Wikisumber
idwikisource
https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.6
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikisumber
Pembicaraan Wikisumber
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Pengarang
Pembicaraan Pengarang
Indeks
Pembicaraan Indeks
Halaman
Pembicaraan Halaman
Portal
Pembicaraan Portal
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Halaman:Kota Jogjakarta 200 Tahun (1956).pdf/79
104
44649
297804
130293
2026-06-13T06:32:47Z
Bennylin
334
297804
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Fuadi Zikri" /></noinclude>{{c|''Tingkatan Peladjaran''}}
{{tab}}Pertama ialah mengenal empat buah kalimat pokok; masing-masing terdiri dari
5 buah huruf, djadi sama sekali 20 buah huruf Djawa. Empat buah kalimat itu diberikan
sekali-gus, tidak satu demi satu. Guru lebih dahulu mengatakan sebuah kalimat jang
pertama, murid-muridnja besar ketjil menirukan bersama. Disambung kalimat jang
kedua, ketiga, clan hingga kalimat jang penghabisan. Lalu dihafalkan oleh semua murid-murid itu seperti berlagu menjanji bersama, dengan perasaan bebas. Perlu diterangkan
bahwa tiap-tiap huruf Djawa itu, telah merupakan sebuah suku kata jang bersuara a
atau (a). Tjara ini sesuai dengan pendapat Dr. Ovidi Decroly, seorang orang Belgia,
dalam pertjobaan-pertjobaan jang luas, anak-anak lebih mudah mengenal kalimat-kalimat pendek dari pada huruf demi huruf, bahkan mengenal huruf-huruf lepas itulah
jang tersukar bagi anak-anak. (Lihat Cryns dan Reksosiswojo), djilid II tjetakan
ke enam, halaman 19) . Tjara memberikan peladjaran mengenal huruf sebagai diatas
itu dalam kasusasteraan kita umumnja disebut '',,methode Adjisaka"'', sesudahnja susunannja dibagi mendjadi 8 (delapan ) tingkat, sebagai berikut:
# Menghafal alfabet jang berdjumlah dua puluh jakni
{|
|+
|-
| HA || NA || TJA || RA || KA,
|-
| DA || TA || SA || WA || LA,
|-
| PA || DHA || DJA || JA || NJA,
|-
| MA || GA || BA || THA || NGA,
|}
{{missing image}}
Setelah hafal barulah mulai ''mengenal'' (bunji)
{|
|+ a u, oe e dan e (pepet)
|-
| a. || hi, || ni, || tji, || ri, || ki,
|-
| || di, || ti, || si, || wi, || li,
|-
| || pi, || dhi, || dji, || ji || nji,
|-
| || mi, || gi, || bi, || thi, || ngi,
|}
{{tab}}Demikianlah seterusnja, dengan ,,u" ,,e" ,,o" dan lain-lain. Selandjutnja barulah
mulai pada tingkat-tingkatnja jang lain jang lebih sukar. D~mikianlah dafam waktu
'heberapa bulan sadja murid-murid sudah dapat membatja kata-kata.
{{tab}}Dengan adanja guru · kampung dan guru teman sedj~wat ini tiap-tiap rumah
pembesar, bangsawan, Pengeran, Bupati, Wedono dan lain-lain dcngan sendirinja
pemberintasan buta huruf sudah berdjalan, bahkan lebih luas dan mendalam, karena
disamping pdadjaran tulis menulis, djuga discrtai pendidikan budi pekerti, sedjarah
dan tata susila.
{{tab}}Dengan tanpa diketahui oleh chalajak ramai, tidak sedikit para putcra/puteri
dalam Keraton clan Pura Paku Alaman jang dapat menulis karangan jang berbentuk
puisi jang bermutu tinggi.
{{tab}}Demikian pula para kaum bangsawan Kedaton banjak jang berusaha mempeladjari kesusasteraan Djawa klasik.
{{tab}}Usaha mereka itu sebagian bcsar, karena kewadjiban jang berhubungan dengan tugasnja sendiri, setengahnja disebabkan karena hasrat untuk memelihara dan memiliki
warisan-warisan leluhurnja. Maka mendjadi teranglah bahwa pendidikan dan pengadjaran jang timbul dalam tiap-tiap keluarga Radja didalam kampung-kampung
merupakan faktor penting, jang menghasilkan ,,sebagian besar penduduk kota Jogjakarta pandai membaja dan menulis huruf Djawa".<noinclude>{{r|63}}</noinclude>
bfcn8cc92qk7q94rc8pxkkmqp5neb8n
297805
297804
2026-06-13T06:34:11Z
Bennylin
334
/* Bermasalah */
297805
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="2" user="Bennylin" /></noinclude>{{c|''Tingkatan Peladjaran''}}
{{tab}}Pertama ialah mengenal empat buah kalimat pokok; masing-masing terdiri dari
5 buah huruf, djadi sama sekali 20 buah huruf Djawa. Empat buah kalimat itu diberikan
sekali-gus, tidak satu demi satu. Guru lebih dahulu mengatakan sebuah kalimat jang
pertama, murid-muridnja besar ketjil menirukan bersama. Disambung kalimat jang
kedua, ketiga, clan hingga kalimat jang penghabisan. Lalu dihafalkan oleh semua murid-murid itu seperti berlagu menjanji bersama, dengan perasaan bebas. Perlu diterangkan
bahwa tiap-tiap huruf Djawa itu, telah merupakan sebuah suku kata jang bersuara a
atau (a). Tjara ini sesuai dengan pendapat Dr. Ovidi Decroly, seorang orang Belgia,
dalam pertjobaan-pertjobaan jang luas, anak-anak lebih mudah mengenal kalimat-kalimat pendek dari pada huruf demi huruf, bahkan mengenal huruf-huruf lepas itulah
jang tersukar bagi anak-anak. (Lihat Cryns dan Reksosiswojo), djilid II tjetakan
ke enam, halaman 19) . Tjara memberikan peladjaran mengenal huruf sebagai diatas
itu dalam kasusasteraan kita umumnja disebut '',,methode Adjisaka"'', sesudahnja susunannja dibagi mendjadi 8 (delapan ) tingkat, sebagai berikut:
# Menghafal alfabet jang berdjumlah dua puluh jakni
{|
|+
|-
| HA || NA || TJA || RA || KA,
|-
| DA || TA || SA || WA || LA,
|-
| PA || DHA || DJA || JA || NJA,
|-
| MA || GA || BA || THA || NGA,
|}
{{missing image}}
Setelah hafal barulah mulai ''mengenal'' (bunji)
{|
|+ a u, oe e dan e (pepet)
|-
| a. || hi, || ni, || tji, || ri, || ki,
|-
| || di, || ti, || si, || wi, || li,
|-
| || pi, || dhi, || dji, || ji || nji,
|-
| || mi, || gi, || bi, || thi, || ngi,
|}
{{tab}}Demikianlah seterusnja, dengan ,,u" ,,e" ,,o" dan lain-lain. Selandjutnja barulah
mulai pada tingkat-tingkatnja jang lain jang lebih sukar. D~mikianlah dafam waktu
'heberapa bulan sadja murid-murid sudah dapat membatja kata-kata.
{{tab}}Dengan adanja guru · kampung dan guru teman sedj~wat ini tiap-tiap rumah
pembesar, bangsawan, Pengeran, Bupati, Wedono dan lain-lain dcngan sendirinja
pemberintasan buta huruf sudah berdjalan, bahkan lebih luas dan mendalam, karena
disamping pdadjaran tulis menulis, djuga discrtai pendidikan budi pekerti, sedjarah
dan tata susila.
{{tab}}Dengan tanpa diketahui oleh chalajak ramai, tidak sedikit para putcra/puteri
dalam Keraton clan Pura Paku Alaman jang dapat menulis karangan jang berbentuk
puisi jang bermutu tinggi.
{{tab}}Demikian pula para kaum bangsawan Kedaton banjak jang berusaha mempeladjari kesusasteraan Djawa klasik.
{{tab}}Usaha mereka itu sebagian bcsar, karena kewadjiban jang berhubungan dengan tugasnja sendiri, setengahnja disebabkan karena hasrat untuk memelihara dan memiliki
warisan-warisan leluhurnja. Maka mendjadi teranglah bahwa pendidikan dan pengadjaran jang timbul dalam tiap-tiap keluarga Radja didalam kampung-kampung
merupakan faktor penting, jang menghasilkan ,,sebagian besar penduduk kota Jogjakarta pandai membaja dan menulis huruf Djawa".<noinclude>{{r|63}}</noinclude>
888f1emnzvfegaxdl5bro0xc369dsy0
Pengguna:Zikra f
2
49395
297751
142158
2026-06-13T04:51:48Z
Zikra f
23058
297751
wikitext
text/x-wiki
Hi! aku Zikra ...
{{Peserta_Workshop_WILMA_Jakarta}}
sekarang ga workshop WILMA lagi, tapi Workshop Ghothe Institut!
b9y4gteizpvo2gkcyd5iqthaflxkftu
Halaman:Chrita.pdf/12
104
53298
297802
151251
2026-06-13T06:30:45Z
Bennylin
334
297802
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="2" user="Devi 4340" /></noinclude>[[Berkas:Chrita (page 12 crop).jpg|jmpl]]
SI KRISTIAN
TINGGALKAN RUMAH-NYA.<noinclude></noinclude>
izjvam49gsv8iycdqk649h8f0tim3fc
297803
297802
2026-06-13T06:31:10Z
Bennylin
334
/* Telah diuji baca */
297803
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bennylin" /></noinclude>[[Berkas:Chrita (page 12 crop).jpg|300px|center]]
SI KRISTIAN
TINGGALKAN RUMAH-NYA.<noinclude></noinclude>
qksxph0bxmpy59i9iu0xeb8e4aure4l
Halaman:Hikajat Soeltan Taboerat 02.pdf/169
104
56054
297728
159226
2026-06-13T04:18:35Z
Bada1828
27236
297728
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Dewinta88" />{{rh||648|}}</noinclude>Setelah itoe maka kata anak radja itoe, hesok toewan berlangkep pada pagi pagi hari, soepaja kita mengoelilingi negri ini.
Maka sembahnja baeklah toewankoe.
Setelah itoe maka anak radja poen berpelok den bertjioem, serta berangkat poelang laloe meninggalken wang belandja seratoes dinar, serta katanja: inilah belandja toewan, den djikaloe habis dengen sigra toean kataken.
Maka sembahnja baeklah toeankoe.
Setelah itoe maka laloe berpesanlah kepada Sahbanda, tinggallah. toean baek baek peliharaken hatinja adinda.
Maka sembahnja Alhamdoelillah toeankoe.
Adapoen maka anak radja serta sampe kedalem astanah, maka di lihatnja istrinja sedang berlakoe sandoe, maka anak radja itoepoen tersenjoem, sambil berkata: mengapakah toewan sanget mesgoel, apakah moelah kernanja?
Maka sembahnja toewan poetri, ja kakanda: tijada soewatoepoen apa kernanja, melainken ada kernanja sebab melihat saekor anak pelandoek, sanget sekali di kasihi oleh jang memeliharaken, soenggoeh poen banjak perboeroewan jang laen, seperti kidjang anak mandjangan, ijalah djoega jang terlebih saekor dari pada jang laen, itoelah moelanja jang djadi kepala beta sanget ngeloenja rasanja.
Adapoen maka anak radja poen seperti terbelah rasa dadanja, serta berkata sambil menarik napasnja, katanja: jaadinda djanganlah toewan<noinclude></noinclude>
863tpr0qr3mxd5onw98cnuyk0evq4zv
Halaman:Tjeritaan di negri Tjina sa-orang bernama Lioe Si Djoen anak Lioe Siang Kiat.pdf/109
104
60889
297715
175854
2026-06-13T03:49:38Z
Srijembarrahayu
21172
/* Telah diuji baca */
297715
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Srijembarrahayu" />{{rh||105|}}</noinclude>panggil Ko IJa (baba mantoe) pada Lioe Si Djoen.
Kemoedian Liok Hoe Djin parinta boedjangnja akan atoer makanan dan arak, boeat djamoein pada Tio Ing Lim dan baba mantoe, Liok Hoe Djin berkata pada Lioe Si Djoen: Hei! mantoekoe jang pinter kaloe kita ingat ari kalemaren poenja kedjadian, soenggoe ada tida enak sekali, sebab sandenja, sekarang berdjoempa pada orang di roemanja Seh Hoa, kita rasa tentoe marika itoe tida maoe bikin abis, dari itoe perkara, tentoe mendjadi berklahian lagi, ibarat 2 harimau berklahi, tentoe satoe per lain nanti ada jang loeka, maka dari itoe, kita harep mantoekoe bole sabarin sadja, djangan melawan.
Lioe Si Djoen menjaboet: Mama! itoe boekan saija jang moelain, sebab itoe 4 goeroe gisiauw di roema Seh Hoa betoel boeat saija menjesel, begitoe koerang adjar soeda poekoel pajah saija poenja boedjang bernama Lioe Hin, sahingga dapet sakit, akan sekarang belon dapet ketahoean, apa mendjadi mati atau idoep, maka kaloe saija tida bales kepadanja, tentoe, orang bikin tetawa pada saija.
Liok Hoe Djin berkata: O! anak mantoekoe, kendati di Hoa Hoe poenja goeroe gisiauw ada moelain lebi doeloe, tetapi anakoe soeda djatoin<noinclude></noinclude>
io4hm3prl0pah4fhpowlu5xtg20xljr
Halaman:20 tahun Indonesia merdeka.djvu/976
104
81801
297794
238233
2026-06-13T06:22:22Z
Bennylin
334
/* Tervalidasi */
297794
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Bennylin" /></noinclude>ingat bahwa pada phase-phase permulaan tersebut devisa negara kita masih djauh lebih banjak djika dibandingkan dengan masa-masa belakangan.
Bersamaan dengan makin sulitnja mendapatkan devisa Pemerintah, maka gagasan untuk memberikan mesin-mesin buatan dalam negeri makin kuat.
Mesin-mesin buatan dalam negeri jang diberikan, mula-mula hanja mesin-mesin bata, genteng, ubin, minjak kelapa, tapioka.
Kemudian, terutama sedjak phase P.N.P.R. Daya-Yasa, maka mesin-mesin tersebut diperluas lagi dengan mesin-mesin tenun setjara lengkap.
Pada waktu achir-achir ini atas andjuran J.M. Menteri telah pula dibuat mesin-mesin mangel karet rakjat, jang tadinja selalu diimpor dari Singapura. Pun mesin pertjetakan sudah pula dimulai untuk diintroduksikan pada masjarakat industri rakjat.
Achirnja dengan didatangkannja mesin-mesin untuk perbengkelan umum seperti bubut frais, bor, dan sebagainja, dari Rumania, Polandia, Republik Demokrasi Djerman dalam rangka kontrak-kontrak kredit dengan negara-negara tersebut, bermatjam-matjam spare-parts jang sangat kita butuhkan sudah dapat kita hasilkan sendiri.
{{asterism}}<noinclude>{{rh|950}}</noinclude>
n7bucksxpy6n69jaam42m88a0pfqsr5
Halaman:Horison 06 1988.pdf/8
104
88664
297834
254859
2026-06-13T07:20:59Z
Badak Jawa
19009
/* Belum diuji baca */
297834
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Badak Jawa" /></noinclude> filosofis yang diajukan oleh al-Gur'an.
''Pertama'', persoalan sehubungan dengan ”Apa-
kah realitas itu? Apakah yang nyata itu? Apa ha-
nya yang bisa dilihat mata dan dipaham akal yang
bisa disebut sebagai "yang nyata'” atau 'realitas?"
Dari persoalan ini timbul pula persoalan: Bagai-
mana kedudukan yang nyata dan tidak nyata, Yang
Satu dan yang banyak, Tuhan dan manusia, Khalig
dan makhlug? Dalam menjawab persoalan ini para
Sufi antara lain merujuk pada kata-kata ketiga
Khalifah yang merupakan sahabat-sahabat terdekat
Nabi, yaitu Abu Bakar Siddig, Umar bin Khattab
dan Usman bin Affan. Abu Bakar mengatakan,
"Aku tak pernah melihat sesuatu barang, tanpa
melihat Tuhan sebelumnya.” Jadi Tuhan adalah
sumber segala kejadian, dan melepaskan diri dari
sumber berarti menjauh dari hakekat realitas yang
sebenarnya. Umar berkata, ”Aku tak pernah
melihat sesuatu barang tanpa melihat Tuhan
bersamaan dengan itu.” Ini merupakan pernyataan
syukur terhadap Tuhan yang berdiri di balik keja-
dian suatu benda sebagai pencipta yang tersembu-
nyi. Sedang Usman berkata, ”Aku tak pernah me-
lihat sesuatu barang tanpa melihat Tuhan' sesudah
itu,” Melihat segala kejadian seharusnya memang
membuat kita ingat kepada sumbernya, yaitu Sang
Pencipta yang tunggal.
Kedua, problematik yang dimunculkan adalah.
sehubungan dengan hukum yang lahir dari panda-
ngan semacam itu. Hukum atau syariah lantas di-
pandang sebagai perwujudan atau pengejawantahan '
secara lahir dari yang batin, sedang yang batin atau
yang di dalam hati manusia itu adalah iman. De-
ngan iman sajalah manusia menemukan kembali se-
cara merdeka gerak menuju Tuhan, sebagaimana
dikatakan oleh Rumi, Goethe dan Igbal. Dan sastra
keagamaan dalam dunia Islam, khususnya sastra
Sufi, secara keseluruhan mencerminkan bahwa ia
adalah gerak yang merdeka menuju Tuhan, gerak
menuju penemuan dan pengenalan kembali hakikat
jatidiri kita, karena hanya dengan mengingat Tuhan
manusia ingat pada dirinya, dan hanya dengan me-
nyelami jatidirinya manusia bisa mengenal Tuhan.
Masalah rumit mengenai dilema Takdir dan ke-
mauan bebas, dengan sendirinya akan terpecahkan
melalui gerak semacam ini.
Ketiga, al-Gur'an menyatakan bahwa manusia
tidak dapat membuktikan adanya Tuhan dengan
pembuktian empiris dan rasional, Untuk membuk-
tikan adanya Tuhan manusia harus melatih kemam-
puan intuitifnya, serta memiliki kemampuan mela-
kukan transendensi, harus melatih kalbunya agar
memiliki penglihatan yang tajam terhadap makna-
makna tersembunyi dalam -kehidupan. .Al-Gur'an
sendiri mengatakan, bahwa, "Dalam hati manusia
ada jendela untuk melihat Tuhan.”
Jika ibadah sebari-hari yang khusyuk seperti
shalat mampu melahirkan pengalaman relijius dan
pembersihan jiwa, maka latihan kalbu akan lebih
meningkatkan pengalaman relijius ini menjadi ben-
tuk pengalaman transendensi, yang sifatnya verti-
kal atau meninggi. Iabal menyebut ciri-ciri penga-
laman mistis ini, sebagai berikut: (1) Pengalaman
ini memberikan pengalaman langsung tentang ada-
nya Realitas Mutlak: (2) pengalaman ini menyaji-
kan realitas sebagai kesatuan organis yang tak ter-
pisahkan dan bersifat menyeluruh: (3) pengalaman
ini membawa rasa bersatu secara langsung dengan
Tuhan. (4) pengalaman ini lebih merupakan perasa-
an daripada pikiran, namun seperti halnya perasa-
an-perasaan yang lain, ia mengandung pikiran yang
memberinya arah dan membentuknya menjadi
gagasan: (5) pengalaman ini menyajikan realitas se-
bagai suatu keseluruhan yang langgeng, mengingat
masa lampau .dan masa depan menjadi masa kini
yang abadi. Ketajaman melihat ke depan, atau me-
lihat masa depan sebagai kerinduan masa kini, itu-
lah yang membuat pengalaman semacam ini mela-
hirkan pandangan yang profetik..
Igbal menambahkan, bahwa, setelah seseorang
itu (terutama Nabi) memperoleh pengalaman
puncak semacam ini, yang bersifat kenabian atau
kewalian, akan kembali ke tingkat pengalaman
biasa. Kembalinya ke tingkat pengalaman biasa,
atau dunia, akan membawa perobahan-perobahan
besar dalam sejarah. Filosof Jerman, Immanuel
Kant, telah mengakui pengalaman yang melahirkan
"imajinasi transendental” ini, walaupun berbeda
dengan Ibnu Sina dan Ibnu Arabi, tidak berani
mengakui bahwa ia merupakan pelaku penting da-
lam sejarah manusia, yang mengandung unsur ilahi
dan manusiawi sekaligus, sebagaimana dibuktikan
oleh Nabi Muhammad sendiri.
Memang, kata Igbal, tugas penyair yang maha
penting di dunia modern sekarang adalah mem-
buka jalan bagi lahirnya revolusi kenabian, yaitu
revolusi yang didasarkan pada ajaran tauhid Nabi,
Oleh karena sekarang ini di dunia sedang berkuasa
dewa-dewa palsu dan manusia telah dikuasai oleh
berhala-berhala yang merusak kepribadiannya,
Wawasan. sastra profetik Igbal dan realisasinya
bisa kita lihat pada karya-karyanya yang sebagian
besar merupakan puisi-puisi kefilsafatan. Misalnya
di dalam Asrar-i Khudi, Javid-Namah dan Hadiah
Dari Hejaz yang memuat sajaknya yang sangat apo-
kaliptik (kewahyuan) "Parlemen Setan”. Rumi
kerap hadir dalam sajak-sajak Igbal sebagai guru
kerohanjannya, yang mengajarkan pentingnya eks-
tase mistik dalam penciptaan dan pentingnya me-
ngajarkan kembali tentang hubungan politik de-
ngan agama dan moral. .
Kumpulan puisi Igbal Asrar-i Khudi dimulai
dengan sebuah "Mugadimah”. Igbal ingin mem-
bangunkan bangsa dan umat yang sedang tidur
dalam kelelapan yang sangat, dengan berupaya
memperkenalkan kembali jatidiri bangsa dan umat
itu. Hanya dengan mengenal jatidirinya dan poten-
si dirinya ia bisa kembali menyadari posisinya di
dunia ini, dan memulai kembali perannya dalam
7 HORISON/XXH/188: f<noinclude></noinclude>
f0op6o0ny2didq694rpb4smhpchegr8
Pembicaraan Pengguna:Happywu
3
89641
297712
257250
2026-06-12T19:42:28Z
Leaderbot
24572
/* Notice of expiration of your event-organizer right */ bagian baru
297712
wikitext
text/x-wiki
== Selamat datang ==
<div style="border:2px solid #f3e4f2; background-color:#ffffff; font-size:95%; margin-right:1em; margin-left :1em; margin-bottom : 1em; padding: 5px;">
{{larger|'''Selamat datang, ''{{BASEPAGENAME}}''!'''}}
Halo dan [[Wikisource:Selamat datang|selamat datang]] di [[Wikisource bahasa Indonesia|Wikisumber bahasa Indonesia]]!
'''[[Wikisource:Apakah Wikisource itu?|Wikisumber]]''' adalah sumber dokumen bebas multibahasa yang isinya ditulis bersama-sama oleh para penggunanya dan disusun agar dapat dibaca dan disunting oleh siapa pun juga.
* Anda bisa mengucapkan selamat datang kepada Wikipustakawan lainnya di [[Wikisource:Halaman perkenalan|Halaman perkenalan]]
* Pertanyaan, usulan, dan komentar tentang Wikisumber bahasa Indonesia bisa dilakukan di [[Wikisource:Warung Kopi|Warung Kopi]]. Jangan lupa untuk menandatangani pesan Anda, sehingga pengguna lain mengetahui siapa sang penulis pesan. Caranya: ketik ~~~~ (empat kali tanda gelombang/tilde).
* '''Baca dan pelajarilah terlebih dahulu [[wikisource:kebijakan dan pedoman|kebijakan dan pedoman]] yang berlaku di Wikisumber bahasa Indonesia.'''
* Untuk bereksperimen, mencoba-coba, atau tes, lakukanlah di [[Wikisource:Bak pasir|bak pasir]].
* Walaupun begitu perhatikan juga [[Wikisource:Hindari kesalahan umum|hal-hal yang tidak boleh dilakukan di {{SITENAME}}]].
* Untuk menulis profil atau sekilas informasi tentang Anda, bisa dilakukan di [[Pengguna:{{PAGENAME}}]], sehingga pengguna lain bisa mengenal sedikit tentang Anda.
<div class="tabbertab" title="Contributing texts" lang="en">
{{larger|'''Welcome to Wikisource, ''{{BASEPAGENAME}}''!'''}}
*Hope you enjoy contributing to Wikisource ''Bahasa Indonesia'', the library that is free for everyone to use!
*If you are not an Indonesian speaker, you may want to visit the [[:w:Wikipedia:Kedutaan|Indonesian Wikisource embassy]] or get some [[:w:Wikipedia:Babel/id-0|information about finding users who speak your language]]. Or just '''<span class="plainlinks">[{{fullurl:User talk:{{BASEPAGENAME}}|action=edit§ion=new}} edit]</span>''' this page and ask your question here. Be sure to place <code><nowiki>{{</nowiki>[[:Kategori:Pengguna mencari bantuan|helpme]]<nowiki>}}</nowiki></code> before your question to get the attention of [[:Kategori:Pengurus Wikisource|our administrators]]. Finally, ''please "sign" your comments on [[Wikisource:Warung kopi|discussion pages]] by using four tildes (<nowiki>~~~~</nowiki>)''; this will automatically produce your username (or IP address if you're not logged in) and the current date. '''Enjoy!'''
</div>
</div> [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 27 November 2025 01.46 (UTC)
== Notice of expiration of your event-organizer right ==
<div dir="ltr">Hi, as part of [[:m:Special:MyLanguage/Global reminder bot|Global reminder bot]], this is an automated reminder to let you know that your permission "event-organizer" (Penyelenggara acara) will expire on 2026-06-19 06:45:15. Please renew this right if you would like to continue using it. <i>In other languages: [[:m:Special:MyLanguage/Global reminder bot/Messages/default|click here]]</i> [[Pengguna:Leaderbot|Leaderbot]] ([[Pembicaraan Pengguna:Leaderbot|bicara]]) 12 Juni 2026 19.42 (UTC)</div>
96ru1yrxz0nuz5pkcmvfrr84u651y3f
Pengguna:Link PB
2
93665
297768
268826
2026-06-13T05:51:55Z
Link PB
26772
297768
wikitext
text/x-wiki
Tetaplah menjadi Orang Baik karena kita baik bukan karena orang baik kepada kita:
Yuk Bisa Yuk {{Peserta Kompetisi Wikisource 2026}}
anqs8cmcii1xrxg34ydwfpil2gvl8xd
297769
297768
2026-06-13T05:53:19Z
Link PB
26772
297769
wikitext
text/x-wiki
Tetaplah menjadi Orang Baik karena kita baik bukan karena orang baik kepada kita:
Yuk Bisa Yuk {{Peserta Kompetisi Wikisource 2026}}
Awal yang baik {{Peserta WikiLatih|tgl= 15 Februari
2026|di=Banjarnegara}}
ll40hko0oogkbrwm6kdthhaox0kms5h
297770
297769
2026-06-13T05:55:14Z
Link PB
26772
297770
wikitext
text/x-wiki
Tetaplah menjadi Orang Baik karena kita baik bukan karena orang baik kepada kita:
Yuk Bisa Yuk {{Peserta Kompetisi Wikisource 2026}}
{{Komunitas wikimedia Banjarnegara}}
Awal yang baik {{Peserta WikiLatih|tgl= 15 Februari
2026|di=Banjarnegara}}
p3p2vog5uzijmibiodyd56xoie4pkzx
297771
297770
2026-06-13T05:56:05Z
Link PB
26772
297771
wikitext
text/x-wiki
Tetaplah menjadi Orang Baik karena kita baik bukan karena orang baik kepada kita:
Yuk Bisa Yuk {{Peserta Kompetisi Wikisource 2026}}
Anggota Komunitas wikimedia Banjarnegara
Awal yang baik {{Peserta WikiLatih|tgl= 15 Februari
2026|di=Banjarnegara}}
r97ts67iym7r4yjy50yi4ddn63lca3w
297772
297771
2026-06-13T05:57:25Z
Link PB
26772
297772
wikitext
text/x-wiki
Tetaplah menjadi Orang Baik karena kita baik bukan karena orang baik kepada kita:
Yuk Bisa Yuk {{Peserta Kompetisi Wikisource 2026}}
Anggota Komunitas wikimedia Banjarnegara
Awal yang baik {{Peserta WikiLatih|tgl= 15 Februari
2026|di=Banjarnegara}}
slrhi5xxvu6hsg0n343zp2t2t8dizwa
Pengguna:Firman Rusda
2
105501
297713
2026-06-12T21:53:16Z
Firman Rusda
25763
←Membuat halaman berisi 'Anggota komunitas wikimedia padang'
297713
wikitext
text/x-wiki
Anggota komunitas wikimedia padang
pfx66vxtx5xaqcoh91xtv6cpe3tb2u4
Halaman:17 kali bertjere.pdf/1
104
105502
297714
2026-06-13T03:19:29Z
Link PB
26772
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '<big><big><big><big>'''SIGNATUUR'''<br> '''MICROVORM'''</big></big></big></big> <big><big><big><big>'''SHELF NUMBER'''<br> '''MICROFORM :'''</big></big></big></big> BIBLIOGRAFISCH VERSLAG: BIBLIOGRAPHIC RECORD: . • • MOEDERNEGATIEF OPSLAGNUMMER: MASTER NEGATIVE STORAGE NUMBER: IMM6ge-tOQ 171. I KITLVlRoyal Netberlands lnstitut. ofSoutbeast Asian aod Caribbean Studies PPN: 181910667 SHELF NUMBER MICROFORM: 17 koU btrljne : tjerlta rom...
297714
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Link PB" /></noinclude><big><big><big><big>'''SIGNATUUR'''<br>
'''MICROVORM'''</big></big></big></big>
<big><big><big><big>'''SHELF NUMBER'''<br>
'''MICROFORM :'''</big></big></big></big>
BIBLIOGRAFISCH VERSLAG:
BIBLIOGRAPHIC RECORD: .
•
•
MOEDERNEGATIEF OPSLAGNUMMER:
MASTER NEGATIVE STORAGE NUMBER:
IMM6ge-tOQ 171.
I
KITLVlRoyal Netberlands lnstitut. ofSoutbeast Asian aod Caribbean Studies
PPN: 181910667
SHELF NUMBER
MICROFORM:
17 koU btrljne : tjerlta roman janc rame dan btrnasehat/lJuvenile Kuol. IS.LI : 1" "1, 119301 (Batavia-stad : Drukkerij K"ee SenlTjoan). -131 p.;
17cm
OmslagtiteL - Sin ... Maleise literatuur. - Alkrnatleve titel: 17 kali btrljere
,""a Llndru d.ri IndonHi •• - JuvenU. Kuo is pseudovan Kwee Sel' Tjoa •• Bonis
AUTEUR(S)
Jun.Ue Kuo ,I. ook Kwee Se•• TjoaB
t:...pI.....ve.s:
Titel op _1111: 17 koll btrljere, I••d.. d.rllldoHsII
H.rdc:opy
M SINO 0412
SII•. van orlpneel:
Sb.lr.r. or orleln.1 copy:
M 1001 A 0746
Filmformaat I Size offilm:
Beeld plaatsing I Image placement:
Reductie moederfilm I Reduction Masterfilm:
Jaar van verfilming I Filmed in :
Verfilmd door bedrijf I Filmed by:
Si,•. v.n mlcrovo... :
Sbelrnr. or mlcrororm:
M SIN00412
HDP/_ 161. mm
COMIC IIIB
: 1
2004
Karmac Microfilm Systems<noinclude></noinclude>
c9nkv9i6tt11tgajp6cinvki6vbftad
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/8
104
105503
297716
2026-06-13T03:55:11Z
Menyusurisudutnegeri
25205
/* Telah diuji baca */
297716
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>menangkis serangan itu, untuk itu ia sempat mengangkat sendjatanja, tapi djusteru ia hendak bergerak, ia dengar djeritan hebat disebelah belakangnja, hingga ia mendjadi terkedjut. Njata ada salah satu orangnja, jang mendjadi sasaran kebetulan dari bidji teratai besi si nona, hingga dia bermandikan darah pada mukanja. Dalam kagetnja itu, masih sempat Ma Tjoen berlompat mundur. Ia batal menjerang.
Goat Hoa berlaku gesit sekali, dia menjusul, pedangnja membabat. Sjukur untuk orang she Ma itu, pedang lewat sedikit diatas kepalanja, Tapi ini sudah tjukup untuk membuat ia mandi peluh dan hatinja tjlut.
Goat Hoa segera menggunakan ketikanja itu. Ia merogo kedalam sakunja, untuk terus menimpuk keempat pendjuru, terhadap semua musuh atau orang2nja mereka itu. Serangan ini membuat musuh kelabakan, malah pundak Houyan Pioe mesti merasakan kena sendjata jang mampir.
„Bagus betul !” berseru Houyan Pa, jang mendjadi gusar sekali. Ia putar pedangnja, pedang Tjeng-kong-kiam, untuk menerdjang nona itu, guna mentjegah si nona main gila dengan teratai besinja itu, Berbareng itu Soen Eng dari atas tandjakan, sudah menjerang pula dengan panahnja, dengan maksud mentjegah Nona Sim mengundurkan diri.
Disaat itu, Houyan Pa telah tiba dengan serangannja, udjung pedangnja mengantjam iga si nona. Goat Hoa menangkis lalu selagi pedang lawan terpental, ia merangsak, untuk terus menjabet batang leher lawannja itu, Dengan menarik mundur kaki kanannja, Houyan Pa menjingkir dari bahaja.
Goat Hoa liehay, ia pun sengit. Tengah orang mundur, ia merangsak terus, malah terus-menerus ia menjerang hingga tiga kali, sedang lawannja main mundur. Houyan Pa mendjadi kewalahan. Achirmja baharu ia bisa meloloskan diri sesudah ia berlenggak dengan tipunja Djembatan Berpapan-besi,
Hebat sikap Goat Hoa, Ia tidak sudi memberi ketika, Lagi ia mendesak, Kali ini udjung pedangnja mentjari pinggang belakang sebagai sasaran.
Houyan Pa terkedjut. Mengerti kepada antjaman bahaja, dia menjampok, lalu dia mentjelat kesamping kiri dimana ada gombolan lebat. Walaupun demikian, ia tidak bebas anteronja, Udjung<noinclude>{{rh|||191}}</noinclude>
09e08raiox7k8l3q3j7vz4988bz3gwc
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/9
104
105504
297717
2026-06-13T03:55:54Z
Menyusurisudutnegeri
25205
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'pedang si nona dapat menjontek tjelananja hingga tjelananja itu. petjah. Beruntung ia tidak terkena kulitnja !! Untuk mentjegah orang mengedjar, Tjic Hoa menghudjani de. ngan anakpanahnja. Sebagai ganti kakaknja, Houyan Pioe madju pula dengan se- pasang tombak pendeknja. Hebat serangannja ini. Goat Hoa tidak hendak mengadu sendjata, Ia berkelit kesam. ping, setelah mana, dengan pedangnja ia membalas membatjok, jang mendjadi sasarannja adalah len...
297717
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>pedang si nona dapat menjontek tjelananja hingga tjelananja itu.
petjah. Beruntung ia tidak terkena kulitnja !!
Untuk mentjegah orang mengedjar, Tjic Hoa menghudjani de.
ngan anakpanahnja.
Sebagai ganti kakaknja, Houyan Pioe madju pula dengan se-
pasang tombak pendeknja. Hebat serangannja ini.
Goat Hoa tidak hendak mengadu sendjata, Ia berkelit kesam.
ping, setelah mana, dengan pedangnja ia membalas membatjok, jang
mendjadi sasarannja adalah lengan kanan penjerangnja itu,
Houyan Pioe memiringkan tubuhnja, sembari tangan kirinja
menusuk pundak kanan si nona. Ia bergerak dengan tjepat luar
biasa.
Goat Hoa menolong diri sambil mengkeratkan tubuhnja.
Houyan Pioe pun tidak mau lantas berhenti, Setelah gagal tom-
bak kirinja, ia gantikan itu dengan tombak kanan, serangannja ada-
lah,,Naga naik kelangit". Dari bawah, tombaknja itu menjontek
keatas.
Kembali Sim Goat Hoa perlihatkan kegesitannja. Ia menangkis
dengan hampir berbareng sebelah kakinja merabu sepasang kaki.
lawannja.
Houyan Pioe mendjadi terkedjut berbareng penasaran. Ia mem.
perdengarkan seruan njaring, terus ia menjerang. Sekarang ia ber...
silat dengan ilmusilat kesajangannja, jaitu Siang Liong Kek-hoat
atau ilmu tombak Sepasang Naga, jang semua terdiri dari tudjuh.
puluh-dua djurus. Ia putar sepasang tombaknja hingga nampaknja
sebagai sepasang ular besar jang melilit si nona.
Mendapat tahu dua saudara itu liehay dan mereka sekarang
berkelahi bergantian, Sim Goat Hoa insaf bahwa ia bisa terantjam
bahaja. Memang walaupun ia dikepung berdua, belum tentu mereka
itu berhasil, tetapi lama2, ia bisa lelah sendiri. Disana pun diantara.
nja masih ada Ma Tjoen, terutama Pok In Hoei, jang masih belum
turun tangan. Bukankah masih ada dua orang musuh lagi, jang
saban mengganggunja dengan anakpanah? Maka ia memikir
untuk lekas merobohkan satu diantara mereka, untuk membikin
hati mereka gontjang.
Begitu memikir, Goat Hoa lantas berkelahi dengan Pek Wan
Kiam-hoat atau ilmu pedang Kera Putih, dan segera membalas me-
192<noinclude></noinclude>
384t9gt88yvinlboo8v2pkutw5ljs2c
297725
297717
2026-06-13T04:14:32Z
Menyusurisudutnegeri
25205
/* Telah diuji baca */
297725
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>pedang si nona dapat menjontek tjelananja hingga tjelananja itu petjah. Beruntung ia tidak terkena kulitnja !
Untuk mentjegah orang mengedjar, Tjic Hoa menghudjani dengan anakpanahnja.
Sebagai ganti kakaknja, Houyan Pioe madju pula dengan sepasang tombak pendeknja. Hebat serangannja ini.
Goat Hoa tidak hendak mengadu sendjata, Ia berkelit kesamping, setelah mana, dengan pedangnja ia membalas membatjok, jang mendjadi sasarannja adalah lengan kanan penjerangnja itu, Houyan Pioe memiringkan tubuhnja, sembari tangan kirinja menusuk pundak kanan si nona. Ia bergerak dengan tjepat luar biasa.
Goat Hoa menolong diri sambil mengkeratkan tubuhnja.
Houyan Pioe pun tidak mau lantas berhenti, Setelah gagal tombak kirinja, ia gantikan itu dengan tombak kanan, serangannja adalah „Naga naik kelangit”. Dari bawah, tombaknja itu menjontek keatas.
Kembali Sim Goat Hoa perlihatkan kegesitannja. Ia menangkis dengan hampir berbareng sebelah kakinja merabu sepasang kaki lawannja.
Houyan Pioe mendjadi terkedjut berbareng penasaran. Ia memperdengarkan seruan njaring, terus ia menjerang. Sekarang ia bersilat dengan ilmusilat kesajangannja, jaitu Siang Liong Kek-hoat atau ilmu tombak Sepasang Naga, jang semua terdiri dari tudjuh puluh-dua djurus. Ia putar sepasang tombaknja hingga nampaknja sebagai sepasang ular besar jang melilit si nona.
Mendapat tahu dua saudara itu liehay dan mereka sekarang berkelahi bergantian, Sim Goat Hoa insaf bahwa ia bisa terantjam bahaja. Memang walaupun ia dikepung berdua, belum tentu mereka itu berhasil, tetapi lama², ia bisa lelah sendiri. Disana pun diantaranja masih ada Ma Tjoen, terutama Pok In Hoei, jang masih belum turun tangan. Bukankah masih ada dua orang musuh lagi, jang saban mengganggunja dengan anakpanah? Maka ia memikir untuk lekas merobohkan satu diantara mereka, untuk membikin hati mereka gontjang.
Begitu memikir, Goat Hoa lantas berkelahi dengan Pek Wan Kiam-hoat atau ilmu pedang Kera Putih, dan segera membalas {{hws|me|mene}}<noinclude>{{rh|192}}</noinclude>
iw73ihrf2blklefh8exb5efg4db5518
297727
297725
2026-06-13T04:18:09Z
Menyusurisudutnegeri
25205
297727
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>pedang si nona dapat menjontek tjelananja hingga tjelananja itu petjah. Beruntung ia tidak terkena kulitnja !
Untuk mentjegah orang mengedjar, Tjic Hoa menghudjani dengan anakpanahnja.
Sebagai ganti kakaknja, Houyan Pioe madju pula dengan sepasang tombak pendeknja. Hebat serangannja ini.
Goat Hoa tidak hendak mengadu sendjata, Ia berkelit kesamping, setelah mana, dengan pedangnja ia membalas membatjok, jang mendjadi sasarannja adalah lengan kanan penjerangnja itu, Houyan Pioe memiringkan tubuhnja, sembari tangan kirinja menusuk pundak kanan si nona. Ia bergerak dengan tjepat luar biasa.
Goat Hoa menolong diri sambil mengkeratkan tubuhnja.
Houyan Pioe pun tidak mau lantas berhenti, Setelah gagal tombak kirinja, ia gantikan itu dengan tombak kanan, serangannja adalah „Naga naik kelangit”. Dari bawah, tombaknja itu menjontek keatas.
Kembali Sim Goat Hoa perlihatkan kegesitannja. Ia menangkis dengan hampir berbareng sebelah kakinja merabu sepasang kaki lawannja.
Houyan Pioe mendjadi terkedjut berbareng penasaran. Ia memperdengarkan seruan njaring, terus ia menjerang. Sekarang ia bersilat dengan ilmusilat kesajangannja, jaitu Siang Liong Kek-hoat atau ilmu tombak Sepasang Naga, jang semua terdiri dari tudjuh puluh-dua djurus. Ia putar sepasang tombaknja hingga nampaknja sebagai sepasang ular besar jang melilit si nona.
Mendapat tahu dua saudara itu liehay dan mereka sekarang berkelahi bergantian, Sim Goat Hoa insaf bahwa ia bisa terantjam bahaja. Memang walaupun ia dikepung berdua, belum tentu mereka itu berhasil, tetapi lama², ia bisa lelah sendiri. Disana pun diantaranja masih ada Ma Tjoen, terutama Pok In Hoei, jang masih belum turun tangan. Bukankah masih ada dua orang musuh lagi, jang saban mengganggunja dengan anakpanah? Maka ia memikir untuk lekas merobohkan satu diantara mereka, untuk membikin hati mereka gontjang.
Begitu memikir, Goat Hoa lantas berkelahi dengan Pek Wan Kiam-hoat atau ilmu pedang Kera Putih, dan segera membalas {{hws|me|menjerang}}<noinclude>{{rh|192}}</noinclude>
mxfs3srqc34626wgvkw8z9n1rpjap0q
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/5
104
105505
297718
2026-06-13T03:57:45Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297718
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>DREWES / MODERN MALAY READER
{{Missing image}}
SERVIRE<noinclude></noinclude>
3hyrjm8vvgub1dp47nlqwa1e7llzsc2
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/7
104
105506
297719
2026-06-13T04:05:38Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297719
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><big><big><big>A MODERN</big></big></big>
<big><big><big>MALAY READER</big></big></big>
WITH A GLOSSARY
BY
G. W. J. DREWES PH. D,
1947
SERVIRE - DEN HAAG<noinclude></noinclude>
9ngpzrppt2sjszx4osd6pbbnqpsiaxc
297720
297719
2026-06-13T04:05:57Z
Link PB
26772
297720
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big><big><big>A MODERN</big></big></big>
<big><big><big>MALAY READER</big></big></big>
WITH A GLOSSARY
BY
G. W. J. DREWES PH. D,
1947
SERVIRE - DEN HAAG}}<noinclude></noinclude>
kpnyhay3uidu3to9nipe1f3z44zthnd
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/9
104
105507
297721
2026-06-13T04:07:43Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297721
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|PREFACE}}
This anthology contains a collection of prose fragments taken from Malay books published in the last fifteen years before the war. Time for assembling them, however, was short, and owing to unfavorable conditions in this first post-war year resources were not so plentiful as they should have been, so that the choice could only be a limited one.
In writing a preface one is apt to apologize for editing 'still another anthology of the same kind'. Such apologies may be omitted here. In spite of the ever increasing number of primers, manuals and correspondence courses — all of them promising the utmost proficiency in Malay in the shortest possible time — only an alarmingly small number of appropriate books is available for studying this important Indonesian language which, as 'bahasa Indonesia', stands only at the beginning of a prospective rapid evolution.
This evolution had set in about one generation already before the war; it was not, however, sufficiently reflected in text-books and dictionaries for the use of students. The teaching of Malay, up to the present time, has had to put up with a number of time-honoured anthologies. Some of these books date from the latter part of the 19th century, while others, more recent ones, were compiled some decades ago. In these books, as might be expected, only fragments from ancient literature, dating from centuries ago, are met with, as at the time of their publication Malay literature had not yet been stirred to new life. The most modern writer from whose books pages sometimes were taken — and this only reluctantly, because of complaints about the purity of his language — was the entertaining narrator 'Abdullah bin 'Abdu'l-Kadir, a half-cast Arab living in Malacca, a contemporary of Raffles!
Therefore, nothing is more discouraging for a person wishing to teach or to study Malay as a modern, living language than to pass in review the available Malay readers, or rather: the readers that once were available, as most of them have been out of print for many years and are hardly obtainable from second-hand bookshops.
During the war a reprint of course was impossible. In some respects this is an advantage, because otherwise a renewed use of these old books would have been obligatory, since one cannot yet order Malay books from Indonesia — if there are any left over there. Moreover, a renewed use would have reinforced the old misconception, still lingering in the minds of so many people, that although there really exists a kind kind of 'High Malay' and its offshoot the Malay language as taught in schools, whosoever forgets this high-brow stuff as soon as he is going out to the tropics, acts very wisely, because it is of no use for any practical<noinclude></noinclude>
k8okv2i5oggnzb4qmf0fqthx7bkk397
297730
297721
2026-06-13T04:25:48Z
Link PB
26772
297730
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||PREFACE||}}</noinclude>This anthology contains a collection of prose fragments taken from Malay books published in the last fifteen years before the war. Time for assembling them, however, was short, and owing to unfavorable conditions in this first post-war year resources were not so plentiful as they should have been, so that the choice could only be a limited one.
In writing a preface one is apt to apologize for editing 'still another anthology of the same kind'. Such apologies may be omitted here. In spite of the ever increasing number of primers, manuals and correspondence courses — all of them promising the utmost proficiency in Malay in the shortest possible time — only an alarmingly small number of appropriate books is available for studying this important Indonesian language which, as 'bahasa Indonesia', stands only at the beginning of a prospective rapid evolution.
This evolution had set in about one generation already before the war; it was not, however, sufficiently reflected in text-books and dictionaries for the use of students. The teaching of Malay, up to the present time, has had to put up with a number of time-honoured anthologies. Some of these books date from the latter part of the 19th century, while others, more recent ones, were compiled some decades ago. In these books, as might be expected, only fragments from ancient literature, dating from centuries ago, are met with, as at the time of their publication Malay literature had not yet been stirred to new life. The most modern writer from whose books pages sometimes were taken — and this only reluctantly, because of complaints about the purity of his language — was the entertaining narrator 'Abdullah bin 'Abdu'l-Kadir, a half-cast Arab living in Malacca, a contemporary of Raffles!
Therefore, nothing is more discouraging for a person wishing to teach or to study Malay as a modern, living language than to pass in review the available Malay readers, or rather: the readers that once were available, as most of them have been out of print for many years and are hardly obtainable from second-hand bookshops.
During the war a reprint of course was impossible. In some respects this is an advantage, because otherwise a renewed use of these old books would have been obligatory, since one cannot yet order Malay books from Indonesia — if there are any left over there. Moreover, a renewed use would have reinforced the old misconception, still lingering in the minds of so many people, that although there really exists a kind kind of 'High Malay' and its offshoot the Malay language as taught in schools, whosoever forgets this high-brow stuff as soon as he is going out to the tropics, acts very wisely, because it is of no use for any practical<noinclude></noinclude>
saugkp6i9vhlix4jv560cj77x3353zk
297842
297730
2026-06-13T07:30:53Z
Link PB
26772
297842
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>PREFACE</big>}}
This anthology contains a collection of prose fragments taken from Malay books published in the last fifteen years before the war. Time for assembling them, however, was short, and owing to unfavorable conditions in this first post-war year resources were not so plentiful as they should have been, so that the choice could only be a limited one.
In writing a preface one is apt to apologize for editing 'still another anthology of the same kind'. Such apologies may be omitted here. In spite of the ever increasing number of primers, manuals and correspondence courses — all of them promising the utmost proficiency in Malay in the shortest possible time — only an alarmingly small number of appropriate books is available for studying this important Indonesian language which, as 'bahasa Indonesia', stands only at the beginning of a prospective rapid evolution.
This evolution had set in about one generation already before the war; it was not, however, sufficiently reflected in text-books and dictionaries for the use of students. The teaching of Malay, up to the present time, has had to put up with a number of time-honoured anthologies. Some of these books date from the latter part of the 19th century, while others, more recent ones, were compiled some decades ago. In these books, as might be expected, only fragments from ancient literature, dating from centuries ago, are met with, as at the time of their publication Malay literature had not yet been stirred to new life. The most modern writer from whose books pages sometimes were taken — and this only reluctantly, because of complaints about the purity of his language — was the entertaining narrator 'Abdullah bin 'Abdu'l-Kadir, a half-cast Arab living in Malacca, a contemporary of Raffles!
Therefore, nothing is more discouraging for a person wishing to teach or to study Malay as a modern, living language than to pass in review the available Malay readers, or rather: the readers that once were available, as most of them have been out of print for many years and are hardly obtainable from second-hand bookshops.
During the war a reprint of course was impossible. In some respects this is an advantage, because otherwise a renewed use of these old books would have been obligatory, since one cannot yet order Malay books from Indonesia — if there are any left over there. Moreover, a renewed use would have reinforced the old misconception, still lingering in the minds of so many people, that although there really exists a kind kind of 'High Malay' and its offshoot the Malay language as taught in schools, whosoever forgets this high-brow stuff as soon as he is going out to the tropics, acts very wisely, because it is of no use for any practical<noinclude></noinclude>
gyqu1jq5x3jyn7pv1ifc2g2ukj0w7sm
297844
297842
2026-06-13T07:32:51Z
Link PB
26772
297844
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>PREFACE</big>}}
This anthology contains a collection of prose fragments taken from Malay books published in the last fifteen years before the war. Time for assembling them, however, was short, and owing to unfavorable conditions in this first post-war year resources were not so plentiful as they should have been, so that the choice could only be a limited one.
In writing a preface one is apt to apologize for editing 'still another anthology of the same kind'. Such apologies may be omitted here. In spite of the ever increasing number of primers, manuals and correspondence courses — all of them promising the utmost proficiency in Malay in the shortest possible time — only an alarmingly small number of appropriate books is available for studying this important Indonesian language which, as 'bahasa Indonesia', stands only at the beginning of a prospective rapid evolution.
This evolution had set in about one generation already before the war; it was not, however, sufficiently reflected in text-books and dictionaries for the use of students. The teaching of Malay, up to the present time, has had to put up with a number of time-honoured anthologies. Some of these books date from the latter part of the 19th century, while others, more recent ones, were compiled some decades ago. In these books, as might be expected, only fragments from ancient literature, dating from centuries ago, are met with, as at the time of their publication Malay literature had not yet been stirred to new life. The most modern writer from whose books pages sometimes were taken — and this only reluctantly, because of complaints about the purity of his language — was the entertaining narrator 'Abdullah bin 'Abdu'l-Kadir, a half-cast Arab living in Malacca, a contemporary of Raffles!
Therefore, nothing is more discouraging for a person wishing to teach or to study Malay as a modern, living language than to pass in review the available Malay readers, or rather: the readers that once were available, as most of them have been out of print for many years and are hardly obtainable from second-hand bookshops.
During the war a reprint of course was impossible. In some respects this is an advantage, because otherwise a renewed use of these old books would have been obligatory, since one cannot yet order Malay books from Indonesia — if there are any left over there. Moreover, a renewed use would have reinforced the old misconception, still lingering in the minds of so many people, that although there really exists a kind kind of 'High Malay' and its offshoot the Malay language as taught in schools, whosoever forgets this high-brow stuff as soon as he is going out to the tropics, acts very wisely, because it is of no use for any practical<noinclude></noinclude>
9e04gwcuusqpgbgbpj4hy72ti3qifoz
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/10
104
105508
297722
2026-06-13T04:12:09Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297722
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{c|VI{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}PREFACE}}</noinclude>
purposes and one rather makes oneself ridiculous when using it in daily intercourse. And indeed, there is nothing amazing in that, when one sees the strange medley announced as 'good Malay' in popular language-courses. In stead of first studying Malay as used by contemporary writers and cultured speakers of this language, the authors of many primers unflinchingly put the Malay language on the Procrustean bed of their stubborn incompetency.
Moreover, the literature contained in those anthologies, though making excellent reading for orientalists looking for historical and ethno-logical data, as a rule was not very attractive for the general reader. When all is said, the contents of Malay chronicles, of old-world romances, of animal tales and of medieval edifying stories make only a poor introduction to present-day life and speech. A person familiar with this kind of literature in reading 'new-fanged' writings becomes painfully aware of the inadequacy of his studies. Similar difficulties are to be met with when dealing with the modernised language of newspapers and magazines, of regulations and technical explanations, as, for instance, none of the existing dictionaries, neither the Dutch nor the English ones, are up to date.
It is high time to leave the old anthologies to those who desire to make a special study of Malay literature in former times, and to make everybody in need of more than a smattering of pidgin-Malay study the modern written language and speech. This modernised Malay is the language which is used throughout the Indian Archipelago in a steadily increasing degree by the educated classes as an auxiliary language beside their own, and more and more authors of various extraction are using it in writing fiction and poetry.
Ever since Jan Huygen van Linschoten, the famous Dutch traveller, at the end of the sixteenth century compared the function of Malay with that of French in Europa, so that a man ignorant of Malay was of no account in the Indies, the Malay language has continued to be an important medium of intercourse. Beside considerations of utility, probably effective since the beginning of interinsular commerce, in the last decades the spreading of national feeling has added new momentum to the propagation of Malay, and especially so since, about 1930, the threefold slogan: one country, one nation, one language, had been unanimously accepted in nationalist circles. This new expansive force, this difference of aims, found expression in the name by which the language was called. The words 'bahasa Melayu', according to nationalist feeling, conveyed the idea of a particularism now gone by; henceforth the language was to be called 'bahasa Indonesia' as a symbol of the ideals now held in common.
It would be a serious mistake to think that these ideals are restricted to political nationalism. The most able, most conscious, most fervent champions of the 'bahasa Indonesia' are found among those who do not<noinclude></noinclude>
5sduf1vk5ibbwhmam8hjzfh4ztud6ys
297723
297722
2026-06-13T04:12:24Z
Link PB
26772
297723
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />VI{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}PREFACE</noinclude>
purposes and one rather makes oneself ridiculous when using it in daily intercourse. And indeed, there is nothing amazing in that, when one sees the strange medley announced as 'good Malay' in popular language-courses. In stead of first studying Malay as used by contemporary writers and cultured speakers of this language, the authors of many primers unflinchingly put the Malay language on the Procrustean bed of their stubborn incompetency.
Moreover, the literature contained in those anthologies, though making excellent reading for orientalists looking for historical and ethno-logical data, as a rule was not very attractive for the general reader. When all is said, the contents of Malay chronicles, of old-world romances, of animal tales and of medieval edifying stories make only a poor introduction to present-day life and speech. A person familiar with this kind of literature in reading 'new-fanged' writings becomes painfully aware of the inadequacy of his studies. Similar difficulties are to be met with when dealing with the modernised language of newspapers and magazines, of regulations and technical explanations, as, for instance, none of the existing dictionaries, neither the Dutch nor the English ones, are up to date.
It is high time to leave the old anthologies to those who desire to make a special study of Malay literature in former times, and to make everybody in need of more than a smattering of pidgin-Malay study the modern written language and speech. This modernised Malay is the language which is used throughout the Indian Archipelago in a steadily increasing degree by the educated classes as an auxiliary language beside their own, and more and more authors of various extraction are using it in writing fiction and poetry.
