe hamba poengoet satoe batoe besar bamba lontarken di kepalanja oelar jang merah itoe sampe antjoer. Apabila oelar poeti terlepas dari lilitnja jang merah, maka larilah jang poeti itoe. Tiada sebrapa lama lagi, maka itoe oelar poeti dateng kombali bersama-sama lagi sepoeloe ekor oelar poeti jang laen. Marika itoe dateng dekatin oelar jang hamba lontarken batoe di kepalanja, laloe marika itoe robek-robek badannja oelar merah itoe sampe ketinggalan kepala sadja. Soeda begiteo oelar poeti itoe pada lari lagi. Hamba liat hal ini mendjadi tertjengang soenggoe. Abis sedang hamba lagi fikirin hal ini, maka hamba dengar ada soewara orang bitjara di ampir hamba, tetapi hamba tiada bisa dapet liat roepanja. Koetika hamba dengar itoe soewara tida beroepa, maka hamba lantas menjeboet: »Bismillah al rachman al rachim, Allah jang maha besar, jang memarentahken djin iblis, biarlah hamba dapet taoe siapa, jang bitjara ini. Barang abis hamba bitjara begitoe, maka hamba dapet liat soewatoe bajangan tinggi berbadjoe poeti jang pandjang laloe betjaranja: »Kami dapet dengar dari pada kamoerahan atimoe sa-orang dermawan. Sekalian djin pri dan mambang, jang ta-loek pada Allah dengan rasoel, pada bertrima kasi padamoe. Kapan engkau perloe pertoeloengan kami, maka bitjaralah nanti kami hendak menoeloeng padamoe dengan segala soeka ati, dan sabole-bole kami.” Maka hamba berkata: „Ja, toewankoe tiada ada seorang jang terlebi perloe pada pertoeloengan toewankoe, melaenken hambalah, sebab tiada ada satoe orang jang begitoe merasa tjilaka seperti hamba.” Djin itoe bertanja: „Apakah engkau ini, jang di nama-in Aboe Mobamed Alkeslan?”<noinclude>{{rh||1489}}</noinclude> sjyyp3bn4ccr045xld0rb5m82hsjujk Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/295 104 101003 291200 282358 2026-05-10T15:01:54Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291200 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Adapun Perusahaan Garam tersebut merupakan sebagai suatu badan jang masuk dalam hukum perusahaan dan mempunjai 3 bagian: <ol type="'''1'''"> <li>Bagian Pegaraman:<br> Bagian ini mempunjai tugas untuk membikin garam, dan mempunjai 6 daerah pegaraman sebagai berikut:<br> {| style="border-collapse:collapse; margin-left: 2em;" |- | Pegaraman || Nembakor di Sumenep || seluas || style="text-align:right;" | 1.372,647 || ha |- | style="text-align:center;" | " || Palebunan di Sumenep || style="text-align:center;" | " || style="text-align:right;" | 1.553,516 || style="text-align:center;" | " |- | style="text-align:center;" | " || Gresik-Putih di Sumenep || style="text-align:center;" | " || style="text-align:right;" | 557,370 || style="text-align:center;" | " |- | style="text-align:center;" | " || Tjapak di Pamekasan || style="text-align:center;" | " || style="text-align:right;" | 825,820 || style="text-align:center;" | " |- | style="text-align:center;" | " || Ragung di Sampang || style="text-align:center;" | " || style="text-align:right;" | 1.199,327 || style="text-align:center;" | " |- | style="text-align:center;" | " || Manjar di Surabaja (Gresik) || style="text-align:center;" | " || style="text-align:right;" | 584,560 || style="text-align:center;" | " |- | colspan="3" style="border-top:1px solid black; text-align:right; padding-top: 5px;" | '''Djumlah''' || style="border-top:1px solid black; text-align:right; padding-top: 5px;" | '''6.093,240''' || style="border-top:1px solid black; padding-top: 5px;" | '''ha''' |} <br> Selain dari pada itu di Rembang, Tuban, Panggul dan Patjitan terdapat pula 4 buah tanah pegaraman jang luasnja adalah lebih kurang 800 ha. Tanah-tanah tersebut kemudian pada pertengahan tahun 1950 telah diserahkan kembali kepada para pemiliknja dahulu.</li> <li>Paberik-paberik:<br> Paberik-paberik itu bekerdja jang disebut djuga garam untuk membuat garam briket, ganduan . Paberik-paberik sematjam ini hanja terdapat di Madura sadja, jakni sebuah di Kalianget dan sebuah lagi di Krampon dalam Kabupaten Sampang.</li> <li>Perusahaan Pengangkutan Laut dan Kali:<br> Perusahaan Pengangkutan Laut dan Kali ini dahulu disebut Pengang kutan Laut Djawa-Timur (P.L.D.T.), jang mempunjai tugas pengangkutan garam, baik ganduan maupun lasa'an dari Madura kegudang-gudang dipantai.</li></ol> Dengan Djawatan Regie Garam sendiri, 3 bagian tersebut merupakan sebagai 4 serangkai dari Pegaraman, ialah „membikin, membungkus, mengangkut kegudang dipantai dan distribusi (pendjualan) kepada Rakjat”. Djadi jang termasuk dalam lingkungan Perusahaan Pembikinan Garam hanjalah membuat dan mengangkut, sedang jang mengatur banjaknja garam jang harus diangkut ketiap-tiap tempat dan pendjvalan nja adalah termasuk tugas Djawatan Regie Garam. '''Pegaraman.''' Suatu tempat pembikinan garam umumnja terdiri atas beberapa tempat persediaan air-laut jang bebas dari pengaruh pasang dan surutnja air-laut. Disamping tempat-tempat persediaan air-laut ini terdapat bidang-bidang tanah jang luas, dimana air-laut itu diuapkan dengan panas matahari sehingga mendjadi garam.<noinclude>{{rh|||263}}</noinclude> lo9lgyy2mugasoxd3fmmvls0kmrcq51 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/407 104 101004 291668 283304 2026-05-11T05:10:29Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ tanda » dan tanda petik belakang 291668 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Djawab hamba: ,,Benerlah, memang itoelah hamba poenja nama." maka hamba bertarik nafas pandjang, aken memboewang soesah. Djin itoe laloe berkata: ,,Kaloe begitoe adanja sabar sadja, sebab engkau ada jang membelahken. Ketahoewilah olehmoe, bahoewa kami ini ada soedara dari pada oelar poeti, jang tadi engkau soeda toeloengi, sebab engkau soeda lepasken dia dari pada moesoehnja. Kita orang ini ampat bersoedara dari sa-iboe sabapa, maka kita sekalian bendak membales trimah kasi padamoe. Itoe kera jang tinggal begitoe lama bersama-sama kamoe, ia itoelah satoe djin doerhaka. Djika dia tiada pake tipoe seperti di perboewateja itoe dengan kamoe, maka tiada ia nanti bisa dapet rampas isterimoe, maka dia soeda brapa lama keras birahi pada perampoewan itoe tida djoega bisa dapet, kerna itoe dia poekoel akal sabagimana telah di perboewatuja. Brapa kali dia soeda tjoba bawa lari perampoewan itoe, aken tetapi pertjoema sadja, nijatnja kena di tjegah oleh itoe djimat, jang di bikin oleh ajandanja itoe perampoewan. Adapoen engkau kena di boedjoek sampe engkau sendiri, jang merosakin itoe djimat. Sekarang perampoewan moeda itoe masih ada di dalem tangan-nja, akan tetapi kita orang tiada ilang pengharapan, barangkali kita masih bisa dapetin kombali perampoewan itoe, dan aken membinasaken itoe djin doerhaka. Pertoeloenganmoe bagi kita orang terlaloe amat besar, maka wadjiblah, kita poen toeloeng djoega sabole-bole padamoe, serta ini waktoelah baroe kita bias oendjoekin kita poenja pembales trimah." Abis bitjara demikian, maka itoe djin mendjerit keras sanget, hingga gemper boemi dan langit, hamba poen ampir tiada sanggoep tinggal bediri. Sakoetika itoe djoega, maka ada dateng bebrapa banjak djin dan peri, jang bersendjata dan masing-masing berlaenan matjemnja. Pada sekalian marika itoe, telah di tanja olehnja apa marika itoe, taoe djoega kamana kera itoe lari bersemboeni. Djawabnja djin sekalian: ,,Tempat perdiaman kera itoe di kota tembaga jang selama-lamanja tiada kena tjahija sinar matahari." Djin sa-orang itoe soeroeh marika itoe poelang, maka tiada sebrapa lama lagi ada dateng saekor naga besar dengan di rihasin jang endah-endah. Itoe naga laloe berkata pada hamba: ,,Aboe Mohamed nanti kami titahken Ba-orang rajat kami, aken bawa padamoe pegi ka itoe kota. Dia itoelah nanti dia kasi akal padamoe bagimana engkau bisa dapet kombali isterimoe jang baroe engkau nikahken. Aken tetapi djangan sekali-kali engkau seboetken nama Allah, djikaloe rajat kami itoe bawa padamoe melajang di cedara, sebab rajat kami itoepoen sa-orang djin doerhaka djoega, maka kaloe engkau loepahken pesenan kami, aken djangan menjeboet nama Allah, nistjaija binasa, djin itoe graib, maka engkau djatolah dari atas ka boemi. Hamba laloe bernijat keras tida bakalan loepahken pesenan itoe radja<noinclude>{{rh||1490}}</noinclude> p153q6xnmfvr67s8cyl1bqu51oejytu Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/561 104 101005 290994 289092 2026-05-10T13:34:14Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290994 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>Rame ramejan kawinnja radja Beder dengan poeteri Giauhare di rajahken dengan segala oepatjara kabesaran di negri Sahir, maka terlaloe amat rijoehnja, sebab sekalian orang-orang jang beroepa binatang telah balik kombali beroepa manoesia lagi, koetika ratoe Labe soeda wafat, semoewa pada dateng membrih trima kasi pada radja Beder, jang djadi lantaran sampe dia orang terlepas dari pada bahaijanja. Marika itoe ampir semoewa pangeran pangeran anak radja-radja besar dan orang bangsawan. Radja Persie poelang kombali ka negrinja dengan sanget girang atinja, jang dia dapet isteri poeteri jang amat di tjintanja. Iboenja, poeteri Gulnare djoega toeroet poelang ka benoewa Persie di anter oleh poeteri-poeteri dan ratoe iboe, ratoe Farasche, maka marika itoe tinggal di astana radja Beder sampe radja Saleh dateng samboat iboenja, aken di bawa poelang ka negrinja di laoet. Samantara itoepoen radja Saleh bawa radja Samandal poelang ka negrinja, aken di tetapken lagi djadi radja. Sekalian rajat negri dan penggawe pembesar negri girang mendapet kombali radjanja, maka marika itoe berame-ramejan tida berkapoetoesan, aken merajahken datengnja radja dan kawinnja poeteri Giauhare.<noinclude>{{rh||1565}}</noinclude> f7paqvba5tsy0fec21b39pk7xn0qcm9 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/314 104 101006 291197 282381 2026-05-10T15:01:06Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291197 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Hasil kerdja bersama dengan B.A.T./T.E.I.C. ini antara lain sebagai berikut: Bangunan untuk gedung-gedung/oven-oven dikerdjakan dan ditempati diserahkan oleh „Perrin”, kepada „Perrin” dan biaja-biaja pembangunannja dipikul oleh B.A.T./T.E.I.C . Kemudian setelah achir tahun 1951 „Perrin” mendapat modal dari Djawatan Perkebunan dengan melalui Jajasan Kredit sebanjak Rp. 12½ djuta. Dan pada waktu itu pada „Perrin” telah dipekerdjakan lebih kurang 100 orang pegawai tetap, dan lebih kurang 2000 orang pekerdja lepas. Sekira dalam bulan Djanuari 1952 disebabkan karena hasil kerdja bersama dengan B.A.T/T.E.I.C. tidak dapat memberi kepuasan, maka „Perrin” lalu memutuskan kerdja bersama ini dan berdiri sendiri. Sekalipun kerdja bersama dengan B.A.T. tersebut telah putus, tetapi „Perrin” masih dapat menggunakan bangunan-bangunan/oven-oven dan menempati gedung-gedung kepunjaan B.A.T./T.E.I.C. tersebut dengan batas-batas ketentuan menurut perdjandjian jang telah diadakan 5 tahun. Adapun etablissemen-etablissemen jang dapat dipergunakan setjara kerdjasama antara „Perrin”, Vak Organisasi Tani dan beberapa perusahaan tembakau besar (British American Tobacco, Tabak Export en Import Compagnie dan lain-lain), di Daerah Bodjonegoro berdjumlah 13 buah jaitu letaknja di: {| style="margin-left: 4em;" | Bodjonegoro || 2 buah, |- | Sobontoro || 1 " |- | Talun || 1 " |- | Srojo || 2 " |- | Bowerno || 1 " |- | Sugihwaras || 2 " |- | Kedungadem || 1 " |- | Kuntji || 1 " |- | Larangankunir || 1 " |- | Sumbersari || 1 " |} Ke 13 etablissemen tersebut meliputi 3 buah gudang opslag, 13 gudang afpak, 12 los pembelian/renteng dan 157 rumah asap. Di Daerah Besuki alat-alat perlengkapan kepunjaan „Perrin” dan Petani ialah sebagai berikut: : 1 Gudang afpak dengan kapasiteit ± 3.000 baal milik „Perrin"; : 7 Hangschuren milik „Perrin”; : 11 {{gap}} " {{gap}}} milik Tani-Kring Bondowoso; : 89 {{gap}} " {{gap}} milik Tani-Kring Djember. Selandjutnja djenis bibit jang telah diberikan oleh „Perrin” kepada para penanam tembakau di Daerah Bodjonegoro berupa: djenis Virginia Special, Hickorry Prior, Harrison Special, Joyner, sedang jang terbanjak ditanam adalah Harrison Special.<noinclude>{{rh|'''282'''}}</noinclude> 15dypnnk6cp6kdhipwmo3j9kcjqn8lc Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/423 104 101010 291507 283315 2026-05-11T02:12:33Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan, tanda » dan tanda petik belakang 291507 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>{{hwe|dak|boedak}} perampoewan boewat sri baginda, sebab orang tjerita begitoe dan lagi apakah perampoewan itoe bagoes dan tjantik. Soedagar itoe laloe menjembah: ,,Doeli sjah alam, hamba tiada sekali kali koewatirken, ta dapet tiada, tentoe doeli sjah alam ada poenja banjak perampoewan-perampoewan boedak jang elok dau tjantik, sebab marika itoe memang di pilik dengan ati-ati dari laen-laen negri, aken tetapi, hamba brani tanggoeng, bahoewa sekalian marika itoe tiada bisa taban di banding dengan orang boedak perampoewan jang hamba bawa ini boewat doeli sjah alam. Eloknja, tjantiknja, potongan badannja, lenggangnja, semo wa tida dapet di tjela." Radja bertanja poela: Manakah perampoewan itoe? bawa dia kemari. Djawabnja soedagar: ,,Doeli sjah alam, perampoewan itoe telah hamba tetapken doeloe di tempatnja pendjaga haremnja doeli sjah alam, kaloe sri baginda hendak liat padanja bole sri baginda titahken sadja orangnja, aken bawa perampoewan itoe mengadap." Hata, maka orang bawa perampoewan itoe di hadepan sri baginda. Maka apabila radja dapet liat roepanja perampoewan itoe, dianja seperti kena kasima, sebab terlaloe amat eloknja, ia bediri di hadapan radja, danda-nannja boekan di bikin-bikin. Radja lantas masoek kadalem soewatoe bilik, bersama-sama itoe soedagar dengan doewa tiga orang pendjaga. Boedak itoe pake kaen toetoep moeka dari eoetra merah dengan oerat-oerat aer emas. Soedagar itoe laloe angkat kaen toetoep moekanja itoe perampoewan maka sri baginda dapet liat sa-orang perampoewan begitoe elok dan tjantik, hingga ia sendiri misti mengakoe, bahoewa sasoenggoenja belon pernah dia dapet liat orang perampoewan jang begitoe roepanja, sekalian isi baremnja, itoe perampoewan pilihan semoewa, tida ada satoe jang dapet di bandingkan dengan ini satoe boedak. Ramboetnja pandjang, pala majang teroerei sampe di mata kaki, Matanja sebagi beloedroe lemasnja, adapoen tjahija dan sinaroja sebagi bintang pagi, pinggangnja lentiek. Roepanja begitoe elok dan tjantik, hingga orang jang sakit sekali poen nistjaija segar, kaloe dapet memandang ini perampoewan, orang dalaga sekali poen nistjaija ilang aoesnja, kaloe dapet liat moekanja ini perampoewan. Si baginda djadi terlaloe amat birahi, maka di tanja olehnja pada itoe soedagar brapa harganja ini boedak. Djawabnja soedagar: ,,Doeli sjah alam, hamba telah bajarken pada orang jang djoewal dia pada hamba tjoema seriboe oewang emas, maka hamba tambah poela ongkos djoega seriboe oewang emas banjaknja, jang hamba pakein boewat pliarah padanja tiga taoen lamanja, sebab sabegitoe lama hamba ada di djalan, aken sampe di sini di astana doeli sjah alam.<noinclude>{{rh||1498}}</noinclude> knqhfrr2takm8cz61sg82w80yy9xfhw 291589 291507 2026-05-11T03:23:34Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291589 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>{{hwe|dak|boedak}} perampoewan boewat sri baginda, sebab orang tjerita begitoe dan lagi apakah perampoewan itoe bagoes dan tjantik. Soedagar itoe laloe menjembah: »Doeli sjah alam, hamba tiada sekali kali koewatirken, ta dapet tiada, tentoe doeli sjah alam ada poenja banjak perampoewan-perampoewan boedak jang elok dan tjantik, sebab marika itoe memang di pilik dengan ati-ati dari laen-laen negri, aken tetapi, hamba brani tanggoeng, bahoewa sekalian marika itoe tiada bisa tahan di banding dengan orang boedak perampoewan jang hamba bawa ini boewat doeli sjah alam. Eloknja, tjantiknja, potongan badannja, lenggangnja, semoewa tida dapet di tjela.” Radja bertanja poela: »Manakah perampoewan itoe? bawa dia kemari. Djawabnja soedagar: »Doeli sjah alam, perampoewan itoe telah hamba tetapken doeloe di tempatnja pendjaga haremnja doeli sjah alam, kaloe sri baginda hendak liat padanja bole sri baginda titahken sadja orangnja, aken bawa perampoewan itoe mengadap.” Hata, maka orang bawa perampoewan itoe di hadepan sri baginda. Maka apabila radja dapet liat roepanja perampoewan itoe, dianja seperti kena kasima, sebab terlaloe amat eloknja, ia bediri di hadapan radja, danda-nannja boekan di bikin-bikin. Radja lantas masoek kadalem soewatoe bilik, bersama-sama itoe soedagar dengan doewa tiga orang pendjaga. Boedak itoe pake kaen toetoep moeka dari soetra merah dengan oerat-oerat aer emas. Soedagar itoe laloe angkat kaen toetoep moekanja itoe perampoewan maka sri baginda dapet liat sa-orang perampoewan begitoe elok dan tjantik, hingga ia sendiri misti mengakoe, bahoewa sasoenggoenja belon pernah dia dapet liat orang perampoewan jang begitoe roepanja, sekalian isi haremnja, itoe perampoewan pilihan semoewa, tida ada satoe jang dapet di bandingkan dengan ini satoe boedak. Ramboetnja pandjang, pala majang teroerei sampe di mata kaki, Matanja sebagi beloedroe lemasnja, adapoen tjahija dan sinarnja sebagi bintang pagi, pinggangnja lentiek. Roepanja begitoe elok dan tjantik, hingga orang jang sakit sekali poen nistjaija segar, kaloe dapet memandang ini perampoewan, orang dahaga sekali poen nistjaija ilang aoesnja, kaloe dapet liat moekanja ini perampoewan. Sri baginda djadi terlaloe amat birahi, maka di tanja olehnja pada itoe soedagar brapa harganja ini boedak. Djawabnja soedagar: »Doeli sjah alam, hamba telah bajarken pada orang jang djoewal dia pada hamba tjoema seriboe oewang emas, maka hamba tambah poela ongkos djoega seriboe oewang emas banjaknja, jang hamba pakein boewat pliarah padanja tiga taoen lamanja, sebab sabegitoe lama hamba ada di djalan, aken sampe di sini di astana doeli sjah alam.<noinclude>{{rh||1498}}</noinclude> mzons21clvbcmid5nqxmnomvvm4kmy6 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/59 104 101012 290819 282412 2026-05-10T12:08:22Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290819 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{ol|list_style_type=decimal|'''Adanja Daerah Otonoom sesudah tahun 1945.'''}}Sebagai jang termaktub dalam nota balasan surat Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia Jogjakarta tanggal 8 April 1950 No. E 25/3/1, maka sedjak tahun 1945 sampai pada saat dilahirkannja Negara Djawa Timur Stbl. 1949 no. 250, Propinsi Djawa-Timur tidak dihidupkan kembali dan Daerah jang dikuasai dimasa pendudukan Belanda hanja terdiri dari 12 Kabupaten dan 2 Stads-Gemeenten: {{Multicol}} {{ol|list_style_type=decimal |Kabupaten Surabaja |Kabupaten Sidoardjo |Kabupaten Modjokerto |Kabupaten Pasuruan |Kabupaten Probolinggo |Kabupaten Kraksaan}} {{Multicol-break}} {{ol|list_style_type=decimal|start=7 |Kabupaten Malang |Kabupaten Lumadjang |Kabupaten Situbondo |Kabupaten Bondowoso |Kabupaten Djember. |Kabupaten Banjuwangi}} {{Multicol-end}} {{c|{{ol|list_style_type=decimal|Stads-Gemeente Surabaja|Stads-Gemeente Malang}}}} 1 s/d 3 Karesidenan Surabaja<br> 4 s/d 8 Karesidenan Malang<br> 9 s/d 12 Karesidenan Besuki<br> Dengan adanja Daerah-Daerah Otonoom tersebut diatas maka dapat diketahui, bahwa Daerah Kraksaan dihidupkan kembali (gerehabiliteerd) sebagai Daerah Kabupaten mendjadi terlepas dari Kabupaten Probolinggo. Kedjadian ini terlaksana didalam Stbl. 1948 no. 201.<br> Pun mengenai Daerah Otonoom Kota dapat diuraikan, bahwa Stadsgemeente Probolinggo dan Pasuruan dihapuskan dan digabungkan dengan Kabupaten jang bersangkutan; penghapusan tersebut tertjantum dalam Stbl. 1948 no. 306 dan 307.<br> Tentang 4 Kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) dapat diutarakan, bahwa Daerah Madura djauh sebelum terbentuknja sebagai Negara Madura sudah agak terlepas dari Djawa-Timur (berdirinja Negara Madura dengan Stbl. 1949 No. 218).<br><br> {{ol|list_style_type=decimal|start=2|'''Undang-Undang Pokok jang dipakai untuk Daerah-Daerah Otonoom.'''}}Sebagai dasar Undang-Undang jang dipakai untuk menjelenggarakan segala tata usaha Daerah-Daerah Otonoom (locale huishouding) adalah:<br> {| |valign="top"|Untuk||Stadsgemeente Surabaja dan Malang:<br>Stadsgemeente-Ordonnantie. |- |valign="top"|Untuk||Kabupaten:<br>Regentschaps-Ordonnantie. |} Kedua ordonnanties tersebut berlaku sepenuhnja sesudah Daerah-Daerah tersebut dihidupkan kembali sebagai Daerah-Daerah Otonoom; sebelum rehabilitasi maka berlakulah noodverordening dari Recomba Djawa-Timur tanggal 21 Desember 1947 No. XXV/J.Z./105, jang mengatur segala pekerjaan-pekerdjaan mengenai Daerah Otonoom baik Kabupaten maupun Stadsgemeenten.<noinclude>{{rvh|27}}</noinclude> qlrebx61eadeyw36rsmjoa19mfx6mg4 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/425 104 101013 291510 283317 2026-05-11T02:16:32Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan, tanda » dan tanda petik belakang 291510 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Aken tetapi tiadanja hamba brani, aken kasi harga, hamba tjoema moeboenken pada doeli sjab alam biarlah kaloe eri baginda pennedjoe, maka sri baginda ambil sadja padanja sebagi soewatoe persembahan dari pada hamba bagi bemba poenja djoendjoengan doeli sjah alam jang termoelija." Titah radja: ,,Banjak trima kasi aken moerah atimoe, tetapi kami ini tiada biasa berboewat sademikian bagei soedagar-soedagar dari djaoe, aken menjenangken ati kami. Nanti kami kasi padamoe sepoeloe riboe dinar emas apakah sampe tjrekoep?" Sembahnja soedagar: ,,Doeli sjah alam jarg termoelija, hamba ini terlaloe amat beroentong djikaloe doeli sjah alam trima sadja persembah-an hamba, adapoen kalimpaban kamoerahan ati sri baginda, aken membribken hamba oewang sekejan banjaknja, tiada haloes hamba tampik. Hamba djoendjoerg sepoeloe djari bamba, aken membilang trima kasi pada doeli sjah alam. Tiada loepoetnja hamba nanti poedjiken kamoerahan ati doeli sjah alam di antero negri di mana djoega hamba pegi-in." Setelah soeda, maka sri baginda brihken padanja sapotong soerat, aken bole dia trima oewang itoe, dan sabelonnja orang itoe pegi, maka radja brihken padanja persalinan dari pada kaen sabelat emas. Alkaesah, maka di tjerilerahken doeli baginda sadiabken satoe bilik sendiri jang paling bagoes peribasannja boewat ini boedak perampoewan jang baroe, maka bilik itoe di sebelahnja biliknja radja. Bebrapa dajang-dajang dan biti biti dan boedak di brihkennja, aken melajanin pada perampoewan baroe ini. Maka radja titahken marika itoe, aken bawa njonjauja ka dalem-permandi-an kaloe soeda, maka ia misti di pake-in pakejan jang paling bagoes jang ada di dalem astana peribasannja, poen misti di pilihken jang paling bagoes seperti kaloeng leher, gelang, tjinjin dan laen-laen dari pada moetiara, intan, djambroet dan laen-laen batoe ratna moetoe manikam, soepaija. ia sendiri bole pilih apa jang di soekanja. Sekalian boedjang-boedjarg perampoewan jang bekerdja itoe memang tiada laen di jakininnja, tjoema aken menjenangken ali sri bagindanja, maka koetika marika itoe dapet liat perampoewan baroe itoe jang bakalan djadi njonjanja, maka sekalian marika itoe tertjengang tiada di ketahoeinja bidadarikah ini jang toeroen dari langit, atawa orang. Abis marika itoe berkata pada ari baginda, bahoewa baginda radja sabole-bole sabarken atinja barang tiga ari sadja lamanja, sebab marika itoe maoe bikin, soepaija perampoewan moeda itoe, kaloe abis di pale olebnja bakalan djadi terlebi manis, elok dan tjantik dari sekarang adanja, sahingga radja poen tiada bisa kenalin apakah peri atawa bidaradari jang dateng menjenangken atinja. Sri baginda keras birahinja sampe ia soesah ati soenggoe, aken bernanti sabegitoe lamanja, aken tetapi apa bole boewat, biarlah dia toenggoe selama<noinclude>{{rh||1499}}</noinclude> jyyb594kbu54iwmdf4jjpelewrmrbub 291593 291510 2026-05-11T03:31:51Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291593 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Aken tetapi tiadanja hamba brani, aken kasi harga, hamba tjoema moehoenken pada doeli sjah alam biarlah kaloe sri baginda pennedjoe, maka sri baginda ambil sadja padanja sebagi soewatoe persembahan dari pada hamba bagi hamba poenja djoendjoengan doeli sjah alam jang termoelija.” Titah radja: »Banjak trima kasi aken moerah atimoe, tetapi kami ini tiada biasa berboewat sademikian bagei soedagar-soedagar dari djaoe, aken menjenangken ati kami. Nanti kami kasi padamoe sepoeloe riboe dinar emas apakah sampe tjoekoep?” Sembahnja soedagar: »Doeli sjah alam jang termoelija, hamba ini terlaloe amat beroentong djikaloe doeli sjah alam trima sadja persembah-an hamba, adapoen kalimpahan kamoerahan ati sri baginda, aken membrihken hamba oewang sekejan banjaknja, tiada haroes hamba tampik. Hamba djoendjoerg sepoeloe djari hamba, aken membilang trima kasi pada doeli sjah alam. Tiada loepoetnja hamba nanti poedjiken kamoerahan ati doeli sjah alam di antero negri di mana djoega hamba pegi-in.” Setelah soeda, maka sri baginda brihken padanja sapotong soerat, aken bole dia trima oewang itoe, dan sabelonnja orang itoe pegi, maka radja brihken padanja persalinan dari pada kaen sahelat emas. Alkaesah, maka di tjeriterahken doeli baginda sadiahken satoe bilik sendiri jang paling bagoes perihasannja boewat ini boedak perampoewan jang baroe, maka bilik itoe di sebelahnja biliknja radja. Bebrapa dajang-dajang dan biti-biti dan boedak di brihkennja, aken melajanin pada perampoewan baroe ini. Maka radja titahken marika itoe, aken bawa njonjanja ka dalem-permandi-an kaloe soeda, maka ia misti di pake-in pakejan jang paling bagoes jang ada di dalem astana perihasannja, poen misti di pilihken jang paling bagoes seperti kaloeng leher, gelang, tjinjin dan laen-laen dari pada moetiara, intan, djambroet dan laen-laen batoe ratna moetoe manikam, soepaija. ia sendiri bole pilih apa jang di soekanja. Sekalian boedjang-boedjarg perampoewan jang bekerdja itoe memang tiada laen di jakininnja, tjoema aken menjenangken ali sri bagindanja, maka koetika marika itoe dapet liat perampoewan baroe itoe jang bakalan djadi njonjanja, maka sekalian marika itoe tertjengang tiada di ketahoeinja bidadarikah ini jang toeroen dari langit, atawa orang. Abis marika itoe berkata pada sri baginda, bahoewa baginda radja sabole-bole sabarken atinja barang tiga ari sadja lamanja, sebab marika itoe maoe bikin, soepaija perampoewan moeda itoe, kaloe abis di pale olehnja bakalan djadi terlebi manis, elok dan tjantik dari sekarang adanja, sahingga radja poen tiada bisa kenalin apakah peri atawa bidaradari jang dateng menjenangken atinja. Sri baginda keras birahinja sampe ia soesah ati soenggoe, aken bernanti sabegitoe lamanja, aken tetapi apa bole boewat, biarlah dia toenggoe selama<noinclude>{{rh||1499}}</noinclude> 2yztg5xnot81fgtmb6cwc7yzpmap9xq Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/241 104 101015 290963 288889 2026-05-10T13:30:20Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290963 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>lagi karoemah, demikianlah perboewatankoe sekarang sahari-hari, belon pernah akoe pegi ka laen laen negri: »Koetika begitoe maka berkata sekalian sachbatnja itoe padanja: »Engkau biasa tinggal di roemah saja djadi engkau tiada kenal kesenangannja orang-orang jang berdjalan ka laen-laen negri, sebab berdjalan-djalan itoelah memang kasenangan menoesia.” Katanja Ala Eddin: »Akoe tiada oesah pegi kemana-mana, sebab pada pengrasa-ankoe lebi baik tinggal di roenah dari pada menjapeken diri aken pegi kasana sini. Sa-orang anak moeda jang berhadlir di sitoe laloe berkata pada temennja jang doedoek di ampirnja: »Dia itoe sebagi ikan jang ka darat-an kaloe keloewar dari roemah nistjaija matilah ia.” Abis marika itoe sekalian berkata: »O, Ala Eddin, kebesaran bagi anak soedagar ia itoe tiada laen malaenken berdjalan djalan ka negri-negri laen aken mentjari oentoeng dan aken meliat negri.” Setelah Ala Eddin dengar perkataan sademikian maka sanget marahnja, laloe pegi ia keloewar dari roemah itoe dengan sedi hati dan aer matanja berlinang linang. Ia lantas naik bagalnja teroes poelang. Koetika iboenja dapet liat Ala Eddin poelang dengen: menangis ma ka bertanjalah ia pada anakuja itoe mengapa ia menangis. Maka katanja Ala Eddin: »Sekalian anak-anak soedagar pada sesal-in pengidoepan sanda. Marika itoe berkata, bahoewa tiadalah sa-orang soeda gar haroes di hormatken, djikaloe ia tiada pegi ka negri-negri laen aken mentjari oentoeng dan aken liat-liat negri dan tempat-tempat di dalem doenia.” Maka iboe Ala Eddin hiboerken ati anaknja, abis di tanja padanja: »Hei anakkoe jang tertjinta, apakah soenggoe engkau hendak pegi djalan-djalan meliat negri?” Djawabnja: „Ia iboe.” „Abis kamanakab engkau hendak pegi:” Sanda kepingin sekali pegi ka niegri Bagdad, sebab di itoe negri sa-orang soedagar dapet harga tinggi dari barang-barangnja.” Maka berkata iboenja: „Djikaloe sademikian adanja, anak gampang sadja, ajahandamoe sa-orang hartawan, adapoen djika ianja tiada hendak kasiken sebagian dari hartanja itoe aken menoeloeng padamoe, maka akoelah sendiri nanti brihlken oewang padamoe dari pada harta kapoenja ankoe sendiri.” Djawabnja Ala Eddin: „Iboe djika orang hendak beramal, maka amal itoelah jang di nama-in besar, kapan amal itoe lantas di lakoeken tiada dengan menantiken lagi. Oleh kerna itoe kapan iboe hendak menoeloeng pada sanda, maka baiklah sekarang djoega iboe toeloengken djangan menoenggoe lagi.” Setelah itoe maka iboenja Ala Eddin lantas titahken boedak-boedaknja pegi pada bebrapa soedagar jang nendjoewal barang kann aken membli barang itoe. Kapan soeda m ka barang itoe misti di moewat di dalem sepoeloe bandalan.<noinclude>{{rh||1412|}}</noinclude> bqrnpqi1dme9jjc1t5rj2h9nzl98rou Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/429 104 101016 291517 283330 2026-05-11T02:22:39Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291517 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>{{hwe|an|kelamaan}}, maka radja baginda berkata: ,,Djantoeng ati, djambroes dau tjahija matakoe, perampoewan jang amat bagoes, bilangken'ah padakoe darimanakah engkau dateng, dan siapakah orang toewamoe. Engkau ini sangat keras koe tjintaken dan salama-lamanja kami tida hendak tjintaken laen perampoewan. Saoemoer idoepkoe belon pernah kami rasaken ati kami begitne keras birahi, seperti sekarang ini abis memandang hati djiwakoe ini. Bebrapa banjak perampoewan kami dapet liat, sahari ada jang bagoes kami liat, aken tetapi tiada satoe jang sebagi tjinta atikoe ini, hingga loepa kami seperti orang kena kesima." Radja berkata poela: ,,Ja moestika batikoe, jang sanget tertjinta, mengapakah tinggal berdiam tiada bijara tiada sekali membrih tanda, bahoewa adinda mengerti apa bitjara kami. Djangan poela berkata kata, berpaling memandang kami poen tida, soepaija kami dapet pandang tjahaja matanja adinda jang seperti saga. Kenapakah adinda berdiam tiada bitjara, hingga kami mendjadi heran. Apakah sebabnja adinda begini sedih, atawa koerang enak ati, hingga keras mendjadi doeka tjita kami? Apakah adinda kepingin poelang kombali pada sanak soedara dan iboe bapanja? Tiadakah sa-orang radja Persie sanggoep menghiboerken atinja adinda?" Biar bagimana aloes poela di boedjoeknja sri baginda, soepaija peramporwan itoe dapet berkata-kata sedikit, semoewa itoe pertjoema sadja, dia tinggal dengan matanja memandang kabawah tiada sekali di angkatoja, aken memandang radja. Girangnja radja Persie boekan alang kepalang jang dia tiada maoe memaksa, sebab ia berharep perampoewan itoe nistjaija baka'an berbalik ati mendjadi baik, djikaloe di rasanja sendiri bagimana keras soenggoe tjintanja radja bagi dia, dan djikaloe di rasanja, bahoewa ia di pliarah dengan sebagi-mana patoet. Radja bertepok tangan, maka lantas bebrapa banjak perampoewan dateng. Radja titahken soeroeh angkat makanan nak di medja. Koetika persantapan ini semoewa soeda tersedia, maka sri baginda berkata pada itoe perampoewan moeda: Marilah sini emas, doedoek di meja di dekat kami." Ianja bediri laloe dateng doedoek di medja di sebrangoja radja, abis radja soewap-in padanja segala persantapan jang ledzat-ledzat. Kapan sekali perampoewan itoe makan baroelah radja makan begitoe di perboewataja berganti. Betoel perampnewan doedoek makan bersama-sama, tetapi ia tinggal menoendoek tiada memandang radja. Bebrapa kali radja adjak bitjara, maka tiada djoega ianja maoe menjaoet. Soepaija radja bisa dapet dengar soewaranja perampoewan itoe, maka radja tanja padanja siapakah namanja, apakah ia senang djo ga memponjai pakejan seperti pakejan jang di sediahken itoe, apakah ia penoedjoe djoega<noinclude>{{rh||1501}}</noinclude> q9qzrrlcqxqud9y1m0kvl25y1brflgg 291760 291517 2026-05-11T06:22:52Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291760 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>{{hwe|an|kelamaan}}, maka radja baginda berkata: »Djantoeng ati, djambroe dan tjahija matakoe, perampoewan jang amat bagoes, bilangken'ah padakoe darimanakah engkau dateng, dan siapakah orang toewamoe. Engkau ini sangat keras koe tjintaken dan salama-lamanja kami tida hendak tjintaken laen perampoewan. Saoemoer idoepkoe belon pernah kami rasaken ati kami begitoe keras birahi, seperti sekarang ini abis memandang hati djiwakoe ini. Bebrapa banjak perampoewan kami dapet liat, sahari ada jang bagoes kami liat, aken tetapi tiada satoe jang sebagi tjinta atikoe ini, hingga loepa kami seperti orang kena kesima.” Radja berkata poela: »Ja moestika ha'ikoe, jang sanget tertjinta, mengapakah tinggal berdiam tiada bijara tiada sekali membrih tanda, bahoewa adinda mengerti apa bitjara kami. Djangan poela berkata-kata, berpaling memandang kami poen tida, soepaija kami dapet pandang tjahaja matanja adinda jang seperti saga. Kenapakah adinda berdiam tiada bitjara, hingga kami mendjadi heran. Apakah sebabnja adinda begini sedih, atawa koerang enak ati, hingga keras mendjadi doeka tjita kami? Apakah adinda kepingin poelang kombali pada sanak soedara dan iboe bapanja? Tiadakah sa-orang radja Persie sanggoep menghiboerken atinja adinda?” Biar bagimana aloes poela di boedjoeknja sri baginda, soepaija perampoewan itoe dapet berkata-kata sedikit, semoewa itoe pertjoema sadja, dia tinggal dengan matanja memandang kabawah tiada sekali di angkatnja, aken memandang radja. Gira gnja radja Persie boekan alang kepalang jang dia tiada maoe memaksa, sebab ia berharep perampoewan itoe nistjaija baka an berbalik ati mendjadi baik, djikaloe di rasanja sendiri bagimana keras {{illegible}} tjintanja radja bagi dia, dan djikaloe di rasanja, bahoewa ia di piarah dengan sebagi-mana patoet. Radja bertepok tangan, maka lantas bebrapa banjak perampoewan dateng. Radja titahken soeroeh angkat makanan nak di medja. Koetika persantapan ini semoewa soeda tersedia, maka sri baginda berkata pada itoe perampoewan moeda: »Marilah sini emas, doedoek di meja di dekat kami.” Ianja bediri laloe dateng doedoek di medja di sebrangnja radja, abis radja soewap-in padanja segala persantapan jang ledzat-ledzat. Kapan sekali perampoewan itoe makan baroelah radja makan begitoe di perboewatnja berganti. Betoel perampnewan doedoek makan bersama-sama, tetapi ia tinggal menoendoek tiada memandang radja. Bebrapa kali radja adjak bijara, maka tiada djoega ianja maoe menjaoet. Soepaija radja bisa dapet dengar soewaranja perampoewan itoe, maka radja tanja padanja siapakah namanja, apakah ia senang djo ga memponjai pakejan seperti pakejan jang di sediahken itoe, apakah ia penoedjoe djoega<noinclude>{{rh||1501}}</noinclude> cuqsrqfn1x75x1bp335ri4tdelwlt2x Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/555 104 101018 290997 289321 2026-05-10T13:34:28Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290997 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh||1001 MALAM|}}</noinclude>{{hwe|teng|dateng}} bawa kabar dari radja Beder, maka pada itoe boedak di titahkennja di dalem perang ini djangan laen di selideki, melaenken koeroengan boeroeng hantoe itoe. Kapan dapet lekas di boekanja, soepaja itoe boeroeng bole terbang kaloewar, adapoen itoe boeroeng meniarap di tangannja, makabegini di bawanja ia ka badapan poeteri Gulnare. Apabila poeteri Gulnare dapet itoe boeroeng, maka keras tangisnja, sebab girang jang dia dapet kombali anaknja. Ianja lekas tjiprati moeka boeroeng itoe dengan aer laloe mengotjap: »Anak jang tertjinta, lepasken roepamoe ini djadi manoesia lagi kerna itoelah roepamoel” Di itoe kostika djoega, maka boeroeng hantoe graib djadi manoesia, radja Beder, poetera dari poeteri Gulnare. Setelah di liatnja anaknja itoe, maka Gulnare begitoe girang, hingga ia tiada bisa berkata-kata lagi, melaenken aer matanja berlinang-linang sembaring memelok anaknja. Pertama-tama jang di perboewat oleh Gulnare ia itoe, mentjari kiai Abdallah jang telah menoeloengken dia sampe bisa dapet kombali anaknja. Koetika Abdallah di bawa di hadepan Gulnare, maka kata toewan poeteri pada kiai: »Bales trima kasi kami padamoe kiai terlaloe amat besar, kami poenja oetang boedi tiada dapet kami bajar, melaenken Allah Ta-allah jang berkoewasa di seroeh sekalian alam, ia itoelah dapet berkatken padamoe kiaí, adapoen sabole-bole kami hendak djoega mengoendjoeken bales trima kasi, baiklah engkau kataken sadja apa jang engkau kahendaki, soepaija kami bisa kaboelken.” Djawabnja kiai Abdallah: Doeli toewan poeteri, kaloe perampoewan boedak itoe jang telah mengadap membawa kabar pada doeli toewan poeteri, soeka kawina pada kami, dan kaloe radja Persie soeka kasi kami bernoempang di bawah prentahnja, maka kami merasa beroentoeng sanget.” Poeteri Gulnare lantas berpaling menanja pada perampoewan boedak, jang kabetoelan ada doeloek bersama-sama, maka boedak itoe tiada sekali ada kaberatan boewat kawin sama Abdallah. djadi poeteri Gulnare pegang kadoewa tangannja itoe boedak dengan tangannja Abdallah di djadıken satoe dan di djandjiken, bahoewa ia bersama radja Beder nanti bikin sampoernah kadoewa orang itoe poenja peroentoengan. Radja Beder tertawa oleh kerna kawinnja kiai Abdallah bersama itoe boedak perampoewan, maka katanja radja Beder: »Iboe, sanda ini terlaloe amat girang, sebab orang doewa itoe soeda kawin, melaenken ada lagi satoe nikah-an jang haroes djoega di djadiken, maka sanda doega, bahoewa iboe poen djoega memikirken ini hal." Posteri Gulnare tadinja tiada mengarti, apa jang di maksoedken oleh anaknja; ia memikir sabentaran, maka barang ia dapet doega, katanja: »Ach, engkau bitjara dari pada kawinmoe sendiri? Anak, dengan segala soeka ati kami ridlaken.”<noinclude>{{rh||1562}}</noinclude> ehexsm1f4yk5lrpzlkfx5gt8fu3t5sl Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/557 104 101019 290995 285329 2026-05-10T13:34:24Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290995 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Setelah soedah begitoe, maka poeteri Gulnare balik bertitah pada rajatnja radja Saleh, bersama segala djin Sahir jang ada berhadlir di sitoe, katanja: »Sigrahlah engkau sekalian pegi tjari di sekalian astana di dalem laoet dan di darat, maka bawalah kemari sa-orang poeteri keradja-an jang paling tjakep dan paling pantes djadi isterinja radja Beder.” Maka katanja radja Beder: »Iboe, betapakah bikin soesah-soesah dengan pertjoema. Boekankah iboe sendiri taoe, bahoewa sanda sabelonnja meliat orangnja lantas djato birahi sama poeteri Giauhare, anak radja Samandal, tjoema sebab mendengar tjerita bagimana kabagoesannja, maka sekarang sanda soeda taoe dapet liat dia dengan mata sendiri, dan soenggoe sanda tiada sekali merasa menjesal, jang sanda soeda brihken dia tjintjin kami. Sabenarnjalah, di doenia baik di darat, baik di laoet, tiada ada satoe poeteri jang dapet di banding sama poeteri Giauhare. Kaloe di fikirken bagimana itoe poeteri soela bikin sama sanda, koetika sanda mengakoe padanja katjinta-an sanda, tentoe djahatlah, nistjaja perboewatan itoe memboenoeh katjinta-an orang laen, djika dia kena di begitoe-in, adapoen sanda tiada brentinja tjinta padanja, sebab perboewatannja itoe bole di ma-afken, boekankah ajandanja teraniaja lantaran sanda, biar bagimana djoega sanda inilah poenja salah. Barangkali radja Samandal sekarang soeda beroba pikiradnja, lagi poen anaknja, poeteri Giauhare, bole djadi djoega ia tiada nanti ada kaberatan apa-apa kapan ajahandanja soeka ridlaken dia kawin sama sanda. Djawabnja poeteri Gulnare:» Anak, djikaloe di antero doenia tiada ada orang laen, jang bisa bikin beroentoeng atinja anak kami, radja Beder, maka iboe tiada sekali-kali ada nijat aken malangken kahendak kami poenja anak jang tertjinta, kaloe tiada ada alangan jang lain. Baiklah radja Samandal di panggil mengadap kemari, lantas kita bole dengar sendiri apa ia masih djoega melawan, tiada maoe kasi kawin anaknja seperti doeloe. Kendatipoen radja Samandal di djaga dengan keras di waktoe ia tertawan, maka selama lamanja orang brihken hormat padanja, dan dia idoep manis sama orang-orang penggawe jang mendjaga dia. Radja Saleh soeroeh ambil satoe pendoepa-an sama barah api, maka ianja awoer saroepa boeboek di dalem api, serta membatja rapal-rapallannja. Apabila asep boeboek itoe moemboel, maka gemoeroe soewaranja di dalem astana dan tiada brapa lama lagi, radja Samandal mengadap bersama-sama penggawe pendjaga radja Saleh. Maka radja Beder lantas bersoedjoeb di hadepan kakinja radja Samandal sambil di pelok maka katanja: »Doeli ajah alam, sekarang ini boekannja radja Saleh jang minta pada doeli sjahalami, aken ridlaken poeteri Giauhare, anaknja doeli toewankoe, berkawin sama sanda, radja Persie, adapoen sanda sendiri memoehoenken kalimpahan, moerah ati<noinclude>{{rh||1563}}</noinclude> pzq22batfs7p2itw4uymwi4oq9c37qm Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/431 104 101021 291528 287508 2026-05-11T02:35:14Z Thersetya2021 15831 291528 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>dengan perhiasan biliknja, apakah ia senang jang bole liat kalaoetan, aken tetapi tiada satoe pertanja-an ini telah di djawabnja dia tinggal berdiam. Lama kelama-an, maka radja fikir barangkali ini perampoewan bisoe. Aken tetapi ia berfikir, masakah Allah ta-allah, jang maha moelia sampe ati, aken mengadaken sa-orang machloeknja jang begitoe elok dan tjantik, sedang tiada di brihkennja soewara? Maka biar bagimana sekalipoen, kami ini tiada bisa loepahken orang ini, semangkin kami pandang padanja semangkin keras kami birahi. Koetika sri baginda abis makan, maka ia berdoedoek di bangkoe sofa laloe di soeroehnja sekalian boedak-boedak itoe dateng mengampiri dia, maka pada marika itoe poen di tanjanja djoega apakah perampoewan itoe tiada bitjara barang sepatah, koetika ia di liman-in dan di rihas-in. Sa-orang dajang laloe berkata: »Doeli sjah alam patik sekalianpoen tiada dapet dengar barang sepatah, patik sekalian melajim dianja, limau-in, pake-in dan rihasin padanja, maka tiada sekali-kali ia berkata-kata, tiada ia boeka moeloet, aken bilang ini koerang. atawa itoe djelek.” Kita orang telah bertanja padanja: »Apakah njonja perloe pake apa-apa, kaloe toewankoe hendak maoe apa-apa baik titahken sadja.” Soenggoe kita orang semoewa mendjadi bingoeng apakah dianja tiada hendak bitjara, bahua kita di pandangnja terlaloe hina, atawa dari sebab sanget berdoeka jintanja, atawa dari sebab ia terlaloe bodo, atawa dari sebab ianja soenggoe bisoe; satoe perkata-anpoen tiada di katakennja. Demikianlah adanja doeli sjah alam.” Sri baginda mendengar bitjara orang-orangnja itoe sademikian laloe mendjadi terlebi heran poela. Oleh sebab maharadja kira, bahoewa prempoewan itoe tiada hendak bitjara dari sebab terlaloe keras ia berdoeka tjita, maka radja tjari akal, aken menghiboerken atinja perampoewan itoe. Kerna itoepoen, maka ia soeroe koempoel sekalian perampoewan-perampoewan, jang pandė menjanji dan jang paudė menari dan jang pandé mematik dindi, atawa ketjapi dan gamboes. Sekalian marika itoe mengoendjoekin kapandėjannja, hingga maharadja mendjadi senang ati, aken tetapi perampoewan itoe tiada sekali-kali toeroet bersoeka ati, ia tinggal doedoek bertoendoek sadja, tiada berkata kata sampe radja bersama-sama sekalian perampoewan-perampoewan jang laen itoepoen pada heran tiada abis fikir. Achir-achirnja tengah malem sekalian perampoewan-perampoewan itoe pada moendoer tinggal sri baginda sendirian bersama-sama perampoewan sa-orang itoe. Pada ka-esokan harinja njata roepanja radja senang djoega atinja sama perampoewan itoe. Sekalian orang hendak di oendjoekennja, sebab dari itoe haripoen, maka radja baginda telah perkenanken, bahoewa ia hendak idoep sama itoe perampoewan sa-orang sadja. Itoe hari djoega, sri baginda lepasken sekalian perampoewannja dari harem, masing-masing {{hws|pe|perampoewan}}<noinclude>{{rh||1502}}</noinclude> koq0il0kmvlytn15a3kht5pr3firmv1 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/437 104 101022 291532 283339 2026-05-11T02:38:11Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan tanda » 291532 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>sembaring berseroe-seroe; koetika ia bertemoe ferdana manteri, maka ferdana itoe di peloknja dengan nafsoe sembaring berseroe-seroe, aken menjataken girangnja. Sekalian isi negri haroes dapet taoe kagirangan radja, maka itoe ia kasi taoe lantaran kagirangan itoe kapada ferdana manteri, serta di titah aken poela, aken sedekah-in seratoes riboe dinar emas pada sekalian moslemin, fakir dan jatim miskin dan bina dina bersama-sama mesigit dan soeran, soepaija sekalian bole memintaken doa pada Allah ta-allah, aken memberkatken radja kadoewa laki isteri. Sasoedahnja menitahken, prentah ini di maloemken, maka sri baginda balik kombali ka dalem bilik isterinja seraija berkata: Adinda jang manis, tjabija matakoe, djanganlah goesar kakanda kaloewar sabentaran, sebab kakanda poenja ati terlaloe penoeh dengan kagirangan sampe kakanda misti toempabken, maloemken pada sekalian isi negri, soepaja marika itoe poen toeroet bersoeka tjita seperti kakanda. Adapoen kakanda ini terlaloe amat kepingin taoe laen rahasia. Tjobalah adinda jang sanget tertjinta, tjeritahken pada adinda, apakah sebabnja adio la tinggal berdiam tiada ber kata-kata sampe satoe taon lamanja? Sedang kakanda sahari-hari bertanja lebi dari seriboo kali pada adinda, aken bitjara, tetapi belom pernah adinda boeka moeloet, aken berkata-kata, soepaija kakanda taoe jang adinda mengarti apa jang kakanda berkata. Ia itoelah jang kakanda tiada abis fikir, bagimana adinda dapet tahan ati begitoe lamanja, nistjaija ada, sebab jang berpenting sekali.” Djawabnja perampoewan moeda itoe ,,Ja doeli sjah alam, bagimana rasanja orang jang djadi boedak, jang di bawa pegi dari negri tempat toempah darahnja serta tiada poela pengharepandja, aken indjak kombali negri itoe? Bagimana sedih poela ati jang terpisah dari pada iboe, dari pada soedara dan laen-laen kaoem kaloewarga. Apakah sekalian pengrasa-an itoe tiada membikin sampe leher tiada bisa mengaloewarken perkata-an, dan moeloet mendjadi terlampau berat, aken berkata-kata? Boekankah tiada heran, djika sademikian adanja? Katjinta-an negri, tempat toempah darah, katjinta-an orang toewa dan katjiota-an pada kamerdika-an, ia itoelah perloe aken kabidoepan manoesia, djikaloe sekalian itoe telah ilang , nistjaija tiada dapet di tahan lagi. Badan misti menjerah pada toewan jang ada koewasa atas badan itoe, aken tetapi kahendak badan itoe tida dapet di prentah oleh orang laen. Demikianlah prika-ada an hamba, hingga dapet hamba berdiam satoe taon lamanja tiada berkata- kata. Bole bilang beroentoeng djoega, hamba tiada toeroet sebagimana kabanjakan orang jang kena tjilaka, ilang kamerdika-annja, hingga matanja gelap dan memboenoeh diri.” „Adinda jang tertjinta, apa bitjaramoe ini soenggoe benarlah, aken tetapi pada fikir kami, sa-orang perampoewan jang seperti adinda, sa-orang<noinclude>{{rh||1505}}</noinclude> f1qcc03dzxa4dtquckziizgz4btl6od 291772 291532 2026-05-11T06:29:35Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291772 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>sembaring berseroe-seroe; koetika ia bertemoe ferdana manteri, maka ferdana itoe di peloknja dengan nafsoe sembaring berseroe-seroe, aken menjataken girangnja. Sekalian isi negri haroes dapet taoe kagirangan radja, maka itoe ia kasi taoe lantaran kagirangan itoe kapada ferdana manteri, serta di titahken poela, aken sedekah-in seratoes riboe dinar emas pada sekalian moslemin, fakir dan jatim miskin dan hina dina bersama-sama mesigit dan soeran, soepaija sekalian bole memintaken doa pada Allah ta-allah, aken memberkatken radja kadoewa laki isteri. Sasoedahnja menitahken, prentah ini di maloemken, maka sri baginda balik kombali ka dalem bilik isterinja seraija berkata: »Adinda jang manis, tjahija matakoe, djanganlah goesar kakanda kaloewar sabentaran, sebab kakanda poenja ati terlaloe penoeh dengan kagirangan sampe kakanda misti toempahken, maloemken pada sekalian isi negri, soepaja marika itoe poen toeroet bersoeka tjita seperti kakanda. Adapoen kakanda ini terlaloe amat kepingin taoe laen rahasia. Tjobalah adinda jang sanget tertjinta, tjeritahken pada adinda, apakah sebabnja adinda tinggal berdiam tiada berkata-kata sampe satoe taon lamanja? Sedang kakanda sahari-hari bertanja lebi dari seriboe kali pada adinda, aken bitjara, tetapi belom pernah adinda boeka moeloet, aken berkata-kata, soepaija kakanda taoe jang adinda mengarti apa jang kakanda berkata. Ia itoelah jang kakanda tiada abis fikir, bagimana adinda dapet tahan ati begitoe lamanja, nistjaija ada, sebab jang berpenting sekali.” Djawabnja perampoewan moeda itoe ,»Ja doeli sjah alam, bagimana rasanja orang jang djadi boedak, jang di bawa pegi dari negri tempat toempah darahnja serta tiada poela pengharepandja, aken indjak kombali negri itoe? Bagimana sedih poela ati jang terpisah dari pada iboe, dari pada soedara dan laen-laen kaoem kaloewarga. Apakah sekalian pengrasa-an itoe tiada membikin sampe leher tiada bisa mengaloewarken perkata-an, dan moeloet mendjadi terlampau berat, aken berkata-kata? Boekankah tiada heran, djika sademikian adanja? Katjinta-an negri, tempat toempah darah, katjinta-an orang toewa dan katjinta-an pada kamerdika-an, ia itoelah perloe aken kahidoepan manoesia, djikaloe sekalian itoe telah ilang , nistjaija tiada dapet di tahan lagi. Badan misti menjerah pada toewan jang ada koewasa atas badan itoe, aken tetapi kahendak badan itoe tida dapet di prentah oleh orang laen. Demikianlah prika-ada an hamba, hingga dapet hamba berdiam satoe taon lamanja tiada berkata- kata. Bole bilang beroentoeng djoega, hamba tiada toeroet sebagimana kabanjakan orang jang kena tjilaka, ilang kamerdika-annja, hingga matanja gelap dan memboenoeh diri.” »Adinda jang tertjinta, apa bitjaramoe ini soenggoe benarlah, aken tetapi pada fikir kami, sa-orang perampoewan jang seperti adinda, sa-orang<noinclude>{{rh||1505}}</noinclude> 7tjueiwj0pkezko08kd3365hzh8lwu9 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/433 104 101023 291526 283318 2026-05-11T02:34:25Z Thersetya2021 15831 291526 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ichahahaha" /></noinclude>{{rh||1001 MALAM}} {{hwe|rampoewan|perampoewan}} itoe di brihkennja pakejan bagoes-bagoes, emas intan dan oewang, lagi di bikin mardika, serta di idinken poela bole bersoewami pada orang laen, djika marika itoe hendak bersoewami. Melaenken perampoewan toewa-toewa jang soesah mentjari, ia itoelah di tahannja, di piarah di dalem astana boewat mendjaga perampoewan boedak sa-orang itoe. Apa lagi di kahendaki satoe isteri; dengan perboewatan jang sedemikian ini, maka sri baginda telah mengoendjorken njata, bahoewa terlaloe tjintanja pada perampoewan sa-orang itoe, adapoen perampoewan itoe tiada ambil poesing, tiada sekali-kali ia berkata-kata barang sapatah. Satoe taoen lamanja ia tinggal seperti orang bisoe, sedang sri baginda monjakinin sabari, aken mengoendjoki dengan njawa ka'jinta-annja. Begitoe dengan begitoe sampe satoe taon lamanja. Maka sekali pada soewatoe hari, radja berdoedoek di ampirnja perampoewan itoe abis radja berkata padanja, bahoewa katjinta-an radja boekannja mendjadi koerang, hanja sahari-hari mendjadi terlebi keras. Radja berkata: »Permeisoeri jang tertjinta, selamanja adinda ada di aiui, belom pernah kakanda dengar soewara adinda berkata apa dia senang atawa tida di astana kakanda ini, aken tetapi biar bagimana poen, meka katjinta-an kakanda soeda tiada berkapoetoesan. Soenggoe biar bagimana besar poela karadja-an kakanda, nistjaijalah tiada bergoena bagi kakanda, djikaloe kakanda tiada ada adindanja ini, jang membrih pengbiboeran ati pada kakanda. Kapan kakanda bilang sadja dengan moeloet, barangkali adinda tiada petjaja aken tetapi, sasoedahnja adinda liat sendiri bagimana perbewatan kakanda, aken menjatoeken soenggoe tjintanja, ta-dapet tiada nistjaija adinda misti dapet rasa djoega sedikit di dalem ati. Sekalian perampoewan ini barem telah kakanda lepasken, tjoema aken tinggal kakanda tjinta-in adinda sa-orang sendiri. Adinda tentoe nasih ingat, bahoewa sampe sekarang soedah ada satoe taon lamanja, perampoewan-perampoewan itoe kakanda lepasken, maka tiada sedikit kakanda ada berasa sakit ati atawa menjesal. jang kakanda berboewat begitoe. Oentoeng kakanda soedah ampir tjoekoep, tjoema ada sedikit sadja, aken menggenapken oentoeng itoe. Tjoba adiuda bendak bitjara barang sate patah sadja, nistjaija kakanda bakalan beroenteng soenggoe, dan tiadalah kakanda sanggup menjoekoepken bales trima kasi kakanda bagi adinda. Adapoen apakah orang bisa melawan kodrat Allah jang maha moelija, bagimanaka sa-orang bisoe bisa berkata-kata. Sebab kakanda rasa tentoe adinda bisoe. Djikaloe tiada bisoe, mengapakah satoe taon lamanja kakanda minta dengan manis, aken adinda bitjara barang sa-patah, maka adinda tiada djoega berkata-kata. Tetapi soedah, apa bole bewat, djika memang soeda di takdirken Allah, kakanda ini menjintakeu sa-orang bisoe, maka biar apakah kiranja kakanda di berkatken Allah sebahua wahoewa ta-allah, soepaija<noinclude>{{rh||1503}}</noinclude> d2d4ixur5drcfzhqkwv3myikb7jtf9a Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/389 104 101026 291509 283294 2026-05-11T02:15:31Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291509 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Koetika hambanja bersama iboe sampe di roemah, maka hambanja berkata pada iboe: Kamoedian hamba tiada kepingin lagi minta toeloengan orang, aken beli-in barang-barang jang aneh boewat bamba. Kaloe kedjadian lagi sekali, iboe maoe soeroe orang beli-in apa-apa boewat hamba, maka hamba tidoer lagi seperti doeloe itoe, tatkala Aboel Mesaffier hendak brangkat ka negri Tjina, soedah djangan iboe kasi bangoen lagi pada bamba, biarken sadja hamba tidoer teroes. Tjobalah iboe pikir sendiri, liat sadja itoe kera jang Aboel Mosaffier beli-in boewat hamba, apakah goenanja barang begitoe di beli-in boewat bamba sampe di negri Tjina, apa di sini tiada ada kera? ,Apa goenanja bagi hamba." Hata maka hamba belon abis bitjara dari hal ini, maka sekoenjoeng-koenjoeng ada bebrapa boedak dari Aboel Mosaffier dateng masoek bertanja pada hamba apa hamba orang jang di nama-in Aboe Mohamed Alkeslan. Baroe hamba saboetken, bahoewa soenggoe hamba poenja nama Alkeslan, maka kaliatan Mosaffier sendiri dateng dari blakang. Hamba maoe tjioem tangannja, aken tetapi dia tida kasi, tempo hamba berboewat sademikian, banja dia lantas pelok sama hamba, teroes dia adjakin hamba pegi ka roemah-nja. Hamba males-malesan boewat toeroet sama dia, aken tetapi sebab aloes boedjoekannja, maka bamba toeroet djoega. Setelah hamba sampe di roemahnja Mosaffier, maka dia lantas tjeritahken semoewa hal ichwalnja pada bamba apa jang kedjadian di djalan, dan begimana itoe kera dapet toeloeng padanja dan pada laen-laen soedagar. Setelah soeda, maka ia titahken boedakoja, aken mengambil peti-peti jang boewat hamba itoe. Marika itoe lantas bikin seperti titah toewannja, maka tida sebrapa lama marika itoe keloewar dari dalem roemah membawa doewa peti besar-besar jang penoeh. Mosaffier laloe serabken kontji peti-peti itoe pada bamba, maka ia poen berkata: „Anak, liatlah ini sebagimana Alla ta-alla telab berkatken oewangmoe, jang lima perak itoe. Semoewanja oeang jang ada di dalem ini doewa peti, ia itoelah engkau jang poenja. Poelang sadja ka roemah sekarang nanti ini doewa boedak toeroet padamoe, aken dengar apa prentabmoe." „Hamba mendjadi begitoe girang, sampe hamba tida taoe apa misti bikin, hamba bilang banjak trima kasi pada Aboel Mosaffier, abis bamba poelang karoemah. Sampe di roemah hamba oendjoekin itoe oewang emas doewa peti kapada iboe, maka iboe terlampau sanget beran. Maka iboe berkata: „Anak engkau liat sendiri dengen matamoe, bahoewa Alla ta-alla tiada sekali-kali nanti melepasken tangannja dari pada orang miskin. Oleh kerna itoe, maka baiklah engkau jakinin, aken djangan males lagi, biarlah engkau bole mendjadi terlebi beroentoeng lagi dengan oewangmoe, soepaija terlebi engkau dapet di berkatken Allah." Hamba berdjandji soenggoe-soenggoe pada iboe, bahoewa hamba nanti djaga baik, tiada males lagi. Perdjandjian demikian itoe gampang sadja<noinclude>{{rh||1483}}</noinclude> om5nvkokkwdvbkcteni3xwhcl7r76vb 291990 291509 2026-05-11T11:06:18Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291990 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Koetika hambanja bersama iboe sampe di roemah, maka hambanja berkata pada iboe: »Kamoedian hamba tiada kepingin lagi minta toeloengan orang, aken beli-in barang-barang jang aneh boewat hamba. Kaloe kedjadian lagi sekali, iboe maoe soeroe orang beli-in apa-apa boewat hamba, maka hamba tidoer lagi seperti doeloe itoe, tatkala Aboel Mesaffier hendak brangkat ka negri Tjina, soedah djangan iboe kasi bangoen lagi pada hamba, biarken sadja hamba tidoer teroes. Tjobalah iboe pikir sendiri, liat sadja itoe kera jang Aboel Mosaffier beli-in boewat hamba, apakah goenanja barang begitoe di beli-in boewat hamba sampe di negri Tjina, apa di sini tiada ada kera? »Apa goenanja bagi hamba.” Hata maka hamba belon abis bitjara dari hal ini, maka sekoenjoeng-koenjoeng ada bebrapa boedak dari Aboel Mosaffier dateng masoek bertanja pada hamba apa hamba orang jang di nama-in Aboe Mohamed Alkeslan. Baroe hamba saboetken, bahoewa soenggoe hamba poenja nama Alkeslan, maka kaliatan Mosaffier sendiri dateng dari blakang. Hamba maoe tjioem tangannja, aken tetapi dia tida kasi, tempo hamba berboewat sademikian, hanja dia lantas pelok sama hamba, teroes dia adjakin hamba pegi ka roemah-nja. Hamba males-malesan boewat toeroet sama dia, aken tetapi sebab aloes boedjoekannja, maka hamba toeroet djoega. Setelah hamba sampe di roemahnja Mosaffier, maka dia lantas tjeritahken semoewa hal ichwalnja pada hamba apa jang kedjadian di djalan, dan begimana itoe kera dapet toeloeng padanja dan pada laen-laen soedagar. Setelah soeda, maka ia titahken boedaknja, aken mengambil peti-peti jang boewat hamba itoe. Marika itoe lantas bikin seperti titah toewannja, maka tida sebrapa lama marika itoe keloewar dari dalem roemah membawa doewa peti besar-besar jang penoeh. Mosaffier laloe serabken kontji peti-peti itoe pada hamba, maka ia poen berkata: „Anak, liatlah ini sebagimana Alla ta-alla telah berkatken oewangmoe, jang lima perak itoe. Semoewanja oeang jang ada di dalem ini doewa peti, ia itoelah engkau jang poenja. Poelang sadja ka roemah sekarang nanti ini doewa boedak toeroet padamoe, aken dengar apa prentahmoe.” „Hamba mendjadi begitoe girang, sampe hamba tida taoe apa misti bikin, hamba bilang banjak trima kasi pada Aboel Mosaffier, abis hamba poelang karoemah. Sampe di roemah hamba oendjoekin itoe oewang emas doewa peti kapada iboe, maka iboe terlampau sanget heran. Maka iboe berkata: „Anak engkau liat sendiri dengen matamoe, bahoewa Alla ta-alla tiada sekali-kali nanti melepasken tangannja dari pada orang miskin. Oleh kerna itoe, maka baiklah engkau jakinin, aken djangan males lagi, biarlah engkau bole mendjadi terlebi beroentoeng lagi dengan oewangmoe, soepaija terlebi engkau dapet di berkatken Allah.” Hamba berdjandji soenggoe-soenggoe pada iboe, bahoewa hamba nanti djaga baik, tiada males lagi. Perdjandjian demikian itoe gampang sadja<noinclude>{{rh||1483}}</noinclude> mv700ynu6saw2kqpyro06uu0x86ouk3 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/382 104 101032 291837 282538 2026-05-11T07:32:53Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291837 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>Di Surabaja hanja terdapat suatu stasiun dan mulai tanggal 1 Djanuari 1953 akan dibuka Sub-stasiun-Sub-stasiun di Sangkapura (Bawean) dan Sepulu (Madura). Pekerdjaan Jajasan Perikanan Laut tersebut meliputi: {{Ol|start=1|list_style_type=lower-alpha |Penjelidikan atas tehnik-tehnik penangkapan ikan; |Pertjobaan-pertjobaan perusahaan penangkapan ikan dengan menggunakan alat-alat dalam negeri (pajang) maupun dari luar negeri (trawlnet); |Mengadakan service bagi kapal-kapal ikan bermotor; |Mentjari sarang-sarang ikan baru. }} Pimpinan sehari-hari dari usaha-usaha tersebut diatas dilaksanakan oleh para ahli (technischbedrijfsleider), jang di Djawa-Timur masih terdiri dari Bangsa Asing. Hasil-hasil dari penjelidikan tersebut diatas—berlainan dari pada usaha „Onderafdeling Zeevisschert” dahulu dikembalikan kepada para Nelajan Indonesia untuk dipraktekkan. Djalannja mengembalikan seperti tertera dalam schema dibawah ini: {{c|'''DJALANNJA MENERUSKAN HASIL-HASIL PENJELIDIKAN'''}} {{c|'''JAJASAN PERIKANAN LAUT.'''}} {{missing image}}<noinclude>{{rh|350}}</noinclude> mxaels2cv6tkybj8tlokh2krpuninf4 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/553 104 101034 291348 283562 2026-05-10T17:15:13Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan, paragraf yang harusnya terpisah dan tanda petik belakang 291348 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>ampoenin lagi. Maka Abdallah bersoewit, dengan sigrah satoe djin dateng jang beroepa boeroeng, Kilat namanja. Djin itoe bertanja pada Abdallah mengapakah dia di panggil. Djawaboja Abdallab: Hei Kilat, ini sekali kita misti toeloengin radja Bader, anaknja posteri Gulnare. Lekas engkau pegi ka astananja ratoe Labe, maka dengan sigrah engkau pindah-in itoe boedak perampoewan jing menjimpan koeroengan boeroeng hantoe pagi ka astananja poeteri Gulnare di iboe kota benoewa Persie, soepaija poeteri Gulnare bole dapet taoe jang anaknja ada dalem soesah, perloe dapet toeloengan iboenja. Tetapi djaga betoel-betoel djangan sampe Gulnare kaget, kapan engkau mengadap padanja, dan engkau tjeritaken padanja apa dia misti bikin." Si Kilat lantas ilang pegi ka astana ratoe Labe. Dia kasi taoe sama itoe boedak, apa jang perloe di tjeritaken padanja, abis lantas ianja moemboel kaoedara bersama-sama itoe perampoewan. Ia terbang sampe ka astananja Gulnare, di benoewa Persie, di sitoe istana itoe boedak di loteng kamarnja Gulnare. Itoe perampoewan toeroen ati-ati, maka ia dapetin Gulnare lagi doedoek dengan iboenja. Doewa doewanja selang lagi omongin anaknja jang ilang, maka itoe boedak perampoewan lantas bersoedjoed dan dari kabar jang di wartaken oleh boedak itoe, maka ketaoewanlah, bahoewa radja Beder ada dalem soerah dan perloe sanget dapat pertolongan, Tjeritanja itoe boodak membikin girang atinja posteri Gulnare sampe poeteri ini berlompat dari tempat doedoekeja, aken pelok itoe boedak jang membawa kabar itoe. Dengan sigrah Gulnare titahken sekalian penggawe negri, aken ma'oemken di antero keraja-an benoewa Persie, bahoewa radja Beder soeda ampir poelang kombali. Koetika Gulnare poelang di kamarnja, maka ia dapetin radja Saleh soeda dateng, sebab di panggil oleh iboenja. Maka katanja Gulnare: »Kakanda soedara Saleh, radja Beder ala di negri Sahir di pendjara oleh ratoe Labe. Wadjiblah kita lekas pegi kesana, aken melepasken dia dari pada tawanannja, kita misti lekas brangkat djangan ilang tempo." Radja Saleh lekas melengkapken balatentaranja dari laoet, maka sekalian djin dan sahir jang bershabat-an padanja poen di panggil djoega aken menoeloeng, maka marika itoe pada dateng bersama-sama laskar-laskarnja. Satelah semoewa soedah berlengkapan sandjata, maka posteri-posteri pada brangkat ngeloeroek ka negri Sahir. Sekalian marika itoe moemboel naik ka oedara, amat rame dan rioeh, maka sekalian marika itoe toeroen seperti kawan bebalang di tempat padi. Ratoe Labe di tangkep bersama-sama sekalian penggawe astananja dan orang-orang jang menjembah brahala. Ini orang di boenoeh semoewa. Poeteri Gulnare lantas ambil itoe boedak dari ratoe Labe, jang da-<noinclude>{{rh||1561}}</noinclude> 8kb79ckg2376w8c5mo5vtq6q2vml6n8 291421 291348 2026-05-11T00:34:13Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291421 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>ampoenin lagi. Maka Abdallah bersoewit, dengan sigrah satoe djin dateng jang beroepa boeroeng, Kilat namanja. Djin itoe bertanja pada Abdallah mengapakah dia di panggil. Djawabnja Abdallab: Hei Kilat, ini sekali kita misti toeloengin radja Bader, anaknja poeteri Gulnare. Lekas engkau pegi ka astananja ratoe Labe, maka dengan sigrah engkau pindah-in itoe boedak perampoewan jing menjimpan koeroengan boeroeng hantoe pagi ka astananja poeteri Gulnare di iboe kota benoewa Persie, soepaija poeteri Gulnare bole dapet taoe jang anaknja ada dalem soesah, perloe dapet toeloengan iboenja. Tetapi djaga betoel-betoel djangan sampe Gulnare kaget, kapan engkau mengadap padanja, dan engkau tjeritaken padanja apa dia misti bikin.” Si Kilat lantas ilang pegi ka astana ratoe Labe. Dia kasi taoe sama itoe boedak, apa jang perloe di tjeritaken padanja, abis lantas ianja moemboel kaoedara bersama-sama itoe perampoewan. Ia terbang sampe ka astananja Gulnare, di benoewa Persie, di sitoe ia taro itoe boedak di loteng kamarnja Gulnare. Itoe perampoewan toeroen ati-ati, maka ia dapetin Gulnare lagi doedoek dengan iboenja. Doewa doewanja selang lagi omongin anaknja jang ilang, maka itoe boedak perampoewan lantas bersoedjoed dan dari kabar jang di wartaken oleh boedak itoe, maka ketaoewanlah, bahoewa radja Beder ada dalem soerah dan perloe sanget dapat pertolongan, Tjeritanja itoe boodak membikin girang atinja poeteri Gulnare sampe poeteri ini berlompat dari tempat doedoeknja, aken pelok itoe boedak jang membawa kabar itoe. Dengan sigrah Gulnare titahken sekalian penggawe negri, aken ma'oemken di antero keraja-an benoewa Persie, bahoewa radja Beder soeda ampir poelang kombali. Koetika Gulnare poelang di kamarnja, maka ia dapetin radja Saleh soeda dateng, sebab di panggil oleh iboenja. Maka katanja Gulnare: »Kakanda soedara Saleh, radja Beder ada di negri Sahir di pendjara oleh ratoe Labe. Wadjiblah kita lekas pegi kesana, aken melepasken dia dari pada tawanannja, kita misti lekas brangkat djangan ilang tempo.” Radja Saleh lekas melengkapken balatentaranja dari laoet, maka sekalian djin dan sahir jang bershabat-an padanja poen di panggil djoega aken menoeloeng, maka marika itoe pada dateng bersama-sama laskar-laskarnja. Satelah semoewa soedah berlengkapan sandjata, maka poeteri-poeteri pada brangkat ngeloeroek ka negri Sahir. Sekalian marika itoe moemboel naik ka oedara, amat rame dan rioeh, maka sekalian marika itoe toeroen seperti kawan bebalang di tempat padi. Ratoe Labe di tangkep bersama-sama sekalian penggawe astananja dan orang-orang jang menjembah brahala. Ini orang di boenoeh semoewa. Poeteri Gulnare lantas ambil itoe boedak dari ratoe Labe, jang {{hws|da|dateng}}<noinclude>{{rh||1561}}</noinclude> leb24tzvmb0lp9i8fz5up1v03xb0745 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/551 104 101035 291344 283561 2026-05-10T17:12:24Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291344 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>Soesah boekankah kami memaen-maen sadja, kami poenja koeda tida maoe di djoewal." Setelah begitoe, maka kiai toewa laloe berkate: »Eh, anak, roepa-roepanja engkau tiada taoe, jang di ini negri orang di heekoem mati, kaloe dia berdjoesta. Oleh kerna itoe, engkau tiada bole oeroengken lagi djandjimoe pada ini nini toewa, engkau misti trima oewangnja, dan engkau poen misti serahken koedamoe, sebab engkau poenja perminta-an harga seriboe dinar emas itoe perampoewan soeka maoe bajar itoe harga. Djadi lebi baik engkau seleseiken ini perkara djangan sampe maloem di antero negri dan engkau bole dapet soesah." Radja Beder marah dalem dirinja kenapa dia begitoe koerang ati-ati, aken bitjara begitoe sama itoe nini, maka dia toeroen djoega dari koedanja. Itoe nini jepat pegang toom koeda dan tangan satoen ja mengambil aer di pinggir djalan abis dia tjipratin moeka koeda itoe dengan aer, sembari mengotjap: »Anakkoe, ajo, lepasken roepamoe ini dan djadi manoesia kombali!" Sakoetika itoe djoega, maka ratoe Labe djadi manoesia lagi sampe radja Beder djato ilang semanget, koetika dia liat roepanja ratos itoe, baiknja kiai toewa lantas toeloeng padanja. Nini toewa, ia itoe iboenja ratoe Labe, ja itoelah jang adjar anaknja sampe bisa segala djampinja orang sahir. Barang nini itoe pelok anaknja dengan girang ati, maka sekoenjoeng-koenjoeng dateng satoe djin jang amat besar. Ianja lantas pendong sama ratoe Labe dan radja Beder laloe dibawanja terbang poelang ka astananja ratoe Labe. Koetika ratoe sampe di astananja, maka dia sanget marah pada Beder katanja: »Hei bangsat, orang jang koerang trima, itoelah pembalesmoe bersama-sama mamakmoe bagei segala kabaikankoe. Kami nanti hoekoemken engkau sama-sama kiai Atdallah. Sambil bitjara demikian, maka ratoe {{illegible}} Beder, katanja ratoe: Ajoh, lepasken roepemoe manoesia, djadi boejoeng bautoe." Belon abis ratoe bitjara ini, maka Beder soedah djadi boeroeng bantoe, dan ratoe titahken sa-orarg boedaknja, aken taro ini boeroeng di dalem koerongan, tetapi tiada bole di kasi makan dan minoem. Itoe boedak perampoewan lantas bawa pegi itoe koeroengan, maka kendati di larang ratoe, masih djoega boedak itoe kasi makan itoe boeroeng Laen dari itoe, dia kasi kabar diam-diam pada Abdallah, sebab kiai itoe memang sobatnja itoe boedak. Ianja kasi taoe bagimana ratoe Labe {{illegible}} bikin sama kiai itoe poenja kaponakan dan bagimana ratoe hendak bikin akan menjilakaken doewa-doewanja kaponakan sama mamaknja. Segala ini di kasi taoe, soepaja Abdallah bole tjegah dan lepasken dirinja dari pada bahaja. Kiai ini sekarang liat betoel, jang ratoe Labe soeda tida patot di<noinclude>{{rh||1560}}</noinclude> 3uddlrzx37m4ot7vd8q5b56jnsze3di 291418 291344 2026-05-11T00:26:40Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291418 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>soesah boekankah kami memaen-maen sadja, kami poenja koeda tida maoe di djoewal.” Setelah begitoe, maka kiai toewa laloe berkate: »Eh, anak, roepa-roepanja engkau tiada taoe, jang di ini negri orang di heekoem mati, kaloe dia berdjoesta. Oleh kerna itoe, engkau tiada bole oeroengken lagi djandjimoe pada ini nini toewa, engkau misti trima oewangnja, dan engkau poen misti serahken koedamoe, sebab engkau poenja perminta-an harga seriboe dinar emas itoe perampoewan soeka maoe bajar itoe harga. Djadi lebi baik engkau seleseiken ini perkara djangan sampe maloem di antero negri dan engkau bole dapet soesah.” Radja Beder marah dalem dirinja kenapa dia begitoe koerang ati-ati, aken bitjara begitoe sama itoe nini, maka dia toeroen djoega dari koedanja. Itoe nini jepat pegang toom koeda dan tangan satoenja mengambil aer di pinggir djalan abis dia tjipratin moeka koeda itoe dengan aer, sembari mengotjap: »Anakkoe, ajo, lepasken roepamoe ini dan djadi manoesia kombali!” Sakoetika itoe djoega, maka ratoe Labe djadi manoesia lagi sampe radja Beder djato ilang semanget, koetika dia liat roepanja ratoe itoe, baiknja kiai toewa lantas toeloeng padanja. Nini toewa, ia itoe iboenja ratoe Labe, ja itoelah jang adjar anaknja sampe bisa segala djampinja orang sahir. Barang nini itoe pelok anaknja dengan girang ati, maka sekoenjoeng-koenjoeng dateng satoe djin jang amat besar. Ianja lantas pendong sama ratoe Labe dan radja Beder laloe dibawanja terbang poelang ka astananja ratoe Labe. Koetika ratoe sampe di astananja, maka dia sanget marah pada Beder katanja: Hei bangsat, orang jang koerang trima, itoelah pembalesmoe bersama-sama mamakmoe bagei segala kabaikankoe. Kami nanti hoekoemken ngkau sama-sama kiai Atdallah. Sambil bitjara demikian, maka ratoe {{illegible}} Beder, katanja ratoe: »Ajoh, lepasken roepemoe manoesia, djadi boejoeng bantoe.” Belon abis ratoe bitjara ini, maka Beder soedah djadi boeroeng hantoe, dan ratoe titahken sa-orarg boedaknja, aken taro ini boeroeng di dalem koerongan, tetapi tiada bole di kasi makan dan minoem. Itoe boedak perampoewan lantas bawa pegi itoe koeroengan, maka kendati di larang ratoe, masih djoega boedak itoe kasi makan itoe boeroeng Laen dari itoe, dia kasi kabar diam-diam pada Abdallah, sebab kiai itoe memang sobatnja itoe boedak. Ianja kasi taoe bagimana ratoe Labe {{illegible}} bikin sama kiai itoe poenja kaponakan dan bagimana ratoe hendak bikin akan menjilakaken doewa-doewanja kaponakan sama mamaknja. Segala ini di kasi taoe, soepaja Abdallah bole tjegah dan lepasken dirinja dari pada bahaja. Kiai ini sekarang liat betoel, jang ratoe Labe soeda tida patot di<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1560|{{smaller|85}}}}</noinclude> 0ky8bis7xh0eru4kunemoeu86tew5jw Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/439 104 101036 291641 283335 2026-05-11T04:39:23Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan tanda » serta tanda petik belakang 291641 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>tjakep, eok dan tjantik, serta pandè dan bidjaksaua, tadapet tiada, tentoe beroentoenglah ia mendjadi boedak, djikaloe ia beroleh toewan sa-orang baginda radja." Djawabnja perampoewan itoe: Hamba bilang lagi sekali toewan, kahendak manoesia itoe tiada dapet di prentah, maski radja sekalipoen tiada dapet prentabken dia. Adapoen benarlah katanja doeli sjah alam, djikaloe satoe boedak perampoewan jang tiada berasal orang baik-baik, mendapetken toewan, satoe radja besar, nistjaija beroentoenglah ia, kendatipoen dia misti tinggalin negri kalahirannja, kendatipoen ia misti tinggalin iboe-bapanja dan kaoem kaloewarganja. kendatipoen dia misti tinggalin lelaki tjjuta djiwanja, jang tiada dapet di loepabkennja saoemoer idoep. Aken tetapi, djikaloe boedak perampoewan itoe boekan orang jang tiada berasal, djikaloe asalnja perampoewan itoe sama pangkat seperti radja atawa terlebi tinggi-an lagi, maka bagimanakah pedibuja ati di dalem, aken memikoel maloe itoe. Doeli sjah alam bole fikirken sendiri." Sri baginda mendjadi terlebi heran mendengar bitjaranja perampoewan ini, maka katanja: ,,Ach, adinda jang manis, betoelken adinda beratsal radja? Kakanda soedjoed di hadepan kakinja adinda, marilah terangken hal ini, djangan bikin kakanda djadi terlebi bimbang. Katakenlah siapa orang 'toewanja adinda. Siapakah sanak soedaranja dan siapakah namanja adinda?" ,,Doeli sjah alam, hamba poenja nama poeteri GULNARE. Hamba poenja orang toewa laki-laki soedah meninggal, maka ia doeloe ada sa-orang radja besar di dalem laoet. Koetika ia wafat, maka parentab karadja-an negri itoe djato dalem tangan hamba poenja soedara laki-laki, jang bernama Saleh, bersama-sama hamba poenja bonda. Maka iboe, hamba poen sa-orang poeteri dari pada radja di dalem laoet. Kita idoep di dalem negri dengan tiada koerang apa-apa. Aken tetapi, sekali pada soewatoe hari, betoel koetika radja Saleh lagi sedang doedoek bermasjawarat di hadepi oleh amir-amir, mantri-mantri dan mangkoe boemi, maka ia dapet kabar ada radja, moesoeh, sekoenjoeng-koenjoeng masoek menjerang dengan laskar bala tentara jang amat besar. Moesoeh ini masoek ka dalem iboe kota, laloe di rampasnja, hingga kita orang ampir tiada bisa lari menjimpan badan. Kita orang lari bersama-sama penggawe-penggawe, jang tinggal bersetijawan, maka kita lari ka dalem soewatoe tempat jang tiada bisa di datengi orang. Hatta, maka di tempat persemboenian ini, radja Saleh tjari akal, aken mengoesir lagi moesoehnja. Selamanja ia mikirken akal itoe, maka pada Boewatoe hari ia panggil pada hamba sendirian laloe ia berkata: Soedarakoe jang tertjinta, kasoedabannja nijatkoe ini aken mengoesir moesoeh, tiada dapet di tentoein lebi doeloe, bole djadi kita beroentoeng, bole djadi tjilaka. Dalem peperangan itoe, barangkali akoe mati terboenoeh, aken tetapi itoe<noinclude>{{rh||1506}}</noinclude> 4fmjubbhg7dimdkidym7owama1zm5xx 291782 291641 2026-05-11T06:35:56Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291782 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>tjakep, eok dan tjantik, serta pandè dan bidjaksaua, tadapet tiada, tentoe beroentoenglah ia mendjadi boedak, djikaloe ia beroleh toewan sa-orang baginda radja.” Djawabnja perampoewan itoe: »Hamba bilang lagi sekali toewan, kahendak manoesia itoe tiada dapet di prentah, maski radja sekalipoen tiada dapet prentahken dia. Adapoen benarlah katanja doeli sjah alam, djikaloe satoe boedak perampoewan jang tiada berasal orang baik-baik, mendapetken toewan, satoe radja besar, nistjaija beroentoenglah ia, kendatipoen dia misti tinggalin negri kalahirannja, kendatipoen ia misti tinggalin iboe-bapanja dan kaoem kaloewarganja. kendatipoen dia misti tinggalin lelaki tjinta djiwanja, jang tiada dapet di loepahkennja saoemoer idoep. Aken tetapi, djikaloe boedak perampoewan itoe boekan orang jang tiada berasal, djikaloe asalnja perampoewan itoe sama pangkat seperti radja atawa terlebi tinggi-an lagi, maka bagimanakah pedihnja ati di dalem, aken memikoel maloe itoe. Doeli sjah alam bole fikirken sendiri.” Sri baginda mendjadi terlebi heran mendengar bitjaranja perampoewan ini, maka katanja: »Ach, adinda jang manis, betoelken adinda beratsal radja? Kakanda soedjoed di hadepan kakinja adinda, marilah terangken hal ini, djangan bikin kakanda djadi terlebi bimbang. Katakenlah siapa orang toewanja adinda. Siapakah sanak soedaranja dan siapakah namanja adinda?” »Doeli sjah alam, hamba poenja nama poeteri GULNARE. Hamba poenja orang toewa laki-laki soedah meninggal, maka ia doeloe ada sa-orang radja besar di dalem laoet. Koetika ia wafat, maka parentah karadja-an negri itoe djato dalem tangan hamba poenja soedara laki-laki, jang bernama Saleh, bersama-sama hamba poenja bonda. Maka iboe, hamba poen sa-orang poeteri dari pada radja di dalem laoet. Kita idoep di dalem negri dengan tiada koerang apa-apa. Aken tetapi, sekali pada soewatoe hari, betoel koetika radja Saleh lagi sedang doedoek bermasjawarat di hadepi oleh amir-amir, mantri-mantri dan mangkoe boemi, maka ia dapet kabar ada radja, moesoeh, sekoenjoeng-koenjoeng masoek menjerang dengan laskar bala tentara jang amat besar. Moesoeh ini masoek ka dalem iboe kota, laloe di rampasnja, hingga kita orang ampir tiada bisa lari menjimpan badan. Kita orang lari bersama-sama penggawe-penggawe, jang tinggal bersetijawan, maka kita lari ka dalem soewatoe tempat jang tiada bisa di datengi orang. Hatta, maka di tempat persemboenian ini, radja Saleh tjari akal, aken mengoesir lagi moesoehnja. Selamanja ia mikirken akal itoe, maka pada soewatoe hari ia panggil pada hamba sendirian laloe ia berkata: »Soedarakoe jang tertjinta, kasoedahannja nijatkoe ini aken mengoesir moesoeh, tiada dapet di tentoein lebi doeloe, bole djadi kita beroentoeng, bole djadi tjilaka. Dalem peperangan itoe, barangkali akoe mati terboenoeh, aken tetapi itoe<noinclude>{{rh||1506}}</noinclude> hnctcjy0j2qia0muzws7jber9zvz3m2 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/379 104 101037 291488 283287 2026-05-11T01:56:08Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291488 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Alkeslan jang tersohor bahna keras malesoja, apakah ia itoe afandahnja jang djadi doekoen toekang oeroet di tempat-tempat mandi dan jang meninggal doenia dengan sanget sengsara melaratnja, hingga tiada ada katinggalan bandanja barang sakeping Doewat isterinja dan boewat anak lakinja. Aboe Mohamed Alkeslan laloe berkata: Doeli sjah alam, lahirnja hamba, serta kame laratan hamba dan males hamba dari doeloe, hingga hambanja djadi tersohor di koeliling negri, ia itoelah membikin riwajat hamba mendjadi terlebi heran lagi. Hikajat iloe penoeh dengan bebrapa hal ichwal jang amat adjaib adanja. Djikaloe doeli ajah alam soeka dengar, maka bole bambanja riwajatken." Kalief Haroen al Rasjid bilang baik, ia terlaloe kepingin dengar ini hikajat. Maka Alkeslan moelai bertjerita demikian tjeritanja: Sabermoela, maka benarlah seperti katanja doeli sjab alam, memang hamba poenja ajabanda sa-orang doekoen pidjit, tempat pentjarian centoengnja, ia itoe di tempat-tempat mandi. Bagitoepoen malesnja bamba sampo maloem di antero negri, itoe semoewa benar sekali, memang dari anak hamba soeka tidoer, kendati hamba poenja moeka kena kepoekoel mata hari, sekalipoen hambanja males aken berbalik, istimiwa poela aken bangoen pegi dari tempat itoe ka tempat jang tedoeh. Oemoer hamba lima belas taoen, koetika hamba poenja orang toewa laki-laki meninggal doenia, maka tiada sekeping poesakanja ada katinggalan, sampe bamba berdoewa bonda hamba idoep melarat dan bonda hambanja kepakes aken mendjadi boedjang bekerdja pada orang laen, soepaija hambanja ini dapat dikasinja makan dan pakejan, sedang hambanja keliwat males bekerdja tjoema soeka djalan djalan makan angin sadja. Sekali perestiwa, maka bonda hamba dateng membawa lima oewang perak di tangannja, ia itoe oowang jang ianja dapet simpan dari pada gadjinja, abis ia barkata: Anak, tadi akoe dapet kabar jang Scheik Aboel Mossaffier maoe pegi belajar ka negri Tjica. Ini orang memang besar pengasihnja pada sesamanja manoesia fakir dan miskin, serta termasjhoer ia poenja kamoerahan ati. Dari itoe baiklah engkau bangoen anak, toeroet sama ako e bawa ini lima oe wang perak, aken di bribken padanja, maka engkau moeboenken padanja aken di belibken barang apa djoega di negri Tjina, jang berfaedah boewat kamoe, sebab negri Tjina itoe memang ada banjak barang jang baik, kerna adjaib sanget negri itoe. Kapan engkau masih males djoega, tiada maoe toeroet sama akoe, maka akoe tobat tiada maoe dateng lagi kemari tengokin padamoe, biar engkau mati lapar sekalipoen. Dari pada bitjara bonda bamba sademikian, maka njatalah, bahoewa sanget marahnja bagi hamba, sebab hamba males, djadi hambaaja koswatir djangan bonda hamba bikin seperti di katanja, kaloe hamba masih djoega males tiada maoe bangoen aken toeroet padanja. Maka bamba toeroet seperti katanja, maoe tida maoe hambanja kapaksa aken boewang sabentar males hamba,<noinclude>{{rh||1478|}}</noinclude> 6syrxs4benx6dxauve3sk29syg95gu6 291551 291488 2026-05-11T02:51:32Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291551 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Alkeslan jang tersohor bahna keras malesnja, apakah ia itoe alandahnja jang djadi doekoen toekang oeroet di tempat-tempat mandi dan jang meninggal doenia dengan sanget sengsara melaratnja, hingga tiada ada katinggalan bandanja barang sakeping boewat isterinja dan boewat anak lakinja. Aboe Mohamed Alkeslan laloe berkata: Doeli sjah alam, lahirnja hamba, serta kamelaratan hamba dan males hamba dari doeloe, hingga hambanja djadi tersohor di koeliling negri, ia itoelah membikin riwajat hamba mendjadi terlebi heran lagi. Hikajat itoe penoeh dengan bebrapa hal ichwal jang amat adjaib adanja. Djikaloe doeli ajah alam soeka dengar, maka bole hambanja riwajatken.” Kalief Haroen al Rasjid bilang baik, ia terlaloe kepingin dengar ini hikajat. Maka Alkeslan moelai bertjerita demikian tjeritanja: Sabermoela, maka benarlah seperti katanja doeli sjah alam, memang hamba poenja ajahanda sa-orang doekoen pidjit, tempat pentjarian oentoengnja, ia itoe di tempat-tempat mandi. Bagitoepoen malesnja bamba sampo maloem di antero negri, itoe semoewa benar sekali, memang dari anak hamba soeka tidoer, kendati hamba poenja moeka kena kepoekoel mata hari, sekalipoen hambanja males aken berbalik, istimiwa poela aken bangoen pegi dari tempat itoe ka tempat jang tedoeh. Oemoer hamba lima belas taoen, koetika hamba poenja orang toewa laki-laki meninggal doenia, maka tiada sekeping poesakanja ada katinggalan, sampe bamba berdoewa bonda hamba idoep melarat dan bonda hambanja kepaksa aken mendjadi boedjang bekerdja pada orang laen, soepaija hambanja ini dapat dikasinja makan dan pakejan, sedang hambanja keliwat males bekerdja tjoema soeka djalan djalan makan angin sadja. Sekali perestiwa, maka bonda hamba dateng membawa lima oewang perak di tangannja, ia itoe oewang jang ianja dapet simpan dari pada gadjinja, abis ia barkata: Anak, tadi akoe dapet kabar jang Scheik Aboel Mossaffier maoe pegi belajar ka negri Tjina. Ini orang memang besar pengasihnja pada sesamanja manoesia fakir dan miskin, serta termasjhoer ia poenja kamoerahan ati. Dari itoe baiklah engkau bangoen anak, toeroet sama akoe bawa ini lima oewang perak, aken di brihken padanja, maka engkau moehoenken padanja aken di belihken barang apa djoega di negri Tjina, jang berfaedah boewat kamoe, sebab negri Tjina itoe memang ada banjak barang jang baik, kerna adjaib sanget negri itoe. Kapan engkau masih males djoega, tiada maoe toeroet sama akoe, maka akoe tobat tiada maoe dateng lagi kemari tengokin padamoe, biar engkau mati lapar sekalipoen. Dari pada bitjara bonda hamba sademikian, maka njatalah, bahoewa sanget marahnja bagi hamba, sebab hamba males, djadi hambaaja koswatir djangan bonda hamba bikin seperti di katanja, kaloe hamba masih djoega males tiada maoe bangoen aken toeroet padanja. Maka bamba toeroet seperti katanja, maoe tida maoe hambanja kapaksa aken boewang sabentar males hamba,<noinclude>{{rh||1478|}}</noinclude> oeppzsd5ul3beji4wb80oyf6baheprr 291992 291551 2026-05-11T11:11:14Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 291992 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Alkeslan jang tersohor bahna keras malesnja, apakah ia itoe alandahnja jang djadi doekoen toekang oeroet di tempat-tempat mandi dan jang meninggal doenia dengan sanget sengsara melaratnja, hingga tiada ada katinggalan bandanja barang sakeping boewat isterinja dan boewat anak lakinja. Aboe Mohamed Alkeslan laloe berkata: Doeli sjah alam, lahirnja hamba, serta kamelaratan hamba dan males hamba dari doeloe, hingga hambanja djadi tersohor di koeliling negri, ia itoelah membikin riwajat hamba mendjadi terlebi heran lagi. Hikajat itoe penoeh dengan bebrapa hal ichwal jang amat adjaib adanja. Djikaloe doeli ajah alam soeka dengar, maka bole hambanja riwajatken.” Kalief Haroen al Rasjid bilang baik, ia terlaloe kepingin dengar ini hikajat. Maka Alkeslan moelai bertjerita demikian tjeritanja: Sabermoela, maka benarlah seperti katanja doeli sjah alam, memang hamba poenja ajahanda sa-orang doekoen pidjit, tempat pentjarian oentoengnja, ia itoe di tempat-tempat mandi. Bagitoepoen malesnja hamba sampe maloem di antero negri, itoe semoewa benar sekali, memang dari anak hamba soeka tidoer, kendati hamba poenja moeka kena kepoekoel mata hari, sekalipoen hambanja males aken berbalik, istimiwa poela aken bangoen pegi dari tempat itoe ka tempat jang tedoeh. Oemoer hamba lima belas taoen, koetika hamba poenja orang toewa laki-laki meninggal doenia, maka tiada sekeping poesakanja ada katinggalan, sampe hamba berdoewa bonda hamba idoep melarat dan bonda hambanja kepaksa aken mendjadi boedjang bekerdja pada orang laen, soepaija hambanja ini dapat dikasinja makan dan pakejan, sedang hambanja keliwat males bekerdja tjoema soeka djalan djalan makan angin sadja. Sekali perestiwa, maka bonda hamba dateng membawa lima oewang perak di tangannja, ia itoe oewang jang ianja dapet simpan dari pada gadjinja, abis ia barkata: Anak, tadi akoe dapet kabar jang Scheik Aboel Mossaffier maoe pegi belajar ka negri Tjina. Ini orang memang besar pengasihnja pada sesamanja manoesia fakir dan miskin, serta termasjhoer ia poenja kamoerahan ati. Dari itoe baiklah engkau bangoen anak, toeroet sama akoe bawa ini lima oewang perak, aken di brihken padanja, maka engkau moehoenken padanja aken di belihken barang apa djoega di negri Tjina, jang berfaedah boewat kamoe, sebab negri Tjina itoe memang ada banjak barang jang baik, kerna adjaib sanget negri itoe. Kapan engkau masih males djoega, tiada maoe toeroet sama akoe, maka akoe tobat tiada maoe dateng lagi kemari tengokin padamoe, biar engkau mati lapar sekalipoen. Dari pada bitjara bonda hamba sademikian, maka njatalah, bahoewa sanget marahnja bagi hamba, sebab hamba males, djadi hambanja koewatir djangan bonda hamba bikin seperti di katanja, kaloe hamba masih djoega males tiada maoe bangoen aken toeroet padanja. Maka hamba toeroet seperti katanja, maoe tida maoe hambanja kapaksa aken boewang sabentar males hamba,<noinclude>{{rh||1478|}}</noinclude> 30e32j1d1j41t95fzdarb39hb9b4s96 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/397 104 101039 291521 283299 2026-05-11T02:28:53Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291521 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>apa jang patoet di kahendaki manoesia di doenia, aken tetapi akoe ini kepingin djoega di toeloeng olehmoe, kapan angkau djandiken akoe, aken me noeloeng seperti bitjarakos, maka apa djoega di kabendaki olehmoe, nistjaija kami toeloeng." Hamba bertanja padanja: „Apakah jang engkau kahendaki kami toeloengken, bilang sadja, sebab ta-satoe permoeboenanos dapet kami tampik." Maka katanja kera itoe: „Dengarkenlah baik-baik, di sebelah kamar penganten ada soewatoe bilik jang terkontji dengan selot tembaga, serta ada djoega tjintjin tembaga, di itoe tjintjin ada tergantoeng satoe gelang konti dengan bebrapa kontjinja. Dengan kontji ini orang bole dapet boeka pintoenja itoe bilik jang termaksoed. Kapan engkau masoek di dalem itoe bilik, maka engkau nanti dapet liat satoe peti dari besi dan di ampat podjoknja peti itoe ada pentolan jang berwacijat, maka di dalem ini peti ada satoe doelang-doelangan tembaga, penoeh dengan emas, dan batoe permata. Di sebelahnja peti itoe ada poela soewatoe paso jang di tempati celar sebelas ekor, dan di tengah paso itoe ada satoe ajam djago posti tjoetjoeknja terbelah. Di sebelah jang laen dari itoe ada satoe pedang. Maka ini pedanglah engkau ambil, abis engkan boenoeh itoe ajam laloe engkau batjok pentolan wacijat dari peti beni itoe sampe antjoer, baroe engkau terbalikin itoe peti besi. Djikaloe Boedab demikian adanja, baroelah engkau balik kombali pada pengantenmoe. Ia inilah tjoema jang kami moehoenken padamoe, aken di toeloeng seperti pembales dari pada segala perboewatan kami jang soedah-soedah dan jang masih hendak kami perboewatken." Hamba laloe berdjandji bahoewa hamba nanti bikin satoe satoenja seperti: di katakenoja tadi, melaenken hamba tiada taoe lebi djaoe, apakah maksoednja kera itoe aken hamba berboewat sademikian. Pada esokan harinja hamba pegi karoemahnja Emir. Koetika abis merajabken nikahan hamba, maka orang laloe anterken hamba pegi kapada hamba poenja isteri. Maka ia itoe memang soeda berharep keras sekali, aken katemoein soewaminja, hingga ia bediri di atas tanggah loteng, aken membrih salam dan hormat pada hamba. Barang hamba dateng mengampiri dia, maka sa-orang pengasohnja lantas boeka penganten itoe poenja kaen toetoepan moeka. Setelah hamba dapet liat moeka itoe terboeka, maka hamba ampir djato pangsan, tiada bisa berkata-kata. Di doenis belon pernah ada sa-orang perampoewan seperti dia itoe. Potongan moekanja begitoe rapi, sikepnja begitoe elok dan lemas, tjahaja koelitoja begitoe aloes dan bening, hingga hamba loepain semoewa, maakipoen kera itoe hamba loopahken, serta djandji bamba poen ampir terloepa. Adapoen bahna terlaloe besar bales trimah kasi hamba pada kera itoe, maka hamba<noinclude>{{rh||1487|}}</noinclude> 7yypsf2xkpfl0ljct927ghu0vkptd4z 291645 291521 2026-05-11T04:45:51Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291645 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>apa jang patoet di kahendaki manoesia di doenia, aken tetapi akoe ini kepingin djoega di toeloeng olehmoe, kapan angkau djandiken akoe, aken menoeloeng seperti bitjarakoe, maka apa djoega di kahendaki olehmoe, nistjaija kami toeloeng.” Hamba bertanja padanja: „Apakah jang engkau kahendaki kami toeloengken, bilang sadja, sebab ta-satoe permoehoenamoe dapet kami tampik." Maka katanja kera itoe: „Dengarkenlah baik-baik, di sebelah kamar penganten ada soewatoe bilik jang terkontji dengan selot tembaga, serta ada djoega tjintjin tembaga, di itoe tjintjin ada tergantoeng satoe gelang kontji dengan bebrapa kontjinja. Dengan kontji ini orang bole dapet boeka pintoenja itoe bilik jang termaksoed. Kapan engkau masoek di dalem itoe bilik, maka engkau nanti dapet liat satoe peti dari besi dan di ampat podjoknja peti itoe ada pentolan jang berwacijat, maka di dalem ini peti ada satoe doelang-doelangan tembaga, penoeh dengan emas, dan batoe permata. Di sebelahnja peti itoe ada poela soewatoe paso jang di tempati oelar sebelas ekor, dan di tengah paso itoe ada satoe ajam djago poeti tjoetjoeknja terbelah. Di sebelah jang laen dari itoe ada satoe pedang. Maka ini pedanglah engkau ambil, abis engkau boenoeh itoe ajam laloe engkau batjok pentolan wacijat dari peti besi itoe sampe antjoer, baroe engkau terbalikin itoe peti besi. Djikaloe soedah demikian adanja, baroelah engkau balik kombali pada pengantenmoe. Ia inilah tjoema jang kami moehoenken padamoe, aken di toeloeng seperti pembales dari pada segala perboewatan kami jang soedah-soedah dan jang masih hendak kami perboewatken." Hamba laloe berdjandji bahoewa hamba nanti bikin satoe satoenja seperti: di katakennja tadi, melaenken hamba tiada taoe lebi djaoe, apakah maksoednja kera itoe aken hamba berboewat sademikian. Pada esokan harinja hamba pegi karoemahnja Emir. Koetika abis merajabken nikahan hamba, maka orang laloe anterken hamba pegi kapada hamba poenja isteri. Maka ia itoe memang soeda berharep keras sekali, aken katemoein soewaminja, hingga ia bediri di atas tanggah loteng, aken membrih salam dan hormat pada hamba. Barang hamba dateng mengampiri dia, maka sa-orang pengasohnja lantas boeka penganten itoe poenja kaen toetoepan moeka. Setelah hamba dapet liat moeka itoe terboeka, maka hamba ampir djato pangsan, tiada bisa berkata-kata. Di doenia belon pernah ada sa-orang perampoewan seperti dia itoe. Potongan moekanja begitoe rapi, sikepnja begitoe elok dan lemas, tjahaja koelitoja begitoe aloes dan bening, hingga hamba loepain semoewa, maskipoen kera itoe hamba loepahken, serta djandji bamba poen ampir terloepa. Adapoen bahna terlaloe besar bales trimah kasi hamba pada kera itoe, maka hamba<noinclude>{{rh||1487|}}</noinclude> dos955lzt19cth66wo68e18om6t01up 292017 291645 2026-05-11T11:40:43Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 292017 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>apa jang patoet di kahendaki manoesia di doenia, aken tetapi akoe ini kepingin djoega di toeloeng olehmoe, kapan angkau djandiken akoe, aken menoeloeng seperti bitjarakoe, maka apa djoega di kahendaki olehmoe, nistjaija kami toeloeng.” Hamba bertanja padanja: „Apakah jang engkau kahendaki kami toeloengken, bilang sadja, sebab ta-satoe permoehoenamoe dapet kami tampik.” Maka katanja kera itoe: „Dengarkenlah baik-baik, di sebelah kamar penganten ada soewatoe bilik jang terkontji dengan selot tembaga, serta ada djoega tjintjin tembaga, di itoe tjintjin ada tergantoeng satoe gelang kontji dengan bebrapa kontjinja. Dengan kontji ini orang bole dapet boeka pintoenja itoe bilik jang termaksoed. Kapan engkau masoek di dalem itoe bilik, maka engkau nanti dapet liat satoe peti dari besi dan di ampat podjoknja peti itoe ada pentolan jang berwacijat, maka di dalem ini peti ada satoe doelang-doelangan tembaga, penoeh dengan emas, dan batoe permata. Di sebelahnja peti itoe ada poela soewatoe paso jang di tempati oelar sebelas ekor, dan di tengah paso itoe ada satoe ajam djago poeti tjoetjoeknja terbelah. Di sebelah jang laen dari itoe ada satoe pedang. Maka ini pedanglah engkau ambil, abis engkau boenoeh itoe ajam laloe engkau batjok pentolan wacijat dari peti besi itoe sampe antjoer, baroe engkau terbalikin itoe peti besi. Djikaloe soedah demikian adanja, baroelah engkau balik kombali pada pengantenmoe. Ia inilah tjoema jang kami moehoenken padamoe, aken di toeloeng seperti pembales dari pada segala perboewatan kami jang soedah-soedah dan jang masih hendak kami perboewatken.” Hamba laloe berdjandji bahoewa hamba nanti bikin satoe satoenja seperti: di katakennja tadi, melaenken hamba tiada taoe lebi djaoe, apakah maksoednja kera itoe aken hamba berboewat sademikian. Pada esokan harinja hamba pegi karoemahnja Emir. Koetika abis merajahken nikahan hamba, maka orang laloe anterken hamba pegi kapada hamba poenja isteri. Maka ia itoe memang soeda berharep keras sekali, aken katemoein soewaminja, hingga ia bediri di atas tanggah loteng, aken membrih salam dan hormat pada hamba. Barang hamba dateng mengampiri dia, maka sa-orang pengasohnja lantas boeka penganten itoe poenja kaen toetoepan moeka. Setelah hamba dapet liat moeka itoe terboeka, maka hamba ampir djato pangsan, tiada bisa berkata-kata. Di doenia belon pernah ada sa-orang perampoewan seperti dia itoe. Potongan moekanja begitoe rapi, sikepnja begitoe elok dan lemas, tjahaja koelitnja begitoe aloes dan bening, hingga hamba loepain semoewa, maskipoen kera itoe hamba loepahken, serta djandji hamba poen ampir terloepa. Adapoen bahna terlaloe besar bales trimah kasi hamba pada kera itoe, maka hamba<noinclude>{{rh||1487|}}</noinclude> fxioj7zy7nw9gzfprklqw4dxqx0wonj Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/381 104 101041 291491 283288 2026-05-11T01:59:25Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ ada lebih dari 3 kesalahan ejaan 291491 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>sebab di itoe waktne tiada ada sa-orang jang terlebi malesnja dari pada hamba Hambanja berkata: „Baiklah iboe, marilah toeloeng bangoenken hamba." Sedang hamba di bangoenin, maka hamba bertarik nafas, seperti orang jang terlaloe amat tjape. Abis hambanja minta toeloeng bonda hamba ambilin hamba poenja trompah. Bonda hamba ambilin trompa bamba laloe di pakein, abis tangan hamba di pegangnja aken toeloeng hamba berdiri. Sembaring djalan hamba di pegangin dan di toentoen, sebab hamba rasa diri. hamba males aken bertindak. Kamoedian kita berdoewa sampe djoega di pelaboewan di mana Scheik Aboel Mosaffier soedah ada bersedia boewat brangkat. Hambanja kasi tabik padanja laloe hambanja bertanja padanja dengan hormat: apakah ianja itoe Aboe Mosaffier, sebab soenggoe haroes maloe bamba, jang hambanja tiada kenal orang jang termashoer seperti Aboel Mosaffier." Setelah ia bilang, bahoewa ia sendiri Aboel Mosaffier, maka hamba bermoehoen padanja aken dia belibken boewat hamba barang jang aneh di negri jang hendak ia pegi-in. Maka harganja itoe barang djangan lebih dari ini lima perak. Abis hamba kasiken oewang itoe padanja. Scheik Aboe Mosaffier mendjadi heran mendengar bitjara dan permoehoenan hamba, maka ia berbalik menanja kapada teman temannja, apa marika itoe kenal hamba atawa tida. Maka katanja orang kapal: „Ja toewan, ini perampoewan dia poenja iboe, maka dia sendiri, ia itoe Aboe Mohamed Alkeslan, jang termasjhoer dari sebab sanget keras malesnja, roepanja ini baroe sekali ja mate djalan kaloewar, orang belon pernah liat dia berdjalan kaloewar roemah. Aboel Mosaffier trimah oewang itoe dengan segala soeka ati, abis dengan bermesem ia berkata, bahoewa ia nanti bikin seperti bitjaranja Aboe Mohamed Alkeslan. Hambanja bilang banjak trimah kasi, abis hamba moehoen poelang. Hata maka Aboel Mosaffier brangkat bersama sama bebrapa soedagar belajar dengan kapal, maka pelajarannja beroentoeng sekali, tiada brapa lamanja sampelah ia di negri Tjina. Koetika masing masing soedagar itoe soeda abis djoewal dan beli barang, maka sekalian marika itoe belajar poelang kombali ka Balsora. Marika itoe soeda belajar tiga ari lamanja, maka sekoenjoeng koenjoeng Aboel Mosaffier prentahken djoeragan kapal aken balik kombali. Soedagar- Boedagar semoewa terlaloe amat heran, marika itoe bertanja pada Aboel Mosaffier, apakah sebabnja ia soeroeh kapal itoe balik. Djawabnja Aboel Mosaffier: „Boekankah angkau sekalian masih ingat apa jang telah soeda di pegannja pada kami oleh Aboe Mohamed Alkeslan? Nah, pesannja itoelah jang kami loepahken, dari itoe misti kita balik kombali doeloe, aken beli-in soewatoe barang boewat dia jang bergoena padanja, soepaja kami kaboelken permoehoenannja serta kami tjoekoepken djandji kami.<noinclude>{{rh||1479|}}</noinclude> dkh3w3vgjodwl0wu5tfi6gchv7023la 292008 291491 2026-05-11T11:30:21Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 292008 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>sebab di itoe waktone tiada ada sa-orang jang terlebi malesnja dari pada hamba Hambanja berkata: „Baiklah iboe, marilah toeloeng bangoenken hamba.” Sedang hamba di bangoenin, maka hamba bertarik nafas, seperti orang jang terlaloe amat tjapè. Abis hambanja minta toeloeng bonda hamba ambilin hamba poenja trompah. Bonda hamba ambilin tompa bamba laloe di pakein, abis tangan hamba di pegangnja aken toeloeng hamba berdiri. Sembaring djalan hamba di pegangin dan di toentoen, sebab hamba rasa diri hamba males aken bertindak. Kamoedian kita berdoewa sampe djoega di pelaboewan di mana Scheik Aboel Mosaffier soedah ada bersedia boewat brangkat. Hambanja kasi tabik padanja laloe hambanja bertanja padanja dengan hormat: »apakah ianja itoe Aboe Mosaffier, sebab soenggoe haroes maloe hamba, jang hambanja tiada kenal orang jang termashoer seperti Aboel Mosaffier.” Setelah ia bilang, bahoewa ia sendiri Aboel Mosaffier, maka hamba bermoehoen padanja aken dia belihbken boewat hamba barang jang aneh di negri jang hendak ia pegi-in. Maka harganja itoe barang djangan lebih dari ini lima perak. Abis hamba kasiken oewang itoe padanja. Scheik Aboe Mosaffier mendjadi heran mendengar bitjara dan permoehoenan hamba, maka ia berbalik menanja kapada teman temannja, apa marika itoe kenal hamba atawa tida. Maka katanja orang kapal: „Ja toewan, ini perampoewan dia poenja iboe, maka dia sendiri, ia itoe Aboe Mohamed Alkeslan, jang termasjhoer dari sebab sanget keras malesnja, roepanja ini baroe sekali ia maoe djalan kaloewar, orang belon pernah liat dia berdjalan kaloewar roemah. Aboel Mosaffier trimah oewang itoe dengan segala soeka ati, abis dengan bermesem ia berkata, bahoewa ia nanti bikin seperti bitjaranja Aboe Mohamed Alkeslan. Hambanja bilang banjak trimah kasi, abis hamba moehoen poelang. Hata maka Aboel Mosaffier brangkat bersama sama bebrapa soedagar belajar dengan kapal, maka pelajarannja beroentoeng sekali, tiada brapa lamanja sampelah ia di negri Tjina. Koetika masing masing soedagar itoe soeda abis djoewal dan beli barang, maka sekalian marika itoe belajar poelang kombali ka Balsora. Marika itoe soeda belajar tiga ari lamanja, maka sekoenjoeng koenjoeng Aboel Mosaffier prentahken djoeragan kapal aken balik kombali. Soedagar-soedagar semoewa terlaloe amat heran, marika itoe bertanja pada Aboel Mosaffier, apakah sebabnja ia soeroeh kapal itoe balik. Djawabnja Aboel Mosaffier: „Boekankah angkau sekalian masih ingat apa jang telah soeda di pesannja pada kami oleh Aboe Mohamed Alkeslan? Nah, pesannja itoelah jang kami loepahken, dari itoe misti kita balik kombali doeloe, aken beli-in soewatoe barang boewat dia jang bergoena padanja, soepaja kami kaboelken permoehoenannja serta kami tjoekoepken djandji kami.<noinclude>{{rh||1479|}}</noinclude> e1ed31xoixvy8thcfidtjlt2do9qcjc Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/383 104 101042 291493 283289 2026-05-11T02:01:47Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291493 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Sekalian soedager pada berkata: »Demi Allah, djanganlah toewan paksaken kita orang balik kombali. Boekankah kita ini soeda djaoeh dari negri Tjina, betapakah kita misti balik kombali boewat perkara ketjil bagitoe. Boekankah tida bole taoe, barangkali kita nanti kelanggar angin riboet atawa laen bahaja, jang sekarang soedah terlepas dari pada kita." Adapoen Aboel Mosaffier tiada djoega maoe dengar bitjaranja soedagar-soedagar itoe. Barang begitoe adanja, maka soedagar-soedagar itoe berkata: Soedah, baiklah kita masing-masing brihken sa-orang doewa kali lima perak itoe pada toewan, aken di serahken pada Aboe Mohamed Alkeslan djadi bertambah oewanguja." Aboel Mosaffier berfikir, bahwa pengadjak-an orang-orang itoe soenggoe baik boewat Alkeslan, djadi ia trimah bitjaranja soodagar itoe laloe di koempoelkeunja oewang jang di bribken padanja oleh masing masing soedager. Alkaesah, maka di tjeriterahken, bahwa kapaloja Aboel Mosaffier teroes berlajar poelang ka Balrora, di tengah djalan marika itoe singgah pada soewatos poelo. Maka di poelo itoe banjak orang pendoedoekuja jang berdagang emas intan dan moetiara. Sasoedabnja kapal itoe boewang djangkar, maka sekalian soedagar pada toeroen aken berniaga. Sedang Aboel Mosaffier bersama-sama kawannja lagi berdjalan di pinggir panté, maka marika itoe dapet list as-orang di ampirnja dengan ada bebrapa kera besar-besar (monjet). Di antara kera itoe ada satoe jang penoeh loeka bekas di gigit temannja. Marika itoe pada brenti aken memandang kera itoe. Koetika kera-kera itoe dapet liat, baboewa toewannja tiada begitoe pasang mata padanja, maka kera-kera itoe sekalian pada kroeboetin itoe kera jang satoe laloe di gigit dan di aniaja tiada terkira-kira. Apabila si toewan dapet liat hal ini, maka ia bangoen poekoel kera jang laen-laen, soepsija djangan kera jang satoe terlaloe di aninja. Kapan orang itoe poekoel, maka brentilah kera-kera itoe menggigit temannja, aken tetapi apabila orang itoe meleng atawa berbalik balakang, maka lantas kera-kera itoe moelai gigit lagi temannja jang satoe itoe. Aboel Mosaffier dapet kesian sanget meliat kera jang satoe itoe, jang begitoe di bentji-in oleh teman-temannja, dari itoe ia minta beli sadja kera itoe dari jang poenja, katanja: Ambil ini lima perak kami hendak bajar boewat itoe kera, sebab memang itoelah oewang jang di brihken kami oleh saorang anak miskin aken kami beli-in apa-apa boewat dia." Orang jang ampoenja kera itoe berkata: Baiklah, kami maoe djoega djoewal kera itoe boewat lima perak, serta kami barep orang jang toewan beli-in kera itoe bole djadi beroentoeng." Sasoedahnja Aboel Mosaffier bajar harganja kera itoe, maka ia titahken boedak-boedaknja, aken bawa kera itoe ka kapal, maka di kapal kera itoe di ikat di atas dek. Barang sekalian soodagar-soedagar soeda abis berniaga, marika itoe poelang kombali ka kapal, laloe brangkat poela kapal itoe me. noedjoe laen poelo. Sampe di ini poelo kapal itoe boewang djangkar, adapoen<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1480|{{smaller|95}}}}</noinclude> m5y95nr9g8io0roxgw8rwrm6upnqi65 291802 291493 2026-05-11T06:53:43Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291802 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>Sekalian soedager pada berkata: »Demi Allah, djanganlah toewan paksaken kita orang balik kombali. Boekankah kita ini soeda djaoeh dari negri Tjina, betapakah kita misti balik kombali boewat perkara ketjil bagitoe. Boekankah tida bole taoe, barangkali kita nanti kelanggar angin riboet atawa laen bahaja, jang sekarang soedah terlepas dari pada kita.” Adapoen Aboel Mosaffier tiada djoega maoe dengar bitjaranja soedagar-soedagar itoe. Barang begitoe adanja, maka soedagar-soedagar itoe berkata: »Soedah, baiklah kita masing-masing brihken sa-orang doewa kali lima perak itoe pada toewan, aken di serahken pada Aboe Mohamed Alkeslan djadi bertambah oewangnja.” Aboel Mosaffier berfikir, bahwa pengadjak-an orang-orang itoe soenggoe baik boewat Alkeslan, djadi ia trimah bitjaranja soedagar itoe laloe di koempoelkennja oewang jang di brihken padanja oleh masing masing soedager. Alkaesah, maka di tjeriterahken, bahwa kapalnja Aboel Mosaffier teroes berlajar poelang ka Balsora, di tengah djalan marika itoe singgah pada soewatoe poelo. Maka di poelo itoe banjak orang pendoedoeknja jang berdagang emas intan dan moetiara. Sasoedahnja kapal itoe boewang djangkar, maka sekalian soedagar pada toeroen aken berniaga. Sedang Aboel Mosaffier bersama-sama kawannja lagi berdjalan di pinggir panté, maka marika itoe dapet list sa-orang di ampirnja dengan ada bebrapa kera besar-besar (monjet). Di antara kera itoe ada satoe jang penoeh loeka bekas di gigit temannja. Marika itoe pada brenti aken memandang kera itoe. Koetika kera-kera itoe dapet liat, bahoewa toewannja tiada begitoe pasang mata padanja, maka kera-kera itoe sekalian pada kroeboetin itoe kera jang satoe laloe di gigit dan di aniaja tiada terkira-kira. Apabila si toewan dapet liat hal ini, maka ia bangoen poekoel kera jang laen-laen, soepaija djangan kera jang satoe terlaloe di aniaja. Kapan orang itoe poekoel, maka brentilah kera-kera itoe menggigit temannja, aken tetapi apabila orang itoe meleng atawa berbalik balakang, maka lantas kera-kera itoe moelai gigit lagi temannja jang satoe itoe. Aboel Mosaffier dapet kesian sanget meliat kera jang satoe itoe, jang begitoe di bentji-in oleh teman-temannja, dari itoe ia minta beli sadja kera itoe dari jang poenja, katanja: »Ambil ini lima perak kami hendak bajar boewat itoe kera, sebab memang itoelah oewang jang di brihken kami oleh saorang anak miskin aken kami beli-in apa-apa boewat dia.” Orang jang ampoenja kera itoe berkata: »Baiklah, kami maoe djoega djoewal kera itoe boewat lima perak, serta kami harep orang jang toewan beli-in kera itoe bole djadi beroentoeng.” Sasoedahnja Aboel Mosaffier bajar harganja kera itoe, maka ia titahken boedak-boedaknja, aken bawa kera itoe ka kapal, maka di kapal kera itoe di ikat di atas dek. Barang sekalian soedagar-soedagar soeda abis berniaga, marika itoe poelang kombali ka kapal, laloe brangkat poela kapal itoe menoedjoe laen poelo. Sampe di ini poelo kapal itoe boewang djangkar, adapoen<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1480|{{smaller|95}}}}</noinclude> 8m75k19gco0aigcts6ea45gqtzkm1yv Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/461 104 101044 291460 284231 2026-05-11T01:24:54Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291460 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>nerdjoen ka dalem laoet bersama-sama itoe pangeran ketjil, teroes ilang tiada kaliatan kamana peginja. Radja Persie tiada sekali-kali bisa njana, jang iparnja bakalan bikin begitoe, maka kaget soenggoelah ia sampe keras mendjeritnja. Dia kira anaknja jang begitoe di tjintanja, nistjaija matilah kaboenoeh aer, maka doeka tjitanja radja terlaloe amat, sampe ia ampir djato pangsan. Adapoen Gulnare berkata padanja dengan ati girang sekali, so spaija soewaminja bole djadi senang katanja: »Toewankoz tiada oesah takoet apa-apa. Ingatlah toewan pangeran itoe poen kami poenja anak djooga, lagi kami poen sanget tjiota padanja seperti toewankoe, maka toewankoe liat sendiri kami tiada sekali merasa koewatir jang radja Saleh bawa kapouakannja masoek ka dalem laoet, soenggoe anak kita tiada nanti koerang satoe apa, dia nanti lekas djoega balik kombali bersama-sama mamaknja. Toewankoe ingat hamba sendiri, boekankah anak itog djoega ada kena asal sama kami, dari itoe ia poen bisa idoep djoega di dalem laoetan.” Iboenja Gulnare dengan poeteri-poeteri jang laen bilang benar seperti katanja Guloare. Adapoen biar bagimana djoega bitjaranja orang-orang itoe, aken bikin ilang koewatirnja radja, pertjoema sadja, sebab dia masih takoet djangan anaknja itoe nanti dapet tjilaka. Sabelonnja anaknja kombali, ia belon djoega mendjadi senang. Achir-achirnja laoetan itoe poen berombak keras seperti kena angin riboet, maka tida sebrapa lama lagi radja Saleh timboel dari dalem laoet dengan membawa pengeran Beder di tangannja teroes masoek melajang ka dalem kamar dari djendela di mana tadi dia nerdjoen ka dalem laoet. Radja Persie girang sekali, maka ia pelok koetika di liatnja Beder tiada koerang apa-apa. Maka radja Saleh berkata pada radja Persie: Doeli toewankoe tentoe koewatir sanget, tatkala di liatnja kami berterdjoen masoek ka dalem laoet bersama-sama pangeran jang ketjil ini." Djawabnja radja Persie: »Adoeh, toewan, kami tiada bisa berkata kata sademikian kerasnja takoet kami, maka kami soeda kira, bahoewa matilah poetera kami kaboenoeh aer adapoen koeroes manget, toewankoe soeda bawa anak kami kombali." Katanja radja Saleh : »Memang kami doega sademikian djoega, aken tetapi tiada oesah sekali toewankoe berkoewatir. Sabelonoja kami menerdjoen masoek ka dalem, maka kami soedah batja p-in doeloe rapallan wacijat dari nabi Soleiman. Begitoepoen perboewatan kami orang sekalian di dalem laoet, djikaloe ada anak-anak jang di lahirken, soepaija marika itoe bisa idoep di dalem aer. Oleh kerna itoelah, maka bole doeli sjah alam fikirken sendiri, bahoewa pangeran Beder ini besar sekali oentoengaja, dia bisa idoep di darat<noinclude>{{rh||1517}}</noinclude> fbfaulso39nr2t02hjrdbfzcrlfqw5q 291530 291460 2026-05-11T02:37:51Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291530 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>nerdjoen ka dalem laoet bersama-sama itoe pangeran ketjil, teroes ilang tiada kaliatan kamana peginja. Radja Persie tiada sekali-kali bisa njana, jang iparnja bakalan bikin begitoe, maka kaget soenggoelah ia sampe keras mendjeritnja. Dia kira anaknja jang begitoe di tjintanja, nistjaija matilah kaboenoeh aer, maka doeka tjitanja radja terlaloe amat, sampe ia ampir djato pangsan. Adapoen Gulnare berkata padanja dengan ati girang sekali, soepaija soewaminja bole djadi senang katanja: »Toewankoe tiada oesah takoet apa-apa. Ingatlah toewan pangeran itoe poen kami poenja anak djoega, lagi kami poen sanget tjinta padanja seperti toewankoe, maka toewankoe liat sendiri kami tiada sekali merasa koewatir jang radja Saleh bawa kaponakannja masoek ka dalem laoet, soenggoe anak kita tiada nanti koerang satoe apa, dia nanti lekas djoega balik kombali bersama-sama mamaknja. Toewankoe ingat hamba sendiri, boekankah anak itoe djoega ada kena asal sama kami, dari itoe ia poen bisa idoep djoega di dalem laoetan.” Iboenja Gulnare dengan poeteri-poeteri jang laen bilang benar seperti katanja Gulnare. Adapoen biar bagimana djoega bitjaranja orang-orang itoe, aken bikin ilang koewatirnja radja, pertjoema sadja, sebab dia masih takoet djangan anaknja itoe nanti dapet tjilaka. Sabelonnja anaknja kombali, ia belon djoega mendjadi senang. Achir-achirnja laoetan itoe poen berombak keras seperti kena angin riboet, maka tida sebrapa lama lagi radja Saleh timboel dari dalem laoet dengan membawa pengeran Beder di tangannja teroes masoek melajang ka dalem kamar dari djendela di mana tadi dia nerdjoen ka dalem laoet. Radja Persie girang sekali, maka ia pelok koetika di liatnja Beder tiada koerang apa-apa. Maka radja Saleh berkata pada radja Persie: »Doeli toewankoe tentoe koewatir sanget, tatkala di liatnja kami berterdjoen masoek ka dalem laoet bersama-sama pangeran jang ketjil ini.” Djawabnja radja Persie: »Adoeh, toewan, kami tiada bisa berkata kata sademikian kerasnja takoet kami, maka kami soeda kira, bahoewa matilah poetera kami kaboenoeh aer, adapoen koeroes manget, toewankoe soeda bawa anak kami kombali.” Katanja radja Saleh : »Memang kami doega sademikian djoega, aken tetapi tiada oesah sekali toewankoe berkoewatir. Sabelonnja kami menerdjoen masoek ka dalem, maka kami soedah batja-in doeloe rapallan wacijat dari nabi Soleiman. Begitoepoen perboewatan kami orang sekalian di dalem laoet, djikaloe ada anak-anak jang di lahirken, soepaija marika itoe bisa idoep di dalem aer. Oleh kerna itoelah, maka bole doeli sjah alam fikirken sendiri, bahoewa pangeran Beder ini besar sekali oentoengaja, dia bisa idoep di darat<noinclude>{{rh||1517}}</noinclude> 1a63pp9136vvgajc36a1evf6vahp09e Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/385 104 101052 291496 283290 2026-05-11T02:04:22Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan, tanda petik belakang, dan tanda » 291496 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>tiada sakedjap mata lagi, maka kapal itoe soeda di koelilingin praoe-praoe orang toekang silem moetiara, orang-orang itoe minta, aken djadi koeli menjilem moetiara. Orang-orang pada lempar oewang ka dalem laoet, maka orang orang toekang silam pada terdjoen ka dalem laoet abis di tangkepnja oewang jang lagi tenggelam itoe. Sedang rame orang maen boewang doewit itoe ka dalem laoet, maka itoe kera jang ada terikat di atas dek mendjadi seperti galak, ia berontak-rontak sampe terlepas dari rantenja laloe ia poen nerdjoen djoega ka dalem laoet. Aboel Mosaffier kaget meliat kera itoe ilang di dalem laoetan, maka ia berkata dengan sanget kasiannja: „Ja, Allah, apakah Aboel Mohamed Alkeslan nanti bilang, kapan dia tida dapet liat binatang itoe, jang kami beli-in boewat dia dengan oewangnja?" Koetika orang-orang toekang alam timboel lagi dari dalem laoet, maka kera itoepoen timboel djoega, maka kaki tangannja memegang bebrapa biang moetiara, jang di serahkennja di hadepan kakinja Aboel Mosaffier. Apabila Aboel Mosaffier dapet liat hal ini demikian adanja, maka heranlah ia, serta di pertjajanja soenggoe, bahoewa kera ini boekan sembarang kera, adapoen soewatoe machloek jang berilmoe. Setelah kapal itoe belajar lagi lebi djaoe, maxa kena kelanggar angin riboet, hingga terdampar di soewatoe poelo, dan pendoedoek orang itoe semoe- wa manoesia makan orang. Apabila orang-orang ini dapet liat kapal itoe terdampar, maka marika itoe lantas pegi tangkep sekalian isi kapal di bawa kabadepan radjanja. Barang sampe di hadepan radja, maka radja prentah separonja marika itoe misti di panggang laloe di makan daging orang-orang itoe. Soepaija soedagar jang laen tida dapet liat itoe anijaja, maka marika itoe di toetoep doeloe di dalem soewatoe roemah, aken menantiken waktoe boewat di bikin sesate. Kera itoe tiada diopenin. Hata maka betoel di tengah malem itoe kera dateng, laloe di boeka tali-tali pengikatnja Aboel Mosaffier. Ia ini tiada taoe siapa jang soedah lepasken dia dari pada tali-tali pengikatnja, maka ia pegi ampirin teman-temannja. Marika itoe kira Aboel Mosaffier dapet boeka sendiri tali-talinja, djadi ma rika itoe pada mengotjap soekoer katanja: „Sjoekoer alhamdoe lilah, A boe Mosaffier telah di toeloeng Allah, ia dapet boeka tali-talinja, maka sekarang bisa lah ia menoeloengi kita." Maka Aboel Mosaffier menjaoet: Teman-teman! boekan kami sendiri jang memboeka tali-tali kami, adapoen monjet itoe jang kami beli-in boewat Mohamed Alkeslan, ia itoelah jang menoeloengi kami. Dari sebab besar trima kasi, kami djandjiken aken membrihken jang ampoenja kera itoe satoe kantong oewang jang terisi seriboe dinar emas." Maka soedager jang laen-laen poen berkata: „Djikaloe kita orang djoega di toeloengnja, nistjaija kita poen bribken padanja masing-masing sa-banjakoja itoe. Apabila soedagar-sosdagar itoe sekalian soeda berdjandji sademikian, maka<noinclude>{{rh||1481|}}</noinclude> 3zqaji6enf7k5p73lmbwviny8hn2io3 291828 291496 2026-05-11T07:21:44Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291828 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>tiada sakedjap mata lagi, maka kapal itoe soeda di koelilingin praoe-praoe orang toekang silem moetiara, orang-orang itoe minta, aken djadi koeli menjil m moetiara. Orang-orang pada lempar oewang ka dalem laoet, maka orang orang toekang silam pada terdjoen ka dalem laoet abis di tangkepnja oewang jang lagi tenggelam itoe. Sedang rame orang maen boewang doewit itoe ka dalem laoet, maka itoe kera jang ada terikat di atas dek mendjadi seperti galak, ia berontak-rontak sampe terlepas dari rantenja laloe ia poen nerdjoen djoega ka dalem laoet. Aboel Mosaffier kaget meliat kera itoe ilang di dalem laoetan, maka ia berkata dengan sanget kasiannja: „Ja, Allah, apakah Aboel Mohamed Alkeslan nanti bilang, kapan dia tida dapet liat binatang itoe, jang kami beli-in boewat dia dengan oewangnja?” Koetika orang-orang toekang alam timboel lagi dari dalem laoet, maka kera itoepoen timboel djoega, maka kaki tangannja memegang bebrapa biang moetiara, jang di serahkennja di hadepan kakinja Aboel Mosaffier. Apabila Aboel Mosaffier dapet liat hal ini demikian adanja, maka heranlah ia, serta di pertjajanja soenggoe, bahoewa kera ini boekan sembarang kera, adapoen soewatoe machloek jang berilmoe. Setelah kapal itoe belajar lagi lebi djaoe, maxa kena kelanggar angin riboet, hingga terdampar di soewatoe poelo, dan pendoedoek orang itoe semoewa manoesia makan orang. Apabila orang-orang ini dapet liat kapal itoe terdampar, maka marika itoe lantas pegi tangkep sekalian isi kapal di bawa kahadepan radjanja. Barang sampe di hadepan radja, maka radja prentah separonja marika itoe misti di panggang laloe di makan daging orang-orang itoe. Soepaija soedagar jang laen tida dapet liat itoe anijaja, maka marika itoe di toetoep doeloe di dalem soewatoe roemah, aken menantiken waktoe boewat di bikin sesate. Kera itoe tiada diopenin. Hata maka betoel di tengah malem itoe kera dateng, laloe di boeka tali-tali pengikatnja Aboel Mosaffier. Ia ini tiada taoe siapa jang soedah lepasken dia dari pada tali-tali pengikatnja, maka ia pegi ampirin teman-temannja. Marika itoe kira Aboel Mosaffier dapet boeka sendiri tali-talinja, djadi ma rika itoe pada mengotjap soekoer katanja: „Sjoekoer alhamdoe lilah, A boe Mosaffier telah di toeloeng Allah, ia dapet boeka tali-talinja, maka sekarang bisa lah ia menoeloengi kita.” Maka Aboel Mosaffier menjaoet: »Teman-teman! boekan kami sendiri jang memboeka tali-tali kami, adapoen monjet itoe jang kami beli-in boewat Mohamed Alkeslan, ia itoelah jang menoeloengi kami. Dari sebab besar trima kasi, kami djandjiken aken membrihken jang ampoenja kera itoe satoe kantong oewang jang terisi seriboe dinar emas.” Maka soedager jang laen-laen poen berkata: „Djikaloe kita orang djoega di toeloengnja, nistjaija kita poen brihken padanja masing-masing sa-banjaknja itoe. Apabila soedagar-soedagar itoe sekalian soeda berdjandji sademikian, maka<noinclude>{{rh||1481|}}</noinclude> soxqtlp4u84kqmg64riww9sy5um3s3n Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/419 104 101055 291499 283312 2026-05-11T02:07:43Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291499 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{C|HIKAJAT}} {{C|'''PANGERAN PERSIE'''}} {{C|jang bersama BEDER dan POETERI GIAUHARE dari SAMANDA.}} {{C|(Malem ka 578 sampe ka 160)}}</noinclude>Sabermoela, maka di tjeriterahken, bahoewa beuoewa Persie itoe poenja radja, memang di seboet orang radja dari pada radja-radja, sebab benoewa itoe paling lebar dan besar di antero doenia. Laen dari pada negri-negri jang di rampasoja, binggu sekalian radja radja misti ta-loek padanja, maka benoewa Persie sendiri ada terbagi di dalem bebrapa bagian jang masing-masingnja telah di prentahkеn oleh radja sendiri. Sekalian radja-radja boekan sadja wadjib membajar oepeti jang besar pada maharadja adapoen inarika itoe misti dergar prentah mabaradja sampe marika itoe bole di sama-in dengan amir penggawe negri. Sa-orang, maba radja Persie, jang memarentahkeu negri itoe bebrapa taoen lamanja telah mevaloeken bebrapa radja dari laen-laen negri, maka ia soeda toewa dan selamanja ia memarentah dalem negridja tida ada koerang apa-apa, rajatnja senang, kasenta usa-an dan mamoer negri tiada terganggoe. Radja poen amat senang, ati, aken tetapi ada soewatoe hal dalem roemah tangganja, jang seringkali membikin dia tiada enak ati. Ja itoe oesiah oemoernja soedah toewa, maka dari sekalian isteripja di dalem harem, tiada ada satoe jang dapet melahirken sa-orang pangeran, aken djadi ganti radja. Isteri radja ada lebih seratoes, masing-masing ada tempat perdiamannja di dalem harem sebagimana patoet, dengan boedak-boedak perampoewan dan dajang-dajang, aken mendjaga-in toewanoja. Maka di peliarahnja isterinja sekalian itoe dengan srentapja, sebagimana pantes isteri radja, adapoen tiada satoe jang bisa bikin beroentoeng radja itoe, sebab tiada ada satoe jang ine<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1496|{{smaller|69}}}}</noinclude> 7v14fwy63wgd79e0u8qsawoyq689h11 291568 291499 2026-05-11T03:10:24Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291568 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{C|{{sp|HIKAJAT<br>'''PANGERAN PERSIE'''}}<br>jang bersama BEDER dan POETERI GIAUHARE dari SAMANDAL}} {{C|(Malem ka 578 sampe ka 160)}}</noinclude>Sabermoela, maka di tjeriterahken, bahoewa benoewa Persie itoe poenja radja, memang di seboet orang radja dari pada radja-radja, sebab benoewa itoe paling lebar dan besar di antero doenia. Laen dari pada negri-negri jang di rampasnja, hingga sekalian radja radja misti ta-loek padanja, maka benoewa Persie sendiri ada terbagi di dalem bebrapa bagian jang masing-masingnja telah di prentahkеn oleh radja sendiri. Sekalian radja-radja boekan sadja wadjib membajar oepeti jang besar pada maharadja adapoen marika itoe misti dergar prentah maharadja sampe marika itoe bole di sama-in dengan amir penggawe negri. Sa-orang, maha radja Persie, jang memarentahken negri itoe bebrapa taoen lamanja telah menaloeken bebrapa radja dari laen-laen negri, maka ia soeda toewa dan selamanja ia memarentah dalem negridja tida ada koerang apa-apa, rajatnja senang, kasentausa-an dan mamoer negri tiada terganggoe. Radja poen amat senang, ati, aken tetapi ada soewatoe hal dalem roemah tangganja, jang seringkali membikin dia tiada enak ati. Ia itoe oesiah oemoernja soedah toewa, maka dari sekalian isterinja di dalem harem, tiada ada satoe jang dapet melahirken sa-orang pangeran, aken djadi ganti radja. Isteri radja ada lebih seratoes, masing-masing ada tempat perdiamannja di dalem harem sebagimana patoet, dengan boedak-boedak perampoewan dan dajang-dajang, aken mendjaga-in toewannja. Maka di peliarahnja isterinja sekalian itoe dengan srentanja, sebagimana pantes isteri radja, adapoen tiada satoe jang bisa bikin beroentoeng radja itoe, sebab tiada ada satoe jang {{hws|me|melahirken}}<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1496|{{smaller|69}}}}</noinclude> oska7kwjl02j33jriydggnd6j9sl34w Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/387 104 101056 291503 283291 2026-05-11T02:11:13Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan tanda » 291503 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>kera itoe poen jang toeroet sama Aboel Mosaffier, lantas boekaken sekalian poenja tali-tali pengiket. Barang marika itoe semoewa soeda terlepas, maka sekaliannja poelang lagi ka kapal, baiknja orang-orang di poelo itoe belon rampas soewatoe apa dari itoe kapal. Bahna aer laoet soeda pasang, maka kapal itoe terlepas dari sangkoetannja, djadi dengan sigrah orang bongkar djangkar teroes berlajar dengan memboeka sekalian lajar, soepaja bole lekas djaoe dari poelo jang begitoe berbahaja. Koetika kapal itoe soeda djaoe dari itoe poelo, maka Aboel Mosaffier ingatin sekalian soedagar-soedagar apa djandjinja, maka masing-masing serahken padanja sa-orang satoe kantong oewang terisi seriboe dinar emas. Mosaffier sendiri poen tambaliken pada oewang jang di perolehnja dari soedagar-soedagar lagi satos kantong dengan seriboe dinar emas seperti djandjinja tadi. Djoembla nja itoe oewang ampir tida tepermanai banjakoja. Anginnja poen tiada berobah tinggal bagoes, maka tiada sebrapa lamanja kapal itoe sampe di Balsora. Hata maka di kota itoe lantas maloemlah, bahoewa Aboel Mosaffier poenja kapal soeda masoek. Hambanja poenja Iboe dengan sigrah dateng ketemoe-in hamba abis katanja: Alkeslan, bangoen, ajo bangoen Aboel Mosaffier soeda poelang di sini dengan kapalnja. Marilah toeroet aken membri selamat dateng padanja; lagi kita baik tanja apa barang jang dia belihken boewat kamoe. Hambanja mengoelét doeloe abis bambanja gosok-gosok hamba poenja mata, jang ampir hamba tida bisa boeka, bahna males hamba, kamoedian hambanja bilang: Lekaslah iboe toeloeng bangoenin hamba, lekas, kaloe tida hamba poeles lagi. Iboe taoe sendiri djaoehnja tempat ini dari pelaboewan, hambanja barangkali tida sanggoep berdjalan begitoe djaoeh." Iboe hamba lantas toeloeng kasi bangoen dan kasi bediri pada hamba. Adapoea hamba masih males, hambanja mengoelet doeloe doewa-tiga kali, baros hamba toeroet iboe berdjalan pegi ka pelaboewan. Hambanja berdjalan terlaloe amat soesah, tiada brenti bernanti-nanti aken boewang tjape, tetapi achir-achirnja hambanja sampe djoega. Apabila Aboel Mosaffier dapet liat hambanja bersama-sama iboe, maka lekas ia dateng ketemoe-in kita orang, sembaring membawa kera itoe jang di rante. Maka hambanja di hormatken seperti orang jang soeda melepasken 'ia bersama-sama teman-temannja, dari pada bahaja jang amat besar. Abis 'katanja. Ambil ini kera, ia itoelah barang aneh jang kami belibken boewat kamoe. Sekarang kami tiada ada tempo boewat tjerita semoewa, baiklah engkau poelang sadja doeloe menantiken kami poenja dateng, sebab lekas djoega kami nanti pegi ka roemahmoe:" Hambanja berdoewa itoe berdjalan poelang, maka hamba sanget heran sekali mendengar katanja Mosaffier, maka hamba berfikir dalem ati: Kaloe begitoe soenggoe beroentoenglah hamba, nistjaija besarlah 'goenanja barang jang di belihkennja boewat hamba.<noinclude>{{rh||1482|}}</noinclude> mvlhhkptluaoxl0w3brzsqm3yrabr5u 291830 291503 2026-05-11T07:25:17Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291830 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>kera itoe poen jang toeroet sama Aboel Mosaffier, lantas boekaken sekalian poenja tali-tali pengiket. Barang marika itoe semoewa soeda terlepas, maka sekaliannja poelang lagi ka kapal, baiknja orang-orang di poelo itoe belon rampas soewatoe apa dari itoe kapal. Bahna aer laoet soeda pasang, maka kapal itoe terlepas dari sangkoetannja, djadi dengan sigrah orang bongkar djangkar teroes berlajar dengan memboeka sekalian lajar, soepaja bole lekas djaoe dari poelo jang begitoe berbahaja. Koetika kapal itoe soeda djaoe dari itoe poelo, maka Aboel Mosaffier ingatin sekalian soedagar-soedagar apa djandjinja, maka masing-masing serahken padanja sa-orang satoe kantong oewang terisi seriboe dinar emas. Mosaffier sendiri poen tambahken pada oewang jang di perolehnja dari soedagar-soedagar lagi satoe kantong dengan seriboe dinar emas seperti djandjinja tadi. Djoemblanja itoe oewang ampir tida tepermanai banjaknja. Anginnja poen tiada berobah tinggal bagoes, maka tiada sebrapa lamanja kapal itoe sampe di Balsora. Hata maka di kota itoe lantas maloemlah, bahoewa Aboel Mosaffier poenja kapal soeda masoek. Hambanja poenja Iboe dengan sigrah dateng ketemoe-in hamba abis katanja: »Alkeslan, bangoen, ajo bangoen Aboel Mosaffier soeda poelang di sini dengan kapalnja. Marilah toeroet aken membri selamat dateng padanja; lagi kita baik tanja apa barang jang dia belihken boewat kamoe. Hambanja mengoelét doeloe abis hambanja gosok-gosok hamba poenja mata, jang ampir hamba tida bisa boeka, bahna males hamba, kamoedian hambanja bilang: »Lekaslah iboe toeloeng bangoenin hamba, lekas, kaloe tida hamba poeles lagi. Iboe taoe sendiri djaoehnja tempat ini dari pelaboewan, hambanja barangkali tida sanggoep berdjalan begitoe djaoeh.” Iboe hamba lantas toeloeng kasi bangoen dan kasi bediri pada hamba. Adapoen hamba masih males, hambanja mengoelet doeloe doewa-tiga kali, baroe hamba toeroet iboe berdjalan pegi ka pelaboewan. Hambanja berdjalan terlaloe amat soesah, tiada brenti bernanti-nanti aken boewang tjape, tetapi achir-achirnja hambanja sampe djoega. Apabila Aboel Mosaffier dapet liat hambanja bersama-sama iboe, maka lekas ia dateng ketemoe-in kita orang, sembaring membawa kera itoe jang di rante. Maka hambanja di hormatken seperti orang jang soeda melepasken 'ia bersama-sama teman-temannja, dari pada bahaja jang amat besar. Abis 'katanja. »Ambil ini kera, ia itoelah barang aneh jang kami belihken boewat kamoe. Sekarang kami tiada ada tempo boewat tjerita semoewa, baiklah engkau poelang sadja doeloe menantiken kami poenja dateng, sebab lekas djoega kami nanti pegi ka roemahmoe:” Hambanja berdoewa itoe berdjalan poelang, maka hamba sanget heran sekali mendengar katanja Mosaffier, maka hamba berfikir dalem ati: »Kaloe begitoe soenggoe beroentoenglah hamba, nistjaija besarlah 'goenanja barang jang di belihkennja boewat hamba.<noinclude>{{rh||1482|}}</noinclude> 5912ugdeqy08amj2seql526remobayx Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/393 104 101057 291515 283297 2026-05-11T02:21:15Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291515 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>bertaboer intan dan batoe permata, serta bertatahau emas dan perak, abis engkau pegi ka pasar tempat orang djoewal dedek. Sampe di sitoe, engkau lantas tanja di mama goedangnja Emir. Kapan orang soeda bawa padamoe di badepan Emir, maka lantas engkau meminang anakuja jang perampoewan: Djikaloe sandlenja ia bilang, bahoewa engkau koerang hartawan, aken bole meminang anakuja, atawa kaloe dia bilang, baboewa asalmoe koerang besar. maka lekas engkan serahken padanja satoe kantong, jang berisi oewang seriboe diuar emas. Kaloe dia minta lebian lagi, djanganlah engkau takoet biar sebrapa banjak poela di kabendskinja, engkau bilang baik sadja, tiada cesali koewatir, sebab kami nanti sediahken semoewa apa jang di mintaken oleh orang itoe. Hamba mendjadi amat girang mendengar kera itoe bitjara demikian, kerna itoe, hamba toeroet betoel sekali apa jang di adjarken oleh kera itoe. Pada ka-esokan harinja hamba lekas berpakejan baik-baik, pakejan jang paling endal-endah, abis bamba toenggang koeda bagal jang terbijas dengan emas dan intan, hingga roepanja bertjaheja seperti bintang, selaboja poen dari beloedroe tersoelam pake intan bidoeri dan djambroet. Demikianlah perboewatan hamba di itoe pagi, maka hamba teroes pegi ka tempat orang djoewal dedek dan tiada sebrapa lama lagi hamba dapeti goedanguja Emir. Setelah sampe di sitoe, hamba toeroen dari koeda bersalaman. Hamba poenja roepa dan boedak-boerak hamba, jang ada toeroet bersama-sama hamba membikin Emir mengenda-in bamba. Ia kasi tabih djoega pada hamba dengan hormat abis ia bertanja pada hamba, apa jang hamba koendjoengi dateng mengadep dia. Djawab hamba: Ja toewankoe, peroentoengan hamba dengan kasenangan hamba poeu ada di dalem tangan toe wankoe, bamba dapet daugar kabar terlaloe amat baik dari pada toewankoe poenja anak prampoewan, maka sekarang hamba dateng aken meminang toeankoe poenja anak itoe: "Katanja Emir: Toewankoe djangan goesar, hamba minta tanja doeloe pada toewan, apakah toewan poenja asal, lagi apakah toewan poenja pangkat, adapoen jang teristimiwa, ia itoe sebagimanakah barta kekaja-an toewan. Sebab hamba tida kenal sama toewan dan lagi tiada patoet kasi kawin anak padá sa-orang jang tiada ketaoewan asal, pangkat dan harta kekaja-annja." Hamba lantas keloewarin dari kantong satoe dompet soelaman jang terisi oewang seriboe dinar emas, abis hamba trimahken dompet itoe padanja sambil berkata: Inilah saja poenja asal dan saja poenja pangkat. Orang jang berharta tiada oesah di poedji, oewang itoelah jang bisa mengilangken segala alangan. Toewan kenal basa kata Nabi salallahoe alaihi wasalam, katanja: Tiada ada sobat jang terlebi baik dari pada oewang." Lagipoen orang-orang alim pada bilang begini dari orang-orang jang ada oewang, katanja.<noinclude>{{rh||1485}}</noinclude> 40gk3a8b645pdhvsroxuzvajuhp04sy 291968 291515 2026-05-11T10:40:43Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291968 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>bertaboer intan dan batoe permata, serta bertatahan emas dan perak, abis engkau pegi ka pasar tempat orang djoewal dedek. Sampe di sitoe, engkau lantas tanja di mama goedangnja Emir. Kapan orang soeda bawa padamoe di hadepan Emir, maka lantas engkau meminang anaknja jang perampoewan: Djikaloe sandenja ia bilang, bahoewa engkau koerang hartawan, aken bole meminang anaknja, atawa kaloe dia bilang, bahoewa asalmoe loerang besar. maka lekas engkan serahken padanja satoe kantong, jang berisi oewang seriboe dinar emas. Kaloe dia minta lebian lagi, djanganlah engkau takoet biar sebrapa banjak poela di kahendakinja, engkau bilang baik sadja, tiada oesah koewatir, sebab kami nanti sediahken semoewa apa jang di mintaken oleh orang itoe. Hamba mendjadi amat girang mendengar kera itoe bitjara demikian, kerna itoe, hamba toeroet betoel sekali apa jang di adjarken oleh kera itoe. Pada ka-esokan harinja hamba lekas berpakejan baik-baik, pakejan jang paling endah-endah, abis hamba toenggang koeda bagal jang terhijas dengan emas dan intan, hingga roepanja bertjahaja seperti bintang, selahnja poen dari beloedroe tersoelam pake intan bidoeri dan djambroet. Demikianlah perboewatan hamba di itoe pagi, maka hamba teroes pegi ka tempat orang djoewal dedek dan tiada sebrapa lama lagi hamba dapeti goedanguna Emir. Setelah sampe di sitoe, hamba toeroen dari koeda bersalaman. Hamba poenja roepa dan boedak-boedak hamba, jang ada toeroet bersama-sama hamba membikin Emir mengenda-in hamba. Ia kasi tabih djoega pada hamba dengan hormat abis ia bertanja pada hamba, apa jang hamba koendjoengi dateng mengadep dia. Djawab hamba: »Ja toewankoe, peroentoengan hamba dengan kasenangan hamba poen ada di dalem tangan toewankoe, hamba dapet dangar kabar terlaloe amat baik dari pada toewankoe poenja anak prampoewan, maka sekarang hamba dateng aken meminang toeankoe poenja anak itoe:” Katanja Emir: »Toewankoe djangan goesar, hamba minta tanja doeloe pada toewan, apakah toewan poenja asal, lagi apakah toewan poenja pangkat, adapoen jang teristimiwa, ia itoe sebagimanakah harta kekaja-an toewan. Sebab hamba tida kenal sama toewan dan lagi tiada patoet kasi kawin anak padá sa-orang jang tiada ketaoewan asal, pangkat dan harta kekaja-annja.” Hamba lantas keloewarin dari kantong satoe dompet soelaman jang terisi oewang seriboe dinar emas, abis hamba trimahken dompet itoe padanja sambil berkata: »Inilah saja poenja asal dan saja poenja pangkat. Orang jang berharta tiada oesah di poedji, oewang itoelah jang bisa mengilangken segala alangan. Toewan kenal basa kata Nabi salallahoe alaihi wasalam, katanja: »Tiada ada sobat jang terlebi baik dari pada oewang.” Lagipoen orang-orang alim pada bilang begini dari orang-orang jang ada oewang, katanja:<noinclude>{{rh||1485}}</noinclude> me6qtrur5k5oq6q2znztk5odvk2vxob Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/427 104 101058 291513 283319 2026-05-11T02:20:08Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan paragraf tidak rapi 291513 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>itoe, asal dajang dajang tiada meloepoetken djandji, nistjaja ia terlebi birahi dan terlebi senang lagi kaloe ia ketemoe lagi itoe perampoewan moeda. Pada pendjaga perbadabaran telah di titahken oleh sri baginda, aken menbawa segala harta kekaja-an kabadepannja, soepaja baginda dapet pilih sendiri barang jang paling tegoes dan jang paling besar harganja. Sebab ari baginda memang soeda perkenanken dalem atinje, baboen is bendak pake pakejan jang endah-endah dan warna roepa matjem, soepsja radja bole dapet liat sendiri apa pakejan jang paling pantes di pakenja dan apa matjem pakejan paling soeka di liat istesinja itoe, aken din pake, maka kahendaknja isterinja nanti di toeroetnja. Iboe kota benoewa Persie ada terdoedoek di atas sa-boewah poelo dan astananja bediri di pinggir pante. Biliknja jang paling-paling bagoes, ia itoe. mengadep laoetan, maka satoe dari pada bilik-bilik inilah telah di sediahken radja aken djadi tempat perdiamannja perampoewan baroe itoe. Dari bilik toe crang dapit liat lacetan jang tida beringgan, maka ombaknja memoekoel dengan pelaban kaki tembok bilik itoe. Liwat tiga hari, maka perampoewan itoe telah soedah di rijasin dengan pakejan jang endah-endah. Sendirian ia berdoe doek di biliki ja di atas bangkoe sofa, jang dari pada bloedroe merah djamboe. Ia doedoek di pinggir djendela me mar darg ka lacetan. Radja telah di kasi tace, baboewa perampoewan itoe sceda abis di ijasin dan radja bole masoek di biliknja. Sri baginda poenja ali terbanting-banting, bahna sanget nafacenja, aken memandang roeponja perampet wan jang begitce elok dan tjantik selagi ia belon berbias apa poela sekarang Faroe dehnja berlimau mandi kastoeri dan berhias. Sri baginda masoek, maka perampoe wan moeda itoe jang memandang kaloewar dapet dengar aoewars tindak orang berdja'an boekan seperti dajang-dajangnja djadi ia berpaling kablakang, sken meliat siapa jang maɛoek itoe. Iauja kebalin ari baginda jang masoek, aken tetapi roepanja tiada kaget sekali-kali, ia mengoedjock girang atawa laen, iapcen tiada bediri mengoendjoek hormat pada hal berbalik komball doedoek reperti tadi memandang kaloewar dan di boewatanja kaja tiada di perdoeli-in acewatoe apa dari pada jang kedjadian itoe. Sri baginda radja mendjedi terlaloe amat heran, koetika di liatnja sa-orang begitoe bagoes, maka tiada sekali-kali taoe adat. Maka radja fikir barangkali sademikian adatnja itoe perampoewan, bahna ia tiada peladjari adat lembaga orang besar-besar, dari itoe iauja begitos koerang beradap. Oleh kerna itoe poen kendati perampoewan itoe tiada begitoe aloes beradab maka ai baginda mergampiri dia djoega ka dekat djendela. Perampoewan meeda itce tinggal berdiam, tiada bitjara barang sepatah, sekalipoen di ketabotin ja rri baginda memandang dia dengan sanget birahinja. Maharadja Persie memandang dianja tiada bisa poewas, lama kelama<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1500|{{smaller|70}}}}</noinclude> 9s1n2sxpkxfx5whnydpvjtqqv4gi6he 291690 291513 2026-05-11T05:34:47Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291690 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>itoe, asal dajang dajang tiada meloepoetken djandji, nistjaja ia terlebi birahi dan terlebi senang lagi kaloe ia ketemoe lagi itoe perampoewan moeda. Pada pendjaga perbadabaran telah di titahken oleh sri baginda, aken menbawa segala harta kekaja-an kahadepannja, soepaja baginda dapet pilih sendiri barang jang paling bagoes dan jang paling besar harganja. Sebab ari baginda memang soeda perkenanken dalem atinja, bahoea ia hendak pake pakejan jang endah-endah dan warna roepa matjem, soepaja radja bole dapet liat sendiri apa pakejan jang paling pantes di pakenja dan apa matjem pakejan paling soeka di liat isterinja itoe, aken dia pake, maka kahendaknja isterinja nanti di toeroetnja. Iboe kota benoewa Persie ada terdoedoek di atas sa-boewah poelo dan astananja bediri di pinggir pante. Biliknja jang paling-paling bagoes, ia itoe. mengadep laoetan, maka satoe dari pada bilik-bilik inilah telah di sediahken radja aken djadi tempat perdiamannja perampoewan baroe itoe. Dari bilik toe orang dapit liat laoetan jang tida beringgan, maka ombaknja memoekoel dengan pelahan kaki tembok bilik itoe. Liwat tiga hari, maka perampoewan itoe telah soedah di rijasin dengan pakejan jang endah-endah. Sendirian ia berdoedoek di bilikija di atas bangkoe sofa, jang dari pada bloedroe merah djamboe. Ia doedoek di pinggir djendela memardarg ka laoetan. Radja telah di kasi taoe, bahoewa perampoewan itoe soeda abis di rijasin dan radja bole masoek di biliknja. Sri baginda poenja ati terbanting-banting, bahna sanget nafsoenja, aken memandang roeponja perampowan jang begitoe elok dan tjantik selagi ia belon berhias apa poela sekarang sasoedahnja berlimau mandi kastoeri dan berhias. Sr baginda masoek, maka perampoewan moeda itoe jang memandang kaloewar dapet dengar soewara tindak orang berdja'an boekan seperti dajang-dajangnja djadi ia berpaling kablakang, aken meliat siapa jang masoek itoe. Ianja kenalin sri baginda jang masoek, aken tetapi roepanja tiada kaget sekali-kali, ia mengoedjoek girang atawa laen, iapoen tiada bediri mengoendjoek hormat pada hal berbalik kombali doedoek seperti tadi memandang kaloewar dan di boewatanja kaja tiada di perdoeli-in soewatoe apa dari pada jang kedjadian itoe. Sri baginda radja mendjedi terlaloe amat heran, koetika di liatnja sa-orang begitoe bagoes, maka tiada sekali-kali taoe adat. Maka radja fikir barangkali sademikian adatnja itoe perampoewan, bahna ia tiada peladjari adat lembaga orang besar-besar, dari itoe ianja begitoes koerang beradap. Oleh kerna itoe poen kendati perampoewan itoe tiada begitoe aloes beradab maka si baginda mengampiri dia djoega ka dekat djendela. Perampoewan moeda itoe tinggal berdiam, tiada bitjara barang sepatah, sekalipoen di ketabotinja sri baginda memandang dia dengan sanget birahinja. Maharadja Persie memandang dianja tiada bisa poewas, lama {{hws|kelama|kelamaan}}<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1500|{{smaller|70}}}}</noinclude> m2k9o6ndtpkhq6ngsjszimmbovqc1k3 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/449 104 101061 291399 283355 2026-05-10T23:35:42Z Moel81 25980 291399 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" />{{c|1001 Malam}}</noinclude>boekit berboesa-boesa. Sri baginda radja tiada berdjaoewan dari djendela, djadi sekalian itoe dapet di liatnja dengan njata. Tida sebrapa lama lagi, maka aer laoet itoe seperti terbelah (terboeka) dan sa-orang laki-laki moeda kaloewar dari belahan aer itoe, ianja tjakep betoel dan djenggotnja idjo seperti aer laoet. Abis kaloewar lagi satoe perampoewan jang soedah toewa, aer moekanja dan sikepnja seperti orang besar. Bersama-sama ini perampoewan toewa ada lebi ampat perampoewan anak moeda kaloewar dari laoet masing-masing terlaloe amat eloknja ampir sama seperti Gulnare tjakepnja. Gulnare lantes mengampiri satoe djendela, dari sini dia dapet liat iboe, soedaranja dan sekalian misanan perampoewan ampat orang, maka sekalian marika itoe poen lantas kenalin sama Gulnare. Orang-orang itoe dateng seperti berdjalan di atas aer sampe ampir di darat. Setelah soedah sampe di darat, maka satoe-satoenja masoek dengan melajang ka dalem djendela. Gulnare moendoer dari tempat ia bediri, soepaija marika itoe bole gampang masoek. Barang sampe di dalem kamar, maka marika itoe bersama-sama Gulnare saling berpelok dan bertjioeman. Sasoedahnja Gulnare samboet marika itoe dengan segala hormat, maka di soeroeh marika itoe doedoek di bangkoe sofa, abis iboenja bitjara padanja demikian katanja: »Anak, kami ini sanget girang sekali bisa bertemoe lagi sama kamoe, sasoedahnja betjerei sabegitoe lamanja, maka engkau poenja soedara dan misan-misanan sekalipoen tentoe djoega girang bertemoewan kombali sama engkau . Koetika engkau gaib dari tempat perdiaman kita, maka sanget kita semoewa bersoesahan ati, sebab engkau pegi diam-diam tiada ketaoewan kamana peginja, sampe bebrapa lamanja kita orang tangis-in padamoe. Kita semoewa tiada taoe apa sebabnja, jang membikin engkau sekoenjoeng-koenjoeng lari diam-diam meninggalken kita, tjoema bole djadi engkau lari itoe dari sebab soedaramoe poenja bitjara jang dia tjeritahken pada kami . Di itoe waktoe bitjaranja soedaramoe itoe ada baik sekali boewat kamoe, sebab engkau pikirken djoega sebagimana kita poenja prika-ada-an di itoe waktoe. Menoeroet betoel tiada haroes engkau mendjadi goesar, sebab tiada laen, melaenken peroentoenganmoe djoega jang di kahendakinja. Aken tetapi soedah, apa jang soedah, biarken soedah, djangan kita fikirin lagi aken menimboelken sakit atimoe, baik kita loepa-in itoe semoewa, maka sekarang tjeritahkenlah pada kami apakah telah kedjadian padamoe, anak, sakejan lamanja jang engkau terpisah dari kami, adapoen sabelonnja engkau tjeritahkеn itoe, baiklah engkau kataken apakah engkau beroentoeng apa tida.” Gulnare teroes bersoedjoed memelok kaki iboenja, abis tangan iboenja<noinclude>{{rh||1511}}</noinclude> fz2dokhys3goueu00f8fev1ndwegj1e 291448 291399 2026-05-11T01:10:29Z Thersetya2021 15831 291448 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" />{{c|1001 Malam}}</noinclude>boekit berboesa-boesa. Sri baginda radja tiada berdjaoewan dari djendela, djadi sekalian itoe dapet di liatnja dengan njata. Tida sebrapa lama lagi, maka aer laoet itoe seperti terbelah (terboeka) dan sa-orang laki-laki moeda kaloewar dari belahan aer itoe, ianja tjakep betoel dan djenggotnja idjo seperti aer laoet. Abis kaloewar lagi satoe perampoewan jang soedah toewa, aer moekanja dan sikepnja seperti orang besar. Bersama-sama ini perampoewan toewa ada lebi ampat perampoewan anak moeda kaloewar dari laoet masing-masing terlaloe amat eloknja ampir sama seperti Gulnare tjakepnja. Gulnare lantes mengampiri satoe djendela, dari sini dia dapet liat iboe, soedaranja dan sekalian misanan perampoewan ampat orang, maka sekalian marika itoe poen lantas kenalin sama Gulnare. Orang-orang itoe dateng seperti berdjalan di atas aer sampe ampir di darat. Setelah soedah sampe di darat, maka satoe-satoenja masoek dengan melajang ka dalem djendela. Gulnare moendoer dari tempat ia bediri, soepaija marika itoe bole gampang masoek. Barang sampe di dalem kamar, maka marika itoe bersama-sama Gulnare saling berpelok dan bertjioeman. Sasoedahnja Gulnare samboet marika itoe dengan segala hormat, maka di soeroeh marika itoe doedoek di bangkoe sofa, abis iboenja bitjara padanja demikian katanja: »Anak, kami ini sanget girang sekali bisa bertemoe lagi sama kamoe, sasoedahnja betjerei sabegitoe lamanja, maka engkau poenja soedara dan misan-misanan sekalipoen tentoe djoega girang bertemoewan kombali sama engkau. Koetika engkau gaib dari tempat perdiaman kita, maka sanget kita semoewa bersoesahan ati, sebab engkau pegi diam-diam tiada ketaoewan kamana peginja, sampe bebrapa lamanja kita orang tangis-in padamoe. Kita semoewa tiada taoe apa sebabnja, jang membikin engkau sekoenjoeng-koenjoeng lari diam-diam meninggalken kita, tjoema bole djadi engkau lari itoe dari sebab soedaramoe poenja bitjara jang dia tjeritahken pada kami. Di itoe waktoe bitjaranja soedaramoe itoe ada baik sekali boewat kamoe, sebab engkau pikirken djoega sebagimana kita poenja prika-ada-an di itoe waktoe. Menoeroet betoel tiada haroes engkau mendjadi goesar, sebab tiada laen, melaenken peroentoenganmoe djoega jang di kahendakinja. Aken tetapi soedah, apa jang soedah, biarken soedah, djangan kita fikirin lagi aken menimboelken sakit atimoe, baik kita loepa-in itoe semoewa, maka sekarang tjeritahkenlah pada kami apakah telah kedjadian padamoe, anak, sakejan lamanja jang engkau terpisah dari kami, adapoen sabelonnja engkau tjeritahkеn itoe, baiklah engkau kataken apakah engkau beroentoeng apa tida.” Gulnare teroes bersoedjoed memelok kaki iboenja, abis tangan iboenja<noinclude>{{rh||1511}}</noinclude> odyuqdad00pep4uvcd9bsgtaig4x1yn Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/451 104 101062 291397 283356 2026-05-10T23:30:38Z Moel81 25980 291397 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>di tjioempja, soedah begitoe ia berdiri laloe berkata: »Iboe jang tertjinta, kasalahan hamba terlaloe amat besarnja, soenggoe hamba mengakoe sendiri, maka hamba ini di brihken ampoen oleh iboe, tjoema dari sebab iboe ter laloe berkasian pada hamba. Apa jang hamba aken tjeritahken pada iboe nanti menjataken pada iboe, bahoewa dalem ka-idoepan manoesia kaseringan ada hal jang tiada dapet di lawannja. Hamba inilah soewatoe tjonto jang sademikian. Sebab djoestoe barang jang sabole-bole hendak melawan, ia itoelah jang di takdir Allah pada hamba aken misti trima.” Maka Gulnare tjeritahkеn segala hal ichwalnja dari bermoela sampe pada pengabisannja. Koetika ia sampe pada waktoe ia telah di djoewal oleh soedagar boedak itoe kapada Sri baginda Maharadja Persie, maka lantas soedaranja Gulnare jang bernama Saleh berlompat bediri sambil berkata dengan nafsoe: »Adinda salah besar soenggoe aken memikoel maloe begitoe besar, maka salahmoe sendiri, sebab engkau sendiri ada sampe akal aken melepasken dirimoe dari pada pri moe itoe, maka soenggoe kami keras sekali heran, jang engkau masih begitoe sabar boewat tinggal mendjadi boedak sakejan lamanja. Ach marilah bediri toeroet lagi sama kita orang poelang ka kita poenja negri, sebab negri itoe kami telah dapet rampas kombali dari pada tangan moesoeh.” Sri baginda radja Persie masih ada bediri di dalem kamar sebelah, maka ia dapet dengar satoe-satoe perkata-an ini dengan njata sekali, hingga ia keras berkoewatir. Katanja dalem dirinja: »Ach kami ini binasalah, nistjaija kami mati , djikaloe Gulnare toeroet sebagimana bitjara soedaranja. Begitoe keras kami tjintaken dia, soedah tentoe kami mati, djikaloe kami di tinggal olehnja.” Adapoen Gulnare tiada lama kasi soewaminja tinggal berkoewatir. Gulnare berkata: »Kakanda, soedara Saleh, apa jang engkau kataken ini mengoendjoeken dengan terang pada kami, sebagimana keras tjinta saijangmoe pada kami adindamoe. Doeloe engkau masih boleh ingat sendiri, kami ini sanget marah dari sebab engkau adjarken kami aken bersoewami sa-orang radja dari darat, adapoen sekarang ini kami ampir mendjadi marah, dar sebab kakanda Saleh adjari kami aken bertjere dari pada kami poenja perhoeboengan sama sa-orang jang berkoewasa dari pada sekalian radja-radja. Kami ini tiada bitjara dari pada bales trima kasinja sa-orang boedak pada toewannja jang piarah dia dengan baik, sebab brapa soesahnja aken bajar poelang oewang sepoeloe riboe dinar emas itoe, jang di bikinnja membelih kami. Itoe boekan, adapoen kami bitjara-in dari perhoeboengan sa-orang isteri dengan soewaminja, lagi poela dari pada isteri jang terlaloe amat beroentoeng. Kami poenja soewami sa-orang radja boediman dan dermawan serta alim, maka ia terlaloe tjinta pada kami, dari pada katjinta-annja itoe soeda sampe<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1512|{{smaller|73}}}}</noinclude> 8z8l9300axo1mipteozppvui09apd23 291450 291397 2026-05-11T01:13:33Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ ada lebih dari 3 kesalahan ejaan 291450 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>di tjioempja, soedah begitoe ia berdiri laloe berkata: »Iboe jang tertjinta, kasalahan hamba terlaloe amat besarnja, soenggoe hamba mengakoe sendiri, maka hamba ini di brihken ampoen oleh iboe, tjoema dari sebab iboe ter laloe berkasian pada hamba. Apa jang hamba aken tjeritahken pada iboe nanti menjataken pada iboe, bahoewa dalem ka-idoepan manoesia kaseringan ada hal jang tiada dapet di lawannja. Hamba inilah soewatoe tjonto jang sademikian. Sebab djoestoe barang jang sabole-bole hendak melawan, ia itoelah jang di takdir Allah pada hamba aken misti trima.” Maka Gulnare tjeritahkеn segala hal ichwalnja dari bermoela sampe pada pengabisannja. Koetika ia sampe pada waktoe ia telah di djoewal oleh soedagar boedak itoe kapada Sri baginda Maharadja Persie, maka lantas soedaranja Gulnare jang bernama Saleh berlompat bediri sambil berkata dengan nafsoe: »Adinda salah besar soenggoe aken memikoel maloe begitoe besar, maka salahmoe sendiri, sebab engkau sendiri ada sampe akal aken melepasken dirimoe dari pada pri moe itoe, maka soenggoe kami keras sekali heran, jang engkau masih begitoe sabar boewat tinggal mendjadi boedak sakejan lamanja. Ach marilah bediri toeroet lagi sama kita orang poelang ka kita poenja negri, sebab negri itoe kami telah dapet rampas kombali dari pada tangan moesoeh.” Sri baginda radja Persie masih ada bediri di dalem kamar sebelah, maka ia dapet dengar satoe-satoe perkata-an ini dengan njata sekali, hingga ia keras berkoewatir. Katanja dalem dirinja: »Ach kami ini binasalah, nistjaija kami mati , djikaloe Gulnare toeroet sebagimana bitjara soedaranja. Begitoe keras kami tjintaken dia, soedah tentoe kami mati, djikaloe kami di tinggal olehnja.” Adapoen Gulnare tiada lama kasi soewaminja tinggal berkoewatir. Gulnare berkata: »Kakanda, soedara Saleh, apa jang engkau kataken ini mengoendjoeken dengan terang pada kami, sebagimana keras tjinta saijangmoe pada kami adindamoe. Doeloe engkau masih boleh ingat sendiri, kami ini sanget marah dari sebab engkau adjarken kami aken bersoewami sa-orang radja dari darat, adapoen sekarang ini kami ampir mendjadi marah, dar sebab kakanda Saleh adjari kami aken bertjere dari pada kami poenja perhoeboengan sama sa-orang jang berkoewasa dari pada sekalian radja-radja. Kami ini tiada bitjara dari pada bales trima kasinja sa-orang boedak pada toewannja jang piarah dia dengan baik, sebab brapa soesahnja aken bajar poelang oewang sepoeloe riboe dinar emas itoe, jang di bikinnja membelih kami. Itoe boekan, adapoen kami bitjara-in dari perhoeboengan sa-orang isteri dengan soewaminja, lagi poela dari pada isteri jang terlaloe amat beroentoeng. Kami poenja soewami sa-orang radja boediman dan dermawan serta alim, maka ia terlaloe tjinta pada kami, dari pada katjinta-annja itoe soeda sampe<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1512|{{smaller|73}}}}</noinclude> fftmh4vjy3jr1d65vu8yztkw2mhomkq 291470 291450 2026-05-11T01:34:56Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 291470 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>di tjioemnja, soedah begitoe ia berdiri laloe berkata: »Iboe jang tertjinta, kasalahan hamba terlaloe amat besarnja, soenggoe hamba mengakoe sendiri, maka hamba ini di brihken ampoen oleh iboe, tjoema dari sebab iboe terlaloe berkasian pada hamba. Apa jang hamba aken tjeritahken pada iboe nanti menjataken pada iboe, bahoewa dalem ka-idoepan manoesia kaseringan ada hal jang tiada dapet di lawannja. Hamba inilah soewatoe tjonto jang sademikian. Sebab djoestoe barang jang sabole-bole hendak melawan, ia itoelah jang di takdir Allah pada hamba aken misti trima.” Maka Gulnare tjeritahkеn segala hal ichwalnja dari bermoela sampe pada pengabisannja. Koetika ia sampe pada waktoe ia telah di djoewal oleh soedagar boedak itoe kapada Sri baginda Maharadja Persie, maka lantas soedaranja Gulnare jang bernama Saleh berlompat bediri sambil berkata dengan nafsoe: »Adinda salah besar soenggoe aken memikoel maloe begitoe besar, maka salahmoe sendiri, sebab engkau sendiri ada sampe akal aken melepasken dirimoe dari pada pri moe itoe, maka soenggoe kami keras sekali heran, jang engkau masih begitoe sabar boewat tinggal mendjadi boedak sakejan lamanja. Ach marilah bediri toeroet lagi sama kita orang poelang ka kita poenja negri, sebab negri itoe kami telah dapet rampas kombali dari pada tangan moesoeh.” Sri baginda radja Persie masih ada bediri di dalem kamar sebelah, maka ia dapet dengar satoe-satoe perkata-an ini dengan njata sekali, hingga ia keras berkoewatir. Katanja dalem dirinja: »Ach kami ini binasalah, nistjaija kami mati, djikaloe Gulnare toeroet sebagimana bitjara soedaranja. Begitoe keras kami tjintaken dia, soedah tentoe kami mati, djikaloe kami di tinggal olehnja.” Adapoen Gulnare tiada lama kasi soewaminja tinggal berkoewatir, Gulnare berkata: »Kakanda, soedara Saleh, apa jang engkau kataken ini mengoendjoeken dengan terang pada kami, sebagimana keras tjinta saijangmoe pada kami adindamoe. Doeloe engkau masih boleh ingat sendiri, kami ini sanget marah dari sebab engkau adjarken kami aken bersoewami sa-orang radja dari darat, adapoen sekarang ini kami ampir mendjadi marah, dari sebab kakanda Saleh adjari kami aken bertjere dari pada kami poenja perhoeboengan sama sa-orang jang berkoewasa dari pada sekalian radja-radja. Kami ini tiada bitjara dari pada bales trima kasinja sa-orang boedak pada toewannja jang piarah dia dengan baik, sebab brapa soesahnja aken bajar poelang oewang sepoeloe riboe dinar emas itoe, jang di bikinnja membelih kami. Itoe boekan, adapoen kami bitjara-in dari perhoeboengan sa-orang isteri dengan soewaminja, lagi poela dari pada isteri jang terlaloe amat beroentoeng. Kami poenja soewami sa-orang radja boediman dan dermawan serta alim, maka ia terlaloe tjinta pada kami, dari pada katjinta-annja itoe soeda sampe<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1512|{{smaller|73}}}}</noinclude> 8cron49ud4fwc24f0wof3mxa2754pj2 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/485 104 101066 291371 283464 2026-05-10T18:12:29Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan tanda », tanda petik, paragraf tidak rapi 291371 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>nanti menghormatken kamoe, terlebi lagi dari radja-radja laen jang di tampik sekalian olehnja, koetika marika itoe pada meminang anakoja, poeteri Giauhare? Engkau poen hendak djoega di brihken maloe seperti marika itoe?" Djawabnja radja Saleh: Ja iboe, boekankah sanda soeda bilang pada iboe, baboewa tjoetjoenda Beder dapet dengar sanda poenja tjerita dari posteri Giaubare pada iboenja, sedang sanda kira iauja lagi poeles. Kesalahan itoe soedah kedjadian, apa bole boewat, lebi baik sekarang kita fikirin, bahoewa ianja nistjaija mati, djikalos ianja tiada dapet isteri posteri Giaubare. Saudati ada bole lepasken soewatoe akal apa djoega, sebab biar bagimana sanda jang poenja salah sampe djadi begini, djadi sandalah jang nanti bikin sabole bole aken toeloeng kaboelken pijatnja radja Beder. Sanda sendiri nanti pegi mengadep radja Samandal dengan membawa binkisan jang endah endah dan besar harganja, maka sanda sendiri nanti meminang poeteri Giauhare boewat anakda Beder. Sanda rasa, bahoewa radja Samandal tiada nanti tolak permoehoenan sanda pada hal ianja nistjaija girang beroleh mantoe sa-orang radja jang begitos berkoewasa besar seperti anakda Beder. Djikalos radja Samandal maoe bilang dirinja radja besar, maka sanda bole djawab, bahoewa bakal mantosnja poen radja besar djoega. Kapan in maoe bilang, baboewa anaknja sa-orang perampoewan jang elok tiada ada kadoswanja di doonia sanda bole djawab, bahoewa anakda Beder terlebi elok lagi dari posteri Giauhare. Kapan radja Samandal hendak kasi taoe, bahoewa keradja-annja dan laskarnja terlebi lebar dan terlebi banjak, maka sanda bole bilang, bahoewa radja Persie poenja karadja-au terlebi lebar dan laskarnja tiada tepermenai banjanja." Djawabnja ratoe iboe: ,Anakkoe Saleh, kami ini kepingin soenggoe, jang hal ini tiada kedjadian asbegitos roepa, sampe engkau kepakan pegi sendiri meminang poeteri Giauhare. Engkau kira jang semoewa nauti baik djalannja. Soedab, apa bole boewa', nasi sosda djadi boeboer, bahna bal ini terlaloe berboeboeng dengan kasenangan atinja tjoetjoe Beder, maka kami kasi permissie padamoe, aken bikin seperti di kataken tadi olehmoe. Adapoen kami pesan padamoe anak, ati-atilah engkau berdjaga diri, sebab engkau taoe bagimana adatnja radja Samandal. Kaloe bitjara padanja biar dengan hormat betoel dan dengan manis boedi bahasa, soepaija ianja djangan bole mendjadi goesar." Ratoe iboe sendiri jang sediahken bingkisan itoe, maka jang di pilih intan, mirah, djambrost, firoes dan laen-laen batoe permata, jang mabal mahal dan bagoes, sekalian ini di taronja di dalem peti ketjil dari emas blaka tertaboer intan dan moetiara. Pada kaesokan harinja radja Saleh ambil selamat tinggal dari iboenja lale pegi ka negrinja radja Samandal teriring oleh bebrapa pengiring. Tida sebrapa lama, maka ianja sampe di iboe kota dan astana radja.<noinclude>{{rh||1529}}</noinclude> j0u7tf5iykrlcl5xb2affzicxwf0qxf 291380 291371 2026-05-10T22:15:09Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291380 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>nanti menghormatken kamoe, terlebi lagi dari radja-radja laen jang di tampik sekalian olehnja, koetika marika itoe pada meminang anaknja, poeteri Giauhare? Engkau poen hendak djoega di brihken maloe seperti marika itoe?” Djawabnja radja Saleh: »Ja iboe, boekankah sanda soeda bilang pada iboe, bahoewa tjoetjoenda Beder dapet dengar sanda poenja tjerita dari poeteri Giauhare pada iboenja, sedang sanda kira ianja lagi poeles. Kesalahan itoe soedah kedjadian, apa bole boewat, lebi baik sekarang kita fikirin, bahoewa ianja nistjaija mati, djikaloe ianja tiada dapet isteri poeteri Giauhare. Sanda tiada bole lepasken soewatoe akal apa djoega, sebab biar bagimana sanda jang poenja salah sampe djadi begini, djadi sandalah jang nanti bikin sabole bole aken toeloeng kaboelken nijatnja radja Beder. Sanda sendiri nanti pegi mengadep radja Samandal dengan membawa binkisan jang endah endah dan besar harganja, maka sanda sendiri nanti meminang poeteri Giauhare boewat anakda Beder. Sanda rasa, bahoewa radja Samandal tiada nanti tolak permoehoenan sanda pada hal ianja nistjaija girang beroleh mantoe sa-orang radja jang begitoe berkoewasa besar seperti anakda Beder. Djikaloe radja Samandal maoe bilang dirinja radja besar, maka sanda bole djawab, bahoewa bakal mantoenja poen radja besar djoega. Kapan in maoe bilang, bahoewa anaknja sa-orang perampoewan jang elok tiada ada kadoewanja di doonia sanda bole djawab, bahoewa anakda Beder terlebi elok lagi dari poeteri Giauhare. Kapan radja Samandal hendak kasi taoe, bahoewa keradja-annja dan laskarnja terlebi lebar dan terlebi banjak, maka sanda bole bilang, bahoewa radja Persie poenja karadja-au terlebi lebar dan laskarnja tiada tepermenai banjanja.” Djawabnja ratoe iboe: »Anakkoe Saleh, kami ini kepingin soenggoe, jang hal ini tiada kedjadian sabegitoe roepa, sampe engkau kepaksa pegi sendiri meminang poeteri Giauhare. Engkau kira jang semoewa nanti baik djalannja. Soedah, apa bole boewa', nasi soeda djadi boeboer, bahna bal ini terlaloe berhoeboeng dengan kasenangan atinja tjoetjoe Beder, maka kami kasi permissie padamoe, aken bikin seperti di kataken tadi olehmoe. Adapoen kami pesan padamoe anak, ati-atilah engkau berdjaga diri, sebab engkau taoe bagimana adatnja radja Samandal. Kaloe bitjara padanja biar dengan hormat betoel dan dengan manis boedi bahasa, soepaija ianja djangan bole mendjadi goesar.” Ratoe iboe sendiri jang sediahken bingkisan itoe, maka jang di pilih intan, mirah, djambroet, firoes dan laen-laen batoe permata, jang mahal mahal dan bagoes, sekalian ini di taronja di dalem peti ketjil dari emas blaka tertaboer intan dan moetiara. Pada kaesokan harinja radja Saleh ambil selamat tinggal dari iboenja laloe pegi ka negrinja radja Samandal teriring oleh bebrapa pengiring. Tida sebrapa lama, maka ianja sampe di iboe kota dan astana radja.<noinclude>{{rh||1529}}</noinclude> 4zyjmjfmv309e74vkr05xm6deesqqlb Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/453 104 101067 291451 283357 2026-05-11T01:15:12Z Thersetya2021 15831 291451 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /><center>1001</center></noinclude>{{hwe|banjak|kanbanjak}} tjonto kami dapet liat. Pertama-tama kali dia mengoendjoekin tjintanja di itoe waktoe jang kami baroe dateng, maka lantas di soeroenja pegi sekalian perampoewan isi haremnja ada brapa ratoes; radja telah berboewat sademikian boewat djangan menjintaken orang laen, melaenken kami sa-orang sendiri. Kami ini isterinja, baroe tadi kami di angkatnja djadi permeisoeri sri baginda maharadja Persie, serta kami doedoek djoega bersama-sama bermasjawarat. Laen dari pada itoe, maka ada lagi, kami ini telah berhamil, maka djika dengan pertoeloengan Allah jang maha koewasa, kami dapet lahirken anak poetera laki-laki, maka terlebi poela kami ini terikat pada sri baginda. Oleh kerna itoe, soedara jang tertjinta, sekalian lantaran ini boekannja membikin kami haroes toeroet sebagimana bitjaramoe, halnja wadjib kami tinggal bersetija pada sri baginda, serta haroes kami tjintaken dia seperti kami di tjintaken olehnja. Kami harep soenggoe-soenggoe, biar apalah kiranja iboe dan soedara Saleh bersama-sama misan-misanan kami djangan mendjadi goesar, jang kami telah berboewat seperti bitjara kami. Lagi kami minta ma-af pada iboe dan kakanda, bahoewa kami ambil kabranian ati aken memanggil iboe kemari, soepaija kami dapet tjeritahken kami poenja kasenangan ati padanja, dan soepaija kami bisa ketemoe lagi sama iboe dan kakanda Saleh bersama-sama misan-misanan kami. Maka berkata Saleb: »Adinda Gulnare, apa jang kami bitjara tadi aken boedjoek poela pada adinda, ia itoe bageimoe soewatoe tanda jang amat besar, bahoewa kita sekalian sanget menjintahken adinda Gulnare, apabila kami dengar melaratnja adinda, maka dengan sigrah kami hendak melepasken adinda dari pada soesah itoe, soepaija adinda bole mendjadi beroentoeng lagi. Maka sekarang ini, sasoedahnja abis adinda tjeritahken hal ichwalnja dengan prika-ada-annja dan ati boedinja sri baginda maharadja Persie, maka kami misti ridlaken apa jang telah di perkenanken oleh adinda, sebab nijatnja adinda itoe haroes di poedjiken. Djangan poela kami, maskipoen iboe anda tentoe girang djoega bermantoe radja besar, jang boediman dan bidjaksana, alim dan dermawan jang mengasiani fakir dan miskin. Iboenja permeisoeri poen bilang baik seperti katanja Saleh, maka si iboe itoe laloe berkata: »Gulnare, kami terlaloe sanget girang mendengar dari moeloetmoe sendiri, bahoewa engkau ini beroentoeng dan senang. Kami sendiri nistjaija bakalan tjela perboewatanmoe, djika engkau hendak meninggalken sa-orang radja jang begitoe keras tjintanja padamoe, dan jang soeda berboewat begitoo banjak baik padamoe, haroes engkau membales segala kabaikan itoe dengan berlipat ganda.” Tadinja sri baginda maharadja sanget berkoewatir aken ilang isterinja, adapoen abis di dengarnja bitjaranja sekalian marika itoe, maka baginda radja<noinclude>{{rh||1513|}}</noinclude> 6wly4n6notewosw0od6jun2m1ma34ua Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/455 104 101068 291456 283361 2026-05-11T01:17:23Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ ada lebih dari 3 kesalahan ejaan dan tanda baca 291456 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>mendjadi terlebi girang lagi, sebab Gulnare tiada bakalan tinggalin soewaminja. Dari itoe poen baginda rasa djoega, bahoewa ia di tjinta oleh Gulnare, maka radja terlaloe lebi keras lagi tjintaken isterinja sampe radja bernijat biar bagimanapoen ia sabole-bole maoe oendjoek bales trima kasinja kapada Gulnare. Sedang sri baginda maharadja Persie lagi bitjara begitoe di dalem diri, maka Gulnare tepok tangannja, lantas bebrapa boedak perampoewan pada dateng aken menoenggoe prentah toewannja . Gulnare soeroeh bawa kaloewar minoeman dan makanan aken membikin segar badan. Koetika barang-barang itoe soedah di sediahkеn di medja, maka Gulnare adjakin iboenja dan soedaranja doedoek di medja aken tjoba makan sediahan di medja itoe . Aken tetapi marika berfikir, bahoewa marika itoe masook ka dalem astana dengan tiada di idinken oleh jang ampoenja astana, ia itoe sa-orang radja besar, jang belon pernah beladjar kenal sama marika itoe, kerna itoe, maka sanget koerang adjar adanja, djikaloe tetamoe lantas doedoek makan-minoem dengan tiada bersama-sama orang jang poenja astana. Marika itoe poenja roepa mendjadi merah dan dari sebab maloe atinja, maka dari moeloet, dari idoeng, dari mata sekalian marika itoe kaloewar api mengkobar menjala-njala. Radja Persie kaget sanget apabila di liatnja orang-orang itoe kaloewar api, ianja tiada taoe apa sebabnja mendjadi begini. Gulnare barang liat soedara-soedaranja begitoe roepa, lantas mengarti apa kahendaknja, dari itoe ia minta ma-af pada iboenja aken kaloewar sabentaran, nanti lekas dia balik kombali. Galoare pegi ka tempat radja bediri bersembooni, maka ianja berkata pada radja: »Doeli toewankoe, sekarang senanglah mendengar kami poonja bitjara sama kakanda Saleh dan bonda kami, aken mengoendjoeken besarnja bales trima kasi kami pada doeli sjah alam, sebab melaenken kahendak kamilah jang djadi, kaloe kami hendak toeroet poelang, nistjaija tadi djoega kami soeda toeroet poelang ka negri tempat toempa darah kami, aken tetapi perboewatan sademikian mengoendjoeken kami tiada ada poenja ati jang bertrimah kasih, itoe tiada sekali-kali.” Radja laloe berkata: Soedalah adinda djangan bitjara lagi dari hal itoe, djangan bitjara dari pada adinda poenja bales trima kasih, halnja kami sendiri haroes bales trimah kasih kami. Tadinja kami tiada maoe pertjaija, bahoewa adinda soenggoe menjintahken kami, aken tetapi sekarang njatalah kami liat dan kami dengar sendiri.” Djawabnja Gulnare: »Ja toewankoe, apakah kami misti bikin, sasoedahnja toewankoe mengoendjoeken ati boedi jang begitoe baik dan soetji, sasoedahnja kami di brihken hormat dan tjinta, apakah semoewa itoe misti<noinclude>{{rh||1514|}}</noinclude> plf5x9l8xfbx7ps8ifdoosxjcaatz03 291512 291456 2026-05-11T02:18:35Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 291512 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>mendjadi terlebi girang lagi, sebab Gulnare tiada bakalan tinggalin soewaminja. Dari itoe poen baginda rasa djoega, bahoewa ia di tjinta oleh Gulnare, maka radja terlaloe lebi keras lagi tjintaken isterinja sampe radja bernijat biar bagimanapoen ia sabole-bole maoe oendjoek bales trima kasinja kapada Gulnare. Sedang sri baginda maharadja Persie lagi bitjara begitoe di dalem diri, maka Gulnare tepok tangannja, lantas bebrapa boedak perampoewan pada dateng aken menoenggoe prentah toewannja. Gulnare soeroeh bawa kaloewar minoeman dan makanan aken membikin segar badan. Koetika barang-barang itoe soedah di sediahkеn di medja, maka Gulnare adjakin iboenja dan soedaranja doedoek di medja aken tjoba makan sediahan di medja itoe. Aken tetapi marika berfikir, bahoewa marika itoe masoek ka dalem astana dengan tiada di idinken oleh jang ampoenja astana, ia itoe sa-orang radja besar, jang belon pernah beladjar kenal sama marika itoe, kerna itoe, maka sanget koerang adjar adanja, djikaloe tetamoe lantas doedoek makan-minoem dengan tiada bersama-sama orang jang poenja astana. Marika itoe poenja roepa mendjadi merah dan dari sebab maloe atinja, maka dari moeloet, dari idoeng, dari mata sekalian marika itoe kaloewar api mengkobar menjala-njala. Radja Persie kaget sanget apabila di liatnja orang-orang itoe kaloewar api, ianja tiada taoe apa sebabnja mendjadi begini. Gulnare barang liat soedara-soedaranja begitoe roepa, lantas mengarti apa kahendaknja, dari itoe ia minta ma-af pada iboenja aken kaloewar sabentaran, nanti lekas dia balik kombali. Gulnare pegi ka tempat radja bediri bersemboeni, maka ianja berkata pada radja: »Doeli toewankoe, sekarang senanglah mendengar kami poenja bitjara sama kakanda Saleh dan bonda kami, aken mengoendjoeken besarnja bales trima kasi kami pada doeli sjah alam, sebab melaenken kahendak kamilah jang djadi, kaloe kami hendak toeroet poelang, nistjaija tadi djoega kami soeda toeroet poelang ka negri tempat toempa darah kami, aken tetapi perboewatan sademikian mengoendjoeken kami tiada ada poenja ati jang bertrimah kasih, itoe tiada sekali-kali.” Radja laloe berkata: »Soedalah adinda djangan bitjara lagi dari hal itoe, djangan bitjara dari pada adinda poenja bales trima kasih, halnja kami sendiri haroes bales trimah kasih kami. Tadinja kami tiada maoe pertjaija, bahoewa adinda soenggoe menjintahken kami, aken tetapi sekarang njatalah kami liat dan kami dengar sendiri.” Djawabnja Gulnare: »Ja toewankoe, apakah kami misti bikin, sasoedahnja toewankoe mengoendjoeken ati boedi jang begitoe baik dan soetji, sasoedahnja kami di brihken hormat dan tjinta, apakah semoewa itoe misti<noinclude>{{rh||1514|}}</noinclude> 04f7g7e999xnezmbt4gbovgmwq10pmp Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/403 104 101070 291529 283301 2026-05-11T02:36:12Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan paragraf tidak rapi 291529 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>jakinin djangan hamba loepoetken djandji itue, hamba poenja nijat tida mace pegi tidoer, djikaloe belon hamba tjoekoepken hamba poenja djandji. Waktoe tengah malem, semoewa sepi sekali, maka hamba bangoen priksa di dalem bilik, abis soenggoe hamba dapet liat itoe pintoe dengan selot tembega, dan tjintjin tembaga bersama-sama kontjinja betoel seperti katanja itoe kera. Hamba' poeter kontji itoe, jang ada di moeloet selot piutoe di bawah tjin-tjin, koetika pintoe itoe soedah terboeka, maka hamba masoek kadalem itoe bilik, hamba angkat itoe pedang, jang ada di sebelah peti besi, laloe hamba boenosh itoe ajam, dan hamba batjok-batjok pentolan wacijat di peti itoe sampe antjoer, baroe hamba terbalikin itoe peti. Sedang hamba berboewat begitoe, maka hamba poenja isteri dapet taoe, dia poen dateng masoek di dalem itoe bilik, maka apabila di liatuja ajam djago itoe soedah mati, maka ia bertereak djoega: hamba di akalin itoe djin." Srenta ia bertereak begitǝe, maka sekoenjoeng koenjoeng dateng satoe orang, ia itoe djin, jang soedah bikin doerhaka pada bebrapa manoesia, masoek ka dalem itoe bilik, abis ia reboet hamba poenja isteri dengan paksa di bawa pegi, maka gaiblah hamba poenja isteri, jang sanget tertjinta ito. Soewara mendjeritnja hamba poenja isteri membangoenken Emir. Dengan sigrah ia lantas dateng masoek ka dalem hamba poenja bilik. Barang dia dapet liat anakoja soedah tida ada, abis di liatnja pintoe bilik tempat ajam djago dan peti besi itoe soedah terboeka, maka dia lantas tace djoega apa mendjadi sebab sampe bole djadi begini. Dia lantas berkata: 0, Aboe Mohamed, apakah engkau telah berboewat? Demikianlah pembalesanmoe pada kami, jang serahkea pedamoe kami poenja anak jang toenggal, demikianlah pembalasan kabaikan kami? Kami sendiri telah bikin itoe djimat, dan kami tarok-in di itoe kamar, soepaija anak kami tiada dapet di goda, di bawa lari itoe djin doerhaka. Anem taoen lamanja dia soeda akalin boewat mendapeti kami poenja anak, pertjoema sadja, ia tertahan oleh itoe djimat, aken tetapi sekarang soeda binasalah kami poenja anak, ilang kami poenja penghiboeran ati di doenia. Maka ini semoewa angkaulah jang perboewatken, ajo lekas pegi dari sini, djangan kami liat lama-an roepamoe, sebab barangkali kami hilap tida taoe apa bikin, lebi baik lekas engkau pegi dari sini." Hamba berdoeka tjita sanget, sebab hamba mendjadi lantaran katjilaka-an hamba poenja isteri, jang begitoe keras hamba tjinta, kendatipoen hamba baroelah sebentaran sadja moekanja. Hamba sampe di roemah mentjari hamba poenja kera, aken hamba tjeritahken hal ichwal itoe, kaloe-kaloe dia bisa toeloengia hamba dapet kombali hamba poenja isteri. Koeliling hamba tjari dia tida ada, bamba bernanti barangkali dia pegi kaloewar belon poelang, aken tetapi semoewa itoe pertjoema sadja, kera itoe soedah linjap tiada ketahoewan kamana peginja.<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1488|{{smaller|67}}}}</noinclude> eyvayt1ib8igw8v584mzrvqotxhg69m 291636 291529 2026-05-11T04:36:04Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291636 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>jakinin djangan hamba loepoetken djandji itue, hamba poenja nijat tida maoe pegi tidoer, djikaloe belon hamba tjoekoepken hamba poenja djandji. Waktoe tengah malem, semoewa sepi sekali, maka hamba bangoen priksa di dalem bilik, abis soenggoe hamba dapet liat itoe pintoe dengan selot tembaga, dan tjintjin tembaga bersama-sama kontjinja betoel seperti katanja itoe kera. Hamba poeter kontji itoe, jang ada di moeloet selot pintoe di bawah tjin-tjin, koetika pintoe itoe soedah terboeka, maka hamba masoek kadalem itoe bilik, hamba angkat itoe pedang, jang ada di sebelah peti besi, laloe hamba boenoeh itoe ajam, dan hamba batjok-batjok pentolan wacijat di peti itoe sampe antjoer, baroe hamba terbalikin itoe peti. Sedang hamba berboewat begitoe, maka hamba poenja isteri dapet taoe, dia poen dateng masoek di dalem itoe bilik, maka apabila di liatnja ajam djago itoe soedah mati, maka ia bertereak djoega: hamba di akalin itoe djin.” Srenta ia bertereak begitǝe, maka sekoenjoeng koenjoeng dateng satoe orang, ia itoe djin, jang soedah bikin doerhaka pada bebrapa manoesia, masoek ka dalem itoe bilik, abis ia reboet hamba poenja isteri dengan paksa di bawa pegi, maka gaiblah hamba poenja isteri, jang sanget tertjinta itoe. Soewara mendjeritnja hamba poenja isteri membangoenken Emir. Dengan sigrah ia lantas dateng masoek ka dalem hamba poenja bilik. Barang dia dapet liat anakoja soedah tida ada, abis di liatnja pintoe bilik tempat ajam djago dan peti besi itoe soedah terboeka, maka dia lantas taoe djoega apa mendjadi sebab sampe bole djadi begini. Dia lantas berkata: „O, Aboe Mohamed, apakah engkau telah berboewat? Demikianlah pembalesanmoe pada kami, jang serahken padamoe kami poenja anak jang toenggal, demikianlah pembalasan kabaikan kami? Kami sendiri telah bikin itoe djimat, dan kami tarok-in di itoe kamar, soepaija anak kami tiada dapet di goda, di bawa lari itoe djin doerhaka. Anem taoen lamanja dia soeda akalin boewat mendapeti kami poenja anak, pertjoema sadja, ia tertahan oleh itoe djimat, aken tetapi sekarang soeda binasalah kami poenja anak, ilang kami poenja penghiboeran ati di doenia. Maka ini semoewa angkaulah jang perboewatken, ajo lekas pegi dari sini, djangan kami liat lama-an roepamoe, sebab barangkali kami hilap tida taoe apa bikin, lebi baik lekas engkau pegi dari sini.” Hamba berdoeka tjita sanget, sebab hamba mendjadi lantaran katjilaka-an hamba poenja isteri, jang begitoe keras hamba tjinta, kendatipoen hamba baroelah sebentaran sadja moekanja. Hamba sampe di roemah mentjari hamba poenja kera, aken hamba tjeritahken hal ichwal itoe, kaloe-kaloe dia bisa toeloengia hamba dapet kombali hamba poenja isteri. Koeliling hamba tjari dia tida ada, bamba bernanti barangkali dia pegi kaloewar belon poelang, aken tetapi semoewa itoe pertjoema sadja, kera itoe soedah linjap tiada ketahoewan kamana peginja.<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1488|{{smaller|67}}}}</noinclude> i2bqmbv3r1xlmcwsctx5k012qfny7k0 292020 291636 2026-05-11T11:48:48Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 292020 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>jakinin djangan hamba loepoetken djandji itoe, hamba poenja nijat tida maoe pegi tidoer, djikaloe belon hamba tjoekoepken hamba poenja djandji. Waktoe tengah malem, semoewa sepi sekali, maka hamba bangoen priksa di dalem bilik, abis soenggoe hamba dapet liat itoe pintoe dengan selot tembaga, dan tjintjin tembaga bersama-sama kontjinja betoel seperti katanja itoe kera. Hamba poeter kontji itoe, jang ada di moeloet selot pintoe di bawah tjintjin, koetika pintoe itoe soedah terboeka, maka hamba masoek kadalem itoe bilik, hamba angkat itoe pedang, jang ada di sebelah peti besi, laloe hamba boenoeh itoe ajam, dan hamba batjok-batjok pentolan wacijat di peti itoe sampe antjoer, baroe hamba terbalikin itoe peti. Sedang hamba berboewat begitoe, maka hamba poenja isteri dapet taoe, dia poen dateng masoek di dalem itoe bilik, maka apabila di liatnja ajam djago itoe soedah mati, maka ia bertereak djoega: hamba di akalin itoe djin.” Srenta ia bertereak begitoe, maka sekoenjoeng koenjoeng dateng satoe orang, ia itoe djin, jang soedah bikin doerhaka pada bebrapa manoesia, masoek ka dalem itoe bilik, abis ia reboet hamba poenja isteri dengan paksa di bawa pegi, maka gaiblah hamba poenja isteri, jang sanget tertjinta itoe. Soewara mendjeritnja hamba poenja isteri membangoenken Emir. Dengan sigrah ia lantas dateng masoek ka dalem hamba poenja bilik. Barang dia dapet liat anaknja soedah tida ada, abis di liatnja pintoe bilik tempat ajam djago dan peti besi itoe soedah terboeka, maka dia lantas taoe djoega apa mendjadi sebab sampe bole djadi begini. Dia lantas berkata: »O, Aboe Mohamed, apakah engkau telah berboewat? Demikianlah pembalesanmoe pada kami, jang serahken padamoe kami poenja anak jang toenggal, demikianlah pembalasan kabaikan kami? Kami sendiri telah bikin itoe djimat, dan kami tarok-in di itoe kamar, soepaija anak kami tiada dapet di goda, di bawa lari itoe djin doerhaka. Anem taoen lamanja dia soeda akalin boewat mendapeti kami poenja anak, pertjoema sadja, ia tertahan oleh itoe djimat, aken tetapi sekarang soeda binasalah kami poenja anak, ilang kami poenja penghiboeran ati di doenia. Maka ini semoewa angkaulah jang perboewatken, ajo lekas pegi dari sini, djangan kami liat lama-an roepamoe, sebab barangkali kami hilap tida taoe apa bikin, lebi baik lekas engkau pegi dari sini.” Hamba berdoeka tjita sanget, sebab hamba mendjadi lantaran katjilaka-an hamba poenja isteri, jang begitoe keras hamba tjinta, kendatipoen hamba baroelah sebentaran sadja moekanja. Hamba sampe di roemah mentjari hamba poenja kera, aken hamba tjeritahken hal ichwal itoe, kaloe-kaloe dia bisa toeloengina hamba dapet kombali hamba poenja isteri. Koeliling hamba tjari dia tida ada, hamba bernanti barangkali dia pegi kaloewar belon poelang, aken tetapi semoewa itoe pertjoema sadja, kera itoe soedah linjap tiada ketahoewan kamana peginja.<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1488|{{smaller|67}}}}</noinclude> qsaeac5y197o846yvpkw02kcdnypa9g Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/477 104 101073 291481 283451 2026-05-11T01:44:38Z Thersetya2021 15831 291481 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>maka soesah soenggoe aken boedjoek padanja boewat djadi bessan, sebab radja laen di sama-in olehnja dengan radja-radja-an. Adapoen kendati sademikian adanja, kami nanti tjoba aken pegi sendiri meminang anaknja boewat radja Beder, maka kaloe dia tiada maoe trima djoega, apa bole boewat, kita tjari jang laen. Inilah sebabnja mengapa tadi kami bilang baik djangan anakmoe dengar dari ini hal, sabelonnja kita dapet katentoewan jang radja Samandal tentoe maoe trima kita poenja peminang-an, soepaija djangan, sabelonnja anakmoe Beder soeda djato birahi pada poeteri Giauhare, sedang kita tiada bisa kaboelken kabendaknja anak itoe. Kadoewa soedara itoe masih bitjara lagi dari ini hal, maka sabelonnja berpisahan marika itoe telah berdjandjiken, bahoewa radja Saleh dengan sigrah lantas poelang ka negrinja, aken pegi meminang poeteri Giauhare pada ajandanja radja Samandal boewat radja Beder. Dari sebab Gulnare bersama radja Saleh kira, bahoewa radja Beder soenggoe poeles, maka kadoewa soedara itoe bangoeni sama Beder, koetika marika itoe hendak kaloewar dari itoe bilik, adapoen Beder melaga sadja tidoer dan barang dia di bangoeni laloe di bikinnja seperti orang jang baroe bangoen dari tidoernja. Pada sasoenggoenja, maka tiada ada satoe perkata-an di lepasnja jang di bitjarai antara iboe dan mamaknja, koetika dia dapet dengar mamaknja tjeritaken katjakepannja dan elok poeteri Giauhare, maka Beder soeda djato birahi begitoe keras pada poeteri itoe, hingga ia soesah menahan ati aken tinggal melaga tidoer. Sembaring mamaknja tjeritaken dari toewan poeteri itoe, maka di matanja Beder poeteri itoe soeda berbajang-bajang sadja, dan keras inginnja aken mempoenjai isteri jang sademikian. Antero malem Beder tiada bisa tidoer. Pada kaesokan harinja, maka radja Saleh hendak ambil selamat tinggal dari Gulnare dan dari kaponakannja aken poelang ke negrinja. Hata maka radja Beder memang soedah taoe, bahoewa mamaknja itoe hendak poelang begitoe lekas, dari sebab hendak melakoeken nijatnja dengan sigrah. Adapoen birahinja radja Beder soeda begitoe keras, hingga dia tiada bisa bernanti lagi mamaknja pegi oeroes perkara itoe, radja Beder fikir mengoeroes hal itoe, nistjaija terlaloe lamanja dan dia soedah tiada menahan lagi atinja. Oleh kerna itoe, maka ia bernijat keras, aken minta toeroet sama mamaknja, maka ia tiada maoe sampe iboenja dapet taoe nijatnja, djadi radja Beder memikirken akal bagimana aken bisa bitjara ampat mata sama mamaknja aken tjeritaken nijatnja.<noinclude>{{rh||1525}}</noinclude> hq7kcdniq9sn1ptq9wivn7qf0umqqkr Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/549 104 101077 291341 283428 2026-05-10T17:10:01Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 tanda petik belakang 291341 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>toewan dateng?" Beder lantas brenti-in koedanja laloe djawabken pertanja-an orang toewa itoe. Sedang dia lagi bitjara begitoe, maka dateng sa-orang perampoewan toewa, djoega brenti, koetika dia liat Beder beromong-omong, tetapi apabila ia dekatin Beder, maka sanget keras perampoewan itoe menangis sambil tarik nafas pandjang pendek dan sembaring pegang-pegang itoe koeda. Beder brenti bitjara sama itoe orang toewa, aken liatin tingkanja itoe perampoewan toewa, abis Beder tanja padanja kenapa dia nangis. Djawabnja: »Ja toewankoe, kami ini menangis dari sebab kami liat ini koeda betoel sama sekali roepanja seperti koedanja kami poenja anak, maka itoe koeda soeda mati, ia itoe jang membikin kami mendjadi sedi. Kami bermoehoen sanget pada toewan, djoewalkenlah koeda ini kepada kami; brapa djoega harganja kami nanti bajar, laen dari itoe, kami bales bilang banjak trima kasi poela." Djawabnja Beder: »Ja nini, ini koeda tiada di djoewal, soenggoe kami kasian sekali sama nini, jang kami tiada bisa kaboelken kahendakmoe." Maka itoe perampoewan toewa semangkin keras menangis katanja: »Ja toewankoe sampe ati sekali aken tolak permoehoenan sa-orang toewa, soenggoe, djikaloe toewan tiada toeloeng pada kami, nistjaja roesak kami berdoewa, kami poenja anak tentoe mati makan ati, maka itoe toean djanganlah tolak permoehoenan kami." Beder laloe berkata: »Ja nini, tjoba kami bernijat mendjoewal ini koeda jang begitoe baik, dengan segala soeka ati kami kaboelken permoehoenanmoe. Tetapi kendatipoen kami hendak djoewal ini koeda, maka kami rasa engkau tiada maoe bajar seriboe dinar oewang emas, sebab tiada koerang dari itoe harga kami bole djoewalken.” Katanja itoe perampoewan toewa: „Mengapa kami tiada maoe bajar seriboe dinar oewang emas, asal sadja toewan maoe serahken itoe koeda pada kami." Beder pandang itoe orang perampoewan toewa begitoe doesoen roepanja, masalah dia bisa ada-in seriboe dinar oewang emas." Djadi dia maoe tjoba apa soenggoe kiranja dia bisa bajar oewang sebegitoe banjak atawa bohong sadja, maka itoe Beder bilang pada itoe perampoewan: »Baiklah bajarken itoe oewang seriboe dinar oewang emas, maka engkau bole ambil itoe koeda." Di sitoe djoega itoe perampoewan toewa keloewarin kantongnja laloe di itoengnja seriboe dinar oewang emas jang di serahkennja kapada Beder, sambil berkata: »Kaloe soeka toewan toeroen itoeng ini oewang, kaloe koerang lantas bole kami tambahken, sebab kami poenja roemah tiada sebrapa djaoe dari sini." Beder kaget lagi heran, koetika di liatnja itoe perampoewan mengaloewarken oewang laloe Beder berkata: »Ach nini, soeda djangan soesah-<noinclude>{{rh||1559}}</noinclude> 0u09sofsn2cm99tzp56f4a4a235dvl5 291417 291341 2026-05-11T00:19:58Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291417 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>toewan dateng?” Beder lantas brenti-in koedanja laloe djawabken pertanja-an orang toewa itoe. Sedang dia lagi bitjara begitoe, maka dateng sa-orang perampoewan toewa, djoega brenti, koetika dia liat Beder beromong-omong, tetapi apabila ia dekatin Beder, maka sanget keras perampoewan itoe menangis sambil tarik nafas pandjang pendek dan sembaring pegang-pegang itoe koeda. Beder brenti bitjara sama itoe orang toewa, aken liatin tingkanja itoe perampoewan toewa, abis Beder tanja padanja kenapa dia nangis. Djawabnja: »Ja toewankoe, kami ini menangis dari sebab kami liat ini koeda betoel sama sekali roepanja seperti koedanja kami poenja anak, maka itoe koeda soeda mati, ia itoe jang membikin kami mendjadi sedi. Kami bermoehoen sanget pada toewan, djoewalkenlah koeda ini kepada kami; brapa djoega harganja kami nanti bajar, laen dari itoe, kami bales bilang banjak trima kasi poela.” Djawabnja Beder: »Ja nini, ini koeda tiada di djoewal, soenggoe kami kasian sekali sama nini, jang kami tiada bisa kaboelken kahendakmoe.” Maka itoe perampoewan toewa semangkin keras menangis katanja: »Ja toewankoe sampe ati sekali aken tolak permoehoenan sa-orang toewa, soenggoe, djikaloe toewan tiada toeloeng pada kami, nistjaja roesak kami berdoewa, kami poenja anak tentoe mati makan ati, maka itoe toean djanganlah tolak permoehoenan kami.” Beder laloe berkata: »Ja nini, tjoba kami bernijat mendjoewal ini koeda jang begitoe baik, dengan segala soeka ati kami kaboelken permoehoenanmoe. Tetapi kendatipoen kami hendak djoewal ini koeda, maka kami rasa engkau tiada maoe bajar seriboe dinar oewang emas, sebab tiada koerang dari itoe harga kami bole djoewalken.” Katanja itoe perampoewan toewa: „Mengapa kami tiada maoe bajar seriboe dinar oewang emas, asal sadja toewan maoe serahken itoe koeda pada kami.” Beder pandang itoe orang perampoewan toewa begitoe doesoen roepanja, masalah dia bisa ada-in seriboe dinar oewang emas.” Djadi dia maoe tjoba apa soenggoe kiranja dia bisa bajar oewang sebegitoe banjak atawa bohong sadja, maka itoe Beder bilang pada itoe perampoewan: »Baiklah bajarken itoe oewang seriboe dinar oewang emas, maka engkau bole ambil itoe koeda.” Di sitoe djoega itoe perampoewan toewa keloewarin kantongnja laloe di itoengnja seriboe dinar oewang emas jang di serahkennja kapada Beder, sambil berkata: »Kaloe soeka toewan toeroen itoeng ini oewang, kaloe koerang lantas bole kami tambahken, sebab kami poenja roemah tiada sebrapa djaoe dari sini.” Beder kaget lagi heran, koetika di liatnja itoe perampoewan mengaloewarken oewang laloe Beder berkata: »Ach nini, soeda djangan soesah-<noinclude>{{rh||1559}}</noinclude> 00hxwc9cpn99f833pa0fgtzqbwq47s4 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/475 104 101079 291479 283446 2026-05-11T01:42:09Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ ada lebih dari 3 kesalahan ejaan 291479 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>soenggoelah anakoja tidoer njenjak. Halnja Beder tiada poeles, malahan dia pasang koeping tadjem-tadjem, soepaija djangan ilang satoe perkata-an dari pada bitjara iboenja dengan mamaknja. Maka Gulnare berkata pada soedaranja: »Kakanda tiada oesah koewatir lagi, bole bitjara sakahendakmoe, Beder tentoe tiada bisa dengar.” Radja Saleh laloe berkata: ”Kami rasa barangkali tida baik, kaloe kapopakankoe radja Beder dapet taoe terlaloe lekas, apa jang kami hendak tjeritabken padamoe. Engkau taoe seadiri tjinta itoe masoek dari koeping ka dalem ati, maka tida baik soenggoe sa-orang djedjaka anak moeda barangkali soeda tjintaken lebi doeloe sa-orang perampoewan, tjoema dari di dengarnja orang seboet namanja perampoewan. Begitoepoen sama radja Beder dia masih moeda, apabila dia dengar kita seboetken namanja poeteri, maka ia lantas birahi, sedang kita belon bisa tentoe-in apa bisa dapet perampoewan jang kita hendak ambil mantoe atawa tida, kaloe dia djato birahi, abis kita tida bisa dapet anak orang itoe, nistjaija roesaklah radja Beder. Ia itoelah jang kita sabole-bole misti alangin, sebab kami rasa, bahoewa soenggoe banjak soesah aken dapet poeteri jang kami masoedken. Boekan dari sebab poeteri itoe jang tida maoe, aken tetapi ajandanja barangkali tolak permoehoenan kita. Jang kami hendak boewat isterinja radja Beder, ia itoe poeteri Giauhare, anaknja radja Samandal. Itoelah baroe bole di nama-in poeteri sama elok dan tjantiknja seperti Beder, maskipoen di darat atawa di laoet, tiada perampoewan begitoe bagoes serta baik ati. Roepanja terlaloe amat elok, tjahija koelitnja aloes dan bening, pipinja seperti djamboe, ramboetnja itam ikal patamajang, matanja djeli, pinggangnja lentik, djarinja kaja di raoet, lehernja djoendjang. Kaloe dia boeka kaen toetoep moeka, maka tjahija matahari mendjadi poetjat dan boelan mendjadi goerem, siapa djoega dapet pandang potong badannja serta moekanja, nistjaija birahi tergila-gila. Soewaranja manis madoe dan lemah lemboet." Koetika Gulnare dengar tjeritanja radja Saleh, maka Gulnare laloe berkata: »Ach, apa engkau bilang? Poeteri Giauhare belon bersoewami? Kami masih ingat dia doeloe tida sebrapa hari sabelonnja kami lari, maka oemoernja kira-kira di itoe waktoe ada satoe taon setengah, adapoen di itoe waktoe soedah ternjata ia sa-orang anak tjantik sekali, istimewa poela sekarang ini, ia soeda bertamba-tamba elok lagi dan tjantik. Kendati katja sedikit oemoernja, djangan djadi alangan, kita misti bikin sabole-bole, soepaija djangan mendjadi oeroeng, maka alangan apakah jang misti di ilangken." Katanja radja Saleh: »Alangan jang paling besar dan jang paling berat, ia itoe radja Samandal. Dia itoe terlaloe amat berhati tinggi. Dia kira di antero doenia tiada ada radja melengken dia sendiri, oleh keroa itoe,<noinclude> {{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1524|{{smaller|6}}}}</noinclude> s6sub81sj7anwzrifg270nw1rh94t2r 291977 291479 2026-05-11T10:45:01Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 291977 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>soenggoelah anaknja tidoer njenjak. Halnja Beder tiada poeles, malahan dia pasang koeping tadjem-tadjem, soepaija djangan ilang satoe perkata-an dari pada bitjara iboenja dengan mamaknja. Maka Gulnare berkata pada soedaranja: »Kakanda tiada oesah koewatir lagi, bole bitjara sakahendakmoe, Beder tentoe tiada bisa dengar.” Radja Saleh laloe berkata: »Kami rasa barangkali tida baik, kaloe kaponakankoe radja Beder dapet taoe terlaloe lekas, apa jang kami hendak tjeritahken padamoe. Engkau taoe seadiri tjinta itoe masoek dari koeping ka dalem ati, maka tida baik soenggoe sa-orang djedjaka anak moeda barangkali soeda tjintaken lebi doeloe sa-orang perampoewan, tjoema dari di dengarnja orang seboet namanja perampoewan. Begitoepoen sama radja Beder dia masih moeda, apabila dia dengar kita seboetken namanja poeteri, maka ia lantas birahi, sedang kita belon bisa tentoe-in apa bisa dapet perampoewan jang kita hendak ambil mantoe atawa tida, kaloe dia djato birahi, abis kita tida bisa dapet anak orang itoe, nistjaija roesaklah radja Beder. Ia itoelah jang kita sabole-bole misti alangin, sebab kami rasa, bahoewa soenggoe banjak soesah aken dapet poeteri jang kami masoedken. Boekan dari sebab poeteri itoe jang tida maoe, aken tetapi ajandanja barangkali tolak permoehoenan kita. Jang kami hendak boewat isterinja radja Beder, ia itoe poeteri Giauhare, anaknja radja Samandal. Itoelah baroe bole di nama-in poeteri sama elok dan tjantiknja seperti Beder, maskipoen di darat atawa di laoet, tiada perampoewan begitoe bagoes serta baik ati. Roepanja terlaloe amat elok, tjahija koelitnja aloes dan bening, pipinja seperti djamboe, ramboetnja itam ikal patamajang, matanja djeli, pinggangnja lentik, djarinja kaja di raoet, lehernja djoendjang. Kaloe dia boeka kaen toetoep moeka, maka tjahija matahari mendjadi poetjat dan boelan mendjadi goerem, siapa djoega dapet pandang potong badannja serta moekanja, nistjaija birahi tergila-gila. Soewaranja manis madoe dan lemah lemboet." Koetika Gulnare dengar tjeritanja radja Saleh, maka Gulnare laloe berkata: »Ach, apa engkau bilang? Poeteri Giauhare belon bersoewami? Kami masih ingat dia doeloe tida sebrapa hari sabelonnja kami lari, maka oemoernja kira-kira di itoe waktoe ada satoe taon setengah, adapoen di itoe waktoe soedah ternjata ia sa-orang anak tjantik sekali, istimewa poela sekarang ini, ia soeda bertamba-tamba elok lagi dan tjantik. Kendati katja sedikit oemoernja, djangan djadi alangan, kita misti bikin sabole-bole, soepaija djangan mendjadi oeroeng, maka alangan apakah jang misti di ilangken.” Katanja radja Saleh: »Alangan jang paling besar dan jang paling berat, ia itoe radja Samandal. Dia itoe terlaloe amat berhati tinggi. Dia kira di antero doenia tiada ada radja melengken dia sendiri, oleh kerna itoe,<noinclude> {{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1524|{{smaller|6}}}}</noinclude> q2sirgdr1jemr42kpdxy3rzbfra5etz Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/547 104 101080 291337 289360 2026-05-10T17:07:43Z Thersetya2021 15831 291337 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>Sakoetika itoe djoega, maka ratoe Labe djadi saekor koeda betina jang poeti dan tjakep. Wah rasanja ratoe Labe di dalem ati terlaloe amat masjgoel, ia toendoekin kepalanja seperti aken hendak meminta ampoen, di kasiani oleh Beder, aken tetapi Beder soeda tiada berkoewasa lagi aken membatalken perboewatanaja. Maka ia bawa itoe koeda ka dalem istal keradjaan dan dia titahken boedjang istal aken kasi pake itoe koeda; tetapi itoe boedjang istal tiada bisa dapet pakejan koeda jang bole di pake boewat ini koeda jang baroe. Abis Beder titahken soeroeh pakein doewa koeda jang laen, satoe boewat dia dan satoenja lagi boewat boedjang, maka dia jang toentoen itoe koeda poeti pegi ka roemahnja Abdallah. Koetika Abdallah dapat liat radja Beder dari djaoe menoentoen koeda bersama sama satoe boedjang, maka di ketahoeinja, bahoewa bagoes djalannja pakerdja-annja Beder. Abdallah laloe berkata dengan girang: „Sjoekoerlah, perampoewan popok-an gila, baroe sekaranglah engkau trima hoekoemanmoe jang pantes.” Sampe di depan kedeinja Abdallah, maka Beder toeroen dari koedanja, dia pelok itoe kiai sambil membilang trima kasi beriboe riboe kali, serta di tjeritahkennja apa jang soeda kedjadian. Djoega ian bilang, bahoewa boedjang istal tiada bisa dapet toom pakejan kepala koeda, jang baik, bole di pake ini koeda baroe. Abdallah lantas bilang, jang dia ada poenja pakejan kepala koeda, apa roepa koeda, tentoe ada dia poenja pakejan di dalem kedeinja Abdallah. Maka kiai sendiri jang pake-in itoe koeda jang baroe dan Beder kirim poelang boedjangnja bersama sama itoe doewa koeda jang di toenggang tadi. Setelah soeda, maka katanja Abdallah pada Beder: „Toewan, sekarang ini toewan tiada oesah tinggal lebi lama di ini negri. Toewan naik sadja ini koeda jang baroe, aken poelang ka negri karadja-an toewan. Tjoema ada satoe hal sadja, jang kami hendak pesan pada toewan, ia itoe: kaloe toewan mahoe djoewal atawa kasi orang ini koeda jang baroa, djanganlah serahken koeda bersama-sama pakejan kepala, itoelah di djagaken baik-baik.” Radja Beder djandjiken aken tiada meloepaken pesanan kiai, abis ambil selamat tinggal dengan sedi, maka ia brangkat. Koetika radja Persie soeda ada di loewar kota, maka dia sanget girang soeda terlepas dari pada bahaija jang begitoe besar, serta perampoewan ratoe sahir itoe ada di dalem tangannja dan misti toeroet prentahnja. Beder berdjalan berkoeda tiga bari lamanja, maka ia sampe di dalem saboewa negri besar. Di moeka kota dari negri itoe, dia ketemoe sa-orang laki-laki toewa sekali, sedang lagi djalan dari roemah kebon pegi ka roemahnja di dalem kota. Maka si orang toewa bediri liatin Beder berkoeda sambil berkata: »Hei toewankoe, kamanakah toewankoe maoe pegi dan dari mana<noinclude>{{rh||1558}}</noinclude> s0a1jkrs5kh7edc0esitx2y4q4iojdm Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/535 104 101084 291316 284234 2026-05-10T16:51:30Z Thersetya2021 15831 /* Tanpa teks */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan tanda » 291316 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Thersetya2021" />{{c|1001 malam}}</noinclude>ratoe djadi boeroeng itam; dan lagi di ketahoewinja, bahoewa ratoe masih tjinta sama itoe orang sampe ia sendiri djadiken dirinja boeroeng, aken ke temoe-in katjinta-annja. Barang Beder poenja pikiran sademikian, maka ianja djadi terlaloe tjemboeroewan dan ia poen marah djoega sama ratoe Labe. Beder lantas poelang ka astana teros masok ka kamarnja, di sini dia doedoek di atas sofa dengan atinja masjgoel. Tiada sebrapa lama lagi, maka ratoe Labe dateng dalem kamarnja Beder. Ratoe adjak bitjara, adjak bergoerau sama Beder, tetapi Beder tinggal diam, seperti orang jang marah. Oleh kerna tingkanja Beder begini roepa, maka ratoe Labe lantas dapet rasa, bahoewa Beder misti taoe apa jang telah kedjadian di kebon tadi, aken tetapi ratoe tinggal melaga tida taoe, maka rabasianja di simpen sadja di dalem ati. Hata, maka di itoe hari djoega Beder kasi taoe sama Labe, bahoewa Beder hendak pegi tengok-in kiainja, maka ia minta permissie baik-baik dari ratoe. Maka djawab ratoe Labe: „Aai, Beder jang sanget koe tjinta, apakah sekarang ini engkau soeda mendjadi bosen di dalem astna begini bagoes dan penoeh kasenangan dan kagirangan ati, bersama-sama sa-orang ratoe jang elok dan tjantik, serta jang jinta-in sanget pada Beder?” Djawabnja Beder: „Doeli toewankoe ratoe, bagimana hamba bisa mendjadi bosen di tempat jang begini senang, serta bersama-sama orang jang sanget berijinta? Sebab soedah sampelah hamba dapet tanda tjiptanja toewan ratoe. Soenggoe boekan sekali-kali dari sebab hambanja bosen di sini, sampe hamba hendak pegi ketemoe-in kiai, aken tetapi, hamba ini kangen sama kiai, serta hambanja bendak kasi taoe padanja, begimana beroentoeng hamba adanja, lantaran dari banjak kalimpahan dan moerah ati doeli toewan ratoe, jang telah di brihken pada hamba. Lagi hamba ini taoe, bahoewa kiai terlaloe amat saijang pada hamba, maka sekarang soeda ampat poeloe hari lamanja hambanja pegi dari romahnja, tiada sekali-kali dia dengar kabar atawa tjerita dari pada hamba, bole djadi jang ianja nanti mendjadi koewatir hambanja kena kelanggar tjilaka atawa laen bahaija, atawa ia bole kira, bahoewa hamba tiada ada bales trima kasi. Ratoe Labe laloe berkata: „Baiklah kami soeka djoega kasi permissie padamoe. aken tetapi, engkau djangan tinggal terlaloe lama, sebab engkau taoe sendiri tjinta kami padamoe sabegitoe keras adanja, hingga kami tiada bisa idoep, djika engkau tiada ada.” Abis ratoe prentahken aken sediah-in satoe koeda toenggang jang di rihasin tjakep. Beder brangkat pegi ka roemahnja Abdallah. Kiai toewa sanget girang meliat Beder. Maka Beder tiada pikir lagi pangkat karadja-annja, ianja toeroen dari koeda abis dia pelok kiai itoe dengan manis bahasanja, sebab kiai itoepoen djoega memelok dia, seperti anak nja sendiri jang terlampau di tjintanja.<noinclude>{{rh||1552}} {{rh|1001 Malam | | 83}}</noinclude> ctauibwvefq6k435snof08p06hg8sj2 291317 291316 2026-05-10T16:52:18Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan tanda » 291317 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 malam}}</noinclude>ratoe djadi boeroeng itam; dan lagi di ketahoewinja, bahoewa ratoe masih tjinta sama itoe orang sampe ia sendiri djadiken dirinja boeroeng, aken ke temoe-in katjinta-annja. Barang Beder poenja pikiran sademikian, maka ianja djadi terlaloe tjemboeroewan dan ia poen marah djoega sama ratoe Labe. Beder lantas poelang ka astana teros masok ka kamarnja, di sini dia doedoek di atas sofa dengan atinja masjgoel. Tiada sebrapa lama lagi, maka ratoe Labe dateng dalem kamarnja Beder. Ratoe adjak bitjara, adjak bergoerau sama Beder, tetapi Beder tinggal diam, seperti orang jang marah. Oleh kerna tingkanja Beder begini roepa, maka ratoe Labe lantas dapet rasa, bahoewa Beder misti taoe apa jang telah kedjadian di kebon tadi, aken tetapi ratoe tinggal melaga tida taoe, maka rabasianja di simpen sadja di dalem ati. Hata, maka di itoe hari djoega Beder kasi taoe sama Labe, bahoewa Beder hendak pegi tengok-in kiainja, maka ia minta permissie baik-baik dari ratoe. Maka djawab ratoe Labe: „Aai, Beder jang sanget koe tjinta, apakah sekarang ini engkau soeda mendjadi bosen di dalem astna begini bagoes dan penoeh kasenangan dan kagirangan ati, bersama-sama sa-orang ratoe jang elok dan tjantik, serta jang jinta-in sanget pada Beder?” Djawabnja Beder: „Doeli toewankoe ratoe, bagimana hamba bisa mendjadi bosen di tempat jang begini senang, serta bersama-sama orang jang sanget berijinta? Sebab soedah sampelah hamba dapet tanda tjiptanja toewan ratoe. Soenggoe boekan sekali-kali dari sebab hambanja bosen di sini, sampe hamba hendak pegi ketemoe-in kiai, aken tetapi, hamba ini kangen sama kiai, serta hambanja bendak kasi taoe padanja, begimana beroentoeng hamba adanja, lantaran dari banjak kalimpahan dan moerah ati doeli toewan ratoe, jang telah di brihken pada hamba. Lagi hamba ini taoe, bahoewa kiai terlaloe amat saijang pada hamba, maka sekarang soeda ampat poeloe hari lamanja hambanja pegi dari romahnja, tiada sekali-kali dia dengar kabar atawa tjerita dari pada hamba, bole djadi jang ianja nanti mendjadi koewatir hambanja kena kelanggar tjilaka atawa laen bahaija, atawa ia bole kira, bahoewa hamba tiada ada bales trima kasi. Ratoe Labe laloe berkata: „Baiklah kami soeka djoega kasi permissie padamoe. aken tetapi, engkau djangan tinggal terlaloe lama, sebab engkau taoe sendiri tjinta kami padamoe sabegitoe keras adanja, hingga kami tiada bisa idoep, djika engkau tiada ada.” Abis ratoe prentahken aken sediah-in satoe koeda toenggang jang di rihasin tjakep. Beder brangkat pegi ka roemahnja Abdallah. Kiai toewa sanget girang meliat Beder. Maka Beder tiada pikir lagi pangkat karadja-annja, ianja toeroen dari koeda abis dia pelok kiai itoe dengan manis bahasanja, sebab kiai itoepoen djoega memelok dia, seperti anak nja sendiri jang terlampau di tjintanja.<noinclude>{{rh||1552}} {{rh|1001 Malam | | 83}}</noinclude> n9tclf06ck4cvbix4xklhkxdgnepx0m 291392 291317 2026-05-10T23:21:02Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291392 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{c|1001 malam}}</noinclude>ratoe djadi boeroeng itam; dan lagi di ketahoewinja, bahoewa ratoe masih tjinta sama itoe orang sampe ia sendiri djadiken dirinja boeroeng, aken ke temoe-in katjinta-annja. Barang Beder poenja pikiran sademikian, maka ianja djadi terlaloe tjemboeroewan dan ia poen marah djoega sama ratoe Labe. Beder lantas poelang ka astana teros masok ka kamarnja, di sini dia doedoek di atas sofa dengan atinja masjgoel. Tiada sebrapa lama lagi, maka ratoe Labe dateng masoek kamarnja Beder. Ratoe adjak bitjara, adjak bergoerau sama Beder, tetapi Beder tinggal diam, seperti orang jang marah. Oleh kerna tingkanja Beder begini roepa, maka ratoe Labe lantas dapet rasa, bahoewa Beder misti taoe apa jang telah kedjadian di kebon tadi, aken tetapi ratoe tinggal melaga tida taoe, maka rabasianja di simpen sadja di dalem ati. Hata, maka di itoe hari djoega Beder kasi taoe sama Labe, bahoewa Beder hendak pegi tengok-in kiainja, maka ia minta permissie baik-baik dari ratoe. Maka djawab ratoe Labe: »Aai, Beder jang sanget koe tjinta, apakah sekarang ini engkau soeda mendjadi bosen di dalem astana begini bagoes dan penoeh kasenangan dan kagirangan ati, bersama-sama sa-orang ratoe jang elok dan tjantik, serta jang tjinta-in sanget pada Beder?” Djawabnja Beder: »Doeli toewankoe ratoe, bagimana hamba bisa mendjadi bosen di tempat jang begini senang, serta bersama-sama orang jang sanget berijinta? Sebab soedah sampelah hamba dapet tanda tjintanja toewan ratoe. Soenggoe boekan sekali-kali dari sebab hambanja bosen di sini, sampe hamba hendak pegi ketemoe-in kiai, aken tetapi, hamba ini kangen sama kiai, serta hambanja hendak kasi taoe padanja, begimana beroentoeng hamba adanja, lantaran dari banjak kalimpahan dan moerah ati doeli toewan ratoe, jang telah di brihken pada hamba. Lagi hamba ini taoe, bahoewa kiai terlaloe amat saijang pada hamba, maka sekarang soeda ampat poeloe hari lamanja hambanja pegi dari roemahnja, tiada sekali-kali dia dengar kabar atawa tjerita dari pada hamba, bole djadi jang ianja nanti mendjadi koewatir hambanja kena kelanggar tjilaka atawa laen bahaija, atawa ia bole kira, bahoewa hamba tiada ada bales trima kasi. Ratoe Labe laloe berkata: »Baiklah kami soeka djoega kasi permissie padamoe. aken tetapi, engkau djangan tinggal terlaloe lama, sebab engkau taoe sendiri tjinta kami padamoe sabegitoe keras adanja, hingga kami tiada bisa idoep, djika engkau tiada ada.” Abis ratoe prentahken aken sediah-in satoe koeda toenggang jang di rihasin tjakep. Beder brangkat pegi ka roemahnja Abdallah. Kiai toewa sanget girang meliat Beder. Maka Beder tiada pikir lagi pangkat karadja-annja, ianja toeroen dari koeda abis dia pelok kiai itoe dengan manis bahasanja, sebab kiai itoepoen djoega memelok dia, seperti anak nja sendiri jang terlampau di tjintanja.<noinclude>{{rh||1552}} {{rh|1001 Malam | | 83}}</noinclude> f93akqcmvvg7orbpoymyy542woa7w3f Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/543 104 101087 291326 289352 2026-05-10T17:02:03Z Thersetya2021 15831 291326 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>padanja akoe poenja koewe satoenja, jang masih katinggalan tiada engkau makan, engkau bilang padanja aken tjoba engkau poenja koewe. Nistjaija ia nanti makan, kendati tjoema aken kasi oendjoek padamoe, jang ia tiada ketjil ati dan ia partjaija padamoe, sebab boekankah dengan djampenja tadi dia soeda bikin atimoe berkoewatir. Apabila dia soeda abis makan itoe koewe, maka engkau ambil aer di tapak tanganmoe, engkau tjipratin moekanja ratoe dengan itoe aer, abis engkau mengotjab: »Hei manoesia, gaiblah engkau djadi beroepa binatang,” maka engkau seboetken binatang apa djoega, jang engkau kahendaki, nistjaija ianja djadi itoe roepa binatang. Kaloe soeda, maka engkau dateng kemari bersama-sama itoe binatang. Dengan perboewatan jang sademikian, maka engkau tiada kena di pendjara dan tiada kena di tjipta djadi binatang.” Radja Beder pelok itoe orang toewa, aken mengoendjoek trima kasinja, sebab kiai itoelah jang melepasken dia dari ini bahaija, jang mengantjemi dia. Ia tinggal bitjara lagi sabentaran, abis ia brangkat poelang ka astana. Sampe di astana radja Beder dapet dengar jang ratoe ada lagi djalan-djalan di kebon, aken menantiken datengnja radja Beder. Djadi ianja lantas pegi tjari toewan ratoe Labe. Barang ratoe dapet liat padanja, maka ratoe lantas dateng ampirin padanja seperti orang jang sanget kangen. Maka katanja pada Beder: »Baroelah kami merasa sendiri, bahoewa orang taoe ia keras tjinta-in orang, djikaloe orang itoe pegi berdjaoehan. Kami poen begitoe, belon sebrapa lama engkau tinggalken kami sendirian, maka kami soeda merasa seperti orang jang sanget bersoesah ati, dan selamanja engkau pegi kami rasa bertaon-taon lamanja. Tjoba engkau tinggal lebi lama sedikit, maka tentoe kami sendiri jang pegi soesoel padamoe.” Maka djawabnja radja Beder: »Doeli toewan ratoe, pertjaijalah, bahoewa hambapoen soeda tiada sabar lagi tinggal lama-an di roemahnja kiai, hambanja merasa keliwat keras kangen sama doeli toewankoe, aken tetapi, hamba tiada bisa tampik perminta-annja kiai Abdallah aken beromong sa-bentar pada hamba. Hamba poenja mamanda hendak tahan hamba lebi lama aken toeroet makan, tetapi hamba tiada maoe tinggal lama-an, sebab hamba seperti denger di panggil oleh soewara orang ketjintahan hamba, dari itoe lekas hambanja poelang, melaenken ini ada koewe sepotong jang hamba ambil dari medja mamanda, aken djadi pengoendjoek tjinta hamba bagei toewan ratoe.” Beder lantas serahken koewe itoe pada ratoe Labe, jang di perolehnja dari kiai Abdallah, katanja Beder: »Inilah itoe koewe, baik toewankoe trima sendiri dari hamba poenja tangan aken tanda katjinta-an hamba.” Djawabnja ratoe Labe: »Dengan segala soeka ati kami trima itoe tanda katjinte-an dari pada tangannja ati djawikoe, nanti kami makan, aken<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1556|{{smaller|84}}}}</noinclude> 5pk6092vmg4snr3zexpbzxszq91zg1e Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/541 104 101088 291323 289347 2026-05-10T16:58:33Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291323 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>sa-roepa boeboek dari dalem doos, itoe boeboek koening roepanja. Soeda begitoe, dianja liat raloe sebar itoe boeboek, menoeroet satoe djoeroesan jang l m jeng di dalem kamar. Apabila, boeboek itoe abis tersebar, maka njata keliatan djoeroesan itoe boeboek djadi seperti satoe anak soengei, dan aernja soengei itoe bening sekali. Beder mendjadi kaget sampe gemeter seloeroeh toeboehnja, aken tetapi dia berdiam seperti orang poeles soenggoe. Kamoedian di lietnja ratoe Labe sendok aer dari itoe anak soengei, laloe di tarohnja di dalem satoe mangkok aken di boewat adonan roti, sebab dalem itoe mangkok memang soeda ada tepoerg. Abis dia tjampoerin lagi laen rempa-rempa, jarg di ambil ja dari ro pa-roepa doos. Setelah semoewa soeda sediah, maka itoe adonan di toewangnja di dalem satoe tempat pembakaran. Soeda begitoe, dia bikin api, laloe tempat pembakaran itoe di bakarnja. Sembaring ko wenja itoe di bakar, meka ia simpan segala doos-doosrja, dan ia batja segala ro la alallar, sampe ilang itoe anak soengei, baroe ratoe Labe maso k tidoer. Hata, maka radja Beder begitoe keras melaga poeles, sampe ratoe Late kira soenggoe-soenggoe, jang iar ja poeles dan tiada taoe apa jang di perboewat oleh ratoe Labe. Pada la-erokan harinja radja Beder lantas minta permissi sama ratoe Lebo aken pegi ketemoe-in Abdallah. Koetika ianja di brihken permissie, maka lekas ia pegi ka roemabnja kiai Abdallaj, aken tjeritahken padanja s gala apa jang telah sorda kedjadian. Abdallah tertawa, laloe berkata: »Nah, kaloe begitoe ratoe Labe ada bernijat apa-apa, maka batal nijatnja. Engkau tiada oesah takoet.” Sambil berkata begitoe, maka Abdallah brihken doewa potong koewe kapada Beder, serta di katakennja aken bikin begini sama itoe koewe, katanja Abdallah: Engkau bilang pada kami, bahoewa ratoe Labe semalem soeda baker koewe roti, maka nijatnja itoelah hendak di perboewatnja, aken tetapi djaga betoel, djangan sekali-kali engkau tjoba makan itoe roti. Melaenken engkau trima sadja, kaloe dia soegoeh-in roti itoe padamoe, adapoen djangan engkau makan, engkau lekas gantiken roti itoe dengan ini koewe se potong, jang akoe brihken padamoe, itoelah engkau makan, tjoema djaga djangan sampe dia dapet taoe. Kaloe ratoe Labe soeda liat engkau makan, tentoe dia kira engkau makan dia poenja koewe roti, maka nistja ijalah dia na ti mengotjap djampenja boewat bikin engkau djadi beroepa binatang. Aken tetapi tentoe tiada bisa kedjadian kahendaknja; apabilh dia liat sabegi'oe, ni-tjaija ia nanti melaga bilang, bahoewa ia bermaen-maen sadja, aken bikin kaget padamoe, sekalipoen di dalem atinja dia keliwat marah, jang kahendakoja tiada kedjadian, sebab barangkali ada jang di loepahken. Kapan itoe semoewa soeda djadi begitoe, maka baroelah engkau brihken'<noinclude>{{rh||1555||}}</noinclude> gy2ykug8gzvmws9wqxyicoml7e5288f 291443 291323 2026-05-11T01:06:19Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291443 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>sa-roepa boeboek dari dalem doos, itoe boeboek koening roepanja. Soeda begitoe, dianja liat ratoe sebar itoe boeboek, menoeroet satoe djoeroesan jang lempeng di dalem kamar. Apabila, boeboek itoe abis tersebar, maka njata keliatan djoeroesan itoe boeboek djadi seperti satoe anak soengei, dan aernja soengei itoe bening sekali. Beder mendjadi kaget sampe gemeter seloeroeh toeboehnja, aken tetapi dia berdiam seperti orang poeles soenggoe. Kamoedian di lietnja ratoe Labe sendok aer dari itoe anak soengei, laloe di tarohnja di dalem satoe mangkok aken di boewat adonan roti, sebab dalem itoe mangkok memang soeda ada tepoeng. Abis dia tjampoerin lagi laen rempa-rempa, jarg di ambil ja dari roepa-roepa doos. Setelah semoewa soeda sediah, maka itoe adonan di toewangnja di dalem satoe tempat pembakaran. Soeda begitoe, dia bikin api, laloe tempat pembakaran itoe di bakarnja. Sembaring koewenja itoe di bakar, maka ia simpan segala doos-doosnja, dan ia batja segala roepa rapallan, sampe ilang itoe anak soengei, baroe ratoe Labe masoek tidoer. Hata, maka radja Beder begitoe keras melaga poeles, sampe ratoe Late kira soenggoe-soenggoe, jang ianja poeles dan tiada taoe apa jang di perboewat oleh ratoe Labe. Pada ka-esokan harinja radja Beder lantas minta permissi sama ratoe Labe aken pegi ketemoe-in Abdallah. Koetika ianja di brihken permissie, maka lekas ia pegi ka roemahnja kiai Abdallah, aken tjeritahken padanja segala apa jang telah sorda kedjadian. Abdallah tertawa, laloe berkata: „Nah, kaloe begitoe ratoe Labe ada bernijat apa-apa, maka batal nijatnja. Engkau tiada oesah takoet.” Sambil berkata begitoe, maka Abdallah brihken doewa potong koewe kapada Beder, serta di katakennja aken bikin begini sama itoe koewe, katanja Abdallah: Engkau bilang pada kami, bahoewa ratoe Labe semalem soeda baker koewe roti, maka nijatnja itoelah hendak di perboewatnja, aken tetapi djaga betoel, djangan sekali-kali engkau tjoba makan itoe roti. Melaenken engkau trima sadja, kaloe dia soegoeh-in roti itoe padamoe, adapoen djangan engkau makan, engkau lekas gantiken roti itoe dengan ini koewe sepotong, jang akoe brihken padamoe, itoelah engkau makan, tjoema djaga djangan sampe dia dapet taoe. Kaloe ratoe Labe soeda liat engkau makan, tentoe dia kira engkau makan dia poenja koewe roti, maka nistja ijalah dia nanti mengotjap djampenja boewat bikin engkau djadi beroepa binatang. Aken tetapi tentoe tiada bisa kedjadian kahendaknja; apabilh dia liat sabegitoe, nistjaija ia nanti melaga bilang, bahoewa ia bermaen-maen sadja, aken bikin kaget padamoe, sekalipoen di dalem atinja dia keliwat marah, jang kahendaknja tiada kedjadian, sebab barangkali ada jang di loepahken. Kapan itoe semoewa soeda djadi begitoe, maka baroelah engkau brihken<noinclude>{{rh||1555||}}</noinclude> 27u4clshbopyfbc1gpeuhfzej4e6n2z Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/539 104 101090 291319 289311 2026-05-10T16:56:33Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291319 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{rh||1001 MALAM }}</noinclude>itoe samoea mengedahin kami, sebab kami Islam, sedang jang laen-laen itoe semoewa orang menjembah api. Besok pagi engkau poelang lagi kemari, aken kasi taoe pada kami, apa jang ratoe bikin, sebab ini malem ia nanti tjari akal bagimana aken meroesaken kamoe. Adapen nanti kami adjarken padamoe akal boewat membatalken per boewatan ratoe. Radja Beder tinggal antero ari di roemahnja kiai, koetika malem baroe ia minta poelang ka astana, di mana ratoe Labe sedang lagi bernanti datengnja. Koetika ratoe liat dia poelang, maka ia di kasi selamat dateng dengan manis bahasa dan lantas ia di bawa masoek ka kamar tempat perdiaman ratoe. Dengan sigrah.djoega ratoe titahken orangnja angkat makanan dan minoeman, maka berdoewa-doewa radja Beder dengan ratoe bermakan minoem. Abis makan, marika itoe tj etji tangan, maka baroe ratoe titahken menjoegoeken anggoer. Orang kadoewa ini tinggal minoem-minoen sampe liwat tengah malem dan radja Beder minoem ang goer begitoe banjak sampe ianja djadi mabok. Barang ratos liat jang B der soeda mabok, maka katanja pada Beder: »Tjahija matakoe, koetika tadi pagi atikoe bangoen, kami tiada dateng. maka itoe kakanda pegi kalalem kebon, di mana kakanda dapet liat sa-ekor boeroeng jang itam. Kami hendak bilang teroes terang apa boeroeng itoe adanja. Ia ito sa-orang kami penja sida-sida, maka keras sanget kami tjinta padanja, adapoen bahoa terlaloe kami djadi tjemboerowan, sebab ia poen tjintai djoega sa-orang kami poenja boedak-boedak perampoewan oleh kerna itoe, maka kami soempa-in orang katjinta-an kami djadi boeroeng itam, dan boedak itoe kami soèroeh boenoeh. Maka kami tiada bisa tahan berpisahan dari pada katjinta-an kami, dan seringkali kami kepingin bertemoe lagi padanja. Djikaloe kami hendak bitjara sama orang itoe, maka kami sendiri djadiken diri kami sa-ekor boeroeng poeti. Apakah sekarang Beder marah pada kami dari itoe sebab? Adapoen kami soempah, biar tiada bisa kami dapet liat api lagi, kami poenja brahala, kami soeda bertambah-tambah jinta pada kakanda, maka itoe apa djoega kapoenja-anu kami, ia itoepoen kakanda djoega jang ampoenja.” Sedang Beder lagi mabok, maka ia menjaoet: »Ja, betoel sekali bitjara toewankoe, kami marah dari sebab perboewatanmoe jang kedji itoe.” Koetika Beder abis bitjara begitoe, maka ratoe lantas pelok tjioem padanja, serta ratos itoe bikin seperti keras sanget tjintanja pada radja Beder. Adapoen Beder tiada perloe-in perboewatannja ratoe Labe, ia teroes poeles. Tiada sebrapa lama lagi, maka ratoe Labe bangoen dari tempat tidoer, tetapi Beder poen mendoesin djoega, maka ratoe tida taoe jang Beder soeda mendoesin, sebab Beder melaga peles teroes. Dia meremin matanja, adapoen ia mengintei segala apa perboewatannja ratoe Labe. Maka radja Beder dapet liat, jang ratoe Labe boeka satoe lemari ketjil, dari sitoe ratoe ambil<noinclude>{{rh||1554|}}</noinclude> nzv5f9uzo4fcntc4v39gbq9h5d2a7pd 291402 291319 2026-05-10T23:37:13Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291402 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{rh||1001 MALAM }}</noinclude>itoe samoea mengedahin kami, sebab kami Islam, sedang jang laen-laen itoe semoewa orang menjembah api. Besok pagi engkau poelang lagi kemari, aken kasi taoe pada kami, apa jang ratoe bikin, sebab ini malem ia nanti tjari akal bagimana aken meroesaken kamoe. Adapen nanti kami adjarken padamoe akal boewat membatalken perboewatan ratoe. Radja Beder tinggal antero ari di roemahnja kiai, koetika malem baroe ia minta poelang ka astana, di mana ratoe Labe sedang lagi bernanti datengnja. Koetika ratoe liat dia poelang, maka ia di kasi selamat dateng dengan manis bahasa dan lantas ia di bawa masoek ka kamar tempat perdiaman ratoe. Dengan sigrah.djoega ratoe titahken orangnja angkat makanan dan minoeman, maka berdoewa-doewa radja Beder dengan ratoe bermakan minoem. Abis makan, marika itoe tj etji tangan, maka baroe ratoe titahken menjoegoeken anggoer. Orang kadoewa ini tinggal minoem-minoen sampe liwat tengah malem dan radja Beder minoem anggoer begitoe banjak sampe ianja djadi mabok. Barang ratoe liat jang B der soeda mabok, maka katanja pada Beder: »Tjahija matakoe, koetika tadi pagi atikoe bangoen, kami tiada dateng. maka itoe kakanda pegi kalalem kebon, di mana kakanda dapet liat sa-ekor boeroeng jang itam. Kami hendak bilang teroes terang apa boeroeng itoe adanja. Ia ito sa-orang kami penja sida-sida, maka keras sanget kami tjinta padanja, adapoen bahoa terlaloe kami djadi tjemboerowan, sebab ia poen tjintai djoega sa-orang kami poenja boedak-boedak perampoewan oleh kerna itoe, maka kami soempa-in orang katjinta-an kami djadi boeroeng itam, dan boedak itoe kami soèroeh boenoeh. Maka kami tiada bisa tahan berpisahan dari pada katjinta-an kami, dan seringkali kami kepingin bertemoe lagi padanja. Djikaloe kami hendak bitjara sama orang itoe, maka kami sendiri djadiken diri kami sa-ekor boeroeng poeti. Apakah sekarang Beder marah pada kami dari itoe sebab? Adapoen kami soempah, biar tiada bisa kami dapet liat api lagi, kami poenja brahala, kami soeda bertambah-tambah jinta pada kakanda, maka itoe apa djoega kapoenja-anu kami, ia itoepoen kakanda djoega jang ampoenja.” Sedang Beder lagi mabok, maka ia menjaoet: »Ja, betoel sekali bitjara toewankoe, kami marah dari sebab perboewatanmoe jang kedji itoe.” Koetika Beder abis bitjara begitoe, maka ratoe lantas pelok tjioem padanja, serta ratoe itoe bikin seperti keras sanget tjintanja pada radja Beder. Adapoen Beder tiada perloe-in perboewatannja ratoe Labe, ia teroes poeles. Tiada sebrapa lama lagi, maka ratoe Labe bangoen dari tempat tidoer, tetapi Beder poen mendoesin djoega, maka ratoe tida taoe jang Beder soeda mendoesin, sebab Beder melaga poeles teroes. Dia meremin matanja, adapoen ia mengintei segala apa perboewatannja ratoe Labe. Maka radja Beder dapet liat, jang ratoe Labe boeka satoe lemari ketjil, dari sitoe ratoe ambil<noinclude>{{rh||1554|}}</noinclude> hcvkn3hqmoqpkas5hxs6rw6nkllz30u Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/503 104 101091 291428 283504 2026-05-11T00:39:47Z Thersetya2021 15831 291428 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ichahahaha" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>sabir, maka di katahoewinja poela apa wacijatnja itoe tjintjin, dari itoe ianja keras bernijat aken rampas tjintjin itoe dari pada djari radja, tetapi boekan dengen paksa. Poeteri Giauhare minta liat tjintjin jang di pake radja Beder, maka radja Beder lantas tjaboet tjintjin itoe di serahkennja pada poeteri Giauhare. Apabila poeteri ini dapet itoe tcintjin, maka ia lekas pelok lagi sama radja Beder sambil membatja rapa'an wacijatnja. Radja Beder tiada mengarti satoe apa, srenta soeda abis di batjanja rapallan itoe, maka poeteri Giauhare loedahken moekanja radja Beder sembari mengotjap: »Hei menoesia! lepaskanlah roepamoe dan djadi boeroeng poeti pake patok dan kaki merah.” Apabila poeteri Giauhare abis berkata begitoe, maka di liatnja radja Beder dirinja djadi sa-ekor boeroeng poeti, hingga sanget berdoeka tjita atinja Poeteri Giauhare laloe bertitah pada sa-orang boedaknja: »Lekas bawa ini boeroeng ka poelo Batoe.” Ia itoelah soewatoe poelo melaenken karang blaka, tiada ada satoe toemboe-toemboehan, maskipoen aer satetes tiada ada. Boedak itoe ambil itoe boeroeng aken di bawanja pegi, tetapi sembari djalan membawa boeroeng itoe, maka si boedak sanget berkesian sama radja Beder. Katanja boedak itoe dalem dirinja: »Soenggoe saijang sekali sa-orang pengeran begini elok dan tjakap misti di boenoeh lapar dan aoes. Kita poenja poeteri memang sa-orang baik ati dan lemas adatnja, barangkali kamoedian kaloe soeda sabar dan dingin nafsoe maranja, maka ianja menjesal sendiri, jang dia perboewatken barang sademikian jang amat lalim, sebab roepanja sekarang dia terlaloe sanget marah. Lebi baik kami bawa boeroeng ini disoewatoe negri jang rame di mana dia bole dapet apa jang di soeka.” Oleh kerna jang sademikian itoe, maka si boedak bawa itoe boeroeng ka soewatoe negri jang rame banjak orang dan senang bawanja, penoeh poehoenan dan soengei ketjil. Adapoen pada toewannja boedak itoe kataken, bahoewa ia bawa boeroeng itoe di poelo Batoe. Koetika radja Saleh tiada dapet poeteri Giauhare di dalem astana, maka di soeroenja tjari koeliling tempat, tetapi pertjoema sadja. Soedah begitoe, maka radja Saleh soeroeh ikat dan pendjara radja Samandal di dalem astananja sendiri, serta di soeroe djaga jang baik-baik, abis ia brihken prentah, aken atoer dan oeroes pakerdja-an negri selamanja ianja pegi dari sitoe. Setelah soeda selese semoewa, baroe ia poelang ka negrinja ketemoe-in ratoe aboe, aken memberitaken segala hal jang telah soedah kedjadian itoe. Apabila sampe di roemah iboe-adanja, maka ianja tanja di mana ada kaponakannja. Barang di dengernja, bahoewa radja Beder soedah pegi dari negri dengen diam-diam, maka radja Saleh terlaloe amat sakit ati. Ratoe itoe berkata: »Anakda misti taoe, bahoewa orang jang membawa warta dari anakda telah soedah membikin kami semoewa sanget berkoewatir. Itoe orang bilang, bahoewa anakda berbahaija besar di dalem astana radja<noinclude>{{rh||1536|}}</noinclude> o0kd9jwpc7dmkogrr0qm53lxnmxqi7p Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/493 104 101097 291375 283477 2026-05-10T18:19:54Z Thersetya2021 15831 291375 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ichahahaha" /><center>1001 MALAM</center></noinclude>gampang sadja ia kena di tangkep. Abis radja ketangkep, maka radja Saleh teroes tjari-tjari di laen-laen kamar, kaloe-kaloe bisa dapet poeteri Giauhare. Aken tetapi poeteri Giauhare soeda tida ada. Bermoela-moela hanja denger riboet-riboet di dalem astana, maka dia dengen dajang-dajangnja lantas naik pegi ka atas laoet bersemboeni di atas saboewah poelo. Sedang hal ini semoewa kedjadian di dalem astana radja Samandal, maka saorang pengiringnja radja Saleh lari poelang kasi taoe apa jang telah kedjadian, ia itoe radja Saleh tentoe binasa di boenoeh radja Samandal. Itoe orang tjerita begitoe, sebab dia tjoema liat radja Saleh maoe di boenoeh dan dianja poen tiada dapet lihat laskar-laskar jang di soeroeh soesoel ratoe iboe, hingga ratoe mendjadi keras soesah atinja. Radja Beder ada bersama-sama, koetika itoe orang dateng bawa itoe kabar. Barang dia dapet dengar radja Saleh roesak, maka atinja tergerak sanget, sebab ia fikir, bahoewa segala ini kedjadian lantaran dia. Ia tiada brani angkat moeka aken memandang, sebab ia taoe radja Saleh kena tjilaka itoe lantaran dia. Sedang dia liat ratoe iboe lagi repot kasi prentah begini pada orang-orangnja, maka radja Beder lari menimboel di atas laoet. Dia djalan sadjalan-djalannja, sebab dia tiada taoe kamana menoedjoe negri Persie, dari itoelah ia sampe di atas poelo itoe di mana poeteri Giauhare lagi bersemboeni. Radja Beder tjape keliwat, ia tida taoe apa misti bikin, ia doedoek besender di batang kajoe. Koetika dia ilang tjapenja, maka ia dengar seperti orang bitjara. Dia pasang koeping terang-terang, tetapi ia tiada bisa denger njata, apa jang di bitjari-in. Djadi ia bediri berdjalan plahan-plahan mengampiri itoe soewara. Di sitoelah dia dapet liat moeka orang jang seperti bidadari. Dalem atinja ia berkata: »Ta dapet tiada, ini dia tentoe jang di namai poeteri Giauhare, barangkali ia lari kemari dari negri ajandanja.” Radja Persie tiada bernanti lama-lama, ia lantas keloewar mengadep laloe membrih hormat sebegimana patoet abis ia berkata: »Toewan poeteri, kami memoedjiken Allah jang maha koewasa, aken peroentoengan jang di brihkennja pada kami sekarang ini, jang boleh mempertemoeken kami pada saorang jang begitoe elok dan tjantik seperti toewan, hingga bidadari sekalipoen tiada bisa mengoengkoeli kabagoesannja toewaokoe. Kami tiada kenal kasenangan ati, melaenken aken menoeloeng sadja pada toewan poeteri. Oleh kerna itoe, biar apalah kiranja toewan poeteri djangan tolak kami poenja permoehoenan aken menoeloeng toewankoe, sebab kami fikir saorang prempoewan moeda, nistjaja tiada ada di poelo ini, djikaloe ianja tiada perloe pertoeloengan.” Poeteri Giauhare berdjawab sasoedahnja ilang takoetnja, koetika di<noinclude>{{rh||1533|}}</noinclude> ee8tjv8z2wcyexwgjw5cy5t1qfe8e23 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/491 104 101099 291374 283472 2026-05-10T18:18:11Z Thersetya2021 15831 291374 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>poen begitoe djoega termasjhoer tjakep sikepnja, tiada ada laki-laki djedjaka seperti radja Persie, masih di darat atawa di laoet, tiada ada seperti dia. Oleh kerna itoe, maka permoehoenan kami sama djoega seperti aken menambah kamoelija-an doeli sjah alam bersama poeteri Giauhare, djadi kami tiada sekali-kali koewatirken doeli sjah alam, tentoe girang aken izinken orang moeda kadoewa itoe di lamarken. Sembabat betoel, kaloe kadoewa orang moeda ini berlaki isteri, sekalian isi doenia, nistjaija memoedjiken perboewatan kita ini.” Tjoba radja Samaudal tiada begitoe keras marah sampe ia tiada berkata-kata, maka tentoe radja Saleh tiada nanti bisa bitjara begitoe pandjang-pandjang. Sasoedahnja radja Saleh abis bitjara, maka radja Samandal masih djoega goegoep lehernja dan moeloetnja seperti terkantjing, sebab atinja mendidi, bahna sanget keras marahnja. Matanja mendjelattan. Kamoedian, ia bediri, maka berseroehlah ia dengan keras: »Andjing, engkau brani berkata begitoe, aken membrih maloe pada kami dan pada anak kami, poeteri Giauhare! Siapa kamoe, siapa bapamoe, siapa soedaramoe dan siapa kaponakanmoe? Bapamoe apa boekan andjing, dan ia poen anaknja andjing seperti engkau ini? Ajo lekas tangkap ini andjing potong lehernja!” Orang-orangnja radja Samandal tiada sebrapa, maka semoewa laloe bergerak aken toeroet seperti titah radjanje. Tetapi baiknja radja Saleh tjepet, djadi ia bebas tiada kena di tabas lehernja sebab ia keboeroe berlompat ka pintoe astana di mana kabetoelan ada bebrapa riboe laskarnja dan sanak soedaranja jang baroe sampe di sitoe. Iboenja radja Saleh, ada berkoewatir, koetika di liatnja radja Saleh brangkat pegi pada radja Samandal dengan membawa orang pengiring ampat lima orang sadja, lagipoen iboenja radja Saleh seperti ada firasat, bahoewa anaknja bakalan dapet soesah di negrinja radja Samandal, oleh kerna itoe, maka ratoe iboe titahken orang laskar bala tentara brapa riboe, aken ikoet sigrah sama radja Saleh, ia itoelah orang-orang laskar jang kabetoelan sampe di astana radja Samandel, koetika radja Saleh melompat kaloewar pintoe waktoe lehernja hendak di tabas oleh orangnja radja Samandal. Koetika laskar-laskar itoe liat radjanja melompat kaloewar hendak lariken dirinja, maka marika itoe pada berseroe: »Kenapakah doeli toewankon, radja Saleh, djangan lari, kaloe belon petjah dada kami sekalian, marilah doeli toewankoe membales, apa djoega doeli sjah alam titahken hamba laskarnja nistjaja djalanken. Maka radja Saleh tjeritaken pada orang-orangnja apa jang telah kedjadian, abis ia sendiri bediri djadi kepalanja laskar-laskar itoe teroes menerdjang masoek ka dalem astana. Sabagian laskarnja ia soeroeh djaga di pintoe-pintoe di dalem astana, maka Radja Saleh lantas masoek ka dalem bilik radja. Orang-orangnja radja Samandal abis binasa djadi<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1532|{{smaller|78}}}}</noinclude> 196hm1t9lbiesx1922bqjyhfak9koxh Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/489 104 101100 291373 283470 2026-05-10T18:15:30Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan paragraf tidak rapi 291373 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>di pertjaija begini oleh doeli sjah alam, maka kami ini dateng aken minta.idin boewat meminang poeteri Giaubare, anakda doeli ejah alam, soepaija-kekal persahbatan kadoewa kita poenja karadja-an.” Satelab radja Samandal dengar bitjara radja Saleh sademikian, makaia tertawa berkelak-kelak sambil djatokken dirioja tjelentang keblakang di atas bantal, ia itoe soewatoe tanda aken menghinaken orang. Abis radja berkata dengan soewara seperti orang bitjara dengan boedak-boedaknja: ›Ach radja Saleh, kami selama-lama ada kira, bahoewa engkau sa-orang radja jang tjerdik, jang tadjem fikiran, serta bidjaksana aken tetapi dari sebab paminanganmoe ini telah menjalaken soenggoe pada kami, bahoewa salah sanget doega kami: Di manakah engkau tinggali ingatanmoe tatkala engkau dateng di sini bertemoe kami, aken bitjara seperti orang gila-gila. Bagimana bole djadi engkau dapet ingatan begitoe gelap, aken meminang posteri Giauhare, anaknja radja jang tida ada lawannja seperti kami ini? Betapakah engkau tjapeken diri dateng djaoeh-djaoeh kemari, tjoema aken mengilangken hormat kami bagimoe, sabelonnja engkau bitjara barang gila seperti tadi.” Wah, radja Saleh merasa oerat pilisnja berkedoetan, matanja mendja, di merah, bahna sanget marahnja, jang ia di bikin maloe begitoe keras terlaloe amat soesah aken menahan atinja jang seperti barah api panaanja. Adapoen ia paksa djoega, abis ia berkata dengan sabar; Biar Allah ta-Allah, berkatken doeli sjah alam, adapoen kami ini misti bribken tace pada doeli Bjah alam, bahoewa kami dateng meminang poeteri Giauhare, boekannja, boewat kami sendiri. Tjoba boewat kami sendiri, maka boekannja baroes doeli sjah alam mendjadi goesar bagi kami, halnja wadjib doeli toewankoe girang, jang kami hendak mengoendjoeken hormat begitoe besar pada doeli sjah alam dan bagi posteri Giauhare. sebab dengan perboewatan sademikian kami mengakoe sendiri, baho ewa doeli sjah alam sama tinggi pangkatnja Beperti kami. Doeli ajah alam taoe sendiri, kami sa orang radja laoet, kaoem radja-radja, asal-asal oesoel kami djangan-djangan terlebi toewa lagi dari pada kaoem doeli ajah alam, tambahan poela, negri karadja-an jang terprentah. oleh kami, tiada koerang besar dan termashoer dari pada negri karadjaan doeli sjah alam. Kapan tadi doeli toewankoe tiada dateng-dateng potong kami poenja bitjara, maka doeli toew ankoe ɛoeda dapet tace djoega, baboswa kami dateng meminang ini boekan boewat kami sendiri, aken tetapi boewat kami poenja kaponakan, ia itoe radja Persie jang termasjboer berkoewasa besar dan tadapet tiada, doeli toewankoe tentoe misti soedah taoe dengar dari pada radja itoe jang terlaloe arif, adil dan boediman, serta berkasiban pada rajatnja. Antero doenia tjeritahken dan poedjiken parasnja poeteri Giauhare katanja tiada ada kadoewanja di alam djagad, aken tetapi, radja Persie<noinclude>{{rh|1531}}</noinclude> 7wy6hhunme89ss3fo82u10wb1gmhqj1 291379 291373 2026-05-10T22:15:08Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291379 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>di pertjaija begini oleh doeli sjah alam, maka kami ini dateng aken minta.idin boewat meminang poeteri Giaubare, anakda doeli ejah alam, soepaija-kekal persahbatan kadoewa kita poenja karadja-an.” Satelab radja Samandal dengar bitjara radja Saleh sademikian, makaia tertawa berkelak-kelak sambil djatokken dirioja tjelentang keblakang di atas bantal, ia itoe soewatoe tanda aken menghinaken orang. Abis radja berkata dengan soewara seperti orang bitjara dengan boedak-boedaknja: ›Ach radja Saleh, kami selama-lama ada kira, bahoewa engkau sa-orang radja jang tjerdik, jang tadjem fikiran, serta bidjaksana aken tetapi dari sebab paminanganmoe ini telah menjalaken soenggoe pada kami, bahoewa salah sanget doega kami: Di manakah engkau tinggali ingatanmoe tatkala engkau dateng di sini bertemoe kami, aken bitjara seperti orang gila-gila. Bagimana bole djadi engkau dapet ingatan begitoe gelap, aken meminang posteri Giauhare, anaknja radja jang tida ada lawannja seperti kami ini? Betapakah engkau tjapeken diri dateng djaoeh-djaoeh kemari, tjoema aken mengilangken hormat kami bagimoe, sabelonnja engkau bitjara barang gila seperti tadi.” Wah, radja Saleh merasa oerat pilisnja berkedoetan, matanja mendja, di merah, bahna sanget marahnja, jang ia di bikin maloe begitoe keras terlaloe amat soesah aken menahan atinja jang seperti barah api panaanja. Adapoen ia paksa djoega, abis ia berkata dengan sabar; Biar Allah ta-Allah, berkatken doeli sjah alam, adapoen kami ini misti bribken tace pada doeli Bjah alam, bahoewa kami dateng meminang poeteri Giauhare, boekannja, boewat kami sendiri. Tjoba boewat kami sendiri, maka boekannja haroes doeli sjah alam mendjadi goesar bagi kami, halnja wadjib doeli toewankoe girang, jang kami hendak mengoendjoeken hormat begitoe besar pada doeli sjah alam dan bagi posteri Giauhare. sebab dengan perboewatan sademikian kami mengakoe sendiri, baho ewa doeli sjah alam sama tinggi pangkatnja Beperti kami. Doeli ajah alam taoe sendiri, kami sa orang radja laoet, kaoem radja-radja, asal-asal oesoel kami djangan-djangan terlebi toewa lagi dari pada kaoem doeli ajah alam, tambahan poela, negri karadja-an jang terprentah. oleh kami, tiada koerang besar dan termashoer dari pada negri karadjaan doeli sjah alam. Kapan tadi doeli toewankoe tiada dateng-dateng potong kami poenja bitjara, maka doeli toew ankoe ɛoeda dapet tace djoega, baboswa kami dateng meminang ini boekan boewat kami sendiri, aken tetapi boewat kami poenja kaponakan, ia itoe radja Persie jang termasjboer berkoewasa besar dan tadapet tiada, doeli toewankoe tentoe misti soedah taoe dengar dari pada radja itoe jang terlaloe arif, adil dan boediman, serta berkasiban pada rajatnja. Antero doenia tjeritahken dan poedjiken parasnja poeteri Giauhare katanja tiada ada kadoewanja di alam djagad, aken tetapi, radja Persie<noinclude>{{rh|1531}}</noinclude> lko6147527f0cp9tibcxam60jz99xn9 291386 291379 2026-05-10T23:10:20Z Aeia aai 24023 291386 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>di pertjaija begini oleh doeli sjah alam, maka kami ini dateng aken minta idin boewat meminang poeteri Giauhare, anakda doeli ejah alam, soepaija-kekal persahbatan kadoewa kita poenja karadja-an.” Satelah radja Samandal dengar bitjara radja Saleh sademikian, maka ia tertawa berkelak-kelak sambil djatokken dirinja tjelentang keblakang di atas bantal, ia itoe soewatoe tanda aken menghinaken orang. Abis radja berkata dengan soewara seperti orang bitjara dengan boedak-boedaknja: »Ach radja Saleh, kami selama-lama ada kira, bahoewa engkau sa-orang radja jang tjerdik, jang tadjem fikiran, serta bidjaksana aken tetapi dari sebab paminanganmoe ini telah menjalaken soenggoe pada kami, bahoewa salah sanget doega kami: Di manakah engkau tinggali ingatanmoe tatkala engkau dateng di sini bertemoe kami, aken bitjara seperti orang gila-gila. Bagimana bole djadi engkau dapet ingatan begitoe gelap, aken meminang poeteri Giauhare, anaknja radja jang tida ada lawannja seperti kami ini? Betapakah engkau tjapeken diri dateng djaoeh-djaoeh kemari, tjoema aken mengilangken hormat kami bagimoe, sabelonnja engkau bitjara barang gila seperti tadi.” Wah, radja Saleh merasa oerat pilisnja berkedoetan, matanja mendjadi merah, bahna sanget marahnja, jang ia di bikin maloe begitoe keras terlaloe amat soesah aken menahan atinja jang seperti barah api panasnja. Adapoen ia paksa djoega, abis ia berkata dengan sabar; »Biar Allah ta-Allah, berkatken doeli sjah alam, adapoen kami ini misti brihken taoe pada doeli sjah alam, bahoewa kami dateng meminang poeteri Giauhare, boekannja, boewat kami sendiri. Tjoba boewat kami sendiri, maka boekannja haroes doeli sjah alam mendjadi goesar bagi kami, halnja wadjib doeli toewankoe girang, jang kami hendak mengoendjoeken hormat begitoe besar pada doeli sjah alam dan bagi poeteri Giauhare. sebab dengan perboewatan sademikian kami mengakoe sendiri, bahoewa doeli sjah alam sama tinggi pangkatnja seperti kami. Doeli sjah alam taoe sendiri, kami sa-orang radja laoet, kaoem radja-radja, asal-asal oesoel kami djangan-djangan terlebi toewa lagi dari pada kaoem doeli sjah alam, tambahan poela, negri karadja-an jang terprentah oleh kami, tiada koerang besar dan termashoer dari pada negri karadjaan doeli sjah alam. Kapan tadi doeli toewankoe tiada dateng-dateng potong kami poenja bitjara, maka doeli toewankoe ɛoeda dapet taoe djoega, bahoewa kami dateng meminang ini boekan boewat kami sendiri, aken tetapi boewat kami poenja kaponakan, ia itoe radja Persie jang termasjhoer berkoewasa besar dan tadapet tiada, doeli toewankoe tentoe misti soedah taoe dengar dari pada radja itoe jang terlaloe arif, adil dan boediman, serta berkasihan pada rajatnja. Antero doenia tjeritahken dan poedjiken parasnja poeteri Giauhare katanja tiada ada kadoewanja di alam djagad, aken tetapi, radja Persie<noinclude>{{rh|1531}}</noinclude> b5bccr74lwb7g85dcwdf9lgc2fsiwy4 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/487 104 101102 291372 283468 2026-05-10T18:13:51Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan tanda » 291372 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Satelab radja Samandal dengar radja Saleh dateng, maka ianja lantas minta radja tetamoe masoek mengadep. Barang di liatnja radja Saleh masoek, maka radja Samandal lantas bangoen bediri dari sanggasananja. Radja Saleh merendahkea dirinja, maka ja bersoedjoed di hadepan kaki sanggasana itoe, aken membrih hormat sambil memoedji bebrapa poedji-poedjian atas radja Samandal. Radja Samandal lekas toeloeng bangoenken radja Saleh dari pada soedjoednja, abis di soeroehnja doedoek di ampirnja. Ia kasi tabe dau bertanja pada radja Saleh apakah ada hadjstaja jang barangkali dapet di toeloeng oleh radja Samandal. Djawaboja radja Saleh: Doeli jah alam, djikaloe dateng kami inį tiada ada laen, tjoema aken membrihken hormat kabawah doali kabesaran radja laoet jang paling berkoewasa serta adil, arif, bidjaksana dan bosdimaa maka apa jang kami persembahken di bawah doeli ajah alam, boskan bagi dari pada kami poenja hormat jang di rasaken di dalem kami poenja ati. Tjoba doeli sjah alam dapet pandang ka dalem ati kami, maka baroelab njata, bagimana besar hormat kami dan bagimana kami hendak mengoendjoeken karendahan kami bagi doeli sjah alam.” Sembaring berkata sade. mikian, maka radja Saleh ambil peti-peti emas dari tangan orangoja laloe di boekanja di persembahkennja pada radja Samandal. Maka radja Samandal laloe berkata: Maharadja Saleh, nistjaija toewankos tiada nanti brihken kami bingkisan sabegini besar, djika tiada ada barang jang di kahendaki. Djika ada koewasa akea kaboelken sebagimana di kahendaki toewankoe, maka tentoe kami ridlaken. Dari itoe biljaralah djangan maloe, apakah kami bole bikin boewat toewankoe. Sembahnja radja Saleb: Benar sekali sebagimana kata doeli sjah alam, kami ini dateng mengadep doeli sjah alam, aken bermoehoen kalimpa-an ati doeli toewankoe, serta kami nistja ja tiada permoehoenken itoe, djikaloe kami tiada taoe tentoe, bahoewa doeli sjah alam sanggoep kaboelken permoehoenan itoe. Kami bole bilang, bahoewa doeli toewankoe sendiri jang bisa tjoekoepken permoehoenan itoe, orang laen tida sanggoep. Kerna itoe, maka sanda minta di bawah tjerpoe doeli sri baginda, biar apalah kiranja djangan dosli sjab alam tolak permosheenan kami.” Djawabnja radja Samandal: »Kaloe begitoe bilang sadja apa jang toewankoe permoehoenken, maka toe wankoe bole liat bagimana soeka kami menoeloeng, djikaloe kami sanggoep brihken toeloengan itoe.” Radja Saleh bersoedjoed lagi sekali menjioem boemi di badepan kakinja radja Samandal laloe berkata: Sa-orang alim telah adjarken kami katanja djangan bermoehoen barang jang tida dapat di kaboelken. Apa jang kami permoshoenken boskan barang jang moestail. Sasoedahnja kami<noinclude>{{rh||1530}}</noinclude> kow8s8sqt0ww2sswnsfvan5v5004vnh 291377 291372 2026-05-10T22:07:14Z Aeia aai 24023 291377 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Satelab radja Samandal dengar radja Saleh dateng, maka ianja lantas minta radja tetamoe masoek mengadep. Barang di liatnja radja Saleh masoek, maka radja Samandal lantas bangoen bediri dari sanggasananja. Radja Saleh merendahkea dirinja, maka ja bersoedjoed di hadepan kaki sanggasana itoe, aken membrih hormat sambil memoedji bebrapa poedji-poedjian atas radja Samandal. Radja Samandal lekas toeloeng bangoenken radja Saleh dari pada soedjoednja, abis di soeroehnja doedoek di ampirnja. Ia kasi tabe dau bertanja pada radja Saleh apakah ada hadjstaja jang barangkali dapet di toeloeng oleh radja Samandal. Djawaboja radja Saleh: Doeli sjah alam, djikaloe dateng kami inį tiada ada laen, tjoema aken membrihken hormat kabawah doali kabesaran radja laoet jang paling berkoewasa serta adil, arif, bidjaksana dan bosdimaa maka apa jang kami persembahken di bawah doeli ajah alam, boskan bagi dari pada kami poenja hormat jang di rasaken di dalem kami poenja ati. Tjoba doeli sjah alam dapet pandang ka dalem ati kami, maka baroelab njata, bagimana besar hormat kami dan bagimana kami hendak mengoendjoeken karendahan kami bagi doeli sjah alam.” Sembaring berkata sade. mikian, maka radja Saleh ambil peti-peti emas dari tangan orangoja laloe di boekanja di persembahkennja pada radja Samandal. Maka radja Samandal laloe berkata: Maharadja Saleh, nistjaija toewankos tiada nanti brihken kami bingkisan sabegini besar, djika tiada ada barang jang di kahendaki. Djika ada koewasa akea kaboelken sebagimana di kahendaki toewankoe, maka tentoe kami ridlaken. Dari itoe biljaralah djangan maloe, apakah kami bole bikin boewat toewankoe. Sembahnja radja Saleb: Benar sekali sebagimana kata doeli sjah alam, kami ini dateng mengadep doeli sjah alam, aken bermoehoen kalimpa-an ati doeli toewankoe, serta kami nistja ja tiada permoehoenken itoe, djikaloe kami tiada taoe tentoe, bahoewa doeli sjah alam sanggoep kaboelken permoehoenan itoe. Kami bole bilang, bahoewa doeli toewankoe sendiri jang bisa tjoekoepken permoehoenan itoe, orang laen tida sanggoep. Kerna itoe, maka sanda minta di bawah tjerpoe doeli sri baginda, biar apalah kiranja djangan dosli sjab alam tolak permosheenan kami.” Djawabnja radja Samandal: »Kaloe begitoe bilang sadja apa jang toewankoe permoehoenken, maka toe wankoe bole liat bagimana soeka kami menoeloeng, djikaloe kami sanggoep brihken toeloengan itoe.” Radja Saleh bersoedjoed lagi sekali menjioem boemi di badepan kakinja radja Samandal laloe berkata: Sa-orang alim telah adjarken kami katanja djangan bermoehoen barang jang tida dapat di kaboelken. Apa jang kami permoshoenken boskan barang jang moestail. Sasoedahnja kami<noinclude>{{rh||1530}}</noinclude> 7kp0fnu0zl3mv89caiau58epo8sfvpa 291378 291377 2026-05-10T22:15:06Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291378 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Satelab radja Samandal dengar radja Saleh dateng, maka ianja lantas minta radja tetamoe masoek mengadep. Barang di liatnja radja Saleh masoek, maka radja Samandal lantas bangoen bediri dari sanggasananja. Radja Saleh merendahkea dirinja, maka ja bersoedjoed di hadepan kaki sanggasana itoe, aken membrih hormat sambil memoedji bebrapa poedji-poedjian atas radja Samandal. Radja Samandal lekas toeloeng bangoenken radja Saleh dari pada soedjoednja, abis di soeroehnja doedoek di ampirnja. Ia kasi tabe dau bertanja pada radja Saleh apakah ada hadjstaja jang barangkali dapet di toeloeng oleh radja Samandal. Djawaboja radja Saleh: Doeli sjah alam, djikaloe dateng kami inį tiada ada laen, tjoema aken membrihken hormat kabawah doali kabesaran radja laoet jang paling berkoewasa serta adil, arif, bidjaksana dan bosdimaa maka apa jang kami persembahken di bawah doeli ajah alam, boskan bagi dari pada kami poenja hormat jang di rasaken di dalem kami poenja ati. Tjoba doeli sjah alam dapet pandang ka dalem ati kami, maka baroelab njata, bagimana besar hormat kami dan bagimana kami hendak mengoendjoeken karendahan kami bagi doeli sjah alam.” Sembaring berkata sade. mikian, maka radja Saleh ambil peti-peti emas dari tangan orangoja laloe di boekanja di persembahkennja pada radja Samandal. Maka radja Samandal laloe berkata: Maharadja Saleh, nistjaija toewankos tiada nanti brihken kami bingkisan sabegini besar, djika tiada ada barang jang di kahendaki. Djika ada koewasa akea kaboelken sebagimana di kahendaki toewankoe, maka tentoe kami ridlaken. Dari itoe biljaralah djangan maloe, apakah kami bole bikin boewat toewankoe. Sembahnja radja Saleb: Benar sekali sebagimana kata doeli sjah alam, kami ini dateng mengadep doeli sjah alam, aken bermoehoen kalimpa-an ati doeli toewankoe, serta kami nistja ja tiada permoehoenken itoe, djikaloe kami tiada taoe tentoe, bahoewa doeli sjah alam sanggoep kaboelken permoehoenan itoe. Kami bole bilang, bahoewa doeli toewankoe sendiri jang bisa tjoekoepken permoehoenan itoe, orang laen tida sanggoep. Kerna itoe, maka sanda minta di bawah tjerpoe doeli sri baginda, biar apalah kiranja djangan dosli sjab alam tolak permosheenan kami.” Djawabnja radja Samandal: »Kaloe begitoe bilang sadja apa jang toewankoe permoehoenken, maka toe wankoe bole liat bagimana soeka kami menoeloeng, djikaloe kami sanggoep brihken toeloengan itoe.” Radja Saleh bersoedjoed lagi sekali menjioem boemi di badepan kakinja radja Samandal laloe berkata: Sa-orang alim telah adjarken kami katanja djangan bermoehoen barang jang tida dapat di kaboelken. Apa jang kami permoshoenken boskan barang jang moestail. Sasoedahnja kami<noinclude>{{rh||1530}}</noinclude> b8nij8miggyeum0ce5uiy0gzx0ero3p 291384 291378 2026-05-10T23:05:18Z Aeia aai 24023 291384 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Satelah radja Samandal dengar radja Saleh dateng, maka ianja lantas minta radja tetamoe masoek mengadep. Barang di liatnja radja Saleh masoek, maka radja Samandal lantas bangoen bediri dari sanggasananja. Radja Saleh merendahken dirinja, maka ja bersoedjoed di hadepan kaki sanggasana itoe, aken membrih hormat sambil memoedji bebrapa poedji-poedjian atas radja Samandal. Radja Samandal lekas toeloeng bangoenken radja Saleh dari pada soedjoednja, abis di soeroehnja doedoek di ampirnja. Ia kasi taoe dan bertanja pada radja Saleh apakah ada hadjatnja jang barangkali dapet di toeloeng oleh radja Samandal. Djawabnja radja Saleh: »Doeli sjah alam, djikaloe dateng kami inį tiada ada laen, tjoema aken membrihken hormat kabawah doali kabesaran radja laoet jang paling berkoewasa serta adil, arif, bidjaksana dan boediman maka apa jang kami persembahken di bawah doeli sjah alam, boekan bagi dari pada kami poenja hormat jang di rasaken di dalem kami poenja ati. Tjoba doeli sjah alam dapet pandang ka dalem ati kami, maka baroelah njata, bagimana besar hormat kami dan bagimana kami hendak mengoendjoeken karendahan kami bagi doeli sjah alam.” Sembaring berkata sademikian, maka radja Saleh ambil peti-peti emas dari tangan orangnja laloe di boekanja di persembahkennja pada radja Samandal. Maka radja Samandal laloe berkata: »Maharadja Saleh, nistjaija toewankoe tiada nanti brihken kami bingkisan sabegini besar, djika tiada ada barang jang di kahendaki. Djika ada koewasa akoa kaboelken sebagimana di kahendaki toewankoe, maka tentoe kami ridlaken. Dari itoe bitjaralah djangan maloe, apakah kami bole bikin boewat toewankoe. Sembahnja radja Saleb: »Benar sekali sebagimana kata doeli sjah alam, kami ini dateng mengadep doeli sjah alam, aken bermoehoen kalimpa-an ati doeli toewankoe, serta kami nistjaja tiada permoehoenken itoe, djikaloe kami tiada taoe tentoe, bahoewa doeli sjah alam sanggoep kaboelken permoehoenan itoe. Kami bole bilang, bahoewa doeli toewankoe sendiri jang bisa tjoekoepken permoehoenan itoe, orang laen tida sanggoep. Kerna itoe, maka sanda minta di bawah tjerpoe doeli sri baginda, biar apalah kiranja djangan doeli sjah alam tolak permoehoenan kami.” Djawabnja radja Samandal: »Kaloe begitoe bilang sadja apa jang toewankoe permoehoenken, maka toewankoe bole liat bagimana soeka kami menoeloeng, djikaloe kami sanggoep brihken toeloengan itoe.” Radja Saleh bersoedjoed lagi sekali menjioem boemi di hadepan kakinja radja Samandal laloe berkata: »Sa-orang alim telah adjarken kami katanja djangan bermoehoen barang jang tida dapat di kaboelken. Apa jang kami permoehoenken boekan barang jang moestail. Sasoedahnja kami<noinclude>{{rh||1530}}</noinclude> 4dm7xtozuv8gntkkorf3d4witjufxh7 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/479 104 101103 291484 283455 2026-05-11T01:46:39Z Thersetya2021 15831 291484 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>Pada ka-esokan harinja, maka kadoewa radja itoe pegi memboeroe dengan di iring oleh bebrapa banjak penggawi dan pembesar negri, dan seringkali kedjadian radja Beder sendirian bersama-sama radja Saleh, tetapi radja Beder berat sadja moeloetnja aken membitjara-in halnja. Koetika matahari soedah tinggi sekali dan tempat perboeroewan itoe mendjadi terlaloe amat panas, maka Beder pegi dengan koedanja ka tepi soengi, di sitoe dia toeroen dari koedanja, abis koeda itoe di tjantjangnja di batang kajoe, maka sendiri pegi tidoeran di roempoet di bawah poehoen besar, aken senang mengilirken aer matanja. Lama ia tinggal memikirken halnja dengan tiada berkata-kata. Samantara itoe radja Saleh mendjadi bingoeng, koetika ia tiada dapet liat lagi kaponakannja, maka ia bertanja-tanja di mana radja Beder ada, maka sa-orang poen tida bisa kasi katerangan. Dari itoe ianja pegi tjari sendiri pada kaponakannja. Tiada sebrapa lama ia mentjari, dapet di liatnja radja Beder tidoer-tidoeran sendiri-diri di bawah poehoen, seperti orang ada pikiran jang amat koesoet. Memang di hari kemarennja poen radja Saleh soedah dapet liat, bahoewa kaponakannja itoe koerang senang seperti sari-sari, roepanja seperti dia ada dalem soesah sanget, kaloe orang tanjaken apa-apa padanja, maka sering djawabnja seperti orang mengotje. Radja Saleh tiada sekali-kali bisa doega apa sebabnja sampe radja Beder bole djadi begitoe. Adapoen sekarang ini, sasoedahnja radja Saleh dapet liat kaponakannja doedoek berdiam di bawah poehoen, seperti orang jang ilang semanget, maka baroelah di ketahoewinja, bahoewa radja Beder soedah dapet dengar segala apa bitjaranja radja Saleh dengan iboenja. Radja Saleh toeroen djaoeh-djaoeh dari koedanja, laloe berdjalan diam ka tempat doedoeknja radja Bader sampe dekat sekali dan dia bole dapet dengar apa jang radja Beder bitjara dalem dirinja. Katanja radja Beder: »Ja toewan poeteri jang manis, poeteri Giauhare dari Samandal, apa jang kami dengar orang tjeritaken dari pada toewan poeteri poenja katjakepan, nistjaija tjoema sabagian sadja dari pada jang sabenarnja. Kami rasa eloknja dan tjantiknja poeteri Giauhare tiada ada bandingannja di doenia, tiada ada kadoewanja. Tjoba kami taoe di mana toewan poeteri ada, maka kami tiada bernanti sakedjap mata lagi, aken dateng mengampiri toewankoe, kami telah soempah tiada hendak beristeri laen orang, melaenken toewan poeteri sendiri.” Radja Saleh tiada bisa tahan lama-an bersemboeni sambil mendengar bitjaranja kaponakannja sademikian, djadi dia lantas dateng dekat-in radja Beder laloe doedoek di ampirnja sambil berkata: »Kaloe begini, maka engkau soedah dapet dengar semoewa hal jang kami bitjara-in kemaren doeloe sama iboemoe dari poeteri Giauhare. Kami tiada sekali bisa doega, jang engkau telah berpasang koeping, sebab engkau roepanja seperti tidoer keras.” Djawabnja radja Beder: »Ja mamanda, kami tida lepasken satoe<noinclude>{{rh||1526}}</noinclude> cmtlgn86wgw0jsen3ccsexgl7xb17z5 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/473 104 101105 291478 283383 2026-05-11T01:39:39Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan tanda » 291478 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>itoe di angkat, maka marika itoe beromong-omong dari roepa-roepa perkara, abis tiada ketaoewan bagimana, maka orang djato omongin dari radja Beder. Gulnare poenja soedara radja Saleh memoedjiken sanget prika-ada-annja kaponakannja. Radja Saleh sanget soeka ati meliat kabidjaksa-annja dan adilnja mabaradja Beder, hingga di antero negri dan di loewar karadja-an sekalian termashoer namanja radja Persie. Radja Beder merasa tiada enak dia di omongin, kendati poedjian sekali, maka tiada pantes aken melarangken orang laen beromong djadi ianja pegi menjingkirken dirinja, ia doedoek djaoehan lagi di bangkoe sofa, maka kepalanja ia senderin di bantal melaga tidoer. Abis membitjara-in pri hal pemarentahannja maharadja Beder, maka radja Saleh bitjara-in prika-ada-an dandanan sikepnja maharadja Beder, katanja tjakepnja radja Beder itoe di doenia tiada kadoewanja, maskipoen di antara radja radja di dalem laoet sekalipoen tiada ada jang sama dengan kakinja radja Beder, maka itoe heran sanget radja Saleh, mengapakah Gul-nare jang liat anaknja itoe sahari-hari belon pernah dapet ingatan boewat kasi kawin anak itoe. Katanja radja Saleh: »Soedara Gulnare, kami ini tiada abis fikir, kenapa angkau liat sahari-hari anakmoe, jang soedah djadi djadjaka besar, maka belon djoega angkau ada ingatan boewat kasi dia kawin. Djikaloe kami tida salah, maka radja Beder soeda beroemoer doewa poeloe taon apakah angkau tiada bisa fikir, bahoewa radja jang sakejan oemoernja tiada patoet idoep boedjang? Dari sebab angkau tiada fikirin hal ini, maka nanti kami jang toeloeng brihken padanja sa-orang isteri, anakpoeteri dari pada radja-radja di dalem laoet jang sama tinggi pangkatnja.” Djawaboja Gulnare: Kakanda soedara Saleh soenggoe benarlah engkau ingatken kami sebab kami loepahken hal itoe, dan radja Beder poen tiada sekali-kali mengoendjoek tingka aken hendak beristeri, djadi kami tiada ingat aken bitjara dari itoe hal. Aken tetapi nijatnja kakanda Saleh baik sekali, kerna itoepoen kami minta to aloeng pada kakxauda, aken mentjariin mantoe saorang perampoеwan poeteri jang tjakep, elok dan tjantik, soepaija radja Beder misti djato berahi pada poeteri itoe, apabila toewan poeteri dapet di liat olehnja.” Radja Saleh berkata pelahan-pelahan seperti orang berbisik: >Kami ada kenal satoe poeteri jang sademikian, aken tetapi sabelonnja kami bitjara lebi djaoe, maka baiklah di liat doeloe apa soenggoe ralja Bader poeles apa tida, nanti kami kataken djoega padamoe Gulnare, mengapa kami berati-ati aken soeroeh liat doeloe.” Permeisoeri Gulnare berpaling ka blakang, maka di liatnja anakuja doedoek bersenderan di bantal seperti orang poeles, djadi Gulnare poen kira<noinclude></noinclude> hmr6w6n06d45isxsvsdhnm1mo164sok 291562 291478 2026-05-11T02:58:11Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291562 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>itoe di angkat, maka marika itoe beromong-omong dari roepa-roepa perkara, abis tiada ketaoewan bagimana, maka orang djato omongin dari radja Beder. Gulnare poenja soedara radja Saleh memoedjiken sanget prika-ada-annja kaponakannja. Radja Saleh sanget soeka ati meliat kabidjaksa-annja dan adilnja maharadja Beder, hingga di antero negri dan di loewar karadja-an sekalian termashoer namanja radja Persie. Radja Beder merasa tiada enak dia di omongin, kendati poedjian sekali, maka tiada pantes aken melarangken orang laen beromong djadi ianja pegi menjingkirken dirinja, ia doedoek djaoehan lagi di bangkoe sofa, maka kepalanja ia senderin di bantal melaga tidoer. Abis membitjara-in pri hal pemarentahannja maharadja Beder, maka radja Saleh bitjara-in prika-ada-an dandanan sikepnja maharadja Beder, katanja tjakepnja radja Beder itoe di doenia tiada kadoewanja, maskipoen di antara radja-radja di dalem laoet sekalipoen tiada ada jang sama dengan kakinja radja Beder, maka itoe heran sanget radja Saleh, mengapakah Gulnare jang liat anaknja itoe sahari-hari belon pernah dapet ingatan boewat kasi kawin anak itoe. Katanja radja Saleh: »Soedara Gulnare, kami ini tiada abis fikir, kenapa angkau liat sahari-hari anakmoe, jang soedah djadi djadjaka besar, maka belon djoega angkau ada ingatan boewat kasi dia kawin. Djikaloe kami tida salah, maka radja Beder soeda beroemoer doewa poeloe taon apakah angkau tiada bisa fikir, bahoewa radja jang sakejan oemoernja tiada patoet idoep boedjang? Dari sebab angkau tiada fikirin hal ini, maka nanti kami jang toeloeng brihken padanja sa-orang isteri, anak poeteri dari pada radja-radja di dalem laoet jang sama tinggi pangkatnja.” Djawabnja Gulnare: »Kakanda soedara Saleh soenggoe benarlah engkau ingatken kami sebab kami loepahken hal itoe, dan radja Beder poen tiada sekali-kali mengoendjoek tingka aken hendak beristeri, djadi kami tiada ingat aken bitjara dari itoe hal. Aken tetapi nijatnja kakanda Saleh baik sekali, kerna itoepoen kami minta toeloeng pada kakanda, aken mentjari-in mantoe saorang perampoеwan poeteri jang tjakep, elok dan tjantik, soepaija radja Beder misti djato berahi pada poeteri itoe, apabila toewan poeteri dapet di liat olehnja.” Radja Saleh berkata pelahan-pelahan seperti orang berbisik: »Kami ada kenal satoe poeteri jang sademikian, aken tetapi sabelonnja kami bitjara lebi djaoe, maka baiklah di liat doeloe apa soenggoe radja Bader poeles apa tida, nanti kami kataken djoega padamoe Gulnare, mengapa kami berati-ati aken soeroeh liat doeloe.” Permeisoeri Gulnare berpaling ka blakang, maka di liatnja anaknja doedoek bersenderan di bantal seperti orang poeles, djadi Gulnare poen kira<noinclude>{{rh||1523|}}</noinclude> h6tiljwndtq089ycywklxrmfcujvsa9 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/471 104 101106 291475 283377 2026-05-11T01:37:24Z Thersetya2021 15831 291475 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Muhamad Fahrizal Leo Pratama" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>tangis-in ajandanja, sebab terlaloe keras tjintanja pada radja toewa, aken tetapi, dia sendiri mendjadi kepala dari segala keradja-an Persie dan ada terlebi banjak poela barang jang berpenting bagi bebrapa laksa manoesia, jang misti di oeroes dan di atoernja. Kerna itoelah, maka ianja tiada maoe tinggalkan kawadjibannja djadi terlantar. Di itoe waktoepoen iboenja Gulnare dan radja Saleh dateng, maka marika itoe poen toeroet berdoeka tjita, sembering menghiboerken atinja radja Beder dengan iboenja. Ada kira-kira satoe boelan lamanja sa-abisnja wafat radja toewa, maka radja Beder tiada bisa tahan lagi permoehoenannja ferdana manteri dan pembesar negri. Marika itoe bermoehoen keras padanja aken melepasken kaboeng, dan aken pegang prentah sendiri doeloe. Bermoela-moela radja Beder tiada maoe dengar permoehoen penggawi negrinja itoe, hingga ferdana manteri kapaksa aken berkata: »Doeli sjah alam! kami tida oesah kasi ingat lagi pada doeli toewankoe, bahoewa perampoewanlah haroes berkaboeng sa-lama-an, adapoen doeli toewankoe tiada patoet berkaboeng sabegitos lama, maka kami poen rasa djoega, bahoewa doeli jang di pertoewan tiada hendak toeroet-toeroet seperti perboewatan orang perampoewan, sebab biar sebagimana banjak poela aer mata hendak di toempahken, nistjaija ajanhanja doeli sjah alam tiada dapet di bikin idoep lagi, memang soeda sabegitos perideran doenia, masing-masing ada waktoenja pindah dari doenia jang fena ini ka jang kekal. Aken tetapi ajandanja doeli toewankoe tiada bole di kataken ilang, sebab sekalian rajat memandang dianja seperti idoep teroes dalem njawa doeli sjah alam. Maskipoen maharadja almarhoem koetika maoe meninggal, maka ianja poen berkata: »bahoewa ia tinggal idoep teroes dalem njawa doeli ajah alam jang termoelija. Sekarang ini melaenken doeli sjah alam djoega jang patoet mengoendjoekin benar atawa tiada bitjara pesannja ajandanja doeli sjah alam almarhoem.” Sri maharadja Beder tiada bisa melawan permoehoenan sademikian dari pada ferdana manteri dan sekalian pembesar negri, maka itoe ianja lantas lepaskan kaboengnja abis sasoedahnja ia mandi berlimau, maka ia pake-pakejan karadja-annja, serta ia pegang lagi pemarentah negri, seperti doeloe di perboewatnja sabelon ajandanja meninggal doenia. Sekalian isi negri mendjadi girang sanget, sebab jang di boewatnja telah di pegangnja dengan keras. Radja Saleh soedah poelang ka negrinja di dalem laoet bersama-sama iboe dan misanannja, adapoen koetika di liatoja maharadja Beder soedah pegang prentah sendiri, maka ia dateng kombali sendiri-an ada kira-kira sataon, sasoedahnja radja Beder lepas kaboeng. Gulnare keliwat girang jang soedaranja dateng meliat kaponakannja. Hata maka pada soewatoe malem abis makan, sasoedahnja medja<noinclude>{{rh||1522}}</noinclude> t9zblvyc2gjocdwbgnz7yazybjss4w4 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/469 104 101108 291469 283373 2026-05-11T01:34:39Z Thersetya2021 15831 291469 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Muhamad Fahrizal Leo Pratama" />{{rh||1001 MALAM}}</noinclude>baik. Oleh perboewatan itoe, maka terlebi lagi ia di poedji dan tiada ada lagi penggawi jang bermoeloet manis, joema aken menganijaja anak negri. Koetika abis bermasjawarat, maka radja Beder poelang ka astananja dengan tinggal berpake pakejan keradja-an bersama-sama ajandanja. Apabila iboenja liat dia dateng, maka lantas iboenja berlari ketemoein anaknja laloe di peloknja, di tjioem tiada berkapoetoesan, serta di mintakennja doa pada Allah, soepaija pemarentahnja anaknja itoe bole di landjoetken. Satoe taon radja Beder memarentahken negrinja, maka sanget madjoenja, sebab ia jakinin sabole-bole, soepaija rajatnja djangan terlaloe dianiaja oleh kepala kampoengnja, dan apa jang bole menambahken kaoentoengan rajatnja ia itoelah di atoerkennja dengan sampoerna. Djadi boekannja orang-orang kaja dan bangsawan jang terlaloe di openin oleh radja, hanja orang ketjilnja, ia itoelah jang di perloenja. Taon jang kadoewanja, maka ia dapet idjin dari ajandanja aken serahken doeloe pemarentahan negri kapada perhimpoenan masjawarat Agoeng, sebab ianja hendak tinggalken iboe kota keradja-annja, aken pegi priksa dengan diam-diam segala prika-ada-an negri. Ia melaga sadja pegi memboeroe, pada hal ia pegi ka se-kalian keradja-an ketjil-ketjil, jang ada di dalem prentah negrinja, aken liat dengan mata sendiri, sebagimana prika-ada-an rajatnja, dan kaloe koerang baik adanja, maka ia hendak atoer jang betoel. Lagipoen ia hendak pegi ka batas negrinja, soepaija radja-radja moesoeh jang di dekat sitoe tiada nanti maoe berboewat djahat lagi pada negri-negri jang di prentah olehnja. Radja Beder keloewar dari negrinja satoe taon lamanja, aken ambil atoeran jang betoel. Hata, maka belon sebrapa lama radja Beder poelang sampe di astananja, maka ajandanja kena kelanggar sakit keras sekali, hingga radja toewa merasa, bahoewa adjalnja soedah ampir sampe. Dengan sabar radja menantiken dateng maoetnja, maka pada pengabisan ia pesan keras pada sekalian penggawi negri, wasir, ferdana manteri dan penggawi astana, aken djangan berobah ati setijawan dan hormat kapada anaknja, soepaija marika itoe toeroet menoeloeng radjanja dengan sasoenggoe-soenggoe ati, aken merentahken rajat negrinja. Sekalian pembesar penggawi negri jang berhadlir pada bersoempah aken tinggal tegoeh bersetijawan pada radja Beder. Abis maka radja toewa wafat. Isterinja, Gulnare dan radja Beder tinggal berdoeka tjita dan djinasatnja radja toewa di koeboerken di dalem koeboeran batoe jang bagoes sekali. Setelah selesei pekoeboeran itoe, maka satoe boelan lamanja radja Beder tiada kaloewar, maskipoen di masjawarat Agoeng ia tiada dateng, selamanja itoe ia tinggal menangis berdoeka tjita ingat ajandanja. Tjoba ia bole toeroet maoenja sendiri, maski sa-oemoer idoepnja ia maoe tinggal<noinclude>{{rh||1521}}</noinclude> c5r5hasu5esfvzkmq044ygfdpqw189r Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/467 104 101109 291466 283376 2026-05-11T01:29:07Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan paragraf tidak rapi 291466 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>semangkin bertambah lagi, kaoem kaloewarganja Gulnare poen sering djoega dateng tengokin pangeran Beder, hingga mendjadi rame di dalem astana. Koetika pangeran Beder beroesiah oemoer lima belas taon, maka ia djadi terlebi pandé dari pada sekalian goeroenja, lagi ia mendjadi terlebi tjakep dan tjepat poela lagi bidjaksana. Sri maharadja Persie koetika di liatnja pangeran Beder semangkin tjerdik dan semangkin pandei, maka radja lantas berfikir lebi baik dari sekarang sadja sabelonoja dia meninggal doenia, karadja-annja itoe di serahkennja pada pangeran Beder, tambahan poela radja Persie rasaken dirinja soedah toewa, ampir tiada bisa memerentah, dari itoe, maka di brihkennja taoe kapada masjawarat Agoeng, bahoewa ia hendak brenti mendjadi radja. Rajat saisi negri poen djoega senang ati, koetika di dengarnja radja hendak melepasken pangkatnja aken di ganti oleh pangeran Beder, sebab marika itoe fikir, bahoewa pangeran itoepoen tjakep aken memegang prentah. Pangeran Beder memang seringkali kaloewar berkoempoel sama anak-anak orang bangsawan dan penggawi besar, dari itoe sekalian orang dapet liat, bahoewa ianja orang berboedi bahasa manis dan berati baik, serta tiada berhati tinggi dan tiada sekali-kali menghina-in orang. Marika itoe taoe betoel, baboewa ia saorang arif dan adil, serta bidjaksana, barang siapa djoega, kendati hina-dina sekalipoen, kaloe hendak bitjara sama pangeran Beder belon pernah di tolaknja dan sabole-bolenja dia toeloeng. Hari aken mengganti pemarentah-an itoepoen telah di tetapken. Sei baginda maharadja Persie toeroon dari pada sanggasananja. Mangkotanja di angkat dari kepalanja laloe di pindahken, di taro di atas kepalanja pa Dgeran Beder, abis radja sendiri toentoen pada pangeran itoe, jang soeda bermakota pegi ka tempat karadjahan, maka di sitne radja toewa tjioem tangan pangeran Beder, aken menjataken pada sekalian jang berhadlir di sitoe, bahoewa ia radja toewa telah soedah serahken pemarentah dan koewasanja, serta kamoelija-annja kapada radja baroe, setelah soedah, maka radja toewa doedosk di bawah, di mana tempat doedoeknja wasir-wasir besar dan ferdana manteri dari negri. Apabila radja toewa soedah doedoek di bawah, maka sekalian pembesar penggawi negri, wasir besar dan ferdana manteri pada bangoen bersoedjoet di hadapan radja baroe, aken bersoempah bersetijawan pada radja moeda. Di hari itoepoen ferdana manteri bawa mengadep bebrapa perkara pada radja baroe, maka soenggoe njatalah tjeredikoja dan pandenja radja itos, tatkala ia memoetoesken perkara itoe, hingga sekalian penggawi negri pada heran bagimana radja jang masih begitoe moeda soeda tadjem fikirannja. Setelah tetap pangeran Beder soedah djadi radja, maka ia lepasken penggawi-penggawi jang tida dapet di pertjaija laloe di gantioja penggawi jang<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1520|{{smaller|75}}}}</noinclude> 80z9i8nepzngkp29zrvsdvi7kk3q6pc 291482 291466 2026-05-11T01:45:43Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291482 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>semangkin bertambah lagi, kaoem kaloewarganja Gulnare poen sering djoega dateng tengokin pangeran Beder, hingga mendjadi rame di dalem astana. Koetika pangeran Beder beroesiah oemoer lima belas taon, maka ia djadi terlebi pandé dari pada sekalian goeroenja, lagi ia mendjadi terlebi tjakep dan tjepat poela lagi bidjaksana. Sri maharadja Persie koetika di liatnja pangeran Beder semangkin tjerdik dan semangkin pandei, maka radja lantas berfikir lebi baik dari sekarang sadja sabelonoja dia meninggal doenia, karadja-annja itoe di serahkennja pada pangeran Beder, tambahan poela radja Persie rasaken dirinja soedah toewa, ampir tiada bisa memerentah, dari itoe, maka di brihkennja taoe kapada masjawarat Agoeng, bahoewa ia hendak brenti mendjadi radja. Rajat sa-isi negri poen djoega senang ati, koetika di dengarnja radja hendak melepasken pangkatnja aken di ganti oleh pangeran Beder, sebab marika itoe fikir, bahoewa pangeran itoepoen tjakep aken memegang prentah. Pangeran Beder memang seringkali kaloewar berkoempoel sama anak-anak orang bangsawan dan penggawi besar, dari itoe sekalian orang dapet liat, bahoewa ianja orang berboedi bahasa manis dan berati baik, serta tiada berhati tinggi dan tiada sekali-kali menghina-in orang. Marika itoe taoe betoel, baboewa ia saorang arif dan adil, serta bidjaksana, barang siapa djoega, kendati hina-dina sekalipoen, kaloe hendak bitjara sama pangeran Beder belon pernah di tolaknja dan sabole-bolenja dia toeloeng. Hari aken mengganti pemarentah-an itoepoen telah di tetapken. Sei baginda maharadja Persie toeroon dari pada sanggasananja. Mangkotanja di angkat dari kepalanja laloe di pindahken, di taro di atas kepalanja pangeran Beder, abis radja sendiri toentoen pada pangeran itoe, jang soeda bermakota pegi ka tempat karadjahan, maka di sitoe radja toewa tjioem tangan pangeran Beder, aken menjataken pada sekalian jang berhadlir di sitoe, bahoewa ia radja toewa telah soedah serahken pemarentah dan koewasanja, serta kamoelija-annja kapada radja baroe, setelah soedah, maka radja toewa doedoek di bawah, di mana tempat doedoeknja wasir-wasir besar dan ferdana manteri dari negri. Apabila radja toewa soedah doedoek di bawah, maka sekalian pembesar penggawi negri, wasir besar dan ferdana manteri pada bangoen bersoedjoet di hadapan radja baroe, aken bersoempah bersetijawan pada radja moeda. Di hari itoepoen ferdana manteri bawa mengadep bebrapa perkara pada radja baroe, maka soenggoe njatalah tjerediknja dan pandenja radja itoe, tatkala ia memoetoesken perkara itoe, hingga sekalian penggawi negri pada heran bagimana radja jang masih begitoe moeda soeda tadjem fikirannja. Setelah tetap pangeran Beder soedah djadi radja, maka ia lepasken penggawi-penggawi jang tida dapet di pertjaija laloe di gantinja penggawi jang<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1520|{{smaller|75}}}}</noinclude> kcsdhttg1w4m4uyt5ggvvfd9kickf4w Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/465 104 101112 291464 283371 2026-05-11T01:26:56Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan 291464 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>paksa trima barang-barang itoe. Ia ja bersama-sama isterija mengoendjoekin trimah kasihnja pada sekaliau marika itoe, adapoen radja Saleh berkata: „Sri Maharadj Persie jang termoelija, termasjboer, adil, arif boediman dan bidjaksana, boekannja doeli toewankoe jang patoet membilang trima kasi pada kami orang, pada bal kami ini baroes bertrimah kasih pada doeli toewankoe, sebab doeli tnewankoe soedah piarah kami poenja soedara dengan segala baik, serta kami poen semoewa telah di samboet dau di perdjamoeken oleh doeli sjah alam dengan sebagimana panteanja.” Tida brapa lamanja lagi, maka radja Saleh berkata pada radja Persie, baboewa ia bersama-sama sanak so dara pada girang sanget, aken tinggal berdiam berkoempoel bersama-sama di astana radja Persie, aken tetapi tiada bole, sebab ianja soeda tinggalken karadjabannja sabegitos lamanja, djadi perloe sanget aken poelang, soepaija djangan negrinja djadi terlantar. Ianja barep djangan radja Porsie mendjadi gorsar, jang is: ja hendak minta poolang ka negrinja. Sri baginda maharadja Persie bilang, baboewa ia berdoeka tjika sanget jang tetamoenja hendak minta poelang begitoe lekas, tetapi barang hal pemaren'ahan memang perloe, tjoema radja Persie minta maaf djargan iparnja dan mertoewanja mendjadi gotsar, sebab ianja tiada bisa anter marika itoe poelang ka astananja di dalem laoet. Adapoen kami soeka ati sekali, djikaloe toewankoe berrama-rama sekalien. kaoem kaloewarganja kadang-kadang djoega dateng kemari di kami ponuja astana. Koetika marika itoe ambil selamat tinggal, maka bertangis-tangisanlab iboe, anak dan scedara. Radja Saleh berangkat lebi doeloe, iboenja dan poeter-posteri jang toeroet ampir tiada di lepas oleh Gulnare. Setelah sekalian marika itoe soda poelang, maka radja Persie laloe berkata pala permeisoeri-nja: Kami sa-oemoer idoep tiada nanti loepalken kabaikaumos ati djiwakoe, bersama-sama sanak sedaramos, siang malem kami memoedjiken Allab, jang kami di perolehkennja sa-orang isteri sebagi adinda.” Hata, maka pangeran Beder di piarah di dalem astana sebagimana panteanja. Semangkin ari ia djadi semangkin bagoes dan semangkin tjerlik, semangkin giranglab orang teewanja. Boedi bahasanja dari ketji mauis sekali dan apa djoega di perboewanja, maka njata sekali akal tjerdikoja. Ia di brihken goeroe jang terma jboer aken mengadjar manoelis dan batja, aken adjar hikajat aken mengarang soerat dan laen-laen sebaginja. Ia poen di adjari naik koeda dan bermaen panah, sebagimana pantes di keraboei sa-orang anak radja. Di antero negri Persie o ang alem auak radja itoe, baik orang toewa, baik anak-anak, baik lelaki, baik perampoewan, semoewa memoedji anak radja itoe, sebab ia terlaloe amat elok dan sanget di saijang oleb radja baginda. Kacentoengan dan kasenangan ati radja di dalem astana<noinclude>{{rh||1519}}</noinclude> mcb6agpyl6clu3tkk5ri95wkz5h9hvd 291554 291464 2026-05-11T02:53:17Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291554 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|1001 MALAM}}</noinclude>{{hwe|paksa|kepaksa}} trima barang-barang itoe. Ia ja bersama-sama isterija mengoendjoekin trimah kasihnja pada sekalianu marika itoe, adapoen radja Saleh berkata: „Sri Maharadj Persie jang termoelija, termasjhoer, adil, arif boediman dan bidjaksana, boekannja doeli toewankoe jang patoet membilang trima kasi pada kami orang, pada hal kami ini haroes bertrimah kasih pada doeli toewankoe, sebab doeli toewankoe soedah piarah kami poenja soedara dengan segala baik, serta kami poen semoewa telah di samboet dan di perdjamoeken oleh doeli sjah alam dengan sebagimana pantesnja.” Tida brapa lamanja lagi, maka radja Saleh berkata pada radja Persie, bahoewa ia bersama-sama sanak so dara pada girang sanget, aken tinggal berdiam berkoempoel bersama-sama di astana radja Persie, aken tetapi tiada bole, sebab ianja soeda tinggalken karadjahannja sabegitoe lamanja, djadi perloe sanget aken poelang, soepaija djangan negrinja djadi terlantar. Ianja harep djangan radja Persie mendjadi goesar, jang ia ja hendak minta poelang ka negrinja. Sri baginda maharadja Persie bilang, bahoewa ia berdoeka tjika sanget jang tetamoenja hendak minta poelang begitoe lekas, tetapi barang hal pemaren'ahan memang perloe, tjoema radja Persie minta maaf djargan iparnja dan mertoewanja mendjadi go sar, sebab ianja tiada bisa anter marika itoe poelang ka astananja di dalem laoet. Adapoen kami soeka ati sekali, djikaloe toewankoe bersama-sama sekalien kaoem kaloewarganja kadang-kadang djoega dateng kemari di kami poenja astana. Koetika marika itoe ambil selamat tinggal, maka bertangis-tangisanlah iboe, anak dan soedara. Radja Saleh berangkat lebi doeloe, iboenja dan poeteri-poeteri jang toeroet ampir tiada di lepas oleh Gulnare. Setelah sekalian marika itoe soda poelang, maka radja Persie laloe berkata pala permeisoeri-nja: »Kami sa-oemoer idoep tiada nanti loepahken kabaikanmoe ati djiwakoe, bersama-sama sanak soedaramoe, siang malem kami memoedjiken Allah, jang kami di perolehkennja sa-orang isteri sebagi adinda.” Hata, maka pangeran Beder di piarah di dalem astana sebagimana pantesnja. Semangkin ari ia djadi semangkin bagoes dan semangkin tjerdik, semangkin giranglah orang toewanja. Boedi bahasanja dari ketjil manis sekali dan apa djoega di perboewanja, maka njata sekali akal tjerdiknoja. Ia di brihken goeroe jang terma jhoer aken mengadjar manoelis dan batja, aken adjar hikajat aken mengarang soerat dan laen-laen sebaginja. Ia poen di adjari naik koeda dan bermaen panah, sebagimana pantes di kerahoei sa-orang anak radja. Di antero negri Persie o ang alem anak radja itoe, baik orang toewa, baik anak-anak, baik lelaki, baik perampoewan, semoewa memoedji anak radja itoe, sebab ia terlaloe amat elok dan sanget di saijang oleb radja baginda. Kaoentoengan dan kasenangan ati radja di dalem astana<noinclude>{{rh||1519}}</noinclude> o8v1suuhmnbs2x8tfaw2i8swdnud6qo Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/459 104 101114 291458 283365 2026-05-11T01:22:14Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ ada lebih dari 5 kesalahan ejaan dan tanda petik belakang 291458 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" />{{c|10001 MALAM}}</noinclude>toewankoe, memang soeda di takdirken Allah, baboewa kami inilah aken djadi soewaminja Gulnare. Katjinta-an kami bagi Gulnare, ia itoelsh soewa-toe tanda besar, baboewa sabelonnja kami dapet sama Gulnare, maka belon pernah menjintaken orang sebagi kami tjintaken padanja. Kami tiada sang-goep menjoekoepken poedjian kami bagi iboenja Gulnare dan bagi toewan-koe radja Saleh, jang telah ridlaken perboewatannja Gulnare, aken perhoe-boengken kami mendjadi sanak dari pada kaoem ka-radja-an toewankoe jang termoelija." Abis bijara sademikian, maka radja adjaken sekalian malika itoe doedoek di medja, maka radja doedoek di sebelahnja Gulnare. Abis makan minoem, maka radja beromong-omong sama tetamoenja sampe tengah malem, barang waktoe orang misti masoek tidoer, maka radja anferken marika itoe ka tempat peradoewannja jang memang soeda di sediahken dengan sepaulesnja. Hata, maka aken menjenangken ati tetamoenja, maka radja baginda Persie bikin rame-ramejan, hingga njata soenggoe di liat oleh mertoewanja dan iparuja, bahoewa besar soenggoelah koewasa karadja-an baginda radja Persie. Kamoedian radja Persie boedjoek-boedjoek pada sekalian tetamoenja, aken djangan poelang doeloe biar bernanti sampe pada waktoenja Gulnare bersalin. Sekalian bilang baik, djadi tinggallah marika itoe. Alkaesah, maka di tjeritabken koetika waktos jang amat baik, maka permeisoeri sri baginda maharadja Persie bersalin, melahirken Bа orang poetra anak laki-laki, hingga girang sanget antero isi astana Persie. Anak itoe terlaloe amat elok dan bagces paraɛnja, maka orang namaken anak itoe BEDER, artinja boelan lima belas malem. Babna terlaloe amat girang-nja radja, maka radja titahken aken membribken dermah pada fakir dan miskin, membikin sedekah pada mesigiet dan soeran. aken melepasken orang-orang hoekoeman dan aken bikin mardika bebrapa boedak. Penggawi astana sekalian di brihkenuja persalinan baroe dan oewang, serta sekalian rajat negri di titahken boeat bikin rame-ramejan aken tanda peringatan kagirangan radja. Antero negri rame dan rejoeh bebrapa ari brapa malem lamanja. Sasoedahnja permeisoeri Gulnare soeda semboeh lagi dari pada sakit-nja, maka pada soewatoe hari ia doedoek-doedoek bersama-sama sanak soedaranja di dalem bilik aken bitjara-bitjara, sedang ia lagi beromong-omong itoe, maka dateng dajang pengasoh aa-orang bersama-sama mergendong anak itoe. Barang dia masoek, maka radja Saleh lantas lontjat dari tempat doedoeknja teroes mengampiri anak itoe laloe di ambiloja dari tangan baboenja abis di gendong sem baring di tjioem dan di eloes-eloesoja anak itoe. Ia berdjalan-djalan moedar mandir di dalem itoe kamar, sembaring ajoen-ajoen anak itoe di tangannja, maka sama sekali roepanja mendjadi begiloe girang, hingga ia lari ka djendela kamar jang terboeka laloe ia<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1516|{{smaller|74}}}}</noinclude> 68vhr0px7g8ckoi39ti78vnc937vezs 291525 291458 2026-05-11T02:32:50Z Aeia aai 24023 /* Telah diuji baca */ 291525 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aeia aai" />{{c|10001 MALAM}}</noinclude>toewankoe, memang soeda di takdirken Allah, bahoewa kami inilah aken djadi soewaminja Gulnare. Katjinta-an kami bagi Gulnare, ia itoelah soewatoe tanda besar, bahoewa sabelonnja kami dapet sama Gulnare, maka belon pernah menjintaken orang sebagi kami tjintaken padanja. Kami tiada sanggoep menjoekoepken poedjian kami bagi iboenja Gulnare dan bagi toewankoe radja Saleh, jang telah ridlaken perboewatannja Gulnare, aken perhoeboengken kami mendjadi sanak dari pada kaoem ka-radja-an toewankoe jang termoelija.” Abis bijara sademikian, maka radja adjaken sekalian marika itoe doedoek di medja, maka radja doedoek di sebelahnja Gulnare. Abis makan minoem, maka radja beromong-omong sama tetamoenja sampe tengah malem, barang waktoe orang misti masoek tidoer, maka radja anterken marika itoe ka tempat peradoewannja jang memang soeda di sediahken dengan sepantesnja. Hata, maka aken menjenangken ati tetamoenja, maka radja baginda Persie bikin rame-ramejan, hingga njata soenggoe di liat oleh mertoewanja dan iparnja, bahoewa besar soenggoelah koewasa karadja-an baginda radja Persie. Kamoedian radja Persie boedjoek-boedjoek pada sekalian tetamoenja, aken djangan poelang doeloe biar bernanti sampe pada waktoenja Gulnare bersalin. Sekalian bilang baik, djadi tinggallah marika itoe. Alkaesah, maka di tjeritahken koetika waktoe jang amat baik, maka permeisoeri sri baginda maharadja Persie bersalin, melahirken sа orang poetra anak laki-laki, hingga girang sanget antero isi astana Persie. Anak itoe terlaloe amat elok dan bagoes parasnja, maka orang namaken anak itoe BEDER, artinja boelan lima belas malem. Bahna terlaloe amat girangnja radja, maka radja titahken aken membrihken dermah pada fakir dan miskin, membikin sedekah pada mesigiet dan soeran. aken melepasken orang-orang hoekoeman dan aken bikin mardika bebrapa boedak. Penggawi astana sekalian di brihkennja persalinan baroe dan oewang, serta sekalian rajat negri di titahken boeat bikin rame-ramejan aken tanda peringatan kagirangan radja. Antero negri rame dan rejoeh bebrapa ari brapa malem lamanja. Sasoedahnja permeisoeri Gulnare soeda semboeh lagi dari pada sakitnja, maka pada soewatoe hari ia doedoek-doedoek bersama-sama sanak soedaranja di dalem bilik aken bitjara-bitjara, sedang ia lagi beromong-omong itoe, maka dateng dajang pengasoh sa-orang bersama-sama mergendong anak itoe. Barang dia masoek, maka radja Saleh lantas lontjat dari tempat doedoeknja teroes mengampiri anak itoe laloe di ambilnja dari tangan baboenja abis di gendong sem baring di tjioem dan di eloes-eloesnja anak itoe. Ia berdjalan-djalan moedar mandir di dalem itoe kamar, sembaring ajoen-ajoen anak itoe di tangannja, maka sama sekali roepanja mendjadi begitoe girang, hingga ia lari ka djendela kamar jang terboeka laloe ia<noinclude>{{rh|{{smaller|1001 Malam}}|1516|{{smaller|74}}}}</noinclude> guq1mfce3mse938gbdlrjlo54v0t7kc Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/501 104 101119 291425 283185 2026-05-11T00:35:39Z Thersetya2021 15831 /* Belum diuji baca */ teks yang diuji baca 291425 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /></noinclude>[[File:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf]]<noinclude></noinclude> i4glnscvnpkt3cxfx3bhdrdh5mya5li 291454 291425 2026-05-11T01:17:06Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291454 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude><big><big><big>{{c|{{sp|'''HIKAJAT'''}}}}</big></big></big> <big><big><big><big>{{c|1001 MALAM}}</big></big></big></big> <small>{{c|JA-ITOE}}</small> <big><big>{{C|'''TJERITA-TJERITA ARAB'''}}</big></big> {{C|DISALIN KEPADA BEHASA MELAJOE}} <small>{{c|DENGAN MENOEROET KARANGAN TOEAN}}</small> <big><big>{{C|{{sp|GERARD KELLER,}}}}</big></big> {{C|'''di dalam behasa Olanda'''}} {{tab}} {{rule|10em}} {{tab}} {{tab}} {{rule}} {{c|Boekoe ini nanti disalin hingga datang kepada tamatnja.