Wikisumber idwikisource https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.47.0-wmf.6 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikisumber Pembicaraan Wikisumber Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Pengarang Pembicaraan Pengarang Indeks Pembicaraan Indeks Halaman Pembicaraan Halaman Portal Pembicaraan Portal TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Pengguna:Ah.Masyhar 2 39652 298101 268634 2026-06-15T23:28:05Z Ah.Masyhar 20068 298101 wikitext text/x-wiki Saya kontributor di WikiSource {{Peserta WikiPandu}} 6l4dwbqh07ublupr0werx96wua15li7 Portal:Undang-Undang Republik Indonesia/2026 106 90251 298098 258695 2026-06-15T22:45:22Z Mnam23 12152 298098 wikitext text/x-wiki {{UU tahun|2026}} {| class="wikitable" |- !width="12%" |UU Nomor !Tentang !{{singk|LN|Lembaran Negara}} !{{singk|TLN|Tambahan Lembaran Negara}} !Keterangan |- |[[Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026|1 Tahun 2026]] |Penyesuaian Pidana | | | |- | | | | | | |- |[[Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2026|3 Tahun 2026]] |Pelindungan Saksi dan Korban | | | |} {{UU/Lihat pula}} 7yqjbiqnvv0ba7mr8rjkrk970xnzef9 298099 298098 2026-06-15T22:45:41Z Mnam23 12152 298099 wikitext text/x-wiki {{UU tahun|2026}} {| class="wikitable" |- !width="12%" |UU Nomor !Tentang !{{singk|LN|Lembaran Negara}} !{{singk|TLN|Tambahan Lembaran Negara}} !Keterangan |- |[[Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026|1 Tahun 2026]] |Penyesuaian Pidana | | | |- | | | | | |- |[[Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2026|3 Tahun 2026]] |Pelindungan Saksi dan Korban | | | |} {{UU/Lihat pula}} c4mur78ijd8b9cqks6p03xli5xfzfvm 298100 298099 2026-06-15T23:07:10Z Mnam23 12152 298100 wikitext text/x-wiki {{UU tahun|2026}} {| class="wikitable" |- !width="12%" |UU Nomor !Tentang !{{singk|LN|Lembaran Negara}} !{{singk|TLN|Tambahan Lembaran Negara}} !Keterangan |- |[[Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026|1 Tahun 2026]] |Penyesuaian Pidana | | | |- |[[Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2026|2 Tahun 2026]] |Pelindungan Pekerja Rumah Tangga | | | |- |[[Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2026|3 Tahun 2026]] |Pelindungan Saksi dan Korban | | | |} {{UU/Lihat pula}} h1dqdhrct4zuhq2ago35ujcfksfd2ak Halaman:Benteng Dirgantara Angkatan Udara.pdf/12 104 105608 298088 297928 2026-06-15T14:37:33Z Suga Widi 25678 298088 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Dalam konteks itulah, buku ini disusun sebagai upaya untuk merajut kembali benang merah yang menghubungkan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh insan-insan Djawatan Teknik Umum di masa lalu, dengan perkembangan-perkembangan hingga menjadi wujudnya Disfaskonau yang kita kenal sekarang ini. Prakarsa diawali oleh Kadisfaskonau kala itu, Marsekal Pertama TNI Ir. Novyan Samyoga, yang memerintahkan pembentukan Tim Penulis terdiri atas para Kasubdis di bawah koordinator Sesdisfaskonau, Kolonel Sus Ir. B.R. Purba, M.Sc, dan di lapangan menerjunkan tim pelacak bahan sekaligus pewawancara narasumber di bawah kendali Mayor Sus Ir. Junjunan Amiruddin, ST, MT. Ketika buku mulai disusun dengan penuh semangat, pucuk pimpinan Disfaskonau diserahterimakan kepada pejabat baru. Marsekal Pertama TNI Ir. B.R. Purba, M.Sc yang langsung memberikan arahan agar penulisan buku dilanjutkan hingga tuntas. Sejatinya buku ini disusun dengan sangat padat dan komprehensif, cukup menyita waktu untuk mencari bahan-bahannya baik melalui riset pustaka maupun langsung terjun ke lapangan dengan mewawancarai sejumlah narasumber. Hasilnya mencapai kurang lebih 400 halaman ketikan komputer! Dengan pertimbangan bahwa buku harus dikreasi menarik secara fisik, tidak membosankan pembaca yang apriori karena melihat ketebalan buku dan pendekatan sejarah yang biasanya tidak terlalu disukai, maka diputuskan untuk mengemas buku ini menjadi jauh lebih singkat secara isi – bahkan dipadatkan hingga tinggal 50 persennya saja – namun tidak menghilangkan substansinya sebagai buku yang diniatkan untuk memotret secara utuh perjalanan sejarah Disfaskonau sejak kelahirannya hingga kini dan rencana perkembangannya di masa depan. Porsi terbesar kemudian memang pada Bab tentang hasil-hasil karya yang telah ditorehkan oleh insan-insan sejak era Djawatan Teknik Umum hingga Disfaskonau sekarang, sesuatu yang wajar dan patut dimaklumi oleh karena kebanggaan insan Teknik Umum adalah pada karya-karya yang telah mereka hasilkan!***<noinclude>{{rh|'''4 DINAS FASILITAS DAN KONSTRUKSI TNI AU'''}}</noinclude> borw8ex48tvxfootklbpdhlgb8o0not Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/27 104 105614 298069 297935 2026-06-15T13:02:31Z Moel81 25980 298069 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||– 28 –}}</noinclude>Ultimatum ini sama sekali tidak diatjuhkan oleh Markas Uleebalang bahkan ternjata makin menambah keganasan mereka. Pertempuran<small><sup>2</sup></small> hebat antara pihak rakjat dengan pihak pengchianat bangsa itu segera terdjadi didaerah kabupaten Pidie, Meuredu, Loeengputu, Beureunoeen, Lammeulo, Keumala, dll. Oleh karena kaum pengchianat tiada mendapat bantuan rakjat achirnja walaupun dengan sendjata jang serba kurang tetapi karena mendapat bantuan jang sebesar<small><sup>2</sup></small>nja dari segenap lapisan rakjat diseluruh Atjeh, Markas Besar Rakjat Umum telah dapat mematahkan tenaga pengchianat itu dengan merebut Markas Besar mereka jaitu kota Lammeulo pada tanggal 13 Januari ’46. Setelah kota Lammeulo diduduki Markas Besar Rakjat Umum mengeluarkan pengumuman sebagai berikut : {{c|MAKLUMAT.}} {{c|Pertempuran sudah selesai !}} {{quote|Pengchianat<small><sup>2</sup></small> tanah air sudah disapu bersih. Perlawanan partai Uleebalang sudah dapat dipatahkan oleh partai Rakjat. Perdjuangan ini dilaksanakan untuk membasmi sekalian pengchianat tanah air, Partai Uleebalang dan kaki tangan serta pengikutnja. Famili<small><sup>2</sup></small> pengchianat dan orang kampung jang tiada berdosa tiada akan diganggu, rakjat jang baik mesti tinggal ditempatnja masing<small><sup>2</sup></small>.}}<noinclude></noinclude> noxutj1e67bimzqq7e8nzxakhbbarfc Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/28 104 105615 298067 297934 2026-06-15T13:01:34Z Moel81 25980 298067 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||– 29 –}}</noinclude>{{quote|Barangsiapa jang masih bersifat chianat dan melawan terhadap rakjat atau mentjoba<small><sup>2</sup></small> gerakan chianat akan didjatuhkan hukuman mati. Dilarang keras merampok, merampas atau menggelapkan harta benda musuh (pengchianat). Dilarang keras menjimpan, menjembunjikan atau menggelapkan untuk kepentingan sendiri sendjata<small><sup>2</sup></small> api dari segala djenis. Sendjata<small><sup>2</sup></small> api tsb. dari segala djenis mesti dengan segera diserahkan kepada kantor Markas Besar Rakjat Umum. Sekalian rakjat jang baik hendaklah tinggal aman tenteram dan siap sedia patuh menuruti perintah pemimpin<small><sup>2</sup></small>nja.}} {{right|(Markas Besar Rakjat Umum).|offset=10em}} Ketika kota Lammeulo diduduki tidak semua pengchianat dapat ditangkap sebab beberapa djam sebelum kota Lammeulo djatuh mereka sudah melarikan diri kearah pergunungan sesudah merusakkan bangunan<small><sup>2</sup></small> penting jang ada di kota seperti centraal telefoon, pos, rumah<small><sup>2</sup></small> dsb. Tetapi rakjat umum terus memburu dan menjusul pengchianat<small><sup>2</sup></small> jang melarikan diri itu ke gunung<small><sup>2</sup></small> dan rimba<small><sup>2</sup></small>. Pada tg. 16 Januari ’46 Teuku Daud Tiumbok c s. jang mendjadi Pemimpin Markas Uleebalang dapat dibekuk oleh sepasukan barisan rakjat jang memburunja dirimba gunung Seulawah. Kemudian mereka digiring dengan kereta api ke Sigli. Di Sigli rakjat meminta supaja Teuku<noinclude></noinclude> 473vudhgfpaqlepnfxay5t7qn5b3uy2 298068 298067 2026-06-15T13:01:59Z Moel81 25980 298068 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||– 29 –}}</noinclude>{{quote|Barangsiapa jang masih bersifat chianat dan melawan terhadap rakjat atau mentjoba<small><sup>2</sup></small> gerakan chianat akan didjatuhkan hukuman mati. Dilarang keras merampok, merampas atau menggelapkan harta benda musuh (pengchianat). Dilarang keras menjimpan, menjembunjikan atau menggelapkan untuk kepentingan sendiri sendjata<small><sup>2</sup></small> api dari segala djenis. Sendjata<small><sup>2</sup></small> api tsb. dari segala djenis mesti dengan segera diserahkan kepada kantor Markas Besar Rakjat Umum. Sekalian rakjat jang baik hendaklah tinggal aman tenteram dan siap sedia patuh menuruti perintah pemimpin<small><sup>2</sup></small>nja.}} {{right|(Markas Besar Rakjat Umum).}} Ketika kota Lammeulo diduduki tidak semua pengchianat dapat ditangkap sebab beberapa djam sebelum kota Lammeulo djatuh mereka sudah melarikan diri kearah pergunungan sesudah merusakkan bangunan<small><sup>2</sup></small> penting jang ada di kota seperti centraal telefoon, pos, rumah<small><sup>2</sup></small> dsb. Tetapi rakjat umum terus memburu dan menjusul pengchianat<small><sup>2</sup></small> jang melarikan diri itu ke gunung<small><sup>2</sup></small> dan rimba<small><sup>2</sup></small>. Pada tg. 16 Januari ’46 Teuku Daud Tiumbok c s. jang mendjadi Pemimpin Markas Uleebalang dapat dibekuk oleh sepasukan barisan rakjat jang memburunja dirimba gunung Seulawah. Kemudian mereka digiring dengan kereta api ke Sigli. Di Sigli rakjat meminta supaja Teuku<noinclude></noinclude> 1wyqhaqurfrjdw5trx17nn54uwzebi8 Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/31 104 105620 298065 297943 2026-06-15T13:00:17Z Moel81 25980 298065 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||– 32 –}}</noinclude>diambil oleh Uleebalang dimasa jang sudah<small><sup>2</sup></small> untuk keperluan diri sendiri mereka dan harta<small><sup>2</sup></small> negara diambil oleh Markas Besar Rakjat.Harta<small><sup>2</sup></small> Baitalmal dikembalikan kepada Djawatan Agama dan harta negara jang lain dikembalikan kepada Pemerintah. Harta<small><sup>2</sup></small> pengchianat sendiri dipergunakan untuk pembajar rumah<small><sup>2</sup></small> rakjat jang telah mereka bakar dan harta benda rakjat jang telah mereka rampas. Selebihnja dikembalikan kepada keluarga mereka jang masih tinggal. Pada tanggal 17 Januari 1946 Markas Besar Rakjat Umum jang sudah berkedudukan dengan resmi di Sigli mengeluarkan pengumumannja sebagai berikut : {{c|'''MAKLUMAT PENDJELASAN.'''}} {{quote|„Peperangan dan pertempuran jang maha seru dan dahsjat, jang telah terdjadi dalam wilajah Sigli-Lammeulo-Meureudu, terutama dalam kota Lammeulo sendiri, semendjak tanggal 22−12−45 sampai tanggal 13−1−46, adalah pererangan dan pertempuran antara pihak rakjat umum dari Negara Republik Indonesia dengan pihak pengchianat negara, musuh bangsa, kaki tangan Nica iang dipimpin oleh Markas Uleebalang dengan Teuku Daud Tjumbok sebagai kepalanja. Pendirian rakjat umum ini dikuatkan pula oleh pemerintah jang tertinggi didaerah Atjeh dengan maklumatnja jang disiarkan di Sigli dan sekitarnja, pada tanggal 9-1-46 dengan menjatakan bahwa :}}<noinclude></noinclude> rt11f1z3to0u583oe4g239zch9d2fn5 Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/32 104 105621 298066 297944 2026-06-15T13:00:52Z Moel81 25980 298066 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||– 33 –}}</noinclude>{{quote|PERDJUANGAN RAKJAT UMUM ADALAH PERDJUANGAN MEMBASMI PENGCHIANAT”. Rakjat berdjuang 22 hari lamanja, dalam hudjan meriam dan peluru, dalam hudjan lebat jang sebenar<small><sup>2</sup></small>nja dalam menahan makan dan minum dan menahan diri dari sifat tidur,berkubu dalam hutan dan semak<small><sup>2</sup></small> dengan penuh kesabaran dan tawakkal untuk memusnahkan pengchianat tsb. dan untuk membawa keamanan dan kesopanan, untuk membela penderitaan saudara<small><sup>2</sup></small>nja selaku rakjat dalam wilajah<small><sup>2</sup></small> jang pengchianat duduki itu. Rakjat tjukup menderita kepedihan dan kepahitan, bukan sadja rakjat Indonesia Atjeh jang berada diwilajah tsb. bahkan Indonesia lainpun menderita djuga, pun bangsa Tionghoa menerima pula bermatjam<small><sup>2</sup></small> antjaman dan perkosaan jang terhina dan terkutuk. Penderitaan itu, bukan sadja rakjat menerima pada perasaan lahir tetapi pada batinpun tjukup mereka menderitanja disebabkan segala gerakan djiwa mereka jang menudju kearah kemerdekaan, mendapat halangan sehebat<small><sup>2</sup></small>nja berbagai tjara,bahkan rakjat jang menghendaki kemerdekaan dengan tjara terang seperti membangunkan barisan<small><sup>2</sup></small> perdjuangan, membangunkan Pemuda Republik Indonesia musnah dan terantjam djiwanja. Sukur alhamdulillah, 22 hari rakjat berdjuang sarang<small><sup>2</sup></small> pengchianat dan markas}}<noinclude></noinclude> d2k7po84eami0u4u2zq6ibe3as76sxe Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/33 104 105622 298064 297945 2026-06-15T12:59:28Z Moel81 25980 298064 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||– 34 –}}</noinclude>{{quote|mereka dapat kita duduki satu persatu dan pada tgl. 13-1 ’46 djatuhlah dengan sempurna pusat Markas Pengchianat itu, jaitu Lammenlo, sedang kepala pengchianat dan pengikut<small><sup>2</sup></small>nja dapat melarikan diri. Tetapi Tuhan tiada mengizinkan pengchianat meradjalela lagi maka pada tgl. 16-1 ’46 disatu hutan dilembah gunung Seulawah, kepala pengchianat Teuku Daud Tjumbok c.s dapat dibekuk bersama kawan pengikutnja oleh Tentera Rakjat kita jang melakukan sapu bersih atas djedjak dan sarang<small><sup>2</sup></small> musuh itu. Sekarang dengan hantjur dan leburnja perdjuangan dan perlawanan pengchianat<small><sup>2</sup></small> dengan tertangkapnja kepala pengchianat itu, mudah<small><sup>2</sup></small>an rahmatlah bagi rakjat umum di Lammeulo, Meureudu, Sigli dan sekitarnja dalam hal kebahagiaan, keamanan dan kesentosaan dan kembanglah sjiar Negara Republik Indonesia melengkapi seluruh Atjeh. Dalam masa peperangan ang maha hebat dan dahsjat itu karena tiada dapat memperbedakan pengikut pengchianat jang sebenar<small><sup>2</sup></small>nja dengan rakjat umum jang tiada tahu menahu dengan gerakan pengchianat tsb.tentu sadja banjak dan ada terdjadi hal<small><sup>2</sup></small> jang pintjang, maka djanganlah hendaknja kedjadian jang pintjang itu, untuk menetapkan sebagai alasan jang tudjuan perdjuangan rakjat umum itu tidak sutji adanja.}}<noinclude></noinclude> 5tu8jr1jsta5jhy203iuigfcly70xe1 Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/34 104 105623 298063 297946 2026-06-15T12:58:54Z Moel81 25980 298063 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||– 35 –}}</noinclude>{{quote|Supaja diinsafi bahwa tudjuan dan dasar perdjuangan rakjat ialah untuk merubuhkan pengchianat dan membina kemakmuran dan keamanan rakjat umum diwilajah<small><sup>2</sup></small> jang pengchianat duduki itu, supaja tertjiptalah dengan sempurna kemerdekaan dan kedaulatan Negara Republik Indonesia. Zaman merubuhkan sudah berdjalan dengan sempurna. Zaman pembinaan akan kita hadapi. Pembinaan jang dimaksud ialah untuk membawa keamanan dan kemakmuran Negara Republik Indonesia, maka djalan untuk me laksanakan itu bukanlah suatu soal jang mudah. Maka oleh sebab itu diharap sangat supaja segenap lapisan masjarakat, mulai dari kaum Ulama, bangsawan, pegawai negeri, sampai kepada masjarakat jang serendah<small><sup>2</sup></small>nja djuga segala badan<small><sup>2</sup></small> (perserikatan<small><sup>2</sup></small>) dalam negara Republik Indonesia politik atau tidaknja, membantu, memberi tundjangan dengan sebesar-besar minat dan keichlasan jang sebenarnja, supaja tjita<small><sup>2</sup></small> rakjat jang didasarkan pada perdjuangan- nja itu sungguh membawa keamanan, kesen tosaan dan kemakmuran buat daerah Sigli, Lammeulo dan Meureudu, dan agunglah Negara Republik Indonesia didaerah tsb. Berbahagialah rakjat Lammeulo, Sigli, Meureudu, djajalah Negara Republik Indonesia disana.}} {{c|{{sp|„MERDEKA”}}}} {{c|MARKAS BESAR RAKJAT UMUM.}}<noinclude></noinclude> 6v6wfx6dsz7o9ce1e1uwbnrmrhnyo2b Indeks:Buku Panduan Wikisource Bahasa Indonesia (2026).pdf 102 105653 298091 298012 2026-06-15T15:08:17Z Cgjkldn 22445 298091 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Type=book |wikidata_item=Q140230748 |Title=Buku Panduan Wikisource Bahasa Indonesia |Subtitle= |Language=id |Volume= |Edition= |Author= |Co-author1= |Co-author2= |Co-author3= |Translator= |Co-translator1= |Co-translator2= |Editor= |Co-editor1= |Co-editor2= |Illustrator= |Publisher= |Address= |Printer= |Year=2026 |Key= |ISBN= |Source=PDF |Image=1 |Progress=X |Pages=<pagelist 1="Cover" 2="–" 3="Title" 4="–" 5="Info" 6="ToC" 7=1 41="Cover" /> |Volumes= |Remarks= |Notes= |Header= |Footer= }} 9syyr0tn6ik23adl47fhot436854dow Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/36 104 105689 298070 2026-06-15T13:07:31Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298070 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||– 37 –}}</noinclude>Tindakan represaille dari mereka ini telah menjebabkan terdjadinja insiden<small><sup>2</sup></small> di Atjeh Utara dan di Atjeh Timur. Perbuatan<small><sup>2</sup></small> mereka ini telah menjebabkan rakjat bergerak pula menangkapi hampir seluruh mereka diseluruh Atjeh. Sebagian dari mereka diinternir ke Takengon dan jang tiada bersalah dibebaskan. Dengan demikian Ancien régime telah ditumbangkan seluruhnja dari daerah Atjeh dan di bangunkanlah suatu pemerintahan baru oleh rakjat, dari rakjat dan untuk rakjat. Bekas daerah kekuasaan Uleebalang atau jang disebut dizaman Belanda „Landschap” di tukar namanja dengan negeri dan dilakukan pemilihan Dewan Pemerintahan negeri jang terdiri dari 5 orang, (seorang Ketua, sebagai Kepala negeri dan 4 orang anggota). Ditiap<small><sup>2</sup></small> bekas onderafdeeling dahulu diadakan Komite Nasional Wilajah dan dipilih seorang Kepala Wilajah (Wedana). Seterusnja Afdeeling dahulu dirubah mendjadi Kabupaten dengan Komite nasional Kabupatennja dan dipilih seorang Bupati. Uleebalang<small><sup>2</sup></small> di Atjeh Besar, Atjeh Barat, Atjeh Selatan dan lain<small><sup>2</sup></small> jang masih hidup jang ditangkap oleh rakjat atau jang sadar atas perobahan masa terus menjerahkan kembali kekuasaan pemerintahan jang mereka pegang ditiap<small><sup>2</sup></small> landschapnja kepada rakjat jang diwakili oleh Komite Nasional ditiap<small><sup>2</sup></small> wilajah. Mereka berdjandji pula akan mengembalikan harta<small><sup>2</sup></small> rakjat jang sudah mereka rampas demikian djuga harta<small><sup>2</sup></small> baitalmal dan harta negara<noinclude></noinclude> bgek2uk6lmblf9ew59eshosx5h2tcj1 Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/37 104 105690 298071 2026-06-15T13:09:52Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298071 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||– 37 –}}</noinclude>Tindakan represaille dari mereka ini telah menjebabkan terdjadinja insiden<small><sup>2</sup></small> di Atjeh Utara dan di Atjeh Timur. Perbuatan<small><sup>2</sup></small> mereka ini telah menjebabkan rakjat bergerak pula menangkapi hampir seluruh mereka diseluruh Atjeh. Sebagian dari mereka diinternir ke Takengon dan jang tiada bersalah dibebaskan. Dengan demikian Ancien régime telah ditumbangkan seluruhnja dari daerah Atjeh dan di bangunkanlah suatu pemerintahan baru oleh rakjat, dari rakjat dan untuk rakjat. Bekas daerah kekuasaan Uleebalang atau jang disebut dizaman Belanda „Landschap” di tukar namanja dengan negeri dan dilakukan pemilihan Dewan Pemerintahan negeri jang terdiri dari 5 orang, (seorang Ketua, sebagai Kepala negeri dan 4 orang anggota). Ditiap<small><sup>2</sup></small> bekas onderafdeeling dahulu diadakan Komite Nasional Wilajah dan dipilih seorang Kepala Wilajah (Wedana). Seterusnja Afdeeling dahulu dirubah mendjadi Kabupaten dengan Komite nasional Kabupatennja dan dipilih seorang Bupati. Uleebalang<small><sup>2</sup></small> di Atjeh Besar, Atjeh Barat, Atjeh Selatan dan lain<small><sup>2</sup></small> jang masih hidup jang ditangkap oleh rakjat atau jang sadar atas perobahan masa terus menjerahkan kembali kekuasaan pemerintahan jang mereka pegang ditiap<small><sup>2</sup></small> landschapnja kepada rakjat jang diwakili oleh Komite Nasional ditiap<small><sup>2</sup></small> wilajah. Mereka berdjandji pula akan mengembalikan harta<small><sup>2</sup></small> rakjat jang sudah mereka rampas demikian djuga harta<small><sup>2</sup></small> baitalmal dan harta negara<noinclude></noinclude> bgek2uk6lmblf9ew59eshosx5h2tcj1 Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/38 104 105691 298072 2026-06-15T13:13:46Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298072 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||– 38 –}}</noinclude>jg mereka kuasai dengan djalan tidak sah dimasa jang sudah<small><sup>2</sup></small>. Dengan perdjandjian dan penjerahan inilah sebagian mereka dapat terpelihara dari tindakan rakjat dan mereka dapat bebas hidup kemudiannja sebagai warga negara. Diwaktu penjerangan Belanda menghebat di Djawa dan Sumatra dalam agressinja jang pertama dan kedua kaum Uleebalang dan kaki tangannja jang sudah dibebaskan oleh pemerintah dari tangan rakjat itu mentjoba bergerak kembali membuat kekatjauan serta berbagai<small><sup>2</sup></small> provokasi jang menolong musuh dan ada pula diantara mereka jang melarikan diri dari tahanan ketempat<small><sup>2</sup></small> pendudukan Belanda jang terdekat seperti Medan dan Sabang. Oleh karena ini perasaan tidak pertjaja kepada mereka timbul lagi dikalangan rakjat dan terus dilakukan penangkapan<small><sup>2</sup></small> oleh rakjat dan barisan<small><sup>2</sup></small> perdjuangan terhadap mereka, jang ditjurigai akan berchianat kepada bangsa dan tanah air. Dalam pada itu pemerintah mendjaga dan meng-amat<small><sup>2</sup></small>i agar djangan terdjadi tindakan sewenang<small><sup>2</sup></small> terhadap mereka. Setelah terdapat persetudjuan cease-fire dengan Belanda Pemerintah terus meminta kepada barisan<small><sup>2</sup></small> perdjuangan supaja orang<small><sup>2</sup></small> jang ditangkap itu diserahkan kepada pemerintah dan barisan<small><sup>2</sup></small> perdjuangan boleh memberikan andjuran<small><sup>2</sup></small> dan usul<small><sup>2</sup></small> kepada pemerintah untuk mengurus tahanan<small><sup>2</sup></small> itu. Dengan ini maka pemerintah menerima tangkapan<small><sup>2</sup></small> rakjat itu serta usul<small><sup>2</sup></small> rakjat :<noinclude></noinclude> e50fei7ohx5o91v0wfupe4bzi0b1f66 Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/39 104 105692 298073 2026-06-15T13:16:27Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298073 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||– 39 –}}</noinclude># supaja orang<small><sup>2</sup></small> jang berbahaja itu diasingkan ke Takengon. # dipindahkan dari tempat kekuasaannja semula kelain tempat dengan pengawasan pemerintah. #dipindahkan keluar tempat tinggalnja dan diberikan pekerdjaan kepada mereka jang tiada membahajakan umum. Usul<small><sup>2</sup></small> rakjat ini dipegang oleh pemerintah sebagai dasar buat mengurus mereka agar keselamatan mereka terdjamin sedang pemerintah selalu berusaha meringankan dan merobah ketentuan<small><sup>2</sup></small> tsb kalau mereka sudah insaf sesudah diawasi oleh pemerintah. Tangkapan rakjat jang sebanjak itu, atas usaha pemerintah dan berkat keinsafan mereka berangsur<small><sup>2</sup></small> dapat dibebaskan dan dikembalikan ketempat mereka semula, sehingga sekarang hanja tinggal beberapa orang lagi jang ditempatkan di Takengon atas besluit Residen Atjeh. Dewasa ini pemerintahan rakjat didaerah Atjeh sudah mentjapai tingkatan jang lebih madju dengan terbentuknja Dewan Perwakilan Kabupaten jang dipilih langsung setjara pemilihan umum oleh rakjat sendiri. Demokratiseering pemerintahan sudah mulai meningkat kearah kesempurnaan. Pamongpradja mulai dari Keutjhik (kepala kampung), Imeum (kepala mukim), Kepala negeri, Wedana, Bupati dan seterusnja semua ditetapkan menurut tjara<small><sup>2</sup></small> jang demokratis.<noinclude></noinclude> 9fqcs2vd6k1mby5dp772b82c5pxjvex Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/40 104 105693 298074 2026-06-15T13:18:06Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298074 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||– 40 –}}</noinclude>Maksud dari undang2 No. 22 tahun 1948 jang menghendaki bentukan kabupaten<small><sup>2</sup></small> otonoom, sebelum ditempat<small><sup>2</sup></small> lain dapat didjalankan, bahkan di Djawa djuga didaerah Atjeh sudah dapat berdjalan dengan lantjarnja.<noinclude></noinclude> dxbw6evg4z199qpfngyqs30omrnc15h Halaman:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf/41 104 105694 298075 2026-06-15T13:19:28Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298075 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude><noinclude>{{rule|10em}} {{c|K.K. Djokjakarta}}</noinclude> ly73747gwhwwel9gdm9ryfwsm6n6lmi Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/68 104 105695 298076 2026-06-15T13:41:43Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298076 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{quote|Putri membasuh tangan dan kemudian mulai makan. Ibunya duduk di depannya memandangi, seperti menghitung berapa suap akan ditelan Putri. Putri diam-diam mencuri melihat beberapa garis muka ibunya semakin dalam. Rambut putihnya juga sudah mulai bertambah. Bagaimana tidak. Wanita inilah yang sudah banting tulang untuknya. Bapaknya tak banyak bisa diharapkan. Mangku itu terlalu sibuk melayani upacara untuk kepentingan desa (Wijaya, 2004: 6).}} Mungkin bagi kaum feminis Men Putri telah melakukan dua fungsinya sekaligus. Ia bukan hanya sebagai seorang ibu rumah tangga, melainkan juga pencari nafkah keluarga. Sekilas terlihat Men Putri telah mendukung gerakan feminis. Akan tetapi, jika ditinjau lebih jauh, peran yang dimainkan oleh Men Putri adalah dampak dari budaya yang mengharuskan perempuan untuk bekerja keras. Ia bukan saja sebagai ibu rumah tangga, melainkan juga sebagai pencari nafkah keluarga. Perempuan seperti Men Putri dan banyak lagi perempuan Bali cenderung mengalami eksploitasi besar-besaran. Dampak dari budaya ini adalah melahirkan perempuan perkasa, yang sanggup melakukan segala bentuk pekerjaan. Bahkan, pekerjaan yang biasa dilakukan oleh seorang laki-laki pun mereka jalani. Mungkin kaum feminis tidak akan menyetujui bentuk eksploitasi seperti itu. Perempuan bukan lagi melakukan peran ganda, tetapi lebih sebagai bentuk kesewenang-wenangan laki-laki terhadap perempuan. Kaum feminis akan sangat menentang tindakan tersebut. Sebagai seorang ibu, Men Putri adalah ibu yang penuh kasih dan mencurahkan seluruh perhatiannya pada keluarga. Sebagai perempuan yang memainkan peran tradisionalnya, ia terbiasa melayani, begitu juga terhadap anak-anaknya. Merupakan kebanggaan bagi seorang ibu, jika bisa melayani suami dan anak-anaknya dengan baik. Hal yang terkadang tidak bisa dimengerti oleh Putri, tetapi harus diterimanya sebagai suatu kenyataan. {{quote|...Ketika ia menoleh, ibunya sudah pergi ke dapur hendak memasak air. Putri hampir saja mau melarang, tetapi kemudian ia tak sampai hati. Itu merupakan kebanggaan seorang ibu. Ia sudah belajar menghargai hal-hal yang tak masuk akal, setelah gagal untuk memusnahkannya (Wijaya, 2004: 3).}}<noinclude>{{rh||56}}</noinclude> ax5g0de26rh54esthywhcej149pysf8 Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/70 104 105696 298077 2026-06-15T13:44:24Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298077 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>'''3.1.1.4 Nyoman''' Seperti juga halnya Men Putri, Nyoman adalah tipe perempuan tradisional yang memainkan peran gandanya sebagai seorang perempuan. Walaupun sempat mengenyam bangku pendidikan, cita-cita Nyoman harus kandas karena kebodohannya sendiri. Ia hamil di luar nikah dan harus menjalani kehidupan kawin lari, yang sama sekali tidak diinginkannya. Sebagai seorang perempuan yang sudah menikah, Nyoman harus tinggal dan menyatu dengan keluarga suaminya. Di sana, ia harus bekerja keras karena suaminya tidak memiliki pekerjaan. Ia harus menghidupi keluarganya sekaligus menafkahi suaminya. Ia harus memainkan peran sebagai istri dan ibu, sekaligus pencari nafkah keluarga. Peran ganda yang banyak sekali dilakukan oleh perempuan Bali. Berbeda dengan sifat dan karakter Putri, Nyoman tumbuh sebagai gadis yang tidak seenergik dan sepintar Putri, yang sangat yakin dengan diri dan cita-citanya. Nyoman selalu ragu dengan apa yang dilakukannya. Ia cenderung tertutup dan menyembunyikan apa yang terjadi pada dirinya. Hanya kepada ''dadong'' (nenek) Putrilah, Nyoman dengan leluasa menyampaikan keluh kesahnya. Ia tidak seperti Putri, yang dengan bebas bisa membicarakan dan mendiskusikan setiap persoalan dengan siapa saja, termasuk dengan bapaknya, Mangku Puseh. Latar itulah yang membuat Nyoman, ketika sudah menikah, tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan kebejatan suaminya, Made Sukada. Ia mengetahui dengan pasti suaminya menyeleweng dengan perempuan lain. Akan tetapi, ia hanya mendiamkan saja. Ia tidak ingin merusak ketenangan keluarganya dengan membuka belang suaminya. Biarlah penderitaan itu ia tanggung sendiri. Sebuah tindakan yang tentu saja tidak akan disetujui oleh Putri dan juga kaum feminis. Perbuatan tersebut dapat dikategorikan sebagai tindak pelecehan terhadap perempuan. Seharusnya, Nyoman berani melepaskan diri dari pelecehan tersebut. Membiarkan penyelewengan itu berlanjut, sama saja dengan Nyoman memberi ruang gerak bagi laki-laki untuk melecehkannya. Membiarkan dan menganggap biasa segala bentuk pelecehan, sama saja dengan mengajarkan bahkan mendorong para pelaku untuk melanggengkan perbuatan tersebut. Padahal, sebagai seorang perempuan yang tahu akan haknya, ia harus menentang segala bentuk pelecehan dan tindak sewenang-wenang terhadap dirinya. Sebagai seorang perempuan yang telah bekerja keras menghidupi keluarga, sebenarnya Nyoman sangat berhak atas sebuah kebahagiaan dalam arti yang sebenarnya, bukan kebahagiaan semu<noinclude>{{rh||58}}</noinclude> 8v7nvevjl7m7ioszl3vx4q0k3r9sl1o Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/71 104 105697 298078 2026-06-15T13:49:04Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298078 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>yang selama ini diyakini Nyoman. Akan tetapi, keengganan dan rasa takut kehilangan, menghalangi langkah Nyoman memperjuangkan haknya yang telah dikebiri. Betapa enaknya menjadi laki-laki, seperti Made Sukada. Sudah tidak melaksanakan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dan hanya bisa menjadi benalu bagi Nyoman, ia masih sempat-sempatnya berhubungan dengan perempuan lain. Sungguh malang nasib perempuan yang menjadi istri laki-laki seperti Made Sukada. Seharusnyalah, ia menghargai jerih payah istrinya, bukannya menyeleweng. Seharusnya ia malu bahwa sebagai seorang suami dan ayah bagi anaknya, ia tidak dapat memberikan apa-apa untuk kehidupan mereka. Sayangnya, tindakan itu seperti dibiarkan terjadi dengan kediaman Nyoman. Di sinilah letak kekeliruan Nyoman, yang akhirnya melanggengkan penyelewengan yang dilakukan oleh Made Sukada. Ketidaktegasan Nyoman dan kelemahannya terus berlanjut sampai Made Sukada berhasil dalam kehidupannya. Secara materi, mereka tidak pernah kekurangan, tetapi tetap saja Nyoman tidak pernah merasakan kebahagiaan. Selalu saja ada persoalan yang membuat hubungan di antara ia dan suaminya menjadi seperti benang kusut yang sulit sekali untuk dibenahi. Di luar, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat akur dan mesra. Akan tetapi, di dalamnya bergejolak gelombang emosi yang tak pernah menemukan pantai pelampiasannya. Nyoman tetap menjadi perempuan yang selalu mengalah dan lemah. Hal itu sangat ditentang oleh kaum feminis yang menginginkan tipikal perempuan yang memiliki keberanian untuk menyampaikan pikiran dan keinginannya, bukan perempuan yang memilih diam dan mengamini setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Perempuan harus mempunyai prinsip. Dengan demikian, mereka dapat mengaktualisasikan diri dalam kehidupan. Sayangnya, hal itu tidak dimiliki oleh Nyoman. '''3.1.2 Tokoh Novel ''Putri'' dalam Kaitannya dengan Masalah Perempuan''' Pada bagian ini akan dikupas tokoh lain dalam novel Putri, yaitu tokoh laki-laki. Tokoh yang memiliki keterkaitan dengan tokoh perempuan yang sudah diuraikan sebelumnya akan dideskripsikan dalam kaitannya dengan persoalan perempuan. Meskipun tujuan utama penelitian ini adalah meneliti tokoh perempuan, untuk memperoleh gambaran yang lengkap tentang persoalan yang ingin diungkapkan, deskripsi tentang tokoh laki-laki juga diperlukan.<noinclude>{{rh||59}}</noinclude> n3w41hojhtch0o68r0g8vew4fxwwlp4 Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/72 104 105698 298079 2026-06-15T13:57:21Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298079 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>'''3.1.2.1 Mangku Puseh''' Sebagai seorang laki-laki Bali yang telah dibesarkan dalam akar budaya yang diyakini oleh para pendahulunya, Mangku Puseh tentu saja mewarisi tradisi dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakatnya, termasuk pikirannya mengenai perkawinan. Menurutnya, pernikahan adalah urusan praktis memproduksi anak, suatu kewajiban yang harus dijalani dalam hidup. Cinta dalam sebuah pernikahan tidaklah begitu berarti karena menurutnya, perasaan itu bisa ditumbuhkan belakangan. Ia bercermin pada pernikahannya dengan ibu Putri. Mereka dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Tanpa bekal cinta sedikit pun mereka menikah dan kemudian melahirkan anak-anaknya. Pandangan Mangku Puseh itu disampaikan pada Putri yang selalu menolak untuk berkeluarga dengan alasan belum menemukan laki-laki yang cocok dan yang dicintainya. Kaum feminis akan menentang apa yang secara tradisonal dipikirkan oleh Mangku Puseh karena bagi mereka pernikahan bukan hanya sebagai sarana memproduksi anak. Tubuh perempuan bukan sarana eksploitasi untuk memuaskan nafsu laki-laki dan kemudian melahirkan anak-anaknya. Menurut pandangan mereka, makna sebuah pernikahan begitu dalam sehingga seorang perempuan harus berhati-hati menentukan calon laki-laki pendamping hidupnya. Bagi mereka, tindakan Putri menolak pikiran Mangku Puseh sudah tepat karena cinta adalah salah satu fondasi yang akan menahan gelombang besar dalam bahtera perkawinan. Keinginan Mangku Puseh untuk menjadikan Putri sebagai bagian dari keluarga Puri Tabanan didorong oleh kebiasaan masa lampau yang tentu saja tidak cocok lagi diterapkan hari ini, apalagi untuk seorang Putri, yang berpikiran maju dan begitu mengagungkan cita-citanya. Ia masih berharap pernikahan Putri dengan orang puri akan sedikit mengangkat derajat keluarganya serta akan memperbaiki kehidupan mereka. Nantinya juga akan berdampak bagi Desa Meliling karena orang puri tidak akan membiarkan desa berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Pernikahan Putri dengan keluarga puri tidak saja akan menguntungkan keluarga, tetapi juga seluruh penduduk Meliling. Mereka akan mendapatkan berkah dari pernikahan tersebut, sebuah kebanggaan masa lalu yang sudah tidak cocok lagi untuk diterapkan hari ini. Mangku Puseh sendiri pun sangat menyadari hal itu. Akan tetapi, tidak ada salahnya, jika ia mengajukan keinginannya itu pada Putri.