Ever since Jan Huygen van Linschoten, the famous Dutch traveller, at the end of the sixteenth century compared the function of Malay with that of French in Europa, so that a man ignorant of Malay was of no account in the Indies, the Malay language has continued to be an important medium of intercourse. Beside considerations of utility, probably effective since the beginning of interinsular commerce, in the last decades the spreading of national feeling has added new momentum to the propagation of Malay, and especially so since, about 1930, the threefold slogan: one country, one nation, one language, had been unanimously accepted in nationalist circles. This new expansive force, this difference of aims, found expression in the name by which the language was called. The words 'bahasa Melayu', according to nationalist feeling, conveyed the idea of a particularism now gone by; henceforth the language was to be called 'bahasa Indonesia' as a symbol of the ideals now held in common.
It would be a serious mistake to think that these ideals are restricted to political nationalism. The most able, most conscious, most fervent champions of the 'bahasa Indonesia' are found among those who do not<noinclude></noinclude>
hc5wies4j1slqibl81swlkgo7ykenua
297724
297723
2026-06-13T04:12:37Z
Link PB
26772
297724
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />VI{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}PREFACE</noinclude>
purposes and one rather makes oneself ridiculous when using it in daily intercourse. And indeed, there is nothing amazing in that, when one sees the strange medley announced as 'good Malay' in popular language-courses. In stead of first studying Malay as used by contemporary writers and cultured speakers of this language, the authors of many primers unflinchingly put the Malay language on the Procrustean bed of their stubborn incompetency.
Moreover, the literature contained in those anthologies, though making excellent reading for orientalists looking for historical and ethno-logical data, as a rule was not very attractive for the general reader. When all is said, the contents of Malay chronicles, of old-world romances, of animal tales and of medieval edifying stories make only a poor introduction to present-day life and speech. A person familiar with this kind of literature in reading 'new-fanged' writings becomes painfully aware of the inadequacy of his studies. Similar difficulties are to be met with when dealing with the modernised language of newspapers and magazines, of regulations and technical explanations, as, for instance, none of the existing dictionaries, neither the Dutch nor the English ones, are up to date.
It is high time to leave the old anthologies to those who desire to make a special study of Malay literature in former times, and to make everybody in need of more than a smattering of pidgin-Malay study the modern written language and speech. This modernised Malay is the language which is used throughout the Indian Archipelago in a steadily increasing degree by the educated classes as an auxiliary language beside their own, and more and more authors of various extraction are using it in writing fiction and poetry.
Ever since Jan Huygen van Linschoten, the famous Dutch traveller, at the end of the sixteenth century compared the function of Malay with that of French in Europa, so that a man ignorant of Malay was of no account in the Indies, the Malay language has continued to be an important medium of intercourse. Beside considerations of utility, probably effective since the beginning of interinsular commerce, in the last decades the spreading of national feeling has added new momentum to the propagation of Malay, and especially so since, about 1930, the threefold slogan: one country, one nation, one language, had been unanimously accepted in nationalist circles. This new expansive force, this difference of aims, found expression in the name by which the language was called. The words 'bahasa Melayu', according to nationalist feeling, conveyed the idea of a particularism now gone by; henceforth the language was to be called 'bahasa Indonesia' as a symbol of the ideals now held in common.
It would be a serious mistake to think that these ideals are restricted to political nationalism. The most able, most conscious, most fervent champions of the 'bahasa Indonesia' are found among those who do not<noinclude></noinclude>
qvrm6bckcnigl7arcs9pfh4vo61fyfy
297729
297724
2026-06-13T04:22:25Z
Cgjkldn
22445
297729
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|VI|PREFACE||}}</noinclude>
purposes and one rather makes oneself ridiculous when using it in daily intercourse. And indeed, there is nothing amazing in that, when one sees the strange medley announced as 'good Malay' in popular language-courses. In stead of first studying Malay as used by contemporary writers and cultured speakers of this language, the authors of many primers unflinchingly put the Malay language on the Procrustean bed of their stubborn incompetency.
Moreover, the literature contained in those anthologies, though making excellent reading for orientalists looking for historical and ethno-logical data, as a rule was not very attractive for the general reader. When all is said, the contents of Malay chronicles, of old-world romances, of animal tales and of medieval edifying stories make only a poor introduction to present-day life and speech. A person familiar with this kind of literature in reading 'new-fanged' writings becomes painfully aware of the inadequacy of his studies. Similar difficulties are to be met with when dealing with the modernised language of newspapers and magazines, of regulations and technical explanations, as, for instance, none of the existing dictionaries, neither the Dutch nor the English ones, are up to date.
It is high time to leave the old anthologies to those who desire to make a special study of Malay literature in former times, and to make everybody in need of more than a smattering of pidgin-Malay study the modern written language and speech. This modernised Malay is the language which is used throughout the Indian Archipelago in a steadily increasing degree by the educated classes as an auxiliary language beside their own, and more and more authors of various extraction are using it in writing fiction and poetry.
Ever since Jan Huygen van Linschoten, the famous Dutch traveller, at the end of the sixteenth century compared the function of Malay with that of French in Europa, so that a man ignorant of Malay was of no account in the Indies, the Malay language has continued to be an important medium of intercourse. Beside considerations of utility, probably effective since the beginning of interinsular commerce, in the last decades the spreading of national feeling has added new momentum to the propagation of Malay, and especially so since, about 1930, the threefold slogan: one country, one nation, one language, had been unanimously accepted in nationalist circles. This new expansive force, this difference of aims, found expression in the name by which the language was called. The words 'bahasa Melayu', according to nationalist feeling, conveyed the idea of a particularism now gone by; henceforth the language was to be called 'bahasa Indonesia' as a symbol of the ideals now held in common.
It would be a serious mistake to think that these ideals are restricted to political nationalism. The most able, most conscious, most fervent champions of the 'bahasa Indonesia' are found among those who do not<noinclude></noinclude>
hrshj3eb2hrdeda9cphjtfqbkowf9me
297848
297729
2026-06-13T07:43:40Z
Link PB
26772
297848
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|<small>VI|PREFACE</small>||}}</noinclude>purposes and one rather makes oneself ridiculous when using it in daily intercourse. And indeed, there is nothing amazing in that, when one sees the strange medley announced as 'good Malay' in popular language-courses. In stead of first studying Malay as used by contemporary writers and cultured speakers of this language, the authors of many primers unflinchingly put the Malay language on the Procrustean bed of their stubborn incompetency.
Moreover, the literature contained in those anthologies, though making excellent reading for orientalists looking for historical and ethno-logical data, as a rule was not very attractive for the general reader. When all is said, the contents of Malay chronicles, of old-world romances, of animal tales and of medieval edifying stories make only a poor introduction to present-day life and speech. A person familiar with this kind of literature in reading 'new-fanged' writings becomes painfully aware of the inadequacy of his studies. Similar difficulties are to be met with when dealing with the modernised language of newspapers and magazines, of regulations and technical explanations, as, for instance, none of the existing dictionaries, neither the Dutch nor the English ones, are up to date.
It is high time to leave the old anthologies to those who desire to make a special study of Malay literature in former times, and to make everybody in need of more than a smattering of pidgin-Malay study the modern written language and speech. This modernised Malay is the language which is used throughout the Indian Archipelago in a steadily increasing degree by the educated classes as an auxiliary language beside their own, and more and more authors of various extraction are using it in writing fiction and poetry.
Ever since Jan Huygen van Linschoten, the famous Dutch traveller, at the end of the sixteenth century compared the function of Malay with that of French in Europa, so that a man ignorant of Malay was of no account in the Indies, the Malay language has continued to be an important medium of intercourse. Beside considerations of utility, probably effective since the beginning of interinsular commerce, in the last decades the spreading of national feeling has added new momentum to the propagation of Malay, and especially so since, about 1930, the threefold slogan: one country, one nation, one language, had been unanimously accepted in nationalist circles. This new expansive force, this difference of aims, found expression in the name by which the language was called. The words 'bahasa Melayu', according to nationalist feeling, conveyed the idea of a particularism now gone by; henceforth the language was to be called 'bahasa Indonesia' as a symbol of the ideals now held in common.
It would be a serious mistake to think that these ideals are restricted to political nationalism. The most able, most conscious, most fervent champions of the 'bahasa Indonesia' are found among those who do not<noinclude></noinclude>
far6gmrpmpwiwc4zf8evs8qp0yrj9am
297849
297848
2026-06-13T07:44:03Z
Link PB
26772
297849
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|VI|PREFACE||}}</small></noinclude>purposes and one rather makes oneself ridiculous when using it in daily intercourse. And indeed, there is nothing amazing in that, when one sees the strange medley announced as 'good Malay' in popular language-courses. In stead of first studying Malay as used by contemporary writers and cultured speakers of this language, the authors of many primers unflinchingly put the Malay language on the Procrustean bed of their stubborn incompetency.
Moreover, the literature contained in those anthologies, though making excellent reading for orientalists looking for historical and ethno-logical data, as a rule was not very attractive for the general reader. When all is said, the contents of Malay chronicles, of old-world romances, of animal tales and of medieval edifying stories make only a poor introduction to present-day life and speech. A person familiar with this kind of literature in reading 'new-fanged' writings becomes painfully aware of the inadequacy of his studies. Similar difficulties are to be met with when dealing with the modernised language of newspapers and magazines, of regulations and technical explanations, as, for instance, none of the existing dictionaries, neither the Dutch nor the English ones, are up to date.
It is high time to leave the old anthologies to those who desire to make a special study of Malay literature in former times, and to make everybody in need of more than a smattering of pidgin-Malay study the modern written language and speech. This modernised Malay is the language which is used throughout the Indian Archipelago in a steadily increasing degree by the educated classes as an auxiliary language beside their own, and more and more authors of various extraction are using it in writing fiction and poetry.
Ever since Jan Huygen van Linschoten, the famous Dutch traveller, at the end of the sixteenth century compared the function of Malay with that of French in Europa, so that a man ignorant of Malay was of no account in the Indies, the Malay language has continued to be an important medium of intercourse. Beside considerations of utility, probably effective since the beginning of interinsular commerce, in the last decades the spreading of national feeling has added new momentum to the propagation of Malay, and especially so since, about 1930, the threefold slogan: one country, one nation, one language, had been unanimously accepted in nationalist circles. This new expansive force, this difference of aims, found expression in the name by which the language was called. The words 'bahasa Melayu', according to nationalist feeling, conveyed the idea of a particularism now gone by; henceforth the language was to be called 'bahasa Indonesia' as a symbol of the ideals now held in common.
It would be a serious mistake to think that these ideals are restricted to political nationalism. The most able, most conscious, most fervent champions of the 'bahasa Indonesia' are found among those who do not<noinclude></noinclude>
q75gaen18bcuav0r92qkrr9u3xf9kpa
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/10
104
105509
297726
2026-06-13T04:17:46Z
Menyusurisudutnegeri
25205
/* Telah diuji baca */
297726
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>{{hwe|njerang|menjerang}} kepada orang she Houyan itu, hingga dia ini lantas mendjadi kewalahan. Terpaksa dia main mundur.
Menjaksikan kawannja terantjam bahaja, Pok In Hoel dan Ma Tjoen lantas bergerak, bertindak dibelakang Nona Sim, siap-sedia untuk sembarang waktu turun tangan.
Houyan Pioe terus mundur. Ia mulai mendjadi bingung, hingga ia mundur tanpa mentjari tahu lagi dibelakangnja ada djalanan atau tidak. Lagi beberapa tindak, ia telah tiba ditepi empang. Dipihak lain Goat Hoa djuga tidak dapat melihat kedepan, karena selagi ia mendesak, matanja ditudjukan tjuma terhadap lawannja ini, Ia berkeputusan untuk dapat merobohkan musuhnja.
Adalah Pok In Hoei dan Ma Tjoen jang tahu dengan baik apa jang ada dibelakang Houyan Pioe, maka djuga si orang she Ma tidak dapat berdiam lebih lama lagi sambil berseru ia lompat kepada Goat Hoa, punggungnja ia serang.
Berbareng dengan itu, Tjio Hoa dari atas pohon lompat turun dan terus ia menjerang Nona Sim dengan panahnja, karena dia djuga hendak menolongi kawannja itu.
Dengan terpaksa Goat Hoa mesti tolong dirinja sendiri dengan menjingkir dari kedua serangan Ma Tjoen dan Tjio Hoa itu, hingga Houyan Pioe dapat bernapas, malah sebaliknja, dialah jang sekarang mentjoba membalas mendesak lawannja itu dan selang sesaat, Tong San Siang Koay jang muda ini berlompat tinggi melewati musuhnja, hingga ia mendjadi berada dibelakang musuh itu.
Sedetik kemudian, keadaan mendjadi terbalik. Sekarang adalah Goat Hoa, jang mendjadi terdesak kearah pinggiran empang. Didepannja, Houyan Pioe mendesak dengan ditundjang Pok In Hoei, Ma Tjoen dan Tjio Hoa. Jang belakangan ini mengambil tempat disamping, disebelah lain dari Soen Eng, karena keduanja siap-sedia dengan panah mereka.
Ma Tjoen girang sekali menghadapi musuh jang pasti bakal lantas buntu djalan. Ia memegang sendjata jang pandjang, maka ia dapat dari tempat djauh mendesak lawan ini sekalipun sang lawan tangguh, sebaliknja lawan itu bergegaman pedang, sendjata jang pendek. Demikian, ia segera memulai dengan rangsakannja.
Satu kali Goat Hoa ditikam iga kanannja. Ia berkelit sambil mendak, terus la memutar tubuh kekiri, sambil pedang ditangan kanannja menjontek udjung sendjata lawannja itu.<noinclude>{{rh|||193}}</noinclude>
hud6nn3kfqtm8dzn1dwlivslelor1jq
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/11
104
105510
297731
2026-06-13T04:37:38Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297731
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||PREFACE|VII|}}</noinclude>propagate this idea out of considerations of political nationalism only. Their idea of the Indonesian nation of the future does not restrict itself to political unity. It is far more comprehensive, as it is the idea of a full-grown and highly civilised nation, partaking of international spiritual intercourse and contributing to the flourishing of human culture in accordance with its own nature and abilities — quite the same ideal fostered by all of us in respect to the nation we belong to. Of this new culture the 'bahasa Indonesia' is to become the medium.
The new name gave rise to all kinds of misunderstandings and controversies. As was rightly argued by one of its ablest protagonists, the difference between Malay and 'bahasa Indonesia' does not belong to the domain of linguistic science. Bahasa Indonesia is not another language than Malay, though there is a widening gap between them; it is rather: Malay, seen from a definite point of view. According to Indonesian sentiment the difference in first instance lies in the spirit manifesting itself in these two denominations.
The science of language will continue to see in the 'bahasa Indonesia' the newest development of Malay in the Indian Archipelago, and, for the time being, it will continue the use of the name Malay to preclude ambiguity, because 'Indonesian' is a scientific term with a well-defined meaning. Nevertheless, ''verba valent usu'', and when several millions of people take the liberty of using a scientific term henceforth in a different but very definite sense, the science of language accepts this new fact and registers it as a new ''usus'' beside the old one. A similar case happened with the names Persian and Iranian. The name Persian, deriving from only one of the provinces and peoples of the land of the Lion and Sun, under the reign of Riza Shah Pahlavi had to make place for the designation Iranian, a much more comprehensive term. Linguistic science may claim priority and stick to the scientific meaning of Indonesian and Iranian, the propagandists of such new names do not ask the advice of the adepts of linguistics.
Moreover, it cannot be denied that there have been important changes since the ''peranakan''-Arab 'Abdullah enriched Malay literature with his facile reed. Just one glance at the list of authors from whose writings fragments have been taken here, suffices to convince one of that. Among them one will find writers from almost every region of the Archipelago: not only from Sumatra (Minangkabau, Mandailing, South Sumatra) but also from West and Central Java, Bali and Celebes (Makassar and Minahasa). And all of them wrote in Malay, although only in the Minahasa region people use the Malay language as a common medium of intercourse; for the others it is more or less an auxiliary language, with which they have grown familiar to such an extent that they are able to write in it, and write fluently too.
All stories which in this anthology have been taken over in part, may be called characteristic specimens of the literary genre which came to<noinclude></noinclude>
gzhsu77cfx6dho3ay5xqvwz802mdzx7
297850
297731
2026-06-13T07:44:50Z
Link PB
26772
297850
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||PREFACE|VII|}}</small></noinclude>propagate this idea out of considerations of political nationalism only. Their idea of the Indonesian nation of the future does not restrict itself to political unity. It is far more comprehensive, as it is the idea of a full-grown and highly civilised nation, partaking of international spiritual intercourse and contributing to the flourishing of human culture in accordance with its own nature and abilities — quite the same ideal fostered by all of us in respect to the nation we belong to. Of this new culture the 'bahasa Indonesia' is to become the medium.
The new name gave rise to all kinds of misunderstandings and controversies. As was rightly argued by one of its ablest protagonists, the difference between Malay and 'bahasa Indonesia' does not belong to the domain of linguistic science. Bahasa Indonesia is not another language than Malay, though there is a widening gap between them; it is rather: Malay, seen from a definite point of view. According to Indonesian sentiment the difference in first instance lies in the spirit manifesting itself in these two denominations.
The science of language will continue to see in the 'bahasa Indonesia' the newest development of Malay in the Indian Archipelago, and, for the time being, it will continue the use of the name Malay to preclude ambiguity, because 'Indonesian' is a scientific term with a well-defined meaning. Nevertheless, ''verba valent usu'', and when several millions of people take the liberty of using a scientific term henceforth in a different but very definite sense, the science of language accepts this new fact and registers it as a new ''usus'' beside the old one. A similar case happened with the names Persian and Iranian. The name Persian, deriving from only one of the provinces and peoples of the land of the Lion and Sun, under the reign of Riza Shah Pahlavi had to make place for the designation Iranian, a much more comprehensive term. Linguistic science may claim priority and stick to the scientific meaning of Indonesian and Iranian, the propagandists of such new names do not ask the advice of the adepts of linguistics.
Moreover, it cannot be denied that there have been important changes since the ''peranakan''-Arab 'Abdullah enriched Malay literature with his facile reed. Just one glance at the list of authors from whose writings fragments have been taken here, suffices to convince one of that. Among them one will find writers from almost every region of the Archipelago: not only from Sumatra (Minangkabau, Mandailing, South Sumatra) but also from West and Central Java, Bali and Celebes (Makassar and Minahasa). And all of them wrote in Malay, although only in the Minahasa region people use the Malay language as a common medium of intercourse; for the others it is more or less an auxiliary language, with which they have grown familiar to such an extent that they are able to write in it, and write fluently too.
All stories which in this anthology have been taken over in part, may be called characteristic specimens of the literary genre which came to<noinclude></noinclude>
8i8dxwu7qht8fo19fi03y1hzk5yiota
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/12
104
105511
297732
2026-06-13T04:39:06Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297732
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|VIII|PREFACE||}}</noinclude>flourish in the last twenty-five years. In all these fragments and sketches the scene is laid in an Indonesian environment; they all show something of the variegated diversity of native life as seen by Indonesian eyes.
The people's own life in former times sometimes was made the subject of stories that were chiefly narrated, but not written down. Authors as a rule did not think this subject-matter of enough importance to be treated in a literary way. Literature had a typical tinge of feodality; its most beloved subjects were the fortunes of kingdoms and the adventures of kings, nobles and legendary heroes. Further it offered a rich treasure of translated stories from far Arabia, Persia and India, which impart to Malay literature quite a definite air of cosmopolitanism. Now however, people like the author himself are chosen as the subject-matter of his stories, though legendary subjects are not eschewed completely, as appears from the fragment of the Minahassa legend of Pingkan and Matindas, committed to paper by Taulu, and from the episode taken from the Minangkabau ''hikayat Sutan Manangkèrang'', which was introduced by Nur St. Iskandar in his ''Hoeloebalang Radja'', a historical romance about the first contact of the Dutch East India Compagny with the West Coast of Sumatra.
Especially the conflicts and entanglements in native society, so numerous in our time as a result of Western influence, became favorite subjects, when after a period in which translations and adaptations from European fiction had introduced this kind of literature and had created a taste for it, authors went in search for plots and themes in their own environment.
The struggle between conservatism and progress takes place in all fields of life and assumes various forms, but none of these conflicts is so gratifying a subject for a writer as the time-honoured theme of the classical and the European novel: love. An old French definition says that novels are ''fictions d'avontures amoureuses, écrites en prose avec art, pour le plaisir et l'instruction des lecteurs.'' It is long way, leading from the prototype of all novels, the 'Aethiopian story' of Heliodore, narrating the adventures of Theagenes and Chariclea, up to the contemporary Indonesian love story, in its environment a prose composition of a thoroughly new type. Nevertheless, the definition still holds good. Just as the adventures of Chariclea and Theagenes are directed by the gods towards a happy solution, although dark influences continually try to separate them, so also the adventures of the Indonesian lovers derive their motion from the opposite powers of youthful progressiveness and conservatism trying to keep to the old 'adat'.
There is nothing amazing in the fact that in these novels the scene is laid by preference in Minangkabau, or at least in a Sumatran environment. It is true that action for the emancipation of women arose in Java at an earlier date than in Sumatra. But when the struggle had passed on to Sumatra, sentiment here ran very high, and one might surmise that here first the problem of the position of women would be<noinclude></noinclude>
28vy5utuiwfof9yl139aste9c5tq2y2
297851
297732
2026-06-13T07:45:07Z
Link PB
26772
297851
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|VIII|PREFACE||}}</small></noinclude>flourish in the last twenty-five years. In all these fragments and sketches the scene is laid in an Indonesian environment; they all show something of the variegated diversity of native life as seen by Indonesian eyes.
The people's own life in former times sometimes was made the subject of stories that were chiefly narrated, but not written down. Authors as a rule did not think this subject-matter of enough importance to be treated in a literary way. Literature had a typical tinge of feodality; its most beloved subjects were the fortunes of kingdoms and the adventures of kings, nobles and legendary heroes. Further it offered a rich treasure of translated stories from far Arabia, Persia and India, which impart to Malay literature quite a definite air of cosmopolitanism. Now however, people like the author himself are chosen as the subject-matter of his stories, though legendary subjects are not eschewed completely, as appears from the fragment of the Minahassa legend of Pingkan and Matindas, committed to paper by Taulu, and from the episode taken from the Minangkabau ''hikayat Sutan Manangkèrang'', which was introduced by Nur St. Iskandar in his ''Hoeloebalang Radja'', a historical romance about the first contact of the Dutch East India Compagny with the West Coast of Sumatra.
Especially the conflicts and entanglements in native society, so numerous in our time as a result of Western influence, became favorite subjects, when after a period in which translations and adaptations from European fiction had introduced this kind of literature and had created a taste for it, authors went in search for plots and themes in their own environment.
The struggle between conservatism and progress takes place in all fields of life and assumes various forms, but none of these conflicts is so gratifying a subject for a writer as the time-honoured theme of the classical and the European novel: love. An old French definition says that novels are ''fictions d'avontures amoureuses, écrites en prose avec art, pour le plaisir et l'instruction des lecteurs.'' It is long way, leading from the prototype of all novels, the 'Aethiopian story' of Heliodore, narrating the adventures of Theagenes and Chariclea, up to the contemporary Indonesian love story, in its environment a prose composition of a thoroughly new type. Nevertheless, the definition still holds good. Just as the adventures of Chariclea and Theagenes are directed by the gods towards a happy solution, although dark influences continually try to separate them, so also the adventures of the Indonesian lovers derive their motion from the opposite powers of youthful progressiveness and conservatism trying to keep to the old 'adat'.
There is nothing amazing in the fact that in these novels the scene is laid by preference in Minangkabau, or at least in a Sumatran environment. It is true that action for the emancipation of women arose in Java at an earlier date than in Sumatra. But when the struggle had passed on to Sumatra, sentiment here ran very high, and one might surmise that here first the problem of the position of women would be<noinclude></noinclude>
1o3uvnkccxmtjhufthg5xnj66svyyg3
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/13
104
105512
297733
2026-06-13T04:40:20Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297733
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||PREFACE|IX|}}</noinclude>treated in a novel. Interesting cases were numerous enough, and a complete sociology of Sumatra would be needed to elucidate them all. Let one example suffice.
It is a well-known fact that Minangkabau youth frequents all kinds of schools in Java. How often has it happened that a young man of good family while being abroad fell in love with a girl not belonging to his own people and refused to marry the bride already chosen for him by his relatives at home. There was the conflict, full blown, and especially so because in Minangkabau society the marriage of daughters in prominent families always has been an intricate business. So one need not wonder that the number of novels dealing with marriage-problems — and problems quite different from the hackneyed triangle relation of the European stage — is considerable. And besides proclaiming their opinion on what marriage should be, the progressive young intelligentsia does not miss the opportunity of venting all kinds of criticisms with regard to other social relations and institutions. Compulsory marriages, mixed marriages, polygamy, emancipation of women, and later also problems of wider range and more universal character as the value of traditional religion, of the Eastern view of life and work as apposed to the Western — a problem they are continually confronted with by the ever increasing impact of European civilisation upon native society — all these and many other problems find a place in Malay fiction. Neither village-stories, often with an outspoken satirical tinge, nor short humorous sketches are wanting; in both kinds writers often display a sharp eye for human foibles and follies and a remarkable gift of short and striking characterization.
To the European reader, nevertheless, many problems will appear inadequately dealt with and insufficiently thought over; he will be inclined to apply European standards and is not easily satisfied. But let him be assured: the leading men in literary criticism, protagonists of a literary renewal, apply the same standard, and their enthusiasm does not prompt a mild criticism nor does it blind them to the truth that most literary achievements fall short of their ideal.
One may point to the fact that as a rule writers do not belong to the group of university-educated men who received a complete Western schooling. Notwithstanding the ideal expressed in the slogan: one country, one nation, one language, this group, in consequence of its sustained contact with the Western sphere, lags far behind as to its proficiency in the 'bahasa Indonesia'. Even the simple manual labourer who went away from home and takes a modest place in Western industry, commerce or shipping, has a better knowledge of Malay.
Consequently those who would be most qualified to put the problems and to suggest a solution, lack the command of language which is indispensable to shape into a literary work the ideas and ideals living in the minds of the ''kaum muda'', the younger generation. And so this<noinclude></noinclude>
sd869luq33f1l1uunssm5fmf4hg47cs
297852
297733
2026-06-13T07:46:14Z
Link PB
26772
297852
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||PREFACE|IX|}}</small></noinclude>treated in a novel. Interesting cases were numerous enough, and a complete sociology of Sumatra would be needed to elucidate them all. Let one example suffice.
It is a well-known fact that Minangkabau youth frequents all kinds of schools in Java. How often has it happened that a young man of good family while being abroad fell in love with a girl not belonging to his own people and refused to marry the bride already chosen for him by his relatives at home. There was the conflict, full blown, and especially so because in Minangkabau society the marriage of daughters in prominent families always has been an intricate business. So one need not wonder that the number of novels dealing with marriage-problems — and problems quite different from the hackneyed triangle relation of the European stage — is considerable. And besides proclaiming their opinion on what marriage should be, the progressive young intelligentsia does not miss the opportunity of venting all kinds of criticisms with regard to other social relations and institutions. Compulsory marriages, mixed marriages, polygamy, emancipation of women, and later also problems of wider range and more universal character as the value of traditional religion, of the Eastern view of life and work as apposed to the Western — a problem they are continually confronted with by the ever increasing impact of European civilisation upon native society — all these and many other problems find a place in Malay fiction. Neither village-stories, often with an outspoken satirical tinge, nor short humorous sketches are wanting; in both kinds writers often display a sharp eye for human foibles and follies and a remarkable gift of short and striking characterization.
To the European reader, nevertheless, many problems will appear inadequately dealt with and insufficiently thought over; he will be inclined to apply European standards and is not easily satisfied. But let him be assured: the leading men in literary criticism, protagonists of a literary renewal, apply the same standard, and their enthusiasm does not prompt a mild criticism nor does it blind them to the truth that most literary achievements fall short of their ideal.
One may point to the fact that as a rule writers do not belong to the group of university-educated men who received a complete Western schooling. Notwithstanding the ideal expressed in the slogan: one country, one nation, one language, this group, in consequence of its sustained contact with the Western sphere, lags far behind as to its proficiency in the 'bahasa Indonesia'. Even the simple manual labourer who went away from home and takes a modest place in Western industry, commerce or shipping, has a better knowledge of Malay.
Consequently those who would be most qualified to put the problems and to suggest a solution, lack the command of language which is indispensable to shape into a literary work the ideas and ideals living in the minds of the ''kaum muda'', the younger generation. And so this<noinclude></noinclude>
iqdl5s8vyunpx58ppbbj52lqj5rpoqq
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/14
104
105513
297734
2026-06-13T04:41:35Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297734
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|X|PREFACE||}}</noinclude>task became assigned to the second levy of intellectuals who, more than the westernized upper-class, in their own environment, and perhaps in their own lives, had witnessed the struggle resulting from the impact of Western ideas. Their command of the language enabled them to write out their experience in a readable book, an achievement so far unaccomplished by university-trained men.
From this second levy also sprung the most efficient journalists, as a survey of Indonesian journalism in the past twenty-five years reveals. Journalism and writing often went together, and journalism indeed sometimes proved a passable training for story-writing. This origin of course was shown in style and diction. Higher requirements as to originality and individuality, to style and careful elaboration, were not asked for until, in the track of Western literary criticism, one began to ponder on the function and meaning of authorship and tried to define this function in view of the needs of present-day Indonesian society.
Hardly freed from the notion that to have style means: to be oneself in conformity with all others, on the other hand, it is true, they were not yet threatened by the danger of individuality ''à outrance'', whereby literature becomes the possession of the chosen few. But a real danger was in the possibility of consolidation of the idea that a certain amount of sensibility – often leading to sentimentality – in combination with a little technique suffices to create literature.
Novels are abundant in which an interesting case is depicted which is brought to a usually rather dramatic solution, in a manner not unacceptable psychologically and without too striking a contrast between the leading characters of the story. But one gets the impression that all these books are too much on the same level; seldom is there a marked progress as to the subject-matter chosen or the way it is treated.
Still, there are exceptions. Sutan Takdir Alishahbana f.i. with his ''Lajar terkembang'' unmistakably rose above his former achievements by discarding the sentimentalism of his earlier novels. In the literary monthly ''Poedjangga Baroe'', which very soon after the occupation of Java was suppressed by the Japanese authorities, this undefatigable critic pleaded for a conception of literary art summarized in the word ''pujangga''. In an earlier period of Indonesian culture, viz. in medieval Java, the ''pujangga'' was the sage-poet, interpreter of the highest values of life, which he plained to learned and unlearned alike in a style simple and profound. So also the ''pujangga'' of our times should be the guide and spiritual director of his generation, descending into the stream of its life to lend a helping hand in regulating the flow of the water.
Contrary to all those who hold that only poetical inspiration leads to attainments in this field he puts the – in his opinion neglected – fact that writing also is a ''métier'' that has to be learned, so that while writing he who has studied attentively the great masters of literary art may become a writer. In the same way Sutan Shahrir, contributing an essay on 'Literature and People' to the special edition of the ''Poedjangga Baroe''<noinclude></noinclude>
bal8ryxqvy21n3bhniinzjqmjk5l6bs
297853
297734
2026-06-13T07:46:30Z
Link PB
26772
297853
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|X|PREFACE||}}</small></noinclude>task became assigned to the second levy of intellectuals who, more than the westernized upper-class, in their own environment, and perhaps in their own lives, had witnessed the struggle resulting from the impact of Western ideas. Their command of the language enabled them to write out their experience in a readable book, an achievement so far unaccomplished by university-trained men.
From this second levy also sprung the most efficient journalists, as a survey of Indonesian journalism in the past twenty-five years reveals. Journalism and writing often went together, and journalism indeed sometimes proved a passable training for story-writing. This origin of course was shown in style and diction. Higher requirements as to originality and individuality, to style and careful elaboration, were not asked for until, in the track of Western literary criticism, one began to ponder on the function and meaning of authorship and tried to define this function in view of the needs of present-day Indonesian society.
Hardly freed from the notion that to have style means: to be oneself in conformity with all others, on the other hand, it is true, they were not yet threatened by the danger of individuality ''à outrance'', whereby literature becomes the possession of the chosen few. But a real danger was in the possibility of consolidation of the idea that a certain amount of sensibility – often leading to sentimentality – in combination with a little technique suffices to create literature.
Novels are abundant in which an interesting case is depicted which is brought to a usually rather dramatic solution, in a manner not unacceptable psychologically and without too striking a contrast between the leading characters of the story. But one gets the impression that all these books are too much on the same level; seldom is there a marked progress as to the subject-matter chosen or the way it is treated.
Still, there are exceptions. Sutan Takdir Alishahbana f.i. with his ''Lajar terkembang'' unmistakably rose above his former achievements by discarding the sentimentalism of his earlier novels. In the literary monthly ''Poedjangga Baroe'', which very soon after the occupation of Java was suppressed by the Japanese authorities, this undefatigable critic pleaded for a conception of literary art summarized in the word ''pujangga''. In an earlier period of Indonesian culture, viz. in medieval Java, the ''pujangga'' was the sage-poet, interpreter of the highest values of life, which he plained to learned and unlearned alike in a style simple and profound. So also the ''pujangga'' of our times should be the guide and spiritual director of his generation, descending into the stream of its life to lend a helping hand in regulating the flow of the water.
Contrary to all those who hold that only poetical inspiration leads to attainments in this field he puts the – in his opinion neglected – fact that writing also is a ''métier'' that has to be learned, so that while writing he who has studied attentively the great masters of literary art may become a writer. In the same way Sutan Shahrir, contributing an essay on 'Literature and People' to the special edition of the ''Poedjangga Baroe''<noinclude></noinclude>
5g22k8eb44yxq0zuni2mbi6p34cmeqf
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/15
104
105514
297735
2026-06-13T04:43:29Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297735
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||PREFACE|XI|}}</noinclude>on occasion of its fifth anniversary (1938), holds up modern realism in literature as an example to the Malay author.
I am convinced that a Malay writer may learn as much from the great masters of literary art as everybody else. But... Rome was not built in a day, and I also bear in mind the words written by Charlotte Brontë about her two sisters, both of them authors, and one of them Emily, the author of the famous novel ''Wuthering Heights'':'Neither Emily nor Anne was learned; they had no thought of filling their pitchers at the well-spring of other minds; they always wrote from the impulse of nature, the dictates of intuition, and from such stores of observation as their limited experience had enabled them to amass'.
May such writers also never be lacking in Indonesia.
{{right|G. W. J. {{smallcaps|Drewes}}.}}<noinclude></noinclude>
iucc0ebgc67ml8drdino88jatoa1lk9
297854
297735
2026-06-13T07:46:56Z
Link PB
26772
297854
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||PREFACE|XI|}}</small></noinclude>on occasion of its fifth anniversary (1938), holds up modern realism in literature as an example to the Malay author.
I am convinced that a Malay writer may learn as much from the great masters of literary art as everybody else. But... Rome was not built in a day, and I also bear in mind the words written by Charlotte Brontë about her two sisters, both of them authors, and one of them Emily, the author of the famous novel ''Wuthering Heights'':'Neither Emily nor Anne was learned; they had no thought of filling their pitchers at the well-spring of other minds; they always wrote from the impulse of nature, the dictates of intuition, and from such stores of observation as their limited experience had enabled them to amass'.
May such writers also never be lacking in Indonesia.
{{right|G. W. J. {{smallcaps|Drewes}}.}}<noinclude></noinclude>
4sc9f9pnl2sw5h7zeft2zoh3rza8vgz
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/16
104
105515
297736
2026-06-13T04:47:23Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297736
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||SPELLING||}}</noinclude>I quite agree with Winstedt (''Malay grammar'' ² p. 46) that it is desirable that there shall be uniformity in spelling as far as possible, and that it is futile for the solitary writer on Malay to pit the international scientific system against the weight of past prejudice and the current usage of two governments. Therefore, as the fragments edited in this anthology were taken from books in the spelling of romanized Malay adopted by the Netherlands-Indian government, it is this system of transliteration that has been followed here. No doubt the use of the scientific transcription would prove troublesome for English and Dutch students alike. For English students of Malay not acquainted with the Dutch transliteration, in common use throughout the Indian archipelago, the following remarks about the differences between the English and the Dutch systems will come convenient.
Vowels.
* E. ĕ = D. e, e.g. ''běsar'' = ''besar''.
* e = é, ''oleh'' = ''oléh''.
* eh, ek in final syllables = —ih, —ik (as in the English system is the case when these finals are immediately preceded by a), e.g. ''lĕbeh'' = ''lebih''; ''patek'' = ''patik''.
* yĕ in words like ''ayĕr'' is represented by i (''air'').
* u = oe, e.g. ''turun'' = ''toeroen''.
* o in final syllables = oe, e.g. ''puloh'' = ''poeloeh''.
* au, ahu = aoe, e.g. ''laut'' = ''laoet''; ''mahu'' = ''maoe''.
Consonants.
* E. j = D. dj, e.g. ''raja'' = ''radja''.
* y = j, e.g. ''raya'' = ''raja''.
* ch = tj, e.g. ''chaching'' = ''tjatjing''.
* ny = nj, e.g. ''nyawanya'' = ''njawanja''.
* hamzah as an alternative to final k, indicating the glottal check, is usually written k, e.g. ''dato' '' = ''datoek''; ''ĕnche' '' = ''entjik'', but in a few words, as f.i. ''tak'', ''kak'', ''oeak'', both spellings are used indiscriminately.
In words deriving from the Arabic
* th will be found represented by s, e.g. ''thalju'' = ''saldjoe'', snow;
* kh by ch or k, e.g. ''khabar'' = ''chabar, kabar'';
* sh by sj or s, e.g. ''shahid'' = ''sjahid''; ''sharat'' = ''sarat, sjarat''.
* dz in the English transliteration represents Arabic ''dzāl'', ''dād'' and ''zā' ''; in the Dutch system, however, Arab. ''dzāl'' is represented by z, d, or dj, e.g. ''dzat'' = ''zat''; ''dzikir'' = ''dikir''; ''idzin'' = ''idjin, idin''; Arab. ''dād'' = d or l, e.g. ''daroerat, rila (réla)''; Arab. ''zā' '' = l, e.g. ''lalim, lohor''.<noinclude></noinclude>
nrh0c2ux275g7ycbax680sukp9j9tzb
297739
297736
2026-06-13T04:48:08Z
Link PB
26772
297739
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||SPELLING||}}</noinclude>I quite agree with Winstedt (''Malay grammar'' ² p. 46) that it is desirable that there shall be uniformity in spelling as far as possible, and that it is futile for the solitary writer on Malay to pit the international scientific system against the weight of past prejudice and the current usage of two governments. Therefore, as the fragments edited in this anthology were taken from books in the spelling of romanized Malay adopted by the Netherlands-Indian government, it is this system of transliteration that has been followed here. No doubt the use of the scientific transcription would prove troublesome for English and Dutch students alike. For English students of Malay not acquainted with the Dutch transliteration, in common use throughout the Indian archipelago, the following remarks about the differences between the English and the Dutch systems will come convenient.
Vowels.
E. ĕ = D. e, e.g. ''běsar'' = ''besar''.
: e = é, ''oleh'' = ''oléh''.
: eh, ek in final syllables = —ih, —ik (as in the English system is the case when these finals are immediately preceded by a), e.g. ''lĕbeh'' = ''lebih''; ''patek'' = ''patik''.
: yĕ in words like ''ayĕr'' is represented by i (''air'').
: u = oe, e.g. ''turun'' = ''toeroen''.
: o in final syllables = oe, e.g. ''puloh'' = ''poeloeh''.
: au, ahu = aoe, e.g. ''laut'' = ''laoet''; ''mahu'' = ''maoe''.
Consonants.
: E. j = D. dj, e.g. ''raja'' = ''radja''.
: y = j, e.g. ''raya'' = ''raja''.
: ch = tj, e.g. ''chaching'' = ''tjatjing''.
: ny = nj, e.g. ''nyawanya'' = ''njawanja''.
: hamzah as an alternative to final k, indicating the glottal check, is usually written k, e.g. ''dato' '' = ''datoek''; ''ĕnche' '' = ''entjik'', but in a few words, as f.i. ''tak'', ''kak'', ''oeak'', both spellings are used indiscriminately.
In words deriving from the Arabic
: th will be found represented by s, e.g. ''thalju'' = ''saldjoe'', snow;
: kh by ch or k, e.g. ''khabar'' = ''chabar, kabar'';
: sh by sj or s, e.g. ''shahid'' = ''sjahid''; ''sharat'' = ''sarat, sjarat''.
: dz in the English transliteration represents Arabic ''dzāl'', ''dād'' and ''zā' ''; in the Dutch system, however, Arab. ''dzāl'' is represented by z, d, or dj, e.g. ''dzat'' = ''zat''; ''dzikir'' = ''dikir''; ''idzin'' = ''idjin, idin''; Arab. ''dād'' = d or l, e.g. ''daroerat, rila (réla)''; Arab. ''zā' '' = l, e.g. ''lalim, lohor''.<noinclude></noinclude>
6usxz4p5sriaey4oscoe3zwypt0dohb
297745
297739
2026-06-13T04:48:52Z
Link PB
26772
297745
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||SPELLING||}}</noinclude>I quite agree with Winstedt (''Malay grammar'' {{2}} p. 46) that it is desirable that there shall be uniformity in spelling as far as possible, and that it is futile for the solitary writer on Malay to pit the international scientific system against the weight of past prejudice and the current usage of two governments. Therefore, as the fragments edited in this anthology were taken from books in the spelling of romanized Malay adopted by the Netherlands-Indian government, it is this system of transliteration that has been followed here. No doubt the use of the scientific transcription would prove troublesome for English and Dutch students alike. For English students of Malay not acquainted with the Dutch transliteration, in common use throughout the Indian archipelago, the following remarks about the differences between the English and the Dutch systems will come convenient.
Vowels.
E. ĕ = D. e, e.g. ''běsar'' = ''besar''.
: e = é, ''oleh'' = ''oléh''.
: eh, ek in final syllables = —ih, —ik (as in the English system is the case when these finals are immediately preceded by a), e.g. ''lĕbeh'' = ''lebih''; ''patek'' = ''patik''.
: yĕ in words like ''ayĕr'' is represented by i (''air'').
: u = oe, e.g. ''turun'' = ''toeroen''.
: o in final syllables = oe, e.g. ''puloh'' = ''poeloeh''.
: au, ahu = aoe, e.g. ''laut'' = ''laoet''; ''mahu'' = ''maoe''.
Consonants.
: E. j = D. dj, e.g. ''raja'' = ''radja''.
: y = j, e.g. ''raya'' = ''raja''.
: ch = tj, e.g. ''chaching'' = ''tjatjing''.
: ny = nj, e.g. ''nyawanya'' = ''njawanja''.
: hamzah as an alternative to final k, indicating the glottal check, is usually written k, e.g. ''dato' '' = ''datoek''; ''ĕnche' '' = ''entjik'', but in a few words, as f.i. ''tak'', ''kak'', ''oeak'', both spellings are used indiscriminately.
In words deriving from the Arabic
: th will be found represented by s, e.g. ''thalju'' = ''saldjoe'', snow;
: kh by ch or k, e.g. ''khabar'' = ''chabar, kabar'';
: sh by sj or s, e.g. ''shahid'' = ''sjahid''; ''sharat'' = ''sarat, sjarat''.
: dz in the English transliteration represents Arabic ''dzāl'', ''dād'' and ''zā' ''; in the Dutch system, however, Arab. ''dzāl'' is represented by z, d, or dj, e.g. ''dzat'' = ''zat''; ''dzikir'' = ''dikir''; ''idzin'' = ''idjin, idin''; Arab. ''dād'' = d or l, e.g. ''daroerat, rila (réla)''; Arab. ''zā' '' = l, e.g. ''lalim, lohor''.<noinclude></noinclude>
bd8pdk5rri2we16z9mf5l888c2ls4nh
297843
297745
2026-06-13T07:31:28Z
Link PB
26772
297843
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>SPELLING</big>}}
I quite agree with Winstedt (''Malay grammar'' {{2}} p. 46) that it is desirable that there shall be uniformity in spelling as far as possible, and that it is futile for the solitary writer on Malay to pit the international scientific system against the weight of past prejudice and the current usage of two governments. Therefore, as the fragments edited in this anthology were taken from books in the spelling of romanized Malay adopted by the Netherlands-Indian government, it is this system of transliteration that has been followed here. No doubt the use of the scientific transcription would prove troublesome for English and Dutch students alike. For English students of Malay not acquainted with the Dutch transliteration, in common use throughout the Indian archipelago, the following remarks about the differences between the English and the Dutch systems will come convenient.
Vowels.
E. ĕ = D. e, e.g. ''běsar'' = ''besar''.
: e = é, ''oleh'' = ''oléh''.
: eh, ek in final syllables = —ih, —ik (as in the English system is the case when these finals are immediately preceded by a), e.g. ''lĕbeh'' = ''lebih''; ''patek'' = ''patik''.
: yĕ in words like ''ayĕr'' is represented by i (''air'').
: u = oe, e.g. ''turun'' = ''toeroen''.
: o in final syllables = oe, e.g. ''puloh'' = ''poeloeh''.
: au, ahu = aoe, e.g. ''laut'' = ''laoet''; ''mahu'' = ''maoe''.
Consonants.
: E. j = D. dj, e.g. ''raja'' = ''radja''.
: y = j, e.g. ''raya'' = ''raja''.
: ch = tj, e.g. ''chaching'' = ''tjatjing''.
: ny = nj, e.g. ''nyawanya'' = ''njawanja''.
: hamzah as an alternative to final k, indicating the glottal check, is usually written k, e.g. ''dato' '' = ''datoek''; ''ĕnche' '' = ''entjik'', but in a few words, as f.i. ''tak'', ''kak'', ''oeak'', both spellings are used indiscriminately.
In words deriving from the Arabic
: th will be found represented by s, e.g. ''thalju'' = ''saldjoe'', snow;
: kh by ch or k, e.g. ''khabar'' = ''chabar, kabar'';
: sh by sj or s, e.g. ''shahid'' = ''sjahid''; ''sharat'' = ''sarat, sjarat''.
: dz in the English transliteration represents Arabic ''dzāl'', ''dād'' and ''zā' ''; in the Dutch system, however, Arab. ''dzāl'' is represented by z, d, or dj, e.g. ''dzat'' = ''zat''; ''dzikir'' = ''dikir''; ''idzin'' = ''idjin, idin''; Arab. ''dād'' = d or l, e.g. ''daroerat, rila (réla)''; Arab. ''zā' '' = l, e.g. ''lalim, lohor''.<noinclude></noinclude>
bke6htcyd6sp3w4mbusdsmbbnmsyogs
Pengguna:Rafipahrezi
2
105516
297737
2026-06-13T04:47:42Z
Rafipahrezi
27243
←Membuat halaman berisi 'Halo, saya Rafi.'
297737
wikitext
text/x-wiki
Halo, saya Rafi.
3067cydt2w3yow4w3x6kuuwsffk9py1
297744
297737
2026-06-13T04:48:46Z
Rafipahrezi
27243
297744
wikitext
text/x-wiki
Halo, saya Rafi. Saya tertarik dalam digitalisasi arsip.
fzksz72hxpu8rgz95cwv1gx151qux20
Pengguna:ArmandDitto
2
105517
297738
2026-06-13T04:47:42Z
ArmandDitto
27230
←Membuat halaman berisi 'Hi Everyone'
297738
wikitext
text/x-wiki
Hi Everyone
ofzhmnmyl957besbmbxv5ioalfra881
Pengguna:Adzka Fatiyah
2
105518
297740
2026-06-13T04:48:13Z
Adzka Fatiyah
27241
←Membuat halaman berisi 'Pengguna ini adalah peserta Lokakarya Wikisumber di Perpustakaan H.B. Jassin'
297740
wikitext
text/x-wiki
Pengguna ini adalah peserta Lokakarya Wikisumber di Perpustakaan H.B. Jassin
2ngcnbi96w4spn070jy6x80qwu2uoc7
297749
297740
2026-06-13T04:50:49Z
Adzka Fatiyah
27241
297749
wikitext
text/x-wiki
Pengguna ini adalah peserta Lokakarya Wikisumber "Merawat Naskah Historis di Wikisource" di Perpustakaan H.B. Jassin
lc8hvp2qmql2qdxovn2383ffvnd0qts
Pengguna:Aditajeng
2
105519
297741
2026-06-13T04:48:20Z
Aditajeng
27244
←Membuat halaman berisi 'Berkiprah di riset seni-budaya, termasuk film, kuliner, dan psikologi media'
297741
wikitext
text/x-wiki
Berkiprah di riset seni-budaya, termasuk film, kuliner, dan psikologi media
mc6yo461z9n8djhafhpsukduybdpzta
Pengguna:Reginashalsa
2
105520
297742
2026-06-13T04:48:28Z
Reginashalsa
27239
←Membuat halaman berisi 'Halo saya Regina, peserta lokakarya Wikisource.'
297742
wikitext
text/x-wiki
Halo saya Regina, peserta lokakarya Wikisource.
6xb43mu8gm2gfa57a4pk1xhtu5mcreg
Pengguna:Andika Budiman
2
105521
297743
2026-06-13T04:48:37Z
Andika Budiman
27242
←Membuat halaman berisi 'Halo, salam kenal! Semoga di sini anda menjumpai pengetahuan yang Anda butuhkan.'
297743
wikitext
text/x-wiki
Halo, salam kenal! Semoga di sini anda menjumpai pengetahuan yang Anda butuhkan.
r2clkhy684qot13uh96dzfreioqr3az
297746
297743
2026-06-13T04:48:59Z
Andika Budiman
27242
297746
wikitext
text/x-wiki
Halo, salam kenal! Semoga di sini Anda menjumpai pengetahuan yang dibutuhkan.
5i8ro5ixi2mks1aul8xxmcpv57jrpmy
Pengguna:Cristina Gelora
2
105522
297747
2026-06-13T04:49:42Z
Cristina Gelora
27235
←Membuat halaman berisi 'Halo!'
297747
wikitext
text/x-wiki
Halo!
ord3itmwwxu97680prl7zpnb50evsya
297750
297747
2026-06-13T04:50:59Z
Cristina Gelora
27235
297750
wikitext
text/x-wiki
Halo!
Perjalanan dimulai di sini.
ipxi55vx9q0r89r472uejp54fqrmdbi
Pengguna:Gesha Mahendra
2
105523
297748
2026-06-13T04:50:39Z
Gesha Mahendra
27238
←Membuat halaman berisi 'Perkenalkan Saya Gesha, yang sedang mengerjakan proyek Digitalisasi Kakawin Jawa Kuno'
297748
wikitext
text/x-wiki
Perkenalkan Saya Gesha, yang sedang mengerjakan proyek Digitalisasi Kakawin Jawa Kuno
drdbuodzoi1gud7kmh3srol53hnoq91
Pengguna:R.D.Sihombing
2
105524
297752
2026-06-13T04:51:56Z
R.D.Sihombing
27245
←Membuat halaman berisi 'Lokakarya wikisource di Perpustakaan HB Jassin'
297752
wikitext
text/x-wiki
Lokakarya wikisource di Perpustakaan HB Jassin
j9syj1keoko4soqto1vxcrlcyc7st9b
Pengguna:Fajriaty Jamiyl
2
105525
297753
2026-06-13T04:51:58Z
Fajriaty Jamiyl
27237
←Membuat halaman berisi 'Hai, aku yati.'
297753
wikitext
text/x-wiki
Hai, aku yati.
r5z6s7ybptat4e6ducznony41ylmpfk
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/17
104
105526
297754
2026-06-13T04:52:40Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297754
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{C|<big>GOERAU SENDA DI I SAWAL</big>}}
{{C|ORANG JANG SOEDAH BER'OEMOER DALAM POEASA}}
Soetan Padoeka, seorang kepala ''koeria'', jang soedah moelaï beroeban, gandjil 'adatnja dalam poeasa. Baharoe sadja lepas lohor, ia tidak bangkit-bangkit lagi dari koersi pandjangnja dan siapa sadja jang laloe, ia menanjakan poekoel berapa hari.
Pada soeatoe petang Soetan Padoeka ''terbadai'' dikoersi pandjangnja. Dimoeka roemah laloe seorang laki-laki, jang berkopiah poetih.
"Poekoel berapa sekarang, ''Lebai Sjoekoer?'' " bertanja Soetan Padoeka. Orang itoe menéngok kelangit, laloe mendjawab: "Saja rasa poekoel tengah tiga, engkoe".
"Apa...? poekoel tengah tiga...? Lebai kepa... kepoejoek kamoe ini. Adakah patoet poekoel tengah tiga sekarang? Barangkali engkau tidak poeasa. Djangan laloe-laloe kalau begitoe dimoeka roemahkoe".
Lebai Sjoekoer meneroeskan perdjalanannja sambil tersenjoem-senjoem. Tiada berapa djaoeh ia bertemoe dengan Pa' Djamali.
"Mengapa engkau tertawa-tawa ini?" bertanja Pa' Djamali.
"Radja kita telah maboek poeasa agaknja. Beliau marah-marah kepadakoe", kata Lebai Sjoekoer, laloe mentjeriterakan halnja.
"Biar akoe laloe poela dimoeka roemahnja, akoe tahoe 'akal", kata Pa' Djamali, laloe pergi.
"Poekoel berapa sekarang, Pa' Djamali?" bertanja Soetan Padoeka.
"Saja rasa soedah léwat poekoel 5, engkoe!" djawab Pa' Djamali sambil menéngok kebarat.
"Itoe bagoes...," kata Soetan Padoeka dengan amat riang, sambil berdiri dari koersinja. "Berboeka poeasa disini sadja petang ini Pa' Djamali, akoe baroe dapat kiriman ''seteroep'' dan koerma nomor satoe dari Médan".
"Terima kasih banjak engkoe, biarlah saja berboeka diroemah sadja".
"Ah, mengapa begitoe...? Djika begitoe rokok ini sadja ambil, kalau ta' soeka berboeka disini", kata Soetan Padoeka, sambil memberikan tjeroetoe tiga batang.
"Makan tangan..., mengisap tjeroetoe si bangsat petang ini", kata Pa' Djamali dengan tersenjoem, laloe menjamboot tjeroetoe itoe.
{{C|TJERAI DALAM POEASA}}
Si Léngkong, lebih hébat poela kelakoëannja djika poeasa. Baharoe sadja ia bangoen pagi — biasanja poekoel 8 atau 9 — isterinja teroes diganggoenja dengan bermatjam-matjam pertanjaan: Apa goelai kita nanti? Apa peboekaan? Apa goelai reboesnja dan apa sambalnja?
Baharoe sadja lepas lohor, kerdjanja ta' lain lagi, melainkan poelang balik sadja kedapoer. Periksa perioek ini, téngok perioek itoe dan sebentar-sebentar mengomél mengatakan goelai ini koerang koeahnja, sambal itoe koerang mersik d.l.l.<noinclude>{{rh|I|||}}</noinclude>
2gtvj380jgju8603dno4vxuietcvrg5
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/18
104
105527
297755
2026-06-13T04:57:40Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297755
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|2|GOERAU SENDA DI I SAWAL||}}</noinclude>Sekali ia mengomél perkara pengat: "Pengat ini koerang manis", katanja sambil mengatjau-ngatjau pengat itoe.
"Bagaimana awak tahoe koerang manis, 'kan beloem ditjoba?" djawab isterinja, jang soedah moelaï merasa bising melihat kelakoean soeaminja.
"Biarpoen beloem koetjoba, akoe tahoe koerang manis, sebab koeahnja koerang mérah roepanja".
"Dasar goelanja demikian", djawab isterinja.
"Dimana poela ada goela Djawa jang poetih, goela Djawa selamanja mérah. Kausangka akoe bodoh, tidak mengenal goela?"
Isterinja, jang selaloe ditjoméli itoe, moelaï meradang, lebih-lebih karena dilitak poeasa. "Kalau ta' manis ta' oesah makan nanti. Enak makan, tidak tinggalkan", katanja.
"Adakah patoet kau berkata begitoe, boekankah akoe jang pajah mentjari? Koelémparkan nanti perioek pengat ini keke...", kata si Léngkong dengan menghardik-hardik.
"Hé, kalau ta' koeasa djangan poeasa", djawab isterinja sambil meloedah-loedah.
"Apa ta' koeasa? Menerdjangkan kau akoe lagi koeasa", kata si Léngkong dengan sikap jang mengantjam.
"Akoe ta' soeka diterdjang-terdjang, akoe ini boekan boedak belian, kalau ta' senang melihat akoe, tjeraikan akoe...", kata isterinja.