}} {{rule}} <big><big><big>{{c|DJILID JANG KATIGA.}}</big></big></big> <big><big><big>{{C|'''32'''}}</big></big></big> {{rule|10em}} {{c|Boleh dapat beli pada toko boekoe toean-toean}} <big><big><big>{{C|'''ALBRECHT & C°.'''}}</big></big></big> {{c|{{sp|BATAWI,}}}} {{c|'''1902.'''}}<noinclude></noinclude> nlc6je3ntui2s4xapeu2tflryvfcedg Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/339 104 101122 291844 283045 2026-05-11T07:47:26Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291844 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>:hentiannja oleh Wali Daerah, boleh membanding putusan itu kepada Dewan Perwakilan Daerah jang putusannja tidak boleh dibanding lagi. <ol style="list-style-type:none; margin-left:0; padding-left:1.5em; text-indent:-1.5em;"> <li>3. Anggota jang meninggal dunia atau berhenti karena hal lain-lain seperti tersebut dalam ajat dan pasal ini dipertengahan djangkanja, diganti dengan pemilihan rapat Dewan Perwakilan Negeri diantara tjalon-tjalon jang mendapat suara terbanjak dalam Pemilihan Umum jang lalu, dengan memperhatikan kedudukan anggota jang akan diganti dalam Dewan Perwakilan Negeri.</li> </ol> {{center|'''Pasal 5.'''}} <ol style="list-style-type:none; margin-left:0; padding-left:1.5em; text-indent:-1.5em;"> <li>1. Buat pertama kali ini anggota-anggota Dewan Perwakilan Negeri duduk dalam Dewan itu satu tahun mulai '''1 Djuli 1946''' tetapi kalau ditimbang perlu oleh Dewan Perwakilan Daerah maka djangka itu boleh ditambah tiap-tiap kalinja untuk setahun, paling lama sampai empat tahun.</li> <li>2. Penggantian anggota seperti tersebut dalam pasal 4 ajat 3 berhenti menurut djangka anggota jang digantikan.</li> </ol> {{center|'''III. {{sp|Wakil Ketua}}.'''}} {{center|'''Pasal 6.'''}} <ol style="list-style-type:none; margin-left:0; padding-left:1.5em; text-indent:-1.5em;"> <li>1. Dewan Perwakilan Negeri memilih seorang dari anggotanja untuk mendjadi Wakil Ketua.</li> <li>2. Kalau Ketua berhalangan, maka Wakil Ketua itulah jang mendjalankan kewadjiban Ketua.</li> </ol> {{center|'''IV. {{sp|Dewan Harian Negeri}}.'''}} {{center|'''Pasal 7.'''}} <ol style="list-style-type:none; margin-left:0; padding-left:1.5em; text-indent:-1.5em;"> <li>1. Dewan Perwakilan Negeri memilih sekurang-kurangnja 3 orang, paling banjak 5 orang diantara anggotanja untuk mendjadi anggota Dewan Harian Negeri.</li> <li>2. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Negeri mendjadi anggota dan mendjadi Wakil Ketua Dewan Harian Negeri.</li> </ol> {{center|'''V. {{sp|Wakil Negeri}}.'''}} {{center|'''Pasal 8.'''}} <ol style="list-style-type:none; margin-left:0; padding-left:1.5em; text-indent:-1.5em;"> <li>1. Wali Negeri dipilih langsung oleh segala Warga Negara jang memenuhi sjarat-sjarat untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Negeri (pasal 13).</li> </ol> </div><noinclude>{{rh|||333}}</noinclude> b55lkjnkwiagsrioqzbhuqnhd5ctktb Pembicaraan Pengguna:Quinlan83 3 101127 291283 290578 2026-05-10T16:03:56Z Thersetya2021 15831 /* Tidak diperbolehkan memerahkan status halaman buku Kompetisi WSI 2026 */ Balas 291283 wikitext text/x-wiki == Tidak diperbolehkan memerahkan status halaman buku Kompetisi WSI 2026 == Halo Kak @[[Pengguna:Quinlan83|Quinlan83]], saya melihat akun Anda di https://id.wikisource.org/w/index.php?title=Halaman:Gila_Mentega.pdf/39&action=history memerahkan halamam uji baca seorang peserta Kompetisi. Mohon untuk tidak mengulanginya lagi dalam Kompetisi, ya. Apabila menemukan beberapa kesalahan, tetapi status sudah diuji baca; silakan laporkan kepada Panitia Kompetisi agar Panitia yang menurunkan status halaman. Selain itu, akun Anda ini tidak terdaftar sebagai peserta Kompetisi. Mohon dijadikan periksa. Terima kasih. [[Pengguna:Thersetya2021|Thersetya2021]] ([[Pembicaraan Pengguna:Thersetya2021|bicara]]) 7 Mei 2026 00.48 (UTC) :Hi {{ping|Thersetya2021}}, thanks for the heads up. --[[Pengguna:Quinlan83|Quinlan83]] ([[Pembicaraan Pengguna:Quinlan83|bicara]]) 10 Mei 2026 08.55 (UTC) ::hello @[[Pengguna:Quinlan83|Quinlan83]] my pleasure [[Pengguna:Thersetya2021|Thersetya2021]] ([[Pembicaraan Pengguna:Thersetya2021|bicara]]) 10 Mei 2026 16.03 (UTC) ti0w4fcf408g8o9tf20sd7zmt3u81oq Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/401 104 101128 290976 283157 2026-05-10T13:32:46Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290976 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" />{{rh|hh}}</noinclude>{{c| {{Xx-larger|'''HIKAJAT'''}} {{Xx-larger|1001 MALAM}} JA ITOK {{X-larger|'''TJERITERA-TJERITERA ARAB,'''}} {{larger|DISALIN KEPADA BEHASA MELAJOE}} DENGAN MENOERORT KARANGAN TOEAN {{X-larger|'''GERARD KELLER,'''}} '''di dalam behasa Olanda.''' {{rule|w|100}} '''Boekoe ini nanti disalin hingga datang kepada tamatuja.''' {{rule|w|100}} {{X-larger|DJILID JANG KATIGA.}} {{Xx-larger|'''31'''}} {{Custom rule|sp|100|d|6|sp|10|d|10|sp|10|d|6|sp|100}} Boleh dapat beli pada toko boekoe toean-toean {{X-larger|'''ALBRECHT & Co.'''}} {{Larger|{{sp|BATAWI}} '''1902.'''}} }}<noinclude></noinclude> qgmwejk5ipynmw2l42cfg443s6u2w04 291524 290976 2026-05-11T02:30:15Z Thersetya2021 15831 291524 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{c| {{Xx-larger|'''HIKAJAT'''}} {{Xx-larger|1001 MALAM}} JA ITOK {{X-larger|'''TJERITERA-TJERITERA ARAB,'''}} {{larger|DISALIN KEPADA BEHASA MELAJOE}} DENGAN MENOERORT KARANGAN TOEAN {{X-larger|'''GERARD KELLER,'''}} '''di dalam behasa Olanda.''' {{rule|w|100}} '''Boekoe ini nanti disalin hingga datang kepada tamatuja.''' {{rule|w|100}} {{X-larger|DJILID JANG KATIGA.}} {{Xx-larger|'''31'''}} {{Custom rule|sp|100|d|6|sp|10|d|10|sp|10|d|6|sp|100}} Boleh dapat beli pada toko boekoe toean-toean {{X-larger|'''ALBRECHT & Co.'''}} {{Larger|{{sp|BATAWI}} '''1902.'''}} }}<noinclude></noinclude> lhtzghpt148c2fgixxkicab7iodsoa1 Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/396 104 101133 291066 283235 2026-05-10T14:00:51Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291066 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>membentuk kota autonom seperti Padang Pandjang, Sawah Lunto, Batu Sangkar, Pajakumbuh dan Solok. {{PUU-nomor|n=1|m=5 |Memberikan hak legislatief kepada Executief dimana keadaan mendesak dan sukar mengadakan Pleno, begitu djuga diberikan kepada Executief hak untuk menetapkan garis besar dari dasardasar pembaruan dan memperluas resort autonomi negeri-negeri dalam daerah Sumatera Barat.}} Dan sesudah sidang ini berlangsung mulailah Executief menjiapkan peraturan tentang pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakjat jang akan dibentuk itu dan pada bulan Maret 1948 dikirimkan lah blanco2 formulir keseluruh kewedanaan di Sumatera Barat diiringi dengan pemilihan serentak pada tanggal 1 sampai 3 Mei 1948 dengan hasil sbb.: Dari Kewedanaan-kewedanaan Soeliki terpilih Saudara Zamzami Kimin dan Ahmad Zoelkarnaini, dari Lubuk Alung saudara Sjailendra dan A. Rahim Rasjid, dari Talu saudara Amran Tuanku Maradjo dan Maalif Dt. Sati, dari Air Bangis saudara H. Latif dan H. Usman, dari Sidjundjung saudara St. Madjo Arif dan M. Sjarief Dt. Gunung Emas, dari Agam Tuo saudara Dr. Ali Akbar dan H. Abdullah, dari Kota Padang saudara Dr. Athos Ausri dan Sidi Bakaroeddin, dari Painan saudara Abu Katar Idris dan Arsad Dt. Sinaro Kajo, dari Kota Bukittinggi saudara Dr. A. Rivai dan Marzoeki Dt. R. Mangkuto, dari Manindjau saudara H. Udin Rahmany dan Ma'mur Salim St. Palembang, dari Pajakumbuh saudara H. Zeinuddin Hamidy dan Djajusman, dari Alahan Pandjang saudara Riva'i Wahab dan Sjamsoeddin Sa'id, dari Lubuk Sikaping saudara Thaharoeddin Arif dan Azir Ahmad Dt. Madjo Indo, dari Solok saudara Bahar Dt. Mangkuto Alam dan Ma'ali Bagindo Radjo, dari Batu Sangkar saudara Basjaroeddin Ahmad dan Saleh Dja'far, dari P. Pandjang S.J. St. Mangkuto dan Djamaludin St. R. Ibrahim, dari Balai Selasa saudara H.A. Manan dan Maarif Umar, dari Bangkinang saudara A. Malik Jahja dan A. Hamid, dari Pariaman saudara Pakanuddin Tengku Piaman dan A. Zaini, dari Muaro Lubuk saudara A.I.D.S. Madjo Lelo dan Sjamsuddin Dt. R. Lelo, dari Sawah Lunto Dr. Darwis dan Baharoeddin Dt. Pandito Bassa, dari Padang Luar Kota Jacob Rasjid dan Jozef Ibrahim, dari Sei Penuh A. Rahman Dajah dan Djanan Thaib Bakri dan dari Mentawai saudara Mustafa Ali dan Umar. Sebulan sesudah itu siap pulalah rantjangan anggota perwakilan partai-partai jang berdjumlah kira-kira 38 orang sehingga tinggallah lagi anggota angkatan sedjumlah 14 orang. '''Sidang terachir.''' Sidang ini diadakan pada tanggal 10 dan 11 Nopember 1948, dimana berhadir anggota-anggota K.N.I. lama, anggota-anggota<noinclude>{{rh|'''390'''}}</noinclude> qxwstidt1uma7mf487tn9ufc8z9ynzu Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/327 104 101150 291202 283460 2026-05-10T15:02:51Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291202 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{c|'''GRAFIK PEMBANGUNAN WILAJAH HUTAN DI DJAWA-TIMUR<br>TAHUN 1952:'''}} [[File:Grafik Pembangunan Wilajah Hutan di Djawa-Timur tahun 1952.jpg|center|400px|frameless]]<noinclude>{{rvh|295}}</noinclude> gy83jkjkmeof81axtkqf9wwnk5d0rt0 Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/99 104 101152 290957 283603 2026-05-10T13:27:04Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290957 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{c|{{larger|'''Toko-Boekoe {{sp|{{uc|Albrecht}}}} & Co.'''}} {{smaller|{{uc|Kantor Pembrita Betawi.}}}} {{sp|Sebrang Landraad Batavia.}} {{rule|width=5em}} '''BOEKOE BAROE KLOEAR:'''}} {{Daftarisi dtt|87{{sup|''b''}}.|BOEKOE PANTOEN RODJA MELATI, terkarang oleh si nona Boto Roepa-roepa pantoen njang terpilih amat bagoesnja|ƒ|col4text=0,60}} {{Daftarisi dtt|87{{sup|''c''}}.|PANTHOEN SINDIRAN terkaang oleh si nona L. Boenga hati negri Betawie|‚|col4text=1,10}} {{Daftarisi dtt|87{{sup|''d''}}.|BOEKOE PANTOEN dari tjeritanja nonah ASSCHEPOESTER anak njang di hinaken oleh Mama tirinja. Tersalin bahasa Melajoe terkarang oleh H.|‚|col4text=0,80}} {{Daftarisi dtt|90{{sup|''a''}}.|BOEKOE ADJARAN ANAK-ANAK menoeroet boekkoe tjina Biat Kist Keng, njang mengarang Panthoen, oleh Tan Hiap Lee|‚|col4text=0,80}} {{Daftarisi dtt|91{{sup|''b''}}.|BOEKOE PANTOEN KALOENG MELATI karangannja Boeng Hendrik|‚|col4text=0,80}} {{Daftarisi dtt|110{{sup|''b''}}.|BOEKOE KETRANGAN DARI PENJAKIT KOLERA, pegimana mistinja mendjaga soepaja djangan sampe kena atau ketoelaran penjakit itoe oleh toewan L. Tb. Maijer|‚|col4text=0,30}} {{Daftarisi dtt|113{{sup|''b''}}.|HIKAJAT ILMOE MENGGAMBAR PHOTOGRAPHIE ditrangken dengan bahasa Melajoe aken goena sekalian orang njang ingin bisa menggambar lantaran dari sinarnja matahari, terkarang oleh Raden Ngabehi Basah Tirto Soebroto|‚|col4text=0,60}} {{Daftarisi dtt|129{{sup|''b''}}.|SOERAT KETRANGAN DARI HAL KA'ADA-AN BANGSA TJINA DI NEGRI HINDIA OLANDA terkarang oleh toewan J. E. Albrecht|‚|col4text=1,35}} {{Daftarisi dtt|129{{sup|''c''}}.|BOEKOE WEES EN BOEDELKAMER Perbendaharaä harta peninggalan di dalem Tanah Hindia Nederland. Perentah negeri njang bergoena sekali aken orang Arab, Melaloe, Tjina dan laen laen bangsa oleh toewan C. A. VERMANDEL, assistent-resident pensioen|‚|col4text=2,60}} {{Daftarisi dtt|133{{sup|''a''}}.|PERATOERAN PACHT APIOEN dalem residentie Riouw staatsblad 1817 No. 105 dan 1879 No. 154|‚|col4text=1,10}} {{Daftarisi dtt|416.|KITAB MELIBOERKEN HATI sato tjeritaän pendek njang bagoes sekali, soeda kloewat 2 boekoe. Harga 1 boekoe|‚|col4text=0,30}} {{Daftarisi dtt|443.|SIE LAIJ KON di dalem ini boekoe di tjeritaliken Sie Laij Kou dari miskin sampe djadi senang dan di blakang kali djadi miskin kombali, maka dengan pinternja dia membikin roepa-roepa barang njang heran kamoedian dia dapet satoe anak laki-laki nama Sie Pit Tjih njang amat bodo tetapi dari bodonja bisa menjdai orang hartawan|‚|col4text=1,10}} {{Daftarisi dtt|22{{sup|''a''}}.|TJEMPAKA MOELIA MENJERITAKEN HAL MANOESIA di dalem anem fatsal njang tersedia. Terkarang oleh Oesman bin Abdulla bin Jahia|‚|col4text=0,35}} {{Daftarisi dtt|47.|SAIR POETRA MAKOETA KERADJA-AN ROES, koetika datengnja di Betawi, dan peginja, tersamboeng dengan sair Bnatang di hoetan aken mengingetin anak-anak, soepaja mendengar kata dan sajang kepada orang toewa dan harta banda, terkarang oleh Tan Teng Kie. Tjitakan baroe|‚|col4text=0,30}} {{nop}}<noinclude></noinclude> 3y1rrfuj1crdy6vz6nva49oyns4jkgz Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/99 104 101155 291191 283594 2026-05-10T14:57:38Z Sarieffe 26994 /* Tervalidasi */ 291191 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>{{hwe|gapan|penyergapan}} tsb., suatu tindakan jang hanja dapat dilakukan oleh suatu keberanian jang luar biasa jang membuat Manuputi 8 hari kemudian (Hari Angkatan Perang) memperoleh Pita Pahlawan didadanja. Sjahdan, para Tamu Agung jang mendobrak bilik belakang itu terpentjar kedua djurusan. Danu sehagai Kmd. Resimen jang berkewadjiban mengantar Panglimanja (Tamunja) dan Ojok Sudjana sebagai Kmd. Bataljon jang bertanggung djawab atas keselamatan rombongan telah mengambil langkah seribu menjelamatkan diri (ingat Ojok masih dalam keadaan luka) dengan serta merta meninggalkan Panglimanja jang tidak tahu djalan itu. Adapun sang Panglima sebagai tamu dengan beberapa pengawalnja lari menudju arah jang salah, sehingga berhamburanlah „Tamu-Tamu Agung” itu dengan pengawal²-nja jang pada mulanja terdiri dari 17 orang. Sebagian menudju pintu keluar, tentu salah, djuranglah jang ditempuhnja. Tentu sadja, begitu diketahuinja hal ini oleh Manuputi, segera dikedjarnja mula² seorang diri. Tindakan Manuputi ini adalah perbuatan indisipliner. Ia seorang diri meninggalkan pasukannja, sedangkan jang dikedjar banjak djumlahnja dan jang masih pula tetap melakukan tembakan² balasan jang gentjar. Konon memang begitulah pribadi Manuputi sehari-harinja. Ia tidaklah termasuk seorang Pradjurit jang conduitenja baik sekali (menurut pengakuannja sendiri). Tindakannja berhasil dengan gemilang, dalam keadaan terdesak (dalam djurang) satu demi satu tamatlah riwajat Panglima dan Pengawal²nja jang sama-sama sebangsa dan se-Tanah Air dengan Manuputi itu bersama² sisa pengawal-pengawalnja, se-Bangsa dan se- Tanah Air jang tidak mau insjaf akan kehendak masa dan panggilan Tanah Air serta Bangsanja. Setelah ditanja pada salah seorang pengawal jang masih dapat berkata-kata dengan siapa sebenarnja ia dalam rombongan itu, didiawabnja dengan Panglima Satibi Mugni, Danu dan Ojok Sudjana. Sementara itu usaha Smj. Siagian di Tjihaurkidul untuk menutup djalan pelarian rombongan Satibi tidaklah pula sia². Mereka sisa-sisa Satibi itu disambut pula disana oleh Siagian dan 2 orang serta 2 putjuk sendjatanja adalah merupakan hasil tambahan. Danu dan Ojok bertanggung djawab dimuka „Mahkamah” mereka atas kematian Panglimanja itu dan tentu sadja dalam waktu dekat ini dinantikan tindakan² pihak atasan'" mereka putera² Indonesia jang sesat itu jang tentu pula akan membawa pengaruh dimedan-medan operasi Djawa Barat ini chususnja. Bagi Pahlawan Manuputi, Pahlawan jang masih hidup itu merupakan pula peladjaran jang berkesan sangat dalam bagi djiwa kepribadiannja. Ia telah menemui kembali kepribadiannja jang sebenarnja. Dengan gelar Pahlawan itu, maka ia terpaksa mendjadikan dirinja tauladan bagi kawan²-nja. {{Right sidenote|''HRP''. }} [[File:Madjalah Angkatan Darat (page 98 crop2).jpg|400px|pus|jmpl|''Inilah regu Umair jang berdjasa itu tengah menerima salam kehormatan dari Panglima T&T III.'']]<noinclude>{{rh|||33}}</noinclude> g2mbrtfaska75qhnwon8fgq039x03xw Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/199 104 101158 290959 283601 2026-05-10T13:28:33Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290959 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{c|{{larger|'''Toko-Boekoe {{sp|{{uc|Albrecht}}}} & Co.'''}} {{smaller|{{uc|Kantor Pembrita Betawi.}}}} {{sp|Sebrang Landraad Batavia.}} {{rule|width=5em}} '''BOEKOE BAROE KLOEAR:'''}} {{Daftarisi dtt|87{{sup|''b''}}.|BOEKOE PANTOEN RODJA MELATI, terkarang oleh si nona Boto Roepa-roepa pantoen njang terpilih amat bagoesnja|ƒ|col4text=0,60}} {{Daftarisi dtt|87{{sup|''c''}}.|PANTHOEN SINDIRAN terkaang oleh si nona L. Boenga hati negri Betawie|‚|col4text=1,10}} {{Daftarisi dtt|87{{sup|''d''}}.|BOEKOE PANTOEN dari tjeritanja nonah ASSCHEPOESTER anak njang di hinaken oleh Mama tirinja. Tersalin bahasa Melajoe terkarang oleh H.|‚|col4text=0,80}} {{Daftarisi dtt|90{{sup|''a''}}.|BOEKOE ADJARAN ANAK-ANAK menoeroet boekkoe tjina Biat Kist Keng, njang mengarang Panthoen, oleh Tan Hiap Lee|‚|col4text=0,80}} {{Daftarisi dtt|91{{sup|''b''}}.|BOEKOE PANTOEN KALOENG MELATI karangannja Boeng Hendrik|‚|col4text=0,80}} {{Daftarisi dtt|110{{sup|''b''}}.|BOEKOE KETRANGAN DARI PENJAKIT KOLERA, pegimana mistinja mendjaga soepaja djangan sampe kena atau ketoelaran penjakit itoe oleh toewan L. Tb. Maijer|‚|col4text=0,30}} {{Daftarisi dtt|113{{sup|''b''}}.|HIKAJAT ILMOE MENGGAMBAR PHOTOGRAPHIE ditrangken dengan bahasa Melajoe aken goena sekalian orang njang ingin bisa menggambar lantaran dari sinarnja matahari, terkarang oleh Raden Ngabehi Basah Tirto Soebroto|‚|col4text=0,60}} {{Daftarisi dtt|129{{sup|''b''}}.|SOERAT KETRANGAN DARI HAL KA'ADA-AN BANGSA TJINA DI NEGRI HINDIA OLANDA terkarang oleh toewan J. E. Albrecht|‚|col4text=1,35}} {{Daftarisi dtt|129{{sup|''c''}}.|BOEKOE WEES EN BOEDELKAMER Perbendaharaä harta peninggalan di dalem Tanah Hindia Nederland. Perentah negeri njang bergoena sekali aken orang Arab, Melaloe, Tjina dan laen laen bangsa oleh toewan C. A. VERMANDEL, assistent-resident pensioen|‚|col4text=2,60}} {{Daftarisi dtt|133{{sup|''a''}}.|PERATOERAN PACHT APIOEN dalem residentie Riouw staatsblad 1817 No. 105 dan 1879 No. 154|‚|col4text=1,10}} {{Daftarisi dtt|416.|KITAB MELIBOERKEN HATI sato tjeritaän pendek njang bagoes sekali, soeda kloewat 2 boekoe. Harga 1 boekoe|‚|col4text=0,30}} {{Daftarisi dtt|443.|SIE LAIJ KON di dalem ini boekoe di tjeritaliken Sie Laij Kou dari miskin sampe djadi senang dan di blakang kali djadi miskin kombali, maka dengan pinternja dia membikin roepa-roepa barang njang heran kamoedian dia dapet satoe anak laki-laki nama Sie Pit Tjih njang amat bodo tetapi dari bodonja bisa menjdai orang hartawan|‚|col4text=1,10}} {{Daftarisi dtt|22{{sup|''a''}}.|TJEMPAKA MOELIA MENJERITAKEN HAL MANOESIA di dalem anem fatsal njang tersedia. Terkarang oleh Oesman bin Abdulla bin Jahia|‚|col4text=0,35}} {{Daftarisi dtt|47.|SAIR POETRA MAKOETA KERADJA-AN ROES, koetika datengnja di Betawi, dan peginja, tersamboeng dengan sair Bnatang di hoetan aken mengingetin anak-anak, soepaja mendengar kata dan sajang kepada orang toewa dan harta banda, terkarang oleh Tan Teng Kie. Tjitakan baroe|‚|col4text=0,30}} {{nop}}<noinclude></noinclude> 3y1rrfuj1crdy6vz6nva49oyns4jkgz Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/399 104 101159 290975 283599 2026-05-10T13:32:41Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290975 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{c|{{larger|'''Toko-Boekoe {{sp|{{uc|Albrecht}}}} & Co.'''}} {{smaller|{{uc|Kantor Pembrita Betawi.}}}} {{sp|Sebrang Landraad Batavia.}} {{rule|width=5em}} '''BOEKOE BAROE KLOEAR:'''}} {{Daftarisi dtt|87{{sup|''b''}}.|BOEKOE PANTOEN RODJA MELATI, terkarang oleh si nona Boto Roepa-roepa pantoen njang terpilih amat bagoesnja|ƒ|col4text=0,60}} {{Daftarisi dtt|87{{sup|''c''}}.|PANTHOEN SINDIRAN terkaang oleh si nona L. Boenga hati negri Betawie|‚|col4text=1,10}} {{Daftarisi dtt|87{{sup|''d''}}.|BOEKOE PANTOEN dari tjeritanja nonah ASSCHEPOESTER anak njang di hinaken oleh Mama tirinja. Tersalin bahasa Melajoe terkarang oleh H.|‚|col4text=0,80}} {{Daftarisi dtt|90{{sup|''a''}}.|BOEKOE ADJARAN ANAK-ANAK menoeroet boekkoe tjina Biat Kist Keng, njang mengarang Panthoen, oleh Tan Hiap Lee|‚|col4text=0,80}} {{Daftarisi dtt|91{{sup|''b''}}.|BOEKOE PANTOEN KALOENG MELATI karangannja Boeng Hendrik|‚|col4text=0,80}} {{Daftarisi dtt|110{{sup|''b''}}.|BOEKOE KETRANGAN DARI PENJAKIT KOLERA, pegimana mistinja mendjaga soepaja djangan sampe kena atau ketoelaran penjakit itoe oleh toewan L. Tb. Maijer|‚|col4text=0,30}} {{Daftarisi dtt|113{{sup|''b''}}.|HIKAJAT ILMOE MENGGAMBAR PHOTOGRAPHIE ditrangken dengan bahasa Melajoe aken goena sekalian orang njang ingin bisa menggambar lantaran dari sinarnja matahari, terkarang oleh Raden Ngabehi Basah Tirto Soebroto|‚|col4text=0,60}} {{Daftarisi dtt|129{{sup|''b''}}.|SOERAT KETRANGAN DARI HAL KA'ADA-AN BANGSA TJINA DI NEGRI HINDIA OLANDA terkarang oleh toewan J. E. Albrecht|‚|col4text=1,35}} {{Daftarisi dtt|129{{sup|''c''}}.|BOEKOE WEES EN BOEDELKAMER Perbendaharaä harta peninggalan di dalem Tanah Hindia Nederland. Perentah negeri njang bergoena sekali aken orang Arab, Melaloe, Tjina dan laen laen bangsa oleh toewan C. A. VERMANDEL, assistent-resident pensioen|‚|col4text=2,60}} {{Daftarisi dtt|133{{sup|''a''}}.|PERATOERAN PACHT APIOEN dalem residentie Riouw staatsblad 1817 No. 105 dan 1879 No. 154|‚|col4text=1,10}} {{Daftarisi dtt|416.|KITAB MELIBOERKEN HATI sato tjeritaän pendek njang bagoes sekali, soeda kloewat 2 boekoe. Harga 1 boekoe|‚|col4text=0,30}} {{Daftarisi dtt|443.|SIE LAIJ KON di dalem ini boekoe di tjeritaliken Sie Laij Kou dari miskin sampe djadi senang dan di blakang kali djadi miskin kombali, maka dengan pinternja dia membikin roepa-roepa barang njang heran kamoedian dia dapet satoe anak laki-laki nama Sie Pit Tjih njang amat bodo tetapi dari bodonja bisa menjdai orang hartawan|‚|col4text=1,10}} {{Daftarisi dtt|22{{sup|''a''}}.|TJEMPAKA MOELIA MENJERITAKEN HAL MANOESIA di dalem anem fatsal njang tersedia. Terkarang oleh Oesman bin Abdulla bin Jahia|‚|col4text=0,35}} {{Daftarisi dtt|47.|SAIR POETRA MAKOETA KERADJA-AN ROES, koetika datengnja di Betawi, dan peginja, tersamboeng dengan sair Bnatang di hoetan aken mengingetin anak-anak, soepaja mendengar kata dan sajang kepada orang toewa dan harta banda, terkarang oleh Tan Teng Kie. Tjitakan baroe|‚|col4text=0,30}} {{nop}}<noinclude></noinclude> 3y1rrfuj1crdy6vz6nva49oyns4jkgz Halaman:Hikajat 1001 Malam Djilid Katiga.pdf/499 104 101160 290980 283592 2026-05-10T13:33:01Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 290980 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{c|{{larger|'''Toko-Boekoe {{sp|{{uc|Albrecht}}}} & Co'''}} {{smaller|KANTOR PEMBRITA BETAWI.}} SEBRANG KANTOOR POST BATAVIA. {{rule|width=5em}} '''BOEKOE BAROE KLOEAR:'''}} {{Daftarisi dtt|1|BOEKOE ADJARAN boeat anak-anak, barang siapa jang ingin mengenal tiga roepa hoeroef seperti Olanda, Melajor dan Djawa|ƒ|col4text=0.60}} {{Daftarisi dtt|4|BOEKOE PELADJARAN anak-anak (ada moewat: Tjerita Nabi Khong Hoe Tjoe, peladjaran bahasa Olanda, ilmoe boemi dan peladjaran menoelis soerat) hoeroef Olanda|,|col4text=0.80}} {{Daftarisi dtt|5|BOEKOE BOEWAT ANAK-ANAK KETJIL njang baroe maoe beladjar Perkata-an Olanda|,|col4text=1.10}} {{Daftarisi dtt|37{{sup|''b''}}|TOEDJOE BELAS TJERITERA HIKAJAT TANAH HINDIA karangan toewan {{sc|Biegnan}}|,|col4text=0.80}} {{Daftarisi dtt|38{{sup|''c''}}|HIKAJAT COEN, Jan Pieterszoon Koen, Goevernoer Djendral dari Tanah Hindia Nederland, satoe djilid|,|col4text=0.80}} {{Daftarisi dtt|39{{sup|''b''}}|BARANG RAHSIA dari astana Constantinopel Riwajat waktoe sekarang (Tersalin daripada Kitab bebasa Olanda) Belon pernah dikeloewarken salinan bahasa Melajoe dari pada boekoe-boekoe bahasa Olanda, jang begitoe sekali „cuak” tjeritanja, seperti ini boekoe tjerita „Barang Rahsia dari astana Constantinopel)”.<br> 1 boekoe franco di post|,|col4text=0.80}} {{Daftarisi dtt|&nbsp;|21{{gap}},{{gap}} sama sekali|,|col4text=15.–}} {{Daftarisi dtt|41|HIKAJAT ABOE NAWAS dengan Radja Haroen Al-Rasjid di negri Bagdad. Bahasa Melajor, hoeroef Olanda. Harga tiga boekoe sama sekali|,|col4text=2 70}} {{Daftarisi dtt|83|BOEKOE PANTOEN RODJA MELATI, terkarang oleh si Nona Boto Roepa-roepa pantoen njang terpilih amat bagoesnja.|,|col4text=0.60}} {{Daftarisi dtt|86|BOEKOE PANTOEN KALOENG MELATI karangannja Boeng Hendrik|,|col4text=0 80}} {{Daftarisi dtt|119|SALINAN BOEKOE ONDANG-ONDANG BURGELIJK WETBOEK, tjitakan baroe (di salin sama sekali) ada ± 650 katja. Satoe bagian tamat|,|col4text=8.—}} {{Daftarisi dtt|&nbsp;|Terdjilid koelit tebel|,|col4text=9.—}} {{Daftarisi dtt|129{{sup|''b''}}|SOERAT KETRANGAN DARI HAL KA ADA-AN BANGSA TJINA DI NEGRI HINDIA OLANDA, terkarang oleh toewan J. E. Albrecht|,|col4text=1.36}} {{Daftarisi dtt|129{{sup|''c''}}|BOEKOE WEES EN BOEDELKAMER. Perbendaharaän harta peninggalan di dalem Tanah Hinda Nederland. Perentah negeri njang bergoena sekali aken orang Arab, Melaloe, Tjina, dan laen-laen bangsa oleh toewan C. A. Vermandel, assistent-resident pensioen|,|col4text=2.10}} {{nop}}<noinclude></noinclude> 2an582868y1f4ge4jqmz54k46it5qow 291423 290980 2026-05-11T00:34:45Z Thersetya2021 15831 291423 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>{{c|{{larger|'''Toko-Boekoe {{sp|{{uc|Albrecht}}}} & Co'''}} {{smaller|KANTOR PEMBRITA BETAWI.}} SEBRANG KANTOOR POST BATAVIA. {{rule|width=5em}} '''BOEKOE BAROE KLOEAR:'''}} {{Daftarisi dtt|1|BOEKOE ADJARAN boeat anak-anak, barang siapa jang ingin mengenal tiga roepa hoeroef seperti Olanda, Melajor dan Djawa|ƒ|col4text=0.60}} {{Daftarisi dtt|4|BOEKOE PELADJARAN anak-anak (ada moewat: Tjerita Nabi Khong Hoe Tjoe, peladjaran bahasa Olanda, ilmoe boemi dan peladjaran menoelis soerat) hoeroef Olanda|,|col4text=0.80}} {{Daftarisi dtt|5|BOEKOE BOEWAT ANAK-ANAK KETJIL njang baroe maoe beladjar Perkata-an Olanda|,|col4text=1.10}} {{Daftarisi dtt|37{{sup|''h''}}|TOEDJOE BELAS TJERITERA HIKAJAT TANAH HINDIA karangan toewan {{sc|Biegnan}}|,|col4text=0.80}} {{Daftarisi dtt|38{{sup|''c''}}|HIKAJAT COEN, Jan Pieterszoon Koen, Goevernoer Djendral dari Tanah Hindia Nederland, satoe djilid|,|col4text=0.80}} {{Daftarisi dtt|39{{sup|''b''}}|BARANG RAHSIA dari astana Constantinopel Riwajat waktoe sekarang (Tersalin daripada Kitab bebasa Olanda) Belon pernah dikeloewarken salinan bahasa Melajoe dari pada boekoe-boekoe bahasa Olanda, jang begitoe sekali „cuak” tjeritanja, seperti ini boekoe tjerita „Barang Rahsia dari astana Constantinopel)”.<br> 1 boekoe franco di post|,|col4text=0.80}} {{Daftarisi dtt|&nbsp;|21{{gap}},{{gap}} sama sekali|,|col4text=15.–}} {{Daftarisi dtt|41|HIKAJAT ABOE NAWAS dengan Radja Haroen Al-Rasjid di negri Bagdad. Bahasa Melajor, hoeroef Olanda. Harga tiga boekoe sama sekali|,|col4text=2 70}} {{Daftarisi dtt|83|BOEKOE PANTOEN RODJA MELATI, terkarang oleh si Nona Boto Roepa-roepa pantoen njang terpilih amat bagoesnja.|,|col4text=0.60}} {{Daftarisi dtt|86|BOEKOE PANTOEN KALOENG MELATI karangannja Boeng Hendrik|,|col4text=0 80}} {{Daftarisi dtt|119|SALINAN BOEKOE ONDANG-ONDANG BURGELIJK WETBOEK, tjitakan baroe (di salin sama sekali) ada ± 650 katja. Satoe bagian tamat|,|col4text=8.—}} {{Daftarisi dtt|&nbsp;|Terdjilid koelit tebel|,|col4text=9.—}} {{Daftarisi dtt|129{{sup|''b''}}|SOERAT KETRANGAN DARI HAL KA ADA-AN BANGSA TJINA DI NEGRI HINDIA OLANDA, terkarang oleh toewan J. E. Albrecht|,|col4text=1.36}} {{Daftarisi dtt|129{{sup|''c''}}|BOEKOE WEES EN BOEDELKAMER. Perbendaharaän harta peninggalan di dalem Tanah Hinda Nederland. Perentah negeri njang bergoena sekali aken orang Arab, Melaloe, Tjina, dan laen-laen bangsa oleh toewan C. A. Vermandel, assistent-resident pensioen|,|col4text=2.10}} {{nop}}<noinclude></noinclude> 01t6ts2uxrij6lnmu63ajkco8lgghtp Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/278 104 101166 291835 283524 2026-05-11T07:30:58Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291835 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>{| style="width:100%; border-collapse:collapse; border-top:2px solid black; line-height:1.4; font-size:90%;" ! style="border-bottom:1px solid black; border-right:1px solid black; width:15%; padding:5px;" | Karesidenan ! style="border-bottom:1px solid black; border-right:1px solid black; width:20%; padding:5px;" | Perusahaan ! style="border-bottom:1px solid black; border-right:1px solid black; width:20%; padding:5px;" | Alamat ! style="border-bottom:1px solid black; width:45%; padding:5px;" | <span style="letter-spacing: 0.3em;">Keterangan</span> |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="border-right:1px solid black;" | | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | sahaan membuat minjak katjang, tetapi selandjutnja banjak jang berhenti karena tidak memberi keuntungan. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Perusahaan genteng. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Gulun, Maospati, Magetan. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam perusahaan: Gabungan. Produksi: 200.000 genteng per bulan. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Perusahaan genteng/batu-merah. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Desa Bangunsari, Distrik Tjaruban, Madiun. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam perusahaan: Gabungan. Produksi: 93.750 bidji genteng/batu-merah per bulan. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Perusahaan kapur tulis/batu-tulis. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Desa Gemahardjo, Patjitan. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam perusahaan: Perseorangan. Produksi: 200 peti à 100 doos à 100 batang kapur tulis per bulan. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Pande alat-alat pertanian. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Djl. Raja Kepoloredjo, Magetan. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam perusahaan: Gabungan. Produksi: 9 perusahaan menghasilkan per bulan 60 bidji arit besar, 60 bidji patjul besar dan membuat antara lain barang-barang pesanan seperti pisau dan sebagainja. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Perusahaan genteng. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Desa Putjung-asem, Patjitan. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam perusahaan: Gabungan. Produksi sebulan: 19.000 bidji genteng. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Perusahaan kapur tulis "Suwandi". | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Gang Kamplongan, Ponorogo. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam perusahaan: Perseorangan. Produksi sebulan: 200 peti à 100 doos à 100 batang kapur tulis. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Perusahaan kaju dan meubel. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Djalan Raja 58 Kepoloredjo, Magetan. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam perusahaan: Gabungan saudara. Produksi sebulan: 15 m³ kaju jang telah digergadji, 5 almari, 10 medja, 50 kursi dan lain² menurut pesanan. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Pembikinan tegel. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Ngawi. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam perusahaan: Perseorangan. Produksi sehari: 250 bidji tegel. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Penggergadjian kaju. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Kedunggalar, Ngawi. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam perusahaan: Perseorangan. |}<noinclude>{{rh|246}}</noinclude> 972d9xbm949wlx7az5owv7finpbeb7z Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/284 104 101172 291836 283540 2026-05-11T07:31:34Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291836 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>{| style="width:100%; border-collapse:collapse; border-top:2px solid black; line-height:1.4; font-size:90%;" ! style="border-bottom:1px solid black; border-right:1px solid black; width:15%; padding:5px;" | Karesidenan ! style="border-bottom:1px solid black; border-right:1px solid black; width:20%; padding:5px;" | Perusahaan ! style="border-bottom:1px solid black; border-right:1px solid black; width:20%; padding:5px;" | Alamat ! style="border-bottom:1px solid black; width:45%; padding:5px;" | <span style="letter-spacing: 0.3em;">Keterangan</span> |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Permainan kanak-kanak. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Kediri-Kota. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Keadaan tahun 1952: dikerdjakan dengan tangan. Diinginkan machinaal untuk kaju belahan (gradjen) dari kaju djati/wildhout untuk papan peti-peti pak dan bahan bangunan.<br>Usaha ini sudah merupakan suatu gabungan perusahaan kaju. Sekarang menghasilkan mainan kanak-kanak dari kaju: kereta, hobbelpaard, kapstok, wipplank, dan lain². Diinginkan selain membuat permainan kanak-kanak biasa djuga permainan jang bersifat pendidikan seperti bouwdozen, telraam dan sebagainja. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Perusahaan tjor besi. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Ngunut,<br>Tulungagung. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Sekarang primitif, tetapi tjukup besar dan menghasilkan as dokar, lumpang, kedjen, dan lain-lain. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Perusahaan tahu. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Pandean,<br>Kediri. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Dengan tenaga tangan. |- | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | '''SURABAJA''' | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Perusahaan tenun "Anang Tajib". | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Bedilan,<br>Gresik. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam perusahaan: Perseorangan. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Perusahaan genteng/batumerah "Murni". | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Karangpilang,<br>Sepandjang. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam Perusahaan: Perseorangan. Produksi sebulan: 25.000 genteng. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Keradjinan kuningan. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Gresik. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam perusahaan: Gabungan. Didaerah Gresik terdapat 20 perusahaan jang membuat sendok, garpu dan lain-lain. |- | style="border-right:1px solid black;" | | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Perusahaan blik G.P.S.K. | style="vertical-align:top; border-right:1px solid black; padding:5px;" | Desa Kesambi, Ketjamatan Porong, Sidoardjo. | style="vertical-align:top; padding:5px; text-align:justify;" | Matjam perusahaan: Gabungan, terdiri dari 45 perusahaan sajangan ketjil-ketjil. |}```<noinclude>{{rh|252}}</noinclude> khto5spzq38l2136sc9bo0geqddwy2t Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/100 104 101183 291210 283620 2026-05-10T15:08:04Z Sarieffe 26994 /* Tervalidasi */ 291210 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>{{c|{{X-larger|'''RAPAT PARA PANGLIMA TENTARA DAN TERRITORIUM'''}}}} <br> {{c|'''Tgl. 15 s/d 20 Maret 57 '''}} {{Gap}}Sedjak meletusnja peristiwa Dewan Banteng tgl. 20 Desember 1956 dan diikuti pula oleh timbulnja dewan² lainnja, keadaan di tanah air kita dapat dikatakan memasuki suatu proces baru dalam sedjarahnja. {{gap}}Banjak tafsiran² tentang ini jg satu sama lainnja berlainan. {{gap}}Ada pula jg mengatakan bahwa timbulnja dewan² daerah sebagai tanda konsolidasi dilihat pada lahirnja, harus ditjari dorongan psychis apa jang mendjelmakan dewan itu: tak lain hanjalah hasrat rakjat untuk konsolidasi. Pendjelmaannja lokaal, hanja untuk permulaan, sesuai dgn pertumbuhan keinsjafan nasional manusia jang mulai dari kelamin, keluarga, suku, kampung, daerah dan achirnja negara. {{gap}} ,,Kekatjauan" lahir ini adalah sekarat penghabisan dari djalannja pertumbuhan kearah konsolidasi, setelah bosan dengan pertentangan², kemudian akan tertjapailah stabilisasi. {{gap}}Tapi pertumbuhan ini harus terpimpin, djangan sampai membawa ekses lagi. {{gap}}Pada hakekatnja pertumbuhan dewan² ini adalah balasan jang timbul dari masing² onderbewustzijn rakjat atas gugatan PJM Presiden untuk melebur partai². Inilah salah satu pendapat jang dikemukakan orang pada waktu achir² ini. Dalam keadaan orang tengah mentjari rumusan² dan mentjoba untuk dapat membikin satu estimate jang concreet tentang keadaan jang bergolak ditanah air kita inilah. ............... maka pada tanggal 1 Maret '57 hampir semua perhatian ditjurahkan kepada hal-hal apa jang akan terdjadi dan keputusan apa jang akan diambil oleh rapat para panglima kali ini. {{gap}}Sedjak dari pagi wartawan² djurupotret, baik dari dalam maupun dari luar negeri telah berkelompok² disekitar aula MBAD dimana rapat akan dilangsungkan. Didalam ruangan sendiri telah disusun dengan sangat rapi korsi² jang merupakan segitiga dengan medja pandjang jang beralaskan laken hidjau. Disudut lainnja berdjedjer tape recorder jang akan mengambil semua pembitjaraan jg berlangsung dalam ruangan ini. [[File:Madjalah Angkatan Darat (page 100 crop).jpg|400px|kanan|jmpl|''Pada tanggal 15 s/d 20 Maret 1957, bertempat di Aula MBAD telah dilangsungkan rapat para Panglima Tentara dan Territortum serta Komandan Daerah di seluruh wilajah R.I. Ini adalah pemandangan dalam ruangan rapat tsb.'']] {{gap}}Djam 08.30 beberapa perwira menengah dari SUAD telah berada dalam ruangan dan dalam waktu jang singkat kemudian beberapa panglima telah hadir pula. Mereka kelihatan segar². Para wartawan mulai menjerbu kedalam dan satu demi satu para pengikut rapat memasuki ruangan. {{gap}}Sasaran² camera kebanjakan ditudjukan pada Overste Sumual, Kolonel Sudirman, Overste Hasan Basri, Overste Djamin Gintings, Overste Samaun Gaharu. Seorang lainnja jang pasti akan mendjadi sasaran ramai adalah overste Ahmad Husein kalau ia hadir, tapi karena telah diketahui terlebih dahulu bahwa ia tak dapat hadir, ia tak ditjari-tjari. Walaupun demikian diantara ± 35 para perwira menengah itu, para wartawan kelihatan masih mentjari² seorang jang sampai saat rapat akan dimulai belum djuga kelihatan hadir. Baru setelah para wartawan diminta keluar dan rapat akan mulai dibuka, Overste Barlian memasuki ruangan rapat dan segera melaporkan diri kepada KSAD. Semua mata ditudjukan kepadanja, mungkin karena tindakan jang telah diambilnja di Terr. II lima dari sebelum berlangsungnja rapat Panglima ini. {{gap}}Gambaran singkat sebelum rapat dimulai, dalam ruangan dapat dikatakan sebagai berikut: Ada wartawan² jg berdiri di-podjok² dengan melemparkan sorotan mata keseluruh pelosok ruangan, meneliti seseorang demi seorang. Mereka seolah-olah ingin menduga dan mendjedjak tiap-tiap pribadi jang mendjadi perhatian pada ketika itu. {{gap}}Kolonel Sudirman dengan {{hws|per|perawakan}}<noinclude>{{rh|34}}</noinclude> 3207syshc89tyw5n3orkpsgk0ni3nmb Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/271 104 101190 291834 283631 2026-05-11T07:30:21Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291834 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude><center>'''ADANJA PERUSAHAAN-PERUSAHAAN JANG TERMASUK<br>PERATURAN PEMBATASAN PERINDUSTRIAN DI DJAWA-TIMUR<br>SAMPAI PERTENGAHAN TAHUN 1952.'''</center> {| style="width:100%; border-collapse:collapse; border-top:2px solid black; line-height:1.2; font-size:85%; border-bottom:2px solid black; text-align:center;" border="1" |- ! style="width:12%;" rowspan="3" | Karesidenan<br><br>1 ! style="width:15%;" rowspan="3" | Kabupaten<br><br>2 ! colspan="4" | Penggilingan Padi<br>3 ! colspan="4" | Perusahaan menggosok beras<br>4 |- ! style="writing-mode: vertical-rl; transform: rotate(180deg); padding: 5px 2px;" rowspan="2" | Djumlah ! colspan="2" | Pemilik ! style="padding: 5px 2px;" rowspan="2" | Lis. Cap.<br>P.K. ! style="writing-mode: vertical-rl; transform: rotate(180deg); padding: 5px 2px;" rowspan="2" | Djumlah ! colspan="2" | Pemilik ! style="padding: 5px 2px;" rowspan="2" | Lis. Cap.<br>P.K. |- ! style="width:5%;" | I ! style="width:5%;" | A ! style="width:5%;" | I ! style="width:5%;" | A |- | style="vertical-align:top; font-weight:bold; text-align:left; padding-left:5px;" rowspan="5" | SURABAJA | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Surabaja || 4 || — || 4 || 514 || 1 || — || 1 || 60 |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Sidoardjo || 5 || 2 || 3 || 796 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Modjokerto || 6 || 1 || 5 || 670 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Djombang || 9 || — || 9 || 650 || — || — || — || — |- style="border-top:2px solid black; border-bottom:2px solid black; font-weight:bold;" | style="text-align:right; padding-right:10px;" | Djumlah || 24 || 3 || 21 || 2630 || 1 || — || 1 || 60 |- | style="vertical-align:top; font-weight:bold; text-align:left; padding-left:5px;" rowspan="5" | MALANG | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Malang || 14 || 3 || 11 || 640 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Pasuruan || 7 || — || 7 || 642,5 || — || — || 2 || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Probolinggo || 7 || — || 7 || 1169 || 2 || — || — || 45 |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Lumadjang || 8 || — || 8 || 593 || — || — || — || — |- style="border-top:2px solid black; border-bottom:2px solid black; font-weight:bold;" | style="text-align:right; padding-right:10px;" | Djumlah || 36 || 3 || 33 || 3044,5 || 2 || — || 2 || 45 |- | style="vertical-align:top; font-weight:bold; text-align:left; padding-left:5px;" rowspan="5" | BESUKI | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Panarukan || 4 || 2 || 2 || 212,5 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Bondowoso || 4 || — || 4 || 520 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Djember || 22 || 2 || 20 || 3006 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Banjuwangi || 36 || 5 || 31 || 2696 || — || — || — || — |- style="border-top:2px solid black; border-bottom:2px solid black; font-weight:bold;" | style="text-align:right; padding-right:10px;" | Djumlah || 66 || 9 || 57 || 6434,5 || — || — || — || — |- | style="vertical-align:top; font-weight:bold; text-align:left; padding-left:5px;" rowspan="5" | MADURA | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Bangkalan || — || — || — || — || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Sampang || — || — || — || — || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Pamekasan || — || — || — || — || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Sumenep || — || — || — || — || — || — || — || — |- style="border-top:2px solid black; border-bottom:2px solid black; font-weight:bold;" | style="text-align:right; padding-right:10px;" | Djumlah || — || — || — || — || — || — || — || — |- | style="vertical-align:top; font-weight:bold; text-align:left; padding-left:5px;" rowspan="4" | BODJO-<br>NEGORO | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Bodjonegoro || 3 || — || 3 || 350 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Lamongan || 3 || — || 3 || 177 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Tuban || 1 || — || 1 || 100 || — || — || — || — |- style="border-top:2px solid black; border-bottom:2px solid black; font-weight:bold;" | style="text-align:right; padding-right:10px;" | Djumlah || 7 || — || 7 || 627 || — || — || — || — |- | style="vertical-align:top; font-weight:bold; text-align:left; padding-left:5px;" rowspan="5" | KEDIRI | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Kediri || 7 || — || 7 || 793 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Blitar || 5 || 1 || 4 || 235 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Tulungagung || 2 || — || 2 || 85 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Ngandjuk || 2 || — || 2 || 215 || — || — || — || — |- style="border-top:2px solid black; border-bottom:2px solid black; font-weight:bold;" | style="text-align:right; padding-right:10px;" | Djumlah || 16 || 1 || 15 || 1328 || — || — || — || — |- | style="vertical-align:top; font-weight:bold; text-align:left; padding-left:5px;" rowspan="6" | MADIUN | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Madiun || 2 || — || 2 || 115 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Magetan || — || — || — || — || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Ngawi || 2 || — || 2 || 213 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Ponorogo || 1 || — || 1 || 40 || — || — || — || — |- | style="text-align:left; padding-left:5px;" | Patjitan || — || — || — || — || — || — || — || — |- style="border-top:2px solid black; border-bottom:2px solid black; font-weight:bold;" | style="text-align:right; padding-right:10px;" | Djumlah || 5 || — || 5 || 368 || — || — || — || — |- style="border-top:2px solid black; border-bottom:2px solid black; font-weight:bold;" | colspan="2" | DJUMLAH SEMUA || 154 || 16 || 138 || 14.432*) || 3 || — || 3 || 105**) |} <div style="font-size:90%; margin-top:10px;"> Keterangan : &nbsp; *) Gaja gerak sudah ditambah mesin tjadangan — 1780 P.K.<br> &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; **) Gaja gerak sudah ditambah mesin tjadangan — 18 P.K. </div><noinclude>{{rh|||239}}</noinclude> sc8b90jay9u0tdnfxl2zpkfdz3sxc1v Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/766 104 101193 290985 283670 2026-05-10T13:33:50Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290985 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>[[Berkas:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur (page 766 crop).jpg|jmpl|Pemimpin Buruh sedang menguraikan maksud mengadakan pemogokan ialah menuntut gratifikasi tahun 1951.]] [[Berkas:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur (page 766 crop2).jpg|jmpl|Pemandangan perajaan peringatan Hari Kemenangan Buruh tanggal 1 Mei 1952 di Surabaja.]] {{rh|733}}<noinclude>{{rvh|656}}</noinclude> gj5kdhkaeonaa9h532qti7b68621w9r 290993 290985 2026-05-10T13:34:13Z Lutfiyatun 26681 290993 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>[[Berkas:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur (page 766 crop).jpg|jmpl|Pemimpin Buruh sedang menguraikan maksud mengadakan pemogokan ialah menuntut gratifikasi tahun 1951.]] [[Berkas:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur (page 766 crop2).jpg|jmpl|Pemandangan perajaan peringatan Hari Kemenangan Buruh tanggal 1 Mei 1952 di Surabaja.]]<noinclude>{{rvh|656}}</noinclude> rzntss6lb3zysy37fjpb4bm87drjhmt Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/912 104 101217 291239 283766 2026-05-10T15:21:26Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 291239 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{ol|start=4|Golongan jang pertjaja dan mengakui Chalifah hanja S. Ali Ibn Abi Talib r.a. Mereka masih berpegang teguh pada madzhab. Melainkan P.S.I.I. Belum menentukan sikapnja terhadap masalah itu.}} Ternjata, bahwa djerih pajah muballigh-muballigh Islam, para Wali dan para Ulama Islam pada masa lampau tidak sia-sia, bahkan dipudja-pudji sepandjang masa oleh Ummat Islam Djawa-Timur. Ini ternjata dari makan-makan para Wali, para Ulama, guru-guru dan penjebar Islam, jang hingga kini masih dibela dan dipelihara baik-baik, dihormati dan diperingati dalam saat jang tertentu menurut adat-istiadat masing-masing orang, misalnja: makam Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, Sunan Boejoet Semendi, Kjahi Chalil, Kjahi Hajim As'ari dan sebagainja Upatjara memelihara dan menghormati makam-makam itu kadang-kadang menjimpang dari pada tuntunan Islam semula, akan tetapi hal ini sukar sekali akan dibawa ke-arah upatjara sebagaimana upatjara lajak-patutnja menurut adjaran Islam. Sungguhpun demiki, tudjuan mereka pada dasarnja adalah untuk menghormat pada arwah para Wali dan para Alim Ulama jang berdjasa dalam memperkembangkan Agama Islam itu. Selandjutnja sebagai bkti njata jang tak dapat dibantah dan tak dapat disangkal dari buah usaha dan pusaka djasa mereka jang telah ditinggalkan ialah mesdjid-mesdjid, surau-surau, pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah jang harus dipelihara baik-baik sebagai pusaka umum dan kalau perlu dibangunkan kembali sebagaimana patutnja. {|class="wikitable" |+DAFTAR ADANJA MESDJID DAN SURAY SELURUH DJAWA-TIMUR |- ! Karesidenan !! Kabupaten/Kota !! Mesdjid² !! Surau² |- ! rowspan=5 | SURABAJA | Surabaja Kota{{ref|1p912|*)}} || 28 || 229 |- | Djombang || 222 || 1.697 |- | Modjokerto || 146 || 1.698 |- | Sidoardjo || 188 || 1.730 |- | Djumlah || 584 || 5.354 |- ! rowspan=4 | BODJONEGORO | Bodjonegoro || 181 || 597 |- | Lamongan || 301 || 1.985 |- | Tuban || 105 || 1.545 |- | Djumlah || 587 || 4.127 |} '''Keterangan:''' {{note|1p912|*)}} Surabaja Kabupaten belum dapat diketahui data djumlahnja. {{nop}}<noinclude>{{rvh|800}}</noinclude> 64dvilc2skpudnamrixofwlsbuo4zcj Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/892 104 101236 291299 283887 2026-05-10T16:31:49Z Riiiv 22458 /* Belum diuji baca */ 291299 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Riiiv" /></noinclude>apabila gugur, pasti tak akan tumbuh jang kedua kalinja. Kata-kat{{Illegible}} Ini disebut „sabda pendita ratu”. Pada tahun 1450 Masehi beliau beristerikan seorang puteri Tuba{{Illegible}} Njai Ageng Manilah namanja. Dari perkawinan ini, beliau berputera # Makdum Ibrahim jang achirnja bergelar Sunan Bonang; # Masih Munat jang achirnja bergelar Sunan Dradjat (dek{{Illegible}} Sedaju) dan # Njai Gede Malichah (Maleka) jang achirnja mendjadi iste{{Illegible}} Sunan Giri. '''Peladjaran Sunan Ngampel.''' Peladjaran Islam jang dikembangkan oleh Sunan Ngampel pad{{Illegible}} masa itu ialah Bismillah, kalimah Shahadat dan tauhid. Sungguhpu{{Illegible}} beliau kurang pandai berbahasa Djawa, namun berkat ke-ichlasa{{Illegible}} kedjudjuran dan isi lidahnja sesuai dengan perbuatannja, berkembangl{{Illegible}} agama Islam dengan suburnja. Peladjaran Tauhidnja jang diuraikan dengan bahasa Arab, lalu disal{{Illegible}} dalam bahasa Djawa tjara Ngampel jaitu: „Wa jadjibu ’ala kulli mukallafin, an ja’rifa anna Allaha,<br>wadjibul-wudjud”. „Lan wadjib ing atasé saben-saben wong mukallaf, jèn<br>ta ngaweruhi, satuhuné Allah iku zhat kang wadjib wudjudé”. Kalimat itu sebenarnja belum disalin dalam bahasa Djawa, mas{{Illegible}} separuh-separuh bahasa Arab dan Djawa, akan tetapi dapat dimenge{{Illegible}} dan difahami oleh Rakjat. '''Tjara mengembangkan Islam.''' Pekerdjaan Sunan Ngampel itu apabila selesai mengadjar, beli meromet-romet di rumah, membuat kipas dari pada bambu (ilir Bahasa Djawa). Hasil pekerdjaannja itu tidak didjual dengan ua{{Illegible}} melainkan didjualnja dengan kalimah shahadat dan bismillah. Unt{{Illegible}} itu beliau masuk kampung keluar kampung menawarkan kipasnja dengan membawa beberapa helai kipas buatannja itu. Setiap orang bol{{Illegible}} membelinja hanja sehelai dengan membatja shahadat dan bismilla{{Illegible}} Dalam pada itu manakala melihat orang-orang berkerumun menjabu{{Illegible}} djago (ajam djantan), beliau datang mendekatinja. Beliau memperhatik{{Illegible}} dan mempeladjari benar-benar akan djiwa masjarakat Surabaja. Dianta{{Illegible}} penjabung-penjabung djago itu ada pula jang datang kerumah beli{{Illegible}} hendak mohon djimat dan mantra, supaja djago jang disabungnja memperoleh kemenangan. Untuk itu olehnja disuruh membatja shahad{{Illegible}} Dalam hal ini banjak pula jang mudjarab. Oleh karena inilah nama d{{Illegible}} kesaktiannja tersohor. Pada achirmja beliau mendapat gelar Sun{{Illegible}} Ngampel.<noinclude>{{rvh|782}}</noinclude> 7y7t18j4xrvl4atrbfo0mkrumen858e Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/566 104 101261 290867 284148 2026-05-10T12:49:15Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290867 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>'''Susunan Instansi Penjelesaian Perselisihan Perburuhan (I.P3) Djawa-Timur.''' I.P3 ialah Instansi Penjelesaian Perselisihan Perburuhan Djawa-Timur terdiri dari 6 orang anggauta tetap dan seorang penasehat. Susunan anggauta I.P3 Djawa-Timur pada tahun 1951 adalah sebagai berikut: {| style="width:100%; border-collapse:collapse; line-height:1.4; font-size:95%;" |- | style="width:5%; text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 1. | style="width:30%; vertical-align:top;" | Harjonokoesoemo, | style="width:65%; text-align:left;" | Kepala Kantor Penjuluh Perburuhan Djawa-Timur sebagai Ketua. |- | style="text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 2. | style="vertical-align:top;" | Soedirdjo, | style="text-align:left;" | Kepala Bagian Perekonomian Kantor Gubernur Djawa-Timur. |- | style="text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 3. | style="vertical-align:top;" | Ir. Aboeprajitno, | style="text-align:left;" | Kepala Djawatan Kereta Api Eksploitasi Timur di Surabaja. |- | style="text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 4. | style="vertical-align:top;" | Soemidjan, | style="text-align:left;" | Kepala Djawatan Perindustrian & Keradjinan Inspeksi Djawa-Timur. |- | style="text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 5. | style="vertical-align:top;" | Soeprapto, | style="text-align:left;" | Kepala Inspeksi Keuangan Surabaja. |- | style="text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 6. | style="vertical-align:top;" | Oka, | style="text-align:left;" | Kepala Pekerdjaan Umum Inspeksi Djawa-Timur. |- | style="text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 7. | style="vertical-align:top;" | Moeljadi, | style="text-align:left;" | Act. Pemimpin Umum Djawatan Penerangan Propinsi Djawa-Timur sebagai Penasehat, dengan keputusan Menteri Perburuhan tanggal 28 Pebruari 1951 No. 1487. Sebelum keputusan tersebut Djawatan Penerangan Propinsi Djawa-Timur selalu dibawa serta sebagai penindjau. |} '''Panitia Penjelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah (P4D) Djawa-Timur.''' Dalam rapat pelantikan anggauta baru P4D ialah „Panitia Penjelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah” Djawa-Timur, Gubernur Djawa-Timur Samadikoen menjatakan antara lain, bahwa dalam soal-soal penjelesaian perselisihan perburuhan akan lebih banjak diminta daripada masa sebelumnja, jaitu dalam masa I.P3. Hal ini dapat dibuktikan dengan kenjataan, bahwa dalam masa 7 bulan jang terachir dari tahun 1952 di Daerah Djawa-Timur tertjatat angka-angka perselisihan sebagai berikut: {| style="width:100%; border-collapse:collapse; line-height:1.4; font-size:95%;" |- | style="width:85%;" | — Djumlah tuntutan jang diadjukan oleh pihak organisasi-organisasi Buruh . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . | style="width:15%; text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px;" | 3.500 |- | — Djumlah perselisihan jang terdjadi oleh karenanja . . . . . . . . . . . . . | style="text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px;" | 712 |- | — Djumlah antjaman mogok . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . | style="text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px;" | 51 |- | — Djumlah antjaman lock out . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . | style="text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px;" | 2 |- | — Djumlah pemogokan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . | style="text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px;" | 16 |- | — Djumlah perselisihan jang diadjukan dihadapan P4D . . . . . . . . . . . . | style="text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px;" | 102 |- | — Djumlah perselisihan jang dapat diselesaikan oleh P4D . . . . . . . . . . . | style="text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px;" | 65 |- | — Djumlah sidang jang diadakan oleh P4D . . . . . . . . . . . . . . . . . | style="text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px;" | 98 |}<noinclude>{{rvh|532}}</noinclude> ald5ttmeiw90hlo622dfzdpghu37sjd Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/567 104 101272 290868 284184 2026-05-10T12:49:32Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290868 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>Selandjutnja berdasarkan kawat Menteri Perburuhan tanggal 6 Oktober 1951 No. 7054/5 dan sesuai dengan putusannja tanggal 24 Maret 1952 No. 2652 P4D 6411, maka telah dilantik oleh Gubernur Kepala Daerah Propinsi Djawa-Timur anggauta baru Panitia Penjelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah Djawa-Timur: '''Sebagai Ketua P4D:''' {| style="width:100%; border-collapse:collapse; line-height:1.4; font-size:95%;" |- | style="width:5%; text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | | style="width:30%; vertical-align:top;" | Harjonokoesoemo, | style="width:65%; text-align:left;" | Kepala Kantor Penjuluh Perburuhan Djawa-Timur. |} '''Sebagai Anggauta-Anggauta P4D:''' {| style="width:100%; border-collapse:collapse; line-height:1.4; font-size:95%;" |- | style="width:5%; text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 1. | style="width:30%; vertical-align:top;" | Ir. Soemadijo, | style="width:65%; text-align:left;" | Kepala Djawatan Pekerdjaan Umum Propinsi Djawa-Timur, selaku Wakil Kementerian Pekerdjaan Umum dan Tenaga. |- | style="text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 2. | style="vertical-align:top;" | Ir. Aboeprajitno, | style="text-align:left;" | Kepala Djawatan Kereta Api Eksploitasi Timur, selaku Wakil Kementerian Perhubungan. |- | style="text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 3. | style="vertical-align:top;" | Soemidjan, | style="text-align:left;" | Kepala Djawatan Perindustrian & Keradjinan Inspeksi Djawa-Timur, selaku Wakil Kementerian Perekonomian. |- | style="text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 4. | style="vertical-align:top;" | R. Soeprapto, | style="text-align:left;" | Kepala Inspeksi Keuangan Surabaja, selaku Wakil Kementerian Keuangan. |- | style="text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 5. | style="vertical-align:top;" | R. Soebari, | style="text-align:left;" | Inspeksi Perkebunan, selaku Wakil Kementerian Pertanian. |- | style="text-align:right; vertical-align:top; padding-right:15px;" | 6. | style="vertical-align:top;" | Soedirdjo Hardjodiwirjo, | style="text-align:left;" | Kepala Urusan Perekonomian dari Kantor Gubernur Djawa-Timur, selaku Wakil Kementerian Dalam Negeri. |} '''Sebagai Anggauta Pendengar dan Penasehat P4D:''' {| style="width:100%; border-collapse:collapse; line-height:1.4; font-size:95%;" |- | style="width:5%;" | | style="width:30%; vertical-align:top;" | Moeljadi Notowardojo, | style="width:65%; text-align:left;" | Kepala Djawatan Penerangan Propinsi Djawa-Timur. |} Tentang hasil pekerdjaan P4D dapat dibentangkan disini, bahwa selama P4D ada, jaitu antara djarak masa mulai tanggal 15 Oktober 1951 sampai tanggal 3 Djuni 1952, djadi kurang-lebih 7½ bulan, adalah sebagai berikut: {| style="width:100%; border-collapse:collapse; line-height:1.4; font-size:95%;" |- | style="width:82%;" | — Menerima penjerahan perselisihan dari K.P.P. (Kantor Penjuluh Perburuhan) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . | style="width:18%; text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px;" | 49 soal. |- | — Menerima antjaman mogok dari Serikat-Buruh-Serikat-Buruh . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . | style="text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px;" | 54 soal. |- | — Menerima antjaman lock out dari Madjikan-Madjikan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . | style="text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px; border-bottom: 1px solid black;" | 2 soal. |- | style="text-align:right; padding-right: 45px;" | Djumlah | style="text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px;" | 105 soal. |- | — Bersidang 104 kali, menjelesaikan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . | style="text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px; border-bottom: 1px solid black;" | 92 soal. |- | style="text-align:right; padding-right: 45px;" | Sisa: | style="text-align:right; vertical-align:bottom; padding-right:10px; border-bottom: 3px solid black;" | 13 soal. |} (termasuk didalamnja 10 perselisihan dan 3 pemogokan)<noinclude>{{rvh|533}}</noinclude> bkof1xsicotix3gqsjbm86exci4fe65 Halaman:Gelora Konfrontasi Mengganjang Malaysia.pdf/3 104 101283 291492 288644 2026-05-11T02:01:47Z OwlyKnight 24017 /* Tervalidasi */ 291492 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="OwlyKnight" /></noinclude>{{block right|align=center|HARGA PRICE Rp1000<br>P.N. Penerbit<br>PRADNJAPARAMITA III<br>Djl. Teuku Umar 32<br>DJAKARTA}}<noinclude></noinclude> b6byr2r2bggpmi3w5614fdrnu6on8d3 Halaman:Gelora Konfrontasi Mengganjang Malaysia.pdf/8 104 101298 291495 285408 2026-05-11T02:02:58Z OwlyKnight 24017 291495 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /></noinclude>{{smaller|{{c|''Saat lahirnja doktrin Sukarno-Macapagal''}}}} {{nop}}<noinclude></noinclude> t24gkjdjhsjm96wjbhg5zfevxyj0of4 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/604 104 101299 291969 287832 2026-05-11T10:40:54Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291969 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||pendidikan}}</noinclude>{{hwe|rakat|masyarakat}} dan kebudayaan kita. Dalam masa lampau tenaga-tenaga pengajar dan para pejabat yang bertanggung jawab atas pendidikan para onlon ahli dalam bidang sastra daerah telah membuat berbagai keputusan penting yang mengakibatkan terjadinya keadaan yang sukar dapat dipertanggungjawabkan, koputusan-keputusan yang mengakibatkan perkembangan pendidikan dan ponelitian dalam bidang sastra daerah sampai menjadi keadaan gawat yang sekarang kita hadapi. Sebagian dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh tenaga-tenaga pengajar dan para pejabat yang bertanggung jawab ntna pendidikan para calon tenaga ahli dalam bidang sastra daerah disebabkan oleh keengganan untuk sungguh-sungguh memikirkan masalah-masalah pendidikan para calon tenaga ahli yang menjadi tanggung jawab mereka dalam rangka kepentingan masyarakat luas kita sebagai keseluruhan; sebagian disebabkan oleh kepentingan-kepentingan pribadi ntnu sifat-sifat khas kepribadian dari para penanggung jawab ini yang mengakibatkan mereka terlibat atau melibatkan diri dalam pertentangan-pertentangan perorangan sehingga keputusan-keputusan yang dibuat didasarkan lebih atas sentimon-sentimen pribadi daripada pemikiran yang berakar pada kepentingan pendidikan atau ilmu pengetahuan; dan, ten tu saja, sebagian dari keputusan-keputusan yang mengakibatkan keadaan gawat yang sekarang kita hadapi disebabkan oleh pengetahuan terbatas yang tidak diusahakan untuk dikembangkan, diperluas dan diperdalam. Kita terpaksa menuduh mereka berbunt salah, berbuat salah besar. Saya mengemukakan tuduhan ini lebih dengan perasaan prihatin daripada perasaan amarah. Mengapa mereka dituduh begitu? Bukankah sebagian dari mereka adalah orang-orang terpelajar yang terhormat? Bukankah sebagian dari mereka adalah pojabat-pejabat tinggi dalam Pemerintah Pusat kita dan berbagai Pemerintah Daerah yang {{hws|bersangkut|bersangkutan}}<noinclude>{{rh||2 <u>Bahasa dan Kesusasteraan</u> VII (1), 1974}}</noinclude> o1wozlnld6ih5xnr244cs7xsmj3l6ja Halaman:Gelora Konfrontasi Mengganjang Malaysia.pdf/10 104 101300 291502 289030 2026-05-11T02:10:59Z OwlyKnight 24017 /* Tervalidasi */ 291502 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="OwlyKnight" /></noinclude>{{block center|max-width=30%|style=font-style:italic|Tepat pada tanggal 1 Djuni 1964, Hari Peringatan Lahirnja Pantja Sila, terbitlah buku ini, dengan segala kesederhanaan dan kekurangannja. Tetapi kesederhanaan dan kekurangannja itu kiranja tidak mengurangi nilai isinja.'' ''Hendaknja isi penerbitan ini mendjadi dasar dan pedoman dalam kita melaksanakan Dwikora, dengan musjawarah atau tidak, dan selandjutnja dapat pula merupakan pendorong menggelorakan semangatkonfrontasi dan menambah gigihnja pengganjangan neokolonialis „Malaysia”.}} {{Block right|''Djakarta, 1 Djuni 1964.''<br>''Departemen Penerangan.''}}<noinclude></noinclude> grr9km6wzva7s6yq7k1ztm84ebm7ljk Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/606 104 101304 291970 287838 2026-05-11T10:41:39Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291970 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||pendidikan}}</noinclude>berarti yang dihasilkan oloh tenaga-tenaga ahli sastra daerah kita ini sedangkan jurusan-jurusan sastra daorah di fakultas-fakultas sastra di negeri kita, yang sebenarnya, seporti jurusan Sastra Indonesia, harus merupakan Jurusan yang terbesar, terkuat dan terpenting, dalam kenyataan merupakan jurusan-jurusan yang kecil dan lemah. Bersama dengan jurusan Sastra Indonesia mestinya jurusan sastra daerah merupakan inti dari sekalian fakultas-fakultas sastra di negeri. kita, pusat-pusat pendidikan yang menghasilkan tenaga- tenaga ahli yang memperluas dan memperdalam pengetahuan keahlian mengenai bermacam-macam aspek kebudayaan-kebudayaan daerah di negeri kita dan menyebar luaskan pengetahuan ini pada para sosama warga-warga negara kita yang berkepentingan dan berminat demi penambahan pengetahuan ann pengertian yang lebih baik mengenai kekayaan kebudayaan-kebudayaan daerah bangsa kita. Tapi, sekali lagi, haruslah saya mengemukakan kenyataan bahwa keadaan tenaga-tenaga ahli dan pengetahuan ilmiah mengenai sastra daerah dikalangan kita, orang-orang Indonesia, amat menyedihkan. Malah, banyak orang-orang yang ahli, tahu banyak, mengenai bahasa atau kesusasteraan daerah tapi tidak pernah belajar di fakultas sastra malah mempunyai pengetahuan mengenai sastra daerah yang jauh lebih banyak, jauh lebih mendalam, daripada pengetahuan yang dimiliki oleh sarjana-sarjann lulusan jurusan sastra daerah dari fakultna-fakultas sastra kita. Sebaliknya, banyak pengetahuan mengenai sastra daerah yang merupakan hasil tenaga-tenaga ahli asing dan oleh sebab itu. tertulis dalam bahasa asing seperti bahasa Belanda, bahasa Inggeris atau bahasa Perancis, tidak dapat diketahui oleh kebanyakan sarjana-sarjana kita dalam bidang sastra daerah karena mereka tak menguasai bahasa asing yang digunakan dalam komunikasi ilminah internasional. Tentu dalam hal ini bahasa Belanda ponting sebagai bahasa untuk {{hws|mem|membantu}}<noinclude>{{rh||4 <u>Bahasa dan Kesusasteraan</u> VII (1), 1974}}</noinclude> mspsko7d29229gk19o9ks6rsuml50br Halaman:Gelora Konfrontasi Mengganjang Malaysia.pdf/220 104 101338 291160 288883 2026-05-10T14:40:27Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291160 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|216|||PERATURAN-PERATURAN NEGARA}}</noinclude>{| style="width:100%; border-spacing:0;" |- | style="width:5%; vertical-align:top;" | 7. | style="width:40%; vertical-align:top;" | Kepala Seksi Anggaran | style="width:5%; vertical-align:top;" | — | style="vertical-align:top;" | Kolonel C.K.U. Surjo Nrp. 15300; |- | 8. | Kepala Seksi Penerangan | — | Kolonel Inf. M. Ng. Sunarjo Nrp. 10022; |- | 9. | Kepala Seksi Telekomunikasi | — | Kolonel C.H.B. Darjatmo Nrp. 10998; |- | 10. | Kepala Seksi Sekretariat (Sekretaris) | — | Kolonel C.P.M. M. Sabur Nrp. 12901; |- | 11. | Kepala Seksi Bahan-bahan Strategis | — | Brigadir Djenderal T.N.I. M.T. Harjono. |} '''K e d u a:''' Keputusan ini mulai berlaku pada hari ditetapkan. Salinan Keputusan ini dikirimkan untuk diketahui kepada: # Menteri Pertama; # Semua Wakil Menteri Pertama; # Semua Menteri; # Sekretaris Umum Musjawarah Pembantu Pimpinan Revolusi. Petikan Keputusan ini disampaikan kepada jang berkepentingan untuk diketahui dan diindahkan. {{Right|Ditetapkan di Djakarta}} {{Right|pada tanggal 23 Djuli 1963.}} {{Right|'''Presiden/Panglima Tertinggi'''}} {{Right|'''Angkatan Bersendjata'''}} {{Right|'''Republik Indonesia,'''}} {{Right|ttd.}} {{Right|'''SUKARNO.'''}} <center>—————</center><noinclude></noinclude> 1zrlis923frd0cn8mcgkebftnh7p13u Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/10 104 101512 291973 289536 2026-05-11T10:43:22Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291973 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Malahan dalam "Records of understanding on non-military matters" jang pada hulan Agustus 1966 ditandatangani di Kuala Lumpur masih ada fasal jang menjebut-njebut Edjaan Melindo; dan usaha-usaha untuk menjatukan bahasa diandjurkan supaja setjepat-tjepatnja didjalankan. Sebelum itu Lembaga Bahasa dan Kesusastraan mengadakan suatu Panitia Edjaan jang bekerdja dari bulan Mei sampai Agustus tahun 1966, dan jang telah menjiapkan suatu {{u|Edjaan Baru Bahasa Indonesia}}. Panitia Edjaan ini dibentuk karena terdorong oleh desakan masjarakat, chususnja anggauta Komisi Istilah dan para ahli bahasa, jang sangat merasakan perlunja adanja suatu edjaan jang lebih baik dan lebih sempurna dari pada jang berlaku gekarang. Disamping itu L.3.K. merasa perlu menanggapi siaran-siaran R.R.I. dan Radio Malaysia jang dalam ulasannja sering menjebut-njebut, supaja edjaan Melindo itu segera direalisir. Dalam menjusun garapannja itu, Panitia Edjaan mempertimbangkan dengan siksama hasil-hasil jang telah ditjapai oleh Pantitia Pembaharuan Edjaan dan Panitia Kerdjasama jang tersebut kearah pembaharuan edjaan. Meskipun demikian, hasil pekerdjaannja masih memperlihatkan beberapa gedjala jang setjara ilmiah kurang dapat dipertanggungdjawabkan dan disamping itu ada ketetapan-ketetapan, jang sukar dapat dilaksanakan. Tidak hanja sukar, tetapi djuga harus menambah huruf baru dalam mesin tik, maupun mesin tjetak. Perlu ditambahkan disini, bahwa jang tersusun dalam konsep Panitia Edjaan L.B.K. jang kemudian mendjadi Panitia Dep. P. dan K. ialah edjaan baru bagi bahasa Indonesia sendiri. Pada awal September 1966 garapan ini talah disampaikan kepada pimpinan Departemen, sebagai sumbangan pikiran L.B.K. untuk didjadikan dasar pertimbangan bagi Menteri, sebelum Pemerintah mengadakan langkah-langkah kearah realisasi perdjandjian dengan Malaysia pada tahun 1955, dan jang ternjata telah disinggung pula dalam "Records of understanding" dalam tahun 1966. Pada achir bulah September 1966 tiga orang anggauta Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia tiba di Djakarta atas undangan pihak Kolaga. Yem-bitjaraan-pembitjaraan antara D.B.P. dan L.B.K. didjalankan di G. V Koti jang membawa hasil, bahwa pihak Malaysia dapat menerima saran untuk tidak memakai Edjaan Melindo sebagai titiktolak pembitjaraan. Konsep L.B.K. mereka bawa pulang, sebagai bahan untuk dipeladjari. Sedjak permulaan tahun ini terdjadilah surat-menjurat antara G V Ko—ti Prisidiun dan Departemen mengenai pikiran-pikiran tentang kerdja sama mengenai edjaan dengan pihak Malaysia.<noinclude></noinclude> 6slyiwl957l4pq8lzbkbbw4umj2n1f7 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/315 104 101564 291204 284892 2026-05-10T15:04:30Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291204 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{c|CATATAN REDAKSI}}</noinclude>Nomor ini menurunkan beberapa artikel dari bahan prasaran, Diskusi-diskusi itu sendiri telah lewat. Dalam keterbatasannya, majalah ini tidak bisa mengejar ... dan menyajikan sesuatu yang hangat, yang aktuil. Namun, ada masanya orang merenungkan kembali suatu persoalan, mengendapkan dan menenukan nilai-nilai baru dari pada pendapat orang lain ataupun pendapatnya sendiri semula. Majalah inipun mengharapkan demikian, Dalam lingkungan dan waktu yang tidak sama, pertemuan dan pergaulan yang terjadi mungkin memberikan sesuatu yang berbeda, yang lebih memperkaya. Atau paling tidak, ini memperkaya dokumentasi: tercatat bukan saja sebagai suatu masalah yang pernah digumuli orang tetapi juga sebagai bahan perangsang pembicaraan selanjutnya, kelak. {{right|Dj.S.}}<noinclude>{{rh|BAHASA DAN KESUSASTRAAN, No. 1, Th, V, 1972}}</noinclude> 9cjnjggqll615h8vs8s54dtolqa33gu Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/316 104 101568 291205 284905 2026-05-10T15:05:02Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291205 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Nomor ini menyajikan: {{rule}} TENTANG MENGARANG DAN APRESIASI PUISI DI SMP DAN SMA Drs. S. Effendi 3 {{rule}} BEBERAPA EPISODE YANG KURANG TERKENAL DALAM CERITERA RAMA Ny. A. Ikram 18 {{rule}} KATA-KATA BAHASA ARAB DIDALAM BAHASA INDONESIA DENGAN BEBERAPA GEDJALANJA Drs. Sudarno 29 {{rule}} ISTILAH-ISTILAH 38 {{rule}} PEMBERONTAKAN GESTAPU/PKI DALAM TJERPEN-TJERPEN INDONESIA Satyagraha Hoerip 41 {{rule}} CATATAN TERHADAP CERAMAH SATYAGRAHA HOERIP Anton J. Lake 45 {{rule}} INDEKS MAJALAH BAHASA DAN KESUSASTRAAN TH. 1969-1971 48<noinclude>{{rh|BAHASA DAN KESUSASTRAAN, No. 1, Th. V, 1972}}</noinclude> e8pin1b7aprpv2vo67aakswoxe1yd0g Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/317 104 101573 291206 284913 2026-05-10T15:05:47Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291206 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>TENTANG GARANG DAN APRESIASI PUISI DI SMP DAN SMA Drs. S. Effendi {{right|{{Box|text=Pengantar Redaksi: Tulisan ini merupakan prasaran pada Diskusi Bahasa yang diselenggarakan oleh Lembaga Baliapa acional, Institut Agama fol: legeri Sjarif hidajatullah, Kantor ochinaan Pendidikan Menengah Unua Pertana Jakarta Raya dan Tangerang, tanical 18 dan 19 Oktober 1971, di Jakarta.}}}} 0. Pendahuluan :0.1 Hasil survey 1970 :0.2 Sasaran referat 1. Mengarang di SLU :1.1 Pokok pikiran :1.2 Data silabus :1.3 Tertib pelajaran :1.4 Evaluasi 2. Apresiasi puisi di SMA :2.1 Pokok pikiran :2.2 Data Silabus :2.3 Tertib pelajaran :2.4 Evaluasi {{c|o}} 0.1 Setahun jang lalu telah dikemukakan, bahwa pertanyaan-pertanyaan: :a) benarkah wawasan pengajar tentang bahasa dan sastra belum memadai,<noinclude>{{rh|||3}}</noinclude> 3z1ts30aewervp6ixrrrutntnb308jp Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/318 104 101581 291207 284929 2026-05-10T15:06:34Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291207 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>:b) benarkah metodik bahasa dan sastra tidak serasi, :c) benarkah buku-buku pelajaran rang tersedia kurang baik, :d) kemampuan berbahasa murid kurang baik, :e) benarkah silakus yang terselis kurang baik, diiakan berdasarkan analisa sementara dara-data kwesioner kepada 1309 murid SMP kelas I, 1185 murid SMP ksias III, 607 murid SMA kelas III, 62 guru SMP, 29 guru SMA, beberapa. buku pelajaran, soal-soal ujian akhir SMP 1950-1967 dan SM 1951-1963, beberapa artikel dalam Medan Bahasa dan silabus dalam Rencana Pendidikan SMP dan SMA. Telah pula dikemukakan, kahwa prioritas pembinaan seyogianya untuk pengajar dengan penyegaran atau penataran yang dapat dilakukan antara lain dergan menerbitkan segera majalah tentang pengajaran : bahasa dan sasira Lidcnesia, penyusunan segera buku pelajaran bahasa dan sastra dengan memanfaatkan pandangan-pandangan linguistik dan teori sastra, dan peninjauan kembali silabus yang telah ada. 0.2 Penyegaran atau penataran tentang bakasa dan sastra Indonesia sedang dilakukan oleh Inspeksi SMA Jakarta, tapi belum oleh Inspeksi SMP sepanyang diketahui. Majalan dimaksud telah diterbitkan oleh LBN dengan nama Lemhzga, sekalinin rasih dalam bentuk dan isi sederhana. Penelaahan lebih le tentang silabus sedang dilakukan, Tinggallah penyusunan buku pelajaran yang belum digarap. Bertalian dengan penyusunan itular, reilerat ini akan menawarkan: (1). beberapa pokok pikiran (yang sebenarnya bukan sesuatu yang baru) tentang pelajaran mengarang di sekolah lanjutan Umum dan apresiasi puisi di SMA, daan (2) dua buah percobaan sebagai usaha penerapannya. Dua sasaran tersebut dipilih setelah mempertimbangkan hasil survey (yang sebagian kecilnya akan dikemukakan pada 1.2 dan 2.2), kesempatan dan kemampuan yang tersedia, 1.1 Ketika seseorang menuliskan sesuatu Cari A sampai Z,<noinclude>{{rh|||4}}</noinclude> 5o2spzg9s8rkn1w1u44zhybtu7rh2im Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/89 104 101714 290857 290742 2026-05-10T12:39:47Z Upiak Ituih 27011 290857 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{rh||'''{{sp|LINGGUISTIKA}}'''}} {{rh||'''(sebuah pengantar)'''}} Bunji-bunji jang membangun struktur ekspresi pada hakekatnja adalah satuan-satuan bunji (1) satuan bunji jang merupakan dasar paling minim dan membedakan arti disebut {{u|fonim}},<sup>1)</sup> (2) satuan bunji jang djuga merupakan dasar tapi berhubungan dengan struktur isi disebut {{u|morfim}}.<sup>1)</sup> Djika pemakai bahasa Indonesia mengutjapkan {{u|badju}} dan {{u|batu}}, maka pendengar jang berbahasa Indonesia akan memahami adanja perbedaan arti jang didukung oleh kedua satuan bunji itu. Perbedaan itu disebabkan oleh bunji / j /²) jang dilambangkan dengan dwihuruf {{u|dj}} dan oleh bunji / t / jang dilambangkan dengan huruf {{u|t}}. Dengan kata lain: kedua bunji itu, / j, t, berfungsi membedakan arti kedua satuan bunji {{u|badju}} dan {{u|batu}} itu, tapi kedua bunji itu sendiri tidak mempunjai arti. Kedua bunji itu pada hakekatnja merupakan satuan bunji jang paling minim, jang terketjil. Satuan-satuan bunji pembeda arti demikianlah jang disebut fonim. Djelaslah, bahwa fenim bukanlah huruf seperti dapat dipahami dari analisa diatas. Tidak setiap bunji dalam suatu bahasa sebagai fonim. Misalnja: bunji {{u|z}} pada pasangan {{u|djaman}} dan {{u|zaman dalam bahasa Indonesia bukanlah fonim; {{u|z}} adalah variasi bebas dari fonim /j/. Tiap bahasa mempunjai tatafonim sendiri. Tuturan {{u|badju}}, {{u|batu}} adalah satuan-satuan. bunji jang berhubungan dengan isi atau arti. Djika satuan-satuan bunji itu dipetjahkan atau dipenggal-penggal mendjadi satuan-satuan bunji jang lebih ketjil lagi, maka hilanglah hubungannja dengan arti itu. Djadi, kedua satuan bunji itu, {{u|badju}} dan {{u|batu}}, sudah merupakan satuan-satuan bunji jang terketjil untuk tetap sebagai pendukung arti. Satuan-satuan bunji lain, misalnja {{u|pe}} dan {{u|ber}} dalam {{u|pelari}} dan {{u|berlari}}, djuga mempunjai hubungan dengan arti, jang djika dipetjahkan mendjadi satuan-satuan bunji jang lebih ketjil lagi, akan kehilangan adanja hubungan itu. Kedua satuan bunji itu, {{u|pe}} dan {{u|ber}}, sudah merupakan satuan-satuan bunji jang terketjil untuk tetap sebagai pendukung arti. Satuan-satuan bunji demikianlah jang disebut morfim. Berdasarkan analisa diatas dapatlah dikatakan, bahwa morfim tidak selalu sama dengan apa jang biasa disebut kata. <sup>+</sup> Landjutan {{u|Bahasa dan Kesusastraan}}, No 2. Th 1/1968<noinclude>{{rh|||3}}</noinclude> gjoahkrdpeguns9mzcxemxxokkufgba Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/11 104 101723 291974 285489 2026-05-11T10:43:58Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291974 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||5}}</noinclude>Pada bulan Maret kami telah ditugaskan oleh pimpinan Departemen untuk mengambil langkah-langkah untuk memperkenalkan edjaan baru bahasa Indonesia kepada masjarakat ramai, sebelum surat keputusan Menteri mengenai ini keluar. Pada bular Djuni, atas undangan pihak Malaysia dan seizin Menteri, Koti memberangkatkan Panitia Edjaan Dep. P. dan K. sebagai Team Ahli Bahasa Koti. '''<u>B. Masalah edjaan</u>''' Dorongan-dorongan untuk menjempurnakan edjaan jang dipakai hingga sekarang, jang terkenal dengan edjaan Suwandi ditindjau dari sudut bahasa sendiri ialah: <ol value="a"> <li> kekurangan-kekurangan jang terdapat didalamnja;</li> <li> komadjuan ilmu bahasa jang memberikan patokan-patokan baru bagi penjusunan edjaan jang baik;</li> <li> perlunja kodifikasi dan unifikasi dalam pemakaian huruf dan tanda batja dalam rangka modernisasi bahasa Indonesia;</li> <li> peranan jang pasti akan dimainkan oleh bahasa Indonesia di Asia Tenggara chususnja dan dunia pada umumnja.</li> </ol> Masalah edjaan ditindjau dari sudut bahasa, pertama-tama menjangkut bidang tatabunji atau fonologi, jaitu penentuan fonen Indonesia, pemilihan huruf jang melambangkannja, serta penjusunan suatu abdjad. Kemudian masalah edjaan djuga berhubungan dengan tatabentuk atau morfologi, seperti kata dasar, kata ulang, katadjadian, kata madjemuk serta golongan partikel atau kata tugas. Disamping itu edjaan djuga meliputi tanda batja, jang setjara tidak langsung menjangkut bidang tatakalimat atau sintaksis. Jang dimaksud dengan edjaan ialah pelambangan bunji bahasa atau fonen dengan tjara penulisan jang bersistem. Edjaan suatu bahasa itu berdasarkan perdjandjian semata-mata. Abdjad bisa sama, tetapi konvensinja bisa berbeda untuk bahasa jang berlainan. Dalan menjusun suntu edjaan, maka disampirg harus memenuhi sjarat-sjarat ilmu behasa modern, perlu pula dipertimbangkan sasaran dan tudjuan jang bersifat sosial dan praktis. Sebaiknja tidak usah diperkenalkan huruf baru. Untuk menghindari pemakaian huruf jang belum dikenal seperti jang perah diusulkan oleh panitia-panitia jang terdahulu jang berpegang teguh pada asas "satu fonem, natu huruf", maka huruf Latin, jang menurut tradisi sudah lazim di Indonesia, harus dimanfaatkan sebaik-baiknja Kita harus memilih huruf jang sudah ditulis dan mudah ditjetak, tanpa mengadakan perubahan-perubahan drastis dalam susunan huruf dalam mesin tik dan pertjetakan. Untuk mendapat gambaran jang gamblang mengenai perbedaan huruf jang dipakai dalam edjaan jang sekarang berlaku, kami perlihatkan disini daftarnja; {| |- | || Suwandi (1947) || Pembaharuan (1957) || Melindo (1959) || LBK (1966) |- | 1. || <center>tj</center> ||<center>j</center> || <center>c</center> || <center>c</center> |- | 2. || <center>dj</center> || <center>j</center> || <center>j</center> || <center>j</center> |- | 3. || <center>nj</center> || <center>ñ</center> || <center>η</center> || <center>ny</center> |- | 4. || <center>(sj)</center> || <center>ś</center> ||<center>(ṥ)</center> || <center>sy</center> |- | 5. || <center>ng</center> || <center>ŋ</center> || <center>ŋ</center> || <center>ng</center> |- | 6. || <center>(f)</center> || <center>(f)</center>|| <center>(f)</center> || <center>f</center> |}<noinclude></noinclude> m568a8o4zr7la98mn42arppb3xog7zg Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/92 104 101738 290824 290747 2026-05-10T12:13:32Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 290824 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||6}}</noinclude> {{illegible}} atas belakang (posdons), gusisigi (alveolum) diatas belakanggigi dan berhubungan dengan langit-langit. Langit-langit koras (palatun)dilangit-langit lembut (volun) jang udjungnja disebut anaktekak (uvula). Belakang velun disebut velik jang dapat menutup rongga hidung djika velum menaik. Sebaliknja, velik terbuka dan menutup rongga mulut djika velum merendah. Lidah dibedakan atas udjunglidah (apex), jang berhadapan dengan gigi, daunlidah (lamina, blade) jang berhadapan dengan gusi gigi, depanlidah (front) jang berhadapan dengan langit-langit keras, belakanglidah (dorsum) jang berhadapan dengan langit-langit lembut, dan akargigi (radix) Jang mendindingi rongga tenggorok (farings) dibelakang. Bagian terbelakang depanlidah plus bagian terdepan belakanglidah disebut tengahlidah (sentrum, medium). Dibawah farings terletak pangkaltenggorok (larings) jang berhubungan dengan djalan nafas keparu-paru. Ketika orang menelan sesuatu, laringe tertutup oleh sematjan katup (epiglotis) jang terletak dibawah akarlidah dekat diatas larings. Dalam larings inilah terdapat apa jang disebut {{u|pitasuara}}, sepasang selaput menjerupai sepasang pita jang terentang dari muka kebelakang dan dapat merenggang-perapat. Renggang pitasuara ini disebut {{u|tjelahsuara}} (glotis). Pitasuara berfungsi sebagai sumber bunji. Djika pitasuara atau glotis merapat demikian rupa dan arus udara dari paru-paru terhembus melewatinja, maka bergetarlah pitasuara itu. Getaran ini menimbulkan bunji jang disebut {{u|bunji bersuara}}. Djika ia merenggang demikian rupa, dalam keadaan orang diam atau bernafas misalnja, pitasuara tidak bergetar, tapi terdjadi sematjam bunji ''[ h ]'' jang disebut {{u|bunji tak bersuara}}. Diantara kedua posisi inilah térdjadi bermatjan-matjan bunji bahasa. Rongga mulut, rongga hidung dan rongga tenggorok berfungsi sebagai resonator, ruang jang ikut serta memperbanjak frekuensi getaran bunji dari pitasuara itu, sehingga terdengar lebih tinggi dan punja warna tertentu. Beberapa alat udjaran jang disebutkan diatas dapat dibedakan atas (1) jang dapat atau mudah bergerak, terutama lidah, disebut pengutjap atau artikulator, dan (2) jang tidak atau sukar bergerak, terutama gigiatas dan langit-langit, disebut {{u|titik pengutiapan atau titik artikulasi}}: gerak artikulator ialah mendekati atau menjentuh titik artikulasi: titik artikulasi ialah tempat artikulator mendekati atau menjentuh. Pendekatan atau persentuhan antara artikulator dengan titik artikulasi pada posisi tertentu ketika terdjadi peristiwa pengtjapan/artikulasi bunji-bunji bahasa disebut posisi pengut japan atau posisi artikulasi.<noinclude></noinclude> 4f47tlkhpfide1pxn500q4yulfofec5 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/484 104 101793 291731 285792 2026-05-11T06:09:57Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291731 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>{| style="background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.2; margin-left:auto; margin-right:0; margin-bottom:1em;" | style="vertical-align:top; width:6em; font-weight:bold; padding-top:0.2em;" | TABLE 1. | style="vertical-align:top; font-weight:bold; text-transform:uppercase; text-align:left;" | MAJOR VERNACULAR LANGUAGES<br>OF INDONESIA AND THEIR NATIVE<br>SPEAKERS AS ESTIMATED BY NOSS (1967) |} {| style="width:100%; background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.5; border-collapse:collapse;" |- style="border-top:2px solid black; border-bottom:2px solid black;" ! style="text-align:left; width:20%; padding:5px 0;" | Language ! style="text-align:left; width:25%;" | Home Area ! style="text-align:center; width:20%;" | Number of Speakers (millions) ! style="text-align:right; width:35%;" | Notes |- | Javenese || Central and East Java || style="text-align:center;" | 50 || style="text-align:right;" | Also spoken in Malaysia |- | Sundanese || West Java || style="text-align:center;" | 13 || |- | Madurese || Madura || style="text-align:center;" | 8 || |- | Minangkabau || Central Sumatra || style="text-align:center;" | 3 || style="text-align:right;" | Also spoken in Malaysia |- | Batak || North Central Sumatra || style="text-align:center;" | 3 || |- | Balinese || Bali || style="text-align:center;" | 2 || |- | Achinese || Aceh|| style="text-align:center;" | 1 || |- | Buginese || South Celebes || style="text-align:center;" | 1 || |- style="border-top:2px solid black;" | colspan="4" | |} <br/><br/> {| style="background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.2; margin-left:auto; margin-right:0; margin-bottom:1em;" | style="vertical-align:top; width:6em; font-weight:bold; padding-top:0.2em;" | TABLE 2. | style="vertical-align:top; font-weight:bold; text-transform:uppercase; text-align:left;" | MAJOR VERVACULAR LANGUAGES<br>AND THEIR SPEAKERS AS ESTIMATED BY<br>ROBERTS (1962) |} {| style="width:100%; background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.5; border-collapse:collapse;" |- style="border-top:2px solid black; border-bottom:2px solid black;" ! style="text-align:left; width:20%; padding:5px 0;" | Language ! style="text-align:left; width:25%;" | ! style="text-align:center; width:20%;" | Number of Speakers (millions) ! style="text-align:right; width:35%;" | Notes |- | Javenese || || style="text-align:center;" | 45 || style="text-align:right;" | |- | Sundanese || || style="text-align:center;" | 13 || |- | Indonesia/Malay || || style="text-align:center;" | 6.7 || |- | Madurese || || style="text-align:center;" | 7 || style="text-align:right;" | |- | Minangkabau || || style="text-align:center;" | 3 || |- | Balinese || || style="text-align:center;" | 2 || |- | Batak || || style="text-align:center;" | 2 || |- | Buginese || || style="text-align:center;" | 2 || |- style="border-top:2px solid black;" | colspan="4" | |}<noinclude>{{rh|2}}</noinclude> 06m6k3b62e308jg56b8z81pgeymbwoi Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/485 104 101795 291732 285982 2026-05-11T06:10:20Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291732 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Table 3 displays some of the major and secondary languages<small><sup>2</small></sup> of Indonesia and their speakers estimated on the basis of the 1971 population census, according to which the number of Indonesian citizens has increased to 117,142,358. The cencus also included cencus on the languages in the country. However, the results are still being processed and therefore not available at this moment. {| style="background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.2; margin-left:auto; margin-right:0; margin-bottom:1em;" | style="vertical-align:top; width:6em; font-weight:bold; padding-top:0.2em;" | TABLE 3. | style="vertical-align:top; font-weight:bold; text-transform:uppercase; text-align:left;" | SOME MAJOR AND SECONDARY LANGUAGES<br>OF INDONESIA AND THE NUMBER OF <br>THEIR SPEAKERS ESTIMATED ON<br>THE BASIS OF 1971 POPULATION CENSUS |} {| style="width:100%; background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.4; border-collapse:collapse;" |- style="border-top:2px solid black; border-bottom:2px solid black;" ! style="text-align:left; width:5%; padding:5px 0;" | No. ! style="text-align:left; width:20%;" | Language ! style="text-align:left; width:20%;" | Location ! style="text-align:right; width:25%; padding-right: 3em;" | Est. No. Speakers (thousands) ! style="text-align:left; width:30%;" | Classification |- | 1. || Bahasa Indonesia || whole country || style="text-align:center; padding-right: 3em;" | (?) || M.(S).g.l.s.W2 |- | 2. || Javanese || Central & East Java || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 47.339 || M.S.g.r.s.W1 |- | 3. || Sundanese || West Java || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 21.572 || M.S.g.-.s.W1 |- | 4. || Madurese || Madura || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 2.384 || M.S.g.-.s.W0 |- | 5. || Achinese || Aceh || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 1.750 || M.V.g.-.-.W0 |- | 6. || Gayo/Alas || Central Aceh || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 200 || S.V.g.-.-.W0 |- | 7. || Batak || North Central Sumatra || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 2.564 || M.V.g.r.-.W0 |- | 8. || Malay (Various Dialects) || || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 13.746 || M.V.g.-.-.W0 |- | 9. || Minangkabau || West Central Sumatra || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 3.382 || M.V.g.-.-.W0 |- style="border-top:2px solid black;" | colspan="5" | |}<noinclude>{{rh|3||Bahs. Kesusast., v(2), 1973}}</noinclude> dldk279q023xsbgnb3sgte8cbteh3gq Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/646 104 101834 291338 285659 2026-05-10T17:07:53Z Moel81 25980 /* Tervalidasi */ 291338 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Moel81" /></noinclude>{{c|<u>PEMBETULAN</u>}} Pada halaman 6, setelah baris terakhir seharusnya masih ada kalimat sebagai berikut: {{Quote|Soekarno tidak hanya belajar ilmu teknologi, pemuda-pemuda seperti Soekiman dan Bahder Djohan tidak hanya belajar ilmu kedokteran, pemuda-pemuda seperti Iwa Kusumasumantri, Ali Sastroamidjojo, Assaat}} (red.)<noinclude>{{rh||44 <u>Bahasa dan Kesusastraan</u> VII (1), 1974}}</noinclude> npxtq3vhue8ryy43cn87ggy7oc122jz 291339 291338 2026-05-10T17:08:42Z Moel81 25980 291339 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Moel81" /></noinclude>{{c|<u>PEMBETULAN</u>}} Pada halaman 6, setelah baris terakhir seharusnya masih ada kalimat sebagai berikut: {{Quote|Soekarno tidak hanya belajar ilmu teknologi, pemuda-pemuda seperti Soekiman dan Bahder Djohan tidak hanya belajar ilmu kedokteran, pemuda-pemuda seperti Iwa Kusumasumantri, Ali Sastroamidjojo, Assaat}} (red.)<noinclude>{{rh||44<u>Bahasa dan Kesusastraan,</u> VII (1), 1974}}</noinclude> 1zqf8hq1attz2uniajlfpr91rr2v59f 291340 291339 2026-05-10T17:09:20Z Moel81 25980 291340 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Moel81" /></noinclude>{{c|<u>PEMBETULAN</u>}} Pada halaman 6, setelah baris terakhir seharusnya masih ada kalimat sebagai berikut: {{Quote|Soekarno tidak hanya belajar ilmu teknologi, pemuda-pemuda seperti Soekiman dan Bahder Djohan tidak hanya belajar ilmu kedokteran, pemuda-pemuda seperti Iwa Kusumasumantri, Ali Sastroamidjojo, Assaat}} (red.)<noinclude>{{rh||44 <u>Bahasa dan Kesusastraan,</u> VII (1), 1974}}</noinclude> oc6yo4do6gcnp9hb472g1o7aaeniiog Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/419 104 101855 291533 285753 2026-05-11T02:40:52Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291533 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|1||}}</noinclude>{{u|Pokok-pokok pikiran}} TENTANG KRITIK SASTRA {{u|M. Saleh Saad}} 0. Untuk sementara tidak ada keberatan terhadap istilah "kritik sastra" yang dipakai berdampingan dengan istilah "kritik kesusastraan" {{--}} dalam arti yang sama. Dalam pada itu ingin diusulkan agar tidak lagi mempertahankan porbedaan yang dikatakan ada terdapat antara "sastra" dan "kesusastraan". Dalam masyarakat dipakai kedua-duanya dengan arti yang sama. Sementara itu istilah "susastra" kelihatannya artifisial sekali dan hanya akan menimbulkan persoalan baru saja, tanpa suatu kegunaan praktis. 1. Pengamatan kasar mencatat adanya tiga jenis kritik enstra di Indonesia dewasa ini: {{ol|type=a|start=1 |Seri esei dan kritik sastra Gunung Agung, yang memberikan perhatian terhadap segi bentuk dan isi{{--}}istilah yang masyhur itu. Namun analisa yang dilakukan belum dengan sadar bersifat fungsional; kebanyakan hanya merupakan eksplisitasi unsur-unsur ciptasastra itu saja. |Kritik yang hanya membicarakan idea ciptasastra/pengarang. Misalnya cita determinisme Hamka dalam karangan-karangannya. Bagaimana pengolahan idea itu hingga menjadi ciptasastra tidak dipersoalkan. |Kritik yang memberikan perhatian terhadap bentuk dan isi, tetapi tanpa kekonsekwenan yang jelas. Uraian psikologis}}<noinclude></noinclude> mpiglk7l2f2jhs3cvhbgbn0kbsje3wn Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/246 104 101867 291165 285729 2026-05-10T14:42:11Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291165 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{c|ILMU DAN ILMIAH}} {{r|Muhadjir}}</noinclude> Dalam rangka memenuhi kebutuhannya akan unsur-unsur baru, sesuai dengan tuntutan pemakainya, bahasa Indonesia sekarang sering menerima gejala-gejala baru. Gejala-gejala baru itu perlu mendapat perhatian kita, para peminat bahasa, agar gejala itu lebih terarah jalannya sesuai dengan sifat bahasa kita. Untuk memenuhi kebutuhannya akan unsur-unsur baru itu, selama ini bahasa Indonesia banyak mengambil keuntungan dari bahasa-bahasa asing. Dalam hubungan ini bahasa Arab sudah sejak lama menjadi salah satu sumber pengambilan unsur-unsur baru itu, dan sampai sekarang kedudukan bahasa ini sebagai sumber unsur-unsur baru itu tetap memegang peranan penting. Pada masa-masa silam, pengambilan unsur-unsur itu terbatas pada unsur leksikalnya saja. Tetapi akhir-akhir ini terlihat ada kecenderungan baru, ada unsur gramatikal yang mulai masuk kedalam bahasa Indonesia. Sekarang ini di samping kata-kata Arab seperti {{u|rokh}}, {{u|makna}}, {{u|dunia}}, {{u|abadi}}, dan {{u|amaliah}}, dalam arti leksikal yang sama, tetapi dalam posisi-posisi kalimat yang berlainan. Pasangan-pasangan yang pertama dipakai sebagai katabenda, sedang pasangan-pasangan yang kedua sebagai katasifat, 1). Memang kata-kata seperti {{u|abadi}}, {{u|jasmani}} dan {{u|rokhani}} misalnya sejak lama sudah terdapat dalam bahasa kita, akan tetapi agaknya tidak pernah disadari sebagai kata-kata yang mempunyai hubungan gramatikal dengan kata-kata pasangannya, jakni {{u|abad}}, {{u|jisim}} dan {{u|roh}}, atau {{u|arwah}}. Malahan di antaranya banyak yang diambil hanya salahsatu bentuknya saja. Kata-kata seperti {{u|nisb}}, {{u|jasmani}}, {{u|ilahi}} yang banyak dipakai dalam bahasa Indonesia, tidak pernah diambil bentukdasarnya yaitu {{u|nisbah}}, {{u|jism}} dan {{u|ilaah}}. Sebaliknya kata {{u|ilmu}}, {{u|darurat}}, {{u|syareat}} tidak ada dipakai bentuk pasangannya, yakni {{u|daruri}} {{u|syari}}. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pada mulanya pasangan-pasangan kata-kata itu dalam bahasa Indonesia masing-masing dianggap sebagai satu satuan yang berdiri sendiri, tanpa disadari hubungan gramatikal yang ada di antaranja. Dengan sadar pemakai bahasa Indonesia sekarang menggunakan kedua buah bentuk itu dalam posisi-posisi yang berlainan dalam kalimat bahasa Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dari kenyataan-kenyataan inis kata-kata yang dahulu hanya dipakai salah satu diantara kedua buah bentuk itu seperti {{u|ilmu}}, {{u|amal}}, {{u|filsafat}}, kini dengan sadar diambil pula bentuk pasangannya {{u|ilmiah}}, {{u|amaliah}} dan {{u|falsafi}} (kata filsafat bentuknya dalam bahasa arab adalah {{u|falsafah}}, bukan {{u|filsafat}}).<noinclude>{{rh|||26}}</noinclude> tj7c2h1brryo23dyoeus6au8toop1ua Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/420 104 101883 291534 285787 2026-05-11T02:42:16Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291534 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|2||}}</noinclude>{{ol|type=none |dan eksistensialistis merupakan bagian terbesar dalam kritik-kritik itu. Nada dasar ialah subyektivisme sang pengeritik.}} 1.1. Jenis kritik (c) paling banyak diselenggarakan. Kritik ini barangkali dapat digolongkan kedalam "impressionist criticism" Ketentuan yang menguasai pelaksana-pelaksana impressionist criticism ialah bahwa tulisan mereka harus bersifat seni juga. Lereka menolak bahasa ilmiah, karena dianggap kering dan bertentangan dengan sifat sastra. Mudah dipahami mengapa golongan ini di Indonesia melaksanakan eseistika. 1.2. Kritik jenis (a), yang dilaksanakan oleh para sarjana sastra, sedikit sekali mendapat sambutan. Sebagian besar sastrawan tidak menyenanginya, karena cenderung beranggapan bahwa kritik ini adalah kegiatan akademis yang kehilangan kemesraan dengan ciptasastranya sendiri. (Adakah gap (!) antara sarjana sastra dan masyarakat sastra?) 2. Sudah sejak lama kritik kesusastraan dikatakan berfungsi menafsirkan dan menilai ciptasastra. Dalam ihwal yang demikian kritikawan dapat berfungsi terhadap publik pombaca---menjelaskan mana ciptasastra yang berhasil, mana yang kurang/ tidak berhasil; mengapa berhasil dan mengapa tidak/kurang berhasil. Ia pun dapat pula berfungsi terhadap pencipta menjelaskan bagaimana supaya ciptaannya berhasil. Dalam kedua aspek fungsinya itu kritik sastra sedikit banyaknya bersifat normatif. 2.1. Ciptasastra yang dilepas ke masyarakat moniadi milik {{hws|masyara|masyarakat}}<noinclude></noinclude> jytfhin1rz5zrce6ujn00jiy8t16zv4 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/421 104 101892 291536 286020 2026-05-11T02:42:40Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291536 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|3}}</noinclude>{{hwe|kat|masyarakat}}. Publik punya hak penuh sebagai pembaca untuk memberikan komentarnya terhadap ciptasastra-ciptasastra itu. Dalam kenyataannya publik pembaca ini terbagi dalam dua golongan besar: (a) pembaca awam yang dapat menghargai (Wellek: to value) ciptasastra dalam apresiasi mereka yang sederhana, dan (b) pembaca terdidik yang di samping menghargai juga menilai Wellek: to evaluate) ciptasastra itu. 2.2. Pembicaraan ini mengambil sikap: kritik dengan maksud untuk merangsang dan meningkatkan daya apresiasi pembaca awam; jadi kritik yang berfungsi terhadap pembaca awam, bukan kritik yang ditujukan kepada pencipta. Hanya dalam tahapnya yang lebih lanjutlah kritik itu bicara kepada para pencipta, melalui sambutan atau citarasa sastra masyarakat, setelah masyarakat punya daya apresiasi yang tinggi. 3. Kita ingin melihat sastra dalam perspektif sikap sastrawan terhadap nilai-nilai kehidupan ini. Dalam ihwal yang demikian sastrawan adalah pencipta nilai, ciptasastra pendukung atau pengembang nilai, sedangkan pembaca adalah realisator nilai. Realisasi ini terjadi dalam apresiasi. Apresiasi tidak mungkin tanpa kesadaran estetis, yang membutuhkan persiapan atau kepekaan emosional serta kepahaman estetis. Sudah pada apresiasi dibutuhkan pengetahuan tentang sastra itu, karena penciptaan pun bukan lagi soal ilmiah semata-mata. 3.1. Kritik pada hakekatnya adalah refleksi tentang apresiasi, bukan apresiasi itu sendiri. Sebagai bagian dari Telaah Kesusastraan kritik menempati kedudukan sentral. Sifatnya yang kontemporan memberi kesempatan kepadanya untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada pembinaan, kepada peningkatan kejiwaan bangsa, kepada peningkatan kejiwaan umat manusia. Kritik berdedikasi kepada modernisasi. Kritik<noinclude></noinclude> h53cq5izswvws8pi1984i564cz121wp Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/486 104 101903 291734 285910 2026-05-11T06:10:51Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291734 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Some Sociolingustic}}</noinclude>{{c|TABLE 3. (COUNTINUED)}} {| style="width:100%; background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.4; border-collapse:collapse;" |- style="border-top:2px solid black; border-bottom:2px solid black;" ! style="text-align:left; width:5%; padding:5px 0;" | No. ! style="text-align:left; width:20%;" | Language ! style="text-align:left; width:20%;" | Location ! style="text-align:right; width:25%; padding-right: 3em;" | Est. No. Speakers (thousands) ! style="text-align:left; width:30%;" | Classification |- | 10. || Nias || Nias || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 372 || S.V.g.-.-.W0 |- | 11. || Bali || Bali || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 2.113 || M.V.g.-.-.W0 |- | 12. || Sasak || Lombok & Sumbawa || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 1.576 || M.V.g.-.-.W0 |- | 13. || Bugis/Makassar || South Celebes || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 3.958 || M.V.g.-.s.W0 |- | 14. || Toraja || South Celebes || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 317 || S.V.g.r.-.W0 |- | 15. || Minahasa || North Celebes || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 777 || S.V.g.-.-.W0 |- | 16. || Gorontalo || North Celebes || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 490 || S.V.g.-.-.W0 |- | 17. || Bolaang Mangandou || North Celebes || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 210 || S.V.g.-.-.W0 |- | 18. || Sangir/Talaud || North Celebes || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 3{{Takterbaca}}9 || S.V.g.-.-.W0 |- | 19. || Muna || Southeast Celebes || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 154 || S.V.g.-.-.W0 |- | 20. || Buton || Southeast Celebes|| style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 300 || S.V.g.-.-.W0 |- | 21. || Mandar || South Celebes || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 787 || S.V.g.-.-.W0 |- | 22. || Manggarai || Flores || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 220 || S.V.g.-.-.W0 |- | 23. || Ngada || Flores || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 144 || S.V.g.-.-.W0 |- | 24. || Ende || Flores || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 179 || S.V.g.-.-.W0 |- | 25. || Sumba || Sumba || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 290 || S.V.g.-.-.W0 |- | 26. || Bima ||East Sumbawa || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 303 || S.V.g.-.-.W0 |- | 27. || Sumbawa || West Sumbawa || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 242 || S.V.g.-.-.W0 |- | 28. || Kerinci || South Central Sumatra || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 186 || S.V.g.-.-.W0 |- | 29. || Rejang Lebong || West Southern Sumatra || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 204 || S.V.g.-.-.W0 |- | 30. || Kai || Maluku || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 108 || S.V.g.-.-.W0 |- | 31. || Halmahera || Halmahera || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 372 || S.V.g.-.-.W0 |- | 32. || Sikka || Flores || style="text-align:right; padding-right: 3em;" | 189 || S.V.g.-.-.W0 |- style="border-top:2px solid black;" | colspan="5" | |}<noinclude>{{rh|4}}</noinclude> g4c9ef6o2vpwxzxs9xpghh8tm5sasey Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/487 104 101926 291737 285932 2026-05-11T06:11:26Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291737 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{U|Lembaga Bahasa Nasional}} (1972) lists the languages of Indonesia--on tentative basis-- as well as their geographic distribution. It does not, however, list Bahasa Indonesia, Old Javanese and Old Sundanese. Bahasa Indonesia represents &£ specizl case. While it is the national and official language of Indonesia, and therefore used throughout the country, it is very difficult to determine with a reasonable accuracy the total number of its native speakers. This is especially true if it is assumed --as it is generally done in Indonesia-- that eventhough it is technicelly dialect of Malay, it has developed in such a way and to such an extent that it is for all practical purposes a language quite different from the various Malay dialects spoken in the country, and it therefore deserves an independent treatment. From the point of view of linguistics, this assumption might be argued. Old Javanese and Old Balinese are not listed in {{u|Lembaga Bahasa Nasional}} (1972) for the simple reason that they are no longer spoken anywhere in the country, or --for that matter-- in the world. They are mainly used for literary or religious purposes, and are taught as school subjects. The large number of languages, including Bahasa Indonesis, spoken in Indonesia naturally results in bilingualism or multilingualism in the country. The most general pattern is realized by the ability to communicate in one's native languge, or languages, and in the national language. It does not seem to be uncommon for Indonesiens to acquire the ability to communicate in two or more other vernacular as the move along in life. They furthermore have to accept the fact that English in the first foreign language of the country, and is a compulsory school subject. Bahasa Indonesia on one hand and the various vernacular languages on the other of course have different functions. Bahasa Indonesia is used for the purposes of national, inter-regional,<noinclude>{{rh|5||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> k3ygcoxc6i94h2ulfu7bqej4v2wmul7 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/488 104 101942 291738 285999 2026-05-11T06:11:52Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291738 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>inter-ethnic, inter-group and international --between Indonesia and Malaysia-- communication. It is also used for academic, religious and literary purposes. Furthermore, it also serves as the official medium of instruction in institutions of learning of all types and levels throughout the country except in those areas such as Java and Bali, where Javanese and Balinese, respectively, may be used as the main medium of instruction up to the third grade of the elementary school. The development and the spread of Bahasa Indonesia<small><sup>3</sup></small> together with the rapid growth and progress of modern technology and mass communication as witnessed by the sharp increase in the use of the newspaper, radio end television have led to the inevitable increase in the influence of Bahasa Indonesia on the vernacular.<small><sup>4</sup></small> One of the results is that there are more and more features of Bahasa Indonesia, especially lexical, which have gained popular use in the vernaculars. The members of the younger generation from the rural areas may go to big cities for education, and may decide to settle and raise their families there afterwards. When they return for short visits later, they may take with them "city speech", claiming that they no longer speak their native "non-city" languages. Thus, those vernacular languages that have a relatively small number of speakers, and are spoken in remote rural areas tend to be use by a decreasing number of speakers. Some of these vernaculars may really by approaching the point of their extinction. This might sound a little bit pessimistic. However, if the current trend continues at the present rate, the extinction of these minor languages, whose speakers may number not more that one or two thousand, may become a reality. Therefore, before it is too late, they need to be studied and recorded. Further sociolinguistic studies are imperative for the purpose of determining the nature of code-switching from one languanges to another, say from one vernacular to Bahasa Indonesia or the other way around, to suit different needs and to serve different functions.<noinclude>{{rh|6}}</noinclude> hb869t3cz3fhhrvv1k99l010kxw2c64 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/530 104 101945 291882 285953 2026-05-11T09:20:14Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291882 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{c| {{Xx-larger|'''BAHASA DAN KESUSASTRAAN'''}} MAJALAH DUABULANAN MEMUAT MASALAH BAHASA / KESUSASTRAAN INDONESIA DAN DAERAH Diterbitkan oleh {{x-larger|'''LEMBAGA BAHASA NASIONAL'''}} {{larger|DIREKTORAT JENDRAL KEBUDAYAAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN}} }} {| |- ||'''Pemimpin Umum''' ||: ||''Ny. S.W. Rudjiati Muljadi'' |- ||'''Pemimpin Redaksi''' ||: ||''Lukman Ali'' |- ||'''Staf Redaksi''' ||: ||''H.B. Jassin'' <br>''S. Effendi''<br>''Djajanto Supraba''<br>''Adun Sjubarsa M. Supardja'' |- ||'''Pembantu Redaksi''' ||: ||''Para Ketua Bidang dan Kepala Cabang Lembaga Bahasa Nasional'' |- ||'''Administrasi''' ||: ||''Perpustakaan Lembaga Bahasa Nasional'' |- ||'''Alamat''' ||: || ''Jl. Diponegoro 82 (atas) Jakarta''<br>''Telepon 81459 - 82554''<br>''Kotakpos 2625 Jakarta.'' |}<noinclude></noinclude> 7mg29w6rgewqhm1rbdtw0me45sngog3 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/496 104 101949 291751 286083 2026-05-11T06:18:47Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291751 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>{{c|{{u|NOTES}}}} <small><sup>1</sup></small>Discussion paper presented at SEAMEO Regional English Language Centre Workshop on <br>{{gap|5em}}Sociolinguistic Survey Feasibility, <br>{{gap|5em}}Singapore, April 23-27, 1973. <br/><br/> <small><sup>2</sup></small>The classification of each of these languages is indicated (in the "classification" column of Table 3) <br>{{gap|5em}}by six-digit labels. The first digit indicates that the language classified is either {{u|major}} (M) <br>{{gap|5em}}or {{u|secondary}} (s). Minor languages are not dealt with here. The second digit indicates <br>{{gap|5em}}language type: {{u|standard}} (S) or vernacular (V). The third digit indicates that the language <br>{{gap|5em}}concerned is a group (g) language or not (-). The fourth digit indicates that the language <br>{{gap|5em}}under attention is used for {{u|religious}} (r), or {{u|literary}} (1) purposes, or for neither purposes (-). <br>{{gap|5em}}A lower case {{U|s}} as the fifth digit indicates that the language is a study language. <br>{{gap|5em}}The sixth digit shows the degree of standardization: not normally used for written purposes (WO), <br>{{gap|5em}}used for normal written purposes (W1),or used regularly for publication of original research (W2). <br/><br/> <small><sup>3</sup></small>See Halim (1972a, b and c). Cf. Hussein (1973). <br/><br/> <small><sup>4</sup></small>This is of course not to say that the influence of the vernaculars, especially Javanese, <br>{{gap|5em}}on Bahasa Indonesia, especially with regard to lexical items, has decreased.<noinclude>{{rh|14}}</noinclude> mrotgz0qvidk1c7oyf5a63q37a0fznx 291807 291751 2026-05-11T06:56:27Z Arymuslichudin 24021 291807 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>{{c|{{u|NOTES}}}} {{Hanging indent|4em|<sup>1</sup>Discussion paper presented at SEAMEO Regional English Language Centre Workshop on Sociolinguistic Survey Feasibility, Singapore, April 23-27, 1973.}} <br/><br/> {{Hanging indent|4em|<sup>2</sup>The classification of each of these languages is indicated (in the "classification" column of Table 3) by six-digit labels. The first digit indicates that the language classified is either {{u|major}} (M) or {{u|secondary}} (s). Minor languages are not dealt with here. The second digit indicates language type: {{u|standard}} (S) or vernacular (V). The third digit indicates that the language concerned is a group (g) language or not (-). The fourth digit indicates that the language under attention is used for {{u|religious}} (r), or {{u|literary}} (1) purposes, or for neither purposes (-). A lower case {{U|s}} as the fifth digit indicates that the language is a study language. The sixth digit shows the degree of standardization: not normally used for written purposes (WO), used for normal written purposes (W1),or used regularly for publication of original research (W2).}} <br/><br/> <sup>3</sup>See Halim (1972a, b and c). Cf. Hussein (1973). <br/><br/> {{Hanging indent|4em|<sup>4</sup>This is of course not to say that the influence of the vernaculars, especially Javanese, on Bahasa Indonesia, especially with regard to lexical items, has decreased.}}<noinclude>{{rh|14}}</noinclude> 9oq59ow5vvttqvel50ngkt2z44nrk8y Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/531 104 101950 291885 285958 2026-05-11T09:20:51Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291885 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|||catatan redaksi}}</noinclude>{{c|BAHASA-BAHASA DAERAH<br> masalah, usaha, dan rencana I }} Masalah bahasa-bahasa daerah di Indonesia tidak hanya sekedar masalah kebahasaan, namun juga menyentuh segi-segi sosial-politik yang cukup peka. Secara umum dapat dirasakan beberapa gejala di bawah ini: Pertama, adanya sikap ragu-ragu dari masyarakat terhadap bahasa daerahnya sebab mereka belum menemukan pegangan yang jelas: tujuan apakah sebenarnya yang hendak dicapai dengan mengembangkan bahasa daerah? Dan bagaimana kaitannya dengan bahasa nasional? Hal itu dipengaruhi oleh daya pindah masyarakat, misalnya arus urbanisasi yang cukup deras. Di kota-kota besar mereka menemukan kebutuhan lain di luar bahasa daerahnya dalam cara mereka berkomunikasi. Kedua, keterlibatan masyarakat terhadap bahasa daerahnya lebih banyak ditandai oleh keterlibatan rasa daripada fikiran. Biasanya orang lebih merasa bangga terhadap bahasa daerahnya yang konon merupakan warisan budaya yang luhur, daripada memikirkan secara sungguh-sungguh nasibnya di kemudian hari: hendak diapakan bahasa daerah ini? Andaikan hendak dikenangkan, usaha-usaha apa yang harus dilakukan dan diperjuangkan? Ketiga, andaikan ada usaha pembinaan bahasa daerah biasanya kurang mendapat tanggapan dan rangsangan dari pemerintah daerah setempat.<noinclude>{{rh||1 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 7vs4bksaa229lmsigb286oav49ytn8o Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/532 104 101952 291886 285969 2026-05-11T09:21:18Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291886 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Keempat, hubungan bahasa daerah dengan bahasa Indonesia masih kurang menunjukkan hubungan dan arah, hubungan timbal balik yang saling menunjang dalam rangka memupuk persatuan bangsa. Bahasa-bahasa daerah selama ini dianggap sebagai sumber untuk memperkaya kosa kata bahasa Indonesia. Sebaliknya bahasa daerah harus berani menerima pengaruh bahasa Indonesia untuk menyesuaikan diri dalam rangka mempertahankan hidupnya. Kurangnya hubungan dua arah itu juga tampak dalam penterjemahan. Karya-karya unggul dari sastra daerah yang konon memiliki nilai-nilai kearifan hidup kurang dikenal di luar bahasa aslinya. Karya-karya unggul dari sastra Indonesia yang sangat terbatas jangkauan — penyebarannya — siapa tahu! — mungkin lebih dapat dinikmati dan diresapi melalui bahasa daerah. {{c|II}} Masalah bahasa-bahasa daerah tidak akan semua terjangkau oleh sebuah lembaga — katakanlah dalam hal ini Lembaga Bahasa Nasional yang di dalamnya memiliki Bidang Bahasa dan Sastra Daerah serta tiga cabang, yakni di Bali, Yogyakarta, dan Ujung Pandang. Usaha-usaha Lembaga selama ini — dalam batas-batas kemampuannya dan dalam rangka kerja sama dengan lembaga lain ataupun perseorangan — antara lain: (1) survey dan pemetaan bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Selatan, (2) penelitian dialek di Bali dan Sulawesi Selatan, (3) penyusunan kamus bahasa Bali, Jawa, dan Makassar, (4) telaah kepustakaan bahasa Jawa, Sunda, Minangkabau, Aceh, Bengkulu, Riau dan Bali, (5) terjemahan, di antaranya terjemahan cerita Panji Jawa, Melayu, Bali, dan Sunda, (6) penyusunan konsep ejann bahasa Bali, Jawa, dan Sunda. Penelitian bahasa-bahasa daerah makin mendapat perhatian sewaktu Universitas Leiden (Belanda) mengulurkan bantuan dengan {{hws|me|menarik}}<noinclude>{{rh||ii Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> hzn46vcxoh01gbjarefvfirels5fa59 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/533 104 101954 291888 285968 2026-05-11T09:23:02Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291888 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|narik|menarik}} 13 orang sarjana Indonesia untuk mengikuti penataran selama dua tahun (Agustus 1971-September 1973). Penataran ini meliputi metodologi penelitian bahasa, praktek lapangan, dan teori serta praktek analisa bahasa. Adapun bahasa-bahasa daerah yang dijadikan sasaran penelitian ialah bahasa Jawa, Sunda, Bali, Batak, Banjar, Gorontalo, Bugis, Makassar, dan Betawi. {{c|III}} Usaha-usaha seperti itu sudah selayaknya dilanjutkan dengan pengarahan yang jelas dalam rangka menujang kepentingan nasional. Dasar-dasar yang lebih kokoh patut difikirkan dalam kaitannya dengan program-program yang lain. Untuk itu dapat dibentuk, misalnya: (1) program kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia, (2) program kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa-bahasa daerah, (3) program pengajaran bahasa-bahasa asing sebagai prasarana. Khususnya untuk program kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa-bahasa daerah dirasakan mendesak adanya program pendidikan keahlian, baik dilakukan di dalam maupun di luar negeri, dan program penelitian. Dengan adanya pendidikan keahlian diharapkan adanya tenaga sarjana Indonesia yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, yang mampu melakukan kegiatan: (1) survey dan pemetaan bahasa daerah, (2) perkamusan, (3) filologi, (4) teori dan praktek analisa bahasa, (5) metodologi penelitian bahasa, (6) metodologi penelitian pengajaran bahasa, (7) teori dan praktek penterjemahan. Mudah-mudahan rencana itu dapat dilaksanakan! {{block right| {{c|Jakarta, 28 Oktober 1973<br> J.S.}}}}<noinclude>{{Right sidenote||iii Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> pc8eln3qpv779hwww9rbc9wybjus02r 291889 291888 2026-05-11T09:24:39Z Arymuslichudin 24021 291889 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|narik|menarik}} 13 orang sarjana Indonesia untuk mengikuti penataran selama dua tahun (Agustus 1971-September 1973). Penataran ini meliputi metodologi penelitian bahasa, praktek lapangan, dan teori serta praktek analisa bahasa. Adapun bahasa-bahasa daerah yang dijadikan sasaran penelitian ialah bahasa Jawa, Sunda, Bali, Batak, Banjar, Gorontalo, Bugis, Makassar, dan Betawi. {{c|III}} Usaha-usaha seperti itu sudah selayaknya dilanjutkan dengan pengarahan yang jelas dalam rangka menujang kepentingan nasional. Dasar-dasar yang lebih kokoh patut difikirkan dalam kaitannya dengan program-program yang lain. Untuk itu dapat dibentuk, misalnya: (1) program kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia, (2) program kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa-bahasa daerah, (3) program pengajaran bahasa-bahasa asing sebagai prasarana. Khususnya untuk program kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa-bahasa daerah dirasakan mendesak adanya program pendidikan keahlian, baik dilakukan di dalam maupun di luar negeri, dan program penelitian. Dengan adanya pendidikan keahlian diharapkan adanya tenaga sarjana Indonesia yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, yang mampu melakukan kegiatan: (1) survey dan pemetaan bahasa daerah, (2) perkamusan, (3) filologi, (4) teori dan praktek analisa bahasa, (5) metodologi penelitian bahasa, (6) metodologi penelitian pengajaran bahasa, (7) teori dan praktek penterjemahan. Mudah-mudahan rencana itu dapat dilaksanakan! {{block right| {{c|Jakarta, 28 Oktober 1973<br> J.S.}}}}<noinclude>{{rh||iii Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 3pckcbxb2iuegx9qt4zx9j5qeddvf3m Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/535 104 101957 291890 285986 2026-05-11T09:25:44Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291890 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>SEJARA LINGUISTIK sebuah pengantar singkat, J.D. Parera IKIP Jakarta {{ol|type=I|ZAMAN YUNANI}} Pada orang Yunani Filsafat merupakan dasar untuk memandang segala-galanya baik gejala alam dan gejala-gejala manusiawi lainnya. Dengan dasar ini pulalah mereka memandang bahasa. Dengan sendirinya timbul beberapa pertanyaan atau masalah spekulatif yang menyangkut bahasa. Dan masalah itu akan kami paparkan nanti di bawah ini. Selain daripada itu pengetahuan kita mengenai penulisan dan perhatian orang Yunani terhadap bahasa hanya berdasarkan naskah-naskah. Apa yang kita warisi sekarang ini berlangsung di Yunani dalam waktu 600 tahun atau enam abad, yakni dari abad ke-5 sebelum Masehi sampai dengan abad ke-2 Masehi. Dalam menelusur sejarah linguistik khususnya mulai dari zaman Yunani ini akan tampak apa yang telah dipikirkan dan dikerjakan oleh bangsa Yunani dalam bidang bahasa, hasil-hasil apa yang telah dicapai, dan dimana tempat kontribusi ahli-ahli Yunani ini terhadap linguistik modern sekarang ini. Di bawah ini akan kami berikan hal-hal yang kami anggap penting untuk diketahui sebagai dasar ajaran sejarah yang perlu dipahami, karens hal-hal yang mungkin dikerjakan mereka akan ada manfaatnya bagi {{hws|ki|kita}}<noinclude>{{rh||1 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> pokehgehpyghvg386ln14hbj94kn3oo Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/489 104 101978 291740 286103 2026-05-11T06:12:26Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291740 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Further sociolinguistic studies are also needed to find out as precisely as possible the conditions under which and the extent to which codeswitching takes place, as well as the conditions under which and the extent to which Bahasa Indonesia and the vernaculars influence one another. <br /><br /> 2. {{u|language in Education}} Bahasa Indonesia, as mentioned earlier, is the official medium of instruction in schools of all types and levels, from kindergarten up to the university, throughout Indonesia. It is also taught as a school subject up to the last year of the senior high school (grade 12), and up to the first year of college in certain universities, at the average rate of six hours per week. In those areas where the native vernaculars are such major vernaculars as Javanese, Sundanese, Madurese, balinese and Batak the use of Bahasa Indonesia as the medium of instruction may be delayed until the fourth year of the elementary school; that is, the vernaculars may be used as the medium of instruction for the first three years of education. At the end of the third year the switch from the use of the vernaculars to the use of Bahasa Indonesia as the medium of instruction takes place. The vernaculars then are taught as a school subject up to the last year of the junior high school (grade 9). It is indeed tempting, though it might be too early, to predict at this point that Bahasa Indonesia will replace the vernaculars completely in all parts of Indonesia. The current rate at which the population of the country move from one area to another and the extent to which migration, especially from Java to the other islands, is strongly encouraged by the gavernment do not appear to make the prediction totally unreasonable. However further studies with regard to this probable tendency are obviously also needed.<noinclude>{{rh|7||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> mxdxybu8xmk4uylndfxejdrxpvcakux Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/29 104 102010 291980 288548 2026-05-11T10:50:17Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291980 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||23|}}</noinclude> Prof. Kern sangat kagum akan mutu karja Van der Tuuk. Beliau ini digelari bapa ilmu perbandingan bahasa-bahasa Nusantara. Lebih dari itu lagi, Kern menjebut Van der Tuuk “de grootste kenner der Indonesische talen”, artinja orang jang paling tahu seluk beluk bahasa-bahasa Indonesia (Lihat Verspreide Geschriften IV, halaman 283-286, biografi Van der Tuuk). Bahasa Batak Toba adalah salah satu dialek Batak. Ada 6 dialek, jaitu Toba, Angkola, Mandailing, Simalungun, Dairi, dan Karo. Dari antara dialek-dialek itu, bahasa Batak Dairi/Karo paling banjak menerima pengaruh bahasa Melaju, karena Tanah Dairi dekat dengan pantai Tapanuli jang didiami penduduk tjampuran Batak-Melaju dan Tanah Karo untuk beberapa waktu lamanja pernah berada dibawah pengaruh politik kesultananan Melaju dipantai Sumatera Timur, Dialek Simalungun sedikit banjak menerima pengaruh bahasa Melaju djuga, karena letak daerahnja dekat pantai Sumatera Timur, tapi {{u|tidak}} separah pengaruh jang diterima dialek-dialek Dairi dan Karo. Bahasa Batak Angkola/Mandailing hanja sedikit sekali mendapat pengaruh bahasa Melaju, itupun melalui pengadjaran agama Islam. Tinggal dialek Toba diselatan danau Toba. Dialek ini dipergunakan oleh penduduk jang mendiami dataran tinggi jang sukar dimasuki oleh kaum pendatang. Sampai kedatangan Zending tahun 1861 Tanah Toba belum pernah dibawah pengaruh politik suku-suku lainnja. Dari latar belakang sedjarah itu dapat kita mengerti, mengapa bahasa Batak Toba itu setjari relatif murni dari pengaruh bahasa-bahasa Indonesia lainnja, seperti bahasa Melaju dan mengapa pula bahasa Batak itu dapat menimpan begitu banjak imbuhan-imbuhan jang masih utuh hingga sekarang. (Penjederhanaan dan penjingkatan imbuhan-imbuhan dari dialek Toba ke Karo dapat dibandingkan dengan penjederhanaan dan penjingkatan imbuhan-imbuhan dari bahasa Djawa Kuno ke bahasa Djawa Baru). Apa jang diuraikan diatas adalah pendahuluan dari pembitjaraan tatabahasa Batak jang akan dibeberkan dalan tulisan-tulisan berikut. Perlu dikemukakan disini sepintas lalu bahwa tatabahasa Batak Toba diadjarkan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia Djakarta, djurusan Sastra Nusantara dan djurusan Sastra Indonesia. Djuga di University Malaya bahasa tersebut diadjarkan pula bersama-sama dengan bahasa Kawi dan Tagalog sebagai bagian dari ilmu perbandingan bahasa-bahasa Nusantara, {{R|(bersrmbung)}}<noinclude></noinclude> 0q8hvywvp4py5nqg72j2sg4f3gqbtk9 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/474 104 102050 291726 286331 2026-05-11T06:06:52Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291726 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|56}}</noinclude>jadian, bahwa bentuk dari profesi tertentu malah dipergunakan dalam situasi umum. Jadi kata profesi menjadi kata umum. Satu contoh dapat kami sampaikan di sini. Kata {{u|garap}} adalah kata profesi pertanian. Sekarang ia digunakan untuk bermacam-macam masalah yang sedang, belum dan akan {{u|digarap.}} 6. Sebagai penutup ingin saya sampaikan satu harapan dan permintaan kepada para pengamat bahasa, penggemar bahasa, dan lebih-lebih pomakai bahasa aktif dan produktif (seperti pors para wartawan, para pongarang pidato bapak-bapak pejabat) bahwa kadangkala kita mempergunakan bahasa profesi dalam situasi umum. Para pendengar atau pembaca yang bukan berasal dari profesi itu menafsirkannya secara umum, sedangkan penulis atau pembicara menafsirkannya secara profesionil. Mudah-mudahan kelak kita dapat mencatat semua kemungkinan dalam bahasa umum dan profesi, khususnya bentuk {{u|berdua situasi}} (umundan profesi). Mudah-mudahan kita pun memperhatikannyn. {{right|Jakarta Maret 1973.}}<noinclude></noinclude> loj6zf81eecej5u8812t9ys0dtfv4xv Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/538 104 102062 291893 286358 2026-05-11T09:26:51Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291893 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|||/mewarisi}}</noinclude>{{hwe|da|pada}} abad ke-5 S.M. Mereka pulalah yang mau menentukan semua secara pasti, dengan ukuran-ukuran tertentu. Itu sebabnya dalam bidang bahasa mereka lebih mementingkan hidan retorik. Dari kara ini kita perbedaan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan maknanya, mungkin berdasarkan strukturnya. <u>Protagoras</u> membedakan tipe-tipe kalimat atas: tipe <u>doa,pertanyaan, pernyataan</u> dan <u>perintah</u>, atau atas 7 tipe kalimat menurut sumber lain : <u>narasi, pertanyaan, jawaban, perintah, laporan, doa</u>, dan <u>undangan</u>. Gorgias membicarakan gaya bahasa yang kita kenal sekarang. <u>Plato, ( 429 — 347 ).</u> Plato dalam karangannya Dialog menyuruh Oratylus dan Hermogenes berdebat tentang bahasa analogi dan anomali, tentang bahasa alamiah dan konvensionil. Akan tetapi melalui Socrates kita mendengarkan definisi bahasa menurut Plato : bahasa adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan <u>onomata</u> dan <u>rhemata</u>, yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam udara liwat mulut. Plato-lah yang pertama membedakan kata dalam onoma dan rhema. Kata ini tidak kami terjemahkan karena pengertian ada bermacam-macam. Onomata, jamaknya onoma, dapat berarti <u>nama</u> (dalam bahasa sehari-hari), nomen, <u>nominal</u> (dalam istilah tata bahasa ), <u>subjek</u> (dalam hubungan dengan subjek logis) Rhemata, Jamaknya rhema, dapat berarti <u>frasa, ucapan</u> (dalam bahasa sehari-hari), <u>verb, verbal</u> (dalam istilah tata bahasa ), dan predikat (dalam hubungan dengan predikat logis). Onoma dan rhema merupakan anggota dari <u>logos</u>, yang berarti kalimat atau frasa, atau klausa. <u>Aristoteles (384-322)</u> Aristoteles tidak membawa kemajuan lebih jauh daripada Plato. Ia tetap membedakan dua kelas kata seperti Plato, yakni <u>Onoma</u> dan <u>Rhema</u>, tetapi ia menambahkan satu lagi, yang disebut <u>Syndesmoi</u>. <u>{{hws|Syn|Syndesmoi}}</u><noinclude>{{rh||4 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 5823seky71oyhhi0bz5zx7dpqzzzcqu Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/539 104 102071 291894 286368 2026-05-11T09:27:13Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291894 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|desmoi|Syndesmoi}} ini kemudian digolongkan dengan <u>penghubung, partikel</u>. Kalau-kalau ini lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis. Salah suatu hal yang perlu diperhatikan ialah Aritoteles selalu bertolak dari segi logika. Ia memberikan pengertian, definisi, dan makna dari sudut logika. Selain membedakan onoma, rhema, syndesmoi, Aristoteles pun membedakan jenis kelamin kata ( Gender). Ia membedakan tiga jenis kelamin kata atas <u>maskulin, feminin dan bentuk antara (intermediate)</u>. Bentuk atau genis antara ini kemudian disebut "neuter" (netral). Satu kemajuan pula yang dibuat oleh Aristoteles ialah pengakuannya bahwa rhema menunjukkan pula "tense" dalam bahasa Yunani. Rhema dapat menunjukkan sebuah pekerjaan selesai, belum selesai, dsb. Mungkin masih akan lebih banyak yang dapat dikatakan tentang Aristoteles, tetapi dengan sebenarnya perhatiannya terhadap kepada bahasa tidak sejauh ini pula. Kelompok filsuf sesudahnyalah yang mempunyai perhatian penuh dan mungkin khusus kepada masalah bahasa. Mereka ini ialah <u>kaum Stoik</u>. <u>Kaum Stoik</u> Kaum Stoik merupakan kelompok filsuf dan logikus yang berkembang pada permulaan abad ke-4 Kontribusi kaum Stoik kepada bahasa cukup besar, walaupun mereka belum lepas dari pandangan dan pengaruh logika dalam menganalisa bahasa. Namun demikian dapat kita sebutkan tiga hal yang utama dari kelompok Stoik ini: Pertama mereka telah membedakan antara studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara gramatikal. Kedua, mereka telah menciptakan beberapa istilah teknis khusus berbicara tentang bahasa. Ketiga kedua kemajuan ini ada hubungannya dengan perbedaan antara kaum stoik dan <u>Logika Peripatetic</u> (penganut Aristoteles). Langkah pertama daripada kaum Stoik untuk berbicara tentang<noinclude>{{rh||5 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 8pbnuyktmcaugb74rp88i4fj1uuvva6 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/540 104 102081 291895 286390 2026-05-11T09:27:38Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291895 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>bentuk-bentuk bermakna bahasa ialah membedakan tiga aspek utama dari bahasa (1) tanda (symbol, sign) yang disebut <u>semainon</u>, dan ini adalah bunyi atau materi bahasa (2) makna, apa yang disebut, ini disebut <u>senainomenon</u> atau <u>lekton</u> (3) hal-hal eksternal yang disebut benda atau situasi, ini disebut <u>to pragma</u> atau <u>to tungehanon</u>. Mereka. memberikan contoh tentang kata Yunani <u>Gramma</u> (artinya huruf) dengan jalan yang sama. Gramma berarti huruf itu sendiri, tanda tulisan untuk huruf itu, dan ketiga nama untuk huruf itu. Kaum Stoik pun mempunyai perhatian kepada bidang <u>bunyi</u>, phone. Mereka membedakan antara legein tutur bunyi yang mungkin merupakan bagian daripada fonologi sebuah bahasa tetapi tidak bermakna, dan <u>propherethal</u> ucapan bunyi bahasa yang sempunyai makna. Kiranya pendapat mereka ini akan ada gunanya dalam studi fonologi kita sekarang ini. Juga dalam bidang Lekta, makna, mereka mempunyai satu pandangan yang berbeda dengan analisa logika Aristoteles yang sering tidak jelas maksudnya. Aristoteles hanya mengakui adanya <u>onoma</u> dan <u>onomata</u>. Semua perubahan dari onoma sesuai dengan fungsinya tidak dialui. Ini disebabkan oleh karena dasar logika Aristoteles dengan sylogismenya hanya mempergunakan kode huruf A,B, dan C, dan tidak mempergunakan bentuk bentuk onoma secara praktis dalam contoh. Kaum Stoik mengatakan bahwa <u>kasus itu pun onoma</u> pula sesuai dengan fungsinya. Lalu mereka membedakan atas kasus nominatif — genetif — datif — akusatif, dsb. Apa yang mereka sebut nominatif itu disebut oleh Aristoteles onoma saja. Hal yang sama juga berlaku bagi rhema. Walaupun Aristoteles telah membedakan rhema dalam "tense" ia tetap berbicara tentang sesuatu yang belum komplit. Kaum Stoik dalam hal ini membedakan <u>rhema</u> dan <u>kategorrhema</u>, yang dengan pengertian kita sekarang bentuk infinit dan bentuk finit.<noinclude>{{rh||6 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 3r63o6wj0x5p0gatxdhpqh51rgovlo6 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/542 104 102084 291896 286397 2026-05-11T09:28:11Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291896 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude><u>Kaum Alexandrian</u> Sarjana-sarjana dari Alexandria melanjutkan pekerjaan yang telah dirintis oleh kaum Stoik. Dan dari Alexandrialah kita miliki sekarang apa yang disebut <u>TatabahasaTradisionil</u>. Disini hasil-hasil karya tata bahasa Yunani secara pasti sudah dapat dikodifikasikan. Kaum Alexandrialeh penganut dari paham Analogi dalam bahasa. Itu sebanyak mereka menyusun pola, <u>hukum-hukum kanon</u> dalam bahasa, sebagai hasil penyelidikan mereka terhadap keteraturan dalam bahasa. Lalu ada susunan paradigma Tata bahasa Dionysius Thrax ( akhir abad ke- 2 S.M.) adalah sumber pengetahuan kita yang terbaik. Ia merupakan buku tatabahasa yang pertama yang bersifat komprehensif dan sistimatis, berkembang di dunia barat. Buku tata bahasa Dionysius Thrax ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Rendus Palaemon pada permulaan abad pertama Masehi dengan judul <u>Ars Grammatika</u>. <u>Tatabahasa Dionysius Thrax</u> Kita tidak akan membicarakan seluruh isi daripada tata bahasa ini. Akan tetapi akan kita perhatikan metode yang ditempuhnya. Dionysius hanya membicarakan bidang fodologi, sedangkan Syntax sama sekali tidak dibicarakan dalam tata bahasa ini. Grammatike berarti huruf, atau belajar mengenal huruf-huruf bahasa Yunani. Inilah pengertian dasar daripada istilah grammatika. Demikian lah anak-anak Yunani belajar huruf-huruf Yunani secara logika dari awal nama, susunan, bunyi, sukukata (dari satu suku ke dua suku ke tiga suku dst). Kadang-kadang sampai kepada hexameter. Walaupun demikian akan kami kutip beberapa bagian tata bahasa ini, yang kami anggap penting dalam sejarah tata bahasa. (1) <u>Bab tentang huruf</u> : Ada 24 huruf mulai dari Alpha sampai dengan omega.<noinclude>{{rh||8 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> efq76ftbcql2hwcbirmppuemjk1uo6p Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/221 104 102112 291991 286596 2026-05-11T11:10:21Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291991 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>TUTUP TAHUN Alhamdulillah, dengan torbitnya Bahasa dan Kesusastraan nomor ini, nomor torakhir tahun pertama 1968 yang jatuh pada bulan Oktobor, torpenuhilah sebagian kecil tugas para pengasuhnya: telah melayani para peminat dengan artikel-artikel tentang bahasa dan kesusastraan sejauh dapat diusahakan dalam rangka ikut serta membina dan mongembangkan kehidupan atau kegiatan bahasa dan kesusastraan Indonesia dan daerah, lama mapun moderen. Kami yakin, bahwa pelayanan yang telah diborikan kepada para peminat hingga nomor ini masih jauh dari memuaskan dan masih perlu ditingkatkan dalam mutu dan besarnya. Tentulah ini tidak berarti, bahwa apa yang telah disuguhkan tidak punya arti apa-apa. Tidak. Kami para pongasuh yakin, botapapun kecil arti jang telah diberikan kepada para pominat, namun ia adalah perwujudan lebih nyata, lebih dapat memberi manfaat bagi pembinaan bahasa dan kesusastraan dari pada cita-cita melulu yang berputar-putar diatas ubun para ahli. Keyakinan inilah yang mendorong kami untuk tidak berhenti sampai disini, tapi akan terus-menerus berusaha dengan bekal dana dan tenaga yang ada untuk akhirnya sampai kepada apa yang kita harapkan bersama: terwujudnya kehidupan bahasa dan kesusastraan Indonesia maupun daerah yang terpelihara. Dalam hal ini sudah pasti bantuan para peminat, saran atau tulisan, akan memperlancar tercapainya usaha tersebut. Nomor-nomor tahun kodua majalah kita ini diharapkan akan sanggup dan segera menghadiri para piminat, tidak lagi datang torsendat-sondat seperti somula. Semoga. {{right|Redaksi}}<noinclude>{{rh|||1}}</noinclude> 0z2g9vjjkonkbkw1ojvogwy8bf6lmue Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/223 104 102118 291993 286648 2026-05-11T11:11:33Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291993 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{c|SAADAH ALIM}} {{c|PENGARANG OPTIMIS}} {{r|H.B. Jassin}} Saadah Alim dilahirkan tanggal 9 Juni 1898 di Padang. Tahun 1917 ia tamat Kweekschool (Sekolah Guru) di Bukittinggi. Sesudah itu ia jadi guru H.I.S. di Padang (1918-1920), kemudian jadi guru Heisjeanormaanlschool (Sekolah Guru Puteri) di Padang Panjang. Segera setelah ia menjadi guru di Padang, ia menerbitkan majalah wanita bernama {{u|Suara Perempuan}}, berisi karangan-karangan dalam bahasa Indonesia dan Belanda, dengan harapan akan memberi kesempatan bersuara kepada kaum wanita. Tapi yang memasukkan karangan hanya kaum pria saja, antara lain Mohammad Hatta, Bahder Djohan, Moh. Jamin, Adi Negoro dan lain-lain, yang pada waktu itu masih duduk disekolah lanjutan. Tahun 1924 ia jadi pembantu tetap majalah {{u|Bintang Hindia}} dan harian {{u|Bintang Timur}} yang dipimpin oleh Parada Harahap. Sumbangannya bersifat pendidikan dan cerita-cerita pendek. Tahun 1930. ia diserahi pimpinan majalah bulanan {{u|Krekot's Magazine}}, yang kemudian dijadikan lampiran harian {{u|Bintang Timur}}. Karangannya pada waktu itu banyak yang berupa cerita pendek. Sampai tahun 1940 ia, jadi pembantu tetap majalah dan harian, antara lain: {{u|Pandji Pustaka}}, {{u|Pustaka Timur}}, {{u|Bintang Timur}}, {{u|Volkscourant}}, yang terakhir ini dalam bahasa Belanda. Buku-buku yang telah ditulisnya, ialah: {{u|Pembalasanja}}, BP 1940 dan {{u|Taman Penghibur Hati}}, BP 1941. Torkenal pula torjemahannya {{u|Angin Timur Angin Barat (East Wind West Wind}}, karangan Pearl S. Buck), BP 1940. {{c|***}} {{u|PEMBALASANNJA}}, drama 3 babak Kesusastraan berbentuk drama dapat dihitung sebelum perang. Terkenal sebagai pengarang drama ialah Muhammad Jamin, Sanusi Pane dan Armija Pane. Satu-satunya wanita yang mempergunakan pula bentuk ini, ialah Saadah Alin, dengan dremanya yang berjudul {{u|Pembalasannja}}. Melihat tokoh-tokohnya, cerita ini bermain dalam lingkungan terpelajar Indonesia sebelum perang, yaitu antara lain Mr. Bahar (S.H.), adjunct Referendaris pada Departemen Pengajaran dan Ibadat. Sarjana hukum sebelum perang adalah suatu keistimewaan, seperti juga insinyur dan dokter, karena sedikit sekali orang yang mencapai sekolah setinggi itu.<noinclude>{{rh|||3}}</noinclude> hn2oxd649dsscrle6koj5i4zo9rdbca Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/224 104 102130 291994 286684 2026-05-11T11:14:01Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291994 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||4}}</noinclude>Mr. Bahar ini sebagai orang Minangkabau tentu saja tidak lopas dari mamaknya, Haji Abdurrachman, saudagar yang kaya raya di Padang, yang telah membiayai sekolahnya hingga tamat. Ia dikawinkan dengan anak mamaknya itu secara berwakil, karena ia sendiri tidak mau pulang melangsungkan perkawinan dengan Nur Asjikin, anak pamannya yang tidak dikenalnya itu. Nur Asjikin yang tinggal di Bukittinggi, merasa tersinggung bahwa suaminya tak datang menjemputnya dan ia mencari jalan untuk membalas dendam. Ia pindah ke Betawi dan bekerja disebuah sekolah tanpa diketahui Mr. Bahar. Kemudian ia bertemu Mr. Bahar yang segera jatuh cinta, tapi Nur seolah-olah acuh tak acuh dan menyiksa Bahar dengan berbagai cara. Tapi siksaan itu hanya memperlihatkan ketinggian budi Asjikin, misalnya ia menunda menonton karena kedatangan murid yang perlu diberinya pelajaran tambahan; ia selalu mengoreksi gagasan-gagasan Bahar yang menyalahkan fihak isteri belaka dan membebaskan suami dari segala tuduhan. Sehingga Bahar terpaksa mengaku kepada sahabatnya Mochtar mi isteri "Sifatnya musang mulia belaka, berlainan dengan semua gadis yang kukenal. Karena itulah, sampai aku mabuk kepayang. ({{u|berdiri merentak}}) Bahar, panglima besar dalam dunia kepelesiran bergelar pengepung dalam dunia perempuan, enam bulan yang lalu, siapa akan menyangka, babha dia akan berlulut dikaki seorang perempuan, seorang perempuan yang tiada mungindahkannya, sehelai rambut pun tidak. ({{u|dengan suara berubah}}) Mochtar, dalam kegelapan ini apakah yang harus kuberbuat?" (hal. '57). Tapi akhirnya permainan sandiwara antara kedua suami isteri itu dapat diselesaikan dengan gembira, sesudah mereka saling sungakui keadaan yang sebenarnya. Wanita-wanita yang digambarkan oleh Saadah Alim adalah wanita-wanita yang mempertahankan haknya sebagai manusia yang sama sederajat dengan kaum pria, seperti juga menurut pandangan Hamidah. Tatkala Nur Asjikin dicegah oleh Mochtar dan isterinya untuk turut serta dengan mereka pergi ke Betawi, melihat suami yang tidak menggubris dirinya, ia dengan geram berkata: “Ya, ya, hak si suami selamanya harus diperlindungi. Bagaimana penderitaan seorang isteri, itu tak perlu diindahkan dunia. Apatah salahnya, kalau aku pergi ke Betawi? Aku bukan anak-anak lagi. Izin suamiku, katamu. Adakah ia mengingat isterinya barang sesaat juga dalam segala perbuatannya? Ia boleh berbuat leluasa, tetapi aku mesti dirintangi, musti dikungkung. Ayahku tadi merasa berkewajiban pula akan menentukan pendirianku terhadap suamiku, 'sekarang kau {{hws|pu|pula}}<noinclude></noinclude> 41jgyytb42msxptnqol62f9iwx97kdr Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/367 104 102148 291273 286725 2026-05-10T15:52:52Z Arulbe 24016 /* Tervalidasi */ 291273 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arulbe" /></noinclude>{{xx-large|PENGANTAR}} Masalah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) yang menimbulkan suhu yang cukup panas beberapa waktu yang lalu, memperlihatkan suatu proses yang wajar dari suatu hasil peneldtian yang ditawarkan kepada masyarakat, sebelum mereka menerimanya. Di samping faktor intrinsik ejaan itu sendiri yang perlu dipertahankan oleh kaum bahasawan, patut diperhitungkan pula faktor ekstrinsik yang menyangkut kemasyarakatan secara luas. Kedua hal itu tidak sering kita tenui dalam diri satu orange Namun dalam hidup bermasyarakat, kita dapat bekerja sama dl samping berbeda pendapat. Penilaian kani dalan masalah NYD ini masyarakat mulai menyadari aturan permainan tersebut. Sehingya masalah ejaan tidak keluar dari gelanggangnya. {{c|***}} Pada kesempatan ini kami turunkan beberapa artikel, antara lain: "Fonim Vokal Dialek Jakarta" yang ditulis oleh saudara Huhadjir, salah seorang peserta Proyek Leiden, yang selama ini masih terus melakukan penelitiannya tentang dialek itu. Kemudian mengenai istilah: "Bahasa Indonesia dan Istilah Keolah-ragaan." Secara luas masalah istilah ini sedang dijajaki kemungkinan-kemungkinannya menggalakkan kembali sarana yang mampu menggarap masalah ini secara tekun dan terus-menerus. Mudah-mudahan terlaksana. {{rh|||J.S}}<noinclude>{{rh|BAHASA DAN KESUSASTRAAN, No. 2, Th. V/1972}}</noinclude> 1qu3w0pxou8fh3k0suuibjt37ys71hn Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/319 104 102165 291208 286751 2026-05-10T15:07:02Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291208 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>maka orang itu memikirkan sesuatu itu dari A sampai Z pula. Artinya, ada hubungan erat antara mengarang dengan berpikir; ada hubungan erat antara mengembangkan bahasa dengan mengembangkan pikiran. {{gap}} Dan ungkapan berikut akan lebih menjelaskan adanya hubungan erat itu: mengarang baik berpikir baik; mengarang kacau, berpikir kacau; dengan memahami karangan seseorang, kita akan memahami cara berpikir orang itu, misalnya ketertiban-kekacauannya dan kekaburan-kejelasannya. Kalau anggapan ini dibenarkan, dan apabila tugas mengembangkan kekritisan dan keteraturan berpikir anak didik sangat penting dalam kegiatan pendidikan, maka seyogianyalah pelajaran mengarang lebih digarap dan dibina secara berencana dan sistimatis. Bagaimana kenyatannya? 1.2 {{gap}} Apabila ditelaah silabus Bahasa Indonesia dalam Rencana Pendidikan SMP tahun 1968 dari Direktorat Pendidikan Umum, Kejuruan dan Kursus-kursus Jakarta, akan ditemukanlah pada kolom 'Pokok/Bagian perincian mata pelajaran mengarang sebagai berikut : 'karangan bebas, membuat laporan, surat-menyurat cerita dari buku perpustakaan, telegram, iklan, pengumuman, dsb.' Pada kolom 'Keterangan' dijelaskan: 'Pokoknya ditentukan atau berdasarkan gambar. Karangan dibuat sekurang-kurangnya sekali dalam seminggu, diberikan bertanggal diatasnya dan boleh dibuat disekolah atau dirumah. Harus selalu diperiksa guru dengan seksama dan setelah diberi parap beserta hari bulan, dikembalikan kepada murid.' Kemudian dijelaskan cara-cara memeriksa karangan. Demikianlah perincian dan penjelasan untuk kelas I. Untuk kelas-kelas berikutnya hanya dijelaskan: kelas II idem kelas I; kelas III idem kelas II. Pada silabus Bahasa Indonesia dalam Rencana Pendidikan dan Pelajaran SMA tahun 1968 dari direktorat yang sama, perincian mata pelajaran mengarang lebih singkat lagi. Penjelasan seperti pada kolom keterangan dalam silabus SMP tidak diberikan. Sepanjang diketahui, selain yang tercantum dalam silabus tersebut tidak tersedia buku pegangan yang memberikan informasi<noinclude>{{rh|||5}}</noinclude> f5o6jbfofjjsdyvl4tibx71ip0v9m9e Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/546 104 102167 291898 286782 2026-05-11T09:28:56Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291898 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|II. ZAMAN ROMAWI}}</noinclude>Kita memasuki daerah laut Tengah dan berbicara tentang satu kesatuan budaya Greko Latin. Kedua budaya ini tidak sama tetapi keduanya saling isi mengisi. Kontak budaya antara Yunani dan Roma telah lama berlangsung. Jatuhnya Yunani, setelah Alexander Agung, memunculkan satu emperium Baru, Emperium Romawi, yang berkembang ke Timur dan ke Barat wilayahnya. Tanpa adanya kontak budaya, kita mungkin belum bisa berbicara tentang budaya dan peradaban Eropa yang begitu gemilang dan produktif. Agama Kristen pada masa itu menjadi pendorong. Melalui tiga bangsa, yakni bangsa Yunani, bangsa Romawi, dan bangsa Yahudi, dunia Eropa yang modern dan mungkin seluruh dunia mewarisi sumber-sumber pengetahunan, moral, politik dan agama, pada kurang lebih abad Dalam ilmu linguistik orang-orang Romawi mendapatkan pengalaman dalam hubungan mereka dengan karya ilmu Yunani. Linguistik Romawi pada umumnya merupakan aplikasi atau penerapan dari pikiran-pikiran Yunani, pertentangan-pertentangan Yunani, kategori-kategori Yunani terhadap bahasa Latin. Kesamaan struktur yang secara relatif besar dari dua bahasa ini, dibarengi lagi oleh penyatuan peradaban yang terdapat di dunia Yunani-Romawi ini, memudahkan pengalihan metalinguistik ini. Menurut kata dan cerita orang, pemasukan dan perkenalan studi linguistik ke Roma dipercayakan kepada <u>Crates</u>, seorang filsuf dan gramatikus golongan Stoik pada pertengahan abad kedua S.M. Pasti ia memasukkan pikiran-pikiran kaum Stoik, akan tetapi sudah pasti pula seorang Romawi sendiri telah berkenalan dengan linguistik Yunani ini. Tokoh Romawi yang secara serius membahas bidang linguistik/bahasa Latin ialah <u>Varro</u> (116 27 SM). Karya utamanya ialah <u>De Lingua Latina</u>, tempat ia {{hws|me|menguraikan}}<noinclude>{{rh||12 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 5cclvxrg9c9l6g41jzlvirvcy2llho3 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/322 104 102175 291209 286765 2026-05-10T15:07:34Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291209 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>dalam berbagai bentuk dan maksud. Juga diharapkan langkah-langkah tersebut dapat diterapkan dalam penyusunan buku-buku pelajaran. Dalam hubungan ini, salah seorang petugas Bidang Bahasa Indonesia LBN Telah berusaha menyusun buku dimaksud untuk ditanggapi seperlunya atau dicobakan dalam praktek. 1.3{{gap}} Evaluasi adalah bagian integral dari kegiatan pendidikan. Tapi telaah sementara telah cukup memperingatkan, bahwa evaluasi dalam kegiatan pengajaran bahasa Indonesia tidak digarap semestinya. Akibatnya, gerak pengajaran bahasa Indonesia hingga kini di sekolah lanjutan umum (dan mungkin disemua jenis sekolah) lebih merupakan gerak maju semu, suatu gerak yang tidak dikehendaki oleh siapapun. Karena itu referat akan menawarkan sebuah tabel catatan guru berikut ini, suatu usaha kecil yang diharapkan dapat dijadikan salah satu alat (dari sekian kemungkinan ragam yang tidak akan dibicarakan disini) pembantu kegiatan evaluasi pelajaran mengarang.<noinclude>{{rh|||8}}</noinclude> 8ffkzsv6ufx0f2v9xvb3ptpgxj6vpy2 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/547 104 102181 291899 286794 2026-05-11T09:29:22Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291899 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|nguraikan|menguraikan}} pendapat dan saran-saran linguistiknya, berjumlah 25 jilid. Sayang hanya jilid ke-5 sampai dengan ke-10 dan beberapa fragmen masih dapat diperoleh. Disamping Varro kita pun masih mewarisi tokoh tatabahasa Latin yang besar sesudah Varro. Tokoh itu ialah Priscia dengan karyanya <u>Institutiones Grammaticae</u> pada abad ke-5 Masehi. <u>Karya dan Pandangan Varro</u> Varro terlibat dalam perdebatan seperti zaman Stoik di Yunani antara pandangan Analogi dan Anomali, Kiranya dalam buku-bukunya yang ada ia pun membahas hal yang sama. Yulius Caesar, sebelum pergi berperang ke Eropa, telah pula terlibat dalam pertentangan itu. Konon ia meninggalkan sebuah tulisan tentang itu. Gaya Varro kurang begitu menarik akan tetapi problem linguistik yang diajukannya orisinil. Dibandingkan dengan Priscia, Varro kurang begitu berpengaruh. Banyak orang dari zamannya belum mengerti Varro. Buku Varro <u>De Lingua Latina</u> dibagi dalam bidang etimologi, morfologi, dan sintaksis. <u>Etimologi</u>. Dalam bidang etimologi ini Varro mencatat perubahan bunyi dari zaman ke zaman dan perubahan makna dari sebuah kata, walaupun ada beberapa teori atau contoh yang kurang tepat. Ia memberikan contoh perubahan bunyi <u>duellum </u> menjadi <u>bellum</u> = perang. Perubahan makna umpamanya <u>hostis</u> semula berarti <u>orang asing</u>, kemudian berarti <u>musuh</u>. Satu hal yang merupakan kelemahan dalam etimilogi ini, khususnya dalam perbandingan antara bahasa Latin dan Yunani, ialah mengganggap semua kata yang berbentuk sama adalah pinjaman langsung. Kenyataannya ada pula betul-betul bahasa kedua bahasa tersebut harus direkontruksikan kembali kepada satu bahasa purba, seperti Indo Eropa, dengan metode linguistik historis komparatif. Ia memberikan pula etimologi dalam bidang kata primer dan derivasi serta infleksi.<noinclude>{{rh||13 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> dret3o894hwcp6qtbw03v32ek5i4sus Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/324 104 102183 291212 286787 2026-05-10T15:10:05Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291212 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Penurunan aspek dapat diperinci lebih lanjut atau dikurangi sesuai dengan kebutuhan kelas atau murid. Kemantapan skala nilai 'baik sekali', 'baik', 'cukup' atau 'buruk' (atau dengan skala lebih terperinci atau disederhanakan sesuai dengan kebutuhan) sejalan dengan kemantapan wawasan guru penilai terhadap aspek-aspek atau keseluruhan mengarang. {{c|2}} 2.1 {{gap}} Apresiasi puisi adalah suatu proses memekanya kekritisan dan perasaan² seseorang karena banyak bergaul dengan dunia puisi. Kepekaan atau sensitivitas yang tercapai akan melahirkan citarasa atau feeling, suatu kemampuan yang mengkongkrit sebagai perilaku mengerti dan menghargai kehidupan puisi dengan penuh kesadaran dan perasaan mulia: orang itu senang dan sering membaca puisi, membicarakan puisi, suka mengatakan puisi ini menarik dan itu tidak menarik, menghadiri pembacaan puisi, senang menerima pendapat orang lain dengan kritis dan rendah hati, dan berbagai perilaku kongkrit lainnya. Dan pernyataan 'Like all literature, poetry lifts us to a new equilibrium; is it is truly, apreciated, it makes us more aware of life' (Walter Loban dkk, 1961 : 376) tentang peranan puisi pada dasarnya tidak bertentangan dengan rumusan abstrak diatas. {{gap}} Jika anggapan itu dibenarkan, dan apabila tugas mengembangkan citarasa yang berperilaku kongkrit semacam itu sangat penting dalam kegiatan pendidikan, maka pelajaran apresiasi puisi (juga apresiasi sastra umumnya) tidak bisa diabaikan. 2.2 {{gap}} Tapi, apabila ditelaah silabus bahasa Indonesia dalam Rencana Pendidikan dan Pelajaran SMA tahun 1968 dari Direktorat Pendidikan Umum, Kejuruan dan Kursus-kursus, akan ditemukanlah pada kolom 'Bahasa Indonesia' bagian 'Kesusastraan' perincian pelajaran puisi sebagai berikut: '4. Puisi: a. sajak dan irama, b. pembagiannya' untuk kelas I caturwulan 1. Untuk caturwulan 2 dan 3 tidak tersedia. Untuk kelas II caturwulan 1, 2 dan 3 juga tidak tersedia untuk puisi, tapi tersedia<noinclude>{{rh|10}}</noinclude> mha9e91qi1m4mmatrybo1ofzwz7y6sn Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/550 104 102186 291901 286816 2026-05-11T09:30:03Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291901 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude><u>Tatabahasa Priscia</u> (500 Masehi ). Tatabahasa Latin yang paling lengkap dan paling berpengaruh sampai ke tangan generasi-generasi sesudahnya ialah Tatabahasa Priscia. Tatabahasa Priscia inilah merupakan model dan contoh untuk penulisan dan penaekripsian tatabahasa-tatabahasa bahasa-bahasa di Eropa dan dunia lainnya. Mengapa Tatabahasa Priscia sangat penting ? Ada dua sebab dapat dikemukakan disini merupakan tatabahasa bahasa Latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya teori-teori tatabahasanya merupakan tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisionil. Jika disebut tatabahasa tradisionil, maka ialah sumbernya yang utama. Dialah yang memasukkan secara nyata dan pasti <u>semantik</u> sebagai norma utama pembahasan bahasa. Memang ia pun membicarakan segi-segi formil dari bentuk-bentuk bahasa. Tatabahasa Priscia dibagi dalam 18 buku yang tidak sama tebalnya. Ena belas jilid pertama mencakup bidang morfologi dan disebut <u>Priscianus Mayor</u>. Dua jilid/buku yang terakhir membahas bidang sintaksis dan disebut <u>Priscianus Mino</u>. Oleh karena panjangnya buku ini, maka akan kami kutip dan catat beberapa pokok yang penting dari Tatabahasa Priscia ini. <u>Fonologi Priscia</u>. Dalam bidang ini ia membicarakan tulisan atau huruf, a Litterae merupakan bagian yang terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. Nama daripada huruf-huruf ini ialah <u>figurae</u>. Nilai daripada bunyi ini disebut <u>potestas</u>. Ia membedakan pula atau <u>vox arti-kulat</u>, bunyi yang diucapkan untuk membedakan makna; <u>vox inartikulata</u>, bunyi yang tidak diucapkan untuk menunjukkan makna. <u>Vox liteterata</u> ialah bunyi-bunyi yang dapat dituliskan, apakah ia bunyi artikulata atau inartikulata. Akan tetapi bunyi yang disebut <u>vox illiterata</u> ialah bunyi<noinclude>{{rh||16 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> py47lmgmtdlzumes47y7kz6r2rzj5js Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/330 104 102195 291227 286833 2026-05-10T15:16:37Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291227 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{gap}} A - B dapat merupakan skala kesukaran. Selain satuan A dan B dapat disusun satuan yang lain, tergantung pada kebutuhan penilaian. Demikian pula penurunan aspek lebih terperinci atau pengurangan dan skala nilai lebih terperinci atau disederhanakan, Dan kemantapan skala nilai sejalan dengan kemantapan wawasan penilai terhadap aspek-aspek tersebut serta pertaliannya. CATATAN <sup>1</sup>Lihat {{u|Lembaga,}} No. 2, Th. I, Desember 1970, Lembaga Bahasa Nasional. <sup>2</sup>Kira-kira sejalan dengan pengertian 'the process of being critically and emotionally sensitive.' <sup>3</sup>makna lugas = literal meaning <sup>4</sup>pengalaman dria = sensuous or physical experience <sup>5</sup>pengalaman nalar = intelectual experience DAFTAR BACAAN 1. Loban, Walter dkk., {{u|The Teaching Language and Literature.}} Harcourt, Brace & World, Inc., New York, 1961 2. Knickerbocker, K.L. dan H.W, Reringer, {{u|Interpreting Literature}}, revised ed., Holt, Rinehart & Winston, New York, 1963 3. Anderson, V.D, dkk,. {{u|Readings in The Language Arta}}, The Macmillan Co., New York, 1965 4. Hackett, L. dan R. Williamson, {{u|Design for A Composition}}, Harcourt, Brace & World, Inc., New York 1966 5. Daniel, R,W., {{u|A Contemporary Rhetoric.}} Little, Brown & Co., Boston, 1967 6. Green, H.A. dkk, {{u|Measurement and Evaluation in The Elementary Scool}} David Mckay Company, Inc., New York, 1962 7. {{u|Lembaga}} No. 1, Th, I, Oktober 1970, Lembaga Bahasa Nasional, Jakarta 8. {{u|Rentjana Pendidikan S.M.P}}. Dinas S.M.P Direktorat Pendidikan Umum, Kejuruan & Kursus2, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1968<noinclude>{{rh|||16}}</noinclude> 3j7emnu7kd9gfzri4a4kdl3chbobij7 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/332 104 102199 291228 286829 2026-05-10T15:17:07Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291228 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>BEBERAPA PISODE YANG KURANG TERKENAL DALAM CERITERA RAMA Ny. A. Ikram Adalah suatu kebenaran yang tak dapat disangkal atau dihilangkan, bahwa diantara pengaruh-pengaruh yang telah dialami oleh kebudayaan Indonesia, pengaruh Indialah yang terbesar akibatnya terhadap kebudayaan Indonesia. Bangsa India sering membanggakan hal ini sebagai suatu tanda betapa besar keunggulan spirituil mereka terhadap daerah sekelilingnya dan menyebut wilayah pengaruh ini "Greater India". Memang sebagian besar dari unsur kebudayaan yang bernilai dan dijunjung tinggi justru adalah adaptasi atau pengolahan kembali dari unsur kebudayaan India. Hal yang demikian ini terutama dapat dilihat pada ceriter ceritera mengenai Rama yang dalam sastra Melayu disebut Sri Rama dan Sita atau Sita Dewi, yang akan saya bicarakan disini. Perbandingan beberapa versi tertentu telah pernah dilakukan oleh Zieseniss¹ dan yang paling akhir secara umum oleh Singaravelu, dan disini saya tidak akan melakukan hal itu, karena tempat yang terbatas walaupun banyak versi belum ditinjau demikian. Saya justru ingin mengemukakan beberapa episode yang menarik dan membandingkannya dalam beberapa versi, serta menunjukkan berapa banyak sebenarnya segi dari pada ceritera ini, beberapa segi diantaranya menurut pendapat saya belum cukup diperhatikan, dari sudut kemungkinan-kemungkinan seni drama. Di India sendiri ceritera Rama termasuk sastra keagamaan, yang pertama-tama digubah dalam bentuk artistik berbahasa Sanskerta oleh Walmiki. Versi Walmiki inilah yang sangat berpengaruh terhadap ciptasastra-ciptasastra dikemudian hari. Tetapi jauh sebelum Walmiki, ceritera ini hidup sebagai dongeng rakyat. Sastra agama Budha mengenal Dasaratha-jataka yang berisi suatu kisah Rama dan Sita yang agak berbeda dan nanti akan saya kemukakan. Menurut pendapat seorang sarjana, versi Walmiki terdiri dari tiga unsur ceritera rakyat, yang berdiri sendiri,<noinclude>{{rh|||18}}</noinclude> r4yi03pvmbqkar82bk15fmx7ue9ur34 291229 291228 2026-05-10T15:17:46Z Arymuslichudin 24021 291229 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>BEBERAPA PISODE YANG KURANG TERKENAL DALAM CERITERA RAMA Ny. A. Ikram {{gap}} Adalah suatu kebenaran yang tak dapat disangkal atau dihilangkan, bahwa diantara pengaruh-pengaruh yang telah dialami oleh kebudayaan Indonesia, pengaruh Indialah yang terbesar akibatnya terhadap kebudayaan Indonesia. Bangsa India sering membanggakan hal ini sebagai suatu tanda betapa besar keunggulan spirituil mereka terhadap daerah sekelilingnya dan menyebut wilayah pengaruh ini "Greater India". Memang sebagian besar dari unsur kebudayaan yang bernilai dan dijunjung tinggi justru adalah adaptasi atau pengolahan kembali dari unsur kebudayaan India. Hal yang demikian ini terutama dapat dilihat pada ceriter ceritera mengenai Rama yang dalam sastra Melayu disebut Sri Rama dan Sita atau Sita Dewi, yang akan saya bicarakan disini. {{gap}} Perbandingan beberapa versi tertentu telah pernah dilakukan oleh Zieseniss¹ dan yang paling akhir secara umum oleh Singaravelu, dan disini saya tidak akan melakukan hal itu, karena tempat yang terbatas walaupun banyak versi belum ditinjau demikian. Saya justru ingin mengemukakan beberapa episode yang menarik dan membandingkannya dalam beberapa versi, serta menunjukkan berapa banyak sebenarnya segi dari pada ceritera ini, beberapa segi diantaranya menurut pendapat saya belum cukup diperhatikan, dari sudut kemungkinan-kemungkinan seni drama. {{gap}} Di India sendiri ceritera Rama termasuk sastra keagamaan, yang pertama-tama digubah dalam bentuk artistik berbahasa Sanskerta oleh Walmiki. Versi Walmiki inilah yang sangat berpengaruh terhadap ciptasastra-ciptasastra dikemudian hari. Tetapi jauh sebelum Walmiki, ceritera ini hidup sebagai dongeng rakyat. Sastra agama Budha mengenal Dasaratha-jataka yang berisi suatu kisah Rama dan Sita yang agak berbeda dan nanti akan saya kemukakan. Menurut pendapat seorang sarjana, versi Walmiki terdiri dari tiga unsur ceritera rakyat, yang berdiri sendiri,<noinclude>{{rh|||18}}</noinclude> h9nf94ftwbn1ye2np41ldjsx6pd4lc0 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/333 104 102205 291232 286855 2026-05-10T15:18:57Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291232 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>yaitu : 1. Kisah Rama; 2. Kisah Rawana; 3. Kisah Hanuman. Ketiga unsur dongeng itu telah dipadukan menjadi satu ceritera yang selanjutnya dikenal orang sebagai Ramayana.<sup>2</sup> Rama adalah seorang pahlawan khas Arya, sedangkan Rawana di India-Selatan dikenal sebagai seorang raja adil dan bijaksana, dikasihi oleh Dewa dan dianugerahi kesaktian yang luar biasa karena tapanya yang tidak henti-hentinya. Ia berbakti kepada Çiwa selama 300 tahun, ada pula yang mengatakan 1000 tahun. Hanuman dikenal dibeberapa daerah India dalam kultus kera yang sangat tua. Teladan yang diberikan oleh Walmiki dalam menggubah ceritera ini kemudian diikuti oleh berpuluh-puluh pujangga yang lain. Ada sarjana India yang berpendapat bahwa yang mereka lakukan tidak lebih dari menyadur atau meniru apa yang telah dilakukan oleh Walmiki. Lepas dari pendapat itu dapatlah kita melihat bahwa ceritera Rama telah menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan karyaseni-kaseni yang mempunyai nilai tinggi. Setiap bahasa di India mempunyai versinya sendiri, dipadukan dengan unsur-unsur dongeng atau kultus setempat. Setiap sekte mempunyai versinya sendiri sesuai dengan pendirian agamanya. Saya sebutkan disini beberapa pengarang yang telah menggubah ceritera Rama yang terkenal di jaman lampau, yaitu : Kamban, Bhattikawya, Ksemendra dan Tulsidas. Disamping itu yang terkenal ialah Adhyatma Ramayana, Adbhuta-Ramayana, Ananda-Ramayana dan masih berpuluh yang lain, baik ia berbentuk keseluruhan maupun hanya episode, yang berupa drama, prosa ataupun puisi. {{gap}} Jelaslah bahwa di India sendiri versinya ada bermacam-macam. Bagaimana keadaannya di Indonesia yang telah memanfaatkan ceritera itu dan menganggapnya sebagai milik sendiri? {{gap}} Seperti halnya di India, di Indonesia terdapat pula beberapa versi, walaupun jumlahnya tidak sebanyak di India. Untuk jelasnya kita tinjau disini ceritera-ceritera Rama yang dikenal diIndonesia. #<li value="1">Kakawin Ramayana yang digubah dalam bahasa Jawa-kuno dalam bentuk puisi. Gubahan ini menurut sarjana Indonesia³ berasal dari abad ke-9 dan merupakan terjemahan atau saduran dari buku {{hws|Ra|Rawanawadha}}<noinclude>{{rh|||19}}</noinclude> 6egcurzbm7byvh3l5prttreaolhqpfk Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/334 104 102211 291236 286852 2026-05-10T15:20:29Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291236 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>::wanawadha karangan Bhattikawya. Mengenai Kakawin ini telah banyak sekali ditulis baik tentang bentuk dan gayabasanya, maupun mengenai isinya oleh sarjana-sarjana yang ternama sehingga tidak perlu kita berpanjang lebar mengenainya. #<li value="2">Ceritera Rama yang dilukiskan pada tembok Candi Çiwa dikompleks Prambanan, yang oleh De Casparis dibuktikan berasal dari abad ke-10. Tanggal ini tidak jauh dari tanggal Kakawin diatas, tetapi ternyata isinya banyak menunjukkan perbedaan. #<li value="3">Ceritera Rama pada tembok Candi Panataran di Jawa-Timur. Walaupun yang digambarkan isini hanya sebagian kecil, yaitu mulai dari perjalanan Hanuman ke Langka dapatlah dibuktikan bahwa jalan ceriteranya sesuai dengan Kakawin. #<li value="4">Hikayat Sri Rama, yang manuskripnya yang tertua berasal dari abad ke-17.⁴ Hikayat ini sebenarnya mempunyai beberapa versi, tetapi untuk keperluan kita sementara dapat dibicarakan sebagai satu kesatuan. Naskah yang tertua, yang sekarang ada di negeri Inggris itu sebenarnya mungkin bukan berisi bentuk ceritera yang tertua, tetapi hal ini pada waktu sekarang belum dapat saya buktikan; yang jelas ialah bahwa melihat episode-episode yang tertentu dalam perbandingannya dengan versi-versi India, ternyata pengaruh India tidak terwujud satu kali saja dalam Hikayat Sri Rama, melainkan beberapa kali, #<li value="5">Serat Rama atau serat Rama Jarwa saduran Jasadipura dari pada Kakawin kedalam bahasa Jawa Baru, yang banyak berpengaruh ke dalam wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang. #<li value="6">Serat Kanda dan Rama Keling merupakan dua versi Jawa Baru yang lain. :Disamping itu masih ada bagian-bagian yang tersendiri seperti Uttarakanda atau Lokapala dan relief Jalatunda yang kami sebut sepintas lalu saja. {{gap}} Oleh karena jalan ceritera yang umum dikenal sebenarnya<noinclude>{{rh|||20}}</noinclude> 7z53v7p70p5b28t0zhsfm8ptf56t5gv Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/336 104 102217 291240 286879 2026-05-10T15:21:27Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291240 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>atas Mandudaki adalah manusia tiruan dari Mandudari, istri Dasarata, ibu Rama, seorang putri yang lahir dari buluh betung dan seperti ternyata dalam ceritera selanjutnya keduanya adalah identik, sehingga sebenarnya Rama dan Sita adalah saudara seibu dan seayah. Peristiwa ini dibawakan dengan cara yang khas, yaitu perantara yang mempertemukan Dasarata dan Mandudaki ialah Nenek Kebayan, tokoh yang tentunya tidak kita temukan dalam versi India. Nenek Kebayan ini seorang tokoh yang terdapat dalam banyak ceritera romantis seperti Hikayat Indranata, Hikayat Indraputra dan Hikayat Si Miskin.⁸ Dalam Hikayat Sri Ramapun ia muncul dengan sifat-sifatnya yang khas, yaitu sebagai perantara percintaan dan berhubungan dengan kebun bunga. Dalam hikayat episode ini adalah sebagai berikut : Ketika Rawana yang selalu bersaingan dengan keturunan Dasarata mendengar bahwa Dasarata telah memperoleh seorang putri dari buluh betung, dan kabar mengatakan bahwa ia luar biasa cantiknya, ia memutuskan untuk meminta putri itu. Dengan mengendarai kereta terbangnya yang bernama Jaladara ia pergi ke istana Dasarata dengan menyamar sebagai seorang brahmana. Zisana ia memainkan biola dengan sangat merdunya, sampai Dasarata, yang segera mengenal identitas tamunya yang sebenarnya, keluar dan menanyakan apakah tujuan kedatangannya itu. Setelah ia mendengarnya. Dasarata menjanjikan akan meluluskan permintaan itu, dan ia masuk untuk memberitahukan keputusannya itu kepada permaisurinya, Mandudari. Dengan alasan bahwa ia akan mandi dan berlimau dahulu, Mandudari masuk kedalam. Diambilnya kotoran dari kulitnya dan dibuatnya bulatan kecil yang kemudian dipujanya. Kotoran itu menjadi katak hijau dan kemudian menjadi seorang putri yang rupanya tepat seperti dia dan diberinya nama Mandudaki. Putri jadian inilah yang kemudian diserahkan kepada Rawana. Semua kejadian ini tidak diketahui oleh Dasarata. Setelah ia mendengarnya, maka ia menyusul ke Langkapuri untuk menemui Mandudaki. Dari pertemuan inilah lahir Sita Dewi.<sup>9</sup> {{gap}} Unsur bahwa Dasarata adalah ayah Sita tidak diketemukan dalam versi-versi India, baik epos maupun ceritera rakyat kecuali<noinclude>{{rh|||22}}</noinclude> t4q9hmy3urebvlnyfo8ltq0tfr63355 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/337 104 102222 291241 286931 2026-05-10T15:22:40Z Arymuslichudin 24021 291241 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Radramboo" /></noinclude>dalam Dasaraha-jataka, dimana digambarkan bahwa Rama dan Sita keduanya putra Dasarata yang dengan sukarela mengasingkan diri ke hutan. Dalam jataka ini yang dikemukakan ialah ketenangan jiwa Rama sebagai bodhisattva atau Calon Buddha dalam menghadapi kematian orang tuanya.<sup>9</sup> Dalam ceritera-ceritera India, terutama yang berasal dari Selatan Rawanalah ayah Sita yang membuangkannya berdasarkan ramalan bahwa ia nanti akan mencelakakan ayahnya. Dalam wayang terdapat ceritera yang serupa ini, dan Sita dihanyutkan dalam sebuah "kupat Sinta". {{gap}} Dalam sebagian naskah hikayat ada sebuah ceritera yang dengan beberapa perbedaan terdapat juga dalam opos. Ketika Rama telah meninggalkan Ayodhya dan Dasarata dalam kesedihan ia ingat bahwa ketika ia belum menjadi raja, ia telah dikutuk oleh seorang brahmana karena membunuh anaknya, walaupun pembunuhannya itu tidak disengaja, melainkan karena disangkanya gajah. Kutukan itu berbunyi bahwa ia akan merasakan juga kesedihan yang tidak terobati karena mengenang seorang anak yang baik budi. {{gap}} Ceritera ini dalam versi-versi Rama India yang lain tidak ada dan lakon-lakon wayang juga tidak menyebutkan kejadian ini karena memang hanya merupakan suatu renungan dari-pada masa lampau Dasarata. Tetapi ada suatu jataka yang berisi ceritera ini dengan nama-nama lain, yaitu Sama jataka. {{gap}} Salah satu unsur yang menyangkut jalan ceritera dan yang menyimpang dari pada yang biasa ialah pengasingan Rama atas kemauannya sendiri. Ini terdapat dalam sementara naskah hikayat.¹¹ Peristiwa yang biasanya digambarkan dengan penuh drama itu disini tidak ada. Takada kedengkian Kekayi dan intriknya untuk menyingkirkan Rama atau kesedihan Dasarata mengenai kejadian itu. Ia pergi karena hendak mengembara. Kecuali dalam Dasarata-jataka yang sudah saya sebutkan diatas, jalan ceritera semacam itu terdapat pula dalam beberapa ceritera Rama di India yaitu Adbhuta-Ramayana dan Ramayana karangan Vimala Suri¹² dan dalam Rama-jataka Lao, sehingga ternyata bahwa unsur yang biasanya dianggap begitu esensiil untuk perkembangan ceritera, yaitu alasan Rama dibuang, tidak perlu ada. Sepanjang pengetahuan saya dalam<noinclude>{{rh|||23}}</noinclude> cfx187q3hz4uhmuk6u5qh7c7dvjecjx Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/85 104 102225 291280 286885 2026-05-10T15:56:38Z Upiak Ituih 27011 /* Tervalidasi */ 291280 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Upiak Ituih" /></noinclude><div style="text-align:left; margin-top:3em;"> <span style="font-size:300%; font-family:serif; letter-spacing:3px;">'''BAHASA'''</span><br /> <div style="margin-top:1em; text-align:center; font-size:150%;">dan</div> <span style="font-size:300%; font-family:serif; letter-spacing:3px;">'''KESUSASTRAAN'''</span> </div> <div style="text-align:right; margin-top:3em;"> <span style="font-size:90%; font-family:serif; letter-spacing:3px;">NO. 3{{Gap}}{{Gap}}Th. I 1968</span> {{Rule}} <div style="margin-top:6em; text-align:center; font-size:90%;"> ''diterbitkan oleh :'' <div style="margin-top:0.5em; letter-spacing:2px;"> DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRAAN<br /> DITDJEN KEBUDAJAAN<br /> DEPARTEMEN P. dan K.<br /> D J A K A R T A </div><noinclude></noinclude> ffu5klzmxorel7w7p8m6rbm3fl93efq Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/262 104 102244 292009 286917 2026-05-11T11:30:52Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 292009 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{c|{{xx-large|BAHASA DAN KESUSASTRAAN}}}} {{c|{{big|''Majalah Duabulanan''}}}} {{c|MEMUAT MASALAH BAHASA/KESUSASTRAAN INDONESIA DAN DAERAH}} <small>{{c|Diterbitkan oleh}}</small> <big>{{c|'''LEMBAGA BAHASA NASIONAL'''}}</big> {{c|{{sp|DIREKTORAT DJENDRAL KEBUDAJAAN<br> DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAJAAN}}}} {{c|________________}} {| style="border:none" |- | Pemimpin Umum || : || Dra. Ny. S.W. Rudjiati Muljudi |- | Pemimpin Redaksi || : || Drs. Lukman Ali |- | Staf Redaksi ||:|| Drs. H. B. Jassin |- | || ||Drs. S. Effendi |- | || ||Drs. Djajanto Supra |- | Redaksi Pelaksana || : || Adun Sjubarsa M. Supardja |- | Pembantu Redaksi || : || Para Ketua Bidang dan Kepala Cabang Lembaga Bahasa Nasionol |- | Administrasi || : || Perpustakaan Lembaga Bahasa Nasional |- |valign="top"|{{sp|Alamat}} ||valign="top"| : || Djl. Diponegoro 82 (atas) Jakarta <br> Telepon 81459 - 82669 - 82554 <br> Kotakpos 2625 Jakarta. {{c|____________}}<noinclude></noinclude> ftsao13gasx9cbxuvqboft3vbr7arpa Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/314 104 102245 291203 286918 2026-05-10T15:03:30Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291203 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{c|{{xx-large|BAHASA DAN KESUSASTRAAN}}}} {{c|{{big|''Madjalah Duabulanan''}}}} {{c|MEMUAT MASALAH BAHASA/KESUSASTRAAN INDONESIA DAN DAERAH}} <small>{{c|Diterbitkan oleh}}</small> <big>{{c|'''LEMBAGA BAHASA NASIONAL'''}}</big> {{c|{{sp|DIREKTORAT DJENDRAL KEBUDAJAAN<br> DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAJAAN}}}} {{c|________________}} {| style="border:none" |- | Pemimpin Umum || : || Dra. Nj. S.W. Rudjiati Muljudi |- | Pemimpin Redaksi || : || Drs. Lukman Ali |- | Staf Redaksi ||:|| Drs. H. B. Jassin |- | || ||Drs. S. Effendi |- | || ||Drs. Djajanto Supra |- | Redaksi Pelaksana || : || Adun Sjubarsa M. Supardja |- | Pembantu Redaksi || : || Para Ketua Bidang dan Kepala Cabang Lembaga Bahasa Nasionol |- | Administrasi || : || Perpustakaan Lembaga Bahasa Nasional |- |valign="top"|{{sp|Alamat}} ||valign="top"| : || Djl. Diponegoro 82 (atas) Jakarta <br> Telepon 81459 - 82669 - 82554 <br> Kotakpos 2625 Jakarta. {{c|____________}}<noinclude></noinclude> cd2xy5tr0m497tydvxlqd4k5aft4vak Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/554 104 102251 291903 286937 2026-05-11T09:32:57Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291903 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>ISKANDAR ZULKARNAIN SEBAGAI ASAL KETURUNAN RAJA-RAJA MELAYU DALAM NASKAH BERISI SEJARAH Mr Djanario Lembaga Bahasa Nasional, Jakarta Dalam <u>Tambo Minangkabau</u> diceriterakan, bahwa Iakandar Zulkarnain adalah asal keturunan Raja Minangkabau. Diceriterakan bahwa Iskandar Zulkarnain itu adalah anak Nabi adam yang bungsu. Tuhan memerintahkan pada malaikat untuk mengambil seorang bidadari dari sorga untuk istrinya. Dari perkawinannya itulah lahir tiga orang putranya, yaitu Sutan Sari Maharaja Alif yang jadi raja di benua Rum, Sutan Sari Maharaja Depang yang jadi raja di benua Cina dan yang bungsu Sutan Sari Maharaja Diraja yang menjadi raja di pulau Perca, yang pusat pemerintahannya di Pagaruyung Minangkabau ini.¹ Cerita tersebut di atas tidak saja dapat kita jumpai dalam Tambo Minangkabau, juga terdapat dalam pendahuluan Undang-undang adat Minangkabau² dan juga sering diucapkan dalam pidato-pidato adat untuk menunjukan kebesaran kerajaan Minangkabau pada zaman dahulu. Cerita ini amat populer di kalangan rakyat. Sebelum kita memberikan interpretasi terhadap salah satu episode dalam tambo ini, baiklah terlebih dahulu kita tinjau secara singkat kedudukan Iskandar Zulkarnain dalam kesusastraan Indonesia lama khususnya dan dalam kesusastraan dunia pada umumnya. Dalam kesusastraan Indonesia lama nama Iskandar Zulkarnain sudah tidak asing lagi. Iskandar Zulkarnain merupakan tokoh historis dan legendaris yang sudah terkenal di dunia, terutama Asia dan Eropa. Secara historis in hidup tahun 356 — 323 S.M.³ Ia menjadi raja di Macedonia pada tahun 336 — 323 S.M. Kisahnya sebagai raja Macedonia ini telah disusun oleh Harold Lamb dalam sebuah buku yang berjudul <u>Alexander of Macedon</u>. Bantam books, New York 1946.<sup>4</sup> Ia adalah<noinclude>{{rh||20 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> iom88x506ouqetitjf6lkldl1vk3ezb Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/555 104 102253 291905 286946 2026-05-11T09:33:57Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291905 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>ahli peperangan terbesar yang pernah hidup, penyelidik daerah-daerah yang tiada taranya dan memiliki kekaisaran yang mahajaya. Riwayat hidupnya pada mulanya disusun oleh Callisthenes salah seorang pengiringnya. Kemudian riwayat hidupnya itu banyak dipalsukan orang, ditambah orang dengan ceritera-ceritera lain yang berisi banyak fantasi, sehingga riwayatnya yang scaungguhnya kabur. Riwayatnya yang dipalsukan inilah yang disebut Psedo Callisthenes. Riwayatnya itu kemudian merupakan kumpulan berbagai legende yang terdapat di kalangan rakyat di berbagai daerah Asia dan Eropa. Ceritera mengenai Iskandar ini diduga telah ada sejak tahun 300 S.M. dan ceriteranya secara lengkap kira-kira pada tahun 200 S.M. Di Barat ceritera mengenai Iskandar ini terdapat dalam bahasa Latin, Perancis kuno, Inggris, Perancis, Belanda, Itali, Skandinavia dan Yunani Modern. Sedang di Timur cerita mengenai Iskandar ini terdapat dalam bahasa Syria, Parsi, Abbysinia, Ibrani, Turk, Urdu, Mesir Lamo, Mongolin, Cina, Melayu Kuno dan sebagainya.<sup>5</sup> P.J. van Leauwen pernah menyelidiki perkembangan roman Iskandar Zulkarnain ini yang disusunnya dalam bentuk disertasi, berjudul "De Maleische Alexander Roman", Utrecht, Meppel, 1937. Di Museum Pusat Jakarta dapat kita jumpai 3 buah naskah yang berjudul <u>Hikayat Iskandar Zulkarnain</u>, yang berbahasa Melayu dengan tulisan Arab-Melayu. Masing-masing bernomor v.d.W. 112, v.d.W. 113 dan M1. 1.<sup>6</sup> Untuk lebih jelasnya baiklah kami kutipkan permulaan dari Hikayat Iskandar Zulkarnain yang bernomor v.d.W. 113 berbunyi : "Wabihi nastainu billahi ala. Ini Raja Iskandar anak dari cucu Raja ahman di negeri Rum yang disebutkan Allah Subhanahu wa Taala di dalam Kur'an al-azim Zulkarnain ayatnya yang mempunyai dua tanduk diperbuatnya {{hws|ma|manikam}}<noinclude>{{rh||21 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> i59b5cvh9rez4upgezfrkklvdoi09ev Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/556 104 102254 291906 286950 2026-05-11T09:34:35Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291906 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|nikam|manikam}}. Maka firman Allah Subhanahu wa Taala "Yas alunaka an Zilkarnain, qala saatlu alaikum min Zilkarnain". Sebermula telah ditanyai segala Yahudi akan dikau ya Muhammad dari pada segala hikayat Zulkarnain perinya in menjalani segala pihak bumi dari magrib datang ke masyrik. Kata olehmu ya Muhammad, bagi akan aku hikayatkan kepada kamu ceritanya peri menjalani segala bumi, kata. alhadis sahaja ada hikayatnya pada kaum Yahudi dan kepada kaum Ajam dan kuasa di dalam benua Rum. Maka lalu dihikayatkan oleh Nabi Allah segala hikoyat borang tiada di dalam hikayat mereka itu." Dari kutipan di atas dapat kita ketahui, bahwa kisah Iskandar Zulkarnain juga terdapat dalam Al Kur'an. Setelah kita selidiki ternyata bahwa kisah Zulkarnain ini memang terdapat dalam Al Kur'an surat yang ke 18, yaitu surat Al Kahfi ayat 83 sampai ayat 101. Agaknya ayat-ayat Al Kur'an inilah salah satu sumber untuk menyusun Hikayat Iskandar Zulkarnain itu seperti ternyata dari kutipan di atas. Iskandar Zulkarnain dianggap oleh orang Islam sebagai pahlawan pra Islam. Perhatikanlah permulaan kisah Zulkarnain ini dalam ayat 83 dan 84. surat Al Kahfi ini, yang berbunyi : {{ol|start=83 |“Mereka bertanja kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah, "Aku akan batjakan kepadamu tjerita-tjerita tentangnja”. |Sesungguhnja Kami telah memberi kekuasaan kepadanja di (muka) bumi dan Kami telah memberikan kepadanja djalan untuk mentjapai segala sesuatu. }} Demikianlah dua ayat dari 19 ayat yang ada dalam Al Kur'an tentang kisah Zulkarnain. Naskah lain tentang Hikayat Iskandar Zulkarnain ini juga terdapat di perpustakaan Universiteit Leiden, salah satu diantaranya berdasarkan micro-card bernomor Codex Orientalis 1596, telah di terbitkan di Kuala Lumpur atas usaha. Khalid Husain, penerbit Dewan Bahasa dan Pustaka, 1967. Dalam hikayat ini diceriterakan bahwa Iskandar Zulkarnain inlah anak Raja Darab Rumi, Raja Qilas dan Raja Dawab Parsi. Suatu sumber yang lain menyebutkan bahwa ia anak Raja Qilas<noinclude>{{rh||22 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> f86nosmx2vasg23lkhy6m8tixftxqvo Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/558 104 102256 290811 286953 2026-05-10T12:05:43Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 290811 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>"Maka pada masa yang berbahagia dan pada ketika yang mulia, maka paduka Sri Sultan Iskandar Thani Allaudin Maghayat Shah pun datanglah dari negeri Pahang ke negeri Aceh Darus-Salam. Tatkala itu, umor baginda tujoh tahun. Demi ditilik Raja Iskandar Muda akan Sultan Alaudin Maghayat She.., maka kelihatanlah chahaya segala kebagagiaan pada mukanya dan segala sifat yang tiada terperi kepujiannya. Maka diketahui Raja Iskandar Muda adalah dengan ilmu firasatnya: bahwasanya ialah Raja Ad-Diraja yang turun temurun dan ialah yang termashhor namanya pada segala alam dan ialah anak chuchu Raja Iskandar Dzu'l-Karnain. Maka seharusnyalah ialah kuambil akan anakku".11 Dari uraian di atas dapatlah kita mendua apa latar belakang pengarang-pengarang lama memasukkan legende Iskandar Zulkarnain dalam penulisan sejarah lama. Hal ini tidak lain keinginan menghubung-hubungkan kebesaran Raja Iskandar Zulkarnain dengan raja-raja mereka dan menyamakan kedudukan raja-rajanya dengan raja di negeri Rum dan negeri Cina yang sudah terkenal sejak dahulu, seperti yang kita baca dalam Tambo Minangkabau tersebut di atas. Salah satu tujuan penulisan yang demikian ialah untuk mengagung-agungkan dan memulyakan kedudukan raja. Bahwa rajanya berasal dari keturunan raja besar di dunia, bahkan ada pula yang menghubungkan dengan dewa-dewa dari kayangan. Bagi masyarakat dulu geneologi memegang peranan penting. Keturunannya inilah yang menentukan posisinya dalam masyarakat. Dengan menceriterakan garis keturunan raja yang istimewa ini raja dalam pandangan masyarakat dianggap sebagai oang yang istimewa dan luar biasa, karena memiliki goria keturunan yang tinggi, sehingga tidak ada orang lain yang menyamainya. Raja digambarkan sebagai tokoh yang mempunyai magic power suatu kekuatan yang luar biasa, karena segala kekuasaan pada zaman dahulu terpusat pada diri raja. Raja harus didewa-dewakan, supaya ia memiliki wibawa dan moril yang tinggi di mata masyarakat, sehingga in benar-benar dihormati oleh rakyatnya. Inilah salah satu tujuan penulis sejarah {{hws|da|dalam}}<noinclude>{{rh||24 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> m2map45o53gtgzld0h2iksl6kc8bgze 291910 290811 2026-05-11T09:37:27Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291910 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>"Maka pada masa yang berbahagia dan pada ketika yang mulia, maka paduka Sri Sultan Iskandar Thani Allaudin Maghayat Shah pun datanglah dari negeri Pahang ke negeri Aceh Darus-Salam. Tatkala itu, umor baginda tujoh tahun. Demi ditilik Raja Iskandar Muda akan Sultan Alaudin Maghayat She.., maka kelihatanlah chahaya segala kebagagiaan pada mukanya dan segala sifat yang tiada terperi kepujiannya. Maka diketahui Raja Iskandar Muda adalah dengan ilmu firasatnya: bahwasanya ialah Raja Ad-Diraja yang turun temurun dan ialah yang termashhor namanya pada segala alam dan ialah anak chuchu Raja Iskandar Dzu'l-Karnain. Maka seharusnyalah ialah kuambil akan anakku".11 Dari uraian di atas dapatlah kita mendua apa latar belakang pengarang-pengarang lama memasukkan legende Iskandar Zulkarnain dalam penulisan sejarah lama. Hal ini tidak lain keinginan menghubung-hubungkan kebesaran Raja Iskandar Zulkarnain dengan raja-raja mereka dan menyamakan kedudukan raja-rajanya dengan raja di negeri Rum dan negeri Cina yang sudah terkenal sejak dahulu, seperti yang kita baca dalam Tambo Minangkabau tersebut di atas. Salah satu tujuan penulisan yang demikian ialah untuk mengagung-agungkan dan memulyakan kedudukan raja. Bahwa rajanya berasal dari keturunan raja besar di dunia, bahkan ada pula yang menghubungkan dengan dewa-dewa dari kayangan. Bagi masyarakat dulu geneologi memegang peranan penting. Keturunannya inilah yang menentukan posisinya dalam masyarakat. Dengan menceriterakan garis keturunan raja yang istimewa ini raja dalam pandangan masyarakat dianggap sebagai oang yang istimewa dan luar biasa, karena memiliki goria keturunan yang tinggi, sehingga tidak ada orang lain yang menyamainya. Raja digambarkan sebagai tokoh yang mempunyai magic power suatu kekuatan yang luar biasa, karena segala kekuasaan pada zaman dahulu terpusat pada diri raja. Raja harus didewa-dewakan, supaya ia memiliki wibawa dan moril yang tinggi di mata masyarakat, sehingga in benar-benar dihormati oleh rakyatnya. Inilah salah satu tujuan penulis sejarah {{hws|da|dalam}}<noinclude>{{rh||24 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 06jjr4bbw2twj66xzyg9za77o2dwygw Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/338 104 102258 291242 286972 2026-05-10T15:24:08Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291242 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>lakon wayangpun penyimpangan ini tidak ada. Dalam epos justru bagian ini digambarkan dengan sangat indah dan mengharukan oleh karena kesedihan Dasarata dan Kausalya kehilangan putranja yang dikasihi. {{gap}} Hanuman sebagai salah satu tokoh utama yang disayangi telah mendapat pensifatan yang tidak selalu sama, di Indonesia dan di India. Pertama-tama tentang asal-usulnya : Semua naskah Hikayat menekankan bahwa ia putra Rama atau Wisnu sedangkan Bayu hanya menjadi perantara dalam kejadiannya. Sesuatu yang agak lucu ialah bahwa sebenarnya Rama tidak mau mengakuinya walaupun Hanuman telah membuktikannya dengan anting-anting yang dipakainya. Syarat yang diminta oleh Rama ialah agar ia pergi membawa surat ke Langkapuri. Setelah itu barulah Rama menerimanya. Sebaliknya Hanuman mengemukakan syarat agar ia boleh makan sedaun dengan Sri Rama. Disitu diceriterakan bahwa kuku Hanuman kotor dan hitam; Rama merasa jijik melihatnya. {{gap}} Alasan mengapa Hanuman dilahirkan sebagai kera tidak selalu sama. Sementara naskah Hikayat mengisahkan bahwa pada saat itu Rama dan Sita, yaitu ayah-bundanya berupa kera, karena telah mandi dalam sebuah telaga larangan. Yang lain menceriterakan bagaimana ketiga bersaudara Bali, Sugriwa dan Anjani terkena kutukan ayah-bundanya. Bali dan Sugriwa menjadi kera dan Anjani harus menjalankan tapa. Tetapi disitu tidak pernah disebut bahwa Anjani, yaitu ibu Hanuman sendiripun menjadi kera, malahan menurut ceriteranya dalam hikayat Rama/Wishnu menjadi nafsu berahinya karena melihat kecantikannya ketika ia bertapa diatas jarum ditengah lautan dengan mulut ternganga, menjalankan kutukan iburnya. {{gap}} Kisah kelahiran Hanuman sebagai suatu ceritera tersendiri berisi banyak unsur yang menarik dan mengharukan, yaitu mulai dari kisah Bagawan Gotama sekeluarga, kakek Hanuman, sampai pada ia mencari ayahnya. Ini juga hanya dapat dijumpai dalam ceritera Rama di Indonesia. Hanuman sendiri dalam sifat-sifatnya menunjukkan hubungan dengan Vidhyadhara yang juga disebut putra. angin.<sup>13</sup> Sifat-sifat tersebut ialah, kemampuan terbang, {{hws|ber|berganti}}<noinclude>{{rh|||24}}</noinclude> a8q8xcretdo5199tatj2tsy694o6ut7 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/339 104 102259 291244 286981 2026-05-10T15:25:19Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291244 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|ganti|berganti}} rupa dan bersihir, dan ini terkenal juga dalam pewayangan. Walaupun demikian dapatlah kita pastikan bahwa unsur-unsur ceriteranya sudah ada di India. Dalam ceritera Purana ada kisah bahwa Ciwa dan Uma menjadikan Hanuman ketika keduanya berupa kera inilah yang mungkin menjadi prototipe dari satu versi. Dalam epos Hanuman adalah anak Anjana dan Bayu yang ditinggalkan karena Anjana bersuamikan Kesarin, raja di Sumeru tetapi tak pernah disebutkan bahwa Wishnu ada hubungannya dengan dia kecuali dalam Ananda Ramayana, dimana dikatakan bahwa Anjani mengandung setelah makan payasa, yaitu semacam makanan upacara dari Wishnu.<sup>14</sup> {{gap}} Pada dinding Candi Prambanan terdapat suatu relief yang jika dicari dalam Kakawin tidak akan terdapat, yaitu lukisan yang menggambarkan seekor kera yang duduk di atas pohon sedangkan di bawahnya berdiri seorang jana memegang bambu tempat air (bumbung). Relief ini mengisahkan suatu episode yang penting dalam Hikayat. Ketika Balia ataua Baliaraja dan Sugriwa memperebutkan tahta kerajaan Lagura katagina, yaitu yang dalam epos disebut Kishkindha, Sugriwa dikalahkan dan dilemparkan jauh; akhirnya ia jatuh tersangkut keatas pohon; tak dapat melepaskan diri. Karena sedihnya ia menangis dan air matanya jatuh kebawah menjadi sungai kecil. Sementara itu Laksamana yang disuruh mencari air oleh Rama tiba di tempat itu dan ditampungnya air mata Sugriwa, yang disangkanya air biasa. Ketika terasa asin, Rama dan Laksamana mencari sebabnya dan bertemulah mereka dengan Sugriwa. Demikianlah terjadinya persekutuan antara Sugriwa dan Rama yang begitu penting artinya untuk kejadian-kejadian selanjutnya. {{gap}} Selain dalam kedua versi diatas, yaitu Hikayat dan Prambanan, saya tidak berhasil menemukan detail ini dalam ceritera lain mungkin dalam salah satu lakon wayang ada, tetapi karena merupakan suatu unsur detail, boleh jadi tidak disebut. Lemparan kepohon ada dalam lakon tetapi mengenai air mata tidak terdapat. {{gap}} Ada lagi suatu bagian ceritera yang dalam Hikayat merupakan suatu unsur yang tetap, yaitu pembunuhan anak Surapandaki<noinclude>{{rh|||25}}</noinclude> cpjaclstyi7sw6ogl3beifykyaqap6e Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/340 104 102260 291245 287026 2026-05-10T15:26:26Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291245 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>atau Surapendiki (Curpanakha, Sarpakenaka) oleh Leksmana. {{gap}} Surapendiki, saudara Rawana yang perempuan, bersuamikan Bargasinga, seorang panglima kepercayaan Rawana. Waktu Rawana pergi meninggalkan kerajaan Langkapuri untuk merebut Mandudari, penjagaan kotanya diserahkan kepada iparnya itu. Cara Bargasinga menjaga ialah dengan melingkarkan lidahnya yang sangat panjang mengelilingi tembok kota Langkapuri. Ketika pulang, lidah iparnya itu dipotongnya dengan pedang, karena mengganggu jalannya dan dengan demikian ia menyebabkan kematiannya tanpa disadarinya. {{gap}} Dalam kesedihan hatinya Surapendiki menceri terakan hal ini kepada anaknya Darsasunga, yang karen kesaktian dan kekuasaan Rawana tidak mungkin akan dapat membalas kematian ayahnya itu. Dengan hati yang dendam anak itu pergi bertapa dalam sebuah pohon dekat tempat dimana Rama, Sita dan Laksamana diam dalam pengasingan di hutan. Akhirnya pertapaan anak Surapendiki terkabul oleh Dewa dan turunlah sebuah pedang candrawali untuknya. Kebetulan tepat pada waktu itu Laksamana sedang berjalan dekat tempat itu, maka pedang itu ditangkapnya dan kemudian dicoba kekuatannya pada pohon-pohon disekelilingnya. Anak Surapendiki ikut mati terpotong kepalanya, tanpa disadari oleh Laksamana. Kejadian ini juga yang kemudian dilaporkan oleh Surapendiki kepada Rawana ketika ia menunutut balas terhadap Laksamana. {{gap}} Ceritera Rama India tidak ada yang menyebut kejadian ini kecuali Ramayana Jaina. Ditempat lainpun ia tidak terdapat. Dalam epos, Candrahasa adalah pedang Rawana yang diperoleh dari Ciwa. {{gap}} Demikianlah telah saya kemukakan beberapa bagian dari Hikayat Sri Rama yang mungkin tidak berapa dikenal dan pada waktu sekarang belum pernah atau jarang dipentaskan kecuali ceritera Bagawan Gotama dan anak-anaknya, yaitu dalam Kisah Cupu manik Astagina. Pergelaran ceritera Rama yang paling terkenal dewasa ini telah menjadi versi tetap. Alangkah baiknya dan menambah variasi jika versi-versi lain, khususnya yang bersifat Indonesia juga diperkenalkan kepada khalayak ramai.<noinclude>{{rh|||26}}</noinclude> tbs4kndsd0zbxli2qlyg7874owdk362 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/341 104 102261 291250 287095 2026-05-10T15:28:17Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291250 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{u|{{sp|CATATAN}}}} 1. Zieseniss, A., {{u|Die Rama-Sage bei den Malaien}}, {{u|ihre Herkunftund}} {{u|Gestaltung}}, Hamburg, 1928. 2. Sen, D.Ch., {{u|The Bengali Ramayanas}}, Calcutta, 1920. 3. Poerbatjaraka, R.Ng. dan Tardjan Hadidjaja, {{u|Kepustakaan Djawa. Djakarta}}, 1952, hal.2. 4. Shellabear, W.G., Hikayat Seri Rama. Introduction to the text of the M.S. in the Bodleian Library at Oxford. J.R.A.S. Straits Branch no. 70, 1917, hal. 182. 5. Stutterhein, W.F., {{u|Rama-Legenden und Rama-Reliefs in Indonesia}}. 2 djl. Munchen, 1925, hal. 81 dst. 6. Kats, J., {{u|Het Javaansch Toneel-Wajang Poerwa.}} Weltevreden, 1923, hal. 206. 7. Ras, J.J., {{u|Hikajat Bandjar.}} A study in Malay historiography. The Hague, 1968, hal. 81 dst. 8. Rassers, W.H., Kabajan {{u|B.K.I.}} 100 (1941). 9. Naskah Hikajat Sri Rama B.G. 136 dan Leiden cod. Or. 3248. 10. Baumgartner, Alexander, S.J., {{u|Das Ramayana und die Rama-Literatur der Inder,}} Freiburg in Breisgau, 1894. 11. B.G. 78 dan Schoemann V/4. 12. Kulkarni, V.M., {{u|The Rama-version of Sanghadasa.}} 13. Luders, Heinrich, Die Vidyadharas in der buddhistischen Literatur. Zeitschrift der deutsche morgenlandische Gesellschaft. Djl. 93, 1939, hal. 89. 14. Bulcke, Father, Ramakatha. Allahabad, 1950. {{sp|DAFTAR PUSTAKA}} Kats, J., {{u|Het}} {{u|Javaanse}} {{u|Toneel}}. Weltevreden 1923. Luders, Heinrich, {{u|Die}} {{u|Vydyadharas}} {{u|in}} {{u|der}} {{u|budhistischen}} {{u|Literatur.}} 1939 Father Bulcke, {{u|Ramakatha}}. Allahabad 1950. Hooykaas, C., {{u|Het}} {{u|Oudjavaansche}} {{u|Ramayana.}} {{u|Kakawin}} {{u|Verhandelingen.}} Kon. Inst. TLVKK 1955.<noinclude>{{rh|||27}}</noinclude> 27mr20ypct2pf7xon7xrkx3dxk5sten Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/342 104 102262 291252 287174 2026-05-10T15:28:45Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291252 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>de Casparis, J.g., {{u|Prasasti}} {{u|Indonesia}} II, Bandung, 1956. Poebatjaraka, R,Ng., {{u|Keputakaan}} {{u|Djawa}}, Djakarta 1952. Jacobi, H., {{u|Das}} {{u|Ramayana}}, Bonn 1903. Kulkarni, V.M., {{u|The}} {{u|Rama}} {{u|Version}} {{u|of}} {{u|Sanghadasa.}} Wilson, {{u|Vishnupurana.}} Ras.J.J., {{u|Hikajat}} {{u|Bandjar}}. Leiden 1968, Stutterheim, WF., {{u|Ramalegenden}} {{u|und}} {{u|Ramareliefs}} {{u|in}} {{u|Indonesia.}} Munchen 1925. Primce Dhani, {{u|The}} {{u|Rama-jataka.}} {{u|A}} {{u|Lao}} {{u|version}} {{u|of the}} {{u|story}} {{u|of}} {{u|Rama.}} Journal Siam Soe. XXXVI 1946. Rassers, W.H., {{u|Kabajan.}} BKI 100 (1941) Kats, J., The Ramayana in Indonesia. B.S.O.S. vol, IV 1926-28. Mss, Hikajat Sri Rama: Schoemann V4, Raffles 22, cod, or. 3218. Teks: ed, Shellabear, ed. Roorda van Eysinga. {{c|BAHASA DAN KESUSASTRAAN, No. 1, Th. V, 1972}}<noinclude>{{rh|||28}}</noinclude> k2fsscr89dgn0xvighhsu5f2m80cpmu Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/344 104 102263 291255 287248 2026-05-10T15:34:15Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291255 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>dengan "kata-kata bahasa Indonesia adalah kata-kata jang terpakai dalam penggunaan bahasa Indonesia". Tetapi, tidaklah mudah menentukan "mana-mana jang terpakai dalam penggunaan bahasa Indonesia" mengingat jang termasuk kedalam "penggunaan bahasa Indonesia" luas sekali. Siapa jang dapat mengumpulkan semua pembitjaraan (dirumah, dikantor, dilorong, pada telefon, radio, televisi) dan semua hasil penulisan (dalam surat-surat, surat kabar, madjalah, buku dll?) c. Bagaimana proses perpindahan kata-kata itu dari bahasa Arab kepada bahasa Indonesia ? {{gap}} Perpindahan kata, dari bahasa jang satu kepada jang lain, ada jang setjara langsung sadja dan ada pula jang melalui bahasa lain lagi sebagai perantara. Kalau kata bahasa Arab masuk kedalam bahasa Indonesia melalui bahasa Tamil misalnja, apakah harus kita katakan bahwa kata itu berasal dari bahasa Arab atau berasal dari bahasa Tamil ? {{gap}} Sebetulnja, sebelum sampai pada uraian tentang djudul diatas itu, ketiga pertanjaan tersebut haruslah didjawab. Tetapi, chawatir akan terlibat dalam mentjari djawabn pertanjaan itu dan tidak sampai pada pokok persoalan, disini saja mengambil pendapat jang umum, jaitu apabila sesuatu kata termuat didalam kamus bahasa Indonesia (jang saja gunakan {{u|Kamus Umum Bahasa Indonesia}} dan kata tersebut termuat pula didalam kamus behasa Arab (jang saja gunakan kamus Mundjid, kamus Marbawi) serta menurut pendapat saja kata bahasa Indoresia tersebut berasal dari bahasa Arab itu, meskipun bentuknja berbeda, maka kata itu sudah dimasukkan kedalam golongan kata bahasa Indonesia jang berasal dari bahasa Arab. {{gap}} Beberapa banjak kata-kata bahasa Arab dalam bahasa Indonesia ? {{gap Untuk mendjawab pertanjaan itu, saja hanja dapat mengemukakan sumber dibawah ini : :a. Lembaga Penelitian Ilmu Agama dan Kemasjarakatan IAIN "Sjarif Hidajatullah" Djakarta.<noinclude>{{rh|||30}}</noinclude> qcbhdye4s0jxw2icejrl1s70kwtzvjf 291256 291255 2026-05-10T15:34:37Z Arymuslichudin 24021 291256 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>dengan "kata-kata bahasa Indonesia adalah kata-kata jang terpakai dalam penggunaan bahasa Indonesia". Tetapi, tidaklah mudah menentukan "mana-mana jang terpakai dalam penggunaan bahasa Indonesia" mengingat jang termasuk kedalam "penggunaan bahasa Indonesia" luas sekali. Siapa jang dapat mengumpulkan semua pembitjaraan (dirumah, dikantor, dilorong, pada telefon, radio, televisi) dan semua hasil penulisan (dalam surat-surat, surat kabar, madjalah, buku dll?) c. Bagaimana proses perpindahan kata-kata itu dari bahasa Arab kepada bahasa Indonesia ? {{gap}} Perpindahan kata, dari bahasa jang satu kepada jang lain, ada jang setjara langsung sadja dan ada pula jang melalui bahasa lain lagi sebagai perantara. Kalau kata bahasa Arab masuk kedalam bahasa Indonesia melalui bahasa Tamil misalnja, apakah harus kita katakan bahwa kata itu berasal dari bahasa Arab atau berasal dari bahasa Tamil ? {{gap}} Sebetulnja, sebelum sampai pada uraian tentang djudul diatas itu, ketiga pertanjaan tersebut haruslah didjawab. Tetapi, chawatir akan terlibat dalam mentjari djawabn pertanjaan itu dan tidak sampai pada pokok persoalan, disini saja mengambil pendapat jang umum, jaitu apabila sesuatu kata termuat didalam kamus bahasa Indonesia (jang saja gunakan {{u|Kamus Umum Bahasa Indonesia}} dan kata tersebut termuat pula didalam kamus behasa Arab (jang saja gunakan kamus Mundjid, kamus Marbawi) serta menurut pendapat saja kata bahasa Indoresia tersebut berasal dari bahasa Arab itu, meskipun bentuknja berbeda, maka kata itu sudah dimasukkan kedalam golongan kata bahasa Indonesia jang berasal dari bahasa Arab. {{gap}} Beberapa banjak kata-kata bahasa Arab dalam bahasa Indonesia ? {{gap}} Untuk mendjawab pertanjaan itu, saja hanja dapat mengemukakan sumber dibawah ini : :a. Lembaga Penelitian Ilmu Agama dan Kemasjarakatan IAIN "Sjarif Hidajatullah" Djakarta.<noinclude>{{rh|||30}}</noinclude> owc4loz5pe5m4nhkfbklpgb8zvbdxwb Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/356 104 102280 291261 287492 2026-05-10T15:37:51Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291261 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|kakan|dibukakan}} baik kesempatan untuk mati tragis ataupun untuk terus-menerus lolos dari sergapan intel, maka "Sebuah Perdjoangan Ketjil"-nja Sosiawan Nugroho adalah satu-satu-nja jang 'hanja sampai' kepada pengganjangan-pengganjangan dan pengambing-hitaman, baik oleh orang-orang Orla maupun oleh orang-orang Orba, itupun hanja dalam udjud dialog. Sedangkan dalam "Bawuk", ada sedikit tentang 'kematian' ini sungguhpun hanja merupakan 'laporan' dari hasil perlawanan petani-petani jang dihasut PKI agar mempertahankan tanahnja dari serbuan tentara. {{gap}} Djustru inilah sebetulnja merupakan garis bawah, bahwa dari masalah Pemberontakan Gestapu/PKI jang begitu spektakuler akibat-akibatnja bagi djalannja sedjarah Republik Indonesia, para pengarang kita djustru lebih terpanggil kehadirannja untuk mendjeritkan terkebelakangkannja Sila Kemanusiaan. {{gap}} Peristiwa jang sepenting ini(Pemberontakan Gestapu /PKI), ternjata hanja setjara 'lumajan' sadja mendapat perhatian sastrawan-sastrawan kita. Hal ini kalau kita teliti bahwa dari sekian ratus tjerpen jang dimuatkan di madjalah-madjalah, {{u|Horisan}} maupun {{u|Sastra,}} maka hanja 12 buah tjerpen jang memasalahkannja, jang oleh karena ada dua orang jang menulis dua tjerpen maka hanjalah sepuluh sastrawan sadja jang memasalahkannja. Tapi sudah barang tentu, masalah jang sedemikian ini tidak lajak kita nilai setjara kwantitatif sadja, bahkan kita hendaknja tjenderung kepada aspek kwalitatifnja. Lagipula, djumlah sepuluh orang tersebut masih sangat mungkin bahwa salah, mengingat bahwa saja hanja membatasi persoalannja kepada tjerpen-tjerpen sadja, itupun jang hanja dimuat oleh kedua madjalah-sastra tersebut, padahal diluar itu (baik setjara bentuk tjiptaan maupun setjara media publikasi jang digunakan) tentunja masih ada jang lain-lain. {{gap}} Sikap para sastrawan itu djika diukur dari suhu psikopolitik ditahun 1966, tentu merupakan sikap jang tidak populer. Dimana arus semangat massa bergedjolak untuk mendahului-sebelum-didahului-jaitu berdasarkan tjatatan Sedjarah ditahun 1948 {{hws|di|dimana}}<noinclude>{{rh|||42}}</noinclude> pquetjh4qunkfv1jjgqnmyv32vk1u3q Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/357 104 102281 291265 287507 2026-05-10T15:41:13Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291265 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|mana|dimana}} PKI membrontak dan memperkenalkan kebiadaban jang semula tak pernah kita bajangkan maka sastrawan-sastrawan kita seakan-akan menjingkir dan oleh sebab itu ter-sedu-sedu mendjeritkan "Saudaraku Sila Kemanusiaan, dimanakah kau?" {{gap}} Anehnja, memang tidak satupun jang langsung mengutuk pembrontakan Gestapu/PKI itu, sungguhpun saja jakin bahwa mereka itu, satu-persatu, pasti mengutuknja. Satu-satunja jang mirip namun toh hanja setjara umum ialah saja sendiri, misalnja: {{gap}} Dan bukankah ini tragedi njata daripada politik, jang semestinja berarti memperdjoangkan tertjiptanja kondisi-kondisi manusiawi jang ideal buat seluruh manusia, lewat perdjoangan jang ber-perikemanusiaan, tetapi sebab pendurhakaan dan kefanatikan jang ambisius maka buah-eksesnja adalah djustru peng-kotak-kotakan dan peng-kojak-kojakan manusia daripada totalitasnja jang bermartabat, ber-bunuh-bunuhan dalam kekerdilan dan kebentjiannja, jang tidak lain disebabkan sudah membuang kemanusiaannja sendiri dengan rela? Inilah, inilah eksesnja, apabila politik jang hanjalah alat itu sudah merupakan tudjuan, dan setjara paksa ditantjapkan diatas setiap dan semua bidang kehidupan manusia (Diambil dari "Pada Titik Kulminasi" -Satyagraha Hoerip). {{gap}} Sikap jang tidak populer sematjam ini bukan mustahil mengundang risiko. Tetapi sepandjang sastrawan-sastrawan kita tersebut djudjur, saja beranggapan bahwa mereka setidak-tidaknja pertjaja kepada hari-depan; jakni sebagaimana jang ditjetuskan Albert Camus dalam setjuplik motto:.... tiap tjiptaan jang otentik, adalah sumbangsih bagi masa depan". BAHASA DAN KESUSASTRAAN, No. 1, Th. V, 1972<noinclude>{{rh|||43}}</noinclude> 13k48xxyrqekvllflrpbb7him6hwt0w Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/234 104 102285 292001 287538 2026-05-11T11:22:53Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 292001 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||14}}</noinclude>Dengan jalan inilah maka masyarakat Melayu dari berbagai negeri saling diperdekatkan dengan persoalan-persoalan semasa (oontemporary) yang menyentuh soal bangsa Melayu seperti soal politik, ekonomi, pelajaran dan juga soal-soal kemasyarakatan yang lainnya. Dan dalam akhbar-akhbar dan majalah jugalah pada waktu ini timbul sengketa yang sengit antara Abdul Rahim Kajai dan kawan-kawan dengan orang-orang peranakan Melayu tentang soal keturunan. Waktu inilah lahirnya gelaran DKK (Darah Keturunan Keling) dan DKA (Darah Keturunan Arab) yang diberikan oleh Kajai dan kawan-kawannya yang menganggap diri mereka sebagai Melayu Jati. Berkat dengan usaha dan kesedaran dari kalangan orang-orang Melayu banyak anak-anak melayu yang diberi pelajaran. Banyak sudah yang mengirim anak-anak mereka kesekolah Inggeris baik lelaki maupun perempuan walaupun masih ada anggapan bahwa pergaulan bebas disekolah Inggeris akan merusakkan keimanan anak-anak Melayu yang beragama Islam, dan juga mencurigai cita-cita sekolah Inggeris karena mereka monga siasikan sukolah Inggeris itu dengan agama Kristian. Sungguhpun banyak anak-anak Melayu yang mendapat pelajaran Inggeris namun amat kurang sekali dari mereka yang menceburkan diri dalam bidang kesusastraan. Hanya dari mereka yang berpulajaran Melayu/Arab sahaja kelihatan minat untuk memasuki bidang ini. Ini dapat dimengertikan karena mereka yang berpelajaran Inggeris mendapat kedudukan sosial dan ekonomi yang lebih baik dari mereka yang berpelajaran Melayu/Arab. Dengan demikian semangat perjuangan untuk monyedari bangsa Melayu lebih dirasakan oleh mereka yang hanya berpendidikan Melayu/arab. Justru itu kebanyakan dari pengarang-pengarang dalan tahun-tahun 30an dan 40an melihat pengaruh barat yang menjalar masuk kedalam masyarakat Melayu itu dengan sikap negatif. Sebenarnya terasa seolah-olah ada semacam 'split personality' dikalangan para poncipta sastra diwaktu itu. Bisa dikatakan kebanyakan dari mereka mengecan kahwin paksa, kungkungan adat yang lapok, yang terlalu kuat. pengaruhnya dalam masyarakat dikala itu, Para poauda pada waktu itu yang sudah mengetahui pengaruh modernisme, membaca karya-karya dari Indonesia dan juga dari sumber-sumber lain mengalami semacam penyiksaan batin dalam suasana masyarakat Melayu yang konservatif, dan mahu melontarkan jauh-jauh jaringan-jaringan penyiksaan itu. Tapi mereka melupai bahwa pengaruh modernisme dan kebebasan yang mereka ingini itu hanya berkisar dalam pahaman yang demikian sumpit dangkal sekali. Nilai-nilai baru yang dialirkan oleh kebudayaan barat dimana sang pria<noinclude></noinclude> id0k1s8b1jvuozr6mqo7gny3hwqe4vf Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/30 104 102293 291981 287560 2026-05-11T10:53:38Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291981 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{c|BUKU-BUKY KESUSASTRAAN JANG DILARANG }} {{Right sidenote|Oleh: Lukman Ali *}} Direktorat Bahasa dan Kesusastraan telah beberapa kali mendapat pertanjaan mengenai pelarangan buku-buku kesusastraan Indonesia dalam bidang pengadjaran kesusastraan. Pertanjaan-pertanjaan itu umumnja datang dari guru-guru bahasa dan kesusastraan disekolah-sekolah baik setjara lisan maupun tertulis. Djuga dari instansi-instansi dan perseorangan jang mempunjai minat dalam kesusastraan banjak pula jang minta pendjelasan. Jang ditanjakan bukan hanja buku-buku karangan orang-orang jang terlibat dalam Gestapu sadja tetapi djuga buku-buku jang dahulu sebelum Gestapu pernah dilarang oleh pemerintah. Maksudnja buku-buku jang dikarang oleh pengarang-pengarang jang ikut menandatangani “Manifes Kebudajaan" ("Nanikebu" menurut istilah para pengganjangnja) tahun 1963 jang lalu. Untuk mendapatkan djwaban terhadap pertanjaan-pertanjann seperti tersebut diatas baiklah kami berikan pendjelasan sebagai berikut : <ol value="1)> <li> Pada tanggal 30 Nopember 1965, Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudajaan telah mengeluarkan instruksi jang berisi larangan untuk mempergunakan buku-buku peladjaran, perpustaan dan kebudayaan jang dikarang oleh oknum-oknum dan anggota-anggota ormas/orpe1 jang dibekukan untuk somentara waktu kegiatannja. Instruksi ini didasakan pula pertimbangan bahwa perlu mengadakan tindak landjut dalam usaha menumpas pengaruh-pengaruh dari gerakan apa jang menamakan dirinja "Gerakan 30 September" chususnja dibidang mental ideologis. Instruksi pelarangan ini disampaikan kepada semua Kepala Direktorat/Lembaga/Biro/P.H. dan semua Kepala Perwakilan Departemen P.D. dan K., dlam lingkungan departemen P.D. dan K. diseluruh Indonesia. </li> Dalam instruksi tersebut dilampirkan dartar sementera buku-buku jang dilarang pemakaiannja itu jang berdjumlah 70 djudul chusus buku-buku bahasa dan kesusastraan (ketjuali satu tentang pernjanjian). Djuga dilampirkan daftar sementara penulis-penulis Lekra PKI sedjumlah 87 nama, termasuk dalamnja Jubaar Ajub, Bakri sireger, Pramudya Ananta Toer, Agam Wiapi, Utuy T Sontani, Bujung Saleh, dan sebagainnja. Instruksi Menteri P.D. dan K. tersebut telah disiarkan dalam surat-surat kabar bulan Desember 1965. Daftar nama-nama buku dan punulis-penulis Lekra seperti tersebut diatas memang belum lengkap. Masih ada sedjumlah buku dan nama oknum-oknum "sastrawan" dan "budajawan"” Lekra lainnja jang belum termasuk dalamnja. Misalnja oknum-oknum bidang drama, tari, musik, lukis dan film. <li> Pada hulen Maret 1767, diumumkan pula olen Team Pelaksana/Pengawasan Larangan Adjaran Komunisme/Marxisme-Leninisme J.C.I. Djaya, daftar buku-buku dan madjalah-madjalah dalam dan luar negeri jang mengandung adjaran komunisme atau Marxisme-Leninisme, Marxisme-Hao Too Tung-isme. Buku-buku dan madjalah-madjalah tersebut dinjatakan dilarang untuk dimiliki, disimpan, diedarkan dan diperdagangkan didaerah Hukum D.C.I. Djaja. Dalam daftar tersebut tertjantum 1/4 djudul buku dalam berbagai lapangan jang diantaranja terdapat (hanja) 13 djudul untuk kesusastraan. selain itu disertakan pula daftar nama madjalah sebanjak 23 buah. ---------- {{*}} Kepala Dinas Kesusastraan Indonesia, Direktorat Bahasa dan Kesusastraan, Ditdjen Kebudajaan.<noinclude></noinclude> 5dihklsb76tmxocuojfpbg96ku3e715 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/235 104 102294 292002 287548 2026-05-11T11:23:19Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 292002 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||15}}</noinclude>berhak memilih bakal isterinya sendiri diterima dengan senang hati oleh pengarang-pengarang Melayu, tetapi bila melukiskan watak wanita yang bebas maka selalunya mereka itu mendapat pelajaran barat, dan akibat didikan disekolah Inggeris maka moral watak itu merosot. Demikianlah gadis Norisa bertemu dengan kerani perusahaan bapanya hanya cara kebetulan sahaja, dan pertemuan yang tak disangka-sangka itu membuahkan percintaan antara sang pemuda dengan penudi tersebut seperti yang terlukis dalan novel pertana Harun Aminurrashid, {{u|Melor Kuala Lumpur}} (1930). Kadang-kadang sang penuda bertemu dengan pacarnya ditepi kali, disawah dalam masa menuai padi ataupun dalam masa-masa yang secara demikian menunjukkan dengan jelasnya bahwa masyarakat Melayu diwaktu itu terlalu ketat adat dan pengawasannya terhadap kebebasan anak-anak gadis hingga pertemuan yang teratur tak memungkinkan. Modernisme yang dimengertikan oleh kebanyakan para pengarang Melayu sebelum perang cuna terletak pada nilai-nilai modemismo yang terlalu sampit dan terbatas pengertiannya. Mereka mahukan percintaan suka sama suka antara gadis/pria tanpa gangguan dari sang ayah dan ibu atau kaum keluarga langsung, namun demikian mereka tidak bisa pula menerima gadis-gadis yang berpelajaran Inggeris, yang berani menonjolkan pribadinya sebagai gadis terpelajar seperti dalam watak sebuah karya Ahmand Tulu itu. Mereka inginkan sang gadis mendapat pelajaran tetapi pelajaran yang diperlukan mereka hanya cukup untuk menjadi seorang calun isteri yang baik, pandai memasak, menjaga rumahtangga, bersopan santun berkhatan Kur'an beberapa kali dan kuat berugama: Dengan lain perkataan pelajaran Inggeris untuk anak-anak perempuan selalunya (dan ini tak juga ketinggalan bagi setengah orang lelaki) membawa kemerosotan akhlak seperti yang dilukiskan dalam {{u|Iblis Rumahtangga}} karya Abdullah Sidik (1937?). Terjadinya anggapan buruk terhadap pelajaran Inggeris dan itu disebabkan masyarakat Melayu yang tradisionolis yang bersandar pada kunkungan adat resam sorta ajaran agaha yang ortodoks menganggap kebebasan pergaulan antara lelaki perempuan dan timbulnya perasaan 'ingin mencari jodoh sendiri-sendiri' aiakibatkan pelajaran dan buku-buku dari bahasa Inggeris itulah. Tambahan lagi arus nodenisme yang dibawa oleh Sayed Sheikh itupun pada anggapan segolongan kaum konservatif punya pengaruhnya dari ajaran-ajaran barat itu jua. Hilangnya nilai-nilai kekeluargaan dan semangant gotong royong dalam masyarakat dan rumahtangga diakibatkan oleh kebudayaan barat jua.<noinclude></noinclude> o220r9lgtc81n2sebed2j7ob3z6qkbq Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/236 104 102298 292003 287555 2026-05-11T11:23:44Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 292003 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||16}}</noinclude>Tangtangan terhadap pengaruh bacaan buku-buku cerita yang berunsur percintaan itu timbul sebagai satu reaksi dari masyarakat Melayu yang kolot terhadap kebudayaan dan pelajaran Inggeris yang sering timbul dalam pembicaraan dalam majalah-majalah akhbar-akhbar Melayu diwaktu itu. Selai dari itu pengarang-pengarang Melayu yang rata-rata berasal dari kampung dan mendapat didikan cuma pada peringkat sekolah dasar Melayu (dan ada antaranya belajar hingga keuniversitas Al-Azhar ataupun di Mekah dll) masih tidak bisa atau berani melekangkan dari nilai-nilai unsur konservatisme masayarakat kampung sebebas-bebasnya, diri mereka Suasana kekampungan itu terasa sekali bila kita membaca novelet-novelet dalam tahun-tahun 30an dan 40an malah hingga sampai pada tahun-tahun selepas Perang Dunia Kedua. Demikianlah kita lihat karya-karya Raja Mansur Aodullah Sidik, Ahmad Bakhtiar, 11. Samin Taib yang bertemakan manusia-manusia kampung serta kisah-kisah yang berpaut pada soal cinta pilihan sendiri, pertentangan adat dan dll seperti dalam novelet-noveletnya {{u|Dua Perawan dari Selangur}}, {{u|Suami Yang Dibeli}} dan karya-karya Abdullah Sidik seperti {{u|dari Kita Berjuang}}, {{u|Iblis Rumah Tangga}}, {{u|Gadis Hulu Muar}}, {{u|Nasib Asnah}} dsb. Sungguhpun masyarakat Melayu diwaktu itu masih konservatif dan 'feodalistis' dalam cara berfikir, namun pergerakan politik radikal sudah mula berputik, kemasukan orang-orang dari India, dan Cina lantaran dasar imigrasi kolonial Inggeris untuk menampung tenaga buruh yang kurang bagi ladang-ladang karet, pertambangan timah dll menyebabkan orang-orang Melayu mengambil sikap politis yang lebih berani, Salah seorang pengarang Melayu yang terkenal sebelum perang sebagai tokoh politik dan juga tokoh kesusastraan ialah Ishak Haji Muhammad. Seorang yang berpendidikan Inggeris dan pernah menjadi pegawai tinggi dalam pentadbiran negeri, Ishak meninggalkan jawatannya yang bagus itu untuk menceburkan diri dalam bidang politik dan karang mengarang. Pada tahun 1937 lahirlah novel beliau yang bercorak politik yang diberi nama {{u|Putera Gunung Tahan}}. Secara sindiran yang tajam yang menggunakan perlambangan-perlambangan tertentu Ishak cuba menyedarkan masyarakat Melayu untuk merenung lebih jauh soal merebut kemerdekaan dan juga nasib bangsa Melayu yang semakin buruk itu. Secara tidak langsung beliau juga mengecam raja-raja Melayu yang cuma menjadi pak turut Inggeris dan tidak memperdulikan soal maruah bangsa lagi. Ishak memperlihatkan lagi sikap politisnya yang radikal itu dengan mengemukakan sebuah novel lagi pada tahun 1941 yang berjudul Anak Mat {{u|Lela Gile.}}<noinclude></noinclude> ifx6jgh76v1429dqdfs9mm9c8m1r6oo Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/237 104 102300 292005 287575 2026-05-11T11:26:25Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 292005 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||17}}</noinclude>Novel ini mempunyai tema percintaan namun dalam jalinan plotnya kelihan juga semangat neasionalisme Ishak yang berkobar-kobar untuk menyedarkan pembaca-pembaca Melayu. Sealiran dengan semangat kebangsaan Ishak diwaktu itu timbul pengarang Shamsuddin Salleh yang banyak mengemukakan cerita-cerita pengintipan (spy). Cerita-cerita Shamsuddin berkisar dalam daerah politik yang lebih jauh, termasuk tanah Indonesia, Singapura, Tanah Semenanjung, Muangthai dan Pilipina. Sebagai seorang pengarang yang perah mengikuti perkembangan politik di Indonesia dan pernah bekerja sebagai pengintip (mata-mata) maka pengalaman beliau itu menampakkan ciri-ciri nasionalisme yang lebih luas iaitu Melayu Raya. Sudah pasti semangat nasionalisme pengarang-pengarang Melayu ini sangat sempit, dan meninjau segala kemungkinan-kemungkinan baik dan buruk dari segi bangsa Melayu semata-mata. Sebab itulah kita lihat kebanyakan cerpen-cerpen Abdul Rahim Kajai, Ishak Haji Muhammad, Dahlan Masood umpamanya watak-watak bukan Melayu diberi nama yang jelek dan kadang-kadang bersifat menghine. Sungguhpun cerpen sebagai bentuk sastra sudah lama timbul namun cerpen 'proper' dalam kesusastraan Melayu moden diperlihatkan pada mulanya dalam tahun 1925. {{u|Majalah Guru}} yang diterbitkan pada tahun 1924 adalah salah sebuah majalah yang memperkenalkan bentuk cerpen 'proper' pada tahun 1925. Tetapi medan cerpen yang subur sekali adalah dalam {{u|Utusan Zaman}}, {{u|Mastika}}, {{u|Warta Jenaka}}, {{u|Warta Ahad}}. Mengikuti Ali Haji Ahmad A. Rahim Kajai telah menghasilkan 48 buah cerpen dalam {{u|Warta Jenaka}} {{u|Utusan Zaman}} dan {{u|Mastika}} dan Ishak Haji Muhammad pula menghasilkan 23 buah corpen dalam {{u|Warta Jenaka}}, {{u|Warta Ahad}} dan {{u|Utusan Zaman}} Kajai dianggap sebagai Bapa Cerpen Melayu, dan kebanyakan cerpen-cerpennya bersifat {{u|didaktik}} yang 'bersangkut paut dengan kesusilaan dan agama, dan dasar falsafahnya ialah baik dibalas baik dan jahat dibalas jahat atau orang jahat yang sudah bertaubat akhirnya dibalas baik pula. Cerita-cerita lucu dari Kajai dalam ruangan {{u|Pak Laouk}} dalam mingguan {{u|Warta Jenaka}} dan {{u|Wak Ketok}} dalam mingguan {{u|Utusan Zaman}} sangat digemari oleh pembaca-dan akhirnya Kajai digelar nama Wak Kotok oleh pembaca-pembaca ruangannya. Kira-kira dalam tahun 1935 kelihatan semangat nasionalisme Melayu ditiupkan kedalam cerpen-cerpen Melayu. Mengikut penyelidikan cerpen yang diusahakan oleh Ali daji Ahmad, "pengarang-pengarang hondak menyedarkan<noinclude></noinclude> q893tisolcw4ymis8hfz57rwqnbk7tv Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/31 104 102304 291983 287577 2026-05-11T10:56:40Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291983 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||25}}</noinclude>#<li value="3">Sehubungan dengan persoalan diatas, perlu pula kami djelaskan bahwa buku-buku jang dikarang oleh sastrawan-sastrawan jang mentjetuskan Manifes Kebudajaan, jang pernah dilarang pemakaiannja disekolah-sekolah oleh Pimpinan Departemen P.D. dan K. bulan April 1965, mulai bulan Djuni 1966 telah boleh dipakai kembali. Pentjabutan larangan itu dikeluarkan oleh Deputy Menteri Pendidikan Dasar atas dasar :</li> <ol type="a"> :<li>Kerja-kerja panandatanganan Manifes Kebudajaan itu tidak bertentangan dengan falsafah Negara Pantjasila.</li> :<li> Larangan jang pernah dikeluarkan mengenai karja penandatanganan Manifes Kebudajaan itu bersifat politis semata, tanpa menilai isinja.</li> :<li> Mereka jang tersebut pada a) dan b) adalah korban fitnah proloog Gestaua/PKI.</li> Pemberitahuan ini disampaikan kepada semua instansi dan sekolah dalan lingkungan Departemen Pendidikan Dasar. Berikut ini adalah salian instruksi Menteri P.D. dan K. tentang larangan buku-buku karangan oknum-okum jang terlibat Gestapu dan daftar buku-buku kesusastraan jang dilarang oleh Team Pelaksannan/Pengawasan Adjaran Komunisme/Marxisme-Leninisme D.C.I. Djaya. <center>-----</center> Salinan buku-buku komunis jang dilarang didaerah hukum D.C.I. Djaya, chusus bidang kesusastraan, menurut siaran Team Pelaksanaan/Pengawasan Adjaran Komunisne/Marxisme-Leninisme D.C.I. Djaya. {| |- | 1. ||Aidit, Sobron || Pulang bertempur || Djakarta, Lekra, 1959 |- | 2. || Tjekov, Anton Povlovic || Pertaruhan || Djakarta, Lekra, 1960 |- | 3. || Sahia; Alexandru || Pemberontakan di pelabuhan || Djakarta, Lekra, 1960 |- | 4. || Rumambi || Bukit 1211 || Djakarta, Lekra, 1959 |- | 5. || Sisvadi, Sugiarti || Sorga dibumi ||Djakarta, Lekra, 1960 |- | 6. || Sontani, Utuy Tatang || Manusia Kota || Djakarta, B.P. 1961 |- | 7. || Tjan Tju Som || Sardjana Sastra dan Pembangunan Kebudajaan Nasional || Djakarta, Lekra, 1961 |- | 8. || Tji Po || Pengedjaran dipadaag Saldju || Djakarta, Lekra, 196. tiga djilid |- | 9. || Tur, Pramudya Ananta || Mereka jang dilumpuhkan || Djakarta, B.P., dua djilid |- | 10. || Vaptsarov, Nikolalenkov || Lagu Manusia || Lekra, Djakarta, 1959 |- | 11. || Wispi, Agam || Dinasti 650 juta ||Djakarta, Lekra, 1961 |- | 12. || Wispi, Agam || Sahabat || Djakarta, Lekra, 1959 |- | 13. || Zubir A.Α. || Api '26 || Djakarta, Fenbaruan, 1961. |}<noinclude></noinclude> f9bseeytvjtbvj0bh3j1js14xygvd0u Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/466 104 102307 291480 287570 2026-05-11T01:43:27Z Radramboo 23710 /* Telah diuji baca */ 291480 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Radramboo" />{{rh|Presiden Panglima Tertinggi IR Sukarno||}}</noinclude>{{c|<big><big><big>KITA BERDJALAN TERUS</big></big></big>}} {{block right|width=25em|'''PRRI adalah pengchianat daripada Proklamasi, bahkan pengchianatan kepada djiwa Indonesia jang demokratis Revolusi jang massal tidak akan bisa diruntuhkan oleh kontra revolusi'''}} Pada tanggal 16 Maret 1958, di Tegallega Bandung telah diadakan rapat raksasa Pantjasila jang dihadiri oleh lebih dari sedjuta rakjat jang datang berbondong-bondong dari kota dan daerah sekitar Bandung, untuk mendengarkan wedjangan Kepala Negara kita, Presiden Soekarno jang berbitjara kurang lebih satu djam lamanja. Sebelum Presiden, telah berbitjara Ibu Rasuna Said jang mendapat djulukan Srikandi Indonesia. Saja bergembira — demikian Kepala Negara — ini hari datang di Bandung, bersama-sama dengan Ibu Rasuna Said, jang sebagai tadi telah mengatakan, bahwa pada hakekatnja, apa jang diperbuat oleh Achmad Husein cs., oleh Sjafrudin Prawiranegara cs sama sekali bukanlah kehendak daripada rakjat Minangkabau, tetapi adalah perbuatan petualang-petualang belaka. Saja berulang-ulang meninggalkan tanah air, ,,mendjadjah desa hamilang 'kori”, datang ke- mana-mana, bukan sadja orang luar negeri memandang kepada saja sebagai orang Indonesia, tetapi djustru diluar negeri itulah, saudara-saudara, saja me- rasa diri saja orang Indonesia jang benar-benar tjinta kepada Indonesia. Saja sudah melihat <small>3/4</small> dunia ini, tetapi — demikian Presiden —, saja bisa dengan bangga dan tegas berkata bahwa tidak ada negara didunia ini jang setjantik, semolek sebagai Indo- resia. Pada suatu hari, saja diminca memberi djawaban atas beberapa pertanjaan jang diadjukan oleh pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi Amerika. Diadakan satu rapat ketjil, wakil-wakil pemuda, wakil-wakil pemudi berkumpul disitu. Saja diundang didalam rapat itu, dipotret, difilm, disiarkan dengan radio dan televisi pula, Rapat jang demikian itu, tanja djawab dengan pemuda pemudi adalah dinamakan satu bagian daripada siaran televisi jang bernama Youth want to know, pemuda pemudi ingin tahu, Salah satu pertanjaan jang diadjukan kepada saja ialah: ,,Presiden Soekarno, mengapa Presiden Soekarno mengadakan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945? Jaitu beberapa hari sesudah Djepang bertekuk lutut didalam peperangan dunia jang kedua. Artinja pertanjaan ini ialah, apa sebab proklamasi kemerdekaan itu tidak diutjapkan oleh Bung Karno — Bung Hatta pada tahun 1930 atau tahun1929, mengapa kok 17 Agustus 1945 ? Saja merasa, ini adalah suatu pertanjaan untuk memantjing satu pengakuan. Sebab katanja, kemerdekaan Indonesia ini adalah pemberian dari Djepang. Bahwa tatkala Djepang telah menekuk lutut, kemerdekaan ini diberikan kepada bangsa Indonesia. Saja kira inilah maksud pertanjaan itu. Saja beri pendjelasan dengan tegas: kami — kataku — mengadakan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, oleh karena pada waktu itu imperialisme sedang lemah, retak hantjur lebur. Inilah sebabnja kami mengadakan proklamasi itu tidak pada tahun 1940, pada waktu imperialisme sedang kuat sentausa, pun tidak pada tahun 1930 pada waktu imperialis sedang kuat. Maka itu, kita mengadakan proklamasi, pada saat imperialisme tidak bertenaga. Nah, sesudah perang dunia kedua, Belanda berantakan, imperialis Belanda hantjur lebur. Djepang lemah pula, oleh karena telah mendapat pukulan pula. Saat itulah saat jang terbaik untuk mengadakan proklamasi. Ini adalah siasat politik jang hebat sekali, saudara-saudara, dan memang,kita bitjarakan lebih dulu dengan pemimpin2. '''Bahkan didalam tahun 1929 telah saja katakan, tahun '29 tatkala saja masih mendjadi penduduk Bandung: awas, imperialisme. Awas djikalau nanti perang dunia Pasifik petjah, djikalau nanti lautan Teduh merah dengan darah, djikalau nanti tanah-tanah disekeliling Lautan Teduh menjala-njala dengan api peperangan, pada saat itulah Indonesia mendjadi merdeka.''' Ini saja utjapkan di Bandung pada tahun 1929. Dan kawan-kawan saja dari Bandung mengetahui bahwa djusteru karena utjapan inilah saja ditangkap, dimasukkan kedalam kandang, mendjadi makanan tikus. Saudara-saudara, memang siasat politik harus demikian.<noinclude>{{rh|8||}}</noinclude> fzf132oddump03388023a7pwz4gujy1 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/238 104 102309 292006 287588 2026-05-11T11:27:12Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 292006 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||18}}</noinclude>pembaca-pombacanya akan bahaya kemunduran bangsanya dan kemajuan bangsa-bangsa bukan Melayu di Malaya ini dalam segala lapangan politik, ekonomi, pelajaran dan lain-lain. moreka hendak menyedarkan orang Melayu akan kemungkinan tenggelamnya bangsa Melayu ditanah airnya sendiri oleh bangsa-bangsa bukan Melayu..... mereka mahu bangsa Melayu insaf dan segera bangkit dan bergerak maju dan ........" Satu hal yang agak aneh kalau dibandingkan dengan jumlah perkataan setiap oerpon hari ini yang menelan berbelas-belas ribu purkataan malah ada yang berpuluh-puluh ribu dan diterbitkan bersambung-sambung dalam majalah-majalah pada waktu itu. Sudah pasti sebagai bentuk cerpen yang 'sophisticated' yang menggunakan berbagai teknik penyorotan kisah, kita tidak mendapat kesan yang baik dari karyasastra pada waktu itu. Paktor yang utama ialah untuk memberikan cerita bagi pembaca-pembacanya, dan dengan demikian secara langsung atau tidak langsung membuat pembaca-pembaca sedar tentang tanggungjawab mereka kepada masyarakat, bangsa ataupun keadaan-keadaan yang dipikirkan kurang menyenangkan dalam masyarakat itu. dan. Dalam masa pemerintahan fasis Jepang cerpen-corpen yang tersiar dalam {{u|Semangat Asia}}, {{u|Fajar Asia}}, dan {{u|Cermin Hidup}}, itu tidak begitu bosar jumlahnya. Mengikut Arenawati ada kira-kira 25 buah corpen yang dimuat dalam majalah-majalah tersebut dan 23antaranya adalah serpen-cerpen asli. Sebagai oiptasastra di zaman peperangan maka sudah pasti cerpen-cerpen yang dihasilkan itu merupakan semangat perjuangan yang kental untuk tanahair, dan dengan demikian tema-tama percintaan yang sedih duka tidak mendapat tempat langsung. Sonsor Jepang yang kotat itu tidak memberi kesonpatan pada pencipta-pencipta hasil sastra untuk monoroka daerah-daerah romantisme percintaan totapi harus bersikap dinamis dan propagandistis terhadap perjuangan bangsa penjajah Jepang dan semangat membangun serta mengabdi kepada tanahair dari anak-anak jajahan sendiri. Seperti mana yang saya sebutkan diatas tadi aliran politik nasionalisme Helayu itu masih bertiup kencang walaupun dalan zaman kukubesi ini bentuknya mencapai jalan yang berlainan dari dahulu. Ishak Haji Muhammad, masih menulis lagi dalan bantuk corpon dan pada waktu ini seorang penulis cerpen muda dan juga seorang wartawan, A.Samad Ismail, timbul dalam corponnya yang berjudul {{u|'Ubi Kayu }}(Samangat Asia, 1944 Maret) dan {{u|Ke-Bintan-to}} (Semangat Asia, April 1944) dan {{u|Budak-Budak Main Soldadu}} (Fajar Asia, Mei 1944).<noinclude></noinclude> idxz97n5xqd87bayqkudunt41z6acqt Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/32 104 102310 291984 287676 2026-05-11T10:57:06Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291984 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||26}}</noinclude><center>'''Salinan''' </center> <center> '''INSTRUKSI MENTERI'''</center> <center>'''PENDIDIKAN DASAR DAN KEBUDAJAAN''' <center> <center>'''REPUBLIK INDONESIA'''</center> <center>'''No: 1381/1965'''</center> <center>'''tentang''' </center> Larangan mempergunakan buku-buku peladjaran, perpustakaan dan kebudajaan jang dikarang oleh oknum-oknum dan anggota-anggota Ormas/Orpo1 jang dibekukan untuk sementara waktu kegiatannja. <center>'''MENTERI PENDIDIKAN DASAR DuN KEBUDAJAAN''' </center> {{PUU-konsideran|ket=Menimbang |bahwa untuk mengadakan tindak landjut didalam usaha menumpas pengaruh-pengaruh dari gerakan apa jang menamakan dirinja "Gerakan 30 September" chususnja dibidang mental ideologis, dipandang perlu melarang buku2 peladjaran, perpustakaan dan kebudajaan jang dikarang oleh oknun-oknum dan anggota-anggota Ormas/Orpol jang dibekukan untuk sementara waktu kegiatannja, }} {{PUU-konsideran|ket=Mengingat|n=a |Keputusan Menteri Pendidikar Dasar dan Kebudajaan, tanggal: ::<ol value="1"> <li>18 Oktober 1965 No.: 141/1965. </li> <li>20 Oktober 1965 No.: 144/1965. </li> <li>27 Oktober 1965 Nn.: 149/1955. </li> <li>28 Oktober 1965 No.: 150/1965. </li> <li>7 Hopember 1965 No.: 157/1965. </li> <li>7 Nopember 1965 No : 158/1965. </li> </ol> |Instruksi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudajaan tanggal: 19 Oktober 1965 Ho.: 1381/1965; |Keputusan Presiden Republik Indonesia No.:215 tahun 1964.}} <center>'''MEMUTUSKAN'''</center> {{PUU-konsideran|ket=Menginstruksikan kepada :|n=a | 1. Semua Kepala Direktorat/Lembaga/Biro/P.N. | 2. Semua Kepala Perwakilan Departemen P.D.dan K., dilingkungan Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudajaan jang menjelenggarakan/membimbing dan mengawasi Lembaga Pendidikan Negeri/Swasta dan jang dalam melaksanakan tugasnja berhubung dengan buku-buku peladjaran dan kebudajaan, supaja: |aa. melarang mempergunakan buku-buku peladjaran, perpustakan dan kebudajaan jang dikarang oleh oknum-oknum dan anggota-anggota Ormas/Orpol jang dibekukan untuk sementara waktu kegiatannja oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudajaan dan oleh Peperda/Pepelrada setempat di Lembaga2 Pendidikan jang ada dilingkungan wewenangnja masing-masing.}}<noinclude></noinclude> pmcyiyj5irzijbcd952h2dwhkl2h2qh Halaman:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.pdf/461 104 102322 291284 290710 2026-05-10T16:05:25Z Thersetya2021 15831 291284 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Moel81" /></noinclude><center>'''KAWRUH KODRATING PANGERAN (PKKP)'''</center> Paguyuban Kawruh Kodrating Pangeran yang disingkat dengan PKKP didirikan oleh Ki Atmosentono pada tahun 1932. Makna dari nama ''Paguyuban Kawruh Kodrating Pangeran'' adalah Pengetahuan Kita Sujud/''manembah'' kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ki Atmosentono berasal dari Dukuh Gempol, Desa Kadilanggon, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Sejak muda, Ki Atmosentono suka menjalankan laku bertapa dan ''olah kanuragan''. Di samping itu, beliau juga suka berkunjung kepada Sesepuh yang suka memberikan petunjuk, serta perilaku budi luhur menuju kesempurnaan hidup lahir dan batin. Dalam perjalanan mencari petunjuk tersebut, beliau selalu bersama dengan keponakannya yang bernama Ki Kartosupadmo. Pada suatu saat beliau menghadap kepada Raden Mas Padmopawiro, yang kemudian mendapatkan petunjuk untuk berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Petunjuk tersebut disebut dengan ''Peteg''. Setelah menerima Kawruh Peteg, beliau disarankan untuk selalu menjalankan perilaku luhur yang menuju ''kautaman'', kasih sayang terhadap sesama, serta selalu menjauhi perilaku yang tidak terpuji. Selanjutnya, Ki Atmosentono dan Ki Kartosupadmo memperdalam petunjuk yang telah diterima tersebut dengan bermacam-macam laku, yaitu: ''mesu broto dan mesidikoro'', serta berpuasa. Setelah sementara waktu, banyak warga masyarakat yang berminat untuk menjalankan kawruh tersebut, sehingga dibentuk organisasi yang diberi nama dengan Kawruh Kodrating Pangeran. Sebelum menjadi organisasi yang mapan, organisasi ini bernama Pangesti, kemudian atas kesepakatan para wiku diubah namanya menjadi Kawruh Kodratullah Goibing Pangeran, dan akhirnya oleh Wiku Ki Kartosupadmo pada tanggal 3 Maret 1980 dilembagakan dengan nama Paguyuban Kawruh Kodrating Pangeran dan bertindak sebagai sesepuh adalah Wiku Ki Kartosupadmo. Adapun, tujuan dari PKKP adalah: 1. Melaksanakan Pancasila; 2. Memelihara, ''memetri'', menghayati, dan melestarikan adat ''naluri Kejawen'' tinggalan budaya leluhur nenek moyang kita; 3. Mendidik anggota dan keluarga untuk: a. Selalu menyembah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh; b. Bekerja dalam rangka membina keluarga sejahtera lahir dan batin; c. Berlaku jujur dan menepati janji dalam rangka hidup berkesinambungan baik terhadap diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat; 4. Mendidik anggota, keluarga, dan masyarakat untuk: a. Mecintai sesama seperti halnya diri sendiri; b. Berkemampuan<noinclude>{{rvh4|447|''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> 6z5qv98c5fw9bahs5ypb23ikpvlftuo Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/259 104 102327 292007 287664 2026-05-11T11:29:20Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 292007 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||39}}</noinclude>Pameran yang mendapat perhatian cukup banyak dari khalayak ramai ini paling sedikit memiliki tiga aspek penting: 1. memberi arti pentingnya kegiatan dokumentasi, 2. mundorong kegiatan ilmiah atau research, 3. mendorong pemerintah untuk memikirkan suatu undang-undang yang menjamin kelengkapan dan keselamatan dokumentasi di Indonesia, yang selama ini (sejak kemerdekaan) terlantar. {{rh|CERAMAH KESUSASTRAAN}} Dalam rangka memperkenalkan para mahasiswa Bakultas Sastra jurusan Bahasa dan Kesusastraan Indonesia dengan para sastrawan, jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia telah menyelenggarakan ceramah-curamah kesusastraan dari sastrawan-sastrawan Indonesia. Pada tanggal 28 September 1968 yang lalau Nur Sutan Iskandar mendapat giliran untuk memberikan ceramah. Nur Sutan Iskandar telah memberikan keterangan yang cukup, jelas atas karya-karyanya yang dimulai dari cerita pertama {{u|Apa Dajaku karena Aku Perempuan}}, kemudian {{u|Tjinta membawa Maut}} yang kemudian judulnya dirubah menjadi {{u|Korban Pertjintaan}}, {{u|Tuba dibalas dengan Susu}}, {{u|Hulubalang Radja}}, {{u|Mutiara}}, dan {{u|Tjinta Tanah Air}}. Bagaimana beliau memulai kariernya sebagai pengarang, caranya membuat dan memberi judul dan pengaruh apa yang mendorongnya pada masa penulisan buku-bukunya. Ceramah ini selain dihadiri oleh mahasiswa dan dosen Fakultas Sastra serta mahasiswa IKIP juga oleh pegawai-pegawai Direktorat Bahasa dan Kesusastraan. {{rh|SAYEMBARA MENGARANG DI DAERAH}} Cabang Direktorat Bahasa dan Kesusastraan di Singaraja mengadakan sayembara mengarang dalam rangka memperingati 40 tahun Sumpah Pemuda. Penilaian dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1968. Sayembara itu meliputi prosa dan puisi {{u|dalam bahasa Bali}}, dan disediakan hadiah sekadarnya untuk para pemenang. {{rh|TEATER POPULER}} Bertempat di Balai Budaya Jakarta, tanggal 28 dan 29 September 1968 telah dipertunjukkan dua buah drama, yakni: {{u|Hantu}} (disarikan dari {{u|the Ghost}} karya Ibsun, oleh Teguh Karya) dan Antara {{u|Dua Perempuan}}<noinclude></noinclude> 46tbef60eixvys4k2pz1a5gtp17lpbt Halaman:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.pdf/470 104 102331 290872 287659 2026-05-10T12:51:48Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 290872 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /></noinclude><center><big>'''KETUHANAN KESAMPURNAN'''</big></center> Paguyuban ''Ketuhanan Kasampurnan'' terbentuk secara resmi sebagai organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada tahun 1980, oleh Bapak Darkim Asmoatmodjo, yang berlokasi di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Bapak Darkim sendiri yang memberi nama organisasi ini sebagai Paguyuban ''Ketuhanan Kasampurnan.'' ''Ketuhanan'' artinya, bahwa kita percaya dan yakin, Tuhan/Gusti Allah itu ada dan bersifat Esa dan Mahaadil. Kita selalu menghadap kepada Tuhan untuk memohon segala sesuatu agar kebutuhan hidup dicukupi. ''Kasampurnan'' maknanya, bahwa kita diciptakan Tuhan sebagai manusia harus berbuat baik dengan orang lain, harus menguasai ''sangkan paraning dumadi'', supaya sempurna tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat, agar ada saat kembali nanti jangan sampai tersesat. Dengan demikian, Paguyuban Ketuhanan Kesempurnan selalu mengajarkan untuk berjuang menuju tercapainya kesempurnaan lahir dan batin melalui ''semedi'' atau ''meditasi.'' Bapak Darkim sendiri lahir tahun 1901 di Sidomulyo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Ilmu Ketuhanan Kasampurnan diterima beliau pertama kali tahun 1942 di Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, melalui ''dhawuh'' Gusti/Tuhan Yang Maha Esa, tatkala beliau melakukan ''semedi.'' Pada tahun itu pula ajaran Paguyuban Ketuhanan Kasampurnan disebarkan Bapak Darkim untuk yang pertama kalinya. Waktu itu, beliau tinggal di Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, dan bekerja sebagai guru SR merangkap kepala sekolah. Pada mulanya beliau hanya memberi wejangan kepada anggota keluarganya, dan tetangga yang membutuhkan. Lama kelamaan nama Bapak Darkim semakin terkenal ke mana-mana hingga keluar kabupaten sebagai orang yang pandai mengobati dan memberi pertolongan bagi yang mendapat kesulitan dalam hidupnya. Para tamu yang datang, diberi petunjuk tentang ''Ngelmu'' Ketuhanan Kasampurnan, sehingga Bapak Darkim dikenal dengan sebutan dukun dan Peguron ilmu ketuhanan kasampurnan. Beliau wafat tanggal 20 Desember tahun 1985, meninggalkan ajaran yang penyebarannya dilanjutkan oleh putra/wayah hingga sekarang. Organisasi yang memilih sesanti ''"sepi ing pamrih rame ing gawe, memayu hayuning bawana, nusa, bangsa dan sesama"'', bertujuan: # Untuk memperoleh keuntungan lahir batin, serta kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat; # Agar dapat memerangi napsu-napsu<noinclude>{{rh|456||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> kzetntd5ei1jy7jbhvpctjp1t4d0ev9 Halaman:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.pdf/472 104 102332 290881 287663 2026-05-10T12:58:52Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 290881 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /></noinclude>yang ada baru perwakilan, yakni di Kecamatan Jati Rogo, Kecamatan Bangilan, Kecamatan Bacar, Kecamatan Parengan, dan Kecamatan Ketungombo. Alamat Organisasi saat ini di Ds. Besowo, Kec. Jatirogo, Kab. Tuban. Paguyuban Ketuhanan Kasampurnan banyak bergerak di bidang sosial kemasyarakatan dan religius. Dalam kegiatan sosial, lebih diarahkan pada hubungan antar sesama manusia, kepentingan bersama lebih diutamakan dari pada kepentingan pribadi. Oleh karena itu, diupayakan untuk tidak menyakiti sesama, bahkan sebaliknya kegiatan sosial yang sifatnya pemberian bantuan baik moril maupun spirituil lebih digiatkan. Kegiatan lain adalah mengadakan Saresehan antara warga lama dan baru, menghadiri undangan pembina penghayat kepercayaan dan HPK. Kegiatan yang utama dan sudah menjadi agenda dari organisasi Ketuhanan Kasampurnan adalah mengadakan peringatan satu Sura setiap tahunnya. Ajaran Paguyuban Ketuhanan Kasampurnan bersumberkan pada wangsit yang diterima Bapak Darkim Asmoadmojo. Sebagai orang suka bersemedi, beliau biasa menerima ''dhawuh'' Gusti Tuhan Yang Maha Esa. ''Dhawuh'' yang diterimanya dapat berupa ''dhawuh sabda'', yakni adanya suara yang dapat didengar oleh telinga sendiri ; ''dhawuh go'ib'' yakni adanya warna yang dapat dilihat oleh mata sendiri ; ''dhawuh sasmita'' yakni gambar tumbuhan, hewan atau makhluk yang datang dilihat dalam mimpi. Ketiga ''dhawuh'' tersebut di integrasikan dengan wejangan dari Bapak Mangun Sudarso, melahirkan ajaran Ketuhanan Kasampurnan, yang kemudian disampaikan kepada warga Paguyuban Kasampurnan. Organisasi Ketuhanan Kasampurnan menetapkan pola dasar ajarannya tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, alam semesta dan kesempurnaan hidup. Ajaran tentang Ketuhanan menyampaikan tentang kedudukan Tuhan Yang Maha Esa, sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa, kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dan sebutan-sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran tentang kemanusiaan menyampaikan tentang asal usul manusia, struktur manusia, sifat-sifat manusia, kewajiban dan tugas manusia, dan tujuan hidup manusia. Ajaran tentang alam semesta menyampaikan tentang asal mula alam, kekuatan-kekuatan yang ada pada alam semesta, manfaat alam bagi manusia dan hal-hal lain yang menyangkut alam seperti bencana alam sebagai simbul atau tanda kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Ajaran tentang kesempurnaan hidup menyampaikan tentang manusia sebagai ''kaula Gusti/Tuhan'', tiap manusia harus selalu ingat Tuhan Yang Maha Esa. <small>Kepustakaan {{hii}}Sinaga Mula, Frans Priyobadi Marianno. 1996/1997. Ajaran Organisasi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, ''Paguyuban Ketuhanan Kasampurnan.'' Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.{{div end}} </small><noinclude>{{rh|458||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> 59jrgu4nqb0lmq3zioohovc0dubdfhe Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/265 104 102334 292013 287734 2026-05-11T11:36:11Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 292013 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{c|HIKAJAT SERIBU MASALAH}} {{right|oleh: Edwar Djamaris}} Hikajat Seribu Masalah ini termasuk djenis kesusastraan kitab Jang dimaksud kesusastraan kitab ialah karangan-karangan jang memuat adjaran-adjaran agama dalam arti jang umum. Tjeritera ini mulai dengan peristiwa ketika Nabi pergi ke Medinah dari Mekah. Seorang pendeta Jahudi bernama Abdullah Ibn Salam datang kesana dan ingin men adjukan beberapa pertanjaan sebagai sjarat untuk mejakinkannja masuk Islam. Nabi bisa mendjawab semua pertanjaan itu dengan pertolongan Malaikat Djibrail. Kerena pertanjaan itu benjak djumlahnja, maka disebut seribu masalah; jane sesungguhnja tidak sampai seribu djumlahnja. Setelah mendengar djawaban atau keterangan-keterangan Nabi tentang adjaran dan riwajat-riwajat jane berhubungan dengan agama Islam, jakinlah Abdullah Ibn Salam beserta 700 orang pendeta Jahudi lainnja bahwa Muhammad itu benar-benar nabi achir zaman, sehingga mereka tidak ragu-ragu lagi mengutjapkan sjahedat dan memeluk agama Islam. Dalam catalogus jang disusun oleh Dr Ph.S, van Ronkel naskah ini diberi djudul Hikajat Seribu Mesail. Kata masail adalah bentuk djamak dari kata mesalah, sedane Winstedt dalam bukunja {{u|History of Malay Literature}} membitjarakan hikajat ini denen djudul "Kitab sa-ribu Masa-'alah". Dalam karangan ini saja tjenderung mempergunakan kata masalah karena memang kata tersebut biasa dipergunakan dalam bahasa Indonesia daripada kata masail dan dalam tjeritera lisan, hikajat ini terkenal dengan nama Hikajat Masalah Seribu. Di Museum Pusat Djakarta terdapat sebanjak 8 buah Naskah Hikajat Seribu Masalah ini, terdaftar dalam {{u|Catalogus}} himpunan Dr. Ph.S. Van Ronkell<sup>1)</sup> sebagai nomor CCC - CCCVII, dengan tjatatan sebagai berikut: {{multicol}} <ol> I. Bat. Cen. 19.<br> 27 x 21 cm, 34 hal., 17 baris, th 1258.<br> Notulen IV. hal. 202, 31 Djuli 1866. II p.<br> {{multicol-end}} </ol><noinclude>{{rh|||3}}</noinclude> b3q1nqe9px4igh9gkzra2nws2q40iux Halaman:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.pdf/475 104 102337 290898 287674 2026-05-10T13:05:19Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 290898 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /></noinclude><center><big>'''KULOWARGO KAPRIBADEN'''</big></center> Paguyuban Kulowargo Kapribaden dibentuk pada hari Minggu Pahing 31 Agustus 1975 di Solo. Dengan tujuan Mempererat tali persaudaraan, tolong menolong antar sesama anggota dan orang lain, Menyelesaikan persoalan-persoalan yang didasarkan atas kerukunan kekeluargaan. Susunan Pengurus Paguyuban Kulowargo Kapribaden sebagai berikut: RRMT. Soedihardjo sr. SH sebagai Sesepuh sekaligus merangkap sebagai Ketua dan Saino Harsomadyana, BCH K sebagai Sekretaris dan Tawar Susanto sebagai Bendahara. Alamat organisasi berada di Jln. Lempuyang No.2 Griyan Rt 04/X Kelurahan Pajang Kec. Laweyan Surakarta 57146. Paguyuban ini berkembang di Kampung Sewu, Sangkrah, Sukoharjo dan lain-lain daerah, antara lain: Sragen, Karanganyar, Boyolali, Klaten, Yogyakarta, Semarang, Jepara, Talawah, Jakarta dan Sumatera, serta berpusat di Surakarta, Jawa Tengah. Berdasarkan catatan terakhir jumlah anggota Paguyuban Kulowargo Kapribaden adalah 806 orang. Sebagai organisasi kemasyarakatan kegiatan sosial yang dilakukan oleh warga Paguyuban Kulowargo Kapribaden adalah bahwa manusia harus punya keyakinan dan kesadaran pribadi secara penuh dalam kewaspadaan lahir dan batin di segala kegiatan atau perilaku di dalam masyarakat atau kehidupannya, pasrah dan berbuat menurut kebenaran yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan, kegiatan spiritual yang dilakukan oleh warga Paguyuban Kulowargo Kapribaden adalah melaksanakan penghayatan, yaitu bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi hidup dan kehidupan, serta Gaib-Nya, dengan rasa pasrah dan menyerahkan diri sepenuhnya dengan permohonan amun, serta mohon petunjuk-Nya suatu yang akan dilimpahkan dan terima kasih kepada-Nya; tata upacara karena Gaib-Nya untuk menuju kepada saudara pribadi dengan melalui jalan yang telah ditentukan yang bersifat spiritual dengan suatu sifat ''heneng, hening dan hanung'' untuk mencapai tujuannya; dengan Gaib-Nya Tuhan setelah melalui dasar pertama dan kedua menuju hubungan secara komunikasi atau ''paring pangandikan'' dengan saudara pribadi.<noinclude>{{rh|''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''||461}}</noinclude> 99e7pjhr7da9e47pvvv4b6rjj2fyo1s Halaman:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.pdf/479 104 102342 290836 290641 2026-05-10T12:24:34Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 290836 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /></noinclude>abadi, pencipta alam semesta dan isinya.; (2) Ajaran tentang Manusia, yang menyatakan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna, karena memiliki akal pikiran, cipta, rasa, karsa, keluhuran budi pekerti, sistem norma, nilai dan budaya. Manusia terdiri dari badan kasar (raga) dan badan halus jiwa). Menurut ajaran Mahayana, ketika lahir manusia adalah suci tetapi kemudian memiliki nafsu hijau (penggerak kebijaksanaan) yang ada di jantung, nafsu kuning (penggerak kepandaian dan kewaspadaan) yang ada di paru-paru, nafsu putih (penggerak kebajikan dan keluhuran) yang ada di ginjal, nafsu hitam (penggerak keduniawiaan) yang ada di lambung, dan nafsu merah (penggerak keberanian) yang ada di hal; (3) Ajaran tentang Alam Semesta yang menyatakan bahwa alam diciptakan oleh Tuhan yang Maha Esa, beserta isinya. Alam semesta terdiri dari : alam lahir (sistem tata surya, planet, bintang) dan alam batin (''bawana'' langgeng/alam abadi, ''jagad dewabatara/dihuni'' roh luhur, ''jagad pramudita''/tempat bersemayam "aku" dalam diri manusia) yang saling berhubungan. Untuk menghindari pengaruh buruk tersebut, manusia diharapkan selalu memperbaiki keadaan dengan menjaga kesucian, kemurnian, dan keselarasan ''raos-rumaos-pangraos''; (4) Ajaran tentang Kesempurnaan yang menyatakan bahwa yang Maha Sempurna di dunia ini adalah Tuhan Yang Maha Esa. Paguyuban Mahayana mengajarkan warganya agar dapat mencapai tiga tujuan pokok kehidupan, (a) mengetahui ''sangkan paraning dumadi'' (asal mula kejadian), (b) menghayati dan melaksanakan ''darma memayu hayuning bawana'' (menjaga dan melestarikan alam), (c) mencapai tingkat kesempurnaan ''manunggaling kawula Gusti'' (menyatunya umat dengan kekuasaan Tuhan), hidup abadi, dan ketenangan ''agung/ketenteraman agung''. Untuk membina kepribadian dan budi luhur, mewujudkan kehidupan dan kebahagiaan yang seimbang-selaras-serasi secara lahiriah dan batiniah dilakukan dengan belajar teori dan praktek ''semedi'' menurut ajaran Mahayana. Kegiatan Paguyuban Mahayana yang dilakukan kepada masyarakat, antara lain : (1) ceramah kehidupan mental spiritual lewat siaran radio setempat, (2) praktek penyembuhan spiritual dan konsultasi problem kehidupan secara gratis, (3) mendatangi keluarga masyarakat yang mempunyai masalah atau terkena musibah kehidupan. Daftar Pustaka {{hii}}NN. 1993/1994. ''Naskah Pemaparan Budaya Spiritual Paguyuban Mahayana''. Jakarta : proyek Inventarisasi Kepercayaan terhadap tuhan YME, Ditbinyat, Depdikbud.{{div end}}<noinclude>{{rvh4|465|''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> imz5p2o4fm78764ksuxabmurpgch7v8 Halaman:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.pdf/480 104 102343 290844 290643 2026-05-10T12:29:52Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 290844 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /></noinclude><center><big>'''MANUNGGALING KARSA'''</big></center> Paguyuban Manunggaling Karsa didirikan oleh R. Koesman di Malang, Jawa Timur pada tanggal 21 September 1977. Bapak R. Koesman Soesiloesman lahir di Surabaya, pendidikan beliau adalah H.I.S. Mulo Taman Dewasa K.L.P.S.G.A. dan pekerjaannya adalah sebagai Guru pembantu dalam masa perjuangan Klerk Advocaten Kantoor, Pemimpin Pemintalan. Tujuan Paguyuban Manunggaling Karsa adalah membina budi pekerti luhur, berbakti dan sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menggalang kerukunan sesama manusia. Susunan Pengurus Paguyuban Manunggaling Karsa adalah Pinisepuh sekaligus merangkap Ketua: Soesiloesman, Sekretaris : Suyanto dan Bendahara : Ibu E. Mulyaningsih. Paguyuban ini berpusat di Malang, dengan cabangnya berada di Kota Malang. Adapun alamat organisasi adalah Jalan Gajah Yana 571 Malang. Sebagai organisasi kemasyarakatan, kegiatan sosial yang dilakukan paguyuban adalah memberi pertolongan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan tanpa merugikan lahir maupun batin bagi yang menolongnya, rela dan ikhlas tanpa pamrih. Sedangkan, dalam kegiatan spiritual, yang dilakukan adalah penghayatan. Dalam melakukan penghayatan, pakaian yang digunakan bersih, rapi dan sopan. Tempat ritual, di sembarang tempat/di mana-mana asal bersih. Perlengkapan ritual yang diperlukan adalah air bersih. Arahnya bebas, waktunya setiap saat. Doa bisa dilakukan secara sendiri atau bersama-sama. Ajaran Paguyuban Manunggaling Karsa bersumber pada buku ''Wedatama Winardi'' (peninggalan dari almarhum Mangkunegara IV). Dalam hubungan manusia dengan Tuhan, Paguyuban Manunggaling Karsa mengajarkan agar manusia berbakti dan sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hubungan dengan sesama, mengajarkan agar menjaga kerukunan sesama umat manusia meskipun beraneka ragam agama dan atau keyakinannya. Adapun dalam hubungan dengan alam mengajarkan agar manusia menjaga, memelihara dan melestarikan alam (''memayu hayuning bawana''). Daftar pustaka {{hii}}Dokumentasi Perpustakaan, Tanpa Tahun "Paguyuban Manunggaling Karso Jawa Timur Pusat", Jakarta : Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.{{div end}}<noinclude> {{rh|466||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> c4ssq3gds04qeyx9efrglmtqsi1bd68 Halaman:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.pdf/482 104 102347 290848 290644 2026-05-10T12:33:06Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 290848 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /></noinclude>Ajaran Paguyuban Ngelmu Kasampurnan mempunyai lima ''paugeran'' (ilmu tuntunan) sebagai sikap dasar hidup manusia penganutnya dan yang dinamakan ''Panca Walika'', yaitu 1. harus menyayangi sesama hidup; 2. Tidak boleh melanggar persatuan negara; 3. ''Ora kena nerak wewaler'' (tidak boleh melanggar peraturan yang dianutnya sendiri); 4. Tidak boleh ingkar janji; 5. Tidak boleh saling menyumpah. ''Panca Walika'' ini juga mempunyai pasangan, yaitu tidak membutuhkan teman, tidak membutuhkan musuh, yang dibutuhkan hanyalah kebaikan. Selain lima pokok ajaran tersebut juga mempunyai 7 wewarah luar, yaitu: 1. Berani mengalah; 2. Menyanggupi apa yang diperintahkan; 3. Tidak merasa bangga apabila diterima/terlaksana; 4. Tidak ada kekecewaan, yang ada hanyalah kesediaan/persetujuan; 5. Merendah, tetapi selalu bisa; 6. Selalu mengucap terima kasih bila menerima anugerah; 7. Akrab dengan sesama adalah kewajiban setiap manusia.<noinclude>{{rh|468||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> hgu8vg43pab60tqpkar8nemc06k9q2k Halaman:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.pdf/490 104 102354 290830 287710 2026-05-10T12:19:33Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 290830 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /></noinclude><center>'''PAHAM JIWA DIRI PRIBADI'''</center> {| style="border: 1px solid black; padding: 2px;" | <big><big><big><big><big><big>'''P'''</big></big></big></big></big></big> |} Paguyuban Paham Jiwa Diri Pribadi adalah nama Paguyuban penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang beralamatkan di Kedung Jaya X/V RT 05/06 Sememi, Benowo Surabaya, 60198 dengan beranggotakan sebanyak 486 orang. Paguyuban Paham Jiwa Diri Pribadi ini berorientasi kepada diri pribadinya, bersumber pada 1. ''Kedadean'', 2. Wewarah, wewaler, petunjuk-petunjuk dan sejarah tinggalan para leluhur dan para pahlawan, 3. Hukum-hukum alam yaitu kodrat, dan yang kemudian dikembangkan melalui penelitian dan penggalian, serta penghayatan atas Diri Pribadi Jiwa Pribadi. Kata “Paham” dimaksudkan 'memahami', mengerti karena menghayati, sedangkan “Diri Pribadi” merupakan obyek dan sekaligus subyeknya dalam menghayati Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Manusia atau diri pribadi tidak hanya terdiri dari badan ''wadhag'' atau raga saja, tetapi terdapat pula “badan halus” atau jiwa raga, jasmani rohani. Jadi, “Paham Jiwa Diri Pribadi” dapat diungkapkan bahwa manusia atau diri pribadi memahami atau menghayati atas diri pribadi menuju pada kebersihan jiwa. Maksudnya, penghayatan atas diri pribadi, kaitannya dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain dan alam sekitarnya, serta kegunaannya dalam hidup bermasyarakat sehingga menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berbudi pekerti yang luhur. Paguyuban Paham Jiwa Diri Pribadi berdiri pada hari Sabtu Wage tanggal 10 Syawal tahun 1911 Soko atau tanggal 1 September tahun 1979 di Asemjaya IV/39 Surabaya, Jawa Timur. Pendiri organisasi ini ada delapan orang yang disebut dengan nama PANITIA DELAPAN, terdiri dari Basri Poerbosentono, Sukijar Notohadiwijono, Ny. Supartini S., Sujadi Brotosadono, Badjuri Hidayat, Mashuri Sastrohutomo, Sumawi, dan Hardjo Nitiutomo. Berdirinya Paguyuban Paham Jiwa Diri pribadi mulai dikenal dari ajarannya yang berawal dari hasil penghayatan Bapak Basri Poerbosentono yang di sekitar pertengahan tahun 1966, tepatnya tanggal 15 April melakukan “lelaku broto” menghadap ''Kedadean'', yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Kanugrahan tersebut kemudian diterjemahkan dengan kata-kata yang mengandung maksud ''elingna bangsamu, sing gelem'' atau 'ingatkan bangsamu bagi yang mau', maksudnya agar ingat kepada Raganya (''elinga marang ragamu''). Kemudian, hal itu disampaikan kepada teman-teman dekatnya untuk dapat dipecahkan<noinclude> {{rh|476||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> ey0byg9t31prv6i8qlr4ftza0l0svpz Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/267 104 102371 292014 287764 2026-05-11T11:36:33Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 292014 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||5}}</noinclude>ahli sedjarah Abu'Ali bin Muhammad al Bel'ami. Pada tahun 1143 diterdjemahkan dalam bahasa Latin oleh Herman Dalmatia di Toledo dengan djudul {{u|Book of Eight and Twenty Questions}}; dari bahasa Persi ke bahasa Turki abad 16 dan kedalam bahasa Melaju abad 17 djura ke bahasa Hindustan. Disamping itu naskah ini diterdjemahkan dari bahasa Porturis ke bahasa Belanda dan kemudian ke bahasa La tin lagi, setelah itu diterdjemahkan kedalam bahasa Djawa pada abad 18. Hikajat ini pernah diselidiki oleh C. F. Pijper, ahli arama Islam dan ahli bahasa Semit dalam disertasinja jang berdjudul {{u|Het Book der Duizend Vragen}}, Leiden 1924.<br> Hikajat Seribu Masaalah ini sebenarnja merupakan setengah hikajat, setengah kitab. Dalamnja ditjeriterakan kisah seorang tokoh jang bernama Abdullah Ibn Salam, seorang tokoh historis dari suku bangsa Samud dekat Medinah didaerah Chaibar, jang djuga merupakan tokoh legendaris. Tjeritera ini djuga memuat adjaran agama Islam dalam arti jang umum. Banjak didalamnja kita djumpai ajat-ajat al Kur'an untuk menguatkan adjaran-adjaran Nabi itu. Adapun pertanjaan-pertanjaan dalam tjeritera ini dapat kita bagi dalam beberapa djenis. #Pertanjaan kosmogonis, misalnja tentang bumi, langit, bulan, matahari, bintang dan sebagainja #Pertanjaan jan hanja bisa diketahui oleh Tuhan, misalnja soal sorga, neraka, hari kiamat dan sebarainja #Pertanjaan jan berupa teka-teki, misalnja: apa jang keras daripada bapanja. Djawabnja jaitu besi, karen asalnja batu. #Pertanjaan jang berupa arti bilangan, misalnja: apa jang esa tiada dua, dua tiada djadi tiga dan seterusnja. #Pertanjaan jang bersifat mythe, misalnja: Apa jang senantiasa terbang keudara dan betapa rupanja burung itu dan jang mana namanja jang benar? Jaitu burung Anoka jang tak pernah menjentuh bumi selama hidupnja. Menurut Winstedt<sup>6)</sup>, riwajat Abdullah Ibn Salam ini waktu masuk Islam sama dengan riwajat seorang pendeta Jahudi jang bernama Nicodemus jang akan masuk Nasrand. Persamaannja itu sampai kepada hal-hal jang {{hws|seke|seketjil-ketjilnje}}<noinclude></noinclude> ndci74uml81psqchl0ye0m51rx38u1p Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/268 104 102383 292015 287780 2026-05-11T11:37:10Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 292015 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||6}}</noinclude>{{hwe|tjil-ketjilnje|seketjil-ketjilnje}}. Nicodemus mula-mula setjara rahasia pertjaja kepada Jesus karena takut kepada kawan. Abdullah Ibn Salampun demikian. Nicodemus sebelum pertjaja mendatangi Jesus setjara sembunji. Abdullahpun begitu djuga. Untuk lebih djelasnja baiklah kita ringkesken isi hikajat ini berdasarkan naskah nomor W. 82,<sup>7)</sup> milik Museum Pusat Djakarta. Naskah ini besarnja 32 x 21 cm, 105 halaman, 19 baris. Keadaan naskah ini pada umumnja baik, tulisan terang, akan tetapi ada djura beberapa kata jang sukar dibatja. Permulaan kalimat don jet ajat Kuren jang dikutip ditulis dengan tinta merah. Pada halaman djudul tertulis Hikajat Masalah Seribu, sedang pada halaman 2 ada tertulis Hikajat Seribu Masalah. Pada halaman pertama dimulai dengan bismillah dan beberapa aja; Kur'an, jang kemudian diterdjemahkan.<br> Adapun ichtisar Hikajat Seribu Masalah itu berdasarkan naskah nomor W. 82 ialah sebagai berikut : Tjeriterenja dimulai ketika Nabi Muhammad datang ke Medinah dari Mekkah. Sesampainja di Medineh Djibrail datang dengan membawa Firman Allah, menjuruh supaja Nabi membuat surat kepada seorang pendeta Jahudi jang bernama Abdullah Ibn Salam di Benua Chaibar. Maka Nabi (Rasul) menjuruh Kadi Said membuat surat seperti apa jana dikatakan Djibrail itu. Setelah menerima surat itu tahulah Abdullah bahwa surat itu dari nabi achir zaman Muhammad, karena telah diketahuinja tanda-tanda kenabiannja sebelumnja dalam Taurat, Indjil den Zebur. Abdullah mengadjak kaum Jahudi supaja mengikut agama nabi achir zaman itu dan lagi Nabi Musa dulu sudah berpesan bahwa apabila sudah datang agama Nabi Muhammad supaja mengikut agama itu dan meninggalkan agama sebelumnja. Akan tetapi kaum Jahudi itu tiada mau mengikutinja karena belum mengetahui akan Nabi Muhammad itu. Mereka semua mendjadi sedih mendengar adjakan Abdullah untuk mengikut agama baru itu. Karena ka- um Jahudi itu masih ragu-ragu, maka Abdullah itu mendjandjikan kepada kaumnja akan datang menghadap Nabi dan akan menanjakan seribu masalah jang terdapat dalam kitab Taurat, Indjil, Zabur dan kitab-kitab lain- nja. Apabila Nabi dapat mendjawab seribu masalah itu, maka kaum Jahudi itu tiada akan sjak lagi bahwa ia benar-benar nabi achir zaman. Mendengar itu kaum Jahudi menjetudjuinja dengan segala senang hati. Maka datanglah Abdullah Ibn Salam dengan tudjuh ratus orang {{hws|pen|pendeta}}<noinclude></noinclude> 2yghttvrhqwwb7we0rm5w0dzjjzgq5t Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/263 104 102387 292011 287765 2026-05-11T11:34:27Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 292011 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{c|SELAMAT TINGGAL, TAHUN 1971...!}} Menjelang akhir tahun ini, kita mencatat kembali getar suara angkatan muda dengan nada tinggi: protes! Rasa keadilan, hak-azasi, bukanlah istilah-istilah yang baru. Namun menghayatinya secara kongkrit dalam peristiwa kemasyarakatan, senantiasa memberikan landasan bahwa nada demikian bukan saja sah; tetepi juga layak dinyatakan: kapan dan dimana perlu. Sudah barang tentu, dalam batas-batasnya: tatakrama manusiawi, suatu hal yang sedang diperjuangkan oleh angkatan muda itu sendiri, juga. Dari kenyataan diatas tersirat pentingnya sikap: peka dalam hidup, peka dalam penghayatan, yang secera umum disebut: kritis. Dan hal itu -- dalam wujud polos -- telah sama-sama kita dengar. Dalam wujudnya yang lain ditawarkan kepada kita: variasi-variasi, sesuatu yang telah dimungkinkan adanya oleh angkatan muda. Yakni, behwe manusia memerlukan cakrawala yang lebih luas dalam hidupnya, baik alami maupun ilmiah. Untuk itulah, secara sederhana, majalah ini kembali menghidengken artikel-artikel yang sesuai dengan bidang yang dijelajahinya, yakni bahasa den kesusastraan. Karena, kita percaya bahwa pembangunan dengan P (besar) bukan hanya berarti bengkitnya gedung-gedung megah dan mewah. Tetapi, juga yang lain. Salah satu: inilah! {{Right|Dj. S.}}<noinclude></noinclude> fd7rn8fujq2665g05sq6x2b1o9iybjt Halaman:Gelora Konfrontasi Mengganjang Malaysia.pdf/11 104 102407 291519 288683 2026-05-11T02:26:02Z OwlyKnight 24017 /* Tervalidasi */ 291519 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="OwlyKnight" /></noinclude>[[File:Gelora Konfrontasi Mengganjang Malaysia (page 11 crop).jpg|left|400px]] {{block right|align=justify|{{Cursive|Gelora}}<br>KONFRONTASI<br>MENGGANJANG<br>MALAYSIA}} {{clear}} {{C|{{larger|{{sp|'''ISI'''}}}}}} {{Daftarisi dtt||'''PENGANTAR KATA'''|6}} {{Daftarisi dtt||'''LATAR BELAKANG MASALAH „MALAYSIA”'''|9−27}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Neo-kolonialisme mendjadi njata}}|13}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Penjelesaian setjara Asia bagi bangsa-bangsa Asia}}|19}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Usaha-usaha baru untuk penjelesaian setjara damai}}|25}} {{Daftarisi dtt||'''ONE CANNOT ESCAPE HISTORY'''|31−67}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Menudju nasib bersama}}|33}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Deklarasi Kemerdekaan Asia}}|43}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Untuk keagungan seluruh ummat manusia}}|53}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Laporan Sekretaris Djenderal P.B.B.}}|59}} {{Daftarisi dtt||'''DOKUMEN-DOKUMEN'''|69−148}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Persetudjuan Manila}}|71}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Deklarasi Manila}}|80}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Pernjataan Bersama Manila}}|84}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Surat kepada Sekretaris Djenderal P.B.B.