<noinclude>{{rh||60}}</noinclude> bhgyfmd0ksy0alb7ek9kvjfxinl0ybk Pengguna:Mryaini 2 105699 298080 2026-06-15T14:16:42Z Mryaini 27207 ←Membuat halaman berisi 'Haiii, saya Aini. {{Peserta WikiPandu}}' 298080 wikitext text/x-wiki Haiii, saya Aini. {{Peserta WikiPandu}} c09mxzyqhlfgqz7hk8xyxblrw62h77j Halaman:Benteng Dirgantara Angkatan Udara.pdf/41 104 105700 298081 2026-06-15T14:20:18Z Suga Widi 25678 /* Telah diuji baca */ 298081 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Dalam jangka pendek Satharlan diproyeksikan mampu melaksanakan pekerjaan pemeliharaan landasan serta fasilitas/instalasi secara memadai, khususnya untuk pangkalan-pangkalan udara di Jawa, sedangkan untuk jangka panjang diharapkan Satharlan mampu melaksanakan pekerjaan pemeliharaan landasan serta fasilitas/instalasi secara ideal pangkalan udara di seluruh Indonesia. Tujuan pembuatan Rencana Pembangunan Kembali Kesatuan Pemeliharaan Pangkalan (Satharlan) untuk memberikan saran-saran kepada pimpinan TNI Angkatan Udara tentang usaha-usaha yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan Satharlan sesuai dengan tugas dan fungsinya, sehingga diperoleh hasil-hasil positif bagi pengembangan Satharlan, yaitu peningkatan kemampuan operasional Satharlan, daya guna peralatan yang ada dapat lebih ditingkatkan, dan peningkatan kemampuan personel dalam bidang keahliannya masing-masing. '''Penggabungan Korp Teknik Umum (Tum) kedalam Korp Dinas Khusus (Sus) 1984''' Momen penggabungan Korps Teknik Umum (Tum) ke dalam Korps Dinas Khusus (Sus) merupakan kenyataan pahit yang harus diterima oleh personel Teknik Umum. Sebagai salah satu dari sembilan Korps Perwira awal dilingkungan AURI dan telah eksis selama 34 tahun, sejak tahun 1950 sampai tahun 1984, di akhir periode keemasan Jawatan Pangkalan TNI Angkatan Udara justru Korps Teknik Umum mengalami likuidasi dan digabungkan dalam Korps Sus. Penggabungan Korps ini dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor: Skep/24/VII/1984 tentang Korps Perwira TNI Angkatan Udara. Perubahan Korps ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa salah satu upaya optimalisasi dalam pembinaan personil adalah pengelompokkan perwira ke dalam beberapa Korps. Bahwa sesuai dengan perkembangan teknologi dan organisasi perlu mengadakan penyempurnaan Korps perwira TNI Angkatan Udara. Dengan adanya Surat Keputusan Kasau tersebut di atas, maka Korps perwira TNI Angkatan Udara terhitung sejak tahun 1984 hanya terdiri dari delapan Korps, yaitu Korps Penerbang/Navigator disingkat PNB/NAV, Korps Teknik disingkat TEK, Korps Elektronika disingkat LEK, Korps Pembekalan disingkat KAL, Korps Administrasi disingkat ADM, Korps Pasukan disingkat PSK, Korps Kesehatan disingkat KES, dan Korps Khusus disingkat SUS. Dengan<noinclude>{{rh|||BENTENG DIRGANTARA ANGKATAN UDARA|||33}}</noinclude> 752qrqvm36cwpex50mu350y3dor2o0r 298082 298081 2026-06-15T14:22:26Z Suga Widi 25678 298082 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Dalam jangka pendek Satharlan diproyeksikan mampu melaksanakan pekerjaan pemeliharaan landasan serta fasilitas/instalasi secara memadai, khususnya untuk pangkalan-pangkalan udara di Jawa, sedangkan untuk jangka panjang diharapkan Satharlan mampu melaksanakan pekerjaan pemeliharaan landasan serta fasilitas/instalasi secara ideal pangkalan udara di seluruh Indonesia. Tujuan pembuatan Rencana Pembangunan Kembali Kesatuan Pemeliharaan Pangkalan (Satharlan) untuk memberikan saran-saran kepada pimpinan TNI Angkatan Udara tentang usaha-usaha yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan Satharlan sesuai dengan tugas dan fungsinya, sehingga diperoleh hasil-hasil positif bagi pengembangan Satharlan, yaitu peningkatan kemampuan operasional Satharlan, daya guna peralatan yang ada dapat lebih ditingkatkan, dan peningkatan kemampuan personel dalam bidang keahliannya masing-masing. '''Penggabungan Korp Teknik Umum (Tum) kedalam Korp Dinas Khusus (Sus) 1984''' Momen penggabungan Korps Teknik Umum (Tum) ke dalam Korps Dinas Khusus (Sus) merupakan kenyataan pahit yang harus diterima oleh personel Teknik Umum. Sebagai salah satu dari sembilan Korps Perwira awal dilingkungan AURI dan telah eksis selama 34 tahun, sejak tahun 1950 sampai tahun 1984, di akhir periode keemasan Jawatan Pangkalan TNI Angkatan Udara justru Korps Teknik Umum mengalami likuidasi dan digabungkan dalam Korps Sus. Penggabungan Korps ini dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor: Skep/24/VII/1984 tentang Korps Perwira TNI Angkatan Udara. Perubahan Korps ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa salah satu upaya optimalisasi dalam pembinaan personil adalah pengelompokkan perwira ke dalam beberapa Korps. Bahwa sesuai dengan perkembangan teknologi dan organisasi perlu mengadakan penyempurnaan Korps perwira TNI Angkatan Udara. Dengan adanya Surat Keputusan Kasau tersebut di atas, maka Korps perwira TNI Angkatan Udara terhitung sejak tahun 1984 hanya terdiri dari delapan Korps, yaitu Korps Penerbang/Navigator disingkat PNB/NAV, Korps Teknik disingkat TEK, Korps Elektronika disingkat LEK, Korps Pembekalan disingkat KAL, Korps Administrasi disingkat ADM, Korps Pasukan disingkat PSK, Korps Kesehatan disingkat KES, dan Korps Khusus disingkat SUS. Dengan<noinclude>{{rh|||BENTENG DIRGANTARA ANGKATAN UDARA|||33}}</noinclude> ev8h2hquodd6axwm9lnsbrpmeo50qto Halaman:Benteng Dirgantara Angkatan Udara.pdf/43 104 105701 298083 2026-06-15T14:27:06Z Suga Widi 25678 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Di saat organisasi TNI Angkatan Udara dipimpin oleh Marsekal TNI Siboen Dipoatmojo, terjadi lagi perubahan organisasi di tubuh TNI Angkatan Udara. Berdasarkan Keputusan Panglima ABRI Nomor Kep/10/X/1992 tanggal 5 Oktober 1992 tentang pokok-pokok organisasi dan prosedur TNI Angkatan Udara, sesuai Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur tahun 1992, organisasi TNI Angkatan Udara disusun dalan dua tingkat, yaitu tingkat Mabes TNI Angkatan Udara dan ting... 298083 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Di saat organisasi TNI Angkatan Udara dipimpin oleh Marsekal TNI Siboen Dipoatmojo, terjadi lagi perubahan organisasi di tubuh TNI Angkatan Udara. Berdasarkan Keputusan Panglima ABRI Nomor Kep/10/X/1992 tanggal 5 Oktober 1992 tentang pokok-pokok organisasi dan prosedur TNI Angkatan Udara, sesuai Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur tahun 1992, organisasi TNI Angkatan Udara disusun dalan dua tingkat, yaitu tingkat Mabes TNI Angkatan Udara dan tingkat Kotama. Untuk tingkat Mabes TNI Angkatan Udara terdiri dari empat eselon yaitu eselon Pimpinan yaitu Kasau, Eselon staf/pembantu pimpinan, Eselon pelayanan dan Eselon pembantu pimpinan dan pelaksana pusat yaitu Deputi-deputi Kasau yang terdiri dari Deputi Kasau bidang Operasi (Deops Kasau), Deputi Kasau bidang Personil (Depers Kasau), dan Deputi Kasau bidang Logistik (Delog Kasau). Dengan demikian maka kedudukan organisasi Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara berada di bawah jajaran Deputi Kasau Bidang Logistik (Delog). Pada saat proses penyempurnaan organisasi TNI Angkatan Udara terus berlangsung, terjadi pergantian pimpinan TNI Angkatan Udara dari Marsekal TNI Siboen Dipoatmojo kepada Marsekal Madya TNI Rilo Pambudi sebagai.Kasau ke-11 yang dilaksanakan pada tanggal 23 Maret 1993. '''Organisasi Ditfasbekau''' Berdasarkan Keputusan Menhankam/Pangab No. Kep/10/P/III/1984 tanggal 31 Maret 1984, pada tingkat eselon pelaksana terjadi perubahan susunan organisasi dari Kepala Jawatan Pangkalan TNI Angkatan Udara menjadi Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI AU (Ditfasbekau). Perubahan organisasi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan Keputusan Kasau Nomor: KEP/21/III/1985 tentang Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara (Ditfasbekau). Direktur Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara (Dirfasbekau) yang pertama dijabat Marsekal Pertama TNI Achmad Rukmana menggantikan Marsekal Pertama TNI Suparjo Pontjowinoto dari tahun 1984 sampai tahun 1986. Beliau berasal dari Korps Teknik. Perubahan organisasi dari Jawatan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Janlanau) menjadi Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara sesungguhnya merupakan suatu kemunduran bagi Korps Teknik Umum. Dari sebuah organisasi mandiri yang diawaki personel Teknik Umum sebagai salah satu Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) di Mabesau, dilebur menjadi organisasi baru yang terdiri dari multi korps. Dari sebuah Jawatan yang membawahi unsur staf<noinclude>{{rh|||BENTENG DIRGANTARA ANGKATAN UDARA||35}}</noinclude> dqwc8u0v2d0xddvocjqmfrtjb1aue3e 298084 298083 2026-06-15T14:27:30Z Suga Widi 25678 /* Telah diuji baca */ 298084 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Di saat organisasi TNI Angkatan Udara dipimpin oleh Marsekal TNI Siboen Dipoatmojo, terjadi lagi perubahan organisasi di tubuh TNI Angkatan Udara. Berdasarkan Keputusan Panglima ABRI Nomor Kep/10/X/1992 tanggal 5 Oktober 1992 tentang pokok-pokok organisasi dan prosedur TNI Angkatan Udara, sesuai Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur tahun 1992, organisasi TNI Angkatan Udara disusun dalan dua tingkat, yaitu tingkat Mabes TNI Angkatan Udara dan tingkat Kotama. Untuk tingkat Mabes TNI Angkatan Udara terdiri dari empat eselon yaitu eselon Pimpinan yaitu Kasau, Eselon staf/pembantu pimpinan, Eselon pelayanan dan Eselon pembantu pimpinan dan pelaksana pusat yaitu Deputi-deputi Kasau yang terdiri dari Deputi Kasau bidang Operasi (Deops Kasau), Deputi Kasau bidang Personil (Depers Kasau), dan Deputi Kasau bidang Logistik (Delog Kasau). Dengan demikian maka kedudukan organisasi Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara berada di bawah jajaran Deputi Kasau Bidang Logistik (Delog). Pada saat proses penyempurnaan organisasi TNI Angkatan Udara terus berlangsung, terjadi pergantian pimpinan TNI Angkatan Udara dari Marsekal TNI Siboen Dipoatmojo kepada Marsekal Madya TNI Rilo Pambudi sebagai.Kasau ke-11 yang dilaksanakan pada tanggal 23 Maret 1993. '''Organisasi Ditfasbekau''' Berdasarkan Keputusan Menhankam/Pangab No. Kep/10/P/III/1984 tanggal 31 Maret 1984, pada tingkat eselon pelaksana terjadi perubahan susunan organisasi dari Kepala Jawatan Pangkalan TNI Angkatan Udara menjadi Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI AU (Ditfasbekau). Perubahan organisasi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan Keputusan Kasau Nomor: KEP/21/III/1985 tentang Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara (Ditfasbekau). Direktur Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara (Dirfasbekau) yang pertama dijabat Marsekal Pertama TNI Achmad Rukmana menggantikan Marsekal Pertama TNI Suparjo Pontjowinoto dari tahun 1984 sampai tahun 1986. Beliau berasal dari Korps Teknik. Perubahan organisasi dari Jawatan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Janlanau) menjadi Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara sesungguhnya merupakan suatu kemunduran bagi Korps Teknik Umum. Dari sebuah organisasi mandiri yang diawaki personel Teknik Umum sebagai salah satu Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) di Mabesau, dilebur menjadi organisasi baru yang terdiri dari multi korps. Dari sebuah Jawatan yang membawahi unsur staf<noinclude>{{rh|||BENTENG DIRGANTARA ANGKATAN UDARA||35}}</noinclude> n8b3yzirrodsjwg9ynmhf3eswdgztcz 298090 298084 2026-06-15T14:40:28Z Suga Widi 25678 298090 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Di saat organisasi TNI Angkatan Udara dipimpin oleh Marsekal TNI Siboen Dipoatmojo, terjadi lagi perubahan organisasi di tubuh TNI Angkatan Udara. Berdasarkan Keputusan Panglima ABRI Nomor Kep/10/X/1992 tanggal 5 Oktober 1992 tentang pokok-pokok organisasi dan prosedur TNI Angkatan Udara, sesuai Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur tahun 1992, organisasi TNI Angkatan Udara disusun dalan dua tingkat, yaitu tingkat Mabes TNI Angkatan Udara dan tingkat Kotama. Untuk tingkat Mabes TNI Angkatan Udara terdiri dari empat eselon yaitu eselon Pimpinan yaitu Kasau, Eselon staf/pembantu pimpinan, Eselon pelayanan dan Eselon pembantu pimpinan dan pelaksana pusat yaitu Deputi-deputi Kasau yang terdiri dari Deputi Kasau bidang Operasi (Deops Kasau), Deputi Kasau bidang Personil (Depers Kasau), dan Deputi Kasau bidang Logistik (Delog Kasau). Dengan demikian maka kedudukan organisasi Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara berada di bawah jajaran Deputi Kasau Bidang Logistik (Delog). Pada saat proses penyempurnaan organisasi TNI Angkatan Udara terus berlangsung, terjadi pergantian pimpinan TNI Angkatan Udara dari Marsekal TNI Siboen Dipoatmojo kepada Marsekal Madya TNI Rilo Pambudi sebagai.Kasau ke-11 yang dilaksanakan pada tanggal 23 Maret 1993. '''Organisasi Ditfasbekau''' Berdasarkan Keputusan Menhankam/Pangab No. Kep/10/P/III/1984 tanggal 31 Maret 1984, pada tingkat eselon pelaksana terjadi perubahan susunan organisasi dari Kepala Jawatan Pangkalan TNI Angkatan Udara menjadi Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI AU (Ditfasbekau). Perubahan organisasi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan Keputusan Kasau Nomor: KEP/21/III/1985 tentang Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara (Ditfasbekau). Direktur Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara (Dirfasbekau) yang pertama dijabat Marsekal Pertama TNI Achmad Rukmana menggantikan Marsekal Pertama TNI Suparjo Pontjowinoto dari tahun 1984 sampai tahun 1986. Beliau berasal dari Korps Teknik. Perubahan organisasi dari Jawatan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Janlanau) menjadi Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara sesungguhnya merupakan suatu kemunduran bagi Korps Teknik Umum. Dari sebuah organisasi mandiri yang diawaki personel Teknik Umum sebagai salah satu Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) di Mabesau, dilebur menjadi organisasi baru yang terdiri dari multi korps. Dari sebuah Jawatan yang membawahi unsur staf<noinclude>{{rh|||'''BENTENG DIRGANTARA ANGKATAN UDARA 35'''}}</noinclude> r9vb9oz96fgb70s4sq3887jcpykzmep Halaman:Benteng Dirgantara Angkatan Udara.pdf/44 104 105702 298085 2026-06-15T14:31:54Z Suga Widi 25678 /* Telah diuji baca */ 298085 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>empat Bagian ditambah Satuan Pemeliharaan Pangkalan (Satharlan), dipadatkan menjadi hanya dua subdit dalam organisasi Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara, yaitu Subdit Pengembangan Pangkalan (Banglan) dan Subdit Pembinaan Penyiapan Pangkalan (Binsiaplan). Dalam struktur organisasi Ditfasbekau, kedudukan Subdit Banglan sebagai staf pelaksana Ditfasbekau dalam melaksanakan perencanaan, penyiapan dan pembinaan pengembangan pangkalan, membawahi tiga Seksi, yaitu Seksi Konstruksi, Seksi Instal dan Seksi Dalprogar. Sedangkan kedudukan Subdit Binsiaplan sebagai staf pelaksana Ditfasbekau dalam menyelenggarakan pembinaan kesiapan fasilitas pangkalan dan fasilitas penerbangan yang meliputi kegiatan pembangunan, penyiapan sarana prasarana pembangunan, penyiapan kebijakan teknis serta pembinaan profesi, membawahi empat Seksi, yaitu Seksi Siaplan, Seksi PrasTanah, Seksi Rekayasa dan Satharlan. Dengan posisi organisasi Satharlan hanya setingkat Seksi di bawah Subdit Binsiaplan, maka keberadaan Satharlan sebagai Satuan Pelaksana Lapangan menjadi kurang diperhitungkan. '''Tugas dan Fungsi Ditfasbekau''' Berdasarkan Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur (POP) Ditfasbekau tahun 1985, pada pasal 2, tugas Ditfasbekau adalah menyelenggarakan fungsi penyiapan fasilitas-fasilitas pangkalan, penerbangan, sarana bantuan Baminmas, Materiil dan dukungan bekal umum. Sesuai pasal 3, dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut di atas, Ditfasbekau menyelenggarakan fungsi-fungsi merumuskan, menyusun dan menyiapkan kebijaksanaan teknis di bidang pembinaan dan penyiapan fasilitas-fasilitas pangkalan, penerbangan, sarana bantuan serta penyelenggaraan dukungan bekal umum termasuk BMP; Menyusun perkiraan logistik di bidang kemampuan dukungan fasilitas dan bekal umum termasuk BMP dalam rangka penyusunan rencana strategis TNI Angkatan Udara; Menyusun rencana dan program pembinaan dan penyiapan fasilitas dan bekal umum termasuk BMP berdasarkan rencana dan program TNI Angkatan Udara; Menyusun dan menyiapkan petunjuk-petunjuk di bidang pembinaan serta dukungan fasilitas dan pembekalan TNI Angkatan Udara; Melaksanakan rencana dan program pembinaan serta dukungan fasilitas dan pembekalan TNI Angkatan Udara; Melaksanakan koordinasi dan kerjasama dengan Komando, Badan, dan Instansi lainnya, baik di dalam maupun di luar TNI Angkatan Udara untuk kepentingan tugasnya; Mengawasi, mengendalikan dan mengevaluasi<noinclude>{{rh|36 DINAS FASILITAS DAN KONSTRUKSI TNI AU}}</noinclude> 5767ir59fkk74ytaaaudkd3bhs7ep5u 298089 298085 2026-06-15T14:39:19Z Suga Widi 25678 298089 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>empat Bagian ditambah Satuan Pemeliharaan Pangkalan (Satharlan), dipadatkan menjadi hanya dua subdit dalam organisasi Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara, yaitu Subdit Pengembangan Pangkalan (Banglan) dan Subdit Pembinaan Penyiapan Pangkalan (Binsiaplan). Dalam struktur organisasi Ditfasbekau, kedudukan Subdit Banglan sebagai staf pelaksana Ditfasbekau dalam melaksanakan perencanaan, penyiapan dan pembinaan pengembangan pangkalan, membawahi tiga Seksi, yaitu Seksi Konstruksi, Seksi Instal dan Seksi Dalprogar. Sedangkan kedudukan Subdit Binsiaplan sebagai staf pelaksana Ditfasbekau dalam menyelenggarakan pembinaan kesiapan fasilitas pangkalan dan fasilitas penerbangan yang meliputi kegiatan pembangunan, penyiapan sarana prasarana pembangunan, penyiapan kebijakan teknis serta pembinaan profesi, membawahi empat Seksi, yaitu Seksi Siaplan, Seksi PrasTanah, Seksi Rekayasa dan Satharlan. Dengan posisi organisasi Satharlan hanya setingkat Seksi di bawah Subdit Binsiaplan, maka keberadaan Satharlan sebagai Satuan Pelaksana Lapangan menjadi kurang diperhitungkan. '''Tugas dan Fungsi Ditfasbekau''' Berdasarkan Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur (POP) Ditfasbekau tahun 1985, pada pasal 2, tugas Ditfasbekau adalah menyelenggarakan fungsi penyiapan fasilitas-fasilitas pangkalan, penerbangan, sarana bantuan Baminmas, Materiil dan dukungan bekal umum. Sesuai pasal 3, dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut di atas, Ditfasbekau menyelenggarakan fungsi-fungsi merumuskan, menyusun dan menyiapkan kebijaksanaan teknis di bidang pembinaan dan penyiapan fasilitas-fasilitas pangkalan, penerbangan, sarana bantuan serta penyelenggaraan dukungan bekal umum termasuk BMP; Menyusun perkiraan logistik di bidang kemampuan dukungan fasilitas dan bekal umum termasuk BMP dalam rangka penyusunan rencana strategis TNI Angkatan Udara; Menyusun rencana dan program pembinaan dan penyiapan fasilitas dan bekal umum termasuk BMP berdasarkan rencana dan program TNI Angkatan Udara; Menyusun dan menyiapkan petunjuk-petunjuk di bidang pembinaan serta dukungan fasilitas dan pembekalan TNI Angkatan Udara; Melaksanakan rencana dan program pembinaan serta dukungan fasilitas dan pembekalan TNI Angkatan Udara; Melaksanakan koordinasi dan kerjasama dengan Komando, Badan, dan Instansi lainnya, baik di dalam maupun di luar TNI Angkatan Udara untuk kepentingan tugasnya; Mengawasi, mengendalikan dan mengevaluasi<noinclude>{{rh|'''36 DINAS FASILITAS DAN KONSTRUKSI TNI AU'''}}</noinclude> nom50jd92ul9dgqs9a1qq8qwjcgafmi Halaman:Benteng Dirgantara Angkatan Udara.pdf/47 104 105703 298086 2026-06-15T14:35:57Z Suga Widi 25678 /* Telah diuji baca */ 298086 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Beberapa proyek pengembangan fasilitas TNI Angkatan Udara bernilai strategis di era Ditfasbekau, diantaranya pembangunan Satrad Dumai di Riau (1986), pembangunan Satrad Sabang (1989), pembangunan Lanud Ngurah Rai (1990), pembangunan Satrad Cibalimbing (1992), pembangunan Lanud Blang Bintang di Banda Aceh (1992), pembangunan Radar Sam Ratulangi (1993), pembangunan Apron dan Shelter Hawk Skadron 15 di Lanud Iswahjudi (1994, dan pembangunan apron Skadron 15 di Lanud Iswahjudi (1996) '''Perubahan Menjadi Disfaskonau (1997-Sekarang)''' Pada tanggal 15 Maret 1996 berlangsung pergantian pucuk pimpinan TNI Angkatan Udara dari Marsekal TNI Rilo Pambudi kepada Marsekal Madya TNI Sutria Tubagus sebagai Kasau ke-12. Di era Kasau Marsekal TNI Sutria Tubagus diupayakan kembali penyempurnaan organisasi, di mana sebelum tahun 1997 organisasi TNI Angkatan Udara memakai sistem Deputi, maka sejak tahun 1997 berubah menjadi sistem Asisten, disamping itu sejak periode ini Kasau didampingi oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau). Sedangkan pada eselon Pelaksana pusat perubahan terjadi tidak saja berganti nama dari Direktorat menjadi Dinas, tetapi juga pergantian nama untuk beberapa Satker, pembentukan Satker baru dan penghapusan Satker, termasuk organisasi Dinas Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara berganti menjadi Dinas Fasilitas dan Konstruksi TNI Angkatan Udara. '''Organisasi Disfaskonau''' Berdasarkan Surat Keputusan Panglima ABRI No. Kep/09/VII/1997 tanggal 7 Juli 1997 tentang perubahan Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI AU (Ditfasbekau) menjadi Dinas Fasilitas dan Konstruksi TNI AU (Disfaskonau). Perubahan ini mengarah kepada hal yang positif, di mana pada periode ini Teknik Umum kembali berada dalam satu wadah organisasi mandiri setelah mengalami pasang surut sejak pembentukan Djawatan Teknik Umum pada tahun 1950. Bila di era organisasi Ditfasbekau, bidang Teknik Umum hanya membawahi dua Subdis, yaitu Subdis Banglan dan Subdis Binsiaplan, maka dalam organisasi Disfaskonau sebagaimana tercantum dalam Keputusan Kasau Nomor: Kep/13/XI/2002 tentang Susunan Jabatan di Lingkungan TNI Angkatan Udara tanggal 12 November 2002, pada point DD. Disfaskonau telah dilakukan pengembangan tugas dan fungsi Teknik Umum, terdiri dari empat subdis, yaitu Subdinas Perancangan Konstruksi (Subdisrankon), Subdinas<noinclude>{{rh|||BENTENG DIRGANTARA ANGKATAN UDARA 39}}</noinclude> lbbxwmcgzwh1a0y6amzd7b53xdgfl8m 298087 298086 2026-06-15T14:36:48Z Suga Widi 25678 298087 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Beberapa proyek pengembangan fasilitas TNI Angkatan Udara bernilai strategis di era Ditfasbekau, diantaranya pembangunan Satrad Dumai di Riau (1986), pembangunan Satrad Sabang (1989), pembangunan Lanud Ngurah Rai (1990), pembangunan Satrad Cibalimbing (1992), pembangunan Lanud Blang Bintang di Banda Aceh (1992), pembangunan Radar Sam Ratulangi (1993), pembangunan Apron dan Shelter Hawk Skadron 15 di Lanud Iswahjudi (1994, dan pembangunan apron Skadron 15 di Lanud Iswahjudi (1996) '''Perubahan Menjadi Disfaskonau (1997-Sekarang)''' Pada tanggal 15 Maret 1996 berlangsung pergantian pucuk pimpinan TNI Angkatan Udara dari Marsekal TNI Rilo Pambudi kepada Marsekal Madya TNI Sutria Tubagus sebagai Kasau ke-12. Di era Kasau Marsekal TNI Sutria Tubagus diupayakan kembali penyempurnaan organisasi, di mana sebelum tahun 1997 organisasi TNI Angkatan Udara memakai sistem Deputi, maka sejak tahun 1997 berubah menjadi sistem Asisten, disamping itu sejak periode ini Kasau didampingi oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau). Sedangkan pada eselon Pelaksana pusat perubahan terjadi tidak saja berganti nama dari Direktorat menjadi Dinas, tetapi juga pergantian nama untuk beberapa Satker, pembentukan Satker baru dan penghapusan Satker, termasuk organisasi Dinas Fasilitas dan Bekal TNI Angkatan Udara berganti menjadi Dinas Fasilitas dan Konstruksi TNI Angkatan Udara. '''Organisasi Disfaskonau''' Berdasarkan Surat Keputusan Panglima ABRI No. Kep/09/VII/1997 tanggal 7 Juli 1997 tentang perubahan Direktorat Fasilitas dan Bekal TNI AU (Ditfasbekau) menjadi Dinas Fasilitas dan Konstruksi TNI AU (Disfaskonau). Perubahan ini mengarah kepada hal yang positif, di mana pada periode ini Teknik Umum kembali berada dalam satu wadah organisasi mandiri setelah mengalami pasang surut sejak pembentukan Djawatan Teknik Umum pada tahun 1950. Bila di era organisasi Ditfasbekau, bidang Teknik Umum hanya membawahi dua Subdis, yaitu Subdis Banglan dan Subdis Binsiaplan, maka dalam organisasi Disfaskonau sebagaimana tercantum dalam Keputusan Kasau Nomor: Kep/13/XI/2002 tentang Susunan Jabatan di Lingkungan TNI Angkatan Udara tanggal 12 November 2002, pada point DD. Disfaskonau telah dilakukan pengembangan tugas dan fungsi Teknik Umum, terdiri dari empat subdis, yaitu Subdinas Perancangan Konstruksi (Subdisrankon), Subdinas<noinclude>{{rh|||'''BENTENG DIRGANTARA ANGKATAN UDARA 39'''}}</noinclude> ji1bkcgj7cnx4tlhxpcww54rsevuxzv Halaman:Buku Panduan Wikisource Bahasa Indonesia (2026).pdf/2 104 105704 298092 2026-06-15T15:13:49Z Cgjkldn 22445 /* Tanpa teks */ 298092 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Cgjkldn" /></noinclude><noinclude></noinclude> 9ew03a0jbf26tqnaiakc0hdchuosjw9 Halaman:Buku Panduan Wikisource Bahasa Indonesia (2026).pdf/4 104 105705 298093 2026-06-15T15:14:06Z Cgjkldn 22445 /* Tanpa teks */ 298093 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Cgjkldn" /></noinclude><noinclude></noinclude> 9ew03a0jbf26tqnaiakc0hdchuosjw9 Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/14 104 105706 298094 2026-06-15T15:14:23Z Rachmat04 3937 /* Proofread */ 298094 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Rachmat04" /></noinclude>{{hwe|matjam|sematjam}} alat-tulis, guna menotok si nona. Begitulah dengan sebat ia putar tubuhnja untuk dapat menempatkan diri dibelakang musuh. Untuk itu lebih dulu ia sampok pedang Pek hong-kiam hingga pedang itu mental. Akan tetapi Goat Hoa tjerdik dan lintjah sekali. Dia berkelit njamping, terus merangsak pula, begitu tjepat hingga dia berada dekat tubuh musuh. Karena pedangnja telah terpental, tak keburu dia menggunakan lagi sendjatanja itu, maka sebagai gantinja, tangan kirinja jang menindju dada lawan. Sekarang Pok In Hoeilah jang tidak keburu memernahkan diri. Tidak ampun lagi ia kena ditindju. Ia sebenarnja kena dihadjar dengan tenaga lima bagian, tetapi ia terhadjar terpelanting keempang ber-sama² sendjatanja! Kaget pihak sana, gempar suara mereka. Saat itu, Houyan Pa tidak dapat berlaku ragu lagi, maka sambil berseru „Awas!” ia menjerang dengan sendjata-rahasianja jang telah disiapkannja sedjak tadi. Goat Hoa terperandjat, apapula ia dengar suara angin jang berbeda daripada biasanja. Tanpa bersangsi sedikit djuga, ia lompat meleset kekiri dengan gerakan „Burung walet menembusi kere”, hingga ia pisahkan diri sedjumlah kira² dua tombak. Tapi tjetjer Houyan Pa telah menjerang dengan saling-susul, bergerak bagaikan dua ekor kupu², menjambernja sangat pesat. Nona Sim tidak berani menangkis atau menjambuti. Untuk melindungi dirinja, ia mengkeratkan tubuh hingga mendjadi tjiut, lalu ia main berlompatan diantara samberan sendjata-rahasia musuh itu. Mau atau tidak, Houyan Pa mendjadi kagum dan mesti memudji kelintjahan lawan, akan tetapi walaupun demikian, ia tidak berhenti dengan penjerangannja. Setelah tjetjer jang ketiga, lalu datang jang keempat, jang menjapu kebawah, ketika baharu sadja si nona menaruh kakinja ditanah, dia sudah disamber lagi. Kali ini Goat Hoa dapat ketika melihat bentuk sendjata rahasia musuh itu. Ia singkirkan kakinja dan dengan tangan kirinja, ia menekan dengan kaget kepada tubuh tjetjer. Ia berhasil membuat sendjata-rahasia itu djatuh ketanah, nantjap seperti membuat liang. Melihat itu, Ia mendjadi gentar hatinja. Begitu liehay sendjata itu. Masih Houyan Pa tidak mau berhenti, bahkan kali ini dua tangannja terajun dengan berbareng, sedang sendjata jang {{hws|ditimpuk|ditimpukkan}}<noinclude>{{rh|||197}}</noinclude> 22c9j8srvryl6s931u1rtjywpqhkjex Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/15 104 105707 298095 2026-06-15T15:18:12Z Rachmat04 3937 /* Proofread */ 298095 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Rachmat04" /></noinclude>{{hwe|kan|ditimpukkan}} tiga buah banjaknja, jang dua saling-susul, arahnja adalah kiri, kanan dan tengah. Goat Hoa tahu musuhnja liehay, ia berlaku waspada dan awas. Kembali ia mengundjukkan kelintjahan tubuhnja, menjingkir dengan gesit dari ketiga sendjata itu. Hebat adalah tjetjer jang pertama, jang mendjurus ditengah. Mulanja nampak kurang pesat menjambernja, tetapi disaat terachir, hebatnja luar biasa. Jang mendjadi sasaran adalah kepala. Dengan tjetjer jang ditengah ini, Houyan Pa hendak mengatjau pikiran lawan, supaja lawan memperhatikan itu, padahal dua tjetjer jang lainnja jang menjerang dengan sungguh. Tidak ketjewa ia telah melatih diri beberapa puluh tahun dengan sendjata rahasianja itu hingga ia sudah mendjadi satu djago. Selagi Goat Hoa mesti perhatikan musuh jang liehay itu, Siauw Seng Tay dari Empat Djago Tjietjioe pun tidak tinggal diam sadja. Ia hendak membalas dendam untuk kawan²nja jang terluka. Begitulah ia menjerang dengan sebutir sendjata rahasianja, piauw jang merupakan bidji jang tadjam, Ia menjerang punggung sinona. Ilmu-dalam Sim Goat Hoa telah mentjapai puntjak kemahiran, matanja awas luar biasa, pendengarannja tadjam istimewa, maka djuga dalam saat jang berbahaja itu, ia masih dengar suara menjambernja lain sendjata rahasia. Tanpa menoleh, ia ajun pedangnja kebelakang, untuk menangkis, karena tetap ia memasang mata terhadap gerak-gerik Houyan Pa dengan tiga buah tjetjernja itu. Houyan Pa sudah lantas mengulangi serangannja, dengan tiga buah sendjatanja. Ia menjerang djusteru waktu musuhnja menangkis kebelakang. Goat Hoa dibikin sulit karenanja. Ia mendjedjak tanah, berlompat tinggi, tetapi masih sulit untuk menjelamatkan diri. Dalam kesusunja, ia ajun pedangnja, niatnja untuk menangkis. Ia telah seperti dikurung sendjata musuh. Ia sampai lupa bahwa tjetjer itu tidak dapat ditangkis, atau lima djari tangannja bakal habis kutung kena terserempet. Se-konjong² terdengar seruan dari tempat tiga empat tombak djauhnja, seruan jang ia kenal baik. „Djangan ! Djangan menggunakan pedang !” demikian seruan itu. Menjusul itu, sinona lantas merasakan tolakan angin jang keras, jang membuatnja terhujung kesamping, hingga tjetjer mendjurus kelain arah. {{Nop}}<noinclude>{{rh|198}}</noinclude> qjx9aqr1pjuaqk3uy2plnn7ljmyvdim Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/16 104 105708 298096 2026-06-15T15:23:05Z Rachmat04 3937 /* Proofread */ 298096 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Rachmat04" /></noinclude>Untuk mentjegah tubuhnja roboh terguling, Goat Hoa kerahkan tenaga latihan „Roboh seribu kati”, dengan begitu, meskipun ia terhujung, ia dapat mempertahankan diri. Disampingnja, tjetjer djatuh kegombolan rumput. Didalam hatinja, Nona Sim memudji untuk keselamatan dirinja. Tapi ia malu bahwa seseorang telah menolonginja. Mukanja mendjadi merah sendirinja. Untuk sedjenak itu ia diam dengan kepala ditundukkan. Siang Koay dan Soe Kiat mendjadi heran sekali. Adalah diluar sangkaan mereka bahwa pertolongan besar demikian datang kepada musuh mereka. Lebih² mereka tidak njana, sipenolong adalah Pek Ma Sie-seng Lioe Hong Hoa si Mahasiswa Berkuda Putih, tubuh siapa segera terlihat berdiri didekat sinona. Houyan Pa semua memperdengarkan suara heran mereka, dan mereka berdiri mengawasi penolong Nona Sim itu. Lioe Hong Hoa bisa mengerti sikap pihak mereka itu. Ia lantas mengangkat tangannja seraja terus berkata : „Saudara², harap kamu suka menahan tanganmu ! Disini telah terdjadi satu salah faham jang besar ! Didalam hal kamu ini, mesti ada orang jang mengadu kamu satu dengan lain ! Pasti sekali tidak ada maksud Nona Sim untuk mensaterukan kamu ! ......” Goat Hoa memperdengarkan suara bagaikan menggerutu. Ia seperti heran atau menjesalkan Hong Hoa, jang ia sapu dengan sinar matanja. Hong Hoa melihat nona itu memandang kepadanja, ia mengangguk. Tanpa ragu ia kata dengan pelahan : „Djangan kuatir, soe-tjie, tidak apa² .........” Sampai disitu, kedua pihak sudah lantas menjimpan sendjatanja masing². Lioe Hong Hoa telah pernahkan diri di-tengah². Ia mengadjar kenal kedua pihak, setelah mana Pok In Hoei lantas diantar Ma Tjoen untuk pulang terlebih dulu buat berobat dan beristirahat. Tadinja Ma Tjoen berniat mengundang Goat Hoa sekalian turut ke Sia Yang Ouw, pertama untuk melajani dia sebagai tetamu, untuk mendjamu padanja dan menjiapkan kamar tidur, kedua untuk menanja djelas duduk perkaranja. Akan tetapi sinona terus berdiri disamping Hong Hoa. Ia tidak berkata suatu apa, agaknja ia tak sudi menerima undangan itu. Hong Hoa pun rupanja bersikap luar<noinclude>{{rh|||199}}</noinclude> kdt30jrcjtqfnhzu9gkvbvnjj3lwuj2 Kategori:Running headers with only one content entry 14 105709 298097 2026-06-15T15:23:48Z Rachmat04 3937 ←Membuat halaman berisi '{{Kategori pemeliharaan}}' 298097 wikitext text/x-wiki {{Kategori pemeliharaan}} 7w52jlova99er0vvfzuvx7ud623zb25 Halaman:Benteng Dirgantara Angkatan Udara.pdf/49 104 105710 298102 2026-06-16T00:45:28Z Suga Widi 25678 /* Telah diuji baca */ 298102 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>TNI Angkatan Udara betapa pentingnya keberadaan Satharlan di saat kondisi ''emergency'' bencana alam maupun perang. Upaya yang beliau lakukan tidak berhenti pada wacana mempertahankan eksistensi Satharlan saja, namun juga berupaya membangun kembali kemampuan operasional Satharlan melalui pengadaan alat-alat berat agar Satharlan mampu melaksanakan tugas dan fungsinya, khususnya kemampuan dalam menangani perbaikan jalan pada saat kondisi darurat akibat perang maupun bencana alam. Usaha beliau membuahkan hasil, Satharlan tidak saja berhasil dipertahankan, namun juga ditingkatkan kemampuan operasional dan kemampuan teknis personelnya. '''Perwira-perwira Terbaik Teknik Umum''' Sejak pembentukan organisasi Disfaskonau pada tahun 1997, sudah enam (6) perwira terbaik Teknik Umum yang memperoleh amanah sebagai Kepala Dinas Fasilitas dan Konstruksi Angkatan Udara, yaitu pertama, Marsekal Pertama TNI (Purn) Ir. Rudy M. Nur, MM adalah penerima tanda kehormatan Bintang Swa Bhuana Paksa Nararya. Beliau menjabat sebagai Kadisfaskonau ke-6 pada tahun 2004-2008 menggantikan Marsda TNI (Purn) Imam Wahyudi,MM. Latar belakang pendidikan beliau adalah alumni S1 Teknik Elektro ITB Bandung dan Magister Manajemen. ''Kedua'', Marsekal Pertama TNI (Purn) Ir. Noer Arifin adalah penerima tanda kehormatan Bintang Swa Bhuana Paksa Nararya. Beliau menjabat sebagai Kadisfaskonau ke-8 pada tahun 2010-2012 menggantikan Marsda TNI (Purn) Mulyono. Latar belakang pendidikan beliau adalah alumni S1 Teknik Arsitektur ITS Surabaya ''Ketiga'', Marsekal Pertama TNI (Purn) Ir. Muchtar Lutfi, MM adalah penerima tanda kehormatan Bintang Swa Bhuana Paksa Nararya. Beliau menjabat sebagai Kadisfaskonau ke-9 pada tahun 2012-2014 menggantikan Marsma TNI (Purn) Ir. Noer Arifin. Latar belakang pendidikan beliau adalah alumni S1 Teknik Arsitektur Universitas Hasanuddin dan Magister Manajemen. ''Keempat'', Marsekal Pertama TNI (Purn) Ir. Budi Raja Purba. M.Sc. adalah lulusan Sepawamil ABRI Angkatan 1984 penerima tanda kehormatan Bintang Swa Bhuana Paksa Nararya. Beliau menjabat sebagai Kadisfaskonau ke-11 terhitung mulai tanggal 22 Oktober 2015 sampai dengan tanggal 16 Agustus 2016 menggantikan Marsma TNI Ir. Novyan Samyoga. Latar belakang pendidikan<noinclude>{{rh|||'''BENTENG DIRGANTARA ANGKATAN UDARA 41'''}}</noinclude> dvjp4fij22s8x85rothihu62smwejwc Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/62 104 105711 298103 2026-06-16T03:19:08Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298103 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|42|TJERITERA NASIB||}}</small></noinclude>kata baba toekang djoli-djoli itoe. Beberapa djoega kami memboedjoek baba itoe dengan kata-kata jang berisi kesedihan, soepaja ia soeka membawa kami, tiada berhasil. Kalau ia membawa orang sakit, ia akan dapat tjelaka, katanja. Dengan sedih hati kami bawalah si sakit itoe kembali dengan soesah pajah keroemah engkoe Kamin. "Apakah nénékkoe ini telah kepindahan nasibkoe jang malang?" tanjakoe kepada dirikoe sendiri. Bermatjam-matjamlah pikirankoe ketika itoe, sebab baroe lima belas tahoen 'oemoerkoe, telah banjak pengalamankoe jang menjedihkan. {{central|* * *}} Sepekan dibelakang datanglah kapal ketjil dari Bengkoelen singgah ke Moearasakai mengambil barang-barang jang akan dibawanja ke Padang. Koetoempangilah djoli-djoli jang pergi ke Moearasakai itoe, hendak menanjakan, apabila kapal itoe akan berangkat ke Padang. Kabar jang koedengar dari nachodanja tidaklah mengoerangkan kesedihan hatikoe, sebab kapal itoe roesak dan tak dapat meneroeskan pelajarannja ke Padang. Doea hari kemoedian datang béndi pos, tetapi béndi itoe tak soeka poela membawa nénékkoe jang sakit itoe. Penjakit beliau makin lama makin berat; kami memintak dengan do'a kepada Toehan, soepaja beliau djangan meninggal di Inderapoera. Selama beliau sakit itoe air mata kami tak berhenti-hentinja keloear, apalagi memikirkan ta' seorang djoega jang soeka membawa beliau ke Padang atau ke Batangkapas, sedangkan kapal jang diharap akan dapat membawa beliau roesak poela. Dipoelangkan semoeandja kepada jang Esa, tetapi dimintak dengan do'a jang tiada berkepoetoesan, soepaja beliau bertoelang dekat anak beliau di Pariaman. Beberapa hari kemoedian datang poela seboeah kapal ketjil dari Mokko-mokko singgah ke Moearasakai. Setelah koedengar kabar itoe pergilah akoe berdjalan kaki mendjelang nachodanja, laloe koetjeritakan nasib kami semoeandja. Pada moekandja tampaklah kepadakoe, bahwa nachoda itoe merasa sedih mendengar tjeriterakoe itoe, laloe ia berkata: "Bawalah nénékkoe jang sakit itoe bésok pagi kemari, kita akan lekas berangkat". Bagaimana perasaan koe mendengar perkataan nachoda jang baik hati itoe, sekira-kira dapatlah pembatja rasaï. Nék Adangkoe menangis mendengar kebaikan nachoda itoe, laloe mengoetjap sjoekoer kepada Allah. Keésokan harinja berangkatlah kami meninggalkan negeri Inderapoera. Tak goena koetjeritakan lagi, bagaimana kesoesahan kami membawa si sakit itoe dari roemah engkoe Kamin ke Moearasakai. Poekoel sebelas tengah hari berlajarlah kapal kami meninggalkan Moearasakai. Diatas kapal nénékkoe jang sakit itoe memboekakan matandja, laloe bertanja: "Dimana kita sekarang?" "Diatas kapal", kata kami; "kita sekarang hendak ke Padang dan dari sana ke Pariaman". Dari Moearasakai sampai ke Pasarganting si sakit dapat sedikit-sedikit berkata-kata dan telah pandai mintak makan, tetapi tak dapat djoega menggerakkan badannja.<noinclude></noinclude> afh55dr1u4ek0imb99crdvxc4mc7sx2 298104 298103 2026-06-16T03:20:55Z Link PB 26772 298104 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|42|TJERITERA NASIB||}}</small></noinclude>kata baba toekang djoli-djoli itoe. Beberapa djoega kami memboedjoek baba itoe dengan kata-kata jang berisi kesedihan, soepaja ia soeka membawa kami, tiada berhasil. Kalau ia membawa orang sakit, ia akan dapat tjelaka, katanja. Dengan sedih hati kami bawalah si sakit itoe kembali dengan soesah pajah keroemah engkoe Kamin. "Apakah nénékkoe ini telah kepindahan nasibkoe jang malang?" tanjakoe kepada dirikoe sendiri. Bermatjam-matjamlah pikirankoe ketika itoe, sebab baroe lima belas tahoen 'oemoerkoe, telah banjak pengalamankoe jang menjedihkan. <p style="text-decoration: overline dotted; text-underline-offset: 5px;"></p> Sepekan dibelakang datanglah kapal ketjil dari Bengkoelen singgah ke Moearasakai mengambil barang-barang jang akan dibawanja ke Padang. Koetoempangilah djoli-djoli jang pergi ke Moearasakai itoe, hendak menanjakan, apabila kapal itoe akan berangkat ke Padang. Kabar jang koedengar dari nachodanja tidaklah mengoerangkan kesedihan hatikoe, sebab kapal itoe roesak dan tak dapat meneroeskan pelajarannja ke Padang. Doea hari kemoedian datang béndi pos, tetapi béndi itoe tak soeka poela membawa nénékkoe jang sakit itoe. Penjakit beliau makin lama makin berat; kami memintak dengan do'a kepada Toehan, soepaja beliau djangan meninggal di Inderapoera. Selama beliau sakit itoe air mata kami tak berhenti-hentinja keloear, apalagi memikirkan ta' seorang djoega jang soeka membawa beliau ke Padang atau ke Batangkapas, sedangkan kapal jang diharap akan dapat membawa beliau roesak poela. Dipoelangkan semoeandja kepada jang Esa, tetapi dimintak dengan do'a jang tiada berkepoetoesan, soepaja beliau bertoelang dekat anak beliau di Pariaman. Beberapa hari kemoedian datang poela seboeah kapal ketjil dari Mokko-mokko singgah ke Moearasakai. Setelah koedengar kabar itoe pergilah akoe berdjalan kaki mendjelang nachodanja, laloe koetjeritakan nasib kami semoeandja. Pada moekandja tampaklah kepadakoe, bahwa nachoda itoe merasa sedih mendengar tjeriterakoe itoe, laloe ia berkata: "Bawalah nénékkoe jang sakit itoe bésok pagi kemari, kita akan lekas berangkat". Bagaimana perasaan koe mendengar perkataan nachoda jang baik hati itoe, sekira-kira dapatlah pembatja rasaï. Nék Adangkoe menangis mendengar kebaikan nachoda itoe, laloe mengoetjap sjoekoer kepada Allah. Keésokan harinja berangkatlah kami meninggalkan negeri Inderapoera. Tak goena koetjeritakan lagi, bagaimana kesoesahan kami membawa si sakit itoe dari roemah engkoe Kamin ke Moearasakai. Poekoel sebelas tengah hari berlajarlah kapal kami meninggalkan Moearasakai. Diatas kapal nénékkoe jang sakit itoe memboekakan matandja, laloe bertanja: "Dimana kita sekarang?" "Diatas kapal", kata kami; "kita sekarang hendak ke Padang dan dari sana ke Pariaman". Dari Moearasakai sampai ke Pasarganting si sakit dapat sedikit-sedikit berkata-kata dan telah pandai mintak makan, tetapi tak dapat djoega menggerakkan badannja.