"Tjerai? kau hendak tjerai? Sekarang djoega kau akoe tjeraikan. Lekas njah dari sini", kata si Léngkong sambil menampar dinding.
Isterinjapoen mengambil oendoeng-oendoengnja laloe toeroen, meninggalkan perkakas dapoer berkaparan.
Waktoe magrib si Léngkong berboeka sendiri. Pengat tadi itoe ditjobanja, betoel manis rasanja, sebab itoe moelaïlah terbit sesalnja.
Lepas sembahjang 'isja isterinja datang dengan tiga orang kawannja. Ia meminta soepaja barang-barang pentjaharian méréka itoe dibagi doea.
"Baik, akoepoen tidak hendak harta orang", kata si Léngkong.
Sesoedah dibagi ini, dibagi itoe, tinggallah lagi sebatang kasoer, seboeah koeali dan seboeah peti, jang tidak dapat dibagi, sebab satoe sadja tiap-tiap matjam.
"Ambillah oentoek toean koeali dan peti itoe, oentoek saja kasoer ini", kata isterinja.
"Siapa maoe begitoe?" djawab si Léngkong.
"Kalau begitoe oentoek toeanlah kasoer ini, oentoek saja koeali dan peti itoe", kata isterinja.
"Begitoepoen akoe tidak soeka", djawab si Léngkong.
"Djadi bagaimana hendaknja?" bertanja kawan isterinja mentjampoeri perkara itoe.
"Koeali itoe dibelah doea, kasoer ini dipotong dan peti itoe sebelah seorang", kata si Léngkong.
"Ambillah kepada toean semoeandja. Sajang barang-barang itoe diroesakkan", kata isterinja.<noinclude></noinclude>
8rgsowe15850rqekfqhfoia2hn0ymq0
297855
297755
2026-06-13T07:47:25Z
Link PB
26772
297855
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|2|GOERAU SENDA DI I SAWAL||}}</small></noinclude>Sekali ia mengomél perkara pengat: "Pengat ini koerang manis", katanja sambil mengatjau-ngatjau pengat itoe.
"Bagaimana awak tahoe koerang manis, 'kan beloem ditjoba?" djawab isterinja, jang soedah moelaï merasa bising melihat kelakoean soeaminja.
"Biarpoen beloem koetjoba, akoe tahoe koerang manis, sebab koeahnja koerang mérah roepanja".
"Dasar goelanja demikian", djawab isterinja.
"Dimana poela ada goela Djawa jang poetih, goela Djawa selamanja mérah. Kausangka akoe bodoh, tidak mengenal goela?"
Isterinja, jang selaloe ditjoméli itoe, moelaï meradang, lebih-lebih karena dilitak poeasa. "Kalau ta' manis ta' oesah makan nanti. Enak makan, tidak tinggalkan", katanja.
"Adakah patoet kau berkata begitoe, boekankah akoe jang pajah mentjari? Koelémparkan nanti perioek pengat ini keke...", kata si Léngkong dengan menghardik-hardik.
"Hé, kalau ta' koeasa djangan poeasa", djawab isterinja sambil meloedah-loedah.
"Apa ta' koeasa? Menerdjangkan kau akoe lagi koeasa", kata si Léngkong dengan sikap jang mengantjam.
"Akoe ta' soeka diterdjang-terdjang, akoe ini boekan boedak belian, kalau ta' senang melihat akoe, tjeraikan akoe...", kata isterinja.
"Tjerai? kau hendak tjerai? Sekarang djoega kau akoe tjeraikan. Lekas njah dari sini", kata si Léngkong sambil menampar dinding.
Isterinjapoen mengambil oendoeng-oendoengnja laloe toeroen, meninggalkan perkakas dapoer berkaparan.
Waktoe magrib si Léngkong berboeka sendiri. Pengat tadi itoe ditjobanja, betoel manis rasanja, sebab itoe moelaïlah terbit sesalnja.
Lepas sembahjang 'isja isterinja datang dengan tiga orang kawannja. Ia meminta soepaja barang-barang pentjaharian méréka itoe dibagi doea.
"Baik, akoepoen tidak hendak harta orang", kata si Léngkong.
Sesoedah dibagi ini, dibagi itoe, tinggallah lagi sebatang kasoer, seboeah koeali dan seboeah peti, jang tidak dapat dibagi, sebab satoe sadja tiap-tiap matjam.
"Ambillah oentoek toean koeali dan peti itoe, oentoek saja kasoer ini", kata isterinja.
"Siapa maoe begitoe?" djawab si Léngkong.
"Kalau begitoe oentoek toeanlah kasoer ini, oentoek saja koeali dan peti itoe", kata isterinja.
"Begitoepoen akoe tidak soeka", djawab si Léngkong.
"Djadi bagaimana hendaknja?" bertanja kawan isterinja mentjampoeri perkara itoe.
"Koeali itoe dibelah doea, kasoer ini dipotong dan peti itoe sebelah seorang", kata si Léngkong.
"Ambillah kepada toean semoeandja. Sajang barang-barang itoe diroesakkan", kata isterinja.<noinclude></noinclude>
ixwv3z7hcbert2inpq2ty0gujzrd25g
Halaman:Horison 06 1972.pdf/4
104
105528
297756
2026-06-13T05:00:02Z
Bada1828
27236
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Navis Dalam Dua Muka UMAR JUNUS A.A. NAVIS mulai dikenal dalam kehidupan ‘sastra dengan antoloji cherpennya "Robobnya Surau Kami’ (Bukittinggi. 1956), dan terutama oleh cherpennya yang berjudul sama, yang mungkin diartikan orang sebagai se- dikit berunsur negatif tentang perkembangan Islam, Dan karena itu, Jassin dalam '''Heboh ’Sastra’ 1968''', menchoba membandingkan cherpen '''Langit Makin Mendung''' dari Xi Pandjikusmin dengan cherpen ini....
297756
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Bada1828" /></noinclude>Navis
Dalam Dua Muka
UMAR JUNUS
A.A. NAVIS mulai dikenal dalam kehidupan ‘sastra
dengan antoloji cherpennya "Robobnya Surau Kami’
(Bukittinggi. 1956), dan terutama oleh cherpennya yang
berjudul sama, yang mungkin diartikan orang sebagai se-
dikit berunsur negatif tentang perkembangan Islam, Dan
karena itu, Jassin dalam '''Heboh ’Sastra’ 1968''', menchoba
membandingkan cherpen '''Langit Makin Mendung''' dari
Xi Pandjikusmin dengan cherpen ini.
Sebenarnya, dalam cherpen ini, sechara penuh hu-
mour, Navis menchoba mengatakan bagaimana tidak be-
sarnya pandangan keislaman seseorang dengan hanya
menghabiskan masa dengan berbuat ibadat dan tidak ingio
mengambil bagian dalam bagian kebidupan dunia, Me-
reka adatah orang’ yang egois yang hanya mementingkan
Kesenangan disorga, tapi tidak ingin membangun dunia
yang lebih baik.
Begitutah, kalau orang berbichara tenta.g Navis
dalam Robohnya Surau Kami hanya menekankan Navis
dengan cherpen yang berjudul sama itu, Tidak ada per-
hatian yang sungguh’ diberikan kepada cherpen Iain yang
terdapat dalam antoloji, yang mungkin membawa suatu
persoalan yang menurut saya jauh lebih penting, menyang
kut keagamaan dan kemanusiaan, suatu’ persoalan yang
tdak mungkin diselesaikan dengan mudah. Cherpen itu
jalah Datangnya dan Perginya,
Cherpen ini bercherita tentang seorang ayah,. yang
Karena kematian isteri terchintanya, tidak dapat mene-
mui isteri pengganti yang sama dengan jsteri yang telah
meninggal. Karena itu, ia tiap sebentar kawin dan cherai,
ningga akhirnya bosan, Dan mulailah ia menohari hibur-
an pada pelachur’, hingga ia satu Kali tertangkap basah
cleh anaknya. Mesri, yang sudah berangkat dewasa. Anak
nya kemudian lari darinya dan semenjak itu terputustah
hubungannya dengan anaknya. Ja kemudian menyesal ka
rena telah menyiayiakan kehidupan Masri dan merasa
betul’ berdosa. Dan dosanya tidak sampai sekian saja.
Salah sotu isteri yang pernah dicheraikannya. ternyata
mengandung ketika dicheraikannya, dan ini tidak diketa-
huinya, Anak ini seorang perempuan, Arni, dan ternyata
Kemudian mendjadi isteri dari Masci dan keduanya hidup
berbahagia dan punya anak.
Cherpen ini dimulai' dengan cherita siayah yang da-
Jom perjalanan kereta api menuju ketempat Masri, sesuai
dengan isi surat Masri yang baru diterimanya bebcrapa
hari terdahulu..Akhirnya, tanpa memberitahu anaknya
*
akan kedatangannya, sampai kealamat rumah anaktya, Dan
sesuai dengan cherita, sianak suami isteri dan anak’ me-
reka tak ada dirumah, Yang ada dicumah isla ibu Arni,
yang pada mulanya tidak dikenalnya sebagai bekas isteri-
nya. Dan dari ibu Arnitah diketahuinya bahwa Masti te-
Joh kawin dengan saudaranya sendiri, saudara _seayah,
karena Arni adalah anak sang ayah pula: Dan siibu me-
nyuruh si ayah memilih dua alternatif. Mereka dapat
membukakan rabasia mereka dengan akibatnye rumah
tangga Masri-Arni yang bahagia akan hanchur, Ini kalou
mereka tidak mau berdosa dan tidak ingin membiarkan
suatu dosa berlaku. Atau mereka membiarkan mereka ti-
dak tahu bahwa mereka bersaudara. Segala dosa mereka
tanggung sendiri, mereka pectanggung jawabkan sendiri
kepada Tuhan, sebagai usaha mereka untuk menebus do-
sa yang telah mereka perbuat kepada anak’ mereka sen-
diri, Sang ayah memilih alternatif kedua dengan tidak
jadi berjumpa dengan anaknya sendiri-
Begitulah, disini dapat kita lihat dua pertimbangan,
pertimbangan keagamaan dan pertimbangan kemanusiaan.
Pertitbangan keagamaan tidak akan membiarkan berla-
kunya setiap dosa, walaupun akibatnya akan meoghan-
churkan kebahagiaan orang. Halnya berbeda dengan per-
tmbangan kemanusiaan. dimana kebahagiaan seseorang
lebih penting, Orang lebih takut berbuat dosa kepada ma-
nusia daripada kepada Tuhan. Dan ternyata dalam cher-
pen ini Navis telah mengambil pertimbangan kemanusia-
an dengan menanggungsegala dosa atas berlakunya se-
buah dosa daripada membiarkan hanchurnya sebuah ke-
bahagiaan.
Sama juga halnya dengan Robohnya Surau Kami,
maka cherpen ini dapat dilihat oleh orang’ yang demikian
terikat dengan moral keagamaan akan melihat sebagai
cherpen yaog negatif,
Tapi dalanv tahun, 1967 torbit novel Navis Kemarau.
Novet ini terlihat menggabungkan peisoalan yang terda-
pat dalam kedua cherpen tadi dengan suatu sikap yang
terlainan, yang lebih positif bersifat keagamaan. Kalau
calam Robohnya Suran Kami-kita dihadapkan- dengan
tokoh agama yang negatif, seorang garin, maka dalam
novel ini seorang tokoh agama yang positif, yang berna-
ma Sutan Duano, Ia-bukan tukang doa. Ia adalah orang
yang berusaha dan menggunakan pikiran. Ta tidak mene-
rima sedekah orang hahkan ia yang selalu memberikan
bantuan material kepada orang’ yang benar’ memerlukan
HORISON / 164<noinclude></noinclude>
qmtf848ocsjqrhz3en0y9wlbyuufsyx
297811
297756
2026-06-13T06:43:38Z
Bada1828
27236
/* Telah diuji baca */
297811
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bada1828" /></noinclude>{{X-larger|
'''Navis Dalam Dua Muka'''}}
UMAR JUNUS
{{Gambar hilang}}
A.A. NAVIS mulai dikenal dalam kehidupan ‘sastra dengan antoloji cherpennya 'Robohnya Surau Kami' (Bukittinggi. 1956), dan terutama oleh cherpennya yang berjudul sama, yang mungkin diartikan orang sebagai sedikit berunsur negatif tentang perkembangan Islam, Dan karena itu, Jassin dalam '''Heboh ’Sastra’ 1968''', menchoba membandingkan cherpen '''Langit Makin Mendung''' dari Ki Pandjikusmin dengan cherpen ini.
Sebenarnya, dalam cherpen ini, sechara penuh humour, Navis menchoba mengatakan bagaimana tidak besarnya pandangan keislaman seseorang dengan hanya menghabiskan masa dengan berbuat ibadat dan tidak ingin mengambil bagian dalam bagian kebidupan dunia. Mereka adalah orang² yang egois yang hanya mementingkan Kesenangan disorga, tapi tidak ingin membangun dunia yang lebih baik.
Begitulah, kalau orang berbichara tentang Navis dalam '''Robohnya Surai Kami''' hanya menekankan Navis dengan cherpen yang berjudul sama itu. Tidak ada perhatian yang sungguh² diberikan kepada cherpen lain yang terdapat dalam antoloji, yang mungkin membawa suatu persoalan yang menurut saya jauh lebih penting, menyangkut keagamaan dan kemanusiaan, suatu persoalan yang tidak mungkin diselesaikan dengan mudah. Cherpen itu jalah '''Datangnya dan Perginya'''.
Cherpen inibercherita tentang seorang ayah, yang karena kematian isteri terchintanya, tidak dapat menemui isteri pengganti yang sama dengan isteri yang telah meninggal. Karena itu, ia tiap sebentar kawin dan cherai, hingga akhirnya bosan. Dan mulailah ia menchari hiburan pada pelachur², hingga ia satu kali tertangkap basah oleh anaknya, Masri, yang sudah berangkat dewasa. Anaknya kemudian lari darinya dan semenjak itu terputuslah hubungannya dengan anaknya. Ia kemudian menyesal karena telah menyiayiakan kehidupan Masri dan merasa betul² berdosa. Dan dosanya tidak sampai sekian saja. Salah satu isteri yang pernah dicheraikannya, ternyata mengandung ketika dicheraikannya, dan ini tidak diketahuinya. Anak ini seorang perempuan, Arni, dan ternyata kemudian mendjadi isteri dari Masri dan keduanya hidup berbahagia dan punya anak.
Cherpen ini dimulai dengan cherita siayah yang dalam perjalanan kereta api menuju ketempat Masri, sesuai dengan isi surat Masri yang baru diterimanya beberapa hari terdahulu. Akhirnya, tanpa memberitahu anaknya akan kedatangannya, sampai kealamat rumah anaknya. Dan sesuai dengan cherita, sianak suami isteri dan anak² mereka tak ada dirumah. Yang ada dirumah ialah ibu Arni, yang pada mulanya tidak dikenalnya sebagai bekas isterinya. Dan dari ibu Arnilah diketahuinya bahwa Masri telah kawin dengan saudaranya sendiri, saudara seayah, karena Arni adalah anak sang ayah pula. Dan siibu menyuruh si ayah memilih dua alternatif. Mereka dapat membukakan rahasia mereka dengan akibatnya rumah tangga Masri-Arni yang bahagia akan hanchur. Ini kalau mereka tidak mau berdosa dan tidak ingin membiarkan suatu dosa berlaku. Atau mereka membiarkan suatu dosa berlaku. Atau mereka membiarkan mereka tidak tahu bahwa mereka bersaudara. Segala dosa mereka tanggung sendiri, mereka pertanggung jawabkan sendiri kepada Tuhan, sebagai usaha mereka untuk menebus dosa yang telah mereka perbuat kepada anak² mereka sendiri. Sang ayah memilih alternatif kedua dengan tidak jadi berjumpa dengan anaknya sendiri.
Begitulah, disini dapat kita lihat dua pertimbangan, pertimbangan keagamaan dan pertimbangan kemanusiaan. Pertimbangan keagamaan tidak akan membiarkan berlakunya setiap dosa, walaupun akibatnya akan menghanchurkan kebahagiaan orang. Hanya berbeda dengan pertumbangan kemanusiaan dimana kebahagiaan seseorang lebih penting. Orang lebih takut berbuat dosa kepada manusia daripada kepada Tuhan. Dan ternyata dalam cherpen ini Navis telah mengambil pertimbangan kemanusiaan dengan menanggung segala dosa atas berlakunya sebuah dosa daripada membiarkan hanchurnya sebuah kebahagiaan.
Sama juga halnya dengan '''Robohnya Surau Kami''', maka cherpen ini dapat dilihat sebagai cherpen yang negatif.
Tapi dalam tahun 1967 terbit novel Navis '''Kemarau'''. Novel ini terlihat menggabungkan persoalan yang terdapat dalam kedua cherpen tadi dengan suatu sikap yang berlainan, yang lebih positif bersifat keagamaan. Kalau dalam '''Robohnya Surau Kami''' kita dihadapkan dengan tokoh agama yang negatif, seorang garin, maka dalam novel ini seorang tokoh agama yang positif, yang bernama Suran Duano. Ia bukan tukang doa. Ia adalah orang yang berusaha dan menggunakan pikiran. Ia tidak menerima sedekah orang bahkan ia yang selalu memberikan bantuan material kepada orang² yang benar² memerlukan<noinclude>{{rh||HORISON / 164}}</noinclude>
kco395lvwmmiwzd6sz91ai0ngnsq9bo
297814
297811
2026-06-13T06:50:03Z
Bada1828
27236
297814
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bada1828" /></noinclude>{{X-larger|
'''Navis Dalam Dua Muka'''}}
UMAR JUNUS
[[Berkas:Horison 06 1972 (page 4 crop).jpg|jmpl|ka]]
A.A. NAVIS mulai dikenal dalam kehidupan ‘sastra dengan antoloji cherpennya 'Robohnya Surau Kami' (Bukittinggi. 1956), dan terutama oleh cherpennya yang berjudul sama, yang mungkin diartikan orang sebagai sedikit berunsur negatif tentang perkembangan Islam, Dan karena itu, Jassin dalam '''Heboh ’Sastra’ 1968''', menchoba membandingkan cherpen '''Langit Makin Mendung''' dari Ki Pandjikusmin dengan cherpen ini.
Sebenarnya, dalam cherpen ini, sechara penuh humour, Navis menchoba mengatakan bagaimana tidak besarnya pandangan keislaman seseorang dengan hanya menghabiskan masa dengan berbuat ibadat dan tidak ingin mengambil bagian dalam bagian kebidupan dunia. Mereka adalah orang² yang egois yang hanya mementingkan Kesenangan disorga, tapi tidak ingin membangun dunia yang lebih baik.
Begitulah, kalau orang berbichara tentang Navis dalam '''Robohnya Surai Kami''' hanya menekankan Navis dengan cherpen yang berjudul sama itu. Tidak ada perhatian yang sungguh² diberikan kepada cherpen lain yang terdapat dalam antoloji, yang mungkin membawa suatu persoalan yang menurut saya jauh lebih penting, menyangkut keagamaan dan kemanusiaan, suatu persoalan yang tidak mungkin diselesaikan dengan mudah. Cherpen itu jalah '''Datangnya dan Perginya'''.
Cherpen inibercherita tentang seorang ayah, yang karena kematian isteri terchintanya, tidak dapat menemui isteri pengganti yang sama dengan isteri yang telah meninggal. Karena itu, ia tiap sebentar kawin dan cherai, hingga akhirnya bosan. Dan mulailah ia menchari hiburan pada pelachur², hingga ia satu kali tertangkap basah oleh anaknya, Masri, yang sudah berangkat dewasa. Anaknya kemudian lari darinya dan semenjak itu terputuslah hubungannya dengan anaknya. Ia kemudian menyesal karena telah menyiayiakan kehidupan Masri dan merasa betul² berdosa. Dan dosanya tidak sampai sekian saja. Salah satu isteri yang pernah dicheraikannya, ternyata mengandung ketika dicheraikannya, dan ini tidak diketahuinya. Anak ini seorang perempuan, Arni, dan ternyata kemudian mendjadi isteri dari Masri dan keduanya hidup berbahagia dan punya anak.
Cherpen ini dimulai dengan cherita siayah yang dalam perjalanan kereta api menuju ketempat Masri, sesuai dengan isi surat Masri yang baru diterimanya beberapa hari terdahulu. Akhirnya, tanpa memberitahu anaknya akan kedatangannya, sampai kealamat rumah anaknya. Dan sesuai dengan cherita, sianak suami isteri dan anak² mereka tak ada dirumah. Yang ada dirumah ialah ibu Arni, yang pada mulanya tidak dikenalnya sebagai bekas isterinya. Dan dari ibu Arnilah diketahuinya bahwa Masri telah kawin dengan saudaranya sendiri, saudara seayah, karena Arni adalah anak sang ayah pula. Dan siibu menyuruh si ayah memilih dua alternatif. Mereka dapat membukakan rahasia mereka dengan akibatnya rumah tangga Masri-Arni yang bahagia akan hanchur. Ini kalau mereka tidak mau berdosa dan tidak ingin membiarkan suatu dosa berlaku. Atau mereka membiarkan suatu dosa berlaku. Atau mereka membiarkan mereka tidak tahu bahwa mereka bersaudara. Segala dosa mereka tanggung sendiri, mereka pertanggung jawabkan sendiri kepada Tuhan, sebagai usaha mereka untuk menebus dosa yang telah mereka perbuat kepada anak² mereka sendiri. Sang ayah memilih alternatif kedua dengan tidak jadi berjumpa dengan anaknya sendiri.
Begitulah, disini dapat kita lihat dua pertimbangan, pertimbangan keagamaan dan pertimbangan kemanusiaan. Pertimbangan keagamaan tidak akan membiarkan berlakunya setiap dosa, walaupun akibatnya akan menghanchurkan kebahagiaan orang. Hanya berbeda dengan pertumbangan kemanusiaan dimana kebahagiaan seseorang lebih penting. Orang lebih takut berbuat dosa kepada manusia daripada kepada Tuhan. Dan ternyata dalam cherpen ini Navis telah mengambil pertimbangan kemanusiaan dengan menanggung segala dosa atas berlakunya sebuah dosa daripada membiarkan hanchurnya sebuah kebahagiaan.
Sama juga halnya dengan '''Robohnya Surau Kami''', maka cherpen ini dapat dilihat sebagai cherpen yang negatif.
Tapi dalam tahun 1967 terbit novel Navis '''Kemarau'''. Novel ini terlihat menggabungkan persoalan yang terdapat dalam kedua cherpen tadi dengan suatu sikap yang berlainan, yang lebih positif bersifat keagamaan. Kalau dalam '''Robohnya Surau Kami''' kita dihadapkan dengan tokoh agama yang negatif, seorang garin, maka dalam novel ini seorang tokoh agama yang positif, yang bernama Suran Duano. Ia bukan tukang doa. Ia adalah orang yang berusaha dan menggunakan pikiran. Ia tidak menerima sedekah orang bahkan ia yang selalu memberikan bantuan material kepada orang² yang benar² memerlukan<noinclude>{{rh||HORISON / 164}}</noinclude>
o0xvkm2g9ie03i86kn2ri7tbhtcb2dp
297826
297814
2026-06-13T07:04:23Z
Meowkil
24809
297826
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bada1828" /></noinclude><div>
{{X-larger|
'''Navis Dalam Dua Muka'''}}
UMAR JUNUS
</div>
<div>
[[File:Horison 06 1972 (page 4 crop).jpg|Horison_06_1972_(page_4_crop)|250px|right]]
</div>
A.A. NAVIS mulai dikenal dalam kehidupan ‘sastra dengan antoloji cherpennya 'Robohnya Surau Kami' (Bukittinggi. 1956), dan terutama oleh cherpennya yang berjudul sama, yang mungkin diartikan orang sebagai sedikit berunsur negatif tentang perkembangan Islam, Dan karena itu, Jassin dalam '''Heboh ’Sastra’ 1968''', menchoba membandingkan cherpen '''Langit Makin Mendung''' dari Ki Pandjikusmin dengan cherpen ini.
Sebenarnya, dalam cherpen ini, sechara penuh humour, Navis menchoba mengatakan bagaimana tidak besarnya pandangan keislaman seseorang dengan hanya menghabiskan masa dengan berbuat ibadat dan tidak ingin mengambil bagian dalam bagian kebidupan dunia. Mereka adalah orang² yang egois yang hanya mementingkan Kesenangan disorga, tapi tidak ingin membangun dunia yang lebih baik.
Begitulah, kalau orang berbichara tentang Navis dalam '''Robohnya Surai Kami''' hanya menekankan Navis dengan cherpen yang berjudul sama itu. Tidak ada perhatian yang sungguh² diberikan kepada cherpen lain yang terdapat dalam antoloji, yang mungkin membawa suatu persoalan yang menurut saya jauh lebih penting, menyangkut keagamaan dan kemanusiaan, suatu persoalan yang tidak mungkin diselesaikan dengan mudah. Cherpen itu jalah '''Datangnya dan Perginya'''.
Cherpen inibercherita tentang seorang ayah, yang karena kematian isteri terchintanya, tidak dapat menemui isteri pengganti yang sama dengan isteri yang telah meninggal. Karena itu, ia tiap sebentar kawin dan cherai, hingga akhirnya bosan. Dan mulailah ia menchari hiburan pada pelachur², hingga ia satu kali tertangkap basah oleh anaknya, Masri, yang sudah berangkat dewasa. Anaknya kemudian lari darinya dan semenjak itu terputuslah hubungannya dengan anaknya. Ia kemudian menyesal karena telah menyiayiakan kehidupan Masri dan merasa betul² berdosa. Dan dosanya tidak sampai sekian saja. Salah satu isteri yang pernah dicheraikannya, ternyata mengandung ketika dicheraikannya, dan ini tidak diketahuinya. Anak ini seorang perempuan, Arni, dan ternyata kemudian mendjadi isteri dari Masri dan keduanya hidup berbahagia dan punya anak.
Cherpen ini dimulai dengan cherita siayah yang dalam perjalanan kereta api menuju ketempat Masri, sesuai dengan isi surat Masri yang baru diterimanya beberapa hari terdahulu. Akhirnya, tanpa memberitahu anaknya akan kedatangannya, sampai kealamat rumah anaknya. Dan sesuai dengan cherita, sianak suami isteri dan anak² mereka tak ada dirumah. Yang ada dirumah ialah ibu Arni, yang pada mulanya tidak dikenalnya sebagai bekas isterinya. Dan dari ibu Arnilah diketahuinya bahwa Masri telah kawin dengan saudaranya sendiri, saudara seayah, karena Arni adalah anak sang ayah pula. Dan siibu menyuruh si ayah memilih dua alternatif. Mereka dapat membukakan rahasia mereka dengan akibatnya rumah tangga Masri-Arni yang bahagia akan hanchur. Ini kalau mereka tidak mau berdosa dan tidak ingin membiarkan suatu dosa berlaku. Atau mereka membiarkan suatu dosa berlaku. Atau mereka membiarkan mereka tidak tahu bahwa mereka bersaudara. Segala dosa mereka tanggung sendiri, mereka pertanggung jawabkan sendiri kepada Tuhan, sebagai usaha mereka untuk menebus dosa yang telah mereka perbuat kepada anak² mereka sendiri. Sang ayah memilih alternatif kedua dengan tidak jadi berjumpa dengan anaknya sendiri.
Begitulah, disini dapat kita lihat dua pertimbangan, pertimbangan keagamaan dan pertimbangan kemanusiaan. Pertimbangan keagamaan tidak akan membiarkan berlakunya setiap dosa, walaupun akibatnya akan menghanchurkan kebahagiaan orang. Hanya berbeda dengan pertumbangan kemanusiaan dimana kebahagiaan seseorang lebih penting. Orang lebih takut berbuat dosa kepada manusia daripada kepada Tuhan. Dan ternyata dalam cherpen ini Navis telah mengambil pertimbangan kemanusiaan dengan menanggung segala dosa atas berlakunya sebuah dosa daripada membiarkan hanchurnya sebuah kebahagiaan.
Sama juga halnya dengan '''Robohnya Surau Kami''', maka cherpen ini dapat dilihat sebagai cherpen yang negatif.
Tapi dalam tahun 1967 terbit novel Navis '''Kemarau'''. Novel ini terlihat menggabungkan persoalan yang terdapat dalam kedua cherpen tadi dengan suatu sikap yang berlainan, yang lebih positif bersifat keagamaan. Kalau dalam '''Robohnya Surau Kami''' kita dihadapkan dengan tokoh agama yang negatif, seorang garin, maka dalam novel ini seorang tokoh agama yang positif, yang bernama Suran Duano. Ia bukan tukang doa. Ia adalah orang yang berusaha dan menggunakan pikiran. Ia tidak menerima sedekah orang bahkan ia yang selalu memberikan bantuan material kepada orang² yang benar² memerlukan<noinclude>{{rh||HORISON / 164}}</noinclude>
hbeqmv6b2w1b365hfxjpr0rlzg9mc9t
Halaman:20 tahun Indonesia merdeka.djvu/684
104
105529
297757
2026-06-13T05:00:41Z
~2026-34828-58
27247
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '2. Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 1958 (Lembaran-Nega- ra 1958 No. 65) tentang pendaftaran, penjaringan dan pengakuan Veteran Pedjoang Kemerdekaan Republik Indo- nesia: 3. Keputusan Presiden R.I. No. 162 tahun 1957 tentang lapang- an pekerdjaan, susunan dan pimpinan Kementerian Uruw.an Veteran: 4. Keputusan Presiden R.I. No. 103 tahun 1957 tentang Penge- sahan pembentukan Legiun Veteran Republik Indonesia. Membatja: Surat Keputusa...
297757
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="2404:C0:2130:0:0:0:38A5:2B17" /></noinclude>2. Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 1958 (Lembaran-Nega-
ra 1958 No. 65) tentang pendaftaran, penjaringan dan
pengakuan Veteran Pedjoang Kemerdekaan Republik Indo-
nesia:
3. Keputusan Presiden R.I. No. 162 tahun 1957 tentang lapang-
an pekerdjaan, susunan dan pimpinan Kementerian Uruw.an
Veteran:
4. Keputusan Presiden R.I. No. 103 tahun 1957 tentang Penge-
sahan pembentukan Legiun Veteran Republik Indonesia.
Membatja: Surat Keputusan Menteri Urusan Veteran
No. 130/Kpts/Tahun 1958 pasal 17, 18 dan 19 tentang pendaf-
taran bagi tjalon-tjalon Veteran Pedjoang Kemerdekaan Repu-
blik Indonisia jang masih dalam dinas aktif dalam Angkatan
Bersendjata dan bagi tjalon-tjalon Veteran jang ada diluar
negeri dan jang sedang dalam tahanan/pendjara.
Mendengar: Dewan Menteri dalam sidangnja pada tanggal
13 Maret 1959.
MEMUTUSKAN: |
Menetapkan : Peraturan Pemerintah tentang Perbahan
dan Penambahan Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 1958
tentang Pendaftaran, Penjaringan dan Pengakuan Veteran Ke-
merdekaa4n Republik Indonisia.
Pasal 1.
Pasal 2 (lama) dipetjah mendjadi pasal-pasal 2 dan 3 (baru)
pasal 2 (baru) berbunji: ,,Pendaftaran para tjalon Veteran
Pedjoang Kemerdekaan Republik Indonisia dilaksanakan oleh
Kantor Urusan Veteran didaerah Swatantra Tingkat II.
Pasal 3 (baru) berbunji:
Pasal 2.
(1) Pimpinan pendaftaran dipegang oleh Kepala Kantor
Urusan Veteran dan dibantu oleh:
a. seorang perwira Distrik Militer atau seorang perwira jang
sederadjat dengan ini:
b. dua orang tokoh Veteran setempat atau usul Legiun Veteran
Tjabang:
Cc. seorang bekas Komandan kesatuan setempat atas usul Ke-
pala Kantor Urusan Veteran.
670
Aa Ha aan —<noinclude>{{rvh|670}}</noinclude>
54rpdxogt04whhvga1q7nuqwu6gfy48
297796
297757
2026-06-13T06:24:09Z
Bennylin
334
/* Telah diuji baca */
297796
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bennylin" /></noinclude>2. Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 1958 (Lembaran-Nega-
ra 1958 No. 65) tentang pendaftaran, penjaringan dan
pengakuan Veteran Pedjoang Kemerdekaan Republik Indo-
nesia:
3. Keputusan Presiden R.I. No. 162 tahun 1957 tentang lapang-
an pekerdjaan, susunan dan pimpinan Kementerian Uruw.an
Veteran:
4. Keputusan Presiden R.I. No. 103 tahun 1957 tentang Penge-
sahan pembentukan Legiun Veteran Republik Indonesia.
Membatja: Surat Keputusan Menteri Urusan Veteran
No. 130/Kpts/Tahun 1958 pasal 17, 18 dan 19 tentang pendaf-
taran bagi tjalon-tjalon Veteran Pedjoang Kemerdekaan Repu-
blik Indonisia jang masih dalam dinas aktif dalam Angkatan
Bersendjata dan bagi tjalon-tjalon Veteran jang ada diluar
negeri dan jang sedang dalam tahanan/pendjara.
Mendengar: Dewan Menteri dalam sidangnja pada tanggal
13 Maret 1959.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : Peraturan Pemerintah tentang Perbahan
dan Penambahan Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 1958
tentang Pendaftaran, Penjaringan dan Pengakuan Veteran Ke-
merdekaa4n Republik Indonisia.
Pasal 1.
Pasal 2 (lama) dipetjah mendjadi pasal-pasal 2 dan 3 (baru)
pasal 2 (baru) berbunji: ,,Pendaftaran para tjalon Veteran
Pedjoang Kemerdekaan Republik Indonisia dilaksanakan oleh
Kantor Urusan Veteran didaerah Swatantra Tingkat II.
Pasal 3 (baru) berbunji:
Pasal 2.
(1) Pimpinan pendaftaran dipegang oleh Kepala Kantor
Urusan Veteran dan dibantu oleh:
a. seorang perwira Distrik Militer atau seorang perwira jang
sederadjat dengan ini:
b. dua orang tokoh Veteran setempat atau usul Legiun Veteran
Tjabang:
C. seorang bekas Komandan kesatuan setempat atas usul Ke-
pala Kantor Urusan Veteran.<noinclude>{{rvh|670}}</noinclude>
dkpqiqexwqonap5l54m47dhnrtuz2zo
Halaman:Almanak Sumatera.djvu/253
104
105530
297758
2026-06-13T05:10:18Z
Menyusurisudutnegeri
25205
/* Telah diuji baca */
297758
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>djuga terdapat sekolah² Tjina jang berbahasa Belanda. Dengan demikian sumber² pekerjaan (seperti klerk, kasir) jang atjap dibutuhkan oleh pemerintah dan pengusaha dapat diisi oleh golongan Tjina.
Dapat ditjatat, bahwa orang Tjina semakin memisahkan diri (eksklusi) dalam pergaulan Indonesia setelah Tjina menumbangkan rezim monarchi dan membangun republik (revolusi 10 Oktober 1912) dibawah Dr. Sun Yat Sen. Satu diantara pasal UUD mereka memuat ketentuan jang memperteguh hukum leluhur mereka, bahwa semua orang² Tjina dan keturunannja diluar negeri tetap mendjadi warga negara Tjina.
Ketentuan seperti ini dikenal dalam terminologi Latin dengan "''jus sanguimis''" artinja kewargaan karena keturunan, lawan "''jus soli''" artinja kewargaan jang disandarkan pada tempat lahir.
Kebanggaan bangsa dari orang Tjina chauvinisme menondjol, sesudah Djepang sebagai suatu bangsa Timur dapat menundukkan Rusia dalam peperangan ditahun 1904 - 1905. Mereka berkata, bahwa djika Djepang jang pulaunja ketjil dan djumlahnja sedikit itu berhasil mengangkat mukanja terhadap Barat, tentunja orang Tjinapun akan lebih lagi sanggup. Namun effeknja diperantauan lebih banjak memperlihatkan segi² jang tidak merapatkan hubungan penduduk asli dengan mereka, walaupun harus diakui bahwa ada djuga diantara kaum intelektuil mereka jang sadar dan memang benar² ingin merapatkan diri dengan bangsa Indonesia untuk bahu membahu melawan pendjadjah. Ini dapat diperhatikan dari suara² jang mereka perdengaran melalui mass media, dimana merekapun tjukup giat dan aktif memegang peranan. Dibeberapa tempat seperti di Medan dan Padang terdapat surat² kabar berbahasa Indonesia jang diterbitkan oleh orang Tjina atau jang disebut Tjina peranakan, diantaranja "Pelita Andalas" dan "Tjinpo" di Medan, serta "Sinar Sumatera" dan „Radio” di Padang. Surat kabar jang berhuruf Tjina dan sungguh besar pengaruhnja hanja terbit di Medan, satu²nja kota besar di Sumatera jang banjak djumlah penduduknja terdiri dari orang Tjina. Diantara hariannja jang terkenal dan lama hidupnja adalah "Sumatera Bin Poh".
Ketika Djepang melantjarkan agressinja ke Indonesia, mereka dengan mudah menduduki Sumatera, tanggal 13 Maret 1942 Djepang sudah menduduki Medan. Sekalipun dinegerinja Tjina bermusuhan dan melawan Djepang, diIndonesia (terutama Sumatera) orang² Tjina tidak menondjolkan sesuatu aksi jang bersikap menentang pendudukan, bahkan disana sini terlihat kegiatan² menjesuaikan diri, terutama dalam hal jang bertalian dengan sumber ekonomi. Untuk tidak menggelapkan sedjarah, dapatlah ditjatat bahwa seorang peranakan Tjina di Medan bernama J.K.J., baik karena kepentingan dagangnja maupun mungkin disebabkan Belanda-georienteerd, dalam masa pendudukan tersebut telah dihukum bunuh oleh militer Djepang karena diketahui bergerak dibawah tanah.<noinclude>{{rh|||229}}</noinclude>
a8kvd98oom8e89jdoom25a2pp1btdjy
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/19
104
105531
297759
2026-06-13T05:19:47Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297759
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||TJARA CHICAGO|3|}}</noinclude>"Akoe tidak hendak mengambil harta orang", djawab si Lèngkong.
"Kalau ba' itoe inda' dapè' kito tjerei"<sup>1</sup>) kata isterinja dengan logat tjara negerinja.
"Itoe dio kato jang sajo kendakkan... toe"<sup>2</sup>), djawab si Lèngkong dengan kemaloe-maloean, tetapi dengan hati jang amat riang.
{{right|M. KASIM.}}
{{c|<big>TJARA CHICAGO</big>}}
{{c|<big>I</big>}}
Diserambi station M. berdiri doea orang laki-laki, jang berpakaian bagoes, lengkap dengan tasch dan mantelnja, roepa-roepanja hendak menoempang dengan karéta, jang tiada berapa lama lagi akan berangkat.
Sambil bertjakap-tjakap, sebentar-sebentar meréka itoe malajangkan mata kesana-kemari, seolah-olah ada orang jang hendak ditjaharinja.
Seboeah auto tiba dimoeka station dan seorang perempoean jang berbadan ketjil molék, berdandan bagoes dan beperhiasan tjoekoep, keloear dari auto itoe, diiringkan oléh seorang anak perempoean, 'oemoer kira-kira 8 tahoen.
Melihat perempoean jang baharoe datang ini, kedoea laki-laki itoe bergamit-gamitan dan waktoe perempoean itoe pergi kemoeka ''lokét'' akan membeli ''kartjis'', seorang diantaranja datang menghampiri dia.
"Doea kartjis kelas doea ke P. ,satoe besar satoe ketjil", kata perempoean itoe kepada pendoejal kartjis.
Waktoe polisi djaga melihat orang penoeh sesak dimoeka lokét, iapoen berseroe melakoekan kewadjibannja: "Awas, awas toekang tjopét, djaga barang dengan dompét".
Sebentar lagi, berpegang tangan dengan anak ketjil itoe, perempoean tadi pergi menoedjoe ''wagon'' jang telah sedia dimoeka ''pérron'', laloe naik kelas II.
Lontjéng berboenji, karéta berangkat.
Laki-laki jang doea orang tadi, setelah bertjakap-tjakap sebentar dengan roepa jang soenggoeh-soenggoeh, laloe pergi menoedjoe keseboeah auto dimoeka station. Kedoeanja naik, auto berangkat.
{{c|<big>II</big>}}
Distation P. kedengaranlah sajoep-sajoep boenji ''fluit'' keréta jang datang dari M. Penoempang-penoempang jang hendak berangkatpoen bersedia-sedialah berdiri dipérron. Tidak berapa lama kerétapoen tampak dengan asapnja jang mengepoel dan fluitnja kedengaran poela, seolah-olah memberi salam kepada orang-orang jang menoenggoe dia.
<hr style="width:20%; margin:left;" />
<sup>1</sup>) Kalu begitu tidak dapat kita bertjerai<br>
<sup>2</sup>) itoelah kata jang saja nanti-nanti<noinclude></noinclude>
rhkpyj14bmi03c9rkjihiz54okc6i20
297856
297759
2026-06-13T07:47:40Z
Link PB
26772
297856
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||TJARA CHICAGO|3|}}</small></noinclude>"Akoe tidak hendak mengambil harta orang", djawab si Lèngkong.
"Kalau ba' itoe inda' dapè' kito tjerei"<sup>1</sup>) kata isterinja dengan logat tjara negerinja.
"Itoe dio kato jang sajo kendakkan... toe"<sup>2</sup>), djawab si Lèngkong dengan kemaloe-maloean, tetapi dengan hati jang amat riang.
{{right|M. KASIM.}}
{{c|<big>TJARA CHICAGO</big>}}
{{c|<big>I</big>}}
Diserambi station M. berdiri doea orang laki-laki, jang berpakaian bagoes, lengkap dengan tasch dan mantelnja, roepa-roepanja hendak menoempang dengan karéta, jang tiada berapa lama lagi akan berangkat.
Sambil bertjakap-tjakap, sebentar-sebentar meréka itoe malajangkan mata kesana-kemari, seolah-olah ada orang jang hendak ditjaharinja.
Seboeah auto tiba dimoeka station dan seorang perempoean jang berbadan ketjil molék, berdandan bagoes dan beperhiasan tjoekoep, keloear dari auto itoe, diiringkan oléh seorang anak perempoean, 'oemoer kira-kira 8 tahoen.
Melihat perempoean jang baharoe datang ini, kedoea laki-laki itoe bergamit-gamitan dan waktoe perempoean itoe pergi kemoeka ''lokét'' akan membeli ''kartjis'', seorang diantaranja datang menghampiri dia.
"Doea kartjis kelas doea ke P. ,satoe besar satoe ketjil", kata perempoean itoe kepada pendoejal kartjis.
Waktoe polisi djaga melihat orang penoeh sesak dimoeka lokét, iapoen berseroe melakoekan kewadjibannja: "Awas, awas toekang tjopét, djaga barang dengan dompét".
Sebentar lagi, berpegang tangan dengan anak ketjil itoe, perempoean tadi pergi menoedjoe ''wagon'' jang telah sedia dimoeka ''pérron'', laloe naik kelas II.
Lontjéng berboenji, karéta berangkat.
Laki-laki jang doea orang tadi, setelah bertjakap-tjakap sebentar dengan roepa jang soenggoeh-soenggoeh, laloe pergi menoedjoe keseboeah auto dimoeka station. Kedoeanja naik, auto berangkat.
{{c|<big>II</big>}}
Distation P. kedengaranlah sajoep-sajoep boenji ''fluit'' keréta jang datang dari M. Penoempang-penoempang jang hendak berangkatpoen bersedia-sedialah berdiri dipérron. Tidak berapa lama kerétapoen tampak dengan asapnja jang mengepoel dan fluitnja kedengaran poela, seolah-olah memberi salam kepada orang-orang jang menoenggoe dia.
<hr style="width:20%; margin:left;" />
<sup>1</sup>) Kalu begitu tidak dapat kita bertjerai<br>
<sup>2</sup>) itoelah kata jang saja nanti-nanti<noinclude></noinclude>
cgbrk76dxj4b0j1365jt5wivge9n95e
297871
297856
2026-06-13T08:00:50Z
Link PB
26772
297871
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||TJARA CHICAGO|3|}}</small></noinclude>"Akoe tidak hendak mengambil harta orang", djawab si Lèngkong.
"Kalau ba' itoe inda' dapè' kito tjerei"<sup>1</sup>) kata isterinja dengan logat tjara negerinja.
"Itoe dio kato jang sajo kendakkan... toe"<sup>2</sup>), djawab si Lèngkong dengan kemaloe-maloean, tetapi dengan hati jang amat riang.
{{right|M. {{smallcaps|Kasim}}.}}
{{c|<big>TJARA CHICAGO</big>}}
{{c|<big>I</big>}}
Diserambi station M. berdiri doea orang laki-laki, jang berpakaian bagoes, lengkap dengan tasch dan mantelnja, roepa-roepanja hendak menoempang dengan karéta, jang tiada berapa lama lagi akan berangkat.
Sambil bertjakap-tjakap, sebentar-sebentar meréka itoe malajangkan mata kesana-kemari, seolah-olah ada orang jang hendak ditjaharinja.
Seboeah auto tiba dimoeka station dan seorang perempoean jang berbadan ketjil molék, berdandan bagoes dan beperhiasan tjoekoep, keloear dari auto itoe, diiringkan oléh seorang anak perempoean, 'oemoer kira-kira 8 tahoen.
Melihat perempoean jang baharoe datang ini, kedoea laki-laki itoe bergamit-gamitan dan waktoe perempoean itoe pergi kemoeka ''lokét'' akan membeli ''kartjis'', seorang diantaranja datang menghampiri dia.
"Doea kartjis kelas doea ke P. ,satoe besar satoe ketjil", kata perempoean itoe kepada pendoejal kartjis.
Waktoe polisi djaga melihat orang penoeh sesak dimoeka lokét, iapoen berseroe melakoekan kewadjibannja: "Awas, awas toekang tjopét, djaga barang dengan dompét".
Sebentar lagi, berpegang tangan dengan anak ketjil itoe, perempoean tadi pergi menoedjoe ''wagon'' jang telah sedia dimoeka ''pérron'', laloe naik kelas II.
Lontjéng berboenji, karéta berangkat.
Laki-laki jang doea orang tadi, setelah bertjakap-tjakap sebentar dengan roepa jang soenggoeh-soenggoeh, laloe pergi menoedjoe keseboeah auto dimoeka station. Kedoeanja naik, auto berangkat.
{{c|<big>II</big>}}
Distation P. kedengaranlah sajoep-sajoep boenji ''fluit'' keréta jang datang dari M. Penoempang-penoempang jang hendak berangkatpoen bersedia-sedialah berdiri dipérron. Tidak berapa lama kerétapoen tampak dengan asapnja jang mengepoel dan fluitnja kedengaran poela, seolah-olah memberi salam kepada orang-orang jang menoenggoe dia.
<hr style="width:20%; margin:left;" />
<sup>1</sup>) Kalu begitu tidak dapat kita bertjerai<br>
<sup>2</sup>) itoelah kata jang saja nanti-nanti<noinclude></noinclude>
kw2cht6sk9a80deobxfv04y9i7ha90y
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/20
104
105532
297760
2026-06-13T05:30:43Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297760
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|4|TJARA CHICAGO||}}</noinclude>Perlahan-lahan dan dengan napas jang besar masoeklah ia kestation laloe berhenti. Penoempang-poen naik bereboet-reboet, dan jang toeroen begitoe poela. Diantara penoempang jang toeroen kelihatan perempoean jang soedah kita kenal distation M. tadi.
Baharoe ia toeroen, doea orang laki-laki datang menjongsong dia dan seorang diantaranja teroes bertanja: "Hendak kemana kau?"
Perempoean itoe tertjengang seketika, kemoedian baharoe mendjawab. "Hendak keroemah mak tji' saja".
"Tidak boleh, ajo kembali ke M.!"
"Eh... apa pedoeli kemana akoe hendak pergi?"
"Selama kau beloem akoe talak, tentoe akoe pedoeli kemana kau pergi", kata laki-laki itoe dengan senjoem mengédjékkan.
Perempoean itoe diam tiada berkata-kata, moekanja mendjadi poetjat.
"Soedahlah ka', balik sadjalah... apa goena berselisih, tidakkah kakak maloe riboet-riboet dimoeka orang banjak?" kata laki-laki jang seorang lagi, sebagai orang ditengah, hendak mendamaikan perselisihan itoe. Dan sesoenggoehnja orang banjakpoen moelaï berkeroemoen hendak menonton pertengkaran itoe.
"Mengapa akoe moesti kembali... apa pedoeli dengan akoe?" djawab perempoean itoe.
"Apa pedoeli, apa pedoeli... perempoean tjeréwét keras kepala ini! Ajo, angkat anak itoe bawa keauto", kata laki-laki jang pertama kepada temannja dan ia sendiri teroes menangkap perempoean itoe. Dan dengan tidak mempedoelikan djeritnja, tampar dan garoet jang mengenai moekanja, perempoean itoe dimasoekkannja kedalam auto.
Segala jang hadir jang melihat perboeatan itoe ternganga moeloetnja, seperti orang jang diselap hantoe. Seorangpoen ta' ada jang berpikir hendak mentjampoerinja. "Ja, siapa poela jang hendak tjampoer, antara orang berlaki-bini?" berkata meréka itoe sama sendirinja.
Auto melantjar dengan kentjangnja, mengambil djalan dari lorong-lorong jang tersemboenji dikota P.
{{c|III}}
Kira-kira tiga perempat djam kemoedian, dimoeka kantor polisi di P. berhenti seboeah auto. Seorang perempoean, jang sangat poetjat dan beramboet jang koesoet masai, toeroen dari auto dan naik kekantor itoe.
Perempoean itoe mengadoekan halnja, menerangkan ia telah dirampok orang diatas auto.
"Bagaimana moelanja?" bertanja toean ''Inspecteur'' polisi.
"Saja toeroen dari keréta api, tahoe-tahoe saja didatangi oléh doea orang laki-laki. Seorang diantaranja mengangkat saja keatas auto dan jang seorang lagi mengangkat anak ini. Ditengah djalan segala perhiasan dan oeang saja dirampasnja".
"Entji' kenal perampok itoe?"
"Tidak!"<noinclude></noinclude>
o1t4myhe9snjzwwmuhpwrz5rkyaqkqb
297857
297760
2026-06-13T07:47:57Z
Link PB
26772
297857
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|4|TJARA CHICAGO||}}</small></noinclude>Perlahan-lahan dan dengan napas jang besar masoeklah ia kestation laloe berhenti. Penoempang-poen naik bereboet-reboet, dan jang toeroen begitoe poela. Diantara penoempang jang toeroen kelihatan perempoean jang soedah kita kenal distation M. tadi.
Baharoe ia toeroen, doea orang laki-laki datang menjongsong dia dan seorang diantaranja teroes bertanja: "Hendak kemana kau?"
Perempoean itoe tertjengang seketika, kemoedian baharoe mendjawab. "Hendak keroemah mak tji' saja".
"Tidak boleh, ajo kembali ke M.!"
"Eh... apa pedoeli kemana akoe hendak pergi?"
"Selama kau beloem akoe talak, tentoe akoe pedoeli kemana kau pergi", kata laki-laki itoe dengan senjoem mengédjékkan.
Perempoean itoe diam tiada berkata-kata, moekanja mendjadi poetjat.
"Soedahlah ka', balik sadjalah... apa goena berselisih, tidakkah kakak maloe riboet-riboet dimoeka orang banjak?" kata laki-laki jang seorang lagi, sebagai orang ditengah, hendak mendamaikan perselisihan itoe. Dan sesoenggoehnja orang banjakpoen moelaï berkeroemoen hendak menonton pertengkaran itoe.
"Mengapa akoe moesti kembali... apa pedoeli dengan akoe?" djawab perempoean itoe.
"Apa pedoeli, apa pedoeli... perempoean tjeréwét keras kepala ini! Ajo, angkat anak itoe bawa keauto", kata laki-laki jang pertama kepada temannja dan ia sendiri teroes menangkap perempoean itoe. Dan dengan tidak mempedoelikan djeritnja, tampar dan garoet jang mengenai moekanja, perempoean itoe dimasoekkannja kedalam auto.
Segala jang hadir jang melihat perboeatan itoe ternganga moeloetnja, seperti orang jang diselap hantoe. Seorangpoen ta' ada jang berpikir hendak mentjampoerinja. "Ja, siapa poela jang hendak tjampoer, antara orang berlaki-bini?" berkata meréka itoe sama sendirinja.
Auto melantjar dengan kentjangnja, mengambil djalan dari lorong-lorong jang tersemboenji dikota P.
{{c|III}}
Kira-kira tiga perempat djam kemoedian, dimoeka kantor polisi di P. berhenti seboeah auto. Seorang perempoean, jang sangat poetjat dan beramboet jang koesoet masai, toeroen dari auto dan naik kekantor itoe.
Perempoean itoe mengadoekan halnja, menerangkan ia telah dirampok orang diatas auto.
"Bagaimana moelanja?" bertanja toean ''Inspecteur'' polisi.
"Saja toeroen dari keréta api, tahoe-tahoe saja didatangi oléh doea orang laki-laki. Seorang diantaranja mengangkat saja keatas auto dan jang seorang lagi mengangkat anak ini. Ditengah djalan segala perhiasan dan oeang saja dirampasnja".
"Entji' kenal perampok itoe?"
"Tidak!"<noinclude></noinclude>
c8fmsbe49kd397nt1j1pukrayk5y2mk
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/21
104
105533
297761
2026-06-13T05:36:00Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297761
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||SALAH PENGERTIAN |5|}}</noinclude>"Mengapa tidak berteriak minta tolong?"
"Saja ada berteriak-teriak, tetapi tidak ada jang hendak menolong..."
"G....", kata toean polisi sambil berdiri ketelefoon.
Tidak berapa lama seorang ''agent'' polisi masoek.
"Engkau jang djaga distation?"
"Saja toean!"
"Mengapa engkau biarkan perempoean ini dilarikan dengan paksa dari station?"
"Ja, bagaimana sadja bisa tjampoer perkara orang laki bini toean! kalau..."
"Ja, bagaimana entji', laki-laki itoe boekankah soeami entji'?"
"Boekan toean, saja kenalpoen tidak!"
"Soeroeh ''chauffeur'' itoe masoek!" kata toean Inspecteur kepada agentnja.
"Mengapa engkau tidak tolong perempoean ini, waktoe ia dirampok diatas automoe?"
"Waktoe itoe saja pikir orang itoe soeami entji' ini, toean".
"Engkau kenal orang itoe?"
"Sebeloem ini tidak toean!"
"Sampai dimana automoe dipakai?"
"Sampai dikilométer 24 toean!"
"Sesampai disana kemana orang itoe pergi?"
"Naik auto lain, jang menoenggoe ditempat itoe, toean".
"Nomor berapa itoe auto?" bertanja Inspecteur polisi sambil mengeloearkan ''notés''nja hendak mentjatat.
"Tidak tahoe toean, nomornja ditoetoep dengan kain, tetapi auto itoe menghadap ke M."
Sekarang mengertilah toean Inspecteur polisi, bahwa ia akan ''beroeroesan'' dengan perampok jang litjin tjara Chicago.
{{right|M. Kasim.}}
----
<center>'''SALAH PENGERTIAN'''</center>
Si Maia seorang Menangkabau, baroe datang ke Mandailing. Setelah seboelan tinggal disana, mengertilah ia sedikit-sedikit bahasa negeri itoe. Waktoe harga getah naik sedikit baroe-baroe ini, ia djadi oepahan menjadap pada seorang kampoeng totok nama si Sabtoe; djadi bertemu-lah totok sama totok. Pertjakapan meréka itoe dilakoekan dengan bahasa sendiri-sendiri, si Mandailing dengan bahasa Mandailingnja, dan si Menangkabau dengan bahasa Menangkabaunja, tentoelah dengan pintas-memintasi maksoed sadja.
Pada soeatoe pagi kedoeanja pergi menjadap, isteri si Sabtoe toeroet djoega akan bermasak, karena lepas menjadap nanti, meréka itoe akan bersiang poela.
"Engkau moelaï dari sana, dan akoe moelaï dari sini", kata jang empoenja keboen.<noinclude></noinclude>
142cma1nn7hhh41it28gzimx7a8mbya
297783
297761
2026-06-13T06:06:00Z
Link PB
26772
297783
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||SALAH PENGERTIAN |5|}}</noinclude>"Mengapa tidak berteriak minta tolong?"
"Saja ada berteriak-teriak, tetapi tidak ada jang hendak menolong..."