}}|91}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Resolusi Sidang Umum P.B.B. No. 1541 (XV)}}|96}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Aide Memoire Indonesia kepada Misi P.B.B.}}|105}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Aide Memoire Philipina kepada Misi P.B.B.}}|118}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Pernjataan Bersama Indonesia — Philipina}}|137}} {{Daftarisi dtt||'''KETERANGAN PEMERINTAH'''|151−212}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Pengganjangan „MALAYSIA” program aksi Pemerintah (11 DESEMBER 1963)}}|153}} {{Daftarisi dtt||{{gap}}{{smaller|Soal „MALAYSIA” kita selesaikan dengan konfrontasi dibidang apapun djuga (27 April 1964)}}|174}}<noinclude></noinclude> 1fw86hc964os1wot39w1imcndhmq24e Halaman:Gelora Konfrontasi Mengganjang Malaysia.pdf/2 104 102412 291382 289477 2026-05-10T22:24:54Z Moel81 25980 /* Tervalidasi */ 291382 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Moel81" /></noinclude><small>{{c|{{sp|'''PROPERTY OF'''}}}}</small> {{C|{{xx-large|'''''University of'''''<br> '''''Michigan'''''<br> '''''Libraries'''''}}}} <small>{{c|{{sp|1817}}}}</small> {{c|__________________________}} {{c|{{illegible}}{{sp|SCIENTIA VERITAS}}}} {{c|___________________________}}<noinclude></noinclude> 726ccngbei5hl6i12exc2x7t7pynn7d Halaman:Dongeng Monjet dengen Koera-Koera.pdf/15 104 102526 291364 288194 2026-05-10T17:36:36Z Bibazi 25578 /* Tervalidasi */ 291364 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Bibazi" />{{rh||{{--}} 3 {{--}}|}}</noinclude> doewa-doewa gelondongannja. Soeda begitoe, berkata si Monjet kepada sobatnja si Koera-koera, katanja: „Enak sekali rasanja pisang ini."— laloe ija tekan gelondongannja sama tangannja, djadi keloewar pisang dari dalem gelondongannja masoek kemoeloetnja— „boekan patoet enaknja! Begimana pikiran abang Koera-koera, kaloe seandenja kita menanem pisang boewat makanan kita?" Sahoet si Koera-koera: „Itoe baik betoel pikiran ade; manjolah kita tanem pisang!" Kata si Monjet „Baikla!"—laloe ija memandjat lagi, dan dipetiknja satoe djantoeng—„na, ini apa bakal ditanem." Kata si Koera-koera: „Saja tida bisa memandjat, maka anak pisang sadjala saja ambil bakal ditanem." Kata si Monjet: „Baikla!"— laloe berdjalan doewa-doewanja, mentjari tempat bakal kebon pisang itoe. Didalem hoetan itoe ada satoe tana lapang, serta doewa-doewanja sobat itoe sampe kesitoe, lantas si Monjet lihat, ada setoempoek kotoran kerbo, maka kata si Monjet: „Ini kebetoelan! pada kotoran kerbo itoe saja maoe tanem djantoeng ini, djadi ada penggemoek sekalijan." Maka ija tanem djantoeng pisang itoe, ditantjepkennja dalem katoran kerbo itoe. Dan si Koera-koera djoega menanem anak pisangnja, tetapi dalem tana dija galiin lobang begimana bijasa orang menanem pisang, tida djaoe dari djantoeng pisang jang si Monjet tanem itoe. Maka kata si Monjet: „Tjoba liat, djantoeng pisang ditanem ditenga penggemoekan, kaloe tida lekas toemboe dan boewanja tida besar-besar, soenggoe satoe heranla! Marila sekarang kita poelang keroema!" Kata si Koera-koera : „Baikla."— laloe poelangla doewa-doewanja sobat itoe keroemanja, artinja, si Koera-koera mentjari satoe lobang deket satoe kali ketjil, dan si Monjet memandjat poehoen kajoe jang ada deket disitoe. Kemoedijan adala doewa hari lamanja, maka si Monjet itoe berkata :„He abang Koera-koera, manjo kita pergi meliat taneman kita." Kata si Koera-koera: „Manjola!" Serenta sampe , berlompat-lompat si Monjet,<noinclude></noinclude> 5qag49ikub6rbbk14zyxamdtds9aqzw Halaman:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.pdf/452 104 102570 290865 288304 2026-05-10T12:46:31Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 290865 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /></noinclude>{{C|{{larger|'''KASAMPURNAN JATI'''}}}} {{border|position=left|compact=true|max-width=4em|{{font-size|250%|{{c|'''K'''}}}}}} Paguyuban Kasampurnan Jati didirikan oleh Ki Ahmad Taruno dan Ki Budi Utomo. di Desa Plumbon, Kec. Temon, Kab Kulon Progo DIY, pada tanggal 5 Juli 1963. Nama ''Kasampuman'' berarti sempurna, utuh atau komplit dan ''Jati'' berarti sesungguhnya atau sebenarnya. Jadi, ''Kasampurnan Jati'' dapat diartikan dengan keutuhan yang sebenarnya, seseorang dapat mencapai tingkat kesempurnaan hidup yang tinggi. Paguyuban ini mempunyai tujuan membimbing para warganya agar bisa menjadi manusia yang dapat mencapai tingkat kehidupan yang sempurna dalam arti sebenarnya. Lambang Organisasi Kasampurnan Jati berbentuk gambar jagad dan obor dengan lima cahaya dan mempunyai warna merah, hitam, kuning dan putih. Gambar jagad artinya kita sebagai titah wajib ''manunggal'' dengan alam, karena merupakan sumber hidup dan kehidupan. Kita wajib menjaga, memelihara demi keselamatan dunia seisinya (''memayu hayuning bawana''). Obor dengan lima cahaya yang bersumber dari minyak bumi melambangkan bahwa kita adalah hidup dan harus mengerti tugas dan kewajiban hidup dan kehidupan dalam dunia, dengan berpedoman patokan hidup bangsa Indonesia, yaitu pancasila. Sedangkan Warna merah, hitam, kuning, dan putih melambangkan bahwa manusia mempunyai sifat empat hal, yaitu: ''amarah, aluamah, supiah dan mutmainah'', serta harus mampu mengendalikan jika ingin selamat hidupnya. Struktur Organisasi Kasampurnan Jati mempunyai susunan pengurus, Pinisepuh: Budi Utomo; Ketua: Budi Utomo; Sekretaris: Wagiman; Bendahara : Budiman. Anggota organisasi Kasampurnan Jati berjumlah 695 orang Penerima ajaran Kasampuman Jati, berawal dari jerih payah Almarhum Ki Tjitrojoso, yang pada tahun 1860 banyak memberi pertolongan kepada orang lain, baik berupa pengobatan penyakit, maupun nasihat-nasihat kehidupan. Darma bakti ki Tjitrojoso ini berjalan cukup lama, sampai menjelang puput usia pada tahun 1908. Sepeninggalnya Ki Tjitrojoso, kegiatan darma bakti beliau untuk sementara terhenti, dan baru pada tahun 1925 dilanjutkan oleh putranya yang bernama Ki Karjonadi. Beliau di samping memberikan pertolongan pengobatan, juga berusaha memberikan olah kerohanian dan olah raga bela diri. Banyak orang yang berguru kepada beliau. Walaupun sifatnya perorangan, tetapi hubungan mereka terhadap sesama warga sangat akrab. Setelah berjalan beberapa lama yakni pada<noinclude>{{rh|438||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> r0ir9k1mo0amyb8rw89suic48t3dhq0 Halaman:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.pdf/450 104 102583 290860 288338 2026-05-10T12:41:18Z Aeia aai 24023 /* Tervalidasi */ 290860 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /></noinclude>{{c|<big>'''JAWA SEJATI'''</big>}} Organisasi ini berdiri tanggal 27 Agustus 1989 secara musyawarah yang dipimpin oleh R. Soemyar A.H. Tujuan berdirinya organisasi ini adalah menumbuhkan kemantapan dalam melestarikan adat istiadat dan kebudayaan nasional. Perkembangan Pajati sebagai organisasi penghayat tidak terlepas dari peran serta R.M. Ki Bagus Hadi Koesoemo sebagai pendiri Kawruh Naluri (KWN) sebagai ''cikal bakalnya.'' Pada waktu itu, ia berusaha menyelamatkan orang banyak dari tekanan Belanda yang berusaha melarang keberadaan organisasi ini. ''Kawruh Naluri'' terus berkembang walaupun mengalami pembekuan dari pemerintahan, sehingga harus diganti namanya menjadi Paguyuban Djawa Naluri (PDN) pada tahun 1980. Atas anjuran Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kebumen, namanya kemudian berganti menjadi Paguyuban Jawa Sejati. Sesepuh PAJATI saat ini adalah San Mardi yang diangkat pada tanggal 15 Desember 1993. Organsisasi ini berpusat di Jl. Sulawesi No.9 RT 02/09 Wonokriyo, Gombong (Kompleks Yayasan Setiaki) Kebumen dengan cabang-cabangnya di Kebumen dan Cilacap. Anggota Pajati 761 orang. Anggota tidak terbatas pada lapisan mana pun, asalkan orang tersebut tertarik untuk mengikuti dan mempelajari ajaran Pajati. Ajaran Pajati merupakan ajaran ketuhanan Yang Maha Esa dengan pengakuan dan keyakinan bahwa dunia dan alam semesta ini ciptaan Tuhan. Ajaran ini sudah ada sejak dulu kala hanya belum dibakukan dalam bentuk ''kawruh.'' Ajaran Ketuhanan yang digambarkan melalui ''seloka'' atau lambang Burung Garuda merupakan sumber dari ajaran Pajati, yang menunjukkan bahwa ajaran ini telah diamalkan dan dihayati nenek moyang Bangsa Indonesia. Pertama kali ajaran ini diterima R.M Ki Bagus Hadi Koesoemo, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya R. Nurhadi. Organisasi Pajati mengajarkan tentang Ketuhanan yang memberikan pemahaman tentang kedudukan Tuhan, kekuasaan Tuhan (pencipta alam semesta dan segala isinya); isyarat atau lambang tuntunan yang diberikan Tuhan (berupa hati nurani sejati dan luhur yang dapat dijadikan landasan dalam melakukan perbuatan baik dan benar). Organisasi ini juga mengajarkan tentang Kemanusiaan yang memberikan pemahaman tentang asal-usul manusia (diciptakan Tuhan dari ''sawiji'' atau satu eka yang terlihat dalam wujud jasmani, rasa atau badan, dan hidup); struktur manusia (jasmani dan rohani); tugas dan kewajiban manusia (percaya dan berterima kasih kepada Tuhan;<noinclude>{{rh|436||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> dju34iehwvdezguu2afsls8p007a18l 291290 290860 2026-05-10T16:18:05Z Thersetya2021 15831 291290 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /></noinclude>{{c|<big>'''JAWA SEJATI'''</big>}} Organisasi ini berdiri tanggal 27 Agustus 1989 secara musyawarah yang dipimpin oleh R. Soemyar A.H. Tujuan berdirinya organisasi ini adalah menumbuhkan kemantapan dalam melestarikan adat istiadat dan kebudayaan nasional. Perkembangan Pajati sebagai organisasi penghayat tidak terlepas dari peran serta R.M. Ki Bagus Hadi Koesoemo sebagai pendiri Kawruh Naluri (KWN) sebagai ''cikal bakalnya.'' Pada waktu itu, ia berusaha menyelamatkan orang banyak dari tekanan Belanda yang berusaha melarang keberadaan organisasi ini. ''Kawruh Naluri'' terus berkembang walaupun mengalami pembekuan dari pemerintahan, sehingga harus diganti namanya menjadi Paguyuban Djawa Naluri (PDN) pada tahun 1980. Atas anjuran Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kebumen, namanya kemudian berganti menjadi Paguyuban Jawa Sejati. Sesepuh PAJATI saat ini adalah San Mardi yang diangkat pada tanggal 15 Desember 1993. Organsisasi ini berpusat di Jl. Sulawesi No.9 RT 02/09 Wonokriyo, Gombong (Kompleks Yayasan Setiaki) Kebumen dengan cabang-cabangnya di Kebumen dan Cilacap. Anggota Pajati 761 orang. Anggota tidak terbatas pada lapisan mana pun, asalkan orang tersebut tertarik untuk mengikuti dan mempelajari ajaran Pajati. Ajaran Pajati merupakan ajaran ketuhanan Yang Maha Esa dengan pengakuan dan keyakinan bahwa dunia dan alam semesta ini ciptaan Tuhan. Ajaran ini sudah ada sejak dulu kala hanya belum dibakukan dalam bentuk ''kawruh.'' Ajaran Ketuhanan yang digambarkan melalui ''seloka'' atau lambang Burung Garuda merupakan sumber dari ajaran Pajati, yang menunjukkan bahwa ajaran ini telah diamalkan dan dihayati nenek moyang Bangsa Indonesia. Pertama kali ajaran ini diterima R.M Ki Bagus Hadi Koesoemo, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya R. Nurhadi. Organisasi Pajati mengajarkan tentang Ketuhanan yang memberikan pemahaman tentang kedudukan Tuhan, kekuasaan Tuhan (pencipta alam semesta dan segala isinya); isyarat atau lambang tuntunan yang diberikan Tuhan (berupa hati nurani sejati dan luhur yang dapat dijadikan landasan dalam melakukan perbuatan baik dan benar). Organisasi ini juga mengajarkan tentang Kemanusiaan yang memberikan pemahaman tentang asal-usul manusia (diciptakan Tuhan dari ''sawiji'' atau satu eka yang terlihat dalam wujud jasmani, rasa atau badan, dan hidup); struktur manusia (jasmani dan rohani); tugas dan kewajiban manusia (percaya dan berterima kasih kepada Tuhan;<noinclude>{{rh|436||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> 66c30tyiyv20j9ayb8bje5ainidm43r 291295 291290 2026-05-10T16:28:51Z Thersetya2021 15831 291295 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aeia aai" /></noinclude>{{c|<big><big>'''JAWA SEJATI'''</big></big>}} Organisasi ini berdiri tanggal 27 Agustus 1989 secara musyawarah yang dipimpin oleh R. Soemyar A.H. Tujuan berdirinya organisasi ini adalah menumbuhkan kemantapan dalam melestarikan adat istiadat dan kebudayaan nasional. Perkembangan Pajati sebagai organisasi penghayat tidak terlepas dari peran serta R.M. Ki Bagus Hadi Koesoemo sebagai pendiri Kawruh Naluri (KWN) sebagai ''cikal bakalnya.'' Pada waktu itu, ia berusaha menyelamatkan orang banyak dari tekanan Belanda yang berusaha melarang keberadaan organisasi ini. ''Kawruh Naluri'' terus berkembang walaupun mengalami pembekuan dari pemerintahan, sehingga harus diganti namanya menjadi Paguyuban Djawa Naluri (PDN) pada tahun 1980. Atas anjuran Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kebumen, namanya kemudian berganti menjadi Paguyuban Jawa Sejati. Sesepuh PAJATI saat ini adalah San Mardi yang diangkat pada tanggal 15 Desember 1993. Organsisasi ini berpusat di Jl. Sulawesi No.9 RT 02/09 Wonokriyo, Gombong (Kompleks Yayasan Setiaki) Kebumen dengan cabang-cabangnya di Kebumen dan Cilacap. Anggota Pajati 761 orang. Anggota tidak terbatas pada lapisan mana pun, asalkan orang tersebut tertarik untuk mengikuti dan mempelajari ajaran Pajati. Ajaran Pajati merupakan ajaran ketuhanan Yang Maha Esa dengan pengakuan dan keyakinan bahwa dunia dan alam semesta ini ciptaan Tuhan. Ajaran ini sudah ada sejak dulu kala hanya belum dibakukan dalam bentuk ''kawruh.'' Ajaran Ketuhanan yang digambarkan melalui ''seloka'' atau lambang Burung Garuda merupakan sumber dari ajaran Pajati, yang menunjukkan bahwa ajaran ini telah diamalkan dan dihayati nenek moyang Bangsa Indonesia. Pertama kali ajaran ini diterima R.M Ki Bagus Hadi Koesoemo, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya R. Nurhadi. Organisasi Pajati mengajarkan tentang Ketuhanan yang memberikan pemahaman tentang kedudukan Tuhan, kekuasaan Tuhan (pencipta alam semesta dan segala isinya); isyarat atau lambang tuntunan yang diberikan Tuhan (berupa hati nurani sejati dan luhur yang dapat dijadikan landasan dalam melakukan perbuatan baik dan benar). Organisasi ini juga mengajarkan tentang Kemanusiaan yang memberikan pemahaman tentang asal-usul manusia (diciptakan Tuhan dari ''sawiji'' atau satu eka yang terlihat dalam wujud jasmani, rasa atau badan, dan hidup); struktur manusia (jasmani dan rohani); tugas dan kewajiban manusia (percaya dan berterima kasih kepada Tuhan;<noinclude>{{rh|436||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> 9buj0fnkbdq52i311z98f5b960xclbg Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/422 104 102688 291537 288630 2026-05-11T02:43:27Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291537 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|4}}</noinclude>tidak dilaksanakan untuk kesenangan atau kepuasan pribadi. Dengan kritik diharapkan dapat dihindarkan alionasi yang sering terjadi antara sastrawan pencipta dan masyarakat. Dengan demikian dapat diharapkan, bahwa pada akhir-akhimya sastra sungguh-sungguh menjadi bagian integral dari kehidupan (-budaya) manusia. Tidak perlu diulangi, bahwa dongan menikmati sastra tolok pengalaman kita bisa menanjak, kita memperoleh pengalaman-pengalaman berharga yang belum tentu dapat kita miliki dari kehidupan sehari-hari. 4. Komunikasi kritikal (critical compunication) menghasilkan penilaian, negatif atau positif. Penilaian ini harus ada alasannya. Alasan ditarik dari dalam ciptasastra, karena ia adalah kadar estotis (nesthetic quality) yang terdapat dalam ciptasastra itu. (hal-hal lain yang berhubungan dengan personlan ini sudah disinggung dalam reforat Simposium LBK 1966).<br> Kritik bersifat eksplisit. Ia bertugas membongkar semuanya untuk menjelaskan semuanya. (Mereka yang beranggapan bahwa kadar estetis suatu ciptasastra mutlak tidak mungkin dijelaskan tentu tidak mengakui adanya kritik). Untuk membongkar itulah diperlukan analisa. Untuk mencari alasan diperlukan analisa, atau dengan kata lain: analisa diperlukan untuk sampai pada alasan bagi penilaian. Analisa pada gilirannya bertopang pada pengetahuan teori kesusastraan, sehingga dapatlah dikatakan bahwa dalam kritik sastra yang baik selalu tersimpan pendirian kritikawan tentang hakikat dan fungsi sastra itu sendiri. Namun demikian kritik sastra yang baik senantiasa pula harus membuka diri terhadap "gejala-gejala lain" daripada apa yang lazim ditemukannya. Ciptasastra besar mungkin saja mengajukan "permintaan-permintaan baru" kepada sensibilitas kritikawan. Jawaban atau sambutan terhadap permintaan ini ialah keterbukaan kritik itu<noinclude></noinclude> 29fhezrmaqibqds6t3c57zr2cd1goeu Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/423 104 102693 291538 288653 2026-05-11T02:43:52Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291538 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|5}}</noinclude>sendiri, tidak kaku tradisional. Lagi pula sikap tertutup bertentangan dengan sikap ilmiah. 4.1 Analisa sobagai deskripsi kadar estetis bersifat obyektif. Namun bukan tidak terdapat bahnya dalam pelaksanaan analisa ini. Bahaya itu ialah kemungkinan meluncur menjadi akademisme yang kering, dangkal dan sempit. Orang mudah saja terpesona pada perfeksi lahiriah. Jika sering dikatakan bahwa sebuah ciptasastra bukan hanya idea semata-mata, kebaikannya pun bukanlah ciptasastra: perfeksi lahiriah semata-mata bukan ciri sobuah ciptasastra yang berhasil. Sebuah ciptasastra yang berhasil harus punya permasalahan. 4.2. Analisa Jang hanya sampai pada eksplisitasi unsur-unsur saja, tanpa kemampuan melihat intorrelasinya, pada hakikatnya hanya merugikan saja. Jika perhatian diarahkan kepada detail-detail itu dalam isolasi dan dilihat sebagai detail an sich, maka detail itu menjadi lain berubah sifatnya sebagai bagian dari suatu kesatuan. Analisa seperti itu merugikan detail itu sendiri, karena detail atau unsur tersebut menjadi "tidak berfungsi". 4.3 Kecemerlangan sebuah ciptasastra sebagai ciptasastra sebenarnya berada dalam kekompakan, kebulatan atau kepaduannya, tidak dalam unsur-unsurnya yang terpisah-pisah. Sekali lagi sebuah ciptasas tra adalah suatu kesatuan struktural, dengan unsur-unsurnya yang terjalin secara fungsional. Lapisan idealisasi erat padu dengan lapisan stilisasi. Dan kritik adalah pengungkapan struktur itu. Kritik sastra tidak hanya berkewajiban menunjukkan unsur-unsur yang membuat ciptasastra itu berhasil, tetapi juga berkewajiban menjelaskan bagaimana kerjasama antar unsur, dalam membina suatu kesatuan organis.<noinclude></noinclude> bayt3vnt5ierp6durgawxc5sgwmwsik Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/424 104 102709 291539 288702 2026-05-11T02:44:15Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291539 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|6}}</noinclude>Analisa yang dibutuhkan ialah analisa struktural. Analisa struktural senantiasa berusaha melihat intorrelasi unsur-unsur atau bagian-bagian itu, saling aksi (inter-acting) bagian-bagian itu. 4.4 Bantuan ilmu-ilmu kerabat sangat berguna. Akan tetapi kritik sastra tidak boleh tergelincir menjadi ilmu kerabat itu sendiri.<br> T. S. Eliot telah memberikan peringatan yang berharga sekali: ". . . the 'historical' and the 'philosophical' critics had better be called historians and philosopher quite simply." {{u|(The Sacred Wood}}, (1960), h 16). 5. Timbul pertanyaan: Jika alasan bagi penilaian itu harus ditarik dari dalam ciptasastra itu sendiri, dan telah dilakukan apakah dengan demikian kritik sastra bisa distandardisasikan? Lalu tidak ada cap pribadi dari masing-masing kritikawan? Masalah ini masalah yang pelik sekali. Dapatkah dipecahkan dengan jalan memberikan tempat kepada "personal preference (s)", yakni perhatian yang lebih banyak bagi aspek-aspek tertentu? Misalnya kritikawan A menjatuhkan preference-nya pada alur, kritikawan B pada irama.<noinclude></noinclude> roi7srw5pyq2z1cvs95gvc2hdts9hq8 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/426 104 102726 291542 289319 2026-05-11T02:46:19Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291542 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|8}}</noinclude>{{hwe|biraan|kegembiraan}} dan perkawinan yang bahagia. {{Gap}} Salah satu cerita penglipur lara yang cukup terkenal yang akan kami bicarakan di bawah ini ialah Hikayat Malim Deman. Cerita ini terkenal di Minangkabau dengan nama Kaba Malim Deman. Semua orang di daerah Minangkabau mengetahui cerita ini, sekurang-kurangnya pokok-pokok ceritanya, terutama sekali oleh orang-orang muda. Tepatlah kalau cerita ini disebut cerita rakyat atau folklore. Akhir-akhir ini cerita ini sering pula disajikan dalam drama klasik Minangkabau. {{Gap}} Kaba ini pernah beberapa kali diterbitkan oleh penerbit Taamaratul Ichwan, Bukittinggi, dongan judul : {{u|Malinm Deman dengan Putri Bungsu}}, yang disusun oleh Sjamsudin Sutan Radjo Endah. Kaba ini kemudian diterbitkan pula oleh P.N. Balai Pustaka, cetakan ke II, 1965 dalam bahnen Indonesia oleh A. Dt. Madjoindo, dengan judul : {{u|Tjerita Malim Deman dan Puteri Bungsu}}. Sedang naskahnya dalam bahasa Minangkabau masih ada tersimpan di Museum Pusat Jakarta, koleksi H. van de Vall, dengan nomer kode v. d. 7. 209, berjudul : {{u|Kaba Malim<sup>2)</sup> Deman}}. {{Gap}} Cerita ini juga telah diterbitkan di Singapore oleh R. O. Winstedt dan A.J. Sturrock dengan judul : {{u|Hikayat Malim Deman}}, oleh penerbit Malaya Publishing House, 1960. Berdasarkan naskah Winstedt ini diterbitkan pula di Kuala Lumpur oleh Pawang Ann dan Raja nji Yahya dengan kata pengantar R. Roolvink, penerbit Fajar Bakti, sampai pada cetakan ko VI, 1970. Di samping itu terdapat pula satu versi lagi di Perlis. Versi Cerita Malim Deman di Perlis ini banyak perbedaannya dengan Cerita Malim Deman terbitan R.O. Winstedt di atas, akan tetapi banyak persamaannya dengan Versi Minangkabau <sup>3)</sup>. {{Gap}} Cerita ini juga terdapat di berbagai daerah di Nusantara ini. Misalnya, di Sumatera Utara terkenal dengan nama Cerita Malin Duana,<noinclude></noinclude> ra4qgj6dd4oshy94zz8otii8b67cw7u Halaman:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.pdf/389 104 102775 291048 288896 2026-05-10T13:52:54Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291048 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Jawa Tengah. Keberadaan anggota organisasi ini tersebar di Kabupaten Cilacap. Sampai saat ini, anggota organisasi ini berjumlah sekitar 192 orang dan anggota organisasi tidak terbatas pada lapisan manapun. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan organisasi ini adalah: 1. Sarasehan, 2. Bimbingan Tenaga Pembina, 3. Pembinaan AD/ART yang disesuaikan dengan UU no. 8 Tahun 1985 untuk pegangan atau pedoman dalam pelaksanaan penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan YME dan keorganisasian. Selain itu, sebagai organisasi kemasyarakatan juga melaksanakan kegiatan sosial adalah membantu memberikan kesembuhan orang yang sakit dan membantu warga yang mempunyai permasalahan keluarga. Kegiatan spiritual adalah melakukan penghayatan melalui beberapa tingkatan secara berurutan, yaitu: 1. memelihara jalannya raga, dengan tujuan mewujudkan keserasian badan agar tetap sehat dan menarik hati, 2. memelihara jalannya budi, artinya harus sabar dan ''berbudi bawa leksana'' (dapat membedakan antara kodrat dan iradat), 3. memelihara jalannya hati, artinya sungguh-sungguh takwa kepada Tuhan baik secara lahiriah maupun batiniah, 4. memelihara jalannya rasa, artinya mengetahui antara yang menyembah dan disembah. Kegiatan ini dilaksanakan dalam suasana tenang. Organisasi Sukmo Sejati mengajarkan tentang Ketuhanan yang memberikan pemahaman tentang kedudukan Tuhan yang maha segalanya serta kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas, mutlak, bersifat gaib dan suci. Organisasi ini juga mengajarkan tentang Kemanusiaan yang memberikan pemahaman tentang asal-usul manusia diciptakan Tuhan, tugas dan kewajiban manusia menyembah kepada Tuhan dan berbudi luhur dalam kehidupan, serta kewajiban terhadap alam semesta dengan menjaga kelestariannya. Daftar Pustaka {{hii}}N.n. 1997/1998. ''Ajaran Organisasi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Jakarta: Proyek Inventarisasi Kepercayaan terhadap Tuhan YME, Direktorat Binyat, Depdikbud.'' {{c|'''LAMBANG ORGANISASI<br>SUKMO SEJATI'''}}<noinclude>{{rh|376|||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> 5vhu81ymq0lptv9pyfa1gp0gcwt0a52 291293 291048 2026-05-10T16:22:35Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ ada paragraf yang belum dirapikan (di-backspace) 291293 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /></noinclude>Jawa Tengah. Keberadaan anggota organisasi ini tersebar di Kabupaten Cilacap. Sampai saat ini, anggota organisasi ini berjumlah sekitar 192 orang dan anggota organisasi tidak terbatas pada lapisan manapun. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan organisasi ini adalah: 1. Sarasehan, 2. Bimbingan Tenaga Pembina, 3. Pembinaan AD/ART yang disesuaikan dengan UU no. 8 Tahun 1985 untuk pegangan atau pedoman dalam pelaksanaan penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan YME dan keorganisasian. Selain itu, sebagai organisasi kemasyarakatan juga melaksanakan kegiatan sosial adalah membantu memberikan kesembuhan orang yang sakit dan membantu warga yang mempunyai permasalahan keluarga. Kegiatan spiritual adalah melakukan penghayatan melalui beberapa tingkatan secara berurutan, yaitu: 1. memelihara jalannya raga, dengan tujuan mewujudkan keserasian badan agar tetap sehat dan menarik hati, 2. memelihara jalannya budi, artinya harus sabar dan ''berbudi bawa leksana'' (dapat membedakan antara kodrat dan iradat), 3. memelihara jalannya hati, artinya sungguh-sungguh takwa kepada Tuhan baik secara lahiriah maupun batiniah, 4. memelihara jalannya rasa, artinya mengetahui antara yang menyembah dan disembah. Kegiatan ini dilaksanakan dalam suasana tenang. Organisasi Sukmo Sejati mengajarkan tentang Ketuhanan yang memberikan pemahaman tentang kedudukan Tuhan yang maha segalanya serta kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas, mutlak, bersifat gaib dan suci. Organisasi ini juga mengajarkan tentang Kemanusiaan yang memberikan pemahaman tentang asal-usul manusia diciptakan Tuhan, tugas dan kewajiban manusia menyembah kepada Tuhan dan berbudi luhur dalam kehidupan, serta kewajiban terhadap alam semesta dengan menjaga kelestariannya. Daftar Pustaka {{hii}}N.n. 1997/1998. ''Ajaran Organisasi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Jakarta: Proyek Inventarisasi Kepercayaan terhadap Tuhan YME, Direktorat Binyat, Depdikbud.'' {{c|'''LAMBANG ORGANISASI<br>SUKMO SEJATI'''}}<noinclude>{{rh|376|||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> iaq9kpldai29yby0jwbyakck41iagx6 291296 291293 2026-05-10T16:29:21Z Suga Widi 25678 Proses uji baca 291296 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /></noinclude>Jawa Tengah. Keberadaan anggota organisasi ini tersebar di Kabupaten Cilacap. Sampai saat ini, anggota organisasi ini berjumlah sekitar 192 orang dan anggota organisasi tidak terbatas pada lapisan manapun. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan organisasi ini adalah: 1. Sarasehan, 2. Bimbingan Tenaga Pembina, 3. Pembinaan AD/ART yang disesuaikan dengan UU no. 8 Tahun 1985 untuk pegangan atau pedoman dalam pelaksanaan penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan YME dan keorganisasian. Selain itu, sebagai organisasi kemasyarakatan juga melaksanakan kegiatan sosial adalah membantu memberikan kesembuhan orang yang sakit dan membantu warga yang mempunyai permasalahan keluarga. Kegiatan spiritual adalah melakukan penghayatan melalui beberapa tingkatan secara berurutan, yaitu: 1. memelihara jalannya raga, dengan tujuan mewujudkan keserasian badan agar tetap sehat dan menarik hati, 2. memelihara jalannya budi, artinya harus sabar dan ''berbudi bawa leksana'' (dapat membedakan antara kodrat dan iradat), 3. memelihara jalannya hati, artinya sungguh-sungguh takwa kepada Tuhan baik secara lahiriah maupun batiniah, 4. memelihara jalannya rasa, artinya mengetahui antara yang menyembah dan disembah. Kegiatan ini dilaksanakan dalam suasana tenang. Organisasi Sukmo Sejati mengajarkan tentang Ketuhanan yang memberikan pemahaman tentang kedudukan Tuhan yang maha segalanya serta kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas, mutlak, bersifat gaib dan suci. Organisasi ini juga mengajarkan tentang Kemanusiaan yang memberikan pemahaman tentang asal-usul manusia diciptakan Tuhan, tugas dan kewajiban manusia menyembah kepada Tuhan dan berbudi luhur dalam kehidupan, serta kewajiban terhadap alam semesta dengan menjaga kelestariannya. Daftar Pustaka {{hii}}N.n. 1997/1998. ''Ajaran Organisasi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Jakarta: Proyek Inventarisasi Kepercayaan terhadap Tuhan YME, Direktorat Binyat, Depdikbud.'' {{c|'''LAMBANG ORGANISASI<br>SUKMO SEJATI'''}}<noinclude>{{rh|376|||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> ruxu3ms1hmjt626x8a191e2ktimkpw5 291300 291296 2026-05-10T16:31:53Z Suga Widi 25678 Proses uji baca 291300 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Thersetya2021" /></noinclude>Jawa Tengah. Keberadaan anggota organisasi ini tersebar di Kabupaten Cilacap. Sampai saat ini, anggota organisasi ini berjumlah sekitar 192 orang dan anggota organisasi tidak terbatas pada lapisan manapun. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan organisasi ini adalah: 1. Sarasehan, 2. Bimbingan Tenaga Pembina, 3. Pembinaan AD/ART yang disesuaikan dengan UU no. 8 Tahun 1985 untuk pegangan atau pedoman dalam pelaksanaan penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan YME dan keorganisasian. Selain itu, sebagai organisasi kemasyarakatan juga melaksanakan kegiatan sosial adalah membantu memberikan kesembuhan orang yang sakit dan membantu warga yang mempunyai permasalahan keluarga. Kegiatan spiritual adalah melakukan penghayatan melalui beberapa tingkatan secara berurutan, yaitu: 1. memelihara jalannya raga, dengan tujuan mewujudkan keserasian badan agar tetap sehat dan menarik hati, 2. memelihara jalannya budi, artinya harus sabar dan ''berbudi bawa leksana'' (dapat membedakan antara kodrat dan iradat), 3. memelihara jalannya hati, artinya sungguh-sungguh takwa kepada Tuhan baik secara lahiriah maupun batiniah, 4. memelihara jalannya rasa, artinya mengetahui antara yang menyembah dan disembah. Kegiatan ini dilaksanakan dalam suasana tenang. Organisasi Sukmo Sejati mengajarkan tentang Ketuhanan yang memberikan pemahaman tentang kedudukan Tuhan yang maha segalanya serta kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas, mutlak, bersifat gaib dan suci. Organisasi ini juga mengajarkan tentang Kemanusiaan yang memberikan pemahaman tentang asal-usul manusia diciptakan Tuhan, tugas dan kewajiban manusia menyembah kepada Tuhan dan berbudi luhur dalam kehidupan, serta kewajiban terhadap alam semesta dengan menjaga kelestariannya. Daftar Pustaka {{hii}}N.n. 1997/1998. ''Ajaran Organisasi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Jakarta: Proyek Inventarisasi Kepercayaan terhadap Tuhan YME, Direktorat Binyat, Depdikbud.'' {{c|'''LAMBANG ORGANISASI<br>SUKMO SEJATI'''}}<noinclude>{{rh|376|||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> dk4q9rm7sr3en1htpcqo0bbogyyp0ll 291302 291300 2026-05-10T16:32:54Z Suga Widi 25678 /* Telah diuji baca */ 291302 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Jawa Tengah. Keberadaan anggota organisasi ini tersebar di Kabupaten Cilacap. Sampai saat ini, anggota organisasi ini berjumlah sekitar 192 orang dan anggota organisasi tidak terbatas pada lapisan manapun. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan organisasi ini adalah: 1. Sarasehan, 2. Bimbingan Tenaga Pembina, 3. Pembinaan AD/ART yang disesuaikan dengan UU no. 8 Tahun 1985 untuk pegangan atau pedoman dalam pelaksanaan penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan YME dan keorganisasian. Selain itu, sebagai organisasi kemasyarakatan juga melaksanakan kegiatan sosial adalah membantu memberikan kesembuhan orang yang sakit dan membantu warga yang mempunyai permasalahan keluarga. Kegiatan spiritual adalah melakukan penghayatan melalui beberapa tingkatan secara berurutan, yaitu: 1. memelihara jalannya raga, dengan tujuan mewujudkan keserasian badan agar tetap sehat dan menarik hati, 2. memelihara jalannya budi, artinya harus sabar dan ''berbudi bawa leksana'' (dapat membedakan antara kodrat dan iradat), 3. memelihara jalannya hati, artinya sungguh-sungguh takwa kepada Tuhan baik secara lahiriah maupun batiniah, 4. memelihara jalannya rasa, artinya mengetahui antara yang menyembah dan disembah. Kegiatan ini dilaksanakan dalam suasana tenang. Organisasi Sukmo Sejati mengajarkan tentang Ketuhanan yang memberikan pemahaman tentang kedudukan Tuhan yang maha segalanya serta kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas, mutlak, bersifat gaib dan suci. Organisasi ini juga mengajarkan tentang Kemanusiaan yang memberikan pemahaman tentang asal-usul manusia diciptakan Tuhan, tugas dan kewajiban manusia menyembah kepada Tuhan dan berbudi luhur dalam kehidupan, serta kewajiban terhadap alam semesta dengan menjaga kelestariannya. Daftar Pustaka {{hii}}N.n. 1997/1998. ''Ajaran Organisasi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Jakarta: Proyek Inventarisasi Kepercayaan terhadap Tuhan YME, Direktorat Binyat, Depdikbud.'' {{c|'''LAMBANG ORGANISASI<br>SUKMO SEJATI'''}}<noinclude>{{rh|376|||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> i82syv6szkxkpkc7sgbvl379vqmi56n 291419 291302 2026-05-11T00:26:49Z Link PB 26772 /* Tervalidasi */ 291419 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Link PB" /></noinclude>Jawa Tengah. Keberadaan anggota organisasi ini tersebar di Kabupaten Cilacap. Sampai saat ini, anggota organisasi ini berjumlah sekitar 192 orang dan anggota organisasi tidak terbatas pada lapisan manapun. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan organisasi ini adalah: 1. Sarasehan, 2. Bimbingan Tenaga Pembina, 3. Pembinaan AD/ART yang disesuaikan dengan UU no. 8 Tahun 1985 untuk pegangan atau pedoman dalam pelaksanaan penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan YME dan keorganisasian. Selain itu, sebagai organisasi kemasyarakatan juga melaksanakan kegiatan sosial adalah membantu memberikan kesembuhan orang yang sakit dan membantu warga yang mempunyai permasalahan keluarga. Kegiatan spiritual adalah melakukan penghayatan melalui beberapa tingkatan secara berurutan, yaitu: 1. memelihara jalannya raga, dengan tujuan mewujudkan keserasian badan agar tetap sehat dan menarik hati, 2. memelihara jalannya budi, artinya harus sabar dan ''berbudi bawa leksana'' (dapat membedakan antara kodrat dan iradat), 3. memelihara jalannya hati, artinya sungguh-sungguh takwa kepada Tuhan baik secara lahiriah maupun batiniah, 4. memelihara jalannya rasa, artinya mengetahui antara yang menyembah dan disembah. Kegiatan ini dilaksanakan dalam suasana tenang. Organisasi Sukmo Sejati mengajarkan tentang Ketuhanan yang memberikan pemahaman tentang kedudukan Tuhan yang maha segalanya serta kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas, mutlak, bersifat gaib dan suci. Organisasi ini juga mengajarkan tentang Kemanusiaan yang memberikan pemahaman tentang asal-usul manusia diciptakan Tuhan, tugas dan kewajiban manusia menyembah kepada Tuhan dan berbudi luhur dalam kehidupan, serta kewajiban terhadap alam semesta dengan menjaga kelestariannya. Daftar Pustaka {{hii}}N.n. 1997/1998. ''Ajaran Organisasi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Jakarta: Proyek Inventarisasi Kepercayaan terhadap Tuhan YME, Direktorat Binyat, Depdikbud.'' {{c|'''LAMBANG ORGANISASI<br>SUKMO SEJATI'''}}<noinclude>{{rh|376|||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> 81quj2poz8t50w0zvi4ldd9vfadnrq1 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/560 104 102840 291916 289144 2026-05-11T09:43:58Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291916 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude><u>Catatan</u> #Lihat: <u>Tambo Minangkabau</u>, naskah no, Ml. 489, hal. 3 -10. Naskah ini terdapat di Museum Pusat, Jakarta, di bagian naskah. (tidak tercatat dalam Catalogus Ph. S. van Ronkel).<br> #Edwar Djamaris - "Kitab Undang-undang dalam Kesusastraan Minangkabau", <u>Manusia Indonesia</u>, 3-4, IV, 1970, hal. 87.<br> #S.H. Steinberg (editor). <u>Cassel's Encyclopaedia of World Lieterature I</u>, Funk & Wagnalls Company, New York, 1953. Hal. 8.<br> #Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Heru Oetomo dengan judul: <u>Alexander Radja Macedonia</u>, P.T. Pembangunan, Djakarta, 1959.<br> #Khalid Hussain, <u>Hikayat Iskandar Zulkarnain</u>, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1969. Hal. XVIII.<br> #Ph. S. van Ronkel, "Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviasch Genotschap van Koensten en Wetenschappen", <u>Verhandelingen</u>, LVII, 1909. Hal. 255-260.<br> #Lihat : <u>Al Quraan dan Terdjemahnja</u>, yayasan Penjelenggara Penterdjemah/Pentafsir Al Quraan, Departemen Agama Republik Indonesia, Djakarta, 1970, hal 456<br> #Khalid Hussain, op.cit., hal. 369 #T.D. Situmorang dan A. Teeuw, <u>Sedjarah Melaju</u>, Djambatan, Djakarta, cet. II, 1958. Hal. 23 - 24.<br> #Ph. S. van Ronkel, op. cit, hal. 279 - 280<br> #T. Iskandar - <u>Nuru'd-din ar-Raniri - Bustanu's</u> Salatin, Bab II, Fasal 13, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1966. Hal. 36. </ol><noinclude>{{rh||| 26{{gap}}Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> nu1gayc7ra7llfzucjqusl2v7qkw2n3 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/561 104 102843 291917 289140 2026-05-11T09:44:45Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291917 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>SEKELUMIT PERISTIWA DI BALIK KATA <br /> L. Mardiwarsito <br /> IKIP Jakarta {{c|I}} Tujuan filologis orang mempelajari bahasa ialah untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang tersembunyi di balik kata-kata. Dari peristiwa bahasa dapat diketahui peristiwa atau motif apa yang menimbulkannya, peristiwa atau motif apa yang pernah atau sedang terjadi. Dari kata perkataan orang dapat menyelusur sesuatu kejadian atau peristiwa sejarah, psikologi bangsa: sifat-sifat dan watak-wataknya, adat istiadatnya dan lain-lain yang termasuk dalam bidang ilmu Antropologi Budaya. Suatu contoh yang menarik dan telah dikenal oleh umum, misalnya: dalam rumpun bahasa-bahasa Indo Eropah orang lazim membiasakan penggunaan kata-kata panggilan hubungan keluarga atau kekeluargaan seperti dalam bahasa Inggeris: brother, sister, uncle, aunt, atau dalam bahasa Belanda: broer, zus, oom, tante, kepada orang-orang yang lebih tua maupun lebih muda dari padanya atau ayah ibunya, baik dalam hal usia ataupun tingkat pertalian kekerabatannya. Tidak demikianlah bagi orang-orang Indonesia/Nusantara. Orang-orang Indonesia/Nusantara untuk itu biasa mempergunakan kata-kata seperti: kakak, abang, adik, pak tua, pak cik, paman, ibu tua, bibi(k). Dari peristiwa ini orang dapat mengambil kesimpulan bahwa orang-orang Eropah itu pada umumnya kurang memperhatikan sikap-sikap yang berhubungan dengan tingkat kekerabatan dan umur. Sebaliknya orang-orang Indonesia/Nusantara pada umumnya, terutama mereka yang masih dalam {{hws|kehidup|kehidupan}}<noinclude>{{rh|||27{{gap}}Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> lloux6pp3m4myvy1pl1wcq7lrvp49vt Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/181 104 102849 291870 289174 2026-05-11T09:00:25Z Upiak Ituih 27011 /* Tervalidasi */ memperbaiki typo dan kesalahan tulis. 291870 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{c|<big>DJIWA BERDJIWA</big>}} {{c|Pudjangga Baru Th. VI No. 7-8}} {{c|Januari-Pebruari 1939}} {{Right sidenote|H.B. Jassin }} Frofesor Teew dalam Pokok dan Tokoh berpendapat, bahwa puisi Armijn Pane lemah -- "lebih-lebih pada sandjak-sandjak yang pandjang-pandjang, kekurangan itu amat terasa sekali, disitu tidak ada kekuatan bentuk dan oleh sebab itu sadja sudah datang rasa bojak, timbul kebosanan, sehingga kita merasa pajah hendak menamainnja membatja, lebih-lebih oleh sebab isinjapun tidak beritu mengasjikan'. Kumpulan Armijn Pane Djiwa berdjiwa sama sekali tidak disebut oleh Team, maka sangat mengherankan apabila dia dalam alinea berikutnya berkata bahwa "sebagai penjair dapatlah Armijn Pane dinamakan pelopor angkatan baru penjair-Indonesia". Ini bisa meninbulkan salah paham dan bisa menimbulkan salah paham seperti ternyata pada sementara guru kesusastraan Indonesia.<sup>1)</sup> Bagaimanakah seorang penyair yang puisinya lemah dalam segala hal bisa disebut pelopor dan pelopor angkatan haru penyair pula? Saya bisa menghargai beberapa sajak Armijn Pane, begitu juga beberapa prosanya, tapi hasil-hasilnya menurut perasaan saya belum lagi memberi alasan untuk menyebutnya pelopor angkatan baru penyair Indonesia, apalagi pelopor angkatan 45. Apakah yang dimaksud profesor Teew dengan angkatan baru ialah angkatan Pudjangga Baru? Jikalau demikian pelopor ini agak terlambat datangnya, dia datang kemudian dari angkatannya. {{u|Djiwa berdjiwa}} terdiri dari 43 sajak. Tentang bentuk dan bahasanya tak ada keistimewaan apa-apa. Pun tentang isinya kita berkali-kali tertegun membaca, bertanya sanpai kemana kejujuran pengarang, malah sering kita menemui kepalsuan yang meninggalkan perasaan pahit. Kita mendapat gambaran tentang seseorang yang merenung-renung sentimentil sekedar mengisi waktu yang luang, ikut-ikut slogan-slogan dan berpura-pura patriotis. Begitu menimbulkan keraguan apakah memang terlahir dari kelimpahan cita-cita sajaknya "Itu sadja" yang bait terakhir berbunyi.<noinclude>{{rh|||3}}</noinclude> 6l0twqowqucks6d4953zyvlgj46m8pq Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/562 104 102852 291918 289160 2026-05-11T09:45:16Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291918 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|an|kehidupan}} masyarakat kolektif, sangat memperhatikannya. Bagi mereka unsur tua dan kekerabatan dianggap primer. Pak tua atau pak dé a priori harus lebih dihormati dari pada pak cik atau paman. Demikian pula terhadap kakak dan adik, lepas dari unsur yang lain-lain, tidak boleh atau tidak baik orang bersikap yang sama. Di alam kehidupan modern pun unsur pertalian keluarga itu masih sering nampak menonjol dari pada hubungan jabatan dan lain-lain, terutama di lingkungan keluarga sendiri atau dalam situasi yang akrab dan terbatas. Contoh lain lagi yang juga menunjukkan sesuatu peristiwa atau sifat yang tersembunyi di balik kata, misalnya: di beberapa daerah di pulau Jawa orang menyebut nama seseorang dengan nama anaknya, biasanya nama anak yang tertua. Orang bernama Ronodikromo dipanggil: Pak Begog. Begog ini sesungguhnya nama atau paraban anaknya, bukan nama/paraban ayah yang dipanggil itu. Orang segan memanggil nama seseorang langsung, lebih-lebih terhadap orang tua atau terpandang. Terhadap nenek, pak tua, orang yang dianggap keramat, mereka tidak memanggil nama dirinya, akan tetapi menyebutkan nama tempat-tinggal atau pangkat jabatannya saja, misalnya: Mbah Baran (ialah nama desanya), Pak dé Lurah Ngemplak (nama pangkat dan tempat), Sunan Giri (nama tempat). Seorang anak dari masyarakat kolektif enggan menyebutkan nama ayahnya jika ditanya siapa nama ayahnya. Menyebutkan namanya sendiripun orang sering enggan juga, kecuali dalam beberapa kesempatan yang memang harus menyebutkannya, misalnya dalam waktu berkenalan. Jika suatu ketika dalam suasana lain ditanyakan namanya, sering terjadi teman sampingnya yang menjawab atau menyebutkannya. Orang Minang yang suka menyebutkan nama dirinya dahulu diberi gelar: <u>kuau</u>; bunyinya telah menyebutkan nama dirinya. Di Batak orang hanya boleh menanyakan nama marga secara {{hws|lang|langsung}}<noinclude>{{rh||| 28{{gap}}Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> fzjlsqdi4ocooi61vlsp8m5rnqh2bhq Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/563 104 102856 291919 289168 2026-05-11T09:46:13Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291919 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|sung|langsung}}. Sedang untuk nama diri biasanya dengan cara tidak langsung: "Iso panggoaranmu?" (Siapa nama anak yang kaupakai sebagai namamu?), jawabnya: "Si Dangol panggoaranhu." (si Dangol-nama anak-yang kupakai sebagai namaku). Demikianlah, orang Indonesia pada umumnya enggan mengucapkan nama diri seseorang sembarangan saja tanpa basa-basi. Nama, baginya mengandung daya magi, daya gaib atau sesuatu yang sakti. Nama, baginya mengandung daya magi, daya gaib atau sesuatu kesatuan dengan diri pemiliknya, tak terpisah-pisahkan. Akan tetapi sebaliknya mereka suka berganti nama bilamana perlu. Di Jawa hingga kini masih berlaku adat berganti nama pada setiap mengalami peristiwa penting. Waktu masih bocah bernama Paimo. Setelah kawin, berganti: Kartodimedjo. Lain tahun naik pangkat, berganti: Djajasukerto. Kemudian sepulang dari naik haji mengambil nama: Abdul Bakri. Sebuah nama yang sangat kenamaan di Indonesia yaitu: Kalijaga, sebenarnya adalah nama tempat/desa. Orang tidak berani menyebutkan nama Sunan Kalijaga dengan nama dirinya yang sebenarnya secara langsung, maka disebut nama desanya. Kecuali itu beliau gemar memakai nama samaran. Itulah sebabnya maka nama sunan tersebut banyak, termasuk nama samarannya, disesuaikan dengan keadaan dan fungsinya pada sesuatu waktu, yaitu: (1) Raden Sahid (nama sebenarnya), (2) Seh Malaya (waktu terbuang sampai ke laut karena banjir besar dan deras); (3) Lokajaya; (4) Seh Jabar manik; (5) Pangeran Jayaprana; (6) Sida Brangti (jika bermain wayang sebagai dalang di Pajajaran); (7) Ki Bengkok (sebagai dalang Barongan di Tegal); (8) Ki Kumendung (sebagai dalang Topeng di Prabalingga); (9) Entol Kecebur (waktu mengabdikan diri pada seseorang janda Getasngan di Banyuwangi); (10) Raka Brangsang (waktu menjadi utusan Sunan Jati memanggil Seh Lemahbang<noinclude>{{rh|||29{{gap}}Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 8w3hmxf24u0kfunc2dbrwx1c1bypqu7 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/427 104 102882 291543 289325 2026-05-11T02:48:02Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291543 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|9}}</noinclude>di Bengkahulu berjudul {{u|Cerita si Pahit Lidah}}; di Indonesia bagian timur cerita {{u|Si Madunde}};<sup>4)</sup> Di Jawa terkenal dengan nama {{u|Djaka Tarub}}.<sup>5)</sup> Djaka Tarub sebagai Malim Deman dan Nawang Wulan sebagai Putri Bungsu. Di Sulawesi terkenal pula dengan cerita {{u|Orang yang memperistrikan putri dari Kayangan}}, yang dalam bahasa Sulawesinya disebut {{u|To Kampotawine To Kai Langi ini}}.<sup>6)</sup> Di Madura terkenal dengan cerita yang berjudul {{u|Aryo Kenak Kawin dengan Bidadari}}.<sup>7)</sup> Dari contoh tersebut di atas jelaslah pula bahwa cerita ini cukup populer. {{Gap}} Sudah barang tentu dalam cerita yang terdapat dalam berbagai versi itu terdapat beberapa perbedaan, sesuai dengan tempat dan lingkungannya pula, tetapi garis besar isinya tetap sama. {{Gap}} Motif-motif yang menarik dalam cerita ini ialah:<br> 1. Motif impian. Malin Deman dalam mimpi disuruh datang ke tempat Nenek Kebayan (Mande Rubiah dalam Kaba Malim Deman), untuk mempertemukan Malim Deman dengan Putri Bungsu yang turun mandi sekali dalam seminggu dekat tempat Nenek Kebayan itu.<br> 2. Jara mengambil bidadari itu dengan prosedur yang biasa terdapat dalam cerita-cerita lama lainnya, yaitu dengan jalan mencuri pakaian terbangnya.<br> 3. Motif menentukan bakal suami dengan syarat. Syaratnya ialah barang siapa yang mendapatkan cincin yang dibalutnya dongan sehelai rambutnya yang dihanyutkannya dalam sungai, itulah yang bakal jadi suaminya.<br> 4. Perkawinan Malim Deman dengan Putri Bungsu mengalami kegagalan. Kegagalan itu terletak pada pahlawannya yang sudah tidak setia lagi atau sudah ingkar janji. Misalnya, Malin Deman sesudah mendapat seorang anak tidak memperdulikan lagi Putri Bungsu dan tidak setia lagi. Dalam cerita yang terdapat di Jawa dan Madura, yaitu Jaka Tarub dan Aryo Menak, sang Bidadari berpesan, supaya jangan sekali-kali melihat apa-apa yang dimasaknya, sebab apabila ada yang {{hws|me|melihat}}<noinclude></noinclude> chaicrab7fcehwd87hu06pp168181xr Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/428 104 102883 291547 289328 2026-05-11T02:48:59Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291547 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|10}}</noinclude>{{hwe|lihat|melihat}} maka hilanglah keramatnya. Keramatnya ialah Bidadari itu hanya memasak sebutir induk padi dan induk padi itu tak pernah habis, walaupun sudah beberapa kali dimasaknya. Akan tetapi Jaka Tarub maupun Aryo Menak ingin sekali mengetahui rahasianya. Ketika bidadari itu mencuci di sungai, segera dilihatnya apa yang dimasak bidadari itu. Ternyata hanya sebutir induk padi. Sejak peristiwa itu induk padi itu tidak bian lagi dimasaknya menjadi nasi, karena keramatnya sudah hilang. Hal itu diketahui oleh bidadari itu dan tahulah ia bahwa suaminya sudah ingkar janji. Sejak peristiwa itu hidupnya sudah susah karena harus memasak sebagaimana biasanya. Ia berusaha kembali mencari baju terbangnya yang dicuri suaminya dulu dan setelah berhasil ia kembali ke Kayangan seperti sediakala. {{Gap}} Kalau di atas tadi dikatakan bahwa cerita itu lebih terkenal di kalangan anak-anak muda, hal ini tidak lain karena isi ceritanya mengisahkan pengalaman seorang pemuda yang selalu memimpikan seorang gadis cantik bagai bidadari. Dalam cerita Malim Deman ini angan-angan demikian terujud dalam kenyataannya. Malim Deman berhasil mendapatkan seorang bidadari cantik yang bungsu dari tujuh bidadari bersaudara yang selalu turun mandi dari kayangan ke sebuah tolaga. {{Gap}} Dalam cerita Malim Deman ini sudah barang tentu yang menenjol ialah kisah-kisah percintaannya pula. Dalam Kaba Malim Deman kisah-kisah percintaan itu diselang selingi oleh pan tun-pantun percintaan. Hal ini pulalah salah satu perbedaan antara cerita Malim Deman yang terdapat di Minangkabau dengan daerah lainnya yang telah kami sebutkan di atas. Sebagai contoh dapat kami sebutkan di sini beberapa untai pantun percintaan antara Malin Deman dengan Putri Bungsu yang terdapat, dalam buku Tjerita Malim Deman dan Putri Bungsu oleh A. Dt. Madjoindo.<noinclude></noinclude> 0oji5lxcgljvcevsmddrhcql74libmy Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/431 104 102884 291548 289331 2026-05-11T02:49:46Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291548 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|13}}</noinclude>lalu teringat pada putri yang empunya rambut telah menyelamatkannya dulu itu. Akhirnya diputuskannyalah untuk pergi mengembara mencarinya. Dalam pengembaraannya itu banyaklah penderitaan yang dialaminya. Di tengah hutan ia bertemu suatu telaga tempat mandi putri kayangan. Di sana tinggal Mande Rubiah menunggu tepian mandi itu. Malim Deman menceritakan kepada Mande Rubiah maksudnya mencari orang yang empunya rambut yang disimpan-simpannya itu. Mande Rubiah tahu bahwa Jang empunya rambut itu ialah Putri Bungsu dari kayangan yang kebetulan sekali seminggu turun mandi di telaga dekat tempat Mande Rubiah itu. Akan tetapi Putri Bungsu itu sudah bertunangan dengan Medan Kiali. Malin Deman diberitahu oleh Mande Rubiah cara-cara untuk menemui Putri Bungsu. Disuruhnya bersembunyi dekat tepian tempat mandi putri-putri kayangan itu. {{Gap}} Pada hari yang telah tertentu itu turunlah tujuh putri kayangan itu mandi ke sana. Tatkala mereka sedang asyik mandi, dicurinyalah pakaian mandi Putri Bungau itu yang bernama Songsong Barat, kemudian pergi ke hilir sungai pura-pura sedang mengail. Selesai mandi semua siap-siap mengenakan pakaiannya. Alangkah herannya putri Bungsu ketika ia hendak mengambil pakaiannya ternyata sudah tiada lagi. Saudara-saudaranya terpaksa meninggalkannya, karena ia tidak dapat terbang lagi. Putri Bungsu terus mencarinya arah ke hilir sungai. Ia melihat di sana Malim Deman sedang mengail. Terjadilah percakapan yang menarik di sana karena Putri Bungsu menuduh Malim Deman mencuri pakaian terbangnya. Akhirnya mereka sama-sama pulang ke tempat Mande Rubiah mengadukan halnya itu. Mande Rubiah dapat mendamaikannya dan sejak itu pula Putri Bungsu mengagumi kegagahan Malim Deman dan ia sudah tidak ingin lagi pergi ke kayangan, hatinya sudah tertarik pada Malim Deman. Karena sudah lama meninggalkan kampung halamannya dan yang dicari-carinyapun sudah dapat, ia bermaksud hendak<noinclude></noinclude> qfdl8e3malluy8n8oag9rmfxwzy5gik Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/432 104 102885 291550 289335 2026-05-11T02:51:21Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291550 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|14}}</noinclude>pulang ke Bandar Muar. Putri Bungsu dibawanya pulang bersama-sama dengan Mande Rubiah. Betapa gembiranja ayah dan ibunya serta penduduk Bandar Muar itu, lebih-lebih setelah melihat Putri Bungsu, putri kayangan yang cantik itu tiada bandingannya di negeri itu. Diadakanlah pesta empat puluh ari empat puluh malam sebagai tanda bergembira. Setelah itu barulah diadakan pernikahan Malim Deman Dengan Putri Bungsu. Dengan takdir Allah s.w.t. mereka segera pula dianugrahi se- orang putra, diberinya nama Malim Duano. Setelah mendapat putra itu Malim Deman sudah tidak begitu memperdulikan lagi Putri Bungsu. Ia sibuk dengan permainannya sendiri, menyabung ayam dan sebagainya. Ia sudah mulai ingkar janji. Putri Bungsu jadi sedih hatinya karena hal itu. Ia berusaha mendapatkan kembali baju Songsong Baratnya. Dengan tipu dayanya dapatlah ia membujuk mertuanya menunjukkan tempat baju Songsong Baratnya yang disembunyikan Malim Deman itu. Setelah dapat baju itu, disuruhnya pula anaknya memecah-mecahkan piring di hadapan nenek-neneknya. Karena perbuatannya itu Mnlim Dunno dimarahi oleh neneknya dan diusirnya. Sesudah peristiwa itu barulah ia pergi dengan anaknya Malim Duano terbang ke kayangan dengan baju terbangnya itu. {{Gap}} Malim Deman merasa sedih sekali ditinggalkan istri dan anaknya, menyesal atas kesalahannya sendiri. Ia mengembara lagi dan berusaha untuk pergi ke kayangan. Dalam pengembaraannya itu sampailah ia ke istana Putri Santan Batapis atas petunjuk seekor burung Nuri. Diceritakannyalah maksudnya hendak meminjam burung borak untuk terbang ke kayangan menenri Putri Bungau dan anaknya. Dengan Putri Santan Batnpis itu terjalin pulalah kasih sayangnya dan berjanji pula nanti setelah pulang akan menikahinya pula. Esoknya terbanglah Malim Deman dengan burung borak itu ke kayangan. Sesampainya di kayangan burung borak itu kembali dan Malim Deman tinggal di kayangan. Di {{hws|ka|kayangan}}<noinclude></noinclude> j4kyhougiul0bzedivxhzlaajq5yy01 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/433 104 102886 291552 289338 2026-05-11T02:51:45Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291552 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|yangan|kayangan}} ia bertemu dengan Mande Rubiah Pekan Bunga dan tinggal di rumah Mande Rubiah itu. Dari Mande Rubiah itu Malim Deman mengetahui, bahwa Putri Bungsu akan dinikahkan dengan Raja Bujang. Malim Deman amat sakit hatinya mendengar berita itu. Ia selalu berusaha mencari jalan untuk bertemu dengan Putri Bungsu. Mula-mula ia bertemu dengan anaknya Malim Duano, tetapi anaknya sudah tidak kenal lagi kepadanya. Malim Duano Disuruhnya memberikan cincinnya kepada Putri Bungsu. Setelah menerima cincin itu, tahulah Putri Bungsu, bahwa Malim Deman sudah berada di kayangan. Iapun menjadi gelisahlah, karena ia akan dikawinkan pula oleh orang tuanya dengan Raja Bujang. Pergilah Putri Bungsu ke rumah Mande Rubiah menemui Malim Deman. Didapatinya ia sedang tidur. Setelah dibangunkannya diceritakannyalah apa-apa yang dialaminya selama di kayangan dan ia tidak mau dikawinkan oleh orang tuanya dengan Raja Bujang itu. Mereka berkasih-kasihan kembali seperti dahulu kala, karena Malim Deman telah insyaf akan kesalahannya yang dahulu itu. Sejak itu tahulah Malim Duano, bahwa Malim Deman itu ayahnya. Besoknya pergilah mereka menemui orang tua Putri Bungsu, Raja Sidanguri di istana. Hal itu diketahui oleh Raja Bujang. Iapun marahlah. Terjadilah peperangan di antara kedua raja itu. Dalam peperangan itu Malim Deman berhadapan dengan Raja Bujang. Ternyata Raja Bujang kalah dan ia dapat dibunuh oleh Malim Deman. Segala rakyatnya bersuka cita dan hiduplah Malim Deman kembali dengan Putri Bungsu seperti dahulu, berkasih-kasihan. Tak lama pula antaranya datanglah burung borak menjemput Malim Deman, karena janjinya dengan Putri Santan Batapis sudah sampai pula. Putri Bungsu sedih ditinggalkan Malim Deman, tetapi karena terpaksa dilepaskannya juga. Setelah bertemu dengan Putri Santan Batapis dilangsungkannya pulalah pernikahannya. Hidup pulalah ia berkasih-kasihan dengan Putri Santan Batapis, sehingga ia lupa pada Putri Bungsu. Hanya saja ayah bunda Putri<noinclude></noinclude> gvr2m8meux9k7o0b0p1jspqha2y5mbn Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/434 104 102887 291553 289344 2026-05-11T02:52:47Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291553 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|16}}</noinclude>Santan Batapis tidak tahu pernikahan anaknya itu, karena ia tinggal di dalam laut menjadi raja di sana. Sekali peristiwa ia datang melihat Putri Santan Batapis. Malim Deman sebelumnya diubah rupanya oleh Putri Santan Batapis menjadi burung nuri. Akan tetapi hal itu diketahui juga oleh ayahnya. Burung nuri itu dilemparkannya jauh-jauh hingga sampai di tengah laut. Burung itu dimakan oleh ikan besar, sedang Putri Santan Batapis diikat dengan rantai dan dijaga oleh jin. {{Gap}} Malim Duano di atas kayangan minta izin kepada ibunya untuk mencari ayahnya Malim Deman, karena sudah lama meninggalkan kayangan. Ia terjatuh di tengah hutan di negeri Tanah Dewa. Pada ketika itu Putri Bunga Karas anak Raja Zainul Alam sedang berburu di hutan. Ia melihat Malim Duano sedang tidur di bawah pohon. Karena kasihan, dibawanya Malim Duano itu pulang ke istananya. Setelah diketahui oleh Raja Zainul Alam bahwa Malim Duano keturunan raja-raja besar juga, dinikahkannya ia dengan Putri Bunga Kapas. {{Gap}} Malim Deman yang ditelan ikan dulu itu terdampar di pantai. Seorang pengail yang sedang berada di sana membelah ikan itu. Alangkah herannya ia, karena dalam perut ikan itu ada manusia yang masih hidup. Malim Deman kemudian tinggal bersama pengail itu di negeri Bandar Pirus di bawah seorang raja yang bernama Sultan Arifin Syah. Raja itu mempunyai seorang putri yang cantik bernama Bunga Setangkai. Putri Bunga Setangkai jatuh cinta pula Malim Deman. Setelah diketahui pula oleh raja bahwa Malim Deman keturunan raja-raja juga, dinikahkannya pulalah Malim Deman dengan Putri Bunga Setangkai. {{Gap}} Malim Duano melanjutkan mencari ayahnya Malim Deman. Ia sampai di negeri Bandar Pirus itu. Di sana sedang diadakan bermacam-macam permainan untuk memeriahkan perkawinan Malim Deman. Malim Duano ikut memeriahkan dengan mengadu ayam. Ia menang, akan tetapi kemenangannya itu tiada dibayar oleh juara. Terjadilah perkelahian hebat.<noinclude></noinclude> 4apmzn8jiaedcmoux59q0skjm5vuq8m Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/457 104 102888 291713 289349 2026-05-11T05:56:57Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291713 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|39}}</noinclude>kertasnya sudah mulai berlubang-lubang, sehingga beberapa bahagian kurang jelas terbaca, terputus-putus hurufnya. Dalam menghitung halaman bertulis ada kesilapan menghitung, seharusnya bukan 82 halaman, tetapi 81. Hal ini disebabkan karena pada lembar ke 26 hanya satu halaman yang ditulis.<noinclude></noinclude> 4fwzv2a36svp61ekfqztnwk4080fhpz Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/466 104 102889 291714 289353 2026-05-11T05:58:30Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291714 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|48}}</noinclude>Riwayat nabi Ibrahim panjang lebar dipaparkan. Nabi Lut adalah orang yang taat seperti Ibrahim, tapi isteri Lut adalah kebalikan dari suaminya. Nabi Ishak pernah dimarahi ayahnya karena kurang pentas sikapnya terhadap abangnya Ismail. Kisah tentang nabi Yusuf yang cantik parasnya dan pandai mentakwilkan isi mimpi (karena itu dinamai Siddik) luas uraiannya sampai detail-detail, demikian juga tentang nabi Musa, menantu Syuaib, tapi nabi Kilir dan nabi Harun, abang dari Musa dikisahkan sepintas lalu saja. Sesudah meninggal nabi Musa is diganti oleh nabi Yusak, kemudian nabi Kaleb dan sesudah Kaleb menyusul secara berturut-turut nabi Haskil, nabi Daud, Nabi Sulaiman, nabi Armia (Irmis) dan nabi Aziz (Uzair). Dalam kisah tentang nabi Daud, ada juga diselipken peristiwanya dengan Betseba. Nabi itu merasa sangat menyesal atas perbuatannya yang sesat, lalu ia un pergi minta maaf ke kuburan Uria, suami Betseba. Di sana terdengar suara Uria menyahutnya dari balik kubur memberi maaf serta mengizinkannya kawin dengan Betseba. Kisah tentang nabi Sulaiman lebih luas dari kisah tentang ayahnya Daud. Tokoh Sulaiman yang dapat bicara dengan jin-jin dan makhluk-makhluk binatang menimbulkan fantasi para pengarang untuk membubuinya dengan cerita-cerita yang menarik. Nabi Armia tidur di hutan selama 100 tahun, supaya tidak mempersaksikan kehancuran Yerusalem oleh baktu'lnazar. Demikian juga nabi Aziz tidur 100 tahun sesudah kembali dari pembuangan Babil. Setelah kisah-kisah tersebut di atas tibalah kita pada judul judul mengenai Yahya dan Isa, disusul lagi oleh tiga kisah penutu yang singkat dan tidak lagi mengenai nabi-nabi.<noinclude></noinclude> 6zrp5n5zy1opvp8sufe2cocz7o57xwb Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/481 104 102890 291729 289358 2026-05-11T06:08:55Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291729 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{rh||PENGANTAR}} Dalam penerbitan ini kami turunkan tiga buah artikel:<br> Pertama, "Some Sociolinguistic Problems of Indonesia,"<br> mengetengahkan beberapa masalah sosiolingguistik di Indonesia, Dalam tulisan itu kedua penulis mengariati beberapa pokok, yakni: (a) keadaan bahasa-bahasa di Indonesia, (b) bahasa dalam dunia pendidikan, (c) bahasa-bahasa asing di Indonesia, (3) kedudukan bahasa Inggris, (e) kebijaksanaan dan pemnbakuan bahasa, (f) sikap pemakai bahasa, (g) pentingnya penelitian sosioling-guistik. Kedua, "Fungsi Hikayat dan Babad," sebuah tulisan yang berhubungan dengan filologi. Ilmu ini tidak banyak peminatnya, namun tampak mulai membenahi dirinya. Misalnya dengan penataran yang diadakan di Yogyakarta pada tanggal 20 Juni sampai 10 Juli 19/73 yang lalu. Ketiga, {{u|"Merahnya Merah}}: Wajah Lain dari Seprang Gelandangan," sebuah judu! yang puitis dari sebuah pembahasan atas novel Iwan Simatupang (almarhum). Penulisnya seorang mahasiswa yang tengah mempersiapkan skripsinya tentang karya-karya Iwan. Dengan ketiga artikel di atas, secara eksplisit majalah ini mengundang tulisan-tulisan lain dari kalangan universitas, perguruan, dan peminat bahasa dan sastra dari seluruh Indonesia. Kami menunggu, Redaksi<noinclude>{{rh|i}}</noinclude> 31cte2zmvz3unjp7j8f8aer10j30ozp Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/499 104 102891 291757 289363 2026-05-11T06:21:15Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291757 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{rh|FUNGSI HIKAYAT DAN BABAD}} {{rh|Shaleh Saidi}} {{rh|Fakultas Sastra Universitas Udayana}} Seorang historiograf mungkin akan bertanya: "Apakah penulisan Hikayat atau Babad cukup mampu untuk memberikan bahan-bahan buat menulis rekonstruksi sejarah Indonesia?". Selanjutnya mungkin mereka akan bertanya pula: "Mungkinkah Hikayat atau Babad dapat dijadikan sumber sejarah yang utama, jika diukur dengan norma obyektivitas dan kecintaan akan kebenaran?". Jika kita perhatikan perkembangan penulisan sejarah Indonesia maka kebanyakan historiograf adalah orang-orang Barat. Mereka menulis dengan bermacam-macam alasan dan dorongan. Maka kalau kita teliti perkembangan penulisan itu sendiri, bersamaan dengan perkembangan dan kemajuan ilmu ditambah dengan kemajuan cara berpikir, maka penulisan sejarah Indonesia mengalami banyak kemajuan. Dari tafsiran-tafsiran yang mula-mula masih gelap, sedikit demi sedikit terbukalah tabir kegelapan itu, sehingga mendekati kepada kebenaran dan kesempurnaan penulisan sejarah Indonesia. Para ahli umumnya sependarat bahwa Th.S.Raffles orang yang dianggap pertama kali membawa revolusi, merintis jalan ke arah historiografi Indonesia. Tokoh ini besar sekali minat dan gairahnya kepada dunia ilmu pengetahuan. Pendapat-pendapatnya dan caranya berpikir sangat mempengaruhi historiograf sesudahnya. Sebelumnya memang sudah ada beberapa penulis sejarah Indonesia, akan tetapi hasil penulisan mereka lebih tepat dikatakan tentang sejarah Kompeni atau sejarah Orang-orang Belanda di Indonesia. Baru kira-kira awal abad keduapuluh oleh pandangan dan cara berpikir yang dipelopori oleh Raffles, maka historiografi Indonesia mulai mengarah kepada sumber-sumber Indonesia sendiri. Kesalahan para historiograf terutama terletak selain faktor-faktor yang disengaja yaitu demi kepentingan dominasi Kompeni (VOC) di Indonesia, juga interpretasi mereka terhadap Babad atau Hikayat lari sudut pandangan Eropa sentris, Mereka selalu kecewa pada akhir Penyelidikan mereka. Tetapi kita masih bersukur bahwa kelak {{hws|sarjana|sarjana-sarjana}} {{right|Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}<noinclude>{{rh|17}}</noinclude> h8vzwid032fsqwl92cko06t55c0r4k7 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/507 104 102892 291767 289378 2026-05-11T06:27:48Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291767 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>teknik? Kemudian cabang-cabang ilmu yang lainnyapun mengalami proses melepaskan diri dari ilmu filsafat, seperti ilmu kedokteran, ilmu sejarah, ilmu sosiologi, ilmu antropologi dan sebagainya, dengan timbulnya spesialisasi dalam cabang-cabang ilmu pengetahuan itu, memberikan kesempatan kepada para cendekiawan, para sarjana untuk mendapatkan penemuan-penemuan baru dalam bidang mereka masing-masing, sehingga mereka memperoleh prestasi setinggi-tingginya. Dengan demikian hipothese, teori-teori lama akan dapat di tumbangkan oleh penemuan-penemuan teori-teori baru. Namun bagaimanapun juga besarnya kemajuan yang dapat dicapai oleh salah satu cabang ilmu pengetahuan, bukan berarti bahwa cabang ilmu pengetahuan itu lepas sama sekali dari cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya. Kadang-kadang hubungan antara cabang ilmu pengetahuan yang satu dengan yang lain itu erat sekali, sering juga hanya bersifat membantu saja. Karena bukankah manusia sebagai sumber kebudayaan, sebagni subyek mempunyai masalah yang begitu kompleks? Sebagai misal bahwa cabang ilmu pengetahuan yang satu memerlukan juga bantuan dari cabang ilmu pengetahuan yang lain, di bawah ini kami kemukakan satu peristiwa di Amerika Serikat;<br> Sepasang suami isteri yang ideal hidup di Amerika, keduanya berkulit putih. Mereka hidup berbahagia dengan dua orang anaknya, tetapi ketika anak mereka yang ketiga lahir terjadilah suatu keajaiban. Bayi itu lahir berkulit hitam. Kita dapat membayangkan betapa perasaan mereka. Lebih-lebih sang suami, lalu mengadukan perkara itu kepada pengacaranya. Tetapi untunglah bahwa pengacaranya seorang yang selidik, bijaksana. Ia merasa tidak mampu untuk menyelesaikannya sendiri, lalu ia minta pertolongan kepada seorang sahabatnya.<br> Ia seorang ahli dalam ilmu keturunan. Apa yang terjadi?<br> Setelah tindakan penelitian dan penyelidikan ternyata bahwa salah seorang dari nenek si isteri adalah seorang Negro.<br> Jadi jelaslah sekarang bahwa anaknya yang ketiga itu adalah mutasi dari nenek ibunya sendiri. Maka selamatlah dan terhindarlah keluarga yang ideal itu dari malapetaka, berkat kemajuan ilmu pengetahuan. {{Right sidenote|Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}<noinclude>{{rh|25}}</noinclude> kfl9q2x8pnld59w3j778qpa07j2ham2 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/527 104 102893 291881 289390 2026-05-11T09:19:41Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291881 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Di samping hal-hal yang khusus Sanggar Kerja juga merumuskan suatu kebijaksanaan umum dalam pelaksanaan pengembangan istilah.<br> Hasil-hasil Sanggar Kerja ini akan dijadikan bahan oleh P.P.B.T. dalam perundingannya dengan pihak Malaysia yang akan dilangsungkan pada bulan Agustus 1973. {{Right sidenote|Bahs Kesusast., V(2), 1973}}<noinclude>{{rh|45}}</noinclude> as9exefcnvo9xmmb9zw1xtq5g2b3n4e Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/564 104 102894 291920 289394 2026-05-11T09:47:26Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291920 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>atau Siti Jenar). Semua nama itu baru yang disebutkan dalam buku Babad Cirebon (Kunthi no. 8 tahun II/1971 hlm. 18). Saya kira masih ada lainnya lagi. Demikianlah, nama itu bagi orang Indonesia, seolah olah sebagai cermin keadaan pribadi pemiliknya, sesuai pula dengan perihal bahasanya ialah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia pun akan selalu mencerminkan bangsa pemiliknya, pada masa berlakunya bahasa itu. {{rh||II}} {{rh||MENYELUSUR ASAL BANGSA DAN BAHASANYA}} Hikmah bahasa dapat menolong data-data sejarah. Dapat membantu menentukan asal bangsa dan bahasanya. Dalam hal ini lalu timbul pertanyaan: satukah atau identikkah selalu nama bahasa dan bangsa pemakainya? Bukankah di Amerika Serikat misalnya, banyak orang Negro yang berbahasa pertama/keluarga bahasa Indonesia?. Padahal bahasa Inggeris bukanlah bahasa orang-orang Negro asli, dan bangsa Negro bukanlah berasal dari tanah Inggeris. Jadi apabila kelak 2000 tahun lagi orang menyelidiki tanah asal bangsa Negro tersebut dengan bahasa keluarganya pada saat ini yaitu bahasa Inggeris, pasti akan salah, karena jelas bangsa pemakai bahasanya itu berasal dari tempat lain. Bangsa Negro bukanlah bangsa Inggeris, bangsa berkulit putih itu. Pertanyaan ini memang tepat pada tempatnya. Kesalahan-kesalahan hipotesa selalu mungkin terjadi. Akan tetapi kita tahu juga bahwa penyelidikan bahasa itu tidak akan ditrapkan untuk mengusut asal-muasal sesuatu bangsa yang jelas tidak lagi mempergunakan bahasa keluarga nenek moyang leluhurnya. Dengan demikinn, misalkan kita belum tahu sejarah bangsa-bangsa di Amerika Serikat, kemudian timbul {{hws|per|pertanyaan}}<noinclude>{{rh|||30 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 3m0la19b4yzvmwd4r4v2v971oz8msu0 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/568 104 102895 291940 289401 2026-05-11T10:16:13Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291940 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>yang satu ialah bahasa Indonesia, kembali menjadi satu bangsa yang hanya mempunyai satu bahasa ibu, dengan tarikan gaya pusaran (centripetaal) yang wajar, Selanjutnya dalam hal penyelusuran asal bangsa dan bahasanya ini, jangan dilupakan bahwa bahasa Indonesia bukanlah bahasa asing bagi Nusantara. Kembali kepada persoalan pergantian bahasa keluarga dengan bahasa asing. Betapapun besar pengaruh bahasa lalu lintas atau perdagangan atau Lingua Franca, dan bahasa penjajahan, atau kebudayaan, agama atau apapun, tidak akan mengungguli pengaruh pertemuan darah. Memang benar, anasir bahasa penjajah yang lebih maju kebudayaan dan peradabannya tidak sedikit merembes dan akhirnya diterima oleh masyarakat asli setempat. Misalnya jika diteliti dalam perbendaharaan bahasa Inggeris modern yang sekarang ini, akan dijumpai kira-kira 50% kata-kata yang berasal dari Normandia dan Perancis. Begitu pula dalam kamus Jawa Kuno - Kawi - Indonesia, susunan penulis (belum terbit) termuat sejumlah 14.323 kata kepala, yang 7.033 (k.1. 50 %) berasal dari bahasa Sanskerta, sisanya Jawa Kuno. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa orang Inggeris hingga kini berbahasa keluarga bahasa Inggeris, orang Jawa berbahasa Jawa. Jadinya, bagaimanapun hebatnya pengaruh kebudayaan dan kesusasteraan Hindu dalam hal agama, peradaban, cerita-cerita rakyat, cerita kepahlawanan wayang, meresap kesendi anggota-anggota istana hingga ketulang sungsum rakyat jelata di desa-desa, namun kenyataannya tidak mampu menggeser bahasa ibu rakyatnya. Apalagi bahasa asing seperti bahasa Belanda, Inggeris sekarang ini, yang pengaruhnya terbatas pada ilmu pengetahuan modern saja. Sebenarnya tidak ada kekhawatiran bahwa bahasa-bahasa tersebut bisa mendesak bahasa kita, baik Indonesia maupun rusantara (daerah). Jika dipikirkan lebih lanjut, suku/wangsa Sunda/Jawa dan lain-lain yang berulang-ulang<noinclude>{{rh|||34 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> pi2yuyikk4umfq9ccn8z3wam6wmmzzg Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/569 104 102896 291941 289404 2026-05-11T10:16:36Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291941 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>bergulat dengan bahasa asing saja tak lupa dan tak melepaskan pemakaian bahasa ibunya, bagaimana pula hal pergantian bahasa ibu itu terjadi dengan wangsa-wangsa lain yang terasing, yang selama itu pula bebas dari daya pengaruh luar, misalnya: wangsa Dayak di Kalimantan, Alforus di Soram. Kubu dan Pasomah di Sumatera dan lain-lain. Betapa berat politik penjajahan menindas, bahasa terjajah sebagai bahasa keluarga akan tetap bertahan, misalnya bahasa Vlaam, Litau, bahasa-bahasa Indian di Amerika Serikat hingga sekarang, biar bagaimana kecilnya pun bahasa itu. J. Chamberlain, Perdana Menteri Inggeris dulupun pernah pula melarang penggunaan bahasa asli di pulau Malta, akan tetapi kemudian menjumpai tantangan-tan tangan dan kenyataan-kenyataan negatif yang tidak diinginkan dan di luar dugaan semula, akhirnya peraturan itu dicabut kembali. Seorang bijaksana tak akan mengkutik-kutik hak azazi pribadi manusia. Seorang orang Linguis modern tidak kurang-kurang penghargaan dan perhatiannya terhadap sesuatu bahasa hidup, bagaimana kecilnya pun bahasa itu. Dalam hal ini Pemerintah Indonesia telah berhasil memiliki satu bahasa resmi, bahasa yang serumpun di seluruh wilayah Nusantara. Dengan demikian segala usaha untuk pengembangan dan pemupukan bahasa Indonesia, bahasa resmi dan bahasa nasional kita disatu pihak, selalu sejajar dan saling memberi manfaat dengan usaha pengembangan dan pemupukan bahasa daerah di lain pihak. Di India, sejak lama diusahakan oleh Pemerintah Inggeris untuk berbahasa resmi bahasa Inggeris, akhirnya gagal. Kemudian diganti dengan bahasa asli dari penduduk mayoritas yaitu bahasa Hindi, akan tetapi keadaannya lain sekali dengan di Indonesia. Di sana masih kerap kali timbul kericuhan-kericuhan karena masalah bahasa. Di India tersebut didapati 500 bahasa pribumi terdiri dari 5 rumpun bahasa, yaitu rumpun bahasa Aria (Sansekerta-Indo-Eropah), Dravida<noinclude>{{rh|||35 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> dwb4wjg4mefzkosv55j88te8cl0r8wl Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/570 104 102897 291944 289407 2026-05-11T10:18:59Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291944 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>(penduduk asli sejak dulu kala), Tibet-Cina, Mon-Khmer dan Khasi (berasal dari Junan). Kesulitan-kesulitan semacam itu terjadi juga di Belgi, Kanada, Rusia dan di negara-negara Afrika (misalnya di Ghana). Malahan di Pilipina dan di Malaysia pun pelaksanaan bahasa resmi dan nasional belum berjalan selancar sererti di Indonesia. Menurut pendapat kami, pengalaman sejarah telah cukup membuktikan bahwa kekuasaan pemerintah penjajah pun tidak mampu mendesakkan bahasanya menjadi bahasa resmi diperintah jajahannya, jangan lagi untuk menggantikan bahasa keluarga kelompok suku atau bangsa. Demikianlah ketatnya kesatupaduan bahasa dengan bangsa pemiliknya, sehingga pergantian bahasa keluarga sesuatu bangsa hanya terjadi apabila percampuran darah ikut serta mengambil peranan di dalamnya. Brinton, soorang Ethnolog Amerika, berkata bahwa penggolongan bangsa-bangsa menurut batas-batas geografi, kriteria-kriteria fisik (tengkorak, kulit dan sebagainya), taraf-taraf peradaban, kebudayan dan lain-lain tidaklah akan berhasil memuaskan, tanpa diikut-sertakannya di dalamnya tinjauan bahasanya. Menentukan asal-usul bangsa dengan tinjauan bahasanya saja memang tidak mutlak benar, akan tetapi sebaliknya dapat pula dikatakan bahwa usaha tinjauan bahasa itu adalah suatu usaha yang paling aman selama belum ada bukti-bukti tepercaya tentang kelainan bahasa dan bangsa pemiliknya. Lebih lanjut lagi tinjauan sesuatu bahasa ini harus disempurnakan dengan perbandingan bahasa-bahasa lainnya, sehingga dari padanya dapat dikelompokkan bahasa-bahasa yang serumpun. Keserumpunan bahasa ini membayangkan kesamaan sifat-sifat kelompok suku atau bangsa pemiliknya dan tempat semula dari mana asal-usul nenek moyangnya dahulu kala, demikianlah kata Brinton tersebut di atas {{hws|("Taalverwant|("Taalverwant-bangsa}}<noinclude>{{rh|||36 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> rzxhl60o8tzdt5zn38ofr5x6pa1sfz3 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/571 104 102898 291945 289668 2026-05-11T10:19:13Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291945 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>bangsa dan bahasa Nusantara dengan penelitian keserumpunan bahasanya, kemudian diperkuat lagi dengan hasil-hasil penelitian kepurbakalaan dan antropologi antropologi budaya. Proses penentuan hipotesa tersebut telah berjalan sejak abad-17, garis besarnya kurang lebih sebagai berikut: Mula-mula L. Harvas, sarjana yang pertama-tama mengomukakan pendapat tentang kosorumpunan bahasa-bahasa Austronesia dengan mengumpulkan kata-kata dari pelbagai bahasa untuk bahan perbandingan. Usaha ini lebih dahulu dari pada usaha para sarjana Eropah yang mengadakan perbandingan antara bahasa-bahasa Indo Jerman, yang kemudian diganti namanya menjadi Indo Eropah itu. Pendapat ini mendapat sambutan baik dari Prof. A. Rolanda (th. 1676-1718) dalam bukunya:<br> De Linguis Insularum Orientalium. Diperkuat lagi oleh John Reinhold Foster dalam karangannya berjudul: Voyage Round the world th. 1776, W. Marsden: On the Polynesian or East Insular languages th. 1843 (istilah Polinesia yang I), dan Vilhelm von Humboldt dalam Malaischer Sprachstanun dengan bukti daftar kata-kata yang lebih lengkap lagi. Dan oleh beliaulah diciptakan istilah Melayu Polinesia. Pada tahun 1843 muncullah istilah nama "Indonesia" yang pertama oleh J. R. Logan dalam karangannya: Customs Common to the hill tribes bordering on Assam and those of the Indian Archipelago dalam Journal of tho Indian Archipolago and Eastern Asia, yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia itu berasal dari Assam di Asia Tenggara, berdasarkan kesamaan-kesamaan kebiasaan antara beberapa suku di Sumatera dan Kalimantan dengan suku Naga di Assam seperti adat memenggal kepala, mencacah kulit, perumahan bujang dan perhiasan-perhiasan. Pendapat ini disokong oleh seorang kolonel: Henry Yulo. Pada tahun 1884 (jadi 36 tahun kemudian) istilah Indonesia baru menjadi populer oleh pengumuman A. Bastian, seorang sarjana<noinclude>{{rh|||38 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 854zjd160ezf1sp0eefejllzex4sqlb Halaman:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.pdf/292 104 102912 291294 290721 2026-05-10T16:26:38Z Thersetya2021 15831 291294 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Moel81" /></noinclude>{{c|<big><big>'''NGESTI ROSO'''</big></big>}} Organisasi ini berdiri pada tanggal 17 Desember 1945, hari Jumat Legi di Dusun Ngrojo, Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Pendiri Organisasi Ngesti Roso adalah Ki Hardjodinomo, seorang Murid kesayangan almarhum R. Ngabehi Himo Yudosukohono abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ki Hardjodinomo adalah seorang pedagang yang banyak dicemooh oleh teman-temannya karena mengamalkan ajaran Ngesti Roso. Oleh karena selalu bermeditasi dan berserah diri pada Tuhan, akhirnya, teman-teman yang dulu mengejek justru datang kepadanya untuk menjadi warga Ngesti Roso. Ngesti Roso pada dasarnya adalah suatu organisasi gerakan pembinaan batin agar warganya memiliki modal yang kuat terutama melalui kedisiplinan dalam menjaga pembicaraan dan perilaku. Tujuan Ngesti Roso adalah: 1. Menjalin persaudaraan antar sesama manusia tanpa memandang suku, agama, ras, kepercayaan, usia jenis kelamin, dan warna kulit; 2. Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, demi suksesnya tujuan nasional sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD' 45 dan wadah Negara Kesatuan R.I. {{c|'''LAMABANG ORGANISASI<br>NGESTIROSO'''}} [[Berkas:Ensiklopedia Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (page 292 crop).jpg|nirbing|pus]] Lambang Organisasi Ngesti Roso adalah Janoko ''Nropong'', yang mengandung makna bahwa manusia harus memusatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, yakin akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Struktur Organisasi Ngesti Roso sekarang ini, adalah sesepuh R. Sudjawo Hadi; Ketua: Muhammad Bardi; Sekretaris: Drs Sapto Hari Nugroho; Bendahara: Suwandi. Alamat tetap organisasi berada di Samigaluh, Ds. Banjar Arum, Kec. Kalibawang, Kab. Kulon Progo Prop. D.I.Y dengan cabang 8 organisasi berada di: Madiun, Magelang, Pakualaman (Yogyakarta), Giri Mulyo, Dekso, Nanggulan dan Kaligesing di Purworejo, Jawa Tengah. Warga organisasi berjumlah 394 orang, terdiri atas PNS, petani, dan pedagang. Pokok ajaran Ngesti Roso adalah ''Jalmo Limpat Seprapat Tamat'' yang berarti sedikit petunjuk orang dapat tahu dan mengerti isinya. Ajaran tersebut dilembagakan dalam kehidupan warga Ngesti Roso melalui pengajaran,<noinclude>{{rh|279|||''Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa''}}</noinclude> t990kjlvhfgaoaovx4kiclsaw9jp7z7 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/417 104 102928 291531 289532 2026-05-11T02:38:00Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291531 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>PENGANTAR REDAKSI {{rule|align=left|10em}} {{gap}} Minat terhadap hasil sastra sering dijadikan patokan untuk menilai minat baca orang Indonesia. Hal itu semata-mata hanya ingin memandang tinggi kedudukan sastra dari pada mengamati masalahnya lebih dalam. Soalnya, bukan hanya sekedar memperbandingkan jumlah buku dengan jumlah penduduk, dan prasarana lain yang memudahkan orang mendapatkan dan membaca buku. {{gap}}Andaikata jumlah buku cukup (dengan harga yang terjangkau oleh umum), perpustakaan tersedia, apakah dengan sendirinya minat baca bergairah? {{}gap}} Meskipun bukan soal baru, namun beberapa karangan dalam nomor ini dapat dikaitkan dalam persoalan minat baca itu. {{gap}} Karangan M. Saleh Saad antara lain menanggung fungsi kritik sastra dalam hubungannya dengan pembaca. Dalam hal ini dapat diajukan pertanyaan: sejauh mana kritik sastra selama ini telah menyumbangkan jasanya, mendekatkan hasil sastra kepada masyarakat? {{gap}} Andaikata hasil-hasil sastra modern sudah jauh dari masyarakat, betapa pula hasil-hasil sastra lama?! Mungkin, di samping pengamatan seperti yang dilakukan oleh Fdwar Jamaris dan Nalom Siahaan, perlu juga dipikirkan adanya usaha-usaha "menceritakan kembali" hasil-hasil sastra lama yang dianggap klasik, dengan bahasa yang mudah tanpa menghilangkan inti dan makna cerita serta kekhasan yang lain. {{gap}} Apabila hal itu terlaksana maka para pelajar yang selama ini hanya mengetahui judul karangan dan nama pengarang akan dapat memetik manfaat yang tidak kecil artinya dalam memahami nikmati sastra pada umumnya. {{gap}} Mudah-mudahan. {{Block right|Jakarta, 2 Mei 1973<br><br> J.S.}}<noinclude></noinclude> hjsdgrm30d3j064quoz9av1xmrtef4s Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/441 104 102936 291617 289573 2026-05-11T04:14:32Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291617 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|23}}</noinclude>{{Gap}} Yang kini dianggap lebih konsisten adalah penurunan komponen pelajaran bahasa atas kemampuan: <ol type='a'> <li>Reseptif atau memahami, dengan ketrampilan: <br>(1) mendengarkan; <br>(2) membaca; <li>Ekspresif atau mengkomunikasikan, dengan ketrampilan: <br>(3) berbicara <br>(4) menulis. </ol> {{Gap}} Empat ketrampilan tersebut perlu diturunkan lebih terperinci hingga memudahkan penataan silabus dan ovaluasi. 7.3 Sebagai usaha pendahuluan, keempat ketrampilan tersebut di turunkan pada tingkat tertentu sebagai berikut: :(1) mendengarkan dengan kecekatan-kecekatan: <ol type='a'> <li>menangkap makna lugas; <li>menafsirkan maksud pembicara; <li>menilai sikap, alasan, relevansi, konsistensi pembicara; <li>mengintegrasikannya dengan pengalaman pribadi. </ol> :(2) Membaca, dengan kecekatan-kecekatan: <ol type='a'> <li>menangkap makna lugas; <li>menafsirkan maksud bacaan; <li>menilai sikap, alasan, relevansi, konsistensi bacaan; <li>menyesuaikan kecepatan baca dongan maksud membaca; <li>menggunakan buku dan perpustakaan; <li>menggunakan kaidah; <li>mengintegrasikannya dengan pengalaman pribadi. </ol> :(3) Berbicara, dengan ketjekatan-ketjekatan: <ol type='a'> <li>memilih pokok pembicaraan; <li>menguraikan pokok pembicaraan; <li>menata pembicaraan; </ol><noinclude></noinclude> 5yv3b6q386otjdk9h6l7wfyn9ntkdvv Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/442 104 102938 291618 289593 2026-05-11T04:15:31Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291618 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|24}}</noinclude><ol type='a' start='4'> <li>mengucapkan pembicaraan; <li>mengintegrasikannya dengan pengalaman pribadi. </ol> :(4) Menulis, dengan kecekatan-kecekatan: <ol type='a'> <li>memilih pokok tulisan; <li>menguraikan pokok tulisan; <li>menata tulisan; <li>merapikan tulisan; <li>menggunakan kaidah; <li>mengintegrasikannya dengan pengalaman pribadi. </ol> {{Gap}} Penurunan tersebut masih terbatas pada kecekatan-kecekatan untuk telaah, jadi: mendengarkan telaah, membaca telaah, berbicara telaah, menulis telaah. Yang bersifat rekreasi belum diturunkan. {{Gap}} Hasil telaah kurikulum dan pengalaman pribadi, menunjukkan, bahwa antara 4 komponen pelajaran BI tersebut menulis/mengarang paling terabaikan, menyusul kemudian membaca. Kenyatann inilah yang menimbulkan anggapan perlunya penggarapan sungguh-sungguh kedua komponen tersebut. 7.4 Dalam proses pengajaran BI, tujuan dan komponen pelajaran bahasa akan saling menunjang dan mengembangkan. Karena itu mengabaikan salah satu komponen tujuan atau komponen pelajaran bahasa seyogyanya dihindari. 8.1 Untuk mencapai ketiga satuan tujuan tersebut pada nomor 7.1 hendaknya dikembangkan asas-asas umum metodik: :(1) analitis-sintetis, untuk mengembangkan wawasan pengetahuan anak didik; :(2) otoaktifitas, keinginan tahu, dan pemecahan masalah, untuk mengembangkan proses belajar yang dinamis, kritis dan responsif; :(3) motivasi, kematangan, dan keampuan anak didik, untuk {{hws|le|lebih}}<noinclude></noinclude> 4fqbmvnnr2zg3tcq6z1gtxkoutc9bvr Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/594 104 102939 291966 289568 2026-05-11T10:35:58Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291966 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>drama resmi, di mana pura uramawan memperebutkan hadiah. Karena drama itu seiring dengan upacara-upacara agama, maka tak mungkin drama itu merupakan aktivitas sendiri. Drama di Athena berlangsung selama dua hari raya, ialah hari pesta anggur (leneaea) pada bulan Januari/Februari dan bulan Maret/April. Pada hari City Dionysius yang berlangsung selama lima-enam hari itu, setiap kalinya pada pagi terakhir para dramawan mempersembahkan tiga tragedi dan satu satire. Ketiga dramawan tragedi itu dipilih dengan teliti oleh pejabat yang bertugas memilih dari sekian banyak dramawan yang mengajukan naskah drama. Fementasan itu dibiayai pemerintah. Dari ketiga dramawan itu nanti, mereka masing-masing akan keluar sebagai pemenang hadiah I, II, atau IlI. Aeschylus yang menulis 90 naskah drama itu, tiga belas kuli menang sebagai pemenang I. Sedang S Sophocles yang mempunyai 125 naskah drama, dua puluh kali keluar sebagai penenang I. Meskipun Euripides cuma sering mendapatkan hadiah ketiga, iapun sebagai pemenang 1 sebanyak empat kali. Dengan drama Yunani kita dibawa dari <u>prologos, parados, atsimon, exodos</u> sampai <u>epilogos</u>, sehingga kita mengalami rasa belas dan giris (pity and fear). Kita dibiarkan dalam keadaan "pity and fear" tadi sehingga kita akan melalui suatu keadaan yang pedih sekali, kengerian yang dalam yang harus selalu dialami orang sakit, tetapi sudah itu jiwa kita rasa tercuci, kita menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan hempasan berat, inilah hidup! Itulah katarsis, semacam operasi jiwa yang mengagumkan. Kepada k tarsis itulah drama-drama Yunani ditujukan. Karenanya tak akan kita dapatkan di dalamnya: kekenesan-kekenesan, pengguruan-pengguruan, dan hal-hal yang memuakkan yang dangkal sifatnya. Tentunya hal itu ada hubungannya dengan asal-usul drama Yunani ialah dari upacara-upacara agama tadi. Pandangan hidup orang Yunani: {{hws|du|dunia}}<noinclude>{{rh|||60 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> ivfwn1aanmfqcs9cn2yymkpgi0azjcg Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/593 104 102940 291965 289575 2026-05-11T10:34:57Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291965 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{block left|offset=10em|TEATER KLASIK ANTIK <br>Th, Sri Rahayu Prihatri <br>Lembaga Bahasa Nasional, Yogyakarta }} Drama Yunani klasik berasal dari upacara-upacara agama, Menurut Aristoteles berasal dari koor liris. Dinyanyikan untuk memuja Dionysius (dewa musim semi, kesuburan dan sebagainya). Himne semacam ini mula-mula dinyanyikan oleh koor yang mula-mula memakai kostum. Dalam drama tersebut, koor bersahut-sahutan dengun pemimpin koor. Pada suatu ketika, pemimpin koor tidak hanya menceritakan kisah, tetapi meniru pekerjaen tokoh. Dengan demikian mulailah seni penokohan. Pada abad 6 sebelum Masehi muncullah seorang pengarang drama yang bernama Thespis. Meskipun karya-karyanya tidak pernah sampai kepada kita, tetapi menurut dongengan Aristoteles, Thespislah orang yang pertama menjadi aktor, bukan hanya sekedar pemimpin koor. Ia memisahkan diri dari koor dan menjadi impersonstor, Sesudah Thespis, beberapa tahun kemudian muncullah dramawan Aeschylu yung menciptakan aktor kedua, kemudian Sophocles aktor ketiga. Hal itu bukan berarti bahwa didalam drama-drama itu hanya terdapat satu karakter ataupun satu peran, tetapi bisa jadi tiga atau empat. Satu aktor bisa melaukan tugas beberapa aktor, menjadi peran dari beberapa karakter. W.S. Rendra dalam menyutradarai "oedipus Rex" beberapa tahun yang lalu, mempergunakan juga sistim ini. Apabila seorang aktor atau seorang aktris hendak berganti peran, cukuplah baginya bila berganti topeng. Tahun 534 Sebelum Masehi Athena menyelenggarakan festival<noinclude>{{rh|||59 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> f6h4vtmd65921ag3zjfst7o957zxoxi Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/592 104 102941 291964 289582 2026-05-11T10:34:33Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291964 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Rosidi, Ajip, <u>Kapankah Kesusasteraan Indonesia Lahir?</u>, Bhratara, Jakarta, 1964. Samsuri, "Ikhtisar Analisa Bahasa Pengantar kopada Linguistik jilid I," <u>Bahasa dan Ilmubasa</u>, Lembaga Penerbitan IKIP Malang, 1969. Slametuljana, Prof. Dr., Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara, P.N/Balai Pustaka, Jakarta, 1964. −−−−−−, <u>Politik Bahasa Nasional</u> −−−−−−, <u>Sriwijaya</u>, Arnoldus Indo-Flores, N.T. T. (tanpa tahun). <u>T.B.G</u>, (Tijdschrif voor Taal−, Land- en Volkenkunde, uitgegeven door hot (K.) Batavians Genootschap), LXXX, 1940. Usman, Zubor, Drs., <u>Bahasa Persatuan</u>, Gunung Agung, Jakarta, 1970. Virjosuparto, Sutjipto, Prof. Dr. R.M., Kakawin Bhārata Yudha, Bhratara, Jakarta, 1968. −−−−−−, <u>Bunga Rampai Sejarah</u>, Jambatan, Jakarta, 1964.<noinclude>{{rh|||58 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> e44mnj65f8i132p0dmhey2uddl2dvbr Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/590 104 102944 291963 289590 2026-05-11T10:33:47Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291963 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>dapat diterima dengan sendirinya kata <u>malaka</u> bukanlah kata asli Indonesia/Nusantara. Memang pada kira-kira tahun 1500 s.M. bangsa Arya telah monduduki sogonap daerah India Utara sepanjang bengawan Gangga. Penduduk aslinya (bangsa Munda) mengungsi ke selatan, dan ada kemungkinannya bertemu dengan suku Malaya dan/atau Malaka. Dari daerah selatan bangan Munda (tanpa/dengan kelompok Malaya/Malaka) berimigrasi ke India Belakang, dan bercampur dengan arus perpindahan suku Tai dari dataran tinggi Junan yang menuju ke Semenanjung Asia Tenggara itu. Di sinilah kata-kata Hindu Malaya dan Malaka dipergunakan untuk menamakan tempatnya yang baru; kemudian muncul ciptaan baru istilah: Melayur yang lambat laun menjadi Melayu untuk tompat yang sama ataupun daerah lainnya di wilayah Semenanjung itu juga. Ini dapat diperkirakan terjadi di sekitar abad ke-7 s.M bersamaan waktu dengan abad huru-hara di Asia Selatan dan Tenggara berdasarkan dokumen sejarah di Siam. Bahasa Bunda (termasuk golongan bahasa Santali) adalah bahasa Hindu asli, suatu bahasa fleksi yang sangat besar pengaruhnya terhadap bahasa Nusantara, berupa kata-kata basic vocabulary dan bubuhan-bubuhan. Akan tetapi sebaliknya bahasa Munda tersebut tidak luput dari pengaruh-pengaruh bahasa bangen yang mendosak yaitu bahasa Sanskorta, bahasa bangsa Arya, pendatang dari Eurasia. Sebelum suku Tai dan lain-lainnya suku Asin Tenggara bermukim di Semenanjung, di tempat ini telah berpenduduk. Kalau begitu timbul pertanyaan: Apa nama daerah itu sebelumnya? Ya, sesuatu nama mudah musnah terdesak yang baru, tergatung bagaimana jalannya sejarah. Nama Malaisia inipun dari sedikit menggeser nama lamanya juga. Tidak mustahil: nama Malaya, Malaka, Melayu untuk penamaan Semenanjung akhirnya lenyap bersama angin lalu di mulut masyarakat angkatan Malaisia, tinggal sayur-sayup terdengar dari naskah sejarahnya saja.<noinclude>{{rh|||56 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 1zui60wk05ftz8sie1xmnpp9xels6qp Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/589 104 102945 291960 289602 2026-05-11T10:31:12Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291960 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>½Malaka? <u>Kata Malaka</u>. Dalam bahnen Jawa kata: <u>mlaka</u>, atau <u>kamlaka</u>, nama sebuah pohon jenis Euphorbiacone. Menurut Juyaboll: <u>Kamlaka</u> bahasa Kawi, juga nama pohon (Phyllanthus Amblion, L.). Pohon ini rupa-rupanya yang disebut-sebut dalam wiracarita Rāmāyana yang ditulis pada abad ke-10 itu (Rāmāyana H. Korn pupuh XVI, 40). Di Malaysia, <u>melaka</u> nama tumbuhan, pokok dan buahnya (Emblion officinalis) (Kamus Dewan, Dr. T. Iskandar, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kem. Pelayaran Kuala Lumpur, 1970). Dalam kitab Sejarah Melayu Tun Sri Lanang, disebutkan bahwa istana raja Parameswara didirikan di bawah pohon malaka, oleh karena itu kerajaannya disebut kerajaan Malaka. Di Minang dalam menghadapi sesuatu kesulitan orang dulu sering bilang "Soperti bertemu buah si malakamo/malakama, dimakan mati bapa, tidak dimakan mati ibu." Cukup bukti kiranya bahwa nama Malaka semula dari nama pohon dan buahnya. Pertanyaan yang timbul: kata aslikah kata-kata (ke)mlaka (Jw), malaka (Mly), malakamo (Min) dan kamalaka (Kawi) itu? Di dalam bahasa Inggris kita jumpai kata <u>malacca cane</u>, yaitu: tongkat semambu (Malaka di Malaya). Bahasa Sanskerta: <u>Mallaka</u>, nama suatu bangsa; <u>malamallaka</u>, '''cawat''' (dari kulit kayu). Jadi di India didapati pula suku bangsa yang disebut Malaka. Adakah hubungannya suku bangen Malaka dengan suku Malaya di dekat gunung Malabar tersebut di depan, penulis belum mendapatkan keterangan. akan tetapi kata <u>mallaka</u> (Skr) dan <u>malacca</u> (Ingg.) rupa-rupanya tidak lepas pula dari pengertian tumbuhan/pohon. Makanya tidak mustahil bahwa nama Malaka untuk Semenanjung dahulu diambilkan pula dari nama pohon, atau nama suku bangsa di India tersebut. Jika ini<noinclude>{{rh|||55 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> qerc37wok4otkd1p5bmkmch6vliw7rf Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/443 104 102946 291619 289612 2026-05-11T04:15:51Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291619 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|25}}</noinclude><ol> {{hwe|bih|lebih}} menyerasikan dan mengembangkan proses belajar dan wawasan pengetahuan; </ol> :(4) pengalaman sendiri, untuk meng mbangkan nilai-nilai etis maupun estetis. 8.2. Untuk mencapai kemampuan dan ketrampilan seperti dikemukakan pada 7.2 dan 7.3 hendaknya dipergunakan asas-asas kebahasaan: :(1)Kalimat dasar sebelum kalimat-kalimat luasan. Dalam kalimat—kalimat luasan dalam tulisan anak didik SMP cukup memberi petunjuk, bahwa mereka perlu lebih dulu menguasai kalimat-kalimat dasar. :(2) Memakai, bukan mengetahui pola kalimat. Mengetahui kata-kata, kalimat atau aturan-aturan tata bahasa tidak banyak menyebabkan anak didik mampu dan trampil memakai pola-pola kalimat dengan sejumlah perbendaharaan kata dalam suatu situasi untuk berkomunikasi. :(3) Memakai, bukan mengetahui perbendaharaan kata. Mengetahui sebanyak-banyaknya arti kata tidak menjamin anak didik mampu dan trampil memakainya untuk berkomunikasi. Memakai perbendaharaan kata dalam rangka pola kalimat dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilan berbahasa. :(4) Mulai dengan pola, baru dengan unsur-unsur. Analisa unsur lebih dapat memberikan wawasan yang lebih wajar tentang kerja bahasa kepada anak didik, apabila dalam rangka pola kalimat. :(5) Kenyataan bahasa yang diajarkan, bukan kenyataan buatan. Berbagai ragam bahasa dipakai dalam berbagai ragam situasi. Ragam yang betul adalah ragam yang cocok dengan situasi pemakaian. Ragam yang diajarkan adalah ragam yang biasa dipakai oleh golongan terpelajar.<noinclude></noinclude> 7wdoos67sgg1bozce8ba9v0bgugrjr6 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/587 104 102949 291958 289628 2026-05-11T10:30:14Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291958 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Almarhum Dr. R.M. Wirjosuporto, pernah belajar di India mengatakan bahwa di India dan sekitarnya banyak didapati nama tempat yang berakhir dongan <u>pura</u>, <u>pur</u> atau <u>ur</u>, yang berarti kota dan sebagainya, misalnya: Bahawalpur, Yaipur, Jawnpur, Udapur, Yabalpur, N Nagpur, Syolapur, Rampur, Mirzanpur, Bhagalpur (India); Bampur (Iran); Amarapura, Maipur (Birma); Singapura atau Singapur. Nama yang berakhir dengan -ur monurut beliau banyak juga dijumpai hingga nama desa-desa. Di sini kami tidak dapat memborikan contoh. Di dalam peta P. R. Bos J.B. Wolters, Groningen, Den Haag (tanpa tahun) nama Singapura/Singapur di tuliskan Singapore. Mungkinkah nama kota-kota di bawah ini ada hubungannya juga dengan kata <u>ur</u> (kota) itu kami kurang tahu. Nama-nama itu misalnya: <u>Mnisur</u>, <u>Owalior</u>, Indore, Mangalore, Bangalore (India); Owadur (Iran). Sedang di Indonesia sini sendiri ada candi yang termasyhur di seluruh dunia bernama Borobudur. Portanyaan kami: mungkinkah Barabudur ini berasal dari kata <u>bara</u> + <u>budh</u> + <u>ur</u>, yang berarti kurang lebih: kota kesadaran yang besar? Kata '''bara''' dalam salah satu bahasa Dayak berarti: di mana-mana, sejajar dengan kata: para, pada (Jawa) yang menunjukkan sesuatu kumpulan, kelompok atau gugusan. <u>Budh</u> (Skr) = sadar, bangun. Pendapat Prof. Dr. R.M. Virjosuparto tentang arti bangunan Borobudur ditilik dari sudut Agama Budha Mahāyana, dapat dibaca da1am Bunga Rampai Sejarah Budaya Indonesia, Jembatan, Jakarta, 1964 hlm. 68-88. Kata Molayu-Polinesia dalam bahasa Belanda kerap kali ditulis: Malaio-Polinesië. Kata Malaio ini dekat sekali dengan ucapan: Malayu, Malayur, Malaitur, berarti: tempat malai. (Ucapan dan tulisan Malayur ini diketemukan pada prasasti Tanyore tahun 1030 dan berita pedagang Arab dari Dimaski tahun 1325). Jika perkiraan ini dapat diterima, pertanyaan yang timbul: apakah malai itu? Ingat juga bahwa<noinclude>{{rh|||53 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> ti0u838118znmtleuxnssfkbfo2g7r5 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/249 104 102951 291175 289674 2026-05-10T14:44:28Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291175 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||29}}</noinclude><u>'''Catatan'''</u> {| style="background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.5; margin-bottom:1em;" | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |1) | style="vertical-align:top;" | Dalam bahasa Arab bentuk <u>maknawi</u>, <u>duniawi</u> dan sebagainya itu disebut "ismunnisbah", dengan arti "benda yang termasuk jenis bentuk dasarnya", "yang bersangkut paut dengan" atau "berasal dari", dan "yang bersifat". |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |2) | style="vertical-align:top;" | Bentuk aslinya dalam bahasa Arab adalah (1) iyy, (2) iyyah, (3) niyy dan (4) awiyy. |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |3) | style="vertical-align:top;" | Dalam bahasa Indonesia sekarang ini sebenarnya sudah mulai dipakai bentuk-bentuk yang menyatakan ketegori feminin-maskulin, tetapi masih terbatas pada kata-kata yang secara biologis menunjukkan jenis kelamin, seperti sekretarisse, direktris, pemudi, seniwati, biduanita dan sebagainya untuk kata yang sama artinya sekretaris, direktur, pemuda seniman dan biduan. Dan sepanjang yang dapat penulis ketahui pembentukan bentuk feminin dengan pola pembentukan bahasa Arab belum terdapat dalam bahasa kita. |- |}<noinclude></noinclude> jsdwus4v7wuktx2t4iec0eyvs8ll0f0 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/247 104 102952 291171 289687 2026-05-10T14:43:17Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291171 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||27}}</noinclude>Demikian kata-kata <u>akherat</u>, <u>hakekat</u>, <u>darurat</u>, kini diambil pula bentuk padannya, <u>ukhrawi</u>, <u>hakiki</u>, dan <u>daruri</u>. Malahan kini sudah mulai ada kata-kata Indonesia yang dibentuk dengan pola ini. Di samping kata <u>surga</u> dan <u>gereja</u> kini hidup pula kata <u>surgawi</u> dan <u>gerejani</u>. Dari kenyataan ini dapatlah dianggap bahwa sudah ada kecenderungan bahasa Indonesia untuk "mengangkat" pola pembentukan kata bahasa Arab ini dalam sistim pembentukan kata bahasa Indonesia. Yang perlu mendapat perhatian kita dalam hal ini adalah tentang bentuknya. Seperti ternyata dalam data-data yang ada, imbuhan itu muncul dalam bahasa Indonesia dengan empat macam bentuk dalam pelaksanaannya, yaitu: (1) -<u>iah</u> seperti terdapat dalam ilmiah, amaliah, lahiriah; (2) -<u>i</u> sebagaimana terlihat dalam alami, hewani; (3) -<u>ani</u> misalnya dalam rohani, jasmani; dan (4) -<u>awi</u> seperti terdapat dalam maknawi, duniawi.<sup>2)</sup><br> Dalam bentukdasar yang manakah masing-masing bentuk itu dipakai, inilah yang agaknya perlu dibicarakan disini barangkali dapat menjadi petunjuk untuk mereka yang hendak membentuk kata-kata baru. Bilamana kita berusaha menjawab pertanyaan itu lewat data-data yang telah ada dalam bahasa Indonesia sekarang, sulit disimpulkan tempat pemakaian keempat bentuk imbuhan itu. Kata <u>amal</u> dan <u>faal</u> misalnya, yang keduanya berakhir dengan l, ternyata mempunyai bentuk akhiran yang berlainan. Kata yang pertama mendapat -<u>iah</u>, yang lainnya mendapat -<u>i</u>; <u>amaliah</u> dan <u>faali</u>. Demikian <u>hakekat</u> menjadi <u>hakiki</u>, tetapi <u>akherat</u>-<u>ukhrawi</u>. Oleh karena itu untuk dapat mengatur tempat-tempat imbuhan itu terpaksalah kita menengok kedalam bahasa sumbernya, yakni dalam bahasa Arab. Bukan untuk menirunya seratus persen seperti bentuknya yang asli, tetapi sekedar mengusahakannya agar tidak terlalu jauh menyimpang akibat perbedaan sistim pembentukan kata bahasa kita dengan sistim bahasa sumbernya. Pertama-tama harus segera dijelaskan disini bahwa dalam bahasa Arab terdapat kategori feminin dan maskulin. Setiap kata dalam kalimat bahasa Arab akan disusun berdasar kategori jeniskelamin kata ini. Untuk kata-kata yang masuk kategori jenis feminin, pada umumnya, dinyatakan dengan akhiran -<u>ah</u> (-at). Demikianlah -ah dalam <u>ilmiah</u>, <u>amaliah</u>, <u>lahiriah</u>, misalnya adalah imbuhan penanda jeniskelamin feminin. Dan oleh sebab itu, hal itu dapat juga terjadi pada <u>hewani</u>, <u>rohani</u> atau <u>duniawi</u> menjadi <u>hewaniah</u> (hayawaniah), <u>rohaniah</u> dan <u>duniawiah</u>. Jadi hakekatnya yang menjadi tanda ajektif relative adjektive) hanyalah -i pada <u>ilmiah</u>. Dan oleh karena dalam bahasa Indonesia pada dasarnya tidak mengenal kategori feminin-maskulin, maka bentuk -<u>iah</u> (dan kalau ada juga <u>aniah</u> dan <u>awiah</u>) dalam<noinclude></noinclude> tircd34x5qva5qajtr5qndgnvtzyads Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/26 104 102954 290809 289644 2026-05-10T12:04:23Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290809 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{right|'''SEPATAH KATA.'''}} {{Missing image}} GUBERNUR SAMADIKOEN {{Dropinitial|''D''}}{{sp|''JIKA''}} ''kami mengadakan sambutan guna ikut mengisi halaman buku „Sedjarah Perdjuangan Kemerdekaan Indonesia selama 7 tahun (1949-1952)” maka sudah barang tentu kami ingin mentjantumkan perkembangan pada segala lapangan didaerah, dimana kita berada, jaitu Djawa-Timur.'' ''Bukan maksud kami untuk mengisahkan sedjarah perdjuangan di Djawa Timur setjara chronologis, karena kami rasa dilain halaman hal ini tentu sudah ada jang membahasnja, akan tetapi kehendak kami ialah untuk mendapatkan kesimpulan luas dan dalam, daripada perkembangannja, sehingga kita mendapatkan pengertian jang benar-benar mengenai hari kemudian Tanah Air kita.'' ''Ketika pada tanggal 27 Desember 1949 apa jang di-istilahkan dengan „penjerahan kedaulatan” dilaksanakan, dan Negara Republik Indonesia Serikat madju kegelanggang internasional sebagai Negara jang merdeka dan berdaulat, belumlah dapat dikatakan, bahwa keadaan didalam Negeri sudah memuaskan. Akibat akibat dari perdjuangan dengan kekerasan melawan sipendjadjah belum dapat dihentikan dengan sekaligus dan exces-exces masih ada jang harus diatasi. Disamping itu sudah barang tentu ada anasir-anasir jang merasa kepentingannja dirugikan dengan perkembangan baru ini dan menghendaki tetap berlangsungnja keadaan lama. Pun anasir-anasir ini melakukan peranannja, jang tidak menguntungkan perdjalanan baik dari Negara kita jang masih muda ini.'' ''Akan tetapi berkat persatuan dan kesatuan dari segala potensi nasional jang berkehendak dan bertudjuan baik, dengan menjampingkan kepentingan segolongan atau sealiran, maka bahtera Negara dapat dikemudikan menghindarkan segala aral dan gangguan jang menimpanja, dengan selamat menudiu keperwujudan tjita-tjita nasional kita sekalian.'' ''Jang dapat didjadikan tjermin dari stabiliteit Pemerintahan kita ialah keadaan keamanan didalam Negeri. Dan kalau kita menarik curve dari titik-titik jang mentjantumkan banjaknja gangguan keamanan, maka dengan''<noinclude>{{rvh|XVIII}}</noinclude> 63wa094v594vdb6kjzp9a34hrlzihp5 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/584 104 102955 291955 289715 2026-05-11T10:26:38Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291955 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Sebaliknya J. jrawfurd mengatakan bahwa bahasa Jawalah yang tertua di antara bahasa-bahasa Austronesia. Menurut dia malahan bahasa induk Austronesia. Pendapat inipun ditentang dan disela oleh P.J. 7eth (Slamotmuljana, Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara, P.N. Balai Pustaka, Jakarta 1964 hlm. 15). Dua pendapat tersebut untuk jaman sekarang terasa sangat ekstrim dan tidak dapat diterima, karena bahasa Melayu dan Jawa dua-duanya hanya merupakan bahasa daerah Nusantara dan serumpun. Bahasa serumpun, bahasa seasal, dan seinduk, tontunya sama-sama mempunyai darah dan anasir yang sama tuanya dari induknya. Lain halnya misalnya dengan masalah timbulnya kata nama <u>Melayu</u> dan <u>Jawa</u>, ini dapat diselidiki asal mulanya, bagaimana Jan kira-kira kapan terjadinya. Banyak kemungkinannya tidak sama tuanya. Menurut berita-berita kuno yang diutarakan oloh H. Kern dalam Verspreide Geschriften-nya jilid V hlm. 305 dan selanjutnya, orang Siam dan Hindu jaman dulu menyebut bahasa Helayu itu bahasa Jawa. Dalam salah satu buku bacaan bahasa Batak terbitan v.d. Tuuk, kata <u>Jawa</u> mempunyai pengertian: Jawa dan Sumatera. | Orang-orang Arab dulu juga sering menyebut-nyebut: Jawa Besar untuk Pulau Jawa, dan Jawa Kecil untuk Sumatera. Zābadj (Arab) dari: Zābaga (= Yāwaga, dari Tamil: Yāwaka) sama dengan Suwarņadwīpa, yang dimaksudkan: Jawa, atau pulau Jawa dan Sumatera. Pengarang Yunani kuno Claudius Ptolemaeus (151-165 M) menyobut pulau Jawa: Iabadiu, Fa-Hian (414): Yefo-thi, dua-duanya berasal dari kata Yawa (Skr) dan <u>diu</u>, dari <u>diwu</u> (Prakrota) = dwīpa (Skr) = pulau; jadi iabadiu = Yefothi = pulau Jawa. Seperti telah disebutkan di atas Yawa disamakan dan disebut juga dengan nama Suwarņadwīpa yang berarti pulau emas, daerahnya<noinclude>{{rh|||50 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> l7l1yta6yr1ezd2c9lsvfdzp5sjxps5 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/29 104 102958 290810 289663 2026-05-10T12:05:40Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290810 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" />{{Rvh|||MELIHAT KEDEPAN.}}</noinclude>{{right|'''MELIHAT KEDEPAN.'''}} {{c|Sambutan Panglima Tentara & Territorium VI<br>Divisi Brawidjaja}} {{Missing image}} LET. KOL, SOEDIRMAN {{Dropinitial|''S''}}{{sp|''EPERTI''}} ''jang pernah diutjapkan oleh P.J.M. Presiden Soekarno, bahwa tidak benar bila ada orang jang berkata: sedjarah itu omong kosong (nonsens), maka penerbitan buku sedjarah perdjuangan jang meliputi pelbagai lapangan dan jang merupakan encyclopedia Indonesia sungguh akan bergana sekali.'' ''Tetapi seperti dikatakan djuga oleh Bung Kamo, bahwa gunanja sedjarah bukan uniuk dibatja sadja, melainkan untuk {{sp|dipeladjari}}, maka penerbitan sematjam ini baru dapat bermanfaat, bila para pembatjanja nanti dapat {{sp|menarik tamsil ibarat}} dari sedjarah jang dibatjanja.'' ''Membatja sedjarah atau dengan perkataan lain: {{sp|melihat kebelakang}}. adalah mendjadi suatu alat guna: {{sp|melihat kemuka}}, {{sp|djauh}} kemuka.'' ''Melihat kemuka itu tegasnja ialah: {{sp|bekerdja}} guna keperluan pembangunan jang sedang kita hadapi ini.'' ''Dan, bekerdjapun tidak boleh asal bekerdja sadja, tetapi kita harus dapat membedakan antara soal-soal jang {{sp|urgent}} dan jang {{sp|tidak urgent}}. Soal jung urgent harus kita perhatikan sebanjak mungkin, sedang mana-mana jang tak urgent tjukup diperhatikan seminiem mungkin.'' ''Pedoman semestara sardjana berpendapat, kalau perlu, mana mana jang tidak urgent: harus {{sp|dikesampingkan}} dahulu.'' ''Pedoman dintas harus benar-benar kita djadikan Perhatian, lebih-lebih bagi kita bangsa Indonesia jang sedang membangun Negaranja, jang harus didirikan diatas puing-puing revolusi, dimana hasil kemerdekaan jang sudah delapan tahun ini belum dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masjarakatnja.''<noinclude>{{rvh|XXI}}</noinclude> pvt0utlap69bhhlqv084z33dgupzute Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/574 104 102961 291947 289684 2026-05-11T10:20:04Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291947 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>A. Teori seorang ahli antropologi fisik dan budaya: A. H. Kenne dalam Journal of the Anthropological Institute tahun 1880 dengan tulisannya berjudul On the Relations of the Chinese and Interoceanic Races and Languages (Prof. Slamotamuljana, Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara, P.N. Balai Pustaka Jakarta, 1964 hlm. 20-21): 1. Di Indo Cina didapati dua bangsa, bangsa Mongol (berkulit kuning) dan bangsa Kaukasus (keputih-putihan). Mongol menduduki Birma, Khasi, Shan, Siam, Laos dan Annam (berbahasa bahasa okasuku). Kaukasus: Kamboja, Campa, Kui, Moi, Penong (bahasa dwisuku). 2. Semenanjung Melayu dan kepulauan Polinesia Barat semula diduduki bengen berwarna hitam. Di sebelah barat bangsa Negrito, sebelah timur Papua. Mereka kemudian terdesak oleh bangsa Mongol dan Kaukasus yang datang dari daratan Asia Tenggara di atas. Percampuran antara Kaukasus, Mongol dan bangsa Papua melahirkan bangsa Alfuros di Seram, Timor, Jailolo, Misol dan kepulauan sebelah barat Irian, Melanesia, Hibriden Baru, Salomon, Fiji dan Kalidonia. 3. Daerah Melayu sama sekali diduduki bangsa Kaukasus dan Mongol, yang kemudian dua bangsa ini bercampur, Bangsa Kaukasus datang lebih dahulu, setelah terdesak oleh Mongol, Kaukasus pindah menduduki Nias, Tapanuli, Aceh, Lampung, Pasemah, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Poru. Sedang bangsa Melayu merupakan bangsa campuran dari bangsa Kaukasus dan bangsa Mongol. 4. Meskipun bangsa Melayu itu bangsa campuran, tetapi struktur bahasanya tetap seperti bahasa-bahasa di Kamboja dan sekitarnya yaitu bahasa dwisuku. 5. Bangsa-bangsa berwarna hitam yang mendiami Polinesia seperti pulau-pulau Samon, Tahiti, Maori, Hawaii, Tonga dan Marquesas, tidak langsung mempunyai pertalian dengan bangsa Melayu, tetapi langsung bertalian dengan bangsa Kaukasus yang ada didaerah Melayu.<noinclude>{{rh|||40 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 5ivud57f52lk2ia4clr0jicc6zs5s12 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/575 104 102965 291948 289749 2026-05-11T10:20:27Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291948 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Perpindahan sebagian bangan Kaukasus ke timur ini terjadi sebelum atau bertepatan waktu dengan kedatangan bangsa Mongol dari daratan Asia Tenggara, jadi sebelum bangsa Melayu (campuran dari Kaukasus dan Mongol) terbentuk. Karena itu di Polinesia tidak dijumpai anasir atau darah Mongol. B. Teori H. Kern, Dr. Ronward Brandstetter dan kawan-kawan dengan metodonya perbandingan bahasa-bahasa Nusantara itu, kemudian diperkuat dengan penelitian-penelitian kepurbakalaan oleh R. von Hoine Goldern, P. Stutterhein, dan penyelidikan antropologi Budaya oleh J.H.M. Hoeren-Palm, menyatakan bahwa bangsa Austonesia berasal dari daerah sekitar Tiongkok (Selatan). Data-data berita kuno menyatakan lebih tegas lagi, yaitu dari dataran tinggi Junan. Hingga kini hipotesa B dianggap lebih mendekati kebenarannya. Di dalamnya ternyata poranan penelitian (keserumpunan) bahasa tidak kecil, sesuai dengan yang dikatakan oleh Brinton tersebut di atas. Anasir kesrumpunan bahasa yang perlu diperhatikan ialah: Basic vocabulary dan tata bahasa. Kata-kata yang termasuk pada basic vocabulary, yaitu: #Nama-nama perujudan dan peristiwa alami seperti: mata-angin, air, tetumbuhan, binatang, logam, makhluk tertinggi (dewa dan sebagainya) #Kata-kata hubungan kekerabatan #Kata-kata bilangan, penunjuk, perangkai, kata ganti diri, kata kerja sederhana (kata-kata ini juga menjadi bahan ilmu pengetahuan tata bahasa) #Kata benda kebudayaan asli. Sedang tata bahasa memperbandingkan bubuhan-bubuhan, pernyataan jenis kelamin, penggunaan kata-kata sederhana, bentuk dan cara menyatakan waktu, pelaku, pemakaian hukum DM, modus dan lain-lain.<noinclude>{{rh|||41 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1933}}</noinclude> hi8lf0vjna4q679r9axnxmrthezqlhq Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/248 104 102966 291174 289716 2026-05-10T14:44:07Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291174 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||28}}</noinclude>bahasa Indonesia dapatlah dianggap sebawai varian saja dari bentuk -i, Kecuali bilamana nanti bahasa Indonesia mengenal kategori jenis kelamin ini <sup>3)</sup>. Dengan demikian pembicaraan kita tentang bentuk akhiran ini, tinggal lagi tentang bentuk-bentuk -<u>ani</u> dan -<u>awi</u>. Bentuk -<u>ani</u> dalam bahasa Arab sendiri dari dua imbuhan, yakni -n- dan -i. Imbuhan sisipan -n- dalam bahasa Arab mempunyai tugas yang berlainan dari pembicaraan ini. Sisipan -n- dalam bahasa itu dipakai untuk menyatakan penekanan atau intensitas, artinya kata-kata yang mendapat imbuhan itu adalah kata-kata yang ditekankan dari kata lainnya. Oleh sebab itu, kata <u>roh</u> atau <u>jisim</u>, hakekatnya dapat juga dibentuk jadi <u>rohi</u> atau <u>jismi</u> disamping <u>rohani</u> dan <u>jasmani</u>. Dalam bahasa Indonesia yang juga tidak mengenal imbuhan penekan semacam itu, maka bentuk-bentuk -ani dan -i dapat pula dianggap saja sebagai variasi. Dan dengan demikian, maka pembicaraan ini tinggal lagi bentuk-bentuk -i dan -awi, Bentuk-bentuk -i dan -awi, dalam bahasa Arabnya, memang dua warga bentuk yang saling mengisi. Dalam bahasa Arab -awi dipakai untuk bentuk-bentuk dasar yang berakhir dengan vokal a panjang, seperti <u>maknaa</u> dan <u>duniaa</u>, yang juga dalam bahasa Indonesia menjadi <u>maknawi</u> dan <u>duniawi</u>. Sedang -i dalam bentuk dasar yang selebihnya. Oleh karena bahasa Indonesia tidak pula mengenal vokal panjang, dapatlah kiranya bila kita katakan begini untuk bahasa Indonesia; semua kata-kata bentuk dasar bervokal <u>a</u> sebagai vokal akhirnya, kita pakai warga bentuk -awi, dan untuk yang lainnya kita pakai warga-bentuk -<u>i</u> dan variannya. Jadi kata <u>gereja</u> hendaknya dijadikan <u>gerejawi</u> bukan <u>gerejani</u>. Mungkin masih menjadi pertanyaan pembaca, mengapa <u>akherat</u> menjadi <u>ukhrawi</u>, sedang <u>hakekat</u> menjadi <u>hakiki</u>. Hukum-hukum pembentukan kata ini, dalam bahasa Arab, sebenarnya jauh lebih kompleks daripada apa yang telah diutarakan diatas. Untuk kata-kata seperti <u>akherat</u> dan <u>hakekat</u> atau kata-kata lainnya yang sama, yakni untuk kata-kata yang mengandung -ah (-at), sebagai penanda feminin, lebih dahulu harus dikembalikan kepada bentuk maskulinnya. Sedang bentuk maskulin dari kata <u>akherat</u> adalah <u>ukhraa</u>, jadi berakhir dengan <u>a</u> panjang, maka bentuk adjektifnya adalah <u>ukhrawi</u>, tepat seperti yang telah dijelaskan diatas. Sedang kata <u>hakekat</u> bentuk dasarnya atau maskulinnya adalah <u>hakk</u>, sebab itu bentuk ajektifnya <u>hakiki</u>. Tetapi untuk bahasa Indonesia agaknya tidak perlu mengikuti secara cermat semua aturan tatabentuk bahasa Arab. Kiranya keterangan diatas cukuplah untuk pegangan buat bahasa Indonesia.<noinclude></noinclude> 6lzhhms2tz8gp5wyono5o90p8mfo3hk Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/576 104 102967 291949 289788 2026-05-11T10:20:44Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291949 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Dengan 30 kata basic vocabulary (12 kata nama tumbuhan, 16 binatang, 1 logam, 1 benda kebudayaan asli) H. Kern pada tahun 1889 membuktikan keserumpunan bahasa Austronesia dengan bahasa-bahasa Campa, Kocing-Cina dan Kamboja, sesuai dengan pendapat Dr. Hamy pada tahun 1877 yang menyatakan bahwa bahasa-bahasa Melayu-Polinesia serumpun dengan bahasa-bahasa Melayu Kontinental. Kemudian pada tahun 1964 dengan hasil penelitiannya mengenai ketatabahasaan Prof. Slametmuljana memperkuat dan mempertegas peri kedudukan tempat asal bangsa dan bahasa Austronesia itu, dan menggambarkan rentetan proses perpindahan dan perkisarannya. Dengan berpedoman kata {{u|selatan}}, H. Kern menyatakan bahwa kata ini timbul pada waktu para imigrasi dari daratan Asia bermukim di Semenanjung Melayu. Kini, kata selatan kecuali di Semenanjung Melayu, dikenal di Aceh, Minangkabau, Riau, Lampung, Saputih, Indrapura, Bengkulu, Banjar, Dayak, Ngaju, Dayak Maanyan. Matan Atas, Bacan, Sikka, Lonthoir, Banda, Endo, Masaroto. Sebagian kecil saja suku-suku yang hidup di wilayah Austronesia mengenal kata-kata selatan itu, sebagian besar tidak. Demikian pula penduduk Asia Tenggara sama sekali tidak ada yang mengenal. Dengan demikian jelaslah bahwa kata selatan lahir sewaktu pemiliknya bermukim di Semenanjung Malaka, ialah daerah terudik dari arus gelombang kelompok suku/bangsa pemilik kata selatan itu. Kata selatan menunjukkan pada selat di antara Semenanjung dan pulau Sumatera. Selanjutnya dengan memperbanding-bandingkan kata-kata kerja sederhana, kata bilangan, kata ganti diri, kata ganti reflex, kata-kata penunjuk, perangkai, kata tanya, jenis kata, bubuhan, penggunaan pengertian aktif pasif, Slametmuljana menunjukkan bangsa-bangsa mana yang terikut mengambil partisipasi dan mana yang sedikit banyaknya ada hubungannya atau pengaruhnya dalam hal gerak perpindahan bangsa ini. Jelasnya kurang<noinclude>{{rh|||42 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> pbt2pbos4lwdd5vh0qze2xhghgg7q8d Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/583 104 102969 291954 290661 2026-05-11T10:26:16Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291954 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>lod, tetapi berarti: selatan, karena laut yang dekat terletak di sebelah selatan mereka. Domikian pula kata <u>laud</u> (Iloko) dan <u>raos</u>, raur (Formosa Sidei) berarti: barat, karena laut terletak di sebelah barat mereka. Sedang kata Indonesia <u>Barat</u>, arti sebenarnya angin kencang, rupa-rupanya angin kencang di Semenanjung kebanyakan datang dari Barat. Akhirnya kata <u>timur</u>, hanya berdasarkan kira-kira saja, mungkin perubahan dari kata timbul. Demikianlah antara lain riwayat sejemput kisah dari sekelumit peristiwa di balik kata. {{C|III<br>ASAL{{gap}} NAMA{{gap}} MELAYU,{{gap}}MALAYA,{{gap}}<br> MALAKA,{{gap}} JAWA}} Kata Melayu dan Jawa mengingatkan kita akan dua pendapat yang berselisihan antara dua tokoh sarjana penggemar bahasa (filolog) yaitu sarjana C.N. Maxwell, dan J. Jrawfurd. Menurut J.N. Maxwell, bahasa Melayu itu bahasa yang tertua di antara bahasa-bahasa di dunia, dan pernah berkelana sampai ke Norwegia, Swedia, Danmark, Finlandin. Salah satu buktinya ialah kata: <u>Court</u>, berarti <u>kampong</u>, di dalamnya sama-sama didapati bunyi (fonem) <u>k.</u> Kata Maxwell setiap huruf (letter) (sic! M.) dalam kata-kata itu mempunyai makna atau daya sugesti. Pendapat tersebut ditentang dan dicuci habis-habisan oleh J. Gonda. Maxwell dijuluki sarjana kolot, sarjana ketinggalan jaman, membedakan antara (bahasa) tulisan dan tuturpun tidak mampu (T.B.G. LXXX, 1940).<noinclude>{{rh|||49 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1972.}}</noinclude> 71xiz8htw319vcuigcym3yre7ta3181 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/33 104 102970 291986 289801 2026-05-11T11:01:10Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291986 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||27}}</noinclude>{{PUU-pasal| {{PUU-nomor|n=a|m=28|buku-buku peladjaran, perpustakaan dan Kebudajaan jang dikarang oleh sesuatu team pengarang, dimana terdapat seorang atau lebih dari anggota Ormas/Orpol jang dibekukan untuk sementara waktu kegiatannja oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudajaan dan oleh Peperda/Pepelrada setempat, sedangkan sebagian besar dari anggota team tersebut tidak termasuk anggota Ormas/Orpol tersebut, hanja boleh terus dipakai setelah ditelaah kembali isinja dan terbukti tidak bertentangan dengan Pantja Azimat Revolusi.}} {{PUU-nomor|n=a|m=29|bersama-sama dengan instansi bawahannja meneliti pengarang buku-buku peladjaran, perpustakaan dan kebudajaan jang sekarang ada/sedang dipergunakan di Lembaga Pendidikan dan Instansi jang ada dilingkungan wewenangnja masing-masing untuk dapat melaksanakan sub aa dan ab;}} {{PUU-nomor|n=a|m=30|masing-masing Kepala Perwakilan Dept.P.D. dan K/Kepala Direktorat/Lembaga/Biro bersama-sama dengan Instansi-instansi bawahannja supaja melengkapi daftar2 lampiran serat keputusan ini dengan nama buku2/oknum2 sesuai dengan kenjataan jang didapatkan dalam penelitian jang disebutkan dalam sub ac diatas.}} {{PUU-nomor|n=a|m=31|menjampaikan laporan tertulis kepada Pembantu Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudajaan Bidang Teknis Pendidikan tentang pelaksanaan Instruksi ini.}} :Tembusan laporan tersebut supaja dikirimkan kepada semua Pembantu Menteri P.D. dan K. lainnja dan kepada Biro Pembinaan buku P.P.K. dan Biro Perpustakaan. }} {{gap|5em}}b. Ketua Direksi P.N. Balai Pustaka, supaja: {{PUU-pasal| {{PUU-nomor|n=a|m=53|bersama-sama anggota Direksi dan Staf lainnja meneliti pengarang buku2 Balai Pustaka jang sedang diperdagangkan dan jang sedang/akan ditjetak.}} {{PUU-nomor|n=a|m=54|melengkapi daftar2 lampiran surat keputusan dengan nama buku2/oknum2 sesuai dengan jang didapatkan dalam penelitian jang dimaksudkan dalam sub <u>ba</u> diatas}} {{PUU-nomor|n=a|m=55|menghentikan pendjualan/pertjetakan buku jang dikarang oleh oknum2/anggota2 Ormas/Orpol jang dibekukan untuk sementara waktu kegiatannja oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudajaan dan Peperda/Pepelrada setempat.}} }} {{right|bd{{...|6}}}}<noinclude></noinclude> jsc1xer9utu6zhzryjf9l4uck3ac92j Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/34 104 102971 291987 289885 2026-05-11T11:01:34Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291987 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||28}}</noinclude>{{PUU-pasal| {{PUU-nomor|n=a|m=56|menjampaikan laporan tertulis mengenai pelaksanaan instruksi ini kepada Pembantu Menteri P.D. dan K. Bidang Teknis Pendidikan dan tembusannja kepada semua Pembantu Menteri P.D. dan K. lainnja dan Kepala Biro Pembinaan Buku P.P.K. dan Biro Perpustakaan Departemen P.D. dan K.}} }} B. Melampirkan pada instruksi ini: #Daftar sementara dari buku2 jang terlarang penggunaannja. #Daftar sementara nama2 dan anggota2 Ormas/Orpol jang mendjadi pengarang dan terlibat dalam "Gerakan 30 September" ,- C. Instruksi ini mulai berlaku surut pada tgl. 1 Nopember 1965. {{UU/TTD-1||isi={{c|Ditetapkan di Djakarta<br>pada tanggal 30 Nopember 1965}} {{c|MENTERI PENDIDIKAN DASAR DAN KEBUDAJAAN <br> a.n.b <br>Pembantu Menteri Bidang Teknis Pendidikan}} {{c|ttd.}} <u>{{C|Drs. M.Setiadi Kartohadikusumo</u><br>Kolonel Inf. Nrp.16070}}}} <u>Salinan kepada:</u> #Semua Menko #Semua Menteri #Kas Koti #Ketua Gabungan V Koti #Panglima Kostrad selaku Panglima Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. #Semua Pepelrada #Semua Gubernur/Kepala Daerah, #Kabinet Menteri dan semua Sekretariat Pembantu Menteri P.D. dan K.<noinclude></noinclude> ivrls31k7kdfl03t2hagbpz40lp9qke Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/581 104 102973 291952 289816 2026-05-11T10:23:22Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291952 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>ke daerah selatan. Dari sana kelak Munda berimigrasi ke Assam dan memberi pengaruh berupa kata-kata basic vocabulary kepada bahasa-bahasa daratan Asia Selatan dan Tenggara. Dosakan suku Wu (Tibeto-Eiran) yang terus-menerus menyebabkan bangsa Tai mengalir dari daerah pengungsiannya di Shan terus ke selatan dan akhirnya menduduki seluruh wilayah Muang Tai, mendesak penduduk aslinya yang lama: Mon-Khmer, yang terpaksa mengungsikan diri ke mana-mana, rata bertebaran di seluruh wilayah Asia Selatan dan Tenggara. Demikianlah, karena adanya huru-hara dan perang terus-menerus baik perang antar bangsa maupun antar suku yang terjadi kira-kira dalam abad 7 s.M., bangsa yang lemah lalu menghindar ke Semenanjung Melayu, kemudian menyeberang ke daratan Sumatera, dan dari sana akhirnya memancar lagi ke barat dan ke timur. Masuknya bangsa-bangsa daratan Asia Tenggara ke Sumatera ini beberapa abad berselang sesudah bangsa Munda terusir dari India Selatan menuju ke Assan. Kesimpulannya ialah bahwa bangsa dan bahasa Austronesia yang biasanya kini disebut asli itu pada hakekatnya adalah hasil pertemuan antar bangsa dan bahasa Tai (Yunan) dengan India Selatan, Asia Selatan dan Tenggara dan Austronesia Purba. Untuk lebih jelasnya, perlu kiranya digambarkan lagi proses perpindahan dua rumpun bangsa yang bahasanya sangat besar pengaruhnya terhadap bahasa-bahasa di Indonesia sekarang ini yaitu bangsa Aria dan Austronesia. Sekitar tahun 3000 tahun sebelum Masehi di luar benua Asia terjadi perpindahan sekelompok bangsa dari. tempat kediamannya di wilayah Surasia dekat pegunungan Ural, menuju ke sebelah selatan ke arah dataran rendah di sebelah utara laut Kaspi, kemudian membelok<noinclude>{{rh|||47 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> m3ej9kvyoit1t4y5ag78mddvg97jvtr Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/280 104 102975 291177 289869 2026-05-10T14:47:07Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291177 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||18}}</noinclude>tetapi ia hanja membeo kepada suatu tjita-tjita jang pada waktu itu berkembang dari Perantjis. Dalam hakekatnja, buku-bukunja adalah suatu rangkaian pernjataan pendapat mengenai para pengarang dan beberapa dari karya mereka, jang disusun setjara kronologis. Kemudian Grosse, hal mana sangat tepat, menjanggah bahwa ia menaruh perhatian pada Taine dan menegaskan rasa kepiutangannja kepada Sainte-Beuve, tokoh karya biografi. Dengan beberapa perobahan, demikian djuga halnja dengan George Saintsbury, jang gagasannja tentang kritik paling mendekati teori dan praktek Pater mengenai "apresiasi" dan Oliver Elton dengan {{u|Survey of English Literature}} 6 djilid karja jang paling hebat dalam sedjarah sastra dewasa ini di Inggeris - jang setjara blak2an mengakui karjanja sebagai "benar-benar suatu pertimbangan kritik langsung" dan bukanlah sedjarah. Daftar itu boleh diperpandjang tidak habis-habisnja, dan penjelidikan dari sedjarah-sedjarah literatur Perantjis dan Djerman akan menelurkan, dengan beberapa keketjualian, konklusi-konklusi jang hampir bersamaan. Dengan begini Taine kelihatannja terutama menaruh perhatian pada teori-teori watak nasional dan pada filsafah "lingkungan" dan ras, Jusserand mempeladjari sedjarah adat istiadat (tingkah laku) seperti digambarkan didalam sastra Inggeris dan Cazamian menemukan suatu teori lengkap mengenai "getaran irama moral daripada djiwa kebangsaan Inggeris". Kebanjakan sedjarah literatur jang terkemuka adalah sedjarah peradaban atau kumpulan-kumpulan karangan jang bersifat kritik. Jang satu bukanlah sedjarah {{u|seni}}; dan jang satu lagi bukanlah {{u|sedjarah}} seni. Apa sebab maka tidak ada usaha setjara meluas untuk menjelidiki evolusi sastra itu sebagai seni? Satu hal jang menghalang ialah, karena analisa pendahuluan dari karja-karja sastra tidak dilakukan dengan tjara jang konsekwen dan sistematis. Kita sudah puas dengan kriteria retorik lama jang tidak memuaskan dengan penggunaan siasat-siasat jang djelas tidak mendalam, atau kita menggunakan bahasa jang emosionil, menguraikan kesan-kesan suatu karjasastra pada pembatja dengan kata-kata jang tidak ada hubungannja dengan karja itu sendiri. Suatu kesulitan lain adalah prasangka bawa sedjarah sastra tidak mungkin, ketjuali dengan mendjelaskan hubungan kausal dalam sesuatu. Kesulitan ketiga terletak dalam seluruh konsepsi tentang perkembangan seni sastra. Sedikit orang menjangsikan adanja suatu sedjarah intern dari lukisan atau musik.<noinclude></noinclude> a4kvetieiso6rb36nwku35m5lfyzghz Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/281 104 102976 291178 290012 2026-05-10T14:47:53Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291178 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||19}}</noinclude>Sudah memadai kiranja untuk mengelilingi beberapa balai kesenian jang disusun setjara chronologis atau menurut "aliran" untuk melihat, bahwa adasedjarah senilukis jang berbeda dari sedjarah pelukis atau apresiasi atau pertimbangan lukisan satu persatu. Sudah memadai kiranja, untuk mendengar konser dimana gubahan-gubahan telah disusun setjara chronologis untuk melihat adanja sedjarah musik jang hampir tak ada hubungannja dengan biografi komponis-komponisnja, keadaan sosial ketika karja itu ditjiptakan atau apresiasi dari karja itu satu persatu. Sedjarah-sedjarah itu telah diusahakan dalam bidang senilukis dan senipahat semendjak Winckelmann mengarang {{u|Geschichte der Kunst im Altertum}} (1764) dengan kebanjakan sedjarah musik sedjak masa Burney melimpahkan perhatiannja kepada sedjarah bentuk2 musik. Sebelumnja, sedjarah sastra mempunjai problema jang sama, jaitu mendjagai sedjarah sastra sebagai suatu seni, terpisah dari sedjarah sosialnja, biografi pengarangnja atau apresiasi dari karja itu satu demi satu. Sudah tentu, tugas sedjarah (dalam arti terbatas ini) memperlihatkan halangan-halangan jang chas. Dibandingkan dengan lukisan, jang dapat dilihat selajang pandang, suatu karja sastra seni hanja dapat dipahami melalui urutan waktu dan oleh sebab itu lebih sukar untuk difahami sebagai suatu keseluruhan. Tetapi persamaan bentuk musik memperlihatkan bahwa sebuah pola mungkin, biarpun hanja dapat diresapkan dalam deretan waktu. Selandjutnja ada lagi masaalah-masaalah chusus. Dalam sastra ada suatu peralihan graduil dari pernjataan-pernjataan jang sederhana sampai kepada karjaseni jang rumit susunannja, karena alat sastra jaitu bahasa, djuga merupakan alat komunikasi sehari-hari dan chusus alat bagi ilmu-ilmu. Djadi lebih sukar lagi untuk memisahkan struktur estetik suatu karjasastra. Tetapi toh suatu gambar dalam suatu buku peladjaran kedokteran dan suatu barisan militer adalah dua buah tjontoh untuk memperlihatkan bahwa seni-seni lainnjapun mempunjai hal-hal jang terletak dalam daerah perbatasan arti sehingga meragukan dan bahwa kesukaran-kesukaran untuk membedakan seni dan bukan seni dalam utjapan linguistik hanja lebih besar setjara kwantitatif. Memang ada teoritisi, jang mentah-mentah menolak bahwa sastra mempunjai sedjarah. W.P. Ker misalnja berpendapat, bahwa kita tidak memerlukan sedjarah sastra, karena objeknja selalu ada, bersifat "abadi" dan oleh karena<noinclude></noinclude> ac17hh8yily579htjcz5jxi63z0z98t Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/30 104 102993 290815 289926 2026-05-10T12:06:55Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290815 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>''dimana kekuatan melaksanakan program Negara sangat terbatas, sangat terbatas dengan keuangan Negara, sangat terbatas dengan djumlah tenaga tehnik.'' ''Hubaja-hubaja kita insafi pula, {{sp|betapa besarnja pertanggungan djawab}} setiap Pemimpin, baik jang sebagai Pemimpin organisasi masjarakat ataupun jang mendjadi Pemimpin partai politik, terutama bagi para pemegang Kemudi Bachtera Negara.'' ''{{sp|Betapa tidak !}}'' ''Setelah memandang djauh kebelakang, setelah mempeladjari sedjarah perdjuangan Negara diwaktu jang telah silam, mereka harus bisa melihat djauh {{sp|kemuka}}, mereka harus bisa {{sp|meramalkan}} kemungkinan kemungkinan apa jang {{sp|akan terdjadi dim asa depan}}.'' ''Lebih tinggi dan lebih besar kedudukan seseorang dalam masjarakat atau dalam sesuatu djabatan, mereka harus bisa lebih-lebih djauh lagi melihat kemasa depan.'' ''Bukankah ketjakapan untuk bisa melihat {{sp|djauh-djauh kemasa depan}} dan kepandaian untuk bisa {{sp|meramalkan}} apa jang akan terdjadi dimasa-masa depan merupakan sesuatu ketjakapan dan kepandaian jang pelik-pelik !'' ''Itupun belum tjukup !'' ''Kemudian mereka harus sanggup, atau jang lebih mengena kalau kita menggunakan term Djawa: mereka harus {{sp|witjaksana}} untuk menetapkan mana-mana jang urgent dan mana -mana tidak urgent, mana-mana jang harus di {{sp|utamakan}} untuk dikerdjakan, mana-mana jang bisa dikerdjakan dengan sambil-lalu, mana-mana jang bisa di {{sp|kesampingkan}} dulu dan mana pula jang djustru {{Sp|harus djauh-djauh disingkirkan}}.'' ''Kalau kita boleh memakai istilah agama: mereka harus bisa {{sp|membeda-bedakan}} mana jang {{sp|wadjib}} dan jang {{sp|sunat}}, mana jang {{sp|batal}}, mana {{sp|jang charam}}, dan mana pula jang {{sp|makruh}} untuk dikerdjakan.'' ''Kalau seseorang pemimpin jang telah diserahi sesuatu kewadjiban untuk membuat rentjana, membuat program, {{sp|tidak witjaksana}}, simpang-siur dalam mengambil ketentuan-ketentuan, serba {{sp|was-was}} didalam mengambil kessin (djep), serba salah apa jang iramalkan, kita bisa mengira-ira bagaimana djadinja dengan pekerdjaan jang telah mendjadi pertanggungan djawabnja, dan bagaimana pula akibatnja bagi pembangunan Negara kita ini. Sebab nantinja didalam pelaksanaannja akan terdjadi hal-hal jang serba terbalik; jang semestinja harus diutamakan; diabaikan, dan jang seharusnja bisa dikesampingkan: didahulukan; mana-mana jang sesungguhnja hanja merupakan dengan membuang-buang uang sampai-sampai puluhan ribu, ja kadang-kadang sampai djuga terbilang ratusan ribu. Sedang apa jang sesungguhnja termasuk pekerdjaan {{sp|wadjib}}: ditinggalkan djauh-djauh.'' ''Karena itulah perlu kita renungkan dengan tenang tenang. Sebagai warga Negara Republik Indonesia jang bersendikan djuga dengan Ketuhanan Jang Maha Esa, saja ada kejakinan, bahwa untuk bisa melihat djauh kemasa''<noinclude>{{rvh|XXII}}</noinclude> peid8dq66nv4rpiqrdn8aahoghhmud8 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/325 104 102997 291215 289950 2026-05-10T15:10:32Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291215 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>cukup banyak pokok-pokok pelajaran sastra yang bersifat kesejarahan. Gambaran semacam ini kuat mewarnai keseluruhan silabus, dan juga umumnya buku pelajaran yang ada. Ditambah dengan telaah beberapa informasi, dan tiadanya buku bimbingan apresiasi yang memadai, timbullah keraguan: Apakah dengan kecenderungan semacam itu, peningkatan apresiasi puisi dan sastra umumnya yang dikehendaki rencana pendidikan itu bisa tercapai?<br>2.3 Anggapan pada 2.1 dan informasi pada 2.2 telah mendorong referat untuk menemukan langkah-langkah penyajian apresiasi puisi di SMA dan di sekolah lanjutan tingkat atas lainnya. Dari telaah tentang peristiwa apresiasi puisi itu sendiri, tentang kemungkinan-kemungkinan kebutuhan anak didik serta pendekatannya, dapatlah dianggap tertib pelajaran apresiasi puisi sebagai berikut:<br> <u>Pertama</u>, mempersiapkan anak didik secara langsung untuk memahami: :{| style="background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.5; margin-bottom:1em;" | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |1) | style="vertical-align:top;" | perilaku paling permukaan: langkah ini mengarah kepada latihan pengenalan beragam larik dan bait seperlunya; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |2) | style="vertical-align:top;" | perilaku makna lugas<sup>3</sup>: langkah ini mengarah kepada latihan memahami keseluruhan makna yang tersurat; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |3) | style="vertical-align:top;" | perilaku pengimajian : langkah ini mengarah kepada latihan memahami cara penyair mengkongkritkan pengertian atau konsep-konsep yang abstrak dengan penataan bahasa tertentu; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |4) | style="vertical-align:top;" | perilaku pengiasan: langkah ini mengarah kepada latihan memahami cara penyair mengkongkritkan pengertian abstrak dengan kata-kata kias dan perilaku pengiasan dalam pemakaian bahasa sehari-hari; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |5) | style="vertical-align:top;" | perilaku pelambangan: langkah ini mengarah kepada latihan memahami cara penyair mengkongkritkan pengertian abstrak dengan lambang, dan perilaku pelambangan dalam pemakaian bahasa sehari-hari; |- |}<noinclude>{{rh|||11}}</noinclude> cvaublvmze3ohgvqvnnboyuhaxww0yt Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/326 104 102998 291217 289963 2026-05-10T15:10:57Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291217 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>:{| style="background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.5; margin-bottom:1em;" | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |6) | style="vertical-align:top;" | perilaku makna utuh: langkah ini mengarah kepada latihan memahami pertalian fungsional antara pengimajian, pengiasan dan pelambangan dalam menjelmakan makna utuh; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |7) | style="vertical-align:top;" | perilaku nada dan suasana: langkah ini mengarah kepada latihan memahami sikap penyair terhadap apa yang diungkapkannya dan suasana yang dijelmakan oleh lingkungan fisis maupun psikologis; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |8) | style="vertical-align:top;" | perilaku kemanisan bunyi: langkah ini mengarah kepada latihan memahami pertalian kemanisan bunyi dengan makna, seperti rima dan ritma; |- |} <u>Kedua</u>, membimbing anak didik secara langsung memahami: :{| style="background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.5; margin-bottom:1em;" | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |9) | style="vertical-align:top;" | perilaku kekaburan: langkah ini mengarah kepada latihan memahami pengimajian, pengiasan dan pelambangan yang menyebabkan kaburnya makna kiasan maupun makna simbolis; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |10) | style="vertical-align:top;" | perilaku kejelasan: langkah ini mengarah kepada latihan memahami pengimajian, pengiasan dan pelambangan yang menyebabkan jelasnya, kongkritnya, lengkapnya atau hidupnya makna utuh; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |11) | style="vertical-align:top;" | perilaku kegagahan: langkah ini mengarah kepada latihan memahami pengimajian, pengiasan dan pelambangan yang menyebabkan gagahnya atau bombastisnya nada dan suasana; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |12) | style="vertical-align:top;" | perilaku kewajaran: langkah ini mengarah kepada latihan memahami pengimajian, pengiasan dan palambangan yang menyebabkan lahirnya nada dan suasana wajar, rendah hati, jujur dan seimbang; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |13) | style="vertical-align:top;" | perilaku pelukisan: langkah ini mengarah kepada latihan memahami cara penyair mengimajikan, mengiaskan dan melambangkan pengalaman dria<sup>4</sup> serta keimplisitan nadanya; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |14) | style="vertical-align:top;" | perilaku penalaran: langkah ini mengarah kepada latihan memahami cara penyair mengimajikan, mengiaskan dan melambangkan pengalaman nalar<sup>5</sup> serta {{hws|keeks|keeksplisitan}} |- |}<noinclude>{{rh|||12}}</noinclude> cfaytc1mkrbooulb54vld8ikutrae53 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/327 104 103004 291219 289973 2026-05-10T15:11:41Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291219 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>:{| style="background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.5; margin-bottom:1em;" | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" | | style="vertical-align:top;" | {{hwe|plisitan|keeksplisitan}} nadanya; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |15) | style="vertical-align:top;" | perilaku kenikmatan dan kehikmahan: langkah ini mengarah kepada latihan memahami cara pengimajian, pengiasan dan pelambangan yang menggugah berbagai kenikmatan dria maupun nalar, kenikmatan-kenikmatan yang menumbuhkan pengertian dan penghargaan wajar terhadap puisi, terhadap diri sendiri, terhadap orang lain atau terhadap kehidupan sekitar. |- |} <u>Ketiga</u>, membimbing anak didik secara langsung lebih memahami: :{| style="background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.5; margin-bottom:1em;" | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |16) | style="vertical-align:top;" | perilaku imaji: langkah ini mengarah kepada latihan memahami apa imaji, perilaku serta ragamnya; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |17) | style="vertical-align:top;" | perilaku metafor: langkah ini mengarah kepada latihan memahami apa metafor, perilaku serta ragamnya; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |18) | style="vertical-align:top;" | perilaku ritma: langkah ini mengarah kepada latihan memahami apa ritma, perilaku serta ragamnya; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |19) | style="vertical-align:top;" | perilaku rima: langkah ini mengarah kepada latihan memahami apa rima, perilaku serta ragamnya; |- |} <u>Keempat</u>, membimbing anak didik secara langsung untuk lebih memahami: :{| style="background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.5; margin-bottom:1em;" | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |20) | style="vertical-align:top;" | perilaku pengalaman dria: langkah ini mengarah kepada memahami berbagai pengalaman dria dalam sajak serta nada dan suasana yang ditimbulkannya; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |21) | style="vertical-align:top;" | perilaku pengalaman nalar: langkah ini mengarah kepada latihan memahami berbagai pengalaman nalar dalam sajak serta nada dan suasana yang ditimbulkennya; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |22) | style="vertical-align:top;" | perilaku nilai kejiwaan ini mengarah kepada latihan memahami nilai kejiwaan tokoh atau gerak dalam sajak; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |23) | style="vertical-align:top;" | perilaku nilai kemasjarakatan: langkah ini mengarah kepada latihan memahami nilai-nilai kejiwaan tokoh atau gerak dalam hubungan kemasjarakatan yang terungkap dalam sajak; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |24) | style="vertical-align:top;" | perilaku nilai kenalaran: langkah ini mengarah kepada latihan memahami nilai-nilai nalar tokoh atau gerak dalam hubungan kesemestaan yang terungkap {{hws|da|dalam}} |- |}<noinclude>{{rh|||13}}</noinclude> 2skhdb1eoqsdqfqb4pqknjn6eozl649 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/343 104 103005 291253 289978 2026-05-10T15:31:34Z Arymuslichudin 24021 /* Telah diuji baca */ 291253 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{block center|KATA-KATA BAHASA ARAB DIDALAM BAHASA INDONESIA<br>DENGAN BEBERAPA GEDJALANJA<br>Drs. Sudarno}} {{block right|{{u|Pengantar Redaksi}}:<br>Tulisan ini merupakan prasaran pada<br>Diskusi Bahasa, yang diselenggara-<br>kan oleh Lembaga Bahasa Nasional,<br>Institut Agama Islam Negeri Sjarif<br>Hidajatullah, Kantor Pembinaan Pen-<br>didikan Menengah Umum Pertama Ja-<br>karta Raya dan Tangerang, tanggal<br>18 dan 19 Oktober 1971, di Jakarta.}} {{gap}} Oleh Panitia, saja diminta untuk memberiken uraian mengenai kata-kata bahasa Arab didalam bahasa Indonesia. {{gap}} Tampaknja sederhana dan mudah, tetapi setelah saja renungkan, terasa sukar djuga. Kesukaran itu terutama terletak pada sukarnja menggariskan djawaban pertanjaan: {{ol|type=a |Apa jang dinamakan kata-kata bahasa Arab ? |Apa jang dinamakan kata-kata bahasa Indonesia ? |Bagaimana proses perpindahan kata-kata itu dari bahasa Arab kepada bahasa Indonesia ?}} a. Apa jang dinamakan kata bahasa Arab ? {{gap}} Setjara mudah, pertanjaan itu dapat didjawab dengan "kata-kata bahasa Arab adalah kata-kata jang terpakai dalam penggunaan bahasa Arab". Diketahui bahwa pada semua bahasa tentu ada unsur-unsur jang berasal dari bahasa lain. Tidak terketjuali didalam bahasa Arab. Djadi pada bahasa Arabpun ada unsur-unsur dari bahasa lain. Kalau unsur dari bahasa lain itu kebetulan berupa kata dan kata tersebut diambil oleh bahasa Indonesia, apakah boleh kita mengatakan bahwa kata bahasa Indo-nesia tersebut berasal dari bahasa Arab ? b. Apa jang dinamakan kata-kata bahasa Indonesia ? {{gap}} Pertanjaan itupun setjara mudah dapat djuga didjawab<noinclude>{{rh|||29}}</noinclude> oeraff10nomm18oy51pa1xmzv2seqoy Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/328 104 103006 291220 289992 2026-05-10T15:12:59Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291220 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>:{| style="background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.5; margin-bottom:1em;" | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" | | style="vertical-align:top;" |{{hwe|lam|dalam}} sajak; |- |} <u>Kelima</u>, membimbing anak didik secara langsung lebih memahami: :{| style="background:transparent; border-spacing:0; line-height:1.5; margin-bottom:1em;" | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |25) | style="vertical-align:top;" | perilaku sajak lukisan: langkah ini mengarah kepada latihan memahami ragam sajak lukisan dengan pengalaman drianya; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |26) | style="vertical-align:top;" | perilaku sajak renungan: langkah ini mengarah kepada latihan memahami ragam sajak renungan dengan pengalaman nalarnya; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |27) | style="vertical-align:top;" | perilaku sajak liris: langkah ini mengarah kepada latihan memahami ragam sajak liris dengan keeksplisitan perasaan pribadinya; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |28) | style="vertical-align:top;" | perilaku sajak naratif: langkah ini mengarah kepada latihan memahami ragam sajak naratif dengan ceritanya; |- | style="vertical-align:top; width:2em; padding-top:0.2em;" |29) | style="vertical-align:top;" |perilaku sajak dramatik: langkah ini mengarah kepada latihan memahami ragam sajak dramatik dengan gerak tokohnya. |- |} {{gap}} Langkah-langkah tersebut diatas dianggap sebagai salah-satu kemungkinan untuk mencapai sasaran pelajaran apresiasi puisi di SMA dan sekolah lanjutan tingkat atas lainnya: meningkatnya kadar citarasa anak didik terhadap kehidupan puisi demikian rupa sehingga anak didik mampu mengerti dan menghargai diri sendiri, orang lain dan kehidupan sekitarnya, dengan penuh kesadaran dan perasaan-perasaan mulia. {{gap}} Dan langkah-langkah tersebut juga diharapkan dapat diterapkan dalam penyusunan buku pelajaran. Dalam hubungan ini, saya telah mencoba menyusun buku dimaksud berdasarkan langkah-langkah ini. Bagian pertamanya sudah tersedia untuk dibaca dan ditanggapi, dan mungkin juga untuk dicobakan dalam praktek pengajaran.<br>2.3 {{gap}} Dengan anggapan serupa seperti dikemukakan pada 1.3, disinipun akan diangkat sebuah tabel catatan penilaian apresiasi puisi murid di SMA dan sekolah lanjutan tingkat atas lainnya, sebuah usaha kecil dalam rangka mencari alat-alat evaluasi yang lebih mantap dan lengkap.<noinclude>{{rh|||14}}</noinclude> t6bivzpeclzy239bka2ag9a8mvrjg08 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/329 104 103007 291223 289995 2026-05-10T15:13:55Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291223 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{C|TABEL CATATAN}} <br> Nama{{gap|3em}} : {{...|20}}<br> Kelas{{gap|3em}}: {{...|20}} <br><br> {| border="1" cellpadding="5" cellspacing="0" style="border-collapse: collapse; width: 100%; border: 1px solid black;" |- | style="width: 52%;" | Penilaian | style="width: 12%;" | baik<br>sekali | style="width: 12%;" | baik | style="width: 12%;" | cukup | style="width: 12%;" | buruk |- | style="vertical-align: top;" | A:<br /> <div style="margin-left: 1.5em; text-indent: -1.5em;">1) kepekaan nada dan suasana</div> <div style="margin-left: 1.5em; text-indent: -1.5em;">2) kepekaan makna utuh</div> <div style="margin-left: 1.5em; text-indent: -1.5em;">3) kepekaan makna kias</div> <div style="margin-left: 1.5em; text-indent: -1.5em;">4) kepekaan makna lugas</div> <div style="margin-left: 1.5em; text-indent: -1.5em;">5) kepekaan pengimajian</div> <div style="margin-left: 1.5em; text-indent: -1.5em;">6) kepekaan pengiasan</div> <div style="margin-left: 1.5em; text-indent: -1.5em;">7) kepekaan pelambangan</div> <div style="margin-left: 1.5em; text-indent: -1.5em;">8) kepekaan hubungan pengimajian-pengimajian-pelambangan</div> <div style="margin-left: 1.5em; text-indent: -1.5em;">9) kepekaan hubungan kemanisan bunyi dan makna</div> <br /> B:<br /> <div style="margin-left: 2em; text-indent: -2em;">10) kepekaan kekaburan makna</div> <div style="margin-left: 2em; text-indent: -2em;">11) kepekaan kejelasan makna</div> <div style="margin-left: 2em; text-indent: -2em;">12) kepekaan kegagahan nada dan suasana</div> <div style="margin-left: 2em; text-indent: -2em;">13) kepekaan kewajaran nada dan suasana</div> <div style="margin-left: 2em; text-indent: -2em;">14) kepekaan keimplisitan nada</div> <div style="margin-left: 2em; text-indent: -2em;">15) kepekaan keeksplisitan nada</div> | || || || |- | Penilaian keseluruhan | || || || |} <div style="margin-top: 0.5em;"> Judul sajak:<br /> <hr style="border: none; border-top: 1px solid black; margin-top: 1.5em;" /> </div><noinclude>{{rh|||15}}</noinclude> crrsnvstnxnph2cf3umur8fhy0i05uu Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/31 104 103008 290817 289979 2026-05-10T12:07:50Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290817 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>''depan, untuk sekedar bisa mempunjai sifat witjaksana, disamping kita menjedarkan {{sp|ketjerdasan otak}} kita (intelligensia), {{sp|mempeladjari sedjarah-sedjarah}} dan {{sp|mempergunakan pengalaman-pengalaman}} perlu djuga bagt kita mengharapkan apa jang dikatakan: {{sp|taufik}} dan {{sp|hidajat}} Illahi, agar segala program jang kita pilih dan rentjana-rentjana jang kita buat: {{hii|2|0}}''sesuai dengan kodrat dari Negara dan Bangsa Indonesia,<br>bisa dikerdjakan oleh Negara dan Bangsa Indonesia,<br>bisa bermanfaat bagt Negara dan Bangsa Indonesia.''{{Div end}} ''Dan, kalau kila menindjau kembali terhadap amanat Pendjabat Kepala Staf Angkatan Darat Kolonel Bambang Soegeng dalam konperensi C.P.R. pada tanggal 23 Pebruari 1953 di Bandung jang baru lalu jang antara lain menjatakan:'' {{hii|2|0}}''hanjalah manusia jang djiwanja suti, jang hatinja bersih bisa menerima {{sp|tahaja Illahi}}, sumber dari segala keindahan, sumber dari segala kebenaran, sumber dari segala kebahagiaan (salinan merdeka dari: Qulhu mu'minin baitullah){{Div end}} ''Maka kesimpulan dari uraian diatas adalah:'' {{ol|list_style_type=decimal |''Mempeladjari sedjarah adalah berguna sekali;'' |''Mempeladjari sesuatu baru bisa bermanfaat bila telah di-ikuti dengan bekerdja;'' |''Didalam bekerdja kita harus dapat mendahulukan soal-soal jang urgent dari pada jang tak urgent;'' |''Untuk menentukan jang urgent dan jang tidak urgent lebih dahulu kita harus bisa melihat djauh kedepan;'' |''Untuk bisa melihat djauh kedepan kita harus mempunjai sifat witjaksana;'' |''Untuk mempunjai sifat witjaksana, tidak tukuplah kalau kita hanja menjandarkan kepada ketjerdasan otak dan pengalaman-pengalaman, tetapi djuga harus ada taufik dan hidajat Illahi;'' |Taufik dan hidatat ilahi hanja bisa diterima oleh hati jang bersih, sutji dan murni,}} ''Semogalah encyclopeadia sedjarah perdjuangan Indonesia jang disusun oleh Djawatan Penerangan Propinsi Diawa Timur ini bisa memberikan sumbangan jang tidak ketjil untuk pembangunan, pembangunan kearah Negara Kesatuan Republik Indonesia jang di-ridloi pula oleh Tuhan Jang Maha Esa.'' {{sp|''Selesai''}} {{c|''Amien, ja Robbul 'alamien.''}} {{col-begin|width=95%}} |- ||''Malang, 1 Djuni 1933.'' | align="center" |''(SOEDIRMAN)''<br>''Letnan Kolonel T.N.I.'' |}<noinclude>{{rvh|XXIII}}</noinclude> jfaenlh4qdh0car9ox6qxmi8d9rueg1 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/282 104 103016 291179 290059 2026-05-10T14:48:30Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291179 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||20}}</noinclude>itu sama sekali tidak mempunjai sedjarah jang sebenarnja. T.S. Eliot djuga membantah adanja "zaman silam" suatu karja seni. "Seluruh sastra Eropah semendjak Homerus," demikian katanja, "ada setjara simultan dan merupakan suatu susunan jang simultan", dalam hal ini orang boleh berbeda faham dengan Schopenhauer, selalu mentjapai tudjuannja. Ia tidak pernah bertambah baik, dan tidak bisa digantikan atau diulang. Dalam seni tidak perlu kita mengetahui {{u|"wie ies ei entlich gewesen"}}, "bagaimana ia sebenarnja dahulu", -- sebagai tudjuan penulisan sedjarah menurut Ranke - karena kita bisa setjara langsung mengalami sebagaimana sesuatu itu. Oleh sebab itu sedjarah sastra bukanlah sedjarah jang sebenarnja, karena ia adalah pengetahuan tentang zaman sekarang, zaman jang hadir dimana-mana, zaman sekarang jang abadi Tentu sadja kita tidak dapat membantah, bahwa ada perbedaan jang njata antara sedjarah politik dengan sedjarah seni. Ada perbedaan antara jang sudah lewat dan bersifat sedjarah dengan sesuatu jang sudah termasuk sedjarah tetapi masih sadja hadir, bagaimanapun djuga. Seperti telah kita njatakan terlebih dahulu, suatu karyaseni pribadi bukan tidak berubah-ubah sepandjang sedjarah. "alahan ada sebagian biasa strukur jang tetap serupa dari abad ke abad. Tetapi struktur ini dinamis; ia berubah didalam seluruh proses sedjarah waktu meliwati pikiran pembatja, ahli kritik dan teman-teman seniman. Proses pentafsiran, kritik dan apresiasi tak pernah tetangga, malahan mungkin akan menerus tanpa henti atau paling sedikit selama tak ada gangguan pada tradisi kulturil. Sala satu tugas ahli sedjarah sastra ialah memberikan proses ini. Satu lagi ialah menjelidiki perkembangan karja seni jang tersusun dalam kelompok lebih ketjil dan lebih besar, menurut karang-mengarang bersama, atau djenis atau djenis gaja atau tradisi linguistik dan achirnja didalam suatu skema sastra jang universil. Tetapi rupanja konsepsi pertumbuhan satu rangkaian karjaseni adalah sesuatu jang luar biasa sukar. Pada hakikatnja tiap karjaseni, selajang pandang, adalah suatu susunan jang terlepas dari karjaseni sekitarnja. Orang dapat menjanggah bahwa tak ada pertumbuhan dari suatu individualitas kepada jang lain. Orang malahan menemui halangan bahwa tak ada sedjarah sastra, hanja ada sedjarah tulisan-tulisan seseorang. Tetapi menurut alasan jang sama kita harus menghentikan menulis sedjarah bahasa, karena jang ada hanja orang jang mengut japkan kata-kata, atau sedjarah filsafah karena jang ada hanja orang jang berpikir. "Personalisme" jang {{hws|eks|esktrim}}<noinclude></noinclude> ex2gqk150zqrzmw4lxjtrzlic3hhsth Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/283 104 103025 291180 290098 2026-05-10T14:49:02Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291180 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||21}}</noinclude>{{hwe|trim|esktrim}} seperti ini menimbulkan suatu pandangan, bahwa tiap karjaseni individual adalah terpisah sama sekali, jang dalam prakteknja akan berarti bahwa karjaseni itu tidak dapat disampaikan dan tidak bisa dipahami. Kita harus memahami kesusastraan sebagai suatu keseluruhan sistem karja-karja jang dengan tambahan jang baru, terus menerus merobah hubungannja, dan tumbuh sebagai keseluruhan jang berobah-robah. Tetapi fakta bahwa situasi kesusastraan suatu waktu telah berobah, dibandingkan dengan keadaan sepuluh tahun atau seabad sebelumnja, masih tidak tjukup untuk ment jiptakan suatu proses evolusi historis jang sebenarnja, karena konsepsi parobahan itu berlaku untuk rangkaian apapun dari gedjala alamiah. Boleh ia berarti terus-terus baru, tetapi tak bermakna dan bisa pula berarti penjusunan-penjusunan baru jang tidak bisa dipahami. Oleh sebab itu studi perobahan jeng diandjurkan oleh F.J. Tenggart dalam {{u|Theory of History}} hanja akan menjebabkan hapusnja sekalian perbedaan antara proses2 historis dan alamiah, jang menjebabkan ahli sedjarah bergantung pada pindjaman2 dari pengetahuan alam. Djika perobahan-perobahan ini berulang dengan sangat teratur, kita akan sampai pada konsepsi hukum seperti jang digambarkan oleh seorang sardjana fisika. Tetapi sun sungguhpun ada spekulasi2 jang tjemerlang Bari Spengler den Toynbee, perobahan-perobahan jang dapat diramalkan itu tak pernah ditemukan pada proses sedjarah manapun. Perkembangan berarti suatu hal jang lain dan suatu jang lebih dari perobahan atau malahan perobahan jang, teratur dan dapat diramalkan. Njatanja ia harus dipahami dalam pengertian jang telah diperhalus oleh ilmu biologi. Dalam biologi, djika kita tindjau lebih dekat lagi ada dua konsepsi evolusi jang sangat berbeda: pertama, proses jang diumpamakan dengan telor jang berobah mendjadi burung dan kedua, satu evolusi jang diperlihatkan oleh perobahan dari otak ikan mendjadi otak manusia. Disini sebenarnja tak ada serangkaian otak jang bertumbuh, tetapi hanja sedikit abstraksi jang konsepsionel, "otak" jang dapat dirumuskan menurut fungsinja. Taraf-taraf pertumbuhan itu sendiri digambarkan sebagai sebegitu banjak pendekatan kepada suatu tjita-tjita, diambil dari "otak manusia". Dapatkah kita berbitjara tentang evolusi sastra dalam salah satu dari kedua pengertian ini? Ferdinand Brunetfere dan John Addington Symonds berpendapat bahwa kita bisa bitjora dalam kedua pengertian itu. Mereka menganggap bahwa orang dapat mempertimbangkan djenis (genre) sastra seperti djenis-jenis<noinclude></noinclude> cyjce2mu0vhjafz7t6dgkkellcf0v01 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/284 104 103027 291181 290127 2026-05-10T14:49:28Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291181 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||22}}</noinclude>dalam alam. Djenis sastra, begitu ia mentjapai tingkat kesempurnaan tertentu, akan mendjadi laju dan achirnja akan lenjap, demikian adjaran Brunetière. Selandjutnja, djenis beroboh mondjadi djenis jang lebih tinggi dan beraneka ragam, persis seperti dijenis dalam konsepsi Darwin mengenai evolusi. Pemakaian istilah "evolusi" dalam arti pertama ternjata tidak lebih daripada hanja metafora. Menurut Brunetière, tragedi Perantjis, misalnja, muntjul, bertumbuh, mundur dan achirnja lenjap. Sebelum Jodelle tak ada tragedi ditulis di Perantjis. Tragedi itu lenjap dalam arti tidak ada tragedi-pragedi jang penting jang tjotjok dengan ideal Brunetiere jang dikarang sesudah Voltaire. Tetapi selalu ada kemungkinan bahwa dimasa depan ada tragedi besar jang akan dikarang dalam bahasa Perantjis. Menurut Brunetiere {{u|Phedre}} karangan Racine, adalah pada permulaam merosotnja tragedi jang mendekati masa tuanja, tetapi bagi kita melahan memberi kesan jang segar dibandingkan dengan tragedi Renaissance jang terpeladjar jang menurut teori jang ini mewakili "masa remaja" tragedi Perantjis. Malahan lebih kurang dapat dipertahankan ide bahwa tjorak-tjorak (genre) itu berobah mendjadi tjorak lain, karena menurut Brunetiere, kepinteran berpidato dimimbar dari abad-abad klasik berobah mendjadi lyrik Romantik. Tetapi "transmutasi" jang benar2 tidak terdjadi. Paling dapat dikatakan bahwa perasaan-perasaan jang sama telah diutjapkan lebih dahulu dalam oratori dan kemudian dalam poesi lyrik, atau bahwa mungkin tudjuan sosial jang sama telah diberikan oleh keduanja. Sementara kita dengan demikian harus menolak persamaan biologis antara pertumbuhan sastra dengan proses evolusi jang tertutup dari waktu kelahiran sampai -- suatu pandangan jang belum hilang dan dihidupkan kembali oleh Spengler dan Toynbee "Evolusi" dalam arti kedua ini kelihatannja lebih mendekati konsep jang sebenarnja dari evolusi {{u|historis}}. Ia mengakui bahwa tidak hanja rangkaian perobahan jang harus dianggap ada, tetapi sebaliknja tudjuan dari rangkaian ini. Bagian-bagian rangkaian jeng bermatjam-matjam itu seharusnja merupakan sjarat mutlak bagi tertjapainja tudjuan. Gagasan evolusi menudju tudjuan chusus (mis. otak manusia), menjebabkan serangkaian perobahan mendjadi suatu rantai jang mempunjai pangkal dan udjung. Masih sadja, ada perbedaan penting antara makna kedua dari evolusi biologis ini dengan "evolusi historis" dalam arti jang sebenarnja.<noinclude></noinclude> clno0kq9jakul8kxytad4g6dix0epwz Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/285 104 103030 291182 290150 2026-05-10T14:49:50Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291182 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||23}}</noinclude>Untuk memahami perbedaan antara evolusi historis itu dengan evolusi biologis, bagaimanapun juga kita harus berhasil untuk memelihara kepribadian dari peristiwa sedjarah tanpa mengurangi proses historis itu sampai mendjadi suatu kumpulan peristiwa jang berentetan tetapi tak ada hubungannja satu sama lain. Penjelesaiannja terletak pada menghubungkan proses historis itu dengan nilai atau norma. Hanja dengan demikian rangkaian peristiwa jang kelihatan tak mempunjai arti itu dapat dipisah-pisahkan mendjadi unsur-unsur jang ensensil atau dan tidak esensil. Hanja dengan demikian kita dapat berbitjara tentang evolusi sedjarah jang masih memberikan individualitas peristiwa tersendiri itu tidak mendjadi lemah. Dengan menghubungkan satu realitas individuil dengan suatu nilai umum, kita tidak menurunkan realitas. individuil itu mendjadi hanja suatu djenis dari suatu gagasan umum, malahan memberikan makna kepada realitas individuil itu. Sedjarah tidak hanja mengindividualisir nilai-nilai umum (djuga dia bukan suatu aliran jang tidak berarti), tetapi proses historis itu terus akan menghasilkan bentuk-bentuk nilai jang baru, jang selama ini tidak dikenal dan tidak dapat diramalkan. Relativitas suatu karja seni pribadi terhadap skala nilai-nilai, dengan demikian tidak lain dari hubungan penting daripada individualitasnja. Rangkaian perkembangan akan disusun menurut suatu skema nilai-nilai atau norma-norma, tetapi nilai-nilai ini sendiri hanja timbul dari pemikiran proses ini. Kita harus mengakui, bahwa disini ada suatu lingkaran logis: proses sedjarah itu harus diukur dengan nilai-nilai, sedangkan skala nilai-nilai itu sendiri diperoleh dari sedjarah. Tetapi kelihatannja ini tidak dapat dihindarkan, karena kalau tidak kita harus kembali kepada ide aliran perobahan jang tak bermakna atau menerapkan beberapa ukuran diluar sastra -- sesuatu jang Mutlak, terlepas dari proses sastra. Pembahasa masaalah evolusi sastra harus abstrak. Ia mentjoba menekankan, bahwa evolusi sastra itu berbeda dari evolusi biologi, dan bahwa tidak ada sangkut paut dengan ide kemadjuan sofagam kearah satu model jang abadi. Sedjarah dapat dilukis hanja sehubungan dengan skema nilai-nilai jang bisa berubah-ubah, dan skema-skema itu harus diambil dari sedjarah itu sendiri. Buah pikiran ini dapat digambarkan dengan menundjukkan beberapa persoalan jang dihadapi oleh sedjarah sastra.<noinclude></noinclude> 1mdfyqal935f7n7ukz107bunwy4s4vo Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/450 104 103032 291702 290193 2026-05-11T05:48:13Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291702 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|32}}</noinclude>HIKAYAT ZAKARIA<br>DALAM KESUSASTRAAN MELAYU <br> <br> Nalom Siahaan {{rule|15em|align=left}} {{c|I}} <br> Katalogus Van Ronkel menyebut adanya tiga naskah <u>Hikayat Zakaria</u> yang disimpan di dalam Museum Pusat Jakarta disertai penjelasan sebagai berikut:<ref>Ph. S. Van Ronkel (1990, hal. 217, 218)</ref> <br><br> #<u>Bat. Gen. 201</u>, format 18 x 13 cm ; pada tiap-tiap halaman terdapat 13 baris bertulis. Tebalnya 116 halaman. Penanggalannya 24 Rabi' I, 1241 Hijrah. Judul yang tercantum pada akhir naskah itu <u>Riwayat Al Masih</u> lebih sesuai sebenarnya dengan isi naskah tersebut, sebab lebih banyak diriwayatkan mengenai Isa, mukjizat-mukjizatnya dan banyaknya orang yang tobat dibuatnya; sesudah itu menyusul pembicaraan antara Yahya dan Isa dengan Imam Mahdi.<br>Berdasarkan catatan yang terdapat pada akhir kitab tersebut, naskah yang rapi tulisannya itu adalah milik Gubernur Jendral Van der Capellen dan berasal dari warisan Abbe Favre. #<u>Coll. V. d. Wall 104</u>, format 32 x 20 cm, tebalnya 82 halaman dan pada tiap-tiap halaman ada 19 baris bertulis. Hanya bagian kiri dari tiap halaman berisi. Penanggalan yang {{hws|ter|tercantum}} {{rule|15em|align=left}} {{Smallrefs}}<noinclude></noinclude> 5pvjnrnxe1te4qpoxd4nzobs6te6f23 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/451 104 103033 291709 290254 2026-05-11T05:53:20Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291709 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|33}}</noinclude>::{{hwe|cantum|tercantum}} ialah 17 Januari Masehi 1845. Pada kulit kitab itu dan pada halaman depannya tertera judulnya <u>Nabi Zakaria</u>, tapi pada halaman akhir <u>Hikayat Marjam</u>. Memang sedikit sekali dipaparkan mengenai Zakaria, lebih banyak tentang Maryam, Yusuf dan Isa, demikian juga tentang Iblis yang berkali-kali muncul dalam rangkaian cerita. Beberapa kali pula Isa meramalkan tentang adanya nabi sesudahnya. Isi naskah itu diakhiri dengan kematian pemuda yang mirip dengan Isa. Pendapat yang sama dianut juga oleh sekte Doceten,<ref>lihat halaman 52 catatan kakinya.</ref> sebuah sekte Kristen. Mengenai kisah-kisah seperti Hikayat Zakaria ini dan para nabi lainnya terdapat penerbitan dengan cap batu di Singapura. <ol type="#" start="3"> <li><u>Coll. V. d. Wall 105</u>, format 18 x 11 cM, tebalnya 148 halaman dan pada tiap halaman ada 9 baris bertulis. Penanggalannya Sabtu, 20 Ramadan tahun 1278 Hijrah. Pada halaman pertama dan akhir naskah itu disebut judulnya <u>Hikayat nabi Allah Isa dikandungkan ibunya Siti Maryam</u>. Bagian akhir dari naskah itu berbeda sedikit isinya dari naskah yang terdahulu (nomor 104).</li></ol> Dari tiga naskah yang diuraikan di atas, naskah yang pertama tidak ada lagi waktu ini di Museum Pusat Jakarta, jadi tinggal dua naskah <u>Hikayat Zakaria</u>, yaitu nomor 104 dan nomor 105. Dua naskah terakhir ini termasuk koloksi H. von de Wall, seorang yang mempunyai koleksi besar naskah-naskah Melayu, Arab, Jawa dan sebagainya yang diwariskannya kepada pemerintah Hindia Belanda,<br> {{rule|15em|align=left}} {{Smallrefs}}<noinclude></noinclude> d7xj2he9ushu1d70yr5s5ixghjf5bj7 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/286 104 103035 291183 290165 2026-05-10T14:50:18Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291183 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||24}}</noinclude>Hubungan jang paling djelas antara karjaseni - sumber-sumber dan pengaruh-pengaruh - paling banjak dibitjarakan dan merupakan setumpuk kepintaran tradisionil. Sungguhpun bukan sedjarah sastra dalam arti jang sempit, terbentuknja hubungan-hubungan sastra antara pengarang-pengaran ternjata merupakan persiapan jang paling penting untuk penulisan sedjarah sastra demikian. Djika, misalnja, kita ingin menulis tentang sedjarah poesi Inggeris dalam abad ke 18, perlu rasanja untuk mengetahui hubungan presis antara penjair-penjair abad ke 18 dengan Spenser, Milton dan Dryden. Buku seperti karangan Raymond Havens {{u|Milton's Influence on English Poetry}}, suatu studi sastra, mengumpulkan pendapat terhadap Milton dari pihak penjair-penjair abad ke 18, tetapi djuga mempeladjari teks2 dan membahas persamaan-persamaan dan kesedjadjaran-kesedjadjaran. Belakangan ini ment jari kesedjadjaran ini setjara umum tidak lagi populer; istimewa djika diusahakan oleh mahasiswa jang belum berpengalaman, ia akan membahajakan. Terutama kesedjadjaran itu harus benar-benar kesedjadjaran, bukanlah persamaan-persamaan jang samar-samar didjadikan kenjataan karena dilipat gandakan. Empat puluh angka nol tetap akan tinggal nol. Tambahan lagi, kesedjadjaran harus betul-betul kesedjadjaran, mesti ada kepastian bahwa ia tidak bisa diterangkan dengan sumber jang sama. Suatu kepastian jang hanja bisa diperoleh, djika penjelidikannja mempunjai pengetahuan jang luas tentang sastra atau djika kesedjadjaran itu merupakan pola jang sulit dan bukan suatu "motif" atau kata terpisah. Karja jang melanggar sjarat-sjarat elementer ini tidak sadja besar sekali djumlahnja, tetapi djuga dihasilkan oleh sardjana-sardjanan terkemuka jang seharusnja sanggup mengenal apa-apa jang telah mendjadi pendapat umum dari suatu zaman klise-klise, metafora-metafora stereotip, persamaan-persamaan disebabkan tema jang bersamaan. Apapun djuga penjalahgunaan metode ini, namun ia adalah metode jang benar dan tak dapat ditolak setjara keseluruhan. Dengan tjara mempeladjari dengan tjermat sumber-sumber itu mungkin ditanamkan hubungan-hubungan kesusastraan. Diantaranja kutipan-kutipan, plagiat-plagiat, ulangan-ulangan adalah jang paling tidak menarik: semua itu paling banjak hanja menanamkan fakta hubungan sadja, walaupun ada pengarang seperti Sterne dan Burton jang tahu tjara menggunakan kutipan-kutipan untuk tudjuan artistiknja sendiri.<noinclude></noinclude> mip1k0966l49fggk90f52qqxb1oa9ts Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/287 104 103046 291184 290218 2026-05-10T14:51:10Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291184 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{u||25}}</noinclude>Tetapi masaalah jang terbanjak mengenai hubungan-hubungan sastra, adalah njata sekali djauh lebih rumit dan memerlukan pembahasan kritis untuk pemetjahannja, untuk mana pengumpulan kesedjadjaran hanja merupakan alat jang sangat ketjil. Kekurangan-kekurangan pada kebanjakan studi senat jam ini terletak djustru pada pengabaian kebenaran ini: dalam usahanja untuk memisahkan suatu tjiri chas orang memetjah-metjah karja sastra itu mendjadi kepingan2 mosaik ketjil-ketjil. Hubungan-hubungan antara dua atau banjak karjasastra dapat dibitjarakan setjara menguntungkan hanja djika kita melihatnja pada tempatnja jang wadjar dalam rangka perkembangan sastra. Hubungan hubungan antara karja-karja sastra memperlihatkan satu problematik kritik jang memperbandingkan dua keseluruhan, dua konfigurasi jang tidak boleh dipetjahkan mendjadi komponen-komponen jang terpisah, ketjuali untuk studi pendahuluan. Ujika perbandingan itu sungguh-sungguh difokuskan pada dua totalitas, kita akan sampai pada kesimpulan-kesimpulan mengenai masaalah fundamentil dari sedjarah sastra, jaitu oridjinalitas (keaslian). Keaslian biasanja pada zaman kita ini disalahtafsirkan seolah-olah berarti perkosaan atas tradisi, atau ia ditjari pada tempat jang salah, pada materi karjasastra sadja, atau pada rentjana kerangkanja -- plot tradisionil dan rangka konvensionil. Pada zaman-zaman jang terdahulu, terdapat pengertian jang lebih baik mengenai sifat tjiptaan sastra, pengakuan bahwa nilai seninja dari suatu plot jang asli atau pokok itu adalah ketjil. Renaissance dan Neo-Classicisme dengan tepat menganggap penting sekali penterjemahan, teristimewa penterjemahan poesi, dan "imitasi" dalam arti seperti Pope meniru satire-satire dari Horatio atau seperti Dr. Johnson meniru satire Juvenal. Ernst Robert Curtius dalam {{u|European Literature and the Latin Middle Ages}} (1948) dengan mejakinkan memperlihatkan peranan besar, dalam sedjarah sastra, dari apa jang dinamakannja hal-hal jang telah basi ({{u|topoi}}), tema-tema jang berulang-ulang dan imadji-imadji jang turun temurun sedjak dari man Purba sampai ke Zaman Pertengahan Latin menembus sastra-sastra modern.<br> Tidak ada pengarang jang merasa rendah diri atau tidak oridjinil karena ia mempergunakan, menjadur dan merobah tema-tema dan imadji-imadji jang diwarisi dari tradisi dan dikuatkan oleh zaman bahari. Salah faham terhadap proses seni ini mendasari banjak dari karja seperti ini, umpama karja studi Sir Sydney Lee mengenai sonata-sonata zaman Elizabeth, jang membuktikan konvensionalitas jang mendalam dari bentuk namun tidak {{hws|mem|membuktikan}}<noinclude></noinclude> qzwv35v22uo8dnmw1lf9d60k7ikksse 291185 291184 2026-05-10T14:51:39Z Arymuslichudin 24021 291185 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{c||25}}</noinclude>Tetapi masaalah jang terbanjak mengenai hubungan-hubungan sastra, adalah njata sekali djauh lebih rumit dan memerlukan pembahasan kritis untuk pemetjahannja, untuk mana pengumpulan kesedjadjaran hanja merupakan alat jang sangat ketjil. Kekurangan-kekurangan pada kebanjakan studi senat jam ini terletak djustru pada pengabaian kebenaran ini: dalam usahanja untuk memisahkan suatu tjiri chas orang memetjah-metjah karja sastra itu mendjadi kepingan2 mosaik ketjil-ketjil. Hubungan-hubungan antara dua atau banjak karjasastra dapat dibitjarakan setjara menguntungkan hanja djika kita melihatnja pada tempatnja jang wadjar dalam rangka perkembangan sastra. Hubungan hubungan antara karja-karja sastra memperlihatkan satu problematik kritik jang memperbandingkan dua keseluruhan, dua konfigurasi jang tidak boleh dipetjahkan mendjadi komponen-komponen jang terpisah, ketjuali untuk studi pendahuluan. Ujika perbandingan itu sungguh-sungguh difokuskan pada dua totalitas, kita akan sampai pada kesimpulan-kesimpulan mengenai masaalah fundamentil dari sedjarah sastra, jaitu oridjinalitas (keaslian). Keaslian biasanja pada zaman kita ini disalahtafsirkan seolah-olah berarti perkosaan atas tradisi, atau ia ditjari pada tempat jang salah, pada materi karjasastra sadja, atau pada rentjana kerangkanja -- plot tradisionil dan rangka konvensionil. Pada zaman-zaman jang terdahulu, terdapat pengertian jang lebih baik mengenai sifat tjiptaan sastra, pengakuan bahwa nilai seninja dari suatu plot jang asli atau pokok itu adalah ketjil. Renaissance dan Neo-Classicisme dengan tepat menganggap penting sekali penterjemahan, teristimewa penterjemahan poesi, dan "imitasi" dalam arti seperti Pope meniru satire-satire dari Horatio atau seperti Dr. Johnson meniru satire Juvenal. Ernst Robert Curtius dalam {{u|European Literature and the Latin Middle Ages}} (1948) dengan mejakinkan memperlihatkan peranan besar, dalam sedjarah sastra, dari apa jang dinamakannja hal-hal jang telah basi ({{u|topoi}}), tema-tema jang berulang-ulang dan imadji-imadji jang turun temurun sedjak dari man Purba sampai ke Zaman Pertengahan Latin menembus sastra-sastra modern.<br> Tidak ada pengarang jang merasa rendah diri atau tidak oridjinil karena ia mempergunakan, menjadur dan merobah tema-tema dan imadji-imadji jang diwarisi dari tradisi dan dikuatkan oleh zaman bahari. Salah faham terhadap proses seni ini mendasari banjak dari karja seperti ini, umpama karja studi Sir Sydney Lee mengenai sonata-sonata zaman Elizabeth, jang membuktikan konvensionalitas jang mendalam dari bentuk namun tidak {{hws|mem|membuktikan}}<noinclude></noinclude> 2jlkw0e2403t1izftl9urnmfxvanpxj 291186 291185 2026-05-10T14:52:17Z Arymuslichudin 24021 291186 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||25}}</noinclude>Tetapi masaalah jang terbanjak mengenai hubungan-hubungan sastra, adalah njata sekali djauh lebih rumit dan memerlukan pembahasan kritis untuk pemetjahannja, untuk mana pengumpulan kesedjadjaran hanja merupakan alat jang sangat ketjil. Kekurangan-kekurangan pada kebanjakan studi senat jam ini terletak djustru pada pengabaian kebenaran ini: dalam usahanja untuk memisahkan suatu tjiri chas orang memetjah-metjah karja sastra itu mendjadi kepingan2 mosaik ketjil-ketjil. Hubungan-hubungan antara dua atau banjak karjasastra dapat dibitjarakan setjara menguntungkan hanja djika kita melihatnja pada tempatnja jang wadjar dalam rangka perkembangan sastra. Hubungan hubungan antara karja-karja sastra memperlihatkan satu problematik kritik jang memperbandingkan dua keseluruhan, dua konfigurasi jang tidak boleh dipetjahkan mendjadi komponen-komponen jang terpisah, ketjuali untuk studi pendahuluan. Ujika perbandingan itu sungguh-sungguh difokuskan pada dua totalitas, kita akan sampai pada kesimpulan-kesimpulan mengenai masaalah fundamentil dari sedjarah sastra, jaitu oridjinalitas (keaslian). Keaslian biasanja pada zaman kita ini disalahtafsirkan seolah-olah berarti perkosaan atas tradisi, atau ia ditjari pada tempat jang salah, pada materi karjasastra sadja, atau pada rentjana kerangkanja -- plot tradisionil dan rangka konvensionil. Pada zaman-zaman jang terdahulu, terdapat pengertian jang lebih baik mengenai sifat tjiptaan sastra, pengakuan bahwa nilai seninja dari suatu plot jang asli atau pokok itu adalah ketjil. Renaissance dan Neo-Classicisme dengan tepat menganggap penting sekali penterjemahan, teristimewa penterjemahan poesi, dan "imitasi" dalam arti seperti Pope meniru satire-satire dari Horatio atau seperti Dr. Johnson meniru satire Juvenal. Ernst Robert Curtius dalam {{u|European Literature and the Latin Middle Ages}} (1948) dengan mejakinkan memperlihatkan peranan besar, dalam sedjarah sastra, dari apa jang dinamakannja hal-hal jang telah basi ({{u|topoi}}), tema-tema jang berulang-ulang dan imadji-imadji jang turun temurun sedjak dari man Purba sampai ke Zaman Pertengahan Latin menembus sastra-sastra modern.<br> Tidak ada pengarang jang merasa rendah diri atau tidak oridjinil karena ia mempergunakan, menjadur dan merobah tema-tema dan imadji-imadji jang diwarisi dari tradisi dan dikuatkan oleh zaman bahari. Salah faham terhadap proses seni ini mendasari banjak dari karja seperti ini, umpama karja studi Sir Sydney Lee mengenai sonata-sonata zaman Elizabeth, jang membuktikan konvensionalitas jang mendalam dari bentuk namun tidak {{hws|mem|membuktikan}}<noinclude></noinclude> 6le9u8ee4k8x2tmaoas3csuqxl7gk03 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/18 104 103065 290805 290205 2026-05-10T12:01:59Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290805 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{Right|Halaman:}} {{TOCstyle|model=D.P |Usaha penampungan orang-orang terlantar|736 - 739 |Perumahan D.K.A. dan Perumahan Rakjat|740 |Rumah Sakit Kelamin di Surabaja|741 - 743 |Usaha-usaha dari Corps Tjadangan Nasional.|744 - 745 |Tokoh-tokoh jang pernah membina dan mengasuh Djawatan Penerangan Propinsi Djawa-Timur|746 - 749 |Rapat-rapat dinas dari Djawatan Penerangan Propinsi Djawa-Timur di Surabaja dan Madiun|750 - 751 |Penerangan Visueel|752 - 754 |Gedung Radio Republik Indonesia Studio Surabaja|755 |Persatuan Wartawan Indonesia Kring Surabaja.|756 |Tamu-tamu dari luar negeri|757 |Upatjara pembukaan pertjetakan PERS NASIONAL N.V.|758 - 759 |Surat-surat kabar dari Djawa-Timur|760 - 761 |Perguruan Tinggi di Surabaja|762 - 763 |Maquette gedung-gedung Pemerintahan jang akan didirikan didepan Kantor Gubernur di Surabaja|764 |Artja „Sri Erlangga” di Modjokerto|883 |Tjandi „Djabon” di Kraksaan|884 |Tjandi „Buta” dan „Panataran”|885 |„Watu Dodol” didekat Banjuwangi|886 |„mBah Pradhah” di Lodojo, Blitar|887 |Peninggalan kraton Blambangan berupa „Umpak Sanga”|888 |Pemandian „Ken Dedes” didaerah Malang|888 - 889 |Makam „mBah nDjuga” di Gunung Kawi|890 |Makam-makam Sunan Bedjagung, Puteri Tjempa dan Sunan Mangkurat|891 |Pusaka Keris Sunan Giri|892 |Mesdjid Ampel dan mesdjid jang tertua dikota Surabaja|893 |Pemimpin-pemimpin gerakan kebatinan di Djawa-Timur|894 - 895 |Pemimpin Ahmadijah Indonesia Tjabang Surabaja|896 |Pemimpin Kerochanian Bethel|896 |Kelenteng di Malang|897 |Geredja-geredja di Surabaja|898 - 899 |Adat-istiadat penduduk daerah Tengger|900 |Wajang Suluh|902 |Makam W.R. Soepratman di Surabaja|903 |Pertumbuhan Badan Keamanan Rakjat|941 |Tentara Djepang jang ditawan|942 |Suasana digaris depan|943 |Tentara gerilja di Modjokerto|944 |Tentara Hidjrah masuk daerah „Renville”|945 - 946 |Tulisan dan selebaran dalam perang urat sjaraf|947 - 951 |Hari ulang tahun Divisi I (1949) di Madiun|952 |Pembikinan Tugu Pahlawan|953}}<noinclude>{{rvh|XII}}</noinclude> nrcemm139w4o50dye2cufa4426n7igo Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/288 104 103070 291187 290243 2026-05-10T14:52:47Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291187 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||26}}</noinclude>{{hwe|buktikan|membuktikan}}, seperti persangkaan Sydney Lee, ketidak sungguhan dan keburukan sonata-sonata itu. Bekerdja dalam tradisi tertentu dan menerima alat-alatnja, benar-benar sesuai dengan daja emosi dan nilai artistik. Problema jang benar-benar kritis dalam studi jang sematjam ini timbul, djika kita sampai kepada taraf menimbang dan membandingkan, memperlihatkan bagaimana seorang seniman mempergunakan hasil-hasil seorang artis lain, djika kita memperhatikan daja robahnja. Meletakkan suatu karja pada tempat jang tepat dalam suatu tradisi adalah tugas utama sedjarah sastra. Studi mengenai hubungan antara dua karja seni atau lebih, menimbulkan problema-problema landjutan dalam evolusi sedjarah sastra. Rangkaian karjaseni jang pertama dan paling njata ialah jang ditulis oleh satu orang pengarang. Disini suatu rangka nilai-nilai, suatu tudjuan, paling gampang ditetapkan: kita dapat mempertimbangkan suatu karja atau suatu kumpulan karjanja sebagai jang paling matang, dan kita bisa membahas semua karja-karja lain dan segi pendekatan dengan djenis ini. Studi seperti ini telah banjak diusahakan dalam monograf-monograf, sungguhpun djarang dengan kesadaran jang terang mengenai problena jang bersangkutan, dan atjapkali dikelirukan dengan permasaalahan-permasaalahan mengenai kehidupan pribadi pengarang itu. Satu djenis lain dari rangkaian evolusi dapat disusun dengan memisahkan suatu sifat tertentu dalam karjaseni dan memeriksa perkembangannja menudju suatu djenis jang ideal (sungguhpun bersifat sementara)<br> Ini dapat dilakukan dalam karja-karja dari seorang pengarang, djika kita umpamanja mempeladjari, seperti jang dilakukan oleh Clemen, evolusi bentuk-bentuk imadji Shakespeare, atau dapat djuga dilakukan pada suatu masa atau pada seluruh sastra suatu bangsa. Buku-buku seperti buku-buku George Saintsbury tentang sedjarah prosodi Inggeris dan irama prosa, memisahkan unsur demikian dan memeriksa sedjarahnja, sungguhpun buku-buku Saintsbury sendiri mendjadi lemah disebabkan pengertian-pengertian jang tidak terang, dan ketinggalan zaman tentang matra dan irama jang mendjadi dasarnja, jang dengan demikian membuktikan, bahwa tidak ada sedjarah jang baik bisa ditulis tanpa rentjana referensi jang tepat. Djenis problema-problema jang sama akan timbul dalam suatu sedjarah mengenai diksi puisi Inggeris, untuk mana kita hanja mempunjai studi<noinclude></noinclude> lsp1ho1eyo7g8h13l8xd7h3lx1hdnkn Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/19 104 103095 290806 290245 2026-05-10T12:02:13Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290806 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{c|{{larger|'''DAFTAR'''}}}} {{c|'''STATISTIK, GRAFIK DAN SCHEMA.'''}} {{Right|Halaman:}} {{TOCstyle|model=D.P |Ichtisar subsidi Pemerintah Pusat untuk Daerah-Daerah Otonoom (1951-1952)|32 - 36 |Pembagian Daerah dan djumlah Penduduk (1950)|132 - 133 |Tanggal pemilihan dan pelantikan D.P.R.D.S. Kabupaten/Kotapradja|139 |Banjaknja angkutan barang dan penumpang, serta pendapatan dari lalu-lintas kereta-api dalam daerah Eksploitasi Timur (Djanuari sampai dengan Djuli 1952)|193 |Pelajaran besar dan ketjil melalui Surabaja (1939-1947-1951-1952)|198 |Kepadatan penduduk ditiap-tiap Karesidenan dari Propinsi Djawa-Timur (1930-1950-1952)|209 |Transmigrasi Keluarga (sampai achir 1952)|211 |Transmigrasi Umum (sampai achir 1952)|213 |Pindjaman Pemerintah kepada Koperasi-Koperasi (achir 1952)|226 - 227 |Pemeriksaan oleh Djawatan Koperasi terhadap koperasi- koperasi (1952)|228 |Angka-angka mengenai Hari Koperasi Seluruh Indonesia (1951-1952)|230 - 231 |Per-angkaan gerakan koperasi seluruh Djawa-Timur (1952)|Lampiran |Adanja Perusahaan-Perusahaan jang termasuk peraturan pembatasan perindustrian di Djawa-Timur (sampai pertengahan tahun 1952)|239 - 244 |Industri Ketjil di Djawa-Timur (1952)|245 - 255 |Produksi garam (1941-1945-1946)|261 |Balai Bibit (1952)|274 |Kring Tani (Djuni 1952)|275 |Kebun-kebun pertjobaan kepunjaan Balai Besar Penjelidikan Pertanian (Bogor) jang terdapat di Djawa-Timur|276 |Peta hutan di Djawa-Timur|292 |Grafik pembangunan wilajah hutan (1952)|295 |Grafik Daerah aliran sungai Brantas (1952)|303 |Banjaknja hewan ternak (1939-1952)|309 |Banjaknja ternak pematjek dan ternak bibit (1939-1952)|311 |Banjaknja ternak unggas (1952)|314 |Pemotongan hewan ternak (1939-1951)|315 |Adanja penjakit hewan ternak (1940-1952)|319 |Pemasukan dan pengeluaran hewan ternak (1939-1951)|321 |Grafik djiwa ternak (1939-1952)|322 |Grafik djiwa ternak pematjek dan ternak bibit (1939-1952)|323 |Grafik pemotongan hewan ternak (1939-1951)|324 |Keadaan paberik gula (1951-1952)|334 - 335}}<noinclude>{{rvh|XIII}}</noinclude> 5mpdch4xz5ppqqktnxi1keo7psxdvb8 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/289 104 103098 291188 290349 2026-05-10T14:53:24Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291188 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||27}}</noinclude>statistik Josephine Miles, atau dalam sedjarah bentuk betuk imadji poesi Inggeris, jang malahan belum diusahakan. Dengan djenis studi ini bisa diharapkan klasifikasi studi-studi sedjarah jang banjak tentang tema-tema dan motif-motif seperti Hamlet dan Don Juan atau The Wandering Jew; tetapi sebenarnja ini merupakan masaalah-masaalah jang berbeda-beda. Versi jang berbeda-beda tentang suatu tjerita tidak mempunjai hubungan atau kontinuitas seperti matra dan diksi. Untuk mengikuti semua versi jang berbeda-beda mengenai umpamanja tragedi Mary Queen of Scots dalam seluruh sastra, mungkin merupakan soal perhatian untuk sedjarah sentimen politik dan tentu sadja sewaktu-waktu akan menggambarkan perobahan-perobahan dalan sedjarah tjitarasa bahkan perobahan-perobahan gagasan tentang tragedi. Tetapi sendiri ia tidak mempunjai koherensi atau dialektik jang njata. Ia tidak memperlihatkan suatu problema sadja dan pasti tidak satu masaalah kritik {{u|Stoffgeschichte}} adalah sedjarah jang paling tidak ada mutu sastranja. Sedjarah bentuk (genre) dan djenis sastra merupakan kelompok permasaalahan lain. Tetapi masalah-masalah itu bukan tidak dapat dipetjahkan dan sungguhpun Croce berusaha untuk mendiskreditkan seluruh gagasan, namun kita banjak mempunjai studi-studi sebagai pendahuluan bagi teori itu dan jang mengarahkan pikiran kita kepada wawasan jang diperlukan untuk menemukan sedjarah jang djelas. Persoalan sedjarah djenis (genre) adalah masalah seluruh sedjarah: jaitu untuk menemukan rangka referensi (dalam hal ini, genre) kita harus mempeladjari sedjarah, tetapi kita tidak bisa mempeladjari sedjarah tanpa ingat kepada sesuatu rangka seleksi. Lingkaran logika kita, dalam praktek dapat diatasi. Ada beberapa hal, seperti soneta, dimana beberapa skema klasifikasi ekstern jang djelas (poesi empat belas baris jang bersadjak menurut pola tertentu) memberikan titik-mula jang perlu; dalam hal-hal lain, seperti dalam elegi dan ode, orang bisa meragukan apakah hanja suatu tanda linguistik jang sama jang mengikat sedjarah djenis. Kelihatan "overlapping" antara "ode to Himself" gubahan Ben Johnson, "Ode To Evening" dari Collin dan "Intimations of Immorality" karangan Wordsworth, tetapi mata jang tadjam akan melihat asal jang sama dalam ode Horatio Pindar dan bisa mengadakan hubungan, kontinuitas antara tradisi dan masa jang berbeda-beda. Sedjarah djenis djelas<noinclude></noinclude> jezb3mn6rjjmow6bxa2pp9iscuolwq1 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/452 104 103111 290869 290263 2026-05-10T12:49:58Z Moel81 25980 290869 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|34}}</noinclude>34 lalu dititipkan di xuseum Pusat Jakarta untuk Jan L.Y.2. van der Berg membuat suatu laporan tentang seluruh koleksi itu dan meng- kodifil-sikaonnya. Naskah-naskah Helayu meliputi 276 buah dari seluruh koleksi, naskah Jawa hanya ada 6 buah, naskah Arab 27 buah dan sele- bihnya ada tentang bahasa Pasemah, rada daftar kata Hindustan, Melayu valaka, Java dan sobagainya. Nassah-naskah Melayu itu dibagi oleh Van den Berg dalam 4 ke- lompok yaitu mengenai: 1. Fikih, teologi dan mistik 2. Yikayat-hikayat Islam 3. Serba-sorbi 4. Puisi | Naskah-naskah nomor 104 dan nomor 105 yang tercantum pada ha- laman 197 buki laporan Van den Berg tersebut tormasuk dalam kelompok hikayat-hizayat Islam. Kclcxsi naskah yang begitu besar diperlukan oleh Von de “nll untuk peryusunan kamus Nelayu-Belanda yang ditugaskan oleh pemerin- tah Hindia Bolanda kepada belinu. Untuk persiapan menyusun kamus itu belian tinggal boberapa lama di Riau. Baru pada tahun 1872 selesai disusunnya jilid pertama dari kamus itu. Setahun kemudian meninggal tokoh terseLat yang mempunyai pendidikan militer tetapi mempunyai perhatian besar kepada bahasa Melayu. 3.N. van dor Tuuk menyelesaikan 3) . pekerjaan penyusunan kamus Yon de Wall itu. Leol XL, Batavia, 1074, hal. 127 2) L.W.C. van den Berg (1877) 3) DG. Stibe (1918, jilid IV, hal. 663) {{rule|15em|align=left}}<noinclude></noinclude> oyepys2dfj6swelguup4vw7yi3e93zd 290884 290869 2026-05-10T12:59:19Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 290884 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|34}}</noinclude>lalu dititipkan di Museum Pusat Jakarta untuk disimpan.<ref>Notulen van de Algemeene en Bestuurs-Vergaderingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen Deel XI, Batavia, 1874, hal. 127</ref> L.W.C. van den Berg membuat suatu laporan tentang seluruh koleksi itu dan mengkodifikasikannya. Naskah-naskah Melayu meliputi 276 buah dari seluruh koleksi, naskah Jawa hanya ada 6 buah, naskah Arab 27 buah dan selebihnya ada tentang bahasa Pasemah, pada daftar kata Hindustan, Melayu Malaka, Jawa dan sebagainya.<ref>L.W.C. van den Berg (1877)</ref> Naskah-naskah Melayu itu dibagi oleh Van den Berg dalam 4 kelompok yaitu mengenai : ::#Fikih, teologi dan mistik ::#Hikayat-hikayat Islam ::#Serba-serbi ::#Puisi Naskah-naskah nomor 104 dan nomor 105 yang tercantum pada halaman 17 buku laporan Van den Berg tersebut termasuk dalam kelompok Hikayat-hikayat Islam. Koleksi naskah yang begitu besar diperlukan oleh Von de Wall untuk penyusunan kamus Melayu-Belanda yang ditugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda kepada beliau. Untuk persiapan menyusun kamus itu beliau tinggal beberapa lama di Riau. Baru pada tahun 1872 selesai disusunnya jilid pertama dari kamus itu. Setahun kemudian meninggal tokoh tersebut yang mempunyai pendidikan militer tetapi mempunyai perhatian besar kepada bahasa Melayu. H.N. van der Tuuk menyelesaikan pekerjaan penyusunan kamus Von de Wall itu.<ref>D.G. Stibo (1918, jilid IV, hal. 663)</ref> {{rule|15em|align=left}} {{Smallrefs}}<noinclude></noinclude> k4msfi6b8r4pp36d0shz2ueu30z1dvn 290888 290884 2026-05-10T13:00:56Z Moel81 25980 290888 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|34}}</noinclude>lalu dititipkan di Museum Pusat Jakarta untuk disimpan.<ref><u>Notulen van de Algemeene en Bestuurs-Vergaderingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen</u> Deel XI, Batavia, 1874, hal. 127</ref> L.W.C. van den Berg membuat suatu laporan tentang seluruh koleksi itu dan mengkodifikasikannya. Naskah-naskah Melayu meliputi 276 buah dari seluruh koleksi, naskah Jawa hanya ada 6 buah, naskah Arab 27 buah dan selebihnya ada tentang bahasa Pasemah, pada daftar kata Hindustan, Melayu Malaka, Jawa dan sebagainya.<ref>L.W.C. van den Berg (1877)</ref> Naskah-naskah Melayu itu dibagi oleh Van den Berg dalam 4 kelompok yaitu mengenai : ::#Fikih, teologi dan mistik ::#Hikayat-hikayat Islam ::#Serba-serbi ::#Puisi Naskah-naskah nomor 104 dan nomor 105 yang tercantum pada halaman 17 buku laporan Van den Berg tersebut termasuk dalam kelompok Hikayat-hikayat Islam. Koleksi naskah yang begitu besar diperlukan oleh Von de Wall untuk penyusunan kamus Melayu-Belanda yang ditugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda kepada beliau. Untuk persiapan menyusun kamus itu beliau tinggal beberapa lama di Riau. Baru pada tahun 1872 selesai disusunnya jilid pertama dari kamus itu. Setahun kemudian meninggal tokoh tersebut yang mempunyai pendidikan militer tetapi mempunyai perhatian besar kepada bahasa Melayu. H.N. van der Tuuk menyelesaikan pekerjaan penyusunan kamus Von de Wall itu.<ref>D.G. Stibo (1918, jilid IV, hal. 663)</ref> {{rule|15em|align=left}} {{Smallrefs}}<noinclude></noinclude> 432ezvxzedt1z8h55lm6m90z8z26eea 291710 290888 2026-05-11T05:53:45Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291710 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|34}}</noinclude>lalu dititipkan di Museum Pusat Jakarta untuk disimpan.<ref><u>Notulen van de Algemeene en Bestuurs-Vergaderingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen</u> Deel XI, Batavia, 1874, hal. 127</ref> L.W.C. van den Berg membuat suatu laporan tentang seluruh koleksi itu dan mengkodifikasikannya. Naskah-naskah Melayu meliputi 276 buah dari seluruh koleksi, naskah Jawa hanya ada 6 buah, naskah Arab 27 buah dan selebihnya ada tentang bahasa Pasemah, pada daftar kata Hindustan, Melayu Malaka, Jawa dan sebagainya.<ref>L.W.C. van den Berg (1877)</ref> Naskah-naskah Melayu itu dibagi oleh Van den Berg dalam 4 kelompok yaitu mengenai : ::#Fikih, teologi dan mistik ::#Hikayat-hikayat Islam ::#Serba-serbi ::#Puisi Naskah-naskah nomor 104 dan nomor 105 yang tercantum pada halaman 17 buku laporan Van den Berg tersebut termasuk dalam kelompok Hikayat-hikayat Islam. Koleksi naskah yang begitu besar diperlukan oleh Von de Wall untuk penyusunan kamus Melayu-Belanda yang ditugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda kepada beliau. Untuk persiapan menyusun kamus itu beliau tinggal beberapa lama di Riau. Baru pada tahun 1872 selesai disusunnya jilid pertama dari kamus itu. Setahun kemudian meninggal tokoh tersebut yang mempunyai pendidikan militer tetapi mempunyai perhatian besar kepada bahasa Melayu. H.N. van der Tuuk menyelesaikan pekerjaan penyusunan kamus Von de Wall itu.<ref>D.G. Stibo (1918, jilid IV, hal. 663)</ref> {{rule|15em|align=left}} {{Smallrefs}}<noinclude></noinclude> 1k66y93yr22n2ytsiqmk0m1hiuwtg93 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/467 104 103119 290861 290271 2026-05-10T12:43:01Z Moel81 25980 290861 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|49}}</noinclude>Yang meminta kepada Yahya supaya dikahkan ialah seorang raja, tapi perkawinan seperti itu tegas dilarang oleh peraturan agama Yahudi. Jalan ceritanya sama seperti dalam Perjanjian Baru mengenai permintaan anak tiri raja itu, yaitu kepala nabi Yahya (Matius 14: 1-12). Darah Yahya yang tumpah ke tanah mendidih terus dan baru tenang kembali sesudah panglima raja Babil yang merebut Yerussalem berlutut di kuburan nabi itu.<ref>Menurut Haggada mengenai nabi Zakaria dalam Perjanjian Lama. Lihat H.A.R. Gibb/ J.H. Kramers (1953, hal. 653). Ibid (hal. 654) nabi Zakaria dari naskah A (hal. 26) masuk ke dalam batang pohon, menurut Haggada nabi Yahya mengalami hal yang sama.</ref> Zakaria dan Amran (Imran) kawin dengan dua wanita kakak beradik, anak dari Kafus; Zakaria dengan Isbia, ibu dari Yahya dan Amran dengan Hannah, ibu dari Maryam.Pada suatu hari Hannah sedang duduk di bawah sebatang pohon melihat seekor burung beserta anaknya. Tiba-tiba timbul keinginannya yang kuat mempunyai anak seperti burung itu. Hannah sendiri sudah tua, tapi belum mempunyai anak. Ia pun berdoa dan bernazar, jika Tuhan mengabulkan permohonannya, anaknya itu akan dibesarkannya untuk bertugas dalam Baitulmakdis. Pada waktu itu tidak terpikir dalam hatinya, bahwa jika perempuan yang akan lahir itu tidak boleh bertugas dalam Baitulmakdis.Sesudah lahir Maryam ibunya membawanya ke Baitulmakdis. Menyusul cerita yang kita ketahui tentang kalam yang dilemparkan, tapi tempatnya di sini ialah sungai Yordan.Pengasuh yang diberikan Zakaria kepada Maryam adalah satu orang, yaitu seorang wanita yang sudah tua. Pengasuh inilah di kemudian hari pergi menjumpai Bani Israil memberitahukan, bahwa Maryam sudah hamil. {{rule|15em|align=left}} {{Smallrefs}} Menurut Haggada mengenai nabi Zakaria dalam Perjanjian Lama. Lihat H.A.R. Gibb/ J.H. Kramers (1953, hal. 653). Ibid (hal. 654) nabi Zakaria dari naskah A (hal. 26) masuk ke dalam batang pohon, menurut Haggada nabi Yahya mengalami hal yang sama.<noinclude></noinclude> 4qqcdbl0jrh4i83xz51e7n7qe7qia68 290864 290861 2026-05-10T12:46:28Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 290864 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|49}}</noinclude>Yang meminta kepada Yahya supaya dikahkan ialah seorang raja, tapi perkawinan seperti itu tegas dilarang oleh peraturan agama Yahudi. Jalan ceritanya sama seperti dalam Perjanjian Baru mengenai permintaan anak tiri raja itu, yaitu kepala nabi Yahya (Matius 14: 1-12). Darah Yahya yang tumpah ke tanah mendidih terus dan baru tenang kembali sesudah panglima raja Babil yang merebut Yerussalem berlutut di kuburan nabi itu.<ref>Menurut Haggada mengenai nabi Zakaria dalam Perjanjian Lama. Lihat H.A.R. Gibb/ J.H. Kramers (1953, hal. 653). Ibid (hal. 654) nabi Zakaria dari naskah A (hal. 26) masuk ke dalam batang pohon, menurut Haggada nabi Yahya mengalami hal yang sama.</ref> Zakaria dan Amran (Imran) kawin dengan dua wanita kakak beradik, anak dari Kafus; Zakaria dengan Isbia, ibu dari Yahya dan Amran dengan Janah, ibu dari Maryam. Pada suatu hari Janah sedang duduk di bawah sebatang pohon melihat seekor burung beserta anaknya. Tiba-tiba timbul keinginannya yang kuat mempunyai anak seperti burung itu. Janah sendiri sudah tua, tapi belum mempunyai anak. Ia pun berdoa dan bernazar, jika Tuhan mengabulkan permohonannya, anaknya itu akan dibesarkannya untuk bertugas dalam Baitulmakdis. Pada waktu itu tidak terpikir dalam hatinya, bahwa jika perempuan yang akan lahir itu tidak boleh bertugas dalam Baitulmakdis. Sesudah lahir Maryam ibunya membawanya ke Baitulmakdis. Menyusul cerita yang kita ketahui tentang kalam yang dilemparkan, tapi tempatnya di sini ialah sungai Yordan. Pengasuh yang diberikan Zakaria kepada Maryam adalah satu orang, yaitu seorang wanita yang sudah tua. Pengasuh inilah di kemudian hari pergi menjumpai Bani Israil memberitahukan, bahwa Maryam sudah hamil. {{rule|15em|align=left}} {{Smallrefs}}<noinclude></noinclude> hinvia7rywvl4jvnl9692qrw6yei1uj 291716 290864 2026-05-11T05:59:03Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291716 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|49}}</noinclude>Yang meminta kepada Yahya supaya dikahkan ialah seorang raja, tapi perkawinan seperti itu tegas dilarang oleh peraturan agama Yahudi. Jalan ceritanya sama seperti dalam Perjanjian Baru mengenai permintaan anak tiri raja itu, yaitu kepala nabi Yahya (Matius 14: 1-12). Darah Yahya yang tumpah ke tanah mendidih terus dan baru tenang kembali sesudah panglima raja Babil yang merebut Yerussalem berlutut di kuburan nabi itu.<ref>Menurut Haggada mengenai nabi Zakaria dalam Perjanjian Lama. Lihat H.A.R. Gibb/ J.H. Kramers (1953, hal. 653). Ibid (hal. 654) nabi Zakaria dari naskah A (hal. 26) masuk ke dalam batang pohon, menurut Haggada nabi Yahya mengalami hal yang sama.</ref> Zakaria dan Amran (Imran) kawin dengan dua wanita kakak beradik, anak dari Kafus; Zakaria dengan Isbia, ibu dari Yahya dan Amran dengan Janah, ibu dari Maryam. Pada suatu hari Janah sedang duduk di bawah sebatang pohon melihat seekor burung beserta anaknya. Tiba-tiba timbul keinginannya yang kuat mempunyai anak seperti burung itu. Janah sendiri sudah tua, tapi belum mempunyai anak. Ia pun berdoa dan bernazar, jika Tuhan mengabulkan permohonannya, anaknya itu akan dibesarkannya untuk bertugas dalam Baitulmakdis. Pada waktu itu tidak terpikir dalam hatinya, bahwa jika perempuan yang akan lahir itu tidak boleh bertugas dalam Baitulmakdis. Sesudah lahir Maryam ibunya membawanya ke Baitulmakdis. Menyusul cerita yang kita ketahui tentang kalam yang dilemparkan, tapi tempatnya di sini ialah sungai Yordan. Pengasuh yang diberikan Zakaria kepada Maryam adalah satu orang, yaitu seorang wanita yang sudah tua. Pengasuh inilah di kemudian hari pergi menjumpai Bani Israil memberitahukan, bahwa Maryam sudah hamil. {{rule|15em|align=left}} {{Smallrefs}}<noinclude></noinclude> ogmelc77jbboael1rbgg5q3ufjjvgwd Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/20 104 103158 290807 290315 2026-05-10T12:02:32Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290807 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{Right|Halaman:}} {{TOCstyle|model=D.P |Alat-alat gilingan tebu untuk Rakjat (pertengahan 1952)|337 |Perkebunan gunung (1942)|339 |Produksi perkebunan gunung (1951-1952)|340 - 341 |Schema perhubungan Djawatan Perikanan Laut dengan Jajasan Perikanan Laut dan G.K.P.I.|350 |Schema perdagangan ikan laut|354 - 355 |Schema pemasakan minjak ikan|373 |Per-angkaan perdagangan ikan olahan dari tiap-tiap daerah perikanan laut (1950-1952)|377 - 379 |Pendapatan ikan basah dari tiap-tiap daerah perikanan laut seluruh Djawa-Timur (1949-1952)|380 |Adanja perahu dan alat-alat penangkap ikan (1950-1952)|381 - 383 |Hasil ikan dari tambak (1952)|385 |Pendjualan ikan dipasar Sidoardjo, Kalianjar (Pasuruan) dan pasar-pasar dalam daerah Kabupaten Lamongan (1950-1952)|386 - 388 |Hasil ikan dari kolam, sawah, waduk, danau dan rawa (1952)|389 - 392 |Hasil benih ikan (1952)|393 |Hasil nener bandeng (1952)|394 |Hasil ikan dari sungai-sungai (1952)|395 |Ichtisar hasil ikan makan dan benih ikan (1952)|396 |Kolam peternakan lama dan baru|398 - 399 |Pendidikan Kader Koperasi (1952)|406 |Banjaknja Kader Koperasi jang aktif di Djawa-Timur (1948-1952)|407 |Luas tanaman padi, djagung, ketela, kedele, tembakau, tebu dan katjang jeng dipanen (1937-1951-1952)|414 |Hasil rata-rata tiap ha dari berbagai djenis tanaman perdagangan (1951-1952)|414 |Perkebunan-perkebunan jang telah diduduki kembali oleh pemiliknja (1952)|426 - 428 |Perkebunan-perkebunan jang telah diminta oleh pemiliknja, tetapi belum di-idjinkan (1952)|430 |Perkebunan-perkebunan jang belum diminta kembali oleh pemiliknja (1952)|431 |Luasnja tanaman tebu paberik (1951/1952 dan 1952/1953)|436 |Banjaknja dan luasnja tanah (persil) erfpacht untuk pertanian besar dan ketjil (Agustus 1952)|Lampiran |Export melalui pelabuhan Tandjung-Perak (1950-1952)|447 - 448 |Perusahaan-perusahaan jang mendapat pengakuan sebagai importir (1952)|449 - 452 |Rentjana pembagian devisen untuk tahun 1953|453 - 454 |Pembagian djatah pembelian padi|455 |Angka-angka index jang ditimbang tentang harga etjeran 19 matjam bahan makanan dipasar bebas Surabaja, Malang, Bondowoso dan Pamekasan (1950-1952)|457 - 458 |Grafik export hasil perkebunan (1950-1952)|459}}<noinclude>{{rvh|XIV}}</noinclude> mlfmw4go91x5bdz6ujozsyhdw5mbpsr Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/290 104 103201 291189 290435 2026-05-10T14:53:45Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291189 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||28}}</noinclude>adalah salah satu bidang jang paling banjak memberikan karangan untuk studi sedjarah sastra. Pendekatan "morfologis" ini bisa dan harus diterapkan setjara besar besaran kepada folklore, dimana genre sering lebih terang dan dirumuskan dari pada dalam literatur seni jang kemudian timbulnja dan dimana "approach" ini kelihatan paling tidak sama berarti seperti studi jang paling disukai jaitu perpindahan "motif" dan "plot". Penggarapan jang baik telah dimulai, chusus di Rusia. Sastra modern, paling sedikit sampai ke revolusi Romantik, tidak bisa dipahami tanpa pengertian dari kedua genre klasik dan genre-genre baru jang timbul dalam Abad Pertengahan. Pertjampuran dan kontaminasinja, perdjoangannja, merupakan sebagian besar sedjarah sastra antara tahun 1500-1800. Memang, apapun jang mungkin telah dilakukan zaman Romantik untuk mengaburkan perbedaan-perbedaan dan memasukkan bentuk-bentuk tjampuran, namun adalah suatu kesalahan untuk memandang enteng kekuatan gagasan genre, walaupun dalam sastra zaman terachir. Sedjarah-sedjarah genre jang terdahulu dari Brunetière atau Symonds dihilangkan oleh kepertjajaan jang luar biasa pada kosedjadjaran biologis. Tetapi pada masa-masa terachir timbul studi-studi jang bekerdja lebih berhati-hati. Studi-studi demikian mengandung resiko akan berkurang mendjadi keterangan-keterangan tentang type-type atau mendjadi rangkaian lepas dari diskusi-diskusi pribadi, suatu hal jang telah menimpa banjak buku jang menamakan dirinja sedjarah drama atau novel. Tetapi ada buku-buku jang dengan djelas menganggap masalah perkembangan suatu type. Hal ini hampir sadja tidak bisa diabaikan dalam menulis sedjarah drama Inggeris sampai ke Shakespeare, dalam masa urutan type-type seperti Misteri dan Moralities dan tumbuhnja drama modern dapat ditemukan dalam bentuk-bentuk tjampuran seperti {{u|King John}} dari Bale. Sungguhpun terpisah-pisah dalam tudjuannja, buku W.W. Greg tentang {{u|Pastoral Poetry and Pastoral Drama}} adalah tjontoh permulaan dari sedjarah genre jang baik; dan kemudian C.S. Lewis dengan {{u|Allegory of Love}} memberikan gambaran dari skema perkembangan jang dengan terang dapat dipahami. Di Djerman paling sedikit ada dua buah buku jang baik, jaitu {{u|History of the German Ode}} (Karl Vietor) dan {{u|History of the German Song}} (Gunther Müller). Kedua pengarang ini telah menanggapi dengan terang persoalan-persoalan jang dihadapinja.<noinclude></noinclude> 6rlx10ujdpoigby4qtqg4bfhgj8ba9e Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/21 104 103238 290808 290400 2026-05-10T12:03:25Z Lutfiyatun 26681 /* Tervalidasi */ 290808 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Lutfiyatun" /></noinclude>{{Right|Halaman:}} {{TOCstyle|model=D.P |Perselisihan perburuhan dan pemogokan (1 Djanuari 1951 sampai 3 Djuni 1952)|534 |Pendaftaran, penempatan dan penghapusan dari daftar tenaga-tenaga penganggur pada Kantor Penempatan Tenaga (1950-1952)|544 |Subsidi dari Kantor Penempatan Tenaga untuk mendirikan bangun-bangunan (1952)|548 |Kursus-kursus jang diselenggarakan oleh Kantor Penempatan Tenaga (1950-1952)|550 |Adanja Disterik Tjatjar seluruh Djawa-Timur (1949-1952)|590 - 595 |Adanja Tjatjaran pertama dan tjatjaran ulangan (1949-1952)|596 - 597 |Banjaknja penderita lepra di Djawa-Timur (1950-1952)|599 |Banjaknja orang bersalin jang dirawat bidan (1950-1952)|601 |Schema rentjana pekerdjaan Djawatan Kesehatan Kabupaten|606 |Adanja Pegawai pentjatat kelahiran dan kematian (1952)|608 |Banjaknja kematian dan kelahiran (1949-1952)|609 - 610 |Sekolah Rakjat III tahun dan VI tahun, serta banjaknja guru dan murid (1951)|700 - 701 |Huruf dan angka zaman purba jang terdapat pada batu, perunggu dan lontar|775 |Adanja mesdjid dan surau|800 - 801 |Adanja madrasah tingkatan rendah dan menengah|802 - 805 |Banjaknja geredja dan djemaat golongan Keristen (bukan Roma Katholik)|812 |Banjaknja geredja dan kapel Roma Katholik|812 |Banjaknja pemeluk agama|812}}<noinclude>{{rvh|xv}}</noinclude> e0l00mdde97581zy16aonaiw6ftmn1y Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/291 104 103266 291190 290473 2026-05-10T14:56:58Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291190 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||29}}</noinclude>Vietor dengan terang mengakui lingkaran logikanja, tetapi tidak gentar karenanja: ia melihat, bahwa seorang ahli sedjarah harus setjara intuisi, walaupun buat sementara, memahami apa jang esensiil bagi bentuk, hal mana adalah penting baginja, lalu kemudian mendalami asal-usul genre itu, untuk mengetjek atau membetulkan hipotesanja. Sungguhpun genre akan muntjul dalam sedjarah jang ditjontohkan dalam karja itu sendiri-sendiri, namun ia tidak akan dikenal dari semua sifat-sifat karja-karja pribadi itu. Kita harus menanggapi genre itu sebagai konsepsi jang "regulatif", sebagai pola dasar, suatu konvensi jung riil, jaitu efektif karena ia sesungguhnja membentuk penulisan karja-karja jang kongkrit. Sedjarah tidak pernah perlu mentjapai tudjuan jang chas dalam arti, bahwa tidak bisa ada kelandjutan atau diferensiasi suatu genre, tetapi, untuk menulis suatu sedjarah jang baik, kita harus ingat pada tudjuan jang berhubungan dengan waktu atau type. Persoalan-persoalan jang serupa benar timbul dalam penulisan sedjarah suatu periode atau gerakan. Pembitjaraan mengenai perkembangan telah menundjukkan bahwa kita tidak bisa menjetudjui dua pandangan jang ekstrim: pandangan metafisik, bahwa perioda itu adalah suatu wudjud tersendiri (entity) jang sifatnja harus difahami dengan intuisi atau pandangan nominalistik bahwa perioda itu hanja suatu tjap linguistik dari suatu bagian waktu jang dibitjarakan untuk maksud pendjelasan. Nominalisme jang ekstrim berpendapat bahwa perioda itu adalah penanaman sewenang-wenang bagi suatu materi jang pada hakekatnja suatu arus jang terus menerus dan tidak terarah dan dengan demikian kita berhadapan dengan peristiwa-peristiwa kongkrit jang berantakan pada suatu pihak dan tjap-tjap jang semata-mata subjek pada lain pihak. Djika kita mempunjai pandangan seperti ini, maka rupanja tidak penting, dimana kita menaruh tanda pembeda pada suatu realitas jang pada hakekatnja dalam keanekaragamannja. Tidak penting lagi, rangka perioda apa, hagaimanapun sewenang-wenang dan mekanis, kita pakaikan. Kita bisa menulis sedjarah sastra menurut abad, puluhan tahun, atau menurut tahunan, dalam bentuk rangkaian zaman. Kita boleh djuga memakai kriterium seperti Arthur Symons dalam bukunja tentang {{u|The Romantic Movement in English Poetry}}. Ia hanja membitjarakan pengarang-pengarang jang lahir sebelum tahun 1800 dan itupun hanja jang meninggal sesudah {{hws|ta|tahun}}<noinclude></noinclude> tfrg2fuc6xhcou5zul77dgcsoowetqw Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/292 104 103281 291192 290502 2026-05-10T14:59:06Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291192 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||30}}</noinclude>{{hwe|hun|tahun}} 1800. Perioda adalah hanja suatu perkataan jang mudah, jang penting dalam pembagian buku atau pemilihan topik. Pandangan ini, sungguhpun atjapkali tidak disengadja, mendasari praktek buku-buku jang dengan sungguh-sungguh menghormati garis-garis batas antara abad-abad atau jang dengan tegas memberikan batas pada sesuatu topik (mis. 1700-150), jang tidak dibenarkan dengan sesuatu alasan ketjuali oleh karena perlu adanja pembatasan. Menghormati penanggalan kalender tentu sadja sah, dalam kumpulan-kumpulan jang semata-mata bibliografis, jang mempunjai orientasi seperti Dewey decimal system untuk suatu perpustakaan; tetapi pembagian periodik demikian tidak ada sangkut pautnja dengan sedjarah sastra ansich. Demikian kebanjakan sedjarah sastra malahan, membagi zaman-zamannja menurut perobahan politik. Djadi, sastra dianggap sebagai sesuatu jang semata-mata ditentukan oleh revolusi politik atau sosial suatu bangsa, dan masaalah penentuan zaman itu diserahkan kepada ahli-ahli sedjarah politik dan sosial jang pembagian-pembagian dan periodisasinja lazimnja diterima begitu sadja. Djika kita menindjau sedjarah sastra Inggeris jang lebih tua, kita akan menemukan bahwa sedjarah itu ditulis menurut pembagian jang numerik atau menurut suatu kriterium politik jang gampang - zaman pemerintahan radja-radja Inggeris. Tidak perlu diterangkan bagaimana mengatjaukan, djika sedjarah sastra Inggeris jang terachir dibagi menurut tahun wafatnja radja. Tak ada orang jang berpikir setjara serius untuk membagi sastra permulaan abad ke 19 menurut pemerintahan George III, George IV dan William IV. Walaupun bagaimana, pembagian jang tidak logis antara zaman pemerintahan Elizabeth, James I dan Charles I masih sadja dipertahankan. Djika kita tind jau sedjarah sastra Inggeris jang agak belakangan ini, kita melihat, bahwa pembagian lama menurut abad-abad kalender atau atau pemerintahan radja-radja, hampir lenjap semuanja dan telah digantikan oleh serangkaian perioda-perioda jang memakai nama, paling sedikit, menurut pelbagai kegiatan pikiran manusia. Biarpun kita masih memakai istilah "Elizabeth" dan "Victoria", peninggalan dari pembedaan lama antara pemerintahan, namun nama-nama<noinclude></noinclude> 409wq6qnce81yljuhew0m0t1vk5dao8 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/243 104 103293 291831 290501 2026-05-11T07:25:29Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291831 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>{| class="wikitable" |+Tempat jang ditudju (Sumatera-Selatan/Sulawesi) ! rowspan="2" | Dari daerah Karesidenan ! colspan="2" | Lampung ! colspan="2" | Palembang ! colspan="2" | Bengkulen ! colspan="2" | Wonomuljo ! colspan="2" | Djumlah semua |- ! Kel. !! Djw. !! Kel. !! Djw. !! Kel. !! Djw. !! Kel. !! Djw. !! Kel. !! Djw. |- |Surabaja|| 3 || 5 || 2 || 7 || — || — || 1 || 1 || 5 || 13 |- |Malang|| 4 || 21 || 1 || 2 || — || — || — || — || 5 || 23 |- |Besuki|| 5 || 21 || — || — || — || — || 1 || 4 || 6 || 25 |- |Kediri|| 50 || 627 || 37 || 156 || 15 || 71 || 52 || 236 || 254 || 1090 |- |Madiun|| 95 || 462 || 12 || 42 || — || — || 3 || 11 || 110 || 515 |- |Djumlah|| 256 || 1136 || 52 || 207 || 15 || 71 || 57 || 525 || 380 || 1666 |} Tentang pelaksanaannja, baik „transmigrasi-keluarga” maupun „transmigrasi-umum”, pada permulaannja, boleh dikatakan belum dapat begitu lantjar djalannja, masih selalu menemui berbagai kesulitan dan kesukaran, antara lain mengenai alat-alat pengangkutan {{--}} didarat dan dilaut jang disebabkan keadaan perhubungan belum begitu sempurna, kurang tjukupnja perlengkapan, obat-obatan dan tenaga dan sebagainja, disebabkan karena keuangannja jang belum begitu lantjar; pendek kata: masih banjak keketjewaannja. Tetapi hal jang demikian itu, sekali-kali tidak mendjadikan lembeknja usaha Djawatan Transmigrasi, bahkan mendjadi peladjaran dan tjambuk, agar lebih giat lagi mentjari djalan dan daja-upaja jang menudju kearah perbaikan dan kesempurnaan. Tjara pemberian keuangan jang tidak dapat dipastikan inilah jang menjebabkan tidak beraninja Djawatan Transmigrasi lalu menjiarkan rentjananja langsung kepada rakjat (tentang djumlahnja keluarga jang dapat diberangkatkan), sehingga menjulitkan kantor-kantor kita dalam mengumpulkan tjalon-tjalon transmigran (di Djawa). '''Transmigrasi Umum.''' Menurut rentjana semula, „transmigrasi-umum” akan dimulai pada tahun 1951, akan tetapi berhubung dengan seretnja keuangan, maka pada tahun itupun belum djuga dapat diselenggarakan. Persiapan-persiapannja di Djawa, teristimewa diluar Djawa, persiapan-persiapan mana mengenal: perumahan, alat-alat pertanian, persediaan makan, obat-obatan beserta alat-alat dan tenaga untuk mendjamin kesehatan para tjalon transmigran, dan jang terpenting mengenai soal pembagian tanah, berhubung dengan belum adanja/sangat kurangnja keuangan, mendjadi masih sangat sulit dilaksanakan. Akan tetapi alhamdulillah, dalam bulan<noinclude>{{rh|||211}}</noinclude> nv5o75ak3r17n75yxhw0efacrpcmuxy Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/293 104 103297 291193 290522 2026-05-10T14:59:43Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291193 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||31}}</noinclude>itu telah mempunjai makna baru dalam rangka sedjarah intelek. Masih kita pertahankan nama-nama itu, karena kita merasa bahwa kedua ratu itu melambangkan watak musa pemerintahan mereka. Kitapun tidak lagi menghendaki perioda jang kronologis ketat antara ia dimahkotakan dan ia wafat. Kita pakai istilah "Elizabeth" untuk memasukkan para pengarang sebelum teater-teater ditutup (tahun 1642), kira-kira 40 tahun sesudah ratu Blizabeth wafat. Dan sebaliknja sungguhpun masa hidupnja djatuh didalam batas-batas pemerintahan Victoria, namun djurang kita menjebut nama seperti Oscar Wilde sebagai seorang Victorian. Istilah-istilah, jang mulanja mempunjai asal politik, dengan demikian mendapat makna jang tetap dalan sedjarah ilmu pengetahuan, malahan djuga dalam sedjarah sastra. Namun, bermatjam-matjam penjimpangan dari penanaman-penanaman kita jang sekarang, sedikit banjak mengatjaukan. "Reformasi" datang dari sedjarah geredjani, "Humanisme" dari sedjarah ilmu pengetahuan; "Renaissance" dari sedjarah seni; "Commonwealth" dan "Restaurasi" dari peristiwa-peristiwa sedjarah tertentu. Istilah "bad 18" adalah suatu istilah kuno jang menajiplak beberapa fungsi dari istilah-istilah sastra seperti "Augustan" dan "Neo-Klasik", "Pra-Romantik dan "Romantik" adalah terutama istilah-istilah sastra, sedangkan Victorian, Edward dan Georgian diambil dari pemerintahan radja-radja tersebut. Suatu gambaran jang sama membingungkan di tundjukkan oleh hampir semua sastra lain, misalnja "Zaman kolonial" dalam sastra Amerika adalah istilah politik, sedangkan "Romantisme" dan "Realisme" adalah istilah sastra. Tjampur aduknja istilah ini adalah disebabkan kekeliruan dalam sedjarah sendiri. Sebagai ahli sedjarah, terlebih dahulu kita harus memperhatikan pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan, program-program dan mama-nama pengarang sendiri dan dengan ini harus menerima sadja tjara pembagian mereka. Nilai dari kenjataan karena adanja rentjana-rentjana jang setjara sadar dirumuskan, pengelompokan dan pentafsiran sendiri-sendiri dalam sedjarah sastra, tentu sudja tidak dapat diperketjil. Tetapi pasti istilah "gerakan" sebaiknja ditentukan untuk aktivitas-aktivitas jang "self-conscions" dan "self-critical", jang harus dideskripsikan seperti<noinclude></noinclude> s9k03ufi9rfk3lv54hswe3f31mdfekl Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/294 104 103308 291194 290555 2026-05-10T15:00:15Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291194 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||32}}</noinclude>kita mendeskripsikan rentetan historis dari peristiwa-peristiwa dan pernjataan-pernjataan. Tetapi program-program itu hanjalah merupakan bahan untuk studi kita mengenai suatu perioda, seperti djuga seluruh sedjarah kritik menjebabkan komentar-komentar untuk sesuatu sedjarah sastra. Program-program itu bisa memberikan saran2 dan petundjuk-petundjuk kepada kita, tetapi tidak harus menentukan metoda-metoda dan pembagian-pembagian kita, tidak karena pandangan kita harus lebih meresap daripada pandangan mereka, tetapi karena kita mempunjai keuntungan melihat zaman silam dengan katja mata zaman sekarang. Tambahan lagi, perlu disebut, istilah-istilah jang asalnja sangat membingungkan ini, tidak ditjiptakan dalam waktunja sendiri. Di Inggris istilah "Humanisme" muntjul untuk pertama kali dalam tahun 1832, "Renaissance dalam tahun 1840, "Zaman Elizabeth" dalam tahun 1817, "Zaman Agustus" dalam tahun 1819 dan "Romantik" dalam tahun 1844. Patokan-patokan waktu ini jang bersumber pada {{u|Oxford Dictionary}}, mungkin tidak dapat dipertjaja, karena istilah "Zaman Agustus" timbul djarang-djarang sedjak dari 1690: Carlyle memakai kata "Romantik" dalam tahun 1831. Tetapi kata-kata itu menundjukkan waktu lowong antara penamaannja dengan periodanja. Kaum Romantici, seperti kita ketahui, tidaklah menamakan dirinja Romantici, pendeknja di Inggeris tidak. Rupanja baru sekitar tahun 1849 Coleridge dan Wordsworth dihubungkan dengan gerakan Romantik dan dikelompokkan bersama Shelley, Keats dan Byron. Dalam karangannja {{u|Literary History of England between the End of the Beginning of the Nineteenth Century}} (1882), Mrs Oliphant tidak pernah memakai istilah itu, djuga tak pernah ia menggambarkan penjair-penjair "Lake", aliran "Cockney", dan Byron jang "kerasukan" sebagai suatu gerakan. Oleh sebab itu tidak terdapat suatu pembelaan historis terhadap periode-perioda jang sekarang biasanja diterima, untuk sastra Inggeris. Kita tidak dapat menjangkal konklusi, perioda-perioda itu merupakan penamaan politis, litere dan artistik. Jang katjau balau dan tidak dapat dipertahankan. Tetapi biarpun kita mempunjai serentetan perioda jang membagi-bagi setjara tjermat sedjarah kulturil manusia - politik, filsafah dan seni2 {{u|the Eighteenth and}}<noinclude></noinclude> h5t8kgmyuvaalewqncydd8gnixskr3f Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/295 104 103332 291195 290625 2026-05-10T15:00:36Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291195 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||33}}</noinclude>lain dan sebagainja - sedjarah sastra seharusnjalah tidak boleh puas untuk menerima suatu skema jang diperoleh berdasarkan beraatjan-matjam bahan dengan beraneka maksud. Sastra sejogjanja tidak bisa digambarkan sebagai suatu refleksi pasif semata-mata atau suatu djiplakan dari perkembangan politik, sosial atau intelektuil dari seluruh manusia. Oleh sebab itu perioda sastra harus ditentukan oleh unsur-unsur jang semata-mata sastra. Djika hasil kita kebetulan bertepatan dengan hasil-hasil ahli sedjarah politik, sosial, seni dan intelektuil, maka itu tidak mendjadi halangan. Tetapi titik tolak kita harus perkembangun sastra sebagai sastra. Perioda atau zaman, hanjalah suatu subseksi dari perkembangan umum. Sedjarahnja hanja bisa disusun dengan menundjukkan kepada rentjana nilai-nilai jang berobah-obah, dan rentjana nilai-nilai ini harus diambil dari sedjarah itu sendiri. Suatu perioda adalah suatu bagian dari zaman jang dikuasai oleh suatu sistem dari norma-norma sastra, ukuran-ukuran dan konvensi-konvensi, jang pemasukannja, penjebarannja, pembagian, integrasi dan lepjapnja bisa diselidiki. Ini tentu sadja bukanlah berarti, bahwa kita harus menerima sistem norma-norma ini sebagai mengikat bagi kita sendiri. Kita harus menariknja duri sedjarah itu sendiri, kita harus menemukannja dalam realitas. Misalnja, "Romantik" bukanlah suatu kwalitas kesatuan jang menjebar laksana suatu infeksi atau penjakit menular, djuga ia bukan hanja tjap jang berupa kata-kata sadja. Ia adalah suatu kategori sedjarah atau djika orang lebih menjukai istilah Kant, suatu "regulative idea" (atau, lebih lagi, suatu sistem jung menjeluruh dari ide-ide) dengan mana kita menafsirkan djalannja sedjarah. Tetapi kita menemukan skema ide-ide itu dalam proses. itu sendiri. Konsep istilah seperti "perioda", berbeda dengan konsep jang sering dipakai, jang melebarkannja pada type psikologis jang dapat dilepaskan dari hubungan historianja. Dengan tidak usah menjalahkan penggunaan istilah-istilah sedjarah jang telah biasa sebagai nama-nama type psikologis atau artistik, kita akan melihat bahwa tipologi sastra sangat berbeda dari soal jang dibitjarakan, bahwa ia tidak termasuk sedjarah dalam arti jang sempit.<noinclude></noinclude> 6nty7zm8vgla56exq6m775yu4amtb86 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/95 104 103334 291042 290562 2026-05-10T13:48:31Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291042 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude>......sendjataku bungkem tak bersuara. Kutarik lagi spangrip kebelakang, dan kutarik pula pelatuknja, tetapi stenggun-ku tetap membungkem terus, hingga kuulangi beberapa kali. Namun demikian, stenggun-ku tetap tidak dapat menjanji sebagaimana jang kuharap²kan dari semula. Maka diwaktu itu pikiranku kupusatkan, hanja antara hidup dan mati. Oleh karena kematjetan sendjataku, maka moril anggota gerombolan itu mendjadi tinggi rupanja, dan diapun membalas dengan pistolnja. Tetapi dengan tidak disangka², pistolnja rupanja sama halnja dengan stenggunku jang tetap membisu. [[File:Madjalah Angkatan Darat (page 95 crop).jpg|500px|pus|jmpl|''Ajunan stenggun mengenai tulang rahang sipenjerbu.........'']] Sedang aku berpikir? bagaimana tjaranja mengatasi soal ini, tiba² orang djahanam tersebut menjerbu menjerangku. Tetapi aku telah siap untuk menangkis serangan²nja. Salah seorang antaranja jang menjerangku kusambut dengan ajunan stenggunku dengan sekuat tenaga. Dan rupanja stenggun-ku jang sedjak tadinja tetap membisu, masih setia melindungi aku sebagai teman kasihnja. Sebab ajunan stenggun jang membisu itu tepat mengenai tulang rahang sipenjerbu itu. Maka seketika itu djuga ia djatuh tersungkur dan tak bangun lagi. Kulihat demikian, maka kutjium kekasihku jang setia itu, stenggunku. Kini tinggal seorang lagi jang berbadan tegap dan besar jang akan kuhadapi pula. Waktu itu stenggun-ku masih tetap tidak dapat kupergunakan sebagaimana mestinja. Meskipun begitu tetap kupertahankannja, djangan sampai djatuh ketangan orang djahanam itu. Untung aku masih ingat, bahwa aku telah mendapat peladjaran tiori P.D.-T.B. (Pembelaan Diri Tak bersendjata) dari komandanku. Pada saat aku berpikir itu, seorang lagi dengan lagak seperti Gatot Kotjo telah menjekek batang leherku, serta berusaha merampas kekasihku, jang satu²nja, stenggun-ku. Maka terdjadilah pergulatan hebat antara aku dengan orang djahanam itu. Aku dibantingnja. Dan karena badanku lebih ketjil dari padanja dan djuga tidak setegap dia, djatuhlah aku oleh tubrukan orang djahanam itu. Dan rupanja dia tidak hendak memberi ampun lagi kepadaku. Kedua tangannja jang besar dan kasar itu mentjekek leherku. Dengan ditjekeknja leherku, pikirnja tentu dia dapat membinasakanku. Nah disinilah P.D.T.B. kupraktekkan dengan mengumpulkan semua tenagaku jang masih ada. Kedua tanganku kumasukkan disela-sela kedua tangan orang djahanam itu. Dan tenagaku kupusatkan ketangan. Dan kedua tanganku kemudian kubentangkan keluar dari badan. Dengan demikian terselungkuplah orang djahanam itu kebawah dan aku terbalik keatas. Pergulatan ini memakan waktu sampai tiga perempat djam. Dan sampai pada saat aku telah dapat menelungkupkan orang djahanam jang kedua itu, temannja jang telah djatuh tersungkur duluan tadi oleh karena anjunan stenggun-ku masih belum djuga bangun mengangkat kepalanja. Setelah aku berganti diataslah baru kuingat bahwa aku djuga<noinclude>{{rh|||29}}</noinclude> j0nlpox4pfrofqhri7kernkw50h33jd Halaman:SAIND (2020).webm/00:43 104 103363 290816 290797 2026-05-10T12:07:09Z Thalasshopile 26684 290816 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thalasshopile" /></noinclude>{{ft/i| Menampilkan berita}}<noinclude></noinclude> im062cl1uuonamoqhepvdp45h573b2n Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/296 104 103364 291196 290636 2026-05-10T15:00:53Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291196 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||34}}</noinclude>Dengan demikian satu periode bukanlah satu djenis atau kelas, melainkan satu bagian waktu jang ditentukan oleh suatu sistem norma-norma jang dibatasi dalam djalan sedjarah dan tidak dapat dipisahkan dari padanja. Usaha-usaha jang sia-sia untuk merumuskan "Romantik" menundjukkan bahwa perioda bukanlah suatu gagasan jang sama dengan kelas dalam logika. Andaikata sama, tentu semua karja individu dapat tertjakup didalamnja. Tetapi ini tidak mungkin sama sekali. Suatu karjaseni individuil bukanlah suatu tjontoh dalam suatu golongan, melainkan suatu bagian jang bersama dengan semua karja lain, mendjadikan konsepsi dari perioda itu. Djadi ia sendiri jang merobah gagasan seluruhnja. Pembedaan dari bermatjam-matjam "Romantik" dengan rumus jang banjak ragam, bagaimanapun berguna sebagai petundjuk tentang kompleks-nja rentjana jang ditundjukkannja, rupanja berdasarkan teori adalah salah. Harus dengan terus terang diketahui bahwa perioda bukanlah type jang ideal atau suatu pola abstrak atau suatu rangkaian gagasan golongan, tetapi bagian waktu jang dikuasai oleh suatu sistem norma-norma jang tidak akan pernah direalisasi oleh suatu karjaseni dalam keseluruhannja. Sedjarah suatu perioda memerlukan penjelidikan perobahan-perobahan dari suatu sistem norma kepada sistem jang lain. Sementara perioda adalah satu bagian waktu jang mempunjai sematjam kesatuan, ternjata bahwa kesatuan ini hanja bisa relatif. Itu hanja berarti, bahwa selama perioda ini suatu rentjana norma-norma tertentu jang sepenuhnja direalisir. Djika kesatuan dari suatu perioda mutlak, maka perioda-perioda terletak berdjedjeran laksana batu-batu, tanpa adanja kelandjutan perkembangan. Oleh sebab itu bertahunnja rentjana norma-norma jang terdahulu dan adanja antisipasi-antisipasi rentjana berikutnja, tidak dapat tidak mesti ada. Masaalah penulisan sedjarah pertama-tama adalah soal uraian: kita harus melihat kehantjuran suatu konvensi dan kebangkitan suatu konvansi jang baru. Apa sebab terdjadinja perobahan ini pada suatu saat tertentu, adalah suatu soal sedjarah jang tidak bisa dipetjahkan setjara umum. Satu djenis dari pemetjahan jang disarankan berarti, bahwa dalam perkembangan sastra suatu taraf kekosongan telah ditjapai, jang memerlukan timbulnja<noinclude></noinclude> d5ipiov9cqws78j6mor3fcwbcg4v1s9 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/297 104 103366 291198 290653 2026-05-10T15:01:14Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291198 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||35}}</noinclude>suatu kode baru. Kaum formalis Rusia menamakan proses ini sebagai suatu proses "automatisasi" dalam arti alat-alat atau tjara-tjara penulisan jang dipakai dan lazim pada zamannja, mendjadi begitu biasa dan membosankan sekali, sehingga para pembatja baru menolaknja dan malahan menginginkan sesuatu jang lain, sesuatu jang berbeda sekali dengan waktu jang lalu. Perobahan-perobahan merupakan rentjana perkembangan, suatu rangkaian revolusi jang terus menjebabkan aktualisasi baru dari diksi, tema-tema dan semua kompleks, tjara jang lain. Tetapi teori ini tidak mendjelaskan mengapa perkembangan ini harus bergerak kearah jang chusus telah diambilnja: rentjana-rentjana perobahan sadja terang-terang tidak tjukup untuk melukiskan seluruh belit-belit proses itu. Suatu keterangan tentang perobahan-perobahan ini akan meletakkan beban pada soal-soal luar jang mengganggu dan menekan pada lingkungan sosial. Tiap perobahan dalam konvensi sastra akan diakibatkan oleh muntjulnja suatu kelas baru atau paling banter sekumpulan manusia jang mentjiptakan seninja sendiri: di Rusia, dengan perbedaan kelus dan afiliasi-afiliasi tadjam dan umum pada masa sebelum 1917, sering kali suatu hubungan jang rapat antara perobahan sosial dan sastra dapat diadakan. Hubungan ini tidak djelas sama sekali didunia Barat dan mendjadi runtuh, segera setelah kita melangkah keluar perbedaan sosial dan malapetaka historis jang paling djelas. Suatu keterangan berbalik kepada muntjulnja satu angkatan baru. Teori ini mendapatkan banjak pengikut semendjak kurangan Cournot {{u|Considerations sur la marche des idées}} (1872) dan setelah diolah, di Djerman teritimewa, oleh Petersen and Wechssler. Tetapi dapat disangkal bahwa generasi, dalam pengertian sebagai satu kesatuan biologis, tidak memberikan pemetjahan sama sekali. Djika kita ambil sebagai patokan adanja tiga generasi dalam satu abad, misalnja 1800-1833, 1834-1869, 1870-1900, kita harus mengakui pula bahwa ada pula generasi 1801-1834, 1835-1870, 1871-1901 dst. dst. Ditindjau dari sudut biologis, susunan ini mirip sama sekali, dan fakta bahwa sekelompok manusia jang dilahirkan sekitar tahun 1800 telah mempengaruhi perobahan sastra lebih mendalam daripada sekelompok jang lahir sekitar tahun 1815, harus ditjari sebabnja pada hal-hal jang lain<noinclude></noinclude> t3tajg1u41899km9l47l198rig8ciyy Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/230 104 103367 291998 290665 2026-05-11T11:19:50Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291998 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{C|10}}</noinclude>Inilah kata gadis modern yang berarti jantan itu: "Sekarang tiada masanya lagi anak perempuan diperjual belikan, seperti menurut perjanjianmu dengan bapakau marhum. Aku sanggup mencarikan nafakah diriku dan ibuku. Kau terimalah sekalian peninggalan ayahku. Aku bebaskan kau dari pada perjanjianmu dengan ayahku, karena akupun tiada berniat menjadi seorang yang tiada cinta kepadaku dan tiada pula aku cintai (hal.12). Cerpen yang paling baik dalam kumpulan ini pada hemat saya ialah "Surat-suratnya", tentang dua orang kakak beradik yang berlainan sifatnya. Irma, umur 20 tahun, periang, pesolek, penuh tingkah, mempermainkan cinta anak-anak muda yang banyak mengerumuninya. Latifah, 22 tahun, pendiam, dalam hatinya tersimpan perasaan halus, perasaan kasih mesra. Sungguhpun parasnya tak kurang dari adiknya Irma, tapi karena ia tak pandai mengemukakan diri, menyimpan segala perasaan dalam hatinya, pandangan orang Hanya lekas tertambat pada Irma yang periang dan tak mengenal kesusahan. Sampai datang seorang pemuda, Sjofjan. Seperti juga yang lain-lain Sjofjan yang berpenghasilan cukup, berupa elok dan diharapkan oleh kebanyakan gadis sebagai bakal suami dan oleh orang tua sebagai menantu, cepat tertarik kepada Irma, sirama-rama. Tatkala berpisah karena kembali ketempat kerjanya, ia berjanji akan menjemput Irma setahun lagi apabila gadis itu telah selesai sekolahnya. Sjofjan sering menulis surat kepada Irma, tapi Irma tak pernah membalas surat suratnya, terhanyut dalam arus kopelesiran dengan pemuda-pemuda lain. Lagipula menurut pendapatnya: "Persahabatan antara seorang gadis dan anak muda, tak selamanya harus berakhir dengan perkawinan. Apakah hak Sjofjan meminta dari pedaku buat meninggalkan kehidupanku yang sekarang? Umurku masih muda, mestikah aku sekarang menguburkan diriku dinegeri kecil tempat Sjofjan itu, jauh dari segala yang boleh menyenangkan hidup?" Atas permintaan Irma surat-surat itu dibalas oleh Latifah, dengan memakai namanya. Dan terjadilah surat menyurat yang asyik, hingga terjadi hubungan batin yang erat antara "penipu Latifah (yang terus menyamar dibelakang nama Irma) dan Sjofjan. Satu tahun berakhirlah dan Sjofjan pun datang hendak menjemput Irma. Terbukalah rahasia, tapi Sjofjan bukannya jadi marah, melainkan sungguh-sungguh jatuh cinta pada Latifah yang selama ini telah memberinya harapan dan kekuatan batin dalam hidupnya yang terpencil.<noinclude></noinclude> qacsre16s6zgj8z0ttnyj8oc4gvh5wi Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/298 104 103368 291199 290662 2026-05-10T15:01:34Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291199 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||36}}</noinclude>dari pada semata-mata biologis. Memang benar, bahwa pada beberapa waktu dalam sedjarah, perobahan sastra dipengaruhi oleh sekelompok pemuda ({{u|Jugendreihe}}) jang sebaja: "Strum und Drang" di Djerman atau djuga Romantik adalah tjontoh jang gamblang. Suatu kesatuan generasi nampaknja ditjapai oleh fakta-fakta sosial dan historis sehingga hanja orang dari kelompok umur tertentu jang mungkin dapat mengalami peristiwa penting seperti Revolusi Perantjis atau kedua Perang Dunia pada usia jang mudah dipengaruhi. Tetapi ini hanja terdjadi djika ada pengaruh sosial jang hebat sekali. Dalam hal-hal lain hampir kita tidak dapat menjungsikan bahwa perobahan sastra dipengaruhi sekali oleh karja-karja dewasa dari kaum tua. Umumnja, pertukaran generasi atau kelas-kelas sosial sadja tidak tjukup untuk menerangkan perobahan sastra. Hal itu merupakan suatu proses jang ruwet jang berbeda-beda menurut keadaannja; sebagian ia bersifat intern, disebabkan oleh kehabisan bahan dan keinginan akan perobahan, tetapi djuga sebagian bersifat ekstern, diakibatkan oleh perobahan-perobahan sosial, intelektuil dan perobahan-perobahan kulturil lainnja. Suatu diskusi jang tidak putus-putusnja telah diadakan mengenai perioda utama dari sedjarah sastra modern. Istilah-istilah "Renaissance", "Klassisme", "Romantik", "Simbolisme" dan achir-achir ini istilah "Barok" telah dirumuskan, dirumuskan lagi dan ditentang. Sangat sedikit kemungkinan, bahwa suatu kesepakatan akan tertjapai selama soal-soal teoritis jang diusahakan untuk mendjelaskannja, tetap meragukan, selama orang-orang jang berdiskusi itu bertahan pada definisi-definisi menurut konsepsi-konsepsi kelas, masih mengatjau balaukan istilah "perioda" dengan istilah "djenis" (type), atau masih mengatjaukan sedjarah semantik istilah-istilah itu dengan perobahan-perobahan gaja jang sebenarnja. Dapat difahami, djika A.O. Lovejoy dan lain-lain mengandjurkan supaja istilah seperti "Romantik" dibuang sadja. Tetapi diskusi perioda paling sedikit akan menimbulkan bermatjam persoalan tentang sedjarah sastra: sedjarah istilahnja, program-program kritisnja dan djuga perobahan-perobahan stilistik jang sebenarnja; hubungan perioda dengan segala kegiatan manusia lainnja, hubungannja dengan perioda-perioda jang sama dinegeri-negeri lain.<noinclude></noinclude> ljw8q2fjxswooaptfswl7js1n8ruz1u Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/299 104 103371 291201 290666 2026-05-10T15:01:56Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291201 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||37}}</noinclude>Sebagai istilah, Romantik terlambat datang ke Inggeris, tetapi ada rentjana baru dalam teori-teori Wordsworth dan Coleridge jang harus dibahas sehubungan dengan praktek Wordsworth dan Coleridge dan sehubungan dengan penjair-penjair kontemporer lainnja. Ada gaja baru jang gedjala-gejala pendahuluannja dapat ditemukan malahan sampai ketahun-tahun pertama abad ke 18. Kita dapat membandingkan Romantik Inggeris dengan matjam-matjam Romantik di Perantjis dan Djerman dan dapat mempeladjari persamaan-persamaan atau persamaan-persamaan jang dianggap ada dengan gerakan Romantik seni rupa. Persoalannja selalu akan berbeda setiap masa dan tempat: tidak mungkin rasanja untuk membuat peraturan-peraturan unum. Anggapan Cazamian bahwa perobahan-perobahan perioda kian lama kian tjepat sehingga sekarang ini gojangan itu telah mendjadi mantap, sudah barang tentu keliru, dan demikian pula usaha untuk setjara dogmatis menentukan seni mana jang mendahului seni lain atau negara mana jang mendahului jang lain dalam memperkenalkan suatu gaja jang baru. Djelas, bahwa kita djangan mengharapkan terlalu banjak dari hanja penamaan penamaan perioda-perioda: satu kata tidak bisa mendukung selusin konotasi. Tetapi kongklusi jang skeptis jang akan menghilangkan permasaalahan djuga keliru, karena konsep perioda adalah benar-benar salah satu alat penting dari pengetahuan sedjarah. Problema jang lebih landjut dan lebih luas, sedjarah sastra nasionnal dalam keseluruhannja, lebih susah untuk dihadapi. Adalah susah untuk menjelidiki sedjarah suatu sastra nasional sebagai seni, djika rangkanja memerlukan bahan-bahan jang tidak bersifat sastra, spekulasi-spekulasi mengenai etik nasional dan tjiri-tjiri nasional jang sedikit sekali sangkut pautnja dengan seni sastra. Dalam hal sastra Amerika, dimana tidak ada perbedaan linguistik dengan sastra nasional lainnja, kesukaran itu berlipat ganda, karena perkembangan senisastra di Amerika mau tak mau tidak lengkap dan sebagian tergantung pada satu tradisi jang lebih tua dan lebih kokoh. Terangnja, suatu perkembangan nasional senisastra membawa persoalan jang tidak dapat dielakkan oleh para ahli sedjarah, sungguhpun hal itu hampir tidak pernah diselidiki setjara sistematis. Tak perlu kiranja dinjatakan, bahwa sedjarah kelompok-kelompok sastra malahan masih suatu tjita-tjita jang terletak djauh.<noinclude></noinclude> 4epxdyjf6p5hpwsozmte8zu02ch74o1 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/582 104 103372 291953 290675 2026-05-11T10:25:57Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291953 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>ke barat melalui dataran-datsaran sebelah utara laut Hitam, menuju ke Balkan. Di sini kelompok tersebut pecah menjadi dua, sebagian melanjutkan perjalanannya ko barat terus, lainnya balik ke timur ke Asia kecil menyeberangi selat Bosporus, tiba di Persi, ke lembah Sindu hulu, akhirnya sampai di lembah pengawan Gangga Yilir. Bangsa ini ialah bangsa Aria tersebut, menduduki India Utara seluruhnya pada tahun 1500 s.M. Kata-kata nama mata angin yang mengungkap peristiwa tersebut yaitu katas <u>Pūrwa</u>, berarti: timur, mula-mula berarti depan, ialah menunjuk arah di depan perjalanan mereka. <u>Uttara</u> lebih tinggi atau kiri, maksudnya: menunjuk arah sebelah kiri perjalanan mereka yang lebih tinggi, ialah pegunungan Himālaya. <u>Daksina</u>, selatan, somula: sebelah kanan. Tanah Dokkan pun berarti tanah sebelah kanan mereka, atau tanah daerah selatan. <u>Paṡcima</u>, belakang atau akhir, untuk menunjuk kiblat barat, tempat di belakang perjalanan atau tempat matahari terbenam/berakhir. Demikianlah orang-orang jaman dahulu memberi sesuatu nama dengan istilah yang sangat sahaja tetapi tepat. Naluri semacam itu rupa-rupanya suatu naluri insani universil. Penamaan mata angin semacam itu terjadi di belahan bumi lainnya. Kurang lebih pada tahun 2000 s.M., bangsa Tai meninggalkan daerah asalnya seperti telah disebutkan di depan, dan bermukim di Semenanjung Melayu/Malaka. Di sinilah mereka mengucapkan istilah <u>selatan</u> untuk menunjuk arah lawan utara, yang mula-mula maksudnya arah disekitar celah laut di antara dua daratan di sobelah selatan mereka. Sebaliknya untuk menunjuk arah lawan selatan, mereka menunjuk laut yang terletak di sebelah utara mereka dengan kata <u>laut</u>, atau <u>lod</u>, kemudian berubah bunyi monjadi <u>lor</u> (=utara). Kata <u>lod</u> (Kawi), <u>lor</u> (Jawa, Bali) tetap berlaku di Jawa dan Bali hingga sekarang. Hanya ada daerah Bali yang menggunakan <u>kelod</u> atau <u>deloud</u>, mungkin ada hubungannya dengan kata<noinclude>{{rh|||48 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1873}}</noinclude> 6onjj63oo6f5cp6nz3nyu3nhkr9fuv0 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/231 104 103373 291999 290709 2026-05-11T11:20:24Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291999 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{C|11}}</noinclude>Satu tipe gadis pula diperlihatkan Saadah dalam diri Zubaidah dalam "Ia yang menanti". Tipe gadis yang suka mempermainkan cinta lelaki, bangga akan kecantikannya yang disangkanya abadi. Dengan demikian ia didekati dan kemudian dijauhi oleh pemuda yang satu demi yang lain, sampai ia dengan tidak disadarinya telah menjadi gadis tua. Ada seorang anak muda yang diharapkannya kambali, Sjafruddin, anak muda yang mencintainya sungguh-sungguh dan sebenarnya Zubaidah pun mencintainya pula, tapi dengan hati yang luka Sjafruddin telah menjauhi Zubaidah. Akhirnya datanglah kesempatan Zubaidah akan melihat kembali pemuda yang sudah bertahun-tahun meninggalkannya itu. Tapi alangkah kecewanya ia, karena laki-laki itu telah kawin dengan seorang gadis yang cantik. Karena itu janganlah sia-siakan masa mudamu, jangan mempermainkan cinta, kelak akan buruk jadinya. Demikian moral cerita. Dengan penuh ironi Saadah menulis tentang seorang suami yang sok dalam "Kalau hendak berhemat". Maksud mau berhemat, tapi nafsu mau nampang, nafsu mau aksi, tidak bisa dikekang. Akhirnya hidup jadi celaka. Pada Saadah yang penting ialah senantiasa kemurnian hati bukan kebagusan rupa dan kepandaian bersilat lidah, seperti yang menari. Nurmalah pada pemuda Rustam, meskipun ia telah bertunangan dengan Bachtiar, yang pendiam dan tinggi budinya tapi tak pandai berkelakar dalam pergaulan. Untunglah Nurmalah kemudian sadar akan kekeliruannya setelah melihat bukti keluhuran budi Bachtiar menolong orang kebakaran tanpa menepuk-nepuk dada sebagai pahlawan. {{right|Jakarta, 9 Juni 1968}} {{C|BAHASA DAN KESUSASTRAAN No. 6<br>Th. I, 1968}}<noinclude></noinclude> sl3effhobvojnbkdlaz3tf1uyqapwpn Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/573 104 103383 291946 290700 2026-05-11T10:19:46Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291946 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Antropologi Budaya, dan sejak itu istilah Indonesia menjadi umum dipakai oleh sarjana-sarjana Belanda. Pada tahun 1877 Dr. Hamy mengemukakan keserumpunan bahasa Melayu dengan bahasa-bahasa Jampa, Pink, Jarni dan beberapa bahasa Melayu Kontinental atau bahasa-bahasa Melayu di daratan Asia Tenggara. Tahun 1889 H. Kern membuat perbandingan bahasa-bahasa dari Malagasi hingga Duke of York yang menyatakan keserumpunannya, dan mendapat sokongan dari Prof. G.K. Niemann dalam Bijdragen van Taal-Land- en Volkenkunde van Nederlandsch Indie tahun 1891 hlm. 27, Dr. Renward Brandstetter th. 1910, 1911, dan Otto Dempwolff th. 1929, 1934, 1927, 1938, yang ketiga karangannya telah diterjemahkan oleh Sjaukat Djajadiningrat ke dalam bahasa Indonesia, Penerbit Pustaka Rakyat. Tahun 1932 Robert von Heine Geldorn sarjana purbakala Austria menulis dalam majalah Anthropos 27 hlm. 543-619 berjudul: Urheimat und frucheste landerungen der Austronesier. Dengan penyelidikannya tentang beliung batu persegi panjang ia mengumumkan bahwa asal bangsa Austronesia itu ialah dari Tiongkok, kira-kira pada tahun 2000 s.M., beliung semacam itu terdapat juga di daerah Homan dan Teluk Kansu. Dari sana mereka bergerak ko Asia Tenggara. Pada tahun 1932 itu juga W.F. Stuttorheim menyarankan suatu pendapat yang sama, yaitu bahwa nenek moyang bangsa Austronesia berasal dari daerah sekitar Tiongkok, dan serumpun dengan bangsa Veda di Sailan atau Negrito di Filipina. Achirnya, pada garis besarnya (dengan mengecualikan teori Thor Hyerdahl sarjana Norwegia yang pada tahun 1947 menyatakan bahwa Polinesia itu keturunan Kon Tiki dari Peru, dan dibantah oleh S.H.M. Hoeren Palm dalam bukunya Polynesische Higratio tahun 1955), mengenai asal bangsa Austronesia itu terdapat dua macam teori:<noinclude>{{rh|||39 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 7v2bupqccobphhcgertmdf2nyszlyum Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/98 104 103384 291152 290693 2026-05-10T14:34:45Z Sarieffe 26994 291152 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>[[File:Madjalah Angkatan Darat (page 98 crop).jpg|500px|kanan|''Regu OKD jang turut pula berdjasa tidak ketinggalan mendapat tanda penghormatan jg. disampaikan sendiri oleh Panglima T & T III.'']] tan 21 orang bertolak melakukan ''gevecht-verkenning'' dan satu djam kemudian terdjadilah ''vuur contact'' jang pertama selama 4 djam. Sedjak itu mulailah mereka terasa ''gecompliceerd'' men-tjari² djalan untuk sementara mereka berhasil menjelamatkan diri ke tempat tudjuan. Tapi sukar djuga bagi mereka menghindarkan diri dari bahaja³. Setelah pertempuran selesai menghadapi Polisi, BODM dan OKD Bantaradjeg itu dan haripun sudah hampir gelap, maka menjelamatkan diri dengan berlindung kegelapan malam, ketjuali Ojo Sadjana sendiri menderita luka³, tapi perdjalanan mereka keesokan harinja dapat dindjalir lagi oleh pembantu Sie I Bandjaran. Satibi dengan rombongannja setelah gagal akan menjberang via Bantaradjeg untuk menjilam di Gn. Larang kompleks Nunuk, kemudian merobah haluan kedaerah Bandjaran untuk menjeberang dari daerah Tjimrong, tapi berhubung hari masih siang (djam 14.00), maka mereka terpaksa menjilam dahulu menunggu malam, dikampung Wates, tidak djauh dari djalan raja Teloga-Madju dimana mereka harus menjeberang. Tempat tsb. memang sangat strategis sekali dan terkenal tempat lalu lintas gerombolan. Rombongan para "Pembesar" beristirahat dalam 2 buah rumah bilik dan pengawalan ditempatkan disebuah tanah jang tinggi dipinggir djalan untuk melihat² kalau ada "musuh" datang. Sementara itu haripun sudah djam 16.00. Sesampainja mereka dalam rumah gubug itu, maka tidak djal lagi Prda. Djunaedi anggota Security meminta balabantuan untuk menjergapnja. Segera bergeraklah regu combat Sers. Umair dengan 11 orang diantaranja bersendjatakan sebuah bren bersama Prda. Djunaedi sendiri dan 3 orang OKD. Sementara itu satu regu lainnja (OKD) jang dipimpin oleh Smj. Siagian (anggota security) bergerak pula menudju Tjihaurkidul untuk menutup djalan pelarian satu-satunja jang biasa mereka lakukan. Salah satu langkah jang patut dipudji oleh Sersan Umair sebagai Kmd. Regu ialah dalam menudju ketempat penjergapan itu, Sers. Umair telah membajangkan suatu perhitungan jang djitu. Tentu gerakannja akan dengan mudah dilihat oleh pengintai² mereka dari arah pasir jang tinggi letaknja itu dan untuk mengabuinja, maka Sers. Umair dan anak buahnja memberhentikan sebuah Bus umum jang kebetulan lewat dan menaikinja se-olah² hendak bepergian djauh. Hilanglah ketjurigaan pengawal² gerombolan itu dan tentu sadja tidak terlalu djauh dari pasir pengintaian mereka, Sers. Umair cs. turun dari Bus dan langsung menudju ke-gubug² para „pembesar”. Perlu ditjatat, bahwa sedjak sinjalemen² pertama hari kemarin didaerah Bantarrudjeg sampai saat penjergapan dilakukan, tidak ada seorangpun jang mengetahui, bahwa tamu² tersebut adalah „Tamu Agung” jang terdiri dari pembesar² militer. Dalam tempo 20 menit sadja Sers. Umair cs telah siap dengan stellingnja dihadapan gubug² „pembesar” tsb. dengan djarak hanja 7 meter, dan setelah melakukan segala sesuatu, 5 menit kemudian berdentumanlah kesebelas mulut sendjata Sers. Umair cs. dengan sekilat itu pula disambut oleh Sers. Umair dan sebagian dari belakang gubug dengan menobros dinding dan disambut pula disana oleh Prda. Djunaedi dan OKD²-nja. Setelah 5 orang jang keluar dari pintu luar tadi bergelimpangan, maka datanglah saat bagi Prda. Manuputi melakukan tindakan² surprise-nja sebagai klimaks dari usaha² penjer-<noinclude>32</noinclude> bgybuunhii7fje3tfwnwl2or8dgtifb 291176 291152 2026-05-10T14:45:46Z Sarieffe 26994 /* Tervalidasi */ 291176 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>[[File:Madjalah Angkatan Darat (page 98 crop).jpg|500px|kanan|''Regu OKD jang turut pula berdjasa tidak ketinggalan mendapat tanda penghormatan jg. disampaikan sendiri oleh Panglima T & T III.'']] {{hwe|tan|kekuatan}} 21 orang bertolak melakukan ''gevecht-verkenning'' dan satu djam kemudian terdjadilah vuur contact jang pertama selama 4 djam. Sedjak itu mulailah mereka terasa ''gecompliceerd'' men-tjari² djalan untuk sementara mereka berhasil menjelamatkan diri ke tempat tudjuan. Tapi sukar djuga bagi mereka menghindarkan diri dari bahaja³. Setelah pertempuran selesai menghadapi Polisi, BODM dan OKD Bantaradjeg itu dan haripun sudah hampir gelap, maka menjelamatkan diri dengan berlindung kegelapan malam, ketjuali Ojok Sadjana sendiri menderita luka³, tapi perdjalanan mereka keesokan harinja dapat disindjalir lagi oleh pembantu Sie I Bandjaran. Satibi dengan rombongannja setelah gagal akan menjeberang via Bantaradjeg untuk menjilam di Gn. Larang kompleks Nunuk, kemudian merobah haluan kedaerah Bandjaran untuk menjeberang dari daerah Tjimeong, tapi berhubung hari masih siang (djam 14.00), maka mereka terpaksa menjilam dahulu menunggu malam, dikampung Wates, tidak djauh dari djalan raja Telaga-Madju dimana mereka harus menjeberang. Tempat tsb. memang sangat strategis sekali dan terkenal tempat lalu lintas gerombolan. Rombongan para "Pembesar" beristirahat dalam 2 buah rumah bilik dan pengawalan ditempatkan disebuah tanah jang tinggi dipinggir djalan untuk melihat² kalau ada "musuh" datang. Sementara itu haripun sudah djam 16.00. Sesampainja mereka dalam rumah gubug itu, maka tidak ajal lagi Prds. Djunaedi anggota Security meminta balabantuan untuk menjergapnja. Segera bergeraklah regu combat Sers. Umair dengan 11 orang diantaranja bersendjatakan sebuah bren bersama Prda. Djunaedi sendiri dan 3 orang OKD. Sementara itu satu regu lainnja (OKD) jang dipimpin oleh Smj. Siagian (anggota security) bergerak pula menudju Tjihaurkidul untuk menutup djalan pelarian satu-satunja jang biasa mereka lakukan. Salah satu langkah jang patut dipudji oleh Sersan Umair sebagai Kmd. Regu ialah dalam menudju ketempat penjergapan itu, Sers. Umair telah membajangkan suatu perhitungan jang djitu. Tentu gerakannja akan dengan mudah dilihat oleh pengintai² mereka dari arah pasir jang tinggi letaknja itu dan untuk mengabuinja, maka Sers. Umair dan anak buahnja memberhentikan sebuah Bus umum jang kebetulan lewat dan menaikinja se-olah² hendak bepergian djauh. Hilanglah ketjurigaan pengawal² gerombolan itu dan tentu sadja tidak terlalu djauh dari pasir pengintaian mereka, Sers. Umair cs. turun dari Bus dan langsung menudju ke-gubug² para „pembesar”. Perlu ditjatat, bahwa sedjak sinjalemen² pertama hari kemarin didaerah Bantarrudjeg sampai saat penjergapan dilakukan, tidak ada seorangpun jang mengetahui, bahwa tamu² tersebut adalah „Tamu Agung” jang terdiri dari pembesar² militer. Dalam tempo 20 menit sadja Sers. Umair cs telah siap dengan stellingnja dihadapan gubug² „pembesar” tsb. dengan djarak hanja 7 meter, dan setelah melakukan segala sesuatu, 5 menit kemudian berdentumanlah kesebelas mulut sendjata Sers. Umair cs. dengan sekilat itu pula disambut oleh Sers. Umair dan sebagian dari belakang gubug dengan menobros dinding dan disambut pula disana oleh Prds. Djunaedi dan OKD²-nja. Setelah 5 orang jang keluar dari pintu luar tadi bergelimpangan, maka datanglah saat bagi Prda. Manuputi melakukan tindakan² surprise-nja sebagai klimaks dari usaha² {{hws|penjer|penjergapan}}<noinclude>{{rh|32}}</noinclude> 1jhtm97gf3mo20829cfhbwxa84d00il Halaman:Sawatoe Penghantar bagi orang jang membatja.djvu/10 104 103385 291156 290695 2026-05-10T14:39:30Z Arymuslichudin 24021 /* Telah diuji baca */ 291156 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{c|2}}</noinclude>(2 Korinti III: 6, 14); sebab dalamnja dinjataken takdir Allah akan meneboesken anak-anak Adam daripada dosanja. Maka wasijat jang lama itoe dibahagiken dalam tiga bahagian jang besar, ja-itoe: ''Taurat'', ''Nabi-Nabi'',- dan ''Kitab jang koeddoes''; adalah semoewanja itoe 39 kitab banjaknja. Jang masok bilangan Taurat itoe, ja-itoe:<br> :Lima kitab Moesa, ja-itoe: ''Genesis'', ertinja kedjadian 'alam,—''Eksodus'', ertinja hal Kaloewaran orang Jahoedi dari tanah Matsir, —''Levitikus'', ertinja akan pekerdjaän orang-orang Lewi dalam ka'abah, atau Imamat namanja,—''Numeri'', ertinja Bilangan orang-orang Jehoedi dan hal koendjoengannja di padang Tijah, ''—Deuteronomium'', ertinja kitab Oelangan taurat. Maka kitab-kitab ini telah dikarangken 3000 tahon jang soedah. Jang masok bilangan Nabi-nabi itoe, ja-itoe:<br> :Kitab ''Jozoea'',—kitab ''Hakim'' 2,—2 kitab ''Samoeèl''—2 kitab ''Radja'' 2, —kitab nabi ''Jesaja''—kitab nabi ''Jermija'', kitab nabi ''Jehezkiël'',— dan 12 kitab nabi-nabi jang ketjil-ketjil daripada nabi ''Hoséa'' sehingga nabi ''Maleàchi'' itoe. Jang masok bilangan kitab-kitab jang koeddoes itoe, ja-itoe:<br> :Kitab ''Roeth'',—kitab ''Ezra'', —kitab ''Nehemja'', — kitab ''Esther'', kitab ''Ajoeb'', — kitab ''Zaboer'', atau ''Mazmoer'', — kitab ''Amtsal Soleiman'',—kitab ''Alchathib'', —kitab ''Sjeroe'l asjar Soleiman'' atau Njanjian daripada segala njanjian, —kitab ''Noedoeb Jermija'', kitab nabi ''Daniel'', — dan 2 kitab ''Tawarich''. {{c|_______________}} {{c|II. Alkitab Allah itoe keäda än daripada dahoeloe-kala dan tiada ada salahnja.}} Maka barang sa'orang pon tiada akan berkata, bahoewa alkitab. (Bijbel) itoe boekan daripada dahoeloe-kala, melainkan orang jang bodoh jang berani berkata demikijan. Maka terlaloe banjak saksisaksinja jang telah memereksa daripada behasanja dan peri-adat manoesija jang pada zaman poerbakala, sehingga orang jang tiada pertjaja djoega telah mengakoe, bahoewa karangan alkitab itoe, daripada. ''wasijat lama'' sehingga sampei kesoedahan tjeritera dalam ''wasijat baharoe'',. maka sekaliannja diakoenja, bahoewa seperti sa'orang djoewa jang telah mengarangken dija, sebab Rohoe'lkoeddoes itoe, jang soedah menghantarken nabi-nabi dan rasoel-rasoel sekalian, akan menjoerat akan alkitab. itoe adanja; seperti terseboet dalam 2 Timotioes III: 16. Segenap ''Alkitab itoe telah dikarangken dengan ilham Allah''; dan dalam soerat.<noinclude></noinclude> 2rnqjrhlmggd5zpzp5k7x83yppu8fie 291163 291156 2026-05-10T14:40:59Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291163 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{c|2}}</noinclude>(2 Korinti III: 6, 14); sebab dalamnja dinjataken takdir Allah akan meneboesken anak-anak Adam daripada dosanja. Maka wasijat jang lama itoe dibahagiken dalam tiga bahagian jang besar, ja-itoe: ''Taurat'', ''Nabi-Nabi'',- dan ''Kitab jang koeddoes''; adalah semoewanja itoe 39 kitab banjaknja. Jang masok bilangan Taurat itoe, ja-itoe:<br> :Lima kitab Moesa, ja-itoe: ''Genesis'', ertinja kedjadian 'alam,—''Eksodus'', ertinja hal Kaloewaran orang Jahoedi dari tanah Matsir, —''Levitikus'', ertinja akan pekerdjaän orang-orang Lewi dalam ka'abah, atau Imamat namanja,—''Numeri'', ertinja Bilangan orang-orang Jehoedi dan hal koendjoengannja di padang Tijah, ''—Deuteronomium'', ertinja kitab Oelangan taurat. Maka kitab-kitab ini telah dikarangken 3000 tahon jang soedah. Jang masok bilangan Nabi-nabi itoe, ja-itoe:<br> :Kitab ''Jozoea'',—kitab ''Hakim'' 2,—2 kitab ''Samoeèl''—2 kitab ''Radja'' 2, —kitab nabi ''Jesaja''—kitab nabi ''Jermija'', kitab nabi ''Jehezkiël'',— dan 12 kitab nabi-nabi jang ketjil-ketjil daripada nabi ''Hoséa'' sehingga nabi ''Maleàchi'' itoe. Jang masok bilangan kitab-kitab jang koeddoes itoe, ja-itoe:<br> :Kitab ''Roeth'',—kitab ''Ezra'', —kitab ''Nehemja'', — kitab ''Esther'', kitab ''Ajoeb'', — kitab ''Zaboer'', atau ''Mazmoer'', — kitab ''Amtsal Soleiman'',—kitab ''Alchathib'', —kitab ''Sjeroe'l asjar Soleiman'' atau Njanjian daripada segala njanjian, —kitab ''Noedoeb Jermija'', kitab nabi ''Daniel'', — dan 2 kitab ''Tawarich''. {{c|_______________}} {{c|II. Alkitab Allah itoe keäda än daripada dahoeloe-kala dan tiada ada salahnja.}} Maka barang sa'orang pon tiada akan berkata, bahoewa alkitab. (Bijbel) itoe boekan daripada dahoeloe-kala, melainkan orang jang bodoh jang berani berkata demikijan. Maka terlaloe banjak saksisaksinja jang telah memereksa daripada behasanja dan peri-adat manoesija jang pada zaman poerbakala, sehingga orang jang tiada pertjaja djoega telah mengakoe, bahoewa karangan alkitab itoe, daripada. ''wasijat lama'' sehingga sampei kesoedahan tjeritera dalam ''wasijat baharoe'',. maka sekaliannja diakoenja, bahoewa seperti sa'orang djoewa jang telah mengarangken dija, sebab Rohoe'lkoeddoes itoe, jang soedah menghantarken nabi-nabi dan rasoel-rasoel sekalian, akan menjoerat akan alkitab. itoe adanja; seperti terseboet dalam 2 Timotioes III: 16. Segenap ''Alkitab itoe telah dikarangken dengan ilham Allah''; dan dalam soerat.<noinclude></noinclude> gu154j7syuf2qlnagklfqg95n0qtmv2 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/567 104 103386 291939 290732 2026-05-11T10:15:52Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291939 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>tunggal suku, suku mana? Sebab perkawinan tunggal suku Jakarta sudah tentu lain halnya dengan tunggal suku Sunda, Jawa, Batak, Minang, dan seterusnya. Dalam perkawinan antar suku perlu mendapat perhatian: istrinyadari mana, suaminya dari mana. Demikian selanjutnya. Kekurangan data semasam itu menurut pendapat saya merupakan ca-cat dan dapat menyesatkan penyelidikan proses sejarah pertumbuhan sesuatu bahasa. Jadinya statistik di atas mungkin belum berbicara banyak. Apalagi bila kita baca pemberitaannya (Kompas tgl. 2-11-1971 hlm.1) timbul pertanyaan dalam hati: Betulkah memang begitu yang dimaksudkan, ataukah kami salah tafsir? Berita tersebut berjudul: "Menurut Dr. Peter “Ycldon: orang-orang Tionghoa di Indonesia lebih pintar berbahasa Indonesia dari pada orang Indonesianya sendiri". Ingat-ingat lupa setelah kami baca lebih lanjut, mungkin kata: <u>pintar</u> ini lebih tepat diganti dengan kata: <u>aktif</u>. Inipun masih dapat menimbulkan beberapa pertanyaan, misalnya: lebih aktif dari pada keluarga Indonesia yang mana? Sebab pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa keluarga dalam rumah tangga tunggal-suku Jawa misalnya, dalam lingkungan dan keadaan biasa merupakan hal yang kurang lazim dan tidak wajar. Yang biasa dan wajar mereka mempergunakan bahasa keluarga bahasa ibunya. Apalagi di daerah lingkungan mereka sendiri seperti: Sunda di Bandung, Jawa di Yogyakarta dan Surabaya. Angka 11, 2 dan 5 yang menunjukkan persentase pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari di rumah Sunda atau Jawa tersebut, telah merupakan angka yang besar. Sedang angka 69 buat di Jakarta adalah wajar, karena Jakarta adalah kota internasional, dan percampuran antara suku sangat rapat dan merata. Pemakaian bahasa Ibu dalam keluarga-tunggal suku pun di sini telah melemah, lebih-lebih dalam keluarga yang baru dibentuk di Jakarta itu juga. Hal ini bukanlah suatu kerugian atau kericuhan, melainkan suatu keuntungan bagi kita untuk berbahasa keluarga besar<noinclude>{{rh|||33 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 8itwg750tt6imktiws4aknrctaq0aui Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/101 104 103387 291231 290704 2026-05-10T15:18:46Z Sarieffe 26994 /* Tervalidasi */ 291231 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>[[File:Madjalah Angkatan Darat (page 101 crop).jpg|400px|kanan|jmpl|''Rapat dipimpin langsung oleh KSAD Djenderal Major A.H. Nasution (tengah). Pada gambar nampak beliau di apit oleh Djaksa Agung Tentara Letnan Djenderal Suprapto (kiri) dan Wk. KSAD Kolonel Gatot Subroto (kanan).'']] {{hwe|awakan|perawakan}} seorang kijai jang kelihatan serba tenteram dan dikenal dengan methaphisicanja memakai djenggot jang mulai dipeliharanja. duduk² sadja dengan tak banjak membikin gerakan². Letnan Kolonel Djamin Gintings kelihatan penuh anthousiast mendjadi sasaran² djurupotret. Kemudian masuk Overste Sumual, berbadan besar, tegap dan masih muda. Rambutnja dipotong tinggi, ia selalu mentjoba menghindarkan diri dari permintaan² djurupotret jang akan mengambil fotonja. Letnan Kolonel H. Hasan Basri pada saat² sebelum pembukaan rapat selalu berdampingan dengan Letnan Kolonel Ibnu Subroto dengan tjatatnja jang tenang selalu menjisih ketepi dari kesibukan² djurupotret dan wartawan² lainnja, sekali-kali tersenjum ketjil. Tidak banjak kesempatan untuk menggambarkan lebih lengkap tiap-tiap pribadi dalam ruangan rapat ini karena tak lama kemudian KSAD bersama dengan Letnan Djenderal Soeprapto Djaksa Agung Tentara telah memasuki ruangan dan dengan ini pula maka pertemuan segera dimulai. Rapat berdjalan selama 5 hari dari tanggal 15 s/d 20 Maret 1957 dengan mengambil tempat di aula MBAD dan 3 kali di Istana Merdeka. Pada pertemuan pertama kali di Istana dengan P.J.M. Panglima Tertinggi, beliau menyampaikan amanatnya a.l.: [[File:Madjalah Angkatan Darat (page 101 crop2).jpg|400px|kanan|jmpl|''Dalam rangka membitjarakan tjara² pelaksanaan S.O.B., dalam rapat tsb. diikuti pula oleh para Sekretaris Djenderal dari Kementerian².'']] <ol type="a"> <li>kita djangan sekali-kali lupa akan tjita² proklamasi 17 Agustus 1945 ;</li> <li>rundingkanlah semua persoalan kalau perlu berkali-kali, tetapi kalau sudah djatuh keputusan maka taatilah sepenuhnja sebagai pradjurit.</li> <li>para penguasa militer supaja mempergunakan SOB untuk menegakkan gezag Negara jg seharusnja.</li> </ol> Rapat telah berlangsung dalam suasana penuh keinsjafan akan tanggung djawab jang dihadapi oleh AP umumnja dan AD chususnja dan para panglima menginsjafi sepenuhnja bahwa jang terpenting dewasa ini ialah '''memelihara kesempurnaan het centraal Gezag''' dari Negara Republik Indonesia. Djuga didapatkan rumusan facta² jang diperlukan untuk mewudjudkan memelihara centraal gezag itu. Hal lain jang penting jang telah diputuskan adalah bahwa para penguasa militer setempat, dipusat maupun didaerah akan '''mempergiat dan memperkeras dalam''' '''(Bersamb. hal. 37)'''<noinclude>{{rh|||35}}</noinclude> k0f5n1g1gi21cmiac59swp9h67ii5rv Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/103 104 103388 291258 290708 2026-05-10T15:35:05Z Sarieffe 26994 /* Tervalidasi */ 291258 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>untung Pral, karena menurut dokumen mereka kitapun telah masuk dalam rentjana buku hitam mereka. Sedang mereka sudah banjak membuat korban teman² kita tentara lainnja jang kurang teliti terhadapnja. Dan aku berterima kasih kepadamu atas ketjerdikanmu itu hingga dapat membongkar rahasia ini dan telah dapat menjelamatkan kita semuanja, udjar Sersan Sutedjo kepada kopral Sanusi. Itu semuanja adalah kewadjiban kita. Dan kedudukan soal ini semuanja dapat kupeladjari dari tjeritera Sudarmi, ditambah dengan keadaan didalam rumah itu dan kepergian Pak Hardjo dengan Sudarmi setiap malam Djum'at dan kami gabungkan dengan kedjadian², demikian kopral Sanusi memberikan pendjelasan pula. Setelah terbongkarnja rahasia didepan pos itu, maka masjarakat sekitarnja tidak lagi digelisahkan oleh hantu pentjekek leher manusia, jang sebenarnja ini hanja bikinan manusia² jang tidak bertanggung djawab. Kedjadian ini mendjadi peladjaran bagi Sersan Sutedjo, agar djangan begitu gampang mengeluarkan isi hatinja terhadap wanita didaerah sematjam itu, dengan tidak mengadakan penjelidikan² terlebih dahulu. Kini Sersan Sutedjo tahulah, bahwa kemurahan hati Sudarmi itu hanja sebagai pantjingan belaka. '''Rapat Panglima ...................''' <center>(Samb. hal : 35)</center> soal membasmi korupsi, penjelundupan, aksi² subversief dll. kegiatan jang merugikan. Achirnja sebagai penutup rapat para panglima jang penting kali ini oleh P.J.M. Panglima tertinggi disampaikan pula amanatnja jang memakan waktu selama setengah djam dengan 2749 perkataan. Pada pokoknja amanat itu berisikan sbb. : <ol type="a"> <li>segala keputusan² jang telah didjatuhkan harus dilaksanakan sebagai sikap semestinja dari seorang pradjurit.</li> <li>ketaatan kepada atasan adalah sjarat untuk meminta ketaatan bawahan.</li></ol> Djiuga dinjatakan oleh P.J.M. Tertinggi bahwa beliau akan mengusahakan kepada Pemerintah jang akan datang untuk tertjapainja ber-matjam² keinginan jang timbul di daerah² dan disalurkan melalui Penguasa² Militer. Sekian pandangan sekilas lintas tentang rapat panglima jang banjak menarik perhatian dalam keadaan perkembangan² baru di negara kita. ---- {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" | colspan="2" style="border: 2px solid black; padding: 10px; text-align: center;" | <big>'''PASANGLAH'''</big><br /> <big>'''IKLAN TUAN DALAM MADJALAH'''</big><br /> <big>'''ANGKATAN DARAT — PASTI BERHASIL !'''</big> |- | style="width:50%; border: 1px solid black; padding: 10px; vertical-align: top;" | <center> PERUSAHAAN PIALA — PIALA<br /> MERK<br /> <span style="font-size: 200%; font-family: cursive;">t. k. f.</span><br /> Djalan: ASEM LAMA No. 178.<br /> Tel. 587 Gmb.<br /> '''DJAKARTA.'''<br /> '''Pemilik : TJOENG KHIN NGIAN.''' </center> <hr style="width:80%"/> <center> Alamat satu2-nja untuk<br /> '''TANDA PANGKAT DAN LENTJANA JANG'''<br /> '''DIBUAT DENGAN RAPIH DAN TJEPAT,'''<br /> '''JAITU :'''<br /> <big>'''PABRIK LOGAM'''</big><br /> '''BEGEER, VAN KEMPEN & VON'''<br /> PETODJO UDIK 34<br /> '''DJAKARTA.''' </center> | style="width:50%; border: 1px solid black; padding: 10px; vertical-align: middle;" | <center> {| style="border: none;" | — || '''PERUSAHAAN TAKSI''' || — |} <br /> <span style="font-size: 300%;">III</span><br /> <br /> <big>'''MODJOPAIT'''</big><br /> <hr style="width:40%; margin-left: auto; margin-right: 0;"/> <br /> DJL. BATU TULIS XIII/31<br /> TELP. GMBR 2525 & 2545 </center> |}<noinclude></noinclude> hniz0fazk8cffznhyhc3c62cl2mym3m 291259 291258 2026-05-10T15:35:52Z Sarieffe 26994 291259 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>untung Pral, karena menurut dokumen mereka kitapun telah masuk dalam rentjana buku hitam mereka. Sedang mereka sudah banjak membuat korban teman² kita tentara lainnja jang kurang teliti terhadapnja. Dan aku berterima kasih kepadamu atas ketjerdikanmu itu hingga dapat membongkar rahasia ini dan telah dapat menjelamatkan kita semuanja, udjar Sersan Sutedjo kepada kopral Sanusi. Itu semuanja adalah kewadjiban kita. Dan kedudukan soal ini semuanja dapat kupeladjari dari tjeritera Sudarmi, ditambah dengan keadaan didalam rumah itu dan kepergian Pak Hardjo dengan Sudarmi setiap malam Djum'at dan kami gabungkan dengan kedjadian², demikian kopral Sanusi memberikan pendjelasan pula. Setelah terbongkarnja rahasia didepan pos itu, maka masjarakat sekitarnja tidak lagi digelisahkan oleh hantu pentjekek leher manusia, jang sebenarnja ini hanja bikinan manusia² jang tidak bertanggung djawab. Kedjadian ini mendjadi peladjaran bagi Sersan Sutedjo, agar djangan begitu gampang mengeluarkan isi hatinja terhadap wanita didaerah sematjam itu, dengan tidak mengadakan penjelidikan² terlebih dahulu. Kini Sersan Sutedjo tahulah, bahwa kemurahan hati Sudarmi itu hanja sebagai pantjingan belaka. '''Rapat Panglima ...................''' <center>(Samb. hal : 35)</center> soal membasmi korupsi, penjelundupan, aksi² subversief dll. kegiatan jang merugikan. Achirnja sebagai penutup rapat para panglima jang penting kali ini oleh P.J.M. Panglima tertinggi disampaikan pula amanatnja jang memakan waktu selama setengah djam dengan 2749 perkataan. Pada pokoknja amanat itu berisikan sbb. : <ol type="a"> <li>segala keputusan² jang telah didjatuhkan harus dilaksanakan sebagai sikap semestinja dari seorang pradjurit.</li> <li>ketaatan kepada atasan adalah sjarat untuk meminta ketaatan bawahan.</li></ol> Djiuga dinjatakan oleh P.J.M. Tertinggi bahwa beliau akan mengusahakan kepada Pemerintah jang akan datang untuk tertjapainja ber-matjam² keinginan jang timbul di daerah² dan disalurkan melalui Penguasa² Militer. Sekian pandangan sekilas lintas tentang rapat panglima jang banjak menarik perhatian dalam keadaan perkembangan² baru di negara kita. ---- {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" | colspan="2" style="border: 2px solid black; padding: 10px; text-align: center;" | <big>'''PASANGLAH'''</big><br /> <big>'''IKLAN TUAN DALAM MADJALAH'''</big><br /> <big>'''ANGKATAN DARAT — PASTI BERHASIL !'''</big> |- | style="width:50%; border: 1px solid black; padding: 10px; vertical-align: top;" | <center> PERUSAHAAN PIALA — PIALA<br /> MERK<br /> <span style="font-size: 200%; font-family: cursive;">t. k. f.</span><br /> Djalan: ASEM LAMA No. 178.<br /> Tel. 587 Gmb.<br /> '''DJAKARTA.'''<br /> '''Pemilik : TJOENG KHIN NGIAN.''' </center> <hr style="width:80%"/> <center> Alamat satu2-nja untuk<br /> '''TANDA PANGKAT DAN LENTJANA JANG'''<br /> '''DIBUAT DENGAN RAPIH DAN TJEPAT,'''<br /> '''JAITU :'''<br /> <big>'''PABRIK LOGAM'''</big><br /> '''BEGEER, VAN KEMPEN & VON'''<br /> PETODJO UDIK 34<br /> '''DJAKARTA.''' </center> | style="width:50%; border: 1px solid black; padding: 10px; vertical-align: middle;" | <center> {| style="border: none;" | — || '''PERUSAHAAN TAKSI''' || — |} <br /> <span style="font-size: 300%;">III</span><br /> <br /> <big>'''MODJOPAIT'''</big><br /> <hr style="width:40%; margin-left: auto; margin-right: 0;"/> <br /> DJL. BATU TULIS XIII/31<br /> TELP. GMBR 2525 & 2545 </center> |}<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude> 6mszrnkg6v099z04ua2jmfpi589ccpc Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/233 104 103389 292000 290744 2026-05-11T11:22:07Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 292000 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{C|: 13}}</noinclude>perhatian para peminat sastra dan sarjana sastra tentang sumbangannya yang besar dalam bidang novel. Sebagai seorang pemuda yang hidup di tengah-tengah percikan polemik agama di Pulau Pinang sedikit sebanyaknya Ahmad Talu menerima juga pengaruh-pengaruh ajaran modernisme Sayed Sheikh itu. Dalam novel sulungnya yang berjudul {{u|Kawan Benar}} (1927) Ahmad Talu mempertengahkan watak-watak Melayu tulen, menimbulkan konflik-konflik masyarakat Melayu yang berlatarbelakangkan kota dan desa tanahairnya sendiri. Dasar cerita dalam novelnya adalah sama seperti {{u|Hikayat Faridah Janum}} namun begitu pengarang pada akhirnya tidak lengah-lengah menonjolkan ide nasionalismenya dengan menjadikan watak utama, Abdul Bar, sedar akan tanggungjawabnya terhadap bangsa dan keluarganya sendiri. Sungguhpun dikala itu ibu bapa Melayu yang berpaham tua melarang anak-anak mereka khasnya, anak-anak perempuan dari membaga buku-buku roman yang dianggap bisa merusakkan moral anak-anak gadis namun begitu kita melihat bahwa kesan yang ditinggalkan dari karya-karya sastra itu masih kuat dikalangan masyarakat Melayu diwaktu itu. Ini bisa kita lihat dari segi tebalnya novel-novel yang dihasilkan oleh pengarang-pengarang seperti Sayed Sheikh dan Ahmad bin A. Rashid Talu. Novel Ahmad yang kedua, {{u|Iakah Salmah?}} menelan 648 halaman, dan pada anggapan saya, inilah novel Ahmad yang terpenting sekali. Tema yang diutarakan oleh pengarang ialah kebebasan perempuan, yang sebelumnya cuma diusik-usik sana sini sahaja dalam HFH. Tapi Ahmad secara sedar memperguanakan watak utamanya, Salmah, untuk menyuarakan ide beliau yang modenis terhadap soal kebebasan perempuan, pelajaran dan juga pergaulan. Dalam suasana akhir tahun duapuluhan hingga meninggalnya Sayed Sheikh Al-Hadi kita dapati pergeseran antara Kaum Muda dengan Kaum Tua dalam soal agama masih kuat. Personalita Sayed Sheikh itu tidak bisa diganggu-gugat oleh pengarang-pengarang lain, dan dapat dikatakan Sayed Sheikh menguasai suasana pada waktu itu. Dengan demikian, karya-karya Ahmad Talu yang banyak membawa perubahan semangat, teknik serta isi dalam novel-novelnya tidak mendapat perhatian yang wajar dari kalangan masya-rakat Melayu dewasa itu. Tahun 30an menampakkan perubahan yang paling besar sekali. Akhbar-Akhbar dan majalah-majalah Melayu makin bertambah. Dari Tahun 1935-36 sahaja terdapat 25 buah akhbar dan majalah-majalah baru muncul di Tanah Melayu.<noinclude></noinclude> 33jazsjlydti59yxphvxkjm2vlfkf2j Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/513 104 103392 291781 290716 2026-05-11T06:34:46Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291781 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{u|MERAHNYA MERAH:}}<br> WAJAH LAIN ARI SEORANG CELANDANGAN Dani N. Toda<br> Fakultas Sastra Universitas Indonesia 0. Tanggal 1 Mei 1970, Iwan Simatupang membawakan ceramah berjudul {{u|Penjelajahan-penjelajahan di daerah perbatasan baru dari kesusastraan dan Ilmu-ilmu sosial pada umumnya}}, bertempat di IKIP Malang. Joramah ini menarik perhatian karena di sana Iwan menyatakan hal-hal seperti: a. Kesusastraan kita dewasa ini ditandai {{u|tidak adanya}} ketegasan di dalam gaya, tema, bahasa, tidak mempunyai kepribadian dalam arti bahwa tidak ndn keseragaman di dalamnya, gnya sekarang sangat bersifat pribadi. Berbeda dengan angkatan sebelumnya yang memiliki semacam keseragaman, seperti pilihan kata, idiom, gaya, sintaksis, onra menyusun kalimat, b. Kita harus mempunyai kesusastraan yang {{u|mempunyai arah.