<noinclude></noinclude> thup0okotyr79s9ustzhx8pqrn3jb4m 298105 298104 2026-06-16T03:22:14Z Link PB 26772 298105 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|42|TJERITERA NASIB||}}</small></noinclude>kata baba toekang djoli-djoli itoe. Beberapa djoega kami memboedjoek baba itoe dengan kata-kata jang berisi kesedihan, soepaja ia soeka membawa kami, tiada berhasil. Kalau ia membawa orang sakit, ia akan dapat tjelaka, katanja. Dengan sedih hati kami bawalah si sakit itoe kembali dengan soesah pajah keroemah engkoe Kamin. "Apakah nénékkoe ini telah kepindahan nasibkoe jang malang?" tanjakoe kepada dirikoe sendiri. Bermatjam-matjamlah pikirankoe ketika itoe, sebab baroe lima belas tahoen 'oemoerkoe, telah banjak pengalamankoe jang menjedihkan. <p style="text-decoration: overline dotted; text-underline-offset: 5px;"></p> <p class="titik-rapi"></p> Sepekan dibelakang datanglah kapal ketjil dari Bengkoelen singgah ke Moearasakai mengambil barang-barang jang akan dibawanja ke Padang. Koetoempangilah djoli-djoli jang pergi ke Moearasakai itoe, hendak menanjakan, apabila kapal itoe akan berangkat ke Padang. Kabar jang koedengar dari nachodanja tidaklah mengoerangkan kesedihan hatikoe, sebab kapal itoe roesak dan tak dapat meneroeskan pelajarannja ke Padang. Doea hari kemoedian datang béndi pos, tetapi béndi itoe tak soeka poela membawa nénékkoe jang sakit itoe. Penjakit beliau makin lama makin berat; kami memintak dengan do'a kepada Toehan, soepaja beliau djangan meninggal di Inderapoera. Selama beliau sakit itoe air mata kami tak berhenti-hentinja keloear, apalagi memikirkan ta' seorang djoega jang soeka membawa beliau ke Padang atau ke Batangkapas, sedangkan kapal jang diharap akan dapat membawa beliau roesak poela. Dipoelangkan semoeandja kepada jang Esa, tetapi dimintak dengan do'a jang tiada berkepoetoesan, soepaja beliau bertoelang dekat anak beliau di Pariaman. Beberapa hari kemoedian datang poela seboeah kapal ketjil dari Mokko-mokko singgah ke Moearasakai. Setelah koedengar kabar itoe pergilah akoe berdjalan kaki mendjelang nachodanja, laloe koetjeritakan nasib kami semoeandja. Pada moekandja tampaklah kepadakoe, bahwa nachoda itoe merasa sedih mendengar tjeriterakoe itoe, laloe ia berkata: "Bawalah nénékkoe jang sakit itoe bésok pagi kemari, kita akan lekas berangkat". Bagaimana perasaan koe mendengar perkataan nachoda jang baik hati itoe, sekira-kira dapatlah pembatja rasaï. Nék Adangkoe menangis mendengar kebaikan nachoda itoe, laloe mengoetjap sjoekoer kepada Allah. Keésokan harinja berangkatlah kami meninggalkan negeri Inderapoera. Tak goena koetjeritakan lagi, bagaimana kesoesahan kami membawa si sakit itoe dari roemah engkoe Kamin ke Moearasakai. Poekoel sebelas tengah hari berlajarlah kapal kami meninggalkan Moearasakai. Diatas kapal nénékkoe jang sakit itoe memboekakan matandja, laloe bertanja: "Dimana kita sekarang?" "Diatas kapal", kata kami; "kita sekarang hendak ke Padang dan dari sana ke Pariaman". Dari Moearasakai sampai ke Pasarganting si sakit dapat sedikit-sedikit berkata-kata dan telah pandai mintak makan, tetapi tak dapat djoega menggerakkan badannja.<noinclude></noinclude> 6asznj4ayiaauwc43bpd71najloh7d7 298106 298105 2026-06-16T03:22:43Z Link PB 26772 298106 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|42|TJERITERA NASIB||}}</small></noinclude>kata baba toekang djoli-djoli itoe. Beberapa djoega kami memboedjoek baba itoe dengan kata-kata jang berisi kesedihan, soepaja ia soeka membawa kami, tiada berhasil. Kalau ia membawa orang sakit, ia akan dapat tjelaka, katanja. Dengan sedih hati kami bawalah si sakit itoe kembali dengan soesah pajah keroemah engkoe Kamin. "Apakah nénékkoe ini telah kepindahan nasibkoe jang malang?" tanjakoe kepada dirikoe sendiri. Bermatjam-matjamlah pikirankoe ketika itoe, sebab baroe lima belas tahoen 'oemoerkoe, telah banjak pengalamankoe jang menjedihkan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sepekan dibelakang datanglah kapal ketjil dari Bengkoelen singgah ke Moearasakai mengambil barang-barang jang akan dibawanja ke Padang. Koetoempangilah djoli-djoli jang pergi ke Moearasakai itoe, hendak menanjakan, apabila kapal itoe akan berangkat ke Padang. Kabar jang koedengar dari nachodanja tidaklah mengoerangkan kesedihan hatikoe, sebab kapal itoe roesak dan tak dapat meneroeskan pelajarannja ke Padang. Doea hari kemoedian datang béndi pos, tetapi béndi itoe tak soeka poela membawa nénékkoe jang sakit itoe. Penjakit beliau makin lama makin berat; kami memintak dengan do'a kepada Toehan, soepaja beliau djangan meninggal di Inderapoera. Selama beliau sakit itoe air mata kami tak berhenti-hentinja keloear, apalagi memikirkan ta' seorang djoega jang soeka membawa beliau ke Padang atau ke Batangkapas, sedangkan kapal jang diharap akan dapat membawa beliau roesak poela. Dipoelangkan semoeandja kepada jang Esa, tetapi dimintak dengan do'a jang tiada berkepoetoesan, soepaja beliau bertoelang dekat anak beliau di Pariaman. Beberapa hari kemoedian datang poela seboeah kapal ketjil dari Mokko-mokko singgah ke Moearasakai. Setelah koedengar kabar itoe pergilah akoe berdjalan kaki mendjelang nachodanja, laloe koetjeritakan nasib kami semoeandja. Pada moekandja tampaklah kepadakoe, bahwa nachoda itoe merasa sedih mendengar tjeriterakoe itoe, laloe ia berkata: "Bawalah nénékkoe jang sakit itoe bésok pagi kemari, kita akan lekas berangkat". Bagaimana perasaan koe mendengar perkataan nachoda jang baik hati itoe, sekira-kira dapatlah pembatja rasaï. Nék Adangkoe menangis mendengar kebaikan nachoda itoe, laloe mengoetjap sjoekoer kepada Allah. Keésokan harinja berangkatlah kami meninggalkan negeri Inderapoera. Tak goena koetjeritakan lagi, bagaimana kesoesahan kami membawa si sakit itoe dari roemah engkoe Kamin ke Moearasakai. Poekoel sebelas tengah hari berlajarlah kapal kami meninggalkan Moearasakai. Diatas kapal nénékkoe jang sakit itoe memboekakan matandja, laloe bertanja: "Dimana kita sekarang?" "Diatas kapal", kata kami; "kita sekarang hendak ke Padang dan dari sana ke Pariaman". Dari Moearasakai sampai ke Pasarganting si sakit dapat sedikit-sedikit berkata-kata dan telah pandai mintak makan, tetapi tak dapat djoega menggerakkan badannja.<noinclude></noinclude> l0x7b7mdu4f5cu12qfkbudxqfekhn1b Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/63 104 105712 298107 2026-06-16T03:25:44Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298107 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||TJERITERA NASIB|41|}}</small></noinclude>Kepala beliau dipangkoekan Nék Adang dan kaki beliau koeletakkan dipangkoeankoe serta koepitjit-pitjit djoega. Kira-kira poekoel empat petang sampailah kapal kami di Pasarqanting. Menoeroet keterangan nachoda kapal mesti bermalam disini, sebab itoe penoempang-penoempang haroes bermalam didarat. Semoea penoempang pergilah mentjari tempat bermalam dan akoepoen pergilah poela mentjari roemah tempat kami bermalam semalam itoe. Lebih doea djam akoe mentjari roemah dan tatkala koekatakan, bahwa kami bertiga dengan nénékkoe jang dalam ''sakit paksa'', tiada seorang djoega jang soeka menerima kami. "Takoet akoe nanti nénékmoe mati diroemahkoe", djawab meréka itoe. Kemoedian bertemuolah akoe dengan dangau bekas kandang kerbau, jang tiada berdinding lagi, sedangkan atapnja telah berloebang-loebang. Kembalilah akoe ketempat perhentian kami dekat kapal itoe. Koelihat nénékkoe jang sakit itoe telah letih benar dan badan beliau Nék Adang sandarkan kepohon kelapa. Dengan tangis koekabarkan kepada Nék Adang, bahwa tak seorang djoega jang soeka menerima kami menoempang diroemahnja, sebab ia takoet nénékkoe jang sakit itoe akan meninggal diroemahnja. Mendengar ini berseroelah Nék Adang: "Ja Allah, beginilah roepanja kebanjakan manoesia didoenia ini". Dengan sedih jang tiada terkira-kira kami doekoenglah nénékkoe jang sakit itoe kedangau ''tinggal'' itoe. Hari telah gelap, sedangkan njamoek menderoe boenjinja dan sebagai boeloe banjaknja menghinggapi badan kami. Si sakit mengerang pandjang didalam gelap itoe, laloe berseroe: "Ja Allah jang pengasih penjajang, pertemoekanlah kiranja akoe ini dengan anakkoe jang di Pariaman itoe". "Tjoba pindjam pelita kekampoeng, Nasib", kata Nék Adang. "Baiklah nék", djawabkoe, tetapi akoe telah berkata dalam hatikoe, bahwa kami ta' kan dipindjami orang pelita, sebab soedah ma'loem akoe, bagaimana "perasaan kasih mesra" orang di Pasarqanting itoe. Perasaankoe itoe ta' koenjatakan kepada Nék Adang, sebab akan menambah kesedihan hati beliau sadja, laloe pergilah akoe memindjam pelita itoe. Berpoeloeh-poeloeh roemah dan pondok koedjalani, tetapi semoeanja mengatakan ta' berpelita jang lain dari pada jang dipakainja. Achirnja sampailah akoe keseboeah pondok dan disini tampaklah olehkoe seboeah pelita jang ta' dipakai. "Pindjamlah akoe pelita itoe engkoe", katakoe, "bésok pagi koekembalikan; kami semalam ini bermalam didangau tinggal dan tiada berpelita". "Boekan saja jang poenja pelita itoe'', djawab orang jang dipondok itoe. "Tetapi kalau engkau séwa setali oentoek semalam ini, biarlah koepindjamkan", kata orang itoe menjamboeng perkataannja. "Baiklah", katakoe, laloe koeambil pelita itoe dan koepasang sekali serta koepakai sebagai soeloeh ketempat tinggal kami. Semalam-malaman itoe kami ta' tidoer, sebab njamoek boekan main banjaknja, apalagi nénékkoe jang sakit itoe mengerang sadja kesakitan. Koeambil sekalian sampah-sampah dekat dangau itoe, laloe koebakar akan mengoesir njamoek jang bersimaharadjaléla itoe.<noinclude></noinclude> jowdylddeoocvwwo5c06rs7bfq2ovc4 Halaman:Sarinah.pdf/195 104 105713 298108 2026-06-16T03:25:55Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Telah diuji baca */ 298108 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>yang terakhir, dialah yang membukanya: pada waktu itu ia telah berusia 80 tahun, satu usia yang manusia biasa kebanyakannya sudah rapuh dan sudah tiada tenaga semangat. Di dalam pidato pembukaannya, lbu Revolusi ini menghantamkan serangannya kepada kaum Nazi. Atas anjuran kawan-kawannya, ia melolos-kan diri dari Jermania ke Rusia, agar tidak menjadi mangsa kezaliman Hitler. Akhirnya, ia dipanggil pulang kerakhmatullah, dalam usia yang amat tinggi. Demikianlah pergerakan wanita tingkat ketiga di Jermania. Bagaimana di negeri-negeri lain? Saya kira tidak begitu perlu saya ceritakan pergerakan tingkat ketiga di negeri-negeri lain itu satu-persatu. Yang perlu bagi pembaca hanyalah mengetahui '''garisnya''' tingkat ketiga ini. Sebagai rempahrempah akan saya berikan saja nanti beberapa ucapanucapan pemimpin-wanita tingkat ketiga ini yang ulung-ulung dari beberapa negeri. Tentang “sejarahnya” cukuplah yang dari Jermania saja menjadi contoh. Memang sebagai tadi telah saya katakan: pergerakan di Jermania itu dulu adalah satu “model” bagi pergerakan-pergerakan di negeri lain. Memang di Jermania organisasinya paling sempurna, pengalasan teorinya paling mendalam, sepak-terjangnya paling tangkas. Negerinegeri yang lain selalu memandangkan matanya kepada Jermania itu. Siapa yang ingin mengetahui lebih banyak tentang pergerakan wanita tingkat ketiga di negeri-negeri lain, haraplah mentelaahnya sendiri dalam perpustakaan sosialisme yang bergudang-gudang. Terutama bagi Rusia Baru saya minta perhatian istimewa, oleh karena kedudukan Rusia dalam soalperempuan memang satu kedudukan yang istimewa. Rusia, yang belum lama yang lalu wanitanya masih bodoh, miliunan tak dapat membaca dan menulis, miliunan hidup dalam tahyul yang mendirikan bulu, yang puluhan miliun rakyat wanitanya yang berbangsa Asia dulu belum pernah mendapat sinar kemodernan sedikit pun juga, belum pernah mencapai tingkat yang lebih tinggi daripada tingkat ternak dan tingkat benda, belum pernah merasakan diri terlepas dari ekses-ekses patriarchat. Rusia itu telah berhasil memetik buah yang amat banyak di lapangan memperbaiki kedudukan wanita. Fasal 195<noinclude>{{rh|||195}}</noinclude> as9emng8njhlfkd0dvstmcx2ob0e8jm Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/64 104 105714 298109 2026-06-16T03:27:34Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298109 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|48|TJERITERA NASIB||}}</small></noinclude>Tengah malam — bolèh djadi karena melihat api oenggoenan kami itoe — datanglah doea orang laki-laki dan doea orang perempoean kedangao kami. Perempoean jang berdoea itoe koekenal, sebab tadi siang hari akoe telah pergi keroemahnja meminta menoempang semalam itoe, tetapi ditolaknja permintaan-koe itoe. "Marilah keroemah kami, mak", kata seorang dari laki-laki itoe, "mengapa mak bermalam didangau tinggal ini; dingin dan banjak poela njamoek disini, tentoe engkoe dadi sakit itoe bertambah sakit lagi". "Terima kasih engkoe", oedjar Nék Adangkoe dengan sedih, "hari telah dekat siang. Tentangan dingin dan banjak njamoek jang engkoe katakan itoe, ja, apa bolèh boeat...; tetapi Toehan ada memelihara kami". "Apa kita orang Pasarganting ini tidak ada berkemanoesiaan, ta' iba kasihan sesama manoesia, apalagi orang ini dalam kesoesahan poela", kata laki-laki jang lain dengan marahnja. "Tjoba, kalau kita pergi kedarat ke Boekittinggi, kalau kita kemalaman dikampoeng-kampoeng, dan diketahoei orang, bahwa kita orang djaoeh, nistjaja kita dipersilakan orang menoempang diroemahnja; apa orang kita ini boekan orang Minangkabau, ''tiada tahoe dibasa basi...?''" kata laki-laki jang pertama. Perempoean jang berdoea itoe diam sadja, tiada berkata sepatah djoea. Meskipoen kedoea laki-laki itoe menerangkan kesalahan dan kebodohan orang di Pasarganting itoe, serta membawa kami djoega bermalam keroemah perempoean itoe, tiada djoega kami maoe, sebab kesedihan kami memikirkan nasib kami telah melampaui batas. Achirnja poelanglah meréka itoe keroemahnja, laki-laki itoe bersedih hati, sedangkan kedoea perempoean itoe kemaloe-maloean roepanja. Keésokan harinja berlajarlah kami poekoel enam. Poekoel setengah enam pelita jang koepindjam itoe koekembalikan kepada jang poenja. Koerasaï sakoekoe hendak mengambil wang tali oentoek pembajar séwa pelita, tetapi... wang talikoe itoe roepanja telah hilang, bolèh djadi ketika akoe melompat kemarin dari perahoe ketitian. "Wang talikoe telah hilang engkoe", katakoe kepada jang poenja pelita itoe. "Ambillah kopiahkoe ini akan ganti wang tali", katakoe poela. Dengan tiada merasa kasihan sedikit djoega, diteriman jalah kopiahkoe dengan pelitanja. Kira-kira poekoel doea belas malam sampailah kami ke Moeara Padang dan semalam itoe kami bermalam dilepau dekat perhentian kapal ketjil-ketjil. Semalam-malaman itoe nénékkoe jang sakit itoe minoem-minoem sadja, nasi atau roti tidak sedikit djoega beliau makan. Pada sangka kami, malam itoe akan sampailah adjal beliau, ta'kan ternantikan lagi hari siang. Tetapi sjoekoer alhamdoeli'llah, haripoen sianglah. Poekoel setengah enam berboenji dan kendaraan telah bersimpang sioer didjalan-djalan radja. "Panggillah auto lekas ke Poelauair, Nasib, kita sekarang djoega berangkat ke Pariaman, moedah-moedahan tertahanlah oléh njawa nénékmoe mendjelang Pariaman", kata Nék Adang.<noinclude></noinclude> daof7vv1wlcedag6yioeg0vjyvdy0ud Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/65 104 105715 298110 2026-06-16T03:28:59Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298110 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||TJERITERA NASIB|49|}}</small></noinclude>Banjak auto jang koetanjai, tetapi, tatkala si soepir mendengar, bahwe moeatan jang akan dibawanja orang sakit pajah, tiada seorang djoega jang maoe mengantar kami ke Pariaman. Kesoedahannja dengan bajaran ƒ 50.— (lima poeloeh roepiah) dapatlah seboeah auto jang soeka mengantar kami ke Pariaman. Nénékkoe jang sakit itoe kami toetoepi dengan kain pandjang dan kami pangkoe berdoea. Banjak soepir auto jang mentertawakan soepir auto jang membawa kami itoe, katanja: „Lihatlah si Roedan, karena harap akan wang lima poeloeh roepiah, maoe ia membawa orang jang telah hampir mendjadi majat; ditengah djalan tentoe orang itoe mendjadi majat, tjelaka dan oedilah jang akan diperoléh si Roedan tama' itoe". Oentoeng ta' kedengaran perkataan itoe kepada Nék Adangkoe. Diatas auto, dari Padang ke Pariaman, terbitlah bermatjam-matjam pikiran dikepalakoe. Jang teroetama koepikirkan, hati kemanoesiaan pada setengahnja bangsakoe, jang katanja mentjintaï sesama manoesia, soeka bertolong-tolongan dalam kesoesahan. Setjara 'adat, setjara agama dan setjara perasaan kemanoesiaan mémang disoeroeh benar manoesia itoe bertolong-tolongan didalam segala hal jang berwoedjoed kebaikan. Perasaan kemanoesiaan, soeroehan 'adat dan agama biasa benar dikalahkan oléh kepertjajaan kepada ''tachjoel''. Kedjadian atas diri kami di Pasarganting, ditambahi dengan pendengaran dari moeloet soepir-soepir di Poelauair membentangkan masalah jang amat penting dipikirankoe. Boekankah meréka jang di Pasarganting itoe ta' soeka menerima kami menoempang diroemahnja, karena meréka itoe takoet, kalau nénékkoe mati diroemahnja dan... meréka itoe mendapat oedinja? Soepir-soepir auto ta' soeka membawa orang jang sakit keras atau majat, karena autonja akan oedi, katanja. Tetapi... kalau dibajar mahal-mahal, ja loear biasa sekali, meréka itoe maoe djoega. Apakah jang sebenarnja tersemboenji dalam hal ini? Kalau sebenarnja meréka itoe koeat kepertjajaannja kepada tachjoel, tentoe meréka itoe ta'kan soeka djoega membawa si sakit atau majat; biarpoen koesimpan didadakoe boeat sementara. Siapa tahoe kemoedian hari ada poela goenanja boeat diperkatakan atau diperbandingkan dengan keadaan negeri lain. Dari Padang ke Pariaman tidak sedikit djoega kami berkata-kata, hanja selaloe memandang kemoeka nénékkoe jang seroepa majat ikoe. Tiada berapa lamanja sampailah kami ke Pariaman dan teroes auto kami ke Djawi-djawi, keroemah engkoe Soetan Kemala. Kami dapati engkoe Soetan Kemala sedang doedoek-doedoek dengan isteri beliau diberanda moeka; hari itoe beliau tiada bersekolah, sebab hari Ahad. Melihat kedatangan kami toeroenlah engkoe Soetan Kemala dengan isterinja dan setelah dilihatnja ajahnja jang telah seperti majat itoe, menangislah ia dengan amat sangat, laloe didoekoengnja beliau naik keatas roemah. Malam itoe djoega ditelepon dokter ke Kajoetanam dan dapat djawaban dari sana, bahwe dokter ta' diroemah. Hari Senin kira {{small|4}}<noinclude></noinclude> g937zvih1e2nxgsf0uuzfxqsvoqjhn2 298111 298110 2026-06-16T03:29:56Z Link PB 26772 298111 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||TJERITERA NASIB|49|}}</small></noinclude>Banjak auto jang koetanjai, tetapi, tatkala si soepir mendengar, bahwe moeatan jang akan dibawanja orang sakit pajah, tiada seorang djoega jang maoe mengantar kami ke Pariaman. Kesoedahannja dengan bajaran ƒ 50.— (lima poeloeh roepiah) dapatlah seboeah auto jang soeka mengantar kami ke Pariaman. Nénékkoe jang sakit itoe kami toetoepi dengan kain pandjang dan kami pangkoe berdoea. Banjak soepir auto jang mentertawakan soepir auto jang membawa kami itoe, katanja: „Lihatlah si Roedan, karena harap akan wang lima poeloeh roepiah, maoe ia membawa orang jang telah hampir mendjadi majat; ditengah djalan tentoe orang itoe mendjadi majat, tjelaka dan oedilah jang akan diperoléh si Roedan tama' itoe". Oentoeng ta' kedengaran perkataan itoe kepada Nék Adangkoe. Diatas auto, dari Padang ke Pariaman, terbitlah bermatjam-matjam pikiran dikepalakoe. Jang teroetama koepikirkan, hati kemanoesiaan pada setengahnja bangsakoe, jang katanja mentjintaï sesama manoesia, soeka bertolong-tolongan dalam kesoesahan. Setjara 'adat, setjara agama dan setjara perasaan kemanoesiaan mémang disoeroeh benar manoesia itoe bertolong-tolongan didalam segala hal jang berwoedjoed kebaikan. Perasaan kemanoesiaan, soeroehan 'adat dan agama biasa benar dikalahkan oléh kepertjajaan kepada ''tachjoel''. Kedjadian atas diri kami di Pasarganting, ditambahi dengan pendengaran dari moeloet soepir-soepir di Poelauair membentangkan masalah jang amat penting dipikirankoe. Boekankah meréka jang di Pasarganting itoe ta' soeka menerima kami menoempang diroemahnja, karena meréka itoe takoet, kalau nénékkoe mati diroemahnja dan... meréka itoe mendapat oedinja? Soepir-soepir auto ta' soeka membawa orang jang sakit keras atau majat, karena autonja akan oedi, katanja. Tetapi... kalau dibajar mahal-mahal, ja loear biasa sekali, meréka itoe maoe djoega. Apakah jang sebenarnja tersemboenji dalam hal ini? Kalau sebenarnja meréka itoe koeat kepertjajaannja kepada tachjoel, tentoe meréka itoe ta'kan soeka djoega membawa si sakit atau majat; biarpoen koesimpan didadakoe boeat sementara. Siapa tahoe kemoedian hari ada poela goenanja boeat diperkatakan atau diperbandingkan dengan keadaan negeri lain. Dari Padang ke Pariaman tidak sedikit djoega kami berkata-kata, hanja selaloe memandang kemoeka nénékkoe jang seroepa majat ikoe. Tiada berapa lamanja sampailah kami ke Pariaman dan teroes auto kami ke Djawi-djawi, keroemah engkoe Soetan Kemala. Kami dapati engkoe Soetan Kemala sedang doedoek-doedoek dengan isteri beliau diberanda moeka; hari itoe beliau tiada bersekolah, sebab hari Ahad. Melihat kedatangan kami toeroenlah engkoe Soetan Kemala dengan isterinja dan setelah dilihatnja ajahnja jang telah seperti majat itoe, menangislah ia dengan amat sangat, laloe didoekoengnja beliau naik keatas roemah. Malam itoe djoega ditelepon dokter ke Kajoetanam dan dapat djawaban dari sana, bahwe dokter ta' diroemah. Hari Senin kira <small>4</small><noinclude></noinclude> 4o01cvc2jhhm01ea0zhbwlsscodes68 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/66 104 105716 298112 2026-06-16T03:32:18Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298112 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|50|TJERITERA NASIB||}}</small></noinclude>kira poekoel sepoeloeh datanglah dokter, tetapi nénékkoe engkoe goeroe Atin... telah melangkah, meninggalkan anak kemanakannja dan kaoem pamilinja. Inna li'llahi wa inna ilaihi radji'oen... {{right|{{smallcaps|Habib}} {{smallcaps|Soetan}} {{smallcaps|Maharadja}}, ''Nasib''.}}<noinclude></noinclude> hvkkue6jrjx5ur1ijg4jc09rbtn5olr Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/67 104 105717 298113 2026-06-16T03:35:22Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298113 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>KASIH TA' TERLARAI</big>}} "Bagaimana dihatimoe, begitoe poela dihatikoe". Perkataan itoe masih mendengoeng ditelinga si Taram. Itoe sesoenggoehnjalah. Pertemoean si Taram dengan Sitti Noerhaida jang achir sekali, jaitoe pada soeatoe petang ditempat jang amat lengang, membangkitkan api berahi, jang mémang soedah menjala didalam hati kedoea anak moeda itoe. Betapa tidak, karena Noerhaida berikrar dengan lidahnja, berkata dengan kata hati, mengharamkan laki-laki jang lain akan djadi soeaminja, selain dari pada si Taram, anak angkat batin kampoeng itoe... Si Taram tiadalah ''bertepoek sebelah tangan''. Tjinta hati anak gadis itoe kepadanja soedah beroerat berakar poela. Roepanja jang manis dan kelakoeannja jang ta' hendak menjakitkan hati orang itoelah jang teroetama memikat menggetah ''hati ketjil'' anak gadis itoe. Sitti Noerhaida kasihkan anak moeda itoe diketahoei oléh sanak saoedaranja. Si Taram tjintakan anak gadis itoe, dima'loemi oléh seloeroeh isi kampoeng itoe. Menoeroet 'adat dalam kampoeng itoe, anak-anak gadis terlarang keras bertjampoer gaoel dengan anak moeda-moeda. Ja, djangankan seiring didjalan, bertemoe moekapoen tiada boléh. Atjap kali anak-anak gadis itoe menangis, karena ditjoebit dan dikatai oléh iboenja, sebab ia telah berani keloear roemah ketika seorang laki-laki laloe disitoe, biarpoen laki-laki itoe soedah setengah 'oemoer, sedang gadis itoe keloear karena sesoeatoe hal jang perloe poela. Demikian kerasnja larangan dalam kampoeng itoe. Adakah larangan itoe mendjadikan bersihnja bangsa itoe dari pada hal-hal jang tiada senonoh? Pertanjaan itoe ''poelang ma'loem'' kepada sidang pembatja. . . . . . . . . . . . . Pendjagaan kepada Noerhaida dikeraskan. Kini berdjalan mesti berkawan. Mandi ta' boléh kesoengai lagi. Semoea hal itoe ta' mendjadi alangan kepada si Taram. Ia tahoe kerbau sekandang dapat didjaga, tetapi manoesia seorang beloem tentoe. Perdjandjian anak moeda itoe dengan si gadis pada pertemoeannja baroe-baroe ini, erat amat. Erat ta' dapat dioengkai lagi. Kedoea pemoeda itoe telah sekata akan meninggalkan kampoeng halamannja, pergi kenegeri asing, ''kawin dirantau orang''. Keras soenggoeh perdjandjian itoe. Dengarlah! Sang matahari jang tadinja sangat menoendjoekkan kekoeasaannja, sekarang telah terbenam disebelah barat. Sana sini dikaki langit kelihatan toempoek-toempoek awan jang masih mérah, makin lama makin hitam djoea. Ketika itoe haripoen malam. Poeteri malam telah keloear dari peradoeannja. Roepanja sangat bersih, gilang-gemilang. Tiap-tiap orang tentoelah akan menatap boelan poernama radja itoe, karena selain dari pada keindahannja, banjaklah lagi kenang-kenangan jang ditimboelkannja. Boekankah poeteri malam itoe seolah-olah poesat djala poempoenan ikan dari mata segala machloek jang memandangnja? Djika orang<noinclude></noinclude> k0vhu96nndnorr7a2m62sdlakvcqeju 298114 298113 2026-06-16T03:36:28Z Link PB 26772 298114 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>KASIH TA' TERLARAI</big>}} "Bagaimana dihatimoe, begitoe poela dihatikoe". Perkataan itoe masih mendengoeng ditelinga si Taram. Itoe sesoenggoehnjalah. Pertemoean si Taram dengan Sitti Noerhaida jang achir sekali, jaitoe pada soeatoe petang ditempat jang amat lengang, membangkitkan api berahi, jang mémang soedah menjala didalam hati kedoea anak moeda itoe. Betapa tidak, karena Noerhaida berikrar dengan lidahnja, berkata dengan kata hati, mengharamkan laki-laki jang lain akan djadi soeaminja, selain dari pada si Taram, anak angkat batin kampoeng itoe... Si Taram tiadalah ''bertepoek sebelah tangan''. Tjinta hati anak gadis itoe kepadanja soedah beroerat berakar poela. Roepanja jang manis dan kelakoeannja jang ta' hendak menjakitkan hati orang itoelah jang teroetama memikat menggetah ''hati ketjil'' anak gadis itoe. Sitti Noerhaida kasihkan anak moeda itoe diketahoei oléh sanak saoedaranja. Si Taram tjintakan anak gadis itoe, dima'loemi oléh seloeroeh isi kampoeng itoe. Menoeroet 'adat dalam kampoeng itoe, anak-anak gadis terlarang keras bertjampoer gaoel dengan anak moeda-moeda. Ja, djangankan seiring didjalan, bertemoe moekapoen tiada boléh. Atjap kali anak-anak gadis itoe menangis, karena ditjoebit dan dikatai oléh iboenja, sebab ia telah berani keloear roemah ketika seorang laki-laki laloe disitoe, biarpoen laki-laki itoe soedah setengah 'oemoer, sedang gadis itoe keloear karena sesoeatoe hal jang perloe poela. Demikian kerasnja larangan dalam kampoeng itoe. Adakah larangan itoe mendjadikan bersihnja bangsa itoe dari pada hal-hal jang tiada senonoh? Pertanjaan itoe ''poelang ma'loem'' kepada sidang pembatja. {{Daftarisi dtt|...}} . . . . . . . . . . . . Pendjagaan kepada Noerhaida dikeraskan. Kini berdjalan mesti berkawan. Mandi ta' boléh kesoengai lagi. Semoea hal itoe ta' mendjadi alangan kepada si Taram. Ia tahoe kerbau sekandang dapat didjaga, tetapi manoesia seorang beloem tentoe. Perdjandjian anak moeda itoe dengan si gadis pada pertemoeannja baroe-baroe ini, erat amat. Erat ta' dapat dioengkai lagi. Kedoea pemoeda itoe telah sekata akan meninggalkan kampoeng halamannja, pergi kenegeri asing, ''kawin dirantau orang''. Keras soenggoeh perdjandjian itoe. Dengarlah! Sang matahari jang tadinja sangat menoendjoekkan kekoeasaannja, sekarang telah terbenam disebelah barat. Sana sini dikaki langit kelihatan toempoek-toempoek awan jang masih mérah, makin lama makin hitam djoea. Ketika itoe haripoen malam. Poeteri malam telah keloear dari peradoeannja. Roepanja sangat bersih, gilang-gemilang. Tiap-tiap orang tentoelah akan menatap boelan poernama radja itoe, karena selain dari pada keindahannja, banjaklah lagi kenang-kenangan jang ditimboelkannja. Boekankah poeteri malam itoe seolah-olah poesat djala poempoenan ikan dari mata segala machloek jang memandangnja? Djika orang<noinclude></noinclude> rjh1vk4k912k2uunkguysejgae3i5mf 298115 298114 2026-06-16T03:36:49Z Link PB 26772 298115 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>KASIH TA' TERLARAI</big>}} "Bagaimana dihatimoe, begitoe poela dihatikoe". Perkataan itoe masih mendengoeng ditelinga si Taram. Itoe sesoenggoehnjalah. Pertemoean si Taram dengan Sitti Noerhaida jang achir sekali, jaitoe pada soeatoe petang ditempat jang amat lengang, membangkitkan api berahi, jang mémang soedah menjala didalam hati kedoea anak moeda itoe. Betapa tidak, karena Noerhaida berikrar dengan lidahnja, berkata dengan kata hati, mengharamkan laki-laki jang lain akan djadi soeaminja, selain dari pada si Taram, anak angkat batin kampoeng itoe... Si Taram tiadalah ''bertepoek sebelah tangan''. Tjinta hati anak gadis itoe kepadanja soedah beroerat berakar poela. Roepanja jang manis dan kelakoeannja jang ta' hendak menjakitkan hati orang itoelah jang teroetama memikat menggetah ''hati ketjil'' anak gadis itoe. Sitti Noerhaida kasihkan anak moeda itoe diketahoei oléh sanak saoedaranja. Si Taram tjintakan anak gadis itoe, dima'loemi oléh seloeroeh isi kampoeng itoe. Menoeroet 'adat dalam kampoeng itoe, anak-anak gadis terlarang keras bertjampoer gaoel dengan anak moeda-moeda. Ja, djangankan seiring didjalan, bertemoe moekapoen tiada boléh. Atjap kali anak-anak gadis itoe menangis, karena ditjoebit dan dikatai oléh iboenja, sebab ia telah berani keloear roemah ketika seorang laki-laki laloe disitoe, biarpoen laki-laki itoe soedah setengah 'oemoer, sedang gadis itoe keloear karena sesoeatoe hal jang perloe poela. Demikian kerasnja larangan dalam kampoeng itoe. Adakah larangan itoe mendjadikan bersihnja bangsa itoe dari pada hal-hal jang tiada senonoh? Pertanjaan itoe ''poelang ma'loem'' kepada sidang pembatja. . . . . . . . . . . . . Pendjagaan kepada Noerhaida dikeraskan. Kini berdjalan mesti berkawan. Mandi ta' boléh kesoengai lagi. Semoea hal itoe ta' mendjadi alangan kepada si Taram. Ia tahoe kerbau sekandang dapat didjaga, tetapi manoesia seorang beloem tentoe. Perdjandjian anak moeda itoe dengan si gadis pada pertemoeannja baroe-baroe ini, erat amat. Erat ta' dapat dioengkai lagi. Kedoea pemoeda itoe telah sekata akan meninggalkan kampoeng halamannja, pergi kenegeri asing, ''kawin dirantau orang''. Keras soenggoeh perdjandjian itoe. Dengarlah! Sang matahari jang tadinja sangat menoendjoekkan kekoeasaannja, sekarang telah terbenam disebelah barat. Sana sini dikaki langit kelihatan toempoek-toempoek awan jang masih mérah, makin lama makin hitam djoea. Ketika itoe haripoen malam. Poeteri malam telah keloear dari peradoeannja. Roepanja sangat bersih, gilang-gemilang. Tiap-tiap orang tentoelah akan menatap boelan poernama radja itoe, karena selain dari pada keindahannja, banjaklah lagi kenang-kenangan jang ditimboelkannja. Boekankah poeteri malam itoe seolah-olah poesat djala poempoenan ikan dari mata segala machloek jang memandangnja? Djika orang<noinclude></noinclude> k0vhu96nndnorr7a2m62sdlakvcqeju Halaman:Sarinah.pdf/194 104 105718 298116 2026-06-16T03:40:51Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'wanita, tetapi juga sebagai pahlawan ulung daripada segenap pergerakan sosialis, -sebagai singa betina Revolusi Sosial, yang raungnya terdengar dari ujung dunia yang satu sampai ke ujung dunia yang lain. la adalah Olympe de Gouges-nya abad keduapuluh, -teoretis malah lebih besar dari singa betina Revolusi Perancis itu. Banyak pemimpin-pemimpin laki-laki sosialis memandang dia sebagai gurunya. Henriette Roland Holst menulis satu kitab yang mencer... 298116 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>wanita, tetapi juga sebagai pahlawan ulung daripada segenap pergerakan sosialis, -sebagai singa betina Revolusi Sosial, yang raungnya terdengar dari ujung dunia yang satu sampai ke ujung dunia yang lain. la adalah Olympe de Gouges-nya abad keduapuluh, -teoretis malah lebih besar dari singa betina Revolusi Perancis itu. Banyak pemimpin-pemimpin laki-laki sosialis memandang dia sebagai gurunya. Henriette Roland Holst menulis satu kitab yang menceritakan tarikh hidupnya, sebagai satu tanda hormat kepadanya. “Ware Rosa Luxemburg in India geboren, haar volk zou haar een mahatmaya, een grote ziel, genoemd hebben”. -“Umpama Rosa Luxemburg dilahirkan di India, niscayalah rakyatnya menamakan dia seorang mahat maya, seorang yang berjiwa besar”. Di dalam gambaran satu kalimat ini saja, tampaklah kebesarannya Rosa Luxemburg itu. la bukan saja seorang pendekar yang amat dinamis, bukan saja seorang Srikandi yang tak kenal takut, ia pun seorang teoretikus yang amat ulung. Teori-teorinya, -terutama sekali “spontani-teits-theorie” dan “verstikkings-theorie”-, menggemparkan seluruh dunia teori sosialisme. Bukan orang lain, melainkan Lenin sendiri, meladeni teori Luxemburg itu, karena dianggap-nya tidak benar. (Di dalam dunia sosialisme sering ada perbantahan yang demikian itu, tanda hasrat akan ilmu pengetahuan). Tetapi lebih-lebih lagi, Rosa Luxemburg adalah seorang manusia sosial dalam arti yang sebaik-baiknya, seorang manusia yang selalu memikirkan sesama manusia yang lain, dan selalu sedia menderita buat sesama manusia yang lain. Seorang wanita yang berhati besar, yang di dalamnya ada tempat buat cinta kepada seluruh kemanusiaan. Kaum buruh seluruh dunia dan kaum wanita seluruh dunia, pantas menghormat asmanya pemuka wanita ini, yang jatuh di padang kehormatan. Nama Clara Zetkin pun pantas kita hormati setinggi-tingginya. Bukan hanya buat berkata-kata, kalau orang menamakan dia “Ibu Revolusi Proletar”. Sampai kepada mengamuknya Hitler di Jermania, tatkala semua partai kaum buruh dibubarkan, majalah-majalahnya dan surat kabarnya dilarang terbit, pemimpin-pemimpinnya yang dapat ditangkap dilemparkan dalam konsentrasi kamp atau didrel mati mentah-mentahan, partai-partai lain di-anschluss, ia masih terus berjoang untuk kepentingan sosial-isme. Salah satu sidang Reichstag merdeka 194<noinclude>{{rh|||194}}</noinclude> rbd9h4kg92lqz92e8ydesugs3j3i32g 298124 298116 2026-06-16T03:52:28Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298124 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>wanita, tetapi juga sebagai pahlawan ulung daripada segenap pergerakan sosialis, -sebagai singa betina Revolusi Sosial, yang raungnya terdengar dari ujung dunia yang satu sampai ke ujung dunia yang lain. la adalah Olympe de Gouges-nya abad keduapuluh, -teoretis malah lebih besar dari singa betina Revolusi Perancis itu. Banyak pemimpin-pemimpin laki-laki sosialis memandang dia sebagai gurunya. Henriette Roland Holst menulis satu kitab yang menceritakan tarikh hidupnya, sebagai satu tanda hormat kepadanya. “Ware Rosa Luxemburg in India geboren, haar volk zou haar een mahatmaya, een grote ziel, genoemd hebben”. -“Umpama Rosa Luxemburg dilahirkan di India, niscayalah rakyatnya menamakan dia seorang mahat maya, seorang yang berjiwa besar”. Di dalam gambaran satu kalimat ini saja, tampaklah kebesarannya Rosa Luxemburg itu. la bukan saja seorang pendekar yang amat dinamis, bukan saja seorang Srikandi yang tak kenal takut, ia pun seorang teoretikus yang amat ulung. Teori-teorinya, -terutama sekali “spontani-teits-theorie” dan “verstikkings-theorie”-, menggemparkan seluruh dunia teori sosialisme. Bukan orang lain, melainkan Lenin sendiri, meladeni teori Luxemburg itu, karena dianggap-nya tidak benar. (Di dalam dunia sosialisme sering ada perbantahan yang demikian itu, tanda hasrat akan ilmu pengetahuan). Tetapi lebih-lebih lagi, Rosa Luxemburg adalah seorang manusia sosial dalam arti yang sebaik-baiknya, seorang manusia yang selalu memikirkan sesama manusia yang lain, dan selalu sedia menderita buat sesama manusia yang lain. Seorang wanita yang berhati besar, yang di dalamnya ada tempat buat cinta kepada seluruh kemanusiaan. Kaum buruh seluruh dunia dan kaum wanita seluruh dunia, pantas menghormat asmanya pemuka wanita ini, yang jatuh di padang kehormatan. Nama Clara Zetkin pun pantas kita hormati setinggi-tingginya. Bukan hanya buat berkata-kata, kalau orang menamakan dia “Ibu Revolusi Proletar”. Sampai kepada mengamuknya Hitler di Jermania, tatkala semua partai kaum buruh dibubarkan, majalah-majalahnya dan surat kabarnya dilarang terbit, pemimpin-pemimpinnya yang dapat ditangkap dilemparkan dalam konsentrasi kamp atau didrel mati mentah-mentahan, partai-partai lain di-anschluss, ia masih terus berjoang untuk kepentingan sosial-isme. Salah satu sidang Reichstag merdeka 194<noinclude>{{rh|||194}}</noinclude> 53uvl5l5mx4t3gvfniextqyv769ltna Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/68 104 105719 298117 2026-06-16T03:42:24Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298117 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|52|KASIH TA' TERLARAI||}}</small></noinclude>toeapoen tertarik hatinja memandang boelan jang membangkitkan kenang-kenangan itoe, betapakah poela bagi seorang anak moeda jang dalam pertjintaan? Tentoe hatinja berkata: „Djika akoe peri, ta' dapat tiada melajanglah akoe mendapatkan boelan dan... dari sana akoe menindjau arah keboemi". Sekaliannja itoe djangan kita hiraukan amat. Téngoklah seberapa terténgok dan pandanglah seberapa terpandang. Ketika itoe kedengaran boenji ratap tangis dan ''hiroek pikoek'' diroemah entjik Abas. Laki-laki perempoean berlarian kesana. Meréka terkedjoet dan ingin mengetahoei hal jang terdjadi. „Anakkoe hilang! anakkoe hilang, adoehai boeah hatikoe", demikian kedengaran boeah ratap tangis diroemah anak gadis itoe. Sesoenggoehnja Noerhaida ta' ada lagi. Selang setengah djam ini anak gadis itoe baroe menoetoep pintoe kandang ajamnja. Kini ta' tampak lagi. Héran soenggoeh kemana perginja? Beberapa orang toea-toea masoek kedalam kamar anak gadis itoe, menjelongkar tempat tidoer, mentjahari Sitti Noerhaida, kalau-kalau ia bersemboenji... Noerhaida ta' bersoea. Peti anak gadis itoe diboeka, diténgok pakaian ta' ada lagi. Sekalian perhiasan emas intannja seboeah-poen ta' tinggal. Masja Allah, Sitti Noerhaida lari membawa sekalian barang-barangnja jang berharga. Isi kampoeng itoe gemparlah. Boelat moefakat membagi-bagi isi kampoeng itoe atas beberapa toempoek, masing-masing disoeroeh mentjahari anak gadis jang hilang itoe. Dalam sa'at itoe kedengaran poela qadoeh diroemah batin kampoeng itoe. Ratap tangis sebagai diroemah Noerhaida itoe ta' kedengaran, hanja gadoeh itoelah sadja. Ketika adik si Taram masoek kebiliknja, dilihatnja peti terboeka, sedang pakaian si Taram sepotongpoen ta' ada lagi. Demikian poela oeang simpanannja jang doea ratoes dollar itoe, sedoeitpoen ta' ada tinggal lagi. Si Taram dan Noerhaida telah lari. Hiroek pikoek dalam kampoeng itoe pada malam jang terseboet boekan kepalang. Tiap-tiap simpang dan lorong kelihatan isi kampoeng itoe hilir moedik. Laki-laki perempoean sama keloear. Meréka itoe ta' dapat tidak akan mengintai-intai dan mentjahari kedoea pemoeda itoe. Orang toea si Taram ''disegani'' oléh isi kampoeng itoe, karena ia toea kampoeng. Entjik Abas dimaloei orang, karena hartanja banjak. Ta'lah héran djika semalam-malaman itoe orang kampoeng itoe tiada menghentikan tangan sebeloem kedoeandja tertangkap. Apalagi malam itoe tjerah amat. Langit tiada berawan, hingga boemi seolah-olah mandi dalam tjahaja boelan poernama itoe. Tiap-tiap orang jang laloe diperiksa, batang kadjoe dikelilingi, sekalian pangkalan dimata-matai, tetapi doea sedjoli itoe tiada tertangkap. Hari bertambah laroet malam djoea. Sjahdan orang toea si Taram bersama-sama dengan entjik Abas hilir moedik sepandjang djalan, menjoesoer pantai, menempoeh lorong-lorong dengan hati jang gelabah amat. Berbagai-bagai perkataan kedengaranlah.