"G....", kata toean polisi sambil berdiri ketelefoon.
Tidak berapa lama seorang ''agent'' polisi masoek.
"Engkau jang djaga distation?"
"Saja toean!"
"Mengapa engkau biarkan perempoean ini dilarikan dengan paksa dari station?"
"Ja, bagaimana sadja bisa tjampoer perkara orang laki bini toean! kalau..."
"Ja, bagaimana entji', laki-laki itoe boekankah soeami entji'?"
"Boekan toean, saja kenalpoen tidak!"
"Soeroeh ''chauffeur'' itoe masoek!" kata toean Inspecteur kepada agentnja.
"Mengapa engkau tidak tolong perempoean ini, waktoe ia dirampok diatas automoe?"
"Waktoe itoe saja pikir orang itoe soeami entji' ini, toean".
"Engkau kenal orang itoe?"
"Sebeloem ini tidak toean!"
"Sampai dimana automoe dipakai?"
"Sampai dikilométer 24 toean!"
"Sesampai disana kemana orang itoe pergi?"
"Naik auto lain, jang menoenggoe ditempat itoe, toean".
"Nomor berapa itoe auto?" bertanja Inspecteur polisi sambil mengeloearkan ''notés''nja hendak mentjatat.
"Tidak tahoe toean, nomornja ditoetoep dengan kain, tetapi auto itoe menghadap ke M."
Sekarang mengertilah toean Inspecteur polisi, bahwa ia akan ''beroeroesan'' dengan perampok jang litjin tjara Chicago.
{{right|M. Kasim.}}
{{c|<big>SALAH PENGERTIAN</big>}}
Si Maia seorang Menangkabau, baroe datang ke Mandailing. Setelah seboelan tinggal disana, mengertilah ia sedikit-sedikit bahasa negeri itoe. Waktoe harga getah naik sedikit baroe-baroe ini, ia djadi oepahan menjadap pada seorang kampoeng totok nama si Sabtoe; djadi bertemu-lah totok sama totok. Pertjakapan meréka itoe dilakoekan dengan bahasa sendiri-sendiri, si Mandailing dengan bahasa Mandailingnja, dan si Menangkabau dengan bahasa Menangkabaunja, tentoelah dengan pintas-memintasi maksoed sadja.
Pada soeatoe pagi kedoeanja pergi menjadap, isteri si Sabtoe toeroet djoega akan bermasak, karena lepas menjadap nanti, meréka itoe akan bersiang poela.
"Engkau moelaï dari sana, dan akoe moelaï dari sini", kata jang empoenja keboen.<noinclude></noinclude>
itazm53f82rowsgkniajtlm9d3icqtg
297858
297783
2026-06-13T07:48:12Z
Link PB
26772
297858
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||SALAH PENGERTIAN |5|}}</small></noinclude>"Mengapa tidak berteriak minta tolong?"
"Saja ada berteriak-teriak, tetapi tidak ada jang hendak menolong..."
"G....", kata toean polisi sambil berdiri ketelefoon.
Tidak berapa lama seorang ''agent'' polisi masoek.
"Engkau jang djaga distation?"
"Saja toean!"
"Mengapa engkau biarkan perempoean ini dilarikan dengan paksa dari station?"
"Ja, bagaimana sadja bisa tjampoer perkara orang laki bini toean! kalau..."
"Ja, bagaimana entji', laki-laki itoe boekankah soeami entji'?"
"Boekan toean, saja kenalpoen tidak!"
"Soeroeh ''chauffeur'' itoe masoek!" kata toean Inspecteur kepada agentnja.
"Mengapa engkau tidak tolong perempoean ini, waktoe ia dirampok diatas automoe?"
"Waktoe itoe saja pikir orang itoe soeami entji' ini, toean".
"Engkau kenal orang itoe?"
"Sebeloem ini tidak toean!"
"Sampai dimana automoe dipakai?"
"Sampai dikilométer 24 toean!"
"Sesampai disana kemana orang itoe pergi?"
"Naik auto lain, jang menoenggoe ditempat itoe, toean".
"Nomor berapa itoe auto?" bertanja Inspecteur polisi sambil mengeloearkan ''notés''nja hendak mentjatat.
"Tidak tahoe toean, nomornja ditoetoep dengan kain, tetapi auto itoe menghadap ke M."
Sekarang mengertilah toean Inspecteur polisi, bahwa ia akan ''beroeroesan'' dengan perampok jang litjin tjara Chicago.
{{right|M. Kasim.}}
{{c|<big>SALAH PENGERTIAN</big>}}
Si Maia seorang Menangkabau, baroe datang ke Mandailing. Setelah seboelan tinggal disana, mengertilah ia sedikit-sedikit bahasa negeri itoe. Waktoe harga getah naik sedikit baroe-baroe ini, ia djadi oepahan menjadap pada seorang kampoeng totok nama si Sabtoe; djadi bertemu-lah totok sama totok. Pertjakapan meréka itoe dilakoekan dengan bahasa sendiri-sendiri, si Mandailing dengan bahasa Mandailingnja, dan si Menangkabau dengan bahasa Menangkabaunja, tentoelah dengan pintas-memintasi maksoed sadja.
Pada soeatoe pagi kedoeanja pergi menjadap, isteri si Sabtoe toeroet djoega akan bermasak, karena lepas menjadap nanti, meréka itoe akan bersiang poela.
"Engkau moelaï dari sana, dan akoe moelaï dari sini", kata jang empoenja keboen.<noinclude></noinclude>
nzrpfxunpig3dud07aawpwbg4acnnux
297872
297858
2026-06-13T08:01:15Z
Link PB
26772
297872
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||SALAH PENGERTIAN |5|}}</small></noinclude>"Mengapa tidak berteriak minta tolong?"
"Saja ada berteriak-teriak, tetapi tidak ada jang hendak menolong..."
"G....", kata toean polisi sambil berdiri ketelefoon.
Tidak berapa lama seorang ''agent'' polisi masoek.
"Engkau jang djaga distation?"
"Saja toean!"
"Mengapa engkau biarkan perempoean ini dilarikan dengan paksa dari station?"
"Ja, bagaimana sadja bisa tjampoer perkara orang laki bini toean! kalau..."
"Ja, bagaimana entji', laki-laki itoe boekankah soeami entji'?"
"Boekan toean, saja kenalpoen tidak!"
"Soeroeh ''chauffeur'' itoe masoek!" kata toean Inspecteur kepada agentnja.
"Mengapa engkau tidak tolong perempoean ini, waktoe ia dirampok diatas automoe?"
"Waktoe itoe saja pikir orang itoe soeami entji' ini, toean".
"Engkau kenal orang itoe?"
"Sebeloem ini tidak toean!"
"Sampai dimana automoe dipakai?"
"Sampai dikilométer 24 toean!"
"Sesampai disana kemana orang itoe pergi?"
"Naik auto lain, jang menoenggoe ditempat itoe, toean".
"Nomor berapa itoe auto?" bertanja Inspecteur polisi sambil mengeloearkan ''notés''nja hendak mentjatat.
"Tidak tahoe toean, nomornja ditoetoep dengan kain, tetapi auto itoe menghadap ke M."
Sekarang mengertilah toean Inspecteur polisi, bahwa ia akan ''beroeroesan'' dengan perampok jang litjin tjara Chicago.
{{right|M. {{smallcaps|Kasim}}.}}
{{c|<big>SALAH PENGERTIAN</big>}}
Si Maia seorang Menangkabau, baroe datang ke Mandailing. Setelah seboelan tinggal disana, mengertilah ia sedikit-sedikit bahasa negeri itoe. Waktoe harga getah naik sedikit baroe-baroe ini, ia djadi oepahan menjadap pada seorang kampoeng totok nama si Sabtoe; djadi bertemu-lah totok sama totok. Pertjakapan meréka itoe dilakoekan dengan bahasa sendiri-sendiri, si Mandailing dengan bahasa Mandailingnja, dan si Menangkabau dengan bahasa Menangkabaunja, tentoelah dengan pintas-memintasi maksoed sadja.
Pada soeatoe pagi kedoeanja pergi menjadap, isteri si Sabtoe toeroet djoega akan bermasak, karena lepas menjadap nanti, meréka itoe akan bersiang poela.
"Engkau moelaï dari sana, dan akoe moelaï dari sini", kata jang empoenja keboen.<noinclude></noinclude>
tp7bi95f6fyuqb1ign24y44mwbxvbg2
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/22
104
105534
297762
2026-06-13T05:40:46Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297762
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|6|SALAH PENGERTIAN||}}</noinclude>"Baik!" kata si Maia laloe pergi akan memoelaï pekerdjaannja dari sebelah oedjoeng, tetapi baharoe sebentar ia bekerdja, ia datang kembali.
"Mengapa?" bertanja si Sabtoe.
"Babiak disitoe, biar..."
"Aa, mati kita!" berseroe si Sabtoe teroes berlari sipat koeping.
Melihat kelakoean jang bersalahan itoe, tentoe sadja si Maia terbit takoetnja, laloe berlari poela menoeroet si Sabtoe.
Mendengar teriak soeaminja, isteri si Sabtoe terkedjoet, keloear dari dangau dan berlari poela sambil berteriak-teriak. Berlarilah ketiganja djatoeh bangoen, tidak mempedoelikan semak dan doeri. Dimoeka sekali si Sabtoe dengan pakaiannja jang amat koemal. Pada tangannja seboeah tempoeroeng penampoeng getah. Dibelakangnja si Maia, berbadjoe jang longgar, pindjaman dari si Sabtoe, dan dibelakang sekali isteri toean roemah dengan seléndangnja jang terdjéla-djéla.
"Ada apa, Sabtoe?" bertanja orang dengan hérannja.
"Babiat, hh, hh, hh!"
Orang dikampoeng mendjadi riboet, karena pada keboen-keboen jang hampiran banjak orang jang lagi menjadap, diantaranja ada kanak-kanak. Orang kampoeng segera berkoempoel siap dengan sendjata, laloe pergi menoedjoe keboen si Sabtoe. Setelah dekat, orangpoen berdjalan lebih berhati-hati sambil mengintip kesana kemari.
"Dimanakah engkau lihat tadi harimau itoe?" bertanja seorang kepada si Sabtoe, karena bekas-bekasnjapoen ta' ada tampak dalam keboen.
"Saja tidak melihat, si Maia jang melihat", djawab si Sabtoe.
Si Maia ditanja orang dengan bahasa Menangkabau.
"Inda' ado dén malié' harimau do!" {{ref|1}}) djawab si Maia dengan héran. Orang banjak memandang kepada si Sabtoe.
"Engkau katakan tadi, babiat disini!" kata si Sabtoe dalam bahasa Mandailing kepada si Maia.
"Oo, "babiak" toe aratino "basah" {{ref|2}}) boekan harimau'', djawab si Maia. Orang banjak itoe merasa ketjéwa, tetapi geli dan riang mendengar djawab itoe.
Beberapa hari lamanja "babiak aratino basah" mendjadi senda goerau kepada orang-orang kampoeng.
Tjeritera ini, biarpoen telah diboemboei sedikit 'ibarat goelai, tetapi soenggoeh-soenggoeh telah kedjadian, dan masih hangat-hangat.
Boekan sekali ini lagi salah pengertian telah terdjadi antara anak Menangkabau dan anak Mandailing. Soeatoe pergeloetan soedah pernah beroebah djadi pergoelatan, oléh karena salah pengertian djoega.
Seorang Mandailing bergeloet bermain-main dengan seorang Menangkabau. Dengan tidak disengadja anak Mandailing itoe tertampar oléh anak Menangkabau itoe.
"Oelang", kata orang Mandailing itoe.
Tentoe sadja ditampar sekali lagi oléh orang Menangkabau itoe.
<hr style="width:20%; margin:left;" />
{{note|1}} 1) Ik heb volstrekt geen tijger gezien. I did not see a tiger at all.
{{note|2}} 2) "Babiak" beteekent "basah"; 'Babiak' means 'basah'.<noinclude></noinclude>
ksj8hyu7bfvujl01olnrsgk1by7zkfg
297763
297762
2026-06-13T05:41:56Z
Link PB
26772
297763
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|6|SALAH PENGERTIAN||}}</noinclude>"Baik!" kata si Maia laloe pergi akan memoelaï pekerdjaannja dari sebelah oedjoeng, tetapi baharoe sebentar ia bekerdja, ia datang kembali.
"Mengapa?" bertanja si Sabtoe.
"Babiak disitoe, biar..."
"Aa, mati kita!" berseroe si Sabtoe teroes berlari sipat koeping.
Melihat kelakoean jang bersalahan itoe, tentoe sadja si Maia terbit takoetnja, laloe berlari poela menoeroet si Sabtoe.
Mendengar teriak soeaminja, isteri si Sabtoe terkedjoet, keloear dari dangau dan berlari poela sambil berteriak-teriak. Berlarilah ketiganja djatoeh bangoen, tidak mempedoelikan semak dan doeri. Dimoeka sekali si Sabtoe dengan pakaiannja jang amat koemal. Pada tangannja seboeah tempoeroeng penampoeng getah. Dibelakangnja si Maia, berbadjoe jang longgar, pindjaman dari si Sabtoe, dan dibelakang sekali isteri toean roemah dengan seléndangnja jang terdjéla-djéla.
"Ada apa, Sabtoe?" bertanja orang dengan hérannja.
"Babiat, hh, hh, hh!"
Orang dikampoeng mendjadi riboet, karena pada keboen-keboen jang hampiran banjak orang jang lagi menjadap, diantaranja ada kanak-kanak. Orang kampoeng segera berkoempoel siap dengan sendjata, laloe pergi menoedjoe keboen si Sabtoe. Setelah dekat, orangpoen berdjalan lebih berhati-hati sambil mengintip kesana kemari.
"Dimanakah engkau lihat tadi harimau itoe?" bertanja seorang kepada si Sabtoe, karena bekas-bekasnjapoen ta' ada tampak dalam keboen.
"Saja tidak melihat, si Maia jang melihat", djawab si Sabtoe.
Si Maia ditanja orang dengan bahasa Menangkabau.
"Inda' ado dén malié' harimau do!" <sup>1</sup>) djawab si Maia dengan héran. Orang banjak memandang kepada si Sabtoe.
"Engkau katakan tadi, babiat disini!" kata si Sabtoe dalam bahasa Mandailing kepada si Maia.
"Oo, "babiak" toe aratino "basah" <sup>2</sup>) boekan harimau'', djawab si Maia. Orang banjak itoe merasa ketjéwa, tetapi geli dan riang mendengar djawab itoe.
Beberapa hari lamanja "babiak aratino basah" mendjadi senda goerau kepada orang-orang kampoeng.
Tjeritera ini, biarpoen telah diboemboei sedikit 'ibarat goelai, tetapi soenggoeh-soenggoeh telah kedjadian, dan masih hangat-hangat.
Boekan sekali ini lagi salah pengertian telah terdjadi antara anak Menangkabau dan anak Mandailing. Soeatoe pergeloetan soedah pernah beroebah djadi pergoelatan, oléh karena salah pengertian djoega.
Seorang Mandailing bergeloet bermain-main dengan seorang Menangkabau. Dengan tidak disengadja anak Mandailing itoe tertampar oléh anak Menangkabau itoe.
"Oelang", kata orang Mandailing itoe.
Tentoe sadja ditampar sekali lagi oléh orang Menangkabau itoe.
<hr style="width:20%; margin:left;" />
<sup>1</sup> Ik heb volstrekt geen tijger gezien. I did not see a tiger at all.
<sup>2</sup> "Babiak" beteekent "basah"; 'Babiak' means 'basah'.<noinclude></noinclude>
ov8rpnf78fg3q6gnmzktn89lzoz0298
297764
297763
2026-06-13T05:42:34Z
Link PB
26772
297764
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|6|SALAH PENGERTIAN||}}</noinclude>"Baik!" kata si Maia laloe pergi akan memoelaï pekerdjaannja dari sebelah oedjoeng, tetapi baharoe sebentar ia bekerdja, ia datang kembali.
"Mengapa?" bertanja si Sabtoe.
"Babiak disitoe, biar..."
"Aa, mati kita!" berseroe si Sabtoe teroes berlari sipat koeping.
Melihat kelakoean jang bersalahan itoe, tentoe sadja si Maia terbit takoetnja, laloe berlari poela menoeroet si Sabtoe.
Mendengar teriak soeaminja, isteri si Sabtoe terkedjoet, keloear dari dangau dan berlari poela sambil berteriak-teriak. Berlarilah ketiganja djatoeh bangoen, tidak mempedoelikan semak dan doeri. Dimoeka sekali si Sabtoe dengan pakaiannja jang amat koemal. Pada tangannja seboeah tempoeroeng penampoeng getah. Dibelakangnja si Maia, berbadjoe jang longgar, pindjaman dari si Sabtoe, dan dibelakang sekali isteri toean roemah dengan seléndangnja jang terdjéla-djéla.
"Ada apa, Sabtoe?" bertanja orang dengan hérannja.
"Babiat, hh, hh, hh!"
Orang dikampoeng mendjadi riboet, karena pada keboen-keboen jang hampiran banjak orang jang lagi menjadap, diantaranja ada kanak-kanak. Orang kampoeng segera berkoempoel siap dengan sendjata, laloe pergi menoedjoe keboen si Sabtoe. Setelah dekat, orangpoen berdjalan lebih berhati-hati sambil mengintip kesana kemari.
"Dimanakah engkau lihat tadi harimau itoe?" bertanja seorang kepada si Sabtoe, karena bekas-bekasnjapoen ta' ada tampak dalam keboen.
"Saja tidak melihat, si Maia jang melihat", djawab si Sabtoe.
Si Maia ditanja orang dengan bahasa Menangkabau.
"Inda' ado dén malié' harimau do!" <sup>1</sup>) djawab si Maia dengan héran. Orang banjak memandang kepada si Sabtoe.
"Engkau katakan tadi, babiat disini!" kata si Sabtoe dalam bahasa Mandailing kepada si Maia.
"Oo, "babiak" toe aratino "basah" <sup>2</sup>) boekan harimau", djawab si Maia. Orang banjak itoe merasa ketjéwa, tetapi geli dan riang mendengar djawab itoe.
Beberapa hari lamanja "babiak aratino basah" mendjadi senda goerau kepada orang-orang kampoeng.
Tjeritera ini, biarpoen telah diboemboei sedikit 'ibarat goelai, tetapi soenggoeh-soenggoeh telah kedjadian, dan masih hangat-hangat.
Boekan sekali ini lagi salah pengertian telah terdjadi antara anak Menangkabau dan anak Mandailing. Soeatoe pergeloetan soedah pernah beroebah djadi pergoelatan, oléh karena salah pengertian djoega.
Seorang Mandailing bergeloet bermain-main dengan seorang Menangkabau. Dengan tidak disengadja anak Mandailing itoe tertampar oléh anak Menangkabau itoe.
"Oelang", kata orang Mandailing itoe.
Tentoe sadja ditampar sekali lagi oléh orang Menangkabau itoe.
<hr style="width:20%; margin:left;" />
<sup>1</sup> Ik heb volstrekt geen tijger gezien. I did not see a tiger at all.
<sup>2</sup> "Babiak" beteekent "basah"; 'Babiak' means 'basah'.<noinclude></noinclude>
hjn89w5ogwr7bsi2qpusx9p83s0kj0i
297765
297764
2026-06-13T05:45:16Z
Link PB
26772
297765
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|6|SALAH PENGERTIAN||}}</noinclude>"Baik!" kata si Maia laloe pergi akan memoelaï pekerdjaannja dari sebelah oedjoeng, tetapi baharoe sebentar ia bekerdja, ia datang kembali.
"Mengapa?" bertanja si Sabtoe.
"Babiak disitoe, biar..."
"Aa, mati kita!" berseroe si Sabtoe teroes berlari sipat koeping.
Melihat kelakoean jang bersalahan itoe, tentoe sadja si Maia terbit takoetnja, laloe berlari poela menoeroet si Sabtoe.
Mendengar teriak soeaminja, isteri si Sabtoe terkedjoet, keloear dari dangau dan berlari poela sambil berteriak-teriak. Berlarilah ketiganja djatoeh bangoen, tidak mempedoelikan semak dan doeri. Dimoeka sekali si Sabtoe dengan pakaiannja jang amat koemal. Pada tangannja seboeah tempoeroeng penampoeng getah. Dibelakangnja si Maia, berbadjoe jang longgar, pindjaman dari si Sabtoe, dan dibelakang sekali isteri toean roemah dengan seléndangnja jang terdjéla-djéla.
"Ada apa, Sabtoe?" bertanja orang dengan hérannja.
"Babiat, hh, hh, hh!"
Orang dikampoeng mendjadi riboet, karena pada keboen-keboen jang hampiran banjak orang jang lagi menjadap, diantaranja ada kanak-kanak. Orang kampoeng segera berkoempoel siap dengan sendjata, laloe pergi menoedjoe keboen si Sabtoe. Setelah dekat, orangpoen berdjalan lebih berhati-hati sambil mengintip kesana kemari.
"Dimanakah engkau lihat tadi harimau itoe?" bertanja seorang kepada si Sabtoe, karena bekas-bekasnjapoen ta' ada tampak dalam keboen.
"Saja tidak melihat, si Maia jang melihat", djawab si Sabtoe.
Si Maia ditanja orang dengan bahasa Menangkabau.
"Inda' ado dén malié' harimau do!" <sup>1</sup>) djawab si Maia dengan héran. Orang banjak memandang kepada si Sabtoe.
"Engkau katakan tadi, babiat disini!" kata si Sabtoe dalam bahasa Mandailing kepada si Maia.
"Oo, "babiak" toe aratino "basah" <sup>2</sup>) boekan harimau", djawab si Maia. Orang banjak itoe merasa ketjéwa, tetapi geli dan riang mendengar djawab itoe.
Beberapa hari lamanja "babiak aratino basah" mendjadi senda goerau kepada orang-orang kampoeng.
Tjeritera ini, biarpoen telah diboemboei sedikit 'ibarat goelai, tetapi soenggoeh-soenggoeh telah kedjadian, dan masih hangat-hangat.
Boekan sekali ini lagi salah pengertian telah terdjadi antara anak Menangkabau dan anak Mandailing. Soeatoe pergeloetan soedah pernah beroebah djadi pergoelatan, oléh karena salah pengertian djoega.
Seorang Mandailing bergeloet bermain-main dengan seorang Menangkabau. Dengan tidak disengadja anak Mandailing itoe tertampar oléh anak Menangkabau itoe.
"Oelang", kata orang Mandailing itoe.
Tentoe sadja ditampar sekali lagi oléh orang Menangkabau itoe.
<hr style="width:20%; margin:left;" />
<sup>1</sup>) Ik heb volstrekt geen tijger gezien. I did not see a tiger at all.
<sup>2</sup>) "Babiak" beteekent "basah"; 'Babiak' means 'basah'.<noinclude></noinclude>
k21quhe10wlusj6zkmnba29l76julgz
297859
297765
2026-06-13T07:48:33Z
Link PB
26772
297859
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|6|SALAH PENGERTIAN||}}</small></noinclude>"Baik!" kata si Maia laloe pergi akan memoelaï pekerdjaannja dari sebelah oedjoeng, tetapi baharoe sebentar ia bekerdja, ia datang kembali.
"Mengapa?" bertanja si Sabtoe.
"Babiak disitoe, biar..."
"Aa, mati kita!" berseroe si Sabtoe teroes berlari sipat koeping.
Melihat kelakoean jang bersalahan itoe, tentoe sadja si Maia terbit takoetnja, laloe berlari poela menoeroet si Sabtoe.
Mendengar teriak soeaminja, isteri si Sabtoe terkedjoet, keloear dari dangau dan berlari poela sambil berteriak-teriak. Berlarilah ketiganja djatoeh bangoen, tidak mempedoelikan semak dan doeri. Dimoeka sekali si Sabtoe dengan pakaiannja jang amat koemal. Pada tangannja seboeah tempoeroeng penampoeng getah. Dibelakangnja si Maia, berbadjoe jang longgar, pindjaman dari si Sabtoe, dan dibelakang sekali isteri toean roemah dengan seléndangnja jang terdjéla-djéla.
"Ada apa, Sabtoe?" bertanja orang dengan hérannja.
"Babiat, hh, hh, hh!"
Orang dikampoeng mendjadi riboet, karena pada keboen-keboen jang hampiran banjak orang jang lagi menjadap, diantaranja ada kanak-kanak. Orang kampoeng segera berkoempoel siap dengan sendjata, laloe pergi menoedjoe keboen si Sabtoe. Setelah dekat, orangpoen berdjalan lebih berhati-hati sambil mengintip kesana kemari.
"Dimanakah engkau lihat tadi harimau itoe?" bertanja seorang kepada si Sabtoe, karena bekas-bekasnjapoen ta' ada tampak dalam keboen.
"Saja tidak melihat, si Maia jang melihat", djawab si Sabtoe.
Si Maia ditanja orang dengan bahasa Menangkabau.
"Inda' ado dén malié' harimau do!" <sup>1</sup>) djawab si Maia dengan héran. Orang banjak memandang kepada si Sabtoe.
"Engkau katakan tadi, babiat disini!" kata si Sabtoe dalam bahasa Mandailing kepada si Maia.
"Oo, "babiak" toe aratino "basah" <sup>2</sup>) boekan harimau", djawab si Maia. Orang banjak itoe merasa ketjéwa, tetapi geli dan riang mendengar djawab itoe.
Beberapa hari lamanja "babiak aratino basah" mendjadi senda goerau kepada orang-orang kampoeng.
Tjeritera ini, biarpoen telah diboemboei sedikit 'ibarat goelai, tetapi soenggoeh-soenggoeh telah kedjadian, dan masih hangat-hangat.
Boekan sekali ini lagi salah pengertian telah terdjadi antara anak Menangkabau dan anak Mandailing. Soeatoe pergeloetan soedah pernah beroebah djadi pergoelatan, oléh karena salah pengertian djoega.
Seorang Mandailing bergeloet bermain-main dengan seorang Menangkabau. Dengan tidak disengadja anak Mandailing itoe tertampar oléh anak Menangkabau itoe.
"Oelang", kata orang Mandailing itoe.
Tentoe sadja ditampar sekali lagi oléh orang Menangkabau itoe.
<hr style="width:20%; margin:left;" />
<sup>1</sup>) Ik heb volstrekt geen tijger gezien. I did not see a tiger at all.
<sup>2</sup>) "Babiak" beteekent "basah"; 'Babiak' means 'basah'.<noinclude></noinclude>
nydo6dodrpgwiffuhjr6u4o24lz4go1
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/23
104
105535
297766
2026-06-13T05:47:07Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297766
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||PIDATO JANG GAGAL|7|}}</noinclude>Tiap-tiap kali orang Mandailing itoe mengatakan „oelang”, sebanjak kali itoe poela ia ditampar lawannja. Achirnja „oelang, ah mantjit!” kata orang Mandailing itoe dengan goesarnja.
Orang Menangkabau itoe menampar dengan goesarnja poela.
Pertempoeran terdjadi. Jang seorang bendjol-bendjol, jang lain bengkak-bengkak. Tetapi perdamaian segera djoega berhoeboeng kembali, setelah kedoeanja tahoe, bahwa meréka itoe telah sama-sama salah mengerti.
Adapoen „oelang” bahasa Mandailing, artinja djangan. Pada sangka orang Menangkabau itoe minta tampar lagi, sebab itoe ditamparnja poela.
„Mantjit” itoe artinja sakit; pada sangka anak Menangkabau itoe ia dikatakan mantjik (tikoes), sebab itoe ia marah poela, sehingga terdjadi pertempoeran.
{{right|M. Kasim.}}
{{center|'''PIDATO JANG GAGAL'''}}
1 Januari 19..
Inl. ambtenaren dan kepala-kepala anak negeri berkoempoel dikantor district — menoenggoe poekoel 10 — akan bersama-sama pergi keroemah toean Controleur mengoetjapkan selamat tahoen baharoe.
Seorang kepala anak negeri, jang tertoea, jang biasa berpidato pada waktoe jang begini, beralangan karena sakit. Sebab itoe terpaksa ditjari akan gantinja.
Diantara jang hadir ada seorang kepala, jang tabi’atnja mengakoe segala pandai. Tidak ada pidato orang, jang tidak ditjatjatnja: inilah jang salah, itoelah jang koerang tepat.
Meskipoen ta’ ada jang pertjaja akan ketjakapannja dalam pekerdjaan berpidato, tetapi jang hadir sepakat semoeanja menoendjoek dia akan berpidato sekali ini, barangkali didalam hati masing-masing hendak menempelak dia, soepaja ia insaf akan dirinja.
Baharoe maksoed itoe disampaikan kepadanja, moekanja teroes djadi poetjat dan anggotanja gementar. Meskipoen ia teringat akan kata-katanja jang soedah banjak telandjoer, mentjatjat pidato orang, tetapi karena ta’ lantas angannja akan berpidato pada madjelis jang sebesar itoe, ditjobanja djoega menolak, dengan mengatakan beberapa hélah, akan tetapi sekalian jang hadir tetap pada permintaannja.
Maoe ta’ maoe ia terpaksa menerima.
Waktoe tinggal ½ djam lagi. Ditjoba-tjobanja menjoesoen pidato itoe dalam hatinja, tidak dapat. Pikirannja boentoe, hatinja berdebar-debar. Apa ‘akal?
Dihampirinja seorang goeroe, diadjaknja pergi keloear: „Tolong saja dahoeloe engkoe goeroe”, katanja dengan soeara merajoe.
„Ditolong mengapa engkoe?”
„Mengadjar saja berpidato, apa-apa jang patoet diseboet dalam pidato itoe”.<noinclude></noinclude>
5byp16tj4gzxg1b1dldt3cxn2b5umf0
297781
297766
2026-06-13T06:05:26Z
Link PB
26772
297781
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||PIDATO JANG GAGAL|7|}}</noinclude>Tiap-tiap kali orang Mandailing itoe mengatakan „oelang”, sebanjak kali itoe poela ia ditampar lawannja. Achirnja „oelang, ah mantjit!” kata orang Mandailing itoe dengan goesarnja.
Orang Menangkabau itoe menampar dengan goesarnja poela.
Pertempoeran terdjadi. Jang seorang bendjol-bendjol, jang lain bengkak-bengkak. Tetapi perdamaian segera djoega berhoeboeng kembali, setelah kedoeanja tahoe, bahwa meréka itoe telah sama-sama salah mengerti.
Adapoen „oelang” bahasa Mandailing, artinja djangan. Pada sangka orang Menangkabau itoe minta tampar lagi, sebab itoe ditamparnja poela.
„Mantjit” itoe artinja sakit; pada sangka anak Menangkabau itoe ia dikatakan mantjik (tikoes), sebab itoe ia marah poela, sehingga terdjadi pertempoeran.
{{right|M. Kasim.}}
{{center|<big>PIDATO JANG GAGAL</big>}}
1 Januari 19..
Inl. ambtenaren dan kepala-kepala anak negeri berkoempoel dikantor district — menoenggoe poekoel 10 — akan bersama-sama pergi keroemah toean Controleur mengoetjapkan selamat tahoen baharoe.
Seorang kepala anak negeri, jang tertoea, jang biasa berpidato pada waktoe jang begini, beralangan karena sakit. Sebab itoe terpaksa ditjari akan gantinja.
Diantara jang hadir ada seorang kepala, jang tabi’atnja mengakoe segala pandai. Tidak ada pidato orang, jang tidak ditjatjatnja: inilah jang salah, itoelah jang koerang tepat.
Meskipoen ta’ ada jang pertjaja akan ketjakapannja dalam pekerdjaan berpidato, tetapi jang hadir sepakat semoeanja menoendjoek dia akan berpidato sekali ini, barangkali didalam hati masing-masing hendak menempelak dia, soepaja ia insaf akan dirinja.
Baharoe maksoed itoe disampaikan kepadanja, moekanja teroes djadi poetjat dan anggotanja gementar. Meskipoen ia teringat akan kata-katanja jang soedah banjak telandjoer, mentjatjat pidato orang, tetapi karena ta’ lantas angannja akan berpidato pada madjelis jang sebesar itoe, ditjobanja djoega menolak, dengan mengatakan beberapa hélah, akan tetapi sekalian jang hadir tetap pada permintaannja.
Maoe ta’ maoe ia terpaksa menerima.
Waktoe tinggal ½ djam lagi. Ditjoba-tjobanja menjoesoen pidato itoe dalam hatinja, tidak dapat. Pikirannja boentoe, hatinja berdebar-debar. Apa ‘akal?
Dihampirinja seorang goeroe, diadjaknja pergi keloear: „Tolong saja dahoeloe engkoe goeroe”, katanja dengan soeara merajoe.
„Ditolong mengapa engkoe?”
„Mengadjar saja berpidato, apa-apa jang patoet diseboet dalam pidato itoe”.<noinclude></noinclude>
7tt9v3hfmlswc7cb7lhbawr6vsxv93b
297860
297781
2026-06-13T07:48:49Z
Link PB
26772
297860
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||PIDATO JANG GAGAL|7|}}</small></noinclude>Tiap-tiap kali orang Mandailing itoe mengatakan „oelang”, sebanjak kali itoe poela ia ditampar lawannja. Achirnja „oelang, ah mantjit!” kata orang Mandailing itoe dengan goesarnja.
Orang Menangkabau itoe menampar dengan goesarnja poela.
Pertempoeran terdjadi. Jang seorang bendjol-bendjol, jang lain bengkak-bengkak. Tetapi perdamaian segera djoega berhoeboeng kembali, setelah kedoeanja tahoe, bahwa meréka itoe telah sama-sama salah mengerti.
Adapoen „oelang” bahasa Mandailing, artinja djangan. Pada sangka orang Menangkabau itoe minta tampar lagi, sebab itoe ditamparnja poela.
„Mantjit” itoe artinja sakit; pada sangka anak Menangkabau itoe ia dikatakan mantjik (tikoes), sebab itoe ia marah poela, sehingga terdjadi pertempoeran.
{{right|M. Kasim.}}
{{center|<big>PIDATO JANG GAGAL</big>}}
1 Januari 19..
Inl. ambtenaren dan kepala-kepala anak negeri berkoempoel dikantor district — menoenggoe poekoel 10 — akan bersama-sama pergi keroemah toean Controleur mengoetjapkan selamat tahoen baharoe.
Seorang kepala anak negeri, jang tertoea, jang biasa berpidato pada waktoe jang begini, beralangan karena sakit. Sebab itoe terpaksa ditjari akan gantinja.
Diantara jang hadir ada seorang kepala, jang tabi’atnja mengakoe segala pandai. Tidak ada pidato orang, jang tidak ditjatjatnja: inilah jang salah, itoelah jang koerang tepat.
Meskipoen ta’ ada jang pertjaja akan ketjakapannja dalam pekerdjaan berpidato, tetapi jang hadir sepakat semoeanja menoendjoek dia akan berpidato sekali ini, barangkali didalam hati masing-masing hendak menempelak dia, soepaja ia insaf akan dirinja.
Baharoe maksoed itoe disampaikan kepadanja, moekanja teroes djadi poetjat dan anggotanja gementar. Meskipoen ia teringat akan kata-katanja jang soedah banjak telandjoer, mentjatjat pidato orang, tetapi karena ta’ lantas angannja akan berpidato pada madjelis jang sebesar itoe, ditjobanja djoega menolak, dengan mengatakan beberapa hélah, akan tetapi sekalian jang hadir tetap pada permintaannja.
Maoe ta’ maoe ia terpaksa menerima.
Waktoe tinggal ½ djam lagi. Ditjoba-tjobanja menjoesoen pidato itoe dalam hatinja, tidak dapat. Pikirannja boentoe, hatinja berdebar-debar. Apa ‘akal?
Dihampirinja seorang goeroe, diadjaknja pergi keloear: „Tolong saja dahoeloe engkoe goeroe”, katanja dengan soeara merajoe.
„Ditolong mengapa engkoe?”
„Mengadjar saja berpidato, apa-apa jang patoet diseboet dalam pidato itoe”.<noinclude></noinclude>
aum9quhioy4x7j24sxstyo2lw2g5z3v
297873
297860
2026-06-13T08:01:34Z
Link PB
26772
297873
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||PIDATO JANG GAGAL|7|}}</small></noinclude>Tiap-tiap kali orang Mandailing itoe mengatakan „oelang”, sebanjak kali itoe poela ia ditampar lawannja. Achirnja „oelang, ah mantjit!” kata orang Mandailing itoe dengan goesarnja.
Orang Menangkabau itoe menampar dengan goesarnja poela.
Pertempoeran terdjadi. Jang seorang bendjol-bendjol, jang lain bengkak-bengkak. Tetapi perdamaian segera djoega berhoeboeng kembali, setelah kedoeanja tahoe, bahwa meréka itoe telah sama-sama salah mengerti.
Adapoen „oelang” bahasa Mandailing, artinja djangan. Pada sangka orang Menangkabau itoe minta tampar lagi, sebab itoe ditamparnja poela.
„Mantjit” itoe artinja sakit; pada sangka anak Menangkabau itoe ia dikatakan mantjik (tikoes), sebab itoe ia marah poela, sehingga terdjadi pertempoeran.
{{right|M. {{smallcaps|Kasim}}.}}
{{center|<big>PIDATO JANG GAGAL</big>}}
1 Januari 19..
Inl. ambtenaren dan kepala-kepala anak negeri berkoempoel dikantor district — menoenggoe poekoel 10 — akan bersama-sama pergi keroemah toean Controleur mengoetjapkan selamat tahoen baharoe.
Seorang kepala anak negeri, jang tertoea, jang biasa berpidato pada waktoe jang begini, beralangan karena sakit. Sebab itoe terpaksa ditjari akan gantinja.
Diantara jang hadir ada seorang kepala, jang tabi’atnja mengakoe segala pandai. Tidak ada pidato orang, jang tidak ditjatjatnja: inilah jang salah, itoelah jang koerang tepat.
Meskipoen ta’ ada jang pertjaja akan ketjakapannja dalam pekerdjaan berpidato, tetapi jang hadir sepakat semoeanja menoendjoek dia akan berpidato sekali ini, barangkali didalam hati masing-masing hendak menempelak dia, soepaja ia insaf akan dirinja.
Baharoe maksoed itoe disampaikan kepadanja, moekanja teroes djadi poetjat dan anggotanja gementar. Meskipoen ia teringat akan kata-katanja jang soedah banjak telandjoer, mentjatjat pidato orang, tetapi karena ta’ lantas angannja akan berpidato pada madjelis jang sebesar itoe, ditjobanja djoega menolak, dengan mengatakan beberapa hélah, akan tetapi sekalian jang hadir tetap pada permintaannja.
Maoe ta’ maoe ia terpaksa menerima.
Waktoe tinggal ½ djam lagi. Ditjoba-tjobanja menjoesoen pidato itoe dalam hatinja, tidak dapat. Pikirannja boentoe, hatinja berdebar-debar. Apa ‘akal?
Dihampirinja seorang goeroe, diadjaknja pergi keloear: „Tolong saja dahoeloe engkoe goeroe”, katanja dengan soeara merajoe.
„Ditolong mengapa engkoe?”
„Mengadjar saja berpidato, apa-apa jang patoet diseboet dalam pidato itoe”.<noinclude></noinclude>
qlsh4x0vnd6vpoxzf2sstkk7sp2uv7w
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/24
104
105536
297767
2026-06-13T05:49:47Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297767
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|8|PIDATO JANG GAGAL||}}</noinclude>Dengan tersenjoem, engkoe goeroe itoepoen mengadjar dia, dan apa jang diseboet goeroe itoe ditoeroetnja lambat-lambat. Akan tetapi karena ia soedah goegoep, pengadjaran goeroe itoe tidak berapa jang masoek kedalam hatinja, sedang waktoe bertambah dekat djoega.
Waktoe tinggal lima menit lagi.
"Tolong djoega saja nanti engkoe goeroe!" katanja dengan napas jang besar.
"Ditolong bagaimana lagi, engkoe?"
"Berdirilah nanti dekat-dekat dibelakangkoe, dan tiap-tiap saja tersangkoet, tolong bisikkan dari belakang".
"Baiklah engkoe, tetapi..."
"Djangan tetapi-tetapi lagi engkoe, saja tidak loepa nanti akan..." Waktoepoen sampai.
Engkoe-engkoe jang banjak itoe berangkat menoedjoe roemah toean Controleur, laloe naik. Setelah berdjabat tangan, engkoe-engkoe itoepoen berdirilah beratoeran. Kepala negeri jang tadi madjoelah selangkah kemoeka, dibelakangnja kelihatan engkoe goeroe, temannja berdjandji tadi.
Melihat mata sekalian jang hadir sama-sama menoedjoe kepadanja, kepala negeri kita itoepoen tambah berdebar-debar hatinja, dadanja kelihatan naik toeroen, perasaannja sebagai tidak berdjedjak diboemi lagi. Dalam hatinja ia menjoempahi engkoe-engkoe, jang menoendjoek dia berpidato itoe. Achirnja diberanikannja hatinja, laloe memoelai pidatonja dengan tangan jang menggigil dan soeara jang gementar.
"Padoeka toean Controleur dan njonja jang terhormat! Atas nama engkoe-engkoe jang hadir (sampai disini masih lantjar, sebab dihafal) saja sebagai lidah... ja lidah... eh boekan... oedjoeng lidah, (disini moelai koesoet) akan menjampaikan kata moefakat sepatah doea kehadapan padoeka toean. Saja harap, kalau ada chilaf dan djanggal, harap dima'afkan".
Mendengar perkataan chilaf dan djanggal harap dima'afkan, pegawai jang moeda-moeda moelai berbisik: "O, kita sekarang ada dalam komidi bangsawan?" kata meréka itoe.
Melihat meréka berbisik-bisik itoe, toekang pidato kita bertambah goegoep, perkataannja keloear tertahan-tahan, tidak tentoe oedjoeng pangkalnja, meskipoen engkoe goeroe tadi setia membantoe dari belakang.
"Hari ini hari tahoen baharoe", kata pembitjara meneroeskan pidatonja, "djadi kami sekalian datang kasi selamat kepada toean... ja, saja loepa, kepada njonja djoega. Kami harap toean pandjang 'oemoer, kami djoega pandjang 'oemoer dan... njonja djoega pandjang 'oemoer... Sekarang saja peringatkan lagi tentang perintah toean selama ini, ada... koerang keras..."
Mendengar itoe sekalian jang hadir diam, moeka toean Controleur mendjadi mérah dan matanja terbeliak.
"Saja harap", kata pembitjara poela, "soepaja toean... ah djangan ganggoe saja lagi... djangan adjar lagi..."<noinclude></noinclude>
3cndze1wqc8omosn653s3nza7jgnlsd
297861
297767
2026-06-13T07:50:17Z
Link PB
26772
297861
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|8|PIDATO JANG GAGAL||}}</small></noinclude>Dengan tersenjoem, engkoe goeroe itoepoen mengadjar dia, dan apa jang diseboet goeroe itoe ditoeroetnja lambat-lambat. Akan tetapi karena ia soedah goegoep, pengadjaran goeroe itoe tidak berapa jang masoek kedalam hatinja, sedang waktoe bertambah dekat djoega.
Waktoe tinggal lima menit lagi.
"Tolong djoega saja nanti engkoe goeroe!" katanja dengan napas jang besar.
"Ditolong bagaimana lagi, engkoe?"
"Berdirilah nanti dekat-dekat dibelakangkoe, dan tiap-tiap saja tersangkoet, tolong bisikkan dari belakang".
"Baiklah engkoe, tetapi..."
"Djangan tetapi-tetapi lagi engkoe, saja tidak loepa nanti akan..." Waktoepoen sampai.
Engkoe-engkoe jang banjak itoe berangkat menoedjoe roemah toean Controleur, laloe naik. Setelah berdjabat tangan, engkoe-engkoe itoepoen berdirilah beratoeran. Kepala negeri jang tadi madjoelah selangkah kemoeka, dibelakangnja kelihatan engkoe goeroe, temannja berdjandji tadi.
Melihat mata sekalian jang hadir sama-sama menoedjoe kepadanja, kepala negeri kita itoepoen tambah berdebar-debar hatinja, dadanja kelihatan naik toeroen, perasaannja sebagai tidak berdjedjak diboemi lagi. Dalam hatinja ia menjoempahi engkoe-engkoe, jang menoendjoek dia berpidato itoe. Achirnja diberanikannja hatinja, laloe memoelai pidatonja dengan tangan jang menggigil dan soeara jang gementar.
"Padoeka toean Controleur dan njonja jang terhormat! Atas nama engkoe-engkoe jang hadir (sampai disini masih lantjar, sebab dihafal) saja sebagai lidah... ja lidah... eh boekan... oedjoeng lidah, (disini moelai koesoet) akan menjampaikan kata moefakat sepatah doea kehadapan padoeka toean. Saja harap, kalau ada chilaf dan djanggal, harap dima'afkan".
Mendengar perkataan chilaf dan djanggal harap dima'afkan, pegawai jang moeda-moeda moelai berbisik: "O, kita sekarang ada dalam komidi bangsawan?" kata meréka itoe.
Melihat meréka berbisik-bisik itoe, toekang pidato kita bertambah goegoep, perkataannja keloear tertahan-tahan, tidak tentoe oedjoeng pangkalnja, meskipoen engkoe goeroe tadi setia membantoe dari belakang.
"Hari ini hari tahoen baharoe", kata pembitjara meneroeskan pidatonja, "djadi kami sekalian datang kasi selamat kepada toean... ja, saja loepa, kepada njonja djoega. Kami harap toean pandjang 'oemoer, kami djoega pandjang 'oemoer dan... njonja djoega pandjang 'oemoer... Sekarang saja peringatkan lagi tentang perintah toean selama ini, ada... koerang keras..."
Mendengar itoe sekalian jang hadir diam, moeka toean Controleur mendjadi mérah dan matanja terbeliak.
"Saja harap", kata pembitjara poela, "soepaja toean... ah djangan ganggoe saja lagi... djangan adjar lagi..."<noinclude></noinclude>
avqvmu0hm1r1ur6ikw2a7tvvyt7g6vb
Halaman:Almanak Sumatera.djvu/249
104
105537
297773
2026-06-13T06:00:01Z
ArmandDitto
27230
/* Telah diuji baca */
297773
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="ArmandDitto" /></noinclude>MASALAH TJINA
Tenrang orang Tjina di Sumatera baru diketahui dari tjatatan pelantjong Fa Hien ditahun 414 M jang melintas di Selat Malaka dalam suatu perdjalanan pulang dari Srilangka ke Canton. Karena dilanda topan, Fa Hien terpaksa singgah di Yepoti, apakah jang dimaksudkannja wilajah Palembang, Djawa ataukah Kalimantan Barat, masih dalam keraguan.
Dalam tahun 671 M biksu I Tsing berkundjung ke Sumatera, dia men-
tjeritakan bahwa ia berada di Sriwidjaja (Palembang) dan Melaju (Djambi), tapi tidak menjebut-njebut tentang bangsanja. Namun djelas, dengan sudah terbuka luasnja lalu lintas Palembang/Canton disekitar masa tersebut, pendatang² masa tersebut, pendatang² asing (termasuk Tjina) telah mundar mandir, bahkan djuga ada jang tinggal di Palembang atau di-bandar² lain, se-tidak²nja untuk sementara.
Semendjak itu dapat ditjatat kundjung mengundjungi perutusan jang kontinu antara keradjaan² di Indonesia (terutama Sriwidjaja) dengan Tjina sampai abad ke-11; tapi bahwa hubungan tersebut sedjak semula tidak senantiasa menggembirakan diantaranja ditandai dengan serangan Sriwidjaja ditahun 767 M. sampai ke Tonking (Indo Tjina) dalam usaha mengatasi dominasi Tjina disana, jang oleh Sriwidjaja mungkin dianggap mengganggu ketertiban pengaruhnja dan lalu lintas perdagangan internasionalnja.
Hubungan perdagangan jang giat antara pelabuhan? Palembang (San Fo
Chei), Djambi (Chen Pi), Atjeh (Lanwuli), Barus (Fin Su) dan pelabuhan² lain di Sumatera terdapat dalam tjatatan jang seksama oleh Chao Ju Kua, mengenai masa sedjak permulaan abad ke-11 sampai ke-13, jang menjebutkan tentang ratusan ragam barang² ekspor dari Sumatera.
Ditahun 1292 ketika armada Kublai Khan dari Tjina melakukan agressinja jang gagal ke Djawa Timur, armada ini singgah di Belitung untuk menjiapkan perahu² ketjil jang dapat digunakan untuk pendaratan pantai dan sungai.
Ditahun 1377 ketika mendengar bahwa di Palembang sudah tiba serombongan perucusan Tjina, Modjopahit bertindak kesana menangkap perutusan tersebut dan memenggal kepala mereka.
Ditjeritakan oleh sumber Tjina, bahwa Laksamana Cheng Ho dengan ar-
madanja mengadakan pelajaran ber-kali² antara tahun 1405 s/d 1430 kebeberapa pelabuhan Sumatera. Faktor² njata, terutama politik (dan djuga peladjaran) ditahun 1292 dan 1377 itu, sedikit banjak mengesankan, bahwa untuk seterusnja bangsa ini tidak bisa mengimpikan sesuatu dominasi politik disini.
Tapi tidak demikian halnja dalam dominasi ekonomi, halmana dibuktikan oleh perkembangan jang menjusul kemudian.
Sebelum orang Eropah berpidjak (berkuasa) dikepulauan ini, orang Tjina tidak banjak mendapat peluang dalam usaha memperkaja diri. Lagi pula dibebe-
25<noinclude></noinclude>
8sr7a3d6i3qlysoq1ryepzu6wo75dj6
297774
297773
2026-06-13T06:00:49Z
ArmandDitto
27230
297774
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="ArmandDitto" /></noinclude>MASALAH TJINA
Tentang orang Tjina di Sumatera baru diketahui dari tjatatan pelantjong Fa Hien ditahun 414 M jang melintas di Selat Malaka dalam suatu perdjalanan pulang dari Srilangka ke Canton. Karena dilanda topan, Fa Hien terpaksa singgah di Yepoti, apakah jang dimaksudkannja wilajah Palembang, Djawa ataukah Kalimantan Barat, masih dalam keraguan.
Dalam tahun 671 M biksu I Tsing berkundjung ke Sumatera, dia men-
tjeritakan bahwa ia berada di Sriwidjaja (Palembang) dan Melaju (Djambi), tapi tidak menjebut-njebut tentang bangsanja. Namun djelas, dengan sudah terbuka luasnja lalu lintas Palembang/Canton disekitar masa tersebut, pendatang² masa tersebut, pendatang² asing (termasuk Tjina) telah mundar mandir, bahkan djuga ada jang tinggal di Palembang atau di-bandar² lain, se-tidak²nja untuk sementara.
Semendjak itu dapat ditjatat kundjung mengundjungi perutusan jang kontinu antara keradjaan² di Indonesia (terutama Sriwidjaja) dengan Tjina sampai abad ke-11; tapi bahwa hubungan tersebut sedjak semula tidak senantiasa menggembirakan diantaranja ditandai dengan serangan Sriwidjaja ditahun 767 M. sampai ke Tonking (Indo Tjina) dalam usaha mengatasi dominasi Tjina disana, jang oleh Sriwidjaja mungkin dianggap mengganggu ketertiban pengaruhnja dan lalu lintas perdagangan internasionalnja.
Hubungan perdagangan jang giat antara pelabuhan? Palembang (San Fo
Chei), Djambi (Chen Pi), Atjeh (Lanwuli), Barus (Fin Su) dan pelabuhan² lain di Sumatera terdapat dalam tjatatan jang seksama oleh Chao Ju Kua, mengenai masa sedjak permulaan abad ke-11 sampai ke-13, jang menjebutkan tentang ratusan ragam barang² ekspor dari Sumatera.
Ditahun 1292 ketika armada Kublai Khan dari Tjina melakukan agressinja jang gagal ke Djawa Timur, armada ini singgah di Belitung untuk menjiapkan perahu² ketjil jang dapat digunakan untuk pendaratan pantai dan sungai.
Ditahun 1377 ketika mendengar bahwa di Palembang sudah tiba serombongan perucusan Tjina, Modjopahit bertindak kesana menangkap perutusan tersebut dan memenggal kepala mereka.
Ditjeritakan oleh sumber Tjina, bahwa Laksamana Cheng Ho dengan ar-
madanja mengadakan pelajaran ber-kali² antara tahun 1405 s/d 1430 kebeberapa pelabuhan Sumatera. Faktor² njata, terutama politik (dan djuga peladjaran) ditahun 1292 dan 1377 itu, sedikit banjak mengesankan, bahwa untuk seterusnja bangsa ini tidak bisa mengimpikan sesuatu dominasi politik disini.
Tapi tidak demikian halnja dalam dominasi ekonomi, halmana dibuktikan oleh perkembangan jang menjusul kemudian.
Sebelum orang Eropah berpidjak (berkuasa) dikepulauan ini, orang Tjina tidak banjak mendapat peluang dalam usaha memperkaja diri. Lagi pula dibebe-
25<noinclude></noinclude>
0ccdt7ytlvlnmbeo1l2wpf2ohzhv9dq
297775
297774
2026-06-13T06:02:36Z
ArmandDitto
27230
297775
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="ArmandDitto" /></noinclude>MASALAH TJINA
Tentang orang Tjina di Sumatera baru diketahui dari tjatatan pelantjong Fa Hien ditahun 414 M jang melintas di Selat Malaka dalam suatu perdjalanan pulang dari Srilangka ke Canton. Karena dilanda topan, Fa Hien terpaksa singgah di Yepoti, apakah jang dimaksudkannja wilajah Palembang, Djawa ataukah Kalimantan Barat, masih dalam keraguan.
Dalam tahun 671 M biksu I Tsing berkundjung ke Sumatera, dia men-
tjeritakan bahwa ia berada di Sriwidjaja (Palembang) dan Melaju (Djambi), tapi tidak menjebut-njebut tentang bangsanja. Namun djelas, dengan sudah terbuka luasnja lalu lintas Palembang/Canton disekitar masa tersebut, pendatang² masa tersebut, pendatang² asing (termasuk Tjina) telah mundar mandir, bahkan djuga ada jang tinggal di Palembang atau di-bandar² lain, se-tidak²nja untuk sementara.
Semendjak itu dapat ditjatat kundjung mengundjungi perutusan jang kontinu antara keradjaan² di Indonesia (terutama Sriwidjaja) dengan Tjina sampai abad ke-11; tapi bahwa hubungan tersebut sedjak semula tidak senantiasa menggembirakan diantaranja ditandai dengan serangan Sriwidjaja ditahun 767 M. sampai ke Tonking (Indo Tjina) dalam usaha mengatasi dominasi Tjina disana, jang oleh Sriwidjaja mungkin dianggap mengganggu ketertiban pengaruhnja dan lalu lintas perdagangan internasionalnja.
Hubungan perdagangan jang giat antara pelabuhan² Palembang (San Fo
Chei), Djambi (Chen Pi), Atjeh (Lanwuli), Barus (Fin Su) dan pelabuhan² lain di Sumatera terdapat dalam tjatatan jang seksama oleh Chao Ju Kua, mengenai masa sedjak permulaan abad ke-11 sampai ke-13, jang menjebutkan tentang ratusan ragam barang² ekspor dari Sumatera.
Ditahun 1292 ketika armada Kublai Khan dari Tjina melakukan agressinja jang gagal ke Djawa Timur, armada ini singgah di Belitung untuk menjiapkan perahu² ketjil jang dapat digunakan untuk pendaratan pantai dan sungai.
Ditahun 1377 ketika mendengar bahwa di Palembang sudah tiba serombongan perucusan Tjina, Modjopahit bertindak kesana menangkap perutusan tersebut dan memenggal kepala mereka.
Ditjeritakan oleh sumber Tjina, bahwa Laksamana Cheng Ho dengan ar-
madanja mengadakan pelajaran ber-kali² antara tahun 1405 s/d 1430 kebeberapa pelabuhan Sumatera. Faktor² njata, terutama politik (dan djuga peladjaran) ditahun 1292 dan 1377 itu, sedikit banjak mengesankan, bahwa untuk seterusnja bangsa ini tidak bisa mengimpikan sesuatu dominasi politik disini.
Tapi tidak demikian halnja dalam dominasi ekonomi, halmana dibuktikan oleh perkembangan jang menjusul kemudian.