}} Sastra harus melibatkan diri (Iwan: "impact") dengan {{u|segala segi permasalahan masa kini}}, masyarakat kehidupan sehari-hari. Ijasah, thesis-thesis daripada sarjann sosial kita, tidak memberikan impact terhadap masyarakat. Apa yang mereka miliki hanyalah fosil-fosil kebudayaan anja. (Sic) Satu hal yang ingin saya catat dari ceramah tersebut ialah sikap dasar kepengarangan Iwan dalam kerja kreatif sastra: {{u|melihatkan diri}} dengan permasalahan masyarakat kini secara sadar dan tegas, baik tema maupun gaya. Mencipta kesusastraan yang mempunyai arah atau misi. Bagi saya, sikap Iwan sangat ambisius karena saya cenderung menyetujui pendapat Denis de Rougemont (dalam esainya: "Religion and The Mission of the Artist" (1957) "Bagi saya ucapan {{u|mission of art}} omong kosong bolaka begitu katanya. Dengan demikian slogan-slogan {{Right sidenote|Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}<noinclude>{{rh|31}}</noinclude> 92lbqkfjv330fyl4ligdh1sxjehfhg9 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/565 104 103399 291922 290772 2026-05-11T09:48:31Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291922 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|tanyaan|pertanyaan}}: dari manakah temrat leluhur bangsa mnerika Serikat yang berkulit putih itu? Dengan sendirinya a priori kita akan menjawab: dari Inggeris, karena mereka berbanasa Inggeris, sungguhpun mengenai kepastian kebenarannya masih diperlukan penyelidikan lebih lanjut lagi. Penduduk Amerika Serikat terdiri dari pelbagai bangsa Eropah: bangsa Inggeris, Ier, Jerman, Perancis, Belanda, Skandinavia, Itali yang kebetulan berbahasa serumpun, dan akhirnya bahasa Ingserislah yang Kemudian menjadi dominan di sana. Mungkinkah bangsa-bangsa kulit putih lainnya yang bukan bangsa Inggeris itu kcemudian berganti bahasa keluarga karena politik penjajahan Inggeris pada waktu itu dulu? Ataukah karona sebab-sebab lain misalnya: karena pengaruh kebudayaan, perdagangan, jumlah penduduk pemiliknya? Pengalaman sejarah membuktikan bahwa pertimbangan politik saja belum kuat dan menentukan. Kita ambilkan contoh, bangsa Gallia jaman dulu (sekarang Perancis), semula berbahasa Keltik 0a), kemudian berganti bahasa keluarga dengan bahasa yang dijajannya yaitu bahasa Latin/Romani Karena pengaruh kebudayaannya. Beberapa abad Kemudian, datang lagi di tempat itu penjajah baru yaitu bangsa Perancis dari Sali, yang akhirnya bangsa inipun berganti bahasa keluarga pula dengan bahasa Latin/Romani tersebut, bahasa yang dijajahnya, karena kebudayaan bangsa terjajah lebih maju, jumlah penduduknyapun lebih besar, Mereka lambat laun larut dalam perkawinan-perkawinan campuran dengan penduduk terjajannya, dan anak cucu mereka inilah yang menjadi besar dan dewasa tumbuh berkembang dalam asuhan bahasa Latin/Romani. Mereka inilah yang mula-mula mengalami pergantian bahasa keluarga jika dipandang dari sudut penjajah. Demikianlah maka bahasa penjajahpun dapat pula tenggelam musnah justeru di wilayah jajahannya sondiri, seperti juga halnya yang dialami oleh bahasa Gotani di Sepanyol, Normandi di {{hws|Nor|Normandia}}<noinclude>{{rh|||31 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> pj6l6e41niorxuh25zydejrjvafsywh Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/438 104 103400 291559 290760 2026-05-11T02:56:18Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291559 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{left|20}} {{C|I}}</noinclude>#Hasil analisa terhadap jawaban kwesioner kepada 1369 murid SMP kelas I dan 1185 murid kelas III SMP di Jakarta memberikan petunjuk bahwa ketrampilan mereka menggunakan kalimat yang dianggap standar di bawah 50% #Hasil analisa terhadap jawaban kwesioner kepada 62 guru SMP di Jakarta memberikan petunjuk bahwa (1) wawasan guru terhadap bahasa dan sastra Indonesia di bawah 50%, dan (2) metodik yang dipergunakan mereka cenderung berorientasi kepada mengajarkan kaidah atau pengetahuan tata bahasa. #Hasil analisa terhadap 13 soal ujian Bahasa Indonesia untuk SMP tahun 1950, (2 buah), 1951, 1952 (2 buah), 1953, 1954 (4 buah), 1958, 1959 dan 1960, memberikan petunjuk, bahwa tujuan pengajaran Bahasa Indonesia lebih cenderung mengembangkan pengetahuan bahasa anak didik, seperti tampak pada perbandingan berikut:<br>{{tab}}pengetahuan bahasa: pemakaian = 256 + 124<br>{{tab}}tata bahasa{{tab}}{{gap}}{{tab}}: pemakaian = 111 + 124 (lihat lampiran 3 #Sekalipun belum lengkap dan mendalam analisa yang dilakukan, namun keseluruhan data tersebut telah cukup memperingatkan, bahwa metodik mengajar bahasa Indonesia di SMP perlu ditinjau kembali, dan tujuan pengajaran Bahasa Indonesia perlu diidentifikasikan lebih jelas. #Dan kertas kerja ini sedapatnya akan menawarkan beberapa pokok pikiran (yang sebenarnya bukan masalah baru) tentang kedua masalah tersebut dengan urutan seperti terlihat pada bagian II.<noinclude></noinclude> 54bpi4ippp1j74nyzgyrt2yivw0ox1d Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/449 104 103401 291707 290764 2026-05-11T05:51:52Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291707 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|31}}</noinclude>pembinaan pengetahuan kaidah bahasa dari pada pemakaian bahasa. <ol type="1" start="6"> <li> Apabila dibenarkan anggapan, bahwa pengajaran bahasa Indonesia di S.M.P. lebih mengutamakan pengembangan ketrampilan menggunakan bahasa, maka gambaran kecenderungan seperti disimpulkan pada nomor 5 di atas seyogyanya mendapat perhatian yang serius apabila dikehendaki berkurangnya "korban-korban" anak didik karena pengajaran dan pelajaran bahasa Indonesia.</li> </ol> Semoga analisa ringkas ini dapat merangsang analisa lebih lengkap dan menyeluruh.<noinclude></noinclude> pstdhoya8pfqfpiukyr0t5qvxw5rvha Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/229 104 103404 291075 290791 2026-05-10T14:03:14Z Suga Widi 25678 Proses uji baca 291075 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Proses uji baca Nyonya janda Meyland yang ditinggalkan seorang diri dengan kekayaannya yang berlilmpah-limpah, mengajak dua orang keponakannya, seorang laki-laki dan seorang perempuan, untuk tinggal bersamanya, dengan maksud hendak mempertemukan keduanya supaya kemudian mereka dapat mewarisi hartanya. Tapi Hans Maasdonk -- demikian nama anak pungut lelaki -- tidak mau melepaskan pekerjaannya, meskipun ditawarkan oleh nyonya Meyland kehidupan yang mewah dan lebih-lebih lagi ia tidak mau dipasangkan dengan stella Meyland, karena takut disangka menghendaki warisannya. "Bagaimanapun tulusnya dan sucinya perasaan saya padanya, tentulah ia akan menyangka, bahasa cinta saya hanya mencintakan pusaka yang bukan sedikit itu", demikian katanya (hal.72). Tapi setelah mereka berkenalan lebih rapat, mereka saling jatuh cinta. Dalam tubuh stella yang molek itu, Hans menemukan perasaan yang halus, kemanusiaan yang tinggi. Dan sebaliknya Stellapun melihat pada Hans sifat-sifat yang terpuji. Namun tatkala Stella ditanyai oleh Nyonya Meyland, apakah ia mau kawin dengan Hans, Stella menjawab: "Saya amat menghargakan Hans subagai sahabat dan kalau adatkalak niatku hendak bersuami, tentulah gaya tak akan memilih Hans, sebab tak dapat tiada persangkaannya saya mengharapkan hartanya" (hal.73). Kedua pihak b:rtahan dalam keangkuhan dan kehormatan dirinya. Untuk melepaskan diri dari Nyonya Meyland, Hans kemudian mencari pee | kerjaan lagi ian tinzgal ditempat lain. Pada suatu hari tiba-tiba muncul Harman, anak Janda yang dikira ” telah mati karam dan kembalinya ini berarti warisan kembali kepadanya Sebagai pewaris yang sah. Stella merasa terlepas dari beban dan tar bukalah jalan untuk dalam segala kemerdekaan mengikat perkawinan dee ngan Herman, | | Agaknya yang Sai oleh Sandah Alim dalam dika orang Pi ini, ialah ketegasan mereka mempertahankan harga diri. | "Pusaka Matnaknya" memperlihatkan satu sudut lain dari adat isti- adat yang begitu diremehkan oleh angkatan muda Sebelum perang. Mamak yang membulanjai kemenakannya sekolah hingga menjadi manusia" dan dengan penuh kerelaan memberikan harta bendanya, oleh kemenakannya itu ditoliR”"pembsrian'nya. yang berupa. anak gadisnya. Tapi setelah gadis itu memperlihatkan harga dirinya, maka berobahlah pandangan Chae 4rul terhadap "pusaka! pduannya itu, yang dalam pada itu telah mening- gal dunia,<noinclude></noinclude> etdnkjkkmmgxmqdxku2129q2gu4z6nl 291246 291075 2026-05-10T15:27:56Z Suga Widi 25678 /* Telah diuji baca */ 291246 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" />{{C|12}}</noinclude>Nyonya janda Meyland yang ditinggalkan seorang diri dengan kekayaannya yang berlilmpah-limpah, mengajak dua orang keponakannya, seorang laki-laki dan seorang perempuan, untuk tinggal bersamanya, dengan maksud hendak mempertemukan keduanya supaya kemudian mereka dapat mewarisi hartanya. Tapi Hans Maasdonk -- demikian nama anak pungut lelaki -- tidak mau melepaskan pekerjaannya, meskipun ditawarkan oleh nyonya Meyland kehidupan yang mewah dan lebih-lebih lagi ia tidak mau dipasangkan dengan stella Meyland, karena takut disangka menghendaki warisannya. "Bagaimanapun tulusnya dan sucinya perasaan saya padanya, tentulah ia akan menyangka, bahasa cinta saya hanya mencintakan pusaka yang bukan sedikit itu", demikian katanya (hal.72). Tapi setelah mereka berkenalan lebih rapat, mereka saling jatuh cinta. Dalam tubuh stella yang molek itu, Hans menemukan perasaan yang halus, kemanusiaan yang tinggi. Dan sebaliknya Stellapun melihat pada Hans sifat-sifat yang terpuji. Namun tatkala Stella ditanyai oleh Nyonya Meyland, apakah ia mau kawin dengan Hans, Stella menjawab: "Saya amat menghargakan Hans subagai sahabat dan kalau adatkalak niatku hendak bersuami, tentulah gaya tak akan memilih Hans, sebab tak dapat tiada persangkaannya saya mengharapkan hartanya" (hal.73). Kedua pihak bertahan dalam keangkuhan dan kehormatan dirinya. Untuk melepaskan diri dari Nyonya Meyland, Hans kemudian mencari pekerjaan lagi dan tinggal ditempat lain. Pada suatu hari tiba-tiba muncul Harman, anak Janda yang dikira telah mati karam dan kembalinya ini berarti warisan kembali kepadanya sebagai pewaris yang sah. Stella merasa terlepas dari beban dan terbukalah jalan untuk dalam segala kemerdekaan mengikat perkawinan dengan Herman. Agaknya yang dikagumi oleh Sandah Alim dalam sikap orang Eropah ini, ialah ketegasan mereka mempertahankan harga diri. "Pusaka Mamaknya" memperlihatkan satu sudut lain dari adat istiadat yang begitu diremehkan oleh angkatan muda sebelum perang. Mamak yang membelanjai kemenakannya sekolah hingga menjadi "manusia" dan dengan penuh kerelaan memberikan harta bendanya, oleh kemenakannya itu ditolak ”pemberian"nya yang berupa anak gadisnya. Tapi setelah gadis itu memperlihatkan harga dirinya, maka berobahlah pandangan Chairul terhadap "pusaka" pamannya itu, yang dalam pada itu telah meninggal dunia.<noinclude></noinclude> 1sy6k2o8niiok2ly0qtlwu7w67xnhe9 291249 291246 2026-05-10T15:28:17Z Suga Widi 25678 291249 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" />{{C|9}}</noinclude>Nyonya janda Meyland yang ditinggalkan seorang diri dengan kekayaannya yang berlilmpah-limpah, mengajak dua orang keponakannya, seorang laki-laki dan seorang perempuan, untuk tinggal bersamanya, dengan maksud hendak mempertemukan keduanya supaya kemudian mereka dapat mewarisi hartanya. Tapi Hans Maasdonk -- demikian nama anak pungut lelaki -- tidak mau melepaskan pekerjaannya, meskipun ditawarkan oleh nyonya Meyland kehidupan yang mewah dan lebih-lebih lagi ia tidak mau dipasangkan dengan stella Meyland, karena takut disangka menghendaki warisannya. "Bagaimanapun tulusnya dan sucinya perasaan saya padanya, tentulah ia akan menyangka, bahasa cinta saya hanya mencintakan pusaka yang bukan sedikit itu", demikian katanya (hal.72). Tapi setelah mereka berkenalan lebih rapat, mereka saling jatuh cinta. Dalam tubuh stella yang molek itu, Hans menemukan perasaan yang halus, kemanusiaan yang tinggi. Dan sebaliknya Stellapun melihat pada Hans sifat-sifat yang terpuji. Namun tatkala Stella ditanyai oleh Nyonya Meyland, apakah ia mau kawin dengan Hans, Stella menjawab: "Saya amat menghargakan Hans subagai sahabat dan kalau adatkalak niatku hendak bersuami, tentulah gaya tak akan memilih Hans, sebab tak dapat tiada persangkaannya saya mengharapkan hartanya" (hal.73). Kedua pihak bertahan dalam keangkuhan dan kehormatan dirinya. Untuk melepaskan diri dari Nyonya Meyland, Hans kemudian mencari pekerjaan lagi dan tinggal ditempat lain. Pada suatu hari tiba-tiba muncul Harman, anak Janda yang dikira telah mati karam dan kembalinya ini berarti warisan kembali kepadanya sebagai pewaris yang sah. Stella merasa terlepas dari beban dan terbukalah jalan untuk dalam segala kemerdekaan mengikat perkawinan dengan Herman. Agaknya yang dikagumi oleh Sandah Alim dalam sikap orang Eropah ini, ialah ketegasan mereka mempertahankan harga diri. "Pusaka Mamaknya" memperlihatkan satu sudut lain dari adat istiadat yang begitu diremehkan oleh angkatan muda sebelum perang. Mamak yang membelanjai kemenakannya sekolah hingga menjadi "manusia" dan dengan penuh kerelaan memberikan harta bendanya, oleh kemenakannya itu ditolak ”pemberian"nya yang berupa anak gadisnya. Tapi setelah gadis itu memperlihatkan harga dirinya, maka berobahlah pandangan Chairul terhadap "pusaka" pamannya itu, yang dalam pada itu telah meninggal dunia.<noinclude></noinclude> joo9pdx4npomfx868dqu86k4cgfl363 291997 291249 2026-05-11T11:16:19Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291997 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{C|9}}</noinclude>Nyonya janda Meyland yang ditinggalkan seorang diri dengan kekayaannya yang berlilmpah-limpah, mengajak dua orang keponakannya, seorang laki-laki dan seorang perempuan, untuk tinggal bersamanya, dengan maksud hendak mempertemukan keduanya supaya kemudian mereka dapat mewarisi hartanya. Tapi Hans Maasdonk -- demikian nama anak pungut lelaki -- tidak mau melepaskan pekerjaannya, meskipun ditawarkan oleh nyonya Meyland kehidupan yang mewah dan lebih-lebih lagi ia tidak mau dipasangkan dengan stella Meyland, karena takut disangka menghendaki warisannya. "Bagaimanapun tulusnya dan sucinya perasaan saya padanya, tentulah ia akan menyangka, bahasa cinta saya hanya mencintakan pusaka yang bukan sedikit itu", demikian katanya (hal.72). Tapi setelah mereka berkenalan lebih rapat, mereka saling jatuh cinta. Dalam tubuh stella yang molek itu, Hans menemukan perasaan yang halus, kemanusiaan yang tinggi. Dan sebaliknya Stellapun melihat pada Hans sifat-sifat yang terpuji. Namun tatkala Stella ditanyai oleh Nyonya Meyland, apakah ia mau kawin dengan Hans, Stella menjawab: "Saya amat menghargakan Hans subagai sahabat dan kalau adatkalak niatku hendak bersuami, tentulah gaya tak akan memilih Hans, sebab tak dapat tiada persangkaannya saya mengharapkan hartanya" (hal.73). Kedua pihak bertahan dalam keangkuhan dan kehormatan dirinya. Untuk melepaskan diri dari Nyonya Meyland, Hans kemudian mencari pekerjaan lagi dan tinggal ditempat lain. Pada suatu hari tiba-tiba muncul Harman, anak Janda yang dikira telah mati karam dan kembalinya ini berarti warisan kembali kepadanya sebagai pewaris yang sah. Stella merasa terlepas dari beban dan terbukalah jalan untuk dalam segala kemerdekaan mengikat perkawinan dengan Herman. Agaknya yang dikagumi oleh Sandah Alim dalam sikap orang Eropah ini, ialah ketegasan mereka mempertahankan harga diri. "Pusaka Mamaknya" memperlihatkan satu sudut lain dari adat istiadat yang begitu diremehkan oleh angkatan muda sebelum perang. Mamak yang membelanjai kemenakannya sekolah hingga menjadi "manusia" dan dengan penuh kerelaan memberikan harta bendanya, oleh kemenakannya itu ditolak ”pemberian"nya yang berupa anak gadisnya. Tapi setelah gadis itu memperlihatkan harga dirinya, maka berobahlah pandangan Chairul terhadap "pusaka" pamannya itu, yang dalam pada itu telah meninggal dunia.<noinclude></noinclude> 6f6nthwpgbbute7g6aj9q2eu92isay2 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/309 104 103409 290803 290800 2026-05-10T12:00:17Z Wiwil13 20069 290803 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" />{{rh||47}}</noinclude>Gelanggang Remaja (Youth Center). Meski wujud idealnya belum terjengkau, tetapi kini nampak adanya kesinambungan dalam kegiatan apresiasi. Misalnya pementasan-pementasan drama, fragmen den pembacaan sajak, yang dilakukan tiap bulan oleh tunas-tunas muda. Kegiatan itu didukung oleh beberapa kelompok/grup, misalnya: {{u|Sanggar Teater Djakarta}}, {{u|Teater G.R. Djaktim}}, {{u|Teater Bulungan}}, {{u|Teater Remadja Djakarta}}, {{u|Teater Balai Pustaka}}, {{u|Teater Populer}} dan {{u|Teater Ketjil}}. {{rh|DISKUSI BAHASA}} Bertempat di Aula S.M.A. Sancta Ursula Djakarta, pada tanggal 10 dan 19 Oktober 1971 telah dilangsungkan Diskusi Bahasa, yang diprakarsai oleh Lembaga Bahasa Nasional (L.B.N.), I.A.I.N. Sjerif Hidajatullah dan Kantor Pembinaan Pendidikan Menengah Umum Pertama Djakarta Raya dan Tangerang. Pokok-pokok yang dibicarakan ialah: 1. "Tentang Mengarang dan Apresiasi Puisi di S.M.A. den S.M.P." oleh Drs. S. Effendi (L.B.N.) Prasaran ini ditanggapi oleh Drs. Bekran Jacob (I.A.I.N.) den Drs. Zeinnudin H. Idris (Kepala Kabin P.M.U.P.); 2. "Kata-kata Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia dengan beberapa gedjalanja" oleh Drs. Suderno (I.A.I.N.) Prasaran ini ditanggapi oleh Drs. Ramli Harun (L.B.N.) Diskusi telah mendapat perhatian cukup, khususnya dari para guru. Sehubungan dengan Diskusi telah diterbitkan (dalam bentuk stensilan) karya, Drs. S. Effendi: {{u|Bimbingan Apresiasi Puisi}}, yang pasti bermanfaat bagi para pengajar pada Sekolah Menengah. {{rh|PEKAN SENI KONTEMPORER 1971}} Dengan tema: "Menjadjiken pendjeladjahan dan pengungkapan seni jang peling berbitjara kepada angkatan muda", Pekan Seni Kontemporer 1971 telah dibuka oleh Ketua Dewan Kesenian Djakarta, Umar Kayam.<noinclude></noinclude> 9cna73lzkzbfrltez6v66twemci2i0t Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/378 104 103410 290822 290793 2026-05-10T12:10:53Z N.imaema 22481 290822 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="N.imaema" /></noinclude>{{missing image}} {{c|''Suatu Pasukan Gabungan sedang menjeberang sebuah sungat.''}} tu itu mendjadi menteri pepera- ngan sedang Suchet memimpin pasukan jang letaknja djauh da- ri medan pertempuran. Setelah selesai semua persia- pan?, mulai bergeraklah Napo- Jeon menudju ke-Charleroi_ un- tuk menjerang Blucher. Mes- kipun Sekutu tahu akan taktik jang akan dipergunakan lawan- nja, toch mereka masih belum siap untuk menangkis lawannja. Blucher pada tanggal 15 Djuni belum selesai dengan pengumpu- 16 lan pasukan‘nja. Terpaksa ia mengundurkan dahulu. Bahaja dalam pengunduran ini ialah, bah- wa ini akan menguntungkan Na- poleon. Sebab dengan demikian mereka tidak lagi dapat mengga- bungkan diri dengan pasukan? Wellington. Oleh karena_ itu Blucher terpaksa mengadakan perlawanan di Ligny pada tang- gal 16 Djuni, Pada hari itu ia hanja memimpin 3 korps jang kurang lebih berdjumlah 83.000 orang. Napoleon memerintahkan Ney untuk melindungi lambung kiri- nja dari serangan* Wellington dan djika hal ini tak terdjadi ma- ka dengan segara ia harus me- njerang lambung kanan Blucher. Napoleon sendiri, akan meng- gempur lawannja dari muka. Dengan _hantjurnja__ pasukan* Prusia, Wellington akan berdiri sendiri hingga lebih mudah me- ngalahkannja. Untuk keperlu- an itu, Ney diserahi_pimpinan pasukan sebesar 50.000 orang- Bahwa tugas Ney itu penting se- kali dapat dimerngerti djika di- ketahui, bahwa Kaisar berkata padanja: "Nasib Perantjis_bera- da ditanganmu”. Tetapi Napo- leon salah perhitungannja. Se- bab Blucher memberi perlawanan jang sengit sekali, sehingga Wel- lington sempat mengirimkan pa- sukan* ke-Quatre Bras untuk memperkuat kedudukan ditempat itu. Karena balabantuan terse- but, maka Ney tidak dapat me- ngirimkan pasukan jang_ telah direntjanakan semula untuk me- njerang lambung kanan Blucher. Mula? memang telah dikirimkan oleh Ney, Korps Erlon untuk membantu Napoleon, tetapi keti- ka pasukan* di Quatre Bras ber- tambah kuat balabantuan itu di- perintahkan kembali. Djadi kor- ps Erlon jang berdjumlah 30.000 orang itu selama pertempuran di—Ligny terdjadi hanja mon- dar - mandir sadja dengan tidak menembak sekalipun. Karena Napoleon menghenda- ki hantjurnja pasukan? Prusia, maka ia terpaksa memperguna- kan tjadangannja. Achirnja de- ngan serbuan dari muka Napo- leon dapat djuga mematahkan perlawanan lawannja- Tetapi ia tidak berhasil menghantjurkan Blucher jang hanja menderita ke- rugian sebanjak 12.000 orang. Tetapi Perantjispun harus mem. bajar kemenangannja dengar 8.000 djiwa. Meskipun Napo. leon mendapat kemenangan di Ligny, kemenangannja itu ku- rang daripada jang di-idam?kan Bahkan Ney menderita kekalah- an dengan kerugian 4.300 orang Pasukan? Prusia dapat mengun- durkan diri kearah Wavre, se. bab Blucher tidak mau mening.<noinclude></noinclude> lbfft251lw0fqw5ek5027qzg7e2b508 290835 290822 2026-05-10T12:24:21Z N.imaema 22481 /* Telah diuji baca */ 290835 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="N.imaema" /></noinclude>{{missing image}} {{c|''Suatu Pasukan Gabungan sedang menjeberang sebuah sungat.''}} {{hwe|tu|waktu}} itu mendjadi menteri peperangan sedang Suchet memimpin pasukan jang letaknja djauh dari medan pertempuran. Setelah selesai semua persiapan<sup>2</sup>, mulai bergeraklah Napoleon menudju ke-Charleroi untuk menjerang Blucher. Meskipun Sekutu tahu akan taktik jang akan dipergunakan lawannja, toch mereka masih belum siap untuk menangkis lawannja. Blucher pada tanggal 15 Djuni belum selesai dengan pengumpulan pasukan<sup>2</sup>nja. Terpaksa ia mengundurkan dahulu. Bahaja dalam pengunduran ini ialah, bahwa ini akan menguntungkan Napoleon. Sebab dengan demikian mereka tidak lagi dapat menggabungkan diri dengan pasukan<sup>2</sup> Wellington. Oleh karena itu Blucher terpaksa mengadakan perlawanan di Ligny pada tanggal 16 Djuni, Pada hari itu ia hanja memimpin 3 korps jang kurang lebih berdjumlah 83.000 orang. Napoleon memerintahkan Ney untuk melindungi lambung kirinja dari serangan<sup>2</sup> Wellington dan djika hal ini tak terdjadi maka dengan segara ia harus menjerang lambung kanan Blucher. Napoleon sendiri, akan menggempur lawannja dari muka. Dengan hantjurnja pasukan<sup>2</sup> Prusia, Wellington akan berdiri sendiri hingga lebih mudah mengalahkannja. Untuk keperluan itu, Ney diserahi pimpinan pasukan sebesar 50.000 orang. Bahwa tugas Ney itu penting sekali dapat dimerngerti djika diketahui, bahwa Kaisar berkata padanja: "Nasib Perantjis berada ditanganmu”. Tetapi Napoleon salah perhitungannja. Sebab Blucher memberi perlawanan jang sengit sekali, sehingga Wellington sempat mengirimkan pasukan<sup>2</sup> ke-Quatre Bras untuk memperkuat kedudukan ditempat itu. Karena balabantuan tersebut, maka Ney tidak dapat mengirimkan pasukan jang telah direntjanakan semula untuk menjerang lambung kanan Blucher. Mula<sup>2</sup> memang telah dikirimkan oleh Ney, Korps Erlon untuk membantu Napoleon, tetapi ketika pasukan<sup>2</sup> di Quatre Bras bertambah kuat balabantuan itu diperintahkan kembali. Djadi korps Erlon jang berdjumlah 30.000 orang itu selama pertempuran di—Ligny terdjadi hanja mondar - mandir sadja dengan tidak menembak sekalipun. Karena Napoleon menghendaki hantjurnja pasukan<sup>2</sup> Prusia, maka ia terpaksa mempergunakan tjadangannja. Achirnja dengan serbuan dari muka Napoleon dapat djuga mematahkan perlawanan lawannja. Tetapi ia tidak berhasil menghantjurkan Blucher jang hanja menderita kerugian sebanjak 12.000 orang. Tetapi Perantjispun harus membajar kemenangannja dengar 8.000 djiwa. Meskipun Napo. leon mendapat kemenangan di Ligny, kemenangannja itu kurang daripada jang di-idam<sup>2</sup>kan Bahkan Ney menderita kekalahan dengan kerugian 4.300 orang Pasukan<sup>2</sup> Prusia dapat mengundurkan diri kearah Wavre, sebab Blucher tidak mau {{hws|mening|meninggakan}}<noinclude></noinclude> n5lw5oxzzpat9dku7hnomc8k0x1cmfv Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/552 104 103411 290843 290794 2026-05-10T12:29:04Z N.imaema 22481 /* Telah diuji baca */ 290843 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="N.imaema" /></noinclude>{{missing image}} ''Putra Prestden Soekarno, Moch Guntur jang turut mengundjungi objek<sup>2</sup> Militer di Priangan Timur telah diperkenalkan dengan Kmd Bn 304 Major Sudiiono.'' Kompi, jang kebetulan kmd.nja sedang bepergian dan sebagai pernah saja singgung djabatan wakil Kmd. Ki jang tetap di Tentara kita belum ada jang sebetulnja sangat penting dan perlu. Ba Pelatih Ki ada pada waktu itu, pangkatnja Sersan Major. Saja selaku atasannja bertanja tentang gerakan<sup>2</sup> patroli jang sudah dan sedang dilakukan oleh Pn<sup>2</sup> dari Kompi tersebut pada hari itu, ia sama sekali tak dapat mendjawab dengan tegas dan tepat. Ini salah satu tjontoh sadja dari kekurangan<sup>2</sup> jang ada padanja. Persoalannja sekarang adalah ditangan kita sendiri. Mulai dari Kmd Pn, Kmd. Ki dan atasan lainnja harus dapat mendidik dan meninggikan ketjakapan Ba<sup>2</sup> Pelatih {{missing image}} ''Gbr. tengah :''<br> ''Sampai ditempat Markas<sup>2</sup> Kompi jang terpentjil djaukpun, Presiden/Plm Tertinggi mengundjunginja.'' ''Gbr. kiri bawah :''<br> ''Pak Karno mengundjungi S.R. Persit Bn Kudjang I. "Gambar siapa jang memakai pita ini?” Kata beliau dan seorang murid mendjawab "Gambar saja”.'' ''Gbr. kanan bawah :''<br> ''Plm Tertinggi dan Plm T & T-III, Kol. Kosasih sedang memeriksa bilik salah seorang Bentara di Asrama Bn 304.'' {{missing image}} {{missing image}}<noinclude>{{rh|18}}</noinclude> sqny4mztvapv4pgmn25zyaumft8bb21 290886 290843 2026-05-10T13:00:23Z N.imaema 22481 290886 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="N.imaema" /></noinclude>{{missing image}} <small>''Putra Prestden Soekarno, Moch Guntur jang turut mengundjungi objek<sup>2</sup> Militer di Priangan Timur telah diperkenalkan dengan Kmd Bn 304 Major Sudiiono.''</small> Kompi, jang kebetulan kmd.nja sedang bepergian dan sebagai pernah saja singgung djabatan wakil Kmd. Ki jang tetap di Tentara kita belum ada jang sebetulnja sangat penting dan perlu. Ba Pelatih Ki ada pada waktu itu, pangkatnja Sersan Major. Saja selaku atasannja bertanja tentang gerakan<sup>2</sup> patroli jang sudah dan sedang dilakukan oleh Pn<sup>2</sup> dari Kompi tersebut pada hari itu, ia sama sekali tak dapat mendjawab dengan tegas dan tepat. Ini salah satu tjontoh sadja dari kekurangan<sup>2</sup> jang ada padanja. Persoalannja sekarang adalah ditangan kita sendiri. Mulai dari Kmd Pn, Kmd. Ki dan atasan lainnja harus dapat mendidik dan meninggikan ketjakapan Ba<sup>2</sup> Pelatih {{missing image}} <small>''Gbr. tengah :''<br> ''Sampai ditempat Markas<sup>2</sup> Kompi jang terpentjil djaukpun, Presiden/Plm Tertinggi mengundjunginja.''</small> <small>''Gbr. kiri bawah :''<br> ''Pak Karno mengundjungi S.R. Persit Bn Kudjang I. "Gambar siapa jang memakai pita ini?” Kata beliau dan seorang murid mendjawab "Gambar saja”.''</small> <small>''Gbr. kanan bawah :''<br> ''Plm Tertinggi dan Plm T & T-III, Kol. Kosasih sedang memeriksa bilik salah seorang Bentara di Asrama Bn 304.''</small> {{missing image}} {{missing image}}<noinclude>{{rh|18}}</noinclude> o6tp9mrde9tzjq5e3otoygvjkf6w20v Halaman:SAIND (2020).webm/ 01:58 104 103413 290802 2026-05-10T12:00:10Z Thalasshopile 26684 /* Telah diuji baca */ 290802 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thalasshopile" /></noinclude>{{ft/d| {{Trans|Selvan|Ak... Ak...aku Aku bahkan tidak bisa melihatmu pergi dari dunia ini}}}}<noinclude></noinclude> r70gzcw3589v9x6wlnaw95y9b6273rw Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/310 104 103414 290804 2026-05-10T12:00:37Z Wiwil13 20069 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'sedang diuji baca' 290804 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Wiwil13" /></noinclude>sedang diuji baca<noinclude></noinclude> l2hc2d5cvsaxq6aeu6c8rqp2wihqm7y 291398 290804 2026-05-10T23:33:21Z Wiwil13 20069 /* Telah diuji baca */ 291398 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" />{{rh||48}}</noinclude>Pekan ini berlangsung dari tanggal 20 sampai 25 Desember 1971 di Taman Ismail Marzuki Djakarta, meliputi kegiatan pameren (design, batik dan buku), pementasan (drama, tari, lenong dan musik) serta diskusi (design dan film). Juga diadakan Lomba Membaca Prosa untuk Pelajar Sekolah Lanjutan. Pada upacara penutupan, Umar Kayam mengatakan bahwa kegiatan Pekan Seni Kontemporer tersebut merupakan barometer dari kecenderungan masyarakat terhadap seni kontemporer yang ditawarkan kepedenya, disamping seni tradisionil (yang diadakan pula oleh D.K.D. pada kesempatan yang lain). Untuk tahun depan, kegiatan Pekan Seni akan lebih menitik-beratkan peda kreatifitas angkatan muda. {{rh|PEMBINAAN BAHASA INDONESIA MELALUI T.V.R.I.}} Sejak tenggel 4 Oktober 1971 Lembaga Balasa Nasional (L.B.N.) mengisi acara "Pembinaan Bahasa Indonesia" pada T.V.R.I. Acara tiap hari Senin, jam 19.00, selama 30 menit ini diasuh oleh Bidang Bahasa Indonesia L.B.N., dibawakan oleh adr. Lukman Hakim. Pembinaan Bahasa Indonesia disamping menjajagi masalah pemakaian bahasa Indonesia pada berbagai bidang, juga menampung pertanyaan, saran/kritik dari masyarakat. Sambutan terhadap siaren ini cukup luas dan beragam. Kritik-kritik membengun telah diterima dengan baik. Dan pengasuh selalu berusaha mencari bentuk sebaik-baiknya untuk siaran yang disajikan. {{rh|TULISAN DALAM EJAAN BARU}} "Sekalipun penggunaan edjean behasa Indonesia jang baru masih belum diwudjudkan dari tingkatan gagasannja, akan tetapi beberapa tjendekiawan baru2 ini telah menggunakannja dalam tulisan-tulisan ilmijah dengan mana mereka telah membuktikan mungkinnja penggunaan edjaan tersebut pada tingkat ilmu pengetahuan.<noinclude></noinclude> 5w8zewttvffafx36akjin9342sna6y9 291400 291398 2026-05-10T23:35:50Z Wiwil13 20069 291400 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" />{{rh||48}}</noinclude>Pekan ini berlangsung dari tanggal 20 sampai 25 Desember 1971 di Taman Ismail Marzuki Djakarta, meliputi kegiatan pameran (design, batik dan buku), pementasan (drama, tari, lenong dan musik) serta diskusi (design dan film). Juga diadakan Lomba Membaca Prosa untuk Pelajar Sekolah Lanjutan. Pada upacara penutupan, Umar Kayam mengatakan bahwa kegiatan Pekan Seni Kontemporer tersebut merupakan barometer dari kecenderungan masyarakat terhadap seni kontemporer yang ditawarkan kepadanya, disamping seni tradisionil (yang diadakan pula oleh D.K.D. pada kesempatan yang lain). Untuk tahun depan, kegiatan Pekan Seni akan lebih menitik-beratkan pada kreatifitas angkatan muda. {{rh|PEMBINAAN BAHASA INDONESIA MELALUI T.V.R.I.}} Sejak tanggal 4 Oktober 1971 Lembaga Balasa Nasional (L.B.N.) mengisi acara "Pembinaan Bahasa Indonesia" pada T.V.R.I. Acara tiap hari Senin, jam 19.00, selama 30 menit ini diasuh oleh Bidang Bahasa Indonesia L.B.N., dibawakan oleh adr. Lukman Hakim. Pembinaan Bahasa Indonesia disamping menjajagi masalah pemakaian bahasa Indonesia pada berbagai bidang, juga menampung pertanyaan, saran/kritik dari masyarakat. Sambutan terhadap siaran ini cukup luas dan beragam. Kritik-kritik membangun telah diterima dengan baik. Dan pengasuh selalu berusaha mencari bentuk sebaik-baiknya untuk siaran yang disajikan. {{rh|TULISAN DALAM EJAAN BARU}} "Sekalipun penggunaan edjaan bahasa Indonesia jang baru masih belum diwudjudkan dari tingkatan gagasannja, akan tetapi beberapa tjendekiawan baru2 ini telah menggunakannja dalam tulisan-tulisan ilmijah dengan mana mereka telah membuktikan mungkinnja penggunaan edjaan tersebut pada tingkat ilmu pengetahuan.<noinclude></noinclude> 670eu1pa7airiw542fkrq2xqyedull3 Halaman:SAIND (2020).webm/02:20 104 103415 290812 2026-05-10T12:06:05Z Thalasshopile 26684 /* Telah diuji baca */ 290812 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thalasshopile" /></noinclude>{{ft/i| Menampilkan berita}}<noinclude></noinclude> im062cl1uuonamoqhepvdp45h573b2n Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/515 104 103416 290814 2026-05-10T12:06:34Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '1. Dari judulnya: erahnya ferah, berbunyi puitis; kedengarannya simbolik. Beginilah Iwan membuka ceritanya: Sebelum revolusi, dia enlon rnhib. Selama revolusi, din ko- mandan kompi. Di akhir revolusi, din algojo pemancung kepala pengkhianat pengkhianat yang tertangkap. 3esudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa. Kini, revolusi telah selesai. To- lah lama, kata sebagian orang. Ah! barangkali juga tak sole- sai-selesai. Dia tak tahu. Rumah sakit... 290814 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>1. Dari judulnya: erahnya ferah, berbunyi puitis; kedengarannya simbolik. Beginilah Iwan membuka ceritanya: Sebelum revolusi, dia enlon rnhib. Selama revolusi, din ko- mandan kompi. Di akhir revolusi, din algojo pemancung kepala pengkhianat pengkhianat yang tertangkap. 3esudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa. Kini, revolusi telah selesai. To- lah lama, kata sebagian orang. Ah! barangkali juga tak sole- sai-selesai. Dia tak tahu. Rumah sakit jiwa tolah pula di- tinggalkannya. Dia bukan rahib. Gereja tnk pernah dimasuki- nya lagi. Terdaftar di departemen urusan veteran, dia tak tegn pula. Dia tak tahu apa sebenarnya din kini. Din hanya tahu, di mana dia. Yaitu, di sepanjang jalan raya. Menurut istilah resmi departemen angkatan kepolisian dan departemen urusan sosial, din orang gelandangan. (Norahnya Morah: 7) Itulah tokoh kita (tokoh pusat novel ini), dalam jalinan hidupnya yang kompleks bersua tokoh lain: Maria, Fifi. Torjalin kisah segi- tiga antara mereka, berupa hubungan cinta dan cemburu yang berujung pada tragedi. Dalam akhir cerita: Fifi, Tokoh kitn, Pak Centeng (se- orang tokoh yang dilibatkan kemudian sebagai tokoh samping) mnti. Maria mengasingkan diri ke dalam biara, lari dari deretan frustrasi dan run tun malang untuk menangisi dosa-dosanya dengan menjadi biara- wati. Dalam sorot balik (flash back), tokoh karia dikenal sebagai bokas perawat, gagal cita-cita karena tak tahan melihat darah. Asal- nya dari suatu tempat di Indonesia Timur, perawakan hitam, keriting, besar tapi berwibawa dan memiliki daya tarik seksuil tersendiri. Be- kerja pada sebuah pastoran dan di situ diperkosa oleh orang yang tak dikenal, yang menyergapnya dari belakang. Tak lama sesudah perkosann Maria, pastor secara misterius kedapatan mati gantung diri. Maria menjadi takut. Setelah anak haram terlahir, ditinggalkannya rumah. bersalin. Maria melarikan diri ke pulau Jawa. Dan Fifi? Endis cantik, 14 tahun. Keluarganya di desa dibunuh gerombolan. In sendiri dipericosa, lalu larilah in ke kota, sebatang kara. Dalam pu- sara inilah faso-fase tragedi berikutnya bortumbuh, lalu menciut. 33 Bahs. Kesusast., V(2), 1973 Digitized by Google<noinclude></noinclude> 4e32nbxd5owx9vbaxefxfwaxtgp84ai 290825 290814 2026-05-10T12:14:23Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 290825 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>{{ol|Dari judulnya: <u>Merahnya Merah</u>, berbunyi puitis; kedengarannya simbolik. Beginilah Iwan membuka ceritanya:}} Sebelum revolusi, dia calon rohib. Selama revolusi, dia komandan kompi. Di akhir revolusi, din algojo pemancung kepala pengkhianat-pengkhianat yang tertangkap. Sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa. Kini, revolusi telah selesai. Telah lama, kata sebagian orang. Ah! barangkali juga tak selesai-selesai. Dia tak tahu. Rumah sakit jiwa telah pula ditinggalkannya. Dia bukan rahib. Gereja tnk pernah dimasukinya lagi. Terdaftar di departemen urusan veteran, dia tak tega pula. Dia tak tahu apa sebenarnya dia kini. Dia hanya tahu, di mana dia. Yaitu, di sepanjang jalan raya. Menurut istilah resmi departemen angkatan kepolisian dan departemen urusan sosial, din orang gelandangan. {{right|(Merahnya Merah: 7)}} Itulah <u>tokoh kita</u> (tokoh pusat novel ini), dalam jalinan hidupnya yang kompleks bersua tokoh lain: Maria, Fifi. Terjalin kisah segitiga antara mereka, berupa hubungan cinta dan cemburu yang berujung pada tragedi. Dalam akhir cerita: Fifi, Tokoh kita, Pak Centeng (seorang tokoh yang dilibatkan kemudian sebagai tokoh samping) mati. Maria mengasingkan diri ke dalam biara, lari dari deretan frustrasi dan runtun malang untuk menangisi dosa-dosanya dengan menjadi biarawati. Dalam sorot balik (flash back), tokoh Maria dikenal sebagai bekas perawat, gagal cita-cita karena tak tahan melihat darah. Asalnya dari suatu tempat di Indonesia Timur, perawakan hitam, keriting, besar tapi berwibawa dan memiliki daya tarik seksuil tersendiri. Bekerja pada sebuah pastoran dan di situ diperkosa oleh orang yang tak dikenal, yang menyergapnya dari belakang. Tak lama sesudah perkosaan Maria, pastor secara misterius kedapatan mati gantung diri. Maria menjadi takut. Setelah anak haram terlahir, ditinggalkannya rumah. bersalin. Maria melarikan diri ke pulau Jawa. Dan <u>Fifi</u>? Dia seorang gadis cantik, 14 tahun. Keluarganya di desa dibunuh gerombolan. Ia sendiri diperkosa, lalu larilah ia ke kota, sebatang kara. Dalam pusara inilah fase-fase tragedi berikutnya bertumbuh, lalu menciut.<noinclude>{{rh|33||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> t68gsij7lvhg2b5wwpfl9xu81mdehyi Halaman:SAIND (2020).webm/d 02:24 104 103417 290820 2026-05-10T12:09:06Z Thalasshopile 26684 /* Telah diuji baca */ 290820 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thalasshopile" /></noinclude>{{ft/d| {{Trans|Selvan|Kok kasusnya makin meningkat sih}}}}<noinclude></noinclude> kw0b0howh17hgwkynbp08assgjwftm7 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/425 104 103418 290821 2026-05-10T12:09:32Z N.imaema 22481 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Alat dan alat telemetry dalam satelit tu dapat dibuat untuk mengumpulkan dan mengrimkan 4 matjam keterang- an: Suhu tentang ruang projektil, suhu dalam, erosi abu kosmis, dan jatatan tjahaja kosmis. Tetapi karena di Port Arthur ti- dak terdapat peralatan? jang mentjukupi kerugian? tersebut membahajakan djuga kekuatan armada Rusia. Perang Djepang—Rusia jang dimulai dengan serangan laksa- mana Togo atas Port Arthur di- achiri dengan pertempuran... 290821 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="N.imaema" /></noinclude>Alat dan alat telemetry dalam satelit tu dapat dibuat untuk mengumpulkan dan mengrimkan 4 matjam keterang- an: Suhu tentang ruang projektil, suhu dalam, erosi abu kosmis, dan jatatan tjahaja kosmis. Tetapi karena di Port Arthur ti- dak terdapat peralatan? jang mentjukupi kerugian? tersebut membahajakan djuga kekuatan armada Rusia. Perang Djepang—Rusia jang dimulai dengan serangan laksa- mana Togo atas Port Arthur di- achiri dengan pertempuran di Mukden, Meskipun di Mukden ini tidak terdjadi suatu keme- nangan jang sempurna, pepera- ngan sampai pada saat achirnja. Ini disebabkan karena Djepang dapat memaksa Rusi minta damai. Tetapi kan karena sebetulnja duanja sudah tidak sanggup lagi untuk melandjutkan peperangan Pada permulaan peperangan sampai habis Djepang boleh di- kata selalu mendjadi pihak penje- rang. Djepang mempunjai ren- tjana sebagai berikut. Pertama? Korea harus diduduki sama se- kali, kedua pangkalan Rusia di Port Arthur harus dikuasai dan ketiga kekuatan bersendjata Ru- sia di Mantjuria harus dihantjur- kan. Tugas pertama diserahkan kepada Kuroki sebagai pangli- ma Tentara ke-1, tugas kedua dilaksanakan oleh Oku sebagai panglima Tentara ke-2, sedang tugas ketiga dilaksanakan oleh seluruh kekuatan bersendjata Djepang jang terdiri seluruhnja atas Tentara ke-l, ke-2, ke-3 dan ke-4. Tentara ke-3 dibawah panglima Nogi harus membantu Oku dalam merebut Port AMERIKA SERIKAT LUNTJURKAN SATELIT BUMI DENGAN ROKET JUPITER — C. Jupiter — C Terbang Keudara — Jupiter — AD AS meledak ferbang keudara bersama satelit buatan dari tempat peluntfurannja di Cape Canaveral, Florida, — Satelit’ bumi — buatan jang telah ditempatkan pada peredarannja oleh sebuah roket Jue iter — C fang telah diluntjurkan oleh AD AS di Cape Canaveral, kini sedang mengumpulkan dan mengirimkan keterangan Jang kint sedang diusahakan oleh seluruh negara fang turut dalam Tahun Geolisika Internasional. Alat dan alat pengirim jang terdapat dalam satelit tt chusus bekerd/a untuk mengumpulkan dan mengirimkan 4 matjam kete- rangan : Suhw tentang ruang projekill, suhu dalam,erosi abu kosmis dan tfatatan Wjahaja kosmis. Sebanjak 10 stasion Minltrack, Jang diselensgarakan oleh Angkatan Perang AS sedang mengikuti gerak-eerik satellt ita dan merelay Keterangan ke Laboratorium Penjelidikan Angkatan Laut dan kepusat pengukur jang keduanja berada di Washington D.C. Rombongan® penjelidikan bulan diseluruh dunia rut mengikutl perdjalanan “Explorer”. 15<noinclude></noinclude> ednlu8v5tq41wpwxbrkwvvdp23zvwci 290882 290821 2026-05-10T12:59:00Z N.imaema 22481 /* Telah diuji baca */ 290882 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="N.imaema" /></noinclude>{{missing image}} <small>''Alat dan alat telemetry dalam satelit itu dapat dibuat untuk mengumpulkan dan mengrimkan 4 matjam keterangan: Suhu tentang ruang projektil, suhu dalam, erosi abu kosmis, dan jatatan tjahaja kosmis.''</small> Tetapi karena di Port Arthur tidak terdapat peralatan<sup>2</sup> jang mentjukupi kerugian<sup>2</sup> tersebut membahajakan djuga kekuatan armada Rusia. Perang Djepang—Rusia jang dimulai dengan serangan laksamana Togo atas Port Arthur diachiri dengan pertempuran di Mukden, Meskipun di Mukden ini tidak terdjadi suatu kemenangan jang sempurna, peperangan sampai pada saat achirnja. Ini disebabkan karena Djepang dapat memaksa Rusia untuk minta damai. Tetapi ini disebabkan karena sebetulnja kedua-duanja sudah tidak sanggup lagi untuk melandjutkan peperangan Pada permulaan peperangan sampai habis Djepang boleh dikata selalu mendjadi pihak penjerang. Djepang mempunjai rentjana sebagai berikut. Pertama<sup>2</sup> Korea harus diduduki sama sekali, kedua pangkalan Rusia di Port Arthur harus dikuasai dan ketiga kekuatan bersendjata Rusia di Mantjuria harus dihantjurkan. Tugas pertama diserahkan kepada Kuroki sebagai panglima Tentara ke-1, tugas kedua dilaksanakan oleh Oku sebagai panglima Tentara ke-2, sedang tugas ketiga dilaksanakan oleh seluruh kekuatan bersendjata Djepang jang terdiri seluruhnja atas Tentara ke-l, ke-2, ke-3 dan ke-4. Tentara ke-3 dibawah panglima Nogi harus membantu Oku dalam merebut Port {{missing image}} <small>{{c|'''''AMERIKA SERIKAT LUNTJURKAN SATELIT BUMI DENGAN ROKET JUPITER — C.'''''}}</small> <small>''Jupiter — C Terbang Keudara — Jupiter — AD AS meledak ferbang keudara bersama satelit buatan dari tempat peluntjurannja di Cape Canaveral, Florida, — Satelit bumi — buatan jang telah ditempatkan pada peredarannja oleh sebuah roket Jupiter — C jang telah diluntjurkan oleh AD AS di Cape Canaveral, kini sedang mengumpulkan dan mengirimkan keterangan Jang kini sedang diusahakan oleh seluruh negara fang turut dalam Tahun Geolisika Internasional.''</small> Alat dan alat pengirim jang terdapat dalam satelit itu chusus bekerdja untuk mengumpulkan dan mengirimkan 4 matjam keterangan : Suhu tentang ruang projektil, suhu dalam,erosi abu kosmis dan tjatatan tjahaja kosmis. Sebanjak 10 stasion Minitrack, Jang diselenggarakan oleh Angkatan Perang AS sedang mengikuti gerak-gerik satellt ita dan merelay Keterangan ke Laboratorium Penjelidikan Angkatan Laut dan kepusat pengukur jang keduanja berada di Washington D.C. Rombongan<sup>2</sup> penjelidikan bulan diseluruh dunia turut mengikutl perdjalanan “Explorer”.<noinclude>{{rh|||15}}</noinclude> d88h5ou0ifyyc5x2b01h12adhmkz9mu 290889 290882 2026-05-10T13:01:09Z N.imaema 22481 /* Telah diuji baca */ 290889 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="N.imaema" /></noinclude>{{missing image}} <small>''Alat dan alat telemetry dalam satelit itu dapat dibuat untuk mengumpulkan dan mengrimkan 4 matjam keterangan: Suhu tentang ruang projektil, suhu dalam, erosi abu kosmis, dan jatatan tjahaja kosmis.''</small> Tetapi karena di Port Arthur tidak terdapat peralatan<sup>2</sup> jang mentjukupi kerugian<sup>2</sup> tersebut membahajakan djuga kekuatan armada Rusia. Perang Djepang—Rusia jang dimulai dengan serangan laksamana Togo atas Port Arthur diachiri dengan pertempuran di Mukden, Meskipun di Mukden ini tidak terdjadi suatu kemenangan jang sempurna, peperangan sampai pada saat achirnja. Ini disebabkan karena Djepang dapat memaksa Rusia untuk minta damai. Tetapi ini disebabkan karena sebetulnja kedua-duanja sudah tidak sanggup lagi untuk melandjutkan peperangan Pada permulaan peperangan sampai habis Djepang boleh dikata selalu mendjadi pihak penjerang. Djepang mempunjai rentjana sebagai berikut. Pertama<sup>2</sup> Korea harus diduduki sama sekali, kedua pangkalan Rusia di Port Arthur harus dikuasai dan ketiga kekuatan bersendjata Rusia di Mantjuria harus dihantjurkan. Tugas pertama diserahkan kepada Kuroki sebagai panglima Tentara ke-1, tugas kedua dilaksanakan oleh Oku sebagai panglima Tentara ke-2, sedang tugas ketiga dilaksanakan oleh seluruh kekuatan bersendjata Djepang jang terdiri seluruhnja atas Tentara ke-l, ke-2, ke-3 dan ke-4. Tentara ke-3 dibawah panglima Nogi harus membantu Oku dalam merebut Port {{missing image}} <small>{{c|'''''AMERIKA SERIKAT LUNTJURKAN SATELIT BUMI DENGAN ROKET JUPITER — C.'''''}}</small> <small>''Jupiter — C Terbang Keudara — Jupiter — AD AS meledak ferbang keudara bersama satelit buatan dari tempat peluntjurannja di Cape Canaveral, Florida, — Satelit bumi — buatan jang telah ditempatkan pada peredarannja oleh sebuah roket Jupiter — C jang telah diluntjurkan oleh AD AS di Cape Canaveral, kini sedang mengumpulkan dan mengirimkan keterangan Jang kini sedang diusahakan oleh seluruh negara fang turut dalam Tahun Geolisika Internasional.''</small> <small>Alat dan alat pengirim jang terdapat dalam satelit itu chusus bekerdja untuk mengumpulkan dan mengirimkan 4 matjam keterangan : Suhu tentang ruang projektil, suhu dalam,erosi abu kosmis dan tjatatan tjahaja kosmis. Sebanjak 10 stasion Minitrack, Jang diselenggarakan oleh Angkatan Perang AS sedang mengikuti gerak-gerik satellt ita dan merelay Keterangan ke Laboratorium Penjelidikan Angkatan Laut dan kepusat pengukur jang keduanja berada di Washington D.C. Rombongan<sup>2</sup> penjelidikan bulan diseluruh dunia turut mengikutl perdjalanan “Explorer”.</small><noinclude>{{rh|||15}}</noinclude> fal2ke01juzgmnlkjoqlxaixoe7trbk Halaman:SAIND (2020).webm/ 02:26 104 103419 290823 2026-05-10T12:11:43Z Thalasshopile 26684 /* Telah diuji baca */ 290823 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thalasshopile" /></noinclude>{{ft/d| {{Trans|Selvan|Hancur mah Indonesia lama-lama kek gini}}}}<noinclude></noinclude> n7of0100g6y4hjiettiqilrattzf710 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/516 104 103420 290826 2026-05-10T12:14:41Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Merahnya merah Satu-satu tokoh tanggal. Fifi dihilangkan secara misterius oleh tangan Maria karena cemburu. Tokoh kita, karona histerinya dalam mencari Fifi, menimbulkan tokoh-tokoh pembantu: Centong, Bekas Aju- dan Tokoh kita semasa revolusi, yang kini sudah jadi dokter militer (Pamen Koschatan), Pangdak, Pangdam ( Bekas Komandan Batalion dari Tokoh kita semasa rovolusi). Gagalnya pencarian, menyebabkan hilang- nya Tokoh kita. Kehilangan Tokoh... 290826 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>Merahnya merah Satu-satu tokoh tanggal. Fifi dihilangkan secara misterius oleh tangan Maria karena cemburu. Tokoh kita, karona histerinya dalam mencari Fifi, menimbulkan tokoh-tokoh pembantu: Centong, Bekas Aju- dan Tokoh kita semasa revolusi, yang kini sudah jadi dokter militer (Pamen Koschatan), Pangdak, Pangdam ( Bekas Komandan Batalion dari Tokoh kita semasa rovolusi). Gagalnya pencarian, menyebabkan hilang- nya Tokoh kita. Kehilangan Tokoh kita menyebabkan kehilangan Maria. Munculnya peranan Pak enteng, sebagai tokoh pengganti pentas, di- tonjolkan sebagai saingan Tekoh kita yang mencintai Maria dengan alasan "kerinduan" scks, untuk mencari tokoh-tokoh yang hilang itu (terlebih Maria tentunya). Walaupun agak terlambat kita mengetahui kegandrungan Contong ini pada Maria, dapatlah kita "ralat" saja hu- bungan cinta ini sesungguhnya menjadi segi empat. Kembalinya Tokoh kita di akhir oorita, sebagai detektif pulang tugas, membuka semua rahasia "hilang" Fifi mati dibunuh Maria dengan cara menghi- langkan bekas; Marin "lari" ke biara mencari jalan tobat. Emosi pak Jon tong dalam kisah akhir ini tak tertahan. Tokoh kita tak dibiar kannya menghabisi corita/laporan "detektif"nya. Dengan golok Tokob kita dibunuhnya, sodang Pak Jentang sendiri rubuh oleh peluru poli- si walaupun hanya merupakan peluru untuk melerai perkelahian antara Tokoh kita dan Conteng. Kematian-kematian ini tragis. Akhirlah ceri- ta, meninggalkan Maria di biarn: 2. Airmatanya yang berderai, menangkap kilasan merah terakhir di langit itu dalam bintik-bintik warna merah. Merah dari me- rahnya merah. Matahari tenggelam. Seluruhnya. Merah di langit berkelompok-kelompok menuju kelabu. Kemudian berangsur menuju warna hitam. Malam telah tiba. Bumi tenang. Damai. (Merahnya Merah: 160, akhir cerita) Tema Iwan menujui masyarakat gelandangan. Iwan mendekatinya kabut-kabut misteri kejiwaan yang monggerakkan keterlibatan mereka 34 24 Digitized by Google<noinclude></noinclude> b70a57gzs8wnh5cldwhr96uf4ht3dw4 290831 290826 2026-05-10T12:20:17Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 290831 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>Merahnya merah Satu-satu tokoh tanggal. Fifi dihilangkan secara misterius oleh tangan Maria karena cemburu. Tokoh kita, karona historinya dalam mencari Fifi, menimbulkan tokoh-tokoh pembantu: Centong, Bekas Ajudan Tokoh kita semasa revolusi, yang kini sudah jadi dokter militer (Pamen Kesehatan), Pangdak, Pangdam (= Bekas Komandan Batalion dari Tokoh kita semasa rovolusi). Gagalnya pencarian, menyebabkan hilangnya Tokoh kita. Kehilangan Tokoh kita menyebabkan kehilangan Maria. Munculnya peranan Pak Centeng, sebagai tokoh pengganti pentas, ditonjolkan sebagai saingan Tokoh kita yang mencintai Maria dengan alasan "kerinduan" seks, untuk mencari tokoh-tokoh yang hilang itu (terlebih Maria tentunya). Walaupun agak terlambat kita mengetahui kegandrungan Centeng ini pada Maria, dapatlah kita "ralat" saja hubungan cinta ini sesungguhnya menjadi segi empat. Kembalinya Tokoh kita di akhir cerita, sebagai detektif pulang tugas, membuka semua rahasia "hilang" : Fifi mati dibunuh Maria dengan cara menghilangkan bekas; Marin "lari" ke biara mencari jalan tobat. Emosi pak Centeng dalam kisah akhir ini tak tertahan. Tokoh kita tak dibiarkannya menghabisi cerita/laporan "detektif"nya. Dengan golok Tokoh kita dibunuhnya, sedang Pak Centeng sendiri rubuh oleh peluru polisi walaupun hanya merupakan peluru untuk melerai perkelahian antara Tokoh kita dan Centeng. Kematian-kematian ini tragis. Akhirlah cerita, meninggalkan Maria di biara: Airmatanya yang berderai, menangkap kilasan merah terakhir di langit itu dalam bintik-bintik warna merah. Merah dari merahnya merah. Matahari tenggelam. Seluruhnya. Merah di langit berkelompok-kelompok menuju kelabu. Kemudian berangsur menuju warna hitam. Malam telah tiba. Bumi tenang. Damai. {{right|<u>(Merahnya Merah</u>: 160, akhir cerita)}} {{ol|start=2|Tema Iwan menujui masyarakat gelandangan. Iwan mendekatinya kabut-kabut misteri kejiwaan yang monggerakkan keterlibatan mereka}}<noinclude>{{rh|34||}}</noinclude> f7rqlnhfn9fogs2kukmbsr0lbizs6wo 290842 290831 2026-05-10T12:27:43Z Menyusurisudutnegeri 25205 290842 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" />{{rh|Merahnya merah.}}</noinclude>Satu-satu tokoh tanggal. Fifi dihilangkan secara misterius oleh tangan Maria karena cemburu. Tokoh kita, karona historinya dalam mencari Fifi, menimbulkan tokoh-tokoh pembantu: Centong, Bekas Ajudan Tokoh kita semasa revolusi, yang kini sudah jadi dokter militer (Pamen Kesehatan), Pangdak, Pangdam (= Bekas Komandan Batalion dari Tokoh kita semasa rovolusi). Gagalnya pencarian, menyebabkan hilangnya Tokoh kita. Kehilangan Tokoh kita menyebabkan kehilangan Maria. Munculnya peranan Pak Centeng, sebagai tokoh pengganti pentas, ditonjolkan sebagai saingan Tokoh kita yang mencintai Maria dengan alasan "kerinduan" seks, untuk mencari tokoh-tokoh yang hilang itu (terlebih Maria tentunya). Walaupun agak terlambat kita mengetahui kegandrungan Centeng ini pada Maria, dapatlah kita "ralat" saja hubungan cinta ini sesungguhnya menjadi segi empat. Kembalinya Tokoh kita di akhir cerita, sebagai detektif pulang tugas, membuka semua rahasia "hilang" : Fifi mati dibunuh Maria dengan cara menghilangkan bekas; Marin "lari" ke biara mencari jalan tobat. Emosi pak Centeng dalam kisah akhir ini tak tertahan. Tokoh kita tak dibiarkannya menghabisi cerita/laporan "detektif"nya. Dengan golok Tokoh kita dibunuhnya, sedang Pak Centeng sendiri rubuh oleh peluru polisi walaupun hanya merupakan peluru untuk melerai perkelahian antara Tokoh kita dan Centeng. Kematian-kematian ini tragis. Akhirlah cerita, meninggalkan Maria di biara: Airmatanya yang berderai, menangkap kilasan merah terakhir di langit itu dalam bintik-bintik warna merah. Merah dari merahnya merah. Matahari tenggelam. Seluruhnya. Merah di langit berkelompok-kelompok menuju kelabu. Kemudian berangsur menuju warna hitam. Malam telah tiba. Bumi tenang. Damai. {{right|<u>(Merahnya Merah</u>: 160, akhir cerita)}} {{ol|start=2|Tema Iwan menujui masyarakat gelandangan. Iwan mendekatinya kabut-kabut misteri kejiwaan yang monggerakkan keterlibatan mereka}}<noinclude>{{rh|34||}}</noinclude> lpsd9vh8l69ypeldqua6v7zldpwb7fk 291810 290842 2026-05-11T06:59:30Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291810 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Merahnya merah.}}</noinclude>Satu-satu tokoh tanggal. Fifi dihilangkan secara misterius oleh tangan Maria karena cemburu. Tokoh kita, karona historinya dalam mencari Fifi, menimbulkan tokoh-tokoh pembantu: Centong, Bekas Ajudan Tokoh kita semasa revolusi, yang kini sudah jadi dokter militer (Pamen Kesehatan), Pangdak, Pangdam (= Bekas Komandan Batalion dari Tokoh kita semasa rovolusi). Gagalnya pencarian, menyebabkan hilangnya Tokoh kita. Kehilangan Tokoh kita menyebabkan kehilangan Maria. Munculnya peranan Pak Centeng, sebagai tokoh pengganti pentas, ditonjolkan sebagai saingan Tokoh kita yang mencintai Maria dengan alasan "kerinduan" seks, untuk mencari tokoh-tokoh yang hilang itu (terlebih Maria tentunya). Walaupun agak terlambat kita mengetahui kegandrungan Centeng ini pada Maria, dapatlah kita "ralat" saja hubungan cinta ini sesungguhnya menjadi segi empat. Kembalinya Tokoh kita di akhir cerita, sebagai detektif pulang tugas, membuka semua rahasia "hilang" : Fifi mati dibunuh Maria dengan cara menghilangkan bekas; Marin "lari" ke biara mencari jalan tobat. Emosi pak Centeng dalam kisah akhir ini tak tertahan. Tokoh kita tak dibiarkannya menghabisi cerita/laporan "detektif"nya. Dengan golok Tokoh kita dibunuhnya, sedang Pak Centeng sendiri rubuh oleh peluru polisi walaupun hanya merupakan peluru untuk melerai perkelahian antara Tokoh kita dan Centeng. Kematian-kematian ini tragis. Akhirlah cerita, meninggalkan Maria di biara: {{ol|type=none|Airmatanya yang berderai, menangkap kilasan merah terakhir di langit itu dalam bintik-bintik warna merah. Merah dari merahnya merah. Matahari tenggelam. Seluruhnya. Merah di langit berkelompok-kelompok menuju kelabu. Kemudian berangsur menuju warna hitam. Malam telah tiba. Bumi tenang. Damai.}} {{right|<u>(Merahnya Merah</u>: 160, akhir cerita)}} {{ol|start=2|Tema Iwan menujui masyarakat gelandangan. Iwan mendekatinya kabut-kabut misteri kejiwaan yang monggerakkan keterlibatan mereka}}<noinclude>{{rh|34||}}</noinclude> k758l1khnk3oh5zjndu8qe371df5fic Halaman:SAIND (2020).webm/ 02:39 104 103421 290827 2026-05-10T12:15:04Z Thalasshopile 26684 /* Telah diuji baca */ 290827 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thalasshopile" /></noinclude>{{ft/d| {{Trans|Selvan|Tenang..}}}}<noinclude></noinclude> jtpknt82pzff7fag6v466t8oz2az1oq Halaman:SAIND (2020).webm/02:41 104 103422 290828 2026-05-10T12:17:01Z Thalasshopile 26684 /* Telah diuji baca */ 290828 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thalasshopile" /></noinclude>{{ft/d| {{Trans|Selvan| gak akan kubiarkan nasib mereka sama sepertimu}}}}<noinclude></noinclude> qb2vjj8cfjfgb7kp9kkmtaxcr5q25jv Halaman:SAIND (2020).webm/d02:51 104 103423 290829 2026-05-10T12:19:22Z Thalasshopile 26684 /* Telah diuji baca */ 290829 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thalasshopile" /></noinclude>{{ft/d| {{Trans|Selvan|Pagi pak}}}}<noinclude></noinclude> 4g6bhirvdwgi8awj73mqj3ykvcidrfz Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/517 104 103424 290832 2026-05-10T12:20:31Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'ke sana. Sekilas tema ini akan membawa kita pada masalah "impact sosial" yang disinggung Iwan secara escis. Hal ini memberikan kesan bahwa toma ini adalah pilihan. Ironi bagi sebuah negara berkembang, sesudah kemerdekaan teronpai dan Kukadimah Undang-undang Dasar di- susun di atas jadwal kerja, prikemanusiaan dibenderakan, datanglah "manusinya" sendiri mempertanyakan tujuannya sendiri. Tema serupa, berupa varian bagi novel Merahnya bernh, ialah... 290832 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>ke sana. Sekilas tema ini akan membawa kita pada masalah "impact sosial" yang disinggung Iwan secara escis. Hal ini memberikan kesan bahwa toma ini adalah pilihan. Ironi bagi sebuah negara berkembang, sesudah kemerdekaan teronpai dan Kukadimah Undang-undang Dasar di- susun di atas jadwal kerja, prikemanusiaan dibenderakan, datanglah "manusinya" sendiri mempertanyakan tujuannya sendiri. Tema serupa, berupa varian bagi novel Merahnya bernh, ialah drama sebabak RT-Nol, Rnol (1968): "kanusinya" darin mengejar Marin, "innusianyn" Tokoh kita mengejar Tokoh kita. Dan hidupnya sebagai gelandangan adalah laksana lingkaran pelarian itu. Tokoh kita bicara: Revolusi telah kalinn lalui masing-masing melalui jenjangnya biasa. Yang normal. Aku tidak. Latar belakangku berbeda dari kalian. Seorang yang pernah bakal mengikat janji dengan Tu- han, kemudian sengaja dan dalam segala kewarnaan menampik bakal janjinya itu, tak boleh tidak pastilah lain bentuk pe- rasaannya untuk selama-lamanya. Ingat: un tuk selama-lamanya. Lain daripada misalnya seorang prajurit yang melanggar sumpah prajuritnya dan menyeberang ko fihak musuh. Dan yang membuat tambah pelik lagi persoalanku adalah, bahwa dalihku untuk tidak bakal menepati janjiku itu kuperoleh pada semboyan- semboyan kebangsaan yang resmi dan sah, yang nilai-nilai su- silanya tak lebih rendah dari nilai-nilai imabangannya dalam agama. (Merahnya Merah: 38-9). scorang calon rahib, yang kemudian menjadi algojo, ada- lah satu peristiwa yang punya tragik cukup kuat untuk men- jungkirkan seluruh tata surya. Sedang aku sebagai calon rahib tahu, bahwa dasar dari ajarannya adalah justeru maaf dan am- pun. (Merahnya Merah: 39) Jelas di mata kita bahwa Iwan memang berkata bukan tentang gelan- dangan dalam cita rasa material, tetapi cita rasa harkat manusia itu sendiri. Kita dengar Iwan berkata di tempat lain: Gelandangan bukan sekedar masalah ekonomi dan sosial saja la- gi. Terlebih, bukan sekedar soal keamanan dalam negeri snja 35 Bahs. Kesusast., V(2), 1973 Digitized by Google<noinclude></noinclude> dfwxt430cxs23ql8h0uq57qxrfk8jo2 290839 290832 2026-05-10T12:26:37Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 290839 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>ke sana. Sekilas tema ini akan membawa kita pada masalah "impact sosial" yang disinggung Iwan secara eseis. Hal ini memberikan kesan bahwa tema ini adalah pilihan. Ironi bagi sebuah negara berkembang, sesudah kemerdekaan tercapai dan Mukadimah Undang-undang Dasar disusun di atas jadwal kerja, prikemanusiaan dibenderakan, datanglah "manusinya" sendiri mempertanyakan tujuannya sendiri. Tema serupa, berupa varian bagi novel <u>Merahnya Merah</u>, ialah drama sebabak <u>RT-Nol</u>, <u>RW-nol</u> (1968): "Manusinya" Maria mengejar Maria, "Manusianya" Tokoh kita mengejar Tokoh kita. Dan hidupnya sebagai gelandangan adalah laksana lingkaran pelarian itu. Tokoh kita bicara: Revolusi telah kalinn lalui masing-masing melalui jenjangnya biasa. Yang normal. Aku tidak. Latar belakangku berbeda dari kalian. Seorang yang pernah bakal mengikat janji dengan Tuhan, kemudian sengaja dan dalam segala kewarnaan menampik bakal janjinya itu, tak boleh tidak pastilah lain bentuk perasaannya untuk selama-lamanya. Ingat: untuk selama-lamanya. Lain daripada misalnya seorang prajurit yang melanggar sumpah prajuritnya dan menyeberang ke fihak musuh. Dan yang membuat tambah pelik lagi persoalanku adalah, bahwa dalihku untuk tidak bakal menepati janjiku itu kuperoleh pada semboyan-semboyan kebangsaan yang resmi dan sah, yang nilai-nilai susilanya tak lebih rendah dari nilai-nilai imabangannya dalam agama. {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 38-9)}} {{...|4}} seorang calon rahib, yang kemudian menjadi algojo, adalah satu peristiwa yang punya tragik cukup kuat untuk menjungkirkan seluruh tata surya. Sedang aku sebagai calon rahib tahu, bahwa dasar dari ajarannya adalah justeru <u>maaf</u> dan <u>ampun</u>. {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 39)}} Jelas di mata kita bahwa Iwan memang berkata bukan tentang gelandangan dalam cita rasa material, tetapi cita rasa harkat manusia itu sendiri. Kita dengar Iwan berkata di tempat lain: Gelandangan bukan sekedar masalah ekonomi dan sosial saja lagi. Terlebih, bukan sekedar soal keamanan dalam negeri saja<noinclude>{{rh|35||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> jsisluehm9j0t3hdj3kmo7pqum1i91v 291815 290839 2026-05-11T07:04:04Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291815 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>ke sana. Sekilas tema ini akan membawa kita pada masalah "impact sosial" yang disinggung Iwan secara eseis. Hal ini memberikan kesan bahwa tema ini adalah pilihan. Ironi bagi sebuah negara berkembang, sesudah kemerdekaan tercapai dan Mukadimah Undang-undang Dasar disusun di atas jadwal kerja, prikemanusiaan dibenderakan, datanglah "manusinya" sendiri mempertanyakan tujuannya sendiri. Tema serupa, berupa varian bagi novel <u>Merahnya Merah</u>, ialah drama sebabak <u>RT-Nol</u>, <u>RW-nol</u> (1968): "Manusinya" Maria mengejar Maria, "Manusianya" Tokoh kita mengejar Tokoh kita. Dan hidupnya sebagai gelandangan adalah laksana lingkaran pelarian itu. Tokoh kita bicara: {{ol|type=none|Revolusi telah kalinn lalui masing-masing melalui jenjangnya biasa. Yang normal. Aku tidak. Latar belakangku berbeda dari kalian. Seorang yang pernah bakal mengikat janji dengan Tuhan, kemudian sengaja dan dalam segala kewarnaan menampik bakal janjinya itu, tak boleh tidak pastilah lain bentuk perasaannya untuk selama-lamanya. Ingat: untuk selama-lamanya. Lain daripada misalnya seorang prajurit yang melanggar sumpah prajuritnya dan menyeberang ke fihak musuh. Dan yang membuat tambah pelik lagi persoalanku adalah, bahwa dalihku untuk tidak bakal menepati janjiku itu kuperoleh pada semboyan-semboyan kebangsaan yang resmi dan sah, yang nilai-nilai susilanya tak lebih rendah dari nilai-nilai imabangannya dalam agama.}} {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 38-9)}} {{ol|type=none|.... seorang calon rahib, yang kemudian menjadi algojo, adalah satu peristiwa yang punya tragik cukup kuat untuk menjungkirkan seluruh tata surya. Sedang aku sebagai calon rahib tahu, bahwa dasar dari ajarannya adalah justeru <u>maaf</u> dan <u>ampun</u>.}} {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 39)}} Jelas di mata kita bahwa Iwan memang berkata bukan tentang gelandangan dalam cita rasa material, tetapi cita rasa harkat manusia itu sendiri. Kita dengar Iwan berkata di tempat lain: {{ol|type=none|Gelandangan bukan sekedar masalah ekonomi dan sosial saja lagi. Terlebih, bukan sekedar soal keamanan dalam negeri saja }}<noinclude>{{rh|35||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> rzxj2h2nniy65g3v2vjutnaft2rwued Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/102 104 103425 290833 2026-05-10T12:24:00Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 290833 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||16}}</noinclude>Apakah keadaan jang serba "favourable" bagi mereka, jang memungkinkan mereka studi dengan tjara jang tidak tanggung-tanggung? Pernah kami berkesempatan mengundjungi Army Language School di Monterey (California). Diantara ± 40 bahasa jang dipeladjari disana, termasuk bahasa nasional kita. Kami memasuki kelas jang terdiri dari opsir-opsir tentang AS dan diadjak bertjakap-tjakap oleh mereka dalam Bahasa Indonesia, sedangkan mereka nota bene belum pernah mendjedjak bumi Indonesia. Kops kami diperdengarkan lagu-lagu top hit Indonesia, jang dinjanjikan oleh para opsir itu. Kita tidak hendak mempersoalkan dengan maksud apa mereka begitu tekun beladjar bahasa kita. Hanja kita kagum pada tjara-tjara jang mereka pergunakan untuk mentjapai hasil, jang di Indonesia sendiri kita tidak bisa membajangkan. Mereka memakai alat-alat modern lengkap dengan language - lab. nja. Latihan mereka sudah pasti disesuaikan dengan sifat kemiliterannja. Konon kabarnja mereka dilatih untuk menangkap dan memahami perintah/berita dalam bahasa kita dalam situasi serba matjam, walaupun ditengah dentuman dan ledakan meriam/mortir sekalipun. Dapat saudara menerka, siapa jang memimpin kursus ini? Satu iron {{...|7}} jang mengepalai Latihan Bahasa Indonesia bukan orang Indonesia tetapi seorang Belanda (Indo), lulusan Universitas Leiden. Dialah jang membawahi 3 a 4 tenaga berbangsa Indonesia. Sekianlah sedikit tjontoh tentang perkembangan pengadjaran bahas kita diluar tanah air. Disajangkan, bahwa tidak suatupun badan dan intansi dinegara kita, jang mempunjai data-data tentang luas dan sampai dimana kegiatan untuk mempeladjari bahasa kita di luar negeri. {{u|Tudjuan Peladjaran Bahasa Indonesia bagi Bangsa Asing}} Hasrat mempeladjari bahasa kita dari pihak mereka digolongkan seperti berikut : <ol type="a" start="1"> <li>sebagai ilmu pengetahuan</li> <li>untuk keperluan praktis</li> </ol> Sungguhpun banjak dari mereka, jang bergerak dalam bidang ilmiah tidak pernah mengundjungi negeri kita, fasilitas-fasilitas jang ada dalam negeri mereka, memberi tjukup peluang bagi mereka untuk menjelami seluk beluk bahasa dan sastra kita.<noinclude></noinclude> 3f7l52cy4dbnwb4yib754y7r5223mff Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/518 104 103426 290841 2026-05-10T12:27:23Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Merahnya merah. lagi. Dia lekat mutlak pada kesadaran manusia modern. Sama dengan isong, mual, sunyi. Bahkan apabila sudi kita menelaah- nya lebih dalam sedikit, apa disebut gelandangan itu adalah hakekatnya gabungan dari isong, mual dan sunyi tadi sekali gus, ditambah sekian unsur lainnya. Apa unsur-unsur tambahan ini, sedang sibuknyn dicoba rumuskan oleh para psykhiater, filosof dan pengarang novel. (Merahnya Merah: 158-9) Sebagai pengarang no... 290841 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" />{{rh|Merahnya merah.}}</noinclude>Merahnya merah. lagi. Dia lekat mutlak pada kesadaran manusia modern. Sama dengan isong, mual, sunyi. Bahkan apabila sudi kita menelaah- nya lebih dalam sedikit, apa disebut gelandangan itu adalah hakekatnya gabungan dari isong, mual dan sunyi tadi sekali gus, ditambah sekian unsur lainnya. Apa unsur-unsur tambahan ini, sedang sibuknyn dicoba rumuskan oleh para psykhiater, filosof dan pengarang novel. (Merahnya Merah: 158-9) Sebagai pengarang novel, "unsur-unsur tambahan" tersebut dijawab Iwan lewat sorot-balik tokoh-tokohnya. Sedang masa bodoh yang meng- gumpal dari frustrasi sorot-balik itu, Iwan perincikan sedikit da- lam: Redup! Masa bodoh! Truk mau dilarikan sang sopir 100 km atau lchih per jam kok! Keben tur tiang listerik kek! Masuk jurang kok! Gunung di kejauhan itu punya warna biru kek! Merah kck! Sawah sawah mau berwarna hijau kok! Masa bodoh! (Merahnya Merah: 103) Son timen talitas adalah luxe bagi kaum gelandangan. Mereka tak sempat mempermasalahkannya. Bahkan, tak boleh. (Merahnya Merah: 163) Iwan agaknya demikian sadar akan kotorlibatan pada tema, sehingga tak sekejap pun tokoh-tokohnya bioara tanpa pikir, laksann bioara di depan diskusi pengadilan Gelandangan, di mana tokoh-tokohnya ber- tahan pada "manusinnya" sendiri, melawan pendapat yang menganggap masalah gelandangan adalah fisis ekonomi sosial belaka. Malah dici- bimya pengarang-pengarang (Sastra Indonesia?) yang melayang di atas lamunan romantik: Hanya mimpi fantasi penyair-penyair yang kurang kena sinar mataharilah yang bertanggung jawab atas pemutarbalikan keja- dian sebenarnya. Dalam lakon-lakon yang mereka karang ---bah- kan, mereka karang-karang anja, oloh karena itu dibayar de- ngan honorarium kelewat rendah yang tampil sebagai peme- nang terakhir adalah dewa yang bermuka setengah pucat dan borjari-jari halus panjang itu. Dewn yang dalam segala aspek- nya adalah sebenarnya penyair itu sendiri. (Merahnya Merah: 104) 36 Digitized by Google<noinclude></noinclude> s3sntgqkwskpexr4nh73p3zzllqayft 290849 290841 2026-05-10T12:33:56Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 290849 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" />{{rh|Merahnya merah.}}</noinclude>lagi. Dia lekat mutlak pada kesadaran manusia modern. Sama dengan iseng, mual, sunyi. Bahkan apabila sudi kita menelaahnya lebih dalam sedikit, apa disebut gelandangan itu adalah hakekatnya gabungan dari iseng, mual dan sunyi tadi sekaligus, ditambah sekian unsur lainnya. Apa unsur-unsur tambahan ini, sedang sibuknya dicoba rumuskan oleh para psykhiater, filosof dan pengarang novel. {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 158-9)}} Sebagai pengarang novel, "unsur-unsur tambahan" tersebut dijawab Iwan lewat sorot-balik tokoh-tokohnya. Sedang masa bodoh yang menggumpal dari frustrasi sorot-balik itu, Iwan perincikan sedikit dalam: Redup! Masa bodoh! Truk mau dilarikan sang sopir 100 km atau lebih per jam kek! Kebentur tiang listerik kek! Masuk jurang kek! Gunung di kejauhan itu punya warna biru kek! Merah kek! Sawah sawah mau berwarna hijau kek! Masa bodoh! {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 103)}} Sentimentalitas adalah luxe bagi kaum gelandangan. Mereka tak sempat mempermasalahkannya. Bahkan, tak boleh. {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 163)}} Iwan agaknya demikian sadar akan keterlibatan pada tema, sehingga tak sekejap pun tokoh-tokohnya bicara tanpa pikir, laksana bicara di depan diskusi pengadilan Gelandangan, di mana tokoh-tokohnya bertahan pada "manusianya" sendiri, melawan pendapat yang menganggap masalah gelandangan adalah fisis ekonomi sosial belaka. Malah dicibirnya pengarang-pengarang (Sastra Indonesia?) yang melayang di atas lamunan romantik: Hanya mimpi fantasi penyair-penyair yang kurang kena sinar mataharilah yang bertanggung jawab atas pemutarbalikan kejadian sebenarnya. Dalam lakon-lakon yang mereka karang ———bahkan, mereka karang-karang saja, oleh karena itu dibayar dengan honorarium kelewat rendah ———yang tampil sebagai pemenang terakhir adalah dewa yang bermuka setengah pucat dan berjari-jari halus panjang itu. Dewa yang dalam segala aspeknya adalah sebenarnya penyair itu sendiri. {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 104)}}<noinclude>{{rh|36}}</noinclude> o9f5j3ujzvgim207u8h3darv3jpisvv 291820 290849 2026-05-11T07:06:18Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291820 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Merahnya merah.}}</noinclude>{{ol|type=none|lagi. Dia lekat mutlak pada kesadaran manusia modern. Sama dengan iseng, mual, sunyi. Bahkan apabila sudi kita menelaahnya lebih dalam sedikit, apa disebut gelandangan itu adalah hakekatnya gabungan dari iseng, mual dan sunyi tadi sekaligus, ditambah sekian unsur lainnya. Apa unsur-unsur tambahan ini, sedang sibuknya dicoba rumuskan oleh para psykhiater, filosof dan pengarang novel.}} {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 158-9)}} Sebagai pengarang novel, "unsur-unsur tambahan" tersebut dijawab Iwan lewat sorot-balik tokoh-tokohnya. Sedang masa bodoh yang menggumpal dari frustrasi sorot-balik itu, Iwan perincikan sedikit dalam: {{ol|type=none|Redup! Masa bodoh! Truk mau dilarikan sang sopir 100 km atau lebih per jam kek! Kebentur tiang listerik kek! Masuk jurang kek! Gunung di kejauhan itu punya warna biru kek! Merah kek! Sawah sawah mau berwarna hijau kek! Masa bodoh!}} {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 103)}} {{ol|type=none|Sentimentalitas adalah luxe bagi kaum gelandangan. Mereka tak sempat mempermasalahkannya. Bahkan, tak boleh.}} {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 163)}} Iwan agaknya demikian sadar akan keterlibatan pada tema, sehingga tak sekejap pun tokoh-tokohnya bicara tanpa pikir, laksana bicara di depan diskusi pengadilan Gelandangan, di mana tokoh-tokohnya bertahan pada "manusianya" sendiri, melawan pendapat yang menganggap masalah gelandangan adalah fisis ekonomi sosial belaka. Malah dicibirnya pengarang-pengarang (Sastra Indonesia?) yang melayang di atas lamunan romantik: {{ol|type=none|Hanya mimpi fantasi penyair-penyair yang kurang kena sinar mataharilah yang bertanggung jawab atas pemutarbalikan kejadian sebenarnya. Dalam lakon-lakon yang mereka karang ———bahkan, mereka karang-karang saja, oleh karena itu dibayar dengan honorarium kelewat rendah ———yang tampil sebagai pemenang terakhir adalah dewa yang bermuka setengah pucat dan berjari-jari halus panjang itu. Dewa yang dalam segala aspeknya adalah sebenarnya penyair itu sendiri.}} {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 104)}}<noinclude>{{rh|36}}</noinclude> lsj9ypxxyzu9pdrohdf7alpjsy20zj1 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/103 104 103427 290845 2026-05-10T12:30:25Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 290845 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>Mereka mendjeladjahi perpustakaan-perpustakaan dan menjelidiki chazanah-chazanah universitas untuk mentjapai tudjuan mereka. Memang telah diketahui, bahwa untuk mempeladjari negara kita, pergilah ke luar negeri. Usaha untuk mendapat kesempatan datang kenegeri ini tetap dilakukan oleh mahasiswa itu. Biasanja ada sadja dana-dana dari universitas atau jajasan, jang memberikan biaja kepada mereka untuk mengikuti kuliah-kuliah di Indonesia. Atau dengan biaja sendiri mereka datang untuk hidup diantara rakjat didesa-desa dalam mempeladjari sesuatu dialek. Suatu ironi lagi {{...|10}} hasil karja mereka inilah nanti didjadikan sumber reference oleh sardjana-sardjana kita. Mungkin karena lebih tinggi otoritas mereka. Dalam kategori b. dapat kita golongkan mereka jang akan bertugas di Indonesia umpamanja: <ol type="1" start="1"> <li>kalangan missie dan zending</li> <li>anggota perwakilan/kedutaan</li> <li>kalangan perdagangan/perusahaan</li> <li>anggota rumah tangga.</li> </ol> Kalangan 1 umumnja sebelum datang kesini, terlebih dahulu telah dibekali sedikit banjak dengan bahasa kita, karena lapangan kerdja mereka erat hubungannja dengan masjarakat. Diantara anggota perwakilan jang ditempatkan di Indonesia ada jang telah mempeladjari dasar-dasar bahasa kita sebelumnja, tergantung dari pos jang dipegangnja. Dalam hal ini perwakilan Uni Sovjet unggul sekali. Mereka menjediakan djuru-djuru bahasa bangsa mereka sendiri dan tokoh pimpinan mereka tidak djarang menguasai bahasa kita dengan lumajan. Oleh sebab itu Perwakilan Sovjetlah jang paling sedikit mempekerdja pegawai Indonesia. Golongan ke 3 dari perdagangan/perusahaan kian hari kian kan membandjiri negeri kita. Umumnja mereka menjangka, bahwa dengan Bahasa Inggeris mereka melangkahkan kaki di bumi Indonesia, begitu mereka merasakan kebutuhan akan pengetahuan Bahasa Indonesia. Buru-buru mereka mentjari guru-guru jang akan mengadjar, dalam waktu setjepat mungkin dan usaha seminim mungkin. Beladjar bahasa sebagai studi sedapat mungkin mereka elakkan dengan pertimbangan, bahwa begitu mereka meninggalkan daerah kita, begitu semua boleh mereka lupakan lagi. Dalam satu kategori dengan kalangan pengusaha dapat kita masukkan njonja-njonja dari kalangan rumah tangga bahasa asing.<noinclude></noinclude> a7samqzntclk1ojjr1orjrp6dvs5pst Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/519 104 103428 290851 2026-05-10T12:34:25Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Tokoh-tokoh Iwan kelihatan kreatif bicara pikiran. Bertahan pada diri sendiri, bahkan sangat kaku mengatakan hakekat gelandangan itu bukan hempasan ekonomi atau sosial belaka. Dan untuk itu Iwan mo- muntahkan frustrasi-frustrasi Tokoh kita dan Maria dengan pembelaan agak rasionil dan bombas; bahwa Tokoh kita yang lari dari dunia ter- hormat, posisi dan fasilitas materil adalah alasan mencari: "kondi- si diri manusia-hanya-manusia" (Merahnya Mora... 290851 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>Tokoh-tokoh Iwan kelihatan kreatif bicara pikiran. Bertahan pada diri sendiri, bahkan sangat kaku mengatakan hakekat gelandangan itu bukan hempasan ekonomi atau sosial belaka. Dan untuk itu Iwan mo- muntahkan frustrasi-frustrasi Tokoh kita dan Maria dengan pembelaan agak rasionil dan bombas; bahwa Tokoh kita yang lari dari dunia ter- hormat, posisi dan fasilitas materil adalah alasan mencari: "kondi- si diri manusia-hanya-manusia" (Merahnya Morah: 40). Betapa retorisnya Iwan mengucapkan thesisnya lewat Tokoh kita. Sam- pai-sampai muncul kecurigaan tokoh ini menjadi programatis yang di- gumpal-gumpal Iwan, dengan sedikit tak jujur domi apologi rasionil. Bila Iwan masih merasa gemas, kurang puas dengan bicara lewat tokoh maka Iann lewat renungan penulis(Iwan) mengatakan diskusi-diskusinya ten tang: "hidupnya adalah jenis dari hidup di dalam-hidup. Teater- di dalam-Tenter" (erahnya Merah: 83); "nilni anumor ta kaum golan- dangan: untuk anatomi! Untuk antropologi fisik!" (Merahnya Merah: 71); ton tang nasib negara terkebelakang dan konsiderans pengertian "kaum gelandangan" (Merahnya Merah: 72); tentang Tokoh kita yang "lebih suka filsafat sebagai refleks, sebagai amal, sobagai pengha- yatan daripada filsafat sebagai kata benda. Dia tak ingin bermukim lama-lama di buku-buku "pengantar ke filsafat". Filsafatnya bukan sekedar filsafat-pengantar ke filsafat saja. Dia bukan filosof yang dalam hidupnya cuma mampu menulis satu dua buku tentang sejarah ringkas atau pengantar (ke) filsafat sajn (Morahnya Kerah: 84) Asal-usul tokoh semua menarik. Tokoh-tokoh sedap seperti Fifi yang bermulut simetris, mata yang menarik, gigi yang beraturan yang putih bersih. leher yang langsing, dan tak lupa "dada yang berisi". Tokoh-tokoh samping pun bertanda huruf besar: Profesor Filsafat, Pangdam, Pangdak, Perwira Tinggi Jenderal laskar rakyat yang pintar pidato tapi takut berperang hingga gila, Dokter Pamen Kesehatan, Se- 37 Bahs. Kesusast., V(2), 1973 Digitized by Google<noinclude>{{rh|37||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> jhy5bwwlzpkteshraqdektax6hptz6u 290858 290851 2026-05-10T12:40:41Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 290858 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>Tokoh-tokoh Iwan kelihatan kreatif bicara pikiran. Bertahan pada diri sendiri, bahkan sangat kaku mengatakan hakekat gelandangan itu bukan hempasan ekonomi atau sosial belaka. Dan untuk itu Iwan memuntahkan frustrasi-frustrasi Tokoh kita dan Maria dengan pembelaan agak rasionil dan bombas; bahwa Tokoh kita yang lari dari dunia terhormat, posisi dan fasilitas materil adalah alasan <u>mencari</u>: "kondisi diri manusia—hanya—manusia" (<u>Merahnya Morah</u>: 40). Betapa retorisnya Iwan mengucapkan thesisnya lewat Tokoh kita. Sampai-sampai muncul kecurigaan tokoh ini menjadi programatis yang digumpal-gumpal Iwan, dengan sedikit tak jujur demi apalagi rasionil. Bila Iwan masih merasa gemas, kurang puas dengan bicara lewat tokoh maka Iann lewat renungan penulis(Iwan) mengatakan diskusi-diskusinya tentang: "hidupnya adalah jenis dari hidup— di dalam—hidup. Teater—di dalam—Teater" (<u>Merahnya Merah</u>: 83); "nilai anumerta kaum gelandangan: untuk anatomi! Untuk antropologi fisik!" (<u>Merahnya Merah</u>: 71); tentang nasib negara terkebelakang dan konsiderans pengertian "kaum gelandangan" (<u>Merahnya Merah</u>: 72); tentang Tokoh kita yang "lebih suka filsafat sebagai refleks, sebagai amal, sobagai penghayatan daripada filsafat sebagai kata benda. Dia tak ingin bermukim lama-lama di buku-buku "pengantar ke filsafat". Filsafatnya bukan sekedar filsafat-pengantar ke filsafat saja. Dia bukan filosof yang dalam hidupnya cuma mampu menulis satu dua buku tentang sejarah ringkas atau pengantar (ke) filsafat sajn (<u>Merahnya Merah</u>: 84) Asal-usul tokoh semua menarik. Tokoh-tokoh sedap seperti Fifi yang bermulut simetris, mata yang menarik, gigi yang beraturan yang putih bersih. leher yang langsing, dan tak lupa "dada yang berisi". Tokoh-tokoh samping pun bertanda huruf besar: Profesor Filsafat, Pangdam, Pangdak, Perwira Tinggi Jenderal laskar rakyat yang pintar pidato tapi takut berperang hingga gila, Dokter Pamen Kesehatan, {{hws|Se|Sekarang}}<noinclude>{{rh|37||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> lc98u17xas7fk73alxr05zeervsgebw 290903 290858 2026-05-10T13:08:06Z Menyusurisudutnegeri 25205 290903 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>Tokoh-tokoh Iwan kelihatan kreatif bicara pikiran. Bertahan pada diri sendiri, bahkan sangat kaku mengatakan hakekat gelandangan itu bukan hempasan ekonomi atau sosial belaka. Dan untuk itu Iwan memuntahkan frustrasi-frustrasi Tokoh kita dan Maria dengan pembelaan agak rasionil dan bombas; bahwa Tokoh kita yang lari dari dunia terhormat, posisi dan fasilitas materil adalah alasan <u>mencari</u>: "kondisi diri manusia—hanya—manusia" (<u>Merahnya Morah</u>: 40). Betapa retorisnya Iwan mengucapkan thesisnya lewat Tokoh kita. Sampai-sampai muncul kecurigaan tokoh ini menjadi programatis yang digumpal-gumpal Iwan, dengan sedikit tak jujur demi apalagi rasionil. Bila Iwan masih merasa gemas, kurang puas dengan bicara lewat tokoh maka Iann lewat renungan penulis(Iwan) mengatakan diskusi-diskusinya tentang: "hidupnya adalah jenis dari hidup— di dalam—hidup. Teater—di dalam—Teater" (<u>Merahnya Merah</u>: 83); "nilai anumerta kaum gelandangan: untuk anatomi! Untuk antropologi fisik!" (<u>Merahnya Merah</u>: 71); tentang nasib negara terkebelakang dan konsiderans pengertian "kaum gelandangan" (<u>Merahnya Merah</u>: 72); tentang Tokoh kita yang "lebih suka filsafat sebagai refleks, sebagai amal, sobagai penghayatan daripada filsafat sebagai kata benda. Dia tak ingin bermukim lama-lama di buku-buku "pengantar ke filsafat". Filsafatnya bukan sekedar filsafat-pengantar ke filsafat saja. Dia bukan filosof yang dalam hidupnya cuma mampu menulis satu dua buku tentang sejarah ringkas atau pengantar (ke) filsafat sajn (<u>Merahnya Merah</u>: 84) Asal-usul tokoh semua menarik. Tokoh-tokoh sedap seperti Fifi yang bermulut simetris, mata yang menarik, gigi yang beraturan yang putih bersih. leher yang langsing, dan tak lupa "dada yang berisi". Tokoh-tokoh samping pun bertanda huruf besar: Profesor Filsafat, Pangdam, Pangdak, Perwira Tinggi Jenderal laskar rakyat yang pintar pidato tapi takut berperang hingga gila, Dokter Pamen Kesehatan, {{hws|Se|Seorang}}<noinclude>{{rh|37||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> h0tdr1lhw87zls1995b0pta9n70rg6h Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/130 104 103429 290853 2026-05-10T12:34:56Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 290853 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>Bea Tjukai dan Perdagangan digiatkan, dan diserahkan kepada Badan Pekerdja untuk menjusun satu program tentang kemakmuran. '''Konperensi Persatuan Perdjuangan, 20 April 1946.''' Konperensi Persatuan Perdjuangan se Sumatera berlangsung pada tanggal 20 April 1946 dan pembukaannja dihadiri oleh rombongan Pemerintah Pusat, dengan dihadiri oleh utusan-utusan dari Atjeh, Sumatera Timur, Tapanuli, Sumatera Barat, Riau, Djambi, Bangkahulu dan Palembang dibawah pimpinan Saudara Sarwono dari Pusat Persatuan Perdjuangan Sumatera (Medan). Sesudah mengadakan beberapa kali rapat tertutup, maka Persatuan Perdjuangan Sumatera mengeluarkan resolusi sebagai berikut : {{ol|list_style_type=lower-alpha |Siap sedia mengorbankan segala-galanja mempertahankan Negara Republik Indonesia atas dasar kesatuan dan persatuan segala bagian-bagian Negara Republik Indonesia |Setia patuh kepada Pemerintah dan menaruh kepertjajaan sepenuh-penuhnja atas pimpinan Kabinet Sutan Sjahrir. |Siap sedia memberantas, membasmi dan menghantjurkan segala sesuatu jang berupa aliran-aliran, gerombolan- gerombolan dan golongan-golongan jang mentjoba membelokkan dasar dan sikap PERSATUAN PËRDJUANGAN se- Sumatera.}} {{Border|color=#FFFFFF|position=right|compact=true|{{c|Bukittinggi, 22 April 1946.<br /> Sekretariat<br /> Putjuk Pimpinan<br /> ttd.<br /> Persatuan Perdjuangan<br /> Sumatera.}}}} '''Konperensi Residen-residen Sumatera, 16 April 1946.''' Dan dalam konperensi para Residen jang dimulai tanggal 16 April 1946, dan dihadiri oleh para Residen : {{Col-begin}} |Atjeh<br> Sumatera Timur<br> Tapanuli<br> Riau<br> Sumatera Barat<br> Djambi<br> Palembang<br> Lampung<br> Bengkulen {{Col-break}} |T. M. Daud Sjah<br> Mr. Luat Sir<br> Dr. F. L. Tobing<br> Abd. Malik<br> Dr. M. Djamil<br> A. Manan (Wakil)<br> Dr. A. K. Gani<br> Raden Basjit (Wakil)<br> Mr. Dr. Hazairin {{Col-end}} dan Residen-residen d/p A. Xarim M.S., Dt. Perpatih Baringek serta Sekretaris Propinsi Mas Tahir, dan dihadiri djuga oleh<noinclude>{{rh|124}}</noinclude> 9gk8akbvfj65ixqysepc95r06a7p5l9 291100 290853 2026-05-10T14:11:48Z Raehyuki 26958 /* Tervalidasi */ 291100 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Raehyuki" /></noinclude>Bea Tjukai dan Perdagangan digiatkan, dan diserahkan kepada Badan Pekerdja untuk menjusun satu program tentang kemakmuran. '''Konperensi Persatuan Perdjuangan, 20 April 1946.''' Konperensi Persatuan Perdjuangan se Sumatera berlangsung pada tanggal 20 April 1946 dan pembukaannja dihadiri oleh rombongan Pemerintah Pusat, dengan dihadiri oleh utusan-utusan dari Atjeh, Sumatera Timur, Tapanuli, Sumatera Barat, Riau, Djambi, Bangkahulu dan Palembang dibawah pimpinan Saudara Sarwono dari Pusat Persatuan Perdjuangan Sumatera (Medan). Sesudah mengadakan beberapa kali rapat tertutup, maka Persatuan Perdjuangan Sumatera mengeluarkan resolusi sebagai berikut : {{ol|list_style_type=lower-alpha |Siap sedia mengorbankan segala-galanja mempertahankan Negara Republik Indonesia atas dasar kesatuan dan persatuan segala bagian-bagian Negara Republik Indonesia |Setia patuh kepada Pemerintah dan menaruh kepertjajaan sepenuh-penuhnja atas pimpinan Kabinet Sutan Sjahrir. |Siap sedia memberantas, membasmi dan menghantjurkan segala sesuatu jang berupa aliran-aliran, gerombolan- gerombolan dan golongan-golongan jang mentjoba membelokkan dasar dan sikap PERSATUAN PËRDJUANGAN se- Sumatera.}} {{Border|color=#FFFFFF|position=right|compact=true|{{c|Bukittinggi, 22 April 1946.<br /> Sekretariat<br /> Putjuk Pimpinan<br /> ttd.<br /> Persatuan Perdjuangan<br /> Sumatera.}}}} '''Konperensi Residen-residen Sumatera, 16 April 1946.''' Dan dalam konperensi para Residen jang dimulai tanggal 16 April 1946, dan dihadiri oleh para Residen : {{Col-begin}} |Atjeh<br> Sumatera Timur<br> Tapanuli<br> Riau<br> Sumatera Barat<br> Djambi<br> Palembang<br> Lampung<br> Bengkulen {{Col-break}} |T. M. Daud Sjah<br> Mr. Luat Sir<br> Dr. F. L. Tobing<br> Abd. Malik<br> Dr. M. Djamil<br> A. Manan (Wakil)<br> Dr. A. K. Gani<br> Raden Basjit (Wakil)<br> Mr. Dr. Hazairin {{Col-end}} dan Residen-residen d/p A. Xarim M.S., Dt. Perpatih Baringek serta Sekretaris Propinsi Mas Tahir, dan dihadiri djuga oleh<noinclude>{{rh|124}}</noinclude> 77zrzesv4p7z1o6nbypldb3rpo9xicz Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/105 104 103430 290856 2026-05-10T12:37:34Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 290856 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||19}}</noinclude>Masih ingat kita pada tahun-tahun permulaan sesudah Perang Dunia II bagaimana giatnja Belanda memberikan peladjaran-peladjaran Bahasa Indonesia melalui radio. Apakah usaha seperti ini akan tenggelam sadja, setelah kita memiliki tenaga-tenaga ahli bangsa sendiri?. Tenaga-tenaga jang penuh "elan" untuk mengan tamir usaha ini bukan tidak ada. Hanja mereka terbentur pada soal penerbitan. Berbeda dengan penerbit-penerbit Belanda, penerbit-penerbit kita masih terpaksa menitikberatkan pada segi komersil, oleh karena kurangnja modal dan seretnja persedian kertas. Keadaan belum mengizinkan mereka, untuk menjorot soal ini dari segi nasional. Mereka sudah tentu lebih dahulu memperhitungkan djumlah oplaagnja. Kesulitan ini memaksa tenaga-tenaga kita untuk menjerahkan naskah-naskah mereka kepada penerbit-penerbit di luar negeri. Sebagai tjontoh kita ambil buku-buku : <ol type="1" start="1"> <li>{{u|Introduction to Bahasa Indonesia}}, J.P. Sarumpaet, J.A.C. Mackie, terbitan Melbourne University Press (Australia).</li> <li>{{u|The Structure of Bahasa Indonesia}}, J.P. Sarumpaet, terbitan Departement of Indonesian and Malayan Studies University of Melbourne (Australia).</li> <li>{{u|Bahasa Indonesia}}, United States Information Service (Amerika).</li> </ol> Djika pemerintah tidak memberikan bantuannja, sangat dichawatirkan, bahwa dalam hal pengembangan bahasa nasional, kita akan tergantung pula pada impor dari luar negeri. Tidakkah djanggal, kalau kita harus memesan buku-buku pengadjaran Bahasa Indonesia ke Australia ke Nederland atau ke Amerika Serikat? Kekuatiran kita, bahwa Malaysia akan mendahului kita lagi dalam usaha pengembangan bahasa, saja pikir, tjukup beralasan. Ahli-ahli bahasa dan lingguistik kita tjukup kreatif. Mereka dapat mentjiptakan metode-metode jang menarik, seperti jang dilantjarkan oleh Goethe Instttut untuk bahasa Djerman dan kursus-kursus bahasa lain jang banjak beroperasi di tanah air kita dewasa ini. Karena usaha ini termasuk usaha bersifat nasional, sudah pada waktunja, djika pihak pemerintah mengulurkannja tangannja, dimana pihak swasta belum memperlihatkan kemampuan sebagaimana jang diharapkan.<noinclude></noinclude> kgccw7ll96nwzix00v478uyk4stucyd Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/520 104 103431 290859 2026-05-10T12:41:16Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Merahnya merah orang wanita gelandangan yang gemuk (!) pelawak perkampungan golan- dangan, Pak Jentong dongan filsafat suksesnya (tapi toh ia golandang- an!) "din hanya suka pada sukses. Din ingin terlibat separah-parah- nya dalam peristiwa apa saja, domi sukses" (Merahnya Morah: 88). Rasanya sadar atau tidak tokoh ini mengironi dirinya sendiri dengan "filsafat sukses" itu. Inilah rupanya ckspresi bahaya programa Iwan. Sebuah kepukauan yang meno... 290859 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" />{{rh|Merahnya merah}}</noinclude>Merahnya merah orang wanita gelandangan yang gemuk (!) pelawak perkampungan golan- dangan, Pak Jentong dongan filsafat suksesnya (tapi toh ia golandang- an!) "din hanya suka pada sukses. Din ingin terlibat separah-parah- nya dalam peristiwa apa saja, domi sukses" (Merahnya Morah: 88). Rasanya sadar atau tidak tokoh ini mengironi dirinya sendiri dengan "filsafat sukses" itu. Inilah rupanya ckspresi bahaya programa Iwan. Sebuah kepukauan yang menonjolkan tokoh-tokohnya semakin menjadi escis, artifisial dan bukan tokoh kepribadian (yang berdarah daging). Kegelandangnnan yang dieksploitir ke tingkat pemikiran: bukan minta banyak-banyak nasi dari negara ini, tetapi resolusi-resolusi bagi dirinya sendiri. Dalam novel ini orang akan simpatik cuma kepada Fifi. Seder hana, dipukul hempasan nasib, berbionrn, berkeinginan dicinta dan dilindungi, berbuat jujur mombuka pahanya bagi tokoh kita yang di- cintainya. 3. "ko tangkap ikan mas" istilah- Ada beberapa deretan penyelesaian masalah merupakan perlom- patan luar biasa yang soren tak hiperbol rasanya. Misalnya: bunuh di- ri dari pastor; bunuh diri dari gadis Barisan suka rela hanya karena tahu bahwa in menembak seorang profesor; wanita gelandangan yang la karena dapat rejeki nomplok, nya, mendapat langganan seorang polaut bernafsu garang dan tebal sa- kunya; Marin melarikan diri; Tokoh kita yang tidak mau memperbaiki nasibnya biar sccara fisik ada fasilitas, hanya karona alasan psiko- logis daripada frustrasi dan kesadaran akan "filsafat dosa dan am- pun" dari agamanya (nota bene: gereja tak pernah ia masuk lagi); suatu hal yang menimbulkan hidup sang Tokoh kita adalah sungguh- sungguh "mati raga" scorang santu. Juga ada beberapa perlompatan perwatakan yang ngak lirih. Misalnya, seorang calon rahib yang tekun monghidupi ajaran cinta kn- 38 Digitized by Google<noinclude>{{rh|38}}</noinclude> dl5bbe8tom8ohss5sxfomwver02sjq2 290902 290859 2026-05-10T13:07:51Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 290902 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" />{{rh|Merahnya merah}}</noinclude>{{hwe|orang|seorang}} wanita gelandangan yang <u>gemuk</u> (!) pelawak perkampungan gelandangan, Pak Centeng dengan <u>filsafat suksesnya</u> (tapi toh ia gelandangan!) "dia hanya suka pada sukses. Dia ingin terlibat separah-parahnya dalam peristiwa apa saja, demi sukses" (<u>Merahnya Merah</u>: 88). Rasanya sadar atau tidak tokoh ini mengironi dirinya sendiri dengan "filsafat sukses" itu. Inilah rupanya ekspresi bahaya programa Iwan. Sebuah kepukauan yang menonjolkan tokoh-tokohnya semakin menjadi eseis, artifisial dan bukan tokoh kepribadian (yang berdarah daging). Kegelandangnnan yang dieksploitir ke tingkat pemikiran: bukan minta banyak-banyak nasi dari negara ini, tetapi resolusi-resolusi bagi dirinya sendiri. Dalam novel ini orang akan simpatik cuma kepada Fifi. Sederhana, dipukul hempasan nasib, berbicara, berkeinginan dicinta dan dilindungi, berbuat jujur membuka pahanya bagi tokoh kita yang dicintainya. {{ol|start=3|Ada beberapa deretan penyelesaian masalah merupakan perlompatan luar biasa yang serentak hiperbol rasanya. Misalnya: <u>bunuh dir</u> dari pastor; bunuh diri dari gadis Barisan suka rela hanya karena tahu bahwa ia menembak seorang profesor; wanita gelandangan yang <u>gila</u> karena dapat rejeki nomplok, "ketangkap ikan mas" istilahnya, mendapat langganan seorang pelaut bernafsu garang dan tebal sakunya; Marin <u>melarikan diri</u>; Tokoh kita yang <u>tidak mau memperbaiki</u> nasibnya biar secara fisik ada fasilitas, hanya karena alasan psikologis daripada frustrasi dan kesadaran akan "filsafat dosa dan ampun" dari agamanya (nota bene: gereja tak pernah ia masuk lagi); suatu hal yang menimbulkan <u>hidup</u> sang Tokoh kita adalah sungguh-sungguh "mati raga" seorang santu. Juga ada beberapa perlompatan perwatakan yang ngak lirih. Misalnya, seorang calon rahib yang tekun menghidupi ajaran cinta {{hws|ka|kasih}}<noinclude>{{rh|38}}</noinclude> 5xikq1pnb4d2kqmze4yyhi7d0335p8c Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/111 104 103432 290878 2026-05-10T12:54:54Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 290878 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{rh||APAKAH BAHASA ITU?}} {{rh|||Oleh: B. Soehardi}} <ol type="1" start="1"> <li>Pengantar</li> Dari pengalaman hidup kita ternjata bahwa kita harus hidup bersama orang lain. Kita tidak dapat hidup menjendiri, karena kebutuhan kita sehari-hari hanja dapat kita penuhi langsung atau tidak dengan bantuan orang lain. Tidak seorangpun dapat menghindari hal ini, lebih-lebih pada djaman modern seperti sekarang ini. (Sebagai keketjualian barangkali Robinson Crusoe jang terpaksa hidup terpentjil disebuah pulau kosong.) Dari pengalaman hidup kita ternjata pula bahwa untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari kita harus berbitjara dengan orang lain. Berbitjara berarti berbahasa. Dari pengalaman hidup kita ternjata pula bahwa kita -- mau tidak mau, sadar atau tidak -- harus berbitjara setiap hari. Hal ini berarti bahwa setiap hari pula kita berbahasa. Kalau kita hitung -- mulai dari saat bangun tidur di pagi hari sampai saat untuk tidur lagi pada malam berikutnja -- berapa kalikah kita berbitjara: dengan saudara, dengan isteri atau suami, dengan anak, dengan pelajan, atau dengan teman? Hal ini kita lakukan setiap hari tanpa kita perhatikan betapa pentingnja peranan bahasa dalam kehidupan kita. Memang, pergaulan kita jang begitu mesra dengan bahasa berlangsung setiap hari, dan djustru kemesraan inilah jang menjebabkan kita tidak sempat memikirkan soal-soal jang berhubungan dengan bahasa, soal-soal mengenai hakekat bahasa. Andaikata pada suatu saat sampai kepada kita pertanjaani "Apakah bahasa itu?" rasa-rasanja sulit djuga bagi kita untuk menjedia- kan djawaban jang agak sempurna. Tentu sadja kita dapat memberikan berbabagai matjam djawaban, tergantung pada titik tolak pandangan kita. Sering sekali kita mendengar kalau -- kita berhadapan dengan peladjar, mahasiswa, guru-guru bahasa, buku-buku tatabahasa, atau dengan kalangan lain -- djawaban sebagai berikut: "Babasa adalah alat untuk menjampaikan pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain." Sepintas lalu djawaban tersebut terdengar sudah agak sempurna. Marilah kita lihat apakah jang kita peroleh dari djawaban tadi. Kalau jang dimaksud dengan bahasa mehang demikian, apakah hal ini berarti bahwa perbuatan kita memukul seorang anak ketjil misalnja, dapat kita golongkan kedalam pengertian bahasa? Atas pertanjaan ini, seorang mahasiswa (jang pernah memberikan batasan bahasa tadi kepada penulis) mendjawab: </ol><noinclude>{{rh|||25}}</noinclude> sern936frrjl7g761qr8znz0klxtnac Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/490 104 103433 290883 2026-05-10T12:59:04Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ Membuat halaman kosong 290883 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude><noinclude></noinclude> j3it2j5363rqbq5u9h0ai682fmbt3ul 290921 290883 2026-05-10T13:16:49Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ 290921 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>3. <u>Second and Foreign Languages</u> To the extent that the majority of Indonesians are non-native speakers of Bahasa Indonesia, the national language is a second language in the country. However, because of the fact that the language is used widely in the society at large, outside the school environment, especially in the mass media of communication, Indonesian children have acquired "native-like" capacity for the use of the language, generally, by the time they start their schooling. The principal foreign languages that are used in the country are English, Dutch, German, French, Japanese, Modern Arabic, Classical Arabic and Sanskrit. These foreign languages, except English, Classical Arabic and Sanskrit, are used at varying degrees of proficiency in certain groups or social classes for academic and literary purposes as well as for international communication. English is the most widely used. The proficiency level, however, is generally not satisfactory. Classical Arabic and Sanskrit are of course not used as living media of communication. Classical Arabic, the language of the Quran, is used for religious purposes, and Sanskrit for literary studies. These foreign languages are introduced as school subjects at different points of time and in different types of schools. Dutch, whose status as a school subject terminated when Indonesia proclaimed her independence in 1945, is currently being re-introduced in certain universities simply because of the fact that a lot of books and other library materials still in use in Indonesia today are written in Dutch. German or French and Sanskrit are taught in the senior high school, beginning with the second-year students majoring in language and literature, or social sciences. Japanese is taught at the college level. Modern Arabic is introduced quite early in the Islamic elementary school; otherwise, it is not taught until the senior high school level.<noinclude></noinclude> duz3gv1uaqzysjtnvb9x6nxkj4lyegx 290937 290921 2026-05-10T13:23:08Z Moel81 25980 290937 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>3. <u>Second and Foreign Languages</u> To the extent that the majority of Indonesians are non-native speakers of Bahasa Indonesia, the national language is a second language in the country. However, because of the fact that the language is used widely in the society at large, outside the school environment, especially in the mass media of communication, Indonesian children have acquired "native-like" capacity for the use of the language, generally, by the time they start their schooling. The principal foreign languages that are used in the country are English, Dutch, German, French, Japanese, Modern Arabic, Classical Arabic and Sanskrit. These foreign languages, except English, Classical Arabic and Sanskrit, are used at varying degrees of proficiency in certain groups or social classes for academic and literary purposes as well as for international communication. English is the most widely used. The proficiency level, however, is generally not satisfactory. Classical Arabic and Sanskrit are of course not used as living media of communication. Classical Arabic, the language of the <u>Quran</u>, is used for religious purposes, and Sanskrit for literary studies. These foreign languages are introduced as school subjects at different points of time and in different types of schools. Dutch, whose status as a school subject terminated when Indonesia proclaimed her independence in 1945, is currently being re-introduced in certain universities simply because of the fact that a lot of books and other library materials still in use in Indonesia today are written in Dutch. German or French and Sanskrit are taught in the senior high school, beginning with the second-year students majoring in language and literature, or social sciences. Japanese is taught at the college level. Modern Arabic is introduced quite early in the Islamic elementary school; otherwise, it is not taught until the senior high school level.<noinclude></noinclude> lnqjskcajp1fbqykn6pc2pxo09hfvh4 290948 290937 2026-05-10T13:24:59Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 290948 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>3. <u>Second and Foreign Languages</u> To the extent that the majority of Indonesians are non-native speakers of Bahasa Indonesia, the national language is a second language in the country. However, because of the fact that the language is used widely in the society at large, outside the school environment, especially in the mass media of communication, Indonesian children have acquired "native-like" capacity for the use of the language, generally, by the time they start their schooling. The principal foreign languages that are used in the country are English, Dutch, German, French, Japanese, Modern Arabic, Classical Arabic and Sanskrit. These foreign languages, except English, Classical Arabic and Sanskrit, are used at varying degrees of proficiency in certain groups or social classes for academic and literary purposes as well as for international communication. English is the most widely used. The proficiency level, however, is generally not satisfactory. Classical Arabic and Sanskrit are of course not used as living media of communication. Classical Arabic, the language of the <u>Quran</u>, is used for religious purposes, and Sanskrit for literary studies. These foreign languages are introduced as school subjects at different points of time and in different types of schools. Dutch, whose status as a school subject terminated when Indonesia proclaimed her independence in 1945, is currently being re-introduced in certain universities simply because of the fact that a lot of books and other library materials still in use in Indonesia today are written in Dutch. German or French and Sanskrit are taught in the senior high school, beginning with the second-year students majoring in language and literature, or social sciences. Japanese is taught at the college level. Modern Arabic is introduced quite early in the Islamic elementary school; otherwise, it is not taught until the senior high school level.<noinclude>{{rh|8}}</noinclude> t6ifme81qqwyy78fksk8tgshndkobmf 291741 290948 2026-05-11T06:13:17Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291741 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>3. <u>Second and Foreign Languages</u> To the extent that the majority of Indonesians are non-native speakers of Bahasa Indonesia, the national language is a second language in the country. However, because of the fact that the language is used widely in the society at large, outside the school environment, especially in the mass media of communication, Indonesian children have acquired "native-like" capacity for the use of the language, generally, by the time they start their schooling. The principal foreign languages that are used in the country are English, Dutch, German, French, Japanese, Modern Arabic, Classical Arabic and Sanskrit. These foreign languages, except English, Classical Arabic and Sanskrit, are used at varying degrees of proficiency in certain groups or social classes for academic and literary purposes as well as for international communication. English is the most widely used. The proficiency level, however, is generally not satisfactory. Classical Arabic and Sanskrit are of course not used as living media of communication. Classical Arabic, the language of the <u>Quran</u>, is used for religious purposes, and Sanskrit for literary studies. These foreign languages are introduced as school subjects at different points of time and in different types of schools. Dutch, whose status as a school subject terminated when Indonesia proclaimed her independence in 1945, is currently being re-introduced in certain universities simply because of the fact that a lot of books and other library materials still in use in Indonesia today are written in Dutch. German or French and Sanskrit are taught in the senior high school, beginning with the second-year students majoring in language and literature, or social sciences. Japanese is taught at the college level. Modern Arabic is introduced quite early in the Islamic elementary school; otherwise, it is not taught until the senior high school level.<noinclude>{{rh|8}}</noinclude> cf8zopub3n7kun3lw7df0vgsci6a2up Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/553 104 103434 290893 2026-05-10T13:02:47Z N.imaema 22481 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Ki, Sersan Pn pendeknja semua bintara dari kesatuannja masing- masing. Lebih? Ba Peleton, kare- na ia adalah wakil komandan pe- leton dan se-waktu? akan meng- ganti kmd. Pn-nja bila ini berha- langan karena gugur atau luka didalam pertempuran. Ba Pelatih dan Sersan Pn di- dalam pasukannja adalah orang jang ditakuti”, karena ketelitian- nja terhadap pelanggaran? PUD, disiplin dan karena keahliannja serta ketjakapannja dalam ilmu ke... 290893 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="N.imaema" /></noinclude>Ki, Sersan Pn pendeknja semua bintara dari kesatuannja masing- masing. Lebih? Ba Peleton, kare- na ia adalah wakil komandan pe- leton dan se-waktu? akan meng- ganti kmd. Pn-nja bila ini berha- langan karena gugur atau luka didalam pertempuran. Ba Pelatih dan Sersan Pn di- dalam pasukannja adalah orang jang ditakuti”, karena ketelitian- nja terhadap pelanggaran? PUD, disiplin dan karena keahliannja serta ketjakapannja dalam ilmu kemiliteran jang diperlukan bagi anggota kompi-nja. Maka dengan tak segan? para Ba pelatih dan Sersan Pn harus Gbr. tengah : Inspeksi Militer di Perkemahan Darurat dari Bn Kudjang I. Gbr. kiri bawah : Presiden sedang meminta ketera- ngan-keterangan kepada seorang Perwira Menengah jang mendja- bat Kmd Ki Latihan. Gbr. kanan bawah : Gubug jang terletak ditengah sa- wah itu adalah tempat Plm Ter- tinggi menjaksikan latihan penda- ratan. Dalam latihan tsb dipergu- nakan dentuman? meriam dan pe- luru-peluru tadjam. Rumah? Sakit Darurat djuga mendapat perhatian penuh dari Bapak Kepala Negara kita. Tampak dalam gambar beliau sedang bertjakap- tjakap dengan salah seorang pasien. NAS 1. .. Digitized by Google<noinclude></noinclude> kwm6m9qiowjx1zi6u3e524vmvs52qaq 290914 290893 2026-05-10T13:14:34Z N.imaema 22481 /* Telah diuji baca */ 290914 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="N.imaema" /></noinclude>Ki, Sersan Pn pendeknja semua bintara dari kesatuannja masing-masing. Lebih<sup>2</sup> Ba Peleton, karena ia adalah wakil komandan peleton dan se-waktu<sup>2</sup> akan mengganti kmd. Pn-nja bila ini berhalangan karena gugur atau luka didalam pertempuran. Ba Pelatih dan Sersan Pn didalam pasukannja adalah orang jang ditakuti”, karena ketelitiannja terhadap pelanggaran<sup>2</sup> PUD, disiplin dan karena keahliannja serta ketjakapannja dalam ilmu kemiliteran jang diperlukan bagi anggota kompi-nja. Maka dengan tak segan<sup>2</sup> para Ba pelatih dan Sersan Pn harus {{missing image}} ''Rumah<sup>2</sup> Sakit Darurat djuga mendapat perhatian penuh dari Bapak Kepala Negara kita. Tampak dalam gambar beliau sedang bertjakap-tjakap dengan salah seorang pasien.'' {{missing image}} ''Gbr. tengah :'' ''Inspeksi Militer di Perkemahan Darurat dari Bn Kudjang I.'' ''Gbr. kiri bawah :'' ''Presiden sedang meminta keterangan-keterangan kepada seorang Perwira Menengah jang mendjabat Kmd Ki Latihan.'' ''Gbr. kanan bawah :'' ''Gubug jang terletak ditengah sawah itu adalah tempat Plm Tertinggi menjaksikan latihan pendaratan. Dalam latihan tsb dipergunakan dentuman<sup>2</sup> meriam dan peluru-peluru tadjam.'' {{missing image}} {{missing image}}<noinclude></noinclude> b4y1oeb7hih7gbo284jwtypfj4auetd Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/521 104 103435 290905 2026-05-10T13:08:29Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'sih sesama dapat berubah buas dan garang, membunuh lebih koji dari- pada algojo profesionil, hanya karena nasionalisme (sebuah iman bn- ru) jaman revolusi. Di manakah logika-logika lain disisakan? Untuk membela peristiwa ini dijerumuskanlah Tokoh kita ke dalam rumah sa- kit jign. Lantas. Tokoh kita yang dikenal wibawa, kerns dan punya. harga diri, analisa budi yang tajam, dibiarkan berkubang dalam sta- tus sosialnya hanya untuk menyelamatkan the... 290905 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>sih sesama dapat berubah buas dan garang, membunuh lebih koji dari- pada algojo profesionil, hanya karena nasionalisme (sebuah iman bn- ru) jaman revolusi. Di manakah logika-logika lain disisakan? Untuk membela peristiwa ini dijerumuskanlah Tokoh kita ke dalam rumah sa- kit jign. Lantas. Tokoh kita yang dikenal wibawa, kerns dan punya. harga diri, analisa budi yang tajam, dibiarkan berkubang dalam sta- tus sosialnya hanya untuk menyelamatkan thesis "gelandangan bukan cuma soal ekonomi dan sosial" (snya garis banhi "bukan cuma" = jugn ya) atau kalap jiwn. Jenteng juga mengalami dehumanisasi yang sama. Bila benar-benar in punya filsafat sukses (Merahnya Merah: 88) pasti ia tidak akan berpangku tangan dalam merindu kelezatan tubuh Maria. Dan untuk kehormatan filsafat suksesnya itu, rupa-rupanya maka begi- tu mudahnya in mati di belakang kecengangan emosional merindukan Karin dan meraguk nyawa Tokoh kita kawan senasibnya sekali gus. Nam- pak paradoksal, soolah-olah Iwan sendiri mencibir lagi kemanusiaan itu: biar mampus semuanya karena manusia dan dunianya toh relatif, jadi npn anja bisa terjadi. 4. Dalam struktur, novel Ivan Merahnya Merah ditandai jalur co- rita sorot balik (finsh back). Keseringannya mengganggu. Misalnya, di tengah keasyikan kisah Fifi (Korahnya Merah: 47), sorot-balik dilaksanakan untuk "operasi" Marin yang tak tanggung-tanggung makan waktu sampai 5 halaman (berlangsung sampai Moralnya kerah: 51); In- lu Fifi dilanjutkan sampai halaman 53 un tuk komhali sorot-balik com rita kisah mula perkenalan Maria dongan Tokoh kita dan oicipan tubuh Maria buat pertama berlangsung sampai halaman 57; lalnu kisah Fifi yang sudah menunggu-nunggu diberi jalan lagi. Interupsi sorot balik, sonkan mendinginkan perhatian ki tn pada Fifi. Namun penggunaan bahasa Iwan sering monghibur kita untuk ber- sabar. Kalimat-kalimat pendek. Hanya saja, gaya ini tidak stabil di- 39 Bahs. Kesusast., V(2), 1973 Digitized by Google<noinclude>{{rh|39||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> 5pn20smwplozzso1hc55jt39h0zltmp 290915 290905 2026-05-10T13:15:36Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 290915 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>{{hwe|sih|kasih}} sesama dapat <u>berubah</u> buas dan garang, membunuh lebih keji daripada algojo profesionil, <u>hanya karena nasionalisme</u> (sebuah iman baru) jaman revolusi. Di manakah logika-logika lain disisakan? Untuk membela peristiwa ini dijerumuskanlah Tokoh kita ke dalam rumah sakit jiwa. Lantas. Tokoh kita yang dikenal wibawa, keras dan punya harga diri, analisa budi yang tajam, dibiarkan berkubang dalam status sosialnya hanya untuk menyelamatkan thesis "gelandangan <u>bukan cuma</u> soal ekonomi dan sosial" (saya garis bawahi "bukan cuma" = juga ya) atau kalap jiwa. Centeng juga mengalami dehumanisasi yang sama. Bila benar-benar ia punya filsafat sukses (<u>Merahnya Merah</u>: 88) pasti ia tidak akan berpangku tangan dalam merindu kelezatan tubuh Maria. Dan untuk kehormatan filsafat suksesnya itu, rupa-rupanya maka begitu mudahnya ia mati di belakang kecengangan emosional merindukan Maria dan mereguk nyawa Tokoh kita kawan senasibnya sekaligus. Nampak paradoksal, seolah-olah Iwan sendiri mencibir lagi kemanusiaan itu: biar mampus semuanya karena manusia dan dunianya toh relatif, jadi npn anja bisa terjadi. {{ol|start=4| Dalam struktur, novel Iwan <u>Merahnya Merah</u> ditandai jalur cerita sorot balik (flash back). Keseringannya mengganggu. Misalnya, di tengah keasyikan kisah Fifi (<u>Merahnya Merah</u>: 47), sorot-balik dilaksanakan untuk "operasi" Maria yang tak tanggung-tanggung makan waktu sampai 5 halaman (berlangsung sampai <u>Merahnya Merah</u>: 51); lalu Fifi dilanjutkan sampai halaman 53 untuk kembali sorot-balik cerita kisah mula perkenalan Maria dengan Tokoh kita dan cicipan tubuh Maria buat pertama berlangsung sampai halaman 57; lalau kisah Fifi yang sudah menunggu-nunggu diberi jalan lagi. Interupsi sorot balik, seakan mendinginkan perhatian kita pada Fifi. Namun penggunaan bahasa Iwan sering menghibur kita untuk bersabar. Kalimat-kalimat pendek. Hanya saja, gaya ini tidak stabil {{hws|di|diawal}}<noinclude>{{rh|39||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> l0hzid0psmuty5udl2hy91mnjckis8f 290918 290915 2026-05-10T13:16:06Z Menyusurisudutnegeri 25205 290918 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>{{hwe|sih|kasih}} sesama dapat <u>berubah</u> buas dan garang, membunuh lebih keji daripada algojo profesionil, <u>hanya karena nasionalisme</u> (sebuah iman baru) jaman revolusi. Di manakah logika-logika lain disisakan? Untuk membela peristiwa ini dijerumuskanlah Tokoh kita ke dalam rumah sakit jiwa. Lantas. Tokoh kita yang dikenal wibawa, keras dan punya harga diri, analisa budi yang tajam, dibiarkan berkubang dalam status sosialnya hanya untuk menyelamatkan thesis "gelandangan <u>bukan cuma</u> soal ekonomi dan sosial" (saya garis bawahi "bukan cuma" = juga ya) atau kalap jiwa. Centeng juga mengalami dehumanisasi yang sama. Bila benar-benar ia punya filsafat sukses (<u>Merahnya Merah</u>: 88) pasti ia tidak akan berpangku tangan dalam merindu kelezatan tubuh Maria. Dan untuk kehormatan filsafat suksesnya itu, rupa-rupanya maka begitu mudahnya ia mati di belakang kecengangan emosional merindukan Maria dan mereguk nyawa Tokoh kita kawan senasibnya sekaligus. Nampak paradoksal, seolah-olah Iwan sendiri mencibir lagi kemanusiaan itu: biar mampus semuanya karena manusia dan dunianya toh relatif, jadi npn anja bisa terjadi. {{ol|start=4| Dalam struktur, novel Iwan <u>Merahnya Merah</u> ditandai jalur cerita sorot balik (flash back). Keseringannya mengganggu. Misalnya, di tengah keasyikan kisah Fifi (<u>Merahnya Merah</u>: 47), sorot-balik dilaksanakan untuk "operasi" Maria yang tak tanggung-tanggung makan waktu sampai 5 halaman (berlangsung sampai <u>Merahnya Merah</u>: 51); lalu Fifi dilanjutkan sampai halaman 53 untuk kembali sorot-balik cerita kisah mula perkenalan Maria dengan Tokoh kita dan cicipan tubuh Maria buat pertama berlangsung sampai halaman 57; lalau kisah Fifi yang sudah menunggu-nunggu diberi jalan lagi. Interupsi sorot balik, seakan mendinginkan perhatian kita pada Fifi. Namun penggunaan bahasa Iwan sering menghibur kita untuk bersabar. Kalimat-kalimat pendek. Hanya saja, gaya ini tidak stabil {{hws|di|dipertahankan}}<noinclude>{{rh|39||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> qxoyqe3nxgaahyrfgygkzsbp90iw1pg 291825 290918 2026-05-11T07:15:00Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291825 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|sih|kasih}} sesama dapat <u>berubah</u> buas dan garang, membunuh lebih keji daripada algojo profesionil, <u>hanya karena nasionalisme</u> (sebuah iman baru) jaman revolusi. Di manakah logika-logika lain disisakan? Untuk membela peristiwa ini dijerumuskanlah Tokoh kita ke dalam rumah sakit jiwa. Lantas. Tokoh kita yang dikenal wibawa, keras dan punya harga diri, analisa budi yang tajam, dibiarkan berkubang dalam status sosialnya hanya untuk menyelamatkan thesis "gelandangan <u>bukan cuma</u> soal ekonomi dan sosial" (saya garis bawahi "bukan cuma" = juga ya) atau kalap jiwa. Centeng juga mengalami dehumanisasi yang sama. Bila benar-benar ia punya filsafat sukses (<u>Merahnya Merah</u>: 88) pasti ia tidak akan berpangku tangan dalam merindu kelezatan tubuh Maria. Dan untuk kehormatan filsafat suksesnya itu, rupa-rupanya maka begitu mudahnya ia mati di belakang kecengangan emosional merindukan Maria dan mereguk nyawa Tokoh kita kawan senasibnya sekaligus. Nampak paradoksal, seolah-olah Iwan sendiri mencibir lagi kemanusiaan itu: biar mampus semuanya karena manusia dan dunianya toh relatif, jadi npn anja bisa terjadi. 4. Dalam struktur, novel Iwan <u>Merahnya Merah</u> ditandai jalur cerita sorot balik (flash back). Keseringannya mengganggu. Misalnya, di tengah keasyikan kisah Fifi (<u>Merahnya Merah</u>: 47), sorot-balik dilaksanakan untuk "operasi" Maria yang tak tanggung-tanggung makan waktu sampai 5 halaman (berlangsung sampai <u>Merahnya Merah</u>: 51); lalu Fifi dilanjutkan sampai halaman 53 untuk kembali sorot-balik cerita kisah mula perkenalan Maria dengan Tokoh kita dan cicipan tubuh Maria buat pertama berlangsung sampai halaman 57; lalau kisah Fifi yang sudah menunggu-nunggu diberi jalan lagi. Interupsi sorot balik, seakan mendinginkan perhatian kita pada Fifi. Namun penggunaan bahasa Iwan sering menghibur kita untuk bersabar. Kalimat-kalimat pendek. Hanya saja, gaya ini tidak stabil {{hws|di|dipertahankan}}<noinclude>{{rh|39||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> cgel791cdveo571lfea1mm3w7oano8v Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/522 104 103436 290917 2026-05-10T13:15:52Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Merahnya merah pertahankan Iwan. Pada urninn-urnian analitis dari Pangdam, Pangdak, Conteng bahkan Tokoh kita sendiri, kalimat-kalimat panjang terasa melesukan. Apalagi kalau dibumbui istilah-istilah asing, seperti: snob, idenbild, silogisac, dekndensi, blaso, tawn annchroon, konsto- lasi, dan lain-lain. Tapi dalam menggambarkan adegan-adegan yang bukan penjabaran nampak kekuatan bahasa Iwan mongagumkan. Dengarlah pertemuan Tokoh kita dengan wan... 290917 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" />{{rh|Merahnya merah}}</noinclude>Merahnya merah pertahankan Iwan. Pada urninn-urnian analitis dari Pangdam, Pangdak, Conteng bahkan Tokoh kita sendiri, kalimat-kalimat panjang terasa melesukan. Apalagi kalau dibumbui istilah-istilah asing, seperti: snob, idenbild, silogisac, dekndensi, blaso, tawn annchroon, konsto- lasi, dan lain-lain. Tapi dalam menggambarkan adegan-adegan yang bukan penjabaran nampak kekuatan bahasa Iwan mongagumkan. Dengarlah pertemuan Tokoh kita dengan wanita yang sudah lama menunggunya, Fifi. Getar-getar kecil birahinya secara sistematis merebut selu- ruh tubuhnya. Bagian demi bagian. Rambut bergelombang Fifi berbau malam dan bulan redup itu, diremas-remasnya. Ditarik- nya ke tanah. Seperti singa betina lepas, dia mengambil ini- siatif yang diserahkan secara mutlak padanya... Sekelompok awan datang dekat sekali ke bulan. Makin dekat. Makin dokat. Pada suatu saat, bulan di terkam awan. Scketika langit gelap. Bumi pun gelap. Yang ada adalah embusan angin malam. Seluruh alam raya ikut bernafas liar, mengaduh... Apabila embun ber- arak pergi lagi, meninggalkan bulan puent malu-malu, bumi pun mulailah cerah kembali. Rdupnya yang romang-remang tadi kini berombuskan angin dari pernafasan yang reda. Tenang kembali. Kecuali ... pernafasan seorang. Dua buah mata, tajam hitam pekat, mempersaksikan dari balik semak-semak sc- luruh idylle tengah malam di lapangan itu. (Merahnya Morah: 67) Betapa halusnya bahnen Iwan, membangkitkan imajinasi kita. Getar- getar birehi menuju koi tus dengan halus dihidangkan lewat simbol- simbol, mengingatkan kita pada bahasa Tonnesso Williams ton tang perkosaan sang ma tahari terbenam dalam rahim bumi yang garang, meng- isap kekuatan seks matahari, dalam sebuah adegan drama persembahan- nya kepada almarhum D. H. Lawrence, yang berjudul: "I rise in Flame, cried The Phoenix". 5. Dalam hubungan antar tokoh, novel Iwan ini sebenarnya tidak beralih jauh dari perputaran roman-roman konvensionil, yakni: cinta 40 Digitized by Google<noinclude></noinclude> qb3rqx68v98zpv30cdwpmj2mhl0jvlt 290934 290917 2026-05-10T13:22:36Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 290934 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" />{{rh|Merahnya merah}}</noinclude>{{hwe|pertahankan|dipertahankan}} Iwan. Pada uraian-uraian analitis dari Pangdam, Pangdak, Centeng bahkan Tokoh kita sendiri, kalimat-kalimat panjang terasa melesukan. Apalagi kalau dibumbui istilah-istilah asing, seperti: <u>enob, idenbild, silogisme, dekadensi, blase, tawa anachroon, konstelasi</u>, dan lain-lain. Tapi dalam menggambarkan adegan-adegan yang bukan penjabaran nampak kekuatan bahasa Iwan mengagumkan. Dengarlah pertemuan Tokoh kita dengan wanita yang sudah lama menunggunya, Fifi. Getar-getar kecil birahinya secara sistematis merebut seluruh tubuhnya. Bagian demi bagian. Rambut bergelombang Fifi berbau malam dan bulan redup itu, diremas-remasnya. Ditariknya ke tanah. Seperti singa betina lepas, dia mengambil inisiatif yang diserahkan secara mutlak padanya... Sekelompok awan datang dekat sekali ke bulan. Makin dekat. Makin dekat. Pada suatu saat, bulan di terkam awan. Seketika langit gelap. Bumi pun gelap. Yang ada adalah embusan angin malam. Seluruh alam raya ikut bernafas liar, mengaduh... Apabila embun berarak pergi lagi, meninggalkan bulan pucat malu-malu, bumi pun mulailah cerah kembali. Rdupnya yang remang-remang tadi kini berembuskan angin dari pernafasan yang reda. Tenang kembali. Kecuali ... pernafasan seorang. Dua buah mata, tajam hitam pekat, mempersaksikan dari balik semak-semak seluruh idylle tengah malam di lapangan itu. {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 67)}} Betapa halusnya bahasa Iwan, membangkitkan imajinasi kita. Getar-getar birahi menuju koi tus dengan halus dihidangkan lewat simbol-simbol, mengingatkan kita pada bahasa Tonnesso Williams tentang perkosaan sang matahari terbenam dalam rahim bumi yang garang, mengisap kekuatan seks matahari, dalam sebuah adegan drama persembahannya kepada almarhum D. H. Lawrence, yang berjudul: "I rise in Flame, cried The Phoenix". {{ol|start=5|Dalam hubungan antar tokoh, novel Iwan ini sebenarnya tidak beralih jauh dari perputaran roman-roman konvensionil, yakni: cinta }}<noinclude>{{rh|40}}</noinclude> j8dd8v44c0dqt7mmrfeb36xsk4rlsyt 291846 290934 2026-05-11T08:02:06Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291846 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Merahnya merah}}</noinclude>{{hwe|pertahankan|dipertahankan}} Iwan. Pada uraian-uraian analitis dari Pangdam, Pangdak, Centeng bahkan Tokoh kita sendiri, kalimat-kalimat panjang terasa melesukan. Apalagi kalau dibumbui istilah-istilah asing, seperti: <u>enob, idenbild, silogisme, dekadensi, blase, tawa anachroon, konstelasi</u>, dan lain-lain. Tapi dalam menggambarkan adegan-adegan yang bukan penjabaran nampak kekuatan bahasa Iwan mengagumkan. Dengarlah pertemuan Tokoh kita dengan wanita yang sudah lama menunggunya, Fifi. {{ol|type=none|Getar-getar kecil birahinya secara sistematis merebut seluruh tubuhnya. Bagian demi bagian. Rambut bergelombang Fifi berbau malam dan bulan redup itu, diremas-remasnya. Ditariknya ke tanah. Seperti singa betina lepas, dia mengambil inisiatif yang diserahkan secara mutlak padanya... Sekelompok awan datang dekat sekali ke bulan. Makin dekat. Makin dekat. Pada suatu saat, bulan di terkam awan. Seketika langit gelap. Bumi pun gelap. Yang ada adalah embusan angin malam. Seluruh alam raya ikut bernafas liar, mengaduh... Apabila embun berarak pergi lagi, meninggalkan bulan pucat malu-malu, bumi pun mulailah cerah kembali. Rdupnya yang remang-remang tadi kini berembuskan angin dari pernafasan yang reda. Tenang kembali. Kecuali ... pernafasan seorang. Dua buah mata, tajam hitam pekat, mempersaksikan dari balik semak-semak seluruh idylle tengah malam di lapangan itu.}} {{right|(<u>Merahnya Merah</u>: 67)}} Betapa halusnya bahasa Iwan, membangkitkan imajinasi kita. Getar-getar birahi menuju koi tus dengan halus dihidangkan lewat simbol-simbol, mengingatkan kita pada bahasa Tonnesso Williams tentang perkosaan sang matahari terbenam dalam rahim bumi yang garang, mengisap kekuatan seks matahari, dalam sebuah adegan drama persembahannya kepada almarhum D. H. Lawrence, yang berjudul: "I rise in Flame, cried The Phoenix". 5.{{tab}} Dalam hubungan antar tokoh, novel Iwan ini sebenarnya tidak beralih jauh dari perputaran roman-roman konvensionil, yakni: cinta<noinclude>{{rh|40}}</noinclude> 7hcfyu4lfz7bzp1f21t44axbags1078 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/112 104 103437 290932 2026-05-10T13:21:53Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 290932 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||26}}</noinclude><ol> "Tidak, bukan itu jang saja maksud, tetapi bukankah perbuatan kita memukul anak ketjil tadi merupakan alat untuk menjampaikan perasaan marah kita kepada anak ketjil tersebut? Bukankah perbuatan kita sesuai, tjotjok dengan batasan balasan diatas Tetapi mengapa tidak boleh disebut bahasa? Mahasiswa tadi mendjawab "Jang saja maksud ialah bahwa bahasa merupakan alat untuk berhubungan dengan orang lain." Memang benar bahwa fungsi bahasa antara lain untuk berhubungan dengan orang lain. Tetapi perumusan itu tidak seluruhnja benar, Misalnya sadja ada sebuah lubang besar ditengah djalan, Karena chawatir akan adanja ketjelakaan, kita meletakkan sebuah pohon pisang ditengah lubang itu. Dengan tjara demikian kita memberitahukan kepada --djadi artinja "berhubungan dengan -- orang lain, supaja berhati-hati kalau berdjalan didjalan itu. Apakah perbuatan kita itu dapat disebut bahasa? Mahasiswa kita tadi mendjawab: "Tidak demikian, tetapi{{...|4}}" Semakin dia berusaha menerangkan jang dia maksud, semakin djauh dia meninggalkan persoalan pokoknja. Demikian djugalah jang dialami oleh peladjar, guru-guru bahasa tadi. Hal jang demikian memberikan kesimpulan kepada kita, bahwa batasan mengenai bahasa tadi kurang memuaskan, Karena itu kita harus mentjari djalan jang paling baik ialah melihat bahasa dari tjiri-tjirinja jang shas jang chas pada bahasa itu. </ol> <ol type="1" start="2"> <li>{{u|Tjiri-tjiri chas bahasa}}</li> Tadi kita katakan, bahwa berbitjara berarti berbahasa. Ini berarti bahwa bahasa pertama-tama harus diutjapkan. Tubuh kita diperlengkapi dengan alat untuk mengutjapkan bahasa. Oleh ahli-ahli bahasa alat itu disebut {{u|alat-alat utjap}} (vocal) Alat-alat utjap ini -- seperti bibir lidah, langit-langit, pita suara, dan lain-lain -- terdapat diantara rongga mulut, rongga hidung sampai rongga dada. Dengan alat-alat utjap ini kita dapat menghasilkan bunji-bunji jang kita perlukan, djuga dapat kita hasilkan '''kataiabanjkalimatkjangrkitaringinkan'''. Bunji-bunji jang kita hasilkan melalui alat-alat utjap kita disebut bunji bahasa atau disingkat {{u|bunji}} sadja. Bunji-bunji lain, seperti bunji peluit, kotek ajam, siulan, otjehan burung beo, bunji infra pada semut tidak termasuk bunji bahasa. Perlu pula kita perhatikan, bahwa tulisan-tulisan jang terdapat dalam buku-buku, suratkabar-suratkabar, madjalah-madjalah, dan lain Sebagainja bukanlah bahasa. Tulisan-tulisan atau huruf-huruf itu -- betapapun penting artinja -- hanjalah sekedar gambar(an) dari pada bunji-binji bahasa jang kita hasilkan. </ol><noinclude></noinclude> 90v5v0dizlf7str208y9z7w05owidb7 Halaman:Moral dan batin seri 1.pdf/6 104 103438 290935 2026-05-10T13:22:46Z OwlyKnight 24017 /* Telah diuji baca */ 290935 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="OwlyKnight" /></noinclude>namakan beruntung dan tjilaka, seneng dan susah, suka dan duka, ada didasarkan atas keinginan. Tertjapenja itu keinginnan mendatangkan kesenengan dan kegirangan, dan kapan terhalang atau gagal menimbulkan kesedihan dan kedukaan. Tudjuan manusia rata - rata senantiasa inginkan supaja ia punja diri dan familinja atau sahabat sahabatnja berbadan sehat, pandjang usia dan murah redjeki serta hidup selamat, tidak kurang suatu apa. Kapan kelanggar sakit, famili atau sahabat-sahabatnja jang tertjinta meinggal dunia, atau mendapat kesusahan dau ketjilakaan, atau mereka semua hidup sengsara lantaran kehasilannja tidak menjukupi, lantas hatinja merasa djengkel dan sedih. Ini kesedihan telah timbul dari kebodohan sebab apa jang mereka inginkan atau harap sebagian besar ada barang jang memang tidak bisa didapat. Misalnja itu keinginan supaja famili atau sahabat - sahabat jang tertjinta bisa hidup sampe usia tinggi dan berbadan sehat, sebenarnja ada satu pengharapan jang sia-sia, sebab djarang sekali terdapat orang jang bisa hidup sampe 10 tahun, dan untuk ini djaman sekarang kapan usia bisa meliwati setengah abad sudah boleh dibilang bagus, sedang kapan digabung sama kematian anak - anak ketjil dan baji, umurnja manusia rata-rata belum ada dua puluh tahun. Sebab ini matjam keinginan sudah pasti tidak tertjape, maka manusia tidak bisa terluput dari kekuatiran dan kesedihan, karena sebentar-bentar mesti ada sadja jang dapat sakit, dan seorang jang mempunjai banjak famili dan sahabat-sahabat saban tahun tentu mesti ada<noinclude>{{rh|6.||7.}}</noinclude> 0uxsonnn1facsai2mr3udwrgfma3roy Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/523 104 103439 290939 2026-05-10T13:23:35Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'bersudut tiga, lantas ternyata bersudut empat (dengan torlibatnya Centong dalam liku-liku tubuh Enrin). Jenburu yang ditimbulkan ka- rena cinta, secara tragis menanggalkan Fifi, Tokoh kita, Jen tong dan Marin. Tiga terdahulu mati. Marin lari. Ponycleaninn ini meru- pakan penyelesaian yang paling mudah, dan telah kita kenal dalam novel-novel kita. Namun, ada suatu hal yang merupakan penekanan: yakni, latar belakang hidup gelandangan. Bila secara... 290939 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>bersudut tiga, lantas ternyata bersudut empat (dengan torlibatnya Centong dalam liku-liku tubuh Enrin). Jenburu yang ditimbulkan ka- rena cinta, secara tragis menanggalkan Fifi, Tokoh kita, Jen tong dan Marin. Tiga terdahulu mati. Marin lari. Ponycleaninn ini meru- pakan penyelesaian yang paling mudah, dan telah kita kenal dalam novel-novel kita. Namun, ada suatu hal yang merupakan penekanan: yakni, latar belakang hidup gelandangan. Bila secara rekapitulasi kita melihat aspek novel ini, maka gelandangan Iwan mengandung unsur libat yang jauh. Kedalamnya in libatkan renungan-renungan azasi tentang "kemanusiaan" dan tujuan manusin: mencari ketenangan bathin, kebahagiaan jiwa yang tak bisa begitu saja dijawab dongan banyak-banyak tambah jatah beras dan pa- brik tekstil. Gelandangan bukan hanya sekedar gejala ekonomis dan sosial, tapi crat sekali libatnya dengan "yang tidak bendawi", yang jiwa di mana manusia berdiri menghadap diri sendiri dan mempertanya- kannya. Terbayanglah frustrasi, kesunyian, keisengan daripadanya. Tokoh kita dan Maria adalah kaca torboning untuk kasus ini. Jadi, persoalannya adalah masalah eksistensi diri sendiri di tengah seja- rah manusia yang telanjang. Benarlah kalau eksistensi ini dinyatakan William Barret sebagai "gejala daripada krisis manusia itu sendiri". (Lihat esei Barret, "Existensialism as a Symptom of man's contompo- rary crisis" dalam edisi Stanley Romaine Topper, Spiritual Problems in Contemporary Literature, Harper Torch Books, New York, 1957, hnl. 139-52). Di pihak lain, masalah gelandangan pun sekali gus dimanfaat- kan Iwan sebagai "resolusi" kritik sosial, yang alamatnya jelas yak- ni kantor-kantor instansi resmi negara ini, agar instansi mengang- katnya sebagai masalah nasional dengan penekanan "pembangunan" meta- ekonomi. Membangun manusianya itu sendiri! Renungan Iwan sangat ba- 14 41 Bahs. Kesusast., V(2), 1973 Digitized by Google<noinclude>{{rh|41||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> ay83op6nxib66amflyehofhxgn7xzqd 290981 290939 2026-05-10T13:33:18Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 290981 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>bersudut tiga, lantas ternyata bersudut empat (dengan terlibatnya Centeng dalam liku-liku tubuh Maria). Cemburu yang ditimbulkan karena cinta, secara tragis menanggalkan Fifi, Tokoh kita, Cen teng dan Maria. Tiga terdahulu mati. Maria lari. Penyelesaian ini merupakan penyelesaian yang paling mudah, dan telah kita kenal dalam novel-novel kita. Namun, ada suatu hal yang merupakan penekanan: yakni, latar belakang hidup <u>gelandangan</u>. Bila secara rekapitulasi kita melihat aspek novel ini, maka gelandangan Iwan mengandung unsur libat yang jauh. Kedalamnya ia libatkan renungan-renungan azasi tentang "kemanusiaan" dan tujuan manusia: mencari ketenangan bathin, kebahagiaan jiwa yang tak bisa begitu saja dijawab dengan banyak-banyak tambah jatah beras dan pabrik tekstil. Gelandangan bukan hanya sekedar gejala ekonomis dan sosial, tapi erat sekali libatnya dengan "yang tidak bendawi", yang jiwa di mana manusia berdiri menghadap diri sendiri dan mempertanyakannya. Terbayanglah frustrasi, kesunyian, keisengan daripadanya. Tokoh kita dan Maria adalah kaca terbening untuk kasus ini. Jadi, persoalannya adalah masalah eksistensi diri sendiri di tengah sejarah manusia yang telanjang. Benarlah kalau eksistensi ini dinyatakan William Barret sebagai "gejala daripada krisis manusia itu sendiri". (Lihat esei Barret, "Existensialism as a Symptom of man's contomporary crisis" dalam edisi Stanley Romaine Topper, <u>Spiritual Problems in Contemporary Literature</u>, Harper Torch Books, New York, 1957, hal. 139-52). Di pihak lain, masalah gelandangan pun sekali gus dimanfaatkan Iwan sebagai "resolusi" kritik sosial, yang alamatnya jelas yakni kantor-kantor instansi resmi negara ini, agar instansi mengangkatnya sebagai masalah nasional dengan penekanan "pembangunan" meta-ekonomi. Membangun manusianya itu sendiri! Renungan Iwan sangat {{hws|ba|banyak}}<noinclude>{{rh|41||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> 0zd5goy6uspl5rlfq6slu20fngfcckf 290986 290981 2026-05-10T13:33:52Z Menyusurisudutnegeri 25205 290986 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>bersudut tiga, lantas ternyata bersudut empat (dengan terlibatnya Centeng dalam liku-liku tubuh Maria). Cemburu yang ditimbulkan karena cinta, secara tragis menanggalkan Fifi, Tokoh kita, Cen teng dan Maria. Tiga terdahulu mati. Maria lari. Penyelesaian ini merupakan penyelesaian yang paling mudah, dan telah kita kenal dalam novel-novel kita. Namun, ada suatu hal yang merupakan penekanan: yakni, latar belakang hidup <u>gelandangan</u>. Bila secara rekapitulasi kita melihat aspek novel ini, maka gelandangan Iwan mengandung unsur libat yang jauh. Kedalamnya ia libatkan renungan-renungan azasi tentang "kemanusiaan" dan tujuan manusia: mencari ketenangan bathin, kebahagiaan jiwa yang tak bisa begitu saja dijawab dengan banyak-banyak tambah jatah beras dan pabrik tekstil. Gelandangan bukan hanya sekedar gejala ekonomis dan sosial, tapi erat sekali libatnya dengan "yang tidak bendawi", yang jiwa di mana manusia berdiri menghadap diri sendiri dan mempertanyakannya. Terbayanglah frustrasi, kesunyian, keisengan daripadanya. Tokoh kita dan Maria adalah kaca terbening untuk kasus ini. Jadi, persoalannya adalah masalah eksistensi diri sendiri di tengah sejarah manusia yang telanjang. Benarlah kalau eksistensi ini dinyatakan William Barret sebagai "gejala daripada krisis manusia itu sendiri". (Lihat esei Barret, "Existensialism as a Symptom of man's contomporary crisis" dalam edisi Stanley Romaine Topper, <u>Spiritual Problems in Contemporary Literature</u>, Harper Torch Books, New York, 1957, hal. 139-52). Di pihak lain, masalah gelandangan pun sekali gus dimanfaatkan Iwan sebagai "resolusi" kritik sosial, yang alamatnya jelas yakni kantor-kantor instansi resmi negara ini, agar instansi mengangkatnya sebagai masalah nasional dengan penekanan "pembangunan" meta-ekonomi. Membangun manusianya itu sendiri! Renungan Iwan sangat {{hws|ba|bagus}}<noinclude>{{rh|41||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> pewkr4y1fp66e8bzqxfokrvat5x6pyt 291848 290986 2026-05-11T08:03:21Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291848 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>bersudut tiga, lantas ternyata bersudut empat (dengan terlibatnya Centeng dalam liku-liku tubuh Maria). Cemburu yang ditimbulkan karena cinta, secara tragis menanggalkan Fifi, Tokoh kita, Cen teng dan Maria. Tiga terdahulu mati. Maria lari. Penyelesaian ini merupakan penyelesaian yang paling mudah, dan telah kita kenal dalam novel-novel kita. Namun, ada suatu hal yang merupakan penekanan: yakni, latar belakang hidup <u>gelandangan</u>. Bila secara rekapitulasi kita melihat aspek novel ini, maka gelandangan Iwan mengandung unsur libat yang jauh. Kedalamnya ia libatkan renungan-renungan azasi tentang "kemanusiaan" dan tujuan manusia: mencari ketenangan bathin, kebahagiaan jiwa yang tak bisa begitu saja dijawab dengan banyak-banyak tambah jatah beras dan pabrik tekstil. Gelandangan bukan hanya sekedar gejala ekonomis dan sosial, tapi erat sekali libatnya dengan "yang tidak bendawi", yang jiwa di mana manusia berdiri menghadap diri sendiri dan mempertanyakannya. Terbayanglah frustrasi, kesunyian, keisengan daripadanya. Tokoh kita dan Maria adalah kaca terbening untuk kasus ini. Jadi, persoalannya adalah masalah eksistensi diri sendiri di tengah sejarah manusia yang telanjang. Benarlah kalau eksistensi ini dinyatakan William Barret sebagai "gejala daripada krisis manusia itu sendiri". (Lihat esei Barret, "Existensialism as a Symptom of man's contomporary crisis" dalam edisi Stanley Romaine Topper, <u>Spiritual Problems in Contemporary Literature</u>, Harper Torch Books, New York, 1957, hal. 139-52). Di pihak lain, masalah gelandangan pun sekali gus dimanfaatkan Iwan sebagai "resolusi" kritik sosial, yang alamatnya jelas yakni kantor-kantor instansi resmi negara ini, agar instansi mengangkatnya sebagai masalah nasional dengan penekanan "pembangunan" meta-ekonomi. Membangun manusianya itu sendiri! Renungan Iwan sangat {{hws|ba|bagus}} {{Right sidenote|Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}<noinclude>{{rh|41|}}</noinclude> m2hizachqjscekfyb4y41ky0reg09mj Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/266 104 103440 290940 2026-05-10T13:23:53Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{| |II.||Bat. cen. 59. |- | ||19 x 15 1/2 cm, 68 hal., 15-16 baris. |} II. Bate ven. 59- 1g x15 1/2 em, 68 hele, 15 - 16 bavtes III. Bat. Sm 200 ti 20 1/2 om, 205 anl., 11 beris, tertanggel 23 Muhsram 1171 IV. Ve. de We 82 33 x 21 cm, 105 hale, 19 baris Ve Ve de We 83 33 x 21 cm, 96 hale, 18 baris VI. Ve de We By 38 x 21 cm, 160 hal., 16 baris VIIe Ve de We 86 20 1/2 x 16 cm, 37 hale, 13 beris Di Perpustakaan Universitas Leiden terdapat buah... 290940 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>{| |II.||Bat. cen. 59. |- | ||19 x 15 1/2 cm, 68 hal., 15-16 baris. |} II. Bate ven. 59- 1g x15 1/2 em, 68 hele, 15 - 16 bavtes III. Bat. Sm 200 ti 20 1/2 om, 205 anl., 11 beris, tertanggel 23 Muhsram 1171 IV. Ve. de We 82 33 x 21 cm, 105 hale, 19 baris Ve Ve de We 83 33 x 21 cm, 96 hale, 18 baris VI. Ve de We By 38 x 21 cm, 160 hal., 16 baris VIIe Ve de We 86 20 1/2 x 16 cm, 37 hale, 13 beris Di Perpustakaan Universitas Leiden terdapat buah naskah, 3 dients- renja didaftar oleh Dr. Ph. S. van Konkel dalam Supplement Ca talowis beliau, sedang sebuah naskeh laei terdeftar dalam Catajoeus jane di- susun oleh Dr. H. He Juynboll. Adapun naskah jene terdaftar delam Supplement Cataloous te tersebut ditjatat dengan nomor kode sebsa! berikut: Ie Kl. 26 20 x 16 1/2 cm, 109 hal., 15 beris. II. 66) D. 8°. 1h hale III. DPH. 72. 8°. 2h hale, 15 beris. Sedeng neskah jane terdaftar delem Catelocus Juynboll*> itu ditjett denean namor: Cod. 1960 (I). Dalem bahssa Parsi hikajat ini bernema Kiteb Hazar Masaile Selein dari itu hikajat ini djuza terdapat dalam bahesa Hindustan, Turki dan sebevainja.” Banjalmja djumlah neskah jane terdepet, membuktikan bahwa hike}! ini tjukup pupuler. Pada permulaen hikajat ini disebutkan, behwe tit ritera ini disalin deri bahasa Parsi ke pehasa Djawie Adapun perkembanean neskeh ini menurut Winstedt +5 sebe vai berikut ‘ neskah ini ¢itulisidalam bahasa Arab sebelum tahun 963 disebut ole<noinclude></noinclude> nhnl2j8em8egovlrmcko9c3h29aixpr 290996 290940 2026-05-10T13:34:25Z Moel81 25980 290996 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>::{| |II.||Bat. Cen. 59. |- | ||19 × 15 ½ cm, 68 hal., 15-16 baris. |- |III.||Bat. Cen. 200 |- | ||20 ½ cm, 205 hal., 11 baris, tertanggal 23 Muharam 117{{Takterbaca}} |- |IV.||V. d. W. 82 |- | ||33 × 21 cm, 105 hal., 19 baris |- |V.||V. d. W. 83 |- | ||33 × 21 cm, 96 hal., 18 baris |- |VI.||V. d. W. 84 |- | ||38 × 21 cm, 160 hal., 16 baris |- |VII.||V. d. W. 86 |- | ||20 ½ × 16 cm, 37 hal., 13 baris |- |} Di Perpustakaan Universitas Leiden terdapat 4 buah naskah, 3 diantaranya didaftar oleh Dr. Ph. S. van Ronkel dalam Supplement Catalogus beliau, sedang sebuah naskah lagi terdaftar dalam Catalogus yang disusun oleh Dr. H. H. Juynboll. Adapun naskah yang terdaftar dalam Supplement Catalogus$^{*2}$ tersebut ditjatat dengan nomor kode sebagai berikut:I. Kl. 26   20 x 16 1/2 cm, 189 hal., 15 baris.II. Cod. D. $8^o$. 14 hal.III. DPH. 72. $8^o$.    24 hal., 15 baris.Sedang naskah yang terdaftar dalam Catalogus Juynboll $^{*3}$ itu ditjatat dengan nomor Cod. 1968 (1).Dalam bahasa Parsi hikajat ini bernama Kitab Hazar Masail. Selain dari itu hikajat ini djuga terdapat dalam bahasa Hindustan, Turki dan sebagainja. $^{*4}$Banjaknja djumlah naskah yang terdapat, membuktikan bahwa naskah ini tjukup populer. Pada permulaan hikajat ini disebutkan, bahwa tjeritera ini disalin dari bahasa Parsi ke bahasa Djawi. Adapun perkembangan naskah ini menurut Winstedt $^{*5}$ sebagai berikut: naskah ini ditulis dalam bahasa Arab sebelum tahun 953 disebut dengan...<noinclude></noinclude> 6cas600ub8wffgwl3tckdr2ccqsist3 291028 290996 2026-05-10T13:44:33Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291028 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>::{| |II.||Bat. Cen. 59. |- | ||19 × 15 ½ cm, 68 hal., 15-16 baris. |- |III.||Bat. Cen. 200 |- | ||20 ½ cm, 205 hal., 11 baris, tertanggal 23 Muharam 117{{Takterbaca}} |- |IV.||V. d. W. 82 |- | ||33 × 21 cm, 105 hal., 19 baris |- |V.||V. d. W. 83 |- | ||33 × 21 cm, 96 hal., 18 baris |- |VI.||V. d. W. 84 |- | ||38 × 21 cm, 160 hal., 16 baris |- |VII.||V. d. W. 86 |- | ||20 ½ × 16 cm, 37 hal., 13 baris |- |} Di Perpustakaan Universitas Leiden terdapat 4 buah naskah, 3 diantaranja didaftar oleh Dr. Ph. S. van Ronkel dalam <u>Supplement Catalogus</u> beliau, sedang sebuah naskah lagi terdaftar dalam <u>Catalogus</u> yang disusun oleh Dr. H. H. Juynboll. Adapun naskah yang terdaftar dalam <u>Supplement Catalogus</u><sup>*2</sup> tersebut ditjatat dengan nomor kode sebagai berikut: ::{| |I.||Kl. 26 |- | ||20 × 16 ½ cm, 109 hal., 15 baris. |- |II.||6064 D. 8<sup>0</sup>. 14 hal. |- |III.||DPH. 72. 8<sup>0</sup>. |- | ||24 hal., 15 baris |- |} Sedang naskah yang terdaftar dalam Catalogus Juynboll<sup>*3</sup> itu ditjatat dengan nomor Cod. 1968 (1). Dalam bahasa Parsi hikajat ini bernama <u>Kitab Hazar Masail</u>. Selain dari itu hikajat ini djuga terdapat dalam bahasa Hindustan, Turki dan sebagainja.<sup>*4</sup> Banjaknja djumlah naskah yang terdapat, membuktikan bahwa hikajat ini tjukup populer. Pada permulaan hikajat ini disebutkan, bahwa tjeritera ini disalin dari bahasa Parsi ke bahasa Djawi.<br>Adapun perkembangan naskah ini menurut Winstedt<sup>*5</sup> sebagai berikut: naskah ini ditulis dalam bahasa Arab sebelum tahun 953 disebut oleh<noinclude></noinclude> 9zevvtav4gno1gtl48azf5zvbagxxdz 291031 291028 2026-05-10T13:45:54Z Moel81 25980 291031 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>::{| |II.||Bat. Cen. 59. |- | ||19 × 15 ½ cm, 68 hal., 15-16 baris. |- |III.||Bat. Cen. 200 |- | ||20 ½ cm, 205 hal., 11 baris, tertanggal 23 Muharam 117{{Takterbaca}} |- |IV.||V. d. W. 82 |- | ||33 × 21 cm, 105 hal., 19 baris |- |V.||V. d. W. 83 |- | ||33 × 21 cm, 96 hal., 18 baris |- |VI.||V. d. W. 84 |- | ||38 × 21 cm, 160 hal., 16 baris |- |VII.||V. d. W. 86 |- | ||20 ½ × 16 cm, 37 hal., 13 baris |- |} Di Perpustakaan Universitas Leiden terdapat 4 buah naskah, 3 diantaranja didaftar oleh Dr. Ph. S. van Ronkel dalam <u>Supplement Catalogus</u> beliau, sedang sebuah naskah lagi terdaftar dalam <u>Catalogus</u> yang disusun oleh Dr. H. H. Juynboll. Adapun naskah yang terdaftar dalam <u>Supplement Catalogus</u><sup>*2</sup> tersebut ditjatat dengan nomor kode sebagai berikut: ::{| |I.||Kl. 26 |- | ||20 × 16 ½ cm, 109 hal., 15 baris. |- |II.||6064 D. 8<sup>0</sup>. 14 hal. |- |III.||DPH. 72. 8<sup>0</sup>. |- | ||24 hal., 15 baris |- |} Sedang naskah yang terdaftar dalam Catalogus Juynboll<sup>*3</sup> itu ditjatat dengan nomor: Cod. 1960 (I). Dalam bahasa Parsi hikajat ini bernama <u>Kitab Hazar Masail</u>. Selain dari itu hikajat ini djuga terdapat dalam bahasa Hindustan, Turki dan sebagainja.<sup>*4</sup> Banjaknja djumlah naskah yang terdapat, membuktikan bahwa hikajat ini tjukup populer. Pada permulaan hikajat ini disebutkan, bahwa tjeritera ini disalin dari bahasa Parsi ke bahasa Djawi.<br>Adapun perkembangan naskah ini menurut Winstedt<sup>*5</sup> sebagai berikut: naskah ini ditulis dalam bahasa Arab sebelum tahun 953 disebut oleh<noinclude></noinclude> ifmd42qv5owxnv5g7lxkne0add4aavh 291052 291031 2026-05-10T13:54:36Z Moel81 25980 291052 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||4}}</noinclude>::{| |II.||Bat. Cen. 59. |- | ||19 × 15 ½ cm, 68 hal., 15-16 baris. |- |III.||Bat. Cen. 200 |- | ||20 ½ cm, 205 hal., 11 baris, tertanggal 23 Muharam 117{{Takterbaca}} |- |IV.||V. d. W. 82 |- | ||33 × 21 cm, 105 hal., 19 baris |- |V.||V. d. W. 83 |- | ||33 × 21 cm, 96 hal., 18 baris |- |VI.||V. d. W. 84 |- | ||38 × 21 cm, 160 hal., 16 baris |- |VII.||V. d. W. 86 |- | ||20 ½ × 16 cm, 37 hal., 13 baris |- |} Di Perpustakaan Universitas Leiden terdapat 4 buah naskah, 3 diantaranja didaftar oleh Dr. Ph. S. van Ronkel dalam <u>Supplement Catalogus</u> beliau, sedang sebuah naskah lagi terdaftar dalam <u>Catalogus</u> yang disusun oleh Dr. H. H. Juynboll. Adapun naskah yang terdaftar dalam <u>Supplement Catalogus</u><sup>*2</sup> tersebut ditjatat dengan nomor kode sebagai berikut: ::{| |I.||Kl. 26 |- | ||20 × 16 ½ cm, 109 hal., 15 baris. |- |II.||6064 D. 8<sup>0</sup>. 14 hal. |- |III.||DPH. 72. 8<sup>0</sup>. |- | ||24 hal., 15 baris |- |} Sedang naskah yang terdaftar dalam Catalogus Juynboll<sup>*3</sup> itu ditjatat dengan nomor: Cod. 1960 (I). Dalam bahasa Parsi hikajat ini bernama <u>Kitab Hazar Masail</u>. Selain dari itu hikajat ini djuga terdapat dalam bahasa Hindustan, Turki dan sebagainja.<sup>*4</sup> Banjaknja djumlah naskah yang terdapat, membuktikan bahwa hikajat ini tjukup populer. Pada permulaan hikajat ini disebutkan, bahwa tjeritera ini disalin dari bahasa Parsi ke bahasa Djawi.<br>Adapun perkembangan naskah ini menurut Winstedt<sup>*5</sup> sebagai berikut: naskah ini ditulis dalam bahasa Arab sebelum tahun 953 disebut oleh<noinclude></noinclude> 3r2wr8m4kv3ylphbljp0fz2npo3f7v2 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/127 104 103441 290949 2026-05-10T13:25:17Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 290949 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} Buat membebaskan diri dari penggeledahan, pura² menolong taman jang perlu dibimbing. Dengan terhujung-hujung, aku dan tawanan India itu meninggalkan pintu keluar kemah. Saat ini membebaskan aku dari penggeledahan. Kulepaskan tawanan India itu berdjalan dengan bimbingan seorang tawanan lainnja dari bagian perawatan. Aku masuk dalam barisan kawan² jang keluar dari kemah sesudah digeledah. Gembira aku berbaris menudju kekemah jang lain. Dan kelihat kawanku Nortton telah berada disana lebih dahulu. Dia meloncat dari pagar bersamaan dengan keluarnja para tawanan dari kemah jang pertama dan masuk dalam barisan. Mereka jang akan dipulangkan itu harus berbaris melalui 3 pos pendjagaan dan pada setiap pos mereka dihitung seorang demi seorang. Ketika kami sampai pada pos terachir, serdadu² Djerman mengetahui adanja kelebihan 2 orang pada barisan kami. Puluhan pengawal dengan sangkur terhunus segera mengurus kami. Ditengah lapangan itu terdapat sebuah medja dan kursi. Diatasnja terletak foto dari para tawanan jang akan dipulangkan itu. "Bila kupanggil namamu, kamu harus segera datang kemedja! Sesudah diperiksa kamu harus kelapangan dibelakang saja ini, mengerti?" bentak seorang perwira pengawal kepada kami. '''Mendjadi Paket Palang Merah:''' Seorang demi seorang mulai dipanggil namanja. Dan dalam waktu jang tidak terlalu lama, separuh dari anggauta barisan kami telah berada dilapangan lain jang telah ditentukan perwira itu. Pada saat itu aku memperoleh akal. Bila anak² tawanan itu diperiksa dan ditertjokkan foto dangan muka masing², mereka meninggalkan barang² mereka ditempat barisan kami berhenti. Segera aku mengenakan hadju pandjangku menjurup kerombongan orang² Australia. Kuterangkan kepada mereka, bahwa pengawal² itu sedang mentjari aku. Kepada mereka kuminta agar paket palang merah jang mereka bawa itu diletakkan diatas kepalaku, hingga aku seolah-olah merupakan tumpukan barang². Tak ada diantara mereka jang menolak permintaanku itu. Semua setudju. Tanpa bergerak aku berbaring dengan barang² diatas kepalaku. Tapi tak mengapa. Pokok selamat sampai dirumah, pikirku dalam hati. Keringat dinginku membasahi tubuhku, ketika nama terakhir terdengar dipanggil. Aku kawatir, djangan² pengawal itu mentjariku pada tumpukan barang² dengan menusuk-nusukkan sangkurnja. Tapi untung, hal jang sedemikian itu tak terdjadi. Sebaliknja kudengar mereka tertawa dan seorang perwira mengatakan semua beres, tawanan lengkap. Anak² tawanan kembali ketempat semula mengurus barang masing². Setjepat kilat aku berdiri dan masuk barisan. Kulihat Norman djuga telah masuk dalam barisan sambil ketawa gembira memandangku. Diapun berbuat seperti apa jang kuperbuat itu. Kami dalam perdjalanan kestasion. Disana kami dihitung lagi. Dan akupun berbuat seperti apa jang tadi kulakukan. Bersembunji, menjamar seolah tumpukan barang. Beres! Tapi aku jakin, Serdadu² Djerman pasti tahu akan hilangnja 2 orang tawanan, aku dan Norman itu. Sebab mereka menghitung semua tawanan didalam kamp jang kutinggalkan tadi. Dan kejakinanku ini ternjata<noinclude></noinclude> 65vi547iz5tf5kc1qznuzomlnj8139x Halaman:Sabar (2023).webm/00:00:19 104 103442 290961 2026-05-10T13:29:09Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 290961 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{ft/i| sambil mengotak-atik laptopnya }}<noinclude></noinclude> 0qy7rgnh864cgf0rxwtpowx5nxsfjq8 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/128 104 103443 290983 2026-05-10T13:33:38Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 290983 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>membawa bukti. Sebelum berangkat, kereta api kami digeledah. Mereka mentjari aku dan Norman. Aku tak kehabisan akal. Kusodorkan badanku dibawah bangku, kututui djas pandjang dan kepada anak? tawanan kuminta agar barang? mereka ditumpukkan diatas badanku. Empat djam hampir aku tak dapat bernafas dibawah tumpukan barang, sedang pengawal? selama itu tiada hentinja menghitung-hitung kami. Mendjelang tengah malam barulah kereta api diberangkatkan. Aku menarik nafas pandjang, lega!. Tapi hal ini tak berlangsung terlalu lama. Orang Djerman rupanja tjukup tjerdik. Beberapa km perdjalanan, kereta api dihentikan dan dimulai penghitungan atas kami didalam gerbong. Kesempatan tak ada bagiku untuk berbuat seperti tadi, menjusup dibawah bangku. Melalui djendela aku naik dan duduk diatas atap gerbong. Sesudah pengawal? itu berlalu, aku kembali masuk kedalam gerbong. Tapi setjara demikian tak dapat kulangsungkan terus. Pengawal? sudah hilir mudik memeriksahitung kami. Aku melontjat dari djendela, kebawah gerbong bersembunji. Kemudian berlari menudju gerbong jang paling belakang. Kulihat disini pengawal: sedang sibuk mentjari aku dan Norman. Sedjurus aku diam bersembunji dibawah gerbong. Kemudian setjepat kilat kegedor pintu gerbong. Aku masuk. Empat orang tawanan sedang bermain kartu dengan selimut diatas lutut masing? sebagai medja. {{Missing image}} Untuk menjembunjikan diri tak kehabisan akal, beginilah tjaranja Terus bermain, terus bermain, bisiku kepada mereka sambil merangkakkan diri dibawah selimut jang mereka beberkan diatasku. Mereka melandjutkan permainan diatas gigirku sebagai medjanja. Pengawal menghitung pemain? itu. Hatiku seolah lenjap. Batuk tak dapar. Bersinpun tak bisa. Kutekan semua itu. Sebab agak lama pengawal? berdiri disitu melihat djalannja permainan. '''Naik Kapal:''' Kereta api diberangkatkan. Aku sementara ini selamat. Serdadu? Djerman tak berhasil menangkapku. Kulihat sebuah panitia penjambut kami dikerumuni sepasukar tentera Djerman dengan bersen: djatakan tommygun, disamping sepasukan Gestapo jang ganas itu. Aku harus memeras otak mentjari akal, betapa aku harus menjelamatkan diri dari tjengkeraman serdadu? Nazi itu. Satu?nja' djalan bagiku tak ad: lain ketjuali merupakan diri sebagai paket palang merah. Ku kudungkan djas pandjangku ata badanku, kemudian berbaring Kurasakan barang? mulai ditum pukkan diatasku. Rupanja anak telah mengerti tjaraku. Barang? mulai diturunkan da diletakkan diluar gerbong. Ak termasuk diantaranja. Diam ta bergerak, aku diangkut dari ter pat jang satu kelainnja. Tapi ta lama kemudian kudengar suar kawanku jang memerintahka aku berdiri. Ja, Allah! Aku berada tep: dimuka pintu gerbong pelabuha Setengah selamat. Sebab kul hat serdadu? Djerman masih be gerombol? ditempat itu deng: sendjata lengkapnja. Entah mengapa, serdadu? Dje man itu dengan tergesa-gesa memerintahkan supaja kapal sege diberangkatkan. Tanpa pemeri<noinclude></noinclude> przrqn08w95n5iegoifuith3f1ikdle Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/524 104 103444 290984 2026-05-10T13:33:39Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Merahnya merah gus. Apakah sosudah kemerdekaan kita capai lewat darah, dan kita susulkan pembangunan ekonomi, sulah cukup menjawab masalah "manusin" Indonesia? Tokoh kita adalah sobuah kasus, sebuah tantangan. Sesudah boralih dari slogan heroismo dan nasionalisme, akhirnya ia memperta- nyakan apakah sesungguhnya "dirinya sendiri" dan apakah tujuan pem- bunuhan-pembunuhan lewat/atas nama nasionalisme bagi dirinya sendi- ri, apakah tujuannya sendi... 290984 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" />{{rh|Merahnya merah}}</noinclude>Merahnya merah gus. Apakah sosudah kemerdekaan kita capai lewat darah, dan kita susulkan pembangunan ekonomi, sulah cukup menjawab masalah "manusin" Indonesia? Tokoh kita adalah sobuah kasus, sebuah tantangan. Sesudah boralih dari slogan heroismo dan nasionalisme, akhirnya ia memperta- nyakan apakah sesungguhnya "dirinya sendiri" dan apakah tujuan pem- bunuhan-pembunuhan lewat/atas nama nasionalisme bagi dirinya sendi- ri, apakah tujuannya sendiri? Di sinilah letaknya Tokoh kita menja- di osci bagi jaman kita dan sekali gus menjadi puisi. Ia bukan to- koh lama lagi, tokoh yang bernama "Hasan" atau "Syamsul Fakhri", to tapi tokoh jamak. Tokoh "manusia" (Indonesia) yang mempertanyakan diri. Dan sepanjang jalan tokoh yang mempertanyakan diri ini, Iwan bukan tanpa sengaja membonoangkan kritik-kritik dan ironi-ironinya seperti kritik terhadap birokrasi dan laporan-laporan panjang, analisa-ana- lisa bertele-tolo dan tidak inheren dari pengabdi-pengabdi negara, seperti ditunjukkan petugas-petugas polisi dan militer pada penca- rian Fifi; ironi buat sikap romantik dan tak terlibatnya pengarang- pengarang pada masalah-masalah..pokok ini (lihat icrahnya Morah: 104) Banyaknya masalah yang dilibatkan bersama, tentu saja mendirikan kesan programatisnya "sang tokoh" dalam novel Iwan ini. Sehingga ti- dak mudah kita menerima sang tokoh sebagai "tokoh/pelaku" cerita biasa dalam novel konvensionil. Dengan kata lain, programa-programa telah memindahkan tokoh Iwan kepada caei manusia/tokoh oseis. Kaka terhadap tokoh Iwan (Tokoh kita) janganlah kita ambil garis vertikal yang polos, seperti kita lakukan terhadap novel biasa, tetapi mengam- bil garis jamak, garis tokoh yang tak punya nama tertentu. Kalau kita ambil garis biasa, maka mudah sekali kita akan menuduh tokoh- tokoh Iwan sebagai superman atau abnormal. Catatan: Esoi ini ditulis bulan Juni 1970 sewaktu Iwan masih hidup. 42 Digitized by Google<noinclude></noinclude> ji0jxg8n0h0vpmrllkqg4sbknimrs6c 291014 290984 2026-05-10T13:38:51Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 291014 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" />{{rh|Merahnya merah}}</noinclude>{{hwe|gus|bagus}}. Apakah sesudah kemerdekaan kita capai lewat darah, dan kita susulkan pembangunan ekonomi, sudah cukup menjawab masalah "manusia" Indonesia? Tokoh kita adalah sebuah kasus, sebuah tantangan. Sesudah beralih dari slogan heroismo dan nasionalisme, akhirnya ia mempertanyakan apakah sesungguhnya "dirinya sendiri" dan apakah tujuan pembunuhan-pembunuhan lewat/atas nama nasionalisme bagi dirinya sendiri, apakah tujuannya sendiri? Di sinilah letaknya Tokoh kita menjadi esei bagi jaman kita dan sekali gus menjadi puisi. Ia bukan tokoh lama lagi, tokoh yang bernama "Hasan" atau "Syamsul Fakhri", to tapi tokoh jamak. Tokoh "manusia" (Indonesia) yang mempertanyakan diri. Dan sepanjang jalan tokoh yang mempertanyakan diri ini, Iwan bukan tanpa sengaja memboncongkan kritik-kritik dan ironi-ironinya seperti kritik terhadap birokrasi dan laporan-laporan panjang, analisa-analisa bertele-tele dan tidak inheren dari pengabdi-pengabdi negara, seperti ditunjukkan petugas-petugas polisi dan militer pada pencarian Fifi; ironi buat sikap romantik dan tak terlibatnya pengarang-pengarang pada masalah-masalah. pokok ini (lihat i<u>Merahnya Merah</u>: 104) Banyaknya masalah yang dilibatkan bersama, tentu saja mendirikan kesan programatisnya "sang tokoh" dalam novel Iwan ini. Sehingga tidak mudah kita menerima sang tokoh sebagai "tokoh/pelaku" cerita biasa dalam novel konvensionil. Dengan kata lain, programa-programa telah memindahkan tokoh Iwan kepada esei manusia/tokoh eseis. Maka terhadap tokoh Iwan (Tokoh kita) janganlah kita ambil garis vertikal yang polos, seperti kita lakukan terhadap novel biasa, tetapi mengambil garis jamak, garis tokoh yang tak punya nama tertentu. Kalau kita ambil garis biasa, maka mudah sekali kita akan menuduh tokoh-tokoh Iwan sebagai superman atau abnormal. {{rule|width=8em|align=left}} <u>Catatan</u>: Esei ini ditulis bulan Juni 1970 sewaktu Iwan masih hidup.<noinclude>{{rh|42}}</noinclude> q8fvnu7f9dcavahp2zwaega9dhsjidn 291877 291014 2026-05-11T09:17:39Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291877 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Merahnya merah}}</noinclude>{{hwe|gus|bagus}}. Apakah sesudah kemerdekaan kita capai lewat darah, dan kita susulkan pembangunan ekonomi, sudah cukup menjawab masalah "manusia" Indonesia? Tokoh kita adalah sebuah kasus, sebuah tantangan. Sesudah beralih dari slogan heroismo dan nasionalisme, akhirnya ia mempertanyakan apakah sesungguhnya "dirinya sendiri" dan apakah tujuan pembunuhan-pembunuhan lewat/atas nama nasionalisme bagi dirinya sendiri, apakah tujuannya sendiri? Di sinilah letaknya Tokoh kita menjadi esei bagi jaman kita dan sekali gus menjadi puisi. Ia bukan tokoh lama lagi, tokoh yang bernama "Hasan" atau "Syamsul Fakhri", to tapi tokoh jamak. Tokoh "manusia" (Indonesia) yang mempertanyakan diri. Dan sepanjang jalan tokoh yang mempertanyakan diri ini, Iwan bukan tanpa sengaja memboncongkan kritik-kritik dan ironi-ironinya seperti kritik terhadap birokrasi dan laporan-laporan panjang, analisa-analisa bertele-tele dan tidak inheren dari pengabdi-pengabdi negara, seperti ditunjukkan petugas-petugas polisi dan militer pada pencarian Fifi; ironi buat sikap romantik dan tak terlibatnya pengarang-pengarang pada masalah-masalah. pokok ini (lihat i<u>Merahnya Merah</u>: 104) Banyaknya masalah yang dilibatkan bersama, tentu saja mendirikan kesan programatisnya "sang tokoh" dalam novel Iwan ini. Sehingga tidak mudah kita menerima sang tokoh sebagai "tokoh/pelaku" cerita biasa dalam novel konvensionil. Dengan kata lain, programa-programa telah memindahkan tokoh Iwan kepada esei manusia/tokoh eseis. Maka terhadap tokoh Iwan (Tokoh kita) janganlah kita ambil garis vertikal yang polos, seperti kita lakukan terhadap novel biasa, tetapi mengambil garis jamak, garis tokoh yang tak punya nama tertentu. Kalau kita ambil garis biasa, maka mudah sekali kita akan menuduh tokoh-tokoh Iwan sebagai superman atau abnormal. {{rule|width=8em|align=left}} <u>Catatan</u>: Esei ini ditulis bulan Juni 1970 sewaktu Iwan masih hidup.<noinclude>{{rh|42}}</noinclude> t2x6xzhp3yu8siwelosfbhmerznprrx Halaman:Moral dan batin seri 1.pdf/7 104 103445 290990 2026-05-10T13:34:04Z OwlyKnight 24017 /* Telah diuji baca */ 290990 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="OwlyKnight" /></noinclude>jang gugur, jang mesti disedihi dan dikabungi. '''Dalam Kebenaran Mulia jang Pertama''' Buddha bitjarakan tentang Adanja Kesengsaraan, karena segala apa jang terlahir sudah tentu akan mati dan jang tertjinta akan musna. Sesuatu machluk jang hidup mesti alamkan bekerdjanja Wet Natuur: terlahir, mendjadi tua, berpenjakitan dan mati. Sedari terlahir ia sudah mulai mesti bergulat akan beladjar omong beladjar djalan dan lari-lari, kemudian beladjar sekolah, merawat diri, mentjari pengetahuan, fahamkan sematjam kepandaian atau pekerdjaan, mentjari penghasilan untuk hidup kedjar angan-angan atau tudjuan jang besar dan tinggi, berumah tangga anak-anak dan sebaginja pula. Achirnja datang usia tua, pada waktu mana ia mulai alamkan rupa - rupa ganggaun dari mata lamur, kuping tuli, gigi ompong, tenaga lemah, kesehatan sering terganggu, dan sebaginja pula, sampe datang penjakit berat jang tidak bisa disembuhkan dan achirnja menjerat padanja kedalam kubur. Ini belum terhitung sedjumlah besar kesusahan dan kesedihan jang datang dari kemiskinan, kematian, ketjilakaan, jang menimpah pada diri dan familinja, jang menjebabkan penghidupannja sebentar - bentar digontjang oleh kekuatiran dan kedukaan. Dan sekalipun itu orang sedari terlahir terus-menerus mempunjai tjukup kekajaan hingga terbebas dari pergulatan untuk mentjari redjeki, tidak urung ia akan alamkan kesedihan dan kedjengkelan dari kematian atau ketjilakaannja orang-orang jang ia tjinta, dari usia tua, dari gangguannja penjakit dan sebaginja lagi. Djadinja biarpun {{hws|ba|baginja}}<noinclude>{{rh|8.||9.}}</noinclude> hpdphtax2t4ajk3fra7lssbfcdxlnjw 290998 290990 2026-05-10T13:34:30Z OwlyKnight 24017 290998 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="OwlyKnight" /></noinclude>jang gugur, jang mesti disedihi dan dikabungi. '''Dalam Kebenaran Mulia jang Pertama''' Buddha bitjarakan tentang Adanja Kesengsaraan, karena segala apa jang terlahir sudah tentu akan mati dan jang tertjinta akan musna. Sesuatu machluk jang hidup mesti alamkan bekerdjanja Wet Natuur: terlahir, mendjadi tua, berpenjakitan dan mati. Sedari terlahir ia sudah mulai mesti bergulat akan beladjar omong beladjar djalan dan lari-lari, kemudian beladjar sekolah, merawat diri, mentjari pengetahuan, fahamkan sematjam kepandaian atau pekerdjaan, mentjari penghasilan untuk hidup kedjar angan-angan atau tudjuan jang besar dan tinggi, berumah tangga anak-anak dan sebaginja pula. Achirnja datang usia tua, pada waktu mana ia mulai alamkan rupa - rupa ganggaun dari mata lamur, kuping tuli, gigi ompong, tenaga lemah, kesehatan sering terganggu, dan sebaginja pula, sampe datang penjakit berat jang tidak bisa disembuhkan dan achirnja menjerat padanja kedalam kubur. Ini belum terhitung sedjumlah besar kesusahan dan kesedihan jang datang dari kemiskinan, kematian, ketjilakaan, jang menimpah pada diri dan familinja, jang menjebabkan penghidupannja sebentar - bentar digontjang oleh kekuatiran dan kedukaan. Dan sekalipun itu orang sedari terlahir terus-menerus mempunjai tjukup kekajaan hingga terbebas dari pergulatan untuk mentjari redjeki, tidak urung ia akan alamkan kesedihan dan kedjengkelan dari kematian atau ketjilakaannja orang-orang jang ia tjinta, dari usia tua, dari gangguannja penjakit dan sebaginja lagi. Djadinja biarpun {{hws|ba|bagimana}}<noinclude>{{rh|8.||9.}}</noinclude> bn9g26ycebkozi77aoe0evedodu4ujt Halaman:Sabar (2023).webm/00:00:25 104 103446 291015 2026-05-10T13:39:06Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291015 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{ft/i| mengecapap masih banyak lagi }}<noinclude></noinclude> j3xn9lnpsiqqabqn2add39xt3s2pvxw Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/525 104 103447 291022 2026-05-10T13:39:44Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'KRONIK KAMUS EJAAN BAHASA INDONESIA STANDAR Sebuah konsep Kamus Biaan Bahasa Indonesia Standar telah selesai disusun oleh Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia (P.P.B.I.) bekerja- sama dengan Lembaga Bahasa Nasional (L.B.N.). anus setebal 582 hala- man ini disusun sebagai pegangan untuk mengetahui (a) kata apa saja yang dapat dianggap sebagai bagian dari Bahasa Indonesia Standar; (b) bagaimana ejaan kata-kata itu; (c) bagaimana penyukuan kata-ka... 291022 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>KRONIK KAMUS EJAAN BAHASA INDONESIA STANDAR Sebuah konsep Kamus Biaan Bahasa Indonesia Standar telah selesai disusun oleh Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia (P.P.B.I.) bekerja- sama dengan Lembaga Bahasa Nasional (L.B.N.). anus setebal 582 hala- man ini disusun sebagai pegangan untuk mengetahui (a) kata apa saja yang dapat dianggap sebagai bagian dari Bahasa Indonesia Standar; (b) bagaimana ejaan kata-kata itu; (c) bagaimana penyukuan kata-kata itu; (d) bagaiunna lafal kata-kata yang ucapannya tidak tergambar pada ejaannya. Jangkauan kamus ini hanya memuat kata-kata yang dapat diperguna- kan dalam situasi resmi. 1isalnya, dalam surat-menyurat resmi, karang- an ilmiah, pidato, dan sebagainya. Konsep ini kini sedang ditawarkan kepada peminat dan pemakai ba- hasa dari berbagai bidang untuk mendapatkan tanggapan, kritik, dan saran, sebelum menjadi konsep final. LONGGRES PUSTAKAYAH SE-INDONESIA Pada tanggal 5-7 Juli 1973 di Ciawi telah berlangsung Konggres Pustakawan se-Indonesia. Kongres yang mendapat perhatian besar ini telah berhasil membentuk satu wadah organisasi yang bertaraf nasio- nal bernama: Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), dengan susunan Pengurus sbb: Ketua: Drs. Sukarman; Vakil Ketua: Dra. Ipon S. Puravidjaja; Sekretaris: Drs. Johny P. Rompas; Wakil Sekretaris: Ny. Doddy Sjah- buddin M.A.; Bendahara: Ny. Yoyoh Wartomo S.H. 43 Bahs. Kesusast., VI(2), 1973 Digitized by Google<noinclude>{{rh|33||Bahs. Kesusast., VI(2), 1973}}</noinclude> dt8je23i8ktpo6m5s46nyrbw75wicz5 291032 291022 2026-05-10T13:45:58Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 291032 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>{{c|{{Xxx-larger|KRONIK}}}} <u>KAMUS EJAAN BAHASA INDONESIA STANDAR</u> Sebuah konsep <u>Kamus Ejaan Bahasa Indonesia Standar</u> telah selesai disusun oleh Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia (P.P.B.I.) bekerjasama dengan Lembaga Bahasa Nasional (L.B.N.). Kamus setebal 582 halaman ini disusun sebagai pegangan untuk mengetahui: {{ol|type=a |kata apa saja yang dapat dianggap sebagai bagian dari Bahasa Indonesia Standar; |bagaimana ejaan kata-kata itu; |bagaimana penyukuan kata-kata itu; |bagaiunna lafal kata-kata yang ucapannya tidak tergambar pada ejaannya. }} Jangkauan kamus ini hanya memuat kata-kata yang dapat dipergunakan dalam situasi resmi. Misalnya, dalam surat-menyurat resmi, karangan ilmiah, pidato, dan sebagainya. Konsep ini kini sedang ditawarkan kepada peminat dan pemakai bahasa dari berbagai bidang untuk mendapatkan tanggapan, kritik, dan saran, sebelum menjadi konsep final. <u>KONGGRES PUSTAKAWAN SE-INDONESIA</u> Pada tanggal 5-7 Juli 1973 di Ciawi telah berlangsung Konggres Pustakawan se-Indonesia. Kongres yang mendapat perhatian besar ini telah berhasil membentuk satu wadah organisasi yang bertaraf nasional bernama: Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), dengan susunan Pengurus sbb: Ketua: Drs. Sukarman; Wakil Ketua: Dra. Ipon S. Purawidjaja; Sekretaris: Drs. Johny P. Rompas; Wakil Sekretaris: Ny. Doddy Sjahbuddin M.A.; Bendahara: Ny. Yoyoh Wartomo S.H.<noinclude>{{rh|43||Bahs. Kesusast., VI(2), 1973}}</noinclude> bgto1x8txub66ib5sime6pxu2arllo3 291878 291032 2026-05-11T09:18:09Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291878 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{c|{{Xxx-larger|KRONIK}}}} <u>KAMUS EJAAN BAHASA INDONESIA STANDAR</u> Sebuah konsep <u>Kamus Ejaan Bahasa Indonesia Standar</u> telah selesai disusun oleh Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia (P.P.B.I.) bekerjasama dengan Lembaga Bahasa Nasional (L.B.N.). Kamus setebal 582 halaman ini disusun sebagai pegangan untuk mengetahui: {{ol|type=a |kata apa saja yang dapat dianggap sebagai bagian dari Bahasa Indonesia Standar; |bagaimana ejaan kata-kata itu; |bagaimana penyukuan kata-kata itu; |bagaiunna lafal kata-kata yang ucapannya tidak tergambar pada ejaannya. }} Jangkauan kamus ini hanya memuat kata-kata yang dapat dipergunakan dalam situasi resmi. Misalnya, dalam surat-menyurat resmi, karangan ilmiah, pidato, dan sebagainya. Konsep ini kini sedang ditawarkan kepada peminat dan pemakai bahasa dari berbagai bidang untuk mendapatkan tanggapan, kritik, dan saran, sebelum menjadi konsep final. <u>KONGGRES PUSTAKAWAN SE-INDONESIA</u> Pada tanggal 5-7 Juli 1973 di Ciawi telah berlangsung Konggres Pustakawan se-Indonesia. Kongres yang mendapat perhatian besar ini telah berhasil membentuk satu wadah organisasi yang bertaraf nasional bernama: Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), dengan susunan Pengurus sbb: Ketua: Drs. Sukarman; Wakil Ketua: Dra. Ipon S. Purawidjaja; Sekretaris: Drs. Johny P. Rompas; Wakil Sekretaris: Ny. Doddy Sjahbuddin M.A.; Bendahara: Ny. Yoyoh Wartomo S.H.<noinclude>{{rh|43||Bahs. Kesusast., VI(2), 1973}}</noinclude> 3rn74zmy4t2glfyptk0j4gg0sjomuxu Halaman:Sabar (2023).webm/00:00:27 104 103448 291024 2026-05-10T13:40:59Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291024 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{Ft/d| entar ajalah, pusing!! }}<noinclude></noinclude> 79no5bhbiyybyp0fs14zjoge6fay310 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/666 104 103449 291025 2026-05-10T13:41:46Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291025 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Apakah kedjahatan² itu? Tak lain ialah: pemberontakan P.R.R.I. — Permesta, dan intervensi asing, jang sebenarnja berduku satu sama lain. Demikianlah dialektik gaja-pengaja dalam sedjarah Republik Indonesia diwaktu jang achir² ini: dialektik geladek, dialektik gontok! Tetapi djustru oleh karena ini adalah dialektik... — dialektiknja Revolusi —, maka Insja Allah pasti kita akan dapat mengatasinja pula dengan tjara jang setimpal dengan hukumnja Revolusi! '''Arti dasar proklamasi 5 tingkatan pengchianatan PRRI. Pemberontakan P.R.R.I. — Permesta ialah „stadium puntjak" daripada penjelewengan² dan pengchianatan² terhadap kepada Proklamasi 17 Agustus '45, proklamasi jang kita anggap sutji dan keramat itu. Terutama sekali sesudah mereka terang²an bekerdja-sama dengan tenaga² asing, tenaga² reaksioner dan kontra-revolusioner, tenaga² kolonial itu, hendak menghantjurkan Republik, tenaga² militeris jang anti-politik-bebasnja Republik, pendek-kata tenaga² kolonialis dan imperialis — terutama sekali sesudah mereka terang²an bekerdja sama dengan tenaga² asing itu, maka tiada sebutan lainlah jang pantas kita berikan kepada mereka daripada penjeleweng² proklamasi dan pengchianat² proklamasi, pendurhaka² Republik dan pengchianat² Republik. Pada pokoknja, itulah mereka punja kedjahatan: mengchianati Proklamasi, mengchianati Republik. Ja, matjam² mereka punja alasan! Didalam nota pembelaan umum terhadap kepada mahasiswa², saja melihat pernah mengatakan, bahwa pengchianatnja mereka itu melewati beberapa tingkatan — lima —, jang crescendo makin lama makin naik kedjahatannja. '''Dalih pembangunan daerah.''' '''Pertama''' mereka mengemukakan dalih pembangunan daerah. Padahal kita sudah selalu memikirkan pembangunan daerah itu, mengadakan undang² otonomi dan lain sebagainja, dan kerendan melakukan mengadakan kooperasi² '''Musso''' dan '''Musap'''. Sebaliknya mereka melakukan petualang politik dan petualang ekonomi melakukan korupsi jang mendirikan bulu-roma dengan mengadakan barter gelap, jang hasilnja buat sebagian besar masuk dalam kantong²nja petualang² jang mulutnja menuntut „pembangunan daerah” itu. '''Ppenjakit „Comunist ophobie”.''' '''Kedua,''' — dan ini adalah tingkat kerendahan — mereka mengemukakan dalih „anti-komunis”. Djakarta adalah kota komunis! Pemerintah pusat adalah pemerintah komunis! Sukarno adalah gembongnja komunis atau setidak²nja anteknja komunis! Padahal kita semua mengetahui bahwa kita selalu membela Pantja Sila. Padahal semua orangpun mengetahui bahwa politik kita ialah politik mentjari persahabatan dengan semua negara, termasuk Amerika. Padahal semua orang mengetahui bahwa saja ini seorang nasional — seorang revolusioner nasionalis. Tetapi jach, lidah tidak bertulang, kaja hantam-kromo keluarkan tuduhan komunis, hantam-kromo keluarkan dalih „anti-komunis”. Rakjat dihasut habis²an supaja anti Djakarta sebab Djakarta adalah komunis, di-takut²i dengan momok komunis, ditjekoki terus-menerus dengan penjakit '''communist ophobie''', jaitu penjakit takut kepada komunis. Para ulama seluruh Sumatera, para ahli waris Nabi, gouw warasatul anbiya, dimobilisir mulai di Bukittinggi, kemudian di Palembang, supaja mendjatuhkan vonnis kepada komunisme dan kepada komunis. Tjerdik benar tjara mereka menarik '''tabir asap''' untuk menutupi kepetualangan dan korupsi mereka itu! '''Penghianatan merah ke alam terror buruk & fascisme.''' Naik setingkat lagi, saudara²! Datanglah tingkat ketiga. Tingkat ketiga ini ialah tingkat '''terror'''. Terror, persis seperti terrornja D.I. dan T.I. Terror merajap-tak, menggansat, membunuh! Di Djakarta beberapa kali didjalankan terror itu, antara lain di Tjikini, dan djiwa terror itu masih terus hidup dikalbu mereka, sebagai ternjata dengan pembunuhan setjara kedjam kepada tawanan² mereka di Situdjuh, dimana tawanan² itu mereka djedjalkan dalam satu rumah, kemudian mereka berondong dengan granat dan bakar dengan bensin hidup². Tingkat terror ini berarti mereka dengan tegas² meninggalkan alam demokrasi dan Pantja Sila, masuk kedalam alamnja fascisme dan bunuh dan gertak-paksaan, padahal — mereka mengatakan bahwa mereka „anti komunis" dan „anti pusat" katanja karena mereka menghendaki demokrasi, dan „komunis adalah anti demokrasi" dan „pemerintah Djakarta adalah pemerintah jang melanggar demokrasi". Bahwa petualang² itu bukan koruptor adalah satu kebohongan jang gede, tetapi bahwa mereka mendjundjung tinggi demokrasi adalah kebohongan jang lebih gede! Datanglah kini tingkat jang keempat: mereka mentjari bantuan dan kerdjasama dengan fi-hak² imperialis dan kontra-revolusioner diluar-negeri. Ini saja lihat sendiri buktinja, tatkala saja berada diluar negeri pada permulaan tahun ini. Keterangan² jang saja dapat dari fihak pemerintah² jang bersahabat dengan kita, bukti² hitam diatas putih jang saja lihat dengan mata-kepala sendiri, keterangan² dan bukti² bahwa mereka mentjari bantuan asing untuk membokong Republik dan mengumpulkan sendjata² untuk menghantam Republik, — keterangan² dan bukti² itu sebenarnja pada waktu itu telah menimbulkan pertanjaan dalam hati saja: „dapatkah kita masih bitjara lagi dengan orang sematjam ini? — ''Sampai telè²'' — ''tot inden treure'' —, kita tadinja selalu bersedia untuk bitjara dengan mereka, bermusjawarah dengan mereka, ''tot in den treure'' kita malahan telah selalu bersabar-hati dengan mereka, — tetapi, kalau mereka sekarang ini ternjata hendak membokong Republik, hendak menghantam Republik dengan sendjata, hendak mengadakan<noinclude></noinclude> byjxwg7uls8lhksm91br27dguwcodl3 Halaman:Sabar (2023).webm/00:00:31 104 103450 291026 2026-05-10T13:43:59Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291026 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{ft/i| menghela nafas sambari bersandar di pinggir kasur }}<noinclude></noinclude> hf3oglx7eq0h86z4rcc37w1cqlcqmxu Halaman:Sabar (2023).webm/00:00:37 104 103451 291029 2026-05-10T13:44:39Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291029 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{ft/i| Mengecek ponselnya }}<noinclude></noinclude> 420yw6qskuymf8wlwzuu7wupnpm2dhc Halaman:Sabar (2023).webm/00:00:39 104 103452 291033 2026-05-10T13:46:06Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291033 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{Ft/d| Lowbat lagi, Cassan gue mana nih? sembari mencari charger ponselnya }}<noinclude></noinclude> 6divo6jewnpiri0x6j7eswmr7c8hrgv Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/113 104 103453 291034 2026-05-10T13:46:16Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291034 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||27}}</noinclude>Djauh sebelum mengenal tulisan, kita telah lebih dulu mengenal bunji bahasa. Bunji bahasa telah dikenal sedjak dimulainja sedjarah umat manusia, kira-kira sedjak lima ratus ribu sampai satu djuta tahun jang lampau. Tulisan tertua jang kita kenal, jaitu huruf paku di Suneria dan huruf hieroglyph di Mesir, berasal dari kira-kira lima sampai enam ribu tahun jang lalu. Usia tulisan memang djauh lebih muda daripada usia bunji bahasa. Disamping itu kita lihat adanja kenjataan bahwa sampai sekarang ini sistem tulisan itu hanja aikanal oleh kalungan jang lebih/Berapa personkah diantara saudara-saudara kita di Indonesia ini, di Afrika, dipedalaman-pedalaman Asia, Amerika Tengah, Amerika Selatan jang sudah kenal tulisan? Meskipun demikian mereka toh berbitjara, berbahasa setiap hari Inilah tjiri chas bahasa jang pertama: bahasa berupa bunji-bunji jang dihasilkan oleh alat utjap kita terbatas. Selama kita berbitjara lawan bitjara kita mendengarkan. Kadang-kadang dia mendjawab dan ganti kita jang mendengarkan. Demikian terdjadi terus-menerus tanpa ada salah pengertian diantara kita. Hal ini disebabkan karena bunji-bunji bahasa jang kita keluarkan sesungguhnja merupakan "wakil" daripada benda-benda jang ada disekitar kita, baik jang kongkrit maupun jang abstrak. Kalau pada suatu hari jang panas terik kita mengatakan "hudjan", maka jang terbajang didalam pikiran kita ialah air jang djatuh dari langit. Kata "hudjan" itu merupakan wakil atau lambang dari peristiwa djatuhnja air dari langit, sedang air jang djatuh dari langit itu merupakan {{u|tanda}} daripada adanja hudjan. Demikian juga halnja dengan kata-kata seperti "buku", "rumput", "bulan", dan semua kata jang lain. Lambang-lambang jang berupa bunji-bunji bahasa (atau lebih baik: lambang-lambang bunji) itu menundjuk pada benda-benda tertentu. Pada situasi tertentu lambang-lambang bunji itu mewakili benda-benda tertentu pula. Kata "hudjan" tidak selalu menundjuk pada air jang djatuh dari langit. Dalam keadaan tertentu, kalau ada seseorang jang mengatakan "Wah, hudjan!" ini dapat berarti adanja seorang penbitjara jang berbitjara demikian bersemangat hingga air ludahnja berhamburan kian kemari. Hubungan antara lambang dan situasi dengan benda jang dimaksud disebut {{u|arti}} atau {{u|makna}}. Lambang bunji itu kita/berulang-ulang sotjara tetap dan teratur, hingga kalau ada orang asing aau memperhatikan, akan njata padanja bahwa ada bagian-bagian dari lambang bunji itu jang tetap tempatnja dalam kalimat. Lama-kelamaan orang asing itu akan mentjatat bahwa kata benda misalnja hanja akan dapat menampati tempat-tempat tertentu dalam kalimat bahasa Indonesia pakai.<noinclude></noinclude> rv1muqpwincpo8ntmko1ori34jiqcoa Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/526 104 103454 291035 2026-05-10T13:46:33Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Kronik Longtree ju membentuk komisi-komisi: (1) Perpustakaan Nasional: Mastini hardjoprakoso M.A. (2) Perpus- taken Ahusu/Lokumenturi: Luwarsih Fringgoadisurjo M.A. (3) Per- pustakaan Umum: Drs. Djoko (4) Perpustakaan Sekolah: Ny. Parlinah Moedjono M.. Diharapkan dalam waktu yang singkat susunan pengurus caban daerah terbentuk. 44 PEDON LENGKAP EJAEN Bahasa INDOESIA YANG DISE FURNAKAN Pedomen Lisan pahɛea Indonesia yang Disempurnakan, buku pegan... 291035 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" />{{rh|Kronik}}</noinclude>Kronik Longtree ju membentuk komisi-komisi: (1) Perpustakaan Nasional: Mastini hardjoprakoso M.A. (2) Perpus- taken Ahusu/Lokumenturi: Luwarsih Fringgoadisurjo M.A. (3) Per- pustakaan Umum: Drs. Djoko (4) Perpustakaan Sekolah: Ny. Parlinah Moedjono M.. Diharapkan dalam waktu yang singkat susunan pengurus caban daerah terbentuk. 44 PEDON LENGKAP EJAEN Bahasa INDOESIA YANG DISE FURNAKAN Pedomen Lisan pahɛea Indonesia yang Disempurnakan, buku pegangan umum yang disiarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebut. yan, dirasa perlu untuk dilengkapi. Fendapat itu merupa- kan pendapat umum, baik para pemakai bahasa maupun para ahli yang terlibat dalam gagasan mencetuskan lahirnya konsep EYD itu. elalui beberapa pertemuan, Panitia Fengembangan Bahasa Indonesia telah menyelesaikan sebuah konsep yang berjudul Fedo- man lengkap jaan Bahasa Indonesia Yang disempurnakan. Pedoman ini di samping dimaksudkan untuk melengkapi buku pedoman yang su- dah ada, juga akan dijadikan sebi bahan perundingan dengan pi- hak laysia. SANGGAR KJA PAISTILAHAN Serentetan kegiatan telah dilakukan untuk membangkitkan perhatian masyarakat terhadap kehidupan peristilahan. Diaveli dengan Simposium Peristilahan pada tanggal 2-3 Desember 1972 di Jakarta, kemudian kaput Aerja FBI di Cibogo tanggal 5-9 Juni 1973. Fada tanggal 29-30 Juni 1973 ...I. bersama L.E.. telah nyelenggarakan sebuah sanggar kerja yang dihadiri oleh para ahli yang mewakili berbagai bidang kegiatan, baik dari Jakarta mau- pun di luar Jakarta. bahan utama yang dijadikan pembicaraan ialtà konsep dari Prof. H. Johannes yang berjudul "Fedoman Umum Pem- bentukan Istilah" yang sebelumnya telah dibahas pula oleh Rapar Kerja di Cibogo. Digitized by Google<noinclude>{{rh|44}}</noinclude> orwrsqoopr8i2rllirkljjmtmpb505b 291049 291035 2026-05-10T13:53:37Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Telah diuji baca */ 291049 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" />{{rh|Kronik}}</noinclude> Kongres juga membentuk komisi-komisi: (1) Perpustakaan Nasional: Mastini Hardjoprakoso M.A. (2) Perpustakaan Khusu/Dokumentari: Luwarsih Fringgoadisurjo M.A. (3) Perpustakaan Umum: Drs. Djoko (4) Perpustakaan Sekolah: Ny. Parlinah Moedjono M.A. Diharapkan dalam waktu yang singkat susunan pengurus cabang daerah terbentuk. <u>PEDOMAN LENGKAP EJAAN Bahasa INDOESIA YANG DISEMPURNAKAN</u> <u>Pedoman Lisan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan</u>, buku pegangan umum yang disiarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebutdayaan, dirasa perlu untuk dilengkapi. Pendapat itu merupakan pendapat umum, baik para pemakai bahasa maupun para ahli yang terlibat dalam gagasan mencetuskan lahirnya konsep EYD itu. Melalui beberapa pertemuan, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia telah menyelesaikan sebuah konsep yang berjudul <u>Pedoman lengkap ejaan Bahasa Indonesia Yang disempurnakan</u>. Pedoman ini di samping dimaksudkan untuk melengkapi buku pedoman yang sudah ada, juga akan dijadikan sebi bahan perundingan dengan pihak Malaysia. <u>SANGGAR KERJA PERISTILAHAN</u> Serentetan kegiatan telah dilakukan untuk membangkitkan perhatian masyarakat terhadap kehidupan peristilahan. Diawali dengan Simposium Peristilahan pada tanggal 2-3 Desember 1972 di Jakarta, kemudian Rapat Kerja PPBI di Cibogo tanggal 5-9 Juni 1973. Pada tanggal 29-30 Juni 1973 P.P.B.I bersama L.B.N. telah nyelenggarakan sebuah sanggar kerja yang dihadiri oleh para ahli yang mewakili berbagai bidang kegiatan, baik dari Jakarta maupun di luar Jakarta. bahan utama yang dijadikan pembicaraan ialah konsep dari Prof. H. Johannes yang berjudul "Pedoman Umum Pembentukan Istilah" yang sebelumnya telah dibahas pula oleh Rapat Kerja di Cibogo.<noinclude>{{rh|44}}</noinclude> rv4awui33crt9njcjtnwh988ytvp5y1 291879 291049 2026-05-11T09:18:46Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291879 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Kronik}}</noinclude> Kongres juga membentuk komisi-komisi: (1) Perpustakaan Nasional: Mastini Hardjoprakoso M.A. (2) Perpustakaan Khusu/Dokumentari: Luwarsih Fringgoadisurjo M.A. (3) Perpustakaan Umum: Drs. Djoko (4) Perpustakaan Sekolah: Ny. Parlinah Moedjono M.A. Diharapkan dalam waktu yang singkat susunan pengurus cabang daerah terbentuk. <u>PEDOMAN LENGKAP EJAAN Bahasa INDOESIA YANG DISEMPURNAKAN</u> <u>Pedoman Lisan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan</u>, buku pegangan umum yang disiarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebutdayaan, dirasa perlu untuk dilengkapi. Pendapat itu merupakan pendapat umum, baik para pemakai bahasa maupun para ahli yang terlibat dalam gagasan mencetuskan lahirnya konsep EYD itu. Melalui beberapa pertemuan, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia telah menyelesaikan sebuah konsep yang berjudul <u>Pedoman lengkap ejaan Bahasa Indonesia Yang disempurnakan</u>. Pedoman ini di samping dimaksudkan untuk melengkapi buku pedoman yang sudah ada, juga akan dijadikan sebi bahan perundingan dengan pihak Malaysia. <u>SANGGAR KERJA PERISTILAHAN</u> Serentetan kegiatan telah dilakukan untuk membangkitkan perhatian masyarakat terhadap kehidupan peristilahan. Diawali dengan Simposium Peristilahan pada tanggal 2-3 Desember 1972 di Jakarta, kemudian Rapat Kerja PPBI di Cibogo tanggal 5-9 Juni 1973. Pada tanggal 29-30 Juni 1973 P.P.B.I bersama L.B.N. telah nyelenggarakan sebuah sanggar kerja yang dihadiri oleh para ahli yang mewakili berbagai bidang kegiatan, baik dari Jakarta maupun di luar Jakarta. bahan utama yang dijadikan pembicaraan ialah konsep dari Prof. H. Johannes yang berjudul "Pedoman Umum Pembentukan Istilah" yang sebelumnya telah dibahas pula oleh Rapat Kerja di Cibogo.<noinclude>{{rh|44}}</noinclude> kzkancim1p0vfu0gk7pqxgwuqk1w5t2 Halaman:Moral dan batin seri 1.pdf/8 104 103455 291036 2026-05-10T13:46:54Z OwlyKnight 24017 /* Telah diuji baca */ 291036 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="OwlyKnight" /></noinclude>{{hws|gimana|bagimana}} hartawan, berkuasa, pande dan pintar itu orang, ia '''tidak bisa terbebas''' dari kedukaan jang sudah ada tersedia dan mengikuti sedari ia terlahir. Kebenaran Mulia jang Kedua adalah pengertian tentang sebab dan sumber dari itu kesengsaraan dan kedukaan. Inilah seperti diatas sudah diterangkan, ada dari lantaran manusia mengandung rupa-rupa keinginan, ada punja perasaan suka dan bentji, ingin rapet dan ingin mendjauhi, dan sebaginja pula. Kesimpulannja, kapan ia terpisah dari apa jang ditjinta - kasih, sahabat, famili, uang, makanan, pakaian, perhiasan, plesiran, tempat jang indah, rumah jang enak, dan ribuan matjam barang lagi - hatinja merasa duka, sedih, djengkel, kangen dan rindu, dan sebaliknja kapan ia berada dekat dengan apa jang tidak enak atau dibentji - kesakitan, kepusingan, kehinaan, orang-orang jang tidak sympathiek, jang bengis, kedjam, suka menjelah atau mengganggu, terpaksa tinggal dirumah jang buruk, dahar makanan sembarangan, berpakaian djelek, dan ribuan matjam hal lain - lain jang tidak enak dan mendjengkelkan, ini semuapun membikin penghidupannja dirasakan seperti „dalam neraka”. Kapan dengan teliti dan pake pikiran sehat orang tjoba preksa dan selidiki satu demi satu sebab dari segala kesusahan jang ia pernah alamkan, tidak bisa salah lagi jang itu semua mesti ada dari sumber-sumber jang ditundjuk diatas, jang pokonja ada dari '''keinginan''', pengharapan, niatan dan angan-angan jang berdasar atas '''hawa nafsu'''. Sesudah mengerti itu sebab-sebab, sekarang kita sampe {{hws|pa|pada}}<noinclude>{{rh|10.||11.}}</noinclude> py0hws5wmhr3b10qramuray50v13uzo 291037 291036 2026-05-10T13:47:10Z OwlyKnight 24017 291037 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="OwlyKnight" /></noinclude>{{hwe|gimana|bagimana}} hartawan, berkuasa, pande dan pintar itu orang, ia '''tidak bisa terbebas''' dari kedukaan jang sudah ada tersedia dan mengikuti sedari ia terlahir. Kebenaran Mulia jang Kedua adalah pengertian tentang sebab dan sumber dari itu kesengsaraan dan kedukaan. Inilah seperti diatas sudah diterangkan, ada dari lantaran manusia mengandung rupa-rupa keinginan, ada punja perasaan suka dan bentji, ingin rapet dan ingin mendjauhi, dan sebaginja pula. Kesimpulannja, kapan ia terpisah dari apa jang ditjinta - kasih, sahabat, famili, uang, makanan, pakaian, perhiasan, plesiran, tempat jang indah, rumah jang enak, dan ribuan matjam barang lagi - hatinja merasa duka, sedih, djengkel, kangen dan rindu, dan sebaliknja kapan ia berada dekat dengan apa jang tidak enak atau dibentji - kesakitan, kepusingan, kehinaan, orang-orang jang tidak sympathiek, jang bengis, kedjam, suka menjelah atau mengganggu, terpaksa tinggal dirumah jang buruk, dahar makanan sembarangan, berpakaian djelek, dan ribuan matjam hal lain - lain jang tidak enak dan mendjengkelkan, ini semuapun membikin penghidupannja dirasakan seperti „dalam neraka”. Kapan dengan teliti dan pake pikiran sehat orang tjoba preksa dan selidiki satu demi satu sebab dari segala kesusahan jang ia pernah alamkan, tidak bisa salah lagi jang itu semua mesti ada dari sumber-sumber jang ditundjuk diatas, jang pokonja ada dari '''keinginan''', pengharapan, niatan dan angan-angan jang berdasar atas '''hawa nafsu'''. Sesudah mengerti itu sebab-sebab, sekarang kita sampe {{hws|pa|pada}}<noinclude>{{rh|10.||11.}}</noinclude> rxuh7zxod5b0t4p8idzf0bwizdom924 Halaman:Sabar (2023).webm/00:00:44 104 103456 291038 2026-05-10T13:47:19Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291038 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{ft/i| menghela nafas, mengecap }}<noinclude></noinclude> 7vdkvqcr4j11lqf8izs6v4okgiw83jq Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/491 104 103457 291039 2026-05-10T13:47:56Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '4. The Status of #nglish | Jmeglish is the first foreimm language in Indonesia. The proficiency level, as mrntioned earlier, is gcnerally not satisfactory except among the learned, most of whom are trained in #nglish either in Indonesia or abroad. It is usod as the main medium of international COommunicatior for such purposes as academic —-—to keep up with the development in scienco and technolosy in Other countries—, political and econo... 291039 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>4. The Status of #nglish | Jmeglish is the first foreimm language in Indonesia. The proficiency level, as mrntioned earlier, is gcnerally not satisfactory except among the learned, most of whom are trained in #nglish either in Indonesia or abroad. It is usod as the main medium of international COommunicatior for such purposes as academic —-—to keep up with the development in scienco and technolosy in Other countries—, political and economic —-to cngago in pelitical and econonic cooperation with other nations, as woll as personal --to converse and get along with individuals of various nationalitics—-. | As a school subject, smnglish is introduced in the first year of the junior high school (erade 7), and is taught up to the first year Of college at tho average rate of four of five hours per week, depending on the student's major. The gencerally unsatisfactory level of proficicncy of the student by the enl of his first year of college, after seven years of #inclish, indicates that the schools are far from effective in the teaching of 'nglish. Tho factors that appear to account for this poor outcome include (1) insufficient mastery of Inglish on the part of the toacher, (2) the toacher's insufficient training in foreign language teaching, (3) the teacher's low pay, (4) asa result of (3), the teacher's being ovorworked hecause he has to hold more than one job to mako ends moet, (5) large-size classes --30 to 60 students per class—, (6) unavailability of woll-developed teaching materials, (7) insufficient opportunity to practice the language outside the classroom, and (3) a serisus lack of sociolinguistic background behind tcaching training and materials development. afforts have bocn launched to improve the general proficiency level in tho use of maslish. Tho Language enter Program of the Ministry of SIducation is assigned to organize and conduct upgrading Courses of #nglish specially designed for those university staff members and other governmont officials who are to be sent abroad for Bahs, Kesusast., V(2), 1973<noinclude></noinclude> 756kjhpieynpg58cjmjtt2fnj1mjvn1 291047 291039 2026-05-10T13:52:51Z Moel81 25980 291047 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>4. <u>The Status of English</u> English is the first foreign language in Indonesia. The proficiency level, as mentioned earlier, is generally not satisfactory except among the learned, most of whom are trained in English either in Indonesia or abroad. It is used as the main medium of international communication for such purposes as academic — to keep up with the development in science and technology in other countries —, political and economic — to engage in political and economic cooperation with other nations, as well as personal — to converse and get along with individuals of various nationalities —. As a school subject, English is introduced in the first year of the junior high school (grade 7), and is taught up to the first year of college at the average rate of four or five hours per week, depending on the student's major. The generally unsatisfactory level of proficiency of the student by the end of his first year of college, after seven years of English, indicates that the schools are far from effective in the teaching of English. The factors that appear to account for this poor outcome include (1) insufficient mastery of English on the part of the teacher, (2) the teacher's insufficient training in foreign language teaching, (3) the teacher's low pay, (4) as a result of (3), the teacher's being overworked because he has to hold more than one job to make ends meet, (5) large-size classes — 30 to 60 students per class —, (6) unavailability of well-developed teaching materials, (7) insufficient opportunity to practice the language outside the classroom, and (8) a serious lack of sociolinguistic background behind teaching training and materials development. Efforts have been launched to improve the general proficiency level in the use of English. The Language Center Program of the Ministry of Education is assigned to organize and conduct upgrading courses of English specially designed for those university staff members and other government officials who are to be sent abroad for<noinclude>{{rh|9||Bahs. Kesusast., V(2), 1973</noinclude> gii6hituvix861lcbif5u12mn9rwuds 291059 291047 2026-05-10T13:59:03Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291059 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>4. <u>The Status of English</u> English is the first foreign language in Indonesia. The proficiency level, as mentioned earlier, is generally not satisfactory except among the learned, most of whom are trained in English either in Indonesia or abroad. It is used as the main medium of international communication for such purposes as academic –– to keep up with the development in science and technology in other countries ––, political and economic –– to engage in political and economic cooperation with other nations, as well as personal –– to converse and get along with individuals of various nationalities ––. As a school subject, English is introduced in the first year of the junior high school (grade 7), and is taught up to the first year of college at the average rate of four or five hours per week, depending on the student's major. The generally unsatisfactory level of proficiency of the student by the end of his first year of college, after seven years of English, indicates that the schools are far from effective in the teaching of English. The factors that appear to account for this poor outcome include (1) insufficient mastery of English on the part of the teacher, (2) the teacher's insufficient training in foreign language teaching, (3) the teacher's low pay, (4) as a result of (3), the teacher's being overworked because he has to hold more than one job to make ends meet, (5) large-size classes –– 30 to 60 students per class ––, (6) unavailability of well-developed teaching materials, (7) insufficient opportunity to practice the language outside the classroom, and (8) a serious lack of sociolinguistic background behind teaching training and materials development. Efforts have been launched to improve the general proficiency level in the use of English. The Language Center Program of the Ministry of Education is assigned to organize and conduct upgrading courses of English specially designed for those university staff members and other government officials who are to be sent abroad for<noinclude>{{rh|9||Bahs. Kesusast., V(2), 1973</noinclude> ts6lquzm0ltj1ulkvu01bdke8ejed9b 291060 291059 2026-05-10T13:59:24Z Moel81 25980 291060 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>4. <u>The Status of English</u> English is the first foreign language in Indonesia. The proficiency level, as mentioned earlier, is generally not satisfactory except among the learned, most of whom are trained in English either in Indonesia or abroad. It is used as the main medium of international communication for such purposes as academic –– to keep up with the development in science and technology in other countries ––, political and economic –– to engage in political and economic cooperation with other nations, as well as personal –– to converse and get along with individuals of various nationalities ––. As a school subject, English is introduced in the first year of the junior high school (grade 7), and is taught up to the first year of college at the average rate of four or five hours per week, depending on the student's major. The generally unsatisfactory level of proficiency of the student by the end of his first year of college, after seven years of English, indicates that the schools are far from effective in the teaching of English. The factors that appear to account for this poor outcome include (1) insufficient mastery of English on the part of the teacher, (2) the teacher's insufficient training in foreign language teaching, (3) the teacher's low pay, (4) as a result of (3), the teacher's being overworked because he has to hold more than one job to make ends meet, (5) large-size classes –– 30 to 60 students per class ––, (6) unavailability of well-developed teaching materials, (7) insufficient opportunity to practice the language outside the classroom, and (8) a serious lack of sociolinguistic background behind teaching training and materials development. Efforts have been launched to improve the general proficiency level in the use of English. The Language Center Program of the Ministry of Education is assigned to organize and conduct upgrading courses of English specially designed for those university staff members and other government officials who are to be sent abroad for<noinclude>{{rh|9||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> cst9f0acouuhmjjdfwmuyrv4spxqx8g 291065 291060 2026-05-10T14:00:19Z Moel81 25980 291065 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>4. <u>The Status of English</u> English is the first foreign language in Indonesia. The proficiency level, as mentioned earlier, is generally not satisfactory except among the learned, most of whom are trained in English either in Indonesia or abroad. It is used as the main medium of international communication for such purposes as academic -- to keep up with the development in science and technology in other countries --, political and economic –– to engage in political and economic cooperation with other nations, as well as personal –– to converse and get along with individuals of various nationalities ––. As a school subject, English is introduced in the first year of the junior high school (grade 7), and is taught up to the first year of college at the average rate of four or five hours per week, depending on the student's major. The generally unsatisfactory level of proficiency of the student by the end of his first year of college, after seven years of English, indicates that the schools are far from effective in the teaching of English. The factors that appear to account for this poor outcome include (1) insufficient mastery of English on the part of the teacher, (2) the teacher's insufficient training in foreign language teaching, (3) the teacher's low pay, (4) as a result of (3), the teacher's being overworked because he has to hold more than one job to make ends meet, (5) large-size classes –– 30 to 60 students per class ––, (6) unavailability of well-developed teaching materials, (7) insufficient opportunity to practice the language outside the classroom, and (8) a serious lack of sociolinguistic background behind teaching training and materials development. Efforts have been launched to improve the general proficiency level in the use of English. The Language Center Program of the Ministry of Education is assigned to organize and conduct upgrading courses of English specially designed for those university staff members and other government officials who are to be sent abroad for<noinclude>{{rh|9||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> m2wbpvl4xr9g38t9h8ltrcwpej4oay5 291067 291065 2026-05-10T14:00:53Z Moel81 25980 291067 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>4. <u>The Status of English</u> English is the first foreign language in Indonesia. The proficiency level, as mentioned earlier, is generally not satisfactory except among the learned, most of whom are trained in English either in Indonesia or abroad. It is used as the main medium of international communication for such purposes as academic -- to keep up with the development in science and technology in other countries --, political and economic -- to engage in political and economic cooperation with other nations, as well as personal -- to converse and get along with individuals of various nationalities --. As a school subject, English is introduced in the first year of the junior high school (grade 7), and is taught up to the first year of college at the average rate of four or five hours per week, depending on the student's major. The generally unsatisfactory level of proficiency of the student by the end of his first year of college, after seven years of English, indicates that the schools are far from effective in the teaching of English. The factors that appear to account for this poor outcome include (1) insufficient mastery of English on the part of the teacher, (2) the teacher's insufficient training in foreign language teaching, (3) the teacher's low pay, (4) as a result of (3), the teacher's being overworked because he has to hold more than one job to make ends meet, (5) large-size classes -- 30 to 60 students per class --, (6) unavailability of well-developed teaching materials, (7) insufficient opportunity to practice the language outside the classroom, and (8) a serious lack of sociolinguistic background behind teaching training and materials development. Efforts have been launched to improve the general proficiency level in the use of English. The Language Center Program of the Ministry of Education is assigned to organize and conduct upgrading courses of English specially designed for those university staff members and other government officials who are to be sent abroad for<noinclude>{{rh|9||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> du4j7mdaziq0n2mvy4tmx3bpnh52wsb 291746 291067 2026-05-11T06:15:48Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291746 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>4. <u>The Status of English</u> English is the first foreign language in Indonesia. The proficiency level, as mentioned earlier, is generally not satisfactory except among the learned, most of whom are trained in English either in Indonesia or abroad. It is used as the main medium of international communication for such purposes as academic -- to keep up with the development in science and technology in other countries --, political and economic -- to engage in political and economic cooperation with other nations, as well as personal -- to converse and get along with individuals of various nationalities --. As a school subject, English is introduced in the first year of the junior high school (grade 7), and is taught up to the first year of college at the average rate of four or five hours per week, depending on the student's major. The generally unsatisfactory level of proficiency of the student by the end of his first year of college, after seven years of English, indicates that the schools are far from effective in the teaching of English. The factors that appear to account for this poor outcome include (1) insufficient mastery of English on the part of the teacher, (2) the teacher's insufficient training in foreign language teaching, (3) the teacher's low pay, (4) as a result of (3), the teacher's being overworked because he has to hold more than one job to make ends meet, (5) large-size classes -- 30 to 60 students per class --, (6) unavailability of well-developed teaching materials, (7) insufficient opportunity to practice the language outside the classroom, and (8) a serious lack of sociolinguistic background behind teaching training and materials development. Efforts have been launched to improve the general proficiency level in the use of English. The Language Center Program of the Ministry of Education is assigned to organize and conduct upgrading courses of English specially designed for those university staff members and other government officials who are to be sent abroad for<noinclude>{{rh|9||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> j0kmtdh7u99livvoug04ovgo94pgqsn Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/492 104 103458 291040 2026-05-10T13:48:04Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Some Sociolinguistic advanced training, The Ministry of Wlucation also organizes upgrading Courses spocially designed for toachers of JInglish. The inglish curriculum of thc Institutes of Teacher Training is constantly rcvioewed 80 that thoir graduates may become better teachers of Imeglish. Finally, Imglish coursos of difforent degrces of guality and scopos are available to the public on commercial basis. anglish is gonorally regarded... 291040 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>Some Sociolinguistic advanced training, The Ministry of Wlucation also organizes upgrading Courses spocially designed for toachers of JInglish. The inglish curriculum of thc Institutes of Teacher Training is constantly rcvioewed 80 that thoir graduates may become better teachers of Imeglish. Finally, Imglish coursos of difforent degrces of guality and scopos are available to the public on commercial basis. anglish is gonorally regarded not only as a necessary means Of international communication but also as a language of prestise. It is also regsardod as a ncans of personal advancement, professional and academic improvement and cultural enrichment as well as a means Of getting botter-payins jobs. These appear ta bo the main motivations for the study of snglish in the country. 5. Language Standardization and Policy The standardization, in the strict sense of the word, of Ba- hasa Indonesia is still in the process of establishment, except with regard to spelling, which has bocn reformcd and standardized since August 17, 1972 by a presidential decreo. The National Language Institute in Jakarta is primarily responsible for the formulation of the spelling roform. | Yhat has been assumed to be standard Fahasa Indonesia applies almost exclusively to the written form of Rahasa Indoresia, whose standardization is flexibly determined by usage as claimod by gramar book writers, authors, reporters and teachers. Some grammarians suggest that what is necded is prescriptive, rather than desoriptive, standards. The spokcen form cf Bahasa Indonesia is not currently standardizcl throughout the country. It is spoken and accepted as standard in ways different form one area to another, and from one linguistic community to another. The spoken form of the language that is used in big cities, espocially Jakarta, secms to have a certain anount of prestige. The official policy regarding language use in government, public 10<noinclude></noinclude> ewf5b4ovfeylcv7tmq1uaukasswml0s 291101 291040 2026-05-10T14:11:54Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291101 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>advanced training. The Ministry of Education also organizes upgrading courses specially designed for teachers of English. The English curriculum of the Institutes of Teacher Training is constantly reviewed so that their graduates may become better teachers of English. Finally, English courses of different degrees of quality and scopes are available to the public on commercial basis. English is generally regarded not only as a necessary means of international communication but also as a language of prestige. It is also regarded as a means of personal advancement, professional and academic improvement and cultural enrichment as well as a means of getting better-paying jobs. These appear to be the main motivations for the study of English in the country. 5. <u>Language Standardization and Policy</u> The standardization, in the strict sense of the word, of Bahasa Indonesia is still in the process of establishment, except with regard to spelling, which has been reformed and standardized since August 17, 1972 by a presidential decree. The National Language Institute in Jakarta is primarily responsible for the formulation of the spelling reform. What has been assumed to be standard Bahasa Indonesia applies almost exclusively to the written form of Bahasa Indonesia, whose standardization is flexibly determined by usage as claimed by grammar book writers, authors, reporters and teachers. Some grammarians suggest that what is needed is prescriptive, rather than descriptive, standards. The spoken form of Bahasa Indonesia is not currently standardized throughout the country. It is spoken and accepted as standard in ways different from one area to another, and from one linguistic community to another. The spoken form of the language that is used in big cities, especially Jakarta, seems to have a certain amount of prestige. The official policy regarding language use in government, public<noinclude>{{rh|10}}</noinclude> rldvg5vb9hcv136e3np8x2jzcvgsbes 291747 291101 2026-05-11T06:16:32Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291747 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>advanced training. The Ministry of Education also organizes upgrading courses specially designed for teachers of English. The English curriculum of the Institutes of Teacher Training is constantly reviewed so that their graduates may become better teachers of English. Finally, English courses of different degrees of quality and scopes are available to the public on commercial basis. English is generally regarded not only as a necessary means of international communication but also as a language of prestige. It is also regarded as a means of personal advancement, professional and academic improvement and cultural enrichment as well as a means of getting better-paying jobs. These appear to be the main motivations for the study of English in the country. 5. <u>Language Standardization and Policy</u> The standardization, in the strict sense of the word, of Bahasa Indonesia is still in the process of establishment, except with regard to spelling, which has been reformed and standardized since August 17, 1972 by a presidential decree. The National Language Institute in Jakarta is primarily responsible for the formulation of the spelling reform. What has been assumed to be standard Bahasa Indonesia applies almost exclusively to the written form of Bahasa Indonesia, whose standardization is flexibly determined by usage as claimed by grammar book writers, authors, reporters and teachers. Some grammarians suggest that what is needed is prescriptive, rather than descriptive, standards. The spoken form of Bahasa Indonesia is not currently standardized throughout the country. It is spoken and accepted as standard in ways different from one area to another, and from one linguistic community to another. The spoken form of the language that is used in big cities, especially Jakarta, seems to have a certain amount of prestige. The official policy regarding language use in government, public<noinclude>{{rh|10}}</noinclude> 84pnecq3t01kfb5ltcf1x4jxglgr3j5 Halaman:Sabar (2023).webm/00:00:48 104 103459 291041 2026-05-10T13:48:23Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291041 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{Ft/d| Loh, ini punya Marsha }}<noinclude></noinclude> t85vmkijjs3m77lj2njnhy6dftd18b7 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/121 104 103460 291043 2026-05-10T13:48:50Z Upiak Ituih 27011 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{rh||MARAH RUSLI TELAH MENINGGALKAN KITA}} Sanusi Pane baru sadja dua minggu pergi. Duka kita belum habis. Tiba-tiba kita dikedjutkan pula oleh kepergian Marah Rusli. Seorang lagi pengarang Indonesia kembali kehadirat Ilahi setelah ia dengan se- gala usaha dan tjiptaannja ikut mengisi bumi kesusastraan Indonesia. Ia adalah salah satu tokoh mula dalam kesusastraan Indonesia modern. Ia dilahirkan di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889, putra dari... 291043 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{rh||MARAH RUSLI TELAH MENINGGALKAN KITA}} Sanusi Pane baru sadja dua minggu pergi. Duka kita belum habis. Tiba-tiba kita dikedjutkan pula oleh kepergian Marah Rusli. Seorang lagi pengarang Indonesia kembali kehadirat Ilahi setelah ia dengan se- gala usaha dan tjiptaannja ikut mengisi bumi kesusastraan Indonesia. Ia adalah salah satu tokoh mula dalam kesusastraan Indonesia modern. Ia dilahirkan di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889, putra dari seorang bekas Demang Bukit Tinggi, Abubakar gelar Sutan Pangeran. Se- telah menamatkan Sekolah Dasar Marah Rusli masuk kesekolah guru jang pada waktu itu disebut "Sekolah Radja" (Kweekschool) di Bukit Tinggi dan lulus pada tahun 1910. Kemudian ia meneruskan ke Sekolah Dokter Hewan (Veeartsenschool) di Bogor dan tamat tahun 1915. Karirnja seba- gai dokter hewan dimulainja di Sumbawa Besar dan Bima tahun 1915. Peng- alamannja ditempat inilah jang memberinja bahan-bahan untuk romannja La Hami. Lalu pindah ke Bandung tahun 1918 sebagai Kepala Peternakan Hewan Ketjil. Kemudian pindah ke Tjirebon dan Blitar. Pada tahun 1920 ia diangkat djadi Assistent-Leeraar pada Sekolah Doktor Hewan di Bogor, tempat ia beladjar dahulu. Tetapi kemudian dischors karena ia dianggap tidak patuh. Pada waktu inilah ia mulai menulis Siti Nurbaja. Selandjut- nja pindah ke Djakarta, Balige dan Semarang sampai tahun 1929, sebagai dokter hewan. Tahun 1946 ia diangkat djadi Major Dokter Howan pada Ang- katan Laut Republik Indonesia di Tegal. Pekordjaannja sebagai pengadjar (dosen) diteruskannja lagi pada Sekolah Dokter Hewan Tinggi di Klaten se- djak tahun 1948. Dan kemudian ia pindah lagi ke Semarang tahun 1950 sampai ia mendjalani masa pensiunnja aulai 1952. Dan selama masa pensiun ini Marah Rusli masih tetap menjumbangkan tenaganja pada Balai Penjelidikan Peternakan dan pada Sekolah Pengamat Kehewanan di Bogor. Marah Rusli memang kurang dikenal sebagai dokter hewan. Ia lebih banjak disebut-sebut sebagai pengarang Siti Nurbaja. Dalam dunia peneli- tian kehewanan di Indonesia ia pernah ment japai prestasi ilmiah (soal penjakit lepra pada binatang). Tetapi prestasinja ini tidak diterima dengan hati baik oleh pemerintah Belanda, hingga hasil tersebut tidak disebarkan. ' Penulis Siti Nurbaja ini sebenarnja giat pula dalam bidang keolah ragaan jang tak begitu banjak diketahui orang. Ia adalah seorang peng- gemar sepakbola. Pernah mendjadi Komisaris P.S.S.I. di Semarang ketika organisasi sepakbola itu mulai didirikan. Dan djauh sebelum itu Marah Rusli telah mendirikan "Voetbalbond Indonesia" di Semarang bersama de- ngan Ir. Sujatin. Bukuaja jang paling banjak mendapat perhatian dan mendjadi bahan 35 Digitized by Google<noinclude></noinclude> 4b48l6oz1aj5oc2wcwlplsi66pp4k3k 291093 291043 2026-05-10T14:11:22Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291093 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{rh||MARAH RUSLI TELAH MENINGGALKAN KITA}} Sanusi Pane baru sadja dua minggu pergi. Duka kita belum habis. Tiba-tiba kita dikedjutkan pula oleh kepergian Marah Rusli. Seorang lagi pengarang Indonesia kembali kehadirat Ilahi setelah ia dengan segala usaha dan tjiptaannja ikut mengisi bumi kesusastraan Indonesia. Ia adalah salah satu tokoh mula dalam kesusastraan Indonesia modern. Ia dilahirkan di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889, putra dari seorang bekas Demang Bukit Tinggi, Abubakar gelar Sutan Pangeran. Setelah menamatkan Sekolah Dasar Marah Rusli masuk kesekolah guru jang pada waktu itu disebut "Sekolah Radja (Kweekschool) di Bukit Tinggi dan lulus pada tahun 1910. Kemudian ia meneruskan ke Sekolah Dokter Hewan (Veeartsenschool) di Bogor dan tamat tahun 1915. Karirnja sebagai dokter hewan dimulainja di Sumbawa Besar dan Bima tahun 1915. Pengalamannja ditempat inilah jang memberinja bahan-bahan untuk romannja {{u|La Hami}}. Lalu pindah ke Bandung tahun 1918 sebagai Kepala Peternakan Hewan Ketjil. Kemudian pindah ke Tjirebon dan Blitar. Pada tahun 1920 ia diangkat djadi Assistent-Leeraar pada Sekolah Doktor Hewan di Bogor, tempat ia beladjar dahulu. Tetapi kemudian dischors karena ia dianggap tidak patuh. Pada waktu inilah ia mulai menulis {{U|Siti Nurbaja}}. Selandjutnja pindah ke Djakarta, Balige dan Semarang sampai tahun 1929, sebagai dokter hewan. Tahun 1946 ia diangkat djadi Major Dokter Hewan pada Angkatan Laut Republik Indonesia di Tegal. Pekerdjaannja sebagai pengadjar (dosen) diteruskannja lagi pada Sekolah Dokter Hewan Tinggi di Klaten sedjak tahun 1948. Dan kemudian ia pindah lagi ke Semarang tahun 1950 sampai ia mendjalani masa pensiunnja mulai 1952. Dan selama masa pensiun ini Marah Rusli masih tetap menjumbangkan tenaganja pada Balai Penjelidikan Peternakan dan pada Sekolah Pengamat Kehewanan di Bogor. Marah Rusli memang kurang dikenal sebagai dokter hewan. Ia lebih banjak disebut-sebut sebagai pengarang {{u|Siti Nurbaja}}. Dalam dunia penelitian kehewanan di Indonesia ia pernah mentjapai prestasi ilmiah (soal penjakit lepra pada binatang). Tetapi prestasinja ini tidak diterima dengan hati baik oleh pemerintah Belanda, hingga hasil tersebut tidak disebarkan. Penulis {{u|Siti Nurbaja}} ini sebenarnja giat pula dalam bidang keolahragaan jang tak begitu banjak diketahui orang. Ia adalah seorang penggemar sepakbola. Pernah mendjadi Komisaris P.S.S.I. di Semarang ketika organisasi sepakbola itu mulai didirikan. Dan djauh sebelum itu Marah Rusli telah mendirikan "Voetbalbond Indonesia" di Semarang bersama dengan Ir. Sujatin. Bukunja jang paling banjak mendapat perhatian dan mendjadi bahan<noinclude>{{rh|||35}}</noinclude> b3oi8bufrv46w7rhbxg3w8qqwl425bd Halaman:Sabar (2023).webm/00:00:50 104 103461 291044 2026-05-10T13:49:09Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291044 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{Ft/d| Bukan puya gue }}<noinclude></noinclude> r84bzr4ozwcloyrisdp73u0yer14lvn Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/97 104 103462 291046 2026-05-10T13:52:50Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '<center> {{Xxx-larger|'''Kissah Regu Umair Jang Berdjasa''' }} </center> <center> {{X-larger|'''Keberanian Luar Biasa Seorang Peradjurit.''' }} </center> Hari Rabu tanggal 27 September 1956. Hari itu adalah suatu hari jang „luar biasa” baik bagi pengikut? Kartosuwirjo maupun bagi anggauta? Bn. 314 chusus- nja. Bagi pihak anak-anak Major Sutisna, terutama regu Sersan Umair tidak akan menduga, bah- wa pada hari itu mereka akan harus melakuk... 291046 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude><center> {{Xxx-larger|'''Kissah Regu Umair Jang Berdjasa''' }} </center> <center> {{X-larger|'''Keberanian Luar Biasa Seorang Peradjurit.''' }} </center> Hari Rabu tanggal 27 September 1956. Hari itu adalah suatu hari jang „luar biasa” baik bagi pengikut? Kartosuwirjo maupun bagi anggauta? Bn. 314 chusus- nja. Bagi pihak anak-anak Major Sutisna, terutama regu Sersan Umair tidak akan menduga, bah- wa pada hari itu mereka akan harus melakukan suatu tugas be- rat dan tugas tersebut akan da- pat diselesaikan dengan selamat dan hasil? jang gemilang. Seba- liknja pihak gerombolan, teruta- ma rombongan ,,Panglima”" Ko- mandemen wilajah II (Djawa Te- ngah) tidak akan terduga, bahwa mereka hari itu akar menemui malapetaka jang akan menamat- kan segala rentjana? mereka ber- sama djiwa-djiwanja sekali gus. Hari Rabu tanggal 27 September itu, jakni satu minggu lagi Ang- katan Perang akan memperingati hari lahirnja jang ke 11 dengan " berbagai tjara, seluruh angauta? Bn 314 tengah bersiap-siap me- 3 njambut hari bersedjarah itu, tapi dengan diluar dugaan, mereka masih sempat melakukan suatu ,Surprise” dalim tugas? meng- amankan daerahnja, hingga atja- ra-atjara ,,Hari Angkatan Pe- «- rang” jang akan dirajakan mere- w ka itu berobah sifatnja, mereka sendiri mendapat penghargaan? jang merupakan peringatan? ter- sendiri disamping peringatan jan 5 tradisionil itu. Kissah kedjadiannja : Agaknsa Satibi jang menama- kan dirinja ,,Panglima" dari suatu »Komandemen" wilayah II di Yya- saripai didaerah Bantarudjeg dan kct:ka merela berada dikordirat 5317 jaitu Jlisawah Bungeuus Danu ,,Kmd. Resimen" jang pengetjut bersama ,,Kmd. Bataljon"-nja Ojok Sudjana meninggalkan ,,Panglima"-rja jang tidak tahu djalan hingga menemui adjalnja. Pahlawan jang masih hidup Prds. J. Manuputi, kini berpangkat Ko- pral dengan pita pahlawan. wa Tengah akan mengadakan 8 suatu perundingan penting di Gu- nung Tiakrahuana bersama Agus Abdullah ,,Panglima” dari ,,Ko- mandemen” wilajah I (Djawa Barat) d?n ,,wakil Fanylima"-nja Danu jang merangkap ,,Kmd. Re- simen 21” jang menamai Resimen nja Kamrat Hidaiatuliah. Vemiki- anlah, perdjalunan Panglima Sa- tisi dari perbatasan Djawa Te- ngah ke Gn. Tjaxrabuana mela- lui Gn. Tjeremai itu telah didjem- put oleh Danu sendiri dipervatas- an dan ber-sama? dari yn. Tjers- mai menudju Gn. Tjakrabuana de,gan menggunakan pengawal- an Batalion 581 Abu Uripa jang dipimnin oleh komandannya sen- diri Oiox Sudjana. Dan tibalah hari Selasi tanggal 26 Septeimbe. 1956 sebagai h. ri permulaan jany sial bagi mereka calarr perdjalan- an itu. Pada nari itu mereka te'ah djam 12 tengah hari telah dapa: disinjalir ol-h pembantu Sic I da- ri Sukamenak Sinjaaemen maut bagi rombongan Satibi. Mereka sudah biasa dalam keadaan disi- njalir oleh , musuh"-nja, mung- kin pada waktu itu 1a mengang- gap sinjalemen atas rombongan- nja tidak begitu berat, tjukup de- ngan merobah guratan kompas se- mula dengan mengambil halaman? lain, mereka tidak akan dapat menduga, bahwa sinjalemen jany pertama itu adalah akan berlan- djut menemui kematiannja. Kalau kita mau membitjarakan tentang djasa, maka dari sinilah permula- an djasa? tersebut dilakukan jang ber-sambung? jang achirnja sam- pai ditangan Pradjurit I Jacob Manuputi. Begitulah sinjalemen tadi digunakan se-baik?nja olea Polisi Bantarudjeg bersama-sama BODM dan OKD dengan kekua: 31<noinclude></noinclude> o7ym52xotdzzqclww4d9ida7lwc6gop 291149 291046 2026-05-10T14:31:05Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291149 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude><center> {{Xxx-larger|'''Kissah Regu Umair Jang Berdjasa''' }} </center> <center> {{X-larger|'''Keberanian Luar Biasa Seorang Peradjurit.''' }} </center> Hari Rabu tanggal 27 September 1956. Hari itu adalah suatu hari jang „luar biasa” baik bagi pengikut² Kartosuwirjo maupun bagi anggauta² Bn. 314 chususnja. Bagi pihak anak-anak Major Sutisna, terutama regu Sersan Umair tidak akan menduga, bahwa pada hari itu mereka akan harus melakukan suatu tugas berat dan tugas tersebut akan dapat diselesaikan dengan selamat dan hasil² jang gemilang. Sebaliknja pihak gerombolan, terutama rombongan ,,Panglima” Komandemen wilajah II (Djawa Tengah) tidak akan terduga, bahwa mereka hari itu akar menemui malapetaka jang akan menamatkan segala rentjana² mereka bersama djiwa-djiwanja sekaligus. [[File:Madjalah Angkatan Darat (page 97 crop2).jpg|400px|kiri|jmpl|''Pahlawan jang masih hidup Prada. J. Manuputi, kini berpangkat Ko- pral dengan pita pahlawan.'']] Hari Rabu tanggal 27 September itu, jakni satu minggu lagi Angkatan Perang akan memperingati hari lahirnja jang ke 11 dengan berbagai tjara, seluruh angauta² Bn 314 tengah bersiap-siap menjambut hari bersedjarah itu, tapi dengan diluar dugaan, mereka masih sempat melakukan suatu „Surprise” dalim tugas² mengamankan daerahnja, hingga atjara-atjara „Hari Angkatan Perang” jang akan dirajakan mereka itu berobah sifatnja, mereka sendiri mendapat penghargaan² jang merupakan peringatan² tersendiri disamping peringatan jang tradisionil itu. <center>{{x-larger|'''Danu „Kmd. Resimen” Jang pengetjut bersama „Kmd. Bataljon”-nja Ojok Sudjana meninggalkan „Panglima”-nja Jang tidak tahu djalan hingga menemui adjalnja.'''}} </center> '''Kissah kedjadiannja :''' Agaknja Satibi jang menamakan dirinja „Panglima” dari suatu „Komandemen” wilayah II di Djawa Tengah akan mengadakan suatu perundingan penting di Gunung Tjakrabuana bersama Agus Abdullah „Panglima” dari „Komandemen” wilajah I (Djawa Barat) dan „wakil Panglima”-nja Danu jang merangkap „Kmd. Resimen 21” jang menamai Resimennja Kamrat Hidajatullah. Demikianlah, perdjalanan Panglima Satibi dari perbatasan Djawa Tengah ke Gn. Tjakrabuana melalui Gn. Tjeremai itu telah didjemput oleh Danu sendiri diperbatasan dan ber-sama² dari yn. Tjeremai menudju Gn. Tjakrabuana dengan menggunakan pengawalan Batalion 581 Abu Uripa jang dipimnin oleh komandannya sendiri Ojok Sudjana. Dan tibalah hari Selasa tanggal 26 Septeimber 1956 sebagai hari permulaan jang sial bagi mereka dalam perdjalanan itu. [[File:Madjalah Angkatan Darat (page 97 crop).jpg|300px|kanan|jmpl|''Sersan Umair (kini Sersan Major'')]] Pada hari itu mereka telah sampai didaerah Bantarudjeg dan kctika mereka berada dikordinat 5317 jaitu dlisawah Bungehus djam 12 tengah hari telah dapat disinjalir oleh pembantu Sie I dari Sukamenak Sinjalemen maut bagi rombongan Satibi. Mereka sudah biasa dalam keadaan disinjalir oleh , musuh²-nja, mungkin pada waktu itu 1a menganggap sinjalemen atas rombongannja tidak begitu berat, tjukup dengan merobah guratan kompas semula dengan mengambil halaman² lain, mereka tidak akan dapat menduga, bahwa sinjalemen jang pertama itu adalah akan berlandjut menemui kematiannja. Kalau kita mau membitjarakan tentang '''djasa''', maka dari sinilah permulaan djasa² tersebut dilakukan jang ber-sambung² jang achirnja sampai ditangan Pradjurit I Jacob Manuputi. Begitulah sinjalemen tadi digunakan se-baik²nja oleh Polisi Bantarudjeg bersama-sama BODM dan OKD dengan {{hws|kekua|kekuatan}}<noinclude>{{rh|||31}}</noinclude> fg4oes6zgrdh3u0m6lmfecba67tlbch Halaman:Sabar (2023).webm/00:00:52 104 103463 291054 2026-05-10T13:55:40Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291054 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{Ft/d| Yaelahhh sembari melempar chargernya }}<noinclude></noinclude> nfrxciyqyg5qp3p2lkcg0mqkyrg4eiq Halaman:Sabar (2023).webm/00:00:54 104 103464 291062 2026-05-10T13:59:41Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291062 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{Ft/d| mengecap, ada aja masalah }}<noinclude></noinclude> jrifzs1y2xa490wol0c1tq4blppdpzg Halaman:Sabar (2023).webm/00:00:57 104 103465 291074 2026-05-10T14:01:50Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291074 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{ft/i| menghela nafas }}<noinclude></noinclude> chggklenyi42sl2635af8p9moawvk54 Halaman:Sabar (2023).webm/00:01:00 104 103466 291092 2026-05-10T14:11:19Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291092 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{Ft/d| puasa cha puasa }}<noinclude></noinclude> 6f24pd1tp59ayb0rzanxw3jeuxqk273 Halaman:Sabar (2023).webm/00:01:02 104 103467 291102 2026-05-10T14:12:26Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291102 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{Ft/d| Jangan marah-marah }}<noinclude></noinclude> 7kzrnewxm2wkctzzrsb5w29ehmqs1my Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/493 104 103468 291106 2026-05-10T14:13:50Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'affairs and in schools stipulates that the ofTicial language, Bahasa Indonesia, is to be used under all circumstances and for all official purposes. By implication, the language to be used is "good" (that is standard) Pahasa Indonesia. There are obviously several problems involved in imploncenting this policy. First, what is to be accepted as standard Bahasa Indonesia is still in the process of establislmont. Second, the use of good Bahasa... 291106 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>affairs and in schools stipulates that the ofTicial language, Bahasa Indonesia, is to be used under all circumstances and for all official purposes. By implication, the language to be used is "good" (that is standard) Pahasa Indonesia. There are obviously several problems involved in imploncenting this policy. First, what is to be accepted as standard Bahasa Indonesia is still in the process of establislmont. Second, the use of good Bahasa Irdonesia cannot currently be reinforcead simply becnuse the necessary motivations are lacking. Tor example, the use of Bahasa Indonesia (that is, good Bahasa Indonesia) is not a reguirement for school or college graduation —-except for Bahasa Indonesia examinations—, or for college admission, or for employment, or for promotion in the government or in the armed forces. Nor is the ability to use good Bahasa Indonesia a reguircment for political and economic activities and positions. The standardization of Fanasa Indonesia, then, is not only desirable but also urgent, especially as it applies to the written form of the language. The standardization of the spoken form of the language in all its aspects including pronunciation in such a way and to such an extent that it is used in absolute uniformity throughout the country does not seem to be nccossary, at loast not immediateoly, (as long as the spoken form is not too far dif?erent from its written Counterpart, and as long as no misunderstandings can result. The National Language Instituto has several projects to be Carried out in tho next five years which are aimed at standardizing the national language. Some of these projects, sush as the standardization of tocmnical terms, are designed as joint efforts jn langungo matters botweon Indonesia and Malaysia. How the language standardization is to bo formulated and established needs furtaner sociolinguistic research, and this is an urgent need. Sociolinguistic as woll as general linguistic reseurcu is £1s0 needed to study the various vemaculars, major, secondary as wall as minOr, because most of these languages have not been jnvestigatod Bahs, Kesusast., V(2), 1973 11<noinclude></noinclude> a40g479d0vjjh0e84st37r8o17aksxz 291136 291106 2026-05-10T14:22:29Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291136 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>affairs and in schools stipulates that the official language, Bahasa Indonesia, is to be used under all circumstances and for all official purposes. By implication, the language to be used is "good" (that is standard) Bahasa Indonesia. There are obviously several problems involved in implementing this policy. First, what is to be accepted as standard Bahasa Indonesia is still in the process of establishment. Second, the use of good Bahasa Indonesia cannot currently be reinforced simply because the necessary motivations are lacking. For example, the use of Bahasa Indonesia (that is, good Bahasa Indonesia) is not a requirement for school or college graduation -- except for Bahasa Indonesia examinations--, or for college admission, or for employment, or for promotion in the government or in the armed forces. Nor is the ability to use good Bahasa Indonesia a requirement for political and economic activities and positions. The standardization of Bahasa Indonesia, then, is not only desirable but also urgent, especially as it applies to the written form of the language. The standardization of the spoken form of the language in all its aspects including pronunciation in such a way and to such an extent that it is used in absolute uniformity throughout the country does not seem to be necessary, at least not immediately, (as long as the spoken form is not too far different from its written counterpart, and as long as no misunderstandings can result. The National Language Institute has several projects to be Carried out in the next five years which are aimed at standardizing the national language. Some of these projects, such as the standardization of technical terms, are designed as joint efforts in language matters between Indonesia and Malaysia. How the language standardization is to be formulated and established needs further sociolinguistic research, and this is an urgent need.<br>Sociolinguistic as well as general linguistic research is also needed to study the various vernaculars, major, secondary as wall as minor, because most of these languages have not been investigated<noinclude>{{rh|11||Bahs, Kesusast., V(2), 1973 }}</noinclude> f9uvhts15cf8xhhplmzz2mudqwrtwlh 291748 291136 2026-05-11T06:16:53Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291748 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>affairs and in schools stipulates that the official language, Bahasa Indonesia, is to be used under all circumstances and for all official purposes. By implication, the language to be used is "good" (that is standard) Bahasa Indonesia. There are obviously several problems involved in implementing this policy. First, what is to be accepted as standard Bahasa Indonesia is still in the process of establishment. Second, the use of good Bahasa Indonesia cannot currently be reinforced simply because the necessary motivations are lacking. For example, the use of Bahasa Indonesia (that is, good Bahasa Indonesia) is not a requirement for school or college graduation -- except for Bahasa Indonesia examinations--, or for college admission, or for employment, or for promotion in the government or in the armed forces. Nor is the ability to use good Bahasa Indonesia a requirement for political and economic activities and positions. The standardization of Bahasa Indonesia, then, is not only desirable but also urgent, especially as it applies to the written form of the language. The standardization of the spoken form of the language in all its aspects including pronunciation in such a way and to such an extent that it is used in absolute uniformity throughout the country does not seem to be necessary, at least not immediately, (as long as the spoken form is not too far different from its written counterpart, and as long as no misunderstandings can result. The National Language Institute has several projects to be Carried out in the next five years which are aimed at standardizing the national language. Some of these projects, such as the standardization of technical terms, are designed as joint efforts in language matters between Indonesia and Malaysia. How the language standardization is to be formulated and established needs further sociolinguistic research, and this is an urgent need.<br>Sociolinguistic as well as general linguistic research is also needed to study the various vernaculars, major, secondary as wall as minor, because most of these languages have not been investigated<noinclude>{{rh|11||Bahs, Kesusast., V(2), 1973 }}</noinclude> 1ffjeg52918xma58mfupbcm95csaqf9 Halaman:Sabar (2023).webm/00:01:03 104 103469 291117 2026-05-10T14:16:08Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291117 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{Ft/d| Istighfar-Istigfar }}<noinclude></noinclude> 42ymnm8ilcm62de3utrzzsckmtnvf4w Halaman:Sabar (2023).webm/00:01:04 104 103470 291126 2026-05-10T14:17:01Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291126 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{Ft/d| Astaghfirullah }}<noinclude></noinclude> pwuc8iz796327m8stjlhs7gmwgpbzue Halaman:Sabar (2023).webm/00:01:07 104 103471 291130 2026-05-10T14:18:14Z Butterfly Beauty2003 24232 /* Telah diuji baca */ 291130 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Butterfly Beauty2003" /></noinclude>{{Ft/s| END REMINDER }}<noinclude></noinclude> 0ki6n0ish5mux7t5gpt9z5ts8wm0imz Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/122 104 103472 291133 2026-05-10T14:20:31Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291133 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||36}}</noinclude>pembitjaraan hangat terutama pada saat buku itu mula beredar ialah {{u|Siti Nurbaja}}. Ketjaman jang keras terutama datang dari pihak apa jang disebut "kaum tua". Tetapi sebaliknja banjak pula jang pro. Dan ini datangnja dari apa jang disebut "kaum muda". Anak dan Kemanakan (1956) adalah romannja jang ketiga jang sesungguhnja dalam temanja tak mempunjai persoalan baru, ketjuali sebagai variasi dari tema kawin (ter)paksa jang telah ramai dikemukakan oleh pengarang-pengarang tahun dua puluhan termasuk Marah Rusli sendiri. Karangan-karanganja jang telah berbentuk buku ada tiga buah: {{u|Siti Nurbaja}} (Balai Pustaka, {{illegible}} eltevreden, 1922). Sampai tahun 1965, telah mengalami tjetakan kesebelas. {{u|La Hami}} (Balai Pustaka, Djakarta, 1953). Tjetakan kedua tahun 1965. Anak dan Kemanakan (Balai Pustaka, Djakarta, 1956). Selain dari karangan-karangan diatas, Marah Rusli masih mempunjai dua buah naskah jang belum diterbitkan Jaitu: {{u|Memang Djodoh}}, jang isinja merupakan olahan dari riwajat hidupnja sendiri dan Tisna Zahara, Marah Rusli berpesan agar naskah Memang Djodoh diterbitkan setelah ia meninggal. Naskahnja telah lama disiapkan. Perlu pula diketahui bahwa Siti Nurbaja telah diterjemahkan kedalam bahasa Rusia dan Tjina. Kini Marah Rusli telah tiada. Ia telah meninggalkan kita pada tanggal 17 Djanuari 1968 di Bandung, dan dimakamkan di Bogor. Ia pernah hadir dalam persada kesusastraan Indonesia. Dan kehadirannja telah meninggalkan arti bagi pertumbuhan dan perkembangan kesusastraan Indonesia. {{rh|||Lukman Ali}}<noinclude>{{rh||No. 3 Th I 1968}}</noinclude> 6vtptfn8bocdb1azcgbuisqs1e5cll3 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/494 104 103473 291137 2026-05-10T14:23:01Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Some Sociolinguistio intensively and extensively. A better understanding of these languages will probably not only benefit the standardization and preservation of these languages and their speakers in the end but also sive a considerable contribution to the efforts aimed at standardizing the national language. 6s Language Attitudes Multilinguality, &s mentioner. ezrlier, rather than monolinguality is the general pattern among the pop... 291137 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>Some Sociolinguistio intensively and extensively. A better understanding of these languages will probably not only benefit the standardization and preservation of these languages and their speakers in the end but also sive a considerable contribution to the efforts aimed at standardizing the national language. 6s Language Attitudes Multilinguality, &s mentioner. ezrlier, rather than monolinguality is the general pattern among the population of Indonesia. Dialect differences and other local features of speech are accepted as a matter of fact, Eventhough "city speech" tends to carry a certain amount of prestige, rural population do not in general look up to the city speech to such an extent that they abandon the pride they have in their own vernaculars. It is also true that foreign languages, especially English, carry a certain amount of prestige, and are accepted readily anyvhere in the country. Thus, if one travels from one end of the archipelago to the other, one will inevitably notice a high degree of linguistic tolerence with regard to both Indonesian languages und foreign languages among the general population. Perhaps it is precisely the high degree of linguistic tolerance that has made the standardization of the national language difficult. The negative attitudte toward the Dutch language, which was guite common in the country and which was strongly encouraged by the government for political reasons during the first two decades of Indonesian independence, immediately returned to the normal methat is, positive—- attitude as soon as Indonesia and the Nether- lands resumed their friendly relations in the 60's. Dutch is now spoken again as a group language among the members of the elite in big cities, and is being re-introduced as a school subject for academic purposes at certain universities. The general pattern of linguistic tolerance among the populi- DCMG LOL Lai US 12<noinclude></noinclude> 0woosq5s1ypfus2niu41r31bm9ot0yg 291146 291137 2026-05-10T14:27:55Z Moel81 25980 291146 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>intensively and extensively. A better understanding of these languages will probably not only benefit the standardization and preservation of these languages and their speakers in the end but also give a considerable contribution to the efforts aimed at standardizing the national language. 6. <u>Language Attitudes</u> Multilinguality, as mentioned earlier, rather than monolinguality is the general pattern among the population of Indonesia. Dialect differences and other local features of speech are accepted as a matter of fact, Eventhough "city speech" tends to carry a certain amount of prestige, rural population do not in general look up to the city speech to such an extent that they abandon the pride they have in their own vernaculars. It is also true that foreign languages, especially English, carry a certain amount of prestige, and are accepted readily anyvhere in the country. Thus, if one travels from one end of the archipelago to the other, one will inevitably notice a high degree of linguistic tolerence with regard to both Indonesian languages und foreign languages among the general population. Perhaps it is precisely the high degree of linguistic tolerance that has made the standardization of the national language difficult. The negative attitudte toward the Dutch language, which was guite common in the country and which was strongly encouraged by the government for political reasons during the first two decades of Indonesian independence, immediately returned to the normal methat is, positive—- attitude as soon as Indonesia and the Nether- lands resumed their friendly relations in the 60's. Dutch is now spoken again as a group language among the members of the elite in big cities, and is being re-introduced as a school subject for academic purposes at certain universities. The general pattern of linguistic tolerance among the populi- DCMG LOL Lai US 12<noinclude></noinclude> envfqoa5yqvj8vo5leyz4iz0ako8w1b 291151 291146 2026-05-10T14:33:28Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291151 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>intensively and extensively. A better understanding of these languages will probably not only benefit the standardization and preservation of these languages and their speakers in the end but also give a considerable contribution to the efforts aimed at standardizing the national language. 6. <u>Language Attitudes</u> Multilinguality, as mentioned earlier, rather than monolinguality is the general pattern among the population of Indonesia. Dialect differences and other local features of speech are accepted as a matter of fact, Eventhough "city speech" tends to carry a certain amount of prestige, rural population do not in general look up to the city speech to such an extent that they abandon the pride they have in their own vernaculars. It is also true that foreign languages, especially English, carry a certain amount of prestige, and are accepted readily anywhere in the country. Thus, if one travels from one end of the archipelago to the other, one will inevitably notice a high degree of linguistic tolerance with regard to both Indonesian languages and foreign languages among the general population. Perhaps it is precisely the high degree of linguistic tolerance that has made the standardization of the national language difficult. The negative attitude toward the Dutch language, which was quite common in the country and which was strongly encouraged by the government for political reasons during the first two decades of Indonesian independence, immediately returned to the normal --that is, positive-- attitude as soon as Indonesia and the Netherlands resumed their friendly relations in the 60's. Dutch is now spoken again as a group language among the members of the elite in big cities, and is being re-introduced as a school subject for academic purposes at certain universities. The general pattern of linguistic tolerance among the {{hws|popula|population}}<noinclude>{{rh|12||Some Sociolinguistic}}</noinclude> 11yf3zqzebgpg9zlr9w5cz8ksr9qhgp 291749 291151 2026-05-11T06:17:35Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291749 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude>intensively and extensively. A better understanding of these languages will probably not only benefit the standardization and preservation of these languages and their speakers in the end but also give a considerable contribution to the efforts aimed at standardizing the national language. 6. <u>Language Attitudes</u> Multilinguality, as mentioned earlier, rather than monolinguality is the general pattern among the population of Indonesia. Dialect differences and other local features of speech are accepted as a matter of fact, Eventhough "city speech" tends to carry a certain amount of prestige, rural population do not in general look up to the city speech to such an extent that they abandon the pride they have in their own vernaculars. It is also true that foreign languages, especially English, carry a certain amount of prestige, and are accepted readily anywhere in the country. Thus, if one travels from one end of the archipelago to the other, one will inevitably notice a high degree of linguistic tolerance with regard to both Indonesian languages and foreign languages among the general population. Perhaps it is precisely the high degree of linguistic tolerance that has made the standardization of the national language difficult. The negative attitude toward the Dutch language, which was quite common in the country and which was strongly encouraged by the government for political reasons during the first two decades of Indonesian independence, immediately returned to the normal --that is, positive-- attitude as soon as Indonesia and the Netherlands resumed their friendly relations in the 60's. Dutch is now spoken again as a group language among the members of the elite in big cities, and is being re-introduced as a school subject for academic purposes at certain universities. The general pattern of linguistic tolerance among the {{hws|popula|population}}<noinclude>{{rh|12||Some Sociolinguistic}}</noinclude> sgdgkn0uk19av6yzpoffdjh23oaui60 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/495 104 103474 291138 2026-05-10T14:23:06Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'tion of Indonesia has a guite a long history behind it. The fact that the archipelago represents communities of different ethnic, . cultural and linguistic backgrounds obviously reguires a medium of communication that can be used for inter-regional, inter-ethnic and inter-cultural communication in the country. The Malay language came to be called upon to fulfill this functionz that is, to be used as a Jingua franca in the archipelago centu... 291138 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>tion of Indonesia has a guite a long history behind it. The fact that the archipelago represents communities of different ethnic, . cultural and linguistic backgrounds obviously reguires a medium of communication that can be used for inter-regional, inter-ethnic and inter-cultural communication in the country. The Malay language came to be called upon to fulfill this functionz that is, to be used as a Jingua franca in the archipelago centuries ago. The Dutch colonial government reinforced this choice by making it a language of government in dealing with the population. The All Indonesia Youth Congres of 1928 reinforced the choice further by deciding to adopt it, designating it as the national language of Indonesia, and reinforcing its name: Bahasa Indonesia. The 1945 Constitution of the Republic of Indonesia (Chapter XV, article 36) stipulates, finally, that Bahasa Indonesia "shall be the state language", Thus, the very development of Bahasa Indonesia has been enriched by the vernaculars (as well as by the foreign Tana used in the country), and.-has been dependent on a high Jegree of linguistic tolerance for its widespread acceptance throughout the archipelago. This linguistic tolerance has been encouraged further by nationalism. At the same time, nationalism together with the progress in modern science and technology, and in mass communication technigues seem to lead to increased influence of Bahasa Indonesia on the vernaculars, Te DSociolinguist:.c Survey What is urgently needed seems to be a general type of sociolinguistic survey which can be developed further into in-depth studies by taking into account the local conditions and needs of the countries in the SEAMEO region. As far as Indonesia is concerned, the survey needs to answer general guestions concerning the language situation (that is, the number of languages, their geographic distribution, the number of their speakers, their functions as opposed to these of Bahasa Indonesia) and concerning language attitude. The answers are crucial to the efforts to standardize the national janguage, Bahs. Kesusast., V(2), 1973 153<noinclude></noinclude> gg17icjuwdzsueehls26oumirpg8zso 291157 291138 2026-05-10T14:39:45Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291157 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{hwe|tion|population}} of Indonesia has a quite a long history behind it. The fact that the archipelago represents communities of different ethnic, cultural and linguistic backgrounds obviously requires a medium of communication that can be used for inter-regional, inter-ethnic and inter-cultural communication in the country. The Malay language came to be called upon to fulfill this functions that is, to be used as a <u>lingua franca</u> in the archipelago centuries ago. The Dutch colonial government reinforced this choice by making it a language of government in dealing with the population. The All Indonesia Youth Congres of 1928 reinforced the choice further by deciding to adopt it, designating it as the national language of Indonesia, and reinforcing its name: Bahasa Indonesia. The 1945 Constitution of the Republic of Indonesia (Chapter XV, article 36) stipulates, finally, that Bahasa Indonesia "shall be the state language", Thus, the very development of Bahasa Indonesia has been enriched by the vernaculars (as well as by the foreign Tana used in the country), and has been dependent on a high degree of linguistic tolerance for its widespread acceptance throughout the archipelago. This linguistic tolerance has been encouraged further by nationalism. At the same time, nationalism together with the progress in modern science and technology, and in mass communication techniques seem to lead to increased influence of Bahasa Indonesia on the vernaculars. 7. <u>Sociolinguistic Survey</u> What is urgently needed seems to be a general type of sociolinguistic survey which can be developed further into in-depth studies by taking into account the local conditions and needs of the countries in the SEAMEO region. As far as Indonesia is concerned, the survey needs to answer general questions concerning the language situation (that is, the number of languages, their geographic distribution, the number of their speakers, their functions as opposed to these of Bahasa Indonesia) and concerning language attitude. The answers are crucial to the efforts to standardize the national language,<noinclude>{{rh|13||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> s7ic82zo5luydh5cvv2u9d6r85mi0s8 291750 291157 2026-05-11T06:17:55Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291750 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|tion|population}} of Indonesia has a quite a long history behind it. The fact that the archipelago represents communities of different ethnic, cultural and linguistic backgrounds obviously requires a medium of communication that can be used for inter-regional, inter-ethnic and inter-cultural communication in the country. The Malay language came to be called upon to fulfill this functions that is, to be used as a <u>lingua franca</u> in the archipelago centuries ago. The Dutch colonial government reinforced this choice by making it a language of government in dealing with the population. The All Indonesia Youth Congres of 1928 reinforced the choice further by deciding to adopt it, designating it as the national language of Indonesia, and reinforcing its name: Bahasa Indonesia. The 1945 Constitution of the Republic of Indonesia (Chapter XV, article 36) stipulates, finally, that Bahasa Indonesia "shall be the state language", Thus, the very development of Bahasa Indonesia has been enriched by the vernaculars (as well as by the foreign Tana used in the country), and has been dependent on a high degree of linguistic tolerance for its widespread acceptance throughout the archipelago. This linguistic tolerance has been encouraged further by nationalism. At the same time, nationalism together with the progress in modern science and technology, and in mass communication techniques seem to lead to increased influence of Bahasa Indonesia on the vernaculars. 7. <u>Sociolinguistic Survey</u> What is urgently needed seems to be a general type of sociolinguistic survey which can be developed further into in-depth studies by taking into account the local conditions and needs of the countries in the SEAMEO region. As far as Indonesia is concerned, the survey needs to answer general questions concerning the language situation (that is, the number of languages, their geographic distribution, the number of their speakers, their functions as opposed to these of Bahasa Indonesia) and concerning language attitude. The answers are crucial to the efforts to standardize the national language,<noinclude>{{rh|13||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> dyx98yors740h15gx6q0u2ikgfvd339 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/123 104 103475 291150 2026-05-10T14:33:20Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291150 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{rh||'''Kronik'''}} TEATER BALAI PUSTAKA Pada bulan Oktober 1967, yang lalu, oleh beberapa karyawan P.N. Balai Pustaka (L.K. Ara, Rusean {{illegible}}, M. Tislim Ali dan Brigadir Jendral Sujatno sebagai pelindung) telah didirikan sebuah perkumpulan drama dengan nama {{u|Teater Balai Pustaka}}. Dalam bulan Nopember, December 1967 dan Januari 1368, telah dipentaskan beberapa drama terjemahan: {{u|Pagi Buning}} (Savarin Alfaros Guintoro), {{u|Gelandangan}} (Alfred Sutro), {{u|Kisah Cinta Hari Rabu}} (Anton Tjukov), {{u|Yang lebih Kuat}} (August Strindberg) dan {{u|Labaika Ya Rabbi Labaika}} (adaptasi dari karangan Tenhusce Villian). SAYEMBARA MENGARAN IKAPI 1958 Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dalam kerjasama dengan UNESCO mengadakan sayembara mengarang tahun 1968 dalam bidang ciptasastra dan budaya termasuk ilmu pengetahuan populer bacaan orang dewasa, anak-anak dan remaja Bagi pemenang, UNESCO menyediakan dua hadiah masing-masing terbesar 50.000,-. Pandjang karangan kira-kira 40.000 kata atau 150 halaman tik folio. Karangan tersebut haruslah merupakan karangan yang belum pernah diterbitkan dan harus sudah masuk sebelum tanggal 1 Mei 1965 ketangan Panitia (IKAPI) dengan alamat: Jalan Pengarengan 32, Jakarta, dibubuhi nama samaran pada naskah dan nama asli pada surat yang terpisah (bukan textbook). GUA BIRU TAKDIR ALISTARBANA Sutan Takdir Alisjahbana yang baru saja habis kontraknya dengan Universitas Kalaya di Kuala Lumpur, menyatakan baru-baru ini di Jakarta bahwa sedang menyelesaikan sebuah novel yang diberinya judul: {{u||Gun Biru}}, yang tebalnya beberapa ratus halaman. Dalam rangka penyelesaian novel ini Takdir akan melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa untuk melengkapi bahan-bahan novel tersebut.<noinclude></noinclude> sf20eveuxzzwz3ytp791hyrt775ul2z Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/124 104 103476 291159 2026-05-10T14:40:26Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291159 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||38}}</noinclude>H.B. JASSIN TAK JADI KE SINGAPURA Drs. H.B. Jassin seorang pegawai tinggi pada Direktorat Bahasa dan Kesusastraan merangkap dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia, beberapa waktu yang lalu diberitakan akan mengajar pada Universitas Nan Yang, Singapura, untuk mata kuliah bahasa dan Kesusastraan Indonesia. Tetapi berita terakhir menyatakan bahwa H.B. Jassin tak diberi visa oleh jawatan imigrasi Singapura. Sementara itu didapat pula kabar bahwa seorang sarjana anggota H.S.I. (organisasi yang dinyatakan terlarang oleh pemerintah) yaitu Prof. Dr. Tjan Tjoe Siem, bekas dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang sampai saat terakhir ini masih dinonaktifkan, telah diangkat menggantikan H.B. Jassin. Dapat diduga kemana arah angin politik negara Singapura. Yang jadi soal sekarang ialah apakah Prof. Tjan Tjoe Siem tersebut yang punya indikasi terlibat "G. 30 S", dapat izin keluar dari Indonesia atau tidak. Seharusnya tentu tidak. Dalam pada itu tersiar pula berita baru bahwa H.B. Jassin telah mendapat tawaran pula dari Universitas Malaya di Kuala Lumpur untuk mengajar disana. Tetapi diketahui bahwa sebegitu jauh H.B. Jassin masih belum memastikan menerima permintaan tersebut. CERAMAH PROF. DR. A. TEEUW Prof. Teeuw adalah seorang sarjana Belanda ahli bahasa dan kesusastraan Indonesia yang baru-baru ini mengunjungi Indonesia selama kurang lebih sebulan. Ia telah memberikan ceramah mengenai kesusastraan Indonesia Lama dan Modern. Pertemuan pertama dengan sastrawan Indonesia diibu kota diadakan tanggal 15 Pebruari 1968 ditempat kediaman Dr. Umar Kayam (Direktur Jendral RRI/TV) dan dilanjutkan dengan ceramah di Balai Budaya tanggal 21 Pebruari 1968 yang disponsori oleh majalah {{u|Horison}}. Pokok pembicaraan bertolak dari buku Teeuw yang terakhir: {{u|Modern Indonesian Literature}} (Leiden, 1967). Buku ini sebenarnya perluasan dan perbaikan dari bukunya yang terdahulu. {{u|Pokok dan Tokoh}} (Pembangunan, Jakarta, 1952, cetakan I), yang banyak dibicarakan dan dikritik orang. Dalam ceramah ini Teeuw menyatakan bahwa dewasa ini ia belum melihat adanya angkatan yang dapat disebut Angkatan 66. Jikapun ada, katanya, mungkin baru bisa kelihatan pada tahun 2000 nanti. Tapi ia mengakui bahwa tahun 1966 telah menghasilkan sejumlah karya.<noinclude></noinclude> fjsz2bu76a3hm1irxsd14m71hjz7ct0 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/497 104 103477 291162 2026-05-10T14:40:57Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'BIBLIOGRAPHY 1. Biro Pusat Statistik. 1972. Population Census 1971: Tentative Results. Series B. Jakarta. 2. Effendi, S. 1972. "The Development of Bahasa Indonesia in Relation to the National Language Policy". Mimeographed,. Jakarta: Lembaga Bahasa Nasional. 3. Halim, Amran. 1971. "National Report: Indonesia". HKegional Meeting of Experts on Teaching of English in Asi Final "eport. Tokyo: Japanese National Commission for UNESCO, de eonenn--... 291162 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>BIBLIOGRAPHY 1. Biro Pusat Statistik. 1972. Population Census 1971: Tentative Results. Series B. Jakarta. 2. Effendi, S. 1972. "The Development of Bahasa Indonesia in Relation to the National Language Policy". Mimeographed,. Jakarta: Lembaga Bahasa Nasional. 3. Halim, Amran. 1971. "National Report: Indonesia". HKegional Meeting of Experts on Teaching of English in Asi Final "eport. Tokyo: Japanese National Commission for UNESCO, de eonenn------ 1972a. "Multilingualism in Relation to the Development of Bahasa Indonesia". RELC JOURNAL, VOl. woe 5a eennnn-----e 1972b. "Instructional Materials for English Language Teaching in Indonesia". “eport presented at SEAMEO-RELC Regional eminar on Instructional Matericls, Singapore, 1972. 6, ceeeennn----- 1972c "Perguruan Tinggi dan Fengembangan Bahasa Indonesia". Mimeographed. Palembang: Language Teaching and Research Institute, Sriwijeya University. %e Hussein, Ismail. 1972. "The Unification of Malaysian Malay and Bahasa Indonesia". Discussion paper presented at the Conference on the National Languages of Asia, Manila, 1972 Bahs. Kesusast., V(2), 1973 15<noinclude></noinclude> t6srcu17w9iz3uqgtfi317ct52zopiv 291213 291162 2026-05-10T15:10:26Z Moel81 25980 291213 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>{{c|<u>BIBLIOGRAPHY</u>}} #Biro Pusat Statistik. 1972. Population Census 1971: <u>Tentative Results</u>. Series B. Jakarta. #Effendi, S. 1972. "The Development of Bahasa Indonesia in Relation to the National Language Policy". Mimeographed,. Jakarta: Lembaga Bahasa Nasional. #Halim, Amran. 1971. "National Report: Indonesia". <u>Regional Meeting of Experts on Teaching of English in Asia Final Report</u>. Tokyo: Japanese National Commission for UNESCO, #--------- 1972a. "Multilingualism in Relation to the Development of Bahasa Indonesia". RELC JOURNAL, VOl.{{...|3}} #--------- 1972b. "Instructional Materials for English Language Teaching in Indonesia". Report presented at SEAMEO-RELC Regional seminar on Instructional Materials, Singapore, 1972. #--------- 1972c "Perguruan Tinggi dan Pengembangan Bahasa Indonesia". Mimeographed. Palembang: Language Teaching and Research Institute, Sriwijaya University. #Hussein, Ismail. 1972. "The Unification of Malaysian Malay and Bahasa Indonesia". Discussion paper presented at the Conference on the National Languages of Asia, Manila, 1972<noinclude>{{rh|15||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> i2t04mg79r8slyutc65ecgtwiqz2nqa 291225 291213 2026-05-10T15:14:31Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291225 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{c|<u>BIBLIOGRAPHY</u>}} #Biro Pusat Statistik. 1972. Population Census 1971: <u>Tentative Results</u>. Series B. Jakarta. #Effendi, S. 1972. "The Development of Bahasa Indonesia in Relation to the National Language <br>{{gap|3em}}Policy". Mimeographed,. Jakarta: Lembaga Bahasa Nasional. #Halim, Amran. 1971. "National Report: Indonesia". <u>Regional Meeting of Experts on Teaching of English <br>{{gap|3em}}in Asia Final Report</u>. Tokyo: Japanese National Commission for UNESCO, #--------- 1972a. "Multilingualism in Relation to the Development of Bahasa Indonesia". RELC JOURNAL, VOl.{{...|3}} #--------- 1972b. "Instructional Materials for English Language Teaching in Indonesia". Report presented at SEAMEO-RELC <br>{{gap|3em}}Regional seminar on Instructional Materials, Singapore, 1972. #--------- 1972c "Perguruan Tinggi dan Pengembangan Bahasa Indonesia". Mimeographed. <br>{{gap|3em}}Palembang: Language Teaching and Research Institute, Sriwijaya University. #Hussein, Ismail. 1972. "The Unification of Malaysian Malay and Bahasa Indonesia". Discussion paper presented <br>{{gap|3em}}at the Conference on the National Languages of Asia, Manila, 1972<noinclude>{{rh|15||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> r4eg1dv77hivsnfvc0w3t98cgqjlfhb 291233 291225 2026-05-10T15:19:02Z Moel81 25980 291233 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{c|<u>BIBLIOGRAPHY</u>}} #Biro Pusat Statistik. 1972. Population Census 1971: <u>Tentative Results</u>. Series B. Jakarta.<br /><br /> #Effendi, S. 1972. "The Development of Bahasa Indonesia in Relation to the National Language Policy". Mimeographed,. Jakarta: Lembaga Bahasa Nasional.<br /><br /> #Halim, Amran. 1971. "National Report: Indonesia". <u>Regional Meeting of Experts on Teaching of English in Asia Final Report</u>. Tokyo: Japanese National Commission for UNESCO,<br /><br /> #--------- 1972a. "Multilingualism in Relation to the Development of Bahasa Indonesia". RELC JOURNAL, vol.{{...|3}}<br /><br /> #--------- 1972b. "Instructional Materials for English Language Teaching in Indonesia". Report presented at SEAMEO-RELC Regional seminar on Instructional Materials, Singapore, 1972.<br /><br /> #--------- 1972c "Perguruan Tinggi dan Pengembangan Bahasa Indonesia". Mimeographed. Palembang: Language Teaching and Research Institute, Sriwijaya University.<br /><br /> #Hussein, Ismail. 1972. "The Unification of Malaysian Malay and Bahasa Indonesia". Discussion paper presented at the Conference on the National Languages of Asia, Manila, 1972<noinclude>{{rh|15||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> abp71sphyx8e48qnf8f48wxpqlwyqwz 291328 291233 2026-05-10T17:02:08Z Moel81 25980 291328 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{c|<u>BIBLIOGRAPHY</u>}} #{{Hanging indent|4em|Biro Pusat Statistik. 1972. Population Census 1971: <u>Tentative Results</u>. Series B. Jakarta.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|Effendi, S. 1972. "The Development of Bahasa Indonesia in Relation to the National Language Policy". Mimeographed,. Jakarta: Lembaga Bahasa Nasional.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|Halim, Amran. 1971. "National Report: Indonesia". <u>Regional Meeting of Experts on Teaching of English in Asia Final Report</u>. Tokyo: Japanese National Commission for UNESCO,<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|--------- 1972a. "Multilingualism in Relation to the Development of Bahasa Indonesia". RELC JOURNAL, vol.{{...|3}}<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|--------- 1972b. "Instructional Materials for English Language Teaching in Indonesia". Report presented at SEAMEO-RELC Regional seminar on Instructional Materials, Singapore, 1972.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|--------- 1972c "Perguruan Tinggi dan Pengembangan Bahasa Indonesia". Mimeographed. Palembang: Language Teaching and Research Institute, Sriwijaya University.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|Hussein, Ismail. 1972. "The Unification of Malaysian Malay and Bahasa Indonesia". Discussion paper presented at the Conference on the National Languages of Asia, Manila, 1972}}<noinclude>{{rh|15||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> neydqty3xmsaks6eaker4pa6dz9ncqj 291329 291328 2026-05-10T17:02:44Z Moel81 25980 291329 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{c|<u>BIBLIOGRAPHY</u>}} #{{Hanging indent|4em|Biro Pusat Statistik. 1972. Population Census 1971: <u>Tentative Results</u>. Series B. Jakarta.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|Effendi, S. 1972. "The Development of Bahasa Indonesia in Relation to the National Language Policy". Mimeographed,. Jakarta: Lembaga Bahasa Nasional.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|Halim, Amran. 1971. "National Report: Indonesia". <u>Regional Meeting of Experts on Teaching of English in Asia Final Report</u>. Tokyo: Japanese National Commission for UNESCO,<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|--------- 1972a. "Multilingualism in Relation to the Development of Bahasa Indonesia". RELC JOURNAL, vol.{{...|3}}<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|--------- 1972b. "Instructional Materials for English Language Teaching in Indonesia". Report presented at SEAMEO-RELC Regional seminar on Instructional Materials, Singapore, 1972.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|--------- 1972c "Perguruan Tinggi dan Pengembangan Bahasa Indonesia". Mimeographed. Palembang: Language Teaching and Research Institute, Sriwijaya University.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|Hussein, Ismail. 1972. "The Unification of Malaysian Malay and Bahasa Indonesia". Discussion paper presented at the Conference on the National Languages of Asia, Manila, 1972}}<noinclude> {{rh|15||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> 9zhip8ujbuiyfff9ghnl36oq5iquiba 291333 291329 2026-05-10T17:04:25Z Moel81 25980 291333 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{c|<u>BIBLIOGRAPHY</u>}} #{{Hanging indent|4em|Biro Pusat Statistik. 1972. <u>Population Census 1971: Tentative Results</u>. Series B. Jakarta.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|Effendi, S. 1972. "The Development of Bahasa Indonesia in Relation to the National Language Policy". Mimeographed,. Jakarta: Lembaga Bahasa Nasional.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|Halim, Amran. 1971. "National Report: Indonesia". <u>Regional Meeting of Experts on Teaching of English in Asia Final Report</u>. Tokyo: Japanese National Commission for UNESCO,<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|--------- 1972a. "Multilingualism in Relation to the Development of Bahasa Indonesia". RELC JOURNAL, vol.{{...|3}}<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|--------- 1972b. "Instructional Materials for English Language Teaching in Indonesia". Report presented at SEAMEO-RELC Regional seminar on Instructional Materials, Singapore, 1972.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|--------- 1972c "Perguruan Tinggi dan Pengembangan Bahasa Indonesia". Mimeographed. Palembang: Language Teaching and Research Institute, Sriwijaya University.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|Hussein, Ismail. 1972. "The Unification of Malaysian Malay and Bahasa Indonesia". Discussion paper presented at the Conference on the National Languages of Asia, Manila, 1972}}<noinclude> {{rh|15||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> mu0wvs7226ehnsm8izt4e1faprcp2zu 291752 291333 2026-05-11T06:19:26Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291752 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{c|<u>BIBLIOGRAPHY</u>}} #{{Hanging indent|4em|Biro Pusat Statistik. 1972. <u>Population Census 1971: Tentative Results</u>. Series B. Jakarta.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|Effendi, S. 1972. "The Development of Bahasa Indonesia in Relation to the National Language Policy". Mimeographed,. Jakarta: Lembaga Bahasa Nasional.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|Halim, Amran. 1971. "National Report: Indonesia". <u>Regional Meeting of Experts on Teaching of English in Asia Final Report</u>. Tokyo: Japanese National Commission for UNESCO,<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|--------- 1972a. "Multilingualism in Relation to the Development of Bahasa Indonesia". RELC JOURNAL, vol.{{...|3}}<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|--------- 1972b. "Instructional Materials for English Language Teaching in Indonesia". Report presented at SEAMEO-RELC Regional seminar on Instructional Materials, Singapore, 1972.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|--------- 1972c "Perguruan Tinggi dan Pengembangan Bahasa Indonesia". Mimeographed. Palembang: Language Teaching and Research Institute, Sriwijaya University.<br /><br />}} #{{Hanging indent|4em|Hussein, Ismail. 1972. "The Unification of Malaysian Malay and Bahasa Indonesia". Discussion paper presented at the Conference on the National Languages of Asia, Manila, 1972}}<noinclude> {{rh|15||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> 74tsiawopdevy70dhrhuu71r6scojv5 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/498 104 103478 291164 2026-05-10T14:41:07Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Somc Sociolinguistic 8. Noss, Richard, 1969. Language Policy and higher Education. Higher Education and Development in South-E6ast Asia, vol. III, Part 2. Second Impressien. Paris: UNESCO and the International Association of Universities. 9s Roberts, Jane. 1962. "Sociocultural Change znd Communication Problems". Study of the Role of Second Languages in Asia, Africa and Latin America, Frank A. Rice, Editor. Washington, D.C. Center fo... 291164 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>Somc Sociolinguistic 8. Noss, Richard, 1969. Language Policy and higher Education. Higher Education and Development in South-E6ast Asia, vol. III, Part 2. Second Impressien. Paris: UNESCO and the International Association of Universities. 9s Roberts, Jane. 1962. "Sociocultural Change znd Communication Problems". Study of the Role of Second Languages in Asia, Africa and Latin America, Frank A. Rice, Editor. Washington, D.C. Center for Applied Linguistics of the Modern Language Association of America, 10. Rubin, Joan. 1971. "Indonesian Language Planning Processes Project: Interim Seport"., Mimeographed. Jakarta: Fakultas Sastra, Universitas Indonesia and Committee on Linguistics, Stanford University. 16<noinclude></noinclude> 9q81x4hsjsyu0kdo31ke92axxgvq3x8 291243 291164 2026-05-10T15:24:30Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291243 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude><ol type="#" start="8"> <li>Noss, Richard, 1969. <u>Language Policy and higher Education. Higher Education and Development in South-E6ast Asia</u>, vol. III, Part 2. Second Impression. Paris: UNESCO and the International Association of Universities.</li><br /> <li>Roberts, Jane. 1962. "Sociocultural Change and Communication Problems". <u>Study of the Role of Second Languages in Asia, Africa and Latin America</u>, Frank A. Rice, Editor. Washington, D.C. Center for Applied Linguistics of the Modern Language Association of merica.</li><br/> <li>Rubin, Joan. 1971. "Indonesian Language Planning Processes Project: Interim Report"., Mimeographed. Jakarta: Fakultas Sastra, Universitas Indonesia and Committee on Linguistics, Stanford University.</li></ol><noinclude>{{rh|16}}</noinclude> q8u71yrphwjbndlfxdp5laqx9kaecer 291332 291243 2026-05-10T17:03:32Z Moel81 25980 291332 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude><ol type="#" start="8"> <li>{{Hanging indent|4em|Noss, Richard, 1969. <u>Language Policy and higher Education. Higher Education and Development in South-E6ast Asia</u>, vol. III, Part 2. Second Impression. Paris: UNESCO and the International Association of Universities.</li><br /> }} <li>{{Hanging indent|4em|Roberts, Jane. 1962. "Sociocultural Change and Communication Problems". <u>Study of the Role of Second Languages in Asia, Africa and Latin America</u>, Frank A. Rice, Editor. Washington, D.C. Center for Applied Linguistics of the Modern Language Association of merica.</li><br/>}} <li>{{Hanging indent|4em|Rubin, Joan. 1971. "Indonesian Language Planning Processes Project: Interim Report"., Mimeographed. Jakarta: Fakultas Sastra, Universitas Indonesia and Committee on Linguistics, Stanford University.</li></ol>}}<noinclude>{{rh|16}}</noinclude> bjtt2vh14bceckzcl329i6p4s2skyib 291753 291332 2026-05-11T06:19:54Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291753 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Some Sociolinguistic}}</noinclude><ol type="#" start="8"> <li>{{Hanging indent|4em|Noss, Richard, 1969. <u>Language Policy and higher Education. Higher Education and Development in South-E6ast Asia</u>, vol. III, Part 2. Second Impression. Paris: UNESCO and the International Association of Universities.</li><br /> }} <li>{{Hanging indent|4em|Roberts, Jane. 1962. "Sociocultural Change and Communication Problems". <u>Study of the Role of Second Languages in Asia, Africa and Latin America</u>, Frank A. Rice, Editor. Washington, D.C. Center for Applied Linguistics of the Modern Language Association of merica.</li><br/>}} <li>{{Hanging indent|4em|Rubin, Joan. 1971. "Indonesian Language Planning Processes Project: Interim Report"., Mimeographed. Jakarta: Fakultas Sastra, Universitas Indonesia and Committee on Linguistics, Stanford University.</li></ol>}}<noinclude>{{rh|16}}</noinclude> lrp2w3ykpjyzkpekgisrxe1924s9bad Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/131 104 103479 291169 2026-05-10T14:42:51Z Upiak Ituih 27011 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'SEJARAH KESUSASTRAAN INDONESIA LAMA SELAYANG PANDAIG Nj. S. W. Rudjiati Muljadi Kesusastraan Indonesia biasanya dibagi atas 2 zaman, yang memperlihat kan nasa perkembangan yang berbeda sifatnya, yaitu : 1. Zaman Kesusastraan Indonesia Lana, dari mula saanya bahasa dan kesusastraan Indonesia sampai akhir abad ke 19. 2. Zaman Kesusastraan Indonesia Modern, dari permulaan abad ke 20 hingga waktu ini. Zaman Kesusastraan Indonesia Lama ini sebetulnya... 291169 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" /></noinclude>SEJARAH KESUSASTRAAN INDONESIA LAMA SELAYANG PANDAIG Nj. S. W. Rudjiati Muljadi Kesusastraan Indonesia biasanya dibagi atas 2 zaman, yang memperlihat kan nasa perkembangan yang berbeda sifatnya, yaitu : 1. Zaman Kesusastraan Indonesia Lana, dari mula saanya bahasa dan kesusastraan Indonesia sampai akhir abad ke 19. 