<noinclude></noinclude> a9bxflczi5lyhngmloqhbkpdyetca0m Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/69 104 105720 298118 2026-06-16T03:43:39Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298118 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||KASIH TA' TERLARAI|53|}}</small></noinclude>Ada orang bersangka si Taram telah sama-sama lari kedalam hoetan dengan anak gadis itoe dan boleh djadi sama-sama memboenoeh diri. Ada jang mengatakan hal itoe sekali-kali ta' moengkin. Pada pendapatnja kedoea anak moeda itoe telah berlajar meninggalkan kampoeng itoe. Persangkaan itoe dibantah orang poela. Ta' boleh djadi soedah berlajar, karena orang-orang jang ''dipangkalan'' ta' ada bersoea dengan merêka itoe. Perempoean jang toea-toea bersangka si Taram itoe ketoeroenan Wali Allah. Ia dapat menghilangkan diri. Dapat berlindoeng dibalik daoen lalang sehelai. Siapa tahoe bapanja seorang keramat. Bimbanglah kita mendengar tjeritera orang banjak itoe. Mana-mana jang benar ta'lah dapat ditentoekan. Ada poela jang berkata: "Itoelah balasan orang jang tinggi hati. Anak awak dipinang orang ta' diberikan. Tjih, memilih amat! Sekarang ini tanggoengkanlah! Itoelah tanggoengan orang jang membatalkan tjinta hati jang bersih. Akoe ini hanja ''segan'' kepada batin sehadja, kalau tidak ta'lah akoe soedi moendar mandir sampai djaoeh malam ini". Seorangpoen ta' ada jang bersoea dengan doea sedjoli itoe, mendengar chabarpoen tidak. Emboen telah toeroen, sekalian merêka telah kedinginan, masing-masing berseloeboengkan kain saroengnja. Sekali lagi kelihatan merêka itoe menjoesoer pantai mengintai kalau-kalau si Taram toeroen kesana mentjari sampan akan tempatnja menjeberang. Tiba-tiba perdjalanan merêka itoe terhenti. Setengahnja doedoek, setengahnja berlindoeng dibalik ''sesap'' didalam semak. Dekat pangkalan lama jang soedah tidak terpakai lagi kelihatan doea orang memakai serba hitam. Berhampiran dengan tebing pantai itoe tertambat seboeah ''sampan kotak'' perahoe Tjina. "Ta' dapat tidak itoelah si Taram, siapa lagi!" demikianlah pikiran orang jang banjak itoe. Lelah merêka itoe akan beroepah, kegembiraan hati kedoea orang toea itoe akan timboel kembali. Ditempat itoe soendji senjap. Sekalian merêka itoe berbagai-bagai mengelilingi tempat itoe dari djaoeh. Sebagai 'askar mengintai moesoeh, merangkaklah merêka perlahan-lahan, makin lama makin dekat djoea. Selain dari pada terdjoen kedalam soengai, ta' lah ada djalan akan melepaskan dirinja dari kepoengan orang banjak itoe. Perboeroean hampir tertangkap. Tatkala sekalian merêka itoe telah berantara kira-kira tiga poeloeh langkah lagi, sekaliannja tegak dan berdiri loeroes. Merêka takoet djoega kalau-kalau si Taram bersendjata tadjam. Siapa tahoe ia djadi gelap mata, mengamoek, ta' boléh tidak mara jang akan datang. Kedatangan orang banjak itoe diketahoei oléh orang jang berbadjoe hitam itoe. Njata djoega dalam kaboet itoe ia menolèh kekiri dan kekanan memandang orang-orang jang datang itoe. Tetapi sekali-kali tiadalah ia gentar dan takoet. Kerdjanja bertambah tekoen. Seorang diantara orang jang berbadjoe hitam itoe masoek kedalam sampan. Dari dalam sampan itoe dilémparkannja sepotong tali kedarat. Kemoedian ia mengambil timba oepih, laloe menimba air sampan itoe dengan radjinnja. Sekalian orang banjak itoe héran melihat perboeratan kedoea orang itoe. Merêka bertambah dekat djoega.<noinclude></noinclude> fc9799xpjenk5nb0aqx7vt782zp4tzz Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/70 104 105721 298119 2026-06-16T03:45:16Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298119 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|54|KASIH TA' TERLARAI||}}</small></noinclude>Dihadapan orang jang berbadjoe hitam itoe tergoeling seëkor babi hoetan, jang amat besar. Soenggoehpoen kaboet moelaï toeroen, njata djoega kelihatan babi itoe masih hidoep. Roepanja ikatan babi itoe koerang koeat, itoelah maka ditambahnja tali pengikat itoe seboeah lagi. Karena terik ikatannja, babi itoe memekik kesakitan. Sekalian orang jang berkeliling itoe moendoer selangkah. Berat soenggoeh kerdja orang jang berbadjoe hitam itoe. Pakaiannja berloemoer dengan loempoer, badannja bersimbah peloeh. Ketika orang banjak itoe berantara doea poeloeh langkah lagi, babi itoe memekik sekali lagi. Orang jang berbadjoe hitam itoe datang menghampiri babi itoe, sambil mengeloeh. Babi jang separoeh mati itoe dimaki-makinja tjara Tjina. Karena lelahnja perkataan jang keloear dari moeloetnja ta' terang lagi. Apabila orang banjak itoe melihat Tjina itoe dengan senangnja menghadapi babi itoe, maka masing-masing menjoempah sambil berloedah ketanah. Tjina itoe amat marah, karena orang banjak itoe sangat ''menda'ifkannja''. Ia bersoengoet-soengoet dengan amat garangnja. Akan melawan orang jang sebanjak itoe tiada ia koeasa. Seorang diantara orang banjak itoe mengambil tanah, laloe dilémparkannja kepada orang Tjina itoe sambil ia berkata: "Tjih, ''keparat'', makan moentahkanlah babimoe itoe. Tjih, haram! haram!" Dengan pandang jang sangat menda'ifkan, sekalian meréka itoe meninggalkan tempat itoe, sambil meloedah-loedah djoega. Ketika orang banjak itoe agak djaoeh, maka orang Tjina itoe naik keatas perahoenja. Tali tambatan perahoe itoe dioengkainja. Setelah sampan itoe renggang, kelihatan Tjina itoe menarik lajar sampannja. Oléh karena angin pagi moelaï toeroen, maka perahoe itoe melantjar perlahan-lahan menoedjoe ketengah. Tatkala daratan soedah sajoep dipandang mata, maka Tjina doea bersaudara itoe mengganti pakaiannja. Kedoea orang Tjina itoe telah beroebah roepa. Tjina jang memegang kemoedi sampan itoe ialah si Taram jang djadi boeroean isi kampoeng itoe. Dan Tjina jang doedoek bersandar pada tiang lajar itoe, ialah Noerhaida, anak entjik Abas bintang dalam kampoengnja. Kedoea 'asjik dan ''ma'sjoek'' itoe berlajar meninggalkan kampoeng halamannja, bertjerai dengan ajah boenda kaoem kerabatnja, karena menoeroetkan tjinta hatinja... Sakit soenggoeh menanggoeng rindoe jang demikian. . . . . . . . . . . . . Sjahdan setelah sampailah tengah doea boelan lamanja Sjéch Wahab tinggal mendjadi goeroe mengadji itoe, petjahlah chabar memberitakan bahasa pada pertengahan boelan Sja'ban jang akan datang ini, langsoenglah perkawinan toean goeroe mengadji itoe dengan Sitti Noerhaida djanda si Taram. Chabar itoe bagi kampoeng jang demikian boekanlah chabar biasa jang lazim didengar orang, karena sebagai jang soedah kita ketahoei, Sitti Noerhaida itoe mémang ta' hilang dari perhatian dan fikiran orang<noinclude></noinclude> ktqzz4k0d4uao9qokwkfloabz8tqvtn Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/71 104 105722 298120 2026-06-16T03:46:13Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298120 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||KASIH TA' TERLARAI|55|}}</small></noinclude>kampoeng itoe; baik tentang tingkah lakoenja, baik tentang keras hatinja. Djadi tidaklah héran pada ketika itoe, jang mendjadi boeah toetoer orang ta' lain dari pada chabar perkawinan jang akan datang ini. Setengah orang mengatakan perkawinan itoe élok sangat. Inilah baharoe entjik Abas mendapat menantoe jang dihatinja. Sama tahoelah kita bahasa pada déwasa tjeritera ini terdjadi dan dalam kampoeng jang ketjil poela, maka seseorang ketoeroenan 'Arab itoe sangat moelia dimata orang banjak, bahkan orang berdangka ialah bangsa jang semoelia-moelianja dalam doenia ini. Pada zaman itoe siapa jang bermenantoekan orang 'Arab ataupoen ketoeroenan 'Arab, merasa dirinja sangat tinggi, meskipoen menantoenja itoe tiada sepadan lagi dengan anaknja itoe. Dalam hal jang demikian orang toea jang akan bermenantoe itoe, tiada takoet roegi, tiada sajang harta tergadai, asal anak bersoeamikan orang 'Arab, jang oléh orang-orang kampoeng semoeanja digelarkannja said, jaitoe ketoeroenan nabi. Anak moeda-moeda dalam kampoeng itoe merasa dan bertoeroet berpendapat perkawinan Sitti Noerhaida dengan orang 'Arab itoe kelak koerang élok soedahnja. Meréka tahoe goeroe mengadji itoe seorang negeri djaoeh, berlajar berpoeloeh hari mengaroeng laoetan mendjalang tempat diamnja. Setinggi-tinggi terbang bangau soeroetnja keboeboengan djoega. Djadi moestahil Sjéch Wahab itoe akan tinggal selama-lamanja dikampoeng jang soenji itoe. Meskipoen pentjahariannja tjoekoep, hidoepnja senang, tentoelah ia ingin djoega akan poelang ketempat toempah darahnja jaitoe tanah 'Arab. Djika hal itoe kedjadian, ta' dapat tiada Sitti Noerhaida akan ditinggalkannja meranda poela dikampoeng itoe; karena barang moestahil ia maoe membawa perempoean itoe ketanah 'Arab. Lagipoen ta' poela moengkin, Sitti Noerhaida soeka mengikoet soeaminja itoe kelak ketempat jang sedjaoeh itoe. Ada poela setengahnja orang-orang kampoeng itoe sangat menjesali Sitti Noerhaida. Meréka memandang perempoean itoe seorang perempoean jang lantjoeng, tiada tegoeh setianja, bertabi'at poetjoek énoe, kemana angin bertioep, kesitoe arah tjondongnja. Perempoean jang demikian fi'ilnja tiada haroes diboeat isteri. Djika kita dengarkan pertjakapan orang disini, kemoedian kita dengarkan poela perkataan sekoempoelan orang disana, ragoelah poela hati kita, ragoet bertjampoer geli. Ragoe hati, karena lain orang lain pendapat; geli hati sebab ta' lain jang djadi boeah tjakap orang selain dari pada perkawinan goeroe mengadji jang akan dilangsoengkan itoe. Roepanja dalam doesoen jang terkoeroeng itoe perkara jang demikian mendjadi perhatian orang berboelan-boelan, karena ta'lah ada hal-hal pengganti pemandangan dan pengoebah pendengaran, berlainan benar halnja dengan kota jang ramai dan besar. Hari jang dinanti-nantikan tibalah. Diroemah batin orang sedang siboek bekerdja. Sana-sini berpantjangan toengkoe batang pisang. Toekang masak bekerdja dengan radjinnja. Beberapa boeah kawah telah<noinclude></noinclude> 7ua5tat6xty951mk87qj8wiagmm64zy Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/72 104 105723 298121 2026-06-16T03:47:13Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298121 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|56|KASIH TA' TERLARAI||}}</small></noinclude>Hal jang terdjerang. Hal jang terdjadi itoe memberi 'alamat diroemah batin itoe ada peralatan besar, mendjamoe isi kampoeng makan dan minoem. Hal itoe pastilah karena poekoel empat petang nanti akan toeroen mempelai laki-laki dari roemah batin itoe. Mempelainja ialah Sjéch Wahab goeroe mengadji. Sekalian ongkos peralatan tentoelah ditanggoeng oléh batin itoe, karena mémanglah ia sangat sajang akan Sjéch Wahab itoe, sebab selain dari pada dia goeroe dalam kampoeng itoe, banjak poela boedinja kepada orang toea itoe. Sjéch Wahab ''berlepas tangan''. Diroemah entjik Abaspoen orang ramai poela. Dibawah-bawah pohon kajoe kelihatan asap mengepoel keoedara. Disana terdjerang perioek, disini terdjerang kawah, lebih ramai dari roemah batin tadi. Itoe ta' héran karena 'adatlah bagi tanah-tanah Melajoe pesisir, bahasa disebelah pihak perempoean mémang lebih besar alatnja dari pihak laki-laki. Apalagi entjik Abas itoe orang hartawan, jang ta' maoe kalah, ''berpantang kerendahan'', lagi poela mendapat menantoe jang dihatinja benar. Angan-angannja soedah sampai, tjita-tjitanja soedah berlakoe. Waktoe inilah dipergoenakan akan menoendjoekkan kekajaannja jang banjak itoe. Didalam roemah soedah terpasang seboeah pelaminan bertingkat tiga, bertatahkan perada, bertabirkan soetera berbagai warna. Dalam pelaminan itoe terletak beberapa boeah bantal jang bertekatkan benang emas, bertjampoer benang pérak. Pelaminan jang demikian beloem pernah diperboeat oléh orang kampoeng itoe. Sesoenggoehnja jang dilazimkan pelaminan jang demikian perboeatannja teroentoek bagi anak dara, jaitoe perawan jang beloem kawin; djadi beroebah halnja dengan Sitti Noerhaida jang soedah djanda itoe. Akan tetapi perboeatan entjik Abas itoe boekanlah melanggar 'adat, sekali-kali tidak. Hal itoe boléh dilakoekan asal orang itoe mampoe, jaitoe sanggoep berboeat demikian. Maka djanda jang kelak akan dipersandingkan dan berpakaian sebagai pakaian pengantin jang masih perawan itoe, diseboet orang „djanda berhias" artinja perempoean djanda jang dipakaikan menoeroet pakaian pengantin jang masih anak dara. Bagi entjik Abas orang jang banjak hartanja itoe tiada akan menghangat mendingin baginja. Apalagi selama hidoepnja beloemlah pernah ia mengawinkan anaknja. Tatkala sang matahari itoe telah tergelintjir dari pertengahan perdjalanannja, kedengaranlah dari kedoea belah pihak boenji gendang dan goeng bersahoet-sahoetan menggembirakan hati kedoea belah pihak sadja sehari itoe. Dipekarangan batin orang telah banjak laki-laki dan perempoean. Sekalian meréka itoe dioendang oléh toea kampoeng dan diperdjamoenja makan minoem akan mengarak mempelai laki-laki keroemah pengantin perempoean. Poekoel empat hampir berboenji. Seorang anak moeda dioetoes oléh batin itoe keroemah entjik Abas, menanjakan kalau-kalau persediaan soedah lengkap, karena pengantin laki-laki akan datang. Sebentar kemoedian soeroehan itoe datang kembali mengabarkan, jang pihak perempoean telah siap sekadar menanti kedatangan mempelai laki-laki sahadja.<noinclude></noinclude> r6l60662jlr619z48xvhdkotr2ila8d Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/73 104 105724 298122 2026-06-16T03:48:53Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298122 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||KASIH TA' TERLARAI|57|}}</small></noinclude>Ketika djam telah berboenji empat kali, kedengaran boenji bedil jang diiringi oleh boenji gendang dan rebana serta zikir, hingga gemoeroeh boenjinja. Perarakan itoe pandjang djoea. Bendéra seléndang berkibaran ditioep angin. ''Sorak sorai anak-anak djangan dikata lagi.'' Boenji mertjoen gemertoep. Perarakan itoe mengelilingi kampoeng itoe. Setengah lima sampailah perarakan itoe keroemah pengantin perempoean. Sjéch Wahab disamboet orang, laloe dibawa masoek kedalam roemah, didoedoekkan diatas pelaminan bersanding doea dengan Sitti Noerhaida. Anak moeda-moeda jang melihat pengantin bersanding itoe kebanjakan tersenjoem simpoel, setengahnja bersoengoet-soengoet dalam hatinja. Kebentjian hati terbajang sampai kemoekanja. Persandingan kedoea mempelai itoe menjakitkan matanja. Bisik-bisik meréka itoe kedengaran mengatakan kedoea pengantin itoe tiada sepadan. Tiada tampan goeroe mengadji itoe doedoek dengan Sitti Noerhaida. Misainja jang sangat lebat dan djanggoetnja jang ta' pernah ditjoekoer itoe, serta matanja jang selaloe dikétjéng-kétjéngkannja itoe, sekali-kali ta' sepadan dengan paras Sitti Noerhaida jang laksana boelan poernama raja itoe. Moekanja jang ''boedjoer sirih'' sepadan benar dengan pakaian pengantin nja itoe. Soenggoehpoen ia „djanda berhias”, tetapi djoega ia mendjadi bintang kampoengnja. Setelah selesai kedoea pengantin itoe bersanding doea dan bersoecap-soecapan nasi, menoeroet kadar 'adatnja, maka didjamoelah sekalian orang jang datang dengan sepertinja. Sesoedah perdjamoean itoe selesai, sekalian djamoe bermohon poelang masing-masing keroemahnja. Sepandjang djanan tiadalah lain jang dipertjapkankan oléh anak-anak moeda dalam kampoeng itoe, selain dari pada mempelai laki-laki jang sepandjang hématnja tiada sekali-kali berpadanan dengan Sitti Noerhaida. Kebanjakan anak boedjang-boedjang sangat sakit hatinja melihat tingkah entjik Abas itoe. Apabila anak moeda-moeda itoe bersoea sesamanja, kerap kalilah meréka meraba bibirnja dan dagoenja, sambil poera-poera memoetar misai dan mengoeroet djanggoet. Dalam pada itoe gemoeroehlah boenji gelak meréka itoe. Maksoednja berboeat demikian tiadalah lain dari pada mengédjék-édjék entjik Abas jang gila bermenantoekan orang 'Arab berdjanggoet pandjang itoe. Moelai dari pada waktoe itoe djadi seboet-seboetanlah misai dan djanggoet Sjéch Wahab dan mendjadi édjék-édjékankanlah oléh anak-anak moeda dalam kampoeng itoe. Sjahdan maka Sjéch Wahabpoen pindahlah ia keroemah mentoeanja itoe. Kedoea soeami isteri itoe tampak hidoep dengan roekoen dan damai. Lima belas hari kemoedian dari pada hari perkawinan itoe, maka pada poekoel lima petang kedengaranlah boenji taboeh bertaloe-taloe. Orang kampoeng kelihatan siboek poela. Hari itoe achir boelan Sja'ban. Petangnja orang akan berlimau dan berlangir, karena ésok harinja moelailah satoe hari boelan Ramadan, ja'ni hari poeasa toea. Dalam kampoeng ketjil sebagai tempat goeroe mengadji itoe, permoelaan poeasa itoe<noinclude></noinclude> 682df8zzxxjdcmenxuyw97atrl1oqhc Halaman:Sarinah.pdf/196 104 105725 298123 2026-06-16T03:49:24Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298123 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>122 daripada undang-undang dasar Sovjet Rusia memberi hak-hak sepenuhnya kepada wanita. Bagaimanakah cara sepak terjang Rusia untuk mengangkat wanita-wanitanya itu? Sempitnya halaman risalah ini tidak memungkinkan saya menceritakan tentang hal itu panjang lebar, tetapi biarlah pembaca membaca misalnya dua kitab Fannina W. Halle “De Vrouw in Sovjet Rusland” dan “De Vrouw uit het SovjetOosten”. Terutama sekali “De Vrouw uit het Sovjet-Oosten” itu memberi pengertian yang mengagumkan kepada. kita, betapa hebatnya pekerjaan yang telah dijalankan di Rusia Timur untuk membanteras ekses-ekses patriarchat dan mengangkat kedudukan wanita yang tadinya benar-benar masih amat rendah sekali, ketingkatan yang lebih tinggi. Sungguh sayang saya tak dapat menceritakan lebih panjang lebar tentang usaha di Rusia itu. Tetapi “teori” pergerakan wanita tingkat ketiga, -di Jermania lah terutama asal mula tem-patnya. Teori itulah yang saya berikan kepada pembaca. Rusia adalah terutama sekali tempat usaha. Usaha di sana memang hebat, dan ... betapa mengharukan hati kita kadangkadang! Siapakah tidak pernah mendengar tentang penderitaan Maria Spiridonova, atau penderitaan Vera Figner? Dan usaha-usaha di negeri-negeri lain pun saya tak dapat ceritakan kepada pembaca. Nasehat saya kepada pembaca cuma satu: bacalah, carilah buku-buku, bacalah sebanyakbanyak mungkin, untuk menambah pengetahuan! Sekarang, marilah saya bubuhkan beberapa ucapan-ucapan pemimpin-pemimpin wanita, untuk menjadi sekedar bungarampai dalam kitab ini. Dengarkanlah kritikan pedas yang keluar dari mulut Emilia Marabini di Roma terhadap kepada pemimpin-pemimpin sosialis laki-laki, yang dalam teori memeluk sosialisme, tetapi dalam prakteknya masih bersikap kolot terhadap kepada wanita: “Menggelikan hanyalah mereka, yang dengan mulutnya mengatakan begini, dengan perbuatannya berbuat begitu. Menggelikan hanyalah mereka, yang membela sosialisme dengan banyak kata-kata dalam rapat-rapat, tetapi yang menentangnya di dalam perikehidupan sehari-hari, oleh karena mereka menjauhkan begitu banyak tenaga-tenaga yang baik dari propaganda. Menggelikan hanyalah mereka, yang berjoang dalam barisan- 196<noinclude>{{rh|||196}}</noinclude> s1a9kwrdi9e8ehu0mqm2fk33i58oges Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/74 104 105726 298125 2026-06-16T03:52:38Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298125 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|58|KASIH TA' TERLARAI||}}</small></noinclude>soeatoe peroebahan jang besar djoea. Boelan Ramadan jang moelia itoe tetap disamboet oleh anak negeri dengan kegembiraan dan keriangan hati. Satoe-satoe hari mendjelang boelan Ramadan itoe mendjadi perhitoengan dan selaloe keloear dari moeloet meréka itoe: „Doea poeloeh satoe, doea poeloeh doea, doea poeloeh tiga, toedjoeh hari lagi, enam hari lagi, lima hari lagi”; sampai kepada petang berlimau tiada pernah diloepakan oleh meréka, lebih-lebih oléh perempoean toea-toea jang koeat kepada ’ibadat. Pada tiga hari boelan Ramadan kelihatatlah diroemah entjik Abas orang sedang berkemas-kemas. Beberapo boeah peti dan boengkoesan soedah terikat erat. Ta’ dapat tidak adalah isi roemah itoe akan pergi berlajar. Hal itoe sebenarnjalah. Sjéch Wahab dengan Sitti Noerhaida pada ésok harinja akan pergi tamasja ke Singapoera; sebagai jang soedah kita ketahoei Sjéch Wahab itoe datang dari sana. Ta’ dapat tidak dinegeri besar itoe ada kaoem kerabatnja, sekoerang-koerangnja handai tolannja. Djadi patoetlah rasanja goeroe mengadji itoe membawa isterinja itoe kenegeri itoe bertemoe moeka dengan meréka itoe sekalian. Dalam hal ini entjik Abas haroes dipoedji. Sekali-kali tiada ia hendak menahan langkah anaknja dan menantoenja itoe. Tahoe ia roepanja jang anaknja itoe soedah milik orang. Lagi poela tiada terbajang pada moekanja kesedihan bahkan enggan hatinja melepas anaknja jang hanja seorang itoe pergi peri berlajar dengan soeaminja jang baroe setengah boelan bertjampoer gaoel dengan anak kandoengnja itoe. Kepertjajaannja kepada menantoe baroenja itoe sempoerna penoeh. Berlainan halnja dengan kebanjakan isi kampoeng itoe, jang kerapkali tiada mengizinkan anaknja dibawa oléh soeaminja pergi kenegeri asing, apalagi sebagai hal goeroe mengadji itoe, orang lagi baharoe kawin, dalam seratoes pajah seorang. Sepandjang kata Sjéch Wahab pada 27 hari boelan poeasa ini ia dengan isterinja itoe akan tiba kembali. Pada ésok harinja ditoeroenkanlah sekalian barang-barang dan perbekalan itoe semoeanja kedalam seboeah peraih besar. Tatkala matahari sedang naik toeroenlah goeroe mengadji itoe dengan Sitti Noerhaida, diiringkan oléh berpoeloeh-poeloeh orang dari roemah entjik Abas. Dengan ini doea kalilah Sitti Noerhaida meninggalkan kampoengnja. Awal bermoela ketika ia dahooloe berlajar dengan kekasihnja si Taram waktoe fadjar hampir menjingsing. Ini sekali poela. Dahoeloe ia meninggalkan kampoeng diboeat orang sebagai binatang boeroean, sekarang ini diantar-antar sebagai anak radja. Alangkah besar bédanja itoe. Setelah sekalian orang jang mengantarkan itoe toeroen kembali kedarat, diboekalah tali tambatan peraih itoe. Dengan perlahan-lahan rengganglah peraih itoe dari djambatan tambatannja. Lajar ditarik, djib dipasang, maka sebagai diemboes melantjarlah peraih itoe meninggalkan pelaboean. Dihaloen peraih itoe, diatas geladak, kelihatan Sjéch Wahab dengan Sitti Noerhaida berdiri berdekat-dekatan sambil melambai-lambaikan sapoe tangannja arah kedarat. Didaratan tampak entjik Abas<noinclude></noinclude> higaia8zhs1862qirfjodsl1jq8ytly Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/75 104 105727 298126 2026-06-16T03:56:13Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298126 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||KASIH TA' TERLARAI|59|}}</small></noinclude>dengan isterinja serta sekalian orang mengantar itoe melambai-lambaikan kainnja kepada kedoea orang jang dalam peraih itoe. Soenggoehpoen pertjeraian itoe ta'kan lama, tampak djoega iboe Noerhaida bermoeram doerdja, karena berpisah dengan anak kesajangannja itoe. Pada 27 hari boelan Ramadan pagi-pagi hari, kelihatanlah dari djaoeh seboeah peraih datang menoedjoe kampoeng kesajangan si Taram dahoeloe, makin lama makin dekat djoea. Dari djaoeh anak-anak soedah bersorak-sorak mengatakan: „Peraih toean goeroe soedah datang!” Dipangkalan orang telah ramai poela akan menjongsong goeroe mengadji dengan isterinja itoe. Sedang beberapa sa'at kemoedian rapatlah peraih itoe kepangkalan laloe bertambat. Entjik Abas dengan isterinja melompat masoek kedalam peraih pergi mendapatkan anak dan menantoenja, jang soedah bersedia akan menjongsong orang toeanja itoe. Peraih itoe penoeh poela dengan orang. Bisik-bisik anak moeda-moeda beloemlah hilang roepanja, karena selaloe djoega kedengaran perkataan: „Si lebat misai dan si pandjang djanggoet”. Bisik-bisik itoe diiringi poela oleh senjoem jang asam. Kemoedian sekali-sekali kedengaran gelak terbahak-bahak. Boleh djadi Sjech Wahab tiada tahoe akan dirinja mendjadi gamit-gamitan orang moeda-moeda dalam kampoeng itoe, karena djika diketahoeinja ta' dapat tiada ia akan menghias dirinja, menggoenting misainja dan memperpandak djanggoetnja jang amat lebat itoe. Maka djika sekiranja misainja itoe diperpandak dan djanggoetnja itoe didandan sedikit ta' dapat tiada tampan djoega roepanja goeroe mengadji jang rendah itoe dan tiadalah agaknja djadi edjek-edjekan amat bagi anak-anak moeda dalam kampoeng itoe. Djika sekiranja Sjech Wahab itoe orang lasak, artinja soeka bertandang kesana kemari, ta' boleh tidak lebih lagi halnja. Oentoenglah sebagai orang 'alim tiada ia soeka jang demikian. Ia maoe bersoenji-soenji, djarang keloear dari roemahnja djika tiada perloe amat. Tiga hari kemoedian dari pada kedatangan peraih toean Sjech itoe kedengaran poela boenji taboeh berdeboer-deboer. Anak-anak tampak poela berkeliaran kesana kemari dengan riangnja. Serombong-serombongan orang tampak berdjalan-djalan kesana kemari. Hari itoe 30 Ramadan. Esok harinja orang akan berhari raja poela. Pekarangan Entjik Abas, orang hartawan itoe, demikian poela roemahnja telah dihiasi dengan sepertinja. Kiri-kanan djalan masoek keroemah itoe diberi bergaba-gaba daoen kelapa jang masih moeda. Dalam kamar besar diroeang tengah telah terbentang tabir aneka warna. Tikar permadani jang mahal-mahal harganja soedah terhampar. Dalam doesoen itoe roemah entjik Abas masoek kelas satoe. Sekalian itoe diperboatnja berlebih-lebihan, karena ia tahoe djamonja akan banjak datang mendjelang menantoenja itoe. Apalagi martabatnja rasa bertambah karena sinar menantoenja itoe sampai djoega kepadanja. Semalam-malaman itoe kedengaran boenji petasan berdentoem-dentoem. Tiap-tiap roemah terpasang tangloeng dan lampoe, hingga terang<noinclude></noinclude> iuo3jrdk2vx6fk0jyha4yajk89yek6y 298127 298126 2026-06-16T03:56:31Z Link PB 26772 298127 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||KASIH TA' TERLARAI|59|}}</small></noinclude>dengan isterinja serta sekalian orang mengantar itoe melambai-lambaikan kainnja kepada kedoea orang jang dalam peraih itoe. Soenggoehpoen pertjeraian itoe ta'kan lama, tampak djoega iboe Noerhaida bermoeram doerdja, karena berpisah dengan anak kesajangannja itoe. . . . . . . . . . . Pada 27 hari boelan Ramadan pagi-pagi hari, kelihatanlah dari djaoeh seboeah peraih datang menoedjoe kampoeng kesajangan si Taram dahoeloe, makin lama makin dekat djoea. Dari djaoeh anak-anak soedah bersorak-sorak mengatakan: „Peraih toean goeroe soedah datang!” Dipangkalan orang telah ramai poela akan menjongsong goeroe mengadji dengan isterinja itoe. Sedang beberapa sa'at kemoedian rapatlah peraih itoe kepangkalan laloe bertambat. Entjik Abas dengan isterinja melompat masoek kedalam peraih pergi mendapatkan anak dan menantoenja, jang soedah bersedia akan menjongsong orang toeanja itoe. Peraih itoe penoeh poela dengan orang. Bisik-bisik anak moeda-moeda beloemlah hilang roepanja, karena selaloe djoega kedengaran perkataan: „Si lebat misai dan si pandjang djanggoet”. Bisik-bisik itoe diiringi poela oleh senjoem jang asam. Kemoedian sekali-sekali kedengaran gelak terbahak-bahak. Boleh djadi Sjech Wahab tiada tahoe akan dirinja mendjadi gamit-gamitan orang moeda-moeda dalam kampoeng itoe, karena djika diketahoeinja ta' dapat tiada ia akan menghias dirinja, menggoenting misainja dan memperpandak djanggoetnja jang amat lebat itoe. Maka djika sekiranja misainja itoe diperpandak dan djanggoetnja itoe didandan sedikit ta' dapat tiada tampan djoega roepanja goeroe mengadji jang rendah itoe dan tiadalah agaknja djadi edjek-edjekan amat bagi anak-anak moeda dalam kampoeng itoe. Djika sekiranja Sjech Wahab itoe orang lasak, artinja soeka bertandang kesana kemari, ta' boleh tidak lebih lagi halnja. Oentoenglah sebagai orang 'alim tiada ia soeka jang demikian. Ia maoe bersoenji-soenji, djarang keloear dari roemahnja djika tiada perloe amat. Tiga hari kemoedian dari pada kedatangan peraih toean Sjech itoe kedengaran poela boenji taboeh berdeboer-deboer. Anak-anak tampak poela berkeliaran kesana kemari dengan riangnja. Serombong-serombongan orang tampak berdjalan-djalan kesana kemari. Hari itoe 30 Ramadan. Esok harinja orang akan berhari raja poela. Pekarangan Entjik Abas, orang hartawan itoe, demikian poela roemahnja telah dihiasi dengan sepertinja. Kiri-kanan djalan masoek keroemah itoe diberi bergaba-gaba daoen kelapa jang masih moeda. Dalam kamar besar diroeang tengah telah terbentang tabir aneka warna. Tikar permadani jang mahal-mahal harganja soedah terhampar. Dalam doesoen itoe roemah entjik Abas masoek kelas satoe. Sekalian itoe diperboatnja berlebih-lebihan, karena ia tahoe djamonja akan banjak datang mendjelang menantoenja itoe. Apalagi martabatnja rasa bertambah karena sinar menantoenja itoe sampai djoega kepadanja. Semalam-malaman itoe kedengaran boenji petasan berdentoem-dentoem. Tiap-tiap roemah terpasang tangloeng dan lampoe, hingga terang<noinclude></noinclude> 487g14bk80yuvvmddfiua5211gmqc2o Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/76 104 105728 298128 2026-06-16T04:02:08Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298128 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|60|KASIH TA' TERLARAI||}}</small></noinclude>benderang roepanja kampoeng jang terpisah itoe. Malam itoelah soeatoe masa jang djarang dapat diloepakan oleh orang kampoeng, lebih-lebih oleh anak-anak. Waktoe fadjar siddik baharoe menjingsing, tiap-tiap roemah telah terboeka pintoenja. Asap didapoer telah mengepoel. Sekalian ahli roemah bergagap-gagap mendjerangkan tjerék dengan perioeknja. Radja siang telah keloear dari peradoeannja, keloear dengan kekerasannja, keseloeroeh doenia ia memantjarkan sinarnja. Roepanja sangat indah, koening bertjampoer mérah, sedikitpoen tiada bernoda, seakan-akan ia toeroet bergirang hati menjamboet kedatangan saudaranja 'aidi'lfitri, jang hanja sekali setahoen berdjabat tangan dengan maharadja siang itoe. Orang toea-toea, anak moeda-moeda sampai-sampai kepada anak-anak ketjil telah tampak beriring-iring menoedjoe mesdjid. Disana tampak berbadjoe biroe, disini kelihatan berkain koening, satoe-satoenja gemerlapan roepanja kena sinar matahari itoe. Sedjoeroes kemoedian tampak poela serombongan orang toea-toea, kebanjakan ber djoebah pandjang dan beserban anéka warna. Ditengah-tengah orang banjak itoe tampak Sjéch Wahab memakai djoebah kain Anggore jang mérah toea. Diketiaknja terselit seboeah kitab chotbah, terboengkoes dengan kain poetih. Soenggoehpoen hari masih pagi, tetapi toean goeroe itoe telah menoedoengi kepalanja dengan serban koening. Djalannja toendoek sahadja, djarang ia menoléh kekiri dan kekanan. Begitoelah tertib orang 'alim. Setelah sekalian orang hadir dalam mesdjid, lebih koerang poekoel delapan pagi, moelailah orang sembahjang hari raja. Sjéch Wahab mendjadi imam. Sekali ini mesdjid itoe penoeh sesak, ta' pernah seramai ini. Lepas sembahjang naiklah Sjéch Wahab keatas mimbar. Toean goeroe mengadji itoe mendjadi chatib poela. Dengan kain poetih pembaloet kitab chotbah itoe ia menoedoengi kepalanja dan membaloet léhérnja. Ketika chatib itoe telah berdiri diatas mimbar, jang tampak hanja moekanja sadja. Kain pemboengkoes itoe tampak menggelemboeng tentang dagoenja karena ditongkat oléh djanggoetnja. Melihat hal itoe setengah anak moeda moeda jang hadir disitoe tersenjoem. Setengahnja mentjoebiti kawannja jang hampir padanja. Roepanja darah moeda jang mengalir diseloeroeh toeboeh meréka lebih koeasa dari iman jang ada didadanja. Demikianlah kebanjakan orang didoenia ini. Ketika Sjéch Wahab menjeroekan Allahoe akbar, soenji senjaplah dalam mesdjid itoe; Sjéch Wahab teroes berchotbah. Bermatjam-matjam pengadjaran dan nasihat diperdengarkannja kepada madjelis itoe. Sekalian jang mendengar toendoek berdiam diri, agaknja masing-masing insaf akan dirinja. Satoe-satoe tampak orang toea jang mendengarkan chotbah itoe menjapoe air matanja dengan serban jang dipakainja. Ta' boléh tidak timboellah kesedihan dan ketakoetan hatinja mengenang-ngenangkan apakah bahagian jang dideritanja kelak di Jaumi'lmahšjar karena sebagai jang telah diketahoeinja iapoen soedah toea benar, maka<noinclude></noinclude> r9xn5alqsmam23ric9mwl8lswxjbzsz Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/77 104 105729 298129 2026-06-16T04:04:54Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298129 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||KASIH TA' TERLARAI|61|}}</small></noinclude>pada 'adatnja tiada lama lagi ''sampailah ia kepada djandjinja.'' Hal itoe ta'lah mendjadikan keheranan, karena dihari baik dan boelan baik itoe, perasaan doeka dan soeka moedah berganti-ganti, sebentar gelak sebentar menangis. Sa'at itoe makin soenji. Batoek dan dehem ta' kedengaran. Chotbah hampir habis. Do'a chotbah soedah dibatja. Sekalian orang menadahkan tangan memohonkan rahmat Toehannja. Ketika Sjéch Wahab telah habis membatja chotbah, ia melangkah naik ketingkat atas mimbar itoe. Perboeatan chatib itoe menghérankan madjelis. Seorangpoen ta' ada jang berdiri, semoeanja memandang toean Sjéch itoe. Dimata masing-masing terbajang tanda kehéranan. Sjéch Wahab memboekakan penoetoep kepalanja. Kain penoedoeng itoe dibentangkannja, kemoedian digantoengkannja diperboeatnja tabir dihadapannja. Sjéch Wahab terlindoeng dari mata orang banjak. Sekalian jang hadir tampak menganga. Keta'adjoeban dan kehéranan tertoelis dimoeka meréka itoe. Perboeatan chatib ini beloem pernah dilihat oléh meréka selama hajatnja. Semoeanja rasa bermimpi. Lima menit kemoedian dari pada itoe Sjéch Wahab ''merenggoetkan'' kain pengempang tadi... Orang banjak memekik dan berteriak. Mesdjid itoe bagaikan petjah boenjinja. Toean Sjéch itoe ta' berdjanggoet lagi. Dagoenja litjin tiada beramboet barang sehelai. Diatas bibirnja tiada toemboeh sehelai misaipoen. Roepanja bertoekar sekali, djaoeh bertambah moeda. Dahoeloe ia Sjéch Wahab, sekarang ini... si Taram, anak angkat batin kampoeng itoe, jang djadi boeroean beberapa tahoen lamanja. Sebagai anak panah jang lepas dari boesoernja, sekalian anak moeda-moeda itoe menderoe mendapatkan Sjéch samaran itoe, masing-masing bereboet-reboetan dahoeloe mendahoeloei berdjabat tangan dengan orang jang baharoe mendjelma itoe. Enam boelan kemoedian dari pada hal jang terdjadi ini, kelihatan orang ramai-ramai pada seboeah peroemahan baroe dekat mesdjid dalam kampoeng jang terseboet. Masing-masing meréka itoe sedang 'asjik mengerdjakan pekerdjaannja. Ada jang menaruh balok, ada jang mengetam papan, masing-masing dengan ragamnja. Dalam orang banjak itoe tampak entjik Abas mendjadi toea pekerdjaan itoe. "Djika tetap kita sebanjak ini, ta' dapat tiada dalam seboelan ini dapatlah anakkoe si Taram itoe diam disini", demikian perkataan jang keloear dari moeloet entjik Abas. "Moedah-moedahan, bertambah lekas, bertambah baik", djawab orang banjak itoe. Atas semoepakat orang kampoeng itoe si Taram didjadikan goeroe mengadji dan imam dalam kampoeng itoe. {{right|{{smallcaps|Sᴏᴇᴍᴀɴ}} H.S., ''Kasih ta' terlarai.''}}<noinclude></noinclude> pmoqzxd9r6lt233avt837erz94hi9cg Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/78 104 105730 298130 2026-06-16T04:06:25Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298130 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>ANAK PELESIT</big>}} Boeat dikampoeng djadilah roepanja. Walaupoen baroe ber’oemoer kira-kira 15 tahoen, tetapi roepanja soedah menarik hati. Berhias, jang telah ditjobanja sekali-sekali, soedah pandai. Lénggangnja jang terbawaan dengan pinggangnja jang ramping dan badannja jang sederhana, moengkin akan menggilakan orang, apabila dia soedah memakai kebaja péndék dan berkain batik Pekalongan. Tetapi oentoenglah! Gadis kampoeng ta’ ada jang berpakaian demikian. Nah, itoe dia didjalan ketjil jang menoedjoe kekolam Goendjo. Lénggangnja sadja soedah ketahoean. Kolam Goendjo! Ja, air kolam itoe bening, bening laksana katja. Ditepi sana dibawah tebing batoe jang tjoeram, tampak air memboeal-boeal. Patoet airnja sedjernih itoe. Dipinggir kiri ada sebatang pohon beringin. Batangnja dan toendjangnja jang soedah sebagai pohon poela, soedah tjoekoep mendjadi saksi akan menjatakan ‘oemoernja soedah landjoet. Daoennja jang sangat rimboen, membajang njata didalam air. Akar toendjangnja jang ber djoerai-djoerai, dalam bertjabang beranting poela, tergantoeng diatas air, bagai ta’ poeas-poeasnja mengisap air jang sedjoek njaman itoe. Ditengah dan ditepi sebelah sana, toemboeh „mensiang” bertoempoek-toempoek disela-sela boenga teratai, tempat ikan bermain-main. Ditempat jang dalam mengalimantang daoen beringin jang baroe goegoer. Terang sendjata-njatanja ikan emas berenang-renang, berdoejoen hilir berdoejoen moedik. Dekat itoelah terletak seboeah soerau ketjil. Ketika Sainah sampai kesana kedengaran oléhnja orang melagoekan lagoe Na’am Saidi. „Siapa poela lagi selain dari si Soeman”, katanja dalam hatinja, seraja menjangkoetkan telekoeng sembahjang dikepala tangga. Ja, betoel djoega, ta’ salah terkanja itoe. Disoedoet sana kelihatan seorang anak moeda tidoer menelentang. Kakinja jang kiri teroendjoer, sedang jang kanan ditegakkannja. Ia melentang berkalang tangan. Begitoelah sikapnja sedang melagoe itoe. Beberapa lama kemoedian baroelah dia memiringkan kepalanja, karena tampak oléhnja tabir kain jang membatasi tempat laki-laki dengan tempat perempoean diangkat orang. Ketika tabir itoe toeroen kembali, senjoem ketjil bermain dibibirnja. Sambil doedoek diapoen menoléh kekiri dan kekanan. Kiranja soedah ada orang jang akan sembahjang. „Soedah mengambil air sembahjang, Man?” kata orang itoe. „Beloem”, sahoetnja seraja berdiri. Didalam gelap ¹) dia melagoe poela. Roepanja amat tertarik hatinja kepada lagoe ‘Arab itoe. Waktoe terdengar oléhnja boenji orang azan, baroelah dia moelai membasoeh moeka. Setelah selesai makan minoem, sekembali dari sembahjang lohor itoe, pergilah ia kesawah. Telah lebih dari doea minggoe lamanja dia selaloe ¹) kamar mandi jang berpantjoeran.