Sebelum orang Eropah berpidjak (berkuasa) dikepulauan ini, orang Tjina tidak banjak mendapat peluang dalam usaha memperkaja diri. Lagi pula dibebe-
25<noinclude></noinclude>
03kbj9jxs6boaj4xgh29p1ix28ep0za
297793
297775
2026-06-13T06:20:54Z
ArmandDitto
27230
297793
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="ArmandDitto" /></noinclude>MASALAH TJINA
Tentang orang Tjina di Sumatera baru diketahui dari tjatatan pelantjong Fa Hien ditahun 414 M jang melintas di Selat Malaka dalam suatu perdjalanan pulang dari Srilangka ke Canton. Karena dilanda topan, Fa Hien terpaksa singgah di Yepoti, apakah jang dimaksudkannja wilajah Palembang, Djawa ataukah Kalimantan Barat, masih dalam keraguan.
Dalam tahun 671 M biksu I Tsing berkundjung ke Sumatera, dia men-
tjeritakan bahwa ia berada di Sriwidjaja (Palembang) dan Melaju (Djambi), tapi tidak menjebut-njebut tentang bangsanja. Namun djelas, dengan sudah terbuka luasnja lalu lintas Palembang/Canton disekitar masa tersebut, pendatang² masa tersebut, pendatang² asing (termasuk Tjina) telah mundar mandir, bahkan djuga ada jang tinggal di Palembang atau di-bandar² lain, se-tidak²nja untuk sementara.
Semendjak itu dapat ditjatat kundjung mengundjungi perutusan jang kontinu antara keradjaan² di Indonesia (terutama Sriwidjaja) dengan Tjina sampai abad ke-11; tapi bahwa hubungan tersebut sedjak semula tidak senantiasa menggembirakan diantaranja ditandai dengan serangan Sriwidjaja ditahun 767 M. sampai ke Tonking (Indo Tjina) dalam usaha mengatasi dominasi Tjina disana, jang oleh Sriwidjaja mungkin dianggap mengganggu ketertiban pengaruhnja dan lalu lintas perdagangan internasionalnja.
Hubungan perdagangan jang giat antara pelabuhan² Palembang (San Fo
Chei), Djambi (Chen Pi), Atjeh (Lanwuli), Barus (Fin Su) dan pelabuhan² lain di Sumatera terdapat dalam tjatatan jang seksama oleh Chao Ju Kua, mengenai masa sedjak permulaan abad ke-11 sampai ke-13, jang menjebutkan tentang ratusan ragam barang² ekspor dari Sumatera.
Ditahun 1292 ketika armada Kublai Khan dari Tjina melakukan agressinja jang gagal ke Djawa Timur, armada ini singgah di Belitung untuk menjiapkan perahu² ketjil jang dapat digunakan untuk pendaratan pantai dan sungai.
Ditahun 1377 ketika mendengar bahwa di Palembang sudah tiba serombongan perucusan Tjina, Modjopahit bertindak kesana menangkap perutusan tersebut dan memenggal kepala mereka.
Ditjeritakan oleh sumber Tjina, bahwa Laksamana Cheng Ho dengan ar-
madanja mengadakan pelajaran ber-kali² antara tahun 1405 s/d 1430 kebeberapa pelabuhan Sumatera. Faktor² njata, terutama politik (dan djuga peladjaran) ditahun 1292 dan 1377 itu, sedikit banjak mengesankan, bahwa untuk seterusnja bangsa ini tidak bisa mengimpikan sesuatu dominasi politik disini.
Tapi tidak demikian halnja dalam dominasi ekonomi, halmana dibuktikan oleh perkembangan jang menjusul kemudian.
Sebelum orang Eropah berpidjak (berkuasa) dikepulauan ini, orang Tjina tidak banjak mendapat peluang dalam usaha memperkaja diri. Lagi pula dibebe-<noinclude>225</noinclude>
ebm8523lq43ui35z1nvv4nc1593t0ov
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/25
104
105538
297776
2026-06-13T06:03:28Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297776
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||TERSOEA LAWAN|9|}}</noinclude>"Stop!" kata toean Controleur sambil mengatjoekan tangannja. Jang hadir semoeanja diam dengan hati jang berdebar-debar.
"Apa maksoed toeankoe mengatakan perintah kita koerang keras, dan apa artinja djangan ganggoe saja lagi?" bertanja toean Controleur dengan roepa jang goesar.
"Saja harap... toean djangan... salah mengerti, toean. Goeroe ini mengadjar saja dari belakang, tetapi koerang keras, djadi jang saja bilang koerang keras itoe perkataannja. Dan sebab perkataannja itoe seperti menganggoe sadja, sebab itoe saja bilang, djangan ganggoe saja lagi..."
Moeka toean Controleur kembali djernih dan sambil tertawa dimintanja toeankoe itoe meneroeskan bitjaranja. Tetapi toekang pidato kita soedah mendjadi bingoeng, tidak tahoe apa jang hendak dikatakannja lagi, ia memalis-malis, menoléh kekiri dan kekanan, melihat kebawah médja, matanja terpandang kepada seboeah benda, péstol mainan kanak-kanak, ia toendoek memongoet benda itoe, "ah péstol Sinjo disini toean... berapa harganja toean...?" katanja.
"Jaaah...!" kata toean Controleur, sambil tertawa.
"Hoera! hoera! hoera!" berteriak jang hadir dengan gembira akan menghilangkan ketjelaan pidato itoe.
{{right|M. Kasim.}}
----
<center>=== TERSOEA LAWAN ===</center>
Poekat seorang jang soeka mengena, ta' soeka terkena.
Siapa sadja jang bersinggoeng dengan dia, seboléh-boléh disadapnja 'ibarat hevea. Moeloetnja jang manis, lakoenja jang ramah tamah, itoelah topéngnja akan mengorék dompét kawan.
Dapat-dapat sadja djalan kepadanja. Sekali ia makan dilepau dengan doea orang teman. "Makanlah ikannja oi! Djangan tahan-tahan seléra. Lihat akoe", katanja, memberi tjontoh, sambil menoengkan goelai jang seénak-énaknja kepiringnja. "Melését tinggal melését, oentoek peroet tidak boléh ada besenégéng. Tjoba pikir, peroet hanja satoe, roesak dia, tidak ada djoealannja ditoko, betoel tidak?"
Selesai makan, dengan lagoe seorang jang pemoerah ia bertanja: "Berapa sama sekali, kami bertiga?" katanja sambil memboeka dompét.
"Astaga... akoe tidak membawa oeang ketjil roepanja. Ini sadjalah toekar!" katanja serta melémparkan sehelai oeang kertas harga ''f'' 25.—.
"Tidak ada penoekar sebanjak itoe", mendjaward orang kedai.
Mendengar itoe Poekat kelihatan bernapas lega, sebab poekatnja mengena. Maoe ta' maoe temannjala jang membajar.
"Oi, makan perdéo sekali ini!" katanja poera-poera sebagai menjesal, "tetapi tidak mengapa, sekali lagi akoelah membajar; berganti-ganti kita seperti mandi dipantjoeran", katanja.
Dengan djalan begitoe banjaklah kawan jang disadapnja, sebab itoe berdjalan dengan dia dihindarkan orang.<noinclude></noinclude>
8onsrrnsvppz7g9f1ybg63sljc4dud3
297777
297776
2026-06-13T06:03:45Z
Link PB
26772
297777
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||TERSOEA LAWAN|9|}}</noinclude>"Stop!" kata toean Controleur sambil mengatjoekan tangannja. Jang hadir semoeanja diam dengan hati jang berdebar-debar.
"Apa maksoed toeankoe mengatakan perintah kita koerang keras, dan apa artinja djangan ganggoe saja lagi?" bertanja toean Controleur dengan roepa jang goesar.
"Saja harap... toean djangan... salah mengerti, toean. Goeroe ini mengadjar saja dari belakang, tetapi koerang keras, djadi jang saja bilang koerang keras itoe perkataannja. Dan sebab perkataannja itoe seperti menganggoe sadja, sebab itoe saja bilang, djangan ganggoe saja lagi..."
Moeka toean Controleur kembali djernih dan sambil tertawa dimintanja toeankoe itoe meneroeskan bitjaranja. Tetapi toekang pidato kita soedah mendjadi bingoeng, tidak tahoe apa jang hendak dikatakannja lagi, ia memalis-malis, menoléh kekiri dan kekanan, melihat kebawah médja, matanja terpandang kepada seboeah benda, péstol mainan kanak-kanak, ia toendoek memongoet benda itoe, "ah péstol Sinjo disini toean... berapa harganja toean...?" katanja.
"Jaaah...!" kata toean Controleur, sambil tertawa.
"Hoera! hoera! hoera!" berteriak jang hadir dengan gembira akan menghilangkan ketjelaan pidato itoe.
{{right|M. Kasim.}}
<center>=== TERSOEA LAWAN ===</center>
Poekat seorang jang soeka mengena, ta' soeka terkena.
Siapa sadja jang bersinggoeng dengan dia, seboléh-boléh disadapnja 'ibarat hevea. Moeloetnja jang manis, lakoenja jang ramah tamah, itoelah topéngnja akan mengorék dompét kawan.
Dapat-dapat sadja djalan kepadanja. Sekali ia makan dilepau dengan doea orang teman. "Makanlah ikannja oi! Djangan tahan-tahan seléra. Lihat akoe", katanja, memberi tjontoh, sambil menoengkan goelai jang seénak-énaknja kepiringnja. "Melését tinggal melését, oentoek peroet tidak boléh ada besenégéng. Tjoba pikir, peroet hanja satoe, roesak dia, tidak ada djoealannja ditoko, betoel tidak?"
Selesai makan, dengan lagoe seorang jang pemoerah ia bertanja: "Berapa sama sekali, kami bertiga?" katanja sambil memboeka dompét.
"Astaga... akoe tidak membawa oeang ketjil roepanja. Ini sadjalah toekar!" katanja serta melémparkan sehelai oeang kertas harga ''f'' 25.—.
"Tidak ada penoekar sebanjak itoe", mendjaward orang kedai.
Mendengar itoe Poekat kelihatan bernapas lega, sebab poekatnja mengena. Maoe ta' maoe temannjala jang membajar.
"Oi, makan perdéo sekali ini!" katanja poera-poera sebagai menjesal, "tetapi tidak mengapa, sekali lagi akoelah membajar; berganti-ganti kita seperti mandi dipantjoeran", katanja.
Dengan djalan begitoe banjaklah kawan jang disadapnja, sebab itoe berdjalan dengan dia dihindarkan orang.<noinclude></noinclude>
bo71g8j88xaxxmaa7c4tyumjmlnidv4
297779
297777
2026-06-13T06:04:21Z
Link PB
26772
297779
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||TERSOEA LAWAN|9|}}</noinclude>"Stop!" kata toean Controleur sambil mengatjoekan tangannja. Jang hadir semoeanja diam dengan hati jang berdebar-debar.
"Apa maksoed toeankoe mengatakan perintah kita koerang keras, dan apa artinja djangan ganggoe saja lagi?" bertanja toean Controleur dengan roepa jang goesar.
"Saja harap... toean djangan... salah mengerti, toean. Goeroe ini mengadjar saja dari belakang, tetapi koerang keras, djadi jang saja bilang koerang keras itoe perkataannja. Dan sebab perkataannja itoe seperti menganggoe sadja, sebab itoe saja bilang, djangan ganggoe saja lagi..."
Moeka toean Controleur kembali djernih dan sambil tertawa dimintanja toeankoe itoe meneroeskan bitjaranja. Tetapi toekang pidato kita soedah mendjadi bingoeng, tidak tahoe apa jang hendak dikatakannja lagi, ia memalis-malis, menoléh kekiri dan kekanan, melihat kebawah médja, matanja terpandang kepada seboeah benda, péstol mainan kanak-kanak, ia toendoek memongoet benda itoe, "ah péstol Sinjo disini toean... berapa harganja toean...?" katanja.
"Jaaah...!" kata toean Controleur, sambil tertawa.
"Hoera! hoera! hoera!" berteriak jang hadir dengan gembira akan menghilangkan ketjelaan pidato itoe.
{{right|M. Kasim.}}
{{c|<big>TERSOEA LAWAN</big>}}
Poekat seorang jang soeka mengena, ta' soeka terkena.
Siapa sadja jang bersinggoeng dengan dia, seboléh-boléh disadapnja 'ibarat hevea. Moeloetnja jang manis, lakoenja jang ramah tamah, itoelah topéngnja akan mengorék dompét kawan.
Dapat-dapat sadja djalan kepadanja. Sekali ia makan dilepau dengan doea orang teman. "Makanlah ikannja oi! Djangan tahan-tahan seléra. Lihat akoe", katanja, memberi tjontoh, sambil menoengkan goelai jang seénak-énaknja kepiringnja. "Melését tinggal melését, oentoek peroet tidak boléh ada besenégéng. Tjoba pikir, peroet hanja satoe, roesak dia, tidak ada djoealannja ditoko, betoel tidak?"
Selesai makan, dengan lagoe seorang jang pemoerah ia bertanja: "Berapa sama sekali, kami bertiga?" katanja sambil memboeka dompét.
"Astaga... akoe tidak membawa oeang ketjil roepanja. Ini sadjalah toekar!" katanja serta melémparkan sehelai oeang kertas harga ''f'' 25.—.
"Tidak ada penoekar sebanjak itoe", mendjaward orang kedai.
Mendengar itoe Poekat kelihatan bernapas lega, sebab poekatnja mengena. Maoe ta' maoe temannjala jang membajar.
"Oi, makan perdéo sekali ini!" katanja poera-poera sebagai menjesal, "tetapi tidak mengapa, sekali lagi akoelah membajar; berganti-ganti kita seperti mandi dipantjoeran", katanja.
Dengan djalan begitoe banjaklah kawan jang disadapnja, sebab itoe berdjalan dengan dia dihindarkan orang.<noinclude></noinclude>
nw32rmtxc2a33cynr6ofbxhngxa0i66
297862
297779
2026-06-13T07:50:32Z
Link PB
26772
297862
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||TERSOEA LAWAN|9|}}</small></noinclude>"Stop!" kata toean Controleur sambil mengatjoekan tangannja. Jang hadir semoeanja diam dengan hati jang berdebar-debar.
"Apa maksoed toeankoe mengatakan perintah kita koerang keras, dan apa artinja djangan ganggoe saja lagi?" bertanja toean Controleur dengan roepa jang goesar.
"Saja harap... toean djangan... salah mengerti, toean. Goeroe ini mengadjar saja dari belakang, tetapi koerang keras, djadi jang saja bilang koerang keras itoe perkataannja. Dan sebab perkataannja itoe seperti menganggoe sadja, sebab itoe saja bilang, djangan ganggoe saja lagi..."
Moeka toean Controleur kembali djernih dan sambil tertawa dimintanja toeankoe itoe meneroeskan bitjaranja. Tetapi toekang pidato kita soedah mendjadi bingoeng, tidak tahoe apa jang hendak dikatakannja lagi, ia memalis-malis, menoléh kekiri dan kekanan, melihat kebawah médja, matanja terpandang kepada seboeah benda, péstol mainan kanak-kanak, ia toendoek memongoet benda itoe, "ah péstol Sinjo disini toean... berapa harganja toean...?" katanja.
"Jaaah...!" kata toean Controleur, sambil tertawa.
"Hoera! hoera! hoera!" berteriak jang hadir dengan gembira akan menghilangkan ketjelaan pidato itoe.
{{right|M. Kasim.}}
{{c|<big>TERSOEA LAWAN</big>}}
Poekat seorang jang soeka mengena, ta' soeka terkena.
Siapa sadja jang bersinggoeng dengan dia, seboléh-boléh disadapnja 'ibarat hevea. Moeloetnja jang manis, lakoenja jang ramah tamah, itoelah topéngnja akan mengorék dompét kawan.
Dapat-dapat sadja djalan kepadanja. Sekali ia makan dilepau dengan doea orang teman. "Makanlah ikannja oi! Djangan tahan-tahan seléra. Lihat akoe", katanja, memberi tjontoh, sambil menoengkan goelai jang seénak-énaknja kepiringnja. "Melését tinggal melését, oentoek peroet tidak boléh ada besenégéng. Tjoba pikir, peroet hanja satoe, roesak dia, tidak ada djoealannja ditoko, betoel tidak?"
Selesai makan, dengan lagoe seorang jang pemoerah ia bertanja: "Berapa sama sekali, kami bertiga?" katanja sambil memboeka dompét.
"Astaga... akoe tidak membawa oeang ketjil roepanja. Ini sadjalah toekar!" katanja serta melémparkan sehelai oeang kertas harga ''f'' 25.—.
"Tidak ada penoekar sebanjak itoe", mendjaward orang kedai.
Mendengar itoe Poekat kelihatan bernapas lega, sebab poekatnja mengena. Maoe ta' maoe temannjala jang membajar.
"Oi, makan perdéo sekali ini!" katanja poera-poera sebagai menjesal, "tetapi tidak mengapa, sekali lagi akoelah membajar; berganti-ganti kita seperti mandi dipantjoeran", katanja.
Dengan djalan begitoe banjaklah kawan jang disadapnja, sebab itoe berdjalan dengan dia dihindarkan orang.<noinclude></noinclude>
szrhp3pc7hsbiktlpzptpt1uqsgxsvv
297874
297862
2026-06-13T08:01:52Z
Link PB
26772
297874
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||TERSOEA LAWAN|9|}}</small></noinclude>"Stop!" kata toean Controleur sambil mengatjoekan tangannja. Jang hadir semoeanja diam dengan hati jang berdebar-debar.
"Apa maksoed toeankoe mengatakan perintah kita koerang keras, dan apa artinja djangan ganggoe saja lagi?" bertanja toean Controleur dengan roepa jang goesar.
"Saja harap... toean djangan... salah mengerti, toean. Goeroe ini mengadjar saja dari belakang, tetapi koerang keras, djadi jang saja bilang koerang keras itoe perkataannja. Dan sebab perkataannja itoe seperti menganggoe sadja, sebab itoe saja bilang, djangan ganggoe saja lagi..."
Moeka toean Controleur kembali djernih dan sambil tertawa dimintanja toeankoe itoe meneroeskan bitjaranja. Tetapi toekang pidato kita soedah mendjadi bingoeng, tidak tahoe apa jang hendak dikatakannja lagi, ia memalis-malis, menoléh kekiri dan kekanan, melihat kebawah médja, matanja terpandang kepada seboeah benda, péstol mainan kanak-kanak, ia toendoek memongoet benda itoe, "ah péstol Sinjo disini toean... berapa harganja toean...?" katanja.
"Jaaah...!" kata toean Controleur, sambil tertawa.
"Hoera! hoera! hoera!" berteriak jang hadir dengan gembira akan menghilangkan ketjelaan pidato itoe.
{{right|M. {{smallcaps|Kasim}}.}}
{{c|<big>TERSOEA LAWAN</big>}}
Poekat seorang jang soeka mengena, ta' soeka terkena.
Siapa sadja jang bersinggoeng dengan dia, seboléh-boléh disadapnja 'ibarat hevea. Moeloetnja jang manis, lakoenja jang ramah tamah, itoelah topéngnja akan mengorék dompét kawan.
Dapat-dapat sadja djalan kepadanja. Sekali ia makan dilepau dengan doea orang teman. "Makanlah ikannja oi! Djangan tahan-tahan seléra. Lihat akoe", katanja, memberi tjontoh, sambil menoengkan goelai jang seénak-énaknja kepiringnja. "Melését tinggal melését, oentoek peroet tidak boléh ada besenégéng. Tjoba pikir, peroet hanja satoe, roesak dia, tidak ada djoealannja ditoko, betoel tidak?"
Selesai makan, dengan lagoe seorang jang pemoerah ia bertanja: "Berapa sama sekali, kami bertiga?" katanja sambil memboeka dompét.
"Astaga... akoe tidak membawa oeang ketjil roepanja. Ini sadjalah toekar!" katanja serta melémparkan sehelai oeang kertas harga ''f'' 25.—.
"Tidak ada penoekar sebanjak itoe", mendjaward orang kedai.
Mendengar itoe Poekat kelihatan bernapas lega, sebab poekatnja mengena. Maoe ta' maoe temannjala jang membajar.
"Oi, makan perdéo sekali ini!" katanja poera-poera sebagai menjesal, "tetapi tidak mengapa, sekali lagi akoelah membajar; berganti-ganti kita seperti mandi dipantjoeran", katanja.
Dengan djalan begitoe banjaklah kawan jang disadapnja, sebab itoe berdjalan dengan dia dihindarkan orang.<noinclude></noinclude>
7gj4om8teykaufvv0xoj2ii5zygwwe6
Halaman:Horison 06 1972.pdf/3
104
105539
297778
2026-06-13T06:04:01Z
Adzka Fatiyah
27241
/* Telah diuji baca */
297778
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Adzka Fatiyah" /></noinclude>TJATATAN KEBUDAJAAN
PATA 1974
Pada Tahun 1974 jang akan datang di Indonesia akan dilangsungkan konperensi Pata. Mulai dari sekarang rupanja telah dimulai persiapan-persiapan jang berhubungan dengan konperensi tersebut dengan harapan kita akan dapat mendjadi tuan rumah jang baik dan akan menarik pengundjung asing datang berdujun-dujun kenegeri kita.
Di tahun jang lalu konperensi tersebut telah berlangsung di Malaysia dan telah berhasil baik. Panitia disana rupanja telah bekerdja baik, keras dan turispun telah banjak pula datang. Menuriskan beberapa kesenian mungkin agak mudah didjalankan disana. Tapi untuk negeri kita agak sukar melaksanakan menuriskan ini. Karena ada pendirian jang mengatakan, biarkan pada turis jang masih aseli karena tarian kita diantaranja jang telah dituriskan telah dapat mereka saksikan di Tokyo, Hongkong ataupun Singapura. Dan bagi pendirian ini, adalah tak berbudaja menuriskan kesenian jang utuh dan djadi.
Di Bali misalnja pada tarian ketjak telah mengambil bagian perkelahian ala pilem Hongkong. Dan katanja ini telah menjenangkan hati para turis. Tapi tentunja ini akan djanggal dalam hubungan tari jang telah djati dan utuh.
Dalam seni-rupa Bali pun mengalami nasib jang sama. Seni-rupa tradisionil jang pernah hebat dan sekarang merosot nilainja.
Sebuah museum untuk kota besar Djakarta sekarang sudah sangat mendesak keperluannja, baik dia dilihat pelengkap sebuah kota besar ataupun dari perkembangan seni-rupa itu sendiri. Tamu² jang datang ke Djakarta terutama selalu menanjakan dimana letaknja museum seni-rupa, kepingin lihat lukisan-lukisan Indonesia jang pernah dikenalnja dalam batjaan atau reprodusi². Dia mengeluh kenapa dia tak dapat memenuhi keinginannja ini. Djika nasibnja baik dia akan dapat ditolong mengelilingkan ke kolektor-kolektor.
Djika kita lihat dari perkembangan seni-rupa itu sendiri sudah pada waktunjalah dia ditempatkan disuatu tempat jang lajak disebuah museum agar kita tak menjesal nantinja kehilangan karja-karja jang baik lari keluar.
Djadi sehubungan dengan akan diadakandja konperensi Pata 1974 nanti adalah baiknja kita mempersiapkan pula sebuah museum seni-rupa untuk kota besar kita Djakarta jang nantinja akan dapat pula mengambil bagian jang tjukup menarik dalam konperensi itu nanti.
ZAINI
HORISON / 163<noinclude></noinclude>
pwbq6ccoidrvaw1aesuh5ymtfbkv5do
297780
297778
2026-06-13T06:04:58Z
Adzka Fatiyah
27241
297780
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Adzka Fatiyah" /></noinclude>'''TJATATAN KEBUDAJAAN'''
''PATA'' 1974
Pada Tahun 1974 jang akan datang di Indonesia akan dilangsungkan konperensi Pata. Mulai dari sekarang rupanja telah dimulai persiapan-persiapan jang berhubungan dengan konperensi tersebut dengan harapan kita akan dapat mendjadi tuan rumah jang baik dan akan menarik pengundjung asing datang berdujun-dujun kenegeri kita.
Di tahun jang lalu konperensi tersebut telah berlangsung di Malaysia dan telah berhasil baik. Panitia disana rupanja telah bekerdja baik, keras dan turispun telah banjak pula datang. Menuriskan beberapa kesenian mungkin agak mudah didjalankan disana. Tapi untuk negeri kita agak sukar melaksanakan menuriskan ini. Karena ada pendirian jang mengatakan, biarkan pada turis jang masih aseli karena tarian kita diantaranja jang telah dituriskan telah dapat mereka saksikan di Tokyo, Hongkong ataupun Singapura. Dan bagi pendirian ini, adalah tak berbudaja menuriskan kesenian jang utuh dan djadi.
Di Bali misalnja pada tarian ketjak telah mengambil bagian perkelahian ala pilem Hongkong. Dan katanja ini telah menjenangkan hati para turis. Tapi tentunja ini akan djanggal dalam hubungan tari jang telah djati dan utuh.
Dalam seni-rupa Bali pun mengalami nasib jang sama. Seni-rupa tradisionil jang pernah hebat dan sekarang merosot nilainja.
Sebuah museum untuk kota besar Djakarta sekarang sudah sangat mendesak keperluannja, baik dia dilihat pelengkap sebuah kota besar ataupun dari perkembangan seni-rupa itu sendiri. Tamu² jang datang ke Djakarta terutama selalu menanjakan dimana letaknja museum seni-rupa, kepingin lihat lukisan-lukisan Indonesia jang pernah dikenalnja dalam batjaan atau reprodusi². Dia mengeluh kenapa dia tak dapat memenuhi keinginannja ini. Djika nasibnja baik dia akan dapat ditolong mengelilingkan ke kolektor-kolektor.
Djika kita lihat dari perkembangan seni-rupa itu sendiri sudah pada waktunjalah dia ditempatkan disuatu tempat jang lajak disebuah museum agar kita tak menjesal nantinja kehilangan karja-karja jang baik lari keluar.
Djadi sehubungan dengan akan diadakandja konperensi Pata 1974 nanti adalah baiknja kita mempersiapkan pula sebuah museum seni-rupa untuk kota besar kita Djakarta jang nantinja akan dapat pula mengambil bagian jang tjukup menarik dalam konperensi itu nanti.
ZAINI
HORISON / 163<noinclude></noinclude>
mvji5rk4md45kpnb41nmtbe9z64akf1
297787
297780
2026-06-13T06:15:42Z
Adzka Fatiyah
27241
297787
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Adzka Fatiyah" /></noinclude>'''TJATATAN KEBUDAJAAN'''
''PATA 1974''
Pada Tahun 1974 jang akan datang di Indonesia akan dilangsungkan konperensi Pata. Mulai dari sekarang rupanja telah dimulai persiapan-persiapan jang berhubungan dengan konperensi tersebut dengan harapan kita akan dapat mendjadi tuan rumah jang baik dan akan menarik pengundjung asing datang berdujun-dujun kenegeri kita.
Di tahun jang lalu konperensi tersebut telah berlangsung di Malaysia dan telah berhasil baik. Panitia disana rupanja telah bekerdja baik, keras dan turispun telah banjak pula datang. Menuriskan beberapa kesenian mungkin agak mudah didjalankan disana. Tapi untuk negeri kita agak sukar melaksanakan menuriskan ini. Karena ada pendirian jang mengatakan, biarkan pada turis jang masih aseli karena tarian kita diantaranja jang telah dituriskan telah dapat mereka saksikan di Tokyo, Hongkong ataupun Singapura. Dan bagi pendirian ini, adalah tak berbudaja menuriskan kesenian jang utuh dan djadi.
Di Bali misalnja pada tarian ketjak telah mengambil bagian perkelahian ala pilem Hongkong. Dan katanja ini telah menjenangkan hati para turis. Tapi tentunja ini akan djanggal dalam hubungan tari jang telah djati dan utuh.
Dalam seni-rupa Bali pun mengalami nasib jang sama. Seni-rupa tradisionil jang pernah hebat dan sekarang merosot nilainja.
Sebuah museum untuk kota besar Djakarta sekarang sudah sangat mendesak keperluannja, baik dia dilihat pelengkap sebuah kota besar ataupun dari perkembangan seni-rupa itu sendiri. Tamu² jang datang ke Djakarta terutama selalu menanjakan dimana letaknja museum seni-rupa, kepingin lihat lukisan-lukisan Indonesia jang pernah dikenalnja dalam batjaan atau reprodusi². Dia mengeluh kenapa dia tak dapat memenuhi keinginannja ini. Djika nasibnja baik dia akan dapat ditolong mengelilingkan ke kolektor-kolektor.
Djika kita lihat dari perkembangan seni-rupa itu sendiri sudah pada waktunjalah dia ditempatkan disuatu tempat jang lajak disebuah museum agar kita tak menjesal nantinja kehilangan karja-karja jang baik lari keluar.
Djadi sehubungan dengan akan diadakandja konperensi Pata 1974 nanti adalah baiknja kita mempersiapkan pula sebuah museum seni-rupa untuk kota besar kita Djakarta jang nantinja akan dapat pula mengambil bagian jang tjukup menarik dalam konperensi itu nanti.
ZAINI<noinclude>HORISON / 163</noinclude>
d63myf48l9i2zdsjj7cjig4vezt3mkx
297815
297787
2026-06-13T06:51:37Z
Adzka Fatiyah
27241
297815
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Adzka Fatiyah" /></noinclude>'''TJATATAN KEBUDAJAAN'''
''PATA 1974''
Pada Tahun 1974 jang akan datang di Indonesia akan dilangsungkan konperensi Pata. Mulai dari sekarang rupanja telah dimulai persiapan-persiapan jang berhubungan dengan konperensi tersebut dengan harapan kita akan dapat mendjadi tuan rumah jang baik dan akan menarik pengundjung asing datang berdujun-dujun kenegeri kita.
Di tahun jang lalu konperensi tersebut telah berlangsung di Malaysia dan telah ber-hasil baik. Panitia disana rupanja telah bekerdja baik, keras dan turispun telah banjak pula datang. Menuriskan beberapa kesenian mungkin agak mudah didjalankan disana. Tapi un-tuk negeri kita agak sukar melaksanakan menuriskan ini. Karena ada pendirian jang mengatakan, biarkan pada turis jang masih aseli karena tarian kita diantaranja jang telah di-turiskan telah dapat mereka saksikan di Tokyo, Hongkong ataupun Singapura. Dan bagi pendirian ini, adalah tak berbudaja menuriskan kesenian jang utuh dan djadi.
Di Bali misalnja pada tarian ketjak telah mengambil bagian perkelahian ala pilem Hongkong. Dan katanja ini telah menjenangkan hati para turis. Tapi tentunja ini akan djanggal dalam hubungan tari jang telah djati dan utuh.
Dalam seni-rupa Bali pun mengalami nasib jang sama. Seni-rupa tradisionil jang per-nah hebat dan sekarang merosot nilainja.
Sebuah museum untuk kota besar Djakarta sekarang sudah sangat mendesak keper-luannja, baik dia dilihat pelengkap sebuah kota besar ataupun dari perkembangan seni-rupa itu sendiri. Tamu² jang datang ke Djakarta terutama selalu menanjakan dimana letaknja museum seni-rupa, kepingin lihat lukisan-lukisan Indonesia jang pernah dikenalnja dalam batjaan atau reprodusi². Dia mengeluh kenapa dia tak dapat memenuhi keinginannja ini. Djika nasibnja baik dia akan dapat ditolong mengelilingkan ke kolektor-kolektor.
Djika kita lihat dari perkembangan seni-rupa itu sendiri sudah pada waktunjalah dia ditempatkan disuatu tempat jang lajak disebuah museum agar kita tak menjesal nantinja kehilangan karja-karja jang baik lari keluar.
Djadi sehubungan dengan akan diadakandja konperensi Pata 1974 nanti adalah baik-nja kita mempersiapkan pula sebuah museum seni-rupa untuk kota besar kita Djakarta jang nantinja akan dapat pula mengambil bagian jang tjukup menarik dalam konperensi itu nanti.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::ZAINI<noinclude>{{rh||HORISON/163}}</noinclude>
aj53miwu1sm8aj1beozl41oby15c2ss
297816
297815
2026-06-13T06:52:00Z
Adzka Fatiyah
27241
297816
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Adzka Fatiyah" /></noinclude>'''TJATATAN KEBUDAJAAN'''
''PATA 1974''
Pada Tahun 1974 jang akan datang di Indonesia akan dilangsungkan konperensi Pata. Mulai dari sekarang rupanja telah dimulai persiapan-persiapan jang berhubungan dengan konperensi tersebut dengan harapan kita akan dapat mendjadi tuan rumah jang baik dan akan menarik pengundjung asing datang berdujun-dujun kenegeri kita.
Di tahun jang lalu konperensi tersebut telah berlangsung di Malaysia dan telah ber-hasil baik. Panitia disana rupanja telah bekerdja baik, keras dan turispun telah banjak pula datang. Menuriskan beberapa kesenian mungkin agak mudah didjalankan disana. Tapi un-tuk negeri kita agak sukar melaksanakan menuriskan ini. Karena ada pendirian jang mengatakan, biarkan pada turis jang masih aseli karena tarian kita diantaranja jang telah di-turiskan telah dapat mereka saksikan di Tokyo, Hongkong ataupun Singapura. Dan bagi pendirian ini, adalah tak berbudaja menuriskan kesenian jang utuh dan djadi.
Di Bali misalnja pada tarian ketjak telah mengambil bagian perkelahian ala pilem Hongkong. Dan katanja ini telah menjenangkan hati para turis. Tapi tentunja ini akan djanggal dalam hubungan tari jang telah djati dan utuh.
Dalam seni-rupa Bali pun mengalami nasib jang sama. Seni-rupa tradisionil jang per-nah hebat dan sekarang merosot nilainja.
Sebuah museum untuk kota besar Djakarta sekarang sudah sangat mendesak keper-luannja, baik dia dilihat pelengkap sebuah kota besar ataupun dari perkembangan seni-rupa itu sendiri. Tamu² jang datang ke Djakarta terutama selalu menanjakan dimana letaknja museum seni-rupa, kepingin lihat lukisan-lukisan Indonesia jang pernah dikenalnja dalam batjaan atau reprodusi². Dia mengeluh kenapa dia tak dapat memenuhi keinginannja ini. Djika nasibnja baik dia akan dapat ditolong mengelilingkan ke kolektor-kolektor.
Djika kita lihat dari perkembangan seni-rupa itu sendiri sudah pada waktunjalah dia ditempatkan disuatu tempat jang lajak disebuah museum agar kita tak menjesal nantinja kehilangan karja-karja jang baik lari keluar.
Djadi sehubungan dengan akan diadakandja konperensi Pata 1974 nanti adalah baik-nja kita mempersiapkan pula sebuah museum seni-rupa untuk kota besar kita Djakarta jang nantinja akan dapat pula mengambil bagian jang tjukup menarik dalam konperensi itu nanti.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::ZAINI<noinclude>{{rh||HORISON/163}}</noinclude>
9c5ry96eejgu78c862fbffapkojd6mt
297817
297816
2026-06-13T06:52:25Z
Adzka Fatiyah
27241
297817
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Adzka Fatiyah" /></noinclude>'''TJATATAN KEBUDAJAAN'''
''PATA 1974''
Pada Tahun 1974 jang akan datang di Indonesia akan dilangsungkan konperensi Pata. Mulai dari sekarang rupanja telah dimulai persiapan-persiapan jang berhubungan dengan konperensi tersebut dengan harapan kita akan dapat mendjadi tuan rumah jang baik dan akan menarik pengundjung asing datang berdujun-dujun kenegeri kita.
Di tahun jang lalu konperensi tersebut telah berlangsung di Malaysia dan telah ber-hasil baik. Panitia disana rupanja telah bekerdja baik, keras dan turispun telah banjak pula datang. Menuriskan beberapa kesenian mungkin agak mudah didjalankan disana. Tapi un-tuk negeri kita agak sukar melaksanakan menuriskan ini. Karena ada pendirian jang mengatakan, biarkan pada turis jang masih aseli karena tarian kita diantaranja jang telah di-turiskan telah dapat mereka saksikan di Tokyo, Hongkong ataupun Singapura. Dan bagi pendirian ini, adalah tak berbudaja menuriskan kesenian jang utuh dan djadi.
Di Bali misalnja pada tarian ketjak telah mengambil bagian perkelahian ala pilem Hongkong. Dan katanja ini telah menjenangkan hati para turis. Tapi tentunja ini akan djanggal dalam hubungan tari jang telah djati dan utuh.
Dalam seni-rupa Bali pun mengalami nasib jang sama. Seni-rupa tradisionil jang per-nah hebat dan sekarang merosot nilainja.
Sebuah museum untuk kota besar Djakarta sekarang sudah sangat mendesak keper-luannja, baik dia dilihat pelengkap sebuah kota besar ataupun dari perkembangan seni-rupa itu sendiri. Tamu² jang datang ke Djakarta terutama selalu menanjakan dimana letaknja museum seni-rupa, kepingin lihat lukisan-lukisan Indonesia jang pernah dikenalnja dalam batjaan atau reprodusi². Dia mengeluh kenapa dia tak dapat memenuhi keinginannja ini. Djika nasibnja baik dia akan dapat ditolong mengelilingkan ke kolektor-kolektor.
Djika kita lihat dari perkembangan seni-rupa itu sendiri sudah pada waktunjalah dia ditempatkan disuatu tempat jang lajak disebuah museum agar kita tak menjesal nantinja kehilangan karja-karja jang baik lari keluar.
Djadi sehubungan dengan akan diadakandja konperensi Pata 1974 nanti adalah baik-nja kita mempersiapkan pula sebuah museum seni-rupa untuk kota besar kita Djakarta jang nantinja akan dapat pula mengambil bagian jang tjukup menarik dalam konperensi itu nanti.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::ZAINI<noinclude>{{rh||HORISON/163}}</noinclude>
onbxs0e7ocm7f9r2f3m9dr8b8u8kron
297819
297817
2026-06-13T06:54:50Z
Adzka Fatiyah
27241
297819
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Adzka Fatiyah" /></noinclude>'''TJATATAN KEBUDAJAAN'''
''PATA 1974''
{{gap}}Pada Tahun 1974 jang akan datang di Indonesia akan dilangsungkan konperensi Pata. Mulai dari sekarang rupanja telah dimulai persiapan-persiapan jang berhubungan dengan konperensi tersebut dengan harapan kita akan dapat mendjadi tuan rumah jang baik dan akan menarik pengundjung asing datang berdujun-dujun kenegeri kita.
{{gap}}Di tahun jang lalu konperensi tersebut telah berlangsung di Malaysia dan telah ber-hasil baik. Panitia disana rupanja telah bekerdja baik, keras dan turispun telah banjak pula datang. Menuriskan beberapa kesenian mungkin agak mudah didjalankan disana. Tapi un-tuk negeri kita agak sukar melaksanakan menuriskan ini. Karena ada pendirian jang mengatakan, biarkan pada turis jang masih aseli karena tarian kita diantaranja jang telah di-turiskan telah dapat mereka saksikan di Tokyo, Hongkong ataupun Singapura. Dan bagi pendirian ini, adalah tak berbudaja menuriskan kesenian jang utuh dan djadi.
{{gap}}Di Bali misalnja pada tarian ketjak telah mengambil bagian perkelahian ala pilem Hongkong. Dan katanja ini telah menjenangkan hati para turis. Tapi tentunja ini akan djanggal dalam hubungan tari jang telah djati dan utuh.
{{gap}}Dalam seni-rupa Bali pun mengalami nasib jang sama. Seni-rupa tradisionil jang per-nah hebat dan sekarang merosot nilainja.
{{gap}}Sebuah museum untuk kota besar Djakarta sekarang sudah sangat mendesak keper-luannja, baik dia dilihat pelengkap sebuah kota besar ataupun dari perkembangan seni-rupa itu sendiri. Tamu² jang datang ke Djakarta terutama selalu menanjakan dimana letaknja museum seni-rupa, kepingin lihat lukisan-lukisan Indonesia jang pernah dikenalnja dalam batjaan atau reprodusi². Dia mengeluh kenapa dia tak dapat memenuhi keinginannja ini. Djika nasibnja baik dia akan dapat ditolong mengelilingkan ke kolektor-kolektor.
{{gap}}Djika kita lihat dari perkembangan seni-rupa itu sendiri sudah pada waktunjalah dia ditempatkan disuatu tempat jang lajak disebuah museum agar kita tak menjesal nantinja kehilangan karja-karja jang baik lari keluar.
{{gap}}Djadi sehubungan dengan akan diadakandja konperensi Pata 1974 nanti adalah baik-nja kita mempersiapkan pula sebuah museum seni-rupa untuk kota besar kita Djakarta jang nantinja akan dapat pula mengambil bagian jang tjukup menarik dalam konperensi itu nanti.
:::::::::::::::::::::::::::::::::ZAINI<noinclude>{{rh||HORISON/163}}</noinclude>
jvdw95glltsjaluu5pshq9ceqz1n8qc
297822
297819
2026-06-13T06:57:03Z
Adzka Fatiyah
27241
297822
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Adzka Fatiyah" /></noinclude>'''TJATATAN KEBUDAJAAN'''
''PATA 1974''
{{gap}}Pada Tahun 1974 jang akan datang di Indonesia akan dilangsungkan konperensi Pata. Mulai dari sekarang rupanja telah dimulai persiapan-persiapan jang berhubungan dengan konperensi tersebut dengan harapan kita akan dapat mendjadi tuan rumah jang baik dan akan menarik pengundjung asing datang berdujun-dujun kenegeri kita.
{{gap}}Di tahun jang lalu konperensi tersebut telah berlangsung di Malaysia dan telah ber-hasil baik. Panitia disana rupanja telah bekerdja baik, keras dan turispun telah banjak pula datang. Menuriskan beberapa kesenian mungkin agak mudah didjalankan disana. Tapi un-tuk negeri kita agak sukar melaksanakan menuriskan ini. Karena ada pendirian jang mengatakan, biarkan pada turis jang masih aseli karena tarian kita diantaranja jang telah di-turiskan telah dapat mereka saksikan di Tokyo, Hongkong ataupun Singapura. Dan bagi pendirian ini, adalah tak berbudaja menuriskan kesenian jang utuh dan djadi.
{{gap}}Di Bali misalnja pada tarian ketjak telah mengambil bagian perkelahian ala pilem Hongkong. Dan katanja ini telah menjenangkan hati para turis. Tapi tentunja ini akan djanggal dalam hubungan tari jang telah djati dan utuh.
{{gap}}Dalam seni-rupa Bali pun mengalami nasib jang sama. Seni-rupa tradisionil jang per-nah hebat dan sekarang merosot nilainja.
{{gap}}Sebuah museum untuk kota besar Djakarta sekarang sudah sangat mendesak keper-luannja, baik dia dilihat pelengkap sebuah kota besar ataupun dari perkembangan seni-rupa itu sendiri. Tamu² jang datang ke Djakarta terutama selalu menanjakan dimana letaknja museum seni-rupa, kepingin lihat lukisan-lukisan Indonesia jang pernah dikenalnja dalam batjaan atau reprodusi². Dia mengeluh kenapa dia tak dapat memenuhi keinginannja ini. Djika nasibnja baik dia akan dapat ditolong mengelilingkan ke kolektor-kolektor.
{{gap}}Djika kita lihat dari perkembangan seni-rupa itu sendiri sudah pada waktunjalah dia ditempatkan disuatu tempat jang lajak disebuah museum agar kita tak menjesal nantinja kehilangan karja-karja jang baik lari keluar.
{{gap}}Djadi sehubungan dengan akan diadakandja konperensi Pata 1974 nanti adalah baik-nja kita mempersiapkan pula sebuah museum seni-rupa untuk kota besar kita Djakarta jang nantinja akan dapat pula mengambil bagian jang tjukup menarik dalam konperensi itu nanti.
{{rh|||ZAINI}}<noinclude>{{rh||HORISON/163}}</noinclude>
bkwplf466nlbe30foyedoy2x9u6yrm5
297823
297822
2026-06-13T06:58:16Z
Adzka Fatiyah
27241
297823
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Adzka Fatiyah" /></noinclude>'''TJATATAN KEBUDAJAAN'''
{{Sp|''PATA 1974''}}
{{gap}}Pada Tahun 1974 jang akan datang di Indonesia akan dilangsungkan konperensi Pata. Mulai dari sekarang rupanja telah dimulai persiapan-persiapan jang berhubungan dengan konperensi tersebut dengan harapan kita akan dapat mendjadi tuan rumah jang baik dan akan menarik pengundjung asing datang berdujun-dujun kenegeri kita.
{{gap}}Di tahun jang lalu konperensi tersebut telah berlangsung di Malaysia dan telah ber-hasil baik. Panitia disana rupanja telah bekerdja baik, keras dan turispun telah banjak pula datang. Menuriskan beberapa kesenian mungkin agak mudah didjalankan disana. Tapi un-tuk negeri kita agak sukar melaksanakan menuriskan ini. Karena ada pendirian jang mengatakan, biarkan pada turis jang masih aseli karena tarian kita diantaranja jang telah di-turiskan telah dapat mereka saksikan di Tokyo, Hongkong ataupun Singapura. Dan bagi pendirian ini, adalah tak berbudaja menuriskan kesenian jang utuh dan djadi.
{{gap}}Di Bali misalnja pada tarian ketjak telah mengambil bagian perkelahian ala pilem Hongkong. Dan katanja ini telah menjenangkan hati para turis. Tapi tentunja ini akan djanggal dalam hubungan tari jang telah djati dan utuh.
{{gap}}Dalam seni-rupa Bali pun mengalami nasib jang sama. Seni-rupa tradisionil jang per-nah hebat dan sekarang merosot nilainja.
{{gap}}Sebuah museum untuk kota besar Djakarta sekarang sudah sangat mendesak keper-luannja, baik dia dilihat pelengkap sebuah kota besar ataupun dari perkembangan seni-rupa itu sendiri. Tamu² jang datang ke Djakarta terutama selalu menanjakan dimana letaknja museum seni-rupa, kepingin lihat lukisan-lukisan Indonesia jang pernah dikenalnja dalam batjaan atau reprodusi². Dia mengeluh kenapa dia tak dapat memenuhi keinginannja ini. Djika nasibnja baik dia akan dapat ditolong mengelilingkan ke kolektor-kolektor.
{{gap}}Djika kita lihat dari perkembangan seni-rupa itu sendiri sudah pada waktunjalah dia ditempatkan disuatu tempat jang lajak disebuah museum agar kita tak menjesal nantinja kehilangan karja-karja jang baik lari keluar.
{{gap}}Djadi sehubungan dengan akan diadakandja konperensi Pata 1974 nanti adalah baik-nja kita mempersiapkan pula sebuah museum seni-rupa untuk kota besar kita Djakarta jang nantinja akan dapat pula mengambil bagian jang tjukup menarik dalam konperensi itu nanti.
{{rh|||ZAINI}}<noinclude>{{rh||HORISON/163}}</noinclude>
bro28y0jfmt4hkbd1ao4om2rai057t8
Halaman:Almanak Sumatera.djvu/252
104
105540
297782
2026-06-13T06:05:36Z
Menyusurisudutnegeri
25205
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'dan berbagai sumber perusahaan lainnja diluar negeri dapat membangun peru- sahaan kereta api di Tjina. Sebagai telah disinggung sebelumnja, bahwa dikala djumlah mereka sudab banjak dan peranan mereka menentukan, pada waktu demikianlah timbul pula aktifitas pelanggaran hukum mereka, seperti pengatjauan keamanan dan peram- pokan. Pada waktu meningkatnja sukses Belanda disektor perkebunan dan per- dagangan di Sumatera Timur, disitulah orang Tjina m...
297782
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>dan berbagai sumber perusahaan lainnja diluar negeri dapat membangun peru-
sahaan kereta api di Tjina.
Sebagai telah disinggung sebelumnja, bahwa dikala djumlah mereka sudab
banjak dan peranan mereka menentukan, pada waktu demikianlah timbul pula
aktifitas pelanggaran hukum mereka, seperti pengatjauan keamanan dan peram-
pokan. Pada waktu meningkatnja sukses Belanda disektor perkebunan dan per-
dagangan di Sumatera Timur, disitulah orang Tjina mengetjap sukses'nja pula.
tapi pada waktu itu djuga meningkat kegiatan mereka melanggar hukum.
Antara tahun 1872 sampai 1905 "Koloniale Verslagen" Belanda sendiri men-
tjatat berbagai perampokan dari orang Tjina. Tidak kurang pula Belanda ter-
paksa membasmi serikat gelap Tjina jang bertameng perusahaan jang kegiatan-
nja mendjadi badjak laut, bahkan ada jang sampai sanggup menjikat kantor
duane jang tjukup kuat pengawalannja. Tjatatan mengenai perampokan besar
Tjina di Sumatera Timur antara lain sebagai berikut:
1877
perampokan di-kebun Belanda di Deli dan Langkat dengan bersen-
djata, diantaranja mengorbankan beberapa djiwa Belanda.
1882 radja Pelalawan terpaksa minta kekuatan bersendjata untuk menak-
lukkan Tjan Po jang sudah membuat tempat tinggalnja seperti "staat
dalam staat" (negara dalam negara). Tahun itu djuga meradjalela
perampokan jang tak dapat diatasi di Deli.
1883
1885
1886
merampok duane Panai.
gangguan berkepandjangan dari badjak laut Tjina.
"staat dalam staat" Tjina di Bagansiapiapi, jang memerlukan kekuatan
militer untuk mengachirinja. Djumlah penduduk Tjina sadja di desa
ketjil itu mentjapai 4.000 djiwa, hingga tidak kelihatan orang lain
lagi disana. Pada permulaan revolusi terdjadi pula penjembelihan
biadab oleh orang Tjina di Bagansiapiapi terhadap bangsa Indonesia
disana. Bukan sadja pegawai, anggauta polisi dan tentara R.I. jang
djadi sasaran, tetapi semua orang Indonesia, besar ketjil, tua muda
sampai pada anak jang tak berdosapun disembelih setjara kedjam
sekali.
1900 di Pangkalpinang, Belanda mendatangkan kekuatan militer dari Dja-
karta untuk menindas gerombolan Liu Ngi dengan pendukungnja
serikat gelap "Sam Tiam Foei". Pembasmian serikat gelap Tjina.
memakan waktu puluhan tahun sampai Belanda merasa legah (tja-
pek) menghadapinja.
Dengan peranan mereka jang semakin besar, mudah bagi orang Tjina me-
numpahkan perhatian dibidang pendidikan, mereka dapat sadja membangun
sekolah dengan gedung dan alat jang tjukup, dan mereka mampu mengirim
peladjar keluar negeri bahkan ke Tjina sendiri untuk meningkatkan peladjaran.
Di Sumatera Timur ketjuali sekolah jang berbahasanja sendiri dan Inggeris.
228
Digitized by
Google<noinclude></noinclude>
1vjs39o3vqv5vvkq53uxbqr4dfqfwdd
297784
297782
2026-06-13T06:08:08Z
Menyusurisudutnegeri
25205
297784
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>dan berbagai sumber perusahaan lainnja diluar negeri dapat membangun perusahaan kereta api di Tjina.
Sebagai telah disinggung sebelumnja, bahwa ''dikala djumlah mereka sudah banjak dan peranan mereka menentukan, pada waktu demikianlah timbul pula aktifitas pelanggaran hukum mereka, seperti pengatjauan keamanan dan perampokan''. Pada waktu meningkatnja sukses² Belanda disektor perkebunan dan perdagangan di Sumatera Timur, disitulah orang² Tjina mengetjap sukses²nja pula, tapi pada waktu itu djuga meningkat kegiatan² mereka melanggar hukum. Antara tahun 1872 sampai 1905 "Koloniale Verslagen" Belanda sendiri mentjatat berbagai perampokan dari orang² Tjina. Tidak kurang pula Belanda terpaksa membasmi serikat gelap Tjina jang bertameng perusahaan jang kegiatannja mendjadi badjak laut, bahkan ada jang sampai sanggup menjikat kantor duane jang tjukup kuat pengawalannja. Tjatatan mengenai perampokan besar Tjina di Sumatera Timur antara lain sebagai berikut:
1877
perampokan di-kebun Belanda di Deli dan Langkat dengan bersen-
djata, diantaranja mengorbankan beberapa djiwa Belanda.
1882 radja Pelalawan terpaksa minta kekuatan bersendjata untuk menak-
lukkan Tjan Po jang sudah membuat tempat tinggalnja seperti "staat
dalam staat" (negara dalam negara). Tahun itu djuga meradjalela
perampokan jang tak dapat diatasi di Deli.
1883
1885
1886
merampok duane Panai.
gangguan berkepandjangan dari badjak laut Tjina.
"staat dalam staat" Tjina di Bagansiapiapi, jang memerlukan kekuatan
militer untuk mengachirinja. Djumlah penduduk Tjina sadja di desa
ketjil itu mentjapai 4.000 djiwa, hingga tidak kelihatan orang lain
lagi disana. Pada permulaan revolusi terdjadi pula penjembelihan
biadab oleh orang Tjina di Bagansiapiapi terhadap bangsa Indonesia
disana. Bukan sadja pegawai, anggauta polisi dan tentara R.I. jang
djadi sasaran, tetapi semua orang Indonesia, besar ketjil, tua muda
sampai pada anak jang tak berdosapun disembelih setjara kedjam
sekali.
1900 di Pangkalpinang, Belanda mendatangkan kekuatan militer dari Dja-
karta untuk menindas gerombolan Liu Ngi dengan pendukungnja
serikat gelap "Sam Tiam Foei". Pembasmian serikat gelap Tjina.
memakan waktu puluhan tahun sampai Belanda merasa legah (tja-
pek) menghadapinja.
Dengan peranan mereka jang semakin besar, mudah bagi orang Tjina me-
numpahkan perhatian dibidang pendidikan, mereka dapat sadja membangun
sekolah dengan gedung dan alat jang tjukup, dan mereka mampu mengirim
peladjar keluar negeri bahkan ke Tjina sendiri untuk meningkatkan peladjaran.
Di Sumatera Timur ketjuali sekolah jang berbahasanja sendiri dan Inggeris.
228
Digitized by
Google<noinclude></noinclude>
57r2b4cz95caoyflnw5m8vgmm3hld5h
297788
297784
2026-06-13T06:16:29Z
Menyusurisudutnegeri
25205
/* Telah diuji baca */
297788
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>dan berbagai sumber perusahaan lainnja diluar negeri dapat membangun perusahaan kereta api di Tjina.
Sebagai telah disinggung sebelumnja, bahwa ''dikala djumlah mereka sudah banjak dan peranan mereka menentukan, pada waktu demikianlah timbul pula aktifitas pelanggaran hukum mereka, seperti pengatjauan keamanan dan perampokan''. Pada waktu meningkatnja sukses² Belanda disektor perkebunan dan perdagangan di Sumatera Timur, disitulah orang² Tjina mengetjap sukses²nja pula, tapi pada waktu itu djuga meningkat kegiatan² mereka melanggar hukum. Antara tahun 1872 sampai 1905 "Koloniale Verslagen" Belanda sendiri mentjatat berbagai perampokan dari orang² Tjina. Tidak kurang pula Belanda terpaksa membasmi serikat gelap Tjina jang bertameng perusahaan jang kegiatannja mendjadi badjak laut, bahkan ada jang sampai sanggup menjikat kantor duane jang tjukup kuat pengawalannja. Tjatatan mengenai perampokan besar Tjina di Sumatera Timur antara lain sebagai berikut:
{|
|-
|| 1877 || : || perampokan di-kebun² Belanda di Deli dan Langkat dengan bersendjata, diantaranja mengorbankan beberapa djiwa Belanda.
|-
|| 1882 || : || radja Pelalawan terpaksa minta kekuatan bersendjata untuk menaklukkan Tjan Po jang sudah membuat tempat tinggalnja seperti "staat dalam staat" (negara dalam negara). Tahun itu djuga meradjalela perampokan jang tak dapat diatasi di Deli.
|-
|| 1883 || : || merampok duane Panai.
|-
|| 1885 || : || gangguan berkepandjangan dari badjak laut Tjina.
|-
|| 1886 || : || "staat dalam staat" Tjina di Bagansiapiapi, jang memerlukan kekuatan militer untuk mengachirinja. Djumlah penduduk Tjina sadja di desa ketjil itu mentjapai 4.000 djiwa, hingga tidak kelihatan orang lain lagi disana. Pada permulaan revolusi terdjadi pula penjembelihan biadab oleh orang² Tjina di Bagansiapiapi terhadap bangsa Indonesia disana. Bukan sadja pegawai, anggauta polisi dan tentara R.I. jang djadi sasaran, tetapi semua orang Indonesia, besar ketjil, tua muda sampai pada anak² jang tak berdosapun disembelih setjara kedjam sekali.
|-
|| 1900 || : || di Pangkalpinang, Belanda mendatangkan kekuatan militer dari Djakarta untuk menindas gerombolan Liu Ngi dengan pendukungnja serikat gelap "Sam Tiam Foei". Pembasmian serikat gelap Tjina. memakan waktu puluhan tahun sampai Belanda merasa legah (tjapek) menghadapinja.
|}
Dengan peranan mereka jang semakin besar, mudah bagi orang Tjina menumpahkan perhatian dibidang pendidikan, mereka dapat sadja membangun sekolah² dengan gedung dan alat² jang tjukup, dan mereka mampu mengirim peladjar² keluar negeri bahkan ke Tjina sendiri untuk meningkatkan peladjaran. Di Sumatera Timur ketjuali sekolah jang berbahasanja sendiri dan Inggeris.<noinclude>{{rh|228}}</noinclude>
62ex8fn24ss1whteg6t0qmketwkzax1
Halaman:Almanak Sumatera.djvu/245
104
105541
297785
2026-06-13T06:08:15Z
Aditajeng
27244
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{border|maxwidth=50em|bstickness=10px|HUBUNGILAH : {{c|{{sp|P.T. BANK KESAWAN}} Dil Djen. A. Yani No. 25 Tel. No. 24017, 24018, 24019, & 21628 MEDAN. }} Bank jang tertua dikota Medan didirikan th. 1913 :Mengerdjakan segala urusan Bank ::Menerima simpanan Deposito/Tabungan :::Service tjepat, lajanan memuaskan dan menjenangkan.}} C.V TUGAS EXPORT—IMPORT—INTERINSULER Djl. Lorong Merdeka IV No. 549 TANDJUNG PINANG EKSPEDISI MUA...