2. Zaman Kesusastraan Indonesia Modern, dari permulaan abad ke 20 hingga waktu ini. Zaman Kesusastraan Indonesia Lama ini sebetulnya lebih berdasarkan ada tidaknya tulisan serta persentuhan kebudayaan Indonesia dengan kebu- dayaan-kebudayaan lain yang berasal dari luar. Ciptasastra pada unuanya digolongkan dalam tiga ragam besar prosa, puisi dan drama. Meskipun overlapping tidak dapat dihindarkan, namun pembagian atas tiga ini masih dapat dipertahankan. - Dalam ragam prosa prosa kesusastraan, jadi bukan factual prose termasuk semua yang dinamakan ceritarakaan (cerkan atau fiction), yu- ga esei. Cerkan ini terbagi pula atas roman, novel, dan cerpen untuk Kesusastraan Indonesia Modern dan dongeng, hikayat, serta cerita sejarah untuk Kesusastraan Indonesia Lana. Kesusastraan Indonesia Lana banyak sudah yang sampai kepada kita da- lam bentuk tulisan, yang semula secara lisan turun-menurun dari generasi ke generasi. Kami kira juga banyak yang hilang, karena belum dituliskan sampai sekarang, tetapi pada masyarakat kita dahulu yang masih belum ke- nal akan tulisan, tumbuh dan berkembang. Masyarakat lama kita dengan ta- tacara hidup yang sederhana, yang penghidupannya dikuasai oleh alam, mem- punyai orang-orang yang dinamakan dukun, sikerei, empu, pawang, yang di- anggapnya sebagai orang-orang suci, yang boleh mengucapkan mantra. Mantra merupakan salah suatu macam puisi yang tertua di Indonesia, Pilihan kata yang tetap merupakan aturan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kata-kata yang dipakai dalam mantra adalah kata-kata pilihan yang dianggap mengandung tenaga gaib. Kekuatan dan kemanjuran sebuah mantra ditentukan oleh kata-kata tersebut. Tiap-tiap maksud tertentu ada mantranya, ada mantra untuk menolak penyakit, menolak bala, menolak musuh, mohon selamat kepada tenaga-tenaga gaib, ada mantra untuk menyadap nira, ada mantra untuk menangkap buaja dan lain-lain. +) Karangan ini merupakan pokok-pokok siaran sastra melalui televisi (TVRI) Djakarta dalam bulan Desember 1957. Digitized by Google 3<noinclude></noinclude> o8jpdhuaeqkk8d2i8u383437smix5uy 291216 291169 2026-05-10T15:10:54Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291216 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{rh||SEJARAH KESUSASTRAAN INDONESIA LAMA SELAYANG PANDANG<sup>+)</sup>}} {{rh|||Nj. S. W. Rudjiati Muljadi}} Kesusastraan Indonesia biasanya dibagi atas 2 zaman, yang memperlihatkan masa perkembangan yang berbeda sifatnya, yaitu : <ol type="1" start="1"> <li>Zaman Kesusastraan Indonesia Lana, dari mula saanya bahasa dan kesusastraan Indonesia sampai akhir abad ke 19.</li> <li>Zaman Kesusastraan Indonesia Modern, dari permulaan abad ke 20 hingga waktu ini.</li> </ol> Zaman Kesusastraan Indonesia Lama ini sebetulnya lebih berdasarkan ada tidaknya tulisan serta persentuhan kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang berasal dari luar. Ciptasastra pada umumnya digolongkan dalam tiga ragam besar : {{u|prosa}}, {{u|puisi}} dan {{u|drama}}. Meskipun overlapping tidak dapat dihindarkan, namun pembagian atas tiga ini masih dapat dipertahankan. Dalam ragam prosa prosa kesusastraan, jadi bukan factual prose --- termasuk semua yang dinamakan ceritarakaan (cerkan atau fiction), yuga esei. Cerkan ini terbagi pula atas {{u|roman}}, {{u|novel}}, dan {{u|cerpen}} untuk Kesusastraan Indonesia Modern dan dongeng, hikayat, serta cerita sejarah untuk Kesusastraan Indonesia Lama. Kesusastraan Indonesia Lana banyak sudah yang sampai kepada kita dalam bentuk tulisan, yang semula secara lisan turun-menurun dari generasi ke generasi. Kami kira juga banyak yang hilang, karena belum dituliskan sampai sekarang, tetapi pada masyarakat kita dahulu yang masih belum kenal akan tulisan, tumbuh dan berkembang. Masyarakat lama kita dengan tatacara hidup yang sederhana, yang penghidupannya dikuasai oleh alam, mempunyai orang-orang yang dinamakan {{u|dukun}}, {{u|sikerei}}, {{u|empu}}, {{u|pawang}}, yang dianggapnya sebagai orang-orang suci, yang boleh mengucapkan {{u|mantra}}. {{u|Mantra}} merupakan salah suatu macam puisi yang tertua di Indonesia, Pilihan kata yang tetap merupakan aturan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kata-kata yang dipakai dalam mantra adalah kata-kata pilihan yang dianggap mengandung tenaga gaib. Kekuatan dan kemanjuran sebuah mantra ditentukan oleh kata-kata tersebut. Tiap-tiap maksud tertentu ada mantranya, ada mantra untuk menolak penyakit, menolak bala, menolak musuh, mohon selamat kepada tenaga-tenaga gaib, ada mantra untuk menyadap nira, ada mantra untuk menangkap buaja dan lain-lain.<noinclude><sup>+)</sup> Karangan ini merupakan pokok-pokok siaran sastra melalui televisi (TVRI) Djakarta dalam bulan Desember 1957. {{rh|||3}}</noinclude> jhfn01l5bjnb07thxrgm4i38hgfvfie 291221 291216 2026-05-10T15:13:02Z Upiak Ituih 27011 291221 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{rh||SEJARAH KESUSASTRAAN INDONESIA LAMA SELAYANG PANDANG<sup>+)</sup>}} {{rh|||Nj. S. W. Rudjiati Muljadi}} Kesusastraan Indonesia biasanya dibagi atas 2 zaman, yang memperlihatkan masa perkembangan yang berbeda sifatnya, yaitu : <ol type="1" start="1"> <li>Zaman Kesusastraan Indonesia Lana, dari mula saanya bahasa dan kesusastraan Indonesia sampai akhir abad ke 19.</li> <li>Zaman Kesusastraan Indonesia Modern, dari permulaan abad ke 20 hingga waktu ini.</li> </ol> Zaman Kesusastraan Indonesia Lama ini sebetulnya lebih berdasarkan ada tidaknya tulisan serta persentuhan kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang berasal dari luar. Ciptasastra pada umumnya digolongkan dalam tiga ragam besar : {{u|prosa}}, {{u|puisi}} dan {{u|drama}}. Meskipun overlapping tidak dapat dihindarkan, namun pembagian atas tiga ini masih dapat dipertahankan. Dalam ragam prosa prosa kesusastraan, jadi bukan factual prose --- termasuk semua yang dinamakan ceritarakaan (cerkan atau fiction), yuga esei. Cerkan ini terbagi pula atas {{u|roman}}, {{u|novel}}, dan {{u|cerpen}} untuk Kesusastraan Indonesia Modern dan dongeng, hikayat, serta cerita sejarah untuk Kesusastraan Indonesia Lama. Kesusastraan Indonesia Lana banyak sudah yang sampai kepada kita dalam bentuk tulisan, yang semula secara lisan turun-menurun dari generasi ke generasi. Kami kira juga banyak yang hilang, karena belum dituliskan sampai sekarang, tetapi pada masyarakat kita dahulu yang masih belum kenal akan tulisan, tumbuh dan berkembang. Masyarakat lama kita dengan tatacara hidup yang sederhana, yang penghidupannya dikuasai oleh alam, mempunyai orang-orang yang dinamakan {{u|dukun}}, {{u|sikerei}}, {{u|empu}}, {{u|pawang}}, yang dianggapnya sebagai orang-orang suci, yang boleh mengucapkan {{u|mantra}}. {{u|Mantra}} merupakan salah suatu macam puisi yang tertua di Indonesia, Pilihan kata yang tetap merupakan aturan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kata-kata yang dipakai dalam mantra adalah kata-kata pilihan yang dianggap mengandung tenaga gaib. Kekuatan dan kemanjuran sebuah mantra ditentukan oleh kata-kata tersebut. Tiap-tiap maksud tertentu ada mantranya, ada mantra untuk menolak penyakit, menolak bala, menolak musuh, mohon selamat kepada tenaga-tenaga gaib, ada mantra untuk menyadap nira, ada mantra untuk menangkap buaja dan lain-lain. - ----------------- <sup>+)</sup> Karangan ini merupakan pokok-pokok siaran sastra melalui televisi (TVRI) Djakarta dalam bulan Desember 1957.<noinclude>{{rh|||3}}</noinclude> 162eymqope9taopfw9s64drho90ywop Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/500 104 103480 291247 2026-05-10T15:28:06Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Fungsi Hikavat sarjana yang kemudi:aa melepaskan pandangan dan cara berpikir kuna. Mereka men, adari bahwa rntuk menyslidiki sumber-sumber Indonesia mem perhatikan dan memandangnya dari sogi Indonesia. J adi jelas bahwa pe- ngaruh Raffles bukan rada tulismn-tulisannya, melainkan dalam cara berpikir yang lain dari sarjans-serjana sebelumnya. Babad dan Hikayas reulai roveka hargai dan mereka letakkan pada tempatnya yang wajsur, L! sntara... 291247 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>Fungsi Hikavat sarjana yang kemudi:aa melepaskan pandangan dan cara berpikir kuna. Mereka men, adari bahwa rntuk menyslidiki sumber-sumber Indonesia mem perhatikan dan memandangnya dari sogi Indonesia. J adi jelas bahwa pe- ngaruh Raffles bukan rada tulismn-tulisannya, melainkan dalam cara berpikir yang lain dari sarjans-serjana sebelumnya. Babad dan Hikayas reulai roveka hargai dan mereka letakkan pada tempatnya yang wajsur, L! sntara mereka dapat kami kemukakan di sini: Dr. H.J. do Graaf, dita. bukunya "Geschedcnis van Indonesia" (1949), Tentang tuku ini judul dan 2n$uya bukan lagi meruparan uraian tentang sejarah Kempeni atau Sajarah orans-oris Pelanda d1 Indonesia, mo- lainkan tentang Inlonosis Gin berfekus pada Indonesia sentris. Se- lanjutnya Van Lerr, dalam C!sertasinyas "Inige beschouwingen over de Oudo Aziatisehe handel", yers pandzngannya sudah Indonesia sentris itu berpoadapat bahwa pericdisaesi menurut sejarah tropa ditolaknya, karona pengaruh Barat di Asia tidak begitu besar sebelum tahun 1800, bahkan kebudayaru: RAS dan Tirur berdiri sejajar, sampai 1800 Indo- nesia dakam segala hil.merurakan bagian dari Asia. Beakan menurus pendapat kari dalam soal perlengkapan perang pun seperti kapsl Pi galnya, tidsk begitu banyak berbeda. Kalau ada perbedaan, itu akan tampak daiam hal persenjataan dan mesiu serta organisasi adminiserasi yeu.2 lebih rapih, Ikonomi yang sudah punya sistim, Karona 1tL Na BEN ANN Sajarah I.donesia dengan dasar sosio- logisekoromis sekarensg ini sangat diperlukan. Demikian juga Dr. A. Teeuw, tentang Kit-r Pesan aga un Molawu Calam pengantar anotasinya anta- ra lain mcnulis: "Kita da at mexryaluahses peaulis-penulis itu, penghargaan yang adil | hanya Capas dilakukan kalau kita membaca dan mem- pelajasi muka dalan linrkuntan zamannya!" 1). Ol Ie KA Bee june onta. Tecuar menulis: "Lari barmasni-mancam kasian muncul kejenaka: yang lebih tegas mombuktiken kepada kita dari yang lain-lainnya bahwa di sini, Aongan tidak mempodulikan Ikasan--ikatan dan tiruan-tiruan, kita berhadapan dengan seluah karangan oleh seorang manusia | yang hidi» tentang orans—oreng yang hidup- pendeknya, di sini kita berkedaran acigen sebuah ciptaan seni. Dalam sifatnya sepert: jitu dan tiizsk pula kurang sebagai sumber pengetahuan sojarah, kebudayaan, din ilmu sosiologis masyarakat Melayu 18<noinclude></noinclude> ignl46i1070zhooh9he0zd05b8l87te 291260 291247 2026-05-10T15:37:13Z Moel81 25980 291260 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>Fungsi Hikayat sarjana yang kemudian melepaskan pandangan dan cara berpikir kuno. Mereka menyadari bahwa untuk menyelidiki sumber-sumber Indonesia memperhatikannya dan memandangnya dari segi Indonesia. Jadi jelas bahwa pengaruh Raffles bukan pada tulisan-tulisannya, melainkan dalam cara berpikir yang lain dari sarjana-sarjana sebelumnya. Babad dan Hikayat mulai mereka hargai dan mereka letakkan pada tempatnya yang wajar. Di antara mereka dapat kami kemukakan di sini: Dr. H. J. de Graaf, dengan bukunya "Geschiedenis van Indonesia" (1949). Tentang buku ini judul dan isinya bukan lagi merupakan uraian tentang sejarah Kompeni atau sejarah orang-orang Belanda di Indonesia, melainkan tentang Indonesia, berfokus pada Indonesia sentris. Selanjutnya Van Leur, dalam disertasinya: "Enige beschouwingen over de Oude Aziatische handel", yang pandangannya sudah Indonesia sentris itu berpendapat bahwa periodisasi menurut sejarah Eropa ditolaknya, karena pengaruh Barat di Asia tidak begitu besar sebelum tahun 1800, bahkan kebudayaannya Barat dan Timur berdiri sejajar, sampai 1800 Indonesia dalam segala hal merupakan bagian dari Asia. Bahkan menurut pendapat kami dalam soal perlengkapan perang pun seperti kapal misalnya, tidak begitu banyak berbeda. Kalau ada perbedaan, itu akan tampak dalam hal persenjataan dan mesiu serta organisasi administrasi yang lebih rapih. Ekonomi yang sudah punya sistim. Karena itu penyelidikan sejarah Indonesia dengan dasar sosiologis-ekonomis sekarang ini sangat diperlukan. Demikian juga Dr. R. Teeuw, tentang Kitab Sejarah Melayu dalam pengantar anotasinya antara lain menulis: {{Quote|"Kita tak dapat menyalahkan penulis-penulis itu, penghargaan yang adil hanya dapat dilakukan kalau kita membaca dan memandang mereka dalam lingkungan zamannya" 1).}} Selanjutnya dalam buku yang sama Teeuw menulis: {{Quote|"Dari bermacam-macam bagian muncul kejenakaan yang lebih tegas membuktikan kepada kita dari yang lain-lainnya bahwa di sini, dengan tidak mempedulikan ikatan-ikatan dan tiruan-tiruan, kita berhadapan dengan sebuah karangan oleh seorang manusia yang hidup tentang orang-orang yang hidup- pendeknya, di sini kita berhadapan dengan sebuah ciptaan seni. Dalam sifatnya seperti itu dan tidak pula kurang sebagai sumber pengetahuan sejarah, kebudayaan, dan ilmu sosiologis masyarakat Melayu}}<noinclude></noinclude> jk4wuxrkd96c0c1rce8f5b7in2h7ha1 291262 291260 2026-05-10T15:37:58Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291262 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>Fungsi Hikayat sarjana yang kemudian melepaskan pandangan dan cara berpikir kuno. Mereka menyadari bahwa untuk menyelidiki sumber-sumber Indonesia memperhatikannya dan memandangnya dari segi Indonesia. Jadi jelas bahwa pengaruh Raffles bukan pada tulisan-tulisannya, melainkan dalam cara berpikir yang lain dari sarjana-sarjana sebelumnya. Babad dan Hikayat mulai mereka hargai dan mereka letakkan pada tempatnya yang wajar. Di antara mereka dapat kami kemukakan di sini: Dr. H. J. de Graaf, dengan bukunya "Geschiedenis van Indonesia" (1949). Tentang buku ini judul dan isinya bukan lagi merupakan uraian tentang sejarah Kompeni atau sejarah orang-orang Belanda di Indonesia, melainkan tentang Indonesia, berfokus pada Indonesia sentris. Selanjutnya Van Leur, dalam disertasinya: "Enige beschouwingen over de Oude Aziatische handel", yang pandangannya sudah Indonesia sentris itu berpendapat bahwa periodisasi menurut sejarah Eropa ditolaknya, karena pengaruh Barat di Asia tidak begitu besar sebelum tahun 1800, bahkan kebudayaannya Barat dan Timur berdiri sejajar, sampai 1800 Indonesia dalam segala hal merupakan bagian dari Asia. Bahkan menurut pendapat kami dalam soal perlengkapan perang pun seperti kapal misalnya, tidak begitu banyak berbeda. Kalau ada perbedaan, itu akan tampak dalam hal persenjataan dan mesiu serta organisasi administrasi yang lebih rapih. Ekonomi yang sudah punya sistim. Karena itu penyelidikan sejarah Indonesia dengan dasar sosiologis-ekonomis sekarang ini sangat diperlukan. Demikian juga Dr. R. Teeuw, tentang Kitab Sejarah Melayu dalam pengantar anotasinya antara lain menulis: {{Quote|"Kita tak dapat menyalahkan penulis-penulis itu, penghargaan yang adil hanya dapat dilakukan kalau kita membaca dan memandang mereka dalam lingkungan zamannya" 1).}} Selanjutnya dalam buku yang sama Teeuw menulis: {{Quote|"Dari bermacam-macam bagian muncul kejenakaan yang lebih tegas membuktikan kepada kita dari yang lain-lainnya bahwa di sini, dengan tidak mempedulikan ikatan-ikatan dan tiruan-tiruan, kita berhadapan dengan sebuah karangan oleh seorang manusia yang hidup tentang orang-orang yang hidup- pendeknya, di sini kita berhadapan dengan sebuah ciptaan seni. Dalam sifatnya seperti itu dan tidak pula kurang sebagai sumber pengetahuan sejarah, kebudayaan, dan ilmu sosiologis masyarakat Melayu}}<noinclude></noinclude> 2xqsxar7ag7z46n53il1nxq6nmv3rh3 291271 291262 2026-05-10T15:50:44Z Moel81 25980 291271 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>Fungsi Hikayat sarjana yang kemudian melepaskan pandangan dan cara berpikir kuno. Mereka menyadari bahwa untuk menyelidiki sumber-sumber Indonesia memperhatikannya dan memandangnya dari segi Indonesia. Jadi jelas bahwa pengaruh Raffles bukan pada tulisan-tulisannya, melainkan dalam cara berpikir yang lain dari sarjana-sarjana sebelumnya. Babad dan Hikayat mulai mereka hargai dan mereka letakkan pada tempatnya yang wajar. Di antara mereka dapat kami kemukakan di sini: Dr. H. J. de Graaf, dengan bukunya "Geschiedenis van Indonesia" (1949). Tentang buku ini judul dan isinya bukan lagi merupakan uraian tentang sejarah Kompeni atau sejarah orang-orang Belanda di Indonesia, melainkan tentang Indonesia, berfokus pada Indonesia sentris. Selanjutnya Van Leur, dalam disertasinya: "Enige beschouwingen over de Oude Aziatische handel", yang pandangannya sudah Indonesia sentris itu berpendapat bahwa periodisasi menurut sejarah Eropa ditolaknya, karena pengaruh Barat di Asia tidak begitu besar sebelum tahun 1800, bahkan kebudayaannya Barat dan Timur berdiri sejajar, sampai 1800 Indonesia dalam segala hal merupakan bagian dari Asia. Bahkan menurut pendapat kami dalam soal perlengkapan perang pun seperti kapal misalnya, tidak begitu banyak berbeda. Kalau ada perbedaan, itu akan tampak dalam hal persenjataan dan mesiu serta organisasi administrasi yang lebih rapih. Ekonomi yang sudah punya sistim. Karena itu penyelidikan sejarah Indonesia dengan dasar sosiologis-ekonomis sekarang ini sangat diperlukan. Demikian juga Dr. R. Teeuw, tentang Kitab Sejarah Melayu dalam pengantar anotasinya antara lain menulis: {{Quote|"Kita tak dapat menyalahkan penulis-penulis itu, penghargaan yang adil hanya dapat dilakukan kalau kita membaca dan memandang mereka dalam lingkungan zamannya" <sup>1)</sup>.}} Selanjutnya dalam buku yang sama Teeuw menulis: {{Quote|"Dari bermacam-macam bagian muncul kejenakaan yang lebih tegas membuktikan kepada kita dari yang lain-lainnya bahwa di sini, dengan tidak mempedulikan ikatan-ikatan dan tiruan-tiruan, kita berhadapan dengan sebuah karangan oleh seorang manusia yang hidup tentang orang-orang yang hidup- pendeknya, di sini kita berhadapan dengan sebuah ciptaan seni. Dalam sifatnya seperti itu dan tidak pula kurang sebagai sumber pengetahuan sejarah, kebudayaan, dan ilmu sosiologis masyarakat Melayu}}<noinclude></noinclude> dii2ft4r8eobbd2g5cqhs8wcb8el3p1 291285 291271 2026-05-10T16:08:25Z Moel81 25980 291285 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />Fungsi Hikayat</noinclude>sarjana yang kemudian melepaskan pandangan dan cara berpikir kuno. Mereka menyadari bahwa untuk menyelidiki sumber-sumber Indonesia memperhatikannya dan memandangnya dari segi Indonesia. Jadi jelas bahwa pengaruh Raffles bukan pada tulisan-tulisannya, melainkan dalam cara berpikir yang lain dari sarjana-sarjana sebelumnya. Babad dan Hikayat mulai mereka hargai dan mereka letakkan pada tempatnya yang wajar. Di antara mereka dapat kami kemukakan di sini: Dr. H. J. de Graaf, dengan bukunya "Geschiedenis van Indonesia" (1949). Tentang buku ini judul dan isinya bukan lagi merupakan uraian tentang sejarah Kompeni atau sejarah orang-orang Belanda di Indonesia, melainkan tentang Indonesia, berfokus pada Indonesia sentris. Selanjutnya Van Leur, dalam disertasinya: "Enige beschouwingen over de Oude Aziatische handel", yang pandangannya sudah Indonesia sentris itu berpendapat bahwa periodisasi menurut sejarah Eropa ditolaknya, karena pengaruh Barat di Asia tidak begitu besar sebelum tahun 1800, bahkan kebudayaannya Barat dan Timur berdiri sejajar, sampai 1800 Indonesia dalam segala hal merupakan bagian dari Asia. Bahkan menurut pendapat kami dalam soal perlengkapan perang pun seperti kapal misalnya, tidak begitu banyak berbeda. Kalau ada perbedaan, itu akan tampak dalam hal persenjataan dan mesiu serta organisasi administrasi yang lebih rapih. Ekonomi yang sudah punya sistim. Karena itu penyelidikan sejarah Indonesia dengan dasar sosiologis-ekonomis sekarang ini sangat diperlukan. Demikian juga Dr. R. Teeuw, tentang Kitab Sejarah Melayu dalam pengantar anotasinya antara lain menulis: {{Quote|"Kita tak dapat menyalahkan penulis-penulis itu, penghargaan yang adil hanya dapat dilakukan kalau kita membaca dan memandang mereka dalam lingkungan zamannya" <sup>1)</sup>.}} Selanjutnya dalam buku yang sama Teeuw menulis: {{Quote|"Dari bermacam-macam bagian muncul kejenakaan yang lebih tegas membuktikan kepada kita dari yang lain-lainnya bahwa di sini, dengan tidak mempedulikan ikatan-ikatan dan tiruan-tiruan, kita berhadapan dengan sebuah karangan oleh seorang manusia yang hidup tentang orang-orang yang hidup- pendeknya, di sini kita berhadapan dengan sebuah ciptaan seni. Dalam sifatnya seperti itu dan tidak pula kurang sebagai sumber pengetahuan sejarah, kebudayaan, dan ilmu sosiologis masyarakat Melayu}}<noinclude></noinclude> ex1kildmq3gxq8nj8dzh3d8mzyh8wy2 291286 291285 2026-05-10T16:08:50Z Moel81 25980 291286 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />Fungsi Hikayat</noinclude>sarjana yang kemudian melepaskan pandangan dan cara berpikir kuno. Mereka menyadari bahwa untuk menyelidiki sumber-sumber Indonesia memperhatikannya dan memandangnya dari segi Indonesia. Jadi jelas bahwa pengaruh Raffles bukan pada tulisan-tulisannya, melainkan dalam cara berpikir yang lain dari sarjana-sarjana sebelumnya. Babad dan Hikayat mulai mereka hargai dan mereka letakkan pada tempatnya yang wajar. Di antara mereka dapat kami kemukakan di sini: Dr. H. J. de Graaf, dengan bukunya "Geschiedenis van Indonesia" (1949). Tentang buku ini judul dan isinya bukan lagi merupakan uraian tentang sejarah Kompeni atau sejarah orang-orang Belanda di Indonesia, melainkan tentang Indonesia, berfokus pada Indonesia sentris. Selanjutnya Van Leur, dalam disertasinya: "Enige beschouwingen over de Oude Aziatische handel", yang pandangannya sudah Indonesia sentris itu berpendapat bahwa periodisasi menurut sejarah Eropa ditolaknya, karena pengaruh Barat di Asia tidak begitu besar sebelum tahun 1800, bahkan kebudayaannya Barat dan Timur berdiri sejajar, sampai 1800 Indonesia dalam segala hal merupakan bagian dari Asia. Bahkan menurut pendapat kami dalam soal perlengkapan perang pun seperti kapal misalnya, tidak begitu banyak berbeda. Kalau ada perbedaan, itu akan tampak dalam hal persenjataan dan mesiu serta organisasi administrasi yang lebih rapih. Ekonomi yang sudah punya sistim. Karena itu penyelidikan sejarah Indonesia dengan dasar sosiologis-ekonomis sekarang ini sangat diperlukan. Demikian juga Dr. R. Teeuw, tentang Kitab Sejarah Melayu dalam pengantar anotasinya antara lain menulis: {{Quote|"Kita tak dapat menyalahkan penulis-penulis itu, penghargaan yang adil hanya dapat dilakukan kalau kita membaca dan memandang mereka dalam lingkungan zamannya" <sup>1)</sup>.}} Selanjutnya dalam buku yang sama Teeuw menulis: {{Quote|"Dari bermacam-macam bagian muncul kejenakaan yang lebih tegas membuktikan kepada kita dari yang lain-lainnya bahwa di sini, dengan tidak mempedulikan ikatan-ikatan dan tiruan-tiruan, kita berhadapan dengan sebuah karangan oleh seorang manusia yang hidup tentang orang-orang yang hidup- pendeknya, di sini kita berhadapan dengan sebuah ciptaan seni. Dalam sifatnya seperti itu dan tidak pula kurang sebagai sumber pengetahuan sejarah, kebudayaan, dan ilmu sosiologis masyarakat Melayu}}<noinclude>{{rh|18}}</noinclude> iqpwxwipt1z46fqpkujcik3uzbtr06x 291287 291286 2026-05-10T16:09:38Z Moel81 25980 291287 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />Fungsi Hikayat</noinclude>{{hwe|sarjana|sarjana-sarjana}} yang kemudian melepaskan pandangan dan cara berpikir kuno. Mereka menyadari bahwa untuk menyelidiki sumber-sumber Indonesia memperhatikannya dan memandangnya dari segi Indonesia. Jadi jelas bahwa pengaruh Raffles bukan pada tulisan-tulisannya, melainkan dalam cara berpikir yang lain dari sarjana-sarjana sebelumnya. Babad dan Hikayat mulai mereka hargai dan mereka letakkan pada tempatnya yang wajar. Di antara mereka dapat kami kemukakan di sini: Dr. H. J. de Graaf, dengan bukunya "Geschiedenis van Indonesia" (1949). Tentang buku ini judul dan isinya bukan lagi merupakan uraian tentang sejarah Kompeni atau sejarah orang-orang Belanda di Indonesia, melainkan tentang Indonesia, berfokus pada Indonesia sentris. Selanjutnya Van Leur, dalam disertasinya: "Enige beschouwingen over de Oude Aziatische handel", yang pandangannya sudah Indonesia sentris itu berpendapat bahwa periodisasi menurut sejarah Eropa ditolaknya, karena pengaruh Barat di Asia tidak begitu besar sebelum tahun 1800, bahkan kebudayaannya Barat dan Timur berdiri sejajar, sampai 1800 Indonesia dalam segala hal merupakan bagian dari Asia. Bahkan menurut pendapat kami dalam soal perlengkapan perang pun seperti kapal misalnya, tidak begitu banyak berbeda. Kalau ada perbedaan, itu akan tampak dalam hal persenjataan dan mesiu serta organisasi administrasi yang lebih rapih. Ekonomi yang sudah punya sistim. Karena itu penyelidikan sejarah Indonesia dengan dasar sosiologis-ekonomis sekarang ini sangat diperlukan. Demikian juga Dr. R. Teeuw, tentang Kitab Sejarah Melayu dalam pengantar anotasinya antara lain menulis: {{Quote|"Kita tak dapat menyalahkan penulis-penulis itu, penghargaan yang adil hanya dapat dilakukan kalau kita membaca dan memandang mereka dalam lingkungan zamannya" <sup>1)</sup>.}} Selanjutnya dalam buku yang sama Teeuw menulis: {{Quote|"Dari bermacam-macam bagian muncul kejenakaan yang lebih tegas membuktikan kepada kita dari yang lain-lainnya bahwa di sini, dengan tidak mempedulikan ikatan-ikatan dan tiruan-tiruan, kita berhadapan dengan sebuah karangan oleh seorang manusia yang hidup tentang orang-orang yang hidup- pendeknya, di sini kita berhadapan dengan sebuah ciptaan seni. Dalam sifatnya seperti itu dan tidak pula kurang sebagai sumber pengetahuan sejarah, kebudayaan, dan ilmu sosiologis masyarakat Melayu}}<noinclude>{{rh|18}}</noinclude> notkql2rt8bbrwvx1a1za1v41vvcfwx 291324 291287 2026-05-10T16:59:08Z Moel81 25980 291324 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|Fungsi Hikayat}}</noinclude>{{hwe|sarjana|sarjana-sarjana}} yang kemudian melepaskan pandangan dan cara berpikir kuno. Mereka menyadari bahwa untuk menyelidiki sumber-sumber Indonesia memperhatikannya dan memandangnya dari segi Indonesia. Jadi jelas bahwa pengaruh Raffles bukan pada tulisan-tulisannya, melainkan dalam cara berpikir yang lain dari sarjana-sarjana sebelumnya. Babad dan Hikayat mulai mereka hargai dan mereka letakkan pada tempatnya yang wajar. Di antara mereka dapat kami kemukakan di sini: Dr. H. J. de Graaf, dengan bukunya "Geschiedenis van Indonesia" (1949). Tentang buku ini judul dan isinya bukan lagi merupakan uraian tentang sejarah Kompeni atau sejarah orang-orang Belanda di Indonesia, melainkan tentang Indonesia, berfokus pada Indonesia sentris. Selanjutnya Van Leur, dalam disertasinya: "Enige beschouwingen over de Oude Aziatische handel", yang pandangannya sudah Indonesia sentris itu berpendapat bahwa periodisasi menurut sejarah Eropa ditolaknya, karena pengaruh Barat di Asia tidak begitu besar sebelum tahun 1800, bahkan kebudayaannya Barat dan Timur berdiri sejajar, sampai 1800 Indonesia dalam segala hal merupakan bagian dari Asia. Bahkan menurut pendapat kami dalam soal perlengkapan perang pun seperti kapal misalnya, tidak begitu banyak berbeda. Kalau ada perbedaan, itu akan tampak dalam hal persenjataan dan mesiu serta organisasi administrasi yang lebih rapih. Ekonomi yang sudah punya sistim. Karena itu penyelidikan sejarah Indonesia dengan dasar sosiologis-ekonomis sekarang ini sangat diperlukan. Demikian juga Dr. R. Teeuw, tentang Kitab Sejarah Melayu dalam pengantar anotasinya antara lain menulis: {{Quote|"Kita tak dapat menyalahkan penulis-penulis itu, penghargaan yang adil hanya dapat dilakukan kalau kita membaca dan memandang mereka dalam lingkungan zamannya" <sup>1)</sup>.}} Selanjutnya dalam buku yang sama Teeuw menulis: {{Quote|"Dari bermacam-macam bagian muncul kejenakaan yang lebih tegas membuktikan kepada kita dari yang lain-lainnya bahwa di sini, dengan tidak mempedulikan ikatan-ikatan dan tiruan-tiruan, kita berhadapan dengan sebuah karangan oleh seorang manusia yang hidup tentang orang-orang yang hidup- pendeknya, di sini kita berhadapan dengan sebuah ciptaan seni. Dalam sifatnya seperti itu dan tidak pula kurang sebagai sumber pengetahuan sejarah, kebudayaan, dan ilmu sosiologis masyarakat Melayu}}<noinclude>{{rh|18}}</noinclude> anxbt2m0h04m8kwg2stgby9vrnqgxin 291759 291324 2026-05-11T06:22:01Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291759 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Fungsi Hikayat}}</noinclude>{{hwe|sarjana|sarjana-sarjana}} yang kemudian melepaskan pandangan dan cara berpikir kuno. Mereka menyadari bahwa untuk menyelidiki sumber-sumber Indonesia memperhatikannya dan memandangnya dari segi Indonesia. Jadi jelas bahwa pengaruh Raffles bukan pada tulisan-tulisannya, melainkan dalam cara berpikir yang lain dari sarjana-sarjana sebelumnya. Babad dan Hikayat mulai mereka hargai dan mereka letakkan pada tempatnya yang wajar. Di antara mereka dapat kami kemukakan di sini: Dr. H. J. de Graaf, dengan bukunya "Geschiedenis van Indonesia" (1949). Tentang buku ini judul dan isinya bukan lagi merupakan uraian tentang sejarah Kompeni atau sejarah orang-orang Belanda di Indonesia, melainkan tentang Indonesia, berfokus pada Indonesia sentris. Selanjutnya Van Leur, dalam disertasinya: "Enige beschouwingen over de Oude Aziatische handel", yang pandangannya sudah Indonesia sentris itu berpendapat bahwa periodisasi menurut sejarah Eropa ditolaknya, karena pengaruh Barat di Asia tidak begitu besar sebelum tahun 1800, bahkan kebudayaannya Barat dan Timur berdiri sejajar, sampai 1800 Indonesia dalam segala hal merupakan bagian dari Asia. Bahkan menurut pendapat kami dalam soal perlengkapan perang pun seperti kapal misalnya, tidak begitu banyak berbeda. Kalau ada perbedaan, itu akan tampak dalam hal persenjataan dan mesiu serta organisasi administrasi yang lebih rapih. Ekonomi yang sudah punya sistim. Karena itu penyelidikan sejarah Indonesia dengan dasar sosiologis-ekonomis sekarang ini sangat diperlukan. Demikian juga Dr. R. Teeuw, tentang Kitab Sejarah Melayu dalam pengantar anotasinya antara lain menulis: {{Quote|"Kita tak dapat menyalahkan penulis-penulis itu, penghargaan yang adil hanya dapat dilakukan kalau kita membaca dan memandang mereka dalam lingkungan zamannya" <sup>1)</sup>.}} Selanjutnya dalam buku yang sama Teeuw menulis: {{Quote|"Dari bermacam-macam bagian muncul kejenakaan yang lebih tegas membuktikan kepada kita dari yang lain-lainnya bahwa di sini, dengan tidak mempedulikan ikatan-ikatan dan tiruan-tiruan, kita berhadapan dengan sebuah karangan oleh seorang manusia yang hidup tentang orang-orang yang hidup- pendeknya, di sini kita berhadapan dengan sebuah ciptaan seni. Dalam sifatnya seperti itu dan tidak pula kurang sebagai sumber pengetahuan sejarah, kebudayaan, dan ilmu sosiologis masyarakat Melayu}}<noinclude>{{rh|18}}</noinclude> ohewhqogkk7u8mi9yj0hgii4iderkov Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/501 104 103481 291248 2026-05-10T15:28:14Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ Membuat halaman kosong 291248 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude><noinclude></noinclude> j3it2j5363rqbq5u9h0ai682fmbt3ul 291263 291248 2026-05-10T15:39:20Z Moel81 25980 291263 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>meminta porhatian sepenuhnya dari orang Indonesia abad kedua- puluh" 2) Setelah kami kemukakan pandangan tiga orang sarjana di atas mulai memandang pentingnya sumber Indonesia sendiri, baiklah kami ingin melanjutkan porsoalan ini dengan membandingkan dua sumber yang paling banyak menarik perhatian para ahli, yang kami maksud yaitu: Babad Tanah Jawi dan Sejarah wclayu, untuk mewakili kitab-kitab Babad atau Hikayat yang lain. Kami akan mengamatinya tentang tentang adakah ciri-ciri yang sama, Dan kalau terdapat perbedaan, dalam hal. apa. Terutama dalam hal: a. asal mula dan tujuan penulisan sejarah; b. lingkungan kebudayaan di mana dituliskan; ce. tempatnya dalam kosastraan Indoncsia; d. beberapa ciri-ciri khas. Pikiran-pikiran bangsa kita yang simbolis menimbulkan peranan- peranan epos, mythologi, magi dan religi sangat berpengaruh baik da- lam Babad maupun dalam Hikayat. Faktor penting dalam kita mempergu- nakan Babad atau Hikayat sebagai sumber scjarah yaitu kita harus me- misahkan, menyaring unsur—unsur historis dari unsur-unsur legendaris. Jadi kita harus membuat kritik dan pernilaian untuk memperoleh fakta. Karena faktalah yang menjadi dasar ponulisan Sejarah. Asal mala _dan_tu, Penulisan Babad yaitu: 1. Untuk menyimpan kenangan pada ma- sa kejayaan yang telah lama lampau. 2. Untuk membuktikan bahwa raja yang sodang momerintah dewasa itu adalah abli waris yang sah, dan perbuatan-perbuatan yang. dilakukan oa nonek moyangnya, karena itulah harus dihor mati. 3 Bahwa Sejarah Melayu ditulis atas perintah raja terdapat da- lam interno evidensi (S.M. halaman 1-3), tetapi bukannya tidak mung- kin bahwa penulisan Sejarah Molayu atau juga hikayat-hikayat lainnya mengandung dorongan-dorongan politik, Dalam Sejarah Melayu, terdapat antagonisma atau somacam rivalitas antara Acch dan Johor. Juga dalam T.N. kami jumpai rivalitas antara Raja Xecil dan pengikut-pengikutnya dengan Sultan Abdul Jalil dan keturunannya yang dibantu oleh pangli- Babs. Kesusast., V(2), 1973 19<noinclude></noinclude> ccjewizfny0v4b1az293b09jq6ma2bw 291266 291263 2026-05-10T15:41:53Z Moel81 25980 291266 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>meminta porhatian sepenuhnya dari orang Indonesia abad kedua- puluh" 2) Setelah kami kemukakan pandangan tiga orang sarjana di atas mulai memandang pentingnya sumber Indonesia sendiri, baiklah kami ingin melanjutkan porsoalan ini dengan membandingkan dua sumber yang paling banyak menarik perhatian para ahli, yang kami maksud yaitu: Babad Tanah Jawi dan Sejarah wclayu, untuk mewakili kitab-kitab Babad atau Hikayat yang lain. Kami akan mengamatinya tentang tentang adakah ciri-ciri yang sama, Dan kalau terdapat perbedaan, dalam hal. apa. Terutama dalam hal: a. asal mula dan tujuan penulisan sejarah; b. lingkungan kebudayaan di mana dituliskan; ce. tempatnya dalam kosastraan Indoncsia; d. beberapa ciri-ciri khas. Pikiran-pikiran bangsa kita yang simbolis menimbulkan peranan- peranan epos, mythologi, magi dan religi sangat berpengaruh baik da- lam Babad maupun dalam Hikayat. Faktor penting dalam kita mempergu- nakan Babad atau Hikayat sebagai sumber scjarah yaitu kita harus me- misahkan, menyaring unsur—unsur historis dari unsur-unsur legendaris. Jadi kita harus membuat kritik dan pernilaian untuk memperoleh fakta. Karena faktalah yang menjadi dasar ponulisan Sejarah. Asal mala _dan_tu, Penulisan Babad yaitu: 1. Untuk menyimpan kenangan pada ma- sa kejayaan yang telah lama lampau. 2. Untuk membuktikan bahwa raja yang sodang momerintah dewasa itu adalah abli waris yang sah, dan perbuatan-perbuatan yang. dilakukan oa nonek moyangnya, karena itulah harus dihor mati. 3 Bahwa Sejarah Melayu ditulis atas perintah raja terdapat da- lam interno evidensi (S.M. halaman 1-3), tetapi bukannya tidak mung- kin bahwa penulisan Sejarah Molayu atau juga hikayat-hikayat lainnya mengandung dorongan-dorongan politik, Dalam Sejarah Melayu, terdapat antagonisma atau somacam rivalitas antara Acch dan Johor. Juga dalam T.N. kami jumpai rivalitas antara Raja Xecil dan pengikut-pengikutnya dengan Sultan Abdul Jalil dan keturunannya yang dibantu oleh pangli- Babs. Kesusast., V(2), 1973 19<noinclude>{{rh|19||Bahs. Kesusast., V(2), 1973</noinclude> 93d8qf7btpjkxbjx64hhp9u4276v7u6 291274 291266 2026-05-10T15:53:36Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291274 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{Quote|meminta perhatian sepenuhnya dari orang Indonesia abad kedua-puluh"<sup>2)</sup>}} Setelah kami kemukakan pandangan tiga orang sarjana di atas mulai memandang pentingnya sumber Indonesia sendiri, baiklah kami ingin melanjutkan persoalan ini dengan membandingkan dua sumber yang paling banyak menarik perhatian para ahli, yang kami maksud yaitu: Babad Tanah Jawi dan Sejarah Melayu, untuk mewakili kitab-kitab Babad atau Hikayat yang lain. Kami akan mengamatinya tentang tentang adakah ciri-ciri yang sama. Dan kalau terdapat perbedaan, dalam hal apa. Terutama dalam hal: <ol type="a"> <li>asal mula dan tujuan penulisan sejarah;</li> <li>lingkungan kebudayaan di mana dituliskan;</li> <li>tempatnya dalam kesastraan Indonesia;</li> <li>beberapa ciri-ciri khas.</li></ol> Pikiran-pikiran bangsa kita yang simbolis menimbulkan peranan-peranan epos, mythologi, magi dan religi sangat berpengaruh baik dalam Babad maupun dalam Hikayat. Faktor penting dalam kita mempergunakan Babad atau Hikayat sebagai sumber sejarah yaitu kita harus memisahkan, menyaring unsur-unsur historis dari unsur-unsur legendaris. Jadi kita harus membuat kritik dan penilaian untuk memperoleh fakta. Karena faktalah yang menjadi dasar penulisan sejarah. ::<u>Asal mula dan tujuan penulisan sejarah.</u> :::Penulisan Babad yaitu: 1. Untuk menyimpan kenangan pada masa kejayaan yang telah lama lampau. 2. Untuk membuktikan bahwa raja yang sedang memerintah dewasa itu adalah ahli waris yang sah, dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan olehnya atau nenek moyangnya, karena itulah harus dihormati.<sup>3)</sup> Bahwa Sejarah Melayu ditulis atas perintah raja terdapat dalam interne evidensi (S.M. halaman 1-3), tetapi bukannya tidak mungkin bahwa penulisan Sejarah Melayu atau juga hikayat-hikayat lainnya mengandung dorongan-dorongan politik. Dalam Sejarah Melayu, terdapat antagonisme atau semacam rivalitas antara Aceh dan Johor. Juga dalam T.N. kami jumpai rivalitas antara Raja Kecil dan pengikut-pengikutnya dengan Sultan Abdul Jalil dan keturunannya yang dibantu oleh {{hws|pangli|panglima}}<noinclude>{{rh|19||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> oyjifz7pkqv9ra5b1pgocl1wczbf5oq Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/473 104 103482 291254 2026-05-10T15:32:09Z Suga Widi 25678 Proses uji baca 291254 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>25. lain dapat diberikan pula oleh pengamat bahasa. 4. Dalam peristiwa penciptaan kata pirsawan di samping_penonton untuk menyapa orang menyaksikan acara tclevisi ada keconderungan dari para petugas dan ponyiar tolevisi (profesi pemberitaan liwat tv) “untuk tidak merggunakan “ keta —. pononton. menciptakan satu kata dan bentuk sapaan sendiri untuk profesi itu ‘otapi momilih dan m ialah bentuk pirsavan, Bentuk pirsawan bukan istilah, tetapi bontulc profesi. Jadi jolas disini dahwa poneciptaan ini bukan didasarkan pada perbedaan struktur masyarakat feodal dsb , tetani hanya pada profesi saja, lain tidak. Mcreka pun dapat mongsgunakan kata penon— ton, tetapi kata ini harus mcndapatkan tafsiran sosuai dengan mak= sud dan tujuan pombcritaa liwat televisi. Jadi apa salammya kalau diciptatan satu kata dan bentult untuk dan dalam profesi ini? Pada kesempatan ini saya tidak ingin mempersoalkan proses dan pembentukan kata pirsawan itu. Itu masalah ahli bahasa. Nyata- nya kata pirsawan telah diterima umum untuk profesi tertentu, yak— ni untuk monyapa siapa saja yang Uenyaksilan siaran dan pemberitaan televi 5. Dalam hubungan ini ingin kami tunjuk’can pula bahwa selarang ini masing-masing profoesi scdang mencari bentuk dan bahasa profesi sen- diri. Peristiwa ini akan banyak momperkaya bahasa Indonesia dan mungkin munsul banyak penggalian-penggalian khasanah bahasa yang tua-tua dan atau yang berasal dari daerah. Yang dapat kami catat sekarang ini dalam penviptaan bahasa profosi ialah: (1) Ada ben- tuk-bentuk bahasa umum yang dipergunakan pula dalam bahasa profcsi tertentu. Jontoh akan sangat banyak. Kiranya tulisan ini sudah me- ngarahian. (2) Ada penciptaan bentuk bahasa baru untuk profesi tortentu, walaupun ada bentuk umum di sampingnya. (3) Ada pula ko-<noinclude></noinclude> gme84cdoz90ec2rgfixywmsq5aoi1xd 291270 291254 2026-05-10T15:49:45Z Suga Widi 25678 Proses uji baca 291270 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>PROSES UJI BACA lain dapat diberikan pula oleh pengamat bahasa. 4. Dalam peristiwa penciptaan kata {{u|pirsawan}} di samping penonton untuk menyapa orang menyaksikan acara televisi ada kecenderungan dari para petugas dan penyiar televisi (profesi pemberitaan liwat tv) “untuk tidak menggunakan kata {{u|penonton}}. Tetapi memmilih dan menciptakan satu kata dan bentuk sapaan sendiri untuk profesi itu ialah bentuk {{u|pirsawan}} bukan istilah, tetapi bentuk profesi. Jadi jelas disini bahwa penciptaan ini bukan didasarkan pada perbedaan struktur masyarakat feodal dsb , tetapi hanya pada profesi saja, lain tidak. Mereka pun dapat menggunakan kata penonton, tetapi kata ini harus mendapatkan tafsiran sesuai dengan maksud dan tujuan pembicaraan liwat televisi. Jadi apa salahnya kalau diciptatan satu kata dan bentuk untuk dan dalam profesi ini? Pada kesempatan ini saya tidak ingin mempersoalkan proses dan pembentukan kata pirsawan itu. Itu masalah ahli bahasa. Nyata- nya kata pirsawan telah diterima umum untuk profesi tertentu, yak— ni untuk monyapa siapa saja yang Uenyaksilan siaran dan pemberitaan televi 5. Dalam hubungan ini ingin kami tunjuk’can pula bahwa selarang ini masing-masing profoesi scdang mencari bentuk dan bahasa profesi sen- diri. Peristiwa ini akan banyak momperkaya bahasa Indonesia dan mungkin munsul banyak penggalian-penggalian khasanah bahasa yang tua-tua dan atau yang berasal dari daerah. Yang dapat kami catat sekarang ini dalam penviptaan bahasa profosi ialah: (1) Ada ben- tuk-bentuk bahasa umum yang dipergunakan pula dalam bahasa profcsi tertentu. Jontoh akan sangat banyak. Kiranya tulisan ini sudah me- ngarahian. (2) Ada penciptaan bentuk bahasa baru untuk profesi tortentu, walaupun ada bentuk umum di sampingnya. (3) Ada pula ko-<noinclude></noinclude> m2ckq8mjpmth7c981zijudkqszj3f21 291276 291270 2026-05-10T15:54:19Z Suga Widi 25678 /* Telah diuji baca */ 291276 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>PROSES UJI BACA lain dapat diberikan pula oleh pengamat bahasa. 4. Dalam peristiwa penciptaan kata {{u|pirsawan}} di samping penonton untuk menyapa orang menyaksikan acara televisi ada kecenderungan dari para petugas dan penyiar televisi (profesi pemberitaan liwat tv) “untuk tidak menggunakan kata {{u|penonton}}. Tetapi memmilih dan menciptakan satu kata dan bentuk sapaan sendiri untuk profesi itu ialah bentuk {{u|pirsawan}} bukan istilah, tetapi bentuk profesi. Jadi jelas disini bahwa penciptaan ini bukan didasarkan pada perbedaan struktur masyarakat feodal dsb , tetapi hanya pada profesi saja, lain tidak. Mereka pun dapat menggunakan kata penonton, tetapi kata ini harus mendapatkan tafsiran sesuai dengan maksud dan tujuan pembicaraan liwat televisi. Jadi apa salahnya kalau diciptatan satu kata dan bentuk untuk dan dalam profesi ini? Pada kesempatan ini saya tidak ingin mempersoalkan proses dan pembentukan kata {{u|pirsawan}} itu. Itu masalah ahli bahasa. Nyatanya kata {{u|pirsawan}} telah diterima umum untuk profesi tertentu, yakni untuk menyapa siapa saja yang menyaksikan siaran dan pemberitaan televi. 5. Dalam hubungan ini ingin kami tunjukkkan pula bahwa sekarang ini masing-masing profoesi sedang mencari bentuk dan bahasa profesi sendiri. Peristiwa ini akan banyak memperkaya bahasa Indonesia dan mungkin muncul banyak penggalian-penggalian khasanah bahasa yang tua-tua dan atau yang berasal dari daerah. Yang dapat kami catat sekarang ini dalam penciptaan bahasa profesi ialah: (1) Ada bentuk-bentuk bahasa umum yang dipergunakan pula dalam bahasa profesi tertentu. Contoh akan sangat banyak. Kiranya tulisan ini sudah mengarahian. (2) Ada penciptaan bentuk bahasa baru untuk profesi tertentu, walaupun ada bentuk umum di sampingnya. (3) Ada pula ko-<noinclude></noinclude> rmznxozfzlkxvdtz4p3xz763c3skes6 291277 291276 2026-05-10T15:54:56Z Suga Widi 25678 /* Telah diuji baca */ 291277 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>lain dapat diberikan pula oleh pengamat bahasa. 4. Dalam peristiwa penciptaan kata {{u|pirsawan}} di samping penonton untuk menyapa orang menyaksikan acara televisi ada kecenderungan dari para petugas dan penyiar televisi (profesi pemberitaan liwat tv) “untuk tidak menggunakan kata {{u|penonton}}. Tetapi memmilih dan menciptakan satu kata dan bentuk sapaan sendiri untuk profesi itu ialah bentuk {{u|pirsawan}} bukan istilah, tetapi bentuk profesi. Jadi jelas disini bahwa penciptaan ini bukan didasarkan pada perbedaan struktur masyarakat feodal dsb , tetapi hanya pada profesi saja, lain tidak. Mereka pun dapat menggunakan kata penonton, tetapi kata ini harus mendapatkan tafsiran sesuai dengan maksud dan tujuan pembicaraan liwat televisi. Jadi apa salahnya kalau diciptatan satu kata dan bentuk untuk dan dalam profesi ini? Pada kesempatan ini saya tidak ingin mempersoalkan proses dan pembentukan kata {{u|pirsawan}} itu. Itu masalah ahli bahasa. Nyatanya kata {{u|pirsawan}} telah diterima umum untuk profesi tertentu, yakni untuk menyapa siapa saja yang menyaksikan siaran dan pemberitaan televi. 5. Dalam hubungan ini ingin kami tunjukkkan pula bahwa sekarang ini masing-masing profoesi sedang mencari bentuk dan bahasa profesi sendiri. Peristiwa ini akan banyak memperkaya bahasa Indonesia dan mungkin muncul banyak penggalian-penggalian khasanah bahasa yang tua-tua dan atau yang berasal dari daerah. Yang dapat kami catat sekarang ini dalam penciptaan bahasa profesi ialah: (1) Ada bentuk-bentuk bahasa umum yang dipergunakan pula dalam bahasa profesi tertentu. Contoh akan sangat banyak. Kiranya tulisan ini sudah mengarahian. (2) Ada penciptaan bentuk bahasa baru untuk profesi tertentu, walaupun ada bentuk umum di sampingnya. (3) Ada pula ko-<noinclude></noinclude> 2v2qdvhcip23htvboegxddhw4seisal 291278 291277 2026-05-10T15:55:31Z Suga Widi 25678 /* Telah diuji baca */ 291278 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" />{{rh|55}}</noinclude>lain dapat diberikan pula oleh pengamat bahasa. 4. Dalam peristiwa penciptaan kata {{u|pirsawan}} di samping penonton untuk menyapa orang menyaksikan acara televisi ada kecenderungan dari para petugas dan penyiar televisi (profesi pemberitaan liwat tv) “untuk tidak menggunakan kata {{u|penonton}}. Tetapi memmilih dan menciptakan satu kata dan bentuk sapaan sendiri untuk profesi itu ialah bentuk {{u|pirsawan}} bukan istilah, tetapi bentuk profesi. Jadi jelas disini bahwa penciptaan ini bukan didasarkan pada perbedaan struktur masyarakat feodal dsb , tetapi hanya pada profesi saja, lain tidak. Mereka pun dapat menggunakan kata penonton, tetapi kata ini harus mendapatkan tafsiran sesuai dengan maksud dan tujuan pembicaraan liwat televisi. Jadi apa salahnya kalau diciptatan satu kata dan bentuk untuk dan dalam profesi ini? Pada kesempatan ini saya tidak ingin mempersoalkan proses dan pembentukan kata {{u|pirsawan}} itu. Itu masalah ahli bahasa. Nyatanya kata {{u|pirsawan}} telah diterima umum untuk profesi tertentu, yakni untuk menyapa siapa saja yang menyaksikan siaran dan pemberitaan televi. 5. Dalam hubungan ini ingin kami tunjukkkan pula bahwa sekarang ini masing-masing profoesi sedang mencari bentuk dan bahasa profesi sendiri. Peristiwa ini akan banyak memperkaya bahasa Indonesia dan mungkin muncul banyak penggalian-penggalian khasanah bahasa yang tua-tua dan atau yang berasal dari daerah. Yang dapat kami catat sekarang ini dalam penciptaan bahasa profesi ialah: (1) Ada bentuk-bentuk bahasa umum yang dipergunakan pula dalam bahasa profesi tertentu. Contoh akan sangat banyak. Kiranya tulisan ini sudah mengarahian. (2) Ada penciptaan bentuk bahasa baru untuk profesi tertentu, walaupun ada bentuk umum di sampingnya. (3) Ada pula ko-<noinclude></noinclude> 6j6j1qx4obbg2cx67o2m3oa9bb6elkg 291279 291278 2026-05-10T15:56:02Z Suga Widi 25678 291279 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" />{{rh|55}}</noinclude>lain dapat diberikan pula oleh pengamat bahasa. 4. Dalam peristiwa penciptaan kata {{u|pirsawan}} di samping penonton untuk menyapa orang menyaksikan acara televisi ada kecenderungan dari para petugas dan penyiar televisi (profesi pemberitaan liwat tv) untuk tidak menggunakan kata {{u|penonton}}. Tetapi memmilih dan menciptakan satu kata dan bentuk sapaan sendiri untuk profesi itu ialah bentuk {{u|pirsawan}} bukan istilah, tetapi bentuk profesi. Jadi jelas disini bahwa penciptaan ini bukan didasarkan pada perbedaan struktur masyarakat feodal dsb , tetapi hanya pada profesi saja, lain tidak. Mereka pun dapat menggunakan kata penonton, tetapi kata ini harus mendapatkan tafsiran sesuai dengan maksud dan tujuan pembicaraan liwat televisi. Jadi apa salahnya kalau diciptatan satu kata dan bentuk untuk dan dalam profesi ini? Pada kesempatan ini saya tidak ingin mempersoalkan proses dan pembentukan kata {{u|pirsawan}} itu. Itu masalah ahli bahasa. Nyatanya kata {{u|pirsawan}} telah diterima umum untuk profesi tertentu, yakni untuk menyapa siapa saja yang menyaksikan siaran dan pemberitaan televi. 5. Dalam hubungan ini ingin kami tunjukkkan pula bahwa sekarang ini masing-masing profoesi sedang mencari bentuk dan bahasa profesi sendiri. Peristiwa ini akan banyak memperkaya bahasa Indonesia dan mungkin muncul banyak penggalian-penggalian khasanah bahasa yang tua-tua dan atau yang berasal dari daerah. Yang dapat kami catat sekarang ini dalam penciptaan bahasa profesi ialah: (1) Ada bentuk-bentuk bahasa umum yang dipergunakan pula dalam bahasa profesi tertentu. Contoh akan sangat banyak. Kiranya tulisan ini sudah mengarahian. (2) Ada penciptaan bentuk bahasa baru untuk profesi tertentu, walaupun ada bentuk umum di sampingnya. (3) Ada pula ko-<noinclude></noinclude> ey3z7e2u5b8ivd4m0kjd4gg1q8y42yg 291723 291279 2026-05-11T06:05:58Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291723 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|55}}</noinclude>lain dapat diberikan pula oleh pengamat bahasa. 4. Dalam peristiwa penciptaan kata {{u|pirsawan}} di samping {{u|penonton}} untuk menyapa orang menyaksikan acara televisi ada kecenderungan dari para petugas dan penyiar televisi (profesi pemberitaan liwat tv) untuk tidak menggunakan kata {{u|penonton}}. Tetapi memmilih dan menciptakan satu kata dan bentuk sapaan sendiri untuk profesi itu ialah bentuk {{u|pirsawan}} bukan istilah, tetapi bentuk profesi. Jadi jelas disini bahwa penciptaan ini bukan didasarkan pada perbedaan struktur masyarakat feodal dsb , tetapi hanya pada profesi saja, lain tidak. Mereka pun dapat menggunakan kata penonton, tetapi kata ini harus mendapatkan tafsiran sesuai dengan maksud dan tujuan pembicaraan liwat televisi. Jadi apa salahnya kalau diciptatan satu kata dan bentuk untuk dan dalam profesi ini? Pada kesempatan ini saya tidak ingin mempersoalkan proses dan pembentukan kata {{u|pirsawan}} itu. Itu masalah ahli bahasa. Nyatanya kata {{u|pirsawan}} telah diterima umum untuk profesi tertentu, yakni untuk menyapa siapa saja yang menyaksikan siaran dan pemberitaan televi. 5. Dalam hubungan ini ingin kami tunjukkkan pula bahwa sekarang ini masing-masing profoesi sedang mencari bentuk dan bahasa profesi sendiri. Peristiwa ini akan banyak memperkaya bahasa Indonesia dan mungkin muncul banyak penggalian-penggalian khasanah bahasa yang tua-tua dan atau yang berasal dari daerah. Yang dapat kami catat sekarang ini dalam penciptaan bahasa profesi ialah: (1) Ada bentuk-bentuk bahasa umum yang dipergunakan pula dalam bahasa profesi tertentu. Contoh akan sangat banyak. Kiranya tulisan ini sudah mengarahian. (2) Ada penciptaan bentuk bahasa baru untuk profesi tertentu, walaupun ada bentuk umum di sampingnya. (3) Ada pula ko-<noinclude></noinclude> diutx60fs46f75l2hhgmkjzxlxx9eo2 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/359 104 103483 291257 2026-05-10T15:34:52Z Arulbe 24016 /* Telah diuji baca */ 291257 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Arulbe" /></noinclude>{{u|Catatan terhadap}}: CERAMAH SATYAGRAHA HOERIP Anton J. Lake Saudara Satyagraha Hoerip tak asing lagi bagi orang <illegible>ang bergerak dalam mas<illegible>arakat pers dan sastra. Didalam ceramahnya, di Taman Ismail Marzuki, dia telah menyampaikan suatu analisa masalah sastra yang memuat peristiwa Gestapu dalam cerpen Indonesia. Sungguh menarik masalah yang dibawakan, karena justru hal ini masih hangat dalam ingatan kita. Mungkin juga hal ini masih sempat disaksikan oleh pembaca cerpen yang juga turut menyampaikan pendapatnya dalam ceramah tersebut. Kita dalam beberapa tahun yang lampau ikut menyaksikan sikap pro dan kontra dalam peristiwa Gestapu waktu itu. Namun demikian, masalah yang ingin dibawakan sekarang adalah suatu analisa sastra untuk menyoroti situasi semacam ini dalam cerpen Indonesia. Tambahan lagi, tema dan tokoh-tokoh yang di tampilkan itu merupakan suatu tokoh yang imajinatif sifatnya. Tentu saja kita bertitik tolak dari imajinasi yang kreatif. Dari sekian ratus cerpen yang tersebar, diturunkannya 12 pengarang cerpen yang menurut tanggapan saudara Satyagraha Hoerip dapat memenuhi syarat sastra yang bersifat kwalitatif. Tema dan sikap yang dibawakan oleh para penulis dikupas dan disoroti secara teliti dan diberikan koreksi dengan pendapat sang pembicara. Tokoh-tokoh itu dihidupkan dalam peranannya masing-masing. Dengan demikian kita dibawakan kepada suatu renungan mengenai apa dan situasi mana yang dilukiskan oleh sipengarang, pada situasi masa Gestapu. Sebagai salah seorang pendengar, kami sangat tertarik akan sikap saudara Satyagraha Hoerip yang dengan hati-hati menjelaskan arti dan makna {{u|otentik}} dalam kerya seorang pengarang yang baik. Unsur kejujuran sangat penting dalam dunia pengarang karena bidang penggarapannya adalah nilai-nilai kemanusiaan yang rumit. Kepekaan untuk merekam dan merefleksikannya kembali dalam ciptaannya sangat menentukan. Sangat dibutuhkan sikap yang matang<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude> mbuplhvlefr05ftknvigbrx2x7kii39 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/503 104 103484 291264 2026-05-10T15:40:23Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'itu harus diingat pula bahwa ada juga hikayat yang bersifat wirac— rita, misalnya: Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Mohammad Ibnu Hanafiah yang mengandung unsur-unsur magis. Barang siapa yang membaca kitab jitu akan mendatangkan pahala atau keberanian. Atau Hikayat Aceh bia- sSanya dibaca bagian yang berisi tontang perang sabil, untuk menambah keberanian dalam peperangan. Demikian juga Babad Tanah Jawi masih mempunyai nilaj-nilai ramalan poste... 291264 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude>itu harus diingat pula bahwa ada juga hikayat yang bersifat wirac— rita, misalnya: Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Mohammad Ibnu Hanafiah yang mengandung unsur-unsur magis. Barang siapa yang membaca kitab jitu akan mendatangkan pahala atau keberanian. Atau Hikayat Aceh bia- sSanya dibaca bagian yang berisi tontang perang sabil, untuk menambah keberanian dalam peperangan. Demikian juga Babad Tanah Jawi masih mempunyai nilaj-nilai ramalan posteventums yang masih dipercayai Oleh sebagian besar masarakat Jawa hingga sekarang. Bebarapa ciri-ciri khasi viri-ciri Khas kami jumpai dalam Babad Tanah Jawi dan pada bc- berapa hikayat, yang mengandung motif-motif yang sama atau hampir Sama. Misalnya tentang asal usul yang ajaib, kelahiran yang tidak wajar, motif mimpi menerima ilham (wangsit) tentang tanda-tanda ke- rajaan. Misalnya dalam Babad Tanah J ai 41 3 395 Ing wanci tfngah dalu ki Ag8ng Butuh m@dal saking griyanipun kaget ningali pulung kraton, cumlorot saking ler kilen, dawuh wont@n pangg@nanipun tilem raden Jaka wau. 423 MW Pulung kraton ing D6Emak wis ngalih mring sira. 36 3 19 Ki Jaka Tingkir matur blaka: "Kala kula ing dalu sarta sup€na katiban r@mbulan. 163 2 Tol&6 kfndat tangiya. Kang mencorong kaya rembulan ana ing ulun-ulunmu iku apa? 260 3 6 Kacariyos palananganipun sang nata ngad&g, sarta wontfn cahayanipun mancorong amung samrica, wontEn ing sapucuking kalam nanging mbot8n wontin ingkang -unginga namung Pangeran Puger Enggal n8cep tuahya, kang wontin sapucuking kalam. Sarfng cahya sampun kac&cep, kalam mantun ngad&ge. 6 Motif-motif yang sorupa dengan itu kami menjumpainya juga da- lam T.N. dan S.M.B. Misalnya dalam T.N. 10-11 3 28, yaitu tentang lahirnya Raja Kecil yang tidak wajar. Dalam hal ini Raja Ali Haji mempergunakan dua sumber, yaitu dari pihak Siak dan sumber pihak Trengganau. Menurut sumber dari pihak Siak, ketika Sultan Mahmud mangkat dzakarnya menjadi tegak, sehingga menimbulkan koheranan bagi yang hadir. Lalu salah seorang menterinya menerangkan bahwa sebelum Pa Bahs. Kesusast., V(2), 1973<noinclude></noinclude> 6y9otv2biel77qvtb83z1ur1pmt0g03 291291 291264 2026-05-10T16:20:23Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291291 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude>itu harus diingat pula bahwa ada juga hikayat yang bersifat wiracrita, misalnya: Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Mohammad Ibnu Hanafiah yang mengandung unsur-unsur magis. Barang siapa yang membaca kitab itu akan mendatangkan pahala atau keberanian. Atau Hikayat Aceh biasanya dibaca bagian yang berisi tentang perang sabil, untuk menambah keberanian dalam peperangan. Demikian juga Babad Tanah Jawi masih mempunyai nilai-nilai ramalan posteventum; yang masih dipercayai oleh sebagian besar masarakat Jawa hingga sekarang. '''<u>Bebarapa ciri-ciri khas:</u>''' Ciri-ciri Khas kami jumpai dalam Babad Tanah Jawi dan pada beberapa hikayat, yang mengandung motif-motif yang sama atau hampir sama. Misalnya tentang asal usul yang ajaib, kelahiran yang tidak wajar, motif mimpi menerima ilham (wangsit) tentang tanda-tanda kerajaan. Misalnya dalam Babad Tanah Jawi<sup>5)</sup> {| |- |41||;||35 ||Ing wanci tengah dalu ki Ageng Butuh medal saking griyanipun kagèt ningali pulung kraton, cumlorot saking lèr kilèn, dawuh wontèn panggénanipun tilem radèn Jaka wau. |- |42||;||41 || Pulung kraton ing Dèmak wis ngalih mring sira. |- |36 ||;||19|| Ki Jaka Tingkir matur blaka: "Kala kula ing dalu sarta supèna katiban rèmbulan. |- |76||;||2|| Tolé kèndat tangiya. Kang mèncorong kaya rèmbulan ana ing ulun-ulunmu iku apa? |- |260||;||6|| Kacariyos palananganipun sang nata ngadêg, sarta wontên cahayanipun mèncorong amung samrica, wontên ing sapucuking kalam nanging mbotên wontên ingkang unginga namung Pangéran Pugér énggal n8cep tuahya, kang wontin sapucuking kalam. Sarfng cahya sampun kacêcep, kalam mantun ngadêg.<sup>6)</sup> Motif-motif yang serupa dengan itu kami menjumpainya juga dalam T.N. dan S.M.B. Misalnya dalam T.N. 10-11 ; 28, yaitu tentang lahirnya Raja Kecil yang tidak wajar. Dalam hal ini Raja Ali Haji mempergunakan dua sumber, yaitu dari pihak Siak dan sumber pihak Trengganau. Menurut sumber dari pihak Siak, ketika Sultan Mahmud mangkat dzakarnya menjadi tegak, sehingga menimbulkan keheranan bagi yang hadir. Lalu salah seorang menterinya menerangkan bahwa sebelum {{Right sidenote|Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}<noinclude>{{rh|21}}</noinclude> oznt533k3kn6xtd652rdj4xshuwvewn 291761 291291 2026-05-11T06:23:46Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291761 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>itu harus diingat pula bahwa ada juga hikayat yang bersifat wiracrita, misalnya: Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Mohammad Ibnu Hanafiah yang mengandung unsur-unsur magis. Barang siapa yang membaca kitab itu akan mendatangkan pahala atau keberanian. Atau Hikayat Aceh biasanya dibaca bagian yang berisi tentang perang sabil, untuk menambah keberanian dalam peperangan. Demikian juga Babad Tanah Jawi masih mempunyai nilai-nilai ramalan posteventum; yang masih dipercayai oleh sebagian besar masarakat Jawa hingga sekarang. '''<u>Bebarapa ciri-ciri khas:</u>''' Ciri-ciri Khas kami jumpai dalam Babad Tanah Jawi dan pada beberapa hikayat, yang mengandung motif-motif yang sama atau hampir sama. Misalnya tentang asal usul yang ajaib, kelahiran yang tidak wajar, motif mimpi menerima ilham (wangsit) tentang tanda-tanda kerajaan. Misalnya dalam Babad Tanah Jawi<sup>5)</sup> {| |- |41||;||35 ||Ing wanci tengah dalu ki Ageng Butuh medal saking griyanipun kagèt ningali pulung kraton, cumlorot saking lèr kilèn, dawuh wontèn panggénanipun tilem radèn Jaka wau. |- |42||;||41 || Pulung kraton ing Dèmak wis ngalih mring sira. |- |36 ||;||19|| Ki Jaka Tingkir matur blaka: "Kala kula ing dalu sarta supèna katiban rèmbulan. |- |76||;||2|| Tolé kèndat tangiya. Kang mèncorong kaya rèmbulan ana ing ulun-ulunmu iku apa? |- |260||;||6|| Kacariyos palananganipun sang nata ngadêg, sarta wontên cahayanipun mèncorong amung samrica, wontên ing sapucuking kalam nanging mbotên wontên ingkang unginga namung Pangéran Pugér énggal n8cep tuahya, kang wontin sapucuking kalam. Sarfng cahya sampun kacêcep, kalam mantun ngadêg.<sup>6)</sup> Motif-motif yang serupa dengan itu kami menjumpainya juga dalam T.N. dan S.M.B. Misalnya dalam T.N. 10-11 ; 28, yaitu tentang lahirnya Raja Kecil yang tidak wajar. Dalam hal ini Raja Ali Haji mempergunakan dua sumber, yaitu dari pihak Siak dan sumber pihak Trengganau. Menurut sumber dari pihak Siak, ketika Sultan Mahmud mangkat dzakarnya menjadi tegak, sehingga menimbulkan keheranan bagi yang hadir. Lalu salah seorang menterinya menerangkan bahwa sebelum {{Right sidenote|Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}<noinclude>{{rh|21}}</noinclude> q81d5wgtbldhp4jnekrxpd0vkug0vml Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/361 104 103485 291269 2026-05-10T15:46:38Z Arulbe 24016 /* Telah diuji baca */ 291269 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Arulbe" /></noinclude>sastra adalah masalah yang menyangkut hidup manusia itu sendiri yang sepanjang hidupnya penuh dengan konflik-konflik yang membutuhkan jawaban. Dengan tidak mengurangi usaha dan kemauan baik pembicara untuk menampilkan sebanyak mungkin masalah manusia yang dihadapi, kiranya perlu pula diperhatikan sikap hidup bangsa yang dinamis. Kita memiliki tradisi-tradisi, akan tetapi memang pada satu saat jika ternyata sudah tak mempan lagi untuk menampung idea yang kita hayati, terpaksa kita mengadakan pendekatan yang baru. Kita sadari pula tentu ada nilai-nilai sampingan, atau sekurang-kurangnya sebagai bahan bantuan misalnya masalah sosiologi, antropologi, psikologi. Semuanya ini harus kita susun kembali secara integral dan harmonis. Kalau ada aksentuasi dalam pengajuan wawasan itu baik, sejauh tidak merusak efek puitis. Mengenai imajinasi yang kreatif harus selalu dilihat dari sudut kreatif, karena hanya dengan menggunakan usaha ini akan merangsang kita untuk melihat kreasi-kreasi baru. Dengan memahami situasi ini kiranya dapat kita terima segala tema Gestapu dalam cerpen Indonesia. Dengan catatan kecil ini mudah-mudahan dapat mendorong kita untuk lebih berani lagi menggarap masalah kemanusiaan yang kita jumpai dalam masyarakat kita guna memurnikan karya sastra itu sendiri. Karena kita sadari bahwa karya sastra itu merupakan suatu rekaman pengalaman hidup manusia pada satu saat yang perlu dikenang dan diambil hikmah dan manfaat sebesar-besarnya. Konflik-konflik yang tragis ini akan terus berlangsung selama manusia ada, karena ia adalah sumber dinamika dari lahirnya ciptaan. Ia adalah pencipta kedua.<noinclude>{{rh|BAHASA DAN KESUSASTRAAN, No. 1, Th. V, 1972}} {{rh|||47}}</noinclude> 93bqnk6mchwh8pb2yutb7s7ycipz5q2 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/139 104 103486 291272 2026-05-10T15:51:14Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291272 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||11}}</noinclude>Dalam buku jilid II hal{{...|3}} pengarang yang sangat terkenal itu menyebutkan {{u|"pembagian 10 jeniskata menurut Aristoteles"}} serta usul-usulnya tentang pembagian jeniskata dalam BJ. Penyebutan "pembagian 10 jeniskata menurut Aristoteles" ini diulang-ulang dalam setiap palajaran - dan tentu saja, ujian - Bahasa Indonesia dan juga dalam kebanyakan buku tatabahasa yang terbit di Indonesia -- yang terakhir sekali oleh ahli bahasa yang terkenal juga R.D.S.Hadiwidjana dalam bukunya {{u|Tata-Sastra}} (1967, hal. 26), sebuah buku tatabahasa Bahasa Jawa. Dengan mempelajari teori-teori tatabahasa Aristoteles serta sarjana-sarjana Yunani kuno seperti yang akan kami uraikan dibawah akan nyata, bahwa penyebutan "pembagian 10 jeniskata menurut aristoteles" samasekali {{u|tidak tepat.}} Ciri lain dari buku-buku tatabahasa yang ada ialah pembicaraan yang sangat spekulatif dalam memecahkan soal-soal tatabahasa. Buku {{u|Tatabahasa Indonesia}} karangan I.R. Pudjawijatna dan Prof. Dr Zoetmulder dibandingkan dengan buku-buku tatabahasa lain boleh dianggap modern, tetapi tak lepas juga dari kemlesetan-kemlesetan. Dalam buku jilid I hal. 102 para pengarangnya menyatakan, bahwa "{{...|5}} bukan bentuklah jang menentukan masuk:jenis apa kata-kata Indonesia, melainkan artinja, sehingga mereka pada hal.103 mengatakan, bahwa "{{u|katasebut kongkrit}}" adalah"{{...|5}} katasebut jang menjatakan sesuatu hal jang sungguh-sungguh ada, djadi menjebutkan orang, binatang, barang atau bunda{{...|5}}"; sedang {{u|katasebut abstrak}} adalah "{{...|7}}katasebut biasa. Halnja sebetulnja tidak ada, adanja hanja pada pikiran sadja, menjatakan sifat, keadaan, perhubungan." Menghubung-hubungkan unsur-unsur tatabahasa dengan kenyataan-kenyataan diluar bahasa sesungguhnya sia-sia saja; pelajaran tatabahasa sudah tentu bukan tempat kita berdebat, apakah suatu benda itu ada atau tidak ada. Tetapi kesalahan yang dibuat kebanyakan ahli bahasa adalah menerapkan kategori dan definisi bahasa lain, terutama Bahasa Latin, kedalam Bahasa Indonesia. 2. Teori Aristoteles tentang jeniskata terberat Aristoteles (384-322/21 seb. M) dalam bukunya Rhetorika bab 3 pasal 2 membagi kata-kata dalam Bahasa Yunani atas 3 jenis, yakni katabenda (yang disebutnya "{{u|onomata}}"), katakerja (yang disebutnya "{{u|remata}}") dan konjungsi (yang disebutnya "{{u|sundesmoi}}"). Menurut filsuf itu, katakerja dan katabenda merupakan jeniskata yang sungguh-sungguh, karena mempunyai arti yang bebas.<noinclude></noinclude> 7kzphxpxku4nnfta79hmcybc3exgtac Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/143 104 103487 291275 2026-05-10T15:53:46Z Upiak Ituih 27011 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Dengan makin mendalamnya dan makin meluasnya pengetahuan manusia tentang alam sekelilingnya, makin sukar baginya untuk menguasai seluruh pengetahuan itu, sehingga pembagian tugas diantara manusia tidak dapat dihindari dan sebagai salah satu konsekwensinya adalah penggolongan atau pencaba- ngan dalam ilmupengetahuan. Maka jadilah ilmubahasa atau lingguistik ilmu yang otonom. Tak perlu dibantah, bahwa banyak ilmu lain yang tertarik dan mena- ruh m... 291275 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" />{{rh||15}}</noinclude>Dengan makin mendalamnya dan makin meluasnya pengetahuan manusia tentang alam sekelilingnya, makin sukar baginya untuk menguasai seluruh pengetahuan itu, sehingga pembagian tugas diantara manusia tidak dapat dihindari dan sebagai salah satu konsekwensinya adalah penggolongan atau pencaba- ngan dalam ilmupengetahuan. Maka jadilah ilmubahasa atau lingguistik ilmu yang otonom. Tak perlu dibantah, bahwa banyak ilmu lain yang tertarik dan mena- ruh minat kepada bahasa, tetapi satu-satunya ilmu yang menempatkan bahasa sebagai fenomen alam yang khas dalam pusat perhatiannya adalah lingguis- tik. Lingguistik yang menganggap bahasa sebagai semacam organisasi dan bukan hanya kumpulan unsur-unsur yang lepas satu sama lain telah. meletakan dasar-dasar bagi penyelidikan bahasa. Sebagai ilmu empiris ia hanya memperhatikan apa-apa yang dapat ditangkap oleh indria kita, ia hanya menyelidiki apa-apa yang benar-benar diucapkan pemakai bahasa; pe- ristiwa yang ada dalam pikiran sipemakai banasa tidak diselidikinya. (dengan demikian lingguistik membedakan dirinya dari psikologi). Jika lingguistik menyelidiki bahan tertulis, maka banan tertulis itu dianggap- nya tak lebih daripada gambaran dari ucapan. Seorang linggu dan menguraikan bahasa sebagai apa yang diucapkan pemakai bahasa dan bu- kannya apa yang menurut silingguis seharusnya diucapkan. Seorang akan menghubungkan struktur bahasa (antarhubungan diantara semua unsur- unsur bahasa) dengan peristiwa-peristiwa diluar bahasa, hanya jika ia telah dapat memperoleh ganbafan yang positif tentang struktur bahasa itu; dengan demikian akan dihindarinya uraian-uzaian spekulatif mengenai hu- bungan antara kategori-kategori bahasa dengan alam diluar bahasa. Seorang lingguie misalnya akan menghindari pertanyaan mengapa kata "matahari" dalam Bahasa Arab ber-genus betina, sedang dalam Bahasa Spanyol ber-genus jantan; akan sia-sia juga ia mencari jawaban mengapa kata gang (yang diambil dari Bahasa Inggris) dalam Bahasa Prancis Kanada ber-genus jantan (le gang), sedang dalam Bahasa Prancis dinegeri Prancis ber-genus betina (la gang); hal ini karena kategori gramatikal genus sanasekali tak ada hubungannya dengan "sex". Disamping itu untuk memudahkan cara bekerja lingguistik menetapkan beberapa tahap analisa; apa yang kita sebut tatabanasa merupakan salah satu tahap analisa itu disamping fonologi dan semantik. Penetapan jenis- kata akan memudahkan kita untuk mendalami aspek-aspek lain dari tate- bahasa, tetapi untuk menetapkan penggolongan jeniskata perlu diikuti prosedur-prosedur tertentu. Digitized by Google<noinclude></noinclude> 51v216rjeb7cxto0g6jctiwmhnf9cxm 291298 291275 2026-05-10T16:30:40Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291298 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||15}}</noinclude>Dengan makin mendalamnya dan makin meluasnya pengetahuan manusia tentang alam sekelilingnya, makin sukar baginya untuk menguasai seluruh pengetahuan itu, sehingga pembagian tugas diantara manusia tidak dapat dihindari dan sebagai salah satu konsekwensinya adalah penggolongan atau pencabangan dalam ilmupengetahuan. Maka jadilah ilmubahasa atau lingguistik ilmu yang otonom. Tak perlu dibantah, bahwa banyak ilmu lain yang tertarik dan menaruh minat kepada bahasa, tetapi satu-satunya ilmu yang menempatkan bahasa sebagai fenomen alam yang khas dalam pusat perhatiannya adalah lingguistik. Lingguistik yang menganggap bahasa sebagai semacam organisasi dan bukan hanya kumpulan unsur-unsur yang lepas satu sama lain telah --- meletakan dasar-dasar bagi penyelidikan bahasa. Sebagai ilmu empiris ia hanya memperhatikan apa-apa yang dapat ditangkap oleh indria kita, ia hanya menyelidiki apa-apa yang benar-benar diucapkan pemakai bahasa; peristiwa yang ada dalam pikiran sipemakai banasa tidak diselidikinya (dengan demikian lingguistik membedakan dirinya dari psikologi). Jika lingguistik menyelidiki bahan tertulis, maka bahan tertulis itu dianggapnya tak lebih daripada gambaran dari ucapan. Seorang lingguistik {{illegible}}dan menguraikan bahasa sebagai apa yang diucapkan pemakai bahasa dan bukannya apa yang menurut silingguis seharusnya diucapkan. Seorang akan menghubungkan struktur bahasa (- antarhubungan diantara semua unsur-unsur bahasa) dengan peristiwa-peristiwa diluar bahasa, hanya jika ia telah dapat memperoleh ganbafan yang positif tentang struktur bahasa itu; dengan demikian akan dihindarinya uraian-uraian spekulatif mengenai hubungan antara kategori-kategori bahasa dengan alam diluar bahasa. Seorang lingguis misalnya akan menghindari pertanyaan mengapa kata "matahari" dalam Bahasa Arab ber-genus betina, sedang dalam Bahasa Spanyol ber-genus jantan; akan sia-sia juga ia mencari jawaban mengapa kata {{u|gang}} (yang diambil dari Bahasa Inggris) dalam Bahasa Prancis Kanada ber-genus jantan ({{u|le gang}}), sedang dalam Bahasa Prancis dinegeri Prancis ber-genus betina ({{u|la gang}}); hal ini karena kategori gramatikal genus samasekali tak ada hubungannya dengan "sex". Disamping itu untuk memudahkan cara bekerja lingguistik menetapkan beberapa tahap analisa; apa yang kita sebut tatabahasa merupakan salah satu tahap analisa itu disamping fonologi dan semantik. Penetapan jenis kata akan memudahkan kita untuk mendalami aspek-aspek lain dari tata-bahasa, tetapi untuk menetapkan penggolongan jeniskata perlu diikuti prosedur-prosedur tertentu.<noinclude></noinclude> b5buihwsvcxmx6u8k5ro4yvdxag5z1u Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/505 104 103488 291281 2026-05-10T16:00:37Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Menurut Prof.Hoescin Djajadiningrat dan H.J.do Graaf, bahwa pcenulis- an Babad Tanah Jawi yang terakhir dilakukan oleh tarik Bajra, abdi dalam Paku Buwono I (1703-1719) dan mungkin juga oleh penulis yang sama, pada pemerintahan Paku Buwono III (1749-1788). Pendapat ini dapat kami perkuat, ae el telah mendapatkan nama Cari Bajra dalam Babad Tanah Jawi , 314 3 16 Anunttn ki patih kaliyan ki tuminggung kartanagara tampi sCrat saking Sang P... 291281 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>Menurut Prof.Hoescin Djajadiningrat dan H.J.do Graaf, bahwa pcenulis- an Babad Tanah Jawi yang terakhir dilakukan oleh tarik Bajra, abdi dalam Paku Buwono I (1703-1719) dan mungkin juga oleh penulis yang sama, pada pemerintahan Paku Buwono III (1749-1788). Pendapat ini dapat kami perkuat, ae el telah mendapatkan nama Cari Bajra dalam Babad Tanah Jawi , 314 3 16 Anunttn ki patih kaliyan ki tuminggung kartanagara tampi sCrat saking Sang Prabu mundut carikipun ki tuminggung kartanagara kang nama Sura Tama, bad& ka abdeak@n, sebab kang nata r@m£fn ningali ing sc- seratanipun. 314 3 40 Ki Sura Tama sampun ka aturak@n ing sang prabu, ka- jGng ka abdeakEn, kadadosakfn lurah carik, kapa- ringan nama jarik Bajra. Babad atau hikayat itu tornyata makin lama makin panjang, te- tapi juga oleh karena adanya pergaulan antara bangsa-bangsa, maka berbagai mythe dan legende bangsa lainpun seringkali diterima be- Situ saja, atau diolah kemudian dimasukkan ke mythologi bangsa sabda Tetapi bagaimanapun juga, hikayat dan babad mempunyai kese- ragaman karakteristik3 baik tentang unsur-unsur asli (Melayu-Poly- nesia) maupun unsur-unsur pengaruh kebudayaan yang datang dari luar (Hinduistis atau Islamistis), hingga dapat ditandai dalam kategori historiografi Indonesia. Dan historiografi Indonesia sebagai salah satu aspek kebudayaan Indonesia, mencerminkan dengan jelas unsur— unsur kebudayaan lain yang telah datang ke Indonesia. Fungsi 'Hika at atau Rabad dipandang dari segi filologi, Ilmu bahasa pada abad XIX terutama bersifat historis-kompa- ratif, yaitu sejarah dan perbandingan bahasa. Ilmu bahasa sekarang bercorak lain, karena para sarjana pada abad XX ini selalu mengupas: "Apakah peranan bahasa dalam kebudayaan, masarakat dan sebagainya". Tentu saja pertanyaan demikian tidak bisa dijawab hanya dengan mem pelajari bahasa-bahasa kuna yang sudah mati saja. Hanya dapat dija- wab dengan memperhatikan bahasa-bahasa yang dipergunakan oleh masa- rakat. Bahs. Kesusast., V(2), 1973 23<noinclude></noinclude> j80cy2436f2g19uir5htc4fxbap1w2j 291310 291281 2026-05-10T16:46:50Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291310 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>Menurut Prof. Hoesein Djajadiningrat dan H.J. de Graaf, bahwa penulisan Babad Tanah Jawi yang terakhir dilakukan oleh Carik Bajra, abdi dalem Paku Buwono I (1703–1719) dan mungkin juga oleh penulis yang sama, pada pemerintahan Paku Buwono III (1749–1788). Pendapat ini dapat kami perkuat, karena kami telah mendapatkan nama Cari Bajra dalam Babad Tanah Jawi <sup>9)</sup><br> ::{{hanging indent|4em|314 ; 16 Anun tên ki patih kaliyan ki tumênggung Kartanagara tampi sêrat saking Sang Prabu mundut carikipun ki tumênggung kartanagara kang nama Sura Tama, badé ka abdèakên, sêbab kang nata rêmên ningali ing sêsêratanipun.}} ::{{Hanging indent|4em|314 ; 40 Ki Sura Tama sampun ka aturakên ing sang prabu, kajêng ka abdènkên, kadadosakên lurah carik, kaparingan nama Carik Bajra.}} Babad atau hikayat itu ternyata makin lama makin panjang, tetapi juga oleh karena adanya pergaulan antara bangsa-bangsa, maka berbagai mythe dan legenda bangsa lainpun seringkali diterima begitu saja, atau diolah kemudian dimasukkan ke mythologi bangsa sahdiri. <sup>10)</sup> Tetapi bagaimanapun juga, hikayat dan babad mempunyai keseragaman karakteristik; baik tentang unsur-unsur asli (Melayu-Polynesia) maupun unsur-unsur pengaruh kebudayaan yang datang dari luar (Hinduistis atau Islamistis), hingga dapat ditandai dalam kategori historiografi Indonesia. Dan historiografi Indonesia sebagai salah satu aspek kebudayaan Indonesia, mencerminkan dengan jelas unsur-unsur kebudayaan lain yang telah datang ke Indonesia. <u>Fungsi Hikayat atau Babad dipandang dari segi filologi.</u> Ilmu bahasa pada abad XIX terutama bersifat historis-komparatif, yaitu sejarah dan perbandingan bahasa. Ilmu bahasa sekarang bercorak lain, karena para sarjana pada abad XX ini selalu mengupas: "Apakah peranan bahasa dalam kebudayaan, masyarakat dan sebagainya". Tentu saja pertanyaan demikian tidak bisa dijawab hanya dengan mempelajari bahasa-bahasa kuno yang sudah mati saja. Hanya dapat dijawab dengan memperhatikan bahasa-bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat.<noinclude>{{rh|23||Bahs. Kesusat., V(2), 1973}}</noinclude> c0s6lkusv1y50b82l1kcroxv84t292p 291763 291310 2026-05-11T06:25:23Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291763 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Menurut Prof. Hoesein Djajadiningrat dan H.J. de Graaf, bahwa penulisan Babad Tanah Jawi yang terakhir dilakukan oleh Carik Bajra, abdi dalem Paku Buwono I (1703–1719) dan mungkin juga oleh penulis yang sama, pada pemerintahan Paku Buwono III (1749–1788). Pendapat ini dapat kami perkuat, karena kami telah mendapatkan nama Cari Bajra dalam Babad Tanah Jawi <sup>9)</sup><br> ::{{hanging indent|4em|314 ; 16 Anun tên ki patih kaliyan ki tumênggung Kartanagara tampi sêrat saking Sang Prabu mundut carikipun ki tumênggung kartanagara kang nama Sura Tama, badé ka abdèakên, sêbab kang nata rêmên ningali ing sêsêratanipun.}} ::{{Hanging indent|4em|314 ; 40 Ki Sura Tama sampun ka aturakên ing sang prabu, kajêng ka abdènkên, kadadosakên lurah carik, kaparingan nama Carik Bajra.}} Babad atau hikayat itu ternyata makin lama makin panjang, tetapi juga oleh karena adanya pergaulan antara bangsa-bangsa, maka berbagai mythe dan legenda bangsa lainpun seringkali diterima begitu saja, atau diolah kemudian dimasukkan ke mythologi bangsa sahdiri. <sup>10)</sup> Tetapi bagaimanapun juga, hikayat dan babad mempunyai keseragaman karakteristik; baik tentang unsur-unsur asli (Melayu-Polynesia) maupun unsur-unsur pengaruh kebudayaan yang datang dari luar (Hinduistis atau Islamistis), hingga dapat ditandai dalam kategori historiografi Indonesia. Dan historiografi Indonesia sebagai salah satu aspek kebudayaan Indonesia, mencerminkan dengan jelas unsur-unsur kebudayaan lain yang telah datang ke Indonesia. <u>Fungsi Hikayat atau Babad dipandang dari segi filologi.</u> Ilmu bahasa pada abad XIX terutama bersifat historis-komparatif, yaitu sejarah dan perbandingan bahasa. Ilmu bahasa sekarang bercorak lain, karena para sarjana pada abad XX ini selalu mengupas: "Apakah peranan bahasa dalam kebudayaan, masyarakat dan sebagainya". Tentu saja pertanyaan demikian tidak bisa dijawab hanya dengan mempelajari bahasa-bahasa kuno yang sudah mati saja. Hanya dapat dijawab dengan memperhatikan bahasa-bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat.<noinclude>{{rh|23||Bahs. Kesusat., V(2), 1973}}</noinclude> 4pxdnw0fbqvk5uwzoxrc68uyjjgie8t 291868 291763 2026-05-11T08:54:53Z Moel81 25980 291868 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Menurut Prof. Hoesein Djajadiningrat dan H.J. de Graaf, bahwa penulisan Babad Tanah Jawi yang terakhir dilakukan oleh Carik Bajra, abdi dalem Paku Buwono I (1703–1719) dan mungkin juga oleh penulis yang sama, pada pemerintahan Paku Buwono III (1749–1788). Pendapat ini dapat kami perkuat, karena kami telah mendapatkan nama Cari Bajra dalam Babad Tanah Jawi <sup>9)</sup><br> ::{{hanging indent|4em|314 ; 16 Anun tên ki patih kaliyan ki tumênggung Kartanagara tampi sêrat saking Sang Prabu mundut carikipun ki tumênggung kartanagara kang nama Sura Tama, badé ka abdèakên, sêbab kang nata rêmên ningali ing sêsêratanipun.}} ::{{Hanging indent|4em|314 ; 40 Ki Sura Tama sampun ka aturakên ing sang prabu, kajêng ka abdènkên, kadadosakên lurah carik, kaparingan nama Carik Bajra.}} Babad atau hikayat itu ternyata makin lama makin panjang, tetapi juga oleh karena adanya pergaulan antara bangsa-bangsa, maka berbagai mythe dan legenda bangsa lainpun seringkali diterima begitu saja, atau diolah kemudian dimasukkan ke mythologi bangsa sahdiri. <sup>10)</sup> Tetapi bagaimanapun juga, hikayat dan babad mempunyai keseragaman karakteristik; baik tentang unsur-unsur asli (Melayu-Polynesia) maupun unsur-unsur pengaruh kebudayaan yang datang dari luar (Hinduistis atau Islamistis), hingga dapat ditandai dalam kategori historiografi Indonesia. Dan historiografi Indonesia sebagai salah satu aspek kebudayaan Indonesia, mencerminkan dengan jelas unsur-unsur kebudayaan lain yang telah datang ke Indonesia. <u>Fungsi Hikayat atau Babad dipandang dari segi filologi.</u> Ilmu bahasa pada abad XIX terutama bersifat historis-komparatif, yaitu sejarah dan perbandingan bahasa. Ilmu bahasa sekarang bercorak lain, karena para sarjana pada abad XX ini selalu mengupas: "Apakah peranan bahasa dalam kebudayaan, masyarakat dan sebagainya". Tentu saja pertanyaan demikian tidak bisa dijawab hanya dengan mempelajari bahasa-bahasa kuno yang sudah mati saja. Hanya dapat dijawab dengan memperhatikan bahasa-bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat.<noinclude>{{rh|23||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> 63xyrmaz4quk0mhlriejez6br0y8c29 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/506 104 103489 291282 2026-05-10T16:00:57Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Fungsi Hikayat Haka dari itu, sarjana sokarang banyak yang menaruh minat ke~ pada baha.a lisan, bahasa porgauian dan sebagainya. Dulu tidak di- pentingkan sokarang justru sangat diporhatikan. Jadi untuk monyeli- diki bahasa sebagai faktor kebudayaan, kita harus memulai dari baha- sa lisan. Ilmu bahasa sekarang lazim discbut "Linguistik". Dan ocrat hubungannya dengan Linguistik yaitu "Pilologi", yang menurut Prof, A.A. Fokkor dalam kuliah-kuliah... 291282 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>Fungsi Hikayat Haka dari itu, sarjana sokarang banyak yang menaruh minat ke~ pada baha.a lisan, bahasa porgauian dan sebagainya. Dulu tidak di- pentingkan sokarang justru sangat diporhatikan. Jadi untuk monyeli- diki bahasa sebagai faktor kebudayaan, kita harus memulai dari baha- sa lisan. Ilmu bahasa sekarang lazim discbut "Linguistik". Dan ocrat hubungannya dengan Linguistik yaitu "Pilologi", yang menurut Prof, A.A. Fokkor dalam kuliah-kuliah beliau sokitar tahun 1955-1956," memborikan batasan sobagai borikut: FILOLOGI, berasal dari kata-kata : philos = sahabat logos = bahasa, "Ahli filologi mempolajari bahasa bukan dengan maksud untuk mengetahui susunan-susunan atau hukum-hukumnya, molainkan untuk mongetahui karya sastra, hingga pelajaran bahasa ba- gi mereka hanya merupakan alat saja, bukan tujuan. Tujuan- nya yaitu kesusastraan dan kobudayaan yang bersangkutan. Jadi ahli filologi menelaah buah pikiran yang dinyatakan dengan salah satu bahasa. Sobalilmya ahli dalam linguistik bertanya: "bagaimanakah buah pikiran dinyatakan dengan suatu bahasa". Jadi bahasa bukan hanya sebagai alat saja, melainkan sebagai tujuan." “Berdasarkan batasan di atas, maka. ‘diantara linguistika dan filologi mongandung porsamaan dan perbedaan. Porsamaannya, yaitu sama-sama mempersoalkan bahasa. Bedanya, dalam hal meletakkan titik berat lapang penyclidikannya, jika linguistik momandangnya bahasa sobagai tujuan, maka filologi memandang hanya sebagai alat saja, untuk mengetahui latar belakang kebudayaan dan kesusastraan scsuatu bangsa. Jadi jelaslah bagi kita bahwa filologi lebih dckat hubung- annya kepada ilmu kebudayaan dan ilmu sejarah, jika dibandingkan dengan linguistik. “Setelah ilmu toknik momisahkan diri dari ilmu filsafat, yang diangsap scbagai ibu sobapa ilmu pengetahuan, maka ilmu tecknik mo- ngalami komajuan dan perkembangan luar biasa. Dan bangsa manakah pada abad ruang angkasa ini yang dapat monahan arus perkembangan ilmi 24<noinclude></noinclude> h8ejcq5h3de8co2r88k87vzvt2td0ii 291321 291282 2026-05-10T16:57:47Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291321 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|Fungsi Hikayat}}</noinclude>Maka dari itu, sarjana sekarang banyak yang menaruh minat kepada bahasa lisan, bahasa pergaulan dan sebagainya. Dulu tidak dipentingkan sekarang justru sangat diperhatikan. Jadi untuk menyelidiki bahasa sebagai faktor kebudayaan, kita harus memulai dari bahasa lisan. Ilmu bahasa sekarang lazim disebut "Linguistik". Dan erat hubungannya dengan Linguistik yaitu "Filologi", yang menurut Prof. A. A. Fokker dalam kuliah-kuliah beliau sekitar tahun 1955-1956, <sup>11)</sup> memberikan batasan sebagai berikut: ::{| | FILOLOGI, berasal dari kata-kata || : || philos || = sahabat |- | || : || logos || = bahasa |} {{Quote|"Ahli filologi mempelajari bahasa bukan dengan maksud untuk mengetahui susunan-susunan atau hukum-hukumnya, melainkan untuk mengetahui karya sastra, hingga pelajaran bahasa bagi mereka hanya merupakan alat saja, bukan tujuan. Tujuannya yaitu kesusastraan dan kebudayaan yang bersangkutan. Jadi ahli filologi menelaah buah pikiran yang dinyatakan dengan salah satu bahasa. Sebaliknya ahli dalam linguistik bertanya: "bagaimanakah buah pikiran dinyatakan dengan suatu bahasa". Jadi bahasa bukan hanya sebagai alat saja, melainkan sebagai tujuan."}} Berdasarkan batasan di atas, maka diantara linguistika dan filologi mengandung persamaan dan perbedaan. Persamaannya, yaitu sama-sama mempersoalkan bahasa. Bedanya, dalam hal meletakkan titik berat lapang penyelidikannya, jika linguistik memandangnya bahasa sebagai tujuan, maka filologi memandang hanya sebagai alat saja, untuk mengetahui latar belakang kebudayaan dan kesusastraan sesuatu bangsa. Jadi jelaslah bagi kita bahwa filologi lebih dekat hubungannya kepada ilmu kebudayaan dan ilmu sejarah, jika dibandingkan dengan linguistik. Setelah ilmu teknik memisahkan diri dari ilmu filsafat, yang dianggap sebagai ibu sebapa ilmu pengetahuan, maka ilmu teknik mengalami kemajuan dan perkembangan luar biasa. Dan bangsa manakah pada abad ruang angkasa ini yang dapat menahan arus perkembangan ilmu<noinclude></noinclude> hgehzb6mad7ht4yyemlw0p9oirvljgm 291322 291321 2026-05-10T16:58:25Z Moel81 25980 291322 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|Fungsi Hikayat}}</noinclude>Maka dari itu, sarjana sekarang banyak yang menaruh minat kepada bahasa lisan, bahasa pergaulan dan sebagainya. Dulu tidak dipentingkan sekarang justru sangat diperhatikan. Jadi untuk menyelidiki bahasa sebagai faktor kebudayaan, kita harus memulai dari bahasa lisan. Ilmu bahasa sekarang lazim disebut "Linguistik". Dan erat hubungannya dengan Linguistik yaitu "Filologi", yang menurut Prof. A. A. Fokker dalam kuliah-kuliah beliau sekitar tahun 1955-1956, <sup>11)</sup> memberikan batasan sebagai berikut: ::{| | FILOLOGI, berasal dari kata-kata || : || philos || = sahabat |- | || : || logos || = bahasa |} {{Quote|"Ahli filologi mempelajari bahasa bukan dengan maksud untuk mengetahui susunan-susunan atau hukum-hukumnya, melainkan untuk mengetahui karya sastra, hingga pelajaran bahasa bagi mereka hanya merupakan alat saja, bukan tujuan. Tujuannya yaitu kesusastraan dan kebudayaan yang bersangkutan. Jadi ahli filologi menelaah buah pikiran yang dinyatakan dengan salah satu bahasa. Sebaliknya ahli dalam linguistik bertanya: "bagaimanakah buah pikiran dinyatakan dengan suatu bahasa". Jadi bahasa bukan hanya sebagai alat saja, melainkan sebagai tujuan."}} Berdasarkan batasan di atas, maka diantara linguistika dan filologi mengandung persamaan dan perbedaan. Persamaannya, yaitu sama-sama mempersoalkan bahasa. Bedanya, dalam hal meletakkan titik berat lapang penyelidikannya, jika linguistik memandangnya bahasa sebagai tujuan, maka filologi memandang hanya sebagai alat saja, untuk mengetahui latar belakang kebudayaan dan kesusastraan sesuatu bangsa. Jadi jelaslah bagi kita bahwa filologi lebih dekat hubungannya kepada ilmu kebudayaan dan ilmu sejarah, jika dibandingkan dengan linguistik. Setelah ilmu teknik memisahkan diri dari ilmu filsafat, yang dianggap sebagai ibu sebapa ilmu pengetahuan, maka ilmu teknik mengalami kemajuan dan perkembangan luar biasa. Dan bangsa manakah pada abad ruang angkasa ini yang dapat menahan arus perkembangan ilmu<noinclude>{{rh|24}}</noinclude> eusy73p3eve2gm04aigdi6yycwush0f 291764 291322 2026-05-11T06:25:53Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291764 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Fungsi Hikayat}}</noinclude>Maka dari itu, sarjana sekarang banyak yang menaruh minat kepada bahasa lisan, bahasa pergaulan dan sebagainya. Dulu tidak dipentingkan sekarang justru sangat diperhatikan. Jadi untuk menyelidiki bahasa sebagai faktor kebudayaan, kita harus memulai dari bahasa lisan. Ilmu bahasa sekarang lazim disebut "Linguistik". Dan erat hubungannya dengan Linguistik yaitu "Filologi", yang menurut Prof. A. A. Fokker dalam kuliah-kuliah beliau sekitar tahun 1955-1956, <sup>11)</sup> memberikan batasan sebagai berikut: ::{| | FILOLOGI, berasal dari kata-kata || : || philos || = sahabat |- | || : || logos || = bahasa |} {{Quote|"Ahli filologi mempelajari bahasa bukan dengan maksud untuk mengetahui susunan-susunan atau hukum-hukumnya, melainkan untuk mengetahui karya sastra, hingga pelajaran bahasa bagi mereka hanya merupakan alat saja, bukan tujuan. Tujuannya yaitu kesusastraan dan kebudayaan yang bersangkutan. Jadi ahli filologi menelaah buah pikiran yang dinyatakan dengan salah satu bahasa. Sebaliknya ahli dalam linguistik bertanya: "bagaimanakah buah pikiran dinyatakan dengan suatu bahasa". Jadi bahasa bukan hanya sebagai alat saja, melainkan sebagai tujuan."}} Berdasarkan batasan di atas, maka diantara linguistika dan filologi mengandung persamaan dan perbedaan. Persamaannya, yaitu sama-sama mempersoalkan bahasa. Bedanya, dalam hal meletakkan titik berat lapang penyelidikannya, jika linguistik memandangnya bahasa sebagai tujuan, maka filologi memandang hanya sebagai alat saja, untuk mengetahui latar belakang kebudayaan dan kesusastraan sesuatu bangsa. Jadi jelaslah bagi kita bahwa filologi lebih dekat hubungannya kepada ilmu kebudayaan dan ilmu sejarah, jika dibandingkan dengan linguistik. Setelah ilmu teknik memisahkan diri dari ilmu filsafat, yang dianggap sebagai ibu sebapa ilmu pengetahuan, maka ilmu teknik mengalami kemajuan dan perkembangan luar biasa. Dan bangsa manakah pada abad ruang angkasa ini yang dapat menahan arus perkembangan ilmu<noinclude>{{rh|24}}</noinclude> aepz8ioam1mzdqrcikxbdfdhknkcmjt Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/161 104 103490 291288 2026-05-10T16:13:56Z Arulbe 24016 /* Telah diuji baca */ 291288 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Arulbe" /></noinclude>In memoriam {{c|J.E. TATENGKENG}} {{c|(19 Oktober 1907 - 6 Maret 1968)}} Ketika saya setahun yang lalu pulang kekampung, saya perlukan mampir ke Makasar dan bertemu dengan penyair J.E. Tatengkeng. Sebagaimana biasa ia sangat gembira dan bercerita tentang pekerjaannya mengajarkan kesusastraan pada Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. "Perhatian cukup banyak," katanya, "tapi sayang bahan-bahan kurang sekali. Terpaksa saya pinjamkan buku-buku simpanan saya. Dan banyak yang tidak kembali," tambahnya sambil tersenyum. Saya tanyakan mengapa {{u|Rindu Dendam}} tidak diterbitkan kembali, jawabnya: "Sedang diusahakan oleh Ajip Rosidi. Tapi sudah sekian tahun belum terbit-terbit juga". Sebagaimana tulisan-tulisan Amir Hamzah dan Chairil Anwar telah dikumpulkan orang, sayogianyalah mutiara-mutiara peninggalan Tatengkeng kini diabadikan pula dalam kumpulan yang langgeng. Perlulah dikumpulkan semua tulisannya yang tersebar dalam berbagai majalah dan surat kabar, seperti {{u|Rindu Dendam}}, {{u|Tuwo Kona}}, {{u|Suara Umum}}, {{u|Suluh Kaum Muda}}, {{u|Pemimpin Zaman}}, dan lain-lain, disamping menerbitkan kembali kumpulan sajaknya {{u|Rindu Dendam}}. Juga tulisan-tulisannya sesudah perang, antara lain dalam majalah {{u|Pembangunan}}, {{u|Zenith}}, {{u|Siasat}}, {{u|Indonesia}} dan laporan perjalannya dalam harian {{u|Tindjauan}} yang terbit di Makasar. Apabila Amir Hamzah telah meninggalkan pada kita sajak-sajak bernafaskan Islam, maka Tatengkeng telah memperkaya khazanah sastra kita dengan sanjak-sajak bernadakan lonceng gereja. Seperti kata Takdir Alisjahbana: "Dalam sajak-sajaknya ia seseorang yang dimana-mana melihat Tuhan dan girang bernyanyi memuliakanNya. -- Ia seorang Nasrani, tapi sajaknya dalam dirasakan segala orang, sebab perasaan terhadap Tuhan yang dilukiskannya sangat umum, tidak semata-mata berhubungan dengan agama Nasrani". ({{u|Puisi Baru}}). Dan sebenarnyalah demikian, seperti ternyata dari sajaknya yang terakhir dalam {{u|Rindu Dendam}}: {{block center|Kuhampiri, o, sebutir embun:<br> O, betapa jernih,<br> betapa suci dan putih...}}<noinclude>{{rh|||33}}</noinclude> imlcjg647byyw5upomyphujhowehqur Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/277 104 103491 291289 2026-05-10T16:17:20Z Suga Widi 25678 Proses uji baca 291289 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>djuga Dabbatu'l-ardi itu. Turunlah angin keras sehingga segala bukit pun hantjur. (81-93). Malaikat memandjanakan tenennja kertas sampai pada 1rit jan ketudjuh dan kebawah sampai pada Tahta 'l-Sjera lepis bumi jan ke- tudjuh. Israfil meniup sen kakala lai meks me tilah se ela mechluk jang berada dilen-it den di bumi, Djin, menusia, melaiket, bine tena. den sebarainja ketjusli empat mele ikat jaitu Djibrail, Hikeil, Israfil, dan Izrail. Setelah itu Izrail men ambil njawa ketiga malaikat itu. Achirnja ia (Izrail) sendiri mer rambil njawanja. Direbahkannja badan- nja, diletakkannja tangannja dibawah kepalanja kemudian dimasukann ja tangannja itu kedalam mulutnja serta berseru-seru menahan sakitnja ma ti, seandainja ia mengetahui benitu skitnja meti nistjeja is tinde mau menambil njawa orang. Setelah menderita beberapa lamanja barulah ia meti. Bumi ini mendjadi datar, semua ms chluk telah mati. Malaikat Izrail dihidupkan kembeli, beritu pula meleiket Djibrail, Mikil, Izrefil. Keempat mele ikat itu disuruh mendjemput 1abi Muhammed, urbi ben kit dari kuburnja lelu dibawa oleh Ilalaikat tadi ke Ardha tul Kiamah. Israfil kemudiar meniup sa nakakala lavi maka keluarlah semala mr chlu deri kuburnja, berkumpul bersef-sef, pendjenja linnn tehun perdjalanan. Orang-orang jang beramal saleh achirnja masuk sora dan sele orang jane kafir, orang durhaka masuk neraka. Terhadap Pnek kefir jenensih ketjil ade jenem suk sore den da jene masuk nereke. Pe de sus tu kali 1leh me erin tehkernje supe je mereka me suk kedalam epi jang bernjale-njela, sebarian deri mercke itu mengikuti perintah Allah s.w.t. me suk kedrlem epi, sebarien tetap berdiri tiada men ikut. Maka jang masuk kedalam api tadi dimasukkan Allah kedalam sorra dan jang tiada mer ikut perintah Allah masuk ke- delam neraka, semala herta dunia, kemewahan-kemewahan dan kemuljaan-. kemuljaan tiada berguna dischir: t. Dikatakan oleh kabi bahwa secala pertanjaan-pertanjaan jan dindjukan oleh Abdullah Ibn Selam itu de- pat didjewehnja kr rena diberitahu oleh Malaikat Djibreil, Mikail dan Israfil da djawaben itu dilihatnja di Luh Mahfuz. Ditjeri terakan pula unur semele nebi-nabi itu miselnja Nebi Adem. 999 tahun, Nabi Nuh 1000 tahun dan sebereinje sempei peda umur lebi Muhammed 63 tahun. Setelah itu meke Abdullah Ibn Slam beserta 700 oran perdeta Jahudi Digitized by Google<noinclude></noinclude> aihyrboqyua4gx39v2jya030iylt6d5 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/504 104 103492 291292 2026-05-10T16:21:24Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ Membuat halaman kosong 291292 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude><noinclude></noinclude> ccplgwmprsu678uegthnfc77ifsefnn 291308 291292 2026-05-10T16:44:31Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291308 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude>Fungsi Hikayat :mangkatnya Sultan sangat berahikan Encik Pung. Menteri itu menyarankan supaya memanggil Encik Pung yang disuruh menyetubuhi raja yang sudah mangkat, kemudian hamillah Encik Pung yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yaitu Roja Kecil. Sebaliknya apabila menurut sumber Trengganau, ketika Encik Pung hamil lalu dibawa orang lari ke Jambi (Pagar-ruyung) dan di sana ia melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diasuh oleh puteri Jenilan ( حيلان). Berdasarkan sumber Trengganau ini, maka mungkin sekali bahwa Raja Kecil adalah anak Sultan Mahmud yang dilahirkan di luar pernikahan dengan Encik Pung. Jadi, jika kita berpegang pada sumber Trengganau tersebut permusuhan yang timbul kelak antara Raja Kecil lawan Sultan Sulaiman bukanlah merupakan rivalitas antara Jambi (Pagar-ruyung) melawan Johor, melainkan perebutan takhta kerajaan dalam lingkungan kerajaan Johor sendiri. :Kemudian dalam S.M.B; 9; 31 - Ketika Daèng Menambun naik perahu anak beranak menuju ke barat in bermimpi bahwa syahwat Upu Daèng Celá menjulur ke laut menjadi naga dan kepala naga itu menghadap ke sebelah barat, yang diartikan bahwa kelak Upu Daèng Cela-Celalah yang akan berkuasa di barat (yang dimaksud yaitu Rinu). :Kerapkali kita menghadapi kosulitan apabila sampai pada masalah "siapakah penulis babad atau hikayat itu"? Walaupun kadang2 kita jumpai dalam interne evidensi. Hal ini mungkin sekali disebabkan karena seringnya disalin atau mungkin juga belum menjadi kebiasaan adat menuliskan sipengarang(?). Misalnya saja tentang penulis Sejarah Melayu, walaupun terdapat dalam interne evidensi menyebut Tun Seri Lanang sebagai penulisnya, tetapi setelah diketemukannyn naskah Raffles no. 18 oleh R.O. Winstedt, menyebabkan diragukannya Tun Seri Lanang sebagai panulis Sejarah Melayu. <sup>7)</sup> Sekarang tentang siapakah penulis T.N. dan S.M.B. itu? Karena versinya tidak sebanyak Sejarah Melayu, maka dapat ditentukan bahwa penulisnya yaitu Raja Ali Haji, cucu Raja Haji yang gugur di Pulau Ketapang.Tidak terdapat perselisihan diantara para ahli.<sup>8)</sup> :Tentang siapakah penulis sejarah Babad Tanah Jawi itu?<noinclude>{{rh|22}}</noinclude> 6foc9yqvr4l5qgvgv03ir1j4nx29qu7 291762 291308 2026-05-11T06:24:27Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291762 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Fungsi Hikayat :mangkatnya Sultan sangat berahikan Encik Pung. Menteri itu menyarankan supaya memanggil Encik Pung yang disuruh menyetubuhi raja yang sudah mangkat, kemudian hamillah Encik Pung yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yaitu Roja Kecil. Sebaliknya apabila menurut sumber Trengganau, ketika Encik Pung hamil lalu dibawa orang lari ke Jambi (Pagar-ruyung) dan di sana ia melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diasuh oleh puteri Jenilan ( حيلان). Berdasarkan sumber Trengganau ini, maka mungkin sekali bahwa Raja Kecil adalah anak Sultan Mahmud yang dilahirkan di luar pernikahan dengan Encik Pung. Jadi, jika kita berpegang pada sumber Trengganau tersebut permusuhan yang timbul kelak antara Raja Kecil lawan Sultan Sulaiman bukanlah merupakan rivalitas antara Jambi (Pagar-ruyung) melawan Johor, melainkan perebutan takhta kerajaan dalam lingkungan kerajaan Johor sendiri. :Kemudian dalam S.M.B; 9; 31 - Ketika Daèng Menambun naik perahu anak beranak menuju ke barat in bermimpi bahwa syahwat Upu Daèng Celá menjulur ke laut menjadi naga dan kepala naga itu menghadap ke sebelah barat, yang diartikan bahwa kelak Upu Daèng Cela-Celalah yang akan berkuasa di barat (yang dimaksud yaitu Rinu). :Kerapkali kita menghadapi kosulitan apabila sampai pada masalah "siapakah penulis babad atau hikayat itu"? Walaupun kadang2 kita jumpai dalam interne evidensi. Hal ini mungkin sekali disebabkan karena seringnya disalin atau mungkin juga belum menjadi kebiasaan adat menuliskan sipengarang(?). Misalnya saja tentang penulis Sejarah Melayu, walaupun terdapat dalam interne evidensi menyebut Tun Seri Lanang sebagai penulisnya, tetapi setelah diketemukannyn naskah Raffles no. 18 oleh R.O. Winstedt, menyebabkan diragukannya Tun Seri Lanang sebagai panulis Sejarah Melayu. <sup>7)</sup> Sekarang tentang siapakah penulis T.N. dan S.M.B. itu? Karena versinya tidak sebanyak Sejarah Melayu, maka dapat ditentukan bahwa penulisnya yaitu Raja Ali Haji, cucu Raja Haji yang gugur di Pulau Ketapang.Tidak terdapat perselisihan diantara para ahli.<sup>8)</sup> :Tentang siapakah penulis sejarah Babad Tanah Jawi itu?<noinclude>{{rh|22}}</noinclude> s0busmwrlnptitjhxtzzmmy3yoxhkjq Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/163 104 103493 291312 2026-05-10T16:48:35Z Arulbe 24016 /* Telah diuji baca */ 291312 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Arulbe" /></noinclude>{{c|TJERAMAH ROESTAM EFFENDI DI FAKULTAS SASTRA<br> UNIVERSITAS INDONESIA}} {{block right|{{hii|23|0}}Nj. Anita K. Rustapa<br> <br>Tulisan berikut ini adalah tjatatan singkat dari tjeramah Roestam Effendi pada tanggal 27 April 1968 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia atas prakarsa Djurusan Sastra Indonesia. Tjeramah ini dipimpin oleh Drs. J.U. Nasution (dosen pada Djurusan Sastra Indonesia)}} Roestam Effendi, seorang pengarang dari angkatan Pudjangga Baru jang sekian lama tidak muntjul, kini muntjul kembali dengan semangat dan sikap jang masih segar. Gajanja dalam berbitjara masih tetap sebagai orang muda. Tertawanja jang babas menundjukkan dia seorang periang. Karena itu dalam usia 65 tahun ia masih tetap segar dan bersemangat. Dalam tjeramah ini Roestan telah mengemukakan apa jang selama ini masih gelap bagi kita. Ia telah memaparkan bagaimana permulaan kegiatannja dalam sastra. Tempat dimana ia mulai aktif dalam bidang kesusastraan ialah di Padang, dalam suatu madjalah jang bernama Asjraq (Bersatu). Asjraq ini adalah suatu madjalah wanita dimana Roestam Effendi aktif menulis dengan mempergunakan nama samaran. Antara lain ia memakai nama samaran Rahasia Emas antara tahun 1925 dan 1926. Mulai aktif dalam kesusastraan sedjak tahun 1924 saapai tahun 1927. Setelah itu pada tahun 1927, ia meninggalkan Indonesia, pergi kenegeri Belanda. Disana ia banjak menulis dalam bahasa Belanda jang tidak bersifat kesusastraan, tetapi merupakan karja politik. Atas pertanjaan hadirin apa sebab ia pergi kenegeri Belanda? Roestam setjara sportif mengakui bahwa kepergiannja itu, ialah melarikan diri karena ia dimusuhi pemerintah Hindia. Pada waktu itu ia dituduh membantu komunis dengan wang. Padahal ia hanja memberi wang kepada sahabatnja jang kebetulan seorang anggota partai komunis. Dinegeri Belanda ia bergerak dalam dunia politik dan mendjadi anggota C.P.N. (Communistische Party :Nederland). Dalam keterangannja apa sebab ia memasuki partai ini, ia mengatakan bahwa diantara sekian banjak partai jang ada dinegeri Belanda pada masa itu, hanja partai komunislah jang setjara tegas membela perdjuangan Kemerdekaan Rakjat Indonesia. Atas keaktifannja dalam partai ini, ia terpilih tiga kali mendjadi anggota Tweede Kamer dalam waktu 12 tahun. Akan tetapi sedjak ––––––––– *Pegawai Dinas Kesusastraan Indonesia, Direktorat Bahasa dan Kesusastraan.<noinclude>{{rh|||35}}</noinclude> oo3t8r9it1pvbo8rajopkuni21y69xl 291313 291312 2026-05-10T16:48:54Z Arulbe 24016 291313 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Arulbe" /></noinclude>{{c|TJERAMAH ROESTAM EFFENDI DI FAKULTAS SASTRA<br> UNIVERSITAS INDONESIA}} {{block right|{{hii|15|0}}Nj. Anita K. Rustapa<br> <br>Tulisan berikut ini adalah tjatatan singkat dari tjeramah Roestam Effendi pada tanggal 27 April 1968 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia atas prakarsa Djurusan Sastra Indonesia. Tjeramah ini dipimpin oleh Drs. J.U. Nasution (dosen pada Djurusan Sastra Indonesia)}} Roestam Effendi, seorang pengarang dari angkatan Pudjangga Baru jang sekian lama tidak muntjul, kini muntjul kembali dengan semangat dan sikap jang masih segar. Gajanja dalam berbitjara masih tetap sebagai orang muda. Tertawanja jang babas menundjukkan dia seorang periang. Karena itu dalam usia 65 tahun ia masih tetap segar dan bersemangat. Dalam tjeramah ini Roestan telah mengemukakan apa jang selama ini masih gelap bagi kita. Ia telah memaparkan bagaimana permulaan kegiatannja dalam sastra. Tempat dimana ia mulai aktif dalam bidang kesusastraan ialah di Padang, dalam suatu madjalah jang bernama Asjraq (Bersatu). Asjraq ini adalah suatu madjalah wanita dimana Roestam Effendi aktif menulis dengan mempergunakan nama samaran. Antara lain ia memakai nama samaran Rahasia Emas antara tahun 1925 dan 1926. Mulai aktif dalam kesusastraan sedjak tahun 1924 saapai tahun 1927. Setelah itu pada tahun 1927, ia meninggalkan Indonesia, pergi kenegeri Belanda. Disana ia banjak menulis dalam bahasa Belanda jang tidak bersifat kesusastraan, tetapi merupakan karja politik. Atas pertanjaan hadirin apa sebab ia pergi kenegeri Belanda? Roestam setjara sportif mengakui bahwa kepergiannja itu, ialah melarikan diri karena ia dimusuhi pemerintah Hindia. Pada waktu itu ia dituduh membantu komunis dengan wang. Padahal ia hanja memberi wang kepada sahabatnja jang kebetulan seorang anggota partai komunis. Dinegeri Belanda ia bergerak dalam dunia politik dan mendjadi anggota C.P.N. (Communistische Party :Nederland). Dalam keterangannja apa sebab ia memasuki partai ini, ia mengatakan bahwa diantara sekian banjak partai jang ada dinegeri Belanda pada masa itu, hanja partai komunislah jang setjara tegas membela perdjuangan Kemerdekaan Rakjat Indonesia. Atas keaktifannja dalam partai ini, ia terpilih tiga kali mendjadi anggota Tweede Kamer dalam waktu 12 tahun. Akan tetapi sedjak ––––––––– *Pegawai Dinas Kesusastraan Indonesia, Direktorat Bahasa dan Kesusastraan.<noinclude>{{rh|||35}}</noinclude> t6flv6avj7dye2cpzzxt71r9umk5q7h 291314 291313 2026-05-10T16:49:15Z Arulbe 24016 291314 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Arulbe" /></noinclude>{{c|TJERAMAH ROESTAM EFFENDI DI FAKULTAS SASTRA<br> UNIVERSITAS INDONESIA}} {{block right|{{hii|10|0}}Nj. Anita K. Rustapa<br> <br>Tulisan berikut ini adalah tjatatan singkat dari tjeramah Roestam Effendi pada tanggal 27 April 1968 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia atas prakarsa Djurusan Sastra Indonesia. Tjeramah ini dipimpin oleh Drs. J.U. Nasution (dosen pada Djurusan Sastra Indonesia)}} Roestam Effendi, seorang pengarang dari angkatan Pudjangga Baru jang sekian lama tidak muntjul, kini muntjul kembali dengan semangat dan sikap jang masih segar. Gajanja dalam berbitjara masih tetap sebagai orang muda. Tertawanja jang babas menundjukkan dia seorang periang. Karena itu dalam usia 65 tahun ia masih tetap segar dan bersemangat. Dalam tjeramah ini Roestan telah mengemukakan apa jang selama ini masih gelap bagi kita. Ia telah memaparkan bagaimana permulaan kegiatannja dalam sastra. Tempat dimana ia mulai aktif dalam bidang kesusastraan ialah di Padang, dalam suatu madjalah jang bernama Asjraq (Bersatu). Asjraq ini adalah suatu madjalah wanita dimana Roestam Effendi aktif menulis dengan mempergunakan nama samaran. Antara lain ia memakai nama samaran Rahasia Emas antara tahun 1925 dan 1926. Mulai aktif dalam kesusastraan sedjak tahun 1924 saapai tahun 1927. Setelah itu pada tahun 1927, ia meninggalkan Indonesia, pergi kenegeri Belanda. Disana ia banjak menulis dalam bahasa Belanda jang tidak bersifat kesusastraan, tetapi merupakan karja politik. Atas pertanjaan hadirin apa sebab ia pergi kenegeri Belanda? Roestam setjara sportif mengakui bahwa kepergiannja itu, ialah melarikan diri karena ia dimusuhi pemerintah Hindia. Pada waktu itu ia dituduh membantu komunis dengan wang. Padahal ia hanja memberi wang kepada sahabatnja jang kebetulan seorang anggota partai komunis. Dinegeri Belanda ia bergerak dalam dunia politik dan mendjadi anggota C.P.N. (Communistische Party :Nederland). Dalam keterangannja apa sebab ia memasuki partai ini, ia mengatakan bahwa diantara sekian banjak partai jang ada dinegeri Belanda pada masa itu, hanja partai komunislah jang setjara tegas membela perdjuangan Kemerdekaan Rakjat Indonesia. Atas keaktifannja dalam partai ini, ia terpilih tiga kali mendjadi anggota Tweede Kamer dalam waktu 12 tahun. Akan tetapi sedjak ––––––––– *Pegawai Dinas Kesusastraan Indonesia, Direktorat Bahasa dan Kesusastraan.<noinclude>{{rh|||35}}</noinclude> pds1ki1kmdt7ezc3wa6a11i9ady14o7 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/19 104 103494 291327 2026-05-10T17:02:05Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'KOMISI ISTILAH DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRAAN Oleh: Sri Soekesi Adimimarta " Salah satu tugas Direktorat Sahasa dan Kesusastraan ialah membina dan memperkembangkan Bahasa Indonesia dalam lapangan peristilahan. Tugas ini jang ditampung oleh Dinas Peristilahan dan Perkamusan. Ketjuali mereka jang berkepentingan, kami kira belumlah banjak o- rang jang mengetahui apakah sebenarnja jan” dikerdjakan oleh Dinas ini. Dinas Peristilahan d... 291327 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude>KOMISI ISTILAH DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRAAN Oleh: Sri Soekesi Adimimarta " Salah satu tugas Direktorat Sahasa dan Kesusastraan ialah membina dan memperkembangkan Bahasa Indonesia dalam lapangan peristilahan. Tugas ini jang ditampung oleh Dinas Peristilahan dan Perkamusan. Ketjuali mereka jang berkepentingan, kami kira belumlah banjak o- rang jang mengetahui apakah sebenarnja jan” dikerdjakan oleh Dinas ini. Dinas Peristilahan dan Perkamusan merupakan Sekretariat dari Komi- si Istilah. Untuk mengetahui apakah Komisi Istilah itu, perlulah kami uraikan disini sedjarah terbentuknja, susunan serta hasil kerdjanja. Sedjar” h :«mbontukan Komisi Istil:h Pada tanggal 13 Mei 1950 telah dilantik Komisi Istilah jang ber- tugas menjelenggarakan penjusunan istilah dalam bahasa Indonesia. Pada mulanja Komisi tersebut masuk dulam Dinas Kebudajaan. Dengan terbentuk- nja Negara Kesatuan Republik Indonesia dan penggabungan Kementerian P. Pp, dan K/R.I. dengan Kementerian ».P. dan K/R.I.S, maka Menteri P.r. daun K. dalam Surat Kkeputusannja tertanggal 28 Mei 1951 Nos 12870/Keb. yene- tapkan bahwa Komisi Istilah dan Pagian Yenterdjemehan Kem. P.P. dan K/ R.I.yu. Gahulu, masuk dalam Balai Bahasa Vjawatan dan Kebudijaan Kem, PF. P. dan K/R.I. jang pindah dari Jogjakarta ke Djakarta dan berlaku mulai tanreal 1 Djuli 1951. Kemudian dengun Surat keputusan Menteri P.P. Gan K. tangzal 11 Agustus 1952 No. 27400/xeb., Balai Bahasa dipetjah. Bagi- an jang tetap.pada Djawatan Kebudajaan Kem. P.P. dan KX. tugasnja dititik beratkan pada bidang sosial budaja. Sebaxian masuk Fikultus Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia, jang dinamakan Lembaga Bahasa dan Buduja. Tugasnja sama dengin tugas Julai Bahasa duhulu dengan titik be- rat pada bidang ilmu pengetahuan. Komisi Istilah dimusukkan kedalam Lemb:ga ini dan dengan sendirinja djuga berrda dibawah Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia. De:izan Surat Keputusan Menteri P.P: dan K. tanggal 1 Djuni 1959 Ho. 69266/b/8, Lembuga Bahasa dan Budaja dikeluarkan dari Fukultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia mendjadi Lembaga Bihasa dan Kesusastraan Kementerian P.P. dan K. hincgd sekarang. komisi Istilah mendjadi Panitia Interdepartemental sedjak tahun £ 1955 Ho. 6481/55. Dengan demikian pembiajarnnnja (uang sidang anggota komisi Istilah dan biaja Administrasi) mendjadi tancgungan anggaran cabinet Perdana Mentcri/Sekretariat Negara. Pimpinan komisi Istilah Pimpinan Komisi Istilah diperany oleh Kepala Direktorat (dahulu. Lembaga) Bahasa dan Kesusastraan, Jang mendjadi Ketua berturut-turut sedjak tahun 1950 ialah:(1) Prof.Dr. prijono, (2) frof.Dr. P.A.h. Hoe- sein Djajadiningrat, (3) Dra. Lukijuti Gandasubr:ta, (4) Dra. Moliar Achmad, (5) Dra. Nj. S.W. Rudjiati tuljadi. Vakil Ketua Komisi Istilah dipesang oleh Hur Sutan Isksudar hingga bulan xrustus 1966, kemudian digantikan oleh urs. A.M. Moeliono, M.A. Sekretaris Umum Komisi Istilah adalah Kepala Dinas (dahulu:Urusan) Peristilahan dan perkamusan, ber- turut-turut dipegang oleh : (1) Sutan Moh. s5a'id, (2) A.W. Djumena, (3) R.A. Datuk Besar,(4) Dra. Moliar Achmad,(5) Dra. Sri Timur Surstman, (6) Dra. S.5. Adiwimarta. Kepala Dinas Peristilahan dan Perkamusan, Direktorat bahasa dan Kesusastraan. : | : —o<noinclude></noinclude> 2sygjymge8uh0lmcroxfoipr4xie76l 291354 291327 2026-05-10T17:29:31Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291354 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude><center> {{X-largerKOMISI ISTILAH DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRAAN}}</center> {{Right sidenote|Oleh: Sri Soekesi Adimimarta *}} Salah satu tugas Direktorat Bahasa dan Kesusastraan ialah membina dan memperkembangkan Bahasa Indonesia dalam lapangan peristilahan. Tugas ini jang ditampung oleh Dinas Peristilahan dan Perkamusan. Ketjuali mereka jang berkepentingan, kami kira belumlah banjak orang jang mengetahui apakah sebenarnja jang dikerdjakan oleh Dinas ini. Dinas Peristilahan dan Perkamusan merupakan Sekretariat dari Komisi Istilah. Untuk mengetahui apakah Komisi Istilah itu, perlulah kami uraikan disini sedjarah terbentuknja, susunan serta hasil kerdjanja. '''<u>Sedjarah Pembentukan Komisi Istilah</u>''' Pada tanggal 13 Mei 1950 telah dilantik Komisi Istilah jang bertugas menjelenggarakan penjusunan istilah dalam bahasa Indonesia. Pada mulanja Komisi tersebut masuk dalam Dinas Kebudajaan. Dengan terbentuknja Negara Kesatuan Republik Indonesia dan penggabungan Kementerian P.P. dan K/R.I. dengan Kementerian P.P. dan K/R.I.S, maka Menteri P.P. dan K. dalam Surat Keputusannja tertanggal 28 Mei 1951 No. 12870/Keb. menetapkan bahwa Komisi Istilah dan Bagian Penterdjemahan Kem. P.P. dan K/R.I.S. dahulu, masuk dalam Balai Bahasa Djawatan dan Kebudajaan Kem. P.P. dan K/R.I. jang pindah dari Jogjakarta ke Djakarta dan berlaku mulai tanggal 1 Djuli 1951. Kemudian dengan Surat Keputusan Menteri P.P. dan K. tanggal 11 Agustus 1952 No. 27400/Keb., Balai Bahasa dipetjah. Bagian jang tetap pada Djawatan Kebudajaan Kem. P.P. dan KX. tugasnja dititikberatkan pada bidang sosial budaja. Sebagian masuk Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia, jang dinamakan Lembaga Bahasa dan Budaja. Tugasnja sama dengan tugas Balai Bahasa duhulu dengan titik berat pada bidang ilmu pengetahuan. Komisi Istilah dimusukkan kedalam Lembaga ini dan dengan sendirinja djuga berada dibawah Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia. Dengan Surat Keputusan Menteri P.P: dan K. tanggal 1 Djuni 1959 No. 69266/b/8, Lembaga Bahasa dan Budaja dikeluarkan dari Fukultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia mendjadi Lembaga Bahasa dan Kesusastraan Kementerian P.P. dan K. hingga sekarang. Komisi Istilah mendjadi Panitia Interdepartemental sedjak tahun 1955 No. 6481/55. Dengan demikian pembiajarannja (uang sidang anggota Komisi Istilah dan biaja Administrasi) mendjadi tanggungan anggaran Kabinet Perdana Menteri/Sekretariat Negara. '''<u>Pimpinan komisi Istilah</u>''' Pimpinan Komisi Istilah dipegang oleh Kepala Direktorat (dahulu Lembaga) Bahasa dan Kesusastraan. Jang mendjadi Ketua berturut-turut sedjak tahun 1950 ialah:(1) Prof.Dr. Prijono, (2) frof.Dr. P.A.A. Hoesein Djajadiningrat, (3) Dra. Lukijati Gandasubrata, (4) Dra. Moliar Achmad, (5) Dra. Nj. S.W. Rudjiati Muljadi. Wakil Ketua Komisi Istilah dipegang oleh Nur Sutan Isksadar hingga bulan Agustus 1966, kemudian digantikan oleh Drs. A.M. Moeliono, M.A. Sekretaris Umum Komisi Istilah adalah Kepala Dinas (dahulu:Urusan) Peristilahan dan perkamusan, berturut-turut dipegang oleh : (1) Sutan Moh. 5a'id, (2) A.W. Djumena, (3) R.A. Datuk Besar,(4) Dra. Moliar Achmad,(5) Dra. Sri Timur Suratman, 6) Dra. S.S. Adiwimarta. {{Left sidenote|*Kepala Dinas Peristilahan dan Perkamusan, Direktorat bahasa dan Kesusastraan.}}<noinclude>{{Rh|||1}}</noinclude> j8h52kgttuqlrva7h2axx7sioncf1p4 291355 291354 2026-05-10T17:30:14Z Sarieffe 26994 291355 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude><center> {{X-larger|KOMISI ISTILAH DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRAAN}}</center> {{Right sidenote|Oleh: Sri Soekesi Adimimarta *}} Salah satu tugas Direktorat Bahasa dan Kesusastraan ialah membina dan memperkembangkan Bahasa Indonesia dalam lapangan peristilahan. Tugas ini jang ditampung oleh Dinas Peristilahan dan Perkamusan. Ketjuali mereka jang berkepentingan, kami kira belumlah banjak orang jang mengetahui apakah sebenarnja jang dikerdjakan oleh Dinas ini. Dinas Peristilahan dan Perkamusan merupakan Sekretariat dari Komisi Istilah. Untuk mengetahui apakah Komisi Istilah itu, perlulah kami uraikan disini sedjarah terbentuknja, susunan serta hasil kerdjanja. '''<u>Sedjarah Pembentukan Komisi Istilah</u>''' Pada tanggal 13 Mei 1950 telah dilantik Komisi Istilah jang bertugas menjelenggarakan penjusunan istilah dalam bahasa Indonesia. Pada mulanja Komisi tersebut masuk dalam Dinas Kebudajaan. Dengan terbentuknja Negara Kesatuan Republik Indonesia dan penggabungan Kementerian P.P. dan K/R.I. dengan Kementerian P.P. dan K/R.I.S, maka Menteri P.P. dan K. dalam Surat Keputusannja tertanggal 28 Mei 1951 No. 12870/Keb. menetapkan bahwa Komisi Istilah dan Bagian Penterdjemahan Kem. P.P. dan K/R.I.S. dahulu, masuk dalam Balai Bahasa Djawatan dan Kebudajaan Kem. P.P. dan K/R.I. jang pindah dari Jogjakarta ke Djakarta dan berlaku mulai tanggal 1 Djuli 1951. Kemudian dengan Surat Keputusan Menteri P.P. dan K. tanggal 11 Agustus 1952 No. 27400/Keb., Balai Bahasa dipetjah. Bagian jang tetap pada Djawatan Kebudajaan Kem. P.P. dan KX. tugasnja dititikberatkan pada bidang sosial budaja. Sebagian masuk Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia, jang dinamakan Lembaga Bahasa dan Budaja. Tugasnja sama dengan tugas Balai Bahasa duhulu dengan titik berat pada bidang ilmu pengetahuan. Komisi Istilah dimusukkan kedalam Lembaga ini dan dengan sendirinja djuga berada dibawah Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia. Dengan Surat Keputusan Menteri P.P: dan K. tanggal 1 Djuni 1959 No. 69266/b/8, Lembaga Bahasa dan Budaja dikeluarkan dari Fukultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia mendjadi Lembaga Bahasa dan Kesusastraan Kementerian P.P. dan K. hingga sekarang. Komisi Istilah mendjadi Panitia Interdepartemental sedjak tahun 1955 No. 6481/55. Dengan demikian pembiajarannja (uang sidang anggota Komisi Istilah dan biaja Administrasi) mendjadi tanggungan anggaran Kabinet Perdana Menteri/Sekretariat Negara. '''<u>Pimpinan komisi Istilah</u>''' Pimpinan Komisi Istilah dipegang oleh Kepala Direktorat (dahulu Lembaga) Bahasa dan Kesusastraan. Jang mendjadi Ketua berturut-turut sedjak tahun 1950 ialah:(1) Prof.Dr. Prijono, (2) frof.Dr. P.A.A. Hoesein Djajadiningrat, (3) Dra. Lukijati Gandasubrata, (4) Dra. Moliar Achmad, (5) Dra. Nj. S.W. Rudjiati Muljadi. Wakil Ketua Komisi Istilah dipegang oleh Nur Sutan Isksadar hingga bulan Agustus 1966, kemudian digantikan oleh Drs. A.M. Moeliono, M.A. Sekretaris Umum Komisi Istilah adalah Kepala Dinas (dahulu:Urusan) Peristilahan dan perkamusan, berturut-turut dipegang oleh : (1) Sutan Moh. 5a'id, (2) A.W. Djumena, (3) R.A. Datuk Besar,(4) Dra. Moliar Achmad,(5) Dra. Sri Timur Suratman, 6) Dra. S.S. Adiwimarta. {{Left sidenote|*Kepala Dinas Peristilahan dan Perkamusan, Direktorat bahasa dan Kesusastraan.}}<noinclude>{{Rh|||1}}</noinclude> opk31rsksyhmgspn2gkndoh67l0wrtq 291976 291355 2026-05-11T10:44:58Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291976 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude><center> {{X-larger|KOMISI ISTILAH DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRAAN}}</center> {{Right sidenote|Oleh: Sri Soekesi Adimimarta *}} Salah satu tugas Direktorat Bahasa dan Kesusastraan ialah membina dan memperkembangkan Bahasa Indonesia dalam lapangan peristilahan. Tugas ini jang ditampung oleh Dinas Peristilahan dan Perkamusan. Ketjuali mereka jang berkepentingan, kami kira belumlah banjak orang jang mengetahui apakah sebenarnja jang dikerdjakan oleh Dinas ini. Dinas Peristilahan dan Perkamusan merupakan Sekretariat dari Komisi Istilah. Untuk mengetahui apakah Komisi Istilah itu, perlulah kami uraikan disini sedjarah terbentuknja, susunan serta hasil kerdjanja. '''<u>Sedjarah Pembentukan Komisi Istilah</u>''' Pada tanggal 13 Mei 1950 telah dilantik Komisi Istilah jang bertugas menjelenggarakan penjusunan istilah dalam bahasa Indonesia. Pada mulanja Komisi tersebut masuk dalam Dinas Kebudajaan. Dengan terbentuknja Negara Kesatuan Republik Indonesia dan penggabungan Kementerian P.P. dan K/R.I. dengan Kementerian P.P. dan K/R.I.S, maka Menteri P.P. dan K. dalam Surat Keputusannja tertanggal 28 Mei 1951 No. 12870/Keb. menetapkan bahwa Komisi Istilah dan Bagian Penterdjemahan Kem. P.P. dan K/R.I.S. dahulu, masuk dalam Balai Bahasa Djawatan dan Kebudajaan Kem. P.P. dan K/R.I. jang pindah dari Jogjakarta ke Djakarta dan berlaku mulai tanggal 1 Djuli 1951. Kemudian dengan Surat Keputusan Menteri P.P. dan K. tanggal 11 Agustus 1952 No. 27400/Keb., Balai Bahasa dipetjah. Bagian jang tetap pada Djawatan Kebudajaan Kem. P.P. dan KX. tugasnja dititikberatkan pada bidang sosial budaja. Sebagian masuk Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia, jang dinamakan Lembaga Bahasa dan Budaja. Tugasnja sama dengan tugas Balai Bahasa duhulu dengan titik berat pada bidang ilmu pengetahuan. Komisi Istilah dimusukkan kedalam Lembaga ini dan dengan sendirinja djuga berada dibawah Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia. Dengan Surat Keputusan Menteri P.P: dan K. tanggal 1 Djuni 1959 No. 69266/b/8, Lembaga Bahasa dan Budaja dikeluarkan dari Fukultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia mendjadi Lembaga Bahasa dan Kesusastraan Kementerian P.P. dan K. hingga sekarang. Komisi Istilah mendjadi Panitia Interdepartemental sedjak tahun 1955 No. 6481/55. Dengan demikian pembiajarannja (uang sidang anggota Komisi Istilah dan biaja Administrasi) mendjadi tanggungan anggaran Kabinet Perdana Menteri/Sekretariat Negara. '''<u>Pimpinan komisi Istilah</u>''' Pimpinan Komisi Istilah dipegang oleh Kepala Direktorat (dahulu Lembaga) Bahasa dan Kesusastraan. Jang mendjadi Ketua berturut-turut sedjak tahun 1950 ialah:(1) Prof.Dr. Prijono, (2) frof.Dr. P.A.A. Hoesein Djajadiningrat, (3) Dra. Lukijati Gandasubrata, (4) Dra. Moliar Achmad, (5) Dra. Nj. S.W. Rudjiati Muljadi. Wakil Ketua Komisi Istilah dipegang oleh Nur Sutan Isksadar hingga bulan Agustus 1966, kemudian digantikan oleh Drs. A.M. Moeliono, M.A. Sekretaris Umum Komisi Istilah adalah Kepala Dinas (dahulu:Urusan) Peristilahan dan perkamusan, berturut-turut dipegang oleh : (1) Sutan Moh. 5a'id, (2) A.W. Djumena, (3) R.A. Datuk Besar,(4) Dra. Moliar Achmad,(5) Dra. Sri Timur Suratman, 6) Dra. S.S. Adiwimarta. {{Left sidenote|*Kepala Dinas Peristilahan dan Perkamusan, Direktorat bahasa dan Kesusastraan.}}<noinclude>{{Rh|||1}}</noinclude> eembxkdyha98ixpbak76ndzjbnxpjd3 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/20 104 103495 291356 2026-05-10T17:31:20Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '14 Susunan Komisi Istilah Konisi Istilah dibagi atas seksi-soksi, jang berturas mnenshimpun istilah dalam limangannja masing-masing. Anggota sexsi terdiri atas tenaga ahli dari berbagai Jepartimnen dan Instansi. Tiap-tiap seksi mem- punjal Seoring Kotua jang dipilih diantaru para anrgotanja, seorang Perasehat Bahasa jang merupakan seorang Ahli tahusu dan seorang Sckre- taris sexsi. Sebagai tusbahan perlu xumi kemukikan disini, bahwa p... 291356 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude>14 Susunan Komisi Istilah Konisi Istilah dibagi atas seksi-soksi, jang berturas mnenshimpun istilah dalam limangannja masing-masing. Anggota sexsi terdiri atas tenaga ahli dari berbagai Jepartimnen dan Instansi. Tiap-tiap seksi mem- punjal Seoring Kotua jang dipilih diantaru para anrgotanja, seorang Perasehat Bahasa jang merupakan seorang Ahli tahusu dan seorang Sckre- taris sexsi. Sebagai tusbahan perlu xumi kemukikan disini, bahwa prosudar pce- ugangkatan para anggota diusulkan oleh Kepala Direktorat jahasa dan Kesusastraan. Hama-nama anggota jung akan dianrzkat diadjuxan kopada Mentori/Sekrstaris Nagari. purat Keputusan t.ntang pengangkatan, penam bihun atu pemberhentian anggota Komisi Istil:h dikcluirkan oleh pProe- sidium Kabinet/Sekreturiat "egara. Komisi Istilah padu waktu sekarang t.rdiri dari 19 scxsi, ialah. « Ilmu Bahasa dan Kesusustraan. o A Fama e Kesedjahteraun Keluarga. « Pendidikan. Fsychologi, Kasenian. Administrasi. Ilmu Hukum. '', kkonomi. 10, sosiologi. 11, Sedjarah, Civics dan Politik. 12. Kedokteran. 13, Kehewanan, 14. Kimia/Farmz:si. 15. Pertanian, Kehutunan dan Perikanan. 16, Pelajaran. 17. Teknik. 18, Ilmu fasti/Alam. 19, Geogradi. . DS AD MAN Nb . @ Hasil pekerdjaan Komisi Istilah Tiap-tiap rapat seksi menghasilkan dan menetapkan ietilah-istilah baru jang merupakan terdjemahan dari istilah-istilah bahasa asing. Untuk ini pedoman Komisi Istilah jalah, mengganti sedapat-dapatnja istilah asing dalam berbarai tjabang ilmu pengetahuan dengan istilah Indonesia, dengan tetap memperhatikan arti dan maknanja. Istilah-istilah jang dikumpulkan oleh soksi-seksi dibawa kerapat D.P.I. (Dewan Pertimbangan Istilah) untuk disahkan. Jang belum dapat di- setudjui oleh D.P.I. dikenbalikan kepada seksi jang bersangkutan beser- ta usul dan petundjuk duri D.P.I. Jang mendjadi anggota D.P.I. ialah pu- ra Ketua Seksi jang terdiri dari 4 kelompok, jaitu: (1) D.P.I./A, (2) D.P.I./B, (3) D.P.I./C, dan (4) D.P.I./D. Djika diantara istilah-istidah/ ditetapkan oleh D.P.I. itu keda- /jang patan beberapa jang serupa tetapi berlainan jstilah Indonesianja atau tidzk seracyam edjaannja, maka istilah-istilah tersebut diserahkan kepa- da Panitia ketjil/ menjelesaikan Gun menjempurnakannja legi, Dalam Pani- /unt tia Ketjil itu duduk Ketua-Ketua D.P.I. sebugai anzgota daun beberapa anggota lainnja jang ditundjuk oleh Ketua Umum Komisi Istilah. Karena kemudian dirasakan ketidak lantjaran dalam pekerdjaan-pekerdjaan Komisi Istilah dengan dilaluiaja prosedur seperti diates maka kedua badan itu (D.P.I. dan Panitia Ketjil) ditiadakenmulai bulan Djuni 1965. Dengan de- mikian seksilih selandjutaja jang berwenang untuk mensahkan istilah-<noinclude></noinclude> tu5uj0x9y4vor61tvz13ovklg78z4rj 291370 291356 2026-05-10T17:54:48Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291370 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" />{{rh||14}}</noinclude><u>Susunan Komisi Istilah</u> Konisi Istilah dibagi atas seksi-seksi, jang bertugas menghimpun istilah dalam lapangannja masing-masing. Anggota seksi terdiri atas tenaga ahli dari berbagai Departemnen dan Instansi. Tiap-tiap seksi mempunjai seorang Ketua jang dipilih diantara para anggotanja, seorang Perasehat Bahasa jang merupakan seorang Ahli Bahasa dan seorang Sekretaris seksi. Sebagai tambahan perlu kami kemukakan disini, bahwa prosedur pengangkatan para anggota diusulkan oleh Kepala Direktorat Bahasa dan Kesusastraan. Nama-nama anggota jang akan diangkat diadjukan kepada Menteri/Sekretaris Negara. Surat Keputusan tentang pengangkatan, penambahan atau pemberhentian anggota Komisi Istilah dikeluarkan oleh Presidium Kabinet/Sekretariat N"egara. Komisi Istilah pada waktu sekarang terdiri dari 19 seksi, ialah. <ol value="1"> <li> Ilmu Bahasa dan Kesusustraan. </li> <li> Agama </li> <li> Kesedjahteraan Keluarga. </li> <li> Pendidikan. </li> <li> Psychologi. </li> <li> Kesenian. </li> <li> Administrasi. </li> <li> Ilmu Hukum. </li> <li> Ekonomi. </li> <li> Sosiologi. </li> <li> Sedjarah, Civics dan Politik. </li> <li> Kedokteran. </li> <li> Kehewanan, </li> <li> Kimia/Farmasi. </li> <li> Pertanian, Kehutanan dan Perikanan. </li> <li> Pelajaran. </li> <li> Teknik. </li> <li> Ilmu Pasti/Alam. </li> <li> Geografi. </li> </ol> <u>'''Hasil pekerdjaan Komisi Istilah'''</u> Tiap-tiap rapat seksi menghasilkan dan menetapkan istilah-istilah baru jang merupakan terdjemahan dari istilah-istilah bahasa asing. Untuk ini pedoman Komisi Istilah ialah, mengganti sedapat-dapatnja istilah asing dalam berbagai tjabang ilmu pengetahuan dengan istilah Indonesia, dengan tetap memperhatikan arti dan maknanja. Istilah-istilah jang dikumpulkan oleh seksi-seksi dibawa kerapat D.P.I. (Dewan Pertimbangan Istilah) untuk disahkan. Jang belum dapat disetudjui oleh D.P.I. dikenbalikan kepada seksi jang bersangkutan beserta usul dan petundjuk dari D.P.I. Jang mendjadi anggota D.P.I. ialah para Ketua Seksi jang terdiri dari 4 kelompok, jaitu: (1) D.P.I./A, (2) D.P.I./B, (3) D.P.I./C, dan (4) D.P.I./D. Djika diantara istilah-istilah jang ditetapkan oleh D.P.I. itu kedapatan beberapa jang serupa tetapi berlainan istilah Indonesianja atau tidak seragam edjaannja, maka istilah-istilah tersebut diserahkan kepada Panitia ketjil untuk menjelesaikan dan menjempurnakannja lagi, Dalam Panitia Ketjil itu duduk Ketua-Ketua D.P.I. sebagai anggota dan beberapa anggota lainnja jang ditundjuk oleh Ketua Umum Komisi Istilah. Karena kemudian dirasakan ketidaklantjaran dalam pekerdjaan-pekerdjaan Komisi Istilah dengan dilaluinja prosedur seperti diatas maka kedua badan itu (D.P.I. dan Panitia Ketjil) ditiadakan mulai bulan Djuni 1965. Dengan demikian seksilah selandjutnja jang berwenang untuk mensahkan istilah-<noinclude></noinclude> g6o274i8ofhsf2rll971s9xza1is0mb 291978 291370 2026-05-11T10:48:24Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291978 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||14}}</noinclude><u>Susunan Komisi Istilah</u> Konisi Istilah dibagi atas seksi-seksi, jang bertugas menghimpun istilah dalam lapangannja masing-masing. Anggota seksi terdiri atas tenaga ahli dari berbagai Departemnen dan Instansi. Tiap-tiap seksi mempunjai seorang Ketua jang dipilih diantara para anggotanja, seorang Perasehat Bahasa jang merupakan seorang Ahli Bahasa dan seorang Sekretaris seksi. Sebagai tambahan perlu kami kemukakan disini, bahwa prosedur pengangkatan para anggota diusulkan oleh Kepala Direktorat Bahasa dan Kesusastraan. Nama-nama anggota jang akan diangkat diadjukan kepada Menteri/Sekretaris Negara. Surat Keputusan tentang pengangkatan, penambahan atau pemberhentian anggota Komisi Istilah dikeluarkan oleh Presidium Kabinet/Sekretariat N"egara. Komisi Istilah pada waktu sekarang terdiri dari 19 seksi, ialah. <ol value="1"> <li> Ilmu Bahasa dan Kesusustraan. </li> <li> Agama </li> <li> Kesedjahteraan Keluarga. </li> <li> Pendidikan. </li> <li> Psychologi. </li> <li> Kesenian. </li> <li> Administrasi. </li> <li> Ilmu Hukum. </li> <li> Ekonomi. </li> <li> Sosiologi. </li> <li> Sedjarah, Civics dan Politik. </li> <li> Kedokteran. </li> <li> Kehewanan, </li> <li> Kimia/Farmasi. </li> <li> Pertanian, Kehutanan dan Perikanan. </li> <li> Pelajaran. </li> <li> Teknik. </li> <li> Ilmu Pasti/Alam. </li> <li> Geografi. </li> </ol> <u>'''Hasil pekerdjaan Komisi Istilah'''</u> Tiap-tiap rapat seksi menghasilkan dan menetapkan istilah-istilah baru jang merupakan terdjemahan dari istilah-istilah bahasa asing. Untuk ini pedoman Komisi Istilah ialah, mengganti sedapat-dapatnja istilah asing dalam berbagai tjabang ilmu pengetahuan dengan istilah Indonesia, dengan tetap memperhatikan arti dan maknanja. Istilah-istilah jang dikumpulkan oleh seksi-seksi dibawa kerapat D.P.I. (Dewan Pertimbangan Istilah) untuk disahkan. Jang belum dapat disetudjui oleh D.P.I. dikenbalikan kepada seksi jang bersangkutan beserta usul dan petundjuk dari D.P.I. Jang mendjadi anggota D.P.I. ialah para Ketua Seksi jang terdiri dari 4 kelompok, jaitu: (1) D.P.I./A, (2) D.P.I./B, (3) D.P.I./C, dan (4) D.P.I./D. Djika diantara istilah-istilah jang ditetapkan oleh D.P.I. itu kedapatan beberapa jang serupa tetapi berlainan istilah Indonesianja atau tidak seragam edjaannja, maka istilah-istilah tersebut diserahkan kepada Panitia ketjil untuk menjelesaikan dan menjempurnakannja lagi, Dalam Panitia Ketjil itu duduk Ketua-Ketua D.P.I. sebagai anggota dan beberapa anggota lainnja jang ditundjuk oleh Ketua Umum Komisi Istilah. Karena kemudian dirasakan ketidaklantjaran dalam pekerdjaan-pekerdjaan Komisi Istilah dengan dilaluinja prosedur seperti diatas maka kedua badan itu (D.P.I. dan Panitia Ketjil) ditiadakan mulai bulan Djuni 1965. Dengan demikian seksilah selandjutnja jang berwenang untuk mensahkan istilah-<noinclude></noinclude> p8erco61xvciqmfmdaoyvr1trx759m2 Pembicaraan Halaman:Propinsi Sumatera Tengah.pdf/481 105 103496 291365 2026-05-10T17:38:21Z Riiiv 22458 /* Tanda baca, tanda petik, line break */ bagian baru 291365 wikitext text/x-wiki == Tanda baca, tanda petik, line break == halo kak @[[Pengguna:Muhamad Fahrizal Leo Pratama|Muhamad Fahrizal Leo Pratama]], harap periksa dengan teliti sebelum mengeklik kuning. Tanda baca, tanda peti, dan line break masih perlu diperbaiki. Terima kasih, tetap semangat h [[Pengguna:Riiiv|Riiiv]] ([[Pembicaraan Pengguna:Riiiv|bicara]]) 10 Mei 2026 17.38 (UTC) e6upmw52hwpyeym1w0f232v2l4uq97m Halaman:Dongeng Monjet dengen Koera-Koera.pdf/16 104 103497 291368 2026-05-10T17:41:32Z Bibazi 25578 /* Telah diuji baca */ 291368 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Bibazi" />{{rh||{{--}} 4 {{--}}|}}</noinclude>sebab kegirangan, sambil berkata: „Abang Koera-koera, liatla djantoeng saja soeda megar; tida lama lagi tentoe kenjangla kita makan pisang !" Maka si Monjet menggosok-gosok pahanja begimana adat Monjet kaloe ija kegirangan. Kata si Koera-koera: „Betoel bagoes taneman ade; saja poenja lama djadinja , baroe ada sebidji daonnja keloewar. Tetapi itoe tida mengapa, saja djoega namanja Koera-koera jang bodo. Manjola kita poelang!" Beberapa hari lagi lamanja pergi lagi si Koera-koeramdiadjak sobatnja si Monjet itoe meliat tanemannja. Kata si Monjet sambil mengiler: „Sekarang tentoe soeda mateng pisang saja. Lekas-lekasla abang Koera-koera berdjalan." Tetapi sebab geremetnja si Koera„Nanti koera itoe berdjalan, maka berdjalanla si Monjet lebi doeloe : saja pergi meliat doeloe" katanja. „Baikla" - kata si Koera-koera „sebentar saja djoega sampe." Serenta si Koera-koera sampe ditempat taneman pisang itoe, ija liat sobatnja doedoek deket tanemannja sembari merengoet. Maka bertanja si Koera-koera, katanja:G „Ade Monjet, apa koerang merengoet?" Maka kata si Monjet:" Wa, latjoer! liatla djantoeng saja soeda boesoek! Saja tida bole abis pikir begimana bole djadi begitoe!" Maka kata si Koera-koera : „Betoel djoega begimana kata ade. Itoe sebabnja barangkali, kaloe manoesija menanem pisang ,ditanem anaknja sadja. Tetapi soedala, djangan dikeselin, taneman saja soeda doewa bidji lagi daonnja jang baroe , roepa-roepanja djadi taneman saja. Sekarang manjola kita poelang doeloe keroema." Maka poelangla doewa-doewanja sobat itoe, si Monjet roepanja kesel hatinja, dan lagi maloe sebab memikirin bodonja sendiri. Berapa hari lagi lamanja pergi lagi kedoewanja sobat itoe meliat pisangnja. Maka pisang is Koera-koera itoe semingkin djadi , djantoengnja soeda maoe keloewar. Kata si Monjet: „Abang Koera-koera, pisang abang soeda berdjantoeng ; tida lama lagi tentoe makan pisangla kita!" Sahoet si Koera-koera:<noinclude></noinclude> l0xkuwhw9n9p9zeqhhb0v5twcwb6ovv Halaman:Dongeng Monjet dengen Koera-Koera.pdf/17 104 103498 291369 2026-05-10T17:47:46Z Bibazi 25578 /* Telah diuji baca */ 291369 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Bibazi" />{{rh||{{--}} 5 {{--}}|}}</noinclude>„Moega-moega!" Pada waktoe pisang itoe soeda mateng, maka pada satoe malem kedoewa sobat itoe berniat, pada besoknja dija maoe pergi memetik pisang itoe. Sebab soeda gelap, si Monjet tida mave poelang kepoehoen tempat ija bijasa menginep, melaenken tidoer ija didalem lobang tempat koera-koera itoe. Serenta tenga malem si Koera-koera mendoesin, sebab mendenger soewara orang mengomong. Didalem hati Koera-koera: „Apa itoe?" laloe ija pasang koeping, maka didengernja si Monjet lagi mengigo, begini katanja: „Nanti goewa akalin si Koerakoera bongol itoe, kaloe karoeng jang kita soeda sediaken itoe penoe goewa isiïn pisang, lantas goesa bawa lari, goewa makan sendirian sadja pisang itoe; si Koera-koera geremet itoe , masa ija bole soesoel sama goewa!" Serenta si Koera-koera mendengar igonja si Monjet itoe, maka kata si Koera-koera didalem hatinja: „Begitoe akal loe? Nanti goewa bales sama loe!" Maka berpikirla si Koera-koera, mentjari akal. Sebentar akal, loe rasain nanti, monjet tjilaka." Setela itoe maka si Koera-koera 1 merajap dijem-dijem masoek kedalem karoeng jang bakal dipake tempat pisang itoe, laloe digigitnja sampe bolong sebela bawanja. Serenta soeda, keloewar si Koera-koera dari dalem karoeng, dijem-dijem pergi tidoer, maen bodo tida taoe satoe apa. Serenta hari soeboe, si Monjet soeda bangoen, laloe ija panggil sobatnja:" Abang Koera-koera, abang Koerakoera! lekasla bangoen; manjo kita berdjalan." Kata si Koera-koera, sembari mengoewap dan menarik males: „Manjo!" Si Monjet mengambil karoeng tempat pisang itoe, lantas berdjalan bersama-sama dengeir si Koera-koera. Serenta sampe dipoehoen pisang, si Koera-koera berkata:„Ade Monjet! pandjatla poehoen pisang ini, saja menoenggoe dibawasadja." Sahoet si Monjet, sembari geli hatinja, meliat si Koera-koera jang disangkanja bengol itoe: „Baikla" - lantas ija pandjat poehoen 0000 lagi kata si Koera-koera sembari mèsem: „Sekarang goewa soeda dapet<noinclude></noinclude> p932csjvizibd7d3eim7biaocix4old Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/21 104 103499 291383 2026-05-10T22:57:08Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '15 istilah jang dihasilkan dalam rapat-rapetnja. Istilah jang telah Gisehkin oleh masing,-m.sing seksi @jgerahkun keps.da Sekretariat Umum, dilam hal ini binas Yeristilehan. Disinilah istilah-istilah tersebut diksartukan, jaitu ditik diatus 2 matjam kartu: kartu putih dan kartu kuning. kartu putih untuk kampulan istilzh masing- msing azk berdasarkan seksi, Djika kemudian oleh bagian Perkamusan Istilah, Gisusun mendjadi buram dan seba... 291383 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude>15 istilah jang dihasilkan dalam rapat-rapetnja. Istilah jang telah Gisehkin oleh masing,-m.sing seksi @jgerahkun keps.da Sekretariat Umum, dilam hal ini binas Yeristilehan. Disinilah istilah-istilah tersebut diksartukan, jaitu ditik diatus 2 matjam kartu: kartu putih dan kartu kuning. kartu putih untuk kampulan istilzh masing- msing azk berdasarkan seksi, Djika kemudian oleh bagian Perkamusan Istilah, Gisusun mendjadi buram dan sebagai naskah telr.h siap untuk diterbitkan dalam bentuk kas mus atau disiarkan. Ketika madjalah Bahasa Gan iudaja masih terbit, hasil-hasil Komi- si Istiluh (sebagai lampiran) dapat suimpsi kepada akar dengan mel.lui media tersebut, Setcl.h madjalah itu me.tjet, diusuhakanlah tja- rx lain untuk menjisri:-annja jaitu menstensil hasil-hasil seksi Komisi Istilah tersebut dan mengirimkannja kepada seksi, sedangkan kartu kuning disusun menurut abdjad sndja, Sar surat-surat kabar utau medja- lah, Totapi tjaera ini, pada wuktucwaktu teri.chirpun mengalimi kematjetan pule.. Kamus-kamus Istilah jang: ena uli l, 2. ,. , 4 12. kamus Istilah kedokteran Kamus Istilsh velaj.ran Kamus Istilah Kehewanan Intisari Tatanan : Kkimie Anorganik dan kimi: Organik beserta Kamus Istilah Kinia Kumus Istilah Teknik Kamus Istilah Feradjinan Hanita Kamus Istilah Pendidikan, Pengad jaran 'dan Ilmu Djiwa Kamus Istilah Ilmu Hukum Komus Istilah Fertainian, kehutanan Gan Ferikanan Lamu8 Istilah Lkononi- Kcuangan kamus Istilah Kedokteran kamus Ilau Bahasa dan Kesusastraan 0. li kamus Istilah Tata Usuha 2, kamus Istilah Kehewanan 3s kamus Istilah esenian Asing-Indonesia ksing-Indonesia Asing-Indonesia Indonesia-Asing Asinr-Indonesia Asing-Ilnconcsia Asing-Indonesia fksing-Indoncsia Indoncesia-Asing Lsing-Indonesi.u Asing-Indonesia . hsing-Indonesia AsingvIndonesia Asing-Indonesia (definisi) ah Jang t belun diteroitkan : Asing-Indonesia Asing-Indonesia Asing-Indoncsia Ujakarta, Bulai Pustaka, 1954, Dj:kerta, Balai Pustaka, 1956, tjct,I Dj-kairtr, Balai - Pusteka, 1956, tjet.I tjot.I Djakarta, Balai Pustaka, 1956, tjct.I Djakarta, solai Pustaka, 1956, tjet.I Djakarta, Balai - | Pustaka, 1957, tjet.I Djakarta, balai Pustake., 1958, tjet.I Djakarta, Balai Pustaka, 1960, tjet.I Djukarta, Balai Pustaka, 1960, tjet,I Djakaxta, Balai Pustaka, 1960, tjet.I' Djakarta, Balai, ' Pustaka, 1961, tjet.II Djakarta, Lembaga “ EKahusa Gan Kesusaa- : trazn, 1965, tjet. I (stensilan) 1959 1961 1962<noinclude></noinclude> 11lhk49tfqb3m7zhy9noydks0bk7477 291410 291383 2026-05-10T23:46:21Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291410 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" />{{rh||15}}</noinclude>istilah jang dihasilkan dalam rapat-rapatnja. Istilah jang telah disahkan oleh masing-masing seksi diserahkan kepada Sekretariat Umum, dalam hal ini Dinas Peristilahan. Disinilah istilah-istilah tersebut dikartukan, jaitu ditik diatus 2 matjam kartu: kartu putih dan kartu kuning. Kartu putih untuk kampulan istilah masing-masing seksi, sedangkan kartu kuning disusun menurut abdjad sadja, tidak berdasarkan seksi. Djika kemudian oleh bagian Perkamusan Istilah, disusun mendjadi buram dan sebagai naskah telah siap untuk diterbitkan dalam bentuk kasus atau disiarkan. Ketika madjalah Bahasa dan Budaja masih terbit, hasil-hasil Komisi Istilah (sebagai lampiran) dapat sampai kepada masjarakat dengan melalui media tersebut. Setelah madjalah itu matjet, diusahakanlah tjara lain untuk menjiarkannja jaitu menstensil hasil-hasil seksi Komisi Istilah tersebut dan mengirimkannja kepada surat-surat kabar utau madjalah. Tetapi tjara ini, pada waktu-waktu terachirpun mengalimi kematjetan pula. <u>Kamus-kamus Istilah jang sudah terbit ialah:</u> {| |- |l. ||Kamus Istilah kedokteran ||Asing-Indonesia ||<center>Djakarta, Balai Pustaka, 1954, tjat. I</center> |- |2. ||Kamus Istilah Peladjaran ||Asing-Indonesia ||<center>Djakarta, Balai Pustaka, 1956, tjat. I</center> |- |3.||Kamus Istilah Kehewanan ||Asing-Indonesia ||<center>Djakarta, Balai Pustaka, 1956, tjat. I</center> |- | || ||Indonesia-Asing|| |- |4.||Intisari Tatanan : ||Asing-Indonesia||<center>Djakarta, Balai Pustaka, 1956, tjat. I</center> |- | ||Kimia Anorganik dan || |- | ||Kimia Organik beserta || |- | ||Kamus Istilah Kimia |- |5.||Kamus Istilah Teknik||Asing-Indonesia||<center>Djakarta, Balai Pustaka, 1956, tjat. I</center> |- |6.|| Kamus Istilah Keradjinan Wanita ||Asing-Indonesia||<center>Djakarta, Balai Pustaka, 1957, tjat. I</center> |- |7.||Kamus Istilah Pendidikan,||<center>Asing-Indonesia||Djakarta, Balai Pustaka, 1958, tjat. I</center> |- | ||Pengadjaran dan Ilmu Djiwa|| |- |8.||Kamus Istilah Ilmu Hukum ||Asing-Indonesia||<center>Djakarta, Balai Pustaka, 1960, tjat. I</center> |- |9.||Kamus Istilah Pertanian, kehutanan dan Perikanan ||Asing-Indonesia||<center>Djakarta, Balai Pustaka, 1960, tjat. I</center> |- |1o.||Kamus Istilah Ekonomi-Keuangan ||Asing-Indonesia||<center>Djakarta, Balai Pustaka, 1960, tjat. I</center> |- |11.||Kamus Istilah Kedokteran ||Asing-Indonesia||<center>Djakarta, Balai Pustaka, 1961, tjat. II</center> |- |12.||kamus Ilmu Bahasa dan Kesusastraan||Asing-Indonesia||<center>Djakarta, Balai Pustaka, 1965, tjat. I</center> |- | || ||<center>(definisi)</center>|| <center>(stensilan)</center> |} <u>Naskah-naskah Kamus Istilah jang belum diterbitkan</u>: {| |- |1.||Kamus Istilah Tata Usaha ||Asing-Indonesia||<center>1959</center> |- |2.|| kamus Istilah Kehewanan||Asing-Indonesia||<center>1961</center> |- |3.|| kamus Istilah Kesenian||Asing-Indonesia||<center>1962</center> |- |}<noinclude></noinclude> jot9ayvfcnzd62tdlh2z979qpja9ifp Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/544 104 103500 291388 2026-05-10T23:14:18Z N.imaema 22481 /* Telah diuji baca */ 291388 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="N.imaema" /></noinclude>Rentjana mempersiapkan suatu pemerintah pusat darurat Republik Indonesia diluar Djawa tersebut, ditjantumkan dalam dasar pedoman dan program bersama dari perdjuangan daerah<sup>2</sup> bergolak jang ditanda tangani oleh Letnan Kolonel Barlian, Ahmad Husin dan Ventje Sumual di Kota Perdjuangan tanggal 5 Oktober 1957. Dalam dokumen Z. Lubis itu ternjata, bahwa pemberontakan PRRI adalah tindakan terachir dari Z. Lubis dan kawan<sup>2</sup>nja untuk memaksakan konsepsinja dengan djalan kekerasan. Dapat ditjatat bahwa Z. Lubis sendiri tidak me-njebut<sup>2</sup> namanja untuk menempati sesuatu djabatan dalam konsepsinja tersebut. {{missing image}} {{c|''Rombongan PMI pusat jang dipimpin oleh Sekdjen. Nona PARMASASMITA sedang mengadakan perundingan dengan Kol. JANI untuk merundingkan pengungsian bangsa<sup>2</sup> Asing jang masih berada di Padang.''}} Menurut para wakil daerah bergolak jang menanda tangani pedoman perdjuangan itu, selama masih bertjokolnja PKI dipusat (pulau Djawa), selama itu pula pusat tidak dapat diakui sebagai pusat dari negara Republik Indonesia dan untuk menampung hal<sup>2</sup> tersebut, haruslah sedjak sekarang dimulai usaha menudju kearah pembentukan pemerintahan pusat jang lain itu jang berkedudukan diluar pulau Djawa. Dari pada hidup dibawah pendjadjahan komunis lebih baik hanjur dalam mempertahankan perdjuangan daerah dalam rangka menegakkan ideologie negara Pantjasila menudju pembina Indonesia baru. Demikianlah rupanja tudjuan gerakan Zulkifli Lubis jang hendak merombakkan isi perdjuangan 1945 dengan tidak lagi mengindahkan kepada Pantjasila. '''Dwitunggal Dilepaskan.''' Dalam pedoman perdjuangan daerah bergolak selandjutnja dinjatakan, bahwa djusteru karena kenjataan<sup>2</sup> menundjukkan tentang realisasi dari prinsip pemulihan keutuhan dwitunggal tidak mungkin lagi dilaksanakan, maka sesuai dengan Piagam Persetudjuan Palembang, mulai dari saat itu (5 Oktober 1957) mengambil djalan lain jang tegas, jaitu mentiadakan methos dwitunggal dan memperdjuangakn terlaksananja pemilihan presiden jang baru. Dwitunggal mulai saat itu harus dianggap sebagai alat jang lebih menggampangkan tertjapainja tjita-tjita, dari pada apabila jang mempunjai kekuasaan formil itu hanja Sukarno sadja. Untuk sementara pendirian ini dirahasiakan dulu karena perobahan pendirian terhadap Bung Hatta akan membawa efek psichologis jang dapat dipergunakan oleh pihak lawan. '''Komando Bersama.''' Selandjutnja direntjanakan pula untuk segera meralisir suatu komando bersama jang akan menjusun strategi bersama dalam bentuk komando antara daerah, sedapat<sup>2</sup>nja didahului oleh pembentukan komando Sumatera jang dipertjajakan kepada Maludin Simbolon dan kawan<sup>2</sup>nja. Dasar pertahanan jang dipergunakan ialah pertahanan kolektif tetap solider dan konsekwen serta mengutuk dan menentang segela djalan kekerasan fisik maupun administratif jang mungkin diambil pusat terhadap suatu daerah pengikut. Dibidang militer ini memperhtikan pula keperluan adanja suatu ALRI dengan suatu AURI dalam komando bersama dan memerlukan adanja operasi spesial, serta membentuk panitia tehnis antar daerah untuk segera mewudjutkan perhubungan tele- kominikasi. Dibidang ekonomi dan keuangan, mempertinggi potensi daerah dengan memperhitungkan putusnja hubungan daerah pada suatu waktu. Dibentuk suatu kerdja sama menudju kesatuan pimpinan setjara integral dalam lapangan finec antara daerah<sup>2</sup>. '''Anti Komunis Didjadikan Alasan.''' Dalam rangka kewaspadaan nasional harus dibentuk dengan segera front anti komunis untuk membasmi bahaja nasional dan peri kehidupan bangsa sebagai bangsa jang ber-Tuhan, damai dan demokratis. Menjiapkan suatu undang<sup>2</sup> kepartaian, dan partai jang atheis harus dilarang. Dan jang penting ialah supaja anti komunis didjadikan pokok utama untuk menarik perhatian masjarakat seluruh Indonesia. Sebelumnja progam ini disusun, pada tanggal 22 September 1957. T.T.II Sriwidjaja di Palembang djuga telah membuat suatu konsep realisasi piagam Palembang<noinclude>{{rh|10}}</noinclude> 5ws61lgfnwnm6vv6ao3l9kexgo833ud Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/547 104 103501 291391 2026-05-10T23:20:16Z N.imaema 22481 /* Telah diuji baca */ 291391 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="N.imaema" /></noinclude>{{missing image}} bergerak madju setjepat tahun 1914—1818, mereka akan sanggup menahannja sampai beberapa bulan. Demikianlah mereka memasuki Perang Dunia II. Lupa mereka akan peladjaran<sup>2</sup> jg mengatakan bahwa peperangan baru kebanjakan akan dimulai dengan pendapat terachir dari peperangan jang lampau. Dalam Perang Dunia I tank<sup>2</sup> di Cambrai menundjukkan kemampuan<sup>2</sup> jang luar biasa. Ditambah pula dengan alat-alat modern seperti kapal<sup>2</sup> terbang dapat dipastikan, bahwa peperangan baru akan tjondong kearah itu. Arah ketjepatan. Ketjepatan bergerak, ketjepatan menguasai keadaan, bahkan ketjepatan dalam alam pikiran. Polandia tidak mau tahu akan hal<sup>2</sup> itu. Bukan Polandia sadja, tetapi Inggeris, Perantjis menutup rapat<sup>2</sup> pintu kekamar peperangan setjara kilat itu. Ketjuali beberapa gelintir manusia sadja, seperti Fuller, de Gaulle, Liddell Hart, jang pertjaja akan kemenangan<sup>2</sup>pendapat<sup>2</sup> baru tersebut. Perang kilat jang didemonstrasikan Djerman selama lima minggu di Polandia itu pokok pang-<noinclude>{{rh|||13}}</noinclude> 0ubgo2bruag0vgfz5yeh9cpksq4lydo 291404 291391 2026-05-10T23:37:42Z N.imaema 22481 291404 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="N.imaema" /></noinclude>{{missing image}} bergerak madju setjepat tahun 1914—1818, mereka akan sanggup menahannja sampai beberapa bulan. Demikianlah mereka memasuki Perang Dunia II. Lupa mereka akan peladjaran<sup>2</sup> jg mengatakan bahwa peperangan baru kebanjakan akan dimulai dengan pendapat terachir dari peperangan jang lampau. Dalam Perang Dunia I tank<sup>2</sup> di Cambrai menundjukkan kemampuan<sup>2</sup> jang luar biasa. Ditambah pula dengan alat-alat modern seperti kapal<sup>2</sup> terbang dapat dipastikan, bahwa peperangan baru akan tjondong kearah itu. Arah ketjepatan. Ketjepatan bergerak, ketjepatan menguasai keadaan, bahkan ketjepatan dalam alam pikiran. Polandia tidak mau tahu akan hal<sup>2</sup> itu. Bukan Polandia sadja, tetapi Inggeris, Perantjis menutup rapat<sup>2</sup> pintu kekamar peperangan setjara kilat itu. Ketjuali beberapa gelintir manusia sadja, seperti Fuller, de Gaulle, Liddell Hart, jang pertjaja akan kemenangan<sup>2</sup>pendapat<sup>2</sup> baru tersebut. Perang kilat jang didemonstrasikan Djerman selama lima minggu di Polandia itu pokok {{hws|pang|pangkalja}}<noinclude>{{rh|||13}}</noinclude> 4ctynqre0mzhdlx4r9pindfuxcy0kj8 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/141 104 103502 291401 2026-05-10T23:35:55Z N.imaema 22481 /* Telah diuji baca */ 291401 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="N.imaema" /></noinclude><big>{{c|'''Drs. Hatta dan Kolonel Gatot Subroto'''<br> '''Mengagumkan Badak Hitam.'''}}</big> Dari pada duduk mengelamun, melepaskan chajalan mengerawang keangkasa raja, lebih baik aku membuka kembali buku tjatatanku jang sudah usang dan apak itu, jang telah sekian lama kuendapkan sadja dilatji medjaku. Buku tjatatan jang tebalnja tidak kurang dari 209 halaman, sudah penuh dengan tjatatan seluruhnja. {{gap}} Tidak ada lagi jang kosong, walau setengah lembar sekalipun. Sebab aku telah mulai mentjatat setiap kedjadian dan keadaan jang penting<sup>2</sup>, terutama jang mengenai diri pribadiku, sedjak dari detik permulaan proklamasi kemerdekaan negara kita. Hingga kini buku tjatatan jang kedua pun sudah penuh pula, hanja tinggal beberapa lembar lagi. Buku tjatatan jang sudah usang dan apak, tapi tjukup mengandung riwajat. Dia tjukup setia mengikuti perdjuanganku sedjak dari front Medan Area hingga ke Maluku Selatan. Meskipun seluruh wadjah mukanja kutjoret dan kuguriskan, namun dia tetap ttk membantah, membenarkan kerdjaku itu. Sebab dia mengerti, tjoretan<sup>2</sup> dilembaran mukanja dapat mendjadi saksi jang mengisahkan riwajat perdjuangan kemerdekaan negara kita kepada anak<sup>2</sup> kita kemudian hari. Bahkan jang terutama mengenai diri peribadi saja sendiri, benar<sup>2</sup> dia jang mendjadi saksi jang utama. Meskipun mukanja jang tadinja putih bersih, kini penuh tjoretan, dia tetap bangga, sebab tidak sia-sia tjoretan itu dan tetap dihargai sepandjang masa. Malah dipeihara sebaik<sup>2</sup>nja, disimpan diberi kastori. Dikeluarkan dari latji hanja pada saat<sup>2</sup> jang dibutuhkan. Tadi kukatakan, dari pada duduk mengelamun, lebih baik aku membuka kembali buku tjatatanku jg. telah usang itu. Berarti aku mengenang kembali kepada riwajat perdjuanganku beberapa tahun jang lalu. Kuikuti kembali tjatatanku jang penuh beriwajat itu, sedjak dari lembar pertama sampai achirnja. Ada diantaranja jang membanggakan diriku, tapi ada pula jang menjebabkan sampai menitiskan air mataku, teringat kembali kepada teman<sup>2</sup> seakrabku tadinja jang bersama<sup>2</sup> dalam perdjuangan menghadapi pendjadjahan Belanda diberbagai medan pertempuran, telah mendahuluiku lebih dahulu menghadap jang Maha Esa. Tapi ja apa boleh buat, kehendak Ilahi tak dapat dibantah. {{missing image}} ''Major Alamsjah, Komd. Bataljon Badak Hitam kebanggaan T.N.I. Dag telah mendjeladjah Indonesia.'' {{rh|_________________________________________}} Kodrat iradatnja tetap berdjalan, tak ada kuasa jang menghalanginja. Hanja aku memohon kepada Nja, mudah<sup>2</sup>an kepada teman<sup>2</sup>ku jang telah mendahuluiku, oleh-Nja ditempatkan di Djannatul 'Ahla. Diantara sekian tebalnja tjatatanku, jang sangat menarik perhatianku kembali, adalah tjatatan jang kuperbuat dari tanggal 27 Desember 1949 hingga selandjutnja. Apakah gerangan sampai menarik perhatianku kembali ? Apakah karena hari tersebut adalah hari penjerahan kedaulatan atas negara kita dari tangan pemerintah Belanda ? Ja, disamping hari jang bersedjarah itu, sebagai titik tertinggi dari hasil perdjuangan kita bersama rakjat Indonesia jang tidak ada ketjualinja dari Ulele sampai ke Marauke, bagiku adalah pula hari jang penuh mengandung riwajat jang tak dapat kulupakan. Sebagaimana dari detik saat penjerahan kedaulatan atas negara kita dari tangan pemerintah Belanda hingga tanggal<sup>2</sup> selandjutnja penuh membawa riwajat jang tidak putus<sup>2</sup>nja, begitu pula bagiku, sedjak dari tanggal 27 Desember 1949 hingga selandjutnja sampai kini dipenuhi pula oleh berbagai<sup>2</sup> peristiwa suka-duka jg. tak dapat kulupakan, bahkan mendjadi kenangan sepandjang hajatku. Tanggal 27 Desember 1949, dikesatuanku Batalion IX Divisi Gadjah I mulai diadakan reformasi dan reorganisasi mendjadi Batalion III/A Territorium Atjeh. Tidak lama kemudian disusul reformasi jang kedua, jaitu dari Batalion III/A Territorium Atjeh mendjadi Batalion II/A T.T. I Sumatera Utara. Rupanja belum sampai disitu sadja, sebab diikuti pula oleh reformasi jang ketiga, jaitu dari Batalion II/A T.T. I mendjadi Batalion 119 Brigade C.C. T.T, I. Sumatera Utara. Kemudian berachir pula kesatuanku menduduki daerah T.T. I., karena ditugaskan keluar daerah. Bulan April 1950, sebelumnja kesatuanku direformisir, berkundjunglah rombongan Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta ke Atjeh. Pada saat itu kesatuanku<noinclude>{{rh|||23}}</noinclude> 4m3sgkhee9ttc1lap5offvr1yh4q6d5 291403 291401 2026-05-10T23:37:16Z N.imaema 22481 291403 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="N.imaema" /></noinclude><big>{{c|'''Drs. Hatta dan Kolonel Gatot Subroto'''<br> '''Mengagumkan Badak Hitam.'''}}</big> Dari pada duduk mengelamun, melepaskan chajalan mengerawang keangkasa raja, lebih baik aku membuka kembali buku tjatatanku jang sudah usang dan apak itu, jang telah sekian lama kuendapkan sadja dilatji medjaku. Buku tjatatan jang tebalnja tidak kurang dari 209 halaman, sudah penuh dengan tjatatan seluruhnja. {{gap}} Tidak ada lagi jang kosong, walau setengah lembar sekalipun. Sebab aku telah mulai mentjatat setiap kedjadian dan keadaan jang penting<sup>2</sup>, terutama jang mengenai diri pribadiku, sedjak dari detik permulaan proklamasi kemerdekaan negara kita. Hingga kini buku tjatatan jang kedua pun sudah penuh pula, hanja tinggal beberapa lembar lagi. Buku tjatatan jang sudah usang dan apak, tapi tjukup mengandung riwajat. Dia tjukup setia mengikuti perdjuanganku sedjak dari front Medan Area hingga ke Maluku Selatan. Meskipun seluruh wadjah mukanja kutjoret dan kuguriskan, namun dia tetap ttk membantah, membenarkan kerdjaku itu. Sebab dia mengerti, tjoretan<sup>2</sup> dilembaran mukanja dapat mendjadi saksi jang mengisahkan riwajat perdjuangan kemerdekaan negara kita kepada anak<sup>2</sup> kita kemudian hari. Bahkan jang terutama mengenai diri peribadi saja sendiri, benar<sup>2</sup> dia jang mendjadi saksi jang utama. Meskipun mukanja jang tadinja putih bersih, kini penuh tjoretan, dia tetap bangga, sebab tidak sia-sia tjoretan itu dan tetap dihargai sepandjang masa. Malah dipeihara sebaik<sup>2</sup>nja, disimpan diberi kastori. Dikeluarkan dari latji hanja pada saat<sup>2</sup> jang dibutuhkan. Tadi kukatakan, dari pada duduk mengelamun, lebih baik aku membuka kembali buku tjatatanku jg. telah usang itu. Berarti aku mengenang kembali kepada riwajat perdjuanganku beberapa tahun jang lalu. Kuikuti kembali tjatatanku jang penuh beriwajat itu, sedjak dari lembar pertama sampai achirnja. Ada diantaranja jang membanggakan diriku, tapi ada pula jang menjebabkan sampai menitiskan air mataku, teringat kembali kepada teman<sup>2</sup> seakrabku tadinja jang bersama<sup>2</sup> dalam perdjuangan menghadapi pendjadjahan Belanda diberbagai medan pertempuran, telah mendahuluiku lebih dahulu menghadap jang Maha Esa. Tapi ja apa boleh buat, kehendak Ilahi tak dapat dibantah. {{missing image}} ''Major Alamsjah, Komd. Bataljon Badak Hitam kebanggaan T.N.I. Dag telah mendjeladjah Indonesia.''<br>{{rh|_________________________________________}} Kodrat iradatnja tetap berdjalan, tak ada kuasa jang menghalanginja. Hanja aku memohon kepada Nja, mudah<sup>2</sup>an kepada teman<sup>2</sup>ku jang telah mendahuluiku, oleh-Nja ditempatkan di Djannatul 'Ahla. Diantara sekian tebalnja tjatatanku, jang sangat menarik perhatianku kembali, adalah tjatatan jang kuperbuat dari tanggal 27 Desember 1949 hingga selandjutnja. Apakah gerangan sampai menarik perhatianku kembali ? Apakah karena hari tersebut adalah hari penjerahan kedaulatan atas negara kita dari tangan pemerintah Belanda ? Ja, disamping hari jang bersedjarah itu, sebagai titik tertinggi dari hasil perdjuangan kita bersama rakjat Indonesia jang tidak ada ketjualinja dari Ulele sampai ke Marauke, bagiku adalah pula hari jang penuh mengandung riwajat jang tak dapat kulupakan. Sebagaimana dari detik saat penjerahan kedaulatan atas negara kita dari tangan pemerintah Belanda hingga tanggal<sup>2</sup> selandjutnja penuh membawa riwajat jang tidak putus<sup>2</sup>nja, begitu pula bagiku, sedjak dari tanggal 27 Desember 1949 hingga selandjutnja sampai kini dipenuhi pula oleh berbagai<sup>2</sup> peristiwa suka-duka jg. tak dapat kulupakan, bahkan mendjadi kenangan sepandjang hajatku. Tanggal 27 Desember 1949, dikesatuanku Batalion IX Divisi Gadjah I mulai diadakan reformasi dan reorganisasi mendjadi Batalion III/A Territorium Atjeh. Tidak lama kemudian disusul reformasi jang kedua, jaitu dari Batalion III/A Territorium Atjeh mendjadi Batalion II/A T.T. I Sumatera Utara. Rupanja belum sampai disitu sadja, sebab diikuti pula oleh reformasi jang ketiga, jaitu dari Batalion II/A T.T. I mendjadi Batalion 119 Brigade C.C. T.T, I. Sumatera Utara. Kemudian berachir pula kesatuanku menduduki daerah T.T. I., karena ditugaskan keluar daerah. Bulan April 1950, sebelumnja kesatuanku direformisir, berkundjunglah rombongan Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta ke Atjeh. Pada saat itu kesatuanku<noinclude>{{rh|||23}}</noinclude> loup93g9b99pseymcv7xgg5fbz94co7 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/143 104 103503 291405 2026-05-10T23:39:07Z N.imaema 22481 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Anak? dari Badak Hitam dengan tabah tetap mendjalankan tugas- nja meskipun keadaan? medan jang harus diarunginja sangat sukar. Disini nampak mereka sedang mengarungi sungai didaerah Ceram sewaktu mengedjar pasukan R.M.. anku diberangkatkanlah_ kesana. Anak? kesatuanku jang ditugas- kan kesana dapat pula mendja- lankan tugasnja dengan baik dan hasil? jang diperolehnja sangat memuaskan, meskipun harus diha- dapi dengan segala kepedihan. Bersama... 291405 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="N.imaema" /></noinclude>Anak? dari Badak Hitam dengan tabah tetap mendjalankan tugas- nja meskipun keadaan? medan jang harus diarunginja sangat sukar. Disini nampak mereka sedang mengarungi sungai didaerah Ceram sewaktu mengedjar pasukan R.M.. anku diberangkatkanlah_ kesana. Anak? kesatuanku jang ditugas- kan kesana dapat pula mendja- lankan tugasnja dengan baik dan hasil? jang diperolehnja sangat memuaskan, meskipun harus diha- dapi dengan segala kepedihan. Bersamaan dengan itu, dua kompie lainnja dikerahkan keda- erah Ceram Timur-Selatan untuk mengedjar sisa-sisa pasukan RMS. jang melarikan diri kesana dan telah memperkuatkan pula dirinja dengan benteng? pertahanan jang kuat. Kompie? jang ditugaskan didaerah inipun memperoleh hasil jang sangat memuaskan. Mereka telah berhasil menghantjurkan dan mengobrak-abrik pertahanan? pa- sukan RMS, sehingga _sisa?nja terpaksa melarikan diri kerimba? raja dipedalaman kepulauan ter- sebut. Kini tinggal Saparua dan seki- tarnja jang masih dikuasai oleh pasukan RMS. Untuk merebut daerah ini, pasukanku jang baru sadja habis bertugas dengan hasil jang sangat memuaskan didaerah Ceram Timur-Selatan, dikerahkan pula kesana. Ja, apa boleh buat, tugas meskipun berat dan sukar harus dipikul dan dilaksanakan. S. Maka pasukanku pun mulailah pula mendjalankan tugasnja dida- erah ini. Djuga hasilnja beres. Pasukan? RMS dapat dihalau dan diusir dari sana. Dan kebanjakan- nja menjerah kalah mengangkat tangan kepada pasukanku. Mes- kipun begitu tugas operasi keda- erah Ceram Timur-Selatan masih djuga diberatkan kepada pasukan- ku. Sebelumnja_kesatuanku dipin- dahkan dari Banda dan Maluku Terselatan, pada bulan Djuli 1951 datanglah rombongan bapak Wa- kil Presiden Drs. M. Hatta kesa- na guna menindjau daerah? ter- sebut. Di Banda dalam wedja- ngannja jang chusus ditudjukan kepada kesatuanku, Wakil Pre- siden Drs, M. Hatta mengatakan antaranja: Saja sangat bangga melihat ketangkasan dan ketaba- han hati dari anak buah Kapten Alamsjah (sekarang Major) jang djuga disebut Batalion Badak Hi- tam dari T.T. I jang senantiasa menundjukkan ketaatan atas pe- jang diberikan oleh atas- Dan pula saja sangat menga- gumkan, bahwa Batalion ini jang senantiasa menundjukkan kebera- niannja, bukan sadja di Atjeh, tetapi djuga diluar Atjeh. Seba- gai anggauta Angkatan Perang jang tidak mengenal daerah tem- pat dia bertugas, artinja dimana pun sadja bersedia mendjalankan Mereka tabah, tidak gentar dan tidak akan mundur walaupun se- tapak. Disini mereka nampak sewaktu sedang beraksi dipulau Ceram sewaktu menghadapi R.M.S. 25<noinclude></noinclude> nopxo44p26ay4hnw1yt7v6mox1mgdr9 291412 291405 2026-05-10T23:48:46Z N.imaema 22481 /* Telah diuji baca */ 291412 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="N.imaema" /></noinclude>{{missing image}} ''Anak<sup>2</sup> dari Badak Hitam dengan tabah tetap mendjalankan tugasnja meskipun keadaan<sup>2</sup> medan jang harus diarunginja sangat sukar. Disini nampak mereka sedang mengarungi sungai didaerah Ceram sewaktu mengedjar pasukan R.M.S.'' {{hwe|anku|kesatuanku}} diberangkatkanlah kesana. Anak<sup>2</sup> kesatuanku jang ditugaskan kesana dapat pula mendjalankan tugasnja dengan baik dan hasil<sup>2</sup> jang diperolehnja sangat memuaskan, meskipun harus dihadapi dengan segala kepedihan. Bersamaan dengan itu, dua kompie lainnja dikerahkan kedaerah Ceram Timur-Selatan untuk mengedjar sisa-sisa pasukan RMS. jang melarikan diri kesana dan telah memperkuatkan pula dirinja dengan benteng<sup>2</sup> pertahanan jang kuat. Kompie<sup>2</sup> jang ditugaskan didaerah inipun memperoleh hasil jang sangat memuaskan. Mereka telah berhasil menghantjurkan dan mengobrak-abrik pertahanan<sup>2</sup> pasukan RMS, sehingga sisa<sup>2</sup>nja terpaksa melarikan diri kerimba<sup>2</sup> raja dipedalaman kepulauan tersebut. Kini tinggal Saparua dan sekitarnja jang masih dikuasai oleh pasukan RMS. Untuk merebut daerah ini, pasukanku jang baru sadja habis bertugas dengan hasil jang sangat memuaskan didaerah Ceram Timur-Selatan, dikerahkan pula kesana. Ja, apa boleh buat, tugas meskipun berat dan sukar harus dipikul dan dilaksanakan. Maka pasukanku pun mulailah pula mendjalankan tugasnja didaerah ini. Djuga hasilnja beres. Pasukan<sup>2</sup> RMS dapat dihalau dan diusir dari sana. Dan kebanjakannja menjerah kalah mengangkat tangan kepada pasukanku. Meskipun begitu tugas operasi kedaerah Ceram Timur-Selatan masih djuga diberatkan kepada pasukanku. Sebelumnja_kesatuanku dipindahkan dari Banda dan Maluku Terselatan, pada bulan Djuli 1951 datanglah rombongan bapak Wakil Presiden Drs. M. Hatta kesana guna menindjau daerah<sup>2</sup> tersebut. Di Banda dalam wedjangannja jang chusus ditudjukan kepada kesatuanku, Wakil Presiden Drs, M. Hatta mengatakan antaranja: Saja sangat bangga melihat ketangkasan dan ketabahan hati dari anak buah Kapten Alamsjah (sekarang Major) jang djuga disebut Batalion Badak Hitam dari T.T. I jang senantiasa menundjukkan ketaatan atas perintah<sup>2</sup> jang diberikan oleh atasannja. Dan pula saja sangat mengagumkan, bahwa Batalion ini jang senantiasa menundjukkan keberaniannja, bukan sadja di Atjeh, tetapi djuga diluar Atjeh. Sebagai anggauta Angkatan Perang jang tidak mengenal daerah tempat dia bertugas, artinja dimana pun sadja bersedia mendjalankan {{missing image}} Mereka tabah, tidak gentar dan tidak akan mundur walaupun setapak. Disini mereka nampak sewaktu sedang beraksi dipulau Ceram sewaktu menghadapi R.M.S.<noinclude>{{rh|||25}}</noinclude> 4kvxs9ta82tc5fbc3iez7hjlo41w5cj Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/55 104 103504 291407 2026-05-10T23:40:16Z Wiwil13 20069 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'sedang diuji baca' 291407 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Wiwil13" /></noinclude>sedang diuji baca<noinclude></noinclude> l2hc2d5cvsaxq6aeu6c8rqp2wihqm7y 291415 291407 2026-05-10T23:51:47Z Wiwil13 20069 /* Telah diuji baca */ 291415 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" />{{rh||9}}</noinclude>Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) dan dalam majalah {{u|Spektra}} oleh (anonim) Achdiat K. Mihardja. Selanjutnya dalam map ini kita bertemu pula tembusan kumpulan asli naskah {{u|Deru tjampur Debu}}, sebelum diterbitkan oleh Pembangunan. Naskah asli semacam ini memang perlu disimpan, sebab adakalanya apa yang kemudian tercetak, ternyata mengandung kekeliruan-kekeliruan. Dengan tersimpannya naskah asli semacam ini dapatlah kesalahan cetak itu diketahui dan dikoreksi kemudian. Dan memang {{u|Deru tjampur Debu}} cetakan pertama hingga cetakan ke 5 ada salah cetak yang baru diperbaiki dalam cetakan ke-6, sesudah penerbit diberitahu tentang itu. Malahan salah cetak dalam cetakan pertama, yang hanya 3 buah, dalam cetakan ke-5 talah menjadi 5 buah. Dapatlah saudara bayangkan sekiranya buku ini dicetak sampai cetakan ke-20, mungkin salah cetak itu telah bertambah menjadi beberapa kali lipat pula. Itulah perlunya kita menyimpan Naskah asli, yaitu supaya dapat selalu dipergunakan sebagai perbandingan pada tiap ulang cetak. Tentu saja adakalanya ada pula perobahan dalam cetakan kemudian yang memang disengaja oleh pengarang. Dalam hal itu haruslah pula disimpan versi asli dari yang dirobah itu. Akhirnya dalam map ini kita temukan surat menyurat mengenai {{u|Deru tjampur Debu}}. Salah satu surat ialah surat kepada redaksi penerbit tanggal 28 April 1958, mensinyalir adanya salah cetak dalam cetakan pertama hingga cetakan keempat dan meminta supaya diralat dalam cetakan berikutnya. Surat ini rupanya tidak pernah diterima oleh penerbit, sehingga perlu ditulis surat sepucuk lagi, bertanggal dua tahun kemudian, yaitu tanggal 9 Maret 1960. Map Chairil yang ketiga memuat kumpulan sajak {{u|Tiga menguak Takdir}}, yaitu kumpulan bersama Chairil anwar, Rivai dan Asrul Sani, terbit pada Salai Pustaka tahun 1950. Selanjutnya ada map: "Chairil Anwar diterjemahkan", yang memuat {{u|Selected Poems}}, terjemahan Burton Raffel dan Nurdin Salam, diterbitkan di New York, tahun 1962. Dan sajak-sajak Chairil yang ditransliterasi oleh Liaw Yock Fang ke ejaan Melayu. Naskah asli Chairil Anwar disimpan pula dalam map tersendiri. Disini disimpan naskah-naskah tulisan tangan Chairil Anwar. Dan juga kita temui naskah tulisan tangan terjemahan cerita pendek Steinbeck, "Raid" {{u|(Kena Gempur)}}.<br> Tentu saudara masih ingat orang ramai-ramai tentang plagiat Chairil Anwar. Majalah-majalah dan surat kabar penuh dengan pembahasan pembahasan mengenai plagiatnya itu.<noinclude></noinclude> dk1re4awhsmnvwzot4jg7lyahb0axod Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/468 104 103505 291408 2026-05-10T23:42:29Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '50 Sesudah tiba waktunya akan melahirkan, Jibrail menyuruh Maryam pergi dari tempat itu, dan setelah beberapa lama Maryam pun sampailah di baitulhem, yang letaknya dekat baituleksa, Epi- sode tentang Isa yan: bicara dalam buaian pada garis besarnya sa- ma saja, tapi pada episode-episode berikutnya tidak ada lagi yang sama, kecuali mengenai makanan yang turun dari langit. Mukjizat- mukjizat yang dilakukan oleh Isa aijadikan dalam aneka ri... 291408 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>50 Sesudah tiba waktunya akan melahirkan, Jibrail menyuruh Maryam pergi dari tempat itu, dan setelah beberapa lama Maryam pun sampailah di baitulhem, yang letaknya dekat baituleksa, Epi- sode tentang Isa yan: bicara dalam buaian pada garis besarnya sa- ma saja, tapi pada episode-episode berikutnya tidak ada lagi yang sama, kecuali mengenai makanan yang turun dari langit. Mukjizat- mukjizat yang dilakukan oleh Isa aijadikan dalam aneka rigam pe- ristiwa, Para hewariun yang mengikuti Isa adalah nelayan asalnya, jumlahnya .2 orang. Salah seorang dari antara mereka itu dapat dipengaruhi oleh kaum Yahudi untuk menghianati Isa. Penghianat ini masuk ke dalam suatu rumah, di mana nabi itu sering berada. Beliau ini liengkat oleh Allah kepadaNya. Kaum tshudi yang menyu- sul dari belakang melihat wajah Tatia Nanas, demikian nama peng- hianat itu, serupa dengan wajah nabi yang hendak dibunuh itu, la- lu ja pun diseret keluar rumah dan disalibkan. | Untuk lebih mengerti isi Hikayat Zakaria perlu sekedar pemandangar, selain .engenai isi varjan-varien tentang hikayat tersebut, juga mengenai kisah para nabi lainnya. Misalnya nama yang terdengar dalam kisah yang diuraikan oleh berth van Wijk Jabal Kef, gunung yang ditunjuk menjadi tempat penghunian para ' jin ditemui juga dalam naskah A, yaitu nama seorang raja (hal, 42)3 Kahmah, nama isteri Ayub adalah nama seorang perempuan da- lam naskah A yang sifatnya juga bersamaan (hal. 9)3 Siddik, na- ma nabi Yusuf yeng benar takwilnya tentang mimpi adalah juga laki-laki yang datang menjumpai Maryam dalam naskah B. Dialog antara Yusuf dan Maryam dalam naskah A (hal. 12-14) lebih je las bagi kita sesudah membaca uraian tentang penciptaan alam semesta oleh Allah, demikian juga episode "Isa dan Iblis" dalam naskah A (hal. 69-71) mempunyai kesejaiaran dengan pembicaraan “<noinclude></noinclude> 2enehiw1ohnrlmipitv0d6pf48y5rqu 291490 291408 2026-05-11T01:56:59Z Moel81 25980 291490 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|50}}</noinclude>50 Sesudah tiba waktunya akan melahirkan, Jibrail menyuruh Maryam pergi dari tempat itu, dan setelah beberapa lama Maryam pun sampailah di baitulhem, yang letaknya dekat baituleksa, Epi- sode tentang Isa yan: bicara dalam buaian pada garis besarnya sa- ma saja, tapi pada episode-episode berikutnya tidak ada lagi yang sama, kecuali mengenai makanan yang turun dari langit. Mukjizat- mukjizat yang dilakukan oleh Isa aijadikan dalam aneka rigam pe- ristiwa, Para hewariun yang mengikuti Isa adalah nelayan asalnya, jumlahnya .2 orang. Salah seorang dari antara mereka itu dapat dipengaruhi oleh kaum Yahudi untuk menghianati Isa. Penghianat ini masuk ke dalam suatu rumah, di mana nabi itu sering berada. Beliau ini liengkat oleh Allah kepadaNya. Kaum tshudi yang menyu- sul dari belakang melihat wajah Tatia Nanas, demikian nama peng- hianat itu, serupa dengan wajah nabi yang hendak dibunuh itu, la- lu ja pun diseret keluar rumah dan disalibkan. | Untuk lebih mengerti isi Hikayat Zakaria perlu sekedar pemandangar, selain .engenai isi varjan-varien tentang hikayat tersebut, juga mengenai kisah para nabi lainnya. Misalnya nama yang terdengar dalam kisah yang diuraikan oleh berth van Wijk Jabal Kef, gunung yang ditunjuk menjadi tempat penghunian para ' jin ditemui juga dalam naskah A, yaitu nama seorang raja (hal, 42)3 Kahmah, nama isteri Ayub adalah nama seorang perempuan da- lam naskah A yang sifatnya juga bersamaan (hal. 9)3 Siddik, na- ma nabi Yusuf yeng benar takwilnya tentang mimpi adalah juga laki-laki yang datang menjumpai Maryam dalam naskah B. Dialog antara Yusuf dan Maryam dalam naskah A (hal. 12-14) lebih je las bagi kita sesudah membaca uraian tentang penciptaan alam semesta oleh Allah, demikian juga episode "Isa dan Iblis" dalam naskah A (hal. 69-71) mempunyai kesejaiaran dengan pembicaraan “<noinclude></noinclude> gb6h5t29ordtk4p7uqo0529imua4qnx 291494 291490 2026-05-11T02:01:49Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291494 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|50}}</noinclude>Sesudah tiba waktunya akan melahirkan, Jibrail menyuruh Maryam pergi dari tempat itu, dan setelah beberapa lama Maryam pun sampailah di Baitulhem, yang letaknya dekat Baituleksa. Episode tentang Isa yang bicara dalam buaian pada garis besarnya sama saja, tapi pada episode-episode berikutnya tidak ada lagi yang sama, kecuali mengenai makanan yang turun dari langit. Mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Isa dijadikan dalam aneka ragam peristiwa. Para hawariun yang mengikuti Isa adalah nelayan asalnya, jumlahnya 12 orang. Salah seorang dari antara mereka itu dapat dipengaruhi oleh kaum Yahudi untuk menghianati Isa. Penghianat ini masuk ke dalam suatu rumah, di mana nabi itu sering berada. Beliau ini diangkat oleh Allah kepadaNya. Kaum Yahudi yang menyusul dari belakang melihat wajah Tatia Nanas, demikian nama penghianat itu, serupa dengan wajah nabi yang hendak dibunuh itu, lalu ia pun diseret keluar rumah dan disalibkan. Untuk lebih mengerti isi <u>Hikayat Zakaria</u> perlu sekedar pemandangan, selain mengenai isi varian-varian tentang hikayat tersebut, juga mengenai kisah para nabi lainnya. Misalnya nama yang terdengar dalam kisah yang diuraikan oleh Gerth van Wijk <u>Jabal Kaf</u>, gunung yang ditunjuk menjadi tempat penghunian para jin ditemui juga dalam naskah A, yaitu nama seorang raja (hal. 42); <u>Rahmah</u>, nama isteri Ayub adalah nama seorang perempuan dalam naskah A yang sifatnya juga bersamaan (hal. 9); <u>Siddik</u>, nama nabi Yusuf yang benar takwilnya tentang mimpi adalah juga laki-laki yang datang menjumpai Maryam dalam naskah B. Dialog antara Yusuf dan Maryam dalam naskah A (hal. 12-14) lebih jelas bagi kita sesudah membaca uraian tentang penciptaan alam semesta oleh Allah, demikian juga episode "Isa dan Iblis" dalam naskah A (hal. 69-71) mempunyai kesejajaran dengan pembicaraan<noinclude></noinclude> ezrkzwc42h60xkbjlbwaddff1rqyxn4 291717 291494 2026-05-11T05:59:25Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291717 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|50}}</noinclude>Sesudah tiba waktunya akan melahirkan, Jibrail menyuruh Maryam pergi dari tempat itu, dan setelah beberapa lama Maryam pun sampailah di Baitulhem, yang letaknya dekat Baituleksa. Episode tentang Isa yang bicara dalam buaian pada garis besarnya sama saja, tapi pada episode-episode berikutnya tidak ada lagi yang sama, kecuali mengenai makanan yang turun dari langit. Mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Isa dijadikan dalam aneka ragam peristiwa. Para hawariun yang mengikuti Isa adalah nelayan asalnya, jumlahnya 12 orang. Salah seorang dari antara mereka itu dapat dipengaruhi oleh kaum Yahudi untuk menghianati Isa. Penghianat ini masuk ke dalam suatu rumah, di mana nabi itu sering berada. Beliau ini diangkat oleh Allah kepadaNya. Kaum Yahudi yang menyusul dari belakang melihat wajah Tatia Nanas, demikian nama penghianat itu, serupa dengan wajah nabi yang hendak dibunuh itu, lalu ia pun diseret keluar rumah dan disalibkan. Untuk lebih mengerti isi <u>Hikayat Zakaria</u> perlu sekedar pemandangan, selain mengenai isi varian-varian tentang hikayat tersebut, juga mengenai kisah para nabi lainnya. Misalnya nama yang terdengar dalam kisah yang diuraikan oleh Gerth van Wijk <u>Jabal Kaf</u>, gunung yang ditunjuk menjadi tempat penghunian para jin ditemui juga dalam naskah A, yaitu nama seorang raja (hal. 42); <u>Rahmah</u>, nama isteri Ayub adalah nama seorang perempuan dalam naskah A yang sifatnya juga bersamaan (hal. 9); <u>Siddik</u>, nama nabi Yusuf yang benar takwilnya tentang mimpi adalah juga laki-laki yang datang menjumpai Maryam dalam naskah B. Dialog antara Yusuf dan Maryam dalam naskah A (hal. 12-14) lebih jelas bagi kita sesudah membaca uraian tentang penciptaan alam semesta oleh Allah, demikian juga episode "Isa dan Iblis" dalam naskah A (hal. 69-71) mempunyai kesejajaran dengan pembicaraan<noinclude></noinclude> li6u625zfzfcj01rnxp392xd17r28i6 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/469 104 103506 291409 2026-05-10T23:42:42Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '51 antara Iblis dan Nuh, demikian juga ""aryam menyahut dari balik kubur" dengan Uria yang menyahut dari balik kubur kepada Daud, Tibalah kita pada kesimpulan. Dari uraian di atas nyata kepada kita, bahwa kisah para nabi dengan macam-macam variasi dan versinya itu adalah juga bagian dari kesusasteraan Melayu. Naskah A adalah kumpulan tiga naskah nabi, yaitu Zakaria, “Yahya dan Isa yang disatukan dalam satu kitab yang berjudul Hikayat... 291409 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>51 antara Iblis dan Nuh, demikian juga ""aryam menyahut dari balik kubur" dengan Uria yang menyahut dari balik kubur kepada Daud, Tibalah kita pada kesimpulan. Dari uraian di atas nyata kepada kita, bahwa kisah para nabi dengan macam-macam variasi dan versinya itu adalah juga bagian dari kesusasteraan Melayu. Naskah A adalah kumpulan tiga naskah nabi, yaitu Zakaria, “Yahya dan Isa yang disatukan dalam satu kitab yang berjudul Hikayat Zakaria. Tiga naskah nabi itu adalah bagian dari rentetan kisah para nabi yang diangkat dari salah satu versi Kisasu'lanbia, di- terjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Welayu. Bahwa hikayat itu diterjemahkan dari bahasa Arab dan bukan dari bahasa lain nya- ta dari gaya terjemahannya (akan diuraikan dalam bab berikut). Mengapa tiga kisah itu digabung dalam satu kitab, tentu karena disenangi oleh para pembaca waktu itu. Judulnya walaupun Hikayat Zakaria, tapi isinya lebih banyak tentang Isa yang mene- rima Injil dari Allah dan terkenal karena lahirnya dari seorang perawan dan karena mukjizat-mukjizatnya. Di Museum Pusat terdapat juga naskah-naskah seperti Hika- yat Yusuf") dan Hikayat Musa? « Nabi Yusuf terkenal karena bee nar takwilnya tentang mimpi dan parasnya yang cantik. Surat Yusuf dibaca di kalangan tertentu di daerah Sunda dan Jawa pada waktu upacara menujuh bulannya bayi dalam kandungan seorang ibu, supaya bayi yang akan lahir itu seorang laki-laki seperti Yusuf cantiknya, Hal ini biasanya jika keluarga itu hanya perempuan 1 Museum Pusat, kolleksi v.d, Wall no. 110 Idem ,» bagian dari koll. v.d. Wall nc. 67<noinclude></noinclude> e8kglgnpk1em78cw5bk3wllgcq0ysxp 291483 291409 2026-05-11T01:46:13Z Moel81 25980 291483 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|51}}</noinclude>51 antara Iblis dan Nuh, demikian juga ""aryam menyahut dari balik kubur" dengan Uria yang menyahut dari balik kubur kepada Daud, Tibalah kita pada kesimpulan. Dari uraian di atas nyata kepada kita, bahwa kisah para nabi dengan macam-macam variasi dan versinya itu adalah juga bagian dari kesusasteraan Melayu. Naskah A adalah kumpulan tiga naskah nabi, yaitu Zakaria, “Yahya dan Isa yang disatukan dalam satu kitab yang berjudul Hikayat Zakaria. Tiga naskah nabi itu adalah bagian dari rentetan kisah para nabi yang diangkat dari salah satu versi Kisasu'lanbia, di- terjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Welayu. Bahwa hikayat itu diterjemahkan dari bahasa Arab dan bukan dari bahasa lain nya- ta dari gaya terjemahannya (akan diuraikan dalam bab berikut). Mengapa tiga kisah itu digabung dalam satu kitab, tentu karena disenangi oleh para pembaca waktu itu. Judulnya walaupun Hikayat Zakaria, tapi isinya lebih banyak tentang Isa yang mene- rima Injil dari Allah dan terkenal karena lahirnya dari seorang perawan dan karena mukjizat-mukjizatnya. Di Museum Pusat terdapat juga naskah-naskah seperti Hika- yat Yusuf") dan Hikayat Musa? « Nabi Yusuf terkenal karena bee nar takwilnya tentang mimpi dan parasnya yang cantik. Surat Yusuf dibaca di kalangan tertentu di daerah Sunda dan Jawa pada waktu upacara menujuh bulannya bayi dalam kandungan seorang ibu, supaya bayi yang akan lahir itu seorang laki-laki seperti Yusuf cantiknya, Hal ini biasanya jika keluarga itu hanya perempuan 1 Museum Pusat, kolleksi v.d, Wall no. 110 Idem ,» bagian dari koll. v.d. Wall nc. 67 {{rule|15em|align=left}}<noinclude></noinclude> 1dg3lyq70b5pnrz4vihfqdru8yz64v2 291487 291483 2026-05-11T01:54:24Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291487 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|51}}</noinclude>antara Iblis dan Nuh, demikian juga "Maryam menyahut dari balik kubur" dengan Uria yang menyahut dari balik kubur kepada Daud. Tibalah kita pada kesimpulan. Dari uraian di atas nyata kepada kita, bahwa kisah para nabi dengan macam-macam variasi dan versinya itu adalah juga bagian dari kesusasteraan Melayu. Naskah A adalah kumpulan tiga naskah nabi, yaitu Zakaria, Yahya dan Isa yang disatukan dalam satu kitab yang berjudul <u>Hikayat Zakaria</u>. Tiga naskah nabi itu adalah bagian dari rentetan kisah para nabi yang diangkat dari salah satu versi Kisasu'lanbia, diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu. Bahwa hikayat itu diterjemahkan dari bahasa Arab dan bukan dari bahasa lain nyata dari gaya terjemahannya (akan diuraikan dalam bab berikut). Mengapa tiga kisah itu digabung dalam satu kitab, tentu karena disenangi oleh para pembaca waktu itu. Judulnya walaupun <u>Hikayat Zakaria</u>, tapi isinya lebih banyak tentang Isa yang menerima Injil dari Allah dan terkenal karena lahirnya dari seorang perawan dan karena mukjizat-mukjizatnya. Di Museum Pusat terdapat juga naskah-naskah seperti <u>Hikayat Yusuf</u><ref>Museum Pusat, kolleksi v.d. Wall no.110</ref> dan <u>Hikayat Musa</u><ref>Idem, bagian dari koll. v.d. Wall no. 67</ref>. Nabi Yusuf terkenal karena benar takwilnya tentang mimpi dan parasnya yang cantik. Surat Yusuf dibaca di kalangan tertentu di daerah Sunda dan Jawa pada waktu upacara menujuh bulannya bayi dalam kandungan seorang ibu, supaya bayi yang akan lahir itu seorang laki-laki seperti Yusuf cantiknya. Hal ini biasanya jika keluarga itu hanya perempuan {{rule|15em|align=left}} {{Smallrefs}}<noinclude></noinclude> h25k3sbm6nts4wvo4icxhs6jen38ek6 291718 291487 2026-05-11T05:59:53Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291718 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|51}}</noinclude>antara Iblis dan Nuh, demikian juga "Maryam menyahut dari balik kubur" dengan Uria yang menyahut dari balik kubur kepada Daud. Tibalah kita pada kesimpulan. Dari uraian di atas nyata kepada kita, bahwa kisah para nabi dengan macam-macam variasi dan versinya itu adalah juga bagian dari kesusasteraan Melayu. Naskah A adalah kumpulan tiga naskah nabi, yaitu Zakaria, Yahya dan Isa yang disatukan dalam satu kitab yang berjudul <u>Hikayat Zakaria</u>. Tiga naskah nabi itu adalah bagian dari rentetan kisah para nabi yang diangkat dari salah satu versi Kisasu'lanbia, diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu. Bahwa hikayat itu diterjemahkan dari bahasa Arab dan bukan dari bahasa lain nyata dari gaya terjemahannya (akan diuraikan dalam bab berikut). Mengapa tiga kisah itu digabung dalam satu kitab, tentu karena disenangi oleh para pembaca waktu itu. Judulnya walaupun <u>Hikayat Zakaria</u>, tapi isinya lebih banyak tentang Isa yang menerima Injil dari Allah dan terkenal karena lahirnya dari seorang perawan dan karena mukjizat-mukjizatnya. Di Museum Pusat terdapat juga naskah-naskah seperti <u>Hikayat Yusuf</u><ref>Museum Pusat, kolleksi v.d. Wall no.110</ref> dan <u>Hikayat Musa</u><ref>Idem, bagian dari koll. v.d. Wall no. 67</ref>. Nabi Yusuf terkenal karena benar takwilnya tentang mimpi dan parasnya yang cantik. Surat Yusuf dibaca di kalangan tertentu di daerah Sunda dan Jawa pada waktu upacara menujuh bulannya bayi dalam kandungan seorang ibu, supaya bayi yang akan lahir itu seorang laki-laki seperti Yusuf cantiknya. Hal ini biasanya jika keluarga itu hanya perempuan {{rule|15em|align=left}} {{Smallrefs}}<noinclude></noinclude> l6fbg42rzr60ztsieccb6il28h8nyir Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/22 104 103507 291411 2026-05-10T23:47:13Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ Membuat halaman kosong 291411 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude><noinclude></noinclude> ccplgwmprsu678uegthnfc77ifsefnn 291436 291411 2026-05-11T00:58:02Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291436 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" />{{rh||16}}</noinclude>{| |- |4.||Kamus Istilah Pendidikan dan Psychologi||Asing-Indonesia||<center>1962</center> |- |5.||Kamus Istilah Penerbangan||Asing-Indonesia||<center>1964</center> |- |6. ||Kamus Istilah Militer||Asing-Indonesia||<center>1964</center> |- |7.||Kamus Istilah Bahasa dan Kesusastraan||Asing-Indonesia||<center>1963</center> |- | || ||<center> (dalam percetakan)</center> |- |8.||Kamus Istilah Ilmu Bumi dan Sosiologi||Asing-Indonesia||<center>1964</center> |- |9.|| Kamus Istilah Ilmu Hukum||Asing-Indonesia||<center>1966</center> |- |10.|| Kamus Istilah Agama (Islam)||Asing-Indonesia||<center>1965</center> |- | || ||<center> (dalam percetakan)</center> |- |11. ||Kamus Istilah Kehewanan||Asing-Indonesia||<center>1967</center> |} <u>'''Djumlah Istilah jang đihasilkan'''</u> Menurut tjatatan, banjaknja istilah jang dihasilkan oleh komisi Istilah dalan rapat seksi-seksinja dari tahun 1952 sampai dengan 1966 adalah sebagai berikut: {| |- |1.||<center>1952</center>||76.240||<center> istilah</center> |- |2.||<center>1953</center>||37.776||<center>"</center> |- |3.||<center>1954</center>||19.146 ||<center>"</center> |- |4.||<center>1955</center>||23.714 ||<center>"</center> |- |5.||<center>1956</center>||22.050 ||<center>"</center> |- |6.||<center>1957</center>||25.404 ||<center>"</center> |- |7.||<center>1958</center>||23.025 ||<center>"</center> |- |8.||<center>1959</center>||25.525||<center>"</center> |- |9.||<center>1960</center>||16.792||<center>"</center> |- |10.||<center>1961</center>||13.419||<center>"</center> |- |11.||<center>1962</center>||13.630||<center>"</center> |- |12.||<center>1963</center>||10.894||<center>"</center> |- |13.||<center>1964</center>||5.634||<center>"</center> |- |14.||<center>1965</center>||7.429||<center>"</center> |- |15.||<center>1966</center>||7.249||<center>"</center> |- | || || ||----------------------- |- | || ||327.927 ||<center>istilah</center> |- |} <u>Keadaan Komisi Istilah dalam tahun 1957</u> Sedjak permulaan tahun 1967 seksi-seksi komisi Istilah tidak lagi mengadakan rapat, turketjuali Seksi Keradjinan Wanita jang tetap melandjutkan rapat-rapatnja atas dasar sukurela para anggotanja dan Seksi Teknik jang honorariumnja ditanggung oleh Ditdjen Tenaga dan Listrik. Hal ini disebabkan karena surat keputusan izin perpandjangan masa kerdja Komisi Istilah untuk tahun 1967 belum djuga dikeluarkan oleh Sekretariat Negara, jang menjebabkan Komisi Istilah mengalami kematjetan dalam pembiajannnja. Naskah-naskah Kamus Istilah jang sudah siap ditjetakpun tidak lekas dapat diterbitkan. Selain anggaran penerbitan tidak mendjadi beban Sekretariat Negara (tetapi ditanggung oleh Direktorat Bahasa dan Kesusastraan), djuga dengan adanja keharusan bagi Komisi Istilah untuk mentjetakkannja pada Balai Pustaka, maka kita harus bertahun-tahun menunggu selesainnja ditjetak. Akan tetapi kini oleh Direktorat telah diambil inisiatif sendiri dengan berusaha nont jotaknja diluar Balai Pustaka, agar Kamus Istilah itu dapat lebih lekas diedarkan.<noinclude></noinclude> mjryzspbjyhzvkr9std6iag48v2s061 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/144 104 103508 291413 2026-05-10T23:50:28Z N.imaema 22481 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Lihatlah betapa siap sedianja mereka menanti setiap kemungkinan dengan sedjata api jang siap ditangan- nja. tugas kewadjiban negara, diper- tengahan tahun 1950 saja djum- pai Batalion Badak Hitam ini di Atjeh. Dan dipertengahan tahun 1951 ini saja djumpai di Maluku Terselatan. Jang berarti pula Ba- talion Alamsjah atau Badak Hi- tam ini telah menunaikan tugas- nja sebagai anggauta Angkatan Perang dari Barat sampai ke Ti- mur. Dan saja mengerti... 291413 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="N.imaema" /></noinclude>Lihatlah betapa siap sedianja mereka menanti setiap kemungkinan dengan sedjata api jang siap ditangan- nja. tugas kewadjiban negara, diper- tengahan tahun 1950 saja djum- pai Batalion Badak Hitam ini di Atjeh. Dan dipertengahan tahun 1951 ini saja djumpai di Maluku Terselatan. Jang berarti pula Ba- talion Alamsjah atau Badak Hi- tam ini telah menunaikan tugas- nja sebagai anggauta Angkatan Perang dari Barat sampai ke Ti- mur. Dan saja mengerti dan ja- kin, bahwa tidak ada sesuatu jang mendjadi rintangan bagi anak bu- ah Batalion Alamsjah ini dalam mendjalankan tugasnja. Demiki- an singkatnja wedjangan Bapak Wakil Presiden Drs. M. Hatta jang telah kuabadikan dalam bu- ku tjatatanku. Wedjangan itu ku- resapkan dalam hati guna me- nambah semangat didalam menu- naikan tugas sehari? didaerah op- rasi. Setelah sekian lama kesatuan- ku mendjalankan tugas operasi jang sangat berat didaerah Ma- 26 luku Selatan, maka pada tanggal 24 April 1952 dipindahkan pula kembali menempati daerah Man- dar — Sulawesi Selatan — jang termasuk daerah katjau, alias ge- rombolan. Dan pada tanggal 11 Mei 1952, kesatuanku diperintah- kan untuk operasi Mandar, jang disebut operasi Garuda. Entah siapa jang memberikan nama se- indah itu aku kurang mengeta- huinja. Dalam operasi ini kesa- tuanku mengalami kemalangan, jaitu 4 anggota gugur, 2 anggota luka ringan dan 2 anggota hi- lang dalam pengadangan di La- pia antara Tinambung dan tjam- palagian serta didalam pertempu- ran di Tinambung dan Madjene. Setelah beberapa bulan mengi- kuti gerakan operasi Garuda di Mandar, pada tanggal 10 Agus- tus 1952 kesatuanku dipindahkan kedaerah Sulawesi Tengah Sek- tor "B" RI 24, diantaranja meli- puti daerah?: Posso, Tentena, Pendolo, Kolonedale, Luwuk, Pa- rigi, Toli?, Palu dan Donggala, Pada tanggal 29 September 1952 diperintahkan untuk operasi di- bawah pimpinan CORI 24/III jang Komandan operasinja ber- kedudukan di Tentena. Kali ini disebut operasi Halilintar. Wah, kalau kita dengar nama operasi ini lebih seram dan dahsjat serta mengerikan dari nama jg. sudah? Dan untuk kali ini berkat ketang- kasan serta pengalaman jang su- dah?, atau memang belum sampai adjalnja, kami semuanja selamat selama mendjalankan operasi itu. Dengan demikian kami tak lupa mengutjapkan sjukur pada Tuhan serta sekalian alam jang telah me- | lindungi kami selama kami menu- naikan tugas didaerah? pegunung- an dan rimba raja itu. Memang | pepatah mengatakan: Sebelum adjal berpantang mati. Sembojan itu telah mendjadi pegangan ka- mi bersama. t<noinclude></noinclude> nwnddifjz8lgzp6uxoc8bc55lpo1mss Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/186 104 103509 291416 2026-05-10T23:54:18Z Wiwil13 20069 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'sedang diuji baca' 291416 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Wiwil13" /></noinclude>sedang diuji baca<noinclude></noinclude> l2hc2d5cvsaxq6aeu6c8rqp2wihqm7y 291793 291416 2026-05-11T06:46:18Z Wiwil13 20069 /* Telah diuji baca */ 291793 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" /></noinclude>Demikian juga kurang meyakinkan cara menggambarkan jiwa patriotis dalam sjak "Bulan baru perbani" (hal. 122), "Meraba-raba mendekap Hasa"(hal. 124). Suatu irama yang spesifik irama syair tercapai dengan susunan baris.yang masing-masing terdiri dari empat-empat kata, meskipun kuplet-kuplet tidak semuanya terdiri dari empat-empat baris pula. Disamping kuplet-kuplet empat baris -- 13 dari 43 sajak kedapatan sajak-sajak yang tidak tentu jumlah barisnya dalam tiap kuplet. Demikian pun mengenai jumlah kata dalam setiap baris disamping baris-baris yang mengandung empat kata ada pula yang terdiri dari lebih empat kata. Bagian terbesar terdiri dari empat kata. Mengenai sajak akhir dipergunakan sajak bebas, kelihatannya tidak beraturan. Mengingatkan syair kuno sajak yang terasa dibikin-bikin: {{c|Bentanglah layar tergulung tad{{u|i}}}} {{c|Tegakkan jiwa berlayar mar{{u|i}}}} Banyak kita bertemu dalam puisi Armijn Pano ungkapan, kiasan dan perbandingan yang klise, seperti mejadi tutur kata, bagai besi lagi ditempa, jiwaku tinggal merayu-rayu. senyum merekah dibibir kita. Kiasan perbandingan yang jelek misalnya: waduk kata (tempat bersua semua rasa), hulu hati jiwaku, kantuk rohaniku, dinding jiwaku,<br> menumpuh hutan percaya. Tapi harus diakui pula sekali-sekali kita bertemu dengan kiasan perbandingan yang baik, misalnya Jiwaku pohon telah meranggas, terunjam terhening disenya hari, mengedangkan tangan tegang mati ("Jiwa telah meranggas"). setahu saya Armijnlah yang pertama kali mempergunakan kiasan mata semangat, disamping yang sudah ada, yaitu mata rohani. Yang mengganggu Amir Hamzah dalam sajak-sajak Armijn inlah kata-kata seperti mobil, senter, kereta, trem dan lain-lain kata benda yang modern (menurut keterangan Armijn sendiri). Kata-kata itu mengganggu rasa keindahan bahasa Melayu Amir Hamzah. Puisi Armijn Pane bercorak impresionistis, seperti juga prosanya. Ini beda besar dengan Chairil Anwar. Chairil Anwar dalam puisinya bersifat expresionistis. Perbedaan ini menyebabkan Angkatan 45 menganggap hasil-hasil Armijn Pane sangat dangkal, baik lukisan jiwa maupun pengupasan soalnya. Tidak banyak yang dikatakannya dalam 43 sajak yang dimuat dalam {{u|Djiwa berdjiwa}} ini.<noinclude></noinclude> 3ijonme16qmn0lailunympo1k8th9v6 291795 291793 2026-05-11T06:47:35Z Wiwil13 20069 291795 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" /></noinclude>Demikian juga kurang meyakinkan cara menggambarkan jiwa patriotis dalam sjak "Bulan baru perbani" (hal. 122), "Meraba-raba mendekap Rasa"(hal. 124). Suatu irama yang spesifik irama syair tercapai dengan susunan baris.yang masing-masing terdiri dari empat-empat kata, meskipun kuplet-kuplet tidak semuanya terdiri dari empat-empat baris pula. Disamping kuplet-kuplet empat baris -- 13 dari 43 sajak kedapatan sajak-sajak yang tidak tentu jumlah barisnya dalam tiap kuplet. Demikian pun mengenai jumlah kata dalam setiap baris disamping baris-baris yang mengandung empat kata ada pula yang terdiri dari lebih empat kata. Bagian terbesar terdiri dari empat kata. Mengenai sajak akhir dipergunakan sajak bebas, kelihatannya tidak beraturan. Mengingatkan syair kuno sajak yang terasa dibikin-bikin: {{c|Bentanglah layar tergulung tad{{u|i}}}} {{c|Tegakkan jiwa berlayar mar{{u|i}}}} Banyak kita bertemu dalam puisi Armijn Pano ungkapan, kiasan dan perbandingan yang klise, seperti mejadi tutur kata, bagai besi lagi ditempa, jiwaku tinggal merayu-rayu. senyum merekah dibibir kita. Kiasan perbandingan yang jelek misalnya: waduk kata (tempat bersua semua rasa), hulu hati jiwaku, kantuk rohaniku, dinding jiwaku,<br> menumpuh hutan percaya. Tapi harus diakui pula sekali-sekali kita bertemu dengan kiasan perbandingan yang baik, misalnya Jiwaku pohon telah meranggas, terunjam terhening disenya hari, mengedangkan tangan tegang mati ("Jiwa telah meranggas"). setahu saya Armijnlah yang pertama kali mempergunakan kiasan mata semangat, disamping yang sudah ada, yaitu mata rohani. Yang mengganggu Amir Hamzah dalam sajak-sajak Armijn inlah kata-kata seperti mobil, senter, kereta, trem dan lain-lain kata benda yang modern (menurut keterangan Armijn sendiri). Kata-kata itu mengganggu rasa keindahan bahasa Melayu Amir Hamzah. Puisi Armijn Pane bercorak impresionistis, seperti juga prosanya. Ini beda besar dengan Chairil Anwar. Chairil Anwar dalam puisinya bersifat expresionistis. Perbedaan ini menyebabkan Angkatan 45 menganggap hasil-hasil Armijn Pane sangat dangkal, baik lukisan jiwa maupun pengupasan soalnya. Tidak banyak yang dikatakannya dalam 43 sajak yang dimuat dalam {{u|Djiwa berdjiwa}} ini.<noinclude></noinclude> petk9dh1nbmlmcdrb3g2vqnfrcs7q7i Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/667 104 103510 291424 2026-05-11T00:35:10Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291424 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>'''common front''' dengan tenaga² imperialis asing jang hendak menggempur Republik dan hendak memasukkan Republik setjara paksaan kedalam blok militer Barat, — masih dapatkah kita bitjara dengan orang² sematjam ini, jang terbawa oleh motif² jang tidak sutji, sampai-hati hendak merusak Republik? Dan memang ta' lama sesudah itu muntjullah kristalisasi daripada tingkat keempat kepetualangan mereka itu: Di Tokyo saja diberi tahu tentang „ultimatum Bukit Tinggi”, dan masih di Tokyo pula saja diberi tahu tentang „proklamasi P.R.R.I.” „De teerling is geworpen”. Tantangan telah dilemparkan. Response harus kita beri. Di Tokyo saja diberi tahu tentang fakta² dan kristalisasi common front antara petualang dan imperialis itu jang mendjelma dalam P.R.R.I., — di Djakarta, sekembali saja dari Tokyo, saja bersama Pemerintah sebagai response menarik suatu common front pula terhadap mereka, common front kita common frontnja Rakjat jaitu common front antara Presiden dan Pemerintah dan Angkatan Darat dan Angkatan Laut dan Angkatan Udara dan Polisi dan Rakjat, — satu common front Setia Republik —, untuk dengan tegas membasmi kepetualangan jang chianat dan durhaka itu samasekali! Dan common front Rakjat ini, Insja Allah, pasti menang! Alhamdulillah, semua operasi pemberantasan P.R.R.I. — Permesta berdjalan dengan hasil jang dipukul rata boleh dinamakan baik. Operasi 17 Agustus, Operasi Sadar, Operasi Insjaf, Operasi Saptamarga I, Saptamarga II, Saptamarga III, Saptamarga IV, jang kemudian digabungkan dalam Operasi-Merdeka, operasi Mena I, Operasi Mena II, — semua operasi itu berdjalan menurut rentjana. Disinilah tempatnja saja mengutjapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh angkatan bersendjata kita dan Rakjat jang telah melakukan operasi² itu, dan menundukkan kepalaku terhadap djasa saudara² jang telah gugur. '''PRRI menikam dengan pisau dari belakang.''' Kemenangan operasi² itu mempunjai arti jang lebih besar daripada sekedar arti lokal: Pendudukan Pakan Baru berarti ditjegahnja intervensi terang²an jang hendak zoogenaamd menjelamatkan kepentingan minjak didaerah sana. Pembebasan Padang dan Morotai menghilangkan kemungkinan pemboman atas daerah² dipulau Djawa. Pendudukan Bukit Tinggi dan Menado menghapuskan dasar „belligerent position” jang hendak dikemukakan oleh kaum pemberontak. Dan ditindjau dari sudut geografi dan logistik, maka operasi² itu adalah Satu Operasi jang maha-besar. Luas Indonesia adalah sama dengan luas benua Eropah: djarak Sabang-sampai-Merauke sama dengan djarak pantai Barat Irlandia sampai ke-pegunungan Kaukasua. En toch operasi² itu sukses! Kalau operasi Amerika di Eropah dalam peperangan-dunia II disebut „Crusade through Europe”, maka operasi² kita untuk menundukkan pemberontakan² itu boleh dinamakan „Pantja Sila - crusade through Indonesia”. Saja kira, gugurlah djuga kini legende (dongeng omong-kosong) bahwa bangsa Indonesia tak mampu mendjalankan operasi² ekpedisi jang terkombinir! Dengan diadakannja common front oleh mereka dengan pihak imperialis itu, maka masuklah pengchianatan mereka itu ketingkat jang '''kelima''': Bukan sadja mereka menghantam Republik dengan bedil dan meriam dari dalam, tetapi pihak imperialis kontjo mereka itu, atas permintaan mereka, dengan terang²an djuga menghantam Republik dengan agressi dari luar. Pemburu² mengadakan straffing dipelbagai tempat, bomber² asing memuntahkan bom² api dan maut dibeberapa wilajah, untuk mentjoba mematahkan kekuatan Republik. Ini adalah suatu pendurhakaan nasional jang susah ditjarikan taranja: Orang² Indonesia jang menamakan dirinja patriot menjuruh orang² bangsa lain meni— kam saudara^2nja sendiri dengan pisau dari belakang ! Saja kira, seumur-hidup generasi jang sekarang ini ta' akan dapat melupakan penghianatan rendah-budi sematjam ini ! Tetapi apa djustru akibat daripada perkontjoan dengan imperialis asing itu ? Pisau-belati jang dimaksud untuk menikam saudara sendiri dari belakang itu, ternjata menikam kepada „nama" kaum petualang sendiri. Seluruh Rakjat djidjik kepada mereka, seluruh Rakjat djuga di-daerah^2 mereka — memuak. Seluruh Rakjat jang tjinta Republik membenarkan dan menjokong tindakan tegas jang diambil oleh Pemerintah Republik. Dan memang, bagi Pemerintah tidak ada alternatif lain daripada mengambil tindakan tegas itu. Alternatif lain ialah hantjurnja Republik : Binasanja Republik Proklamasi. Alternatif lain ialah segala hal jang ta' sesuai dengan Pantja Sila : Hantjur-leburnja toleransi antara agama dan agama sebagai ternjata dalam segala prakteknja D.I. dan T.I.I. ; hantjur-leburnja kepribadian nasional berdasarkan kebangsaan Indonesia jang utuh-bulat ; hantjur-leburnja politik persahabatan dengan semua bangsa dan manusia ; karena masuk satu blok : hantjur-leburnja penjelenggaraan sila demokrasi ; hantjur-leburnja harapan akan masjarakat adil dan makmur karena mendjadi antek imperialis dan kapitalis. Tindakan tegas jang diambil oleh Pemerintah itu adalah Konsekwensi jang logis daripada pengertian „year of decision" atau ''moments of decision''. Ja, memang saat^2 permulaan tahun 1958 itu bagi kita adalah saat^2 jang menentukan nasibnja abad^2 ; ''momenten die het lot van ceuwen beheersen''. Dapatkah saudara^2 mengenangkan sedjenak bagaimana gerangan rupanja hari^2 dan tahun^2 depan kita, seandainja kepetualangan^2 itu kita biarkan. PRRI tidak kita adubiru, Permesta tidak kita usik, persekutuan mereka dengan imperialis-kapitalis asing kita telerir, sehingga „koers" atau „arah" hidup kita berobah 180 deradjat sama sekali ?<noinclude></noinclude> d6tsl08tcf4paptn66fyt0c3k2ulz2r 291427 291424 2026-05-11T00:37:32Z Link PB 26772 291427 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>'''common front''' dengan tenaga² imperialis asing jang hendak menggempur Republik dan hendak memasukkan Republik setjara paksaan kedalam blok militer Barat, — masih dapatkah kita bitjara dengan orang² sematjam ini, jang terbawa oleh motif² jang tidak sutji, sampai-hati hendak merusak Republik? Dan memang ta' lama sesudah itu muntjullah kristalisasi daripada tingkat keempat kepetualangan mereka itu: Di Tokyo saja diberi tahu tentang „ultimatum Bukit Tinggi”, dan masih di Tokyo pula saja diberi tahu tentang „proklamasi P.R.R.I.” „De teerling is geworpen”. Tantangan telah dilemparkan. Response harus kita beri. Di Tokyo saja diberi tahu tentang fakta² dan kristalisasi common front antara petualang dan imperialis itu jang mendjelma dalam P.R.R.I., — di Djakarta, sekembali saja dari Tokyo, saja bersama Pemerintah sebagai response menarik suatu common front pula terhadap mereka, common front kita common frontnja Rakjat jaitu common front antara Presiden dan Pemerintah dan Angkatan Darat dan Angkatan Laut dan Angkatan Udara dan Polisi dan Rakjat, — satu common front Setia Republik —, untuk dengan tegas membasmi kepetualangan jang chianat dan durhaka itu samasekali! Dan common front Rakjat ini, Insja Allah, pasti menang! Alhamdulillah, semua operasi pemberantasan P.R.R.I. — Permesta berdjalan dengan hasil jang dipukul rata boleh dinamakan baik. Operasi 17 Agustus, Operasi Sadar, Operasi Insjaf, Operasi Saptamarga I, Saptamarga II, Saptamarga III, Saptamarga IV, jang kemudian digabungkan dalam Operasi-Merdeka, operasi Mena I, Operasi Mena II, — semua operasi itu berdjalan menurut rentjana. Disinilah tempatnja saja mengutjapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh angkatan bersendjata kita dan Rakjat jang telah melakukan operasi² itu, dan menundukkan kepalaku terhadap djasa saudara² jang telah gugur. '''PRRI menikam dengan pisau dari belakang.''' Kemenangan operasi² itu mempunjai arti jang lebih besar daripada sekedar arti lokal: Pendudukan Pakan Baru berarti ditjegahnja intervensi terang²an jang hendak zoogenaamd menjelamatkan kepentingan minjak didaerah sana. Pembebasan Padang dan Morotai menghilangkan kemungkinan pemboman atas daerah² dipulau Djawa. Pendudukan Bukit Tinggi dan Menado menghapuskan dasar „belligerent position” jang hendak dikemukakan oleh kaum pemberontak. Dan ditindjau dari sudut geografi dan logistik, maka operasi² itu adalah Satu Operasi jang maha-besar. Luas Indonesia adalah sama dengan luas benua Eropah: djarak Sabang-sampai-Merauke sama dengan djarak pantai Barat Irlandia sampai ke-pegunungan Kaukasua. En toch operasi² itu sukses! Kalau operasi Amerika di Eropah dalam peperangan-dunia II disebut „Crusade through Europe”, maka operasi² kita untuk menundukkan pemberontakan² itu boleh dinamakan „Pantja Sila - crusade through Indonesia”. Saja kira, gugurlah djuga kini legende (dongeng omong-kosong) bahwa bangsa Indonesia tak mampu mendjalankan operasi² ekpedisi jang terkombinir! Dengan diadakannja common front oleh mereka dengan pihak imperialis itu, maka masuklah pengchianatan mereka itu ketingkat jang '''kelima''': Bukan sadja mereka menghantam Republik dengan bedil dan meriam dari dalam, tetapi pihak imperialis kontjo mereka itu, atas permintaan mereka, dengan terang²an djuga menghantam Republik dengan agressi dari luar. Pemburu² mengadakan straffing dipelbagai tempat, bomber² asing memuntahkan bom² api dan maut dibeberapa wilajah, untuk mentjoba mematahkan kekuatan Republik. Ini adalah suatu pendurhakaan nasional jang susah ditjarikan taranja: '''Orang² Indonesia jang menamakan dirinja patriot menjuruh orang² bangsa lain menikam saudara^2nja sendiri dengan pisau dari belakang !''' Saja kira, seumur-hidup generasi jang sekarang ini ta' akan dapat melupakan penghianatan rendah-budi sematjam ini ! Tetapi apa djustru akibat daripada perkontjoan dengan imperialis asing itu ? Pisau-belati jang dimaksud untuk menikam saudara sendiri dari belakang itu, ternjata menikam kepada „nama" kaum petualang sendiri. Seluruh Rakjat djidjik kepada mereka, seluruh Rakjat djuga di-daerah^2 mereka — memuak. Seluruh Rakjat jang tjinta Republik membenarkan dan menjokong tindakan tegas jang diambil oleh Pemerintah Republik. Dan memang, bagi Pemerintah tidak ada alternatif lain daripada mengambil tindakan tegas itu. Alternatif lain ialah hantjurnja Republik : Binasanja Republik Proklamasi. Alternatif lain ialah segala hal jang ta' sesuai dengan Pantja Sila : Hantjur-leburnja toleransi antara agama dan agama sebagai ternjata dalam segala prakteknja D.I. dan T.I.I. ; hantjur-leburnja kepribadian nasional berdasarkan kebangsaan Indonesia jang utuh-bulat ; hantjur-leburnja politik persahabatan dengan semua bangsa dan manusia ; karena masuk satu blok : hantjur-leburnja penjelenggaraan sila demokrasi ; hantjur-leburnja harapan akan masjarakat adil dan makmur karena mendjadi antek imperialis dan kapitalis. Tindakan tegas jang diambil oleh Pemerintah itu adalah Konsekwensi jang logis daripada pengertian „year of decision" atau ''moments of decision''. Ja, memang saat^2 permulaan tahun 1958 itu bagi kita adalah saat^2 jang menentukan nasibnja abad^2 ; ''momenten die het lot van ceuwen beheersen''. Dapatkah saudara^2 mengenangkan sedjenak bagaimana gerangan rupanja hari^2 dan tahun^2 depan kita, seandainja kepetualangan^2 itu kita biarkan. PRRI tidak kita adubiru, Permesta tidak kita usik, persekutuan mereka dengan imperialis-kapitalis asing kita telerir, sehingga „koers" atau „arah" hidup kita berobah 180 deradjat sama sekali ?<noinclude></noinclude> sh8h1vw3590e8c5t5pokq4s2aq8lxuo Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/668 104 103511 291440 2026-05-11T01:02:51Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291440 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Kepetualangan² itu pada dasar-hakekatnja adalah bangkitnja tenaga² reaksi dan tenaga² kontra-revolusi jang hendak mati²an menentang kelandjutan daripada kita punja Revolusi. Tenaga² reaksi dan kontra-revolusi dari dalam-negeri mentjari kontak tenaga² jang sama dari luar-negeri, sesuai dengan wet polarisasi. Wet: „soort zoekt soort”. — „tikus mentjari tikus”. Tenaga reaksioner mentjari tenaga reaksioner. Tenaga kontra-revolusioner mentjari tenaga kontra-revolusioner. Petualang mentjari petualang, tukang barter mentjari bandot barter. Bandot smokel mentjari bandot smokel. Penghianat mentjari penghianat. Dulu didalam pagar negeri sendiri, ja'ni dibidang nasional ; kini djuga diluar pagar, dibidang internasional. Sebaliknjapun, maka tenaga² diluar-negeri menjambut baik kontak dan kerdja-sama dengan persekutuan² dari dalam, kontak dan kerdja-sama jang memang sudah lama di-tjari². Didalam polarisasi² ini nistjaja banjak djuga orang² jang hanja ikut²an sadja. Mereka adalah laksana buih² jang terbawa berputar oleh air putaran, atau buih² jang terbawa hanjut oleh aliran deras. Terhadap kepada mereka itu, hati kita bolehlah hati jang mengampuni. ,,Heel, vergeet hen, ze weten niet wat ze doen" — ,,ia Tuhan, ampunilah mereka, mereka ta' tahu apa jang mereka perbuat". Ah, tiap² kali saja berpidato pada hari 17 Agustus, hatiku selalu terharu karena mengetahui bahwa begitu banjak orang Indonesia mendengarkan pidato saja. Pada hari sekarang ini mungkin 50 — 60 djuta orang Indonesia memasang telinganja kepada apa jang saja kata. Di Atjeh rakjat berkerumun dihadapan radio²-rumah dan radio²-umum, di Irian Barat orang dengan sembunji² menjetel pesawat pula. Pagi² benar diwaktu adjar, wakil² kita di Moskow mentjoba mendengarkan suara saja dan sambutan²mu. Dan di Washingtonpun, tengah² malam benar, wakil kita mengerumuni pesawat² radionja. Ja, total barangkali 50 — 60 djuta orang, — orang² Indonesia sebangsa setanah-air, orang² Indonesia senaungan dibawah pandji satu Negara, orang² Indonesia setjinta semesta terhadap kepada Republik, jang mungkin air-matanja berinang², karena terharu hatinja ingat kepada korban² Proklamasi. Tetapi ......... ada djuga orang² lain jang mendengarkan pidato saja ini ......... '''Simbolon''' disuatu tempat, dan Zulkifli Lubis, dan Husein, dan Djambek dan Sjafrudin, — dan Sumual, dan Somba, dan lain². Ja, ,,dan lain²". — itu orang² Indonesia jang hanja ikut²an sadja, atau dipaksa ikut mengangkat sendjata melawan Negaranja sendiri, melawan bangsanja sendiri, melawan saudara{{sup|2}}nja sendiri. Kepada patualang{{sup|2}} jang dengan sadar mengchianati Negaranja sendiri dan bangsanja sendiri, saja ta' mau berbitjara apa{{sup|2}}. Mereka disebelah sana dari garis, kami disebelah sini ......... Tetap kepada orang{{sup|2}} jang hanja ikut{{sup|2}}an sadja dalam pemberontakan ini, kepada orang{{sup|2}} jang salah-pimpinan itu, kepada mereka pada Hari 17 Agustus ini saja berkata : Saudara{{sup|2}} tertipu. Saudara{{sup|2}} melawan Republikmu sendiri, saudara{{sup|2}} melawan Negaramu sendiri. Saudara{{sup|2}} melawan kepastian Sedjarah. Dengan demikian maka hari depan bukanlah djadi hari depanmu, Saudara{{sup|2}} mendjadi korban ambisinja orang{{sup|2}} jang djahat, jang setjara serakah menghisap harta kekajaan dan kekuasaan dari tubuhnja bangsa. Tetapi bagi Saudara{{sup|2}}, waktu belum terlambat, bagi saudara{{sup|2}} buku nasional belum tertutup. Kembalilah kepada bangsamu sendiri, kembalilah kepada Negaramu sendiri. Kembalilah kepada djalan jang benar ! '''Hantam terus DI & TII sampai hantjur.''' Mari kita kupas lagi dasar hakekat kepetualangan tadi : Dasar-hakekatnja ialah bangkitnja tenaga reaksi dan tenaga kontra-revolusi jang hendak matian menentang kelandjutan dari pada kita punja Revolusi. Itulah pula dasar-hakekat daripada DI — TII. Djuga DI — TII sedjak<noinclude></noinclude> b18rb678q7iwa220i8c30w0pyicwr5g 291441 291440 2026-05-11T01:03:54Z Link PB 26772 291441 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Kepetualangan² itu pada dasar-hakekatnja adalah bangkitnja tenaga² reaksi dan tenaga² kontra-revolusi jang hendak mati²an menentang kelandjutan daripada kita punja Revolusi. Tenaga² reaksi dan kontra-revolusi dari dalam-negeri mentjari kontak tenaga² jang sama dari luar-negeri, sesuai dengan wet polarisasi. Wet: „soort zoekt soort”. — „tikus mentjari tikus”. Tenaga reaksioner mentjari tenaga reaksioner. Tenaga kontra-revolusioner mentjari tenaga kontra-revolusioner. Petualang mentjari petualang, tukang barter mentjari bandot barter. Bandot smokel mentjari bandot smokel. Penghianat mentjari penghianat. Dulu didalam pagar negeri sendiri, ja'ni dibidang nasional ; kini djuga diluar pagar, dibidang internasional. Sebaliknjapun, maka tenaga² diluar-negeri menjambut baik kontak dan kerdja-sama dengan persekutuan² dari dalam, kontak dan kerdja-sama jang memang sudah lama di-tjari². {{Missing image}} ''Didaerah T&T-I, peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan kita dirajakan dengan meriah sekali. Tampak ikut berarak-arakan Angkatan Perang, Buruh, Peladjar bahkan tidak ketinggalan Betja-pun ikut serta.'' Didalam polarisasi² ini nistjaja banjak djuga orang² jang hanja ikut²an sadja. Mereka adalah laksana buih² jang terbawa berputar oleh air putaran, atau buih² jang terbawa hanjut oleh aliran deras. Terhadap kepada mereka itu, hati kita bolehlah hati jang mengampuni. ,,Heel, vergeet hen, ze weten niet wat ze doen" — ,,ia Tuhan, ampunilah mereka, mereka ta' tahu apa jang mereka perbuat". Ah, tiap² kali saja berpidato pada hari 17 Agustus, hatiku selalu terharu karena mengetahui bahwa begitu banjak orang Indonesia mendengarkan pidato saja. Pada hari sekarang ini mungkin 50 — 60 djuta orang Indonesia memasang telinganja kepada apa jang saja kata. Di Atjeh rakjat berkerumun dihadapan radio²-rumah dan radio²-umum, di Irian Barat orang dengan sembunji² menjetel pesawat pula. Pagi² benar diwaktu adjar, wakil² kita di Moskow mentjoba mendengarkan suara saja dan sambutan²mu. Dan di Washingtonpun, tengah² malam benar, wakil kita mengerumuni pesawat² radionja. Ja, total barangkali 50 — 60 djuta orang, — orang² Indonesia sebangsa setanah-air, orang² Indonesia senaungan dibawah pandji satu Negara, orang² Indonesia setjinta semesta terhadap kepada Republik, jang mungkin air-matanja berinang², karena terharu hatinja ingat kepada korban² Proklamasi. Tetapi ......... ada djuga orang² lain jang mendengarkan pidato saja ini ......... '''Simbolon''' disuatu tempat, dan Zulkifli Lubis, dan Husein, dan Djambek dan Sjafrudin, — dan Sumual, dan Somba, dan lain². Ja, ,,dan lain²". — itu orang² Indonesia jang hanja ikut²an sadja, atau dipaksa ikut mengangkat sendjata melawan Negaranja sendiri, melawan bangsanja sendiri, melawan saudara{{sup|2}}nja sendiri. Kepada patualang{{sup|2}} jang dengan sadar mengchianati Negaranja sendiri dan bangsanja sendiri, saja ta' mau berbitjara apa{{sup|2}}. Mereka disebelah sana dari garis, kami disebelah sini ......... Tetap kepada orang{{sup|2}} jang hanja ikut{{sup|2}}an sadja dalam pemberontakan ini, kepada orang{{sup|2}} jang salah-pimpinan itu, kepada mereka pada Hari 17 Agustus ini saja berkata : Saudara{{sup|2}} tertipu. Saudara{{sup|2}} melawan Republikmu sendiri, saudara{{sup|2}} melawan Negaramu sendiri. Saudara{{sup|2}} melawan kepastian Sedjarah. Dengan demikian maka hari depan bukanlah djadi hari depanmu, Saudara{{sup|2}} mendjadi korban ambisinja orang{{sup|2}} jang djahat, jang setjara serakah menghisap harta kekajaan dan kekuasaan dari tubuhnja bangsa. Tetapi bagi Saudara{{sup|2}}, waktu belum terlambat, bagi saudara{{sup|2}} buku nasional belum tertutup. Kembalilah kepada bangsamu sendiri, kembalilah kepada Negaramu sendiri. Kembalilah kepada djalan jang benar ! '''Hantam terus DI & TII sampai hantjur.''' Mari kita kupas lagi dasar hakekat kepetualangan tadi : Dasar-hakekatnja ialah bangkitnja tenaga reaksi dan tenaga kontra-revolusi jang hendak matian menentang kelandjutan dari pada kita punja Revolusi. Itulah pula dasar-hakekat daripada DI — TII. Djuga DI — TII sedjak<noinclude></noinclude> dgumo2zn51d656p7hby5kzwesakntjg Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/369 104 103512 291446 2026-05-11T01:08:08Z Radramboo 23710 sedang diuji baca 291446 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Radramboo" /></noinclude>dan diartikan dengan amnesti itu. Karena ada jang menghendaki su- paja mereka jang terlibat dalam pelanggaran hukum sedjak dulu sampai sekarang diamnestikan sa- dja dengan tidak ada ketjualinja. Tetapi ada jang menentang, ka- tanja tidak dapat diamnestikan begitu sadja, karena mereka su- dah melanggar hukum, disiplin dan sebagainja. Ada jang lebih tegas lagi mengatakan, kepada mereka jang sudah djelas mem- berontak kepada pemerintah, dje- las melakukan desersi dan seba- gainja tidak dapat diamnestikan. Begitu pula soal diperkerdja- kan kembali dalam ketenteraan, ada jang menghendaki supaja se- muanja kembali kedalam keten- teraan, sebab kita tidak ada jang luput dari kesalahan', karena maklumlah namanja manusia, ti- dak ada jang tidak tjatjat. Ada pula jang menghendaki diketju- alikan mereka? jang sudah ter lalu, jaitu sudah terlalu membe- rontak kepada pemerintah dan sebagainja. Bermatjam? pendapat inilah jang sampai sekarang belum da- pat diselesaikan oleh Panitia 7. Tahu” soal perbedaan pendapa: ini sadja belum dapat dipetjah- kan, tiba? timbul pula peristiwa Tjikini. Peristiwa Tjikini adalah usa- ha membunuh Kepala Negara Presiden Soekarno jang dilaku- kan dengan kedjam. Saja kira tidak ada diantara saudara? jg ikut menjaksikan akibat'nja pa- da malam peristiwa itu dengan mata kepala sendiri membilang, bahwa itu harus diselesaikan dengan musjawarah. Sebab su- dah terang akibatnja adalah terbunuhnja anak-anak sekolah jang tidak berdosa sama sekali. Oleh sebab itulah maka semua suara jang kita dengar menuntut pelaku” peristiwa itu diberikan hukuman berat dan tegas setim- pal dengan dosanja jang telah mendjatuhkan banjak korban. Bahkan banjak resolusi” jang di- kirimkan pada kita dan surat ka- bar? jang meminta hukuman mati dan lain”. Sesudah diadakan penjelidikan jang mendalam dan seksama, ma- ka terbuktilah bahwa peristiwa Tjikini itu adalah rentetan dari pada persoalan2/tindakan' keke- rasan jang telah terdjadi diwak- tu? jang lalu di Djakarta ini. Ma- ka dengan sendirinja persoalan amnesti dan lain” dari Panitia 7 itu mentah kembali. Sebab saja kira orang tidak dapat mengerti lagi, kalau persoalan? ini dibiar- kan sadja. Karena itu pulalah Panitia 7 mengumumkan bahwa putusannja itu sekarang ditindjau kembal:. Artinja apa jang telah mendjadi pertimbangan Panitia 7 pada mu- lanja tidak diteruskan lagi. Miskipun banjak persoalan” jg sudah sangat mendesak harus di- selesaikan segera, namun peris- tiwa Tjikini itu harus selekas mungkin lebih dapat segera di- selesaikan. Dan diantara mere- ka jang tersangkut dalam peris- tiwa Tjikini tsb. jang ditahan o- leh alat ngara dengan bukti” jang njata telah memberikan pengaku- kita bongkar, dimana ternjata bahwa bukan orang preman sa- dja jang tersangkut, tetapi terli- bat pula orang” militer. Dan ini sudah tentu merupakan suasana jang baru bagi kita sekarang. Dengan demikian teranglah be- tapa kesulitan? jang dihadapi ne- gara pada masa ini jang semang- kin meningkat kepada taraf" jang baru, sehingga kita harus menin- djau kembali segala sesuatu. Diantara sekian persoalan jang sulit” jang dihadapi negara kita sekarang, persoalan Irian Barat adalah suatu persoalan jang be- sar pula. Tidak ada diantara bangsa kita jang mengatakan, bahwa Irian Barat itu bukan wi- lajah kita. Dan sudah mendjadi pendirian bersama pula, bahwa dia harus kembali 'kepangkuan Republik Indonesia. Dan siapa jang tidak berpendirian demikian, ia tentu mengchianati proklama- Mobil Presiden Soekarno ,Indonesia I” jang mendjadi sasaran gra- nat dalam peristiwa Tjikini pada tanggal 30 November 1957. an jang tjukup. Dan mereka? ini akan selekas mungkin diha- dapkan kepengadilan militer. Peristiwa Tjikini itu adalah menjangkut peristiwa? sebelum- nja, seperti usaha mentjulik dan membunuh Panglima T. & T. III, usaha untuk menjulik dan meng- geranat saja sendiri, jah matjam- matjam usaha lainnja seperti jang telah terdjadi dan terbukti dengan pelemparan? geranat di Djakarta dan lain?nja. Kini peristiwa itu telah dapat si 17 Agustus 1945. Karena itu pemerintah kita setiap tahun de- ngan djalan damai mengharap- kan supaja Belanda mengembali- kan Irian Barat. Dan ini telah dilakukan dengan djalan perun- dingan secjak tahun 1953 terus hingga tahun 1957 dipersidangan Perserikatan Bangsa Bangsa. Tetapi Belanda tidak menghen- ki setjara perdamaian dengan me- ngatakan tidak perlu berunding. Oleh karena demikian sikap Belanda serta tidak memberikar hasil apa jang kita perdjuangkar<noinclude></noinclude> jom97gidzqn2kkq6vqbpy7gyg62belz 291560 291446 2026-05-11T02:56:26Z Radramboo 23710 masih diuji baca 291560 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Radramboo" /></noinclude>dan diartikan dengan amnesti itu. Karena ada jang menghendaki supaja mereka jang terlibat dalam pelanggaran hukum sedjak dulu sampai sekarang diamnestikan sadja dengan tidak ada ketjualinja. Tetapi ada jang menentang, katanja tidak dapat diamnestikan begitu sadja, karena mereka sudah melanggar hukum, disiplin dan sebagainja. Ada jang lebih tegas lagi mengatakan, kepada mereka jang sudah djelas memberontak kepada pemerintah, djelas melakukan desersi dan sebagainja tidak dapat diamnestikan. Begitu pula soal diperkerdjakan kembali dalam ketenteraan, ada jang menghendaki supaja semuanja kembali kedalam ketenteraan, sebab kita tidak ada jang luput dari kesalahan<sup>2</sup>, karena maklumlah namanja manusia, tidak ada jang tidak tjatjat. Ada pula jang menghendaki diketjualikan mereka<sup>2</sup> jang sudah terlalu, jaitu sudah terlalu memberontak kepada pemerintah dan sebagainja. Bermatjam<sup>2</sup> pendapat inilah jang sampai sekarang belum dapat diselesaikan oleh Panitia 7. Tahu<sup>2</sup> soal perbedaan pendapat ini sadja belum dapat dipetjahkan, tiba<sup>2</sup> timbul pula peristiwa Tjikini. Peristiwa Tjikini adalah usaha membunuh Kepala Negara Presiden Soekarno jang dilakukan dengan kedjam. Saja kira tidak ada diantara saudara<sup>2</sup> jg ikut menjaksikan akibat<sup>2</sup>nja pada malam peristiwa itu dengan mata kepala sendiri membilang, bahwa itu harus diselesaikan dengan musjawarah. Sebab sudah terang akibatnja adalah terbunuhnja anak-anak sekolah jang tidak berdosa sama sekali. Oleh sebab itulah maka semua suara jang kita dengar menuntut pelaku<sup>2</sup> peristiwa itu diberikan hukuman berat dan tegas setimpal dengan dosanja jang telah mendjatuhkan banjak korban. Bahkan banjak resolusi<sup>2</sup> jang dikirimkan pada kita dan surat kabar<sup>2</sup> jang meminta hukuman mati dan lain<sup>2</sup>. Sesudah diadakan penjelidikan jang mendalam dan seksama, maka terbuktilah bahwa peristiwa Tjikini itu adalah rentetan dari pada persoalan2/tindakan<sup>2</sup> kekerasan jang telah terdjadi diwaktu<sup>2</sup> jang lalu di Djakarta ini. Maka dengan sendirinja persoalan amnesti dan lain<sup>2</sup> dari Panitia 7 itu mentah kembali. Sebab saja kira orang tidak dapat mengerti lagi, kalau persoalan<sup>2</sup> ini dibiarkan sadja. Karena itu pulalah Panitia 7 mengumumkan bahwa putusannja itu sekarang ditindjau kembali. Artinja apa jang telah mendjadi pertimbangan Panitia 7 pada mulanja tidak diteruskan lagi. Miskipun banjak persoalan<sup>2</sup> jg sudah sangat mendesak harus diselesaikan segera, namun peristiwa Tjikini itu harus selekas mungkin lebih dapat segera diselesaikan. Dan diantara mereka jang tersangkut dalam peristiwa Tjikini tsb. jang ditahan oleh alat ngara dengan bukti<sup>2</sup> jang njata telah memberikan pengakuan jang tjukup. Dan mereka<sup>2</sup> ini akan selekas mungkin dihadapkan kepengadilan militer. Peristiwa Tjikini itu adalah menjangkut peristiwa<sup>2</sup> sebelumnja, seperti usaha mentjulik dan membunuh Panglima T. & T. III, usaha untuk menjulik dan menggeranat saja sendiri, jah matjam- matjam usaha lainnja seperti jang telah terdjadi dan terbukti dengan pelemparan<sup>2</sup> geranat di Djakarta dan lain<sup>2</sup>nja. Kini peristiwa itu telah dapat si 17 Agustus 1945. Karena itu kita bongkar, dimana ternjata bahwa bukan orang preman sadja jang tersangkut, tetapi terlibat pula orangsup>2</sup> militer. Dan ini sudah tentu merupakan suasana jang baru bagi kita sekarang. Dengan demikian teranglah betapa kesulitansup>2</sup> jang dihadapi negara pada masa ini jang semangkin meningkat kepada tarafsup>2</sup> jang baru, sehingga kita harus menindjau kembali segala sesuatu. Diantara sekian persoalan jang sulitsup>2</sup> jang dihadapi negara kita sekarang, persoalan Irian Barat adalah suatu persoalan jang besar pula. Tidak ada diantara bangsa kita jang mengatakan, bahwa Irian Barat itu bukan wilajah kita. Dan sudah mendjadi pendirian bersama pula, bahwa dia harus kembali 'kepangkuan Republik Indonesia. Dan siapa jang tidak berpendirian demikian, ia tentu mengchianati proklamasi 17 Agustus 1945 pemerintah kita setiap tahun dengan djalan damai mengharap- kan supaja Belanda mengembali- kan Irian Barat. Dan ini telah dilakukan dengan djalan perun- dingan secjak tahun 1953 terus hingga tahun 1957 dipersidangan Perserikatan Bangsa Bangsa. Tetapi Belanda tidak menghen- ki setjara perdamaian dengan me- ngatakan tidak perlu berunding. Oleh karena demikian sikap Belanda serta tidak memberikar hasil apa jang kita perdjuangkar<noinclude></noinclude> lfx179qx3mrw76cg1ugkfcix1kbxy7x 291736 291560 2026-05-11T06:11:16Z Radramboo 23710 /* Telah diuji baca */ 291736 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Radramboo" /></noinclude>dan diartikan dengan amnesti itu. Karena ada jang menghendaki supaja mereka jang terlibat dalam pelanggaran hukum sedjak dulu sampai sekarang diamnestikan sadja dengan tidak ada ketjualinja. Tetapi ada jang menentang, katanja tidak dapat diamnestikan begitu sadja, karena mereka sudah melanggar hukum, disiplin dan sebagainja. Ada jang lebih tegas lagi mengatakan, kepada mereka jang sudah djelas memberontak kepada pemerintah, djelas melakukan desersi dan sebagainja tidak dapat diamnestikan. Begitu pula soal diperkerdjakan kembali dalam ketenteraan, ada jang menghendaki supaja semuanja kembali kedalam ketenteraan, sebab kita tidak ada jang luput dari kesalahan<sup>2</sup>, karena maklumlah namanja manusia, tidak ada jang tidak tjatjat. Ada pula jang menghendaki diketjualikan mereka<sup>2</sup> jang sudah terlalu, jaitu sudah terlalu memberontak kepada pemerintah dan sebagainja. Bermatjam<sup>2</sup> pendapat inilah jang sampai sekarang belum dapat diselesaikan oleh Panitia 7. Tahu<sup>2</sup> soal perbedaan pendapat ini sadja belum dapat dipetjahkan, tiba<sup>2</sup> timbul pula peristiwa Tjikini. Peristiwa Tjikini adalah usaha membunuh Kepala Negara Presiden Soekarno jang dilakukan dengan kedjam. Saja kira tidak ada diantara saudara<sup>2</sup> jg ikut menjaksikan akibat<sup>2</sup>nja pada malam peristiwa itu dengan mata kepala sendiri membilang, bahwa itu harus diselesaikan dengan musjawarah. Sebab sudah terang akibatnja adalah terbunuhnja anak-anak sekolah jang tidak berdosa sama sekali. Oleh sebab itulah maka semua suara jang kita dengar menuntut pelaku<sup>2</sup> peristiwa itu diberikan hukuman berat dan tegas setimpal dengan dosanja jang telah mendjatuhkan banjak korban. Bahkan banjak resolusi<sup>2</sup> jang dikirimkan pada kita dan surat kabar<sup>2</sup> jang meminta hukuman mati dan lain<sup>2</sup>. Sesudah diadakan penjelidikan jang mendalam dan seksama, maka terbuktilah bahwa peristiwa Tjikini itu adalah rentetan dari pada persoalan2/tindakan<sup>2</sup> kekerasan jang telah terdjadi diwaktu<sup>2</sup> jang lalu di Djakarta ini. Maka dengan sendirinja persoalan amnesti dan lain<sup>2</sup> dari Panitia 7 itu mentah kembali. Sebab saja kira orang tidak dapat mengerti lagi, kalau persoalan<sup>2</sup> ini dibiarkan sadja. Karena itu pulalah Panitia 7 mengumumkan bahwa putusannja itu sekarang ditindjau kembali. Artinja apa jang telah mendjadi pertimbangan Panitia 7 pada mulanja tidak diteruskan lagi. Miskipun banjak persoalan<sup>2</sup> jg sudah sangat mendesak harus diselesaikan segera, namun peristiwa Tjikini itu harus selekas mungkin lebih dapat segera diselesaikan. Dan diantara mereka jang tersangkut dalam peristiwa Tjikini tsb. jang ditahan oleh alat ngara dengan bukti<sup>2</sup> jang njata telah memberikan pengakuan [[Berkas:Madjalah Angkatan Darat (page 369 crop).jpg|jmpl|ka|'''''Mobil Presiden Soekarno ,,Indonesia 1" jang mendjadi sasaran granat dalam peristiwa Tjikini pada tanggal 30 November 1957.''''']] jang tjukup. Dan mereka<sup>2</sup> ini akan selekas mungkin dihadapkan kepengadilan militer. Peristiwa Tjikini itu adalah menjangkut peristiwa<sup>2</sup> sebelumnja, seperti usaha mentjulik dan membunuh Panglima T. & T. III, usaha untuk menjulik dan menggeranat saja sendiri, jah matjam- matjam usaha lainnja seperti jang telah terdjadi dan terbukti dengan pelemparan<sup>2</sup> geranat di Djakarta dan lain<sup>2</sup>nja. Kini peristiwa itu telah dapat itu kita bongkar, dimana ternjata bahwa bukan orang preman sadja jang tersangkut, tetapi terlibat pula orang<sup>2</sup> militer. Dan ini sudah tentu merupakan suasana jang baru bagi kita sekarang. Dengan demikian teranglah betapa kesulitan<sup>2</sup> jang dihadapi negara pada masa ini jang semangkin meningkat kepada taraf<sup>2</sup> jang baru, sehingga kita harus menindjau kembali segala sesuatu. Diantara sekian persoalan jang sulit<sup>2</sup> jang dihadapi negara kita sekarang, persoalan Irian Barat adalah suatu persoalan jang besar pula. Tidak ada diantara bangsa kita jang mengatakan, bahwa Irian Barat itu bukan wilajah kita. Dan sudah mendjadi pendirian bersama pula, bahwa dia harus kembali 'kepangkuan Republik Indonesia. Dan siapa jang tidak berpendirian demikian, ia tentu mengchianati proklamasi 17 Agustus 1945. Karena itu pemerintah kita setiap tahun dengan djalan damai mengharapkan supaja Belanda mengembalikan Irian Barat. Dan ini telah dilakukan dengan djalan perun- dingan secjak tahun 1953 terus hingga tahun 1957 dipersidangan Perserikatan Bangsa Bangsa. Tetapi Belanda tidak menghenki setjara perdamaian dengan mengatakan tidak perlu berunding. Oleh karena demikian sikap Belanda serta tidak memberikan hasil apa jang kita perdjuangkan<noinclude></noinclude> tdx9iqzaql093157swnuwon4qqq0qzg Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/669 104 103513 291447 2026-05-11T01:09:48Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291447 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>dari mulanja bersembojan „anti komunis”, malahan sedjak dari mulanja menamakan Republik kita ini RIK jaitu Republik Indonesia Komunis. Djuga DI — TII djalankan terror, penggedoran, pembakaran, pentjulikan, pembunuhan. Djuga DI — TII bekerdja-sama dengan anasir² asing, menerima pimpinan militer dari asing, menerima sokongan uang dari asing, menerima dropping sendjata dari asing. Djuga DI — TII adalah pendjelmaan daripada satu „proklamasi”, proklamasi NII 7 Agustus 1949. Dan terutama sekali: Djuga DI — TII menentang tiap² konsolidasi Republik. Herankah kita kalau Dahlan Djambek belakangan ini mentjoba membentuk DI — TII pula di Sumatera Barat? Pada Hari Keramat 17 Agustus sekarang ini, saja menjerukan lagi: djangan lupa DI — TII, — djangan biarkan mereka, hantamlah terus DI — TII, sampai mereka hantjur-lebur samasekali! Sekarang, apakah jang dinamakan kelandjutan daripada Revolusi kita ini? Kelandjutan Revolusi ialah terletak dalam segala bidang jang perdjoangannja belum selesai. Kelandjutan Revolusi ialah kelandjutkan perdjoangan jang belum selesai. Kelandjutan perdjoangan dibidang politik, kelandjutan perdjoangan dibidang ekonomi atau lebih tepat sosial-ekonomi, kelandjutan perdjoangan dibidang kepribadian Nasional Revolusi kita adalah satu „revolusi tjampuran”, revolusi politik dan sosial-ekonomi dan kebudajaan — satu Revolusi jang pada hakekatnja adalah „a summing-up of many revolutions in one generation”. Satu bagian daripada Revolusi ini adalah lebih madju daripada bagian jang lain, tetapi semua bagian² itu meminta kelandjutan daripada perdjoangannja. Walau, kelandjutan daripada Revolusi inilah jang pada hakekatnja mereka tentang. Terutama sekali oleh karena Revolusi kita sekarang ini mulai meletakkan tekanan kata pula kepada penjelenggaraan masjarakat adil dan makmur, masjarakat kebahagiaan seluruh rakjat, masjarakat tanpa exploitasi dan feodalisme, tanpa penindasan dan penghisapan. Revolusi Nasional kita telah mengalami „fase politiknja”, dan kini sedang mengetok pintu untuk memasuki „fase sosialnja” atau lebih tepat mengetok pintu untuk memasuki „fase sosial-ekonominja”: jaitu fase penjelenggaraan masjarakat idam²an massa jang adil dan makmur. '''Hanja dua pilihan bagi Belanda.''' Fase politik daripada Revolusi kita memang belum seluruhnja selesai. Benar „kekuasaan politik” sudah dipegang oleh bangsa kita, benar „politieke macht” itu tidak ditangan bangsa Belanda lagi, tetapi penggunaan daripada kekuasaan politik itu belum sesuai dengan tjita² rakjat dan penderitaan Rakjat. Disamping itu, kekuasaan politik kita masih belum pula melebar ke Irian Barat. Belanda masih tetap menongkrong disana memegang kekuasaan politik. Tudjuh tahun lamanja kita mentjoba memindahkan kekuasaan politik di Irian Barat ke tangan kita, dengan djalan mengadjak Belanda utk. berunding, sekali lagi berunding, dan sekali lagi berunding, tetapi sia² belaka. Tudjuh tahun lamanja kita mentjoba merobah sikap Belanda dengan djalan ,,sweet reasonning and persuasion”, tetapi hasilnja sama sadja dengan mentjoba merobah luwak mendjadi ajam atau serigala mendjadi kambing. Maka terpaksalah kita mengambil ,,djalan lain” jang terkenal dengan nama Aksi Irian Barat, ,,djalan lain" jang penuh dengan gegap gempitanja semangat perdjoangan. Perdjoangan pembebasan Irian Barat telah sangat menaikkan martabat kita sebagai bangsa jang tjinta kemerdekaan. Aksi? kita, jang memuntjak pada pengambilalihan perusahaan? Belanda, dan pemulangan orang? Belanda jang ta' diperlukan, aksi? kita itu seolah? petir dan halilintar telah menjadarkan sebagian dunia jang selama ini belum mau sadar, bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa katak atau bangsa ,,Hamlet jang ta' berkeputusan". Dalam “aksi jang mau-ta'--mau menggugah keta'djuban siapapun djuga itu, tentara dan rakjat kita memainkan rol jang amat besar. Dan pemuda pun berdjasa sesuai dengan harapan jang bangsa tjantumkan kepadanja. Salut-kehormatan kuberikan kepada tentara dan rakjat dan pemuda itu ! Bagi Belanda tinggal kini dua pilihan: terus berkeras kepala, atau memahami tuntutan sedjarah. Terus berkeras-kepala, akan berarti ,,djalan lain” akan kita daki terus dan Belanda akan kehilangan Irian Barat dengan tiada terhormat dan menderita kerugian? seterusnja jang ta' ternilai: memahami tuntutan sedjarah, akan berarti mengembalikan Irian Barat kepada Indonesia dengan terhormat, dan normalisasi hubungan antara Nederland dan Indonesia sebagai lazim dalam dunia Internasional. Bagi kita sendiri, ada djuga pesan jang hendak saja katakan disini : Hendaklah kita mengenai aksi Irian Barat itu djangan bersikap pitjik. Sebab, ada beberapa pentol jang mengatakan bahwa aksi Irian Baratnja Sukarno" itu mendjadi ,,sebab"' dari ,,segala kesulitan”. Dan ada djuga orang? jang mengatakan, bahwa perusahaan? jang telah diambil -alih itu ,tidak lajak dikuasai oleh Pemerintah". Orang? jang mengatakan bahwa aksi Irian Baratnja Sukarnolah sebab dari segala kesulitan, orang”? jang demikian itu adalah orang? pitjik, orang? jang ta' mengerti hukum-hukumannja perdjoangan, orang? jang memang belum pernah ikut benar? dalam perdjoangan, orang? jang ta' mengerti bahwa semua perdjoangan? besar membawa kesulitan?, orang? jang djiwanja cynis atau orang? tjap mentega jang berdjiwa kapuk, jang ta' pernah mengerti artinja pepatah kuna ,,djer basuki mawa beja", atau firman Tuhan sinnamaal usri jusro", atau utjapan Vive-kanenda ,,victory through struggle”. Sebagai jang pada saat mentjetuskan aksi Irian Barat sekarang ini saja katakan beberapa kali de-<noinclude> 11</noinclude> rqdh1nqfscyzxcfxwkmf4wim43uajdm Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/670 104 103514 291455 2026-05-11T01:17:14Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291455 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>ngan mensitir Danton —,,audace, encore del au dace, toujours del audece", jang berarti ,,keberanian, sekali lagi keberanian, selalu keberanian", maka tiap² perdjoangan besar tidak hanja menuntut pengorbanan tetapi ia djuga menuntut keberanian! Dan orang² jang berkata bahwa perusahaan² jang terambil-alih ta' lajak dikuasai Pemerintah? Awas kepada orang² jang demikian itu, saudara-saudara! Mereka adalah burung alap² kekadjaan, jang ingin sekali memulai dengan pembahagian redjeki, agar mendapat bagian buat bikin gemuk kantongnja sendiri! Bagaimana djuga, saudara², ,,djalan lain" jang kita ambil sekarang ini untuk memperdjoangkan pembebasan Irian Barat, adalah '''djalan jang benar'''. Djangan ragu² tentang hal itu dan kalau benar aksi Irian Barat ini ,,aksi Irian Baratnja Sukarno", — dan saja kata: tidak benar, sebab saja tempohari hanja memberi komando sadja, dan aksi ini bukan aksi Sukarno melainkan aksinja '''Rakjat''' —. djika benar aksi ini aksinja Sukarno, maka saja njatakan disini bahwa saja siap-sedia untuk memikul segala tanggung djawab atas komando itu dan segala tanggung djawab atas segala akibat-akibatnja! Teruskanlah hai seluruh Rakjat Indonesia aksi Irian Barat itu, teruskan!, djangan ragu², djangan mundur setapak, djangan berkisar sedjari, teruskan!, Insja Allah, nanti kita pasti menang! ,,Memang seluruh ,,fase politiknja" Revolusi kita ini belum selesai dan masih harus diteruskan. Dan memang perdjoangan fase politik itu tidak boleh mandek, kita harus berdjalan terus dalam fase politik itu disegala lapangan! Tetapi dalam pada itu, sekarang sudah datang saatnja kita mulai mengetok pintu jang menudju kepada fase '''sosial ekonomis''', mengetok pintu jang menudju kepada realisasi masjarakat '''keadilan sosial'''. Kita tidak dapat menunggu sampai keseluruhan daripada politieke macht itu setara sempurna — maha-sempurna sudah berada ditangan kita, sebelum kita dapat memasuki fase sosial-ekonomis daripada Repolusi kita itu. Tidak! Meski politieke macht itu. belum sempurna seluruhnja berada ditangan kita, maka dengan politieke macht jang sudah ada ini sudahlah boleh kita mulai mengetok pintunja keadilan sosial. Ja, kita tidak dapat menunggu, dan kita pun tidak perlu menunggu! Dulupun kita tidak menunggu sampai semua bangsa Indonesia dapat membatja dan menulis, atau semua bangsa Indonesia dapat mengerti a-b-c-nja politik, sebelum kita mengadakan Proklamasi ! Fase sosial-ekonomis itu adalah kelandjutan daripada Revolusi Nasional kita. Orang? revolusioner-sedjati mengerti akan hal ini. Hanja orang? jang mewarisi abu daripada Proklamasi, dan tidak mewarisi Apinja, tidak mengerti perkataan saja ini. Tetapi orang? jang mewarisi Api Proklamasi, orang? revolusioner- sedjati katatu tadi, mengerti akan hal ini. Api tidak berhenti. Api terus hidup, api revolusi adalah laksana ndaru jang terus bergerak. ,A Revolution has no end”, — satu revolusi ta' pernah berhenti. Fase sosial-ekonomi adalah kelandjutan logis daripada fase politik. Dan fase sosial-ekonomis itu adalah suatu perdjoangan tersendiri, suatu “battle” tersendiri, satu ,,pertempuran tersendiri”. ,,A Battle against remnants of colonial-economic exploitation, a battle against poverty itself, a battle for economic well fare for all" : Satu pertempuran menentang sisa? eksploitasi kolonial “ ekonomis, satu pertempuran menantang kemiskinan an sich : satu pertempuran untuk merealisasikan kesedjahteraan buat semua orang. Terutama sekali berdjalannja fase sosial-economis inilah jang hendak ditendang oleh kekuatan? reaksioner dan kontra-revolusioner dari dalam dan luar negeri itu! Dan oleh karena fase sosial-ekonomis itu adalah kelandjutan logis daripada fase politik bahkan kelandjutan logis daripada Revolusi Nasional, maka menentang fase sosial-ekonomis itu adalah sebenarnja sama dengan menentang ekonomis: Revolusi itu sendiri. Dan oleh karena Revolusi kita adalah kodrat- nja sedjarah, maka menentang Revolusi kita adalah : Sama dengan menentang beredarnja bulan, sama dengan menentang terbitnja matahari ! Dunia-dalam jang reaksioner atau jang tolol, dan dunia luaran jang kolot dan reaksioner pula. sering berfikir (bahkan merentjanakan !), bahwa pengertian Pimpinan Negara dan Pemerintah Indonesia dengan orang? lain jang ,sama soortnja' dengan mereka, akan dapat menentang atau menahan fase sosial-ekonomis daripada Revolusi ini. Alangkah tololnja mereka itu| Alangkah gemblungnja ! Dalam tahun 1930 aku telah berkata: ,,Matahari terbit bukan karena ajam-djantan berkokok, tetapi ajam-djantan berkokok karena matahari terbit" ! Ja, ajam? berkeluruk dan burung? bersiul, karena di Timur fadjar menjingsing : bukan: di Timur fadjar menjingsing karena ajam? berkeluruk dan burung? bersiul. Fadjar menjingsing itu ta' dapat di-halang?'i. Dunia reaksioner dalam-dan-luar negeri mungkin dapat menjingkirkan ajam? dan burung? itu, tetapi djangan mereka mengira dapat menghalangi matahari terbit ! Dan djikalau mereka hendak bertempur dengan matahari, — bukan matahari jang kalah, tetapi me- reka sendiri akan hantjur-luluh, hantjur leleh sama sekali! Fadjar kini menjingsing, matahari kini akan terbit ! Songsonglah fadjar itu, songsonglah terbitnja matahari! Songsonglah fadjarnja fase sosial-ekonomis dari pada Revolusi kita itu dengan sikap? jang baru, dengan pengertian? jang baru. Setahun jang lalu sajapun berkata: Djanganlah kita beku! Djanganlah kita statis dalam arti. satu kali ambil sistim politik, terus kita pertahankan sistim politik itu ! Think-and-rethink. — shape- and-reshape! Demikianlah pesanan saja tempo hari. Nehru tempo hari mempergunakan perkataan ,,remaking", dan di dalam perkataan itu terasalah dinamik dan bukan kestatisan atau kebekuan. Sebagai sering<noinclude></noinclude> 971gsoagufavjr6lnmj7szo6dv5lfbq 291457 291455 2026-05-11T01:17:36Z Link PB 26772 291457 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>ngan mensitir Danton —,,audace, encore del au dace, toujours del audece", jang berarti ,,keberanian, sekali lagi keberanian, selalu keberanian", maka tiap² perdjoangan besar tidak hanja menuntut pengorbanan tetapi ia djuga menuntut keberanian! Dan orang² jang berkata bahwa perusahaan² jang terambil-alih ta' lajak dikuasai Pemerintah? Awas kepada orang² jang demikian itu, saudara-saudara! Mereka adalah burung alap² kekadjaan, jang ingin sekali memulai dengan pembahagian redjeki, agar mendapat bagian buat bikin gemuk kantongnja sendiri! Bagaimana djuga, saudara², ,,djalan lain" jang kita ambil sekarang ini untuk memperdjoangkan pembebasan Irian Barat, adalah '''djalan jang benar'''. Djangan ragu² tentang hal itu dan kalau benar aksi Irian Barat ini ,,aksi Irian Baratnja Sukarno", — dan saja kata: tidak benar, sebab saja tempohari hanja memberi komando sadja, dan aksi ini bukan aksi Sukarno melainkan aksinja '''Rakjat''' —. djika benar aksi ini aksinja Sukarno, maka saja njatakan disini bahwa saja siap-sedia untuk memikul segala tanggung djawab atas komando itu dan segala tanggung djawab atas segala akibat-akibatnja! Teruskanlah hai seluruh Rakjat Indonesia aksi Irian Barat itu, teruskan!, djangan ragu², djangan mundur setapak, djangan berkisar sedjari, teruskan!, Insja Allah, nanti kita pasti menang! ,,Memang seluruh ,,fase politiknja" Revolusi kita ini belum selesai dan masih harus diteruskan. Dan memang perdjoangan fase politik itu tidak boleh mandek, kita harus berdjalan terus dalam fase politik itu disegala lapangan! Tetapi dalam pada itu, sekarang sudah datang saatnja kita mulai mengetok pintu jang menudju kepada fase '''sosial ekonomis''', mengetok pintu jang menudju kepada realisasi masjarakat '''keadilan sosial'''. Kita tidak dapat menunggu sampai keseluruhan daripada politieke macht itu setara sempurna — maha-sempurna sudah berada ditangan kita, sebelum kita dapat memasuki fase sosial-ekonomis daripada Repolusi kita itu. Tidak! Meski politieke macht itu. belum sempurna seluruhnja berada ditangan kita, maka dengan politieke macht jang sudah ada ini sudahlah boleh kita mulai mengetok pintunja keadilan sosial. Ja, kita tidak dapat menunggu, dan kita pun tidak perlu menunggu! Dulupun kita tidak menunggu sampai semua bangsa Indonesia dapat membatja dan menulis, atau semua bangsa Indonesia dapat mengerti a-b-c-nja politik, sebelum kita mengadakan Proklamasi ! Fase sosial-ekonomis itu adalah kelandjutan daripada Revolusi Nasional kita. Orang? revolusioner-sedjati mengerti akan hal ini. Hanja orang? jang mewarisi abu daripada Proklamasi, dan tidak mewarisi Apinja, tidak mengerti perkataan saja ini. Tetapi orang? jang mewarisi Api Proklamasi, orang? revolusioner- sedjati katatu tadi, mengerti akan hal ini. Api tidak berhenti. Api terus hidup, api revolusi adalah laksana ndaru jang terus bergerak. ,A Revolution has no end”, — satu revolusi ta' pernah berhenti. Fase sosial-ekonomi adalah kelandjutan logis daripada fase politik. Dan fase sosial-ekonomis itu adalah suatu perdjoangan tersendiri, suatu “battle” tersendiri, satu ,,pertempuran tersendiri”. ,,A Battle against remnants of colonial-economic exploitation, a battle against poverty itself, a battle for economic well fare for all" : Satu pertempuran menentang sisa? eksploitasi kolonial “ ekonomis, satu pertempuran menantang kemiskinan an sich : satu pertempuran untuk merealisasikan kesedjahteraan buat semua orang. Terutama sekali berdjalannja fase sosial-economis inilah jang hendak ditendang oleh kekuatan? reaksioner dan kontra-revolusioner dari dalam dan luar negeri itu! Dan oleh karena fase sosial-ekonomis itu adalah kelandjutan logis daripada fase politik bahkan kelandjutan logis daripada Revolusi Nasional, maka menentang fase sosial-ekonomis itu adalah sebenarnja sama dengan menentang ekonomis: Revolusi itu sendiri. Dan oleh karena Revolusi kita adalah kodrat- nja sedjarah, maka menentang Revolusi kita adalah : Sama dengan menentang beredarnja bulan, sama dengan menentang terbitnja matahari ! Dunia-dalam jang reaksioner atau jang tolol, dan dunia luaran jang kolot dan reaksioner pula. sering berfikir (bahkan merentjanakan !), bahwa pengertian Pimpinan Negara dan Pemerintah Indonesia dengan orang? lain jang ,sama soortnja' dengan mereka, akan dapat menentang atau menahan fase sosial-ekonomis daripada Revolusi ini. Alangkah tololnja mereka itu| Alangkah gemblungnja ! Dalam tahun 1930 aku telah berkata: ,,Matahari terbit bukan karena ajam-djantan berkokok, tetapi ajam-djantan berkokok karena matahari terbit" ! Ja, ajam? berkeluruk dan burung? bersiul, karena di Timur fadjar menjingsing : bukan: di Timur fadjar menjingsing karena ajam? berkeluruk dan burung? bersiul. Fadjar menjingsing itu ta' dapat di-halang?'i. Dunia reaksioner dalam-dan-luar negeri mungkin dapat menjingkirkan ajam? dan burung? itu, tetapi djangan mereka mengira dapat menghalangi matahari terbit ! Dan djikalau mereka hendak bertempur dengan matahari, — bukan matahari jang kalah, tetapi me- reka sendiri akan hantjur-luluh, hantjur leleh sama sekali! Fadjar kini menjingsing, matahari kini akan terbit ! Songsonglah fadjar itu, songsonglah terbitnja matahari! Songsonglah fadjarnja fase sosial-ekonomis dari pada Revolusi kita itu dengan sikap? jang baru, dengan pengertian? jang baru. Setahun jang lalu sajapun berkata: Djanganlah kita beku! Djanganlah kita statis dalam arti. satu kali ambil sistim politik, terus kita pertahankan sistim politik itu ! Think-and-rethink. — shape- and-reshape! Demikianlah pesanan saja tempo hari. Nehru tempo hari mempergunakan perkataan ,,remaking", dan di dalam perkataan itu terasalah dinamik dan bukan kestatisan atau kebekuan. Sebagai sering<noinclude>12</noinclude> rmdyr9spu9u27k5jnbjtsvbk0tiz7h7 291583 291457 2026-05-11T03:16:44Z Link PB 26772 291583 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>ngan mensitir Danton —,,audace, encore del au dace, toujours del audece", jang berarti ,,keberanian, sekali lagi keberanian, selalu keberanian", maka tiap² perdjoangan besar tidak hanja menuntut pengorbanan tetapi ia djuga menuntut keberanian! Dan orang² jang berkata bahwa perusahaan² jang terambil-alih ta' lajak dikuasai Pemerintah? Awas kepada orang² jang demikian itu, saudara-saudara! Mereka adalah burung alap² kekadjaan, jang ingin sekali memulai dengan pembahagian redjeki, agar mendapat bagian buat bikin gemuk kantongnja sendiri! Bagaimana djuga, saudara², ,,djalan lain" jang kita ambil sekarang ini untuk memperdjoangkan pembebasan Irian Barat, adalah '''djalan jang benar'''. Djangan ragu² tentang hal itu dan kalau benar aksi Irian Barat ini ,,aksi Irian Baratnja Sukarno", — dan saja kata: tidak benar, sebab saja tempohari hanja memberi komando sadja, dan aksi ini bukan aksi Sukarno melainkan aksinja '''Rakjat''' —. djika benar aksi ini aksinja Sukarno, maka saja njatakan disini bahwa saja siap-sedia untuk memikul segala tanggung djawab atas komando itu dan segala tanggung djawab atas segala akibat-akibatnja! Teruskanlah hai seluruh Rakjat Indonesia aksi Irian Barat itu, teruskan!, djangan ragu², djangan mundur setapak, djangan berkisar sedjari, teruskan!, Insja Allah, nanti kita pasti menang! ,,Memang seluruh ,,fase politiknja" Revolusi kita ini belum selesai dan masih harus diteruskan. Dan memang perdjoangan fase politik itu tidak boleh mandek, kita harus berdjalan terus dalam fase politik itu disegala lapangan! Tetapi dalam pada itu, sekarang sudah datang saatnja kita mulai mengetok pintu jang menudju kepada fase '''sosial ekonomis''', mengetok pintu jang menudju kepada realisasi masjarakat '''keadilan sosial'''. Kita tidak dapat menunggu sampai keseluruhan daripada politieke macht itu setara sempurna — maha-sempurna sudah berada ditangan kita, sebelum kita dapat memasuki fase sosial-ekonomis daripada Repolusi kita itu. Tidak! Meski politieke macht itu. belum sempurna seluruhnja berada ditangan kita, maka dengan politieke macht jang sudah ada ini sudahlah boleh kita mulai mengetok pintunja keadilan sosial. Ja, kita tidak dapat menunggu, dan kita pun tidak perlu menunggu! Dulupun kita tidak menunggu sampai semua bangsa Indonesia dapat membatja dan menulis, atau semua bangsa Indonesia dapat mengerti a-b-c-nja politik, sebelum kita mengadakan Proklamasi ! Fase sosial-ekonomis itu adalah kelandjutan daripada Revolusi Nasional kita. Orang? revolusioner-sedjati mengerti akan hal ini. Hanja orang? jang mewarisi abu daripada Proklamasi, dan tidak mewarisi Apinja, tidak mengerti perkataan saja ini. Tetapi orang? jang mewarisi Api Proklamasi, orang? revolusioner- sedjati katatu tadi, mengerti akan hal ini. Api tidak berhenti. Api terus hidup, api revolusi adalah laksana ndaru jang terus bergerak. ,A Revolution has no end”, — satu revolusi ta' pernah berhenti. Fase sosial-ekonomi adalah kelandjutan logis daripada fase politik. Dan fase sosial-ekonomis itu adalah suatu perdjoangan tersendiri, suatu “battle” tersendiri, satu ,,pertempuran tersendiri”. ,,A Battle against remnants of colonial-economic exploitation, a battle against poverty itself, a battle for economic well fare for all" : Satu pertempuran menentang sisa? eksploitasi kolonial “ ekonomis, satu pertempuran menantang kemiskinan an sich : satu pertempuran untuk merealisasikan kesedjahteraan buat semua orang. Terutama sekali berdjalannja fase sosial-economis inilah jang hendak ditendang oleh kekuatan? reaksioner dan kontra-revolusioner dari dalam dan luar negeri itu! Dan oleh karena fase sosial-ekonomis itu adalah kelandjutan logis daripada fase politik bahkan kelandjutan logis daripada Revolusi Nasional, maka menentang fase sosial-ekonomis itu adalah sebenarnja sama dengan menentang ekonomis: Revolusi itu sendiri. Dan oleh karena Revolusi kita adalah kodrat- nja sedjarah, maka menentang Revolusi kita adalah : Sama dengan menentang beredarnja bulan, sama dengan menentang terbitnja matahari ! Dunia-dalam jang reaksioner atau jang tolol, dan dunia luaran jang kolot dan reaksioner pula. sering berfikir (bahkan merentjanakan !), bahwa pengertian Pimpinan Negara dan Pemerintah Indonesia dengan orang? lain jang ,sama soortnja' dengan mereka, akan dapat menentang atau menahan fase sosial-ekonomis daripada Revolusi ini. Alangkah tololnja mereka itu| Alangkah gemblungnja ! Dalam tahun 1930 aku telah berkata: ,,Matahari terbit bukan karena ajam-djantan berkokok, tetapi ajam-djantan berkokok karena matahari terbit" ! Ja, ajam? berkeluruk dan burung? bersiul, karena di Timur fadjar menjingsing : bukan: di Timur fadjar menjingsing karena ajam? berkeluruk dan burung? bersiul. Fadjar menjingsing itu ta' dapat di-halang?'i. Dunia reaksioner dalam-dan-luar negeri mungkin dapat menjingkirkan ajam? dan burung? itu, tetapi djangan mereka mengira dapat menghalangi matahari terbit ! Dan djikalau mereka hendak bertempur dengan matahari, — bukan matahari jang kalah, tetapi me- reka sendiri akan hantjur-luluh, hantjur leleh sama sekali! Fadjar kini menjingsing, matahari kini akan terbit ! Songsonglah fadjar itu, songsonglah terbitnja matahari! Songsonglah fadjarnja fase sosial-ekonomis dari pada Revolusi kita itu dengan sikap? jang baru, dengan pengertian? jang baru. Setahun jang lalu sajapun berkata: Djanganlah kita beku! Djanganlah kita statis dalam arti. satu kali ambil sistim politik, terus kita pertahankan sistim politik itu ! Think-and-rethink. — shape- and-reshape! Demikianlah pesanan saja tempo hari. Nehru tempo hari mempergunakan perkataan ,,remaking", dan di dalam perkataan itu terasalah dinamik dan bukan kestatisan atau kebekuan. Sebagai sering<noinclude> 12</noinclude> 4l4ffv4l954292dimq5nje6lhzc7cti Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/671 104 103515 291459 2026-05-11T01:24:12Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291459 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>saja katakan : Revolusi adalah Gerak, Revolusi adalah bewegen. Revolusi adalah Gerak Madju meninggalkan Hari Kemaren. — ,,Revolution on rejects yesterday". Djanganlah menggamblek sadja kepada faham-faham jang sudah-sudah, djanganlah tidak berani membongkar fikiran-fikiran jang hanja tjotjok dengan alam ekonomi kolonial dan ekonomi liberal. Ja, sekarang kita sudah diharuskan memikirkan bagaimana pembangunan negeri kita mendjadi satu masjarakat jang adil dan makmur bagi seluruh Rakjat, bagi si Dadap dan si Waru, bagi si Kromo dan si Dongso, bagi si Zaetun dan si Misnah. Memang itulah kepribadian Indonesia dilapangan kemasjarakatan. Itulah isinja begrip ,,kekeluargaan Indonesia". Jang dibutuhkan sekarang ini ialah : orientasi baru, atau penemuan kepribadian kita sendiri dilapangan ekonomi. Dalam rangka pemikiran baru ini, Dewan Perantjang Nasional sedang dalam proces pembentukannja. Dengan gembira saja umumkan disini, bahwa Rentjana Undang² Pembentukan Dewan Perantjang Nasional kini sudah selesai. Tinggal nanti pengesahan oleh Dewan Perwakilan Rakjat. Kepada Dewan Perwakilan Rakjat saja mintakan pengertian tentang pemikiran-baru atau orientasi-baru itu. Djuga dilapangan ekonomi, kita masih banjak jang dihinggapi penjakit ,,Hollandsch-denken", penjakit berfikir setjara Belanda. Kikislah diri kita bersih² daripada segala sisa² ,,Hollandsch denken" itu ! Siap sedialah segala alat² materiil, mental, legal, untuk memungkinkan lahirnja Djabang baji Masjarakat Adil dan Makmur itu dgn tjara jang sehat dan lantjar. Djangan nanti fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita ini datang, dengan berensween jang amat pedih. Ja, saja adjak segenap bangsa Indonesia sekarang untuk dengan giat mensiap-sediakan segala alat² materiil, mental legal untuk kelandjutan daripada Revolusi kita itu. Saja adjak segenap bangsa Indonesia untuk dengan giat bekerdja kepada „retooling for the future”. „Retooling for the future”, membuat „alat²-baru untuk menjelenggarakan hari-depan”, — disegala lapangan. Fase sosial ekonomis daripada Revolusi kita itu hanjalah dapat berdjalan setjara lantjar dan litjin dengan perlengkapan² jang tepat dari sekarang disegala lapangan. Material investment, investment of human skill, mental investment, sudah saja sebutkan ber-ulang². Penjusunan model, managerial and technical know-how, suasana politik jang sesuai — itu pun sudah saja mintakan dengan tandas dalam pidato 17 Agustus itu, tahun jang lalu. Sekarang, marilah kita selenggarakan segala perlengkapan² itu, marilah kita meterdjaad mengadakan retooling for the future diatas dasar orientasi² baru. Songsonglah Alam Baru dengan djiwa baru dan pengertian baru. Songsonglah Dia, dengan melaksanakan '''Demokrasi Terpimpin''', oleh karena masjarakat baru itu hanja dapat diselenggarakan dengan Demokrasi Terpimpin jang melemparkan djauh² segala keburukan free fight-liberalism. Songsonglah Dia, dengan melaksanakan pembentukan Dewan Perantjang Nasional, sesuai dengan usul Dewan Nasional, itu badan Penasehat Kabinet, jang dalam usianja setahun ini telah menundjukkan ketangkasan dan pengertian jang luar-biasa. Songsonglah Dia, dengan melaksanakan terlahirnja pula keadilan-dan-kemakmuran, ja’ni melaksanakan terlahirnja „blueprint” jang akan direntjanakan oleh Dewan Perantjang Nasional. Songsonglah Dia, dengan memperhebat '''Gerakan Hidup Baru''' sebagai jang saja andjurkan setahun jang lalu, — Gerakan Hidup Baru jang berisikan Revolusi Mental, untuk memperkuat djiwa perdjoangan politik, dan menghidupkan daja-tjipta gotong-rojong untuk membangun, dan mempergunakan tenaga-kerdja manusia sebagai faktor utama disamping modal. Songsonglah dia dengan melekaskan pekerdjaan Konstituantedi Bandung jang sekarang ini seperti tele², sesuai dengan harapan jang saja utjapkan pada waktu membuka Konstituante itu pada tanggal 10 Nopember '56, jang berbunji : „Bekerdjalah" dengan tjepat dan bekerdjalah dengan tepat. Tjepat, sebab dimasa bom ini perdjalanan segala sesuatu adalah tjepat, deras, dan tangkas. Tepat — sebab perdjoangan Rakjat akan berdjalan terus, djuga diluar tembok Konstituante ini, sedapat mungkin dengan saudara² bila tidak mungkin: diatas kepala saudara². over. Uw geerde hoof den heen | Sesudah Konstituante Bandung, babakan Revolusi kita ingin sekali lekas meningkat memasuki Revolusi Pembangunan Res Publica jang amat hebat Konstitusi Bandung mendjadi fondamen ketatanegaraan : Program Pembangunan akan disusun oleh Rakjat sendiri diatas dasar fondamen ketatanegaraan itu ...... Saja minta kepada saudara², susunlah Konstitusi dimana dengan seklebatan mata sadja sudah bisa dilihat bahwa Republik kita adalah benar² Res Publica, benar² kepentingan umum jang berarti kepentingan bersama ...... Konstitusi Bandung harus mendjadi tjanangnja pembangunan. tjanangnja pembangunan Res Publica ...... saja harap Konstitusi Bandung djanganlah mendurhakai hatinja Rakjat ! Ja, songsonglah Dia, fase baru dalam Revolusi kita itu, dengan melekaskan pekerdjaan Konstituante di Bandung itu. Sebab bangsa kita adalah bangsa dalam perdjoangan, dan perdjoangan berarti gerak tjepat dan dinamik. Dan sebagai kukatakan pada pembukaan Konstituante. Konstitusi kita harus Konstitusi perdjoangan : „Bagi kita bangsa Indonesia, demikianlah, kataku satu bangsa dalam Revolusi. Konstitusi dus harus merupakan satu alat perdjoangan ! Konstitusi jang saudara² akan susun, tidak boleh merupakan satu statisch begrip, satu tulisan jang dianggap keramat belaka, satu tulisan jang dikemenjani tiap² malam Djum'at satu tulisan-mati atau ditaruhkan dimedjanja profesor jang kepalanja botak. Tidak ! Konstitusi kita harus - Konstitusi perdjoangan.<noinclude></noinclude> ikzav2td1pzsl0dmrlfbpaukvtle3ve 291582 291459 2026-05-11T03:16:19Z Link PB 26772 291582 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>saja katakan : Revolusi adalah Gerak, Revolusi adalah bewegen. Revolusi adalah Gerak Madju meninggalkan Hari Kemaren. — ,,Revolution on rejects yesterday". Djanganlah menggamblek sadja kepada faham-faham jang sudah-sudah, djanganlah tidak berani membongkar fikiran-fikiran jang hanja tjotjok dengan alam ekonomi kolonial dan ekonomi liberal. Ja, sekarang kita sudah diharuskan memikirkan bagaimana pembangunan negeri kita mendjadi satu masjarakat jang adil dan makmur bagi seluruh Rakjat, bagi si Dadap dan si Waru, bagi si Kromo dan si Dongso, bagi si Zaetun dan si Misnah. Memang itulah kepribadian Indonesia dilapangan kemasjarakatan. Itulah isinja begrip ,,kekeluargaan Indonesia". Jang dibutuhkan sekarang ini ialah : orientasi baru, atau penemuan kepribadian kita sendiri dilapangan ekonomi. Dalam rangka pemikiran baru ini, Dewan Perantjang Nasional sedang dalam proces pembentukannja. Dengan gembira saja umumkan disini, bahwa Rentjana Undang² Pembentukan Dewan Perantjang Nasional kini sudah selesai. Tinggal nanti pengesahan oleh Dewan Perwakilan Rakjat. Kepada Dewan Perwakilan Rakjat saja mintakan pengertian tentang pemikiran-baru atau orientasi-baru itu. Djuga dilapangan ekonomi, kita masih banjak jang dihinggapi penjakit ,,Hollandsch-denken", penjakit berfikir setjara Belanda. Kikislah diri kita bersih² daripada segala sisa² ,,Hollandsch denken" itu ! Siap sedialah segala alat² materiil, mental, legal, untuk memungkinkan lahirnja Djabang baji Masjarakat Adil dan Makmur itu dgn tjara jang sehat dan lantjar. Djangan nanti fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita ini datang, dengan berensween jang amat pedih. Ja, saja adjak segenap bangsa Indonesia sekarang untuk dengan giat mensiap-sediakan segala alat² materiil, mental legal untuk kelandjutan daripada Revolusi kita itu. Saja adjak segenap bangsa Indonesia untuk dengan giat bekerdja kepada „retooling for the future”. „Retooling for the future”, membuat „alat²-baru untuk menjelenggarakan hari-depan”, — disegala lapangan. Fase sosial ekonomis daripada Revolusi kita itu hanjalah dapat berdjalan setjara lantjar dan litjin dengan perlengkapan² jang tepat dari sekarang disegala lapangan. Material investment, investment of human skill, mental investment, sudah saja sebutkan ber-ulang². Penjusunan model, managerial and technical know-how, suasana politik jang sesuai — itu pun sudah saja mintakan dengan tandas dalam pidato 17 Agustus itu, tahun jang lalu. Sekarang, marilah kita selenggarakan segala perlengkapan² itu, marilah kita meterdjaad mengadakan retooling for the future diatas dasar orientasi² baru. Songsonglah Alam Baru dengan djiwa baru dan pengertian baru. Songsonglah Dia, dengan melaksanakan '''Demokrasi Terpimpin''', oleh karena masjarakat baru itu hanja dapat diselenggarakan dengan Demokrasi Terpimpin jang melemparkan djauh² segala keburukan free fight-liberalism. Songsonglah Dia, dengan melaksanakan pembentukan Dewan Perantjang Nasional, sesuai dengan usul Dewan Nasional, itu badan Penasehat Kabinet, jang dalam usianja setahun ini telah menundjukkan ketangkasan dan pengertian jang luar-biasa. Songsonglah Dia, dengan melaksanakan terlahirnja pula keadilan-dan-kemakmuran, ja’ni melaksanakan terlahirnja „blueprint” jang akan direntjanakan oleh Dewan Perantjang Nasional. Songsonglah Dia, dengan memperhebat '''Gerakan Hidup Baru''' sebagai jang saja andjurkan setahun jang lalu, — Gerakan Hidup Baru jang berisikan Revolusi Mental, untuk memperkuat djiwa perdjoangan politik, dan menghidupkan daja-tjipta gotong-rojong untuk membangun, dan mempergunakan tenaga-kerdja manusia sebagai faktor utama disamping modal. Songsonglah dia dengan melekaskan pekerdjaan Konstituantedi Bandung jang sekarang ini seperti tele², sesuai dengan harapan jang saja utjapkan pada waktu membuka Konstituante itu pada tanggal 10 Nopember '56, jang berbunji : „Bekerdjalah" dengan tjepat dan bekerdjalah dengan tepat. Tjepat, sebab dimasa bom ini perdjalanan segala sesuatu adalah tjepat, deras, dan tangkas. Tepat — sebab perdjoangan Rakjat akan berdjalan terus, djuga diluar tembok Konstituante ini, sedapat mungkin dengan saudara² bila tidak mungkin: diatas kepala saudara². over. Uw geerde hoof den heen | Sesudah Konstituante Bandung, babakan Revolusi kita ingin sekali lekas meningkat memasuki Revolusi Pembangunan Res Publica jang amat hebat Konstitusi Bandung mendjadi fondamen ketatanegaraan : Program Pembangunan akan disusun oleh Rakjat sendiri diatas dasar fondamen ketatanegaraan itu ...... Saja minta kepada saudara², susunlah Konstitusi dimana dengan seklebatan mata sadja sudah bisa dilihat bahwa Republik kita adalah benar² Res Publica, benar² kepentingan umum jang berarti kepentingan bersama ...... Konstitusi Bandung harus mendjadi tjanangnja pembangunan. tjanangnja pembangunan Res Publica ...... saja harap Konstitusi Bandung djanganlah mendurhakai hatinja Rakjat ! Ja, songsonglah Dia, fase baru dalam Revolusi kita itu, dengan melekaskan pekerdjaan Konstituante di Bandung itu. Sebab bangsa kita adalah bangsa dalam perdjoangan, dan perdjoangan berarti gerak tjepat dan dinamik. Dan sebagai kukatakan pada pembukaan Konstituante. Konstitusi kita harus Konstitusi perdjoangan : „Bagi kita bangsa Indonesia, demikianlah, kataku satu bangsa dalam Revolusi. Konstitusi dus harus merupakan satu alat perdjoangan ! Konstitusi jang saudara² akan susun, tidak boleh merupakan satu statisch begrip, satu tulisan jang dianggap keramat belaka, satu tulisan jang dikemenjani tiap² malam Djum'at satu tulisan-mati atau ditaruhkan dimedjanja profesor jang kepalanja botak. Tidak ! Konstitusi kita harus - Konstitusi perdjoangan.<noinclude> 13</noinclude> f58q9rjuv1pw5huc30ie2mwxr2dnhqo Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/672 104 103516 291468 2026-05-11T01:29:47Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291468 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Konstitusi jang memberi arah dynamik kepada perdjoangan, sebagai Wahju Tjakraningrat memberi arah dan dynamik kepada perdjoangan. Konstitusi kita harus merupakan satu manifestasi daripada geloranja dan gegap-gempitanja perdjoangan kita merobah satu tata kolonial jang mesum, mendjadi satu tata nasional jang modern dan berbahagia. Konstitusi kita harus mendjawab kepada keperluan-keperluan Indonesia pada waktu sekarang dan pada waktu dekat jang akan datang. "The constitution is made for men, and not men the constitution". "Konstitusi dibuat untuk keperluan manusia dan tidak manusia untuk keperluan konstitusi", demikianlah seorang pedjuang pernah berkata. Kita, bangsa Indonesia sekarang ini, kita harus berkata: "Konstitusi kita ialah konstitusi jang dibuat untuk keperluan manusia Indonesia jang sedang berdjoang, dan tidak manusia Indonesia dibuat untuk keperluan konstitusi". Karena itu pula saja minta saudara², djangan Konstituante ini mendjadi badan tempat berdebat ber-tele²! Perdjoangan minta kesateruan. Perdjoangan minta dynamik, perdjoangan tidak mau mandek! Perdjoangan akan berdjalan terus, djuga diluar tembok Konstituante ini, — diatas kepala saudara², — ''over uw hoofden heen'' —, djikalau saudara² tidak menjesuaikan diri dengan gelodjanja semangat perdjoangan itu dan dengan santernja tempo perdjoangan itu. Songsonglah Dia, dengan sikap dan tindakan jang tahu membatasi diri dilapangan kepartaian! Songsonglah Dia, — demikianlah zonder tedeng-aling² kuandjurkan sekarang ini —, dengan sedikitnja menjederhanakan kepartaian. Songsonglah Dia, dengan '''merobah Undang² Pemilihan Umum jang sudah ada''', dan dengan mengadakan Undang² Kepartaian! Didalam pidato pembukaan Konstituante tempo hari itu, sajapun telah berkata: „Konstitusi Bandung haruslah berupa kelahiran daripada peradaban daripada Revolusi kita ini, jang sebagai semua revolusi² lain, mengenal pengalaman² jang besar nilainja. Bagaimanakah pengalaman² kita itu? Menjenangkankah! Djadikanlah pengalaman² '''pedoman''' untuk mengadakan koreksi kepada ketatanegaraan Indonesia dan koreksi kepada organisasi kepunjaan Rakjat jang bernama partai. Dimedan pertempuran dulu Rakjat berdjoang dengan bulat-bersatupadu berlindung dibawah lambang kesatuan, sebagai pelaksana Djiwa Proklamasi. Tetapi bagaimana keadaan diluar medan pertempuran? '''Kebebasan berpartai bukanlah satu²nja alat untuk memutar roda demokrasi .....''' Konstituante Indonesia adalah wenang, wenang penuh, berwewenang penuh, untuk menindjau dan memutuskan, apakah partai-politik dapat dipakai sebagai dasar demokrasi bagi masjarakat, parlemen, dan Kabinet, dalam suasana Pembangunan Res Publica jang diharapkan Rakjat. Perhatikanlah pengalaman² dalam mendjalankan wewenang itu, sebab pengalaman adalah guru, adalah pedoman, adalah kemudi jang sangat berharga. Perhatikanlah pengalaman² itu, sebab pengalaman jang tidak diperhatikan akan mendjadi boomerang jang menghantam-roboh kita sendiri. '''Sederhanakanlah kepartaian!''' Sekarang kepartaian jang djumlahnja ber-lebih²an itu sudah mendjadi tidak populer dikalangan Rakjat, sudah mendjadi tjemoohen dikalangan Rakjat. Lagipula Rakjat melihat bahwa kadang² partai itu dipergunakan tidak sebagai alat pengabdi kepada kepentingan Rakjat, melainkan sebagai alat pembela kepentingan pribadi beberapa pentol dalam partai itu, atau sebagai alat pemberi kerdja kepada orang² jangta' punja kerdja, atau alat pemberi lisensi kepada orang² jang tjari lisensi. Partai bukan pembela ndoro atau pembela djuragan, partai bukan ''arbeidsbureau'', partai bukan ''makelaars-kantoor''! Partai didalam Revolusi kita ini harus melulu organisasi penjusun tenaga Rakjat, melulu mengabdi kepada perdjoangan Revolusi dan perlawanan Rakjat!<noinclude></noinclude> 72qfzf80687kyif9kb362m6j3dlfycq 291581 291468 2026-05-11T03:16:07Z Link PB 26772 291581 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Konstitusi jang memberi arah dynamik kepada perdjoangan, sebagai Wahju Tjakraningrat memberi arah dan dynamik kepada perdjoangan. Konstitusi kita harus merupakan satu manifestasi daripada geloranja dan gegap-gempitanja perdjoangan kita merobah satu tata kolonial jang mesum, mendjadi satu tata nasional jang modern dan berbahagia. Konstitusi kita harus mendjawab kepada keperluan-keperluan Indonesia pada waktu sekarang dan pada waktu dekat jang akan datang. "The constitution is made for men, and not men the constitution". "Konstitusi dibuat untuk keperluan manusia dan tidak manusia untuk keperluan konstitusi", demikianlah seorang pedjuang pernah berkata. Kita, bangsa Indonesia sekarang ini, kita harus berkata: "Konstitusi kita ialah konstitusi jang dibuat untuk keperluan manusia Indonesia jang sedang berdjoang, dan tidak manusia Indonesia dibuat untuk keperluan konstitusi". Karena itu pula saja minta saudara², djangan Konstituante ini mendjadi badan tempat berdebat ber-tele²! Perdjoangan minta kesateruan. Perdjoangan minta dynamik, perdjoangan tidak mau mandek! Perdjoangan akan berdjalan terus, djuga diluar tembok Konstituante ini, — diatas kepala saudara², — ''over uw hoofden heen'' —, djikalau saudara² tidak menjesuaikan diri dengan gelodjanja semangat perdjoangan itu dan dengan santernja tempo perdjoangan itu. Songsonglah Dia, dengan sikap dan tindakan jang tahu membatasi diri dilapangan kepartaian! Songsonglah Dia, — demikianlah zonder tedeng-aling² kuandjurkan sekarang ini —, dengan sedikitnja menjederhanakan kepartaian. Songsonglah Dia, dengan '''merobah Undang² Pemilihan Umum jang sudah ada''', dan dengan mengadakan Undang² Kepartaian! Didalam pidato pembukaan Konstituante tempo hari itu, sajapun telah berkata: „Konstitusi Bandung haruslah berupa kelahiran daripada peradaban daripada Revolusi kita ini, jang sebagai semua revolusi² lain, mengenal pengalaman² jang besar nilainja. Bagaimanakah pengalaman² kita itu? Menjenangkankah! Djadikanlah pengalaman² '''pedoman''' untuk mengadakan koreksi kepada ketatanegaraan Indonesia dan koreksi kepada organisasi kepunjaan Rakjat jang bernama partai. Dimedan pertempuran dulu Rakjat berdjoang dengan bulat-bersatupadu berlindung dibawah lambang kesatuan, sebagai pelaksana Djiwa Proklamasi. Tetapi bagaimana keadaan diluar medan pertempuran? '''Kebebasan berpartai bukanlah satu²nja alat untuk memutar roda demokrasi .....''' Konstituante Indonesia adalah wenang, wenang penuh, berwewenang penuh, untuk menindjau dan memutuskan, apakah partai-politik dapat dipakai sebagai dasar demokrasi bagi masjarakat, parlemen, dan Kabinet, dalam suasana Pembangunan Res Publica jang diharapkan Rakjat. Perhatikanlah pengalaman² dalam mendjalankan wewenang itu, sebab pengalaman adalah guru, adalah pedoman, adalah kemudi jang sangat berharga. Perhatikanlah pengalaman² itu, sebab pengalaman jang tidak diperhatikan akan mendjadi boomerang jang menghantam-roboh kita sendiri. '''Sederhanakanlah kepartaian!''' Sekarang kepartaian jang djumlahnja ber-lebih²an itu sudah mendjadi tidak populer dikalangan Rakjat, sudah mendjadi tjemoohen dikalangan Rakjat. Lagipula Rakjat melihat bahwa kadang² partai itu dipergunakan tidak sebagai alat pengabdi kepada kepentingan Rakjat, melainkan sebagai alat pembela kepentingan pribadi beberapa pentol dalam partai itu, atau sebagai alat pemberi kerdja kepada orang² jangta' punja kerdja, atau alat pemberi lisensi kepada orang² jang tjari lisensi. Partai bukan pembela ndoro atau pembela djuragan, partai bukan ''arbeidsbureau'', partai bukan ''makelaars-kantoor''! Partai didalam Revolusi kita ini harus melulu organisasi penjusun tenaga Rakjat, melulu mengabdi kepada perdjoangan Revolusi dan perlawanan Rakjat!<noinclude> 14</noinclude> cmik6qaqt8j00tdpzlex1zjg2766wq9 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/25 104 103517 291471 2026-05-11T01:35:10Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291471 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" />{{rh||19}}</noinclude>PSYCHOLOGI :{| |- |conscience||<center>-</center>||hati nurani |- |duyphemia||<center>-</center>||gagap |- |dysphonia||<center>-</center>||disfonia, tjatjat utjap |- |educability||<center>-</center>||mampu adjar |- |eduction||<center>-</center>||eduksi, penjatuan |- |ego-strength.