<noinclude></noinclude> 4e6n35vcj8d23un3ss0flvi32wy0qz3 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/79 104 105731 298131 2026-06-16T04:09:29Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298131 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||ANAK PELESIT|63|}}</small></noinclude>pergi menggera pipit. Beroentoenglah waktoe itoe ia tiada bersekolah lagi. Kalau masih bersekolah, siapalah jang akan mengganti-gantikan iboenja. Akan membiarkan ajahnja jang telah toea selaloe bekerdja berat ta' sampai hati poela ia rasanja. Tiada djaoeh dari roemahnja, diseberang ''bendar'', terbentanglah berbidang-bidang sawah jang sedang mengoening, seakan-akan tikar emas jang sedang terhampar lajaknja. Daoen padi jang berombak-ombak diemboes-emboes angin jang lemah lemboet, beraloen-aloen, kedjar mengedjar sebagai riak didalam tasik. Diatasnja terbang pipit parit, pipit pinang dengan pipit hadji dan tempoea, menengok-nengok pendjaga padi jang terlengah. Boenjinja jang tiada berhenti-henti itoe, bertjampoer dengan ''sorak sorai'' orang menggera, bagai gema-bergema ditengah sawah jang loeas itoe. Disana, dipematang jang kelok berlikoe, kelihatan Djajoesman menoedjoe sawahnja jang ta' berapa loeas. Disoedoet ada seboeah ''goelang-goelang'' beratap djerami. Dari sana terbentanglah tali bersimpang sioer berpoesat pada goelang-goelang itoe. Itoelah "sendjatanja" penggera pipit. Setelah sampai, dikelilinginja sawahnja itoe akan menengok kalau-kalau ada padi jang rebah kepematang. Sambil laloe diambilnjalah padi poeloet setangkai. Padi itoe ditanam iboenja kira-kira "setampang benih" (segenggam, setjekak), oentoek diboeat lemang atau ketan, kalau tiba hari baik boelan baik nanti. Sedang dia 'asjik ''mengoebik-ngoebik'' poeloet itoe diatas goelang-goelang, tiba-tiba kedengaran olehnja soeara orang dari belakang. Waktoe dia berpaling dan melihat kebawah, agak terperandjat dia sedikit, karena Sainah soedah ada dekat goelang-goelangnja. "Boleh saja minta padi poeloet barang setangkai?" katanja. Djajoesman lama maka mendjahoet. Ketika dia bergerak hendak toeroen, Sainah berkata lagi: "Biarlah saja sadja mengambilnja". "Ambillah!" sahoet Djajoesman, seraja doedoek kembali. Tetapi sementara itoe ditoeroetkannja dengan matanja. "Soedah banjak benar saja mengambil padimoe. Semalam soedah saja minta poela kepada "biai" (iboe)." "Ditanam mémang oentoek dimakan", sahoet Djajoesman. Gadis itoepoen kembalilah kegoelang-goelangnja. Djajoesman 'asjik poela mengoebik. Soeatoe kali terlagang matanja kegoelang-goelang anak gadis itoe. "Soeka benar dia roepanja makan padi poeloet", pikirnja seorang diri. "Biarlah, nanti koebawakan poela barang setangkai lagi". Petang hari ia agak lambat poelang. Dinantikannja doeloe Sainah pergi. Kemoedian dipetiknja padi poeloet tiga tangkai, laloe diletakkannja diatas goelang-goelang anak gadis itoe. Soedah itoe baroelah dia poelang. Kéesokan harinja waktoe dia meniti titian menjeberang bendar, dilihatnja iboe Sainah soedah dahoeloe sedikit dari padanja. Tetapi Sainah ta' tampak. Dibelakangnjapoen tidak. "Ah, awak hendak memberikan oentoek Sainah, dia poela jang datang", katanja seorang diri ketika teringat olehnja padi poeloet jang<noinclude></noinclude> 3qvo2kczberayftcfbqej10zq6v2tp3 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/80 104 105732 298132 2026-06-16T04:12:26Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298132 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|64|ANAK PELESIT||}}</small></noinclude>semalam. Dengan agak ''memberoengoet'' Djajoesman teroes djoega kesawahnja. Padi soedah berangsoer masak djoega. Jang bernas soedah mengoening, jang koening hampirlah masak. Moesim menjabit bertambah dekat. Pada soeatoe hari, hari amat panas. Matahari memantjarkan tjahajanja dengan amat terik. Setoempoek awanpoen ta' ada jang melindoengi. Boeroengpoen tiada berapa tampak, barangkali karena ta' tertahan poelah oléhnja panas jang terik itoe. Waktoe itoe tampaklah Sainah menoeroeni goelang-goelangnja. Ia berdjalan beroendoeng-oendoeng kain tengkoloknja, menoedjoe sawah Djajoesman. Semendjak tadi dia hendak kesana, tetapi Djajoesman senantiasa ada digoelang-goelangnja. Kini ta' tampak lagi. Pagi tadi ketika dia tiba, didapatinja padi poeloet soedah ada digoelang-goelangnja. Tangkainja masih baroe. Waktoe itoe beloem ada orang tampak disawah selain dari Djajoesman seorang. Siapakah orang jang akan meletakkannja disitoe selain dari dia. Sebab itoe pikirannja soedah tetap menerka, Djajoesman soedah datang ketempatnja tadi pagi. Ketika dia soedah dekat kegoelang-goelang Djajoesman, tiba-tiba dia teradoeh. Dari hadapan ada orang melémparkan tanah ''berderai''. Matanja kemasoekan tanah. Sedang dia terdoedoek sambil menggosok-gosok matanja, Djajoesman datang. "Hai, engkau Nah?" katanja dengan terperandjat. "Mengapa, mengapa engkau?" "Matakoe kemasoekan tanah", katanja seraja menggosok-gosok matanja djoega. Dengan ta' sadar Djajoesman soedah memegang tangan gadis itoe. "Tjoba saja lihat!" katanja. Dilihatnja mata Sainah soedah mérah sebelah. Sementara itoe Sainah menarik tangannja lambat-lambat. Sebab kemaloe-maloean ditoetoepinjalah moekanja dengan kain tengkoloknja. "Hendak kemana 'kau tadi, Nah?" tanja Djajoesman poela. Gadis itoe tiada menjahoet. "Pedjamkan sadjalah doeloe!" oedjarnja poela. Dia ta' hendak bertanja lagi, karena dilihatnja Sainah ada membawa "oléh-oléh". Maksoednja soedah diketahoeinja. "Soekakah engkau makan pisang ini?" katanja setelah matanja moelaï baik. Sambil berkata itoe dioendjoekkannjalah empat boeah pisang ''radja serai'' jang telah ''koerik-koerik'' roepanja. "Terima kasih, Nah, kalau engkau soeka memberi". Sedjoeroes soedah itoe kedoeanja sama-sama terdiam. "Tapi padakoe ta' ada jang akan koeberikan, Nah". "Padi poeloet jang engkau letakkan tadi beloem habis". "Siapa jang mengatakan bahasa saja jang meletakkan?" "Ta' ada". "Tapi..." "Ja?" oedjarnja ketika didengarnja soeara Djajoesman ta' djadi keloear.<noinclude></noinclude> 8ywcnoofw0re9w2lzkz790z59q3l8e7 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/81 104 105733 298133 2026-06-16T04:14:18Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298133 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||ANAK PELESIT|65|}}</small></noinclude>"Marahkah engkau padakoe?" "Sebab?" "Engkau telah terlémpar oléhkoe. Ta' saja lihat engkau datang kemari". Sainah tiada mendjawab. Sambil berpaling hendak kembali, disékanjalah matanja sekali lagi. "Kamoe sengadja tadi, Man?" katanja kemoedian. "Tidak, Nah, tidak koesengadja sedikit djoega". Sainahpoen kembalilah kegoelang-goelangnja. Poekoel 2 Djajoesman poelang. Ia akan pergi mengadji. Dalam tiga minggoe jang laloe ini ia soedah berganti hari sadja pergi kesoerau. Kalau ta' begitoe, barangkali pajah benarlah iboenja menggera. Waktoe itoe hatinja berasa amat riang. Dengan Sainah dia soedah berkenalan baik semendjak ketjil. Bahkan disekolahpoen meréka doedoek hampir berdekatan poela. Tetapi pemberian Sainah jang sangat menjoekakan hatinja, baroe sekali tadilah. Pada soeatoe kali Djajoesman ta' dapat poela pergi mengadji. Seharoesnja hari itoe ia ta' témpoh, tetapi karena iboenja pergi membeli anak itik kepekan Kamis, terpaksa poelalah ia menoenggoei padi. Kalau moesim menjabit nanti soedah lampau, tentoelah akan tiba paksa jang baik bagi orang jang memelihara itik. Tetapi hari itoe hatinja agak soesah sedikit memikirkan, apalah jang akan diberikannja pembalas pemberian Sainah. Dahoeloe hanja padi poeloet, soedah itoe padi poeloet poela, ja, ta' ada jang lebih dari padi poeloet. Dan sekarang? Ah, apa boléh boeat! Ia ta' dapat memberikan lebih dari pada itoe. Hanja itoe jang ada padanja. Walapoen pemberian Sainah soedah berbagai-bagai, tapi ia hanja dapat menerima sadja. Sambil menghabiskan lepat djagoeng pemberian Sainah tadi pagi, memandang djoegalah ia arah kesana. Air moekanja djadi berseri-seri. Gadis itoe ta' tampak digoelang-goelangnja. Dengan ta' berpikir pandjang lagi toeroenlah ia dari atas goelang-goelangnja. Berbetoelan pada waktoe itoe hari sedang panas poela. Djadi ta' adalah orang jang tahan ber d jemoer sadja, semoeanja soedah pergi berlindoeng. "Barangkali dia soedah poelang", pikir Djajoesman, sambil pergi kesana membawa "oléh-oléhnja" jang dipetiknja disedoet sawah. Dengan hati jang agak berdebar-debar memandang djoegalah dia kegoelang-goelang anak gadis itoe. Dia mémang ta' tampak. Akan tetapi setelah dekat, dia tertegoen. Sainah jang disangkanja soedah poelang itoe, ada dibawah goelang-goelangnja. Ia doedoek diatas pematang sambil memegang seserpih padi koening. Waktoe dilihatnja Djajoesman datang, dia berdiri. Takoet dan gentarnja selama ini soedah berkoerang-koerang, entah apa sebabnja dia sendiri tiada tahoe. Ja, boléh djadi djoega karena kedoea meréka itoe masih terlaloe moeda-moeda, beloem mengetahoei akan keadaan hidoep, beloem mengetjap akan peroebahan rasa. Sambil menjamboet pemberian Djajoesman, dia berkata: "Terima kasih, Man. Tapi salahnja engkau selaloe sadja memberi saja padi poeloet".<noinclude></noinclude> qot3efluga7yjp8twuy6njlht2rdqal Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/82 104 105734 298134 2026-06-16T04:16:38Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298134 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|66|ANAK PELESIT||}}</small></noinclude>"Hanja itoe jang ada pada saja, Nah", sahoet Djajoesman setelah sedjoeroes berdiam diri, bagai orang beriba hati roepanja. "Boekan begitoe, engkau salah terima. Maksoed saja, kalau selaloe sadja, tentoe iboe marah kelak". Djajoesman terdiam poela. Ia berpaling hendak kembali. "Man! Mengapa engkau meradjoek (berketjil hati)?" "Tidak, saja tidak meradjoek, saja hendak balik". "Ja, djanganlah engkau sebagai anak ketjil itoe! Adik saja jang begitoe". Djajoesman memandang sedjoeroes kepadanja. Kedoenja djadi sama-sama berdiam diri. Dalam hal jang demikian tiadalah diketahoeinja, bahwa iboe Sainah datang dari belakang. Ketika dilihatnja anaknja sedang bertjakap-tjakap dengan Djajoesman, moekanja mendjadi merah. Dengan mata jang bersinar-sinar kedengaranlah soearanja menjemboer, bertali-tali tiada berkepoetoesan. Bibirnja tampak gementar karena marah. "Koerang adjar, anak pelesit ta' bermaloe!" katanja. "Dia hanja memberi saja padi poeloet, 'boe", kata Sainah mendjela perkataan iboenja. "Oentoek apa padi poeloet itoe bagimoe?" "Akan saja koebik-koebik, 'boe!" "Koerang penganan 'kau?" Sainah tiada mendjawab. "Itoe anak pelesit jang ta' tahoe oentoeng, berani poela mengganggoe-ganggoe anak awak; tjerminilah bangkai doeloe!" "Djanganlah begitoe benar, mak! Soedah salah benarkah lakoe saja, pada hal saja hanja memberikan padi poeloet oentoek dia?" sahoet Djajoesman. "Ta' oesah dia kau beri!'' katanja seradja direboetnja padi jang ada ditangan Sainah, laloe dilemparkannja kedalam sawah. "Kami ta' perloe engkau beri, kami boekan orang kekoerangan, penganan tjoekoep oentoek dia''. "Ja, mak orang kaja, saja soedah tahoe. Dan saja tidak poela hendak memberi mamak, karena pada saja ta' ada jang akan saja berikan", sahoet Djajoesman poela. "Djangan 'kau banjak tjakap djoega, ajoh pergi! Anak pelesit ta' tahoe oentoeng! Lihat-lihatlah doeloe anak orang jang akan dilawan bertjakap! Tjerminilah bangkai sedikit! Pandang-pandangi orang dahoeloe, djangan disamakan sadja dengan awak!" Mendengar itoe Djajoesman tiada mendjawab lagi. Dengan kepala jang penoeh pikiran, diapoen kembalilah kegoelang-goelangnja. Sekalian perkataan dan penghinaan iboe Sainah itoe tersisip dalam hatinja. Padi telah poelang semoeanja. Djerami telah ada poela jang dipotong orang. Ada jang bermaksoed akan melepaskan anak ikan dan ada poela jang berniat hendak bersawah lagi, bersawah diroeng tahoen namanja, jaitoe sementara menanti moesim sekali lagi.<noinclude></noinclude> eg6w6b7pqhmxrzsmbwbvcej964rcxg9 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/83 104 105735 298135 2026-06-16T04:19:51Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298135 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||ANAK PELESIT|67|}}</small></noinclude>Disana sini orang 'asjik bekerdja. Djajoesman hendak melepaskan anak ikan. Pada soeatoe hari, waktoe Djajoesman poelang dari melihat "genangan" anak ikannja, hari telah moelaï sendja. Dari djaoeh kedengaran oléhnja sajoep-sajoep boenji orang memanggil itik. Ragoe-ragoe nian rasa hatinja mendengar soeara itoe. Rasa-rasa ada dikenalnja, tetapi agak bimbang kalau-kalau salah terkanja itoe. Sedjoeroes kemoedian soeara itoe hilang lenjap, ta' kedengaran lagi. Sementara itoe hari soedah bertambah samar djoega. Sedang dia berdjalan melaloei pematang jang masih litjin karena baroe dibaiki, tiba-tiba dia terkedjoet. Tiada berapa djaoeh dari padanja ada orang djatoeh masoek genangan. Dengan tiada berpikir pandjang lagi diapoen terdjoen kedalam sawah mengedjar orang itoe. Demi dilihatnja, hatinja djadi bimbang sedjoeroes, sebab orang jang djatoeh itoe ialah seorang perempoean. Moekanja soedah berloemoer loempoer. Tetapi dia ta' boléh ragoe-ragoe, orang itoe ta' moengkin dibiarkan sadja. Dengan ta' mengindahkan maloe dan segan, diangkatnjalah perempoean itoe keatas pematang. Setelah moeka orang itoe njata oléhnja..., ia oendoer selangkah. "Engkau Sainah?" tanjanja dengan tjemas. "Ja", sahoetnja lambat-lambat. "Mengapa engkau tadi?" "Saja mentjari itik, itik saja hilang seekor". "Ah, mengapa tidak iboemoe jang mentjari? Tidak takoetkah engkau ditempat jang soenji ini?" "Saja telah sedjak siang tadi pergi mentjarinja". "Sekarang baliklah poelang, ta' kan moengkin dapat lagi. Perloekah in saroeng ini bagimoe?" "Inaah!" Mendengar soeara itoe segeralah dia menjahoet. Hari bertambah gelap djoega. Ketika ajah Sainah sampai ketempat meréka, Djajoesman oendoer sedikit. "Mengapa engkau?" tanjanja dengan sangat tjemas, demi tampak oléhnja seorang laki-laki berdiri dibelakang anaknja. "Mengapa engkau basah-basah?" "Dia djatoeh, pa'". "Hai, siapa itoe?" "Djajoesman", sahoet Sainah. "Alaaa! Mengapa kalian (kamoe) disini?" Pada soearanja jang gementar itoe njata bagaimana tjemas dan takoetnja. Sainah lekas-lekas dibawanja poelang. Setelah sampai diroemah baroelah njata benar bagaimana roepa orang toea itoe. Ia tegak berdiam diri dengan moeka jang amat poetjat. Moeloetnja bergerak-gerak, tetapi sepatah perkataanpoen tiada keloear. "Mengapa engkau tadi?" tanja iboenja ketika dilihatnja pakaian anaknja basah-basah. "Itoelah kedjahilan engkau!" sahoet soeaminja dengan memberansang.<noinclude></noinclude> eqrnvtf8zp4omp74y5htpp4swjggem5 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/84 104 105736 298136 2026-06-16T04:23:49Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298136 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|68|ANAK PELESIT||}}</small></noinclude>"Soedah semalam ini hari, dia djoega jang engkau soeroeh. Kalau tidak akan terdjaga oléh engkau itik itoe, djoeallah semoea!" "Mengapa engkau tadi, Nah?" "Saja terdjatoeh, 'boe." "Entah! Entah benar dia terdjatoeh entah tidak, saja dapati dia berdoea dengan Djajoesman." "Astaaa!" kata iboenja dengan terperandjat, "mengapa engkau tadi?" "Ja, saja terdjatoeh, 'boe!" "Apa sebab dia ada poela disitoe?" "Oentoeng dia ada, 'boe, kalau tidak...; saja terdjatoeh dari pematang sawah Sawiah jang tinggi itoe kedalam genangan". "Itoelah", kata soeaminja poela seraja doedoek, ketika Sainah telah pergi membersihkan badannja. "Tidak engkau pikir apa jang akan engkau soeroehkan kepadanja. Kalau dia soedah dibentjanai orang ditempat jang soenji itoe nanti, baroelah engkau tahoe! Apa akan kata kita? Agaknja baroe engkau sadar apabila soedah tertjoréng arang dikeningmoe. Sampai kepada anak tjoetjoemoe kelak, pertjajalah, ta' kan berharga lagi kita dimata orang. Lebih-lebih, ja... engkau tahoe siapa Djajoesman itoe. Kalau dia anak orang baik-baik, boléh djoegalah. Tapi, ah, kalau engkau soedah menerima selepah kosong (tanda roemah gedang tidak berisi lagi) nanti dari menantoemoe, baroelah engkau insaf". Mendengar itoe isterinja menggéléng lambat. "Anak djahanam! Anak tjelaka! Biarlah saja toeroet dia keroemah orang toeanja sekarang. Anak pelésit koerang adjar, anak awak diganggoe-ganggoenja'', katanja sambil berdiri hendak berangkat. "Ada engkau tahoe roepanja anak siapa dia", oedjar soeaminja poela seraja menganggoek-anggoek ketjil. "Élok 'toe, pergilah, petjahlah kabar itoe, boléh tahoe orang senegerinja! Hm!" Isterinja tertegoen, laloe doedoek kembali. "Mengapa engkau namanja itoe? Betoellah engkau ini perempoean! Ta' engkau pikirkan lebih dahoeloe apa jang akan engkau kerdjakan. Tjobalah engkau katakan kepada saja doeloe, apa jang akan engkau katakan nanti disana?" Isterinja ta' menjahoet. Ia doedoek ''bersimpoeh'' dimoeka soeaminja dengan moeloet tertoetoep. "Sekarang, malam-malam ini engkau hendak pergi menjerang orang. Baik kalau diterimanja sadja, tetapi kalau anak engkau dikatakannja soedah "gatal" nanti, apa akan djawab engkau? Ta' kan engkau seorang sadja menanggoeng maloe. Ninik mamak 'kau akan terbawa-bawa semoeanja. Lebih tjelaka lagi nanti, kalau hal ini disiar-siarkannja kepada orang lain, sehingga tahoe orang sepenoeh kampoeng ini. Bagi dia tidak akan mendjadi apa, sebab dia tahoe dia soedah ta' berharga djoega dimata orang. Orang kampoeng ini telah tahoe semoeanja, bahasa dia bangsa pedjalan malam, orang jang bertelinga lebar, bangsa pelésit jang sehina-hinanja. Kalau terdjadi jang demikian, nah, apa akan kata orang?"<noinclude></noinclude> o2njslqhiwua8nknyt4rkapo9urlebl Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/85 104 105737 298137 2026-06-16T04:25:08Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298137 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||ANAK PELESIT|69|}}</small></noinclude>'kau? Pertjajalah, orang lain ta' kan maoe lagi pada anak 'kau, biar kaurebahkan kerbau agak tiga dan kaupanggil sekalian isi negeri ini, kita ta' kan berharga lagi dimata merêka. Nah, maoe ta' maoe nanti, tentoelah anak pelesit itoe jang akan engkau ambil djadi menantoe". Keesokan harinja ketika ajahnja tiada diroemah, pergilah Sainah kepada iboenja jang sedang bekerdja didapoer. Sebahagian pertjakapan orang toeandja tadi malam terdengar oléhnja. Soenggoeh héran ia memikirkan akan kepertjajaan orang toeanja itoe. Ia ada djoega mendengar tjerita dari goeroenja, ketika dia masih bersekolah, bahwa pelesit itoe hanja kepertjajaan sadja; sebab, siapa poela jang akan maoe memakan daging anak ketjil jang baroe meninggal? Djangankan akan memakan, mendengar tjeritanja sadja soedah djidjik rasanja. Sekarang orang toeanja pertjaja benar akan hal itoe. Ah, soenggoeh terlaloe kepertjajaan itoe! Tetapi apa boléh boeat, kedoea orang toeanja telah lama hidoep, orang jang telah lama melihat doenia, orang jang telah banjak pengalamannja, sedang dia baroe lima belas tahoen lebih. Karena itoe perasaan hatinja tiadalah dikeloearkannja kepada iboenja. Poen akan menanjakan tjeritera tentang keadaan Djajoesman itoe berat rasa lidahnja, koeatir dia kalau-kalau iboenja salah penerimaan nanti. Lebih-lebih lagi timboel sedih dan iba dalam hatinja mengenangkan anak moeda jang toeloes ichlas itoe. Soenggoeh malang nasibnja, karena soedah terlahir dalam golongan jang ta' berharga dimata orang orang banjak. Sedang ia memikir-mikirkan hal itoe, tiba-tiba iboenja bertanja kepadanja, menjiasat keadaannja semalam. "Tidak, 'boe, tidak dipengapakannja sadja; dia datang hanja akan menolong", djawab Sainah. "Tidak ada orang lain jang menampak?" "Tidak, hanja kami berdoea sadja jang ada disitoe. Barangkali kalau ta' ada poela dia, entah bagaimanalah sadja, 'boe". "Ja, ajahmoe ta' bersenang hati sedikit djoega melihat kelakoean anak itoe. Dan boekan sekali doea dia berlakoe jang koerang patoet kepadamoe. Jang kedjadian ketika menggera dahoeloe, oentoeng tiada diketahoei oléh ajahmoe; kalau dia tahoe, entah bagaimana poelalah akan katanja. Sebab itoe ingat-ingatlah engkau sedikit, djagalah nama kita jang baik, djanganlah engkau menjapa-njapa dia lagi, poen anak-anak moeda jang lain djangan sekali-kali engkau tegoer. Ta' baik anak gadis menjapa laki-laki". "Ja, tapi dia datang boekan berniat djahat, 'boe, dia hanja menolong sadja". "Sebab itoelah maka engkau haroes ingat-ingat. Djajoesman itoe ta' baik engkau lawan bertjakap-tjakap, dia berlain dengan kita". "Apa lainnja, 'boe?" "Dia pelesit, kita orang berasal. Nah, itoelah lainnja". "Pelesit? Beloem ada terdengar orang menjeboet-njeboet, 'boe". "Ja, engkau dimana tahoe". "Ta' moengkin 'boe!"<noinclude></noinclude> 88vd07yeyp6ciqlonlbin0dkyp3x2pe Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/86 104 105738 298138 2026-06-16T04:26:43Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298138 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|70|ANAK PELESIT||}}</small></noinclude>Iboenja memandang kepada anaknja. Tetapi Sainah segera ''menekoer''. Terbit maloenja memikirkan perkataannja itoe. "Engkau beloem tahoe", kata iboenja poela. "Djajoesman itoe mémang tidak, tetapi nénéknja, nénék kandoengnja; ta' ada orang jang ta' tahoe. Semoea orang takoet kepadanja, lebih-lebih kalau orang jang baroe beranak atau jang sedang hamil. Soedah pernah dia kedapatan oléh orang, ah, tidak seorang doea lagi jang telah melihat". "Sedang mengapa dia kedapatan oléh orang, 'boe?" "Sedang membawa jang akan dimakannja, apa lagi! Ajah si Mani jang dibelakang roemah kita ini jang melihat dan dialah jang mentjeriterakan, banjak kami jang mendengar waktoe itoe. Ajah si Mani itoe dahoeloe selaloe poelang laroet-laroet malam. Pada soeatoe kali ketika dia akan poelang hari hoedjan-hoedjan ketjil. Sebab itoe dia memintas sadja laloe ke Parak Tjongkak. Ketika dia sedang ditempat jang gelap tiba-tiba hari kilat. Waktoe itoe tampak oléhnja soeatoe bajangan hitam dihadapannja. Ketika datang kilat sekali lagi, njatalah kepadanja, bahwa jang dihadapannja itoe seorang orang toea, membawa soeatoe barang jang diselimoetinja. Waktoe berselisih laloe, ajah si Mani menjapa, tetapi tidak disahoetinja. Setelah doea kali disapanja, tetapi tidak djoega beroléh djawaban, diapoen djadi takoet. Boeloe romanja djadi berdiri, tengkoeknja berasa tebal dan darahnja ''gedebak gedeboer''. Dengan memberanikan diri dia tegak, laloe dioelangnja menjapa: "Hai mengapa diam sadja? Apa jang dibawa itoe?" Mendengar itoe orang itoepoen berbalik. Hari kilat poela. "Ini jang saja bawa", sahoetnja seraja dilémparkannja majat seorang anak ketjil jang masih berboengkoes kain kapan". "Ai!" teriak Sainah dengan mata terbelalak, "soedah itoe bagaimana, 'boe?" "Majat itoe termasoek kedalam kain saroengnja. ''Allahoer Rabbi'' boesoeknja. Sebab sangat takoet dan terperandjat, ajah si Mani memboengkan kain saroengnja itoe, laloe dia lari dengan segera. Sampai diroemah ia ta' dapat berkata apa-apa. Moekanja poetjat, lidahnja télor. Kira-kira seperempat djam baroelah dia ingat akan orang". "Djadi ada majat itoe bertemoe oléh orang kembali?" "Tidak, roepanja diambilnja lagi, sebab pada keésokan harinja kain saroeng itoe didapati orang di Loeboek Sombé. Roepanja disitoelah dimandikannja". "Hii, takoet awak, 'boe", kata Sainah seraja menggerakkan kedoea bahoenja dan boeloe romanjapoen kelihatan berdiri. "Tapi Djajoesman itoe 'kan ta' ada mengerdjakan jang demikian itoe, 'boe?" "Sekarang mémang beloem, sebab dia masih moeda, tetapi sedikit hari lagi 'kau dengarlah nanti!" "Tapi tidakkah itoe hanja tjeritera ajah si Mani sadja, 'boe?" "Mana boléh! Bapak si Mani itoe boekan orang pemboeal, dia soedah toea dan tentoe dia ta' man mau berbohong". Mendengar itoe Sainah tiada berkata lagi. Terbajang dimatanja nénék<noinclude></noinclude> p892dt3wwcbp9vdfddjvw7t30gysdws Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/87 104 105739 298139 2026-06-16T04:28:32Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298139 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||ANAK PELESIT|71|}}</small></noinclude>Djajoesman jang ditjeriterakan iboenja itoe. Ia kenal kepada orang toa itoe, tetapi semendjak dahoeloe dia beloem pernah mendengar tjeriteranja jang sebagai itoe. Pelesit dia tahoe dan iboenjapoen pernah menjeboet-njeboet. Sekarang, ah, hatinja ketjoet, dia lama berdiam diri. Tapi...! Air moekanja tiba-tiba beroebah. Djajoesman teringat oléhnja. Dia orang jang baik hati, loeroes, dan hal itoe soedah lama diketahoeinja. Malang benar dia, soedah terlahir didalam golongan orang jang ta' berharga dimata orang banjak. "Ah, Djajoesman!" keloehnja dalam hatinja. {{right|{{smallcaps|Ardi}} {{smallcaps|Soma}}, ''Tjintjin setémpél.''}}<noinclude></noinclude> 7ik1e39haa88al3prmbasxn88mj83w6 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/88 104 105740 298140 2026-06-16T04:34:04Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298140 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>MIMPI JANG BOEROEK</big>}} Kerétapoen berangkatlah dan Masri teroes djoega berdjalan menoedjoe roemah orang toeanja. Saroengnjapoen diboekanjalah, laloe ia berseloeboeng dengan kain saroengnja itoe. Sedang ia berdjalan ditepi djalan jang ditoemboehi roempoet akan mengélakkan panas kersik jang ditimpa tjahaja matahari, teringatlah oléhnja akan pertemoeannja dengan perempoean tadi. Senang hatinja, karena ia telah menolong orang jang dalam kesoesahan. Minta sjoekoer ia kepada Toehan, karena Toehan telah memboekakan hatinja, jang maoe menolong sesama manoesia. Pada soeatoe tempat jang moelia dalam hatinja, soedah tertoelis diatas pelinggam jang berseri-seri soeatoe kalimat jang boenjinja: "Senangkanlah hatimoe dengan menjenangkan hati orang lain". Sebentar lagi, terpikir poela oléh Masri, apalah jang akan dikatakan bapanja kepadanja nanti. Ditjobanja menerka-nerka, tetapi walaupoen bagaimana didjalankannja pikirannja, ta' dapatlah ia ''meng'arifi'' maksoed orang toeanja itoe. Ketika ia menoléh kekanan, melihat andjing mengedjar toepai jang masoek semak ditepi djalan, tiba-tiba terkenang oléhnja mimpinja malam kemarin dahoeloe. Rasanja ia ketika itoe pergi berdjalan-djalan dengan anak-anak kelas lima, moerid-moerid Sekolah Peripat (Leerschool pada Kweekschool déwasa itoe) keair ''mantjoer'', diléréng goenoeng Merapi. Sedang moerid-moeridnja bermain-main dekat air mantjoer itoe, pergilah ia seorang dirinja mendaki goenoeng itoe, maksoednja hendak melihat-lihat keatas sedikit lagi, dan akan memandangi kalau-kalau tampak Fort de Kock dari sana. Boekan main soesahnja djalan keatas! Daoen lalang jang tadjam-tadjam pinggirnja, batang resam piai kait-berkait, dan doeri onak jang roentjing-roentjing, itoelah jang menjoesahkan perdjalanan Masri. Kendatipoen begitu, Masripoen mentjoba djoega hendak menjampaikan maksoednja. Merambah kekiri, memoekoel kekanan dengan tongkat semamboenja, memboeangkan apa jang mengalanginja, serta bergantoeng pada batang-batang beloekar, begitoelah ia naik mendaki tempat itoe. Kembang kempis dadanja menarik nafas, karena lelahnja. Letih lesoe badannja ketika itoe, keringatnja mengalir membasahi badannja, dan berpoetar-poetarlah pemandannja. Tiada moengkin dalam pikirannja lagi akan mendaki keatas. Akan melepaskan lelahnja, doedoeklah ia ditanah, bersandar pada sepohon kajoe. Dipedjamkannja matanja dan sebab letih, tertidoerlah ia. Entah berapa lamanja ia tertidoer disitoe, ta' tahoelah ia... tiba-tiba ia terbangoen, terkedjoet mendengar boenji seperti orang berdjalan dalam semak-semak tiada djaoeh dibelakangnja. Masripoen berdirilah dengan segeranja serta menoléh melihat kepada jang berboenji itoe. Seketika itoe djoega berdebarlah hatinja, boeloe romandja berdiri, moekanja poetjat sebagai madjat, dan gementarlah badannja. Apakah jang tampak oléhnja? Seekor harimau jang besar, matanja menjala seperti bintang timoer doea boeah, sedang berdjalan dengan perlahan-lahan dalam semak-semak itoe serta nafasnja seroepa nafas orang jang terlaloe lelah.<noinclude></noinclude> 1v06d2ss3fyfox9ws32p5e8m1jcwxxc Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/89 104 105741 298141 2026-06-16T04:36:03Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298141 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||MIMPI JANG BOEROEK|73|}}</small></noinclude>dan kepanasan. Tiada berapa langkah djaoehnja dari Masri, harimau itoepoen meniarap dengan kedoea kakinja jang dimoeka, lakoenja sebagai koetjing hendak menangkap tikoes, dan kelihatanhlah koekoenja jang amat besar dan tadjam itoe. Sekedjap itoe djoega, teringatlah oléh Masri akan petoea goeroenja, ketika ia beladjar bersilat dahoeloe: moesoeh tidak ditjari-tjari, bersoea pantang diindarkan. Berani karena benar, takoet karena salah. Berani mati ta' mati, toenggang hilang ta' hilang. Oléh sebab itoe pikirnja: "Ta' oesah akoe takoet lagi! Djikalau akoe lari sekalipoen, sebab ketakoetan, nistajalah akoe ditangkapnja djoega dari belakang. Baiklah akoe lawan djoega seboléh-boléhnja. Karena boekan salahkoe, tentoelah djoega Toehan menolongkoe". Dengan pikiran demikian itoe, berdirilah ia dengan beraninja menantikan harimau itoe datang, dan tongkatnja dipegangnja, disediakannja akan memoekoel. Sedjoeroes itoe djoega harimau itoepoen membantingkan ékornja keboemi, menderam soearanja seperti goeroeh boenjinja, laloe melompat hendak menerkam Masri. Terpelanting tongkat semamboenja, jang dipoekoelkannja sekoeat-koeatnja kepada harimau itoe. Soenggoehpoen ditangkisnja djoega sedapat-dapat, tetapi sia-sia sadja, ia digonggong dibawa lari oléh radja hoetan itoe dan ketika ia berteriak minta tolong, iapoen... terbangoenlah dari tidoernja. "Astagfiroe'llah!" oetjapan Masri ketika itoe. "Bermimpi akoe kiranja". Lama djoega Masri memikirkan ta'bir mimpinja itoe. Atjap kali ia mendengar orang menerangkan ta'bir mimpi "ditangkap harimau itoe" ialah "kawin" dan arti mimpi "mendaki goenoeng tidak sampai kepoentjaknja" itoe, ja'ni tanda maksoed ta'kan sampai. "Ahhh...!" keloeh Masri, sambil ia menjimpang masoek pintoe gerbang roemah orang toeanja. "Kalau betoel begitoe ta'bir mimpikoe itoe, ja..., tentoelah akoe ini orang jang semalang-malangnja..." Roemah lima roeng tiga lérét, bergondjong seperti tandoek kerbau, — jang seakan-akan djadi tanda peringatan kemenangan keradjaan Menangkabau dari keradjaan Madjapahit dahoeloe kala, ketika kedoea keradjaan itoe memperlagakan kerbaunja akan ganti berperang, menjaboeng njawa hamba ra'jatnja, — beratap idjoek, berdinding papan, dan berdjangdjang batoe, terdiri tidak djaoeh dari djalan raja. Pinggir atapnja jang terikat dengan timah poetih diantara sedjari-sedjari, dinding papannja jang beroekir, dan doea boeah loemboeng jang berdiri dihalamannja, menjatakan kepada jang melihatnja, bahasa orang jang tinggal dalam roemah itoe, ialah orang jang hartawan. Dekat tangganja ada seboeah kolam ketjil berisi air, tempat orang membasoeh kakinja, sebeloem naik roemah. Inilah roemah tangga orang toea Masri. Diroeng tengah dekat djendéla, doedoeklah Datoek Perpatih, bapa Masri, sedang bertjakap dengan iboe dan mamaknja. Nasi soedah terhidang dengan qoelai serta laoek paoeknja. "Apakah sebabnja Masri beloem tiba djoega?" tanja bapa Masri<noinclude></noinclude> q3ho3d0nm7et4tm0oyaxpsay86x3mt9 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/90 104 105742 298142 2026-06-16T04:38:41Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298142 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|74|MIMPI JANG BOEROEK||}}</small></noinclude>kepada iboenja. "Boléh djadi tidak diterimanja soerat kita jang semalam atau soedah habis poela wang belandjanja. Ma'loemlah di Fort de Kock banjak tempat menghabiskan oeang; gambar hidoep bermain setiap malam, apalagi sekarang chabarnja soedah datang poela komidi bangsawan kesana". "Barangkali keréta terlambat", sahoet iboe Masri, akan ''mempertahankan'' anaknja. "Kata si Karim, koesir tempat kita mengirimkan soerat itoe, si Masri sendiri jang menerima soerat itoe. Wangnja tentoe ada, karena hamba tahoe, anak kita boekanlah anak jang pemboros. Segala pengadjaran dan nasihat kita, menoeroet pemandangan dan pendengaran hamba, adalah selaloe dipegangnja erat, digenggamnja tegoeh, sekalitidak diabaikannja. Lagipoen semalam ada djoega hamba kirimkan belandjanja, oentoek pengisi sakoenja sedikit". Paman Masri, Datoek Temenggoeng, penghoeloe soekoe jang berhenti dikampoeng itoe, menjertai pertjakapan itoe, katanja: "Kalau soedah dengan keras dia datoek soeroeh poelang, ta' boléh tidak mesti dia poelang. Kalau ''sekiranja'' dia tidak datang hari ini, biarlah hari Raboe dimoeka kita pergi ke Boekittinggi, akan melakoekan roendingan kita kepadanja". "Baiklah!" sahoet Datoek Perpatih, sambil menggoeloeng rokok daoen nipahnja. "Saja rasa, dia poelang djoega sekarang", laloe iapoen mengisaplah. "Lebih baik kita makan sadja dahoeloe", oedjar iboe Masri. "Nasi soedah dingin terletak. Lagi poela tentoe Masri boléh djadi soedah makan diroemah ''indoek semangnja'', sebeloem dia berangkat kemari". "Baik djoega", djawab soeaminja, "peroetkoepoen telah berboenjiboenji, karena lapar. Marilah kita makan, datoek!" katanja lagi kepada iparnja. Laloe makanlah orang itoe bertiga. Sedang makan, iboe Masri sebentar-sebentar menéngok djoega keloear, melihat kalau-kalau Masri soedah datang. "A! itoe dia soedah datang!" katanja dengan tiba-tiba, sambil menoendjoek kedjalan besar. Bapa dan mamak Masri melihat keloear dan tampaklah oléhnja Masri menjimpang keroemah itoe. "Tjobalah datoek lihat!" kata Datoek Temenggoeng. "Boekankah dia soedah besar, soedah tinggi poela dari kita, telah patoet dia memakai ''adat''". "Ja!" sahoet Datoek Perpatih; "sabarlah datoek menanti lepas poeasa ini! Kalau soedah tammat sekolahnja, kemana akan perginja, ikan dalam belanga, tentoe datoek djoega akan mendapat. Biar lambat asal selamat, ta'kan lari goenoeng dikedjar". "Itoe benar djoega", meningkah Datoek Temenggoeng, "tetapi seperti kata datoek djoega, kerdja baik dilekas-lekaskan, soepaja djangan ditimpa kerdja boeroek. Nantilah kita oelang-oelang djoega, sebab Masri soedah naik". "Langkah kanan betoel sekali ini!" oedjar Masri, ketika dilihatnja orang toeanja sedang makan dengan mamaknja, laloe doedoeklah ia dekat iboenja.