297785
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Aditajeng" /></noinclude>{{border|maxwidth=50em|bstickness=10px|HUBUNGILAH :
{{c|{{sp|P.T. BANK KESAWAN}}
Dil Djen. A. Yani No. 25
Tel. No. 24017, 24018, 24019, & 21628
MEDAN. }}
Bank jang tertua dikota Medan didirikan th. 1913
:Mengerdjakan segala urusan Bank
::Menerima simpanan Deposito/Tabungan
:::Service tjepat, lajanan memuaskan dan menjenangkan.}}
C.V TUGAS
EXPORT—IMPORT—INTERINSULER
Djl. Lorong Merdeka IV No. 549
TANDJUNG PINANG
EKSPEDISI MUATAN KAPAL LAUT
P.T. TEGUH DJAJA
Djalan Timor Baru No. 5 - Tel. 24507
MEDAN
Kantor Belawan :
Dja an Srs. A. Hanafiah
Te. 40
P.T. PERSEROAN DAGANG DAN KILANG KARET
“MADJIN"
Kantor : Djalan Djen. A. Yani VII No. 27 Medan,
Telepon 24710
Kilang : Indrapura, Kabupaten Asahan.
Telepon 18 Perlanaan
221<noinclude></noinclude>
s6wsrwi9v326cxr1pgcykv78gknb6sc
297789
297785
2026-06-13T06:17:36Z
Aditajeng
27244
297789
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Aditajeng" /></noinclude>{{border|maxwidth=50em|bstickness=10px|HUBUNGILAH :
{{c|{{sp|'''P.T. BANK KESAWAN'''}}
Dil Djen. A. Yani No. 25
Tel. No. 24017, 24018, 24019, & 21628
MEDAN. }}
Bank jang tertua dikota Medan didirikan th. 1913
:Mengerdjakan segala urusan Bank
::Menerima simpanan Deposito/Tabungan
:::Service tjepat, lajanan memuaskan dan menjenangkan.}}
C.V TUGAS
EXPORT—IMPORT—INTERINSULER
Djl. Lorong Merdeka IV No. 549
TANDJUNG PINANG
EKSPEDISI MUATAN KAPAL LAUT
P.T. TEGUH DJAJA
Djalan Timor Baru No. 5 - Tel. 24507
MEDAN
Kantor Belawan :
Dja an Srs. A. Hanafiah
Te. 40
P.T. PERSEROAN DAGANG DAN KILANG KARET
“MADJIN"
Kantor : Djalan Djen. A. Yani VII No. 27 Medan,
Telepon 24710
Kilang : Indrapura, Kabupaten Asahan.
Telepon 18 Perlanaan
221<noinclude></noinclude>
ey0xcxrkim9x3n8gezf06bneliz673x
297790
297789
2026-06-13T06:18:44Z
Aditajeng
27244
/* Telah diuji baca */
297790
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Aditajeng" /></noinclude>{{border|maxwidth=50em|bstickness=10px|HUBUNGILAH :
{{c|{{sp|'''P.T. BANK KESAWAN'''}}
Dil Djen. A. Yani No. 25
Tel. No. 24017, 24018, 24019, & 21628
MEDAN. }}
Bank jang tertua dikota Medan didirikan th. 1913
:Mengerdjakan segala urusan Bank
::Menerima simpanan Deposito/Tabungan
:::Service tjepat, lajanan memuaskan dan menjenangkan.}}
C.V TUGAS
EXPORT—IMPORT—INTERINSULER
Djl. Lorong Merdeka IV No. 549
TANDJUNG PINANG
EKSPEDISI MUATAN KAPAL LAUT
P.T. TEGUH DJAJA
Djalan Timor Baru No. 5 - Tel. 24507
MEDAN
Kantor Belawan :
Dja an Srs. A. Hanafiah
Te. 40
P.T. PERSEROAN DAGANG DAN KILANG KARET
“MADJIN"
Kantor : Djalan Djen. A. Yani VII No. 27 Medan,
Telepon 24710
Kilang : Indrapura, Kabupaten Asahan.
Telepon 18 Perlanaan
221<noinclude></noinclude>
ioi40iwszlmp2i3ox142dskz0qcwckn
Halaman:Almanak Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara.pdf/3
104
105542
297786
2026-06-13T06:11:39Z
Suga Widi
25678
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi ' {{C|'''MAJ. DJENDERAL TNI AMIRMACHMUD<br>MENTERI DALAM NEGERI REP. INDONESIA.'''}}'
297786
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>
{{C|'''MAJ. DJENDERAL TNI AMIRMACHMUD<br>MENTERI DALAM NEGERI REP. INDONESIA.'''}}<noinclude></noinclude>
744efbuux2lovikz1q53if7lyfv867f
Halaman:20 tahun Indonesia merdeka.djvu/30
104
105543
297791
2026-06-13T06:19:03Z
Bennylin
334
/* Telah diuji baca */
297791
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bennylin" /></noinclude>a. Perintjiam Belandja Barang:
Ongkos kantor ............
Pembelian inventaris cw. <9 > 4.000.000,—
Ongkos eksploitasi kendaraan ... ,, 5.000.000,—
Ongkos kesedjahteraan pegawai ‘
Sokongan pegawai dihotel/mess __,, 100.000,—
Keperluan Panitya/Badan jang . '
dibentuk Menko Pembangunan ,, 2.000.000,— ee
..Ongkos penggantian pengobatan ,, __ 500.000,—
Biaja pengeluaran lain-lain Men-_
ko Pembangunan .. ” 2.000.000,— ?
*Keperluan’ Buperteng es 5.000.000,—. e
Public Relations ie 8.000.000,—
b- Beladjar Pemeliharaan:
Pemeliharaan gedung kantor .. — 700.000,—
‘Pemeliharaan inventaris ......... 300.000,—
Ongkos perdjalanan dinas:. _
Perdjalanan pegawai sipil/pe-
djabat dalam Negeri ....... ery 2.000.000,—
Anggaran pembangunan non de-
velopment:
Kendaraan pengangkutan pe-
BAWAL siveescescesdsseemiesescseesccies
Perbaikan berat/perluasan ge-
dung kantor
» 50.000.000,-—
c. Perintjian Belandja Pegawalt:
1. Belandja pegawai Anggaran
Induk 1964 ...
ditambah dengan tundjangan
pengabdian dan lauk-pauk
jang setjara_ keseluruhan
adalah 1.k. 8366 X 2.284.500,— ,, 1.896.135,—
rs: 4.180.635, —
my 2.284.500,—
Acres untuk kenaikan gadji
tahun 1965 (5%) ch 209.031,75
» 209.031,75
2, Djumlah pegawai 155 orang:
Beras/djagung =
5X8X12X155xRp 300,—= ,, 22.320.000,—
Gula=
5X14 X12X155xRp.100—= __,, 465.000,—
» — 22.785.000,—
= > Djumla Rp. 27.174.666,75
7 “""" Dibulatkan : » 27,175.000,—<noinclude>{{rvh|16}}</noinclude>
3v3d7yuxv9z9abzakbqgk4eqwwaw7x6
Halaman:Horison 06 1972.pdf/15
104
105544
297792
2026-06-13T06:20:13Z
Dvnfit
20067
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{multicol}} kan, melipatempatkan produksi dan keuntungan. Anda tidak mampu kini hidup di Empat Menara karena anda djauh lebih makmur dan ten- teram disini. Anda bisa melakukan apa sadja jang anda kehendaki djauh lebih leluasa daripada ketika saja belum datang. Keleluasaan adalah realitas kebebasan. Saja tidak memaksa siapa: Saja tjuma menundjukkan djalan. {{Multicol-break}}Bossborn: Bukan djalan anda atau djalan saja. Tapi djalan dunia. Sebagi...
297792
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Dvnfit" /></noinclude>{{multicol}} kan, melipatempatkan produksi dan keuntungan. Anda tidak mampu kini hidup di Empat Menara karena anda djauh lebih makmur dan ten-
teram disini. Anda bisa melakukan apa sadja jang anda kehendaki djauh lebih leluasa daripada ketika saja belum datang. Keleluasaan adalah realitas kebebasan. Saja tidak memaksa siapa: Saja tjuma menundjukkan djalan.
{{Multicol-break}}Bossborn: Bukan djalan anda atau djalan saja. Tapi djalan dunia. Sebagian orang menjebutnja djalan Tuhan.
Serafina: Bagaimanapun djuga, saja mau hidup dengan tjara hidup saja sendiri, bukan dengan tjara hidup anda. Kalaupun saja kawin, pilihan saja tidakkan djatuh kepada orang jang bernama Bossbora.
Serafina Ja: Djalan anda, bukan djalan Bossborn Keputusan terachirkah ini?
Serafina: Ja. Bersahabat, sudah kami.
{{Multicol-break}}Bossborn: Baiklah kalau begitu. Selamat siang untuk anda.
(IA BANGKIT DAN KELUAR DENGAN TANGKAS, SEPERTI PADIA ADEGAN SEBELUMNJA)
Terjemahan: Rajané Sriwidodo dari madjalah "THEATRE ARTS" Agustus '56
Noot
Barang siapa bermaksud mementaskan terdjemaban ini, harap setahu penterjemah.
{{Multicol-end}}<noinclude></noinclude>
cj5sube5c60lz5bb9czz1j1ral36ziq
Halaman:20 tahun Indonesia merdeka.djvu/685
104
105545
297795
2026-06-13T06:23:07Z
Aditajeng
27244
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '(2) Didaerah-daerah Swatantra Tingkat II dimana Kantor Urusan Veteran belum terbentuk, pendaftaran dilakukan oleh perwira Distrik Militer atau seorang perwira jang sederadjat dengan itu, dan dibantu oleh: (a) dua orang tokoh Veteran setempat atas usul Legiun Vete- ran Tjabang; (b) dua orang bekas komandan kesatuan setempat atas usul perwira Distrik Militer. Pasal 3. Pasal (2) (baru) ditambah dengan satu ajat jang berbunji sebagai be...
297795
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Aditajeng" /></noinclude>(2) Didaerah-daerah Swatantra Tingkat II dimana Kantor
Urusan Veteran belum terbentuk, pendaftaran dilakukan oleh
perwira Distrik Militer atau seorang perwira jang sederadjat
dengan itu, dan dibantu oleh:
(a) dua orang tokoh Veteran setempat atas usul Legiun Vete-
ran Tjabang;
(b) dua orang bekas komandan kesatuan setempat atas usul
perwira Distrik Militer.
Pasal 3.
Pasal (2) (baru) ditambah dengan satu ajat jang berbunji
sebagai berikut:
(2) Pendaftaran para tjalon Veteran Pedjoang Kemerdekaan
Indonesia jang:
a. masih dalam dinas aktif dalam lingkungan Kementerian
Pertahanan, dilakukan oleh Angkatan masing-masing,
b. masih dalam dinas aktif dalam Kepolisian dilakukan oleh
Djawatan Kepolisian Negara:
c. sedang berada diluar Negeri, dilakukan oleh Perwakilan/
Kedutaan setempat:
d. sedang berada dalam tahanan/pendjara berhubung dengan
sesuatu pelanggaran hukum dilakukan oleh instansi Koor-
dinator Urusan Veteran/Kantor Urusan Veteran/Perwira
Distrik Militer setempat jang dibantu sepenuhnja oleh Direk-
tur Rumah Pendjara jang bersangkutan.
Pasal 4.
Pasal 3 sampai dengan pasal 197 (lama) diubah mendjadi pa-
sal-pasal 4 sampai dengan 18 (baru).
Pasal 5.
Pada pasal 4 (baru) ditambah dengan satu ajat jang berbunji
sebagai berikut:
(2) Tugas dan kewadjiban masing-masing Angkatan, Dja-
watan Kepolisian Negara, Perwakilan/Kedutaan Republik di-
luar negeri adalah sebagai tersebut dalam ajat (1) sub a, b
dan c dengan ketentuan, bahwa keterangan-keterangan tertjan-
tum dalam formulir-formulir seperti tersebut dalam ajat (1)
sub b diteruskan kepada Panitia Penjaringan Urusan Veteran
Pusat.
671<noinclude>{{rvh|671}}</noinclude>
rdainq3lyoyae65pwxu7mvtp6iy7w5a
297799
297795
2026-06-13T06:28:10Z
Aditajeng
27244
297799
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Aditajeng" /></noinclude>(2) Didaerah-daerah Swatantra Tingkat II dimana Kantor
Urusan Veteran belum terbentuk, pendaftaran dilakukan oleh
perwira Distrik Militer atau seorang perwira jang sederadjat
dengan itu, dan dibantu oleh:
(a) dua orang tokoh Veteran setempat atas usul Legiun Vete-
ran Tjabang;
(b) dua orang bekas komandan kesatuan setempat atas usul
perwira Distrik Militer.
Pasal 3.
Pasal (2) (baru) ditambah dengan satu ajat jang berbunji
sebagai berikut:
(2) Pendaftaran para tjalon Veteran Pedjoang Kemerdekaan
Indonesia jang:
a. masih dalam dinas aktif dalam lingkungan Kementerian
Pertahanan, dilakukan oleh Angkatan masing-masing;
b. masih dalam dinas aktif dalam Kepolisian dilakukan oleh
Djawatan Kepolisian Negara:
c. sedang berada diluar Negeri, dilakukan oleh Perwakilan/
Kedutaan setempat:
d. sedang berada dalam tahanan/pendjara berhubung dengan
sesuatu pelanggaran hukum dilakukan oleh instansi Koor-
dinator Urusan Veteran/Kantor Urusan Veteran/Perwira
Distrik Militer setempat jang dibantu sepenuhnja oleh Direk-
tur Rumah Pendjara jang bersangkutan.
Pasal 4.
Pasal 3 sampai dengan pasal 197 (lama) diubah mendjadi pa-
sal-pasal 4 sampai dengan 18 (baru).
Pasal 5.
Pada pasal 4 (baru) ditambah dengan satu ajat jang berbunji
sebagai berikut:
(2) Tugas dan kewadjiban masing-masing Angkatan, Dja-
watan Kepolisian Negara, Perwakilan/Kedutaan Republik di-
luar negeri adalah sebagai tersebut dalam ajat (1) sub a, b
dan c dengan ketentuan, bahwa keterangan-keterangan tertjan-
tum dalam formulir-formulir seperti tersebut dalam ajat (1)
sub b diteruskan kepada Panitia Penjaringan Urusan Veteran
Pusat.
671<noinclude>{{rvh|671}}</noinclude>
k9hewd0qauwgzmt0iolz9xxhffnx1rz
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/11
104
105546
297797
2026-06-13T06:24:26Z
Menyusurisudutnegeri
25205
/* Telah diuji baca */
297797
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>Ma Tjoen bisa menarik pulang sendjatanja, lalu kembali ia mendesak dengan beberapa tikaman saling-susul. Ia benar2 menang diatas angin.
Sepasang alisnja Goat Hoa berbangkit berdiri mengetahui orang rangsak dia setjara demikian. Dia lantas mengempos semangatnja, dengan begitu dapat menggerakkan pedangnja sampai pedang itu bagaikan naga memain diair, sinarnja berkilauan.
Baru beberapa gebrak, sudah terdengar satu suara njaring, lalu ternjata, sendjatanja Ma Tjoen kena dipapas kutung pedang Pekhong-kiam. Tetapi orang she Ma ini besar njalinja. Ia tidak mendjadi kaget atau djeri. Setelah lompat mundur, ia putar sendjatanja gagang didepan untuk digunakan sebagai toja. Dengan lantas dada si nona terantjam tikaman.
Nona Sim tetap menguasai kelintjahan tubuhnja, Ia berkelit hingga sendjata musuh lewat disamping iganja. Inilah antjaman bahaja hebat, sebab hampir sadja kulit atau dagingnja kena terserempet.
Goat Hoa kemudian melakukan pembalasan — Pedangnja mendjurus ketenggorokan Ma Tjoen.
Orang she Ma itu liehay dan gesit, tetapi kali ini ia kalah gesit dengan si nona, Siasia sadja ia mentjoba mendjauhkan tenggorokannja, udjung pedang toh menjamber kepipi kirinja. Dengan lantas ia keluarkan djeritan hebat, tangannja melepaskan sendjatanja, tubuhnja turut roboh.
Dua saudara Tjio kaget begitu djuga Pok In Hoel. Dengan berbareng mereka berlompat dari tiga djurusan untuk mengurung Goat Hoa, dua batang pedang serta sepasang poankoanpit turun meluruk kepada nona itu.
Meskipun ia dikepung bertiga, Goat Hoa tidak mendjadi djeri. Ia melawan dengan tidak kalah hebatnja.
Tong San Siang Koȧy tidak puas menjaksikan begitu banjak orang mengepung satu nona tanpa hasil, malah Ma Tjoen mesti roboh sebagai korban oleh karenanja, mereka menduga, sekalipun bertiga, In Hoel, Soen Eng serta Tjio Hoa belum tentu dapat merobohkan musuhnja itu. Maka saking mendongkolnja, Houyan Pa lantas mengulur tangannja jang kanan kebebokongnja sesudah lebih dulu geser pedangnja ketangan kiri. Ia merabah sematjam kempis dibebokongnja itu, dari dalam mana ia tarik keluar sebungkus<noinclude>{{rh|194}}</noinclude>
2k8yds53jzk5241i0nznjjfkybb478x
Halaman:Almanak Sumatera.djvu/250
104
105547
297798
2026-06-13T06:24:37Z
Rafipahrezi
27243
/* Telah diuji baca */
297798
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Rafipahrezi" /></noinclude>rapa daerah, seperti Minangkabau, Tapanuli, Atjeh dan lain² djumlah mereka sangat sedikit dan peranannjapun tidak berarti, satu dan lain hal oleh karena lalu lintas perdagangan dan sumber ekonomi sudah dari semula merupakan kegiatan dari penduduk asli.
Tetapi didaerah jang sumber ekonominja belum luas tergali oleh bangsa kita, lebih2 lagi disektor perindustrian jang belum djadi pusat perhatian untuk diekspor seperti halnja dengan perindustrian ikan di-pantai² Timur Sumatera (Bengkalis, Bagansiapiapi, Sungaiberombang, dan sebagainja) dan projek hutan, djumlah mereka dan peranannja tjukup menjolok, dan pada suatu ketika sampai² mendesak kehidupan rakjat.
Di-pulau² Riau, Bangka dan Belitung sudah lama diketahui terdapat bidjih timah. Untuk pekerdjaan² berat seperti ini, tenaga Tjina lebih produktif. Sedjak abad ke-18 sudah banjak sekali penetap² Tjina di-pulau² itu dan dengan sendirinja di-kota2nja seperti di Tandjungpinang. Sesudah Inggeris membuka Singapura ditahun 1819 banjaklah orang² Tjina jang sukses dalam bidang perdagangan dan perindustrian ketjil dikepulauan tersebut. Djuga pulau2 itu menghasilkan gambir dan meritja, disamping sumber² dari projek kehutanan. Segala sesuatunja mudah bagi mereka oleh karena pe-modal² Tjina jang sukses di Singapura dan bersemangat besar memperkaja diri, selalu siap sedia membiajai (finansiring) sumber² tersebut. Dalam memperbesar kegiatan² itulah semua mereka menampung dan mendatangkan imigrasi baru dari tanah leluhurnja. Tapi begitu djumlah mereka tjukup menentukan banjaknja dalam kota², menjoloklah keengganan mereka untuk mematuhi peraturan, terutama jang menjangkut tjukai dan padjak. Ditahun 1830-an sewaktu orang Tjina sudah memenuhi pulau Bengkalis (karena sumber ikan dan panglong) maka Sultan Siak terpaksa mengambil tindakan drastis menghalau mereka karena enggan membajar tjukai atau mematuhi peraturan jang penting². Baru sesudah Belanda berkuasa menentukan sesuatunja, orang2 Tjina jang banjak berkumpul dalam sesuatu kota mendapat perlindungan untuk meneruskan peranannja, membuat kota2 nelajan di-pantai2 seperti Bengkalis, Bagansiapiapi dan sebagainja itu bagaikan "kota Swatow" diluar Tjina.
Dalam pengalaman Belanda, ternjata bagi pendjadjah ini pentingnja peranan Tjina. Walaupun demikian tidak berarti bahwa Belanda tidak mengalami kesulitan akibat tindak tanduk mereka. Tidak melulu karena keengganan membajar padjak, menjogok amtenar (pegawai) dan sebagainja, tapi djuga disebabkan merekapun banjak jang mendjadi penjamun didarat dan merampok dilaut.
Sebagai opportunis mereka djuga menimbulkan kesulitan. Ketika ditahun 1864 Belanda menjerang Asahan, mereka mendorong-dorong (meng-hasut²) supaja Sultan Asahan melawan dengan keras. Salah satu sebabnja, karena pedagang² Tjina di Singapura dan Penang takut bakal tertutup sumber ekonominja dari Sumatera Timur sebagai akibat politik monopoli Belanda. Tapi sesudah<noinclude>226</noinclude>
hx9zc1hy34z6xwwbdnt3yil2y2q9lbk
297800
297798
2026-06-13T06:29:37Z
Rafipahrezi
27243
297800
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Rafipahrezi" /></noinclude>rapa daerah, seperti Minangkabau, Tapanuli, Atjeh dan lain² djumlah mereka sangat sedikit dan peranannjapun tidak berarti, satu dan lain hal oleh karena lalu lintas perdagangan dan sumber ekonomi sudah dari semula merupakan kegiatan dari penduduk asli.
Tetapi didaerah jang sumber ekonominja belum luas tergali oleh bangsa kita, lebih² lagi disektor perindustrian jang belum djadi pusat perhatian untuk diekspor seperti halnja dengan perindustrian ikan di-pantai² Timur Sumatera (Bengkalis, Bagansiapiapi, Sungaiberombang, dan sebagainja) dan projek hutan, djumlah mereka dan peranannja tjukup menjolok, dan pada suatu ketika sampai² mendesak kehidupan rakjat.
Di-pulau² Riau, Bangka dan Belitung sudah lama diketahui terdapat bidjih timah. Untuk pekerdjaan² berat seperti ini, tenaga Tjina lebih produktif. Sedjak abad ke-18 sudah banjak sekali penetap² Tjina di-pulau² itu dan dengan sendirinja di-kota²nja seperti di Tandjungpinang. Sesudah Inggeris membuka Singapura ditahun 1819 banjaklah orang² Tjina jang sukses dalam bidang perdagangan dan perindustrian ketjil dikepulauan tersebut. Djuga pulau² itu menghasilkan gambir dan meritja, disamping sumber² dari projek kehutanan. Segala sesuatunja mudah bagi mereka oleh karena pe-modal² Tjina jang sukses di Singapura dan bersemangat besar memperkaja diri, selalu siap sedia membiajai (finansiring) sumber² tersebut. Dalam memperbesar kegiatan² itulah semua mereka menampung dan mendatangkan imigrasi baru dari tanah leluhurnja. Tapi begitu djumlah mereka tjukup menentukan banjaknja dalam kota², menjoloklah keengganan mereka untuk mematuhi peraturan, terutama jang menjangkut tjukai dan padjak. Ditahun 1830-an sewaktu orang Tjina sudah memenuhi pulau Bengkalis (karena sumber ikan dan panglong) maka Sultan Siak terpaksa mengambil tindakan drastis menghalau mereka karena enggan membajar tjukai atau mematuhi peraturan jang penting². Baru sesudah Belanda berkuasa menentukan sesuatunja, orang² Tjina jang banjak berkumpul dalam sesuatu kota mendapat perlindungan untuk meneruskan peranannja, membuat kota² nelajan di-pantai² seperti Bengkalis, Bagansiapiapi dan sebagainja itu bagaikan "kota Swatow" diluar Tjina.
Dalam pengalaman Belanda, ternjata bagi pendjadjah ini pentingnja peranan Tjina. Walaupun demikian tidak berarti bahwa Belanda tidak mengalami kesulitan akibat tindak tanduk mereka. Tidak melulu karena keengganan membajar padjak, menjogok amtenar (pegawai) dan sebagainja, tapi djuga disebabkan merekapun banjak jang mendjadi penjamun didarat dan merampok dilaut.
Sebagai opportunis mereka djuga menimbulkan kesulitan. Ketika ditahun 1864 Belanda menjerang Asahan, mereka mendorong-dorong (meng-hasut²) supaja Sultan Asahan melawan dengan keras. Salah satu sebabnja, karena pedagang² Tjina di Singapura dan Penang takut bakal tertutup sumber ekonominja dari Sumatera Timur sebagai akibat politik monopoli Belanda. Tapi sesudah<noinclude>226</noinclude>
ademwbk8wp17t0tq0smv402uohfkzbf
Halaman:Horison 06 1972.pdf/28
104
105548
297801
2026-06-13T06:30:13Z
Menyusurisudutnegeri
25205
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'កោត HORISON / 188 T. SUTANTO'
297801
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>កោត
HORISON / 188
T. SUTANTO<noinclude></noinclude>
n0kxevo78ohhx2i1jyz06bij83l2mzy
297806
297801
2026-06-13T06:36:31Z
Menyusurisudutnegeri
25205
/* Telah diuji baca */
297806
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Menyusurisudutnegeri" /></noinclude>[[Berkas:Horison 06 1972 (page 28 crop).jpg|nirbing|pus]]
{{right|T. SUTANTO}}<noinclude>{{rh||HORISON / 188}}</noinclude>
h7ogr0dwcs37iowbt2o9u0uqt927fld
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/66
104
105549
297807
2026-06-13T06:38:08Z
Badak Jawa
19009
/* Belum diuji baca */
297807
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Badak Jawa" /></noinclude>Buku² Kerja Penerbit SAKA WIDYA jang akan terbit:
Buku² pilihan tjerita detektip, mata² dan silat jang tegang:
● ''INTAIAN MAUT (The Devil To Pay)''
oleh Ellery Queen.
Siapa pembunuh Solly Spaeth, seorang djutawan jang membodohi banyak orang? Walter, anaknja atau Rhys Jardin temannja?
★<noinclude></noinclude>
h0hjg3dbagdcqpewqimealzdp6gnec1
297810
297807
2026-06-13T06:40:38Z
Badak Jawa
19009
297810
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Badak Jawa" /></noinclude>Buku² Kerja Penerbit SAKA WIDYA jang akan terbit:
Buku² pilihan tjerita detektip, mata² dan silat jang tegang:
● ''INTAIAN MAUT (The Devil To Pay)''
oleh Ellery Queen.
Siapa pembunuh Solly Spaeth, seorang djutawan jang membodohi banyak orang? Walter, anaknja atau Rhys Jardin temannja?
★
• ''SIMATA HIDJAU (The Case of the Green-Eyed Sister)''
oleh Erie Stanley Gardner.<noinclude></noinclude>
bvif2fdbral5egm2z3bbh406v15rs0s
297813
297810
2026-06-13T06:48:12Z
Badak Jawa
19009
297813
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Badak Jawa" /></noinclude>Buku² Kerja Penerbit SAKA WIDYA jang akan terbit:
Buku² pilihan tjerita detektip, mata² dan silat jang tegang:
● '''INTAIAN MAUT (The Devil To Pay)'''
oleh Ellery Queen.
Siapa pembunuh Solly Spaeth, seorang djutawan jang membodohi banyak orang? Walter, anaknja atau Rhys Jardin temannja?
★
• '''SIMATA HIDJAU (The Case of the Green-Eyed Sister)'''
oleh Erie Stanley Gardner.
Seperti Ellery Queen, pengarang Erie Stanley Gardner termasuk djenis pengarang detektip jang sedang tenar namanja.
Siapakah Si Mata Hidjau itu?
Apakah ia sungguh² seorang jang baik hati?
Batjalah bagaimana detektip Perry Mason meme-
tjahkan soal pembunuhan dalam tjerita ini!<noinclude></noinclude>
lq52qhtgm5hxq87g41ty3k71xsz1lbu
Halaman:Almanak Sumatera.djvu/251
104
105550
297808
2026-06-13T06:38:11Z
ArmandDitto
27230
/* Telah diuji baca */
297808
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="ArmandDitto" /></noinclude>Asahan dikalahkan, dan mereka berkesempatan terus berdagang, Sultan Asahan dibiarkan dengan nasibnja, bahkan achirnja mereka giat membantu kelantjaran kolonialisme Belanda.
Dalam tahun 1863 pengusaha Belanda jang pertama Nienhuys membuka
perkebunan tembakau, jang merupakan konkurensi utama dari perkebunan tembakau rakjat jang sudah ada. Nienhuys sudah berhasil bahkan telah sukses dalam kegiatannja, walaupun tidak mendapat bantuan tenaga dari rakjat, oleh karena mendatangkan kuli² Tjina baik setempat maupun dari Singapura dan Penang. Semendjak itu meningkatlah kegiatan investasi asing Barat di Sumatera Timur dan kaum pengusaha ini merasakan semakin pentingnja ditingkatkannja imigrasi Tjina. Bandjirnja bangsa ini sudah sedjak lama dihambat kuat di Djawa.
sebaliknja diluar Djawa seperti Bangka, Belitung, Riau bahkan Sumatera Timur membandjirnja bangsa itu sangat diperlukan, makin banjak makin baik. Berkata L.H.W. Van Sandick penulis "Chineezen buiten China”, bahwa : "......... buat daerah² ini setiap bertambahnja unsur Tjina adalah berarti meluasnja kemakmuran”.
Beberapa perkebunan besar tampil dengan pesat seperti tjendawan tumbuh dimusim hudjan, djumlah orang Tjina di Deli jang hanja beberapi ratus djiwa sadja sebelum tahun 1860 pada awal 1900 sudah tertjatat mentjapai 100.000 djiwa. Para pengusaha asing tidak sedikitpun ingin memperhitungkan konsekwensi dari membandjirnja imigran Tjina itu, sedangkan dipihak pemerintah Belanda timbul berbagai pendapat diantaranja jang mengingatkan bahajanja bagi
rakjat Indonesia, jang sama sekali tidak bisa melombai gigihnja orang Tjina bekerdja dan memutar otak untuk merebut uang.
Pemerintah Belanda dan pengusaha Barat mengakui bahwa sukses besar
di Sumatera Timur pada pokoknja adalah berkat tenaga² Tjina. Tapi dilain pihak orang² Tjina dengan tjepat pula dapat mentjapai hasil dalam mendominir urat nadi ekonomi rakjat dan masjarakat dalam arti kata jang luas. Hampir semua kebutuhan perkebunan, diselenggarakan melalui kegiatan² orang Tjina, mulai dari alat² penanaman, perbekalan, pertukaran, borongan, dan sebagainja sampai kepada kebutuhan pengangkutan dan alat komunikasi lainnja. Tidak heran pula banjak diantara orang Tjina jang berhasil mendjadi kaja, banjak
djutawan mereka di Sumatera Timur berasal dari perantau jang datang dengan hanja sehelai pakaian dipinggang. C.G. Allen penulis buku "Western Enterprises in Indonesia and Malaya" mentjatat salah seorang diantaranja bernama Tan Tang Ho pembangun toko "Seng Hap" jang terkenal di Medan, datang dari negerinja ditahun 1880 dalam keadaan jang sama dengan perantau jang miskin lainnja, dalam tempo 20 tahun sudah memegang peranan menentukan dalam pasaran impor, jang membuat manufakturer² di Eropah terpaksa menjerahkan setiap
pemasaran barang² mereka di Indonesia kepadanja. Djuga di Medan djutawan Tjong Jong Hian dan Tjong A Fie jang dari keuntungan di Sumatera Timur<noinclude>227</noinclude>
d3f01ac6r9maoc1mlvvnc4pcph2g4vr
Halaman:Almanak Sumatera.djvu/254
104
105551
297809
2026-06-13T06:39:54Z
Rafipahrezi
27243
/* Bermasalah */
297809
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="2" user="Rafipahrezi" /></noinclude>{{gambar}}
Gambar 25 ''Foto Pantra''
Kedai Tjina didaerah pedalaman Sumatera.
(Diketjamatan Saribudolok, Sumut)
{{gambar}}
Gambar 26 ''Foto Pantra''
Perdagangan ikan umumnja dikuasai orang? Tjina.<noinclude>230</noinclude>
d9kckv6629buwcggh7dm79gl166mi22
Halaman:Horison 06 1972.pdf/20
104
105552
297812
2026-06-13T06:47:19Z
Nohirara
4725
kerjakan tahap pertama
297812
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Nohirara" /></noinclude>{{Multicol}}
{{gap}}„Lebih baik kalau makan sadja, kau makan dirumah ini Tho!“, seru saja padanja. „Nasi dan lauk masih ada dilemari makan“.
{{gap}}Pantho menarik napas. Kembali ia memandang saja. Tapi sinar matanja nanar.
{{gap}}„Saja keberatan, abanganda. Tidak baik nanti dengan kakak. Masakan pada malam<sup>2</sup> begini saja minta makan kemari.“ Sekali lagi disedot rokoknja. Kemudian ia minum tehnja.
{{gap}}Sebelum saja membalas kata<sup>2</sup>nja Pantho ngomong lagi:
{{gap}}„Saja malu, abanganda. Saja malu kepada diri saja sendiri kalau kakak tahu, bahwa nasi jang tinggal dalam lemari makan itu saja jang menghabiskannja“.
{{gap}}Geli djuga saja mendengar kata<sup>2</sup> Pantho ini. Ada<sup>2</sup> sadja, Dan tanpa pikir pandjang lagi saja bangkit dan pergi kekamar tidur untuk mengambil uang jang ada dalam saku badju saja. Kemudian saja kedepan lagi dan memberikan uang jang diminta Pantho. Ia menerima dengan tangan gemetaran sedikit .
{{gap}}„Terima kasih. Terima kasih banjak, abanganda. Dengan uang lima puluh perak ini Tuhan masih mengizinkan saja untuk menjabung njawa pada malam ini. Soal hari esok, besoklah kita pikirkan“.
{{gap}}Kendatipun saja turut terharu mendengar kata<sup>2</sup> Pantho ini, tetapi perasaan saja hampir sadja meledak mau tertawa. Oh, Pantho! Pantho sahabat saja jang aneh.
{{gap}}Karena saja diam ia bertambah gelisah. Lalu Pantho bangkit dari duduknja tanpa melihat kepada saja.
{{gap}}„Mau kemana kau?“
{{gap}}„Saja mohon diri, abanganda“
{{gap}}„Kenapa buru<sup>2</sup>“
{{gap}}„Saja lapar. Perut saja telah menggigit, abanganda. Tadi sore saja baru sadja berkelahi denan ibu saja. Saja diusir dari rumah“, katanja sembari bergerak kearah pintu. Saja turut bangkit dari tempat duduk.
{{gap}}„Lho, kenapa kau sampai mereka usir?“, tanja saja mau tahu.
{{gap}}„Entahlah! Tapi saja sudah berkelahi dan perang mulut dengan ibu. Dua hari jang lalu saja djuga hampir membunuh ajah. Ajah bentji pada saja, karena saja sangat bentji padanja. Kami takkan bersahabat lagi. Kemudian ibu ikut<sup>2</sup>an membentji saja. Saja marah dan kemudian memaki<sup>2</sup> ibu. Sekarang kedua orang tua saja itu paling saja bentji. Sikap mereka ternjata tidak bersahabat dengan saja. Mereka, adalah diantara banjak orang jang tidak berperikemanusiaan lagi. Saja berpendapat, bahwa orang<sup>2</sup> sematjam itu, walaupun mereka orang tua kita sendiri tidak ada gunanja diberi kesempatan hidup
{{Multicol-break}}
dinegara ini“.
{{gap}}Pantho membuka pintu. Ia melangkah keluar. Saja melongo mendengar utjapan Pantho tentang orang tuanja. Ia selama ini tidak demikian. Wataknja selama ini kepada orang tuanja, terutama kepada ibunja, sangat mulus. Ia berdiri didepan pintu dan melihat pada saja.
{{gap}}„Saja mohon kiranja abanganda tidak mentjeritakan kepada siapa<sup>2</sup> mengenai kedatangan saja pada malam ini. Saja kemari djalan kaki, karena tak berduit. Peristiwa saja dengan kedua orang tua saja itu membuat saja berdjanjdji pada diri saja sendiri dan telah bersumpah. Saja mau berkelana. Mau tahan lapar dan minta duit pada orang<sup>2</sup> jang masih ada rasa belas kasihannja melihat saja. Sekarang saja tidak puna orang tua lagi meskipun kedua orang tua saja masih hidup. Orang jang bisa kasihan kepada saja itulah orang tua saja. Selamat malam, selamat malam.........“.
{{Gap}}Pantho bergegas lari dari muka pintu rumah saja. Ia hilang dibalik gang jang gelap. Saja tak habis pikir terhadap tingkah sahabat saja ini.
{{Gap}} Dengan perasaan tertanja<sup>2</sup> pintu kembali saja tutup. Dan ketika kembali kekamar kerdja saja, saja tidak bisa meneruskan batjaan saja. Utjapan Pantho masih bermain dalam benak saja.
<center>*</center>
{{Gap}}PANTHO berumur sekitar dua puluh dua tahun. Tubunhnja mirip atlit. Menurut pengakuannja ia pernah beladjar karate.
{{Gap}}„Tapi saja belum pernah membunuh orang, abanganda“, kata Pantho pada saja ketika ia pada suatu hari dulu bertamu kerumah saja.
{{Gap}}„Kita dilarang membunuh sesama manusia“, katanja lagi. „Bukankah pekerdjaan membunuh itu adalah suatu dosa jang tak dapat dimaafkan? Tentu, tentu sadja abanganda. Kakek saja ketika beliau masih hidup djuga pernah menasehatkan saja, djangan sampai djadi pembunuh. Pada hal kakek saja itu terkenal dikampungnja sebagai pendekar silat. Banjak ahli<sup>2</sup> silat beladjar padanja, tetapi beliau tetap menasehatkan murid<sup>2</sup>nja itu djangan gegabah mempergunakan kepandaiannja bersilat. Terdjangan silat itu bisa membuat orang muntah darah dan berachir dengan kematian“.
{{Gap}}Saja mengangguk<sup>2</sup>kan kepala untuk mejankinkan tjeritanja itu.
{{Gap}}Kemudian Pantho mengalihkan kisahnja mengenai dirinja jang bernasih djadi „mahasiswa abadi“. Katanja ia tak pernah naik tingkat.
{{Multicol-break}}
{{Gap}}„Tapi walaupun saja tak pernah naik tingkat saja tidak mau kalau adu kepandaian dengan mahasiswa<sup>2</sup> jang telah naik tingkat.“
{{Multicol-end}}<noinclude><center>HORISON / 180</center></noinclude>
kh94sztqy77tneue70w4x14gls6ncf8
297827
297812
2026-06-13T07:07:35Z
Nohirara
4725
selesai
297827
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Nohirara" /></noinclude>{{Multicol}}
{{gap}}„Lebih baik kalau makan sadja, kau makan dirumah ini Tho!“, seru saja padanja. „Nasi dan lauk masih ada dilemari makan“.
{{gap}}Pantho menarik napas. Kembali ia memandang saja. Tapi sinar matanja nanar.
{{gap}}„Saja keberatan, abanganda. Tidak baik nanti dengan kakak. Masakan pada malam<sup>2</sup> begini saja minta makan kemari.“ Sekali lagi disedot rokoknja. Kemudian ia minum tehnja.
{{gap}}Sebelum saja membalas kata<sup>2</sup>nja Pantho ngomong lagi:
{{gap}}„Saja malu, abanganda. Saja malu kepada diri saja sendiri kalau kakak tahu, bahwa nasi jang tinggal dalam lemari makan itu saja jang menghabiskannja“.
{{gap}}Geli djuga saja mendengar kata<sup>2</sup> Pantho ini. Ada<sup>2</sup> sadja, Dan tanpa pikir pandjang lagi saja bangkit dan pergi kekamar tidur untuk mengambil uang jang ada dalam saku badju saja. Kemudian saja kedepan lagi dan memberikan uang jang diminta Pantho. Ia menerima dengan tangan gemetaran sedikit .
{{gap}}„Terima kasih. Terima kasih banjak, abanganda. Dengan uang lima puluh perak ini Tuhan masih mengizinkan saja untuk menjabung njawa pada malam ini. Soal hari esok, besoklah kita pikirkan“.
{{gap}}Kendatipun saja turut terharu mendengar kata<sup>2</sup> Pantho ini, tetapi perasaan saja hampir sadja meledak mau tertawa. Oh, Pantho! Pantho sahabat saja jang aneh.
{{gap}}Karena saja diam ia bertambah gelisah. Lalu Pantho bangkit dari duduknja tanpa melihat kepada saja.
{{gap}}„Mau kemana kau?“
{{gap}}„Saja mohon diri, abanganda“
{{gap}}„Kenapa buru<sup>2</sup>“
{{gap}}„Saja lapar. Perut saja telah menggigit, abanganda. Tadi sore saja baru sadja berkelahi denan ibu saja. Saja diusir dari rumah“, katanja sembari bergerak kearah pintu. Saja turut bangkit dari tempat duduk.
{{gap}}„Lho, kenapa kau sampai mereka usir?“, tanja saja mau tahu.
{{gap}}„Entahlah! Tapi saja sudah berkelahi dan perang mulut dengan ibu. Dua hari jang lalu saja djuga hampir membunuh ajah. Ajah bentji pada saja, karena saja sangat bentji padanja. Kami takkan bersahabat lagi. Kemudian ibu ikut<sup>2</sup>an membentji saja. Saja marah dan kemudian memaki<sup>2</sup> ibu. Sekarang kedua orang tua saja itu paling saja bentji. Sikap mereka ternjata tidak bersahabat dengan saja. Mereka, adalah diantara banjak orang jang tidak berperikemanusiaan lagi. Saja berpendapat, bahwa orang<sup>2</sup> sematjam itu, walaupun mereka orang tua kita sendiri tidak ada gunanja diberi kesempatan hidup
{{Multicol-break}}
dinegara ini“.
{{gap}}Pantho membuka pintu. Ia melangkah keluar. Saja melongo mendengar utjapan Pantho tentang orang tuanja. Ia selama ini tidak demikian. Wataknja selama ini kepada orang tuanja, terutama kepada ibunja, sangat mulus. Ia berdiri didepan pintu dan melihat pada saja.
{{gap}}„Saja mohon kiranja abanganda tidak mentjeritakan kepada siapa<sup>2</sup> mengenai kedatangan saja pada malam ini. Saja kemari djalan kaki, karena tak berduit. Peristiwa saja dengan kedua orang tua saja itu membuat saja berdjanjdji pada diri saja sendiri dan telah bersumpah. Saja mau berkelana. Mau tahan lapar dan minta duit pada orang<sup>2</sup> jang masih ada rasa belas kasihannja melihat saja. Sekarang saja tidak puna orang tua lagi meskipun kedua orang tua saja masih hidup. Orang jang bisa kasihan kepada saja itulah orang tua saja. Selamat malam, selamat malam.........“.
{{Gap}}Pantho bergegas lari dari muka pintu rumah saja. Ia hilang dibalik gang jang gelap. Saja tak habis pikir terhadap tingkah sahabat saja ini.
{{Gap}} Dengan perasaan tertanja<sup>2</sup> pintu kembali saja tutup. Dan ketika kembali kekamar kerdja saja, saja tidak bisa meneruskan batjaan saja. Utjapan Pantho masih bermain dalam benak saja.
<center>*</center>
{{Gap}}PANTHO berumur sekitar dua puluh dua tahun. Tubunhnja mirip atlit. Menurut pengakuannja ia pernah beladjar karate.
{{Gap}}„Tapi saja belum pernah membunuh orang, abanganda“, kata Pantho pada saja ketika ia pada suatu hari dulu bertamu kerumah saja.
{{Gap}}„Kita dilarang membunuh sesama manusia“, katanja lagi. „Bukankah pekerdjaan membunuh itu adalah suatu dosa jang tak dapat dimaafkan? Tentu, tentu sadja abanganda. Kakek saja ketika beliau masih hidup djuga pernah menasehatkan saja, djangan sampai djadi pembunuh. Pada hal kakek saja itu terkenal dikampungnja sebagai pendekar silat. Banjak ahli<sup>2</sup> silat beladjar padanja, tetapi beliau tetap menasehatkan murid<sup>2</sup>nja itu djangan gegabah mempergunakan kepandaiannja bersilat. Terdjangan silat itu bisa membuat orang muntah darah dan berachir dengan kematian“.
{{Gap}}Saja mengangguk<sup>2</sup>kan kepala untuk mejankinkan tjeritanja itu.
{{Gap}}Kemudian Pantho mengalihkan kisahnja mengenai dirinja jang bernasih djadi „mahasiswa abadi“. Katanja ia tak pernah naik tingkat.
{{Multicol-break}}
{{Gap}}„Tapi walaupun saja tak pernah naik tingkat saja tidak mau kalau adu kepandaian dengan mahasiswa<sup>2</sup> jang telah naik tingkat. Teori ekonomi Adam Smith bulat<sup>2</sup> dalam otak saja“, katanja bangga seakan<sup>2</sup> ingin membuktikan, bahwa dia adalah mahasiswa ekonomi jang tadjam otaknja difakultas jang dimasukinja.
{{Gap}}Sekali lagi saja mengangguk.
{{Gap}}„Inilah anehnja ilmu itu. Belum tentu seseorang jang menguasai sesuatu ilmu ia dinjatakan pandai. Berapa banjak sekarang sardjana? Tapi kenapa suratkabar<sup>2</sup> memberitakan, bahwa di Indonesia masih banjak sardjana<sup>2</sup> jang menganggur? He, heh...... betul<sup>2</sup> Indonesia ini negara jang aneh. Dan tjobalah abanganda bajangkan, dinegara kita ini kalau ada sedikit kerusuhan banjak orang jang berterima kasih. Sebab apa? Ia, karena situasi jangn keruh itu akan mereka manfaatkan. Dinegara ini makin banjak kerusuhan makin banjak orang jang tjepat kerja, makin banjak maling jang berteriak maling. Ampun! Bukankah kita sudah dadjal? Ia, dadjal kepada diri kita sendiri. Kita mau berbuat dadjal seperti itu karena tidak ada lagi perasaan malu kepada diri sendiri. Tjoba tengok, dimana<sup>2</sup> korupsi masih meradjalela. Tak habis pikir, kepada Sumitro djuga jang tambah botak. Ampun! Apakah kita masih tega membiarkan maling<sup>2</sup> berkuasa?“
{{Gap}}Pantho tarik napas. Tjapek ia ngomong sendiri. Sorotan matanja jang tadi begitu tadjam sebentar djadi kuju. Ia benar<sup>2</sup> tjapek.
{{Gap}}„Saja sering djatuh tjinta kalau melihat gadis<sup>2</sup> tjantik“, katanja berseru<sup>2</sup>. Mungkin ada pengalaman tjintanja dengan salah seorang gadis jang begitu romantis. Tapi tiba<sup>2</sup> ia mengepalkan tangannja seperti mau menumbuk medja.
{{Gap}}„Begitupun dengan silap, abanganda! Saja lebih tjinta kepada ibu saja. Tapi sangat aneh. Saja begitu bentji pada ajah. Ajah djuga bentji saja. Djadilah kami seperti harimau, bermusuhan dan ingin saling mengalahkan.“
{{Gap}}Ia tambah bersemangat.
{{Gap}}„Ibu saja sangat sajang kepada saja, diantara enam anak<sup>2</sup>nja jang dilahirkannja. Dan karena ibu begitu sajang kepada saja, saja djuga selalu teringat kepada ibu. Sebab itu kalau saja pergi dari rumah selendang atau badju ibu tidak pernag lupa saja bawa. Saja bungkus rapi<sup>2</sup> benda itu agar tidak dilihat orang. Kadang<sup>2</sup> pakaian jang dipakai ibu itu selalu saja tjium<sup>2</sup>. Saja selalu kangan
{{Multicol-end}}<noinclude><center>HORISON / 180</center></noinclude>
iqk2d3v14hfkhf3ml7vzajf04lrlj2j
Halaman:Horison 06 1972.pdf/6
104
105553
297818
2026-06-13T06:52:58Z
Bada1828
27236
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{X-larger| '''Navis Dalam Dua Muka'''}}'
297818
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Bada1828" /></noinclude>{{X-larger|
'''Navis Dalam Dua Muka'''}}<noinclude></noinclude>
pmzemndtmswkwcdjoq2u7rk8fps93w2
297837
297818
2026-06-13T07:21:38Z
Bada1828
27236
297837
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Bada1828" /></noinclude>{{X-larger|
'''Titik Bias'''}}
H. B. SOEPIJO
{{c|I}}
SUDAH dapat kubajangkan istriku dirumah akan menjambut dingin kalau membukakan pintu di malam jang sudah akan mengindjak pagi ini. Kalau sadja bukan untuk membuka kenangan lama dan melihat kemungkinan masa depan, maka aku sungguh enggan menemui Senior d'Alexio, apalagi aku harus naik bus dari rumah ke Hotel dimana dia menginap selama di Djakarta.
* Aku sungguh rindu kembali ke Timor, Hanas.
* Tuan masih merasa akan kembali ke tanah air tuan jang kedua?
* Setjara hukum jang kedua, tapi setjara hati jang pertama.
* Dengan hati jang bagaimanakah tuan mendjadjah sebagian bangsa kami?
* Ach, Hans. aku senang masih ada djuga sisa rasa nasionalisme didalam hatimu. Kukira kau hanja menjimpan anggur sadja, makin lama makin lezat, tapi kadar mabuknja makin tinggi djuga. Marilah mabuk untuk jang dapat kita raih, Hans. Masa Zapata, Rizal dan Gandhi sudah lalu, mari minum Martini dan tjeritakan kenapa kau sudah tidak mendjadi guru lagi.
* Aku Djustru masih mendjadi murid dalam hidup ini, Senor.
* Dan kau anggap guru dalam hidup adalah budak-belian bukan?
Laki-laki jang berperawakan pendek kekar itu tidak dapat menahan tawanja jang makin lama makin mendjadi keras meninggi, dengan titik air mata kegirangan dipelupuk matanja. Suatu tawa chas seorang pelaut, dan dulu ketika aku bertemu dan berkenalan dengannja, memang dia seorang pelaut, seorang Nachoda sebuah kapal Portugis, "Benito".
* Aku kagum dan iri melihat pelaut² Indonesia jang dengan sebuah perahu jang lajak buat sebuah pesiar di sungai mengarungi Laut Djawa jang luas dan kadang ganas.
* Mereka itu tidak dapat berbuat lain kalau mereka mau menjesuaikan diri dengan alam, Senor. Mereka harus berani, atau mati.
* Doronga itulah jang mengantarkan bangsaku kemari. Kau<noinclude></noinclude>
spz2iyi304rp9n28n0m1t7j0yzmijh7
Halaman:Horison 06 1972.pdf/31
104
105554
297820
2026-06-13T06:55:36Z
Gesha Mahendra
27238
/* Telah diuji baca */
297820
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Gesha Mahendra" /></noinclude>CATATAN KECIL<br>
<br>
RUDIMAN 8. HARTOJO<br>
<br>
Budiman S. Hastojo yang menuis sejak 1962, telah menyiarkan puisi-puisinya dalam majalah-majalah Pulsus Critertum, Uchuwwah, Media, Gadjah Mada, Basis, Budaya, (Jogjakarta),
Gelora (Surabaja), Waktu (Medan). Mimbar Indonesia, Gelanggang, Sastra, Horison (Jakarta). Beberapa artikelnya dipublisir lewat Patria, Genta, Adil, Surakarta, Warta Minggu, Bhatara (Sala), Minggu, Pelopor Joja
Jogjakarta, Pos Minggu, AB Edisi Djateng, Suara Merdeka (Semarang) Mabasiswa Indonesia
Bandung), Minggu Merdeka,<br>
<br>
Suara Karya Minggu, Indonesia Raya, Abadi, Kami, Sinar Harapan, Kompas Jakarta).<br>
Pernah menulis Buku Putih sekitar situasi politik di Jawa Tengah (1967), memimpin beberapa penerbitan di Sala, redaksi siaran kata dan komentator politik RRI Studio Surakarta, sekretaris PWI Cabang Sala, Ketua III Dewan Kesenian Surakarta
dan beberapa bulan sebagai koresponden Ekspres dan Tempo (Jakarta).<br>
Kini sedang mempersiuakan sebuah kumpulan puisi, yang dipilih lagi dari dua kumpulan puisinya terdahulu (stensilan) : Sendja Jang Biru den Lagu Sebelum Mati.<br>
Budiman telah membaca puisi-puisinya (poetry reading) tiga kali, dua kali digedung induk Pusat Kesenian Jawa Tengah, Sasanamulya Sala pada pekan apresiasi seni Dewan Kesenian
Surakarta dan pekan "Seni dan Kampus” Lembaga Kesenian Mahasiswa Surakarta serta sekali dikampus Universitas Diponegoro Semarang.<br>
Sekarang ia menetap di Jakarta, dan suatu kali dikantor Horison ia berkata: "Saya tak tahu. apakah Jakarta yang sibuk, penuh saingan dan tantangan itu juga akan merangsang kreativitas alaukah justru akan membunuh saya”,<br>
<br>
S.K. INSANKAMIL<br>
SK. Insankamil lahir di Ciledug, Cirebon pada tanggal 22 Pebruari 1928. la menulis sajak, cerpen, dan artikel sejak masih duduk dibangku sekolah dasar. Tulisan2nya dimuat dibergagai majalah dan suratkabar Pantja Raja, Siasat, Zenith, Roman, Sastra, Horison, Mimbar Demokrasi, Berita Yudha, Mimbar Indonesta.<br>
Ia lama terhenti menulis karena kesibukan lain.<noinclude>HORISON / 191</noinclude>
f5gz0arftetdduufw2xht5il67rgsic
297821
297820
2026-06-13T06:56:00Z
Gesha Mahendra
27238
297821
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Gesha Mahendra" /></noinclude>CATATAN KECIL<br>
<br>
RUDIMAN 8. HARTOJO<br>
<br>
Budiman S. Hastojo yang menuis sejak 1962, telah menyiarkan puisi-puisinya dalam majalah-majalah Pulsus Critertum, Uchuwwah, Media, Gadjah Mada, Basis, Budaya, (Jogjakarta),
Gelora (Surabaja), Waktu (Medan). Mimbar Indonesia, Gelanggang, Sastra, Horison (Jakarta). Beberapa artikelnya dipublisir lewat Patria, Genta, Adil, Surakarta, Warta Minggu, Bhatara (Sala), Minggu, Pelopor Joja
Jogjakarta, Pos Minggu, AB Edisi Djateng, Suara Merdeka (Semarang) Mabasiswa Indonesia
Bandung), Minggu Merdeka,<br>
<br>
Suara Karya Minggu, Indonesia Raya, Abadi, Kami, Sinar Harapan, Kompas Jakarta).<br>
Pernah menulis Buku Putih sekitar situasi politik di Jawa Tengah (1967), memimpin beberapa penerbitan di Sala, redaksi siaran kata dan komentator politik RRI Studio Surakarta, sekretaris PWI Cabang Sala, Ketua III Dewan Kesenian Surakarta
dan beberapa bulan sebagai koresponden Ekspres dan Tempo (Jakarta).<br>
Kini sedang mempersiuakan sebuah kumpulan puisi, yang dipilih lagi dari dua kumpulan puisinya terdahulu (stensilan) : Sendja Jang Biru den Lagu Sebelum Mati.<br>
Budiman telah membaca puisi-puisinya (poetry reading) tiga kali, dua kali digedung induk Pusat Kesenian Jawa Tengah, Sasanamulya Sala pada pekan apresiasi seni Dewan Kesenian
Surakarta dan pekan "Seni dan Kampus” Lembaga Kesenian Mahasiswa Surakarta serta sekali dikampus Universitas Diponegoro Semarang.<br>
Sekarang ia menetap di Jakarta, dan suatu kali dikantor Horison ia berkata: "Saya tak tahu. apakah Jakarta yang sibuk, penuh saingan dan tantangan itu juga akan merangsang kreativitas alaukah justru akan membunuh saya”,<br>
<br>
S.K. INSANKAMIL<br>
<br>
SK. Insankamil lahir di Ciledug, Cirebon pada tanggal 22 Pebruari 1928. la menulis sajak, cerpen, dan artikel sejak masih duduk dibangku sekolah dasar. Tulisan2nya dimuat dibergagai majalah dan suratkabar Pantja Raja, Siasat, Zenith, Roman, Sastra, Horison, Mimbar Demokrasi, Berita Yudha, Mimbar Indonesta.<br>
Ia lama terhenti menulis karena kesibukan lain.<noinclude>HORISON / 191</noinclude>
54ox87fll1yn6fqtdmxqmq0ubork321
Halaman:Almanak Sumatera.djvu/255
104
105555
297824
2026-06-13T06:58:28Z
ArmandDitto
27230
/* Telah diuji baca */
297824
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="ArmandDitto" /></noinclude>Tanggal 22 Agustus 1945 jaitu 5 hari setelah proklamasi R.I. barulah
penguasa Djepang di Sumatera Timur mengumumkan kekalahannja. Sedjak
itu menondjol sekalilah kegembiraan orang Tjina, karena sebagai diketahui Tjina (Taiwan) adalah anggota Sekutu A.B.C. (American-British-Chinese) dalam melawan Djepang. Bangkit rasa besar diri pada tampang mereka, di-mana² terdengar kesombongan jang menampakkan anggapan meningkatnja deradjat sebagai bangsa kelas satu, bahkan turut sebagai "Lima Besar”.