||<center>-</center>||kepertjajana diri |- |electra complex||<center>-</center>||kompleks elektra, kompleks tjinta bapak |- |endowment||<center>-</center>||bakat, ketjakapan chusus |- |reasoning test||<center>-</center>||tes logika |- |secondary drive||<center>-</center>||dorongan sekunder |- |} KESENIAN :{| |- |Bogeisterung /Djer/||<center>-</center>||semangat, pesona |- |Be ri-mecure||<center>-</center>||setengah sastra |- |factuur||<center>-</center>||bentuk tehnik lagu |- |interpretation of the play||<center>-</center>|| tafsiran permainan, tafsiran lakon |- |solennol /Per/||<center>-</center>||dengan chidmat, |- |stress Lamp||<center>-</center>||lampu aksen /untuk anak2 tuli |- |string gauge||<center>-</center>||pengukur dawai, pengukur tali |- |upper pitch limit||<center>-</center>|| nada tertinggi terdengar |- |verspreide harmonie||<center>-</center>||harmoni renggang |- |} KESEJAHTERAAN KELUARGA :{| |- |awning cloth||<center>-</center>|| tenunan tenda |- |drawing process||<center>-</center>||proses tarik dublir |- |filling face||<center>-</center>||tenunan-muka pakan |- |flammability||<center>-</center>||daja njala |- |fume fading||<center>-</center>||pelunturan asap |- |metallized fiber||<center>-</center>||serabut sepuh logam |- |modeling tool||<center>-</center>||alat pengukir |- |mouterij||<center>-</center>||tempat perketjambahan |- |procipitating tank||<center>-</center>||tangki endap |- |tow-flax||<center>-</center>||lenan sisa |}<noinclude></noinclude> sxap1dlen19pwgiq6pmbxjksrkxr4bz Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/26 104 103518 291472 2026-05-11T01:35:40Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'PERTANIAN, KSJTAYAN DAN PGRIKA !AN angel /corypha utan/ bodembescheruer breedinr fuzz renetic mergelzrond tceltaarde vaterscheidins waterverken FILSAFAT denkvelleitcit reincarnatie scepsis sgensibel sensoriumn sociaal utilitarisme theodicee ultima ratio verpersoonlijkin: yi jsreris stelsel alluvial plain continental platform flood-plain isoneph headland lake ramport morfolorische reolosie shoreline d... 291472 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude>PERTANIAN, KSJTAYAN DAN PGRIKA !AN angel /corypha utan/ bodembescheruer breedinr fuzz renetic mergelzrond tceltaarde vaterscheidins waterverken FILSAFAT denkvelleitcit reincarnatie scepsis sgensibel sensoriumn sociaal utilitarisme theodicee ultima ratio verpersoonlijkin: yi jsreris stelsel alluvial plain continental platform flood-plain isoneph headland lake ramport morfolorische reolosie shoreline developuent tnematicle map urban areas 20 lontar hutan, ibus, rebonzs, anrel pelindung tanah pemurnian kabu2, serat menurut keturunan tanah napal tanah remuk /tanah subur dengan pupuk orsanis/ batas pengzaliran sungai irigasi, bangunan pengairan kasad pikir, renjut pikir titisan, djelmaan (adjaran) serba bimbang, skepsis tcerindria pusat indria, sensoriun utilitarisne kenasjara- katan, utilitarisme sosial (ilmu) ketuhanan akliah, tcodise alasan terachir peroknuuan tatafilsafat, tata filsafi dataran aluvial danskalan hcnua dataran endapan garis sana nwan, isonef tandjung pantai hatu danau seolosi morfolori perkeribanzan aris pantai peta tea daerah kota (bersambung<noinclude></noinclude> q48r9r946hrqj8fcr0qifckdsfi8pcb 291497 291472 2026-05-11T02:05:30Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291497 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" />{{rh||20}}</noinclude>PERTANIAN, KEHUTANAN DAN PERIKANAN :{| |- |angel /corypha utan/ ||<center>-</center>||lontar hutan, ibus, |- |bodembeschermer||<center>-</center>||pelindung tanah |- |breeding||<center>-</center>||pemurnian |- |fuzz ||<center>-</center>||kabu2, serat |- |genetic ||<center>-</center>||menurut keturunan |- |mergelgrond ||<center>-</center>||tanah napal |- |teeltaarde ||<center>-</center>||tanah gemuk/tanah subur dengan pupuk organis |- |waterscheiding||<center>-</center>||batas pengaliran sungai |- |waterwerken ||<center>-</center>||irigasi, bagunan pengairan |} FILSAFAT :{| |- |denkvelleitcit ||<center>-</center>||kasad pikir, renjut pikir |- |reincarnatie ||<center>-</center>||titisan, djelmaan |- |scepsis ||<center>-</center>||(adjaran) serba bimbang, skepsis |- |sensibel||<center>-</center>||terindria |- |sensorium||<center>-</center>||pusat indrra, sensorium |- |sociaal utilitarisme||<center>-</center>||utilitarisme kemasjarakatan, utilitarisme sosial |- |theodicee ||<center>-</center>||(ilmu) ketuhanan akliah, teodise |- |ultima ratio ||<center>-</center>||alasan terachir |- |verpersoonlijking||<center>-</center>||perokuman |- |wijsreris stelsel ||<center>-</center>||tatafilsafat, tata filsafi |} GEOGRAFI :{| |- |alluvial plain ||<center>-</center>||dataran aluvial |- |continental platform ||<center>-</center>||dangkalan benua |- |flood-plain ||<center>-</center>||dataran endapan |- |isoneph||<center>-</center>||garis sama awan, isonef |- |headland||<center>-</center>||tandjung |- |lake ramport||<center>-</center>||pantai batu danau |- |morfolorische geologie ||<center>-</center>||geolosi morfologi |- |shoreline development ||<center>-</center>||perkembangan garis pantai |- |thematicle map ||<center>-</center>||peta tema |- |urban areas ||<center>-</center>||daerah kota |} {{Right sidenote|(bersambung)}}<noinclude></noinclude> loshdanm0bwoctlmjuqna55rjdif9zq Halaman:Moral dan batin seri 1.pdf/9 104 103519 291474 2026-05-11T01:36:34Z OwlyKnight 24017 /* Telah diuji baca */ 291474 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="OwlyKnight" /></noinclude>{{hwe|da|pada}} '''Kebenaran Mulia jang Ketiga''', jang mengasih undjuk bagimana kita bisa terlolos dari itu segala matjam kesengsaraan, jang penawarnja tidak lain, hanja mesti '''musnakan''' itu '''segala keinginan''' jang timbul dari '''hawa nafsu''', seperti temaha, serakah, kemaruk dan sebaginja. Misalnja, seorang jang tidak kemaruk sama pakaian bagus iapun tidak nanti merasa sedih dan malu kapan lantaran tidak punja uang terpaksa memake pakaian djelek atau sederhana.Orang lelaki jang tidak kemaruk sama ketjintaan dari seorang wanita, tidak djadi nekat dan putus harap an kapan orang jang ditjintakan '''tidak membalas''' atau telah ketarik pada prija lain. Tegasnja ada bilang ribu gangguan jang mendatangkan kedjengkelan, kesibukan kekuatiran, dan kesedihan, akan dapat disingkirkan kapan orang '''akan tidas''' segala keinginannja jang berdasar '''hawa nafsu''' jang rendah, ingin dapat sensatie lantaran bersifat temaha, kemaruk dan ingin '''mempunjakan'''. Kapan itu segala matjam keinginan tidak dimusnakan, hanja dituruti terus-menerus, kehidupan manusia selalu penuh dengan gontjangan. Memang betul tidak semua itu keinginan bakal gagal, banja sebagian bisa djuga disampekan, dan bahkan ada banjak orang jang lantaran telah membuat Karma baik dalam kehidupan jang lalu, kelihatannja ada sampe tjukup beruntung. Tetapi oleh karena itu kebuntungan ada berdasar atas hawanafsu dan keinginan, maka saban kali meninggal ia akan terlahir pula kedunia terus-menerus, dan alamkan pula itu segala matjam gontjangan jang bisa didapat dari iapunja<noinclude>{{rh|12||13.}}</noinclude> 9j0ws2kc0vrrvu5da9tbhonzozelbh0 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/470 104 103520 291489 2026-05-11T01:56:23Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '52 anaknya. Nabi Musa terkenal sekali namanya karena menerima Taurat 1) 2 itu Hikayat Solsiman sudeh diketahui oleh Werndly ada naskahnya. dari Allah dan karena mukjizat-mukjizatnya. Nama dua naskah itu disebut juga oleh Verndly, selain Nabi Soleiman terkenal sekali karenu dapat bicara dengan para jin dan makhluk binatang serta dapat pula memerintahnya. Ia terkenal juga karena kebijaksanaannya melebihi kebijaksanaan ayahnya. &.... 291489 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>52 anaknya. Nabi Musa terkenal sekali namanya karena menerima Taurat 1) 2 itu Hikayat Solsiman sudeh diketahui oleh Werndly ada naskahnya. dari Allah dan karena mukjizat-mukjizatnya. Nama dua naskah itu disebut juga oleh Verndly, selain Nabi Soleiman terkenal sekali karenu dapat bicara dengan para jin dan makhluk binatang serta dapat pula memerintahnya. Ia terkenal juga karena kebijaksanaannya melebihi kebijaksanaan ayahnya. &. —“ Ya UU LX LI LI Mat 3 G.H. Werndly (1136, hal. 351) 12 Ibid hal, 348)<noinclude></noinclude> 2r29v7vlzevnkyqggtxaxebsfs445kc 291501 291489 2026-05-11T02:10:52Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291501 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|52}}</noinclude>anaknya. Nabi Musa terkenal sekali namanya karena menerima Taurat dari Allah dan karena mukjizat-mukjizatnya. Nama dua naskah itu disebut juga oleh Werndly,<ref>G.H. Werndly (1736, hal. 351) </ref> selain itu <u>Hikayat Soleiman</u> sudah diketahui oleh Werndly ada naskahnya.<ref>Ibid (hal. 348)</ref> Nabi Soleiman terkenal sekali karena dapat berbicara dengan para jin dan makhluk binatang serta dapat pula memerintahnya. Ia terkenal juga karena kebijaksanaannya melebihi kebijaksanaan ayahnya. <br /><br /> {{rule|15em|align=left}} {{Smallrefs}}<noinclude></noinclude> aedxc3cx4lwrhidkv3amddun6eeesey 291719 291501 2026-05-11T06:00:40Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291719 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|52}}</noinclude>anaknya. Nabi Musa terkenal sekali namanya karena menerima Taurat dari Allah dan karena mukjizat-mukjizatnya. Nama dua naskah itu disebut juga oleh Werndly,<ref>G.H. Werndly (1736, hal. 351) </ref> selain itu <u>Hikayat Soleiman</u> sudah diketahui oleh Werndly ada naskahnya.<ref>Ibid (hal. 348)</ref> Nabi Soleiman terkenal sekali karena dapat berbicara dengan para jin dan makhluk binatang serta dapat pula memerintahnya. Ia terkenal juga karena kebijaksanaannya melebihi kebijaksanaan ayahnya. <br /><br /> {{rule|15em|align=left}} {{Smallrefs}}<noinclude></noinclude> 0ki4oqm3spih4mmqu2nnhobfqwq9kzj Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/27 104 103521 291498 2026-05-11T02:07:03Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ Membuat halaman kosong 291498 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude><noinclude></noinclude> ccplgwmprsu678uegthnfc77ifsefnn 291591 291498 2026-05-11T03:24:20Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291591 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude><center>'''<u>BAHASA BATAK</u>'''</center> {{Right sidenote|Oleh: Nalom Siahaan*}} Sebagaimana kita ketahui pada tahun 1889 terbit karangan Prof. Dr. Hendrik Kern, berdjudul: "Taalkundige gogeven ter bopaling van hot stamnland dor maleisch-Polynesische volken" dikota Amsterdam (Belanda), artinja "Bahan bahasa untuk menentukan negeri asal eragam-beragam Melaju-Polynesia " Dalam karangannja itu Prof. Kern mengemukakan teorinja jang termashur, bahwa negeri asal bangun-bangun Melaju-Polynesia dahulukala berada di HINDIA-BELAKANG (Vietnam dan Kambodja sekarang). Dari sanalah djauah sebelum tarich Masehi nenek mojang kita merantau mendiami pulau-pulau serta semenandjung Malaja, meliputi daerah jang amat luas, terbentang antara pulau Madagaskar dekat benua Afrika disebelah barat dan pulau Paska dekat benua Amerika disebelah timur. Teori ini kiranja tjukup terkenal, djadi tidak diuraikan disini tentang argumentasi beliau sebelum sampai pada kesimpulannja. Jang menarik perhatian dari karangan Prof. Kern tersebut,<u>bukan</u> kesimpulan beliau, bahwa negeri asal nenek mojang kita dulu di Hindia belakang, tapi <u>bahan-bahan</u> jang dipakainja untuk sampai pada Kesimpulan itu. Beliau memperbandingkan bunji kata-kata jang dipakainja berasal dari pelbagai bahasa diseluruh daerah Melaju-Polynesia. Menurut kabar, Prof. Kern <u>belum</u> pernah ke Indonesia, waktu beliau menjusun karangannja itu. Demikian djuga Prof. Dr. Dr. R. Brandsteter (orang Swiss) dan O. Dompwolff (orang Djerman) jaag telah baut berdjuang meneruskan djejak Prof. Kern dalam ilmu perbandingan bahan-bahan. Melaju-Polynesia. Terkenal pula disertasi Dr. J.B.Bradndas : " Bijdragn tot de vergelijkendo klankoor dor Westersche afdoling van do Maleisch-Polynesiache talen", artinja dalam bahasa Indonesia "Sumbangan tentang perbandingan bunji bahsa-bahasa Melaju-Polynesia <u>sebelah barat</u>." Dalam sertasinja itu Dr Brandee memastikan penjelidikannja chusus tentang bahasa-bahasa Melanju-Polynesia <u>sebelah barat</u>, kelompok bahasa jang lazim disebut sekarang dengan istilah „Nusantara” meliputi Madagaskar, semenanjung Melaju, Indonesia, dan Filipina. Dr. Brandoo sendiri adalah murid Prof. Kern. Semua sardjana jang kita sebut diatas bergantung pada bahan-bahan jang diukumpulkan oleh "fioldworkas", jaitu sardjana-sadjana jang langsung melakukan penjelidikan, hidup ditengah-tengah penduduk bumiputera, selama bertahun-tahun lamanja dan kemudian memperkenalkan bahasa jang diselidikinja itu kepada dunia ilmu pengetahuan berupa buku kamus, buku tata bahasa dan karangan-karangan tentang anatom lama. Pada abad 19 mulai timbul di Eropajh minat besar untuk langsung menjelidiki bahasa-bahasa Melaju-Polynesia. Untuk itu diperlukan biaja jang hanja dapat disediakan oleh badan partikelir atau oleh pemerintah djajdjahan. Pihak Zending langsung berkepentingan dengan penjelidikan itu dari penterdjemahan kitab Indjil kedalam bahasa-bahasa bumiputera. Olehnja dikirim sardjana-sardjana bahasa, antara lain Dr.H.N. van der Tank ke tanah Batak, Dr. B. Matthes ke Makassar dan Dr. F. Andriani ke tanah Toradja. Selain itu Dr. Van der Trak menjusun tatabahasanja tentang bahasa Batak Toba. Pemerintah Hindia Belanda mengikuti tjontoh jang diberikan oleh pihak Zonding. Sesudah selesai tugasnja untuk Zonding, Dr. Van derTuuk dibiajai oleh pemerintah untuk menjelidiki bahasa Lampung di Sumatera Selatan dan bahasa Bali serta Kawi dipulau Bali. {{Left sidenote|------------------}} {{Left sidenote|'''*Petugas pada seksi Batak, Dinas Bahasa dan Kesusastraan Daerah, DBK, dan dosen bahasa Batak pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia.'''}}<noinclude></noinclude> 9kf0pahbedizn9q5k1w8i84418c1b1i Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/471 104 103522 291504 2026-05-11T02:11:42Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '53 BAHASA PROPSSI Jos Daniel Parera O. Tulisan kami kali iri hermaksud menanggapi satu masalah kecil yang beberapa waktu yang lalu ramai dibicarakan dan ditanggapi. Nasalahnya inlah penggunaan bertuk "pirsawan" bagi orang yang menyaksikan acara- acara di Televisi R1. “Vnlaupun tampaknya masalah ini kecil dan hanya menyangkut sebuah kata, nasun menurut pendapat kami jangkauannya 1le- bih luas daripada itu. Oleh karenanya kemi ingin me... 291504 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>53 BAHASA PROPSSI Jos Daniel Parera O. Tulisan kami kali iri hermaksud menanggapi satu masalah kecil yang beberapa waktu yang lalu ramai dibicarakan dan ditanggapi. Nasalahnya inlah penggunaan bertuk "pirsawan" bagi orang yang menyaksikan acara- acara di Televisi R1. “Vnlaupun tampaknya masalah ini kecil dan hanya menyangkut sebuah kata, nasun menurut pendapat kami jangkauannya 1le- bih luas daripada itu. Oleh karenanya kemi ingin menganekat pembic:.raan ini ke dalam satu wilayah yang lebih luas dan tingsi. 1. Agaknya ada perbedaan antara golongan tua/tradisionil dan golong- an muda dalam merghadapi perkembangan dan pengembangan Bahasa Indo- nesia sekarang dan khusugnya mengenai penciptaan istilah atau bahasa yang khusus. Golongan tua/tradisionil sering mengantarkan orang ke- pada perbedaan bahasa antara bentuk "feodal" dan bentuk "rakyat", atau antara bentuk "tinggi" dan bahasa "umum" dan sebagainya. Pen- deknya golongan ini melihat penciptaan bahasa baru atau istilah ba- ru dalam kerangka struktur masyarakat atau sosial. Jara pendekatan ini sudah usang dan tidak sesuai dengan zamannya lagi. 2. Kami mempunyai satu cara pendekatan dan penafsiran yang lain. Se mua kita mengetahui bahwa masyarakat Indonesia sekarang ini mengarah “ kepada profesi, kepada rembidangan tugas sesuai dengan keahlian, ke- pada karyanya masing-masing. Kecenderungan ini besar sckali dan kita memang harus mengarah kepada satu pendidikan profesi. Kita ingin menciptakan satu masyarakat yang tergolong dan bergolong menurut profesi mereka. | |<noinclude></noinclude> 2f0vqorrpbp0vqfbqx02yca0l9fnc89 291508 291504 2026-05-11T02:14:23Z Moel81 25980 291508 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|53}}</noinclude>BAHASA PROFESI Jos Daniel Parera {{rule|20em|align=left}} O. Tulisan kami kali iri hermaksud menanggapi satu masalah kecil yang beberapa waktu yang lalu ramai dibicarakan dan ditanggapi. Nasalahnya inlah penggunaan bertuk "pirsawan" bagi orang yang menyaksikan acara- acara di Televisi R1. “Vnlaupun tampaknya masalah ini kecil dan hanya menyangkut sebuah kata, nasun menurut pendapat kami jangkauannya 1le- bih luas daripada itu. Oleh karenanya kemi ingin menganekat pembic:.raan ini ke dalam satu wilayah yang lebih luas dan tingsi. 1. Agaknya ada perbedaan antara golongan tua/tradisionil dan golong- an muda dalam merghadapi perkembangan dan pengembangan Bahasa Indo- nesia sekarang dan khusugnya mengenai penciptaan istilah atau bahasa yang khusus. Golongan tua/tradisionil sering mengantarkan orang ke- pada perbedaan bahasa antara bentuk "feodal" dan bentuk "rakyat", atau antara bentuk "tinggi" dan bahasa "umum" dan sebagainya. Pen- deknya golongan ini melihat penciptaan bahasa baru atau istilah ba- ru dalam kerangka struktur masyarakat atau sosial. Jara pendekatan ini sudah usang dan tidak sesuai dengan zamannya lagi. 2. Kami mempunyai satu cara pendekatan dan penafsiran yang lain. Se mua kita mengetahui bahwa masyarakat Indonesia sekarang ini mengarah “ kepada profesi, kepada rembidangan tugas sesuai dengan keahlian, ke- pada karyanya masing-masing. Kecenderungan ini besar sckali dan kita memang harus mengarah kepada satu pendidikan profesi. Kita ingin menciptakan satu masyarakat yang tergolong dan bergolong menurut profesi mereka. | |<noinclude></noinclude> crlqkd9lvyish2cp6ql6waibrd2ww1z 291514 291508 2026-05-11T02:21:07Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291514 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|53}}</noinclude>BAHASA PROFESI<br /><br /> Jos Daniel Parera {{rule|20em|align=left}}<br /> 0. Tulisan kami kali ini bermaksud menanggapi satu masalah kecil yang beberapa waktu yang lalu ramai dibicarakan dan ditanggapi. Masalahnya ialah penggunaan bentuk "<u>pirsawan</u>" bagi orang yang menyaksikan acara-acara di Televisi R. I. Walaupun tampaknya masalah ini kecil dan hanya menyangkut sebuah kata, namun menurut pendapat kami jangkauannya lebih luas daripada itu. Oleh karenanya kami ingin mengangkat pembicaraan ini ke dalam satu wilayah yang lebih luas dan tinggi. 1. Agaknya ada perbedaan antara golongan tua/tradisionil dan golongan muda dalam menghadapi perkembangan dan pengembangan Bahasa Indonesia sekarang dan khususnya mengenai penciptaan istilah atau bahasa yang khusus. Golongan tua/tradisionil sering mengantarkan orang kepada perbedaan bahasa antara bentuk "feodal" dan bentuk "rakyat", atau antara bentuk "tinggi" dan bahasa "umum" dan sebagainya. Pendeknya golongan ini melihat penciptaan bahasa baru atau istilah baru dalam kerangka struktur masyarakat atau sosial. Cara pendekatan ini sudah usang dan tidak sesuai dengan zamannya lagi. 2. Kami mempunyai satu cara pendekatan dan penafsiran yang lain. Semua kita mengetahui bahwa masyarakat Indonesia sekarang ini mengarah kepada <u>profesi</u>, kepada pembidangan tugas sesuai dengan keahlian, kepada karyanya masing-masing. Kecenderungan ini besar sekali dan kita memang harus mengarah kepada satu <u>pendidikan profesi</u>. Kita ingin menciptakan satu masyarakat yang <u>tergolong dan bergolong menurut profesi mereka.</u><noinclude></noinclude> naahee53rscglc1nu9dgtdik0b9mpr3 291720 291514 2026-05-11T06:01:26Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291720 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|53}}</noinclude>BAHASA PROFESI<br /><br /> Jos Daniel Parera {{rule|20em|align=left}}<br /> 0. Tulisan kami kali ini bermaksud menanggapi satu masalah kecil yang beberapa waktu yang lalu ramai dibicarakan dan ditanggapi. Masalahnya ialah penggunaan bentuk "<u>pirsawan</u>" bagi orang yang menyaksikan acara-acara di Televisi R. I. Walaupun tampaknya masalah ini kecil dan hanya menyangkut sebuah kata, namun menurut pendapat kami jangkauannya lebih luas daripada itu. Oleh karenanya kami ingin mengangkat pembicaraan ini ke dalam satu wilayah yang lebih luas dan tinggi. 1. Agaknya ada perbedaan antara golongan tua/tradisionil dan golongan muda dalam menghadapi perkembangan dan pengembangan Bahasa Indonesia sekarang dan khususnya mengenai penciptaan istilah atau bahasa yang khusus. Golongan tua/tradisionil sering mengantarkan orang kepada perbedaan bahasa antara bentuk "feodal" dan bentuk "rakyat", atau antara bentuk "tinggi" dan bahasa "umum" dan sebagainya. Pendeknya golongan ini melihat penciptaan bahasa baru atau istilah baru dalam kerangka struktur masyarakat atau sosial. Cara pendekatan ini sudah usang dan tidak sesuai dengan zamannya lagi. 2. Kami mempunyai satu cara pendekatan dan penafsiran yang lain. Semua kita mengetahui bahwa masyarakat Indonesia sekarang ini mengarah kepada <u>profesi</u>, kepada pembidangan tugas sesuai dengan keahlian, kepada karyanya masing-masing. Kecenderungan ini besar sekali dan kita memang harus mengarah kepada satu <u>pendidikan profesi</u>. Kita ingin menciptakan satu masyarakat yang <u>tergolong dan bergolong menurut profesi mereka.</u><noinclude></noinclude> ssrpjmv4o7sejgke4bzoqs9skisg2s6 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/472 104 103523 291505 2026-05-11T02:11:45Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '54 Gejala masyarakat jini torcermin dalam cara mereka berbahasa, Harus diakui bahwa Inlam bahasa ada Gun cara berbahasa dan memilih serta menginterpretasikan sebuah kat atuu pun struktur bahasa yang lebih tinggi seperti perdbontukan fre3n don kalimat. Jadi ada dua 2a- ra: nda bahasa dengan pola, pemilik:r Cm penafsiran yang “Imum dan berlaku sama dalam kerangka satu kesatusa bahasa masyarakat, dan ada pola, pemilihan dan penafsircn Tari... 291505 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>54 Gejala masyarakat jini torcermin dalam cara mereka berbahasa, Harus diakui bahwa Inlam bahasa ada Gun cara berbahasa dan memilih serta menginterpretasikan sebuah kat atuu pun struktur bahasa yang lebih tinggi seperti perdbontukan fre3n don kalimat. Jadi ada dua 2a- ra: nda bahasa dengan pola, pemilik:r Cm penafsiran yang “Imum dan berlaku sama dalam kerangka satu kesatusa bahasa masyarakat, dan ada pola, pemilihan dan penafsircn Tarian berdasarkan profesi. AAN D “A5 3s Dalam berbahasa dapat kita saksilan dan ketemukan — jika kita perhatikan sungguh-sungguh -- peerodaan antara bahasa umum dan bahasa profesi, Dalam kesempatan ini kani ingin memberikan satu dua contoh dal: bidang makna/penge rtien, yang harus ditafsirkan sesuai dengan situasi rrofesi dan sitmasi um, Kita ambil contoh kata cair, Jika seorang akan berurusan dengan beng, maka ja akan jumpai salah satu cara berbahasa sebagai berikut: "Sek itu belun dicairzxan'". Seorang politilus mungkin akan wengatukan?: "Biarkan saja, partai- partai politik akan cair donsa. sendirinya". Seorang ahli ilmu alan akan mengatakan: "Ini benda cair". Contoh lain dapat pula dikemuk-.kan. "Tantara Indonesia sedang menga- dakan Operasi Kilat di Sulawosi Selatan" demikian berita pers. Tapi apa yang akan dikatakan seorang perawat lain lagi. "Dokter ma- sih melakukan opores!' resar di kamar cperasi". Dan kita semua pun tahu bahwa di Irian Jaya sedang dilakukan usaha "Operasi Busana". Yang ingin kami tunjukkan Cisini jalah ada kata yang pe ngertiannya dan statusnya pun dipersunakan dalam profesi tertentu atau bidang tugas tertintu. Kata cair dan operasi (hanya dua kata saja sebagai contoh dalam tulisan ini) acalah kata umum, tetapi me- reka pun telah dipergunakan sesuaj dengan bidang tugas tertentu, profesi tertentu. Jelas kata cair dan operasi bukan istilah. Makna- nya harus ditafsirkan sesuai dengan profesinya. Mungkin contoh<noinclude></noinclude> k3b5kmjkh0jakxkkvlzh9j06rp13if3 291523 291505 2026-05-11T02:29:47Z Moel81 25980 291523 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|54}}</noinclude>Gejala masyarakat ini tercermin dalam cara mereka berbahasa. Harus diakui bahwa dalam bahasa ada dua cara berbahasa dan memilih serta menginterpretasikan sebuah kata atau pun struktur bahasa yang lebih tinggi seperti pembentukan frasa dan kalimat. Jadi ada dua cara: ada bahasa dengan <u>pola, pemilihan dan penafsiran yang umum</u> dan berlaku sama dalam kerangka satu kesatuan bahasa masyarakat, dan ada <u>pola, pemilihan dan penafsiran bahasa berdasarkan profesi.</u> Dalam berbahasa dapat kita saksikan dan ketemukan — jika kita perhatikan sungguh-sungguh — perbedaan antara <u>bahasa umum</u> dan <u>bahasa profesi</u>. Dalam kesempatan ini kami ingin memberikan satu dua contoh dalam bidang makna/pengertian, yang harus ditafsirkan sesuai dengan <u>situasi profesi</u> dan <u>situasi umum.</u> Kita ambil contoh kata <u>cair</u>. Jika seorang akan berurusan dengan bank, maka ia akan jumpai salah satu cara berbahasa sebagai berikut: "Cek itu belum <u>dicairkan</u>". Seorang politikus mungkin akan mengatakan: "Biarkan saja, <u>partai-partai politik akan cair</u> dengan sendirinya". Seorang ahli ilmu alam akan mengatakan: "Ini <u>benda cair</u>".<br/>Contoh lain dapat pula dikemukakan. "Tentara Indonesia sedang mengadakan <u>Operasi Kilat</u> di Sulawesi Selatan" demikian berita pers. Tapi apa yang akan dikatakan seorang perawat lain lagi. "Dokter masih melakukan <u>operasi besar di kamar operasi</u>". Dan kita semua pun tahu bahwa di Irian Jaya sedang dilakukan usaha "<u>Operasi Busana</u>". Yang ingin kami tunjukkan disini ialah ada kata yang pengertiannya dan statusnya pun dipergunakan dalam profesi tertentu atau bidang tugas tertentu. Kata <u>cair</u> dan <u>operasi</u> (hanya dua kata saja sebagai contoh dalam tulisan ini) adalah kata umum, tetapi mereka pun telah dipergunakan sesuai dengan bidang tugas tertentu, profesi tertentu. Jelas kata <u>cair</u> dan <u>operasi</u> bukan istilah. Maknanya harus ditafsirkan sesuai dengan profesinya. Mungkin contoh<noinclude></noinclude> sc69k38yyww2o33an7upg90ydk1bkuq 291527 291523 2026-05-11T02:35:08Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291527 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|54}}</noinclude>Gejala masyarakat ini tercermin dalam cara mereka berbahasa. Harus diakui bahwa dalam bahasa ada dua cara berbahasa dan memilih serta menginterpretasikan sebuah kata atau pun struktur bahasa yang lebih tinggi seperti pembentukan frasa dan kalimat. Jadi ada dua cara: ada bahasa dengan <u>pola, pemilihan dan penafsiran yang umum</u> dan berlaku sama dalam kerangka satu kesatuan bahasa masyarakat, dan ada <u>pola, pemilihan dan penafsiran bahasa berdasarkan profesi.</u> 3. Dalam berbahasa dapat kita saksikan dan ketemukan — jika kita perhatikan sungguh-sungguh — perbedaan antara <u>bahasa umum</u> dan <u>bahasa profesi</u>. Dalam kesempatan ini kami ingin memberikan satu dua contoh dalam bidang makna/pengertian, yang harus ditafsirkan sesuai dengan <u>situasi profesi</u> dan <u>situasi umum.</u> Kita ambil contoh kata <u>cair</u>. Jika seorang akan berurusan dengan bank, maka ia akan jumpai salah satu cara berbahasa sebagai berikut: "Cek itu belum <u>dicairkan</u>". Seorang politikus mungkin akan mengatakan: "Biarkan saja, <u>partai-partai politik akan cair</u> dengan sendirinya". Seorang ahli ilmu alam akan mengatakan: "Ini <u>benda cair</u>".<br/>Contoh lain dapat pula dikemukakan. "Tentara Indonesia sedang mengadakan <u>Operasi Kilat</u> di Sulawesi Selatan" demikian berita pers. Tapi apa yang akan dikatakan seorang perawat lain lagi. "Dokter masih melakukan <u>operasi besar di kamar operasi</u>". Dan kita semua pun tahu bahwa di Irian Jaya sedang dilakukan usaha "<u>Operasi Busana</u>". Yang ingin kami tunjukkan disini ialah ada kata yang pengertiannya dan statusnya pun dipergunakan dalam profesi tertentu atau bidang tugas tertentu. Kata <u>cair</u> dan <u>operasi</u> (hanya dua kata saja sebagai contoh dalam tulisan ini) adalah kata umum, tetapi mereka pun telah dipergunakan sesuai dengan bidang tugas tertentu, profesi tertentu. Jelas kata <u>cair</u> dan <u>operasi</u> bukan istilah. Maknanya harus ditafsirkan sesuai dengan profesinya. Mungkin contoh<noinclude></noinclude> q7mnqhfnnftjgu1mx82twtgtq3vfhyj 291721 291527 2026-05-11T06:03:11Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291721 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|54}}</noinclude>Gejala masyarakat ini tercermin dalam cara mereka berbahasa. Harus diakui bahwa dalam bahasa ada dua cara berbahasa dan memilih serta menginterpretasikan sebuah kata atau pun struktur bahasa yang lebih tinggi seperti pembentukan frasa dan kalimat. Jadi ada dua cara: ada bahasa dengan <u>pola, pemilihan dan penafsiran yang umum</u> dan berlaku sama dalam kerangka satu kesatuan bahasa masyarakat, dan ada <u>pola, pemilihan dan penafsiran bahasa berdasarkan profesi.</u> 3. Dalam berbahasa dapat kita saksikan dan ketemukan — jika kita perhatikan sungguh-sungguh — perbedaan antara <u>bahasa umum</u> dan <u>bahasa profesi</u>. Dalam kesempatan ini kami ingin memberikan satu dua contoh dalam bidang makna/pengertian, yang harus ditafsirkan sesuai dengan <u>situasi profesi</u> dan <u>situasi umum.</u> Kita ambil contoh kata <u>cair</u>. Jika seorang akan berurusan dengan bank, maka ia akan jumpai salah satu cara berbahasa sebagai berikut: "Cek itu belum <u>dicairkan</u>". Seorang politikus mungkin akan mengatakan: "Biarkan saja, <u>partai-partai politik akan cair</u> dengan sendirinya". Seorang ahli ilmu alam akan mengatakan: "Ini <u>benda cair</u>".<br/>Contoh lain dapat pula dikemukakan. "Tentara Indonesia sedang mengadakan <u>Operasi Kilat</u> di Sulawesi Selatan" demikian berita pers. Tapi apa yang akan dikatakan seorang perawat lain lagi. "Dokter masih melakukan <u>operasi besar di kamar operasi</u>". Dan kita semua pun tahu bahwa di Irian Jaya sedang dilakukan usaha "<u>Operasi Busana</u>". Yang ingin kami tunjukkan disini ialah ada kata yang pengertiannya dan statusnya pun dipergunakan dalam profesi tertentu atau bidang tugas tertentu. Kata <u>cair</u> dan <u>operasi</u> (hanya dua kata saja sebagai contoh dalam tulisan ini) adalah kata umum, tetapi mereka pun telah dipergunakan sesuai dengan bidang tugas tertentu, profesi tertentu. Jelas kata <u>cair</u> dan <u>operasi</u> bukan istilah. Maknanya harus ditafsirkan sesuai dengan profesinya. Mungkin contoh<noinclude></noinclude> 6ngwpctq4d0lg80v2awl0xfc3d3jekr Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/198 104 103524 291516 2026-05-11T02:22:19Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Kedua, pengarang yang menulis novel ini bukan sembarang orang pula, beliau seorang ulama yang progresif dan demikian memeranjatkan pembaca dan masyarakat Melayu karena ia memasuki satu lapangan yang sungguh-sungguh asing bagi seorang ulama. Lebih-lebih lagi tuan novelnya ialah kisah percintaan antara lelaki perempuan yang berlainan sekali dimasa masa yang lampau - malah dapat dikatakan, bertentangan dengan adat kebiasaan masyarakat Melayu pada w... 291516 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" />{{rh||20|}}</noinclude>Kedua, pengarang yang menulis novel ini bukan sembarang orang pula, beliau seorang ulama yang progresif dan demikian memeranjatkan pembaca dan masyarakat Melayu karena ia memasuki satu lapangan yang sungguh-sungguh asing bagi seorang ulama. Lebih-lebih lagi tuan novelnya ialah kisah percintaan antara lelaki perempuan yang berlainan sekali dimasa masa yang lampau - malah dapat dikatakan, bertentangan dengan adat kebiasaan masyarakat Melayu pada waktu itu. Tambahan pula tema percintaan dalan <u>Hikayat Faridah Hanun</u> bukan pendedahan yang tidak mempunyai bunga-bunga peristiwa uan suasuna seks. Syair-syair didalamnya yang mengesahkan kecantikan Faridah Hanun bisa membuat mata pembaca terbuka luas dan menghilangkan ngantuk pada mereka yang bosan meneruskan bacaan novel yang tebal tidak kurang dari 250 halaman (tulisan latin). Euterusteranzan Sayud Sucikh mengesahkan peristiwa speristiwa yan, Dengashikkan jitu mimbuat orang mengecam @irinya sebagai ulama, tetapi Gisevulah pihak lagi, menuorong penbaca-pembaca untuk mim- beli novel tersebut, Ya, Gizaman DPuyeu Susikh cara pendedahan uan gan- baran tubuh wanita seperti itu sanzat memerunjatkan, tapi dalam hasil kesusastcrear kita nari ini gambaran-gamtaran semacam itu tidak menjadi asing lari. Mengapakah Sayed Sheikh oerani mengerukakan penuapuatnya atau 14e- idenya dalan bcntuk novel yang Jemikian rupa? lal ini, sayu rasa, punya uua faktor yang terpenting pula. Pertama, Sayvu Shcikh seolah-olah ber- peniapat bahwa idenya yang progresif itu lubin cepat diterima masyarakat, lebih gampang dimengerti oleh masyarakat Mulayu duwaga itu kalau ja menye- 'litkannya dalam bentuk novul, atau bentuk curita, Jangan pula kita melu- pai bahwa diwaktu itu Sayud Sheikh banyak menulis buah pikirannya yang progresif tentang soal-soal agana Islan uan lain-lain lagi dalam maja lahnya YAl-Iman! dan juga bentuk buku-buku pengetahuan yang lain. Secara saikologis beliau tahu bahwa penyeresapan ide-ilenya lebih cepat terlaksana kalau diselitkan dalam bentuk sastera superti itu. Dan secara Saikologis juza beliau mengetahui bawa pumnbaca-psnoaca Mclayu pasa waktu itu sangat senang Ucngan kisah-kisah percintaan uan sebagai memenuhi tabi'i manusia yan,: "punya naluri-nalurinya maka beliau menghi- dan:kan kisahnya dengan membawa adigan-aiigan serta gambaran yang ber- lebih-lebihan tentang tubuh wanita Gan peristiwa-pceristiwa kasih sayang itu,<noinclude></noinclude> 4xyvir5dwamz9eq697o3b5z7574xssj 291535 291516 2026-05-11T02:42:17Z Humilis Kumulus 26996 291535 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" />{{rh||20|}}</noinclude>Kedua, pengarang yang menulis novel ini bukan sembarang orang pula, beliau seorang ulama yang progresif dan demikian memeranjatkan pembaca dan masyarakat Melayu karena ia memasuki satu lapangan yang sungguh-sungguh asing bagi seorang ulama. Lebih-lebih lagi tuan novelnya ialah kisah percintaan antara lelaki perempuan yang berlainan sekali dimasa masa yang lampau - malah dapat dikatakan, bertentangan dengan adat kebiasaan masyarakat Melayu pada waktu itu. Tambahan pula tema percintaan dalan <u>Hikayat Faridah Hanun</u> bukan pendedahan yang tidak mempunyai bunga-bunga peristiwa uan suasuna seks. Syair-syair didalamnya yang mengesahkan kecantikan Faridah Hanun bisa membuat mata pembaca terbuka luas dan menghilangkan ngantuk pada mereka yang bosan meneruskan bacaan novel yang tebal tidak kurang dari 250 halaman (tulisan latin). Keterusterangan Sayed Syeikh mengesahkan peristiwa-peristiwa yang mengashikkan itu membuat orang mengecam dirinya sebagai ulama, tetapi disebelah pihak lagi, mendorong pembaca-pembaca untuk membeli novel tersebut, Ya, dizaman Sayed Syeikh cara pendedahan dan gambaran tubuh wanita seperti itu sangat memeranjatkan, tapi dalam hasil kesusasteraan kita hari ini gambaran-gambaran semacam itu tidak menjadi asing lagi. Mengapakah Sayed Sheikh berani mengemukakan pendapatnya atau ide-idenya dalam bentuk novel yang demikian rupa? Hal ini, saya rasa, punya dua faktor yang terpenting pula. Pertama, Sayed Sheikh seolah-olah berpendapat bahwa idenya yang progresif itu lebih cepat diterima masyarakat, lebih gampang dimengerti oleh masyarakat Melayu dewasa itu kalau ia menyelitkannya dalam bentuk novel, atau bentuk cerita, Jangan pula kita melupai bahwa diwaktu itu Sayed Sheikh banyak menulis buah pikirannya yang progresif tentang soal-soal agama Islam dan lain-lain lagi dalam majalahnya "Al-Iman" dan juga bentuk buku-buku pengetahuan yang lain. Secara saikologis beliau tahu bahwa penyeresapan ide-idenya lebih cepat terlaksana kalau diselitkan dalam bentuk sastera seperti itu. Dan secara Saikologis juga beliau mengetahui bawa pembaca-pembaca Melayu pada waktu itu sangat senang dengan kisah-kisah percintaan dan sebagai memenuhi tabi'i manusia yang punya naluri-nalurinya maka beliau menghidangkan kisahnya dengan membawa adigan-adigan serta gambaran yang berlebih-lebihan tentang tubuh wanita dan peristiwa-peristiwa kasih sayang itu.<noinclude></noinclude> 41momfwvaglprnlcrp0oopfnvmxvjd3 291545 291535 2026-05-11T02:48:46Z Humilis Kumulus 26996 /* Telah diuji baca */ 291545 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||20|}}</noinclude>Kedua, pengarang yang menulis novel ini bukan sembarang orang pula, beliau seorang ulama yang progresif dan demikian memeranjatkan pembaca dan masyarakat Melayu karena ia memasuki satu lapangan yang sungguh-sungguh asing bagi seorang ulama. Lebih-lebih lagi tuan novelnya ialah kisah percintaan antara lelaki perempuan yang berlainan sekali dimasa masa yang lampau - malah dapat dikatakan, bertentangan dengan adat kebiasaan masyarakat Melayu pada waktu itu. Tambahan pula tema percintaan dalan <u>Hikayat Faridah Hanun</u> bukan pendedahan yang tidak mempunyai bunga-bunga peristiwa uan suasuna seks. Syair-syair didalamnya yang mengesahkan kecantikan Faridah Hanun bisa membuat mata pembaca terbuka luas dan menghilangkan ngantuk pada mereka yang bosan meneruskan bacaan novel yang tebal tidak kurang dari 250 halaman (tulisan latin). Keterusterangan Sayed Syeikh mengesahkan peristiwa-peristiwa yang mengashikkan itu membuat orang mengecam dirinya sebagai ulama, tetapi disebelah pihak lagi, mendorong pembaca-pembaca untuk membeli novel tersebut, Ya, dizaman Sayed Syeikh cara pendedahan dan gambaran tubuh wanita seperti itu sangat memeranjatkan, tapi dalam hasil kesusasteraan kita hari ini gambaran-gambaran semacam itu tidak menjadi asing lagi. Mengapakah Sayed Sheikh berani mengemukakan pendapatnya atau ide-idenya dalam bentuk novel yang demikian rupa? Hal ini, saya rasa, punya dua faktor yang terpenting pula. Pertama, Sayed Sheikh seolah-olah berpendapat bahwa idenya yang progresif itu lebih cepat diterima masyarakat, lebih gampang dimengerti oleh masyarakat Melayu dewasa itu kalau ia menyelitkannya dalam bentuk novel, atau bentuk cerita, Jangan pula kita melupai bahwa diwaktu itu Sayed Sheikh banyak menulis buah pikirannya yang progresif tentang soal-soal agama Islam dan lain-lain lagi dalam majalahnya "Al-Iman" dan juga bentuk buku-buku pengetahuan yang lain. Secara saikologis beliau tahu bahwa penyeresapan ide-idenya lebih cepat terlaksana kalau diselitkan dalam bentuk sastera seperti itu. Dan secara Saikologis juga beliau mengetahui bawa pembaca-pembaca Melayu pada waktu itu sangat senang dengan kisah-kisah percintaan dan sebagai memenuhi tabi'i manusia yang punya naluri-nalurinya maka beliau menghidangkan kisahnya dengan membawa adigan-adigan serta gambaran yang berlebih-lebihan tentang tubuh wanita dan peristiwa-peristiwa kasih sayang itu.<noinclude></noinclude> c6sxtuszqhg9aclbq3j6s8e6azmb9do Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/402 104 103525 291520 2026-05-11T02:28:26Z OwlyKnight 24017 /* Tanpa teks */ 291520 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="OwlyKnight" /></noinclude><noinclude></noinclude> kidrrtyknx7i8xyyovc8kah1yej2l06 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/673 104 103526 291541 2026-05-11T02:46:08Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291541 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Sekali lagi: sederhanakanlah kepartaian! Sederhanakan isi-djiwanja, sederhanakan djumlahnja. Sederhanakan isi-djiwanja, djangan isi-djiwanja itu selintat-selintut seperti djiwa tukang tjatut di pasar gelap! Sederhanakan djumlahnja, djangan djumlahnja itu ber-puluh² buah seperti lalat-hidjau mengerumuni hidangan. Ultra-multi-partysistem tak sesuai dan tak dapat dipergunakan sebagai alat penjelenggaraan masjarakat Res Publica. Masjarakat Res Publica hanja dapat diselenggarakan dengan '''Demokrasi Terpimpin''', jang tak dapat berdjalan dan tak dapat sedjalan dengan ultra-multi-partysistem itu. Dengan zonder tedeng-aling² saja andjurkan kita merobah Undang² Pemilihan Umum jang sudah ada, dan mengadakan Undang² Kepartaian jang djitu. Dan dengan zonder tedeng-aling² pula saja di sini mengandjurkan di-robek²nja Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945, jang meng-andjur²kan diadakannja partai², dan lalu menghidupkan dunia liberalisme parlementer dalam Revolusi kita, jang sebenarnja wadjib dipimpin oleh keutuhan komando, tetapi karenanja mendjadi petjah-belah sama sekali sampai dewasa ini. Kesalahan 3 Nopember 1945 itu memungkinkan segala matjam unsur² kontra-revolusi memainkan perannanja untuk mendjauhkan kita dari tudjuan Revolusi. Apakah kita tjukup ketangkasa untuk melaksanakan ini? Ah, saudara², kenapa tidak? Sudahkah kita mendjadi Rakjat jang beku? Sudahkah kita demikian turun dinamik kita, sehingga kita sudah "ngglenggem" puas dengan keadaan jang ada, dengan alat² jang ada, dengan Negara jang ada, dan tidak berani atau tidak mau mengadakan perobahan² jang perlu, dan lupa bahwa Negara sekadarlah ada satu '''alat''' untuk mentjapai atau mempertahankan atau memelihara sesuatu? Dan oleh karena kita sekarang ini masih dalam taraf perdjoangan, — dan kapan kita akan bisa berhenti berdjoang? —, maka Negara harus kita hantir sebagai '''alat perdjoangan'''. Dan sebagai alat perdjoangan, maka Negara itu, dengan segala sistim²nja, boleh dan harus kita robah dan perbaiki terus, kita '''asah''' terus, kita pertadjam terus, sebagai kita mengasah terus dan pertadjam terus kita punja pedang dimasa perdjoangan. Pada 17 Agustus 1957 saja berkata: „Revolusi barulah benar² Revolusi, kalau ia terus-menerus b e r d j o a n g. Bukan sadja berdjoang keluar menghadapi musuh, tetapi berdjoang kedalam memerangi dan menundukkan segala segi² negatif jang menghambat atau merugikan djalannja Revolusi itu. Ditindjau dari sudut ini, maka Revolusi adalah satu proses jang dinamis-dialektis dan dialektis- dinamis satu simfoni hebat dari kemenangan atas musuh dan kemenangan atas-diri-sendiri, satu simfoni hebat antara overwinning dan s e l f overwinning. Hanja bangsa atau kelas jang dapat mengadakan simfoni jang demikian itulah dapat mentjapai kemadjuan dan kekuatan dengan djalan Revolusi". Asahlah terus kitapunja Negara! Hantu Kolonialisme dan imperialisme masih mentjintai ditjaklawala, dan tugas sosial-ekonomispun masih menunggu penjelenggaraan dengan alat Negara itu. Djangan bimbang hati: fadjar kemenangan politik dan sosial-ekonomis telah merantak dibangwetan! Tugas sedjarah memang-gil-manggil kita, songsonglah tugas sedjarah itu dengan djiwa jang penuh pengertian dan dinamiknja perdjoangan, siapa jang sedar dan dinamis, ialah jang akan terpakai, siapa jang tak mengerti, siapa jang beku, dia akan tertinggal, dan siapa jang berchianat, dia akan digilas hantjur lebur oleh sedjarah. Mengenai kepartaian, jang memberi pengalaman buruk kepada kita dimasa jang lampau, baiklah saja tjantumkan disini rumusan pendapat dari para Panglima dan para Komandan Operasi jang dengan anak²-buahnja sedang mendjabung djiwanja membasmi pemberontakan² sekarang. Rumusan tersebut adalah sebagai berikut: # Dalam melakukan tugasnja membasmi pemberontakan, Angkatan Perang Republik Indonesia melandaskannja kepada kejakinan, bahwa setelah tugasnja berhasil, maka tidak akan terulang lagi ekses² politik di-masa² jang lalu, seperti misalnja ,,dagang sapi", memperpolitikkan soal² ekonomi dan kepegawaian, dan lain². Ekses² jang buruk inilah mendjadi sebab pokok dari kekatjauan. #T.N.I. bertekad, bahwa sesudah pemberontakan ini, ia akan memusatkan tenaga kepada penertiban hukum dan disiplin, serta pembersihan dalam tubuh alat² Negara, baik sipil maupun militer. #Pemerintah hendaknja mendjamin, bahwa djustru sesudah terbasminja pemberontakan akan diintensifkan usaha autonomi dan pembangunan dengan berpegang antara lain kepada hasil² Munas dan Munap. #T.N.I. mengharap diberikan pernjataan-penghargaan kepada peradjurit² jang telah menunaikan tugasnja dengan setia, dan kepada keluarganja jang menderita. Demikianlah rumusan Angkatan Perang. Kita harus mengadakan ''zelfcorrectie'' jang serieus. Djika tidak, songsongan kita kepada panggilan Revolusi akan mendjadi hampa, dan ,,retooling kita for the future" akan mendjadilah satu omong-kosong belaka! Dibidang internasionalpun kita harus memberi songsongan! Sebab, sebagai kukatakan tadi, tantangan adalah dibidang nasional dan dibidang internasional. Songsonglah panggilan Revolusi dibidang internasional, dalam arti: memperkuat kesetia-kawanan kita kepada perdjoangan bangsa² Asia dan Afrika jang menentang kolonialisme dan imperialisme. Artinja: bahwa kita sebagai anggauta dari pada kesetia-kawanan itu harus lebih aktif, lebih dinamis, lebih berani bertindak kemuka, lebih tidak beku, lebih solider, dari pada apa jang sudah². Djangan gubris bisikan sikapuk jang ragu²! Sudah barang tentu semangat setia-kawan itu ditentang terang²an atau sembunji²an oleh kaum² kolonialis dan imperialis, tetapi djangan gubris pula, perdjoangan selalu membawa tentang-menetang, dan api semangat Bandung tak mengenal kundjung padam! Buktinja? Sesudah Kon-<noinclude> 15</noinclude> sf3udr1092ogzoshod3tfzrq8apzgr8 291580 291541 2026-05-11T03:15:54Z Link PB 26772 291580 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Sekali lagi: sederhanakanlah kepartaian! Sederhanakan isi-djiwanja, sederhanakan djumlahnja. Sederhanakan isi-djiwanja, djangan isi-djiwanja itu selintat-selintut seperti djiwa tukang tjatut di pasar gelap! Sederhanakan djumlahnja, djangan djumlahnja itu ber-puluh² buah seperti lalat-hidjau mengerumuni hidangan. Ultra-multi-partysistem tak sesuai dan tak dapat dipergunakan sebagai alat penjelenggaraan masjarakat Res Publica. Masjarakat Res Publica hanja dapat diselenggarakan dengan '''Demokrasi Terpimpin''', jang tak dapat berdjalan dan tak dapat sedjalan dengan ultra-multi-partysistem itu. Dengan zonder tedeng-aling² saja andjurkan kita merobah Undang² Pemilihan Umum jang sudah ada, dan mengadakan Undang² Kepartaian jang djitu. Dan dengan zonder tedeng-aling² pula saja di sini mengandjurkan di-robek²nja Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945, jang meng-andjur²kan diadakannja partai², dan lalu menghidupkan dunia liberalisme parlementer dalam Revolusi kita, jang sebenarnja wadjib dipimpin oleh keutuhan komando, tetapi karenanja mendjadi petjah-belah sama sekali sampai dewasa ini. Kesalahan 3 Nopember 1945 itu memungkinkan segala matjam unsur² kontra-revolusi memainkan perannanja untuk mendjauhkan kita dari tudjuan Revolusi. Apakah kita tjukup ketangkasa untuk melaksanakan ini? Ah, saudara², kenapa tidak? Sudahkah kita mendjadi Rakjat jang beku? Sudahkah kita demikian turun dinamik kita, sehingga kita sudah "ngglenggem" puas dengan keadaan jang ada, dengan alat² jang ada, dengan Negara jang ada, dan tidak berani atau tidak mau mengadakan perobahan² jang perlu, dan lupa bahwa Negara sekadarlah ada satu '''alat''' untuk mentjapai atau mempertahankan atau memelihara sesuatu? Dan oleh karena kita sekarang ini masih dalam taraf perdjoangan, — dan kapan kita akan bisa berhenti berdjoang? —, maka Negara harus kita hantir sebagai '''alat perdjoangan'''. Dan sebagai alat perdjoangan, maka Negara itu, dengan segala sistim²nja, boleh dan harus kita robah dan perbaiki terus, kita '''asah''' terus, kita pertadjam terus, sebagai kita mengasah terus dan pertadjam terus kita punja pedang dimasa perdjoangan. Pada 17 Agustus 1957 saja berkata: „Revolusi barulah benar² Revolusi, kalau ia terus-menerus b e r d j o a n g. Bukan sadja berdjoang keluar menghadapi musuh, tetapi berdjoang kedalam memerangi dan menundukkan segala segi² negatif jang menghambat atau merugikan djalannja Revolusi itu. Ditindjau dari sudut ini, maka Revolusi adalah satu proses jang dinamis-dialektis dan dialektis- dinamis satu simfoni hebat dari kemenangan atas musuh dan kemenangan atas-diri-sendiri, satu simfoni hebat antara overwinning dan s e l f overwinning. Hanja bangsa atau kelas jang dapat mengadakan simfoni jang demikian itulah dapat mentjapai kemadjuan dan kekuatan dengan djalan Revolusi". Asahlah terus kitapunja Negara! Hantu Kolonialisme dan imperialisme masih mentjintai ditjaklawala, dan tugas sosial-ekonomispun masih menunggu penjelenggaraan dengan alat Negara itu. Djangan bimbang hati: fadjar kemenangan politik dan sosial-ekonomis telah merantak dibangwetan! Tugas sedjarah memang-gil-manggil kita, songsonglah tugas sedjarah itu dengan djiwa jang penuh pengertian dan dinamiknja perdjoangan, siapa jang sedar dan dinamis, ialah jang akan terpakai, siapa jang tak mengerti, siapa jang beku, dia akan tertinggal, dan siapa jang berchianat, dia akan digilas hantjur lebur oleh sedjarah. Mengenai kepartaian, jang memberi pengalaman buruk kepada kita dimasa jang lampau, baiklah saja tjantumkan disini rumusan pendapat dari para Panglima dan para Komandan Operasi jang dengan anak²-buahnja sedang mendjabung djiwanja membasmi pemberontakan² sekarang. Rumusan tersebut adalah sebagai berikut: # Dalam melakukan tugasnja membasmi pemberontakan, Angkatan Perang Republik Indonesia melandaskannja kepada kejakinan, bahwa setelah tugasnja berhasil, maka tidak akan terulang lagi ekses² politik di-masa² jang lalu, seperti misalnja ,,dagang sapi", memperpolitikkan soal² ekonomi dan kepegawaian, dan lain². Ekses² jang buruk inilah mendjadi sebab pokok dari kekatjauan. #T.N.I. bertekad, bahwa sesudah pemberontakan ini, ia akan memusatkan tenaga kepada penertiban hukum dan disiplin, serta pembersihan dalam tubuh alat² Negara, baik sipil maupun militer. #Pemerintah hendaknja mendjamin, bahwa djustru sesudah terbasminja pemberontakan akan diintensifkan usaha autonomi dan pembangunan dengan berpegang antara lain kepada hasil² Munas dan Munap. #T.N.I. mengharap diberikan pernjataan-penghargaan kepada peradjurit² jang telah menunaikan tugasnja dengan setia, dan kepada keluarganja jang menderita. Demikianlah rumusan Angkatan Perang. Kita harus mengadakan ''zelfcorrectie'' jang serieus. Djika tidak, songsongan kita kepada panggilan Revolusi akan mendjadi hampa, dan ,,retooling kita for the future" akan mendjadilah satu omong-kosong belaka! Dibidang internasionalpun kita harus memberi songsongan! Sebab, sebagai kukatakan tadi, tantangan adalah dibidang nasional dan dibidang internasional. Songsonglah panggilan Revolusi dibidang internasional, dalam arti: memperkuat kesetia-kawanan kita kepada perdjoangan bangsa² Asia dan Afrika jang menentang kolonialisme dan imperialisme. Artinja: bahwa kita sebagai anggauta dari pada kesetia-kawanan itu harus lebih aktif, lebih dinamis, lebih berani bertindak kemuka, lebih tidak beku, lebih solider, dari pada apa jang sudah². Djangan gubris bisikan sikapuk jang ragu²! Sudah barang tentu semangat setia-kawan itu ditentang terang²an atau sembunji²an oleh kaum² kolonialis dan imperialis, tetapi djangan gubris pula, perdjoangan selalu membawa tentang-menetang, dan api semangat Bandung tak mengenal kundjung padam! Buktinja? Sesudah Kon-<noinclude> 15</noinclude> g4f4b9qqhemj5m86qz4p6nxv4gy5sqf Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/674 104 103527 291544 2026-05-11T02:48:23Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291544 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>perensi Asia-Afrika di Bandung 1955, dunia menjaksikan : # Konperensi Mahasiswa A-A di Bandung, 1956. # Konperensi Wartawan A-A di Tokio, 1956. # Konperensi Sardjana Hukum A-A di New Delhi, 1957. # Konperensi Solidaritet Rakjat A-A di Cairo, 1958. # Konperensi Wanita A-A di Colombo, 1958. Dan baru² ini : # Konperensi Negara² Afrika Betul solidariteit Asia-Afrika ini belum merupakan satu gunung-karang jang meski di ,,atom'' pun tidak akan retak, tetapi kekuatan djiwanja tak dapat ditentang, dan malahan makin lama makin bertambah merupakan satu potensi internasional. Dan lebih dari pada itu : (maka itulah sebabnja kita harus menjongsongnja dengan djiwa jang lebih solider dari pada dahulu) : '''djiwa Asia-Afrika sebenarnja adalah djuga tierminan daripada dua fase daripada tiap² revolusi di Asia dan Afrika (jang satu lebih, jang lain, kurang), jaitu fase politik dan fase sosial.''' Ja, dua fase, dan kita bangsa Indonesia merasa bangga bahwa kitalah jang lebih dulu dengan segera dan terang²an berkata bahwa Revolusi kita adalah ,,a summing up of '''many revolutions in one generation'''''. Bahwa kitalah dengan terang²an telah dalam tahun 1945 memformulir Pantja Sila, jang antara lain menghendaki Keadilan Sosial. Bahwa kitalah dengan terang²an dalam mukaddimah Undang²-Dasar kita sedjak tahun 1945 selalu mengemukakan tuntutan masjarakat jang adil makmur. Bahwa kitalah jang dengan terang²an mempunjai fatsal 38 daripada Undang²-Dasar-Sementara, realisasi daripada idee masjarakat adil dan makmur. '''Masjarakat minta ,,Sosial Justice''.''' Bahwa kitalah (antara lain saja sedjak tahun 1927 dalam pidato² dan artikel², 1930 dalam ,,Indonesia menggugat'', 1933 dalam ,,Mentjapai Indonesia Merdeka'') zonder tedeng-aling² berkata menghendaki satu masjarakat sama-rasa sama-rata tanpa kapitalisme dan imperialisme dus satu masjarakat politik-economische democratie atau satu masjarakat politik-sociale democratie. Lihat kini diluar-pagar. Sesudah kita ditahun 1945 mengadakan Proklamasi, menjusullah negara² lain. Saja tidak menjebutkan R.R.T. Itu sudah njata satu jang dinamakan „komunis”. Tetapi lihat Birma. Birma jang datang kemudian daripada kita, menghendaki masjarakat „social justice”. Lihat Ceylon. Ceylon jang djuga datang sesudah kita, menghendaki pula satu masjarakat „Social-justice”. Dan lihat Mesir. Revolusi Mesir terdjadi dalam th. 1952, tudjuh th. sesudah kita. Dalam tahun itu Presiden Gamal Abdel Nasser menerangkan, bahwa kita ini memasuki dua revolusi, bukan satu. Semua rakjat didunia ini memasuki dua revolusi : satu revolusi politik jang merebut hak memerintah diri sendiri dari tangannja kelaziman, ...... dan satu revolusi sosial, termasuk didalamnja pertentangan kelas, jang akan berakhir bilamana keadilan telah terdjamin untuk semua anggota² daripada bangsa itu. Bagi kita, maka pengalaman dahsjat jang kita alami sekarang ini ialah, bahwa kita sedang mendjalankan dua revolusi pada waktu jang sama” Nasser merasa bahwa Mesir „caught between the millstones of two revolutions”, -terdjepit antara batu² penggilingannja dua revolusi ! Dan ia berkata : „It was not with in our power to stand on the road of history like a traffic policemen and hold up the passage of one revolution until the other had passed by in order to prevent a collision”, jang berarti : „Tidak didalam kekuasaan kita untuk berdiri didjalan-rajanja sedjarah seperti seorang agen polisi lalu-lintas, dan, agar menghindarkan satu tabrakan, menahan djalannja satu revolusi, sampai revolusi jang lain sudah berlalu”. .Nasionalisme Asia satu historisch phenomen. Jah, saudara²,, demikianlah memang inti-hakekat dari pada .Nasionalisme Asia: berromandua, berroman politik dan berroman sosial. Nasionalisme Asia jang bangkit sebagai reaksi atas pendjadjahan politik dan ekonomi, nasionalisme Asia jang berkobar dalam dadanja ber-djuta² rakjat jang perutnja lapar, pakaiannja tjompang-tjamping, gubuknja dojong, nasionalisme Asia itu tidak bisa lain daripada pasti mempunjai roman sosial pula. Dan karena itu benar sekali perkataan Nasser: Seorang revolusioner tidak dapat di-ibaratkan sebagai seorang agen-polisi lalu-lintas, jang menahan berlalunja sesuatu kendaraan Revolusi. Seorang revolusioner harus sadar akan hukum² revolusi, dan menghormati hukum² revolusi itu, dan pertjaja kepada kekuatan Rakjat, dan ikut terdjun kedalam kantjah tjandradimukanja kedua matjam revolusi itu, — ikut mengerti, ikut sadar, ikut aktif, ikut berdjoang menjongsong dan melaksanakan kehendak sedjarah dan tugas sedjarah. Sebab sebagai tadi saja katakan, siapa jang tidak ikut mengerti, siapa jang tidak ikut sadar, siapa jang beku, dia akan ditinggalkan basah², dan siapa jang menentang, dia akan digiling-giling dilindas digilas hantjur-lebur oleh karena djagadnata Revolusi! „Fate does not jest”, kata Nasser. „Nasib tak mau dipermainkan”. Memang demikianlah! Kereta Djagarnathnja Sedjarah tak boleh dibikin main-mainan! En toch, rupanja, dunia Barat, atau lebih tegas: elemen² kolonialis dari dunia Barat, mau main² dengan kereta-djagarnathnja Sedjarah itu! Mereka menentang, sedikitnja selalu mendjelek-djelekkan, segala apa sadja jang timbul mentjari realisasi di Asia-Afrika itu. Mereka menentang pertumbuhan di Indonesia. Mereka menentang pertumbuhan di Mesir, mereka menentang pertumbuhan dilain-lain negara Arab. Can not they realise that history is against them? Apakah mereka tak mau mengerti, bahwa sedjarah menentang mereka? Mereka mengingant saja kepada itu anak Belanda dari tjeritera-dongengan, jang hendak menahan<noinclude></noinclude> 8euqkstwnnpso79ii7amxzm8k1sx1gz 291579 291544 2026-05-11T03:15:42Z Link PB 26772 291579 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>perensi Asia-Afrika di Bandung 1955, dunia menjaksikan : # Konperensi Mahasiswa A-A di Bandung, 1956. # Konperensi Wartawan A-A di Tokio, 1956. # Konperensi Sardjana Hukum A-A di New Delhi, 1957. # Konperensi Solidaritet Rakjat A-A di Cairo, 1958. # Konperensi Wanita A-A di Colombo, 1958. Dan baru² ini : # Konperensi Negara² Afrika Betul solidariteit Asia-Afrika ini belum merupakan satu gunung-karang jang meski di ,,atom'' pun tidak akan retak, tetapi kekuatan djiwanja tak dapat ditentang, dan malahan makin lama makin bertambah merupakan satu potensi internasional. Dan lebih dari pada itu : (maka itulah sebabnja kita harus menjongsongnja dengan djiwa jang lebih solider dari pada dahulu) : '''djiwa Asia-Afrika sebenarnja adalah djuga tierminan daripada dua fase daripada tiap² revolusi di Asia dan Afrika (jang satu lebih, jang lain, kurang), jaitu fase politik dan fase sosial.''' Ja, dua fase, dan kita bangsa Indonesia merasa bangga bahwa kitalah jang lebih dulu dengan segera dan terang²an berkata bahwa Revolusi kita adalah ,,a summing up of '''many revolutions in one generation'''''. Bahwa kitalah dengan terang²an telah dalam tahun 1945 memformulir Pantja Sila, jang antara lain menghendaki Keadilan Sosial. Bahwa kitalah dengan terang²an dalam mukaddimah Undang²-Dasar kita sedjak tahun 1945 selalu mengemukakan tuntutan masjarakat jang adil makmur. Bahwa kitalah jang dengan terang²an mempunjai fatsal 38 daripada Undang²-Dasar-Sementara, realisasi daripada idee masjarakat adil dan makmur. '''Masjarakat minta ,,Sosial Justice''.''' Bahwa kitalah (antara lain saja sedjak tahun 1927 dalam pidato² dan artikel², 1930 dalam ,,Indonesia menggugat'', 1933 dalam ,,Mentjapai Indonesia Merdeka'') zonder tedeng-aling² berkata menghendaki satu masjarakat sama-rasa sama-rata tanpa kapitalisme dan imperialisme dus satu masjarakat politik-economische democratie atau satu masjarakat politik-sociale democratie. Lihat kini diluar-pagar. Sesudah kita ditahun 1945 mengadakan Proklamasi, menjusullah negara² lain. Saja tidak menjebutkan R.R.T. Itu sudah njata satu jang dinamakan „komunis”. Tetapi lihat Birma. Birma jang datang kemudian daripada kita, menghendaki masjarakat „social justice”. Lihat Ceylon. Ceylon jang djuga datang sesudah kita, menghendaki pula satu masjarakat „Social-justice”. Dan lihat Mesir. Revolusi Mesir terdjadi dalam th. 1952, tudjuh th. sesudah kita. Dalam tahun itu Presiden Gamal Abdel Nasser menerangkan, bahwa kita ini memasuki dua revolusi, bukan satu. Semua rakjat didunia ini memasuki dua revolusi : satu revolusi politik jang merebut hak memerintah diri sendiri dari tangannja kelaziman, ...... dan satu revolusi sosial, termasuk didalamnja pertentangan kelas, jang akan berakhir bilamana keadilan telah terdjamin untuk semua anggota² daripada bangsa itu. Bagi kita, maka pengalaman dahsjat jang kita alami sekarang ini ialah, bahwa kita sedang mendjalankan dua revolusi pada waktu jang sama” Nasser merasa bahwa Mesir „caught between the millstones of two revolutions”, -terdjepit antara batu² penggilingannja dua revolusi ! Dan ia berkata : „It was not with in our power to stand on the road of history like a traffic policemen and hold up the passage of one revolution until the other had passed by in order to prevent a collision”, jang berarti : „Tidak didalam kekuasaan kita untuk berdiri didjalan-rajanja sedjarah seperti seorang agen polisi lalu-lintas, dan, agar menghindarkan satu tabrakan, menahan djalannja satu revolusi, sampai revolusi jang lain sudah berlalu”. .Nasionalisme Asia satu historisch phenomen. Jah, saudara²,, demikianlah memang inti-hakekat dari pada .Nasionalisme Asia: berromandua, berroman politik dan berroman sosial. Nasionalisme Asia jang bangkit sebagai reaksi atas pendjadjahan politik dan ekonomi, nasionalisme Asia jang berkobar dalam dadanja ber-djuta² rakjat jang perutnja lapar, pakaiannja tjompang-tjamping, gubuknja dojong, nasionalisme Asia itu tidak bisa lain daripada pasti mempunjai roman sosial pula. Dan karena itu benar sekali perkataan Nasser: Seorang revolusioner tidak dapat di-ibaratkan sebagai seorang agen-polisi lalu-lintas, jang menahan berlalunja sesuatu kendaraan Revolusi. Seorang revolusioner harus sadar akan hukum² revolusi, dan menghormati hukum² revolusi itu, dan pertjaja kepada kekuatan Rakjat, dan ikut terdjun kedalam kantjah tjandradimukanja kedua matjam revolusi itu, — ikut mengerti, ikut sadar, ikut aktif, ikut berdjoang menjongsong dan melaksanakan kehendak sedjarah dan tugas sedjarah. Sebab sebagai tadi saja katakan, siapa jang tidak ikut mengerti, siapa jang tidak ikut sadar, siapa jang beku, dia akan ditinggalkan basah², dan siapa jang menentang, dia akan digiling-giling dilindas digilas hantjur-lebur oleh karena djagadnata Revolusi! „Fate does not jest”, kata Nasser. „Nasib tak mau dipermainkan”. Memang demikianlah! Kereta Djagarnathnja Sedjarah tak boleh dibikin main-mainan! En toch, rupanja, dunia Barat, atau lebih tegas: elemen² kolonialis dari dunia Barat, mau main² dengan kereta-djagarnathnja Sedjarah itu! Mereka menentang, sedikitnja selalu mendjelek-djelekkan, segala apa sadja jang timbul mentjari realisasi di Asia-Afrika itu. Mereka menentang pertumbuhan di Indonesia. Mereka menentang pertumbuhan di Mesir, mereka menentang pertumbuhan dilain-lain negara Arab. Can not they realise that history is against them? Apakah mereka tak mau mengerti, bahwa sedjarah menentang mereka? Mereka mengingant saja kepada itu anak Belanda dari tjeritera-dongengan, jang hendak menahan<noinclude> 16</noinclude> hsjb02sdig3y1tnyixp1ot7tc1oarqo Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/675 104 103528 291549 2026-05-11T02:50:34Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291549 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>djebolnja gili-gili dengan menutup lobang dalam gili-gili itu dengan djari-tangannja. Lima meter dari tempat anak itu, gili² djebol, dan anak itu mati kelelap didalam bandjir jang membandang. Alangkah baiknja djikalau dunia Barat mengerti, bahwa nasionalisme Asia adalah satu kepastian sedjarah, satu historis phenomeen, dan bahwa nasionalisme Asia itu pasti sedikitnja bermuka dua. Kami tidak minta dibantu, kami hanja minta dimengerti dan dibiarkan. Biarkanlah kami mentjari kepribadian kami sendiri. Biarkanlah kami bertumbuh setjara kodrat kami sendiri. Tetapi apa jang kami alami? Kami selalu diganggu, kami selalu ditentang, kami selalu dihalang-halangi. Dunia Barat rupanja mengira bahwa adalah kewadjiban mereka untuk membuat kami ini seperti mereka. Dengan demikian maka antara Barat dan Asia selalu ada ketegangan² dan konflik². Malah pernah terdjadi perang panas antara Barat dan Mesir, dan sekarang hantu peperangan itu mengintai pula dilain tempat. Sebabnja ialah kurang pengertian Barat tentang hakekatnja nasionalisme di Asia atau Afrika. Sudah diketahui oleh umum bahwa kami selalu mengandjurkan ko-eksistensi antara blok komunis dan blok anti-komunis, dan memang kami tidak mau masuk sesuatu blok diantara dua itu. Kami punja politik adalah politik bebas jg tidak mau mengikatkan diri. Kami punja politik ialah politik "menjusun kepribadian sendiri". Biarkanlah kami mendjalankan politik jang demikian itu. Tetapi, sekali lagi, apa jang kami alami? Bukan dibiarkan, bukan dimengerti, tetapi selalu diogrok-ogrok, selalu diedjek sering "disubversif", kadang² diserang terang-terangan. Zonder tedeng-aling-aling saja katakan: achirnja nanti jang rugi bukan kami, tetapi Tuan! Baik kami maupun Tuan, kedua-dua kita ini tak dapat melepaskan diri dari Sedjarah. "One cannot escape history", demikianlah bunji suatu utjapan. Kami tak dapat „escape history”. Tetapi history history kami dan history Tuan adalah berlainan! Kami tak dapat escape history bahwa kami akan bertumbuh terus mendjadi bangsa² jang besar dan sedjahtera. Tuan tak dapat escape history bahwa kolonialisme dan imperialisme Tuan akan ditendang enjah sama sekali dari Asia dan Afrika. Sebaliknja, djanganlah kita mengganggu satu sama lain! Kami selalu mengandjurkan koeksistensi antara blok Komunis dan blok anti-komunis, — sekarang kami djuga mengandjurkan ko-eksistensi antara kami dan Tuan². Ko-eksistensi antara blok bersendjata dan Negara² jang berpolitik bebas. Ko-eksistensi antara Barat dan Nasionalisme Asia. Konperensi Asia-Afrika tempo hari mewakili 1.600.000.000 orang, lebih separoh dari djumlah manusia dimuka bumi. Kalau dipotong djumlah rakjat RRT pun, Konperensi Asia-Afrika itu masih mewakili 1.000.000.000 orang! Konperensi pertama itu belum disusul dengan Konperensi jang kedua, tetapi djanganlah mengira bahwa nasionalisme bangsa² Asia-Afrika telah mandek. Tidak! Nasionalisme bangsa² Asia-Afrika itu malah bertambah hebat dimana-mana, bertambah menjala dan berkobar-kobar dimana-mana. Lihat di Aldjazair, lihat di Tunisia, lihat di Mesir, lihat di Libanon, lihat di Irak, lihat di Yaman, lihat di Ceylon, lihat di Indonesia, lihat ditempat lain-lain! Ini adalah satu kenjataan sedjarah, satu historisch phenomeen kataku tadi, jang tak dapat di-ingkari oleh siapapun djuga. 1.000.000.000 Manusia, kalau tidak 1.600.000.000 atau 1.700.000.000 manusia, hatinja menjala-njala karena Apinja satu Idee! Belum pernah sedjarah dunia mengalami phenomeen seperti ini! Phenomeen² lain dizaman dahulu, hanjalah meliputi puluhan djuta manusia sadja, atau paling-paling ratusan djuta manusia, — tetapi „phenomeen Asia-Afrika" ini meliputi lebih dari satu setengah miljard djiwa manusia! Bertrand Russel pernah menulis, bahwa didalam sedjarah manusia adalah dua dokumen historis jang sampai sekarang menguasai alam-hati dan alam-fikirannja bagian² besar dari ummat manusia, dan jang bersaingan hebat satu sama lain. Dua dokumen historis itu ialah „Declaration of Independence" Amerika tulisan Thomas Jefferson, dan „Manifes Komunis" tulisan Karl Marx. Bertrand Russell mengharap supaja kompetisi antara potensi jang dibangunkan oleh dua dokumen historis itu djangan di-beslecht dimedan peperangan, tetapi hendaknja di-beslecht dimedan penjelenggaraan kesedjahteraan manusia. „Silahkan berkompetisi, dimedan penjelenggaraan kesedjahteraan manusia, bukan dimedan pertempuran, — siapa jang unggul, dialah jang lebih baik, siapa jang ternjata lebih baik, dialah jang unggul". Saja setudju dengan harapan Earl Russell itu, dan itulah memang sebabnja kami selaju mengandjur²kan ko-eksistensi antara komunis dan anti-komunis. Tetapi ada satu hal jang dilupakan Earl Russell, dan jang saja minta diperhatikan oleh seluruh dunia Barat sekarang ini: Bukan dua potensi sekarang mengisi dunia, tetapi '''tiga!''' '''Potensi ketiga itu ialah, potensinja Nasionalisme didunia Timur!''' Terutama sekali sesudah perang dunia II, maka nasionalisme didunia Timur itu mendjulang setinggi langit. Sesudah perang dunia II itu, apa jang sering saja sebutkan „Sturm Uber Asien" benar-benar meliputi seluruh bangsa² Timur, dan kadang² malah benar-benar mentaufan dan membadai. Kini ia telah menggelorakan djiwa satu setengah miljard orang. Tak dapat sedjarah sesuatu bangsa-kulit berwarna kini ditulis, zonder menulis tentang nasionalisme itu.<noinclude> 17</noinclude> 7c2l0c0ykw3v06rwmx0k0t3jerisne4 291578 291549 2026-05-11T03:15:30Z Link PB 26772 291578 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>djebolnja gili-gili dengan menutup lobang dalam gili-gili itu dengan djari-tangannja. Lima meter dari tempat anak itu, gili² djebol, dan anak itu mati kelelap didalam bandjir jang membandang. Alangkah baiknja djikalau dunia Barat mengerti, bahwa nasionalisme Asia adalah satu kepastian sedjarah, satu historis phenomeen, dan bahwa nasionalisme Asia itu pasti sedikitnja bermuka dua. Kami tidak minta dibantu, kami hanja minta dimengerti dan dibiarkan. Biarkanlah kami mentjari kepribadian kami sendiri. Biarkanlah kami bertumbuh setjara kodrat kami sendiri. Tetapi apa jang kami alami? Kami selalu diganggu, kami selalu ditentang, kami selalu dihalang-halangi. Dunia Barat rupanja mengira bahwa adalah kewadjiban mereka untuk membuat kami ini seperti mereka. Dengan demikian maka antara Barat dan Asia selalu ada ketegangan² dan konflik². Malah pernah terdjadi perang panas antara Barat dan Mesir, dan sekarang hantu peperangan itu mengintai pula dilain tempat. Sebabnja ialah kurang pengertian Barat tentang hakekatnja nasionalisme di Asia atau Afrika. Sudah diketahui oleh umum bahwa kami selalu mengandjurkan ko-eksistensi antara blok komunis dan blok anti-komunis, dan memang kami tidak mau masuk sesuatu blok diantara dua itu. Kami punja politik adalah politik bebas jg tidak mau mengikatkan diri. Kami punja politik ialah politik "menjusun kepribadian sendiri". Biarkanlah kami mendjalankan politik jang demikian itu. Tetapi, sekali lagi, apa jang kami alami? Bukan dibiarkan, bukan dimengerti, tetapi selalu diogrok-ogrok, selalu diedjek sering "disubversif", kadang² diserang terang-terangan. Zonder tedeng-aling-aling saja katakan: achirnja nanti jang rugi bukan kami, tetapi Tuan! Baik kami maupun Tuan, kedua-dua kita ini tak dapat melepaskan diri dari Sedjarah. "One cannot escape history", demikianlah bunji suatu utjapan. Kami tak dapat „escape history”. Tetapi history history kami dan history Tuan adalah berlainan! Kami tak dapat escape history bahwa kami akan bertumbuh terus mendjadi bangsa² jang besar dan sedjahtera. Tuan tak dapat escape history bahwa kolonialisme dan imperialisme Tuan akan ditendang enjah sama sekali dari Asia dan Afrika. Sebaliknja, djanganlah kita mengganggu satu sama lain! Kami selalu mengandjurkan koeksistensi antara blok Komunis dan blok anti-komunis, — sekarang kami djuga mengandjurkan ko-eksistensi antara kami dan Tuan². Ko-eksistensi antara blok bersendjata dan Negara² jang berpolitik bebas. Ko-eksistensi antara Barat dan Nasionalisme Asia. Konperensi Asia-Afrika tempo hari mewakili 1.600.000.000 orang, lebih separoh dari djumlah manusia dimuka bumi. Kalau dipotong djumlah rakjat RRT pun, Konperensi Asia-Afrika itu masih mewakili 1.000.000.000 orang! Konperensi pertama itu belum disusul dengan Konperensi jang kedua, tetapi djanganlah mengira bahwa nasionalisme bangsa² Asia-Afrika telah mandek. Tidak! Nasionalisme bangsa² Asia-Afrika itu malah bertambah hebat dimana-mana, bertambah menjala dan berkobar-kobar dimana-mana. Lihat di Aldjazair, lihat di Tunisia, lihat di Mesir, lihat di Libanon, lihat di Irak, lihat di Yaman, lihat di Ceylon, lihat di Indonesia, lihat ditempat lain-lain! Ini adalah satu kenjataan sedjarah, satu historisch phenomeen kataku tadi, jang tak dapat di-ingkari oleh siapapun djuga. 1.000.000.000 Manusia, kalau tidak 1.600.000.000 atau 1.700.000.000 manusia, hatinja menjala-njala karena Apinja satu Idee! Belum pernah sedjarah dunia mengalami phenomeen seperti ini! Phenomeen² lain dizaman dahulu, hanjalah meliputi puluhan djuta manusia sadja, atau paling-paling ratusan djuta manusia, — tetapi „phenomeen Asia-Afrika" ini meliputi lebih dari satu setengah miljard djiwa manusia! Bertrand Russel pernah menulis, bahwa didalam sedjarah manusia adalah dua dokumen historis jang sampai sekarang menguasai alam-hati dan alam-fikirannja bagian² besar dari ummat manusia, dan jang bersaingan hebat satu sama lain. Dua dokumen historis itu ialah „Declaration of Independence" Amerika tulisan Thomas Jefferson, dan „Manifes Komunis" tulisan Karl Marx. Bertrand Russell mengharap supaja kompetisi antara potensi jang dibangunkan oleh dua dokumen historis itu djangan di-beslecht dimedan peperangan, tetapi hendaknja di-beslecht dimedan penjelenggaraan kesedjahteraan manusia. „Silahkan berkompetisi, dimedan penjelenggaraan kesedjahteraan manusia, bukan dimedan pertempuran, — siapa jang unggul, dialah jang lebih baik, siapa jang ternjata lebih baik, dialah jang unggul". Saja setudju dengan harapan Earl Russell itu, dan itulah memang sebabnja kami selaju mengandjur²kan ko-eksistensi antara komunis dan anti-komunis. Tetapi ada satu hal jang dilupakan Earl Russell, dan jang saja minta diperhatikan oleh seluruh dunia Barat sekarang ini: Bukan dua potensi sekarang mengisi dunia, tetapi '''tiga!''' '''Potensi ketiga itu ialah, potensinja Nasionalisme didunia Timur!''' Terutama sekali sesudah perang dunia II, maka nasionalisme didunia Timur itu mendjulang setinggi langit. Sesudah perang dunia II itu, apa jang sering saja sebutkan „Sturm Uber Asien" benar-benar meliputi seluruh bangsa² Timur, dan kadang² malah benar-benar mentaufan dan membadai. Kini ia telah menggelorakan djiwa satu setengah miljard orang. Tak dapat sedjarah sesuatu bangsa-kulit berwarna kini ditulis, zonder menulis tentang nasionalisme itu.<noinclude> 17</noinclude> nmf819ue59mg9ctap4q0dwwfeki8ag1 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/676 104 103529 291555 2026-05-11T02:53:23Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291555 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan sekarang perhatikan : berlainan dengan dua potensi jang lalu itu, jang tentang-menentang satu sama lain, kadang² hampir menerkam satu sama lain, maka potensi ketiga ini sebenarnja '''tidak bermusuhan dengan siapapun djuga.''' Ia hanja minta diakui, minta dimengerti, minta djangan diganggu-gugat. Djika ia diakui, dimengerti, tidak diganggu-gugat, maka ia akan mendjadi sumbangan sebesar-besarnja kepada kesedjahteraan dunia dan perdamaian dunia. Tetapi mana kala ia dimusuhi atau ditentang, ia akan mampu membangkitkan daja pertahanan diri jang „nggegirisi“. Siapa mengganggu-gugat kepadanja, memusuhi kepadanja, hendak menindas kepadanja, untuk mempertahankan kepentingan, atau mempertahankan susunan dunia sebelum perang dunia II, — ia tentu akan terbentur kepada perlawanan suatu maha raksasa jg mungkin satu-dua kali dipukul rebah, tetapi selalu akan bangkit kembali dan bangkit lagi kembali, dengan selalu bertambah kekuatannja ber-ganda² kali. Disamping itu, maka nasionalisme didunia Timur jang antikolonialisme dan imperialisme itu, mempunjailah banjak simpatisan² dari kalangan bangsa² progressif. Karena dua sebab itulah maka tiap-tiap tindakan subversif, tiap-tiap tindakan intervensi, tiap-tiap tindakan agressi didaerah nasionalisme Timur ini sebenarnja adalah sama dengan '''bermain api !''' Karena itulah, maka berkenaan dengan kedjadian² di Libanon dan Jordania, kita mendesak supaja tentara Amerika dan Inggeris lekas ditarik dari daerah² itu. Lekaslah tarik tentara² asing itu, karena tiap² pendudukan oleh tentara asing, dari manapun asalnja, dan dimanapun didjalankan pendudukan itu, selalu menimbulkan insiden² besar-ketjil jang tidak diharapkan. Lekaslah tarik tentara asing itu, karena djika tidak ditarik, itu berarti main dengan api. Bangsa Indonesia, jang herboren (lahir-lagi) dalam apikeramatnja nasonalisme itu, dan sedar pula bahwa ia adalah satu bagian daripada ,,dunia-baru jg berdjoang untuk lahir", — ,,the dawning new world which is struggling to be born" —, bangsa Indonesia berdiri amat simpatik terhadap pertumbuhan nasionalisme jang wadjar dimana-mana tempat. Dan djustru oleh karena nasionalisme bangsa Indonesia adalah nasionalisme Pantja Sila, maka bangsa Indonesia aktif bekerdja untuk mempertahankan perdamaian-dunia, dan aktif bekerdja untuk terselenggaranja perdamaian dunia. Seluruh hati bangsa Indonesia menggetar memohon kepada Tuhan, supaja djanganlah hendaknja disesuatu tempat dimuka bumi ini ada pertjikan api. Sebab sebahagian daripada dunia ini sebenarnja sudahlah mendjadi satu gudang mesiu jang maha besar. Sesuatu pertjikan api mungkin mengenai timbunan mesiu itu, dan akan meledaklah mesiu itu menggeledek, mengguntur-menghalilintar lebih hebat daripada seribu geledek dan seribu guntur. Sudahkah manusia didunia ini begitu matagelap, untuk meriskir seluruh ummat manusia mengalami kebinasaan total, — mengalami ,,total destruction" ? Disinilah tempatnja aku mengadjak kepada seluruh dunia untuk mengadakan ,,think" dan ,,rethink" tentang bermatjam nilai dan norma² jang terdapat disegala matjam sistim-falsafah dan teori-politik jang berada hingga kini, agar supaja sistim² falsafah dan teori-politik itu dapat sering berkembang dan bertumbuh, selaras dengan kemadjuan ilmu-pengetahuan tehnik jang sekarang ini begitu menggemparkan. Sistim² falsafah dan teori²-politik itu lahir dalam masa jang telah usang, jang pada waktu itu misalnja belum ada ilmu atom. Sistim² falsafah dan teori²-politik itu lahir dalam zamannja mesin-uap dan paling² mesin-listrik, zamannja trem-kuda dan sepur-kelutuk. Tetapi zaman kita sekarang ini adalah zamannja pesawat jet dan pesawat rocket, zamannja pesawat atom, zamannja ilmu nuclear, zamannja sendjata-sendjata hydrogen, zamannja ''guided missiles'', zamannja ''explorer'' dan sputnik, zamannja kemungkinan hubungan interplaneter dengan bulan dan bintang², — zaman, jang uap dan listrik dianggap sebagai barang usang jang pantas ditertawakan, sebagaimana kita menertawakan bedil-sundut dizamannja bren, atau menertawakan makan-sirih dizamannja lipstick. Tidak sudah datangkah saatnja kita ummat manusia ,,think'' dan ,,rethink'' sistim² filsafah dan teori²-politik jang lahirnja didalam zaman usang itu, tetapi jang masih sadja kita pakai dalam zaman atom jang penuh dengan antjaman petir dan halilintarnja peperangan atom dan antjaman malam-gelap-gelitanja ''total destruction'', — dan mentjoba menemukan sistim falsafah atau teori-politik baru jang dapat membawa kita lebih dekat kepada perdamaian dunia dan keselamatan² kesedjahteraan semua manusia jang kita tjita-tjitakan? Ini adalah kewadjiban semua bangsa, sebab sedjarah sekarang ini bukanlah lagi sedjarahnja bangsa ini atau bangsa itu, melainkan sedjarahnja seluruh '''Kemanusiaan''', oleh karena seluruh ummat manusia sekarang ini telah terikat satu sama lain dalam satu Nasib Bersama, — terikat satu. Bagi kita bangsa Indonesia, kita sama lain dalam satu ,,commonfate'', merasa berbahagia bahwa kita, dalam perdjoangan nasional kita jang telah lima puluh tahun itu, — perdjoangan nasional 50 tahun jang tempo hari djuga saja gambarkan sebagai ,,satu perdjalanan mentjari kembali Kepribadian kita sendiri'' —, telah '''menemukan''' sistim falsafah atau teori-politik jang mendjamin perdamaian dunia dan keselamatan-kesedjahteraan semua manusia itu, jaitu '''Pantja Sila''' dengan lima silanja jang telah termasjhur didalam dan luar negeri. Sekali lagi, kepada seluruh ummat manusia, kepada pemimpin² disemua negara, kepada pemikir² semua bangsa, saja andjurkan<noinclude></noinclude> 4hch1anvh2f7ngo1c7dt645qhaab9ox 291556 291555 2026-05-11T02:53:44Z Link PB 26772 291556 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan sekarang perhatikan : berlainan dengan dua potensi jang lalu itu, jang tentang-menentang satu sama lain, kadang² hampir menerkam satu sama lain, maka potensi ketiga ini sebenarnja '''tidak bermusuhan dengan siapapun djuga.''' Ia hanja minta diakui, minta dimengerti, minta djangan diganggu-gugat. Djika ia diakui, dimengerti, tidak diganggu-gugat, maka ia akan mendjadi sumbangan sebesar-besarnja kepada kesedjahteraan dunia dan perdamaian dunia. Tetapi mana kala ia dimusuhi atau ditentang, ia akan mampu membangkitkan daja pertahanan diri jang „nggegirisi“. Siapa mengganggu-gugat kepadanja, memusuhi kepadanja, hendak menindas kepadanja, untuk mempertahankan kepentingan, atau mempertahankan susunan dunia sebelum perang dunia II, — ia tentu akan terbentur kepada perlawanan suatu maha raksasa jg mungkin satu-dua kali dipukul rebah, tetapi selalu akan bangkit kembali dan bangkit lagi kembali, dengan selalu bertambah kekuatannja ber-ganda² kali. Disamping itu, maka nasionalisme didunia Timur jang antikolonialisme dan imperialisme itu, mempunjailah banjak simpatisan² dari kalangan bangsa² progressif. Karena dua sebab itulah maka tiap-tiap tindakan subversif, tiap-tiap tindakan intervensi, tiap-tiap tindakan agressi didaerah nasionalisme Timur ini sebenarnja adalah sama dengan '''bermain api !''' Karena itulah, maka berkenaan dengan kedjadian² di Libanon dan Jordania, kita mendesak supaja tentara Amerika dan Inggeris lekas ditarik dari daerah² itu. Lekaslah tarik tentara² asing itu, karena tiap² pendudukan oleh tentara asing, dari manapun asalnja, dan dimanapun didjalankan pendudukan itu, selalu menimbulkan insiden² besar-ketjil jang tidak diharapkan. Lekaslah tarik tentara asing itu, karena djika tidak ditarik, itu berarti main dengan api. Bangsa Indonesia, jang herboren (lahir-lagi) dalam apikeramatnja nasonalisme itu, dan sedar pula bahwa ia adalah satu bagian daripada ,,dunia-baru jg berdjoang untuk lahir", — ,,the dawning new world which is struggling to be born" —, bangsa Indonesia berdiri amat simpatik terhadap pertumbuhan nasionalisme jang wadjar dimana-mana tempat. Dan djustru oleh karena nasionalisme bangsa Indonesia adalah nasionalisme Pantja Sila, maka bangsa Indonesia aktif bekerdja untuk mempertahankan perdamaian-dunia, dan aktif bekerdja untuk terselenggaranja perdamaian dunia. Seluruh hati bangsa Indonesia menggetar memohon kepada Tuhan, supaja djanganlah hendaknja disesuatu tempat dimuka bumi ini ada pertjikan api. Sebab sebahagian daripada dunia ini sebenarnja sudahlah mendjadi satu gudang mesiu jang maha besar. Sesuatu pertjikan api mungkin mengenai timbunan mesiu itu, dan akan meledaklah mesiu itu menggeledek, mengguntur-menghalilintar lebih hebat daripada seribu geledek dan seribu guntur. Sudahkah manusia didunia ini begitu matagelap, untuk meriskir seluruh ummat manusia mengalami kebinasaan total, — mengalami ,,total destruction" ? Disinilah tempatnja aku mengadjak kepada seluruh dunia untuk mengadakan ,,think" dan ,,rethink" tentang bermatjam nilai dan norma² jang terdapat disegala matjam sistim-falsafah dan teori-politik jang berada hingga kini, agar supaja sistim² falsafah dan teori-politik itu dapat sering berkembang dan bertumbuh, selaras dengan kemadjuan ilmu-pengetahuan tehnik jang sekarang ini begitu menggemparkan. Sistim² falsafah dan teori²-politik itu lahir dalam masa jang telah usang, jang pada waktu itu misalnja belum ada ilmu atom. Sistim² falsafah dan teori²-politik itu lahir dalam zamannja mesin-uap dan paling² mesin-listrik, zamannja trem-kuda dan sepur-kelutuk. Tetapi zaman kita sekarang ini adalah zamannja pesawat jet dan pesawat rocket, zamannja pesawat atom, zamannja ilmu nuclear, zamannja sendjata-sendjata hydrogen, zamannja ''guided missiles'', zamannja ''explorer'' dan sputnik, zamannja kemungkinan hubungan interplaneter dengan bulan dan bintang², — zaman, jang uap dan listrik dianggap sebagai barang usang jang pantas ditertawakan, sebagaimana kita menertawakan bedil-sundut dizamannja bren, atau menertawakan makan-sirih dizamannja lipstick. Tidak sudah datangkah saatnja kita ummat manusia ,,think'' dan ,,rethink'' sistim² filsafah dan teori²-politik jang lahirnja didalam zaman usang itu, tetapi jang masih sadja kita pakai dalam zaman atom jang penuh dengan antjaman petir dan halilintarnja peperangan atom dan antjaman malam-gelap-gelitanja ''total destruction'', — dan mentjoba menemukan sistim falsafah atau teori-politik baru jang dapat membawa kita lebih dekat kepada perdamaian dunia dan keselamatan² kesedjahteraan semua manusia jang kita tjita-tjitakan? Ini adalah kewadjiban semua bangsa, sebab sedjarah sekarang ini bukanlah lagi sedjarahnja bangsa ini atau bangsa itu, melainkan sedjarahnja seluruh '''Kemanusiaan''', oleh karena seluruh ummat manusia sekarang ini telah terikat satu sama lain dalam satu Nasib Bersama, — terikat satu. Bagi kita bangsa Indonesia, kita sama lain dalam satu ,,commonfate'', merasa berbahagia bahwa kita, dalam perdjoangan nasional kita jang telah lima puluh tahun itu, — perdjoangan nasional 50 tahun jang tempo hari djuga saja gambarkan sebagai ,,satu perdjalanan mentjari kembali Kepribadian kita sendiri'' —, telah '''menemukan''' sistim falsafah atau teori-politik jang mendjamin perdamaian dunia dan keselamatan-kesedjahteraan semua manusia itu, jaitu '''Pantja Sila''' dengan lima silanja jang telah termasjhur didalam dan luar negeri. Sekali lagi, kepada seluruh ummat manusia, kepada pemimpin² disemua negara, kepada pemikir² semua bangsa, saja andjurkan<noinclude> 18</noinclude> grixv06igzoo7la3wqt1g7y1amu9lsj 291577 291556 2026-05-11T03:15:18Z Link PB 26772 291577 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan sekarang perhatikan : berlainan dengan dua potensi jang lalu itu, jang tentang-menentang satu sama lain, kadang² hampir menerkam satu sama lain, maka potensi ketiga ini sebenarnja '''tidak bermusuhan dengan siapapun djuga.''' Ia hanja minta diakui, minta dimengerti, minta djangan diganggu-gugat. Djika ia diakui, dimengerti, tidak diganggu-gugat, maka ia akan mendjadi sumbangan sebesar-besarnja kepada kesedjahteraan dunia dan perdamaian dunia. Tetapi mana kala ia dimusuhi atau ditentang, ia akan mampu membangkitkan daja pertahanan diri jang „nggegirisi“. Siapa mengganggu-gugat kepadanja, memusuhi kepadanja, hendak menindas kepadanja, untuk mempertahankan kepentingan, atau mempertahankan susunan dunia sebelum perang dunia II, — ia tentu akan terbentur kepada perlawanan suatu maha raksasa jg mungkin satu-dua kali dipukul rebah, tetapi selalu akan bangkit kembali dan bangkit lagi kembali, dengan selalu bertambah kekuatannja ber-ganda² kali. Disamping itu, maka nasionalisme didunia Timur jang antikolonialisme dan imperialisme itu, mempunjailah banjak simpatisan² dari kalangan bangsa² progressif. Karena dua sebab itulah maka tiap-tiap tindakan subversif, tiap-tiap tindakan intervensi, tiap-tiap tindakan agressi didaerah nasionalisme Timur ini sebenarnja adalah sama dengan '''bermain api !''' Karena itulah, maka berkenaan dengan kedjadian² di Libanon dan Jordania, kita mendesak supaja tentara Amerika dan Inggeris lekas ditarik dari daerah² itu. Lekaslah tarik tentara² asing itu, karena tiap² pendudukan oleh tentara asing, dari manapun asalnja, dan dimanapun didjalankan pendudukan itu, selalu menimbulkan insiden² besar-ketjil jang tidak diharapkan. Lekaslah tarik tentara asing itu, karena djika tidak ditarik, itu berarti main dengan api. Bangsa Indonesia, jang herboren (lahir-lagi) dalam apikeramatnja nasonalisme itu, dan sedar pula bahwa ia adalah satu bagian daripada ,,dunia-baru jg berdjoang untuk lahir", — ,,the dawning new world which is struggling to be born" —, bangsa Indonesia berdiri amat simpatik terhadap pertumbuhan nasionalisme jang wadjar dimana-mana tempat. Dan djustru oleh karena nasionalisme bangsa Indonesia adalah nasionalisme Pantja Sila, maka bangsa Indonesia aktif bekerdja untuk mempertahankan perdamaian-dunia, dan aktif bekerdja untuk terselenggaranja perdamaian dunia. Seluruh hati bangsa Indonesia menggetar memohon kepada Tuhan, supaja djanganlah hendaknja disesuatu tempat dimuka bumi ini ada pertjikan api. Sebab sebahagian daripada dunia ini sebenarnja sudahlah mendjadi satu gudang mesiu jang maha besar. Sesuatu pertjikan api mungkin mengenai timbunan mesiu itu, dan akan meledaklah mesiu itu menggeledek, mengguntur-menghalilintar lebih hebat daripada seribu geledek dan seribu guntur. Sudahkah manusia didunia ini begitu matagelap, untuk meriskir seluruh ummat manusia mengalami kebinasaan total, — mengalami ,,total destruction" ? Disinilah tempatnja aku mengadjak kepada seluruh dunia untuk mengadakan ,,think" dan ,,rethink" tentang bermatjam nilai dan norma² jang terdapat disegala matjam sistim-falsafah dan teori-politik jang berada hingga kini, agar supaja sistim² falsafah dan teori-politik itu dapat sering berkembang dan bertumbuh, selaras dengan kemadjuan ilmu-pengetahuan tehnik jang sekarang ini begitu menggemparkan. Sistim² falsafah dan teori²-politik itu lahir dalam masa jang telah usang, jang pada waktu itu misalnja belum ada ilmu atom. Sistim² falsafah dan teori²-politik itu lahir dalam zamannja mesin-uap dan paling² mesin-listrik, zamannja trem-kuda dan sepur-kelutuk. Tetapi zaman kita sekarang ini adalah zamannja pesawat jet dan pesawat rocket, zamannja pesawat atom, zamannja ilmu nuclear, zamannja sendjata-sendjata hydrogen, zamannja ''guided missiles'', zamannja ''explorer'' dan sputnik, zamannja kemungkinan hubungan interplaneter dengan bulan dan bintang², — zaman, jang uap dan listrik dianggap sebagai barang usang jang pantas ditertawakan, sebagaimana kita menertawakan bedil-sundut dizamannja bren, atau menertawakan makan-sirih dizamannja lipstick. Tidak sudah datangkah saatnja kita ummat manusia ,,think'' dan ,,rethink'' sistim² filsafah dan teori²-politik jang lahirnja didalam zaman usang itu, tetapi jang masih sadja kita pakai dalam zaman atom jang penuh dengan antjaman petir dan halilintarnja peperangan atom dan antjaman malam-gelap-gelitanja ''total destruction'', — dan mentjoba menemukan sistim falsafah atau teori-politik baru jang dapat membawa kita lebih dekat kepada perdamaian dunia dan keselamatan² kesedjahteraan semua manusia jang kita tjita-tjitakan? Ini adalah kewadjiban semua bangsa, sebab sedjarah sekarang ini bukanlah lagi sedjarahnja bangsa ini atau bangsa itu, melainkan sedjarahnja seluruh '''Kemanusiaan''', oleh karena seluruh ummat manusia sekarang ini telah terikat satu sama lain dalam satu Nasib Bersama, — terikat satu. Bagi kita bangsa Indonesia, kita sama lain dalam satu ,,commonfate'', merasa berbahagia bahwa kita, dalam perdjoangan nasional kita jang telah lima puluh tahun itu, — perdjoangan nasional 50 tahun jang tempo hari djuga saja gambarkan sebagai ,,satu perdjalanan mentjari kembali Kepribadian kita sendiri'' —, telah '''menemukan''' sistim falsafah atau teori-politik jang mendjamin perdamaian dunia dan keselamatan-kesedjahteraan semua manusia itu, jaitu '''Pantja Sila''' dengan lima silanja jang telah termasjhur didalam dan luar negeri. Sekali lagi, kepada seluruh ummat manusia, kepada pemimpin² disemua negara, kepada pemikir² semua bangsa, saja andjurkan<noinclude> 18</noinclude> jpfv9qi2f63p8z909zfogzwwoafh2ge Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/199 104 103530 291557 2026-05-11T02:54:42Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Sebenarnya pengajaran normal yang bersendikan gana Tolan itu terlokeana dengan baiknya dalon Hikayet Farigah Honus ini. shafike Bffendi dan’ Paridah Hanus yang verkaoih-kasihan harus pula senespuh derbagas dugaan untuk sembuktiken banva Kedua-duanya ealing cinta cintei dan tahu pula harge iri sebagai peneluk agama Tolan yang baik+ Dialog yang berlangoung antara Shafik 2ffendi den Fariaah Hanua meng ‘ai Kebobaoan perenpuan, pelajaran porenpuan da... 291557 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" />{{rh||21|}}</noinclude>Sebenarnya pengajaran normal yang bersendikan gana Tolan itu terlokeana dengan baiknya dalon Hikayet Farigah Honus ini. shafike Bffendi dan’ Paridah Hanus yang verkaoih-kasihan harus pula senespuh derbagas dugaan untuk sembuktiken banva Kedua-duanya ealing cinta cintei dan tahu pula harge iri sebagai peneluk agama Tolan yang baik+ Dialog yang berlangoung antara Shafik 2ffendi den Fariaah Hanua meng ‘ai Kebobaoan perenpuan, pelajaran porenpuan dan moral mengikut aje- an Tolan yang progresif dengan sendirinya nelanbangkan pendirien ai- ap pengarang novel itu sendiri. Sungguhpun kedua kekasih tersebut terpakea bercerai untuk gesontera vaktu Karena Paridah Hanus dinikah- kan oleh bapanya kepada sopupunya, nanun kasih sayang Faridah Hanun terhadep Shafik Effendi tidak berkurangan, Shafik, kerene putus ase, tidak pula aenjadi seorang yang peaubuk, pesiaia tetopi senasuki ten tara dan berjuang di Sudan untuk seneaul gout dengan jalan yong shahid kali, Rupa-rupanya rusah tongga yang biou dari kasih sayang itu tidak keke lana. Suani Faridah seorang yang jahat peranyainya, penabuk dan akhirmya sereka bereerai, Faridah bertem kesbali dengan kekasihnya, Pariah yang oudah menjadi janda sasih diterina oleh Shafik aoreka hi~ dup azan bahagi Tdealisasi pongarang wlana progresif Sayed Sheikh kelihaten dekali Galan pelukioun vatak Faridoh Hanus. Jive keislanannya nesbust ta ki= rang aeaberi resliti dalam pelukican watok Faridah. Sunggunpun Paridah ‘oudah bernikah dengan sepupunya noaun hingga ia berpieah Paridah aasth gadio Logi! Hal ini eudah pasti tidak bisa diterima oleh pikiran yang rasional. Pengerang nai uengganbarkan keaurnian percintaafi Forsdah Shafik itu hingga seabuat kite, pesvaca novel tersebut tidak Dé: nerisa pelukisen vatak semacan ini dalen kebidupan eehari-hari. Disini jelos sokeli bahva Sayed Shotkh tidak selihat sebagat orang ranusia bless tetas sebagai seorang moralis yang sodar tentang tugas dan cite-citanya untuk senunjukken bahva percintean pilihan sen iri bisa hidup subur dan suci dari segala pongaruh yang kotor dan non- Tolanik. Bentuk novel kepada Sayed sheikh erupakan sebagai media une tuk deliau menyanpaiken hasrat den pikiramya dengan lebih baik dan lebih aesuacken lagi. Sobogai ulana yang progresif dan juge sebagai pengarang Sayed Sheikh 1. mongkin berasa puas dengan sonbutan masyarckat torhadap karyanya. Belion seletakkan nilai-niles dara kepada aos- Dorasa puns karona boliau bi yerakat Melayu yang rato-rata orthodok dan doguatis itu,<noinclude></noinclude> 9rvny1haspd60889qvvtcmtclyyrgjz 291585 291557 2026-05-11T03:17:49Z Humilis Kumulus 26996 /* Telah diuji baca */ 291585 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||21|}}</noinclude>Sebenarnya pengajaran normal yang bersendikan agama Islam itu terlaksana dengan baiknya dalam <u>Hikayat Faridah Hanun</u> ini. Shafik Effendi dan Faridah Hanun yang berkasih-kasihan harus pula menempuh berbagai dugaan untuk membuktikea bahwa kedua-duanya saling cinta mencintai dan tahu pula harga iri sebagai pemeluk agama Islam yang baik. Dialog yang berlangsung antara Shafik Effendi den Faridah Hanun mengenai kebebasan perempuan, pelajaran perempuan dan moral mengikut ajaran Islam yang progresif dengan sendirinya melambangkan pendirian sikap pengarang novel itu sendiri. Sungguhpun kedua kekasih tersebut terpaksa bercerai untuk sementara waktu Karena Faridah Hanun dinikahkan oleh bapanya kepada sepupunya, namun kasih sayang Faridah Hanun terhadap Shafik Effendi tidak berkurangan. Shafik, karena putus asa, tidak pula menjadi seorang yang pemabuk, pesimis tetapi memasuki tentara dan berjuang di Sudan untuk menemui maut dengan jalan yong shahid sekali. Rupa-rupanya rumah tangga yang bisu dari kasih sayang itu tidak kekal lama. Suami Faridah seorang yang jahat perangainya, pemabuk dan akhirnya mereka bercerai, Faridah bertemu kembali dengan kekasihnya, Faridah yang sudah menjadi janda masih diterima oleh Shafik mereka hidup aman bahagia. Idealisasi pengarang ulama progresif Sayed Sheikh kelihatan sekali dalam pelukisun watak Faridah Hanun. Jiwa keislamannya membuat ia kurang memberi realiti dalam pelukisan watak Faridah. Sungguhpun Faridah sudah bernikah dengan sepupunya namun hingga ia berpisah Faridah masih gadis lagi! Hal ini sudah pasti tidak bisa diterima oleh pikiran yang rasional. Pengarang mahu menggambarkan kemurnian percintaan Faridah Shafik itu hingga membuat kita, pembaca novel tersebut tidak bisa menerima pelukisan watak semacam ini dalam kehidupan sehari-hari. Disini jelas sekali bahwa Sayed Sheikh tidak selihat sebagai orang manusia biasa tetapi sebagai seorang moralis yang sedar tentang tugas dan cita-citanya untuk menunjukkan bahva percintaan pilihan sendiri bisa hidup subur dan suci dari segala pengaruh yang kotor dan non-Islamik. Bentuk novel kepada Sayed sheikh merupakan sebagai media untuk beliau menyampaikan hasrat den pikirannya dengan lebih baik dan lebih memuaskan lagi. Sebagai ulama yang progresif dan juga sebagai pengarang Sayed Sheikh mungkin berasa puas dengan sonbutan masyarakat terhadap karyanya. Beliau meletakkan nilai-nilai baru kepada masyarakat Melayu yang rata-rata orthodok dan dogmatis itu,<noinclude></noinclude> ngicvkxy1zxyj3rotcsv57141ugkuoj 291586 291585 2026-05-11T03:18:11Z Humilis Kumulus 26996 291586 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||21|}}</noinclude>Sebenarnya pengajaran normal yang bersendikan agama Islam itu terlaksana dengan baiknya dalam <u>Hikayat Faridah Hanun</u> ini. Shafik Effendi dan Faridah Hanun yang berkasih-kasihan harus pula menempuh berbagai dugaan untuk membuktikea bahwa kedua-duanya saling cinta mencintai dan tahu pula harga iri sebagai pemeluk agama Islam yang baik. Dialog yang berlangsung antara Shafik Effendi den Faridah Hanun mengenai kebebasan perempuan, pelajaran perempuan dan moral mengikut ajaran Islam yang progresif dengan sendirinya melambangkan pendirian sikap pengarang novel itu sendiri. Sungguhpun kedua kekasih tersebut terpaksa bercerai untuk sementara waktu Karena Faridah Hanun dinikahkan oleh bapanya kepada sepupunya, namun kasih sayang Faridah Hanun terhadap Shafik Effendi tidak berkurangan. Shafik, karena putus asa, tidak pula menjadi seorang yang pemabuk, pesimis tetapi memasuki tentara dan berjuang di Sudan untuk menemui maut dengan jalan yang shahid sekali. Rupa-rupanya rumah tangga yang bisu dari kasih sayang itu tidak kekal lama. Suami Faridah seorang yang jahat perangainya, pemabuk dan akhirnya mereka bercerai, Faridah bertemu kembali dengan kekasihnya, Faridah yang sudah menjadi janda masih diterima oleh Shafik mereka hidup aman bahagia. Idealisasi pengarang ulama progresif Sayed Sheikh kelihatan sekali dalam pelukisun watak Faridah Hanun. Jiwa keislamannya membuat ia kurang memberi realiti dalam pelukisan watak Faridah. Sungguhpun Faridah sudah bernikah dengan sepupunya namun hingga ia berpisah Faridah masih gadis lagi! Hal ini sudah pasti tidak bisa diterima oleh pikiran yang rasional. Pengarang mahu menggambarkan kemurnian percintaan Faridah Shafik itu hingga membuat kita, pembaca novel tersebut tidak bisa menerima pelukisan watak semacam ini dalam kehidupan sehari-hari. Disini jelas sekali bahwa Sayed Sheikh tidak selihat sebagai orang manusia biasa tetapi sebagai seorang moralis yang sedar tentang tugas dan cita-citanya untuk menunjukkan bahva percintaan pilihan sendiri bisa hidup subur dan suci dari segala pengaruh yang kotor dan non-Islamik. Bentuk novel kepada Sayed sheikh merupakan sebagai media untuk beliau menyampaikan hasrat den pikirannya dengan lebih baik dan lebih memuaskan lagi. Sebagai ulama yang progresif dan juga sebagai pengarang Sayed Sheikh mungkin berasa puas dengan sonbutan masyarakat terhadap karyanya. Beliau meletakkan nilai-nilai baru kepada masyarakat Melayu yang rata-rata orthodok dan dogmatis itu,<noinclude></noinclude> 472tmwmj261q2k59kk91ufxaqijwggv Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/200 104 103531 291558 2026-05-11T02:56:02Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Zaman Sayed Sheikh adalan zaman penyeresapan ide-ide baru yang progresif dalam Islam yang Cigiatkan oleh ulama-uluma terkenal seperti Mohammad Abduh, Jamaluddin Al-Afgnani hingga sepakan itu bertapak di Indonesia melalui :luhammadian dan disena melalui kegiatan Sayed Sheikh, Sheikh Tahir Jaluluddin dan beberapa ulama lain yang BewiKak dengan Sayed Sheikh. Pergeseran antara nilai-nilai lama dengan nilai-nilai ba- ru dalam Islam menjadi satu... 291558 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" />{{rh||22|}}</noinclude>Zaman Sayed Sheikh adalan zaman penyeresapan ide-ide baru yang progresif dalam Islam yang Cigiatkan oleh ulama-uluma terkenal seperti Mohammad Abduh, Jamaluddin Al-Afgnani hingga sepakan itu bertapak di Indonesia melalui :luhammadian dan disena melalui kegiatan Sayed Sheikh, Sheikh Tahir Jaluluddin dan beberapa ulama lain yang BewiKak dengan Sayed Sheikh. Pergeseran antara nilai-nilai lama dengan nilai-nilai ba- ru dalam Islam menjadi satu aliran yang terkemuka dalum pembicaraan, tulisan serta polimik dimasa itu. Diwaktu ini dapat dikatakan bahwa pengarang-pergarang yang timbul kemuka adilah pengarang-pengarang yang membawa persoalan-persoalan dalam keagamasn. Banyak penterjemah-penter- jemah yang menterjemahkan karya-karya dari Timur Yengah untuk santapan rohani masyarakat Melayu diwaktu itu. Sungguhpun dari segi tema dan teknik Sayed Sheikh) bisa dikatakan berjaya dan menyelitkan jde-idenya melal"j diales-dialor Shafik Effendi dan Faridah danun, dan tiduz:z membuat satu jeneersa dalam ciptaannya un» tuk memasuxkan bab tentang nasehat seperti 4bdullah Hunci, namun begitu, dari segi gaya bahasa Sayed »heikh .iasih melanjutkan gaya bahasa Melayu yang tradisional. Perkataan "hikayat" paga judul novel sadurannya Hikayat.Faridah Hanum menunjukkan bahwa beliau masih belum dapat men- Cari satu perkataan yang sesuai untuk memberi nama pada ciptasasteranya, ataupun masih menganggap perkataan 'hikayat!' itu sebagai 'cerita' se- perti Galam pengertian yang I-zimnya dibuat orang seperti Hikayat Si Miskin, Hikayat Abdullah dan sebagainya. Syair-syaix didalam ciptasasteranya masih menunjukkan Sayed Sheikh seorang tradisionalis daian gaya bahasa disamping itu memasukkan Der kataan-perkataan Arab seperti 'garwa' untuk 'kcpi!' uan sevagainya yang sangat populer penggunaan perxataan tersebut sebelur perang dahulu. Berbeda dengan unci Abdullah yang tidak punya satu contoh terten- tu dalam menulis Hika/at Abdullah atau pun Hikayat Pelayaran Abdullah, Sayed Sheikh punya contoh yang banyak dari karya-karya dalam bahasa Arab. Justru itu timbul bentuk baru dalam kesusasteraan Melayu moderen, yaitu novel, Tapi seperti Abdullah beliau juga tidak dapat menggunakan gaya lebih baru dari gara bahasa yang telah scdia terkenal diwaktu masing- masing karena mereka atdalahn p-rintis dalan bentuk dan tema mereka ma- sing-masing. Justru itu tradisi lama dalam gaya bahasa itu dilanjutkan lagi oleh Sayed Skeikh Al-iadi. | | Sejak wafat Abdullah Ten adB tahun 1854 kesusasteraan Melayu baru melihat satu bentuk sastera yang baru setelah 71 tahun berlalu, bila Sayed Sheikh menerbitkan novel sasirannya dalam tahun 1925.<noinclude></noinclude> 00qy95461a5flljq3dphtliunmk9z3g 291609 291558 2026-05-11T04:05:09Z Humilis Kumulus 26996 /* Telah diuji baca */ 291609 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||22|}}</noinclude>Zaman Sayed Sheikh adalan zaman penyeresapan ide-ide baru yang progresif dalam Islam yang digiatkan oleh ulama-ulama terkenal seperti Mohammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani hingga gerakan itu bertapak di Indonesia melalui Muhammadiah dan disana melalui kegiatan Sayed Sheikh, Sheikh Tahir Jaluluddin dan beberapa ulama lain yang sealiran dengan Sayed Sheikh. Pergeseran antara nilai-nilai lama dengan nilai-nilai baru dalam Islam menjadi satu aliran yang terkemuka dalum pembicaraan, tulisan serta polimik dimasa itu. Diwaktu ini dapat dikatakan bahwa pengarang-pergarang yang timbul kemuka adalah pengarang-pengarang yang membawa persoalan-persoalan dalam keagamaan. Banyak penterjemah-penterjemah yang menterjemahkan karya-karya dari Timur Tengah untuk santapan rohani masyarakat Melayu diwaktu itu. Sungguhpun dari segi tema dan teknik Sayed Sheikh bisa dikatakan berjaya dan menyelitkan ide-idenya melalui dialog-dialog Shafik Effendi dan Faridah Hanun, dan tidak membuat satu bahagian dalam ciptaannya untuk memasukkan bab tentang nasehat seperti Abdullah Hunci, namun begitu, dari segi gaya bahasa Sayed Sheikh masih melanjutkan gaya bahasa Melayu yang tradisional. Perkataan "hikayat" pada judul novel sadurannya <u>Hikayat Faridah Hanun</u> menunjukkan bahwa beliau masih belum dapat mencari satu perkataan yang sesuai untuk memberi nama pada ciptasasteranya, ataupun masih menganggap perkataan 'hikayat' itu sebagai 'cerita' seperti dalam pengertian yang lazimnya dibuat orang seperti <u>Hikayat Si Miskin</u>, <u>Hikayat Abdullah</u> dan sebagainya. Syair-syair didalam ciptasasteranya masih menunjukkan Sayed Sheikh seorang tradisionalis dalam gaya bahasa disamping itu memasukkan perkataan-perkataan Arab seperti 'gahwa' untuk 'kopi' dan sebagainya yang sangat populer penggunaan perkataan tersebut sebelum perang dahulu. Berbeda dengan Hunci Abdullah yang tidak punya satu contoh tertentu dalam menulis <u>Hikayat Abdullah</u> atau pun <u>Hikayat Pelayaran Abdullah</u>, Sayed Sheikh punya contoh yang banyak dari karya-karya dalam bahasa Arab. Justru itu timbul bentuk baru dalam kesusasteraan Melayu moderen, yaitu novel. Tapi seperti Abdullah beliau juga tidak dapat menggunakan gaya lebih baru dari gaya bahasa yang telah sedia terkenal diwaktu masing-masing karena mereka adalah perintis dalam bentuk dan tema mereka masing-masing. Justru itu tradisi lama dalam gaya bahasa itu dilanjutkan lagi oleh Sayed Syeikh Al-Hadi. Sejak wafat Abdullah Hunci tahun 1854 kesusasteraan Melayu baru melihat satu bentuk sastera yang baru setelah 71 tahun berlalu, bila Sayed Sheikh menerbitkan novel sadurannya dalam tahun 1925.<noinclude></noinclude> camn6qg6c26twvztlkq9v6oigd8fxhy Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/677 104 103532 291561 2026-05-11T02:56:52Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291561 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>kan think and rethink dan merenungkan: adakah sistim² falsafah atau teori²-politik usang jg Tuan² pakai itu membawa manusia lebih dekat kepada kebahagiaan dan kesedjahteraan dan keamanan, — ataukah membawa manusia lebih dekat kepada ketidak bahagiaan, ketidak sedjahteraan, ketidak amanan, ketidak selamatan? Djikalau benar analisa saja bahwa dunia-manusia sekarang ini hidup dalam suasana takut jang terus-menerus, djikalau benar apa jang saja katakan di Amerika tempo hari bahwa ,,mankind now lives in constant fear", — maka datanglah saatnja sekarang ini kita mengadakan intro-speksi (melihat kedalam) setjara sungguh². Waktu belum terlambat, sebab walaupun hantu-maut sudah mendekam ditepi langit, belumlah Api membakar dan mengamuk alam semesta! Saudara²! Kita sekarang hendak memasuki tahun jang keempat belas daripada Revolusi kita. Berkat Tuhan, kita masih berdiri tegak, dan djikalau dibandingkan dengan tahun 1957, kita sekarang lebih madju. Didalam tahun 1957 banjaklah negara jang menamakan Republik kita ini ,,the sick man of South-East Asia" — orang sakit di Asia Tenggara. Untuk mengatasi itu, kita harus mengadakan tindakan² dengan mengambil keputusan² tanpa ragu-ragu. Berhubung dgn itulah saja menamakan tahun 1957 itu ,,tahun penentuan", — a year of decision. Penjakit² kita hanja dapat kita sembuhkan dengan obat² jang radikal dan djitu, jang harus kita ambil dgn keberanian dan ketetapan hati. Pada waktu menamakan 1957 itu satu tahun penentuan, maka saja berkata: ,,Saudara², tjamkan: — ini adalah tahun penentuan. Ini adalah ,,year of decision". Tenggelamkah, atau terus hidupkah? Kalau kita terus-menerus lupadiri setjara begini, saja chawatir hari-gelap akan menimpa kita. Kita sekarang harus berani. Berani mengambil keputusan. Berani meninggalkan apa jang lama, berani meninggalkan apa jang baru. Jang lama sudah njata kojak, sudah njata robek, sudah njata menghambat kemadjuan dan membangkitkan kerewelan sadja. Kita harus tidak ragu² lagi melangkahi garis jang memisahkan jang lama dari jang baru. Kita sudah sampai kepada satu titik, darimana kita tidak bisa balik kembali. Kita sudah sampai kepada ..point of no return". hanja tinggal satu pilihan lagi : mundur ?, mandek ?, atau madju ? Mundur — hantjur ! Mandek — amblek ! Maka hajo kita madju, hajo kita tinggalkan apa jang lama, memasuki apa jang baru !" Demikian kukatakan setahun jang lalu. Alhamdulillah, dibeberapa lapangan kita telah berani mengambil keputusan². Sikap ,,tak tahu apa jang harus diperbuat" sudah mulai kita tinggalkan. Dan ternjata keputusan² jg kita ambil itu adalah keputusan jang tepat, jang disambut baik oleh kalangan Rakjat. Rakjat kita memang ingin madju setjara serentak. Kesadarannja ber-Negara, kesadarannja tentang demokrasi terpimpin, kesadarannja mengidamkan demokrasi ekonomi, kesadarannja mengidamkan Dunia Baru, nasional dan internasional, sudah makin mendalam dan sudah begitu mendalam, hingga kemadjuan dalam keempat lapangan ini harus ditumbuhkan dan dilajani setjara serentak. Para pemimpin harus menjadari hal ini sedalam-dalamnja, kalau mereka tidak mau digiling-digilas oleh mesin-gilasnja massa. Rakjat sekarang ini sudah lebih sadar. Sebab, oleh karena kita berani bersikap tepat dan tegas, maka problematik kita sekarang ini lebih ..gekristalliseerd", lebih njata dan terang garis-garisnja, lebih ..gamblang tjeto welo-welo", tidak lagi terdjalin², tidak lagi remeng², tidak lagi tak terang mana jang putih mana jang hitam, tidak lagi tak terang siapa kawan siapa lawan tidak lagi tak terang siapa jang setia dan siapa penghianat, tidak lagi mengandung teka-teki bagi Rakjat. Rakjat 1958 kini telah lebih mengerti siapa pemimpin sedjati, dan siapa pemimpin anteknja asing. Rakjat telah lebih mengerti siapa pemimpin pengabdi Rakjat dan siapa pemimpin gadungan. Djikalau ada sesuatu hal jang kurang menjenangkan, maka Rakjat kini lebih mudah dapat mem-beda²kan, mana jang disebabkan oleh kepalsuan atau ketololan pemimpin, dan mana jg memang inhaerent dengan djalannja sesuatu revolusi atau inhaerent dengan pertumbuhan sesuatu Negara jang masih muda. Dengan demikian maka Rakjat pun lantas dapat memilih, mana jang harus ditjontoh dari luar-negeri, mana jang harus diselesaikan dengan '''formule Indonesia''' sendiri. Ja, saja kata tahun 1958 adalah tahun jang lebih madju! '''Tjobaan² ditahun jang lalu malah boleh dianggap rachmatnja Tuhan!''' Dalam tahun 1957 Indonesia dinamakan „the sick man of South-East Asia”, ditjemooh orang diluar negeri, di-edjek dan ditertawakan kanan-kiri. Dan memang kita diwaktu itu sakit. Sekarang kita telah mengatasi '''krisisnja''' penjakit itu, dan kita sekarang mulai dihargai orang didunia luar. Kalau kita terus berani bersikap begini, maka penjakitnja pun nanti akan dapat diatasi samasekali. Dan bolehlah kita nanti memandang lagi bintang² dilangit! 1957 Mungkin orang luar menamakan tahun itu „the year of the sick man”, — tahunnja si orang sakit. Saja namakan tahun 1957 itu „the year of decision”. Nama apakah jang harus saja berikan sekarang kepada tahun 1958 ini? Tahun 1958! Dalam tahun 1957 kita menderita sebuah bisul besar di kita punja tubuh, sebuah bisul kanker jang „menteng-menteng”, bisul kanker djahat-maha-djahat jang berisi bermatjam-matjam virus jg amat djahat, jang hendak meratjuni seluruh tubuhnja bangsa dan Negara, jaitu virusnja kepetualangan, virusnja penghianatan, virusnja mempermainkan pusat, virusnja sinisme, virusnja libe-<noinclude> 19</noinclude> 6tqk0vhuthhqrnk62ovxdsd3pmjtt68 291576 291561 2026-05-11T03:14:57Z Link PB 26772 291576 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>kan think and rethink dan merenungkan: adakah sistim² falsafah atau teori²-politik usang jg Tuan² pakai itu membawa manusia lebih dekat kepada kebahagiaan dan kesedjahteraan dan keamanan, — ataukah membawa manusia lebih dekat kepada ketidak bahagiaan, ketidak sedjahteraan, ketidak amanan, ketidak selamatan? Djikalau benar analisa saja bahwa dunia-manusia sekarang ini hidup dalam suasana takut jang terus-menerus, djikalau benar apa jang saja katakan di Amerika tempo hari bahwa ,,mankind now lives in constant fear", — maka datanglah saatnja sekarang ini kita mengadakan intro-speksi (melihat kedalam) setjara sungguh². Waktu belum terlambat, sebab walaupun hantu-maut sudah mendekam ditepi langit, belumlah Api membakar dan mengamuk alam semesta! Saudara²! Kita sekarang hendak memasuki tahun jang keempat belas daripada Revolusi kita. Berkat Tuhan, kita masih berdiri tegak, dan djikalau dibandingkan dengan tahun 1957, kita sekarang lebih madju. Didalam tahun 1957 banjaklah negara jang menamakan Republik kita ini ,,the sick man of South-East Asia" — orang sakit di Asia Tenggara. Untuk mengatasi itu, kita harus mengadakan tindakan² dengan mengambil keputusan² tanpa ragu-ragu. Berhubung dgn itulah saja menamakan tahun 1957 itu ,,tahun penentuan", — a year of decision. Penjakit² kita hanja dapat kita sembuhkan dengan obat² jang radikal dan djitu, jang harus kita ambil dgn keberanian dan ketetapan hati. Pada waktu menamakan 1957 itu satu tahun penentuan, maka saja berkata: ,,Saudara², tjamkan: — ini adalah tahun penentuan. Ini adalah ,,year of decision". Tenggelamkah, atau terus hidupkah? Kalau kita terus-menerus lupadiri setjara begini, saja chawatir hari-gelap akan menimpa kita. Kita sekarang harus berani. Berani mengambil keputusan. Berani meninggalkan apa jang lama, berani meninggalkan apa jang baru. Jang lama sudah njata kojak, sudah njata robek, sudah njata menghambat kemadjuan dan membangkitkan kerewelan sadja. Kita harus tidak ragu² lagi melangkahi garis jang memisahkan jang lama dari jang baru. Kita sudah sampai kepada satu titik, darimana kita tidak bisa balik kembali. Kita sudah sampai kepada ..point of no return". hanja tinggal satu pilihan lagi : mundur ?, mandek ?, atau madju ? Mundur — hantjur ! Mandek — amblek ! Maka hajo kita madju, hajo kita tinggalkan apa jang lama, memasuki apa jang baru !" Demikian kukatakan setahun jang lalu. Alhamdulillah, dibeberapa lapangan kita telah berani mengambil keputusan². Sikap ,,tak tahu apa jang harus diperbuat" sudah mulai kita tinggalkan. Dan ternjata keputusan² jg kita ambil itu adalah keputusan jang tepat, jang disambut baik oleh kalangan Rakjat. Rakjat kita memang ingin madju setjara serentak. Kesadarannja ber-Negara, kesadarannja tentang demokrasi terpimpin, kesadarannja mengidamkan demokrasi ekonomi, kesadarannja mengidamkan Dunia Baru, nasional dan internasional, sudah makin mendalam dan sudah begitu mendalam, hingga kemadjuan dalam keempat lapangan ini harus ditumbuhkan dan dilajani setjara serentak. Para pemimpin harus menjadari hal ini sedalam-dalamnja, kalau mereka tidak mau digiling-digilas oleh mesin-gilasnja massa. Rakjat sekarang ini sudah lebih sadar. Sebab, oleh karena kita berani bersikap tepat dan tegas, maka problematik kita sekarang ini lebih ..gekristalliseerd", lebih njata dan terang garis-garisnja, lebih ..gamblang tjeto welo-welo", tidak lagi terdjalin², tidak lagi remeng², tidak lagi tak terang mana jang putih mana jang hitam, tidak lagi tak terang siapa kawan siapa lawan tidak lagi tak terang siapa jang setia dan siapa penghianat, tidak lagi mengandung teka-teki bagi Rakjat. Rakjat 1958 kini telah lebih mengerti siapa pemimpin sedjati, dan siapa pemimpin anteknja asing. Rakjat telah lebih mengerti siapa pemimpin pengabdi Rakjat dan siapa pemimpin gadungan. Djikalau ada sesuatu hal jang kurang menjenangkan, maka Rakjat kini lebih mudah dapat mem-beda²kan, mana jang disebabkan oleh kepalsuan atau ketololan pemimpin, dan mana jg memang inhaerent dengan djalannja sesuatu revolusi atau inhaerent dengan pertumbuhan sesuatu Negara jang masih muda. Dengan demikian maka Rakjat pun lantas dapat memilih, mana jang harus ditjontoh dari luar-negeri, mana jang harus diselesaikan dengan '''formule Indonesia''' sendiri. Ja, saja kata tahun 1958 adalah tahun jang lebih madju! '''Tjobaan² ditahun jang lalu malah boleh dianggap rachmatnja Tuhan!''' Dalam tahun 1957 Indonesia dinamakan „the sick man of South-East Asia”, ditjemooh orang diluar negeri, di-edjek dan ditertawakan kanan-kiri. Dan memang kita diwaktu itu sakit. Sekarang kita telah mengatasi '''krisisnja''' penjakit itu, dan kita sekarang mulai dihargai orang didunia luar. Kalau kita terus berani bersikap begini, maka penjakitnja pun nanti akan dapat diatasi samasekali. Dan bolehlah kita nanti memandang lagi bintang² dilangit! 1957 Mungkin orang luar menamakan tahun itu „the year of the sick man”, — tahunnja si orang sakit. Saja namakan tahun 1957 itu „the year of decision”. Nama apakah jang harus saja berikan sekarang kepada tahun 1958 ini? Tahun 1958! Dalam tahun 1957 kita menderita sebuah bisul besar di kita punja tubuh, sebuah bisul kanker jang „menteng-menteng”, bisul kanker djahat-maha-djahat jang berisi bermatjam-matjam virus jg amat djahat, jang hendak meratjuni seluruh tubuhnja bangsa dan Negara, jaitu virusnja kepetualangan, virusnja penghianatan, virusnja mempermainkan pusat, virusnja sinisme, virusnja libe-<noinclude> 19</noinclude> rbps6cm1bhb63qtwes55ee7ibmpvgzk Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/678 104 103533 291563 2026-05-11T02:59:59Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291563 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>ralisme politik dan liberalisme mental, virusnja kesukuan jang di-runtjing²kan, virusnja egosentrisme, virusnja warlordism, virusnja ultramulti-partysystem, virusnja dagang-sapi, virusnja keliang djiwa djuga dikalangan pemuda, virusnja subversi kasarkasaran dan halus-halusan, virusnja diplomasi jang hendak membuat kita satu bangsa bebek jang kehilangan sama sekali Kepribadian. Awas!, kataku pada waktu itu, bertindaklah tepat dan tjepat, djanganlah ragu-ragu, djangan tele-tele seperti orang hilang-akal, — kita akan binasa nanti sama sekali kalau keadaan kita biarkan terus begini matjam! Alhamdulillah, kita kemudian sadar! Pada permulaan tahun 1958 bisul kanker itu ndjebrot, kita adakan operasi dengan tidak ragu-ragu dan tegas, dan sekali lagi Alhamdulillah, krisis sekarang sudah kita atasi. Dan kita harus bertindak terus, dengan tidak berbalik ditengah djalan, bertindak terus pula dilapangan "retooling for the future". — retooling materiil-mental di segala lapangan —, sungguh kita tidak boleh balik lagi kembali ke sikap beku dan ragu-ragu seperti dulu, dan Insja Allah, hari depan tidak akan gelap. Nama apa jang harus saja berikan kepada tahun 1958? **What is in a name!** Sedjarah adalah satu rantai pandjang, jang tidak saban tahun mengenal satu datum untuk memarkir: disebelah sana adalah hari besok". Dan tugas kita, tidak pula bisa berkata: "sampai hari ini tugas kita sematjam ini, mulai besok pagi tugas kita sematjam itu". Tahun 1958 adalah kelandjutan daripada tugas tahun 1957. Tjobalah dengarkan sekali lagi sebagian daripada amanat saja tahun jang lalu: "Kalau kita terus-menerus lupa-diri setjara begini, saja chawatir, hari-gelap akan menimpa kita. Kita sekarang harus heran ............... Berani meninggalkan apa jang lama, berani memasuki apa jang baru ............... Kita harus tidak ragu-ragu lagi melangkahi garisseluh jang memisahkan jang lama dari jang baru ........... Kita sudah sampai kepada ,,point of no return'' ........... Hajo kita tinggalkan apa jang lama, memasuki apa jang baru!'' Tiap² kalimat, tiap² kata dari pada amanat 1957 itu '''masih berlaku penuh''' bagi hari sekarang. Sekarangpun sadja masih berkata: ,,Djangan ragu-ragu! Tinggalkanlah apa jang lama, masukilah apa jang baru!'' Kalau tahun 1957 sadja namakan ,,tahun penentuan'', ,,tahun keputusan'', ,,a year of decision'', maka sebenarnja tahun 1958 pun masih ,,tahun penentuan'', ,,tahun keputusan'', ,,a year of decision'' 1957 hanjalah '''salah satu sadja''' dari pada beberapa tahun jang menentukan. 1957 Hanjalah '''salah satu sadja''' daripada beberapa ,,year of decision''. Sebab pertumbuhan dan perpindahan itu memang bukan satu proses '''jang hanja satu tahun!''' Tiap² bangsa dalam masa pertumbuhan, putihkah kulitnja atau kuningkah kulitnja, hitamkah warnanja atau sawo matangkah warnanja, dalam masa pertumbuhannja nistjaja mengalami waktu-waktu jang menentukan, — mengalami ,,decisive periode'', — jang menentukan kemadjuan atau '''kematjetan, kedjajaan atau breakdown sama sekali.''' Dalam keadaan demikian, maka fikiran² beku jang ngamplok sadja kepada segala matjam kebiasaan², fikiran² beku jang bersifat ,,conventional thought'', hanja akan menimbulkan keraguan belaka. Dan tiap² keraguan tak mungkin dapat mengatasi keadaan² jg genting. Tiap² keraguan malahan membuat keadaan genting mendjadi makin genting. ,,Wise in judgement'', ,,original in thought, resolute in action'' — bidjaksana dalam menimbang, orisinil dalam fikiran, tegas dan tangkas dalam tindakan —, itulah kombinasi jang dapat mengatasi pergolakan dalam pertumbuhan nasional. Karena itulah maka saja mengandjurkan adanja djiwa jang tangkas dan dinamis. '''Djiwa jang tidak takut kepada perubahan.''' Djiwa jang berani mengadakan perobahan kalau perlu. Djiwa jang berani think and rethink, berani shape and reshape, berani make and remake. Djiwa jang berani terdjun kedalam lautan bergelora, untuk menjelam mentjari mutiara! Djanganlah takut kepada "persoalan". Kalau tiap-tiap bangsa jg sedang dalam pertumbuhan dan perpindahan, maka tiap-tiap kemadjuan akan menimbulkan persoalan. Siapa takut persoalan, ia sebenarnja takut kepada kemadjuan. Siapa takut persoalan, ia sebenarnja beku, ia sebenarnja konservatif, ia sebenarnja takut initiatif. Djangan sekali-kali kita berbalik lagi! Djangan sekali-kali kita ragu-ragu! Djangan sekali-kali kita tidak mempunjai keberanian meneruskan usaha kita membuang apa jang lama, membongkar apa jang bobrok, menjudet-menjutji-bersih sisa-sisa kanker jang bervirus matjam-matjam jang meratjuni tubuh kita itu, menantjepkan dalam tubuh kita djarum-djarum injeksi jang perlu, — menggodok-menempa-menggembleng-kembali tubuh kita itu dengan segala sendjata jang diperlukan, laksana penggodogan-penggemblengan tubuhnja Bambang Tutuka dengan segala matjam sendjata dewata dalam kawah Tjandradimuka, sehingga achirnja ia keluar dari kawah itu sebagai Gatutkatja jang Maha-Sakti. Konkritnja, punjailah keberanian — djanganlah ragu-ragu — untuk mengadakan pemikiran baru dan tindakan-tindakan baru disegala lapangan sebagai usaha "retooling for the future" untuk memenuhi tuntutan penjongsongan kepada tantangan-tantangan poloitik sosial dan nasional-internasional sebagai jang saja terangkan dimuka tadi — penjongsongan kepada tuntutan "double faced revolution" jang kini telah mendjadi satu challenge maha dahsjat jang makin njata. Dus, nama apa buat tahun 1958? Sekali lagi djawab saja: What is in a name? — apa arti sesuatu nama! Tetapi djikalau toh saja harus beri nama pada<noinclude> 20</noinclude> 5pf7exi7c55grl8udupsbpr544gnoxv 291575 291563 2026-05-11T03:14:45Z Link PB 26772 291575 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>ralisme politik dan liberalisme mental, virusnja kesukuan jang di-runtjing²kan, virusnja egosentrisme, virusnja warlordism, virusnja ultramulti-partysystem, virusnja dagang-sapi, virusnja keliang djiwa djuga dikalangan pemuda, virusnja subversi kasarkasaran dan halus-halusan, virusnja diplomasi jang hendak membuat kita satu bangsa bebek jang kehilangan sama sekali Kepribadian. Awas!, kataku pada waktu itu, bertindaklah tepat dan tjepat, djanganlah ragu-ragu, djangan tele-tele seperti orang hilang-akal, — kita akan binasa nanti sama sekali kalau keadaan kita biarkan terus begini matjam! Alhamdulillah, kita kemudian sadar! Pada permulaan tahun 1958 bisul kanker itu ndjebrot, kita adakan operasi dengan tidak ragu-ragu dan tegas, dan sekali lagi Alhamdulillah, krisis sekarang sudah kita atasi. Dan kita harus bertindak terus, dengan tidak berbalik ditengah djalan, bertindak terus pula dilapangan "retooling for the future". — retooling materiil-mental di segala lapangan —, sungguh kita tidak boleh balik lagi kembali ke sikap beku dan ragu-ragu seperti dulu, dan Insja Allah, hari depan tidak akan gelap. Nama apa jang harus saja berikan kepada tahun 1958? **What is in a name!** Sedjarah adalah satu rantai pandjang, jang tidak saban tahun mengenal satu datum untuk memarkir: disebelah sana adalah hari besok". Dan tugas kita, tidak pula bisa berkata: "sampai hari ini tugas kita sematjam ini, mulai besok pagi tugas kita sematjam itu". Tahun 1958 adalah kelandjutan daripada tugas tahun 1957. Tjobalah dengarkan sekali lagi sebagian daripada amanat saja tahun jang lalu: "Kalau kita terus-menerus lupa-diri setjara begini, saja chawatir, hari-gelap akan menimpa kita. Kita sekarang harus heran ............... Berani meninggalkan apa jang lama, berani memasuki apa jang baru ............... Kita harus tidak ragu-ragu lagi melangkahi garisseluh jang memisahkan jang lama dari jang baru ........... Kita sudah sampai kepada ,,point of no return'' ........... Hajo kita tinggalkan apa jang lama, memasuki apa jang baru!'' Tiap² kalimat, tiap² kata dari pada amanat 1957 itu '''masih berlaku penuh''' bagi hari sekarang. Sekarangpun sadja masih berkata: ,,Djangan ragu-ragu! Tinggalkanlah apa jang lama, masukilah apa jang baru!'' Kalau tahun 1957 sadja namakan ,,tahun penentuan'', ,,tahun keputusan'', ,,a year of decision'', maka sebenarnja tahun 1958 pun masih ,,tahun penentuan'', ,,tahun keputusan'', ,,a year of decision'' 1957 hanjalah '''salah satu sadja''' dari pada beberapa tahun jang menentukan. 1957 Hanjalah '''salah satu sadja''' daripada beberapa ,,year of decision''. Sebab pertumbuhan dan perpindahan itu memang bukan satu proses '''jang hanja satu tahun!''' Tiap² bangsa dalam masa pertumbuhan, putihkah kulitnja atau kuningkah kulitnja, hitamkah warnanja atau sawo matangkah warnanja, dalam masa pertumbuhannja nistjaja mengalami waktu-waktu jang menentukan, — mengalami ,,decisive periode'', — jang menentukan kemadjuan atau '''kematjetan, kedjajaan atau breakdown sama sekali.''' Dalam keadaan demikian, maka fikiran² beku jang ngamplok sadja kepada segala matjam kebiasaan², fikiran² beku jang bersifat ,,conventional thought'', hanja akan menimbulkan keraguan belaka. Dan tiap² keraguan tak mungkin dapat mengatasi keadaan² jg genting. Tiap² keraguan malahan membuat keadaan genting mendjadi makin genting. ,,Wise in judgement'', ,,original in thought, resolute in action'' — bidjaksana dalam menimbang, orisinil dalam fikiran, tegas dan tangkas dalam tindakan —, itulah kombinasi jang dapat mengatasi pergolakan dalam pertumbuhan nasional. Karena itulah maka saja mengandjurkan adanja djiwa jang tangkas dan dinamis. '''Djiwa jang tidak takut kepada perubahan.''' Djiwa jang berani mengadakan perobahan kalau perlu. Djiwa jang berani think and rethink, berani shape and reshape, berani make and remake. Djiwa jang berani terdjun kedalam lautan bergelora, untuk menjelam mentjari mutiara! Djanganlah takut kepada "persoalan". Kalau tiap-tiap bangsa jg sedang dalam pertumbuhan dan perpindahan, maka tiap-tiap kemadjuan akan menimbulkan persoalan. Siapa takut persoalan, ia sebenarnja takut kepada kemadjuan. Siapa takut persoalan, ia sebenarnja beku, ia sebenarnja konservatif, ia sebenarnja takut initiatif. Djangan sekali-kali kita berbalik lagi! Djangan sekali-kali kita ragu-ragu! Djangan sekali-kali kita tidak mempunjai keberanian meneruskan usaha kita membuang apa jang lama, membongkar apa jang bobrok, menjudet-menjutji-bersih sisa-sisa kanker jang bervirus matjam-matjam jang meratjuni tubuh kita itu, menantjepkan dalam tubuh kita djarum-djarum injeksi jang perlu, — menggodok-menempa-menggembleng-kembali tubuh kita itu dengan segala sendjata jang diperlukan, laksana penggodogan-penggemblengan tubuhnja Bambang Tutuka dengan segala matjam sendjata dewata dalam kawah Tjandradimuka, sehingga achirnja ia keluar dari kawah itu sebagai Gatutkatja jang Maha-Sakti. Konkritnja, punjailah keberanian — djanganlah ragu-ragu — untuk mengadakan pemikiran baru dan tindakan-tindakan baru disegala lapangan sebagai usaha "retooling for the future" untuk memenuhi tuntutan penjongsongan kepada tantangan-tantangan poloitik sosial dan nasional-internasional sebagai jang saja terangkan dimuka tadi — penjongsongan kepada tuntutan "double faced revolution" jang kini telah mendjadi satu challenge maha dahsjat jang makin njata. Dus, nama apa buat tahun 1958? Sekali lagi djawab saja: What is in a name? — apa arti sesuatu nama! Tetapi djikalau toh saja harus beri nama pada<noinclude> 20</noinclude> 8tigomiol6qiqklg9qs2eaiahx0rvkv Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/679 104 103534 291564 2026-05-11T03:02:31Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291564 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>tahun 1958 itu, baiklah saja beri nama „year of challenge” kepadanja: tahun tantangan, tahun mendjawab tantangan! Negara R.I. diselamatkan dgn djalan memenuhi '''many-faced revolution.''' Sebab, memang 1958 adalah penuh dengan tantangan: tantangannja pemberontakan PRRI-Permesta, tantangannja DI-TII jang masih sadja belum tertumpas, tantangannja „aksi-djalan-lain” Irian Barat, tantangannja kemungkinan perang-dunia III karena situasi Timur-Tengah, tantangannja subversi-intervensi-agressi asing, dan terutama sekali intern: tantangannja menghindarkan bangkrutnja Negara jang hanja bisa kita selamatkan dengan memenuhi „double-faced revolution” atau „many-faced revolution” jang memang makin hari makin dituntut oleh Rakjat, dan jang hanja dapat diselenggarakan dengan pembangunan menurut plannja, talak tiga kepada liberalisme, melaksanakan demokrasi terpimpin, penjederhanaan kepartaian, kelandjutan likwidasi KMB setjara konsekwen, dan lain sebagainja. Dalam suasana tantangan² itu kita tidak boleh setengah-hati. Kita harus '''resolut.''' Kita harus berani, djuga berani sedikit „main djadi”. Dalam istilah Vivekananda: berani terdjun kedalam samudera-bergelora jang kita tidak kenal dasarnja, dalam istilah seorang pemimpin-besar lain: berani „face life in a rather adventurous way”. Dan kita harus menggembleng kembali Persatuan. Dalam masa tantangan² seperti sekarang ini, lebih daripada di-masa² jg lampau, kita harus menggembleng kembali Persatuan. Saja andjurkan persatuan ini berkali-kali dan berpuluh-puluh kali meski saja tahu bahwa ada sadja orang² dikalangan kita jang mengedjek, dan mengatakan bahwa persatuan adalah „hobbynja Soekarno”. biar saja di-edjek, — kulit saja ini toh sudah „kapalan” karena di-edjek. Tentang nasionalisme Indonesia dan Asia saja di-edjek, tentang aksi Irian Barat saja di-edjek, tentang Persatuan saja di-edjek. Biar mereka mengedjek sampai mulutnja meniran! Persatuan bukan „hobby Soekarno”. '''Saja gandrung Persatuan, oleh karena Persatuan adalah tuntutan-tuntutan sedjarah.''' Pertentangan tetek-bengek antara kita dengan kita, terutama sekali antara sesama pendukung Pemerintah, hendaknja ditundukkan kepada kepentingan jang besar, jaitu menjelamatkan Republik. Nah, saudara²! Tinggal beberapa detik lagi, maka nanti mulailah tahun ke-empat belas daripada kita punja Revolusi. Mari kita berdjalan terus dgn tekad-baru dan pandangan² baru didalam kita punja dada, berdjalan terus, dengan mata kita diarahkan kemuka. Djangan terlalu menoleh kebelakang! Ja, dizaman purbakala memang kita ini sering mengalami puntjak² kedjadian jang besar, jang pantas mendjadi kita punja kebanggaan. En toh, djangan terlalu sering kita menoleh kebelakang, djangan kita terlalu „teren” kepada zaman kebesaran jang telah lampau. Menoleh kebelakang hanjalah boleh sekedar untuk menghirup inspirasi² bagi perdjoangan jang sedang berdjalan. Ada tiga puntjak-kedjadian di sedjarah gilang-gemilang. Pertama tatkala Gadjah Mada bersumpah tidak akan memakan palapa sebelum seluruh Nusantara disatupadukan dalam satu Negara. Kedua tatkala Dipanegara, disinar api kebakaran rumahnja jang dibakar oleh musuh, mengadjak mendirikan satu rumah baru jang lebih besar, jaitu Rumah Besar bagi seluruh bangsa. Ketiga tatkala kita pada 17 Agustus 1945 mengadakan Proklamasi. Ambillah '''inspirasi''' daripada puntjak²-kedjadian ini untuk berdjalan, berdjoang, membanting-tulang, bertempur dimana perlu, — tetapi djanganlah duduk enak-enak dikursi kedjantanan atau keharimauan jang telah lampau itu. Tidak ada sesuatu jang lebih berbahaja dan lebih mentjelakakan bagi sesuatu bangsa, dari duduk ngglenggem-ajem-ajem, enak-enak diatas bantal, sambil memakan warisan dari pada leluhurnja jang telah mangkat. Jang membuat sesuatu bangsa bertambah dan mendjadi besar ialah: usaha, keringat, dinamika, pembantingan-tulang, perdjoangan, aktiviteit jang kreatif, inbentif, dan vital. Bangsa jg duduk termenung, — meski leluhurnja adalah gembong²-kebesaran, dan sedjarah lampaunja adalah gilang-gemilang laksana Nur dilangit, — bangsa jang demikian itu akan laju dengan sendirinja, bangsa bertumbuh dan mendjadi besar .......... dan achirnja akan mati. Kebesaran dan kebahagiaanmu tidak lagi ditangan leluhurmu jang telah mangkat, kebesaran dan kebahagiaanmu adalah didalam tanganmu sendiri, dan itupun: didalam tanganmu sendiri jang berdjoang, didalam tanganmu jang menjala-njala dengan Apinja Tjipta. Sebab hanja tangan jang demikian itulah tangan jang diberkahi Tuhan! Moga-moga Tuhan memberkahi kita! Merdeka! Terima kasih! <div style="border: 1px dotted gray; padding: 10px; width: 600px; font-family: sans-serif;"> <p style="font-size: 150%; font-weight: bold; margin-bottom: 0;">EVEREADY</p> <p style="font-size: 80%; margin-top: -5px; margin-left: 100px;">trade-mark</p> <p style="text-align: center; margin-top: 10px;">FLASHLIGHTS, BATTERIES, BULBS</p> <p style="text-align: right; margin-top: 10px;">Nasional Carbon Co (Java) Ltd Djakarta.</p> </div><noinclude> 21</noinclude> 6g3125rt672hsw9kb6m6zqlqyroad3h Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/680 104 103535 291565 2026-05-11T03:06:06Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291565 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>'''KSAD Letnan Djenderal A. H. Nasution:''' '''INDONESIA DIDJADJAH BELANDA 350 TAHUN MELALUI RENTETAN INTERVENSI.''' {{Missing image}} Dewasa ini kita merajakan hari Proklamasi. Kita rajakan dgn tekad jang diperbaharui dan diperkuat untuk membasmi segala antjaman terhadap Proklamasi itu. Kita telah dan sedang menempuh udjian jang maha-berat terhadap Proklamasi. Pemberontakan PRRI dan Permesta telah kita gagalkan dan dgn demikian untuk sementara telah kita atasi usaha intervensi asing jang mereka telah undang ke Indonesia, dengan maksud meng-Koreakan Tanah Air kita jang tertjinta. Pemberontakan PRRI ini adalah pengchianatan terhadap Proklamasi. 5 Tahun perang kemerdekaan dgn korban tak terhingga telah kita tempuh untuk mengusir kekuasaan asing dari Tanah Air. Maka tahun 1958 ini PRRI dan Permesta masih hendak memasukkan lagi kekuasaan asing melalui undangan terhadap kekuatan militer asing. Hendaknja kita insjafi bahwa intervensi adalah alat kolonialisme. Indonesia didjadjah Belanda 350 tahun via rentetan intervensi. Sedjak Belanda mendarat di Indonesia dalam abad ke-16 mulailah ia melakukan intervensi jang berturut-turut terhadap keradjaan² Indonesia, jang berachir mendjadi pendjadjahan jang sangat hina. Sekali lagi intervensi² itulah jang menimpakan pendjadjahan Belanda selama 350 tahun terhadap Tanah Air Indonesia. TNI tidak mengenal istirahat sedjak 1945. Baru sadja TNI keluar dari perang gerilja 1945–'49 maka TNI sudah harus mengatasi lagi pemberontakan² oleh sisa-sisa kolonialisme Belanda berupa APRA, Andi Azis, RMS dan djuga pemberontakan² DI jang telah dibantu oleh Belanda. Tahun jang lalu, djustru pada saat kita sedang memulai pemusatan tenaga untuk menjelesaikan DI ini setjara besar-besaran dan djustru sedang kita menglikwidasi sisa-sisa kekuasaan Belanda di Indonesia, maka mulailah pemberontakan PRRI—Permesta mengundang intervensi asing ke Indonesia. Maka kesekian kalinja TNI seluruhnja harus digerakkan dari Sumatera sampai Maluku untuk menjelamatkan Republik Proklamasi jang diantjam oleh bahadja kehantjuran, bahadja kehantjuran jang tidak kurang daripada bahadja jang dibawa oleh aggressi Belanda tahun '48–'49. Bentjana aggressi Belanda itu telah kita atasi dengan perang gerilja semesta. Dan sekali ini, tahun 1958, bentjana PRRI dan intervensi kita atasi dengan tekad dan semangat jang sama. Tidak ada jang lebih merasakan penderitaan dan pengorbanan peradjurit dan keluarga TNI selama ini selain kita sendiri, anak buah TNI. Pengorbanan dan penderitaan jang tak terhingga. Sekian banjak penderitaan di-daerah² operasi. Sekian lama terpisah dari keluarga, sekian banjak teman sedjati tjatjad. Sekian banjak teman jang gugur. Sekian banjak rakjat jang djadi korban. Sekian banjak keluarga² kita jang masih menderita dalam asrama² jang buruk dan sekian banjak jang masih menghuni gubuk² di kampung². Sesungguhnjalah penderitaan dan pengorbanan ini berlangsung terus-menerus sedjak '45. Namun seperti ditahun 1949 TNI keluar dari perang agresi Belanda sebagai pelindung Proklamasi 17 Agustus '45, maka kinipun ditahun '58 TNI keluar dari perang penghianatan PRRI—Permesta sebagai penegak Proklamasi 17 Agustus '45. Ini semua hanja bisa, berkat tinggi nilai keperadjuritan TNI dan kepatriotan rakjat Indonesia. Bangsa Indonesia dan luar negeri untuk kesekian kalinja dapat menjaksikan kesanggupan TNI untuk menjelamatkan Negara Proklamasi '45. Akan tetapi Sdr.² jth. .......... saja perlu dipihak lain mensinjalir bahaja² jang akan menodai hasil gemilang ini dari TNI, jg menodai bakti peradjurit kita jg menjabung njawa digaris depan dan jang menodai bakti keluarga jang menderita di-gubuk² atau di-asrama² sederhana digaris belakang. Saja perlu menundjuk kepada anasir² digaris belakang disementara kalangan militer dan sipil, disementara kalangan resmi dan partikelir, jang berbuat se-olah² meneruskan praktek² jang terkutuk sebagai parasit kemerdekaan, jaitu petualang² ekonomi, birokrat², koruptor², pedagang² sampai politik pengedjar mobil² dan rumah² bagus dll. sebagainja kuman² penjakit negara serta masjarakat jg telah merusak dan mengatjaukan Republik dimasa jang lalu hingga meningkat kepada bentjana PRRI dan Permesta.<noinclude> 22</noinclude> a86ej4y1lmwddwjmauia36vvosi4jtl 291566 291565 2026-05-11T03:06:36Z Link PB 26772 291566 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>'''''KSAD Letnan Djenderal A. H. Nasution:''''' '''INDONESIA DIDJADJAH BELANDA 350 TAHUN MELALUI RENTETAN INTERVENSI.''' {{Missing image}} Dewasa ini kita merajakan hari Proklamasi. Kita rajakan dgn tekad jang diperbaharui dan diperkuat untuk membasmi segala antjaman terhadap Proklamasi itu. Kita telah dan sedang menempuh udjian jang maha-berat terhadap Proklamasi. Pemberontakan PRRI dan Permesta telah kita gagalkan dan dgn demikian untuk sementara telah kita atasi usaha intervensi asing jang mereka telah undang ke Indonesia, dengan maksud meng-Koreakan Tanah Air kita jang tertjinta. Pemberontakan PRRI ini adalah pengchianatan terhadap Proklamasi. 5 Tahun perang kemerdekaan dgn korban tak terhingga telah kita tempuh untuk mengusir kekuasaan asing dari Tanah Air. Maka tahun 1958 ini PRRI dan Permesta masih hendak memasukkan lagi kekuasaan asing melalui undangan terhadap kekuatan militer asing. Hendaknja kita insjafi bahwa intervensi adalah alat kolonialisme. Indonesia didjadjah Belanda 350 tahun via rentetan intervensi. Sedjak Belanda mendarat di Indonesia dalam abad ke-16 mulailah ia melakukan intervensi jang berturut-turut terhadap keradjaan² Indonesia, jang berachir mendjadi pendjadjahan jang sangat hina. Sekali lagi intervensi² itulah jang menimpakan pendjadjahan Belanda selama 350 tahun terhadap Tanah Air Indonesia. TNI tidak mengenal istirahat sedjak 1945. Baru sadja TNI keluar dari perang gerilja 1945–'49 maka TNI sudah harus mengatasi lagi pemberontakan² oleh sisa-sisa kolonialisme Belanda berupa APRA, Andi Azis, RMS dan djuga pemberontakan² DI jang telah dibantu oleh Belanda. Tahun jang lalu, djustru pada saat kita sedang memulai pemusatan tenaga untuk menjelesaikan DI ini setjara besar-besaran dan djustru sedang kita menglikwidasi sisa-sisa kekuasaan Belanda di Indonesia, maka mulailah pemberontakan PRRI—Permesta mengundang intervensi asing ke Indonesia. Maka kesekian kalinja TNI seluruhnja harus digerakkan dari Sumatera sampai Maluku untuk menjelamatkan Republik Proklamasi jang diantjam oleh bahadja kehantjuran, bahadja kehantjuran jang tidak kurang daripada bahadja jang dibawa oleh aggressi Belanda tahun '48–'49. Bentjana aggressi Belanda itu telah kita atasi dengan perang gerilja semesta. Dan sekali ini, tahun 1958, bentjana PRRI dan intervensi kita atasi dengan tekad dan semangat jang sama. Tidak ada jang lebih merasakan penderitaan dan pengorbanan peradjurit dan keluarga TNI selama ini selain kita sendiri, anak buah TNI. Pengorbanan dan penderitaan jang tak terhingga. Sekian banjak penderitaan di-daerah² operasi. Sekian lama terpisah dari keluarga, sekian banjak teman sedjati tjatjad. Sekian banjak teman jang gugur. Sekian banjak rakjat jang djadi korban. Sekian banjak keluarga² kita jang masih menderita dalam asrama² jang buruk dan sekian banjak jang masih menghuni gubuk² di kampung². Sesungguhnjalah penderitaan dan pengorbanan ini berlangsung terus-menerus sedjak '45. Namun seperti ditahun 1949 TNI keluar dari perang agresi Belanda sebagai pelindung Proklamasi 17 Agustus '45, maka kinipun ditahun '58 TNI keluar dari perang penghianatan PRRI—Permesta sebagai penegak Proklamasi 17 Agustus '45. Ini semua hanja bisa, berkat tinggi nilai keperadjuritan TNI dan kepatriotan rakjat Indonesia. Bangsa Indonesia dan luar negeri untuk kesekian kalinja dapat menjaksikan kesanggupan TNI untuk menjelamatkan Negara Proklamasi '45. Akan tetapi Sdr.² jth. .......... saja perlu dipihak lain mensinjalir bahaja² jang akan menodai hasil gemilang ini dari TNI, jg menodai bakti peradjurit kita jg menjabung njawa digaris depan dan jang menodai bakti keluarga jang menderita di-gubuk² atau di-asrama² sederhana digaris belakang. Saja perlu menundjuk kepada anasir² digaris belakang disementara kalangan militer dan sipil, disementara kalangan resmi dan partikelir, jang berbuat se-olah² meneruskan praktek² jang terkutuk sebagai parasit kemerdekaan, jaitu petualang² ekonomi, birokrat², koruptor², pedagang² sampai politik pengedjar mobil² dan rumah² bagus dll. sebagainja kuman² penjakit negara serta masjarakat jg telah merusak dan mengatjaukan Republik dimasa jang lalu hingga meningkat kepada bentjana PRRI dan Permesta.<noinclude> 22</noinclude> 4e04pvveuhpjnhorkd0kaskj5cuxxei 291574 291566 2026-05-11T03:14:28Z Link PB 26772 291574 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>'''''KSAD Letnan Djenderal A. H. Nasution:''''' '''INDONESIA DIDJADJAH BELANDA 350 TAHUN MELALUI RENTETAN INTERVENSI.''' {{Missing image}} Dewasa ini kita merajakan hari Proklamasi. Kita rajakan dgn tekad jang diperbaharui dan diperkuat untuk membasmi segala antjaman terhadap Proklamasi itu. Kita telah dan sedang menempuh udjian jang maha-berat terhadap Proklamasi. Pemberontakan PRRI dan Permesta telah kita gagalkan dan dgn demikian untuk sementara telah kita atasi usaha intervensi asing jang mereka telah undang ke Indonesia, dengan maksud meng-Koreakan Tanah Air kita jang tertjinta. Pemberontakan PRRI ini adalah pengchianatan terhadap Proklamasi. 5 Tahun perang kemerdekaan dgn korban tak terhingga telah kita tempuh untuk mengusir kekuasaan asing dari Tanah Air. Maka tahun 1958 ini PRRI dan Permesta masih hendak memasukkan lagi kekuasaan asing melalui undangan terhadap kekuatan militer asing. Hendaknja kita insjafi bahwa intervensi adalah alat kolonialisme. Indonesia didjadjah Belanda 350 tahun via rentetan intervensi. Sedjak Belanda mendarat di Indonesia dalam abad ke-16 mulailah ia melakukan intervensi jang berturut-turut terhadap keradjaan² Indonesia, jang berachir mendjadi pendjadjahan jang sangat hina. Sekali lagi intervensi² itulah jang menimpakan pendjadjahan Belanda selama 350 tahun terhadap Tanah Air Indonesia. TNI tidak mengenal istirahat sedjak 1945. Baru sadja TNI keluar dari perang gerilja 1945–'49 maka TNI sudah harus mengatasi lagi pemberontakan² oleh sisa-sisa kolonialisme Belanda berupa APRA, Andi Azis, RMS dan djuga pemberontakan² DI jang telah dibantu oleh Belanda. Tahun jang lalu, djustru pada saat kita sedang memulai pemusatan tenaga untuk menjelesaikan DI ini setjara besar-besaran dan djustru sedang kita menglikwidasi sisa-sisa kekuasaan Belanda di Indonesia, maka mulailah pemberontakan PRRI—Permesta mengundang intervensi asing ke Indonesia. Maka kesekian kalinja TNI seluruhnja harus digerakkan dari Sumatera sampai Maluku untuk menjelamatkan Republik Proklamasi jang diantjam oleh bahadja kehantjuran, bahadja kehantjuran jang tidak kurang daripada bahadja jang dibawa oleh aggressi Belanda tahun '48–'49. Bentjana aggressi Belanda itu telah kita atasi dengan perang gerilja semesta. Dan sekali ini, tahun 1958, bentjana PRRI dan intervensi kita atasi dengan tekad dan semangat jang sama. Tidak ada jang lebih merasakan penderitaan dan pengorbanan peradjurit dan keluarga TNI selama ini selain kita sendiri, anak buah TNI. Pengorbanan dan penderitaan jang tak terhingga. Sekian banjak penderitaan di-daerah² operasi. Sekian lama terpisah dari keluarga, sekian banjak teman sedjati tjatjad. Sekian banjak teman jang gugur. Sekian banjak rakjat jang djadi korban. Sekian banjak keluarga² kita jang masih menderita dalam asrama² jang buruk dan sekian banjak jang masih menghuni gubuk² di kampung². Sesungguhnjalah penderitaan dan pengorbanan ini berlangsung terus-menerus sedjak '45. Namun seperti ditahun 1949 TNI keluar dari perang agresi Belanda sebagai pelindung Proklamasi 17 Agustus '45, maka kinipun ditahun '58 TNI keluar dari perang penghianatan PRRI—Permesta sebagai penegak Proklamasi 17 Agustus '45. Ini semua hanja bisa, berkat tinggi nilai keperadjuritan TNI dan kepatriotan rakjat Indonesia. Bangsa Indonesia dan luar negeri untuk kesekian kalinja dapat menjaksikan kesanggupan TNI untuk menjelamatkan Negara Proklamasi '45. Akan tetapi Sdr.² jth. .......... saja perlu dipihak lain mensinjalir bahaja² jang akan menodai hasil gemilang ini dari TNI, jg menodai bakti peradjurit kita jg menjabung njawa digaris depan dan jang menodai bakti keluarga jang menderita di-gubuk² atau di-asrama² sederhana digaris belakang. Saja perlu menundjuk kepada anasir² digaris belakang disementara kalangan militer dan sipil, disementara kalangan resmi dan partikelir, jang berbuat se-olah² meneruskan praktek² jang terkutuk sebagai parasit kemerdekaan, jaitu petualang² ekonomi, birokrat², koruptor², pedagang² sampai politik pengedjar mobil² dan rumah² bagus dll. sebagainja kuman² penjakit negara serta masjarakat jg telah merusak dan mengatjaukan Republik dimasa jang lalu hingga meningkat kepada bentjana PRRI dan Permesta.<noinclude> 22</noinclude> pc7dfjq75e1fs3mab5qmt6ovs98lpof Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/681 104 103536 291567 2026-05-11T03:08:54Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291567 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Adalah berdosa, kalau ada perwira dan pegawai, kalau ada pengusaha dan politikus berbuat demikian digaris belakang. Kita seluruh pendjabat dari Panglima Tertinggi sampai kepada jang paling bawah berkewadjiban menindaki atau mengoreksi terhadap anasir-anasir demikian seberapa sadja dapat langsung kita tjapai. Kita seluruh pendjabat dari paling atas kepada paling bawah berkewadjiban meneliti lagi dari kita masing-masing untuk mengoreksi diri sendiri-sendiri sedjauh mungkin. Adalah pertjuma semua pengorbanan serta penderitaan peradjurit-peradjurit dan keluarga-keluarga beserta rakjat jang tertimpa, djika berulang lagi penjakit-penjakit itu. Adalah pertjuma kemenangan-kemenangan TNI jg gemilang, kalau ini dibiarkan. Peradjurit madju digaris depan dgn doa harapan, agar praktek-praktek itu tidak berulang lagi. Usaha gerakan hidup baru jg dimulai pada hari Proklamasi jg lalu tidak berhasil sebagaimana kita harapkan. Kita tak boleh putus asa, mari tahun ini kita tekadkan kembali. Marilah kita mengoreksi diri dan mengoreksi bawahan kita jang masih alpa. Marilah kita teruskan usaha menudju kesederhanaan, usaha mempertinggi produktiviteit kerdja dan usaha memperbaiki disiplin disegala lapangan. Marilah kita mengurangi pemborosan waktu dan marilah kita memperbanjak kerdja. Panglima tertinggi dan perdana menteri djuga telah sependapat dan seniat dengan pimpinan TNI agar dilaksanakan penertiban personil dalam alat² negara, agar lebih terdjamin tatatertib kesediaan dan ketjakapan alat pelaksana negara. Norma² kepegawaian dan ketentaraan perlu lebih diutamakan dari pada dimasa-masa jang lalu. Ini adalah sjarat mutlak untuk mendjamin, bahwa kemenangan² TNI berkat pengorbanan dan penderitaan selama ini, tidak akan sia-sia lagi. Marilah kita semua membantu usaha ini dengan tulus ichlas. '''Penertiban Personil.''' Pimpinan negara, pemerintah dan TNI djuga sependapat dan semaksud agar pelaksanaan hasil² Munas/Munap chususnja jang mengenai otonomi dan pembangunan akan dimulai dengan lebih giat, djustru karena pemberontakan PRRI—Permesta sebagai penghalang utama sudah dapat disingkirkan karena pembangunan daerah telah disalah gunakan oleh pemberontak dan kaum intervensi asing untuk menutupi maksud² politik jg terkutuk selama ini. Otonomi dan pembangunan sebagai tjita² daerah jang sungguh murni adalah tjita² kita. Marilah kita sepenuh tenaga membantu pemerintah serta penguasa perang mendobrak semua penghalang² dan menjingsingkan lengan badju untuk pelaksanaan program tsb. guna menudju kepada masjarakat jang adil dan makmur, sesuai dengan hasrat Proklamasi. Pada kesempatan ini perkenankanlah saja menjampaikan terima kasih kepada masjarakat umum jang telah memberikan bantuan kepada TNI dalam melaksanakan tugasnja, chusus di-daerah² operasi. Seperti dalam perang kemerdekaan melawan Belanda dahulu sekarangpun dalam membasmi PRRI-Permesta, TNI dapat menjelamatkan negara berkat bantuan rakjat jg. tetap setia dan tjinta kepada Proklamasi. Berkat bantuan itulah maka TNI tetap mengamalkan amanat almarhum Panglima Besar sehabis perang gerilja kemerdekaan, bahwa satu-satunja hak milik nasional Republik jang masih tetap utuh tidak ber-obah² meskipun harus menghadapi segala matjam soal dan perobahan adalah hanja APRI (TNI), untuk mendjamin keamanan dan keselamatan Nusa dan Bangsa kita. Dengan ini marilah kita mengheningkan tjipta bagi teman² kita kesuma bangsa jang telah gugur dalam tugas menegakkan dan membela Republik Proklamasi. Semoga Allah SWT tetap memberi bimbingan dan kekuatan kepada kita untuk tetap tegak di-masing² pos tugasnja dalam mengabdi kepada Nusa dan Bangsa. Sekian ; Tetap Merdeka ! <div style="text-align: center; border: 1px solid black; padding: 20px;"> '''N. V. Tjirebon Fosfaat dan Perindustrian Umum'''<br /> dan<br /> '''N. V. Perusahaan Belirang „Telaga Bodas”'''<br /> Djl. Kongsi Tiga No. 19 — Djakarta.- ''Mengutjapkan;'' ,,'''SELAMAT HARI-ULANG TAHUN ke XIII'''<br /> '''PROKLAMASI REPUBLIK INDONESIA 17 AGUSTUS 1945 — 1958'''“ </div><noinclude> 23</noinclude> hsj0rqi5jpr2i5rz1myiwpyoczywxao Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/682 104 103537 291569 2026-05-11T03:11:57Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291569 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} ''Major T. Hamzah Kepala Staf KDMA sedang memberikan keterangan² kepada Pers, tentang hasil-pemulihan keamanan di Atjeh dan usaha² pembangunan serta arti Konsepsi Prinsipil & Bidjaksana di Atjeh. Konperensi Pers tsb. dilangsungkan di kamar kerdja K. Penad Pusat.'' <center> '''Lahirnja Konsepsi Prinsipil dan Bidjaksana di Atjeh.''' <br />oleh: lts. mohd. sjah a. s. </center> {{Missing image}} ''Brig. Djend. Djatikusumo ketika mengadakan penindjauan ke Atjeh'' '''disambut oleh para Pa. Garnizun Kutaradja.''' Sesuai dengan keadaan darurat dan darurat perang, dan djuga diwaktu sekarang berada didalam keadaan perang, maka seorang komandan tentera didaerah dalam melakukan tugasnja, tidak hanja bertanggung djawab penuh kedalam kesatuannja sadja, tetapi djuga tentang keamanan daerahnja sebagai Penguasa Perang. Dan inilah jang mendjadi pedoman utama dalam memikirkan dan untuk melaksanakan atau menghindarkan sesuatu tindakan bagi keselamatan anak buah beserta keluarganja dan rakjat dan daerahnja umumnja. Dengan demikian teranglah, bahwa komandan atau panglima didaerah mempunjai tanggung djawab jang langsung pada daerah dan rakjat didaerah itu. Oleh karena itu dengan sendirinja dalam melakukan tugas me-<noinclude> 24</noinclude> n1rwpdftbc454mb1zr2ewypqjylzdb8 291570 291569 2026-05-11T03:12:23Z Link PB 26772 291570 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} ''Major T. Hamzah Kepala Staf KDMA sedang memberikan keterangan² kepada Pers, tentang hasil-pemulihan keamanan di Atjeh dan usaha² pembangunan serta arti Konsepsi Prinsipil & Bidjaksana di Atjeh. Konperensi Pers tsb. dilangsungkan di kamar kerdja K. Penad Pusat.'' <center> <big>'''Lahirnja Konsepsi Prinsipil dan Bidjaksana di Atjeh.'''</big> <br />oleh: lts. mohd. sjah a. s. </center> {{Missing image}} ''Brig. Djend. Djatikusumo ketika mengadakan penindjauan ke Atjeh'' '''disambut oleh para Pa. Garnizun Kutaradja.''' Sesuai dengan keadaan darurat dan darurat perang, dan djuga diwaktu sekarang berada didalam keadaan perang, maka seorang komandan tentera didaerah dalam melakukan tugasnja, tidak hanja bertanggung djawab penuh kedalam kesatuannja sadja, tetapi djuga tentang keamanan daerahnja sebagai Penguasa Perang. Dan inilah jang mendjadi pedoman utama dalam memikirkan dan untuk melaksanakan atau menghindarkan sesuatu tindakan bagi keselamatan anak buah beserta keluarganja dan rakjat dan daerahnja umumnja. Dengan demikian teranglah, bahwa komandan atau panglima didaerah mempunjai tanggung djawab jang langsung pada daerah dan rakjat didaerah itu. Oleh karena itu dengan sendirinja dalam melakukan tugas me-<noinclude> 24</noinclude> caci0gqkup234byimt3nh3byqk8enlz 291571 291570 2026-05-11T03:12:47Z Link PB 26772 291571 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Major T. Hamzah Kepala Staf KDMA sedang memberikan keterangan² kepada Pers, tentang hasil-pemulihan keamanan di Atjeh dan usaha² pembangunan serta arti Konsepsi Prinsipil & Bidjaksana di Atjeh. Konperensi Pers tsb. dilangsungkan di kamar kerdja K. Penad Pusat.''</small> <center> <big><big>'''Lahirnja Konsepsi Prinsipil dan Bidjaksana di Atjeh.'''</big></big> <br />oleh: lts. mohd. sjah a. s. </center> {{Missing image}} <small>''Brig. Djend. Djatikusumo ketika mengadakan penindjauan ke Atjeh'' '''disambut oleh para Pa.</small> Garnizun Kutaradja.''' Sesuai dengan keadaan darurat dan darurat perang, dan djuga diwaktu sekarang berada didalam keadaan perang, maka seorang komandan tentera didaerah dalam melakukan tugasnja, tidak hanja bertanggung djawab penuh kedalam kesatuannja sadja, tetapi djuga tentang keamanan daerahnja sebagai Penguasa Perang. Dan inilah jang mendjadi pedoman utama dalam memikirkan dan untuk melaksanakan atau menghindarkan sesuatu tindakan bagi keselamatan anak buah beserta keluarganja dan rakjat dan daerahnja umumnja. Dengan demikian teranglah, bahwa komandan atau panglima didaerah mempunjai tanggung djawab jang langsung pada daerah dan rakjat didaerah itu. Oleh karena itu dengan sendirinja dalam melakukan tugas me-<noinclude> 24</noinclude> 6f97pye5qk9r3j6flgflpjza5ia5go6 291573 291571 2026-05-11T03:14:07Z Link PB 26772 291573 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Major T. Hamzah Kepala Staf KDMA sedang memberikan keterangan² kepada Pers, tentang hasil-pemulihan keamanan di Atjeh dan usaha² pembangunan serta arti Konsepsi Prinsipil & Bidjaksana di Atjeh. Konperensi Pers tsb. dilangsungkan di kamar kerdja K. Penad Pusat.''</small> <center> <big><big>'''Lahirnja Konsepsi Prinsipil dan Bidjaksana di Atjeh.'''</big></big> <br />oleh: lts. mohd. sjah a. s. </center> {{Missing image}} <small>''Brig. Djend. Djatikusumo ketika mengadakan penindjauan ke Atjeh'' '''disambut oleh para Pa.</small> Garnizun Kutaradja.''' Sesuai dengan keadaan darurat dan darurat perang, dan djuga diwaktu sekarang berada didalam keadaan perang, maka seorang komandan tentera didaerah dalam melakukan tugasnja, tidak hanja bertanggung djawab penuh kedalam kesatuannja sadja, tetapi djuga tentang keamanan daerahnja sebagai Penguasa Perang. Dan inilah jang mendjadi pedoman utama dalam memikirkan dan untuk melaksanakan atau menghindarkan sesuatu tindakan bagi keselamatan anak buah beserta keluarganja dan rakjat dan daerahnja umumnja. Dengan demikian teranglah, bahwa komandan atau panglima didaerah mempunjai tanggung djawab jang langsung pada daerah dan rakjat didaerah itu. Oleh karena itu dengan sendirinja dalam melakukan tugas me-<noinclude> 24</noinclude> n234ost1ab344y45unjtier94rbtm1k Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/937 104 103538 291572 2026-05-11T03:13:56Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291572 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>'''Perkembangannja:''' Pada tahun 1941 telah mempunjai djumlah anggauta ± 8000 orang. Berhubung dengan adanja revolusi nasional, maka perhimpunan tersebut baru digerakkan lagi pada tahun 1951 di Surabaja oleh Ki Mangoen Oetomo (Raden Ismangoen) Klangon 166 di Bodjonegoro. {{ol|list_style_type=decimal|start=5|{{c|{{larger|„ILMU SEDJATI”.}}}}}} Peguron „Ilmu-Sedjati” berpusat di Desa Sukoredjo, Ketjamatan Saradan, Kabupaten Madiun dan didirikan pada bulan Oktober 1925, dipimpin oleh Raden Prawirosoedarso. '''Pengaruhnja meliputi:''' {{ol|list_style_type=decimal |Djawa-Timur;Djawa-Tengah;|Sumatera Selatan dan|Kalimantan.}} '''Keterangan lain-lain:''' {{ol|list_style_type=decimal |Peguron tersebut menerima murid-murid dari segala Bangsa dan agama; |Peguron tersebut tidak memungut biaja dari para pengikutnja; |Tempat jang mendatangkan guru, menjediakan biaja perdjalanan; |Di-tempat-tempat jang djauh dari pusatnja, peladjaran ilmu diberikan oleh „wakil mulang” (wakil pengadjar); |Murid-murid baru setelah menerima wedjangan, lalu diberi surat „uger-uger”.}} '''Pedoman:''' {{c|{{Larger|„PENGET”.}}}} {{ol|list_style_type=decimal |Ing ngagesang wadjib mangretos dunungipun sirahing Iman; Inggih punika rapal:}} {{hii|3|0}}{| |- |Lhailah haillolah||{{Ellipsis|7}}||Tigang Rambahan |- |Illolah||{{Ellipsis|10}}||{{gap}}"{{gap}}" |- |Allah||{{Ellipsis|10}}||{{gap}}"{{gap}}" |- |Dumugija saksuraosipun. |}{{Div end}} {{ol|list_style_type=decimal|start=2|Wadjib anetepana pikukuhipun Islam: 5.}} {{hii|3|0}}{| |- |1.||Sahadat||:||mangertasa dunungipun; |- |2.||Salat||:||anglampahi sarta dununga ing maksutipun; |- |3.||Djakat||:|||mrih mulja: {{sp|Awal Achir}}; |- |4.||Puwasa||:||mrth Sutji: {{sp|Awal-Achir}}; |- |5.||Kadji||:||mrih sampurna leresa tékatipun. |}{{Div end}} {{ol|list_style_type=decimal|start=3|Anetepana dhateng Sembah: 5: (Tata krama).{{ol|list_style_type=decimal|Bapa-Bijung (Rama Ibu): punika ingkang dados lantaran tumitah wonten nDonja:}}}}<noinclude>{{rvh|825}}</noinclude> 4f7ccnphzfogl81bxe6nrxfhunv1ti8 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/201 104 103539 291587 2026-05-11T03:19:07Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Dalan periode 71 tahun itu kita masih melihat kegemaran masyarakat Melayu, baik pengarang-pengarangnya maupun pembaca-pembacanya, kepada syair-syair, psantun-pantun dan cerita-cerita yang bersifat tradisionalis baik dari segi gaya bahasanya naupun dari segi temanya. Periode yang sama juga menunjukkan zaman transisi masyarakat Melayu yang mula ber- konfrontir dengan nilai-nilai hiaup yang varu dibawa oleh pengaruh Eropah melalui penjajah I... 291587 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" />{{rh||23|}}</noinclude>Dalan periode 71 tahun itu kita masih melihat kegemaran masyarakat Melayu, baik pengarang-pengarangnya maupun pembaca-pembacanya, kepada syair-syair, psantun-pantun dan cerita-cerita yang bersifat tradisionalis baik dari segi gaya bahasanya naupun dari segi temanya. Periode yang sama juga menunjukkan zaman transisi masyarakat Melayu yang mula ber- konfrontir dengan nilai-nilai hiaup yang varu dibawa oleh pengaruh Eropah melalui penjajah Inggeris. Zaman ini/ kuasa otokratis dan kini cuma men- jadi kepala dalam soal agana Telak dan adat istiadat #lelayu dimasing- masing nereri sanaja. Kalau dalam zaman Abdullah Hunci orang-orang Islam Sebagai satu warisan yang diselaputi Gengan adat aan kepercayaan yang kolot, kini masyarakat Melayu yang statis itu berkenfrontasi pula dengan hilai-nilai baru yang dibawa oleh Sayed Sheikh dan kawan-kawan. Denikian- lah kita lihat konflik mental dan nilai yang dinadapi oleh masyarakat Melayu pada masa Sayed Sheikh mendobrak kedalam persoalan agama dan alam kehidupan bangSa Melayu. Sebagai sasterawan Hikayat Faridah Hanum meru- pakan satu pernyataan sikap pengarang yang historis, dan juga sebagai satu pembaharu dalam bentuk kesusasteraan ilelayu moden,. ( juga memperlihatkan dekadensi feo- dalisme Melayu sebagai Catatan: 1) C. Skinner, Prosa Melayu Baharus Longuans, Ke Lumpur 2) C. Hooykaas, Perintis Sastura (edz:si Malaya) OUP cetakan Ke 2, 1967, hal. 44 3) Boejoeng Salcsh, "Perkimbangan Kesusastraan Indonesia", Almanak Seni, BMKN, Djakarta 1956, hal. 13 4) Malay Newspapers & Periodicals oleh William Roff dan The Origins of- Malay Nationzlism .olch William Roff juga terbitan OUP 1967<noinclude></noinclude> rbx716ztr7o5cckxfini8ee9cwbd7yp 291629 291587 2026-05-11T04:33:47Z Humilis Kumulus 26996 /* Telah diuji baca */ 291629 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||23|}}</noinclude>Dalan periode 71 tahun itu kita masih melihat kegemaran masyarakat Melayu, baik pengarang-pengarangnya maupun pembaca-pembacanya, kepada syair-syair, pantun-pantun dan cerita-cerita yang bersifat tradisionalis baik dari segi gaya bahasanya maupun dari segi temanya. Periode yang sama juga menunjukkan zaman transisi masyarakat Melayu yang mula berkonfrontir dengan nilai-nilai hidup yang baru dibawa oleh pengaruh Eropah melalui penjajah Inggeris. Zaman ini/ kuasa otokratis dan kini cuma menjadi kepala dalam soal agama Islam dan adat istiadat Melayu dimasing-masing negeri sahaja. Kalau dalam zaman Abdullah Hunci orang-orang Islam sebagai satu warisan yang diselaputi dengan adat aan kepercayaan yang kolot, kini masyarakat Melayu yang statis itu berkenfrontasi pula dengan hilai-nilai baru yang dibawa oleh Sayed Sheikh dan kawan-kawan. Demikianlah kita lihat konflik mental dan nilai yang dinadapi oleh masyarakat Melayu pada masa Sayed Sheikh mendobrak kedalam persoalan agama dan alam kehidupan bangSa Melayu. Sebagai sasterawan Hikayat Faridah Hanun merupakan satu pernyataan sikap pengarang yang historis, dan juga sebagai satu pembaharu dalam bentuk kesusasteraan Melayu moden. {{rh|||/ juga memperlihatkan dekadensi feodalisme Melayu sebagai}} <u>Catatan</u>: 1) C. Skinner, <u>Prosa Melayu Baharu</u>; Longmans, K. Lumpur 2) C. Hooykaas, <u>Perintis Sastura</u> (edisi Malaya) OUP cetakan ke 2, 1967, hal. 44 3) Boejoeng Saleh, "Perkembangan Kesusastraan Indonesia", <u>Almanak Seni</u>; BMKN, Djakarta 1956, hal. 13 4) <u>Malay Newspapers & Periodicals</u> oleh William Roff dan <u>The Origins of Malay Nationalism</u> oleh William Roff juga terbitan OUP 1967 {{c|--------}}<noinclude></noinclude> dz05ji2y8ngdndnucgxsvuxm4u1epow 291632 291629 2026-05-11T04:34:47Z Humilis Kumulus 26996 291632 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||23|}}</noinclude>Dalam periode 71 tahun itu kita masih melihat kegemaran masyarakat Melayu, baik pengarang-pengarangnya maupun pembaca-pembacanya, kepada syair-syair, pantun-pantun dan cerita-cerita yang bersifat tradisionalis baik dari segi gaya bahasanya maupun dari segi temanya. Periode yang sama juga menunjukkan zaman transisi masyarakat Melayu yang mula berkonfrontir dengan nilai-nilai hidup yang baru dibawa oleh pengaruh Eropah melalui penjajah Inggeris. Zaman ini/ kuasa otokratis dan kini cuma menjadi kepala dalam soal agama Islam dan adat istiadat Melayu dimasing-masing negeri sahaja. Kalau dalam zaman Abdullah Hunci orang-orang Islam sebagai satu warisan yang diselaputi dengan adat aan kepercayaan yang kolot, kini masyarakat Melayu yang statis itu berkenfrontasi pula dengan hilai-nilai baru yang dibawa oleh Sayed Sheikh dan kawan-kawan. Demikianlah kita lihat konflik mental dan nilai yang dinadapi oleh masyarakat Melayu pada masa Sayed Sheikh mendobrak kedalam persoalan agama dan alam kehidupan bangSa Melayu. Sebagai sasterawan Hikayat Faridah Hanun merupakan satu pernyataan sikap pengarang yang historis, dan juga sebagai satu pembaharu dalam bentuk kesusasteraan Melayu moden. {{rh|||/ juga memperlihatkan dekadensi feodalisme Melayu sebagai}} <u>Catatan</u>: 1) C. Skinner, <u>Prosa Melayu Baharu</u>; Longmans, K. Lumpur 2) C. Hooykaas, <u>Perintis Sastura</u> (edisi Malaya) OUP cetakan ke 2, 1967, hal. 44 3) Boejoeng Saleh, "Perkembangan Kesusastraan Indonesia", <u>Almanak Seni</u>; BMKN, Djakarta 1956, hal. 13 4) <u>Malay Newspapers & Periodicals</u> oleh William Roff dan <u>The Origins of Malay Nationalism</u> oleh William Roff juga terbitan OUP 1967 {{c| -------- }}<noinclude></noinclude> 7ndfceroixv9qjiozsfwu4g6bithidu 291633 291632 2026-05-11T04:35:18Z Humilis Kumulus 26996 291633 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||23|}}</noinclude>Dalam periode 71 tahun itu kita masih melihat kegemaran masyarakat Melayu, baik pengarang-pengarangnya maupun pembaca-pembacanya, kepada syair-syair, pantun-pantun dan cerita-cerita yang bersifat tradisionalis baik dari segi gaya bahasanya maupun dari segi temanya. Periode yang sama juga menunjukkan zaman transisi masyarakat Melayu yang mula berkonfrontir dengan nilai-nilai hidup yang baru dibawa oleh pengaruh Eropah melalui penjajah Inggeris. Zaman ini/ kuasa otokratis dan kini cuma menjadi kepala dalam soal agama Islam dan adat istiadat Melayu dimasing-masing negeri sahaja. Kalau dalam zaman Abdullah Hunci orang-orang Islam sebagai satu warisan yang diselaputi dengan adat aan kepercayaan yang kolot, kini masyarakat Melayu yang statis itu berkenfrontasi pula dengan hilai-nilai baru yang dibawa oleh Sayed Sheikh dan kawan-kawan. Demikianlah kita lihat konflik mental dan nilai yang dinadapi oleh masyarakat Melayu pada masa Sayed Sheikh mendobrak kedalam persoalan agama dan alam kehidupan bangSa Melayu. Sebagai sasterawan Hikayat Faridah Hanun merupakan satu pernyataan sikap pengarang yang historis, dan juga sebagai satu pembaharu dalam bentuk kesusasteraan Melayu moden. {{rh|||/ juga memperlihatkan dekadensi feodalisme Melayu sebagai}} <u>Catatan</u>: 1) C. Skinner, <u>Prosa Melayu Baharu</u>; Longmans, K. Lumpur 2) C. Hooykaas, <u>Perintis Sastura</u> (edisi Malaya) OUP cetakan ke 2, 1967, hal. 44 3) Boejoeng Saleh, "Perkembangan Kesusastraan Indonesia", <u>Almanak Seni</u>; BMKN, Djakarta 1956, hal. 13 4) <u>Malay Newspapers & Periodicals</u> oleh William Roff dan <u>The Origins of Malay Nationalism</u> oleh William Roff juga terbitan OUP 1967 {{c|'''--------'''}}<noinclude></noinclude> gt6gy44yhfcw671qk9nr8x20zuvr570 291648 291633 2026-05-11T04:47:22Z Humilis Kumulus 26996 291648 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||23|}}</noinclude>Dalam periode 71 tahun itu kita masih melihat kegemaran masyarakat Melayu, baik pengarang-pengarangnya maupun pembaca-pembacanya, kepada syair-syair, pantun-pantun dan cerita-cerita yang bersifat tradisionalis baik dari segi gaya bahasanya maupun dari segi temanya. Periode yang sama juga menunjukkan zaman transisi masyarakat Melayu yang mula berkonfrontir dengan nilai-nilai hidup yang baru dibawa oleh pengaruh Eropah melalui penjajah Inggeris. Zaman ini''['' kuasa otokratis dan kini cuma menjadi kepala dalam soal agama Islam dan adat istiadat Melayu dimasing-masing negeri sahaja. Kalau dalam zaman Abdullah Hunci orang-orang Islam sebagai satu warisan yang diselaputi dengan adat aan kepercayaan yang kolot, kini masyarakat Melayu yang statis itu berkenfrontasi pula dengan hilai-nilai baru yang dibawa oleh Sayed Sheikh dan kawan-kawan. Demikianlah kita lihat konflik mental dan nilai yang dinadapi oleh masyarakat Melayu pada masa Sayed Sheikh mendobrak kedalam persoalan agama dan alam kehidupan bangSa Melayu. Sebagai sasterawan Hikayat Faridah Hanun merupakan satu pernyataan sikap pengarang yang historis, dan juga sebagai satu pembaharu dalam bentuk kesusasteraan Melayu moden. {{rh|||''['' juga memperlihatkan dekadensi feodalisme Melayu sebagai}} <u>Catatan</u>: 1) C. Skinner, <u>Prosa Melayu Baharu</u>; Longmans, K. Lumpur 2) C. Hooykaas, <u>Perintis Sastura</u> (edisi Malaya) OUP cetakan ke 2, 1967, hal. 44 3) Boejoeng Saleh, "Perkembangan Kesusastraan Indonesia", <u>Almanak Seni</u>; BMKN, Djakarta 1956, hal. 13 4) <u>Malay Newspapers & Periodicals</u> oleh William Roff dan <u>The Origins of Malay Nationalism</u> oleh William Roff juga terbitan OUP 1967 {{c|'''--------'''}}<noinclude></noinclude> 1xvfycxhllhjz1fhbny93rad73or7tm Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/683 104 103540 291588 2026-05-11T03:20:59Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291588 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Brig. Djend. Djatikusumo sedang ber-tjakap² dng. Kmd. KDMA Let. Kol Sjamaun Gaharu dilapangan terbang Blang Bintang.''</small> mikirkan segala sesuatu jang berkenaan dengan kesedjahteraannya dan keselamatan rakjat umumnja. Pada saat meletusnja peristiwa Atjeh, jaitu pemberontakan Tgk. M. Daud Bereueh cs, jang memegang pimpinan Angkatan Darat adalah Djenderal Major Bambang Sugeng. Sedang Kolonel A.H. Nasution, jaitu KSAD jang sekarang dengan pangkat Letnan Djenderal jg pada waktu itu telah di non aktifkan. Beliau pada saat itu sedang mempersiapkan buku "Sedjarah Perdjuangan R.I." dan buku "Sedjarah Gerilja" dan lain-lain. Dan Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu, Komandan KDMA sekarang berada di Kalimantan. Pada saat² Letnan Djenderal A.H. Nasution sedang mempersiapkan bukunja itu, beliau banjak mengadakan hubungan dengan Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu. Dan oleh karena beliau sangat besar menaruh perhatiannja terhadap peristiwa Atjeh, beliau telah meminta pendapat² Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu bagaimana kira-kiranja tjara penjelesaian peristiwa tersebut. Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu membuat suatu konsepsi tjara penjelesaian, jang isinja mengatakan bahwa persoalan di Atjeh itu tidak sama dengan persoalan didaerah lain. keadaannja sangat gecompliseerd dan ia hanja dapat diselesaikan setjara Atjeh dan baik oleh putera² Atjeh sendiri. Oleh karena Letnan Djenderal A.H. Nasution pada saat itu dalam keadaan tidak aktif, maka buah pikiran Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu hanja diterimanja sebagai saran sadja. Waktu itu Drs. Hatta masih mendjadi Wakil Presiden. Beliaupun telah menanjakan hal jang serupa kepada Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu, dan meminta supaja Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu membuat pula suatu pandangan tertulis untuk disampaikan kepada beliau. Permintaan tersebut diperbuat dan dikerdjakan dengan sungguh-sungguh, dengan penuh pertimbangan oleh Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu. Setelah terdjadi beberapa matjam peristiwa, maka oleh Kabinet Burhanudin Harahap, Letnan Djenderal A.H. Nasution, waktu itu masih Kolonel, diaktifkan kembali dan diangkat mendjadi KSAD kembali. Maka beliau memanggil Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu guna membitjarakan lebih mendalam lagi tentang {{Missing image}} <small>Brig. Djend. Djatikusumo dan '''Kepala Staf KDMA Major T. Hamzah''' dalam suasana ramah-tamah.</small><noinclude> 25</noinclude> 6bh1jp9hhoglj7epmfd4tgafeph9rev Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/684 104 103541 291590 2026-05-11T03:23:49Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291590 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>saran-sarannja mengenai persoalan Atjeh. Sesudah saling tukar menukar pikiran setjara mendalam, maka KSAD Letnan Djenderal A.H. Nasution menawarkan kepada Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu supaja kembali ke Atjeh dan menjelesaikan soal Atjeh sebagai jang sudah disarankannja. Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu mengatakan kepada KSAD: "KSAD, kalau KSAD perintahkan saja sebagai seorang militer untuk melakukan tugas ini, haruslah saja laksanakannja. Akan tetapi bila KSAD menanjakan pendapat saja, saja tidak melaksanakannja". Mendengar pendjawaban ini, KSAD dengan sungguh² menanjakan pula, "mengapa?". Maka Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu mendjawab pula dengan tegas, "selama beleid pimpinan pemulihan keamanan di Atjeh dipegang oleh Kolonel M. Simbolon, selama itu saja tidak dapat melaksanakan tugas dan pendapat² jang telah saja sampaikan itu dengan sebaik-baiknja. Saja tahu benar, karena Kolonel M. Simbolon itulah sampai menjebabkan tentera di Atjeh itu kutjar katjir dan berkeliaran di-mana², tidak mendapat penghargaan sewadjarnja, banjak perwira-perwira jang tidak diurus, banjak anggota B-III berkaparan di Medan, dan segala sesuatu jang bersifat potensi didaerah Atjeh telah mendjadi hantjur lebur". Mendengar pendjawaban tegas dari Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu itu, maka KSAD mengatakan pula: "Pulanglah dan sesuaikanlah untuk sementara waktu kebidjaksanaan saudara dengan beleid Panglima T.T.-I. Karena sedikit waktu lagi Kolonel M. Simbolon akan saja pindahkan". Disamping itu KSAD menjatakan pula kepada Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu, bahwa beliau akan mentjari seorang Panglima jang sesuai dengan beleid jang dikemukakannja. Dengan djandji dan sjarat itu, maka perintah KSAD itu diterima oleh Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu, dan kembali ke Atjeh sebagai Komandan Resimen I. Sekembalinja Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu di Atjeh, semulanja setjara langsung memang tidak dapat dilaksanakan kebidjaksanaan² jang telah digariskannja. Akan tetapi dengan penuh ketekunan dan rasa tanggung djawab jang sangat besar bagi kebahagiaan masjarakat daerah Atjeh, pertempuran² dengan pihak D.I./T.I.I. dapat dikurangi sedikit demi sedikit. Dan beleid² kebidjaksanaan jang lain dilaksanakan setjara saudara dengan saudara. {{Missing image}} <small>''Panglima T & T-IV Diponegoro, Kol. Soeharto ketika mengundjungi daerah Atjeh untuk memeriksa keadaan anak buahnja jang sedang bertugas disana.''</small> {{Missing image}} <small>''Panglima T & T-IV Kol. Soeharto dalam keadaan ramah-tamah dan saling bertukar fikiran dengan perwira² Staf KDMA, diantaranja Major T. Hamzah dan Major Namploh.''</small><noinclude> 26</noinclude> 0jz5fuy20775jhhtuz2fdwjlp3z33ad Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/685 104 103542 291592 2026-05-11T03:27:15Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291592 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Tuhan Jang Maha Penjajang tetap membuka djalan bagi mereka jang mengerdjakan sesuatu kearah jang sebenarnja serta bagi kepentingan masjarakat umum. Peristiwa 22 Desember jang terdjadi di T.T.-I adalah merupakan suatu djalan jang lapang dan kesempatan jang baik bagi Let. Kol. Sjamaun Gaharu untuk mendjalankan beleid kebidjaksanaannja jang telah dirumuskannja di Atjeh. Maka peristiwa 22 Desember itu dipergunakannja dengan sebaik-baiknja. Pertama sekali, sesuai dengan rentjana KSAD jang ditetapkan lebih dahulu, melepaskan diri dari Komando T.T.-I. Ini dapat berdjalan dengan baik, sesuai dengan rentjana KSAD. Dengan berhasilnja pelepasan Resimen I dari Komando T.T.-I, maka Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu berangkat ke Djakarta membawa dan menanjakan kepada KSAD tentang hal penjelesaian jang dikatakan itu. Sesudah dibitjarakan dengan lebih mendalam lagi di Staf MBAD, maka Staf MBAD dapat menerima dan merasakan soalnja. Maka kemudian tersiarlah dimana-mana bahwa peristiwa daerah Atjeh akan diselesaikan setjara prinsipil dan bidjaksana, dengan titik berat berdasarkan kepada kemadjuan agama, kemadjuan rakjat dan kemadjuan daerah Atjeh itu sendiri. Dengan istilah lain dapat pula disebutkan, ialah kedjajaan, kemakmuran dan kemadjuan² masjarakat umumnja. Tiga pokok itulah jang mendjadi dasar dan tidak bisa dipisah-pisahkan: agama, rakjat dan daerah. Perkataan agama didahulukan, bukanlah dimaksud kita merantjang sesuatu dengan memadjukan agama, sedangkan rakjat dan daerah berada dalam kemiskinan dan kehantjuran, ataupun rakjat madju, tetapi agama tidak. Karenanja, ketiganja adalah tritunggal jang tersimpul dalam perkataan Atjeh. Sebab kalau kita katakan Atjeh, maka termasuk agama, jaitu agama Islam, dimana rakjat² jang berada disana dan berpenduduk disana. Djadi mengenai pokok ini sudah dapat disetudjui dan kita hanja tinggal meraba-raba mentjari-tjari djalan tentang hal tjara pelaksanaannja, menjelesaikan soal² lainnja, sedang soal pokok telah ada. Berpedoman kepada "Konsepsi Prinsipil dan Bidjaksana" itulah, maka pihak KDMA, atau pihak jang berwadjib di Atjeh telah mengadakan pembitjaraan² dengan pihak D.I./T.I.I. sedjak satu tahun jang lampau dalam berbagai tjara dan diberbagai tempat dan dalam ber-matjam² bentuk dan bermatjam orang. {{Missing image}} <small>''Panglima T & T-IV Kol. Soeharto sewaktu menindjau daerah Atjeh, tidak ketinggalan mendjenguk anak buahnja sampai di post² jang terpentjil. Disini nampak beliau sedang memeriksa sendjata jang dipergunakan oleh anak buahnja.''</small> {{Missing image}} <small>''Kolonel Soeharto berkenan pula mengundjungi Rumah Sakit Tentara di Kotaradja, dimana anggota² dari kesatuan Dipenegoro ada jang dirawat disitu.''</small><noinclude> 27</noinclude> nyqpd1qfneo6y19gajvt23z5ct6ifoi Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/259 104 103543 291594 2026-05-11T03:32:19Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Djenderal Graham berbalik. Tidak djauh dari padanja ber- diri seorang askari sedang ke- tawa ketjil. sIni", kata orang itu sambil mengatjungkan seputjuk surat. Teriaknja pula, ,,harus disampai- kan sendiri kepada Pa Djen- METAN Maabsniovisi natal Djenderal Graham menerima surat itu dan mengangguk kepa- da askari tersebut, berarti ia bo- leh pergi. Sewaktu suratnja di- buka dan dibatja, berobahlah war- na tjahaja mukanja, merah pa... 291594 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude>Djenderal Graham berbalik. Tidak djauh dari padanja ber- diri seorang askari sedang ke- tawa ketjil. sIni", kata orang itu sambil mengatjungkan seputjuk surat. Teriaknja pula, ,,harus disampai- kan sendiri kepada Pa Djen- METAN Maabsniovisi natal Djenderal Graham menerima surat itu dan mengangguk kepa- da askari tersebut, berarti ia bo- leh pergi. Sewaktu suratnja di- buka dan dibatja, berobahlah war- na tjahaja mukanja, merah pa- dam karena amarah dan berteriak memanggil perwira bewahannja. »Tangkap pribumi jang baru berdiri disitu”, Djenderal Gra- ham perintahkan perwiranja de- ngan suara keras jang marah. Perwira tersebut lari mening- galkan beranda hotel, tetapi tia- da seorang askaripun kelihat- NS Pa PPA EPA TA Surat didalam tangan Djende- ral Graham itu berbunji: ,,Surat “ini disampaikan sendiri kepada pribadi tuan oleh musuh tuan, Paul von Lettow-Verbeck, jang dengan djalan ini hendak meng- utjapkan selamat datang kepada tuan di Afrika Timur-Djerman”. Baru sesaat kemudian sedar- lah Djenderal Graham. ' bahwa askari jang menjampaikan surat kepadanja itu, sebenarnja tidak mirip dengan seorang Afrika tu- len. Misalnja hidungnja man- tjung, tidak pesek. Dan roman mukanja agak seperti orang Ero- pah, sungguhpun warnanja hi- tam. Angkat tangan! Tuan dikepung ! Von Lettow adalah seorang dagelan jang besar pula. Ia selalu sadja ingin memper-main?kan pa- sukan2 Inggeris. Pada suatu waktu setelah ia mendengar bah- wa sebuah resimen pasukan Ing- geris jang telah mendapat di- dikan chusus sedang berkemah lebih kurang 15 km dari markas- nja sendiri, dekat sungai Rifidji, maka ia memerintahkan pasukan- nja unutk mengepungnja. Kemu- dian dia sendiri melompat ke se- pedanja dan dengan sepedanja jg sudah reot? itu dengan bersiul memasuki perkemahan musuh. Ia mengenakan pakaian preman jg SUOAM MUAL: serang randa Meskipun banjak pendjaga?- nja, tetapi Von Lettow dapat djuga melaluinja sampai dapat mendekati seorang kolonel jang sedang ber-tjakap? dengan se- orang Letnan. Dengan tiba? teriaklah ia dengan se-kuat?nja : ,Angkat tangan! “Tuan? terke- pung !" Kolonel jang kaget itu mendja- tuhkan diri di-tengah? semak?, sedang sang letnan karena gu- gupnja mengangkat tangan me- njerah. Von Lettow kemudian melompat lagi ke sepedanja dan bisiknja Von .Djanga begitu", Lettow. ,,Itu tidak sportief. Be- rilah mereka kesempatan”. la menulis seputjuk surat: ,Tuan? terkepung. Bersiap?-lah untuk bertempur!" Dan ditanda tangani oleh Von Lettow. Surat itu diikat pada sebuah batu dan kemudian dilemparkan kearah, jang djatuh dekat kepada kedua perwira tersebut. Beberapa saat kemudian baru orang? Von Let- tow mulai menembak. Tetapi ia perintahkan supaja menembak rendah dan dengan ketentuan ti- dak boleh membunuh musuh ka- lau tidak perlu sekali. Von Let- tow hendak mematahkan ke- kuatan musuhnja dengan tidak ada musuh jang gugur. Camouflage penting diperhatikan, baik waktu penjerangan ataupun mempertahankan. pergi sambil ketawa ber-bahak?. Pada saat kolonelnja sadar, hi- langlah sudah Von Lettow. Djadi pada saat? itu pasukan Von Lettow sudah mengepung perkemahan pasukan Inggeris itu. Tiba? seorang Kapten dari pasukan Von Lettow melihat se- orang major dan kapten Inggeris sedang berdiri enak-enakan de- ngan tak sedar ada bahaja me- ngantjam. Kapten Djerman itu mengambil sendjatanja dan mem- bidik, tetapi Von Lettow jang kebetulan berdiri disampingnja mengelakkan udjung sendjata- nja itu sebelum meletus. Dalam satu djam sadja operasi di-tengah2 dan dibelakang po- hon-pohonan dan gundukan serta di-tengah? semak belukar men- dapat hasil jang sebesar-besar- nja. Orang? Inggeris merasa ter- kepung oleh musuh jang tidak kelihatan. Mereka terpaksa mun- dur dengan meninggalkan se- djumlah besar mesiu dan sendja- ta, jang sangat dibutuhkan oleh Von Lettow. Sarang laba-laba : Kerugian jang terbesar diderita oleh Inggeris ialah pada waktu mereka bergerak melalui arah. 37<noinclude></noinclude> n4mtej4mbkl1llmdi1hoaw26j8a1vvj 291613 291594 2026-05-11T04:09:04Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291613 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude>Djenderal Graham berbalik. Tidak djauh dari padanja berdiri seorang askari sedang ketawa ketjil. „Ini”, kata orang itu sambil mengatjungkan seputjuk surat. Teriaknja pula, „harus disampaikan sendiri kepada pribadi Djenderal.........”. Djenderal Graham menerima surat itu dan mengangguk kepada askari tersebut, berarti ia boleh pergi. Sewaktu suratnja dibuka dan dibatja, berobahlah warna tjahaja mukanja, merah padam karena amarah dan berteriak memanggil perwira bewahannja. „Tangkap pribumi jang baru berdiri disitu”, Djenderal Graham perintahkan perwiranja dengan suara keras jang marah. Perwira tersebut lari meninggalkan beranda hotel, tetapi tiada seorang askaripun kelihatan........... Surat didalam tangan Djenderal Graham itu berbunji:„Surat ini disampaikan sendiri kepada pribadi tuan oleh musuh tuan, Paul von Lettow-Verback, jang dengan djalan ini hendak mengutjapkan selamat datang kepada tuan di Afrika Timur-Djerman”. Baru sesaat kemudian sedarlah Djenderal Graham. bahwa askari jang menjampaikan surat kepadanja itu, sebenarnja tidak mirip dengan seorang Afrika tulen. Misalnja hidungnja mantjung, tidak pesek. Dan roman mukanja agak seperti orang Eropah, sungguhpun warnanja hitam. '''Angkat tangan! Tuan dikepung !''' Von Lettow adalah seorang dagelan jang besar pula. Ia selalu sadja ingin mempermain²kan pasukan² Inggeris. Pada suatu waktu setelah ia mendengar bahwa sebuah resimen pasukan Inggeris jang telah mendapat didikan chusus sedang berkemah lebih kurang 15 km dari markasnja sendiri, dekat sungai Rifidji, maka ia memerintahkan pasukannja untuk mengepungnja. Kemudian dia sendiri melompat ke sepedanja dan dengan sepedanja jg sudah reot² itu dengan bersiul memasuki perkemahan musuh. Ia mengenakan pakaian preman jg sudah kumal. Meskipun banjak pendjaga²nja, tetapi Von Lettow dapat djuga melaluinja sampai dapat mendekati seorang kolonel jang sedang ber-tjakap² dengan seorang Letnan. Dengan tiba² teriaklah ia dengan se-kuat²nja : „Angkat tangan! Tuan² terkepung !” Kolonel jang kaget itu mendjatuhkan diri di-tengah² semak², sedang sang letnan karena gugupnja mengangkat tangan menjerah. Von Lettow kemudian melompat lagi ke sepedanja dan „Djanga begitu”,bisiknja pergi sambil ketawa ber-bahak². Pada saat kolonelnja sadar, hilanglah sudah Von Lettow. [[File:Madjalah Angkatan Darat (page 259 crop).jpg|400px|kanan|jmpl|''Camouflage penting diperhatikan, baik waktu penjerangan ataupun mempertahankan.'']] Djadi pada saat² itu pasukan Von Lettow sudah mengepung perkemahan pasukan Inggeris itu. Tiba² seorang Kapten dari pasukan Von Lettow melihat seorang major dan kapten Inggeris sedang berdiri enak-enakan dengan tak sedar ada bahaja mengantjam. Kapten Djerman itu mengambil sendjatanja dan membidik, tetapi Von Lettow jang kebetulan berdiri disampingnja mengelakkan udjung sendjatanja itu sebelum meletus. Von Lettow.,,Itu tidak sportief. Berilah mereka kesempatan”. la menulis seputjuk surat: Tuan² terkepung. Bersiap²-lah untuk bertempur!" Dan ditandatangani oleh Von Lettow. Surat itu diikat pada sebuah batu dan kemudian dilemparkan kearah, jang djatuh dekat kepada kedua perwira tersebut. Beberapa saat kemudian baru orang² Von Lettow mulai menembak. Tetapi ia perintahkan supaja menembak rendah dan dengan ketentuan tidak boleh membunuh musuh kalau tidak perlu sekali. Von Lettow hendak mematahkan kekuatan musuhnja dengan tidak ada musuh jang gugur. Dalam satu djam sadja operasi di-tengah² dan ibelakang pohon-pohonan dan gundukan serta di-tengah² semak belukar mendapat hasil jang sebesar-besarnja. Orang² Inggeris merasa terkepung oleh musuh jang tidak kelihatan. Mereka terpaksa mundur dengan meninggalkan sedjumlah besar mesiu dan sendjata, jang sangat dibutuhkan oleh Von Lettow. '''Sarang laba-laba :''' Kerugian jang terbesar diderita oleh Inggeris ialah pada waktu mereka bergerak melalui arah.<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude> s5h7s9fy587gaano1onfvdhpvsjwnvx Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/686 104 103544 291595 2026-05-11T03:37:33Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291595 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Meskipun dalam pembitjaraan² itu berpokok atau berpedoman kepada "Konsepsi Prinsipil dan Bidjaksana" itu, namun oleh karena perkembangan² keadaan, maka konsepsi itupun berlambang menurut perkembangan situasi dan pikiran didalam masjarakat kita itu sendiri. Demikianlah maka berlangsungnja suatu pembitjaraan dalam bulan puasa tahun 1376 H jang lalu antara pihak berwadjib di Atjeh dengan pimpinan D.I./T.I.I., jang mana hasilnja telah mendapat kata sepakat bahwa Atjeh itu harus diselamatkan dengan pengertian untuk agama, rakjat dan masjarakat. Jaitu jang dimaksudkan dengan agama disini adalah agama Islam, karena penduduk Atjeh seluruhnja beragama Islam. Dengan dasar pokok itulah, jg kemudian hasil pembitjaraan tersebut diumumkan dengan nama "Ikrar Lam Teh". Sebab persetudjuan itu ataupun prinsip² itu didapat pada suatu tempat di Lam Teh, tidak berapa djauh dari Oelhe-lheue (Olele). Pokok-pokok pembitjaraan inilah jang menimbulkan adanja penghentian permusuhan, atau dalam istilah lebih terkenal dengan nama "suasana damai". Ini terdjadi dalam suasana damai bulan puasa tahun jang lalu atau lewat pertengahan April 1957. Kemudian selandjutnja terdjadilah pembitjaraan², kadang² madju, kadang-kadang seret dan kadang-kadang mundur dan sebagainja. Jang mendjadi pokok, dimana jang sulit tidak berdaja mentjari djalan keluar untuk memetjahkannja, adalah karena disebabkan dari pihak D.I. telah memproklamirkan Atjeh itu dulu keluar dari Republik Indonesia dan menggabungkan diri dengan Darul Islam jang telah diproklamirkan oleh Kartosuwirjo di Djawa Barat achir tahun 1949. Kemudian berubah mendjadi N.B.A. (Negara Bagian Atjeh). Djadi sungguh sulit kita mengadakan pembitjaraan² dengan pihak D.I. di Atjeh itu. Misalnja dalam membitjarakan bagaimana soal status Atjeh itu, sudah tentu mereka menuntut umpamanja: Negara atau Negara Bagian Islam atau Negara Bagian Atjeh (N.B.A.) jang telah ada itu. Maka dengan demikian pihak berwadjib di Atjeh sebagai petugas dari Republik Indonesia jang masih memegang Undang² Dasar Sementara jang ada, dimana ditentukan bentuk negara adalah Kesatuan dan pembentukan negara pantjasila, tentu tidak dapat berwenang untuk membitjarakan sesuatu perobahan struktur negara, baik perubahan bentukpun. Meskipun begitu, '''Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu''' tidak putus asa dan tetap '''berusaha mentjari djalan tjara berpikir''', baik tjara perseorangan. '''Sekali lagi''' bagaimanapun djuga sulit, namun djalan penjelesaiaan tetap dan sedang ditjari, suasana damai harus terpelihara, jaitu pertumpahan darah djangan terulang lagi dan peluru djangan bitjara. Hal ini mendjadi '''kesan dan pegangan kedua belah pihak'''. Segala hasil usaha ini telah dilaporkan kepada pemerintah pusat di Djakarta, baik didalam konperensi² militer, Munas maupun Munap. Dan kepada pemerintah pusat di Djakarta telah diminta apa-apa maksimum jang dapat diberikan, hingga bagi mereka jang berwadjib di Atjeh sebagai petugas-petugas R.I. memperoleh atau mendjadi suatu kekuasaan ataupun perdjuangan jang dapat dipegang dalam pembitjaraan-pembitjaraan dengan pihak D.I. Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu jakin, bahwa persoalan Atjeh pada prinsipnja dapat diselesaikan. Demikianlah pada Munap delegasi Atjeh jang diketuai oleh Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu sendiri menghadap Perdana Menteri. Delegasi tersebut meminta kepada Perdana Menteri supaja memberikan keputusan satu pedoman maximal dan jang dapat diberi untuk mendjadi pegangan bagi mereka, hingga dapat berbitjara dengan lebih luas dengan pihak D.I. Perdana Menteri ketika itu berkata : Asal tidak keluar dari Undang² Dasar jang ada dimana bagaimana soal status Atjeh mendjadi pegangan pemerintah. {{Missing image}} <small>''Konsepsi Prinsipil & Bidjaksana telah dapat membahagiakan rakjat Atjeh. Disini tampak suasana bahagia, sesaat sehabis sembahjang dihalaman Mesdjid Raya Kotaradja.''</small><noinclude> 23</noinclude> axt3wa0amhl9woiczs5j3500b23ce0t Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/429 104 103545 291596 2026-05-11T03:40:46Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Putri Rungsu : Beli jala tangkap Gurami, dapat Berudu dengan Todak. Mari kita turun ke bumi, Tati rindu tertahan tidak. Orang Bungus masuk gelangzang, membawa permata darj Berita. Hati hangus rasa dipanggang, kasih tercinta pada orang dunia. Malim Deman : Ma Kerukut kampung belimbing, ' tompat gusti menanam rami. Kalau takut mari dibimbing, hidup mati di tangan kami. Putri Bungsu : Bunga padi kembang setangkai, bunga lilin... 291596 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>Putri Rungsu : Beli jala tangkap Gurami, dapat Berudu dengan Todak. Mari kita turun ke bumi, Tati rindu tertahan tidak. Orang Bungus masuk gelangzang, membawa permata darj Berita. Hati hangus rasa dipanggang, kasih tercinta pada orang dunia. Malim Deman : Ma Kerukut kampung belimbing, ' tompat gusti menanam rami. Kalau takut mari dibimbing, hidup mati di tangan kami. Putri Bungsu : Bunga padi kembang setangkai, bunga lilin jual ke pasar. Masa sudi tuan memakai, laksana kain bcnangnya kasar. Malin Deman : Kalau tidak selasih puan, tidak ke ladang pagi hari. Kalau tidak kasih di tuan, tidak dagang datang ko mari. Ayam kurik rambaian tadung, ekor berjela masuk padi,<noinclude></noinclude> hpc8gcdfxdz3x5u5mknyfas4hugsn3d 291634 291596 2026-05-11T04:35:37Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291634 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|11}}</noinclude>:Putri Bungsu : <poem> :::Beli jala tangkap Gurami, :::dapat Berudu dengan Todak. :::Mari kita turun ke bumi, :::Tati rindu tertahan tidak. </poem> <br> <poem> :::Orang Bungus masuk gelanggang, :::membawa permata dari Berita. :::Hati hangus rasa dipanggang, :::kasih tercinta pada orang dunia. </poem> <br /> Malim Deman : <poem> :::Kerukut kampung belimbing, :::tempat gusti menanam rami. :::Kalau takut mari dibimbing, :::hidup mati di tangan kami. </poem> <br /> Putri Bungsu : <poem> :::Bunga padi kembang setangkai, :::bunga lilin jual ke pasar. :::Masa sudi tuan memakai, :::laksana kain benangnya kasar. </poem> <br /> Malin Deman : <poem> :::Kalau tidak selasih puan, :::tidak ke ladang pagi hari. :::Kalau tidak kasih di tuan, :::tidak dagang datang ke mari. </poem> <br> <poem> :::Ayam kurik rambaian tadung, :::ekor berjela masuk padi, </poem><noinclude></noinclude> 1rouodu3mpdevpk6g58lpl1zs54f6v1 291637 291634 2026-05-11T04:36:05Z Moel81 25980 291637 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|11}}</noinclude>:Putri Bungsu : <poem> :::Beli jala tangkap Gurami, :::dapat Berudu dengan Todak. :::Mari kita turun ke bumi, :::Tati rindu tertahan tidak. </poem> <br> <poem> :::Orang Bungus masuk gelanggang, :::membawa permata dari Berita. :::Hati hangus rasa dipanggang, :::kasih tercinta pada orang dunia. </poem> <br /> :Malim Deman : <poem> :::Kerukut kampung belimbing, :::tempat gusti menanam rami. :::Kalau takut mari dibimbing, :::hidup mati di tangan kami. </poem> <br /> :Putri Bungsu : <poem> :::Bunga padi kembang setangkai, :::bunga lilin jual ke pasar. :::Masa sudi tuan memakai, :::laksana kain benangnya kasar. </poem> <br /> :Malin Deman : <poem> :::Kalau tidak selasih puan, :::tidak ke ladang pagi hari. :::Kalau tidak kasih di tuan, :::tidak dagang datang ke mari. </poem> <br> <poem> :::Ayam kurik rambaian tadung, :::ekor berjela masuk padi, </poem><noinclude></noinclude> npzckyozny41iuc2hj0gryp9awm17il 291642 291637 2026-05-11T04:40:53Z Moel81 25980 291642 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|11}}</noinclude>:Putri Bungsu : <poem> ::::Beli jala tangkap Gurami, ::::dapat Berudu dengan Todak. ::::Mari kita turun ke bumi, ::::Tati rindu tertahan tidak. </poem><br> <poem> ::::Orang Bungus masuk gelanggang, ::::membawa permata dari Berita. ::::Hati hangus rasa dipanggang, ::::kasih tercinta pada orang dunia. </poem><br> :Malim Deman : <poem> ::::Kerukut kampung belimbing, ::::tempat gusti menanam rami. ::::Kalau takut mari dibimbing, ::::hidup mati di tangan kami. </poem><br> :Putri Bungsu : <poem> ::::Bunga padi kembang setangkai, ::::bunga lilin jual ke pasar. ::::Masa sudi tuan memakai, ::::laksana kain benangnya kasar. </poem><br> :Malin Deman : <poem> ::::Kalau tidak selasih puan, ::::tidak ke ladang pagi hari. ::::Kalau tidak kasih di tuan, ::::tidak dagang datang ke mari. </poem><br> <poem> ::::Ayam kurik rambaian tadung, ::::ekor berjela masuk padi, </poem><noinclude></noinclude> dnnjqpc7unlsnu3e17qe1i5hx8tc2pk Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/430 104 103546 291597 2026-05-11T03:40:58Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '12 ambil tempurung bori makan. ' Dalam daerah tujuh kampung, tuan seorang tempat hati, yang lain jadi kuharamkan. Putri Bungsu ': Diparang rotan dilantaikan, dipenggal kayu mcdang sengit. Sayang di tuan dilebihkan, maka tinggal orang langit. Untuk lebih jelasnya baiklah kami sajikan garis besar cerita- nya berdasarkan buku : Malim Deman dan Putri 3ungsu. oleh A. Dt. kin- djoindo, penerbit Balai Pustaka, Jakarta, set.II, 1965: 17... 291597 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>12 ambil tempurung bori makan. ' Dalam daerah tujuh kampung, tuan seorang tempat hati, yang lain jadi kuharamkan. Putri Bungsu ': Diparang rotan dilantaikan, dipenggal kayu mcdang sengit. Sayang di tuan dilebihkan, maka tinggal orang langit. Untuk lebih jelasnya baiklah kami sajikan garis besar cerita- nya berdasarkan buku : Malim Deman dan Putri 3ungsu. oleh A. Dt. kin- djoindo, penerbit Balai Pustaka, Jakarta, set.II, 1965: 172 hal. Ga- ris besar ceritanya itu sebagai berilut : Di Kuala Batang Muar ada seorang raja yang bernama Tuanku Ra- ja Tua, permaisurinya Putri Mayang Seni, kerajaannya cukup besar. Beliau sudah lama memerintah, tapi belum juga terputra. Setelah me- minta doa pada Allah s.w.t. hamillah pormaisuri itu yang kemudian melahirkan seorang putra dan diberj nama Malim Deman. Ketika upacara turun mandi Malin Deman lepas dari pangkuan dan hanyut dibawa arus sungai... | Gemparlah seluruh negori oleh peristiwa itu. Dengan segala usaha mencarinya tiada Japat juga, sehingga raja dan rakyatnya sudah berputus asa. Pada hari yang ketujuh sotelah poristiwa itu Bujang Selamat pergi menjala ikan. Ketika ia melepaskan jalanya di lubuk Seri Bulan terjeratlah seorang bayi. Bnyi tersobut tidak lain jalah Malim Deman itu sendiri dalam keadaan selamat, badannya dililit sco- helai rambut. Agaknya rambut itulah yang telah menyelamatkannya dari bahaya itu. Rambut itu kemudian disimpannya sobagai azimat. Setelah ia menginjak dewasa hatinya tiada tentram lagi. Ia se-<noinclude></noinclude> jgjlcp2k5saen1r3dyfzpqwz1cs4ur9 291715 291597 2026-05-11T05:58:30Z Moel81 25980 291715 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|12}}</noinclude><poem> ::::ambil tempurung bori makan. ::::Dalam daerah tujuh kampung, ::::tuan seorang tempat hati, ::::yang lain jadi kuharamkan. </poem> Putri Bungsu : Diparang rotan dilantaikan, dipenggal kayu mcdang sengit. Sayang di tuan dilebihkan, maka tinggal orang langit. Untuk lebih jelasnya baiklah kami sajikan garis besar cerita- nya berdasarkan buku : Malim Deman dan Putri 3ungsu. oleh A. Dt. kin- djoindo, penerbit Balai Pustaka, Jakarta, set.II, 1965: 172 hal. Ga- ris besar ceritanya itu sebagai berilut : Di Kuala Batang Muar ada seorang raja yang bernama Tuanku Ra- ja Tua, permaisurinya Putri Mayang Seni, kerajaannya cukup besar. Beliau sudah lama memerintah, tapi belum juga terputra. Setelah me- minta doa pada Allah s.w.t. hamillah pormaisuri itu yang kemudian melahirkan seorang putra dan diberj nama Malim Deman. Ketika upacara turun mandi Malin Deman lepas dari pangkuan dan hanyut dibawa arus sungai... | Gemparlah seluruh negori oleh peristiwa itu. Dengan segala usaha mencarinya tiada Japat juga, sehingga raja dan rakyatnya sudah berputus asa. Pada hari yang ketujuh sotelah poristiwa itu Bujang Selamat pergi menjala ikan. Ketika ia melepaskan jalanya di lubuk Seri Bulan terjeratlah seorang bayi. Bnyi tersobut tidak lain jalah Malim Deman itu sendiri dalam keadaan selamat, badannya dililit sco- helai rambut. Agaknya rambut itulah yang telah menyelamatkannya dari bahaya itu. Rambut itu kemudian disimpannya sobagai azimat. Setelah ia menginjak dewasa hatinya tiada tentram lagi. Ia se-<noinclude></noinclude> 842gshlkfb7blrrnesmwq92r63kdw7l 291725 291715 2026-05-11T06:06:46Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291725 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|12}}</noinclude><poem> ::::ambil tempurung bori makan. ::::Dalam daerah tujuh kampung, ::::tuan seorang tempat hati, ::::yang lain jadi kuharamkan. </poem><br> :Putri Bungsu : <poem> ::::Diparang rotan dilantaikan, ::::dipenggal kayu modang sengit. ::::Sayang di tuan dilebihkan, ::::maka tinggal orang langit. </poem><br> Untuk lebih jelasnya baiklah kami sajikan garis besar ceritanya berdasarkan buku : <u>Malim Deman dan Putri Bungsu.</u> oleh A. Dt. Madjoindo, penerbit Balai Pustaka, Jakarta, Cet. II, 1965; 172 hal. Garis besar ceritanya itu sebagai berikut : Di Kuala Batang Muar ada seorang raja yang bernama Tuanku Raja Tua, permaisurinya Putri Mayang Seni, kerajaannya cukup besar. Beliau sudah lama memerintah, tapi belum juga berputra. Setelah meminta doa pada Allah s.w.t. hamillah permaisuri itu yang kemudian melahirkan seorang putra dan diberi nama Malim Deman. Ketika upacara turun mandi Malim Deman lepas dari pangkuan dan hanyut dibawa arus sungai. Gemparlah seluruh negeri oleh peristiwa itu. Dengan segala usaha mencarinya tiada dapat juga, sehingga raja dan rakyatnya sudah berputus asa. Pada hari yang ketujuh setelah peristiwa itu Bujang Selamat pergi menjala ikan. Ketika ia melepaskan jalanya di lubuk Seri Bulan terjeratlah seorang bayi. Bayi tersebut tidak lain ialah Malim Deman itu sendiri dalam keadaan selamat, badannya dililit sehelai rambut. Agaknya rambut itulah yang telah menyelamatkannya dari bahaya itu. Rambut itu kemudian disimpannya sebagai azimat. Setelah ia menginjak dewasa hatinya tiada tentram lagi. Ia se-<noinclude></noinclude> nf3ee1siicv0b17cs5jsmvkfb568mf3 291727 291725 2026-05-11T06:07:17Z Moel81 25980 291727 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|12}}</noinclude><poem> ::::ambil tempurung beri makan. ::::Dalam daerah tujuh kampung, ::::tuan seorang tempat hati, ::::yang lain jadi kuharamkan. </poem><br> :Putri Bungsu : <poem> ::::Diparang rotan dilantaikan, ::::dipenggal kayu modang sengit. ::::Sayang di tuan dilebihkan, ::::maka tinggal orang langit. </poem><br> Untuk lebih jelasnya baiklah kami sajikan garis besar ceritanya berdasarkan buku : <u>Malim Deman dan Putri Bungsu.</u> oleh A. Dt. Madjoindo, penerbit Balai Pustaka, Jakarta, Cet. II, 1965; 172 hal. Garis besar ceritanya itu sebagai berikut : Di Kuala Batang Muar ada seorang raja yang bernama Tuanku Raja Tua, permaisurinya Putri Mayang Seni, kerajaannya cukup besar. Beliau sudah lama memerintah, tapi belum juga berputra. Setelah meminta doa pada Allah s.w.t. hamillah permaisuri itu yang kemudian melahirkan seorang putra dan diberi nama Malim Deman. Ketika upacara turun mandi Malim Deman lepas dari pangkuan dan hanyut dibawa arus sungai. Gemparlah seluruh negeri oleh peristiwa itu. Dengan segala usaha mencarinya tiada dapat juga, sehingga raja dan rakyatnya sudah berputus asa. Pada hari yang ketujuh setelah peristiwa itu Bujang Selamat pergi menjala ikan. Ketika ia melepaskan jalanya di lubuk Seri Bulan terjeratlah seorang bayi. Bayi tersebut tidak lain ialah Malim Deman itu sendiri dalam keadaan selamat, badannya dililit sehelai rambut. Agaknya rambut itulah yang telah menyelamatkannya dari bahaya itu. Rambut itu kemudian disimpannya sebagai azimat. Setelah ia menginjak dewasa hatinya tiada tentram lagi. Ia se-<noinclude></noinclude> ilpieg04v5u68136ea8w5fa9hb9mgl4 291728 291727 2026-05-11T06:08:18Z Moel81 25980 291728 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|12}}</noinclude><poem> ::::ambil tempurung beri makan. ::::Dalam daerah tujuh kampung, ::::tuan seorang tempat hati, ::::yang lain jadi kuharamkan. </poem><br> :Putri Bungsu : <poem> ::::Diparang rotan dilantaikan, ::::dipenggal kayu modang sengit. ::::Sayang di tuan dilebihkan, ::::maka tinggal orang langit. </poem><br> Untuk lebih jelasnya baiklah kami sajikan garis besar ceritanya berdasarkan buku : <u>Malim Deman dan Putri Bungsu.</u> oleh A. Dt. Madjoindo, penerbit Balai Pustaka, Jakarta, Cet. II, 1965; 172 hal. Garis besar ceritanya itu sebagai berikut : Di Kuala Batang Muar ada seorang raja yang bernama Tuanku Raja Tua, permaisurinya Putri Mayang Seni, kerajaannya cukup besar. Beliau sudah lama memerintah, tapi belum juga berputra. Setelah meminta doa pada Allah s.w.t. hamillah permaisuri itu yang kemudian melahirkan seorang putra dan diberi nama Malim Deman. Ketika upacara turun mandi Malim Deman lepas dari pangkuan dan hanyut dibawa arus sungai. Gemparlah seluruh negeri oleh peristiwa itu. Dengan segala usaha mencarinya tiada dapat juga, sehingga raja dan rakyatnya sudah berputus asa. Pada hari yang ketujuh setelah peristiwa itu Bujang Selamat pergi menjala ikan. Ketika ia melepaskan jalanya di lubuk Seri Bulan terjeratlah seorang bayi. Bayi tersebut tidak lain ialah Malim Deman itu sendiri dalam keadaan selamat, badannya dililit sehelai rambut. Agaknya rambut itulah yang telah menyelamatkannya dari bahaya itu. Rambut itu kemudian disimpannya sebagai azimat. Setelah ia menginjak dewasa hatinya tiada tentram lagi. Ia {{hws|se|selalu}}<noinclude></noinclude> jgi0rx54qc4fot45v4z29zelmbl01yo Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/687 104 103547 291598 2026-05-11T03:41:15Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291598 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude> {{Missing image}} <small>''Letnan Kolonel Sugih Arto dari Komando Pendidikan & Latihan Angkatan Darat sedang menanda-tangani naskah penyerahan Depot Bataljon Infanteri 13 Mata Ie kepada Kmd. KDMA Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu.''</small> sekarang, dan djuga pemerintah sekarang disumpah waktu dilantik akan setia kepada Undang² Dasar jang ada itu. Tidak menjimpang dan keluar dari perubahan bentuk negara dan filsafatnja jang mendjadi inti dari Undang² Dasar itu. Tetapi hal lain semuanja mungkin. Perdana Menteri selandjutnja meminta agar delegasi Atjeh jang diketuai oleh Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu itu membikin suatu drag consep. Maka berdasarkan permintaan tersebut, pihak petugas-petugas R.I. di Atjeh telah mengadakan hubungan, pertukaran pikiran dalam persoalan tersebut dengan tokoh-tokoh dalam masjarakat di Atjeh, djuga dengan pimpinan dari pada D.I. dan T.I.I. itu sendiri. Maka demikian pulalah dengan pertemuan-pertemuan jang tidak resmi, tetapi dalam hal demikian pihak petugas R.I. di Atjeh telah meminta pendapat2 dan pikiran2 dari pada D.I. itu sendiri. Dari semua hasil-hasil ini dikakan kepada pemerintah pusat bawa ke Djakarta untuk dikemuguna dipahamkan. Dan dari kawan-kawan kita dari pihak D.I. pun nampak ada kesungguhan untuk mentjari djalan jang demikian, sehingga merekapun telah menetapkan satu dua orang untuk memikirkan persoalan tersebut, berupa satu panitia ad hoc ataupun satu panitia ketiil. Meletusnja peristiwa PRRI sedikit atau banjak, langsung atau tidak langsung, malahan djuga kadang-kadang memberi pengaruh-pengaruh jang mendalam sekali kepada daerah Atjeh dan djuga kepada djalannja pembitjaraan-pembitjaraan dan djalannja usaha-usaha jang sedang dilaksanakan. Lebih-lebih lagi hampir mengalami kematjetan sesudah adanja pemasukan sendjata kedaerah ini jang agak lumajan. Sendjata itu adalah anugerah PRRI jang dikirim dari Sumatera Barat untuk menikam kita dari belakang. Sendjata² ini dimasukkan ke Atjeh guna mempersendjatai kembali D.I./T.I.I. untuk menghantam TNI pada saat² penjelesaian persoalan sedang dilaksanakan. Walaupun sendjata telah banjak masuk ke Atjeh, namun pihak petugas² R.I. disana, terutama Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu sendiri tidak berputus asa untuk mentjari penjelesaian pokok guna kesedjahteraan rakjat dan daerah Atjeh. Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu telah mempunjai tekad selama ini dengan segala konsekwensinja. Adapun tekadnja jang pertama-tama ialah mentjoba menjelamatkan Atjeh itu dari keruntuhan, jang telah didjalankan dan diusahakannja sedjak beliau pulang ke Atjeh dengan segala daja dan usaha. Tampaknja itu akan berhasil dengan sebaik²nja dan dapat dirasakan oleh masjarakat Atjeh. Akan tetapi Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu tidak mau kalau Atjeh itu hantjur oleh kawan atau oleh tangannja sendiri. Dan kalau ada orang jang lebih berkuasa dari padanja untuk menghantjurkannja, maka dialah korab jang per-tama² untuk menentang usaha-usaha jang demikian. Meskipun dengan meletusnja dan dengan adanja intervensi PRRI ke Atjeh, jang tidak sedikit mempengaruhi djalannja usaha penjelesaian persoalan Atjeh, namun Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu tetap berusaha agar dipihak TNI dengan D.I. harus berusaha sedapat mungkin menghilangkan segala ketjurigaan dari pihak-pihak jang lain. Dan suasana damai jang telah ditjapai itu supaja betul-betul dapat dipertahankan dengan segala daja upaja. Tekad jang kedua ialah berusaha sungguh² setjara aktip menjelesaikan peristiwa itu dengan sebaik-baiknja sesuai dengan pernjataan jang telah dikeluarkan. Dan achirnja sebagai tjita-tjita jang sutji dari Letnan Kolonel Sjamaun Gaharu adalah, mengeruk dan mentjari djalan untuk kepentingan rakjat dan daerah Atjeh.<noinclude> 29</noinclude> n7kwztj89xds9zdt7azhz591sdyhkrm Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/688 104 103548 291599 2026-05-11T03:45:10Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291599 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><big>''Mengenangkan kembali,''</big> <big><big>'''SEMANGAT PPROKLAMASI DITANAH RENTJONG'''</big></big> '''Atjeh dihari-hari tersiarnja Proklamasi.''' Mendengungnja gema proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 jang disambut dengan gembira oleh segenap lapisan masjarakat diseluruh pendjuru Tanah Air, telah membangkitkan pula semangat jang bergelora disegenap dada penduduk Atjeh untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan itu. Meskipun pada saat² petjahnja berita proklamasi, suasana di Atjeh umumnja terutama di Kutaradja masih dikuasai oleh regim pemerintah balatentara Djepang jang sedang menghadapi hari-hari kedjahatannja, namun berita itu disambut oleh segenap lapisan masjarakat dengan sangat gembira dan semangat jang berapi-api. Segala propokasi dan bermatjam rintangan dari pemerintah gunseibu Djepang jang menghalang-halangi berkobarnja semangat kemerdekaan itu dapat diatasi oleh kebulatan tekad rakjat Atjeh jang tjinta kemerdekaan. Rintangan² dari tentara Djepang jang menghambat-hambat lantjarnja usaha kemerdekaan ketika itu, ialah oleh karena Djepang merasa takut sendiri kalau² kemerdekaan itu tidak diakui oleh pihak Sekutu, kepada siapa Djepang telah menjerah kalah. Djandji² kemerdekaan jang telah demikian sering diutjapkan pemerintahnja selama ini, tak dapat lagi didjadikan satu pegangan. Tetapi rakjat Atjeh sedikitpun tidak memperdulikan kepada keberatan² jang dikemukakan oleh pemerintah tentara Djepang jang sedang dalam kebingungan itu. Rakjat telah tahu, bahwa Djepang telah menjerah-kalah kepada Sekutu akibat djatuhnja bom Atom di Hiroshima. Meskipun begitu Djepang sendiri tidak pernah mengumumkan bahwa mereka telah menjerah-kalah. Apa jang mereka umumkan kepada rakjat di Atjeh, ialah „Peperangan Asia Timur Raja” sudah selesai, balatentara „Dai Nippon” akan segera kembali ke negerinja. {{Missing image}} <small>''Setiap memperingati Hari? Besar Nasional atau menjambut kedatangan tamu? agung dari pusat, rakjat Atjeh berdujun-dujun membandjiri halaman istana Gubernuran di Kotaradja untuk mendengarkan wedjangan?.''</small> {{Missing image}} <small>''Suatu peristiwa bersedjarah, ketika Presiden Soekarno untuk pertama kalinja mengundjungi Atjeh dalam tahun 1948. Pada gambar nampak Presiden sedang menjambut devile Tentara jang diadakan dilapangan "Blang Padang” Kotaradja.''</small><noinclude> 30</noinclude> gvndqe527qml11cd035193k6p2la2k0 291600 291599 2026-05-11T03:45:25Z Link PB 26772 291600 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><big>''Mengenangkan kembali,''</big> <br> <big><big>'''SEMANGAT PPROKLAMASI DITANAH RENTJONG'''</big></big> '''Atjeh dihari-hari tersiarnja Proklamasi.''' Mendengungnja gema proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 jang disambut dengan gembira oleh segenap lapisan masjarakat diseluruh pendjuru Tanah Air, telah membangkitkan pula semangat jang bergelora disegenap dada penduduk Atjeh untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan itu. Meskipun pada saat² petjahnja berita proklamasi, suasana di Atjeh umumnja terutama di Kutaradja masih dikuasai oleh regim pemerintah balatentara Djepang jang sedang menghadapi hari-hari kedjahatannja, namun berita itu disambut oleh segenap lapisan masjarakat dengan sangat gembira dan semangat jang berapi-api. Segala propokasi dan bermatjam rintangan dari pemerintah gunseibu Djepang jang menghalang-halangi berkobarnja semangat kemerdekaan itu dapat diatasi oleh kebulatan tekad rakjat Atjeh jang tjinta kemerdekaan. Rintangan² dari tentara Djepang jang menghambat-hambat lantjarnja usaha kemerdekaan ketika itu, ialah oleh karena Djepang merasa takut sendiri kalau² kemerdekaan itu tidak diakui oleh pihak Sekutu, kepada siapa Djepang telah menjerah kalah. Djandji² kemerdekaan jang telah demikian sering diutjapkan pemerintahnja selama ini, tak dapat lagi didjadikan satu pegangan. Tetapi rakjat Atjeh sedikitpun tidak memperdulikan kepada keberatan² jang dikemukakan oleh pemerintah tentara Djepang jang sedang dalam kebingungan itu. Rakjat telah tahu, bahwa Djepang telah menjerah-kalah kepada Sekutu akibat djatuhnja bom Atom di Hiroshima. Meskipun begitu Djepang sendiri tidak pernah mengumumkan bahwa mereka telah menjerah-kalah. Apa jang mereka umumkan kepada rakjat di Atjeh, ialah „Peperangan Asia Timur Raja” sudah selesai, balatentara „Dai Nippon” akan segera kembali ke negerinja. {{Missing image}} <small>''Setiap memperingati Hari? Besar Nasional atau menjambut kedatangan tamu? agung dari pusat, rakjat Atjeh berdujun-dujun membandjiri halaman istana Gubernuran di Kotaradja untuk mendengarkan wedjangan?.''</small> {{Missing image}} <small>''Suatu peristiwa bersedjarah, ketika Presiden Soekarno untuk pertama kalinja mengundjungi Atjeh dalam tahun 1948. Pada gambar nampak Presiden sedang menjambut devile Tentara jang diadakan dilapangan "Blang Padang” Kotaradja.''</small><noinclude> 30</noinclude> 8908pfeu8w6biy31cuyxrg5zisie51z Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/689 104 103549 291601 2026-05-11T03:47:50Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291601 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dalam pada itu rakjat melihat banjak tangsi² dan tempat² pertahanan Djepang jang diperkuat selama itu, telah dikosongkan begitu sadja tanpa ada sesuatu timbang-terima dengan siapa pun djuga. Beberapa orang opsir dan pembesar Djepang di Kutaradja dan beberapa tempat lainnja diketahui telah membunuh diri karena tidak tahan menerima tekanan djiwa akibat kekalahan bangsanja itu. Serdadu² Djepang dan pembesar² gunseibu lainnja jang ada disekitar Kutaradja sudah dikumpulkan dipangkalan mereka jang terkuat dilapangan terbang Blang Bintang dan Lho' Nga. Ke-dua² lapangan udara ini adalah merupakan pangkalan udara Djepang jang terkuat diudjung Utara Pulau Sumatera untuk menangkis serangan Sekutu jang mungkin datang dari djurusan Lautan Hindia. '''Gema Proklamasi membakar semangat.''' Dalam suasana jang tidak berketentuan seperti tsb. diatas, tibalah berita jang resmi tentang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, jang datangnja pada awal bulan Oktober 1945, jaitu kurang lebih satu setengah bulan sesudah proklamasi itu diutjapkan oleh Dwitunggal Sukarno-Hatta. Pesawat radio dan surat kabar ketika itu tidak ada di-tengah² masjarakat. Warta-berita tentang kemerdekaan disampaikan dari mulut kemulut dan dengan surat-menjurat. Seputjuk kawat dari Bukittinggi (Ibu-kota Sumatera ketika itu) jang disampaikan kepada Teuku Nja' Arif, seorang pemimpin dan bangsawan Atjeh terkemuka di Kutaradja menjatakan, bahwa Indonesia telah merdeka sedjak hari Proklamasi 17 Agustus 1945. Rakjat Atjeh diminta supaja segera mempersiapkan diri untuk membela kemerdekaan itu dibawah bimbingan Komite Nasional Indonesia jang segera harus dibentuk. Menjambut berita tentang kepastian proklamasi kemerdekaan itu, di Kutaradja dibentuklah dengan segera '''Komite Nasional Indonesia''' dibawah pimpinan '''Teuku Nja' Arif''', '''Tuanku Mahmud''' dkk. Dalam kalangan angkatan muda pun terdjalin pula suatu ikatan perdjuangan jang sangat kokoh dibawah pimpinan '''A. Hasjmy''' (Gubernur Atjeh sekarang) dan beberapa orang temannja. Dibentuklah organisasi perdjuangan pemuda jang mula² bernama '''A.P.I. (Angkatan Pemuda Indonesia)''', kemudian bertukar nama dengan '''P.R.I. (Pemuda Republik Indonesia)''' dan kemudian sekali terkenal dengan nama '''Pesindo'''. Seiring dengan itu disusul pula oleh organisasi² perdjuangan dan barisan² bersendjata lainnja. Sumbangan pikiran, tenaga dan harta-benda ketika itu mengalir dengan se-hebat²nja kedalam {{Missing image}} <small>''Satu kenang-kenangan jang megah, ketika diadakan suatu upatjara oleh pasukan Mobrig kita di Kotaradja, disaat perdjuangan kita sedang memuntjak dalam mempertahankan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.''</small> {{Missing image}} <small>''Sebagian anggota² dari Divisi Potjut Baren jang terdiri dari putri² Atjeh jang setiap saat siap sedia dihari-hari revolusi dalam membela proklamasi negara kita. Sesudah penjerahan kedaulatan, mereka kembali kemasjarakat sebagai wanita dirumah tangga.''</small><noinclude></noinclude> pejorucv0xm06cbyxssd2bmes1g1xnj 291602 291601 2026-05-11T03:48:08Z Link PB 26772 291602 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dalam pada itu rakjat melihat banjak tangsi² dan tempat² pertahanan Djepang jang diperkuat selama itu, telah dikosongkan begitu sadja tanpa ada sesuatu timbang-terima dengan siapa pun djuga. Beberapa orang opsir dan pembesar Djepang di Kutaradja dan beberapa tempat lainnja diketahui telah membunuh diri karena tidak tahan menerima tekanan djiwa akibat kekalahan bangsanja itu. Serdadu² Djepang dan pembesar² gunseibu lainnja jang ada disekitar Kutaradja sudah dikumpulkan dipangkalan mereka jang terkuat dilapangan terbang Blang Bintang dan Lho' Nga. Ke-dua² lapangan udara ini adalah merupakan pangkalan udara Djepang jang terkuat diudjung Utara Pulau Sumatera untuk menangkis serangan Sekutu jang mungkin datang dari djurusan Lautan Hindia. '''Gema Proklamasi membakar semangat.''' Dalam suasana jang tidak berketentuan seperti tsb. diatas, tibalah berita jang resmi tentang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, jang datangnja pada awal bulan Oktober 1945, jaitu kurang lebih satu setengah bulan sesudah proklamasi itu diutjapkan oleh Dwitunggal Sukarno-Hatta. Pesawat radio dan surat kabar ketika itu tidak ada di-tengah² masjarakat. Warta-berita tentang kemerdekaan disampaikan dari mulut kemulut dan dengan surat-menjurat. Seputjuk kawat dari Bukittinggi (Ibu-kota Sumatera ketika itu) jang disampaikan kepada Teuku Nja' Arif, seorang pemimpin dan bangsawan Atjeh terkemuka di Kutaradja menjatakan, bahwa Indonesia telah merdeka sedjak hari Proklamasi 17 Agustus 1945. Rakjat Atjeh diminta supaja segera mempersiapkan diri untuk membela kemerdekaan itu dibawah bimbingan Komite Nasional Indonesia jang segera harus dibentuk. Menjambut berita tentang kepastian proklamasi kemerdekaan itu, di Kutaradja dibentuklah dengan segera '''Komite Nasional Indonesia''' dibawah pimpinan '''Teuku Nja' Arif''', '''Tuanku Mahmud''' dkk. Dalam kalangan angkatan muda pun terdjalin pula suatu ikatan perdjuangan jang sangat kokoh dibawah pimpinan '''A. Hasjmy''' (Gubernur Atjeh sekarang) dan beberapa orang temannja. Dibentuklah organisasi perdjuangan pemuda jang mula² bernama '''A.P.I. (Angkatan Pemuda Indonesia)''', kemudian bertukar nama dengan '''P.R.I. (Pemuda Republik Indonesia)''' dan kemudian sekali terkenal dengan nama '''Pesindo'''. Seiring dengan itu disusul pula oleh organisasi² perdjuangan dan barisan² bersendjata lainnja. Sumbangan pikiran, tenaga dan harta-benda ketika itu mengalir dengan se-hebat²nja kedalam {{Missing image}} <small>''Satu kenang-kenangan jang megah, ketika diadakan suatu upatjara oleh pasukan Mobrig kita di Kotaradja, disaat perdjuangan kita sedang memuntjak dalam mempertahankan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.''</small> {{Missing image}} <small>''Sebagian anggota² dari Divisi Potjut Baren jang terdiri dari putri² Atjeh jang setiap saat siap sedia dihari-hari revolusi dalam membela proklamasi negara kita. Sesudah penjerahan kedaulatan, mereka kembali kemasjarakat sebagai wanita dirumah tangga.''</small><noinclude> 31</noinclude> b0z0euklp31svuaatu52lv7gqjll6d6 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/690 104 103550 291603 2026-05-11T03:51:20Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291603 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} Gambar kubu-kubu pertahanan jang dibangun oleh rakjat Atjeh disepandjang Sumatera Timur — Atjeh, disaat menghadapi penjerbuan dari Tentara Belanda. Hasilnja telah dapat memukul mundur setiap serangan Belanda kedaerah Atjeh. {{Missing image}} Disepandjang pantai Atjeh djuga terdapat kubu² pertahanan jang didjaga oleh putra² Atjeh untuk menghadapi segala kemungkinan, pertahanan tsb. diperlengkapi dng. sendjata² automatis. {{Missing image}} Anggota pasukan Tentara kita sedang sibuk melajani meriam parit, pada saat menghalau penjerbuan Belanda kedaerah itu. badan-badan perdjuangan. Tjerdik-pandai menggembleng semangat rakjat dan mengobar-ngobarkan semangat membela kemerdekaan. Usaha-usaha penerangan mengenai perdjuangan politik dan situasi negara dan dunia pada umumnja dilantjarkan oleh Djawatan Penerangan Atjeh, dimana Osman Raliby dkk. telah banjak berbuat dalam lapangan ini. Sebuah zender radio darurat jg dibuat dari sisa-sisa peninggalan Djepang telah menambah lantjarnja usaha-usaha penerangan ketika itu. Dalam pada itu di Kutaradja diterbitkan pula sebuah surat kabar harian Semangat Merdeka, sebagai ganti dari Atjeh Sinbun, dibawah pimpinan A. Hasjmy jang kemudian diganti oleh Amelz dan Abdullah Arif. Dalam bidang pemerintahan umum dan alat-alat perlengkapan negara, baik sipil maupun militer, semuanja sudah dipersiapkan pula. Kantor-kantor dan djawatan-djawatan pemerintahan telah diambil alih oleh rakjat dibawah pimpinan Teuku Nja' Arif selaku Residen Atjeh jang pertama. Pengambilan alih kantor-kantor dan djawatan-djawatan pemerintah di Kutaradja, bahkan djuga diseluruh Atjeh, sebagian dilakukan dgn sukarela antara Djepang dan Republik Indonesia. Dalam pada itu kadang-kadang ada pula jang diiringi dengan insiden-insiden. '''Pembentukan Angkatan Perang.''' Dalam rangka penjempurnaan alat-alat kekuasaan negara, di Atjeh ketika itu dibangunkan pula suatu Angkatan Perang jang terdiri dari pemuda-pemuda kita bekas anggota-anggota Heiho dan Gyu-gun jg selama itu telah mendapat latihan dari tentara Djepang. Sjammaun Gaharu (Komandan KDMA/Iskandar-Muda sekarang) diangkat mendjadi Kolonel dan diserahi tugas untuk menjusun suatu Angkatan Darat jang kuat didaerah Atjeh. Maka dengan segera terbentuklah Tentara Republik Indonesia jang kemudian berubah nama dengan Tentara Keamanan Rakjat dan paling achir mendjelma sebagai Tentara Nasional Indonesia (T.N.I.). Tokoh lain jang terkemuka dalam penjusunan T.N.I. di Atjeh ketika itu antara lain ialah Kolonel Husin Jusuf dan anggota-anggota stafnja. Selain dari Angkatan Perang jang resmi dari pasukan-pasukan pemerintah, atas initiatief pemimpin-pemimpin perdjuangan terbentuk pula barisan lasjkar rakjat jang mendapat sokongan besar dari segenap lapisan massa. Muntjullah barisan-barisan perdjuangan rakjat, seperti Ksatrya Pesindo dengan Divisi Rentjong (untuk putera) dan Divisi Potjut Barén (untuk puteri) dibawah pimpinan A. Hasjmy selaku Ketua Umum Pesindo Atjeh, dan Barisan Mudjahidin dibawah pimpinan Teungku Mohd. Daud Beureuëh dengan nama Divisi Teungku Tjhik di Tiro. Dibagian Atjeh Timur Teungku Amir Husin Al-Mudjahid membentuk pula satu pasukan bernama Divisi Paja Bakong. Untuk mendapatkan sendjata-sendjata jang diperlukan oleh barisan-barisan itu, oleh rakjat telah dilakukan penjerbuan-penjerbuan serentak terhadap<noinclude> 32</noinclude> hlhkj0c5xcwv9id6smml23c7idic7uh 291604 291603 2026-05-11T03:52:04Z Link PB 26772 291604 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Gambar kubu-kubu pertahanan jang dibangun oleh rakjat Atjeh disepandjang Sumatera Timur — Atjeh, disaat menghadapi penjerbuan dari Tentara Belanda. Hasilnja telah dapat memukul mundur setiap serangan Belanda kedaerah Atjeh.''</small> {{Missing image}} <small>''Disepandjang pantai Atjeh djuga terdapat kubu² pertahanan jang didjaga oleh putra² Atjeh untuk menghadapi segala kemungkinan, pertahanan tsb. diperlengkapi dng. sendjata² automatis.''</small> {{Missing image}} <small>''Anggota pasukan Tentara kita sedang sibuk melajani meriam parit, pada saat menghalau penjerbuan Belanda kedaerah itu.''</small> badan-badan perdjuangan. Tjerdik-pandai menggembleng semangat rakjat dan mengobar-ngobarkan semangat membela kemerdekaan. Usaha-usaha penerangan mengenai perdjuangan politik dan situasi negara dan dunia pada umumnja dilantjarkan oleh Djawatan Penerangan Atjeh, dimana Osman Raliby dkk. telah banjak berbuat dalam lapangan ini. Sebuah zender radio darurat jg dibuat dari sisa-sisa peninggalan Djepang telah menambah lantjarnja usaha-usaha penerangan ketika itu. Dalam pada itu di Kutaradja diterbitkan pula sebuah surat kabar harian Semangat Merdeka, sebagai ganti dari Atjeh Sinbun, dibawah pimpinan A. Hasjmy jang kemudian diganti oleh Amelz dan Abdullah Arif. Dalam bidang pemerintahan umum dan alat-alat perlengkapan negara, baik sipil maupun militer, semuanja sudah dipersiapkan pula. Kantor-kantor dan djawatan-djawatan pemerintahan telah diambil alih oleh rakjat dibawah pimpinan Teuku Nja' Arif selaku Residen Atjeh jang pertama. Pengambilan alih kantor-kantor dan djawatan-djawatan pemerintah di Kutaradja, bahkan djuga diseluruh Atjeh, sebagian dilakukan dgn sukarela antara Djepang dan Republik Indonesia. Dalam pada itu kadang-kadang ada pula jang diiringi dengan insiden-insiden. '''Pembentukan Angkatan Perang.''' Dalam rangka penjempurnaan alat-alat kekuasaan negara, di Atjeh ketika itu dibangunkan pula suatu Angkatan Perang jang terdiri dari pemuda-pemuda kita bekas anggota-anggota Heiho dan Gyu-gun jg selama itu telah mendapat latihan dari tentara Djepang. Sjammaun Gaharu (Komandan KDMA/Iskandar-Muda sekarang) diangkat mendjadi Kolonel dan diserahi tugas untuk menjusun suatu Angkatan Darat jang kuat didaerah Atjeh. Maka dengan segera terbentuklah Tentara Republik Indonesia jang kemudian berubah nama dengan Tentara Keamanan Rakjat dan paling achir mendjelma sebagai Tentara Nasional Indonesia (T.N.I.). Tokoh lain jang terkemuka dalam penjusunan T.N.I. di Atjeh ketika itu antara lain ialah Kolonel Husin Jusuf dan anggota-anggota stafnja. Selain dari Angkatan Perang jang resmi dari pasukan-pasukan pemerintah, atas initiatief pemimpin-pemimpin perdjuangan terbentuk pula barisan lasjkar rakjat jang mendapat sokongan besar dari segenap lapisan massa. Muntjullah barisan-barisan perdjuangan rakjat, seperti Ksatrya Pesindo dengan Divisi Rentjong (untuk putera) dan Divisi Potjut Barén (untuk puteri) dibawah pimpinan A. Hasjmy selaku Ketua Umum Pesindo Atjeh, dan Barisan Mudjahidin dibawah pimpinan Teungku Mohd. Daud Beureuëh dengan nama Divisi Teungku Tjhik di Tiro. Dibagian Atjeh Timur Teungku Amir Husin Al-Mudjahid membentuk pula satu pasukan bernama Divisi Paja Bakong. Untuk mendapatkan sendjata-sendjata jang diperlukan oleh barisan-barisan itu, oleh rakjat telah dilakukan penjerbuan-penjerbuan serentak terhadap<noinclude> 32</noinclude> g534vvrojru2ze3ltvupeylgjitijyi Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/691 104 103551 291605 2026-05-11T03:55:10Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291605 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} Sendjata² berat, antaranja Meriam jang dipergunakan untuk menghadapi setiap penjerbuan, jang diperkuat dengan kilang² sendjata jang dibangunkan didaerah itu sendiri. Dan tampak digambar ini ialah sebagian ketjil dari kilang² sendjata kita jang ada disana. {{Missing image}} Suatu pemandangan dalam kilang? sendjata jang terdapat didaerah Atjeh. {{Missing image}} Kilang² sendjata sematjam ini sangat berdjasa bagi negara dan bangsa kita. Dan hasil dari kilang-kilang sendjata inilah dapat ditjiptakan suatu Komando Artileri jang dibanggakan di Atjeh pada saat² menghadapi agresi Belanda jang lalu. {{Missing image}} Sungguh sangat berdjiasa mereka jang telah mentjurahkan tenaganja dalam kilang2 tsb. Mereka bekerdja giat dengan tidak mengharap djasa. tangsi-tangsi Djepang. Sendjata-sendjata jang dirampas ketika itu antara lain ialah, senapan, meriam, peluru, mesiu, bajonet dan berbagai-bagai djenis lainnja. Dalam penjerbuan setjara besar-besaran untuk merampas sendjata Djepang itu banjak terdjadi insiden-insiden disana sini, seperti ditangsi Lho' Nga, Sigli, Kuala Simpang, Krueng Pandjoë dan lain-lain tempat lagi, dimana banjak korban jang djatuh dikedua belah pihak. Hasil dari perampasan sendjata-sendjata itulah kemudian Atjeh dapat mempertahankan diri dari serangan-serangan pihak Belanda dalam aggressi-aggressi jang pertama dan kedua, sehingga Atjeh selamat dan terhindar dari mala-petaka perbudakan oleh kekuasaan Nica. Segala matjam barisan-barisan dan badan-badan perdjuangan bersendjata di Atjeh itu kemudian sesudah pengakuan kedaulatan, semuanja telah dilebur kedalam kesatuan<noinclude> 33</noinclude> 8k0a6qr5rrgugphn5lbt02cwq97g30h 291606 291605 2026-05-11T03:55:55Z Link PB 26772 291606 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Sendjata² berat, antaranja Meriam jang dipergunakan untuk menghadapi setiap penjerbuan, jang diperkuat dengan kilang² sendjata jang dibangunkan didaerah itu sendiri. Dan tampak digambar ini ialah sebagian ketjil dari kilang² sendjata kita jang ada disana.''</small> {{Missing image}} <small>''Suatu pemandangan dalam kilang? sendjata jang terdapat didaerah Atjeh.''</small> {{Missing image}} <small>''Kilang² sendjata sematjam ini sangat berdjasa bagi negara dan bangsa kita. Dan hasil dari kilang-kilang sendjata inilah dapat ditjiptakan suatu Komando Artileri jang dibanggakan di Atjeh pada saat² menghadapi agresi Belanda jang lalu.''</small> {{Missing image}} <small>''Sungguh sangat berdjiasa mereka jang telah mentjurahkan tenaganja dalam kilang2 tsb. Mereka bekerdja giat dengan tidak mengharap djasa.''</small> tangsi-tangsi Djepang. Sendjata-sendjata jang dirampas ketika itu antara lain ialah, senapan, meriam, peluru, mesiu, bajonet dan berbagai-bagai djenis lainnja. Dalam penjerbuan setjara besar-besaran untuk merampas sendjata Djepang itu banjak terdjadi insiden-insiden disana sini, seperti ditangsi Lho' Nga, Sigli, Kuala Simpang, Krueng Pandjoë dan lain-lain tempat lagi, dimana banjak korban jang djatuh dikedua belah pihak. Hasil dari perampasan sendjata-sendjata itulah kemudian Atjeh dapat mempertahankan diri dari serangan-serangan pihak Belanda dalam aggressi-aggressi jang pertama dan kedua, sehingga Atjeh selamat dan terhindar dari mala-petaka perbudakan oleh kekuasaan Nica. Segala matjam barisan-barisan dan badan-badan perdjuangan bersendjata di Atjeh itu kemudian sesudah pengakuan kedaulatan, semuanja telah dilebur kedalam kesatuan<noinclude> 33</noinclude> 67jmt6f8pxam218clwj8b4feiy12y6g Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/692 104 103552 291607 2026-05-11T03:58:53Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291607 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} Pasukan? Meriam kita sedang beraksi dalam menghalau penjerbuan Belanda kedaerah Atjeh. {{Missing image}} Ini adalah sendjata Penangkis Serangan Udara jang telah berhasil melumpuhkan setiap serangan udara dari fihak Belanda dari pangkalannja jg. berada di Sabang terhadap Kotaradja dan lapangan? terbang jang terdapat disekitarnja, antara lain: Lapangan terbang Lho” Nga dan Blang Bintang. {{Missing image}} Gambar seputjuk Meriam gerak tjepat jang selalu berpindah? dengan ditarik oleh Jeep. Tentara Nasional Indonesia (T.N.I.) dibawah komando Teungku Mohd. Daoed Beureuëh jang waktu itu berpangkat Djenderal Major sebagai Gubernur Militer Atjeh, Langkat dan Tanah Karo. '''Clash pertama dan kedua.''' Dalam clash pertama dan kedua, dimana Belanda dengan keras berusaha hendak menghantjurkan kemerdekaan Republik Indonesia dengan kekuatan sendjata dan politik adu-dombanja, seluruh pelosok daerah Atjeh ketjuali Sabang tidak pernah diduduki oleh tentara Belanda. Sebab-sebabnja Sabang tak dapat dikuasai oleh pemerintah kita ketika itu ialah, oleh karena pasukan² Belanda telah lebih dahulu mengopernja dari tangan Djepang, sedangkan dipihak kita belum ada satu armada jang kuat untuk menjerbu ke pulau Weh itu. Ketika pertempuran² sedang berlangsung dengan hebatnja di Langkat Area, diperbatasan Atjeh dan Sumatera Timur, pesawat² terbang Belanda seringkali melintasi udara daerah Atjeh, sementara armada lautnja giat melakukan penembakan² kearah pantai kita disekitar daerah tsb. Blokkade laut dilakukan dgn serapi-rapinja untuk menghambat impor-ekspor kita jang dilakukan antara Atjeh dan Malaya, Penang dan Singapura. Tetapi meskipun blokkade jang demikian hebat, banjak djuga saudagar² kita dan pedagang² Tionghoa ketika itu, jang dengan keberanian jang luar biasa mau mengadu untung dengan memasukkan bahan² dan alat-alat perlengkapan pemerintah dan sebagainja untuk melandjutkan perdjuangan kita. Dalam keadaan jang penuh kritik itu rakjat Atjeh lelaki dan wanita, tua dan muda, semuanja telah memperlihatkan kesetiaan dan tekadnja jang bulat untuk mempertahankan proklamasi kemerdekaan kita. Serangan² dipihak Belanda ditentangnja dengan semangat jg gagah berani dan tekad rela mati mendjadi korban untuk membela kemerdekaan. Perdjuangan menentang agressi Belanda itu disebutnja peperangan sutji, Perang Sabil. Berkat persatu-paduan semangat jang demikian hebat, maka sampai saat djatuhnja kekuasaan Belanda di Indonesia dengan pengakuan kedaulatan kita pada achir tahun 1949, seorangpun tidak ada bangsa Belanda jang dapat mengindjakkan kaki diatas bumi Tanah Rentjong. '''Atjeh sebagai daerah modal?''' Berhubung dengan tekad jang bulat disegenap hati sanubari rakjat untuk mempertahankan proklamasi kemerdekaan itu, pun djuga berkat bantuan jang tulus-ikhlas baik moreel maupun materieel dari segenap penduduk, maka oleh Dwitunggal kita Bung Karno dan Bung Hatta jang pada hari-hari menghadapi kesulitan itu sering² datang ke Atjeh, di...<noinclude> 34</noinclude> bw758s7qxciyirmng33b8h3iiigclf3 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/693 104 103553 291608 2026-05-11T04:03:16Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291608 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Berikanlah sebutan jang muluk² kepada Atjeh, „Atjeh daerah modal”, „rakjat Atjeh patuh dan setia” dan lain-lain djulukan lagi. Tentu sadja rakjat Atjeh merasa bangga dengan djulukan² jang menggembirakan itu. Memang ketika itu Atjeh merupakan suatu daerah modal bagi Republik Indonesia, karena sewaktu daerah² R.I. lainnja sebagian besar telah diduduki oleh pasukan² Belanda dalam clash kesatu dan kedua, negara proklamasi kita masih dapat dipertahankan di Tanah Rentjong. Djuga ketika hubungan Perwakilan² kita diluar negeri telah terputus dengan Pemerintah Pusat, Atjeh telah memberikan bantuan² materieel jang bukan sedikit berupa uang, emas, dan barang² berharga lainnja. Dengan bantuan² itu usaha² Perwakilan kita diluar negeri dapat dilantjarkan sebagaimana mestinja. Itu semua dapat disumbangkan oleh masjarakat Atjeh dihari-hari menghadapi kesulitan itu, adalah atas kerdjasama jang baik dan koordinasi jang kuat antara pemuka² dan pemimpin² rakjat jg ada disana. Baik pemimpin² keagamaan dari golongan alim-ulama, ataupun dari golongan bangsawan dan tjerdik pandai pentjinta² kemerdekaan. Untuk hanja menjebut beberapa nama, dari kalangan bangsawan Atjeh muntjul pemuka² seperti Alm. Teuku Nja' Arif, Tuanku Mahmud, T.M. Daoedsjah, dari golongan alim-ulama tampil tokoh² seperti Tgk. Mohd. Daoed Beureuéh, Tgk. Abdul Wahab Seulimeum, Tgk. H. Hasan Krueng Kalé, dari kalangan pemuda terdapat A. Hasjmy, T.M. Amin, Tgk. Amir Husin Al-Mudjahid, sedangkan dari tjerdik-pandai Mr. S.M. Amin, Soetikno Padmosoemarto dll. Demikianlah beberapa fakta sedjarah kita kemukakan dalam tjatatan jang ringkas ini, jang membajangkan betapa erat dan kuatnja persatuan kita dihari² kesulitan mempertahankan proklamasi kita ditahun-tahun jang penuh kepahitan itu. Sehingga apabila kita kenangkan itu semua, maka alangkah sedih dan terharunja kita sekarang apabila kita melihat satu kenjataan sedjarah dihari-hari belakangan ini, bahwa dibekas „daerah modal” jang dahulunja mendjadi kebanggaan sedjarah kita, kini terdjadi peristiwa² jang merupakan tragedie jang menjimpang dari tjita-tjita proklamasi kita. Hanja dengan memperbaharui kembali semangat dan djiwa proklamasi seperti jang pernah kita miliki dihari-hari memuntjaknja perdjuangan itulah kita akan dapat keluar dari kesulitan² nasional jang kita hadapi sekarang ini. Semoga Tuhan Jang Maha Kuasa akan dapat mengutuhkan kembali sendi² jang telah retak akibat hebatnja perdjuangan dalam menjusun dan membangunkan negara kita, demi keluhuran tjita² proklamasi kita jang telah diutjapkan oleh Dwitunggal Soekarno—Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 itu. Sekali Merdeka, Tetap Merdeka ! {{Missing image}} <small>''Ini adalah sebuah benteng dipantai Atjeh Utara jang diperlengkapi dengan meriam² besar jang dapat menenggelamkan sebuah kapal Belanda, ketika Belanda hendak mengadakan pendaratan dipantai Lho' Seumawe.''</small> {{Missing image}} <small>''Inilah sendjata Penangkis Serangan Udara jang sangat ditakuti oleh pesawat² terbang Belanda jang hendak beraksi diudara Atjeh.''</small> {{Missing image}} <small>''Meskipun meriam ini merupakan meriam kuno, namun djasanja sangat besar dalam menghalau pendaratan Belanda jang hendak dilakukan dipantai Atjeh.''</small><noinclude> 35</noinclude> t2bxj7kuqfeutqvfsydrulc7eyykgpc Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/696 104 103554 291610 2026-05-11T04:06:40Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291610 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><center><big>'''Penjelesaian Dan Pemeliharaan'''</big></center> <center><big>'''Keamanan'''</big></center> <center>'''OLEH: LET. KOL SLAMET ALI JUNUS'''</center> Selama irama kehidupan melalui kekatjauan, pemberontakan atau peperangan, maka selama itu pula kita mustahil dapat melepaskan pemikiran tentang soal keamanan. Dalam soal ini tampil faktor tjara² pelaksanaan untuk mentjapai tjita² abadi dari perorangan, golongan, bangsa maupun umat manusia seluruhnja. Tetapi keamanan abadi tidak kita kenal dalam kamus sedjarah, kalau kita teliti sedjarah itu jang berirama peperangan sepandjang masa. Karena matjam² sebab apapun jang dapat menimbulkan perang dan jang dilaksanakan dengan tudjuan apapun djuga, maka sebab jang lebih dalam dari tiap perang sebenarnja terletak pada m a n u s i a. Baru kalau manusia telah berubah dan pembawaannja tidak lagi mendorongnja untuk mengedjar tudjuannja serta hendak mendjamin kelangsungan hidupnja dengan bantuan kekerasan dan penghantjuran, terbukalah kemungkinan untuk menghindari perang. Pada hakekatnja kita mengutuk setiap kekatjauan ataupun setiap peperangan jang bertentangan dengan peri-kemanusiaan. Oleh karenanja kita tidak djemu berusaha untuk merealisir keamanan. Kita mengetahui adanja usaha dalam wudjud Volkenbond di Djenewa untuk menghindarkan perang dunia baru sebagai djandji djera umat manusia setelah mengalami kehantjuran² akibat perang dunia pertama (1914-1918). Namun kita menjaksikan djuga akan kegagalan Volkenbond karena diruntuhkan oleh berkobarnja perang dunia kedua jang lebih seram dan lebih dahsjat daripada jang pertama. Pengalaman² perang dunia kedua mendorong adanja usaha jang lebih konkrit untuk menghindarkan berkobarnja perang besar jang tidak dapat diramalkan betapa hebatnja malapetaka jang akan menimpa umat manusia diatas bumi kita ini kalau perang dunia itu berkobar lagi untuk ketiga kalinja, berhubung dengan dahsjatnja alat-alat persendjataan jang akan dipergunakan demi kehantjuran dan kebinasaan. Itulah tugas maha berat jang dibebankan kepada Dewan Keamanan dari Perserikatan Bangsa² jang sampai kini masih berhasil dan mampu melokalisir peperangan jang timbul akibat ketegangan² jang tiada henti-hentinja. Pada waktu akhir² ini umat manusia menahan napas akibat memuntjaknja ketegangan² di Timur Tengah jang akan mendjadi udjian mutlak bagi kemampuan serta hak hidup selandjutnja dari PBB dengan Dewan Keamanannja. Semua pihak memeras pikiran agar penjelesaian dan pemeliharaan keamanan dunia berlangsung setjara damai atau musjawarah, karena disadari bahwa setiap penjelesaian dengan kekerasan sendjata pada saat² genting ini akan berarti kehantjuran dan kebinasaan jang amat ngerikan bagi umat manusia jang belum pernah dialami dalam sepandjang perputaran sedjarah. Dengan maksud tidak memihak salah satu pihak negara raksasa jang sedang bertentangan sesuai dengan politik luar negeri bebas dan aktip, maka Pemerintah Indonesia telah turut melopori usaha² meredakan serta menjelesaikan ketegangan² tersebut demi pemeliharaan keamanan dunia. Turut sertanja Negara kita dalam usaha² untuk mempertahankan dan memelihara perdamaian dunia pasti tidak didasarkan pada kekuatan sendjata jang kita miliki ataupun pada kekuatan angkatan perang Bangsa² lain jang dipersendjatai setjara serba modern, tetapi dititik-beratkan pada moral seluruh umat manusia jang hendak mempertahankan diri terhadap nafsu² dalam pelbagai bentuk, tjorak dan sifatnja jang hendak mengakibatkan kemiskinan, penderitaan, perbudakan dan kemusnaan. Dasar kemanusiaan inilah jang agaknja merupakan kekuatan abstrak — tetapi positip bagi usaha² untuk menjelamatkan umat manusia. Dan kekuatan itu telah mengilhamkan Bangsa Indonesia untuk melopori perdamaian dunia terhadap nafsu-nafsu jang disebutkan diatas. Tulisan sedjarah sedjak berachirnja perang dunia kedua jang masih terang-benderang tertantjap dalam lembaran ingatan kita mendunjukkan kenjataan bahwa nasionalisme Indonesia telah mendjadi pelopor dalam menumbang kolonialisme, chususnja di Asia. Dalam perdjuangan ini kita telah memperkenalkan diri kepada dunia sebagai Bangsa jang tjinta damai, sekalipun masih dalam bentuk slogan sembojan jang berbunji: „Kita tjinta damai, tetapi lebih mentjintai kemerdekaan!” Sembojan ini kiranja masih tetap berlaku didalam rangka perdjuangan Irian Barat terhadap koloniaal Belanda jang terus mempertahankan kepala batunja dan tidak suka menarik peladjaran dari sikap dan kehendak damai dari Bangsa Indonesia seperti telah dialami pada waktu² jang lampau. Djauh berbeda dengan Bangsa tetangganja Inggeris jang...<noinclude> 38</noinclude> bgw3dl92sl557lzlv8lba7gtvzhqw0e 291611 291610 2026-05-11T04:07:00Z Link PB 26772 291611 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><center><big><big><big>'''Penjelesaian Dan Pemeliharaan'''</big></big></big></center> <center><big>'''Keamanan'''</big></center> <center>'''OLEH: LET. KOL SLAMET ALI JUNUS'''</center> Selama irama kehidupan melalui kekatjauan, pemberontakan atau peperangan, maka selama itu pula kita mustahil dapat melepaskan pemikiran tentang soal keamanan. Dalam soal ini tampil faktor tjara² pelaksanaan untuk mentjapai tjita² abadi dari perorangan, golongan, bangsa maupun umat manusia seluruhnja. Tetapi keamanan abadi tidak kita kenal dalam kamus sedjarah, kalau kita teliti sedjarah itu jang berirama peperangan sepandjang masa. Karena matjam² sebab apapun jang dapat menimbulkan perang dan jang dilaksanakan dengan tudjuan apapun djuga, maka sebab jang lebih dalam dari tiap perang sebenarnja terletak pada m a n u s i a. Baru kalau manusia telah berubah dan pembawaannja tidak lagi mendorongnja untuk mengedjar tudjuannja serta hendak mendjamin kelangsungan hidupnja dengan bantuan kekerasan dan penghantjuran, terbukalah kemungkinan untuk menghindari perang. Pada hakekatnja kita mengutuk setiap kekatjauan ataupun setiap peperangan jang bertentangan dengan peri-kemanusiaan. Oleh karenanja kita tidak djemu berusaha untuk merealisir keamanan. Kita mengetahui adanja usaha dalam wudjud Volkenbond di Djenewa untuk menghindarkan perang dunia baru sebagai djandji djera umat manusia setelah mengalami kehantjuran² akibat perang dunia pertama (1914-1918). Namun kita menjaksikan djuga akan kegagalan Volkenbond karena diruntuhkan oleh berkobarnja perang dunia kedua jang lebih seram dan lebih dahsjat daripada jang pertama. Pengalaman² perang dunia kedua mendorong adanja usaha jang lebih konkrit untuk menghindarkan berkobarnja perang besar jang tidak dapat diramalkan betapa hebatnja malapetaka jang akan menimpa umat manusia diatas bumi kita ini kalau perang dunia itu berkobar lagi untuk ketiga kalinja, berhubung dengan dahsjatnja alat-alat persendjataan jang akan dipergunakan demi kehantjuran dan kebinasaan. Itulah tugas maha berat jang dibebankan kepada Dewan Keamanan dari Perserikatan Bangsa² jang sampai kini masih berhasil dan mampu melokalisir peperangan jang timbul akibat ketegangan² jang tiada henti-hentinja. Pada waktu akhir² ini umat manusia menahan napas akibat memuntjaknja ketegangan² di Timur Tengah jang akan mendjadi udjian mutlak bagi kemampuan serta hak hidup selandjutnja dari PBB dengan Dewan Keamanannja. Semua pihak memeras pikiran agar penjelesaian dan pemeliharaan keamanan dunia berlangsung setjara damai atau musjawarah, karena disadari bahwa setiap penjelesaian dengan kekerasan sendjata pada saat² genting ini akan berarti kehantjuran dan kebinasaan jang amat ngerikan bagi umat manusia jang belum pernah dialami dalam sepandjang perputaran sedjarah. Dengan maksud tidak memihak salah satu pihak negara raksasa jang sedang bertentangan sesuai dengan politik luar negeri bebas dan aktip, maka Pemerintah Indonesia telah turut melopori usaha² meredakan serta menjelesaikan ketegangan² tersebut demi pemeliharaan keamanan dunia. Turut sertanja Negara kita dalam usaha² untuk mempertahankan dan memelihara perdamaian dunia pasti tidak didasarkan pada kekuatan sendjata jang kita miliki ataupun pada kekuatan angkatan perang Bangsa² lain jang dipersendjatai setjara serba modern, tetapi dititik-beratkan pada moral seluruh umat manusia jang hendak mempertahankan diri terhadap nafsu² dalam pelbagai bentuk, tjorak dan sifatnja jang hendak mengakibatkan kemiskinan, penderitaan, perbudakan dan kemusnaan. Dasar kemanusiaan inilah jang agaknja merupakan kekuatan abstrak — tetapi positip bagi usaha² untuk menjelamatkan umat manusia. Dan kekuatan itu telah mengilhamkan Bangsa Indonesia untuk melopori perdamaian dunia terhadap nafsu-nafsu jang disebutkan diatas. Tulisan sedjarah sedjak berachirnja perang dunia kedua jang masih terang-benderang tertantjap dalam lembaran ingatan kita mendunjukkan kenjataan bahwa nasionalisme Indonesia telah mendjadi pelopor dalam menumbang kolonialisme, chususnja di Asia. Dalam perdjuangan ini kita telah memperkenalkan diri kepada dunia sebagai Bangsa jang tjinta damai, sekalipun masih dalam bentuk slogan sembojan jang berbunji: „Kita tjinta damai, tetapi lebih mentjintai kemerdekaan!” Sembojan ini kiranja masih tetap berlaku didalam rangka perdjuangan Irian Barat terhadap koloniaal Belanda jang terus mempertahankan kepala batunja dan tidak suka menarik peladjaran dari sikap dan kehendak damai dari Bangsa Indonesia seperti telah dialami pada waktu² jang lampau. Djauh berbeda dengan Bangsa tetangganja Inggeris jang...<noinclude> 38</noinclude> orz9grtj9l0np1958rx6g2fsx2giy49 291612 291611 2026-05-11T04:07:19Z Link PB 26772 291612 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><center><big><big><big>'''Penjelesaian Dan Pemeliharaan'''</big></big></big></center> <center><big><big><big>'''Keamanan'''</big></big></big></center> <center>'''OLEH: LET. KOL SLAMET ALI JUNUS'''</center> Selama irama kehidupan melalui kekatjauan, pemberontakan atau peperangan, maka selama itu pula kita mustahil dapat melepaskan pemikiran tentang soal keamanan. Dalam soal ini tampil faktor tjara² pelaksanaan untuk mentjapai tjita² abadi dari perorangan, golongan, bangsa maupun umat manusia seluruhnja. Tetapi keamanan abadi tidak kita kenal dalam kamus sedjarah, kalau kita teliti sedjarah itu jang berirama peperangan sepandjang masa. Karena matjam² sebab apapun jang dapat menimbulkan perang dan jang dilaksanakan dengan tudjuan apapun djuga, maka sebab jang lebih dalam dari tiap perang sebenarnja terletak pada m a n u s i a. Baru kalau manusia telah berubah dan pembawaannja tidak lagi mendorongnja untuk mengedjar tudjuannja serta hendak mendjamin kelangsungan hidupnja dengan bantuan kekerasan dan penghantjuran, terbukalah kemungkinan untuk menghindari perang. Pada hakekatnja kita mengutuk setiap kekatjauan ataupun setiap peperangan jang bertentangan dengan peri-kemanusiaan. Oleh karenanja kita tidak djemu berusaha untuk merealisir keamanan. Kita mengetahui adanja usaha dalam wudjud Volkenbond di Djenewa untuk menghindarkan perang dunia baru sebagai djandji djera umat manusia setelah mengalami kehantjuran² akibat perang dunia pertama (1914-1918). Namun kita menjaksikan djuga akan kegagalan Volkenbond karena diruntuhkan oleh berkobarnja perang dunia kedua jang lebih seram dan lebih dahsjat daripada jang pertama. Pengalaman² perang dunia kedua mendorong adanja usaha jang lebih konkrit untuk menghindarkan berkobarnja perang besar jang tidak dapat diramalkan betapa hebatnja malapetaka jang akan menimpa umat manusia diatas bumi kita ini kalau perang dunia itu berkobar lagi untuk ketiga kalinja, berhubung dengan dahsjatnja alat-alat persendjataan jang akan dipergunakan demi kehantjuran dan kebinasaan. Itulah tugas maha berat jang dibebankan kepada Dewan Keamanan dari Perserikatan Bangsa² jang sampai kini masih berhasil dan mampu melokalisir peperangan jang timbul akibat ketegangan² jang tiada henti-hentinja. Pada waktu akhir² ini umat manusia menahan napas akibat memuntjaknja ketegangan² di Timur Tengah jang akan mendjadi udjian mutlak bagi kemampuan serta hak hidup selandjutnja dari PBB dengan Dewan Keamanannja. Semua pihak memeras pikiran agar penjelesaian dan pemeliharaan keamanan dunia berlangsung setjara damai atau musjawarah, karena disadari bahwa setiap penjelesaian dengan kekerasan sendjata pada saat² genting ini akan berarti kehantjuran dan kebinasaan jang amat ngerikan bagi umat manusia jang belum pernah dialami dalam sepandjang perputaran sedjarah. Dengan maksud tidak memihak salah satu pihak negara raksasa jang sedang bertentangan sesuai dengan politik luar negeri bebas dan aktip, maka Pemerintah Indonesia telah turut melopori usaha² meredakan serta menjelesaikan ketegangan² tersebut demi pemeliharaan keamanan dunia. Turut sertanja Negara kita dalam usaha² untuk mempertahankan dan memelihara perdamaian dunia pasti tidak didasarkan pada kekuatan sendjata jang kita miliki ataupun pada kekuatan angkatan perang Bangsa² lain jang dipersendjatai setjara serba modern, tetapi dititik-beratkan pada moral seluruh umat manusia jang hendak mempertahankan diri terhadap nafsu² dalam pelbagai bentuk, tjorak dan sifatnja jang hendak mengakibatkan kemiskinan, penderitaan, perbudakan dan kemusnaan. Dasar kemanusiaan inilah jang agaknja merupakan kekuatan abstrak — tetapi positip bagi usaha² untuk menjelamatkan umat manusia. Dan kekuatan itu telah mengilhamkan Bangsa Indonesia untuk melopori perdamaian dunia terhadap nafsu-nafsu jang disebutkan diatas. Tulisan sedjarah sedjak berachirnja perang dunia kedua jang masih terang-benderang tertantjap dalam lembaran ingatan kita mendunjukkan kenjataan bahwa nasionalisme Indonesia telah mendjadi pelopor dalam menumbang kolonialisme, chususnja di Asia. Dalam perdjuangan ini kita telah memperkenalkan diri kepada dunia sebagai Bangsa jang tjinta damai, sekalipun masih dalam bentuk slogan sembojan jang berbunji: „Kita tjinta damai, tetapi lebih mentjintai kemerdekaan!” Sembojan ini kiranja masih tetap berlaku didalam rangka perdjuangan Irian Barat terhadap koloniaal Belanda jang terus mempertahankan kepala batunja dan tidak suka menarik peladjaran dari sikap dan kehendak damai dari Bangsa Indonesia seperti telah dialami pada waktu² jang lampau. Djauh berbeda dengan Bangsa tetangganja Inggeris jang...<noinclude> 38</noinclude> 8ytlbw1swlonxnws10mzpxnnkot1n71 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/260 104 103555 291614 2026-05-11T04:10:16Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'jang menurut mereka sendiri sudah sangat irahasiakan. Mereka hendak menjergap garnisun Djer man di Tanga. Djenderal Graham ruengis-a benar2, bahwa operasi- nja betul? tidak ada jang menge- tzhuinja, tetapi lupa akan ke- litiinan Von Lettow itu. Von Lettow mempunjai dinas intelligence jang ulung. Orang?- nja memberitahukan kepadanja dengan tepat. dengan kekuatan berapa orang? Inggeris itu ber- gerak. Dan djuga dapat menge- tahui dari... 291614 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude>jang menurut mereka sendiri sudah sangat irahasiakan. Mereka hendak menjergap garnisun Djer man di Tanga. Djenderal Graham ruengis-a benar2, bahwa operasi- nja betul? tidak ada jang menge- tzhuinja, tetapi lupa akan ke- litiinan Von Lettow itu. Von Lettow mempunjai dinas intelligence jang ulung. Orang?- nja memberitahukan kepadanja dengan tepat. dengan kekuatan berapa orang? Inggeris itu ber- gerak. Dan djuga dapat menge- tahui dari arah mana mereka hendak menjerbu. Di Tanga ha- nja ada 600 orang pasukan Djer- man. sedang Inggeris dengan ke- kuatan 12.000 orang. Djadi Von Lettow harus menghadapi musuh jang 20 X lipat banjaknja. Von Lettow memerintahkan anak buahnja bersembunji di- tempat? jang aneh, diatas atap rumah, dibelakang tong? dan gundukan? pasir. Djadi tidak se- biasanja didalam parit? seperti jang mungkin dikira oleh Djen- deral Graham. Sedang pasukan? Von Lettow menjamar sebagai buruh Afrika. Tanpa gangguan orang? Ing- geris memasuki Tanga. Mereka dapat djuga mengira, bahwa me- reka dipantjing memasuki pe- rangkap, tetapi mereka tetap de- ngan gagahnja madju. Tiba? pe- nuhlah Tanga dengan buruh? Afrika. Mereka muntjul di- tengah? pasukan Inggeris dan menimbulkan kekatjauan jang sebesar-besarnja. Operasi taktik Von Lettow memperoleh hasil gilang-gemilan. Sebab orang? Inggeris tak dapat menembak tanpa mengenakan orang?-nja sendiri. Maka anak buah Von Lettow jang enak-enakan, sebab Inggerisnja lebih banjak dari pa- da askarinja. Von Lettow me- merintahkan hanja menembak kaki. Inggeris menderita keru- gian terbanjak dalam peperangan di Afrika ini, djusteru pada pe- njergapan gagal terhadap Tanga. Pertempuran tersebut berachir dengan kemenangan penuh bagi Von Lettow. Inggeris tjepat? mengundurkan diri dari Tanga, jang agaknja merupakan sarang laba-laba itu. 38 DUNLOP UNIVERSAL i ag da motor tuan! N DUNLOP RUBBER Co. (INDONESIA) Ltd. THE DUNLOP RUBBER CO. (INDONESIA) LTD, TANAH ABANG BUKIT No. 3 DJAKARTA, OFFERS ALL ASSIS- TANCE AND TECHNICAL AID FREE OF CHARGE TO NASIONAL IMPORTERS TO ENABLE THEM TO IM- PORT DUNLOP PRODUCTS DIRECT FROM DUNLOP FACTORIES THROUGHOUT THE WORLD. sap<noinclude></noinclude> 9nag3n7xp72gznmfdq37umcqkd8mwva 291624 291614 2026-05-11T04:24:29Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291624 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude>[[File:Madjalah Angkatan Darat (page 260 crop).jpg||500px|kanan|jmpl|DUNLOP RUBBER Co. (INDONESIA) Ltd. |THE DUNLOP RUBBER CO. (INDONESIA) LTD, TANAH ABANG BUKIT No. 3 DJAKARTA, OFFERS ALL ASSISTANCE AND TECHNICAL AID FREE OF CHARGE TO NASIONAL IMPORTERS TO ENABLE THEM TO IMPORT DUNLOP PRODUCTS DIRECT FROM DUNLOP FACTORIES THROUGHOUT THE WORLD. ]] jang menurut mereka sendiri sudah sangat dirahasiakan. Mereka hendak menjergap garnisun Djerman di Tanga. Djenderal Graham mengira benar², bahwa operasinja betul² tidak ada jang mengetahuinja, tetapi lupa akan kelitjinan Von Lettow itu. Von Lettow mempunjai dinas intelligence jang ulung. Orang²-nja memberitahukan kepadanja dengan tepat. dengan kekuatan berapa orang² Inggeris itu bergerak. Dan djuga dapat mengetahui dari arah mana mereka hendak menjerbu. Di Tanga hanja ada 600 orang pasukan Djerman. sedang Inggeris dengan kekuatan 12.000 orang. Djadi Von Lettow harus menghadapi musuh jang 20 X lipat banjaknja. Von Lettow memerintahkan anak buahnja bersembunji di- tempat² jang aneh, diatas atap rumah, dibelakang tong² dan gundukan² pasir. Djadi tidak sebiasanja didalam parit² seperti jang mungkin dikira oleh Djenderal Graham. Sedang pasukan² Von Lettow menjamar sebagai buruh Afrika. Tanpa gangguan orang² Inggeris memasuki Tanga. Mereka dapat djuga mengira, bahwa mereka dipantjing memasuki perangkap, tetapi mereka tetap dengan gagahnja madju. Tiba² penuhlah Tanga dengan buruh² Afrika. Mereka muntjul ditengah² pasukan Inggeris dan menimbulkan kekatjauan jang sebesar-besarnja. Operasi taktik Von Lettow memperoleh hasil gilang-gemilan. Sebab orang² Inggeris tak dapat menembak tanpa mengenakan orang²-nja sendiri. Maka anak buah Von Lettow jang enak-enakan, sebab Inggerisnja lebih banjak dari pada askarinja. Von Lettow memerintahkan hanja menembak kaki. Inggeris menderita kerugian terbanjak dalam peperangan di Afrika ini, djusteru pada penjergapan gagal terhadap Tanga. Pertempuran tersebut berachir dengan kemenangan penuh bagi Von Lettow. Inggeris tjepat² mengundurkan diri dari Tanga, jang agaknja merupakan sarang laba-laba itu.<noinclude>{{rh|38}}</noinclude> dmidmjkpuc8jq1ps9cg7vyoo8xqfaez Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/697 104 103556 291615 2026-05-11T04:13:59Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291615 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} Pada tanggal 27 Djuli 1958, Wakil KSAD Brig Djend Gatot Subroto beserta rombongannja telah berkundjung didaerah operasi di Sulawesi Utara. Disini tampak pada saat Wakil KSAD mendarat dilapangan terbang Mapanget dan disambut oleh Let. Kol. Suminto, Let. Kol. Mursid, Let. Kol. Mung Muljono d.l.l. amat bidjaksana menempuh tjara-tjara damai terhadap nasionalisme India/Pakistan, maka manusia Belanda senantiasa memperlihatkan sikap angkuh jang bermusuhan dengan menaburkan benih-benih kekatjauan jang mengganggu keamanan dalam negeri kita. Sikap Belanda jang demikian pasti hanja telah dan akan menanggung rugi pada pihaknja seperti pepatahnja sendiri menjatakan: „Wie wind zaait, zal storm oogsten!” Usaha Bangsa kita untuk mempertahankan keselamatan umat manusia tidak kundjung padam, dan berkumandanglah kutukan terhadap pertjobaan-pertjobaan bom atoom, bom hydrogeen dan pelbagai matjam sendjata lainnja jang merupakan antjaman bagi perdamaian dunia. Kita menekankan pada perasaan tanggung djawab dan mengandjurkan agar kemadjuan-kemadjuan manusia dilapangan technik dan ilmiah dipergunakan demi kemanusiaan. Kita mengutuk nafsu jang menghasilkan bermatjam-matjam sendjata tsb. karena djustru Bangsa Asia-lah jang didjadikan kelintji pertjobaan dari bom atoom pertama jang didjatuhkan pada perang dunia jang lalu akan berachir serta akibat² selandjutnja dari pertjobaan² sendjata sedjenis jang lebih dahsjat. Kalau negara² raksasa hendak mentjapai perdamaian dunia dengan mengadakan perlombaan sengit dalam memprodusir alat² sendjata jang terkutuk itu, maka Bangsa Indonesia mempunjai kejakinan akan dapat mendekati tudjuan jang sama dengan lebih menitik-beratkan kepada '''moraal''' — daripada nafsu² manusia jang akan menimbulkan kebinasaan totaal bagi sesamanja. Kejakinan ini seperti diterangkan diatas adalah sesuatu jang positip, sesuatu pemantjaran sinar jang berinduk pada pandangan hidup Bangsa, ialah '''PANTJASILA''' jang '''berdjiwa damai'''. Pendjelasan² oleh Bung Karno tentang Pantjasila didalam sidang Konggres Amerika Serikat sewaktu P.J.M. Presiden Soekarno berkundjung ke negara dollar itu merupakan attraksi bersedjarah dimana setiap anggauta Konggres tidak hanja terpikat oleh setiap gerakan bibir Kepala Negara kita, melainkan djuga tertarik kepada tjara-tjara Bung Karno mengandjurkan perdamaian dunia dengan menondjolkan peri-kemanusiaan (humanit.) jang ternjata mendapat tepukan tangan gemuruh setjara bertubi-tubi selama dan sesudah Bung Karno menguraikan pendjelasan-pendjelasannja dihadapan anggota-anggota Konggres jang terhormat itu. Betapa luhurnja Pantjasila kita bagi Bangsa Indonesia chususnja dan umat manusia pada umumnja dibuktikan oleh Undang-Undang Dasar Sementara R.I. sebagai satu-satunja Undang-Undang Dasar di atas dunia ini jang memuat seluruh pasal-pasal dari „Universal declaration of Human Rights” jang telah disetudjui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam sidang umumnja di Paris pada tanggal 10 Desember 1948. Perwudjudan pandangan hidup Bangsa biasanja terdapat dalam Undang-Undang Dasar, seperti „SAN MIN CHUI” di Tiongkok Nasionalis, „MEIN KAMPF” di negara-fascis Djerman dibawah Hitler, maka Pantjasila jang menghiasi Mukaddimah...<noinclude> 39</noinclude> f1juxja4heoh5a18x1wl1a140gooo57 291616 291615 2026-05-11T04:14:23Z Link PB 26772 291616 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Pada tanggal 27 Djuli 1958, Wakil KSAD Brig Djend Gatot Subroto beserta rombongannja telah berkundjung didaerah operasi di Sulawesi Utara. Disini tampak pada saat Wakil KSAD mendarat dilapangan terbang Mapanget dan disambut oleh Let. Kol. Suminto, Let. Kol. Mursid, Let. Kol. Mung Muljono d.l.l.''</small> amat bidjaksana menempuh tjara-tjara damai terhadap nasionalisme India/Pakistan, maka manusia Belanda senantiasa memperlihatkan sikap angkuh jang bermusuhan dengan menaburkan benih-benih kekatjauan jang mengganggu keamanan dalam negeri kita. Sikap Belanda jang demikian pasti hanja telah dan akan menanggung rugi pada pihaknja seperti pepatahnja sendiri menjatakan: „Wie wind zaait, zal storm oogsten!” Usaha Bangsa kita untuk mempertahankan keselamatan umat manusia tidak kundjung padam, dan berkumandanglah kutukan terhadap pertjobaan-pertjobaan bom atoom, bom hydrogeen dan pelbagai matjam sendjata lainnja jang merupakan antjaman bagi perdamaian dunia. Kita menekankan pada perasaan tanggung djawab dan mengandjurkan agar kemadjuan-kemadjuan manusia dilapangan technik dan ilmiah dipergunakan demi kemanusiaan. Kita mengutuk nafsu jang menghasilkan bermatjam-matjam sendjata tsb. karena djustru Bangsa Asia-lah jang didjadikan kelintji pertjobaan dari bom atoom pertama jang didjatuhkan pada perang dunia jang lalu akan berachir serta akibat² selandjutnja dari pertjobaan² sendjata sedjenis jang lebih dahsjat. Kalau negara² raksasa hendak mentjapai perdamaian dunia dengan mengadakan perlombaan sengit dalam memprodusir alat² sendjata jang terkutuk itu, maka Bangsa Indonesia mempunjai kejakinan akan dapat mendekati tudjuan jang sama dengan lebih menitik-beratkan kepada '''moraal''' — daripada nafsu² manusia jang akan menimbulkan kebinasaan totaal bagi sesamanja. Kejakinan ini seperti diterangkan diatas adalah sesuatu jang positip, sesuatu pemantjaran sinar jang berinduk pada pandangan hidup Bangsa, ialah '''PANTJASILA''' jang '''berdjiwa damai'''. Pendjelasan² oleh Bung Karno tentang Pantjasila didalam sidang Konggres Amerika Serikat sewaktu P.J.M. Presiden Soekarno berkundjung ke negara dollar itu merupakan attraksi bersedjarah dimana setiap anggauta Konggres tidak hanja terpikat oleh setiap gerakan bibir Kepala Negara kita, melainkan djuga tertarik kepada tjara-tjara Bung Karno mengandjurkan perdamaian dunia dengan menondjolkan peri-kemanusiaan (humanit.) jang ternjata mendapat tepukan tangan gemuruh setjara bertubi-tubi selama dan sesudah Bung Karno menguraikan pendjelasan-pendjelasannja dihadapan anggota-anggota Konggres jang terhormat itu. Betapa luhurnja Pantjasila kita bagi Bangsa Indonesia chususnja dan umat manusia pada umumnja dibuktikan oleh Undang-Undang Dasar Sementara R.I. sebagai satu-satunja Undang-Undang Dasar di atas dunia ini jang memuat seluruh pasal-pasal dari „Universal declaration of Human Rights” jang telah disetudjui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam sidang umumnja di Paris pada tanggal 10 Desember 1948. Perwudjudan pandangan hidup Bangsa biasanja terdapat dalam Undang-Undang Dasar, seperti „SAN MIN CHUI” di Tiongkok Nasionalis, „MEIN KAMPF” di negara-fascis Djerman dibawah Hitler, maka Pantjasila jang menghiasi Mukaddimah<noinclude> 39</noinclude> 1tj9yrk70oxi4nkcrqdfmni4zgu18jx Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/698 104 103557 291620 2026-05-11T04:19:09Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291620 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Dalam kundjungannja didaerah Sulawesi Utara, Wakil KSAD telah mengadakan rapat dengan para Pamong Pradja dan Tentara se Sulawesi Utara untuk membitjarakan usaha² pemulihan keamanan didaerah tsb.''</small> {{Missing image}} ''Suatu pemandangan dalam rapat dimana Wakil KSAD Brig. Djend. '''Gatot Subroto''' didampingi oleh Kmd Komando Operasi Merdeka Letnan Kolonel '''Rukmito'''.'' dimah Undang-Undang Dasar Sementara dari negara-hukum Indonesia seharusnja dapat menimbulkan perdamaian dan keamanan diantara umat manusia jang menjebutkan diri Bangsa Indonesia. Beda dengan kekatjauan-kekatjauan, bermatjam-matjam konflik dan pemberontakan-pemberontakan jang kita alami sampai dewasa ini. Karena betapa luhurpun pandangan hidup Bangsa kita, tidak akan melahirkan perdamaian dan keamanan apabila tiada kejakinan sungguh-sungguh serta pelaksanaan sebaik-baiknja dari pasal² jang ditjantumkan didalam Undang² Dasar seperti kenjataan² jang kita praktekkan. Kemerdekaan atau kebebasan masih banjak diartikan memberikan kemungkinan untuk berbuat se-wenang². perbuatan mana pada hakekatnja masih diperlukan oleh hawa-nafsu. Seorang jang berbuat demikian sebenarnja belum merdeka ; ia didjauhkan dari dasar '''akal-budi''' jang harus pula mengindahkan kepada kemerdekaan orang lain. Terdjadilah kenjataan jang bertentangan atau kontradiksi, dimana kita kepada dunia luar selalu mengandjurkan utk. mempertahankan keamanan dunia setjara damai berlandaskan Pantjasila, sedang dengan Pantjasila itu djuga kita di Indonesia mengalami kekatjauan² jang chronis akibat nafsu-nafsu jang dilampiaskan dan tak terkendalikan. Ada jang berpendapat, bahwa<noinclude> 40</noinclude> blt3nzi1ggz9ywjmvvbo8kpoq6ui38u 291621 291620 2026-05-11T04:19:39Z Link PB 26772 291621 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Dalam kundjungannja didaerah Sulawesi Utara, Wakil KSAD telah mengadakan rapat dengan para Pamong Pradja dan Tentara se Sulawesi Utara untuk membitjarakan usaha² pemulihan keamanan didaerah tsb.''</small> {{Missing image}} <small>''Suatu pemandangan dalam rapat dimana Wakil KSAD Brig. Djend. '''Gatot Subroto''' didampingi oleh Kmd Komando Operasi Merdeka Letnan Kolonel '''Rukmito'''.'' </small> dimah Undang-Undang Dasar Sementara dari negara-hukum Indonesia seharusnja dapat menimbulkan perdamaian dan keamanan diantara umat manusia jang menjebutkan diri Bangsa Indonesia. Beda dengan kekatjauan-kekatjauan, bermatjam-matjam konflik dan pemberontakan-pemberontakan jang kita alami sampai dewasa ini. Karena betapa luhurpun pandangan hidup Bangsa kita, tidak akan melahirkan perdamaian dan keamanan apabila tiada kejakinan sungguh-sungguh serta pelaksanaan sebaik-baiknja dari pasal² jang ditjantumkan didalam Undang² Dasar seperti kenjataan² jang kita praktekkan. Kemerdekaan atau kebebasan masih banjak diartikan memberikan kemungkinan untuk berbuat se-wenang². perbuatan mana pada hakekatnja masih diperlukan oleh hawa-nafsu. Seorang jang berbuat demikian sebenarnja belum merdeka ; ia didjauhkan dari dasar '''akal-budi''' jang harus pula mengindahkan kepada kemerdekaan orang lain. Terdjadilah kenjataan jang bertentangan atau kontradiksi, dimana kita kepada dunia luar selalu mengandjurkan utk. mempertahankan keamanan dunia setjara damai berlandaskan Pantjasila, sedang dengan Pantjasila itu djuga kita di Indonesia mengalami kekatjauan² jang chronis akibat nafsu-nafsu jang dilampiaskan dan tak terkendalikan. Ada jang berpendapat, bahwa<noinclude> 40</noinclude> t13zbn95awpuz65dv2no1aulnisc3t1 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/699 104 103558 291622 2026-05-11T04:23:54Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291622 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Let kol Mung Muljono, Kmd Resimen RPKAD di Menado jang tidak sedikit menumpahkan kebaktiannja dalam menumpas pemberontak PRRI/Permesta.''</small> {{Missing image}} <small>''Kmd Komando Operasi Merdeka Let Kol Rukminto sedang memberikan pendjelasan² diatas peta, mengenai djalannja operasi Merdeka dalam usaha menumpas pembrontakan PRRI/Permesta di Sulawesi Utara kepada Brig Djend Gatot Subroto.''</small> {{Missing image}} <small>''Wakil KSAD dengan rombongannja bergambar bersama dengan Kmd Operasi Merdeka Let Kol Rukminto beserta Stafnja.''</small> djustru '''Pantjasilalah''' jang mendjadi sebab utama dari segala kekatjauan jang kita alami sampai saat sekarang, tetapi djarang sekali ada orang iang dapat menjatakan apa kekurangan{{lp|2}}-nja atau letak kesalahannja. Pendapat demikian achirnja mudah djatuh kedalam kesesatan atau mendjadi alat belaka dari paham-paham luar jang merongrong dari dalam untuk kemudian melenjapkan kepribadian Bangsa jg kita galang bersama. Memang tiada manusia jang sempurna ketjuali '''TUHAN'''! Tetapi Pantjasila adalah usaha manusia untuk membuat dirinja bertakwa kepada Tuhan Jang Maha Esa, bermoraal tinggi, adil, djudjur dan sportief, tidak mementingkan diri-sendiri, radjin dan berakal hingga lautan ilmunja disediakan dan dipergunakan didalam pengabdian demi kemanusiaan. Ada baiknja kita memalingkan ingatan sedjenak kemasa besarnja pengaruh agama Islam jg meluas di negara{{lp|2}} Lautan Tengah, tetapi tak lama kemudian pengaruh itu mendjadi berantakan karena perbuatan manusia jg memperalat agama guna memuaskan nafsu perorangan dan golongan tertentu. Kesalahan kedjadian sedjarah demikian sudah tentu tidak terletak pada agama jang sutji, melainkan disalahgunakan oleh pelaksana²-nja. Apakah Pantjasila akan mengalami nasib jang sama, djawabannja terletak pada manusia Indonesia jang mendjadi pentjipta serta pelaksananja. Suatu hal jang melegakan dan menggembirakan ialah bahwa pada hari-hari terachir ini kita suka meneropong kembali soal² kemanusiaan seperti tersirat dalam amanat² P.J.M. Presiden, amanat Kepala Polisi Negara sewaktu memperingati Hari Kepolisian, konggres kebathinan jang diselenggarakan di ibu-kota beberapa pekan jang lalu, kesemuanja merupakan usaha kearah melapangkan irama kehidupan dan perdjuangan Bangsa kita setjara aman dan damai. Kita patut dan beralasan untuk bergembira, sebab kita mulai menjadari bahwa manusia Indonesialah jang wadjib serta dapat menjelesaikan dan memelihara keamanan Ne-<noinclude> 41</noinclude> g3zwatyoes5o4hjw492byaovcf7y89o 291623 291622 2026-05-11T04:24:19Z Link PB 26772 291623 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Let kol Mung Muljono, Kmd Resimen RPKAD di Menado jang tidak sedikit menumpahkan kebaktiannja dalam menumpas pemberontak PRRI/Permesta.''</small> {{Missing image}} <small>''Kmd Komando Operasi Merdeka Let Kol Rukminto sedang memberikan pendjelasan² diatas peta, mengenai djalannja operasi Merdeka dalam usaha menumpas pembrontakan PRRI/Permesta di Sulawesi Utara kepada Brig Djend Gatot Subroto.''</small> {{Missing image}} <small>''Wakil KSAD dengan rombongannja bergambar bersama dengan Kmd Operasi Merdeka Let Kol Rukminto beserta Stafnja.''</small> djustru '''Pantjasilalah''' jang mendjadi sebab utama dari segala kekatjauan jang kita alami sampai saat sekarang, tetapi djarang sekali ada orang iang dapat menjatakan apa kekurangannja atau letak kesalahannja. Pendapat demikian achirnja mudah djatuh kedalam kesesatan atau mendjadi alat belaka dari paham-paham luar jang merongrong dari dalam untuk kemudian melenjapkan kepribadian Bangsa jg kita galang bersama. Memang tiada manusia jang sempurna ketjuali '''TUHAN'''! Tetapi Pantjasila adalah usaha manusia untuk membuat dirinja bertakwa kepada Tuhan Jang Maha Esa, bermoraal tinggi, adil, djudjur dan sportief, tidak mementingkan diri-sendiri, radjin dan berakal hingga lautan ilmunja disediakan dan dipergunakan didalam pengabdian demi kemanusiaan. Ada baiknja kita memalingkan ingatan sedjenak kemasa besarnja pengaruh agama Islam jg meluas di negara Lautan Tengah, tetapi tak lama kemudian pengaruh itu mendjadi berantakan karena perbuatan manusia jg memperalat agama guna memuaskan nafsu perorangan dan golongan tertentu. Kesalahan kedjadian sedjarah demikian sudah tentu tidak terletak pada agama jang sutji, melainkan disalahgunakan oleh pelaksana²-nja. Apakah Pantjasila akan mengalami nasib jang sama, djawabannja terletak pada manusia Indonesia jang mendjadi pentjipta serta pelaksananja. Suatu hal jang melegakan dan menggembirakan ialah bahwa pada hari-hari terachir ini kita suka meneropong kembali soal² kemanusiaan seperti tersirat dalam amanat² P.J.M. Presiden, amanat Kepala Polisi Negara sewaktu memperingati Hari Kepolisian, konggres kebathinan jang diselenggarakan di ibu-kota beberapa pekan jang lalu, kesemuanja merupakan usaha kearah melapangkan irama kehidupan dan perdjuangan Bangsa kita setjara aman dan damai. Kita patut dan beralasan untuk bergembira, sebab kita mulai menjadari bahwa manusia Indonesialah jang wadjib serta dapat menjelesaikan dan memelihara keamanan Ne-<noinclude> 41</noinclude> bbn3kxrqbpm0rri9axy13z44liz4aov Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/202 104 103559 291625 2026-05-11T04:24:46Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{c|ISTILAH-ISTILAH JANG DIHASILKAN RAPAT <br> SEKSI-SSKSI KOMISI ISTILAH <br> DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRAAN}} ILMU BAHASA :{| |- |constituent||<center>- </center>||zatra |- |devoicing /unvoicing/||<center>- </center>||penirsuaraan |- |downgrading - (satuan)||<center>- </center>||turun tataran |- |immadiate constituent||<center>- </center>||gatra langsung |- |loopback||<center>- </center>||---- downgrading |- |recursive||<center>- </ce... 291625 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>{{c|ISTILAH-ISTILAH JANG DIHASILKAN RAPAT <br> SEKSI-SSKSI KOMISI ISTILAH <br> DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRAAN}} ILMU BAHASA :{| |- |constituent||<center>- </center>||zatra |- |devoicing /unvoicing/||<center>- </center>||penirsuaraan |- |downgrading - (satuan)||<center>- </center>||turun tataran |- |immadiate constituent||<center>- </center>||gatra langsung |- |loopback||<center>- </center>||---- downgrading |- |recursive||<center>- </center>||(satuan) rekursif |- |recurrent partials||<center>- </center>||unsur berulang |- |simple sentence||<center>- </center>||kalimat bersaija |- |simple word||<center>- </center>||kata bersadja single sentenca2 - kalimat berseniiri single word | - kata berseadiri ultimate constitucnt —- gatra achir ILMU KESUSASTRAAN anthology - bunga rampai collective works - kumpulan tulisan compilation | Pn himpunan compilator - penghimpun complete works - tulisan lengkap (to) edit - 1 menata: 2 menjusun redaksi omnibus - serba serbi Omnipresent - serba hadir omniscient author - pengarang serba tahu pace - Gerap (tjerita) parable - tamsil, parabel selective works - pilihan tulisan FILSAFAT aangeboren streving - Sifat usaha bawaan elgenschap aanpassingsver.:ore2 - daja suni absurd - karut (aelanggar hukum logika/ accident - aksiden, sifat susulan, upalaksana 24<noinclude></noinclude> 497hf7c5qndryb4p00d7beyok3kpsms 291640 291625 2026-05-11T04:37:58Z Humilis Kumulus 26996 291640 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>{{c|ISTILAH-ISTILAH JANG DIHASILKAN RAPAT <br> SEKSI-SSKSI KOMISI ISTILAH <br> DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRAAN}} ILMU BAHASA {| |- |constituent||<center>- </center>||zatra |- |devoicing /unvoicing/||<center>- </center>||penirsuaraan |- |downgrading - (satuan)||<center>- </center>||turun tataran |- |immadiate constituent||<center>- </center>||gatra langsung |- |loopback||<center>- </center>||---- downgrading |- |recursive||<center>- </center>||(satuan) rekursif |- |recurrent partials||<center>- </center>||unsur berulang |- |simple sentence||<center>- </center>||kalimat bersaija |- |simple word||<center>- </center>||kata bersadja |- |single sentence||<center>- </center>||kalimat bersendiri |- |single word||<center>- </center>||kata bersendiri |- |ultimate constituent||<center>- </center>||gatra achir |- |} ILMU KESUSASTRAAN anthology - bunga rampai collective works - kumpulan tulisan compilation | Pn himpunan compilator - penghimpun complete works - tulisan lengkap (to) edit - 1 menata: 2 menjusun redaksi omnibus - serba serbi Omnipresent - serba hadir omniscient author - pengarang serba tahu pace - Gerap (tjerita) parable - tamsil, parabel selective works - pilihan tulisan FILSAFAT aangeboren streving - Sifat usaha bawaan elgenschap aanpassingsver.:ore2 - daja suni absurd - karut (aelanggar hukum logika/ accident - aksiden, sifat susulan, upalaksana 24<noinclude></noinclude> l2wwhxihvdqfvryedutf5t90jnlgoam 291644 291640 2026-05-11T04:42:54Z Humilis Kumulus 26996 291644 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>{{c|ISTILAH-ISTILAH JANG DIHASILKAN RAPAT <br> SEKSI-SEKSI KOMISI ISTILAH <br> DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRAAN}} ILMU BAHASA :{| |- |constituent||<center>- </center>||zatra |- |devoicing /unvoicing/||<center>- </center>||penirsuaraan |- |downgrading||<center>- </center>||(satuan) turun tataran |- |immadiate constituent||<center>- </center>||gatra langsung |- |loopback||<center>- </center>||---- downgrading |- |recursive||<center>- </center>||(satuan) rekursif |- |recurrent partials||<center>- </center>||unsur berulang |- |simple sentence||<center>- </center>||kalimat bersaija |- |simple word||<center>- </center>||kata bersadja |- |single sentence||<center>- </center>||kalimat bersendiri |- |single word||<center>- </center>||kata bersendiri |- |ultimate constituent||<center>- </center>||gatra achir |- |} ILMU KESUSASTRAAN :{| |- |anthology||<center>- </center>||bunga rampai |- |collective works||<center>- </center>||kumpulan tulisan |- |compilation||<center>- </center>||himpunan |- |compilator||<center>- </center>||penghimpun |- |complete works||<center>- </center>||tulisan lengkap |- |(to) edit||<center>- </center>||1 menata; 2 menjusun redaksi |- |omnibus||<center>- </center>||serba serbi |- |omnipresent||<center>- </center>||serba hadir |- |omniscient author||<center>- </center>||pengarang serba tahu |- |pace||<center>- </center>||derap (tjerita) |- |parable||<center>- </center>||tamsil, parabel |- |selective works||<center>- </center>||pilihan tulisan |- |} FILSAFAT aangeboren streving - Sifat usaha bawaan elgenschap aanpassingsver.:ore2 - daja suni absurd - karut (aelanggar hukum logika/ accident - aksiden, sifat susulan, upalaksana 24<noinclude></noinclude> rhh6z8pmw63wp4zpfyr93765g81xhug 291646 291644 2026-05-11T04:46:27Z Humilis Kumulus 26996 /* Telah diuji baca */ 291646 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>{{c|ISTILAH-ISTILAH JANG DIHASILKAN RAPAT <br> SEKSI-SEKSI KOMISI ISTILAH <br> DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRAAN}} ILMU BAHASA :{| |- |constituent||<center>- </center>||zatra |- |devoicing /unvoicing/||<center>- </center>||penirsuaraan |- |downgrading||<center>- </center>||(satuan) turun tataran |- |immadiate constituent||<center>- </center>||gatra langsung |- |loopback||<center>- </center>||---- downgrading |- |recursive||<center>- </center>||(satuan) rekursif |- |recurrent partials||<center>- </center>||unsur berulang |- |simple sentence||<center>- </center>||kalimat bersaija |- |simple word||<center>- </center>||kata bersadja |- |single sentence||<center>- </center>||kalimat bersendiri |- |single word||<center>- </center>||kata bersendiri |- |ultimate constituent||<center>- </center>||gatra achir |- |} ILMU KESUSASTRAAN :{| |- |anthology||<center>- </center>||bunga rampai |- |collective works||<center>- </center>||kumpulan tulisan |- |compilation||<center>- </center>||himpunan |- |compilator||<center>- </center>||penghimpun |- |complete works||<center>- </center>||tulisan lengkap |- |(to) edit||<center>- </center>||1 menata; 2 menjusun redaksi |- |omnibus||<center>- </center>||serba serbi |- |omnipresent||<center>- </center>||serba hadir |- |omniscient author||<center>- </center>||pengarang serba tahu |- |pace||<center>- </center>||derap (tjerita) |- |parable||<center>- </center>||tamsil, parabel |- |selective works||<center>- </center>||pilihan tulisan |- |} FILSAFAT :{| |- |aangeboren streving eigenschap||<center>- </center>||sifat usaha bawaan |- |aanpassingsvernogen||<center>- </center>||daja suai |- |absurd||<center>- </center>||karut ''[''melanggar hukum logika'']'' |- |accident||<center>- </center>||aksiden, sifat susulan, upalaksana |- |}<noinclude>{{rh|||24}}</noinclude> ipmvqlgp3vc9suzm2gcycujr7fxxi5c 291647 291646 2026-05-11T04:46:52Z Humilis Kumulus 26996 291647 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>{{c|ISTILAH-ISTILAH JANG DIHASILKAN RAPAT <br> SEKSI-SEKSI KOMISI ISTILAH <br> DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRAAN}} ILMU BAHASA :{| |- |constituent||<center>- </center>||zatra |- |devoicing ''[''unvoicing'']''||<center>- </center>||penirsuaraan |- |downgrading||<center>- </center>||(satuan) turun tataran |- |immadiate constituent||<center>- </center>||gatra langsung |- |loopback||<center>- </center>||---- downgrading |- |recursive||<center>- </center>||(satuan) rekursif |- |recurrent partials||<center>- </center>||unsur berulang |- |simple sentence||<center>- </center>||kalimat bersaija |- |simple word||<center>- </center>||kata bersadja |- |single sentence||<center>- </center>||kalimat bersendiri |- |single word||<center>- </center>||kata bersendiri |- |ultimate constituent||<center>- </center>||gatra achir |- |} ILMU KESUSASTRAAN :{| |- |anthology||<center>- </center>||bunga rampai |- |collective works||<center>- </center>||kumpulan tulisan |- |compilation||<center>- </center>||himpunan |- |compilator||<center>- </center>||penghimpun |- |complete works||<center>- </center>||tulisan lengkap |- |(to) edit||<center>- </center>||1 menata; 2 menjusun redaksi |- |omnibus||<center>- </center>||serba serbi |- |omnipresent||<center>- </center>||serba hadir |- |omniscient author||<center>- </center>||pengarang serba tahu |- |pace||<center>- </center>||derap (tjerita) |- |parable||<center>- </center>||tamsil, parabel |- |selective works||<center>- </center>||pilihan tulisan |- |} FILSAFAT :{| |- |aangeboren streving eigenschap||<center>- </center>||sifat usaha bawaan |- |aanpassingsvernogen||<center>- </center>||daja suai |- |absurd||<center>- </center>||karut ''[''melanggar hukum logika'']'' |- |accident||<center>- </center>||aksiden, sifat susulan, upalaksana |- |}<noinclude>{{rh|||24}}</noinclude> k2l1n3vyi9qhi2npn71ztldxhebi6bs Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/261 104 103560 291626 2026-05-11T04:25:17Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ Membuat halaman kosong 291626 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude><noinclude></noinclude> ccplgwmprsu678uegthnfc77ifsefnn 291666 291626 2026-05-11T05:09:21Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291666 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude>Diantara tawanan perang dari Von Lettow itu, terdapat seorang letnan satu Inggeris jang masih muda, dua orang perwira atasan dan lebih kurang 4.000 bawahan. Von Lettow memerintahkan supaja tawanan itu ikumpulkan ditanah lapang kota itu dan berbitjaralah dia. „Kamu sekalian adalah tawan²an saja”, katanja, sedang mata-nja ber-sinar². Saja dapat memerintahkan supaja kamu ditahan dibelakang kawat duri dan tidak dilepaskan untuk kembali kepada anak isteri kamu. Ini berarti sampai achir peperangan. Tetapi saja hendak melepaskan kamu sekalian dengan perdjandjian, bahwa dengan djandji kehormatan kamu tidak hendak ikut memerangi saja lagi!" Orang² tawanan itu menjetudjuinja, asal mereka dapat pulang ke-rumah masing², dan untuk apa ikut lagi bertempur bersama orang Inggeris itu. Oleh sebab itu Von Lettow memerintahkan kepada komandan bawahannja supaja melepaskan tawanan itu. Karena ia tahu, bahwa mereka akan memegang djandji itu, walaupun mereka akan mendapat kesukaran dari petugas² Inggeris. Hanjalah Letnan satu Inggeris itu sendiri jang menolaknja untuk memberi djandji. Maka ia dima sukkan tutupan. „Saja tidak mempunjai waktu untuk mengurus seorang tawaran” kata Von Lettow kepada seorang komandan bewahannja, Kolonel Gour Schnee. „Biarlah ia melarikan diri, tetapi djangan terang-terangan”, kata Von Let tow pula. Von Lettow memerintah seorang perwiranja meninggalkan sepotong besi jang agak berat di dalam barak tempat letnan itu hendak ditahan (ditutup). Dan diluar hendaknja disediakan sebuah sepeda jang tidak djauh dari situ. Kelandjutannja diserahkan kepada kebidjaksanaan tawanan itu sendiri. Campbell, letnan satu itu mendobrak pintu dan tidak menunggu sampai malam hari. la melompat keatas sepeda jang telah tersedia itu dan lari. la lari melalui markas besar Von Lettow, jang ketika itu kebetulan Von Lettow sendiri sedang enak-enak minum bier bersama kolonel Gour Schnee dan Brummel. „Hallo, letnan Campbell”, teriaknja Von Lettow kepada letnan Inggeris itu. „Tuan tak usah djalan tjepat, Saja beri tuan kesempatan 5 menit”. Tetapi letnan Inggeris itu lari seperti orang gila. Von Lettow menanti tepat sampai lima menit dan kemudian dia memerintahkan orang²-nja untuk mentjari tawanan jang lari itu dengan pesan djangan terlalu radjin mentjarinja. Sebab ia dapat lebih baik mempergunakan tenaga anak buahnja untuk keperluan lain dari pada mendjaga tawanan-tawanan perang. '''Api jang menolong:''' {| class="wikitable" |- width="50%; style="border:none;"|| width="50%" |<center>{{X-larger|REPUBLIC PICTURES OF INDONESIA, INC,}}</center> || <center>{{X-larger|BANK TANI NASIONAL P.T.