<noinclude></noinclude> ourp2udde54h1qmu9h6egkovtf62wap Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/91 104 105743 298143 2026-06-16T04:40:56Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298143 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||MIMPI JANG BOEROEK|75|}}</small></noinclude>"Makanlah kamoe sekali!" kata iboenja sambil menjorongkan piring kepadanja. Masri menoeangkan kopi kedalam tjangkir serta diminoemnja sekali, laloe sahoetnja: "Tidak, iboe, hamba ta' makan lagi, sebab hamba soedah makan kenjang tadi di Boekittinggi. Biarlah hamba minoem sadja". Sedjoeroes lamanja soedahlah orang ketiganja itoe makan. "Oentoeng benar!" kata bapa Masri kepada anaknja, sesoedah makanan diangkat kebelakang. "Saja sangka kamoe ta' dapat poelang sekali ini. Kalau kamoe tidak poelang hari ini, saja marah benar kepadamoe, karena ada roendingan jang soelit jang akan saja bitjarakan dengan kamoe!" Gedebak gedeboer hati Masri, mendengarkan perkataan bapanja jang sedemikian. "Ja, bapak!" sahoet Masri dengan hormatnja. "Kalau bapak dan iboe memesankan hamba dengan keras seperti sekali ini, tentoe hamba poelang, walaupoen bagaimana banjaknja pengadjaran hamba. Lagi poela, sebetoelnja, hambapoen bermaksoed hendak poelang djoega hari ini, karena ada poela jang akan hamba peroendingkan sedikit dengan bapak, djika bapak izinkan". "O, bagoes!" djawab ajahnja. "Sekali merengkoeh dajoeng doea tiga poelau terlampau, sekali memboeka poera doea tiga oetang terbajar. Kamoe keloearkanlah apa-apa jang ''terkalang'' dimata dan terasa dihatimoe, soepaja kami, iboe bapamoe dan mamakmoe mema'loeminja poela, dan agar soepaja dapat kami timbang boeroek baiknja. Jang baik boleh kamoe pakai, jang boeroek boleh kamoe boeang. Sebab betoel kamoe soedah terpeladjar, kata orang, tetapi timbang-menimbang dalam sesoeatoe bitjara, mengadji ''melarat'' dan manfa'atnja tentoe kamoe beloem faham. Benar djoega kamoe soedah besar, tetapi besarmoe karena daging, tinggimoe karena roeas, 'oemoermoe baroe setahoen djagoeng, darahmoe baroe setampoek pinang, pendengaranmoe beloem banjak dan penglihatanmoe beloem djaoeh. Kami ini soedah toea, soedah lama makan boeah djerami; sedangkan kepala kamipoen telah beratap ''séng'', tidak beratap idjoek sebagai kepalamoe lagi. Soedah banjak nan kami lihat, soedah banjak nan kami rasai. Banjaklah soedah gelombang kehidoepan jang kami tanggoeng. Oléh sebab itoe, soenggoehpoen kamoe pandai dalam 'ilmoe sekolah, patoet djoega kamoe hendaknja menoeroet pengadjaran kami, soepaja sentosa kehidoepanmoe. Sekarang katakanlah hadjatmoe itoe!" Termenoeng Masri mendengarkan perkataan bapanja itoe. Terang-terang kain oléhnja akan maksoed bapanja. Berkaroet pikirannja, karena bapanja seolah-olah telah mengeloearkan koentji mati, akan pengoentji pintoe tjita-tjita dan kehendaknja. Mengertilah ia, bahasa bapanja hendak mengikat dia lahir dan batin, serta akan mengeloearkan perintah atau paksaan, jang maoe ta' maoe mesti ditoeroetnja. "Bapak!" oedjar Masri dengan chidmatnja, sambil menarik nafas pandjang. "Benarlah seperti kata bapak itoe. Sebagai kewadjiban seorang<noinclude></noinclude> k1w6s5w74cd6y6s9jxsdfl3leb1owny Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/92 104 105744 298144 2026-06-16T04:42:23Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298144 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|74|MIMPI JANG BOEROEK||}}</small></noinclude>anak, haroes menoeroet kata orang toeanja, segala nasihat bapa itoe, djika siang hamba pertongkat, bila malam hamba perkalang. Bapapoen soedah tahoe djoega, semendjak ketjil hamba sampai sekarang, beloemlah pernah hamba bersoetan dimata, beradja dihati, hanja senantiasa bapa, iboe dan mamak djoegalah, djika pergi akan tempat bertanja, poelang tempat berberita bagi hamba". "Senanglah hati kami mendengarkan perkataanmoe itoe", kata Datoek Temenggoeng menjela perkataan kemanakannja, "dan sjoekoerlah, djika ada begitoeh pikiranmoe". "Soenggoehpoen begitoe", Masri menjamboeng bitjaranja, "kemanakan perintah mamak, mamak seperintah ''aloer'' dan ''patoet'' (kebenaran) djoega. Sekarang, bapak, baiklah hamba katakan maksoed hamba tadi. Hamba berbitjara ini, boekanlah kepada bapak sadja, melainkan kepada iboe dan mamak djoega. Jang akan hamba katakan ini, ialah jang bergoena dan berfaédah bagi hamba, djadi tentoe begitoe djoega bagi bapak, iboe dan mamak, karena kalau senang kehidoepan hamba dibelakang hari, tentoe hati bapak, mamak dan iboe senang poela melihatnja. Bila sentosa kehidoepan hamba, tentoe hamba dapat djoega menolong iboe, bapak dan mamak, akan ganti terima kasih hamba. Seperti bapak soedah ma'loem djoega, tiga boelan lagi tammatlah pengadjaran hamba di Sekolah Radja. Insja Allah ''berkat'' do'a bapak, iboe dan mamak, pengadjaran hamba disekolah adalah madjoe sadja. Adalah djoega ''tertoeroetkan'' oleh hamba sekalian kawan-kawan hamba. Bapapoen boléh djadi ada ingat lagi, hamba naik kekelas enam ini dengan nomor tiga. Selisih kepandaian hamba dengan teman-teman hamba jang nomor satoe dan nomor doea itoe, tidaklah berapa. Setahoen ini hamba beroesaha betoel-betoel. Tidak adalah sedikit djoega hamba memboeng-boeng waktoe. Sekalian pengadjaran soedah hamba apal semoeanja, sehingga walapoen bésok diadakan oedjian, hamba tidak gentar lagi. Boekanlah seperti tahoen dahoeloe, hari pagi diboeng-boeng, hari petang dikedjar-kedjar, hanja hamba menghafal seboelan akan dioedji sadja. Djadi menoeroet pikiran hamba dan melihat kepandaian hamba tiap-tiap hari, serta kalau ditolong Toehan poela, tentoe hamba akan madjoe dalam oedjian penghabisan dimoeka poeasa ini dengan nomor jang lebih tinggi, sekoerang-koerangna nomor doea tentoe akan dapat djoega. Menoeroet kata toean goeroe kepala (Directeur) Sekolah Radja, lepas poeasa ini akan diboeka seboeah Sekolah Radja Tinggi (Hoogere Kweekschool) di Poerworedjo, ditanah Djawa; jang akan diterima mendjadi moerid-moerid sekolah itoe, jaitoe moerid-moerid Sekolah Radja jang pandai-pandai sadja, jang telah tammat peladjaranja. Gadjit kalau soedah keloear dari sekolah itoe seratoes roepiah seboelan, djadi doea kali lipat gadji lepasan Sekolah Radja disini. Beladjar disana tjoema tiga tahoen sadja. Djika hamba dapat nomor tinggi djoega, tentoe hamba boléh masoek kesekolah itoe. Oleh sebab itoe, dari sekarang hamba minta kepada bapa, iboe dan<noinclude></noinclude> gqvqsvrrjcrqpihgydlkmmecezlmmzi Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/93 104 105745 298145 2026-06-16T04:43:22Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298145 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||MIMPI JANG BOEROEK|77|}}</small></noinclude>mamak, izinkanlah hamba meneroeskan peladjaran hamba kesekolah itoe, soepaja boleh hamba beroesaha dengan sekoeat-koeat tenaga hamba dari kini. Kalau hamba dapat masoek sekolah itoe, hamba akan beroesaha diri poela disana sedapat-dapat, dan alangkah senangnja kehidoepan hamba kelak, bila hamba mendjadi goeroe jang bergadji besar. Selama hamba bersekolah disitoe, hamba akan berhemat seboleh-bolehnja, soepaja djangan pajah benar bapa membelandjai hamba. Lima roepiah sadja bapa bantoe seboelan soedah tjoekoep, sebab moerid-moerid disana dapat bantoen djoega dari Goebernemén setiap boelan. Bapa izinkanlah hamba pergi bersekolah kesana!" Sehabis perkataannja itoe, Masri memandang kepada bapanja dengan air moeka jang mangandoeng pengharapan. Iboe bapa dan mamaknja termenoeng sadja sedjoeroes lamanja, ketiganja menekoer sadja, tidak menjahoet sepatah kata djoepapoen. Sebentar lagi kelihatanlah moeka bapanja beroebah sedikit, mendjadi kemérah-mérahan dan iboenja melihatlah kepadanja dengan masgoelnja serta mamaknjapoen bingoeng seperti orang kehilangan akal. Tertoemboek bidoek dikélokkan, tertoemboek kata dipikiri. Datoek Perpatihpoen berpikirlah seketika, sambil membakar rokoknja jang telah padam semendjak tadi. Sedang ia mengiroep dan mengemboeskan asap rokoknja, fikirannja didjalankannja djoega, memikirkan niat dan maksoed anaknja itoe. "Akal datang, pendapat tiba, diboeangkannjalah rokoknja keloear, jang soedah padam poela, laloe katanja: „Beginilah Masri! Maksoedmoe itoe baik djoega. Tetapi tjobalah kamoe fikirkan dengan hati jang hening. Tjobalah kamoe teloengkoep telentangkan, kamoe oekoer pandjang lébarnja, kamoe fikirkan soeroet laloenja dan kamoe balik-balik bagai memanggang. Saja dan iboemoe soedah toa, hampir-hampir tidak koeat lagi bekerdja, mengerdjakan sawah ladang kita. Kami beroesaha oentoek mentjaharikan belandjamoe dalam enam tahoen ini, soedah mengalir peloeh ketoemit. Selama kamoe masoek Sekolah Radja, ta' air telang dipantjoeng, ta' kajoe djandjang dikeping, kami penoehi segala keperloeanmoe. Sekarang, karena kamoe soedah besar, soepaja kamoe tahoe bagaimana kehidoepan orang toeamoe, biarlah saja berbitjara dengan teroes terang, boeka koelit ambil isi sadja. Kehidoepan manoesia diatas doenia ini, ialah sebagai roda pedati, sekali keatas, sekali kebawah, tidaklah tetap adanja. Atau boleh djoega dikatakan, sematjam hari, sekali panas, sekali hoedjan. Baik berganti dengan boeroek, moedjoer bertoekar dengan malang. Kita dahoeloe masoek orang jang berada, tetapi sekarang... harta kita telah soesoet djoega, sawah ladang kita soedah banjak jang tergadai oentoek pemboeat roemah iboemoe ini. Sebetoelnja kita kini soedah sakit seperti betik, diloearnja kelihatan masih baik djoega, tetapi didalam soedah hantjoer loeloeh. Kita soedah djatoeh miskin. Sekalian keperloean kita, didapat dengan hasil sawah ladang kita sadja. Padi kita sekarang tjoema tjoekoep akan dimakan sadja lagi. Kami soedah toa poela, bekerdja banjak seperti<noinclude></noinclude> 9uazcc3jmcsqcm3felsedmywifh7jry Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/94 104 105746 298146 2026-06-16T04:44:37Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298146 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|78|MIMPI JANG BOEROEK||}}</small></noinclude>dahoeloe tidak koeat lagi, djadi setengahnja sawah kita diperdoeakan kepada orang lain. Oentoenglah ada mamakmoe ini jang membantoe kami bekerdja, kalau tidak tentoe pekerdjaan kami tiada keroean. Oentoek membelandjaimoe tiga tahoen lagi, tidak sanggoep kami rasanja. Lagi poela, melepaskan kamoe pergi beladjar sedjaoeh itoe, ta' sampai rasanja hati kami. Siapa tahoe nanti, malang diseboet, moedjoer hendaknja jang akan datang, sakit senang, hidoep mati tidak bertjerai, kalau pendek permintaanmoe disana... apalah akan djadinja kami kamoe tinggalkan. Kamoepoen tahoe djoega, kami beranak hanja kamoe seorang. Kamoelah si oepik si boejong bagi kami, jang kami harapkan oentoek menjenangkan hati kami. Djika singkat poela 'oemoer kami, ketika kamoe dirantau orang, sampai adjal kami disini, siapalah jang akan mengantarkan kami sampai keliang lahad. O, Masri, sakit soekmakoe rasanja memikirkan hal jang sedemikian". Datoek Perpatih memperhentikan toetoernja seketika, sambil memandang kepada Masri, jang sedang menoendoekkan kepalanja. Dimoekanja tampaklah heroesoehan hatinja. Iboe Masri tidak keroean pada pikirannja, ta' tentoe jang mana jang akan ditoeroetnja. Segala perkataan soeaminja itoe benar poela pada pikirannja, ta' dapat ia membiarkan anaknja, boeah hati pengarang djantoengnja, pergi bersekolah sedjaoeh itoe. Masri selaloe disajangi dan dimandjakannja. Ta' maoe ia meroesakkan hati anaknja, didaganja selaloe, ditatangnja seperti menatang minjak penoeh. Beloem pernah permintaan Masri jang tidak diperkenankannja. Tjita-tjita Masri senantiasa dibenarkannja, karena walapoen ia seorang-orang perempoean kampoeng jang tidak terpeladjar, tetapi mengerti djoega ia sedikit-sedikit, bahasa dari pada mematahkan hati atau mengalangi tjita-tjita anak itoe, lebih baik patahkan sadja tangannja. Ma'loem djoega ia, bahawa anak itoe dilahirkan dengan berisi "tjita-tjita" dan "kemaoean", dan kalau iboe bapanja pandai mendidik dan memimpin kedoea mestika jang tersisip dalam hati anak itoe, tentoe anak itoe akan mendjadi manoesia jang berarti diwaktoe besarnja, boekan manoesia jang menjempitkan doenia dan memahalkan beras sadja. Itoelah sebabnja iboe Masri selaloe berichtiar hendak menjampaikan sekalian tjita-tjita anaknja. Dalam hal jang sekarang ini, apa jang akan diboatnja, hanja ia menanti kepoetoesan roendingan soeaminja dengan anaknja itoe sadja. Datoek Temenggoeng, paman Masri melihat sadja kepada iparnja dengan pandang jang berarti, seolah-olah hendak mengatakan: "Djangan diperlakoekan permintaannja, soepaja maksoed kita djangan teralang!" Bapa Masri membalas pandangnja itoe dengan kedjap mata, laloe iapoen meneroeskkan bitjaranja poela, katanja: "Tambahan lagi, Masri, waktoe jang tiga tahoen itoe boekan sebentar, matjam-matjam dapat kedjadian dalam selama itoe. Kalau sampai adjal kami, djika pendek 'oemoer kami, tentoe kami ta' dapat melihat kamoe lagi. Pengharapan kami setiap hari, terlihat djoega oleh kami hendaknja kamoe djadi goeroe, terketjap djoega hendaknja boeah pentjarianmoe oleh kami,<noinclude></noinclude> 1nzdyc0jufa5eubp7m508fwk3ipobz1 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/95 104 105747 298147 2026-06-16T04:45:45Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298147 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||MIMPI JANG BOEROEK|79|}}</small></noinclude>sebeloem kami berpindah dari doenia jang fana ini keachirat jang baka. Pengharapan kami itoe tiga boelan lagi tentoe berhasil. Sekarang, pengharapan kami jang telah dekat, hendak kamoe perdjaoeh poela, jang tiga boelan hendak kamoe djadikan tiga tahoen. Tjoekoeplah itoe, Masri, sampai Sekolah Radja ini sadja soedahlah. Hendak tinggi terlaloe patah. Lagi poela, soedah sebelas tahoen lamanja kamoe beladjar, lima tahoen di Sekolah Peripat dan enam tahoen poela di Sekolah Radja, sekarang akan ditambah poela tiga tahoen lagi, tentoe kamoe toea dalam sekolah sadja... ah, ta' moengkin Masri... ta' baik begitu... tidak dapat dan tidak maoe saja memberi izinmoe pergi bersekolah ketanah Djawa itoe". Hantjoer loeloeh, laksana katja terempas dibatoe hati Masri mendengar perkataan bapanja itoe. Bermatjam-matjam pikiran datang menggodanja. Terpikir oléhnja, bagaimana malang oentoengnja diatas doenia ini. Soedah tetap hatinja hendak melandjoetkan pengadjarannja ke Sekolah Radja Tinggi itoe. Siang malam maksoednja itoe tidak hilang-hilangnja, sehingga setiap waktoe ia beladjar dengan radjin, mengapal segala peladjarannja, dengan pengharapan jang ta' poetoes-poetoesnja, soepaja ia dapat djoega masoek kesekolah jang terseboet. Tetapi apa boléh boeat, segala tjita-tjita dan pengharapannja itoe roepanja tidaklah akan sampai. Dipikirkannja poela iboe bapanja jang telah toea, dan jang soedah miskin seperti kata bapanja tadi, ja, hilang-hilang timboellah Masri dalam pikirannja, sebagai seboeah moembang kelapa dilamoen ombak. Hati hendak melawan perintah iboe bapa, ta' ada terkandoeng dalam dada Masri. "Bagaimana sekarang, Masri?" kata bapanja, seakan-akan menghéla-nja ketepi pantai, dari dalam laoetan pikiran jang mengganggoenja itoe. "Soedahkah kamoe pikirkan habis-habis, soedahkah kamoe timbang poetoes-poetoes? Tetapkanlah hatimoe! Djanganlah kamoe pikirkan djoega akan teroes beladjar itoe! Pikirkanlah hal kami, orang toeamoe jang telah toea dan tidak berdaja lagi ini!" "Bapak!" sahoet Masri dengan terbit air matanja. "Segala nasihat dan perkataan bapak itoe betoel djoega. Tetapi soenggoehpoen begitu, soesahlah hamba memikirkan akan maksoed hamba itoe. Hati hamba keras benar hendak teroes beladjar. Tentangan 'oemoer pandjang dan singkat, jang bapak seboetkan tadi, tentoe ta' dapat kita ketahoei. Moembang djatoeh, kelapa djatoeh, jang toea mati, jang moeda mati. Kalau akan mati, dimana-manapoen mati djoega. Seperti petoea bapak djoega, jang setjoepak tidak akan djadi sesoekat, jang sedjengkal tidak akan sehasta. Djadi apalah jang akan bapa roesoehkan tentang hidoep dan mati itoe. Segala perintah bapak, tentoe hamba ikoet, tetapi jang benar hamba ketengahkan djoega, kalau benar bapak bawa laloe, kalau salah bapa bawa soeroet. Kalau hamba keloear dari Sekolah Radja disini, hamba hanja dapat<noinclude></noinclude> 3ihj2iwg0mrigzqyfah9ylif1dhcyyj Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/96 104 105748 298148 2026-06-16T04:46:51Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298148 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|80|MIMPI JANG BOEROEK||}}</small></noinclude>gadji lima poeloeh roepiah; djika hamba teroes beladjar, bila selamat sadja disekolah itoe, pengadjaran hamba bertambah tinggi serta lepas disana hamba bergadji seratoes. Kehidoepan hamba tentoe akan senang kelak dan dapatlah hamba membantoe bapa dan iboe. Menoeroet pikiran hamba, biarlah lambat laga, asal akan menang. Bapa katakan, hamba soedah besar, tetapi hamba rasa, beloemlah besar amat. Oemoer hamba, sepandjang peringatan bapak, baharoe doea poeloeh tahoen. Ada djoega kawan-kawan hamba, jang hendak teroes beladjar itoe, jang ber'oemoer doea poeloeh tiga tahoen. Apalah salahnja djika hamba beladjar tiga tahoen lagi. Insja Allah akan terlihat djoega oleh bapa dan iboe nanti hamba mendjadi goeroe. Tentang belandja hamba disekolah itoe, kalau ta' sanggoep bapa membantoe lagi, apa boleh boeat, biarlah. Hanja hamba minta, pakaian sadja bapa belikan tiga pasang setahoen; itoe soedah tjoekoep. Asal bapa izinkan hamba teroes beladjar. „Ah!” sahoet bapanja agak keras sedikit, jang menandakan kekoerangan senang hatinja. „Kamoe ini tidak berpikiran, tidak memikirkan awal dengan achir. Kamoe kenang laloenja sadja, soeroetnja tidak kamoe hitoeng. Perkara gadji besar itoe sama djoega berkatnja denga gadji jang ketjil. Asal kamoe pandai hidoep, bajang-bajang sepandjang badan, djangan besar pasak dari tiang, tentoe akan senang djoega kehidoepanmoe. Kalau kamoe berbelandja dengan kira-kira, besar kajoe besar bahannja, ketjil kajoe ketjil bahannja, nistjajalah kamoe tidak akan kekoerangan dan dapat djoega menolong kami barang kadarnja. Djanganlah kamoe pikirkan maksoedmoe sadja, kamoe pikirkan poelalah hendaknja niat dan kehendak orang toeamoe. Ada poela kehendak kami kepadamoe jang mesti kamoe toeroet, djika sekiranja kamoe ada bermaksoed akan menjenangkan hati kami. Kalau tidak, ja, soedahlah, poelang ma'loem kepadamoe sendiri. Akan memberi tahoekan maksoed kami itoelah, kamoe kami soeroeh poelang hari ini”. Tiba disini bapanja berhenti berbitjara, laloe minoem menghabiskan kopinja jang tinggal sedikit lagi. Masri termenoeng, dimaboek agak-agak. Sekali-sekali dia menghéla nafas pandjang dan dimoekanja kelihatanlah doekatjita dan kekoesoetan hatinja. Sambil menggigit bibir diangkatnjalah kepalanja, laloe melihat keloear, arah kekeboon pisang jang dimoeka roemah orang toeanja. Dalam hatinja terbentanglah seboeah medan peperangan, tempat berdjoeng doea pasoekan 'asjkar pikirannja, memperlihatkan gagah perkasanja masing-masing. Jang seboeah mengatakan, bahasa Masri mesti meneroeskan maksoednja, ta' oesah menoeroet kata orang toeanja; dan jang seboeah lagi menjoeroeh Masri berboeat kebaktian kepada iboe bapanja. Tampoer-menampoer, tolak-menolak dan tangkis-menangkis kedoea belah pihak laskar itoe... dan achirnja menanglah bala tentara kebaktian. „Ja!” pikir Masri. „Soedahlah, apa boleh boeat, nasi soedah djadi boeboer, ta' dapat dikedang lagi”.<noinclude></noinclude> st5i3icrvg25hijx3jn2r3qi9tp4oy0 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/97 104 105749 298149 2026-06-16T04:48:29Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298149 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||MIMPI JANG BOEROEK|81|}}</small></noinclude>Dikeraswannja hatinja, laloe ia berkata beriba hati kepada bapanja: "Bapa, ampoeni hamba, akan segala perkataan hamba tadi. Djika ada toetoer kata hamba, jang menjakiti hati bapa, haraplah bapa ma'afkan. Sekarang soedahlah, hamba poetoeskanlah pengharapan hamba itoe..." Disini terpikir Masri sepintas laloe akan arti mimpinja, mendaki boekit jang ta' sampai kepoentjaknja itoe. "Apa boleh boeat", katanja lagi, "sehingga Sekolah Radja ini sadjalah roepanja bahagian hamba. Hamba senangkanlah hati hamba nanti dengan gadji lima poeloeh roepiah itoe. Dalam pada itoepoen hamba minta sjoekoer djoega kepada Allah, atas oesaha dan djerih pajah bapa dan iboe selama ini kepada hamba. Bapa seboetkan poelalah maksoed bapa itoe, soepaja terang oléh hamba senang soesahnja". "Itoelah jang sebaik-baiknja, Masri", oedjar bapanja dengan senang hati. "Besar hati kami mendengarkan roendinganmoe itoe. Soedah serasa berobat djerih pajah kami, haoes sebagai dapat air, lapar seperti beroléh nasi. Sekarang kamoe dengarkanlah niat dan hasrat kami. Saja tidak dapat beroending dengan pandjang lébar, biarlah saja toetoerkan dengan péndék sadja kepadamoe. Masri! Seperti katamoe tadi djoega, tiga boelan lagi lepaslah kamoe dari sekolah. Kami mendo'a, moga-moga madjoe sadja kamoe dalam oedjianmoe dan lekas poela hendaknja djadi goeroe. Kewadjiban kami soedah hampir habis kami penoehi. Ketjil kamoe, kami besarkan, besar kamoe, kami serahkan menoentoet peladjaran jang bergoena bagimoe dalam kehidoepanmoe kelak. Hanja sekarang sedikit sadja lagi kewadjiban kami, iboe bapa dan mamakmoe, jang beloem kami isi. Soenggoehpoen begitoe, soedah djoega kami réka-réka, telah kami menoeng kami pikirkan, pandang djaoeh soedah kami lajangkan, pandang hampir soedah kami toekikkan dan dengan tolong Allah, rasa-rasa akan sampailah maksoed kami itoe. Boléh djadi kamoe soedah tahoe djoega, mendjadi maloe besar bagi orang Menangkabau ialah tiga ''farak''nja: 1<sup>o</sup> roemah gedang ketirisan, 2<sup>o</sup> majat terhantar berhari tengah roemah, dan 3<sup>o</sup> anak jang ber'oemoer déwasa tidak dikawinkan. Jang ketiga inilah kewadjiban kami jang tinggal". "O, inilah poela ta'bir mimpikoe jang kedoea", pikir Masri poela, "adoeh nasib, bagaimanakah oentoengkoe ini!" "Segala kawan-kawanmoe", kata bapanja lagi, "jang sebaja dengan kamoe dikampoeng kita ini, soedah memakai 'adat semoeanja, artinja soedah beristeri, dan ada djoega jang telah beranak. Maloe kami rasanja melihatkan kamoe jang soedah besar, beloem djoega ''beroemah''. Soedah djadi 'adat sebenar 'adat bagi kita, kalau hari petang, boeroeng poelang kesarangnja, kerbau poelang kekandangnja, orang poelang keroemahnja. Itoelah maksoed kami jang sebesar-besarnja, jaitoe hendak ''memperoemahkan'' kamoe. Tjobalah kamoe pikir, djika kamoe poelang sekalisekali kesini, dimanakah kamoe akan bermalam, tentoe disoerau sadja,<noinclude></noinclude> 9pfljzrxi0h5hc3opsgcy6wjb1z17ne 298150 298149 2026-06-16T04:48:44Z Link PB 26772 298150 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||MIMPI JANG BOEROEK|81|}}</small></noinclude>Dikeraswannja hatinja, laloe ia berkata beriba hati kepada bapanja: "Bapa, ampoeni hamba, akan segala perkataan hamba tadi. Djika ada toetoer kata hamba, jang menjakiti hati bapa, haraplah bapa ma'afkan. Sekarang soedahlah, hamba poetoeskanlah pengharapan hamba itoe..." Disini terpikir Masri sepintas laloe akan arti mimpinja, mendaki boekit jang ta' sampai kepoentjaknja itoe. "Apa boleh boeat", katanja lagi, "sehingga Sekolah Radja ini sadjalah roepanja bahagian hamba. Hamba senangkanlah hati hamba nanti dengan gadji lima poeloeh roepiah itoe. Dalam pada itoepoen hamba minta sjoekoer djoega kepada Allah, atas oesaha dan djerih pajah bapa dan iboe selama ini kepada hamba. Bapa seboetkan poelalah maksoed bapa itoe, soepaja terang oléh hamba senang soesahnja". "Itoelah jang sebaik-baiknja, Masri", oedjar bapanja dengan senang hati. "Besar hati kami mendengarkan roendinganmoe itoe. Soedah serasa berobat djerih pajah kami, haoes sebagai dapat air, lapar seperti beroléh nasi. Sekarang kamoe dengarkanlah niat dan hasrat kami. Saja tidak dapat beroending dengan pandjang lébar, biarlah saja toetoerkan dengan péndék sadja kepadamoe. Masri! Seperti katamoe tadi djoega, tiga boelan lagi lepaslah kamoe dari sekolah. Kami mendo'a, moga-moga madjoe sadja kamoe dalam oedjianmoe dan lekas poela hendaknja djadi goeroe. Kewadjiban kami soedah hampir habis kami penoehi. Ketjil kamoe, kami besarkan, besar kamoe, kami serahkan menoentoet peladjaran jang bergoena bagimoe dalam kehidoepanmoe kelak. Hanja sekarang sedikit sadja lagi kewadjiban kami, iboe bapa dan mamakmoe, jang beloem kami isi. Soenggoehpoen begitoe, soedah djoega kami réka-réka, telah kami menoeng kami pikirkan, pandang djaoeh soedah kami lajangkan, pandang hampir soedah kami toekikkan dan dengan tolong Allah, rasa-rasa akan sampailah maksoed kami itoe. Boléh djadi kamoe soedah tahoe djoega, mendjadi maloe besar bagi orang Menangkabau ialah tiga ''farak''nja: 1<sup>o</sup> roemah gedang ketirisan, 2<sup>o</sup> majat terhantar berhari tengah roemah, dan 3<sup>o</sup> anak jang ber'oemoer déwasa tidak dikawinkan. Jang ketiga inilah kewadjiban kami jang tinggal". "O, inilah poela ta'bir mimpikoe jang kedoea", pikir Masri poela, "adoeh nasib, bagaimanakah oentoengkoe ini!" "Segala kawan-kawanmoe", kata bapanja lagi, "jang sebaja dengan kamoe dikampoeng kita ini, soedah memakai 'adat semoeanja, artinja soedah beristeri, dan ada djoega jang telah beranak. Maloe kami rasanja melihatkan kamoe jang soedah besar, beloem djoega ''beroemah''. Soedah djadi 'adat sebenar 'adat bagi kita, kalau hari petang, boeroeng poelang kesarangnja, kerbau poelang kekandangnja, orang poelang keroemahnja. Itoelah maksoed kami jang sebesar-besarnja, jaitoe hendak ''memperoemahkan'' kamoe. Tjobalah kamoe pikir, djika kamoe poelang sekalisekali kesini, dimanakah kamoe akan bermalam, tentoe disoerau sadja, <small>6</small><noinclude></noinclude> d8z98d3imb9z4ut866m4el19ygo6bxt Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/98 104 105750 298151 2026-06-16T04:50:45Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298151 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|82|MIMPI JANG BOEROEK||}}</small></noinclude>karena menoeroet 'adat kita dikampoeng ini, maloe benar kalau anak boedjang tidoer diroemah iboenja, lebih-lebih jang bersaudara perempoean poela. Oentoenglah kamoe sedang bersekolah, djarang tinggal dikampoeng, kalau tidak, pesti kamoe djadi boeah moeloet orang''. Mendengarkan perkataan itoe, Masri toendoek kemaloe-maloean, hatinja koesoet laksana benang, karena hal jang tadi beloem lagi lipoer dalam hati sanoebarinja, sekarang soedah tiba poela soeatoe perkara jang lain, jang menambah kekoesoetan hatinja semata-mata. Betoel ia soedah ber'oemoer dewasa, tetapi hendak beristeri beloem ada terniat oléhnja, sedangkan teringat sadjapoen tidak. Sedang ia dilipoeti awan pikiran jang ta' keroean, bapanja menjamboeng perkataannja: "Oléh sebab itoe, Masri, soedah kami perhitoengkan diroemah, djalan mana jang akan kami djalani, hoetan mana jang akan kami laloei, dan laoetan mana jang hendak kami lajari, oentoek menghilangkan maloe jang saja katakan tadi. Soedah kami kadji boeroek baiknja, telah kami pikirkan poela melarat manfa'atnja, boelat boléh digolékkan, pětjak boléh dilajangkan, soedah poetoes permoepakatan kami, saja dengan iboe dan mamakmoe, siapa jang akan djadi djodohmoe. Telah seajoen kami seperti berboeai, soedah setjiap bagai anak ajam, sedentjing bagai besi, sekebat bagai sirih, soedah poetoes hitoengan kami, diasak lajoer ditjaboet mati, jang akan mendjadi isterimoe, ialah Chamisah, anak Datoek Temenggoeng, mamakmoe ini. Betoel banjak djoega orang jang lain, dikampoeng kita ini, jang memintamoe oentoek djadi menantoenja, tetapi kamoe dengan Chamisah soedah bertemu roeas dengan boekoe, soedah bagai sirih poelang kegagangnja, seperti pinang poelang ketampoeknja dan bagai ajam poelang kepaoetan. Lagi poela, awak sama awak, koeah tertoenggang (= tertoeng) kenasi, nasi akan dimakan djoega. Djika disampaikan Toehan, kalau diberkati Allah sadja maksoed kami itoe, segala pentjaharianmoe tentoelah tidak akan tersia-sia, tidak akan djatoeh ketangan orang lain, hanja kita sekaoem keloearga djoega jang akan beroentoeng. Maksoed kami itoe, akan kami langsoengkan sesoedah poeasa dimoeka ini, sebeloem kamoe berangkat. Tetapi soepaja kamoe djangan tahoe dengan sekonjong-konjong sadja nanti, itoelah sebabnja hari ini kami ma'loemkan niat kami itoe kepadamoe. Tentangan hal itoe djanganlah kamoe pikir pandjang lagi, hanja toeroetlah kata kami, orang toeamoe dan mamakmoe, soepaja sentosa kehidoepanmoe kemoedian. Lagi poela, betoel anak mamakmoe, Chamisah itoe, tidak bersekolah, tetapi dalam hal pekerdjaan perempoean, pekerdjaan dapoer dan rénda-rénda serta menjoelam mengerawang, soedah tjoekoéplah rasanja. Tentang roepanjapoen soedah setara dengan kamoe, ta' kan maloe kamoe membawanja kemana-mana. Tentoe kami ta' sia-sia poela memberikan barang jang ta' sepadan dengan kamoe. Itoelah sadja pengharapan kami jang akan kamoe toeroet''. Gelap goelita pikiran Masri ketika itoe. Semendjak ketjilnja beloemlah pernah ia melaloi kata orang toeanja. Apa-apa sadja perintah iboe<noinclude></noinclude> jcys36qrhdq8c6ksdrldmapgjzjr05x Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/99 104 105751 298152 2026-06-16T04:51:58Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298152 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||MIMPI JANG BOEROEK|83|}}</small></noinclude>bapanja ditoeroetnja belaka, berat dirasanja ringan, jang djaoeh dirasanja dekat. Tetapi bagaimanakah pikirannja tentang maksoed orang toeanja ini? ''Diroeang mata'' terbadjanglah laoet jang besar, jang bergelombang setinggi-tinggi goenoeng. Laoet itoelah jang disoeroeh renangi oléh orang toeanja. Lemah rasa anggotanja memikirkan akan menjeberangi laoetan itoe. Ta' dapatlah apa jang akan dikatakannja, pikirannja koesoet, 'akalnja hilang, serasa gelap pemandangannja, ta' tentoe kemana toedjoeannja. Akan ditoeroetnja kata bapanja itoe, ''rasa melarat'' jang akan datang, tidak akan ditoeroetnja, rasa sengsara jang akan tiba. Dia tahoe betoel, bagaimana kelakoean dan boedi pekerti anak mamaknja itoe. Chamisah, ialah seorang anak gadis, remadja poeteri, roepanja tjantik boekan kepalang; oesianja baharoe lima belas tahoe. Moekanja jang boelat seperti boelan poernama raja, warna koelitnja jang koening ''langsat'', ''perawakannja'' sederhana, ramboetnja pandjang dan hitam laksana dawat serta lénggangnja jang ''memoetoes rangkai'' itoe, soedah banjak kali menawan hati anak moeda-moeda. Kasih sajang iboe bapanja kepadanja tidaklah berhingga berbatas. Ma'loemlah, orang toeanja beranak seorang itoe sadja, djadi dialah tambatan ''larat'' ajahnja, dan ''djerat semata'' boenda kandoeng. Itoelah sebabnja Chamisah sangat dimandjakan iboe bapanja. Apa sadja jang dimintanja tetap berlakoe dan segala perboeatannja, jang banjak kali tidak baik, tidaklah pernah dimarahi orang toeanja. Masa ketjil ''terandja-andja'', soedah besar terbawa-bawa, laloe toea teroebah tidak, begitoelah sampai sekarang, tingkah perangainja gadis jang telah perawan dara itoe, djangankan beroebah, hanja bertambah boeroek jang ada. Ia lekas marah bila kehendaknja tidak berlakoe. Dalam segala hal hanja ia tahoe ada sadja dan kalau tidak dapat sebagaimana kemaoeannja, dia soedah meradjoek, beroesak hati, bermoeram doerdja. Hati pengasih penjajang, jang menaroeh belas kasihan kepada sesamanja manoesia, ta' ada dalam dadanja. Parasnja jang tjantik molék dan manis itoe, berlawanan benar, seperti siang dengan malam dengan sifat dan tabi'atnja. Niat dan kehendaknja setiap waktoe, hendak bersolék dengan pakaian jang bagoes-bagoes sadja. Dia ''pantang kerendahan'', hanja selaloe hendak lebih dan tjantik dari orang lain. Kawin dengan gadis jang berkelakoean seperti itoe, tidak adalah terniat oléh Masri. Tidak akan ditoeroetnja kehendak orang toeanja, tentoelah iboe bapanja akan marah kepadanja. Djadi keadaan Masri, adalah seperti orang makan boeah semalakama (simalakamo, bahasa Menangkabau), akan dimakan bapak mati, tidak dimakan iboe mati. Serba salah, ditoeroet salah, ta' ditoeroet salah. Segala perangai dan kelakoeannja tidaklah sesoeai sedikit djoega dengan gadis Chamisah itoe. ''Pertemoeannja'' dengan anak perempoean itoe, tentoelah tidak bertemoe roeas dengan boekoe, dan terang sadjalah ta' kan selamat pertjampoerannja kelak, karena masakan dapat bertjampoer air dengan minjak.<noinclude></noinclude> brmn2fllo3ag0pksix0jl3kqg6xifp2 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/100 104 105752 298153 2026-06-16T04:53:07Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298153 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|84|MIMPI JANG BOEROEK||}}</small></noinclude>Akan diikoetinja perkataan iboe bapanja, pesti melarat kehidoepannja dibelakang hari, dan akan dibantahinja, ta' boléh tidak tentoe orang toeanja berketjil hati dan moerka kepadanja, serta menjangka, bahasa ia seorang anak jang tekeboer dan tidak tahoe membalas goena. Pening rasanja kepala Masri memikirkan halnja itoe. Lagi poela beloem adalah niatnja hendak kawin dengan segera dan gesa-gesa. Maksoednja, djika ia djadi goeroe, akan memboedjang sadja dahoeloe sementara mentjahari orang setjoekoepnja oentoek beristeri. Niat dan maksoednja setiap hari, djika diizinkan Toehan, ialah kalau soedah tiba waktoenja, hendak kawin dengan perempoean jang ditjintainja dengan mata dan hatinja. Tidaklah dia memandang ketjantikan, kekajaan dan kebangsaan seorang perempoean, hanja jang dikehendakinja perempoean jang tjantik, kaja dan bangsawann pikiran. Perempoean jang sedemikian, kalau roepawan poela, tentoe ''besi baik diringgiti''. Begitoelah pedoman pikirannja. "O, nasibkoe!" pikir Masri sambil mengeloeh. "Roepanja segala niat dan tjita-tjitakoe tidaklah akan bersoea seboeah djoega. Akoe hendak meneroeskan peladjarankoe tidak dapat, hendak beristerikan seorang perempoean jang setoedjoe dengan hatikoe, tidak boléh poela. Bagaimanakalah oentoengkoe ini! Tetapi biarlah koetjoba djoega memperloenak hati bapakoe, dapat ta' dapat, apa boléh boeat, asal ikhtiar koedjalankan, tentoe oentoengkoe djoega jang akan menjoedahi". "Bapak!" oedjar Masri dengan sajoep-sajoep kedengaran soeraranja. "Maksoed bapak soedah hamba ketahoei. Sekarang hamba harap, bapa dengarkan poelalah bagaimana pikiran hamba jang singkat ini, tentang niat bapa itoe. Niat bapa itoe tentoe sebaik-baiknja. Maksoed bapa jang tentoe hendak menjenangkan hamba djoega. Bapa! Semendjak ketjil hamba, bapapoen tahoe, beloem sekali djoega hamba melampaoei kata bapa, apa kata bapa selaloe hamba toeroet. Tetapi sekali ini bapa ampoenilah hamba lebih dahoeloe, tidak dapatlah hamba rasanja menoeroet. Tetapi djanganlah kiranja bapa salah sangka, bahasa hamba, karena soedah besar, soedah hendak melawan bapa, atau tidak mempedoelikan bapa dan iboe lagi. Itoe sekali-kali tidak, hanja... bapa dengarlah boeah pikiran hamba dahoeloe. Maksoed bapa itoe tentoe baik menoeroet pikiran bapa, tetapi hamba pikir hal itoe lebih banjak melaratnja dari manfa'atnja. Tjobalah bapa timbang dengan neratja bapa jang ta' ''palingan'', boengkal jang piawai. Hasrat hamba tidak ada hendak beristeri lekas, sebab menoeroet peladjaran jang hamba toentoet, 'oemoer doea poeloeh lima tahoen baharoe baik laki-laki beristeri. Lagi poela hamba tidak akan beristeri sebeloem hamba beroeang sedikit, karena orang jang telah beristeri tentoe banjak keperloeannja. Beristeri seperti kebanjakan orang dikampoeng kita ini, hamba ta' hendak. Kebanjakan orang kita, tjoema dia tahoe poelang keroemah isterinja sadja, poelang sendja pergi pagi. Belandja dan keperloean isterinja ta' ada diingatnja. Orang jang sematjam itoe... ma'af bapa, bapak dan mamak tentoe tidak begitoe... hamba<noinclude></noinclude> 5gc39ig3obj53qyn1ns6glgotmrx3v1 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/101 104 105753 298154 2026-06-16T04:54:24Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298154 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||MIMPI JANG BOEROEK|85|}}</small></noinclude>seboetkan... seperti... bapa koeda. Harap djangan bapa sela kata hamba dahoeloe", kata Masri, ketika dilihatnja moeka bapanja beroebah warnanja serta bibirnja bergerak hendak bitjara. "Tjobalah bapa lihatkan tiap-tiap hari Sabtoe dan Raboe, ketika pasar di Boekittinggi; berapa banjaknja perempoean berbeban berat pergi kesana hendak mendjoeal hasil perhoemaannja oentoek keperloean roemah tangganja, sedang laki-laki kebanjakan melénggang sadja atau mendjindjing sangkar balamnja. Djadi soeami jang seroepa itoe, hamba tidak maoe. Niat dan kemaoen hamba, isteri hamba itoe hendaknja hidoep senang diatas tangan hamba, hanja kewadjibannja mengoeroes roemah tangga. Oentoek menjampaikan niat hamba itoe, hamba perloe beroeang dahoeloe, djadi kalau soedah agak besar gadji hamba, baharoelah hamba hendak beristeri. Karena djika pendapatan hamba beloem sampai-menjampai, dimanakah dapat hamba menjenangkan isteri hamba. Djika sekiranja dia akan menanggoeng kesoesahan dan kemelaratan sadja sepandjang hari dengan hamba, apalah goenanja dia bersoeamikan hamba. Pada hémat hamba, doea orang laki isteri itoe, mestilah terikat erat dan tersimpai tegoeh dengan tali kasih sajang, ja'ni pertjintaan jang tak ''lekang oléh panas, tak lapoek oléh hoedjan''. Sebab seperti kata bapa tadi, senang dan soesah silih berganti. Djika tiba kesoesahan jang tidak diminta-minta, tentoelah laki dan isteri itoe, terapoeng sama hanjoet, terendam sama basah, menjoeroek sama boengkoek dan melompat sama patah, tidak mendoea hati lagi, sama-sama réla menanggoeng kesoesahan. Soeami dan isteri itoe hendaklah sesoeai pikirannja, dan tingkah lakoe serta kemaoeannja, soepaja pergaoelannja berhasil baik dan kekal selamalamanja. Kalau doea orang laki isteri tidak sama pikirannja, ''seiring bertoehar djalan, seia bertoekar seboet'', seorang hendak kehilir, seorang hendak kehoeloe, tentoe segala peker djaannja tak mendjadi, pestilah sekalian maksoednja karam ditengah dan... bertjerai djoega kesoedahannja. Itoelah sebabnja, maka perempoean orang kita banjak kali bertjerai dengan soeaminja, sampai bersoeami doea tiga kali. Setelah bersoea jang berkesesoeaian, baharoelah aman hidoepnja. Demikian djoega laki-laki. Ditjoba-tjoba bagai goelai, begitoelah perkawinan orang ''awak''. Akan kata bapa tadi, koeah tertoenggang kenasi, nasi akan dimakan djoega, betoel djoega, tetapi kadang-kadang koeah itoelah jang membasikan nasi, sehingga nasi itoe terboeoang sadja, ta' dapat dimakan lagi. Seperti bapa soedah ma'loem djoega, pertalian doea orang laki isteri, boeroek dengan baik tidak bertjerai, kalau baik sadja tentoe berbaoer djoega, dan kalau boeroek jang toemboeh, pastilah tjerai berai, seorang ketimoer, seorang kebarat. Djika misalnja hamba dikawinkan dengan anak mamak hamba itoe, kalau oentoeng baik sadja, ja, besi baik diringgiti, tetapi bila moedjoer diseroe, malang jang tiba, datang pertjeraian kami, tentoe kaoem famili kita poetoes poela pertaliannja seperti pepatah Menangkabau: "tertjentjang poear tergerak endilau".<noinclude></noinclude> 3lg731qkzthlybbtqtkddx8yxdjjt7n Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/102 104 105754 298155 2026-06-16T04:55:31Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298155 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|86|MIMPI JANG BOEROEK||}}</small></noinclude>Djelang-mendjelang, djengoek-mendjoek, datang-mendatangi, bila ada boeroek baik, tentoe soedah soekar. Tetapi kalau Chamisah dikawinkan dengan orang lain, tentoe karib kita bertambah banjak dan senanglah kehidoepan kita dikampoeng ini. Lagi poela, ma'af bapa djoega jang hamba harap, kelakoean dan tabi'at hamba dengan Chamisah tidak sesoeai. Djika kami dipertemoekan djoega tentoelah perboeatan dan kemaoean kami seorang kelaoet seorang kedarat, pastilah kami tidak dapat tjinta-mentjintai dan bertjerai djoega achirnja. Jang hamba soekai ialah: pahit dahoeloe, manis kemoedian. Biarlah bapa, iboe dan mamak mengoempat dan marah hamba sekarang, asal kemoedian tidak menjesali hamba. Sesal dahoeloe pendapatan, sesal kemoedian ta' bergoena, itoe baik djadi pedoman. Lebih baik biarlah sama-sama kita tjaharikan toenangan Chamisah. Dalam melangsoengkan pekerdjaan itoe, kalau hamba soedah bekerdja nanti, berat sama kita pikoel, ringan sama kita djindjing. Hamba memandang Chamisah sebagai adik kandoeng hamba sendiri. Bila ia dapat kesoesahan, tentoe hamba dengan segala soeka hati akan menolongnja. Tentangan hal diri hamba, djanganlah bapa soesahkan benar. Biarlah hamba mentjari rezeki lebih dahoeloe, akan penolong diri hamba dan kaoem keloearga kita. Kalau soedah senang kehidoepan hamba, isteri apa jang ta' kan dapat. Maloe bapa itoe, karena hamba soedah besar beloem beristeri djoega, tentoe tidak pada tempatnja. Sekarang hamba, walaupoen soedah besar, masih anak sekolah djoega. Meskipoen nanti, tentoe ta' mengapa, sebab hamba baroe djadi goeroe dan akan beladjar hidoep sendiri dahoeloe. Oleh sebab itoe akan maksoed bapa itoe, djanganlah bapa madjoekan djoega, soepaja kita djangan menjesal kemoedian hari. Oentoek soeami Chamisah, baiklah bapa dan mamak tjari jang lain''. Mendengar perkataan Masri itoe, iboe, bapak dan mamaknja tertjenoeng sadja sebagai orang maboek tjendawan. Lebih-lebih iboe Masri, jang sangat kasih mesra kepada anaknja, ta' tentoelah jang akan diboeatnja. Akan memaksa anaknja, boeah hati tangkai kalboenja, kawin dengan Chamisah itoe, rasa ta' sanggoeplah ia. Ta' tjoekoep poela tenaganja akan mengalangi kehendak soeami dan saudaranja itoe. Hanja dalam hal ini ia berserah diri sadja, mana jang akan baik dia menoeroet sadja. Sedang iboe bapa Masri termenoeng memikirkan penjahoetan Masri itoe, tiba-tiba mamaknja berkata, katanja: "Masri! Segala perkataanmoe soedah saja dengar. Djawabmoe itoe semoeanja tidaklah beralasan kebenaran. Masakan baik Chamisah dikawinkan dengan orang lain, pada hal kamoe kemanakan saja ada, jang beloem beristeri. Kalau saja boeat begitoe, tentoe saja dikatakan orang, memboeng batoe keloear. Djika kamoe dikatakan, gemoek memboeng lemak, tjerdik memboeng kawan, entahlah. Tetapi saja tidak. Tentang kelakoean Chamisah ta' oesah kamoe goesarkan benar, karena dia masih ketjil, beloem ber'akal. Siapa lagi jang akan menoendjoek mengadjarnja, selain dari kamoe. Sebab itoe saja berharap djoega djanganlah kamoe batalkan maksoed kami".<noinclude></noinclude> 5zpj5lxje1opavj5ypf1tzmp6vus708 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/103 104 105755 298156 2026-06-16T04:57:26Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298156 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||MIMPI JANG BOEROEK|87|}}</small></noinclude>Beloem habis Datoek Temenggoeng bertjakap, bapa Masri berkata poela: "Itoe betoel! Masri, ta' oesah kamoe bantahi permoepakatan kami ini. Akan pertjampoeranmoe dengan Chamisah ta' goena kita kadji sekarang, mana jang toemboeh itoelah jang akan disiangi. Saja pertjaja, asal kamoe berniat baik, tentoe baik jang datang; kalau kamoe bermaksoed boeroek, pasti boeroek poela jang akan tiba. Perkara gadjimoe nanti, asal tjoekoep oentoekmoe doea laki isteri, soedah senang hati kami. Toeroetlah kehendak bapa, Masri! Kalau sebetoelnja Masri sajang dan kasih kepada iboe dan bapa, toeroetlah kata bapa sekali ini. Kamoepoen soedah mengadji djoega dahoeloe, ingatlah bagaimana dosanja orang jang tidak menoeroet kata iboe bapanja. Segala pekerdjaannja tidak selamat, sekalian maksoednja tidak sampai dan diakhirat ia akan disiksa poela kelak. Lagi poela maksoed iboe bapamoe sekali-kali tidak akan mentjelakakanmoe, melainkan kehendak kami selaloe akan menjelamatkanmoe djoega. Djadi soedahlah tentangan itoe, ta' oesahlah direntang pandjang lagi, baik dikoempar soepaja singkat. Beladjarlah kamoe dengan radjin, agar kamoe madjoe sadja nanti dalam oedjianmoe, dan sesoedah poeasa ini, sebeloem kamoe mendjabat pekerdjaanmoe, kita langsoengkan perkawinanmoe dengan Chamisah. Sekarang saja dengan mamakmoe akan pergi kesawah menengok padi, kalau-kalau soedah patoet disabit. Poekoel satoe nanti kami poelang". Sehabis perkataan itoe tegaklah bapanja dan mamaknja, laloe toeroen. Masri tinggallah dengan iboenja diroemah, kedoeanja termenoeng sadja, seperti ta' ada lagi jang akan dipertjakapkannja. Poetoeslah pengharapan Masri akan melepaskan dirinja, karena kata tidak boleh berdjawab, gajoeng tidak boleh bersamboet lagi oleh bapanja dan tahoelah ia sekarang akan kebenaran ta'bir mimpinja ditangkap harimau itoe. {{right|A. {{smallcaps|Soetan}} {{smallcaps|Pamoentjak N.