Tidak berapa lama kemudian masjarakat Tjina terrjengang, karena pemuda² Indonesia sedang menjusun kekuatan di-mana² untuk merealisasi kemerdekaan R.I. di Sumatera. Dengan serta merta nampak wadjah muram dikalangan mereka, tapi begitupun dari pihak pemuda diabaikan untuk mendapatkan understanding dari mereka, sebagaimana terdjadi dengan usaha² pemimpin² Indonesia menghubungi tokoh² Kwomintang Sumatera Timur supaja djangan merintangi perdjuangan Republik Indonesia.
Tapi setelah balatentara Inggeris mendarat, nampak gedjala², dimana mereka lebih menempatkan kepentingan peranan ekonominja dari pada mengindahkan segi² positif dari perdjuangan Indonesia, hingga pertikaian tidak dapat dihindarkan.
Orang² Tjina berdagang dan mensupply bahan² makanan dan kebutuhan
Sekutu/Nica dengan giat. Dalam waktu tidak berapa lama, terasalah tindak tanduk penduduk Tjina djadi penghambat aktif terhadap perdjuangan R.I. Akibatnja terdjadilah benterokan² jang achirnja menundjukkan dipihak siapa sebenarnja mereka berdiri. T.E.D. Kelly panglima Sekutu di Medan memperlengkapi sendjata kepada barisan bersedjata Tjina jang diberi nama ''Poh An Tui'', semendjak itu mereka melakukan terror dan merampok ke-rumah² penduduk
sipil. Di-tengah² kesibukan gontok²an antara pemuda dan barisan Poh An Tui, balatentara Sekutu mendjalankan rentjananja untuk menguasai gedung² jang bisa didjadikan tempat strategis dan vital, halmana membuat kantor² pemerintahan R.I. diungsikan kepedalaman (Pemarangsiantar).
Sementara itu didaerah jang dikuasai R.I. terdapat suasana jang lain sekali. Orang² Tjina menjesuaikan diri dengan perkemnbangan disana. Seorang diantara pemimpin² Tjina jang progressif menghubungkan diri dengan pemimpin² Indonesia dari golongan kiri. Dia adalah seorang Tjina guru sekolah jang dikenal dengan nama Barhen. Tapi orang ini tidak berbuat sesuayu untuk menginsafkan bangsanja agar djangan mendjadi alat Belanda, atau mementingkan diri sendiri menangguk diair keruh. Karena kegiatannja tidak diketahui, maka gerak geriknja
jang tersembunji mendjadi gelap keluar. Ketika Belanda melakukan agressi pertama, dia sama sekali tidak solider, tapi tinggal didaerah pendudukan Belanda rupanja untuk mendapat kesempatan dipulangkan ketanah luhur. Di Peking ia aktif dan ketika R.I. mengganjang P.K.I. (pemberontakan Madiun) dia serta merta mentjela R.I., sebagaimana ternjata dari ketjamannja dalam sebuah madjallah<noinclude>231</noinclude>
cvusbkoh9s3b5t84wny01nlan3ir5nu
Halaman:20 tahun Indonesia merdeka.djvu/676
104
105556
297825
2026-06-13T06:59:53Z
Wiki Rosadi
27037
/* Telah diuji baca */
297825
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Wiki Rosadi" /></noinclude>MAKLUMAT
MENTERI URUSAN VETERAN REPUBLIK INDONESIA
No. 91/MK/KUV/38
Mengingat hasrat Pemerintah untuk segera dapat menjelesai-
kan masaalah Veteran Pedjoang Kemerdekaan Republik Indone-
sia seperti jang diharapkan bersama, Pemerintah sadar bahwa
penjelesaian masaalah tersebut tidak dapat diselesaikan oleh Pe-
merintah sendiri, tetapi harus dilakukan oleh Pemerintah berga-
ma-sama dengan masjarakat serta massa Veteran sendiri.
Mengingat pula sedjak Keputusan P.J.M. Presiden Republik
Indonesia No. 103 Tahun 1957 tentang pembentukan Legiun
Veteran Republik Indonesia sebagai hasil Kongres Nasional
Bekas Pedjoang Bersendjata Seluruh Indonesia pada achir ta-
hun 1956 hingga awal tahun 1957, maka pada massa Veteran
dan Pemerintah terkandung suatu harapan jang besar, bahwa
organisasi-organisasi Veteran jang bermatjam ragam tjorak
dan bentuk maupun sifatnja, sekarang terhimpun dalam satu
susunan organisasi Veteran sadja jang membela hak-hak serta
kewadjiban dan mendjaga kehormatan kaum Veteran.
Tetapi meskipun usia Legiun Veteran Republik Indonesia
sudah hampir dua tahun, njatanja belum dapat merupakan
suatu organisasi jang kita tjita-tjitakan serta harapkan, sesuai
dengan Keputusan P.J.M. Presiden Republik Indonesia No. 103/
Tahun 1957 tadi.
Pemerintah memandang perlu agar supaja Legiun Veteran
Republik Indonesia dapat merupakan suatu pentjerminan per-
satuan serta kesatuan massa Veteran Pedjoang Kemerdekaan
Republik Indonesia dari segenap golongan serta aliran.
Maka dengan ini diharapkan agar supaja dalam waktu jang
sesingkat-singkatnja semua organisasi Veteran dapat menjam-
pingkan semua kepentingan perorangan, golongan maupun alir-
an, untuk segera berfusi dalam satu organisasi Veteran jang
kuat-kukoh, ialah Legiun Veteran Republik Indonesia.
Djadikanlah tanggal 28 Oktober 1958 ini, bertepatan pada
hari ulang tahun ke-30 ,,Hari Sumpah Pemuda”, dimana tiga
puluh tahun jang lampau semua pemuda-pemuda jang mendja-
di perintis serta pionir kemerdekaan Nusa dan Bangsa Indone-
sia melakukan ikrar bersama, ialah satu Bangsa, satu Tanah
Air dan satu Bahasa, ialah Bangsa, Tanah-Air serta Bahasa
Indonesia, sudah sewadjarnja bila massa Veteran bertekad:
662<noinclude>{{rvh|662}}</noinclude>
016d77gm9c5gnildy17j2vpk9t6wpmf
297828
297825
2026-06-13T07:12:42Z
Wiki Rosadi
27037
297828
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Wiki Rosadi" /></noinclude>MAKLUMAT
MENTERI URUSAN VETERAN REPUBLIK INDONESIA
No. 97/MK/KUV/58
Mengingat hasrat Pemerintah untuk segera dapat menjelesai-
kan masaalah Veteran Pedjoang Kemerdekaan Republik Indone-
sia seperti jang diharapkan bersama, Pemerintah sadar bahwa
penjelesaian masaalah tersebut tidak dapat diselesaikan oleh Pe-
merintah sendiri, tetapi harus dilakukan oleh Pemerintah bersa-
ma-sama dengan masjarakat serta massa Veteran sendiri.
Mengingat pula sedjak Keputusan P.J.M. Presiden Republik
Indonesia No. 103 Tahun 1957 tentang pembentukan Legiun
Veteran Republik Indonesia sebagai hasil Kongres Nasional
Bekas Pedjoang Bersendjata Seluruh Indonesia pada achir ta-
hun 1956 hingga awal tahun 1957, maka pada massa Veteran
dan Pemerintah terkandung suatu harapan jang besar, bahwa
organisasi-organisasi Veteran jang bermatjam ragam tjorak
dan bentuk maupun sifatnja, sekarang terhimpun dalam satu
susunan organisasi Veteran sadja jang membela hak-hak serta
kewadjiban dan mendjaga kehormatan kaum Veteran.
Tetapi meskipun usia Legiun Veteran Republik Indonesia
sudah hampir dua tahun, njatanja belum dapat merupakan
suatu organisasi jang kita tjita-tjitakan serta harapkan, sesuai
dengan Keputusan P.J.M. Presiden Republik Indonesia No. 103/
Tahun 1957 tadi.
Pemerintah memandang perlu agar supaja Legiun Veteran
Republik Indonesia dapat merupakan suatu pentjerminan per-
satuan serta kesatuan massa Veteran Pedjoang Kemerdekaan
Republik Indonesia dari segenap golongan serta aliran.
Maka dengan ini diharapkan agar supaja dalam waktu jang
sesingkat-singkatnja semua organisasi Veteran dapat menjam-
pingkan semua kepentingan perorangan, golongan maupun alir-
an, untuk segera berfusi dalam satu organisasi Veteran jang
kuat-kukoh, ialah Legiun Veteran Republik Indonesia.
Djadikanlah tanggal 28 Oktober 1958 ini, bertepatan pada
hari ulang tahun ke-30 ,,Hari Sumpah Pemuda”, dimana tiga
puluh tahun jang lampau semua pemuda-pemuda jang mendja-
di perintis serta pionir kemerdekaan Nusa dan Bangsa Indone-
sia melakukan ikrar bersama, ialah satu Bangsa, satu Tanah
Air dan satu Bahasa, ialah Bangsa, Tanah-Air serta Bahasa
Indonesia, sudah sewadjarnja bila massa Veteran bertekad:
662<noinclude>{{rvh|662}}</noinclude>
81wx4y2hxjcx2hojrav0xnqmb5c4r69
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/26
104
105557
297829
2026-06-13T07:13:50Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297829
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|10|TERSOEA LAWAN||}}</noinclude>Senggoeloeng Batoe terkenal seorang jang tjerdik lagi djenaka.
"Kepekan mamak? Bersama-sama kita", katanja sekali kepada Poekat, jang berdjalan sendirian pergi kepekan.
"Poetjoek ditjinta oelam tiba, awak rindoe kekasih datang!" mendjawab Poekat dengan girang.
Meréka itoe sampai kepada seboeah kedai.
"Ajo kita mengisi bensin dahoeloe disini!" kata Poekat dengan lagoe seolah-olah akan menamoe Senggoeloeng Batoe.
"Baik mamak, awak mengantoek disorong bantal, peroet lapar panggilan tiba!" djawab Senggoeloeng.
"Ambil nasi oi! Hidangkan segala matjam laoek paoeknja!" berseroe Poekat kepada orang kedai.
"Makanlah kenjang-kenjang, djangan segan-segan", katanja kepada Senggoeloeng.
"Tidak segan-segan mamak! sedikit dan banjak, makan djoega namanja. Boeat sadja biarpoen 100 kali moesim melését, perkara makan tidak pernah sadja tahan-tahan. Oeang ada sajapnja, sebab itoe ketika ia sesat hinggap ketangan sadja, saja pergoenakan. Apabila soedah lepas soesah kembalinja".
"Pikiran kita tjotjok benar... kalau akoe masih ada anak perempoean, hari ini djoega engkau koeangkat djadi menantoe!" kata Poekat mengangkat-angkat Senggoeloeng.
"Sajapoen tidak berkeberatan djadi menantoe mamak, tetapi sajang... anak jang boengsoe ta' akan beradik lagi".
Sekarang Poekat melakoekan 'akal kantjilnja. "Berapa kami berdoea?" katanja kepada orang kedai.
"53 sén!"
Poekatpoen melontarkan oeang kertasnja.
"Tidak ada penoekar!" kata jang empoenja kedai.
"Ah, soesah kalau begitoe, oeang 53 sén, kepalang beroetang rasanja".
"Djangan soesah mamak, biar saja toekar", kata Senggoeloeng sambil mengeloearkan oeang pérak 25 roepiah.
"Ah, siapa maoe oeang pérak semoea, berat amat", si Poekat mentjari hélah, soepaja oeangnja ta' djadi ditoekar.
"Djangan soesah, mamak, saja beri oeang kertas harga ''f'' 10.— doea helai".
Dengan moeka merengoet Poekat terpaksa membajar boeat meréka berdoea.
"Saja lihat engkau ada oeang, ajo kita berkongsi membeli kopi, modal ''f'' 25.— seorang", kata Poekat, setelah berpikir hendak mentjari balas.
"Baik!"
"Akoe toekang timbang dan menoeliskan, engkau toekang bajar", kata Poekat.
"Baik!"
Orang-orang kampoeng jang ta' tahoe mata timbangan semoeanja<noinclude></noinclude>
pjb6k7s9nj6uu606305zmdcy8uqe0q7
297863
297829
2026-06-13T07:50:47Z
Link PB
26772
297863
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|10|TERSOEA LAWAN||}}</small></noinclude>Senggoeloeng Batoe terkenal seorang jang tjerdik lagi djenaka.
"Kepekan mamak? Bersama-sama kita", katanja sekali kepada Poekat, jang berdjalan sendirian pergi kepekan.
"Poetjoek ditjinta oelam tiba, awak rindoe kekasih datang!" mendjawab Poekat dengan girang.
Meréka itoe sampai kepada seboeah kedai.
"Ajo kita mengisi bensin dahoeloe disini!" kata Poekat dengan lagoe seolah-olah akan menamoe Senggoeloeng Batoe.
"Baik mamak, awak mengantoek disorong bantal, peroet lapar panggilan tiba!" djawab Senggoeloeng.
"Ambil nasi oi! Hidangkan segala matjam laoek paoeknja!" berseroe Poekat kepada orang kedai.
"Makanlah kenjang-kenjang, djangan segan-segan", katanja kepada Senggoeloeng.
"Tidak segan-segan mamak! sedikit dan banjak, makan djoega namanja. Boeat sadja biarpoen 100 kali moesim melését, perkara makan tidak pernah sadja tahan-tahan. Oeang ada sajapnja, sebab itoe ketika ia sesat hinggap ketangan sadja, saja pergoenakan. Apabila soedah lepas soesah kembalinja".
"Pikiran kita tjotjok benar... kalau akoe masih ada anak perempoean, hari ini djoega engkau koeangkat djadi menantoe!" kata Poekat mengangkat-angkat Senggoeloeng.
"Sajapoen tidak berkeberatan djadi menantoe mamak, tetapi sajang... anak jang boengsoe ta' akan beradik lagi".
Sekarang Poekat melakoekan 'akal kantjilnja. "Berapa kami berdoea?" katanja kepada orang kedai.
"53 sén!"
Poekatpoen melontarkan oeang kertasnja.
"Tidak ada penoekar!" kata jang empoenja kedai.
"Ah, soesah kalau begitoe, oeang 53 sén, kepalang beroetang rasanja".
"Djangan soesah mamak, biar saja toekar", kata Senggoeloeng sambil mengeloearkan oeang pérak 25 roepiah.
"Ah, siapa maoe oeang pérak semoea, berat amat", si Poekat mentjari hélah, soepaja oeangnja ta' djadi ditoekar.
"Djangan soesah, mamak, saja beri oeang kertas harga ''f'' 10.— doea helai".
Dengan moeka merengoet Poekat terpaksa membajar boeat meréka berdoea.
"Saja lihat engkau ada oeang, ajo kita berkongsi membeli kopi, modal ''f'' 25.— seorang", kata Poekat, setelah berpikir hendak mentjari balas.
"Baik!"
"Akoe toekang timbang dan menoeliskan, engkau toekang bajar", kata Poekat.
"Baik!"
Orang-orang kampoeng jang ta' tahoe mata timbangan semoeanja<noinclude></noinclude>
sc8batny09chjtq6qwx2ad0cdlmu9eg
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/27
104
105558
297830
2026-06-13T07:19:14Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297830
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||TERSINGGOENG PERNJA|11|}}</noinclude>diperbodoh-bodoh oleh Poekat. Berat kopi jang sebenarnja dikoeranginja tiap-tiap menimbang. Betoel orang-orang kampoeng tidak tahoe, tetapi Senggoeloeng ada melihat itoe dan tahoe ia apa maksoednja.
"Bajar... 4 kati!" kata Poekat, pada hal berat kopi jang sebenarnja 4{{frac|1|2}} kati.
Senggoeloengpoen membajar harga 4 kati kepada jang empoenja dan harga jang {{frac|1|2}} kati lagi dikeloearkannja djoega, tetapi oentoeknja sendiri. Begitoelah diboeatnja beroelang-oelang.
Waktoe pekan hampir oesai, Poekat berkata, setelah melihat boekoe peringatannja: 213 kati semoeanja! Tjoba tjotjokkan dengan oeang jang engkau bajarkan".
Oeang kongsipoen dihitoeng, kedapatan jang soedah dibajarkan harga 230 kati.
"Mana boleh?" bertanja Poekat dengan hati tjoeriga.
"Tidak tahoe, tetapi saja ta' ada jang salah membajar rasanja... tetapi tjoba timbang kopinja!" kata Senggoeloeng, poera-poera seperti soesah.
Kebetoelan kopi itoe tjoekoep 230 kati. Tentoe sadja oeang harga jang 17 kati telah masoek kekantoeng Senggoeloeng Batoe.
"Tetapi tidak boleh djadi... sebab..." kata Poekat bersoengoet-soengoet.
"Sebab apa, mamak?" bertanja Senggoeloeng.
"Sebab... kita tidak tjotjok, tjoekoeplah sekali ini kita berkongsi". Senggoeloeng tersenjoem, Poekat menggigit djari.
{{right|M. KASIM}}
{{c|<big>TERSINGGOENG PERNJA</big>}}
Dja Dasoen baroe sekali kekota Medan. Ia datang bersama-sama dengan beberapa orang teman, mendjoeal lemboe kesana. Lemboenja doea ékor, terdjoeal dengan harga jang bagoes, sebab itoe ia hendak tinggal dikota Medan barang beberapa hari, hendak mentjoba bagaimana senangnja tinggal dikota.
Soedah banjak roepa makanan jang telah diketjapnja selama tinggal dikota itoe dan matjam-matjamlah penglihatan jang menghérankan dia. Satoe dari pada jang amat mena'adjoebkan hatinja, lampoe listerik di Bioskop, jang menjala dan padam dengan sendirinja.
Pada soeatoe malam, setelah habis menonton, ia masoek kewaroeng orang Keling.
"Maoe makan?" bertanja jang empoenja waroeng.
"Ja..." kata Dja Dasoen.
"Nasi keboeli, goelai kambing?"
"Ja..." djawab Dja Dasoen, meskipoen ia tidak tahoe makanan apa sebenarnja, jang bernama demikian.
Dja Dasoenpoen makan dengan tiada menoléh-noléh dan dalam<noinclude></noinclude>
mxs2f9s2m18ci4nlzcldno8djs6wja7
297835
297830
2026-06-13T07:21:12Z
Link PB
26772
297835
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||TERSINGGOENG PERNJA|11|}}</noinclude>diperbodoh-bodoh oleh Poekat. Berat kopi jang sebenarnja dikoeranginja tiap-tiap menimbang. Betoel orang-orang kampoeng tidak tahoe, tetapi Senggoeloeng ada melihat itoe dan tahoe ia apa maksoednja.
"Bajar... 4 kati!" kata Poekat, pada hal berat kopi jang sebenarnja 4 1/2 kati.
Senggoeloengpoen membajar harga 4 kati kepada jang empoenja dan harga jang 1/2 kati lagi dikeloearkannja djoega, tetapi oentoeknja sendiri. Begitoelah diboeatnja beroelang-oelang.
Waktoe pekan hampir oesai, Poekat berkata, setelah melihat boekoe peringatannja: 213 kati semoeanja! Tjoba tjotjokkan dengan oeang jang engkau bajarkan".
Oeang kongsipoen dihitoeng, kedapatan jang soedah dibajarkan harga 230 kati.
"Mana boleh?" bertanja Poekat dengan hati tjoeriga.
"Tidak tahoe, tetapi saja ta' ada jang salah membajar rasanja... tetapi tjoba timbang kopinja!" kata Senggoeloeng, poera-poera seperti soesah.
Kebetoelan kopi itoe tjoekoep 230 kati. Tentoe sadja oeang harga jang 17 kati telah masoek kekantoeng Senggoeloeng Batoe.
"Tetapi tidak boleh djadi... sebab..." kata Poekat bersoengoet-soengoet.
"Sebab apa, mamak?" bertanja Senggoeloeng.
"Sebab... kita tidak tjotjok, tjoekoeplah sekali ini kita berkongsi". Senggoeloeng tersenjoem, Poekat menggigit djari.
{{right|M. KASIM}}
{{c|<big>TERSINGGOENG PERNJA</big>}}
Dja Dasoen baroe sekali kekota Medan. Ia datang bersama-sama dengan beberapa orang teman, mendjoeal lemboe kesana. Lemboenja doea ékor, terdjoeal dengan harga jang bagoes, sebab itoe ia hendak tinggal dikota Medan barang beberapa hari, hendak mentjoba bagaimana senangnja tinggal dikota.
Soedah banjak roepa makanan jang telah diketjapnja selama tinggal dikota itoe dan matjam-matjamlah penglihatan jang menghérankan dia. Satoe dari pada jang amat mena'adjoebkan hatinja, lampoe listerik di Bioskop, jang menjala dan padam dengan sendirinja.
Pada soeatoe malam, setelah habis menonton, ia masoek kewaroeng orang Keling.
"Maoe makan?" bertanja jang empoenja waroeng.
"Ja..." kata Dja Dasoen.
"Nasi keboeli, goelai kambing?"
"Ja..." djawab Dja Dasoen, meskipoen ia tidak tahoe makanan apa sebenarnja, jang bernama demikian.
Dja Dasoenpoen makan dengan tiada menoléh-noléh dan dalam<noinclude></noinclude>
jsz1uxt93ux87x2iqucxpex98adtxyf
297864
297835
2026-06-13T07:51:15Z
Link PB
26772
297864
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||TERSINGGOENG PERNJA|11|}}</small></noinclude>diperbodoh-bodoh oleh Poekat. Berat kopi jang sebenarnja dikoeranginja tiap-tiap menimbang. Betoel orang-orang kampoeng tidak tahoe, tetapi Senggoeloeng ada melihat itoe dan tahoe ia apa maksoednja.
"Bajar... 4 kati!" kata Poekat, pada hal berat kopi jang sebenarnja 4 1/2 kati.
Senggoeloengpoen membajar harga 4 kati kepada jang empoenja dan harga jang 1/2 kati lagi dikeloearkannja djoega, tetapi oentoeknja sendiri. Begitoelah diboeatnja beroelang-oelang.
Waktoe pekan hampir oesai, Poekat berkata, setelah melihat boekoe peringatannja: 213 kati semoeanja! Tjoba tjotjokkan dengan oeang jang engkau bajarkan".
Oeang kongsipoen dihitoeng, kedapatan jang soedah dibajarkan harga 230 kati.
"Mana boleh?" bertanja Poekat dengan hati tjoeriga.
"Tidak tahoe, tetapi saja ta' ada jang salah membajar rasanja... tetapi tjoba timbang kopinja!" kata Senggoeloeng, poera-poera seperti soesah.
Kebetoelan kopi itoe tjoekoep 230 kati. Tentoe sadja oeang harga jang 17 kati telah masoek kekantoeng Senggoeloeng Batoe.
"Tetapi tidak boleh djadi... sebab..." kata Poekat bersoengoet-soengoet.
"Sebab apa, mamak?" bertanja Senggoeloeng.
"Sebab... kita tidak tjotjok, tjoekoeplah sekali ini kita berkongsi". Senggoeloeng tersenjoem, Poekat menggigit djari.
{{right|M. KASIM}}
{{c|<big>TERSINGGOENG PERNJA</big>}}
Dja Dasoen baroe sekali kekota Medan. Ia datang bersama-sama dengan beberapa orang teman, mendjoeal lemboe kesana. Lemboenja doea ékor, terdjoeal dengan harga jang bagoes, sebab itoe ia hendak tinggal dikota Medan barang beberapa hari, hendak mentjoba bagaimana senangnja tinggal dikota.
Soedah banjak roepa makanan jang telah diketjapnja selama tinggal dikota itoe dan matjam-matjamlah penglihatan jang menghérankan dia. Satoe dari pada jang amat mena'adjoebkan hatinja, lampoe listerik di Bioskop, jang menjala dan padam dengan sendirinja.
Pada soeatoe malam, setelah habis menonton, ia masoek kewaroeng orang Keling.
"Maoe makan?" bertanja jang empoenja waroeng.
"Ja..." kata Dja Dasoen.
"Nasi keboeli, goelai kambing?"
"Ja..." djawab Dja Dasoen, meskipoen ia tidak tahoe makanan apa sebenarnja, jang bernama demikian.
Dja Dasoenpoen makan dengan tiada menoléh-noléh dan dalam<noinclude></noinclude>
g4cpdi0ts389a0d71lp59sqgwvexvkc
297875
297864
2026-06-13T08:02:09Z
Link PB
26772
297875
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||TERSINGGOENG PERNJA|11|}}</small></noinclude>diperbodoh-bodoh oleh Poekat. Berat kopi jang sebenarnja dikoeranginja tiap-tiap menimbang. Betoel orang-orang kampoeng tidak tahoe, tetapi Senggoeloeng ada melihat itoe dan tahoe ia apa maksoednja.
"Bajar... 4 kati!" kata Poekat, pada hal berat kopi jang sebenarnja 4 1/2 kati.
Senggoeloengpoen membajar harga 4 kati kepada jang empoenja dan harga jang 1/2 kati lagi dikeloearkannja djoega, tetapi oentoeknja sendiri. Begitoelah diboeatnja beroelang-oelang.
Waktoe pekan hampir oesai, Poekat berkata, setelah melihat boekoe peringatannja: 213 kati semoeanja! Tjoba tjotjokkan dengan oeang jang engkau bajarkan".
Oeang kongsipoen dihitoeng, kedapatan jang soedah dibajarkan harga 230 kati.
"Mana boleh?" bertanja Poekat dengan hati tjoeriga.
"Tidak tahoe, tetapi saja ta' ada jang salah membajar rasanja... tetapi tjoba timbang kopinja!" kata Senggoeloeng, poera-poera seperti soesah.
Kebetoelan kopi itoe tjoekoep 230 kati. Tentoe sadja oeang harga jang 17 kati telah masoek kekantoeng Senggoeloeng Batoe.
"Tetapi tidak boleh djadi... sebab..." kata Poekat bersoengoet-soengoet.
"Sebab apa, mamak?" bertanja Senggoeloeng.
"Sebab... kita tidak tjotjok, tjoekoeplah sekali ini kita berkongsi". Senggoeloeng tersenjoem, Poekat menggigit djari.
{{right|M. {{smallcaps|Kasim}}.}}
{{c|<big>TERSINGGOENG PERNJA</big>}}
Dja Dasoen baroe sekali kekota Medan. Ia datang bersama-sama dengan beberapa orang teman, mendjoeal lemboe kesana. Lemboenja doea ékor, terdjoeal dengan harga jang bagoes, sebab itoe ia hendak tinggal dikota Medan barang beberapa hari, hendak mentjoba bagaimana senangnja tinggal dikota.
Soedah banjak roepa makanan jang telah diketjapnja selama tinggal dikota itoe dan matjam-matjamlah penglihatan jang menghérankan dia. Satoe dari pada jang amat mena'adjoebkan hatinja, lampoe listerik di Bioskop, jang menjala dan padam dengan sendirinja.
Pada soeatoe malam, setelah habis menonton, ia masoek kewaroeng orang Keling.
"Maoe makan?" bertanja jang empoenja waroeng.
"Ja..." kata Dja Dasoen.
"Nasi keboeli, goelai kambing?"
"Ja..." djawab Dja Dasoen, meskipoen ia tidak tahoe makanan apa sebenarnja, jang bernama demikian.
Dja Dasoenpoen makan dengan tiada menoléh-noléh dan dalam<noinclude></noinclude>
hx1cqvgch7bca0yujn79rcpbgxol4fd
Halaman:Almanak Sumatera.djvu/256
104
105559
297831
2026-06-13T07:19:44Z
Rafipahrezi
27243
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Tjina berbahasa Inggeris "The China Digest”. Belakangan ternjata, bahwa Barhen ini adalah Wang Yen Sji, duta besar R.R.T. jang pertama untuk Indonesia di Djakarta. Sesudah pengakuan kedaulatan, penduduk Tjina umumnja bersikap arjuh tak arjuh dalam menentukan kewarganegaraan. Menurut persetudjuan K.M.B. mereka dianggap otomatis warga negara R.I. kalau tidak menolak dalam tempo 2 tahun. Dalam masa Kabinet Ali diadakan persetudjuan R.I. - R.R.T....
297831
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Rafipahrezi" /></noinclude>Tjina berbahasa Inggeris "The China Digest”. Belakangan ternjata, bahwa Barhen ini adalah Wang Yen Sji, duta besar R.R.T. jang pertama untuk Indonesia di Djakarta.
Sesudah pengakuan kedaulatan, penduduk Tjina umumnja bersikap arjuh tak arjuh dalam menentukan kewarganegaraan. Menurut persetudjuan K.M.B. mereka dianggap otomatis warga negara R.I. kalau tidak menolak dalam tempo 2 tahun. Dalam masa Kabinet Ali diadakan persetudjuan R.I. - R.R.T. untuk meniadakan dwikewarganegaraan. Ketika resim Mao Tse Tung menaik djaja, mereka menjangka beruntung mendjadi warga R.R.T., banjak diantaranja menukar kewargaan R.R.T. kembali. Tapi ketika pemerintah R.I. mengadakan PP 10 jang terkenal, mereka mendapat kesukaran berdagang di-kampung², sehingga terdjadi kerepotan, tapi approach Chou En Lai pada Sukarno menghasilkan pe-
Bindjauan kembali perdjandjian dwikewargancgaraan jang rupanja membuka lagi kesempatan untuk mereka jang ingin kembali lagi mendjadi warga R.I. Akibatnja mendjadi bersimpang siur, lebih² karena pemerintah tidak mewadjibkan pada mereka untuk berassimilasi dengan kehidupan Indonesia.
Penukaran merk² toko mendjadi merk Indonesia dan penukaran nama tidak memberi bekas apa² Dalam pergaulan sesima mereka misalnja sedikitpun tidak menggunakan bahasa Indonesia. Mereka tetap mengisolasi dan mengeksklusi diri dari masjarakat majoriras, maka tidak heran djika penukaran warga negara dianggap oleh rakjat tidak lebih dari suatu taktik belaka, djadi karena pertimbangan ekonomi melulu.
{{Sp|{{c|PENDUDUK ASING}}}}
Medan (Sumatera Utara) dan Pekarbaru (Riau), sebagai kota² jang mempunjai prospek ekonomi jang luas — perkebunan dan minjak — adalah, disamping bangsa Tjina, tempat pemusatan bangsa² asing lainnja. Angka² dibawah ini dapatlah memberikan gambaran :
{|
|-
| ''BANGSA ASING'' || ''BANJAKNJA DJIWA''
|-
| (kebangsaan) || MEDAN (SUMATERA UTARA) || PEKANBARU (RIAU)
|-
| 1. Afganistan || 1 || -
|-
| 2. Amerika Serikat || 50|| 339
|-
| 3. Arab || 333 || 31
|-
| 4. Australia || 1 || 16
|-
| 5. Argentina || - || 1
|-
| 6. Belanda || 100 || 38
|-
| 7. Belgia || 1|| 1
|-
| 8. Bolivia || - || 1
|}<noinclude>232</noinclude>
jooj1vh3wgbhms5mx31q2e3592cp5ys
297839
297831
2026-06-13T07:23:09Z
Rafipahrezi
27243
/* Telah diuji baca */
297839
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Rafipahrezi" /></noinclude>Tjina berbahasa Inggeris "The China Digest”. Belakangan ternjata, bahwa Barhen ini adalah Wang Yen Sji, duta besar R.R.T. jang pertama untuk Indonesia di Djakarta.
Sesudah pengakuan kedaulatan, penduduk Tjina umumnja bersikap arjuh tak arjuh dalam menentukan kewarganegaraan. Menurut persetudjuan K.M.B. mereka dianggap otomatis warga negara R.I. kalau tidak menolak dalam tempo 2 tahun. Dalam masa Kabinet Ali diadakan persetudjuan R.I. - R.R.T. untuk meniadakan dwikewarganegaraan. Ketika resim Mao Tse Tung menaik djaja, mereka menjangka beruntung mendjadi warga R.R.T., banjak diantaranja menukar kewargaan R.R.T. kembali. Tapi ketika pemerintah R.I. mengadakan PP 10 jang terkenal, mereka mendapat kesukaran berdagang di-kampung², sehingga terdjadi kerepotan, tapi approach Chou En Lai pada Sukarno menghasilkan pe-
Bindjauan kembali perdjandjian dwikewargancgaraan jang rupanja membuka lagi kesempatan untuk mereka jang ingin kembali lagi mendjadi warga R.I. Akibatnja mendjadi bersimpang siur, lebih² karena pemerintah tidak mewadjibkan pada mereka untuk berassimilasi dengan kehidupan Indonesia.
Penukaran merk² toko mendjadi merk Indonesia dan penukaran nama tidak memberi bekas apa² Dalam pergaulan sesima mereka misalnja sedikitpun tidak menggunakan bahasa Indonesia. Mereka tetap mengisolasi dan mengeksklusi diri dari masjarakat majoriras, maka tidak heran djika penukaran warga negara dianggap oleh rakjat tidak lebih dari suatu taktik belaka, djadi karena pertimbangan ekonomi melulu.
{{Sp|{{c|PENDUDUK ASING}}}}
Medan (Sumatera Utara) dan Pekarbaru (Riau), sebagai kota² jang mempunjai prospek ekonomi jang luas — perkebunan dan minjak — adalah, disamping bangsa Tjina, tempat pemusatan bangsa² asing lainnja. Angka² dibawah ini dapatlah memberikan gambaran :
{|
|-
| ''BANGSA ASING'' || ''BANJAKNJA DJIWA''
|-
| (kebangsaan) || MEDAN (SUMATERA UTARA) || PEKANBARU (RIAU)
|-
| 1. Afganistan || 1 || -
|-
| 2. Amerika Serikat || 50|| 339
|-
| 3. Arab || 333 || 31
|-
| 4. Australia || 1 || 16
|-
| 5. Argentina || - || 1
|-
| 6. Belanda || 100 || 38
|-
| 7. Belgia || 1|| 1
|-
| 8. Bolivia || - || 1
|}<noinclude>232</noinclude>
nec3w4v5gsg008eel675gibvaqdyzma
Halaman:20 tahun Indonesia merdeka.djvu/682
104
105560
297832
2026-06-13T07:20:11Z
Adzka Fatiyah
27241
/* Telah diuji baca */
297832
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Adzka Fatiyah" /></noinclude>Negara Republik Indonesia, jang bertjita-tjitakan Ke-Tuhanan Jang Maha Esa, Kebangsaan, Kemanusiaan, Keadilan, Kemak-
muran dan Kebahagiaan, berdjalan terus menudju kesempur-naannja, sesuai dengan djiwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
{{gap}}Untuk mengisi dan membangun Kemerdekaan jang telah
kita miliki itu, perlu adanja kesatuan tjita, gerak dan langkah dalam rangka menghimpun kembali tenaga massa potensi kaum Veteran Pedjoang Kemerdekaan Republik Indonesia dalam sua-tu Organisasi jang tersusun rapih sebagai alat perdjoangan-nja.
{{gap}}Insjaf dan sadar akan fungsi dan peranan jang harus diba-wakan oleh kaum Veteran Pedjoang Kemerdekaan Republik
Indonesia dewasa ini, serta tanggung-djawabnja terhadap ma-
sjarakat dan Negara, untuk bersama-sama potensi Nasional
lainnja mewudjudkan masjarakat jan g adil makmur bahagia,
maka bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke II Legiun Vete-
ran Republik Indonesia setelah memperhatikan arti dan isi
Undang-undang 75/57, Keputusan Presiden No. 103 57, Kepu-tusan bersama Menteri Urusan Veteran dan K.S.A.D., peratur-
an Penguasa Perang Pusat No. 033/58 beserta Pedoman Pele-
buran Organisasi pelaksanaannja, Keputusan Sidang Pleno ke II
di Puntjak dan laporan Panitya Ad Hock penjempurnaan Ang-
garan Dasar berketetapan atas nama kaum Veteran Seluruh
Indonesia untuk menjatakan Keputusan-keputusan Badan Pe-
kerdja Pusat sebagai berikut:
# Terhitung mulai tanggal 2 Djanuari 1959 menetapkan Legiun Veteran Republik Indonesia mendjadi Organisasi kesatuan keluar dan kedalam jang merupakan satu-satu-nja Organisasi dan alat Perdjoangannja kaum Veteran Seluruh Indonesia.
# Menetapkan sebagai Pedoman Kerdja Anggaran Dasar Legiun Veteran Republik Indonesia jang mendjadi lampiran dari pernjataan ini.
# Mengusulkan pada Pemerintah untuk mengakui dan me-ngesjahkan Anggaran Dasar: Legiun Veteran Republik Indonesia tersebut dalam ajat 2 (dua).<noinclude>{{rvh|668}}</noinclude>
mcxvbpcj7jikkvx0clkd8h5u5dbzfqi
Halaman:20 tahun Indonesia merdeka.djvu/680
104
105561
297833
2026-06-13T07:20:21Z
Reginashalsa
27239
/* Telah diuji baca */
297833
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Reginashalsa" /></noinclude>(2) Bagi orang jang menghasut, biang-keladi atau mengindjak untuk melakukan pelanggaran seperti jang tersebut dalam pasal 2 ajat (1), hukuman jang tersebut dalam ajat (1) pasal ini dapat ditambah dengan sepertiganja.
(3) Barang siapa jang melanggar ketentuan tersebut dalam pasal 2 ajat (2) dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanja satu tahun atau denda setinggi-tingginja sepuluh ribu rupiah.
(4) Tindak pidana jang tersebut dalam ajat (1), ajat (2) dan ajat (3) pasal ini, adalah termasuk pelanggaran.
{{c|Pasal 5.}}
Peraturan Penguasa Perang Pusat ini mulai berlaku pada hari diumumkan.
Agar supaja setiap orang dapat mengetahuinja, memerintahkan pengumuman peraturan Penguasa Perang Pusat ini dengan penempatan dalam Berita Negara Republik Indonesia, Surat-surat kabar Harian serta pengumuman dalam siaran Pemerintah Radio Republik Indonesia.
{{block right|align=center|Ditetapkan di Djakarta,
<br>pada tanggal 3 Nopember 1958.
<br>Kepala Staf Angkatan Darat
<br>Selaku
<br>Penguasa Perang Pusat,
<br>A.H. NASUTION
<br>Letnan Djenderal T.N.I.}}
{{c|{{sp|PENDJELASAN}}}}
{{c|PERATURAN PENGUASA PERANG PUSAT
<br>No. Pert/Peperpu/033/1958 tanggal 3-11-1958
<br>tentang}}
,,Larangan adanja kegiatan-kegiatan dari Organisasi Veteran bekas Pedjoang Kemerdekaan Republik Indonesia, ketjuali Legiun Veteran Republik Indonesia serta larangan pemakaian nama, istilah jang menjerupai dengan jang resmi digunakan oleh Legiun Veteran Republik Indonesia dan/atau Kementerian Urusan Veteran serta Instansi-instansinja”.<noinclude>{{rh|666}}</noinclude>
kh4bx9b8z0ekbkggfja34j1qh1almjo
Halaman:20 tahun Indonesia merdeka.djvu/679
104
105562
297836
2026-06-13T07:21:25Z
Reginashalsa
27239
/* Telah diuji baca */
297836
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Reginashalsa" /></noinclude>{{c|Pasal 1.}}
(1) Jang dimaksud dengan kegiatan-kegiatan dari organisasi Veteran-bekas Pedjoang Kemerdekaan Republik Indonesia dalam Peraturan Penguasa Perang Pusat ini, adalah setiap perbuatan jang aktif dalam bentuk njata setjara lahir jang dilakukan didepan umum atau diketahui umum, baik oleh perorangan, maupun setjara kerdja-sama dari sedjumlah orang jang mempunjai persamaan faham, azas tudjuan kepentingan golongan dalam hubungan organisasi massa jang langsung atau tidak langsung menjangkut nama Veteran-bekas Pedjoang Kemerdekaan Republik Indonesia.
(2) Kegiatan seperti jang tersebut dalam ajat (1) pasal ini, jang dilakukan oleh Legiun Veteran Republik Indonesia dan/atau oleh Kementerian Urusan Veteran serta instansi-instansinja, dengan sendirinja tidak termasuk dalam pengertian kegiatan-kegiatan jang dimaksudkan oleh Peraturan Penguasa Perang Pusat ini.
{{c|Pasal 2.}}
(1) Dilarang adanja kegiatan-kegiatan dari organisasi-organisasi Veteran-bekas Pedjoang Kemerdekaan R.I.
(2) Dilarang menggunakan nama eerta istilah-istilah jang menjerupai dengan nama istilah-istilah jang resmi digunakan oleh Legiun Veteran Republik Indonesia dan/atau Kementerian Urusan Veteran serta instansi-instansi-nja.
{{c|Pasal 3.}}
Semua organisasi-organisasi jang sebelum keluarnja peraturan Penguasa Perang Pusat ini menamakan dirinja organisasi Veteran-bekas Pedjuang Kemerdekaan Republik Indonesia atau nama lain jang senafas dengan itu, untuk sementara waktu dibekukan.
{{c|Pasal 4.}}
(1) Barang siapa melanggar ketentuan seperti jang tersebut dalam pasal 2 ajat (1), dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanja satu tahun atau denda setinggi-tingginja sepuluh ribu rupiah.<noinclude>{{rh|||665}}</noinclude>
q0hsuibruyvg9aopoeqyd57f228f3an
Halaman:Horison 06 1972.pdf/9
104
105563
297838
2026-06-13T07:22:14Z
Badak Jawa
19009
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Sebuah microbus lewat dengan — penum- pang perempuan" berpakaian bagus, ber tjanda ria sekali, —- 5 — Rumahku di Radjawali, Zarus. Kau kerumahku, ja? — Mengiring bapak sadja aku tidak lajak. apapula masuk rumah bapak — Kau tidak mau? — Saja takut. pak. — Terima kasih, Zarus. Kalau takutmu panti hilang, datanglah kerumahku. Nah, sampai ketemu, Zarus. Dengan langkah jang kutjepat'kan ku- terusi djalan Perwira jaog kian sepi itu, 'Angin jang...
297838
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Badak Jawa" /></noinclude>Sebuah microbus lewat dengan — penum-
pang perempuan" berpakaian bagus, ber
tjanda ria sekali, —- 5
— Rumahku di Radjawali, Zarus. Kau
kerumahku, ja?
— Mengiring bapak sadja aku tidak
lajak. apapula masuk rumah bapak
— Kau tidak mau?
— Saja takut. pak.
— Terima kasih, Zarus. Kalau takutmu
panti hilang, datanglah kerumahku.
Nah, sampai ketemu, Zarus.
Dengan langkah jang kutjepat'kan ku-
terusi djalan Perwira jaog kian sepi itu,
'Angin jang berangsur membawa pagi me-
mukuP mukaku dan dingin terasa menu-
suk ketulang badanku jang kerempeng
ini, Ketika aku menoleh kulihat Lazarus
berdjalan mengikutiku dari djarak dua
meter dibelakangku.
Didepanku seekor kutjing dengan te-
nang menjeberang djalan jang sepi. Dibe-
Iokan menudju djalan Kathedral, aku me
noleh dan kulihat Lazarus masih berdjalan
pada djarak jang sama. Aku djadi was"
lagi. Djangan" dia akan . mengempeskan
nafasku dari belakang. Aku berhenti, dia
juga berhenti. Dan ketika kulangkah ka-
ki lebih tjepat. diapun demikian dao ma-
sih pada djarak jang seperti tadi.
Ditikungan kedjalay menudju Kantor
Pos, kuberanikan lagi untuk menoleh kebe
Jakang. Jah. Lazarus tak kelihutan lagi.
Aku agak lega. Sebuah betjak ladju dari
arah belakangku. lalu berhenti disamping
ku
— Pulang dengan betjuk
Jah, Luzarus lagi, diu turun
kan aku naik ke betjak itu,
— Kau repotkan dirimu, Zarus.
— Ini sadja jang dapat saja lakukan,
pak. Merepotkan diri dun orang ain.
— Kau tidak naik sekalian?
— Terima kasih. pak.
Aku tidak mau mengetjewakannja. Tu-
kang betjak sudah miengajuh betjak jang
Yiberikan Zarus ini. Tapi dia masih ber-
djalan dengan langkah tjepat disamping
betjak jang kunaiki
Dibelokan masuk djalan Gunung Sa-
hari, Zarus menghentikan betja, Apa lagi
maunja kini. Kuraba kotak ketjilku, ma-
sadja. pak.
Jalu menjilah
.sih ada.
— Pak. maafkan saja.
Aku hanja mengangguk, tak kuasa
mendjawab permintaannja. Betjak dibiar-
kan lalu dan kulihat dia membelok kem-
bali menelisuri djalan Dr. Sutomo,
Dapatkah aku memaafkan diriku, sebe
lum aku memaafkan Lazarus? Pertanjaan
ini jang tiba? memenuhi benakku. Bukan
kah sedikit banjak aku dulu pernah turut
memberi warna pada diri Lazarus? Bu-
kankah aku sedikit banjak kini turut me-
metik apa jang dulu dengan susah pajah
kutjoba membentuk dalam diri Lazarus?
Dengan suasana Yan di tempat jang ber-
Jainan, uku telah mendjalankan perintah
seseorang, seperti dulu orang itu pernah
mundjalankan perintah jang kuberikan ke
rudanja
Dibatas inilah lusa akan kuberikan dja
wabku Kepada tuan d'Alexto atas pertanja
annja, jang sampai ketika betjak itu ber-
henti didepan rumahku pertanjaan itu kian
membenam dalam dibenakku. "“"
'Hjutatau : Ketong sonde salah lai : Kita
(orang) tidak salah lagi.
mai pung istri punja : kepu-
jaan isteri saju (be — beta
pung — punja)
ma : tetapi (dari bahasa Belanda
maar) 5
Faduli : perduli
HORISON 1169<noinclude></noinclude>
rauzw36h69bcrounmyagwdebg01sm9u
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/28
104
105564
297840
2026-06-13T07:24:21Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297840
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|12|TERSINGGOENG PERNJA||}}</noinclude>waktoe jang sedikit doea kali meminta tamboeh, njatalah ia amat kelazatan.
Habis makan, sambil menjapoe-njapoe moeloet dan koemis, ia bertanja:
"Berapa?" katanja.
"Sembilan ketip!" djawab toekang pelajan.
"Alangkah mahaloja!" memberoengoet ia, seperti berkata dengan dirinja sendiri. "Pakai... tjandoe, ja?" bertanja ia.
"Tjandoe apa?" mendjawab orang waroeng itoe, sebagai kehéranan dan seperti hendak marah.
"O, tidak, tidak", djawab Dja Dasoen sambil membajar oetangnja. Baharoe sadja ia keloear, seorang laki-laki jang doedoek disebelahnja teroes berdiri dan bertanja kepada toekang waroeng:
"Apa kata orang itoe? Saja dengar ia mengatakan tjandoe!"
"Ja... tetapi apa maksoednja, saja tidak mengerti", djawab orang waroeng itoe.
Laki-laki itoe — roepanja ia seorang sérsi — teroes keloear, laloe mengintai perdjalanan Dja Dasoen dari belakang.
Akan menghindarkan kendaraaan jang laloe lintas, Dja Dasoen berdjalan dari pinggir sekali.
Tiada berapa djaoeh dari roemah tempat ia menginap, kakinja tersantoek kepada soeatoe barang dan kebetoelan waktoe itoe lampoe listerik, jang terpasang ditempat itoe, laloe padam.
"Tjelaka ini...!" kedengaran Dja Dasoen mengeloeh sambil berdiri.
"Toenggoe...!" berseroe sérsi tadi.
Mendengarkan tegoeran itoe, Dja Dasoen mempertjepat larinja, mengélok kekiri, mengélok kekanan dan tiada berapa lama sampai keroemah tempat ia menoempang, teroes menoemboek pintoe dan masoek kedalam.
Orang jang empoenja roemah sangat terkedjoet, apalagi setelah melihat Dja Dasoen terengah-engah dengan moeka jang amat poetjat.
"Mengapa engkau?" bertanja jang empoenja roemah.
"Tjelaka saja!"
"Tjelaka bagaimana?"
"Tersinggoeng... pérnja..."
"Pér apa jang engkau singgoeng?" bertanja jang empoenja roemah dengan amat héran.
Beloem sempat Dja Dasoen mendjawab, pintoe ditoktok orang dari loear dan sérsi tadi masoek kedalam.
"Siapa jang baroe masoek keroemah ini?" bertanja sérsi itoe.
Orang jang empoenja roemah tidak mendjawab, hanja memandang kepada Dja Dasoen.
"Ikoet akoe kepost polisi", kata sérsi itoe kepada Dja Dasoen.
"Djanganlah adoekan saja 'bang, tidak saja sengadja itoe!" djawab Dja Dasoen dengan gemetar.
"Marilah ikoet, nanti dikantor boléh engkau terangkan apa jang hendak engkau terangkan", djawab sérsi itoe.<noinclude></noinclude>
o8ja9lvatuq7gsoqehc7phgcq1ezuxe
297865
297840
2026-06-13T07:51:32Z
Link PB
26772
297865
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|12|TERSINGGOENG PERNJA||}}</small></noinclude>waktoe jang sedikit doea kali meminta tamboeh, njatalah ia amat kelazatan.
Habis makan, sambil menjapoe-njapoe moeloet dan koemis, ia bertanja:
"Berapa?" katanja.
"Sembilan ketip!" djawab toekang pelajan.
"Alangkah mahaloja!" memberoengoet ia, seperti berkata dengan dirinja sendiri. "Pakai... tjandoe, ja?" bertanja ia.
"Tjandoe apa?" mendjawab orang waroeng itoe, sebagai kehéranan dan seperti hendak marah.
"O, tidak, tidak", djawab Dja Dasoen sambil membajar oetangnja. Baharoe sadja ia keloear, seorang laki-laki jang doedoek disebelahnja teroes berdiri dan bertanja kepada toekang waroeng:
"Apa kata orang itoe? Saja dengar ia mengatakan tjandoe!"
"Ja... tetapi apa maksoednja, saja tidak mengerti", djawab orang waroeng itoe.
Laki-laki itoe — roepanja ia seorang sérsi — teroes keloear, laloe mengintai perdjalanan Dja Dasoen dari belakang.
Akan menghindarkan kendaraaan jang laloe lintas, Dja Dasoen berdjalan dari pinggir sekali.
Tiada berapa djaoeh dari roemah tempat ia menginap, kakinja tersantoek kepada soeatoe barang dan kebetoelan waktoe itoe lampoe listerik, jang terpasang ditempat itoe, laloe padam.
"Tjelaka ini...!" kedengaran Dja Dasoen mengeloeh sambil berdiri.
"Toenggoe...!" berseroe sérsi tadi.
Mendengarkan tegoeran itoe, Dja Dasoen mempertjepat larinja, mengélok kekiri, mengélok kekanan dan tiada berapa lama sampai keroemah tempat ia menoempang, teroes menoemboek pintoe dan masoek kedalam.
Orang jang empoenja roemah sangat terkedjoet, apalagi setelah melihat Dja Dasoen terengah-engah dengan moeka jang amat poetjat.
"Mengapa engkau?" bertanja jang empoenja roemah.
"Tjelaka saja!"
"Tjelaka bagaimana?"
"Tersinggoeng... pérnja..."
"Pér apa jang engkau singgoeng?" bertanja jang empoenja roemah dengan amat héran.
Beloem sempat Dja Dasoen mendjawab, pintoe ditoktok orang dari loear dan sérsi tadi masoek kedalam.
"Siapa jang baroe masoek keroemah ini?" bertanja sérsi itoe.
Orang jang empoenja roemah tidak mendjawab, hanja memandang kepada Dja Dasoen.
"Ikoet akoe kepost polisi", kata sérsi itoe kepada Dja Dasoen.
"Djanganlah adoekan saja 'bang, tidak saja sengadja itoe!" djawab Dja Dasoen dengan gemetar.
"Marilah ikoet, nanti dikantor boléh engkau terangkan apa jang hendak engkau terangkan", djawab sérsi itoe.<noinclude></noinclude>
45ufbel2nc4d8lhh5n9pkqw5olo43o5
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/29
104
105565
297841
2026-06-13T07:26:42Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297841
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||TERSINGGOENG PERNJA||}}</noinclude>Maoe ta' maoe, Dja Dasoen terpaksa menoeroet dan sesampai dipost polisi, sérsi itoepoen merapotkan pendengarannja kepada kepalanja.
Oléh karena toedoehan itoe berhoeboeng dengan tjandoe gelap, Dja Dasoen teroes diperiksa. Setelah ia menerangkan namanja dan nama kampoengnja, kepala polisi meneroeskan pemeriksaan:
"Apa kerdjamoe datang ke Medan?"
"Mendjoeal lemboe, toean!"
"Dan tjandoe itoe dimana engkau simpan?"
"Tjandoe apa, toean?" djawab Dja Dasoen dengan mata terbeliak karena kéhéranan.
"Tadi ada engkau menanjakan tjandoe kepada seorang Keling. Benar atau tidak?"
"Benar, toean, tapi boekanlah saja hendak membeli atau mendjoeal tjandoe".
"Djadi apa maksoedmoe menanjakan tjandoe itoe?"
"Saja bertanja kalau-kalau goelai kambing itoe ada ditjampoeri dengan tjandoe".
"Apa perloenja?" bertanja kepala polisi itoe dengan héran.
"Sebab goelai kambing itoe amat énak dan mahal harganja, toean".
"Ja, kalau énak dan mahal, apa pertaliannja dengan tjandoe?"
"Kata orang, tjandoe itoe amat énak dan mahal harganja, djadi saja sangka goelai itoe ditjampoeri tjandoe".
Mendengar djawab Dja Dasoen itoe, sekalian jang hadir tertawa gelak-gelak.
"Dan apa sebabnja engkau lari, waktoe engkau melihat orang ini datang?" tanja toean itoe sambil menoendjoek kepada sérsi itoe.
"Saja takoet, toean!"
"Sebab apa takoet?"
"Sebab akoe tersinggoeng akan pér itoe, toean, tetapi tidak saja sengadja, toean".
Pada waktoe itoe kepala polisi itoe amat héran, hingga ia menjangka, kalau-kalau ia ada berhadapan dengan seorang jang koerang waras otaknja.