}}</center> |- |<center>'''PEGANGSAAN TIMUR 21'''</center> ||<center>ROA MALAKA SELATAN 87</center> |- |<center>DJAKARTA</center> || <center>JAKARTA - KOTA</center> |- | || |- | || <center> Untuk menambah devisen Negara disediakan </center> |- | ||<center> kredit-ekspor untuk hasil² :</center> |- | || ♣ PERTANIAN |- | || ♣ PERKEBUNAN, |- | || ♣ PETERNAKAN DAN |- | || ♣ PERIKANAN |- | ||<center> MELAKUKAN SEMUA URUSAN BANK,</center> |- | ||<center> diantaranja: </center> |- |<center>TURUT MERAJAKAN HARI PROKLAMASI</center>|| <center>MENERIMA SIMPANAN UANG GIRO, </center> |- |<center>INDONESIA JANG KE-XII</center> ||{{Right sidenote|Menunggu dengan hormat}} |- | || {{Right sidenote|<center>DIREKSI</center>}} |}<noinclude></noinclude> i7ygm3eqzre2fqoe6lgu7zg5tu5cpp6 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/700 104 103561 291627 2026-05-11T04:28:02Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291627 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Upatjara penjumpahan Komandan KOAD Kulimantan, Kol Kusno Utomo oleh Brig Djend Gatot Subroto.''</small> {{Missing image}} <small>''Wakil KSAD Brig Djend Gatot Subroto sedang menanda tangani naskah surat keputusan pengangkatan Kol Kusno Utomo sebagai Kmd KOAD Kalimantan.'' </small> gara, hal mana djuga berarti perrulaan keinsjafan guna mengachiri praktek? penggarongan dan pembunuhan rakjat jang tak berdosa, pemberontakan? jang rsengakibatkan perang saudara, pemerasan dan pelanggaran susila, memperkaja diri dengan ketjurangan? hingga seolah-olah sudah biasa maling berteriak maling, perebutan ikorsi dan pengedjaran kekuasaan dengan tidak disadari bahwa hanjalah kekuasaan jang dipergunakan setjara tepat baru dapat mendatangkan bahagia bagi masjarakat, teriakan? berpegangan teguh kepada hukum jang didjauhkan dari pengertian bahwa hukum itu djuga berlaku bagi dirinja dan tidak hanja bagi orang lain, pada pokoknja praktek² penuh dosa dan bersifat durhaka serta pengchianatan terhadap Negara dan umat manusia Indonesia chususnja maupun terhadap umat manusia semesta. Kalau sudah sampai kepada soal² kemanusiaan perlu kiranja kita memperhatikan tindjauan Prof. Hamka — seorang penulis Indonesia dan ahli filsafat kenamaan di Asia Tenggara dalam abad kedua puluh ini. Diterangkan bahwa pada tiap diri manusia terdapat tiga matjam kekuatan, ialah: # kekuatan '''akal''' jang membawa orangnja kepada hakekat, mendjauhkan daripada jang batil, tunduk kepada hukum, mendjauhi larangan. # kekuatan '''marah''' jang menjuruh menangkis dan bertahan, mengadjak mentjapai kekuasaan dan kemenangan, dan kadang² menjuruh bangga, sombong dan takabur. # kekuatan '''sjahwat''' jang mengadjak melepaskan kehendak hati, mentjapai kelezatan, menjuruh lalai atau lengah, sehingga lupa memikirkan akibat. Akal manusia mengikatnja supaja djangan lepas lulus sadja mengikuti hawa-nafsunja. Dan akal inilah jang mengangkat deradjat manusia lebih tinggi daripada hewan/binatang. Akal diambil dari kata asli jang artinja "ikatan". Tjatatan filsafah hidup ini disertai hadis agama jang berbunji: "Tiadalah akan sempurna agama manusia se-lama2nja sebelum sempurna akalnja". "Agama manusia ialah menurut akalnja, dan siapa jang tiada berakal, tiada agama bagindja". Praktek2 seperti disebutkan diatas adalah sebab2 jang menimbulkan penderitaan lahir-bathin bangsa kita dan merupakan tantangan bagi Pantjasila. Proklamasi 17 Agustus 1945, Undang2 Dasar, hukum dan disiplin. Keamanan Negara terbengkelai, andjuran2 persatuan dan perbaikan terpental oleh pintu jang menutupi akal dan hati setjara rapat. Seribu kali kita berikrar untuk menggalang persatuan<noinclude> 42</noinclude> 0990fawwzhp1iqvsuudb10qztboapwn Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/701 104 103562 291628 2026-05-11T04:30:58Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291628 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Brig Djend Gatot Subroto sedang memasang badge dilengan badju Kol Kusno Utomo.''</small> {{Missing image}} <small>''Pelantikan Let Kol Hasan Basri sebagai KODAM Kalimantan Timur, dan dalam gambar tampak Wk KSAD tengah memasang tanda djabatan disaku Let Kol Hasan Basri.''</small> {{Missing image}} <small>''Pelantikan Let Kol Darmosugondo sebagai KO-DAM Kalimantan Selatan. Tampak Wakil KSAD sedang memasang tanda djabatan disaku Let Kol '''Darmosugondo'''.''</small> Bangsa akan tiada artinja, karena persatuan adalah soal bathin. Djandji, ikrar dan sumpah tidak lagi mendapat isi sebagaimana mestinja, hingga hasilnja banjak mengetjewakan. Dalam usaha menjelesaikan keamanan Negara, kita sebenarnja wadjib tetap menghormati prinsip musjawarah. Kalau ada penolakan dengan alasan menjimpang dari hukum pasti dianggap tidak tepat oleh pengertian, bahwa prinsip itu memang tidak tertjantum dalam suatu pasal chusus baik didalam Undang² Dasar Sementara atau Undang² lainnja jang sedang berlaku, tetapi djiwa damai jang tersirat didalam Pantjasila dan termuat didalam Mukaddimah Undang² Dasar Sementara, ternjata djuga mempunjai kekuatan hukum karena Mukaddimah itu turun diundangkan bersama-sama pasal² dari Undang² Dasar Sementara seluruhnja. Musjawarah jang di-<noinclude> 43</noinclude> 8y0aqly0yp5t6tc8wh8yexzsb8x5so9 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/702 104 103563 291630 2026-05-11T04:33:48Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291630 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} Corps lapor oleh Let Kol Hartojo jang telah dilantik sebagai KODAM Kalimantan Barat kepada Brig Djend Gatot Subroto. djiwai Pantjasila tidak seharusnja disertai tekanan atau paksaan dari suatu pihak, melainkan harus diutamakan dasar „memberi dan menerima” agar achirnja tertjapai kata sepakat jang menelorkan kesimpulan guna mengedjar tudjuan bersama. Tudjuan luhur, tudjuan untuk orang banjak, untuk perdamaian dan keamanan Nusa dan Bangsa, dimana dirinja tersangkut sebagai sasaran tudjuan dengan kewadjiban pula untuk mengedjarnja. Pemeliharaan sifat musjawarah demikian menuntut adanja tanggung-djawab jang besar, artinja baik setjara formil maupun moril. Tiadanja tanggung-djawab moril — karena terdesak oleh nafsu — antara lain telah mendjadi sebab utama dari lenjapnja kelandjutan (follow up) dari Piagam Djokja jang dilahirkan oleh musjawarah perwira² Angkatan Darat kita pada tanggal 25 Pebruari 1955, dan terbekunja kelandjutan dari Musjawarah Nasional jang diselenggarakan Pemerintah pada tahun jang lalu. Ikrar menudju persatuan — dan keutuhan TNI setelah mengalami dobrakan taufan peristiwa 17 Oktober 1952, oleh Piagam Djokja ditekankan kepada kepemimpinan (leadership) jang diberi pedoman: watak. daja kemampuan dll. Namun karena Piagam Djokja itu ada jang menganggap tidak mengikat atau tidak berkekuatan hukum, dan diartikan hanja kehendak/tjita² (streven) belaka, maka tidak terwudjudlah arti moril jang didjerih-pajahkan para perwira di Djokja, hal mana sesungguhnja sangat besar dan penting pengaruhnja bagi pembangunan setjara sehat dari Angkatan Darat chusunnja dan Angkatan Perang kita pada umumnja sebagai salah satu sendi pokok guna mendjamin keamanan Negara. Dengan sebab jang sama atau karena nafsu tak terkendalikan, maka hasil Musjawarah Nasional telah ditorpedir dengan perbuatan² terror dan pemberontakan jang hanja melipat-gandakan penderitaan² rakjat. Suatu hal jang tragis kalau diingat betapa hampanja sumpah jang diutjapkan dihadapan P.J.M. Presiden/Panglima Tertinggi, dan ziarah di Makam Pahlawan Djokja, setelah Munas berachir. Rakjat tentu mengichlaskan sumbangan beaja jang berdjumlah djutaan rupiah bagi penjelenggaraan musjawarah perwira di Djokja dan Munas, ibarat pembajaran siraman air jg dibajangkan akan dapat mengachiri kehausan mereka akan suasana aman dan damai jg dapat menghimpun segala kekuatan untuk mentjapai tjita²: masjarakat aman, adil dan makmur. Impian bahagia ini terbang lebih tinggi lagi keatas awang², terhempas oleh perbuatan perorangan dan golongan jang didjadjah oleh nafsunja. Tetapi ditentang oleh kenjataan² jang mengetjewakan rakjat, maka Piagam Djokja dan Mu- {{Missing image}} <small>''Rombongan Wakil KSAD bergambar bersama dengan Komandan: Daerah Militer Kalimantan.''</small><noinclude> 44</noinclude> bvoe4wf6odnvkxdhrgk81bqp3wqk5qc 291631 291630 2026-05-11T04:34:04Z Link PB 26772 291631 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Corps lapor oleh Let Kol Hartojo jang telah dilantik sebagai KODAM Kalimantan Barat kepada Brig Djend Gatot Subroto.''</small> djiwai Pantjasila tidak seharusnja disertai tekanan atau paksaan dari suatu pihak, melainkan harus diutamakan dasar „memberi dan menerima” agar achirnja tertjapai kata sepakat jang menelorkan kesimpulan guna mengedjar tudjuan bersama. Tudjuan luhur, tudjuan untuk orang banjak, untuk perdamaian dan keamanan Nusa dan Bangsa, dimana dirinja tersangkut sebagai sasaran tudjuan dengan kewadjiban pula untuk mengedjarnja. Pemeliharaan sifat musjawarah demikian menuntut adanja tanggung-djawab jang besar, artinja baik setjara formil maupun moril. Tiadanja tanggung-djawab moril — karena terdesak oleh nafsu — antara lain telah mendjadi sebab utama dari lenjapnja kelandjutan (follow up) dari Piagam Djokja jang dilahirkan oleh musjawarah perwira² Angkatan Darat kita pada tanggal 25 Pebruari 1955, dan terbekunja kelandjutan dari Musjawarah Nasional jang diselenggarakan Pemerintah pada tahun jang lalu. Ikrar menudju persatuan — dan keutuhan TNI setelah mengalami dobrakan taufan peristiwa 17 Oktober 1952, oleh Piagam Djokja ditekankan kepada kepemimpinan (leadership) jang diberi pedoman: watak. daja kemampuan dll. Namun karena Piagam Djokja itu ada jang menganggap tidak mengikat atau tidak berkekuatan hukum, dan diartikan hanja kehendak/tjita² (streven) belaka, maka tidak terwudjudlah arti moril jang didjerih-pajahkan para perwira di Djokja, hal mana sesungguhnja sangat besar dan penting pengaruhnja bagi pembangunan setjara sehat dari Angkatan Darat chusunnja dan Angkatan Perang kita pada umumnja sebagai salah satu sendi pokok guna mendjamin keamanan Negara. Dengan sebab jang sama atau karena nafsu tak terkendalikan, maka hasil Musjawarah Nasional telah ditorpedir dengan perbuatan² terror dan pemberontakan jang hanja melipat-gandakan penderitaan² rakjat. Suatu hal jang tragis kalau diingat betapa hampanja sumpah jang diutjapkan dihadapan P.J.M. Presiden/Panglima Tertinggi, dan ziarah di Makam Pahlawan Djokja, setelah Munas berachir. Rakjat tentu mengichlaskan sumbangan beaja jang berdjumlah djutaan rupiah bagi penjelenggaraan musjawarah perwira di Djokja dan Munas, ibarat pembajaran siraman air jg dibajangkan akan dapat mengachiri kehausan mereka akan suasana aman dan damai jg dapat menghimpun segala kekuatan untuk mentjapai tjita²: masjarakat aman, adil dan makmur. Impian bahagia ini terbang lebih tinggi lagi keatas awang², terhempas oleh perbuatan perorangan dan golongan jang didjadjah oleh nafsunja. Tetapi ditentang oleh kenjataan² jang mengetjewakan rakjat, maka Piagam Djokja dan Mu- {{Missing image}} <small>''Rombongan Wakil KSAD bergambar bersama dengan Komandan: Daerah Militer Kalimantan.''</small><noinclude> 44</noinclude> 9a5nae3k45s5pu8vaudrgovyo6dnlhx Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/203 104 103564 291635 2026-05-11T04:35:48Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'achterligk, acustische analyse aeusticch type adoleacentio aestetiache aard altruisticch aebivalent anoaalte entipatinte antithe autoritestegeloof axiologie axioza puberteit syapathie voor-puberteit ssouata aa Telos adda a rads fargah (ai-) inte (a1-) Adiraar uddatu ttaraboush fu taddah (al-) sutafarriqaat (a1-) sutatasbi ain naasfiejoh nidiwu lehalg radj ah salaneat ‘oukaaa (a8-) 25 Leash india rai tebar euara tipe ponelinga nasa t... 291635 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>achterligk, acustische analyse aeusticch type adoleacentio aestetiache aard altruisticch aebivalent anoaalte entipatinte antithe autoritestegeloof axiologie axioza puberteit syapathie voor-puberteit ssouata aa Telos adda a rads fargah (ai-) inte (a1-) Adiraar uddatu ttaraboush fu taddah (al-) sutafarriqaat (a1-) sutatasbi ain naasfiejoh nidiwu lehalg radj ah salaneat ‘oukaaa (a8-) 25 Leash india rai tebar euara tipe ponelinga nasa teruna daar keindaton, watak keindahat fabiat keindanaa ssifot tyinta seoaca aubivelea, dwidaja anoaali, venjaiahan hukus, witjala antizati, pratirasa aatitesia, ausgapaa bertentangany Keeulajan taklia, pertjasa-hasba akeiologi, ilau ailat akeioas, sangka pastt noes resadia siapati, sertarasa soca praresadja rospong pintJang pertjeraian pelaaggafan suapah etkeaat bongkrut, sandang Aeteri pingitan aca ideh dala idab sugunaa dereelang ber-turut2 /Buass dua buleg7 Asters taxeetia tjatiat dokali rudjuie utuh, tampa tjatjat tenpat tinggal<noinclude></noinclude> 2iltbtyamizn4o8jhdkdt0cv85bgm2r 291677 291635 2026-05-11T05:20:56Z Humilis Kumulus 26996 /* Telah diuji baca */ 291677 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||25|}}</noinclude>:{| |- |achterlijk||<center>- </center>||lemah indria |- |acustische analyse||<center>- </center>||urai tebar suara |- |acustisch type||<center>- </center>||tipe penelinga |- |adolescentie||<center>- </center>||masa teruna |- |aesthetische aard||<center>- </center>||dasar keindahan, watak keindahan, tabiat keindahan |- |ambivalent||<center>- </center>||ambivalen, dwidaja |- |anomalie||<center>- </center>||anomali, penjalahan hukum, witjala |- |antithese||<center>- </center>||antitesis, anggapan bertentangan, kesulajan |- |autoriteitageloof||<center>- </center>||taklid, pertjaja-hamba |- |axiologie||<center>- </center>||aksiologi, ilmu nilai |- |axioma||<center>- </center>||aksioma, sangka pasti |- |puberteit||<center>- </center>||masa remadja |- |sympathie||<center>- </center>||simpati, sertarasa |- |voor-puberteit||<center>- </center>||masa praremadja |- |} <u>'''AGAMA'''</u> :<u>Islam</u> :{| |- |adjda||<center>- </center>||rompong |- |a radja||<center>- </center>||pintjang |- |furqah (al-)||<center>- </center>||pertjeraian |- |<u>hi</u>nts (al-)||<center>- </center>||pelanggaran sumpah |- |idlraar||<center>- </center>||siksaan |- |iflaas||<center>- </center>||bangkrut |- |kiswah (al-)||<center>- </center>||sandang |- |mahbuusah (al-)||<center>- </center>||isteri pingitan |- |muddatu ttarabbush||<center>- </center>||masa idah |- |mu taddah (al-)||<center>- </center>||dalam idah |- |mutafarriqaat (al-)||<center>- </center>||susunan berselang |- |mutataabi ain||<center>- </center>||susunan berselang |- |nansjisjah||<center>- </center>||isteri taksetia |- |nidlwu lchalq||<center>- </center>||tjatjat |- |radj ah||<center>- </center>||sekali rudjuk |- |salaamat||<center>- </center>||utuh, tanpa tjatjat |- |sukaaa (as-)||<center>- </center>||tempat tinggal |- |}<noinclude></noinclude> bs1x0m20a779pf7pdqfe9lf6eb7st54 291683 291677 2026-05-11T05:25:45Z Humilis Kumulus 26996 291683 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||25|}}</noinclude>:{| |- |achterlijk||<center>- </center>||lemah indria |- |acustische analyse||<center>- </center>||urai tebar suara |- |acustisch type||<center>- </center>||tipe penelinga |- |adolescentie||<center>- </center>||masa teruna |- |aesthetische aard||<center>- </center>||dasar keindahan, watak keindahan, tabiat keindahan |- |ambivalent||<center>- </center>||ambivalen, dwidaja |- |anomalie||<center>- </center>||anomali, penjalahan hukum, witjala |- |antithese||<center>- </center>||antitesis, anggapan bertentangan, kesulajan |- |autoriteitageloof||<center>- </center>||taklid, pertjaja-hamba |- |axiologie||<center>- </center>||aksiologi, ilmu nilai |- |axioma||<center>- </center>||aksioma, sangka pasti |- |puberteit||<center>- </center>||masa remadja |- |sympathie||<center>- </center>||simpati, sertarasa |- |voor-puberteit||<center>- </center>||masa praremadja |- |} <u>'''AGAMA'''</u> a{{gap}}<u>Islam</u> :{| |- |adjda||<center>- </center>||rompong |- |a radja||<center>- </center>||pintjang |- |furqah (al-)||<center>- </center>||pertjeraian |- |<u>hi</u>nts (al-)||<center>- </center>||pelanggaran sumpah |- |idlraar||<center>- </center>||siksaan |- |iflaas||<center>- </center>||bangkrut |- |kiswah (al-)||<center>- </center>||sandang |- |mahbuusah (al-)||<center>- </center>||isteri pingitan |- |muddatu ttarabbush||<center>- </center>||masa idah |- |mu taddah (al-)||<center>- </center>||dalam idah |- |mutafarriqaat (al-)||<center>- </center>||susunan berselang |- |mutataabi ain||<center>- </center>||susunan berselang |- |nansjisjah||<center>- </center>||isteri taksetia |- |nidlwu lchalq||<center>- </center>||tjatjat |- |radj ah||<center>- </center>||sekali rudjuk |- |salaamat||<center>- </center>||utuh, tanpa tjatjat |- |sukaaa (as-)||<center>- </center>||tempat tinggal |- |}<noinclude></noinclude> p5xvcxwc1irfilzjtz1f3geh707d2fj 291685 291683 2026-05-11T05:27:24Z Humilis Kumulus 26996 291685 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||25|}}</noinclude>:{| |- |achterlijk||<center>- </center>||lemah indria |- |acustische analyse||<center>- </center>||urai tebar suara |- |acustisch type||<center>- </center>||tipe penelinga |- |adolescentie||<center>- </center>||masa teruna |- |aesthetische aard||<center>- </center>||dasar keindahan, watak keindahan, tabiat keindahan |- |ambivalent||<center>- </center>||ambivalen, dwidaja |- |anomalie||<center>- </center>||anomali, penjalahan hukum, witjala |- |antithese||<center>- </center>||antitesis, anggapan bertentangan, kesulajan |- |autoriteitageloof||<center>- </center>||taklid, pertjaja-hamba |- |axiologie||<center>- </center>||aksiologi, ilmu nilai |- |axioma||<center>- </center>||aksioma, sangka pasti |- |puberteit||<center>- </center>||masa remadja |- |sympathie||<center>- </center>||simpati, sertarasa |- |voor-puberteit||<center>- </center>||masa praremadja |- |} <u>'''AGAMA'''</u> <br> <ol type=a start=1> <li><u>Islam</u></li> </ol> :{| |- |adjda||<center>- </center>||rompong |- |a radja||<center>- </center>||pintjang |- |furqah (al-)||<center>- </center>||pertjeraian |- |<u>hi</u>nts (al-)||<center>- </center>||pelanggaran sumpah |- |idlraar||<center>- </center>||siksaan |- |iflaas||<center>- </center>||bangkrut |- |kiswah (al-)||<center>- </center>||sandang |- |mahbuusah (al-)||<center>- </center>||isteri pingitan |- |muddatu ttarabbush||<center>- </center>||masa idah |- |mu taddah (al-)||<center>- </center>||dalam idah |- |mutafarriqaat (al-)||<center>- </center>||susunan berselang |- |mutataabi ain||<center>- </center>||susunan berselang |- |nansjisjah||<center>- </center>||isteri taksetia |- |nidlwu lchalq||<center>- </center>||tjatjat |- |radj ah||<center>- </center>||sekali rudjuk |- |salaamat||<center>- </center>||utuh, tanpa tjatjat |- |sukaaa (as-)||<center>- </center>||tempat tinggal |- |}<noinclude></noinclude> 8z7n4lzc3tpa65krw62invihu739lcp Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/125 104 103565 291638 2026-05-11T04:36:58Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291638 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||39}}</noinclude>Selanjutnya Teeuw berbicara pula dalam suatu ceramah yang oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia tanggal 29 Pebruari 1968 dengan pokok "Kesatuan dan keaneka ragaman {{u|dalam kesusastraan Indonesia}}". Pabicaraan kali ini berkisar dalam bidang Kesusastraan Indonesia Lama (Melayu) dan Kesusastraan Daerah. Ditegaskan oleh Teeuw bahwa untuk mempelajari kesusastrian melayu (Lama) umpamanya, perlu diketahui/dipahami kesusastraan Jawa Kuno seperti Bharata Yudha. Dalam penelitian kesusastraan lama kata Teeuw, dapat dilakukan pendekatan (approach) sejarah, parbandingan dan pendekatan dari segi nilai kulturilnya. Dalam ceramahnya didepan para mahasiswa dan dosen IKIP Jakarta, Teeuw antara lain menyatakan bahwa in keberatan kalau kesusastraan digunakan untuk tujuan-tujuan politik. Tentang kritik sastra ia mengatakan kriterium objektif hingga kini belum ada. Buat Teeuw sebuah hasil kesusastraan cukup baik bila ia sejak mulai membaca pertama tertarik dan tertarik lagi. Sesudah itu baru ia mulai mencari ciri-ciri khas dari ciptaan tersebut. Teeuw juga berkunjung ke Direktorat Bahasa dan Kesusastraan, Universitas Gajah Mada, Universitas Pajajaran dan IKIP Bandung dan menghadiri beberapa pertemuan (ceramah) ditempat-tempat tersebut. Sebagai diketahui Teeuw pernah bekerja di Indonesia sebagai ahli bahasa pada Lembaga Penyelidikan Bahasa dan Kebudayaan Universitas Indonesia (1947-1951), dan dosen Kesusastraan Melayu pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1950-1951). Ia seorang filolog lulusan Universitas Utrecht. Gelar doctor diperolehnya dengan disertasi: {{u|Hat}} {{u|Bhomakawya}} (1946). Sejak 1955 Teeuw jadi guru besar bahasa dan kesusastraan Indonesia dan Melayu pada Universitas Leiden.<noinclude></noinclude> jzj7wc2tiurduzypemfwaxkwqi3wuqc Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/703 104 103566 291639 2026-05-11T04:37:01Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291639 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Kol Kusno Utomo dan Brig Djend Gatot Subroto sedang beramah tamah.''</small> sjawararah Nasional adalah tjatatan² sedjarah sebagai wudjud usaha damai manusia Indonesia untuk meredakan serta guna menjelesaikan kekatjauan² didalam negeri, dimana tentara sendiri tersangkut. Chusus bagi tentara, maka usaha itu mendjadi sendi² tambahan jang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung-djawab disamping azas-azas lainnja jang '''mutlak''' seperti Proklamasi 17 Agustus 1945, ideologi Negara — hukum dan disiplin — jang tersimpul didalam Saptamarga dan Sumpah Peradjurit. Pelaksanaan penuh tanggung-djawab berarti tidak memperalat sendi² atau azas-azas itu demi kepentingan perorangan atau golongan tertentu, tetapi untuk kebahagiaan masjarakat banjak, Nusa dan Bangsa. Pelaksanaan penuh tanggung-djawab ini menghadapkan tentara kepada peperangan jang lebih berat daripada menghadapi lawan dimedan pertempuran, karena harus memerangi nafsu jg bersarang pada dirinja sendiri. Hal ini akan mendjadi perbuatan paling mulja didalam kita memperingati dan merajakan Hari Proklamasi 17 Agustus 1945 jg ke-XIII dan selandjutnja. Penjelesaian dan pemeliharaan keamanan akan segera tertjapai, apabila "peperangan" tsb. dilakukan setjara totaall oleh manusia Indonesia jang berkeliaran di-gunung² mendjadi gerombolan, pemberontak, pendjual Bangsa atau sedang merentjanakan akan sedang memegang pelbagai kekuasaan. djuga oleh manusia Indonesia jg berbuat jang sama, dan serentak Pelaksanaannja tidak membutuhkan reclame, tetapi akan dapat memastikan adanja djaminan untuk menghindarkan kekatjauan jang lebih hebat dari jang sudah² dan telah ada jang merentjanakan atau sudah merupakan "bom² waktu" jang mungkin telah tertanam di bumi Indonesia. Kemenangan gemilang jang berhasil menguasai nafsu inilah jang akan mendjadi modal pokok guna menjempurnakan ketahanan militer, ketahanan politik dan ketahanan ekonomi Negara kita, serta merupakan amal manusia jang akan melandjutkan usaha kita sebagai pelopor perdamaian dalam kata dan perbuatan (in woord en daad). Kadar akal menurut tindjauan ahli filsafat Prof. Hamka akan mengangkat deradjat manusia dekat kepada Tuhan Jang Maha Esa, atau sesuai dengan utjapan Socrates jang pernah dicitir oleh Bung Karno, menjatakan bahwa {{right|(Bersamb. hal. : 64).}} {{Missing image}} <small>''Brig Djend Gatot Subroto sewaktu di Kalimantan telah berkenan pula mengikuti tarian daerah. Tampak beliau diminta menari Gantar oleh salah seorang penari dari suku Kutai.''</small><noinclude> 45</noinclude> ci6tip74hjvl2cui96yu4zcp67zz9qg Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/204 104 103567 291649 2026-05-11T04:48:09Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'tha aam (ath-) udm (al-) zawdjijjah (az) Kristen bruid van Christus jus stole manipel slot Societsit van Jesus socius sodalitium solenneel species sponsa Christi staat van genade Statiekruis stedehouuer van Christus stipendium stoolrecht subdiakon . sudarium suffragien suffragium vicarius Christi SOSIOLOGI acguired character change of life characterization Character training Charisma Charity chari... 291649 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>tha aam (ath-) udm (al-) zawdjijjah (az) Kristen bruid van Christus jus stole manipel slot Societsit van Jesus socius sodalitium solenneel species sponsa Christi staat van genade Statiekruis stedehouuer van Christus stipendium stoolrecht subdiakon . sudarium suffragien suffragium vicarius Christi SOSIOLOGI acguired character change of life characterization Character training Charisma Charity charity organization society childrens court cicatrization circulation of elites 26 pangan (otnap/— laukpauk /nafkah/ perpasangan pengantin Kristus bea stola setangan, manipel pingitan - Serikat Jesus tenan perkumpulan semarak bahan (sutji), spesis penzantin Kristus keadaan berahmat salib stasi wakil Kristus uang Misa bea stola diakon muda setangan, manipel surat pengantar doa doa pengantar wakil Kristus watak perolehan sendiri perubahan hidup pelukisan sifat pembinaan watak daja wibawa kedermawanan, kemurahan hati himpunan organisasi amal pengadilan anak-anak pemberian tjiri perubahan elita<noinclude></noinclude> ln1mp0xpkovqpho6d7b9j5i3k2r4ymb 291682 291649 2026-05-11T05:24:59Z Humilis Kumulus 26996 291682 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" />{{rh||26|}</noinclude>:{| |- |tha aam (ath-)||<center>- </center>||pangan ''[''nafkah'']'' |- |udm (al-)||<center>- </center>||laukpauk ''[''nafkah'']'' |- |zawdjijjah (az-)||<center>- </center>||perpasangan |- |} <u>Kristen</u> bruid van Christus jus stole manipel slot Societsit van Jesus socius sodalitium solenneel species sponsa Christi staat van genade Statiekruis stedehouuer van Christus stipendium stoolrecht subdiakon . sudarium suffragien suffragium vicarius Christi SOSIOLOGI acguired character change of life characterization Character training Charisma Charity charity organization society childrens court cicatrization circulation of elites 26 pangan (otnap/— laukpauk /nafkah/ perpasangan pengantin Kristus bea stola setangan, manipel pingitan - Serikat Jesus tenan perkumpulan semarak bahan (sutji), spesis penzantin Kristus keadaan berahmat salib stasi wakil Kristus uang Misa bea stola diakon muda setangan, manipel surat pengantar doa doa pengantar wakil Kristus watak perolehan sendiri perubahan hidup pelukisan sifat pembinaan watak daja wibawa kedermawanan, kemurahan hati himpunan organisasi amal pengadilan anak-anak pemberian tjiri perubahan elita<noinclude></noinclude> g89rl6arx1m6dnuf6xzm4l6isfixk57 291697 291682 2026-05-11T05:43:47Z Humilis Kumulus 26996 /* Telah diuji baca */ 291697 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||26|}}</noinclude>:{| |- |tha aam (ath-)||<center>- </center>||pangan ''[''nafkah'']'' |- |udm (al-)||<center>- </center>||laukpauk ''[''nafkah'']'' |- |zawdjijjah (az-)||<center>- </center>||perpasangan |- |} <ol type=a start=2> <li><u>Kristen</u></li> </ol> :{| |- |bruid van Christus||<center>- </center>||pengantin Kristus |- |jus stolae||<center>- </center>||bea stola |- |manipel||<center>- </center>||setangan, manipel |- |slot||<center>- </center>||pingitan |- |societsit van Jesus ||<center>- </center>||serikat Jesus |- |socius||<center>- </center>||teman |- |sodalitium||<center>- </center>||perkumpulan |- |solemneel||<center>- </center>||semarak |- |species||<center>- </center>||bahan (sutji), spesis |- |sponsa Christi||<center>- </center>||pengantin Kristus |- |staat van genade||<center>- </center>||keadaan berahmat |- |statiekruis||<center>- </center>||salib stasis |- |stedehouuer van Christus||<center>- </center>||wakil Kristus |- |stipendium||<center>- </center>||uang Misa |- |stoolrecht||<center>- </center>||bea stola |- |subdiakon||<center>- </center>||diakon muda |- |sudarium||<center>- </center>||setangan, manipel |- |suffragiën||<center>- </center>||surat pengantar doa |- |suffragium||<center>- </center>||doa pengantar |- |vicarius Christi||<center>- </center>||wakil Kristus SOSIOLOGI :{| |- |acquired character||<center>- </center>||watak perolehan mandiri |- |change of life||<center>- </center>||perubahan hidup |- |characterization||<center>- </center>||pelukisan sifat |- |character training||<center>- </center>||pembinaan watak |- |charisma||<center>- </center>||daja wibawa |- |charity||<center>- </center>||kedermawanan, kemurahan hati |- |charity organization society||<center>- </center>||himpunan organisasi amal |- |childrens court||<center>- </center>||pengadilan anak-anak |- |cicatrization||<center>- </center>||pemberian citra |- |circulation of elites||<center>- </center>||perubahan elita<noinclude></noinclude> 6zk3uec2v9fagub04lh0bal0rrt7i48 291698 291697 2026-05-11T05:44:40Z Humilis Kumulus 26996 291698 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||26|}}</noinclude>:{| |- |tha aam (ath-)||<center>- </center>||pangan ''[''nafkah'']'' |- |udm (al-)||<center>- </center>||laukpauk ''[''nafkah'']'' |- |zawdjijjah (az-)||<center>- </center>||perpasangan |- |} <ol type=a start=2> <li><u>Kristen</u></li> </ol> :{| |- |bruid van Christus||<center>- </center>||pengantin Kristus |- |jus stolae||<center>- </center>||bea stola |- |manipel||<center>- </center>||setangan, manipel |- |slot||<center>- </center>||pingitan |- |societsit van Jesus ||<center>- </center>||serikat Jesus |- |socius||<center>- </center>||teman |- |sodalitium||<center>- </center>||perkumpulan |- |solemneel||<center>- </center>||semarak |- |species||<center>- </center>||bahan (sutji), spesis |- |sponsa Christi||<center>- </center>||pengantin Kristus |- |staat van genade||<center>- </center>||keadaan berahmat |- |statiekruis||<center>- </center>||salib stasis |- |stedehouuer van Christus||<center>- </center>||wakil Kristus |- |stipendium||<center>- </center>||uang Misa |- |stoolrecht||<center>- </center>||bea stola |- |subdiakon||<center>- </center>||diakon muda |- |sudarium||<center>- </center>||setangan, manipel |- |suffragiën||<center>- </center>||surat pengantar doa |- |suffragium||<center>- </center>||doa pengantar |- |vicarius Christi||<center>- </center>||wakil Kristus |} SOSIOLOGI :{| |- |acquired character||<center>- </center>||watak perolehan mandiri |- |change of life||<center>- </center>||perubahan hidup |- |characterization||<center>- </center>||pelukisan sifat |- |character training||<center>- </center>||pembinaan watak |- |charisma||<center>- </center>||daja wibawa |- |charity||<center>- </center>||kedermawanan, kemurahan hati |- |charity organization society||<center>- </center>||himpunan organisasi amal |- |childrens court||<center>- </center>||pengadilan anak-anak |- |cicatrization||<center>- </center>||pemberian citra |- |circulation of elites||<center>- </center>||perubahan elita |}<noinclude></noinclude> l5axnpdhku4adyaq7b3yswijscumv5h Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/144 104 103568 291650 2026-05-11T04:48:31Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291650 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||16}}</noinclude><ol type="1" start="5"> <li>{{u|Prinsip-prinsip lingguistik dalam penyelidikan tatabahasa}} Sudah kita maklumi, bahwa tak ada bahasa yang sama dengan perkataan lain, tiap bahasa mempunyai kodrat sendiri-sendiri. Dengan sendirinya deskripsi tentang tiap-tiap bahasa itu harus menuruti kodrat bahasa itu. Dalam menghadapi suatu bahasa, tak bisa kita menerapkan kategori-kategori bahasa lain kepada bahasa itu. Apa yang disebut tatabahasa universil seperti apa yang dipercaya orang pada jaman pertengahan di Eropa sesungguhnya tidak ada (Tetapi teori umum tentang bahasa dan bahasa-bahasa menang ada). Tiap bahasa mempunyai tatabahasa sendiri-sendiri, sehingga semua kategori dan definisi tatabanasa harus disusun secara {{u|ad hoc}}. Prinsip ini misalnya tidak dimengerti oleh para ahli tatabahasa Inggris yang menyebut adanya 5 kasus dalam Bahasa Inggris Modern atau seperti ahli BI yang mencari modus, aspek dan {{illegible}} dalam BI. Harus diakui, memang ada faedahnya mengambil/menterjemahkan/mengadopsi istilah tatabahasa bahasa lain, tetapi istilah itu hanya perlu untuk penamaan saja, sedang definisinya menggambarkan kenyataan-kenyataan yang ada dalam BI. Kita sudah biasa memakai subjek/pokok dan predikat/sebutan dalam BI, tetapi bagaimana ujud subjekdan predikat itu haruslah diselidiki dari BI sendiri, tidak dengan mengambil begitu saja deskripsi dan definisi dari bahasa lain. Apakah kemudian sama atau mirip dengan bahasa lain, haruslah kita anggap sebagai hasil penyelidikan itu sendiri dan bukan soal kini, melainkan soal tahap penyelidikan kemudian. Demikianlah gambaran tentang sifat {{u|empiris}} dari lingguistik. Disamping itu tatabahasa yang kita susun yang menggambarkan kaidah-kaidah suatu bahasa haruslah bersifat {{u|{{sp|formil}}}}, dalam arti hanyalah menggambarkan bentuk-bentuk lahiriah, fungsi-fungsi strukturil dan hubungan-hubungan antara semua unsur yang dapat diuji juga oleh orang lain (mengingat, bahwa lingguistik bersifat publik). Tatabahasa formil bersifat objektif karena menjauhi pendekatan spekulatif seperti yang dipraktekkan oleh kaum tradisionalis, yang tampak misalnya dalam tatabahasa yang menyebutkan katabenda sebagai nama orang dan benda atau yang dibendakan. Bagi lingguistik apa yang kita sebut {{u|arti}} secara primer bukanlah hubungan sesuatu unsur bahasa dengan alam diluar bahasa, melainkan keseluruhan penggunaan unsur-unsur bahasa dalam tuturan pada saat tertentu. Dalam penyelidikan dan uraian tentang setiap bahasa haruslah bedakan antara tatabahasa deskriptif dan tatabahasa normatif.<noinclude></noinclude> c313peyl1t0jhoi8znmhmgeysv4hskg 291651 291650 2026-05-11T04:49:41Z Upiak Ituih 27011 291651 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||16}}</noinclude><ol type="1" start="5"> <li>{{u|Prinsip-prinsip lingguistik dalam penyelidikan tatabahasa}} Sudah kita maklumi, bahwa tak ada bahasa yang sama dengan perkataan lain, tiap bahasa mempunyai kodrat sendiri-sendiri. Dengan sendirinya deskripsi tentang tiap-tiap bahasa itu harus menuruti kodrat bahasa itu. Dalam menghadapi suatu bahasa, tak bisa kita menerapkan kategori-kategori bahasa lain kepada bahasa itu. Apa yang disebut tatabahasa universil seperti apa yang dipercaya orang pada jaman pertengahan di Eropa sesungguhnya tidak ada (Tetapi teori umum tentang bahasa dan bahasa-bahasa menang ada). Tiap bahasa mempunyai tatabahasa sendiri-sendiri, sehingga semua kategori dan definisi tatabanasa harus disusun secara {{u|ad hoc}}. Prinsip ini misalnya tidak dimengerti oleh para ahli tatabahasa Inggris yang menyebut adanya 5 kasus dalam Bahasa Inggris Modern atau seperti ahli BI yang mencari modus, aspek dan {{illegible}} dalam BI. Harus diakui, memang ada faedahnya mengambil/menterjemahkan/mengadopsi istilah tatabahasa bahasa lain, tetapi istilah itu hanya perlu untuk penamaan saja, sedang definisinya menggambarkan kenyataan-kenyataan yang ada dalam BI. Kita sudah biasa memakai subjek/pokok dan predikat/sebutan dalam BI, tetapi bagaimana ujud subjekdan predikat itu haruslah diselidiki dari BI sendiri, tidak dengan mengambil begitu saja deskripsi dan definisi dari bahasa lain. Apakah kemudian sama atau mirip dengan bahasa lain, haruslah kita anggap sebagai hasil penyelidikan itu sendiri dan bukan soal kini, melainkan soal tahap penyelidikan kemudian. Demikianlah gambaran tentang sifat {{u|empiris}} dari lingguistik. </ol> <ol> Disamping itu tatabahasa yang kita susun yang menggambarkan kaidah-kaidah suatu bahasa haruslah bersifat {{u|{{sp|formil}}}}, dalam arti hanyalah menggambarkan bentuk-bentuk lahiriah, fungsi-fungsi strukturil dan hubungan-hubungan antara semua unsur yang dapat diuji juga oleh orang lain (mengingat, bahwa lingguistik bersifat publik). Tatabahasa formil bersifat objektif karena menjauhi pendekatan spekulatif seperti yang dipraktekkan oleh kaum tradisionalis, yang tampak misalnya dalam tatabahasa yang menyebutkan katabenda sebagai nama orang dan benda atau yang dibendakan. Bagi lingguistik apa yang kita sebut {{u|arti}} secara primer bukanlah hubungan sesuatu unsur bahasa dengan alam diluar bahasa, melainkan keseluruhan penggunaan unsur-unsur bahasa dalam tuturan pada saat tertentu. </ol> <ol> Dalam penyelidikan dan uraian tentang setiap bahasa haruslah bedakan antara tatabahasa deskriptif dan tatabahasa normatif. </ol><noinclude></noinclude> 7gja0nrcay0wg2u0v5z7kn6b6lei9ep Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/705 104 103569 291652 2026-05-11T04:54:52Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291652 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan diantara para pembesar itu biasanja terdapat seorang jang deradjatnja terhitung paling tinggi. Dalam pemerintahan persekutuan hukum itu ia memegang tampuk kekuasaan, sedangkan pembesar lainnja mendjadi pembantunja. Di-desa² sebelah Djawa Tengah dan Timur terdapat sebagai alat perlengkapan daerah sebagai pendjabat terutama : Kepala desa (bekel, Lurah, Petinggi). Untuk pekerdjaannja ia disampingi oleh beberapa pembantu jang dinamakan prabot desa atau serekat desa. Wakil dari kepala desa disebut Kamituwa. Urusan surat-menjurat dilakukan oleh djuru tulis desa „tjarik”, kemudian ada pesuruh desa „kebajan” sebagai orang jang bertugas meneruskan perintah. Djabatan agama dipegang oleh „modin” dan kepolisian dipegang oleh „Djagabaja”. Didaerah Minangkabau dalam adat Bodi Tjamiago tiap² famili berada dibawah pimpinan seorang kepala famili jang disebut „penghulu andiko”. Penghulu andiko ini biasanja laki-laki jang tertua dari tjabang jang tertua dari famili. Tiap² tjabang famili (djurai) masing² dibawah seorang² tua jang disebut „mamak kepala waris” atau „tunggani”. Penghulu² andiko dari tiap² famili merupakan „kerapatan nagari” jang memegang tampuk kekuasaan dalam nagari itu. Mereka berapat dalam balai, jang „duduk sama rendah tegak sama tinggi”, keputusan harus diambil dengan suara bulat. Didaerah adat Koto-Paliang setiap famili- pun diketuai oleh seorang „Penghulu andiko”, tiap² suku (clan) dikepalai oleh „Penghulu suku”, jaitu jang dituakan dari antara penghulu² andiko jang bersama memerintah suku itu. Kaki tangan dari Kepala suku terdiri dari „manti” untuk pemerintahan, „dubalang” untuk kepolisian, „malim” untuk agama. Penghulu suku dengan pembantunja itu disebutkan „Urang ampe djinih”. Kepala dari nagari, disebut putjuk Nagari, diangkat dari jang tertua dari antara penghulu suku. '''Hukum Perkawinan setjara Hukum „Adat”.''' Setelah saja utarakan tentang susunan masjarakat hukum adat diberbagai daerah di Indonesia, maka sampailah sekarang kepada bagian terachir dari uraian ini. Jang saja akan uraikan ialah tentang Hukum Perkawinan setjara Hukum Adat. Soal ini penting sekali untuk diketahui, karena mungkin akan dialami sendiri oleh saudara² kalau saudara² terpikat oleh gadis tjantik didaerah dimana saudara bertugas. Seperti halnja dengan soal² lain, maka systeem perkawinanpun berbeda-beda dalam tiap daerah persekutuan — hukum jg mempunjai systeem sendiri. Di Djawa lain dengan di Tapanuli dan inipun lain lagi dengan di Minangkabau atau di Bali. Disini saja akan tjoba memberikan uraian tentang tiap² systeem perkawinan dalam garis besarnja. Dalam hal seketjil-ketjilnja saudara² dapat selidiki sendiri setelah saudara² mengetahui persoalannja dalam garis besarnja. Dalam hukum Adat Indonesia, kita mengenal systeem perkawinan seperti jang dinamakan: Perkawinan dengan Djudjur seperti didaerah Batak ; Perkawinan semendo seperti didaerah Minangkabau ; Perkawinan bebas seperti di Djawa ; Perkawinan pakai pembajaran Djasa seperti di Palembang, Lampung dan Bali ; Perkawinan memasukkan seperti di Saparua dan Lampung ; dan Perkawinan silih-tikar di Djawa dan Ambon, atau Perkawinan landjutan, dan banjak lagi variasi dari systeem perkawinan ini. Perkawinan dengan Djudjur umumnja dilakukan didaerah Batak (Tapanuli). Dalam hal ini penting sekali diperhatikan oleh saudara² jang bertugas di Tapanuli. Jang dimaksud „Perkawinan dengan Djudjur" ialah suatu perkawinan dimana si mempelai laki² harus membajar djudjur atau maskawin. Kalau perkawinan itu dilakukan dengan Djudjur maka si mempelai perempuan ikut dengan suaminja dan dilepaskan sama sekali dari keluarganja, djuga dari marganja. Ia masuk marga suaminja. Keluarganja tidak mempunjai hak lagi terhadap perempuan ini. Pun perempuan ini tidak berhak atas harta kekajaan keluarganja sendiri. Hidup atau mati dalam marga suaminja. Bahkan biasanja kalau ia mendjadi djanda karena suaminja meninggal dunia dan tidak punja anak maka ia dikawinkan lagi dengan saudara muda dari suaminja jang meninggal dunia. Perkawinan sematjam ini kemudian dinamakan „Perkawinan landjutan". Djudjur itu sangat berat sekali, sehingga banjak sekali laki-laki tidak mampu | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:120%;">'''trio hotel'''</p> Djl. Gardudjali No 33, 35, 37, 39<br/> BANDUNG<br/> <p style="margin:20px 0;">~ ❖ ~</p> <p> <small>Telepon (Weselbor)</small></p> <small>No. 3156-3157</small> | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:130%;">Perusahaan :'''</p> Bahan2 Bangunan & Angkutan<br/> <p style="margin:40px 0;">\\</p> <p>TJEROJOM {{gap}} BANDUNG</p> <p>Telf: 3283. {{gap}} P. Kapur Tjipatat.</p> |} </div><noinclude> 47</noinclude> h88hxo5nv64lywcb3teupfbxl6a2ul2 291653 291652 2026-05-11T04:55:33Z Link PB 26772 291653 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan diantara para pembesar itu biasanja terdapat seorang jang deradjatnja terhitung paling tinggi. Dalam pemerintahan persekutuan hukum itu ia memegang tampuk kekuasaan, sedangkan pembesar lainnja mendjadi pembantunja. Di-desa² sebelah Djawa Tengah dan Timur terdapat sebagai alat perlengkapan daerah sebagai pendjabat terutama : Kepala desa (bekel, Lurah, Petinggi). Untuk pekerdjaannja ia disampingi oleh beberapa pembantu jang dinamakan prabot desa atau serekat desa. Wakil dari kepala desa disebut Kamituwa. Urusan surat-menjurat dilakukan oleh djuru tulis desa „tjarik”, kemudian ada pesuruh desa „kebajan” sebagai orang jang bertugas meneruskan perintah. Djabatan agama dipegang oleh „modin” dan kepolisian dipegang oleh „Djagabaja”. Didaerah Minangkabau dalam adat Bodi Tjamiago tiap² famili berada dibawah pimpinan seorang kepala famili jang disebut „penghulu andiko”. Penghulu andiko ini biasanja laki-laki jang tertua dari tjabang jang tertua dari famili. Tiap² tjabang famili (djurai) masing² dibawah seorang² tua jang disebut „mamak kepala waris” atau „tunggani”. Penghulu² andiko dari tiap² famili merupakan „kerapatan nagari” jang memegang tampuk kekuasaan dalam nagari itu. Mereka berapat dalam balai, jang „duduk sama rendah tegak sama tinggi”, keputusan harus diambil dengan suara bulat. Didaerah adat Koto-Paliang setiap famili- pun diketuai oleh seorang „Penghulu andiko”, tiap² suku (clan) dikepalai oleh „Penghulu suku”, jaitu jang dituakan dari antara penghulu² andiko jang bersama memerintah suku itu. Kaki tangan dari Kepala suku terdiri dari „manti” untuk pemerintahan, „dubalang” untuk kepolisian, „malim” untuk agama. Penghulu suku dengan pembantunja itu disebutkan „Urang ampe djinih”. Kepala dari nagari, disebut putjuk Nagari, diangkat dari jang tertua dari antara penghulu suku. '''Hukum Perkawinan setjara Hukum „Adat”.''' Setelah saja utarakan tentang susunan masjarakat hukum adat diberbagai daerah di Indonesia, maka sampailah sekarang kepada bagian terachir dari uraian ini. Jang saja akan uraikan ialah tentang Hukum Perkawinan setjara Hukum Adat. Soal ini penting sekali untuk diketahui, karena mungkin akan dialami sendiri oleh saudara² kalau saudara² terpikat oleh gadis tjantik didaerah dimana saudara bertugas. Seperti halnja dengan soal² lain, maka systeem perkawinanpun berbeda-beda dalam tiap daerah persekutuan — hukum jg mempunjai systeem sendiri. Di Djawa lain dengan di Tapanuli dan inipun lain lagi dengan di Minangkabau atau di Bali. Disini saja akan tjoba memberikan uraian tentang tiap² systeem perkawinan dalam garis besarnja. Dalam hal seketjil-ketjilnja saudara² dapat selidiki sendiri setelah saudara² mengetahui persoalannja dalam garis besarnja. Dalam hukum Adat Indonesia, kita mengenal systeem perkawinan seperti jang dinamakan: Perkawinan dengan Djudjur seperti didaerah Batak ; Perkawinan semendo seperti didaerah Minangkabau ; Perkawinan bebas seperti di Djawa ; Perkawinan pakai pembajaran Djasa seperti di Palembang, Lampung dan Bali ; Perkawinan memasukkan seperti di Saparua dan Lampung ; dan Perkawinan silih-tikar di Djawa dan Ambon, atau Perkawinan landjutan, dan banjak lagi variasi dari systeem perkawinan ini. Perkawinan dengan Djudjur umumnja dilakukan didaerah Batak (Tapanuli). Dalam hal ini penting sekali diperhatikan oleh saudara² jang bertugas di Tapanuli. Jang dimaksud „Perkawinan dengan Djudjur" ialah suatu perkawinan dimana si mempelai laki² harus membajar djudjur atau maskawin. Kalau perkawinan itu dilakukan dengan Djudjur maka si mempelai perempuan ikut dengan suaminja dan dilepaskan sama sekali dari keluarganja, djuga dari marganja. Ia masuk marga suaminja. Keluarganja tidak mempunjai hak lagi terhadap perempuan ini. Pun perempuan ini tidak berhak atas harta kekajaan keluarganja sendiri. Hidup atau mati dalam marga suaminja. Bahkan biasanja kalau ia mendjadi djanda karena suaminja meninggal dunia dan tidak punja anak maka ia dikawinkan lagi dengan saudara muda dari suaminja jang meninggal dunia. Perkawinan sematjam ini kemudian dinamakan „Perkawinan landjutan". Djudjur itu sangat berat sekali, sehingga banjak sekali laki-laki tidak mampu <div style="text-align:right; margin-right:15%;"> Red / Adm. </div> |- | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:120%;">'''trio hotel'''</p> Djl. Gardudjali No 33, 35, 37, 39<br/> BANDUNG<br/> <p style="margin:20px 0;">~ ❖ ~</p> <p> <small>Telepon (Weselbor)</small></p> <small>No. 3156-3157</small> | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:130%;">Perusahaan :'''</p> Bahan2 Bangunan & Angkutan<br/> <p style="margin:40px 0;">\\</p> <p>TJEROJOM {{gap}} BANDUNG</p> <p>Telf: 3283. {{gap}} P. Kapur Tjipatat.</p> |} </div><noinclude> 47</noinclude> cry8riirgla91x5wfu1k29kuzeht3fc 291654 291653 2026-05-11T04:57:25Z Link PB 26772 291654 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan diantara para pembesar itu biasanja terdapat seorang jang deradjatnja terhitung paling tinggi. Dalam pemerintahan persekutuan hukum itu ia memegang tampuk kekuasaan, sedangkan pembesar lainnja mendjadi pembantunja. Di-desa² sebelah Djawa Tengah dan Timur terdapat sebagai alat perlengkapan daerah sebagai pendjabat terutama : Kepala desa (bekel, Lurah, Petinggi). Untuk pekerdjaannja ia disampingi oleh beberapa pembantu jang dinamakan prabot desa atau serekat desa. Wakil dari kepala desa disebut Kamituwa. Urusan surat-menjurat dilakukan oleh djuru tulis desa „tjarik”, kemudian ada pesuruh desa „kebajan” sebagai orang jang bertugas meneruskan perintah. Djabatan agama dipegang oleh „modin” dan kepolisian dipegang oleh „Djagabaja”. Didaerah Minangkabau dalam adat Bodi Tjamiago tiap² famili berada dibawah pimpinan seorang kepala famili jang disebut „penghulu andiko”. Penghulu andiko ini biasanja laki-laki jang tertua dari tjabang jang tertua dari famili. Tiap² tjabang famili (djurai) masing² dibawah seorang² tua jang disebut „mamak kepala waris” atau „tunggani”. Penghulu² andiko dari tiap² famili merupakan „kerapatan nagari” jang memegang tampuk kekuasaan dalam nagari itu. Mereka berapat dalam balai, jang „duduk sama rendah tegak sama tinggi”, keputusan harus diambil dengan suara bulat. Didaerah adat Koto-Paliang setiap famili- pun diketuai oleh seorang „Penghulu andiko”, tiap² suku (clan) dikepalai oleh „Penghulu suku”, jaitu jang dituakan dari antara penghulu² andiko jang bersama memerintah suku itu. Kaki tangan dari Kepala suku terdiri dari „manti” untuk pemerintahan, „dubalang” untuk kepolisian, „malim” untuk agama. Penghulu suku dengan pembantunja itu disebutkan „Urang ampe djinih”. Kepala dari nagari, disebut putjuk Nagari, diangkat dari jang tertua dari antara penghulu suku. '''Hukum Perkawinan setjara Hukum „Adat”.''' Setelah saja utarakan tentang susunan masjarakat hukum adat diberbagai daerah di Indonesia, maka sampailah sekarang kepada bagian terachir dari uraian ini. Jang saja akan uraikan ialah tentang Hukum Perkawinan setjara Hukum Adat. Soal ini penting sekali untuk diketahui, karena mungkin akan dialami sendiri oleh saudara² kalau saudara² terpikat oleh gadis tjantik didaerah dimana saudara bertugas. Seperti halnja dengan soal² lain, maka systeem perkawinanpun berbeda-beda dalam tiap daerah persekutuan — hukum jg mempunjai systeem sendiri. Di Djawa lain dengan di Tapanuli dan inipun lain lagi dengan di Minangkabau atau di Bali. Disini saja akan tjoba memberikan uraian tentang tiap² systeem perkawinan dalam garis besarnja. Dalam hal seketjil-ketjilnja saudara² dapat selidiki sendiri setelah saudara² mengetahui persoalannja dalam garis besarnja. Dalam hukum Adat Indonesia, kita mengenal systeem perkawinan seperti jang dinamakan: Perkawinan dengan Djudjur seperti didaerah Batak ; Perkawinan semendo seperti didaerah Minangkabau ; Perkawinan bebas seperti di Djawa ; Perkawinan pakai pembajaran Djasa seperti di Palembang, Lampung dan Bali ; Perkawinan memasukkan seperti di Saparua dan Lampung ; dan Perkawinan silih-tikar di Djawa dan Ambon, atau Perkawinan landjutan, dan banjak lagi variasi dari systeem perkawinan ini. Perkawinan dengan Djudjur umumnja dilakukan didaerah Batak (Tapanuli). Dalam hal ini penting sekali diperhatikan oleh saudara² jang bertugas di Tapanuli. Jang dimaksud „Perkawinan dengan Djudjur" ialah suatu perkawinan dimana si mempelai laki² harus membajar djudjur atau maskawin. Kalau perkawinan itu dilakukan dengan Djudjur maka si mempelai perempuan ikut dengan suaminja dan dilepaskan sama sekali dari keluarganja, djuga dari marganja. Ia masuk marga suaminja. Keluarganja tidak mempunjai hak lagi terhadap perempuan ini. Pun perempuan ini tidak berhak atas harta kekajaan keluarganja sendiri. Hidup atau mati dalam marga suaminja. Bahkan biasanja kalau ia mendjadi djanda karena suaminja meninggal dunia dan tidak punja anak maka ia dikawinkan lagi dengan saudara muda dari suaminja jang meninggal dunia. Perkawinan sematjam ini kemudian dinamakan „Perkawinan landjutan". Djudjur itu sangat berat sekali, sehingga banjak sekali laki-laki tidak mampu {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" <div style="text-align:right; margin-right:15%;"> Red / Adm. </div> |- | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:120%;">'''trio hotel'''</p> Djl. Gardudjali No 33, 35, 37, 39<br/> BANDUNG<br/> <p style="margin:20px 0;">~ ❖ ~</p> <p> <small>Telepon (Weselbor)</small></p> <small>No. 3156-3157</small> | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:130%;">Perusahaan :'''</p> Bahan2 Bangunan & Angkutan<br/> <p style="margin:40px 0;">\\</p> <p>TJEROJOM {{gap}} BANDUNG</p> <p>Telf: 3283. {{gap}} P. Kapur Tjipatat.</p> |} </div><noinclude> 47</noinclude> 1nvs1oagsow8cj3hunys7wh8w8nin80 291655 291654 2026-05-11T04:57:49Z Link PB 26772 291655 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan diantara para pembesar itu biasanja terdapat seorang jang deradjatnja terhitung paling tinggi. Dalam pemerintahan persekutuan hukum itu ia memegang tampuk kekuasaan, sedangkan pembesar lainnja mendjadi pembantunja. Di-desa² sebelah Djawa Tengah dan Timur terdapat sebagai alat perlengkapan daerah sebagai pendjabat terutama : Kepala desa (bekel, Lurah, Petinggi). Untuk pekerdjaannja ia disampingi oleh beberapa pembantu jang dinamakan prabot desa atau serekat desa. Wakil dari kepala desa disebut Kamituwa. Urusan surat-menjurat dilakukan oleh djuru tulis desa „tjarik”, kemudian ada pesuruh desa „kebajan” sebagai orang jang bertugas meneruskan perintah. Djabatan agama dipegang oleh „modin” dan kepolisian dipegang oleh „Djagabaja”. Didaerah Minangkabau dalam adat Bodi Tjamiago tiap² famili berada dibawah pimpinan seorang kepala famili jang disebut „penghulu andiko”. Penghulu andiko ini biasanja laki-laki jang tertua dari tjabang jang tertua dari famili. Tiap² tjabang famili (djurai) masing² dibawah seorang² tua jang disebut „mamak kepala waris” atau „tunggani”. Penghulu² andiko dari tiap² famili merupakan „kerapatan nagari” jang memegang tampuk kekuasaan dalam nagari itu. Mereka berapat dalam balai, jang „duduk sama rendah tegak sama tinggi”, keputusan harus diambil dengan suara bulat. Didaerah adat Koto-Paliang setiap famili- pun diketuai oleh seorang „Penghulu andiko”, tiap² suku (clan) dikepalai oleh „Penghulu suku”, jaitu jang dituakan dari antara penghulu² andiko jang bersama memerintah suku itu. Kaki tangan dari Kepala suku terdiri dari „manti” untuk pemerintahan, „dubalang” untuk kepolisian, „malim” untuk agama. Penghulu suku dengan pembantunja itu disebutkan „Urang ampe djinih”. Kepala dari nagari, disebut putjuk Nagari, diangkat dari jang tertua dari antara penghulu suku. '''Hukum Perkawinan setjara Hukum „Adat”.''' Setelah saja utarakan tentang susunan masjarakat hukum adat diberbagai daerah di Indonesia, maka sampailah sekarang kepada bagian terachir dari uraian ini. Jang saja akan uraikan ialah tentang Hukum Perkawinan setjara Hukum Adat. Soal ini penting sekali untuk diketahui, karena mungkin akan dialami sendiri oleh saudara² kalau saudara² terpikat oleh gadis tjantik didaerah dimana saudara bertugas. Seperti halnja dengan soal² lain, maka systeem perkawinanpun berbeda-beda dalam tiap daerah persekutuan — hukum jg mempunjai systeem sendiri. Di Djawa lain dengan di Tapanuli dan inipun lain lagi dengan di Minangkabau atau di Bali. Disini saja akan tjoba memberikan uraian tentang tiap² systeem perkawinan dalam garis besarnja. Dalam hal seketjil-ketjilnja saudara² dapat selidiki sendiri setelah saudara² mengetahui persoalannja dalam garis besarnja. Dalam hukum Adat Indonesia, kita mengenal systeem perkawinan seperti jang dinamakan: Perkawinan dengan Djudjur seperti didaerah Batak ; Perkawinan semendo seperti didaerah Minangkabau ; Perkawinan bebas seperti di Djawa ; Perkawinan pakai pembajaran Djasa seperti di Palembang, Lampung dan Bali ; Perkawinan memasukkan seperti di Saparua dan Lampung ; dan Perkawinan silih-tikar di Djawa dan Ambon, atau Perkawinan landjutan, dan banjak lagi variasi dari systeem perkawinan ini. Perkawinan dengan Djudjur umumnja dilakukan didaerah Batak (Tapanuli). Dalam hal ini penting sekali diperhatikan oleh saudara² jang bertugas di Tapanuli. Jang dimaksud „Perkawinan dengan Djudjur" ialah suatu perkawinan dimana si mempelai laki² harus membajar djudjur atau maskawin. Kalau perkawinan itu dilakukan dengan Djudjur maka si mempelai perempuan ikut dengan suaminja dan dilepaskan sama sekali dari keluarganja, djuga dari marganja. Ia masuk marga suaminja. Keluarganja tidak mempunjai hak lagi terhadap perempuan ini. Pun perempuan ini tidak berhak atas harta kekajaan keluarganja sendiri. Hidup atau mati dalam marga suaminja. Bahkan biasanja kalau ia mendjadi djanda karena suaminja meninggal dunia dan tidak punja anak maka ia dikawinkan lagi dengan saudara muda dari suaminja jang meninggal dunia. Perkawinan sematjam ini kemudian dinamakan „Perkawinan landjutan". Djudjur itu sangat berat sekali, sehingga banjak sekali laki-laki tidak mampu {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" |- | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:120%;">'''trio hotel'''</p> Djl. Gardudjali No 33, 35, 37, 39<br/> BANDUNG<br/> <p style="margin:20px 0;">~ ❖ ~</p> <p> <small>Telepon (Weselbor)</small></p> <small>No. 3156-3157</small> | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:130%;">Perusahaan :'''</p> Bahan2 Bangunan & Angkutan<br/> <p style="margin:40px 0;">\\</p> <p>TJEROJOM {{gap}} BANDUNG</p> <p>Telf: 3283. {{gap}} P. Kapur Tjipatat.</p> |} </div><noinclude> 47</noinclude> iy4p4je1pm8v5jkhegpjr3bdluxx0t1 291656 291655 2026-05-11T04:59:28Z Link PB 26772 291656 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan diantara para pembesar itu biasanja terdapat seorang jang deradjatnja terhitung paling tinggi. Dalam pemerintahan persekutuan hukum itu ia memegang tampuk kekuasaan, sedangkan pembesar lainnja mendjadi pembantunja. Di-desa² sebelah Djawa Tengah dan Timur terdapat sebagai alat perlengkapan daerah sebagai pendjabat terutama : Kepala desa (bekel, Lurah, Petinggi). Untuk pekerdjaannja ia disampingi oleh beberapa pembantu jang dinamakan prabot desa atau serekat desa. Wakil dari kepala desa disebut Kamituwa. Urusan surat-menjurat dilakukan oleh djuru tulis desa „tjarik”, kemudian ada pesuruh desa „kebajan” sebagai orang jang bertugas meneruskan perintah. Djabatan agama dipegang oleh „modin” dan kepolisian dipegang oleh „Djagabaja”. Didaerah Minangkabau dalam adat Bodi Tjamiago tiap² famili berada dibawah pimpinan seorang kepala famili jang disebut „penghulu andiko”. Penghulu andiko ini biasanja laki-laki jang tertua dari tjabang jang tertua dari famili. Tiap² tjabang famili (djurai) masing² dibawah seorang² tua jang disebut „mamak kepala waris” atau „tunggani”. Penghulu² andiko dari tiap² famili merupakan „kerapatan nagari” jang memegang tampuk kekuasaan dalam nagari itu. Mereka berapat dalam balai, jang „duduk sama rendah tegak sama tinggi”, keputusan harus diambil dengan suara bulat. Didaerah adat Koto-Paliang setiap famili- pun diketuai oleh seorang „Penghulu andiko”, tiap² suku (clan) dikepalai oleh „Penghulu suku”, jaitu jang dituakan dari antara penghulu² andiko jang bersama memerintah suku itu. Kaki tangan dari Kepala suku terdiri dari „manti” untuk pemerintahan, „dubalang” untuk kepolisian, „malim” untuk agama. Penghulu suku dengan pembantunja itu disebutkan „Urang ampe djinih”. Kepala dari nagari, disebut putjuk Nagari, diangkat dari jang tertua dari antara penghulu suku. '''Hukum Perkawinan setjara Hukum „Adat”.''' Setelah saja utarakan tentang susunan masjarakat hukum adat diberbagai daerah di Indonesia, maka sampailah sekarang kepada bagian terachir dari uraian ini. Jang saja akan uraikan ialah tentang Hukum Perkawinan setjara Hukum Adat. Soal ini penting sekali untuk diketahui, karena mungkin akan dialami sendiri oleh saudara² kalau saudara² terpikat oleh gadis tjantik didaerah dimana saudara bertugas. Seperti halnja dengan soal² lain, maka systeem perkawinanpun berbeda-beda dalam tiap daerah persekutuan — hukum jg mempunjai systeem sendiri. Di Djawa lain dengan di Tapanuli dan inipun lain lagi dengan di Minangkabau atau di Bali. Disini saja akan tjoba memberikan uraian tentang tiap² systeem perkawinan dalam garis besarnja. Dalam hal seketjil-ketjilnja saudara² dapat selidiki sendiri setelah saudara² mengetahui persoalannja dalam garis besarnja. Dalam hukum Adat Indonesia, kita mengenal systeem perkawinan seperti jang dinamakan: Perkawinan dengan Djudjur seperti didaerah Batak ; Perkawinan semendo seperti didaerah Minangkabau ; Perkawinan bebas seperti di Djawa ; Perkawinan pakai pembajaran Djasa seperti di Palembang, Lampung dan Bali ; Perkawinan memasukkan seperti di Saparua dan Lampung ; dan Perkawinan silih-tikar di Djawa dan Ambon, atau Perkawinan landjutan, dan banjak lagi variasi dari systeem perkawinan ini. Perkawinan dengan Djudjur umumnja dilakukan didaerah Batak (Tapanuli). Dalam hal ini penting sekali diperhatikan oleh saudara² jang bertugas di Tapanuli. Jang dimaksud „Perkawinan dengan Djudjur" ialah suatu perkawinan dimana si mempelai laki² harus membajar djudjur atau maskawin. Kalau perkawinan itu dilakukan dengan Djudjur maka si mempelai perempuan ikut dengan suaminja dan dilepaskan sama sekali dari keluarganja, djuga dari marganja. Ia masuk marga suaminja. Keluarganja tidak mempunjai hak lagi terhadap perempuan ini. Pun perempuan ini tidak berhak atas harta kekajaan keluarganja sendiri. Hidup atau mati dalam marga suaminja. Bahkan biasanja kalau ia mendjadi djanda karena suaminja meninggal dunia dan tidak punja anak maka ia dikawinkan lagi dengan saudara muda dari suaminja jang meninggal dunia. Perkawinan sematjam ini kemudian dinamakan „Perkawinan landjutan". Djudjur itu sangat berat sekali, sehingga banjak sekali laki-laki tidak mampu {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" |- | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:120%;"><big>'''trio hotel'''</big></p> Djl. Gardudjali No 33, 35, 37, 39<br/> BANDUNG<br/> <p style="margin:20px 0;">|<big>|</big>|</p> <p> <small>Telepon (Weselbor)</small></p> <small>No. 3156-3157</small> | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:130%;">Perusahaan :'''</p> Bahan2 Bangunan & Angkutan<br/> <p style="margin:20px 0;">|<big>|</big>|</p> <p>TJEROJOM {{gap}} BANDUNG</p> <p>Telf: 3283. {{gap}} P. Kapur Tjipatat.</p> |} </div><noinclude> 47</noinclude> je3sd0lya93icdnv5s8dzdpxuhv6iwv 291657 291656 2026-05-11T05:00:32Z Link PB 26772 291657 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan diantara para pembesar itu biasanja terdapat seorang jang deradjatnja terhitung paling tinggi. Dalam pemerintahan persekutuan hukum itu ia memegang tampuk kekuasaan, sedangkan pembesar lainnja mendjadi pembantunja. Di-desa² sebelah Djawa Tengah dan Timur terdapat sebagai alat perlengkapan daerah sebagai pendjabat terutama : Kepala desa (bekel, Lurah, Petinggi). Untuk pekerdjaannja ia disampingi oleh beberapa pembantu jang dinamakan prabot desa atau serekat desa. Wakil dari kepala desa disebut Kamituwa. Urusan surat-menjurat dilakukan oleh djuru tulis desa „tjarik”, kemudian ada pesuruh desa „kebajan” sebagai orang jang bertugas meneruskan perintah. Djabatan agama dipegang oleh „modin” dan kepolisian dipegang oleh „Djagabaja”. Didaerah Minangkabau dalam adat Bodi Tjamiago tiap² famili berada dibawah pimpinan seorang kepala famili jang disebut „penghulu andiko”. Penghulu andiko ini biasanja laki-laki jang tertua dari tjabang jang tertua dari famili. Tiap² tjabang famili (djurai) masing² dibawah seorang² tua jang disebut „mamak kepala waris” atau „tunggani”. Penghulu² andiko dari tiap² famili merupakan „kerapatan nagari” jang memegang tampuk kekuasaan dalam nagari itu. Mereka berapat dalam balai, jang „duduk sama rendah tegak sama tinggi”, keputusan harus diambil dengan suara bulat. Didaerah adat Koto-Paliang setiap famili- pun diketuai oleh seorang „Penghulu andiko”, tiap² suku (clan) dikepalai oleh „Penghulu suku”, jaitu jang dituakan dari antara penghulu² andiko jang bersama memerintah suku itu. Kaki tangan dari Kepala suku terdiri dari „manti” untuk pemerintahan, „dubalang” untuk kepolisian, „malim” untuk agama. Penghulu suku dengan pembantunja itu disebutkan „Urang ampe djinih”. Kepala dari nagari, disebut putjuk Nagari, diangkat dari jang tertua dari antara penghulu suku. '''Hukum Perkawinan setjara Hukum „Adat”.''' Setelah saja utarakan tentang susunan masjarakat hukum adat diberbagai daerah di Indonesia, maka sampailah sekarang kepada bagian terachir dari uraian ini. Jang saja akan uraikan ialah tentang Hukum Perkawinan setjara Hukum Adat. Soal ini penting sekali untuk diketahui, karena mungkin akan dialami sendiri oleh saudara² kalau saudara² terpikat oleh gadis tjantik didaerah dimana saudara bertugas. Seperti halnja dengan soal² lain, maka systeem perkawinanpun berbeda-beda dalam tiap daerah persekutuan — hukum jg mempunjai systeem sendiri. Di Djawa lain dengan di Tapanuli dan inipun lain lagi dengan di Minangkabau atau di Bali. Disini saja akan tjoba memberikan uraian tentang tiap² systeem perkawinan dalam garis besarnja. Dalam hal seketjil-ketjilnja saudara² dapat selidiki sendiri setelah saudara² mengetahui persoalannja dalam garis besarnja. Dalam hukum Adat Indonesia, kita mengenal systeem perkawinan seperti jang dinamakan: Perkawinan dengan Djudjur seperti didaerah Batak ; Perkawinan semendo seperti didaerah Minangkabau ; Perkawinan bebas seperti di Djawa ; Perkawinan pakai pembajaran Djasa seperti di Palembang, Lampung dan Bali ; Perkawinan memasukkan seperti di Saparua dan Lampung ; dan Perkawinan silih-tikar di Djawa dan Ambon, atau Perkawinan landjutan, dan banjak lagi variasi dari systeem perkawinan ini. Perkawinan dengan Djudjur umumnja dilakukan didaerah Batak (Tapanuli). Dalam hal ini penting sekali diperhatikan oleh saudara² jang bertugas di Tapanuli. Jang dimaksud „Perkawinan dengan Djudjur" ialah suatu perkawinan dimana si mempelai laki² harus membajar djudjur atau maskawin. Kalau perkawinan itu dilakukan dengan Djudjur maka si mempelai perempuan ikut dengan suaminja dan dilepaskan sama sekali dari keluarganja, djuga dari marganja. Ia masuk marga suaminja. Keluarganja tidak mempunjai hak lagi terhadap perempuan ini. Pun perempuan ini tidak berhak atas harta kekajaan keluarganja sendiri. Hidup atau mati dalam marga suaminja. Bahkan biasanja kalau ia mendjadi djanda karena suaminja meninggal dunia dan tidak punja anak maka ia dikawinkan lagi dengan saudara muda dari suaminja jang meninggal dunia. Perkawinan sematjam ini kemudian dinamakan „Perkawinan landjutan". Djudjur itu sangat berat sekali, sehingga banjak sekali laki-laki tidak mampu {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" |- | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:120%;"><big>'''trio hotel'''</big></p> <center>Djl. Gardudjali No 33, 35, 37, 39<br/></center> <center>BANDUNG<br/></center> <center><p style="margin:20px 0;">|<big>|</big>|</p></center> <p> <small>Telepon (Weselbor)</small></p> <small>No. 3156-3157</small> | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:130%;">Perusahaan :'''</p> Bahan2 Bangunan & Angkutan<br/> <center><p style="margin:20px 0;">|<big>|</big>|</p></center> <p>TJEROJOM {{gap}} BANDUNG</p> <p>Telf: 3283. {{gap}} P. Kapur Tjipatat.</p> |} </div><noinclude> 47</noinclude> hu0cqyu0xsrz9wlwevcivpf1jrmaszb 291658 291657 2026-05-11T05:01:39Z Link PB 26772 291658 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan diantara para pembesar itu biasanja terdapat seorang jang deradjatnja terhitung paling tinggi. Dalam pemerintahan persekutuan hukum itu ia memegang tampuk kekuasaan, sedangkan pembesar lainnja mendjadi pembantunja. Di-desa² sebelah Djawa Tengah dan Timur terdapat sebagai alat perlengkapan daerah sebagai pendjabat terutama : Kepala desa (bekel, Lurah, Petinggi). Untuk pekerdjaannja ia disampingi oleh beberapa pembantu jang dinamakan prabot desa atau serekat desa. Wakil dari kepala desa disebut Kamituwa. Urusan surat-menjurat dilakukan oleh djuru tulis desa „tjarik”, kemudian ada pesuruh desa „kebajan” sebagai orang jang bertugas meneruskan perintah. Djabatan agama dipegang oleh „modin” dan kepolisian dipegang oleh „Djagabaja”. Didaerah Minangkabau dalam adat Bodi Tjamiago tiap² famili berada dibawah pimpinan seorang kepala famili jang disebut „penghulu andiko”. Penghulu andiko ini biasanja laki-laki jang tertua dari tjabang jang tertua dari famili. Tiap² tjabang famili (djurai) masing² dibawah seorang² tua jang disebut „mamak kepala waris” atau „tunggani”. Penghulu² andiko dari tiap² famili merupakan „kerapatan nagari” jang memegang tampuk kekuasaan dalam nagari itu. Mereka berapat dalam balai, jang „duduk sama rendah tegak sama tinggi”, keputusan harus diambil dengan suara bulat. Didaerah adat Koto-Paliang setiap famili- pun diketuai oleh seorang „Penghulu andiko”, tiap² suku (clan) dikepalai oleh „Penghulu suku”, jaitu jang dituakan dari antara penghulu² andiko jang bersama memerintah suku itu. Kaki tangan dari Kepala suku terdiri dari „manti” untuk pemerintahan, „dubalang” untuk kepolisian, „malim” untuk agama. Penghulu suku dengan pembantunja itu disebutkan „Urang ampe djinih”. Kepala dari nagari, disebut putjuk Nagari, diangkat dari jang tertua dari antara penghulu suku. '''Hukum Perkawinan setjara Hukum „Adat”.''' Setelah saja utarakan tentang susunan masjarakat hukum adat diberbagai daerah di Indonesia, maka sampailah sekarang kepada bagian terachir dari uraian ini. Jang saja akan uraikan ialah tentang Hukum Perkawinan setjara Hukum Adat. Soal ini penting sekali untuk diketahui, karena mungkin akan dialami sendiri oleh saudara² kalau saudara² terpikat oleh gadis tjantik didaerah dimana saudara bertugas. Seperti halnja dengan soal² lain, maka systeem perkawinanpun berbeda-beda dalam tiap daerah persekutuan — hukum jg mempunjai systeem sendiri. Di Djawa lain dengan di Tapanuli dan inipun lain lagi dengan di Minangkabau atau di Bali. Disini saja akan tjoba memberikan uraian tentang tiap² systeem perkawinan dalam garis besarnja. Dalam hal seketjil-ketjilnja saudara² dapat selidiki sendiri setelah saudara² mengetahui persoalannja dalam garis besarnja. Dalam hukum Adat Indonesia, kita mengenal systeem perkawinan seperti jang dinamakan: Perkawinan dengan Djudjur seperti didaerah Batak ; Perkawinan semendo seperti didaerah Minangkabau ; Perkawinan bebas seperti di Djawa ; Perkawinan pakai pembajaran Djasa seperti di Palembang, Lampung dan Bali ; Perkawinan memasukkan seperti di Saparua dan Lampung ; dan Perkawinan silih-tikar di Djawa dan Ambon, atau Perkawinan landjutan, dan banjak lagi variasi dari systeem perkawinan ini. Perkawinan dengan Djudjur umumnja dilakukan didaerah Batak (Tapanuli). Dalam hal ini penting sekali diperhatikan oleh saudara² jang bertugas di Tapanuli. Jang dimaksud „Perkawinan dengan Djudjur" ialah suatu perkawinan dimana si mempelai laki² harus membajar djudjur atau maskawin. Kalau perkawinan itu dilakukan dengan Djudjur maka si mempelai perempuan ikut dengan suaminja dan dilepaskan sama sekali dari keluarganja, djuga dari marganja. Ia masuk marga suaminja. Keluarganja tidak mempunjai hak lagi terhadap perempuan ini. Pun perempuan ini tidak berhak atas harta kekajaan keluarganja sendiri. Hidup atau mati dalam marga suaminja. Bahkan biasanja kalau ia mendjadi djanda karena suaminja meninggal dunia dan tidak punja anak maka ia dikawinkan lagi dengan saudara muda dari suaminja jang meninggal dunia. Perkawinan sematjam ini kemudian dinamakan „Perkawinan landjutan". Djudjur itu sangat berat sekali, sehingga banjak sekali laki-laki tidak mampu {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" |- | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:120%;"><big><big><big>'''trio hotel'''</big></big></big></p> <center>Djl. Gardudjali No 33, 35, 37, 39<br/></center> <center>'''BANDUNG'''<br/></center> <center><p style="margin:20px 0;">|<big>|</big>|</p></center> <p> <small>Telepon (Weselbor)</small></p> <small>No. 3156-3157</small> | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:130%;">'''Perusahaan :'''</p> '''Bahan2 Bangunan & Angkutan<br/>''' <center><p style="margin:20px 0;">|<big>|</big>|</p></center> <p>TJEROJOM {{gap}} BANDUNG</p> <p>Telf: 3283. {{gap}} P. Kapur Tjipatat.</p> |} </div><noinclude> 47</noinclude> 48mwi486339g5whnxjh52b8n61aa3y4 291659 291658 2026-05-11T05:03:02Z Link PB 26772 291659 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan diantara para pembesar itu biasanja terdapat seorang jang deradjatnja terhitung paling tinggi. Dalam pemerintahan persekutuan hukum itu ia memegang tampuk kekuasaan, sedangkan pembesar lainnja mendjadi pembantunja. Di-desa² sebelah Djawa Tengah dan Timur terdapat sebagai alat perlengkapan daerah sebagai pendjabat terutama : Kepala desa (bekel, Lurah, Petinggi). Untuk pekerdjaannja ia disampingi oleh beberapa pembantu jang dinamakan prabot desa atau serekat desa. Wakil dari kepala desa disebut Kamituwa. Urusan surat-menjurat dilakukan oleh djuru tulis desa „tjarik”, kemudian ada pesuruh desa „kebajan” sebagai orang jang bertugas meneruskan perintah. Djabatan agama dipegang oleh „modin” dan kepolisian dipegang oleh „Djagabaja”. Didaerah Minangkabau dalam adat Bodi Tjamiago tiap² famili berada dibawah pimpinan seorang kepala famili jang disebut „penghulu andiko”. Penghulu andiko ini biasanja laki-laki jang tertua dari tjabang jang tertua dari famili. Tiap² tjabang famili (djurai) masing² dibawah seorang² tua jang disebut „mamak kepala waris” atau „tunggani”. Penghulu² andiko dari tiap² famili merupakan „kerapatan nagari” jang memegang tampuk kekuasaan dalam nagari itu. Mereka berapat dalam balai, jang „duduk sama rendah tegak sama tinggi”, keputusan harus diambil dengan suara bulat. Didaerah adat Koto-Paliang setiap famili- pun diketuai oleh seorang „Penghulu andiko”, tiap² suku (clan) dikepalai oleh „Penghulu suku”, jaitu jang dituakan dari antara penghulu² andiko jang bersama memerintah suku itu. Kaki tangan dari Kepala suku terdiri dari „manti” untuk pemerintahan, „dubalang” untuk kepolisian, „malim” untuk agama. Penghulu suku dengan pembantunja itu disebutkan „Urang ampe djinih”. Kepala dari nagari, disebut putjuk Nagari, diangkat dari jang tertua dari antara penghulu suku. '''Hukum Perkawinan setjara Hukum „Adat”.''' Setelah saja utarakan tentang susunan masjarakat hukum adat diberbagai daerah di Indonesia, maka sampailah sekarang kepada bagian terachir dari uraian ini. Jang saja akan uraikan ialah tentang Hukum Perkawinan setjara Hukum Adat. Soal ini penting sekali untuk diketahui, karena mungkin akan dialami sendiri oleh saudara² kalau saudara² terpikat oleh gadis tjantik didaerah dimana saudara bertugas. Seperti halnja dengan soal² lain, maka systeem perkawinanpun berbeda-beda dalam tiap daerah persekutuan — hukum jg mempunjai systeem sendiri. Di Djawa lain dengan di Tapanuli dan inipun lain lagi dengan di Minangkabau atau di Bali. Disini saja akan tjoba memberikan uraian tentang tiap² systeem perkawinan dalam garis besarnja. Dalam hal seketjil-ketjilnja saudara² dapat selidiki sendiri setelah saudara² mengetahui persoalannja dalam garis besarnja. Dalam hukum Adat Indonesia, kita mengenal systeem perkawinan seperti jang dinamakan: Perkawinan dengan Djudjur seperti didaerah Batak ; Perkawinan semendo seperti didaerah Minangkabau ; Perkawinan bebas seperti di Djawa ; Perkawinan pakai pembajaran Djasa seperti di Palembang, Lampung dan Bali ; Perkawinan memasukkan seperti di Saparua dan Lampung ; dan Perkawinan silih-tikar di Djawa dan Ambon, atau Perkawinan landjutan, dan banjak lagi variasi dari systeem perkawinan ini. Perkawinan dengan Djudjur umumnja dilakukan didaerah Batak (Tapanuli). Dalam hal ini penting sekali diperhatikan oleh saudara² jang bertugas di Tapanuli. Jang dimaksud „Perkawinan dengan Djudjur" ialah suatu perkawinan dimana si mempelai laki² harus membajar djudjur atau maskawin. Kalau perkawinan itu dilakukan dengan Djudjur maka si mempelai perempuan ikut dengan suaminja dan dilepaskan sama sekali dari keluarganja, djuga dari marganja. Ia masuk marga suaminja. Keluarganja tidak mempunjai hak lagi terhadap perempuan ini. Pun perempuan ini tidak berhak atas harta kekajaan keluarganja sendiri. Hidup atau mati dalam marga suaminja. Bahkan biasanja kalau ia mendjadi djanda karena suaminja meninggal dunia dan tidak punja anak maka ia dikawinkan lagi dengan saudara muda dari suaminja jang meninggal dunia. Perkawinan sematjam ini kemudian dinamakan „Perkawinan landjutan". Djudjur itu sangat berat sekali, sehingga banjak sekali laki-laki tidak mampu {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" |- | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:120%;"><big><big><big>'''trio hotel'''</big></big></big></p> <center>Djl. Gardudjali No 33, 35, 37, 39<br/></center> <center>'''BANDUNG'''<br/></center> <center><p style="margin:20px 0;">|<big>|</big>|</p></center> <p> {{right|Telepon (Weselbor)}} {{right|No. 3156-3157}} | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:130%;">'''Perusahaan :'''</p> '''Bahan2 Bangunan & Angkutan<br/>''' <center><p style="margin:20px 0;">|<big>|</big>|</p></center> TJEROJOM {{right|BANDUNG}} Telf: 3283. {{right|P. Kapur Tjipatat.}} |} </div><noinclude> 47</noinclude> qscqsslenz18ng4arguut8tme3rr7g5 291660 291659 2026-05-11T05:04:17Z Link PB 26772 291660 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan diantara para pembesar itu biasanja terdapat seorang jang deradjatnja terhitung paling tinggi. Dalam pemerintahan persekutuan hukum itu ia memegang tampuk kekuasaan, sedangkan pembesar lainnja mendjadi pembantunja. Di-desa² sebelah Djawa Tengah dan Timur terdapat sebagai alat perlengkapan daerah sebagai pendjabat terutama : Kepala desa (bekel, Lurah, Petinggi). Untuk pekerdjaannja ia disampingi oleh beberapa pembantu jang dinamakan prabot desa atau serekat desa. Wakil dari kepala desa disebut Kamituwa. Urusan surat-menjurat dilakukan oleh djuru tulis desa „tjarik”, kemudian ada pesuruh desa „kebajan” sebagai orang jang bertugas meneruskan perintah. Djabatan agama dipegang oleh „modin” dan kepolisian dipegang oleh „Djagabaja”. Didaerah Minangkabau dalam adat Bodi Tjamiago tiap² famili berada dibawah pimpinan seorang kepala famili jang disebut „penghulu andiko”. Penghulu andiko ini biasanja laki-laki jang tertua dari tjabang jang tertua dari famili. Tiap² tjabang famili (djurai) masing² dibawah seorang² tua jang disebut „mamak kepala waris” atau „tunggani”. Penghulu² andiko dari tiap² famili merupakan „kerapatan nagari” jang memegang tampuk kekuasaan dalam nagari itu. Mereka berapat dalam balai, jang „duduk sama rendah tegak sama tinggi”, keputusan harus diambil dengan suara bulat. Didaerah adat Koto-Paliang setiap famili- pun diketuai oleh seorang „Penghulu andiko”, tiap² suku (clan) dikepalai oleh „Penghulu suku”, jaitu jang dituakan dari antara penghulu² andiko jang bersama memerintah suku itu. Kaki tangan dari Kepala suku terdiri dari „manti” untuk pemerintahan, „dubalang” untuk kepolisian, „malim” untuk agama. Penghulu suku dengan pembantunja itu disebutkan „Urang ampe djinih”. Kepala dari nagari, disebut putjuk Nagari, diangkat dari jang tertua dari antara penghulu suku. '''Hukum Perkawinan setjara Hukum „Adat”.''' Setelah saja utarakan tentang susunan masjarakat hukum adat diberbagai daerah di Indonesia, maka sampailah sekarang kepada bagian terachir dari uraian ini. Jang saja akan uraikan ialah tentang Hukum Perkawinan setjara Hukum Adat. Soal ini penting sekali untuk diketahui, karena mungkin akan dialami sendiri oleh saudara² kalau saudara² terpikat oleh gadis tjantik didaerah dimana saudara bertugas. Seperti halnja dengan soal² lain, maka systeem perkawinanpun berbeda-beda dalam tiap daerah persekutuan — hukum jg mempunjai systeem sendiri. Di Djawa lain dengan di Tapanuli dan inipun lain lagi dengan di Minangkabau atau di Bali. Disini saja akan tjoba memberikan uraian tentang tiap² systeem perkawinan dalam garis besarnja. Dalam hal seketjil-ketjilnja saudara² dapat selidiki sendiri setelah saudara² mengetahui persoalannja dalam garis besarnja. Dalam hukum Adat Indonesia, kita mengenal systeem perkawinan seperti jang dinamakan: Perkawinan dengan Djudjur seperti didaerah Batak ; Perkawinan semendo seperti didaerah Minangkabau ; Perkawinan bebas seperti di Djawa ; Perkawinan pakai pembajaran Djasa seperti di Palembang, Lampung dan Bali ; Perkawinan memasukkan seperti di Saparua dan Lampung ; dan Perkawinan silih-tikar di Djawa dan Ambon, atau Perkawinan landjutan, dan banjak lagi variasi dari systeem perkawinan ini. Perkawinan dengan Djudjur umumnja dilakukan didaerah Batak (Tapanuli). Dalam hal ini penting sekali diperhatikan oleh saudara² jang bertugas di Tapanuli. Jang dimaksud „Perkawinan dengan Djudjur" ialah suatu perkawinan dimana si mempelai laki² harus membajar djudjur atau maskawin. Kalau perkawinan itu dilakukan dengan Djudjur maka si mempelai perempuan ikut dengan suaminja dan dilepaskan sama sekali dari keluarganja, djuga dari marganja. Ia masuk marga suaminja. Keluarganja tidak mempunjai hak lagi terhadap perempuan ini. Pun perempuan ini tidak berhak atas harta kekajaan keluarganja sendiri. Hidup atau mati dalam marga suaminja. Bahkan biasanja kalau ia mendjadi djanda karena suaminja meninggal dunia dan tidak punja anak maka ia dikawinkan lagi dengan saudara muda dari suaminja jang meninggal dunia. Perkawinan sematjam ini kemudian dinamakan „Perkawinan landjutan". Djudjur itu sangat berat sekali, sehingga banjak sekali laki-laki tidak mampu {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" |- | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:120%;"><big><big><big>'''trio hotel'''</big></big></big></p> <center>Djl. Gardudjali No 33, 35, 37, 39<br/></center> <center>'''BANDUNG'''<br/></center> <center><p style="margin:20px 0;">|<big>|</big>|</p></center> <p> {{right|Telepon (Weselbor)}} {{right|No. 3156-3157}} | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:130%;">'''Perusahaan :'''</p> '''Bahan2 Bangunan & Angkutan<br/>''' <center><p style="margin:20px 0;">|<big>|</big>|</p></center> TJEROJOM {{gap}}{{gap}}BANDUNG Telf: 3283. {{gap}}P. Kapur Tjipatat. |} </div><noinclude> 47</noinclude> k4eobdmtgu50c34rrfufxjqtom1isjp 291661 291660 2026-05-11T05:04:33Z Link PB 26772 291661 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Dan diantara para pembesar itu biasanja terdapat seorang jang deradjatnja terhitung paling tinggi. Dalam pemerintahan persekutuan hukum itu ia memegang tampuk kekuasaan, sedangkan pembesar lainnja mendjadi pembantunja. Di-desa² sebelah Djawa Tengah dan Timur terdapat sebagai alat perlengkapan daerah sebagai pendjabat terutama : Kepala desa (bekel, Lurah, Petinggi). Untuk pekerdjaannja ia disampingi oleh beberapa pembantu jang dinamakan prabot desa atau serekat desa. Wakil dari kepala desa disebut Kamituwa. Urusan surat-menjurat dilakukan oleh djuru tulis desa „tjarik”, kemudian ada pesuruh desa „kebajan” sebagai orang jang bertugas meneruskan perintah. Djabatan agama dipegang oleh „modin” dan kepolisian dipegang oleh „Djagabaja”. Didaerah Minangkabau dalam adat Bodi Tjamiago tiap² famili berada dibawah pimpinan seorang kepala famili jang disebut „penghulu andiko”. Penghulu andiko ini biasanja laki-laki jang tertua dari tjabang jang tertua dari famili. Tiap² tjabang famili (djurai) masing² dibawah seorang² tua jang disebut „mamak kepala waris” atau „tunggani”. Penghulu² andiko dari tiap² famili merupakan „kerapatan nagari” jang memegang tampuk kekuasaan dalam nagari itu. Mereka berapat dalam balai, jang „duduk sama rendah tegak sama tinggi”, keputusan harus diambil dengan suara bulat. Didaerah adat Koto-Paliang setiap famili- pun diketuai oleh seorang „Penghulu andiko”, tiap² suku (clan) dikepalai oleh „Penghulu suku”, jaitu jang dituakan dari antara penghulu² andiko jang bersama memerintah suku itu. Kaki tangan dari Kepala suku terdiri dari „manti” untuk pemerintahan, „dubalang” untuk kepolisian, „malim” untuk agama. Penghulu suku dengan pembantunja itu disebutkan „Urang ampe djinih”. Kepala dari nagari, disebut putjuk Nagari, diangkat dari jang tertua dari antara penghulu suku. '''Hukum Perkawinan setjara Hukum „Adat”.''' Setelah saja utarakan tentang susunan masjarakat hukum adat diberbagai daerah di Indonesia, maka sampailah sekarang kepada bagian terachir dari uraian ini. Jang saja akan uraikan ialah tentang Hukum Perkawinan setjara Hukum Adat. Soal ini penting sekali untuk diketahui, karena mungkin akan dialami sendiri oleh saudara² kalau saudara² terpikat oleh gadis tjantik didaerah dimana saudara bertugas. Seperti halnja dengan soal² lain, maka systeem perkawinanpun berbeda-beda dalam tiap daerah persekutuan — hukum jg mempunjai systeem sendiri. Di Djawa lain dengan di Tapanuli dan inipun lain lagi dengan di Minangkabau atau di Bali. Disini saja akan tjoba memberikan uraian tentang tiap² systeem perkawinan dalam garis besarnja. Dalam hal seketjil-ketjilnja saudara² dapat selidiki sendiri setelah saudara² mengetahui persoalannja dalam garis besarnja. Dalam hukum Adat Indonesia, kita mengenal systeem perkawinan seperti jang dinamakan: Perkawinan dengan Djudjur seperti didaerah Batak ; Perkawinan semendo seperti didaerah Minangkabau ; Perkawinan bebas seperti di Djawa ; Perkawinan pakai pembajaran Djasa seperti di Palembang, Lampung dan Bali ; Perkawinan memasukkan seperti di Saparua dan Lampung ; dan Perkawinan silih-tikar di Djawa dan Ambon, atau Perkawinan landjutan, dan banjak lagi variasi dari systeem perkawinan ini. Perkawinan dengan Djudjur umumnja dilakukan didaerah Batak (Tapanuli). Dalam hal ini penting sekali diperhatikan oleh saudara² jang bertugas di Tapanuli. Jang dimaksud „Perkawinan dengan Djudjur" ialah suatu perkawinan dimana si mempelai laki² harus membajar djudjur atau maskawin. Kalau perkawinan itu dilakukan dengan Djudjur maka si mempelai perempuan ikut dengan suaminja dan dilepaskan sama sekali dari keluarganja, djuga dari marganja. Ia masuk marga suaminja. Keluarganja tidak mempunjai hak lagi terhadap perempuan ini. Pun perempuan ini tidak berhak atas harta kekajaan keluarganja sendiri. Hidup atau mati dalam marga suaminja. Bahkan biasanja kalau ia mendjadi djanda karena suaminja meninggal dunia dan tidak punja anak maka ia dikawinkan lagi dengan saudara muda dari suaminja jang meninggal dunia. Perkawinan sematjam ini kemudian dinamakan „Perkawinan landjutan". Djudjur itu sangat berat sekali, sehingga banjak sekali laki-laki tidak mampu {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" |- | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:120%;"><big><big><big>'''trio hotel'''</big></big></big></p> <center>Djl. Gardudjali No 33, 35, 37, 39<br/></center> <center>'''BANDUNG'''<br/></center> <center><p style="margin:20px 0;">|<big>|</big>|</p></center> <p> {{right|Telepon (Weselbor)}} {{right|No. 3156-3157}} | width="50%" style="border:1px solid black; padding:10px; vertical-align:top;" | <p style="font-size:130%;">'''Perusahaan :'''</p> '''Bahan2 Bangunan & Angkutan<br/>''' <center><p style="margin:20px 0;">|<big>|</big>|</p></center> TJEROJOM {{gap}}{{gap}}BANDUNG<br> Telf: 3283. {{gap}}P. Kapur Tjipatat. |} </div><noinclude> 47</noinclude> c7fq8eol0473cozt1nkvqknyxn0sp1y Pembicaraan Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/343 105 103570 291662 2026-05-11T05:07:22Z Devi 4340 13230 /* Serobot */ bagian baru 291662 wikitext text/x-wiki == Serobot == Halo, @[[Pengguna:Arymuslichudin|Arymuslichudin]]. Kemarin halaman ini sudah saya booking, bisa dilihat dari status halaman yang berwarna merah/pink yang memblok nomor halamannya dan di kotak ringkasan sudah saya tulis "sedang dikerjakan". Mohon ke depannya untuk lebih hati-hati dalam memilih halaman yang ingin dikerjakan, ya. Dilihat dulu di bagian "Lihat riwayat". Satu lagi, dalam kompetisi ini para peserta tidak perlu menjorokkan halaman. [[Pengguna:Devi 4340|Devi 4340]] ([[Pembicaraan Pengguna:Devi 4340|bicara]]) 11 Mei 2026 05.07 (UTC) j0zpr46gprl6dzeil0bu84k1wh3cbt8 291665 291662 2026-05-11T05:08:49Z Devi 4340 13230 291665 wikitext text/x-wiki == Serobot == Halo, @[[Pengguna:Arymuslichudin|Arymuslichudin]]. Kemarin halaman ini sudah saya booking, bisa dilihat dari status halaman yang berwarna merah/pink yang memblok nomor halamannya dan di kotak ringkasan sudah saya tulis "sedang dikerjakan". Mohon ke depannya untuk lebih hati-hati dalam memilih halaman yang ingin dikerjakan, ya. Dilihat dulu di bagian "Lihat riwayat". Satu lagi, dalam kompetisi ini para peserta tidak perlu menjorokkan paragraf. [[Pengguna:Devi 4340|Devi 4340]] ([[Pembicaraan Pengguna:Devi 4340|bicara]]) 11 Mei 2026 05.07 (UTC) t5vxe3rimz2ayhdm54op7cmem1oqrag 291692 291665 2026-05-11T05:36:38Z Arymuslichudin 24021 /* Serobot */ Balas 291692 wikitext text/x-wiki == Serobot == Halo, @[[Pengguna:Arymuslichudin|Arymuslichudin]]. Kemarin halaman ini sudah saya booking, bisa dilihat dari status halaman yang berwarna merah/pink yang memblok nomor halamannya dan di kotak ringkasan sudah saya tulis "sedang dikerjakan". Mohon ke depannya untuk lebih hati-hati dalam memilih halaman yang ingin dikerjakan, ya. Dilihat dulu di bagian "Lihat riwayat". Satu lagi, dalam kompetisi ini para peserta tidak perlu menjorokkan paragraf. [[Pengguna:Devi 4340|Devi 4340]] ([[Pembicaraan Pengguna:Devi 4340|bicara]]) 11 Mei 2026 05.07 (UTC) :Oke baik, mohon maaf ya. Terima kasih sudah menginformasikan, kedepannya akan lebih hati-hati lagi. [[Pengguna:Arymuslichudin|Arymuslichudin]] ([[Pembicaraan Pengguna:Arymuslichudin|bicara]]) 11 Mei 2026 05.36 (UTC) nkqqxvjn49agbyhbx9m3l8c8qaputip Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/706 104 103571 291663 2026-05-11T05:08:25Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291663 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>membajar djudjur. Kalau si laki² kawin tidak dengan djudjur maka ia bekerdja di mertuanja, ia tidak boleh membawa isteri atau anaknja ke marganja, atau ke rumahnja sendiri selama djudjur belum dibajar, atau hasil dari kerdjanja belum tjukup untuk bajar djudjur. Perkawinan sematjam ini dinamakan „Perkawinan pakai pembajaran djasa”. Djadi pada umumnja perkawinan dimana si laki-laki membawa isteri ke kampungnja, dalam arti si isteri harus mengikuti suaminja diharuskan dilakukan dengan pembajaran mas-kawin. Mas-kawin ini di Tapanuli dinamakan „Djudjur”, di Nias Selatan „Beuli Niha”, di daerah Gajo, Sumatera „Oendjoek”, di daerah Batak lainnja „Simnamot”, „Pangoli”, „Tuhor”, „Boli”, di Lampung „Seroh”, di Maluku „Wilin”, di Timor „Belis”, di Bali „Petoekoen loeh”. Besar ketjilnja mas-kawin ini diukur menurut tinggi rendahnja deradjat si mempelai perempuan. Di Minangkabau kita melihat systeem perkawinan jang lain lagi. „Perkawinan nan semendo” namanja. Dalam hal ini tidak ada persoalan mas-kawin. Jang perlu dipunjai oleh laki² disini adalah harkat dan deradjat. Dalam perkawinan semendo tidak ada soal melepaskan si isteri dari keluarganja dan membawa ke rumah suami. Si isteri tetap tinggal di rumah keluarganja (ibunja) sendiri. Demikian djuga anak-anaknja dari perkawinan ini. Si laki datang „mendatang” dirumah isterinja, dan kemudian menetap untuk selama-lamanja. Pada waktu perkawinan si laki diambil dari rumahnja dengan memakai upatjara („Didjampoih” — didjemput memakai alat melepas mempelai). Si laki² ini disebut orang Soemando. Ada kalanja si laki mempunjai isteri lebih dari satu (didjampoih oleh lebih dari satu perempuan), maka dalam hal ini si laki mendatangi isterinja setjara bergiliran. Anak² dari perkawinan tidak ikut bapanja dan tidak berhak atas harta kekajaan bapanja. Perkawinan di Djawa umumnja disebut „Perkawinan bebas". Ini berarti bahwa biarpun diadakan pembajaran mas-kawin, si isteri dan si suami bebas untuk memilih sendiri tempat tinggalnja. Tergantung pada kehendak mereka bersama. Boleh tinggal di kampung/keluarga isterinja, boleh di kampung atau keluarga suaminja, boleh tjari tempat sendiri. Anak² dari perkawinan berhak atas harta kekajaan si bapa maupun si ibu. Di Bali ada matjam perkawinan jang disebut „Perkawinan dengan melarikan" atau „Perkawinan selariang". Ialah perkawinan jang terdjadi sesudah si laki melarikan si wanita jang telah bertunangan dengan laki lain, atau wanita itu dilarikan setjara paksa. Perkawinan kemudian dilakukan dengan sjah setelah si laki mengadakan pembajaran setjara adat (mengisi adat namanja). Sedjenis dengan matjam ini ada perkawinan jang disebut „Perkawinan lari" atau „kawin merat". Kedua merpati itu bersama-sama lari dan mentjari perlindungan kepada seorang pendjabat agama untuk dikawinkan. Perkawinan lari/merat itu terdjadi biasanja kalau orang tuanja akan menentang perkawinan atau si laki tidak mampu membajar ongkos² perkawinan. Selandjutnja di Saparua dan di Lampung dikenal suatu matjam perkawinan jang dinamakan „Perkawinan memasukkan". Biasanja dilakukan oleh keluarga seorang bangsawan Adat (penjimbang) jang hanja punja anak perempuan dari isteri pertama (padami). Untuk tetap mempertahankan turunan kebangsawannanja maka perkawinan anaknja dilakukan dengan tjara mengangkat mempelai laki² sebagai anaknja dahulu, baru kemudian dikawinkan dengan anaknja jang perempuan itu. Sehingga anak dari perkawinan ini merupakan tjutju dari orang tua si isteri melalui anak angkatnja (menantunja). Perkawinan ini merupakan penjimpangan dari kawin djudjur, jang mana anak selalu ikut keluarga dari fihak bapa, dan tidak ada hubungan hukum dengan orang tua si ibu. Perkawinan sematjam ini di Lampung disebut „Kawin tegaq-tegi" kalau jang diambil anak itu sanak keluarganja sendiri, atau „Kawin ambil-anak" kalau jang diambil anak itu orang lain. Tapi kalau perkawinan sematjam ini tidak dengan tjara mengambil anak dahulu disebutnja „Perkawinan mengindjam djago". Di Djawa dan di Ambon dikenal lagi sematjam perkawinan jang disebut „Perkawinan silih-tikar". Ialah suatu perkawinan dimana si djanda laki² jang ditinggalkan mati oleh isterinja, dikawinkan dengan adik perempuan si isterinja. Pada umumnja sebelum perkawinan dilakukan, selalu diadakan pertunangan dahulu dengan memberikan suatu ikatan berupa wang atau barang. Pengikat ini dinamakan di Atjeh: Tanda köng narit. Nias: Bobo mibu. Mentawai: Sesero. Sulawesi Selatan: Passikoq. Halmahera: Tapoë. Di Kei: Mas aje. Djawa: Pandjer, paningset. Sunda: Panjangtjang. Toradja: Poedjompo. Bali: Base panglarang. Demikian uraian saja tentang soal² jang saudara harus ketahui bilamana saudara bertugas di daerah diluar kelahiran sendiri. Nistjajalah saudara akan mendapat penghargaan jang setimpal dari rakjat kalau saudara menghormati mereka dan saudara dapat hidup tjampur dengan mereka. Karena itu peridlah saudara mempeladjari soal kebiasaan adat Hukum adat daerah. {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" Bantulah penielenggaraan Madjalah Angkatan Darat, dengan mengirimkan naskah2, penga dan lain-lain.<br> Medja Redaksi selalu menunggu. <div style="text-align:right; margin-right:15%;"> Red </div> |}<noinclude> 48</noinclude> qsex4azcmmajvnxgs0es8a8imwiixqf 291664 291663 2026-05-11T05:08:48Z Link PB 26772 291664 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>membajar djudjur. Kalau si laki² kawin tidak dengan djudjur maka ia bekerdja di mertuanja, ia tidak boleh membawa isteri atau anaknja ke marganja, atau ke rumahnja sendiri selama djudjur belum dibajar, atau hasil dari kerdjanja belum tjukup untuk bajar djudjur. Perkawinan sematjam ini dinamakan „Perkawinan pakai pembajaran djasa”. Djadi pada umumnja perkawinan dimana si laki-laki membawa isteri ke kampungnja, dalam arti si isteri harus mengikuti suaminja diharuskan dilakukan dengan pembajaran mas-kawin. Mas-kawin ini di Tapanuli dinamakan „Djudjur”, di Nias Selatan „Beuli Niha”, di daerah Gajo, Sumatera „Oendjoek”, di daerah Batak lainnja „Simnamot”, „Pangoli”, „Tuhor”, „Boli”, di Lampung „Seroh”, di Maluku „Wilin”, di Timor „Belis”, di Bali „Petoekoen loeh”. Besar ketjilnja mas-kawin ini diukur menurut tinggi rendahnja deradjat si mempelai perempuan. Di Minangkabau kita melihat systeem perkawinan jang lain lagi. „Perkawinan nan semendo” namanja. Dalam hal ini tidak ada persoalan mas-kawin. Jang perlu dipunjai oleh laki² disini adalah harkat dan deradjat. Dalam perkawinan semendo tidak ada soal melepaskan si isteri dari keluarganja dan membawa ke rumah suami. Si isteri tetap tinggal di rumah keluarganja (ibunja) sendiri. Demikian djuga anak-anaknja dari perkawinan ini. Si laki datang „mendatang” dirumah isterinja, dan kemudian menetap untuk selama-lamanja. Pada waktu perkawinan si laki diambil dari rumahnja dengan memakai upatjara („Didjampoih” — didjemput memakai alat melepas mempelai). Si laki² ini disebut orang Soemando. Ada kalanja si laki mempunjai isteri lebih dari satu (didjampoih oleh lebih dari satu perempuan), maka dalam hal ini si laki mendatangi isterinja setjara bergiliran. Anak² dari perkawinan tidak ikut bapanja dan tidak berhak atas harta kekajaan bapanja. Perkawinan di Djawa umumnja disebut „Perkawinan bebas". Ini berarti bahwa biarpun diadakan pembajaran mas-kawin, si isteri dan si suami bebas untuk memilih sendiri tempat tinggalnja. Tergantung pada kehendak mereka bersama. Boleh tinggal di kampung/keluarga isterinja, boleh di kampung atau keluarga suaminja, boleh tjari tempat sendiri. Anak² dari perkawinan berhak atas harta kekajaan si bapa maupun si ibu. Di Bali ada matjam perkawinan jang disebut „Perkawinan dengan melarikan" atau „Perkawinan selariang". Ialah perkawinan jang terdjadi sesudah si laki melarikan si wanita jang telah bertunangan dengan laki lain, atau wanita itu dilarikan setjara paksa. Perkawinan kemudian dilakukan dengan sjah setelah si laki mengadakan pembajaran setjara adat (mengisi adat namanja). Sedjenis dengan matjam ini ada perkawinan jang disebut „Perkawinan lari" atau „kawin merat". Kedua merpati itu bersama-sama lari dan mentjari perlindungan kepada seorang pendjabat agama untuk dikawinkan. Perkawinan lari/merat itu terdjadi biasanja kalau orang tuanja akan menentang perkawinan atau si laki tidak mampu membajar ongkos² perkawinan. Selandjutnja di Saparua dan di Lampung dikenal suatu matjam perkawinan jang dinamakan „Perkawinan memasukkan". Biasanja dilakukan oleh keluarga seorang bangsawan Adat (penjimbang) jang hanja punja anak perempuan dari isteri pertama (padami). Untuk tetap mempertahankan turunan kebangsawannanja maka perkawinan anaknja dilakukan dengan tjara mengangkat mempelai laki² sebagai anaknja dahulu, baru kemudian dikawinkan dengan anaknja jang perempuan itu. Sehingga anak dari perkawinan ini merupakan tjutju dari orang tua si isteri melalui anak angkatnja (menantunja). Perkawinan ini merupakan penjimpangan dari kawin djudjur, jang mana anak selalu ikut keluarga dari fihak bapa, dan tidak ada hubungan hukum dengan orang tua si ibu. Perkawinan sematjam ini di Lampung disebut „Kawin tegaq-tegi" kalau jang diambil anak itu sanak keluarganja sendiri, atau „Kawin ambil-anak" kalau jang diambil anak itu orang lain. Tapi kalau perkawinan sematjam ini tidak dengan tjara mengambil anak dahulu disebutnja „Perkawinan mengindjam djago". Di Djawa dan di Ambon dikenal lagi sematjam perkawinan jang disebut „Perkawinan silih-tikar". Ialah suatu perkawinan dimana si djanda laki² jang ditinggalkan mati oleh isterinja, dikawinkan dengan adik perempuan si isterinja. Pada umumnja sebelum perkawinan dilakukan, selalu diadakan pertunangan dahulu dengan memberikan suatu ikatan berupa wang atau barang. Pengikat ini dinamakan di Atjeh: Tanda köng narit. Nias: Bobo mibu. Mentawai: Sesero. Sulawesi Selatan: Passikoq. Halmahera: Tapoë. Di Kei: Mas aje. Djawa: Pandjer, paningset. Sunda: Panjangtjang. Toradja: Poedjompo. Bali: Base panglarang. Demikian uraian saja tentang soal² jang saudara harus ketahui bilamana saudara bertugas di daerah diluar kelahiran sendiri. Nistjajalah saudara akan mendapat penghargaan jang setimpal dari rakjat kalau saudara menghormati mereka dan saudara dapat hidup tjampur dengan mereka. Karena itu peridlah saudara mempeladjari soal kebiasaan adat Hukum adat daerah. {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" Bantulah penielenggaraan Madjalah Angkatan Darat, dengan mengirimkan naskah2, penga dan lain-lain.<br> Medja Redaksi selalu menunggu. <div style="text-align:right; margin-right:15%;"> Red </div> |- |}<noinclude> 48</noinclude> d0sjo4o12bb3j6eizqt0g2hynjrjss9 291667 291664 2026-05-11T05:09:21Z Link PB 26772 291667 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>membajar djudjur. Kalau si laki² kawin tidak dengan djudjur maka ia bekerdja di mertuanja, ia tidak boleh membawa isteri atau anaknja ke marganja, atau ke rumahnja sendiri selama djudjur belum dibajar, atau hasil dari kerdjanja belum tjukup untuk bajar djudjur. Perkawinan sematjam ini dinamakan „Perkawinan pakai pembajaran djasa”. Djadi pada umumnja perkawinan dimana si laki-laki membawa isteri ke kampungnja, dalam arti si isteri harus mengikuti suaminja diharuskan dilakukan dengan pembajaran mas-kawin. Mas-kawin ini di Tapanuli dinamakan „Djudjur”, di Nias Selatan „Beuli Niha”, di daerah Gajo, Sumatera „Oendjoek”, di daerah Batak lainnja „Simnamot”, „Pangoli”, „Tuhor”, „Boli”, di Lampung „Seroh”, di Maluku „Wilin”, di Timor „Belis”, di Bali „Petoekoen loeh”. Besar ketjilnja mas-kawin ini diukur menurut tinggi rendahnja deradjat si mempelai perempuan. Di Minangkabau kita melihat systeem perkawinan jang lain lagi. „Perkawinan nan semendo” namanja. Dalam hal ini tidak ada persoalan mas-kawin. Jang perlu dipunjai oleh laki² disini adalah harkat dan deradjat. Dalam perkawinan semendo tidak ada soal melepaskan si isteri dari keluarganja dan membawa ke rumah suami. Si isteri tetap tinggal di rumah keluarganja (ibunja) sendiri. Demikian djuga anak-anaknja dari perkawinan ini. Si laki datang „mendatang” dirumah isterinja, dan kemudian menetap untuk selama-lamanja. Pada waktu perkawinan si laki diambil dari rumahnja dengan memakai upatjara („Didjampoih” — didjemput memakai alat melepas mempelai). Si laki² ini disebut orang Soemando. Ada kalanja si laki mempunjai isteri lebih dari satu (didjampoih oleh lebih dari satu perempuan), maka dalam hal ini si laki mendatangi isterinja setjara bergiliran. Anak² dari perkawinan tidak ikut bapanja dan tidak berhak atas harta kekajaan bapanja. Perkawinan di Djawa umumnja disebut „Perkawinan bebas". Ini berarti bahwa biarpun diadakan pembajaran mas-kawin, si isteri dan si suami bebas untuk memilih sendiri tempat tinggalnja. Tergantung pada kehendak mereka bersama. Boleh tinggal di kampung/keluarga isterinja, boleh di kampung atau keluarga suaminja, boleh tjari tempat sendiri. Anak² dari perkawinan berhak atas harta kekajaan si bapa maupun si ibu. Di Bali ada matjam perkawinan jang disebut „Perkawinan dengan melarikan" atau „Perkawinan selariang". Ialah perkawinan jang terdjadi sesudah si laki melarikan si wanita jang telah bertunangan dengan laki lain, atau wanita itu dilarikan setjara paksa. Perkawinan kemudian dilakukan dengan sjah setelah si laki mengadakan pembajaran setjara adat (mengisi adat namanja). Sedjenis dengan matjam ini ada perkawinan jang disebut „Perkawinan lari" atau „kawin merat". Kedua merpati itu bersama-sama lari dan mentjari perlindungan kepada seorang pendjabat agama untuk dikawinkan. Perkawinan lari/merat itu terdjadi biasanja kalau orang tuanja akan menentang perkawinan atau si laki tidak mampu membajar ongkos² perkawinan. Selandjutnja di Saparua dan di Lampung dikenal suatu matjam perkawinan jang dinamakan „Perkawinan memasukkan". Biasanja dilakukan oleh keluarga seorang bangsawan Adat (penjimbang) jang hanja punja anak perempuan dari isteri pertama (padami). Untuk tetap mempertahankan turunan kebangsawannanja maka perkawinan anaknja dilakukan dengan tjara mengangkat mempelai laki² sebagai anaknja dahulu, baru kemudian dikawinkan dengan anaknja jang perempuan itu. Sehingga anak dari perkawinan ini merupakan tjutju dari orang tua si isteri melalui anak angkatnja (menantunja). Perkawinan ini merupakan penjimpangan dari kawin djudjur, jang mana anak selalu ikut keluarga dari fihak bapa, dan tidak ada hubungan hukum dengan orang tua si ibu. Perkawinan sematjam ini di Lampung disebut „Kawin tegaq-tegi" kalau jang diambil anak itu sanak keluarganja sendiri, atau „Kawin ambil-anak" kalau jang diambil anak itu orang lain. Tapi kalau perkawinan sematjam ini tidak dengan tjara mengambil anak dahulu disebutnja „Perkawinan mengindjam djago". Di Djawa dan di Ambon dikenal lagi sematjam perkawinan jang disebut „Perkawinan silih-tikar". Ialah suatu perkawinan dimana si djanda laki² jang ditinggalkan mati oleh isterinja, dikawinkan dengan adik perempuan si isterinja. Pada umumnja sebelum perkawinan dilakukan, selalu diadakan pertunangan dahulu dengan memberikan suatu ikatan berupa wang atau barang. Pengikat ini dinamakan di Atjeh: Tanda köng narit. Nias: Bobo mibu. Mentawai: Sesero. Sulawesi Selatan: Passikoq. Halmahera: Tapoë. Di Kei: Mas aje. Djawa: Pandjer, paningset. Sunda: Panjangtjang. Toradja: Poedjompo. Bali: Base panglarang. Demikian uraian saja tentang soal² jang saudara harus ketahui bilamana saudara bertugas di daerah diluar kelahiran sendiri. Nistjajalah saudara akan mendapat penghargaan jang setimpal dari rakjat kalau saudara menghormati mereka dan saudara dapat hidup tjampur dengan mereka. Karena itu peridlah saudara mempeladjari soal kebiasaan adat Hukum adat daerah. {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" Bantulah penielenggaraan Madjalah Angkatan Darat, dengan mengirimkan naskah2, penga dan lain-lain.<br> Medja Redaksi selalu menunggu. <div style="text-align:right; margin-right:15%;"> Red </div> |- |} </div><noinclude> 48</noinclude> 66sopu2vdw33aharxhuy2ik2boemwe9 291669 291667 2026-05-11T05:10:35Z Link PB 26772 291669 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>membajar djudjur. Kalau si laki² kawin tidak dengan djudjur maka ia bekerdja di mertuanja, ia tidak boleh membawa isteri atau anaknja ke marganja, atau ke rumahnja sendiri selama djudjur belum dibajar, atau hasil dari kerdjanja belum tjukup untuk bajar djudjur. Perkawinan sematjam ini dinamakan „Perkawinan pakai pembajaran djasa”. Djadi pada umumnja perkawinan dimana si laki-laki membawa isteri ke kampungnja, dalam arti si isteri harus mengikuti suaminja diharuskan dilakukan dengan pembajaran mas-kawin. Mas-kawin ini di Tapanuli dinamakan „Djudjur”, di Nias Selatan „Beuli Niha”, di daerah Gajo, Sumatera „Oendjoek”, di daerah Batak lainnja „Simnamot”, „Pangoli”, „Tuhor”, „Boli”, di Lampung „Seroh”, di Maluku „Wilin”, di Timor „Belis”, di Bali „Petoekoen loeh”. Besar ketjilnja mas-kawin ini diukur menurut tinggi rendahnja deradjat si mempelai perempuan. Di Minangkabau kita melihat systeem perkawinan jang lain lagi. „Perkawinan nan semendo” namanja. Dalam hal ini tidak ada persoalan mas-kawin. Jang perlu dipunjai oleh laki² disini adalah harkat dan deradjat. Dalam perkawinan semendo tidak ada soal melepaskan si isteri dari keluarganja dan membawa ke rumah suami. Si isteri tetap tinggal di rumah keluarganja (ibunja) sendiri. Demikian djuga anak-anaknja dari perkawinan ini. Si laki datang „mendatang” dirumah isterinja, dan kemudian menetap untuk selama-lamanja. Pada waktu perkawinan si laki diambil dari rumahnja dengan memakai upatjara („Didjampoih” — didjemput memakai alat melepas mempelai). Si laki² ini disebut orang Soemando. Ada kalanja si laki mempunjai isteri lebih dari satu (didjampoih oleh lebih dari satu perempuan), maka dalam hal ini si laki mendatangi isterinja setjara bergiliran. Anak² dari perkawinan tidak ikut bapanja dan tidak berhak atas harta kekajaan bapanja. Perkawinan di Djawa umumnja disebut „Perkawinan bebas". Ini berarti bahwa biarpun diadakan pembajaran mas-kawin, si isteri dan si suami bebas untuk memilih sendiri tempat tinggalnja. Tergantung pada kehendak mereka bersama. Boleh tinggal di kampung/keluarga isterinja, boleh di kampung atau keluarga suaminja, boleh tjari tempat sendiri. Anak² dari perkawinan berhak atas harta kekajaan si bapa maupun si ibu. Di Bali ada matjam perkawinan jang disebut „Perkawinan dengan melarikan" atau „Perkawinan selariang". Ialah perkawinan jang terdjadi sesudah si laki melarikan si wanita jang telah bertunangan dengan laki lain, atau wanita itu dilarikan setjara paksa. Perkawinan kemudian dilakukan dengan sjah setelah si laki mengadakan pembajaran setjara adat (mengisi adat namanja). Sedjenis dengan matjam ini ada perkawinan jang disebut „Perkawinan lari" atau „kawin merat". Kedua merpati itu bersama-sama lari dan mentjari perlindungan kepada seorang pendjabat agama untuk dikawinkan. Perkawinan lari/merat itu terdjadi biasanja kalau orang tuanja akan menentang perkawinan atau si laki tidak mampu membajar ongkos² perkawinan. Selandjutnja di Saparua dan di Lampung dikenal suatu matjam perkawinan jang dinamakan „Perkawinan memasukkan". Biasanja dilakukan oleh keluarga seorang bangsawan Adat (penjimbang) jang hanja punja anak perempuan dari isteri pertama (padami). Untuk tetap mempertahankan turunan kebangsawannanja maka perkawinan anaknja dilakukan dengan tjara mengangkat mempelai laki² sebagai anaknja dahulu, baru kemudian dikawinkan dengan anaknja jang perempuan itu. Sehingga anak dari perkawinan ini merupakan tjutju dari orang tua si isteri melalui anak angkatnja (menantunja). Perkawinan ini merupakan penjimpangan dari kawin djudjur, jang mana anak selalu ikut keluarga dari fihak bapa, dan tidak ada hubungan hukum dengan orang tua si ibu. Perkawinan sematjam ini di Lampung disebut „Kawin tegaq-tegi" kalau jang diambil anak itu sanak keluarganja sendiri, atau „Kawin ambil-anak" kalau jang diambil anak itu orang lain. Tapi kalau perkawinan sematjam ini tidak dengan tjara mengambil anak dahulu disebutnja „Perkawinan mengindjam djago". Di Djawa dan di Ambon dikenal lagi sematjam perkawinan jang disebut „Perkawinan silih-tikar". Ialah suatu perkawinan dimana si djanda laki² jang ditinggalkan mati oleh isterinja, dikawinkan dengan adik perempuan si isterinja. Pada umumnja sebelum perkawinan dilakukan, selalu diadakan pertunangan dahulu dengan memberikan suatu ikatan berupa wang atau barang. Pengikat ini dinamakan di Atjeh: Tanda köng narit. Nias: Bobo mibu. Mentawai: Sesero. Sulawesi Selatan: Passikoq. Halmahera: Tapoë. Di Kei: Mas aje. Djawa: Pandjer, paningset. Sunda: Panjangtjang. Toradja: Poedjompo. Bali: Base panglarang. Demikian uraian saja tentang soal² jang saudara harus ketahui bilamana saudara bertugas di daerah diluar kelahiran sendiri. Nistjajalah saudara akan mendapat penghargaan jang setimpal dari rakjat kalau saudara menghormati mereka dan saudara dapat hidup tjampur dengan mereka. Karena itu peridlah saudara mempeladjari soal kebiasaan adat Hukum adat daerah. {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" Bantulah penielenggaraan Madjalah Angkatan Darat, dengan mengirimkan naskah2, penga dan lain-lain.<br> Medja Redaksi selalu menunggu. <div style="text-align:right; margin-right:15%;"> Red </div> |- |}<noinclude> 48</noinclude> da1cugrcjq59pxii0u0lat0mru1burr 291670 291669 2026-05-11T05:11:05Z Link PB 26772 291670 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>membajar djudjur. Kalau si laki² kawin tidak dengan djudjur maka ia bekerdja di mertuanja, ia tidak boleh membawa isteri atau anaknja ke marganja, atau ke rumahnja sendiri selama djudjur belum dibajar, atau hasil dari kerdjanja belum tjukup untuk bajar djudjur. Perkawinan sematjam ini dinamakan „Perkawinan pakai pembajaran djasa”. Djadi pada umumnja perkawinan dimana si laki-laki membawa isteri ke kampungnja, dalam arti si isteri harus mengikuti suaminja diharuskan dilakukan dengan pembajaran mas-kawin. Mas-kawin ini di Tapanuli dinamakan „Djudjur”, di Nias Selatan „Beuli Niha”, di daerah Gajo, Sumatera „Oendjoek”, di daerah Batak lainnja „Simnamot”, „Pangoli”, „Tuhor”, „Boli”, di Lampung „Seroh”, di Maluku „Wilin”, di Timor „Belis”, di Bali „Petoekoen loeh”. Besar ketjilnja mas-kawin ini diukur menurut tinggi rendahnja deradjat si mempelai perempuan. Di Minangkabau kita melihat systeem perkawinan jang lain lagi. „Perkawinan nan semendo” namanja. Dalam hal ini tidak ada persoalan mas-kawin. Jang perlu dipunjai oleh laki² disini adalah harkat dan deradjat. Dalam perkawinan semendo tidak ada soal melepaskan si isteri dari keluarganja dan membawa ke rumah suami. Si isteri tetap tinggal di rumah keluarganja (ibunja) sendiri. Demikian djuga anak-anaknja dari perkawinan ini. Si laki datang „mendatang” dirumah isterinja, dan kemudian menetap untuk selama-lamanja. Pada waktu perkawinan si laki diambil dari rumahnja dengan memakai upatjara („Didjampoih” — didjemput memakai alat melepas mempelai). Si laki² ini disebut orang Soemando. Ada kalanja si laki mempunjai isteri lebih dari satu (didjampoih oleh lebih dari satu perempuan), maka dalam hal ini si laki mendatangi isterinja setjara bergiliran. Anak² dari perkawinan tidak ikut bapanja dan tidak berhak atas harta kekajaan bapanja. Perkawinan di Djawa umumnja disebut „Perkawinan bebas". Ini berarti bahwa biarpun diadakan pembajaran mas-kawin, si isteri dan si suami bebas untuk memilih sendiri tempat tinggalnja. Tergantung pada kehendak mereka bersama. Boleh tinggal di kampung/keluarga isterinja, boleh di kampung atau keluarga suaminja, boleh tjari tempat sendiri. Anak² dari perkawinan berhak atas harta kekajaan si bapa maupun si ibu. Di Bali ada matjam perkawinan jang disebut „Perkawinan dengan melarikan" atau „Perkawinan selariang". Ialah perkawinan jang terdjadi sesudah si laki melarikan si wanita jang telah bertunangan dengan laki lain, atau wanita itu dilarikan setjara paksa. Perkawinan kemudian dilakukan dengan sjah setelah si laki mengadakan pembajaran setjara adat (mengisi adat namanja). Sedjenis dengan matjam ini ada perkawinan jang disebut „Perkawinan lari" atau „kawin merat". Kedua merpati itu bersama-sama lari dan mentjari perlindungan kepada seorang pendjabat agama untuk dikawinkan. Perkawinan lari/merat itu terdjadi biasanja kalau orang tuanja akan menentang perkawinan atau si laki tidak mampu membajar ongkos² perkawinan. Selandjutnja di Saparua dan di Lampung dikenal suatu matjam perkawinan jang dinamakan „Perkawinan memasukkan". Biasanja dilakukan oleh keluarga seorang bangsawan Adat (penjimbang) jang hanja punja anak perempuan dari isteri pertama (padami). Untuk tetap mempertahankan turunan kebangsawannanja maka perkawinan anaknja dilakukan dengan tjara mengangkat mempelai laki² sebagai anaknja dahulu, baru kemudian dikawinkan dengan anaknja jang perempuan itu. Sehingga anak dari perkawinan ini merupakan tjutju dari orang tua si isteri melalui anak angkatnja (menantunja). Perkawinan ini merupakan penjimpangan dari kawin djudjur, jang mana anak selalu ikut keluarga dari fihak bapa, dan tidak ada hubungan hukum dengan orang tua si ibu. Perkawinan sematjam ini di Lampung disebut „Kawin tegaq-tegi" kalau jang diambil anak itu sanak keluarganja sendiri, atau „Kawin ambil-anak" kalau jang diambil anak itu orang lain. Tapi kalau perkawinan sematjam ini tidak dengan tjara mengambil anak dahulu disebutnja „Perkawinan mengindjam djago". Di Djawa dan di Ambon dikenal lagi sematjam perkawinan jang disebut „Perkawinan silih-tikar". Ialah suatu perkawinan dimana si djanda laki² jang ditinggalkan mati oleh isterinja, dikawinkan dengan adik perempuan si isterinja. Pada umumnja sebelum perkawinan dilakukan, selalu diadakan pertunangan dahulu dengan memberikan suatu ikatan berupa wang atau barang. Pengikat ini dinamakan di Atjeh: Tanda köng narit. Nias: Bobo mibu. Mentawai: Sesero. Sulawesi Selatan: Passikoq. Halmahera: Tapoë. Di Kei: Mas aje. Djawa: Pandjer, paningset. Sunda: Panjangtjang. Toradja: Poedjompo. Bali: Base panglarang. Demikian uraian saja tentang soal² jang saudara harus ketahui bilamana saudara bertugas di daerah diluar kelahiran sendiri. Nistjajalah saudara akan mendapat penghargaan jang setimpal dari rakjat kalau saudara menghormati mereka dan saudara dapat hidup tjampur dengan mereka. Karena itu peridlah saudara mempeladjari soal kebiasaan adat Hukum adat daerah. {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" | colspan="2" style="border: 2px solid black; padding: 10px; text-align: center;" | Bantulah penielenggaraan Madjalah Angkatan Darat, dengan mengirimkan naskah2, penga dan lain-lain.<br> Medja Redaksi selalu menunggu. <div style="text-align:right; margin-right:15%;"> Red </div> |- |}<noinclude> 48</noinclude> 77r35yo1ql6j0bs7ynx22djgm9kif19 291671 291670 2026-05-11T05:11:30Z Link PB 26772 291671 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>membajar djudjur. Kalau si laki² kawin tidak dengan djudjur maka ia bekerdja di mertuanja, ia tidak boleh membawa isteri atau anaknja ke marganja, atau ke rumahnja sendiri selama djudjur belum dibajar, atau hasil dari kerdjanja belum tjukup untuk bajar djudjur. Perkawinan sematjam ini dinamakan „Perkawinan pakai pembajaran djasa”. Djadi pada umumnja perkawinan dimana si laki-laki membawa isteri ke kampungnja, dalam arti si isteri harus mengikuti suaminja diharuskan dilakukan dengan pembajaran mas-kawin. Mas-kawin ini di Tapanuli dinamakan „Djudjur”, di Nias Selatan „Beuli Niha”, di daerah Gajo, Sumatera „Oendjoek”, di daerah Batak lainnja „Simnamot”, „Pangoli”, „Tuhor”, „Boli”, di Lampung „Seroh”, di Maluku „Wilin”, di Timor „Belis”, di Bali „Petoekoen loeh”. Besar ketjilnja mas-kawin ini diukur menurut tinggi rendahnja deradjat si mempelai perempuan. Di Minangkabau kita melihat systeem perkawinan jang lain lagi. „Perkawinan nan semendo” namanja. Dalam hal ini tidak ada persoalan mas-kawin. Jang perlu dipunjai oleh laki² disini adalah harkat dan deradjat. Dalam perkawinan semendo tidak ada soal melepaskan si isteri dari keluarganja dan membawa ke rumah suami. Si isteri tetap tinggal di rumah keluarganja (ibunja) sendiri. Demikian djuga anak-anaknja dari perkawinan ini. Si laki datang „mendatang” dirumah isterinja, dan kemudian menetap untuk selama-lamanja. Pada waktu perkawinan si laki diambil dari rumahnja dengan memakai upatjara („Didjampoih” — didjemput memakai alat melepas mempelai). Si laki² ini disebut orang Soemando. Ada kalanja si laki mempunjai isteri lebih dari satu (didjampoih oleh lebih dari satu perempuan), maka dalam hal ini si laki mendatangi isterinja setjara bergiliran. Anak² dari perkawinan tidak ikut bapanja dan tidak berhak atas harta kekajaan bapanja. Perkawinan di Djawa umumnja disebut „Perkawinan bebas". Ini berarti bahwa biarpun diadakan pembajaran mas-kawin, si isteri dan si suami bebas untuk memilih sendiri tempat tinggalnja. Tergantung pada kehendak mereka bersama. Boleh tinggal di kampung/keluarga isterinja, boleh di kampung atau keluarga suaminja, boleh tjari tempat sendiri. Anak² dari perkawinan berhak atas harta kekajaan si bapa maupun si ibu. Di Bali ada matjam perkawinan jang disebut „Perkawinan dengan melarikan" atau „Perkawinan selariang". Ialah perkawinan jang terdjadi sesudah si laki melarikan si wanita jang telah bertunangan dengan laki lain, atau wanita itu dilarikan setjara paksa. Perkawinan kemudian dilakukan dengan sjah setelah si laki mengadakan pembajaran setjara adat (mengisi adat namanja). Sedjenis dengan matjam ini ada perkawinan jang disebut „Perkawinan lari" atau „kawin merat". Kedua merpati itu bersama-sama lari dan mentjari perlindungan kepada seorang pendjabat agama untuk dikawinkan. Perkawinan lari/merat itu terdjadi biasanja kalau orang tuanja akan menentang perkawinan atau si laki tidak mampu membajar ongkos² perkawinan. Selandjutnja di Saparua dan di Lampung dikenal suatu matjam perkawinan jang dinamakan „Perkawinan memasukkan". Biasanja dilakukan oleh keluarga seorang bangsawan Adat (penjimbang) jang hanja punja anak perempuan dari isteri pertama (padami). Untuk tetap mempertahankan turunan kebangsawannanja maka perkawinan anaknja dilakukan dengan tjara mengangkat mempelai laki² sebagai anaknja dahulu, baru kemudian dikawinkan dengan anaknja jang perempuan itu. Sehingga anak dari perkawinan ini merupakan tjutju dari orang tua si isteri melalui anak angkatnja (menantunja). Perkawinan ini merupakan penjimpangan dari kawin djudjur, jang mana anak selalu ikut keluarga dari fihak bapa, dan tidak ada hubungan hukum dengan orang tua si ibu. Perkawinan sematjam ini di Lampung disebut „Kawin tegaq-tegi" kalau jang diambil anak itu sanak keluarganja sendiri, atau „Kawin ambil-anak" kalau jang diambil anak itu orang lain. Tapi kalau perkawinan sematjam ini tidak dengan tjara mengambil anak dahulu disebutnja „Perkawinan mengindjam djago". Di Djawa dan di Ambon dikenal lagi sematjam perkawinan jang disebut „Perkawinan silih-tikar". Ialah suatu perkawinan dimana si djanda laki² jang ditinggalkan mati oleh isterinja, dikawinkan dengan adik perempuan si isterinja. Pada umumnja sebelum perkawinan dilakukan, selalu diadakan pertunangan dahulu dengan memberikan suatu ikatan berupa wang atau barang. Pengikat ini dinamakan di Atjeh: Tanda köng narit. Nias: Bobo mibu. Mentawai: Sesero. Sulawesi Selatan: Passikoq. Halmahera: Tapoë. Di Kei: Mas aje. Djawa: Pandjer, paningset. Sunda: Panjangtjang. Toradja: Poedjompo. Bali: Base panglarang. Demikian uraian saja tentang soal² jang saudara harus ketahui bilamana saudara bertugas di daerah diluar kelahiran sendiri. Nistjajalah saudara akan mendapat penghargaan jang setimpal dari rakjat kalau saudara menghormati mereka dan saudara dapat hidup tjampur dengan mereka. Karena itu peridlah saudara mempeladjari soal kebiasaan adat Hukum adat daerah. {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" | colspan="2" style="border: 2px solid black; padding: 10px;" | Bantulah penielenggaraan Madjalah Angkatan Darat, dengan mengirimkan naskah2, penga dan lain-lain.<br> Medja Redaksi selalu menunggu. <div style="text-align:right; margin-right:15%;"> Red </div> |- |}<noinclude> 48</noinclude> 7yooihh67l9zdnpm5ebr0q77oa9vcmz Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/253 104 103572 291672 2026-05-11T05:12:54Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291672 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>Nama baik dari pada koperasi pada tahun 1952 bila dibandingkan dengan keadaan tahun jang lalu berangsur-angsur pulih kembali dan ideologi koperasi tampak berkembang dengan suburnja dikalangan masjarakat. Kemadjuan jang njata dapat kita lihat dalam bertambahnja djumlah koperasi dalam tahun 1952 dari 1010 (tahun 1951) mendjadi 1504 buah. Djumlah anggauta koperasi pada achir Desember 1952 adalah 255.453 orang jang terdiri dari 205.143 laki-laki dan 50.310 wanita, sedangkan pada achir tahun 1951 djumlah anggauta-anggauta koperasi seluruh Djawa-Timur 130.464 orang jang terdiri dari 111.287 laki dan 18.675 wanita. Per-angkaan mengenai keuangan perkumpulan-perkumpulan koperasi-koperasi pada achir Desember 1952 ini mengalami perubahan jang luar biasa, jaitu dari Rp. 2.723.061,92 pada achir tahun 1951 mendjadi Rp. 6.562.993,84. Angka-angka tersebut diatas membuktikan bahwa pada umumnja gerakan koperasi diseluruh Djawa-Timur mengalami kemadjuan jang menggembirakan, akan tetapi kegembiraan ini tidak boleh mengakibatkan kelengahan dan titik-berat pekerdjaan selandjutnja adalah pemupukan dari pada koperasi tersebut dengan bimbingan dan pengawasan jang meminta perhatian seperlunja. Pembukaan kembali bank/lumbung Desa jang bentuknja lambat laun akan disalurkan kepada bentuk koperasi dan pemberian kredit Pemerintah jang keluar liwat koperasi-koperasi merupakan suatu tenaga pendorong bagi para pengurus dan peminat koperasi untuk lebih-lebih menjempurnakan organisasinja dan memupuk tjita-tjita kekoperasian jang dapat memberikan manfaat pada gerakan koperasi pada umumnja. Pembentukan panitia-panitia pendirian Pusat-Pusat Koperasi dibeberapa daerah rapat pula hubungannja dengan pemberian kredit itu. Untuk mendapat gambaran jang djelas dari perkembangan Gerakan Koperasi dalam tahun 1952, dibawah ini disadjikan per-angkaan tahun 1951 dan tahun 1952 sekedar untuk perbandingan: {| |- | || ||'''Tahun 1951:'''||'''Tahun 1952:''' |- |'''Banjakna koperasi :'''||{{Ellipsis|8}}||'''1010'''||'''1504''' |- |Anggauta||Laki-laki{{Ellipsis|5}}<br>Wanita{{Ellipsis|6}}<br>Djumlah{{Ellipsis|5}}||111.787<br>18.675<br>130.462||205.143<br>50.310<br>255.453 |- |Simpanan||Pokok{{Ellipsis|6}}<br>Wadjib{{Ellipsis|6}}<br>Manasuka{{Ellipsis|5}}<br>Lain-lain{{Ellipsis|6}}<br>Djumlah{{Ellipsis|3}}||{{--}}<br>{{--}}<br>{{--}}<br>{{--}}<br>Rp. 2.723.061,96||Rp. 3.334.798,92<br>"{{gap}} 1.759.748,45<br>"{{gap}} 855.098,69<br>"{{gap}} 613.347,77<br>"{{gap}} Rp. 6.562.993,84 |- |Tjadangan||{{Ellipsis|8}}||Rp. 809.279,21||Rp. 468.665,06 |- |Sisa simpanan jang diterima dari:||Djaw. Koperasi{{Ellipsis|1}}<br>Pusat Koperasi{{Ellipsis|1}}<br>Bank{{Ellipsis|5}}<br>Instansi lain{{Ellipsis|2}}<br>Perseorangan{{Ellipsis|2}}<br>||Rp. 824.264,-<br>"{{gap}} 121.676,75<br>"{{gap}} 454.275,04<br>"{{gap}} 274.331,46<br>"{{gap}} 111.504,54||Rp. 1.285.822,60<br>"{{gap}} 178.879,53<br>"{{gap}} 636.212,93<br>"{{gap}} 480.747,92<br>"{{gap}} 173.519,74 |}<noinclude>{{rvh|221}}</noinclude> 7lutojl77m6lapg9fn0639ra00oxfa7 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/262 104 103573 291673 2026-05-11T05:14:11Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Pada suatu waktu Von Lettow mengharapkan kedatangan kapal Zeppelin dari tanah airnja, jang mana akan membawa mesiu dan obat-obatan. Tetapi dengan ti- dak diketahuinja, dalam perdja- lanannja kapal itu kembali ke Berlin. Pada waktu itu Von Let- tow benar? berada dalam keada- an sangat sukar. Jang lebih menjusahkan lagi adanja pendaratan? baru dari pasukan? Inggeris. Von Lettow rupanja benar? akan dikalahkan oleh musuhnja. Tambahan... 291673 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude>Pada suatu waktu Von Lettow mengharapkan kedatangan kapal Zeppelin dari tanah airnja, jang mana akan membawa mesiu dan obat-obatan. Tetapi dengan ti- dak diketahuinja, dalam perdja- lanannja kapal itu kembali ke Berlin. Pada waktu itu Von Let- tow benar? berada dalam keada- an sangat sukar. Jang lebih menjusahkan lagi adanja pendaratan? baru dari pasukan? Inggeris. Von Lettow rupanja benar? akan dikalahkan oleh musuhnja. Tambahan lagi, Djenderal Jan Smuts, pahlawan tua dari perang Boer, menerima djabatan pimpinan pasukan? Ing- geris di Afrika. Ia kenal taktik? peperangan gerilja dari pengala- mannja sendiri, jang sebenarnja didjalankan Von Lettow itu. Kemudian Von Lettow mene- rima berita, bahwa ada kapal da- tang membawakan ia mesiu dan obat-obatan dari Djerman. Te- tapi Von Lettow tahu, bahwa kapal itu besar sekali kemung- kinannja diserang oleh pasukan Inggeris. Maka dipesankan ke- pada kapten kapal itu supaja me- njusur pantai dan diatas geladak supaja dipasang api. Membuat asap sebanjak-banjaknja, sehing- ga kelihatannja bahwa kapal itu sedang terbakar dan mau karam. Dengan muslihat ini selamat- lah kapalnja. Orang? Inggeris betul melihat kapal itu, dan oleh karena kelihatan sedang terba- kar dan sedang menurunkan se- kotji, sebab hendak karam, di- biarkannja sadja kapal lalu. Toch achirnja akan karam djuga, pikir mereka. Sedang Von Lettow menerima sendjata dan obat- DOANG. Less nona ne benak an Sementara itu Smuts sudah ja- kin, bahwa Von Lettow habis- lah riwajatnja. Oleh sebab itu ia kirimkan pesan pribadinja su- paja Von Lettow menjerah sa- dja. Von Lettow ter-senjum? sa- dja membatjanja dan disobek- sobeklah surat itu. ,Von Lettow', demikian kata Smuts kepada Djenderal Graham, ,Sudah habis riwajatnja. Ia tak 40 mempunjai lagi obat-obatan, ti- dak ada lagi laars? bagi peradju- ritnja dan tiada lagi mesiu”. Tetapi Smuts lupa akan ke- mampuan Von Lettow jang ba- njak akalnja itu. Pada suatu ma- lam Von Lettow bersama tiga orang anak buahnja menjusup ke perkemahan Inggeris. Mereka menjamar sebagai peradjurit Ing- geris, tanpa diketahui pendjaga?- nja. Mereka memasuki apotik tentara dan mengambil sedjumlah besar pil kina. Tidak semuanja, ada sebagian ditinggalkan untuk musuhnja. Disamping itu mereka chasiatnja menjerupai kina dan sebagai pengganti pil kina. Anak buahnja diperintahkan menembak lembu dan kulitnja dibuat untuk sepatu. Roti dibuatnja dari gan- dum Afrika ditjampur dengan kentang hutan. Gula dari madu hutan dan garam dari air laut. Pada suatu ketika pasukannja kehabisan air tawar, maka dipe- rintahkan orang-orangnja untuk mengambil air laut dan memisah- kan zat garam dari padanja dgn djalan menjaring, sehingga air jg tertinggal dipakai sebagai air minum. Von Lettow dengan seenaknja sadja dapat keluar masuk perkemahan lawannja. Dengan bangganja didjindjingnja sepatu lawannja jang ditjurinja pada malam hari. mengangkut sedjumlah laars. Se- dang Von Lettow sendiri meng- gerumut kedalam tenda seorang komandan. Ia keluar dan me- ninggalkan perkemahan musuh sambil membawa sepasang laars dari komandan jang sedang ti- dur itu. Von Lettow sama sekali tidak habis riwajatnja. Satu setengah tahun kemudian djenderal terse- but dengan se-enaknja sadja ber- main kutjing-kutjingan dengan pasukan? Inggeris. Ia ketemu- kan pohon jang serupa pohon ki- na. Kulitnja mengandung zat jg Pohon-pohon berdjalan : Kemudian Von Lettow berusa- ha dengan diam-diam memasuki daerah Langenberg jang kaja dan subur itu, supaja dia dapat bertahan ber-bulan? menghadapi tentara Inggeris. Smuts menda- pat perintah untuk mengusirnja dari daerah tersebut. Pasukan? Inggeris meniru taktik Boer, me- ngepung daerah dengan menem- patkan pos-pos pendjagaan. Di- kira, bahwa Von Lettow mendje- lang matahari terbit hendak me- njerbu Maka pasukan? Ingge-<noinclude></noinclude> 199phu61y335e11zbnbrpi83rb2gz8r 291694 291673 2026-05-11T05:41:49Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291694 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude>Pada suatu waktu Von Lettow mengharapkan kedatangan kapal Zeppelin dari tanah airnja, jang mana akan membawa mesiu dan obat-obatan. Tetapi dengan tidak diketahuinja, dalam perdjalanannja kapal itu kembali ke Berlin. Pada waktu itu Von Lettow benar² berada dalam keadaan sangat sukar. Jang lebih menjusahkan lagi adanja pendaratan² baru dari pasukan² Inggeris. Von Lettow rupanja benar² akan dikalahkan oleh musuhnja. Tambahan lagi, Djenderal Jan Smuts, pahlawan tua dari perang Boer, menerima djabatan pimpinan pasukan² Inggeris di Afrika. Ia kenal taktik² peperangan gerilja dari pengalamannja sendiri, jang sebenarnja didjalankan Von Lettow itu. Kemudian Von Lettow menerima berita, bahwa ada kapal datang membawakan ia mesiu dan obat-obatan dari Djerman. Tetapi Von Lettow tahu, bahwa kapal itu besar sekali kemungkinannja diserang oleh pasukan Inggeris. Maka dipesankan kepada kapten kapal itu supaja menjusur pantai dan diatas geladak supaja dipasang api. Membuat asap sebanjak-banjaknja, sehingga kelihatannja bahwa kapal itu sedang terbakar dan mau karam. Dengan muslihat ini selamatlah kapalnja. Orang² Inggeris betul melihat kapal itu, dan oleh karena kelihatan sedang terbakar dan sedang menurunkan sekotji, sebab hendak karam, dibiarkannja sadja kapal lalu. Toch achirnja akan karam djuga, pikir mereka. Sedang Von Lettow menerima sendjata dan obat-obatannja..... Sementara itu Smuts sudah jakin, bahwa Von Lettow habislah riwajatnja. Oleh sebab itu ia kirimkan pesan pribadinja supaja Von Lettow menjerah sadja. Von Lettow ter-senjum² sadja membatjanja dan disobek-sobeklah surat itu. „Von Lettow”, demikian kata Smuts kepada Djenderal Graham, ,„Sudah habis riwajatnja. Ia tak mempunjai lagi obat-obatan, tidak ada lagi laars² bagi peradjuritnja dan tiada lagi mesiu”. Tetapi Smuts lupa akan kemampuan Von Lettow jang banjak akalnja itu. Pada suatu malam Von Lettow bersama tiga orang anak buahnja menjusup ke perkemahan Inggeris. Mereka menjamar sebagai peradjurit Inggeris, tanpa diketahui pendjaga²nja. Mereka memasuki apotik tentara dan mengambil sedjumlah besar pil kina. Tidak semuanja, ada sebagian ditinggalkan untuk musuhnja. Disamping itu mereka mengangkut sedjumlah laars. Sedang Von Lettow sendiri menggerumut kedalam tenda seorang komandan. Ia keluar dan meninggalkan perkemahan musuh sambil membawa sepasang laars dari komandan jang sedang tidur itu. [[File:Madjalah Angkatan Darat (page 262 crop).jpg|400px|kanan|jmpl|''Von Lettow dengan seenaknja sadja dapat keluar masuk perkemahan lawannja. Dengan bangganja didjindjingnja sepatu lawannja jang ditjurinja pada malam hari.'']] Von Lettow sama sekali tidak habis riwajatnja. Satu setengah tahun kemudian djenderal tersebut dengan se-enaknja sadja bermain kutjing-kutjingan dengan pasukan² Inggeris. Ia ketemukan pohon jang serupa pohon kina. Kulitnja mengandung zat jg chasiatnja menjerupai kina dan sebagai pengganti pil kina. Anak buahnja diperintahkan menembak lembu dan kulitnja dibuat untuk sepatu. Roti dibuatnja dari gandum Afrika ditjampur dengan kentang hutan. Gula dari madu hutan dan garam dari air laut. Pada suatu ketika pasukannja kehabisan air tawar, maka diperintahkan orang-orangnja untuk mengambil air laut dan memisahkan zat garam dari padanja dgn djalan menjaring, sehingga air jg tertinggal dipakai sebagai air minum. '''Pohon-pohon berdjalan :''' Kemudian Von Lettow berusaha dengan diam-diam memasuki daerah Langenberg jang kaja dan subur itu, supaja dia dapat bertahan ber-bulan² menghadapi tentara Inggeris. Smuts mendapat perintah untuk mengusirnja dari daerah tersebut. Pasukan² Inggeris meniru taktik Boer, mengepung daerah dengan menempatkan pos-pos pendjagaan. Dikira, bahwa Von Lettow mendjelang matahari terbit hendak menjerbu Maka pasukan? {{hws|Ingge|Inggeris}}<noinclude>{{rh|40}}</noinclude> eslxzj7km8qhx1m5211vsi4s13o2dth Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/708 104 103574 291674 2026-05-11T05:15:34Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291674 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Para Panglima dan Penguasa Perang serta Kmd? Operasi seluruh Indonesia, pada tanggal 5 Agustus 1958 telah mengadakan rapat dinas jang membahas kelandjutan gerakan? operasi militer kita dalam berbagai bidang. Pertemuan ini adalah jang pertama kalinja sedjak meletusnja pemberontakan PRRI/ Permesta. Rapat tsb. dipimpin langsung oleh KSAD Let Djend. A.H. Nasution. Tampak pemandangan dalam ruangan rapat.''</small> <big><big>'''Rapat Militer Hasilkan Putusan Tegas KSAD.'''</big></big> {{Missing image}} Brig Djend Sungkono padi saat melaporkan kepada KSAD, bahwa rapat telah dapat dimulai. Untuk pertama kali sedjak terdjadinja peristiwa pemberontakan "PRRI" dan "Permesta" jang telah berhasil ditumpas oleh APRI, para Panglima seluruh Indonesia, Komandan-komandan Daerah militer dan Komandan-komandan Operasi "17 Agustus" dan "Merdeka", telah dipanggil berkumpul di Djakarta dalam suatu rapat dinas militer guna membitjarakan serta membahas berbagai masalah penting dibidang militer, teristimewa hal-jang langsung mempunjai sangkut paut dengan operasi² militer terhadap kaum pemberontak. Rapat dinas militer tersebut dimulai pada hari Senin pagi tanggal 4 Agustus dan berachir pada hari Rabu tanggal 6 Agustus dengan bertempat di Aula MBAD, jang dipimpin langsung oleh KSAD Letnan Djenderal A.H. Nasution. Djuga turut hadir dalam rapat itu para Perwira Staf MBAD jang terdiri dari semua Deputy KSAD, semua Asisten, Kepala Penad Pusat, Inspektur² Djenderal dan Direktur² Djawatan Angkatan Darat. Rapat pertama hari Senin dihadiri pula oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan Ir. Djuanda dan Menteri Urusan Stabilisasi Ekonomi Kolonel Suprajugi. Dalam rapat militer itu terutama sekali jang dibahas adalah soal² kelandjutan dari gerakan operasi terhadap kaum pemberontak serta masalah² personil jang ada hubungannja dengan masalah operasi. Djuga masalah² ekonomi dan soal² jang langsung bersangkut paut dengan itu, teristimewa di-daerah² jang baru dibebaskan dari kaum pemberontak „PRRI” dan „Permesta”. Pada pembukaan rapat militer tersebut, Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan telah menjatakan penghargaan dan terima kasih atas sumbangan pihak Angkatan Perang dalam menghadapi dan menumpas pemberontak „PRRI” dan „Permesta”, jang njata-njata keluar dari garis Proklamasi 1945. Perdana Menteri djuga membentangkan soal² umum jang dihadapi oleh pemerintah dewasa ini, sehingga para petugas militer mendapat gambaran jang sebaik-baiknja tentang masalah²<noinclude> 50</noinclude> 2ob8dld9yj4wr5g0l5tj3ygyt5wuzn2 291679 291674 2026-05-11T05:24:09Z Link PB 26772 291679 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Para Panglima dan Penguasa Perang serta Kmd? Operasi seluruh Indonesia, pada tanggal 5 Agustus 1958 telah mengadakan rapat dinas jang membahas kelandjutan gerakan? operasi militer kita dalam berbagai bidang. Pertemuan ini adalah jang pertama kalinja sedjak meletusnja pemberontakan PRRI/ Permesta. Rapat tsb. dipimpin langsung oleh KSAD Let Djend. A.H. Nasution. Tampak pemandangan dalam ruangan rapat.''</small> <big><big>'''Rapat Militer Hasilkan Putusan Tegas KSAD.'''</big></big> {{Missing image}} <small>''Brig Djend Sungkono padi saat melaporkan kepada KSAD, bahwa rapat telah dapat dimulai.''</small> Untuk pertama kali sedjak terdjadinja peristiwa pemberontakan "PRRI" dan "Permesta" jang telah berhasil ditumpas oleh APRI, para Panglima seluruh Indonesia, Komandan-komandan Daerah militer dan Komandan-komandan Operasi "17 Agustus" dan "Merdeka", telah dipanggil berkumpul di Djakarta dalam suatu rapat dinas militer guna membitjarakan serta membahas berbagai masalah penting dibidang militer, teristimewa hal-jang langsung mempunjai sangkut paut dengan operasi² militer terhadap kaum pemberontak. Rapat dinas militer tersebut dimulai pada hari Senin pagi tanggal 4 Agustus dan berachir pada hari Rabu tanggal 6 Agustus dengan bertempat di Aula MBAD, jang dipimpin langsung oleh KSAD Letnan Djenderal A.H. Nasution. Djuga turut hadir dalam rapat itu para Perwira Staf MBAD jang terdiri dari semua Deputy KSAD, semua Asisten, Kepala Penad Pusat, Inspektur² Djenderal dan Direktur² Djawatan Angkatan Darat. Rapat pertama hari Senin dihadiri pula oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan Ir. Djuanda dan Menteri Urusan Stabilisasi Ekonomi Kolonel Suprajugi. Dalam rapat militer itu terutama sekali jang dibahas adalah soal² kelandjutan dari gerakan operasi terhadap kaum pemberontak serta masalah² personil jang ada hubungannja dengan masalah operasi. Djuga masalah² ekonomi dan soal² jang langsung bersangkut paut dengan itu, teristimewa di-daerah² jang baru dibebaskan dari kaum pemberontak „PRRI” dan „Permesta”. Pada pembukaan rapat militer tersebut, Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan telah menjatakan penghargaan dan terima kasih atas sumbangan pihak Angkatan Perang dalam menghadapi dan menumpas pemberontak „PRRI” dan „Permesta”, jang njata-njata keluar dari garis Proklamasi 1945. Perdana Menteri djuga membentangkan soal² umum jang dihadapi oleh pemerintah dewasa ini, sehingga para petugas militer mendapat gambaran jang sebaik-baiknja tentang masalah²<noinclude> 50</noinclude> n35ld1pro8ysm3l0pu02w2c2vgawlow 291681 291679 2026-05-11T05:24:40Z Link PB 26772 291681 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Para Panglima dan Penguasa Perang serta Kmd? Operasi seluruh Indonesia, pada tanggal 5 Agustus 1958 telah mengadakan rapat dinas jang membahas kelandjutan gerakan? operasi militer kita dalam berbagai bidang. Pertemuan ini adalah jang pertama kalinja sedjak meletusnja pemberontakan PRRI/ Permesta. Rapat tsb. dipimpin langsung oleh KSAD Let Djend. A.H. Nasution. Tampak pemandangan dalam ruangan rapat.''</small> {{center|<big><big>'''Rapat Militer Hasilkan Putusan Tegas KSAD.'''</big></big>}} {{Missing image}} <small>''Brig Djend Sungkono padi saat melaporkan kepada KSAD, bahwa rapat telah dapat dimulai.''</small> Untuk pertama kali sedjak terdjadinja peristiwa pemberontakan "PRRI" dan "Permesta" jang telah berhasil ditumpas oleh APRI, para Panglima seluruh Indonesia, Komandan-komandan Daerah militer dan Komandan-komandan Operasi "17 Agustus" dan "Merdeka", telah dipanggil berkumpul di Djakarta dalam suatu rapat dinas militer guna membitjarakan serta membahas berbagai masalah penting dibidang militer, teristimewa hal-jang langsung mempunjai sangkut paut dengan operasi² militer terhadap kaum pemberontak. Rapat dinas militer tersebut dimulai pada hari Senin pagi tanggal 4 Agustus dan berachir pada hari Rabu tanggal 6 Agustus dengan bertempat di Aula MBAD, jang dipimpin langsung oleh KSAD Letnan Djenderal A.H. Nasution. Djuga turut hadir dalam rapat itu para Perwira Staf MBAD jang terdiri dari semua Deputy KSAD, semua Asisten, Kepala Penad Pusat, Inspektur² Djenderal dan Direktur² Djawatan Angkatan Darat. Rapat pertama hari Senin dihadiri pula oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan Ir. Djuanda dan Menteri Urusan Stabilisasi Ekonomi Kolonel Suprajugi. Dalam rapat militer itu terutama sekali jang dibahas adalah soal² kelandjutan dari gerakan operasi terhadap kaum pemberontak serta masalah² personil jang ada hubungannja dengan masalah operasi. Djuga masalah² ekonomi dan soal² jang langsung bersangkut paut dengan itu, teristimewa di-daerah² jang baru dibebaskan dari kaum pemberontak „PRRI” dan „Permesta”. Pada pembukaan rapat militer tersebut, Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan telah menjatakan penghargaan dan terima kasih atas sumbangan pihak Angkatan Perang dalam menghadapi dan menumpas pemberontak „PRRI” dan „Permesta”, jang njata-njata keluar dari garis Proklamasi 1945. Perdana Menteri djuga membentangkan soal² umum jang dihadapi oleh pemerintah dewasa ini, sehingga para petugas militer mendapat gambaran jang sebaik-baiknja tentang masalah²<noinclude> 50</noinclude> 8ki959f4hz1kpdtu0l0aaay3tz2n14i Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/147 104 103575 291675 2026-05-11T05:18:31Z Upiak Ituih 27011 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{rh||KESUSASTRAAN SUNDA PERIODE PERTAMA}} {{rh||(tjatatan ketjil tentang hasilsastra lisan)}} {{rh|||Adun Sjubarea}} <ol type="1" start="0"> <li>Pengantar</li> </ol> <ol> Tulisan ini tidak bermaksud membeberkan kehidupan kesusastraan Sunda pada mula perkembangannja setjara lengkap, tapi hanja sekedar tjatatan ketjil tentang hasilsastra lisan jang penulis anggap dapat mewakili periode ini. </ol> <ol> Tjatatan ketjil ini diharapkan bisa didjadi... 291675 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{rh||KESUSASTRAAN SUNDA PERIODE PERTAMA}} {{rh||(tjatatan ketjil tentang hasilsastra lisan)}} {{rh|||Adun Sjubarea}} <ol type="1" start="0"> <li>Pengantar</li> </ol> <ol> Tulisan ini tidak bermaksud membeberkan kehidupan kesusastraan Sunda pada mula perkembangannja setjara lengkap, tapi hanja sekedar tjatatan ketjil tentang hasilsastra lisan jang penulis anggap dapat mewakili periode ini. </ol> <ol> Tjatatan ketjil ini diharapkan bisa didjadikan bahan perbandingan bagi telaah kesusastraan Daerah maupun kesusastraan Indonesia. </ol> <ol type="1" start="1"> <li>Hasil kesusastraan lisan</li> </ol> <ol> Mula perkembangan kesusastraan Sunda diwakili oleh hasilsastra-hasilsastra jang didendangkan atau disampaikan dari mulut kemulut. Diduga kesusastraan lisan ini mulai berkembang pada djaman kerajaan Galuh (abad VIII - XIII) dan kerajaan Padjadjaran (abad XIV - XVI). Peninggalan tertulis (prasasti) dari djaman keradjaan Taruma Nagara (abad IV - VII) hanja berguna bagi penjelidikan sedjarah Djawa Barat: bukan merupakan hasilsastra, karena isinja tentang berita berdirinja suatu negara, maklumat kekuasaan radja, larangan-larangan dsb. </ol> <ol> Adapun hasil sastra jang perlu ditjatat dari kesusastraan lisan ini ialah: <ol type="1" start="1"> <li>Tjerita pantun</li> <li>Kawih</li> <li>Dongeng (jang bersifat mythis, legendaris atau satwatjarita).</li> </ol> 2. Tjerita pantun Kira-kira kurang lebih abad ke VII jaitu pada djaman berdirinja kerajaan Galuh, diduga sedjak itu dimulai perkembangan kesusastraan Sunda: jaitu dalam bentuk tjerita pantun. Bahwa kesusastraan lisan tjerita pantun mulai berkembang pada djaman kerajaan Galuh, dugaan itu masih bersifat sementara (belum<noinclude></noinclude> 5wk0n5q37yxvctaa6lc028lysdchnxn 291676 291675 2026-05-11T05:19:49Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291676 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{rh||KESUSASTRAAN SUNDA PERIODE PERTAMA}} {{rh||(tjatatan ketjil tentang hasilsastra lisan)}} {{rh|||Adun Sjubarea}} <ol type="1" start="0"> <li>Pengantar</li> </ol> <ol> Tulisan ini tidak bermaksud membeberkan kehidupan kesusastraan Sunda pada mula perkembangannja setjara lengkap, tapi hanja sekedar tjatatan ketjil tentang hasilsastra lisan jang penulis anggap dapat mewakili periode ini. </ol> <ol> Tjatatan ketjil ini diharapkan bisa didjadikan bahan perbandingan bagi telaah kesusastraan Daerah maupun kesusastraan Indonesia. </ol> <ol type="1" start="1"> <li>Hasil kesusastraan lisan</li> </ol> <ol> Mula perkembangan kesusastraan Sunda diwakili oleh hasilsastra-hasilsastra jang didendangkan atau disampaikan dari mulut kemulut. Diduga kesusastraan lisan ini mulai berkembang pada djaman kerajaan Galuh (abad VIII - XIII) dan kerajaan Padjadjaran (abad XIV - XVI). Peninggalan tertulis (prasasti) dari djaman keradjaan Taruma Nagara (abad IV - VII) hanja berguna bagi penjelidikan sedjarah Djawa Barat: bukan merupakan hasilsastra, karena isinja tentang berita berdirinja suatu negara, maklumat kekuasaan radja, larangan-larangan dsb. </ol> <ol> Adapun hasil sastra jang perlu ditjatat dari kesusastraan lisan ini ialah: <ol type="1" start="1"> <li>Tjerita pantun</li> <li>Kawih</li> <li>Dongeng (jang bersifat mythis, legendaris atau satwatjarita).</li> </ol> 2. Tjerita pantun Kira-kira kurang lebih abad ke VII jaitu pada djaman berdirinja kerajaan Galuh, diduga sedjak itu dimulai perkembangan kesusastraan Sunda: jaitu dalam bentuk tjerita pantun. Bahwa kesusastraan lisan tjerita pantun mulai berkembang pada djaman kerajaan Galuh, dugaan itu masih bersifat sementara {{hws|(belum|belum cukup}} - ---------<noinclude>Kepala Seksi Kesusastraan, Dinas Bahasa dan Kesusastraan Daerah, D.B.K. {{rh|||19}}</noinclude> cwukd07815a1atlfez9kj6mopqs7mty 291684 291676 2026-05-11T05:26:57Z Upiak Ituih 27011 291684 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{rh||KESUSASTRAAN SUNDA PERIODE PERTAMA}} {{rh||(tjatatan ketjil tentang hasilsastra lisan)}} {{rh|||Adun Sjubarea}} <ol type="1" start="0"> <li>Pengantar</li> </ol> <ol> Tulisan ini tidak bermaksud membeberkan kehidupan kesusastraan Sunda pada mula perkembangannja setjara lengkap, tapi hanja sekedar tjatatan ketjil tentang hasilsastra lisan jang penulis anggap dapat mewakili periode ini. </ol> <ol> Tjatatan ketjil ini diharapkan bisa didjadikan bahan perbandingan bagi telaah kesusastraan Daerah maupun kesusastraan Indonesia. </ol> <ol type="1" start="1"> <li>Hasil kesusastraan lisan</li> </ol> <ol> Mula perkembangan kesusastraan Sunda diwakili oleh hasilsastra-hasilsastra jang didendangkan atau disampaikan dari mulut kemulut. Diduga kesusastraan lisan ini mulai berkembang pada djaman kerajaan Galuh (abad VIII - XIII) dan kerajaan Padjadjaran (abad XIV - XVI). Peninggalan tertulis (prasasti) dari djaman keradjaan Taruma Nagara (abad IV - VII) hanja berguna bagi penjelidikan sedjarah Djawa Barat: bukan merupakan hasilsastra, karena isinja tentang berita berdirinja suatu negara, maklumat kekuasaan radja, larangan-larangan dsb. </ol> <ol> Adapun hasil sastra jang perlu ditjatat dari kesusastraan lisan ini ialah: <ol type="1" start="1"> <li>Tjerita pantun</li> <li>Kawih</li> <li>Dongeng (jang bersifat mythis, legendaris atau satwatjarita).</li> </ol> </ol> <ol type="1" start="2"> <li>Tjerita pantun</li> </ol> <ol> Kira-kira kurang lebih abad ke VII jaitu pada djaman berdirinja kerajaan Galuh, diduga sedjak itu dimulai perkembangan kesusastraan Sunda: jaitu dalam bentuk tjerita pantun. </ol> <ol> Bahwa kesusastraan lisan tjerita pantun mulai berkembang pada djaman kerajaan Galuh, dugaan itu masih bersifat sementara {{hws|(belum|belum cukup}} </ol> <ol> - --------- </ol> <ol> Kepala Seksi Kesusastraan, Dinas Bahasa dan Kesusastraan Daerah, D.B.K. </ol><noinclude>{{rh|||19}}</noinclude> euz9eeiwrtoda6g7oq5skco5teamykq 291686 291684 2026-05-11T05:28:15Z Upiak Ituih 27011 291686 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{rh||KESUSASTRAAN SUNDA PERIODE PERTAMA}} {{rh||(tjatatan ketjil tentang hasilsastra lisan)}} {{rh|||Adun Sjubarea}} <ol type="1" start="0"> <li>{{u|Pengantar}}</li> </ol> <ol> Tulisan ini tidak bermaksud membeberkan kehidupan kesusastraan Sunda pada mula perkembangannja setjara lengkap, tapi hanja sekedar tjatatan ketjil tentang hasilsastra lisan jang penulis anggap dapat mewakili periode ini. </ol> <ol> Tjatatan ketjil ini diharapkan bisa didjadikan bahan perbandingan bagi telaah kesusastraan Daerah maupun kesusastraan Indonesia. </ol> <ol type="1" start="1"> <li>{{u|Hasil kesusastraan lisan}}</li> </ol> <ol> Mula perkembangan kesusastraan Sunda diwakili oleh hasilsastra-hasilsastra jang didendangkan atau disampaikan dari mulut kemulut. Diduga kesusastraan lisan ini mulai berkembang pada djaman kerajaan Galuh (abad VIII - XIII) dan kerajaan Padjadjaran (abad XIV - XVI). Peninggalan tertulis (prasasti) dari djaman keradjaan Taruma Nagara (abad IV - VII) hanja berguna bagi penjelidikan sedjarah Djawa Barat: bukan merupakan hasilsastra, karena isinja tentang berita berdirinja suatu negara, maklumat kekuasaan radja, larangan-larangan dsb. </ol> <ol> Adapun hasil sastra jang perlu ditjatat dari kesusastraan lisan ini ialah: <ol type="1" start="1"> <li>Tjerita pantun</li> <li>Kawih</li> <li>Dongeng (jang bersifat mythis, legendaris atau satwatjarita).</li> </ol> </ol> <ol type="1" start="2"> <li>{{u|Tjerita pantun}}</li> </ol> <ol> Kira-kira kurang lebih abad ke VII jaitu pada djaman berdirinja kerajaan Galuh, diduga sedjak itu dimulai perkembangan kesusastraan Sunda: jaitu dalam bentuk tjerita pantun. </ol> <ol> Bahwa kesusastraan lisan tjerita pantun mulai berkembang pada djaman kerajaan Galuh, dugaan itu masih bersifat sementara {{hws|(belum|belum cukup}} </ol> <ol> - --------- </ol> <ol> Kepala Seksi Kesusastraan, Dinas Bahasa dan Kesusastraan Daerah, D.B.K. </ol><noinclude>{{rh|||19}}</noinclude> c3qg0q4187knl4pl0eg2jev3lgbgk7o Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/205 104 103576 291678 2026-05-11T05:22:07Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '27 ela comaunity cooruiaation circulation community recreation multiple choice lected child preventive checks rural community organization rural industrial comcuaity telie change KesomTAN aanblazen sanduidingsveruogen sanraking anarakingspant aanepreken aansteasen backstage position cacophonte cadanceren calans exeaur(0) da e330 dat segue Daapfer sedat /Sjox7 earedeatenins (Ing? ear-defencer {Ing ‘echolose Yaser facie (It7 falae... 291678 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>27 ela comaunity cooruiaation circulation community recreation multiple choice lected child preventive checks rural community organization rural industrial comcuaity telie change KesomTAN aanblazen sanduidingsveruogen sanraking anarakingspant aanepreken aansteasen backstage position cacophonte cadanceren calans exeaur(0) da e330 dat segue Daapfer sedat /Sjox7 earedeatenins (Ing? ear-defencer {Ing ‘echolose Yaser facie (It7 falae accent Ling? faleet Perubshan kelas uusaha goteng-rojong rekresei uve dserah pingsiren kota pilihen berganda anak terlantar eat jegahaa aisaei sosial deca, haedatan perkaspungan industri. Perubahaa terarah Beniuptjoba aja penjata nggungan (fonjimpang sedtkit edjenis naa jang berkeluarga7 titiksinggung (idjung djort dengan bilab plang) senders bunji 2 genjetala; 2 cule a aulal bernjangs sugunaa pontas belakang Jandy bunji Ajanggal, kakofoni menexan aatra (Bada waktu senari7 ajatuh dress, tenggang irena pedotan dark aula dari tanda pedal vedas eousisieean poliadung telis kasar takber suds tekanan palew falseto, ouara sorogon, suara pakssan<noinclude></noinclude> f5ug09yqpdnm19v00nsti3qro8oyail 291735 291678 2026-05-11T06:11:07Z Humilis Kumulus 26996 /* Telah diuji baca */ 291735 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||27|}}</noinclude>:{| |- |class circulation||<center>- </center>||perubahan kelas |- |community coordination||<center>- </center>||usahan gotong-rojong |- |community recreation||<center>- </center>||rekreasi umum |- |commutor's zone||<center>- </center>||daeraj pinggiran kota |- |multiple choice||<center>- </center>||pilihan berganda |- |neglected child||<center>- </center>||anak terlantar |- |preventive checks||<center>- </center>||hambatan pentjegahan |- |rural community organization||<center>- </center>||organisasi sosial desa |- |rural industrial community||<center>- </center>||perkampungan industri |- |telic change||<center>- </center>||perubahan terarah |- |} KESENIAN :{| |- |aanblazen||<center>- </center>||meniuptjoba |- |aanduidingsvermogen||<center>- </center>||daja penjata |- |aanraking||<center>- </center>||singgungan ''[''menjimpang sedikit kedjenis nada jang berkeluarga'']'' |- |aanrakingspunt||<center>- </center>||titiksinggung ''[''udjung djari dengan bilah piano'']'' |- |aanspreken||<center>- </center>||memberi bunji |- |aanstemmen||<center>- </center>||1 menjetala; 2 mulai menjanji, mulai bernjanji |- |backstage position ''[''Ing'']''||<center>- </center>||susunan pentas belakang |- |cacophonie||<center>- </center>||bunji djanggal, kakofoni |- |cadanceren||<center>- </center>||menekan matra ''[''pada waktu menari'']'' |- |cadans||<center>- </center>||djatuh irama, tenggang irama |- |caesaur(s)||<center>- </center>||pedotan |- |da capo||<center>- </center>||dari mula |- |dal segno||<center>- </center>||dari tanda |- |Dampferpedal ''[''Djer'']''||<center>- </center>||pedal redam |- |ear-deafening ''[''Ing'']''||<center>- </center>||mendekakkan |- |ear-defender ''[''Ing'']''||<center>- </center>||pelindung telinga |- |echolose kamer||<center>- </center>||kamar takbergema |- |facile ''[''It'']''||<center>- </center>||sudah |- |false accent ''[''Ing'']''||<center>- </center>||tekanan palsu |- |falset||<center>- </center>||falseto, suara sorogan, suara paksaan |} {{c|'''---'''}}<noinclude></noinclude> 3orye8y4hve3zz8ey5ee7unt2rkv4xd Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/793 104 103577 291680 2026-05-11T05:24:16Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291680 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>'''Keadaan P.W.L. Djawa-Timur.''' {| |- |Koordinator Djawa-Timur||:||A. Azis|| |- |Kring Surabaja||:||A. Azis<br>W. Hidajat||Ketua<br>Wakil Ketua |- |Kring Kediri||:||Sedijono||Ketua |- |"{{gap}}Besuki||:||Misralani||" |- |"{{gap}}Malang||:||Gondo||" |- |"{{gap}}Madiun||:||Soejono||" |} {{ol|list_style_type=upper-alpha|start=9|'''Kesulitan Kertas.''' '''Terpaksa terbit 3 hari seminggu dua halaman.''' Oleh sebab kekurangan kertas, maka semua surat-kabar rotasi di Surabaja antaranja djuga „Utusan Indonesia” dan „Berita”, untuk sementara waktu terpaksa terbit 3 kali seminggu hanja dengan dua halaman, mulai 1 Pebruari 1951. Tindakan ini terpaksa diambil karena persediaan kertas rol Surabaja sudah hampir habis, dan kiriman baru dari Djakarta, meskipun sudah berulang-ulang diminta, belum djuga datang. Selekasnja kiriman kertas rol dari Djakarta datang, surat-kabar akan terbit lagi seperti biasa. '''„Berita” dan „Utusan Indonesia” djadi satu harian.''' Surat-kabar „{{sp|Berita}}” dan surat-kabar „{{sp|Utusan Indonesia}}”. sedjak bulan Pebruari 1951 diterbitkan oleh satu N.V., jaitu N. V. {{sp|Pustaka Indonesia}} Berhubung meningkatnja harga-harga kertas dan porto, ada dikandung maksud untuk menggabungkan kedua surat-kabar itu mendjadi satu surat-kabar jang akan diberi nama „{{sp|Suara Rakjat}}” atau „{{sp|Suara Umum}}”. Kebanjakan tenaga-tenaga jang bekerdja disitu adalah bekas-bekas orang-orang dari „{{sp|Suara Umum}}” jang kemudian mendjadi „{{sp|Suara Asia}}” dan achirnja „{{sp|Suara Rakjat}}”. Surat-kabar jang mendjadi djelmaan kedua surat-kabar tersebut diatas selandjutnja akan merupakan salah-satu bagian dari usaha N.V. Pustaka Indonesia Jang disamping itu akan mengusahakan pertjetakan, penerbitan dan pendjualan buku-buku dan alat-alat tulis-menulis. '''Pikiran Pembatja tentang kenaikan harga kertas.''' '''Pembatja paling banjak tinggal 50%.'''' Menurut kabar-kabar jang telah dimuat, harga kertas, terutama kertas koran mulai bulan Pebruari 1951 akan dinaikkan 100%, dan menurut kabar „{{sp|Antara}}” tanggal 23 Djanuari 1951, Djawatan Pengendalian Harga membenarkan kabaran itu, maka djika hal itu betul dengan sendirinja mengakibatkan dinaikkannja harga langganan. Dengan dasar ini, dimana harga langganan pada waktu itu sudah dirasa berat oleh para langganan akan dinaikkan lagi, sungguh tak terhingga nanti akibatnja. Walaupun nanti hanja}}<noinclude>{{rvh|683}}</noinclude> 18kioggs5a7549go83zfcn5nbd9yt5u Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/164 104 103578 291687 2026-05-11T05:29:07Z Upiak Ituih 27011 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '36 tahun 1945, Roestam bertentangan dengan partai komunia Rusia karena = reka jang mula-mula mau menerdekakan negara-negara jang tertindas, ka mudian djustru melakukan ekspansi dan mendjadjah negara-negara lain. lah sebabnja Roestan berbalik dari pantai itu. Pada tahun 1947 ia kes ke Indonesia. Atas pertanjaan hadirin, apakah ada hubungannja dengan Tan Malak Roestam mendjawab, memang ada hubungan itu. Tan Malaka adalah seorang jang menentang pol... 291687 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" /></noinclude>36 tahun 1945, Roestam bertentangan dengan partai komunia Rusia karena = reka jang mula-mula mau menerdekakan negara-negara jang tertindas, ka mudian djustru melakukan ekspansi dan mendjadjah negara-negara lain. lah sebabnja Roestan berbalik dari pantai itu. Pada tahun 1947 ia kes ke Indonesia. Atas pertanjaan hadirin, apakah ada hubungannja dengan Tan Malak Roestam mendjawab, memang ada hubungan itu. Tan Malaka adalah seorang jang menentang politik Moskow. Dalam tahun 1945 ia menentang Partai H munis Indonesia. Karena itu Roestam bersahabat dengan Tan Malaka sata pada waktu persstudjuan K.M.B. tiba. Mengenai karjaaja Bebasari dan Pertjikan Peraenungan, Roestom za barikan pendjelasan jang sedjelas-djelasnja. Dia katakan bahwa kedua buku teb. hanja sebagai tjontoh latihan-latihan sadja. Terutama dala bentuk-bentuknja. Tentang Bebasari, ditjetak dalam pertjetakan Beland De Volharding, di Padang dengan harga Rp.1,25 per eksemplar. Tjetaks terdiri dari 500 eksemplar. Pada waktu itu di Padang sangat sulit ka adaannja sehingga ia sudah senang kalau bisa mendjunlnja Rp.1. per a sexplar. Banjak sekali tantangan atas terbitnja buku ini. Seorang guru bo hasa mengandjurkan agar membakar sadja. Dalas menulis kedua buku itu Roestan mengakui bahwa pada usia 20 tahun, sangat kurang pengalamannja. Terutama ia akui kekurangan actio dalam Bebasari. Tetapi dengan muntjipta karja ini, ia bermaksud ingin mengemukakan suatu hal jang baru sama sekali dalam drama. Menurut Roastam maksud tertentu" adalah mendjadi sarat utasa da lam drama jang baik. Dramanja ini hendak menggugah pemuda-pemuda pala masa itu, jaitu pemuda-pemuda jang hidup dalan djaman pendjadjahan is jang dinina bobokan oleh politik pendjadjahan, pemuda-peauda tidak revolusionar sebagai pemuda-pemuda sekarang. Diakui oleh Roesta bahwa penulisan Bebasari banjak dipengaruhi oleh penulisan drama Bara Bebasari ini hanja suatu fantasi belaka jang hidup dalam fikiran pe rang. Walaupun begitu basari mempunjai pengaruh djuga pada pemula? muda jang mengerti bahasa asing pada waktu itu. Menurut pengakuaanja, kalau dipandang sebagai drnaa, Bebasari tak berarti, tetapi dapat dis cap sebagai pelopor. Atas pertanjaan hadirin apakah Bebasari ada hubungannja dengan P litik in mardjawab sudah terang ada hubungnanja. Tentang bahasa jang dipakai dalam Bebasari dan Pertjikan Pert an, Roestan menerangkan bahwa bahasanja adalah bahasa Melaju jaag dis suaikan dengan bahasa jang dipakai disekolah-sekolah pada waktu itu jang berbeda dengan bahasa Melaju Tionghoa jang biasa terdapat dala Digitized by Google<noinclude></noinclude> 3ixohbntm3be2ywlpoes97pzad2589s 291701 291687 2026-05-11T05:46:56Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291701 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||36}}</noinclude>tahun 1945, Roestam bertentangan dengan partai komunis Rusia karena mereka jang mula-mula mau memerdekakan negara-negara jang tertindas, kemudian djustru melakukan ekspansi dan mendjadjah negara-negara lain. Itulah sebabnja Roestam berbalik dari pantai itu. Pada tahun 1947 ia kembali ke Indonesia. Atas pertanjaan hadirin, apakah ada hubungannja dengan Tan Malaka? Roestam mendjawab, memang ada hubungan itu. Tan Malaka adalah seorang jang menentang politik Moskow. Dalam tahun 1945 ia menentang Partai Komunis Indonesia. Karena itu Roestam bersahabat dengan Tan Malaka sampai pada waktu persetudjuan K.M.B. tiba. Mengenai karjanja {{u|Bebasari}} dan {{u|Pertjikan Permenungan}}, Roestom memberikan pendjelasan jang sedjelas-djelasnja. Dia katakan bahwa kedua buku tsb. hanja sebagai tjontoh latihan-latihan sadja. Terutama dalam bentuk-bentuknja. Tentang {{u|Bebasari}}, ditjetak dalam pertjetakan Belanda De Volharding, di Padang dengan harga Rp.1,25 per eksemplar. Tjetakannja terdiri dari 500 eksemplar. Pada waktu itu di Padang sangat sulit keadaannja sehingga ia sudah senang kalau bisa mendjualnja Rp.1. per eksemplar. Banjak sekali tantangan atas terbitnja buku ini. Seorang guru bahasa mengandjurkan agar membakar sadja. Dalam menulis kedua buku itu Roestan mengakui bahwa pada usia 20 tahun, sangat kurang pengalamannja. Terutama ia akui kekurangan action dalam Bebasari. Tetapi dengan muntjipta karja ini, ia bermaksud ingin mengemukakan suatu hal jang baru sama sekali dalam drama. Menurut Roastam "maksud tertentu" adalah mendjadi sarat utama dalam drama jang baik. Dramanja ini hendak menggugah pemuda-pemuda pada masa itu, jaitu pemuda-pemuda jang hidup dalam djaman pendjadjahan ia jang dinina bobokan oleh politik pendjadjahan, pemuda-pemuda tidak revolusionar sebagai pemuda-pemuda sekarang. Diakui oleh Roestam bahwa penulisan {{u|Bebasari}} banjak dipengaruhi oleh penulisan drama Barat. {{u|Bebasari}} ini hanja suatu fantasi belaka jang hidup dalam fikiran pengarang. Walaupun begitu {{u|Bebasari}} mempunjai pengaruh djuga pada pemuda-pemuda jang mengerti bahasa asing pada waktu itu. Menurut pengakuaanja kalau dipandang sebagai drama, {{u|Bebasari}} tak berarti, tetapi dapat dianggap sebagai pelopor. Atas pertanjaan hadirin apakah {{u|Bebasari}} ada hubungannja dengan Politik ia mandjawab sudah terang ada hubungannja. Tentang bahasa jang dipakai dalam {{u|Bebasari}} dan {{u|Pertjikan Permenungan}}, Roestam menerangkan bahwa bahasanja adalah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan bahasa jang dipakai disekolah-sekolah pada waktu itu jang berbeda dengan bahasa Melaju Tionghoa jang biasa terdapat dalam<noinclude></noinclude> et5o9faumljefmmgq16za0ti2yyuuel Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/709 104 103579 291688 2026-05-11T05:29:31Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291688 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Gambar atas kanan:<br> Rapat dinas ini dihadiri oleh Kepala² Djawatan dalam lingkungan Angkatan Darat.<br> Gambar atas kiri:<br> Sesaat, ketika para peserta beristirahat, nampak P.M. Djuanda, Menteri Negara Urusan Stabilisasi Ekonomi Kol Suprajogi dan KSAD Let Djend A.H. Nasution sedang membitjarakan sesuatu hal.''</small> tersebut. Berdasarkan pembitjaraan² dalam rapat itu, maka KSAD Letnan Djenderal A.H. Nasution jang djuga selaku Penguasa Perang Pusat telah mengeluarkan keputusan² sebagai follow-up dari operasi² militer di Sumatera dan Sulawesi. Keputusan² KSAD/Penguasa Perang Pusat itu meliputi: bidang personil; bidang ekonomi, jang antara lain melarang sama sekali barter liar; penertiban c.q. penjalah-gunaan kuasa perang; konsolidasi dalam rangka normalisasi dan Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Dalam bidang personil telah diputuskan, bahwa para petugas sipil maupun militer jang turut dalam pemberontakan dianggap sudah dipetjat. Pegawai² jang turut dalam pemberontakan dan kemudian menggabungkn diri kembali kepada alat² negara RI, akan dikenakan screening untuk diusut lebih landjut besar ketjilnja peranan mereka dalam pemberontakan itu, guna bahan pertimbangan dengan apakah ia dapat diaktifkan kembali atau tidak. Dalam bidang personil militer telah pula dibahas penertiban kembali kedalam para anggauta militer, antara lain dalam menghadapi Undang² Sukarela jang menjangkut hal² disekitar ikatan dinas. Sedang pada bidang perekonomian telah pula diambil keputusan, antara lain bahwa barter liar dilarang sama sekali, sedangkan barter jang berlaku di Atjeh, tengah disalurkan ke barter pemerintah taraf demi taraf dengan djalan melalui Menteri Negara Urusan Stabilisasi Ekonomi. {{Missing image}} <small>''Digambar ini tampak {anglima T&T-I Let Kol Djamin Ginting dan Kmd KDMA Let Kol Sjamaun Gaharu.''</small><noinclude></noinclude> 32ju87uln2rc53me62bm7tzr3o1shna Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/710 104 103580 291689 2026-05-11T05:32:55Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291689 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Tampak dalam gambar KSAD Let. Djenderal A.H. Nasution, Kolonel Siahaan dan Letnan Kolonel R. Pirngadie, sedang sibuk memperbintjangkan sesuatu masaalah.''</small> {{Missing image}} <small>''Gbr. tengah:<br> Antara pengikut dalam rapat dinas tsb. tampak hadir pula peserta dari KMMIB dan KADIT.''</small> {{Missing image}} <small>''Gbr. bawah:<br> Kelihatan dalam gambar ini Panglima T&T-II Sriwidjaja Let Kol Harun Sohar dan Kmd Operasi Tegas Lt Kol Kaharudin Nasution.''</small> Selandjutnja telah pula diputuskan, bahwa para pedjabat militer harus mengachiri gedjala² dalam bentuk memberikan surat² keterangan kepada pedagang untuk melantjarkan kegiatan² sipedagang. Oleh karena itu kepada para pedagang diperingatkan agar supaja segala sesuatu mengenai bidangnja agar disalurkan melalui tata tjara jang sesuai berlaku. Djuga telah diputuskan oleh KSAD, bahwa perlu diadakan penertiban terhadap penjalahgunaan dari Kuasa Perang terhadap hak milik dari masjarakat. Dalam hubungan ini siapa sadja jang merasa dirugikan dapat mengadjukan keberatannja kepada Inspektur Djenderal Pemeriksaan Umum atau Instansi didaerah jang ditundjuk oleh Inspektur Djenderal tersebut. Mengenai Front Nasional Pembebasan Irian Barat (Front Nasional) oleh KSAD/Penguasa Perang Pusat telah di-instruksikan kepada para Penguasa Perang Daerah tentang penjempurnaan badan tsb., ketjuali didaerah-daerah operasi. Dalam bidang operasi telah diputuskan untuk mengintensipkan usaha selandjutnja seperti dalam bidang² konsolidasi territorial pemerintahan, finec dan sosial dalam rangka normalisasi keadaan. Demikian antara lain putusan² jang telah dikeluarkan oleh KSAD/Penguasa Perang Pusat setelah selesainja rapat militer seluruh Indonesia.<noinclude> 52</noinclude> r5pjb0z29body7zcpyb86om0xarc1cg Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/713 104 103581 291691 2026-05-11T05:35:04Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291691 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Untuk memeriksa tawanan² perang umpamanja, para panglima-panglima perang sendiri melakukannja, seperti halnja dizaman Iskandar Zulkarnain, Julius Caesar dan Hannibal. Ini pun adalah beberapa kegiatan intelligence, jg sekarang diartikan dengan interrogasi lawan² perang, guna melengkapi bahan² kebutuhan penentuan siasat dan taktik dari seorang komandan. Demikianlah selajang terbang tentang sedjarah intelligence jang tumbuh dalam tiap kantjah peperangan dari zaman ke zaman. Dari pengalaman² perang dunia ke II telah banjak ditjapai kemadjuannja dalam dunia kemiliteran, demikian djuga dalam lapangan intelligence militer. Dalam uraian tentang pemakaian dari pada intelligence militer ini chusus dibitjarakan tentang combat Intelligence. Pemakaian dari pada intelligence ini didasarkan atas hasil² (pendjelasan²/djawaban²) dari pada proses penjelenggaraannja jang telah diperaktekkan oleh kesatuan² Amerika dalam perang dunia ke II dan pada dewasa ini banjak dipergunakan dasar²nja oleh kalangan² militer lainnja, djuga oleh A.D. kita. Pemakaian atau penggunaan dari pada intelligence dilaksanakan oleh seorang komandan, sesudah intelligence ini melalui taraf-taraf proses penjelenggaraannja, proses mana dalam pengetahuan intelligence dinamakan: Lingkaran Intelligence (Intelligence cycle). Taraf² dari pada lingkaran intelligence itu ialah: 1. Pengumpulan berita². Berita² dikumpulkan oleh perwira intelligence setelah diterima dari sumber² berita jang diperintahkan mengumpulkannja. 2. Pemasakan berita. Berita² jang telah diterima/dikumpulkan, lalu dinilai deradjat kebenaran dan kepentingannja dihubungkan dengan berita² jang terdahulu, dimasak untuk mendjadi intelligence. Djadi baru pada taraf kedua ini dapat ditjapai deradjat intelligence. {{Missing image}} <small>''Pada tanggal 1 Djuli 1958, KSAD Letnan Djenderal A.H. Nasution telah menjerahkan Pandji Divisi Hasannudin kepada Panglima KDMSST Let Kol A. Mattalata. Sesudah selesai upatjara penjerahan Pandji² diadakan devile dilapangan Karebosi Makasar.''</small> {{Missing image}} <small>''Dari tanggal 1 Djuli s/d 8 Djuli 1958 telah dilangsungkan Pekan Olah Raga KDMSST jang dihadiri pula oleh KSAD Letnan Djenderal A.H. Nasution. Tampak dalam gambar ini, Ketua Pekan Olah Raga tsb. Major Samsudin memberi laporan pada saat pmbukaan.''</small><noinclude> 55</noinclude> jyobtgv6pcbku0acr8a0frifks9butq Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/715 104 103582 291693 2026-05-11T05:39:49Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291693 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{center|<big><big>'''Untuk Menghadapi Perang Urat Sjaraf'''</big></big>}} {{center|<big><big>'''Dibzntuk Badan Koordinasi Penerangan'''</big></big>}} <small>''Dengan keputusan Presiden Republik Indonesia tanggal 19 Mei 1958 telah di tetapkan Peraturan Pemerintah tentang Badan Koordinasi Penerangan. Peraturan ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan, bahwa situasi negara kita sekarang dengan sebaik?nja, perlu diadakan koordinasi dan kerdja sama dalam penggunaan dan pengawasan terhadan alat2 penerangan dan saluran? nemberitaan dan penjiaran lainnja setjara lebih effisin diantara semua instansi Pemerintah sipil maupun militer, jang tugasnja meliputi bidang penerangan atau soal? jang berhubungan dengan penerangan.''</small> {{Missing image}} <small>''Nj. Utami Surjadarma selaku Ketwi Pasar Malam Amal Untuk Garis Depan sedang membatjakan kata sambutannja dalam upatjara pembukaan stand A.D. dalam Pasar Malam tsb.''</small> {{Missing image}} <small>''Nj. R. Pirngadie sedang menembakkan seputjuk pistol berwarna, sebagai pembukaan stand A.D. dalam Pasar Malam Amal Untuk Garis Repan. tang Sa sa di lapangan Garder Hall:''</small> Dalam peraturan pemerintah itu disebutkan sebagai berikut. Badan Koordinasi Penerangan mempunjai tugas: Memberikan pertimbangan² kepada pemerintah dalam menetapkan kebidjaksanaan umum pemerintah tentang: Tindakan² dilapangan penerangan menghadapi perang urat sjaraf chususnja dan memperkuat pertahanan negara pada umumnja dan pengerahan dan penggunaan alat² penerangan pemerintah serta koordinasi antara alat² penerangan pemerintah itu untuk menghadapi perang urat sjaraf dan memperkuat pertahanan negara. Menjelenggarakan koordinasi antara kebidjaksanaan dan langkah² pemerintah untuk mendjamin adanja: Persamaan dan kesatuan dalam kebidjaksanaan dan langkah² penerangan dari instansi² pemerintah, penerangan jang teratur dan berentjana, baik jang bersifat offensif maupun defensif, ataupun jang dimaksudkan sebagai penerangan² reaktif, menghadapi perang urat sjaraf; pengerahan dan penggunaan tenaga dan alat² penerangan setjara efektif untuk mentjapai hasil jang sebesar-besarnja dan untuk mendjaga keamanan (security) dari penjiar/pemberitaan; dan observasi dan pengawasan jang seksama terhadap segala gerak gerik lawan dalam perang urat sjaraf dan gedjala² jang timbul dalam masjarakat.<noinclude> 37</noinclude> bcrhyxagi7me1d3gsu2j4zhdd42opsb Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/716 104 103583 291695 2026-05-11T05:42:22Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291695 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>masjarakat sebagai penundjuk² kiranja kemungkinan² dalam bidang keamanan jang dapat membahajakan negara. Badan koordinasi penerangan terdiri dari wakil² dari: Kementerian Penerangan, Kementerian Luar Negeri, Djawatan Penerangan Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, Djawatan Kepolisian Negara, Kedjaksaan Agung, Badan Koordinasi Intelligence dan Instansi² Pemerintah lainnja jang dianggap perlu. Selandjutnja disebutkan dalam peraturan itu, bahwa guna mendjalankan tugas sebagaimana disebutkan di-tiap² daerah tingkat I dan dimana perlu djuga didaerah-daerah tingkat II diadakan Badan Koordinasi Penerangan Daerah, jang tugas, susunan dan organisasinja akan ditetapkan dalam peraturan tersendiri. Untuk dapat mendjalankan tugasnja dengan sebaik-baiknja, Badan koordinasi Penerangan dapat membentuk bagian² atau seksi² jang mempeladjari atau mengerjakan persoalan² khusus tentang observasi dan pengumpulan bahan², penjelidikan dan pengolahan bahan² jang telah terkumpul dan penjimpulan dan penggunaan dari segala hasil penjelidikan dan pengolahan tersebut tadi. Usaha² pengumpulan bahan² dan penjelenggaraan hasil² dari bahan² tersebut tetap disalurkan melalui instansi² jang bertugas dalam bidang² jang bersangkutan. Selain dengan instansi² jang wakil²nja duduk dalam Badan Koordinasi Penerangan, badan ini dalam menjelenggarakan usahanja berhubungan erat dengan Badan Koordinasi Telekomunikasi dan Badan Koordinasi Intelligence. Program Badan Koordinasi Penerangan meliputi diantaranya usaha²: Anti propaganda dan pereng urat sjaraf baik setjara de- {{Missing image}} <small>''Tampak kesibukan dalam Stand Angkatan Darat, jang mendapat perhatian istimewa dari masjarkat.''</small> {{Missing image}} <small>''Kapt. K. Soewarno diri Penad Pusat selaku Ketua Penjelenggara Pameran Angkatan Darat sedang sibuk melatani para pengundjungy Stand tsb.''</small><noinclude> 58</noinclude> qd5zvhlz3japllh5uqnmf8up7xz5rl0 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/263 104 103584 291696 2026-05-11T05:42:39Z Sarieffe 26994 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'ris itu malamnja diberi leluasa untuk beristirahat, dengan per- timbangan djika nanti Von Let- tw itu menjerang akan meng- hadapi pasukan? Inggeris jang masih segar. Tetapi Von Lettow sendiri se- bagai pedjuang gerilja jang ba- njak pengalamannja hanja terse- njum sadja terhadap taktik jang kekanak-kanakan itu. ,,Nanti malam", katanja kepada anak buahnja, ,,kita sekalian mendjadi pohon”. Benarlah mereka mendjelma mendjadi pohon... 291696 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Sarieffe" /></noinclude>ris itu malamnja diberi leluasa untuk beristirahat, dengan per- timbangan djika nanti Von Let- tw itu menjerang akan meng- hadapi pasukan? Inggeris jang masih segar. Tetapi Von Lettow sendiri se- bagai pedjuang gerilja jang ba- njak pengalamannja hanja terse- njum sadja terhadap taktik jang kekanak-kanakan itu. ,,Nanti malam", katanja kepada anak buahnja, ,,kita sekalian mendjadi pohon”. Benarlah mereka mendjelma mendjadi pohon. Para askari sa- ngat sibuk dan tengah malam hi- gap Von Lettow dengan penda- dakan, mereka hanja mendapat- kan para pendjaga? pos itu de- ngan muka ketakutan jang ha- nja mentjeriterakan tentang pe- ngalaman?-nja semalam itu, ten- tang adanja pohon? jang berge- rak dan berdjalan entah berapa banjaknja dan tentang pohon jg dapat memukul mereka itu. Sesaat kemudian muntjullah seorang askari jang menjamar sebagai pohon jang menjampai- kan pesan Von Lettow kepada Smuts, jang isinja bahwa Von Lettow mengutjapkan banjak te- Camouflage jang sebaik?nja adalah benar? sesuai dengan keadaan alam sekelilingnja, sehingga tidak pajah mengenalnja. langlah mereka itu. Sebagai gantinja berdirilah pohon? jang tingginja tidak lebih dari dua me- ter setengah. Dan pohon? itu ber- gerak-gerak. Pada djam 2 malam pohon? itu berdjalan. Dengan hati-hati dan tenang mereka mendekati perkemahan Inggeris. Hanja daun-daunnja jang gemerisik. Sebidang hutan selebar 3 km bergerak dalam melewati tanah INE seewneeinnakana # khai Pada waktu orang? Inggeris pagi hari ber-siap? untuk menjer- bu kedjurusan Barat dan menjer- rima kasih kepada Djenderal Smuts, bahwa ia dengan selamat diberi kesempatan melintasi dae- rah jang dikepung itu. Tidak hanja itu lelutjon Von Lettow. Pada suatu hari ia ki- rimkan 3 orang pendjual kelon- tong keperkemahan Inggeris. Pada saat itu terdapat kesempa- tan baik, jaitu pada waktu se- orang sedang tawar-menawar dengan pekerdja2 dapur, jang dua lainnja menjusup masuk da- pur dan memasukkan obat perut kedalam bubur jang sedang di- masak itu. Bubur telah dihidangkan dan selama dua tiga hari kemudian tdak mampulah pasukan? Ingge- ris berbuat sesuatu terhadap Von Lettow jang selalu tersenjum itu karena sakit perut. Tiga puluh djam kemudian Von Lettow berkirim surat ke- pada Smuts, disertai resep anti- obat sakit perut itu, jang dengan segera dikerdjakan oleh Djende- ral Smuts. 'Ternjata resep itu mandjur sekali. penghargaan ,,Salib Dalam bulan April 1918. sete- lah Von Lettow beserta bebera- pa gelintir teman-temannja bisa bertahan selama 4 tahun terha- cap kekuatan tentara Inggeris jg berpuluh-puluh lipatnia itu, se- «kan menganggapnja permainan belaka, dapatlah Smuts menang- kap surat jang ditudjukan kepa- da Djenderal Djerman itu. Su- rat itu memuat pesan pribadi Kai- sar Wilhelm kepada Von Leitow, jang isinja menjampaikan peng- hargaan kepadanja dan disam- ping itu mengirimkan tanda peng- hargaan ,,salib besi”. Smuts menutup kembali surat itu dan memerintahkan seorang letnan-nja supaja menjampaikan sendiri surat itu kepada pribadi Djenderal Von Lettow. Von Lettow menerima utusan terse- but dengan ramah tamah dan me- ngirimnja kembali kegaris perta- hanan Inggeris dengan selamat. Pada waktu itu Von Lettow bergerak kearah Selatan dan pasukan? Inggeris memburunja dari belakang. Hampir Von Let- tow tak dapat bertahan lagi. Te- tapi pada saat melintasi daerah terbuka didjumpai sarang laba? jang banjak djumlahnja dikebun jang dekat dari situ. Dari tem- pat jang sentral diperintahkannja memasang tali mesiw kesegala pendjuru. Kemudian ia diperin- tahkan pasukan?-nja meneruskan perdjalanannja. Sedang dia sen- diri bersama Kolonel Gour Schnee tinggal disitu untuk men- djaga tali mesiu tersebut. Pada S1<noinclude></noinclude> esz6xk84nx30ioglgcgqoy9l70vf580 291833 291696 2026-05-11T07:29:24Z Sarieffe 26994 /* Telah diuji baca */ 291833 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude>{{hwe|ris|Inggeris}} itu malamnja diberi leluasa untuk beristirahat, dengan pertimbangan djika nanti Von Lettow itu menjerang akan menghadapi pasukan² Inggeris jang masih segar. Tetapi Von Lettow sendiri sebagai pedjuang gerilja jang banjak pengalamannja hanja tersenjum sadja terhadap taktik jang kekanak-kanakan itu. „Nanti malam”, katanja kepada anak buahnja, ,,kita sekalian mendjadi pohon”. Benarlah mereka mendjelma mendjadi pohon. Para askari sangat sibuk dan tengah malam hilanglah mereka itu. Sebagai gantinja berdirilah pohon² jang tingginja tidak lebih dari dua meter setengah. Dan pohon² itu bergerak-gerak. [[File:Madjalah Angkatan Darat (page 263 crop).jpg|500px|kiri|jmpl|''Camouflage jang sebaik²nja adalah benar? sesuai dengan keadaan alam sekelilingnja, sehingga tidak pajah mengenalnja''.]] Pada djam 2 malam pohon² itu berdjalan. Dengan hati-hati dan tenang mereka mendekati perkemahan Inggeris. Hanja daun-daunnja jang gemerisik. Sebidang hutan selebar 3 km bergerak dalam melewati tanah itu............. Pada waktu orang² Inggeris pagi hari ber-siap² untuk menjerbu kedjurusan Barat dan menjergap Von Lettow dengan pendadakan, mereka hanja mendapatkan para pendjaga² pos itu dengan muka ketakutan jang hanja mentjeriterakan tentang pengalaman²-nja semalam itu, tentang adanja pohon² jang bergerak dan berdjalan entah berapa banjaknja dan tentang pohon jg dapat memukul mereka itu. Sesaat kemudian muntjullah seorang askari jang menjamar sebagai pohon jang menjampaikan pesan Von Lettow kepada Smuts, jang isinja bahwa Von Lettow mengutjapkan banjak terima kasih kepada Djenderal Smuts, bahwa ia dengan selamat diberi kesempatan melintasi daerah jang dikepung itu. Tidak hanja itu lelutjon Von Lettow. Pada suatu hari ia kirimkan 3 orang pendjual kelontong keperkemahan Inggeris. Pada saat itu terdapat kesempatan baik, jaitu pada waktu seorang sedang tawar-menawar dengan pekerdja² dapur, jang dua lainnja menjusup masuk dapur dan memasukkan obat perut kedalam bubur jang sedang dimasak itu. Bubur telah dihidangkan dan selama dua tiga hari kemudian tdak mampulah pasukan² Inggeris berbuat sesuatu terhadap Von Lettow jang selalu tersenjum itu karena sakit perut. Tiga puluh djam kemudian Von Lettow berkirim surat kepada Smuts, disertai resep antiobat sakit perut itu, jang dengan segera dikerdjakan oleh Djenderal Smuts. Ternjata resep itu mandjur sekali. '''Tanda penghargaan „Salib Besi” :''' Dalam bulan April 1918. setelah Von Lettow beserta beberapa gelintir teman-temannja bisa bertahan selama 4 tahun terhadap kekuatan tentara Inggeris jg berpuluh-puluh lipatnja itu, se«kan menganggapnja permainan belaka, dapatlah Smuts menangkap surat jang ditudjukan kepada Djenderal Djerman itu. Surat itu memuat pesan pribadi Kaisar Wilhelm kepada Von Lettow, jang isinja menjampaikan penghargaan kepadanja dan disamping itu mengirimkan tanda penghargaan „salib besi”. Smuts menutup kembali surat itu dan memerintahkan seorang letnan-nja supaja menjampaikan sendiri surat itu kepada pribadi Djenderal Von Lettow. Von Lettow menerima utusan tersebut dengan ramah tamah dan mengirimnja kembali kegaris pertahanan Inggeris dengan selamat. Pada waktu itu Von Lettow bergerak kearah Selatan dan pasukan² Inggeris memburunja dari belakang. Hampir Von Lettow tak dapat bertahan lagi. Tetapi pada saat melintasi daerah terbuka didjumpai sarang laba² jang banjak djumlahnja dikebun jang dekat dari situ. Dari tempat jang sentral diperintahkannja memasang tali mesiu kesegala pendjuru. Kemudian ia diperintahkan pasukan²-nja meneruskan perdjalanannja. Sedang dia sendiri bersama Kolonel Gour Schnee tinggal disitu untuk mendjaga tali mesiu tersebut. Pada<noinclude>{{rh|||41}}</noinclude> kbr64ith3319u5wajo42fj49voy7j5n Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/717 104 103585 291699 2026-05-11T05:45:15Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291699 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''K. Panait Let Kol Firngadie tengah memberi penjelasan kepada para Wartawan.''</small> {{Missing image}} <small>''Tidak ketinggalan CPM pun memamerkan alatnya yang modern antara lain: Daktiloskopi.''</small> {{Missing image}} <small>''Djuga dari DPLAD telah memamerkan ber-matjam² sendjata ringan dan setengah berat terdapat pula Bazoka.''</small> fensif maupun offensif sesuai dengan garis kebidjaksanaan Dewan Pertahanan atau Dewan Keamanan. Penerangan untuk membangkitkan rasa kebanggaan dan persatuan, kesadaran tentang keadaan negara, kejakinan tentang kebenaran perdjuangan kita, kepertjajaan atas kekuatan nasional dan memperhebat kewaspadaan nasional dalam segala lapisan masjarakat. Penjiaran dan penerbitan setjara tepat dan kontinu, baik kedalam maupun keluar negeri dan mengikut sertakan wakil² pers nasional didalam maupun diluar negeri. Mempertinggi frekwensi pengeluaran pressrelease setjara periodik, memberi bahan² penerangan kepada pers dalam dan luar negeri dengan mengadakan pers interview setjara periodik memperbanjak siaran pemerintah mengenai perkembangan keadaan dan lain sebagainja. Menjempurnakan monitoring siaran radio dalam dan luar negeri guna kesempurnaan observasi dan pengumpulan bahan² penerangan, dan pengawasan terhadap bentjana² jang berasal dari luar negeri seperti surat kabar, madjalah, buku, brochure dan lain sebagainja, menjempurnakan sensur terhadap film, chusus berasal dari luar terhadap pusat² pos, kawat², pembitjaraan² melalui telipon atau radio telifoni. Selain usaha² tersebut perlu djuga diadakan pengawasan terhadap alat² perekaman suara (tape dan tape-recorder) jang dapat dipakai sebagai alat perang urat sjaraf lawan. Segala perongkosan untuk Badan Koordinasi Penerangan dipusat dan didaerah, termasuk dalam peraturan ini, dibebankan pada anggaran belandja Kementerian Penerangan. Demikian isi Peraturan Pemerintah tentang Badan Koordinasi Penerangan, peraturan mana mulai berlaku pada hari ditetapkan, jaitu tanggal 19 Mei 1918.<noinclude> 59</noinclude> 52bkc173e67gmttjuj62luueldiuvpw Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/260 104 103586 291700 2026-05-11T05:46:54Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291700 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>{{c|'''PEMERIKSAAN OLEH DJAWATAN KOPERASI TERHADAP KOPERASI-KOPERASI SELURUH DJAWA-TIMUR SELAMA TAHUN 1952:'''}} {|class="wikitable" width="100%" |- !No. !Kabupaten !Triwulan I !Triwulan II !Triwulan III !Triwulan IV !Tahun 1952 |- |1.||Surabaja||—||6||2||7||15 |- |2.||Sidoardjo||—||—||—||—||— |- |3.||Djombang||—||1||3||8||12 |- |4.||Modjokerto||7||12||2||21||42 |- |5.||{{sp|Malang}}||3||7||17||25||42 |- |6.||Pasuruan||—||—||6||19||25 |- |7.||Probolinggo||—||—||2||—||2 |- |8.||Lumadjang||27||15||7||22||71 |- |9.||Djember||—||—||8||9||17 |- |10.||Bondowoso||—||—||—||—||— |- |11.||Panarukan||1||—||2||—||3 |- |12.||Banjuwangi||4||1||—||12||17 |- |13.||{{sp|Kediri}}||—||1||1||5||7 |- |14.||Ngandjuk||—||—||1||5||6 |- |15.||Tulungagung||—||—||8||9||17 |- |16.||Trenggalek||1||3||9||8||21 |- |17.||{{sp|Blitar}}||6||3||15||15||39 |- |18.||{{sp|Madiun}}||5||41||3||11||33 |- |19.||Ponorogo||—||6||7||10||23 |- |20.||{{sp|Ngawi}}||—||—||—||1||1 |- |21.||{{sp|Magetan}}||2||—||3||1||1 |- |22.||Patjitan||—||12||5||17||34 |- |23.||Bodjonegoro||—||—||6||6||12 |- |24.||{{sp|Tuban}}||2||—||8||3||13 |- |25.||Lamongan||—||—||5||1||6 |- |26.||Pamekasan||—||—||—||—||— |- |27.||Sumenep||—||1||—||4||5 |- |28.||Bangkalan||—||—||—||3||2 |- |29.||Sampang||—||—||—||2||2 |- |colspan=2|Djumlah||58||72||130||224||484 |}<noinclude>{{rvh|228}}</noinclude> d4v1nlu0rrmkwjtn9ir2wgsid0cnfh7 291832 291700 2026-05-11T07:28:58Z F4hroro 26348 /* Tervalidasi */ 291832 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="F4hroro" /></noinclude>{{c|'''PEMERIKSAAN OLEH DJAWATAN KOPERASI TERHADAP KOPERASI-KOPERASI SELURUH DJAWA-TIMUR SELAMA TAHUN 1952:'''}} {|class="wikitable" width="100%" |- !No. !Kabupaten !Triwulan I !Triwulan II !Triwulan III !Triwulan IV !Tahun 1952 |- |1.||Surabaja||—||6||2||7||15 |- |2.||Sidoardjo||—||—||—||—||— |- |3.||Djombang||—||1||3||8||12 |- |4.||Modjokerto||7||12||2||21||42 |- |5.||{{sp|Malang}}||3||7||17||25||42 |- |6.||Pasuruan||—||—||6||19||25 |- |7.||Probolinggo||—||—||2||—||2 |- |8.||Lumadjang||27||15||7||22||71 |- |9.||Djember||—||—||8||9||17 |- |10.||Bondowoso||—||—||—||—||— |- |11.||Panarukan||1||—||2||—||3 |- |12.||Banjuwangi||4||1||—||12||17 |- |13.||{{sp|Kediri}}||—||1||1||5||7 |- |14.||Ngandjuk||—||—||1||5||6 |- |15.||Tulungagung||—||—||8||9||17 |- |16.||Trenggalek||1||3||9||8||21 |- |17.||{{sp|Blitar}}||6||3||15||15||39 |- |18.||{{sp|Madiun}}||5||41||3||11||33 |- |19.||Ponorogo||—||6||7||10||23 |- |20.||{{sp|Ngawi}}||—||—||—||1||1 |- |21.||{{sp|Magetan}}||2||—||3||1||1 |- |22.||Patjitan||—||12||5||17||34 |- |23.||Bodjonegoro||—||—||6||6||12 |- |24.||{{sp|Tuban}}||2||—||8||3||13 |- |25.||Lamongan||—||—||5||1||6 |- |26.||Pamekasan||—||—||—||—||— |- |27.||Sumenep||—||1||—||4||5 |- |28.||Bangkalan||—||—||—||3||2 |- |29.||Sampang||—||—||—||2||2 |- |colspan=2|Djumlah||58||72||130||224||484 |}<noinclude>{{rh|228}}</noinclude> ieadt08lr7mkl9822522rvew2ebhx3n Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/165 104 103587 291703 2026-05-11T05:48:56Z Upiak Ituih 27011 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '37 koran-koran. Bahasa ini jang kemudian tumbuh mendjadi bahasa Indonesia jang diangkat mandjadi bahasa Nasional pada tahun 1928. Pertjikan Permenungan Bebasari dan Pertjikan Permenungan, menurut Roestam semata-mata hanja hasil pertjobaan sadja. onurut pengakuannja, sadjak-sadjak dalam Pertiik- an Permenungan, timbul pada waktu Roestan beraenung-menung, tatkala munga- lami masa remadjanja ajatuh tjinta pada seorang gadis Djawa. Bebasari dan Pert... 291703 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" /></noinclude>37 koran-koran. Bahasa ini jang kemudian tumbuh mendjadi bahasa Indonesia jang diangkat mandjadi bahasa Nasional pada tahun 1928. Pertjikan Permenungan Bebasari dan Pertjikan Permenungan, menurut Roestam semata-mata hanja hasil pertjobaan sadja. onurut pengakuannja, sadjak-sadjak dalam Pertiik- an Permenungan, timbul pada waktu Roestan beraenung-menung, tatkala munga- lami masa remadjanja ajatuh tjinta pada seorang gadis Djawa. Bebasari dan Pertjikan Permenungan dikatakan dua sedjoli, maksuduja keduanja cerupakan kesatuan jang tak dapat dipisahkan. Djika orang membatja Bebasari harus pula ia membatja Pertjikan Permenungan. Tentang waktu (tahua) jang disebut oleh Jassin sebagai tahun terbit Bebasari ialah tahun 1926 sedang Teeuw tahun 1924. Keduanja benar kata. Roestam. Jassin telan zengaabil waktu terbitnja, sedang Teeuw mengambil waktu ditulisnja aastah jang dibeslah dan disimpan di Leiden. Bebasari ditulis dalam waktu satu minggu pada tahun 1924. Kemudian naskahaja di- beslah dan pada tahun 1926 baru diterbitkan. Pada waktu naskah Bebasari dibuslah, Roastam menulis endjak-sadjak jang kemudian dikumpulkan dalam Pertjikan Permenungan. Kumpulan ini lebih dahulu terbit daripada Bebasari, tetapi kedua-duanja terbit dalam tahun 1926. Dari karjanja jang hanja 2 buah ini, Roestam mendjadi penting dalam sedjarah kesusastraan Indonesia. Ia terkenal sebagai penjair jang membuat eksemplar-eksemplar dengan lagu, bunji dan metafra, dan kekuatannja dalam aliterasi. Dinegeri Belanda ia purnah menulis tjerpen dalam bahasa Belanda, teta- pi dengan nama orang lain. Roestam hanja diperalat dan ia harus menerima kenjataan ini, karena ia terpaksa oleh kekurangan wang. Disamping itu ia djuga menulis sebuah buku jang berdjudul Quo Vadis, tetapi isinja menge- nai politik. Dinegeri Belanda ia tidak dapat melandjutkan kariernja seba- zai sastrawan Indonesia karena tidak ada madjalah-madjalah jang berbahasa. Indonesia. Usahanja mengirimkan tulisan-tulisan dalam bahasa Indonesia ke Indonesia gagal, karena semua jang dikirimkannja ditahan oleh sensor pemerintah Hindia Belanda. Teman seangkatan Roestam ketika masih berada di Indonesia adalah Moh. Jamin dan Sanusi Pane. Mereka ini bersatu dalam usaha mereka non- tjoba mengalahkan bahasa landa dengan memadjukan Bahasa Indonesia. - reka tergabung dalam Dionaren Van Indie (Pengabdi Hindia). Tetapi pandang- an mereka dalam kesusastraan burlain-lainan. Roestam berorientasi ke Ba- rat, Sanusia Pane ke India dan Moh. Jamin ke Indonesia sendiri. Demikianlah tjeramah ini mendapat perhatian jang tjukup besar dari mahasiswa Fakultas Sastra U.I., I.K.I.P. dan peminat lainnja. Terhadap pertanjaan-pertanjaan jang diadjukan, Rustam mendjawab dengan bersemangat. Digitized by Google<noinclude></noinclude> p7hkrffyxqyvkcttvbhgeoj7rdkg3iz 291743 291703 2026-05-11T06:14:01Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291743 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||37}}</noinclude>koran-koran. Bahasa ini jang kemudian tumbuh mendjadi bahasa Indonesia jang diangkat mandjadi bahasa Nasional pada tahun 1928. {{u|Pertjikan Permenungan}} {{u}Bebasari dan {{u|Pertjikan Permenungan}}, menurut Roestam semata-mata hanja hasil pertjobaan sadja. menurut pengakuannja, sadjak-sadjak dalam {{u|Pertjikan Permenungan}}, timbul pada waktu Roestam bermenung-menung, tatkala mengalami masa remadjanja djatuh tjinta pada seorang gadis Djawa. {{u|Bebasari}} dan {{u|Pertjikan Permenungan}} dikatakan dua sedjoli, maksuduja keduanja merupakan kesatuan jang tak dapat dipisahkan. Djika orang membatja Bebasari harus pula ia membatja Pertjikan Permenungan. Tentang waktu (tahun) jang disebut oleh Jassin sebagai tahun terbit Bebasari ialah tahun 1926 sedang Teeuw tahun 1924. Keduanja benar kata Roestam. Jassin telah mengambil waktu terbitnja, sedang Teeuw mengambil waktu ditulisnja naskah jang dibeslah dan disimpan di Leiden. Bebasari ditulis dalam waktu satu minggu pada tahun 1924. Kemudian naskahnja dibeslah dan pada tahun 1926 baru diterbitkan. Pada waktu naskah {{u|Bebasari}} dibeslah, Roestam menulis sandjak-sadjak jang kemudian dikumpulkan dalam {{u|Pertjikan Permenungan}}. Kumpulan ini lebih dahulu terbit daripada Bebasari, tetapi kedua-duanja terbit dalam tahun 1926. Dari karjanja jang hanja 2 buah ini, Roestam mendjadi penting dalam sedjarah kesusastraan Indonesia. Ia terkenal sebagai penjair jang membuat eksemplar-eksemplar dengan lagu, bunji dan metafra, dan kekuatannja dalam aliterasi. Dinegeri Belanda ia pernah menulis tjerpen dalam bahasa Belanda, tetapi dengan nama orang lain. Roestam hanja diperalat dan ia harus menerima kenjataan ini, karena ia terpaksa oleh kekurangan uang. Disamping itu ia djuga menulis sebuah buku jang berdjudul {{u|Quo Vadis}}, tetapi isinja mengenai politik. Dinegeri Belanda ia tidak dapat melandjutkan kariernja sebagai sastrawan Indonesia karena tidak ada madjalah-madjalah jang berbahasa Indonesia. Usahanja mengirimkan tulisan-tulisan dalam bahasa Indonesia ke Indonesia gagal, karena semua jang dikirimkannja ditahan oleh sensor pemerintah Hindia Belanda. Teman seangkatan Roestam ketika masih berada di Indonesia adalah Moh. Jamin dan Sanusi Pane. Mereka ini bersatu dalam usaha mereka mentjoba mengalahkan bahasa Belanda dengan memadjukan Bahasa Indonesia. Mereka tergabung dalam Dionaren Van Indie (Pengabdi Hindia). Tetapi pandangan mereka dalam kesusastraan berlain-lainan. Roestam berorientasi ke Barat, Sanusia Pane ke India dan Moh. Jamin ke Indonesia sendiri. Demikianlah tjeramah ini mendapat perhatian jang tjukup besar dari mahasiswa Fakultas Sastra U.I., I.K.I.P. dan peminat lainnja. Terhadap pertanjaan-pertanjaan jang diadjukan, Rustam mendjawab dengan bersemangat.<noinclude></noinclude> no6onkgiarc7d0h36tas9f5bzcb1wmc Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/193 104 103588 291704 2026-05-11T05:48:56Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '15 ' Sudah pasti kecaman bodullah yang tajam terhadap masyarakat Melayu dalam berbagai aspek dianggap terlalu keras dan keterlaluan oleh sete- ngah orang namun apa yung uicetuskan Abdullah adalah satu kenyataan. Kelantangan Abdullah menyuarakan rasahatinya tidak menimbulkan satu te- Kanan saikolojis apa pun karena beliau bukan orang Helayu 1006. Dalgm jasadnya men,alir darah Keling/Arab. Lebih-lebih lagi Abdullah dilahir dan dibesarkan d... 291704 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>15 ' Sudah pasti kecaman bodullah yang tajam terhadap masyarakat Melayu dalam berbagai aspek dianggap terlalu keras dan keterlaluan oleh sete- ngah orang namun apa yung uicetuskan Abdullah adalah satu kenyataan. Kelantangan Abdullah menyuarakan rasahatinya tidak menimbulkan satu te- Kanan saikolojis apa pun karena beliau bukan orang Helayu 1006. Dalgm jasadnya men,alir darah Keling/Arab. Lebih-lebih lagi Abdullah dilahir dan dibesarkan di Malaka dimana lalaka pada waktu itu di Kuasai oleh Penjajah Inggeris.. Dengan demikian belian menghirup udara demokrasi yang labih leluasa dari rakyat yang dibawah kuasa raja-raja Hlelayu yang oto- kratik, Hilai-nilai kebudayaan Eropah yang mementingkan pengetahuanbersi- pat individualistik serta unuang-unuang yang lebih liberal untuk rakyat kolonialnya jixa dibandingkan dengan undang-undang dibawah Kerajaan Helayu feodal besar sekali pengarohnya dalam jiwa Abdullah dan ciptaan beliau. Benar seperti kata Prof. Teew dalam kata pengantar Hikayat 4bdul- lah" yang dibuatnya bahwa Aodullah hidup oleh karena ada Inggeris" Be- Bitulah leoih kurang bunyinya. sanan Ablullah membawa masuk nilai kebudayaan Eropan yang lob,n maju ditanah jajahan Inggeris seperti P. Pineng, ilalaka dan. lepas itu Singa- pura. Bersama dengan penjajahan Inggeris/Belanda datang pula alat-alat moden sepe.f.i percetakan (lithograph)dan kapal api. Masyarakat Melayu cuma mengenali pengajian agama Islam yang sempit disurau-surau dan Seko- lah Melayu masih belum di tunouhkan lagi hingga 1tevs Keasbury seorang mubaligsh kristian membuka sekolah untuk anak-anak pembesar ilelayu di Singapura sokitar pertingahan abau ke 19. Dineseri-negeri ilelayu pada zamannya tidak terdapat langsung sebuah sekolah Melayu pun. Pengarang yang suzaman dengan Abuullah Hlunci, yaitu Raja ali Baji masih membanggekan kaum feudal seperti yang terdapat dalam Salsilah Raja- Raja Helayu dan Bugis. Kurangnya hasil sastera ilelayu yang dicipta oleh pengarang-pengarang di masa itu disebabkan pusat kebudayaan Melayu masih berlengkar di istana raja-raja dan buku-buku yang dihasilkan adalah di- tulis tangan. Justru itu penyebarannya untuk bacaan rakyat tidak bisa. dilakukan. Ini berbszda dengan karya-karya Abdullah Hunci yang diterbit- kan. Satu faktor lagi mengapa hasil sastera dari pengarang-pengarang golongan rakyat biasa tidak timvul dalam negeri Iclayu yang feoyalistis ialah kongkongan undang-unuang yang lebih banyak menyembelah rakyat,yang cuma menggugat kuasa .feodal, Tambah lagi masyarakat Malayu dewasa itu menjadi beku oleh karena dikongkong oleh adat yang lapok, kurang penge- tahuan uan pelajaran, dan pengajaran agama Islam yang ortodok,<noinclude></noinclude> azsyibnqsayg5o31zw3n1apyiechhl4 291769 291704 2026-05-11T06:28:42Z Humilis Kumulus 26996 /* Telah diuji baca */ 291769 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||15|}}</noinclude>Sudah pasti kecaman Abdullah yang tajam terhadap masyarakat Melayu dalam berbagai aspek dianggap terlalu keras dan keterlaluan oleh setengah orang namun apa yang dicetuskan Abdullah adalah satu kenyataan. Kelantangan Abdullah menyuarakan rasahatinya tidak menimbulkan satu tekanan saikolojis apa pun karena beliau bukan orang Melayu 1006. Dalam jasadnya mengalir darah Keling/Arab. Lebih-lebih lagi Abdullah dilahir dan dibesarkan di Malaka dimana Malaka pada waktu itu di Kuasai oleh Penjajah Inggeris. Dengan demikian beliau menghirup udara demokrasi yang lebih leluasa dari rakyat yang dibawah kuasa raja-raja Melayu yang otokratik, Nilai-nilai kebudayaan Eropah yang mementingkan pengetahuanbersipat individualistik serta undang-undang yang lebih liberal untuk rakyat kolonialnya jika dibandingkan dengan undang-undang dibawah Kerajaan Melayu feodal besar sekali pengarohnya dalam jiwa Abdullah dan ciptaan beliau. Benar seperti kata Prof. Teew dalam kata pengantar <u>Hikayat Abdullah</u>" yang dibuatnya bahwa Abdullah hidup oleh karena ada Inggeris" Begitulah lebih kurang bunyinya. Zaman Abdullah membawa masuk nilai kebudayaan Eropah yang lebih maju ditanah jajahan Inggeris seperti P. Pinang, Malaka dan lepas itu Singapura. Bersama dengan penjajahan Inggeris/Belanda datang pula alat-alat moden seperti percetakan (lithograph)dan kapal api. Masyarakat Melayu cuma mengenali pengajian agama Islam yang sempit disurau-surau dan Sekolah Melayu masih belum di tumbuhkan lagi hingga Rev. Keasbury seorang mubaligh kristian membuka sekolah untuk anak-anak pembesar Melayu di Singapura sekitar pertengahan abad ke 19. Dinegeri-negeri Melayu pada zamannya tidak terdapat langsung sebuah sekolah Melayu pun. Pengarang yang sezaman dengan Abdullah Hunci, yaitu Raja Ali Baji masih membanggakan kaum feodal seperti yang terdapat dalam <u>Salsilah Raja-Raja Melayu dan Bugis</u>. Kurangnya hasil sastera Melayu yang dicipta oleh pengarang-pengarang di masa itu disebabkan pusat kebudayaan Melayu masih berlengkar di istana raja-raja dan buku-buku yang dihasilkan adalah ditulis tangan. Justru itu penyebarannya untuk bacaan rakyat tidak bisa dilakukan. Ini berbeda dengan karya-karya Abdullah Hunci yang diterbitkan. Satu faktor lagi mengapa hasil sastera dari pengarang-pengarang golongan rakyat biasa tidak timbul dalam negeri Melayu yang feodalistis ialah kongkongan undang-undang yang lebih banyak menyembelah rakyat,yang cuma menggugat kuasa feodal. Tambah lagi masyarakat Melayu dewasa itu menjadi beku oleh karena dikongkong oleh adat yang lapok, kurang pengetahuan dan pelajaran, dan pengajaran agama Islam yang ortodok.<noinclude></noinclude> jd61gkysx0fluldjqmtfjugt6ud2guq Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/718 104 103589 291705 2026-05-11T05:49:14Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291705 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{center|<big>'''DI KAKI MERAPI''</big>'}} {{Missing image}} Achirnja Darto jang menderita. Segala usaha kami untuk menginsjafkannja pada hematku sia-sia sadja. Dalam soal itu ia tak bisa ditjampuri orang lain, sahabat-sahabatnja sekalipun. Ia tetap membisu dengan angan-angannja sendiri dan selalu menjendiri. Kasihan dia, tapi kami tidak bisa apa-apa lagi. Kami hanja seregu pasukan peladjar, meskipun tidaklah mudah mentjeritakannja. Sungguh menjedihkan, tapi aku pertjaja, bahwa siapa sadja jang bersangkutan djuga, pasti akan memaafkan perbuatan itu. Kami hanja seregu pasukan peladjar, terdiri dari tudjuh orang jang dibentuk oleh komandan sendiri, diambil dari seksi-seksi. Bukannja dipilih maksudku, tapi diminta dengan sukarela. Tadinja kami heran kenapa jang dibutuhkan hanja tjukup tudjuh orang Tapi setelah didjelaskan teranglah semuanja. Tugas kami memang tugas luar biasa jang membutuhkan ketelitian serta urat sjaraf jang kuat. Berani sadja tidak tjukup. Heran djuga aku, Ratman bisa diterima, karena tugas itu kukira tidak sesuai dengan sifatnja jang mudah gugup. Kesalahan sedikit karena gugup bisa mengakibatkan kematian jang mengerikan. Seminggu lamanja kami dilatih oleh dua anggota tentara dari bagian Genie. Jang dipeladjari selama itu membuat bomtarik dari peluru-peluru howitser. Teoretis memang sangat sederhana, tapi tidaklah demikian mengerdjakannja. Kalau latihan membuat dengan detonator² jang sudah rusak tidak perlu ditakutkan. Tjaranja begini: pada udjung detonator kira-kira satu senti lebih sedikit sebelum tutup slagpin, dibor. Ini tentu sadja harus diukur dengan teliti, dengan perhitungan jang tepat. Kemudian dimasukan gandjel sebagai penahan slagpin. Lalu dipasang pegas diantara slagpin dan penutup. Djika tak ada pegas, ban dalam sepeda baik djuga dipergunakan tapi dibalutkan dibagian luar detonator. Untuk gandjel slagpin paling baik djari-djari sepeda, kuat dan kebetulan ukurannja tepat. Achirnja gandjel itu disambung dengan kawat jang pandjangnja menurut kebutuhan. Nah, djadilah bomtarik buatan sendiri : Djika kawat itu ditarik, gandjel lepas dan slagpin jang mendapat desakan dari pegas memukul isi detonator. Maka meledaklah peluru howitser itu seperti djuga kalau ditembakkan. Pernah terdjadi ketjelakaan. Tapi sangat mengherankan, Tomo jang mendapat ketjelakaan, kukira tidak ada semeter dari peluru jang meledak, masih hidup. Hanja dua djari tangan kirinja jang rantas. Dan Tomo tak pernah mengakui sebab jang sebenarnja kenapa peluru itu sampai meledak. Kami selalu me-ngira²kan sadja. Tugas kami jang pertama berhasil baik. Pagi² pada suatu hari diawal tahun 1949 empat peluru<noinclude> 60</noinclude> ldzdu80l850vrspwa525ibky714f220 291706 291705 2026-05-11T05:49:33Z Link PB 26772 291706 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{center|<big>'''DI KAKI MERAPI'''</big>}} {{Missing image}} Achirnja Darto jang menderita. Segala usaha kami untuk menginsjafkannja pada hematku sia-sia sadja. Dalam soal itu ia tak bisa ditjampuri orang lain, sahabat-sahabatnja sekalipun. Ia tetap membisu dengan angan-angannja sendiri dan selalu menjendiri. Kasihan dia, tapi kami tidak bisa apa-apa lagi. Kami hanja seregu pasukan peladjar, meskipun tidaklah mudah mentjeritakannja. Sungguh menjedihkan, tapi aku pertjaja, bahwa siapa sadja jang bersangkutan djuga, pasti akan memaafkan perbuatan itu. Kami hanja seregu pasukan peladjar, terdiri dari tudjuh orang jang dibentuk oleh komandan sendiri, diambil dari seksi-seksi. Bukannja dipilih maksudku, tapi diminta dengan sukarela. Tadinja kami heran kenapa jang dibutuhkan hanja tjukup tudjuh orang Tapi setelah didjelaskan teranglah semuanja. Tugas kami memang tugas luar biasa jang membutuhkan ketelitian serta urat sjaraf jang kuat. Berani sadja tidak tjukup. Heran djuga aku, Ratman bisa diterima, karena tugas itu kukira tidak sesuai dengan sifatnja jang mudah gugup. Kesalahan sedikit karena gugup bisa mengakibatkan kematian jang mengerikan. Seminggu lamanja kami dilatih oleh dua anggota tentara dari bagian Genie. Jang dipeladjari selama itu membuat bomtarik dari peluru-peluru howitser. Teoretis memang sangat sederhana, tapi tidaklah demikian mengerdjakannja. Kalau latihan membuat dengan detonator² jang sudah rusak tidak perlu ditakutkan. Tjaranja begini: pada udjung detonator kira-kira satu senti lebih sedikit sebelum tutup slagpin, dibor. Ini tentu sadja harus diukur dengan teliti, dengan perhitungan jang tepat. Kemudian dimasukan gandjel sebagai penahan slagpin. Lalu dipasang pegas diantara slagpin dan penutup. Djika tak ada pegas, ban dalam sepeda baik djuga dipergunakan tapi dibalutkan dibagian luar detonator. Untuk gandjel slagpin paling baik djari-djari sepeda, kuat dan kebetulan ukurannja tepat. Achirnja gandjel itu disambung dengan kawat jang pandjangnja menurut kebutuhan. Nah, djadilah bomtarik buatan sendiri : Djika kawat itu ditarik, gandjel lepas dan slagpin jang mendapat desakan dari pegas memukul isi detonator. Maka meledaklah peluru howitser itu seperti djuga kalau ditembakkan. Pernah terdjadi ketjelakaan. Tapi sangat mengherankan, Tomo jang mendapat ketjelakaan, kukira tidak ada semeter dari peluru jang meledak, masih hidup. Hanja dua djari tangan kirinja jang rantas. Dan Tomo tak pernah mengakui sebab jang sebenarnja kenapa peluru itu sampai meledak. Kami selalu me-ngira²kan sadja. Tugas kami jang pertama berhasil baik. Pagi² pada suatu hari diawal tahun 1949 empat peluru<noinclude> 60</noinclude> djjan54on6bf093yo4rwt7stshjvupb Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/719 104 103590 291708 2026-05-11T05:52:26Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291708 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>sudah kami pasang rapih sekali didjalan besar. Kawat² penarik sudah beres. Kami mentjegat konvoi Belanda jang menudju ke Solo. Aku dan Marno bertugas menarik dan lima orang lainnja bertempat agak-djauh diseberang djalan dibalik tanggul sawah jang agak tinggi letaknja bersendjatakan stengun² dan sebuah brengun untuk mengatjaukan pengawal²-konvoi dan melindungi pengunduran diri jang menarik pasangan². Semuanja sudah siap waktu derum konvoi mulai kedengaran. Keringat mengalir dan tenggorokan mengering dengan mulut rapat. Jang kami tjemaskan terutama kalau tidak tepat kenandja, hingga pengawal² konvoi sempat mengatur serangan pembalasan sebelum kami bisa meloloskan diri. Dan lagi, keadaan medan disitu tidak menguntungkan, begitu merata. Hanja ada sebuah desa ketjil jang sudah kosong dan selebihnja sawah, terlalu djauh untuk mentjapai desa lain. Derum konvoi mendekat. Tanganku terasa gemetar meskipun ku-kaku²kan. Ketenangan Marno sedikit mengurangi ketakutanku. Ia kelihatan tenang dengan muka ber-sungguh², berdjongkok disebelahku, siap pula dengan thompsonnja. Aku sudah bersedia dengan empat utas tali kawat jang kudjadikan satu. Kami berdinding dibalik pohon kelapa dipinggiran rumah. Ah, fikirku sombong, baru begini sadja sudah takut!? Begitulah tjaraku menguasai ketakutanku. Sebentar kulirik Marno. Matanja tak berketip, mulutnja bergerak kaku. Dan tahu² brencarrier jang mendahului konvoi sudah meliwati pasangan. Kemudian menjusul truck² dan sesudah beberapa buah tepat diatas pasangan², kawat kutarik serentak sambil memedjamkan mata. Ledakan hebat menggelegar, empat peluru howitser! Waktu aku dan Marno ter-birit² melarikan diri mem-bongkok² menjusur tanggul sawah, tembakan dari teman² menjusul. Sebentar aku menengok. Sebuah truck terbakar dan entah berapa lagi. Api mendjilat-djilat, asap dan debu memenuhi djalan. Mendjelang tengah hari semuanja sudah berkumpul di R.V., sebuah desa terpentjil. Semuanja selamat. ,,Hebat kau, Tris!" ,,He-eh! Empat peluru empat truck!" ,,Ah, hanja kebetulan sadja". ,,Kau tahu!? Truck paling belakang jang penuh serdadu kugasak habis-habisan. Lima hower habis!" ,,Kalau tak ada brencarrier tentu habis semuanja!" Waktu matahari sudah tidak terik lagi sinarnja, kami mengadakan patroli untuk menjelidiki bekas-bekas konvoi jang kami ledakkan. Banjak sisa-nisanja, bekas keributan dan kematian. Matjam-matjam jang masih tertjetjer disana-sini. Kami menemukan sebuah pistol jang waktu itu sangat asing bagi kami, F.N. 9 mm! Muljadi ketjewa. Ia jang pertama-tama melihat pistol itu, tapi kami anggap kepunjaan bersama. Dengan bangga kami kembali ketempat kami. Hampir semalaman penuh tak bosan-bosan berbitjara tentang konvoi jang kami tjegat. Teman-teman pada kagum. Dan mulailah sedjarah regu penggempur konvoi; tudjuh orang dengan peluru-peluru howitser! Meskipun pengawalan konvoi makin diperkuat, kami tetap mengadakan pentjegatan-pentjegatan. Dalam tempo hampir dua bulan, kami telah enam kali menjerang konvoi dengan bom tarik buatan sendiri. Dan setiap patroli pemeriksaan sehabis penjerangan kami ketemukan matjam-matjam. Kadang-kadang sendjata, peluru, djuga pakaian tentara dan obat-obatan. Sekali kami temui majat seorang serdadu Belanda jang sudah hantjur. Jang paling dahsjat waktu Kresno jang menarik pasangan. Rasanja kami ikut hantjur bersama konvoi! Bumi bergojang keras. Kami jakin konvoi jang kami serang itu mengangkut alat-alat peledak jang tidak sedikit. Tapi kami selamat. Ratman dan Muljadi pernah tersesat dalam pengunduran diri sesudah bertugas menarik. Keduanya dikedjar pengawal-pengawal konvoi. Untung sadja bisa lolos. Regu kami tjepat terkenal. Beberapa opsir dari Djogja pernah susah-pajah mentjari kami jang selalu berpindah-pindah dan setelah ketemu hanja untuk menjampaikan pudjian-pudjian. Tapi menjenangkan djuga. Usaha-usaha Belanda untuk melumpuhkan regu kami dengan pembersihan-pembersihan jang sangat teliti dan kedjam, tak ada hasilnja. Desa-desa sekitar tempat jang kami gunakan untuk mentjegat selalu mengalami penggeledahan-penggeledahan. Sajang, desa kosong jang selalu kami pergunakan! Kami bertudjuh selalu gembira melakukan tugas kami. Tomo djarang kelihatan bersedih meskipun dua djari tangan kirinja tak ada lagi. Djarang ia mengeluh. Marno tak seribut Tomo atau aku, tapi dalam kesungguhannja masih ada kelakarnja djuga. Ia jang tertua diantara kami. Ratman mudah gugup. Sedikit bedanja dengan Muljadi, sama ke-kanak-kanakannja. Geli aku kalau ingat waktu keduanja kembali sesudah dikedjar Belanda. Keduanja menangis dan Muljadi menjebut-njebut ibunja. Ia sendiri merasa malu beberapa hari kemudian. Kresna orangnja seperti Kresna dalam wajang, hitamnja. Kemahirannja dalam mengebor peluru-peluru mengagumkan. Ia menggemari pekerdjaan itu. Kalau ada kesulitan-kesulitan mengenai pembuatan bom-tarik, umpama sadja longgar gandjelnja, tentu kami serahkan kepada Kresna. Tentu beres. Aku paling suka menggoda Tomo. Karena ia suka marah dan kalau sudah marah menjenangkan tingkah-lakunja. Mukanja merah, matanja melotot dan urat-urat dilehernja djadi kelihatan. Pada umumnja kami tidak pernah benar-benar bersedih. Biasalah kalau rindu pada rumah, keluarga, sekolah atau kekasih. Kalau menggerutu memang hampir setiap waktu. Itu seperti kebiasaan sadja, sama sadja dengan kebiasaan menggaruk-garuk kepala umpamanja.<noinclude> 61</noinclude> rgykldotmasurudtwybr1fzg82h179v Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/720 104 103591 291711 2026-05-11T05:55:56Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291711 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Makan kurang baik bungkusnja sadja sudah tjukup didjadikan bahan untuk menggerutu berhari². Menggerutu memang ada djuga sedapnja. Kresna djarang menggerutu, apa lagi me-maki². Paling banter kalau marah bentakannja sadja hanja „Beton!”, itu tak pula berarti buruk. Ia adalah „prijaji” regu kami. Kemudian datang hari itu. Kami sudah berdjalan hampir semalaman penuh hanja tjapai sadja, kantuk tidak begitu terasa. Jang kami tudju kali itu memang djauh dari tempat kami; jaitu disebuah desa diantara Solo — Bojolali. Achir² itu banjak konvoi besar²an jang menudju Semarang. Sudah sangat lelah waktu kami sampai didesa itu. Sebuah desa agak besar jang sudah ditinggalkan oleh penduduknja, djuga beberapa desa disekitarnja. Dengan ber-hati² sepuluh peluru kami pasang didjalan besar. Biasanja paling banjak hanja enam peluru. Masih agak gelap pagi waktu kami masuk kepersembunjian. Rakjat jang memikulkan peluru² sudah kami suruh mendahului pulang. Djalan sangat sepi dan gunung merapi kelihatan sangat meruntjing mengeluarkan asap. Keadaan medan sangat baik. Agak berbukit, kebetulan djalan jang melewati desa itu sudah rusak, hingga mudahlah untuk menanam pasangan² jang tidak mentjurigakan. Dan lagi djalan dari Solo bisa dilihat terang dari tempat bersembunji. Lima orang menempati sebuah gumuk tinggi jang merupakan pertahanan alam jang sangat kokoh. Sukar diserang, tapi mudah untuk menembak sasaran didjalan dan aman untuk mengundurkan diri. Dua orang lainnja sudah siap diseberang djalanan, diantara rumah² kosong. Hawa disitu sudah agak dingin. Tjandi Prambanan djauh diselatan rasa² masih bisa dibedakan dari kebidjuan alam sekitarnja. Rokokku belum habis separoh, derum konvoi sudah kedengaran. Sedjak kami berada disitu belum ada kendaraan jang lewat. Biasanja orang² jang berkendaraan ke Semarang atau jang ke Solo, lebih senang mengikuti konvoi. Semuanja diam² bersiap, meskipun konvoi masih djauh didjalanan didaratan jang hanja dilingkungi oleh sawah². Iring²an konvoi itu sangat pandjang diikuti debu. Kuhitung lebih dari 40 truck, semuanja bertutupan tenda rapat. Konvoi terus berdjalan. Paling lama lima atau sepuluh menit lagi tentu sudah sampai. Semuanja tersenjum² menahan nafas. Aku mengagumi penjelidik jang sampai bisa tahu keberangkatan konvoi besar itu. Darto dan Kresna djauh dibawah mengatjungkan djempol tanda siap. Ratman putjat melajani Marno jang sedang mengatur vizier brengun dengan sangat teliti. „He”, kata Marno agak keras. „kalian pada lempar²kan granat sadja. Biar aku sadja jang menembak”. Djawaban kami hanja anggukan. Mendengar itu Tomo membisikan sesuatu pada Muljadi lalu menjeringai : „Tomo......... Tomo.........!” Dalam keadaan seperti apapun masih selalu sempat melutju. Waktu konvoi sudah dekat sekali, ketegangan meliputi semuanja. Kemudian brencarrier memasuki desa. Meskipun sudah beberapa kali kami mengerdjakan penjerangan sematjam itu, tapi masih djuga merasa takut. Apalagi konvoi itu memang luar biasa. Pengawalan tentu sangat kuat. Marno masih bisa tersenjum, tapi hanja seperti benda mati jang bengkak. Mata hanja tertudju pada pasangan² waktu brencarrier melewati pasangan². Truck² menjusul. Brengun perlahan bergerak kearah truck² dan granat² tinggal mentjabut pinnja sadja. Sekedjap kami keheranan, sebab sudah banjak truck² jang lewat, belum djuga terdengar ledakan. Semuanja berfikir dan mukanja penuh pertanjaan. Lalu menjusul ledakan jang bunjinja betul² mengagetkan. Bumi bergetar. Marno segera menghampurkan peluru dan kami melempar²kan granat. Hanja beberapa menit rentetan tembakan jang ramai sekali. Marno lalu bangkit memberi isjarat untuk mengundurkan diri. Sangat tjepat lari kami ke R.V. Tomo misuh² karena tangannja terpegang laras brengun jang dibawa Marno. Panasnja bukan main! Tembakan² pembalasan dari pengawal² konvoi kami tertawakan. Karena meskipun terus menerus, arahnja keliru. Entah apa jang mereka tembaki. Darto dan Kresna tentu sudah djauh larinja. Pertemuan kami di R.V. agak terlambat, karena keduanja melalui sawah dan lumpur. Putjat² dan kotor sekali. „Berapa jang kena?” „Paling sedikit tudjuh truck jang hantjur!” „Mungkin lebih, debunja banjak sih!” „Tapi tanganku nih .........” „Salah sendiri, punja mata nggak dipakai!” „Ada rokok?” „Trisno itu, gudang rokok!” „Matamu!” „Alaaa, njatanja!” Terpaksa rokokku keluar. Aku paling bentji kalau dirokok oleh orang jang sebetulnja tidak bisa menikmati rokok. Dan kami merokok sambil bergurau menghabiskan waktu. Sehabis makan siang dirumah seorang lurah republik agak djauh dari tempat itu jang baru hari itu djuga kami kenal, dan sekembalinja Marno dan Ratman dari melaporkan pentjegatan itu kepada {{Missing image}} — "JA MAK, SESAGAI SCORANG PERADJURIT JAJA hARUS SETIA KEPADA.........MARGA-SATWA !!"<noinclude></noinclude> hpquf1hh72frl2aevdrun2r5e3ufrc9 291712 291711 2026-05-11T05:56:36Z Link PB 26772 291712 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Makan kurang baik bungkusnja sadja sudah tjukup didjadikan bahan untuk menggerutu berhari². Menggerutu memang ada djuga sedapnja. Kresna djarang menggerutu, apa lagi me-maki². Paling banter kalau marah bentakannja sadja hanja „Beton!”, itu tak pula berarti buruk. Ia adalah „prijaji” regu kami. Kemudian datang hari itu. Kami sudah berdjalan hampir semalaman penuh hanja tjapai sadja, kantuk tidak begitu terasa. Jang kami tudju kali itu memang djauh dari tempat kami; jaitu disebuah desa diantara Solo — Bojolali. Achir² itu banjak konvoi besar²an jang menudju Semarang. Sudah sangat lelah waktu kami sampai didesa itu. Sebuah desa agak besar jang sudah ditinggalkan oleh penduduknja, djuga beberapa desa disekitarnja. Dengan ber-hati² sepuluh peluru kami pasang didjalan besar. Biasanja paling banjak hanja enam peluru. Masih agak gelap pagi waktu kami masuk kepersembunjian. Rakjat jang memikulkan peluru² sudah kami suruh mendahului pulang. Djalan sangat sepi dan gunung merapi kelihatan sangat meruntjing mengeluarkan asap. Keadaan medan sangat baik. Agak berbukit, kebetulan djalan jang melewati desa itu sudah rusak, hingga mudahlah untuk menanam pasangan² jang tidak mentjurigakan. Dan lagi djalan dari Solo bisa dilihat terang dari tempat bersembunji. Lima orang menempati sebuah gumuk tinggi jang merupakan pertahanan alam jang sangat kokoh. Sukar diserang, tapi mudah untuk menembak sasaran didjalan dan aman untuk mengundurkan diri. Dua orang lainnja sudah siap diseberang djalanan, diantara rumah² kosong. Hawa disitu sudah agak dingin. Tjandi Prambanan djauh diselatan rasa² masih bisa dibedakan dari kebidjuan alam sekitarnja. Rokokku belum habis separoh, derum konvoi sudah kedengaran. Sedjak kami berada disitu belum ada kendaraan jang lewat. Biasanja orang² jang berkendaraan ke Semarang atau jang ke Solo, lebih senang mengikuti konvoi. Semuanja diam² bersiap, meskipun konvoi masih djauh didjalanan didaratan jang hanja dilingkungi oleh sawah². Iring²an konvoi itu sangat pandjang diikuti debu. Kuhitung lebih dari 40 truck, semuanja bertutupan tenda rapat. Konvoi terus berdjalan. Paling lama lima atau sepuluh menit lagi tentu sudah sampai. Semuanja tersenjum² menahan nafas. Aku mengagumi penjelidik jang sampai bisa tahu keberangkatan konvoi besar itu. Darto dan Kresna djauh dibawah mengatjungkan djempol tanda siap. Ratman putjat melajani Marno jang sedang mengatur vizier brengun dengan sangat teliti. „He”, kata Marno agak keras. „kalian pada lempar²kan granat sadja. Biar aku sadja jang menembak”. Djawaban kami hanja anggukan. Mendengar itu Tomo membisikan sesuatu pada Muljadi lalu menjeringai : „Tomo......... Tomo.........!” Dalam keadaan seperti apapun masih selalu sempat melutju. Waktu konvoi sudah dekat sekali, ketegangan meliputi semuanja. Kemudian brencarrier memasuki desa. Meskipun sudah beberapa kali kami mengerdjakan penjerangan sematjam itu, tapi masih djuga merasa takut. Apalagi konvoi itu memang luar biasa. Pengawalan tentu sangat kuat. Marno masih bisa tersenjum, tapi hanja seperti benda mati jang bengkak. Mata hanja tertudju pada pasangan² waktu brencarrier melewati pasangan². Truck² menjusul. Brengun perlahan bergerak kearah truck² dan granat² tinggal mentjabut pinnja sadja. Sekedjap kami keheranan, sebab sudah banjak truck² jang lewat, belum djuga terdengar ledakan. Semuanja berfikir dan mukanja penuh pertanjaan. Lalu menjusul ledakan jang bunjinja betul² mengagetkan. Bumi bergetar. Marno segera menghampurkan peluru dan kami melempar²kan granat. Hanja beberapa menit rentetan tembakan jang ramai sekali. Marno lalu bangkit memberi isjarat untuk mengundurkan diri. Sangat tjepat lari kami ke R.V. Tomo misuh² karena tangannja terpegang laras brengun jang dibawa Marno. Panasnja bukan main! Tembakan² pembalasan dari pengawal² konvoi kami tertawakan. Karena meskipun terus menerus, arahnja keliru. Entah apa jang mereka tembaki. Darto dan Kresna tentu sudah djauh larinja. Pertemuan kami di R.V. agak terlambat, karena keduanja melalui sawah dan lumpur. Putjat² dan kotor sekali. „Berapa jang kena?” „Paling sedikit tudjuh truck jang hantjur!” „Mungkin lebih, debunja banjak sih!” „Tapi tanganku nih .........” „Salah sendiri, punja mata nggak dipakai!” „Ada rokok?” „Trisno itu, gudang rokok!” „Matamu!” „Alaaa, njatanja!” Terpaksa rokokku keluar. Aku paling bentji kalau dirokok oleh orang jang sebetulnja tidak bisa menikmati rokok. Dan kami merokok sambil bergurau menghabiskan waktu. Sehabis makan siang dirumah seorang lurah republik agak djauh dari tempat itu jang baru hari itu djuga kami kenal, dan sekembalinja Marno dan Ratman dari melaporkan pentjegatan itu kepada {{Missing image}} ''— "JA MAK, SESAGAI SCORANG PERADJURIT JAJA hARUS SETIA KEPADA.........MARGA-SATWA !!"''<noinclude> 62</noinclude> qxpez3oa2jtqcg33x27daoqoo992jcv Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/721 104 103592 291722 2026-05-11T06:05:21Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291722 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>sektor tentara djauh di barat, kami ber-sama² patroli ketempat pentjegatan tadi. Seperti berebutan sadja perginja meskipun sudah pada tjapai. Semuanja ingin menemmu sendjata. ,,Sehabis ini kita tidur dirumah pak lurah tadi sadja ah, ngantuk!" ,,Aksimu, bilang sadja anaknja pak lurah manis". ,,Husss! Sudah kawin tu......" ,,Tahu dari mana!?" ,,Dia kan penjelidik!" ,,Ah, pikiranmu pada buruk, bermalam sadja kan tak apa²". ,,Enaknja sendiri, kau kira daerah ini aman!?" ,,Barang kali dia kepingin disergap Belanda". ,,Laaaah, nanti sadja didaerah sendiri. Mau tidur seminggu djuga bisa. Dasar mau ngintjer anaknja pak lurah sadja!" ,,Sudahlah, enaknja sehabis patroli ini kita pulang sadja". ,,Pjjjkk!" ,,Kadjak Kresno tu lho, To, nggak tjerewet!" ,,Dan lagi kau tahu!?" ,,Apaaa!?" ,,Anaknja pak lurah itu aju² begitu, gudigen!" Dan semuanja tertawa keras sambil berdjalan terus. Seperti berlarian kami karena berebut depan, apa lagi sesudah kira² hanja seratus meter lagi dari tempat pentjegatan. Sudah kelihatan konvoj jang hantjur. Salah seorang harus mendjaga, dan itu Marno. Lobang² bekas ledakan dan sekitarnja gumpalan² aspal dan batu. Dan alangkah terkedjut kami! Aku terdiam seperti tiba² djadi patung, djuga jang lain. Tak seorangpun bisa berkata. Kegembiraan lenjap dan apa jang menjesak dada kami terlalu berat. Tak bisa lagi aku menangis. Sekitar itu banjak barang² berserakan. Barang² jang tidak kami duga sama sekali, disamping bekas truck² jang hangus dan tidak karuan lagi bentuknja. Dan tahulah kami apa jang telah terdjadi, jang sebenarnja terdjadi. Darto tak berkata apa², seperti orang kehilangan akal ia pelan melangkah. Marno segera menjuruh semuanja meninggalkan tempat itu. Mataku masih djuga sempat memperhatikan sekitarku. Didjalan itu berserakkan selain bekas² konvoi, sepotong selendang batik jang sebagian hangus, beberapa sandal dan sepatu perempuan dan kanak². Sebuah koper terbuka dan kotjar-katjir isinja, diantaranja topi baji jang disulam dengan sutera. Ada pula kartu pengungsi diantara tetesan² darah jang banjak dan sudah beku. Diatas rumput dipinggir djalan terletak sebuah boneka ketjil. Kami tinggalkan tempat itu dengan tehudjung karena keketjewaan jang melukai hati kami. Kata — Kresno — sesudah kami berdjalan agak djauh — ia melihat majat anak ketjil terhampar diantara belukar dibalik tanggul djalan. Darto seperti tidak menghiraukan kami lagi, berdjalan diam mendahului kami. Bagi kami Darto tidaklah lajak merasa bersalah karena kebetulan dia jang menarik pasangan² bom-tarik. Kami djuga melempari granat² dan menembaki konvoi itu. Kalau kami tahu bahwa konvoi itu konvoi pengungsi jang mengangkut terutama perempuan² dan kanak², tentulah tidak akan kami perbuat! Sedjak itu Darto tidak mau ikut lagi dalam regu kami. {{right|( LAKI² & MESIU )}} {| style="width:100%; border-collapse: collapse;" | colspan="2" style="border: 2px solid black; padding: 10px;" | {{center|<big><big><big>REPUBLIC PICTURES OF INDONESIA, INC.</big></big></big>}} {{center|<big>PEGANGSAAN-TIMUR</big>}} {{center|<big>— DJAKARTA —</big>}} {{center|——}} MENGUTJAPKAN: {{center|SELAMAT ULANG TAHUN PROKLAMASI}} {{center|KEMERDEKAAN INDONESIA Ke: XIII}} {{center|<big>17 AGUSTUS 1958.</big>}} |- |} </div><noinclude> 63</noinclude> h8mid381eruwtjc2dx1rdvf2hel9dol Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/390 104 103593 291724 2026-05-11T06:06:09Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Fedua, tersirat paaa pertanyaang Sampai di manakah batas cukup jelas-tide.knya atau lengkap-tidaknya pikiran seperti dinyatakan berturut-turut dalam rumusan definisi (2), (3) dan (4) di atas? Juga penulis tidak bisa mengetahui dengan pasti, tidak bisa menjelaskan batus-batasnya, karena rumusen2 itu me- nampilkan maknc cukup abstrak, Di sini kekirakiraan akan berla- ku juga, Tiap orang ekan mempunyai penafsirun yang berlainun. Demikianlah,... 291724 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>Fedua, tersirat paaa pertanyaang Sampai di manakah batas cukup jelas-tide.knya atau lengkap-tidaknya pikiran seperti dinyatakan berturut-turut dalam rumusan definisi (2), (3) dan (4) di atas? Juga penulis tidak bisa mengetahui dengan pasti, tidak bisa menjelaskan batus-batasnya, karena rumusen2 itu me- nampilkan maknc cukup abstrak, Di sini kekirakiraan akan berla- ku juga, Tiap orang ekan mempunyai penafsirun yang berlainun. Demikianlah, perumusan tersebut ukan mengi.tukan, bihwa besok mulai bekerja atau merperingati hari sumpah pemuda keempat pu- luh dua tid:k menyatakan "pikiran sesecrang dengan cukup jelas- nya" atau "pikiran yang lenskup". Yang luin mungkin akan menga- takan, bahwa kedua susunun k.t.? sudeh menampilkan "pikiran yang lengkap den jelas". Kenyataan ini memperlihatkan adanya ciri utama k.limat yang belum dinyutakan dalam definisi? itu ana pn Ketisa, letak ketidakpuusan itu puda nengertian istilah subysk dan predikat yang dikaitkan dengan pengertian "pikiran yang lengkap" seperti dinyatakan dalam rumusan definisi (3). Kita t:1nah yan: berikut. Tuturan seperti Adik menangis, secura tradisiondl dikata- kan terdiri deri subyek Adik dan predikat menangis, Subyek ialah "pckck pembicaraan", dan disini "melakukan su:.tu perbuatan". Predikat "menyatakan sesuatu tentung subyek". Demikianlah, ada- nya kedua unsur atau suku ini menyebabkan tuturan tersebut men- dukung "pikiran yang lengkap" dan sebagai kmlimat. anggapan ini akan menjumpai kesulitan apubila dihadapkan pada pertanyaan: Apakah Adik bukan sebagai "pelaku suatu perbuatan" dan menansis sebagai "yang menyatakan sesuatu tentang pelaku suatu perbuatan" dalam tuturan sepe.ti Adik menangis (bukan urusanmu)? Bukarkah dalam tuturan ini Adik juga sebagai "pela- ku suatu perbuatan" dan menangis sebagai "yang menyatakan sesuatu tentangnya"? Jika jawabnya ya, maka tatabahasa tradisional se- harusnya menganggap Adik menangis dalam tuturan tersebut sebagai kalimat, bukan sebagai kulimat. Kesimpulan yang dapat ditarik dari telaah sepintas di atas jalahs definisi (1), (2), (3) dan (4) pada 1.1 di atas terlalu cenderung berdasarkan makna. Dengan dasar ini masalah apa se- 22<noinclude></noinclude> gejamgv59sf8dqh0gc15lousyhfy4ht 291770 291724 2026-05-11T06:28:55Z Humilis Kumulus 26996 291770 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>Kedua, tersirat pada pertanyaan: Sampai di manakah batas cukup jelas-tidaknya atau lengkap-tidaknya pikiran seperti dinyatakan berturut-turut dalam rumusan definisi (2), (3) dan (4) di atas? Juga penulis tidak bisa mengetahui dengan pasti, tidak bisa menjelaskan batas-batasnya, karena rumusan2 itu me- nampilkan makna cukup abstrak, Di sini kekirakiraan akan berla- ku juga, Tiap orang akan mempunyai penafsiran yang berlainan. Demikianlah, perumusan tersebut akan mengatakan, bahwa <u>besok</u> <u>mulai</u> <u>bekerja</u> atau <u>memperingati</u> <u>hari</u><u>sumpah</u> <u>pemuda</u> <u>keempat</u> <u>puluh</u> <u>dua</u> tidak menyatakan "pikiran seseorang dengan cukup jelasnya" atau "pikiran yang lengkap". Yang lain mungkin akan mengatakan, bahwa kedua susunun kata² sudah menampilkan "pikiran yang lengkap dan jelas". Kenyataan ini memperlihatkan adanya ciri utama kalimat yang belum dinyatakan dalam definisi² itu tadi. Ketiga, letak ketidakpuasan itu pada pengertian istilah subyek dan predikat yang dikaitkan dengan pengertian "pikiran yang lengkap" seperti dinyatakan dalam rumusan definisi (3). Kita tnah yang berikut. Tuturan seperti Adik menangis, secara tradisional dikata- kan terdiri deri subyek Adik dan predikat menangis, Subyek ialah "pckck pembicaraan", dan disini "melakukan su:.tu perbuatan". Predikat "menyatakan sesuatu tentung subyek". Demikianlah, ada- nya kedua unsur atau suku ini menyebabkan tuturan tersebut men- dukung "pikiran yang lengkap" dan sebagai kmlimat. anggapan ini akan menjumpai kesulitan apubila dihadapkan pada pertanyaan: Apakah Adik bukan sebagai "pelaku suatu perbuatan" dan menansis sebagai "yang menyatakan sesuatu tentang pelaku suatu perbuatan" dalam tuturan sepe.ti Adik menangis (bukan urusanmu)? Bukarkah dalam tuturan ini Adik juga sebagai "pela- ku suatu perbuatan" dan menangis sebagai "yang menyatakan sesuatu tentangnya"? Jika jawabnya ya, maka tatabahasa tradisional se- harusnya menganggap Adik menangis dalam tuturan tersebut sebagai kalimat, bukan sebagai kulimat. Kesimpulan yang dapat ditarik dari telaah sepintas di atas jalahs definisi (1), (2), (3) dan (4) pada 1.1 di atas terlalu cenderung berdasarkan makna. Dengan dasar ini masalah apa se- 22<noinclude></noinclude> lsmtlsur7zp3hsa5hq093fc6lpavtic 291785 291770 2026-05-11T06:38:14Z Humilis Kumulus 26996 /* Telah diuji baca */ 291785 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>Kedua, tersirat pada pertanyaan: Sampai di manakah batas cukup jelas-tidaknya atau lengkap-tidaknya pikiran seperti dinyatakan berturut-turut dalam rumusan definisi (2), (3) dan (4) di atas? Juga penulis tidak bisa mengetahui dengan pasti, tidak bisa menjelaskan batas-batasnya, karena rumusan2 itu menampilkan makna cukup abstrak, Di sini kekirakiraan akan berlaku juga. Tiap orang akan mempunyai, penafsiran yang berlainan. Demikianlah, perumusan tersebut akan mengatakan, bahwa <u>besok</u> <u>mulai</u> <u>bekerja</u> atau <u>memperingati</u> <u>hari</u><u>sumpah</u> <u>pemuda</u> <u>keempat</u> <u>puluh</u> <u>dua</u> tidak menyatakan "pikiran seseorang dengan cukup jelasnya" atau "pikiran yang lengkap". Yang lain mungkin akan mengatakan, bahwa kedua susunun kata² sudah menampilkan "pikiran yang lengkap dan jelas". Kenyataan ini memperlihatkan adanya ciri utama kalimat yang belum dinyatakan dalam definisi² itu tadi. Ketiga, letak ketidakpuasan itu pada pengertian istilah subyek dan predikat yang dikaitkan dengan pengertian "pikiran yang lengkap" seperti dinyatakan dalam rumusan definisi (3). Kita telaah yang berikut. Tuturan seperti <u>Adik menangis</u>, secara tradisional dikatakan terdiri deri subyek <u>Adik</u> dan predikat <u>menangis</u>. Subyek ialah "pokok pembicaraan", dan disini "melakukan suatu perbuatan". Predikat "menyatakan sesuatu tentang subyek". Demikianlah, adanya kedua unsur atau suku ini menyebabkan tuturan tersebut mendukung "pikiran yang lengkap" dan sebagai kalimat. Anggapan ini akan menjumpai kesulitan apabila dihadapkan pada pertanyaan: Apakah <u>Adik</u> bukan sebagai "pelaku suatu perbuatan" dan <u>menangis</u> sebagai "yang menyatakan sesuatu tentang pelaku suatu perbuatan" dalam tuturan sepe.ti Adik menangis (<u>bukan</u> urusanmu)? Bukankah dalam tuturan ini <u>Adik</u> juga sebagai "pelaku suatu perbuatan" dan <u>menangis</u> sebagai "yang menyatakan sesuatu tentangnya"? Jika jawabnya ya, maka tatabahasa tradisional seharusnya menganggap <u>Adik menangis</u> dalam tuturan tersebut sebagai kalimat, bukan sebagai kalimat. Kesimpulan yang dapat ditarik dari telaah sepintas di atas ialah: definisi (1), (2), (3) dan (4) pada 1.1 di atas terlalu cenderung berdasarkan makna. Dengan dasar ini masalah apa {{hws|se|}} 22<noinclude>{{rh||22|}}</noinclude> geqb1rtn3g25t4pxo9eyssn5pw2bx4o 291787 291785 2026-05-11T06:40:04Z Humilis Kumulus 26996 291787 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>Kedua, tersirat pada pertanyaan: Sampai di manakah batas cukup jelas-tidaknya atau lengkap-tidaknya pikiran seperti dinyatakan berturut-turut dalam rumusan definisi (2), (3) dan (4) di atas? Juga penulis tidak bisa mengetahui dengan pasti, tidak bisa menjelaskan batas-batasnya, karena rumusan2 itu menampilkan makna cukup abstrak, Di sini kekirakiraan akan berlaku juga. Tiap orang akan mempunyai, penafsiran yang berlainan. Demikianlah, perumusan tersebut akan mengatakan, bahwa <u>besok</u> <u>mulai</u> <u>bekerja</u> atau <u>memperingati</u> <u>hari</u> <u>sumpah</u> <u>pemuda</u> <u>keempat</u> <u>puluh</u> <u>dua</u> tidak menyatakan "pikiran seseorang dengan cukup jelasnya" atau "pikiran yang lengkap". Yang lain mungkin akan mengatakan, bahwa kedua susunun kata² sudah menampilkan "pikiran yang lengkap dan jelas". Kenyataan ini memperlihatkan adanya ciri utama kalimat yang belum dinyatakan dalam definisi² itu tadi. Ketiga, letak ketidakpuasan itu pada pengertian istilah subyek dan predikat yang dikaitkan dengan pengertian "pikiran yang lengkap" seperti dinyatakan dalam rumusan definisi (3). Kita telaah yang berikut. Tuturan seperti <u>Adik menangis</u>, secara tradisional dikatakan terdiri deri subyek <u>Adik</u> dan predikat <u>menangis</u>. Subyek ialah "pokok pembicaraan", dan disini "melakukan suatu perbuatan". Predikat "menyatakan sesuatu tentang subyek". Demikianlah, adanya kedua unsur atau suku ini menyebabkan tuturan tersebut mendukung "pikiran yang lengkap" dan sebagai kalimat. Anggapan ini akan menjumpai kesulitan apabila dihadapkan pada pertanyaan: Apakah <u>Adik</u> bukan sebagai "pelaku suatu perbuatan" dan <u>menangis</u> sebagai "yang menyatakan sesuatu tentang pelaku suatu perbuatan" dalam tuturan sepe.ti Adik menangis (<u>bukan</u> urusanmu)? Bukankah dalam tuturan ini <u>Adik</u> juga sebagai "pelaku suatu perbuatan" dan <u>menangis</u> sebagai "yang menyatakan sesuatu tentangnya"? Jika jawabnya ya, maka tatabahasa tradisional seharusnya menganggap <u>Adik menangis</u> dalam tuturan tersebut sebagai kalimat, bukan sebagai kalimat. Kesimpulan yang dapat ditarik dari telaah sepintas di atas ialah: definisi (1), (2), (3) dan (4) pada 1.1 di atas terlalu cenderung berdasarkan makna. Dengan dasar ini masalah apa {{hws|se|sesungguhnya}}<noinclude>{{rh||22|}}</noinclude> 7p6ii22i6fm477tsue14thselke0158 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/723 104 103594 291730 2026-05-11T06:09:46Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291730 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{u|<big><big>'''humor di front:'''</big></big>}} {{center|SAMBUTAN JANG BAIK.}} {{Missing image}} Telah berulang kali kita mendengar ataupun membatja dalam surat² kabar tentang tjeritera² jang lutju² dan aneh² dari pasukan A.P.R.I. kita jang sedang mengadakan gerakan² operasinja untuk menumpas kaum pemberontak. Tetapi toh masih sadja ada kedjadian² sematjam itu jang bisa kami tuturkan disini. Bahwasanja antara pasukan A.P.R.I. dan kaum pemberontak terdapat banjak persamaan dalam udjud, jang dapat kita maklumi. Sebab orangnja sama² orang Indonesia, uniformnja sama, bahkan persendjataannjapun boleh dikata sama djuga. Maka bagi mereka jang kurang memperhatikan, sukar sekali untuk bisa membedakannja. Pada suatu hari, pagi² kami telah mendapat laporan bahwa sepasukan pemberontak Permesta sedang bermalam disuatu tempat agak djauh dari tempat pasukan kami berada. Maka pasukan kamipun mendapat perintah untuk menjergapnja. Tetapi alangkah heran kami, bahwa sewaktu kami datang ditempat jang ditudju, tidak ada seorang pemberontakpun jang kami temui. Hanja bekas-bekasnja sadjalah jang menundjukkan bahwa belum lama berselang, disitu telah dipakai oleh kaum pemberontak untuk tempat tinggal. Bahkan dari bekas-bekasnja pula bisa kita tarik suatu kesimpulan bahwa mereka telah melarikan diri dengan tergesa-gesa. Lebih mengherankan lagi ialah ketika kami sampai disuatu rumah agak djauh sedikit dari tempat pasukan-pasukan pemberontak itu tinggal, keluarlah 2 orang perempuan dan seorang laki-laki jang dengan muka putjat karena ketakutan menjongsong kedatangan kami dengan berkata gemetar: Maa ......... af pak, belum masak, Kajunja ......... bbbasah". Memang mula-mula kami tidak mengerti apa jang mereka maksudkan sebenarnja. Setelah kami beritahukan bahwa mereka tidak perlu takut-takut, sebab kami dari pasukan A.P.R.I. tidak akan menganggu rakjat, dan jang kami tjari adalah kaum pemberontak, mereka lalu mendjadi tahu bahwa jang dihadapannja adalah pasukan A.P.R.I. Bukan pasukan Permesta. Dan dengan girang sekali mereka memanggil kawan-kawan mereka jang kemudian mengerumuni kami. Bagaimanakah duduk persoalan jang sesungguhnja? Agaknja, sewaktu tentara Permesta datang disitu dengan paksa rakjat telah diharuskan menjerahkan beras, ajam, kambing dsb. jang kemudian harus dimasak untuk pasukan mereka dengan antjaman bahwa djam 8.00 pagi harus sudah masak. Tentu sadja mereka sangat takut kalau dianiaja seperti kawan-kawannja jang lain, sebab nasi belum masak. Setelah mereka insjaf benar bahwa jang datang adalah pasukan A.P.R.I. dan pasukan Permesta telah lari, karena kegirangan merekapun mengerumuni kami dan kemudian menjilahkan kami untuk menikmati santapan jang akan dimakan oleh pemberontak Permesta. Dengan suka tjita mereka berkata: "Daripada dihidangkan untuk pasukan Permesta, penghisap rakjat Pak, kan lebih baik kita makan bersama, rakjat dan A.P.R.I.". Lumajan bukan? Dasar sedjak pagi perut memang belum diisi. Lebih kalau kita ingat bahwa ajam panggang dan masakan daging kambing itu bukan masakan jang tidak enak. Jang terang sadje sudah suatu penghematan bagi C.I.A.D. <div style="text-align: right;">(Kopral SUNJOTO).</div><noinclude> 65</noinclude> nhjs6nadzoyrzm16uc97xgbf8jrgayf Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/508 104 103595 291733 2026-05-11T06:10:27Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Fungsi Hikayat | “ia Kerja sama yeng kompak antara para sarjana atau para ahli dilam ilmu pengetahuan berdasarkan keahlian mereka pada bidangnya ma- sing-masing pasti akan lebih banyak menghasilkan teori-teori yang lebih kokoh yang tak mudah ditumbangkan., Goyahnya sesuatu teori ilmu pengetahuan dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor, Sebab yang utama mungkin karena salahnya metode penyelidikan atau mungkin oleh orang yang bukan ah... 291733 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>Fungsi Hikayat | “ia Kerja sama yeng kompak antara para sarjana atau para ahli dilam ilmu pengetahuan berdasarkan keahlian mereka pada bidangnya ma- sing-masing pasti akan lebih banyak menghasilkan teori-teori yang lebih kokoh yang tak mudah ditumbangkan., Goyahnya sesuatu teori ilmu pengetahuan dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor, Sebab yang utama mungkin karena salahnya metode penyelidikan atau mungkin oleh orang yang bukan ahlinya, Tentu saja dalam hal ini kita kecualikan seorang jcnius. Seperti Rene Wellek dalim sukunya' 2 telah menguraikan bahwa kesukaran dalam penyusunan teori sastra dan sejarah sustra umumnya disebabkan oleh orang-orang yang bukan ahlinya, sehingga terlalu memandang dan cenderung pada bidangnya sendiri. Dimuka kami telah menguraikan bagaimuna pentingnya kerja sama antara cabang-cabang ilmu pengetahuan, yang kadang-kadang hanya bersifat membantu saja. Misalnya di samping hikayat atau babad, maka kekawin Jawa kunapun dapat memberikan sumbangannya pada sejarah, Akan tetapi sering karena ketergesaan atau mungkin karena terlalu percaya pada diri sendiri kerapkali menyebabkan goyahnya suatu teori. Atau sebab lain oleh kurangnya bahan-bihan perbandingan, hingga menyebabkan kesalahan atau kekhilafan kalau tidak tersesat dalam penyelidikannya. Kira-kira empat puluh lima tahun yang lalu Prof, Krom, sa- lah seorang ahli sejarah setelah menyelidiki beberapa naskah ke- kawin berkesimpulan bahwa naskah-naskah itu tidek umat menggem- birakan (dalam hal ini tinjauan Krom lebih bersifat kepada keper- luan sejarah). Kekecewaan Krom terutama disebabkan oleh sedikit- nya naskah-naskah yang diketemukan dan masih kurangnya pengetahuan tentang bahasanya. Demikian juga Prof. Teeuw dalam penyelidikannya tentang kekawin Jawa kuna masih banyak mengalami kesulitan, Kesulitan yang dimaksud terutama tentang menggala pada ke- kawin. Tetapi Prof. Zoetmulder berssendapat dengan kesulitanekesu- litan itu bukan berarti bahwa naskah-naskah kekawin tidak ada 26<noinclude></noinclude> mbv4u5r6ot7hei61nxhnqolyw32ygsy 291742 291733 2026-05-11T06:13:19Z Moel81 25980 291742 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|Fungsi Hikayat}}</noinclude>Fungsi Hikayat | “ia Kerja sama yeng kompak antara para sarjana atau para ahli dilam ilmu pengetahuan berdasarkan keahlian mereka pada bidangnya ma- sing-masing pasti akan lebih banyak menghasilkan teori-teori yang lebih kokoh yang tak mudah ditumbangkan., Goyahnya sesuatu teori ilmu pengetahuan dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor, Sebab yang utama mungkin karena salahnya metode penyelidikan atau mungkin oleh orang yang bukan ahlinya, Tentu saja dalam hal ini kita kecualikan seorang jcnius. Seperti Rene Wellek dalim sukunya' 2 telah menguraikan bahwa kesukaran dalam penyusunan teori sastra dan sejarah sustra umumnya disebabkan oleh orang-orang yang bukan ahlinya, sehingga terlalu memandang dan cenderung pada bidangnya sendiri. Dimuka kami telah menguraikan bagaimuna pentingnya kerja sama antara cabang-cabang ilmu pengetahuan, yang kadang-kadang hanya bersifat membantu saja. Misalnya di samping hikayat atau babad, maka kekawin Jawa kunapun dapat memberikan sumbangannya pada sejarah, Akan tetapi sering karena ketergesaan atau mungkin karena terlalu percaya pada diri sendiri kerapkali menyebabkan goyahnya suatu teori. Atau sebab lain oleh kurangnya bahan-bihan perbandingan, hingga menyebabkan kesalahan atau kekhilafan kalau tidak tersesat dalam penyelidikannya. Kira-kira empat puluh lima tahun yang lalu Prof, Krom, sa- lah seorang ahli sejarah setelah menyelidiki beberapa naskah ke- kawin berkesimpulan bahwa naskah-naskah itu tidek umat menggem- birakan (dalam hal ini tinjauan Krom lebih bersifat kepada keper- luan sejarah). Kekecewaan Krom terutama disebabkan oleh sedikit- nya naskah-naskah yang diketemukan dan masih kurangnya pengetahuan tentang bahasanya. Demikian juga Prof. Teeuw dalam penyelidikannya tentang kekawin Jawa kuna masih banyak mengalami kesulitan, Kesulitan yang dimaksud terutama tentang menggala pada ke- kawin. Tetapi Prof. Zoetmulder berssendapat dengan kesulitanekesu- litan itu bukan berarti bahwa naskah-naskah kekawin tidak ada 26<noinclude>{{rh|26}}</noinclude> 8a7e3z7vbxi5juhxi3n7zyqmm9gxqql 291771 291742 2026-05-11T06:28:55Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291771 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|Fungsi Hikayat}}</noinclude>Kerja sama yang kompak antara para sarjana atau para ahli dalam ilmu pengetahuan berdasarkan keahlian mereka pada bidangnya masing-masing pasti akan lebih banyak menghasilkan teori-teori yang lebih kokoh yang tak mudah ditumbangkan. Goyahnya sesuatu teori ilmu pengetahuan dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor. Sebab yang utama mungkin karena salahnya metode penyelidikan atau mungkin oleh orang yang bukan ahlinya. Tentu saja dalam hal ini kita kecualikan seorang jenius. Seperti Rene Wellek dalam bukunya<sup>12)</sup> telah menguraikan bahwa kesukaran dalam penyusunan teori sastra dan sejarah sastra umumnya disebabkan oleh orang-orang yang bukan ahlinya, sehingga terlalu memandang dan cenderung pada bidangnya sendiri. Dimuka kami telah menguraikan bagaimana pentingnya kerja sama antara cabang-cabang ilmu pengetahuan, yang kadang-kadang hanya bersifat membantu saja. Misalnya di samping hikayat atau babad, maka kekawin Jawa kunapun dapat memberikan sumbangannya pada sejarah. Akan tetapi sering karena ketergesaan atau mungkin karena terlalu percaya pada diri sendiri kerapkali menyebabkan goyahnya suatu teori. Atau sebab lain oleh kurangnya bahan-bahan perbandingan, hingga menyebabkan kesalahan atau kekhilafan kalau tidak tersesat dalam penyelidikannya. Kira-kira empat puluh lima tahun yang lalu Prof. Krom, salah seorang ahli sejarah setelah menyelidiki beberapa naskah kekawin berkesimpulan bahwa naskah-naskah itu tidak amat menggembirakan (dalam hal ini tinjauan Krom lebih bersifat kepada keperluan sejarah). Kekecewaan Krom terutama disebabkan oleh sedikitnya naskah-naskah yang diketemukan dan masih kurangnya pengetahuan tentang bahasanya. Demikian juga Prof. Teeuw dalam penyelidikannya tentang kekawin Jawa kuna masih banyak mengalami kesulitan. Kesulitan yang dimaksud terutama tentang menggala pada kekawin. Tetapi Prof. Zoetmulder berpendapat dengan kesulitan-kesulitan itu bukan berarti bahwa naskah-naskah kekawin tidak ada<noinclude>{{rh|26}}</noinclude> 1zo0jqdfyev6x1r3qg314ls10p92hvl 291774 291771 2026-05-11T06:29:59Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291774 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh|Fungsi Hikayat}}</noinclude>Kerja sama yang kompak antara para sarjana atau para ahli dalam ilmu pengetahuan berdasarkan keahlian mereka pada bidangnya masing-masing pasti akan lebih banyak menghasilkan teori-teori yang lebih kokoh yang tak mudah ditumbangkan. Goyahnya sesuatu teori ilmu pengetahuan dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor. Sebab yang utama mungkin karena salahnya metode penyelidikan atau mungkin oleh orang yang bukan ahlinya. Tentu saja dalam hal ini kita kecualikan seorang jenius. Seperti Rene Wellek dalam bukunya<sup>12)</sup> telah menguraikan bahwa kesukaran dalam penyusunan teori sastra dan sejarah sastra umumnya disebabkan oleh orang-orang yang bukan ahlinya, sehingga terlalu memandang dan cenderung pada bidangnya sendiri. Dimuka kami telah menguraikan bagaimana pentingnya kerja sama antara cabang-cabang ilmu pengetahuan, yang kadang-kadang hanya bersifat membantu saja. Misalnya di samping hikayat atau babad, maka kekawin Jawa kunapun dapat memberikan sumbangannya pada sejarah. Akan tetapi sering karena ketergesaan atau mungkin karena terlalu percaya pada diri sendiri kerapkali menyebabkan goyahnya suatu teori. Atau sebab lain oleh kurangnya bahan-bahan perbandingan, hingga menyebabkan kesalahan atau kekhilafan kalau tidak tersesat dalam penyelidikannya. Kira-kira empat puluh lima tahun yang lalu Prof. Krom, salah seorang ahli sejarah setelah menyelidiki beberapa naskah kekawin berkesimpulan bahwa naskah-naskah itu tidak amat menggembirakan (dalam hal ini tinjauan Krom lebih bersifat kepada keperluan sejarah). Kekecewaan Krom terutama disebabkan oleh sedikitnya naskah-naskah yang diketemukan dan masih kurangnya pengetahuan tentang bahasanya. Demikian juga Prof. Teeuw dalam penyelidikannya tentang kekawin Jawa kuna masih banyak mengalami kesulitan. Kesulitan yang dimaksud terutama tentang menggala pada kekawin. Tetapi Prof. Zoetmulder berpendapat dengan kesulitan-kesulitan itu bukan berarti bahwa naskah-naskah kekawin tidak ada<noinclude>{{rh|26}}</noinclude> 5wcu3hcgukf7ppioh9qsm9f5ow77vu5 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/509 104 103596 291739 2026-05-11T06:11:55Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'sumbangannya bagi pengetahuan sejarah asal orang mzu mengadakan penyelidikan yang mendalam tentang diri kawi dan tentang kehi- dupan kawi 13) | Pendapat Berg tentang Erlangga yang membagi kerajaannya ke- | pada dua orang putranya dan jug: pendapatnya tentang fungsi pu-. “ jJangga dalam masarakat Jawa Kunzi, tidak disetujui oleh Prof, boetmulder. Menurut Prof. Berg fungsi seorang pujungga dc.lam ma- sarzkat Jawa kuna yaitu sebagai juru ma... 291739 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>sumbangannya bagi pengetahuan sejarah asal orang mzu mengadakan penyelidikan yang mendalam tentang diri kawi dan tentang kehi- dupan kawi 13) | Pendapat Berg tentang Erlangga yang membagi kerajaannya ke- | pada dua orang putranya dan jug: pendapatnya tentang fungsi pu-. “ jJangga dalam masarakat Jawa Kunzi, tidak disetujui oleh Prof, boetmulder. Menurut Prof. Berg fungsi seorang pujungga dc.lam ma- sarzkat Jawa kuna yaitu sebagai juru magi sastra (priester der literaire magie), di samping itu juga sebagai pedande (ternyata pada sebutan empu), sedangkan pendupat Berg yang lain, yaitu ten- tang latar belakang magi pada kesusastraan Jawa kuna merupckan pendapat yang Srisinil dan sangat menarik perhatian, demikian Prof. Zoetmulder. Selanjutnya Prof. Zoetmulder berdasarkan atas penyelidikan hasil karya sastra itu sendiri menolak pendapat “Berg tentang fungsi pujengga pada masarakat Jawa kuna, Dan sete- lah mengadakan penyelidikan dengan membandingkan sejumlahnya be- sar naskah-naskah kekawin Jawa kuna, beliau berkesimpulan bahwa pujangga (kawi) atau adalah seorang ubdi keindahan atau pencari keindahan. "Pencari keindahan, pengembara dalam hutan-hutan dan se- penjeng pentui, cdulah jura menghormat dewu keindahan, ysng berus'.h:. merpersutukin diri uen: nnyas Persatuan itu dizul.i dengan nenj:lankan yoga dan dizkhiri untuk selama-lamanya dalam kenasasan Dalam bentuk puisi terutama kita berhadapan dengan bahasa, seperti dalam cabang-cabang seni yang mempunyai isti- lah-istilah teknis khusus. Hal ini juga kiranya yang menyebabkan Berg dan juga Prof. Poerbatjaraka tersesat pada mulanya uraian tentang: "sang panikelan tanah".15) Kesimpulan Profs Zoetmulder tentang uraian Berg dan Prof. Poerbatjaraka, bahwa secara filolo- gis-grammatical, maka "tanah" berarti "kalam" atau alat untuk me- nulis, atau semacam pisau kecil (untuk menulis pada daun lontar) Bahs. Kesusast., V(2), 1973 21<noinclude></noinclude> fkemmpaxb4a0idrjz8hjfvz5nm35v58 291768 291739 2026-05-11T06:28:41Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291768 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>sumbangannya bagi pengetahuan sejarah; asal orang mau mengadakan penyelidikan yang mendalam tentang diri kawi dan tentang kehidupan kawi.<sup>13)</sup> Pendapat Berg tentang Erlangga yang membagi kerajaannya kepada dua orang putranya dan juga pendapatnya tentang fungsi pujangga dalam masarakat Jawa Kuna, tidak disetujui oleh Prof. Zoetmulder. Menurut Prof. Berg fungsi seorang pujangga dalam masarakat Jawa kuna yaitu sebagai juru magi sastra (priester der literaire magie), di samping itu juga sebagai pedanda (ternyata pada sebutan empu), sedangkan pendapat Berg yang lain, yaitu tentang latar belakang magi pada kesusastraan Jawa kuna merupakan pendapat yang orisinil dan sangat menarik perhatian, demikian Prof. Zoetmulder. Selanjutnya Prof. Zoetmulder berdasarkan atas penyelidikan hasil karya sastra itu sendiri menolak pendapat Berg tentang fungsi pujangga pada masarakat Jawa kuna. Dan setelah mengadakan penyelidikan dengan membandingkan sejumlahnya besar naskah-naskah kekawin Jawa kuna, beliau berkesimpulan bahwa pujangga (kawi) atau adalah seorang abdi keindahan atau pencari keindahan. {{quote|"Pencari keindahan, pengembara dalam hutan-hutan dan sepanjang pantai, adalah juga menghormat dewa keindahan, yang berusaha mempersatukan diri dengan nya. Persatuan itu dimulai dengan menjalankan yoga dan diakhiri untuk selama-lamanya dalam kelepasan".<sup>14)</sup>}} Dalam bentuk puisi terutama kita berhadapan dengan bahasa, seperti dalam cabang-cabang seni yang mempunyai istilah-istilah teknis khusus. Hal ini juga kiranya yang menyebabkan Berg dan juga Prof. Poerbatjaraka tersesat pada mulanya uraian tentang: "sang panikêlan tanah".<sup>15)</sup> Kesimpulan Prof. Zoetmulder tentang uraian Berg dan Prof. Poerbatjaraka, bahwa secara filologis-grammatical, maka "tanah" berarti "kalam" atau alat untuk menulis, atau semacam pisau kecil (untuk menulis pada daun lontar)<noinclude>{{rh|27||Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}</noinclude> 7zi72efnh0w1199btayhspjdlcnzj20 291777 291768 2026-05-11T06:31:45Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291777 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>sumbangannya bagi pengetahuan sejarah; asal orang mau mengadakan penyelidikan yang mendalam tentang diri kawi dan tentang kehidupan kawi.<sup>13)</sup> Pendapat Berg tentang Erlangga yang membagi kerajaannya kepada dua orang putranya dan juga pendapatnya tentang fungsi pujangga dalam masarakat Jawa Kuna, tidak disetujui oleh Prof. Zoetmulder. Menurut Prof. Berg fungsi seorang pujangga dalam masarakat Jawa kuna yaitu sebagai juru magi sastra (priester der literaire magie), di samping itu juga sebagai pedanda (ternyata pada sebutan empu), sedangkan pendapat Berg yang lain, yaitu tentang latar belakang magi pada kesusastraan Jawa kuna merupakan pendapat yang orisinil dan sangat menarik perhatian, demikian Prof. Zoetmulder. Selanjutnya Prof. Zoetmulder berdasarkan atas penyelidikan hasil karya sastra itu sendiri menolak pendapat Berg tentang fungsi pujangga pada masarakat Jawa kuna. Dan setelah mengadakan penyelidikan dengan membandingkan sejumlahnya besar naskah-naskah kekawin Jawa kuna, beliau berkesimpulan bahwa pujangga (kawi) atau adalah seorang abdi keindahan atau pencari keindahan. {{quote|"Pencari keindahan, pengembara dalam hutan-hutan dan sepanjang pantai, adalah juga menghormat dewa keindahan, yang berusaha mempersatukan diri dengan nya. Persatuan itu dimulai dengan menjalankan yoga dan diakhiri untuk selama-lamanya dalam kelepasan".<sup>14)</sup>}} Dalam bentuk puisi terutama kita berhadapan dengan bahasa, seperti dalam cabang-cabang seni yang mempunyai istilah-istilah teknis khusus. Hal ini juga kiranya yang menyebabkan Berg dan juga Prof. Poerbatjaraka tersesat pada mulanya uraian tentang: "sang panikêlan tanah".<sup>15)</sup> Kesimpulan Prof. Zoetmulder tentang uraian Berg dan Prof. Poerbatjaraka, bahwa secara filologis-grammatical, maka "tanah" berarti "kalam" atau alat untuk menulis, atau semacam pisau kecil (untuk menulis pada daun lontar) {{Right sidenote|Bahs. Kesusast., V(2), 1973}}<noinclude>{{rh|27|}}</noinclude> 0b0xrlob2bc4zxa00pr4jgmq7uwckyo Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/724 104 103597 291744 2026-05-11T06:14:27Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291744 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{center|<big><big>„EH, NGANA DJANG BAKUSEDU DORANG BANJAK TAU”.</big></big>}} {{Missing image}} Bila orang² berbadju matjan loreng berbaret merah liwat di-djalan² di Minahasa, tjeritera² kepahlawanan dengan tjepat sekali berpindah dari mulut kemulut. Orang² jang bila mengawal sebuah konvooi dapat melegakan hati penumpang iring²an mobil, itulah manusia² RPKAD jang telah banjak tjatatan² kepahlawanan dimedan operasi di Sumatera dan Sulawesi Utara. Wartawan PIA jang selama beberapa hari berada di-tengah² anak buah RPKAD dimedan operasi Minahasa telah mengumpulkan tjeritera² pengalaman lutju dan mengharukan. Ketika Menado masih dikuasai Permesta satu Peleton RPKAD telah menjusup diantara semak² belukar disekitar lapangan terbang Mapanget, jang di pertahankan oleh satu Bataljon tentara Permesta dengan persendjataan jang lengkap. Tapi pertahanan jang kuat itu dapat dikatjaukan oleh RPKAD dengan hanja membalikkan baret nja jang merah dan mengeluarkan bagian dalamnja jang berwarna hitam. Tentara Permesta lihat pasukan berbaret merah datang, lalu menghilang dan muntjul lagi pasukan berbaret hitam, berbaret merah lagi, ... dan mereka kebingungan. "Eh, dorang banjak tau" (Mereka banjak tau), suara itu kami dengar kata salah seorang anggota RPKAD. Pohon² digerakkan dengan tali, dan tembakan² senapan mesin Permesta menderu dengan dahsjatnja. Tapi kiranja RPKAD telah meninggalkan tempat itu dan melambung kekanan dan kekiri. Tiba² Tentara Permesta jang lagi bertahan dengan senapan mesin ditegur orang dari belakang: "Oom, stop djo, djang baku tembak dengan kawanua". "Ah, ngana diang bakusedu, kitorang ada ba kuprang" (Ah, kamu djangan main², kita lagi berperang), djawab Tentara² Permesta itu. Beberapa baret merah dilemparkan kelaras senapan mesin itu, Tentara² Permesta kaget, berdiri dan mentjoba lari. Tapi laras stengun sudah diatjungkan keperut mereka: "Sudah, taroh semua sendjata dan pulang", kata seorang anggota pasukan RPKAD itu menghilang lagi diantara semak² belukar, dan beberapa saat kemudian lapangan terbang Mapanget dapat direbut tanpa perlawanan jang berat. {{center|<big><big>MAKAN KELAPA.</big></big>}} Pertempuran² di Menado berketjamuk di Tuminting, 3 km dari Menado. Pasukan² RPKAD menjusup lagi diantara semak² belukar, seketika suasana hening dan tiba² terdengar teriakan mengaduh kesakitan. Kiranja seorang Tentara pemberontak telah dipisau (dilempar pisau) oleh salah seorang anggota RPKAD. Karena sendjata tidak diletuskan kalau tidak perlu sekali. Tiga hari tiga malam pertempuran didaerah Tuminting ini. Bekal makanan sudah habis dan selama tiga hari tiga malam hanja kelapa sadja jang mengisi perut. "Tapi sudah biasa", kata seorang anggota RPKAD. "ketika di Djawa Barat kami telah sering tiada makan nasi sebutirpun selama seminggu".<noinclude> 66</noinclude> snn55y16c0tgffhjbrzcsgk388pbpys Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/170 104 103598 291745 2026-05-11T06:15:31Z Upiak Ituih 27011 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'kronik DISKUSI SASTRA Bertempat di gedung Direktorat Kesenian Direktorat Jendral Ke yaan Jalan Haji Agus Salim Jakarta, tanggal 14 Februari 1968 telah langsung diskusi yang diselenggarakan oleh Grup Horison. Sebagai pengantar aiskusi telah berbicara Achdiat Kartanihur mengenai "Beberapa Hasalah sekitar Pengajaran Sastra Indonesia d Australian University". Dalam pengantar ini Achdiat menyodorkan beb persoalan, yakni: 1. Masalah pendekatan (approa... 291745 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" /></noinclude>kronik DISKUSI SASTRA Bertempat di gedung Direktorat Kesenian Direktorat Jendral Ke yaan Jalan Haji Agus Salim Jakarta, tanggal 14 Februari 1968 telah langsung diskusi yang diselenggarakan oleh Grup Horison. Sebagai pengantar aiskusi telah berbicara Achdiat Kartanihur mengenai "Beberapa Hasalah sekitar Pengajaran Sastra Indonesia d Australian University". Dalam pengantar ini Achdiat menyodorkan beb persoalan, yakni: 1. Masalah pendekatan (approach) terhadap karya sastra 2. Masalah Angkatan 66 3. Masalah kemacetan roman/novel Achdiat menekankan bahwa karya sastra harus didekati dari sucu karya sastra itu sendiri. Meski demikian tuk diingkari adanya kemung dari sudut yang lain sebagaimana pendapat .B. Jassin, bahwa untuk: dapat gambaran yang lengkap tentang suatu karya sastra kita perlu ju meninjau segi ekstrinsik disamping segi intrinsiknya. Masalah Angkatan 65 merupakan pembicaraan yang paling hangat. Takdir alisjahbana berpendapat bahwa masalah ini terlalu dibesar-best knn. Sedang Ajip menganggap kriterius H.B. Jassin dalam tulisannya te tang Angkatan kurang jelas. lamun demikian pada diskusi tersebut tek rang gigihnja H.B. Jassin membela pendiriannya. Dari masalah ketiga, dapat diambil kesimpulan bahwa kemacetan men/novel ada hubungannya dengan situasi ekonomi dewasa ini. DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRA CABANG JOGJAKARTA MENYELER RAKAN PAMERAN HASKAH DAN PERGELARAL MACAPAT Pada tanggal 11 Mei 1968, Direktorat Bahasa dan Kesusastraan ( K.) Cabang Jogjakarta bekerjasama dengan I.K.I.P. Fakultas jurus Sastra Soni Jogjakarta telah menyelenggarakan Pener Naskah dan Perg laran Macapat. Dipumurkan antara lain 8 buah naskah milik Kruten Jogj karta, hasil pekartuan naskah milik Kraten Jogjakarta jang dikerjak D.3.K. Cabang Jogjakarta, singkatan-singkitan naskah serta hasil-hasil transkripsi D.B.K. Cabang Jogjakarta, dan 4 buah skripsi kesarjas Digitized by Google 42<noinclude></noinclude> if541o3dfrdmbn9ssze2x5zi9h2k2wx 291754 291745 2026-05-11T06:20:04Z Upiak Ituih 27011 291754 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" /></noinclude><span style="font-size:300%; font-family:serif; letter-spacing:3px;">'''''KRONIK'''''</span><br /> {{rh|DISKUSI SASTRA}} Bertempat di gedung Direktorat Kesenian Direktorat Jendral Ke yaan Jalan Haji Agus Salim Jakarta, tanggal 14 Februari 1968 telah langsung diskusi yang diselenggarakan oleh Grup Horison. Sebagai pengantar aiskusi telah berbicara Achdiat Kartanihur mengenai "Beberapa Hasalah sekitar Pengajaran Sastra Indonesia d Australian University". Dalam pengantar ini Achdiat menyodorkan beb persoalan, yakni: 1. Masalah pendekatan (approach) terhadap karya sastra 2. Masalah Angkatan 66 3. Masalah kemacetan roman/novel Achdiat menekankan bahwa karya sastra harus didekati dari sucu karya sastra itu sendiri. Meski demikian tuk diingkari adanya kemung dari sudut yang lain sebagaimana pendapat .B. Jassin, bahwa untuk: dapat gambaran yang lengkap tentang suatu karya sastra kita perlu ju meninjau segi ekstrinsik disamping segi intrinsiknya. Masalah Angkatan 65 merupakan pembicaraan yang paling hangat. Takdir alisjahbana berpendapat bahwa masalah ini terlalu dibesar-best knn. Sedang Ajip menganggap kriterius H.B. Jassin dalam tulisannya te tang Angkatan kurang jelas. lamun demikian pada diskusi tersebut tek rang gigihnja H.B. Jassin membela pendiriannya. Dari masalah ketiga, dapat diambil kesimpulan bahwa kemacetan men/novel ada hubungannya dengan situasi ekonomi dewasa ini. DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRA CABANG JOGJAKARTA MENYELER RAKAN PAMERAN HASKAH DAN PERGELARAL MACAPAT Pada tanggal 11 Mei 1968, Direktorat Bahasa dan Kesusastraan ( K.) Cabang Jogjakarta bekerjasama dengan I.K.I.P. Fakultas jurus Sastra Soni Jogjakarta telah menyelenggarakan Pener Naskah dan Perg laran Macapat. Dipumurkan antara lain 8 buah naskah milik Kruten Jogj karta, hasil pekartuan naskah milik Kraten Jogjakarta jang dikerjak D.3.K. Cabang Jogjakarta, singkatan-singkitan naskah serta hasil-hasil transkripsi D.B.K. Cabang Jogjakarta, dan 4 buah skripsi kesarjas Digitized by Google 42<noinclude></noinclude> f6yicj2ksmdvy50af6pjq9zjprktvii 291756 291754 2026-05-11T06:20:59Z Upiak Ituih 27011 291756 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" /></noinclude><span style="font-size:300%; font-family:serif; letter-spacing:3px;">{{rh||'''''KRONIK'''''}}</span><br /> {{rh|DISKUSI SASTRA}} Bertempat di gedung Direktorat Kesenian Direktorat Jendral Ke yaan Jalan Haji Agus Salim Jakarta, tanggal 14 Februari 1968 telah langsung diskusi yang diselenggarakan oleh Grup Horison. Sebagai pengantar aiskusi telah berbicara Achdiat Kartanihur mengenai "Beberapa Hasalah sekitar Pengajaran Sastra Indonesia d Australian University". Dalam pengantar ini Achdiat menyodorkan beb persoalan, yakni: 1. Masalah pendekatan (approach) terhadap karya sastra 2. Masalah Angkatan 66 3. Masalah kemacetan roman/novel Achdiat menekankan bahwa karya sastra harus didekati dari sucu karya sastra itu sendiri. Meski demikian tuk diingkari adanya kemung dari sudut yang lain sebagaimana pendapat .B. Jassin, bahwa untuk: dapat gambaran yang lengkap tentang suatu karya sastra kita perlu ju meninjau segi ekstrinsik disamping segi intrinsiknya. Masalah Angkatan 65 merupakan pembicaraan yang paling hangat. Takdir alisjahbana berpendapat bahwa masalah ini terlalu dibesar-best knn. Sedang Ajip menganggap kriterius H.B. Jassin dalam tulisannya te tang Angkatan kurang jelas. lamun demikian pada diskusi tersebut tek rang gigihnja H.B. Jassin membela pendiriannya. Dari masalah ketiga, dapat diambil kesimpulan bahwa kemacetan men/novel ada hubungannya dengan situasi ekonomi dewasa ini. DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRA CABANG JOGJAKARTA MENYELER RAKAN PAMERAN HASKAH DAN PERGELARAL MACAPAT Pada tanggal 11 Mei 1968, Direktorat Bahasa dan Kesusastraan ( K.) Cabang Jogjakarta bekerjasama dengan I.K.I.P. Fakultas jurus Sastra Soni Jogjakarta telah menyelenggarakan Pener Naskah dan Perg laran Macapat. Dipumurkan antara lain 8 buah naskah milik Kruten Jogj karta, hasil pekartuan naskah milik Kraten Jogjakarta jang dikerjak D.3.K. Cabang Jogjakarta, singkatan-singkitan naskah serta hasil-hasil transkripsi D.B.K. Cabang Jogjakarta, dan 4 buah skripsi kesarjas Digitized by Google 42<noinclude></noinclude> lo17uzqb4vw3m6ckvir49sq8u8o7ggz 291817 291756 2026-05-11T07:04:45Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291817 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude><span style="font-size:300%; font-family:serif; letter-spacing:3px;">{{rh||'''''KRONIK'''''}}</span><br /> {{rh|DISKUSI SASTRA}} Bertempat di gedung Direktorat Kesenian Direktorat Jendral Ke budayaan Jalan Haji Agus Salim Jakarta, tanggal 14 Februari 1968 telah {{illegible}} langsung diskusi yang diselenggarakan oleh {{u|Grup Horison.}} Sebagai pengantar diskusi telah berbicara Achdiat Kartamihardja mengenai "Beberapa masalah sekitar Pengajaran Sastra Indonesia di Australian University". Dalam pengantar ini Achdiat menyodorkan beberapa persoalan, yakni: <ol type="1" start="1"> <li>Masalah pendekatan (approach) terhadap karya sastra</li> <li>Masalah Angkatan 66</li> <li>Masalah kemacetan roman/novel</li> </ol> Achdiat menekankan bahwa karya sastra harus didekati dari sudut karya sastra itu sendiri. Meski demikian tuk diingkari adanya kemungkinan dari sudut yang lain sebagaimana pendapat .B. Jassin, bahwa untuk {{illegible}} dapat gambaran yang lengkap tentang suatu karya sastra kita perlu juga meninjau segi ekstrinsik disamping segi intrinsiknya. Masalah Angkatan 66 merupakan pembicaraan yang paling hangat. Takdir alisjahbana berpendapat bahwa masalah ini terlalu dibesar-besarkan. Sedang Ajip menganggap kriterium H.B. Jassin dalam tulisannya tentang Angkatan kurang jelas. namun demikian pada diskusi tersebut tak kurang gigihnja H.B. Jassin membela pendiriannya. Dari masalah ketiga, dapat diambil kesimpulan bahwa kemacetan roman/novel ada hubungannya dengan situasi ekonomi dewasa ini. DIREKTORAT BAHASA DAN KESUSASTRA CABANG JOGJAKARTA MENYELENGGARAKAN PAMERAN NASKAH DAN PERGELARAN MACAPAT Pada tanggal 11 Mei 1968, Direktorat Bahasa dan Kesusastraan {{illegible}} Cabang Jogjakarta bekerjasama dengan I.K.I.P. Fakultas jurusan Sastra Seni Jogjakarta telah menyelenggarakan Pameran Naskah dan Pergelaran Macapat. Dipamerkan antara lain 8 buah naskah milik Kraton Jogjakarta, hasil pekartuan naskah milik Kraton Jogjakarta jang dikerjakan D.3.K. Cabang Jogjakarta, singkatan-singkatan naskah serta hasil-hasil transkripsi D.B.K. Cabang Jogjakarta, dan 4 buah skripsi kesarjanaan<noinclude>{{rh|||42}}</noinclude> sdjwfd305lo5c8tp0wztkqibt5nucuu Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/138 104 103599 291755 2026-05-11T06:20:16Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291755 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>bertempur atas kehendak masing-masing. Achirnja Kavaleri Persia jang djuga telah mendapat bantuan dari induk pasukannja dapat dihantjurkan dan jang lainnja diusir dari medan pertempuran. Untuk kedua kalinja Darius III mentjoba dengan Kavalerinja untuk menjerang lambung kanan Iskandar. Bahaja inipun dihadapi Iskandar dengan mengirimkan Kavaleri garis kedua. Maksud Iskandar dengan hanja mengeluarkan Kavaleri garis keduanja ialah untuk menjimpan tenaga pokoknja. Sebab dengan pasukan-pasukan ini Iskandar hendak mematahkan perlawanan lawannja. Dan kesempatan ini memang muntjul pula. Tak lama kemudian Darius III memerintahkan pasukan Kavaleri jang berada disebelah kirinja untuk membantu kawan-kawannja jang sedang bergulat dilambung kanan Iskandar. Dengan demikian dibarisan kiri Persia terdapat lubang jang besar. Dan dalam lubang ini Iskandar menusukkan pasukannja. Setelah berada disitu ia segera memutar kiri sehingga dapat menjerang lambung kiri Persia. Ketjuali pasukan kudanja phalanxnjapun telah masuk dalam lubang tersebut. Melihat sarissa-sarissa itu juga makin lama makin dekat, Darius III jang permulaan pertempuran menundjukkan ketjakapannja dalam memimpin mulai kehilangan akal. Turun ia dari kereta tempurnja, lontjat diatas kuda jang berada didekatnja dan menghilanglah ia dari kantjah pertempuran dengan tidak menghiraukan kemenangan-kemenangan pasukan-pasukan lainnja. Sebab sajap kanan pasukan Darius III pada waktu itu telah dapat mendesak Parmenio jang berada disajap kiri pasukan Iskandar. Parmenio jang pada permulaan terhindar dari gempuran pasukan Persia mulai mundur. Tetapi untung ia dapat bantuan dari pasukan jang berada disebelah kanannja. Dengan begitu disajap kiri Iskandar terdapat lubang djuga. Kavaleri Persia terus madju melalui lubang itu. Tetapi tidak terus memutar kekanan atau kekiri, tetapi terus menudju kegaris belakang untuk merampas perkemahan Iskandar. Phalanx Iskandar terus membalik-kanan dan mulai bergerak ke-belakang untuk melawan Kavaleri Persia jang telah kebelakang tadi. Pada waktu itu Iskandarpun telah kembali dari penggempuran sajap kiri Persia. Kavaleri ini achirnja bertemu dengan Kavaleri Persia jang baru kembali dari merampas perkemahan Iskandar. Disini mereka mengadu keuletannja, tetapi keunggulan disiplin pasukan Iskandar pada achirnja dapat menghantjurkan lawannja. Sehabis ini Iskandar menjusun kembali Kavalerinja untuk membantu Parmenio. Tetapi panglima ini pada saat itu telah mulai unggul. Ini mungkin disebabkan karena berita lari tung- {{Missing image}} <small>''Taraf terachir dari pertempuran. Iskandar menjerang Persia dari muka, melihat lubang dan membahajakan kedudukan Darius, sehingga Radja Persia itu melarikan diri. Tentaranja dihantjurkan.''</small><noinclude> 20</noinclude> 2g4in7cxgxrvdbego647aal4gllrzt7 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/142 104 103600 291758 2026-05-11T06:21:25Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291758 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>masih ditempatkan didaerah Langsar. Dalam kundjungannja menindjau daerah Atjeh dari dekat, jang oleh bapak² kita tadinja disebut² sebagai daerah modal dalam perdjuangan menegakkan republik, jang meskipun kini telah dilupakan, Bapak Wakil Presiden Dr. M. Hatta tidak lupa pula mengunjungi daerah Langsar. Kesatuanku pada waktu itu mendapat kehormatan pula, karena tidak hanja berkesempatan menjambut kedatangan Bapak Wakil Presiden, tapi djuga mendapat kundjungannja. Dalam buku tjatatanku masih nampak djelas, sangat meriah penjambutan kedatangan Wakil Presiden pada waktu itu. Rakjat jang djauh tinggal dipelosok² tidak mau ketinggalan, datang kekota untuk menjongsongnja dan ingin melihat wad djahnja dari dekat. Tanggal 16 September 1950, datang pula mengunjungi kesatuanku Panglima T.T. I. Kolonel M. Simbolon, untuk mengadakan inspeksi. Disamping mengadakan inspeksi, Panglima T.T. I. tidak lupa pula memberikan wedjangan kepada anggota² kesatuanku. Wedjangannja kebetulan pada waktu itu kutjatat pula. Antara isi wedjangannja adalah: Kita anggota Angkatan Perang tentu tidak mengenal tempat bertugas, artinja tidak hanja tetap terikat disuatu daerah tertentu sadja. Kita sebagai putera negara, jaitu negara jang meliputi dari Ulele sampai ke Marauke, sudah terang tugas kita pula meliputi daerah dari Ulele sampai ke Marauke itu. Djadi dimana sadja kita ditempatkan dan kemana sadja ditugaskan oleh atasan kita guna pengabdian diri kepada Nusa dan Bangsa, harus kita ikuti dan patuh melaksanakannja. Selesai Panglima T.T. I. mengadakan inspeksi dan memberikan wedjangannja, maka diperintahkan pula supaja kesatuanku bersiap² untuk bertugas keluar daerah T.T. I., jaitu kedaerah Indonesia bagian Timur. Dan katanja sebagai bertugas operasi, paling lama hanja 6 bulan sadja. Kesatuanku pun bersiaplah. Tepat pada tanggal 20 Oktober 1950, kesatuanku diberangkatkan ke Bindjai (Sumatera Timur) guna menunggu pengangkutan K.P.M. jang akan membawa kami dari Belawan ke Makassar. Tanggal 22 Oktober 1950, sewaktu kesatuanku masih berada di Bindjai, Panglima T.T. I. Kolonel M. Simbolon kembali pula mengundjunginja. Kedatangannja kali ini adalah untuk memberikan semangat. Antara lain katanja: Djangan berkokok dikandang sendiri, tetapi berkokoklah diluar kandang. Tegasnja, djanganlah menundjukkan keberanian dikandang sendiri, tetapi tundjukkanlah keberanian itu keluar kandang, diluar daerah Atjeh. Pada tanggal 25 Oktober 1950 djam 17.00 wsu, kesatuanku jang satu Batalion itu meninggalkan pelabuhan Belawan Deli dengan kapal KPM "BAUD" jang ditjarter oleh D.L.L.T. Pelajaran ke Makassar itu 6 hari 6 malam, jang hanja singgah satu bari sadja di Tandjung Priok. Dan pada tgl 30 Oktober djam 08.00 wss, berlabuhlah dipelabuhan Makassar. Kesatuanku ditempatkan diasrama Boomstraat. Disini tidak ada bedanja antara perwira, bintara dan bawahan. Semuanja harus tinggal dalam asrama itu. Tanggal 2 November 1950, kesatuanku mulai bertugas. Daerah tugasnja dapat dikatakan luas pula, jaitu antaranja meliputi daerah²: Tello, Daja/Mandai, Maros, Tjamba dan Pangkadjene. Djadi kesatuanku terpaksa dipetjah-kan, membagi²-kannja menurut daerah tersebut. Rakjat didaerah² jang kami bertugas, menjambut kedatangan kami dengan penuh hormat. Tidak sedikit bantuan jang diperoleh kesatuanku dalam mendjalankan tugasnja dari rakjatnja jang ramah tamah itu. Mereka bangga melihat lukasi "Badak Hitam" jang kami pakai. Lebih² lagi kebanggaan mereka, karena dilukasi kami itu tertulis pula "TNI/APRI", jang menundjukkan bahwa Batalion 119 Badak Hitam adalah timbul ditengah² zaman perdjuangan jang penuh duka menghadapi serdadu pendjadjahan Belanda. Djadi kesatuanku itu bukanlah kesatuan peralihan dari KNIL ke APRIS. Babkan dengan demikian, bukan hanja rakjat didaerah² jang kami bertugas sadja jang bangga, djuga bagi diriku sendiri, sebab kesatuanku merupakan salah satu modal perdjuangan pula jang menuntun rakjat Indonesia ke alam kemerdekaan. Kebanggaan rakjat didaerah² tersebut diatas rupanja hanja beberapa hari sadja. Sebab pada tanggal 11 November 1950, kesatuanku diperintahkan untuk berangkat ke Maluku Selatan guna mengikuti operasi memadamkan pemberontakan R.M.S. Dan pada tanggal 14 November, kesatuanku telah berada dimuka perairan Ambon. Besoknja, sesuai menurut rentjana pendaratan jang telah ditetapkan oleh Komandan atasan, kesatuanku mendarat dipantai Ambon. Dan ditempatkan di Soja-Atas. Kemudian dipindahkan ke O.S.M. Dan dari sana, pada tanggal 25 November kesatuanku diperintahkan pula untuk mengadakan operasi kesekitar Gunung Nona, Siwang, Serrie, Ferry, Latuhalat dan lain²nja. Aku masih ingat benar², dan memang dalam buku tjatatan pun masih djelas tersurat, bahwa kesatuanku sewaktu memasuki tempat² tersebut diatas tidaklah dengan mudah. Setiapnja harus direbut dengan pertempuran sengit dari tangan pasukan² RMS jang telah berkubu dan bertahan dibenteng² pertahanan jang telah diperkuat. Namun demikian, dengan semangat jang bergelora serta tidak menghiraukan ribuan rintangan dan malapetaka, akhirnja kubu² pertahanan RMS itu dapat dihantjurkan satu persatu. Kemudian pada tanggal 17 Desember 1950, kesatuanku kembali keasrama semula dan asrama Kudamati. Rupanja tugas kami belum selesai sampai disini. Daerah Maluku Terselatan masih memerlukan tenaga kesatuanku untuk menghalau pasukan² RMS jang masih berkubu disana. Dan sebanjak dua kompie dari kesatuanku...<noinclude> 24</noinclude> tf2jwta4u1aampu8eq1lfjgx12lghkh Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/147 104 103601 291765 2026-05-11T06:25:54Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291765 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{center|<big><big><big>PERADJURIT UNEB JANG MENANG</big></big></big>}} {{center|''Oleh:<br> EDDIE S.''}} Sesobek bulan menerangi remang-remang seonggok bukit ketjil jang membisu tegak ditengah bentangan kebun tembakau mengenai diam dikesepian malam. Malam ini sangat sepi. Sepi seperti malam kemarin, seperti malam kemarin dulu dan malam-malam jang djauh lalu. Tak ada jang kedengaran, hanja desau-desau angin lalu menjentuh daun-daun kaju dan desir air diselokan jang sajup-muajup kesepian malam. Tapi meski seribu kali kesepian memagut alam, namun bukit itu tetap mematung bisu, tegak tak berubah. Hanja penghuni diatasnja jang sering berganti. Djika dulu diatasnja mendjongak dangau Pak Tani tempat beristirahat sehabis penat mentjangkul, kini telah tak ada lagi, telah lama berlalu dan berubah dengan sebuah bangunan jang djauh lebih besar, dikelilingi onggokan tanah jang agak meninggi merupakan perbentengan. Dan djika hari siang tampak berkibar dengan megahnja sehelai bendera merah putih diatasnja. Malam kian larut, kesepian dan kesunjian kian meradjalela. Hampir kita tak kan mengira bahwa ada machluk hidup dibukit dan disekitarnja itu. Tetapi ketika tesaat bulan sabit menjuruk keawan putih, dikeremangannja tampak menjempul sebuah bajangan silhonet, membentuk tubuh manusia bertopi wadja, tegak membisu seperti bukit jang didjakkaninja. Dan ketika bulan menjinarkan lagi tjahaja jang hampir pudar itu, nampak bajonet berkilat-kilat, terpantjang diudjung L.E.