}} S., ''Pertemoean.''}}<noinclude></noinclude> 57qd50pihq4jgsjtksikpzpgc0x0fon Indeks:Nilai budaya dalam Beberapa Karya Sastra Nusantara (Sastra Daerah di Sumatra).pdf 102 105756 298157 2026-06-16T06:07:09Z Moel81 25980 ←Membuat halaman berisi '' 298157 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Type=book |wikidata_item= |Title=Nilai budaya dalam Beberapa Karya Sastra Nusantara |Subtitle=Sastra Daerah di Sumatra |Language=id |Volume= |Edition= |Author=Dr. Edwar Djamaris |Co-author1=Dra. Nikmah Sunardjo, Drs. B. Trisman |Co-author2=Drs. Muhammad Jaruki, Dra. Maini Trisna Jayawati |Co-author3=Dra. Mu'jizah, Dra. Yeni Mulyani S. |Translator= |Co-translator1= |Co-translator2= |Editor= |Co-editor1= |Co-editor2= |Illustrator= |Publisher=Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan |Address= |Printer= |Year=1993 |Key= |ISBN= |Source=PDF |Image=1 |Progress=OCR |Pages=<pagelist /> |Volumes= |Remarks= |Notes= |Header= |Footer= }} [[Kategori:Indeks]] [[Kategori:Indeks - Buku]] d5qjufsot80blsav98t8l9qn6rx4isv Indeks:077,167 Tidore.djvu 102 105757 298158 2026-06-16T06:07:56Z Thersetya2021 15831 ←Membuat halaman berisi '' 298158 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Type=book |wikidata_item= |Title=077,167 Tidore |Subtitle= |Language=id |Volume= |Edition= |Author=Karel Frederik Holle |Co-author1= |Co-author2= |Co-author3= |Translator= |Co-translator1= |Co-translator2= |Editor=Stokhof, W. A. L. |Co-editor1= |Co-editor2= |Illustrator= |Publisher= |Address= |Printer= |Year=1980 |Key= |ISBN= |Source=djvu |Image=1 |Progress=X |Pages=<pagelist /> |Volumes= |Remarks= |Notes= |Header= |Footer= }} ewx6reh6wkxd5hgyvt0i2hrtra3kdzg Halaman:077,167 Tidore.djvu/32 104 105758 298159 2026-06-16T06:17:46Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 298159 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="25">with outriggers = mahera, pakata<br>dugout canoe without outriggers = bolotoe, lapa²<br>canoe with built-up sides and keel = roréhé<br> # (tern<ataans> : ngido)<br> # doeka, dodara, gogoroe<br> # tjako = with a stick<br>fa = with the hand<br> # in the morning = kere wangé fela<br>in the afternoon = wange konora<br>in the evening = wange tjako<br> # midnight = foetoe-konora<br>from 3 a.m.-5 a.m. = sebo sita<br> # north wind<br> # south wind<br> # (koré) = the sun in the east<br>(koré) = the sun in the west '''4. ADDITIONAL DATA''' tree bark: heté ma ahi<noinclude></noinclude> m0xngogah5kp7bc052ngfjb9310bnov Halaman:077,167 Tidore.djvu/2 104 105759 298160 2026-06-16T06:30:33Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 298160 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''2. TIDORE LIST''' {{multicol}} 1. badan, diri<br> 2. dofòlo<br> 3. gaǐ <br> 4. anǐ <br> 5. tjafi-tjafi <br> 6. hoetoe<br> 8. kòlo <br> 9. ngaö <br> 11. laö <br> 15. laö ma gògò <br> 17. òngo <br> 18. ngoon <br> 20. sěrang'<br> 21. wang <br> 22. mòda <br> 25. liso <br> 27. goemi ma jo <br> 28. goemi ma aloe<br> 29. òko <br> 30. goemi<br> 31. aki <br> 32. ieng ma toefa<br> 33. ieng <br> 34. mangoli<br> 35. ngisi<br> 37. sàko <br> 38. sàko <br> 41/ <br> 42. isoe <br> 45. isoe ma laö <br> 46. isoe ma gibi <br> 48. mèmè isoe <br> 50. saroe-saroe <br> 52. njinga<br> 53. oroe <br> 54. oroe <br> 56. kosi-kosi <br> 57. mali<br> 61. otoe<br> 62. dodom' {{multicol-break}} 63. doeloe<br> 66. kèfè <br> 68. oegoe<br> 69. oegoe <br> 70. sòlòbi'<br> 72. gohòhò, tàgi ake<br> 73. gohòhò <br> 75. siki <br> 76. mangiti<br> 77. ako <br> 78. tirò<br> 82. hosi<br> 83. hosi<br> 84. johoe <br> 86. johoe <br> 88. johoe ma laö<br> 90. pala-pala <br> 91. boekoe-boekoe<br> 93. oesi-oesi <br> 94. ngoni-ngoni <br> 95. gia ma djiko <1><br> 97. gia <br> 98. batǐko<br> 99. goeloe<br> 100. gia ma boekoe<br> 102. gia ma saha <br> 105. gia ma raga <br> 107. djodjoem<br> 108. mangòda<br> 109. sahada <br> 110. kolano <br> 111. mastiendja <br> 112. magileǐ<br> 115. gòka <br> 116. aö <br> 117. rèhè <br> 118. ngoerò <br> 121. ahi <br> 122/<br> 123. gògò {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> rjmm794qh6gl8ajcrrn25ht9n01q356 Indeks:Salindia WikiPandu - Cara Unggah Naskah dan Membuat Indeks di Wikisource.pdf 102 105760 298161 2026-06-16T06:38:51Z Cgjkldn 22445 ←Membuat halaman berisi '' 298161 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Type=book |wikidata_item=Q140246855 |Title= |Subtitle= |Language=id |Volume= |Edition= |Author= |Co-author1= |Co-author2= |Co-author3= |Translator= |Co-translator1= |Co-translator2= |Editor= |Co-editor1= |Co-editor2= |Illustrator= |Publisher= |Address= |Printer= |Year= |Key= |ISBN= |Source=pdf |Image=1 |Progress=X |Pages=<pagelist /> |Volumes= |Remarks= |Notes= |Header= |Footer= }} m8bamdpamflnvl496xj55t2ims5wfm5 298164 298161 2026-06-16T07:08:21Z Cgjkldn 22445 added [[Category:WikiPandu]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 298164 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Type=book |wikidata_item=Q140246855 |Title= |Subtitle= |Language=id |Volume= |Edition= |Author= |Co-author1= |Co-author2= |Co-author3= |Translator= |Co-translator1= |Co-translator2= |Editor= |Co-editor1= |Co-editor2= |Illustrator= |Publisher= |Address= |Printer= |Year= |Key= |ISBN= |Source=pdf |Image=1 |Progress=X |Pages=<pagelist /> |Volumes= |Remarks= |Notes= |Header= |Footer= }} [[Kategori:WikiPandu]] c72enm781kyjh35k6qjnvzzlq65wj50 Halaman:Horison 02 1967.pdf/3 104 105761 298162 2026-06-16T07:01:57Z Cristina Gelora 27235 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi ' {{center|'''PERSOALAN DAJA KREATIP'''}} Dalam tulisannja jang berdjudul „Asal usul aliran filsafat eksistensialisme dan pengaruhnja ter-hadap kesusasteraan modern Perantjis", M.T. Zen antara lain menulis:,,Para pengarang di Indonesia kiranja djangan hanja sampai kepada taraf 'verhaaltjes schrijven' sadja sebagai mana dikatakan oleh Sjahrir..." Masaalah jang diadjukan M. T. Zen disini djelas adalah masaalah daja kreatip. Kalau kita memandang... 298162 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Cristina Gelora" />{{xx-larger|TJATATAN KEBUDAJAAN}}</noinclude> {{center|'''PERSOALAN DAJA KREATIP'''}} Dalam tulisannja jang berdjudul „Asal usul aliran filsafat eksistensialisme dan pengaruhnja ter-hadap kesusasteraan modern Perantjis", M.T. Zen antara lain menulis:,,Para pengarang di Indonesia kiranja djangan hanja sampai kepada taraf 'verhaaltjes schrijven' sadja sebagai mana dikatakan oleh Sjahrir..." Masaalah jang diadjukan M. T. Zen disini djelas adalah masaalah daja kreatip. Kalau kita memandang kesekeliling kita, memperhatikan kegiatan-kegiatan seni, maka tidak bisa tidak kita akan sedikit bersedih. Masih segar dalam ingatan kita karja-karja pengarang Angkatan 45, diskusi-diskusi senilukis jang mendalam antara Oesman Effendi dan Basuki Resobowo, pementasan-pementasan tahunan ATNI dengan drama-drama jang bermutu atau pentjiptaan-pentjiptaan lagu-lagu seriosa jang baik dalam senisuara. Pada saat inipun kegiatan-kegiatan tersebut tidak berkurang: tjukup banjak karja-karja sastra, pameran-pameran senilukis djuga kerap diadakan, pementasan-pementasan drama TV diselenggarakan sebulan sekali dan band-band musik tumbuh bagai djamur. Tapi kita bersedih atas mutunja. Dibidang sastra, orang jang paling optimispun seperti H. B. Jassin, jang tidak mau mengatakan bahwa mutu kesusasteraan Indonesia mundur, tidak berani menjatakan bahwa mutu kesusasteraan pada saat ini lebih madju dari karja-karja sastra Angkatan 45. Bahwa setelah sekian puluh tahun kita tidak madju, ini berarti suatu kemunduran. Dan hal ini tidak hanja terdjadi pada bidang sastra sadja, tapi tampaknja djuga mendjangkiti tjabang-tjabang seni lainnja. Apa gerangan sebabnja? Ada banjak pendapat mengenai hal ini. Ada jang mengatakan seniman kita kurang latar belakang filsafat. Filsafat chususnja filsafat anthropologi memberikan kesadaran bagi siseniman tentang fungsi dirinja dan arti pentjiptaannja. Di Eropah misalnja, seorang pelukis jang tampaknja ,,emosionil" seperti Van Gogh, dari tjatatan-tjatatan hariannja ternjata adalah seorang pemikir teoritis jang tjukup berat". Belum lagi kita bitjara tentang seorang Picasso, atau Kandinsky. Kesadaran intelektuil tampaknja mengangkat siseniman dari tarafnja jang primitip dimana pentjiptaan hanja sekadar spontanitas insidentil, kesuatu taraf penghajatan nilai-nilai setjara sadar. Barangkali ini pula sebabnja mengapa seniman-seniman Indonesia (terutama sastrawan) pendek napas"nja, seperti jang disinjalir oleh Trisno Sumardjo. Karena mereka kurang menjadari sepenuhnja apa fungsi dirinja dan arti pentjiptaannja bagi kemanusiaan. Tapi ada jang membantah pendapat ini. Menurut mereka, tak ada hubungan antara pengetahuan intelektuil dengan daja kreatip. Lihatlah Affandi misalnja apakah dia seorang intelektuil dan kurangkah daja kreatip padanja? Menurut mereka soalnja adalah soal ekonomi di Indonesia, karena seniman tidak bisa hidup dari karjanja, maka kegiatan seni hanja sampai pada taraf hobby sadja. Begitu mereka dewasa dan harus memikul beban kehidupan, mereka meninggalkan kegiatan seni. Seniman jang tetap tinggal seniman ialah mereka jang dapat mentjari penghasilan dari karja-karjanja. Tjontoh-tjontohnja banjak-lihat sadja Affandi, pelukis-pelukis Istana, pelukis-pelukis Bandung dan banjak lagi lainnja. Kesusasteraan djustru jang paling merana karena bila dalam bidang seni lukis masih mungkin orang hidup dari lukisan-lukisannja, hampir tak mungkin seseorang hidup hanja dari hasil-hasil tjerpen atau puisinja. Pendapat inipun dibantah lagi. Karena dalam kenjataannja, banjak seniman-seniman kreatip jang hidupnja sangat miskin. Bahkan kenjataan menundjukkan pula, bahwa mereka jang berpenghasilan dari karjaseninja, banjak jang mengalami kemunduran-kemunduran jang fatal dalam mutu karjanja. Apa jang tinggal benar pada seniman profesionil itu ialah bahwa mereka djadi makin produktip. Orang-orang jang membantah teori sebab ekonomi" ini mengadjukan pendapat bahwa masaalah daja kreatip adalah masaalah kepribadian masing-masing orang-artinja sulit atau mudahnja seseorang tergugah oleh alam sekitarnja dan kesanggupan mengolah apa jang menggelora didalam dirinja mendjadi pernjataan-pernjataan seni. Djadi masaalahnja adalah masaalah bakat. Tampaknja persoalan daja kreatip ini adalah masaalah kompleks dimana banjak faktor turut berperan. Jang terang kita semua ingin memetjahkan persoalan ini. Salah satu fungsi dari ruang kritik dan esei dalam madjalah ini ialah memberi latar belakang intelektuil pada para seniman kita. Apakah dia akan berhasil merangsang daja kreatip para seniman, masih tergantung dari banjak faktor lain. <br>{{right|'''SOE HOK DJIN'''}}<noinclude>{{center|'''HORISON/35'''}}</noinclude> cyulmcwcosy51sfotf216vl9z54hnaa 298163 298162 2026-06-16T07:04:24Z Cristina Gelora 27235 /* Telah diuji baca */ 298163 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Cristina Gelora" /><br>{{right|'''{{x-larger|TJATATAN KEBUDAJAAN}}'''}}</noinclude> {{center|'''PERSOALAN DAJA KREATIP'''}} Dalam tulisannja jang berdjudul „Asal usul aliran filsafat eksistensialisme dan pengaruhnja ter-hadap kesusasteraan modern Perantjis", M.T. Zen antara lain menulis:,,Para pengarang di Indonesia kiranja djangan hanja sampai kepada taraf 'verhaaltjes schrijven' sadja sebagai mana dikatakan oleh Sjahrir..." Masaalah jang diadjukan M. T. Zen disini djelas adalah masaalah daja kreatip. Kalau kita memandang kesekeliling kita, memperhatikan kegiatan-kegiatan seni, maka tidak bisa tidak kita akan sedikit bersedih. Masih segar dalam ingatan kita karja-karja pengarang Angkatan 45, diskusi-diskusi senilukis jang mendalam antara Oesman Effendi dan Basuki Resobowo, pementasan-pementasan tahunan ATNI dengan drama-drama jang bermutu atau pentjiptaan-pentjiptaan lagu-lagu seriosa jang baik dalam senisuara. Pada saat inipun kegiatan-kegiatan tersebut tidak berkurang: tjukup banjak karja-karja sastra, pameran-pameran senilukis djuga kerap diadakan, pementasan-pementasan drama TV diselenggarakan sebulan sekali dan band-band musik tumbuh bagai djamur. Tapi kita bersedih atas mutunja. Dibidang sastra, orang jang paling optimispun seperti H. B. Jassin, jang tidak mau mengatakan bahwa mutu kesusasteraan Indonesia mundur, tidak berani menjatakan bahwa mutu kesusasteraan pada saat ini lebih madju dari karja-karja sastra Angkatan 45. Bahwa setelah sekian puluh tahun kita tidak madju, ini berarti suatu kemunduran. Dan hal ini tidak hanja terdjadi pada bidang sastra sadja, tapi tampaknja djuga mendjangkiti tjabang-tjabang seni lainnja. Apa gerangan sebabnja? Ada banjak pendapat mengenai hal ini. Ada jang mengatakan seniman kita kurang latar belakang filsafat. Filsafat chususnja filsafat anthropologi memberikan kesadaran bagi siseniman tentang fungsi dirinja dan arti pentjiptaannja. Di Eropah misalnja, seorang pelukis jang tampaknja ,,emosionil" seperti Van Gogh, dari tjatatan-tjatatan hariannja ternjata adalah seorang pemikir teoritis jang tjukup berat". Belum lagi kita bitjara tentang seorang Picasso, atau Kandinsky. Kesadaran intelektuil tampaknja mengangkat siseniman dari tarafnja jang primitip dimana pentjiptaan hanja sekadar spontanitas insidentil, kesuatu taraf penghajatan nilai-nilai setjara sadar. Barangkali ini pula sebabnja mengapa seniman-seniman Indonesia (terutama sastrawan) pendek napas"nja, seperti jang disinjalir oleh Trisno Sumardjo. Karena mereka kurang menjadari sepenuhnja apa fungsi dirinja dan arti pentjiptaannja bagi kemanusiaan. Tapi ada jang membantah pendapat ini. Menurut mereka, tak ada hubungan antara pengetahuan intelektuil dengan daja kreatip. Lihatlah Affandi misalnja apakah dia seorang intelektuil dan kurangkah daja kreatip padanja? Menurut mereka soalnja adalah soal ekonomi di Indonesia, karena seniman tidak bisa hidup dari karjanja, maka kegiatan seni hanja sampai pada taraf hobby sadja. Begitu mereka dewasa dan harus memikul beban kehidupan, mereka meninggalkan kegiatan seni. Seniman jang tetap tinggal seniman ialah mereka jang dapat mentjari penghasilan dari karja-karjanja. Tjontoh-tjontohnja banjak-lihat sadja Affandi, pelukis-pelukis Istana, pelukis-pelukis Bandung dan banjak lagi lainnja. Kesusasteraan djustru jang paling merana karena bila dalam bidang seni lukis masih mungkin orang hidup dari lukisan-lukisannja, hampir tak mungkin seseorang hidup hanja dari hasil-hasil tjerpen atau puisinja. Pendapat inipun dibantah lagi. Karena dalam kenjataannja, banjak seniman-seniman kreatip jang hidupnja sangat miskin. Bahkan kenjataan menundjukkan pula, bahwa mereka jang berpenghasilan dari karjaseninja, banjak jang mengalami kemunduran-kemunduran jang fatal dalam mutu karjanja. Apa jang tinggal benar pada seniman profesionil itu ialah bahwa mereka djadi makin produktip. Orang-orang jang membantah teori sebab ekonomi" ini mengadjukan pendapat bahwa masaalah daja kreatip adalah masaalah kepribadian masing-masing orang-artinja sulit atau mudahnja seseorang tergugah oleh alam sekitarnja dan kesanggupan mengolah apa jang menggelora didalam dirinja mendjadi pernjataan-pernjataan seni. Djadi masaalahnja adalah masaalah bakat. Tampaknja persoalan daja kreatip ini adalah masaalah kompleks dimana banjak faktor turut berperan. Jang terang kita semua ingin memetjahkan persoalan ini. Salah satu fungsi dari ruang kritik dan esei dalam madjalah ini ialah memberi latar belakang intelektuil pada para seniman kita. Apakah dia akan berhasil merangsang daja kreatip para seniman, masih tergantung dari banjak faktor lain. <br>{{right|'''SOE HOK DJIN'''}}<noinclude>{{center|'''HORISON/35'''}}</noinclude> 28mz54u5z5f2uk0xbnhsxilgvwc1ka8 298165 298163 2026-06-16T07:08:34Z Cristina Gelora 27235 298165 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Cristina Gelora" /><br>{{right|'''{{x-larger|TJATATAN KEBUDAJAAN}}'''}}</noinclude> {{center|'''PERSOALAN DAJA KREATIP'''}} {{rata|Dalam tulisannja jang berdjudul „Asal usul aliran filsafat eksistensialisme dan pengaruhnja ter-hadap kesusasteraan modern Perantjis", M.T. Zen antara lain menulis:,,Para pengarang di Indonesia kiranja djangan hanja sampai kepada taraf 'verhaaltjes schrijven' sadja sebagai mana dikatakan oleh Sjahrir..." Masaalah jang diadjukan M. T. Zen disini djelas adalah masaalah daja kreatip.}} {{rata|Kalau kita memandang kesekeliling kita, memperhatikan kegiatan-kegiatan seni, maka tidak bisa tidak kita akan sedikit bersedih. Masih segar dalam ingatan kita karja-karja pengarang Angkatan 45, diskusi-diskusi senilukis jang mendalam antara Oesman Effendi dan Basuki Resobowo, pementasan-pementasan tahunan ATNI dengan drama-drama jang bermutu atau pentjiptaan-pentjiptaan lagu-lagu seriosa jang baik dalam senisuara. Pada saat inipun kegiatan-kegiatan tersebut tidak berkurang: tjukup banjak karja-karja sastra, pameran-pameran senilukis djuga kerap diadakan, pementasan-pementasan drama TV diselenggarakan sebulan sekali dan band-band musik tumbuh bagai djamur. Tapi kita bersedih atas mutunja. Dibidang sastra, orang jang paling optimispun seperti H. B. Jassin, jang tidak mau mengatakan bahwa mutu kesusasteraan Indonesia mundur, tidak berani menjatakan bahwa mutu kesusasteraan pada saat ini lebih madju dari karja-karja sastra Angkatan 45. Bahwa setelah sekian puluh tahun kita tidak madju, ini berarti suatu kemunduran. Dan hal ini tidak hanja terdjadi pada bidang sastra sadja, tapi tampaknja djuga mendjangkiti tjabang-tjabang seni lainnja. Apa gerangan sebabnja?}} {{rata|Ada banjak pendapat mengenai hal ini. Ada jang mengatakan seniman kita kurang latar belakang filsafat. Filsafat chususnja filsafat anthropologi memberikan kesadaran bagi siseniman tentang fungsi dirinja dan arti pentjiptaannja. Di Eropah misalnja, seorang pelukis jang tampaknja ,,emosionil" seperti Van Gogh, dari tjatatan-tjatatan hariannja ternjata adalah seorang pemikir teoritis jang tjukup berat". Belum lagi kita bitjara tentang seorang Picasso, atau Kandinsky. Kesadaran intelektuil tampaknja mengangkat siseniman dari tarafnja jang primitip dimana pentjiptaan hanja sekadar spontanitas insidentil, kesuatu taraf penghajatan nilai-nilai setjara sadar. Barangkali ini pula sebabnja mengapa seniman-seniman Indonesia (terutama sastrawan) pendek napas"nja, seperti jang disinjalir oleh Trisno Sumardjo. Karena mereka kurang menjadari sepenuhnja apa fungsi dirinja dan arti pentjiptaannja bagi kemanusiaan.}} {{rata|Tapi ada jang membantah pendapat ini. Menurut mereka, tak ada hubungan antara pengetahuan intelektuil dengan daja kreatip. Lihatlah Affandi misalnja apakah dia seorang intelektuil dan kurangkah daja kreatip padanja? Menurut mereka soalnja adalah soal ekonomi di Indonesia, karena seniman tidak bisa hidup dari karjanja, maka kegiatan seni hanja sampai pada taraf hobby sadja. Begitu mereka dewasa dan harus memikul beban kehidupan, mereka meninggalkan kegiatan seni. Seniman jang tetap tinggal seniman ialah mereka jang dapat mentjari penghasilan dari karja-karjanja. Tjontoh-tjontohnja banjak-lihat sadja Affandi, pelukis-pelukis Istana, pelukis-pelukis Bandung dan banjak lagi lainnja. Kesusasteraan djustru jang paling merana karena bila dalam bidang seni lukis masih mungkin orang hidup dari lukisan-lukisannja, hampir tak mungkin seseorang hidup hanja dari hasil-hasil tjerpen atau puisinja.}} {{rata|Pendapat inipun dibantah lagi. Karena dalam kenjataannja, banjak seniman-seniman kreatip jang hidupnja sangat miskin. Bahkan kenjataan menundjukkan pula, bahwa mereka jang berpenghasilan dari karjaseninja, banjak jang mengalami kemunduran-kemunduran jang fatal dalam mutu karjanja. Apa jang tinggal benar pada seniman profesionil itu ialah bahwa mereka djadi makin produktip. Orang-orang jang membantah teori sebab ekonomi" ini mengadjukan pendapat bahwa masaalah daja kreatip adalah masaalah kepribadian masing-masing orang-artinja sulit atau mudahnja seseorang tergugah oleh alam sekitarnja dan kesanggupan mengolah apa jang menggelora didalam dirinja mendjadi pernjataan-pernjataan seni. Djadi masaalahnja adalah masaalah bakat.}} {{rata|Tampaknja persoalan daja kreatip ini adalah masaalah kompleks dimana banjak faktor turut berperan. Jang terang kita semua ingin memetjahkan persoalan ini. Salah satu fungsi dari ruang kritik dan esei dalam madjalah ini ialah memberi latar belakang intelektuil pada para seniman kita. Apakah dia akan berhasil merangsang daja kreatip para seniman, masih tergantung dari banjak faktor lain.}} <br>{{right|SOE HOK DJIN}}<noinclude>{{center|HORISON/35}}</noinclude> tn3xrduipnjchqpa24eyz2gvwwqfc40 Halaman:Sarinah.pdf/197 104 105762 298166 2026-06-16T08:00:52Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298166 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>barisan kaum sosialis, tetapi yang karena oportunisme yang salah, melupakan keyakinannya terhadap kepada kaum wanita. Menggelikan, ya lebih jahat dari menggelikan, adalah mereka, yang meskipun mereka tadinya dating menggabungkan diri dengan kita untuk menentang penindasan, toh di dalam batinnya sendiri belum meniadakan nafsu untuk menindas kaum wanita”. Anna Kulishoff, pemuka wanita Italia yang lain, cantik dan tangkas, terkenal dalam kongres-kongres internasional, tajam fikiran dan setia kepada keyakinan, di dalam satu tulisan menganjurkan kepada kaum wanita supaya percaya kepada diri sendiri: “Janganlah mendengarkan omongan orang, yang mengatakan bahwa Tuan tidak cakap dan tidak bersedia buat perjoangan politik. Belum pernah ada orang belajar sesuatu hal dengan tidak bekerja. Orang tak dapat belajar berenang dengan tidak terjun ke dalam air. Orang tak dapat belajar menjahit, jika orang tidak mulai mengambil jarum di dalam tangannya. Kaum proletar laki-laki pun tadinya tak cakap dan tak bersedia. Hanya dengan latihan orang dapat memperoleh kecakapan-kecakapan”. Karena tulisan ini, Anna Kulishoff mendapat hukuman dua tahun penjara! Ia dianggap berbahaya buat keamanan negara... Di bawah ini saya cantumkan ucapan Maria Spiridonova yang mengharukan. Ia bukan sosialis tulen, tetapi salah seorang pemuka dari partai sosial revolusioner di Rusia. Puluhan tahun ia meringkuk dalam penjara, dibuang dari satu tempat ke tempat lain, sering menghadapi maut oleh karena disiksa, atau oleh karena di dalam selnya penjara penyakit batuk darah menyerang dia dengan hebatnya. Tetapi ia tak pernah goyang keyakinan, tak pernah mengaduh, tak pernah takut. Sesudah revolusi 1917 berhasil, dimerdekakanlah ia, dan di dalam pidato untuk menyambut pangayubagia ia berkata: “Satu kebahagiaan yang besar, satu kesenangan yang meresap ke dalam jiwa, ialah mengabdi kepada rakyat, yang demikian lamanya, bertahun-tahun seperti tiada hingga, tersiksa di bawah telapak perbudakan. Pujian Tuan saya terima dengan segala rasa kekecilan diri, dan saya 197<noinclude>{{rh|||197}}</noinclude> 0jlvx8lpgpt4e3frkjl91b0sed97rxo Halaman:Sarinah.pdf/198 104 105763 298167 2026-06-16T08:04:09Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'bawakannya kepada azas-azas yang kita abdii, azas-azas perjoangan buat kaum pekerja dan buat persaudaraan internasiona1. Bukan untuk saya, tetapi atas nama TuanTuan ... Saya dapat menderita banyak, saya tidak takut sakit atau kemelaratan ... Tidak tahukah Tuan-Tuan, bahwa saya ini termasuk golongan orang-orang yang tersenyum di kayu salib? Saya akan tertawa di dalam penjara. Sebab orang menderita buat satu cita-cita, dan cita-cita itu adalah beg... 298167 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>bawakannya kepada azas-azas yang kita abdii, azas-azas perjoangan buat kaum pekerja dan buat persaudaraan internasiona1. Bukan untuk saya, tetapi atas nama TuanTuan ... Saya dapat menderita banyak, saya tidak takut sakit atau kemelaratan ... Tidak tahukah Tuan-Tuan, bahwa saya ini termasuk golongan orang-orang yang tersenyum di kayu salib? Saya akan tertawa di dalam penjara. Sebab orang menderita buat satu cita-cita, dan cita-cita itu adalah begitu indah, begitu luhur, sehingga semua perasaan-perasaan yang mengenai diri sendiri lenyap oleh karenanja.” Dan perhatikanlah ucapan pahlawan wanita Rusia yang lain, yang juga termasuk golongan Manusia Besar: Vera Figner. Sudahkah Tuan pernah membaca kitabny “Nacht over Rusland”? Sebagai Maria Spiridonova, ia pun berpuluh-puluh tahun meringkuk dalam penjara Czaar. Ia pun tak kenal goyang fikiran, tak kenal bimbang di dalam perjoangan. Di dalam satu rapat yang besar ia pernah berkata: “Kamu mau apa, kawan-kawanku wanita? Apakah kamu mau memandang pekerjaan revolusi sosial ini sebagai pekerjaan kaum laki-laki saja? Kamu toh juga satu bagian dari kelas buruh, yang membungkuk di bawah penindasan? Kamu, kaum wanita, toh justru yang paling menderita karena kemiskinan dan kemelaratan yang didatangkan oleh penghisapan kapitalistis itu? Dan kamu toh tidak menyangka, bahwa kemiskinanmu dan kemelaratanmu itu pekerjaan suami-suamimu? Tidak, baik kamu, maupun suami-suamimu, adalah korban daripada sistim yang merajalela di sini telah berpuluh-puluh tahun. Sistim itulah harus kamu tentang, sistim itulah harus kamu perangi bersama-sama dengan suami-suamimu, kalau kamu ingin merdeka, benar-benar merdeka”. Satu tangkai bunga-rampai lagi dari Vera Sasulitsch, yang juga termasyhur namanya: “Kita telah berjoang berpuIuhpuluh tahun, untuk memerdekakan peri-kemanusiaan daripada siksaan terbesar yang pernah mengazab dia, -yaitu daripada kapitalisme dengan segala macam cara-cara penghisapannya. Perjoangan ini selalu tumbuh, dan terus akan tumbuh, sampai tercapai cita-cita kita. Di dalam perjoangan ini, kita bersama-sama mengalami kesenangan dan kesedihan, tetapi tidak ada kesenangan yang begitu besar 198<noinclude>{{rh|||198}}</noinclude> m51xvokp9zk4spg46nuoulrh1o89jg9 298168 298167 2026-06-16T08:04:39Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298168 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>bawakannya kepada azas-azas yang kita abdii, azas-azas perjoangan buat kaum pekerja dan buat persaudaraan internasiona1. Bukan untuk saya, tetapi atas nama TuanTuan ... Saya dapat menderita banyak, saya tidak takut sakit atau kemelaratan ... Tidak tahukah Tuan-Tuan, bahwa saya ini termasuk golongan orang-orang yang tersenyum di kayu salib? Saya akan tertawa di dalam penjara. Sebab orang menderita buat satu cita-cita, dan cita-cita itu adalah begitu indah, begitu luhur, sehingga semua perasaan-perasaan yang mengenai diri sendiri lenyap oleh karenanja.” Dan perhatikanlah ucapan pahlawan wanita Rusia yang lain, yang juga termasuk golongan Manusia Besar: Vera Figner. Sudahkah Tuan pernah membaca kitabny “Nacht over Rusland”? Sebagai Maria Spiridonova, ia pun berpuluh-puluh tahun meringkuk dalam penjara Czaar. Ia pun tak kenal goyang fikiran, tak kenal bimbang di dalam perjoangan. Di dalam satu rapat yang besar ia pernah berkata: “Kamu mau apa, kawan-kawanku wanita? Apakah kamu mau memandang pekerjaan revolusi sosial ini sebagai pekerjaan kaum laki-laki saja? Kamu toh juga satu bagian dari kelas buruh, yang membungkuk di bawah penindasan? Kamu, kaum wanita, toh justru yang paling menderita karena kemiskinan dan kemelaratan yang didatangkan oleh penghisapan kapitalistis itu? Dan kamu toh tidak menyangka, bahwa kemiskinanmu dan kemelaratanmu itu pekerjaan suami-suamimu? Tidak, baik kamu, maupun suami-suamimu, adalah korban daripada sistim yang merajalela di sini telah berpuluh-puluh tahun. Sistim itulah harus kamu tentang, sistim itulah harus kamu perangi bersama-sama dengan suami-suamimu, kalau kamu ingin merdeka, benar-benar merdeka”. Satu tangkai bunga-rampai lagi dari Vera Sasulitsch, yang juga termasyhur namanya: “Kita telah berjoang berpuIuhpuluh tahun, untuk memerdekakan peri-kemanusiaan daripada siksaan terbesar yang pernah mengazab dia, -yaitu daripada kapitalisme dengan segala macam cara-cara penghisapannya. Perjoangan ini selalu tumbuh, dan terus akan tumbuh, sampai tercapai cita-cita kita. Di dalam perjoangan ini, kita bersama-sama mengalami kesenangan dan kesedihan, tetapi tidak ada kesenangan yang begitu besar 198<noinclude>{{rh|||198}}</noinclude> 7puu3c93v96u0ce77uwkh5kcy7id100 Halaman:Sarinah.pdf/199 104 105764 298169 2026-06-16T08:12:34Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298169 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>sebagai yang kita alamkan beberapa tahun yang terakhir ini: kesenangan melihat makin banyak wanita ikut serta dalam barisan kaum proletar yang berjoang. Ikut sertanya wanita dalam perjoangan kita itu akan pasti membawa perjoangan kita kepada kemenangan. Sebab tidak ada satu perjoangan masyarakat dapat mencapai tujuan masyarakatnya, selama tidak seluruh kelas yang menjalankan perjoangan itu ikut serta dalam perjoangan itu. Kerena itulah, maka pesan kita kepada wanita buruh adalah singkat dan jelas: Ketahuilah tujuanmu, jalankanlah perjoanganmu itu dengan ulet, bersatu-padulah dengan kawan-kawan kita laki-laki. Terutama sekali: berhati beranilah! Tiada perjoangan pernah mencapai kemenangan, jika tidak dengan senjata keberanian hati”. Dan akhirnya, satu tangkai lagi. Maukah pembaca satu contoh keberanian wanita, satu contoh keuletan pendirian, yang tak mau goyang meski di bawah ancaman hukuman berat? Bacalah ucapan Sofya Bardina di bawah ini, yang ia ucapkan tatkala perkaranya diperiksa di muka hakim Czaar: “Saya tak pernah menentang hak milik perseorangan, saya malahan berani mengatakan bahwa saya membela hak milik perseorangan itu, manakala saya mengatakan bahwa tiap-tiap manusia berhak penuh atas tenaga kerjanya dan atas hasil-hasil tenaga kerjanya itu. Maka sekarang saya bertanya: sayakah yang merusak hak milik perseorangan, ataukah si majikan paberik, yang membayar kepada kaum buruh hanya sepertiga dari harga kerjanya dan mengambil keuntungan dari yang duapertiga lagi dengan tak membayar apa-apa? Bukanlah si spekulan yang merusak hak milik perseorangan, yang bermain dagang dibeurs dan menjerumuskan ribuan keluarga ke dalam kecelakaan, memperkaya diri sendiri atas kerugian mereka itu dengan tiada mengeluarkan keringat setetes pun juga? Kami memandang hak kaum buruh atas hasil tenaga kerjanya lebih tinggi daripada hak apapun juga ... Juga berhubung dengan soal keluarga, maka saya hanya dapat bertanya: bukankah susunan masyarakat yang memaksa wanita meninggalkan keluarganya, masuk ke dalam paberik untuk mencari upah yang sangat rendah, dan di sana binasa bersama dengan anak-anaknya, -bukankah susunan masyarakat yang 199<noinclude>{{rh|||199}}</noinclude> r6i1hqn21j7p5qxxa575tfzudx554ex Halaman:077,167 Tidore.djvu/3 104 105765 298170 2026-06-16T08:16:06Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 298170 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 124. grio<br> 125. ngotji<br> 126. hǐka<br> 127. sosoegoe<br> 128. òjò <br> 129. sòha<br> 130. òjò <br> 131. kokǐtò<br> 132. gilhotoe, goeroegǐ<br> 133. toerifoe<br> 134. toerifoe<br> 137. jasi<br> 138. otoe<br> 139. otoe nanǐ, otoe hoda<br> 140. nanǐ<br> 144. kòko<br> 145. tàgi<br> 146. hèlǐ-hèlǐ<br> 147. papanaka <br> 148. běloetoejang<br> 149. toerine<br> 150. tjako <br> 151. tam <br> 152. mapòro <br> 153. kojafoe<br> 154. mahòko<br> 156. gagoe <br> 157. tòdja <br> 158. oli <br> 159. paro <br> 160. sogaro<br> 161. òhǐ <br> 163. rèkǐ <br> 165. òhǐ kǐnǐbò'<br> 166. hohaǐ <br> 167. ngotji<br> 169. sòrǐ <br> 170. kòkèhè<br> 172. tigoe <br> 173. totigo<br> 174. kěrbol {{multicol-break}} 176. toemoehòa<br> 177. jèja<br> 182. ahoe<br> 183. sòni<br> 184. sòni<br> 188. majiti <br> 191. koeboer<br> 192. gahi sòsònǐ<br> 193. waris<br> 194. waris, poesaka<br> 196. njabo <br> 197. njabo <br> 198. bòkǐ <br> 199. gogòla<br> 200. gogòla<br> 202. birahǐ, sěnang<br> 203. bobòro <br> 205. sosahoe<br> 207. oroe gogòla<br> 209. padèdè <br> 210. bobakoe <br> 214. goegoeli<br> 219. kawali <br> 220. tjoem <br> 222. sěrang' <br> 223. tofange <br> 224. oroe hodopa<br> 225. lěmaha <br> 227. mo <br> 228. pòngò <br> 229. piloe <br> 231. koeloeǐ<br> 232. laha maroewa<br> 234. foefoe <br> 235. so-so <br> 236. manoesia<br> 237. manoesia <2><br> 238. manoesia <3><br> 239. rònga<br> 241. manoesia nonau'<br> 242. manoesia fafaja' {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> 1ilhwadkrwqx7vhxxivptzfz2je4257 Halaman:Sarinah.pdf/200 104 105766 298171 2026-06-16T08:21:40Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298171 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>membinasakan keluarga, karena ia memaksa wanita, terdorong oleh kemiskinan, memasuki alam persundalan, atau kamikah yang membinasakan keluarga itu, oleh karena kami hendak membanteras kemiskinan itu, yang menjadi sumber semua kejahatan-kejahatan sosial? ... Bagaimana juga nanti nasib saya, tuan-tuan hakim, saya tahu tak akan mendapat ampunan, dan memang saya tidak mengingini ampunan itu. Tuntutlah kami terus-menerus sekehendak tuan-tuan saya yakin bahwa pergerakan sekuat ini -yang jelas dibangunkan oleh semangat masa sendiri- tak dapat ditahan dengan penindasan yang bagaimanapun juga. Barangkali ia mungkin dihambat buat sejurus waktu, tetapi ia akan bangun kembali dengan tenaga yang lebih besar, dan demikian terusmenerus, sampai cita-cita kami mencapai kemenangan akhir. Tuntutlah kami sekehendak tuan-tuan! Tuan-tuan buat sementara waktu menggenggam kekuasaan zahir, tetapi kami memiliki kekuasaan batin: kekuasaannya kemajuan sejarah, kekuasaannya Cita-cita. Cita-cita tak dapat dimatikan dengan bayonet-bayonet” Sekian saja sajian bunga-bunga rampai! Tetapi saya tidak mau menutup bab ini, sebelum membuat sedikit pemandangan lagi yang mengenai tingkat kedua dan tingkat ketiga daripada pergerakan wanita. Manakala saya di muka tadi sering-sering mencela pergerakan wanita tingkat kedua, maka itu tidak berarti bahwa saya tidak mengakui beberapa sifat yang baik daripadanya. Kalau saya tinjau pergerakan feminisme itu seumumnya, maka haruslah saya mengatakan, bahwa ia adalah satu pergerakan yang progresif juga, -satu pergerakan yang membawa kemajuan dalam masyarakat. Hal ini telah nyata. Progresif adalah tuntutan hak pemilihan; sebab dulu tidak ada hak pemilihan wanita itu. Progresif adalah tuntutan hak untuk bekerja; sebab dulu wanita tidak boleh bekerja dalam pekerjaan di masyarakat. Tetapi bumi pergerakan feminisme itu nyata bumi burgerlijk; anggota-anggotanya sebagian besar berasal dari kalangan burgerlijk; dan motifnya nyata motif burgerlijk pula. Ia telah puas dengan hak pemilihan yang terbatas, yang memasukkan perempuan-perempuan atasan saja ke dalam dewan-dewan, dan tidak perempuan jelata juga. Dengan 200<noinclude>{{rh|||200}}</noinclude> nax43ncrix06j1xzxi4to12du8srq3x Halaman:Sarinah.pdf/201 104 105767 298172 2026-06-16T08:26:04Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298172 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>demikian, maka kaum wanita feminis memperkuat kelas atasan, kelas borjuis, di dalam dewan, sebagai satu imbangan kepada tambah kuatnya kelas proletar. Mereka tentu membantah hal ini sekeras-kerasnya. Malah mereka mengira benar-benar berjoang buat semua perempuan, dan mengatakan pula bahwa mereka berjoang dengan tidak memperbedakan kelas-kelas. Karena itu pula mereka menolak dengan keras adanya perjoangan kelas, menolak adanya klassenstrijd. Tetapi tidak dapat dibantah, bahwa pada hakekatnya pergerakan feminis adalah pergerakan burgerlijk. Nyonya Pothuis Smit, seorang wanita sosialis Belanda yang amat lunak, pernah menulis: “Het was de laatste stap van de heerschappij der bourgeoisie, die men verlangde. De vrouwen van die klasse moesten ook het kiesrecht verkrijgen.” Artinya: “Tuntutan itu adalah langkah terakhir untuk memperkuat kekuasaan bursoasi. Wanita-wanita dari kelas itu harus mendapat hak pemilihan pula”. Dan Nyonya Henriette Roland Holst yang brilliant itu berkata: “In werkelijkheid echter is haar beweging een klassenbeweging, wat zij wil is voornamelijk de opheffing der wetten, het doorbreken der tradities en de verandering der zeden, die de vrouwen der bezittende en heersende klassen nog juridisch, sociaal, economisch en politisch, bij de mannen van deze klassen achterstellen. Zij wil haar deel veroveren aan de voorrechten -materieele zowel als ideele voorrechten- van de mannen der bourgeoisie, wil met hen samen de wereld bezitten en de wereld beheerschen. Zij wil al het genot en de pracht van die wereld, de stoffelijke en geestelijke goederen, mede genieten. Zij wil, in het kort, dat aan de heerschappij en de uitbuiting die tot nu toe door de mannen der heerschende klassen gevoerd en bedreven werden, ook de vrouwen dier klassen zullen deelnemen”. Artinya: “Pada hakekatnya, pergerakan mereka itu adalah pergerakan kelas; yang mereka tuju ialah terutama sekali hapusnya hukum-hukum, pecahnya kebiasaan-kebiasaan dan robahnya adat-adat, yang di atas lapangan yuridis, sosial, ekonomis dan politis masih membelakangkan wanita-wanita kelas atasan daripada kaum laki-laki kelas itu. Mereka mau merebut bahagian mereka dalam hak-hak lebih kaum laki-laki bursoasi, -hak-hak lebih 201<noinclude>{{rh|||201}}</noinclude> ewzv3wdhmbqr9o2otqdy1blbnhl3a4b Halaman:Sarinah.pdf/202 104 105768 298173 2026-06-16T08:33:41Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298173 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>jasmani maupun rohani. Mereka mau ikut mengecap semua kenikmatan dan keindahan dunia itu, mau ikut mengecap semua kekayaan-kekayaan jasmani dan rohani dalam dunia itu. Pendek kata, mereka berkehendak, supaya kaum wanita kelas atasan itu ikut serta dalam kekuasaan dan penghisapan yang sampai sekarang dilakukan oleh kaum laki-lakinya”. Di dalam kitab riwayat hidupnya, Mr.P.J.Troelstra (pemimpin sosialis Belanda yang terkenal) menceritakan tentang hal pengalamannya dengan pergerakan kaum feminis. Pada waktu kaum buruh Belanda menuntut hak pemilihan umum buat semua laki-laki dan perempuan, maka dari fihak kaum feminis dijumpai rintangan! Di dalam Congres voor Vrouwenkiesrecht 29 Agustus 1898, nyonya Versluys-Poelman berkata: “Eerst het kiesrecht voor de vrouw, en dan pas algemeen kiesrecht”, yang artinya: “lebih dulu hak pemilihan bagi wanita, baru kemudian hak pemilihan umum”. Troelstra mengejek, bahwa yang dimaksudkan dengan “hak pemilihan buat wanita” itu sebenarnya tak lain tak bukan ialah “dameskiesrecht” semata-mata! Seruan nyonya Versluijs-Poelman itu dinamakannya satu seruan yang keluar dari hati kecil kaum feminis sebagai bagian dari bursoasi. Seruan itu ialah keluar dari “het streven der vrouw uit de bourgeoisie om zich de rechten en voorrechten harer klasse te veroveren”, artinya: keluar dari “ikhtiarnya wanita borjuasi untuk ikut memiliki hak-hak dan hak-hak lebih daripada kelasnya”. Maka oleh karena gerakan