"Pér apa jang engkau singgoeng itoe?"
"Sebab saja takoet dilanggar keréta, saja berdjalan dari pinggir toean, tahoe-tahoe kaki saja tersantoek, roepanja pér lampoe listerik, teroes lampoe itoe padam; sebab saja takoet ditangkap, djadi saja lari..."
Pemeriksaan poetoes... disamboeng oléh boenji tertawa jang amat rioeh.
Achirnja... Dja Dasoen boléh poelang.
{{right|M. KASIM}}<noinclude></noinclude>
it1xj7qdcgfeenydx2ajvjeucdrcgly
297866
297841
2026-06-13T07:51:48Z
Link PB
26772
297866
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||TERSINGGOENG PERNJA||}}</small></noinclude>Maoe ta' maoe, Dja Dasoen terpaksa menoeroet dan sesampai dipost polisi, sérsi itoepoen merapotkan pendengarannja kepada kepalanja.
Oléh karena toedoehan itoe berhoeboeng dengan tjandoe gelap, Dja Dasoen teroes diperiksa. Setelah ia menerangkan namanja dan nama kampoengnja, kepala polisi meneroeskan pemeriksaan:
"Apa kerdjamoe datang ke Medan?"
"Mendjoeal lemboe, toean!"
"Dan tjandoe itoe dimana engkau simpan?"
"Tjandoe apa, toean?" djawab Dja Dasoen dengan mata terbeliak karena kéhéranan.
"Tadi ada engkau menanjakan tjandoe kepada seorang Keling. Benar atau tidak?"
"Benar, toean, tapi boekanlah saja hendak membeli atau mendjoeal tjandoe".
"Djadi apa maksoedmoe menanjakan tjandoe itoe?"
"Saja bertanja kalau-kalau goelai kambing itoe ada ditjampoeri dengan tjandoe".
"Apa perloenja?" bertanja kepala polisi itoe dengan héran.
"Sebab goelai kambing itoe amat énak dan mahal harganja, toean".
"Ja, kalau énak dan mahal, apa pertaliannja dengan tjandoe?"
"Kata orang, tjandoe itoe amat énak dan mahal harganja, djadi saja sangka goelai itoe ditjampoeri tjandoe".
Mendengar djawab Dja Dasoen itoe, sekalian jang hadir tertawa gelak-gelak.
"Dan apa sebabnja engkau lari, waktoe engkau melihat orang ini datang?" tanja toean itoe sambil menoendjoek kepada sérsi itoe.
"Saja takoet, toean!"
"Sebab apa takoet?"
"Sebab akoe tersinggoeng akan pér itoe, toean, tetapi tidak saja sengadja, toean".
Pada waktoe itoe kepala polisi itoe amat héran, hingga ia menjangka, kalau-kalau ia ada berhadapan dengan seorang jang koerang waras otaknja.
"Pér apa jang engkau singgoeng itoe?"
"Sebab saja takoet dilanggar keréta, saja berdjalan dari pinggir toean, tahoe-tahoe kaki saja tersantoek, roepanja pér lampoe listerik, teroes lampoe itoe padam; sebab saja takoet ditangkap, djadi saja lari..."
Pemeriksaan poetoes... disamboeng oléh boenji tertawa jang amat rioeh.
Achirnja... Dja Dasoen boléh poelang.
{{right|M. KASIM}}<noinclude></noinclude>
imkm3gootmgciae09s313js1mbz4a78
297876
297866
2026-06-13T08:02:29Z
Link PB
26772
297876
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||TERSINGGOENG PERNJA||}}</small></noinclude>Maoe ta' maoe, Dja Dasoen terpaksa menoeroet dan sesampai dipost polisi, sérsi itoepoen merapotkan pendengarannja kepada kepalanja.
Oléh karena toedoehan itoe berhoeboeng dengan tjandoe gelap, Dja Dasoen teroes diperiksa. Setelah ia menerangkan namanja dan nama kampoengnja, kepala polisi meneroeskan pemeriksaan:
"Apa kerdjamoe datang ke Medan?"
"Mendjoeal lemboe, toean!"
"Dan tjandoe itoe dimana engkau simpan?"
"Tjandoe apa, toean?" djawab Dja Dasoen dengan mata terbeliak karena kéhéranan.
"Tadi ada engkau menanjakan tjandoe kepada seorang Keling. Benar atau tidak?"
"Benar, toean, tapi boekanlah saja hendak membeli atau mendjoeal tjandoe".
"Djadi apa maksoedmoe menanjakan tjandoe itoe?"
"Saja bertanja kalau-kalau goelai kambing itoe ada ditjampoeri dengan tjandoe".
"Apa perloenja?" bertanja kepala polisi itoe dengan héran.
"Sebab goelai kambing itoe amat énak dan mahal harganja, toean".
"Ja, kalau énak dan mahal, apa pertaliannja dengan tjandoe?"
"Kata orang, tjandoe itoe amat énak dan mahal harganja, djadi saja sangka goelai itoe ditjampoeri tjandoe".
Mendengar djawab Dja Dasoen itoe, sekalian jang hadir tertawa gelak-gelak.
"Dan apa sebabnja engkau lari, waktoe engkau melihat orang ini datang?" tanja toean itoe sambil menoendjoek kepada sérsi itoe.
"Saja takoet, toean!"
"Sebab apa takoet?"
"Sebab akoe tersinggoeng akan pér itoe, toean, tetapi tidak saja sengadja, toean".
Pada waktoe itoe kepala polisi itoe amat héran, hingga ia menjangka, kalau-kalau ia ada berhadapan dengan seorang jang koerang waras otaknja.
"Pér apa jang engkau singgoeng itoe?"
"Sebab saja takoet dilanggar keréta, saja berdjalan dari pinggir toean, tahoe-tahoe kaki saja tersantoek, roepanja pér lampoe listerik, teroes lampoe itoe padam; sebab saja takoet ditangkap, djadi saja lari..."
Pemeriksaan poetoes... disamboeng oléh boenji tertawa jang amat rioeh.
Achirnja... Dja Dasoen boléh poelang.
{{right|M. {{smallcaps|Kasim}}.}}<noinclude></noinclude>
ohgb7169j8p98ks9i9a4i2dupihrnff
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/30
104
105566
297845
2026-06-13T07:33:21Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297845
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>BERTENGKAR BERBISIK</big>}}
Biasanja orang jang bertengkar ta' dapat tidak akan ''melepaskan sekoeat-koeat soearanja'' dan berkata bereboet-reboet dengan tiada mempedoelikan ''koma'' dan ''titik''. Dalam tjeritera ini, soeatoe pertengkaran, jang disoedahi dengan berkelahian jang hébat, telah berlakoe dengan berbisik sadja.
Pada waktoe itoe matahari soedah djaoeh tjondong dibarat. Tiga orang moesafir jang berdjalan kaki sedang dalam perdjalanannja. Meréka itoe mempertjepat langkah, agar dapat berboeka poeasa dikampoeng orang. Mendjelang akan sampai kesebeoah kampoeng ketjil, jang masoek bahagian Batangtoroe, meréka itoe berhenti sebentar akan bermoesjawarat.
"Dikampoeng ini tidak ada ''lepau'' nasi, kenalan kitapoen ta' ada. Dimanalah kita akan menoempang? ''Bertanak'' sendiri dalam poeasa begini, saja ta' sanggoep ''rasanja''", kata jang seorang, jang bernama si Boerkat.
"Itoelah sebabnja maka saja katakan tadi, lebih baik kita bermalam di Sitindjak sadja; disana ada waroeng nasi", djawab temannja, jang bernama si Togop.
"Saja sangka tadi, djika diboeroe-boeroe berdjalan, dapat djoega kita bermalam di Batangtoroe, tetapi roepanja tidak. Akan tetapi menjesal dan mengeloeh ta' ada goenanja. Lebih baik kita tjari 'akal, soepaja kita dapat makan petang ini".
Sedjoeroes lamanja ketiganja tiada berkata-kata.
"Akoe dapat soeatoe 'akal", berkata si Boerkat sambil memandang kepada kedoea temannja berganti-ganti. "Salah seorang diantara kita bertiga kita panggilkan kepala kampoeng..."
"Kalau dipanggilkan kepala kampoeng sadja, saja rasa beloem akan kenjang peroet", djawab si Togop.
"Itoe saja tahoe. Tetapi bagaimana 'akal jang terpikir oléh saja itoe, beloem saja keloearkan semoeanja. Dengarlah baik-baik. Kita sama tahoe, orang jang ternama atau orang jang berpangkat lebih ''dimaloei'' orang dari pada orang sebarang sadja. Djadi salah seorang diantara kita, kita seboet kepala kampoeng, doea orang djadi pengiringnja. Dengan hal jang demikian, dikampoeng ini kita menepat sadja keroemah kepala kampoengnja. Saja rasa ia soeka mendjamoe kita boeat semalam ini".
"Menoeroet pikiran saja 'akal itoe dapat dipakai. Tetapi karena engkau jang mendapat 'akal itoe, engkaulah poela kita angkat djadi kepala kampoeng itoe, kami berdoea djadi pengiring", kata si Togop.
"Engkau Togoe, bagaimana pikiranmoe?" bertanja si Boerkat kepada temannja jang seorang lagi.
"Saja menoeroet sadja!" djawab si Togoe.
"Baik. Tetapi moela-moela patoetlah saja diberi bergelar dahoeloe. Seboet sadjalah gelar saja Soetan Mendjingjing 'Alam. Tetapi hati-hati djangan sesat, kalau-kalau terboeka rahasia kita. Djika terboeka, boekan<noinclude></noinclude>
530vev8n4swq4vib28splzgxolhj2ml
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/31
104
105567
297846
2026-06-13T07:37:54Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297846
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh||BERTENGKAR BERBISIK|15|}}</noinclude>sadja kita tidak dapat makan, tetapi badan kita akan merasa poela orang boeat. Soedah itoe boengkoesan dan pajoeng saja ini bawalah oléh kamoe berdoea, karena ta' pantas lagi seorang radja membawa boengkoesan, kalau ada pengiringnja".
Soedah itoe berdjalanlah Soetan Mendjindjing 'Alam dimoeka, diiringkan si Togoe.
Sesampai dikampoeng jang diseboet tadi, setelah bertanja kepada seorang orang kampoeng itoe, meréka itoepoen teroeslah menoedjoe keroemah kepala kampoeng. Moela-moela naiklah si Togoe mengabarkan kedatangan meréka itoe kepada jang empoenja roemah. Tiada berapa lama, dengan bergegas toeroenlah seorang laki-laki jang setengah 'oemoer dari roemah, dan dengan ramah tamah dan senjoem simpoel memberi salam serta mengadjak Soetan Mendjindjing 'Alam naik.
Sesampai diroemah Soetan Mendjindjing 'Alam dipersilakannja doedoek diatas permadani dan kedoea kawannja diatas sehelai tikar pandan jang poetih bersih.
Baharoé sebentar meréka itoe doedoek, kedengaranlah disebelah belakang „réok" ajam. Kepala kampoeng jang tiada berbeslit itoepoen memandang kepada kedoea kawannja dengan pandang jang berarti, seolah-olah mengatakan: „Lihatlah, kemidi kita berhasil baik!"
Setelah bertjakap-tjakap sedjoeroes, waktoe berboekapoen tibalah. Seboeah talam jang berisi penganan diangkat oranglah kehadapan Soetan Mendjindjing 'Alam, sedang si Togop dan si Togoe dilajani seperti biasa sadja.
„Marilah kita berboeka dahoeloe, engkoe!" kata jang empoenja roemah, „tetapi boeat makan, saja harap engkoe akan sabar kiranja sampai lepas sembahjang 'Isja".
„Tidak mengapa, engkoe. Kami telah mengganggoe kesenangan engkoe dan memboeat orang kaja diroemah ini bersoesah-soesah",
djawab Soetan Mendjindjing 'Alam sambil mengangkat seboeah gelas jang berisi seteroep kebibirnja.
Waktoe hendak makan, seboeah talam diangkat orang poela kehadapan St. Mendjindjing 'Alam. Pada piring goelainja tampaklah terbelintang seboeah paha ajam dan pada piring jang lain sebelah dada ajam jang digoréng. Si Togop dan si Togoe hanja mendapat toelang-toelang roesoek dan toelang-toelang belakang sadja.
Memandang perbedaan itoe, terbitlah tjemboeroe dalam hati kedoea pengiring itoe, lebih-lebih lagi si Togop.
Waktoe akan tidoer, jang empoenja roemah mengembang-kan sehelai kasoer oentoek kepala kampoeng palsoe itoe lengkap dengan bantal dan selimoetnja dan pengiringnja hanja mendapat sehelai tikar dan doea boeah bantal.
„Marilah kita tidoer, engkoe. Engkoe telah pajah benar berdjalan sehari ini", kata jang empoenja roemah.
Tetapi baharoe sadja ia masoek dan mengoentjikan pintoe dari dalam, datanglah si Togop merangkak mendapatkan Soetan Mendjindjing<noinclude></noinclude>
pfarjq7drnpp1tvcxqvp65hpdl5gw0y
297867
297846
2026-06-13T07:52:09Z
Link PB
26772
297867
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||BERTENGKAR BERBISIK|15|}}</small></noinclude>sadja kita tidak dapat makan, tetapi badan kita akan merasa poela orang boeat. Soedah itoe boengkoesan dan pajoeng saja ini bawalah oléh kamoe berdoea, karena ta' pantas lagi seorang radja membawa boengkoesan, kalau ada pengiringnja".
Soedah itoe berdjalanlah Soetan Mendjindjing 'Alam dimoeka, diiringkan si Togoe.
Sesampai dikampoeng jang diseboet tadi, setelah bertanja kepada seorang orang kampoeng itoe, meréka itoepoen teroeslah menoedjoe keroemah kepala kampoeng. Moela-moela naiklah si Togoe mengabarkan kedatangan meréka itoe kepada jang empoenja roemah. Tiada berapa lama, dengan bergegas toeroenlah seorang laki-laki jang setengah 'oemoer dari roemah, dan dengan ramah tamah dan senjoem simpoel memberi salam serta mengadjak Soetan Mendjindjing 'Alam naik.
Sesampai diroemah Soetan Mendjindjing 'Alam dipersilakannja doedoek diatas permadani dan kedoea kawannja diatas sehelai tikar pandan jang poetih bersih.
Baharoé sebentar meréka itoe doedoek, kedengaranlah disebelah belakang „réok" ajam. Kepala kampoeng jang tiada berbeslit itoepoen memandang kepada kedoea kawannja dengan pandang jang berarti, seolah-olah mengatakan: „Lihatlah, kemidi kita berhasil baik!"
Setelah bertjakap-tjakap sedjoeroes, waktoe berboekapoen tibalah. Seboeah talam jang berisi penganan diangkat oranglah kehadapan Soetan Mendjindjing 'Alam, sedang si Togop dan si Togoe dilajani seperti biasa sadja.
„Marilah kita berboeka dahoeloe, engkoe!" kata jang empoenja roemah, „tetapi boeat makan, saja harap engkoe akan sabar kiranja sampai lepas sembahjang 'Isja".
„Tidak mengapa, engkoe. Kami telah mengganggoe kesenangan engkoe dan memboeat orang kaja diroemah ini bersoesah-soesah",
djawab Soetan Mendjindjing 'Alam sambil mengangkat seboeah gelas jang berisi seteroep kebibirnja.
Waktoe hendak makan, seboeah talam diangkat orang poela kehadapan St. Mendjindjing 'Alam. Pada piring goelainja tampaklah terbelintang seboeah paha ajam dan pada piring jang lain sebelah dada ajam jang digoréng. Si Togop dan si Togoe hanja mendapat toelang-toelang roesoek dan toelang-toelang belakang sadja.
Memandang perbedaan itoe, terbitlah tjemboeroe dalam hati kedoea pengiring itoe, lebih-lebih lagi si Togop.
Waktoe akan tidoer, jang empoenja roemah mengembang-kan sehelai kasoer oentoek kepala kampoeng palsoe itoe lengkap dengan bantal dan selimoetnja dan pengiringnja hanja mendapat sehelai tikar dan doea boeah bantal.
„Marilah kita tidoer, engkoe. Engkoe telah pajah benar berdjalan sehari ini", kata jang empoenja roemah.
Tetapi baharoe sadja ia masoek dan mengoentjikan pintoe dari dalam, datanglah si Togop merangkak mendapatkan Soetan Mendjindjing<noinclude></noinclude>
06poqcmibl9efj7engl7favhlr2tvgc
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/32
104
105568
297847
2026-06-13T07:41:48Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297847
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|16|BERTENGKAR BERBISIK||}}</noinclude>'Alam: "Engkau telah mendapat beberapa kelebihan dari kami", katanja dengan berbisik. "Waktoe berboeka engkau mendapat peboekaan jang lebih baik, dan waktoe makan engkau kenjang makan dagingnja, kami hanja mendapat toelang-toelangnja. Sekarang kita berganti, engkau tidoer ditikar itoe, kami berdoea tidoer diatas kasoer ini".
"Tidak, siapa maoe begitoe?" djawab Soetan Mendjindjing 'Alam dengan berbisik poela, "menampik permintaan si Togop itoe." "Makanan itoe ''rezekikoe'' dan kasoer itoepoen rezekikoe".
"Benar, tetapi sebabnja engkau peroleh itoe, karena bantoean kami. Kami koerbankan diri kami djadi pengiringmoe dan kami seboetkan engkau kepala kampoeng. Djika tidak, tentoe engkau tidak akan mendapat segala kesenangan ini".
"Boekan oentoek saja sadja. Kamoe berdoeapoen tidak makan malam ini, djika tidak karena 'akalkoe".
"Anak keparat roepanja engkau ini, tjoerang, tama', tidak setia berkawan, hanja memikirkan kesenangan sendiri sadja", kata si Togop berbisik.
"Engkau inipoen tidak setia tambahan ''chianat'', dengki, iri hati melihat orang mendapat kesenangan", djawab Soetan Mendjindjing 'Alam dengan berbisik poela, karena takoet kedengaran kepada jang empoenja roemah.
"Ajo soedah, kasoer ini biarlah kepadamoe, tetapi selimoet ini oentoekkoe", kata si Togop sambil menarik selimoet itoe.
"Tidak, tidak, biar bagaimana tidak akoe berikan", djawab St. Mendjindjing 'Alam.
"Alangkah sombongnja engkau ini, Boerkat, baharoe djadi kepala kampoeng itjak-itjak sadja, soedah sepongah itoe. Ditjekik hendaknja engkau ini biar mampoes".
"Tjoba kalau berani", djawab Soetan Mendjindjing 'Alam sambil menghampirkan moekanja menentang moeka si Togop. Tetapi ''oentoeng akan tjelaka'', kebetoelan pada waktoe itoe ia batoek, air loedahnja tepertjik kemoeka si Togop dan oleh karena itoe si Togop seakan-akan keloepaan diri maka dibalasnja penghinaan itoe. Maka terdjadilah peperangan loedah jang amat hebat, diiringi tindjoe, sépak dan teradjang.
Boenji ''dar, doer, kelantang-kelantoengpoen'' kedengaranlah dan roemah itoe bergerak-gerak seperti digoentjang gempa.
Dengan sangat terperandjat dan terboeroe-boeroe jang empoenja roemahpoen keloear. Didapatinja si Togop sedang menghantam Soetan Mendjindjing 'Alam, laloe ditolakkannja sambil berkata dengan goesar: "Tidak tahoe 'adat engkau ini, berani mendjatoehkan tangan kepada radjamoe!"
"Ia boekan radja, boekan kepala kampoeng, tetapi penipoe... ia jang mengadjak kami menipoe engkoe, menjoeroeh kami menjeboet dia kepala kampoeng..."
"Engkaupoen penipoe!" kata kepala kampoeng palsoe itoe terengah-engah sebab ketakoetan.<noinclude></noinclude>
1wj4dt5l8tjw16ydnosqfavfu6s16oc
297868
297847
2026-06-13T07:53:07Z
Link PB
26772
297868
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|16|BERTENGKAR BERBISIK||}}</small></noinclude>'Alam: "Engkau telah mendapat beberapa kelebihan dari kami", katanja dengan berbisik. "Waktoe berboeka engkau mendapat peboekaan jang lebih baik, dan waktoe makan engkau kenjang makan dagingnja, kami hanja mendapat toelang-toelangnja. Sekarang kita berganti, engkau tidoer ditikar itoe, kami berdoea tidoer diatas kasoer ini".
"Tidak, siapa maoe begitoe?" djawab Soetan Mendjindjing 'Alam dengan berbisik poela, "menampik permintaan si Togop itoe." "Makanan itoe ''rezekikoe'' dan kasoer itoepoen rezekikoe".
"Benar, tetapi sebabnja engkau peroleh itoe, karena bantoean kami. Kami koerbankan diri kami djadi pengiringmoe dan kami seboetkan engkau kepala kampoeng. Djika tidak, tentoe engkau tidak akan mendapat segala kesenangan ini".
"Boekan oentoek saja sadja. Kamoe berdoeapoen tidak makan malam ini, djika tidak karena 'akalkoe".
"Anak keparat roepanja engkau ini, tjoerang, tama', tidak setia berkawan, hanja memikirkan kesenangan sendiri sadja", kata si Togop berbisik.
"Engkau inipoen tidak setia tambahan ''chianat'', dengki, iri hati melihat orang mendapat kesenangan", djawab Soetan Mendjindjing 'Alam dengan berbisik poela, karena takoet kedengaran kepada jang empoenja roemah.
"Ajo soedah, kasoer ini biarlah kepadamoe, tetapi selimoet ini oentoekkoe", kata si Togop sambil menarik selimoet itoe.
"Tidak, tidak, biar bagaimana tidak akoe berikan", djawab St. Mendjindjing 'Alam.
"Alangkah sombongnja engkau ini, Boerkat, baharoe djadi kepala kampoeng itjak-itjak sadja, soedah sepongah itoe. Ditjekik hendaknja engkau ini biar mampoes".
"Tjoba kalau berani", djawab Soetan Mendjindjing 'Alam sambil menghampirkan moekanja menentang moeka si Togop. Tetapi ''oentoeng akan tjelaka'', kebetoelan pada waktoe itoe ia batoek, air loedahnja tepertjik kemoeka si Togop dan oleh karena itoe si Togop seakan-akan keloepaan diri maka dibalasnja penghinaan itoe. Maka terdjadilah peperangan loedah jang amat hebat, diiringi tindjoe, sépak dan teradjang.
Boenji ''dar, doer, kelantang-kelantoengpoen'' kedengaranlah dan roemah itoe bergerak-gerak seperti digoentjang gempa.
Dengan sangat terperandjat dan terboeroe-boeroe jang empoenja roemahpoen keloear. Didapatinja si Togop sedang menghantam Soetan Mendjindjing 'Alam, laloe ditolakkannja sambil berkata dengan goesar: "Tidak tahoe 'adat engkau ini, berani mendjatoehkan tangan kepada radjamoe!"
"Ia boekan radja, boekan kepala kampoeng, tetapi penipoe... ia jang mengadjak kami menipoe engkoe, menjoeroeh kami menjeboet dia kepala kampoeng..."
"Engkaupoen penipoe!" kata kepala kampoeng palsoe itoe terengah-engah sebab ketakoetan.<noinclude></noinclude>
rec0ylamqaracub41y6zv2jwa6m4ylb
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/33
104
105569
297869
2026-06-13T07:57:41Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297869
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||BERTENGKAR BERBISIK|17|}}</small></noinclude>"O, sekarang akoe soedah mengerti, kamoe bertiga ini bangsat... penipoe... ''menjoengkahkan nasikoe dengan 'akal boesoek...'' Ajo kamoe orang kampoeng ini, tangkap ketiga bangsat ini, boléh kita bawa kepada engkoe ''Djahsa di Batangtoroe''", kata jang empoenja roemah kepada orang banjak, jang sementara itoe datang berkeroemoen ketempat itoe.
Akan tetapi sebeloem orang banjak dapat melakoekan perintah itoe, Soetan Mendjindjing 'Alam dengan kedoea pengiringnja telah dapat ''meloloskan'' diri, melompat dari djendéla dan hilang ditempat jang kelam...
{{right|M. KASIM.}}<noinclude></noinclude>
ekwirzmof03cdmdbi1s393zw7e0ogcd
297870
297869
2026-06-13T07:58:36Z
Link PB
26772
297870
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||BERTENGKAR BERBISIK|17|}}</small></noinclude>"O, sekarang akoe soedah mengerti, kamoe bertiga ini bangsat... penipoe... ''menjoengkahkan'' nasikoe dengan 'akal boesoek... Ajo kamoe orang kampoeng ini, tangkap ketiga bangsat ini, boléh kita bawa kepada engkoe ''Djahsa'' di Batangtoroe", kata jang empoenja roemah kepada orang banjak, jang sementara itoe datang berkeroemoen ketempat itoe.
Akan tetapi sebeloem orang banjak dapat melakoekan perintah itoe, Soetan Mendjindjing 'Alam dengan kedoea pengiringnja telah dapat ''meloloskan'' diri, melompat dari djendéla dan hilang ditempat jang kelam...
{{right|M. KASIM.}}<noinclude></noinclude>
jvp18j9iz27wwjfhp51jbbmrf9ju4j4
297877
297870
2026-06-13T08:02:50Z
Link PB
26772
297877
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||BERTENGKAR BERBISIK|17|}}</small></noinclude>"O, sekarang akoe soedah mengerti, kamoe bertiga ini bangsat... penipoe... ''menjoengkahkan'' nasikoe dengan 'akal boesoek... Ajo kamoe orang kampoeng ini, tangkap ketiga bangsat ini, boléh kita bawa kepada engkoe ''Djahsa'' di Batangtoroe", kata jang empoenja roemah kepada orang banjak, jang sementara itoe datang berkeroemoen ketempat itoe.
Akan tetapi sebeloem orang banjak dapat melakoekan perintah itoe, Soetan Mendjindjing 'Alam dengan kedoea pengiringnja telah dapat ''meloloskan'' diri, melompat dari djendéla dan hilang ditempat jang kelam...
{{right|M. {{smallcaps|Kasim}}.}}<noinclude></noinclude>
gpz2m1uolvrfd35knd3te9jvrp48zvj
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/34
104
105570
297878
2026-06-13T08:05:14Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297878
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>GOENGOENA</big>}}
Adapoen kedatangan Soetan Sja'ir 'Alam dan anaknja itoe kembali ke Tandjoengpinang amat menggirangkan hati handai-tolannja jang dahoeloe. Soetan Sja'ir 'Alam adalah seorang jang ramah dan baik hati, karena itoe banjak orang jang sajang kepadanja.
Boekan orang jang setoea dengan dia sadja jang kenal kepadanja, tetapi jang moeda-moedapoen banjak sahabatnja. Apalagi sekarang anak-anak moeda itoe makin baik boedi basanja kepadanja. Djika bertemoe didjalan tegoer sapanja bertambah manis dan hormatnja bertambah-tambah, lebih-lebih kalau ia bersama-sama dengan anak gadisnja. Moelanja Soetan Sja'ir 'Alam agak héran djoega melihat kehormatan meréka jang berlebih-lebihan itoe, tetapi kemoedian ma'loem djoegalah ia apa sebabnja. Boenga jang ditaroehnja telah kembang dan baoenja jang haroem soedah semerbak berkeliling. Maka beterbanganlah koembang berdengoeng-dengoeng mengelilinginja, sebagai hendak menawarkan diri.
Mémang kepindahan Roesmala Déwi kesana menggemparkan dalam kalangan anak-anak moeda Tandjoengpinang. Pertama-tama ialah karena masa itoe masih djarang terdjadi kaoem perempoean doedoek bekerdja dikantor-kantor seperti di Menangkabau djoega. Djadi kedatangan Roesmala Déwi sebagai pegawai kantor pos itoe adalah kedjadian jang masih loear biasa. Kedoea ialah karena ketjantikan Roesmala Déwi dan tegoer sapanja jang manis. Siapa-siapa jang datang kelokét tempatnja bekerdja akan membeli ini dan itoe, atau oeroesan pos jang lain, diterimanja dengan moeka jang djernih dan toetoer kata jang manis. Kadangkadang diiringi poela dengan senjoem jang menggojangkan iman. Karena itoe banjak anak-anak moeda jang ta' tahoe diri, djadi salah mengerti. Dikatakannja Roesmala Déwi tersenjoem itoe sebab kena hati kepadanja. Dimana meréka doedoek berkoempoel-koempoel atjap kali terdengar itoelah jang mendjadi pokok pembitjaraan.
Seorang diantara anak-anak moeda itoe ialah Mahmoed, anak moeda jang poetoes asa dahoeloe, karena niatnja hendak meminta Roesmala Déwi djadi isterinja, dilarang oléh sahabatnja sebab pekerdjaan itoe akan sia-sia sadja. Dia atjap kali benar tampak dimoeka lokét tempat Roesmala Déwi bekerdja. Ada-ada sadja keperloeannja datang kekantor pos itoe. Kadang-kadang akan membeli sampoel soeratpoen dia sendiri djoega datang kesana, meskipoen ada boedjangnja empat-lima orang jang tangkas akan disoeroeh. Keperloean anak moeda itoe selaloe dilajani oléh Roesmala Déwi sebagai biasa, dengan manis dan sopan-santoen. Sekali-sekali djika perloe dilawannja bertjakap sepatah doea. Karena itoe didalam hati Mahmoed berkobar-kobarlah kembali tjinta jang soedah lama tersimpan, makin sehari makin hébat menjerang boedi pekertinja. Diapoen pertjaja bahwa tjintanja itoe boekan tidak dibalas oléh Roesmala Déwi; karena tiap-tiap kali ia datang kesana tentoe akan disamboet oléh senjoem manis pada bibir jang mérah delima itoe. Kepertjajaan hatinja itoe achirnja mendjadi kejakinan. Kepada kawan-kawannja atjap<noinclude></noinclude>
mpdyd5lnyearhj3bwip5stc2jby5em8
297879
297878
2026-06-13T08:06:36Z
Link PB
26772
297879
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>GOENA-GOENA</big>}}
Adapoen kedatangan Soetan Sja'ir 'Alam dan anaknja itoe kembali ke Tandjoengpinang amat menggirangkan hati handai-tolannja jang dahoeloe. Soetan Sja'ir 'Alam adalah seorang jang ramah dan baik hati, karena itoe banjak orang jang sajang kepadanja.
Boekan orang jang setoea dengan dia sadja jang kenal kepadanja, tetapi jang moeda-moedapoen banjak sahabatnja. Apalagi sekarang anak-anak moeda itoe makin baik boedi basanja kepadanja. Djika bertemoe didjalan tegoer sapanja bertambah manis dan hormatnja bertambah-tambah, lebih-lebih kalau ia bersama-sama dengan anak gadisnja. Moelanja Soetan Sja'ir 'Alam agak héran djoega melihat kehormatan meréka jang berlebih-lebihan itoe, tetapi kemoedian ma'loem djoegalah ia apa sebabnja. Boenga jang ditaroehnja telah kembang dan baoenja jang haroem soedah semerbak berkeliling. Maka beterbanganlah koembang berdengoeng-dengoeng mengelilinginja, sebagai hendak menawarkan diri.
Mémang kepindahan Roesmala Déwi kesana menggemparkan dalam kalangan anak-anak moeda Tandjoengpinang. Pertama-tama ialah karena masa itoe masih djarang terdjadi kaoem perempoean doedoek bekerdja dikantor-kantor seperti di Menangkabau djoega. Djadi kedatangan Roesmala Déwi sebagai pegawai kantor pos itoe adalah kedjadian jang masih loear biasa. Kedoea ialah karena ketjantikan Roesmala Déwi dan tegoer sapanja jang manis. Siapa-siapa jang datang kelokét tempatnja bekerdja akan membeli ini dan itoe, atau oeroesan pos jang lain, diterimanja dengan moeka jang djernih dan toetoer kata jang manis. Kadangkadang diiringi poela dengan senjoem jang menggojangkan iman. Karena itoe banjak anak-anak moeda jang ta' tahoe diri, djadi salah mengerti. Dikatakannja Roesmala Déwi tersenjoem itoe sebab kena hati kepadanja. Dimana meréka doedoek berkoempoel-koempoel atjap kali terdengar itoelah jang mendjadi pokok pembitjaraan.
Seorang diantara anak-anak moeda itoe ialah Mahmoed, anak moeda jang poetoes asa dahoeloe, karena niatnja hendak meminta Roesmala Déwi djadi isterinja, dilarang oléh sahabatnja sebab pekerdjaan itoe akan sia-sia sadja. Dia atjap kali benar tampak dimoeka lokét tempat Roesmala Déwi bekerdja. Ada-ada sadja keperloeannja datang kekantor pos itoe. Kadang-kadang akan membeli sampoel soeratpoen dia sendiri djoega datang kesana, meskipoen ada boedjangnja empat-lima orang jang tangkas akan disoeroeh. Keperloean anak moeda itoe selaloe dilajani oléh Roesmala Déwi sebagai biasa, dengan manis dan sopan-santoen. Sekali-sekali djika perloe dilawannja bertjakap sepatah doea. Karena itoe didalam hati Mahmoed berkobar-kobarlah kembali tjinta jang soedah lama tersimpan, makin sehari makin hébat menjerang boedi pekertinja. Diapoen pertjaja bahwa tjintanja itoe boekan tidak dibalas oléh Roesmala Déwi; karena tiap-tiap kali ia datang kesana tentoe akan disamboet oléh senjoem manis pada bibir jang mérah delima itoe. Kepertjajaan hatinja itoe achirnja mendjadi kejakinan. Kepada kawan-kawannja atjap<noinclude></noinclude>
mry9kel2oovob3z3j31ez9nogs3ksek
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/35
104
105571
297880
2026-06-13T08:07:33Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297880
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||GOENA-GOENA|19|}}</small></noinclude>kali disindir-sindirkannja, bahwa boeroeng noeri jang tjantik itoe tidaklah akan terbang-terbang lagi, melainkan akan tetap bersarang di Tandjoengpinang; sangkar emas, tenggéran soeasa soedah sedia. Banjak diantara kawan-kawannja itoe jang membesar-besarkan hati dan memberi harapan kepadanja serta menjoeroeh melakoekan pekerdjaan itoe. Sebab itoe dari sehari kesehari, makin tetaplah hatinja hendak memoelai pekerdjaan itoe.
Maka ditjarinjalah doea orang jang akan djadi kaki-tangannja oentoek menjampaikan maksoednja itoe, seorang laki-laki dan seorang perempoean. Jang laki-laki ditjarinja orang jang bersahabat baik dengan Soetan Sja’ir ’Alam dan jang perempoean orang jang pintar berbitjara akan memboedjoek-boedjoek Roesmala Déwi. Oentoek itoe tentoe sadja Mahmoed telah mengeloearkan oeang sebagai air.
Akan tetapi alangkah ketjéwa hati Mahmoed melihat hasil pekerdjaan itoe. Dari pihak bapak dan anak, kedoea oetoesannja terpoekoel moendoer. Roesmala Déwi berkata, bahwa ia beloem terniat hendak bersoeami. Dari pihak bapanja menolak karena ’adat meréka tiada mengizinkan. Soenggoeh hal itoe meroesakkan hati Mahmoed. Roepandja persangkaannja, bahwa Roesmala Déwi ada tjinta poela kepadanja, tiadalah benar. Senjoem manis jang selaloe bermain dibibirnja itoe palsoe belaka. Pandai benar ia mempermainkan hati anak moeda itoe. Tjinta Mahmoed jang lemah-lemboet dahoeloe telah bertoekar dengan tjinta kemarahan, malahan kemarahan djoegalah jang lebih.
„Roepandja dia djinak-djinak merpati”, pikir Mahmoed dengan geram. „Tapi biarlah, soepaja dirasanja poela asin garam tanah rantau ini. Meski akan habis semoea peninggalan nénék-mojangkoe ini, biarlah asal maloe akan tertoentoet. Sebeloem menjembah kekakikoe, beloem senang hatikoe”.
Sedjak itoe tiadalah maoe lagi ia bertemoe-temoe moeka dengan Roesmala Déwi, meskipun doekoennja melarang, djangan diperlihatkan hati marah itoe, melainkan boeat sebagai biasa sadja. Akan tetapi Mahmoed segan sadja menentang moeka Roesmala Déwi.
Mahmoed telah mentjari seorang doekoen toea jang telah masjhoer kepandainnja tentang ’ilmoe goena-goena.
Pada soeatoe malam Chatib pergi berdjalan-djalan kewaroeng kopi. Sedang ia doedoek minoem-minoem datang seorang moeda berpakaian bagoes-bagoes, dibelakangnja mengiring seorang toea dan doea orang moeda poela. Kedoea orang moeda jang kemoedian itoe tinggal diloear sadja, sedang orang moeda jang berpakaian bagoes-bagoes dan orang toea itoe masoek kedalam, laloe doedoek ditempat jang agak terpentjil. Sesoedah terhidang dihadapan meréka doea mangkoek kopi soesoe dan bermatjam-matjam djoeadah, moelailah meréka bertjakap-tjakap dengan perlahan-lahan. Soenggoehpoen demikian pertjakapan meréka terdengar djoega oléh Chatib dengan njata:
„Saja ta’ sempat datang keroemah bapak!” kata orang moeda itoe, sambil membakar tjeroetoenja, „sebab saja dalam beberapa hari ini<noinclude></noinclude>
ioj8h8v0u0d4zkn10yux6afk2ra58u3
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/36
104
105572
297881
2026-06-13T08:10:12Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297881
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|20|GOENA-GOENA||}}</small></noinclude>banjak oeroesan benar. Karena itoelah saja soeroeh sadja kedoea kepertjaan saja itoe keroemah bapak akan menjampaikan maksoed saja. Soedah mengerti benarkah bapak akan maksoed saja itoe?''
"Soedah engkoe", djawab orang toa itoe dengan hormatnja."Namanja Roesmala Déwi boekan?"
"Benar, pak! Tetapi agak perlahan-lahan sedikit, nanti terdengar oléh orang".
Demi Chatib mendengar nama toeannja diseboet-seboet orang itoe, boekan main hérannja. Didalam hatinja timboellah bermatjam-matjam pikiran. Apakah orang itoe bermaksoed baik kepada toeannja, ataukah bermaksoed djahat? Maka makin inginlah ia hendak mendengar pertjakapan orang itoe. Telinganja dipasangnja benar-benar.
"Oentoek mentjoekoepkan ''sjaratnja'', dapatkah engkoe mentjarikan ramboetnja? selembarpoen tjoekoeplah! Kalau tidak dapat ramboet itoe, hari kelahirannja boléh djoega. Tetapi kalau dapat kedoeanja, itoe lebih baik lagi".
"Wah, kedoea benda itoe amat soesah didapat, pak. Kalau ramboetnja barangkali dapat djoega di-akal-akalkan, tetapi hari lahirnja itoe mémang soesah benar, sebab dia boekan orang disini. Tetapi kalau ta' dapat benda itoe, bagaimana pak, ta' dapatkah bapak menolong saja?" tanja orang moeda itoe dengan agak tjemas.
"Ja", keloeh pa' doekoen sambil menarik napas pandjang. "Perkara dapat tentoe dapat, tetapi patik mesti bekerdja loear biasa. Patik mesti bertapa pada air terdjoen beberapa hari lamanja".
"Kalau tentang soesah pajah bapak itoe djanganlah koeatir, pak!" djawab orang moeda itoe sambil mengoeroet-oeroet moekanja dan mengerdjap-ngerdjapkan matanja. "Tahoe bérés sadja bapak nanti. Nah, ini terima dahoeloe sepoeloeh ringgit! Kalau berhasil saja lipat lima kali, pak! Sekarang minoemlah kopi! Bapak soeka tjeroetoe? Ini, tjobalah!" kata orang moeda itoe poela sambil memberikan seboeah tjeroetoe besar kepada orang toa itoe dan dibakarnja sekali.
"Terima kasih engkoe moeda", kata pa' doekoen, sambil menerima tjeroetoe. Setelah dihiroepnja doea-tiga kali, laloe katanja:
"Engkoe moeda lihatkanlah dalam sepekan ini. Insja Allah ''berkat keramat goeroekoe'' rasanja ta'kan ''moengkir''! Sekarang patik hendak permisi poelang doeloe hendak menjediakan mana-mana jang koerang!"
"Baiklah pak, selamat berkerjoeh!"
Sambil berdiri diambilnja oeang itoe, laloe dimasoekkannja kedalam kantoengnja dan iapoen berangkat. Tiada lama kemoedian orang moeda itoe berangkat poela, dengan moeka berseri-seri. Dibelakangnja mengikoet kedoea orang pengiringnja tadi.
Setelah meréka itoe habis poelang, Chatibpoen poelang. Dengan segera dichabarkannja segala jang didengarnja dikedai kopi kepada kedoea toeannja. Roepandja Roesmala Déwi tidak gentar sedikit djoega mendengar chabar itoe. Tetapi Soetan Sja'ir 'Alam tjemas benar hatinja. Sebab itoe bertanjalah ia kepada anaknja:<noinclude></noinclude>
qugcc1pjhilm62wb5jqouw2ouwjs6um
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/37
104
105573
297882
2026-06-13T08:15:33Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297882
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||GOENA-GOENA|21|}}</small></noinclude>"Siapakah orang moeda itoe pada sangkamoe?"
"Siapa lagi kalau boekan engkoe Mahmoed, bangsawan dipoelau Penjengat, jang telah menjoeroeh orang kemari dahoeloe", djawab Roesmala Déwi. "Biarlah dia boeat sesoeka hatinja, asal kita tidak bersalah".
"Djangan begitoe Roesma!" kata Soetan Sja'ir 'Alam dengan hati jang tjemas. "Orang jang poetoes asa, kadang-kadang hilang kebenarannja, roesak boedi-pekertinja. Salah ta' salah kalau tidak menoeroet kehendaknja, ja... banjak djalan oléhnja akan mentjelakakan kita. Apalagi dia seorang jang kaja-raja dan berpengaroeh poela''.
"Djadi maksoed ajah saja terima hendaknja permintaan-nja itoe?"
"Boekan begitoe, nak! Kita haroes ingat-ingat, djangan sampai kita dapat bahaja atau 'aib karena perboeatannja itoe".
"Kalau begitoe baiklah! Ajah perboeatlah mana-mana jang perloe. Saja sendiri hendak mendjaga badan saja dari bentjana itoe. Kalau ia berani mengganggoe saja, tentoe ia berkenalan dengan hakim".
Beberapa hari telah laloe, tetapi tiadalah terdjadi apa-apa. Mahmoedpoen tiada kelihatan mata-hidoengnja. Soetan Sja'ir 'Alam soedah merasa senang poela hatinja.
Pada soeatoe petang Kamis malam Djoem'at, sedang Roesmala Déwi dengan ajahnja doedoek-doedoek membatja koran, tiba-tiba meréka terperandjat, karena mendengar boenji soeatoe benda djatoeh diatas atap.
"Apakah itoe, ajah?" tanja Roesmala Déwi dengan héran.
"Bamboe kasau agaknja, petjah karena panas matahari jang terik sehari tadi", djawab Soetan Sja'ir 'Alam.
Keésokan harinja pagi-pagi ketika Chatib memboeka pintoe depan hendak mendjapoe, dilihatnja dihadapan pintoe itoe seboeah "antjak" tergantoeng. Ia amat héran melihat benda itoe. Siapakah gerangan jang menggantoengkan? Maka diambilnja antjak itoe, laloe diperiksanja isinja. Didalamnja terdapat bermatjam-matjam barang, ada teloerr ajam, ada ramboet, ada kemenjan, sirih dan pinang dll. "Hai, apakah ini?" kata Chatib didalam hatinja. "Agaknja ini perboeatannja orang!" Ketika itoe teringatlah oléhnja pertjakapan Mahmoed dengan orang toea itoe dikedai kopi. "Ta' salah lagi tentoe perboeatannja", pikir Chatib poela. Dengan segera benda itoe dibawanja kepada toeannja Soetan Sja'ir 'Alam dan ditjeritakannja perasaan hatinja.
Demi Soetan Sja'ir 'Alam melihat itoe, poetjat warna moekanja.
"Benar Chatib, benar!" katanja dengan berbisik. "Tentoelah ini perboeatannja. Tetapi diam-diam sadjalah engkau, djangan Roesma diberi tahoe poela. Lekas boeangkan oléhmoe kelaoet! Disana engkau berkata kepadanja begini: "Engkau soedah sesat! Boekan itoe roemah orang jang engkau tjari; tetapi disana, diseberang laoetan ini! Pergilah engkau kesana!" Sesoedah berkata begitoe, tjampakkanlah dia ketengah djaoeh-djaoeh!"
"Tetapi teloernja masih baroe engkoe, ta' boléhkah diambil?" kata Chatib sambil menimang-nimang teloerr itoe.<noinclude></noinclude>
mcq2kqgx2t9073kz8zkudhvjgk4lrrm
Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/38
104
105574
297883
2026-06-13T08:19:10Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
297883
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|22|GOENA-GOENA||}}</small></noinclude>"Djangan Chatib", kata Soetan Sja'ir 'Alam. "Siapa tahoe teloero itoe soedah diisi dengan ''ramoean'' dan soedah ''dimenterakan''. Pergilah engkau lekas, djangan berlalai-lalai djoega!"
Maka pergilah Chatib dengan segera mengerdjakan perintah toeannja itoe.
Doea hari sesoedah kedjadian itoe, kapal mail datang dari Betawi. Banjak benar membawa ''pakket'' dan soerat-soerat. Sebab itoe tiga hari bertoeroet-toeroet Roesmala Déwi berdoea dengan ''chefnja'' terpaksa bekerdja dari pagi sampai petang. Hari keempat pekerdjaan itoe masih banjak. Tetapi badan Roesmala Déwi soedah merasa ta' sedap. Malamnja ia djatoeh sakit. Keésokan harinja ta' dapat masoek lagi. Toean dokter dipanggil dan memberi pertolongan setjoekoepnja. Roesmala Déwi disoeroeh tinggal diroemah seminggoe lamanja.
Melihat itoe Soetan Sja'ir 'Alam sangat tjemas hatinja. Pikirannja katjau. Kesoesahan tiga-empat tahoe jang laloe datang menggoda pikirannja kembali. Kadang-kadang terpikir oléhnja kalau-kalau ramoean jang diboeang Chatib itoelah jang menjakitkan anaknja. Maka dengan diam-diam mendo'alah ia kepada Toehan, meminta soepaja anaknja terhindar dari pada segala perboeatan orang chianat itoe.
<div style="text-align: right;">
S. {{SC|Hardjosoemarto}} dan A. {{SC|Dt. Madjoindo}}, ''Roesmala Déwi''.
</div><noinclude></noinclude>
io51rysxvh3bxr4pvmeq8ok7pn6hsmb
297884
297883
2026-06-13T08:20:00Z
Link PB
26772
297884
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|22|GOENA-GOENA||}}</small></noinclude>"Djangan Chatib", kata Soetan Sja'ir 'Alam. "Siapa tahoe teloero itoe soedah diisi dengan ''ramoean'' dan soedah ''dimenterakan''. Pergilah engkau lekas, djangan berlalai-lalai djoega!"
Maka pergilah Chatib dengan segera mengerdjakan perintah toeannja itoe.
Doea hari sesoedah kedjadian itoe, kapal mail datang dari Betawi. Banjak benar membawa ''pakket'' dan soerat-soerat. Sebab itoe tiga hari bertoeroet-toeroet Roesmala Déwi berdoea dengan ''chefnja'' terpaksa bekerdja dari pagi sampai petang. Hari keempat pekerdjaan itoe masih banjak. Tetapi badan Roesmala Déwi soedah merasa ta' sedap. Malamnja ia djatoeh sakit. Keésokan harinja ta' dapat masoek lagi. Toean dokter dipanggil dan memberi pertolongan setjoekoepnja. Roesmala Déwi disoeroeh tinggal diroemah seminggoe lamanja.
Melihat itoe Soetan Sja'ir 'Alam sangat tjemas hatinja. Pikirannja katjau. Kesoesahan tiga-empat tahoe jang laloe datang menggoda pikirannja kembali. Kadang-kadang terpikir oléhnja kalau-kalau ramoean jang diboeang Chatib itoelah jang menjakitkan anaknja. Maka dengan diam-diam mendo'alah ia kepada Toehan, meminta soepaja anaknja terhindar dari pada segala perboeatan orang chianat itoe.
<div style="text-align: right;">
S. {{smallcaps|Hardjosoemarto}} dan A. {{smallcaps|Dt. Madjoindo}}, ''Roesmala Déwi''.
</div><noinclude></noinclude>
jrnslcib1m2kip2c5h5llb6qcf25wg6
Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/8
104
105575
297885
2026-06-13T09:56:23Z
Moel81
25980
/* Telah diuji baca */
297885
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||— 9 —}}</noinclude>{{c|Sebab<sup><small>2</sup></small> timbulnja Revolusi<br>Desember 1945.}}
{{c|1.<br>Pemandangan Umum}}
Sesungguhnja peristiwa pembasmian pengchianat atau revolusi Desember ’45 jang telah terdjadi didaerah Atjeh pada waktu tsb. adalah mempunjai suatu ''historical background'' jang tidak boleh dilupakan.
Sudah terang benderang bahwa jang mendjadi biang keladi dari peristiwa itu adalah kaum Uleebalang jang selama pendjadjahan Belanda dan Djepang atas belas kasihan pendjadjah memegang kekuasaan negara didaerah Atjeh. Atas belas kasihan pendjadjah, sebab waktu Atjeh masih merdeka mereka sama sekali tidak mempunjai kekuasaan dan kekuasaan itu diberikan kepada mereka oleh pendjadjah Belanda atas pengchianatan jang dilakukan mereka terhadap kerajaan Atjeh.
Waktu kerajaan Atjeh masih berdiri, kebanjakan mereka adalah sebagai pamongpradja biasa. Lama kelamaan ketika pemerintah pusat di Kutaradja mendjadi lemah oleh desakan imperialisme Barat, mereka ini berangsur<sup><small>2</sup></small> mempunjai territorial gezag ditempatnja masing<sup><small>2</sup></small>, dan merekapun tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Sultan jang sah di Kutaradja. Mereka lalu mengadakan hereditary dalam pemerintahan ditempatnja masing<sup><small>2</sup></small> dengan tidak mengindahkan lagi pemerintah pusat di Kutaradja.<noinclude></noinclude>
d36y64p1mcii83efsnozb3sdawwh9yd
297886
297885
2026-06-13T09:57:36Z
Moel81
25980
297886
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||— 9 —}}</noinclude>{{c|'''Sebab'''<sup><small>'''2'''</sup></small> '''timbulnja Revolusi'''<br>'''Desember 1945.'''}}
{{c|'''I.'''<br>'''Pemandangan Umum'''}}
Sesungguhnja peristiwa pembasmian pengchianat atau revolusi Desember ’45 jang telah terdjadi didaerah Atjeh pada waktu tsb. adalah mempunjai suatu ''historical background'' jang tidak boleh dilupakan.
Sudah terang benderang bahwa jang mendjadi biang keladi dari peristiwa itu adalah kaum Uleebalang jang selama pendjadjahan Belanda dan Djepang atas belas kasihan pendjadjah memegang kekuasaan negara didaerah Atjeh. Atas belas kasihan pendjadjah, sebab waktu Atjeh masih merdeka mereka sama sekali tidak mempunjai kekuasaan dan kekuasaan itu diberikan kepada mereka oleh pendjadjah Belanda atas pengchianatan jang dilakukan mereka terhadap kerajaan Atjeh.
Waktu kerajaan Atjeh masih berdiri, kebanjakan mereka adalah sebagai pamongpradja biasa. Lama kelamaan ketika pemerintah pusat di Kutaradja mendjadi lemah oleh desakan imperialisme Barat, mereka ini berangsur<sup><small>2</sup></small> mempunjai territorial gezag ditempatnja masing<sup><small>2</sup></small>, dan merekapun tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Sultan jang sah di Kutaradja. Mereka lalu mengadakan hereditary dalam pemerintahan ditempatnja masing<sup><small>2</sup></small> dengan tidak mengindahkan lagi pemerintah pusat di Kutaradja.<noinclude></noinclude>
9tdxyd80n4d06wpsrdk3cyldr2semx4
Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/9
104
105576
297887
2026-06-13T10:05:19Z
Moel81
25980
/* Telah diuji baca */
297887
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||— 10 —}}</noinclude>Semendjak itu mereka ini sebenarnja sudah mendjadi pemberontak terhadap kekuasaan negara jang sah dan sudah sepantasnja kalau pemerintah keradjaan Atjeh mengambil tindakan<sup><small>2</sup></small> terhadap mereka.
Tetapi pada waktu itu keradjaan Atjeh sudah terlalu lemah buat menghukum mereka sehingga mereka ini makin meradjalela dan membuat sewenang<sup><small>2</sup></small> dalam negeri. Mereka memeras rakjat dengan memungut bermatjam<sup><small>2</sup></small> padjak dan bea. Mereka memaksa rakjat mengerdjakan sawah<sup><small>2</sup></small> dan kebun<sup><small>2</sup></small> mereka dengan tiada membajar upah, pendeknja mereka berpaham seperti feodal<sup><small>2</sup></small> Perantjis jang mengatakan bahwa rakjat itu „''taillable et corvéable à merci''” — dikenakan padjak dan disuruh kerdja paksa sebagai tanda terima kasih!
Mereka menganggap rakjat sebagai budak belian dan hamba sahajanja bahkan rakjat disuruhnja bersembojan „njawong di po teu Allah darah gapah di teuku po” — njawa adalah hak Tuhan tetapi darah gapah hak Uleebalang.
Achirnja kaum pemberontak terhadap kekuasaan negara ini bertengkar satu dengan jang lainnja memperebutkan daerah dan peristiwa ini menjebabkan terdjadinja perang ketjil<sup><small>2</sup></small> jang dinamakan dalam sedjarah Atjeh „Prang Pageue” (perang pagar) jakni perang karena memperebutkan pagar, jaitu soal perwatasan jang ketjil<sup><small>2</sup></small>.
Kerusakan<sup><small>2</sup></small> dalam negeri dan terrornja kaum Uleebalang ini telah mengakibatkan kemunduran bagi rakjat dan lenjapnja hak<sup><small>2</sup></small> asasi<noinclude></noinclude>
56gc2vndz7uuyxj0k1f3i02oj10w4xc
Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/10
104
105577
297888
2026-06-13T10:10:59Z
Moel81
25980
/* Telah diuji baca */
297888
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||— 11 —}}</noinclude>manusia. Sedang Pemerintah Pusat di Kutaradja karena lemahnja tidak dapat berbuat apa<sup><small>2</sup></small>.
Dalam keadaan jang beginilah pada tahun 1873 Belanda membuat penjerangan terhadap keradjaan Atjeh, setelah lebih dahulu mengadakan perhubungan<sup><small>2</sup></small> rahasia dengan Uleebalang<sup><small>2</sup></small> ini. Belanda telah mendjandjikan kepada mereka ini djika mereka membantu Belanda mereka akan diakui sebagai radja<sup><small>2</sup></small> turun temurun didaerah jang dikuasanja masing<sup><small>2</sup></small>.
Untuk kepentingan dirinja sendiri kaum Uleebalang ini telah berchianat lagi dan mendjual tanah air dan bangsanja kepada pendjadjah asing. Waktu pemerintah Sultan dengan Teuku Panglima Polem, Tengku Tjhik di Tiro dan pemimpin<sup><small>2</sup></small> jang lain bersama rakjat bertempur mati<sup><small>2</sup></small>an menahan pendaratan tentera Belanda di Atjeh besar, kaum pengchianat ini dibelakang front sedjak tahun 1874 sudah mulai menanda tangani jang dinamakan „korte verklaring” dengan Belanda jang terdiri dari 6 pasal jang berisi pengakuan kedaulatan Belanda atas keradjaan Atjeh, pengakuan terhadap bendera Belanda sebagai satu<sup><small>2</sup></small>nja bendera jang sah, pengakuan tidak akan memberikan bantuan kepada patriot<sup><small>2</sup></small> jang sedang berdjuang d.s.b. Pendeknja mereka dengan diam<sup><small>2</sup></small> telah menjerahkan negeri ini jang sedang dipertahankan mati<sup><small>2</sup></small>an oleh bangsanja kepada pendjadjah. Pada tahun 1898 korte verklaring ini diperbaharui dengan jang dinamakan „korte Atjeh verklaring” dengan tambahan jang menjatakan bahwa musuh Belanda djuga musuh bagi Uleebalang<sup><small>2</sup></small> ini. Kemudian perdjandjian<noinclude></noinclude>
mylgun1ilsw3mkeijzoujt0rai694nq