-nja. Itulah Uneb. Sesaat tampak ia berdjalan-djalan, diamati-amatinja dengan tenang tebaran kebun tembakau jang terhampar dibawahnja. Kemudian setelah diketahui tak ada jang mentjurigakan, ia masuk lagi kelubang pengintaian dan duduk mematung mengawasi tempat-tempat jang ada dihadapannja. Tapi njata bahwa pikirannja djauh dari diri dan tempat sekitarnja ini. Tebaran kebun tembakau jang menghitam kabur, merupakan kekosongan pandangan, lebih banjak menolong pikirannja djauh melajang-lajang. Masih segar ingatannja waktu ia pulang izin bermalam kerumahnja di Bandung seminggu jang lalu. Anah, isterinja menjambutnja dengan mata balui bekas menangis. Uneb memandang isterinja dengan mesra pada matanja jang merah dan pada perutnja jang membulat besar sembilan bulan. Dipegangnja bahu Anah: "Mengapa, Nah?". "Beras telah habis Kak, dan mak sakit. Perut saja djuga mulas-mulas sadja sedjak kemarin. Dan masih lamakah lagi Kakak gadjian?". Uneb mengeluh dalam-dalam. Kabur ia memandang badju hidjaunja jang telah ia gantungkan ditiang. Dan strip merah lurus satu jang tersemat dilengan badjunja itu seolah menari-nari dimatanja. "Allah ......... entahlah Nah. Mungkin seminggu lagi Kakak baru gadjian. Perutmu telah terasa Nah?" Digulungnja sebatang rokok kawung pengganti C.I.A.D. jang tak pernah mendjadi isi sakunja. Karena setiap dapat bagian, setiap itu pula rokok CIAD berubah matjam mendjadi lembaran{{sup|2}} kertas Bank Negara. "Entahlah, Kak. Saja rasa memang begitulah. Mungkin dalam beberapa hari ini si Utun lahir". Djawab Anah. "Mak apa sakitnja?". Tanja Uneb lagi, setelah mengisap rokoknja lambat-lambat. "Panas dan batuk, Kak!" djawab Anah. "Sudah diobati apa sadja?", Uneb menanjakan lagi. "Semalam saja memberikan aspro dan dapat ia tidur beberapa djam. Tapi tadi subuh ia sudah batuk-batuk lagi. Rupanja penjakitnja sudah kumat lagi". Uneb tunduk merenung lantai. "Nah ........." Ia berkata lagi. "Ja Kak ........." "Kainmu masih berapa?" "Hanja satu". Anah menundjukkan kepada kain jang dipakainja. "Bagaimana kalau satu itu kita gadaikan sadja dulu ja Nah?" Nanti kita tebus kalau sudah gadjian. Dan uang dari gadaiannja barangkali tjukup hingga tiba waktu gadjian. Dan kau harus ingat sewaktu-waktu anak kita lahir. Djadi kau harus sedia-sedia, setidak-tidaknja untuk ongkos ke Sariningsih". "Tapi Kak, tidak lebih baik djika minta diurus sama Mak Ito sadja, supaja tidak usah pulang pergi ke Sariningsih". "Tidak, kakak kira sebaik²nja ke Sariningsih sadja, sebab kesehatan dan segala²nja terdjamin". "Baiklah, tapi siapa jang akan menggadaikan kainku besok, sedang mak tidak dapat kerumah gadai, karena sakit". "Biarlah, kakak sendiri besok ke rumah gadai Tjikudapateuh". Dan besoknja pagi² benar ia telah ada di Rumah Gadai. Gantinja uang dua puluh dua setengah rupiah, jang sesampainja dirumah diserahkannja kepada Anah. Dan ketika ia mau pulang ketempat tugasnja, ia berpesan : "Belilah obat untuk mak, dan djika perutmu terasa lagi, lekas² ke Sariningsih. Tapi djangan lupa kartu tanda anggauta harus dibawa. Sederap suara sepatu mengodjak kesunjian. Ia bangkit melihat<noinclude> 29</noinclude> 38o9l8k5xi12ivgxstrjgsl3xvmj02f Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/148 104 103602 291766 2026-05-11T06:27:09Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291766 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>arah suara datang. Terdengar kian mendekat. Dan dikesuraman tjahaja bulan tampak pohon² tembakau bergerak² menguak kekiri dan kekanan, dan berhenti dibeberapa puluh langkah didepannya. "Sambal!!!" Uneb menjerukan code pengenal. "Ontjom!!!" Sahutan dari bawah. "Siapa itu?" "O.K.D.!!!" "Kemari!!!" Sesosok tubuh muntjul dari sela batang² tembakau dan mendaki mendekat. "Siapa?" Uneb bertanja lagi sambil mengamat-amati muka O.K.D. itu. Dan senapan dipegangnja erat² serta pelan² kuntjinja dibuka. "Saja, Pak Uneb", djawab O.K.D. itu pula. Dan dikesuraman malam nampak O.K.D. itu tertawa. "Oh, kau Idjan, ada apa?" Uneb bertanja kembali sambil menguntji senapannja seperti semula. "Menurut laporan ronda, kira² 60 orang gerombolan sedang menudju ke Kampung Nanggewer. Dan ada kemungkinannja pula menudju kesini. Sedang Pak Dana dan 4 orang O.K.D. lainnja sedang menjelidik kesana". OKD Idjan memberikan laporan. "Tunggu sebentar", Sedetik kemudian Uneb lenjap dibalik pintu bivak, untuk meneruskan laporan itu pada Komandan Regunja. Sedjurus kemudian muntjul kembali dengan diikuti Sersan Ganda dan anggauta Regu lainnja. Dan beberapa saat kemudian Komandan Peleton Letnan Tirta keluar, dan dia berunding dengan ketiga Komandan Regunja. Perundingannja hanja memakan waktu beberapa menit sadja. Keputusannja ialah, letnan Tirta memberikan perintah: "Regu ambil stelling disini. Regu I dan III turut saja. Dan kau Idjan ikut pula sama saja". Pendek dan hanja itu sadja perintah Letnan Tirta. Beberapa saat kemudian Regu I dan III telah lenjap ditengah kegelapan malam. Batang² tembakau jang dilaluinja bergojang², tetapi kegojangannja tidak lama, karena sebentar kemudian telah kembali diam. "Mau kemana mereka ?" Uneb berbisik pada Sersannja. "Hinderlaag, untuk mendjebak mereka bila menjerang kesini", djawab Sersan Ganda. Kemudian Sersan Ganda meneruskan pula utjapannja jang memberikan peringatan kepada anak buahnja: "Kamu sekalian harus ingat benar-benar, bahwa teman² kita ada disana". Sersan Ganda menundjuk pada sebuah bukit ketjil jang menghitam kelabu, antara tiga empat ratus meter. Uneb mengangguk. Kesunjian kini meradjai kembali. Njanap ia memandang kebawah, pada tamasja jang tadi dengan kesepiannja jang tadi djuga. Pohon²an masih tetap mengabur kehitam²an tak djelas romannja. Kenangannja melela pula. Uneb teringat kembali pada masa lalu dan bagaimana ia bertemu dengan Anah. Hubungan mereka tumbuh dari rasa saling menghargai dan pengertian di tengah situasi yang sulit. Dengan persetudjuan kedua belah pihak, Anah dan Ibunja kemudian ikut bersama Uneb. Ketika ia mendapat tjuti di Bandung, ditjarinja sebuah tempat tinggal untuk mereka agar Anah bisa hidup dengan tenang. Beberapa minggu kemudian mereka resmi mendjadi suami isteri. Bagi Anah, kehadiran Uneb memberikan rasa aman dan kasih sajang. Sifat Uneb yang tenang dan lembut telah menumbuhkan rasa tjinta yang mendalam dalam sanubarinja. Hal ini nampak djelas dari perbuatan dan perkataannja sehari-hari. Muka Uneb berseri-seri saat mengenang hal itu. Namun, perasaannja kembali teringat pada tanggung djawabnja saat ini, memikirkan keluarganja dan kondisi ekonomi jang sedang dihadapi.<noinclude> 30</noinclude> noh5bl1w73jy07z2ujrbv3zb8xsz4cu Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/510 104 103603 291773 2026-05-11T06:29:51Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Fungsi Hikayat yang di Bali sering disebut "pengutik", Karcna tanah yang berarti "tanah" (G:lam bahasa Indonesia), menurut beliau hanya disebut seka- li dalam Nagarakrtigama, sedang puluhan kali terdapat dalam naskah- naskah kckawin yang lain yang berarti kalam atau alat untuk menulis atau semacam pisau kecil, Uraian tentang ini tolah pula dibacakan olch beliau, sebagai sumbangan pada International Gongross of Oricntalists yang ke XXVI.... 291773 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>Fungsi Hikayat yang di Bali sering disebut "pengutik", Karcna tanah yang berarti "tanah" (G:lam bahasa Indonesia), menurut beliau hanya disebut seka- li dalam Nagarakrtigama, sedang puluhan kali terdapat dalam naskah- naskah kckawin yang lain yang berarti kalam atau alat untuk menulis atau semacam pisau kecil, Uraian tentang ini tolah pula dibacakan olch beliau, sebagai sumbangan pada International Gongross of Oricntalists yang ke XXVI. mulai 4 — 11 Juni 1964 di Now Delhi (India).18) Bagaimana seharusnya mempergunakan bahan-bahan hikayat atau babad Pe aa Pa Pa aa dipandang dari segi Indonesia scntris, Sumber sejarah dapat kita bagi menjadi dua, yaitu sumber yang tertulis dan sumber yang tak tertulis. Yang tertulis termasuk di JIa- Jlamnya hikayat atau babad dan sebagainya. Sedang sumber-sumber yang tak tertulis dapat berupa candi atau benda-benda lain yang dihasil- kan oleh manusia. Untuk yang belakangan ini sebagai sumber adalah manusia. Karena manusialah sebagai sumber pencipta kebudayaan. Kesu- litan-kcsulitan sumber tak tertulis ini, jalah bahwa bahan-bahannya tidak begitu saja didapatkan, melainkan harus diselidiki, ditemukan lebih dahulu. Cara penemuannya itu, mungkin secara kebetulan, mungkin pula harus dengan serzsaja mencarinya: yaitu dengan jalan penyelidikan dan pe- nelitian yang biasanya didasarkan atas adanya suatu petunjuk. Maka untuk membatasi persoalan pada hikayat atau babad, baiklah kami tinggalkan dahulu, karona hal ini banyak menyangkut soal kepurbaka- laan. Untuk memandangi bahan-bahan sejarah dari segi Indonesia sen- tris Kita tak dapat lepas dari porsoalan subyektif - obyektif dan soal intorpretasi. "Indonesia sentris" suatu perkataan yang serin€- kali diucapkan, tetapi jarang sokali diterangkan. Seperti kata "na- sional" yang paling enak didengar, tetapi artinya seringkali dika- burkan. Karena itu subycktifvitas, harus kita pandang sebagai sesua- tu yang terpaksa, tetapi tidak boleh merupakan suatu keinginan, atau sesuatu yang disengaja. Sehingga mungkin akan timbul suatu pertanya- 28<noinclude></noinclude> s56wv4s4hl192pkyftr2qqqpwhwsm7o 291791 291773 2026-05-11T06:43:27Z Moel81 25980 291791 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>yang di Bali sering disebut "pengutik". Karena tanah yang berarti "tanah" (dalam bahasa Indonesia), menurut beliau hanya disebut sekali dalam Nagarakrtagama, sedang puluhan kali terdapat dalam naskah-naskah kekawin yang lain yang berarti kalam atau alat untuk menulis atau semacam pisau kecil. Uraian tentang ini telah pula dibacakan oleh beliau, sebagai sumbangan pada International Congress of Orientalists yang ke XXVI mulai 4 - 11 Juni 1964 di New Delhi (India).<sup>16)</sup><br><u>Bagaimana seharusnya mempergunakan bahan-bahan hikayat atau babad dipandang dari segi Indonesia sentris.</u> Sumber sejarah dapat kita bagi menjadi dua, yaitu sumber yang tertulis dan sumber yang tak tertulis. Yang tertulis termasuk di dalamnya hikayat atau babad dan sebagainya. Sedang sumber-sumber yang tak tertulis dapat berupa candi atau benda-benda lain yang dihasilkan oleh manusia. Untuk yang belakangan ini sebagai sumber adalah manusia. Karena manusialah sebagai sumber pencipta kebudayaan. Kesulitan-kesulitan sumber tak tertulis ini, ialah bahwa bahan-bahannya tidak begitu saja didapatkan, melainkan harus diselidiki, ditemukan lebih dahulu.<br>Cara penemuannya itu, mungkin secara kebetulan, mungkin pula harus dengan sengaja mencarinya; yaitu dengan jalan penyelidikan dan penelitian yang biasanya didasarkan atas adanya suatu petunjuk. Maka untuk membatasi persoalan pada hikayat atau babad, baiklah kami tinggalkan dahulu, karena hal ini banyak menyangkut soal kepurbakalaan. Untuk memandangi bahan-bahan sejarah dari segi Indonesia sentris kita tak dapat lepas dari persoalan subyektif - obyektif dan soal interpretasi. "Indonesia sentris" suatu perkataan yang seringkali diucapkan, tetapi jarang sekali diterangkan. Seperti kata "nasional" yang paling enak didengar, tetapi artinya seringkali dikaburkan. Karena itu subyektifvitas, harus kita pandang sebagai sesuatu yang terpaksa, tetapi tidak boleh merupakan suatu keinginan, atau sesuatu yang disengaja. Sehingga mungkin akan timbul suatu {{hws|pertanya|pertanyaan}}<noinclude>{{rh|28}}</noinclude> s6lo94ibc8vlhpah6p47eep2yf715rz 291804 291791 2026-05-11T06:55:16Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291804 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>yang di Bali sering disebut "pengutik". Karena tanah yang berarti "tanah" (dalam bahasa Indonesia), menurut beliau hanya disebut sekali dalam Nagarakrtagama, sedang puluhan kali terdapat dalam naskah-naskah kekawin yang lain yang berarti kalam atau alat untuk menulis atau semacam pisau kecil. Uraian tentang ini telah pula dibacakan oleh beliau, sebagai sumbangan pada International Congress of Orientalists yang ke XXVI mulai 4 - 11 Juni 1964 di New Delhi (India).<sup>16)</sup><br><u>Bagaimana seharusnya mempergunakan bahan-bahan hikayat atau babad dipandang dari segi Indonesia sentris.</u> Sumber sejarah dapat kita bagi menjadi dua, yaitu sumber yang tertulis dan sumber yang tak tertulis. Yang tertulis termasuk di dalamnya hikayat atau babad dan sebagainya. Sedang sumber-sumber yang tak tertulis dapat berupa candi atau benda-benda lain yang dihasilkan oleh manusia. Untuk yang belakangan ini sebagai sumber adalah manusia. Karena manusialah sebagai sumber pencipta kebudayaan. Kesulitan-kesulitan sumber tak tertulis ini, ialah bahwa bahan-bahannya tidak begitu saja didapatkan, melainkan harus diselidiki, ditemukan lebih dahulu.<br>Cara penemuannya itu, mungkin secara kebetulan, mungkin pula harus dengan sengaja mencarinya; yaitu dengan jalan penyelidikan dan penelitian yang biasanya didasarkan atas adanya suatu petunjuk. Maka untuk membatasi persoalan pada hikayat atau babad, baiklah kami tinggalkan dahulu, karena hal ini banyak menyangkut soal kepurbakalaan. Untuk memandangi bahan-bahan sejarah dari segi Indonesia sentris kita tak dapat lepas dari persoalan subyektif - obyektif dan soal interpretasi. "Indonesia sentris" suatu perkataan yang seringkali diucapkan, tetapi jarang sekali diterangkan. Seperti kata "nasional" yang paling enak didengar, tetapi artinya seringkali dikaburkan. Karena itu subyektifvitas, harus kita pandang sebagai sesuatu yang terpaksa, tetapi tidak boleh merupakan suatu keinginan, atau sesuatu yang disengaja. Sehingga mungkin akan timbul suatu {{hws|pertanya|pertanyaan}}<noinclude>{{rh|28}}</noinclude> 364orwivlpphctkudb0o82my9vbfdqp 291806 291804 2026-05-11T06:55:37Z Moel81 25980 291806 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|Fungsi Hikayat}}</noinclude>yang di Bali sering disebut "pengutik". Karena tanah yang berarti "tanah" (dalam bahasa Indonesia), menurut beliau hanya disebut sekali dalam Nagarakrtagama, sedang puluhan kali terdapat dalam naskah-naskah kekawin yang lain yang berarti kalam atau alat untuk menulis atau semacam pisau kecil. Uraian tentang ini telah pula dibacakan oleh beliau, sebagai sumbangan pada International Congress of Orientalists yang ke XXVI mulai 4 - 11 Juni 1964 di New Delhi (India).<sup>16)</sup><br><u>Bagaimana seharusnya mempergunakan bahan-bahan hikayat atau babad dipandang dari segi Indonesia sentris.</u> Sumber sejarah dapat kita bagi menjadi dua, yaitu sumber yang tertulis dan sumber yang tak tertulis. Yang tertulis termasuk di dalamnya hikayat atau babad dan sebagainya. Sedang sumber-sumber yang tak tertulis dapat berupa candi atau benda-benda lain yang dihasilkan oleh manusia. Untuk yang belakangan ini sebagai sumber adalah manusia. Karena manusialah sebagai sumber pencipta kebudayaan. Kesulitan-kesulitan sumber tak tertulis ini, ialah bahwa bahan-bahannya tidak begitu saja didapatkan, melainkan harus diselidiki, ditemukan lebih dahulu.<br>Cara penemuannya itu, mungkin secara kebetulan, mungkin pula harus dengan sengaja mencarinya; yaitu dengan jalan penyelidikan dan penelitian yang biasanya didasarkan atas adanya suatu petunjuk. Maka untuk membatasi persoalan pada hikayat atau babad, baiklah kami tinggalkan dahulu, karena hal ini banyak menyangkut soal kepurbakalaan. Untuk memandangi bahan-bahan sejarah dari segi Indonesia sentris kita tak dapat lepas dari persoalan subyektif - obyektif dan soal interpretasi. "Indonesia sentris" suatu perkataan yang seringkali diucapkan, tetapi jarang sekali diterangkan. Seperti kata "nasional" yang paling enak didengar, tetapi artinya seringkali dikaburkan. Karena itu subyektifvitas, harus kita pandang sebagai sesuatu yang terpaksa, tetapi tidak boleh merupakan suatu keinginan, atau sesuatu yang disengaja. Sehingga mungkin akan timbul suatu {{hws|pertanya|pertanyaan}}<noinclude>{{rh|28}}</noinclude> oqdvddhiloucuz65dondpq7emj8s02g Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/195 104 103604 291775 2026-05-11T06:30:31Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'a Malia pun Aibuka pada tahun 1922. Tujuan kerajean Kolonial Inggorie pendisikan aoktab perguruan ini dapat disispulken dari perayataaa RO. Winetedt yang ousa hendak members pelajaran pertukangen tangan, Pertanian dan tentang menghetong yang senang-senang dpaya sereka bi~ fa Renjodi potent, nolayan dan tukans yang lebih beik dari ibu bapa sereka, Sesudi dengan Kenajuan {lou yang diniliki oleh sesyarekat Melayy ante deerah pengetshoan dan pe... 291775 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>a Malia pun Aibuka pada tahun 1922. Tujuan kerajean Kolonial Inggorie pendisikan aoktab perguruan ini dapat disispulken dari perayataaa RO. Winetedt yang ousa hendak members pelajaran pertukangen tangan, Pertanian dan tentang menghetong yang senang-senang dpaya sereka bi~ fa Renjodi potent, nolayan dan tukans yang lebih beik dari ibu bapa sereka, Sesudi dengan Kenajuan {lou yang diniliki oleh sesyarekat Melayy ante deerah pengetshoan dan penbocean baci orung Heleyt 4itanbeh 1e6h ite kopiaten pereurathebaran muneul dalan aesyaraket delays, durat- kabar 4) mengikut W.Roff dalaa "Malaysiovspapere" terdapat 46 bush a~ inphe /acJelah eebelon poreng dunia 1 dehulu, Yang mla-oule eetsli suncul ialah "Jawi Peranakan" yong terbit di Singcpura pada tahun 177. Selepes itn auneud pule akbar wekiber. eopertis "Shea Kosas*, ‘Sekclah Helaya®,*™ujun ~ ol ~ Fajorosbagaslslaye" yong seauenre dkeersttan €4 Singopura, Di Pulau Pinang, Taiping tarbit juga akbar SLIDAE. NoLaye. Sayed Sheikh Al-ioci at Pulau Pinang omerbite Xan pole sajelah "Al-Soes (1906) dan doles. tahun 1920 terbit pale ake her behara *endare®, Guru-guruifelayu pula nenurbithan Majelah Gant yang Yenar artinyn dain perkesbangen Kesuresteruan du peaikiran oreng Moteye dtvakty £40. Dedaping mesuntcan berit nyexan aender-oxhbur torsobut jugn HesbSDing auayaraket posbace dalen Aapengen pondidiken agune, adat resaa, soe) Daheen dati soel-aoel aae- yorakat yang bien nonyodarkan orony Holey deck lauunan marek. Sayed Sheikh Alnieai torutane sokali songcunakan aajeleh *al-Tnen® dan oendare” untuc aenyebarkan pengetahuen Zelen yang progrovif. BAQit- DALE portubuhen ensak sodor pile cSpupsk Galen Miajaleh Gara" yang apinpin oleh weYanin Makmer dan teoan-tenantys yang Lain. evita toapatan dun 1uer nogori Keb<noinclude></noinclude> imi32qru6u01c21t6tmgbvb78k1llul 291794 291775 2026-05-11T06:47:20Z Humilis Kumulus 26996 291794 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" />{{rh||17|}}</noinclude>Malim pun dibuka pada tahun 1922. Tujuan kerajean Kolonial Inggeris pendidikan maktab perguruan ini dapat disimpulkan dari pernyataan R.O. Winstedt yang cuma hendak memberi pelajaran pertukangen tangan, pertanian dan tentang menghetong yang senang-senang \(s^{u}\)paya mereka bisa menjadi petani, nelayan dan tukang yang lebih baik dari ibu bapa mereka. Sesudi dengan Kenajuan {lou yang diniliki oleh sesyarekat Melayy ante deerah pengetshoan dan penbocean baci orung Heleyt 4itanbeh 1e6h ite kopiaten pereurathebaran muneul dalan aesyaraket delays, durat- kabar 4) mengikut W.Roff dalaa "Malaysiovspapere" terdapat 46 bush a~ inphe /acJelah eebelon poreng dunia 1 dehulu, Yang mla-oule eetsli suncul ialah "Jawi Peranakan" yong terbit di Singcpura pada tahun 177. Selepes itn auneud pule akbar wekiber. eopertis "Shea Kosas*, ‘Sekclah Helaya®,*™ujun ~ ol ~ Fajorosbagaslslaye" yong seauenre dkeersttan €4 Singopura, Di Pulau Pinang, Taiping tarbit juga akbar SLIDAE. NoLaye. Sayed Sheikh Al-ioci at Pulau Pinang omerbite Xan pole sajelah "Al-Soes (1906) dan doles. tahun 1920 terbit pale ake her behara *endare®, Guru-guruifelayu pula nenurbithan Majelah Gant yang Yenar artinyn dain perkesbangen Kesuresteruan du peaikiran oreng Moteye dtvakty £40. Dedaping mesuntcan berit nyexan aender-oxhbur torsobut jugn HesbSDing auayaraket posbace dalen Aapengen pondidiken agune, adat resaa, soe) Daheen dati soel-aoel aae- yorakat yang bien nonyodarkan orony Holey deck lauunan marek. Sayed Sheikh Alnieai torutane sokali songcunakan aajeleh *al-Tnen® dan oendare” untuc aenyebarkan pengetahuen Zelen yang progrovif. BAQit- DALE portubuhen ensak sodor pile cSpupsk Galen Miajaleh Gara" yang apinpin oleh weYanin Makmer dan teoan-tenantys yang Lain. evita toapatan dun 1uer nogori Keb<noinclude></noinclude> ek3cxzhhowf42olf576iji8wh9tbb1h 292023 291794 2026-05-11T11:56:08Z Humilis Kumulus 26996 /* Telah diuji baca */ 292023 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Humilis Kumulus" />{{rh||17|}}</noinclude>Malim pun dibuka pada tahun 1922. Tujuan kerajean Kolonial Inggeris pendidikan maktab perguruan ini dapat disimpulkan dari pernyataan R.O. Winstedt yang cuma hendak memberi pelajaran pertukangen tangan, pertanian dan tentang menghetong yang senang-senang supaya mereka bisa menjadi petani, nelayan dan tukang yang lebih baik dari ibu bapa mereka. Sesuai dengan kemajuan ilmu yang diniliki oleh masyarakat Melayu maka daerah pengetahuan dan pembacaan bagi orang Melayu ditambah lagi bila kegiatan persuratkabaran muncul dalam masyarakat Melayu, suratkabar 4) mengikut W.Roff dalam "Malaynewspapers" terdapat 46 buah akhbar/majalah sebelum perang dunia II dahulu, Yang mula-mula sekali muncul ialah "Jawi Peranakan" yang terbit di Singapura pada tahun 1877. Selepas itu muncul pula akhbar-akhbar. seperti: "Shamsul Kamar", "Sekolah Melayu", "Hujum - al - Fajar"", "Lembaga Melayu" yang semuanya diterbitkan di Singapura. Di Pulau Pinang, Taiping tarbit juga akhbar-akhbar Melayu. Sayed Sheikh Al-Hadi di Pulau Pinang menerbitkan pula majalah "Al-Imam" (1906) dan dalam tahun 1920 terbit pula akhbar baharu "Saudara". Guru-guru Melayu pula menerbitkan "Majalah Guru" yang besar artinyn dalam perkembangan kesusasteraan dan pemikiran orang Melayu diwaktu itu. Disamping memuatkan berita-berita tempatan dan luar negeri kebanyakan akhbar-akhbar tersebut juga membibing masyarakat pembaca dalam lapangan pendidikan agama, adat resam, soal bahasa dan soal-soal masyarakat yang bisa menyedarkan orang Melayu dari lamunan mereka. Sayed Sheikh Al-Hadi terutama sekali mennggunakan majalah "Al-Imam" dan "Saudara" untuk menyebarkan pengetahuan Islam yang progresif. Bibit-bibit pertumbuhan sejak moden pula dipupuk dalam "Majalah Guru" yang dipimpin oleh M.Yamin Makmur dan teman-temannya yang lain.<noinclude></noinclude> o0lp9ptsc0oz3opy6q8nqscmojtck6i Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/512 104 103605 291776 2026-05-11T06:30:36Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '1) 2) 3) 4) 5) 3 : 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) Fungsi Hikayat Sejarah Melayu: (edisi Abdullah), dengan anotasi T,D, Sima- tupang Dr. A. Teeuw uengan bantuan Amal Hamzah, Penerbit Jambatan, 1958, (halaman) XII, ibid. (halaman) XIV E.N.S.I.LE.3 jilid II, halamun ?1, infra, halaman 8. W.L. Olthof: Babad Tanah Djawi, (Punika serat Babad Tanah Djawi saking Nabi Adam dumugri ing taun 1647), Leiden,... 291776 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>1) 2) 3) 4) 5) 3 : 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) Fungsi Hikayat Sejarah Melayu: (edisi Abdullah), dengan anotasi T,D, Sima- tupang Dr. A. Teeuw uengan bantuan Amal Hamzah, Penerbit Jambatan, 1958, (halaman) XII, ibid. (halaman) XIV E.N.S.I.LE.3 jilid II, halamun ?1, infra, halaman 8. W.L. Olthof: Babad Tanah Djawi, (Punika serat Babad Tanah Djawi saking Nabi Adam dumugri ing taun 1647), Leiden, April - 1941. W.L. Olthof: op. cit, R.O. Winstedt: op. cit. halaman 45, infra, halaman 19 W.L. Olthofs:s op. cit. haliman 314. Dr. C.A., Mees: De Menu si ivan Koetzi, Jansna Bb 1935, halaman 26 - 27e Prof. Dr. A.A. Fokker, (dosen luer biasa Fak Sastra dan Kebu- budayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, delam mata kuliah Ilmu Bahasa), Rene Wellek dan Austin Warren: Theory of Literature, cetakan kedua. A., Harvest B ok, Harecourt, Brace and Company, New York 1955, hal. 242-243. Prof. Dr. P.J. Zoetmulder: Kawi dan Kekawin, (Penerbit Yayasan 7 «3 ORA leo -anttana Fonds, Universit.s Gajah Mada), hal. 4 id., ibid. op. cit. hal, 26 id., ibid 3 hal. 23 Prof. Dr, P.J. Zoetmulder: "The Old Javanese Poet and his Craft", (halaman 3 pada naskah yang kami miliki). Drs. R. Soekmono : "Pemeliharaan dan penggunaan bahan-bahan sejarah", prasaran dalam seminar sojarah. (tanggal 14-18 Desember 1957), d1 Yogyakarta. Singkatan: AA N. - Tahfat al Nafis LH . . 1 hn: . . . . S.M.B. - Silsilah kolayu dan Bugis dan sokalian raja-rajanya 30<noinclude></noinclude> ka6c9hr7avpxsomt25tea5tl676pp1d 291779 291776 2026-05-11T06:34:17Z Moel81 25980 291779 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>1) 2) 3) 4) 5) 3 : 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) Fungsi Hikayat #{{Hanging indent|4em|Sejarah Melayu: (edisi Abdullah), dengan anotasi T,D, Sima-tupang Dr. A. Teeuw uengan bantuan Amal Hamzah, Penerbit Jambatan, 1958, (halaman) XII,}} ibid. (halaman) XIV E.N.S.I.LE.3 jilid II, halamun ?1, infra, halaman 8. W.L. Olthof: Babad Tanah Djawi, (Punika serat Babad Tanah Djawi saking Nabi Adam dumugri ing taun 1647), Leiden, April - 1941. W.L. Olthof: op. cit, R.O. Winstedt: op. cit. halaman 45, infra, halaman 19 W.L. Olthofs:s op. cit. haliman 314. Dr. C.A., Mees: De Menu si ivan Koetzi, Jansna Bb 1935, halaman 26 - 27e Prof. Dr. A.A. Fokker, (dosen luer biasa Fak Sastra dan Kebu- budayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, delam mata kuliah Ilmu Bahasa), Rene Wellek dan Austin Warren: Theory of Literature, cetakan kedua. A., Harvest B ok, Harecourt, Brace and Company, New York 1955, hal. 242-243. Prof. Dr. P.J. Zoetmulder: Kawi dan Kekawin, (Penerbit Yayasan 7 «3 ORA leo -anttana Fonds, Universit.s Gajah Mada), hal. 4 id., ibid. op. cit. hal, 26 id., ibid 3 hal. 23 Prof. Dr, P.J. Zoetmulder: "The Old Javanese Poet and his Craft", (halaman 3 pada naskah yang kami miliki). Drs. R. Soekmono : "Pemeliharaan dan penggunaan bahan-bahan sejarah", prasaran dalam seminar sojarah. (tanggal 14-18 Desember 1957), d1 Yogyakarta. Singkatan: AA N. - Tahfat al Nafis LH . . 1 hn: . . . . S.M.B. - Silsilah kolayu dan Bugis dan sokalian raja-rajanya 30<noinclude></noinclude> j2omwcox4g6ui6ankprseqcxe8m7dyn 291800 291779 2026-05-11T06:52:46Z Moel81 25980 291800 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|Fungsi Hikayat}}</noinclude>#{{Hanging indent|4em|Sejarah Melayu: (edisi Abdullah), dengan anotasi T.D. Simatupang Dr. A. Teeuw dengan bantuan Amal Hamzah. Penerbit Jambatan, 1958, (halaman) XII.}} #{{Hanging indent|4em|ibid. (halaman) XIV}} #{{Hanging indent|4em|E.N.S.I.E.: jilid II, halaman 21.}} #{{Hanging indent|4em|infra, halaman 8.}} #{{Hanging indent|4em|W.L. Olthof: <u>Babad Tanah Djawi</u>, (Punika serat Babad Tanah Djawi saking Nabi Adam dumugi ing taun 1647), Leiden, April – 1941.}} #{{Hanging indent|4em|W.L. Olthof: op. cit.}} #{{Hanging indent|4em|R.O. Winstedt: op. cit. halaman 45.}} #{{Hanging indent|4em|infra, halaman 19}} #{{Hanging indent|4em|W.L. Olthof: op. cit. halaman 314.}} #{{Hanging indent|4em|Dr. C.A. Mees: <u>De Kroniek van Koetei</u>, diss., Santpoort 1935, halaman 26 – 27.}} #{{Hanging indent|4em|Prof. Dr. A.A. Fokker, (dosen luar biasa Fak Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta; dalam mata kuliah Ilmu Bahasa).}} #{{Hanging indent|4em|Rene Wellek dan Austin Warren: <u>Theory of Literature</u>, cetakan kedua. A. Harvest Book, Hareourt, Brace and Company, New York 1955, hal. 242-243.}} #{{Hanging indent|4em|Prof. Dr. P.J. Zoetmulder: <u>Kawi dan Kekawin</u>, (Penerbit Yayasan Fonds, Universitas Gajah Mada), hal. 4}} #{{Hanging indent|4em|id., ibid. op. cit. hal. 26}} #{{Hanging indent|4em|id., ibid : hal. 23}} #{{Hanging indent|4em|Prof. Dr. P.J. Zoetmulder: "The Old Javanese Poet and his Craft", (halaman 3 pada naskah yang kami miliki).}} #{{Hanging indent|4em|Drs. R. Soekmono : "Pemeliharaan dan penggunaan bahan-bahan sejarah", prasaran dalam seminar sejarah (tanggal 14 – 18 Desember 1957), di Yogyakarta.}} <br> :<u>Singkatan:</u> :{| |T.N.||=||Tahfat al Nafis |- |S.M.B.||=||Silsilah Melayu dan Bugis dan sekalian raja-rajanya |}<noinclude></noinclude> 8hh8qh9194tl1d8n0eolbd9qigmk4uw 291801 291800 2026-05-11T06:53:37Z Moel81 25980 291801 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh|Fungsi Hikayat}}</noinclude>#{{Hanging indent|4em|Sejarah Melayu: (edisi Abdullah), dengan anotasi T.D. Simatupang Dr. A. Teeuw dengan bantuan Amal Hamzah. Penerbit Jambatan, 1958, (halaman) XII.}} #{{Hanging indent|4em|ibid. (halaman) XIV}} #{{Hanging indent|4em|E.N.S.I.E.: jilid II, halaman 21.}} #{{Hanging indent|4em|infra, halaman 8.}} #{{Hanging indent|4em|W.L. Olthof: <u>Babad Tanah Djawi</u>, (Punika serat Babad Tanah Djawi saking Nabi Adam dumugi ing taun 1647), Leiden, April – 1941.}} #{{Hanging indent|4em|W.L. Olthof: op. cit.}} #{{Hanging indent|4em|R.O. Winstedt: op. cit. halaman 45.}} #{{Hanging indent|4em|infra, halaman 19}} #{{Hanging indent|4em|W.L. Olthof: op. cit. halaman 314.}} #{{Hanging indent|4em|Dr. C.A. Mees: <u>De Kroniek van Koetei</u>, diss., Santpoort 1935, halaman 26 – 27.}} #{{Hanging indent|4em|Prof. Dr. A.A. Fokker, (dosen luar biasa Fak Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta; dalam mata kuliah Ilmu Bahasa).}} #{{Hanging indent|4em|Rene Wellek dan Austin Warren: <u>Theory of Literature</u>, cetakan kedua. A. Harvest Book, Hareourt, Brace and Company, New York 1955, hal. 242-243.}} #{{Hanging indent|4em|Prof. Dr. P.J. Zoetmulder: <u>Kawi dan Kekawin</u>, (Penerbit Yayasan Fonds, Universitas Gajah Mada), hal. 4}} #{{Hanging indent|4em|id., ibid. op. cit. hal. 26}} #{{Hanging indent|4em|id., ibid : hal. 23}} #{{Hanging indent|4em|Prof. Dr. P.J. Zoetmulder: "The Old Javanese Poet and his Craft", (halaman 3 pada naskah yang kami miliki).}} #{{Hanging indent|4em|Drs. R. Soekmono : "Pemeliharaan dan penggunaan bahan-bahan sejarah", prasaran dalam seminar sejarah (tanggal 14 – 18 Desember 1957), di Yogyakarta.}} <br> :<u>Singkatan:</u> :{| |T.N.||=||Tahfat al Nafis |- |S.M.B.||=||Silsilah Melayu dan Bugis dan sekalian raja-rajanya |}<noinclude>{{rh|30}}</noinclude> 4d9lbccui0ic7e2rz930vmg0gg6p2r8 291803 291801 2026-05-11T06:53:46Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291803 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh|Fungsi Hikayat}}</noinclude>#{{Hanging indent|4em|Sejarah Melayu: (edisi Abdullah), dengan anotasi T.D. Simatupang Dr. A. Teeuw dengan bantuan Amal Hamzah. Penerbit Jambatan, 1958, (halaman) XII.}} #{{Hanging indent|4em|ibid. (halaman) XIV}} #{{Hanging indent|4em|E.N.S.I.E.: jilid II, halaman 21.}} #{{Hanging indent|4em|infra, halaman 8.}} #{{Hanging indent|4em|W.L. Olthof: <u>Babad Tanah Djawi</u>, (Punika serat Babad Tanah Djawi saking Nabi Adam dumugi ing taun 1647), Leiden, April – 1941.}} #{{Hanging indent|4em|W.L. Olthof: op. cit.}} #{{Hanging indent|4em|R.O. Winstedt: op. cit. halaman 45.}} #{{Hanging indent|4em|infra, halaman 19}} #{{Hanging indent|4em|W.L. Olthof: op. cit. halaman 314.}} #{{Hanging indent|4em|Dr. C.A. Mees: <u>De Kroniek van Koetei</u>, diss., Santpoort 1935, halaman 26 – 27.}} #{{Hanging indent|4em|Prof. Dr. A.A. Fokker, (dosen luar biasa Fak Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta; dalam mata kuliah Ilmu Bahasa).}} #{{Hanging indent|4em|Rene Wellek dan Austin Warren: <u>Theory of Literature</u>, cetakan kedua. A. Harvest Book, Hareourt, Brace and Company, New York 1955, hal. 242-243.}} #{{Hanging indent|4em|Prof. Dr. P.J. Zoetmulder: <u>Kawi dan Kekawin</u>, (Penerbit Yayasan Fonds, Universitas Gajah Mada), hal. 4}} #{{Hanging indent|4em|id., ibid. op. cit. hal. 26}} #{{Hanging indent|4em|id., ibid : hal. 23}} #{{Hanging indent|4em|Prof. Dr. P.J. Zoetmulder: "The Old Javanese Poet and his Craft", (halaman 3 pada naskah yang kami miliki).}} #{{Hanging indent|4em|Drs. R. Soekmono : "Pemeliharaan dan penggunaan bahan-bahan sejarah", prasaran dalam seminar sejarah (tanggal 14 – 18 Desember 1957), di Yogyakarta.}} <br> :<u>Singkatan:</u> :{| |T.N.||=||Tahfat al Nafis |- |S.M.B.||=||Silsilah Melayu dan Bugis dan sekalian raja-rajanya |}<noinclude>{{rh|30}}</noinclude> 2nufvrrri2a7fe6cq8d6jl6xzptqtei Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/154 104 103606 291778 2026-05-11T06:32:56Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291778 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>''Sekilas lintas'' {{center|<big><big><big>RAPAT PARA PENGUASA MILITER SELURUH INDONESIA</big></big></big>}} {{center|''Oleh:'' '''SSD'''}} Seperti jang telah diputuskan dalam rapat para Panglima tanggal 22 Maret 1957 jl., maka berlangsunglah mulai tanggal 26 April s/d 28 April 1957 rapat para Penguasa Militer seluruh Indonesia dengan mengambil tempat diistana Negara di Djakarta. Kalau pada rapat para Panglima tempo hari perhatian dunia pers sangat besar, maka kali inipun perhatian adalah melebihi dari rapat para Panglima tempo hari, ini sudah djelas. Hari pertama tanggal 26 April 1957 : Halaman istana Negara penuh dengan susunan mobil² para pengikut dan penjelenggara konperensi. Didalam ruangan istana medja² telah tersusun membudjur telur beralaskan serba putih, sedang medja pandjang dimana duduk PJM. Panglima Tertinggi, KSAD., KSAL., KSAU., Djaksa Agung, Kep. Kepolisian Negara dan Wk. KSAD. beralaskan kain hidjau. Setelah djam menundjukkan angka 08.00, announcer memberitahukan bahwa sebentar lagi PJM. Panglima Tertinggi akan sampai. Kepada para djuropotret dipersilahkan untuk mengambil positie masing² menanti kedatangan Presiden. Dari djauh sudah terdengar genderang penghormatan dan para hadirin telah siap menanti kedatangan beliau. Presiden memasuki ruangan sidang beserta pengiring dan mengambil tempat jang telah tersedia, kemudian tegak lurus² dan ......... lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang didalam ruangan. Selesainja lagu kebangsaan, lalu KSAD. memberikan laporan kepada Panglima Tertinggi. Para djuropotret diberi kebebasan untuk selama 5 menit mengambil gambar terhadap sasaran jang mendjadi kebutuhan mereka sendiri utk. melajani surat kabarnja masing². Selesai ini mereka dipersilahkan meninggalkan ruangan dan keadaan dalam ruangan segera pula mendjadi hening sepi, semua mata disorotkan kepada PJM. Presiden, Panglima Tertinggi. Beliau memulai amanatnja, mula² pelan satu² kata keluar, lalu keras, meninggi, pelan kembali, keras lagi dalam irama nada² jang teratur mendjedjak tiap² hati para pengikut konperensi itu. Tigapuluh lima menit lamanja suasana jang demikian ini, dan ........... inilah gambaran pada saat pembukaan rapat Para Penguasa Militer seluruh Indonesia. Setelah Kolonel Sadikin memberikan laporan, maka Presiden beserta ketua Mahkamah Agung, Ketua Konstituante dan Ketua DPR serta para menteri² meninggalkan ruangan dan rapat diskors sebentar untuk dimulai kembali pada djam 09.30. Rapat hari pertama pada siang hari ini ditutup pada djam 12.00. Singkatnja mengenai hasil² dari rapat ini adalah sbb. : Oleh Para Penguasa Militer seluruh Indonesia dikemukakan sebab musabab dari semua persoalan jang kita hadapi dewasa ini, terutama mengenai persoalan-persoalan daerah, jakni rasa ketidak puasan tentang keadaan Negara dan Bangsa kita setelah 11 tahun merdeka. Djuga dikemukakan saran² mengenai langkah² jang harus diambil untuk dapat keluar dari semua kesulitan jang dihadapi. Saran² mana jang telah dikemukakan dari hati jang tulus ichlas dan dalam suasana penuh keinsjafan itu semuanja telah ditampung oleh Kepala Staf Angkatan Darat guna didjadikan bahan² pertimbangan selandjutnja. Kemudian untuk dapat merumuskan setjara teratur tentang segala pemandangan-pemandangan/usulan² jang telah dikemukakan itu, rapat memutuskan untuk membentuk 4 seksi jang terdiri dari : * Seksi Keamanan dipimpin oleh kol. Dr. Ibnu Sutowo. * Seksi Otonomie dipimpin oleh Sekdjen Kem. Dalam Negeri, Mr. Sumarman. * Seksi Transmigrasi dipimpin oleh Sekdjen Kem. Sosial Mr. Sudjahri. * Seksi Finex/Pembangunan dipimpin oleh Sekdjen Kem. Perdagangan Mr. Sumarno dan Directur Djenderal Biro Perantjang Negara Mr. Ali Budiardjo. Dalam tiap² seksi duduk seorang wakil daerah jang dikuasakan oleh Penguasa Militer Daerah. Disamping ini untuk dapat menampung suara² dalam konperensi itu, oleh KSAD. telah diambil kebidjaksanaan membentuk seksi khusus guna merumuskan soal² jang penting bagi seluruh Negara jang dikemukakan oleh beberapa peserta rapat, tetapi jang tidak termasuk dalam atjara jang telah ditentukan. Dalam seksi ini duduk pula para Penguasa Militer jang telah mengadjukan persoalan² tersebut. Hasil² singkat dari Seksi² ini jang telah berapat siang dan malam dalam kelompok masing² adalah a.l. sebagai berikut : '''SEKSI KHUSUS :''' Seksi khusus ini mempersoalkan 3 persoalan pokok, jakni : # Mengenai persoalan Dwi Tunggal : Telah dijakini bahwa pentingnja kedudukan Bung Karno dan Bung Hatta dihati rakjat tetap mendjadi unsur untuk dapat bersama-sama memetjahkan persoalan jang kita hadapi dewasa ini.<noinclude> 36</noinclude> 4n1l2v1mpvqkjq4gbidj2p8p314499y Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/155 104 103607 291780 2026-05-11T06:34:23Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291780 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} ''Sebelum rapat Penguasa Militer Seluruh Indonesia dimulai, maka didengungkanlah lebih dahulu lagu Indonesia Raya. Dalam gambar tampak Presiden/Panglima Tertinggi bersama para peserta rapat sedang menjanjikan lagu kebangsaan kita. Sedang pada gambar tengah rapat Penguasa Militer dengan Kepala? Daerah. Disini kelihatan, Kepala Daerah Istimewa Djokjakarta Sri Sultan Mamengku Buwono sedang bertjakap? dengan wakilnja.'' ''Pemandangan ruangan rapat Penguasa Militer dengan para Sekretaris Djenderal Kementerian2.'' {{Missing image}}<noinclude></noinclude> cwweb40ezeknftnsill7yksk8wnhhzf Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/156 104 103608 291783 2026-05-11T06:36:06Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291783 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} ''Sebelum rapat-rapat akan dimulai, maka KSAD Djen. Maj. A.H. Nasution terlebih dahulu mengadakan rapat chusus dengan para Penguasa Militer.'' {{center|''Tenang dan penuh pengertian jang mendalam menjelubungi suasana rapat.''}} {{Missing image}}<noinclude></noinclude> 8j13e7nxkuhf7mrt1z0kmotrlfamg1j Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/157 104 103609 291784 2026-05-11T06:37:57Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291784 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} ''Suasana rapat jang meriah, tiba-tiba mendjadi sunji, ketika Let. Kol. Mr Muhono membatjakan Undang-undang Anti Korupsi,'' ''Dua tokoh penting dalam rangka usaha memberantas korupsi. Tampak Djaksa Tentara Agung Let. Djend Suprapto. sedang bertjakap? dengan Kmd. CPM. Let. Kol. Rusli.'' {{Missing image}}<noinclude></noinclude> ctm61ju6dgcs4m43m3t2uuo40sg2tub Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/391 104 103610 291786 2026-05-11T06:39:24Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{hwe|sungguhnya|sesungguhnya}} k..limat belum terpecahkan, Fendekatan lain perlu dilakukan, untuk memperjelas masalah, 1.3. Dalam ilmu bahasa/lingguistik, bentuk bahasa adikku me- nangis biasa disebut bentuk ketatabahasaan, yakni bentuk yang bertalian dengan morfologi dan sintaksis. Apakah bentuk serupa itu dapat dikatakan kulimat? Jawab- nya akan dikembalikan lebih dulu pada kenyataan, bahwa bentuk bahasa sesungguhnya ialah puda perist... 291786 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>{{hwe|sungguhnya|sesungguhnya}} k..limat belum terpecahkan, Fendekatan lain perlu dilakukan, untuk memperjelas masalah, 1.3. Dalam ilmu bahasa/lingguistik, bentuk bahasa adikku me- nangis biasa disebut bentuk ketatabahasaan, yakni bentuk yang bertalian dengan morfologi dan sintaksis. Apakah bentuk serupa itu dapat dikatakan kulimat? Jawab- nya akan dikembalikan lebih dulu pada kenyataan, bahwa bentuk bahasa sesungguhnya ialah puda peristiwa pemakaian bahasa an- tara dua pemakai bahasa atau lebih, misalnya: (1) A: Hasan! (2) Bs: ada 2pa? (3) As Mana adikmu? (4) Bs Di kanar. (5) A: Sedang upa dia? . (6) Bs Sedung menangis. (7) ks Adikmu menangis? (8) B3 Ya, Adikku menangis. Apa pedulimu? Adikku menangis bukan urusanmu, (9) A: Sabarlah. Jangan dulu engkau marah. Aku hanya ingin bertemu dengan dia, Dari peristiwa pemakaian bahasa diatas nunc21lah 9 satuan tuturan, Tjap satuan tuturan puda peristiwa pemakaiannya ditan- dai oleh udanya hentian utuu senyapan pada awal maupun ukhir. Ataus tiap satuan tuturan diaahului oleh senyapan sebelum seo- rang pemakai bahasa tertuturan dan diakhiri oleh senyapan ke- tika terjadi perguntian bertutur Oleh pemakai bahasa yang lain. Di antara dua senyavan itu terbrntanglah ana yang biasa disebut lagu/intonssi dengan titinada tertentn, Pada satuan tuturan (8) ditemukan dua kali munculnya ben- tuk ketatabshasaan adikku menangis, yakni pada (a) adikku me- nangis, dan (b) Adikku menangis bukan urusanmu, Pada (a), ben- tuk itu secara relatif (dalam urti puda dasarnya tidek lepas samasekali dari konteksnya) dapat dituturkan tersendiri, bebas dan lengkup, dengan intonasi akhir tertentu. Pada (b), bentuk itu tidak bisa diutapkan tersehdiri, tid:k bebas, melainkan terikat pada bentuk ketatabahasaan yang lebih besar, yaxni Adikku menantris bukan urusanmu: bentuk adikku menapgis di sini<noinclude>{{rh||23|}}</noinclude> 660ghubba20yzutdwbn3wy1nfuw0jxv Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/159 104 103611 291788 2026-05-11T06:40:12Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291788 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><big>PERHATIKANLAH !</big> <big><big><big>'''KESEHATANMU SEHARI-HARI.'''</big></big></big> Kesehatan, adalah faktor utama dari kehidupan kita sehari hari. Seseorang jang mempunjat rochani dan djasmani jang sehat maka berbahagialah orang itu, tetapi kadang: kebahagiaan ini tidak diinspjafi, bahkan kerap kali dilupakan. Baru setelah ia terserang sesuatu penjakit, Infleunsa umpamanja, dimana penjakit itutiba? menjerang dirinja, sehingga menjebabkan ta harus mengingau karena panasnja kepala jang bukan main tingginja dan mulasnja? perut jang tidak dapat muntah, maka dalam waktu sekedjap sadja muka jang dahulu berseri, lelah berubah mendjadi putjat pasi. Setelah ia sembuh dari penjakitnja ia sedar betapa besar faedahnja, apabila seseorang itu memiliki kesehatan jang sempurna. Maka tepatlah pepatah jang mengatakan bahwa : MENGOBATI PENJAKIT BAIK, TETAPI MENTJEGAH TERSERANGNJA PENJAKIT ADALAH LEBIH BAIK. Dus untuk mendjauhi setiap penjakit jang pada suatu saat dapat menjerang kita maka dibawah ini Maba buatkan tjara? jang sederhana guna mendjaga kesehaan itu. {{Missing image}}<noinclude> 41</noinclude> ch5cqea9d2rwsbrbtwgehw9h0cbqmxb 291790 291788 2026-05-11T06:41:13Z Link PB 26772 291790 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><big>PERHATIKANLAH !</big> {{center|<big><big><big>'''KESEHATANMU SEHARI-HARI.'''</big></big></big>}} Kesehatan, adalah faktor utama dari kehidupan kita sehari hari. Seseorang jang mempunjat rochani dan djasmani jang sehat maka berbahagialah orang itu, tetapi kadang: kebahagiaan ini tidak diinspjafi, bahkan kerap kali dilupakan. Baru setelah ia terserang sesuatu penjakit, Infleunsa umpamanja, dimana penjakit itutiba? menjerang dirinja, sehingga menjebabkan ta harus mengingau karena panasnja kepala jang bukan main tingginja dan mulasnja? perut jang tidak dapat muntah, maka dalam waktu sekedjap sadja muka jang dahulu berseri, lelah berubah mendjadi putjat pasi. Setelah ia sembuh dari penjakitnja ia sedar betapa besar faedahnja, apabila seseorang itu memiliki kesehatan jang sempurna. Maka tepatlah pepatah jang mengatakan bahwa : MENGOBATI PENJAKIT BAIK, TETAPI MENTJEGAH TERSERANGNJA PENJAKIT ADALAH LEBIH BAIK. Dus untuk mendjauhi setiap penjakit jang pada suatu saat dapat menjerang kita maka dibawah ini Maba buatkan tjara? jang sederhana guna mendjaga kesehaan itu. {{Missing image}}<noinclude> 41</noinclude> qqcfnat2gk9d1cdrls9my70ulptzpjp Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/392 104 103612 291789 2026-05-11T06:40:56Z Humilis Kumulus 26996 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'merupakan b. sian b.intuk yang lebih besar, Demikianlah ditemukan dua mucam bentuk ketetabahasaung tuturan bebas dan tuturan ter- ikat. Dan deri 9 sutuan tuturen itu ditemukunlah 14 tuturan bebas, yang berdasarkan suatu anulisa dapat dibedakan pula atasstuturan barns minim, yekni (1), (4), (6), (6) Ya, dun 99) Sabarlah, dan tuturan bebas bukan minim, yakni sisanya, Tuturan bebas minir atzu bukan minim itulah yang dianggap artikel ini... 291789 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Humilis Kumulus" /></noinclude>merupakan b. sian b.intuk yang lebih besar, Demikianlah ditemukan dua mucam bentuk ketetabahasaung tuturan bebas dan tuturan ter- ikat. Dan deri 9 sutuan tuturen itu ditemukunlah 14 tuturan bebas, yang berdasarkan suatu anulisa dapat dibedakan pula atasstuturan barns minim, yekni (1), (4), (6), (6) Ya, dun 99) Sabarlah, dan tuturan bebas bukan minim, yakni sisanya, Tuturan bebas minir atzu bukan minim itulah yang dianggap artikel ini sebagai kalimat. Atuu3 Kalimat ialah bentuk ketatabahasaun yung dalam penuturannya dibatasi oleh dua se- nyupan dan intonasi yang menyatakan bahwa bentuk itu relatif bebas dun lengkap. 2 2.1 Delam peristiwa yremukuaijan bahasa, jumlah kalimat tidak Na dana aan Polanya pun beraneka mucam, tidek terukur pula, Namun dalam telaah buhusa timbullah anggapan, bahwa jumlah kalimat dengan. bermacam pola bersumber dari sejumlah kali- mat yang: cukup terbatus dengan macam pola yang terbatas juga. Kalimat? ini disebut kalimat? sumber. Polanya disebut pola dusar. Dengan kuta lain: dari kalimat sumber terjadi bermacam kalimat bukan sursber yang tak ter- hingga banyaknya, Peristiwa terjadinya kalimat? bukan sumber itu menurut kaidah? tertentu yang disebut kaiduh transformasi. 2.2 Pada nomor ini akan dikemukakan sejumlah pola dasar kali- mat (sumber). .Sebelum menentukan pola dasar ini perlu dikemuka- kan lebih aulu perbatasan? tentang kalimat mana yung merupakan kalimat sumber yang berpola dusar itu: (2) kalimat itu kelimat pernyataan dalam bentuk "aktif"<noinclude>{{rh||24|}}</noinclude> ccyg9qt0lfnh8ujewgrd4joued8gd93 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/196 104 103613 291797 2026-05-11T06:49:40Z Wiwil13 20069 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'SEDANG DIUJI BACA' 291797 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Wiwil13" /></noinclude>SEDANG DIUJI BACA<noinclude></noinclude> gvy2m2xvcqny6ojs8kvso9whpqqvez3 291818 291797 2026-05-11T07:05:49Z Wiwil13 20069 /* Telah diuji baca */ 291818 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" /></noinclude>Dalam tahun-tahun dua puluhan abad ke 20 ini pengarang-pengarang yang terkenal ialah Sayed Sheikh Ahmad Al-Hadi dan Mohamad bin Hj. Mohd Rashid Talu. Zaman ini adalah zanan kebangkitan kesadaran agama Islam yang progresif. Sayed Sheikh yang dilahirkan di Ulu Malaka pada tahun 1867 dan pernah belajar agama dan lain ilmu pada Raja Ali Haji di Pulau Penyengat di kiria oleh bapanya untuk belajar agama islam di Mesir. Waktu di Mesir beliau mendapat pengaruh modenisme dari pengajaran ulama Mohamad Abduh. Sekembalinya dari Mesir beliau mengembangkan pelajaran Islam yang progresif dalan sajalah "Al-Iman" dan juga dalam akhbar "Saudara" Disamping itu beliau banyak sekali menulis buku dan makallah tentang aspek-aspek agama Islam seperti soal riba, cina buta dan sebagainya. Seyed Sheikh benar-benar seorang tokoh ulama yang keluar dari pengajarannya dan kebiasaan ulama-ulama tua dimasa itu. Sungguhpun beliau seorang ulama yang progresif seperti juga dengan ulama-ulama Muhamadiah di Indonesia ini namun beliau lebih jauh kedepan dari kebanyakan ulama-ulama Islam yang lain. Supaya pengajaran-pengajaran dan pikiran-pikirannya dapat diterima oleh masyarakat Melayu yang kolot pada waktu itu beliau mula memberi perhatian kedalam lapangan penulisan novel. Melalui alam sastera kaum Muda (gelaran yang diberikan oleh ulama-ulama Kaum Tua) Sayed Sheikh bisa meluaskan lagi penyebaran ide-idenya supaya masyarakat Melayu sadar dan bangun dari tidur mereka. Demikianlah timbulnya novel sadaran beliau yang bernama {{u|Hikayat Faridah Hanum}} yang terbit pada tahun 1925. Pada dasarnya novel saduran ini mengesahkan percintaan antara pemuda Shafik Effendi dengan Faridah Hanum. Kedua-duanya pemuda pemudi itu orang terpelajar dan kedua-duanya pula tahu bahasa Prancis, satu bahasa asing yang kaya dan bersipat international pengaruhnya pada waktu itu. Pengarang Sayed Sheikh bukan nanya mendedahkan soal percintaan kedua mahluk itu saja dalam novelnya tapi mengajukan pula soal-soal moral, kebebasan dan pergaulan yang seharusnya bisa dipraktekkan dan diredhai oleh Islam. Demikianlah Faridah Hanum untuk mencuba kekasihnya apakah dia seorang yang kuat imannya atau tidak, mengajak kekasihnya untuk memadu asmara, dan menguji ketabahan iman kekasihnya dengan memakai pakaian yang menyolok mata. Rupa-rupanya Shafik Effendi tidak bisa dipengaruhi dengan pakaian yang menggiurkan itu, dan terjadilah perdebatan antara kedua kekasih tentang moral dan kebebasan perempuan dan berbagai aspek kehidupan lagi yang berdasarkan ajaran Islam.<noinclude></noinclude> 0adrvz4o939e104a9nh0nkh11o0grn2 291821 291818 2026-05-11T07:07:54Z Wiwil13 20069 291821 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" /></noinclude>Dalam tahun-tahun dua puluhan abad ke 20 ini pengarang-pengarang yang terkenal ialah Sayed Sheikh Ahmad Al-Hadi dan Mohamad bin Hj. Mohd Rashid Talu. Zaman ini adalah zanan kebangkitan kesadaran agama Islam yang progresif. Sayed Sheikh yang dilahirkan di Ulu Malaka pada tahun 1867 dan pernah belajar agama dan lain ilmu pada Raja Ali Haji di Pulau Penyengat di kirim oleh bapanya untuk belajar agama islam di Mesir. Waktu di Mesir beliau mendapat pengaruh modenisme dari pengajaran ulama Mohamad Abduh. Sekembalinya dari Mesir beliau mengembangkan pelajaran Islam yang progresif dalam sajalah "Al-Iman" dan juga dalam akhbar "Saudara" Disamping itu beliau banyak sekali menulis buku dan makallah tentang aspek-aspek agama Islam seperti soal riba, cina buta dan sebagainya. Seyed Sheikh benar-benar seorang tokoh ulama yang keluar dari pengajarannya dan kebiasaan ulama-ulama tua dimasa itu. Sungguhpun beliau seorang ulama yang progresif seperti juga dengan ulama-ulama Muhamadiah di Indonesia ini namun beliau lebih jauh kedepan dari kebanyakan ulama-ulama Islam yang lain. Supaya pengajaran-pengajaran dan pikiran-pikirannya dapat diterima oleh masyarakat Melayu yang kolot pada waktu itu beliau mula memberi perhatian kedalam lapangan penulisan novel. Melalui alam sastera kaum Muda (gelaran yang diberikan oleh ulama-ulama Kaum Tua) Sayed Sheikh bisa meluaskan lagi penyebaran ide-idenya supaya masyarakat Melayu sadar dan bangun dari tidur mereka. Demikianlah timbulnya novel sadaran beliau yang bernama {{u|Hikayat Faridah Hanum}} yang terbit pada tahun 1925. Pada dasarnya novel saduran ini mengesahkan percintaan antara pemuda Shafik Effendi dengan Faridah Hanum. Kedua-duanya pemuda pemudi itu orang terpelajar dan kedua-duanya pula tahu bahasa Prancis, satu bahasa asing yang kaya dan bersipat international pengaruhnya pada waktu itu. Pengarang Sayed Sheikh bukan nanya mendedahkan soal percintaan kedua mahluk itu saja dalam novelnya tapi mengajukan pula soal-soal moral, kebebasan dan pergaulan yang seharusnya bisa dipraktekkan dan diredhai oleh Islam. Demikianlah Faridah Hanum untuk mencuba kekasihnya apakah dia seorang yang kuat imannya atau tidak, mengajak kekasihnya untuk memadu asmara, dan menguji ketabahan iman kekasihnya dengan memakai pakaian yang menyolok mata. Rupa-rupanya Shafik Effendi tidak bisa dipengaruhi dengan pakaian yang menggiurkan itu, dan terjadilah perdebatan antara kedua kekasih tentang moral dan kebebasan perempuan dan berbagai aspek kehidupan lagi yang berdasarkan ajaran Islam.<noinclude></noinclude> iz7r4cxofrxd5cbp2wvv31raj6sm95l 291988 291821 2026-05-11T11:05:25Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291988 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>Dalam tahun-tahun dua puluhan abad ke 20 ini pengarang-pengarang yang terkenal ialah Sayed Sheikh Ahmad Al-Hadi dan Mohamad bin Hj. Mohd Rashid Talu. Zaman ini adalah zanan kebangkitan kesadaran agama Islam yang progresif. Sayed Sheikh yang dilahirkan di Ulu Malaka pada tahun 1867 dan pernah belajar agama dan lain ilmu pada Raja Ali Haji di Pulau Penyengat di kirim oleh bapanya untuk belajar agama islam di Mesir. Waktu di Mesir beliau mendapat pengaruh modenisme dari pengajaran ulama Mohamad Abduh. Sekembalinya dari Mesir beliau mengembangkan pelajaran Islam yang progresif dalam sajalah "Al-Iman" dan juga dalam akhbar "Saudara" Disamping itu beliau banyak sekali menulis buku dan makallah tentang aspek-aspek agama Islam seperti soal riba, cina buta dan sebagainya. Seyed Sheikh benar-benar seorang tokoh ulama yang keluar dari pengajarannya dan kebiasaan ulama-ulama tua dimasa itu. Sungguhpun beliau seorang ulama yang progresif seperti juga dengan ulama-ulama Muhamadiah di Indonesia ini namun beliau lebih jauh kedepan dari kebanyakan ulama-ulama Islam yang lain. Supaya pengajaran-pengajaran dan pikiran-pikirannya dapat diterima oleh masyarakat Melayu yang kolot pada waktu itu beliau mula memberi perhatian kedalam lapangan penulisan novel. Melalui alam sastera kaum Muda (gelaran yang diberikan oleh ulama-ulama Kaum Tua) Sayed Sheikh bisa meluaskan lagi penyebaran ide-idenya supaya masyarakat Melayu sadar dan bangun dari tidur mereka. Demikianlah timbulnya novel sadaran beliau yang bernama {{u|Hikayat Faridah Hanum}} yang terbit pada tahun 1925. Pada dasarnya novel saduran ini mengesahkan percintaan antara pemuda Shafik Effendi dengan Faridah Hanum. Kedua-duanya pemuda pemudi itu orang terpelajar dan kedua-duanya pula tahu bahasa Prancis, satu bahasa asing yang kaya dan bersipat international pengaruhnya pada waktu itu. Pengarang Sayed Sheikh bukan nanya mendedahkan soal percintaan kedua mahluk itu saja dalam novelnya tapi mengajukan pula soal-soal moral, kebebasan dan pergaulan yang seharusnya bisa dipraktekkan dan diredhai oleh Islam. Demikianlah Faridah Hanum untuk mencuba kekasihnya apakah dia seorang yang kuat imannya atau tidak, mengajak kekasihnya untuk memadu asmara, dan menguji ketabahan iman kekasihnya dengan memakai pakaian yang menyolok mata. Rupa-rupanya Shafik Effendi tidak bisa dipengaruhi dengan pakaian yang menggiurkan itu, dan terjadilah perdebatan antara kedua kekasih tentang moral dan kebebasan perempuan dan berbagai aspek kehidupan lagi yang berdasarkan ajaran Islam.<noinclude></noinclude> 3sc8r1q7e6n1xjnr9od5q9rwvtwc8l7 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/557 104 103614 291812 2026-05-11T07:02:03Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'engan tuan Putri Safiyn Argiyn. Nama Isxandar timbul dari nama daun kayu yang digunakan untuk Saus penyakit tuan er Putri Safiya Argiya. Dalam menyebarkan agama Islam ia di- bantu oleh Nnbi Knidir. In bernnsil mensrislamkan seluruh ne- geri dari masyrik hinsga mesrib. Pada aknir pengembangannya » la kawin dengan Putri Norani Seperti halnya Idengsan Yambo Minmmgkabnu, dalam se- jarah Melayu geneolosi raja-rajanya jusa dihubungkan de... 291812 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>engan tuan Putri Safiyn Argiyn. Nama Isxandar timbul dari nama daun kayu yang digunakan untuk Saus penyakit tuan er Putri Safiya Argiya. Dalam menyebarkan agama Islam ia di- bantu oleh Nnbi Knidir. In bernnsil mensrislamkan seluruh ne- geri dari masyrik hinsga mesrib. Pada aknir pengembangannya » la kawin dengan Putri Norani Seperti halnya Idengsan Yambo Minmmgkabnu, dalam se- jarah Melayu geneolosi raja-rajanya jusa dihubungkan dengan “3 Raja Iskandar Zulkarna- en 1 meyarnaknt Kelayu Iskandar Zulkarnain diang- gap sebagai raja agung. Perhatikanlah pula kutipan di bawah "Adapun nama kari Jan banssn kami bukannja dari pn- da bangsa djin Jan peri. Banwa kami ini, bangsa ma- nusia, asal kami dari pada anak tjutju radja Iskan- dar Dzu'l-karnain, nisab kami dari panda radin Nusir- wan, radja masjrik dan aer dan pantjsr kami dari pada radja Sulaiman 'alaihi's salam dan nama raja ini Bitjitram Sjan dan nama seorang ini Nilam Pan- lawan dan yang seorang ini Karna Fanditas dan pedang Kami ini tjurik Semandang Kini namanja, Jan lembing kami ini Lembuara namanja, jang satu tjap kaju Kempa namanja, dan apabilnh memberi surat panda radja-radja Cjap anilab ditiapkan, "9 Besitu juga halnya dengan Fikayat Aceh juga menyebut- kan banwa Iskandar Zulkarnsinlahn asal-usul raja mereka. Sebi- cal conton dapat kita lihat dalar kiknynt Acen, sebuah naskah di Museum Pusat yang bernomor "1. 196.3 yang pada halaman permulaan hikayat ini berbunyi : Sifatnya yang tiada terperi kepujian, maka diketn- hui Raja Iskandar dengan kerabatnya, banwasannya jalan raja yang turun temurun dan lalah yang masyhur pada segala alam dan ialan anak cucu Iskandar Zul- karnain. Maka senaruanyalan kuambil akan anakku. Kelakian maka Raja Iskandar Muda bun memberi titan kepadanya". Pong api Sena ini juga dapat kita baca dalam bu- ku Bustanus Salatin, karangan Nuru'din ar-Raniri halaman 29, Maka tertera di bawan 1ni : | 23 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973<noinclude></noinclude> lpiucfkn1prud2ihv33q4424hovsg60 291843 291812 2026-05-11T07:43:32Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291843 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>dengan tuan Putri Safiya Arqiya. Nama Iskandar timbul dari nama daun kayu yang digunakan untuk mengobati penyakit tuan Putri Safiya Arqiya. Dalam menyebarkan agama Islam ia dibantu oleh Nabi Khidir. Ia berhasil mengislamkan seluruh negeri dari masyrik hingga magrib. Pada akhir pengembangannya ia kawin dengan Putri Noraini.<sup>8</sup> Seperti halnya dengan Tambo Minangkabau, dalam sejarah Melayu geneologi raja-rajanya juga dihubungkan dengan {{Illegible}} Raja Iskandar Zulkarnain, karena bagi masyarakat Melayu Iskandar Zulkarnain dianggap sebagai raja agung. Perhatikanlah pula kutipan di bawah ini. {{quote|"Adapun nama kami dan bangsa kami bukannja dari pada bangsa djin dan peri. Bahwa kami ini, bangsa manusia, asal kami dari pada anak tjutju radja Iskandar Dzu'l-karnain, nisab kami dari pada radja Nusirwan, radja masjrik dan magrrib dan pantjar kami dari pada radja Sulaiman 'alaihi's salam dan nama raja ini Bitjitram Sjah dan nama seorang ini Nilam Pahlawan dan yang seorang ini Karna Pandita; dan pedang kami ini tjurik Semandang Kini namanja, dan lembing kami ini Lembuara namanja, jang satu tjap kaju Kempa namanja, dan apabila memberi surat pada radja-radja tjap inilah ditjapkan."<sup>9</sup>}} Begitu juga halnya dengan <u>Hikayat Aceh</u> juga menyebutkan bahwa Iskandar Zulkarnainlah asal-usul raja mereka. Sebagai contoh dapat kita lihat dalam <u>Hikayat Aceh</u>, sebuah naskah di Museum Pusat yang bernomor Ml. 196,<sup>10</sup> yang pada halaman permulaan hikayat ini berbunyi : {{quote|"Sifatnya yang tiada terperi kepujian, maka diketahui Raja Iskandar dengan kerabatnya, bahwasannya ialah raja yang turun temurun dan ialah yang masyhur pada segala alam dan ialah anak cucu Iskandar Zulkarnain. Maka seharusnyalah kuambil akan anakku. Kelakian maka Raja Iskandar Muda pun memberi titah kepadanya".}} Sehubungan dengan ini juga dapat kita baca dalam buku Bustanus Salatin, karangan Nuru'din ar-Raniri halaman 29, seperti tertera di bawah ini :<noinclude>{{rh|||23 Bahasa dan Kesusatraan VI (3), 1973}}</noinclude> fp9o68dmks5zxvlysu238v68n8rm6sy Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/566 104 103615 291813 2026-05-11T07:02:18Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'mandia, Bulgar ai 2ulgaria dan laring Sredia di Nusia, akan tetapi semua itu solailn ujsoertni dengan suatu unsur yang sama dan yang sa- ngat vitsl has? proses portumbuhan bahasa, ialah unsur percampuran darah. Olen karena itu kesimpulan kita mongenai perihal pergantian bahasa koluarzn di Amorika Serikat torsebut di atas juga sama. Dan apabila aiselidiki kiranya akan terbukti bahwa sebagian besar pen- duduknya berusrah campuran dara» Inzge... 291813 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" /></noinclude>mandia, Bulgar ai 2ulgaria dan laring Sredia di Nusia, akan tetapi semua itu solailn ujsoertni dengan suatu unsur yang sama dan yang sa- ngat vitsl has? proses portumbuhan bahasa, ialah unsur percampuran darah. Olen karena itu kesimpulan kita mongenai perihal pergantian bahasa koluarzn di Amorika Serikat torsebut di atas juga sama. Dan apabila aiselidiki kiranya akan terbukti bahwa sebagian besar pen- duduknya berusrah campuran dara» Inzgeris. Proses asimilasi inilah yang Meme.yang oeranan sangat penting dalam sotiap prosss pemakaian bahasa pertama/kcluarga. Pelum lama A1 4 kota Indonesia ynitu di Jakarta, Bandung, Yogyasart:. Jan Surahanya dilalutan siatu penyelidikan oleh Dr, Peter Yeldon, serang sarjana tamatan Univceristas Cornell, sesarang menga- jar di Insversitas Sinxapura, menscnai pemakaian bahasa Indonesia di rumaa Crans-0orang "Lenghoa, baik ynng telah menjadi J.N, Indone- sia manyun yan? bon, dan Orang-orang Indonesia asli. Iansilnya ke— radian diurus dalam Geramaanya yang diadakan oleh Leknas pada tangsal HC UkLceer 19 yang lalu sekagai berikut: Ian Bendung Yogyakarta Surabaya. Tionghoa (IN 2 70 67 66 Indonesia 6) 11 2 5 (Angka mentajukkan pressntaso pemakaian bahasa Indonesia di rumah). D1 dalam statistik di atas tidak sanerakan angka mengenai pertemuan darahrya. Berapa rerson perkawinan TH asli, berapa persen perkawinan Campuran. Valem periamrinan campuran ini berapa person T.H, asli, berapa vrag peranakan? Borara persen sebagai suami/ayah, berapa sonasrai isteri /ibu (catatan: perkawinan Indonesia/T. H tidak diseblutknz). Besitu pula halnya dengan keluarga Indonesia asli, pcer- lu ditoerarngtan perkawinan tunggai suku ataukah antar suku. Jika 32 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 197)<noinclude></noinclude> lskrkrbnuxbexb8wdht8b2446gxsl4p 291853 291813 2026-05-11T08:09:43Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 291853 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{hwe|mandia|Normandia}}, Bulgar di Bulgaria dan {{Illegible}} Swedia di Rusia, akan tetapi semua itu selalu disertai dengan suatu unsur yang sama dan yang sangat vital bagi proses pertumbuhan bahasa, ialah unsur percampuran darah. Oleh karena itu kesimpulan kita mengenai perihal pergantian bahasa keluarga di Amerika Serikat tersebut di atas juga sama. Dan apabila diselidiki kiranya akan terbukti bahwa sebagian besar penduduknya berdarah campuran darah Inggris. Proses asimilasi inilah yang memegang peranan sangat penting dalam setiap proses pemakaian bahasa pertama/keluarga. Belum lama di 4 kota Indonesia yaitu di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya dilakukan suatu penyelidikan oleh Dr. Peter Weldon, seorang sarjana tamatan Universitas Cornell, sekarang mengajar di Universitas Singapura, mengenai pemakaian bahasa Indonesia di rumah orang-orang Tionghoa, baik yang telah menjadi W.N. Indonesia maupun yang belum, dan orang-orang Indonesia asli. Hasilnya kemudian diuraikan dalam ceramahnya yang diadakan oleh Leknas pada tanggal 30 Oktober 1971 yang lalu sebagai berikut: {| ! &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;!! <u>Jakarta</u> !! <u>Bandung</u> !! <u>Yogyakarta</u> !! <u>Surabaya</u> |- | Tionghoa (T.H) || 81 || 70 || 67 || 66 |- | Indonesia || 69 || 11 || 2 || 5 |} (Angka menunjukkan prosentase pemakaian bahasa Indonesia di rumah). Di dalam statistik di atas tidak diberikan angka mengenai pertemuan darahnya. Berapa persen perkawinan T.H asli, berapa persen perkawinan campuran. Dalam perkawinan campuran ini berapa persen T.H asli, berapa yang peranakan? Berapa persen sebagai suami/ayah, berapa sebagai isteri/ibu (catatan: perkawinan Indonesia/T.H tidak disebutkan). Begitu pula halnya dengan keluarga Indonesia asli, perlu diterangkan perkawinan tunggal suku ataukah antar suku. Jika<noinclude>{{rh|||32 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> nmee5mh2yz10r5nfh07wsqgrq2gws9d 291924 291853 2026-05-11T09:50:36Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291924 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|mandia|Normandia}}, Bulgar di Bulgaria dan {{Illegible}} Swedia di Rusia, akan tetapi semua itu selalu disertai dengan suatu unsur yang sama dan yang sangat vital bagi proses pertumbuhan bahasa, ialah unsur percampuran darah. Oleh karena itu kesimpulan kita mengenai perihal pergantian bahasa keluarga di Amerika Serikat tersebut di atas juga sama. Dan apabila diselidiki kiranya akan terbukti bahwa sebagian besar penduduknya berdarah campuran darah Inggris. Proses asimilasi inilah yang memegang peranan sangat penting dalam setiap proses pemakaian bahasa pertama/keluarga. Belum lama di 4 kota Indonesia yaitu di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya dilakukan suatu penyelidikan oleh Dr. Peter Weldon, seorang sarjana tamatan Universitas Cornell, sekarang mengajar di Universitas Singapura, mengenai pemakaian bahasa Indonesia di rumah orang-orang Tionghoa, baik yang telah menjadi W.N. Indonesia maupun yang belum, dan orang-orang Indonesia asli. Hasilnya kemudian diuraikan dalam ceramahnya yang diadakan oleh Leknas pada tanggal 30 Oktober 1971 yang lalu sebagai berikut: {| ! &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;!! <u>Jakarta</u> !! <u>Bandung</u> !! <u>Yogyakarta</u> !! <u>Surabaya</u> |- | Tionghoa (T.H) || 81 || 70 || 67 || 66 |- | Indonesia || 69 || 11 || 2 || 5 |} (Angka menunjukkan prosentase pemakaian bahasa Indonesia di rumah). Di dalam statistik di atas tidak diberikan angka mengenai pertemuan darahnya. Berapa persen perkawinan T.H asli, berapa persen perkawinan campuran. Dalam perkawinan campuran ini berapa persen T.H asli, berapa yang peranakan? Berapa persen sebagai suami/ayah, berapa sebagai isteri/ibu (catatan: perkawinan Indonesia/T.H tidak disebutkan). Begitu pula halnya dengan keluarga Indonesia asli, perlu diterangkan perkawinan tunggal suku ataukah antar suku. Jika<noinclude>{{rh|||32 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 6omr2p6qq5rz8zj46538lx4v4jg247r 291935 291924 2026-05-11T10:10:05Z Arymuslichudin 24021 291935 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>{{hwe|mandia|Normandia}}, Bulgar di Bulgaria dan Varing Swedia di Rusia, akan tetapi semua itu selalu disertai dengan suatu unsur yang sama dan yang sangat vital bagi proses pertumbuhan bahasa, ialah unsur percampuran darah. Oleh karena itu kesimpulan kita mengenai perihal pergantian bahasa keluarga di Amerika Serikat tersebut di atas juga sama. Dan apabila diselidiki kiranya akan terbukti bahwa sebagian besar penduduknya berdarah campuran darah Inggris. Proses asimilasi inilah yang memegang peranan sangat penting dalam setiap proses pemakaian bahasa pertama/keluarga. Belum lama di 4 kota Indonesia yaitu di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya dilakukan suatu penyelidikan oleh Dr. Peter Weldon, seorang sarjana tamatan Universitas Cornell, sekarang mengajar di Universitas Singapura, mengenai pemakaian bahasa Indonesia di rumah orang-orang Tionghoa, baik yang telah menjadi W.N. Indonesia maupun yang belum, dan orang-orang Indonesia asli. Hasilnya kemudian diuraikan dalam ceramahnya yang diadakan oleh Leknas pada tanggal 30 Oktober 1971 yang lalu sebagai berikut: {| ! &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;!! <u>Jakarta</u> !! <u>Bandung</u> !! <u>Yogyakarta</u> !! <u>Surabaya</u> |- | Tionghoa (T.H) || 81 || 70 || 67 || 66 |- | Indonesia || 69 || 11 || 2 || 5 |} (Angka menunjukkan prosentase pemakaian bahasa Indonesia di rumah). Di dalam statistik di atas tidak diberikan angka mengenai pertemuan darahnya. Berapa persen perkawinan T.H asli, berapa persen perkawinan campuran. Dalam perkawinan campuran ini berapa persen T.H asli, berapa yang peranakan? Berapa persen sebagai suami/ayah, berapa sebagai isteri/ibu (catatan: perkawinan Indonesia/T.H tidak disebutkan). Begitu pula halnya dengan keluarga Indonesia asli, perlu diterangkan perkawinan tunggal suku ataukah antar suku. Jika<noinclude>{{rh|||32 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 2yatqpw4n3i8msbu6n5prmdlxxa8opk Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/293 104 103616 291814 2026-05-11T07:03:16Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291814 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>daerah dimana ada pembikinan garam oleh Rakjat (Sulawesi-Selatan, Bali, Lombok dan Sumbawa) garam itu banjak sekali dibeli oleh pedagang Bangsa Tionghoa. '''Djaman Kemerdekaan.''' Tepat pada hari Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, Djawatan Regie Tjandu dan Garam Republik Indonesia berdiri sebagai suatu Djawatan dari Pemerintah Republik Indonesia. Jang sedemikian itu terdjadi berhubung dengan telah diurusnja „Senbai Kyoku”{{--}} pada waktu sebelum Proklamasi {{--}} oleh seorang Putera Indonesia sendiri ialah Moekarto Notowidigdo, jang mendjabat sebagai Ka-Tjo pada Zaimubu pemerintahan pendudukan Djepang. Pada waktu itu Djawatan Regie Tjandu /Garam terdiri dari Perusahaan Garam di Madura, Paberik Madat di Djakarta dan Bagian Pendjualan Garam dan Tjandu di Djawa dan Madura. Sebelum rentjana pemulihan Daerah Djawatan sampai pulau-pulau lain dapat mulai diselenggarakan, maka dalam bulan Djanuari 1946 Djawatan Regie Tjandu/Garam terpaksa memindahkan Kantor Pusatnja ke Daerah pedalaman dan berkedudukan di Solo. Adapun besarnja produksi Garam dari Daerah Djawa-Timur dalam tahun 1941, 1945 dan 1946 ialah sebagai berikut: {|class="wikitable" width="100%" |- !rowspan=2|Tempat pembikinan garam !colspan=3|Produksi dihitung dalam ton |- !1941||1945||1946 |- |Gresik{{Ellipsis|8}}||9 .500||1 .000||{{--}} |- |Sampang{{Ellipsis|6}}||82 .000||18.000||2 .000 |- |Pamekasan{{Ellipsis|6}}||16 .000||14 . 000||4 .000 |- |Sumenep{{Ellipsis|7}}||69.000||40 .000||12 .000 |- |Nembakor-Barat{{Ellipsis|4}}||34.500||28 .000||4 .000 |- |Gresik-Putih{{Ellipsis|5}}||26 .000||29.000||5 .000 |- |{{sp|Djumlah}}||237 .000||130 .000||30.000 |} Selama masa tahun 1946 hingga 1948 selalu diusahakan untuk memulihkan Daerah Djawatan Regie Tjandu dan Garam sampai dipulau pulau lain, akan tetapi keadaan pada ketika itu tidak memperkenankan dan tidak berhasil, terutama disebabkan oleh sangat lemahnja keadaan tenaga angkutan dilaut pada umumnja. Sebagai satu-satunja usaha jang dapat diselenggarakan ialah mengandjurkan instansi-instansi Republik Indonesia cq pedagang-pedagang diluar Djawa dan Madura untuk datang dengan perahu-perahu angkutan dan mengambil garam di Madura untuk<noinclude>{{rvh|261}}</noinclude> 4hxbw605sea8uwxcgibkrys1y40zg4m Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/197 104 103617 291822 2026-05-11T07:08:14Z Wiwil13 20069 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'sedang diuji baca' 291822 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Wiwil13" /></noinclude>sedang diuji baca<noinclude></noinclude> l2hc2d5cvsaxq6aeu6c8rqp2wihqm7y 291880 291822 2026-05-11T09:19:07Z Wiwil13 20069 /* Telah diuji baca */ 291880 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" />{{rh||19}}</noinclude>Novel saduran {{u|Hikayat Faridah Hanum}} merupakan satu penubrakan terhadap masyarakat Melayu yang kuat diselaputi oleh adat dan pengajaran agama Islam secara kolot diwaktu itu. Sayed sheikh malu melepaskan rantai yang membelenggui alam pikiran masyarakat Melayu yang konservatif itu dengan mengemukakan persoalan perkawinan saling cinta mencintai antara teruna dan dara tanpa gangguan dari ibu bapa. Teman percintaan ini pun sudah menunjukkan bahwa Sayed Sheikh seorang pelopor yang berani menginjeksikan satu ide baru kedalam masyarakat Melayu yang masih beranggapan bahwa pemilihan jodoh haruslah diserahkan bulat-bulat pada orang tua pemuda pemudi, dan bukan kepada anak-anak mereka sendiri. Seperti Hamka yang juga membawa ajaran Islam yang progresif dan menjadi seorang pengarang buku crita maka Sayed Sheikh tidak sunyi dari kecintaan-kecintaan pedas dari ulama-ulama dan orang-orang lain yang berjiwa kolot. Disinilah timbulnya percintaan konflik yang hebat antara Kaum Tua dengan Kaum Muda. Namun begitu Sayed Sheikh tidak gentar dan terus menterjemahkan dan menyadarkan karya-karya Arab yang lain untuk santapan rohani masyarakat Melayu pada waktu itu. Sungguhpun terdapat larangan untuk pemuda pemudi Melayu membaca buku dan bercinta-cintaan yang terlalu bebas demikian sambutan masyarakat terhadap {{u|Hikayat Faridah Hanum}} sangat mengkagumkan. Mengikut Linda Chen dalam latihan ilmiahnya berjudul "The Time and Life of Sayed Sheikh Ahmad Al-Hadi" keuntungan dari penjualan novel sadurannya itu memungkinkan mendirikan Percetakan Jelutung di Pulau Pinang. Ada beberapa faktor menyebabkan timbulnya reaksi dan sambutan hebat dari pembaca-pembaca Melayu terhadap karya sulung berbentuk fiksyen yang dipersembahkan Sayed Sheikh. Pertama, Sayed Sheikh merupakan pengarang yang pertama mengenalkan bentuk sastera yang baru kedalam masyarakat Melayu dewasa itu. Bentuk ini berbeda sakali dengan bentuk hikayat-hikayat seperti yang terdapat alam sastera lama sebelumnya. Lebih-lebih lagi Sayed Sheikh membicarakan pula konflik dan perasaan yang dialami oleh menusia biasa, rakyat biasa, walaupun watak-watak yang dikemukakan beliau adalah watak-watak pemuda pemudi Arab dari Mesir. Seperti dalam karangan-karangan Tun Sri Lanang, Raja Ali Haji dan sebelumnya maka daerah perceritaan dan perhatian para pengarang tersebut cuma berlingkar dalam suasana istana dan konflik-konflik yang berlaku dalam lingkungan itu, yang pada kebanyakan rakyat dan pembaca biasa, adalah terlalu asing sekali.<noinclude></noinclude> eijumpu3h3qmhvzyw34bp99zi50wfaj 291989 291880 2026-05-11T11:05:45Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291989 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||19}}</noinclude>Novel saduran {{u|Hikayat Faridah Hanum}} merupakan satu penubrakan terhadap masyarakat Melayu yang kuat diselaputi oleh adat dan pengajaran agama Islam secara kolot diwaktu itu. Sayed sheikh malu melepaskan rantai yang membelenggui alam pikiran masyarakat Melayu yang konservatif itu dengan mengemukakan persoalan perkawinan saling cinta mencintai antara teruna dan dara tanpa gangguan dari ibu bapa. Teman percintaan ini pun sudah menunjukkan bahwa Sayed Sheikh seorang pelopor yang berani menginjeksikan satu ide baru kedalam masyarakat Melayu yang masih beranggapan bahwa pemilihan jodoh haruslah diserahkan bulat-bulat pada orang tua pemuda pemudi, dan bukan kepada anak-anak mereka sendiri. Seperti Hamka yang juga membawa ajaran Islam yang progresif dan menjadi seorang pengarang buku crita maka Sayed Sheikh tidak sunyi dari kecintaan-kecintaan pedas dari ulama-ulama dan orang-orang lain yang berjiwa kolot. Disinilah timbulnya percintaan konflik yang hebat antara Kaum Tua dengan Kaum Muda. Namun begitu Sayed Sheikh tidak gentar dan terus menterjemahkan dan menyadarkan karya-karya Arab yang lain untuk santapan rohani masyarakat Melayu pada waktu itu. Sungguhpun terdapat larangan untuk pemuda pemudi Melayu membaca buku dan bercinta-cintaan yang terlalu bebas demikian sambutan masyarakat terhadap {{u|Hikayat Faridah Hanum}} sangat mengkagumkan. Mengikut Linda Chen dalam latihan ilmiahnya berjudul "The Time and Life of Sayed Sheikh Ahmad Al-Hadi" keuntungan dari penjualan novel sadurannya itu memungkinkan mendirikan Percetakan Jelutung di Pulau Pinang. Ada beberapa faktor menyebabkan timbulnya reaksi dan sambutan hebat dari pembaca-pembaca Melayu terhadap karya sulung berbentuk fiksyen yang dipersembahkan Sayed Sheikh. Pertama, Sayed Sheikh merupakan pengarang yang pertama mengenalkan bentuk sastera yang baru kedalam masyarakat Melayu dewasa itu. Bentuk ini berbeda sakali dengan bentuk hikayat-hikayat seperti yang terdapat alam sastera lama sebelumnya. Lebih-lebih lagi Sayed Sheikh membicarakan pula konflik dan perasaan yang dialami oleh menusia biasa, rakyat biasa, walaupun watak-watak yang dikemukakan beliau adalah watak-watak pemuda pemudi Arab dari Mesir. Seperti dalam karangan-karangan Tun Sri Lanang, Raja Ali Haji dan sebelumnya maka daerah perceritaan dan perhatian para pengarang tersebut cuma berlingkar dalam suasana istana dan konflik-konflik yang berlaku dalam lingkungan itu, yang pada kebanyakan rakyat dan pembaca biasa, adalah terlalu asing sekali.<noinclude></noinclude> 5i5hhmgod4fpp39d8rr1mensakhezrx Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/882 104 103618 291827 2026-05-11T07:18:52Z Wiwil13 20069 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'sedang diuji baca' 291827 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Wiwil13" /></noinclude>sedang diuji baca<noinclude>{{rvh|772}}</noinclude> 8emhv7y7j8afcggnyvcax77hpd3qohj 291883 291827 2026-05-11T09:20:25Z Wiwil13 20069 291883 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Wiwil13" /></noinclude>Radja Sindok memindahkan kerajaan Mataram di Djawa-Tu pada tahun 929, dan pada tahun 990 diganti oleh Radja Pr Darmawangsa hingga pada tahun 1007. Kerajaan pada waktu mempunjai sebutan Keradjaan Medang, sedang letak Ibu-Kotanja ti dapat diketahui, hanja luasnja daerah kira-kira sepandjang dataran Berantas, sekarang daerah-daerah Kediri, Surabaja dan Pasuri Sebagaimana telah diketahui Djawa-Timur mempunjai 2 sungai b jaitu Kali Berantas jang pandjangnja ± 525 km dan Bengawan ±540 km. Kerajaan Medang mengalami peperangan jang hebat. Perpindaha dari Djawa-Tengah ke Djawa-Timur dilakukan dalam suasana pantja melalui Gunung Lawu tiba sampai di-daerah Gunung Wilis dan Gur Kelud. Kemudian berdirilah Keradjaan Djawa-Timur dengan megal dibawah pimpinan Prabu Erlangga, seorang jang sakti dan bidjaksana, tahun 1019 sampai 1041. Keradjaan disebut Keradjaan Kahuripan. Pi Erlangga jang sangat mashur kepandaiannja tentang olah-tata-nej mempunjal seorang pudjangga bernama Empu Kanwa. Adapun k Jang dikeluarkan jaitu Kitab Ardjuna Wiwaha. Radja-Radja pengganti Prabu Erlangga ialah Radja-Radja Ke Kameswara I (Raden Asmara Bangun) pada tahun 1041, Prabu Djaja (tahun 1135 1157) dengan pudjangganja Empu Sedah Panuluh, Kameswara II, Radja Srengga dan kemudian Radja Kertaċ pada tahun 1216 sampai 1222. Para pudjangga pada djaman mengadjarkan pendidikan kerochanian menurut sedjarahnja Dewa-Dewa. Kitab-kitab Ardjunawiwaha Mahabarata - Bratajud Negarakertagama memberikan wedjangan pada kehidupan d masjarakat pada djaman itu. Agama Hindu dikawinkan dengan Ag Buddha serta dilaraskan dengan keadaan masjarakat oleh para E Empu dan Radja-Radja dimana kemudian didjadikan pedoman d pergaulan hidup masjarakat besar dan pemerintahan. Hingga peladjaran-peladjaran atau wedjangan-wedjangan tersebut .,ilmu" jang terdapat dalam lakon Ramayana masih dianggap peladj sutji oleh sebagian masjarakat penduduk aseli. Radja-Radja K kesemuanja itu adalah keturunan dari Empu Sindok. Radja jang ter ialah Prabu Kertadjaja. Kediri djatuh dan kemudian Keradjaan Sing atau Tumapel timbul dan Radja-Radjanja sebagai berikut: 1. mis Ken Arok jang bergelar Sri Ranggah Radjasa, Sang Amwu bumi, memerintah Tumapel sedjak tahun Saka 11421169 Masehi 1220 - 1247; 2. Sang Anusapati, putera Tunggul Ametung sedjak tahun 1169 1170 atau Masehi 12471248; 3. Sang Prabu Tohdjaja, turunan Ken Arok sedjak tahun 1170 1171 atau Masehi 12481249. 4. Sri Wisnuwardana, turunan Ken Dedes sedjak tahun 1171 1190 atau Masehi 12491268; 5. Sri Kartanegara sedjak tahun Saka 1190 1214 atau M 1268 1292. Kerajaan Singosari kemudian runtuh dan mendjadi Kera Madjapahit dengan Ibu-Kota di Modjokerto. 772 Digilized by Google<noinclude>{{rvh|772}}</noinclude> 6bnf6zm90rtf9oo2d2jwxvmd2q0hgsk Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/259 104 103619 291829 2026-05-11T07:22:09Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291829 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>{|class="wikitable" width="100%" |- |No. urut||NAMA-NAMA KOPERASI||Sisa achir tahun 1952||Sisa seharusnja menurut perdjandjian |- |32.||Kop. Randuagung||Rp. 10.094,36|| |- |33.||"{{gap}} Tempeh||"{{gap}} 11.492,11||"{{gap}} Rp. 155.200,{{--}}*) |- |34.||"{{gap}} Sedio Utomo Bantur||"{{gap}} 875,75||"{{gap}} 800,{{--}} |- |35.||"{{gap}} Tiga Daerah||"{{gap}} 1.581,67||"{{gap}} 2.400.{{--}} |- |36.||"{{gap}} Perkati||"{{gap}} 17.074,49||"{{gap}} 27.500,{{--}} |- |37.||"{{gap}} R.A.O.S.||"{{gap}} 81.911,57||{{--}} |- |38.||"{{gap}} Kesembon|| "{{gap}} 7,50||{{--}} |- |39.||"{{gap}} Wonoagung||"{{gap}} 5.084,04||"{{gap}} 10.000,{{--}} |- |40.||"{{gap}} Dau||"{{gap}} 7.868,{{--}}||"{{gap}} 7.800,{{--}} |- |41.||"{{gap}} C.C.C. Toemapel||"{{gap}} 50.417,36||"{{gap}} 50.000,{{--}} |- |42.||"{{gap}} B.R.O.M.||"{{gap}} 9.000,{{--}}||"{{gap}} 9.000.{{--}} |- |colspan=2|Djumlah||Rp. 867.109,99||Rp. 809.200.{{--}} |} <nowiki>*) Angka-angka dari No. 17 - No. 33.</nowiki> Dalam pelaksanaan pemberian kredit ini ada kerdja sama jang erat antara Pamong-Pradja, B.R.I. dan Djawatan Koperasi. Untuk Djawa-Timur oleh Pemerintah Pusat disediakan djatah sebesar Rp. 58.000.000,{{--}} jang dengan keputusan Gubernur Djawa-Timur tanggal 24 Nopember 1952 No. B.K./1391/E pembagiannja ditentukan sebagai berikut: {| |- |Rp. 47.000.000,{{--}}||untuk badan-badan perkreditan Desa jang diawasi oleh B.R.I. |- |Rp. 10.000.000,{{--}}||untuk badan-badan perkreditan Desa jang diawasi oleh Djawatan Koperasi (gerakan koperasi). |- |Rp. 1.000.000,{{--}}||untuk disediakan guna perbaikan dan mendirikan bangunan lumbung. |} Pada umumnja djalannja perkreditan liwat koperasi lantjar. Hingga pertengahan bulan Maret 1953 telah di-idjinkan oleh Inspektur Djawatan Koperasi Rp. 8.867.000,{{--}} dari mana jang telah diambil oleh koperasi-koperasi diseluruh Djawa-Timur Rp. 6.189.045,20. Mengingat adanja „crediet-honger”, maka bantuan jang diberikan pada waktu jang tepat dan mengandung pendidikan besar manfaatnja. Selain bantuan kredit oleh Djawatan Koperasi djuga diberikan pengawasan atas koperasi-koperasi primernja jang tergabung, sekedar untuk meringankan biaja pemeriksaan pada waktu pertumbuhannja.<noinclude>{{rvh|227}}</noinclude> aug1h4iqj6gbzr75hd5wipxg0c2gutz Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/171 104 103620 291839 2026-05-11T07:33:31Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291839 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||43}}</noinclude>I.k.I.P. Jurusan Bahasa Jawa Fakultas Keguruan Sastra Seni. Diantara naskah-naskah yang menarik perhatian ialah {{Serat Bratajuda}} dengun tulisan dan lukisan-lukisan bewarna yang sangat indah, {{u|Hikajat Bajan Budiman}} yang ditulis dengan tulisan Arab (Pegon) dan {{u|Sjair Abdul Muluk}} yang berbahasa Melayu dan ditulis dengan huruf Jawa. Pergelaran Macapat dibuka dengan tembang Sinom oleh K.R.T. Madukusumo. Naskah yang dibaca: {{u|Serat Babad Mentawis}}, bagian yang menceritakan peristiwa Giyanti. Pembacaan naskah kemudian dilanjutkan oleh Hj. Suharsini Wisnu seorang pendatang buru pengarang sastra Jawa dengan menembang Dangdanggula. Disusul oleh 2 orang anggota Bisek A.K.R.I mendapat giliran membaca naskah, Sebagai selingan dari perbacaan naskah, Drs. Sardjono dari Fakultas Keguruan Sastra Seni memberikan ceramah kepada hadirin mengenai macapat. Pergelaran Macepat {{illegible}} dengan pembacaan naskah secara berturut-turut oleh 4 orang dari Kraton Jogjakarta termasuk diantaranya K.R.T Madukusumo Sebagai pembaca terakhir. Patut diketahui, bahwa peminat dari pameran dan Pergelaran itu dibatasi hanya 200 orang saja karena tempat tidak memungkinkan untuk menampung peminat lebih banyak. {{rh|SIPATUHUNAN 45 TAHUN}} “Sipatahunan” satu-satunya surat kabar berbahasa Sunda yang dikeluarkan di Bandung belum lama ini pada tanggal 20 april 1968 telah memperingati hari ulang tahunnya yang ke 45. Surut kabar Sipatuhunan didirikan pada tanggal 20 april 1923 di Tasikmalaya. Seperti diketahui surat kabar berbahasa daerah ini merupakan salah satu media kesusastraan Sunda yang tidak kecil sumbangannya dalam mengembangkan kesusastraan Sunda sejek perang hingga sekarang. Merupakan tradisi surat kabar Sipatuhunan pada setiap hari terbit memperingati hari ulang tahunnya, halaman 1, 2 dan 3 surat kabar tersebut selalu diisi dengan tulisan-tulisan (artikel-artikel) para pengarang Sunda serta Wartawan yang lama menulis dan pernah bekerja di surat kabar itu. Adapun tulisan-tulisan (artikel-artikel) yang dimuat dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya yang ke 45 antara lain ini: "Sipatahunan djeung L.B.S.S." (Sipatanunan dan L.B.S.S. ! Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda ! ) oleh Pengurus L.B.S.S. "49 taun Sipatahunan" (45 tahun Sipatahunan) oleh Moch. A. Affandi : "Busa Sunda dina bahasa{{...|3}ilmiah" (Bahasa Sunda dalam bahasan ilmiah) oleh Drs. Unus Suriawiria:<noinclude></noinclude> n3ynjqnuex621ei667qnl6qouhl3cik 291840 291839 2026-05-11T07:34:27Z Upiak Ituih 27011 291840 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||43}}</noinclude>I.k.I.P. Jurusan Bahasa Jawa Fakultas Keguruan Sastra Seni. Diantara naskah-naskah yang menarik perhatian ialah {{u|Serat Bratajuda}} dengun tulisan dan lukisan-lukisan bewarna yang sangat indah, {{u|Hikajat Bajan Budiman}} yang ditulis dengan tulisan Arab (Pegon) dan {{u|Sjair Abdul Muluk}} yang berbahasa Melayu dan ditulis dengan huruf Jawa. Pergelaran Macapat dibuka dengan tembang Sinom oleh K.R.T. Madukusumo. Naskah yang dibaca: {{u|Serat Babad Mentawis}}, bagian yang menceritakan peristiwa Giyanti. Pembacaan naskah kemudian dilanjutkan oleh Hj. Suharsini Wisnu seorang pendatang buru pengarang sastra Jawa dengan menembang Dangdanggula. Disusul oleh 2 orang anggota Bisek A.K.R.I mendapat giliran membaca naskah, Sebagai selingan dari perbacaan naskah, Drs. Sardjono dari Fakultas Keguruan Sastra Seni memberikan ceramah kepada hadirin mengenai macapat. Pergelaran Macepat {{illegible}} dengan pembacaan naskah secara berturut-turut oleh 4 orang dari Kraton Jogjakarta termasuk diantaranya K.R.T Madukusumo Sebagai pembaca terakhir. Patut diketahui, bahwa peminat dari pameran dan Pergelaran itu dibatasi hanya 200 orang saja karena tempat tidak memungkinkan untuk menampung peminat lebih banyak. {{rh|SIPATUHUNAN 45 TAHUN}} “Sipatahunan” satu-satunya surat kabar berbahasa Sunda yang dikeluarkan di Bandung belum lama ini pada tanggal 20 april 1968 telah memperingati hari ulang tahunnya yang ke 45. Surut kabar Sipatuhunan didirikan pada tanggal 20 april 1923 di Tasikmalaya. Seperti diketahui surat kabar berbahasa daerah ini merupakan salah satu media kesusastraan Sunda yang tidak kecil sumbangannya dalam mengembangkan kesusastraan Sunda sejek perang hingga sekarang. Merupakan tradisi surat kabar Sipatuhunan pada setiap hari terbit memperingati hari ulang tahunnya, halaman 1, 2 dan 3 surat kabar tersebut selalu diisi dengan tulisan-tulisan (artikel-artikel) para pengarang Sunda serta Wartawan yang lama menulis dan pernah bekerja di surat kabar itu. Adapun tulisan-tulisan (artikel-artikel) yang dimuat dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya yang ke 45 antara lain ini: "Sipatahunan djeung L.B.S.S." (Sipatanunan dan L.B.S.S. ! Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda ! ) oleh Pengurus L.B.S.S. "49 taun Sipatahunan" (45 tahun Sipatahunan) oleh Moch. A. Affandi : "Busa Sunda dina bahasa{{...|3}}ilmiah" (Bahasa Sunda dalam bahasan ilmiah) oleh Drs. Unus Suriawiria:<noinclude></noinclude> o7wqfntr4uypuxl7wfe60ij4cvyxzs2 291842 291840 2026-05-11T07:39:36Z Upiak Ituih 27011 291842 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||43}}</noinclude>I.k.I.P. Jurusan Bahasa Jawa Fakultas Keguruan Sastra Seni. Diantara naskah-naskah yang menarik perhatian ialah {{u|Serat Bratajuda}} dengun tulisan dan lukisan-lukisan bewarna yang sangat indah, {{u|Hikajat Bajan Budiman}} yang ditulis dengan tulisan Arab (Pegon) dan {{u|Sjair Abdul Muluk}} yang berbahasa Melayu dan ditulis dengan huruf Jawa. Pergelaran Macapat dibuka dengan tembang Sinom oleh K.R.T. Madukusumo. Naskah yang dibaca: {{u|Serat Babad Mentawis}}, bagian yang menceritakan peristiwa Giyanti. Pembacaan naskah kemudian dilanjutkan oleh Hj. Suharsini Wisnu seorang pendatang buru pengarang sastra Jawa dengan menembang Dangdanggula. Disusul oleh 2 orang anggota Bisek A.K.R.I mendapat giliran membaca naskah, Sebagai selingan dari perbacaan naskah, Drs. Sardjono dari Fakultas Keguruan Sastra Seni memberikan ceramah kepada hadirin mengenai macapat. Pergelaran Macepat {{illegible}} dengan pembacaan naskah secara berturut-turut oleh 4 orang dari Kraton Jogjakarta termasuk diantaranya K.R.T Madukusumo Sebagai pembaca terakhir. Patut diketahui, bahwa peminat dari pameran dan Pergelaran itu dibatasi hanya 200 orang saja karena tempat tidak memungkinkan untuk menampung peminat lebih banyak. {{rh|SIPATUHUNAN 45 TAHUN}} “Sipatahunan” satu-satunya surat kabar berbahasa Sunda yang dikeluarkan di Bandung belum lama ini pada tanggal 20 april 1968 telah memperingati hari ulang tahunnya yang ke 45. Surut kabar Sipatuhunan didirikan pada tanggal 20 april 1923 di Tasikmalaya. Seperti diketahui surat kabar berbahasa daerah ini merupakan salah satu media kesusastraan Sunda yang tidak kecil sumbangannya dalam mengembangkan kesusastraan Sunda sejak perang hingga sekarang. Merupakan tradisi surat kabar Sipatahunan pada setiap hari terbit memperingati hari ulang tahunnya, halaman 1, 2 dan 3 surat kabar tersebut selalu diisi dengan tulisan-tulisan (artikel-artikel) para pengarang Sunda serta Wartawan yang lama menulis dan pernah bekerja di surat kabar itu. Adapun tulisan-tulisan (artikel-artikel) yang dimuat dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya yang ke 45 antara lain ini: "Sipatahunan djeung L.B.S.S." (Sipatanunan dan L.B.S.S. ! Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda ! ) oleh Pengurus L.B.S.S. "49 taun Sipatahunan" (45 tahun Sipatahunan) oleh Moch. A. Affandi : "Busa Sunda dina bahasa{{...|3}}ilmiah" (Bahasa Sunda dalam bahasan ilmiah) oleh Drs. Unus Suriawiria:<noinclude></noinclude> gys84idjzuwbr1dhekwf18jon2b97tm Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/172 104 103621 291841 2026-05-11T07:38:47Z Upiak Ituih 27011 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '"Sipatahunan dina karier kewartawanan" (Sipatahunan dalam karier kewartawanan) oleh Achdi A.W; "Perintis Kemerdekaan" sembutan dari Gubernur Jawa Barat, Mayjen. Mashuadi; dan "Sipatahunun 45 taun gede sumbangan ka Pamarentah" (Sipatahunan 45 tahun besar sumbangannya kepada Pemerintah) sambutan dari kepala Japen Propinsi Jabar R. Moh. Tohir Wiraatmadja. B.P.T.N.I. DAN KEGIATANYA Badan Pembina Teater Nasional Indonesia (B.P.T.N.I.) ang berdiri se... 291841 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" />{{rh||44}}</noinclude>"Sipatahunan dina karier kewartawanan" (Sipatahunan dalam karier kewartawanan) oleh Achdi A.W; "Perintis Kemerdekaan" sembutan dari Gubernur Jawa Barat, Mayjen. Mashuadi; dan "Sipatahunun 45 taun gede sumbangan ka Pamarentah" (Sipatahunan 45 tahun besar sumbangannya kepada Pemerintah) sambutan dari kepala Japen Propinsi Jabar R. Moh. Tohir Wiraatmadja. B.P.T.N.I. DAN KEGIATANYA Badan Pembina Teater Nasional Indonesia (B.P.T.N.I.) ang berdiri sejak Desember 1952 dan merupakan federasi dari teater-teater konten- porer di Indonesia, pada tanggal 15 April 1968 menampilkan beberapa karya dari para anggotanya: 1. Kasir Kita, sebuah monolog dari Arifin C. Noer yang dibawa- kannya sendiri. 2. Beberapa inprovisasi yang dibawakan oleh Bengkel Teater Jogja. pimpinan .S. Rendra. Improvisasi ini terdiri atas: Dua Tukang Kelca- tong, ide dan penyutradaraan oleh Bakdi Susanto; Para Tukang Copet, ido dan penyutradaraan oleh B.S.A. Roni; Dibawah Tiang Listrik, ide da penyutradaraan oleh tu aidjaja; Padang, Topi dan "ertawa, ide dan p nyutradaraan oleh Putu Widjaja; Bip-Bop, ide dan penyutradaraan oleh W.S. Rendra; Vigneta, suatu gerak indah yang dilakukan oleh W.S. Rond dan Putu Widjaja. 3. Bersamadi, drama Jepang sebabak terjemahan Jim Adhi Limas, yang dibawakan oleh Teater Perintis Bandung. Kegiatan ini semuanya dilangsungkan di Balai Budaya Jakarta. Snam hari kemudian, beberapa improvisaci dari engkel Teater Jogja in dipentaskan lagi di gedung Direktorat Kesenian. "an tanggal 22 April keesokan harinya diadakanlah diskusi mengenai improvisasi-improvisasi tersebut. Patut dicatat bahwa kegiatan Bengkel Teater tersebut, terutama dengan "B.p-Bop"-nja, merupakan eksperimen baru dalam dunia teater di Indonesia. Bila secara lazimnya, penonton drama mendengarkan dialog- dialog fan mencoba menangkap "apa" yang dipersoalkan. Tapi ini tidak improvisasi justru hanya mempergunakan kata-kata secara mirim dan tidak sotia kepada thoma tortentu. Pendek kata, definisi yang menga takan bahwa "rana ialah karangan yang dapat dipentaskan" tidak lag tepat disini. Sebab justru improvisasi ini "anti-literer", dia ingin membebaskan diri dari arenat-amanat dan dialog-dialog yang lazim te dapat lam karya sastre... Demikianlah, Bip-Bop...! Digitized by Google<noinclude></noinclude> hzu1kfc9hhea4xdxo5lq7xgr3vctpvd 291845 291841 2026-05-11T08:01:28Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291845 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||44}}</noinclude>"Sipatahunan dina karier kewartawanan" (Sipatahunan dalam karier kewartawanan) oleh Achdi A.W; "Perintis Kemerdekaan" sembutan dari Gubernur Jawa Barat, Mayjen. Mashuadi; dan "Sipatahunun 45 taun gede sumbangan ka Pamarentah" (Sipatahunan 45 tahun besar sumbangannya kepada Pemerintah) sambutan dari kepala Japen Propinsi Jabar R. Moh. Tohir Wiraatmadja. {{rh|B.P.T.N.I. DAN KEGIATANYA}} Badan Pembina Teater Nasional Indonesia (B.P.T.N.I.) jang berdiri sejak Desember 1952 dan merupakan federasi dari teater-teater kontemporer di Indonesia, pada tanggal 15 April 1968 menampilkan beberapa karya dari para anggotanya: 1. {{u|Kasir Kita}}, sebuah monolog dari Arifin C. Noer yang dibawakannya sendiri. 2. Beberapa improvisasi yang dibawakan oleh Bengkel Teater Jogja, pimpinan .S. Rendra. Improvisasi ini terdiri atas: {{u|Dua Tukang Kelontong}}, ide dan penyutradaraan oleh Bakdi Susanto; {{u|Para Tukang Copet}}, ide dan penyutradaraan oleh B.S.A. Roni; {{u|Dibawah Tiang Listrik}}, ide dan penyutradaraan oleh Putu widjaja; {{u|Padang, Topi dan tertawa}}, ide dan penyutradaraan oleh Putu Widjaja; {{u|Bip-Bop}}, ide dan penyutradaraan oleh W.S. Rendra; {{u|Vigneta}}, suatu gerak indah yang dilakukan oleh W.S. Rendra dan Putu Widjaja. 3. Bersamadi, drama Jepang sebabak terjemahan Jim Adhi Limas, yang dibawakan oleh Teater Perintis Bandung. Kegiatan ini semuanya dilangsungkan di Balai Budaya Jakarta. Enam hari kemudian, beberapa improvisasi dari Bengkel Teater Jogja {{illegible}} dipentaskan lagi di gedung Direktorat Kesenian. Dan tanggal 22 April keesokan harinya diadakanlah diskusi mengenai improvisasi-improvisasi tersebut. Patut dicatat bahwa kegiatan Bengkel Teater tersebut, terutama dengan "Bip-Bop"-nja, merupakan eksperimen baru dalam dunia teater di Indonesia. Bila secara lazimnya, penonton drama mendengarkan dialog-dialog dan mencoba menangkap "apa" yang dipersoalkan. Tapi ini tidak improvisasi justru hanya mempergunakan kata-kata secara minim dan tidak setia kepada thema tertentu. Pendek kata, definisi yang mengatakan bahwa "drama ialah karangan yang dapat dipentaskan" tidak lagi tepat disini. Sebab, justru improvisasi ini "anti-literer", dia ingin membebaskan diri dari amanat-amanat dan dialog-dialog yang lazim terdapat dalam karya sastra. Demikianlah, Bib-Bop{{...|3}}<noinclude></noinclude> k3aqxqmxcsh73wytt5o61q1x3z4q0l8 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/174 104 103622 291847 2026-05-11T08:02:20Z Upiak Ituih 27011 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '46 LABORATORIUM BAHASA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS INDONESIA Pada tanggal 1 Pebruari 1968 telah tiba di F.S.U.I. satu perang- kat perlengkapan laboratorium bahasa dari Pemerintah Kerajaan Selanda. Perlengkapan ini antara lain berupa: 1 meja guru, yang sanggup melayani 40 orang mahasiswa beserta 1 perekaman guru dan 1 perekam pencoba; 40 aja mahasiswa yang asing-masing berisi 1 perekam dan 'headset' serta 1 tombol pemanggil; 1 cverhead projector;... 291847 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" /></noinclude>46 LABORATORIUM BAHASA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS INDONESIA Pada tanggal 1 Pebruari 1968 telah tiba di F.S.U.I. satu perang- kat perlengkapan laboratorium bahasa dari Pemerintah Kerajaan Selanda. Perlengkapan ini antara lain berupa: 1 meja guru, yang sanggup melayani 40 orang mahasiswa beserta 1 perekaman guru dan 1 perekam pencoba; 40 aja mahasiswa yang asing-masing berisi 1 perekam dan 'headset' serta 1 tombol pemanggil; 1 cverhead projector; 1 penganalisa ujaran; 400 pi ta mahasiswa; 50 pita guru; Sejumlah persediaan bagian-bagian perekas; dan lain-lain. Penyerahan secara siabolik perlengkapan ini seluruhnya telah dila kukan oleh Duta Besar Pemerintah Kerajaan Belanda Schiff, di Jakarta kepada Dekan F.S.U.I. Prof. Dr. Slametauljana pada tanggal 26 Pebruari 1368 yang baru lalu.. Pada tanggal 1 Maret 1968 laboratorium ini telah dibuka secara res mi oleh menteri Urusan Bantuan Luar Negeri Belanda, Udink. Pemecahan kendi simbolik dilakukan oleh Pejabat Rektor U.I. Prof. Dr. Slamet Isas Santoso. Jurusan-jurusan yang telah memakai: Inggris, Perancis, Jepang, Cin dan àrab. Santinja: Indonesia (untuk orang asing) elanda dan Jerman. Untuk memasang laboratorium telah dikirimkan seorang teknisi dari Singapore yang telah memberi petunjuk-petunjuk teknis kepada tenaga tenaga yang selanjutnya mengurus laboratorium itu. Laboratorium dipasang dalam dua ruangan masing-masing berisi 20 aeja mahasiswa. Untuk saentara ke 40 meja itu akan dilayani oleh sa- tu meja yang kedua -- sehingga pemakaian laboratorium ini nantinya a- kan menjadi jauh lebih efisien. Diberitakan bahwa pemeliharaan (main- tenance) purlengkapan ini akan ditampung oleh P.T. Philips Ralin led tronics. Fakultas Sastra Universitas Indonesia telah menunjuk Djoko Kentjos d. (Lektor Lingguistik Fakultas Sastra U.I.) menjadi Kepala Labora- torium Bahasa ini. Kemampuan laboratorium bahasa (Philips, jenis C) ini secara ka- sar ialah: Guru dapat menguasai seluruh meja mahasiswa; menghidupkan atau mematikan semua pesawat; memainkan, menghentikan, atau menggulung balik senua/sebagian pita mahasiswa mengisi/mengapus isi seluruh/ beberapa pita mahasiswa; merekam pembicaraan aahasiswa; berkonu- nikasi dengan seorang/beberapa/semua mahasiswa; memberi kesempatan Digitized by Google<noinclude></noinclude> 0scl1dv6q8rt9sx2bid6ya6jv6wdk24 291859 291847 2026-05-11T08:35:53Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291859 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||46}}</noinclude>{{rh|LABORATORIUM BAHASA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS INDONESIA}} Pada tanggal 1 Pebruari 1968 telah tiba di F.S.U.I. satu perangkat perlengkapan laboratorium bahasa dari Pemerintah Kerajaan Belanda. Perlengkapan ini antara lain berupa: 1 meja guru, yang sanggup melayani 40 orang mahasiswa beserta 1 perekaman guru dan 1 perekam pencoba; 40 maja mahasiswa yang masing-masing berisi 1 perekam dan 'headset' serta 1 tombol pemanggil; 1 overhead projector; 1 penganalisa ujaran; 400 pita mahasiswa; 50 pita guru; Sejumlah persediaan bagian-bagian perekam dan lain-lain. Penyerahan secara simbolik perlengkapan ini seluruhnya telah dilakukan oleh Duta Besar Pemerintah Kerajaan Belanda Schiff, di Jakarta kepada Dekan F.S.U.I. Prof. Dr. Slametmuljana pada tanggal 26 Pebruari 1368 yang baru lalu. Pada tanggal 1 Maret 1968 laboratorium ini telah dibuka secara resmi oleh menteri Urusan Bantuan Luar Negeri Belanda, Udink. Pemecahan kendi simbolik dilakukan oleh Pejabat Rektor U.I. Prof. Dr. Slamet Imam Santoso. Jurusan-jurusan yang telah memakai: Inggris, Perancis, Jepang, Cina dan arab. Nantinja: Indonesia (untuk orang asing) Belanda dan Jerman. Untuk memasang laboratorium telah dikirimkan seorang teknisi dari Singapore -- yang telah memberi petunjuk-petunjuk teknis kepada tenaga-tenaga yang selanjutnya mengurus laboratorium itu. Laboratorium dipasang dalam dua ruangan masing-masing berisi 20 meja mahasiswa. Untuk sementara ke 40 meja itu akan dilayani oleh satu meja yang kedua -- sehingga pemakaian laboratorium ini nantinya akan menjadi jauh lebih efisien. Diberitakan bahwa pemeliharaan (maintenance) perlengkapan ini akan ditampung oleh P.T. Philips - Ralin electronics. Fakultas Sastra Universitas Indonesia telah menunjuk Djoko Kentjoro {{illegible}} (Lektor Lingguistik Fakultas Sastra U.I.) menjadi Kepala Laboratorium Bahasa ini. Kemampuan laboratorium bahasa (Philips, jenis AAC) ini secara kasar ialah: </ol> <poem> Guru dapat menguasai seluruh meja mahasiswa; menghidupkan atau mematikan semua pesawat; memainkan, menghentikan, atau menggulung balik semua/sebagian pita mahasiswa mengisi/mengapus isi seluruh/beberapa pita mahasiswa; merekam pembicaraan mahasiswa; berkomunikasi dengan seorang/beberapa/semua mahasiswa; memberi kesempatan </poem> </ol><noinclude></noinclude> 2hnhp0tdttqgf2oaml25e7t8x7bdzed 291860 291859 2026-05-11T08:36:28Z Upiak Ituih 27011 291860 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||46}}</noinclude>{{rh|LABORATORIUM BAHASA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS INDONESIA}} Pada tanggal 1 Pebruari 1968 telah tiba di F.S.U.I. satu perangkat perlengkapan laboratorium bahasa dari Pemerintah Kerajaan Belanda. Perlengkapan ini antara lain berupa: 1 meja guru, yang sanggup melayani 40 orang mahasiswa beserta 1 perekaman guru dan 1 perekam pencoba; 40 maja mahasiswa yang masing-masing berisi 1 perekam dan 'headset' serta 1 tombol pemanggil; 1 overhead projector; 1 penganalisa ujaran; 400 pita mahasiswa; 50 pita guru; Sejumlah persediaan bagian-bagian perekam dan lain-lain. Penyerahan secara simbolik perlengkapan ini seluruhnya telah dilakukan oleh Duta Besar Pemerintah Kerajaan Belanda Schiff, di Jakarta kepada Dekan F.S.U.I. Prof. Dr. Slametmuljana pada tanggal 26 Pebruari 1368 yang baru lalu. Pada tanggal 1 Maret 1968 laboratorium ini telah dibuka secara resmi oleh menteri Urusan Bantuan Luar Negeri Belanda, Udink. Pemecahan kendi simbolik dilakukan oleh Pejabat Rektor U.I. Prof. Dr. Slamet Imam Santoso. Jurusan-jurusan yang telah memakai: Inggris, Perancis, Jepang, Cina dan arab. Nantinja: Indonesia (untuk orang asing) Belanda dan Jerman. Untuk memasang laboratorium telah dikirimkan seorang teknisi dari Singapore -- yang telah memberi petunjuk-petunjuk teknis kepada tenaga-tenaga yang selanjutnya mengurus laboratorium itu. Laboratorium dipasang dalam dua ruangan masing-masing berisi 20 meja mahasiswa. Untuk sementara ke 40 meja itu akan dilayani oleh satu meja yang kedua -- sehingga pemakaian laboratorium ini nantinya akan menjadi jauh lebih efisien. Diberitakan bahwa pemeliharaan (maintenance) perlengkapan ini akan ditampung oleh P.T. Philips - Ralin electronics. Fakultas Sastra Universitas Indonesia telah menunjuk Djoko Kentjoro {{illegible}} (Lektor Lingguistik Fakultas Sastra U.I.) menjadi Kepala Laboratorium Bahasa ini. Kemampuan laboratorium bahasa (Philips, jenis AAC) ini secara kasar ialah: <ol> <poem> Guru dapat menguasai seluruh meja mahasiswa; menghidupkan atau mematikan semua pesawat; memainkan, menghentikan, atau menggulung balik semua/sebagian pita mahasiswa mengisi/mengapus isi seluruh/beberapa pita mahasiswa; merekam pembicaraan mahasiswa; berkomunikasi dengan seorang/beberapa/semua mahasiswa; memberi kesempatan </poem> </ol><noinclude></noinclude> 7g1yumrt7tmi98stoben7b5aw4bfhrw 291862 291860 2026-05-11T08:40:28Z Upiak Ituih 27011 291862 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||46}}</noinclude>{{rh|LABORATORIUM BAHASA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS INDONESIA}} Pada tanggal 1 Pebruari 1968 telah tiba di F.S.U.I. satu perangkat perlengkapan laboratorium bahasa dari Pemerintah Kerajaan Belanda. Perlengkapan ini antara lain berupa: 1 meja guru, yang sanggup melayani 40 orang mahasiswa beserta 1 perekaman guru dan 1 perekam pencoba; 40 maja mahasiswa yang masing-masing berisi 1 perekam dan 'headset' serta 1 tombol pemanggil; 1 overhead projector; 1 penganalisa ujaran; 400 pita mahasiswa; 50 pita guru; Sejumlah persediaan bagian-bagian perekam dan lain-lain. Penyerahan secara simbolik perlengkapan ini seluruhnya telah dilakukan oleh Duta Besar Pemerintah Kerajaan Belanda Schiff, di Jakarta kepada Dekan F.S.U.I. Prof. Dr. Slametmuljana pada tanggal 26 Pebruari 1368 yang baru lalu. Pada tanggal 1 Maret 1968 laboratorium ini telah dibuka secara resmi oleh menteri Urusan Bantuan Luar Negeri Belanda, Udink. Pemecahan kendi simbolik dilakukan oleh Pejabat Rektor U.I. Prof. Dr. Slamet Imam Santoso. Jurusan-jurusan yang telah memakai: Inggris, Perancis, Jepang, Cina dan arab. Nantinja: Indonesia (untuk orang asing) Belanda dan Jerman. Untuk memasang laboratorium telah dikirimkan seorang teknisi dari Singapore -- yang telah memberi petunjuk-petunjuk teknis kepada tenaga-tenaga yang selanjutnya mengurus laboratorium itu. Laboratorium dipasang dalam dua ruangan masing-masing berisi 20 meja mahasiswa. Untuk sementara ke 40 meja itu akan dilayani oleh satu meja yang kedua -- sehingga pemakaian laboratorium ini nantinya akan menjadi jauh lebih efisien. Diberitakan bahwa pemeliharaan (maintenance) perlengkapan ini akan ditampung oleh P.T. Philips - Ralin electronics. Fakultas Sastra Universitas Indonesia telah menunjuk Djoko Kentjoro {{illegible}} (Lektor Lingguistik Fakultas Sastra U.I.) menjadi Kepala Laboratorium Bahasa ini. Kemampuan laboratorium bahasa (Philips, jenis AAC) ini secara kasar ialah: <ol> Guru dapat menguasai seluruh meja mahasiswa; menghidupkan atau mematikan semua pesawat; memainkan, menghentikan, atau menggulung balik semua/sebagian pita mahasiswa mengisi/mengapus isi seluruh/beberapa pita mahasiswa; merekam pembicaraan mahasiswa; berkomunikasi dengan seorang/beberapa/semua mahasiswa; memberi kesempatan </ol><noinclude></noinclude> 480bo79hrkropi06xrkbxfhatptikyy Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/161 104 103623 291849 2026-05-11T08:04:17Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291849 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>== Keterangan gambar kesehatan pada halaman sebelah. == # Pada tiap² bangun pagi, hendaknja diusahakan bergerak badan, walau 3 atau 5 menit sekalipun, misalnja: bersenam, berlari² dihalaman rumah, main tali ataupun bermain treksando. Manfaat utama dari gerak badan ini ialah, urat daging mendjadi kuat, darah mengalir dengan teratur, paru² mendjadi kembang, pergantian zat² mendjadi lantjar dan badanpun lebih kuat menahan bibit² penjakit. # Sehabis bergerak badan, keringat banjak jang mengalir. Apabila keringat sudah kering maka mandilah agar kotoran² dan lemak² jang melekat pada badan dapat hilang sehingga pori² bisa terbuka lagi. Dan djangan lupa kalau mandi pakailah sabun jang sebaik²nja agar badan bisa bersih dan segar, djuga rasa lelah dan mual dapat ditiadakan, karena otot² mendjadi kuat lagi. # Seperti biasa pada setiap pagi kita minum susu, kopi ataupun teh dan agar diusahakan supaja jang kita minum itu masih hangat, tidak terlalu panas sebab panas dapat merusakan gigi dan djangan terlalu dingin karena bisa mengakibatkan sakit perut. # Berpakaianlah serapi-rapinja, dengan tidak meninggalkan aturan² kesehatan misalnja topi jang sesak dapat menjebabkan pusing kepala dan djangan mengikatkan pinggang terlalu keras, karena bisa mengganggu peredaran darah. # Djangan lupa sebelum kita meninggalkan kamar untuk menudju ketempat bertugas, maka baiklah kamarnja dibersihkan lebih dahulu, tjendela dibuka agar udara jang kotor dapat ditukar dengan udara jang bersih dan selimut supaja dilipat baik² sehingga kelihatan terusun rapi. # Sehabis kita memegang barang jang kotor, maka tjepatlah tangan dan kuku ditjutji sampai bersih dengan menggunakan sembarang sabunpun bisa, sebab tangan jang kotor adalah merupakan sumber dari bibit penjakit. # Hindarilah memakan masakan² jang didjual dipinggir² djalan jang kebanjakan sudah dihinggapi lalat dan kena debu jang dapat menjebabkan kita diserang penjakit typus, cholera, desentri d.l.l. # Sebaiknja makanan supaja ditutup rapat agar tidak dapat ditjemari lalat. Makanan tidak perlu mewah², asal tjukup mengandung; putih telur, lemak, air, koolhydrat, barang² garam dan vitamin². # Sekurang²nja 3 hari sekali, supaja kamar mandi dibersihkan dan airnja jang lama agar diganti dengan jang baru dan lantai kamar mandi supaja digosok dan diberi karbol, agar kuman² dapat dimatikan semua. # Alas tempat tidur setiap pagi supaja didjemur, demikian pula kasur pada seminggu sekaliharus didjemur. Gunakanlah kasur jang tidak terlalu lunak dan bantal jang tidak terlalu tinggi. Kelambu asal rapat dan njamuk tidak dapat menjerang. # Makanan buah²an sangat baik karena banjak mengandung vitamin C, tapi apabila hendak makan supaja ditjutji dahulu atau dikupas kulitnja, sehingga bakteri² jang melekat bisa mati. Buah²an jang tidak masak dapat merusakan usus. # Sampah jang tidak teratur adalah merupakan sarang lalat, apabila sang lalat dapat leluasa masuk rumah keluar rumah, maka kesehatan dari penghuni rumah itu tidak akan terdjamin, lebih² apabila ada anak ketjilnja jang mudah diserang berbagai penjakit. # Tutuplah sampah² itu rapat² sehingga tidak memungkinkan lalat² itu memindahkan bibit² penjakit, jang berarti sedap dipandang umum djuga berarti pula mendjauhkan diri dari segala bibit penjakit. # Kalau badan merasa tidak enak, lekaslah pergi ke Dokter atau Mantri jang ditugaskan untuk itu guna minta nasehatnja. Djanganlah sekali² menjimpan penjakit atau menunda² pergi ke Dokter. # Apabila terkena luka², umpama; kena pisau, terbakar, digigit ular d.l.l, maka untuk pengobatan pertama, tjarilah Judiom ataupun Neocrom kemudian plesterlah jang kena luka itu agar tidak berinfeksi dan segera bawalah ke Dokter untuk minta pengobatan selandjutnja. # Untuk lebih memperkuat kesehatan, maka dalam waktu 1 atau 2 tahun sekali mintalah kepada Dokter agar di suntik Vacin. Misalnja suntikan T.C.D, B.C.G. d.l.l. Sekianlah petundjuk² kami jang sederhana.<noinclude> 43</noinclude> k6jqm7bqks7k2b160daypulwcy66180 291851 291849 2026-05-11T08:05:18Z Link PB 26772 291851 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{center|<big><big>Keterangan gambar kesehatan pada halaman sebelah.</big></big>}} # Pada tiap² bangun pagi, hendaknja diusahakan bergerak badan, walau 3 atau 5 menit sekalipun, misalnja: bersenam, berlari² dihalaman rumah, main tali ataupun bermain treksando. Manfaat utama dari gerak badan ini ialah, urat daging mendjadi kuat, darah mengalir dengan teratur, paru² mendjadi kembang, pergantian zat² mendjadi lantjar dan badanpun lebih kuat menahan bibit² penjakit. # Sehabis bergerak badan, keringat banjak jang mengalir. Apabila keringat sudah kering maka mandilah agar kotoran² dan lemak² jang melekat pada badan dapat hilang sehingga pori² bisa terbuka lagi. Dan djangan lupa kalau mandi pakailah sabun jang sebaik²nja agar badan bisa bersih dan segar, djuga rasa lelah dan mual dapat ditiadakan, karena otot² mendjadi kuat lagi. # Seperti biasa pada setiap pagi kita minum susu, kopi ataupun teh dan agar diusahakan supaja jang kita minum itu masih hangat, tidak terlalu panas sebab panas dapat merusakan gigi dan djangan terlalu dingin karena bisa mengakibatkan sakit perut. # Berpakaianlah serapi-rapinja, dengan tidak meninggalkan aturan² kesehatan misalnja topi jang sesak dapat menjebabkan pusing kepala dan djangan mengikatkan pinggang terlalu keras, karena bisa mengganggu peredaran darah. # Djangan lupa sebelum kita meninggalkan kamar untuk menudju ketempat bertugas, maka baiklah kamarnja dibersihkan lebih dahulu, tjendela dibuka agar udara jang kotor dapat ditukar dengan udara jang bersih dan selimut supaja dilipat baik² sehingga kelihatan terusun rapi. # Sehabis kita memegang barang jang kotor, maka tjepatlah tangan dan kuku ditjutji sampai bersih dengan menggunakan sembarang sabunpun bisa, sebab tangan jang kotor adalah merupakan sumber dari bibit penjakit. # Hindarilah memakan masakan² jang didjual dipinggir² djalan jang kebanjakan sudah dihinggapi lalat dan kena debu jang dapat menjebabkan kita diserang penjakit typus, cholera, desentri d.l.l. # Sebaiknja makanan supaja ditutup rapat agar tidak dapat ditjemari lalat. Makanan tidak perlu mewah², asal tjukup mengandung; putih telur, lemak, air, koolhydrat, barang² garam dan vitamin². # Sekurang²nja 3 hari sekali, supaja kamar mandi dibersihkan dan airnja jang lama agar diganti dengan jang baru dan lantai kamar mandi supaja digosok dan diberi karbol, agar kuman² dapat dimatikan semua. # Alas tempat tidur setiap pagi supaja didjemur, demikian pula kasur pada seminggu sekaliharus didjemur. Gunakanlah kasur jang tidak terlalu lunak dan bantal jang tidak terlalu tinggi. Kelambu asal rapat dan njamuk tidak dapat menjerang. # Makanan buah²an sangat baik karena banjak mengandung vitamin C, tapi apabila hendak makan supaja ditjutji dahulu atau dikupas kulitnja, sehingga bakteri² jang melekat bisa mati. Buah²an jang tidak masak dapat merusakan usus. # Sampah jang tidak teratur adalah merupakan sarang lalat, apabila sang lalat dapat leluasa masuk rumah keluar rumah, maka kesehatan dari penghuni rumah itu tidak akan terdjamin, lebih² apabila ada anak ketjilnja jang mudah diserang berbagai penjakit. # Tutuplah sampah² itu rapat² sehingga tidak memungkinkan lalat² itu memindahkan bibit² penjakit, jang berarti sedap dipandang umum djuga berarti pula mendjauhkan diri dari segala bibit penjakit. # Kalau badan merasa tidak enak, lekaslah pergi ke Dokter atau Mantri jang ditugaskan untuk itu guna minta nasehatnja. Djanganlah sekali² menjimpan penjakit atau menunda² pergi ke Dokter. # Apabila terkena luka², umpama; kena pisau, terbakar, digigit ular d.l.l, maka untuk pengobatan pertama, tjarilah Judiom ataupun Neocrom kemudian plesterlah jang kena luka itu agar tidak berinfeksi dan segera bawalah ke Dokter untuk minta pengobatan selandjutnja. # Untuk lebih memperkuat kesehatan, maka dalam waktu 1 atau 2 tahun sekali mintalah kepada Dokter agar di suntik Vacin. Misalnja suntikan T.C.D, B.C.G. d.l.l. Sekianlah petundjuk² kami jang sederhana.<noinclude> 43</noinclude> 3lzq1cc1yddrsxq1lndefowya37wxjc Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/162 104 103624 291852 2026-05-11T08:07:24Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291852 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><big>Untuk Persit</big> {{center|<big><big>Pengalaman Sukma Melajang</big></big>}} Kata jang empunja tjeritera, dalam sebuah rumah di Ibu Kota, berbaringlah seorang machluk anggota tentera bernama Karna. Telah sekian lama ia menderita sakit. Sekarang ia merasa kakinja mendjadi beku, terus naik, naik, naik kebekuan ini sampai perutnja, terus, terus ................. Heran ia tak merasa sakit, dan sebentar kemudian ia melihat dirinja berbaring diatas bale-bale, dikerumni keluarganja berhudjan tangis. Ia mengeluarkan kata-kata penghibur, tetapi suaranja tak terdengar, karena memang suara badan halus tak dapat didengar oleh manusia. Tak kuasa lagi ia melihat kesedihan mereka, lalu melajanglah sukma Karna keluar, menembus dinding, mengarungi angkasa. Tak lama kemudian ia bertemu badan halus lain. "Kamu bekas anggota Tentera", tegur teman baru itu. Dan setelah didjawab dengan "ja" oleh Karna, maka teman baru mengadjaknja ia mengembara. Mereka memasuki sebuah rumah, meskipun semua djendela dan pintu tertutup — (itulah keistimewaan badan-badan halus) — dan tertegunlah mereka sebentar, ketika melihat seorang wanita dikerumuni oleh tiga orang anaknja jang menangis minta makan. "Lihatlah Karna, isteri dan anakku. Sudah tiga tahun aku gugur, namun belum teruslah tundjangan sesuatu untuk mereka. Isteriku tidak terpeladjar, tidak ada jang memberi tahu, kemana ia harus pergi untuk mendapatkan tundjangan. Untung orang tua sedikit-sedikit masih dapat mengeluarkan sekedar pertolongan. Tetapi, mari kita tinggalkan keluargaku dan melihat kepedihan-kepedihan lainnja". Mereka terbang dari suatu tempat, ketempat jang lain, duka, nestapa, sedih, pedih, tangis dan djeritan keluarga-keluarga anggota Tentara jang telah ditinggalkan suaminja jang mereka djumpai. Sering mereka lihat, wanita-wanita terdjerumus dalam lembah nista, karena tak ada jang mengurus. Sekian kisah badan halus Karna dan temannja. Kewadjiban kita jang masih mengindjak bumi inilah, untuk menemukan mereka, memberi pertolongan, menundjukkan mereka, bagaimana dan dimana mereka dapat mengharapkan pertolongan. Tetapi, ja tetapi siapakah jang akan meringankan badan, meluangkan waktu untuk ini? Ja, siapa? Disamping Djawatan Sosial dan Dinas Urusan Sosial, ada suatu badan dengan nama "Persatuan Isteri Tentera". Sudah lajak dan pada tempatnja, sesuai dengan bakat dan sifatnja kaum ibu melangkahkan kaki dalam lapangan sosial. Kaum ibu, pengasih dan penjajang karena sifat keibuannja, tentu tidak segan untuk mendjalankan beban jang berat ini. Bagaimana terima kasihnja mereka jang telah mendapatkan pertolongan. "PERSIT", djangan sia-siakan namamu, kerahkanlah anggota-anggotamu, hubungkanlah dengan Dinas Gadjih Pensiun untuk mendapatkan peraturan² dan sjarat² mendapatkan tundjangan, dengan Djawatan Sosial, dengan Ikatan Perwira, Pamong Pradja, ja dengan siapapun asal mereka tertolong. Anggota-anggota tentera seluruhnja, dari Kolonel sampai Peradjuritnja, tundjukkanlah djalan kepada sang isteri, terdjun dalam kewadjiban mulia, mengangkat jang sengsara, meringankan jang menderita, menarik kedjalan benar mereka jang tersesat. Propaganda "PERSIT" kah ini? Mungkin, mungkin .............., karena penulis menginginkan pula wadjah berseri-seri disampingnja, jang menamakan dirinja dengan bangga: "Aku anggota PERSIT, mas". {{right|Pertjikan Tinta.}}<noinclude> 44</noinclude> mr5w3ywis8r4xcfxl0u1npkp81e6jdy Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/203 104 103625 291854 2026-05-11T08:15:55Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291854 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>jang tak dapat menahan kesabarannja. Lama tjara inipun gagal, dan komandan djemu kini. Bersikap masa bodoh. Djaga diri sendiri. Setiap pagi ramailah disana, berpuluh bahkan beratus peluru dihamburkan keudara. Moril kami benar djatuh. Dimana daja suatu pasukan djika disiplin sudah mengabur. Masih djelas terbajang diruangan mataku akan peristiwa dan hari naas jang menimpa kami. Sebagaimana biasa pagi² buta itupun aku terbangun sudah. Kampung jang terletak diseberang sungai sana ramai sudah dengan kokok ajam bersahut²an. Kawan² belum seorangpun terbangun, semuanja masih bergeletakan ditempatnja masing². Ada djuga jang ngorok karena enaknja tidur, semua tidur njenjak tidak sedarkan diri, mungkin dihandjutkan mimpi indah, bertjengkeraman dengan bidadari djelita. Djuga kawan jang tugas djaga dipos depan tertidur lelap dengan karabennja. Kuarahkan kaki menudju tepi sungai, maksudku buang air besar. Langkahku kupertjepat. Dalam kegelapan jang samar itu, berdebar dadaku sebentar, sebuah bajangan hitam berbentuk manusia mendekat, dan belum sempat aku berpikir lebih landjut, sebuah benda keras tetapi dingin telah didorongkan ke perutku. Siapa, dia bertanja serak! Saja, djawabku singkat. Tentera? desaknja lagi. Bukan, bukan, orang kampung akan kesawah. Suaraku agak gugup. Aku digeledah dan dengan kasar ditendangnja aku dari belakang dengan maksud aku melandjutkan perdjalanan. Buru² aku melangkah, dan aku mengerti sudah, apa jang telah terdjadi. Mereka tadi adalah tentera Belanda jang telah mengepung perbentengan kami dari segenap pendjuru. Aku tak dapat berdaja menolong mereka, aku hanja berdoa semoga lekaslah mereka mengetahui akan bahadja jang mengantjam. Ketika sang surja meninggalkan peraduannja, terdengarlah letusan pistol sekali, tanda penjerangan dimulai, pikirku. Benar, tak lama menjusullah tembakan² keraben, kemudian rentetan bren, dan entah apa lagi, dan ramailah disana, sajup sampai ditelingaku dikedjauhan. Sedjam lebih tembakan tiada hentinja. Setelah sunji dengan berlari² bersama rakjat kami menudju kekampung itu. Tiba disana, mulutku djadi bisu, aku terpaku sebentar. Disana sini berkaparanlah kawan² jang sekarang sudah mendjadi madjat. Mereka tak sempat membela diri. 43 orang jang gugur, termasuk petugas pos terdepan. Banjak sendjata kami terampas. Kami kuburkan mereka dengan upatjara militer. Dikota tentera Belanda mengumpulkan penduduk. Sebuah truk penuh sendjata dipertontonkan. Seorang Belanda totok berkata: Siapa mau beli kaju api? Lihat ini sendjata tengkorak sudah kami rebut. Pasukan tengkorak sekarang betul² sudah tinggal tengkorak. Tak lama kemudian sambil mentjibirkan bibir jang penuh oleh kumis jang tidak terpelihara lagi berangkat itu serdadu² kolonial meninggalkan rakjat jang sedjak tadi ter-mangu². Ada jang mentjutjur air mata. Terharu mereka mendengar berita kemalangan jang menimpa kami. Sekian kedjadian jang sebenarnja, mudah²an apa jang telah terdjadi itu mendjadi peladjaran bagi kita. {{right|(Hrp).}}<noinclude> 33</noinclude> 9i8hq3epf52ai7hk12na8txi7n33lez 291855 291854 2026-05-11T08:16:13Z Link PB 26772 291855 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>jang tak dapat menahan kesabarannja. Lama tjara inipun gagal, dan komandan djemu kini. Bersikap masa bodoh. Djaga diri sendiri. Setiap pagi ramailah disana, berpuluh bahkan beratus peluru dihamburkan keudara. Moril kami benar djatuh. Dimana daja suatu pasukan djika disiplin sudah mengabur. Masih djelas terbajang diruangan mataku akan peristiwa dan hari naas jang menimpa kami. Sebagaimana biasa pagi² buta itupun aku terbangun sudah. Kampung jang terletak diseberang sungai sana ramai sudah dengan kokok ajam bersahut²an. Kawan² belum seorangpun terbangun, semuanja masih bergeletakan ditempatnja masing². Ada djuga jang ngorok karena enaknja tidur, semua tidur njenjak tidak sedarkan diri, mungkin dihandjutkan mimpi indah, bertjengkeraman dengan bidadari djelita. Djuga kawan jang tugas djaga dipos depan tertidur lelap dengan karabennja. Kuarahkan kaki menudju tepi sungai, maksudku buang air besar. Langkahku kupertjepat. Dalam kegelapan jang samar itu, berdebar dadaku sebentar, sebuah bajangan hitam berbentuk manusia mendekat, dan belum sempat aku berpikir lebih landjut, sebuah benda keras tetapi dingin telah didorongkan ke perutku. Siapa, dia bertanja serak! Saja, djawabku singkat. Tentera? desaknja lagi. Bukan, bukan, orang kampung akan kesawah. Suaraku agak gugup. Aku digeledah dan dengan kasar ditendangnja aku dari belakang dengan maksud aku melandjutkan perdjalanan. Buru² aku melangkah, dan aku mengerti sudah, apa jang telah terdjadi. Mereka tadi adalah tentera Belanda jang telah mengepung perbentengan kami dari segenap pendjuru. Aku tak dapat berdaja menolong mereka, aku hanja berdoa semoga lekaslah mereka mengetahui akan bahadja jang mengantjam. Ketika sang surja meninggalkan peraduannja, terdengarlah letusan pistol sekali, tanda penjerangan dimulai, pikirku. Benar, tak lama menjusullah tembakan² keraben, kemudian rentetan bren, dan entah apa lagi, dan ramailah disana, sajup sampai ditelingaku dikedjauhan. Sedjam lebih tembakan tiada hentinja. Setelah sunji dengan berlari² bersama rakjat kami menudju kekampung itu. Tiba disana, mulutku djadi bisu, aku terpaku sebentar. Disana sini berkaparanlah kawan² jang sekarang sudah mendjadi madjat. Mereka tak sempat membela diri. 43 orang jang gugur, termasuk petugas pos terdepan. Banjak sendjata kami terampas. Kami kuburkan mereka dengan upatjara militer. Dikota tentera Belanda mengumpulkan penduduk. Sebuah truk penuh sendjata dipertontonkan. Seorang Belanda totok berkata: Siapa mau beli kaju api? Lihat ini sendjata tengkorak sudah kami rebut. Pasukan tengkorak sekarang betul² sudah tinggal tengkorak. Tak lama kemudian sambil mentjibirkan bibir jang penuh oleh kumis jang tidak terpelihara lagi berangkat itu serdadu² kolonial meninggalkan rakjat jang sedjak tadi ter-mangu². Ada jang mentjutjur air mata. Terharu mereka mendengar berita kemalangan jang menimpa kami. Sekian kedjadian jang sebenarnja, mudah²an apa jang telah terdjadi itu mendjadi peladjaran bagi kita. {{right|(Hrp).}} {{Missing image}}<noinclude> 33</noinclude> e3v2pbl9swd4vr6gjkq8jcxf6aaz9at Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/204 104 103626 291856 2026-05-11T08:20:40Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291856 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{center|<big><big>'''TJOTJOR MERAH DJADI OBAT '''</big></big>}} {{center|''Oleh :''}} {{center|'''Lts. Herus.'''}} {{Missing image}} Peristiwa ini terdjadi waktu Clash II, ketika revolusi sedang menghebat mengusir Pendjadjahan dari bumi Indonesia. Waktunja malam hari, jaitu disebuah tempat didaerah Djawa Timur jang termasuk garis terdepan tempat kami bergerilja. Seorang temanku, untuk mudahnja baiklah kusebutkan ia Rianto, sedang menderita sakit malaria. Badannja menggigil, meskipun sebenarnja panas. Ditempat itu hanja terdapat pos PPPK sadja. Rumah Sakit Darurat terletak djauh dibelakang dan ini memang disengadja agar tidak diketahui oleh Belanda. Panas badan Rianto kian lama kian meningkat djuga, sampai² ia mengingau dan tak sedarkan diri. Keputusan Pos PPPK achirnja Rianto harus dibawa segera ke Rumah Sakit Darurat. Dan oleh komandanku aku diperintahkan untuk mengantarkannja. Pengangkutan untuk djarak sedjauh itu tidak ada, ketjuali lori dari Djawatan Kehutanan jang berdaja-guna sangat besar didaerah itu. Dan dengan alat pengangkutan itu pagi harinja Rianto kami usung jang terdiri dari aku sebagai pengawal, seorang anggota PPPK sebagai pengantar dan dua orang-kampung sebagai pendorong lori. Sepandjang djalan jang berdjarak beberapa puluh kilometer itu lori senantiasa didorong, bahkan aku turut mendorong pula karena d jalan lori menandjak terus.. Dan karena perasaan setia-kawan sekali-kali tak ada rasa lelah pada diriku. Ketika itu waktu sudah menundjuk pukul 10.00. Matahari telah mulai menundjukkan daja teriknja, peluh sudah pula keluar sebutir demi sebutir, namun kami tetap berdjalan sambil mendorong dengan harapan lekas sampai dan Rianto segera mendapat perawatan jang selajaknja. Disaat kami sedang berada diantara dua kampung jang agak berdjauhan letaknja itu, dimana kami mendorong Rianto jang terbudjur diatas lori berselimutkan sehelai mantel, tiba-tiba kami mendengar sajup-sajup dari djauh suara menderum jang makin lama makin mendekat dan njata. Kami makin menambah tenaga agar lekas dapat mentjapai kampung jang berada dimuka, karena telah dapat kami tebak bahwa suara menderum itu tidak lain adalah pesawat udara Belanda model spitfire jang lazim dinamakan "tjotjor merah" sedang mengintai mentjari mangsanja patriot-patriot Indonesia jang mempertahankan kemerdekaan.<noinclude> 34</noinclude> 9psjtcq00mmo0zopilnd6ma94dpm5p9 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/207 104 103627 291857 2026-05-11T08:23:58Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291857 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} Bakar bukan? Dia hanja mengangguk beberapa kali sadja dan diteruskan pertanjaannja itu. — Kau masih ingat dengan Plt. Bakar? Ingat pula dengan nasih mereka dengan sendjata ini: kata-katanja bersemangat. — Tidak, djawabku tjepat. — Kau mau mendengarkan tjeritanja Plt. Bakar dengan Tomson ini? Aku hanja mengangguk dan puntung rokok kretek segera kumatikan apinja. Maka Saiful mulai membetulkan kursinja dan mulailah ia mentjeriterakan alm. Komd. Plt. jang paling disajanginja. Barangkali kau djuga tahu sendiri Ton, sendjata Tomson ini dimiliki Kompi kami sudah sedjak clas I, jaitu waktu kota Ambarawa diserbu musuh. Berkat keberanian Prdd. Hadji, sendjata ini dapat dirampasnja dari tangan seorang Sers. M.P. Belanda. Waktu itu keadaan sendjata ini masih sangat bagus. Tidak antara lama dalam pertempuran sengit diperbatasan Ambarawa — Salatiga, Prdd. Hadji gugur sebagai ratna dan sendjata itu pindah ketangan Kopral Salim, wk. Komd. Regunja. Selang beberapa bulan diselingi dengan peristiwa² perdjandjian jang merugikan kita. Dan ta' lama sesudah itu clas II dilantjarkan keseluruh daerah R.I. dan kota Djokja diduduki musuh. Dalam keadaan kritis jang mengantjam negara itu, Tomson ini masih tetap mendjiwa kompi kami, ia bekerdja dan berdjuang. Dan dalam pengabdiannja kepada nusa dan bangsa Kopral Salim gugur menunaikan baktinja dalam serangan umum tanggal 1 Maret 1949. Bersamaan dengan gugurnja Kopral Salim itu, Tomson ini djuga mengalami invalide pada udjung larasnja, karena peluru jang dimuntahkan Kopral Salim ketika ia mengamuk pada pertempuran itu melampaui batas maximal sehingga udjung larasnja petjah. Walau demikian sendjata ini tidak djatuh ketangan musuh Ia hanja beralih ketangan seorang gerilja jang masih muda, waktu itu ia adalah siswa dari SMA-B jang paling atas tingkat kelasnja. Tapi gerilja muda ini djuga ta' dapat tahan lama mengasuh sendjata ini. Karena di-saat² Corps kita, Corps Angkatan Darat chususnja dan Angkatan Perang umumnja sedang mengkosilideer diri, jang disana-sini djuga timbul pemberontakan² bersendjata, baik pemberontakan R.M.S. jang membawa korban perwira² patriotik muda kita seperti Let. Kol. Slamet Rijadi, Let. Kol. Sudarto Penjerbuan APRA jang menelan Let. Kol. Lembong ataupun pemberontakan ex Bn. 426 jang mengakibatkan gugurnja Major Basuno, Major Kusmanto, Major Sunarjo dan masih banjak lagi. Dan pada peristiwa pemberontakan jang kusebut terachir ini gerilja muda kita ini djuga mengalami kemurungan jang amat sangat. Waktu itu dia diperintahkan Komd. Kompinja untuk mengawal Pak Lurah untuk memberi pendjelasan kepada penduduk diwilajahnja. Sebelum ia sampai ditempat tudjuan, ia disergap gerombolan sampai habis²an, sehingga duel dengan sangkur terhunus dilaksanakan. Jaah, semua hantjur ........ Dengan lenjapnja suara hantjur dari mulut Saiful, maka ia menunduk dan matanja nampak kemerah²an. — Ful, Saiful ......? Lalu bagaimana nasib anak itu? — Mati dia ...... ?, bahu Saiful kugojangkan supaja dia mau melandjutkan tjeriteranja jang sangat mengharu itu. Mengapa kau turut sedih dengan adanja sergapan itu? tanjaku sekali lagi. — Jaa, ...... tentu sadja aku ikut sedih Ton. Karena ...... katanja terputus dan nada suara hilang. — Karena apa ...... ? — Tjoba teruskan, Ful! Kataku mendesak. Dan Saiful mengangkat kepalanja dan rangkaian kalimat disusun lagi. Betapa tidak ikut sedih Ton, kalau anak itu terus mati ditembak kepalanja ataupun disembelih gerombolan sudah karuan, tinggal berkabung dan djenazahnja dimakamkan di Taman Pahlawan. Beres. Dan tak perlu ribut² lagi! Tetapi tidak demikian halnja Ton, anak itu tidak mati, berkat Tomsonnja ia dapat menjelamat-<noinclude> 37</noinclude> hftwrffu268gavp8pqdt37bj7c6xxqj Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/210 104 103628 291858 2026-05-11T08:31:38Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291858 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>SEBENTAR DENGAN PELUKIS BELGIA {{center|<big><big><big>'''A.J. LE MAYEUR'''</big></big></big>}} '''A. S. AHMAD''' Nama lengkapnja A. J. Le Mayeur de Merpeës. Orangnja pendek, badannja tegap dan warna kulitnja putih ke-kuning²an, seperti lazimnja orang² Eropa. Kalau berpakaian suka badju hemd dan tjelana pendek kotak² atau berkembang² dan telandjang kaki. Kalau kita berada di Bali, Denpasar, maka sedjauh 6½ kilometer lagi kita akan mendapati rumahnja di-tengah² semak² kembang aneka warna jang aksi mewangi. Tempat itu dikenal dengan Taman SANUR, terletak dipinggir laut ditepi pantai jang berteluk, jang digunakan djuga oleh orang² sebagai tempat afwisseling, tempat menghibur diri diwaktu senggang menikmati udara laut dan air samudra. Ketika kami menudju rumah pelukis ini, kami dapati dia sedang berenang ber-simbah²an dengan isteri dan tjutjunja di pantai dimuka rumahnja. Alangkah bahagia kelihatan hidupnja. Dengan ramah-tamah mereka menjambut kedatangan kami dan menjilakan kami masuk ditempat kediamannja. Rumahnja sederhana sekali, ramuannja terdiri dari bahan² jang murah sadja dengan perabot dari kaju dan bambu jang di-ukir². Tetapi karena kepandaiannja mengatur dan meletakkan alat² rumah tangganja mendjadilah rumah itu berseri sesuai dengan sifat² antiek dari pulau Bali. Disepandjang dinding ruangan depan disitu bergantungan hasil² lukisannja ketjil besar ber-matjam² ukiran dengan ---- ''Bila kita masuk kedalam rumahnja maka kita akan mendjumpai lukisan²nja bergantungan disepandjang dinding ruangan dengan ber-bagai² motief.'' — seorang Pelukis Asing jang sudah 25 tahun di Indonesia, Kawin dengan gadis Bali, pelukis amateur jang tidak punja studio, hidup dari lukisannja dengan bahan? jang didatangkan sendiri dari Belgia, jang terachir mengerdjakan lukisan pesanan Presiden selama tudjuh bulan. {{Missing image}} Inilah pelukis Belgia jang sudah 25 tahun berdiam di Bali.<br> Dari kiri ke kanan : Seniman Le Mayeur, isterinja Pollok dan tju-tjunja Nicole Jacguemin jang baru lima bulan berada di Indonesia. {{Missing image}}<noinclude> 40</noinclude> nqq8k8l4sddg6ez9eeifhaauavos2am Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/175 104 103629 291861 2026-05-11T08:39:05Z Upiak Ituih 27011 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '<ol> kepada mahasiswa untuk bekerja sendiri, memberi kesempatan kepada dua atau beberapa orang untuk saling berkomunikasi tanpa diketahui ataupun didengar olah mahasiswa lainnya; dan lain-lain. Mahasiswa dapat merekam suara mereka berulang kali disamping suara gurunya, meminta kebebasan untuk bekerja sendiri atau berkomunikasi dengan salah seorang atau beberapa orang temannya dan lain-lain. </ol> Perkembangan penggunaan laboratorium bahasa ini... 291861 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" /></noinclude><ol> kepada mahasiswa untuk bekerja sendiri, memberi kesempatan kepada dua atau beberapa orang untuk saling berkomunikasi tanpa diketahui ataupun didengar olah mahasiswa lainnya; dan lain-lain. Mahasiswa dapat merekam suara mereka berulang kali disamping suara gurunya, meminta kebebasan untuk bekerja sendiri atau berkomunikasi dengan salah seorang atau beberapa orang temannya dan lain-lain. </ol> Perkembangan penggunaan laboratorium bahasa ini didasarkan pada pengertian bahwa -iampu berbicara dan mengerti aSalah tujuan utama da- lam pengajaran bshasa. Kesempatan yang cukup untuk berlatih rendengar- kan dan berbicara didalam kelas biasa tidak ada. Padahal latihan-latih- an semacam itu menjadi keharusan dalam pelajaran bahasa asing. Jadi, tujuan laboratorium bahasa sendiri ialah memberikan kesempatan sebanyak- banyaknya dan secara teratur mendengarkan contoh/model yang baik dalam bahasa asing San latihan menirukan Gan mengulang-ulang pelajaran secara lisan. IKATAN LINGGUIS INDONESIA (ILI) Pada tanggal 2 Naret 1968, bertempat di Fakultas Sastra Universi- tas Indonesia, ILI telah menyelenggarakan seminar bulanannya yang Ke 10 dengan pembicara: Ny. Dra. Haryati Soebadio. Pokok persbalan: "Bebe- Tapa catatan mengenai Kata Pinjaman Keagamaan dalam Bahasa Indonesia." Dan pada tanggal 5 April 1958 pembicara Drs. A.M. Moeliono menyampai- kan prasarannya: "Beberapa segi etnolingguistik dalam terjemahan." | Pada bulan-bulan berikutnya akan berbicara pula Nj. Dra. Siti Hamdijah dengan prasaran: “Problematika Tatabahasa dalam Bidang Penga- jaran Bahasa Indoweela dan Drs. S. Effendi dengan pokok: Metodologi Pengajaran Bahasa Indorcsia di Sekolah Menengah Umum." BUKU 1BAHASA DAN KE3USAITRAN INDONESIA SS88GAI TISRMIN MANUSIA INDOSESI.. BARU" TTBBIT P.T. Gunung Agung telah menerbitkan sebuah buku yang berisi prasa- ran-prasan dalam Simposium Bahasa dan Kesusastraan Indonesia tahun 1966 di Jakarta yang diselenggarakan oleh Lembaza (sekarang: Direktorat) | Bahasa dan Xgsusastraan yang bekerjasdat dengan Fakultas Sastra Univer- sSitas Indonesia, IKIP Jakarta dan KASI Jaya. Selain prasaran-prasaran juga dimuat pembahasan, sanzrgahan dan jawaban dari para pemrasaran. Buku ini tebalnya 259 halaman. ' Bahnsag dan Kesusastraan, No. 4, Th.I, 1968.<noinclude></noinclude> ez96xt2wbv6hl5o3fvhpgkf8i813amt 291865 291861 2026-05-11T08:50:45Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291865 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude><ol> kepada mahasiswa untuk bekerja sendiri, memberi kesempatan kepada dua atau beberapa orang untuk saling berkomunikasi tanpa diketahui ataupun didengar olah mahasiswa lainnya; dan lain-lain. Mahasiswa dapat merekam suara mereka berulang kali disamping suara gurunya, meminta kebebasan untuk bekerja sendiri atau berkomunikasi dengan salah seorang atau beberapa orang temannya dan lain-lain. </ol> Perkembangan penggunaan laboratorium bahasa ini didasarkan pada pengertian bahwa -iampu berbicara dan mengerti aSalah tujuan utama dalam pengajaran bahasa. Kesempatan yang cukup untuk berlatih mendengarkan dan berbicara didalam kelas biasa tidak ada. Padahal latihan-latihan semacam itu menjadi keharusan dalam pelajaran bahasa asing. Jadi, tujuan laboratorium bahasa sendiri ialah memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya dan secara teratur mendengarkan contoh/model yang baik dalam bahasa asing dan latihan menirukan dan mengulang-ulang pelajaran secara lisan. {{rh|IKATAN LINGGUIS INDONESIA (ILI)}} Pada tanggal 2 Naret 1968, bertempat di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ILI telah menyelenggarakan seminar bulanannya yang Ke 10 dengan pembicara: Ny. Dra. Haryati Soebadio. Pokok persoalan: "Beberapa catatan mengenai Kata Pinjaman Keagamaan dalam Bahasa Indonesia." Dan pada tanggal 5 April 1958 pembicara Drs. A.M. Moeliono menyampakan prasarannya: "Beberapa segi etnolingguistik dalam terjemahan." Pada bulan-bulan berikutnya akan berbicara pula Nj. Dra. Siti Hamdijah dengan prasaran: “Problematika Tatabahasa dalam Bidang Pengajaran Bahasa Indonesia" dan Drs. S. Effendi dengan pokok: Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Umum." {{rh|BUKU 1BAHASA DAN KE3USAITRAN INDONESIA SS88GAI TISRMIN MANUSIA INDONESIA BARU" TERBIT P.T. Gunung Agung telah menerbitkan sebuah buku yang berisi prasaran-prasan dalam Simposium Bahasa dan Kesusastraan Indonesia tahun 1966 di Jakarta yang diselenggarakan oleh Lembaga (sekarang: Direktorat) Bahasa dan Kesusastraan yang bekerjasama dengan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, IKIP Jakarta dan KASI Jaya. Selain prasaran-prasaran juga dimuat pembahasan, sanggahan dan jawaban dari para pemrasaran. Buku ini tebalnya 259 halaman. {{rh||{{u|Bahasa dan Kesusastraan}}, No. 4, Th.I, 1968.}}<noinclude></noinclude> pe7rabj4in1trblgrw8rav7wkgmcm2i 291866 291865 2026-05-11T08:52:19Z Upiak Ituih 27011 291866 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude><ol> kepada mahasiswa untuk bekerja sendiri, memberi kesempatan kepada dua atau beberapa orang untuk saling berkomunikasi tanpa diketahui ataupun didengar olah mahasiswa lainnya; dan lain-lain. Mahasiswa dapat merekam suara mereka berulang kali disamping suara gurunya, meminta kebebasan untuk bekerja sendiri atau berkomunikasi dengan salah seorang atau beberapa orang temannya dan lain-lain. </ol> Perkembangan penggunaan laboratorium bahasa ini didasarkan pada pengertian bahwa -iampu berbicara dan mengerti aSalah tujuan utama dalam pengajaran bahasa. Kesempatan yang cukup untuk berlatih mendengarkan dan berbicara didalam kelas biasa tidak ada. Padahal latihan-latihan semacam itu menjadi keharusan dalam pelajaran bahasa asing. Jadi, tujuan laboratorium bahasa sendiri ialah memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya dan secara teratur mendengarkan contoh/model yang baik dalam bahasa asing dan latihan menirukan dan mengulang-ulang pelajaran secara lisan. {{rh|IKATAN LINGGUIS INDONESIA (ILI)}} Pada tanggal 2 Naret 1968, bertempat di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ILI telah menyelenggarakan seminar bulanannya yang Ke 10 dengan pembicara: Ny. Dra. Haryati Soebadio. Pokok persoalan: "Beberapa catatan mengenai Kata Pinjaman Keagamaan dalam Bahasa Indonesia." Dan pada tanggal 5 April 1958 pembicara Drs. A.M. Moeliono menyampakan prasarannya: "Beberapa segi etnolingguistik dalam terjemahan." Pada bulan-bulan berikutnya akan berbicara pula Nj. Dra. Siti Hamdijah dengan prasaran: “Problematika Tatabahasa dalam Bidang Pengajaran Bahasa Indonesia" dan Drs. S. Effendi dengan pokok: Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Umum." {{rh|BUKU "BAHASA DAN KESUSASTRAAN INDONESIA SEBAGAI TJERMIN MANUSIA INDONESIA BARU" TERBIT}} P.T. Gunung Agung telah menerbitkan sebuah buku yang berisi prasaran-prasan dalam Simposium Bahasa dan Kesusastraan Indonesia tahun 1966 di Jakarta yang diselenggarakan oleh Lembaga (sekarang: Direktorat) Bahasa dan Kesusastraan yang bekerjasama dengan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, IKIP Jakarta dan KASI Jaya. Selain prasaran-prasaran juga dimuat pembahasan, sanggahan dan jawaban dari para pemrasaran. Buku ini tebalnya 259 halaman. {{rh||{{u|Bahasa dan Kesusastraan}}, No. 4, Th.I, 1968.}}<noinclude></noinclude> nt3pyf4bbjtvq4kuchvitmvym4tp4yq Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/202 104 103630 291863 2026-05-11T08:45:27Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291863 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{center|'''KELENGAHAN'''}} {{center|dan}} {{center|'''MAUT'''}} Kota ketjil itu sempat kami bumi-hanguskan ketika tentara Belanda berhasil mendudukinja. Suasana disegala garis pertempuran mendjadi panas kembali. Belanda melantjarkan agressinja jang kedua. Pasukan kami jang terkenal dengan nama pasukan "tengkorak" mengundurkan diri kearah selatan. Entah kenapa kami dapat gelar pasukan "tengkorak", akupun tidak dapat memahaminja, hanja djelasnja kami memang memakai lambang badjak laut, jaitu tengkorak dengan dua potong tulang bersilang dibawahnja. Kabarnja pihak musuh memang agak segan² berhadapan dengan kami, karena djarang kami mundur begitu sadja djika terlibat dalam salah satu pertempuran sebelum menewaskan beberapa orang musuh. Dengan demikian lambang kami itu kian populer dikalangan rakjat. Dimana² kami senantiasa mendapat sambutan jang hangat, dan kami dapat bangga atas penghargaan rakjat jang demikian besar. Sebaliknja bagi musuh lambang itu djadi momok jang menakutkan tentunja. Disebuah kampung ketjil tetapi tjukup strategis bagi siasat pertempuran kami kembali menjusun kekuatan dengan mendirikan kubu² baru. Dengan bantuan rakjat dapatlah perbentengan itu diselesaikan dalam waktu singkat. Perintah komandan jang tegas telah kami terima, dan kami harus bertahan disini setjara frontal. Karena andai kata daerah selatan ini dapat diduduki musuh, daerah satu²nja lagi kaja beras, maka sudah sepantasnja kami harus makan daun kadju dalam rimba balantara, dipuntjak bukit barisan jang membudjur tiada habisnja dari utara keselatan pulau Andalas. Djadi daerah beras ini harus kami pertahankan mati²an. Djika perut kosong tidak dapat lagi bertempur tentunja, ini tekad kami. Telah beberapa bulan kami disana, namun belumlah ada terlihat tanda² musuh akan melandjutkan doorstootnja jang terkenal itu. Kalau pun ada sesekali pasukan kami berpapasan dengan patroli pihak sana, terdjadi tembak menembak hanja sebentar jang tidak begitu berarti. Oleh keadaan jang demikian terus menerus, timbullah dikalangan kami rasa pandang enteng. Tak mungkin musuh mau menjerang lagi, sedangkan untuk mengawasi daerah jang telah didudukinjapun tentunja mereka sudah kehabisan napas. Daerah jang begitu luas tidak mungkin dapat diawasinja lagi. Ini pikiran kami. Kiranja belum tjukup-tjukupnja peladjaran jang diberikan oleh sang pengalaman. Desingan peluru, dentuman mortir, ledakan geranat dan rintihan teman jang menantikan kedatangan maut pada pertempuran jang lalu, kami telah mengabur dari ingatan. Kami belum djuga kapok-kapoknja apa sebenarnja akibat jang ditimbulkan oleh sikap pandang enteng itu dan menganggap sepi segala-galanja. Hari-hari pertama kami masih begitu berhati-hati, waspada dalam tugas. Dikala fadjar membajang diufuk timur, berdebarlah djantung dan hati menantikan kemungkinan. Datangkah pagi ini? Tidakkah? Hanja berkisar disanalah pikiran kami. Saat pagi buta memang sudah djadi tradisi musuh untuk menjerang atau menjergap. Namun achir-achir ini kami sudah berubah. Detik-detik berbahaja tidak lagi kami hiraukan. Ada kawan jang tugas dipos depan sudah berani tidur pules hingga siang. Kalau ditegor, seenaknja sadja mendjawab: Keadaan kan aman, apa guna tjapek-tjapek. Dan banjak matjam alasan lagi. Pasukan tengkorak jang dulu djadi kebanggaan rakjat, kini morilnja sudah kotjar katjir. Teman-teman semua kelihatan lesu, persis tentara jang sudah kalah perang. Djaga malam djuga seenaknja, menghidupkan api membumbung merah kelangit, alasan tentunja untuk mengusir njamuk dan melawan dingin, tanpa disedari bahwa tindakan itu sama sadja menjerahkan njawa kekandang matjan. Tentang patroli djangan dikata lagi. Dua tiga orang kadang kala tanpa perintah berangkat kedaerah musuh. Sistim nekat²an memegang peranan disini. Dan untuk ini sering pula kami hanja mendengar kabar teman² menemui adjalnja karena terkepung. Setiap pagi terdengarlah dentuman² peluru diperbentengan kami, kadang² satu² dan sering pula otomatis. Gemanja menggelegar memetjah kesunjian pagi disekitarnja. Tetapi djanganlah menjangka bahwa kami telah terlibat dalam pertempuran dengan musuh. Bukan, bukan, djauh dari itu. Tembakan tersebut hanja suatu tjara baru untuk membangunkan teman² jang lelap tidur tidak sedarkan diri. Tembakan hanja ditudjukan keatas. Sedangkan peluru jang ada pada kami dapat dihitung dengan djari setiap orangnja. Mula² tentu sadja tjara baru itu berhasil. Banjak jang terlompat, tersentak karena terkedjut, ada pula jang langsung angkat langkah seribu tak tentu tudjuan, sendjata tak dihiraukan karena gugupnja. Hari² selandjutnja tidak perduli lagi dengan tembakan begitu. Persetan sama dia, mengganggu orang tidur sadja, demikian pernah seorang pengawal menggerutu. Banjak jang mendongkol karena tembakan itu, tembakan keatas oleh komandan<noinclude> 32</noinclude> ozc56viztoxju2hmamyw2wr7qvs2uem Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/211 104 103631 291864 2026-05-11T08:50:07Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291864 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>ber-bagai² motief. Lukisan² itu kebanjakan dari tjet-minjak sedang selebihnja adalah tjet air. Rumah dan perabot²nja dan segala alat² rumah tangganja itu adalah diatur dan direntjanakan olehnja sendiri. Le Mayeur adalah seorang bangsa Belgia. Umurnja sekarang sudah 77 tahun. Namun demikian ia masih tegap dan kuat sadja kelihatannja. Ia dilahirkan di Brussel pada tahun 1880 dari seorang ajah jang bekerdja sebagai pelukis tehnik disalah satu perusahaan. Pada umur 17 tahun ia mulai gemar melukis, dan itu dikerdjakannja terus sampai sekarang tanpa ada bimbingan dari orang lain. Segala ketjakapan dan tehnik melukis diperolehnja sendiri dari pengalaman²nja dengan latihan² dan beladjar sendiri jang berpangkal pada kemauannja jang keras dan bakat jang dipunjai. Ketika dalam Perang Dunia I, karena negaranja turut terlibat dalam perang dan ia sendiri mendjadi milisi (volontair) untuk membela tanahairnja. Setelah selesai peperangan itu, karena tak betah melihat kehantjuran dan kemusnahan dinegerinja sebagai akibat dari peperangan tersebut, ia achirnja mengambil keputusan untuk meninggalkan keluarga dan negaranja dan berdjalan mengelilingi dunia dengan sangu hanja kepandaian melukis semata. Setelah ber-tahun{{subst:pangkat2}} mendjeladjah banua{{subst:pangkat2}} mengelana dari kota kekota, Italia, Buines Aris, India, Madagaskar, Tahiti dan banjak lain{{subst:pangkat2}} lagi, achirnja ia tiba di Indonesia, dan didalam gugusan kepulauan Nusantara kita inilah ia bertmu dengan suatu pulau kesenian jang memang telah lama di-tjari{{subst:pangkat2}}nja jang sesuai dengan djiwanja ialah pulau jang sering kita gelar pulau-dewata atau pulau Bali. Menurut keterangannja, ia sudah 25 tahun lamanja sampai sekarang berada/berdiam di Bali, dan ia merasa sangat senang dan bahagia sekali ditempat itu. Karena sebagai seorang seniman jang dilahirkan oleh alam, ia telah bertemu dengan dunianja sendiri ialah pulau Bali sebagai pulau-kesenian dari pemberian alam pula walau tempat kelahirannja djauh dari sana. Dan meskipun ia telah seperempat abad lamanja berada di Indonesia dan merasa sangat bahagia disini dan mungkin pula segala sisa{{subst:pangkat2}} hidupnja akan dihabiskannja dinegeri kita, namun Le Mayeur tetap mendjadi warga negara Belgi. {{Missing image}} <small>''Disini tampak antara lain Letnan Kolonel Pelupessy dari I.P.U./VII, Ltd. Tumengkol dari SMAD/VII dan Ltd. Pangemanan dari CIAD/VII. Sebelah kiri sekali ialah penulis.''</small> {{Missing image}} <small>''Bagi Le Mayeur, waktu melukis hanja pagi atau sore. Dibelakang tampak salah sebuah lukisannja jang dibuatnja pada pagi hari. Lukisan tsb. adalah sematjam dengan lukisan jang dipesan Presiden Soekarno.''</small><noinclude> 41</noinclude> gdtcz5vxz1d0nmi7t6yo0zf2vd1p028 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/212 104 103632 291867 2026-05-11T08:53:45Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291867 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Sesudah mendjelang setahun lamanja semendjak ia tiba di Bali, Le Mayeur berhasil menemukan seorang gadis pulau tsb. jang dapat didjadikan model-nja dalam melukis. Dengan ketjantikan asli jang dimiliki gadis itu dengan warna kulit jang hitam manis, lukisan² Le Mayeur semakin hidup dan energinja dalam melukis semakin memantjar memperbesar pertumbuhan talent-nja. Dan dua tahun kemudian, jaitu pada tahun 1935, antara model dan pelukis itu memperkekal hidupnja dengan tali perkawinan, dan sampai pada waktu ini mereka hidup rukun dan bahagia meskipun perbedaan djumlah umur antara keduanja hampir separoh. Kendati sudah mendjadi isteri, namun Pollok (asal dari modelnja itu) tetap membantu suaminja dengan tetap mendjadi model dalam melukis sampai sekarang. Dengan bantuannja maka suaminja telah berhasil mengadakan empat kali pameran seni-lukis diluar negeri, jaitu di Singapore dalam tahun² '33, '35, '37 dan '41 jang diselenggarakan oleh Le Le Mayeur tergolong pelukis amateur. Dia melukis menurut kesenangannja sendiri, sedang waktu melukis hanja pagi atau sore. Semangat aliran Impressionistme. Segala bahan² untuk melukis, dari kwas, tjet, olie, sampai kepada kain dsb.nja semua didatangkan/dipesannja sendiri langsung dari Belgia. Meskipun dia pelukis amateur, namun dasar hidupnja ialah hasil harga² lukisannja. Lukisan² itu kebanjakan didjual/dibeli oleh saudagar² dari Djawa dan kalangan intelektuil di Indonesia. Djuga Presiden Soekarno sendiri ketika beliau berada di Bali beberapa waktu jang lalu telah bertemu dengan Le Mayeur dan memesan sebuah lukisan jang besarnja l.k. 1.50 {{times}} 2.00 meter. Lukisan itu telah dikerdjakan oleh Le Mayeur selama tudjuh bulan terus-menerus dengan mengambil waktu pada sore hari. Menurut Le Mayeur, lukisan untuk Presiden tsb. telah menelan perongkosan materieel l.k. Rp. 10.000,— dan kepadanja oleh Presiden diberikan ganti pembe- {{Missing image}} <small>''Bagi pengundjung? Le Mayeur jang punja toestelphoto atau camera, sebelum meninggalkan tempat pelukis itu biasanja tidak lupa mengabadikan diri ber-sama? seniman tsb. seperti tampak pada gambar ini,''</small> {{Missing image}} <small>''Tari sematjam inilah jang sedang dipeladjari oleh tjutju Le Mayeur — Nicole Jacguemin. Tari ini adalah tari "Tjandra '“Metu” dari kumpulan Tari Legon jang termasjhur itu, ditarikan oleh gadis Bali: Ni Made Sudani dan Ni Made Wakri.''</small><noinclude></noinclude> oafmpip1mb225saozbjdifqrvv7r4em 291902 291867 2026-05-11T09:32:43Z Link PB 26772 291902 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Sesudah mendjelang setahun lamanja semendjak ia tiba di Bali, Le Mayeur berhasil menemukan seorang gadis pulau tsb. jang dapat didjadikan model-nja dalam melukis. Dengan ketjantikan asli jang dimiliki gadis itu dengan warna kulit jang hitam manis, lukisan² Le Mayeur semakin hidup dan energinja dalam melukis semakin memantjar memperbesar pertumbuhan talent-nja. Dan dua tahun kemudian, jaitu pada tahun 1935, antara model dan pelukis itu memperkekal hidupnja dengan tali perkawinan, dan sampai pada waktu ini mereka hidup rukun dan bahagia meskipun perbedaan djumlah umur antara keduanja hampir separoh. Kendati sudah mendjadi isteri, namun Pollok (asal dari modelnja itu) tetap membantu suaminja dengan tetap mendjadi model dalam melukis sampai sekarang. Dengan bantuannja maka suaminja telah berhasil mengadakan empat kali pameran seni-lukis diluar negeri, jaitu di Singapore dalam tahun² '33, '35, '37 dan '41 jang diselenggarakan oleh Le Le Mayeur tergolong pelukis amateur. Dia melukis menurut kesenangannja sendiri, sedang waktu melukis hanja pagi atau sore. Semangat aliran Impressionistme. Segala bahan² untuk melukis, dari kwas, tjet, olie, sampai kepada kain dsb.nja semua didatangkan/dipesannja sendiri langsung dari Belgia. Meskipun dia pelukis amateur, namun dasar hidupnja ialah hasil harga² lukisannja. Lukisan² itu kebanjakan didjual/dibeli oleh saudagar² dari Djawa dan kalangan intelektuil di Indonesia. Djuga Presiden Soekarno sendiri ketika beliau berada di Bali beberapa waktu jang lalu telah bertemu dengan Le Mayeur dan memesan sebuah lukisan jang besarnja l.k. 1.50 X 2.00 meter. Lukisan itu telah dikerdjakan oleh Le Mayeur selama tudjuh bulan terus-menerus dengan mengambil waktu pada sore hari. Menurut Le Mayeur, lukisan untuk Presiden tsb. telah menelan perongkosan materieel l.k. Rp. 10.000,— dan kepadanja oleh Presiden diberikan ganti pembe- {{Missing image}} <small>''Bagi pengundjung? Le Mayeur jang punja toestelphoto atau camera, sebelum meninggalkan tempat pelukis itu biasanja tidak lupa mengabadikan diri ber-sama? seniman tsb. seperti tampak pada gambar ini,''</small> {{Missing image}} <small>''Tari sematjam inilah jang sedang dipeladjari oleh tjutju Le Mayeur — Nicole Jacguemin. Tari ini adalah tari "Tjandra '“Metu” dari kumpulan Tari Legon jang termasjhur itu, ditarikan oleh gadis Bali: Ni Made Sudani dan Ni Made Wakri.''</small><noinclude></noinclude> 49p5hb7nhwpqrfc4nn9shpm8lzmw3af Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/213 104 103633 291869 2026-05-11T08:55:40Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291869 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>lian bahan² itu sebanjak Rp. 15.000,—. Djadi djumlah jang sekian itu bukanlah sebagai harga lukisannja, karena didalam melukis pesanan Presiden tsb. dia memang tidak memperhitungkan waktu dan djasa kerdjanja. Ketika kami tanja, betapa kesan²nja mengenai pelukis² Indonesia, baik jang baru tumbuh maupun jang telah mentjapai pendewasaan, dikatakan oleh Le Mayeur adalah bagus terutama mengenai personality-nja. Tjuma dichawatirkannja lukisan² pelukis² kita itu kelak djangan sampai dipalsukan. Walaupun sudah lama di Indonesia dan beristeri gadis Indonesia, Le Mayeur masih belum dapat bertjakap bahasa Indonesia dengan lantjar. Sebaliknja dalam kehidupannja sehari² ia tetap selalu menggunakan bahasa Perantjis sehingga isterinja, Pollok, ikut pula mendjadi fasih dalam bahasa itu. Dan sampai pada saat ini dalam pergaulannja sebagai suami-isteri, mereka tidak beroleh seorang anak, dan anak² mereka jang sangat mereka tjintai ialah lukisan² jang tergantung didinding rumahnja, demikianlah Le Mayeur menuding lukisan²nja dengan senjum simpul ketika kami memperkatakan hal ini. Dan bagi Le Mayeur, perkawinannja dengan Pollok itu adalah untuk kedua kalinja. Isterinja jang pertama ialah bangsanja sendiri telah lama meninggal di Belgia. Dan Pollok sendiri, walaupun suaminja seorang bangsa Belgi, ia tetap pula mempertahankan hak kewanegaraannja sebagai bangsa Indonesia. Dan achirnja sebagai perintang rindu terhadap kepada keluarga dan pamilinja jang sudah berpuluh tahun ditinggalkan tidak berdjumpa muka, Le Mayeur telah memesan/memanggil salah seorang tjutju saudaranja perempuan untuk datang mengundjunginja di Indonesia (Bali). Kini si tjutju tsb. sudah lima bulan berada disampingnja, dan akan tinggal disisinja selama 1½ tahun menurut lamanja visa jang diperoleh dari Pemerintah. Dan selama di Indonesia ini, sekarang tjutju jang sweet-seventeen itu sedang giat beladjar tari²an Bali untuk dipersembahkan kelak kepada pamili dan keluargannja apabila pulang kembali di Brussel sebagai kenang²an dari pulau dewata. --O-- {{Missing image}} {{center|<small>''Angkatan Darat, terutama Kol. Gatot Subroto ikut memberikan andeel dalam membangun Rumah Sakit R.C. di Solo. Tampak dalam gambar salah seorang penderita tiilik dengan mengenakan pakaian pandu bergambar dengan anggauta? P.M.''</small>}}<noinclude></noinclude> pdz2rttvclkrh7w2vcicdxc47vd798z Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/238 104 103634 291871 2026-05-11T09:00:51Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291871 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} Pasukan gerilja kita dengan sendjata serba neka siap menerima petundjuk² dari komandannja tentang taktik operasi jang akan dilakukan untuk menentang penjerbuan² tentera Belanda dan untuk mengusirnja kembali keluar bumi Indonesia. {{Missing image}} Pemuda² kita tidak gentar. Setiap djengkal tanah Indonesia dipertahankan dengan gigih. {{Missing image}} Pedjuang² putera/i kita jang masih sangat muda dan belum berpengalaman sama sekali menghadapi suatu perang jang begitu besar dengan Belanda. Namun begitu dengan tekat jang teguh madju kefront untuk membela tanah air. III untuk sampai didaerah Lumadjang itu harus ditempuh tidak kurang dari 4 a 500 km. jang ditempuhnja dalam waktu kurang lebih satu bulan lamanja. Berangkatnja dari daerah Blitar tanggal 19 Desember 1948 dan baru sampai diperbatasan Besuki pada tanggal 17 Djanuari 1949. Selama perdjalanan menembus gunung Semeru itu, masing² bagian jang berangkatnja berlainan dan berangsur² kompi per-kompi, seksi per-seksi itu, tidak sedikit kesukaran dan penderitaan jang harus dialami oleh seluruh anggauta Brigade III. Djalan jang diambilnja harus berputar-putar untuk menghindarkan pertempuran besar-besaran dan untuk menipu musuh, sehingga perdjalanan jang harus dilalui mendjadi lebih pandjang lagi. Kesukaran-kesukaran lainnja jang harus dihadapi ialah daerah jang belum dikenal dan hutan-hutan. Sedang pada waktu itu adalah musim penghudjan jang terus-menerus turunnja, terutama didaerah Lumadjang. Tambah lagi masa musim petjeklik, sehingga persediaan supply sukar sekali dan tidak sedikit anggauta Brigade III harus menderita kelaparan sebelum sampai diperbatasan Besuki. Selain dari musim, dadaerah Semeru Selatan jang onderneming-ondernemingnja telah dibumi hanguskan pada waktu aksi pertama, tanaman-tanaman djagung masih baru tumbuh. Sekalipun telah menghadapi kesukaran-kesukaran jang tidak sedikit itu dimana anggauta-anggauta Brigade III harus tahan lapar dan menderita kedinginan hawa pegunungan achirnja dengan selamat mereka dapat menembus gunung Semeru dan mendekati tudjuan perdjalanannja setelah sebulan lama<noinclude> 16</noinclude> sel681igxke587luxgxt70sompidhf2 291872 291871 2026-05-11T09:01:32Z Link PB 26772 291872 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Pasukan gerilja kita dengan sendjata serba neka siap menerima petundjuk² dari komandannja tentang taktik operasi jang akan dilakukan untuk menentang penjerbuan² tentera Belanda dan untuk mengusirnja kembali keluar bumi Indonesia.''</small> {{Missing image}} <small>''Pemuda² kita tidak gentar. Setiap djengkal tanah Indonesia dipertahankan dengan gigih.''</small> III untuk sampai didaerah Lumadjang itu harus ditempuh tidak kurang dari 4 a 500 km. jang ditempuhnja dalam waktu kurang lebih satu bulan lamanja. Berangkatnja dari daerah Blitar tanggal 19 Desember 1948 dan baru sampai diperbatasan Besuki pada tanggal 17 Djanuari 1949. Selama perdjalanan menembus gunung Semeru itu, masing² bagian jang berangkatnja berlainan dan berangsur² kompi per-kompi, seksi per-seksi itu, tidak sedikit kesukaran dan penderitaan jang harus dialami oleh seluruh anggauta Brigade III. Djalan jang diambilnja harus berputar-putar untuk menghindarkan pertempuran besar-besaran dan untuk menipu musuh, sehingga perdjalanan jang harus dilalui mendjadi lebih pandjang lagi. Kesukaran-kesukaran lainnja jang harus dihadapi ialah daerah jang belum dikenal dan hutan-hutan. Sedang pada waktu itu adalah musim penghudjan jang terus-menerus turunnja, terutama didaerah Lumadjang. Tambah lagi masa musim petjeklik, sehingga persediaan supply sukar sekali dan tidak sedikit anggauta Brigade III harus menderita kelaparan sebelum sampai diperbatasan Besuki. Selain dari musim, dadaerah Semeru Selatan jang onderneming-ondernemingnja telah dibumi hanguskan pada waktu aksi pertama, tanaman-tanaman djagung masih baru tumbuh. Sekalipun telah menghadapi kesukaran-kesukaran jang tidak sedikit itu dimana anggauta-anggauta Brigade III harus tahan lapar dan menderita kedinginan hawa pegunungan achirnja dengan selamat mereka dapat menembus gunung Semeru dan mendekati tudjuan perdjalanannja setelah sebulan lama {{Missing image}} <small>''Pedjuang² putera/i kita jang masih sangat muda dan belum berpengalaman sama sekali menghadapi suatu perang jang begitu besar dengan Belanda. Namun begitu dengan tekat jang teguh madju kefront untuk membela tanah air.''</small><noinclude> 16</noinclude> fpakbn7ycwatrb7x5d1vo4pkttfuuo7 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/241 104 103635 291873 2026-05-11T09:03:02Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291873 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>kan penjusunannja memasuki daerah Besuki untuk mentjapai tempat tudjuannja masing². Batalion 26 menudju ke gunung Lamongan. Markas Brigade dengan Batalion 26 menudju ke Selatan gunung Argapura dan Batalion 27 menjeberang kali Bondojudo untuk memasuki daerah Kentjong. Masing² mendoakan keselamatannja, sedang ada diantara para anggautanja mengutjapkan kata selamat jang terachir kepada kawan²nja jang ada dilain bagian. Karena mereka insjaf bahwa perdjalanan jang terachir ini akan lebih berat pula. Dan mereka insjaf pula bahwa diantara mereka tentu ada jang tidak akan mentjapai tudjuannja. Akan gugur ditengah perdjalanan. '''Perdjalanan Batalion 26 :''' Major Magenda dengan Batalionnja menempuh dua pegunungan untuk dapat memasuki daerah Besuki. Pertama mereka harus mendaki gunung Lamongan, daerah jang termasuk daerah operasi Major Bed Sarif dari Batalion Probolinggo. Sesudah itu mereka harus melalui pegunungan Yang dengan gunung Argapuranja, jang masih buas keadaannja dan penuh dengan binatang liar. Disamping bahaja serbuan musuh harus mereka hadapi pula. Walau demikian, Batalion 26 berangkat dengan penuh pengharapan dan kegembiraan, biarpun badan masih letih dan lemah karena kekurangan makan selama melakukan perdjalanan menembus gunung Semeru. Letnan II Hardjoto dengan seksinja mendjadi voorspits. Sambil menghadapi pertempuran ketjil²an dan menghindarkan serbuan setjara luas dari musuh, achirnja dengan susah pajah Magenda dengan Batalionnja dapat melalui gunung Lamongan. Dari sini Magenda menudju ke Timur untuk mendaki gunung Argapura, sedang Major Darsan dengan depotnja menudju kedaerah perbatasan Phaiton/Besuki. '''Bertempur Sampai Titik Darah Penghabisan :''' Dalam perdjalanan memasuki daerah Besuki itu, maka Batalion 26 mengalami dua pertempuran jang sengit dan hebat, dalam mana mereka djuga harus menghadapi bombardment². Pertama voorspits mereka, jakni Seksi Letnan II Harjoto didesa Patterana harus bertempur menghadapi musuh jang lebih lengkap persendjataannja. Biarpun demikian, Harjoto tidak mundur. Daerah jang ditudju telah dekat. Tugas Batalion 26 harus diselesaikan. Karena itu, agar Batalion 26 dapat sampai dengan selamat ditempat jang ditudjunja dengan melalui lain djalan, Letnan II Harjoto dengan Seksinja dengan gagah berani menghadapi serbuan musuh jang lebih besar. Mereka bertempur di Patterana setjara perwira jang patut mendapat pudjian, walau mereka tahu bahwa persendjataannja kurang lengkap. Tetapi Letnan II Harjoto dengan anak {{Missing image}} Putera? Ibu Pertiwi jang sedang berbakti untuk Nusa dan Bangsa pada waktu? bergerilja jang lalu di tengah? hutan rimba pada saat? menghadapi tentera pendjadjahan Belanda. Kenangkanlah kembali kepada djasa? mereka.<noinclude> 19</noinclude> epzllfbtgf2s2r4toi4d8ftwoi1qctf Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/242 104 103636 291874 2026-05-11T09:07:19Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291874 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Dengan tjita? jang sutji, mempertahankan R.I. proklamasi 17 Agustus 45, pedjuang? gerilja kita dengan seia sekata mengawal tanah persada Ibundanja.''</small> buahnja tidak suka menjerah. Satu demi satu mereka gugur sebagai bunga bangsa. Achirnja Letnan II Harjoto sendiri djuga tewas sebagai perwira jang gagah berani. Dalam pertempuran di Patterana ini, Letnan II Harjoto dengan Seksinja telah memenuhi sembojannja "bertempur sampai darah penghabisan". Seluruh Seksinja tewas sampai pada komandannja. Tetapi berkat pengorbanan Letnan II Harjoto ini, Batalion 26 bisa mentjapai tempat tudjuannja dengan selamat sambil menghadapi pertempuran² ketjil lainnja. Ketewasan Letnan II Harjoto dan habisnja seksinja ditjatat dengan tinta emas dalam sedjarah Batalion 26 dari Brigade III TNI Divisi I. Disamping itu Major Darsan Inu dengan depotnja didaerah perbatasan Phaiton/Besuki harus djuga mengalami pertempuran jang hebat dengan bombardement². Tapi achirnja mereka sampai djuga dengan selamat didaerah distrik Besuki. '''Perdjalanan Markas Brigade Dan Batalion 25 :''' Markas Brigade dengan Batalion 25 bergerak keselatan gunung Argapura. Sebagai voorspits dan pelopor berdjalan di muka Seksi Letnan I Prajitno. Seksi inilah jang selalu berdjuang dimuka dengan gagah berani untuk memberi dekking terutama kepada Markas Brigade III. Dan Letnan I Prajitno ini benar-benar menundjukkan dirinja sebagai peradjurit. Dia tahu benar akan kewadjibannja. Serbuan-serbuan bagaimanapun djuga dari pihak musuh dihadapinja dengan gagah berani, sampai tiba saatnja ia gugur sebagai bunga bangsa jang dipudji didaerah Kalisat pada achir bulan Djuli 1949. Ketewasannja tertjatat dalam sedjarah Batalion 25 sebagai tjatatan jang diberikan kepada Letnan II Harjoto untuk Batalion 26. '''Brigade III Kehilangan Pemimpinnja :''' Didalam memasuki daerah Djember dari selatan gunung Argapura, sampai ke Djember Selatan dan terus ke Djember Timur, tidak sedikit pertempuran sengit jang harus dihadapi oleh Markas Brigade III dan Batalion 25 ini. Antaranja ialah pertempuran didesa Gajasan dan Karangkedaung, dimana Komandan Brigade III Letnan Kolonel Surudji telah gugur, berarti seluruh Brigade kehilangan pemimpin jang tjakap. Gugurnja Komandan Surudji benar² dirasa oleh seluruh Brigade III. Namun demikian mereka tidak berketjil hati. Dalam serbuan di Karangkedaung itu, Letnan Kolonel Surudji jang bersama² dengan Wakil Komandan Brigade Major Imam Sukarto dan Residen Militer Dr. Soebandi berada disebuah rumah ketjil jang dihujani oleh tembakan² mitralijur musuh. Pada waktu mereka ketiganja berusaha menghindarkan diri dari tembakan² itu dengan mengambil djalan sendiri², maka pada saat inilah Letnan Kolonel Surudji sambil memberikan perlawanan jang gigih gugur sebagai perwira. Sedang Dr. Soebandi hilang tak ketahuan sampai sekarang. {{Missing image}} <small>''Kesatria² jang gugur dimedan bakti mendapat tempat jg selajaknia di Taman Pahlawan. Kami berdjandji, kami tidak menjia²'kan hasil baktimu dan tetap mengenasnangkan djasa²mu. ''</small><noinclude> 20</noinclude> ro0y53lkhaxajitu8fbcyeyj81p8mag Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/187 104 103637 291875 2026-05-11T09:12:53Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291875 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||9}}</noinclude>Soalnya berputar pada yang itu-itu juga, keharuan yang wajar tidak kelihatan, hanya hasil pikiran yang mencari-cari, meraba-raba. Keberatan yang besar terhadap isi sajak-sajak Armijn ialah men- telita yang kelihatan dalamnya, mentalita pura-pura. Mentalita penonton yang dari tempat yang aman berlagak pahlawan. Perhatikanlah: "Jiwa lumpuh", "Kerja dina tiada hina", "Sadar Aku", "Tiada segan meluncur jatuh", "Teranyam sudah" dan lain-lain. Satu-satunya sajak yang agak lumayan dalam kumpulan ini ialah "Jiwa telah meranggas". Beberapa sajak menimbulkan pertanjaan, apakah dapat disebut sajak? Misalnya "Bekerja tegup", rasanya ini prosa yang disusun sebagai sajak. Tak ada sesuatu yang bersinar dipandang dari sudut puitis, penemuan baru dalam isi, liku lekuk rasa dan pikir ataupun susunan kata yang unik. Kesimpulan saya, dengan sajak-sajak yang gagal ini, sukar menerima Armijn Pane sebagai pelopor angkatan baru penyair Indonesia. {{rh|||Jakarta, 18 Juni 1968}} {{u|Catatan:}} <ol type="1" start="1"> <li>Lihat misalnya Usman Effendi, Sasterawan-sasterawan Indonesia I. Disitu dia dengan positif menyebut Armijn Pane sebagai "pelopor angkatan 45". Apa yang dikemukakan Effendi tentang Armijn Pane -- dan juga tentang beberapa sastrawan lain dalam bukunya ini -- sebenarnya kutipan belaka dari Pokok dan Tokoh, disana-sini dengan penafsiran jang salah pula. Dan yang sangat menggelikan, dimana Teeuw berkata: "menurut pendapat saya", suara Effendi pun bergaung: "menurut pendapat saya{{...|3}}"<noinclude></noinclude> kwfsfygciqi8fbkaqtvncp0s9sp44os 291876 291875 2026-05-11T09:13:25Z Upiak Ituih 27011 291876 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||9}}</noinclude>Soalnya berputar pada yang itu-itu juga, keharuan yang wajar tidak kelihatan, hanya hasil pikiran yang mencari-cari, meraba-raba. Keberatan yang besar terhadap isi sajak-sajak Armijn ialah men- telita yang kelihatan dalamnya, mentalita pura-pura. Mentalita penonton yang dari tempat yang aman berlagak pahlawan. Perhatikanlah: "Jiwa lumpuh", "Kerja dina tiada hina", "Sadar Aku", "Tiada segan meluncur jatuh", "Teranyam sudah" dan lain-lain. Satu-satunya sajak yang agak lumayan dalam kumpulan ini ialah "Jiwa telah meranggas". Beberapa sajak menimbulkan pertanjaan, apakah dapat disebut sajak? Misalnya "Bekerja tegup", rasanya ini prosa yang disusun sebagai sajak. Tak ada sesuatu yang bersinar dipandang dari sudut puitis, penemuan baru dalam isi, liku lekuk rasa dan pikir ataupun susunan kata yang unik. Kesimpulan saya, dengan sajak-sajak yang gagal ini, sukar menerima Armijn Pane sebagai pelopor angkatan baru {{sp|penyair}} Indonesia. {{rh|||Jakarta, 18 Juni 1968}} {{u|Catatan:}} <ol type="1" start="1"> <li>Lihat misalnya Usman Effendi, Sasterawan-sasterawan Indonesia I. Disitu dia dengan positif menyebut Armijn Pane sebagai "pelopor angkatan 45". Apa yang dikemukakan Effendi tentang Armijn Pane -- dan juga tentang beberapa sastrawan lain dalam bukunya ini -- sebenarnya kutipan belaka dari Pokok dan Tokoh, disana-sini dengan penafsiran jang salah pula. Dan yang sangat menggelikan, dimana Teeuw berkata: "menurut pendapat saya", suara Effendi pun bergaung: "menurut pendapat saya{{...|3}}"<noinclude></noinclude> 0okolmb7u3fqif46nayh9cwq27mi6x0 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/244 104 103638 291884 2026-05-11T09:20:41Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291884 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{center|<big><big>Aku setitik air jang berarti</big></big>}} {{center|<big><big>dalam lautan jang luas.</big></big>}} {{Missing image}} <small>''Pemanggilan tjalon taruna AMN mendapat sambutan jang baik dari para pemuda. Ini adalah tjalon-tjalon dari Sumatera Utara jang diabadikan bersama dengan Let. Kol. Dr. Nasaruddin ketika mereka telah selesai mendjalani udjian badan.''</small> Kereta-api telah meninggalkan kota dan suara "tik-tak, tik-tak" dari roda jang melalui lobang antara dua rail mendjadi semakin tjepat, menundjukkan bahwa keretapun semakin tjepat djalannja. Diwagon kelas dua jang sudah tua dan agak kotor duduklah seorang perwira T.N.I. Letnan I pangkatnja. Pada barang-barangnja jang tampak bertumpuk dikanan kirinja serta didalam djaring-djaring atas kepalanja dapat terlihat, bahwa perwira muda ini sedang pindah kota, pindah djabatan. Sesungguhnja perwira muda ini baru sadja menjelesaikan tugasnja sebagai siswa di P.P.I. Bandung dan telah berhasil baik pula dalam udjian-udjiannja. Setelah melaporkan kepada Panglima Territorium dan Komandan Resimen, maka ia telah mendapat djabatan baru sebagai Wakil Komandan Bataljon. Bataljonnja pada saat ini sedang dikota B dan kesanalah perwira muda kita ini pergi untuk menunaikan tugasnja jang baru. Kereta tidaklah penuh dan Lt. Achmad ini dapat melepaskan fikirannja dengan tenang terhadap segala hal jang telah dialami dan jang akan ditemui. Ia puas pula dapat menggondol angka² jang baik dipendidikan, tetapi ia djuga mengingat perkataan² Panglima, bahwa tidak hanja angka baik dipendidikan sadja jang menentukan manfaat seorang perwira, tetapi djustro didalam kemampuannja mempraktekkan apa jang diketahuinja didalam pasukan. Ia sebenarnja tidak mengira, bahwa akan diberi djabatan Wk. Kmd. Bn. : tetapi setelah ini memang njata, maka timbul pula rasa sedar didalam hatinja untuk menjelesaikan tugas baru dengan se-baik²nja. Lt. Achmad sebelum masuk P.P.I. telah ber-tahun² mendjadi Kmd. Ki Dan pengalamannja dalam pertempuran tidak sedikit, bahkan ketika berangkat ke P.P.I. dulu-Ki-nja berada didaerah tidak aman. Senang djuga ia dulu diberi kesempatan menambah pengetahuan kemiliteran. Sekali pun dulu mendjadi Shodancho dan djuga kemudian pernah mengalami kursus² jang pendek, namun kursus seperti P.P.L.I. itu belum pernah didapat. Dan tidak ketjewa ia setelah kursus itu selesai. Sekalipun ada beberapa hal jang dirasa kurang, baik dalam teknik pelaksanaan maupun dalam penjelenggaraannja, tetapi sebagai angkatan pertama dari satu kursus jang besar itu, toch menundjukkan harapan jang baik. Dan dengan pengetahuan jang dimilikinja itu tidaklah buta ia akan pekerdjaan² baru jang akan dihadapi. Ia mengetahui, bahwa Bn. jang ditudju itu adalah Bn. jang sering dalam pertempuran dan perwira²nja dari Kmd. Bn. kebawah belum pernah mengalami pendi- {{Missing image}} <small>''Para pembantu kesehatan sedang melakukan udjian badan salah seorang pelamar tjalon taruna AMN.''</small><noinclude> 22</noinclude> e15tkjx9dqt7yn56b4lo3p3hjdfreu1 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/585 104 103639 291887 2026-05-11T09:22:50Z Wiwil13 20069 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'sedang diuji baca' 291887 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Wiwil13" /></noinclude>sedang diuji baca<noinclude></noinclude> l2hc2d5cvsaxq6aeu6c8rqp2wihqm7y 291907 291887 2026-05-11T09:34:37Z Wiwil13 20069 /* Telah diuji baca */ 291907 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" /></noinclude>meliputi pulau Jawa dan Sumatera, karena itu H. Kern berpendapat bahwa Yawadwipa atau Suwarnadwipa itu ialah pulau Sumatera dan Jawa yang merupakan pulau-pulau terpisah, namun satu dalam kekuasaan pemerintahan (±1910).<br> Th. 1937 terbit di Dacca buku Suwarnadwipa karangan Dr. R.C. Majumdar. Bilamana tepatnya pergeseran arti kata-kata tersebut, sejajar dengan jalannya peristiwa sejarah. Piagam Kota Kapur, Bangka (th. 686) menyatakan bahwa Sriwijaya berusaha menaklukkan bumi Jawa. Di sini nama Jawa tidak melingkupi Sriwijaya, kerajaan besar di pulau Sumatera. Pada pertengahan abad ke-12 Mpu Sedah dalam kekawinnya Bharata-Yuddha pupuh I, 5, mengatakan bahwa Hemabhupati (raja pulau emas) pun tunduk kepada Sri Baginda Jayabaya raja Kediri. Di sini pulau Emas telah khusus menunjuk pulau/daerah Sumatra, baik geografis maupun status pemerintahan. Kata Jawa kita jumpai di mana-mana. Tulisan Arab berbahasa Melayu di Semenanjung Melayu disebut tulisan Jawi, kata halus untuk kata Jawa. Di daerah Aceh menurut kawan Drs. Zuber Usman, masih ada tempat yang disebut Jawa. Seorang kawan dari Flores bernama: Dolu Jawa. Di daerah Ende dan Lio kata Jawa berarti: jagung. Kembali kepada maksud tulisan ini: dari manakah jadinya asal kata Jawa itu? Kata Indonesia aslikah atau pungutan dari bahasa asing sehingga merata demikian luasnya? Menurut Wilhelm von Humboldt, Roorda van Eysinga dan van der Tuuk Jawa berarti luar: jaba (Jw). Pulau Jawa = pulau Luar. Ini mungkin tidak dapat diterima, karena Yawa disamakan dengan kata Jawa bervariasi dengan {{u|jawi}}, {{u|jaba}}, bermakna: luar, ini kata Jawa asli, jadi maksudnya pulau luar itu luar dipandang dari titik tolak mana? Berlainan dengan pendapat H. Kern. Sarjana ini berpendapat bahwa kata {{u|Yawa}} berasal dari bahasa Sanskerta, dibawa oleh pendatang Hindu<noinclude>{{rh|||51 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 40f9g0yhbwn6izak7ebnt5ubzqq5gb1 291908 291907 2026-05-11T09:35:48Z Wiwil13 20069 291908 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" /></noinclude>meliputi pulau Jawa dan Sumatera, karena itu H. Kern berpendapat bahwa Yawadwipa atau Suwarnadwipa itu ialah pulau Sumatera dan Jawa yang merupakan pulau-pulau terpisah, namun satu dalam kekuasaan pemerintahan (±1910).<br> Th. 1937 terbit di Dacca buku Suwarnadwipa karangan Dr. R.C. Majumdar. Bilamana tepatnya pergeseran arti kata-kata tersebut, sejajar dengan jalannya peristiwa sejarah. Piagam Kota Kapur, Bangka (th. 686) menyatakan bahwa Sriwijaya berusaha menaklukkan bumi Jawa. Di sini nama Jawa tidak melingkupi Sriwijaya, kerajaan besar di pulau Sumatera. Pada pertengahan abad ke-12 Mpu Sedah dalam kekawinnya Bharata-Yuddha pupuh I, 5, mengatakan bahwa Hemabhupati (raja pulau emas) pun tunduk kepada Sri Baginda Jayabaya raja Kediri. Di sini pulau Emas telah khusus menunjuk pulau/daerah Sumatra, baik geografis maupun status pemerintahan. Kata Jawa kita jumpai di mana-mana. Tulisan Arab berbahasa Melayu di Semenanjung Melayu disebut tulisan Jawi, kata halus untuk kata Jawa. Di daerah Aceh menurut kawan Drs. Zuber Usman, masih ada tempat yang disebut Jawa. Seorang kawan dari Flores bernama: Dolu Jawa. Di daerah Ende dan Lio kata Jawa berarti: jagung. Kembali kepada maksud tulisan ini: dari manakah jadinya asal kata Jawa itu? Kata Indonesia aslikah atau pungutan dari bahasa asing sehingga merata demikian luasnya? Menurut Wilhelm von Humboldt, Roorda van Eysinga dan van der Tuuk Jawa berarti luar: jaba (Jw). Pulau Jawa = pulau Luar. Ini mungkin tidak dapat diterima, karena Yawa disamakan dengan kata {{u|Jawa}} bervariasi dengan {{u|jawi}}, {{u|jaba}}, bermakna: luar, ini kata Jawa asli, jadi maksudnya pulau luar itu luar dipandang dari titik tolak mana? Berlainan dengan pendapat H. Kern. Sarjana ini berpendapat bahwa kata {{u|Yawa}} berasal dari bahasa Sanskerta, dibawa oleh pendatang Hindu<noinclude>{{rh|||51 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> ca0yd1z10xczsetoid6a9y72cskbri1 291956 291908 2026-05-11T10:29:01Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291956 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>meliputi pulau Jawa dan Sumatera, karena itu H. Kern berpendapat bahwa Yawadwipa atau Suwarnadwipa itu ialah pulau Sumatera dan Jawa yang merupakan pulau-pulau terpisah, namun satu dalam kekuasaan pemerintahan (±1910).<br> Th. 1937 terbit di Dacca buku Suwarnadwipa karangan Dr. R.C. Majumdar. Bilamana tepatnya pergeseran arti kata-kata tersebut, sejajar dengan jalannya peristiwa sejarah. Piagam Kota Kapur, Bangka (th. 686) menyatakan bahwa Sriwijaya berusaha menaklukkan bumi Jawa. Di sini nama Jawa tidak melingkupi Sriwijaya, kerajaan besar di pulau Sumatera. Pada pertengahan abad ke-12 Mpu Sedah dalam kekawinnya Bharata-Yuddha pupuh I, 5, mengatakan bahwa Hemabhupati (raja pulau emas) pun tunduk kepada Sri Baginda Jayabaya raja Kediri. Di sini pulau Emas telah khusus menunjuk pulau/daerah Sumatra, baik geografis maupun status pemerintahan. Kata Jawa kita jumpai di mana-mana. Tulisan Arab berbahasa Melayu di Semenanjung Melayu disebut tulisan Jawi, kata halus untuk kata Jawa. Di daerah Aceh menurut kawan Drs. Zuber Usman, masih ada tempat yang disebut Jawa. Seorang kawan dari Flores bernama: Dolu Jawa. Di daerah Ende dan Lio kata Jawa berarti: jagung. Kembali kepada maksud tulisan ini: dari manakah jadinya asal kata Jawa itu? Kata Indonesia aslikah atau pungutan dari bahasa asing sehingga merata demikian luasnya? Menurut Wilhelm von Humboldt, Roorda van Eysinga dan van der Tuuk Jawa berarti luar: jaba (Jw). Pulau Jawa = pulau Luar. Ini mungkin tidak dapat diterima, karena Yawa disamakan dengan kata {{u|Jawa}} bervariasi dengan {{u|jawi}}, {{u|jaba}}, bermakna: luar, ini kata Jawa asli, jadi maksudnya pulau luar itu luar dipandang dari titik tolak mana? Berlainan dengan pendapat H. Kern. Sarjana ini berpendapat bahwa kata {{u|Yawa}} berasal dari bahasa Sanskerta, dibawa oleh pendatang Hindu<noinclude>{{rh|||51 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> igrmexuejus0zxvlmqqykhan8ojsps4 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/245 104 103640 291891 2026-05-11T09:26:05Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291891 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Seorang manteri kesehatan sedang mengukur ketinggian badan salah seorang tjalon taruna AMN.''</small> dikan. Djadi ia dapat mengharapkan adanja rasa-tjuriga terhadap "si-orang baru jang berlagak pandai dan hendak membawa perobahan baru". Iapun sedar, bahwa perasaan seperti itu sesungguhnja tak lain daripada pendjelmaan dari rasa harga diri jang chawatir tertekan. Karena itu ia tidak akan bertindak sembrono menentang segala apa jang ada dan memasukkan jang baru begitu sadja. Dengan tjara itu ia hanja akan membesarkan kesukaran² bagi dirinja dan achirnja tidak akan tertjapai, jaitu "Membawa semangat baru dan membawa tentara baru". Dengan sedikit demi sedikit ia akan merasakan kepada kawan² perwiranja nanti, bahwa tak mungkin didunia ini ada benda jang tetap, karena apa jang diam itu berarti mundur. Ia akan menjakinkan kawan²nja pula dengan lambat laun, bahwa tentara kitapun harus diperbarui kalau memang mau djaja dalam pelaksanaan tugasnja. '''Inilah hal jang terpenting didapatkan didalam pendidikan''' "Perputaran roda kemadjuan tak dapat ditahan dan barang siapa hendak menahanannja akan hantjur-luluh karenanja". Sebagai orang pasukan ia tahu, betapa kini keadaan didalam Tentara kita. Banjak diantara para peradjurit telah kabur, apa tudjuan pekerdjaannja, sedangkan diantara perwira² terutama perwira² menengah terdapat semangat kepamongperadjaan jang tidak dinamis. Tentara jang demikian ini, ia jakin, akan kandas nanti bila ada bahaja mengamtjam negara. Ia tidak pertjaja akan omongan orang, bahwa keadaan sendirinja akan beres dan bila ada tentara musuh masuk, tentara kita dengan sendiri akan berapi-api lagi, kata orang² itu dengan menundjukkan akan tahun 1945 dan tahun 1948 waktu clash Belanda ke II. Ia tidak pertja, karena ia tahu bahwa keadaan masjarakat dan tentara ditahun 1945 dan 1948 adalah berlainan dengan sekarang. Jang lain adalah terutama keadaan mentaalnja. Djadi paling² nanti 30% dari tentara kita akan mampu melawan musuh dan inipun masih pertanjaan besar. Baginja jang telah dipeladjari membuat '''Pertimbangan Keadaan''', tindakan terbaik bagi Tentara sekarang adalah membaharui semangat dan keadaannja, djadi {{Missing image}} Selain udjian badan, djuga diadakan udjian tertulis mengenai pengetahuar. umum, Para tialon taruna sedang mendjawab pertanjaan² jang diberikan.<noinclude> 23</noinclude> ppsuyrbdvseiz49tfortiazzxmf9euq 291892 291891 2026-05-11T09:26:29Z Link PB 26772 291892 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Seorang manteri kesehatan sedang mengukur ketinggian badan salah seorang tjalon taruna AMN.''</small> dikan. Djadi ia dapat mengharapkan adanja rasa-tjuriga terhadap "si-orang baru jang berlagak pandai dan hendak membawa perobahan baru". Iapun sedar, bahwa perasaan seperti itu sesungguhnja tak lain daripada pendjelmaan dari rasa harga diri jang chawatir tertekan. Karena itu ia tidak akan bertindak sembrono menentang segala apa jang ada dan memasukkan jang baru begitu sadja. Dengan tjara itu ia hanja akan membesarkan kesukaran² bagi dirinja dan achirnja tidak akan tertjapai, jaitu "Membawa semangat baru dan membawa tentara baru". Dengan sedikit demi sedikit ia akan merasakan kepada kawan² perwiranja nanti, bahwa tak mungkin didunia ini ada benda jang tetap, karena apa jang diam itu berarti mundur. Ia akan menjakinkan kawan²nja pula dengan lambat laun, bahwa tentara kitapun harus diperbarui kalau memang mau djaja dalam pelaksanaan tugasnja. '''Inilah hal jang terpenting didapatkan didalam pendidikan''' "Perputaran roda kemadjuan tak dapat ditahan dan barang siapa hendak menahanannja akan hantjur-luluh karenanja". Sebagai orang pasukan ia tahu, betapa kini keadaan didalam Tentara kita. Banjak diantara para peradjurit telah kabur, apa tudjuan pekerdjaannja, sedangkan diantara perwira² terutama perwira² menengah terdapat semangat kepamongperadjaan jang tidak dinamis. Tentara jang demikian ini, ia jakin, akan kandas nanti bila ada bahaja mengamtjam negara. Ia tidak pertjaja akan omongan orang, bahwa keadaan sendirinja akan beres dan bila ada tentara musuh masuk, tentara kita dengan sendiri akan berapi-api lagi, kata orang² itu dengan menundjukkan akan tahun 1945 dan tahun 1948 waktu clash Belanda ke II. Ia tidak pertja, karena ia tahu bahwa keadaan masjarakat dan tentara ditahun 1945 dan 1948 adalah berlainan dengan sekarang. Jang lain adalah terutama keadaan mentaalnja. Djadi paling² nanti 30% dari tentara kita akan mampu melawan musuh dan inipun masih pertanjaan besar. Baginja jang telah dipeladjari membuat Pertimbangan Keadaan, tindakan terbaik bagi Tentara sekarang adalah membaharui semangat dan keadaannja, djadi {{Missing image}} Selain udjian badan, djuga diadakan udjian tertulis mengenai pengetahuar. umum, Para tialon taruna sedang mendjawab pertanjaan² jang diberikan.<noinclude> 23</noinclude> 2k6obss64hq9xazeuw0vw9raobfpgo1 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/246 104 103641 291897 2026-05-11T09:28:35Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291897 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} Para Siswa P.P.L. I di Tiimahi pada saat mereka bersiap? keluar asrama untuk latihan dilapangan. {{Missing image}} Dengan derap langkah dan ajunan lengan jang screntak serta dengan dada membusung kemuka beranykatlah mereka keluar asrama. {{Missing image}} Latihan membuka dan memasang LE. {{Missing image}} Diantara ranykaian latihan dilapangan adalah latihan menembak di Gunung Bohong. {{Missing image}} Latihan menembak dengan Senapan Mesin Ringan.<noinclude></noinclude> axfk3em9ynvnfeekw0m9lr7a0cwclwh 291900 291897 2026-05-11T09:29:23Z Link PB 26772 291900 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Para Siswa P.P.L. I di Tiimahi pada saat mereka bersiap? keluar asrama untuk latihan dilapangan.''</small> {{Missing image}} <small>''Dengan derap langkah dan ajunan lengan jang screntak serta dengan dada membusung kemuka beranykatlah mereka keluar asrama.''</small> {{Missing image}} <small>''Latihan membuka dan memasang LE.''</small> {{Missing image}} <small>''Diantara ranykaian latihan dilapangan adalah latihan menembak di Gunung Bohong.''</small> {{Missing image}} <small>''Latihan menembak dengan Senapan Mesin Ringan.''</small><noinclude></noinclude> gbw6qntdh7bbphi1dfz2l0sw8g5c5ij Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/247 104 103642 291904 2026-05-11T09:33:25Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291904 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Latihan tjara² mengadakan pentjegatan dengan tiba² terhadap musuh jang datang. Ingatlah pentjegatan jang mendadak, dengan tidak disangka-sangka oleh musuh, dapat merosotkan morilnja.''</small> {{Missing image}} <small>''Ini adalah suatu pemandangan pada saat memperhatikan dimana sasaran dan kedudukannja musuh. ''</small> {{Missing image}} <small>''Para Siswa tidak luput menghadapi latihan² jang diadakan waktu pagi² buta.''</small> {{Missing image}} <small>''Betapapun beratnja latihan² jang mereka ikuti. namun mereka tetap gembira. Dan diwaktu² terluang mereka pergunakan untuk bermain tjatur.''</small><noinclude></noinclude> 3k1fa6or3npe9mvpj9teixxk1de8bq3 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/586 104 103643 291909 2026-05-11T09:36:19Z Wiwil13 20069 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'sedang diuji baca' 291909 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Wiwil13" /></noinclude>sedang diuji baca<noinclude></noinclude> l2hc2d5cvsaxq6aeu6c8rqp2wihqm7y 291923 291909 2026-05-11T09:50:24Z Wiwil13 20069 /* Telah diuji baca */ 291923 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" /></noinclude>yang akhirnya menjadi dominan di pulau Jawa, artinya: jawawut (Panicum Viride atau Panicum italicum); atau (en)jolai (Joise lacrima jobi). Adapun variasi {{u|y}} atau {{u|j}} menjadi {{u|dj}} terjadi seperti halnya dengan: Yuwana, karya (Skr), Yanuari, Yuni, Yuli, yury (Bld) menjadi Juwana, kerja, Januari, Juni, Juli, Juri (Indonesia). Begitu pula: Yogyakarta menjadi Jogyakarta/Jogjakarta. Jadi Jawa berasal dari nama tumbuhan, yang dianggap penting oleh pemberi nama untuk menyebut tempatnya baru. Nama tempat yang diambilkan dari nama hasil bumi alami seperti tumbuhan, binatang, logam, banyak, misalnya:<br> {{u|Singkawang}}, pohon sengkawang (Shoren singkawang Miq); tengkawang (Dipterocarpaceae). {{u|Majapahit}}, maja (Aogle marmelos) yang pahit. Kamal (Madura), pohon kamal, asam (Tamarindus indica). {{u|Sala}} pohon sala (Vatica Robusta)? (kayunya untuk bangunan rumah).<br> {{u|Flores}}, flora(tumbuhan).<br> {{u|Kai}}, kayu<br> {{u|Lombok}}, lombok (Jawa), cabai (sebangsa Capsicum). {{u|Pinang}}, pohon pinang (Areca catechu). Lain-lain seperti pulau-pulau {{u|Kelapa Karpuradwipa}} (kapur barus), kota {{u|Baros}} (barus), {{u|Jambudwipa}} (berbentuk sebuah jambu, Eugenia), Suwarnadwipa (pulau emas), semua memperkuat hipotesa bahwa nama Jawa berasal dari nama tumbuhan. Nama Melayu dan Malaya. Adakah hubungannya pula dengan hasil alamnya? Dr. Slametmuljana dalam bukunya Sriwijaya Percetakan Arnoldus Endo Flores Nusa Tenggara Timur (tanpa tahun) hlm. 120-121 berpendapat: bahwa nama Malaya dan Melayu berasal dari kata yang sama yakni kata Sansekerta {{u|Malaya}}, artinya bukit. Kata Malaya (Skr) dalam bahnen Tamil menjadi: Malai, artinya bukit. Dalam ucapan kata: malai, mulut lalu tertutup, terdengar bunyi u, menjadi Melayu.<noinclude>{{rh|||52 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> pld7jsccxrvkipkchjhymbqjzw8dzkj 291957 291923 2026-05-11T10:29:46Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291957 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>yang akhirnya menjadi dominan di pulau Jawa, artinya: jawawut (Panicum Viride atau Panicum italicum); atau (en)jolai (Joise lacrima jobi). Adapun variasi {{u|y}} atau {{u|j}} menjadi {{u|dj}} terjadi seperti halnya dengan: Yuwana, karya (Skr), Yanuari, Yuni, Yuli, yury (Bld) menjadi Juwana, kerja, Januari, Juni, Juli, Juri (Indonesia). Begitu pula: Yogyakarta menjadi Jogyakarta/Jogjakarta. Jadi Jawa berasal dari nama tumbuhan, yang dianggap penting oleh pemberi nama untuk menyebut tempatnya baru. Nama tempat yang diambilkan dari nama hasil bumi alami seperti tumbuhan, binatang, logam, banyak, misalnya:<br> {{u|Singkawang}}, pohon sengkawang (Shoren singkawang Miq); tengkawang (Dipterocarpaceae). {{u|Majapahit}}, maja (Aogle marmelos) yang pahit. Kamal (Madura), pohon kamal, asam (Tamarindus indica). {{u|Sala}} pohon sala (Vatica Robusta)? (kayunya untuk bangunan rumah).<br> {{u|Flores}}, flora(tumbuhan).<br> {{u|Kai}}, kayu<br> {{u|Lombok}}, lombok (Jawa), cabai (sebangsa Capsicum). {{u|Pinang}}, pohon pinang (Areca catechu). Lain-lain seperti pulau-pulau {{u|Kelapa Karpuradwipa}} (kapur barus), kota {{u|Baros}} (barus), {{u|Jambudwipa}} (berbentuk sebuah jambu, Eugenia), Suwarnadwipa (pulau emas), semua memperkuat hipotesa bahwa nama Jawa berasal dari nama tumbuhan. Nama Melayu dan Malaya. Adakah hubungannya pula dengan hasil alamnya? Dr. Slametmuljana dalam bukunya Sriwijaya Percetakan Arnoldus Endo Flores Nusa Tenggara Timur (tanpa tahun) hlm. 120-121 berpendapat: bahwa nama Malaya dan Melayu berasal dari kata yang sama yakni kata Sansekerta {{u|Malaya}}, artinya bukit. Kata Malaya (Skr) dalam bahnen Tamil menjadi: Malai, artinya bukit. Dalam ucapan kata: malai, mulut lalu tertutup, terdengar bunyi u, menjadi Melayu.<noinclude>{{rh|||52 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> oscu738wg0m4e9ybopfcuqhyho4y3o7 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/249 104 103644 291911 2026-05-11T09:37:31Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291911 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><p style="text-align: center;"> KUNDJUNGAN PLM. T. T. I<br /> DAN KEPALA KEPOLISIAN<br /> SUMATERA UTARA<br /> KE TELUK HARU. </p> <p style="text-align: center;">—o—</p> {{Missing image}} <small>''Gambar atas:<br> Pm. T.T. I. Let. Kol. Djamin Ginting dan Kep. Kepolisian Sumatera Utara Komisaris Besar M. Jasin, masing² sedang menjampaikan amanatnja pada suatu rapat umum di Teluk Haru. Atas kebidjaksanaan mereka berdua, rakjat Sumatera Utara mengharapkan kemakmuran dan keamanan jang sebaiknja bagi daerahnja.''</small> {{Missing image}} <small>''Gambar tengah:<br> Kundjungan Plm dan Kep. Kepolisian S.U. ke Teluk Haru disambut oleh rakjat dengan tari adat suku Karo (landek). Selesai landek diadakan tari Melaju (ronggeng). Kelihatan Plm dan Kep. Kepolisian sedang beronggeng.''</small> {{Missing image}} <small>''Gambar bawah:<br> Kep. Kepolisian Sumatera Utara menerima sirih adat.''</small><noinclude> 27</noinclude> hu1ex8gnqwi0ywy026xl5wtfi991qb3 291912 291911 2026-05-11T09:37:54Z Link PB 26772 291912 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><p style="text-align: center;">''' KUNDJUNGAN PLM. T. T. I<br /> DAN KEPALA KEPOLISIAN<br /> SUMATERA UTARA<br /> KE TELUK HARU.''' </p> <p style="text-align: center;">—o—</p> {{Missing image}} <small>''Gambar atas:<br> Pm. T.T. I. Let. Kol. Djamin Ginting dan Kep. Kepolisian Sumatera Utara Komisaris Besar M. Jasin, masing² sedang menjampaikan amanatnja pada suatu rapat umum di Teluk Haru. Atas kebidjaksanaan mereka berdua, rakjat Sumatera Utara mengharapkan kemakmuran dan keamanan jang sebaiknja bagi daerahnja.''</small> {{Missing image}} <small>''Gambar tengah:<br> Kundjungan Plm dan Kep. Kepolisian S.U. ke Teluk Haru disambut oleh rakjat dengan tari adat suku Karo (landek). Selesai landek diadakan tari Melaju (ronggeng). Kelihatan Plm dan Kep. Kepolisian sedang beronggeng.''</small> {{Missing image}} <small>''Gambar bawah:<br> Kep. Kepolisian Sumatera Utara menerima sirih adat.''</small><noinclude> 27</noinclude> ojhj96576qc07bgddenuwtwwq2826y1 291913 291912 2026-05-11T09:38:21Z Link PB 26772 291913 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><p style="text-align: center;"> '''KUNDJUNGAN PLM. T. T. I'''<br /> '''DAN KEPALA KEPOLISIAN'''<br /> '''SUMATERA UTARA'''<br /> '''KE TELUK HARU.''' </p> <p style="text-align: center;">—o—</p> {{Missing image}} <small>''Gambar atas:<br> Pm. T.T. I. Let. Kol. Djamin Ginting dan Kep. Kepolisian Sumatera Utara Komisaris Besar M. Jasin, masing² sedang menjampaikan amanatnja pada suatu rapat umum di Teluk Haru. Atas kebidjaksanaan mereka berdua, rakjat Sumatera Utara mengharapkan kemakmuran dan keamanan jang sebaiknja bagi daerahnja.''</small> {{Missing image}} <small>''Gambar tengah:<br> Kundjungan Plm dan Kep. Kepolisian S.U. ke Teluk Haru disambut oleh rakjat dengan tari adat suku Karo (landek). Selesai landek diadakan tari Melaju (ronggeng). Kelihatan Plm dan Kep. Kepolisian sedang beronggeng.''</small> {{Missing image}} <small>''Gambar bawah:<br> Kep. Kepolisian Sumatera Utara menerima sirih adat.''</small><noinclude> 27</noinclude> 8xrugyd5kpg6oxumz5mio7tybezbd4a 291914 291913 2026-05-11T09:38:37Z Link PB 26772 291914 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><p style="text-align: center;"> '''KUNDJUNGAN PLM. T. T. I'''<br /> '''DAN KEPALA KEPOLISIAN'''<br /> '''SUMATERA UTARA'''<br /> '''KE <big>TELUK HARU.</big>''' </p> <p style="text-align: center;">—o—</p> {{Missing image}} <small>''Gambar atas:<br> Pm. T.T. I. Let. Kol. Djamin Ginting dan Kep. Kepolisian Sumatera Utara Komisaris Besar M. Jasin, masing² sedang menjampaikan amanatnja pada suatu rapat umum di Teluk Haru. Atas kebidjaksanaan mereka berdua, rakjat Sumatera Utara mengharapkan kemakmuran dan keamanan jang sebaiknja bagi daerahnja.''</small> {{Missing image}} <small>''Gambar tengah:<br> Kundjungan Plm dan Kep. Kepolisian S.U. ke Teluk Haru disambut oleh rakjat dengan tari adat suku Karo (landek). Selesai landek diadakan tari Melaju (ronggeng). Kelihatan Plm dan Kep. Kepolisian sedang beronggeng.''</small> {{Missing image}} <small>''Gambar bawah:<br> Kep. Kepolisian Sumatera Utara menerima sirih adat.''</small><noinclude> 27</noinclude> ge2x4gnf6eo3xt7sbxjgkezx4nsa9xt Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/251 104 103645 291915 2026-05-11T09:43:48Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291915 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Djemuran? dan kain? jang bergantungan seperti jang kelihatan pada ruangan sebelah kiri, sangat tidak enak kelihatannia. Tetapi alangkah sedapnja djika kita lihat djemuran? dipanas matahari seperti digambar sebelah kanan !''</small> diri mendjadi "nerveus", karena itu semua jang hadir termasuk Letnan Kolonel Barlian tergelak-gelak. Achirnja Langen Hardjo berkata: "Saja mendjadi gugup, karena saja bukanlah ahli pidato tetapi ahli bekerdja". Langen Hardjo dipertjajakan mengerdjakan pekerdjaan besar ini, adalah bekas pedjoang di Djawa Tengah. Ia berasal dari Solo, tammatan sekolah Technische School Semarang dan lama mengalami pengalaman praktek pada HBM. Bangunan jang dikerdjakan ini adalah untuk pertama kali merupakan objek besar dengan biaja jang besar pula, karena itu disinilah letak madju atau mundurnja perusahaannja sebagai salah satu perusahaan pemborong nasional. Gagal ditengah djalan karena bukan sadja tidak ahli dalam pembangunan, tetapi telah menjalah gunakan uang pembangunan tersebut untuk kepentinganja sendiri. Sebagai seorang peradjurit pembangunan ia kini sedang menempuh udjian. Udjian jang menentukan kehidupan usahanja. Letnan Kolunel Barlian berkata, bahwa kepertjaan jang diberikan oleh T.T. II pada perusahaan² pemborong nasional, terutama bekas² pedjuang sekali ini, hanja merupakan batu udjian. Dan T.T. II tidak akan memberikan lagi borongan pembangunan asrama² tentara pada perusahaan² nasional jang ternjata telah gagal dan tjurang. Dalam wilajah T.T. II masih banjak pekerjaan² pembangunan, bukan sadja asrama, tetapi djuga rumah² sakit tentara, poliklinik dan sebagainja. '''Perhitungan:''' Setjara humor Langen Hardjo telah melaporkan, bahwa untuk pekerjaan ini diperlukan djam kerdja sebanjak 280.000, djumlah bahan² jang dipergunakan seberat 5.870 ton termasuk paku, semen, kaju, pasir dan sebagainja. Dan untuk mengangkat barang barang ini diperlukan djarak pulang pergi 29.880 Km atau sama dengan tiga setengah garis chatulistiwa bumi. {{Missing image}} <small>''Kundiungan anggota? Parlemen keasrama tentera. Kami harapkan kepada bapak? agar asrama? kami jang bobrok dapat digantikan dengan segera. Mudah?an kundjungan bapak tidak sia².''<//small><noinclude> 29</noinclude> k5pajoetakr03wmjva196qgpgtuskol Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/255 104 103646 291921 2026-05-11T09:48:04Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291921 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>si Sersan ngelamun. Pada achir lamunannja terdengarlah dia berkata: „Begini sudah tugas dan nasib seorang peradjurit .....”. Ia mesti bersikap awas djuga kadang² tetapi apalah dajanja, karena sendjatanja hanja pistol FN. Sudah pernah ia tembakkan dari djarak 30 meter, sukar mengenai sasaran. „Mudah²-an dapat lekas aman dan mereka² jang telah sesat bertindak merobohkan negara dapat lekas sadar kembali, supaja Indonesia dapat djaja dan makmur seperti jang kita idam-idamkan. Dan peradjurit² kita tidak akan saling berpisahan hidup dengan keluarga lagi". Sewaktu power mendekati djembatan di km ........., tiba² dari depan pada djarak 20 meter patroli mereka ditembaki dengan senapan mesin terus-menerus. Power tidak segera dapat dihentikan, tetapi masih bergerak terus, melewati djembatan dan kemudian baru berhenti sesudah berada dalam djarak tjuma tudjuh setengah meter dari senapan mesin gerombolan. Ban muka dan mesin penuh dengan lobang-lobang tembakan. Dengan tidak menunggu perintah dari Komandan Regu, sebagian dari anggota melontjat keluar dari power, dan mengambil stelling dalam parit untuk membalas. Sersan dari Peleton Kesehatan tingal duduk diatas power, kepalanja mengangguk kebawah seperti tertidur. Dua peradjurit terlentang diatas djalan, sendjatanja, kedua-duanja bren, terletak disamping mereka, tidak berdaja. Tiga peradjurit lagi dalam keadaan luka pajah telah sempat berlindung terlebih dahulu dalam parit. Komandan Regu jang melontjat terlebih dahulu terus-menerus menembaki dari belakang pohon jang berada disebelah kanan djalan, lebih kurang 10 meter sadja dari stelling bren musuh. Sambil menembak dengan madsen-pistol-mitraliur ia memerintahkan wakilnja untuk mengambil bren jang tertinggal diatas djalan. Tetapi wakilnjapun sudah kurang dajanja oleh sebab pundaknja sudah ditembusi peluru. Sebaliknja gerombolanpun berusaha merajap mendekati bren, tetapi dengan tembakan2 penindas dari Komandan Regu, maksud mereka dapat digagalkan. ,,Sari!! ........... ambil bren jang didjalan ! Tjepat !!'' teriak Sersan Komandan Regu. ,,Bagaimana San !?, tembakan begitu rapat ......... bren itu terlalu dekat dengan orang itu !!'' Menangis Sari, air matanja mulai meleleh. Bukan karena takut, tetapi sedih, lantaran brennja kedua-duanja terletak djadi besi mati, sedang tenaganja dibutuhkan sangat pada saat itu. ,,Ambil bren itu!!! ........... dengan merangkak!", perintah Sersan. Dan saja berusaha menindas dengan tembakan, kata Sersan pula. Maka atas desakan Sersan-nja, Sari tjoba merangkak untuk menjelamatkan bren, jang merupakan daja tembak pokok untuk regunja. Dengan susah pajah achirnja kedua senapan mesin ringan itu dapat diselamatkan dan musuh dipukul mundur. Dari pihak kita gugur tiga anggota, antaranja Sersan dari Peleton Kesehatan tadi. Keduaduandja lagi adalah penembak bren, dimana segera setelah musuh mulai menjerang, tiwas. Tiga orang luka parah dan dua luka ringan, diantaranja Komandan Regu sendiri dan wakilnja. Setelah datang bantuan, semua anggota jang gugur dan jg luka dibawa kebivak. Belakangan, mereka jang luka dirawat oleh Major Dokter dari Resimen. Demikianlah pengalaman dari peradjurit I Sari dan teman²-nja. Tjeritera ini tidaklah dapat disamakan dengan tjeritera² seperti {{Missing image}}<noinclude> 33</noinclude> 5y9fp0ose5udfscz6jq0pulfbn4zmxr Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/588 104 103647 291925 2026-05-11T09:52:58Z Wiwil13 20069 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'sedang diuji baaca' 291925 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Wiwil13" /></noinclude>sedang diuji baaca<noinclude></noinclude> bfu3btncpx8rff0i9pke0veit4vod0t 291936 291925 2026-05-11T10:10:20Z Wiwil13 20069 /* Telah diuji baca */ 291936 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" /></noinclude>orang Inggris hingga kini mengatakan Malay atau Malaya untuk kata Melayu. The Malay Language = the Malayan language = bahasa Melayu. {{u|malai}} dalam bahasa Indonesia berarti: untaian bunga (intan, emas dan sebagainya) untuk perhiasan kepala, sunting, tombak, dan sebagainya. {{u|malai-malai}}, nama pohon. {{u|malaya}} (Sanskerta) adalah nama bukit barisan sebelah barat Malabar/Ghats, banyak pohon gaharu/cendana; nama suku bangsa. {{u|malayaja}} (Skr), tumbuh di bukit barisan Malaya; pohon gaharu. {{u|malayadosa}}, negeri/daerah Malaya. {{u|malayapura}}, nama kota. {{u|malaya}} (ma dengan a panjang), berarti seperti karangan/rangkaian (bunga); datang atau pendatang dari Malaya.<br> Dalam bahasa Indonesia kata {{u|Malaya}} itu nama suatu tempat atau daerah, disebut juga Semenanjung Melayu atau Malaka. Kata {{u|Melayu}} ialah nama bangsa dan bahasanya, terutama di Semenanjung. Dengan demikian orang dapat berhipotesa bahwa kata Malaya mungkin seasal dan searti dengan kata Melayu dan semula berdasarkan nama tumbuh-tumbuhan. Malaya dalam bahasa Sanskerta adalah nama suatu kelompok suku bangsa, bukit barisan dan erat pula hubungannya dengan pohon/tumbuhan. Mungkin pohon itu yang disebut {{u|malai}} (-{{u|malai}}) dalam bahasa Indonesia. Dan mungkin pula kata malai ini bukan kata Indonesia/Nusantara asli, mengingat kata Malya dan hipotEsa Melayu berasal dari kata-kata Sanskerta tersebut di atas. Bahwa kata Malaya dan Melayu semula searti, masih terdapat sisanya. Menurut Drs. B. Siahaan di Sumatra Timur masih didapati daerah yang bernama {{u|Melayu}}, dan penduduknya disebut suku {{u|Mlaya-Mlaya}}. Suatu bekas atau tanda bahwa kata Melayu seasal dan identik dengan kata Malaya. Sementara itu kata Semenanjung Melayu atau Malaya disebut juga: Malaka. Dari mana asal kata<noinclude>{{rh|||54 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> nc6ag6qdk12lsu4b3ommgr06rfmtlp4 291937 291936 2026-05-11T10:11:02Z Wiwil13 20069 291937 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Wiwil13" /></noinclude>orang Inggris hingga kini mengatakan Malay atau Malaya untuk kata Melayu. The Malay Language = the Malayan language = bahasa Melayu. {{u|malai}} dalam bahasa Indonesia berarti: untaian bunga (intan, emas dan sebagainya) untuk perhiasan kepala, sunting, tombak, dan sebagainya. {{u|malai-malai}}, nama pohon. {{u|malaya}} (Sanskerta) adalah nama bukit barisan sebelah barat Malabar/Ghats, banyak pohon gaharu/cendana; nama suku bangsa. {{u|malayaja}} (Skr), tumbuh di bukit barisan Malaya; pohon gaharu. {{u|malayadosa}}, negeri/daerah Malaya. {{u|malayapura}}, nama kota. {{u|malaya}} (ma dengan a panjang), berarti seperti karangan/rangkaian (bunga); datang atau pendatang dari Malaya.<br> Dalam bahasa Indonesia kata {{u|Malaya}} itu nama suatu tempat atau daerah, disebut juga Semenanjung Melayu atau Malaka. Kata {{u|Melayu}} ialah nama bangsa dan bahasanya, terutama di Semenanjung. Dengan demikian orang dapat berhipotesa bahwa kata Malaya mungkin seasal dan searti dengan kata Melayu dan semula berdasarkan nama tumbuh-tumbuhan. Malaya dalam bahasa Sanskerta adalah nama suatu kelompok suku bangsa, bukit barisan dan erat pula hubungannya dengan pohon/tumbuhan. Mungkin pohon itu yang disebut {{u|malai}} (-{{u|malai}}) dalam bahasa Indonesia. Dan mungkin pula kata malai ini bukan kata Indonesia/Nusantara asli, mengingat kata Malya dan hipotesa Melayu berasal dari kata-kata Sanskerta tersebut di atas. Bahwa kata Malaya dan Melayu semula searti, masih terdapat sisanya. Menurut Drs. B. Siahaan di Sumatra Timur masih didapati daerah yang bernama {{u|Melayu}}, dan penduduknya disebut suku {{u|Mlaya-Mlaya}}. Suatu bekas atau tanda bahwa kata Melayu seasal dan identik dengan kata Malaya. Sementara itu kata Semenanjung Melayu atau Malaya disebut juga: Malaka. Dari mana asal kata<noinclude>{{rh|||54 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> m99izw6j2d7jkjzkh1r8ku6wjzxyshz 291959 291937 2026-05-11T10:30:42Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291959 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" /></noinclude>orang Inggris hingga kini mengatakan Malay atau Malaya untuk kata Melayu. The Malay Language = the Malayan language = bahasa Melayu. {{u|malai}} dalam bahasa Indonesia berarti: untaian bunga (intan, emas dan sebagainya) untuk perhiasan kepala, sunting, tombak, dan sebagainya. {{u|malai-malai}}, nama pohon. {{u|malaya}} (Sanskerta) adalah nama bukit barisan sebelah barat Malabar/Ghats, banyak pohon gaharu/cendana; nama suku bangsa. {{u|malayaja}} (Skr), tumbuh di bukit barisan Malaya; pohon gaharu. {{u|malayadosa}}, negeri/daerah Malaya. {{u|malayapura}}, nama kota. {{u|malaya}} (ma dengan a panjang), berarti seperti karangan/rangkaian (bunga); datang atau pendatang dari Malaya.<br> Dalam bahasa Indonesia kata {{u|Malaya}} itu nama suatu tempat atau daerah, disebut juga Semenanjung Melayu atau Malaka. Kata {{u|Melayu}} ialah nama bangsa dan bahasanya, terutama di Semenanjung. Dengan demikian orang dapat berhipotesa bahwa kata Malaya mungkin seasal dan searti dengan kata Melayu dan semula berdasarkan nama tumbuh-tumbuhan. Malaya dalam bahasa Sanskerta adalah nama suatu kelompok suku bangsa, bukit barisan dan erat pula hubungannya dengan pohon/tumbuhan. Mungkin pohon itu yang disebut {{u|malai}} (-{{u|malai}}) dalam bahasa Indonesia. Dan mungkin pula kata malai ini bukan kata Indonesia/Nusantara asli, mengingat kata Malya dan hipotesa Melayu berasal dari kata-kata Sanskerta tersebut di atas. Bahwa kata Malaya dan Melayu semula searti, masih terdapat sisanya. Menurut Drs. B. Siahaan di Sumatra Timur masih didapati daerah yang bernama {{u|Melayu}}, dan penduduknya disebut suku {{u|Mlaya-Mlaya}}. Suatu bekas atau tanda bahwa kata Melayu seasal dan identik dengan kata Malaya. Sementara itu kata Semenanjung Melayu atau Malaya disebut juga: Malaka. Dari mana asal kata<noinclude>{{rh|||54 Bahasa dan Kesusastraan VI (3), 1973}}</noinclude> 4gwfgdruxvaj01x8d2y1w0iwbo6hi95 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/258 104 103648 291926 2026-05-11T09:53:26Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291926 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{center|<big><big>'''DJENDERAL GRAHAM HILANG AKALNYA KARENA VON LETTOW.'''</big></big>}} {{Missing image}} <small>''Djenderal Von Lettow Verbeck''</small> '''Djenderalnja berdjalan² digaris Pertahanan kita :''' ,,Saja tidak dapat memaafkan tindakan kolonel jang telah menjebabkan Von Lettow mempermain²kan kita sebagai anak ketjil", kata Djenderal Graham dengan bengisnja kepada seorang perwira bawahannja, Kol. Barret. ,,Maaf, Djenderal", kata Kolonel Barret dengan tenangnja. ......... saja hendak mengadjukan sedikit permintaan, ......... tjoba Djenderal sendiri jang menangkap Von Lettow ! Mustahil Djenderal dapat berhasil !" Djenderal Graham merasa tersinggung dan berdiri tegaklah ia dari duduknja. ,,Kolonel, bukankah Von Lettow dua minggu jang lalu telah terkepung dan terdjepit sama sekali diatas segumpal tanah jang hanja tidak lebih dari satu setengah km persegi, tetapi Kolonel biarkan ia terlepas dari kepungan kita, mengapa ?" ,,Benar, Djenderal. Tetapi orang itu seperti siluman dan saja tak mampu menangkapnja. Pada saat dia terkepung itu dengan se-enaknja sadja dia berdjalan melepaskan diri lewat garis pertahanan kita ......... berpakaian sebagai buruh Afrika", djawab Kolonel Barret dengan tenangnja pula. Mendengar djawab itu, Djenderal Graham mendjadi marah dan merah padam mukanja. dan dengan suara menekan dia bertanja pula: „Djadi Kolonel tidak menahan dan memeriksa orang itu?” „Tentu sadja, Djenderal”, djawab Kolonel Barret, „tetapi ternjata dia bukan Von Lettow, hanja adalah penduduk asli disitu”. „Tetapi kemudian ternjata bahwa penduduk asli itu sebenarnja Von Lettow sendiri, bukan?”. kata Djenderal Graham pula. „Ja, Djenderal”, tetapi djangan tanjakan kepada saja bagaimana dia dapat memper-main²kan kita. Sebab saja sendiri tidak melihat dia. Jang melihatnja adalah Kapten Humphreys den Sersan Major Smyth. Mereka berani angkat sumpah, bahwa orang itu benar² penduduk asli Afrika”. „Baiklah, Kolonel Barret. Marilah kita lupakan ketololan kita itu. Dan beritakan kepada Djenderal Smyth, bahwa kira² tiga minggu lagi saja akan datang sendiri untuk menangkap Von Lettow, djika tuan² sekalian ternjata tidak mampu menangkapnja”. Mendengar utjapan itu, Kolonel Barret tersenjum kasihan kepada Djenderal Graham, dan katanja: „Saja utjapkan succes sebesar²nja, Djenderal!” Maka Kolonel Barret lalu tjepat² lari dari situ sebelum Djenderal Graham sadar akan maksud perkataan tersebut. '''Selamat datang:''' Dalam markas besarnja jang ketjil, dua puluh lima km dari sungai Rudji jang penuh dengan buaja itu, tidak lebih dari empat puluh km dari tempat tentara Inggeris. duduklah Djenderal Paul Emil von Lettow-Vorbeck, panglima tentara Djerman di Afrika Timur sambil bersenjum simpul. Serdadu² Inggeris hendak menangkapnja. Saat itu adalah tahun 1914 (masa Perang Dunia Pertama). „Seorang tokoh seperti Djenderal Graham harus kita songsong", kata Von Lettow kepada adjudannja, Kolonel Brummel dan seorang komandan bawahannja, Kolonel Gour Schnee, sewaktu ia mendengar bahwa Djenderal Graham hendak datang sendiri untuk menangkapnja. Kata Von Lettow pula: „Saja bawa sekira dua belas askari (peradjurit penduduk asli Afrika) kepantai untuk menjongsong Djenderal Graham. Dan tuan² tetap tinggal disini sambil memperhatikan gerakan² serdadu Inggris". „Bukankah itu terlalu berbahaja apa jang hendak dikerdjakan", kata adjudannja, Kolonel Brummel dengan chawatir kepada Von Lettow. Kata adjudannja pula, „disini kita dengan kekuatan seribu delapan ratus askari, empat belas perwira dan beberapa orang Djerman, tentu tak banjak jang bisa kita kerdjakan". Sedjak semula adjudannja telah mengusulkan untuk menjerah sadja. Djenderal Von Lettow-Verbeck — orang² Djerman dan Sekutu biasanja menamakan dia Von Lettow sadja — hanja bersenjum-senjum sadja mendengar utjapan adjudannja itu. Sesampainja Djenderal Graham di Mombasa, segera ia diantarkan ke hotel Manor, tempat ia hendak mengadakan pertemuan dengan para perwiranja dari Afrika Timur. Baru sadja ia mengindjak ambang pintu hotel itu, terdengarlah namanja dipanggil orang. „Djenderal Graham."<noinclude> 36</noinclude> 4so02fh47xkf83eoej7hqdmy6jwsuw2 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/269 104 103649 291927 2026-05-11T09:59:46Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291927 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{u|<big><big>Pengalaman para Pembatya:</big></big>}} {{Missing image}} Randjau Darat. Sebelum tentara Djepang bertekuk lutut, berarti sebelum proklamasi kemerdekaan, kita kagum djuga melihat kegagahan mereka diatas truk². Biasanja truk² mereka penuh² dengan serdadu jang berdiri rapat² jang dengan tegap memandang kemuka dengan sendjata ditangan. Kontje² jang ada ditopi mereka sebagai pelindung pundak dari sorotan matahari, me-lambai² ditiup angin. Beginilah tjara mereka berkenderaan waktu malam atau siang, dalam convooi atau tidak. Tetapi kalau tuan tinggal sekota dengan saja, ketika masa perebutan sendjata Djepang. sebelum mereka mengurung diri di-kamp² mereka, tuan akan melihat sesuatu jang aneh kalau mereka berkenderaan. Kalau dahulu mereka dengan tegap berdiri, maka kini setjara ber-desak² mereka djongkok atau duduk bersila diatas truk. Kalau tuan bukan seorang pedjuang, tentu tuan tak mengerti sikap aneh tentera Djepang itu. Sikap begini karena mereka menghindarkan diri dari randjau darat pedjuang kita jang sukar untuk dilihat jang pernah memutuskan leher, membutakan mata teman² mereka. Apakah hubungannja randjau darat dengan djongkok atau berdiri? Memang sendjata randjau darat bukan randjau darat jang sebenarnja, tetapi hanja terdiri dari seutas kawat badja jang halus, agar sukar dilihat dari djauh. Kawat wadja itu diikatkan diantara dua pohon jang berseberangan djalan begitu rupa, sehingga ia tak menjentuh atap truk dimana supir bernaung. tetapi agar menjentuhkan leher² dan kepala² jang berderet dalam truk itu. Randjau darat sematjam ini tak sedikit memusnahkan, membutakan atau mendjatuhkan tentera Djepang dari atas truknja. Kini mengertilah tuan, apa hubungannja sendjata itu dengan Djepang jang djongkok atau berdiri. {{Missing image}} Alat Anti Rampas. Tuan tentu masih ingat senapan Djepang jang pandjang? itu. Djuga tjaranja mereka memanggul sendjatanja jang pandjang itu kalau mereka berdjalan atau mondar-mandir didepan pos pengawalannja. Ketika musim perebutan sendjata Djepang, maka tjara memanggul sendjata jang demikian sungguh mudah untuk mendjadi sergapan pemuda² kita dari belakang (biasanja oleh anak² ketjil). Achirnja diambillah tindakan oleh komandan² Djepang untuk menjelamatkan senapan mereka dari sergapan pemuda² kita. Mereka tidak lagi memanggul senapan mereka, tetapi menjandangnja dibahunja. Djadi mendjadi agak sukar bagi anak² ketjil untuk menjentakkannja dari belakang sebagaimana biasa. Tetapi bagi tentera Djepang tjara baru ini lebih merugikan mereka. Karena bukan sedikit mereka ditjekek dan ditikam dari belakang oleh pemuda² kita tanpa sempat mempergunakan sendjatanja. Maklumlah sendjata mereka sedang tersandang. Djadi kerugian Djepang kini mendjadi dua : sendjata dan djiwa. Kembali mereka memeras otak. Achirnja kembali mereka memanggul sendjata mereka dengan tjara jang lama, jakni dipanggul, tetapi dengan suatu alat „anti rampas”, jakni sendjata tersebut dihubungkan dengan pinggang 2 a 3 belit. Penghubung jang membelit pinggang itu terdiri dari kawat wadja telepon.<noinclude> 47</noinclude> 4miiya3c2dp7sxu41rute3v1ll7hhxr 291928 291927 2026-05-11T10:00:14Z Link PB 26772 291928 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{u|<big><big>Pengalaman para Pembatja:</big></big>}} {{Missing image}} Randjau Darat. Sebelum tentara Djepang bertekuk lutut, berarti sebelum proklamasi kemerdekaan, kita kagum djuga melihat kegagahan mereka diatas truk². Biasanja truk² mereka penuh² dengan serdadu jang berdiri rapat² jang dengan tegap memandang kemuka dengan sendjata ditangan. Kontje² jang ada ditopi mereka sebagai pelindung pundak dari sorotan matahari, me-lambai² ditiup angin. Beginilah tjara mereka berkenderaan waktu malam atau siang, dalam convooi atau tidak. Tetapi kalau tuan tinggal sekota dengan saja, ketika masa perebutan sendjata Djepang. sebelum mereka mengurung diri di-kamp² mereka, tuan akan melihat sesuatu jang aneh kalau mereka berkenderaan. Kalau dahulu mereka dengan tegap berdiri, maka kini setjara ber-desak² mereka djongkok atau duduk bersila diatas truk. Kalau tuan bukan seorang pedjuang, tentu tuan tak mengerti sikap aneh tentera Djepang itu. Sikap begini karena mereka menghindarkan diri dari randjau darat pedjuang kita jang sukar untuk dilihat jang pernah memutuskan leher, membutakan mata teman² mereka. Apakah hubungannja randjau darat dengan djongkok atau berdiri? Memang sendjata randjau darat bukan randjau darat jang sebenarnja, tetapi hanja terdiri dari seutas kawat badja jang halus, agar sukar dilihat dari djauh. Kawat wadja itu diikatkan diantara dua pohon jang berseberangan djalan begitu rupa, sehingga ia tak menjentuh atap truk dimana supir bernaung. tetapi agar menjentuhkan leher² dan kepala² jang berderet dalam truk itu. Randjau darat sematjam ini tak sedikit memusnahkan, membutakan atau mendjatuhkan tentera Djepang dari atas truknja. Kini mengertilah tuan, apa hubungannja sendjata itu dengan Djepang jang djongkok atau berdiri. {{Missing image}} Alat Anti Rampas. Tuan tentu masih ingat senapan Djepang jang pandjang? itu. Djuga tjaranja mereka memanggul sendjatanja jang pandjang itu kalau mereka berdjalan atau mondar-mandir didepan pos pengawalannja. Ketika musim perebutan sendjata Djepang, maka tjara memanggul sendjata jang demikian sungguh mudah untuk mendjadi sergapan pemuda² kita dari belakang (biasanja oleh anak² ketjil). Achirnja diambillah tindakan oleh komandan² Djepang untuk menjelamatkan senapan mereka dari sergapan pemuda² kita. Mereka tidak lagi memanggul senapan mereka, tetapi menjandangnja dibahunja. Djadi mendjadi agak sukar bagi anak² ketjil untuk menjentakkannja dari belakang sebagaimana biasa. Tetapi bagi tentera Djepang tjara baru ini lebih merugikan mereka. Karena bukan sedikit mereka ditjekek dan ditikam dari belakang oleh pemuda² kita tanpa sempat mempergunakan sendjatanja. Maklumlah sendjata mereka sedang tersandang. Djadi kerugian Djepang kini mendjadi dua : sendjata dan djiwa. Kembali mereka memeras otak. Achirnja kembali mereka memanggul sendjata mereka dengan tjara jang lama, jakni dipanggul, tetapi dengan suatu alat „anti rampas”, jakni sendjata tersebut dihubungkan dengan pinggang 2 a 3 belit. Penghubung jang membelit pinggang itu terdiri dari kawat wadja telepon.<noinclude> 47</noinclude> nm413ltnjd2faf9n64ss2bxptruihdn Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/270 104 103650 291929 2026-05-11T10:02:47Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291929 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} '''Komando.''' Setiap tentera mempunjai aba² (komando) tersendiri. Demikian djuga TNI mempunjai aba² tersendiri. Tetapi tersendiri disini berarti bukanlah satu, hanja berarti bukan memakai komando Belanda, Inggeris atau Djepang. Kalau tuan tinggal didekat asrama tentera atau didekat lapangan dimana tentera berlatih, tentu tuan memperhatikan bahwa komando itu terdiri dari satu kalimat jang merupakan perintah jang terdiri dari dua potong kata. Jang sepotong depan disebut: aba² peringatan, dan jang sepotong lagi disebut aba² pelaksanaan. Kini aba² itu telah sama untuk semua TNI, hasil dari instruksi jang satu dari pusat pendidikan jang satu. Tetapi dizaman perdjuangan dahulu, komando ada ber-matjam². Umpamanja aba² lentjang kanan, kita dengar ada jang mengabakannja sebagai berikut: Lentjang ......... kanan! Ada lagi: Lentjang Ka ......... nan! Demikianlah tuan, bahwa opsir anu pernah menerima penghormatan jang di-aba²kan sbb: Beri hormat kepada Kapten A ......... nu! Untuk Kapten anu namanja hanja terdiri dengan dua patah kata. Tetapi bagaimanakah sang perwira jang namanja terdiri dari 5 a 6 suku kata seperti mode nama didjaman kini? Bisa jang memberi komando kehabisan nafas sebelum komandonja selesai. Komando ketika itu apa sadja jang diteriakkan dengan irama komando. {{Missing image}} ,,Hormat Sendjata". Pada permulaan revolusi, sendjata kita betul² terdiri dari 1001 matjam. Tuan akan lihat, sendjata Djepang dan Turki jang pandjang. Steyer atau Hambrug jang pendek. L.E. jang gendut dan sebagainja. Variasi ini ditambah lagi dengan tombak, bambu runtjing dan sebagainja. Dalam hormat bersendjata, sendjata² ini tentu diangkat menurut tjaranja, jakni sendjata dipegang bagian tengahnja dengan tangan kanan, dibantu dengan tangan kiri dibagian bawah dengan djempol kiri, menundjuk keatas. Sendjata persis di-tengah² badan dan satu kepal djarak antara sendjata dan dada. Sikap ini berlaku untuk segala matjam senapan dan tentu djuga untuk tombak dan bambu runtjing. Karena tombak dan bambu runtjing djuga tergolong pada sendjata. Demikianlah pernah salah seorang perwira menerima penghormatan sendjata dengan tjara sungguh², tetapi sendjata itu adalah sapu. Penghormatan diterima dari seorang peladjan asrama jang selama ini turut berlatih kalau tidak tengah bertugas (batja: menjapu). Pada pikiran si peladjan ia djuga merasa mempunjai saham dalam perdjuangan, karena ia membantu tentera dengan sapunja. Kalau jang lain berdjuang dengan senapan, tombak, bambu runtjing sebagai sendjata, ia djuga bertugas berdjuang dengan sendjata: sapu. Tak lain penghormatan jang tulus ini diterima oleh perwira itu dengan saluut jang tulus dar sungguh². Djiwa² beginilah tuan jang turut memenangkar perdjuangan bersendjata dimasa jang lalu.<noinclude> 48</noinclude> ffgjiqg0yqu0i51ms85u3o5a0z0q96u 291930 291929 2026-05-11T10:03:51Z Link PB 26772 291930 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} '''Komando.''' Setiap tentera mempunjai aba² (komando) tersendiri. Demikian djuga TNI mempunjai aba² tersendiri. Tetapi tersendiri disini berarti bukanlah satu, hanja berarti bukan memakai komando Belanda, Inggeris atau Djepang. Kalau tuan tinggal didekat asrama tentera atau didekat lapangan dimana tentera berlatih, tentu tuan memperhatikan bahwa komando itu terdiri dari satu kalimat jang merupakan perintah jang terdiri dari dua potong kata. Jang sepotong depan disebut: aba² peringatan, dan jang sepotong lagi disebut aba² pelaksanaan. Kini aba² itu telah sama untuk semua TNI, hasil dari instruksi jang satu dari pusat pendidikan jang satu. Tetapi dizaman perdjuangan dahulu, komando ada ber-matjam². Umpamanja aba² lentjang kanan, kita dengar ada jang mengabakannja sebagai berikut: Lentjang ......... kanan! Ada lagi: Lentjang Ka ......... nan! Demikianlah tuan, bahwa opsir anu pernah menerima penghormatan jang di-aba²kan sbb: Beri hormat kepada Kapten A ......... nu! Untuk Kapten anu namanja hanja terdiri dengan dua patah kata. Tetapi bagaimanakah sang perwira jang namanja terdiri dari 5 a 6 suku kata seperti mode nama didjaman kini? Bisa jang memberi komando kehabisan nafas sebelum komandonja selesai. Komando ketika itu apa sadja jang diteriakkan dengan irama komando. {{Missing image}} '''„Hormat Sendjata".''' Pada permulaan revolusi, sendjata kita betul² terdiri dari 1001 matjam. Tuan akan lihat, sendjata Djepang dan Turki jang pandjang. Steyer atau Hambrug jang pendek. L.E. jang gendut dan sebagainja. Variasi ini ditambah lagi dengan tombak, bambu runtjing dan sebagainja. Dalam hormat bersendjata, sendjata² ini tentu diangkat menurut tjaranja, jakni sendjata dipegang bagian tengahnja dengan tangan kanan, dibantu dengan tangan kiri dibagian bawah dengan djempol kiri, menundjuk keatas. Sendjata persis di-tengah² badan dan satu kepal djarak antara sendjata dan dada. Sikap ini berlaku untuk segala matjam senapan dan tentu djuga untuk tombak dan bambu runtjing. Karena tombak dan bambu runtjing djuga tergolong pada sendjata. Demikianlah pernah salah seorang perwira menerima penghormatan sendjata dengan tjara sungguh², tetapi sendjata itu adalah sapu. Penghormatan diterima dari seorang peladjan asrama jang selama ini turut berlatih kalau tidak tengah bertugas (batja: menjapu). Pada pikiran si peladjan ia djuga merasa mempunjai saham dalam perdjuangan, karena ia membantu tentera dengan sapunja. Kalau jang lain berdjuang dengan senapan, tombak, bambu runtjing sebagai sendjata, ia djuga bertugas berdjuang dengan sendjata: sapu. Tak lain penghormatan jang tulus ini diterima oleh perwira itu dengan saluut jang tulus dar sungguh². Djiwa² beginilah tuan jang turut memenangkar perdjuangan bersendjata dimasa jang lalu.<noinclude> 48</noinclude> b73wwidhfv39ep0idkxmc2sc76gssl4 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/214 104 103651 291931 2026-05-11T10:05:35Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291931 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||26}}</noinclude>Demikianlah kata-kata tersebut diatas itu dalam bahasa Indonesia mondjadi {{u|madjalah}}, {{u|mualim}} dan {{u|tasawuf}}. Akan tetapi oleh karena tiap kata jang ada pada achir sebuah udjaran dapat disingkat dengan meninggalkan vokalnja jang terachir atau achiran kasusnja, maka terdjadilah kulompok konsonan pada kata itu. Kata {{u|sabrun}}, bila diambil morfin terikatnja, jakni penanda kasus u, maka tingallah bentuk dasarnja {{u|Sabr}}. Pengambilan kata-kata arab untuk bahasa Indonesia itu umumnja dari bentuk dasar itu, sehingga kata {{u|sabr}} jang kehilangan achiran penanda kasusnja itu mengandung kelompok konsonan {{u|br}}. Dan terhadap kata-kata arab sematjam itu sesuai dengan sistim konsonan bahasa Indonesia, maka antara dua konsonan itu disisipkan vokal, dan dengan demikian kata {{u|Sabr}} dalam bahasa kita menjadi sabar. Demikian djuga dengan kata-kata {{u|chafd}} sudah jadi {{u|hafal}}, kata abu {{u|bakr}} mendjadi abu {{u|bakar}}. Hal ini tidak selalu terdjadi demikian, sering djuga kata-kata itu diambil dengan tanda kasusnja - biasanja kasus nominatifnja - superti {{u|qalb}} (un) mendjadi kalbu, {{u|fard}} - {{u|fardu}} - {{u|perlu}} {{u|nafs}} - {{u|nafsu}} disamping {{u|nafas}}. Selain itu dalam bahasa Indonesia pola kelompok konsonan jang ada biasanja hanja antara nasal dengan konsonan oral jang sedasar utjapan seperti ngk mb, nt dan njt. Sebaliknja bahasa arab tidak terbatas. Bilamana ada kelompok jang tidak sepola dengan kelompok konsonan Indonesia, biasanja diindonesiakan; {{u|mumkin}} diindonesiakan {{u|mungkin}}. III. 2. Seperti sudah disebutkan pada II.6., bahasa Indonesia pada umumaja, tidak mengenal konsonan putusan bersuara pada posisi achir, sebab itu untuk kata-kata Arab jang mungandung konsonan demikian akan dihindari; mungkin dengan tjara mengutjapkannja tanpa getaran selaput suara seperti {{u|sabtu}} - {{u|saptu}}, {{u|kutib}} - {{u|kutip}}, {{u|Ahmad}} - {{u|Amat}} munkin pula dengan menambah vokal, seperti {{u|chadj}} - {{u|hadji}}, {{u|qalb}} - {{u|kalbu}}. IV. Dalam hal vokal tidak banjak jang perlu disebutkan. Pertama tentang djumlahnja, vokal bahasa arab hanja terdapat tiga vokal, Jaitu a, i dan u dengan dua diftong ai dan au. Mengenai vokal itu sendiri tidak menimbulkan masalah, karena, malah djumlahnja lebih sedikit dari bahasa Indonesia. Kedua tentang sistimnja: tentang sistimnja memang ada beberapa hal jang perlu ditjatat. Dalam bahasa Indonesia banjak pola tatavokal o untuk suku pertama dan a untuk vokal terachir dari setiap kata, misalnja sesaat, kekal, berat buku dan seterusnja. Pola ini seringkali dikenakan untuk<noinclude></noinclude> ew7uzrdqxx2424fpg21y49je9woux7c 291933 291931 2026-05-11T10:06:13Z Upiak Ituih 27011 291933 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||26}}</noinclude>Demikianlah kata-kata tersebut diatas itu dalam bahasa Indonesia mondjadi {{u|madjalah}}, {{u|mualim}} dan {{u|tasawuf}}. Akan tetapi oleh karena tiap kata jang ada pada achir sebuah udjaran dapat disingkat dengan meninggalkan vokalnja jang terachir atau achiran kasusnja, maka terdjadilah kulompok konsonan pada kata itu. Kata {{u|sabrun}}, bila diambil morfin terikatnja, jakni penanda kasus u, maka tingallah bentuk dasarnja {{u|Sabr}}. Pengambilan kata-kata arab untuk bahasa Indonesia itu umumnja dari bentuk dasar itu, sehingga kata {{u|sabr}} jang kehilangan achiran penanda kasusnja itu mengandung kelompok konsonan {{u|br}}. Dan terhadap kata-kata arab sematjam itu sesuai dengan sistim konsonan bahasa Indonesia, maka antara dua konsonan itu disisipkan vokal, dan dengan demikian kata {{u|Sabr}} dalam bahasa kita menjadi sabar. Demikian djuga dengan kata-kata {{u|chafd}} sudah jadi {{u|hafal}}, kata abu {{u|bakr}} mendjadi abu {{u|bakar}}. Hal ini tidak selalu terdjadi demikian, sering djuga kata-kata itu diambil dengan tanda kasusnja - biasanja kasus nominatifnja - superti {{u|qalb}} (un) mendjadi kalbu, {{u|fard}} - {{u|fardu}} - {{u|perlu}}. {{u|nafs}} - {{u|nafsu}} disamping {{u|nafas}}. Selain itu dalam bahasa Indonesia pola kelompok konsonan jang ada biasanja hanja antara nasal dengan konsonan oral jang sedasar utjapan seperti ngk mb, nt dan njt. Sebaliknja bahasa arab tidak terbatas. Bilamana ada kelompok jang tidak sepola dengan kelompok konsonan Indonesia, biasanja diindonesiakan; {{u|mumkin}} diindonesiakan {{u|mungkin}}. III. 2. Seperti sudah disebutkan pada II.6., bahasa Indonesia pada umumaja, tidak mengenal konsonan putusan bersuara pada posisi achir, sebab itu untuk kata-kata Arab jang mungandung konsonan demikian akan dihindari; mungkin dengan tjara mengutjapkannja tanpa getaran selaput suara seperti {{u|sabtu}} - {{u|saptu}}, {{u|kutib}} - {{u|kutip}}, {{u|Ahmad}} - {{u|Amat}} munkin pula dengan menambah vokal, seperti {{u|chadj}} - {{u|hadji}}, {{u|qalb}} - {{u|kalbu}}. IV. Dalam hal vokal tidak banjak jang perlu disebutkan. Pertama tentang djumlahnja, vokal bahasa arab hanja terdapat tiga vokal, Jaitu a, i dan u dengan dua diftong ai dan au. Mengenai vokal itu sendiri tidak menimbulkan masalah, karena, malah djumlahnja lebih sedikit dari bahasa Indonesia. Kedua tentang sistimnja: tentang sistimnja memang ada beberapa hal jang perlu ditjatat. Dalam bahasa Indonesia banjak pola tatavokal o untuk suku pertama dan a untuk vokal terachir dari setiap kata, misalnja sesaat, kekal, berat buku dan seterusnja. Pola ini seringkali dikenakan untuk<noinclude></noinclude> 6d8olrvmb67gjf49kr7pspj3zm4s1fs 291934 291933 2026-05-11T10:06:53Z Upiak Ituih 27011 291934 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||36}}</noinclude>Demikianlah kata-kata tersebut diatas itu dalam bahasa Indonesia mondjadi {{u|madjalah}}, {{u|mualim}} dan {{u|tasawuf}}. Akan tetapi oleh karena tiap kata jang ada pada achir sebuah udjaran dapat disingkat dengan meninggalkan vokalnja jang terachir atau achiran kasusnja, maka terdjadilah kulompok konsonan pada kata itu. Kata {{u|sabrun}}, bila diambil morfin terikatnja, jakni penanda kasus u, maka tingallah bentuk dasarnja {{u|Sabr}}. Pengambilan kata-kata arab untuk bahasa Indonesia itu umumnja dari bentuk dasar itu, sehingga kata {{u|sabr}} jang kehilangan achiran penanda kasusnja itu mengandung kelompok konsonan {{u|br}}. Dan terhadap kata-kata arab sematjam itu sesuai dengan sistim konsonan bahasa Indonesia, maka antara dua konsonan itu disisipkan vokal, dan dengan demikian kata {{u|Sabr}} dalam bahasa kita menjadi sabar. Demikian djuga dengan kata-kata {{u|chafd}} sudah jadi {{u|hafal}}, kata abu {{u|bakr}} mendjadi abu {{u|bakar}}. Hal ini tidak selalu terdjadi demikian, sering djuga kata-kata itu diambil dengan tanda kasusnja - biasanja kasus nominatifnja - superti {{u|qalb}} (un) mendjadi kalbu, {{u|fard}} - {{u|fardu}} - {{u|perlu}}. {{u|nafs}} - {{u|nafsu}} disamping {{u|nafas}}. Selain itu dalam bahasa Indonesia pola kelompok konsonan jang ada biasanja hanja antara nasal dengan konsonan oral jang sedasar utjapan seperti ngk mb, nt dan njt. Sebaliknja bahasa arab tidak terbatas. Bilamana ada kelompok jang tidak sepola dengan kelompok konsonan Indonesia, biasanja diindonesiakan; {{u|mumkin}} diindonesiakan {{u|mungkin}}. III. 2. Seperti sudah disebutkan pada II.6., bahasa Indonesia pada umumaja, tidak mengenal konsonan putusan bersuara pada posisi achir, sebab itu untuk kata-kata Arab jang mungandung konsonan demikian akan dihindari; mungkin dengan tjara mengutjapkannja tanpa getaran selaput suara seperti {{u|sabtu}} - {{u|saptu}}, {{u|kutib}} - {{u|kutip}}, {{u|Ahmad}} - {{u|Amat}} munkin pula dengan menambah vokal, seperti {{u|chadj}} - {{u|hadji}}, {{u|qalb}} - {{u|kalbu}}. IV. Dalam hal vokal tidak banjak jang perlu disebutkan. Pertama tentang djumlahnja, vokal bahasa arab hanja terdapat tiga vokal, Jaitu a, i dan u dengan dua diftong ai dan au. Mengenai vokal itu sendiri tidak menimbulkan masalah, karena, malah djumlahnja lebih sedikit dari bahasa Indonesia. Kedua tentang sistimnja: tentang sistimnja memang ada beberapa hal jang perlu ditjatat. Dalam bahasa Indonesia banjak pola tatavokal o untuk suku pertama dan a untuk vokal terachir dari setiap kata, misalnja sesaat, kekal, berat buku dan seterusnja. Pola ini seringkali dikenakan untuk<noinclude></noinclude> nfonfo6huoyv6mphxwmwh7i8s7qg837 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/271 104 103652 291932 2026-05-11T10:05:59Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291932 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} '''Djas Hudjan di Panas Terik.''' Dalam usaha merebut sendjata Djepang berbagai matjam tjara dipergunakan. Bukan sendjatanja sadja jang diintjer, tetapi djuga pakaian, blok² kain belatju, jah apa sadja, karena pada saat itu kita memerlukan apa sadja. Jang bertindak dalam usaha ini biasanja pemuda² dan anak² jang tergolong dalam pedjuang. Tetapi selain pedjuang ada djuga golongan lain jang memindahkan milik Djepang ketangan kita. Mereka ini adalah pendjudi². Mereka memantjing tentera Djepang agar mau berdjudia dengan mereka. Karena moreel telah bedjat, apalagi iseng menantikan kapal Sekutu untuk mengantarkan mereka pulang, maka mereka banjak djuga jang berdjudi. Taruhannja dapat apa sadja. Selain uang, adalah sendjata, pakaian, sepatu, kain blatju dan sebagainja. Demikianlah pada suatu kali, dipanas terik seorang tentera Djepang memakai djas hudjan. Memang djas hudjan jang dipakainja, tuan, walaupun hari panas terik. Ketika melewati pos pengawalan asramanja, ia ditegur oleh pengawal, jang mungkin djuga dia heran seperti saja. Dari djauh saja perhatikan gerak-gerik tangan mereka. Achirnja sipengawal menjuruh buka djas hudjan tersebut. Maka djas hudjan dibuka dan dibaliknja djas hudjan itu hanja ada sepotong tjawat. Rupanja ia telah menaruh kan apa jang dipakainja dalam perdjudian itu. Sungguh akal jang tepat, tjara itu dipergunakan dimalam hari atau dihari hudjan. {{Missing image}} '''Adu Besar.''' Setiap turun zaman mempunjai kemegahan masing². Seperti sekarang kemegahannja adalah mengadu besar. Tetapi jang diadu besar sekarang bukan sapi atau ternak jang lain²nja, melainkan hanjalah radio, rumah, mobil sedan, simpanan uang dalam bank dan sebagainja. Dizaman perdjuangan dulu jang diadu besar lain lagi, jakni pistol. Mula² para perdjuang telah puas dengan dames pistol kaliber 22, lama² naik kaliber 32. Kemudian Revolver Coolt tjap kuda kaliber 38, dan begitulah seterusnja hingga revolver S.W., Bulldog, pistol Mauser dan lain². Kesatuan² djuga tidak ketinggalan mengadakan adu besar sendjata dari bren gun hingga senapan mesin kaliber 12,7 dan lain². Dan saat itu adalah biasa sadja kalau meriam²pun dibawa kegaris terdepan dan ditembakkan sebagai sendjata flakbaan geschut (sendjata lansung) jang sebenarnja adalah sendjata krombaan. Demikianlah pistol² besar jang bergantungan dipinggang pemuda² perdjuang, mempunjai daja penarik jang sama dengan auto sedan besar mengkilap bagi gadis² dizaman ini. Rasanja tidaklah tjukup kepemudaannja bila dipinggangnja tak terbelit dengan tali pinggang jang bertahtakan "Bidji² menindjau" jang diganduli dengan pistol besar. Jah itu dizaman dulu tuan. Demikianlah pernah salah seorang teman saja dengan bangganja menggentole pinggangnja dengan sebuah pistol besar, luar biasa besarnja. Sungguh luar biasa tuan, rasanja pelornja harus sebesar batu baterei Eveready. Banjak djuga kawan² jang kagum dan iri hati, dan ini tentu lebih membanggakan kawan tersebut. Lain dari tjara memakai jang lazim dizaman itu, dia tak memakai sarung pistol, djadi betul bergentol dipinggangnja dalam arti jang sebenarnja. Entah karena untuk demonstrasi, entah memang karena tak ada sarung pistol jang muat untuk menjaring loop jang luar biasa besarnja itu. Kemudian setelah kami banjak mengenal djenis sendjata, tahulah kami apa itu pistol jang luar biasa besarnja itu. Tidak lain tuan, hanja: Sein pistol jang tak mungkin untuk membunuh, karena kegunaannja hanja untuk mengeluarkan bunga api sebagai isjarat.<noinclude> 49</noinclude> i0j831k3erj39w9f9yn2ylusudov9u7 Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/285 104 103653 291938 2026-05-11T10:15:10Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291938 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} <small>''Njanjian bersama peladjar? sekolah menengah sebanjak 10.000 peladiar? putera dan putri dihadapan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Jugoslavia Tempo di Istana Merdeka.''</small> Kurang dalam kita semua mengginsjafi, bahwa hanja sebagian ketjil sadja dari pada penghasilan rakjat hingga sekarang dipergunakan untuk menambah produksi, — artinja: dipergunakan untuk memperbesar penghasilan dikemudian hari. Sampai sekarang, boleh dikatakan tiap² penambahan penghasilan, betapa ketjilnjapun, dipergunakan untuk menambah konsumsi, dan chususnja konsumsi jang tak begitu perlu, seperti pakaian baru, perhiasan, dan lain-lain. Sebagai akibat dari pada tahun 1957 ini, Negara hampir² sadja menghadapi bangkrut. Sekarang Alhamdulillah mulailah sudah ada perbaikan. Hendaknja djanganlah kita salah gunakan perbaikan jang mulai timbul itu dengan mengulangi lagi sikap hidup jang dulu itu. Hendaknja kita menjederhanakan penghidupan kita dengan penjederhanaan untuk produksi, artinja: untuk meninggikan tingkat hidup kita dikemudian hari. Ini antara lain djuga berarti, bahwa perhatian harus lebih ditudjukan kepada produksi ekspor dan pemakaian barang bikinan Indonesia sendiri, dan keinginan untuk impor dibatasi dan dikurangi. '''Point of no return :''' Saudara², tjamkan : — ini adalah tahun penentuan. Kalau kita terus menerus lupa-diri setjara begini, saja chawatir, hari gelap akan menimpa kita. Kita sekarang harus berani. Berani mengambil keputusan. Berani meninggalkan apa jang lama, berani memasuki apa jang baru. Kita sudah sampai kepada satu titik, dari mana kita tidak bisa balik kembali. Kita sudah sampai kepada „point of no return”. Kita hanja ada satu pilihan lagi : mundur ? mandek ? madju ? Mundur — hantjur ! mandek — amblek ! Maka hanja kita madju, hajo kita tinggalkan apa jang lama, memasuki apa jang baru ! {{Missing image}} <small>''Perletakan karangan bunga ditugu Proklamasi Pegangsaan Timur 56 oleh Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Jugoslavia Tempo. Tugu ini akan diganti dengan tugu perunggu?''</small><noinclude> 7</noinclude> 3qyuqfa5dvpj76kchzaht65sj8xxmlu Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/293 104 103654 291942 2026-05-11T10:17:29Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291942 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>Memang haruslah kita akui bahwa tjara berfikir dan tjara hidup dari sebagian kaum elite kita dewasa ini tidaklah sesuai dengan keadaan dewasa ini, dimana kita masih harus meneruskan peperangan terhadap kemelaratan. Tjara berfikir dan tjara hidup dari sebagian kaum elite kita ini adalah tjara dari orang jang menganggap bahwa perdjuangan telah selesai, bahwa kemakmuran bangsa telah tertjapai. Selain daripada itu dalam menghadapi Gerakan Hidup Baru hendaklah kita masing² tambah memperkuat organisasi negara jang telah kita bangun selama 12 tahun ini, agar negara tersebut dapat kita pergunakan sebagai alat untuk memakmurkan bangsa kita. Kita dapat memperkuatnja dengan masing² kita melaksanakan tugas dalam lapangan masing² setjara lebih baik dan lebih intensip. Selama beberapa tahun jang terachir ini sudah sering tampak gedjala² bahwa ada kekaburan batas² dari masing² golongan dalam lapangan ketata-negaraan kita. Sering tampak bahwa golongan politikus umpamanja sudah memasuki lapangan diluar lapangannja sendiri, idem dengan militer, djuga sama dengan pengusaha dan sebagainja. Alasan mereka adalah: demi untuk keselamatan/kesedjahteraan negara. Hal jang begini sebenarnja tidak sadja merupakan pemborosan tenaga dengan pertjuma tetapi djuga tambah mengatjaukan hal jang telah katjau. Hanja dengan tjara dimana masing² melaksanakan tugasnja dengan benar dan djangan mentjampuri tugas dan lapangan orang lain maka kita akan dapat memperkuat sendiri² organisasi negara kita, jang djuga mendjadi objek dari Gerakan Hidup Baru ini. Hal ini saja rasa adalah sesuatu jang lumrah sadja karena kita hanja kembali kepada norma² jang memang telah ada. Dengan Gerakan Hidup Baru ini jang kita mulai pada saat kita memperingati hari jang kita besarkan ini, maka kita sekaligus membuktikan kepada segenap korban perdjuangan, bahwa kita tidak bersuka-ria menari diatas pengorbanan mereka, tetapi meneruskan bakti mereka dalam usaha memakmurkan dan memberi kesedjahteraan pada segenap bangsa Indonesia. Dengan tjara demikian maka kita telah memberi arti jang tepat untuk peringatan hari jang keramat ini. Sekian. {{Missing image}} <small>''Bom atom ramai dibitjarakan dikalangan luar negeri. Masing² negara mengakui mempunjai bom atom jang terbaik. Bagaimana pandangan seorang ahli karikatur Djerman melihat persoalan bom njata dari gambar diatas.''</small><noinclude> 15</noinclude> 2j2f47yodlhkgu60egvcjz24eid1wjl Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/296 104 103655 291943 2026-05-11T10:18:56Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291943 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}} ka setiap peradjurit selama berkemah dapat minta garam, anggur dan tempat tidur dari penduduk. Tidak hanja dalam soal² tersebut diatas sadja Gustavus Adolphus mengadakan perbaikan² tetapi djuga dalam taktik. Pasukannja jang tersusun atas brigade². dalam pertempuran diaturnja serupa segi-tiga jang terdiri dari pasukan² tombak sebagai dasar kekuatan. Diantara, dibelakang dan disamping susunan tersebut ditempatkan penembak² jang dapat berkumpul, mengembang, menembak dan mundur dengan tjepat. Oleh karena susunan ini terdiri dari orang² maka dinamakan djuga "benteng manusia". Tidak heran kalau pada waktu itu terdapat utjapan jang berbunji: "Bangsa Swedia tidak mempertahankan benteng dengan manusia, melainkan manusialah jang mendjadi benteng". Pasukan artilerinjapun mendapat perhatian, sebab meriam²nja lebih ringan jang memungkinkan ketjepatan gerakan dalam medan pertempuran. Ketjuali itu peluru²nja disiapkan lebih dahulu seperti halnja dengan peluru² senapan. Dengan demikian ia dapat memuntahkan lebih banjak peluru² dari pada lawannja. Demikianlah keadaan pasukan Radja Gustavus Adolphus pada waktu bertemu dengan pasukan² Tilly. Ketjuali pasukannja sendiri ia mendapat bantuan bangsa Saksen jang berupa pasukan berkuda dan pasukan kaki. Djadi kekuatan tentaranja berjumlah kurang lebih 37.000 orang. Lawanaja dibawah pimpinan Tilly jang sudah berpengalaman dalam medan peperangan terdiri dari kurang lebih 32.000 orang. Perbedaan dalam djumlah boleh dikatakan tidak begitu banjak, tetapi pada achir pertempuran Tilly kehilangan separoh dari pasukannja sedang semua meriamnja dapat dirampas lawannja. Kerugian Gustavus Adolphus hanja berupa 3.000 orang. Terang bahwa keunggulan taktik tidak hanja dapat menghantjurkan lawan sadja, tetapi djuga dapat memperketjil kerugian sendiri. Mula² Gustavus Adolphus tidak menghendaki suatu pertempuran melainkan bermaksud melakukan perang gerak. Tetapi karena Tilly dapat merebut Magdeburg dan membakarnja serta membunuh penduduknja, maka sekutu menghendaki supaja Gustavus Adolphus membalasnja. Tetapi pasukan Radja Swedia ini sedang menderita penjakit se- hingga terpaksa mengadakan pertahanan ditepi sungai Elbe. Tilly menjerangnja tetapi untuk keduakalinnja ia terpukul mundur hingga kehilangan 6.000 orang. Achirnja Gustavus Adolphus bergerak dengan pasukannja dan memilih Breitenfeld sebagai medan pertempuran. Tillypun mulai mengatur pasukannja. Disajapkiri ditempatkan Pappenheim dengan pasukannja jang dinamakan "Black Cuirassiers" dan jang telah terkenal di-Eropah. Ditengah² berada Tilly dengan pasukan kakinja sedang sebagai sajap kanan ditempatkan lagi pasukan berkuda dibawah pimpinan Furstenberg. Pertempuran dimulai dengan perkelahian antara pasukan berkuda ringan Tilly dengan pasukan dragonder Gustavus Adolphus jang dimenangkan oleh pasukan Radja Swedia. Dan dimuka pasukan² Tilly, Gustavus Adolphus menjusun dua baris "benteng manusia" dengan sebuah baris sebagai tjadangan. Tidak dapat dimengerti oleh pasukan² Tilly susunan jang aneh itu. Dan selama pasukan² Swedia mengembang kedua lawan melakukan pertempuran artileri. Tetapi karena peluru² jang telah disiapkan dahulu, ma-<noinclude> 18</noinclude> j3d9dqrw3xa8yrslt9m5o4glk4ulg3m Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/226 104 103656 291950 2026-05-11T10:21:11Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291950 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||6}}</noinclude>Amat disayangkan bahwa kebanyakan cerita Saadah masih bersifat sinopsis, sekedar ringkasan cerita dari apa yang seharusnya disajikan sebagai cerita. Artinya ia menjelaskan secara objektif apa yang dialami dipikir dan dirasa oleh para pelakon dan hanya sekali-sekali membiarkan kita mengikuti mereka pada asal mula gerak tindakannya. Inilah yang menyebabkan ceritanya tidak selalu bisa menyeret kita kedalam permasalahannya. Tokoh-tokohnya kadang-kadang terasa kurang dewasa, Seorang suami isteri bisa sesudah bertahun-tahun, bahkan berpuluh tahun, masih merenung atau bersedih-sedih, tentang sesuatu, seolah-olah tidak ada pekerjaannya yang lain. Faktor waktu dan pengalaman tidak diperhitungkan, hingga tokoh-tokohnya seolah-olah tidak mengenal perkembangan secara wajar. Padahal bukankah waktu obat yang paling mujarab buat segala penyakit, juga kelemahan jiwa? Dan doktor guda susbari seperti anak kecil reaksinya tatkala mengetahui isterinya melarikan diri. Memang, kemudian ada pendewasaan-pedewasaan yang di perolehnya dalam melaksanakan tugas. Dan bertemulah kembali keduanya dalam tugas bersama untuk keselamatan perikemanusiaan ("Yang tak dapat ditangkis"). Bagaimana pertikaian antara suami isteri menjadikan anak terlantar, diceritakannya dalam kewajibannya yang utama, tapi masalah yang dipertengkarkan suami isteri tidak diungkapkan, demikianpun penderitaan sianak sekedar/dijelaskan. Dengan demikian gerak-gerik mereka tidak kita rasakan sebagai akibat yang logis dari perkembangan batinnya. Lebih-lebih dari Selasih dan Hamidah, Saadah Alim memberi kesan berdiri ditengah-tengah masyarakat Indonesia modern, dengan masalah-masalah kewanitaan yang menarik dalam zamannya. Sayang daerah lingkupnya tidak berapa luas, hanya sampai dilingkungan kekeluargaan, kecuali dengan sifat kewanitaannya. Satu keistimewaan saadah sebagai pengarang sebelum perang dunia kedua ialah bahwa ia tidak ada sama sekali menantang adat dalam cerita-ceritanya. Hal ini lebih lagi terasa aneh, karena meskipun cerita-ceritanya baru dibukukan tahun 40-an, ia sebetulnya telah menulis tahun 20-an, jadi sebenarnya ia masih masuk pengarang 20-an. Ia bahkan mempertahankan adat, ia melihat adat itu dari sudut yang positif. Pemuda yang tidak menyukai adat itu pun, ternyata tidak ada mempunyai sesuatu keberatan yang prinsipiil, apabila telah bertemu dengan jodohnya. Itulah jalan pikiran yang nampak dalam cerita "Pusaka mamaknya" dan secara kocak dalam drama 3 babak {{u|Pembalasanaja}}.<noinclude></noinclude> dmek81rc267vj3aev5kitgyy1eh4mxx 291996 291950 2026-05-11T11:15:42Z Arymuslichudin 24021 /* Tervalidasi */ 291996 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Arymuslichudin" />{{rh||6}}</noinclude>Amat disayangkan bahwa kebanyakan cerita Saadah masih bersifat sinopsis, sekedar ringkasan cerita dari apa yang seharusnya disajikan sebagai cerita. Artinya ia menjelaskan secara objektif apa yang dialami dipikir dan dirasa oleh para pelakon dan hanya sekali-sekali membiarkan kita mengikuti mereka pada asal mula gerak tindakannya. Inilah yang menyebabkan ceritanya tidak selalu bisa menyeret kita kedalam permasalahannya. Tokoh-tokohnya kadang-kadang terasa kurang dewasa, Seorang suami isteri bisa sesudah bertahun-tahun, bahkan berpuluh tahun, masih merenung atau bersedih-sedih, tentang sesuatu, seolah-olah tidak ada pekerjaannya yang lain. Faktor waktu dan pengalaman tidak diperhitungkan, hingga tokoh-tokohnya seolah-olah tidak mengenal perkembangan secara wajar. Padahal bukankah waktu obat yang paling mujarab buat segala penyakit, juga kelemahan jiwa? Dan doktor guda susbari seperti anak kecil reaksinya tatkala mengetahui isterinya melarikan diri. Memang, kemudian ada pendewasaan-pedewasaan yang di perolehnya dalam melaksanakan tugas. Dan bertemulah kembali keduanya dalam tugas bersama untuk keselamatan perikemanusiaan ("Yang tak dapat ditangkis"). Bagaimana pertikaian antara suami isteri menjadikan anak terlantar, diceritakannya dalam kewajibannya yang utama, tapi masalah yang dipertengkarkan suami isteri tidak diungkapkan, demikianpun penderitaan sianak sekedar/dijelaskan. Dengan demikian gerak-gerik mereka tidak kita rasakan sebagai akibat yang logis dari perkembangan batinnya. Lebih-lebih dari Selasih dan Hamidah, Saadah Alim memberi kesan berdiri ditengah-tengah masyarakat Indonesia modern, dengan masalah-masalah kewanitaan yang menarik dalam zamannya. Sayang daerah lingkupnya tidak berapa luas, hanya sampai dilingkungan kekeluargaan, kecuali dengan sifat kewanitaannya. Satu keistimewaan saadah sebagai pengarang sebelum perang dunia kedua ialah bahwa ia tidak ada sama sekali menantang adat dalam cerita-ceritanya. Hal ini lebih lagi terasa aneh, karena meskipun cerita-ceritanya baru dibukukan tahun 40-an, ia sebetulnya telah menulis tahun 20-an, jadi sebenarnya ia masih masuk pengarang 20-an. Ia bahkan mempertahankan adat, ia melihat adat itu dari sudut yang positif. Pemuda yang tidak menyukai adat itu pun, ternyata tidak ada mempunyai sesuatu keberatan yang prinsipiil, apabila telah bertemu dengan jodohnya. Itulah jalan pikiran yang nampak dalam cerita "Pusaka mamaknya" dan secara kocak dalam drama 3 babak {{u|Pembalasanaja}}.<noinclude></noinclude> 4m10ycpht36t189ket32ttn561m04oe Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/302 104 103657 291951 2026-05-11T10:22:56Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 291951 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{center|<big><big>'''PELANTIKAN'''</big></big>}} {{center|<big><big>KOLONEL KUSNOUTOMO</big></big>}} {{Missing image}} <small>''Gambar atas:<br> Pada tgl. 7 Agustus 1957, KSAD dengan rombongannja telah berangkat ke Bandiarmasin untuk melantik Pd. Plm. T.T. VI. Disini nampak pada saat KSAD mendarat dilangan Ulin jang disambut oleh Kol. Kusno Utomo, Gubernur dan pembesar? mil./ sipil lainnja.''</small> {{Missing image}} <small>''Gambar tengah:<br> KSAD nampak sedang melantik Kol. Kusno Utomo mendjadi Pd. Panglima T.T. VI Tandjung Pura.''</small> {{Missing image}} <small>''Gambar bawah:<br> Selesai pelantikan, diadakan Gdevili Disini nampak KSAD dan Pa. P1 T.T. VI sedang menerima perghomatan dari pasukan jang berdevii jang lengkap dengan pandji²nija.''</small><noinclude> 24</noinclude> 9wpiezjqe1vjse1431g7iwsltocqpts Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/227 104 103658 291961 2026-05-11T10:31:36Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291961 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>Dan seperti juga Abdul lubis ia tidak setuju perkawinan Indonesia dengan orang Barat, yang selalu membawa mudarat, karena perlainan adat dan kebiasaan ("Kalau Timur masih memanggil", yang tak dapat luput"). Masalah-masalah kebiasaan adat bisa diselesaikan dengan baik oleh Saadah Alim. Ibu Rohana yang hendak mengawinkan anaknya dengan menantunya yang menjadi duda supaya menantunya itu jangan keluar dari lingkungan keluarga, tidak usah menjadi kecewa. Karena menantunya itu dapat mencarikan seorang pemuda yang cocok dengan anaknya. Rohana, Rohana senang dengan pemuda itu dan pemuda itu pun senang dengan Rohana. Adat bisa terus berjalan tanpa ada sesuatu paksaan, demikian menurut pandangan Saadah ("Peninggalan Isterinya"). Adat tidak mahakuasa. Nurajam yang dipasangkan orang tuanya dengan Bustan, mengambil jalannya sendiri tanpa banyak cincong dengan orang tuanya dan Bustanpun dengan gampang saja menemukan gadis yang sudah lama mencitainya diam-diam tanpa dia sendiri menyadarinya ("Kesenangannya"). Satu hal pula yang jelas pada tokoh-tokoh wanita Saadah Alim. Mereka adalah gadis-gadis yang tahu memilih dan mengambil jalannya sendiri, gadis-gadis yang mempunyai harga diri dan tak mau begitu saja didikte oleh orang tuanya, namun mereka kemudian akan mengakui kebenaran orang tuanya. Lai adalah pengaruh pendidikan Barat. Mereka memilih jodohnya sendiri, menentukan nasibnya sendiri ("Keberaniannya"). Cerita pertama, "Kalau timur masih memanggil" mengisahkan ten- tang dokter Mahjuddin yang studi kenegeri Belanda, meninggalkan isterinya Marliah yang sedang mengandung dan kawin dengan seorang perempuan Belanda. Tapi perkawinan itu tidak berbahagia dan setelah kembali di Indonesia, ia mendapati isterinya masih menungguinya dengan sabar bersama anaknya. Dikatakan bahwa dokter Mahjuddin sesudah tiga tahun kawin tidak cocok dengan isterinya, tapi tidak dikatakan mengenai hal apa mereka tidak dapat bersesuaian paham. Justru inilah yang pembaca ingin tahu. Apakah pokok pertikaian maka tak mungkin hubungan "Timur dan Barat", Inlander dan Eropah? Alasan satu-satunya yang diberikan ialah bahwa Marie, isterinya orang Belanda itu, tidak ingin mendapatkan anak daripadanya, karena ia seorang Inlander<sup>1)</sup>, tapi alasan ini kurang masuk akal, sebab jika demikian, mengapa ia mau kawin dengannya? - --------- 1) pribumi<noinclude></noinclude> d9p7y1mx9acscjnfl9wdypjdfdhz9kb 291962 291961 2026-05-11T10:32:03Z Upiak Ituih 27011 291962 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>Dan seperti juga Abdul lubis ia tidak setuju perkawinan Indonesia dengan orang Barat, yang selalu membawa mudarat, karena perlainan adat dan kebiasaan ("Kalau Timur masih memanggil", yang tak dapat luput"). Masalah-masalah kebiasaan adat bisa diselesaikan dengan baik oleh Saadah Alim. Ibu Rohana yang hendak mengawinkan anaknya dengan menantunya yang menjadi duda supaya menantunya itu jangan keluar dari lingkungan keluarga, tidak usah menjadi kecewa. Karena menantunya itu dapat mencarikan seorang pemuda yang cocok dengan anaknya. Rohana, Rohana senang dengan pemuda itu dan pemuda itu pun senang dengan Rohana. Adat bisa terus berjalan tanpa ada sesuatu paksaan, demikian menurut pandangan Saadah ("Peninggalan Isterinya"). Adat tidak mahakuasa. Nurajam yang dipasangkan orang tuanya dengan Bustan, mengambil jalannya sendiri tanpa banyak cincong dengan orang tuanya dan Bustanpun dengan gampang saja menemukan gadis yang sudah lama mencitainya diam-diam tanpa dia sendiri menyadarinya ("Kesenangannya"). Satu hal pula yang jelas pada tokoh-tokoh wanita Saadah Alim. Mereka adalah gadis-gadis yang tahu memilih dan mengambil jalannya sendiri, gadis-gadis yang mempunyai harga diri dan tak mau begitu saja didikte oleh orang tuanya, namun mereka kemudian akan mengakui kebenaran orang tuanya. Lai adalah pengaruh pendidikan Barat. Mereka memilih jodohnya sendiri, menentukan nasibnya sendiri ("Keberaniannya"). Cerita pertama, "Kalau timur masih memanggil" mengisahkan ten- tang dokter Mahjuddin yang studi kenegeri Belanda, meninggalkan isterinya Marliah yang sedang mengandung dan kawin dengan seorang perempuan Belanda. Tapi perkawinan itu tidak berbahagia dan setelah kembali di Indonesia, ia mendapati isterinya masih menungguinya dengan sabar bersama anaknya. Dikatakan bahwa dokter Mahjuddin sesudah tiga tahun kawin tidak cocok dengan isterinya, tapi tidak dikatakan mengenai hal apa mereka tidak dapat bersesuaian paham. Justru inilah yang pembaca ingin tahu. Apakah pokok pertikaian maka tak mungkin hubungan "Timur dan Barat", Inlander dan Eropah? Alasan satu-satunya yang diberikan ialah bahwa Marie, isterinya orang Belanda itu, tidak ingin mendapatkan anak daripadanya, karena ia seorang Inlander<sup>1)</sup>, tapi alasan ini kurang masuk akal, sebab jika demikian, mengapa ia mau kawin dengannya? - --------- 1) pribumi<noinclude></noinclude> tcg2cdogvu3cr1lryofow430jazprbc Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/306 104 103659 291971 2026-05-11T10:42:33Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291971 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>{|class="wikitable" width="100%" |- |Karesidenan||Banjaknja Balai Bibit||Djenis||Untuk Bibit||Untuk konsumsi||Djumlah |- |Surabaja||6||Bengawan,<br>Gendjahbeton,<br>Andelslem.||504,03||78,87||582,90 |- |Bodjonegoro||7||Bengawan,<br>Tjina.||237,56||90,15||327,71 |- |Madiun||4||Gendjahbeton,<br>Andelsiem,<br>Bengawan.||373,75||93,28||467,03 |- |Kediri||5||Bengawan,<br>S.K.K. Tjahaja.||343,22||146,94||460,16 |- |Malang||6||Bengawan.||291,17||212,91||504,08 |- |Madura||4||Bengawan,<br>Mas.||309,12||25,60||334,72 |- |Besuki||7||Bengawan,<br>Gropakgede.||603,21||149,79||753,00 |- |Djumlah||39|| ||2.662,06||797,54||3.459,60 |} Dari berbagai djenis padi jang disiarkan di Daerah Djawa-Timur djenis padi Bengawanlah jang paling mendapat perhatian dari Rakjat dan meluasnja tanaman padi Bengawan tersebut mulai dari Daerah Madiun hingga Banjuwangi. Di Daerah Madiun djenis padi Bengawan sadjak tahun 1950 mendapat sambutan jang baik sekali dan tiap tahunnja djumlah sawah jang ditanami dengan padi Bengawan terus meningkat. Untuk masa 3 tahun jang achir ini dapat dikemukakan angka-angka sebagai berikut: {| |- |1950|| ||46.492 ha,||atau||27%||dari||baku||sawah||172.243 ha. |- |1951|| ||56.704 ha,||"||33%||"||"||"||172.243 ha. |- |1952||±||84.500 ha,||"||48%||"||"||"||172.243 ha. |} Penjiaran bibit unggul di Djawa-Timur untuk sebahagian besarcmasih dilakukan dengan djalan mendjual langsung kepada Petani, karena penjelenggaraan penangkar-penangkar bibit belum dapat dilaksanakan disemua tempat. Dimana telah diadakan penangkar-penangkar bibit, maka tjara jang lazim dipakai ialah dengan djalan tukar-menukar bibit. Untuk memudahkan para Petani mendapatkan bibit pada musim tanam, oleh Djawatan Pertanian Rakjat diandjurkan agar supaja ditiap-tiap Desa didirikan Lumbung-Lumbung Bibit. Lumbung Bibit dipergunakan untuk menjimpan bibit murni jang diperoleh dari sawah-sawah Desa dan lain sebagainja. Benih dari Lumbung Desa tersebut dapat dikeluarkan pada tiap-tiap musim tanam dan menurut kebiasaan dimasing-masing Desa, dapat didjual atau dipindjamkan kepada Petani dengan sjarat, bahwa pindjaman padi akan dikembalikan pada waktu panen dengan tambahan beberapa prosen.<noinclude>{{rvh|274}}</noinclude> rcvpof3usgnit7ktos2p6bjaue53d3u Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/232 104 103660 291972 2026-05-11T10:42:57Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 291972 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" /></noinclude>{{rh||PERKEMBANGAN SASTRA MELAYU MODEN}} {{rh||Dari Ahmad Talu Hingga Tahun 1945}} {{rh||( II )}} {{rh|||Yahya Ismail}} Dalam ceramah saya yang lewat saya telah menggambarkan peristiwa-peristiwa politik dan budaya sejak Abdullah Munci hingga kepada pengarang reformis Islam, Sayed Syeh Ahmad Al-Hadi. Kini kita lanjutkan lagi pembicaraan kita dengan melihat perkembangan politik, ekonomi dan budaya dalam tahun-tahun tigapuluhan hingga meletusnya Perang Dunia Kedua dan pengaruhnya dalam perkembangan kesusastraan Melayu dewasa itu. Sejak lahirnya novel saduran {{u|Hikayet Faridah Hanun}} pada tahun 1926 dari pena reformis Islam, Sayed Sheikh, maka dunia kesusastraan Melayu dewasa itu memperlihatkan suatu kegiatan yang sangat merangsangkan khususnya dalam bidang penulisan novel. Sebagai bentuk sastra - novel - merupakan bentuk asing yang dikenalkan oleh Sayed Sheikh, dan bentuk ini mendapat perhatian yang istimewa dari pengarang-pengarang lain hingga kita dapati bentuk novel menjadi satu ciri sastra yang terpenting sejak tahun 1926. Tambahan pula pada waktu ini Pejabat Karang Mengarang telah ditubuhkan di Maktab Perguruan Sultan Idris, T. Malim (1924) dimana hasil-hasil sastra dari Inggeris dan Eropa yang terkenal seperti {{u|Gulliver's Travels}}. {{u|A Tale of Two Cities Macbeth}} dan sebagainya telah diterjemahkan kedalam bahasa Melayu. Kegiatan Pejabat Karang Mengarang yang memperkenalkan hasil sastra barat kedalam bahasa Melayu dan kegiatan pengarang-pengarang Melayu sendiri dalam bidang penulisan novel secara langsung mempengaruhi suasana sastra (litemry atmosphere) pada waktu itu. Kebanyakan guru-guru Melayu yang terlatih di MPSI pada waktu itu banyak membaca karya-karya novel terjemahan ini, dan juga membaca karya-karya dari Indonesia. Hasil dari inilah mereka cuba pula mengasah bakat dalam bidang penciptaan novel. Seperti yang telah saya perkatakan dalam bacaan ceramah yang lalu tahun-tahun duapuluhan khususnya merupakan tahun-tahun pomercekan pahaman-pahaman modernisme dalam Islam. Ketokohan Sayed Sheikh terasa sekali dizaman itu hingga kelahiran novelis-novelis yang lain merupakan sebagai bayangan-bayangan dibawah ketokohan Sayed Sheikh. Demikianlah kemunculan novel Ahmad bin Haji Muhamad Rashid Talu yang lahir di Pulau Pinang pada tahun 1889 dan hidup di tengah kemercuan nama Sayed Sheikh kurang mendapat<noinclude>{{rh|||12}}</noinclude> rzjujo0g8u471ztiz8quivote3zydw4 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/239 104 103661 291975 2026-05-11T10:44:12Z Upiak Ituih 27011 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi ' Abdullah Sidik yang banyak mencipta novelet sebelumnya kini menulis cerpen pula yang menggunakan tema masyarakat orang ielayu seperti dalam "Darinal Pa' Menong' (majalah ilatahari Menancar, no. 1. 1 Juli 1942). Pada waktu pendudukan Jepang terdapat beberapa orang wartawan dan pengarang Sumatra yang berhijarh ke Singapura dan falaya untuk be- kerja dalan akhbar seperti Halai Shimbun Sha, Berita Malai, . Sema- ngat Asia, dan Zeer Asia Pada waktu... 291975 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Upiak Ituih" />{{rh||19}}</noinclude> Abdullah Sidik yang banyak mencipta novelet sebelumnya kini menulis cerpen pula yang menggunakan tema masyarakat orang ielayu seperti dalam "Darinal Pa' Menong' (majalah ilatahari Menancar, no. 1. 1 Juli 1942). Pada waktu pendudukan Jepang terdapat beberapa orang wartawan dan pengarang Sumatra yang berhijarh ke Singapura dan falaya untuk be- kerja dalan akhbar seperti Halai Shimbun Sha, Berita Malai, . Sema- ngat Asia, dan Zeer Asia Pada waktu itu Malaya dan Sumatra dima- sukkan edalam satu peuorintahan angkatan darat. Demikianlah kita lihat sumbangan cerpen dari Abdullah Kanel, Thanaruaain A, Zaini Abidin Ahmad dan lain-lain dimasa ini. Menang kalau dilihat dari segi ciptaan mereka ponulis-penulis di zaman Jepang membangga-banggakan semangat perjuangan khasnya tentang keperwiraan tentara Dai Nippon, namun didalam karya-karya mereka itu masih terselit semangat nasionalisme Helayu yang kuat seperti dalan cerpen-corpen yang beri Menebus Dose disamping memberi pro- paganda Jepang mouth belt semangat cinta tanahair, yang tersirat ualan kata-kata yang digunakan ponulis. Puisi Melayu Puisi Melayu nodon nemperlinatkan airi aalam ajallah Guru'. pada tahun 1934 Seorang penyair yang memakai nana samaran Pungguk me- nulis sebuah sajak yang menunjukkan adanya perubahan dari bentuk syair yang terkenal itu. Saya potik sebuah sajak yang dicipta Pungguk- "Bila ku sampai ditepi laut, aatiku menung nonokan dugunya, Menentang ombak munderu dipantai; Ombak menyre shumenyahut, 'Apa diseru? sedih bertanya, Gelombang menjawab, 'Ia mengintai', Terperanjat bosar segala hatiku, Suara ombak ponjawab, Bukan ombak yang bersuara, Suara adikk, kelisihku." Komari dekat wahai fuaui, Lama sudah abang uolera...... Seperti mana yang telah saya sebut taai pengaruh kesusastraan Indonesia hasnya dari karya-karya Balai Pustaka dan Pujangga Baru sudah banyak yang meresap masuk ke Malaya. Bentuk-bentuk sajak yang menyimpang dari syair seperti yang dihasilkan M. Yamin, Rustam Effendi, dan oleh penyair-penyair Pujangga baru sedikit sebanyaknya mempengaruhi juga bon- tuk kepenyairan di Malaya. Digitized by Google "<noinclude></noinclude> d11mw96d25kkh22i7i1j1xv4qcm3i7n 292004 291975 2026-05-11T11:24:55Z Upiak Ituih 27011 /* Telah diuji baca */ 292004 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Upiak Ituih" />{{rh||19}}</noinclude> Abdullah Sidik yang banyak mencipta novelet sebelumnya kini menulis cerpen pula yang menggunakan tema masyarakat orang melayu seperti dalam "Darinal Pa' Menong' (majalah {{u|Matahari Menancar}}, no. 1. 1 Juli 1942). Pada waktu pendudukan Jepang terdapat beberapa orang wartawan dan pengarang Sumatra yang berhijrah ke Singapura dan Malaya untuk bekerja dalam akhbar seperti {{u|Malai Shinbun Sha}}, {{u|Berita Malai}}, {{u|Semangat Asia}}, dan {{u|Fajar Asia}}. Pada waktu itu Malaya dan Sumatra dimasukkan kedalam satu pemerintahan angkatan darat. Demikianlah kita lihat sumbangan cerpen dari Abdullah Kamel, Thaharuddin A, Zaini Abidin Ahmad dan lain-lain dimasa ini. Menang kalau dilihat dari segi ciptaan mereka penulis-penulis di zaman Jepang membangga-banggakan semangat perjuangan khasnya tentang keperwiraan tentara Dai Nippon, namun didalam karya-karya mereka itu masih terbelit semangat nasionalisme Melayu yang kuat seperti dalam cerpen-cerpen yang berjudul {{u|Menebus Dosa}} disamping memberi propaganda Jepang masih kelihatan semangat cinta tanahair, yang tersirat dalam kata-kata yang digunakan penulis. {{u|Puisi Melayu}} Puisi Melayu moden nemperlihatkan diri dalam {{u|Majallah Guru}} pada tahun 1934 seorang penyair yang memakai nama samaran Pungguk menulis sebuah sajak yang menunjukkan adanya perubahan dari bentuk syair yang terkenal itu. Saya petik sebuah sajak yang dicipta Pungguk: - <ol> <poem> "Bila ku sampai ditepi laut, Hatiku menung menekan dugunya, Menentang ombak menderu dipantai; Ombak menyeru sedihnya menyahut, 'Apa diseru? sedih bertanya, Gelombang menjawab, 'Ia mengintai', Terperanjat besar segala hatiku, Suara ombak menjawab {{illegible}}, Bukan ombak yang bersuara, Suara adikk, kelisihku. Kemari dekat wahai fuadi, Lama sudah abang Melera{{...|7}}" </poem> </ol> Seperti mana yang telah saya sebut tadi pengaruh kesusastraan Indonesia khasnya dari karya-karya Balai Pustaka dan Pujangga Baru sudah banyak yang meresap masuk ke Malaya. Bentuk-bentuk sajak yang menyimpang dari syair seperti yang dihasilkan M. Yamin, Rustam Effendi, dan oleh penyair-penyair Pujangga baru sedikit sebanyaknya mempengaruhi juga bentuk kepenyairan di Malaya.<noinclude></noinclude> nk9betd1hnafs12ojoosufze36ktlye Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/351 104 103662 291995 2026-05-11T11:14:38Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 291995 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>{|class="wikitable" width="100%" |+DAFTAR ADANJA PENJAKIT HEWAN TERNAK SELURUH DJAWA-TIMUR: ! rowspan=2 | Tahun !colspan=2 | Piro Ana Plasmose !colspan=2 | Malleus !colspan=2 |Tuberculose !colspan=2 |Rabiĕs (Penjakit gila andjing) !colspan=2 |Septichaemie Apizoorticae !colspan=2 |Boutvuur (Api limpa) !colspan=2 |Surra !colspan=2 |Aphthae Epizootica Penjakit mulut/kuku |- !Tambahan||Mati||Tambahan||Mati||Tambahan||Mati||Tambahan||Mati||Tambahan||Mati||Tambahan||Mati||Tambahan||Mati||Tambahan||Mati |- |1940||20||10||560||561||72||72||{{--}}||{{--}}||26||21||7||7||120||38||2.970||95 |- |1941||14||3||546||546||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||14||10||{{--}}||{{--}}||147||31||2.594||28 |- |1942||31||3||333||333||52||52||{{--}}||{{--}}||15||15||{{--}}||{{--}}||164||33||17.847||326 |- |1943||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}} |- |1944||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}} |- |1945||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}} |- |1946||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}} |- |1947||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}} |- |1948||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||10||10||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}} |- |1949||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||41||41||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}} |- |1950||{{--}}||{{--}}||54||54||1||1||9||9||30||12||{{--}}||{{--}}||59||33||4.392||440 |- |1951||7||1||33||33||2||2||37||37||29||21||83||83||93||25||3.491||106 |- |1952||1*)||{{--}}*)||{{--}}*)||{{--}}*)||{{--}}*)||{{--}}*)||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}}||{{--}} |} <nowiki>*) = sampai triwulan ke-III.</nowiki> Angka-angka tahun 1943 - 1949 tidak lengkap.<noinclude>{{rvh|319}}</noinclude> sq682k2jq8rfdqiooo92myzzfh1hq66 Halaman:Bahasa dan kesusastraan Volume 1-7.djvu/403 104 103663 292022 2026-05-11T11:49:16Z Menyusurisudutnegeri 25205 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'ELDUA b. Fenggunaan formulir-formulir reai den en jaen Bahasa In- donesia Yang Disenpurnakan dilakukan setelah formulir lana habis, dan agar diusahakan mulai tanggal 1 April 1373 telah digunakan formulir-formulir dengan jaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. c. Dalam pelaksanaan pen runaan jaan Bahasa Indonesia Yang Di- sempurnakan itu tidak disediakan bioja/anggaran setjara chusus. Nenutuskan kepada Departemen-departemen jang bersangkutan un... 292022 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>ELDUA b. Fenggunaan formulir-formulir reai den en jaen Bahasa In- donesia Yang Disenpurnakan dilakukan setelah formulir lana habis, dan agar diusahakan mulai tanggal 1 April 1373 telah digunakan formulir-formulir dengan jaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. c. Dalam pelaksanaan pen runaan jaan Bahasa Indonesia Yang Di- sempurnakan itu tidak disediakan bioja/anggaran setjara chusus. Nenutuskan kepada Departemen-departemen jang bersangkutan untuk memberikan penerangan, pendjelasan serta langkah-langkah jang perlu guna kelantjaran pelaksanaan penggunaan "jaan Bahasa In- donesia Yang Disonpurnakan sesuni dengan kebidjaksanaan jang digariskan dalam diktum 12. Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1972. Dianlin sesuai aslinja oleh SEAT ASHET 33 Ditetapkan di Djakarta pada tanggal 16 Agustus 1972. IR REPUBLIK I DOESIA, ttd. SOEHARTC DURDURAL-MI. Digitized by Google<noinclude></noinclude> 2bnrdv9wkywohvktd6697nxon8v1yk7 Halaman:Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur.pdf/786 104 103664 292025 2026-05-11T11:57:27Z Alicya- 21994 /* Telah diuji baca */ 292025 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Alicya-" /></noinclude>Adapun anggaran belandja penerangan jang disediakan untuk tahun 1953 dalam perbandingannja dengan tahun 1952 adalah sebagai berikut: {|class="wikitable" width="100%" |- |Kementerian Penerangan seluruh Indonesia||Tahun 1952 ||Tahun 1953 |- |Propinsi Djawa-Timur||188.209.000||133.418.000 = 70% |- |a. Belandja Pegawai . . . .||9.444.000||9.664.000 = 102 % |- |b. Belandja barang :{{ol|list_style_type=decimal|Ongkos kantor . . . .|Pengangkutan barang<sup>2</sup> .|Konperensi dinas/ pers .|Usaha penerangan lain<sup>2</sup> .|Penerbitan . . . . . .}}||<br>820.000<br>22.000<br>86.000<br>1.590.000<br>1.018.000||<br>524.000 = 64%<br>45.000 = 200 %<br>35.000 = 40%<br>741.000 = 50 %<br>262.000 = 25 % |- |{{gap}}Djumlah belandja barang :||3.536.000||1.607.000 = 45 % |- |c. Djumlah belandja Pegawai dan belandja barang . . .||12.980.000||11.271.000 = 87 % |} Sesuai dengan sedjarah perkembangan Kementerian Penerangan beserta Djawatan Penerangannja di Daerah-Daerah jang tumbuh dalam kantjah revolusi kemerdekaan dan jang ikut serta melopori revolusi, maka segenap Warga-Penerangan tetap memegang teguh tradisi jang baik itu untuk membaktikan diri kepada Nusa dan Bangsa dengan terus-menerus menjalakan obor penerangan laksana api nan tak kundjung padam ditengah-tengah masjarakat. {{rule|10em}}<noinclude>{{rvh|676}}</noinclude> soui7zkmfed3td4dkeocbhifz7z39lj Halaman:Madjalah Angkatan Darat.djvu/822 104 103665 292026 2026-05-11T11:57:46Z N.imaema 22481 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'RAPAT PENGUASA PERANG SELURUH INDONESIA Rapat antara Penguasa Pe- rang Pusat dan Penguasa Pe- rang Daerah jang diadakan di Djakarta telah berlangsung de- ngan baik dan lantjar. Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Djenderal A.H. Nasution sela- ku Penguasa Perang Pusat telah memimpin rapat dan memberikan laporan beberapa materi atas ha- sil? dari rapat tsb. setjara sing- kat kepada Wakil Perdana Men- teri III merangkap Menteri Per- t... 292026 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="N.imaema" /></noinclude>RAPAT PENGUASA PERANG SELURUH INDONESIA Rapat antara Penguasa Pe- rang Pusat dan Penguasa Pe- rang Daerah jang diadakan di Djakarta telah berlangsung de- ngan baik dan lantjar. Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Djenderal A.H. Nasution sela- ku Penguasa Perang Pusat telah memimpin rapat dan memberikan laporan beberapa materi atas ha- sil? dari rapat tsb. setjara sing- kat kepada Wakil Perdana Men- teri III merangkap Menteri Per- tahanan ad interim Dr Leimena, sedang mengenai laporan seleng- kap?nja dengan segala pertim- bangan? serta saran? akan segera disampaikan kepada Pemerintah dan Panglima Tertinggi: Dalam rapat tsb. telah dibitja- rakan setjara mendalam menge- nai situasi keamanan dalam hu- bungannja dengan perkembang- an politik, ekonomi dan sosial di- seluruh negara serta taraf tindak- an? selandjutnja, djuga tentang follow up operasi? Militer jang tengah berlangsung maupun jang akan datang, baik dari tingkatan nasional maupun tingkat daerah demi daerah. Dalam hubungan ini, kesemua- nja telah dibitjarakan setjara se- rius tentang diperpandjang atau tidaknja status keadaan perang, sebagaimana ditindjau pelaksa- naan prosedure Undang? Keada- an Bahaja, baik mengenai orga- nisasinja ataupun tata kerdjanja. Djuga dalam rapat Penguasa Perang Pusat dan Daerah ini, telah dibahas urgensi pogram Front Nasional Pembesan Irian Barat serta pena ana BKS diseluruh Indonesia. Mengenai situasi keamanan, oleh Staf? Penguasa Perang Da- erah telah Wisampaikan laporan setjara pandjang lebar dan leng- kap, laporan mana pada umum- nja didasarkan atas hasil-karya 12 dan penelaahan dari Dewan? Pe- nguasa Perang Daerah atau Ko- mandan Daerah Militer ber-sama? dgn fihak pamong pradja dan Po- lisi didearah masing?. Sedang me- ngenai diperpandjang atau tidak- nja status keadaan perang, untuk dua hal ini, KSAD selaku Pe- nguasa Perang Pusat akan mene- ruskan laporan ini kepada Peme- rintah dan Panglima Tertinggi hal mana dianggap perlu, agar hasil? operasi itu tidak sia? dike- lak kemudian hari. Rapat para Penguasa Perang Pusat dan Penguasa Perang Daerah telah dilangsungkan di MBAD. dan rapat tsb. dipimpin sendiri oleh KSAD Letnan Djenderal A.H. Nasution selaku Penguasa Perang Pusat. Tampak dalam gambar KSAD dengan didampingi WK. KSAD Brig. Djenderal Gatot Subroto sedang memimpin rapat. seluruh wilajah Indonesia, rapat Penguasa Perang dan Daerah ini telah mempunjai pendapat jang bulat jang meliputi pendirian se- luruh Penguasa Perang Daerah. Sementara itu, mengenai taraf tindakan? landjutan dan follow up daripada operasi? militer, ba- ik jang tengah berlangsung mau- pun jang akan datang dalam membasmi petualang” PRRI, Permesta, DI/TII dll. masih per- lu diusahakan kesempurnaannja, baik di Pusat maupun didaerah, terutama dibidang Pemerintahan dan Finec. Chusus mengenai ke- Pelaksana Kuasa Perang. Selandjutnja, mengenai tata- kerdja dan pelaksanaan daripada Kuasa Perang dapat dirumuskan bahwa baik Penguasa Perang Daerah maupun Penguasa Pe- rang Pusat telah mempunjai pen- dapat jg sama jaitu perlu diada- kannja penertiban dan perbaik- an?, Dalam rangka ini termasuk pengawasan? jg lebih intensip dan sistimatis dengan a.l. mengambil tindakan? korektip jang tegas dan tepat terhadap kesalahan? dan penjelewengan”. Dan dalam hu-<noinclude></noinclude> qmelxxy2rqwa279xft35h6c2w2f9fqb