wanita tingkat kedua dan tingkat ketiga itu datangnya dari dua alam, tumbuhnya dari dua jiwa, sumbernya dari dua kepentingan yang bertentangan satu sama lain, maka fihak tingkat ketiga selalu secara prinsipiil menolak bekerja bersama-sama dengan fihak feminis. Benar ada beberapa persamaan, benar ada beberapa titik persentuhan antara kedua aliran itu, tetapi perbedaan perbedaannya adalah begitu besar, sehingga dua pergerakan ini tak mungkin bersatu menjadi gelombang yang tak terpisah ataupun sebagai dua gelombang yang sesuai jalannya. Di dalam Konferensi Wanita Internasional di Stuttgart 1907, yang sudah saya ceritakan di muka tadi, ditetapkan penolakan bekerja bersama-sama dengan wanita atasan itu dalam 202<noinclude>{{rh|||202}}</noinclude> lex3pg0z4u2zak9zjbh0pamprsdsqgz Halaman:Sarinah.pdf/203 104 105769 298174 2026-06-16T08:37:04Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298174 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>kalimat resolusi yang berikut: “Wanita-wanita sosialis harus menjalankan perjoangan untuk hak ini (hak pemilihan) tidak bersama-sama dengan wanita-wanita borjuis, tetapi bersamasama dengan partai-partai sosialis”. Di dalam Kongres di Gotha 1896, sebenarnya penolakan ini telah amat terang dan tegas: “Sebagai perajurit dalam perjoangan kelas, wanita proletar itu sama saja butuhnya kepada persamaan hak yuridis dan politis dengan laki-laki, seperti wanita dari golongan pertengahan dan dari golongan intelek borjuis. Sebagai pekerja yang berdiri sendiri, dia juga sama saja butuhnya kepada hak untuk menguasai penghasilan sendiri dan diri sendiri, seperti wanita dari golongan bursoasi. Tetapi kendati adanya persamaan di atas lapangan tuntutan-tuntutan yuridis dan politis itu, maka wanita proletar itu di atas lapangan kepentingan ekonomi yang besar-besar sama sekali tidak ada persesuaian dengan wanitawanita dari kelas-kelas lain. Oleh karena itu, maka usaha memerdekakan wanita proletar itu tidak mungkin pekerjaan wanita-wanita dari semua kelas, tetapi hanyalah pekerjaannya kaum proletar seluruhnya, dengan tiada membeda-bedakan perempuan atau laki-laki”. Dus: menolak pekerjaan bersama dengan kaum feminis secara prinsipiil. Apakah ini berarti, bahwa tidak ada faedahnya mencoba mempengaruhi kaum feminis itu? Sudah barang tentu ada faedah itu. Terutama sekali di negeri-negeri, di mana pergerakan feminis telah cukup kuat untuk menjalankan pengaruh yang tidak baik di atas massa, maka ikhtiar mempengaruhi itu adalah perlu. Di negeri-negeri yang demikian itu misalnya adalah berfaedah untuk mempengaruhi kaum feminis, sedapat mungkin, supaya tuntutannya hak perwakilan yang terbatas itu dirobah menjadi tuntutan hak perwakilan umum. Sebab, tidakkah sejarah menjadi kitab pelajaran bagi rakyat jelata pula? Di dalam sejarah itu senantiasa terbukti, bahwa massa selalu dipakai, diambil tenaganya, diperkudakan oleh kelas-kelas lain yang berjoang untuk keperluannya sendiri. Di dalam Revolusi Perancis nyata benar perkudaan ini, di Jerman Hitler pun demi-kian pula. Pergerakan feminis pun dulu sering mencoba memperkudakan massa, menyuruh massa itu menarik kereta yang merekalah 203<noinclude>{{rh|||203}}</noinclude> mp7lz1zpwr8wpbszh90xenefvcb2zr3 Halaman:077,167 Tidore.djvu/4 104 105770 298175 2026-06-16T09:11:02Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 298175 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 243/<br> 244. nonau'<br> 245/<br> 246. fafaja'<br> 248/<br> 249. djodjaro<br> 250. ngòfa nonau'<br> 255. papa<br> 256. jaja<br> 257. ngòfa ma njira <br> 258. ngòfa ma djodjo<br> 261. ngòfa nonau' <br> 262. ngòfa fafaja'<br> 263. tǐtik<br> 264. jèjèk<br> 266. dotoe sè oesè<br> 267. gosimo joekǐ <br> 268. ijoe ma dihoetoe<br> 269. fira ma dihoetoe<br> 270. ijoe ma njira <br> 271. fira ma njira <br> 272. ijoe ma djodjo<br> 273. fira ma djodjo<br> 274. ngòfa sè danoe<br> 275/<br> 276. joema<br> 277/<br> 279. papa njira<br> 278/<br> 280. papa djodjo<br> 281- <br> 286. im<br> 297. papa jòdò<br> 298. jaja jòdò<br> 299. jòdò<br> 300. jòdò<br> 302/<br> 303. ngòfa baöe<br> 304. papa baöe, jaja baöe<br> 305. ngòfa piara<br> 306- <br> 309. tàfoe<br> 310. tàfoe {{multicol-break}} 311-<br> 314. dàfoe<br> 315. hali'<br> 316. manoesia rorego<br> 317. ra <br> 318. faja'<br> 320. dagiloom, dagimoi<br> 324. tětamoe<br> 326. daira' <br> 327. kòta <br> 329. soä<br> 330. manoesia <br> 331. gahi djien<br> 332. hadjimat<br> 333. kramat <br> 338. dòhò <br> 339. tjòka<br> 340. wòngǐ ma laha, djien<br> 341. wòngǐ ma djira<br> 343/<br> 344. djiwa<br> 345. djo ma dihoetoe<br> 347. sabea <br> 351. lǐfo <br> 352. alief' <br> 353. kěrtas <br> 354. soerat <br> 355. boek <br> 356. djărita<br> 365. bala, koewasa<br> 367. laha <br> 368. djira <br> 369. haraam'<br> 370. bobòso <br> 371. imaam' <br> 374. sigi<br> 375. gòja<br> 377. fòla bitjara<br> 378. kolano<br> 380. ronga lolamo<br> 381. kapita {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> 4xb1n3ohzm5vdgcb9ise6fi0a02qz1k Halaman:Sarinah.pdf/204 104 105771 298176 2026-06-16T10:02:05Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298176 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>duduk di atasnya, kesatu tempat yang merekalah mendapat keuntungan di sana. Oleh karena itu, kewajiban pemimpin wanita tingkat ketiga ialah pertama-tama menyedarkan massa, membukakan mata massa jangan mau dijadikan kuda, -dan kedua: di mana mungkin dan di mana dapat, mempengaruhi pemimpinpemimpin feminis itu supaya tuntutan-tuntutannya tidak terlalu bertentangan dengan kepentingan massa. Hal ini tidak bertentangan dengan prinsip tidak bekerja bersama-sama dengan mereka, sebab pergerakan tingkat ketiga tidak mengikatkan diri kepada mereka, tidak mengorbankan kemerdekaan dirinya kepada mereka, tidak mengasih konsesi sedikit pun kepada mereka. Satu contoh: Dulu Serikat Wanita Liberal di Inggeris sangat “anti” kepada tiap-tiap usaha kaum buruh wanita supaya diadakan, hukum-hukum yang melindungi buruh wanita. Sebab memang demikianlah prinsip liberalisme: anti bahwa negara ikut-ikut campur dalam urusan produksi. Tetapi lamakelamaan Serikat Wanita Liberal itu akhirnya toh menyetujui pula kepada diadakannya wet-wet yang melindungi buruh wanita. Apa sebab? Sebabnya ialah oleh karena mereka lamakelamaan kena pengaruh pemimpin-pemimpin tingkat ketiga. Terutama sekali Miss Amie Hieks rajin sekali mempengaruhi rapat-rapat Serikat Wanita Liberal itu dengan pidato-pidato yang jitu dan meyakinkan. Di tiap-tiap rapat ia minta ikut bicara, di tiap-tiap rapat ia mendebat atau menganjur-kan halhal yang perlu dianjurkan. Kegiatan Miss Amie Hicks itu boleh dijadikan teladan. Tetapi inipun tidak boleh berarti, bahwa boleh diharapkan pergerakan feminis itu akan “mlungsungi” sama sekali menjadi pergerakan tingkat ketiga. Sama sekali tidak! Sebab dasar kemasyarakatan pergerakan feminis itu ialah kelas atasan, dan pergerakan feminis itu akhirnya tak dapat bersifat lain daripada mengerjakan tugas yang diberikan oleh sejarah pada kelas atasan. Yang mereka dapat kompromisi niscaya tidak lebih daripada kompromis-kompromis kecil yang tidak mengubah kepada garis-garis besar tugas sejarah kelas 204<noinclude>{{rh|||204}}</noinclude> fc3pwa0v1nt085ub9tagf1u3oaivp6m 298177 298176 2026-06-16T10:02:32Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298177 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>duduk di atasnya, kesatu tempat yang merekalah mendapat keuntungan di sana. Oleh karena itu, kewajiban pemimpin wanita tingkat ketiga ialah pertama-tama menyedarkan massa, membukakan mata massa jangan mau dijadikan kuda, -dan kedua: di mana mungkin dan di mana dapat, mempengaruhi pemimpinpemimpin feminis itu supaya tuntutan-tuntutannya tidak terlalu bertentangan dengan kepentingan massa. Hal ini tidak bertentangan dengan prinsip tidak bekerja bersama-sama dengan mereka, sebab pergerakan tingkat ketiga tidak mengikatkan diri kepada mereka, tidak mengorbankan kemerdekaan dirinya kepada mereka, tidak mengasih konsesi sedikit pun kepada mereka. Satu contoh: Dulu Serikat Wanita Liberal di Inggeris sangat “anti” kepada tiap-tiap usaha kaum buruh wanita supaya diadakan, hukum-hukum yang melindungi buruh wanita. Sebab memang demikianlah prinsip liberalisme: anti bahwa negara ikut-ikut campur dalam urusan produksi. Tetapi lamakelamaan Serikat Wanita Liberal itu akhirnya toh menyetujui pula kepada diadakannya wet-wet yang melindungi buruh wanita. Apa sebab? Sebabnya ialah oleh karena mereka lamakelamaan kena pengaruh pemimpin-pemimpin tingkat ketiga. Terutama sekali Miss Amie Hieks rajin sekali mempengaruhi rapat-rapat Serikat Wanita Liberal itu dengan pidato-pidato yang jitu dan meyakinkan. Di tiap-tiap rapat ia minta ikut bicara, di tiap-tiap rapat ia mendebat atau menganjur-kan halhal yang perlu dianjurkan. Kegiatan Miss Amie Hicks itu boleh dijadikan teladan. Tetapi inipun tidak boleh berarti, bahwa boleh diharapkan pergerakan feminis itu akan “mlungsungi” sama sekali menjadi pergerakan tingkat ketiga. Sama sekali tidak! Sebab dasar kemasyarakatan pergerakan feminis itu ialah kelas atasan, dan pergerakan feminis itu akhirnya tak dapat bersifat lain daripada mengerjakan tugas yang diberikan oleh sejarah pada kelas atasan. Yang mereka dapat kompromisi niscaya tidak lebih daripada kompromis-kompromis kecil yang tidak mengubah kepada garis-garis besar tugas sejarah kelas 204<noinclude>{{rh|||204}}</noinclude> 376kjt8l1kv8dtybbctlribvs91ct0k Halaman:Sarinah.pdf/205 104 105772 298178 2026-06-16T10:05:30Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298178 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>atasan. Tidak!, politik mencoba mempengaruhi pergerakan feminis itu tidak boleh berarti mengharap-harapkan kerbau menjadi harimau, atau harimau menjadi gajah. Ia hanyalah harus berarti, bahwa massa harus dijaga jangan sampai ia terlalu menjadi korban kenaikannya wanita borjuasi. Yang paling penting ialah tetap: mendidik wanita massa, menyedarkan wanita massa, mengorganisir wanita massa, memparatkan wanita massa, menggerakkan wanita massa. Itu dan itu sajalah tetap alif-ba-ta-nya pergerakan wanita tingkat ketiga! Pergerakan feminis nyata tidak mampu memerdekakan wanita sama sekali. Tuntutan persamaan hak semata-mata, nyata masih meninggalkan satu soal yang belum selesai: bagaimanakah menghilangkan pertentangan antara pekerjaan masyarakat dan panggilan jiwa sebagai isteri dan ibu? Bagaimanakah menghilangkan “scheur, die door haar wezen gaat?” Sesuai dengan tuntutan emansipasi, maka wanita atasan sekarang sengaja keluar dari kurungan pingitan, keluar bersekolah, belajar sesuatu “beroep”, belajar menjadi jururawat, menjadi guru, menjadi juru-ketik atau juru-tulis atau komis, menjadi dokter atau insinyur atau adpokat, -tetapi kelak, kalau mereka sudah menjabat pekerjaan itu, ...datanglah lagi-lagi ujian-jiwa yang amat sulit: mereka harus memilih antara pekerjaan itu dan...hidup bersuami! Lagi-lagi datanglah bagi tiap-tiap orang wanita yang telah terlepas dari pingitan dan telah menjabat sesuatu pekerjaan yang umum satu saat yang ia terpaksa memilih antara pekerjaan itu dan panggilan kodrat alam. Mana yang harus dipilih? Mana yang harus dilebih beratkan?: pekerjaannyakah, -atau bersuamikah? Terus bekerjakah, -atau kembali ke dalam kurungan rumah tangga tetapi mempunyai kekasih, mempunyai laki-laki, mempunyai anak? Buat apa tadinya membuang uang dan tempoh begitu banyak buat special bersekolah menjadi juru-rawat atau guru atau dokter atau adpokat, kalau akhirnya semua kepandaian itu toh musti dikesampingkan, karena alam akhirnya toh menuntut bagiannya pula? 205<noinclude>{{rh|||205}}</noinclude> joj8mp16wqb199xw6kfcaol0rx064n4 Halaman:Sarinah.pdf/206 104 105773 298179 2026-06-16T10:14:27Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298179 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>“Tiap-tiap gadis menunggu datangnya hidup berlaki-isteri sebagai satu hal yang akan mengisi dan memenuhi hidupnya sama sekali. Pekerjaannya (di dalam masyarakat) itu buat dia bukan pekerjaan buat seumur hidup, tetapi sekedar satu tingkatan peralihan saja kepada pekerjaan yang sebenarnya, yaitu hidup berlaki-isteri”. Demikianlah gambaran jiwa, yang saya baca di dalam tulisan salah seorang pemimpin wanita feminis. Sekali lagi, -buat apa belajar sesuatu pekerjaan, kalau pekerjaan itu kelak toh harus dilepaskan lagi karena keharusan hidup berlaki-isteri? Mana yang harus diberatkan: pekerjaankah, atau cinta dan jadi ibukah? Inilah ujian jiwa yang sulit. Dan jikalau dua-duanya diambil, seperti halnya dengan kaum wanita bawahan, yang ya bekerja di paberik ya bersuami-isteri dan beranak-, maka wanita atasan itu rasanya tidak sanggup menderitaka “scheur” atau “retak” yang membelah jiwa-raganya kaum wanita bawahan. Dan jikalau wanita atasan itu memilih hidup bersuami-isteri daripada meneruskan pekerjaannya; jikalau ia dengan rasa masygul mengikuti panggilan kodrat alam dan meninggalkan pekerjaannya di kantor atau di lapangan pekerjaan lain, maka fihak feminis memberi hiburan kepadanya yang berbunyi: “Jangan masygul, jangan kecewa, sebab pengetahuan yang engkau dapat di sekolah dulu itu toh berfaedah juga buat kau pakai dalam rumah tangga”. lni namanya “lari dari kenyataan”! Sebab, jikalau benar maksud bersekolah itu hanya buat berfaedah di rumah tangga saja, maka lebih baik jangan gadis-gadis disekolahkan mengetik, jangan disekolahkan dagang, atau insinyur atau adpokat, atau kimia atau kesusasteraan, tetapi masukkanlah mereka semua ke sekolah-sekolah rumah tangga, huishoudscholen, yang vak-vaknya semata-mata buat kesempurnaan rumah tangga dan keibuan! Jikalau tujuan hidup wanita hanya suami dan anak-anak saja, maka wanita tak perlu mempelajari lain-lain pekerjaan, melainkan pekerjaan keisterian dan keibuan saja! Tidakkah kita merasa geli memfikirkan pendirian kaum feminis itu, yang tadinya mati-matian menuntut hak untuk bekerja, tetapi kemudian melepaskan pula pekerjaan yang telah diperdapat itu? Mereka merasakan adanya scheur, merasakan adanya retak, tetapi 206<noinclude>{{rh|||206}}</noinclude> 1oyvhy3b8trck7aq0cdhew49cgolkfr Halaman:Sarinah.pdf/207 104 105774 298180 2026-06-16T10:20:01Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298180 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>mereka tidak berjoang meghilangkan sebabnya retak itu, tidak berjoang menyembuhkan retak itu, melainkan memilih salah satu di antara dua belah yang dipisahkan oleh retak itu. Coba perhatikan satu ucapan lagi dari seorang pemimpin feminis, nyonya van Itallie van Embden, yang berbunyi: “Weest niet bang, maakt U niet ongerust! Wanneer de vrouw gaat voelen, dat haar kinderen lijden onder haar dubbel werk, dan komt zeterug ... Als ze moet kiezen, dan kiest ze het kind”. Artinya: “Jangan takut, jangan kuatir! Kalau wanita merasa, bahwa anak-anaknya menderita karena pekerjaannya yang dobel itu, ia akan kembali ... Kalau ia harus memilih, anaknyalah yang ia pilih”. Isinya ucapan ini benar. “Kalau ia harus memilih, anaknyalah yang ia pilih”. Memang demikianlah jiwa wanita. Memang demikianlah harusnya jiwa wanita. Wanita yang tidak mengutamakan anak, tidak pantas bernama wanita. Itu bukan soal lagi. Tetapi yang menjadi soal ialah: apa sebab ada retak, dan bagaimana menghilangkan retak itu? Dengan memakai perkataan-perkataan Nyonya Itallie van Embden sendiri, maka soalnya ialah: apa sebab “anak-anaknya menderita karena pekerjaannya yang dobel itu”? Tidakkah mungkin diperdapat satu susunan masyarakat, yang anak-anak tidak menderita, walaupun ibunya mengerjakan pekerjaan dobel? Ucapan Nyonya Itallie van Embden, seperti ucapan pemimpin feminis lain yang saya sitir di atas tadi, lagi-lagi satu perbuatan “lari dari kenyataan”, lagi-lagi satu “vlucht uit de werkelijkheid”. Lagi-lagi orang terpaksa bertanya: buat apa mengotot minta hak untuk bekerja, kalau pekerjaan itu nanti toh akan dilepaskan lagi? Tidak! pokok pangkal dari semua “vlucht” itu ialah, bahwa feminisme memang tidak mampu memecahkan soal! Tidak mampu memecahkan soal bagaimana meniadakan pertentangan antara pekerjaan (pencaharian) dan keibuan! Tidak bersuami dan tidak beranak, -bertentangan dengan panggilan kenikmatan alam. Tetapi bersuami beranak dan bekerja di masyarakat, - bertentangan dengan kesempurnaan kedua-duanya! 207<noinclude>{{rh|||207}}</noinclude> cazxfr6svlwritm5wtrp2hqdj8g7a71 Halaman:Sarinah.pdf/208 104 105775 298181 2026-06-16T10:24:02Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298181 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>Inilah pertentangan itu! Maka oleh karena itu, di kalangan feminis sendiri lantas timbul satu golongan yang tidak puas dengan feminisme itu. Golongan inilah yang menyebutkan dirinya kaum neofeminisme. Mereka bermaksud “mengoreksi” feminisme itu. Tetapi koreksi mereka itu ... makin salah! Makin menandakan kelemahan barangkali ... lebih jujur! Sebab, bagaimana pendirian neo-feminisme? Di dalam satu kitab tulisan D.L.Daalder “Feminisme en Nieuwfeminisme” diterangkan bahwa pokok neo-feminisme ialah pengakuan lebih dahulu bahwa tujuan hidup wanita ialah (bagaimanapun juga) suami dan anak. Maka oleh karena itu, tujuan pergerakan wanita haruslah: menyempurnakan wanita buat hidup bersuami Dan beranak. Maka neo-feminisme bermaksud: mendidik dan mempersiapkan wanita, terutama gadis, supaya ia kelak dengan sempurna dapat mengerjakan kewajibannya sebagai isteri dan sebagai ibu. Neo-feminisme tidak mengutamakan lagi pekerjaan, tidak mengutamakan lagi persamaan hak. Hak atas pekerjaan, dan hak pemilihan, tidak lagi menjadi titik berat aksinya. Suami dan anak, cinta dan keibuan, kesitulah pandangan matanya ... “Menyempurnakan wanita buat hidup bersuami dan beranak”! Dengan samar-samar saya melihat lagi jirimnya pergerakan wanita tingkat kesatu. Sesudah hampir dua ratus tahun pergerakan wanita, -kini kembali lagi ketingkat itu! ... Tanda apa ini? Tak lain tak bukan tanda ketidakmampuan. Tidak mampu menemukan pemecahan satu soal. Dicoba begini, dicoba begitu, akhirnya dicoba begini lagi ...Pemecahan tidak terdapat, -jalan yang diturut ternyata jalan buntu. Dan karena jalannya buntu, lantas mundur. Mundur kembali ke tempat yang ditinggalkan dua ratus tahun yang telah lalu! Karena jalannya buntu, lantas mau menjalankan “koreksi”. Tetapi koreksi itu bukan mendobrak kebuntuan itu, 208<noinclude>{{rh|||208}}</noinclude> l3lsbvv8ozohw1p8ouu1s1kws8miipz Halaman:Sarinah.pdf/209 104 105776 298182 2026-06-16T10:26:48Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298182 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>melainkan membiarkan kebuntuan itu, dan...mundur kembali. Mundur kembali ke “suami dan anak saja”. Mundur kembali ke “penyempurnaan wanita”. Mundur kembali ke sarang rumah tangga, dengan melepaskan pekerjaan di masyarakat, melepaskan persamaan hak, melepaskan hak perwakilan, dan lain-lain lagi tuntutan progresif yang sebagainya. Alangkah bedanya pergerakan wanita tingkat ketiga! Pergerakan wanita tingkat ketiga dengan tegas menyatakan, bahwa koreksi satu-satunya yang benar ialah: menghilangkan pertentangan antara pekerjaan untuk masyarakat dan cinta dan keibuan itu! Menghilangkan pertentangan antara dua hal itu dengan mengadakan satu susunan pergaulan hidup di mana dua hal itu tidak berkonflik satu sama lain, tetapi justru isi-mengisi satu sama lain, mengharmoni satu sama lain, mensintese satu sama lain. Ya, isi-mengisi satu sama lain, mengharmoni yang satu dengan yang lain, -mengangkat pekerjaan di masyarakat dan cinta dan keibuan itu ketingkatan yang lebih tinggi, di mana dua hal itu tidak mengantitese, tetapi justru mensintese satu sama lain. Wanita harus mengerti, bahwa mereka, jikalau mereka mengorbankan salah satu dari dua hal itu, -memilih cinta dan keibuan dan melepaskan pekerjaan di masyarakat, atau memilih pekerjaan di masyarakat dan melepaskan cinta dan keibuan-, sebenarnya menerima kekalahan di dalam perjoangan. Memilih cinta dan keibuan dan melepaskan pekerjaan di masyarakat berarti satu kekalahan terhadap kepada tuntutan yang telah diperjoangkan beratus-ratus tahun; memilih pekerjaan di masyarakat dan melepaskan cinta dan keibuan berarti satu kekalahan terhadap kepada tuntutan alam. Karena itu, satu-satunya jalan yang benar ialah jalan yang bukan saja menuju kepada hilangnya pertentangan antara dua hal itu, tetapi malahan kepada sintese dua hal itu, -jalan yang menuju ke tempat di mana dua hal itu kedua-duanya dapat dipenuhi bersama-sama, dalam suasana isi-mengisi kebahagiaan masing-masing. Usaha yang dapat mendatangkan sintese antara pekerjaan di masyarakat dan cinta dan keibuan itulah kemenangan! 209<noinclude>{{rh|||209}}</noinclude> rfwyvv3njq9wzasfbrvq1fuufjd63ws Halaman:Sarinah.pdf/210 104 105777 298183 2026-06-16T10:28:55Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298183 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>Kemenangan, oleh karena tidak ada satu langkah yang mundur. Tidak mundur di atas lapangan tuntutan kemasyarakatan, tidak mundur di atas lapangan tututan alam. Malahan di atas kedua-dua lapangan satu kemajuan. Di atas lapangan kemasyarakatan satu kemajuan, oleh karena pekerjaan di masyarakat menjadi satu kegembiraan; di atas lapangan cinta dan keibuan satu kemajuan, oleh karena wanita dapat cukup waktu untuk menjalankan cinta dan keibuan, itu dan dapat menjalankannya dalam suasana kebahagiaan pula. Pembaca masih ingat, apa yang menyebabkan retak dalam jiwa wanita yang mengerjakan pekerjaan masyarakat. Pertama ialah oleh karena di dalam sistim kapitalisme pekerjaan masyarakat itu laksana meremukkan jasmani dan rohani; duabelas jam, tigabelas, empatbelas jam tiap-tiap hari kadangkadang wanita harus bekerja di dalam paberik atau perusahaan, dan itupun dalam keadaan pekerjaan yang amat berat dan tidak sehat. Kedua, kalau wanita, di dalam keadaan jasmani dan rohani yang telah amat letih itu, sore-sore atau malam-malam pulang di rumah, maka ia harus bekerja lagi amat berat di rumah tangga, mengerjakan seribusatu pekerjaan rumah tangga tetek-bengek yang tidak ringan, yang diwajibkan kepadanya oleh cinta dan keibuan. Memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menjelumat baju, memelihara anak, menyediakan sarapan buat besok pagi dan lain sebagainya, masih harus ia kerjakan, sehingga kebahagiaan cinta dan keibuan menjadi amat terganggu oleh karenanya. Sebagai yang saya katakan di muka, maka wanita di dalam sistim kapitalisme itu amat berkeluh-kesah memikul beban yang dobel, -bebannya kerja berat sebagai produsen masyarakat, dan bebannya kerja berat sebagai produsen rumah tangga. Yang satu tidak membahagiakan yang lain, yang satu malah memelaratkan kepada yang lain. Tetapi kedua-duanya harus dikerjakan, kedua-duanya harus ditunaikan, tidak dapat salah satu dari dua itu dilepaskan, dengan tidak mengkhianati kepada atau panggilan kemasyarakatan, atau panggilan alam. Dan walaupun retak yang begini itu terutama sekali mengenai wanita bawahan, di kalangan wanita atasan pun pada pokoknya ia ada. Karenanya, maka satu-satunya kemenangan ialah: satu 210<noinclude>{{rh|||210}}</noinclude> ek9yz6phgaso87r68ognuek3m6c02i6 Halaman:Sarinah.pdf/211 104 105778 298184 2026-06-16T10:33:37Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298184 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>pergaulan hidup baru, yang melenyapkan retak itu, menghapuskan pertentangan antara panggilan masyarakat dan panggilan alam, mensintesekan pekerjaan masyarakat dan cinta dan keibuan itu dalam satu sintese yang berbahagia raya. Apa, apa yang menyukarkan Sarinah untuk masuk secara bahagia ke dalam pekerjaan masyarakat, -yang ia toh masukinya juga karena hasrat kemerdekaan dan karena paksa-annya tuntutan perut? Ialah, bahwa rumah tangga terlalu bersifat “perusahaan sendiri”. Pekerjaan-pekerjaan untuk keperluan rumah tangga itu terlalu terlingkung dalam lingkungannya somah. lnilah yang seperti merantai Sarinah kepada kewajiban-kewajiban tetek-bengek dalam rumah tangga, yang beratnya telah hampir mematahkan tulang belakang. lnilah yang menghebatkan pertentangan antara cinta dan keibuan dan pekerjaan masyarakat, menghebatkan retak dalam jiwanya. Maka pertentangan dan retak itu dus hanya dapat dilenyapkan, kalau, antara lain-lain, Sarinah dapat kita merdekakan dari kewajiban-kewajiban rumah tangga yang tetek bengek itu, -dapat kita merdekakan dari kewajiban-kewajiban rumah tangga yang ia harus pikul sendiri sebagai akibat sifat rumah tangga yang terlalu bersifat perusahaan sendiri. Pertentangan dan retak itu hanya dapat kita lenyapkan, kalau kita pecahkan sifat rumah tangga yang terlalu bersifat perusaha-an sendiri itu, Operkan sebagian besar dari pekerjaan-pekerjaan rumah tangga itu kepada umum, kepada masyarakat. Artinya: Sebagian besar daripada pekerjaan-pekerjaan rumah tangga itu, kita angkatkan dari lingkungan keluarga, dan kita masukkan ke dalam tanggungannya Kolektivitas! Mungkinkah ini? lni mungkin! Bahkan hal ini sekarang sedang berjalan berangsur-angsur! Berkat jalannya evolusi masyarakat, maka pengoperan sebagian kewajiban-kewajiban rumah tangga kepada masyarakat itu bukan lagi satu cita-cita kosong, bukan lagi satu utopi, tetapi mulai menjadi satu kejadian, satu realitas. Lihatlah!: Di zaman dulu, semua pekerjaan untuk keperluan 211<noinclude>{{rh|||211}}</noinclude> qdvk9u094gdf7eaqxcwvi99dyg39xg9 Halaman:Sarinah.pdf/212 104 105779 298185 2026-06-16T10:35:50Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298185 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>rumah tangga dilakukan di dalam rumah tangga, dan menjadi tanggungannya Sarinah sendiri sama sekali. Tetapi di zaman sekarang sudah banyak berangsur-angsur pekerjaanpekerjaan itu dilakukan oleh perusahaan-perusahaan partikelir diluar rumah tangga, atau kepada perusahaanperusahaan kolektif. Di zaman sekarang telah berangsurangsur berkurang sifat rumah tangga sebagai perusahaan milik sendiri. Makanan sudah banyak yang dimasak di luar rumah, lauk-pauk dibeli dari ideran atau di kedai, pakaian dijahit oleh tukang penjahit atau langsung dibeli telah jadi dari toko, pendidikan anak-anak dilakukan kolektif, pemeliharaan orang sakit dikerjakan di rumah-sakit, penerangan terdapat dari sentral elektris, pemberian air ditanggung oleh dinas water-leiding, pembuangan sampah diselenggarakan oleh haminte, dan demikian sebagainya lagi. Pendek kata, banyak sekali bagian-bagian kerja rumah tangga yang dulu sama sekali menjadi tanggungan wanita di rumah, sekarang dikerjakan oleh orang lain di luar rumah itu, (secara perusahaan, bahkan banyak yang secara kapitalistis), atau dan ini penting!- dikerjakan oleh “umum” secara kolektivitis dengan berupa negara, haminte, atau koperasi. Jadi: tendenz evolusi masyarakat ialah: berangsur-angsur mengoper fungsifungsi keluarga serumah kepada “umum”, kepada masyarakat. Negara, atau haminte, atau koperasi akan bertambah mengoper makin banyak fungsi-fungsi itu, sesuai dengan bertambahnya sifat negara menjadi negara rakyat, haminte menjadi haminte rakyat, koperasi menjadi koperasi rakyat. Lni amat meringankan tanggungan Sarinah di rumah! Perusahaan-perusahaan partikelir masih mencari untungbesar merogoh kantong Sarinah, tetapi pengoperan fungsifungsi oleh badan-badan kolektivistis sebagai negara, haminte, atau koperasi itu, membawa kebahagiaan kepadanya. Tidak lagi ia, kalau ia sore-sore sudah pulang dari bekerja di paberik atau di perusahaan, di rumah lantas masih terpaksa lagi membanting tulang, mengulurkan tenaga, memeras keringat. Tidak lagi ia harus berkeluh-kesah di rumah sampai jauh-jauh malam. Tidak lagi badannya masih terasa letih dan payah, kalau ia besok paginya bangun dari tempat tidurnya. Dan kebahagiaan ini mencapai puncaknya yang tertinggi di dalam masyarakat kesejahteraan sosial, di dalam masyarakat sosialis. Di sana ia mencapai “bekroningnya” yang gilang- 212<noinclude>{{rh|||212}}</noinclude> cj4padtyv0k5we66k4ro5w3af75d5u1 Indeks:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf 102 105780 298186 2026-06-16T11:20:37Z Moel81 25980 ←Membuat halaman berisi '' 298186 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Type=book |wikidata_item= |Title=Tanah Air |Subtitle= |Language=id |Volume= |Edition= |Author=M. Jamin |Co-author1= |Co-author2= |Co-author3= |Translator= |Co-translator1= |Co-translator2= |Editor= |Co-editor1= |Co-editor2= |Illustrator= |Publisher=1922 |Address= |Printer= |Year= |Key= |ISBN= |Source=PDF |Image=1 |Progress=OCR |Pages=<pagelist /> |Volumes= |Remarks= |Notes= |Header= |Footer= }} [[Kategori:Indeks]] [[Kategori:Indeks - Buku]] 41alaucfwqbaoq6g53nzg29y02dj18v Indeks:Semangat Muda — Tan Malaka.pdf 102 105781 298187 2026-06-16T11:32:26Z Moel81 25980 ←Membuat halaman berisi '' 298187 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Type=book |wikidata_item= |Title=Semangat Muda |Subtitle= |Language=id |Volume= |Edition= |Author=Tan Malaka |Co-author1= |Co-author2= |Co-author3= |Translator= |Co-translator1= |Co-translator2= |Editor= |Co-editor1= |Co-editor2= |Illustrator= |Publisher= |Address= |Printer= |Year=1926 |Key= |ISBN= |Source=PDF |Image=1 |Progress=OCR |Pages=<pagelist /> |Volumes= |Remarks= |Notes= |Header= |Footer= }} [[Kategori:Indeks]] [[Kategori:Indeks - Buku]] 8z3cn4vkasg3ep3cubzg64pl2t8051o Halaman:Sarinah.pdf/213 104 105782 298188 2026-06-16T11:50:40Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298188 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>gemilang! Tidak lagi Sarinah dirogoh kantongnya bilamana mengoperkan fungsi-fungsi kerumah tanggaannya kepada tenaga lain di luar rumah tangga. Dengan kontribusi yang ringan, atau dengan cuma-cuma sama sekali, fungsi-fungsi itu dioper oleh koperasi, oleh haminte, oleh negara. Sepulang dari pekerjaan masyarakat, ia cukup waktu untuk beristirahat, cukup waktu untuk berkasih-kasihan dengan suami dan anak-anak. Cukup waktu untuk mendengarkan lagu-lagu merdu dari radio, cukup waktu untuk menambah pengetahuannya di kursus-kursus atau di rapat-rapat. Tidak lagi ia harus membikin bersih lampu minyak tanah, lampu listrik telah menyala dengan memutar kenop di dinding. Tidak lagi ia harus memasang api, dapur elektris kecil-kecilan telah menganga dengan memutar kenopnya pula. Tidak lagi ia harus mencuci pakaian suaminya dan anaknya dan pakaiannya sendiri, -tadi pagi ia telah serahkan pakaian kotor itu kepada pesuruh binatu kolektif. Tidak lagi ia harus memasak makanan, kecuali yang ia inginkan sebagai traktasi sendiri yang istimewa-, sebab makanan telah dikirim oleh dapur umum, malah menurut pilih-annya sendiri dari daftarmingguan. Tidak lagi ia harus menyediakan sarapan buat suaminya, anaknya dan dirinya sendiri besok pagi; sebab sarapan itupun urusan dapur umum, dan tempat pekerjaan atau sekolah ada pula yang mempunyai bufet kolektif. Pulang dari pekerjaan masyarakat, belum letih, ia masih segar badan! Langit tampaknya cemerlang, bunga-bunga tampaknya indah, sebab pekerjaan masyarakat yang kolektif bukan penghisapan dan penindasan, tidak meletihkan jasmani dan rohani, melainkan membahagiakan, menggembirakan. Dan sedatangnya di rumah, -hanya pekerjaan yang kecil-kecil saja harus ia kerjakan. Banyak waktu terluang baginya! Ia dapat bercakap-cakap, bersenda-gurau dengan suami dan anakanaknya, memutar radio dengan mereka, pergi ke gambar hidup dengan mereka, mengunjungi rapat atau universitas rakyat. Ia dapat mendidik anak-anaknya dengan penuh kebebasan, membahagiakan mereka, melihat gambar-gambar majalah dengan mereka, menyusun karangan bunga dengan mereka, disaksikan oleh suaminya yang bersenyum simpul. Ia dapat minum dari mata air cinta dan keibuan dengan bebas 213<noinclude>{{rh|||213}}</noinclude> tgnrdzys2trb2hup4ib7ho10e16qy8t Halaman:Sarinah.pdf/214 104 105783 298189 2026-06-16T11:52:49Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298189 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>dan leluasa. Kodrat, kodratnya Isteri berkembang lagi seharum-harumnya ...dan kodrat Ibu, Ah, keadaan bahagia! Di sinilah pekerjaan masyarakat, pekerjaan masyarakat yang untuk kepentingan masyarakat, dan bukan lagi pekerjaan masyarakat untuk keuntungan perseorangan; pekerjaan masyarakat kolektivistis, dan bukan lagi pekerjaan masyarakat kapitalistis-, di sinilah pekerjaan masyarakat dan cinta dan keibuan itu tidak bertentangan lagi satu sama lain, tidak mengantitese lagi satu sama lain. Di sini dua hal itu isi-mengisi satu sama lain, mensintese satu sama lain. Keaktifan pekerjaan masyarakat membahagiakan cinta dan keibuan, kebahagiaan cinta dan keibuan mengaktifkan pekerjaan masyarakat. Utopi? Impian kosong? Idealisme yang lupa daratan? Semuanya itu tidak! Sebab, sebagai di muka tadi telah saya katakan, masyarakat memang telah berangsur-angur bergerak ke situ, tendenz evolusi masyarakat nyata telah menuju ke situ. Di Rusia misalnya, yang walaupun keadaan di sana masih belum sempurna, sudah banyak tercapai hasil di lapangan sintese itu. Sampai kepada pemiliharaan anak bayi pada waktu ibunya mengerjakan pekerjaan masyarakat, di sana diurus secara kolektif di dalam “creches”. Siapa ingin mengetahui lebih jelas hasil-hasil yang tercapai di sana itu, bacalah perpustakaan yang mengenainya. Saya tahu, ada orang-orang yang menamakan sintese antara pekerjaan masyarakat dan cinta dan keibuan itu satu utopi. Dan saya tahu apa sebab orang-orang itu sebenarnya mencurigai pengoperan sebagian dari fungsi-fungsinya rumah tangga kepada masyarakat. Mencurigai pengoperan itu, padahal sebenarnya telah mulai berlaku pengoperan itu berangsur-angsur! Tak lain tak bukan sebabnya ialah kelambatan jalannya jiwa manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, kekonservatifan jiwa manusia kepada barang-barang yang baru. Kelambatan jiwa. Inersi psichis. Kekolotan psichis. Yang menjadi sebabnya curiga itu ialah individualisme, yang di dalam masyarakat sekarang ini di dalam somah (gezin) 214<noinclude>{{rh|||214}}</noinclude> hv5mt6lwl0jk29e4tp0mlnbqxxvd14i Halaman:Sarinah.pdf/215 104 105784 298190 2026-06-16T11:54:46Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298190 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>itulah benteng pertahanannya penghabisan. Di dalam somah itu individualisme masih mendapat semacam hiburan, mendapat semacam tempat pelepaskan lelah, mendapat semacam kesempatan menarik nafas. Di dalam somah itu individualisme merasa dirinya tidak terganggu, merasa dirinya selamat. Sebab di luar somah itu, di masyarakat sekarang ini, hanya kepahitan dan kesukaran saja yang dijumpainya, di luar somah itu taufan praharanya perjoangan mencari sesuap nasi memenuhi angkasa. Di luar keprimpenannya somah itu manusia diuber-uber oleh hantu struggle for life, dicambuk, dilabrak, digiring, diseret oleh hantu ketidak-adilan sosial, dengan tiada maaf dan tiada ampun, tiada tempoh beristirahat dan tiada kesempatan menarik nafas. Maka somah menjadi semacam gumuk pengungsian, semacam bukit tempat berlindung, buat berlindungkan diri dari hamuknya banjir keharusan yang berhukum “bekerja mati-matian, atau lapar”, -semacam tempat maya untuk melupakan pahitnya perjoangan hidup. Maka somah makin menjadi tempat bersarangnya individualisme, satu “tempat keramat” yang tak boleh dimasuki oleh apa saja yang mengurangi kepribadian individualism itu, sebagai mitsalnya faham-faham “kemasyarakatan”, faham-faham “kolektivisme”, faham-faham “pengoperan fungsi-fungsinya somah kepada umum”. Tetapi di dalam satu Dunia Baru yang berkesejahteraan sosial, di mana manusia tidak diuber-uber sampai hampir putus nafas oleh hantu struggle for life, di dalam satu Dunia Baru di mana pencaharian hidup bukan satu azab yang meremukkan jasmani dan rohani, tetapi satu kewajiban yang gembira, di dalam. Dunia yang demikian itu manusia tidak ”takut” kepada pekerjaan di dunia-ramai, dan somah dus tidak pula menjadi tempat perlindungan atau tempat mengembalikan nafas. Di dalam Dunia yang demikian itu, maka batas antara somah dan masyarakat akan makin menjadi tipis, bahkan akan makin menjadi indah, laksana batas antara warna-warnanya pelangi hujan yang bersambung satu dengan yang lain dan menyusun satu harmoni yang gilang-gemilang. “Wanneer de wereld zal zijn geworden een nest van genoten”, demikianlah Henriette Roland Holst menulis sesuai dengan pendapat saya ini-, “wanneer de wereld zal zijn geworden een 215<noinclude>{{rh|||215}}</noinclude> mbu2fnyaj5om4v0zwx5ztu64t7lgwyj Halaman:Sarinah.pdf/216 104 105785 298191 2026-06-16T11:57:14Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298191 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>nest van genoten, dan zullen de grenzen tussen gezin en gemeenschap, die nu scherp en hard getrokken staan, vervagen tot een lichtende mist”. Artinya: “Jikalau dunia telah menjadi satu sarang orang-orang yang bersahabat, maka batas-batas antara somah dan masyarakat, yang sekarang tajam dan keras itu, akan mengkabut menjadi kabut yang bercahaya”. Apa gerangan yang akan tertinggal bagi somah kelak, kalau batas itu telah menjadi “laksana batas warna-warnanya pelangi-hujan”, -telah hampir hilang menjadi “kabut yang bercahaya”? Ah, janganlah orang nanti mengatakan lagi ini satu utopi! Kalau batas itu telah mengkabut, maka somah lantas benar-benar satu tempat cinta dan keibuan, di mana tiada gangguan 1001 pekerjaan tetek-bengek beraneka-warna membungkukkan tulang-belakang Sarinah sampai jauh-jauh malam, tetapi satu tempat di mana laki-laki, perempuan, dan anak-anak hidup bersama seperti burung di dalam sarangnya. Di situ hanya pekerjaan-pekerjaan persomahan yang istimewa saja dikerjakan, dengan kemerdekaan kemauan dan kegembiraan. Di situ laki-laki dan perempuan memenuhi kodratnya, melimpahi turunannya dengan pemeliharaan dan kasih sayang yang tiada gangguan, menjaga dan membesarkan turunan itu laksana burung menjaga anaknya. Di situ tidak ada lagi perempuan yang “senewen” karena tubuh dan jiwanya patah lelah tertimpa beban hidup seharihari, tidak ada Sarinah yang seperti gila menderita penyakit “retak”. Dan sebagaimana tidak ada burung yang melepaskan anaknya sebelum berbulu, maka sungguh fitnah semata-mata perkataan orang, bahwa di dalam dunia baru itu anak dipisahkan dari ibunya. Tidak! Di dalam dunia baru itu anak tidak dipisahkan dari ibu, dan ibu tidak dipisahkan dari anak, melainkan hanyalah pemeliharaan anak itu mendapat bantuan besar dari pergaulan masyarakat. Kalau ibu pagipagi pergi ke pekerjaan di dalam masyarakat yang ia cintai, ia dapat menitipkan anak bayinya kepada “creches”, yang menjaganya, memeliharanya, sampai nanti sore diambil lagi oleh ibunya. Dan kalau pada waktu malam sang ibu perlu pula pergi ke rapat atau ke kursus atau ke gedung kumidi, maka pintu creches itupun terbuka pula untuk mengoper anak bayinya beberapa jam. 216<noinclude>{{rh|||216}}</noinclude> 9uzu0gc4d1mpyezb683pirtf43l9xfl